Data Penawaran Teknis ini merupakan bagian dari Dokumen Penawaran secara keseluruhan dari PT.

WARTHA BAKTI MANDALA untuk pekerjaan

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA DI KECAMATAN ABANG DAN KUBU Dalam Dokumen Usulan Teknis ini terdapat beberapa bagian yaitu :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

DATA ORGANISASI PERUSAHAAN DAFTAR PENGALAMAN KERJA URAIAN PENGALAMAN KERJA TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK PENDEKATAN, METODELOGI, DAN PROGRAM KERJA JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN FASILITAS PENDUKUNG KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI

10. PENUTUP

Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian dokumen ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih.

Denpasar, Juli 2013 PT. WARTHA BAKTI MANDALA

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

1.1.

UMUM

PT. WARTHA BAKTI MANDALA didirikan pada tanggal 10 Mei 1996 dengan tujuan menyediakan layanan jasa konsultan bagi pihak pemerintah maupun swasta khususnya keahlian jasa konsultan di bidang Perencanaan Kota dan Wilayah sesuai dengan tuntutan pembangunan di masa mendatang.

Untuk menunjang tujuan tersebut PT. WARTHA BAKTI MANDALA telah membina sumber daya manusia sesuai dengan bidang keahlian tersebut di atas, baik tetap maupun paruh waktu.

VISI PT. WARTHA BAKTI MANDALA adalah menjadi konsultan profesional untuk menjadi bagian dalam kegiatan perencanaan pembangunan di Provinsi Bali maupun nasional

MISI PT. WARTHA BAKTI MANDALA : 1. Meningkatkan daya saing kualitas dan kuantitas SDM 2. Membangun kemitraan yang sehat dengan pemberi kerja dan antar penyedia jasa konsultan 3. Memperluas bidang jasa layanan dan wilayah pelayanan 4. Menyediakan layanan konsultasi yang berkualitas dalam melaksanakan pekerjaan 5. Menjunjung konsultansi tinggi etika profesi dalam melaksanakan pekerjaan

1

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Dalam melaksanakan proyek-proyek tersebut PT. WARTHA BAKTI MANDALA senantiasa berusaha memberikan yang terbaik, karena pekerjaan ditangani oleh tenaga ahli - tenaga ahli yang profesional dan berpengalaman, serta disesuaikan dengan yang diisyaratkan dalam lingkup pekerjaan proyek.

1.2.

DATA ADMINISTRASI

1. Pendirian Perusahaan PT. WARTHA BAKTI MANDALA didirikan di Denpasar pada tanggal 10 Mei 1996 dengan Akte Notaris I Gusti Ngurah Putra Wijaya, SH Nomor 28, adalah perusahaan yang bergerak dibidang jasa konsultan dan

berkedudukan di Kota Denpasar. Perubahan Akte Pendirian Perusahaan tertanggal 31 Desember 2002 Nomor 49 dengan Notaris I Gusti Ngurah Putra Wijaya, SH. 2. Data Administrasi 1. Nama Badan Usaha 2. Status Badan Usaha 3. Alamat Badan Usaha No. Telepon No. Fax E-mail : : : : : : PT. Wartha Bakti Mandala Kantor Pusat Jalan Trengguli Gg. XII/5 Denpasar 0361 – 463 564 0361 – 463 564 wbm_dps@yahoo.com

3. Izin Usaha, Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) No. IUJK : No. 1-002216-5171-1- Tanggal 2010 5 Mei

00027 Masa berlaku izin usaha Instansi Usaha Pemberi : 5 Mei 2013

izin : Pemerintah Kota Denpasar

2

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

4. Izin Lainnya, Sertifikat Badan Usaha (SBU) No. Surat Uzin SBU Masa berlaku izin usaha Instansi Usaha Pemberi : 1-5171-5-08-1-22-002216 : 28 April 2011 tanggal 28 April 2014

izin : LPJK

5. Landasan Hukum Pendirian Badan Usaha 1. Akta Pendirian PT a. Nomor Akta b. Tanggal c. Nama Notaris : 28 : 10 Mei 1996 : I Gusti Ngurah Putra Wijaya, SH

2. Akta Perubahan Terakhir a. Nomor Akta b. Tanggal c. Nama Notaris : 49 : 31 Desember 2002 : I Gusti Ngurah Putra Wijaya, SH

6. Pengurus A. Komisaris No. Nama I. II. III. Ir. Wayan Hartana Dra. Ni Wayan Sulasih No. KTP 5103051110540001 5171027112660014 Jabatan Dalam

Perusahaan Komisaris Komisaris Direktur

Ir. PMG. Jiwa Duarsa, 5171040604680002 MM

B. Direksi/Pengurus Badan Usaha/Kemitraan No. Nama I. Ir. Wayan Hartana No. KTP 5103051110540001 Jabatan Dalam Perusahaan Komisaris

3

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

II. III.

Dra. Ni Wayan Sulasih

5171027112660014

Komisaris Direktur

Ir. PMG. Jiwa Duarsa, MM 5171040604680002

C. Data Keuangan

1. Susunan Kepemilikan Saham Perse No Nama No. KTP Alamat ntase (%) 1 Dra. Sulasih 2 Ir. PMG Jiwa Duarsa, 5171040604680002 MM Ni Wayan 5171027112660014 Jl. Trengguli XVII/3 25 Denpasar Jl.Tk.Yeh Gg.VII-1/BX Denpasar 3 Ir. Wayan Hartana 5103051110540001 Br.Jaba Tengah,Kel.Pemoga n 4 Ir. Tumpal Herry.H. 196603120260/090 3005 Jl.Sapujagat D3/47 15 Bandung 15 Aya 15

5

Ir. Arif Yoga Samekto

196703260082/020 3046

Perumnas

Sarijadi 15

94/1 Bandung

6

Ir.

I

Made

Arca 5171032309670004

Jl.

P.

Serangan 15

Eriawan, MM

KNH 41 Denpasar

2. Pajak

4

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

a.

Nomor Pajak

Pokok

Wajib : 01.777.450.6-904-000

b. Bukti Laporan Pajak

:

No. 90403000004874 Tanggal 29 April 2011 (Terlampir)

Tahun Terakhir c. Laporan Bulanan terakhir) : 1) PPh Pasal 21 Nopember (tiga Laporan bulan : Oktober : No. S-

01033784/PPH2109/WPJ.17/KP.0403/2011 Tanggal 21 Nopember 2011 (terlampir) : No. S-

01037090/PPH2109/WPJ.17/KP.0403/2011 Tanggal 21 Desember 2011 Desember : No. S-

01002333/PPH2109/WPJ.17/KP.0403/2012 : Tanggal 20anuati 2012

2) PPh Pasal 25/Pasal 29 Oktober : No. S-

01033782/PPH25/WPJ.17/KP.0403/2011 Tanggal 21 Nopember 2011 Nopember : No. S-

01037093/PPH25/WPJ.17/KP.0403/2011 : Desember Tanggal 21 Desember 2011 : No. S-

01002319/PPH25/WPJ.17/KP.0403/2012 3) PPN Tanggal 20 Januari 2012

Oktober

:

No.

S-

01033783/PPN1111/WPJ.17/KP.0403/2011 Tanggal 21 Nopember 2011 Nopember : No. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan 01037092/PPN1111/WPJ.17/KP.0403/2011 Abang dan Kubu Tanggal 21 Desember 2011
5

S-

3. WARTHA BAKTI MANDALA 6 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .PT.1 DIAGRAM ORGANISASI PERUSAHAAN PT. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN Struktur Organisasi Perusahaan PT. WARTHA BAKTI MANDALA seperti tergambar pada diagram berikut. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 1. Gambar 1.

maka bidang layanan diperluas ke sub Bidang lainnya dan Jasa Non Konstruksi. Berdasarkan perkembangan waktu. UMUM Unggulan layanan PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 2. Wartha Bakti Mandala adalah pada Bidang Tata Lingkungan pada Sub Bidang Jasa Perencanaan Urban.1. Lingkup pekerjan tersebut adalah : Jasa Konsultansi Konstruksi : No 1 Bidang Tata Lingkungan Sub Bidang  Jasa Konsultansi Lingkungan  Jasa Perencanaan Urban  Jasa Nasehat /Pradesain tata lingkungan lainnya 2 Sipil  Jasa Nasehat /Pra desaig dan DED Bagunan Jasa Konsultansi Non Konstruksi : No 1 Bidang Pengembangan dan Perdesaan Sub Bidang Pertanian  Prasaran Sosial dan Pengembangan /Partisipasi Masyarakat  Perkebunan dan mekanisasi 7 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar dan sesuai ragam keahlian tenaga ahli yang dimiliki. jenis pekerjaan yang tertuang dalam Sertifikat Badan Usaha Jasa Konsultan terdiri dari Jasa Konsultansi Konstruksi dan Non Konstruksi.PT.

PT. Wartha Bakti Mandala selain telah mengerjakan proyek-proyek sesuai keahliannya di Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. 8 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Pertanian  Kehutanan  Perikanan 2 3 4 Keuangan Kependudukan Jasa Survey  Manajemen Keuangan Perusahaan  Sub Bidang Kependudukan lainnya  Survey teristris  Pengindraan Jauh  Sistem Informasi Geografis 5 Jasa Manajemen Konsultansi  Pelatihan dan Pengembangan SDM Dalam kegiatan usahanya. juga telah bekerjasama dengan Konsultan dari daerah lain untuk menggarap pekerjaan-pekerjaan dengan skala nasional. PT.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Gianyar 16. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tabanan 13. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Denpasar 14. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Buleleng 12. 4. Beberapa layanan kerjasama yang telah dilakukan meliputi kerjasama dengan : 1. Kementerian Pekerjaan Umum Kementerian Kelautan dan Perikanan Kementerian Negara Lingkungan Hidup Bank Dunia (World Bank) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Bali Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah (BPMD) Provinsi Bali Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Dinas Perkebunan Provinsi Bali 10.PT. 5. 7. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bangli 9 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . 9. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Badung 15. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas PT. Tata Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat. Setwilda Kabupaten Tabanan 11. PT Wartha Bakti Mandala sudah banyak memperoleh kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan yang menjadi core bisnisnya yaitu di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Dalam perjalanannya. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Klungkung 17. sesuai sumber daya manusia yang kami miliki saat ini kami tetap dapat secara profesional mengerjakan semua lingkup pekerjaan di atas jika diberi kepercayaan dan kesempatan. 2. juga telah mulai mengerjakan pekerjaan konsultansi skala nasional di Kementerian dan Lembaga dan bekerjasama dengan Konsultan dari daerah lain maupun lembaga perguruan tinggi. 6. Wartha Bakti Mandala selain telah mengerjakan proyek-proyek sesuai keahliannya di Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. 3. 8. Besar harapan kami.

Kerjasama dengan LSM 31. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Karangasem 20.PT. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar 29. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jembrana 19. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Buleleng 28. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Badung 24. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 18. Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Buleleng 27. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Denpasar 25. Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kota Denpasar 30. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gianyar 26. Kerjasama dengan Universitas Warmadewa 10 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Karangasem 22. Kerjasama dengan Universitas Udayana 32. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tabanan 23. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buleleng 21.

1 1 Pengguna Jasa/Sumber Dana 2 Bappeda Kab.092.546.- 8 - Lingkungan/ 27 Perencanaa 2000 n Urban Tata 26 sept. 102. 7/3 Rp.500. 2000 – Maret 7 Rp. 194.- - Lingkungan/ – Perencanaa 2000 n Urban Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Badung/APBD Kab. Bali Penyusunan Pengembangan Kawasan Tertinggal Proyek Pengembangan Kawasan Tertinggal Tersebar di 9 (Sembilan) Kab.PT. Badung 3 Penyusunan Rencana Induk Objek Wisata Sangeh di Kecamatan Abiansemal 2 Bappeda Prov./Kota 11 Nama Paket Pekerjaan Lingkup Layanan 4 Tata Priode Orang Bulan 6 11/2 Nilai Kontrak Mitra Kerja 5 7 Feb. 2000 24 Des. Bali/APBD Prov.000. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas DAFTAR PENGALAMAN KERJA SEJENIS 10 (SEPULUH) TAHUN TERAKHIR PT. Wartha Bakti Mandala No .

Kawasan Jalur RDTR Tata 21 Juni 2002 18 Des 7/6 Rp.973. Bali Penyusunan Kawasan (Sarbagita) RUTR Tata 13 Juni 2003 9 9/6 Rp.- Perkotaan Lingkungan/ – Perencanaa Desember n Urban 2003 12 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Pengelolaan Daya Pesisir Alam dan Rp.PT. 143.000.- - Sumber Lingkungan/ – Wilayah Perencanaa 2002 Laut n Urban Kabupaten Buleleng 5 Dinas PU Prov.995. 293.- Bali/APBD Bali Sepanjang Lingkungan/ – rencana Jalan Perencanaa 2002 Arteri Beringkit-Batuan n Urban Purnama 6 Dinas PU Prov. Jembrana/APBD Kab.- - Rencana Tata Ruang Lingkungan/ – 6 Dsember Wilayah (RTRW) Perencanaa 2000 n Urban 16 Agst 2002 14 Des 9/4 Kabupaten Jembrana 4 Bappeda Bali/APBD Bali Provinsi Penyusunan Profil dan Tata Prov. Penyusunan Prov.493. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 3 Bappeda Kab. 379. Jembrana Penyususunan Revisi Tata 24 Juli 2000 6/4 Rp.000. 284.000.500.925.

000.070.PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 7 Disbudpar Kab.013. Penyusunan Prov.- - Desa Lingkungan/ 4 Nov. 305. 575. Buleleng Lingkungan/ – Kertih Perencanaa 2004 Partisipasi n Urban di Pariwisata 8 BPMD Bali/APBD Bali Prov. Pembangunan Melalui Menggagas Peta Tata 8 Mei 2006 – 3/6 Rp.500. Pembahasan Draf Peraturan Gubernur tentang RDTR Kawasan Teluk Benoa Tata 6 Juni 2006 – 10/6 Rp.000. Sosialisasi dan Prov.- - Buleleng/APBD Kab.008. 2006 Kegfiatan Perencanaa Masa n Urban Depan Desa (MMDD) 9 Dinas PU Prov. 393. Program Implementasi Samudera Berbasis Masyarakat Kawasan Lovina Inovatif Tata 22 April 2004 21 Agst 5/4 Rp.- Bali/APBD Bali Lingkungan/ 2 Des 2006 Perencanaa n Urban 13 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .

2006 28 Nop. 83. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 10 Bappeda Kab.- - Lingkungan/ – Perencanaa 2006 n Urban 12 Satker Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. 487. Karangasem/APB D Kab.000.000. 2006 4 Des. Bali/APBD Prov. 3/3 Rp.- - Lingkungan/ – Perencanaa 2006 n Urban 11 Bappeda Kota Denpasar/APBD Kota Denpasar Penyusunan Pedoman Teknis Pembangunan Kota Denpasar Tata 1 Agst. Bali Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Konservasi Laut Daerah Di Provinsi Bali Tata 6 Sept. 10/4 Rp.000.000. 571.PT.980.795. Karangasem Inventarisasi dan Evaluasi Keluarga Miskin Tata 19 Juni 2006 19 Nop. 6/5 Rp.- - Lingkungan/ – Perencanaa 2006 n Urban 14 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

13

BPMD Bali/APBD Bali

Prov. Penyusunan Prov. Pengembangan Kawasan Perdesaan Terpadu Berbasis Komunitas pada Wilayah Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem (Kawasan Desa Tembok dan Tianyar)

Tata

5 Juni 2007 –

9/6

Rp. 477.845.500,-

-

Lingkungan/ 4 Des. 2007 Perencanaa n Urban

14

Bappeda Bali/APBD Bali

Prov. Pekerjaan Kajian Prov. Penyusunan Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada Kawasan Strategis

Tata

2 Juli 2007 –

8/6

Rp. 285.010.000,-

-

Lingkungan/ 28 Des 2007 Perencanaa n Urban

15

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

15

Bappeda

Kab. Penyusunan Rencana

Tata

15 Agst. 2007 28 Des.

10/4,5

Rp. 273.000.000,-

-

Gianyar/APBD Kab. Detail Tata Ruang Gianyar (RDTR) Kecamatan Gianyar 16 Dirjen Kelautan, Mitigasi Kerusakan

Lingkungan/ –

Perencanaa 2007 n Urban Tata Lingkungan 13 2007 Agust. – 13 12/4 Rp. 197.510.000,-

Pesisir dan Pulau- Terumbu Karang Pulau Direktorat dan Laut Kecil Untuk Kegiatan Pesisir Perikanan dan Wisata Bahari Kabupaten Buleleng Propinsi Bali

Des. 2007

17

Bappeda

Kab. Penyusunan Zoning

Tata

20 Juni 2007 16

7/5

Rp. 207.171.000,-

-

Badung/APBD Kab. Regulation Badung Pembangunan di Kawasan Seminyak, Legian dan Kuta 18 Bappeda Klungkung Kab. Survey dan Pemetaan Revisi Jalur Hijau Kabupaten Klungkung

Lingkungan/ – Perencanaa Nopember n Urban 2007

Tata

9 Juli 2007 – Nopember

9/4

Rp. 365.783.000,-

-

Lingkungan/ 5

Perencanaa 2007 n Urban
16

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

19

BPMPD Prov. Bali/APBD Prov. Bali

Penyusunan Pengembangan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat pada Lintas Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buleleng (Kawasan Desa Pupuan dan Desa Subuk)

Tata Lingkungan/ Perencanaa n Urban

15 Mei 2008 – 17 Nop. 2008

7/6

Rp. 426.783.000,-

-

20 .

Dirjen Penataan Ruang/APBN

Peningkatan

Tata

5 Juni 2008 –

28/18

Rp. 4.704.000.675,-

PT. Lenggogeni dan PT. Arcende

Pelaksanaan Penataan Lingkungan/ 5 Des. 2009 Ruang Kawasan Metropolitan Sarbagita (Denpasar-BadungGianyar-Tabanan) Propinsi Bali Perencanaa n Urban

17

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

21 .

Satker PKP Bali/APBN

Pekerjaan Penyusunan Tata Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Kota Denpasar

20 April 2010 15

7/8

Rp. 950.576.000,-

-

Lingkungan/ – Perencanaa Desember n Urban 2010

22 .

Bappeda Kab. Jembrana/APBD Kab. Jembrana

Pekerjaan Evaluasi RPJMD Kabupaten Jembrana

Tata

13 Okt. 2010 13 Des.

2/2

Rp. 43.300.000,-

-

Lingkungan/ –

Perencanaa 2010 n Urban

23 .

Satker PKP Bali/APBN

Penyusunan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Kabupaten Tabanan

Tata

18 Mei 2011 13

9/7

Rp. 801.141.000,-

-

Lingkungan/ – Perencanaa Desember n Urban 2011

18

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

24 .

Bappeda Propinsi Bali/APBD Propinsi Bali

Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Strategis Pariwisata Air Sanih di Kabupaten Buleleng

Tata

30 Mei 2011 30

8/6

Rp. 427.185.000,-

-

Lingkungan/ – Perencanaa Nopember n Urban 2011

25 .

Bappeda kab. Bangli/APBD Kab.Bangli

Penyusunan rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kintamani

Tata

1

Agustus – 13

7/4,5

Rp. 337.672.000,-

-

Lingkungan/ 2011

Perencanaa Desember n Urban 2011 2 Agustus – 29 8/5 Rp. 234.603.000,-

26 .

Dinas PU Propinsi Bali/APBD Propinsi Bali

Penyusunan Prosedur Insentif dan Disinsentif Pemanfaatan Ruang

Tata

Lingkungan/ 2011

Perencanaa Desember n Urban Tata 2011 14 Juni 2011 12 2/3 Rp. 97.691.000 -

27 .

Bappeda Litbang Kabupaten Badung/APBD Kab. Badung

Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah RDTR Kecamatan

Lingkungan/ – Perencanaa September n Urban 2011

19

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

28 .

Bappeda Kota Denpasar/APBD Kota Denpasar

Penyusunan Rencana Rinci Kawasan Strategis Kota Denpasar

Tata

23 Mei 2011

8/5

Rp. 187.275.000,-

-

Lingkungan/ – 19 Oktober Perencanaa 2011 n Urban Tata 22 Agustus – 20 6/3

29 .

Bappeda dan PM Kab. Jembrana/APBD Kab. Jembrana

Penyesuaian dan Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah RTRW Kabupaten Jembrana

Rp. 119.680.000,-

-

Lingkungan/ 2011

Perencanaa Nopember n Urban 2011

30 .

Bappeda Kab.Tabanan/APB D Kab. Tabanan

Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kab. Tabanan

Tata

18

Oktober – 3

5/2

Rp. 91.400.000,-

-

Lingkungan/ 2011

Perencanaa Desember n Urban Tata 2011 11 Nopember – 11 5/1 Rp. 49.390.000,-

31 .

Bappeda kab. Klungkung/APBD Kab. Klungkung

Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kabupaten Klungkung

Lingkungan/ 2011

Perencanaa Desember n Urban 2011

20

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

639.- - Lingkungan/ – Perencanaa 2011 n Urban 21 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Kelautan dan Perikanan Kab. Tata 19 April 2011 17 Juni 6/2 Rp.00. Dinas Peternakan.PT. 78. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 32 . Karangasem Belanja Jasa Konsultansi Pemetaan Wilayah Tambak.

Beberapa pengalaman utama PT. Tata Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat. PT Wartha Bakti Mandala sudah banyak memperoleh kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan yang menjadi core bisnisnya yaitu di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Wartha Bakti Mandala selain telah mengerjakan proyek-proyek sesuai keahliannya di Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. juga telah bekerjasama dengan Konsultan dari daerah lain untuk menggarap dengan skala pekerjaandi pekerjaan nasional Kementerian dan Lembaga dan bekerjasama dengan Konsultan dari daerah lain maupun lembaga perguruan tinggi.PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Dalam perjalanan selama usahanya. maka bidang layanan diperluas ke sub Bidang lainnya dan Jasa Non Konstruksi. PT. Wartha Bakti Mandala yang diakui 22 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar dan sesuai ragam keahlian tenaga ahli yang dimiliki. Dalam usianya yang remaja ini.

11. Peningkatan Pelaksanaan Penataan Ruang Kawasan Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan) Propinsi Bali 9. Penyusunan Zoning Regulation Pembangunan di Kawasan Seminyak. Penyusunan Pengembangan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat pada Lintas Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buleleng (Kawasan Desa Pupuan dan Desa Subuk) Metropolitan Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir 23 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Konservasi Laut Daerah Di Provinsi Bali 5. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas kualitasnya secara Nasional dan sejenis dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan antara lain : 1. Penyusunan RDTR Kawasan Sepanjang Jalur rencana Jalan Arteri Beringkit-Batuan Purnama. Pelaku Kabupaten Gianyar 8. Perencanaan Pembangunan Wilayah Kegiatan Pemberdayaan Ekonomi. Penyusunan Rencana Rinci Kawasan Strategis Kota Denpasar 4. Sosial Budaya. 2.PT. Mitigasi Kerusakan Terumbu Karang Untuk Kegiatan Perikanan dan Wisata Bahari Kabupaten Buleleng Propinsi Bali 3. Pekerjaan Kajian Penyusunan Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada Kawasan Strategis Provinsi Bali 14. Sosialisasi dan Pembahasan Draf Peraturan Gubernur tentang RDTR Kawasan Teluk Benoa 6. Penyusunan Pedoman Teknis Pembangunan Kota Denpasar 12. Program Inovatif Implementasi Samudera Kertih Berbasis Partisipasi Masyarakat di Kawasan Pariwisata Lovina Kabupaten Buleleng 10. Legian dan Kuta Kabupaten Badung. Penyusunan Profil dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Wilayah Pesisir dan Laut Kabupaten Buleleng 13. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli 7.

(telah diperdakan.PT. Penyusunan Masterplan KDTWK Tanah Lot 27. Penyusunan RTRW Kota Denpasar dan sebagainya. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Kediri 28. Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali. Sosialisasi dan Pembahasan Raperda RTRW Kabupaten Tabanan 25. 24 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . 45 Tahun 2011. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 15. Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan Sarbagita. Penyusunan Pengembangan Kawasan Perdesaan Terpadu Berbasis Komunitas pada Wilayah Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem (Kawasan Desa Tembok dan Tianyar) 16. Penyesuaian dan Sosialisasi Materi Teknis dan Rancangan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jembrana 22. (telah menjadi peraturan presiden. Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Strategis Pariwisata Air Sanih Kabupaten Buleleng 20. Perda 16 Tahun 2009) 29. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Sepanjang Jalan Arteri Tohpati – Kusamba 19. 26. Penyesuaian Rencana Teknik Ruang Kawasan (RTRK) Ibukota Kabupaten Badung 23. Perpres No. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Pariwisata Lebih 17. Penyusunan Rencana Sempadan Pantai Kabupaten Badung 18. Penyusunan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Kabupaten Tabanan 21. Penyusunan Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) Kota Denpasar 24.

PT. Metropolitan Sarbagita Masterplan KDTWK Tanah Lot 25 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas RTR Kaw.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 26 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .PT.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 27 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .PT.

Konsultan memahami konsep dasar atas kegiatan yang ada. konsep dasar yang dituangkan dalam bentuk-bentuk substansi dari KAK dengan proporsi yang seimbang tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi yang telah tersajikan dalam KAK. Konsultan menyadari pentingnya keberadaan peta risiko bencana khususnya untuk di wilayah Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu sesuai dengan standar penyusunan peta risiko bencana yang telah ditetapkan melalui ketentuan/aturan khususnya Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. secara secara umum konsultan sudah dapat memahani tujuan dan maksud atas diselenggarakannya kegiatan pendampingan ini. keinginan mendasar konsultan terhadap keberhasilan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan di Kecamatan Abang dan Kubu adalah terlaksananya pekerjaan ini dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan pihak-pihak terkait lainnya. UMUM Dari pemahaman yang didapat konsultan setelah mempelajari dan menelaah KAK kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu.PT. Diharapkan dengan kondisi yang kondusif dengan pemahaman yang ideal. Terlepas dari pemahaman konsultan terhadap KAK. Secara rincinya tanggapan dan saran konsultan terhadap poin-poin pokok yang tertera dalam KAK akan dijabarkan sebagai berikut : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 28 .1. tujuan dan manfaat dari hasil akhir kegiatan ini dapat tersalurkan dan bermanfaat. Dalam konteks ini adalah pemahaman konsultan diperoleh dari uraian efektif dan efisien yang terjabar dalam KAK. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 4.

Hama Penggerek Batang. Letusan Gunung Api. Kondisi dan alasan perlu adanya kegiatan ini guna mewujudkan peta risiko bencana yang Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 29 . Campak. Kebakaran. sehingga tidak sulit untuk diinterpretasikan. Konflik. Batasan. dan Liquifikasi. Flu Burung. tahapan. Rabies. Penyakit Blast. Demi menyingsong hasil yang maksimal ke depannya diharapkan terdapat komunikasi dalam bentuk koordinasi untuk menyatukan pemahaman dan tujuan dari kedua belah pihak. Yang kemudian akan didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menjadi daftar tambahan bagi konsultan. Badai/Angin Kencang. Gelombang Pasang. Beberapa hal yang masih belum jelas ke depannya akan diajukan dalam bentuk tanya jawab melalui panitia acara. Banjir.2. beserta hasil yang diharapkan telah tersaji secara runut dan ringkas.2. jenis pekerjaan. yaitu baik dari pihak konsultan maupun pihak pengguna jasa. Padi. HIV/AIDS. Kekeringan.PT. Latar belakang memberikan gambaran tentang 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. Tanggapan Umum Secara umum KAK telah memberikan gambaran yang cukup jelas dengan proporsi efektif dan efisien. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 4. Jadi pada umumnya atau garis besarnya konsultan telah paham terhadap maksud tujuan KAK dari kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu.1. 4.2.2. Semua hal-hal pokok yang diperlukan sebagai gambaran dasar pekerjaan telah tertuang dengan proporsional. Tanah Longsor. Tsunami. TANGGAPAN TERHADAP KAK 4. Tanggapan Khusus a) Tanggapan Terhadap Latar Belakang Latar belakang dari KAK kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu telah dengan apik landasan pemikiran dan pertimbangan yang melatar belakangi diadakannya kegiatan ini. ruang lingkup. Diare. Penyakit Tungro. Hama Tikus.

b) Tanggapan Terhadap Kegiatan Yang Dilakukan dan Cara Pelaksanaan Kegiatan Sesuai dengan KAK. pengumpulan data. dan Sasaran Kegiatan Konsultan berpendapat bahwa maksud. survei. Konsultan melihat apa yang tertera pada KAK keseluruhan lingkup pekerjaan yang masuk didalamnya bisa terlaksana sepenuhnya dengan baik. kegiatan ini adalah Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu dimana di dalam KAK juga disebutkan tahapan pekerjaan meliputi tapan persiapan. dan penyusunan peta. Tujuan. c) Tanggapan Terhadap Maksud. Dan konsultan cukup memahami apa yang disajikan dalam KAK.baiknya. penyusunan analisa. Apa yang tertuang dalam maksud dan tujuan KAK mengenai Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu dalam mewujudkan solusi dalam penanggulangan potensi bencana dalam bentuk peta risko sudah cukup memberikan pemahaman mengenai inti pokok utama pekerjaan secara umum. konsultan berpendapat bahwa lingkup pekerjaan sudah sangat jelas dan mudah dipahami oleh Konsultan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas diharapkan dapat memberi maanfaat kepada masyarakat khususnya mengenai pencegahan dan penanggulangan potensi bencana di Kabupaten Karangasem khususnya wilayah Kecamatan Abang dan Kubu. tempat pelaksanaan kegiatan ini adalah Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 30 . Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. maupun penjelasan-penjelasan yang disampaikan dalam rapat penjelasan yang telah dilakukan.PT. Dalam poin-poin tersebut juga selanjutnya dijelaskan tindakan/bentuk action yang dilakukan di lapangan. tujuan dan sasaran dari pekerjaan sudah cukup jelas dan konsultan berkeyakinan dapat menyelesaikannya dengan sebaik . Hal yang perlu dipertanyakan hanya bersifat teknis pelaksanaan pekerjaan di lapangan. dan sasaran dari pekerjaan yang diharapkan bisa tercapai dengan tepat waktu. Dimana yang telah tersebutkan itu adalah poin-poin inti dari kegiatan ini secara keseluruhan. d) Tanggapan Terhadap Tempat Pelaksanaan Kegiatan Sesuai dengan judul kegiatan ini.

Konsultan melihat jangka waktu yang tertera dalam KAK tersebut sudah cukup dalam masanya memenuhi tahapan-tahapan kegiatan yang harus dilalui demi berlangsung dengan lancar dan baiknya kegiatan ini. f) Tanggapan Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan Kegiatan Sesuai dengan yang tercantum dalam KAK. Dimana nanti dalam proses pengerjaan pekerjaan ini perlu lagi dilakukan pengembangan dari tiap poin yang ada guna mencapai poin-poin yang diharapkan serta telah mendekati pola umum proses perencanaan tata ruang yaitu terdiri dari lingkup wilayah perencanaan. Konsultan menilai lokasi pengadaan kegiatan ini sudahlah tepat.PT. konsultan optimis kegiatan ini akan berlangsung dengan baik dan bermanfaat bagi wilayah kajian yang dimaksud ini. dan bermanfaat dengan tepat waktu. efisien. Dimana jadwal kegiatan tersebut berfungsi sebagai acuan konsultan dalam melaksanakan kegiatan demi tercapainya hasil pekerjaan yang baik. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Kecamatan Abang dan Kubu di Kabupaten Karangasem. g) Tanggapan Terhadap Output/Keluaran Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 31 . lingkup materi serta ruang lingkup kegiatan dan metode pelaksanaan pekerjaan. e) Tanggapan Terhadap Ruang Lingkup Ruang lingkup yang tertera dalam KAK sudah tersirat dalam tahapan pekerjaan dengan garis besar menjelaskan cakupan materi yang menjadi bahan kegiatan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di di Kecamatan Abang dan Kubu dimana memuat poin-poin utama dalam harapan pencapaian dalam tiap cakupannnya. konsultan melakukan manajemen waktu melalui pembuatan jadwal kegiatan. maksimal. mengingat latar belakang yang bertutur tentang kondisi wilayah yang dimaksud KAK ini memang perlu adanya dan juga dengan dukungan semua sumber daya yang ada. Untuk itu dalam pemanfaatan waktu tersebut. kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini berlangsung selama 150 (seratus lima puluh hari) hari kalender sejak dikeluarkannya SPMK.

Dengan pengadaan tenaga yang sesuai dan lengkap berdasarkan list pada KAK. Bahkan juga disbebutkan tentang kepemilikan sertifikat keahlian minimal SKA Ahli Madya bagi bagi ahli ahli geodesi dan ahli remote sensing. Syarat dan kualifikasi yang tercantum di KAK tersbut sudah dapat dipenuhi konsultan sebagai pihak penyelengara. dua orang operator CD/GIS.  Uraian Tugas Personil 32 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . sebagai bukti atas keseriusan konsultan terhadap kegiatan ini. h) Tanggapan Terhadap Personil Dalam pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. Dengan kualifikasi tersebut konsultan akan menyediakan jumlah personil dan kualifikasi yang disyaratkan sesuai dengan KAK.PT. administrasi dankeuangan. konsultan yakin dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu dan menghasilkan suatu output/keluaran yang sesuai dengan yang diharapkan. serta tenaga penunjang di bagian surveyor sebanyak sepulu orang. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Output atau keluaran yang diharapkan yang terjelaskan dalam KAK sudah jelas memperlihatkan hal yang ingin dicapai sebagai keluaran. operator komputer/typist.  Kebutuhan Personil Dilihat dari uraian KAK. di dalam KAK sudah tercantum syarat dan kualifikasi pada tenaga manusia yang dibutuhkan. yaitu peta risiko bencana khususnya untuk di wilayah Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu sesuai dengan standar penyusunan peta risiko bencana yang telah ditetapkan melalui ketentuan/aturan khususnya Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. dan supir. dalam pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu yang memperlihatkan bahwa kebutuhan personil meliputi 7 (tujuh) orang tenaga ahli beserta 4 (empat) orang asisten tenaga ahli dan seornag chief surveyor.

i) Tanggapan Terhadap Metode dan Pendekatan Pekerjaan Metode dan Pendekatan Pekerjaan memperlihtakan bagaimana dan apa saja aspek penysuun berkangsungnya kegiatan ini. Ke depannya perlu diadakan komunikasi antara pihak-pihak yang berkepinntingan guna evaluasi dan monitoring metode dan pendekatan pekerjaan untuk keperluan Kecamatan Abang dan Kubu dalam aplikasinya. Sehingga tiap step kegiatan dapat berjalan lamcar dan tepat waktu.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 33 . Jadi konsultan merasa yakin dan optmis dengan memperhatikan dan menggunakan metode kerja dan pendekatan dengan baik maka hasil pekerjaan yang didapatkan sesuai dengan yang direncanakna dan diharaokan. Secara keseluruhan apa yang tercantum di dalam (KAK) sudah dapat mewakili secara umum kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan di Kecamatan Abang dan Kubu sudah memenuhi kualifikasi metode dan pendekatan yang lazim digunakan dalam kegiatan pemetaan. Maka dari itu adanya uraian tugas memudahkan team leader dalam memplotkan jadwal kegiatan dengan kebutuhan personil sesuai dengan kebutuhan target yang hendak dicapai. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Tiap personil memiliki tugas dan tanggung jawab spesifik dalam andilnya di kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini.

Dari telaah tim ahli yang tergabung dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) Kabupaten Karangasem dengan melihat kondisi alam. dan budaya di Kabuoaten Karangasem tercatat ada 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. Gelombang Pasang. Selain itu. Banjir. Flu Burung. HIV/AIDS. LATAR BELAKANG Meningkatnya frekuensi kejaidan bencana di Indoenisa pada umumnya dan di Provinsi Bali pada khususnya telah membuka mata semua pihak akan pentingnya pertimbangan aspek kebencanaan dalam pembangunan. Atas pertimbangan tersebut. sosail. Dengan kata lain. Hama Penggerek Batang. Kekeringan. 24 Tahun 2007 khususnya pasal 21 menyebutkan bahwa salah satu tugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah menyusun. .5. UU tersebut mengharuskan setiap pemerintah daerah mempunyai dokumen mengenai kajian risiko bencana sebagai dasar dalam penyusunan rencana aksi guna meminimalisir risiko dan dampak negatif jika terjadi bencana. METODELOGI. DAN PROGRAM KERJA 5. Konflik. Penyakit Tungro. Diare. menetapkan. Melalui kegiatan ini maka akan dihasilkan peta risiko bencana yang didasarkan atas analisa detail ancaman. Salah satu aspek penting dalam kajian tersebut adalah informasi lokasi-lokasi yang memiliki kerawanan dan risiko bencana tinggi dengan melakukan kegiatan pemetaan risiko bencana. Tsunami. Tanah Longsor. dan Liquifikasi. Padi. UU No. Pemerintah Kabupaten Karangasem pada tahun anggaran 2013 ini mengakibatkan anggaran untuk melaksanakan kegiatan penyusunan peta risiko bencana di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu. Hama Tikus. Penyakit Blast. Rabies. ekonomi. Kebakaran. Badai/Angin Kencang. baik bencana alam maupun non alam. Kejadian bencana termasuk di Kabupaten Karangasem telah menyadarkan semua pelaku dan pelaksana pembangunan akan perlunya perhatian khusus pada lokasilokasi yang rawan bencana. PENDEKATAN. kerentanan dan kapasitas untuk seluruh jenis bencana di setiap desa di Kecamatan Abang dan Kubu. dan menginformasikan peta rawan bencana.1. Campak. Letusan Gunung Api.

5. 5. 5. pekerjaan ini bernama Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. Kabupaten Karangasem.000.5. LOKASI PEKERJAAN Berdasarkan KAK lokasi dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini adalah seluruh cakupan wilayah administratif Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu di Kabupaten Karangasem.6.4. b. Maksud Pekerjaan Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan peta risiko bencana khususnya untuk di wilayah Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu sesuai dengan standar penyusunan peta risiko bencana yang telah ditetapkan melalui ketentuan/aturan khususnya Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Tujuan Pekerjaan Tujuan dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu adalah di antaranya untuk : . 5.3. SKPD Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).5. BIAYA Biaya pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah sebesar Rp. MAKSUD DAN TUJUAN a. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN Kegiatan penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu akan dilaksanakan selama 150 (seratus lima puluh) hari kalender sejak dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja). NAMA PEKERJAAN Sesuai dengan yang tercantum dalam KAK. 500.000 (lima ratus juta rupiah) yang dibebankan pada biaya APBD Kabupaten Karangasem Tahun Anggaran 2013.2.

 Di tingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. dan penerapan teknologi yang .8. SASARAN Sasaran dari pekerjaan ini diantara lain adalah : a.  Di tingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. RUANG LINGKUP Adapun lingkup materi dalam penyusunan peta risiko bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah :  Analisis Ancaman Meliputi segala potensi ancaman bencanan yang berpotensi terjadi di masing-masing desa di Kecamatan Abang dan Kubu dengan memperhatikan klimatologi struktur geologi. Semakin meningkatnya kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat luas mengenai pentingnya informasi bencana dalam pelaksanaan pembangunan daerah. dan kapasitas pada setiap lokasi.  Tersedianya data atribut berupa analisis tingkat ancaman. Semakin tepatnya pemilihan tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi resiko dan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. aktifitas masyarakat. juga dapat memberikan informasi penyebab tinggi rendahnya risiko bencana pada suatu lokasi. b. kerentaan.7. Tersedianya data spasial berupa peta resiko bencana masingmasing desa untuk masing-masing jenis bencana yang telah tertuang dalam Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. c. analisis tingkat kerawanan dan analisis kapasitas pada masing-masing desa untuk masing-masing jenis bencana yang tertuang dalam RPBD. topografi wilayah. Tersedianya informasi karakteristik ancaman. sejarah kejadian bencana. 5. 5.

tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat terhadap ancaman. CV.  Analisis Kerentaan Merupakan analisis terhadap kerentaan masyarakat yang meliputi kemampuan perekonomian masyarakat. potensi penduduk terpapar bencana. kepdatan penduduk.  Analisis Risiko Merupakan perpaduan antara ancaman.9.000 dengan komponen data hitungan jumlah jiwa terpapar bencana (dalam jiwa). kerentaan dan kapasitas yang disusun berdasarkan pedoman yang berlaku. APRESIASI DAN INOVASI Sehubungan dengan kegiatan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). nilai kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan (dalam rupiah)  Legalisasi Produk Peta Risiko Bencana Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu yang bersangkutan diformulasikan ke dalam produk legal formal yang disiapkan berupa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang dalam proses selanjutnya akan didorong untuk ditetapkan dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) 5.  Penyusunan Peta Risiko Bencana Pemetaan didasarkan prasyarat umum penyusunan peta dengan skala minimum 1 : 25. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangsem di tahun 2013.  Analisis Kapasitas Meliputi segala sumber daya yang ada dapat dimanfaatkanuntuk mengurangi risiko yang dihadapai masyarakat. TRI MATRA DISAIN selaku pihak konsultan ingin memberikan apresiasi dan inovasi terkait pekerjaan ini yang diharapkan dapat menjadi . serta kondisi lainnya yang berpotensi mempersulit kemampuan masyarakat untuk mengatasi ancaman bencana secara mandiri.berpotensi menimbulkan bencana serta hal-hal lainnya yang layak dijadikan pertimbangan.

Konflik. A. APRESIASI 1) Umum Dalam pengelolaan manajeman mitigasi bencana. dan budaya di Kabuoaten Karangasem tercatat ada 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. Badai/Angin Kencang. banjir. Bencana adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari sistem yang ada di muka bumi. salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan risiko bencana. Padi. baik secara alamiah ataupun akibat ulah manusia. Kekeringan. Penyakit Tungro. Pemetaan risiko bencana merupakan kegiatan yang sangat penting sebagai benchmark dalam menyusun program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. Selanjutnya peta risiko bencana tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan penyusunan masterplan pengurangan risiko bencana. Hama Tikus. Kebakaran. Di Kabupaten Karangasem sendiri dari telaah tim ahli yang tergabung dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) Kabupaten Karangasem dengan melihat kondisi alam. perbukitan dan dataran. dan sebagainya. Tanah Longsor. Rabies. Gelombang Pasang. Letusan Gunung Api. HIV/AIDS. Hama Penggerek Batang. angin putting beliung. Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Penyakit Blast. Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak sekali potensi bencana karna berdasarkan letaknya Indonesia terletak diantara pertemuan 3 lempeng besar yaitu Lempeng Hindia-Australia. Banjir. ekonomi. sosail. longsor. Pertemuan 3 lempeng besar ini menjadikan Negara Indonesia memiliki fenomena alam yang komplek mulai dari pegunungan. . tsunami.tambahan informasi dan usulan strategis yang bisa mendukung terlaksananya pekerjaan ini. Flu Burung. Proses geologi merupakan siklus di bumi dalam mencapai titik keseimbangan yang sering menjadi fenomena ancaman seperti gempa bumi. Campak. Diare. Tsunami. dan Liquifikasi.

Dalam proses pemetaan risiko memerlukan penilaian dan klasifikasi sesuai dengan karakteristik daerah kajian.  Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. diantaranya (Sumber : Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana) :  Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. . biologis. geografis. baik oleh faktor alam dan/atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. kegiatan pencegahan bencana. kerusakan lingkungan.  Rencana Penanggulangan Bencana adalah rencana penyelenggaraan penanggulangan bencana suatu daerah dalam kurun waktu tertentu yang menjadi salah satu dasar pembangunan daerah. dan teknologi pada suatu kawasan untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah. ekonomi. dan dampak psikologis. 2) Pengertian Dasar Pemetaan Risiko Sehubungan dengan penyusunan pengerjaan kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. politik. budaya. tanggap darurat. dan rehabilitasi. kerugian harta benda. hidrologis. meredam. sosial. terapat istilah dan definisi terkait yang ditelaah dari peraturan-peraturan yang juga masih berhubungan dengan kegiatan pengerjaan pendapingan ini.  Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. mencapai kesiapan. Perlunya kajian pemodelan yang tepat dalam pemetaan risiko sehingga dapat dihasilkan peta risiko yang benar-benar sesuai dengan kondisi sebenarnya. klimatologis. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.

luka.  Kerentanan adalah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana. dan area-area yang didefinisikan oleh lokaisnya dengan sistem koordinat tertentu dan oleh atribut non-spasialnya.  Korban bencana adalah orang atau kelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.  Cek Lapangan (ground check) adalah mekanisme revisi garis maya yang dibuat pada peta berdasarkan perhitungan dan asumsi dengan kondisi sesungguhnya. selanjutnya disebut GIS. kerusakan atau kehilangan harta. hilangnya rasa aman. adalah sistem untuk pengelolaan. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. pemrosesan atau . adalah lembaga pemerintah non departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. mengungsi. sakit.  Badan Nasional Penanggulangan Bencana.  Geographic Information System. penyimpanan. jiwa terancam. dan gangguan kegiatan masyarakat.  Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya dengan satuan atau teknik tertentu. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Republik Indonesia Tahun 1945. yang selanjutnya disingkat dengan BNPB.  Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi Dasar Negara ancaman bencana.  Peta adalah kumpulan dari titik-titik. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. garis-garis.  Badan Penanggulangan Bencana Daerah. yang selanjutnya disingkat dengan BPBD.

 Kajian Risiko Bencana adalah mekanisme terpadu untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap risiko bencana suatu daerah dengan menganalisis Tingkat Ancaman.  Peta Risiko Bencana adalah gambaran Tingkat Risiko bencana suatu daerah secara spasial dan non spasial berdasarkan Kajian Risiko Bencana suatu daerah 3) Dasar Hukum Dasar hukum yang dapat digunakan dalam kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah  UU RI No. 17 Tahun 2006 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025  UU RI No. dan penayangan data yang mana data tersebut secara spasial (keruangan) terkait dengan muka bumi. antara lain :  UU RI No. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional  UU RI No.  Tingkat Kerugian adalah potensi kerugian yang mungkin timbul akibat kehancuran fasilitas kritis.manipulasi. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana .  Tingkat Ancaman Tsunami adalah potensi timbulnya korban jiwa pada zona ketinggian tertentu pada suatu daerah akibat terjadinya tsunami. fasilitas umum dan rumah penduduk pada zona ketinggian tertentu akibat bencana.  Kapasitas adalah kemampuan daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan pengurangan Tingkat Ancaman dan Tingkat Kerugian akibat bencana.  Peta Landaan adalah peta yang menggambarkan garis batas maksimum keterpaparan ancaman pada suatu daerah berdasarkan perhitungan tertentu. analisis.  Tingkat Risiko adalah perbandingan antara Tingkat Kerugian dengan Kapasitas Daerah untuk memperkecil Tingkat Kerugian dan Tingkat Ancaman akibat bencana. Tingkat Kerugian dan Kapasitas Daerah.

hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk melakukan aksi pendampingan maupun intervensi teknis langsung ke komunitas terpapar untuk mengurangi risiko bencana. Kebijakan ini nantinya merupakan dasar bagi penyusunan Rencana Penanggulangan mengarusutamakan pembangunan. UU RI No. 4) Prinsip Pengkajian Risiko Bencana Pengkajian risiko bencana memiliki ciri khas yang menjadi prinsip pengkajian. 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaaraan Penanggulangan Bencana  PP No.  Kemampuan untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar. Dan peraturan-peraturan lainnya yang terkait. kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan. para ahli 5) Fungsi Pengkajian Risiko Bencana Pada tatanan pemerintah.  Kemampuan untuk diterjemahkan menjadi kebijakan pengurangan risiko bencana. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Wilayah  PP No. Bencana yang merupakan bencana mekanisme dalam untuk rencana penanggulangan Pada tatanan mitra pemerintah. 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana  Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. . Oleh karenanya pengkajian dilaksanakan berdasarkan :  Data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Pendampingan dan intervensi para mitra harus dilaksanakan dengan berkoordinasi dan tersinkronasi terlebih dahulu dengan program pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.  Integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari dengan kearifan lokal masyarakat.

peta kerentanan aset. Peta KRB Gunungapi Merapi. Secara mendasar pemahaman tentang konsep bencana menjadi dasar yang kuat dalam melakukan pemetaan risiko bencana yang dapat diaplikasikan kedalam Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat ditampilkan secara spasial dan menghasilkan peta ancaman.Pada tatanan masyarakat umum. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai salah satu dasar untuk menyusun aksi praktis dalam rangka kesiapsiagaan seperti menyusun rencana dan jalur evakuasi. B. Analisis risiko bencana dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya adalah metode pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). INOVASI Risiko bencana dapat dinilai tingkatannya berdasarkan besar kecilnya tingkat ancaman dan kerentanan pada suatu wilayah. peta kerentanan lokasi Peta Kapasitas . peta kerentanan. Dewasa ini berbagai pihak telah mencoba untuk menyusun peta risiko bencana. dan sebagainya. peta kapasitas dan peta risiko bencana. peta kerentanan pendidikan. Misalnya : Peta KRB Gunungapi Kelud. Peta kawasan Rawan Banjir Peta Kerentaan Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu kerentanan tertentu pada aset-aset penghidupan dan kehidupan yang dimiliki yang dapat mengakibatkan risiko bencana. Peta Ancaman Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu ancaman atau bahaya tertentu. belum adanya standarisasi dalam metode penyusunan peta risiko menyebabkan setiap lembaga atau institusi memiliki metode yang berbeda dalam penyusunan peta risiko. pengambilan keputusan daerah tempat tinggal. Contoh : Peta kerentanan penduduk. Peta bahaya longsor.

dll 2.Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu kapasitas tertentu yang dapat mengurangi risiko bencana. peta risiko bencana longsor. jumlah rumah di kawasan rawan bencana. Peta Risiko Bencana Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki tingkat risiko tertentu berdasarkan adanya parameter-parameter ancaman. peta evakuasi. jumlah penduduk yang sekolah. Analisis ancaman banjir misalnya : peta rawan banjir. jumlah sekolah. Contoh : peta risiko bencana banjir. morfologi. jenis tanah. geomorfologi wilayah. penggunaan lahan di kawasan rawan. peta pengungsian. zonasi patahan. jumlah KK di kawasan rawan bencana. peta risiko bencana gempa. desa yang pernah mendapat pelatihan penanggulangan bencana. dll 3. keberadaan . jumlah sarana kesehatan. peta alat peringatan dini. jumlah KK miskin. parameter ancaman longsor misalnya sejarah kejadian longsor. struktur geologi. curah hujan. jenis batuan. parameter kapasitas misalnya : jumlah tenaga kesehatan. luasan wilayah yang terkena dampak. yang paling utama adalah pemilihan parameter dan indikator masing-masing análisis risiko 1. Analisis ancaman gempa misalnya : sejarah kejadian gempa. jumlah penduduk tidak bisa baca tulis. Dalam metode análisis risiko dengan menggunakan GIS untuk menghasilkan peta risiko. janis batuan. kemiringan lereng. sejarah kejadian banjir. jumlah rata-rata curah hujan. densitas sungai dalam suatu DAS. kerentanan dan kapasitas yang ada di suatu wilayah. kepadatan penduduk. peta tingkat ekonomi masyarakat. parameter kerentanan misalnya : jumlah penduduk. Contoh : peta sarana kesehatan. dll 4. peta jumlah tenaga medis. jumlah kelompok rentan. kepadatan pemukiman. jauh dekatnya pemukiman dari daerah rawan. morfologi. kemiringan lereng. jenis batuan. desa yang punya kebijakan penanggulangan bencana.jumlah curah hujan.dll 5. tingkat mata pencaharian. jenis tanah.

Di dalam pendekatan ini maka Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu akan dilaksanakan sesuai dengan permasalahan yang melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan ini. Pendekatan Studi Dalam melakukan pendekatan teknis melalui pendekatan studi. b. Dari kegiatan tersebut dapat ditentukan skala . dan mendorong keterlibatan dan komitmen sepenuhnya untuk melaksanakannya. Pendekatan Keterpaduan Perencanaan dari Atas dan Bawah ( BottomUp Approach) Pendekatan ini merupakan upaya melibatkan semua pihak sejak awal. Uraian mengani pendekatan dan metodelogi pekerjaan yang diterapkan akan dijelaskan pada bagian ini. metode yang digunakan dalam pekerjaan ini antara lain : a. sehingga setiap keputusan yang diambil dalam perencanaan adalah keputusan mereka bersama. Pendekatan Strategis Dalam aplikaisnya pendekatan memperhatikan secara aspek secara keseluruhan sebelum menetukan poin-poin utama yang menjadi pokok permasalahan. A. keberadaan alat peringatan dini. Pihak konsultan memiliki pandangan dan visi ke depan bahwa dengan pemaparan pendekatan teknis dan metodelogi pekerjaan ini akan meningkatkan range kualitas kerja yang ada. PENDEKATAN TEKNIS DAN METODELOGI Dalam rangka memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan dengan bobot dan kualitas yang direncanakan sejak awal dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. 5.organisasi penanggulangan bencana di masyarakat. yang di mana pihak konsultan dalam penguraian yang berhubungan realisaisnya di lapangan berpedoman pada KAK yang ada. Perencanaan dari atas ke bawah sebagai penurunan kebijakan pembangunan pada tingkat Nasional.8. maupun kebijakan pada tingkat regional. PENDEKATAN TEKNIS 1.

Strategic Approach ini akan membantu terutama dalam penyusunan kriteria maupun tolok ukur guna kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. Sehingga nanti pada akhirnya produk keluaran kegiatan. dan melihat kemapuan pemerintah. Pendekatan Komprehensif Adalah pendekatan yang diawali dengan identifikasi potensi dan permsalahan yang menjadi popok dalam wilayah kajian.prioritas sebuah permasalahan. Sehingga pada tahap selajutnya didapatkan koordinasi. e. Pendekatan ini bertumpu pada perencanaan yang menyeluruh dan selalu terkait dengan sektor-sektor lain serta wilayah dengan skala lebih luas secara regional atau nasional. Nilai-nilai tradisional yang positif perlu diakomodir untuk merangsang peran serta masyarakat yang lebih besar dalam pembangunan kawasannya. dalam masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup penduduk dalam semua aspek dalam suatu wilayah kajian. Selain itu juga memperhatikan ketersediaan sumber daya manusia yang ada. Pendekatan ini juga menekankan pada nilai manfaat dengan memperhatikan isu-isu strategis yang mempunyai dampak vital bagi masyarakat. konsep dasarnya adalah dengan memperhatikan upaya terencana dan sistematis yang dilakukan oleh. d. aspek sosial budaya dan ekonomi setempat. sarana-prasarana. Pendekatan Perencanaan yang Berkelanjutan Pendekatan ini memperhatikan kesinambungan antara aspek kelestarian dengan pokok kegiatan yang dilaksanakan. sikronisasi dan integrasi dengan sektor terkait. c. Sedangkan nilai-nilai pembangunan perlu diupayakan agar tidak . Pendekatan Masyarakat Pada pendekatan ini. untuk. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) ini adalah model pembangunan yang sangat memperhatikan daya dukung alamiah (natural support system) suatu lingkungan.

2. Pendekatan Teoritis Peta adalah bayangan permukaan bumi yang diperkecil yang digambarkan dalam sebuah berdasarkan skala tertentu. 2. a. Dengan begitu dalam aplikasinya masyarakat ikut terlibat berperan serta sehingga terjadi komunikasi yang atraktif yang tujuannya dapat menampung pendapat dan aspirasi mayarakat dalam kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. Gambar 5. sehingga sudutsudut poligon dapat dicari dari titik hasil pengukuran (setelah dikoreksi terhadap jumlah segi-n) untuk kemudian diketahui azimuth untuk tiap sisi poligon.berbenturan dengan nilai-nilai tradisional. dan arah mata angin.… : sudut dalam . 2. titik koordinat wilayah.1. Poligon Tertutup Dengan Pengukuran Sudut Dalam Keterangan gambar :  1. Data yang dibutuhkan adalah sudut.3.… : nomor titik  1. jarak dan azimuth awal. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam sebuah penggambaran peta adalah skala. Pengukuran Kerangka 1) Pengukuran Kerangka Horisontal Kerangka yang digunakan dalam pengukuran kerangka horisontal adalah poligon tertutup yang diawali pada titik pasti. 3. legenda.

2. … : nomor titik : sudut dalam : azimuth .n  : sudut luar  : azimuth Dimana : ‘n : nomor titik poligon Gambar 5. 3.3. n = jumlah titik sudut poligon  = jumlah sudut pada poligon b) Syarat sisi d sin  = 0 . … : azimuth Rumus dan syarat yang harus dipenuhi : a) Syarat sudut Jumlah sudut poligon  = ((n-1)*180) Dimana .…  1. d) Mengitung masing – masing garis Rumus : x(n-(n-1)) = x((n-1). Jika tidak ada digunakan azimuth mendatar. 2. d sin  = jumlah hasil proyeksi pada sumbu y d cos = 0 . Poligon Tertutup Dengan Pegukuran Sudut Luar Keterangan gambar :  1.2. d cos = jumlah hasil proyeksi pada sumbu x c) Azimuth awal dapat dihitung dengan menggunakan titik tetap.2.…  1. 3. 2. 1. 3.n)  .

Tampang melintang adalah tampang yang arahnya melintang. b) Penampang tanah pada arah memanjang dan melintang Beda tinggi antara dua titik adalah selisih tinggi dalam ukuran vertikal atau jarak terpendek antara dua nivo yang melalui titik tersebut. d sin  = jumlah hasil proyeksi pada sumbu y d cos = 0 . d) Mengitung masing – masing garis Rumus :x(n-(n-1)) = x((n-1). Volume galian atau timbunan tanah dapat dihitung bila diketahui luas penampang melintang serta jarak antara tampang melintang. digunakan untuk menentukan ketinggian titik detail. Jika tudak ada digunakan azimuth mendatar. Tampang memanjang adalah tampang yang arahnya memanjang.Rumus dan syarat yang harus dipenuhi : a) Syarat sudut Jumlah sudut poligon  = ((n-1)*180) Dimana .n Dimana : n : nomor titik poligon  : sudut luar z : azimuth 2) Pengukuran Kerangka Vertikal Pengukuran kerangka vertikal lebih tepat jika menggunakan waterpass untuk menentukan selisih ketinggian di atas permukaan bumi. . Hal ini diperlukan untuk menghitung galian dan timbunan tanah. n = jumlah titik sudut poligon  = jumlah sudut luar poligon b) Syarat sisi d sin  = 0 . dimana titik–titik tersebut dinyatakan dalam suatu bidang referensi.n)  . pekerjaan dibagi atas : a) Penyipatan datar untuk menunjukkan ketinggian antara 2 titik. d cos = jumlah hasil proyeksi pada sumbu x c) Azimuth awal dapat dihitung dengan menggunakan titik tetap.

BB dan BT. Pengukuran Titik Keterangan Gambar : A : tempat berdiri alat B : tempat berdiri rambu M : sudut miring hi : tinggi alat h : beda tinggi BA : bacaan benang atas BT : bacaan benang tengah BB : bacaan benang bawah L : BA – BB D : jarak datar .3. Beda tinggi yang didapat dipakai sebagai data pada peta topografi. Pada pengukuran ini tidak mungkin dilakukan pengukuran detail secara lengkap. Pada pengukuran titik detail ini menggunakan theodolit yang dilengkapi dengan kompas dan bacaan BA. untuk pengukuran pada beda tinggi dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 5. Oleh karena itu titik detail harus diambil seselektif mungkin. 3) Pengukuran Detail Titik detail adalah semua penampakkan yang ada di permukaan bumi baik alamiah maupun buatan manusia.Dari hasil pengukuran didapat beda tinggi suatu titik ikat (poligon) terhadap titik ikat lainnya.

BT.D’ : jarak miring Dari pengukuran di lapangan diperoleh BA. BB. L’ = L x cos m D = L’ x F D = D’ sin z Beda tinggi ( h ) h = D’ cos z = 100 L sin z cos z = 100. L (2 sin z cos z) = 50 sin 2z L Sehingga beda tinggi .0. . BB. BA. A-B (h) HAB = h1 + h – BT HB = HA +h – BT = ketinggian titik B = L sin z = 100 sin2z Dengan HB Pengukuran titik detail dalam praktikum ini dilakukan dengan cara memancar seperti di bawah : Gambar 5. Pengukuran Detail Cara Mendatar Pengukuran detail cara mendatar dilakukan melalui pengukuran pada tiap-tiap titik poligon diambil tiap 45 lalu diukur azimuth.4. BT dan zenith.5. z maka .

Metode Trigonometri Keterangan gambar :    z m s = sudut zenith = sudut miring = jarak A-B . Gambar 5. Metode Barometris Pengukuran Beda Tinggi Barometris Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara. Cara ini juga dipengaruhi suhu.5.4) Metode Pengukuran Beda Tinggi Gambar 5. maka beda tinggi (h) mempunyai hubungan erat dengan tekanan udara di A dan di B.6. kelembaban dan gaya tarik bumi. Tekanan udara di A adalah berat udara di A setinggi a dan tekanan udara di B setinggi b .

Pengukuran beda tinggi trigonometri Untuk metode trigonometri diperlukan alat ukur (theodolit). Untuk menghindari kelengkungan teropong dengan dilengkapi nivo di tengah-tengah dan diusahakan garis bidik di dalam teropong dibuat sejajar dengan garis arah nivo b. Apabila pesawat di A dan diarahkan ke B. Angka a dan b adalah hasil pembacaan mistar atau rambu. Metode Sipat Datar Pengukuran beda tinggi sifat datar Pada beda tinggi h antara A dan B dapat ditentukan dengan menggunakan garis mendatar dan 2 mistar dipasang di atas titik A dan B. Cara ini juga dipengaruhi suhu. Jika jarak mendatar antara A dan B adalah s maka beda tinggi antara A dan B = s tan m. maka dapat diukur sudut miring dan sudut tegak (Zenith). Notasi dan Simbol Unsur-Unsur Peta 1) Kebijakan Pemerintah Tentang Tingkat Ketelitian Peta  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tanggal 21 Februari 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah. Garis mendatar ini dapat dihasilkan dengan menarik seutas benang atau kawat dibantu dengan waterpass. adalah salah satu peraturan . Gambar 5.7. Namun cara ini masih lebih baik dibandingkan metode barometris. kelembaban sehingga menyebabkan cahaya A ke B mungkin tidak lurus melengkung atau mengalami defleksi.

c) Waterpass Digunakan untuk mengukur jarak dan beda tinggi antar patok dengan cara menempatkan waterpass di tengah-tengah antara 2 patok kemudian menembak dua patok itu di muka dan di . Perhitungan dan Penggambaran peta 1) Perhitungan Alat perhitungan dalam pengukuran peta terdiri dari berbagai macam alat. Badung melalui pemanfaatan citra satelit.000  Pada survey dan pemetaan untuk pembuatan peta dasar dan peta citra satelit Kec. 2) Penotasian dan Pemberian Simbol Pada Peta Skala 1: 10. Tujuannya untuk menggambar kondisi kontur pada lokasi tersebut.000.2). peta wilayah. peta yang digunakan berskala 1 : 10. Pada waktu menembak suatu titik. sudut–sudut istimewa dan titik–titik kritis. peta tematik dan peta tata ruang. kita membaca bacaan benang atas (BA). Notasi dan simbol yang digunakan dibedakan berdasarkan kelompok dan karakteristik variabel yang ditampilkan dalam suatu peta (Tabel E.pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. c.1 dan Tabel E. b) Digital Theodolit (DT) Digunakan untuk menghitung sudut dalam () suatu poligon dan jarak dari satu patok ke patok lain. bacaan benang tengah (BT) dan bacaan benang bawah (BB). Kuta Kab. juga berisi tentang simbol dan/atau notasi unsurunsur peta wilayah dan simbol dan/atau notasi peta rencana tata ruang wilayah dalam berbagai skala.  Peraturan Pemerintah ini selain memuat ketentuan dan pengertian mengenai peta dasar. yaitu: a) Theodolit Manual Digunakan untuk menembak titik-titik pada azimuth. dimana 2 BT = BA +BB.

b) Menentukan letak patok atau koordinat poligon pada grade. f) Mencocokan hasil gambar dengan data-data hasil perhitungan pengukuran Sedangkan penggambaran dengan metode digital sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer dan software yang aplikatif. baik dari penyimpanan. Penggambaran dengan metode manual dapat dilakukan dengan : a) Membuat grade pada kertas . tapi alat utama untuk melakukan aktivitas pengolahan dan visualisasi data geologi. . Di samping diperlukan waktu ekstra jika disimpan dalam format hardcopy. Pembacaan alat yaitu berupa bacaan benang atas (BA). Saat ini komputer bukan hanya sekadar alat bantu. 2) Metode Penggambaran Dalam penggambaran sebuah peta dapat dilakukan dengan menggunakan metode manual atau dengan metode digital (komputer). pengolahan dan penggunaan ulang suatu data. tujuanya untuk penggambaran posisi melintang sehingga terlihat dengan jelas ketinggian tanahnya.belakang alat. karena tidak membutuhkan biaya yang besar untuk menyimpan dan mengelolanya. bacaan benang bawah (BB). Dalam dunia kartografi (khususnya peta geologi) peta digital menjadi peta standard untuk penyimpanan data. c) Membuat poligon tertutup. Untuk pengukuran melintang pada waterpass terbatas pada azimuth /2 dan azimuth (/2 +180) yang diukur adalah jarak terhadap alat ketinggian di atas titik O. bacaan benang tengah (BT). d) Menentukan titik detail (pojok bangunan) e) Membuat garis kontur dengan interpolasi data dari hasil perhitungan pengukuran memancar.

Saat ini komputer untuk pengolahan data geologi dapat dijumpai mulai dari komputer pribadi sampai komputer setingkat mainframe bahkan jika tidak punya uang yang cukup bisa dengan komputer cluster.Pada proses pengolahan data. Dalam ilmu kebumian. komputer memberikan jaminan akurasi dan kecepatan. Komputer cluster banyak dipakai untuk menggantikan superkomputer. karena dari segi harga superkomputer sangat mahal. komputer cluster dapat digunakan untuk menyimpan dan mengolah data yang besar dan cepat misalnya untuk aplikasi GIS atau pengolahan citra. komputer sudah bukan merupakan barang yang asing. Kesalahan rambatan dan kesalahan akibat manusia dapat dikurangi atau dihindari. Pengeplotan data koordinat dapat dilakukan secara otomatis sehingga tidak diperlukan waktu tambahan untuk memindahkan data lapangan ke atas kertas atau komputer pribadi. Dalam dunia ilmu kebumian. baik dari pemetaan peta dasar sampai pemetaan geologi detail. dan visualisasi) akan menjadi cepat jika dilakukan dengan komputer. Tidak dibutuhkan waktu berhari-hari untuk menggambar suatu peta atau mengolah suatu data. Pemrosesan data geologi (perhitungan. Beberapa masalah geologi yang dapat dilakukan dengan kemputer adalah sebagai berikut :  Pengambilan data (pemetaan secara langsung di lapangan).  Penyimpanan dan manajemen data  Pengolahan dan manipulasi data  Menampilkan/memvisualisasikan data Dengan adanya notebook atau laptop pengambilan data dan pemetaan langsung di lapangan dapat dilakukan. Keunggulan pemetaan yang dibantu dengan komputer antara lain. Data tambahan di . modeling. akurasi pengeplotan menjadi lebih tepat apalagi jika dibantu dengan GPS.

pada pembuatan peta kontur yang dikenal ada 2 macam tipe penggridan (tiangulasi dan grid). moduscalc yang menggunakan . Terdapat banyak sekali metode analisis data yang dapat dipakai untuk geologi. apakah dengan klasifikasi data. misalnya dibutuhkan waktu untuk mendigitize dan memasukkan data ulang. tergantung bidang. Kadang kala suatu metode menjadi data tidak tepat yang kalau digunakan untuk tidak menganalisis tertentu pengambilannya mendasarkan prinsip pada metode yang digunakan. Sebagai contoh. Sebagai contoh untuk bidang petrologi dikenal ada beberapa macam program normatif. Pada data yang tersebar sangat acak atau terkonsentrasi akan menghasilkan peta kontur yang tidak representatif jika dilakukan dengan grid. yaitu prinsip dari metode yang digunakan dan proses pengambilan data. Penerapan metode terntentu untuk suatu data harus mempertimbangkan 2 hal. Ini suatu pekerjaan yang tidak efisien. tapi akan lebih baik jika dilakukan dengan metode triangulasi. Begitu juga dalam metode grid yang paling tidak ada 5 macam metode grid. Data yang disimpan dalam format digital dapat dikelola sesuai keinginan kita. lpnorm yang menggunakan prinsip Linear Programming dapat dipakai untuk semua jenis batuan. Kesalahan pemilihan metode akan menghasilkan visualisasi yang tidak representatif. Data digital dapat diolah dan dimanipulasi sesuai dengan pendekatan metode yang digunakan. misalnya CIPW untuk analisis normatif batuan beku. penambahan data atau menghapus data yang sudah tidak valid. sednorm untuk batuan sedimen yang menggunakan prinsip kedewasaan mineral (urutan perhitungan berdasarkan kekuatan mineral). Proses penyimpanan dan manajemen data menjadi hal yang penting ketika kita akan memakai kembali atau membuat database dari data yang telah diambil.luar peta geologi dapat di simpan sesuai dengan program yang digunakan (lebih baik dalam format DWG atau ASCII). Data yang disimpan dalam format hardcopy akan membutuhkan waktu yang cukup banyak jika akan digunakan kembali untuk membuat suatu analisis.

. 1) Metode Penyusunan Peta Risiko Bencana Gambar di bawah ini memperlihatkan Peta Risiko Bencana merupakan overlay (penggabungan) dari Peta Ancaman. kajian diharapkan mampu menghasilkan peta risiko untuk setiap bencana yang ada pada suatu kawasan. Peta-peta tersebut diperoleh dari berbagai indeks yang dihitung dari datadata dan metode perhitungan tersendiri. Peta Kerentanan dan Peta Kapasitas. METODELOGI Komponen pengkajian risiko bencana terdiri dari ancaman.prinsip Niggli molekular. Ditingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. Penting untuk dicatat bahwa peta risiko bencana dibuat untuk setiap jenis ancaman bencana yang ada pada suatu kawasan. B. kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan. Kajian dan peta risiko bencana ini harus mampu menjadi dasar yang memadai bagi daerah untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. dan mesonorm untuk menghitung normatif batuan metamorf (metamorf tingkat tinggi). Komponen ini digunakan untuk memperoleh tingkat risiko bencana suatu kawasan dengan menghitung potensi jiwa terpapar. Selain tingkat risiko. kerentanan dan kapasitas.

9. memperlihatkan bahwa Kajian Risiko Bencana diperoleh dari indeks dan data yang sama dengan penyusunan Peta Risiko Bencana. 2 Thn. . Oleh karena itu. Perbedaan yang terjadi hanya pada urutan penggunaan masing-masing indeks. Gabungan Tingkat Kerugian dan Tingkat Kapasitas merupakan Tingkat Risiko Bencana.Gambar 5. Tingkat Ancaman yang telah memperhitungkan Indeks Ancaman di dalamnya. menjadi dasar bagi perhitungan Tingkat Kerugian dan Tingkat Kapasitas. 2012 2) Metode Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana Gambar 5.8. Urutan ini berubah disebabkan jiwa manusia tidak dapat dinilai dengan rupiah. Metode Penyusunan Peta Risiko Bencana Sumber : Peraturan Kepala BNPN No.

Korelasi penyusunan Peta dan Dokumen Kajian Risiko Bencana merupakan Metode Umum Pengkajian Risiko Bencana Indonesia. dapat dilihat pada gambar 5.8.9 menunjukkan. .10. korelasi antara metode penyusunan Peta Risiko Bencana dan Dokumen Kajian Risiko Bencana terletak pada seluruh indeks penyusunnya.8 dan gambar 5. 2 Thn.9. 2012 3) Korelasi Penyusunan Peta dan Dokumen Kajian Gambar 5. Metode Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. Indeks-indeks tersebut bila diperhatikan kembali disusun berdasarkan komponen-komponen yang telah dipaparkan pada gambar 5.Gambar 5.

Gambar 5. Metode Umum Pengkajian Risiko Bencana Indonesia Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. 2012 4) Analisis Risiko Peta Risiko Bencana dan Kajian Risiko Bencana harus disusun untuk setiap jenis ancaman bencana yang ada pada daerah kajian. Rumus dasar umum untuk analisis risiko yang diusulkan dalam 'Pedoman Perencanaan Mitigasi Risiko Bencana' yang telah disusun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (Peraturan Daerah Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008) adalah sebagai berikut: dimana: R H ≈ : Hazard Threat: Frekuensi ∗ (kemungkinan) bencana tertentu : Disaster Risk: Risiko Bencana cenderung terjadi dengan intensitas tertentu pada lokasi tertentu V: Vulnerability: Kerugian yang diharapkan (dampak) di daerah tertentu dalam sebuah kasus bencana tertentu terjadi dengan intensitas tertentu.10. Perhitungan variabel ini biasanya didefinisikan sebagai pajanan . 2 Thn.

set parameter empiris yang luas dan indikator akan diperlukan. Analisis pemetaan risiko ini menggunakan semikuantitatif. namun akan berisi nilai indeks bukan nilai riil. indeks yang digunakan dalam analisis yang dikonversi menjadi nilai antara 0 dan 1. yang menggunakan faktor pembobotan dan nilai-nilai indeks. Rumus 'R = H * V / C' yang dijelaskan di atas masih berlaku. Dalam analogi Human Development Index (HDI) dari UNDP. aset.(penduduk. Penelitian tersebut secara global hanya dalam tahap awal dan data yang dapat dipercaya lokal pada khususnya sensitivitas masih jauh dari tersedia. Indikator yang digunakan untuk analisis resiko semi-kuantitatif akan dipilih didasarkan pada kesesuaian dan ketersediaan. dimana 0 merupakan nilai minimum indikator asli. dll) dikalikan sensitivitas untuk intensitas spesifik bencana C : Adaptive Capacity: Kapasitas yang tersedia di daerah itu untuk pulih dari bencana tertentu. dimana indeks risiko membentuk akar akhir dari analisis. Dalam kasus dengan angka rendah yang banyak dan beragam dalam jumlah yang kadang-kadang tinggi. dan 1 merupakan nilai maksimum. untuk membuat indeks sebanding setidaknya dalam dimensi. akan dilakukan konversi logaritmik (Log10) daripada konversi 'linier'. Inti dari metodologi pemetaan risiko adanya suatu struktur pohon indikator. Pendekatan ini adalah pendekatan yang umum digunakan di beberapa analisis risiko bencana dan pemetaan di luar Indonesia. Dalam kebanyakan kasus indeks menengah dihitung berdasarkan penjumlahan indeks dikalikan dengan faktor pembobotan. Penilaian faktor pembobotan akan dilakukan berdasarkan . didukung oleh penelitian yang luas. dan dalam beberapa kasus pada perkalian dari indeks (seperti indeks risiko itu sendiri) . Untuk analisis risiko kuantitatif untuk semua jenis dampak.

Saaty dimulai pada tahun 1970. 5) Analytic Hierarchy Process Dalam analisis semi-kuantitatif. dimana data terutama disimpan dengan menggunakan strukturvektor. kerentanan dan peta kapasitas. Untuk penyusunan peta kerentanan dan kapasitas penggunaan peta secara luas akan dibuat berdasarkan informasi yang tersedia dalam sosial. AHP adalah suatu metodologi pengukuran melalui perbandingan pasangan-bijaksana dan bergantung pada penilaian para pakar untuk mendapatkan skala prioritas. dimana indeks dapat dihasilkan dalam format grid.dokumen rujukan nasional dan internasional. Akhirnya peta risiko bencana akan dihitung dari bahaya. Faktor faktor pembobotan terbaik diperoleh melalui konsensus pendapat para ahli. Inilah skala yang mengukur wujud secara relatif. Suatu metodologi muncul ke sebuah konsensus tersebut adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). Jika sudah ada peta bahaya (SNI) maka indeks peta bahaya dapat diturunkan langsung dari sumber-sumber ini. Untuk analisis pemetaan kombinasi lapisan GIS berbasis vektor dan grid akan digunakan. ekonomi.11. Metodologi ini telah dikembangkan oleh Thomas L. yang merepresentasikan berapa banyak satu indikator mendominasi yang lain sehubungan dengan suatu bencana tertentu. fisik. Penjelasan skala dijelaskan pad Gambar 5. Perbandingan yang dibuat dengan menggunakan skala penilaian mutlak. kurangnya informasi tentang khususnya tentang faktor sensitivitas dikompensasi oleh faktor bobot. dan awalnya dimaksudkan sebagai alat untuk pengambilan keputusan. lingkungan dan kapasitas. .

Faktor pembobotan diperoleh dengan menghitung eigenvektor dari matriks.11. dan kemudian menormalkan hasil untuk total 1.Gambar 5. 2012 Skala pasangan-bijaksana ini diletakkan bersama dalam suatu matriks. Contohnya dapat dilihat pada Gambar 5. Dikatakan bahwa metodologi AHP memberikan hasil lebih baik jika eigen vektor tidak diambil langsung dari matriks tetapi diambil dari iterasi dari perkalian matriks pada dirinya sendiri. Fundamental Skala AHP untuk Perbandingan Pasangan-Bijaksana dari Indikator Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. dengan semua indikator sepanjang kolom dan baris. . 2 Thn.12.

12.1 berikut : . Kapasitas. 2012 6) Teknik GIS untuk Analisis Pemetaan Resiko Metodelogi Pemetaan Risiko bergantung pada luas pada penggunaan teknik-teknik GIS.Gambar 5. dll)  Grid ‘perhitungan’  Klasifikasi dan penurunan grid pada kontur dan layer grid  Persiapan rangkuman statistik dan histografis Rincian mengenai teknik GIS yang disebutkan di atas dsebutkan pada Tabel 5. Kerentaan. Kapasitas dan Risiko. 2 Thn. antara lain teknik analisis grid yang digunakan :  Pembuatan grid (dari sumber-sumber vektor)  Penggabungan dan pemotongan layer grid  Definisi rentang warna digunakan untuk warna grid dan legenda  Analisis grid spesifik (grid. Dalam Proses Peta Indeks Ancaman. kemiringan.. Contoh Pembobotan Faktor Persiapan untuk Longsor Menggunakan AHP Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. grid ‘jarak objek.

1.Tabel 5. Teknik GIS yang Fundamental .

.

sedang dan tinggi. yaitu kemungkinan terjadi suatu ancaman dan besaran dampak yang pernah tercatat untuk bencana yang terjadi tersebut. Dapat dikatakan bahwa indeks ini disusun berdasarkan data dan catatan sejarah kejadian yang pernah terjadi pada suatu daerah.2 berikut : Tabel 5. komponen komponen utama ini dipetakan dengan menggunakan Perangkat GIS.2. Data yang diperoleh kemudian dibagi dalam 3 kelas ancaman. yaitu rendah. Komponen Indeks Ancaman Bencana . Pemetaan baru dapat dilaksanakan setelah seluruh data indikator pada setiap komponen diperoleh dari sumber data yang telah ditentukan. Dalam penyusunan peta risiko bencana.7) Indeks Ancaman Bencana Indeks Ancaman Bencana disusun berdasarkan dua komponen utama. Komponen dan indikator untuk menghitung Indeks Ancaman Bencana dapat dilihat pada Tabel 5.

.

Beberapa jenis hazard (peta ancaman) telah dikeluarkan oleh Kementerian/Lembaga terkait. Gempabumi (tim 9 revisi gempa) Gunakan field Value untuk melakukan pengkelasan hazard. tergantung pada kerentaan dan kapasitas di suatu daerah yang dapat menyebabkan bencana.8) Identifikasi Jenis Ancaman (Hazard) Untuk menentukan jumlah ancaman yang ada pad suatu daerah. intensitas tinggi hanya terjadi dengan frekuensi sangat rendah. seperti di bawah ini : . Jadikanlah nilai dari 4 kelas menjadi 3 kelas sesuai dengan kriteria. Untuk sebagian besar bencana. Peta bahaya memerlukan wilayah dimana peristiwa alam tertentu terjadi dengan frekuensi dan intensitas tertentu. gunakan nilai berikut : Catatan : Nilai di atas digunakan ketika menyusun peta risiko. seperti di bawah ini : b. maka disarankan menggunakan peta ancaman tersebut untuk jenis bencana : a. Untuk lay out peta ancaman (hazard) gunakan sesuai dengan nilai asli dari tm 9. Longsor (ESDM) Gunakan field kerentaan.

Kekeringan (BMKG) Gunakan data yang ada.c. Lakukan digitasi KRB untuk gunung api yang belum tersedia featurenya. kemudian ubah kelas yang ada dari 5 kelas menjadi 3 kelas. Lakukan overlay kelas rawan banjir tersebut dengan SRTM untuk mendapatkan ketinggian genanangan. Dengan skoring berikut : e. Banjir (PU dan Bakosurtanal) Hanya terdapat satu jenis kelas yaitu rawan banjir. Gunungapi (PVMBG) Gunakan KRB dari PVMBG untuk mendapatkan hazard gunung api. . gunakan titik gunungapi untuk mengetahui gungu api yang terdapat di masing-masing pulau. Kelas KRB sesuaikan dengan peta yang ada dari PVMBG Catatan : Cross check kelengkapan peta KRB ke PVMBG. d.

lakukan pemilihan dengan menggunakan query builder. gunakan identity untuk proses overlay. Langkahlangkahnya sebagai berikut :  Tampilkan data SRTM 30 m di ArcMap  Untuk mendapatkan nilai ketinggian dari SRTM lakukan konversi raster ke point dengan menggunakan ArcToolbox di ArcMap. (Gunakan dokumen TRA).  Untuk mendapatkan wilayah keabupaten kedalam atribut titik SRTM lakukan overlay. “grid_code”>=0  Export kembali data titik SRTM anda yang bernilai positif. dengan wilayah administrasi tingkat kabupaten (polygon). sedang.Lakukan skoring sesuai dengan kelas yang ada (tinggi.  Lakukan pemilihan titik SRTM berdsarkan ketinggian maksimum dan wilayah kabupatennya. rendah) Hazard non SNI merupakan peta ancaman yang belum diperoleh dari K/L terkait.  Export qery menjadi sebuah feature baru. Tsunami BNPB telah mengeluarkan Pedoman Kajian Risiko atau Tsunami Risk Assessment Guideline (TRA) untuk penentuan zonasi tsunami dapat dilihat pada dokumen yang ada. Jenis ancaman non SNI meliputi : a. Perhatikan contoh syntax yang digunakan di bawah ini.  Setelah itu pilih nilai SRTM yang bernilai positif. Klik kanan pada layer > data expot. Zonasi hazard ini harus ditentukan menggunakan metodelogi yang telah ditentukan. .

Kelas tinggi (tinggi genangan maksimum -3)  Lakukan normalisasi nilai kelas diatas dengan membagi nilai kelas dengan nilai maksimum.  Hasil yang diperoleh berupa peta ancaman tsunami dengan 3 kelas ancaman. Kelas rendah : (tinggi genangan maksimum – 1). Kegagalan Teknologi Indikator yang digunakan untuk peta bahaya kegagalan teknologi adalah jenis industri dan kapasitas industri berdsarkan data perindustrian. Sehingga nilai kelas berubah menjadi 0-1. Lakukan pengkelasan berdasarkantinggi genangan maksimum (gunakan dokumen TRA). Dinyatakan sebagai persamaan c. Buat sebuah field baru. Zona bahaya yang didentifikasikan pada peta bahaya konflik sosial berdsarkan kelas dan bobot untuk masing-masing berikut : parameter.  Pengkelasan dilakukan dengan melihat tinggi genangan maksimum. gunakan pewranaan stretch raster.  Konversikan nilai skor tsunami yang telah dibuat menjadi data raster. sedang. Gunakan fungsi point to raster. yaitu rencah. tinggi. Konflik Sosial Indikator yang digunakan untuk peta bahaya konfliksosial adalah jumlah kejadian dan dampak terhadap manusia akibat kejadian berdasarkan data historical. Zona bahaya yang didefinisakan pada peta bahaya kegagalan teknologi berdasarkan kawasan industri dari peta . b. Buat sebuah field baru. gunakan satuan meter untuk konversi ke raster 100 x 100.

dikombinasikan dengan kepadatan penduduk. demam berdarah. Dinyatakan sebagai persamaan ini terlihat sebagai berikut : d. Parameter konversi indeks dan persamaan ditunjukkan sebagai berikut : Keterangan : A : Kepadatan penderita malaria B : Kepadatan penderita demam berdarah A : Kepadatan penderita HIV/AIDS . rata-rata terjadinya indeks kepadatan dikalikan dengan logaritma kepadatan penduduk. HIV/AIDS dan campak). Untuk mendapatkan skala bahaya. Epidemi dan Wabah Penyakit Indikator yang digunakan untuk peta bahaya epidemic dan wabah penyakit adalah terjadinya kepadatan bahaya epidemi (malaria.RTRW tingkat provinsi dan dengan data tingkat kabupaten/kota dan kemudian dihitung kelas dan bobot masing-masing parameter.

semak belukar. perkebunan. curah hujan tahunan dikalikan bobot (/500x30%) dan koefisien jenis tanah dikalikan bobot 30%. nilai kerugian ekonomi. Untuk mendapatkan skala bahaya. f. Parameter konversi indeks dan persamaannya ditunjukkan di bawah ini : . padang rumput. koefisien jenis hutan dikalikan bobot 40%. Dinyatakan sebagai persamaan ini terlihat sebagai berikut : Data yang digunakan berdsarkan data dari Dinas Kebakaran Setempat.A : Kepadatan penderita campak e. Kebakaran Hutan dan Lahan Indikator yang digunakan untuk peta bahaya kebakaran hutan dan lahan adalahkoefisien jenis hutan dan lahan (hutan. dan lahan pertanian). jumlah korban meninggal. dan jumlah korban luka berat. Kebakaran Gunung dan Permukiman Indikator yang digunakan untuk peta bahaya kebakaran gedung dan permukiman adalah frekuensi jumlah kejadian kebaran. curah hujan tahunan dan koefisien jenis tanah. Zona bahaya yang didefinisikan pada peta bahaya kebakaran gedung dan pemukiman berdasarkan kelas dan bobot untuk masing-masing parameter.

Parameter konversi indeks dan persamaan ditunjukkan pada di bawah ini : h. Parameter koversi indeks dan persamaan ditunjukkan pada di bawah ini : . arus wilayah perairan (current). tutupan vegetasi di wilayah pesisir. Cuaca Ekstrim Indikator yang digunakan untuk peta bahaya cuaca ekstrim adalah koefisien keterbukaan (terkait dengan peta penggunaan lahan). Gelombang Ekstrim dan Abrasi Indikator yang digunakan untuk peta bahaya gelombang ekstrim dan abrasi adalah tinggi gelombang. dikombinasikan dengan ‘perbukitan’ (kelas lereng) dan peta curah hujan tahunan.g. bentuk garis pantai dan tipologi pantai.

rasio kemiskinan. fisik dan ekologi/lingkungan. yang bervariasi per bencana (dan intensitas bencana). Tiap aset memiliki sensitivitas sendiri. rasio jenis kelamin. rasio orang cacat dan rasio kelompok umur). 3. Indikator yang digunakan dalam analisis kerentanan terutama adalah informasi keterpaparan. 9) Indeks Kerentaan Peta kerentanan dapat dibagi-bagi ke dalam kerentanan sosial. sedang. Dalam dua kasus informasi disertakan pada komposisi paparan (seperti kepadatan penduduk. Pastikan anda mengerjakan wilayah provinsi berdasarkan zona UTM untuk menghindari kesalahan koversi grid. Masing-masing hazard (ancaman) akan menghasilkan satu peta akhir dalam tiga kelas ancaman rendah. ekonomi. tinggi. . struktur fisik dan wilayah ekologi/lingkungan. wilayah ekonomi. Sensitivitas hanya ditutupi secara tidak langsung melalui pembagian faktor pembobotan. Kerentanan dapat didefinisikan sebagai Exposure kali Sensitivity.Catatan : 1. Lakukan konversi setiap parameter peta ke dalam raster grid unit 100 x 100 2. Aset-aset yang terekspos termasuk kehidupan manusia (kerentanan sosial). Overlay masing-masing parameter dilakukan dalam format raster grid unit 100 x 100 untuk menghasilkan peta ancaman (non SNI) 4.

Data yang diperoleh untuk komponen sosial budaya kemudian . Komponen ini diperoleh dari indikator kepadatan penduduk dan indikator kelompok rentan pada suatu daerah bila terkena bencana. Gambar dengan komposisi indikator kerentanan ditunjukkan di bawah ini: Gambar 5. Informasi tabular dari BPS idealnya sampai tingkat desa/kelurahan. PODES. Susenan. PPLS dan PDRB) dan informasi peta dasar dari Bakosurtanal (penggunaan lahan. jaringan jalan dan lokasi fasilitas umum) .13. Untuk peta batas administrasi sebaiknya menggunakan peta terbaru yang dikeluarkan oleh BPS. Indeks ini baru bisa diperoleh setelah Peta Ancaman untuk setiap bencana selesai disusun. 2012 10) Indeks Penduduk Terpapar Penentuan Indeks Penduduk Terpapar dihitung dari komponen sosial budaya di kawasan yang diperkirakan terlanda bencana. Sayangnya tidak ada sumber yang baik tersedia untuk sampai level desa.Sumber informasi yang digunakan untuk analisis kerentanan terutama berasal dari laporan BPS (Provinsi/kabupaten Dalam Angka. sehingga akhirnya informasi desa dirangkum pada level kecamatan sebelum dapat disajikan dalam peta tematik. 2 Thn. Komposisi untuk Analisis Kerentaan Sumber : Peraturan Kepala BNPN No.

Tabel 5. sedang atau tinggi) .3. Komponen dan indikator untuk menghitung Indeks Penduduk Terpapar dapat dilihat tabel 5.dibagi dalam 3 kelas ancaman. Komponen Indeks Penduduk Terpapar . Selain dari nilai indeks dalam bentuk kelas (rendah. sedang dan tinggi.3. yaitu rendah. komponen ini juga menghasilkan jumlah jiwa penduduk yang terpapar ancaman bencana pada suatu daerah.

rasio kemiskinan (10%). rasio kemiskinan. rasio orang cacat dan rasio kelompok umur.Indikator yang digunakan untuk kerentaan sosial adalah kepadatan pendduk. kelompok rentan (40%) yang terdiri dari rasio jenis kelamin (10%). Indeks kerentaan sosial diperoleh dari rata-rata bobot kepadatan penduduk (60%). rasio orang cacat (10%) dan kelompok umur (10%). Parameter konversi indeks dan persamaannya ditunjukkan pada di bawah ini : . rasio jenis kelamin.

Komponen Indeks Kerugian .11) Indeks Kerugian Indeks kerugian diperoleh dari komponen ekonomi. Sama halnya dengan indeks penduduk terpapar. Selain itu dari ditentukannya kelas indeks. fisik. indeks kerugian baru dapat diperoleh setelah Peta Ancaman untuk setiap bencana telah selesai dususun. penghitungan komponen-komponen ini juga akan menghasilkan potensi kerugian daerah dalam satuan rupiah. Komponen dan indikator untuk menghitung Indeks Kerugian dlihat pada Tabel 5.4. Data yang diperoleh untuk seluruh komponen kemudian dibagi dalam 3 kelas ancaman. Tergantung pada jenis ancaman bencana.4. Komponen-komponen ini dihitung berdasarkan indikatorindikator berbeda. dan lingkungan. yaitu rendah. sedang dan tinggi. Tabel 5.

.

.

.

Tanah Longsor. Tsunami. Konflik Sosial. Cuaca Ekstrim dan Gelombang Ekstrim dan Abrasiditunjukkan pada persamaan dalam di bawah ini: . Banjir.Bobot indeks kerentanan ekonomihampir sama untuk semua jenis ancaman. sedangkan PDRB dapat diperoleh dari laporan sektor atau kabupaten dalam angka. kecuali untuk ancaman kebakaran gedung dan pemukiman. Parameter konversi indeks kerentanan ekonomi untuk ancaman Gempabumi. perkebunan. Gunungapi. Kebakaran Hutan dan Lahan. lahan pertanian dan tambak) dan PDRB. Kegagalan Teknologi. Kekeringan. Epidemi dan Wabah Penyakit.KERENTANAN EKONOMI Indikator yang digunakan untuk kerentanan ekonomi adalah luas lahan produktifdalam rupiah (sawah. Luas lahan produktifdapat diperoleh dari peta guna lahan dan buku kabupaten atau kecamatan dalam angka dan dikonversi kedalam rupiah.

ketersediaan bangunan/fasilitas umum dan ketersediaan fasilitas kritis. Kepadatan rumah diperoleh dengan membagi mereka atas area terbangun atau luas desa dandibagi berdasarkan wilayah (dalam ha) dan dikalikan dengan harga satuan dari masingmasing parameter. Parameter konversi indeks kerentanan fisik untuk ancaman Gempabumi. Tanah Longsor. Konflik Sosial. Indeks kerentanan fisik hampir sama untuk semua jenis ancaman. Cuaca Ekstrim dan Gelombang Ekstrim dan Abrasi ditunjukkan pada persamaan dalam di bawah ini. kerentanan fisik diperoleh dari rata-rata bobot kepadatan rumah (permanen. . Kebakaran Gedung dan Pemukiman. Kebakaran Hutan dan Lahan. Epidemi dan Wabah Penyakit. Gunungapi. Kegagalan Teknologi. semi-permanen dan non-permanen). kekeringan yang tidak kecuali ancaman Indeks menggunakan kerentanan fisik. semipermanen dan non-permanen) . Tsunami.ketersediaan bangunan/fasilitas umum dan ketersediaan fasilitas kritis. Banjir.Parameter konversi indeks kerentanan ekonomi untuk ancaman Kebakaran Gedung dan Permukiman ditunjukkan pada persamaan di bawah ini : KERENTANAN FISIK Indikator yang digunakan untuk kerentanan fisik adalah kepadatan rumah (permanen.

KERENTANAN LINGKUNGAN Indikator yang digunakan untuk kerentanan lingkungan adalah penutupan lahan (hutan lindung. hutan bakau/mangrove. hutan alam. Parameter konversi indeks kerentanan lingkungandigabung melalui factor-faktor pembobotan yang ditunjukkan pada persamaan untuk masing-masing jenis ancaman di bawah ini : Tanah Longsor Gunung Api . Indeks kerentanan fisik berbedabeda untuk masing-masing jenis ancaman dan diperoleh dari rata-rata bobot jenis tutupan lahan. rawa dan semak belukar).

Banjir Kekeringan Tsunami .

Konflik Sosial Kegagalan Teknologi Epidemi dan Wabah Penyakit .

Kebakaran Hutan dan Lahan Gelombang Ekstrim dan Abrasi Catatan : setiap parameter kerentanan lingkungan perlu ditambahkan nilai nol di luar area setiap parameter pada saat analisa overlay GIS dengan menggunakan raster kalkulator. . ekonomi. Parameter konversi indeks kerentanan yang ditunjukkan pada persamaan untuk masing-masing jenis ancaman di bawah ini. dengan faktor-faktor pembobotan yang berbeda untuk masing-masing jenis ancaman yang berbeda. Akhirnya semua kerentanan adalah hasil dari produk kerentanan sosial. fisik dan lingkugan. Semua faktor bobot yang digunakan untuk analisis kerentanan adalahhasil dari proses AHP.

Gempa Bumi Tanah Longsor Gunung Api Banjir Kekeringan Tsunami .

Konflik Sosial Kegagalan Teknologi Epidemi dan Wabah Penyakit Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran Hutan dan Lahan .

HIFA yang disepakati oleh lebih dari 160 negara di dunia terdiri dari 5 prioritas program pengurangan risiko bencana.  Tersedianya sumberdaya yang dialokasikan khusus untuk kegiatan pengurangan risiko bencana di semua tingkat pemerintahan. Pencapaian prioritas-prioritas pengurangan risiko bencana ini diukur dengan 22 indikator pencapaian. Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana menjadi sebuah prioritas nasional dan lokal dengan dasar kelembagaan yang kuat untuk pelaksanaannya. dengan indikator pencapaian :  Kerangka hukum dan kebijakan nasional/lokal untuk pengurangan risiko bencana telah ada dengan tanggungjawab eksplisit ditetapkan untuk semua jenjang pemerintahan.Cuaca Ekstrim Gelombang Ekstrim dan Abrasi 12) Indeks Kapasitas Indeks kapasitas dihitung berdasarkan indikator dalam Hyogo Framework for Actions (Kerangka Asi Hyogo-HIFA). Prioritas program pengurangan risiko bencana HFA dan indikator pencapaiannya adalah : 1.  Terjalinnya partisipasi dan desentralisasi komunitas melalui pembagian kewenangan dan sumber daya pada tingkat lokal .

 Tersedianya sistem-sistem yang siap untuk memantau. dengan indikator :  Tersedianya informasi yang relevan mengenai bencana dan dapat diakses di semua tingkat oleh seluruh pemangku kepentingan  (melalui jejaring. pengembangan sistem untuk berbagi informasi. Terwujudnya penggunaan pengetahuan. dst) Kurikulum sekolah. dengan indikator :  Tersedianya Kajian Risiko Bencana Daerah berdasarkan data bahaya dan kerentanan untuk meliputi risiko untuk sektorsektor utama daerah. Tersedianya Kajian Risiko Bencana Daerah berdasarkan data bahaya dan kerentanan untuk meliputi risiko untuk sektor-sektor utama daerah. mengarsip dan menyebarluaskan data potensi bencana dan kerentanan kerentanan utama. Tersedianya metode riset untuk kajian risiko multi bencana serta analisis manfaatbiaya (cost benefit analysist) yang selalu dikembangkan berdasarkan kualitas hasil riset .  Tersedianya sistem peringatan dini yang siap beroperasi untuk skala besar dengan jangkauan yang luas ke seluruh lapisan masyarakat  Kajian Risiko Daerah Mempertimbangkan Risiko-Risiko Lintas Batas Guna Menggalang Kerjasama Antar Daerah Untuk Pengurangan Risiko 3. Berfungsinya forum/jaringan daerah khusus untuk pengurangan risiko bencana 2. inovasi dan pendidikan untuk membangun ketahanan dan budaya aman dari bencana di semua tingkat. materi pendidikan dan pelatihan yang relevan  mencakup konsepkonsep dan praktik-praktik mengenai pengurangan risiko bencana dan pemulihan.

terutama infrastruktur.  Langkah-langkah pengurangan risiko bencana dipadukan ke dalam  proses-proses rehabilitasi dan pemulihan pascabencana Siap sedianya prosedur-prosedur untuk menilai dampakdampak resiko bencana atau proyek-proyek pembangunan besar. termasuk untuk pengelolaan sumber daya alam.  Rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan sektoral di bidang ekonomi dan produksi telah dilaksanakan untuk mengurangi kerentanan kegiatan-kegiatan ekonomi. dengan indikator :  Tersedianya kebijakan. dengan indikator :  Pengurangan risiko bencana merupakan salah satu tujuan dari kebijakan kebijakan dan rencana-rencana yang berhubungan dengan lingkungan hidup. 5. 4. tata guna lahan dan adaptasi terhadap perubahan iklim  Rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan pembangunan sosial dilaksanakan untuk mengurangi kerentanan penduduk yang paling berisiko terkena dampak bahaya. kapasitas teknis kelembagaan serta mekanisme penanganan darurat bencana yang kuat dengan . Diterapkannya strategi untuk membangun kesadaran seluruh komunitas dalam melaksanakan praktik budaya tahan bencana yang mampu menjangkau masyarakat secara luas baik di perkotaan maupun pedesaan.  Perencanaan dan pengelolaan pemukiman manusia memuat unsur-unsur pengurangan risiko bencana termasuk pemberlakuan syarat dan izin mendirikan bangunan untuk keselamatan dan kesehatan umum (enforcement of building codes). Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana demi respon yang efektif di semua tingkat. Mengurangi faktor-faktor risiko dasar.

 Tersedianya prosedur yang relevan untuk melakukan tinjauan pasca bencana terhadap pertukaran informasi yang relevan selama masa tanggap darurat.perspektif  pengurangan risiko bencana dalam pelaksanaannya Tersedianya rencana kontinjensi bencana yang berpotensi terjadi yang siap di semua jenjang pemerintahan. namun capaian yang diperoleh dengan komitmen dan kebijakan tersebut dinilai belum menyeluruh hingga masih belum cukup berarti untuk mengurangi dampak negatif dari bencana. Level 2 Daerah telah melaksanakan beberapa tindakan pengurangan risiko bencana dengan pencapaian-pencapaian yang masih bersifat sporadis yang disesbabkan belum adanya komitmen kelembagaan dan/atau kebijakan sistematis. Tersedianya cadangan finansial dan logistik serta mekanisme antisipasi yang siap untuk mendukung upaya penanganan darurat yang efektif dan pemulihan pasca bencana.  Level 3 Komitmen pemerintah dan beberapa komunitas tekait pengurangan risiko bencana di suatu daerah telah tercapai dan didukung dengan kebijakan sistematis.  Level 4 Dengan dukungan komitmen serta kebijakan yang menyeluruh dalam pengurangan risiko bencana disuatu daerah telah memperoleh capaian-capaian yang berhasil. sumberdaya finansial . namun diakui ada masih keterbatasan dalam komitmen. latihan reguler  diadakan untuk menguji dan mengembangkan program-program tanggap darurat bencana. yaitu :  Level 1 Daerah telah memiliki pencapaian-pencapaian kecil dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan melaksanakan beberapa tindakan maju dalam rencana-rencana atau kebijakan. Berdasarkan pengukuran indikator pencapaian ketahanan daerah maka kita dapat membagi tingkat ketahanan tersebut kedalam 5 tingkatan.

 Pengurangan factor risiko dasar. diperoleh Indeks Kapasitas. Memenuhi aturan tingkat kedetailan analisis (kedalaman analisis di tingkat nasional minimal hingga kabupaten/kota.  Pembangunan kesiapsiagaan pada seluruh lini. kedalaman analisis di tingkat provinsi minimal hingga kecamatan. 13) Penyusunan Peta Risiko dan Risiko Multi Ancaman Bencana Peta Risiko Bencana disusun dengan melakukan overlay Peta Ancaman. Peta Risiko Bencana disusun untuk tiap-tiap bencana yang mengancam suatu daerah. Peta kerentanan baru dapat disusun setelah Peta Ancaman selesai. Indikator yang digunakan untuk peta kapasitas adalah indicator HFA yang terdiri dari:  Aturan dan kelembagaan penanggulangan bencana. kedalaman analisis di tingkat kabupaten/kota minimal hingga tingkat kelurahan/desa/kam-pung/nagari). Peta Kerentanan dan Peta Kapasitas. . Berdasarkan Tingkat Ketahanan Daerah yang diperoleh dari diskusi terfokus. Level 5 Capaian komprehensif telah dicapai dengan komitmen dan kapasitas yang memadai disemua tingkat komunitas dan jenjang pemerintahan. Pemetaan risiko bencana minimal memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Panduan diskusi dan alat bantu untuk memperoleh Tingkat Ketahanan Daerah terlampir. Metode Penghitungan Indeks Kapasitas Indeks Kapasitas diperoleh dengan melaksanakan diskusi terfokus kepada beberapa pelaku penanggulangan bencana pada suatu daerah.  Peringatan dini dan kajian risiko bencana. c) pendidikan kebencanaan.ataupun  kapasitas operasional dalam pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana di daerah tersebut.

Bali dan Nusa Tenggara.berdasarkan rumus: ≈ ∗ / Modifikasi  berikut harus dibuat untuk rumus diatasagar bisa dipergunakan: Perkalian dengan kapasitas terbalik (1-C) dilakukan.000 untuk kabupaten/kota di Pulau Sumatera.000 untuk provinsi. Skala peta minimal adalah 1:250.untuk mendapatkan kembali dimensi asalnya (0.25 * 0. 5.2. Dapat digunakan untuk menghitung jumlah jiwa terpapar bencana (dalam jiwa 4. (dalam rupiah) dan kerusakan lingkungan. 3.dikoreksi: 0. Kalimantan dan Sulawesi.  Hasil dari indeks perkalian harus dikoreksi dengan menunjukkan pangkat 1/n. peta dengan skala 1:25.25 * 0. daripada pembagiandengan C untuk menghindari nilai yang tinggi dalam kasus ekstrim nilai-nilai Crendah atau kesalahan dalam hal nilainilai kosong C.015625 ^ (1/3) = 0. persamaan yang digunakan adalah: = Peta Risiko Multi Ancaman Peta risiko multi ancaman dihasilkan berdasarkan penjumlahan dari indeks-indeksrisiko masing-masing ancaman berdasarkan faktor∗ ∗ (1 − ) . Menggunakan GIS dalam pemetaan risiko bencana. peta dengan skala 1:50.015625. Menggunakan 3 kelas interval tingkat risiko. sedang dan rendah.25).000 untuk kabupaten/kota di Pulau Jawa. Dapat digunakan untuk menghitung kerugian harta benda. Peta Risiko Sebagaimana telah dijelaskan grid sebelumnya. Kerentanan dan peta Kapasitas. atas Peta Risiko telah peta dipersiapkanberdasarkan indeks peta Ancaman. yaitu tingkat risiko tinggi. Berdasarkan koreksi diatas.25 = 0.

0638) + (indeks risiko kebakaran_gedung_dan_pemukiman * 0.1064) + (indeks risiko tsunami * 0.0638) + (indeks risiko cuaca_ekstrim * 0. Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG) sudah .0638) + (indeks risiko epidemi * 0.01064) + (indeks risiko letusan_gunung_api * 0.1064) + (indeks risiko gempa bumi * 0.1064) + (indeks risiko gelombang_ekstrim_dan_abrasi * 0.0638) + (indeks risiko tanah_longsor * 0.0638) + (indeks risiko kegagalan_teknologi * 0.0638) + (indeks risiko kekeringan * 0.faktorpembobotan dari masing-masing ancaman.0638 14) Penguasaan GIS Sebagai alat kompilasi dan analisis data spasial. Sebagai sumber dari hasil pembobotan adalah frekuensi dan dampak dari masingmasing jenis ancaman.0638) + (indeks risiko konflik_sosial * 0.0638) + (indeks risiko kebakaran_hutan_lahan * 0. seperti ditunjukkan dibawah ini : Persamaan untuk memperoleh peta risiko multi ancaman adalah sebagai berikut : Risiko Multi Ancaman : = (indeks risiko banjir * 0.

karena komputer grafis lebih ditekankan pada penampilan dan pengolahan bahan-bahan layak (visible material). yaitu peta dengan built-in database. Pemakaian aplikasi geografis ini didasari oleh kebutuhan akan pentingnya pengetahuan tentang lokasi. Sistem informasi geografis haruslah dibedakan dengan komputer grafis. Dalam Kerangka Acuan Kerja untuk pekerjaan Pengadaan dan Pembuatan Peta Citra Satelit Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Akhirnya muncul konsep program komputer yang canggih yang menggabungkan data peta dengan kemampuan database manajemen. teknologi manajemen sistem informasi geografi muncul sebagi alat untuk mengatur (manage) data geografi yang besar. Sampai kemudian keduanya. Sebagai ilustrasi kita dapat menunjuk suatu daerah maka semua informasi yang ada dan terkait dengan daerah itu akan muncul. berikut disampaikan apresiasi dan pemahaman konsultan dalam pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG). dan menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan planet bumi dan inhabitatnya (lingkungan tak hidup). menanggulangi ledakan informasi. yaitu database teks dan angka (alphanumeric) dan penyimpanan data pictorial secara elektronik (disebut computer graphics). Pada permulaan abad informasi. yang mana diantara keduanya saling terpisah. Sedangkan sistem informasi geografis merupakan perpaduan dari .dikenal dan diaplikasikan diberbagai bidang termasuk dalam perencanaan tata ruang. a. Tergantung kebutuhan. Pendahuluan Dalam perkembangan teknologi informasi orang hanya mengenal dua macam bentuk penyimpanan data. Sistem Informasi Geografis dengan demikian bisa mempunyai kemampuan yang konsentrasinya pada pemakaian aplikasi tertentu. orang yang luar melihat biasa potensi bila untuk menggabungkan keduanya digabungkan secara paralel sehingga memiliki nilai tambah.

Pemahaman GIS 1) Teori-Teori Pemetaan dan Pengolahan Data dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) Pengertian Dasar Peta a) Prinsip Utama Peta . fotografi. b. teknik sipil. Secara umum sistem informasi geografis ditujukan untuk memilah beberapa pekerjaan dalam bagian-bagian yang terkecil dengan lebih efisien dan efektif. Karena pada dasarnya sistem informasi geografis tidak terbatas pada pengkodean. Hal ini dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dengan tersedianya informasi yang lebih baik pula. geografi.Aspek yang Tergabung Dalam SIG Aspek . data yang tersimpan harus dapat digambarkan sebagai model dari planet bumi atau sebagian planet bumi. Kartografi Photogrametri Komputer Grafik Spasial Analisis Interpolasi Interpolasi Sistem Informasi Geografis Gambar 5.berbagai macam aspek yaitu.14.Aspek yang Tergabung Dalam SIG Masing-masing aspek di atas mempunyai peranan yang sama besar dan keterikatan yang cukup erat dalam membentuk sistem informasi geografis. penyimpanan. Bahkan dalam kenyataannya. katografi dan analisa image seperti terlihat pada gambar berikut. pemetaan. pencarian dan perbaikan data permukaan bumi. Aspek .

 Merekam dan menyimpan informasi permukaan bumi.  Peta Tematik . baik untuk pembuatan peta tematik maupun untuk turunan peta topografi dengan skala yang lebih kecil.  Peta Topografi Peta Topografi disebut juga peta dasar karena digunakan sebagai dasar untuk pembuatan peta-peta lainnya. Peta juga merupakan data antarmuka untuk SIG yang berupa masukan data dan hasil akhir dari analisa spasial. Secara umum pengertian peta adalah penyajian grafis dari seluruh atau sebagian permukaan bumi dalam suatu bidang datar dengan menggunakan skala dan suatu sistem proyeksi tertentu. Perencanaan pembangunan fisik. sarana dan prasarana selalu memerlukan visualisasi permukaaan bumi atau peta.Peta mempunyai peranan penting dalam kegiatan perencanaan pembangunan. Untuk dapat digunakan. peta mempunyai tiga prinsip utama yaitu :  Menyatakan posisi/lokasi suatu tempat pada permukaan bumi. b) Jenis Peta Berdasarkan jenisnya peta dapat dibedakan menjadi peta topografi dan peta tematik.  Memperlihatkan pola distribusi dan pola spasial dari fenomena alam dan buatan manusia. baik dalam skala regional maupun nasional.

 Kemungkinan ordinal(<>)atau interval/rasio (seberapa berbeda). hanya dapat diestimasi. Merupakan bentuk reduksi dari keadaan sebenarnya.  Kuantitas atau nilai dari data tidak dapat ditentukan.  Kuantitatif  Memvisualkan distribusi data nominal. Gambar disajikan pada bidang datar dalam bentuk dua dimensi (hasil transformasi matematik). hubungannya dalam dengan unsur-unsur topografi yang spesifik. yaitu : Kualitatif  Memperlihatkan aspek spasial data dari data numerik (distribusi).  Biasanya memperlihatkan variabel tunggal. Komponen Peta Tematik :    Bentukan Geografik (Peta Dasar) Data Tematik Lebih jauh peta tematik dibagi dalam dua jenis. b.Peta Tematik adalah peta yang informasi memperlihatkan kualitatif atau kuantitatif dari suatu tema tertentu. . data c) Karakteristik Peta Pada dasarnya peta mempunyai karakteristik yang dapat diuraikan sebagai : a.

c. Dalam penyajiannya mengalami suatu proses generalisasi. sehingga tidak semua informasi perlu disajikan. d. ukuran dalam pengertian jarak dan arah 2 Memperlihatkan bentuk atau unsur yang terdapat di permukaan bumi 3 Menghimpun serta menselektir data dan informasi permukaan bumi . Merupakan suatu bentuk penegasan (enhancement) dari unsur yang terdapat dipermukaan bumi. d) Fungsi Peta Fungsi peta dapat dijelaskan sebagai berikut : 1 Memperlihatkan posisi relatif.

interval atau data rasio. ordinal. Klasifikasi data pada peta tematik akan tergantung pada distribusi data.Tahapan/Proses Pembuatan dan Penggunaan Peta Secara umum tahapan/proses pembuatan peta sampai dengan penggunaannya dapat diuraikan sebagai berikut : a) Proses Pembuatan Peta Pada tahapan pembuatan peta ini.  Proses Klasifikasi Peta tematik yang dibuat dari data yang sama akan memberikan informasi yang berbeda apabila menggunakan metode klasifikasi yang berbeda.  Proses Eksagerasi  Proses Simplifikasi  Proses Simbolisasi Proses simbolisasi yang meliputi simbolisasi data dan pola dapat diuraikan sebagai berikut :  Representasi Simbol :        Titik Garis Area Ukuran Bentuk Orientasi  Peringkat atau Ukuran Nominal Ordinal Interval Ratio Skala Jarak antar objek b) Proses Penggunaan Peta . langkah-langkah yang dilakukan meliputi :  Proses Seleksi Proses seleksi yang dimaksud adalah menyeleksi data yang akan digunakan dalam pembuatan suatu peta tematik apakah berupa data nominal.

15. data diubah menjadi bentuk gambar. data yang disajikan dalam bentuk grafis dapat diperkecil skalanya dan direproduksi tanpa merubah pengertian yang mendasar tentang suatu informasi. informasi yang disajikan dalam bentuk grafis harus difahami dan dimengerti oleh setiap pemakai informasi. . langkah-langkah yang dilakukan meliputi :  Membaca peta  Analisis  Interpretasi Tahapan/proses pembuatan peta sampai dengan penggunaannya divisualisasikan dalam bentuk bagan di bawah ini : Gambar 5. c) Graphic.Pada proses penggunaan peta ini. b) Universal. Tahapan/Proses Pembuatan Peta Sampai Dengan Penggunaannya Penyajian Data Dalam Bentuk Grafis Dalam proses penyajian data menjadi bentuk grafis. langkahlangkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : a) Visualisasi .

seperti halnya bahasa dan angka.Peta dan Komunikasi Peta dan gambar lainnya adalah alat komunikasi. Permasalahan Komunikasi Visual Dalam metode komunikasi visual sebagaimana halnya dengan metode komunikasi konvensional. c) Pendapat yang disampaikan adalah mengenai segala yang menyangkut ruang. Berikut adalah uraian mengenai hubungan peta dan komunikasi : a) Peta adalah media untuk menyatakan pendapat. tentunya memiliki kelemahankelemahan yang dapat menghalangi penerimaan pesan yang ingin . diharapkan pendapat tersebut bisa diterima lebih mudah. Peta adalah alat komunikasi yang menggunakan untuk data keruangan suatu menggambarkan benda atau fenomena. d) Dengan menggunakan peta. Mendesain peta sangat diperlukan agar terjadi komunikasi yang efektif. b) Pendapat tersebut ingin disampaikan melalui mata kepada yang menerimanya.

hal tersebut terjadi karena :  Sampai sejauh mana pengguna peta dapat mengerti ‘pesan’ yang disampaikan pada sebuah peta. informatif dan komunikatif kepada pemakai peta. pemilihan jenis dan ukuran huruf. proyeksi peta. informasi tepi.disampaikan. Untuk dapat mencapai sasaran yang diinginkan tersebut.  Konsep-konsep data geometrik (skala. untuk itu diperlukan imajinasi/daya cipta oleh pembuat peta agar informasi yang disajikan bisa ‘dibaca’ oleh pengguna peta. Hal ini dapat terjadi antara lain karena faktor-faktor berikut ini : a) Imajinasi (daya cipta) Pembuat peta harus mampu menyajikan informasi yang disajikan. informasi batas).  Tingkat pengetahuan yang berbeda. Desain peta menyangkut pemilihan simbol untuk suatu unsur permukaan bumi sesuai dengan informasi yang akan disajikan. pemilihan warna. jarak) yang belum tentu dimengerti. tata letak peta (meliputi muka peta. . b) Persepsi Informasi yang disampaikan mungkin akan terjadi ‘perbedaan pengertian’ antara pembuat dan pengguna peta. diperlukan suatu disain peta yang berhubungan dengan penampilan grafis (graphic) suatu informasi muka bumi pada selembar peta. sehingga informasi dapat dimanfaatkan oleh pengguna peta. Desain Peta Salah satu tujuan pembuatan peta adalah mengkomunikasikan informasi muka bumi secara efektif.

Pembuatan disain peta adalah suatu tahapan penting dan merupakan awal dari suatu kegiatan kartografi dalam kaitannya dengan proses pembuatan suatu peta. dalam hal ini.JAKARTA Samudera Hindia a) Prinsip-Prinsip Disain Peta Suatu peta yang mudah dibaca. . sehingga informasi yang disajikan dapat peta. dengan kata lain dapat mengkomunikasikan kepada para pemakai peta. Suatu disain peta berhubungan dengan penampilan grafis informasi muka bumi yang disajikan pada lembar peta. fungsi pembuat peta adalah merancang bangun semua dimengerti oleh pemakai kemungkinan dari persyaratan yang dikehendaki oleh pemakai peta. Pembuat peta harus mampu menciptakan peta untuk para pemakai peta yang tidak tahu mengenai kartografi. merupakan peta yang telah didisain dengan baik.

serta keseluruhan daerah yang dipetakan dapat tercakup pada beberapa lembar peta. ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. sedang jika ditinjau dari segi ekonomi. sebelum mengambil keputusan mengenai detail yang akan disajikan. sehingga faktor-faktor utama tersebut harus tampak dan menonjol secara grafis. Maksud dan tujuan dari pembuatan peta merupakan faktor penting. sehingga dapat . perlu juga ditentukan metode serta teknologi yang akan digunakan. yaitu :  Perencanaan Produksi Peta Setiap produk peta selain mempunyai maksud dan tujuan. juga mempunyai sasaran yang jelas siapa calon pemakai atau penggunanya. sedangkan unsur-unsur pendukung akan tampak sebagai latar belakang. serta penentuan ’karakteristik’ yang bersifat geografis dari suatu daerah. Isi peta dapat dibedakan atas :   Unsur alam dan unsur buatan manusia.  Isi Peta Maksud dan tujuan suatu pemetaan mempunyai hubungan langsung dengan isi yang akan disajikan pada peta tersebut. perlu dipertimbangkan masalah biaya produksi yang didasarkan pada perkiraan pemasaran peta yang akan dihasilkan. Langkah awal yang harus diputuskan didalam pembuatan suatu disain peta adalah penentuan skala peta.  Skala Peta Tuntutan yang harus dilakukan pada pembuatan peta adalah memperlihatkan semua unsur permukaan bumi pada posisi yang benar.Pada pembuatan desain suatu peta. Berkaitan dengan proses pembuatan peta. Subyek pokok dan klasifikasinya. Luas daerah dan kerapatan detail yang disajikan sangat tergantung pada pemilihan skala petanya.

bagian yang menggambarkan permukaan bumi. dan juga mungkin kurang mengerti arti dari bermacam-macam ’kunci’ penyajian. Pemakai peta mungkin tidak mudah untuk membayangkan suatu ukuran terhadap suatu skala peta. selain standar ukuran yang berlaku. Selain kekontrasan pada warna. pada pembuatan ukuran lembar peta perlu diketahui juga ukuran peralatan reproduksi serta bahan yang akan digunakan. dan informasi tepi peta. disain suatu peta juga harus memperhatikan keseimbangan. kemudian menyaring atau memilih detail yang diperlukan. Suatu lembar peta dibedakan atas muka peta. penggunaan warna dibedakan antara warna untuk unsur alam dan warna untuk unsur buatan manusia. serta data pendukung untuk proses pembuatan peta tersebut.  Kontras dan Keseimbangan Kekontrasan berhubungan dengan penggunaan warna pada penyajian unsur-unsur yang menjadi tujuan dari suatu peta. dalam pengertian bagaimana menempatkan macam-macam komponen visual pada keadaan . yaitu bagian dari lembar peta yang memberikan keterangan dalam kaitannya dengan isi suatu peta.dikatakan bahwa tujuan penggunaan peta dan pemilihan skala peta merupakan suatu hal yang saling berkaitan. Cara terbaik untuk dapat mengetahui dengan mudah jenis unsur yang disajikan adalah membuat gambaran yang jelas perbedaan bentuk antara unsur-unsur yang disajikan (misalnya antara unsur daratan dan laut).  Simbol Peta Seorang pembuat peta dalam mendisain suatu simbol peta akan memulai dengan menciptakan bentuk secara keseluruhan. Umumnya. Aspek dari orientasi terhadap suatu bentuk di peta tergantung pada besarnya bentuk yang dapat dikenal pada unsur topografi yang utama.  Ukuran dan Tata Letak Peta Ukuran suatu peta tergantung skala peta yang dibuat.

sehingga akan diketahui :  Cara memproses data yang berkaitan dengan posisi suatu tempat.yang seimbang. proyeksi peta. Kartografi merupakan salah satu tipe komunikasi grafis. b) Simbol Salah satu pendekatan penting di dalam mempelajari kartografi adalah sebagai komunikasi memandang suatu visual peta bentuk untuk menjelaskan hubungan spasial di muka bumi. disajikan secara visual dengan menggunakan aturan grafis (graphic). dan hal-hal yang berhubungan dengan skala dan arah. Peta yang merupakan salah satu bentuk informasi muka bumi. seorang pembuat peta haruslah terlebih dahulu mempelajari data yang akan digunakan.  Karakteristik dari unsur yang disajikan. menyajikan hubungan suatu keadaan dan lokasi di muka bumi pada suatu bidang datar. sehingga sejumlah aturan yang diberlakukan pada pembuatan peta perlu dipelajari dari komunikasi grafis dan penyajian grafis data statistik. yang berarti hubungan dan penonjolan dari masing-masing komponen tersebut adalah wajar. Walaupun Kartografi mempunyai hubungan dengan masalah komunikasi. Seorang kartografer harus memperhatikan secara khusus sistem koordinat. adalah suatu hal penting untuk mengerti data yang akan disajikan pada suatu peta. Data dan Informasi Kebumian Sebelum pembuatan suatu simbol peta. tetapi mempunyai perbedaan dengan bentuk komunikasi visual lainnya. Pada proses pembuatan suatu peta. baik untuk peta topografi maupun peta tematik. .

mulai dari titik kedalaman pemeruman (sounding). b) Data Linier Sejumlah besar unsur geografi di muka bumi adalah dalam bentuk data linier yang mempunyai suatu ukuran tertentu. Hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Data luas dapat dalam bentuk suatu negara. karakteristik tanah. perkebunan ataupun daerah hutan. pengertian posisi ataupun lokasi adalah sesuatu yang nyata tampak pada suatu tempat dimuka bumi. titik planimetris. pembuat peta juga menyajikan informasi pada suatu peta dengan cara memanfaatkan dan memindahkan data sekunder (misalnya data kepadatan penduduk. titik tinggi. . sampai ke perpotongan jalan. peta jalan). dan pengertian pokoknya adalah suatu area yang dibatasi oleh suatu bentuk linier yang tertutup. Data posisi di lapangan akan banyak dijumpai jenisnya. Bentuk-bentuk lainnya adalah mulai dari bentuk yang tidak nyata dilapangan seperti batas administrasi antara dua tempat atau garis pantai yang membedakan antara daratan dan air. menganalisis dan memproses data untuk dapat disajikan dalam bentuk grafis. maka seorang pembuat peta harus mencari. Sehubungan dengan hal tersebut diatas. Jalan atau sungai yang mempunyai panjang relatif adalah bentuk dominan data linier yang mudah dikenal di lapangan. Selain itu. c) Data Luas Secara konsepsi data luas berbentuk dua dimensi. Secara konsepsi. sampai kebentuk data yang nyata seperti jalan dan sungai. Klasifikasi Data Spasial Kenampakan muka bumi dalam bentuk spasial dapat diklasifikasikan atas : a) Data Posisi Titik koordinat adalah salah satu bentuk yang menyatakan suatu data posisi di muka bumi.

Dimana mendisain suatu simbol adalah merupakan hasil persepsi yang benar dari karakteristik suatu unsur dan konsep dari pemakai peta. Pada pembuatan disain simbol. Aspek dari skala peta sangatlah penting dalam penyajian simbol titik. tetapi tidak demikian halnya jika disajikan pada skala besar.  Simbol Garis (Line) Digunakan untuk mempresentasikan unsur-unsur muka bumi yang mempunyai bentuk linier atau garis yang memanjang tetapi bukan suatu area.  Simbol Luas (Area) Digunakan untuk mewakili unsur-unsur di muka bumi yang berbentuk suatu area dengan batas yang pasti ataupun perkiraan. Di dalam penyajiannya. bentuk area suatu kota pada peta skala kecil dapat disajikan sebagai simbol titik. maka disain simbol menempati pusat atau inti permasalahan dengan beberapa cabang komponen dari suatu sistem fungsional. terdapat delapan faktor utama yang langsung terlibat didalammya (Edzard S Bos.Simbol kartografi yang digunakan untuk mewakili data spasial muka bumi pada suatu peta dapat diklasifikasikan dalam bentuk:  Simbol Titik (Point) Digunakan untuk mempresentasikan unsur muka bumi atau karakteristik suatu lokasi dan atribut. Skematik Pembuatan Disain Simbol Disain simbol adalah suatu kegiatan kreativitas grafis dalam menyajikan unsur muka bumi yang sesuai dengan tujuan pembuatan peta. Penyajian simbol garis ini dapat mewakili bentuk yang sesuai dengan unsur sebenarnya dilapangan ataupun hasil dari suatu generalisasi. Pada sistem keseluruhan dari pembuatan disain peta. Systematic symbol design in . bentuk serta ukuran area tersebut dengan sendirinya tergantung pada skala peta yang dibuat.

cartographic eduction.. Delapan Faktor Utama Dalam Skematik Pembuatan Disain Simbol Pengertian yang mendalam dari masing-masing faktor tersebut adalah persyaratan yang mutlak untuk keberhasilan suatu disain simbol. Kedelapan faktor utama tersebut adalah : a) Isi Peta b) Karakteristik Geo-Data c) Persepsi Pandang d) Variabel Pandang e) Aspek Persepsi Fisik dan Psikologi f) Standar dan Konvensi g) Persyaratan Peta. serta h) Produksi dan Aspek Biaya ISI PETA KARAKTERISTIK GEO-DATA PRODUKSI DAN ASPEK BIAYA PERSEPSI PANDANG DISAIN SIMBOL PERSYARATAN PETA VARIABEL PANDANG SATANDAR DAN KONVENSI ASPEK PERSEPSI FISIK DAN PSIKOLOGI Gambar 5.17. a) Isi Peta . 1984).

 Simbol Garis (Line) Digunakan untuk mempresentasikan unsur-unsur muka bumi yang mempunyai bentuk linier atau garis yang memanjang . serta  Kondisi ekonomi yang berhubungan dengan pembiayaan dan pasar.  Fasilitas teknik reproduksi yang tersedia. atau luas yang keadaannya relatif sesuai dengan skala peta. b) Karakteristik Geo-Data Sesudah isi peta disepakati dan memenuhi pertimbangan untuk maksud disain simbol. dan proyeksi peta yang digunakan. garis. Aspek dari skala peta sangatlah penting dalam penyajian simbol titik. bentuk area suatu kota pada peta skala kescil dapat disajikan sebagai simbol titik. Karakteristik planimetrik pada pembuatan disain simbol disajikan dalam bentuk simbol titik.  Hubungan antara ukuran. maka diperlukan analisis geo-data (data sapsial) yang akan disajikan. skala.  Simbol Titik (Point) Digunakan untuk mempresentasikan unsur muka bumi atau karakteristik suatu lokasi dan atribut. Penentuan isi peta selain erat hubungannya dengan keperluan pemetaan dan persyaratan pemakai peta. tetapi tidak demikian halnya jika disajikan pada skala besar. unsur-unsur yang akan disajikan pada peta adalah faktor utama yang betul-betul harus dipertimbangkan. juga perlu dipertimbangkan beberapa faktor penting lainnya yaitu :  Tersedianya data dan kebenarannya data untuk pemetaan.Dalam pembuatan disain simbol. Data spasial permukaan bumi dapat dibedakan menjadi empat dasar/kategori. Pembuatan disain simbol ini dapat dilakukan jika “isi” suatu peta sudah terdefinisikan sesuai maksud dan tujuan pembuatan peta bersangkutan. c) Karakteristik Planimetrik Informasi muka bumi didefiniskan dalam bentuk titik. garis atau luas.

Simbol kartografi di dalam penyajiannya dapat dibedakan atas:  Piktorial atau Simbol Deskriptif Simbol dalam bentuk piktorial merupakan bentuk yang mendekati keadaan sebenarnya dari data spasial yang akan disajikan. tapi untuk membuat disain simbolnya tidaklah mudah.tetapi bukan suatu area. . simbol terminal. relatif lebih mudah menempatkan posisi suatu lokasi dengan tepat pada suatu peta.  Huruf Simbol huruf adalah suatu bentuk simbol yang terdiri dari hurufhuruf atau gabungan dari huruf-huruf dan angka. seperti simbol pohon.  Simbol Luas (Area) Digunakan untuk mewakili unsur-unsur di muka bumi yang berbentuk suatu area dengan batas yang pasti ataupun perkiraan. bentuk serta ukuran area tersebut dengan sendirinya tergantung pada skala peta yang dibuat. Simbol huruf dapat dijumpai pada peta topografi (huruf B untuk menyatakan lokasi dari Kantor Kabupaten) maupun pada peta tematik (mewakili unsur-unsur geologi dalam bentuk nama suatu unsur).  Geometrik atau simbol abstrak Adalah suatu simbol yang menggambarkan bentuk reguler seperti lingkaran. Simbol geometrik. segitiga. Jika melihat simbol geometrik. tapi pada peta lain dapat mewakili sebuah menara. Simbol piktorial mudah untuk dimengerti oleh pemakai peta tanpa harus melihat legenda peta. maka bentuk yang disajikan tidak spesifik atau sesuai dengan data spasial yang terdapat di muka bumi. segiempat dan lain sebagainya. Di dalam penyajiannya. serta kadang-kadang cukup sulit untuk menempatkan pada posisi yang tepat pada suatu lokasi di peta. Penyajian simbol garis ini dapat mewakili bentuk yang sesuai dengan unsur sebenarnya dilapangan ataupun hasil dari suatu generalisasi. Suatu bentuk lingkaran pada suatu peta menyajikan sebuah kota.

Definisi data tingkat ukuran ini tidak sama dengan pembentukan data ukuran yang berdasarkan pada hirarki yaitu. kualitatif – kelas – kuantitatif. Unsur/obyek yang disajikan pada peta secara garis besar dibagi lagi dalam ragamnya menurut ukuran. tua dan muda. skala ordinal.  Tingkat Ukuran Data dapat diukur menurut skala nominal.  Data nominal Suatu ukuran dari unsur dengan aturan tertentu yang tidak mempunyai tingkatan (rangking). umur. misalnya sekolah. . desa luas dan desa kecil. Contoh. padat dan jarang. pelabuhan dan lain sebagainya. suatu kota yang akan disajikan di peta dibagi sebagai kota besar dan kota kecil. dan lainnya. kepentingan.  Data Ordinal Suatu ukuran dari unsur dengan aturan tertentu yang mempunyai tingkatan. skala interval.Huruf yang tertera pada suatu simbol harus dituliskan pada legenda peta untuk dapat dimengerti oleh pemakai. dalam arti seperti besar dan kecil. jadi unsur-unsur yang disajikan hanya dikenal dengan suatu nama saja. Bandara. dan ratio. basah dan kering.

Pada ukuran interval. artinya perbandingan suatu harga tidak mempunyai arti yang sebenarnya. titik permulaannya adalah mutlak (harga sebenarnya). sedang pada ukuran ratio.  Struktur dari Organisasi Data . melainkan juga dibagi atas kelas-kelas tertentu dengan harga yang sebenarnya. titik nol atau titik permulaan diambil sembarang. Data Interval dan Rasio Suatu ukuran yang tidak hanya dengan aturan dan urutan tertentu saja.

 Karakteristik Data Lainnya Untuk lebih melengkapi data. . Keadaan khusus dari pemakaian suatu peta akan mempengaruhi disain simbol yang akan dibuat. umur dari grup pemakai peta adalah sangat penting untuk diketahui. semua unsur air dicatat dan dimasukkan dalam satu katagori sebagai bagian dari satu elemen pada peta). apakah untuk pendidikan. Untuk pembuatan peta sekolah. dan kemampuan dalam persepsi. ilmiah. Subyek dari peta yang akan dihasilkan harus dibedakan kedalam beberapa grup atau katagori yang unsur-unsurnya mempunyai persamaan (sebagai contoh. sebab ini akan membedakan tingkat pengetahuan yang dimiliki. sehingga dapat menghindari unsur yang tidak ada kaitannya secara visual dengan suatu kategori tertentu. d) Persyaratan Pembuatan Peta Pembuatan disain simbol dapat berbeda tergantung untuk keperluan apa peta tersebut dibuat. pengalaman dalam menggunakan peta. Pemilihan antara pemakaian simbol piktorial atau simbol geometrik oleh kartografer. misalnya terdapat satu set data (garis kontur) yang merupakan hasil pengukuran langsung dan hasil perkiraan (interpolasi). teknis atau serbaguna.Struktur organisasi adalah aspek lain dari karakteristik geo-data. mungkin lebih ditekankan berdasarkan kelompok pemakai. ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan. Hal ini sangat penting untuk membuat sistematika. mungkin masih perlu melanjutkan pencarian karakteristik data lainnya. selain hal tersebut. Apapun tipe peta yang akan dihasilkan. sebagai contoh :  Apakah peta dilihat pada jarak normal pembacaan atau pada jarak tertentu (digantung pada dinding) . diperhatikan juga apakah dalam satu katagori masih diperlukan pembagian beberapa sub katagori lagi.

Sebelum memutuskan pemakaian suatu simbol yang akan mewakili suatu unsur di muka bumi. maka dapat dinyatakan kuantitas (jumlah/banyak) yang berbeda dari satu unsur terhadap unsur lain. dengan memanfaatkan screen tersebut. umumnya dinyatakan dalam :  Bentuk (shape/Form)  Ukuran (size)  Orientasi (orientation)  Harga (value)  Tekstur (texture)  Warna (colour) Harga (Value) Harga adalah variabel pandang yang mengacu kepada harga grey scale.  Apakah peta dilihat pada kondisi penyinaran yang normal atau pada penyinaran dengan iluminasi khusus. sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang ikut menentukan bentuk simbol atau penyajian pada suatu peta. . Apakah dibutuhkan waktu yang lama atau pengamatan yang cepat dalam mempelajari suatu peta . Pertanyaan-pertanyaan tersebut berhubungan dengan aspek penting dari ketajaman visual dan pembacaan serta disain dari suatu simbol yang akan dibuat. e) Variabel Pandang Variabel pandang merupakan basis dasar didalam pembuatan simbol yang berperan penting pada proses sistematika dan logika disain simbol. suatu derajat kehitaman dari warna putih/muda sampai ke warna hitam/tua. perlu dipelajari terlebih dahulu masalah variabel pandang yang menyangkut berbagai bentuk penyajian dengan menggunakan dampak pandang (visual impact). Bentuk penyajian yang menggunakan dampak pandang.

Warna (Colour) Variabel pandang untuk warna dapat dibedakan atas tiga hal yaitu : • Corak (hue) Berkaitan dengan jumlah warna yang tersedia. Sebagai contoh. tidak selalu prosentase screen yang dipakai didaerah A adalah 2 kali dari daerah B. screen untuk warna muda selalu mempunyai harga yang prosentase (%) nya selalu lebih kecil dibandingkan dengan prosentase proporsional warna screen dengan tua. . A yang dengan tidaklah screen artinya. Tekstur (Texture) Tekstur sebagai variabel pandang untuk memahami bermacam-macam dari suatu harga yang tetap. makin banyak sinar yang dipantulkan berarti harga yang terjadi semakin tinggi. • Harga (value) Berhubungan dengan ukuran dari pemantulan sinar yang terjadi. akan dijumpai adanya perbedaan antara satu warna dengan warna lainnya. garis dan luas. warna coklat mempunyai harga yang lebih rendah dibandingkan dengan warna kuning. harga dari tekstur akan sama tetapi ukurannya dapat berbeda. Macambentuk tekstur dapat diatur melalui dapat ukuran macam teknik reproduksi fotografis.Pada prakteknya. Pemakaian selalu yang dipakai. Penggunaan harga sebagai variabel pandang dapat digunakan untuk penyajian simbol titik. untuk menyatakan suatu daerah jumlah penduduknya 2 kali dibandingkan daerah B.

aturan dari disain simbol berdasarkan kesan yang secara spontanitas terhadap fakta variabel pandang. padahal warna bersangkutan bersangkutan mempunyai disebut 'harga' yang tinggi. f) Tingkat Persepsi Pandang Aturan untuk disain simbol kartografi tidaklah berdasar pada suatu kesepakatan. seperti halnya menggunakan satu kelompok simbol kartografi yang dibuat bersama pengguna peta. simbol-simbol dapat divisualkan dalam tingkatan grup . melainkan haruslah belajar dari pembuat peta dan pengguna peta. Kejenuhan ini akan berlaku pada lembar peta dengan suatu area/daerah (luas atau kecil) yang akan disajikan dalam bentuk warna. yang Warna sebagai warna berkurang kejenuhannya (misalnya warna kuning).  Persepsi selektif. Ada suatu warna yang dapat menimbulkan reaksi dalam tertentu terhadap mata manusia. Berkaitan dengan masalah visual pandang. simbol-simbol akan terlihat secara individu dan setiap simbol mempunyai arti yang sama pentingnya . kelas dikenal melalui simbol-simbol dengan cara meng-kuantitatifkan (dua kali atau tiga kali lebih). Pada umumnya pengguna peta tidaklah belajar bahasa simbol kartografi. . simbol-simbol dapat tersusun dengan baik berdasarkan spesifik dari tingkatan kelas .  Persepsi kelas.• Kejenuhan (Saturation) Berhubungan dengan reaksi manusia melihat suatu warna. suatu area yang luas akan dapat menimbulkan bertambahnya kejenuhan.  Persepsi kuantitatif. terdapat empat tingkatan hirarki pada persepsi pandang dari suatu simbol :  Persepsi asosiatif. sedang daerah yang kecil akan berkurang kejenuhannya.

g) Aspek Persepsi Fisik dan Psikologi Pada penyajian simbol. persepsi dari ukuran simbol dan warna dapat disajikan dalam beberapa ukuran dan warna yang berbeda dengan simbol lainnya. Seperti diketahui. suatu simbol akan terlihat sama jika dikelilingi oleh simbol lain yang sama ukurannya. laut serta unsur-unsur lain yang ada hubungannya dengan air. atau dengan perkataan lain. Banyaknya simbol yang konvensional dan standar. unsur permukaan bumi yang ditonjolkan dan kontras dapat disajikan dalam beberapa aspek yang sesuai dengan aturan kartografi. h) Standar dan Konvensi Warna biru selalu dikaitkan dengan unsur air dan menjadi konvensi dan standar pada penyajian sungai. Banyak produk dari organisasi pemetaan yang mempunyai standarisasi untuk simbol peta yang dihasilkan. Konsep dari suatu penyajian unsur permukaan bumi adalah juga salah satu aspek fisik-psikologi yang sangat mempengaruhi dalam pembuatan disain simbol. khususnya untuk suatu seri peta. setiap simbol yang akan dibuat haruslah mengacu pada simbol yang telah menjadi standar dan konvensi bersama. Kategori Peta Jenis peta jumlahnya tidak terbatas  “Maps Have Many Functions And Many Faces. demikian pula halnya dengan warna hijau adalah warna konvensional untuk tumbuh-tumbuhan. menjadikan suatu hal yang jelas bahwa kartografer tidak pada setiap waktu dapat secara bebas mendesain suatu simbol. And Each Of Us Sees Them With Different Eyes” (Skelton 1972)  Masalah  Bagaimana mengkategorikan peta? Kategori dapat dipandang dari 3 sudut pandang  Diklasifikasi berdasarkan skala . Warna dan simbol-simbol pada peta skala kecil merupakan salah satu standarisasi pada tingkat internasional. danau.

dengan isi yang general  Sekitar 1 : 500.000.000 or less  Peta Skala Besar = area cakupan kecil. Diklasifikasi berdasarkan fungsi  Diklasifikasi berdasarkan subjeknya (isinya) a) Klasifikasi Berdasarkan Skala Peta yang diklasifikasikan berdasarkan skala adalah peta yang menggunakan Rasio Dimensi Peta dengan Dunia Nyata. Peta Skala Kecil (1 : 1.000) .  1 : 50. Dalam klasifikasi ini peta dibedakan menjadi :  Peta Skala Kecil = luasan besar.000.000 or more  Peta Skala Sedang = berada diantaranya  Tidak ada pengkelasan yang spesifik Gambar 5.18. dengan detail yang baik.

yaitu : Peta Referensi /Peta Dasar Peta Tematik Charts (Peta Navigasi)  Peta Referensi .000. Peta Skala Kecil (1 : 10. Secara umum kategori peta terdiri atas 3 (tiga).000.19.20.Gambar 5.000) Gambar 5.000) b) Klasifikasi Berdasarkan Fungsi Dalam mengklasifikasikan Peta berdasarkan Fungsi tidak ada pengaturan yang jelas mengenai hal ini.000.500. Peta Skala Kecil (1 : 2.

rel kereta dan sebagainya. abs. Peta Referensi dibagi atas :  Peta Dasar skala besar :  Peta Topografi  Photogrammetric methods  Peta dengan Skala yang lebih besar : site location/engineering  Fokus pada akurasi posisi  Peta Dasar skala kecil :  Atlas Memperlihatkan hampir sama dengan peta skala kecil. temperature  Population  Average annual income  Jika tujuannya untuk memperlihatkan lokasi dikenal dengan nama general purpose map  Peta Tematik cenderung memiliki skala yang lebih kecil  Memperlihatkan distribusi untuk area yang luas (vs. jalan. seperti air.Peta Referensi bertujuan untuk memperlihatkan kondisi fisik. garis pantai.  Engineering map example Engineering maps (a. lokasi dan objek dipermukaan bumi. location)  Ketersediaan Data .k. tetapi detailnya lebih sedikit.a plans) are used for guiding projects such as bridges & dams or for estimating costs for these projects  Peta Tematik Peta Tematik dikenal dengan special purpose maps  Distribusi sebuah nilai atribut atau beberapa atribut yang saling berhubungan  Satellite cloud cover images  Election results  Precipitation.

g. Dot-distribution maps Choropleth maps Isoline maps Flow maps Chart maps Cartograms Simbol (e. proportional circles. terdiri atas : a. d. bar graphs. g. Perbandingan Regional vs. site-level decisions General reference maps Thematic maps …show locations of objects …show spatial distribution of attributes Peta Tematik. b. f. etc. e. c.) Dot-distribution map Memperlihatkan densitas dan distribusi sebuah atribut Choropleth Maps .

Choropleth maps: enumeration units coloured or shaded to represent different magnitudes of an attribute classified : colours colour scales : sequential (gradient) diverging (doubleended) correspond to value intervals Chart maps: sizes of chart segments are proportional to values of several attributes Bar charts : one bar per attribute. height proportional to value .

maps of temperature.) Flow Map Proportional Circle Map .Isoline Maps Show numerical values for continuous distributions by means of lines joining points of equal value (e. pressure.g. etc.

sementara charts berguna untuk worked on (plot courses. determine positions) Navigasi juga biasanya menggunakan peta general (maritime equivalent of topographic map  bathymetric map) 2 tipe aeronautical charts. visual 2. . instrument navigation  Peta jalan merupakan chart atau navigasi di darat.Elemen Peta Charts Peta yang didesian khusus untuk navigasi laut dan udara   Peta berguna untuk looked at. Hanya sedikit peta yang memang “murni” merupakan peta referensi atau peta tematik dan chart yang memiliki satu fungsi khusus. yaitu : 1.

Bathymetric Example c) Klasifikasi Berdasarkan Subjeknya Berdasarkan subjeknya. peta dapat diklasifikasikan sebagai berikut :  Peta Kadastral  Peta Perencanaan d) Analisis Spasial Remote Sensing Quantitative Methods Cartography Geographical Technical GIS Geomorpholog y Climatology Physical Geographical Soils Biogeography SPATIA L ANALY SIS Human Geography Historic al Political Econom ic Behavioral Population .

– Klasifikasi data pada peta tematik akan tergantung pada distribusi data.e) Generalisasi Statistik  Jumlah Kelas – Sedikit atau banyak ? – ROT : Kebanyakan 3-7 Kelas. dgn 8 shade  Metode Klasifikasi – Peta tematik yang dibuat dari data yang sama akan memberikan informasi yang berbeda apabila menggunakan metode klasifikasi yang berbeda. .

 Distribusi Data Histogram  Langkah pertama dalam memproduksi peta tematik  Lihat bagaimana data terdistribusi  Gunakan statistik sederhana. seperti rata-rata atau standar deviasi  Plot data sebagai histogram .

Keadaan ini sering menjadi kendala untuk memulai mengembangkan sistem atau aplikasi karena selalu muncul perangkat generasi terbaru dengan tawaran keandalan yang serba lebih. saat ini ada banyak sekali perangkat lunak yang beredar. Di lain pihak. Seperti kita sadari bahwa perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak kriteria saat ini begitu pesatnya. . Tulang punggung informasi modern adalah perangkat keras dan perangkat lunak komputer. sehjngga untuk memilih.hati menyebabkan tidak pernah optimum dan operasional. dan memutuskan perangkat lunak mana yang akan digunakan memerlukan disiplin ilmu tersendiri. sehingga nilai kadaluwarsa perangkat tersebut berjalan sejajar.Contoh Distribusi Data 15) Perangkat Pendukung Persoalan yang sulit dan penting dalam pengembangan aplikasi adalah bagiamana memilih sistem yang sesuai dengan kebutuhan dan bisa bertahan terhadap waktu. Paradoks tersebut selalu membuat orang berfikir dua kali untuk memulai mengembangkan sistem karena terlalu hati .

Pengadaan Hardware : Pemilihan perangkat keras (hardware) dapat mengikuti petunjuk berikut :  Gunakanlah perangkat keras yang banyak digunakan (lazimnya PC) akan tetapi juga harus memungkinkan untuk bekerja di multi platform. maupun perangkat lunak. sehingga diperoleh tampilan yang sesuai dengan kehendak kita. dengan installed base yang tinggi.Yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana mengantisipasi perkembangan untuk jangka waktu tertentu. sehingga perkembangan tersebut tidak melebihi batas (limit) dari nilai yang kita tetapkan dalam penentuan parameter perangkat keras.  Gunakanlah resolusi monitor yang tinggi. mengingat database pictorial membutuhkan memori yang cukup besar serta kecepatan yang tinggi.  Gunakanlah processor tercepat yang ada saat ini. user interface yang bersahabat (familiar)  Memiliki editor yang mudah untuk menggambarkan objek-objek 2 dimensi  Bisa membaca format dan aplikasi lain yang umum  Memiliki kemampuan untuk melakukan akses terhadap database relational  Mendukung konsep Structural Query Language (SQL)  Bisa berjalan dengan system operasi windows (under windows) . diikuti dengan pelayanan pengembangan dan kemudian masalah harga  Pilih perangkat lunak yang menyediakan customization.  Menggunakan media penyimpanan (hard disk) yang memadai. Apabiia biaya menjadi kendala maka bisa digunakan perangkat keras satu level dibawahnya. Pengadaan Software Sedangkan pemilihan perangkat lunak (sofware) harus memperhatikan batasan-batasan berikut :  Perangkat lunak harus fungsional.

yaitu kegiatan survey yang ditujukan untuk mendapatkan data sekunder. 1. data yaitu kegiatan yang survey dilakukan yang ditujukan untuk mendapatkan primer melalui pengamatan. Kebutuhan Data Kegiatan pengumpulan data dan informasi dibagi ke dalam dua bagian yaitu pengumpulan data sekunder dan data primer. yaitu : a. Kedua kegiatan survey tersebut diatas dilakukan secara bersama-sama oleh konsultan pelaksana. pengukuran kondisi lapangan. untuk mendapatkan data yang valid dan dapat dipercaya serta dapat menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi lapangan. Hal ini berguna untuk mencegah ketimpangan antara kondisi yang terjadi di lapangan dengan produk rencana yang dihasilkan. Kegiatan Pengumpulan Data Berdasarkan jenis datanya maka kegiatan pengumpulan data melalui survey dilakukan melalui 2 (dua) metode pengumpulan data. Survey Sekunder. Dalam menentukan cara pengumpulan data sangat bergantung pada data yang dibutuhkan. 2. Data sekunder yang dikumpulkan adalah data dalam bentuk dokumen kebijaksanaan serta data-data tertulis lainnya sedangkan data primer adalah data-data yang dikumpulkan di lapangan yang dilakukan melalui pengamatan langsung ke wilayah perencanaan (on site-visit).C. METODE PENGUMPULAN DATA Metode atau cara mendapatkan data sangat menentukan keakuratan data yang dihasilkan. baik itu berupa uraian data angka maupun peta yang berhubungan dengan wilayah kajian dan terkait dengan data yang dibutuhkan bagi penyusunan laporan. b. Survey Primer. Merupakan pengumpulan data atau perekaman data instansi. .

10.11. PROGRAM KERJA .5. GAMBARAN UMUM LOKASI KEGIATAN 5.

sosail. Tsunami. Campak. Gelombang Pasang. Diare. Kejadian bencana termasuk di Kabupaten Karangasem telah menyadarkan semua pelaku dan pelaksana pembangunan akan perlunya perhatian khusus pada lokasilokasi yang rawan bencana. Hama Penggerek Batang. UU tersebut mengharuskan setiap pemerintah daerah mempunyai dokumen mengenai kajian risiko bencana sebagai dasar dalam penyusunan rencana aksi guna meminimalisir risiko dan dampak negatif jika terjadi bencana.1. Dari telaah tim ahli yang tergabung dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) Kabupaten Karangasem dengan melihat kondisi alam. Pemerintah Kabupaten Karangasem pada tahun anggaran 2013 ini mengakibatkan anggaran untuk melaksanakan kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 34 . Atas pertimbangan tersebut. LATAR BELAKANG Meningkatnya frekuensi kejaidan bencana di Indoenisa pada umumnya dan di Provinsi Bali pada khususnya telah membuka mata semua pihak akan pentingnya pertimbangan aspek kebencanaan dalam pembangunan. ekonomi. Rabies. dan budaya di Kabuoaten Karangasem tercatat ada 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. Salah satu aspek penting dalam kajian tersebut adalah informasi lokasi-lokasi yang memiliki kerawanan dan risiko bencana tinggi dengan melakukan kegiatan pemetaan risiko bencana. Badai/Angin Kencang. Dengan kata lain. HIV/AIDS. Konflik. menetapkan. Hama Tikus. Banjir. 24 Tahun 2007 khususnya pasal 21 menyebutkan bahwa salah satu tugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah menyusun. dan menginformasikan peta rawan bencana. Padi. Kekeringan. Penyakit Tungro. Tanah Longsor.PT. Kebakaran. Letusan Gunung Api. baik bencana alam maupun non alam. Penyakit Blast. UU No. Flu Burung. Selain itu. dan Liquifikasi. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 5.

000 (lima ratus juta rupiah) yang dibebankan pada biaya APBD Kabupaten Karangasem Tahun Anggaran 2013. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 35 .4.6. 5. pekerjaan ini bernama Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu.2. MAKSUD DAN TUJUAN a. kerentanan dan kapasitas untuk seluruh jenis bencana di setiap desa di Kecamatan Abang dan Kubu. 5. Melalui kegiatan ini maka akan dihasilkan peta risiko bencana yang didasarkan atas analisa detail ancaman. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN Kegiatan penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu akan dilaksanakan selama 150 (seratus lima puluh) hari kalender sejak dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja). LOKASI PEKERJAAN Berdasarkan KAK lokasi dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini adalah seluruh cakupan wilayah administratif Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu di Kabupaten Karangasem. 5. 5. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas penyusunan peta risiko bencana di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu. NAMA PEKERJAAN Sesuai dengan yang tercantum dalam KAK.000. 5. Maksud Pekerjaan Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan peta risiko bencana khususnya untuk di wilayah Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu sesuai dengan standar penyusunan peta risiko bencana yang telah ditetapkan melalui ketentuan/aturan khususnya Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.5.PT. Kabupaten Karangasem. SKPD Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 500. BIAYA Biaya pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah sebesar Rp.3.

RUANG LINGKUP Adapun lingkup materi dalam penyusunan peta risiko bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah :  Analisis Ancaman Meliputi segala potensi ancaman bencanan yang berpotensi terjadi di masing-masing desa di Kecamatan Abang dan Kubu dengan 36 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Semakin meningkatnya kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat luas mengenai pentingnya informasi bencana dalam pelaksanaan pembangunan daerah. juga dapat memberikan informasi penyebab tinggi rendahnya risiko bencana pada suatu lokasi. 5.  Tersedianya data atribut berupa analisis tingkat ancaman.  Di tingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. SASARAN Sasaran dari pekerjaan ini diantara lain adalah : a. Tersedianya informasi karakteristik ancaman.7. Tujuan Pekerjaan Tujuan dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu adalah di antaranya untuk :  Tersedianya data spasial berupa peta resiko bencana masingmasing desa untuk masing-masing jenis bencana yang telah tertuang dalam Rencana Penanggulangan Bencana Daerah.  Di tingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. dan kapasitas pada setiap lokasi.8. analisis tingkat kerawanan dan analisis kapasitas pada masing-masing desa untuk masing-masing jenis bencana yang tertuang dalam RPBD. Semakin tepatnya pemilihan tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi resiko dan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. c. kerentaan. 5. b.PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas b.

 Analisis Kapasitas Meliputi segala sumber daya yang ada dapat dimanfaatkanuntuk mengurangi risiko yang dihadapai masyarakat. sejarah kejadian bencana. potensi penduduk terpapar bencana. serta kondisi lainnya yang berpotensi mempersulit kemampuan masyarakat untuk mengatasi ancaman bencana secara mandiri. APRESIASI DAN INOVASI Sehubungan dengan kegiatan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). dan penerapan teknologi yang berpotensi menimbulkan bencana serta hal-hal lainnya yang layak dijadikan pertimbangan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas memperhatikan klimatologi struktur geologi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangsem di 37 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . nilai kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan (dalam rupiah)  Legalisasi Produk Peta Risiko Bencana Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu yang bersangkutan diformulasikan ke dalam produk legal formal yang disiapkan berupa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang dalam proses selanjutnya akan didorong untuk ditetapkan dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) 5.  Penyusunan Peta Risiko Bencana Pemetaan didasarkan prasyarat umum penyusunan peta dengan skala minimum 1 : 25.9. kepdatan penduduk. kerentaan dan kapasitas yang disusun berdasarkan pedoman yang berlaku.000 dengan komponen data hitungan jumlah jiwa terpapar bencana (dalam jiwa). aktifitas masyarakat. topografi wilayah.PT. tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat terhadap ancaman.  Analisis Risiko Merupakan perpaduan antara ancaman.  Analisis Kerentaan Merupakan analisis terhadap kerentaan masyarakat yang meliputi kemampuan perekonomian masyarakat.

Selanjutnya peta risiko bencana tersebut dapat digunakan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 38 . banjir.PT. Flu Burung. dan Liquifikasi. Pertemuan 3 lempeng besar ini menjadikan Negara Indonesia memiliki fenomena alam yang komplek mulai dari pegunungan. Kebakaran. Badai/Angin Kencang. Tanah Longsor. Konflik. Penyakit Blast. HIV/AIDS. Kekeringan. TRI MATRA DISAIN selaku pihak konsultan ingin memberikan apresiasi dan inovasi terkait pekerjaan ini yang diharapkan dapat menjadi tambahan informasi dan usulan strategis yang bisa mendukung terlaksananya pekerjaan ini. dan budaya di Kabuoaten Karangasem tercatat ada 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. Hama Penggerek Batang. Hama Tikus. Campak. longsor. salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan risiko bencana. Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Pemetaan risiko bencana merupakan kegiatan yang sangat penting sebagai benchmark dalam menyusun program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. Gelombang Pasang. Di Kabupaten Karangasem sendiri dari telaah tim ahli yang tergabung dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) Kabupaten Karangasem dengan melihat kondisi alam. APRESIASI 1) Umum Dalam pengelolaan manajeman mitigasi bencana. Proses geologi merupakan siklus di bumi dalam mencapai titik keseimbangan yang sering menjadi fenomena ancaman seperti gempa bumi. angin putting beliung. Diare. A. Letusan Gunung Api. Rabies. perbukitan dan dataran. Padi. baik secara alamiah ataupun akibat ulah manusia. Penyakit Tungro. sosail. tsunami. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas tahun 2013. CV. dan sebagainya. Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak sekali potensi bencana karna berdasarkan letaknya Indonesia terletak diantara pertemuan 3 lempeng besar yaitu Lempeng Hindia-Australia. Bencana adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari sistem yang ada di muka bumi. Banjir. Tsunami. ekonomi.

PT.  Rencana Penanggulangan Bencana adalah rencana penyelenggaraan penanggulangan bencana suatu daerah dalam kurun waktu tertentu yang menjadi salah satu dasar pembangunan daerah. baik oleh faktor alam dan/atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia.  Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. 2) Pengertian Dasar Pemetaan Risiko Sehubungan dengan penyusunan pengerjaan kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. geografis. sosial. budaya. klimatologis. biologis. diantaranya (Sumber : Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana) :  Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. meredam. dan dampak psikologis. tanggap darurat.  Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. terapat istilah dan definisi terkait yang ditelaah dari peraturan-peraturan yang juga masih berhubungan dengan kegiatan pengerjaan pendapingan ini. Perlunya kajian pemodelan yang tepat dalam pemetaan risiko sehingga dapat dihasilkan peta risiko yang benar-benar sesuai dengan kondisi sebenarnya. kerugian harta benda. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 39 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas sebagai dasar pertimbangan perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan penyusunan masterplan pengurangan risiko bencana. hidrologis. ekonomi. dan rehabilitasi. politik. Dalam proses pemetaan risiko memerlukan penilaian dan klasifikasi sesuai dengan karakteristik daerah kajian. kerusakan lingkungan. kegiatan pencegahan bencana. dan teknologi pada suatu kawasan untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah.

garis-garis. kerusakan atau kehilangan harta.  Kerentanan adalah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana. dan area-area yang didefinisikan oleh lokaisnya dengan sistem koordinat tertentu dan oleh atribut non-spasialnya. yang selanjutnya disingkat dengan BPBD. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 40 . sakit. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah.  Badan Penanggulangan Bencana Daerah. luka.  Cek Lapangan (ground check) adalah mekanisme revisi garis maya yang dibuat pada peta berdasarkan perhitungan dan asumsi dengan kondisi sesungguhnya.  Korban bencana adalah orang atau kelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.  Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi Dasar Negara ancaman bencana. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Republik Indonesia Tahun 1945. adalah lembaga pemerintah non departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.  Badan Nasional Penanggulangan Bencana. dan gangguan kegiatan masyarakat. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. jiwa terancam. hilangnya rasa aman.  Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. mengungsi. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas mencapai kesiapan.  Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya dengan satuan atau teknik tertentu.  Peta adalah kumpulan dari titik-titik.PT. yang selanjutnya disingkat dengan BNPB.

antara lain :  UU RI No.  Peta Risiko Bencana adalah gambaran Tingkat Risiko bencana suatu daerah secara spasial dan non spasial berdasarkan Kajian Risiko Bencana suatu daerah 3) Dasar Hukum Dasar hukum yang dapat digunakan dalam kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. adalah sistem untuk pengelolaan.PT. dan penayangan data yang mana data tersebut secara spasial (keruangan) terkait dengan muka bumi.  Peta Landaan adalah peta yang menggambarkan garis batas maksimum keterpaparan ancaman pada suatu daerah berdasarkan perhitungan tertentu. selanjutnya disebut GIS.  Tingkat Ancaman Tsunami adalah potensi timbulnya korban jiwa pada zona ketinggian tertentu pada suatu daerah akibat terjadinya tsunami. analisis. Tingkat Kerugian dan Kapasitas Daerah. fasilitas umum dan rumah penduduk pada zona ketinggian tertentu akibat bencana. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 41 .  Tingkat Kerugian adalah potensi kerugian yang mungkin timbul akibat kehancuran fasilitas kritis. pemrosesan atau manipulasi.  Kapasitas adalah kemampuan daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan pengurangan Tingkat Ancaman dan Tingkat Kerugian akibat bencana.  Tingkat Risiko adalah perbandingan antara Tingkat Kerugian dengan Kapasitas Daerah untuk memperkecil Tingkat Kerugian dan Tingkat Ancaman akibat bencana. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah  UU RI No. penyimpanan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Geographic Information System.  Kajian Risiko Bencana adalah mekanisme terpadu untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap risiko bencana suatu daerah dengan menganalisis Tingkat Ancaman.

PT. Oleh karenanya pengkajian dilaksanakan berdasarkan :  Data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada. 4) Prinsip Pengkajian Risiko Bencana Pengkajian risiko bencana memiliki ciri khas yang menjadi prinsip pengkajian. 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana  Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.  Kemampuan untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk melakukan aksi pendampingan maupun intervensi teknis langsung ke komunitas terpapar untuk mengurangi risiko Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 42 . hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.  Kemampuan untuk diterjemahkan menjadi kebijakan pengurangan risiko bencana. Kebijakan ini nantinya merupakan dasar bagi penyusunan Rencana Penanggulangan mengarusutamakan pembangunan. Dan peraturan-peraturan lainnya yang terkait. para ahli 5) Fungsi Pengkajian Risiko Bencana Pada tatanan pemerintah. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana  UU RI No. 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaaraan Penanggulangan Bencana  PP No. Bencana yang merupakan bencana mekanisme dalam untuk rencana penanggulangan Pada tatanan mitra pemerintah.  Integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari dengan kearifan lokal masyarakat. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Wilayah  PP No. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  UU RI No. 17 Tahun 2006 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025  UU RI No. kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan.

belum adanya standarisasi dalam metode penyusunan peta risiko menyebabkan setiap lembaga atau institusi memiliki metode yang berbeda dalam penyusunan peta risiko. peta kapasitas dan peta risiko bencana. Analisis risiko bencana dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya adalah metode pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Peta KRB Gunungapi Merapi. INOVASI Risiko bencana dapat dinilai tingkatannya berdasarkan besar kecilnya tingkat ancaman dan kerentanan pada suatu wilayah. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas bencana. Peta kawasan Rawan Banjir Peta Kerentaan Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu kerentanan tertentu pada aset-aset penghidupan dan kehidupan yang dimiliki yang dapat Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 43 . peta kerentanan. Pada tatanan masyarakat umum. Dewasa ini berbagai pihak telah mencoba untuk menyusun peta risiko bencana. pengambilan keputusan daerah tempat tinggal. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai salah satu dasar untuk menyusun aksi praktis dalam rangka kesiapsiagaan seperti menyusun rencana dan jalur evakuasi.PT. Secara mendasar pemahaman tentang konsep bencana menjadi dasar yang kuat dalam melakukan pemetaan risiko bencana yang dapat diaplikasikan kedalam Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat ditampilkan secara spasial dan menghasilkan peta ancaman. B. Peta Ancaman Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu ancaman atau bahaya tertentu. Peta bahaya longsor. dan sebagainya. Misalnya : Peta KRB Gunungapi Kelud. Pendampingan dan intervensi para mitra harus dilaksanakan dengan berkoordinasi dan tersinkronasi terlebih dahulu dengan program pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

zonasi patahan. jenis batuan. jauh dekatnya pemukiman dari daerah rawan. densitas sungai dalam suatu DAS. jumlah kelompok rentan. kepadatan pemukiman. peta pengungsian. Dalam metode análisis risiko dengan menggunakan GIS untuk menghasilkan peta risiko. morfologi. dll 3. parameter ancaman longsor misalnya sejarah kejadian longsor. peta alat peringatan dini. jenis tanah. penggunaan lahan di kawasan rawan. peta tingkat ekonomi masyarakat. luasan wilayah yang terkena dampak. kerentanan dan kapasitas yang ada di suatu wilayah. yang paling utama adalah pemilihan parameter dan indikator masing-masing análisis risiko 1. Contoh : peta risiko bencana banjir. kepadatan penduduk. dll 2. peta kerentanan aset.PT. peta kerentanan pendidikan. jumlah KK di kawasan rawan bencana. peta risiko bencana longsor. kemiringan lereng. struktur geologi. Peta Risiko Bencana Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki tingkat risiko tertentu berdasarkan adanya parameter-parameter ancaman. Contoh : peta sarana kesehatan. kemiringan lereng. peta kerentanan lokasi Peta Kapasitas Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu kapasitas tertentu yang dapat mengurangi risiko bencana. jumlah rata-rata curah hujan. Analisis ancaman banjir misalnya : peta rawan banjir. janis batuan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas mengakibatkan risiko bencana. parameter kerentanan misalnya : jumlah penduduk. peta jumlah tenaga medis. Contoh : Peta kerentanan penduduk. Analisis ancaman gempa misalnya : sejarah kejadian gempa. jenis batuan. curah hujan. jumlah penduduk tidak bisa baca tulis. geomorfologi wilayah. peta evakuasi. sejarah kejadian banjir. jenis tanah.jumlah curah hujan. jumlah KK miskin. morfologi. tingkat mata pencaharian. peta risiko bencana gempa.dll Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 44 . dll 4. jumlah rumah di kawasan rawan bencana.

metode yang digunakan dalam pekerjaan ini antara lain : a.PT. yang di mana pihak konsultan dalam penguraian yang berhubungan realisaisnya di lapangan berpedoman pada KAK yang ada. Pendekatan Studi Dalam melakukan pendekatan teknis melalui pendekatan studi. A. Pihak konsultan memiliki pandangan dan visi ke depan bahwa dengan pemaparan pendekatan teknis dan metodelogi pekerjaan ini akan meningkatkan range kualitas kerja yang ada. keberadaan organisasi penanggulangan bencana di masyarakat. Di dalam pendekatan ini maka Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu akan dilaksanakan sesuai dengan permasalahan yang melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan ini. dan mendorong keterlibatan dan komitmen sepenuhnya untuk melaksanakannya. keberadaan alat peringatan dini. desa yang punya kebijakan penanggulangan bencana. 5.8. Perencanaan dari atas ke bawah sebagai penurunan kebijakan pembangunan pada tingkat Nasional. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 45 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 5. sehingga setiap keputusan yang diambil dalam perencanaan adalah keputusan mereka bersama. jumlah sekolah. PENDEKATAN TEKNIS DAN METODELOGI Dalam rangka memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan dengan bobot dan kualitas yang direncanakan sejak awal dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. Pendekatan Keterpaduan Perencanaan dari Atas dan Bawah ( BottomUp Approach) Pendekatan ini merupakan upaya melibatkan semua pihak sejak awal. parameter kapasitas misalnya : jumlah tenaga kesehatan. maupun kebijakan pada tingkat regional. jumlah sarana kesehatan. PENDEKATAN TEKNIS 1. jumlah penduduk yang sekolah. Uraian mengani pendekatan dan metodelogi pekerjaan yang diterapkan akan dijelaskan pada bagian ini. desa yang pernah mendapat pelatihan penanggulangan bencana.

e. Selain itu juga memperhatikan ketersediaan sumber daya manusia yang ada. aspek sosial budaya dan ekonomi setempat. Pendekatan Strategis Dalam aplikaisnya pendekatan memperhatikan secara aspek secara keseluruhan sebelum menetukan poin-poin utama yang menjadi pokok permasalahan. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) ini adalah model pembangunan yang sangat memperhatikan daya dukung alamiah (natural support system) suatu lingkungan. Strategic Approach ini akan membantu terutama dalam penyusunan kriteria maupun tolok ukur guna kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. Pendekatan ini juga menekankan pada nilai manfaat dengan memperhatikan isu-isu strategis yang mempunyai dampak vital bagi masyarakat. untuk. dan melihat kemapuan pemerintah. c. sikronisasi dan integrasi dengan sektor terkait. d. Sehingga nanti pada akhirnya produk keluaran kegiatan. sarana-prasarana.PT. dalam masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup penduduk Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 46 . Dari kegiatan tersebut dapat ditentukan skala prioritas sebuah permasalahan. Pendekatan ini bertumpu pada perencanaan yang menyeluruh dan selalu terkait dengan sektor-sektor lain serta wilayah dengan skala lebih luas secara regional atau nasional. Pendekatan Perencanaan yang Berkelanjutan Pendekatan ini memperhatikan kesinambungan antara aspek kelestarian dengan pokok kegiatan yang dilaksanakan. konsep dasarnya adalah dengan memperhatikan upaya terencana dan sistematis yang dilakukan oleh. Pendekatan Komprehensif Adalah pendekatan yang diawali dengan identifikasi potensi dan permsalahan yang menjadi popok dalam wilayah kajian. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas b. Sehingga pada tahap selajutnya didapatkan koordinasi. Pendekatan Masyarakat Pada pendekatan ini.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas dalam semua aspek dalam suatu wilayah kajian. Pendekatan Teoritis Peta adalah bayangan permukaan bumi yang diperkecil yang digambarkan dalam sebuah berdasarkan skala tertentu. Data yang dibutuhkan adalah sudut. Poligon Tertutup Dengan Pengukuran Sudut Dalam Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 47 . titik koordinat wilayah. a. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam sebuah penggambaran peta adalah skala. 2.1. dan arah mata angin. Sedangkan nilai-nilai pembangunan perlu diupayakan agar tidak berbenturan dengan nilai-nilai tradisional. Nilai-nilai tradisional yang positif perlu diakomodir untuk merangsang peran serta masyarakat yang lebih besar dalam pembangunan kawasannya. jarak dan azimuth awal. Dengan begitu dalam aplikasinya masyarakat ikut terlibat berperan serta sehingga terjadi komunikasi yang atraktif yang tujuannya dapat menampung pendapat dan aspirasi mayarakat dalam kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu.PT. legenda. Gambar 5. sehingga sudutsudut poligon dapat dicari dari titik hasil pengukuran (setelah dikoreksi terhadap jumlah segi-n) untuk kemudian diketahui azimuth untuk tiap sisi poligon. Pengukuran Kerangka 1) Pengukuran Kerangka Horisontal Kerangka yang digunakan dalam pengukuran kerangka horisontal adalah poligon tertutup yang diawali pada titik pasti.

d) Mengitung masing – masing garis Rumus : x(n-(n-1)) = x((n-1). 2.… : nomor titik  1. n = jumlah titik sudut poligon  = jumlah sudut pada poligon b) Syarat sisi d sin  = 0 . 2.2.… : nomor titik : sudut dalam 48 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . d cos = jumlah hasil proyeksi pada sumbu x c) Azimuth awal dapat dihitung dengan menggunakan titik tetap.2. Jika tidak ada digunakan azimuth mendatar. 3. 3.…  1. … : azimuth Rumus dan syarat yang harus dipenuhi : a) Syarat sudut Jumlah sudut poligon  = ((n-1)*180) Dimana . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Keterangan gambar :  1.3.3.PT.n  : sudut luar  : azimuth Dimana : ‘n : nomor titik poligon Gambar 5. d sin  = jumlah hasil proyeksi pada sumbu y d cos = 0 .n)  . Poligon Tertutup Dengan Pegukuran Sudut Luar Keterangan gambar :  1. 3.… : sudut dalam  1.2. 2.

Tampang melintang adalah tampang yang arahnya melintang. Jika tudak ada digunakan azimuth mendatar. b) Penampang tanah pada arah memanjang dan melintang Beda tinggi antara dua titik adalah selisih tinggi dalam ukuran vertikal atau jarak terpendek antara dua nivo yang melalui titik tersebut. pekerjaan dibagi atas : a) Penyipatan datar untuk menunjukkan ketinggian antara 2 titik. 3. n = jumlah titik sudut poligon  = jumlah sudut luar poligon b) Syarat sisi d sin  = 0 .PT. … : azimuth Rumus dan syarat yang harus dipenuhi : a) Syarat sudut Jumlah sudut poligon  = ((n-1)*180) Dimana .n)  . d cos = jumlah hasil proyeksi pada sumbu x c) Azimuth awal dapat dihitung dengan menggunakan titik tetap. d) Mengitung masing – masing garis Rumus :x(n-(n-1)) = x((n-1). 2. dimana titik–titik tersebut dinyatakan dalam suatu bidang referensi. Hal ini diperlukan untuk menghitung galian dan timbunan tanah. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  1. d sin  = jumlah hasil proyeksi pada sumbu y d cos = 0 .n Dimana : n : nomor titik poligon  : sudut luar z : azimuth 2) Pengukuran Kerangka Vertikal Pengukuran kerangka vertikal lebih tepat jika menggunakan waterpass untuk menentukan selisih ketinggian di atas permukaan bumi. Volume galian atau timbunan tanah dapat dihitung bila Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 49 .

Pengukuran Titik Keterangan Gambar : A : tempat berdiri alat B : tempat berdiri rambu M : sudut miring hi : tinggi alat h : beda tinggi BA : bacaan benang atas BT : bacaan benang tengah 50 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . digunakan untuk menentukan ketinggian titik detail.3. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas diketahui luas penampang melintang serta jarak antara tampang melintang. untuk pengukuran pada beda tinggi dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 5.PT. Dari hasil pengukuran didapat beda tinggi suatu titik ikat (poligon) terhadap titik ikat lainnya. Tampang memanjang adalah tampang yang arahnya memanjang. 3) Pengukuran Detail Titik detail adalah semua penampakkan yang ada di permukaan bumi baik alamiah maupun buatan manusia. Pada pengukuran titik detail ini menggunakan theodolit yang dilengkapi dengan kompas dan bacaan BA. BB dan BT. Oleh karena itu titik detail harus diambil seselektif mungkin. Pada pengukuran ini tidak mungkin dilakukan pengukuran detail secara lengkap. Beda tinggi yang didapat dipakai sebagai data pada peta topografi.

BB. BA.5.0. L (2 sin z cos z) = 50 sin 2z L Sehingga beda tinggi . BT dan zenith. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas BB : bacaan benang bawah L : BA – BB D : jarak datar D’ : jarak miring Dari pengukuran di lapangan diperoleh BA. L’ = L x cos m D = L’ x F D = D’ sin z Beda tinggi ( h ) h = D’ cos z = 100 L sin z cos z = 100. Pengukuran Detail Cara Mendatar Pengukuran detail cara mendatar dilakukan melalui pengukuran pada tiap-tiap titik poligon diambil tiap 45 lalu diukur azimuth. z maka . BT.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 51 . BB. A-B (h) HAB = h1 + h – BT HB = HA +h – BT = ketinggian titik B = L sin z = 100 sin2z Dengan HB Pengukuran titik detail dalam praktikum ini dilakukan dengan cara memancar seperti di bawah : Gambar 5.4.

Cara ini juga dipengaruhi suhu. Tekanan udara di A adalah berat udara di A setinggi a dan tekanan udara di B setinggi b .PT.6. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 4) Metode Pengukuran Beda Tinggi Gambar 5.5. Metode Trigonometri Keterangan gambar :   z m = sudut zenith = sudut miring 52 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . kelembaban dan gaya tarik bumi. Metode Barometris Pengukuran Beda Tinggi Barometris Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara. Gambar 5. maka beda tinggi (h) mempunyai hubungan erat dengan tekanan udara di A dan di B.

Angka a dan b adalah hasil pembacaan mistar atau rambu. Gambar 5. Cara ini juga dipengaruhi suhu. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  s = jarak A-B Pengukuran beda tinggi trigonometri Untuk metode trigonometri diperlukan alat ukur (theodolit).7. maka dapat diukur sudut miring dan sudut tegak (Zenith). Metode Sipat Datar Pengukuran beda tinggi sifat datar Pada beda tinggi h antara A dan B dapat ditentukan dengan menggunakan garis mendatar dan 2 mistar dipasang di atas titik A dan B. Garis mendatar ini dapat dihasilkan dengan menarik seutas benang atau kawat dibantu dengan waterpass. kelembaban sehingga menyebabkan cahaya A ke B mungkin tidak lurus melengkung atau mengalami defleksi. Namun cara ini masih lebih baik dibandingkan metode barometris. Untuk menghindari kelengkungan teropong dengan dilengkapi nivo di tengah-tengah dan diusahakan garis bidik di dalam teropong dibuat sejajar dengan garis arah nivo Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 53 .PT. Apabila pesawat di A dan diarahkan ke B. Jika jarak mendatar antara A dan B adalah s maka beda tinggi antara A dan B = s tan m.

Notasi dan Simbol Unsur-Unsur Peta 1) Kebijakan Pemerintah Tentang Tingkat Ketelitian Peta  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tanggal 21 Februari 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah. kita membaca bacaan benang atas (BA). Kuta Kab. yaitu: a) Theodolit Manual Digunakan untuk menembak titik-titik pada azimuth. peta wilayah.2). Perhitungan dan Penggambaran peta 1) Perhitungan Alat perhitungan dalam pengukuran peta terdiri dari berbagai macam alat. peta tematik dan peta tata ruang. adalah salah satu peraturan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. c. Notasi dan simbol yang digunakan dibedakan berdasarkan kelompok dan karakteristik variabel yang ditampilkan dalam suatu peta (Tabel E.000.PT. b) Digital Theodolit (DT) Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 54 . sudut–sudut istimewa dan titik–titik kritis. peta yang digunakan berskala 1 : 10. dimana 2 BT = BA +BB. Tujuannya untuk menggambar kondisi kontur pada lokasi tersebut.1 dan Tabel E. Badung melalui pemanfaatan citra satelit. Pada waktu menembak suatu titik. bacaan benang tengah (BT) dan bacaan benang bawah (BB).  Peraturan Pemerintah ini selain memuat ketentuan dan pengertian mengenai peta dasar.000  Pada survey dan pemetaan untuk pembuatan peta dasar dan peta citra satelit Kec. juga berisi tentang simbol dan/atau notasi unsurunsur peta wilayah dan simbol dan/atau notasi peta rencana tata ruang wilayah dalam berbagai skala. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas b. 2) Penotasian dan Pemberian Simbol Pada Peta Skala 1: 10.

tujuanya untuk penggambaran posisi melintang sehingga terlihat dengan jelas ketinggian tanahnya. bacaan benang bawah (BB). tapi alat utama untuk melakukan aktivitas pengolahan dan visualisasi data geologi. Pembacaan alat yaitu berupa bacaan benang atas (BA). f) Mencocokan hasil gambar dengan data-data hasil perhitungan pengukuran Sedangkan penggambaran dengan metode digital sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer dan software yang aplikatif. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Digunakan untuk menghitung sudut dalam () suatu poligon dan jarak dari satu patok ke patok lain. 55 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Untuk pengukuran melintang pada waterpass terbatas pada azimuth /2 dan azimuth (/2 +180) yang diukur adalah jarak terhadap alat ketinggian di atas titik O. 2) Metode Penggambaran Dalam penggambaran sebuah peta dapat dilakukan dengan menggunakan metode manual atau dengan metode digital (komputer). b) Menentukan letak patok atau koordinat poligon pada grade. bacaan benang tengah (BT). c) Membuat poligon tertutup. d) Menentukan titik detail (pojok bangunan) e) Membuat garis kontur dengan interpolasi data dari hasil perhitungan pengukuran memancar.PT. c) Waterpass Digunakan untuk mengukur jarak dan beda tinggi antar patok dengan cara menempatkan waterpass di tengah-tengah antara 2 patok kemudian menembak dua patok itu di muka dan di belakang alat. Penggambaran dengan metode manual dapat dilakukan dengan : a) Membuat grade pada kertas . Saat ini komputer bukan hanya sekadar alat bantu.

modeling. Di samping diperlukan waktu ekstra jika disimpan dalam format hardcopy. Saat ini komputer untuk pengolahan data geologi dapat dijumpai mulai dari komputer pribadi sampai komputer setingkat mainframe bahkan jika tidak punya uang yang cukup bisa dengan komputer cluster.PT. karena dari segi harga superkomputer sangat mahal. Kesalahan rambatan dan kesalahan akibat manusia dapat dikurangi atau dihindari. komputer memberikan jaminan akurasi dan kecepatan. Dalam dunia kartografi (khususnya peta geologi) peta digital menjadi peta standard untuk penyimpanan data. Keunggulan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 56 . Tidak dibutuhkan waktu berhari-hari untuk menggambar suatu peta atau mengolah suatu data. komputer cluster dapat digunakan untuk menyimpan dan mengolah data yang besar dan cepat misalnya untuk aplikasi GIS atau pengolahan citra. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas baik dari penyimpanan. Beberapa masalah geologi yang dapat dilakukan dengan kemputer adalah sebagai berikut :  Pengambilan data (pemetaan secara langsung di lapangan). Pemrosesan data geologi (perhitungan.  Penyimpanan dan manajemen data  Pengolahan dan manipulasi data  Menampilkan/memvisualisasikan data Dengan adanya notebook atau laptop pengambilan data dan pemetaan langsung di lapangan dapat dilakukan. Dalam dunia ilmu kebumian. Dalam ilmu kebumian. baik dari pemetaan peta dasar sampai pemetaan geologi detail. karena tidak membutuhkan biaya yang besar untuk menyimpan dan mengelolanya. komputer sudah bukan merupakan barang yang asing. dan visualisasi) akan menjadi cepat jika dilakukan dengan komputer. pengolahan dan penggunaan ulang suatu data. Pada proses pengolahan data. Komputer cluster banyak dipakai untuk menggantikan superkomputer.

penambahan data atau menghapus data yang sudah tidak valid. Data tambahan di luar peta geologi dapat di simpan sesuai dengan program yang digunakan (lebih baik dalam format DWG atau ASCII). misalnya dibutuhkan waktu untuk mendigitize dan memasukkan data ulang. Proses penyimpanan dan manajemen data menjadi hal yang penting ketika kita akan memakai kembali atau membuat database dari data yang telah diambil. Ini suatu pekerjaan yang tidak efisien. akurasi pengeplotan menjadi lebih tepat apalagi jika dibantu dengan GPS. Sebagai contoh. misalnya Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 57 . Pengeplotan data koordinat dapat dilakukan secara otomatis sehingga tidak diperlukan waktu tambahan untuk memindahkan data lapangan ke atas kertas atau komputer pribadi. yaitu prinsip dari metode yang digunakan dan proses pengambilan data. tergantung bidang. Data yang disimpan dalam format hardcopy akan membutuhkan waktu yang cukup banyak jika akan digunakan kembali untuk membuat suatu analisis. Data digital dapat diolah dan dimanipulasi sesuai dengan pendekatan metode yang digunakan. Data yang disimpan dalam format digital dapat dikelola sesuai keinginan kita. pada pembuatan peta kontur yang dikenal ada 2 macam tipe penggridan (tiangulasi dan grid). Penerapan metode terntentu untuk suatu data harus mempertimbangkan 2 hal. Pada data yang tersebar sangat acak atau terkonsentrasi akan menghasilkan peta kontur yang tidak representatif jika dilakukan dengan grid. tapi akan lebih baik jika dilakukan dengan metode triangulasi. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas pemetaan yang dibantu dengan komputer antara lain. Sebagai contoh untuk bidang petrologi dikenal ada beberapa macam program normatif. apakah dengan klasifikasi data. Begitu juga dalam metode grid yang paling tidak ada 5 macam metode grid.PT. Terdapat banyak sekali metode analisis data yang dapat dipakai untuk geologi. Kadang kala suatu metode menjadi data tidak tepat yang kalau digunakan untuk tidak menganalisis tertentu pengambilannya mendasarkan prinsip pada metode yang digunakan. Kesalahan pemilihan metode akan menghasilkan visualisasi yang tidak representatif.

kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan. kerentanan dan kapasitas. 1) Metode Penyusunan Peta Risiko Bencana Gambar di bawah ini memperlihatkan Peta Risiko Bencana merupakan overlay (penggabungan) dari Peta Ancaman. METODELOGI Komponen pengkajian risiko bencana terdiri dari ancaman. Peta Kerentanan dan Peta Kapasitas. Komponen ini digunakan untuk memperoleh tingkat risiko bencana suatu kawasan dengan menghitung potensi jiwa terpapar. Penting untuk dicatat bahwa peta risiko bencana dibuat untuk setiap jenis ancaman bencana yang ada pada suatu kawasan. Selain tingkat risiko. lpnorm yang menggunakan prinsip Linear Programming dapat dipakai untuk semua jenis batuan. Peta-peta tersebut diperoleh dari berbagai indeks yang dihitung dari datadata dan metode perhitungan tersendiri. B.PT. moduscalc yang menggunakan prinsip Niggli molekular. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas CIPW untuk analisis normatif batuan beku. Ditingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. dan mesonorm untuk menghitung normatif batuan metamorf (metamorf tingkat tinggi). sednorm untuk batuan sedimen yang menggunakan prinsip kedewasaan mineral (urutan perhitungan berdasarkan kekuatan mineral). kajian diharapkan mampu menghasilkan peta risiko untuk setiap bencana yang ada pada suatu kawasan. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 58 . Kajian dan peta risiko bencana ini harus mampu menjadi dasar yang memadai bagi daerah untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana.

Perbedaan yang terjadi hanya pada urutan penggunaan masing-masing indeks. Gabungan Tingkat Kerugian dan Tingkat Kapasitas merupakan Tingkat Risiko Bencana. menjadi dasar bagi perhitungan Tingkat Kerugian dan Tingkat Kapasitas. 2 Thn. Urutan ini berubah disebabkan jiwa manusia tidak dapat dinilai dengan rupiah. Oleh karena itu. Metode Penyusunan Peta Risiko Bencana Sumber : Peraturan Kepala BNPN No.9.PT.8. Tingkat Ancaman yang telah memperhitungkan Indeks Ancaman di dalamnya. memperlihatkan bahwa Kajian Risiko Bencana diperoleh dari indeks dan data yang sama dengan penyusunan Peta Risiko Bencana. 2012 2) Metode Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana Gambar 5. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 59 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gambar 5.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gambar 5. Korelasi penyusunan Peta dan Dokumen Kajian Risiko Bencana merupakan Metode Umum Pengkajian Risiko Bencana Indonesia. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 60 .10. 2012 3) Korelasi Penyusunan Peta dan Dokumen Kajian Gambar 5. Metode Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana Sumber : Peraturan Kepala BNPN No.9.8.8 dan gambar 5.9 menunjukkan. korelasi antara metode penyusunan Peta Risiko Bencana dan Dokumen Kajian Risiko Bencana terletak pada seluruh indeks penyusunnya. 2 Thn. Indeks-indeks tersebut bila diperhatikan kembali disusun berdasarkan komponen-komponen yang telah dipaparkan pada gambar 5. dapat dilihat pada gambar 5.

Perhitungan variabel ini biasanya didefinisikan sebagai pajanan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 61 . Metode Umum Pengkajian Risiko Bencana Indonesia Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gambar 5.10. 2 Thn.PT. Rumus dasar umum untuk analisis risiko yang diusulkan dalam 'Pedoman Perencanaan Mitigasi Risiko Bencana' yang telah disusun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (Peraturan Daerah Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008) adalah sebagai berikut: dimana: R H ≈ : Hazard Threat: Frekuensi ∗ (kemungkinan) bencana tertentu : Disaster Risk: Risiko Bencana cenderung terjadi dengan intensitas tertentu pada lokasi tertentu V: Vulnerability: Kerugian yang diharapkan (dampak) di daerah tertentu dalam sebuah kasus bencana tertentu terjadi dengan intensitas tertentu. 2012 4) Analisis Risiko Peta Risiko Bencana dan Kajian Risiko Bencana harus disusun untuk setiap jenis ancaman bencana yang ada pada daerah kajian.

Analisis pemetaan risiko ini menggunakan semikuantitatif. namun akan berisi nilai indeks bukan nilai riil. Indikator yang digunakan untuk analisis resiko semi-kuantitatif akan dipilih didasarkan pada kesesuaian dan ketersediaan. dan 1 merupakan nilai maksimum. Inti dari metodologi pemetaan risiko adanya suatu struktur pohon indikator. Penelitian tersebut secara global hanya dalam tahap awal dan data yang dapat dipercaya lokal pada khususnya sensitivitas masih jauh dari tersedia. yang menggunakan faktor pembobotan dan nilai-nilai indeks. aset. dimana indeks risiko membentuk akar akhir dari analisis. didukung oleh penelitian yang luas. Penilaian faktor pembobotan akan dilakukan berdasarkan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 62 . Untuk analisis risiko kuantitatif untuk semua jenis dampak. Rumus 'R = H * V / C' yang dijelaskan di atas masih berlaku. untuk membuat indeks sebanding setidaknya dalam dimensi. set parameter empiris yang luas dan indikator akan diperlukan. Dalam analogi Human Development Index (HDI) dari UNDP. indeks yang digunakan dalam analisis yang dikonversi menjadi nilai antara 0 dan 1. Dalam kebanyakan kasus indeks menengah dihitung berdasarkan penjumlahan indeks dikalikan dengan faktor pembobotan. akan dilakukan konversi logaritmik (Log10) daripada konversi 'linier'. dimana 0 merupakan nilai minimum indikator asli. dan dalam beberapa kasus pada perkalian dari indeks (seperti indeks risiko itu sendiri) .PT. Pendekatan ini adalah pendekatan yang umum digunakan di beberapa analisis risiko bencana dan pemetaan di luar Indonesia. Dalam kasus dengan angka rendah yang banyak dan beragam dalam jumlah yang kadang-kadang tinggi. dll) dikalikan sensitivitas untuk intensitas spesifik bencana C : Adaptive Capacity: Kapasitas yang tersedia di daerah itu untuk pulih dari bencana tertentu. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas (penduduk.

Metodologi ini telah dikembangkan oleh Thomas L.PT. Akhirnya peta risiko bencana akan dihitung dari bahaya. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 63 . Faktor faktor pembobotan terbaik diperoleh melalui konsensus pendapat para ahli. dimana data terutama disimpan dengan menggunakan strukturvektor. Suatu metodologi muncul ke sebuah konsensus tersebut adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). kurangnya informasi tentang khususnya tentang faktor sensitivitas dikompensasi oleh faktor bobot. fisik. kerentanan dan peta kapasitas. dimana indeks dapat dihasilkan dalam format grid. ekonomi. Saaty dimulai pada tahun 1970. Untuk analisis pemetaan kombinasi lapisan GIS berbasis vektor dan grid akan digunakan. AHP adalah suatu metodologi pengukuran melalui perbandingan pasangan-bijaksana dan bergantung pada penilaian para pakar untuk mendapatkan skala prioritas. lingkungan dan kapasitas.11. Inilah skala yang mengukur wujud secara relatif. Jika sudah ada peta bahaya (SNI) maka indeks peta bahaya dapat diturunkan langsung dari sumber-sumber ini. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas dokumen rujukan nasional dan internasional. Perbandingan yang dibuat dengan menggunakan skala penilaian mutlak. 5) Analytic Hierarchy Process Dalam analisis semi-kuantitatif. yang merepresentasikan berapa banyak satu indikator mendominasi yang lain sehubungan dengan suatu bencana tertentu. dan awalnya dimaksudkan sebagai alat untuk pengambilan keputusan. Untuk penyusunan peta kerentanan dan kapasitas penggunaan peta secara luas akan dibuat berdasarkan informasi yang tersedia dalam sosial. Penjelasan skala dijelaskan pad Gambar 5.

11. 2 Thn. dan kemudian menormalkan hasil untuk total 1. Faktor pembobotan diperoleh dengan menghitung eigenvektor dari matriks.PT. dengan semua indikator sepanjang kolom dan baris. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 64 . 2012 Skala pasangan-bijaksana ini diletakkan bersama dalam suatu matriks.12. Fundamental Skala AHP untuk Perbandingan Pasangan-Bijaksana dari Indikator Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. Contohnya dapat dilihat pada Gambar 5. Dikatakan bahwa metodologi AHP memberikan hasil lebih baik jika eigen vektor tidak diambil langsung dari matriks tetapi diambil dari iterasi dari perkalian matriks pada dirinya sendiri. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gambar 5.

12. Kapasitas dan Risiko. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gambar 5. Kapasitas. grid ‘jarak objek. Kerentaan. 2012 6) Teknik GIS untuk Analisis Pemetaan Resiko Metodelogi Pemetaan Risiko bergantung pada luas pada penggunaan teknik-teknik GIS.1 berikut : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 65 . kemiringan.PT. antara lain teknik analisis grid yang digunakan :  Pembuatan grid (dari sumber-sumber vektor)  Penggabungan dan pemotongan layer grid  Definisi rentang warna digunakan untuk warna grid dan legenda  Analisis grid spesifik (grid. 2 Thn. dll)  Grid ‘perhitungan’  Klasifikasi dan penurunan grid pada kontur dan layer grid  Persiapan rangkuman statistik dan histografis Rincian mengenai teknik GIS yang disebutkan di atas dsebutkan pada Tabel 5. Contoh Pembobotan Faktor Persiapan untuk Longsor Menggunakan AHP Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. Dalam Proses Peta Indeks Ancaman..

Teknik GIS yang Fundamental Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 66 .PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Tabel 5.1.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 67 .

sedang dan tinggi.2. Dalam penyusunan peta risiko bencana. yaitu kemungkinan terjadi suatu ancaman dan besaran dampak yang pernah tercatat untuk bencana yang terjadi tersebut. Pemetaan baru dapat dilaksanakan setelah seluruh data indikator pada setiap komponen diperoleh dari sumber data yang telah ditentukan. Data yang diperoleh kemudian dibagi dalam 3 kelas ancaman. Komponen dan indikator untuk menghitung Indeks Ancaman Bencana dapat dilihat pada Tabel 5. komponen komponen utama ini dipetakan dengan menggunakan Perangkat GIS.PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 7) Indeks Ancaman Bencana Indeks Ancaman Bencana disusun berdasarkan dua komponen utama. Dapat dikatakan bahwa indeks ini disusun berdasarkan data dan catatan sejarah kejadian yang pernah terjadi pada suatu daerah. yaitu rendah. Komponen Indeks Ancaman Bencana Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 68 .2 berikut : Tabel 5.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 69 .

Untuk lay out peta ancaman (hazard) gunakan sesuai dengan nilai asli dari tm 9. Peta bahaya memerlukan wilayah dimana peristiwa alam tertentu terjadi dengan frekuensi dan intensitas tertentu. gunakan nilai berikut : Catatan : Nilai di atas digunakan ketika menyusun peta risiko. Beberapa jenis hazard (peta ancaman) telah dikeluarkan oleh Kementerian/Lembaga terkait. seperti di bawah ini : b. Untuk sebagian besar bencana. maka disarankan menggunakan peta ancaman tersebut untuk jenis bencana : a. tergantung pada kerentaan dan kapasitas di suatu daerah yang dapat menyebabkan bencana. intensitas tinggi hanya terjadi dengan frekuensi sangat rendah. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 8) Identifikasi Jenis Ancaman (Hazard) Untuk menentukan jumlah ancaman yang ada pad suatu daerah. Jadikanlah nilai dari 4 kelas menjadi 3 kelas sesuai dengan kriteria. seperti di bawah ini : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 70 . Gempabumi (tim 9 revisi gempa) Gunakan field Value untuk melakukan pengkelasan hazard.PT. Longsor (ESDM) Gunakan field kerentaan.

Dengan skoring berikut : e.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 71 . Kekeringan (BMKG) Gunakan data yang ada. gunakan titik gunungapi untuk mengetahui gungu api yang terdapat di masing-masing pulau. Kelas KRB sesuaikan dengan peta yang ada dari PVMBG Catatan : Cross check kelengkapan peta KRB ke PVMBG. kemudian ubah kelas yang ada dari 5 kelas menjadi 3 kelas. d. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas c. Lakukan overlay kelas rawan banjir tersebut dengan SRTM untuk mendapatkan ketinggian genanangan. Banjir (PU dan Bakosurtanal) Hanya terdapat satu jenis kelas yaitu rawan banjir. Lakukan digitasi KRB untuk gunung api yang belum tersedia featurenya. Gunungapi (PVMBG) Gunakan KRB dari PVMBG untuk mendapatkan hazard gunung api.

72 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Langkahlangkahnya sebagai berikut :  Tampilkan data SRTM 30 m di ArcMap  Untuk mendapatkan nilai ketinggian dari SRTM lakukan konversi raster ke point dengan menggunakan ArcToolbox di ArcMap.  Export qery menjadi sebuah feature baru. “grid_code”>=0  Export kembali data titik SRTM anda yang bernilai positif. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Lakukan skoring sesuai dengan kelas yang ada (tinggi. dengan wilayah administrasi tingkat kabupaten (polygon).  Untuk mendapatkan wilayah keabupaten kedalam atribut titik SRTM lakukan overlay.  Lakukan pemilihan titik SRTM berdsarkan ketinggian maksimum dan wilayah kabupatennya. gunakan identity untuk proses overlay.  Setelah itu pilih nilai SRTM yang bernilai positif. sedang. Tsunami BNPB telah mengeluarkan Pedoman Kajian Risiko atau Tsunami Risk Assessment Guideline (TRA) untuk penentuan zonasi tsunami dapat dilihat pada dokumen yang ada. Zonasi hazard ini harus ditentukan menggunakan metodelogi yang telah ditentukan. Klik kanan pada layer > data expot.PT. Jenis ancaman non SNI meliputi : a. lakukan pemilihan dengan menggunakan query builder. (Gunakan dokumen TRA). Perhatikan contoh syntax yang digunakan di bawah ini. rendah) Hazard non SNI merupakan peta ancaman yang belum diperoleh dari K/L terkait.

gunakan pewranaan stretch raster. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Lakukan pengkelasan berdasarkantinggi genangan maksimum (gunakan dokumen TRA).  Hasil yang diperoleh berupa peta ancaman tsunami dengan 3 kelas ancaman. sedang. Dinyatakan sebagai persamaan c. Zona bahaya yang didentifikasikan pada peta bahaya konflik sosial berdsarkan kelas dan bobot untuk masing-masing berikut : parameter.  Pengkelasan dilakukan dengan melihat tinggi genangan maksimum.PT. Kelas rendah : (tinggi genangan maksimum – 1). gunakan satuan meter untuk konversi ke raster 100 x 100. Zona bahaya yang didefinisakan pada peta bahaya kegagalan teknologi berdasarkan kawasan industri dari peta Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 73 . Konflik Sosial Indikator yang digunakan untuk peta bahaya konfliksosial adalah jumlah kejadian dan dampak terhadap manusia akibat kejadian berdasarkan data historical. Kelas tinggi (tinggi genangan maksimum -3)  Lakukan normalisasi nilai kelas diatas dengan membagi nilai kelas dengan nilai maksimum. Gunakan fungsi point to raster. yaitu rencah. Sehingga nilai kelas berubah menjadi 0-1.  Konversikan nilai skor tsunami yang telah dibuat menjadi data raster. Buat sebuah field baru. Buat sebuah field baru. b. Kegagalan Teknologi Indikator yang digunakan untuk peta bahaya kegagalan teknologi adalah jenis industri dan kapasitas industri berdsarkan data perindustrian. tinggi.

Parameter konversi indeks dan persamaan ditunjukkan sebagai berikut : Keterangan : A : Kepadatan penderita malaria B : Kepadatan penderita demam berdarah A : Kepadatan penderita HIV/AIDS 74 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Epidemi dan Wabah Penyakit Indikator yang digunakan untuk peta bahaya epidemic dan wabah penyakit adalah terjadinya kepadatan bahaya epidemi (malaria. rata-rata terjadinya indeks kepadatan dikalikan dengan logaritma kepadatan penduduk. HIV/AIDS dan campak).PT. Untuk mendapatkan skala bahaya. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas RTRW tingkat provinsi dan dengan data tingkat kabupaten/kota dan kemudian dihitung kelas dan bobot masing-masing parameter. demam berdarah. dikombinasikan dengan kepadatan penduduk. Dinyatakan sebagai persamaan ini terlihat sebagai berikut : d.

dan lahan pertanian). f. nilai kerugian ekonomi. padang rumput. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas A : Kepadatan penderita campak e. Zona bahaya yang didefinisikan pada peta bahaya kebakaran gedung dan pemukiman berdasarkan kelas dan bobot untuk masing-masing parameter. Dinyatakan sebagai persamaan ini terlihat sebagai berikut : Data yang digunakan berdsarkan data dari Dinas Kebakaran Setempat. dan jumlah korban luka berat. semak belukar. koefisien jenis hutan dikalikan bobot 40%. perkebunan. curah hujan tahunan dikalikan bobot (/500x30%) dan koefisien jenis tanah dikalikan bobot 30%. Kebakaran Gunung dan Permukiman Indikator yang digunakan untuk peta bahaya kebakaran gedung dan permukiman adalah frekuensi jumlah kejadian kebaran. jumlah korban meninggal. Untuk mendapatkan skala bahaya.PT. Parameter konversi indeks dan persamaannya ditunjukkan di bawah ini : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 75 . curah hujan tahunan dan koefisien jenis tanah. Kebakaran Hutan dan Lahan Indikator yang digunakan untuk peta bahaya kebakaran hutan dan lahan adalahkoefisien jenis hutan dan lahan (hutan.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas g. dikombinasikan dengan ‘perbukitan’ (kelas lereng) dan peta curah hujan tahunan. tutupan vegetasi di wilayah pesisir. Parameter koversi indeks dan persamaan ditunjukkan pada di bawah ini : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 76 . Gelombang Ekstrim dan Abrasi Indikator yang digunakan untuk peta bahaya gelombang ekstrim dan abrasi adalah tinggi gelombang. Cuaca Ekstrim Indikator yang digunakan untuk peta bahaya cuaca ekstrim adalah koefisien keterbukaan (terkait dengan peta penggunaan lahan). Parameter konversi indeks dan persamaan ditunjukkan pada di bawah ini : h. bentuk garis pantai dan tipologi pantai. arus wilayah perairan (current).PT.

3. wilayah ekonomi. Aset-aset yang terekspos termasuk kehidupan manusia (kerentanan sosial). rasio jenis kelamin. struktur fisik dan wilayah ekologi/lingkungan. yang bervariasi per bencana (dan intensitas bencana). Masing-masing hazard (ancaman) akan menghasilkan satu peta akhir dalam tiga kelas ancaman rendah. Dalam dua kasus informasi disertakan pada komposisi paparan (seperti kepadatan penduduk. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 77 . ekonomi. Pastikan anda mengerjakan wilayah provinsi berdasarkan zona UTM untuk menghindari kesalahan koversi grid. Overlay masing-masing parameter dilakukan dalam format raster grid unit 100 x 100 untuk menghasilkan peta ancaman (non SNI) 4. Kerentanan dapat didefinisikan sebagai Exposure kali Sensitivity. 9) Indeks Kerentaan Peta kerentanan dapat dibagi-bagi ke dalam kerentanan sosial. fisik dan ekologi/lingkungan. sedang. rasio orang cacat dan rasio kelompok umur).PT. rasio kemiskinan. Lakukan konversi setiap parameter peta ke dalam raster grid unit 100 x 100 2. Indikator yang digunakan dalam analisis kerentanan terutama adalah informasi keterpaparan. tinggi. Sensitivitas hanya ditutupi secara tidak langsung melalui pembagian faktor pembobotan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Catatan : 1. Tiap aset memiliki sensitivitas sendiri.

PODES.PT. Susenan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Sumber informasi yang digunakan untuk analisis kerentanan terutama berasal dari laporan BPS (Provinsi/kabupaten Dalam Angka.13.Data yang diperoleh untuk komponen sosial budaya kemudian Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 78 . Komponen ini diperoleh dari indikator kepadatan penduduk dan indikator kelompok rentan pada suatu daerah bila terkena bencana. Gambar dengan komposisi indikator kerentanan ditunjukkan di bawah ini: Gambar 5. Sayangnya tidak ada sumber yang baik tersedia untuk sampai level desa. jaringan jalan dan lokasi fasilitas umum) . 2 Thn. Indeks ini baru bisa diperoleh setelah Peta Ancaman untuk setiap bencana selesai disusun. Informasi tabular dari BPS idealnya sampai tingkat desa/kelurahan. 2012 10) Indeks Penduduk Terpapar Penentuan Indeks Penduduk Terpapar dihitung dari komponen sosial budaya di kawasan yang diperkirakan terlanda bencana. Komposisi untuk Analisis Kerentaan Sumber : Peraturan Kepala BNPN No. sehingga akhirnya informasi desa dirangkum pada level kecamatan sebelum dapat disajikan dalam peta tematik. PPLS dan PDRB) dan informasi peta dasar dari Bakosurtanal (penggunaan lahan. Untuk peta batas administrasi sebaiknya menggunakan peta terbaru yang dikeluarkan oleh BPS.

sedang dan tinggi. Selain dari nilai indeks dalam bentuk kelas (rendah. komponen ini juga menghasilkan jumlah jiwa penduduk yang terpapar ancaman bencana pada suatu daerah. Komponen dan indikator untuk menghitung Indeks Penduduk Terpapar dapat dilihat tabel 5. Komponen Indeks Penduduk Terpapar Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 79 . Tabel 5. yaitu rendah.3.PT.3. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas dibagi dalam 3 kelas ancaman. sedang atau tinggi) .

rasio orang cacat dan rasio kelompok umur. rasio orang cacat (10%) dan kelompok umur (10%). WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Indikator yang digunakan untuk kerentaan sosial adalah kepadatan pendduk. rasio jenis kelamin.PT. rasio kemiskinan. Indeks kerentaan sosial diperoleh dari rata-rata bobot kepadatan penduduk (60%). kelompok rentan (40%) yang terdiri dari rasio jenis kelamin (10%). Parameter konversi indeks dan persamaannya ditunjukkan pada di bawah ini : 11) Indeks Kerugian Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 80 . rasio kemiskinan (10%).

Komponen-komponen ini dihitung berdasarkan indikatorindikator berbeda. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Indeks kerugian diperoleh dari komponen ekonomi. Sama halnya dengan indeks penduduk terpapar. Selain itu dari ditentukannya kelas indeks. Tabel 5. penghitungan komponen-komponen ini juga akan menghasilkan potensi kerugian daerah dalam satuan rupiah. Tergantung pada jenis ancaman bencana. Komponen dan indikator untuk menghitung Indeks Kerugian dlihat pada Tabel 5. yaitu rendah. Komponen Indeks Kerugian Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 81 . sedang dan tinggi. indeks kerugian baru dapat diperoleh setelah Peta Ancaman untuk setiap bencana telah selesai dususun.PT. dan lingkungan.4. fisik.4. Data yang diperoleh untuk seluruh komponen kemudian dibagi dalam 3 kelas ancaman.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 82 .PT.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 83 .

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 84 .

Konflik Sosial. Kegagalan Teknologi. Luas lahan produktifdapat diperoleh dari peta guna lahan dan buku kabupaten atau kecamatan dalam angka dan dikonversi kedalam rupiah. lahan pertanian dan tambak) dan PDRB.PT. Kebakaran Hutan dan Lahan.Bobot indeks kerentanan ekonomihampir sama untuk semua jenis ancaman. Banjir. Epidemi dan Wabah Penyakit. Tanah Longsor. Gunungapi. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas KERENTANAN EKONOMI Indikator yang digunakan untuk kerentanan ekonomi adalah luas lahan produktifdalam rupiah (sawah. kecuali untuk ancaman kebakaran gedung dan pemukiman. perkebunan. Parameter konversi indeks kerentanan ekonomi untuk ancaman Gempabumi. Tsunami. sedangkan PDRB dapat diperoleh dari laporan sektor atau kabupaten dalam angka. Cuaca Ekstrim dan Gelombang Ekstrim dan Abrasiditunjukkan pada persamaan dalam di bawah ini: Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 85 . Kekeringan.

Tsunami. Konflik Sosial. Gunungapi. Kepadatan rumah diperoleh dengan membagi mereka atas area terbangun atau luas desa dandibagi berdasarkan wilayah (dalam ha) dan dikalikan dengan harga satuan dari masingmasing parameter. Banjir. Epidemi dan Wabah Penyakit. Kebakaran Gedung dan Pemukiman.ketersediaan bangunan/fasilitas umum dan ketersediaan fasilitas kritis. semipermanen dan non-permanen) . Kebakaran Hutan dan Lahan. Kegagalan Teknologi. semi-permanen dan non-permanen). Cuaca Ekstrim dan Gelombang Ekstrim dan Abrasi ditunjukkan pada persamaan dalam di bawah ini. kekeringan yang tidak kecuali ancaman Indeks menggunakan kerentanan fisik. Tanah Longsor.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 86 . Parameter konversi indeks kerentanan fisik untuk ancaman Gempabumi. Indeks kerentanan fisik hampir sama untuk semua jenis ancaman. kerentanan fisik diperoleh dari rata-rata bobot kepadatan rumah (permanen. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Parameter konversi indeks kerentanan ekonomi untuk ancaman Kebakaran Gedung dan Permukiman ditunjukkan pada persamaan di bawah ini : KERENTANAN FISIK Indikator yang digunakan untuk kerentanan fisik adalah kepadatan rumah (permanen. ketersediaan bangunan/fasilitas umum dan ketersediaan fasilitas kritis.

hutan bakau/mangrove. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas KERENTANAN LINGKUNGAN Indikator yang digunakan untuk kerentanan lingkungan adalah penutupan lahan (hutan lindung.PT. hutan alam. Parameter konversi indeks kerentanan lingkungandigabung melalui factor-faktor pembobotan yang ditunjukkan pada persamaan untuk masing-masing jenis ancaman di bawah ini : Tanah Longsor Gunung Api Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 87 . Indeks kerentanan fisik berbedabeda untuk masing-masing jenis ancaman dan diperoleh dari rata-rata bobot jenis tutupan lahan. rawa dan semak belukar).

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Banjir Kekeringan Tsunami Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 88 .PT.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Konflik Sosial Kegagalan Teknologi Epidemi dan Wabah Penyakit Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 89 .

Akhirnya semua kerentanan adalah hasil dari produk kerentanan sosial. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 90 . fisik dan lingkugan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Kebakaran Hutan dan Lahan Gelombang Ekstrim dan Abrasi Catatan : setiap parameter kerentanan lingkungan perlu ditambahkan nilai nol di luar area setiap parameter pada saat analisa overlay GIS dengan menggunakan raster kalkulator. ekonomi. Parameter konversi indeks kerentanan yang ditunjukkan pada persamaan untuk masing-masing jenis ancaman di bawah ini.PT. Semua faktor bobot yang digunakan untuk analisis kerentanan adalahhasil dari proses AHP. dengan faktor-faktor pembobotan yang berbeda untuk masing-masing jenis ancaman yang berbeda.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gempa Bumi Tanah Longsor Gunung Api Banjir Kekeringan Tsunami Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 91 .PT.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Konflik Sosial Kegagalan Teknologi Epidemi dan Wabah Penyakit Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran Hutan dan Lahan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 92 .PT.

dengan indikator pencapaian :  Kerangka hukum dan kebijakan nasional/lokal untuk pengurangan risiko bencana telah ada dengan tanggungjawab eksplisit ditetapkan untuk semua jenjang pemerintahan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Cuaca Ekstrim Gelombang Ekstrim dan Abrasi 12) Indeks Kapasitas Indeks kapasitas dihitung berdasarkan indikator dalam Hyogo Framework for Actions (Kerangka Asi Hyogo-HIFA).  Tersedianya sumberdaya yang dialokasikan khusus untuk kegiatan pengurangan risiko bencana di semua tingkat pemerintahan. Prioritas program pengurangan risiko bencana HFA dan indikator pencapaiannya adalah : 1.  Terjalinnya partisipasi dan desentralisasi komunitas melalui pembagian kewenangan dan sumber daya pada tingkat lokal 93 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana menjadi sebuah prioritas nasional dan lokal dengan dasar kelembagaan yang kuat untuk pelaksanaannya. HIFA yang disepakati oleh lebih dari 160 negara di dunia terdiri dari 5 prioritas program pengurangan risiko bencana. Pencapaian prioritas-prioritas pengurangan risiko bencana ini diukur dengan 22 indikator pencapaian.PT.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Berfungsinya forum/jaringan daerah khusus untuk pengurangan risiko bencana 2.  Tersedianya sistem-sistem yang siap untuk memantau. dengan indikator :  Tersedianya informasi yang relevan mengenai bencana dan dapat diakses di semua tingkat oleh seluruh pemangku kepentingan  (melalui jejaring.PT. Tersedianya Kajian Risiko Bencana Daerah berdasarkan data bahaya dan kerentanan untuk meliputi risiko untuk sektor-sektor utama daerah. Tersedianya metode riset untuk kajian risiko multi bencana serta analisis manfaatbiaya (cost benefit analysist) yang selalu dikembangkan berdasarkan kualitas hasil riset Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 94 .  Tersedianya sistem peringatan dini yang siap beroperasi untuk skala besar dengan jangkauan yang luas ke seluruh lapisan masyarakat  Kajian Risiko Daerah Mempertimbangkan Risiko-Risiko Lintas Batas Guna Menggalang Kerjasama Antar Daerah Untuk Pengurangan Risiko 3. mengarsip dan menyebarluaskan data potensi bencana dan kerentanan kerentanan utama. dst) Kurikulum sekolah. materi pendidikan dan pelatihan yang relevan  mencakup konsepkonsep dan praktik-praktik mengenai pengurangan risiko bencana dan pemulihan. inovasi dan pendidikan untuk membangun ketahanan dan budaya aman dari bencana di semua tingkat. dengan indikator :  Tersedianya Kajian Risiko Bencana Daerah berdasarkan data bahaya dan kerentanan untuk meliputi risiko untuk sektorsektor utama daerah. Terwujudnya penggunaan pengetahuan. pengembangan sistem untuk berbagi informasi.

4.  Langkah-langkah pengurangan risiko bencana dipadukan ke dalam  proses-proses rehabilitasi dan pemulihan pascabencana Siap sedianya prosedur-prosedur untuk menilai dampakdampak resiko bencana atau proyek-proyek pembangunan besar. tata guna lahan dan adaptasi terhadap perubahan iklim  Rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan pembangunan sosial dilaksanakan untuk mengurangi kerentanan penduduk yang paling berisiko terkena dampak bahaya.  Perencanaan dan pengelolaan pemukiman manusia memuat unsur-unsur pengurangan risiko bencana termasuk pemberlakuan syarat dan izin mendirikan bangunan untuk keselamatan dan kesehatan umum (enforcement of building codes). Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana demi respon yang efektif di semua tingkat. dengan indikator :  Pengurangan risiko bencana merupakan salah satu tujuan dari kebijakan kebijakan dan rencana-rencana yang berhubungan dengan lingkungan hidup. termasuk untuk pengelolaan sumber daya alam. kapasitas teknis kelembagaan serta mekanisme penanganan darurat bencana yang kuat dengan 95 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . 5. Mengurangi faktor-faktor risiko dasar. dengan indikator :  Tersedianya kebijakan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Diterapkannya strategi untuk membangun kesadaran seluruh komunitas dalam melaksanakan praktik budaya tahan bencana yang mampu menjangkau masyarakat secara luas baik di perkotaan maupun pedesaan. terutama infrastruktur.PT.  Rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan sektoral di bidang ekonomi dan produksi telah dilaksanakan untuk mengurangi kerentanan kegiatan-kegiatan ekonomi.

sumberdaya finansial 96 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas perspektif  pengurangan risiko bencana dalam pelaksanaannya Tersedianya rencana kontinjensi bencana yang berpotensi terjadi yang siap di semua jenjang pemerintahan. Berdasarkan pengukuran indikator pencapaian ketahanan daerah maka kita dapat membagi tingkat ketahanan tersebut kedalam 5 tingkatan. latihan reguler  diadakan untuk menguji dan mengembangkan program-program tanggap darurat bencana.  Level 3 Komitmen pemerintah dan beberapa komunitas tekait pengurangan risiko bencana di suatu daerah telah tercapai dan didukung dengan kebijakan sistematis. yaitu :  Level 1 Daerah telah memiliki pencapaian-pencapaian kecil dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan melaksanakan beberapa tindakan maju dalam rencana-rencana atau kebijakan. namun diakui ada masih keterbatasan dalam komitmen.  Level 4 Dengan dukungan komitmen serta kebijakan yang menyeluruh dalam pengurangan risiko bencana disuatu daerah telah memperoleh capaian-capaian yang berhasil.PT. namun capaian yang diperoleh dengan komitmen dan kebijakan tersebut dinilai belum menyeluruh hingga masih belum cukup berarti untuk mengurangi dampak negatif dari bencana.  Tersedianya prosedur yang relevan untuk melakukan tinjauan pasca bencana terhadap pertukaran informasi yang relevan selama masa tanggap darurat. Tersedianya cadangan finansial dan logistik serta mekanisme antisipasi yang siap untuk mendukung upaya penanganan darurat yang efektif dan pemulihan pasca bencana. Level 2 Daerah telah melaksanakan beberapa tindakan pengurangan risiko bencana dengan pencapaian-pencapaian yang masih bersifat sporadis yang disesbabkan belum adanya komitmen kelembagaan dan/atau kebijakan sistematis.

 Pengurangan factor risiko dasar. kedalaman analisis di tingkat kabupaten/kota minimal hingga tingkat kelurahan/desa/kam-pung/nagari). Level 5 Capaian komprehensif telah dicapai dengan komitmen dan kapasitas yang memadai disemua tingkat komunitas dan jenjang pemerintahan. Peta kerentanan baru dapat disusun setelah Peta Ancaman selesai. kedalaman analisis di tingkat provinsi minimal hingga kecamatan. c) pendidikan kebencanaan. diperoleh Indeks Kapasitas.PT. Metode Penghitungan Indeks Kapasitas Indeks Kapasitas diperoleh dengan melaksanakan diskusi terfokus kepada beberapa pelaku penanggulangan bencana pada suatu daerah. Berdasarkan Tingkat Ketahanan Daerah yang diperoleh dari diskusi terfokus. Peta Kerentanan dan Peta Kapasitas. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 97 . Memenuhi aturan tingkat kedetailan analisis (kedalaman analisis di tingkat nasional minimal hingga kabupaten/kota. Peta Risiko Bencana disusun untuk tiap-tiap bencana yang mengancam suatu daerah.  Peringatan dini dan kajian risiko bencana. Indikator yang digunakan untuk peta kapasitas adalah indicator HFA yang terdiri dari:  Aturan dan kelembagaan penanggulangan bencana. Pemetaan risiko bencana minimal memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas ataupun  kapasitas operasional dalam pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana di daerah tersebut. 13) Penyusunan Peta Risiko dan Risiko Multi Ancaman Bencana Peta Risiko Bencana disusun dengan melakukan overlay Peta Ancaman. Panduan diskusi dan alat bantu untuk memperoleh Tingkat Ketahanan Daerah terlampir.  Pembangunan kesiapsiagaan pada seluruh lini.

PT. Dapat digunakan untuk menghitung kerugian harta benda. peta dengan skala 1:50. Menggunakan GIS dalam pemetaan risiko bencana. (dalam rupiah) dan kerusakan lingkungan.berdasarkan rumus: ≈ ∗ / Modifikasi  berikut harus dibuat untuk rumus diatasagar bisa dipergunakan: Perkalian dengan kapasitas terbalik (1-C) dilakukan. 3.untuk mendapatkan kembali dimensi asalnya (0. daripada pembagiandengan C untuk menghindari nilai yang tinggi dalam kasus ekstrim nilai-nilai Crendah atau kesalahan dalam hal nilainilai kosong C.015625 ^ (1/3) = 0.000 untuk kabupaten/kota di Pulau Sumatera. persamaan yang digunakan adalah: = Peta Risiko Multi Ancaman Peta risiko multi ancaman dihasilkan berdasarkan penjumlahan dari indeks-indeksrisiko masing-masing ancaman berdasarkan faktor98 ∗ ∗ (1 − ) Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .dikoreksi: 0.  Hasil dari indeks perkalian harus dikoreksi dengan menunjukkan pangkat 1/n.000 untuk kabupaten/kota di Pulau Jawa.25 * 0. Peta Risiko Sebagaimana telah dijelaskan grid sebelumnya.25 * 0. Bali dan Nusa Tenggara. peta dengan skala 1:25. atas Peta Risiko telah peta dipersiapkanberdasarkan indeks peta Ancaman.25). sedang dan rendah. Kalimantan dan Sulawesi.25 = 0. Berdasarkan koreksi diatas.000 untuk provinsi. Dapat digunakan untuk menghitung jumlah jiwa terpapar bencana (dalam jiwa 4. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 2. Kerentanan dan peta Kapasitas. Skala peta minimal adalah 1:250. Menggunakan 3 kelas interval tingkat risiko.015625. yaitu tingkat risiko tinggi. 5.

1064) + (indeks risiko gelombang_ekstrim_dan_abrasi * 0.01064) + (indeks risiko letusan_gunung_api * 0.0638) + (indeks risiko konflik_sosial * 0.1064) + (indeks risiko gempa bumi * 0. Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG) sudah 99 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .0638) + (indeks risiko kebakaran_hutan_lahan * 0.1064) + (indeks risiko tsunami * 0. Sebagai sumber dari hasil pembobotan adalah frekuensi dan dampak dari masingmasing jenis ancaman.0638) + (indeks risiko epidemi * 0.0638) + (indeks risiko tanah_longsor * 0. seperti ditunjukkan dibawah ini : Persamaan untuk memperoleh peta risiko multi ancaman adalah sebagai berikut : Risiko Multi Ancaman : = (indeks risiko banjir * 0.0638) + (indeks risiko kebakaran_gedung_dan_pemukiman * 0. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas faktorpembobotan dari masing-masing ancaman.0638) + (indeks risiko kekeringan * 0.PT.0638) + (indeks risiko kegagalan_teknologi * 0.0638) + (indeks risiko cuaca_ekstrim * 0.0638 14) Penguasaan GIS Sebagai alat kompilasi dan analisis data spasial.

Sampai kemudian keduanya. berikut disampaikan apresiasi dan pemahaman konsultan dalam pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sedangkan sistem informasi geografis merupakan perpaduan dari Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 100 . dan menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan planet bumi dan inhabitatnya (lingkungan tak hidup). Tergantung kebutuhan. teknologi manajemen sistem informasi geografi muncul sebagi alat untuk mengatur (manage) data geografi yang besar. karena komputer grafis lebih ditekankan pada penampilan dan pengolahan bahan-bahan layak (visible material). yang mana diantara keduanya saling terpisah. menanggulangi ledakan informasi. Sistem informasi geografis haruslah dibedakan dengan komputer grafis. yaitu peta dengan built-in database. Pemakaian aplikasi geografis ini didasari oleh kebutuhan akan pentingnya pengetahuan tentang lokasi. Sistem Informasi Geografis dengan demikian bisa mempunyai kemampuan yang konsentrasinya pada pemakaian aplikasi tertentu. Pendahuluan Dalam perkembangan teknologi informasi orang hanya mengenal dua macam bentuk penyimpanan data. Sebagai ilustrasi kita dapat menunjuk suatu daerah maka semua informasi yang ada dan terkait dengan daerah itu akan muncul. yaitu database teks dan angka (alphanumeric) dan penyimpanan data pictorial secara elektronik (disebut computer graphics). WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas dikenal dan diaplikasikan diberbagai bidang termasuk dalam perencanaan tata ruang.PT. a. orang yang luar melihat biasa potensi bila untuk menggabungkan keduanya digabungkan secara paralel sehingga memiliki nilai tambah. Dalam Kerangka Acuan Kerja untuk pekerjaan Pengadaan dan Pembuatan Peta Citra Satelit Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Pada permulaan abad informasi. Akhirnya muncul konsep program komputer yang canggih yang menggabungkan data peta dengan kemampuan database manajemen.

Aspek yang Tergabung Dalam SIG Aspek . Karena pada dasarnya sistem informasi geografis tidak terbatas pada pengkodean. katografi dan analisa image seperti terlihat pada gambar berikut. penyimpanan. Bahkan dalam kenyataannya. Secara umum sistem informasi geografis ditujukan untuk memilah beberapa pekerjaan dalam bagian-bagian yang terkecil dengan lebih efisien dan efektif. Kartografi Photogrametri Komputer Grafik Spasial Analisis Interpolasi Interpolasi Sistem Informasi Geografis Gambar 5.Aspek yang Tergabung Dalam SIG Masing-masing aspek di atas mempunyai peranan yang sama besar dan keterikatan yang cukup erat dalam membentuk sistem informasi geografis. pencarian dan perbaikan data permukaan bumi. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas berbagai macam aspek yaitu. b.PT.14. Aspek . data yang tersimpan harus dapat digambarkan sebagai model dari planet bumi atau sebagian planet bumi. geografi. Hal ini dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dengan tersedianya informasi yang lebih baik pula. teknik sipil. pemetaan. fotografi. Pemahaman GIS 1) Teori-Teori Pemetaan dan Pengolahan Data dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) Pengertian Dasar Peta a) Prinsip Utama Peta Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 101 .

Perencanaan pembangunan fisik.  Peta Tematik Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 102 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Peta mempunyai peranan penting dalam kegiatan perencanaan pembangunan. peta mempunyai tiga prinsip utama yaitu :  Menyatakan posisi/lokasi suatu tempat pada permukaan bumi.PT.  Merekam dan menyimpan informasi permukaan bumi. baik dalam skala regional maupun nasional. Secara umum pengertian peta adalah penyajian grafis dari seluruh atau sebagian permukaan bumi dalam suatu bidang datar dengan menggunakan skala dan suatu sistem proyeksi tertentu. sarana dan prasarana selalu memerlukan visualisasi permukaaan bumi atau peta. Peta juga merupakan data antarmuka untuk SIG yang berupa masukan data dan hasil akhir dari analisa spasial. b) Jenis Peta Berdasarkan jenisnya peta dapat dibedakan menjadi peta topografi dan peta tematik. Untuk dapat digunakan.  Peta Topografi Peta Topografi disebut juga peta dasar karena digunakan sebagai dasar untuk pembuatan peta-peta lainnya. baik untuk pembuatan peta tematik maupun untuk turunan peta topografi dengan skala yang lebih kecil.  Memperlihatkan pola distribusi dan pola spasial dari fenomena alam dan buatan manusia.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Peta Tematik adalah peta yang informasi memperlihatkan kualitatif atau

kuantitatif dari suatu tema tertentu, hubungannya dalam dengan

unsur-unsur topografi yang spesifik. Komponen Peta Tematik :    Bentukan Geografik (Peta Dasar) Data Tematik

Lebih jauh peta tematik dibagi dalam dua jenis, yaitu : Kualitatif  Memperlihatkan aspek spasial data dari data numerik

(distribusi);  Biasanya memperlihatkan variabel tunggal;  Kemungkinan ordinal(<>)atau interval/rasio (seberapa berbeda).  Kuantitatif  Memvisualkan distribusi data nominal;  Kuantitas atau nilai dari data tidak dapat ditentukan, hanya dapat diestimasi. data

c) Karakteristik Peta Pada dasarnya peta mempunyai karakteristik yang dapat diuraikan sebagai : a. Gambar disajikan pada bidang datar dalam bentuk dua dimensi (hasil transformasi matematik); b. Merupakan bentuk reduksi dari keadaan sebenarnya; Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
103

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

c. Dalam penyajiannya mengalami suatu proses generalisasi, sehingga tidak semua informasi perlu disajikan; d. Merupakan suatu bentuk penegasan (enhancement) dari unsur yang terdapat dipermukaan bumi.

d) Fungsi Peta Fungsi peta dapat dijelaskan sebagai berikut :

1

Memperlihatkan posisi relatif, ukuran dalam pengertian jarak dan arah

2

Memperlihatkan bentuk atau unsur yang terdapat di permukaan bumi

3

Menghimpun serta menselektir data dan informasi permukaan bumi

Tahapan/Proses Pembuatan dan Penggunaan Peta Secara umum tahapan/proses pembuatan peta sampai dengan penggunaannya dapat diuraikan sebagai berikut : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
104

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

a) Proses Pembuatan Peta Pada tahapan pembuatan peta ini, langkah-langkah yang

dilakukan meliputi :  Proses Seleksi Proses seleksi yang dimaksud adalah menyeleksi data yang akan digunakan dalam pembuatan suatu peta tematik apakah berupa data nominal, ordinal, interval atau data rasio.  Proses Klasifikasi Peta tematik yang dibuat dari data yang sama akan memberikan informasi yang berbeda apabila menggunakan metode

klasifikasi yang berbeda. Klasifikasi data pada peta tematik akan tergantung pada distribusi data.  Proses Eksagerasi  Proses Simplifikasi  Proses Simbolisasi Proses simbolisasi yang meliputi simbolisasi data dan pola dapat diuraikan sebagai berikut :  Representasi Simbol :        Titik Garis Area
Ukuran Bentuk Orientasi

 Peringkat atau Ukuran Nominal Ordinal Interval Ratio

Skala Jarak antar objek

b) Proses Penggunaan Peta Pada proses penggunaan peta ini, langkah-langkah yang

dilakukan meliputi :  Membaca peta  Analisis
105

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

 Interpretasi Tahapan/proses pembuatan peta sampai dengan penggunaannya divisualisasikan dalam bentuk bagan di bawah ini :

Gambar 5.15. Tahapan/Proses Pembuatan Peta Sampai Dengan Penggunaannya

Penyajian Data Dalam Bentuk Grafis Dalam proses penyajian data menjadi bentuk grafis, langkahlangkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : a) Visualisasi , data diubah menjadi bentuk gambar; b) Universal, informasi yang disajikan dalam bentuk grafis harus difahami dan dimengerti oleh setiap pemakai informasi; c) Graphic, data yang disajikan dalam bentuk grafis dapat diperkecil skalanya dan direproduksi tanpa merubah pengertian yang mendasar tentang suatu informasi.

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

106

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Peta dan Komunikasi Peta dan gambar lainnya adalah alat komunikasi, seperti halnya bahasa dan angka. Peta adalah alat komunikasi yang menggunakan untuk data keruangan suatu

menggambarkan

benda atau fenomena. Mendesain peta sangat diperlukan agar

terjadi komunikasi yang efektif. Berikut adalah uraian mengenai hubungan peta dan komunikasi : a) Peta adalah media untuk menyatakan pendapat; b) Pendapat tersebut ingin disampaikan melalui mata kepada yang menerimanya; c) Pendapat yang disampaikan adalah mengenai segala yang menyangkut ruang; d) Dengan menggunakan peta, diharapkan pendapat tersebut bisa diterima lebih mudah. Permasalahan Komunikasi Visual Dalam metode komunikasi visual sebagaimana halnya dengan metode komunikasi konvensional, tentunya memiliki kelemahankelemahan yang dapat menghalangi penerimaan pesan yang ingin disampaikan. Hal ini dapat terjadi antara lain karena faktor-faktor berikut ini : a) Imajinasi (daya cipta) Pembuat peta harus mampu menyajikan informasi yang disajikan, sehingga informasi dapat dimanfaatkan oleh

pengguna peta; untuk itu diperlukan imajinasi/daya cipta oleh

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

107

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

pembuat peta agar informasi yang disajikan bisa ‘dibaca’ oleh pengguna peta. b) Persepsi Informasi yang disampaikan mungkin akan terjadi ‘perbedaan pengertian’ antara pembuat dan pengguna peta, hal tersebut terjadi karena :  Sampai sejauh mana pengguna peta dapat mengerti ‘pesan’ yang disampaikan pada sebuah peta;  Tingkat pengetahuan yang berbeda;  Konsep-konsep data geometrik (skala, proyeksi peta, jarak) yang belum tentu dimengerti.

Desain Peta Salah satu tujuan pembuatan peta adalah mengkomunikasikan informasi muka bumi secara efektif, informatif dan komunikatif kepada pemakai peta. Untuk dapat mencapai sasaran yang diinginkan tersebut, diperlukan suatu disain peta yang

berhubungan dengan penampilan grafis (graphic) suatu informasi muka bumi pada selembar peta. Desain peta menyangkut pemilihan simbol untuk suatu unsur permukaan bumi sesuai dengan informasi yang akan disajikan, tata letak peta (meliputi muka peta, informasi tepi, informasi batas), pemilihan warna, pemilihan jenis dan ukuran huruf.

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

108

merupakan peta yang telah didisain dengan baik. sehingga informasi yang disajikan dapat peta. dengan kata lain dapat mengkomunikasikan kepada para pemakai peta. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 109 . fungsi pembuat peta adalah merancang bangun semua dimengerti oleh pemakai kemungkinan dari persyaratan yang dikehendaki oleh pemakai peta. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas JAKARTA Samudera Hindia a) Prinsip-Prinsip Disain Peta Suatu peta yang mudah dibaca. Pembuat peta harus mampu menciptakan peta untuk para pemakai peta yang tidak tahu mengenai kartografi.PT. Suatu disain peta berhubungan dengan penampilan grafis informasi muka bumi yang disajikan pada lembar peta. Pembuatan disain peta adalah suatu tahapan penting dan merupakan awal dari suatu kegiatan kartografi dalam kaitannya dengan proses pembuatan suatu peta. dalam hal ini.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Pada

pembuatan

desain

suatu

peta,

sebelum

mengambil

keputusan mengenai detail yang akan disajikan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu :  Perencanaan Produksi Peta Setiap produk peta selain mempunyai maksud dan tujuan, juga mempunyai sasaran yang jelas siapa calon pemakai atau penggunanya. Berkaitan dengan proses pembuatan peta, perlu juga ditentukan metode serta teknologi yang akan digunakan; sedang jika ditinjau dari segi ekonomi, perlu dipertimbangkan masalah biaya produksi yang didasarkan pada perkiraan pemasaran peta yang akan dihasilkan.  Isi Peta Maksud dan tujuan suatu pemetaan mempunyai hubungan langsung dengan isi yang akan disajikan pada peta tersebut. Isi peta dapat dibedakan atas :   Unsur alam dan unsur buatan manusia; Subyek pokok dan klasifikasinya.

Langkah awal yang harus diputuskan didalam pembuatan suatu disain peta adalah penentuan skala peta, serta penentuan ’karakteristik’ yang bersifat geografis dari suatu daerah. Maksud dan tujuan dari pembuatan peta merupakan faktor penting, sehingga faktor-faktor utama tersebut harus tampak dan menonjol secara grafis, sedangkan unsur-unsur pendukung akan tampak sebagai latar belakang.  Skala Peta Tuntutan yang harus dilakukan pada pembuatan peta adalah memperlihatkan semua unsur permukaan bumi pada posisi yang benar, serta keseluruhan daerah yang dipetakan dapat tercakup pada beberapa lembar peta. Luas daerah dan kerapatan detail yang disajikan sangat tergantung pada pemilihan skala petanya, sehingga dapat

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

110

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

dikatakan bahwa tujuan penggunaan peta dan pemilihan skala peta merupakan suatu hal yang saling berkaitan.  Ukuran dan Tata Letak Peta Ukuran suatu peta tergantung skala peta yang dibuat; selain standar ukuran yang berlaku, pada pembuatan ukuran lembar peta perlu diketahui juga ukuran peralatan reproduksi serta bahan yang akan digunakan. Suatu lembar peta dibedakan atas muka peta, bagian yang menggambarkan permukaan bumi; dan informasi tepi peta, yaitu bagian dari lembar peta yang memberikan keterangan dalam kaitannya dengan isi suatu peta, serta data pendukung untuk proses pembuatan peta tersebut.  Simbol Peta Seorang pembuat peta dalam mendisain suatu simbol peta akan memulai dengan menciptakan bentuk secara keseluruhan, kemudian menyaring atau memilih detail yang diperlukan. Pemakai peta mungkin tidak mudah untuk membayangkan suatu ukuran terhadap suatu skala peta, dan juga mungkin kurang mengerti arti dari bermacam-macam ’kunci’ penyajian. Aspek dari orientasi terhadap suatu bentuk di peta tergantung pada besarnya bentuk yang dapat dikenal pada unsur topografi yang utama. Cara terbaik untuk dapat mengetahui dengan mudah jenis unsur yang disajikan adalah membuat gambaran yang jelas perbedaan bentuk antara unsur-unsur yang disajikan (misalnya antara unsur daratan dan laut).  Kontras dan Keseimbangan Kekontrasan berhubungan dengan penggunaan warna pada penyajian unsur-unsur yang menjadi tujuan dari suatu peta. Umumnya, penggunaan warna dibedakan antara warna untuk unsur alam dan warna untuk unsur buatan manusia. Selain kekontrasan pada warna, disain suatu peta juga harus memperhatikan keseimbangan, dalam pengertian bagaimana menempatkan macam-macam komponen visual pada keadaan

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

111

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

yang seimbang, yang berarti hubungan dan penonjolan dari masing-masing komponen tersebut adalah wajar.

b) Simbol Salah satu pendekatan penting di dalam mempelajari kartografi adalah sebagai komunikasi memandang suatu visual peta bentuk untuk

menjelaskan hubungan spasial di muka bumi. Walaupun Kartografi mempunyai hubungan dengan masalah komunikasi, tetapi mempunyai

perbedaan dengan bentuk komunikasi visual lainnya. Seorang kartografer harus memperhatikan secara khusus sistem koordinat, proyeksi peta, dan hal-hal yang berhubungan dengan skala dan arah. Kartografi merupakan salah satu tipe komunikasi grafis, sehingga sejumlah aturan yang diberlakukan pada

pembuatan peta perlu dipelajari dari komunikasi grafis dan penyajian grafis data statistik. Peta yang merupakan salah satu bentuk informasi muka bumi, disajikan secara visual dengan menggunakan aturan grafis (graphic), menyajikan hubungan suatu keadaan dan lokasi di muka bumi pada suatu bidang datar.

Data dan Informasi Kebumian Sebelum pembuatan suatu simbol peta, adalah suatu hal penting untuk mengerti data yang akan disajikan pada suatu peta. Pada proses pembuatan suatu peta, seorang pembuat peta haruslah terlebih dahulu mempelajari data yang akan digunakan, baik untuk peta topografi maupun peta tematik, sehingga akan diketahui :  Cara memproses data yang berkaitan dengan posisi suatu tempat;  Karakteristik dari unsur yang disajikan; Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
112

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

 Hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Selain itu, pembuat peta juga menyajikan informasi pada suatu peta dengan cara memanfaatkan dan memindahkan data

sekunder (misalnya data kepadatan penduduk, peta jalan). Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka seorang pembuat peta harus mencari, menganalisis dan memproses data untuk dapat disajikan dalam bentuk grafis.

Klasifikasi Data Spasial Kenampakan muka bumi dalam bentuk spasial dapat

diklasifikasikan atas : a) Data Posisi Titik koordinat adalah salah satu bentuk yang menyatakan suatu data posisi di muka bumi. Secara konsepsi, pengertian posisi ataupun lokasi adalah sesuatu yang nyata tampak pada suatu tempat dimuka bumi. Data posisi di lapangan akan banyak dijumpai jenisnya, mulai dari titik kedalaman pemeruman

(sounding), titik tinggi, titik planimetris, sampai ke perpotongan jalan. b) Data Linier Sejumlah besar unsur geografi di muka bumi adalah dalam bentuk data linier yang mempunyai suatu ukuran tertentu. Jalan atau sungai yang mempunyai panjang relatif adalah bentuk dominan data linier yang mudah dikenal di lapangan. Bentuk-bentuk lainnya adalah mulai dari bentuk yang tidak nyata dilapangan seperti batas administrasi antara dua tempat atau garis pantai yang

membedakan antara daratan dan air, sampai kebentuk data yang nyata seperti jalan dan sungai. c) Data Luas Secara konsepsi data luas berbentuk dua dimensi, dan pengertian pokoknya adalah suatu area yang dibatasi oleh suatu bentuk linier yang tertutup. Data luas dapat dalam bentuk suatu negara, karakteristik tanah, perkebunan ataupun daerah hutan.

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

113

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Simbol kartografi yang digunakan untuk mewakili data spasial muka bumi pada suatu peta dapat diklasifikasikan dalam bentuk:  Simbol Titik (Point) Digunakan untuk mempresentasikan unsur muka bumi atau karakteristik suatu lokasi dan atribut. Aspek dari skala peta sangatlah penting dalam penyajian simbol titik, bentuk area suatu kota pada peta skala kecil dapat disajikan sebagai simbol titik, tetapi tidak demikian halnya jika disajikan pada skala besar.  Simbol Garis (Line) Digunakan untuk mempresentasikan unsur-unsur muka bumi yang mempunyai bentuk linier atau garis yang memanjang tetapi bukan suatu area. Penyajian simbol garis ini dapat mewakili bentuk yang sesuai dengan unsur sebenarnya dilapangan ataupun hasil dari suatu generalisasi.  Simbol Luas (Area) Digunakan untuk mewakili unsur-unsur di muka bumi yang berbentuk suatu area dengan batas yang pasti ataupun perkiraan. Di dalam penyajiannya, bentuk serta ukuran area tersebut dengan sendirinya tergantung pada skala peta yang dibuat.

Skematik Pembuatan Disain Simbol Disain simbol adalah suatu kegiatan kreativitas grafis dalam menyajikan unsur muka bumi yang sesuai dengan tujuan pembuatan peta. Dimana mendisain suatu simbol adalah

merupakan hasil persepsi yang benar dari karakteristik suatu unsur dan konsep dari pemakai peta. Pada sistem keseluruhan dari pembuatan disain peta, maka disain simbol menempati pusat atau inti permasalahan dengan beberapa cabang komponen dari suatu sistem fungsional. Pada pembuatan disain simbol, terdapat delapan faktor utama yang langsung terlibat didalammya (Edzard S Bos, Systematic symbol design in Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
114

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

cartographic eduction, 1984). Kedelapan faktor utama tersebut adalah : a) Isi Peta b) Karakteristik Geo-Data c) Persepsi Pandang d) Variabel Pandang e) Aspek Persepsi Fisik dan Psikologi f) Standar dan Konvensi g) Persyaratan Peta, serta h) Produksi dan Aspek Biaya

ISI PETA

KARAKTERISTIK GEO-DATA

PRODUKSI DAN ASPEK BIAYA

PERSEPSI PANDANG

DISAIN SIMBOL

PERSYARATAN PETA

VARIABEL PANDANG

SATANDAR DAN KONVENSI

ASPEK PERSEPSI FISIK DAN PSIKOLOGI

Gambar 5.17. Delapan Faktor Utama Dalam Skematik Pembuatan Disain Simbol

Pengertian yang mendalam dari masing-masing faktor tersebut adalah persyaratan yang mutlak untuk keberhasilan suatu disain simbol. a) Isi Peta Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
115

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Dalam pembuatan disain simbol, unsur-unsur yang akan disajikan pada peta adalah faktor utama yang betul-betul harus

dipertimbangkan. Pembuatan disain simbol ini dapat dilakukan jika “isi” suatu peta sudah terdefinisikan sesuai maksud dan tujuan pembuatan peta bersangkutan. Penentuan isi peta selain erat hubungannya dengan keperluan pemetaan dan persyaratan pemakai peta, juga perlu

dipertimbangkan beberapa faktor penting lainnya yaitu :  Tersedianya data dan kebenarannya data untuk pemetaan;  Hubungan antara ukuran, skala, dan proyeksi peta yang digunakan;  Fasilitas teknik reproduksi yang tersedia; serta  Kondisi ekonomi yang berhubungan dengan pembiayaan dan pasar. b) Karakteristik Geo-Data Sesudah isi peta disepakati dan memenuhi pertimbangan untuk maksud disain simbol, maka diperlukan analisis geo-data (data sapsial) yang akan disajikan. Data spasial permukaan bumi dapat dibedakan menjadi empat dasar/kategori. c) Karakteristik Planimetrik Informasi muka bumi didefiniskan dalam bentuk titik, garis, atau luas yang keadaannya relatif sesuai dengan skala peta.

Karakteristik planimetrik pada pembuatan disain simbol disajikan dalam bentuk simbol titik, garis atau luas.  Simbol Titik (Point) Digunakan untuk mempresentasikan unsur muka bumi atau karakteristik suatu lokasi dan atribut. Aspek dari skala peta sangatlah penting dalam penyajian simbol titik, bentuk area suatu kota pada peta skala kescil dapat disajikan sebagai simbol titik, tetapi tidak demikian halnya jika disajikan pada skala besar.  Simbol Garis (Line) Digunakan untuk mempresentasikan unsur-unsur muka bumi yang mempunyai bentuk linier atau garis yang memanjang Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
116

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

tetapi bukan suatu area. Penyajian simbol garis ini dapat mewakili bentuk yang sesuai dengan unsur sebenarnya dilapangan ataupun hasil dari suatu generalisasi.  Simbol Luas (Area) Digunakan untuk mewakili unsur-unsur di muka bumi yang berbentuk suatu area dengan batas yang pasti ataupun perkiraan. Di dalam penyajiannya, bentuk serta ukuran area tersebut dengan sendirinya tergantung pada skala peta yang dibuat.

Simbol kartografi di dalam penyajiannya dapat dibedakan atas:  Piktorial atau Simbol Deskriptif Simbol dalam bentuk piktorial merupakan bentuk yang

mendekati keadaan sebenarnya dari data spasial yang akan disajikan, seperti simbol pohon, simbol terminal. Simbol piktorial mudah untuk dimengerti oleh pemakai peta tanpa harus melihat legenda peta, tapi untuk membuat disain simbolnya tidaklah mudah, serta kadang-kadang cukup sulit untuk menempatkan pada posisi yang tepat pada suatu lokasi di peta.  Geometrik atau simbol abstrak Adalah suatu simbol yang menggambarkan bentuk reguler seperti lingkaran, segitiga, segiempat dan lain sebagainya. Jika melihat simbol geometrik, maka bentuk yang disajikan tidak spesifik atau sesuai dengan data spasial yang terdapat di muka bumi. Suatu bentuk lingkaran pada suatu peta menyajikan sebuah kota, tapi pada peta lain dapat mewakili sebuah menara. Simbol geometrik, relatif lebih mudah menempatkan posisi suatu lokasi dengan tepat pada suatu peta.  Huruf Simbol huruf adalah suatu bentuk simbol yang terdiri dari hurufhuruf atau gabungan dari huruf-huruf dan angka. Simbol huruf dapat dijumpai pada peta topografi (huruf B untuk menyatakan lokasi dari Kantor Kabupaten) maupun pada peta tematik (mewakili unsur-unsur geologi dalam bentuk nama suatu unsur). Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu
117

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

Huruf yang tertera pada suatu simbol harus dituliskan pada legenda peta untuk dapat dimengerti oleh pemakai.  Tingkat Ukuran Data dapat diukur menurut skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan ratio. Definisi data tingkat ukuran ini tidak sama dengan pembentukan data ukuran yang berdasarkan pada hirarki yaitu, kualitatif – kelas – kuantitatif.  Data nominal Suatu ukuran dari unsur dengan aturan tertentu yang tidak mempunyai tingkatan (rangking); jadi unsur-unsur yang disajikan hanya dikenal dengan suatu nama saja, misalnya sekolah, Bandara, pelabuhan dan lain sebagainya.

 Data Ordinal Suatu ukuran dari unsur dengan aturan tertentu yang mempunyai tingkatan. Unsur/obyek yang disajikan pada peta secara garis besar dibagi lagi dalam ragamnya menurut ukuran, kepentingan, umur, dan lainnya; dalam arti seperti besar dan kecil, padat dan jarang, basah dan kering, tua dan muda. Contoh, suatu kota yang akan disajikan di peta dibagi sebagai kota besar dan kota kecil, desa luas dan desa kecil.

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

118

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas

 Data Interval dan Rasio Suatu ukuran yang tidak hanya dengan aturan dan urutan tertentu saja, melainkan juga dibagi atas kelas-kelas tertentu dengan harga yang sebenarnya. Pada ukuran interval, titik nol atau titik permulaan diambil sembarang, artinya perbandingan suatu harga tidak

mempunyai arti yang sebenarnya; sedang pada ukuran ratio, titik permulaannya adalah mutlak (harga sebenarnya).

 Struktur dari Organisasi Data Struktur organisasi adalah aspek lain dari karakteristik geo-data. Apapun tipe peta yang akan dihasilkan, ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan.

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu

119

sebagai contoh :  Apakah peta dilihat pada jarak normal pembacaan atau pada jarak tertentu (digantung pada dinding) . dan kemampuan dalam persepsi. Untuk pembuatan peta sekolah. sehingga dapat menghindari unsur yang tidak ada kaitannya secara visual dengan suatu kategori tertentu. selain hal tersebut.  Apakah peta dilihat pada kondisi penyinaran yang normal atau pada penyinaran dengan iluminasi khusus.  Karakteristik Data Lainnya Untuk lebih melengkapi data. mungkin masih perlu melanjutkan pencarian karakteristik data lainnya. Pemilihan antara pemakaian simbol piktorial atau simbol geometrik oleh kartografer. pengalaman dalam menggunakan peta. mungkin lebih ditekankan berdasarkan kelompok pemakai. misalnya terdapat satu set data (garis kontur) yang merupakan hasil pengukuran langsung dan hasil perkiraan (interpolasi). diperhatikan juga apakah dalam satu katagori masih diperlukan pembagian beberapa sub katagori lagi. teknis atau serbaguna. d) Persyaratan Pembuatan Peta Pembuatan disain simbol dapat berbeda tergantung untuk keperluan apa peta tersebut dibuat. umur dari grup pemakai peta adalah sangat penting untuk diketahui. semua unsur air dicatat dan dimasukkan dalam satu katagori sebagai bagian dari satu elemen pada peta). WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Subyek dari peta yang akan dihasilkan harus dibedakan kedalam beberapa grup atau katagori yang unsur-unsurnya mempunyai persamaan (sebagai contoh. apakah untuk pendidikan. Keadaan khusus dari pemakaian suatu peta akan mempengaruhi disain simbol yang akan dibuat. sebab ini akan membedakan tingkat pengetahuan yang dimiliki. Hal ini sangat penting untuk membuat sistematika.  Apakah dibutuhkan waktu yang lama atau pengamatan yang cepat dalam mempelajari suatu peta . ilmiah.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 120 .

sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang ikut menentukan bentuk simbol atau penyajian pada suatu peta. Bentuk penyajian yang menggunakan dampak pandang. Pemakaian selalu yang dipakai. 121 tidaklah screen Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . umumnya dinyatakan dalam :  Bentuk (shape/Form)  Ukuran (size)  Orientasi (orientation)  Harga (value)  Tekstur (texture)  Warna (colour) Harga (Value) Harga adalah variabel pandang yang mengacu kepada harga grey scale. Sebelum memutuskan pemakaian suatu simbol yang akan mewakili suatu unsur di muka bumi. e) Variabel Pandang Variabel pandang merupakan basis dasar didalam pembuatan simbol yang berperan penting pada proses sistematika dan logika disain simbol. maka dapat dinyatakan kuantitas (jumlah/banyak) yang berbeda dari satu unsur terhadap unsur lain. Pada prakteknya. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Pertanyaan-pertanyaan tersebut berhubungan dengan aspek penting dari ketajaman visual dan pembacaan serta disain dari suatu simbol yang akan dibuat. screen untuk warna muda selalu mempunyai harga yang prosentase (%) nya selalu lebih kecil dibandingkan dengan prosentase proporsional warna screen dengan tua.PT. dengan memanfaatkan screen tersebut. suatu derajat kehitaman dari warna putih/muda sampai ke warna hitam/tua. perlu dipelajari terlebih dahulu masalah variabel pandang yang menyangkut berbagai bentuk penyajian dengan menggunakan dampak pandang (visual impact).

Warna bersangkutan disebut 122 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . akan dijumpai adanya perbedaan antara satu warna dengan warna lainnya. Tekstur (Texture) Tekstur sebagai variabel pandang untuk memahami bermacam-macam dari suatu harga yang tetap. garis dan luas. Ada suatu warna tertentu yang dapat menimbulkan reaksi terhadap mata manusia. • Harga (value) Berhubungan dengan ukuran dari pemantulan sinar yang terjadi. padahal warna bersangkutan mempunyai 'harga' yang tinggi. untuk menyatakan suatu daerah A yang jumlah penduduknya 2 kali dibandingkan dengan daerah B. warna coklat mempunyai harga yang lebih rendah dibandingkan dengan warna kuning.PT. Macambentuk tekstur dapat diatur melalui dapat ukuran macam teknik reproduksi fotografis. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas artinya. Warna (Colour) Variabel pandang untuk warna dapat dibedakan atas tiga hal yaitu : • Corak (hue) Berkaitan dengan jumlah warna yang tersedia. makin banyak sinar yang dipantulkan berarti harga yang terjadi semakin tinggi. harga dari tekstur akan sama tetapi ukurannya dapat berbeda. tidak selalu prosentase screen yang dipakai didaerah A adalah 2 kali dari daerah B. • Kejenuhan (Saturation) Berhubungan dengan reaksi manusia dalam melihat suatu warna. Sebagai contoh. Penggunaan harga sebagai variabel pandang dapat digunakan untuk penyajian simbol titik.

persepsi dari ukuran simbol dan warna dapat disajikan dalam beberapa ukuran dan warna yang berbeda dengan simbol lainnya.  Persepsi selektif. g) Aspek Persepsi Fisik dan Psikologi Pada penyajian simbol. simbol-simbol dapat tersusun dengan baik berdasarkan spesifik dari tingkatan kelas . aturan dari disain simbol berdasarkan kesan yang secara spontanitas terhadap fakta variabel pandang. sedang daerah yang kecil akan berkurang kejenuhannya.PT. suatu simbol akan 123 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Kejenuhan ini akan berlaku pada lembar peta dengan suatu area/daerah (luas atau kecil) yang akan disajikan dalam bentuk warna. kelas dikenal melalui simbol-simbol dengan cara meng-kuantitatifkan (dua kali atau tiga kali lebih). suatu area yang luas akan dapat menimbulkan bertambahnya kejenuhan. f) Tingkat Persepsi Pandang Aturan untuk disain simbol kartografi tidaklah berdasar pada suatu kesepakatan. Berkaitan dengan masalah visual pandang. seperti halnya menggunakan satu kelompok simbol kartografi yang dibuat bersama pengguna peta. simbol-simbol dapat divisualkan dalam tingkatan grup . simbol-simbol akan terlihat secara individu dan setiap simbol mempunyai arti yang sama pentingnya .  Persepsi kelas. terdapat empat tingkatan hirarki pada persepsi pandang dari suatu simbol :  Persepsi asosiatif. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas sebagai warna yang berkurang kejenuhannya (misalnya warna kuning). unsur permukaan bumi yang ditonjolkan dan kontras dapat disajikan dalam beberapa aspek yang sesuai dengan aturan kartografi. Pada umumnya pengguna peta tidaklah belajar bahasa simbol kartografi. melainkan haruslah belajar dari pembuat peta dan pengguna peta. Seperti diketahui.  Persepsi kuantitatif.

Konsep dari suatu penyajian unsur permukaan bumi adalah juga salah satu aspek fisik-psikologi yang sangat mempengaruhi dalam pembuatan disain simbol. demikian pula halnya dengan warna hijau adalah warna konvensional untuk tumbuh-tumbuhan. Banyaknya simbol yang konvensional dan standar. h) Standar dan Konvensi Warna biru selalu dikaitkan dengan unsur air dan menjadi konvensi dan standar pada penyajian sungai. setiap simbol yang akan dibuat haruslah mengacu pada simbol yang telah menjadi standar dan konvensi bersama. atau dengan perkataan lain. khususnya untuk suatu seri peta.PT. Warna dan simbol-simbol pada peta skala kecil merupakan salah satu standarisasi pada tingkat internasional. And Each Of Us Sees Them With Different Eyes” (Skelton 1972)  Masalah  Bagaimana mengkategorikan peta? Kategori dapat dipandang dari 3 sudut pandang  Diklasifikasi berdasarkan skala  Diklasifikasi berdasarkan fungsi  Diklasifikasi berdasarkan subjeknya (isinya) a) Klasifikasi Berdasarkan Skala Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 124 . Kategori Peta Jenis peta jumlahnya tidak terbatas  “Maps Have Many Functions And Many Faces. laut serta unsur-unsur lain yang ada hubungannya dengan air. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas terlihat sama jika dikelilingi oleh simbol lain yang sama ukurannya. menjadikan suatu hal yang jelas bahwa kartografer tidak pada setiap waktu dapat secara bebas mendesain suatu simbol. danau. Banyak produk dari organisasi pemetaan yang mempunyai standarisasi untuk simbol peta yang dihasilkan.

 1 : 50. Peta Skala Kecil (1 : 2.18.000 or less  Peta Skala Besar = area cakupan kecil.000) 125 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .000 or more  Peta Skala Sedang = berada diantaranya  Tidak ada pengkelasan yang spesifik Gambar 5.000. dengan isi yang general  Sekitar 1 : 500.000) Gambar 5.19.500.000. dengan detail yang baik. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Peta yang diklasifikasikan berdasarkan skala adalah peta yang menggunakan Rasio Dimensi Peta dengan Dunia Nyata.000. Dalam klasifikasi ini peta dibedakan menjadi :  Peta Skala Kecil = luasan besar. Peta Skala Kecil (1 : 1.PT.

jalan. yaitu : Peta Referensi /Peta Dasar Peta Tematik Charts (Peta Navigasi)  Peta Referensi Peta Referensi bertujuan untuk memperlihatkan kondisi fisik. lokasi dan objek dipermukaan bumi.000) b) Klasifikasi Berdasarkan Fungsi Dalam mengklasifikasikan Peta berdasarkan Fungsi tidak ada pengaturan yang jelas mengenai hal ini.PT. seperti air. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Gambar 5. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 126 . Secara umum kategori peta terdiri atas 3 (tiga). garis pantai. rel kereta dan sebagainya.000. Peta Skala Kecil (1 : 10.000. Peta Referensi dibagi atas :  Peta Dasar skala besar :  Peta Topografi  Photogrammetric methods  Peta dengan Skala yang lebih besar : site location/engineering  Fokus pada akurasi posisi  Peta Dasar skala kecil :  Atlas Memperlihatkan hampir sama dengan peta skala kecil.20. tetapi detailnya lebih sedikit.

PT.k. site-level decisions Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 127 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Engineering map example Engineering maps (a. abs. location)  Ketersediaan Data  Perbandingan Regional vs.a plans) are used for guiding projects such as bridges & dams or for estimating costs for these projects  Peta Tematik Peta Tematik dikenal dengan special purpose maps  Distribusi sebuah nilai atribut atau beberapa atribut yang saling berhubungan  Satellite cloud cover images  Election results  Precipitation. temperature  Population  Average annual income  Jika tujuannya untuk memperlihatkan lokasi dikenal dengan nama general purpose map  Peta Tematik cenderung memiliki skala yang lebih kecil  Memperlihatkan distribusi untuk area yang luas (vs.

c. etc.PT.) Dot-distribution map Memperlihatkan densitas dan distribusi sebuah atribut Choropleth Maps Choropleth maps: enumeration units coloured or shaded to represent different magnitudes of an attribute classified : colours colour scales : sequential (gradient) diverging (doubleended) correspond to value intervals Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 128 . e. b. terdiri atas : a. proportional circles. bar graphs. d. Dot-distribution maps Choropleth maps Isoline maps Flow maps Chart maps Cartograms Simbol (e.g. g. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas General reference maps Thematic maps …show locations of objects …show spatial distribution of attributes Peta Tematik. f.

height proportional to value Isoline Maps Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 129 .PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Chart maps: sizes of chart segments are proportional to values of several attributes Bar charts : one bar per attribute.

PT. maps of temperature. pressure.) Flow Map Proportional Circle Map Elemen Peta Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 130 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Show numerical values for continuous distributions by means of lines joining points of equal value (e.g. etc.

visual 2. Bathymetric Example Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 131 .PT. determine positions) Navigasi juga biasanya menggunakan peta general (maritime equivalent of topographic map  bathymetric map) 2 tipe aeronautical charts. Hanya sedikit peta yang memang “murni” merupakan peta referensi atau peta tematik dan chart yang memiliki satu fungsi khusus. instrument navigation  Peta jalan merupakan chart atau navigasi di darat. sementara charts berguna untuk worked on (plot courses. yaitu : 1. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Charts Peta yang didesian khusus untuk navigasi laut dan udara   Peta berguna untuk looked at.

peta dapat diklasifikasikan sebagai berikut :  Peta Kadastral  Peta Perencanaan d) Analisis Spasial Remote Sensing Quantitative Methods Cartography GIS Geographic al Technical Geomorphol ogy Climatology Physical Biogeography SPATI AL ANAL YSIS Human Geographic al Soils Geography Histori cal Politic al Econo mic Behavior Populatio n al e) Generalisasi Statistik 132 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas c) Klasifikasi Berdasarkan Subjeknya Berdasarkan subjeknya.PT.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Jumlah Kelas – Sedikit atau banyak ? – ROT : Kebanyakan 3-7 Kelas. dgn 8 shade  Metode Klasifikasi – Peta tematik yang dibuat dari data yang sama akan memberikan informasi yang berbeda apabila menggunakan metode klasifikasi yang berbeda.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 133 . – Klasifikasi data pada peta tematik akan tergantung pada distribusi data.

PT. seperti rata-rata atau standar deviasi  Plot data sebagai histogram Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 134 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Distribusi Data Histogram  Langkah pertama dalam memproduksi peta tematik  Lihat bagaimana data terdistribusi  Gunakan statistik sederhana.

dan memutuskan perangkat lunak mana yang akan digunakan memerlukan disiplin ilmu tersendiri. Di lain pihak.hati menyebabkan tidak pernah optimum dan operasional. Keadaan ini sering menjadi kendala untuk memulai mengembangkan sistem atau aplikasi karena selalu muncul perangkat generasi terbaru dengan tawaran keandalan yang serba lebih.PT. Yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana mengantisipasi perkembangan untuk jangka waktu tertentu. Tulang punggung informasi modern adalah perangkat keras dan perangkat lunak komputer. sehingga perkembangan tersebut tidak melebihi batas (limit) dari nilai yang Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 135 . Paradoks tersebut selalu membuat orang berfikir dua kali untuk memulai mengembangkan sistem karena terlalu hati . Seperti kita sadari bahwa perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak kriteria saat ini begitu pesatnya. saat ini ada banyak sekali perangkat lunak yang beredar. sehingga nilai kadaluwarsa perangkat tersebut berjalan sejajar. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Contoh Distribusi Data 15) Perangkat Pendukung Persoalan yang sulit dan penting dalam pengembangan aplikasi adalah bagiamana memilih sistem yang sesuai dengan kebutuhan dan bisa bertahan terhadap waktu. sehjngga untuk memilih.

PT. Hal ini berguna untuk mencegah ketimpangan antara Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 136 . Pengadaan Hardware : Pemilihan perangkat keras (hardware) dapat mengikuti petunjuk berikut :  Gunakanlah perangkat keras yang banyak digunakan (lazimnya PC) akan tetapi juga harus memungkinkan untuk bekerja di multi platform. dengan installed base yang tinggi. diikuti dengan pelayanan pengembangan dan kemudian masalah harga  Pilih perangkat lunak yang menyediakan customization.  Menggunakan media penyimpanan (hard disk) yang memadai. Apabiia biaya menjadi kendala maka bisa digunakan perangkat keras satu level dibawahnya. mengingat database pictorial membutuhkan memori yang cukup besar serta kecepatan yang tinggi. sehingga diperoleh tampilan yang sesuai dengan kehendak kita. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas kita tetapkan dalam penentuan parameter perangkat keras. maupun perangkat lunak.  Gunakanlah processor tercepat yang ada saat ini. user interface yang bersahabat (familiar)  Memiliki editor yang mudah untuk menggambarkan objek-objek 2 dimensi  Bisa membaca format dan aplikasi lain yang umum  Memiliki kemampuan untuk melakukan akses terhadap database relational  Mendukung konsep Structural Query Language (SQL)  Bisa berjalan dengan system operasi windows (under windows) C.  Gunakanlah resolusi monitor yang tinggi. Pengadaan Software Sedangkan pemilihan perangkat lunak (sofware) harus memperhatikan batasan-batasan berikut :  Perangkat lunak harus fungsional. METODE PENGUMPULAN DATA Metode atau cara mendapatkan data sangat menentukan keakuratan data yang dihasilkan.

2. Kedua kegiatan survey tersebut diatas dilakukan secara bersama-sama oleh konsultan pelaksana. 1. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas kondisi yang terjadi di lapangan dengan produk rencana yang dihasilkan. Dalam menentukan cara pengumpulan data sangat bergantung pada data yang dibutuhkan. dengan batas batas wilayah . yaitu : a.wilayah sebagai berikut : .10. b. data yaitu kegiatan yang survey dilakukan yang ditujukan untuk mendapatkan primer melalui pengamatan. baik itu berupa uraian data angka maupun peta yang berhubungan dengan wilayah kajian dan terkait dengan data yang dibutuhkan bagi penyusunan laporan. Kegiatan Pengumpulan Data Berdasarkan jenis datanya maka kegiatan pengumpulan data melalui survey dilakukan melalui 2 (dua) metode pengumpulan data.Sebelah Selatan : Samudera Indonesia . Survey Sekunder. pengukuran kondisi lapangan. GAMBARAN UMUM LOKASI KEGIATAN Kabupaten Karangasem berada di belahan timur Pulau Bali yang secara administratif merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Bali. Merupakan pengumpulan data atau perekaman data instansi. 5. Survey Primer. Data sekunder yang dikumpulkan adalah data dalam bentuk dokumen kebijaksanaan serta data-data tertulis lainnya sedangkan data primer adalah data-data yang dikumpulkan di lapangan yang dilakukan melalui pengamatan langsung ke wilayah perencanaan (on site-visit). yaitu kegiatan survey yang ditujukan untuk mendapatkan data sekunder.Sebelah Timur : Selat Lombok Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 137 .Sebelah Utara : Laut Jawa . untuk mendapatkan data yang valid dan dapat dipercaya serta dapat menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi lapangan.PT. Kebutuhan Data Kegiatan pengumpulan data dan informasi dibagi ke dalam dua bagian yaitu pengumpulan data sekunder dan data primer.

54 Km² (14.00” – 80. 8o. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas .54’. Topographi dinamis: Dataran.8.8” LS BT.954 Ha /839. Kabupaten Karangasem A.41’.9. Pegunungan (termasuk Gunung Agung) Pesisir pantai sepanjang 87 km B.9 Pulau Bali.90% dari luas Pulau Bali : 5. Perbukitan.00’.22. Luas Kabupaten Karangasem adalah 83.37.Sebelah Barat : Kabupaten Klungkung.PT. 529 banjar dinas/dusun dan 52 lingkungan. Secara adat Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 138 . Bangli dan Buleleng Untuk lebih jelasnya wilayah Kabupaten Karangasem dapat dilihat pada peta di bawah ini : Gambar 5. Wilayah Administrasi Secara administratif Kabupaten Karangasem terdiri dari 8 wilayah kecamatan.35’. Luas Kabupaten Karangasem Merupakan 1 dari 9 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Bali.632.86 km²) C.8”-115. 78 desa/keluraha yang terdiri dari 75 desa definitif dan 3 kelurahan. Letak Geografis Terletak di Ujung Timur dan115.

056.11 ha  Kawasan pertanian tanaman pangan lahan basah : 7. terdiri dari 217.453 ha E.38%)  Kawasan hutan lindung : 14.326.PT. Dengan jumlah rumah tangga 114. Langkah-langkah konkret dan strategis terkait pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana pengelolaan persampahan diperlukan untuk mempertahankan lingkungan Bali sebagai salah satu tujuan wisata andalan.32 ha  Kawasan berfungsi lindung di luar kawasan hutan : 34.209 jiwa perempuan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Kabupaten Karangasem terdiri dari 188 desa adat dan 605 banjar adat. Salah satunya adalah bertambahnya volume timbunan sampah yang dihasilkan oleh penduduk.57 ha  Luas lahan kritis : 23.086 ha (8.62%)  Luas lahan persawahan : 7.954 ha  Luas lahan bukan sawah : 76.919.918 ha (91.409.162 ha  Perkebunan (di luar kawasan berfungsi lindung) : 28. Kepadatan penduduk untuk Kabupaten Karangasem adalah sebesar 518 jiwa per km2 Perkembangan dan pertumbuhan penduduk memberikan pengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan kota. Pertambahan penduduk yang semakin meningkat dan membawa konsekuensi logis terhadap meningkatnya jumlah sampah serta menurunnya kemampuan pengelolaan sampah dan kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan lin Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 139 .563 jiwa. Kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Sidemen yaitu sebesar 972 jiwa per km2 dan kecamatan yang paling rendah kepadatannya adalah Kecamatan Kubu yaitu sebesar 308 jiwa per km 2. Keseuaian Lahan  Luas wilayah Kabupaten Karangasem : 83. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Karangasem pada pertengahan tahun 2010 berdasarkan hasil registerasi penduduk adalah 434.327 jiwa laki-laki dan 217. D.

Desa Abang terdiri dari 5 Dusun dengan jumlah penduduk 3.500 KK. Disepanjang pantai didaerah Kubu ini terdapat beberapa lokasi menyelam yang banyak dikunjungi oleh turis mancanegara. Luasnya adalah 134. Kecamatan Abang Kecamatan Abang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karangasem. Di puncak bukit ini terdapat satu komplek pura yang mana untuk mencapainya harus menaiki ratusan anak tangga. Industri pariwisata di daerah ini belum semaju daerah bali Selatan yang terkenal dengan pantainya yang indah serta ombaknya yang menjadi incaran surfer dari seluruh dunia. Berada di desa Tianyar. Kecamatan Kubu menjadi daerah tambang pasir dan menjadi pemasok utama untuk memenuhi kebutuhan pasir dan material batu untuk wilyah Bali bagian Barat meliputi Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Negara. Dari lokasi ini dapat terlihat Gunung Agung dan laut Bali. Kecamatan ini merupakan salah satu daerah yang menjadi jalur aliran lahar pada saat gunung Agung meletus pada tahun 1963. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Kecamatan Kubu Kecamatan Kubu berada di bagian utara pulau Bali dan bersentuhan langsung dengan laut bali serta berada di kaki gunung Agung.PT. saat ini.05 km². Pantainya yang lumayan curam memiliki lokasi karang dan biota laut yang indah. Salah satu wisata budaya dan keagamaan yang penting di Kecamatan Kubu adalah Pura Bukit Mangun. Bali. Kecamatan Abang yang 140 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Pengusaha pasir di kecamatan Kubu telah maju selangkah dibanding daerah lainnya dengan membentuk paguyuban guna mewadahi kegiatan penambang penambangan pasir yang dengan sesuai tujuan dengan menjaga aturan ketertiban yang dan pola oleh diterapkan pemerintah daerah Kabupaten Karangasem. Indonesia. sekitar 12 kilometer dari ibukota Kecamatan. Itu pula sebabnya. Namun demikian bukan berarti daerah ini tidak memiliki potensi wisata.

Labasari. PHBS.PT. Pidpid. Nyaman dan Asri). Kerta Mandala. Bunutan. Culik. Indah. Teratur. Nawakerti. dan Tri Buana. Aman.11. Kesimpar. penanggulangan KDRT.  Persiapan Dasar    Menyiapkan keperluan administrasi penunjang kegiatan survei Menyusun materi survei Menyiapkan peta dasar sebagai pedoman untuk survei lapangan 141 kajian lingkup kebijakan kawasan bak dalam lingkup maupun perencanaan lingkup sekitar kawasan perencanaan. Wartha Bakti Mandala di dalam Pendekatan Pekerjaan dan Metodologi Pekerjaan pada sub bab sebelumnya. Puerwakerti. Posyandu. Administrasi PKK. Lomba Toga. Lomba Hatinya PKK (Halaman. Datah. yaitu Ababi. UP2K. Tahap Persiapan Pekerjaan  Studi Literatur  Melakukan studi literatur yang bersangkutan dengan masalah tata ruang maupun yang berkaitan dengan strategi-strategi pengembangannya. Tista. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .  Melakukan kabupaten. 5. HKG-KB Kes. Lingkungan Bersih Sehat. Kecamatan Abang terdiri dari 14 desay. Abang. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas menjadi wakil Kabupaten Karangasem dalam Lomba Pelaksanaan Terbaik Hari Kesatuan Gerak PKK. Tiyingtali. PROGRAM KERJA Program/rencana kerja merupakan gambaran menyeluruh dan komprehensif usulan dari konsultan dalam melaksanakan pekerjaan yang akan ditangani sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang telah diberikan. Program kerja dibuat berdasarkan ketentuan teknik operasional yang telah diuraikan oleh PT. Secara garis besarnya program kerja dalam pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah : a.

PT. Tahap Kegiatan Survei  Survei Primer Survei primer adalah survei yang dilakukan untuk mengetahui kondisi wilayah yang sebenarnya secara langsung di lapangan. Hasil survei ini berupa :      Peta dasar yang telah divalidasi Data kuisioner untuk mengetahui tingkat kapasitas termasuk kemudahan untuk menjangkaunya Data fasilitas umum untuk mengetahui tingkat kapasitas termsuk kemudahan untuk menjangkaunya. topografi.  Persiapan Survei Primer     Menyusun desain survei Menyusun persiapan dan data yang dibutuhkan untuk observasi. Menyusun kuisioner dan check list data. Identifikasi masalah-masalah yang terjadi Identifikasi sarana dan prasarana/infrastruktur dan potensi yang kiranya berpengaruh terhadap upaya penanggulangan bencana di wilayah kajian. b.  Persiapan Survei Sekunder Menyusun data yang dibutuhkan dari setiap instansi yang terkait dalam penyusunan Peta Risiko Bencana.  Survei Sekunder Merupakan pengumpulan data atau perekaman data instansi. Pengamatan dan wawancara untuk melengkapi survei di atas untuk memperoleh data atau informasi yang telah rinci. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas    Melakukan identifikasi penggunaan lahan yang berkaitan dengan penataan ruang. klimatologi. dan lain-lain yang dapat dijadikan acuan tentang tingkat ancaman bencana. baik berupa uraian data angka. maupun peta yang berhubungan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 142 . Data geologi.

Pengumpulan Data Pada tahap ini dilakukan proses seleksi data tabulasi data. Dalam kegiatan analisa diketahui tingkat ancaman.PT. c.  Analisa kondisi fisik meliputi :     Analisa Topografi Analisa Hidrologi Analisa Geologi Analisa Klimatologi  Analisis sejarah kejadian bencana di daerah kajian e. dan tingkat kapasitas daerah kajian untuk selanjutnya diolah dengan suatu formula sehingga menghasilkan tingkat risiko bencana pada masing-masing daerah kajian. termasuk metodelogi 143 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . daftar kebutuhan. Kegiatan Analisa Kegiatan analisa merupakan penilaian kondisi daerah kajian yang ada saat ini dengan mengacu pada kajian teori atau standar-standar yang digunakan. d. Hal pokok yang dianalisa meliputi :  Kesesuaian pemanfaatan ruang dengan Rencana Tata Ruang yang ada  Analisa tingkat pemahaman masyarakat tentang kebencanaan. Dari proses ini akan dihasilkan informasi yang lengkap tentang wilayah kajian dan dapat digunakan sebagai dasar dalam penganalisaan lebih lanjut. tingkat kerentaan. dan data lainnya. Kegiatan Penyusunan Laporan a) Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan memuat seluruh metode pendekatan. Data dikelompokkan dan disajikan untuk masing-masing desa di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas dengan wilayah kajian dan terkait dengan data yang dibutuhkan bagi penyusunan laporan. pengelompokan/mensistemkan data sesuai dengan kebutuhan.

sesuai dengan output/keluaran yang diinginkan. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh ) hari sejak Laporan Pendahuluan.PT. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak SPMK diterbitkan sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. Album Peta dibuat dengan ukuran A3 sebanyak 5 ekslempar dan ukuran A1 sebanyak 2 ekslempar harus diserahkan paling lambat akhir kontrak. d) Album Peta Album peta memuat peta-peta Risiko Bencana. Pembahasan Pendahuluan: dilakukan setelah diselesaikannya Laporan Pendahuluan yang pada intinya merupakan kegiatan penyampaian rencana kerja. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 144 . b) Konsep Laporan Akhir Draft laporan akhir memuat hasil survey dan hasil awal kompilasi dan analisis kegiatan Penyusuan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. metode pelaksanaan pekerjaan serta penyamaan persepsi tentang substansi pekerjaan. sesuai dengan output/keluaran yang diinginkan Laporan Akhir harus diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan dan dilengkapi dengan CD report sebanyak 10 (sepuluh) keping. Pembahasan formal dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dengan ketentuan sebagai berikut : a. sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan. c) Laporan Akhir Laporan akhir memuat hasil kegiatan Penyusuan Peta Risiko Bencana di kecamatan Abang dan Kubu. f. Pembahasan Untuk menghasilkan produk peta yang dapat diterima secara luas maka Konsultan wajib mengadakan konsultasi secara formal maupun non formal kepada pemberi tugas yang bersangkutan dan instansi terkait lainnya.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas b. Pembahasan Akhir: dilakukan setelah diselesaikannya Laporan Akhir yang pada intinya menyampaikan hasil akhir Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. dan data lainnya. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak SPMK diterbitkan sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan. sesuai dengan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 145 . Sistem Pelaporan a) Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan memuat seluruh metode pendekatan. c) Laporan Akhir Laporan akhir memuat hasil kegiatan Penyusuan Peta Risiko Bencana di kecamatan Abang dan Kubu. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh ) hari sejak Laporan Pendahuluan. Sesuai dengan KAK maka Konsultan harus menyerahkan beberapa jenis laporan. c. KELUARAN Produk atau keluaran utama dari kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu disajikan dalam bentuk laporan. sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan.PT. Pembahasan Konsep Laporan Akhir : dilakukan setelah selsainya pembuatan konsep laporan akhir yang bertujuan setelah akan untuk laporan nantinya menyampaikan pendahuluan progress serta garis pada besar kegiatan hal yang disampaikan pada laporan akhir. daftar kebutuhan. Konsultan memahami bahwa produk dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah beberapa jenis laporan yang disusun dan diserahkan selama masa kontrak. b) Konsep Laporan Akhir Draft laporan akhir memuat hasil survey dan hasil awal kompilasi dan analisis kegiatan Penyusuan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. 5. sebagai berikut: 1.12. termasuk metodelogi Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu.

Draft Laporan Akhir. judul buku tertulis Laporan Pendahuluan. maka dibuat bagan organisasi pelaksana agar pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai KAK. 5. Laporan Akhir. Album Peta dibuat dengan ukuran A3 sebanyak 5 ekslempar dan ukuran A1 sebanyak 2 ekslempar harus diserahkan paling lambat akhir kontrak. jumlah 10 buku. sesuai dengan output/keluaran yang diinginkan. berukuran A4. judul buku tertulis Draft Laporan Akhir.13.PT. struktur organisasi yang menggambarkan hubungan koordinasi antara pengguna jasa dan penyedia jasa serta masing-masing Tim Konsultan. Disamping itu konsultan juga menyadari adanya mekanisme kontrol terhadap proses dan hasil dari pekerjaan konsultan. Teknik Penyajian Laporan a) Pengetikan dengan menggunakan kertas HVS putih polos berukuran A4 b) Sampel/cover buku warna terang dengan tulisan huruf hitam. berukuran A4. Dalam struktur organisasi pelaksana pekerjaan melibatkan tenaga profesional dan beberapa tenaga penunjang dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. 2. judul buku tertulis Laporan Akhir. d) Album Peta Album peta memuat peta-peta Risiko Bencana. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas output/keluaran yang diinginkan Laporan Akhir harus diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan dan dilengkapi dengan CD report sebanyak 10 (sepuluh) keping. ORGANISASI DAN PERSONIL Dalam bab ini diuraikan bagan organisasi pengguna jasa. c) Ukuran kertas dan jumlah laporan    Laporan pendahuluan. Untuk memperjelas alur koordinasi dalam pelaksanaan pekerjaan ini. penyedia jasa. jumlah 10 buku. 146 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . jumlah 10 buku. berukuran A4.

3. Ahli Tanah Kualifikasi ahli tanah adalah sekurang-kurangnya pendidikan strata satu (S1) Pertanian program studi Ilmu Tanah dengan pengalaman di bidnag analisa karakteristik tanah dan pemetaan kerentaan minimal 6 tahun. tenaga sub profesional dan tenaga penunjang dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. 2. dan memiliki SKA Ahli Muda Sistem Informasi Geografis. Dengan adanya pembagian dan penerangan alur job description yang jelas maka akan menunjang kelancaran berlangsungnya kegiatan.PT. Team Leader/Ahli Geodesi Kualifikasi Team Leader adalah sekurang-kurangnya pendidikan Srtata Satu (S1) Teknik Geodesi dengan pengalaman kerja di bidang penyusunan data base berbasis System Informasi Geografis (GIS) dan pemetaan minimal 8 tahun yang dibuktikan dengan ijazah dan sertifikat keahlian minimal SKA Ahli Madya Sistem Informasi Geografi. Secara rincinya mengenai kualifikasi berserta tugas dan tanggungjawab masing-masing personil dijelaskan sebagai berikut : A. TENAGA PROFESIONAL 1. 4. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Dalam struktur organisasi pelaksana pekerjaan yang melibatkan beberapa tenaga profesional. Ahli Klimatologi Kualifikasi ahli klimatologi adalah sekurang-kurangnya pendidikan starta satu (S1) Teknik Meteorologi dan Geofisika cabang Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 147 . Ahli Remote Sensing Kualifikasi Ahli Remote Sensing sekurang-kurangnya pendidikan strara satu (S1) Teknik Geodesi dengan pengalaman kerja di bidang keilmuan penginderaan jarak jauh dan sains informasi geografis minimal 6 tahun. Kualifikasi dan kuantitas personil disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu yang tercantum dalam KAK.

Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 148 . Chief Surveyor Kualifikasi untuk chief surveyor dan pemetaan sekurangkurangnya pendidikan starta satu (S1) Teknik Geodesi atau Geografi cabang keilmuan Pengeinderaan jauh dan sains informasi georafis dan/atau surveying dengan pengalaman kerja sesuai bidang minimal 4 tahun. 3. 4. iklim. 5. Ahli Sosial Ekonomi Kualifikasi untuk ahli Sosial Ekonomi sekurang-kurangnya pendidikan Strata Satu (S1_ Ekonomi dengan pengalaman kerja minimal 6 tahun dalam bidang analisa dan kajian kondisi sosial. dan kondisi hidrologi. 6.PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas keilmuan Meteorologi dengan pengalaman di bidang analisa curah hujan. TENAGA SUB PROFESIONAL 1. 2. Assiten Ahli Remote Sensing Kualifikasi untuk Assiten Ahli Remote Sensing sekurangkurangnya pendidikan Strata Satu (S1) Teknik Geodesi/Geografi cabang keilmuan pengeinderaan jauh dan sains informasi geografis dan/atau dengan pengalaman kerja sesuai bidang minimal 4 tahun. Assisten Ahli Tanah Kualifikasi Asisten Ahli Tanah adalah sekurang-kurangnya pendidikan Strata Satu (S1) Pertanian program studi Ilmu Tanah dengan pengalaman di bidang analisa tanah minimal 4 tahun. Assisten Ahli Geodesi Kualifikasi untuk Assiten Ahli Geodesi sekurang-kurangnya pendidikan Starata Satu (S1) Teknik Geodesidan/atau surveying dengan pengalaman kerja sesuai bidang minimal 4 tahun. Ahli Planologi Kualifikasi pendidikan Strata Satu (S1) Teknik Planologi cabang keilmuan Perencaan Wilayah dengan pengalaman kerja sesuai bidang minimal 6 tahun dan memiliki SKA Ahli Muda Perencana Kota dan Wilayah. B. minimal 6 tahun. perhitungan estimasi kerugian akibat bencana.

Operator Komputer/Typist Kualifikasi untuk petugas Administrasi adalah sekurang- kurangnya pendidikan SMA/SMK dengan pengalaman kerja sebagai operator komputer.23.PT. dsb) sekurangkurangnya pendidikan SMA/SMK dengan pengalaman kerja sesuai bidang 5 tahun. 3. TENAGA PENDUKUNG 1. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas C. 2. 4. Gambar 5. Struktur Organisasi Perusahaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 149 . Kartografi. Administrator dan Keuangan Kualfikasi untuk petugas adminitrasi adalah sekurang-kurangnya pendidikan SMA/SMK dengan pengalaman kerja sesuai bidang 5 tahun dalam bidang adminitrasi proyek. Surveyor Kualifikasi untuk surveyor sekurang-kurangnya pendidikan SMA/MK dengan pengalaman kerja sesuai bidang 5 tahun. CAD. Opeator CAD/GIS Kulifikasi untuk operator (GIS.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 150 .

Gelombang Pasang. Badai/Angin Kencang. Kekeringan. UU tersebut mengharuskan setiap pemerintah daerah mempunyai dokumen mengenai kajian risiko bencana sebagai dasar dalam penyusunan rencana aksi guna meminimalisir risiko dan dampak negatif jika terjadi bencana. baik bencana alam maupun non alam. Campak.1. Tsunami. Kebakaran. Atas pertimbangan tersebut. Flu Burung. HIV/AIDS. Tanah Longsor. ekonomi. Banjir. dan menginformasikan peta rawan bencana. Selain itu. 24 Tahun 2007 khususnya pasal 21 menyebutkan bahwa salah satu tugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah menyusun. Kejadian bencana termasuk di Kabupaten Karangasem telah menyadarkan semua pelaku dan pelaksana pembangunan akan perlunya perhatian khusus pada lokasilokasi yang rawan bencana. DAN PROGRAM KERJA 5. PENDEKATAN. UU No. Penyakit Tungro. Konflik. Rabies. . Padi. Salah satu aspek penting dalam kajian tersebut adalah informasi lokasi-lokasi yang memiliki kerawanan dan risiko bencana tinggi dengan melakukan kegiatan pemetaan risiko bencana. menetapkan. Letusan Gunung Api. Dari telaah tim ahli yang tergabung dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) Kabupaten Karangasem dengan melihat kondisi alam. dan Liquifikasi. Hama Penggerek Batang. LATAR BELAKANG Meningkatnya frekuensi kejaidan bencana di Indoenisa pada umumnya dan di Provinsi Bali pada khususnya telah membuka mata semua pihak akan pentingnya pertimbangan aspek kebencanaan dalam pembangunan. METODELOGI. Dengan kata lain. Melalui kegiatan ini maka akan dihasilkan peta risiko bencana yang didasarkan atas analisa detail ancaman. sosail.5. Penyakit Blast. Pemerintah Kabupaten Karangasem pada tahun anggaran 2013 ini mengakibatkan anggaran untuk melaksanakan kegiatan penyusunan peta risiko bencana di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu. dan budaya di Kabuoaten Karangasem tercatat ada 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. Hama Tikus. Diare. kerentanan dan kapasitas untuk seluruh jenis bencana di setiap desa di Kecamatan Abang dan Kubu.

500. Maksud Pekerjaan Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan peta risiko bencana khususnya untuk di wilayah Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu sesuai dengan standar penyusunan peta risiko bencana yang telah ditetapkan melalui ketentuan/aturan khususnya Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Kabupaten Karangasem. 5. b. NAMA PEKERJAAN Sesuai dengan yang tercantum dalam KAK.6. 5. 5.5.000 (lima ratus juta rupiah) yang dibebankan pada biaya APBD Kabupaten Karangasem Tahun Anggaran 2013. LOKASI PEKERJAAN Berdasarkan KAK lokasi dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini adalah seluruh cakupan wilayah administratif Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu di Kabupaten Karangasem. pekerjaan ini bernama Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. BIAYA Biaya pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah sebesar Rp. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN Kegiatan penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu akan dilaksanakan selama 150 (seratus lima puluh) hari kalender sejak dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja).2.000. SKPD Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).4.3. Tujuan Pekerjaan Tujuan dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu adalah di antaranya untuk : .5. 5. MAKSUD DAN TUJUAN a.

 Di tingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana. Semakin tepatnya pemilihan tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi resiko dan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Tersedianya data spasial berupa peta resiko bencana masingmasing desa untuk masing-masing jenis bencana yang telah tertuang dalam Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. juga dapat memberikan informasi penyebab tinggi rendahnya risiko bencana pada suatu lokasi. Semakin meningkatnya kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat luas mengenai pentingnya informasi bencana dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Tersedianya informasi karakteristik ancaman. sejarah kejadian bencana. aktifitas masyarakat. topografi wilayah. 5. b. 5. analisis tingkat kerawanan dan analisis kapasitas pada masing-masing desa untuk masing-masing jenis bencana yang tertuang dalam RPBD. RUANG LINGKUP Adapun lingkup materi dalam penyusunan peta risiko bencana di Kecamatan Abang dan Kubu adalah :  Analisis Ancaman Meliputi segala potensi ancaman bencanan yang berpotensi terjadi di masing-masing desa di Kecamatan Abang dan Kubu dengan memperhatikan klimatologi struktur geologi. dan penerapan teknologi yang . kerentaan.7. dan kapasitas pada setiap lokasi. c.8. SASARAN Sasaran dari pekerjaan ini diantara lain adalah : a.  Tersedianya data atribut berupa analisis tingkat ancaman.  Di tingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana.

9. CV. tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat terhadap ancaman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangsem di tahun 2013. kepdatan penduduk. nilai kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan (dalam rupiah)  Legalisasi Produk Peta Risiko Bencana Kecamatan Abang dan Kecamatan Kubu yang bersangkutan diformulasikan ke dalam produk legal formal yang disiapkan berupa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang dalam proses selanjutnya akan didorong untuk ditetapkan dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) 5.  Analisis Risiko Merupakan perpaduan antara ancaman.  Penyusunan Peta Risiko Bencana Pemetaan didasarkan prasyarat umum penyusunan peta dengan skala minimum 1 : 25. potensi penduduk terpapar bencana. serta kondisi lainnya yang berpotensi mempersulit kemampuan masyarakat untuk mengatasi ancaman bencana secara mandiri.berpotensi menimbulkan bencana serta hal-hal lainnya yang layak dijadikan pertimbangan. APRESIASI DAN INOVASI Sehubungan dengan kegiatan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). TRI MATRA DISAIN selaku pihak konsultan ingin memberikan apresiasi dan inovasi terkait pekerjaan ini yang diharapkan dapat menjadi .  Analisis Kerentaan Merupakan analisis terhadap kerentaan masyarakat yang meliputi kemampuan perekonomian masyarakat.000 dengan komponen data hitungan jumlah jiwa terpapar bencana (dalam jiwa).  Analisis Kapasitas Meliputi segala sumber daya yang ada dapat dimanfaatkanuntuk mengurangi risiko yang dihadapai masyarakat. kerentaan dan kapasitas yang disusun berdasarkan pedoman yang berlaku.

Letusan Gunung Api. sosail. APRESIASI 1) Umum Dalam pengelolaan manajeman mitigasi bencana. Badai/Angin Kencang. Pemetaan risiko bencana merupakan kegiatan yang sangat penting sebagai benchmark dalam menyusun program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. dan budaya di Kabuoaten Karangasem tercatat ada 21 (dua puluh satu) potensi ancaman bencana yang terjadi di Kabupaten Karangasem yakni Gempa Bumi. banjir. Padi. perbukitan dan dataran. Kebakaran. Kekeringan. Di Kabupaten Karangasem sendiri dari telaah tim ahli yang tergabung dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) Kabupaten Karangasem dengan melihat kondisi alam. Rabies. Penyakit Tungro. Bencana adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari sistem yang ada di muka bumi. Campak. Hama Tikus. Proses geologi merupakan siklus di bumi dalam mencapai titik keseimbangan yang sering menjadi fenomena ancaman seperti gempa bumi. Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak sekali potensi bencana karna berdasarkan letaknya Indonesia terletak diantara pertemuan 3 lempeng besar yaitu Lempeng Hindia-Australia. baik secara alamiah ataupun akibat ulah manusia. Penyakit Blast. angin putting beliung. Hama Penggerek Batang. Flu Burung. Tsunami. dan sebagainya. A. Gelombang Pasang. tsunami. Diare. Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan risiko bencana. Konflik. ekonomi. Banjir. HIV/AIDS. . Pertemuan 3 lempeng besar ini menjadikan Negara Indonesia memiliki fenomena alam yang komplek mulai dari pegunungan.tambahan informasi dan usulan strategis yang bisa mendukung terlaksananya pekerjaan ini. Selanjutnya peta risiko bencana tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan penyusunan masterplan pengurangan risiko bencana. dan Liquifikasi. longsor. Tanah Longsor.

diantaranya (Sumber : Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana) :  Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. budaya. meredam. tanggap darurat. sosial. . kerugian harta benda. 2) Pengertian Dasar Pemetaan Risiko Sehubungan dengan penyusunan pengerjaan kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. kerusakan lingkungan. dan rehabilitasi. biologis. kegiatan pencegahan bencana. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. geografis. dan dampak psikologis. baik oleh faktor alam dan/atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia.Dalam proses pemetaan risiko memerlukan penilaian dan klasifikasi sesuai dengan karakteristik daerah kajian. klimatologis.  Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. politik.  Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. ekonomi.  Rencana Penanggulangan Bencana adalah rencana penyelenggaraan penanggulangan bencana suatu daerah dalam kurun waktu tertentu yang menjadi salah satu dasar pembangunan daerah. hidrologis. mencapai kesiapan. Perlunya kajian pemodelan yang tepat dalam pemetaan risiko sehingga dapat dihasilkan peta risiko yang benar-benar sesuai dengan kondisi sebenarnya. terapat istilah dan definisi terkait yang ditelaah dari peraturan-peraturan yang juga masih berhubungan dengan kegiatan pengerjaan pendapingan ini. dan teknologi pada suatu kawasan untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah.

dan area-area yang didefinisikan oleh lokaisnya dengan sistem koordinat tertentu dan oleh atribut non-spasialnya. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. pemrosesan atau .  Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi Dasar Negara ancaman bencana. sakit. hilangnya rasa aman.  Badan Nasional Penanggulangan Bencana.  Badan Penanggulangan Bencana Daerah. penyimpanan.  Korban bencana adalah orang atau kelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Republik Indonesia Tahun 1945.  Geographic Information System. mengungsi. kerusakan atau kehilangan harta. adalah lembaga pemerintah non departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.  Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya dengan satuan atau teknik tertentu.  Cek Lapangan (ground check) adalah mekanisme revisi garis maya yang dibuat pada peta berdasarkan perhitungan dan asumsi dengan kondisi sesungguhnya. dan gangguan kegiatan masyarakat.  Peta adalah kumpulan dari titik-titik. yang selanjutnya disingkat dengan BNPB. selanjutnya disebut GIS. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian.  Kerentanan adalah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana. garis-garis. luka. yang selanjutnya disingkat dengan BPBD. jiwa terancam. adalah sistem untuk pengelolaan.

32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah  UU RI No.  Peta Landaan adalah peta yang menggambarkan garis batas maksimum keterpaparan ancaman pada suatu daerah berdasarkan perhitungan tertentu. 17 Tahun 2006 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025  UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana . 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional  UU RI No. fasilitas umum dan rumah penduduk pada zona ketinggian tertentu akibat bencana.  Peta Risiko Bencana adalah gambaran Tingkat Risiko bencana suatu daerah secara spasial dan non spasial berdasarkan Kajian Risiko Bencana suatu daerah 3) Dasar Hukum Dasar hukum yang dapat digunakan dalam kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. dan penayangan data yang mana data tersebut secara spasial (keruangan) terkait dengan muka bumi.  Kapasitas adalah kemampuan daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan pengurangan Tingkat Ancaman dan Tingkat Kerugian akibat bencana. analisis.manipulasi.  Tingkat Kerugian adalah potensi kerugian yang mungkin timbul akibat kehancuran fasilitas kritis. antara lain :  UU RI No.  Kajian Risiko Bencana adalah mekanisme terpadu untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap risiko bencana suatu daerah dengan menganalisis Tingkat Ancaman.  Tingkat Ancaman Tsunami adalah potensi timbulnya korban jiwa pada zona ketinggian tertentu pada suatu daerah akibat terjadinya tsunami.  Tingkat Risiko adalah perbandingan antara Tingkat Kerugian dengan Kapasitas Daerah untuk memperkecil Tingkat Kerugian dan Tingkat Ancaman akibat bencana. Tingkat Kerugian dan Kapasitas Daerah.

4) Prinsip Pengkajian Risiko Bencana Pengkajian risiko bencana memiliki ciri khas yang menjadi prinsip pengkajian. . hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana. UU RI No. Bencana yang merupakan bencana mekanisme dalam untuk rencana penanggulangan Pada tatanan mitra pemerintah. Dan peraturan-peraturan lainnya yang terkait. para ahli 5) Fungsi Pengkajian Risiko Bencana Pada tatanan pemerintah. Kebijakan ini nantinya merupakan dasar bagi penyusunan Rencana Penanggulangan mengarusutamakan pembangunan. kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan.  Kemampuan untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Wilayah  PP No.  Integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari dengan kearifan lokal masyarakat.  Kemampuan untuk diterjemahkan menjadi kebijakan pengurangan risiko bencana. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk melakukan aksi pendampingan maupun intervensi teknis langsung ke komunitas terpapar untuk mengurangi risiko bencana. 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaaraan Penanggulangan Bencana  PP No. Pendampingan dan intervensi para mitra harus dilaksanakan dengan berkoordinasi dan tersinkronasi terlebih dahulu dengan program pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Oleh karenanya pengkajian dilaksanakan berdasarkan :  Data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada. 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana  Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.

belum adanya standarisasi dalam metode penyusunan peta risiko menyebabkan setiap lembaga atau institusi memiliki metode yang berbeda dalam penyusunan peta risiko. B. Dewasa ini berbagai pihak telah mencoba untuk menyusun peta risiko bencana. peta kapasitas dan peta risiko bencana. hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai salah satu dasar untuk menyusun aksi praktis dalam rangka kesiapsiagaan seperti menyusun rencana dan jalur evakuasi. Contoh : Peta kerentanan penduduk. Peta bahaya longsor. INOVASI Risiko bencana dapat dinilai tingkatannya berdasarkan besar kecilnya tingkat ancaman dan kerentanan pada suatu wilayah. Peta KRB Gunungapi Merapi.Pada tatanan masyarakat umum. dan sebagainya. peta kerentanan aset. Peta kawasan Rawan Banjir Peta Kerentaan Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu kerentanan tertentu pada aset-aset penghidupan dan kehidupan yang dimiliki yang dapat mengakibatkan risiko bencana. Peta Ancaman Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu ancaman atau bahaya tertentu. peta kerentanan pendidikan. peta kerentanan. peta kerentanan lokasi Peta Kapasitas . Secara mendasar pemahaman tentang konsep bencana menjadi dasar yang kuat dalam melakukan pemetaan risiko bencana yang dapat diaplikasikan kedalam Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat ditampilkan secara spasial dan menghasilkan peta ancaman. pengambilan keputusan daerah tempat tinggal. Misalnya : Peta KRB Gunungapi Kelud. Analisis risiko bencana dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya adalah metode pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).

kepadatan pemukiman. jenis tanah. janis batuan. peta risiko bencana gempa. morfologi. Dalam metode análisis risiko dengan menggunakan GIS untuk menghasilkan peta risiko. kemiringan lereng. desa yang punya kebijakan penanggulangan bencana. jauh dekatnya pemukiman dari daerah rawan. peta tingkat ekonomi masyarakat. zonasi patahan. parameter ancaman longsor misalnya sejarah kejadian longsor. dll 3. tingkat mata pencaharian. dll 2. struktur geologi. dll 4. jumlah sarana kesehatan. jumlah penduduk tidak bisa baca tulis. jumlah KK miskin. Contoh : peta sarana kesehatan. Analisis ancaman gempa misalnya : sejarah kejadian gempa. jenis tanah. morfologi. parameter kapasitas misalnya : jumlah tenaga kesehatan. jenis batuan. jumlah kelompok rentan. jumlah rata-rata curah hujan. peta alat peringatan dini. desa yang pernah mendapat pelatihan penanggulangan bencana. penggunaan lahan di kawasan rawan. parameter kerentanan misalnya : jumlah penduduk. peta jumlah tenaga medis. jumlah KK di kawasan rawan bencana. Peta Risiko Bencana Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki tingkat risiko tertentu berdasarkan adanya parameter-parameter ancaman. luasan wilayah yang terkena dampak. peta pengungsian. kemiringan lereng. densitas sungai dalam suatu DAS. Contoh : peta risiko bencana banjir. Analisis ancaman banjir misalnya : peta rawan banjir.jumlah curah hujan. kerentanan dan kapasitas yang ada di suatu wilayah. kepadatan penduduk. yang paling utama adalah pemilihan parameter dan indikator masing-masing análisis risiko 1. jumlah rumah di kawasan rawan bencana.dll 5. peta evakuasi. jumlah sekolah. jenis batuan. geomorfologi wilayah. curah hujan.Adalah gambaran atau representasi suatu wilayah atau lokasi yang menyatakan kondisi wilayah yang memiliki suatu kapasitas tertentu yang dapat mengurangi risiko bencana. peta risiko bencana longsor. sejarah kejadian banjir. jumlah penduduk yang sekolah. keberadaan .

Pihak konsultan memiliki pandangan dan visi ke depan bahwa dengan pemaparan pendekatan teknis dan metodelogi pekerjaan ini akan meningkatkan range kualitas kerja yang ada. 5. Uraian mengani pendekatan dan metodelogi pekerjaan yang diterapkan akan dijelaskan pada bagian ini. maupun kebijakan pada tingkat regional.8. PENDEKATAN TEKNIS 1. metode yang digunakan dalam pekerjaan ini antara lain : a. A. dan mendorong keterlibatan dan komitmen sepenuhnya untuk melaksanakannya. PENDEKATAN TEKNIS DAN METODELOGI Dalam rangka memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan dengan bobot dan kualitas yang direncanakan sejak awal dari pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini. b. sehingga setiap keputusan yang diambil dalam perencanaan adalah keputusan mereka bersama. Pendekatan Studi Dalam melakukan pendekatan teknis melalui pendekatan studi. Pendekatan Keterpaduan Perencanaan dari Atas dan Bawah ( BottomUp Approach) Pendekatan ini merupakan upaya melibatkan semua pihak sejak awal. keberadaan alat peringatan dini. Dari kegiatan tersebut dapat ditentukan skala . Pendekatan Strategis Dalam aplikaisnya pendekatan memperhatikan secara aspek secara keseluruhan sebelum menetukan poin-poin utama yang menjadi pokok permasalahan.organisasi penanggulangan bencana di masyarakat. Di dalam pendekatan ini maka Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu akan dilaksanakan sesuai dengan permasalahan yang melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan ini. yang di mana pihak konsultan dalam penguraian yang berhubungan realisaisnya di lapangan berpedoman pada KAK yang ada. Perencanaan dari atas ke bawah sebagai penurunan kebijakan pembangunan pada tingkat Nasional.

sarana-prasarana. d. dalam masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup penduduk dalam semua aspek dalam suatu wilayah kajian. Nilai-nilai tradisional yang positif perlu diakomodir untuk merangsang peran serta masyarakat yang lebih besar dalam pembangunan kawasannya. Sedangkan nilai-nilai pembangunan perlu diupayakan agar tidak . Pendekatan ini bertumpu pada perencanaan yang menyeluruh dan selalu terkait dengan sektor-sektor lain serta wilayah dengan skala lebih luas secara regional atau nasional. Pendekatan Perencanaan yang Berkelanjutan Pendekatan ini memperhatikan kesinambungan antara aspek kelestarian dengan pokok kegiatan yang dilaksanakan. c. aspek sosial budaya dan ekonomi setempat. Pendekatan Komprehensif Adalah pendekatan yang diawali dengan identifikasi potensi dan permsalahan yang menjadi popok dalam wilayah kajian. e. Pendekatan ini juga menekankan pada nilai manfaat dengan memperhatikan isu-isu strategis yang mempunyai dampak vital bagi masyarakat.prioritas sebuah permasalahan. Sehingga pada tahap selajutnya didapatkan koordinasi. Pendekatan Masyarakat Pada pendekatan ini. Strategic Approach ini akan membantu terutama dalam penyusunan kriteria maupun tolok ukur guna kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. untuk. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) ini adalah model pembangunan yang sangat memperhatikan daya dukung alamiah (natural support system) suatu lingkungan. dan melihat kemapuan pemerintah. sikronisasi dan integrasi dengan sektor terkait. Sehingga nanti pada akhirnya produk keluaran kegiatan. konsep dasarnya adalah dengan memperhatikan upaya terencana dan sistematis yang dilakukan oleh. Selain itu juga memperhatikan ketersediaan sumber daya manusia yang ada.

… : sudut dalam .3. Poligon Tertutup Dengan Pengukuran Sudut Dalam Keterangan gambar :  1. 3. Gambar E. a. 2. sehingga sudutsudut poligon dapat dicari dari titik hasil pengukuran (setelah dikoreksi terhadap jumlah segi-n) untuk kemudian diketahui azimuth untuk tiap sisi poligon. Pengukuran Kerangka 1) Pengukuran Kerangka Horisontal Kerangka yang digunakan dalam pengukuran kerangka horisontal adalah poligon tertutup yang diawali pada titik pasti. legenda. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam sebuah penggambaran peta adalah skala. titik koordinat wilayah.1.… : nomor titik  1. Pendekatan Teoritis Peta adalah bayangan permukaan bumi yang diperkecil yang digambarkan dalam sebuah berdasarkan skala tertentu. dan arah mata angin. Dengan begitu dalam aplikasinya masyarakat ikut terlibat berperan serta sehingga terjadi komunikasi yang atraktif yang tujuannya dapat menampung pendapat dan aspirasi mayarakat dalam kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu. Data yang dibutuhkan adalah sudut. jarak dan azimuth awal. 2.2.berbenturan dengan nilai-nilai tradisional.

d cos = jumlah hasil proyeksi pada sumbu x c) Azimuth awal dapat dihitung dengan menggunakan titik tetap. Poligon Tertutup Dengan Pegukuran Sudut Luar Keterangan gambar :  1.…  1. 3. d sin  = jumlah hasil proyeksi pada sumbu y d cos = 0 . 2. 1.2. … : nomor titik : sudut dalam : azimuth .2. Jika tidak ada digunakan azimuth mendatar.…  1. … : azimuth Rumus dan syarat yang harus dipenuhi : a) Syarat sudut Jumlah sudut poligon  = ((n-1)*180) Dimana .3. 3.n)  . 2. n = jumlah titik sudut poligon  = jumlah sudut pada poligon b) Syarat sisi d sin  = 0 . 3. 2.n  : sudut luar  : azimuth Dimana : ‘n : nomor titik poligon Gambar E. d) Mengitung masing – masing garis Rumus : x(n-(n-1)) = x((n-1).

n Dimana : n : nomor titik poligon  : sudut luar z : azimuth 2) Pengukuran Kerangka Vertikal Pengukuran kerangka vertikal lebih tepat jika menggunakan waterpass untuk menentukan selisih ketinggian di atas permukaan bumi. d) Mengitung masing – masing garis Rumus :x(n-(n-1)) = x((n-1). Tampang memanjang adalah tampang yang arahnya memanjang. pekerjaan dibagi atas : a) Penyipatan datar untuk menunjukkan ketinggian antara 2 titik. d sin  = jumlah hasil proyeksi pada sumbu y d cos = 0 . Hal ini diperlukan untuk menghitung galian dan timbunan tanah. Volume galian atau timbunan tanah dapat dihitung bila diketahui luas penampang melintang serta jarak antara tampang melintang. b) Penampang tanah pada arah memanjang dan melintang Beda tinggi antara dua titik adalah selisih tinggi dalam ukuran vertikal atau jarak terpendek antara dua nivo yang melalui titik tersebut. d cos = jumlah hasil proyeksi pada sumbu x c) Azimuth awal dapat dihitung dengan menggunakan titik tetap. digunakan untuk menentukan ketinggian titik detail. dimana titik–titik tersebut dinyatakan dalam suatu bidang referensi. Tampang melintang adalah tampang yang arahnya melintang.n)  . . n = jumlah titik sudut poligon  = jumlah sudut luar poligon b) Syarat sisi d sin  = 0 .Rumus dan syarat yang harus dipenuhi : a) Syarat sudut Jumlah sudut poligon  = ((n-1)*180) Dimana . Jika tudak ada digunakan azimuth mendatar.

Dari hasil pengukuran didapat beda tinggi suatu titik ikat (poligon) terhadap titik ikat lainnya. untuk pengukuran pada beda tinggi dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar E. Pada pengukuran ini tidak mungkin dilakukan pengukuran detail secara lengkap. 3) Pengukuran Detail Titik detail adalah semua penampakkan yang ada di permukaan bumi baik alamiah maupun buatan manusia. BB dan BT.3. Oleh karena itu titik detail harus diambil seselektif mungkin. BT. z maka . Pengukuran Titik Keterangan Gambar : A : tempat berdiri alat hi : tinggi alat benang atas BT : bacaan benang tengah BB L D : jarak datar : BA – BB D’ : jarak miring : bacaan benang bawah B : tempat berdiri rambu h : beda tinggi BA M : sudut miring : bacaan Dari pengukuran di lapangan diperoleh BA. BB. Beda tinggi yang didapat dipakai sebagai data pada peta topografi. L’ = L x cos m = L sin z . Pada pengukuran titik detail ini menggunakan theodolit yang dilengkapi dengan kompas dan bacaan BA.

BA. Pengukuran Detail Cara Mendatar Pengukuran detail cara mendatar dilakukan melalui pengukuran pada tiap-tiap titik poligon diambil tiap 45 lalu diukur azimuth.0. A-B (h) HAB = h1 + h – BT HB = HA +h – BT Dengan HB = ketinggian titik B Pengukuran titik detail dalam praktikum ini dilakukan dengan cara memancar seperti di bawah : Gambar E. L (2 sin z cos z) = 50 sin 2z L Sehingga beda tinggi . BT dan zenith. BB.5.D = L’ x F D = D’ sin z Beda tinggi ( h ) = 100 sin2z h = D’ cos z = 100 L sin z cos z = 100. .4.

Gambar E.5. Metode Barometris Pengukuran Beda Tinggi Barometris Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara.6. Cara ini juga dipengaruhi suhu. Tekanan udara di A adalah berat udara di A setinggi a dan tekanan udara di B setinggi b .4) Metode Pengukuran Beda Tinggi Gambar E. Metode Trigonometri Keterangan gambar :    z m s = sudut zenith = sudut miring = jarak A-B . kelembaban dan gaya tarik bumi. maka beda tinggi (h) mempunyai hubungan erat dengan tekanan udara di A dan di B.

Pengukuran beda tinggi trigonometri Untuk metode trigonometri diperlukan alat ukur (theodolit). Angka a dan b adalah hasil pembacaan mistar atau rambu. b. Namun cara ini masih lebih baik dibandingkan metode barometris. kelembaban sehingga menyebabkan cahaya A ke B mungkin tidak lurus melengkung atau mengalami defleksi. Untuk menghindari kelengkungan teropong dengan dilengkapi nivo di tengah-tengah dan diusahakan garis bidik di dalam teropong dibuat sejajar dengan garis arah nivo. Gambar E. Notasi dan Simbol Unsur-Unsur Peta 1) Kebijakan Pemerintah Tentang Tingkat Ketelitian Peta  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tanggal 21 Februari 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah. Apabila pesawat di A dan diarahkan ke B.7. Jika jarak mendatar antara A dan B adalah s maka beda tinggi antara A dan B = s tan m. Cara ini juga dipengaruhi suhu. Garis mendatar ini dapat dihasilkan dengan menarik seutas benang atau kawat dibantu dengan waterpass. maka dapat diukur sudut miring dan sudut tegak (Zenith). Metode Sipat Datar Pengukuran beda tinggi sifat datar Pada beda tinggi h antara A dan B dapat ditentukan dengan menggunakan garis mendatar dan 2 mistar dipasang di atas titik A dan B. adalah salah satu peraturan .

peta wilayah.1 dan Tabel E. kita membaca bacaan benang atas (BA).2). 2) Penotasian dan Pemberian Simbol Pada Peta Skala 1: 10.  Peraturan Pemerintah ini selain memuat ketentuan dan pengertian mengenai peta dasar.pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. sudut–sudut istimewa dan titik–titik kritis. Perhitungan dan Penggambaran peta 1) Perhitungan Alat perhitungan dalam pengukuran peta terdiri dari berbagai macam alat. c. b) Digital Theodolit (DT) Digunakan untuk menghitung sudut dalam () suatu poligon dan jarak dari satu patok ke patok lain. Notasi dan simbol yang digunakan dibedakan berdasarkan kelompok dan karakteristik variabel yang ditampilkan dalam suatu peta (Tabel E. peta yang digunakan berskala 1 : 10. Badung melalui pemanfaatan citra satelit. juga berisi tentang simbol dan/atau notasi unsurunsur peta wilayah dan simbol dan/atau notasi peta rencana tata ruang wilayah dalam berbagai skala. Pada waktu menembak suatu titik. Kuta Kab. bacaan benang tengah (BT) dan bacaan benang bawah (BB). peta tematik dan peta tata ruang. yaitu: a) Theodolit Manual Digunakan untuk menembak titik-titik pada azimuth. Tujuannya untuk menggambar kondisi kontur pada lokasi tersebut. c) Waterpass Digunakan untuk mengukur jarak dan beda tinggi antar patok dengan cara menempatkan waterpass di tengah-tengah antara 2 patok kemudian menembak dua patok itu di muka dan di .000  Pada survey dan pemetaan untuk pembuatan peta dasar dan peta citra satelit Kec. dimana 2 BT = BA +BB.000.

bacaan benang bawah (BB). baik dari penyimpanan. Dalam dunia kartografi (khususnya peta geologi) peta digital menjadi peta standard untuk penyimpanan data. d) Menentukan titik detail (pojok bangunan) e) Membuat garis kontur dengan interpolasi data dari hasil perhitungan pengukuran memancar. b) Menentukan letak patok atau koordinat poligon pada grade. Untuk pengukuran melintang pada waterpass terbatas pada azimuth /2 dan azimuth (/2 +180) yang diukur adalah jarak terhadap alat ketinggian di atas titik O. . c) Membuat poligon tertutup. Di samping diperlukan waktu ekstra jika disimpan dalam format hardcopy. 2) Metode Penggambaran Dalam penggambaran sebuah peta dapat dilakukan dengan menggunakan metode manual atau dengan metode digital (komputer). tapi alat utama untuk melakukan aktivitas pengolahan dan visualisasi data geologi. bacaan benang tengah (BT).belakang alat. f) Mencocokan hasil gambar dengan data-data hasil perhitungan pengukuran Sedangkan penggambaran dengan metode digital sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer dan software yang aplikatif. karena tidak membutuhkan biaya yang besar untuk menyimpan dan mengelolanya. tujuanya untuk penggambaran posisi melintang sehingga terlihat dengan jelas ketinggian tanahnya. Saat ini komputer bukan hanya sekadar alat bantu. Pembacaan alat yaitu berupa bacaan benang atas (BA). Penggambaran dengan metode manual dapat dilakukan dengan : a) Membuat grade pada kertas . pengolahan dan penggunaan ulang suatu data.

komputer sudah bukan merupakan barang yang asing.Pada proses pengolahan data. modeling. Tidak dibutuhkan waktu berhari-hari untuk menggambar suatu peta atau mengolah suatu data. Dalam dunia ilmu kebumian. Komputer cluster banyak dipakai untuk menggantikan superkomputer. Dalam ilmu kebumian. dan visualisasi) akan menjadi cepat jika dilakukan dengan komputer. komputer memberikan jaminan akurasi dan kecepatan. Data tambahan di . Kesalahan rambatan dan kesalahan akibat manusia dapat dikurangi atau dihindari.  Penyimpanan dan manajemen data  Pengolahan dan manipulasi data  Menampilkan/memvisualisasikan data Dengan adanya notebook atau laptop pengambilan data dan pemetaan langsung di lapangan dapat dilakukan. baik dari pemetaan peta dasar sampai pemetaan geologi detail. Keunggulan pemetaan yang dibantu dengan komputer antara lain. Beberapa masalah geologi yang dapat dilakukan dengan kemputer adalah sebagai berikut :  Pengambilan data (pemetaan secara langsung di lapangan). komputer cluster dapat digunakan untuk menyimpan dan mengolah data yang besar dan cepat misalnya untuk aplikasi GIS atau pengolahan citra. Pengeplotan data koordinat dapat dilakukan secara otomatis sehingga tidak diperlukan waktu tambahan untuk memindahkan data lapangan ke atas kertas atau komputer pribadi. akurasi pengeplotan menjadi lebih tepat apalagi jika dibantu dengan GPS. Saat ini komputer untuk pengolahan data geologi dapat dijumpai mulai dari komputer pribadi sampai komputer setingkat mainframe bahkan jika tidak punya uang yang cukup bisa dengan komputer cluster. karena dari segi harga superkomputer sangat mahal. Pemrosesan data geologi (perhitungan.

Sebagai contoh. sednorm untuk batuan sedimen yang menggunakan prinsip kedewasaan mineral (urutan perhitungan berdasarkan kekuatan mineral).luar peta geologi dapat di simpan sesuai dengan program yang digunakan (lebih baik dalam format DWG atau ASCII). Proses penyimpanan dan manajemen data menjadi hal yang penting ketika kita akan memakai kembali atau membuat database dari data yang telah diambil. Data yang disimpan dalam format hardcopy akan membutuhkan waktu yang cukup banyak jika akan digunakan kembali untuk membuat suatu analisis. Begitu juga dalam metode grid yang paling tidak ada 5 macam metode grid. Ini suatu pekerjaan yang tidak efisien. Terdapat banyak sekali metode analisis data yang dapat dipakai untuk geologi. tergantung bidang. Kesalahan pemilihan metode akan menghasilkan visualisasi yang tidak representatif. apakah dengan klasifikasi data. lpnorm yang menggunakan prinsip Linear Programming dapat dipakai untuk semua jenis batuan. Penerapan metode terntentu untuk suatu data harus mempertimbangkan 2 hal. Kadang kala suatu metode menjadi data tidak tepat yang kalau digunakan untuk tidak menganalisis tertentu pengambilannya mendasarkan prinsip pada metode yang digunakan. Pada data yang tersebar sangat acak atau terkonsentrasi akan menghasilkan peta kontur yang tidak representatif jika dilakukan dengan grid. Data yang disimpan dalam format digital dapat dikelola sesuai keinginan kita. tapi akan lebih baik jika dilakukan dengan metode triangulasi. moduscalc yang menggunakan . pada pembuatan peta kontur yang dikenal ada 2 macam tipe penggridan (tiangulasi dan grid). Sebagai contoh untuk bidang petrologi dikenal ada beberapa macam program normatif. penambahan data atau menghapus data yang sudah tidak valid. yaitu prinsip dari metode yang digunakan dan proses pengambilan data. misalnya CIPW untuk analisis normatif batuan beku. misalnya dibutuhkan waktu untuk mendigitize dan memasukkan data ulang. Data digital dapat diolah dan dimanipulasi sesuai dengan pendekatan metode yang digunakan.

sadad . B. dan mesonorm untuk menghitung normatif batuan metamorf (metamorf tingkat tinggi). METODELOGI C.prinsip Niggli molekular.

yang dimana dimaksud sebagai acuan dalam pengerjaan aplikasinya. Dalam rentang waktu yang diberikan KAK tersebut. Yang diharapkan dapat berjalan secara lancar. yang dimana memerlukan keterampilan dalam mengatur kegiatan agar dapat berjalan seiraman dengan waktu yang disediakan. dan sesuai dengan harapan yang direncanakan. konsultan menindak lanjuti dengan kegiatan penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan.PT. jadwal pelaksanaan tersaji dalam Tabel 6. koordimasi dan komunikasi menjadi hal utama dan dasar yang harus diterapkan pihak-pihak terkait guna tercipta kekonsistenan anatar jadwal pelaksanaan yang disusun dengan kenyataan aplikasinya. Dalam jadwal pelaksanaan. Dalam pekerjaan pendampingan ini. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Dalam pekerjaan kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu jangka waktu yang diberikan KAK adalah selama 5 (lima) bulan atau 150 hari kerja. Ketepatan waktu dengan hasil yang maksimal menjadi tujuan utama dari penyusunan jadwal kegiatan. Penyusunan jadwal kegiatan merupakan suatu seni manajemen waktu. tepat waktu.1 berikut : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 152 .

PT.1 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu Bulan keNo. Kegiatan I II III IV V 3 4 Ket 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 I 1 Tahapan Kegiatan Tahap Persiapan Studi Literatur Persiapan Dasar Persiapan Survei Primer Persiapan Survei Sekunder 2 Tahap Kegiatan Survei Survei Primer Survei Sekunder 3 4 Pengumpulan Data Kegaiatan Analisa II 1 2 Tahap Pembahasan Laporan Pendahuluan Konsep Laporan Akhir 153 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Tabel 6.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 3 Laporan Akhir III 1 2 3 4 Keluaran Laporan Pendahuluan Konsep Laporan Akhir Laporan Akhir Album Peta Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 154 .

Sistem komputer (computer dan printer) Alat ini digunakan untuk membantu dalam proses pengolahan data penggambaran. terdiri dari: a) Kendaraan roda 4 b) Kendaraan roda 2 Untuk menunjang pekerjaan studi diperlukan peralatan kantor seperti meja tulis. Konsultan akan menyediakan fasilitas dan peralatan yang diperlukan untuk menunjang pekerjaan ini. Dalam melaksanakan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini.1 berikut.PT. terdiri dari: a) Alat komunikasi b) ATK (kertas. dimana sarana pendukung ini dapat digunakan untuk mempermudah dan memperlancar pekerjaan. Konsultan menggunakan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan sebagai pendukung dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut. meja gambar. CD dan alat warna) 3. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Jadwal penggunaan sarana dan prasarana pendukung diperlukan juga selain jadwal pelaksanaan kegiatan. Daftar dan jadwal penggunaan peralatan ditunjukkan pada Tabel 7. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 155 . 2. kursi. Transportasi. yang pada dasarnya telah disesuaikan dengan persyaratan yang tertuang dalam kerangka acuan kerja. Peralatan studio/kantor. tinta printer. Uraian mengenai fasilitas dan sarana yang digunakan oleh Konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan ini disajikan sebagai berikut. yang meliputi antara lain : 1. komputer dan sebagainya.

Peralatan Kantor dan Studio ATK Telepon dan Fax Komputer OM dan Printer 1 1 3 3 Bulan Bulan Unit / Bulan Unit / Bulan B 1 2 Tranportasi Kendaraan Roda 4 Kendaraan Roda 2 1 1 Unit / Bulan Unit / Bulan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 156 .PT. 4. Daftar dan Jadwal Penggunaan Peralatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu Bulan keNo. 2. 3. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Tabel 7. Kegiatan Jumlah Satuan I II III IV V 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 A 1.1.

Selain tenaga ahli. dan tenaga pendukung adalah sesuatu yang menjadi ujung tobak berjalannya kegiatan dengan tepat waktu. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Dalam kegiatan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu keberadaan tenaga ahli merupakan hal vital pendukung terselenggaranya kegiatan ini. Koordinasi diantara para tim. asisten tenaga ahli. Adapun susunan tim tenaga ahli beserta tenaga pendukung lainnya yang ada di kegiatan ini antara lain :  Tenaga Ahli  Geodesi (Team Leader)  Ahli Remote Sensing  Ahli Ekonomi Wilayah  Ahli Tanah  Ahli Klimatologi  Ahli Planologi  Ahli Sosial Ekonomi  Asisten Tenaga Ahli  Asisten Ahli Geodesi  Asisten Ahli Remote Sensing  Asisten Ahli Tanah  Chief Surveyor  Tenaga Pendukung  Tenaga Administrasi  Operator Komputer  Surveyor  Operator CAD/GIS 157 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu .PT. baik diantara sesama tenaga ahli. kegiatan ini juga di dukung oleh asisten tenaga ahli dan tenaga pendukung.

1 berikut : Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 158 . WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  Supir Secara rinci mengenai komposisi tugas dan personil diperlihatkan pada Tabel 8.PT.

Mengkaji ulang serta pengecekan keseluruhan hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 159 .  Melaksanakan presentasi dengan direksi pekerjaan dan instansi terkait.     Membuat schedule kegiatan pekerjaan. Memonitor progress pekerjaan yang dilakukan tenaga ahli.PT. Mengarahkan seluruh anggota team dalam menyiapkan laporan yang diperlukan. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Geodesi Ahli Geodesi (Team Leader)  Mengkoordinir seluruh aktifitas Tim dalam mengelola seluruh kegiatan lapangan dan kantor. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Tabel 8.1 Komposisi Tugas dan Personil Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu Nama Personil Perusahaan Tenaga Ahli Lokal/Asing Lingkup Keahlian Posisi Diusulkan Uraian Pekerjaan Jumlah Orang Bulan (OB) TENAGA AHLI PT.  Bertanggung jawab terhadap Pemberi 5 Ir. Azam Muhammady Pekerjaan yang berkaitan terhadap kegiatan tim pelaksana pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan yang berlangsung saat ini.

Atip Supriyatna. Analisis dan dokumentasi wilayah kajian melalui penyajian peta kondisi eksisting. Melakukan koordinasi pada Team Leader dalam pelaksanaan laporan-laporan. Menyiapkan peta dasar untuk penyusunan peta tematik Menentukan perangkat lunak yang sesuai untuk diaplikasikan pada kegiatan Melakukan koordinasi pada Team Leader dalam pelaksanaan laporan-laporan.Si PT.PT. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 160 .Si PT. S. Menganalisis kontur dan profil tanah di wilayah kajian. S. Tranfering data digital untuk menghasilkan database dengan program khusus GIS. ST  Menyajikan peta dengan struktur interpretasi wilayah kajian. 4 Hafizh Ali. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Klimatologi Ahli Klimatologi  Menginvetarisasi data-data yang terkait 4 klimatologi untuk keperluan kegiatan. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Remote Sensing Ahli Remote Sensing      Bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan. 4 Ir. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Tanah Ahli Tanah    Menganalisis kelayakan kondisi dan struktur tanah di lokasi kajian. Lita Nurcita.

 Drs. ST PT. Melakukan koordinasi pada Team Leader dalam pelaksanaan laporan-laporan. Merumuskan model-model rekayasa sosial Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 161 . Melakukan koordinasi pada Team Leader dalam pelaksanaan laporan-laporan. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Sosial Ekonomi Ahli Sosial Ekonomi    Menganalisis kegiatan kelayakan ekonomi masyarakat dari pada 4 perekonomian wilayah kajian. Inventarisasi tata guna lahan sesuai dengan perundang-undangan kebutuhan kajian. sesuai dengan 4   Melakukan analisa terkait tata guna lahan dan kelembagaannya untuk kepentingan kegiatan. SE PT. Menganalisis keunggulan dan kelemahan budaya masyarakat di wilayah kajian. jawab langsung pada Anni Marryam S.PT. Menganalisis peluang dan hambatan ekonomi makro dan mikro di wilayah kajian. I Putu Suyasa. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas    Mengalisa data-data terkait klimatologi. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Planologi Ahli Planologi   Melakukan inventarisasi kelembagaan serta kebijakan dan peraturan – peraturan. Bertanggung temaleader.

WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Tanah Asisten Ahli Tanah membantu peran ahli tanah dalam mengelola produk-produk pengelolaan. To Be Named PT. 4 Ni Nyoman Ayu Wartini. 3 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Chief Surveyor Membantu para ahli dalam pengkoordinasian pengumpulan data dan keperluan lainnya yang terjadi di lapangan.PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Geodesi Asisten Ahli Geodesi membantu peran ahli geodesi dalam 4 To Be Named melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Hukum Ahli Hukum Ahli hukum berperan dalam mengkaji dokumen-dokumen produk hukum terkait kegiatan pendampingan. SH ASISTEN TENAGA AHLI PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Remote Sensing Asisten Ahli Remote Sensing membantu peran ahli remote sensing dalam mengelola produk-produk hukum terkait kegiatan pengelolaan. PT. 4 4 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas yang dapat diterapkan dalam upaya penyelesaian kegiatan. hukum terkait kegiatan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 162 .

WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Administrasi Administrasi Bertanggung jawab atas hal-hal bersifat 5 administratif yang berhubungan dengan kegiatan pendampingan. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas TENAGA PENDUKUNG To Be Named PT. To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. 5 To Be Named PT.PT. To Be Named PT. 5 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 163 . WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Operator Komputer Operator Komputer Membantu operasional keperluan kegiatan 5 pedampingan dengan perangkat komputerisasi. 5 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Operator CAD/GIS Operator Komputer Membantu operasional keperluan dalam hal penggambaran dan pemetaan penggunaan sistem GIS/CAD. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Bidang Operator CAD/GIS Operator Komputer Membantu operasional keperluan dalam hal penggambaran dan pemetaan penggunaan sistem GIS/CAD. 5 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Supir Supir Membantu mobilasasi segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan transportasi.

5 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data 5 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 164 . WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. 5 To Be Named PT. 5 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. 5 To Be Named PT.PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan.

PT. 5 To Be Named PT. 5 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas untuk kegiatan. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. 5 To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. 5 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 165 . To Be Named PT. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan. WARTHA BAKTI MANDALA TENAGA AHLI LOKAL Surveyor Surveyor Membantu dalam melakukan survey/ kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan terjun ke lapangan demi kelengkapan keperluan data untuk kegiatan.

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Dalam menunjang pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu ini mobilisasi tenaga profesional oleh pihak konsultan selama 5 (lima) bulan atau 150 hari kerja dengan berbagai disiplin ilmu yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dalam kegiatan ini nantinya. kebutuhan mobilisasi tenaga penunjang akan selalu memperimbangkan kebutuhan tenaga profesional. tim konsultan juga akan memobilisasi tenaga pendukung.PT. Komposisi tim berserta jangak waktu pekerjaan antara lain :  Tenaga Ahli  Ahli Geodesi (Team Leader) → 5bulan  Ahli Remote Sensing → 4 bulan  Ahli Tanah → 4 bulan  Ahli Klimatologi → 4 bulan  Ahli Planologi → 4 bulan  Ahli Sosial Ekonomi → 4 bulan  Ahli Hukum → 4 bulan  Asisten Tenaga Ahli  Asisten Ahli Geodesi → 4 bulan  Asisten Ahli Remote Sensing→ 4 bulan  Asisten Ahli Tanah→ 4 bulan  Chief Surveyor → 3 bulan  Tenaga Pendukung  1 orang Tenaga Administrasi → 5 bulan  1 orang Operator Komputer → 5 bulan  1 orang Supir → 5 bulan  1 orang Operator Komputer → 4 bulan 178 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . Oleh karena itu. yang akan mendukung tenaga profesional dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu.

Untuk itu. agar dapat dicapai suatu pola tata koordinasi pelaksanaan pekerjaan secara baik. Hubungan kerjasama antar personil. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas  2 orang Operator GIS/CAD → 5 bulan  10 orang surveyor → 3 bulan Pemberi kerja senantiasa akan memberikan instruksi/perintah kerja. diperlukan pula pengaturan jadwal pelaksanaan penugasan personil dan sampai sejauh mana keterlibatan masing-masing personil terhadap kegiatan pekerjaan ini. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 179 . penugasan Personil Tim Konsultan disusun berdasarkan jenis dan macam pekerjaan yang tersurat didalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). serta menyetujui hasil pekerjaan yang dihasilkan konsultan. Untuk lebih jelasnya dipaparkan dalam Tabel Jadwal Penugasan Personil tim konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan dan nama personil tenaga profesional yang terlibat secara langsung dalam kegiatan ini. Berdasarkan pengalaman konsultan dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sejenis. serta koordinasi pelaksanaan pekerjaan berperan penting dalam menghasilkan kualitas kerja yang dapat dipertanggungjawabkan. diperlukan pengaturan jadwal pelaksanaan pekerjaan. Warta Bakti Mandala. Untuk itu.PT. Tim didukung sepenuhnya oleh semua fungsional dari PT.

Atip Supriyatna. S. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Tabel 9.PT.Si Hafizh Ali.Si Anni Maryam S. SE Ni Nyoman Ayu Wartini.1 Jadwal Penugasan Personil Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu Bulan keNo. ST Drs. Kegiatan Jabatan Yang Diusulkan I II III IV V Oran 4 g/ Bula n 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 I 1 2 3 4 5 6 7 Tenaga Ahli Ir. SH Team Leader Ahli Remote Sensing Ahli Tanah Ahli Klimatologi Ahli Planologi Ahli Sosial Ekonomi Ahli Hukum 5 4 4 4 4 4 4 II 1 2 Asisten Tenaga Ahli To Be Named Asisten Ahli Geodesi Asisten Ahli Remote To Be Named Sensing Asisten Ahli Tanah 4 180 4 4 3 To Be Named Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu . ST Lita Nurcita. I Putu Suyasa. S. Azam Muhammady Ir.

PT. WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas 4 To Be Named Chief Surveyor 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Tenaga Penunjang To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named To Be Named Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Operator GIS/CAD Operator GIS/CAD Adminitrasi Keuangan dan 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 5 5 14 15 To Be Named To Be Named Operator Komputer Supir Total 5 5 101 Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 181 .

WARTHA BAKTI MANDALA Konsultan Perencana Dan Pengawas Dokumen Usulan Teknis untuk pelaksanaan pekerjaan “Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu “. sebagai bentuk penawaran teknis dari konsultan dalam upaya penanganan pekerjaan tersebut diatas. Penyusunan Peta Risiko Bencana di Kecamatan Abang dan Kubu 182 . Warta Bakti Mandala apabila nantinya dipercaya untuk menangani pekerjaan ini maka akan bekerja berdasarkan lingkup pekerjaan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) pekerjaan tersebut. maka dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan mutu pekerjaan sesuai dengan yang diminta dalam KAK.PT. Dengan berbekal keahlian masing-masing tenaga ahli yang kami usulkan dan telah memiliki sertifikat keahlian. Konsultan PT. Dalam hal ini konsultan PT. Warta Bakti Mandala berkeyakinan “sanggup dan mampu” untuk melaksanakan pekerjaan tersebut apabila diberi kepercayaan berdasarkan dokumen usulan teknis yang kami tawarkan. Dengan dukungan Tenaga Ahli yang kami usulkan dengan kualifikasi dan pengalaman kerja di bidang perencanaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air khususnya pembangunan sistem penyediaan air baku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful