BAB I PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Kanker Payudara Kanker payudara merupakan salah satu bentuk keganasan tertua yang diketahui oleh manusia. Deskripsi tertua kanker ini ditemukan di Mesir sekitar 1600 SM. Selama berabad-abad, dokter tidak menemukan terapi untuk kasus ini. Sampai akhirnya pada abad ke-17 mereka dapat menemukan hubungan antara kanker payudara dan kelenjar getah bening di ketiak. Ahli bedah Perancis Jean Louis Petit (1674–1750) dan kemudian dokter bedah Skotlandia Benjamin Bell (1749–1806) adalah dokter pertama yang mengangkat kelenjar getah bening, jaringan payudara, dan otot dada. Pekerjaan mereka berhasil diikuti oleh William Stewart Halsted yang mulai melakukan mastectomy pada tahun 1882. Radikal mastectomies tetap standar hingga tahun 1970-an.

1.2. Definisi Tumor Payudara Tumor atau dalam istilah medis disebut sebagai neoplasma, secara harfiah berarti pertumbuhan baru. Neoplasma merupakan massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya berlebihan dan tidak terkoordinasi dengan pertumbuhan jaringan normal serta terus demikian, walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah berhenti. Hal mendasar tentang asal neoplasma adalah hilangnya responsivitas terhadap faktor pengendali pertumbuhan yang normal (Kumar et al, 2007). Tumor dapat dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas atau lebih sering dikenal dengan sebutan kanker. Suatu tumor dikatakan jinak apabila masih berdiferensiasi baik (secara morfologis dan fungsional masih mirip dengan sel asal), tumbuh perlahan, tidak menginfiltrasi jaringan sekitar serta tidak bermetastasis ke organ lain. Dan hal yang berlawanan terdapat pada tumor ganas atau kanker. Kanker cenderung lebih anaplastik, laju pertumbuhan lebih cepat serta tumbuh dengan cara infiltrasi, invasi, destruksi, sampai metastasis ke jaringan sekitar dan cukup potensial untuk menimbulkan kematian (Kumar et al, 2007).

1

1.3.Epidemiologi Kanker Payudara Di dunia, kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular. Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003, setiap tahun timbul lebih dari 10 juta kasus penderita baru kanker dengan prediksi peningkatan setiap tahun kurang lebih 20%. Diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penderita baru penyakit kanker meningkat hampir 20 juta penderita, 84 juta orang diantaranya akan meninggal pada sepuluh tahun ke depan bila tidak dilakukan intervensi yang memadai (Depkes 2009). Berdasarkan data WHO Global Burden of Disease 2004, di dunia kanker yang paling umum terjadi pada wanita adalah kanker payudara, 16% dari semua kejadian kanker pada wanita. Diperkirakan 519.000 perempuan meninggal akibat kanker payudara pada tahun 2004. Meskipun kanker payudara dianggap sebagai penyakit di negara maju, namun mayoritas (69%) dari semua kematian kanker payudara terjadi di negara berkembang (WHO 2011). Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 penyakit kanker merupakan penyebab kematian nomor 5 di Indonesia setelah penyakit kardiovaskular, infeksi, pernafasan, dan pencernaan (Depkes 2010). Berdasarkan data Globocan (Estimasi International Agenct Cancer

Registry/IACR) 2002, kanker payudara menempati urutan pertama dari seluruh kanker pada perempuan. IACR mengestimasi insidens kanker payudara di Indonesia sebesar 26 per 100.000 perempuan. Data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa kanker payudara menempati urutan pertama pasien rawat inap (15.40%) dan pasien rawat jalan (15.78%) (Depkes 2007), pada tahun 2007 terjadi peningkatan pasien rawat inap kanker payudara menjadi 16.85% (Depkes 2010).

1.4. Anatomi Payudara Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral atas kelenjar mammae, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor mammae. Setiap mammae terdiri atas 15-20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papilla mamae, yang

2

disebut duktus lactiferous. Di antara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga di antara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk mammae (Brunicardi et al, 2006).

Bagan 1 Anatomi Payudara

Blood Supply

3

aksilaris.interkostobrakialis dan n. pectoralis medial dan lateral Otot yang dipersarafi m.interkostalis. saraf ini sedapat mungkin disingkirkan sehingga tidak terjadi mati rasa di daerah tersebut. sebagian lagi ke kelenjar parasternal.kutaneus brakius medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila. interkostalis.pectoralis mayor dan minor Kelainan jika terjadi trauma Skapula terangkat Tidak dapat mengangkat badan dari posisi duduk Kelemahan otot pectoralis Baal pada area persarafan n. 2006). (Brunicardi et al.torakalis lateralis yang bercabang dari a.latissimus dorsi m. Jaringan kelenjar mammae sediri diurus oleh saraf simpatik.perforantes anterior dari a.Perdarahan mammae terutama berasal dari cabang a. Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca bedah.intercostobrachial Melewati axilla menuju lengan Bagan 2 Aliran Lymphe Kelenjar Mammae Aliran limfe dari mammae kurang lebih 75% ke aksila. terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula penyaliran yang ke kelenjar interpektoralis.thoracodorsal n. dan beberapa a. Pada aksila terdapat rata-rata 50 4 .mamaria interna. a. yakni n. Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.serratus anterior m. Nervus Long thoracic nervus n.

progresteron dan prolaktin memiliki efek yang sangat penting untuk perkembangan dan fungsi mammae. dan scapula lymphe nodes. Hormon tersebut juga memperbaharui regulasi reseptor-reseptor hormon dan merangsang perkembangan epitel mammae. subclavicular lymphe nodes. yang meliputi vena aksilaris. mammaria eksterna. Kelenjar getah bening yang terletak lateral atau di bawah otot pectoralis minor yang disebut sebagai lymphe nodes level I. Kelenjar getah bening yang terletak superficial terhadap otot pectoralis minor disebut sebagai lymphe nodes level II. hormon tiroid. yang terdiri dari subclavicula lymphe nodes (Brunicardi et al. 2006). kortisol dan growth hormon. Fase III (11-13 tahun) penambahan jumlah kelenjar dan 5 . Fase I (8-10 tahun) adalah penonjolan puting susu tanpa disertai perkembangan kelenjar susu. ada lima fase perkembangan payudara menurut Tanner.(berkisar dari 10-90) buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakialis (Brunicardi et al. (Brunicardi et al. Prolactin adalah hormon utama yang dapat merangsang lactogenesis pada kehamilan tua dan masa menyusui. Fisiologi Payudara Perkembangan dan fungsi payudara tergantung dari beberapa rangsang hormonal termasuk estrogen. mammaria eksterna lymphe nodes (anterior dan pectoral). Ada enam kelompok kelenjar getah bening axillary yang diakui oleh para ahli bedah. Kelenjar getah bening yang terletak medial dengan atau di atas batas otot pectoralis minor yang disebut sebagai lymphe nodes level III. dan interpectoral lymphe nodes (Rotter‟s group) Kelompok kelenjar getah bening ditugaskan sesuai dengan tingkat hubungan mereka terhadap musculus pectoralis minor. Yaitu axillary lateral lymphe nodes. 2006). Estrogen mengawali perkembangan duktus sementara progresteron bertanggung jawab terhadap diferensiasi epitel dan perkembangan lobus mammae. Fase II (10-12 tahun) pembentukan gundukan kelenjar susu atau pembentukan kelenjar subaerolar. 2010) Mammae berkembang selama pubertas karena peran mammotrophic hormon. yang meliputi central dan interpectoral lymphe nodes. central lymphe nodes. progresteron. scapular lymphe nodes (posterior dan subscapular).5. prolactin. 1. Estrogen.

prolaktin merangsang pengeluaran lemak susu dan protein. penggelapan areola dan tubulus Montgomery menjadi menonjol. (Brunicardi et al. Mammae membesar seiring dengan proliferasi epitel. lemak terakumulasi disekitar epitel dan colostrum mengisi sinus dan ductus yang kosong. Menghindari apoptosis d. Etiologi dan Patogenesis Dasar patogenesis dari tumor adalah suatu proses yang dinamakan karsinogenesis (Mitchel. Angiogenesis berkelanjutan f. yang mengawali perubahan mencolok dari bentuk dan substansi mammae. Pada masa awal kehamilan. Berbagai faktor yang dapat mencetuskan 6 . (Pass.peningkatan pigmentasi daerah aerola. duktus bercabang dan berkembang. limfosit dan mononuklear sel. Duktus – duktus akan berakhir pada duktus terminal yang disebut acini. Acini terbentuk dari jaringan ikat longgar yang terdiri dari pembuluh darah. Pada akhir kehamilan. Karsinogenesis terkait dalam proses-proses yang meliputi : a. Potensi replikasi tanpa batas e.6. Fase IV (12-14 tahun) peningkatan pigmentasi dan penambahan luas aerola. Insensivitas terhadap sinyal penghambat pertumbuhan c. selama trimester tiga. Kemampuan menginvasi dan beranak sebar Suatu pertumbuhan yang tak terkontrol dari organ mammae dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormonal. Helen 2001) Peningkatan drastis estrogen dan progresteron pada siklus ovarium dan placenta terjadi selama masa kehamilan. Fase V ( 13-17 tahun) merupakan fase akhir dimana perkembangan dan pembentukan payudara menjadi sempurna. 2010) Pada masa menopause terjadi penurunan sekresi estrogen dan progresteron oleh ovarium dan involusi ductus pada mammae. Jaringan ikat sekitar meningkat dan jaringan mammae (kelenjar mammae) digantikan oleh jaringan lemak. Pada acini terdapat kelenjar pembuat air susu yang bersama-sama dengan duktusduktus kecil lainnya yang disebut lobulus. Menghasilkan sendiri sinyal pertumbuhan b. 1. 2007).

Perubahan terjadi pada salah satu dari gen dan sekian banyak gen yang dapat mencetuskan suatu transformasi maligna didukung oleh faktor lain. Adanya mutasi dan delesi BRCA1 yang bersifat herediter pada 85 % menyebabkan terjadinya peningkatan resiko untuk terkena mammae 10 % secara nonherediter dan kanker ovarium. Seperti halnya BRCA1. penyebab terjadinya mutasi multifaktorial dan pada umumnya antara faktor ini saling mempengaruhi. pola pertumbuhan dan mempunyai prognosis yang buruk. yaitu gen BRCA1 yang berlokasi pada kromosom 17 (17q21) dan gen BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q-1213. hanya sekitar 1 % yang diakibatkan oleh multifaktor dan mutasi germline. Secara herediter. 2007). usia menarche dan menopause. Gen BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q melibatkan 70 % untuk terjadinya kanker mammae secara herediter dan bukan merupakan mutasi sekunder dari BRCA1. Mutasi dari BRCA1 menunjukkan perubahan ke arah karsinoma tipe medular. cenderung „high grade‟. Sekitar 23 % kanker mammae terjadi secara familial (atau 3% dari seluruh kanker mammae) hal ini diakibatkan dengan BRCA1 dan BRCA2 probabilitas terjadinya kanker yang berhubungan dengan mutasi gen ini meningkat jika terjadi pada garis pertama keturunan. BRCA2 juga dapat menyebabkan terjadinya kanker ovarium dan pada pria dapat meningkat resiko terjadinya pada kanker mammae (Tapia. usia 7 .  Mutasi Sporadik Secara mayoritas keadaan mutasi sporadik berhubungan dengan paparan hormon.suatu pertumbuhan yang berlebihan bahkan yang ganas dari organ mammae adalah:  Herediter Ditemukan 13% tumor mammae terjadi secara herediter pada garis pertama keturunan. Pada kanker mammae ditemukan dua gen yang bertanggung jawab pada dua pertiga kasus kanker mammae familial atau 5 % secara keseluruhan. mitotik sangat aktif. jenis kelamin.

Suatu kromosom penanda (1q+) telah dilaporkan dan peningkatan ekspresi onkogen HER2/neu telah dideteksi pada beberapa kasus. riwayat menyusui dan estrogen eksogen. Keadaan ini dapat menyebabkan keganasan pada otak dan kelenjer adrenal pada anak-anak dan kanker mammae pada orang dewasa.  HER2/neu HER2/neu (c-erbB-2) merupakan suatu onkogen yang mengencode glikoprotein transmembran melalui aktivitas tirosin kinase. estrogen dapat menyebabkan proliferasi lesi premaligna menjadi suatu maligna. Estrogen sendiri mempunyai dua kemampuan untuk berkembang menjadi kanker mammae. Adanya onkogen HER2/neu yang mengalami amplikasi pada sel-sel mammae berhubungan dengan prognosis yang buruk (Moriki. Overekspresi HER2/neu dapat dideteksi melalui pemeriksaaan imunohistokimia. Ditemukan sekitar 1 % mutasi p53 pada penderita kanker mammae yang dideteksi pada usia sebelum 40 tahun. Sifat bergantung hormon ini berkaitan dengan adanya estrogen. FISH („Fluorencence In Situ Hybridization‟) dan CISH („Chromogenic In Situ Hybridization‟). Pada neoplasma yang memiliki reseptor ini terapi hormon (antiestrogen) dapat memperlambat pertumbuhannya dan menyebabkan regresi tumor. Keadaan kanker seperti yang dijumpai pada wanita postmenopause dan overekspresi estrogen reseptor. Tidak adanya pola pewarisan menunjukkan bahwa insiden familial dapat disebabkan oleh kerja banyak gen atau oleh faktor lingkungan serupa yang bekerja pada anggota keluarga yang sama. Metabolit estrogen pada penyebab mutasi atau menyebabkan perusakan DNA-radikal bebas.  Mutasi Germline Faktor genetik ditunjukkan dengan kecendrungan familial yang kuat. 8 . 2006). Pada penderita sindroma Li-Fraumeni terjadi mutasi dari tumor suppressor gen p53. yaitu p185. progesterone dan reseptor hormon steroid lain ini di sel mammae. Melalui aktivitas hormonal.reproduktif.

 Virus Diduga menyebabkan kanker mammae. 2003). Antigen yang serupa dengan yang terdapat pada virus tumor mammae tikus telah ditemukan pada beberapa kasus kanker mammae pada manusia tetapi maknanya tidak jelas (Rubin. 1.7. Klasifikasi Tumor Payudara Berdasarkan gambaran histologisnya. WHO tahun 2003 membagi tumor pada mammae menjadi: 9 . Faktor susu Bittner adalah suatu virus yang menyebabkan kanker mammae pada tikus yang ditularkan melalui air susu.

al :  Nyeri tulang (vertebra. Pemeriksaan Klinis 1.1.  Benjolan  Kecepatan tumbuh  Rasa sakit  Nipple discharge  Nipple retraksi dan sejak kapan  Krusta pada areola  Kelainan kulit: dimpling. ulserasi. femur)  Rasa penuh di ulu hati 10 . venektasi  Perubahan warna kulit  Benjolan ketiak  Edema lengan b.8. Keluhan ditempat lain berhubungan dengan metastasis. Keluhan di payudara atau ketiak dan riwayat penyakitnya. Prosedur Diagnostik A. peau d’orange. Anamnesis : a.

pektoralis dan dinding dada 11 . Faktor-faktor risiko  Usia penderita  Usia melahirkan anak pertama  Punya anak atau tidak  Riwayat menyusukan  Riwayat menstruasi    menstruasi pertama pada usia berapa keteraturan siklus menstruasi menopause pada usia berapa  Riwayat pemakaian obat hormonal  Riwayat keluarga sehubungan dengan kanker payudara atau kanker lain. Status lokalis : .  Riwayat pernah operasi tumor payudara atau tumor ginekologik  Riwayat radiasi dinding dada 2. Batuk  Sesak  Sakit kepala hebat.Masa tumor :  lokasi  ukuran  konsistensi  permukaan  bentuk dan batas tumor  jumlah tumor  terfiksasi atau tidak ke jaringan sekitar payudara. cantumkan performance status.Payudara kanan dan kiri harus diperiksa. kulit. dll c. m. . Pemeriksaan fisik a. Status generalis. b.

ulserasi .pemeriksaan pada daerah yang dicurigai metastasis :  Lokasi organ (paru. hepar. konsistensi.  CT scan C.perubahan kulit :  kemerahan. Bila mampu. ukuran.nipple :  tertarik  erosi  krusta  discharge .  Foto Toraks. 2. dimpling. edema. nodul satelit  peau d’orange. Diharuskan (recommended)  USG payudara dan Mamografi untuk tumor ≤ 3 cm. tulang. terfiksir satu sama lain atau jaringan sekitar : idem : idem . Pemeriksaan Radiodiagnostik / Imaging : 1.sitologi Dilakukan pada lesi yang secara klinis dan radiologik curiga ganas Catatan : belum merupakan Gold Standard.  KGB aksila  KGB infra klavikula  KGB supra klavikula : Jumlah.  USG Abdomen (hepar). Pemeriksaan Fine Needle Aspiration Biopsy . otak) B.. Optional (atas indikasi)  Bone scanning atau dan bone survey (bilamana sitologi + atau klinis sangat mencurigai pada lesi > 5 cm).status kelenjar getah bening. diperiksa TRIPLE DIAGNOSTIC dianjurkan untuk 12 .

Biopsi Eksisional untuk tumor ukuran <3 cm. Pemeriksaan Histopatologi (Gold Standard Diagnostic). cathepsin-D. Bahan pemeriksaan histopatologi diambil melalui :    Core Biopsy. (situasional) E. p53. PR. Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan potong beku dan/atau parafin. Biopsi Insisional untuk tumor : o operable ukuran >3 cm sebelum operasi definitif o inoperable   Spesimen mastektomi disertai dengan pemeriksaan KGB Pemeriksaan imunohistokimia : ER. Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis 13 . c-erb B-2 (HER-2 neu).D.

Dikatakan juga bahwa fibroadenoma ini lebih sering dan terjadi lebih awal pada wanita kulit hitam berbanding wanita kulit putih. Walau apa pun ukurannya. mudah digerakkan dengan diameter 1 hingga 10 cm. Lesi mungkin membesar pada akhir daur haid dan selama kehamilan. Nodul Fibroadenoma sering soliter. Pemeriksaan sitogenetik memperlihatkan bahwa sel stroma bersifat monoklonal sehingga mencerminkan elemen neoplastik dari tumor ini. Insidens fibroadenoma menurun apabila usia menghampiri menopause yakni ketika involusi terjadi. Peningkatan aktivitas estrogen diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Secara klinis fibroadenoma biasanya bermanifestasi sebagai massa soliter.1. Gambaran makroskopik dari fibroadenoma yang telah dipotong adalah padat dengan warna uniform tank-white disertai dengan tanda softer yellow-pink yang menunjukkan area glandular. insidensi puncak adalah pada usia 30-an.BAB II TUMOR JINAK PAYUDARA 2. dan mudah digerakkan. fibroadenoma ini sering “shelled out”. dan lesi serupa mungkin muncul bersama dengan perubahan fibrokistik. lesi ini mungkin mengecil dan mengalami kalsifikasi. Fibroadenoma hampir tidak pernah menjadi ganas. Penyebab proliferasi duktus tidak diketahui. Pada pascamenopause. Fibroadenoma Fibroadenoma sejauh ini adalah tumor jinak tersering pada payudara perempuan. Fibroadenoma biasanya terjadi pada perempuan muda. diskret. Gambaran histologi menunjukkan stroma fibroblastik longgar yang terdiri dari ruang seperti saluran (ductlike) 14 . Fibroadenoma sering terjadi pada usia awal reproduktif dan waktu puncaknya adalah antara usia 15 dan 35 tahun. mungkin sel stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang mempengaruhi sel epitel. Jarang terjadinya tumor yang multiple dan diameternya melebihi 10 cm (giant fibroadenoma). Tumor multiple pada satu atau kedua mammae ditemukan pada 10-15% pasien. Fibroadenoma terjadi secara asimptomatik pada 25% wanita.

et al. (Kumar. Ultrasonografi mammae juga sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini. Pada pasien yang berusia. mammografi tidak rutin dikerjakan. Konfirmasi secara patologi diperlukan untuk menyingkirkan karsinoma seperti kanker tubular karena sering dikelirukan dengan penyakit ini. fibroadenoma memberikan gambaran soliter. pada cross section Fibroadenoma terlihat seperti irregular dengan struktur berbentuk bintang (intracanaluculi fibroadenoma). Ultrasonografi dengan core-needle biopsy dapat memberikan diagnosa yang akurat. lesi yang licin dengan densitas yang sama atau hampir menyerupai jaringan sekitar pada mammografi. bulat sampai oval dan regular (pericanaliculi fibroadenoma). Dengan pertambahan usia. diagnosa bisa ditegakkan melalui pemeriksaan klinik walaupun dianjurkan untuk dilakukan aspirasi sitologi. Ductlike atau ruang glandular ini dilapisi dengan lapisan sel tunggal atau multiple yang regular dan berbatas tegas serta membran basalis yang intak. ruang duktal ini terbuka.dilapisi epithelium yang terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk. Diagnosa fibroadenoma bisa ditegakkan melalui gambaran klinik pada pasien usia muda dan karena itu. sebagian yang lain dikompresi dengan proliferasi ekstensif dari stroma dan oleh karena itu. Fine-needle aspiration (FNA) sitologi merupakan metode diagnosa yang akurat walaupun gambaran sel epitel yang hiperplastik bisa dikelirukan dengan neoplasia. berbatas tegas dengan 15 . Kriteria fibroadenoma yang dapat terlihat pada pemeriksaan ultrasonografi adalah massa solid berbentuk bulat atau oval. gambaran stippled calcification terlihat lebih jelas. Walaupun pada sebagian lesi. 2007) Gambaran Mikroskopik Fibroadenoma Mammae Diagnosis Pada pasien dengan usia kurang dari 25 tahun.

Sekiranya fibroadenoma ini tidak diterapi. kebanyakannya akan berkembang secara perlahan dari 1 cm menjadi 3 cm dalam jangka waktu 5 tahun. Usia pasien 4.internal echoes yang lemah. Diameter massa hipoechoic yang homogenous ini adalah antara 1 – 20 cm. Terapi konservatif ini direkomendasikan untuk wanita di bawah usia 35 tahun dan harus dilakukan pemeriksaan sitologi setelah 3 bulan untuk menyingkirkan keganasan. 2. Hasil biopsy Pengetahuan yang semakin meluas mengenai natural dari penyakit ini menyebabkan prosedur untuk mengangkat semua fibroadenoma ditinggalkan. Ukuran 2. Setelah itu. Tubular Adenoma : Lesi proliferasi benigna yang terdiri dari tubulus kecil yang uniform serta dilapisi sel epitel dan lapisan tipis dari sel mioepitel. massa ini akan menjadi statik dan pada hampir 1/3 kasus. Diagnosis Banding 1. Terdapat rasa nyeri atau tidak 3. Kebanyakkan dari fibroadenoma dapat sembuh sendiri (self-limiting) dan tidak terdiagnosa dan karena itu. pengangkatan rutin tidak diperlukan. Penatalaksanaan Terapi untuk fibroadenoma tergantuk dari beberapa hal sebagai berikut: 1. massa ini akan menjadi semakin kecil. Aturan ini membuatkan sebagian kecil dari kasus kanker tidak terdeteksi dan beberapa menyarankan pengangkatan fibroadenoma pada wanita yang berusia lebih dari 25 tahun. Tumor Phylloides Benigna : Neoplasma yang dicirikan dengan dua lapisan epitel yang terletak di dalam celah yang dikelilingi dengan komponen hiperseluler mesenkima. Pada wanita di bawah usia 25 tahun. Sebagian besar dari kasus adalah benigna. terapi konservatif dianjurkan. distribusinya secara uniform dan dengan intermediate acoustic attenuation. 16 . Fase aktif perkembangannya adalah antara 6 sampai 12 bulan dimana ukurannya bisa berganda dari asal.

bercabang-cabang di dalam suatu kista atau duktus yang melebar. Sekiranya berlaku rekurensi.Fibroadenoma residif setelah pengangkatan jarang terjadi. masing-masing memiliki aksis jaringan ikat yang dibungkus oleh sel epitel silindris atau kuboid yang sering terdiri atas dua lapis. tumor ini tidak memiliki komponen mioepitel dan memperlihatkan atipia sel yang parah dengan gambaran mitotik abnormal. Papiloma Intraduktus Papiloma intraduktus adalah pertumbuhan tumor neoplastik di dalam suatu duktus.2. Papilloma Intraduktus 17 . 2007) Pada beberapa kasus. Demikian juga karsinoma papilaris perlu disingkirkan. asal dari tumor tidak diangkat secara menyeluruh sewaktu operasi dan mungkin karena presentasi dari tumor phyllodes yang tidak terdiagnosa.1 kali berbanding populasi umum. (2) adanya tumor subareola kecil dengan garis tengah beberapa milimeter sehingga terlalu kecil untuk dipalpasi. tumor terdiri atas papila-papila. terdiri atas pertumbuhan yang halus. risiko terjadinya karsinoma mammae pada wanita dengan fibroadenoma meningkat 1. Sebagian besar lesi bersifat soliter. Pertama. Lesi kadang-kadang menjadi ganas. atau (3) retraksi puting payudara (jarang terjadi). (Kumar. Kedua. pembentukan dari truly metachronous fibroadenoma. et al. Tumor biasanya tunggal dengan diameter kurang dari 1 cm. Papilloma Intraduktus soliter sering terjadi pada wanita paramenopausal atau postmenopausal dengan insidens tertinggi pada dekade ke enam. 2. Prognosis Melalui satu penelitian retrospektif. Secara histologis. terbentuk banyak papiloma di beberapa duktus atau papilometosis intraduktus. Lesi ini menimbulkan gejala klinis berupa : (1) keluarnya discharge serosa atau berdarah dari puting payudara. Hampir 90% dari Papilloma Intraduktus adalah dari tipe soliter.3 sampai 2. ditemukan di dalam sinus atauduktus laktiferosa utama. dengan lapisan epitel luar terletak di atas lapisan mioepitel. sedangkan papiloma soliter hampir selalu tetap jinak. terdapat beberapa faktor yang diduga berpengaruh.

Namun. Tujuannnya adalah untuk eksisi dari duktus yang terkait dengan nipple discharge dengan pengangkatan jaringan sekitar seminimal mungkin. Diperkirakan hampir 25% dari Papilloma Intraduktus multiple adalah bilateral. Ada juga pasien yang datang dengan keluhan massa pada area subareola walaupun massa ini lebih sering ditemukan pada pemeriksaan fisis. digunakan anestesi lokal dengan atau tanpa sedasi. Kasus terbaru menunjukkan bahwa pada laki-laki penyakit ini terkait dengan penggunaan phenothiazine. Menurut komuniti dari College of American Pathologist. Pada prosedur ini. Apabila lesi benigna ini dicurigai mengalami perubahan ke arah maligna. 2. Massa yang teraba sebenarnya adalah duktus yang berdilatasi. Papilloma Intraduktus ini bisa terjadi pada laki-laki.3.5 – 2 kali untuk terjadinya karsinoma mammae. eksisi lokal duktus yang terkait bisa dilakukan. telah terjadi pertentangan apakah penyakit ini merupakan prekursor bagi karsinoma papillary atau merupakan predisposisi untuk meningkatkan resiko terjadinya karsinoma.soliter sering timbul pada duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien datang dengan nipple discharge yang serous dan bercampur darah. Pasien dengan Papilloma Intraduktus multiple biasanya tidak ada gejala nipple discharge dan biasanya terjadi pada duktus yang kecil. Fibrokistik Perubahan fibrokistik adalah ragam kelainan dimana terjadi akibat dari peningkatan dan distorsi perubahan siklik payudara yang terjadi secara normal 18 . terapi yang diberikan adalah eksisi luas disertai radiasi. Apabila hal ini tidak berlaku. pasien diterapi secara konservatif dan papilloma serta nipple discharge dapat menghilang secara spontan dalam waktu beberapa minggu. Prognosis Papilloma Intraduktus subareolar soliter atau intrakistik adalah benigna. Penatalaksanaan Umumnya. Eksisi duktus terminal merupakan prosedur bedah pilihan sebagai penatalaksanan nipple discharge. wanita dengan lesi ini mempunyai risiko 1.

Stroma mengelilingi semua bentuk kista biasanya terdiri atas jaringan fibrosa yang kehilangan gambaran miksomatosa. (Kumar et al.4. Infiltrat limfositik stroma sering ditemukan pada lesi ini dan varian lain perubahan fibrokistik. (Kumar et al. (Price and Wilson. Pertumbuhan berlebihan jaringan fibrosa ini mungkin menekan lumen asinus dan duktus sehingga keduanya tampak sebagai genjel-genjel sel. 2006) 2. Perubahan proliferatif meliputi hiperplasia epitel dan adenosis sklerotikans. Sebagian hiperplasia epitel ini bersifat ringan dan teratur serta tidak membawa resiko karsinoma. duktus terminalis. Tanda-tandanya adalah teraba massa yang bergerak bebas pada payudara. terasa granularitas pada jaringan payudara. 2007) Perubahan nonproliferatif ditandai dengan peningkatan stroma fibrosa disertai oleh dilatasi duktus dan pembentukan kista dengan berbagai ukuran. Perubahan nonproliferatif mencakup kista dan fibrosis tanpa hiperplasia sel epitel (perubahan fibrokistik sderhana). namun 19 . dan kadangkadang lobulus payudara. tetapi di sisi lain hiperplasia atipikal mamiliki resiko signifikan. dengan stroma serupa-sarkoma yang sangat selular. Tumor ini termasuk neoplasma jinak. dan kadang-kadang keluar cairan yang tidak berdarah dari puting. Perubahan proliferatif mencakup serangkaian hiperplasia sel epitel duktulus atau duktus banal atau atipikal serta adenosis sklerotikans.selama daur haid. Adenosis sklerotikans memiliki gambaran klinis dan morfologi mirip dengan karsinoma. Istilah hiperplasia epitel dan perubahan fibrokistik proliferatif mencakup serangkaian lesi proliferatif di dalam duktulus. Adanya lapisan ganda epitel dan identifikasi elemen mioepitel menandakan bahwa kelainannya bersifat jinak. Perubahan fibrokistik dibagi menjadi perubahan nonproliferatif dan perubahan proliferatif. 2007) Gejala-gejalanya berupa pembengkakan dan nyeri tekan pada payudara menjelang periode menstruasi. Di lesi ini rampak mencolok fibrosis intralobularis serta proliferasi duktulus kecil dan asinus.Tumor Phylloides Tumor phylloides adalah fibroadenoma besar di payudara. Banyak perempuan tidak mengeluhkan gejala dan baru mencari pemeriksaan kesehetan setelah meraba adanya massa.

Tumor ini bersifat agresif lokal dan dapat bermetastasis. tumor ini berdiameter 3 hingga 4 cm. Perubahan yang paling merugikan adalah terjadinya peningkatan selularitas stroma disertai anaplasia dan aktivitas mitotik yang tinggi. namun dapat tumbuh hingga berukuran besar. Hanya yang paling ganas. tetapi lesi ini juga cenderung terlokalisasikan. Karena pada potongan memperlihatkan celah yang mirip daun. mungkin masif sehingga payudara membesar. Umumnya. Sebagian mengalami lobulasi dan menjadi kistik.kadangkala dapat menjadi ganas. menyebar ke tempat yang jauh. Sebagian besar tumor ini tetap lokalisata dan disembuhkan dengan eksisi. Lesi maligna mungkin kambuh. maka tumor ini disebut tumor filoides. sekitar 15% kasus. dan diperkirakan berasal dari stroma intralobulus. selain itu peningkatan ukuran secara pesat. Gambaran Mikroskopik Tumor Phyloides 20 . biasanya dengan invasi jaringan payudara di sekitarnya oleh stroma maligna.

Carcinoma mammae merupakan neoplasma yang ganas berasal dari parenchyma. e) Paritas Wanita yang hamil dan melahirkan pada usia < 20 tahun memiliki resiko terkena kanker mammae dua kali lebih tinggi dibandingkan nullipara atau wanita yang hamil pertama kali di usia lebih dari 35 tahun. Definisi Carcinoma Mammae atau kanker mammae adalah adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya. d) Hyperplasia with atypia Riwayat memiliko tumor jinak mammae yang bersifat atipikal hiperplasia.2. cepat dan tidak terkendali. f) Lobular carcinoma in situ memberikan risiko carcinoma invasif sebesar 30%. Resiko kanker mammae meningkat pada wanita yang memiliki ibu.BAB III KARSINOMA MAMMAE 3.1. b) Riwayat carcinoma mamme pada payudara yang lain. Wanita di atas 40 tahun lebih berisiko terkena carcinoma mammae. khususnya apabila diderita pada masa sebelum menopause. Carcinoma mammae jarang dijumpai pada wanita berusia < 25 tahun. 1) High Risk Factor a) Usia. saudara perempuan. c) Riwayat carcinoma mammae pada keluarga. 21 . Insidensi meningkat seiring meningkatnya usia. 2000). atau anak perempuan dengan riwayat mengidap kanker. sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal. 3. Faktor Risiko Beberapa faktor risiko yang memegang peranan penting di dalam proses kejadian kanker mammae berhasil diidentifikasi melalui penelitian epidemiologi (Casciato.

2) Intermediate Risk Factor a) Riwayat Menstruasi Wanita dengan usia saat menarche kurang dari 11 tahun memiliki resiko terkena kanker mammae sebesar 20% dibandingkan dengan wanita yang menarche saat usia 14 tahun ke atas. d) Diabetes mellitus e) Alkohol f) Ras Insidensi kanker mammae lebih rendah pada keturunan Afrika-Amerika. b) Estrogen Oral dan HRT c) Riwayat carcinoma pada ovarium. Wanita Kaukasoid memiliki rating tertinggi dalam terjadinya kanker mammae. fundus uteri. dan 1 diantara 27 pada wanita Hispanik. sedangkan pada wanita afrika adalah 1 diantara 20. dan colon. 1 diantara 26 pada wanita Asia Pasifik. Wanita kulit hitam yang berusia < 40 tahun lebih sering mengalami kanker mammae dibandingkan wanita kulit putih. 3. angka kejadiannya pada usia > 50 tahun adalah 1 diantara 15 wanita. dan riwayat carcinoma mammae pada saudara laki-laki.3. Faktor sosial seperti kurangnya akses ke fasilitas kesehatan dan masih kurangnya penggunaan mammografi. Bentuk utama tumor ganas mammae dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a.g) Risiko pada pria antara lain Klinefelter‟s syndrome. Noninvasif Terdapat dua tipe carcinoma mammae yang noninvasif yaitu: Ductus Carcinoma In Situ (DCIS) dan Lobulus Carcinoma In Situ (LCIS). Menopause yang lebih lama juga meningkatkan resiko namun besarnya resiko belum berhasil teridentifikasi. gynecomastia. dan faktor genetik juga berpengaruh. Tipe Carcinoma Mammae Carcinoma mammae dibagi menjadi kanker yang belum menembus membran basal (noninvasif) dan yang sudah menembus membran basal dan yang sudah menembus membran basal. Penelitian morfologik memperlihatkan bahwa keduanya biasanya berasal dari unit lobulus duktus 22 .

Sekitar 64. dengan distribusi linier. b. Terjadi sebanyak 23 . Sering dijumpai adanya signet ring cell yang mengandung mucin. mendistorsi dan membuka lobulus yang terkena sehingga tampaknya melibatkan rongga mirip duktus. padat) dan noncomedo. 2) Lobulus Carcinoma Invasif Tipe kanker mammae ini biasanya tampak sebagai penebalan di kuadran luar atas dari mammae. tetapi tidak mengubah arsitektur dasar lobulus. karsinoma lobular insitu dan karsinoma lobular invasif adalah identik.terminal. tidak memiliki karakteristik histologis khusus selain invasi melalui membran basement. segmental. berkerumun. yang memberikan informasi prognostik tambahan mengenai kemungkinan perkembangan atau kekambuhan. Sel-sel abnormal dari hiperplasia lobular atipik. LCIS tidak menghasilkan lesi yang dapat diraba dan tidak terlihat pada mammografi. Sebaliknya LCIS biasanya meluas. 2003). DCIS dibagi menjadi comedo subtipe (yaitu micropapillary.000 kasus DCIS didiagnosis setiap tahun di Amerika Serikat. fokus. 1) Ductus Carcinoma In Situ (DCIS) Peningkatan penggunaan screening mamografi telah mengakibatkan peningkatan dramatis dalam mendeteksi karsinoma duktal in situ (DCIS). 1) Invasif Ductus Carcinoma Invasif Ductus Carcinoma Invasif adalah tumor yang paling sering didiagnosis dan memiliki kecenderungan untuk bermetastasis melalui limfatik. Karsinoma lobular insitu sering menampilkan reseptor estrogen dan progesteron dan overekspresi HER2/neu belum didapat (Tavasolli. menyumbang 75% dari kanker payudara. Tumor ini berespon baik terhadap terapi hormon. 2) Lobulus Carcinoma In Situ (LCIS) LCIS cenderung bersifat multifokal dan bilateral. atau campuran. DCIS cenderung mengisi. Keduanya dibatasi oleh membran basal dan tidak menginvasi stroma atau saluran limfovaskular. terdiri dari sel-sel kecil dengan inti yang oval atau bulat dan anak inti yang kecil serta tidak berdekatan satu sama lain. Lesi ini. Sembilan puluh persen dari kasus DCIS diidentifikasi pada mamografi sebagai kalsifikasi mencurigakan.

8 µm. kadang-kadang tampak nukleoli dan indentasi pada tepi inti. dengan batas yang tegas dan konsisten lunak. Stroma banyak. ukuran inti 11. 2007). vakuol musin atau „signet ring cell. Pada karsinoma lobular secara umum dapat dijumpai dua jenis sel yaitu. terdiri dari jaringan ikat atau desmoplastik. sitoplasma banyak dan mengandung musin. inti irregular.9 cm. Diduga ada hubungan dengan terapi hormon pengganti pada wanita yang postmenopause. hiperkromatik dan ukuran inti uniform. banyak dijumpai naked cells. Sering dijumpai daerah nekrosis dan perdarahan-perdarahan. Ada 24 . Secara mikroskopis menunjukkan gambaran klasik dengan kecenderungan populasi sel yang sedikit.5% dari kasus kanker mammae. Ukuran sel sedikit lebih besar dari limfosit. Karsinoma lobular dilaporkan paling banyak dijumpai bilateral. tepi ireguler. dengan tidak dijumpai struktur kelenjar. dengan diameter 2 -2. Kadang-kadang dapat dijumpai lumina intrasitoplasmik. dengan stroma yang sedikit dan infiltrasi limphoplasmasitik yang menonjol. ukuran sel lebih besar sedikit dari sel-sel darah merah. Metastasis sulit dideteksi berdasarkan klinis dan radiologis pada tipe invasif. sitoplasma sedikit. Sel-sel neoplastik tidak begitu erat melekat ke stroma dan pada sediaan hapus menunjukkan populasi yang sedikit. Sekitar ¼ kasus adalah bentuk difus dari invasif tanpa desmoplasia yang menonjol dan adanya daerah penebalan dari mammae atau perubahan arsitektur pada mammografi. kadangkadang inti eksentrik. 3) Medularis Carcinoma Secara makroskopis berbentuk bulat dengan ukuran yang berbeda-beda. Karsinoma lobular invasif biasanya tampak seperti karsinoma duktal insitu yaitu massa yang dapat teraba dan densitas pada mammografi.. Sel-sel tersebar tunggal atau membentuk kelompokan kecil dengan karakteristik gambaran single files. membentuk gambaran tiga dimensi. Berwarna coklat sampai abu-abu. inti bulat – oval. Pada beberapa karsinoma lobular dijumpai kondensasi droplet musin pada sentral (bull. Secara histopatologi karsinoma terdiri dari sel-sel yang berdiferensiasi buruk yang tersusun pada lembaran-lembaran besar.s eye inclusion) tetapi keadaan ini bukan suatu karakteristik (Crum. sel-sel kecil yang tersebar merata biasanya dijumpai pada wanita postmenopause dan sel-sel yang tersusun dalam kelompokan pleomorfik. Insiden dari karsinoma lobular dilaporkan meningkat pada wanita yang postmenopause.

Mitotis sering dijumpai. Sel tumor tampak berkelompok dan memiliki pulau-pulau sel yang kecil dalam sel musin yang besar yang mendorong ke stroma terdekat. inti membesar.sel yang berfoliferasi dibatasi oleh jaringan ikat fibrous. Keadaan ini mendukung suatu karsinoma musinosum walaupun pada fibroadenoma mamma juga kadang-kadang dapat dijumpai. pleomorfik. dengan sitoplasma yang banyak. Secara sitologi sel-sel kanker dengan bentuk atipik. tidak dijumpai bentuk glandular atau tubular. seperti pada karsinoma lobular invasif. selselnya biasanya bulat dengan sitoplasma yang banyak dan anak inti vesikuler mengandung satu atau beberapa anak inti. atipia. 2007) Secara makroskopis konsistensi tumor sangat lunak seperti gelatin dan berwarna pucat biru keabuan. Latar belakang sediaan hapus didominasi oleh musin yang sangat menonjol dan secara makroskopis dapat terlihat. 5) Tubulus Carcinoma Metastasis pada axilla kurang dari 10 %. Pada beberapa kasus dapat dijumpai musin intrasitoplasmik dan signet ring cell. membentuk agregat kecil yang solid dan ada juga yang tersebar membentuk „files. 4) Coloid Carcinoma (Karsinoma Musinosa) Insiden karsinoma musinosum juga lebih tinggi pada wanita yang mengalami mutasi gen BRCA1. Pada pemeriksaan mikroskopik gambaran struktur tubulusnya sangat khas. „moderate. Inti plemorfis dengan ukuran sedang. Pada pewarnaan MGG. Selain itu juga dapat dijumpai gambaran chicken wire. Tipe ini banyak ditemukan pada wanita usia sekitar 50 tahun. sel. musin memperlihatkan warna biru dan pada pewarnaan Hemaktosilin dan Eosin serta Pap memberikan warna pucat. tunggal. hypermetilasi dan promoter BRCA1 juga terdapat pada 55% dari karsinoma musinosum yang tidak berhubungan dengan mutasi germline BRCA1 (Crum. Pada sediaan hapus tidak dijumpai massa nekrotik. Subtipe ini penting dikenali untuk menentukan prognosisnya. Mirip dengan yang diamati pada karsinoma medullari. Dapat dijumpai sel-sel besar yang atipik. 25 .lima bentuk karakteristik yaitu bentuk sinsitial. yang berasal dari pembuluh darah dan sangat prominen. infiltrasi limphoplasmasitik pada stroma yang diffuse.

Stagging Tumor Primer (T) Tx Tis Tumor pimer tidak dinilai Carcinoma in situ (LCIS atau DCIS) atau paget‟s disease pada puting tanpa tumor T1 T1a T1b T1c T2 T3 T4 Tumor ≤2 cm Tumor ≥0. Hampir semua karsinoma tubulus mengekspresikan reseptor hormon. ≤0. ≤1 cm Tumor >1 cm.5 cm. ≤2 cm Tumor >2 cm. dan sangat jarang mengekspresikan ERBB2 secara berlebihan (Crum. Namun demikian tumor ini tidak memiliki lapisan sel myoepitel dan sel-sel tumor ini berkontak langsung dengan stroma. pectoralis) Tumor meluas ke kulit dengan ulserasi. 2007). 2003). 3.Dengan kata lain semua adalah well differentiated dan angka 10 YRS (Year Survival Rate) mencapai 95 (Tavasolli. dan terkadang sulit dibedakan dengan lesi sklerotik yang jinak.4. edema dan nodul satelit Gabungan T4a dan T4b Karsinoma inflammatory Pembuluh Limfe/Node (N) 26 .1 cm.5 cm Tumor >0. ≤5 cm Tumor >5 cm Tumor dalam berbagai ukuran dengan perluasan sampai ke dinding dada atau kulit T4a T4b T4c T4d Tumor meluas sampai dinding dada (termasuk m. Gambaran mikroskopisnya tumor ini terdiri dari well formed tubules.

PCR (-) Tidak ada keterlibatan kel. mammary klinik nampak.0 mm).limfe axilla dan int. atau kel. tidak diteliti lebih jauh Tidak ada keterlibatan kel. kel. IHC (-) Keterlibatan kel.N0 N0 (i-) N0 (i+) N0 (mol-) N0 (mol ) N1 + Tidak ada keterlibatan kel. mammary (+) ≥1 kel. Mammary dengan biopsy N2 Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3 dan atau int.limfe axilla 1-3 dan kel. mammary metastasis N3a N3b ≥10 kel. PCR (+) Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3 Metastasis ke kel. mammary (+) dari biopsy N1(mic) Micrometastasis (>0.0 mm Int. mammary disertai klinik (+) tanpa metastasis ke axilla N2a N2b N3 Metastasis ke kel.limfe axilla (-) Metastasis ke ≥10 kel.limfe axilla atau kombinasi metastasis kel. limfe int.limfe regional.2 mm.limfe axilla (>2.limfe.limfe mencakup <0.limfe axilla 4-9 atau int.limfe axilla 4-9 paling tidak 1 >2.0 mm) N1a N1b N1c Metastasis ke kel.limfe regional.limfe (+) atau >3 kel. mammary (+) dari biopsy N3c Metastasis ke ipsilateral supraclavicular nodes (IAN) M (Metastasis) M0 Tidak terdapat metastasi jauh 27 .limfe infraclavicular Klinik int. none >2.2 mm Tidak ada keterlibatan kel.limfe.limfe axilla (+) dengan int. mammary dengan biopsy sentinel Metastasis ke kel.limfe int.

Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan potong beku dan/atau parafin. setiap 1 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir   Pemeriksaan Fisik Mamografi : setiap 2 tahun : setiap 1 tahun.Pada wanita diatas 35 tahun – 50 tahun . Screening Metoda :  SADARI (Pemeriksaan Mammae Sendiri) Dilaksanakan pada wanita mulai usia subur.M1 Terdapat metastasis jauh 3. wanita biasanya mengeluhkan benjolan di mammaenya.6. Biopsi Eksisional untuk tumor ukuran <3 cm. Biopsi Insisional untuk tumor :   operable ukuran >3 cm sebelum operasi definitif inoperable o Spesimen mastektomi disertai dengan pemeriksaan KGB 3. (4) massa (benjolan) di aksila (5)dan ketidaknyamanan pada tulang dan sendi (musculoskeletal).5. Diagnosis Dalam 33% kasus kanker mammae.Pada wanita diatas 50 tahun 28 . Bahan pemeriksaan histopatologi diambil melalui : • • • Core Biopsy. . Pemeriksaan Histopatologi (Gold Standard Diagnostic). Tanda-tanda klinis lain yang sering ditemukan pada gejala kanker mammae meliputi : (1) pembesaran mammae atau asimetri (2) perubahan putting (3) ulserasi atau eritema pada kulit mammae.

7. Penatalaksanaan Modalitas terapi:      Operasi Radiasi Kemoterapi Hormonal terapi Molecular targeting therapy (biology therapy) Operasi : Jenis operasi untuk terapi  BCS (Breast Conserving Surgery)  Simpel mastektomi  Radikal mastektomi modifikasi  Radikal mastektomi Radiasi :  primer  adjuvan  paliatif Kemoterapi :   Harus kombinasi Kombinasi yang dipakai     CMF CAF.3. CEF Taxane + Doxorubicin Capecetabin Hormonal :    Ablative : bilateral ovarektomi Additive : Tamoxifen Optional : 29 .

BCS (harus memenuhi syarat di atas) .  Aromatase inhibitor GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) . o Belum pernah terapi radiasi di dada.Mastektomi simple Terapi definitif pada T0 tergantung pada pemeriksaan blok parafin. o Tidak menderita penyakit LE atau penyakit kolagen. 1 Kanker payudara stadium 0 Dilakukan : . Syarat BCS o Keinginan penderita setelah dilakukan informed consent. 2 Kanker payudara stadium dini / operabel : Dilakukan : . Ad. lokasi didasarkan pada hasil pemeriksaan imaging.BCS . o Perbandingan ukuran tumor dan volume payudara cukup baik untuk kosmetik pasca BCS. dsb. o Penderita dapat melakukan kontrol rutin setelah pengobatan. Ad. o Tumor tidak multipel. o Pasien menginginkan mempertahankan payudaranya. Indikasi BCS o T 3 cm. o Mamografi tidak memperlihatkan mikrokalsifikasi/tanda keganasan lain yang difus (luas).Mastektomi radikal 30 . o Tumor tidak terletak sentral. o Terdapat sarana radioterapi yang memadai.

ER / PR .Usia pre menopause atau post menopause o Dapat berupa : .kemoterapi .Node (+)/(-) .radiasi .Mastektomi radikal modifikasi Terapi adjuvant : o Dibedakan pada keadaan : Node (-) atau Node (+) o Pemberiannya tergantung dari : ..hormonal terapi Adjuvant therapi pada NODE NEGATIVE (KGB histopatologi negatif) Menopausal Status Premenopause Hormonal Receptor High Risk ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) Kh + Tam / Ov Kh Tam + Khemo Kh Tam + Khemo Kh Post menopause ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) Old Age ER (+) / PR (+) ER (-) / PR (-) Adjuvant therapi pada NODE POSITIVE (KGB histopatologi positif) Menopausal Status Hormonal Receptor Premenopausal ER (+) / PR (+) ER (-) and PR (-) Post menopausal ER (+) / PR (+) ER (-) and/ PR (-) Old Age ER (+) / PR (+) High Risk Kh + Tam / Ov Kh KH + Tam Kh Tam + Khemo 31 .

Tepi sayatan dekat ( T > = 2) / tidak bebas tumor. kecuali : Pada keadaan T < = T2 bila cN = 0 dan pN . Lymph invasion) High thymidin index Terapi adjuvant :  Radiasi Diberikan apabila ditemukan keadaan sbb.booster dilakukan sbb : Pada potensial terjadi residif ditambahkan 10Gy (misalnya tepi sayatan dekat tumor atau post BCS) Pada terdapat masa tumor atau residu post op (mikroskopik atau makroskopik) maka diberikan boster dengan dosis 20Gy kecuali pada aksila 15 Gy 32 . Acuan pemberian radiasi sbb :  Pada dasarnya diberikan radiasi lokoregional (payudara dan aksila beserta supraklavikula.ER (-) and PR (-) Kh High risk group :      Umur < 40 tahun High grade ER/PR negatif Tumor progresif (Vascular.  Pada keadaan tumor dimedial/sentral diberikan tambahan radiasi pada mamaria interna. maka tidak dilakukan radiasi pada KGB aksila supraklavikula. KGB (+) dengan ekstensi ekstra kapsuler. Dosis lokoregional profilaksis adalah 50Gy. :     Setelah tindakan operasi terbatas (BCS). Tumor sentral/medial.

AC Khemoterapi adjuvant Khemoterapi paliatif Khemoterapi neoadjuvant ditambah .3 siklus pasca terapi primer  : 6 siklus : 12 siklus : . CMF.* Khemoterapi Khemoterapi : Kombinasi CAF (CEF) .3 siklus pra terapi primer Kombinasi CAF Dosis C : Cyclophosfamide 500 mg/m2 A : Adriamycin = Doxorubin F : 5 Fluoro Uracil Interval 500 mg/m 2 hari 1 hari 1 50 mg/m2 hari 1 : 3 minggu  Kombinasi CEF Dosis C : Cyclophospamide 500 mg/ m2 E : Epirubicin F : 5 Fluoro Uracil Interval : 3 minggu 50 mg/m2 500 mg/ m2 hari 1 hari 1 hari 1  Kombinasi CMF Dosis C : Cyclophospamide 100 mg/m2 M : Metotrexate 40 mg/ m2 IV F : 5 Fluoro Uracil 500 mg/m2 IV Interval : 4 minggu hari 1 s/d 14 hari 1 & 8 hari 1 & 8  Kombinasi AC Dosis A : Adriamicin C : Cyclophospamide  Optional :    Kombinasi Taxan + Doxorubicin Capecitabine Gemcitabine 33 .

PR + Ablasi     : Apabila tanpa pemeriksaan reseptor premenopause menopause 1-5 tahun dengan efek estrogen (+) perjalanan penyakit slow growing & intermediated growing Ad.1 Operable Locally advanced  Simple mastektomi/mrm + radiasi kuratif + kemoterapi adjuvant + hormonal terapi Ad. ER + PR – . ER .PR + ER + PR – (menopause tanpa pemeriksaan ER & PR) ER .PR + 2. 34 .3. Status hormonal Additive : Apabila ER .3. Ablative : pemberian tamoxifen : bilateral oophorectomi (ovarektomi bilateral) Dasar pemberian : 1.2 Inoperable Locally advanced    Radiasi kuratif + kemoterapi + hormonal terapi Radiasi + operasi + kemoterapi + hormonal terapi Kemoterapi neo adj + operasi + kemoterapi + radiasi + hormonal terapi.3 Kanker payudara locally advanced (lokal lanjut) Ad. Additive 2. Hormonal terapi : Macam terapi hormonal 1.Pemeriksaan Reseptor ER + PR + .

4 Kanker payudara lanjut metastase jauh Prinsip :    Sifat terapi palliatif Terapi sistemik merupakan terapi primer (Kemoterapi dan hormonal terapi) Terapi lokoregional (radiasi & bedah) apabila diperlukan Follow up : o o o tahun 1 dan 2 tahun 3 s/d 5 kontrol tiap 2 bulan kontrol tiap 3 bulan kontrol tiap 6 bulan Follow Up terdiri dari o o o o o o Pemeriksaan fisik Thorax foto Lab.Ad. marker : tiap kali kontrol : tiap 6 bulan : tiap 2-3 bulan : tiap tahun atau ada indikasi Mamografi kontra lateral USG Abdomen/lever : tiap 6 bulan atau ada indikasi Bone scaning : tiap 2 tahun atau ada indikasi 35 .

go. Jeffrey A Norton Springer. Wagner.html [WHO] World Health Organization. Dennis A.who.id/index. Schwartz's Principles of Surgery. 2003.DAFTAR PUSTAKA [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. World Health Organization.782-783 Rubin. A. Available from : http://www. Pathology and Genetic of Tumours of the Breast and Female Genital Organs/ WHO Classification of Tumours. 2007. New York. 36 . 2003 Robbins. Cancer. Her2 Gene Status in Primary Breast Cancer and Matched Distant Metastasis.: 34-36. Devilee R.cancer. Casciato. North America: Lippincott Williams & Wilkins Pass. 2010. Atlanta:American Cancer Society. http://www. et all. Savic S. 2001 Protokol Penatalaksanaan Kanker Mammae.depkes. Benign and Malignant Disease of The Breast at Surgery Basic Science and Clinical Evidence. Pathology Volume II. Helen. Barry Lowitz.pdf Brunicardi.. Breast Cancer Facts & Figures 2009 2010.Jakarta : EGC hal. PERABOI. 2004. Breast Cancer Research. Charles et al. 8th Edition: Chapter 37. 1995. IARC Press. 2009.2007. Tavasolli. Jika tidak dikendalikan 26 juta orang di dunia menderita kanker. Inc. 2003.org/downloads/STT/F861009_final%209-08-09. 2000. Kumar. North America: Lippincott Williams & Wilkins Tapia C.Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume II. http://www. 3rd edition.php/berita/press-release/1060-jika-tidakdikendalikan-26-juta-orang-di-dunia-menderita-kanker-. etc. 2011.int/cancer/en/ American Cancer Society (ACS). McGraw-Hill Professional. Guidelines for The Management of Breast Cancer.. Manual of Clinical Oncology.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful