EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA SEBAGAI UPAYA MELINDUNGI KEPENTINGAN KREDITUR DALAM HAL TERJADINYA KREDIT MACET DALAM

KREDIT KEPEMILIKAN MOBIL (KPM) DI PT. BUANA FINANCE CABANG SEMARANG

TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat S-2 Magister Kenotariatan

Elisa Surya Tri Ardhini, SH B4B 006 11 6

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008

1

TESIS

EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA SEBAGAI UPAYA MELINDUNGI KEPENTINGAN KREDITUR DALAM HAL TERJADINYA KREDIT MACET DALAM KREDIT KEPEMILIKAN MOBIL (KPM) PADA PT. BUANA FINANCE CABANG SEMARANG

Disusun Oleh: Elisa Surya Tri Ardhini, SH B4B 006 11 6

Telah Dipertahankan di depan Tim Penguji Pada Tanggal 13 Mei 2008 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Telah disetujui, Pembimbing Utama,

Mengetahui, Ketua Program Studi Magister Kenotariatan

Yunanto, S.H., M. Hum NIP. 131 689 627

Mulyadi, S.H., M.S NIP. 130 529 429

2

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah disajikan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan manapun yang belum atau tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan dalam tulisan dan daftar pustaka.

Semarang, 28 Mei 2008

(Elisa Surya Tri Ardhini, SH)

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih banyak terdapat kekurangan baik dalam segi bentuk.. SH. dalam kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. BUANA FINANCE CABANG SEMARANG”. Oleh karena itu. . Mulyadi. penulis mengharapkan kepada pembaca untuk dapat memberikan pemikiran. Oleh karena itu. selaku Ketua Pogram Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro yang dengan kebijaksanaanya telah memberi begitu banyak kemudahan dalam proses penyelesaian tesis ini. maupun saran demi kesempurnaan tesis ini. Penulisan tesis ini dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan guna menyelesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang. isi maupun tata bahasanya.KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan jalan dan kelancaran. Bapak H. MS. kritik.. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul : “ EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN KREDITUR DALAM HAL TERJADINYA KREDIT MACET DALAM KREDIT KEPEMILIKAN MOBIL (KPM) PADA PT.

MHum. 9. 3. Mhum. Bapak R.. 6. Kusbiyandono. MHum. kasih sayang dan doa setiap saat. Buana Finance yang telah bersedia meluangkan waktu untuk wawancara dengan penulis sehingga berguna untuk menyempurnakan penulisan tesis ini. sekaligus Dosen Penguji yang telah memberikan masukan untuk tesis ini. M. Bapak Budi Ispiyarso. Kedua orang tuaku tercinta dan tersayang : Bapak Prof. SH.2. selaku Dosen Penguji yang telah memberikan banyak sekali masukan untuk tesis ini. Bapak Eddy Sarwanto. Bapak A. 4.. H. . selaku Dosen Wali penulis. Kedua Mertuaku tersayang: Bapak Ir.. H. Etty Hertika yang memberikan dukungan dan doa setiap saat. SH. 7. 8. Suharto..Bambang Suryanto. SE. 5. semoga almarhum diterima di Sisi-NYA.. Bapak Imanuel Eka. selaku Dosen Penguji yang telah memberikan banyak sekali masukan untuk tesis ini. Bapak Yunanto. selaku Sekretaris I Program Studi Magister Kenotariatan sekaligus dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu serta kesungguhan hati memberikan arahan dan petunjuk sehingga terselesaikannya tesia ini. SH. selaku Branch Manager PT.Hum.. Sri Lestari yang dengan sepenuh hati memberikan dorongan.. SH.. MHum. Eman Permana dan Ibu Hj. selaku Sekretaris II Program Studi Magister Kenotariatan. SH. MSPsl dan Ibu Hj.

Anakku tersayang Gissa Figa Diatansa yang selalu menjadi penghibur hati setiap saat. SH sekeluarga. Semua pihak yang terkait dan telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini. Eko. dan Fetty Yulita yang selalu penulis sayangi. Teman-teman terdekat penulis di Program Studi Magister Kenotariatan: Dian. Segenap Staff administrasi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro yang telah membantu selama penulis mengikuti perkuliahan. Kedua Kakakku : Chandra Dini. SH. Sked. semoga Allah SWT berkenan membalas semua jasa-jasanya. 16. Enggar. Nonik. Ephie. Riefki dan masih banyak lagi yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu (Thanks for All Fiends). 11. SH dan keluarga dan Dwi sarjana. Melly. M. Husni. Suamiku tersayang Yogi Ekamanti. 15. 13. Om Deni. Segenap rekan-rekan mahasiswa/i Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro 2006. yang selalu setia mendampingi dan selalu memberikan nasihat dan doa kepada penulis sampai dengan terselesaikannya penulisan tesis ini. Fiona . Yudi.10. Riza. 12. Anam. memberi dorongan dan semangat selama penulis menjadi mahasiswi hingga penyelesaian tesis ini. juga kedua adikku Rici Novita.. 14. Sifa. yang tidak bisa penulis sebutkan satupersatu. yang telah begitu banyak membantu. .

Untuk itu penulis akan menerima dan memperhatikan segala kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis berharap semoga penulisan tesis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna. SH . Semarang. 02 Mei 2008 Penulis Elisa Surya Tri Ardhini.

spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. Kata Kunci : Eksekusi. dan seketika memasukkan data debitur tersebut ke dalam daftar hitam (backlist). objek fidusia dalam hal ini kendaraan roda empat tersebut dikuasai oleh debitor. Eksekusi secara realisasi langsung objek jaminan fidusia adalah upaya perusahaan pembiayaan untuk melindungi kepentingannya terhadap debitur yang mengalami kredit macet atau wanprestasi. hal ini diakibatkan dari berbagai macam factor. berbagai masalah dan hambatan seringkali muncul di tengah-tengah perjanjian yang sebagian besar diakibatkan karena kelalaian debitor. Buana Finance untuk mensurvey dengan benar calon debitur dan memastikan ada kecocokan antara data yang diterima dengan data yang sebenarnya.EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA SEBAGAI UPAYA MELINDUNGI KEPENTINGAN KREDITUR DALAM HAL TERJADINYA KREDIT MACET DALAM KREDIT KEPEMILIKAN MOBIL ( KPM ) PADA PT. hambatan yang dijumpai oleh pihak finance adalah keberadaan objek perjanjian yang berada di luar wilayah operasional kantor perusahaan pembiayaan dan debitur yang menggunakan perlindungan dari aparat yang dianggap berpengaruh di wilayah tersebut. sekaligus solusi untuk menghadapi hambatan tersebut. sehingga tidak akan timbul masalah di tengah-tengah perjanjian yang menyulitkan pihak finance. Objek Jaminan Fidusia. Kredit Macet .BUANA FINANCE KOTA SEMARANG` ABSTRAK Pelaksanaan perjanjian pembiayaan konsumen di dalam masyarakat tidak selalu berjalan dengan lancar. apabila dihadapkan pada situasi dan kondisi seperti tersebut di atas. Disarankan kepada PT. penentuan sampel atau responden secara purposive sampling. Buana Finance terhadap debitur yang wanprestasi adalah secara realisasi langsung. solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membentuk tim collector yang dibantu oleh pihak yang berwajib dalam pengusutan keberadaan objek perjanjian. Hasil penelitian menunjukkan eksekusi yang dilakukan oleh PT. maka ada kemungkinan dialihkan pada pihak ketiga sebelum debitor menyelesaikan kewajibanya. dan terhadap debitur yang beritikad tidak baik. pengumpulan data yang dilakukan adalah meliputi data primer dan data sekunder. seperti karakter debitor yang kurang baik (bad character). maka pengadilan adalah alternative terakhir yang ditempuh oleh pihak finance. Perusahaan Pembiayaan Konsumen harus mengambil tindakan yang paling aman sebagai upaya melindungi kepentingannya. Buana Finance Cabang Semarang pada saat mengeksekusi objek perjanjian. sampai dengan kondisi di luar dugaan yang mengakibatkan debitor tidak dapat melanjutkan angsuran atau cicilan dari kredit yang dia ambil (wanprestasi). Tujuan Penelitian untuk mengetahui proses eksekusi dan hambatanhambatan yang dialami oleh perusahaan pembiayaan konsumen PT. Metode pendekatan yang digunakan yuridis empiris.

The research result show that the execution conducted by PT. Buana Finance to the debtors who violate the agreements is in a direct realization measure. The used method of approach is a juridical-empirical approach. thus. there is a possibility that the material security objects are transferred to the third parties before the debtors complete their obligations. and for the debtors having bad intensions. wich mainly are caused by debtors’ negligence and those material security objects – in this case are cars – are authorized by debtors. the used research specifications is a descriptive analitycal research. Keywords : execution.EXECUTION OF MATERIAL SECURITY OBJECTS AS THE EFFORTS OF PROTECTING CREDITOR’S INTEREST IN CASE OF FAILED CAR OWNERSHIP CREDITS AT PT. The solutions to overcome those obstacles are.Various problems and obstacles often emerge in agreements. Buana Finance Branch of Semarang when it executes the objects of agreements. such as. the determinations of sample or respondents used the purposive sampling method. The direct realization of the executions of material security objects is the efforts taken by the financing company to protect its interest to the debtors experiencing failed credits or violating the agreements. by establishing a collector team supported by the authority in investigating the existence of the objects of agreements. Therefore. The obstacles faced by the financing company are the existence of the objects of agreements located beyond the operational territory of the financing company office and the debtors using the protections from agencies that are considered as influencing on that territory. failed credits . therefore. It is suggested to PT. the court is the final alternative that should be taken by the financial company and put the debtors’data into the black list immediately. there will not be any emerging problems in the agreements that cause trouble to the financing company. The objective of this research is to find out the executions process and the obstacles experienced by the customer financing company PT. and also the solutions taken to deal with those obstacles. the conducted data collecting method covers primery data and secondary data.Buana Finance to make surveys for the candidate of debtors correctly and make sure that there are any mathces between the received data and the real data. This is caused by various factor. debtors’bad character and unpredictable conditions causing the debtors are unable to continue their installment of the credits they take (violating the agreements). BUANA FINANCE SEMARANG CITY ABSTRACT The execution of customer financing agreements in public does not always run well. The Consumer Financing Company should take the safest actions as the efforts to protect its interest if it is faced to the above mentioned situations and conditions. material security objects.

.......................... Rumusan Masalah ......... I.......................................... 15 ..................... HALAMAN PENGESAHAN................................................................. Sistematika Penulisan ......................... ABSTRAK .................................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II...... DAFTAR ISI ........................ Pengertian Jaminan Fidusia .............................1..........5................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .........3............... I............................................................................................................................................................. Jaminan yang digunakan dalam perusahaan 10 10 12 14 i ii iii iv viii ix x 1 1 6 6 7 7 pembiayaan .............................4........... II........2........................................ II.........................................4.................4..................... KATA PENGANTAR .....................................................1....... HALAMAN PERNYATAAN ................................4............................................................................ Subyek dan Obyek Jaminan Fidusia ....................................................................................... Kegunaan Penelitian ............................ Tujuan Penelitian ................................2. II...... Latar Belakang ....... BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................3... Tinjauan Umum Mengenai Jaminan Fidusia ........................1..................................4........ I.................................... I......... ABSTRACT ........4............ Hapusnya Jaminan Fidusia ....... II.. I.

............. 43 46 49 49 50 50 51 54 ...... Tinjauan Umum Mengenai Eksekusi ........... Pengertian lembaga pembiayaan ...........3...........II...4............5.............4..... II................ 40 II......................4.........................4...........5.. Pengertian Kredit ........ II........3........ Teknik analisis Data .... II..............4.............. Spesifikasi Penelitian . Bentuk Hukum dan Fungsi Lembaga Pembiayaan ................... Kedudukan Para Pihak Dalam Transaksi Pembiayaan Konsumen .............................................................. Pengertian dan Dasar Hukum Perjanjian Pembiayaan Konsumen ........4.........................................4.................................... Populasi dan Sampel ............4.................................. Perusahaan Asuransi ... III..... Jenis-Jenis Eksekusi .4..1...... Metode Pendekatan .3.....4.............. II........................4......... II.... Teknik Pengumpulan Data .............4..................1...3........................2................. II.... 16 16 20 24 27 27 29 30 32 34 34 38 II.................3............................ BAB III METODE PENELITIAN......... Obyek Penelitian.... Eksekusi ... II........ Perjanjian Kredit .......... Prestasi dan Wanprestasi ..............4....1............. III............................... II.................. Eksekusi Jaminan Fidusia ..1...... II................4..................... III.......2........................2...4............................................2........................... II....................... III..................2.................................. II........4............. Perjanjian Kredit .................................................. Dasar Hukum Pemberian Kredit ....................... II............. Lembaga Pembiayaan ............ III................

.... IV............................ Buana Finance Cabang Semarang ..... Buana Finance Cabang Semarang .......2.1.... Saran .1................................ Sejarah PT........... IV.........1.................2............1....................... Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Dalam Hal Terjadinya Kredit Macet Dalam Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) Oleh PT................ Hambatan-Hambatan Yang Timbul Dan Dihadapi Oleh PT...................... Prosedur Pemberian Kredit PT..........................................3................................................... Buana Finance Cabang Semarang. LAMPIRAN 89 91 93 82 ...BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.......... DAFTAR PUSTAKA ..............2........... Buana Finance Pada Saat Mengeksekusi Objek Jaminan Fidusia Dan Cara Mengatasinya ......................... Kesimpulan .. V.........1. 69 58 55 55 IV. IV.................. Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Oleh PT................... Buana Finance .......... BAB V PENUTUP V..1.......................

telah berhasil meningkatkan pendapatan perkapita dan kesejahteraan sebagian rakyat pada umumnya. Bank sebagai lembaga keuangan yang selama ini kita kenal. seperti melalui jasa perbankan. Hal ini disebabkan keterbatasan jangkauan kredit oleh bank. walaupun masih ada ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang menuntut usaha pemerintah untuk bersungguh-sungguh mengatasinya. ternyata tidak cukup mampu untuk menanggulangi keperluan dalam masyarakat. agar tidak berkembang ke arah kecemburuan sosial. 13 . untuk pembelian barang yang pembayaranya dilakukan secara angsuran atau berkala.1 Latar Belakang Pembangunan Nasional yang berkembang saat ini.BAB I PENDAHULUAN I. Jasa pembiayaan merupakan salah satu cara yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan sumber dana pembiayaan. Oleh karena itu. persyaratan yang cukup rumit yang membuat masyarakat enggan untuk mengajukan kredit. serta hal-hal lain yang menyebabkan bank kurang fleksibel dalam melakukan fungsinya. maka semakin meningkat pula lapangan usaha di berbagai macam bidang yang tumbuh dan berkembang. masyarakat membutuhkan dana pembiayaan dari pihak yang kelebihan dana ( surplus of found ). Dengan adanya peningkatan pendapatan perkapita dan kesejahteraan rakyat ini. di samping melalui badan usaha atau lembaga lainnya yang sama-sama memberikan kredit.

2 Retnowulan Sutantio. Modal Ventura ( Venture Capital ) c. meliputi bidang usaha seperti yang diatur dalam Pasal 1 angka (4) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1998. Perdagangan Surat Berharga ( Security Company ) 1 Munir Fuadym Hukum Tentang pembiayaan Dalam Teori dan Praktek. yang dalam hal-hal tertentu bahkan risikonya lebih tinggi. Sewa Guna Usaha ( leasing ) b. hal. (Jakarta: Dalam Pustaka Peradilan Proyek Pembinaan Tehnis Yustisial Mahkamah Agung RI. 1 Maksud dari dikeluarkan keputusan tersebut. 1. Pengertian lembaga keuangan bukan bank dapat dilihat dalam Pasal 1 angka (4) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan. 1994). finance. 2 Lembaga pembiayaan dalam melakukan kegiatan usahanya. yang antara lain adalah : a.Akhirnya. adalah dalam rangka memperluas sarana penyediaan dana yang dibutuhkan masyarakat. (Bandung: Citra Aditya Bakti. Lembaga inilah yang kemudian sebagai ”lembaga pembiayaan” yang menawarkan bentukbentuk baru terhadap pemberian dana. 2002). factoring. yaitu badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang keuangan yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana dengan jalan mengumpulkan surat berharga dan menyalurkannya ke dalam masyarakat guna membiayai investasi-investasi perusahaan. Lembaga Keuangan bukan bank. dan lain-lain. seperti dalam bentuk leasing. 200. lahirlah lembaga penyandang dana yang lebih fleksibel dan moderat dari bank. Perjanjian Pembiayaan Konsumen. 14 . hal. sehingga perananannya sebagai sumber dana pembangunan semakin meningkat.

3 Dengan adanya Perusahaan Pembiayaan Konsumen ini. Hukum Perusahaan Indonesia. Pembiayaan Konsumen ( Consumer Finance ) Menurut SK Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1251/KMK. Usaha Kartu Kredit ( Credit Card ) f. 15 . bahwa pembiayaan konsumen sebagai suatu kegiatan yang ”dilakukan dalam bentuk penyediaan dan bagi konsumen untuk pembelian atau kepemilikan suatu barang yang pembayarannya dilakukan secara angsuran atau berkala oleh konsumen. 315. (Bandung: Citra Aditya Bakti. Apabila suppier melakukan penjualan dengan cara kredit. Risiko tidak terbayaranya kredit konsumen yang pada awalnya ditanggung oleh supplier. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 448 / KMK. maka dana tunai akan diterima secara bertahap dan setelah jangka waktu tertentu. akan meningkatkan penjualan bagi pihak supplier (penyedia barang). Anjak Piutang ( Factoring ) e. hal.017 / 2000 dijelaskan.”.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan cq. maka supplier dapat memperoleh pembayaran tunai dan angsuran akan dialihkan kepada pereusahaaan Pembiayaan Konsumen. namun dengan adanya Perusahaan Pembiayaan Konsumen.d. 3 Abdul Kadir Muhammad. karena supplier akan menerima pembayaran secara tunai dari pihak Perusahaan Pembiayaan Konsumen. 1999). dapat dialihkan kepada Perusahaan Pembiayaan Konsumen.

Manfaat bagi Perusahaan Pembiayaan Konsumen sendiri. Buana Finance dengan pihak yang terkait secara langsung dalam hal ini adalah konsumen. Kegiatan pembiayaan ini melalui sistem pemberian kredit terhadap kepemilikan mobil. adalah kesempatan untuk membeli barang meskipun dana yang tersedia saat ini belum cukup. singkatnya konsumen tidak harus membeli secara tunai. adalah penerimaan dari bunga dan biaya administrasi yang dibayar oleh konsumen. Tingkat bunga yang ditetapkan oleh Perusahaan Pembiayaan Konsumen ini. PT. 16 . karena Perusahaan Pembiayaan Konsumen menanggung resiko relatif lebih besar daripada penyaluran dana kredit dari bank kepada debiturnya. Perusahaan Pembiayaan ini menjembatani kepentingan konsumen yang ketersediaan dana tunainya terbatas. merupakan salah satu perusahaan pembiayaan yang melakukan kegiatan usahanya di bidang pembiayaan konsumen ( consumer finance ) yang berfokus pada pembiayaan Kredit Kepemilikan Mobil (KPM). yang pembayarannya oleh konsumen dapat dilakukan secara angsuran atau berkala. merupakan perjanjian hutang-piutang antara pihak PT. yaitu penyedia barang (supplier ) dan asuransi. Buana Finance. Buana Finance. Perjanjian Pembiayaan Konsumen pada PT. tetapi dapat memiliki barang yang pembayarannya dapat dilakukan secara mengangsur atau kredit. maupun pihak yang tidak terkait secara langsung. Sedangkan manfaat bagi konsumennya sendiri. karena tidak semua konsumen mampu membayar secara tunai. Hal ini sebagai konsekuensi atau kompensasi. relatif lebih tinggi dari tingkat bunga kredit bank.

Sebagai jaminannya. maka ada kemungkinan objek fiducia tersebut dalam hal ini kendaraan roda empat. perusahaan pembiayaan tidak akan menyerahkan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) kepada debitur sebelum debitur tersebut melunasi kewajibannya.Perjanjian dalam perusahaan pembiayaan ini bukan merupakan bentuk perjanjian accessoir / tambahan dari perjanjian pokoknya yaitu hutang-piutang. dalam perjanjian accessoir objek fidusia digunakan sebagai agunan atau jaminan bagi pelunasan hutang tertentu. dalam hal ini perusahaan pembiayaan PT. dengan tetap memberikan kewajiban terhadap debitur untuk melunasi angsuran kepada kreditur atau pemberi dana. Buana Finance. Dalam praktek. objek fidusia diserahkan kepemilikannya kepada debitur atau konsumennnya. apabila dihadapkan pada situasi dan kondisi seperti tersebut di atas. Masalah atau hambatan yang sering terjadi adalah. maka penulis merasa perlu untuk melakukan 17 . dialihkan pada pihak ketiga sebelum debitor melunasi kewajibannya kepada kreditor. maka apabila debitor wanprestasi. sedang dalam perjanjian perusahaan pembiayaan. Berdasarkan kondisi sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah tersebut di atas. sedangkan Perusahaan Pembiayaan Konsumen harus mengambil tindakan yang paling aman sebagai upaya melindungi kepentingannya. tidak berarti bahwa munculnya fenomena pembiayaan konsumen di dalam masyarakat tidak membawa masalah serta berbagai hambatan. Perusahaan Pembiayaan akan mengalami kesulitan untuk menarik atau mengeksekusi barang tersebut. karena benda atau objek fidusia tersebut dikuasai oleh debitor.

Untuk mengetahui bagaimana eksekusi objek jaminan fiducia sebagai upaya melindungi kepentingan kreditur dalam hal terjadinya kredit macet dalam Kredit Kepemilikan Mobil ( KPM ) Di PT. 18 . Buana Finance dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah eksekusi objek jaminan fidusia dalam hal terjadinya kredit macet dalam Kredit Kepemilikan Mobil ( KPM ) Di PT. maka permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan eksekusi di bawah tangan oleh PT.penelitian untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah Pelaksanaan Eksekusi Objek Jaminan Fiducia Sebagai Upaya Melindungi Kepentingan Kreditur dalam Hal Terjadinya Kredit Macet dalam Kredit Kepemilikan Mobil ( KPM ) Di PT. I.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1.Buana Finance Cabang Semarang. Buana Finance Cabang Semarang.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian tersebut di atas. Buana Finance Cabang Semarang ? 2. Apa sajakah hambatan yang timbul dan dihadapi oleh Perusahaan Pembiayaan Konsumen tersebut dalam proses pengeksekusian objek jaminan fidusia dan bagaimanakah penyelesaianya ? I.

Bagi peneliti untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana Strata 2 ( S2 ) pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang. I. adalah untuk menjelaskan dan menguraikan setiap 19 . c. b. I. menguraikan masalah yang terbagi kedalam lima bab. Memberikan informasi sekaligus masukan atau jalan keluar mengenai masalah-masalah yang timbul dalam proses pelaksanaan eksekusi objek jaminan fiducia. Kegunaan Praktis a. Kegunaan Teoritis Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih di bidang hukum khususnya hukum eksekusi mengenai jaminan fiducia 2. Untuk mengetahui hambatan apa saja yang timbul dan dihadapi oleh Perusahaan Pembiayaan Konsumen dalam proses eksekusi objek jaminan fidusia sekaligus penyelesaianya. Maksud dari pembagaian tesis ini ke dalam bab-bab dan sub bab-bab.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1.5 Sistematika Penulisan Untuk menyusun tesis ini peneliti membahas.2. Dapat digunakan sebagai pedoman bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

obyek penelitian. BAB II Tinjauan Pustaka. serta tinjauan umum. spesifikasi penelitian. dan teknik analisis data. Hambatan. dan sistematika penulisan. 20 . bab ini berisikan tinjauan pustaka yang menyajikan landasan teori tentang tinjauan secara umum eksekusi khususnya tentang pelaksanaan eksekusi objek jaminan fiducia oleh perusahaan pembiayaan dalam hal kredit macet dalam Kredit Kepemilikan Mobil (KPM). yang akan menguraikan hasil penelitian yang relevan yaitu permasalahan tentang Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Dalam Hal Terjadinya Kredit Macet Dalam Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) Di PT. perusahaan asuransi.masalah secara sistematik. yang akan memaparkan metode yang menjadi landasan penelitian. dan jaminan-jaminan yang diperlukan dalam perjanjian pembiayaan konsumen. BAB III Metode Penelitian. tujuan penelitian. Buana Finance Cabang Semarang. teknik pengumpulan data. sampel. lembaga pembiayaan konsumen. yaitu metode pendekatan. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan.Hambatan Yang Timbul dan Dihadapi Oleh PT. bab ini berisikan latar belakang masalah. Buana Finance Cabang Semarang serta cara mengatasinya. perumusan masalah. BAB I Pendahuluan. sehingga bisa dimengerti oleh pembaca dengan baik dan lebih jelas. kegunaan penelitian. kredit. populasi.

BAB V Penutup. dalam hal ini akan diuraikan kesimpulan dari masalah-masalah yang dirumuskan dalam penelitian. -DAFTAR PUSTAKA -LAMPIRAN 21 . peneliti akan memberikan saran dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan. Setelah mengambil kesimpulan dari seluruh data yang diperoleh.

Hutang yang telah ada 22 . sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu. Hutang yang pelunasannya dijamin dengan fidusia dapat berupa: 1.1. fidusia sendiri mempunyai arti pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap berada dalam penguasaan pemilik benda.1 Pengertian Jaminan Fidusia Dalam suatu perjanjian hutang piutang pasti diikuti dengan pemberian suatu jaminan yang disebut jaminan fidusia. maka pelaksanaan eksekusinya akan lebih mudah dan pasti sehingga tidak akan ada pihakpihak yang dirugikSan. baik berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia.1 Tinjauan Umum Mengenai Jaminan Fidusia 11. yang dimaksud dengan Jaminan Fidusia adalah : ”Hak jaminan atas benda bergerak. akan memberikan jaminan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan sehingga apabila debitur wanprestasi. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya”.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Dengan adanya benda atau objek fidusia yang dijaminkan oleh debitur atau pemberi fidusia kepada kreditur atau penerima fidusia. Menurut Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Fidusia.

2. e.40 23 . Purwahid Patrik. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia. yaitu akan tetap mengikuti benda yang menjadi objek fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada kecuali pengalihan atas benda persediaan (inventory) yang menjadi objek jaminan fidusia. SH. Nilai penjaminan. Hutang yang pada saat eksekusi dapat ditentukan jumlahnya berdasarkan perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban memenuhi suatu prestasi. Jaminan Fidusia memuat : a. Pengalihan benda inventory dapat dilakukan jika debitor / pemberi fidusia tidak wanprestasi dan selanjutnya wajib diganti dengan objek yang setara. 4 Jaminan Fidusia mempunyai sifat droit de suit. hari yang telah 3. b. Hutang yang akan timbul dikemudian diperjanjikan dalam jumlah tertentu. Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia. Hukum Jaminan ( Semarang : Universitas Diponegoro. pembeli benda inventory bebas dari tuntutan meskipun mengetahui tentang adanya jaminan fidusia. Jaminan fidusia harus dibuat dengan Akta Notaris yang merupakan akta jaminan fidusia yang wajib didaftarkan ke Kantor Pendaftaran 4 Prof. Edisi Revisi dengan UUHT 2006) hal. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia. c. d. Uraian mengenai benda yang menjadi objek fidusia. SH dan Kashadi. asalkan telah membayar lunas harga penjualan yang sesuai dengan harga pasar.

Debitor adalah pihak yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-undang. Penerima fidusia yaitu orang perseorangan atau korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia. b. 11. Akta Jaminan Fidusia ini berfungsi sebagai alat bukti yang kuat bagi kreditur. Kreditor adalah pihak yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-undang.2 Subyek dan Obyek Jaminan Fidusia Subyek dari jaminan fidusia antara lain : a. yang disebutkan dapat dijadikan objek fidusia adalah benda apapun yang dapat dimiliki dan dialihkan hak kepemilikannya. kuasa.1. terdaftar atau 24 . atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia. Pemberi Fidusia yaitu orang perseorangan atau korporasi pemilik benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. untuk megeksekusi benda jaminan fidusia apabila debitur wanprestasi. Benda itu dapat berupa berwujud ataupun tidak berwujud. c.Fidusia (KPF). d. Sedangkan mengenai macam-macam objek dari jaminan fidusia dapat kita lihat dari Pasal 1 butir (2) dan (4) serta Pasal 3 Undang-undang Jaminan Fidusia. yang permohonan pendaftarannya dilakukan oleh penerima fidusia.

86 25 . g. Memeriksa benda fidusia. Menolak memberi izin penjualan barang fidusia. c. Kompensasi.Salim HS. b. Menjual dalm kepailitan debitur. Menerima bunga piutang fidusia. Mengembalikan sisa penerimaan. bergerak ataupun tidak bergerak dengan syarat bahwa benda tersebut tidak dibebani dengan hak tanggungan atau hipotek. 2005 ) hal. (PT. H. Memindahkan benda fidusia ke tempat lain c.tidak terdaftar. Menagih piutang fidusia Kewajiban-Kewajiban Kreditur Fidusia : a. Memberi perhitungan hasil penjualan dengan besarnya piutang. Memelihara benda fidusia. h. Hak-Hak Debitur Fidusia : a. b. Debitur atau pemberi fidusia adalah orang perseroan atau korporasi pemilik benda yang menjadi objek jaminan fidusia. d. Mengeksekusi benda fidusia. Hak-Hak Kreditur Fidusia : a. Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia. Memperhitungkan penerimaan bunga dan pembayaran piutang fidusia dengan piutangnya.Raja Grafindo Persada Jakarta. f. e. b. Memakai benda fidusia. d. 5 5 Memenuhkan kembali Hak Miliknya.

Musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia 26 . d. Memberi kuasa. Oleh karena pendaftaran fidusia dilaksanakan di tempat kedudukan pemberi fidusia dan notaris yang membuat akta jaminan fidusia harus Notaris Indonesia. Kewjiban-Kewajiban Debitur Fidusia : a. c. b.3 Hapusnya Jaminan Fidusia Jaminan Fidusia tersebut akan hapus karena hal-hal sebagai berikut : a..c.1. Menerima sisa hasil tagihan. Pelepasan hak atas Jaminan oleh Penerima Fidusia c. d. Memperoleh kembali piutangnya. Memelihara benda fidusia. Menerima kembali piutang fidusia yang tidak dibayar. e. Tidak menyerahkan benda fidusia kepada pihak ketiga. Hapusnya hutang yang dijamin dengan fidusia b. maka pemberi fidusia tidak dapat dilakukan oleh warga negara asing atau badan hukum asing kecuali penerima fidusia. f. Membayar ganti rugi. Menanggung biaya-biaya. Pemberi fidusia dapat dilakukan oleh debitor sendiri dan dapat juga dilakukan oleh pihak ketiga. 11. karena hanya berkedudukan sebagai kreditor penerima fidusia.

Jika 6 Rdiks Purba. II. 6 a. Jaminan Pokok Sebagai jaminan pokok terhadap transaksi pembiayaan konsumen adalah barang yang dibeli dengan dana tersebut. prinsip-prinsip pemberian kredit berlaku. jaminan pokok. halaman 27 . khususnya kredit konsumsi.Apabila jaminan fidusia hapus. 1995). Untuk itu. penerima fidusia memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia (KPF) dengan melampirkan pernyataan mengenai hapusnya jaminan fidusia. Jaminan yang digunakan dalam perusahaan pembiayaan Jaminan-jaminan yang diberikan dalam transaksi pembiayaan konsumen ini pada prinsipnya serupa dengan jaminan terhadap perjanjian kredit bank biasa. dan jaminan tambahan. b.1. Memahami Asuransi di Indonesia. Jaminan utama Sebagai suatu kredit. dan selanjutnya Kantor Pendaftaran Fidusia (KPF) mencoret pencatatan jaminan fidusia dari Buku Daftar Fidusia (BDF) seata menerbitkan surat keterangan yang menyatakan bukti pendaftaran fidusia yang bersangkutan sudah tidak berlaku lagi.4. (Jakarta: Teruna Grafika. maka jaminan pokoknya adalah kepercayaan dari kreditur kepada debitur (konsumen) bahwa pihak konsumen dapat dipercaya dan sanggup membayar hutanghutangnya. dapat dibagi ke dalam jaminan utama. Jadi di sini.

beberapa sarjana memberikan pendapatnya masing-masing.dana tersebut diberikan misalnya. sehingga tidak ada kesatuan pendapat mengenai eksekusi. Biasanya jaminan tersebut dibuat dalam bentuk Funduciary Transfer of Ownership (Fidusia).2 Tinjauan Umum Mengenai Eksekusi II. II.1 Eksekusi Mengenai definisi eksekusi ini. Hal melaksanakan putusan eksekusi ini telah diatur dalam Pasal 195 sampai dengan Pasal 205 HIR.2. c. untuk mmbeli kendaraan. Di samping itu. maka kendaraan yang bersangkutan menjadi jaminan pokoknya. Karena adanya fidusia ini maka biasanya seluruh dokumen yang berkenaan dengan kepemilikan barang yang bersangkutan akan dipegang oleh kreditur (pemberi dana) hingga kredit lunas. sering juga dimintakan persetujuan istri/ suami untuk konsumen pribadi dan persetujuan komisaris/ RUPS untuk konsumen perusahaan. Bermula pada Pasal 195 HIR yang mengatakan bahwa : Pelaksanaan pengadilan dari putusan-putusan perkara yang dalam tingkat I diperiksa oleh Pengadilan Negeri. Jaminan Tambahan Sering juga dimintakan jaminan tambahan terhadap transaksi pembiayaan konsumen ini. sesuai ketentuan Anggaran Dasarnya. dijalankan atas 28 .

halaman 214. eksekusi pada hakekatnya tidak lain adalah realisasi daripada keajiban pihak yang bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut. Subekti menyatakan bahwa perkataan eksekusi atau pelaksanaan sudah mengandung arti bahwa pihak yang dikalahkan tidak mau menaati putusan secara sukarela. halaman 201. 1988). artinya mengandung suatu penghukuman. Putusan pengadilan yang dapat Abdulkadir Muhammad.perintah dan pimpinan dari Ketua Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara itu dalam tingkat I dengan cara-cara seperti tersebut di bawah ini. hokum Acara Perdata Indonesian. Bandung. 1992). 9 Yang dimaksud dengan pihak yang bersangkutan di atas adalah pihak yang dikalahkan. menurut Sudikno Mertokusumo. memenuhi melaksanakan kewajiban 7 untuk berprestasi yang dibebankan oleh hakim lewat putusannya. (Bina Cipta. 1989). 8 Subekti. 9 Sudikno Mertokusumo. Menurut putusan/eksekusi Abdulkadir berarti bersedia Muhammad. sedangkan yang dimaksud dengan putusan adalah 7 putusan pengadilan. (liberty. Sejalan 8 dengan pengertian di atas. Bandung. halaman 130. Hukum Acara perdata. Hukum Acara Perdata Indonesia. sehingga putusan itu harus dipaksakan kepadanya dengan bantuan “kekuatan umum” (polisi) dan putusan pengadilan yang perlu dieksekusi/ dilaksanakan itu hanyalah putusan-putusan yang amar atau diktumnya adalah condemnatoir saja. (PT citra Aditya Bakti. 29 . Mengenai rumusan eksekusi. Yogyakarta.

maka pihak tereksekusi tidak memerlukan sarana pemaksa untuk melaksanakannya.dilaksanakan dalam arti kata yang sebenarnya yaitu secara paksa oleh pengadilan hanyalah putusan yang bersifat condemnatoir saja. 10 Eksekusi menurut Abdul Kadir Muhammad. hanya saja dia menambahkan bahwa sukarela atau tidak sukarela dari jenis putusan tersebut. Subekti dan Sudikno Mertokusumo ini mempunyai persamaan bahwa eksekusi adalah merealisasikan atau melaksanakan suatu kewajiban yang diputuskan oleh pengadilan. begitu juga dengan pendapat Sudikno Mertokusumo. Ibid. tergantung kesediaan dari pihak yang dikalahkan. harus denganbantuan sarana (kekuatan umum dalam hal ini polisi) karena importir sebagai pihak yang dikalahkan tidak mau secara sukarela menjalankan putusan eksekusi tersebut. Keadaan yang dinyatakan sah oleh putusan declaratoir mulai berlaku saat itu juga atau pada putusan keadaan baru tercipta pada detik itu pula. Jika putusan tersebut bersifat declaratoir. Abdulkadir memandang bahwa pelaksanaan putusan eksekusi berarti bersedia dengan sukarela bagi importir yang melanggar untuk melaksanakan putusan eksekusi. namun apabila putusan tersebut 10 Sudikno Mertokusumo. halaman 200. perbedaan dari ketiga pendapat tersebut terletak pada pelaksanaan kewajiban. 30 . Putusan declaratoir an konstitutif karena tidak tidak perlu sarana pada pemaksa bantuan untuk atau melaksanakannya.

(disampaikan dalam rangka Dies Natalis F. Pendapatpendapat yang tersebut di atas adalah eksekusi menurut pandangan lama. sedangkan pendapat dari Moch. 9. Dja’is mendasar pengertian eksekusi pada perkembangan zaman. Pendapat mengenai eksekusi secara lebih luas datang dari Moch. dimana eksekusi berkembang pesat tidak hanya dalam lingkup Hukum Acara Perdata saja. yaitu dari putusan hakim atau putusan pengadilan saja. Pendapat dari Moch. Dja’is ini berbeda dengan pendapat dua sarjana di atas. Dja’is menurutnya eksekusi merupakan upaya paksa untuk merealisasi hak kreditor atau pihak yang berpiutang. Semarng 22 Januari 2000). 31 . sehingga marteri eksekusi dapat dibahas secara lebih luas dan mendalam. maka diperlukan sarana pemaksa untuk melakanakannya karena mengandung suatu penghukuman.bersifat condemnatoir. Berdasarkan uraian tersebut. UNDIP ke-43. karena debitor atau penanggung hutang tidak mau melaksanakan kewajibannya secara sukarela.H. Orasi Ilmiah Hukum Eksekusi sebagai Wacana baru di Bidang Hukum. melainkan harus dibicarakan tersendiri sebagai cabang ilmu hukum. Hal. maka dapat diambil kesimpulan bahwa keseluruhan pendapat di atas menganggap pengertian eksekusi sama dengan pelaksanaan putusan hakim atau pengadilan. 11 11 Mochammad Djais. karena dua sarjana tersebut hanya melihat eksekusi dari lingkup Hukum Acara Perdata. yaitu hukum eksekusi.

dimana seseorang dihukum membayar sejumlah uang. dimana seseorang dihukum untuk melaksanakan suatu perbuatan. 4) Eksekusi 13 langsung atau parate eksekusi. Sudikno Mertokusumo. Hukum Acara Perdata. ada tiga macam eksekusi yang dikenal dalam hukum acara perdata. 2) Eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 225 HIR. 1982) hal 130. Hukum Acara Perdata Indonesia. Lain dengan pendapat kedua sarjana di atas Moch Dja’is membagi jenis eksekusi menjadi: 12 13 R. 1988) hal 201 32 . dan Iskandar Oeripkartawinata. (Pasal 1155 KUHPerdata). yaitu: 1) Eksekusi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 196 HIR. (Bina Cipta: Bandung. (Liberty: Yogyakarta.II.2. eksekusi dapat dibedakan menjadi 4 (empat) jenis yaitu: 1) 2) 3) Eksekusi membayar sejumlah uang (Pasal 296 HIR) Eksekusi melakukan suatu perbuatan (Pasal 225HIR) Eksekusi Riil (tidak diatur dalam HIR tetapi dalam Pasal 1033 Rv. yaitu pelaksanaan putusan hukum yang memerintahkan pengosongan benda tetap). Subekti.2 Jenis-Jenis Eksekusi Menurut Retnowati Sutantio. 3) Eksekusi Riil yang dalam praktek banyak dilaksanakan tapi tidak diatur dalam HIR. 12 Menurut Sudikno Mertokusumo.

Eksekusi menurut prosedur yang dibagi menjadi dua yaitu: 1) Eksekusi realisasi tidak langsung Eksekusi tidak langsung adalah tindakan paksanaan terhadap tergugat/ debitor/ penanggung utang yang tidak segera memenuhi kewajibannya. B.A. Paksa badan terhadap debitor penunggak piutang negara Pencegahan berpergian keluar negeri. 6) 7) 8) Eksekusi terhadap izin Eksekusi terhadap barang bukti narkotika dan psikotropika Eksekusi terhadap isi perjanjian. dengan kata lain bukan suatu paksanaan yang ditujukan langsung untuk merealisasi hak penggugat/ kreditor. b. Eksekusi Menurut Objeknya yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Eksekusi putusan hakim atau eksekusi putusan pengadilan Eksekusi gross surat utang notariil Eksekusi benda jaminan Eksekusi piutang negara Eksekusi putusan lembaga yang berwenang menyelesaikan sengketa. Yang dapat berupa: a. Sanksi/ membayar uang paksa. c. Tindakan tersebut merupakan paksanaan tidak langsung. baik karena perjanjian maupun putusan pengadilan. 33 .

Eksekusi riil terhadap akta perdamaian. “Ancaman” memproses pidana. Surat pemberitahuan barang dipabeanan yang menyatakan sebagai barang yang tidak dikuasai. Penguncian. g. 4. Eksekusi riil terhadap putusan hakim pidana.d. pengegelan dan atau pelekatan tanda pengaman yang diperlukan terhadap benda import yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya. 2. h. 2) Eksekusi realisasi langsung Eksekusi realisasi langsung merupakan tindakan paksanaan langsung yang bertujuan untuk merealisasikan hak penggugat/ kreditor dilaksanakan terhadap tergugat/ debitor yang tidak memenuhi kewajibannya. Pemberhentian/ pencabutan langganan. Yang terdiri dari: a) b) Eksekusi membayar sejumlah uang Eksekusi riil yang terdiri dari: 1. 34 . Pencegahan barang dan/ atau sarana pengangkut untuk pemenuhan kewajiban kepabeanan. f. 3. Eksekusi riil terhadap objek lelang. Eksekusi riil terhadap sanksi adat. Eksekusi riil terhadap bangunan yang tidak memiliki ijin IMB. e. 5.

j) Eksekusi otomatis terhadap putusan PTUN (Pasal 97 (9)) dan barang pada pabean yang dikuasai negara. Eksekusi dengan pertolongan hakim. Terhadap benda jaminan pemohonan banding pada dirjen bea cukai. Eksekusi riil terhadap barang bukti narkotika dan psikotropika. Terhadap sesuatu yang mengganggu hak Pasal 666 KUHPerdata. 35 . Eksekusi parat. Eksekusi berdasarkan ijin hakim Eksekusi oleh diri sendiri: 1. 8. Eksekusi terhadap piutang yang dijadikan jaminan. 7. fidusia dan hak tanggungan. 2. Eksekusi riil terhadap barang di pabean. g) h) i) Penjualan di pasar atau di bursa. Gadai pada Perum Penggadaian. Eksekusi riil terhadap isi perjanjian. hipotek. 3. dilakukan terhadap objek gadai. k) Eksekusi hierarkis pada Putusan PTUN (Pasal 97 (9) butir a dan b).6. 4. c) d) e) Eksekusi dengan pertolongan hakim. f) Eksekusi penjualan di bawah tangan atas objek jaminan pemegang gadai. fidusia dan dan hak tanggungan.

Yang dimaksud dengan titel eksekutorial adalah tulisan yang mengandung pelaksanaan putusan pengadilan yang memberikan dasar untuk meninyita dan lelang sita tanpa perantara hakim.2. Pengaturan mengenai eksekusi jaminan fidusia telah diatur oleh Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang seperti tercantum dalam Pasal 29 yang menyatakan bahwa apabila debitor atau pemberi fidusia cidera. eksekusi parat (Pasal 29 ayat (2)).l) Eksekusi pencabutan izin.3. Pelaksanaan title eksekutorial oleh penerima fidusa sebagaimana diatur Dalam Pasal 15 ayat (2) Undang-undang tentang Jaminan Fidusia. II. Eksekusi Jaminan Fidusia Eksekusi Jaminan Fidusia jika dilihat menurut objeknya maka termasuk dalam jenis eksekusi benda jaminan dan jika dilihat menurut prosedurnya maka eksekusi jaminan fidusia adalah merupakan jenis eksekusi realisasi (eksekusi parat). yaitu termasuk dalam eksekusi dengan pertolongan hakim (Pasal 29 ayat (1)). 36 . eksekusi penjualan di bawah tangan (Pasal 29 ayat (3)) dan eksekusi penjualan dipasar atau di bursa dalam hal objek jaminan fidusa adalah barang perdagangan atau efek yang dapat diperdagangkan (Pasal 31 Undang-undang Jaminan Fidusia). eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan cara: a.

Yang pelaksanaannya dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan atau penerima Fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan. Namun jika harga melalui pelelangan umum diperkiakan tidak akan menghasilkan harga tertinggi yang menguntungkan baik pemberi fidusia maupun penerima fidusia. karena dengan cara ini diharapkan dapat memperoleh harga yang paling tinggi. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuatan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan. maka dimungkinkan penjualan di bawah tangan asalkan hal tersebut telah disepakati oleh pemberi fidusia dan penerima fidusia dan syarat jangka waktu pelaksanaan penjualan tersebut. Apabila pemberi fidusia tidak menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan Fidusia pada waktu eksekusi dilaksanakan. Pada prinsipnya adalah bahwa penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia harus melalui pelelangan umum. c.b. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberti dan penerima fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. 37 .

yaitu: a. maka penerima fidusia wajib mengembalikan kelebihan tersebut kepada pemberi fidusia. Dalam pelaksanaan eksekusi objek jaminan fidusia ini ada 2 janji yang dilarang yaitu: a. 38 . Khusus dalam hal benda yang menjadi objek jaminan fidusia terdiri atas perdagangan atau efek yang apat dijual di pasar/ bursa. Penerima Fidusia berhak mengambil benda yang menjadi objek jaminan fidusia dan apabila perlu dapat meminta bantuan pihak yang berwenang. Ada dua kemungkinan dari hasil pelelangan atau penjualan barang jaminan fidusia. maka debitor atau pemberi fidusia tetap bertanggung jawab atas utang yang belum dibayar. Sedangkan bagi efek yang terdaftar di bursa di Indonesia. maka peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal akan otomatis berlaku. b. Janji melaksanakan eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia dengan cara yang bertentangan dengan Pasal 29 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999. Hasil eksekusi melebihi nilai penjaminan. Hasil eksekusi tidak mencukupi untuk pelunasan hutang.maka sesuai dengan Pasal 30 Undang-undang Jaminan Fidusia. penjualannya dapat dilakukan di tempat-tempat yang telah ditentukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 31 Undang-undang Jaminan Fidusia).

Sebagai dasar dari setiap perikatan (verbintenis). Op cit.3. Janji yang memberikan kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda yang menjadi objek fidusia apabila debitor cidera janji. 14 H.3 Perjanjian Kredit II. Kedua macam bahwa perjanjian tersebut adalah batal demi hukum artinya bahwa dari semula perjanjian itu dianggap tidak ada. 39 . Sebagai jaminan.1 Pengertian Kredit Di dalam banyak literatur terdapat beberapa pengertian mengenai kredit.M. Savelberg menekankan pengertian kredit sebagai suatu perjanjian yang melahirkan perikatan dan adanya kewajiban untuk menyerahkan jaminan atas hutang.S. antara lain sebagai berikut: 1) H.A Savelberg menyatakan bahwa kredit mempunyai arti: a. 14 II. Salim H. yang dalam hal ini seseorang berhak menuntut sesuatu dari yang lain. yang dalam hal ini seseorang menyerahkan sesuatu pada orang lain dengan tujuan untuk memperoleh kembali apa yang diserahkan itu. hal 91.b. b.

” 15 4) M. 12. Kredit Seluk Beluk dan Teknik Pengelolaan. Selain pengertian-pengertian tersebut di atas. Penerima kredit berhak mempergunakan pinjaman itu untuk keuntungannya dengan kewajiban mengembalikan jumlah pinjaman itu dibelakang hari.2) Mr. (Jakarta. 40 . berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Yagrat. Levy merumuskan arti hukum dari kredit sebagai berikut: “Menyerahkan secara suka rela sejumlah uang untuk dipergunakan secara bebas oleh penerima kredit. JA.” 3) Muchdasaryah Sinungan memberikan pengertian kredit sebagai berikut: “Kredit adalah suatu pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lainnya dan prestasi oleh suatu masa tertentu yang akan datang suatu kontra prestasi berupa bunga. hal. 15 Muchdasaryah Sinungan. Jakile mengemukakan bahwa: “Kredit adalah suatu ukuran kemampuan dari seorang untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai ekonomis sebagai ganti rugi dari janjinya untuk membayar kembali hutangnya pada tanggal tersebut’. dalam Pasal 1 angka (1) butir 11 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 tentang Perbankan mengatur bahwa: “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. 1980).

41 . melainkan bahwa pihak kesatu “memberikan” suatu 16 Marhainis Abdul Hay. Dasarnya adalah karena Pasal 1754 tidak menyebutkan memberikan” bahwa pihak kesatu “mengingat suatu jumlah tertentu diri untuk yang barang-barang menghabis. halaman 147. (Jakarta.3. mempunyai pengertian yang identik dengan perjanjian kredit Hukum Perdata bank”. Pradnya Paramita. Marnainis Abdul Hay menyebutkan bahwa: “Ketentuan Pasal 1754 Kitab Undang-undang Hukum Perdata tentang perjanjian pinjam-meminjam.2 Perjanjian Kredit Dari berbagai jenis perjanjian yang diatur dalam Bab V sampai dengan Bab XVIII Buku III Kitab Undang-undang Hukum perdata tidak terdapat ketentuan tentang perjanjian kredit bank. 1979). Wirdjono Prodikoro Menafsirkan ketentuan Pasal 1754 Kitab Undang-undang Hukum Perdata riil. Pengertian perjanjian kredit dapat dilihat dari beberapa pendapat sarjana seperti di bawah ini: a. 16 Pasal 1754 Kitab Undang-undang bahwa: “Perjanjian Pinjam- menentukan meminjam ialah suatu persetujuan dengan mana pihak yang lain suatu jumlah tertentu barag-barang yang menghabiskan karena pemakaian. dengan syarat bawha pihak yang belakang ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.II.” b. Hukum Perbankan di Indonesia.

Perjanjian ini bersifat konsensual obligator. Mariam darus Badrul Zaman. dalam semua itu pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam meminjam sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1754 sampai dengan 1769”. Selain itu. Perjanjian pendahuluan ini adalah hasil pemufakatan antara pemberi dan penerima pinjaman mengenai hubungan-hubungan hukum antara keduanya.3. Op cit. Subekti mengatakan: “dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan. yang dikuasai oleh Undangundang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan Bagian Umum Kitab Undang-undang Hukum Perdata.3 Dasar Hukum Pemberian Kredit Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak terdapat ketentuan yang mengatur perjanjian kredit. 1983). yang ada hanyalah mengenai perjanjian pinjam-meminjam yang diatur dalam Bab XIII Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang lebih mendekati pengertian perjanjian kredit. 28. beliau juga mengatakan: “Pinjam meminjam adalah 17 18 Wirdjono Projodikoro. Mariam Darus Badrulzaman Perjanjian kredit bank adalah perjanjian pendahuluan dari penyerahan uang. hal. (Bandung: Alumni. hal 137. 42 . Perjanjian Kredit Bank. c.jumlah tertentu 17 barang-barang yang menghabiskan karena pemakaian. 18 II.

persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabiskan karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari ancaman dan keadaan yang sama pula.”
19

Sedangkan dari pengertian kredit menurut Undang-undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undangundang Nomor 7 tahun 1992 dapatlah disimpulkan bahwa kredit dapat berupa uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang. Contoh berbentuk tagihan (kredit barang), misalnya bank membiayai kredit untuk pembelian rumah atau mobil. Kredit ini berarti nasabah tidak memperoleh uang tetapi rumah, karena banyk membayar langsung ke developer dan nasabah hanya membayar cicilan rumah tersebut setiap bulan. Adanya kesepakatan antara bank (kreditur) dengan nasabah penerima kredit (debitur), bahwa mereka sepakat sesuai dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Dalam perjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama.
20

19 20

R. Subekti, Op Cit, hal. 3 Drs. H. Malayu S.P Hasibuan, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta, PT. Bumi Aksaran, 2004), halaman 102-103.

43

II.3.4 Prestasi dan Wanprestasi Sebagaimana telah diuraikan diatas perjanjian kredit

merupakan suatu peristiwa dimana kedua belah pihak berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Sesuatu hal yang dilaksanakan inilah yang disebut prestasi. Berdasarkan jenis hal yang diperjanjikan untuk dilaksanakan seperti yang diatur dalam pasal 1235 sampai dengan pasal 1242 KUHPerdata, perjanjian-perjanjian itu diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu : a. Perjanjian untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu,

contohnya : jual beli, pinjam pakai, tukar menukar, dan lain-lain. b. Perjanjian untuk berbuat sesuatu, contohnya : perjanjian

perburuhan, perjanjian pembuatan rumah, dan lain-lain. c. Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu, contohnya : perjanjian untuk tidak membuat perusahaan yang sejenis dengan orang lain, perjanjian untuk tidak membuat pagar pembatas di sebuah pekarangan yang berdekatan dengan rumah orang lain, dan lainlain. Dalam suatu perjanjian apabila debitur tidak melaksanakan apa yang dijanjikan, maka dapat dikatakan telah melakukan wanprestasi. Dapat pula dikemukakan bahwa ia lalai atau alpa atau ingkar janji atau bahkan melanggar perjanjian dengan melakukan sesuatu hal yang tidak boleh dilakukan. Kata ”Wanprestasi” berasal dari bahasa belanda, yaitu

44

Wandaad yang berarti prestasi buruk. Menurut R. Subekti, Wanprestasi (kealpaan atau kelalaian) seseorang debitur dapat berupa empat macam, yaitu : 1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan. 2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan. 3. Melakukan apa yang dijanjikan tapi terlambat 4. Melakukan sesuatu
21

yang

menurut

perjanjian

tidak

boleh

dilakukannya.

Seorang debitur yang melakukan wanprestasi sebagai pihak yang wajib melaksanakan seseatu mengakibatkan ia dapat dikenai sanksi atau hukuman berupa : a. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau ganti rugi (Pasal 1234 KUHPerdata). b. Pembatalan perjanjian melelui hakim (Pasal 1266 KUHPerdata). c. Peralihan resiko kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (Pasal 1237 ayat (2) KUHPerdata). d. Membayar biaya perkara, apabila sampai diperkarakan dimuka hakim (Pasal 181 ayat (1) HIR). Mengingat akibat-akibat yang timbul dari wanprestasi itu begitu penting, maka harus ditetapkan terlebih dahulu apakah si debitur benarbenar melakukan wanprestasi. Dan apabila hal tersebut disangkal

21

R. Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta : PT. Intermasa, 1963, hal 45

45

Kedua jenis Lembaga Keuangan ini mempunyai peran sebagai perantara keuangan masyarakat (financial intermediary). Dari rumusan Pasal 1238 KUHPerdata tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa sebelum surat perintah resmi tertulis itu diberikan oleh jurusita pengadilan kepada si berutang (debitur) yang lalai. atau demi perikatannya sendiri menetapkan bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”. namun dalam 46 .olehnya.1 Pengertian lembaga pembiayaan Pada dasarnya Lembaga keuangan terdiri dari 2 (dua) jenis. pada umumnya terlebih dahulu diberikan peringatan atau teguran secara lisan dan tegas dari si berpiutang agar prestasi dilakukan dengan seketika atau dalam waktu singkat. bila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai. Mengenai cara untuk memperingatkan seorang debitur yang lalai atau tidak memenuhi kewjiban sesuai yang diperjanjikan diatur dalam Pasal 1238 KUHPerdata yang menyebutkan : ”Si berutang adalah lalai. yaitu Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank.4. II.4 Lembaga Pembiayaan I1. maka harus dibuktikan di muka hakim. Pada prakteknya memang tidak mudah menyatakan bahwa sesorang itu lalai atau alpa atau melakukan wanprestasi.

Karena itu pemerintah mengeluarkan peraturan melalui Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan. Kegiatan Lembaga Pembiayaan yang pernah melakukan beberapa bentuk pembiayaan ini diharapkan dapat memberikan pilihan atau alternatif yang lebih luas kepada dunia perekonomian. 22 R. Lembaga Pembiayaan. Pasar Modal. Di samping itu keberadaan Perusahaan Pembiayaan diharapakan dapat saling mengisi dan melengkapi kegiatan sektor keuangan sehingga pada akhirnya mampu mendukung dan memberi kontribusi terhadap kehidupan dunia perekonomian. 267 47 .perkembanganya kemudian mencul jenis Lembaga Keuangan baru yang disebut dengan Lembaga Pembiayaan.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. yang kemudian ditindak lanjuti oleh Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 1251/KMK. sementara kebutuhan akan sumber dana pembiayaan sulit didapat dari pihak Perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank karena kedua lembaga tersebut sifatnya masih terbatas.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan yang telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 448/KMK. 1992) hal. Hukum Dagang (Tentang Prinsip dan Fungsi Asuransi dalam Lembaga Keuangan. Modal Ventura dan Asuransi Haji). 22 Munculnya Lembaga Pembiayaan ini dilatar belakangi oleh situasi perekonomian dimana persaingan semakin kompetitif. Ali Ridlo. SH. (Bandung: Alumni.

sertifikat deposito atau menerbitkan promes.Pengertian Lembaga Pembiayaan menurut Pasal 1 butir 2 Keppres RI No. 48 . Lembaga Pembiayaan tidak menarik dana sevara langsung dari masyarakat. dapat melakukan kegiatan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal.61 Tahun 1998 tentang Lembaga Pembiayaan. Kedua. deposito berjangka. seperti yang lazim dilakukan oleh Lembaga Perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (menarik dana dalam bentuk giro. Selanjutnya dalam peraturan tersebut di atas ditegaskan secara terperinci mengenai kegiatan usaha dari Lembaga Pembaiyaan. tabungan. yaitu : ”Badan Usaha yang melakukan kegiatan pembiyaan dalam bentuk penyediaan dan atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat” Dari sini dapat diketahui bahwa ada 2 (dua) ciri yang menonjol dari Lembaga Pembiayaan. dalam melakukan kegiatan di bidang pembiayaan tersebut. Pertama. yang diuraikan sebagai berikut : 1) Sewa Guna Usaha (Leasing) Merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara finance lease maupun Operatie Lease untuk digunakan oleh Penyewa Guna Usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.

Kegiatan Lembaga Pembiayaan tersebut diatas dapat dilakukan oleh badan usaha seperti : 49 . 3) Perdagangan Surat Berharga (securities company) Merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk perdagangan surat-surat berharga. 5) Usaha Kartu Kredit (Credit Card) Merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pembelian barang dan jasa menggunakan kartu kredit. 4) Anjak Piutang (factoring) Adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengirisan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri.2) Modal Ventura (ventura capital) Adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan ( Investee Company) untuk jangka waktu tertentu. 6) Pembiayaan Konsumen ( Consumer Finance) Adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen.

Tentang Lembaga Pembiayaan 50 . dan pembiayaan konsumen (consumer finance) I1.” Akan tetapi berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 448/KMK. anjak piutang (factoring). 23 23 Periksa Pasal 3 Keppres No. lembaga pembiayaan yang dapat dijanlankan oleh suatu perusahaan pembiayaan hanyalah sewa guna usaha (leasing).1) Bank 2) Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) 3) Perusahaan Pembiayaan Pengertian Perusahaan Pembiayaan menurut Keppres No. usaha kartu kredit (credit card). ditentukan bahwa untuk Perusahaan Pembiyaan tersebut berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi. Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Perusahaan Pembiayaan.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan.4. 61 Tahun 1988 Pasal 1 ayat (5) adalah : ”Badan Usaha diluar Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha Lembaga Pembiayaan. Bentuk Hukum Lembaga Pembiayaan Mengenai bentuk hukum badan usaha yang diberi wewenang berusaha di bidang lembaga pembiayaan yang meliputi Bank.2 Bentuk Hukum dan Fungsi Lembaga Pembiayaan a). 61 Tahun 1988.

Pemilikan saham oleh Badan Usaha Asing sebesar-besarnya adalah 85% dari modal setor. yang berskala kecil dan menengah. dan pembiayaan konsumen (consumer finance). Lembaga Pembiayaan dan Peranannya dalam Menunjang Kegiatan Usaha. Badan Usaha Asing dan Warga Negara Indonesia sebagai Usaha Patungan. perdagangan surat berharga (securities company). 43. Sehingga dapat disesuaikan dengan 24 Karnedi Djairan. Melengkapi jasa-jasa keuangan yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kebutuhan pembiayaan 24 dunia usaha yang terus meningkat dan semakin bervariasi. anjak piutang (factoring). Mengatasi kebutuhan pembiayaan guna membiayai kegiatan usaha jangka menengah/panjang. usaha kartu kredit (credit card). 3. 3. 2. modal ventura (ventura capital ). Pengembangan Perbankan November-Desember 1993. 51 . hal. Memberikan pola mekanisme pembiayaan yang bervariasi di antara bidang usaha dari lembaga pembiayaan tersebut yang meliputi : sewa guna usaha (leasing). 2. Fungsi Lembaga Pembiayaan Selanjutnya mengenai fungsi dari Lembaga Pembiayaan adalah sebagai berikut : 1.Perusahaan Pembiayaan yang berbentuk Perseroan Terbatas tersebut dapat dimiliki oleh : 1. Warga Negara Indonesia atau Badan Usaha Indonesia. b).

keringanan di bidang perpajakan. Pengembangan Perbankan November –Desember 1993. a.jenis kebutuhan pembiayaan masing-masing anggota masyarakat yang memerlukannya. Dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 1251/KMK. 1 52 . 4. karena keuntungan yang diperoleh bukan objek pajak penghasilan. I1. dalam hal ini secar khusus kepada jasa pembiayaan dari luar sektor perbankan. Pengertian Pembiayaan Konsumen.3 Pengertian dan Dasar Hukum Perjanjian Pembiayaan Konsumen. hal. mengingat persaingan di pasar global memang harus direbut dan untuk mewujudkan hal itu diperlukan dukungan dari sektor keuangan.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan cq. seperti persyaratan penyediaan agunan (collateral) yang lebih longgar. Lembaga Pembiayaan di Indonesia. 5.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan menegaskan mengenai definisi Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) yaitu: ”Perusahaan Pembiayaan Konsumen (Consumer Finanace Company) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk 25 Deddi Anggadiredja.4. Mengisi 25 celah segmen yang belum digarap oleh industri perbankan. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 448/ KMK. Memberikan beberapa keringanan.

biasanya dilakukan pembayaran setiap bulan dan ditagih langsung kepada konsumen. Jangka waktu pengembalian bersifat fleksibel.pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen. Dasar Hukum Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dari hukum dari perjanjian pembiayaan konsumen dapat dibedakan menjadi dua. Pembiayaan konsumen adalah merupakan salah satu alternatif pembiayaan yang dapat diberikan kepada konsumen. barang-barang elektronik. yaitu : 1). biasanya kendaraan bermotor. Sistem pembayaran angsuran dilakukan secara berkala. 3. tidak terikat dengan ketentuan seperti financial lease (sewa guna usaha dengan hak opsi) b. Dasar Hukum Subtantif Yang merupakan dasar hukum subtantif eksistensi pembiayaan konsumen adalah perjanjian diantara para pihak berdasarkan azaz kebebasan berkontrak. dan lain-lain. maka dijelaskan mengenai hal-hal yang menjadi dasar dari kegiatan pembiayaan konsumen. 2. Objek pembiayaan dari usaha jasa konsumen adalah barang kebutuhan konsumen.” Dari definisi pembiayaan konsumen sebagaimana tersebut diatas. kendaraan roda empat. yaitu : 1. yakni perjanjian antara pihak perusahaan 53 . 4.

Adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3. yaitu: 1. Pasal ini mengandung arti bahwa para pihak boleh membuat berbagai persetujuan/ perjanjian baik yang sudah diatur dalam undangundang. 54 . maupun yang tidak diatur dalam undang-undang. perjanjian. Jadi meskipun perjanjian pembiayaan konsumen itu belum diatur secara khusus di dalam KUHPerdata. artinya memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata.finansial sebagai kreditur dan pihak konsumen sebagai debitur. Suatu hal tertentu 4. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya 2. Suatu sebab yang halal Dengan demikian maka jika para pihak membuat perjanjian pembiayaan konsumen yang telah memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian. Mengenai azaz kebebasan berkontrak diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang menyatakan bahwa suatu perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya. maka menurut hukum yang berlaku di Indonesia. Selama apa yang disepakati itu sah. para pihak boleh/ diberi kebebasan untuk mengatur sendiri. perjanjian pembiayaan konsumen itu mempunyai kekuatan mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

ada beberapa dasar hukum di dalam hukum Indonesia yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum administratif bagi keberadaan perusahaan pembiayaan konsumen.2). Dasar Hukum Admisnitratif Di samping dasar hukum yang bersifat subtantif. yang diperbaharuhi dengan: Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 448/KMK.4. Pihak perusahaan pembiayaan (kreditur) b.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. yaitu: 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan. Pihak konsumen (debitur) c. adalah: a. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 1251/KMK. Pihak supplier (penjual) 55 .4 Kedudukan Para Pihak Dalam Transaksi Pembiayaan Konsumen Para pihak yang terkait dalam suatu transaksi pembiayaan konsumen.013/1988 Pelaksanaan Tentang Ketentuan dan Tata Cara Lembaga Pembiayaan. 2. I1.

56 . 161. hal. sedangkan pihak konsumen sebagai penerima biaya berkewajiban utama membayar kembali uang tersebut secara cicilan/ angsuran kepada 26 Ibid. Hubungan pihak kreditur dengan konsumen Hubungan antara pihak kreditur (perusahaan pemberi biaya) dengan konsumen (debitur sebagai pihak yang menerima biaya) adalah hubungan yang bersifat kontraktual yang artinya didasarkan pada kontrak yang dalam hal ini adalah kontrak pembiayaan konsumen. Pihak perusahaan pemberi biaya berkewajiban utama untuk memberi sejumlah uang untuk pembelian sesuatu barang konsumsi. 26 Tabel 1 Hubungan para pihak dalam pembiayaan konsumen Perusahaan Konsumen (Kreditur) Perjanjian pembiayaan konsumen Konsumen (debitur) Harga barang Supplier Perjanjian jual beli Penyerahan barang Berdasarkan tabel tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : a.Untuk mengetahui mengenai hubungan para pihak dalam suatu transaksi pembiayaan konsumen dapat dilihat pada tabel sebagaimana tersebut di bawah ini.

Oleh karena itu apabila pihak penyedia dana wanprestasi dalam menyediakan dananya. c. Hubungan pihak konsumen dengan supplier Antara pihak konsumen dengan supplier terdapat hubungan jual beli (bersyarat) dimana pihak supplier selaku penjual menjual barang kepada konsumen selaku pembeli dengan syarat bahwa akan dibayar oleh pihak ketiga yaitu pemberi biaya. kecuali pihak penyedia dana hanya ketiga yang disyaratkan untuk menyediakan dana untuk digunakan dalam perjanjian jual beli antara pihak supplier dengan konsumen. Hubungan penyedia dana (pemberi biaya) dengan supplier Antara pihak penyedia dana (pemberi biaya) dengan supplier tidak ada hubungan hukum yang khusus. sementara kontak jual beli maupun kontrak . b.pihak pemberi biaya. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa setelah seluruh kontrak ditandangani dan dana sudah dicairkan serta barang sudah diserahkan oleh supplier kepada konsumen. Syarat tesebut memiliki arti bahwa apabila karena alasan apapun pihak pemberi biaya tidak dapat menyediakan dananya maka jual beli antara supplier dengan konsumen sebagai pembeli akan batal. maka barang yang bersangkutan sudah langsung menjadi miliknya konsumen walaupun kemudian biasanya barang terebut dijadikan jaminan hutang melalui perjanjian fiducia. Jadi hubungan kontraktual antara penyedia dana dengan pihak konsumen aalah sejenis perjanjian kredit yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu keruguan.” Berdasarkan Pasal 246 KUHD tersebut dapat disimpulkan bahwa premi merupakan suatu kewajiban pokok dari tertanggung kepada penanggung yang harus dipenuhi karena tanpa premi maka perjanjian asuransi tidak akan berjalan dan dapat dibatalkan. atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu. I1.5 Perusahaan Asuransi a. kerusakan. yaitu: “Penanggungan adalah suatu perjanjian. dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung. perlu ada pihak lain yang ikut menanggung dalam hal terjadinya peristia yang tidak diinginkan seperti terjadinya pencurian atas objek perjanjiannya.4.pembiayaan konsumen telah selesai dilakukan maka jual beli bersyarat antara supplier dengan konsumen akan batal sehingga konsumen dapat menggugat pihak pemberi dana atas wanprestasinya tersebut. akibatnya maka muncullah pihak perusahaan asuransi sebagai penanggung dalam perjanjian pembiayaan konsumen. Sebagai konsekuensi dari prinsip jaminan adalah pengalihan hak (subrogasi) dari tertanggung kepada penanggung telah membayar . dengan menerima suatu premi. Pasal 246 KUHD memberikan pengertian tentang asuransi. Pengertian Perusahaan Asuransi Dalam perjanjian pembiayaan konsumen ini.

ganti rugi kepada penanggung. dapat berupa kehilangan sebagian (partial loss) atas kepentingand an juga dapat berupa kehilangan seluruhnya (total loss). Pasal dalam KUHD yang mengatur tentang subrogasi hanya satu yaitu Pasal 284 KUHD yang menyatakan: “Seorang penanggung yang telah membayar kerugian sesuatu barang yang dipertanggungkan menggantikan si tertanggung dalam segala hak yang diperolehnya tehadap orang-orang ketiga berhubungan dengan penerbit kerugian tersebut dan si tertanggung itu adalah bertanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dapat merugikan hak si penanggung terhadap orang-orang yang dapat merugikan hak si penanggung terhadap orang-orang ketiga itu. . sedangkan partial loss memperoleh ganti rugi sebesar kerugian yang diderita. b. Fungsi Perusahaan Asuransi Resiko kehilangan dalam asuransi. Sedangkan di dalam asuransi pihak ketiga adalah pihak yang mempunyai tanggung jawab harus membayar terhadap orang yang menggantikan pihak yang mempunyai hak. Total loss memperoleh ganti rugi penuh dari penanggung.” Maksud dari orang ketiga dalam KUHD ini berbeda dengan apa yang dimaksud dengan istilah “orang ketiga” dalam KUH Perdata. Bila dalam KUH Perdata yang dimaksud dengan orang ketiga adalah orang yang menggantikan orang yang berpiutang dalam suatu persetujuan.

Sebagai bukti otentik untuk menuntut penanggung bila lalai atau tidak memenuhi janjinya. Sedangkan . Sebagai bukti tertulis atas jaminan yang diberikannya kepada tertanggung untuk membayar ganti rugi yang mungkin diderita oleh tertanggung. Sebagai bukti (tanda terima) premi asuransi dari tertanggung 2. Sedangkan fungsi polis bagi penanggung: 1. Pasal 255 KUHD menyatakan bahwa suatu tanggungan harus dibuat secara tertulis dalam suatu akta yang dinamakan polis.Pada perjanjian asuransi ini diperlukan suatu dokumen. 3. Sebagai bukti (kuitansi) pembayaran premi kepada penanggung. 3. Sebagai bukti tertulis atas jaminan penanggung untuk “mengganti kerugian yang mungkin dideritanya yang ditanggung oleh polis. Sebagai bukti otentik untuk menolak tuntutan ganti rugi (klaim) bila yang menyebabkan kerugian tidak memenuhi syarat-syarat polis. Fungsi polis bagi tertanggung: 1. Berdasarkan semua penjelasan di atas tentang asuransi dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab penanggung adalah atas pelunasan atau terbayarnya sejumlah uang terhadap tertanggung jika ada suatu kejadian yang tidak pasti dengan di atas namakan serta ditanggungjawabkan terhadap pihak yang tertanggung. 2.

.tertanggung bertanggung jawab atas pembayaran sejumlah uang premi sebagai kontra prestasi. di dalam Apabila Perjanjian konsumen Pembiayaan tidak mau menggunakan asuransi maka konsumen harus menanggung sendiri jika ada peristiwa yang menimbulkan kerugian. Terlibatnya Konsumen tidaklah asuransi mutlak.

pada Kredit Kepemilikan Mobil (KPM). Buana Finance Cabang Semarang. hal. 1986). menemukan. sebagai upaya melindungi kepentingan kreditur dalam hal terjadinya kredit macet. sesuai dengan pedoman dan aturan yang berlaku untuk suatu karya ilmiah. maksudnya selain menekankan pada hukum sebagai norma (law in book). dalam hal ini yang dilaksanakan di PT.52 . Buana Finance Cabang Semarang.BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian. guna menentukan. sebagai upaya melindungi kepentingan kreditor dalam hal terjadinya kredit macet. 27 Surjono Soekanto. (Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro. sehingga diharapkan dapat menganalisis ketentuan dalam peraturan yang mengatur masalah eksekusi objek jaminan fiducia. 28 khususnya hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan eksekusi terhadap objek fiducia yang dijaminkan kepada pihak ketiga. menginterprestasikan kata-kata. Disebut yuridis empiris. adalah suatu cara atau jalan untuk menyelesaikan suatu masalah yang ada. 28 Ibid. Pengantar Penelitian Hukum.1 Metode Pendekatan Dalam penelitian ini yang digunakan adalah metode yuridis empiris. juga menekankan pada hukum dalam masyarakat. mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan cara mengumpulkan. pada Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) pada PT. 9C. 27 Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ilmiah ini mencakup : III. menyusun serta. hal.

Teknik ini dipilih. sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar jumlahnya. yaitu ”metode penelitian untuk memberi gambaran mengenai situasi atau kejadian dan menerangkan hubungan antara kejadian tersebut dengan masalah yang akan diteliti” . karena dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau realita mengenai pelaksanaan eksekusi objek jaminan fiducia. 64. Dalam penelitian ini. sebagai upaya melindungi kepentingan kreditur dalam hal terjadinya kredit macet pada Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) PT. .3. Buana Finance Cabang Semarang. Populasi. karena pertimbangan keterbatasan waktu dan tenaga. sehingga gambaran tersebut dapat dianalisis tanpa memberikan kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum.2 Spesifikasi Penelitian Dalam penelitian ini spesifikasi yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Untuk menentukan sampel 29 29 Mohammad Nazir.III. (Jakarta: Ghalia Indonesia. Obyek Penelitian. yaitu sampling bertujuan yang dilakukan dengan cara mengambil subjek didasarkan pada tujuan tertentu tanpa menggunakan perhitungan random. teknik penarikan sampel yang dipergunakan oleh penulis adalah teknik purposive (non random sampling). akan tetapi hanya berlaku bagi obyek yang dijadikan penelitian dalam penulisan ini.Buana Finance Cabang Semarang. Metode Penelitian. yaitu PT. 1993). dengan demikian kesimpulan yang diperoleh tidak berlaku umum. III. hal. Sampel Tipe penelitian yang digunakan adalah studi kasus.

berdasarkan tujuan tertentu. harus benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi dan penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan teliti dalam studi pendahuluan. karena sampel adalah bagian dari populasi atau anggota dari populasi. sebagai upaya melindungi kepentingan kreditur dalam hal terjadinya kredit macet pada Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) PT. Buana Finance Cabang Semarang. Buana Finance Kota Semarang. sifat-sifat atau karakteristik tertentu yang merupakan ciri-ciri utama populasi. selaku Remedial Staff PT.4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data. III. SH. merupakan hal yang sangat erat kaitannya dengan sumber data. penulis memperoleh data primer melalui konsultasi dan juga wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dan mengetahui pelaksanaan di lapangan. harus memenuhi syarat: didasarkan pada ciri-ciri. Berdasarkan hal tersebut di atas. maka dalam penelitian Eksekusi Terhadap Objek Fiducia yang dijaminkan kepada pihak ketiga. dan Tobing. sebab melalui pengumpulan data ini akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai yang diharapkan. Sampel yang diambil. Berdasarkan hal tersebut. . Buana Finance Cabang Semarang. adalah Imanuel Eka selaku Kepala Cabang (Branch Manager) PT. tentang pelaksanaan eksekusi terhadap objek fiducia yang dijaminkan kepada pihak ketiga dalam hal terjadinya kredit macet pada Kredit Kepemilikan Mobil (KPM).

Wawancara dilakukan secara 30 bebas terstruktur dengan mempersiapkan daftar pertanyaan yang ditujukan kepada pihak terkait yaitu PT. hal. Data Primer Data Primer. mengenai pokok permasalahan yang menjadi objek penelitian. Faktor-faktor tersebut adalah: pewawancara. topik penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan dan situasi wawancara. adalah data yang diperoleh secara langsung di lapangan yang dalam hal ini diperoleh dengan : Wawancara. 30 Ibid. mengetahui dan terkait langsung dengan pelaksanaan di lapangan. Hasil wawancara ditentukan oleh beberapa faktor yang berinteraksi dan mempengaruhi arus informasi. yaitu pelaksaanaan eksekusi terhadap objek fiducia yang dijaminkan kepada pihak ketiga dalam hal terjadinya kredit macet pada Kredit Kepemilikan Mobil (KPM). 57 .Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. Buana Finance Cabang Semarang. dipergunakan metode pengumpulan data sebagai berikut : a. yaitu cara memperoleh informasi dengan mempertanyakan langsung pada pihak-pihak yang diwawancarai. terutama orang-orang yang berwenang. orang yang diwawancarai.

d. Kepustakaan yang berkaitan dengan kredit dan jaminan fiducia. c. .017/ 2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. Kepustakaan yang berkaitan dengan lembaga pembiayaan khususnya pembiyaan konsumen. c) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). adalah data yang diperoleh melalui pengumpulan data berupa bahan-bahan hukum yang diperlukan.b. yang terdiri dari : a) Kitab Undang –Undang Hukum Perdata. b) Peraturan Perundang-undangan (HIR). yang berkaitan dengan eksekusi. Data Sekunder Data sekunder. Kepustakaan yang berkaitan dengan eksekusi. e) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Pokok-Pokok Perbankan.013/1988 dan Tata cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. b. g) Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 448/ KMK. yang terdiri dari : a. Konsumen. d) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fiducia. 2) Bahan Hukum Sekunder. Adapun bahan-bahan hukum yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1) Bahan Hukum Primer. f) Keputusan Menteri tentang Ketentuan Keuangan RI Nomor 1251/ KMK.

31 Adapun tujuan dari analisis ini. (Jakarta: UI Press. Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan III. baik dari studi lapangan maupun studi pustaka. yang selanjutnya diharapkan mampu memberikan solusi atas kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam praktek. yaitu data yang terkumpul dituangkan dalam bentuk uraian logis dan sistematis. 31 Soerjono Soekanto. adalah untuk mendapatkan pandangan atau wawasan baru. data yang diperoleh. pada dasarnya merupakan data tataran yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. kemudian ditarik kesimpulan secara deduktif. hal. 10.3) Bahan Hukum Tersier. Pengantar Penelitian Hukum. selanjutnya dianalisis untuk memperoleh kejelasan penyelesaian masalah. yang terdiri dari : a. cetakan ke 3. Kamus Hukum b. 1998). Kamus Bahasa Indonesia c. .5 Teknik analisis Data Dalam penelitian ini. yaitu dari hal yang bersifat umum menuju hal yang bersifat khusus.

. KEP049/KM. No. S.01.11/1982. dan fixed assset lainnya Nama Perusahaan telah diubah beberapa kali dan yang terakhir menjadi PT. Buana Finance Tbk.01. Ruang Lingkup kegiatan perusahaan selain pembiayaan konsumen (Consumer Finance) untuk kendaraan roda 4 (empat) baik baru ataupun bekas juga menjalankan kegiatan dalam bidang Sewa Guna Usaha (Financial Lease) untuk investasi mesin-mesin. C2-1677-HT.Th 82 tanggal 8 Oktober 1982 yang telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Buana Finance PT.101 tanggal 17 Desember 1982 Tambahan No.1.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Sejarah PT. Buana Finance Tbk.H. 1 Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Dalam Hal Terjadinya Kredit Macet Dalam Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) Oleh PT. (“Perusahaan”) didirikan tanggal 7 Juni 1982 berdasarkan Akta Notaris Kartini Muljadi. Perusahaan memperoleh izin usaha sebagai lembaga keuangan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. genset.74 dengan nama PT. dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 3 Oktober 2005 yang keputusannya . Anggaran Dasar telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No.1384. Buana Finance Cabang Semarang IV. BBL Dharmala Leasing.

Gajah Mada No.Buana Finance yang terletak di Kota Semarang. yang keputusannya diaktakan dalam Akta No. PT. Makassar. S. C-28319 HT. Palembang.Th.21 Jakarta. Balikpapan. 1 tanggal 3 Oktober 2005 oleh Notaris Fathiah Helmi. Akta Notaris ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. dan Banjarmasin.diaktakan dalam Akta No. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan. Bandar Lampung.33 tanggal 14 Juni 2006 dari Notaris Fathiah Helmi. Jalan Jenderal Sudirman Kav.H. Samarinda dan Denpasar.2005 tanggal 14 Oktober 2005. Semarang. S. Penulis sendiri akan malakukan penelitian pada Kantor Cabang PT. Surabaya. Jambi. Buana Finance terletak di Gedung Chaze Plaza. yang bertempat di Wisma HSBC Lantai 8 Suite 808 Jl. Buana Finance adalah lembaga pembiayaan murni yang tidak memiliki atau tidak berada di bawah atap dari PT.Buana Finance Cabang Semarang adalah sebagai berikut : .04. Kantor Pusat dari PT. Struktur Organisasi PT. 135 Semarang. Pekanbaru. Medan. yang terakhir disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 14 Juni 2006 antara lain mengenai tugas dan wewenang direksi dan komisaris. lantai 17.Bank Buana Tbk. Pada saat ini Perusahaan mamiliki 15 cabang yaitu di jakarta.H.01. hanya secara kebetulan saja nama yang dipakai sama dengan nama salah satu perbankan tersebut..

SE Branch Manager Consumer Finance. September 2007 Garis tanpa putus: jalur pertanggung jawaban Garis putus-putus = jalur koordinasi dan supervisi Lampiran 2 / 2 SK Direktur No:014/SKEP-DIR/IX/2007 Tentang Penetapan Perubahan Susunan dan Struktur Organisasi Perusahaan Sumber Data : Immanuel Eka.Tabel 2 STRUKTUR ORGANISASI PT. Wawancara Pribadi. BUANA FINANCE TBK. 14 April 2008 70 55 .

penulis akan memaparkan terlebih dahulu secara umum mengenai Prosedur Pemberian Kredit Perusahaan Pembiayaan PT. Buana Finance. antara lain : 1.Buana Finance Cabang Semarang ini. Buana Finance Cabang Semarang. sebelum mengulas lebih lanjut mengenai eksekusi objek jaminan fidusia oleh PT. pihak konsumen wajib memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan oleh lembaga finance ini. IV. (selaku supplier) yang dipilih sendiri oleh konsumen untuk membuat kesepakatan kesepakatan mengenai : a) Type merek mobil apa yang akan dibeli b) Berapa besarnya uang muka yang harus dibayar c) Berapa besar angsuran yang sanggup dibayar oleh konsumen 71 . Buana Finance adalah: a. Pihak datang ke dealer / showroom / perorangan.Dari penelitian inilah yang selanjutnya akan diperoleh data yang oleh penulis diolah untuk kemudian direkonstruksi kembali sehingga dapat diketahui prosedur pemberian kredit mobil melalui lembaga pembiayaan PT.1. Buana Finance Cabang Semarang Ada beberapa prosedur atau tahapan yang harus dilalui oleh konsumen untuk memperoleh pembiayaa oleh PT. Prosedur awal pengajuan permohonan kredit pada PT. Buana Finance Cabang Semarang dan proses eksekusinya apabila di tengah-tengah perjanjian timbul masalah seperti kredit macet atau wanprestasi.2 Prosedur Pemberian Kredit PT.

karena belum adannya kesepakatan yang telah dituangkan dalam bentuk perjanjian Pada tahap pengajuan permohonan ini tidak ada formulir khusus yang disediakan dari pihak PT. c.b. Buana Finance cabang Semarang. sebagai tanda bukti bahwa pengajuan kreditnya telah disetujui. ada kemungkiinan untuk ditolak atau dibatalkan. Memberi tanda jadi untuk persetujuan pembelian mobil ke pemilik mobil atau showroom. adapun formulir awal dari pihak showroom atau dealer selaku supplier yang ditunjukan kepada pihak pembiayaan konsumen yang berisi data data calon konsumen. d. Nomor KTP 72 . Buana melakukan survey dan telah menyetujui pengajuan kredit barulah customer mengisi formulir atau aplikasi yang telah disediakan oleh PT. Data-data calon konsumen yang diminta oleh dealer atau showroom pada tahap ini secra umum meliputi : 1. setelah pihak PT. Proses satu tahapan tersebut dinamakan prosedur pembelian pembiayaan konsumen dan tidak semua permohonan ini dapat direalisasikan. Menerima data dari dealer / showroom. Buana Finance. Nama calon konsumen 2. Customer atau konsumen bisa secara langsung menghubungi Buana Finance atau lewat perantara supplier untuk meminta perhitungan kredit di buana Finance.

insentive atupun bonus 3) Memiliki rumah sendiri ( bukan rumah kontrakan). 2.3. Ketentuan-ketentuan dalam kredit pembiyaan PT. kemudian atas PO tersebut pihak dealer memberitahu pada konsumen melalui surat tertulis. jika pemohon masih tinggal bersama orang tua atau saudaranya maka orang tua atau saudaranya harus bertindak sebagai penjamin 73 . Pekerjaan calon konsumen 5. Penyampaian pemberitahuan permohonan kepada konsumen adalah melalui dealer atau showroom dengan cara diterbitkannya PO (Purcase Order) yang bisa diterbitkan kurang lebih (satu) I jam setelah hasil survey dari konsumen. Alamat 4. Nomor telepon Waktu yang diperlukan dari pengajuan sampai dengan persetujuan permohonan rata rata satu hari. premi asuransi dan beaya administrasi 2) Untuk angsuran minimal 35% dari penghasilan ( fixed income) tidak termasuk uang lembur. Buana Finance Dalam menjukan permohonan pihak konsumen sebagui pemohon harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan oleh PT. tapi hal ini sangat tergantung dari waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil survey dan kelengkapankelengkapan data-data yang dibutuhkan . Buana Finance yaitu sebagai berikut : 1) DP murni 15 – 30 % dari harga OTR tidak termasuk angsuran 1.

Usia pemohon < dari 60 thn untuk wira swasta dan guru d. Usia pemohon > dari 21 thn (I kecuali sudah menikah) b. Slip gaji / Surat Keterang Penghasilan Foto copy Rekening tabungan 3 Bulan terakhir Untuk Wiraswasta : Foto copy KTP Pemohon Foto copy KTP Suami / Istri Foto copy KTP Penjamin (Jika diperlukan) 74 . Usia pemohon < 65 thn untuk guru besar e.surat yang perlu dilampirkan yaitu: a. usia pemohon > dari 60 thn tidak boleh menggunakan KTP seumur hidup kecuali ada peraturan pemda setempat 5) Domisili konsumen harus berada dalam wilayah kerja operasional yang bersangkutan 6) Surat. Untuk Karyawan : Foto copy KTP Pemohon Foto copy KTP Suami / Istri Foto copy KTP Penjamin (Jika diperlukan) Foto copy Kartu Keluarga Foto copy PBB / Rekening listrik / Rekening telepon bulan terakhir b. Usia pemohon < 55 thn untuk karyawan dan pegawai negeri c.4) Usia pemohon adalah : a.

- Foto copy Kartu Keluarga Foto copy SIUP Foto copy NPWP Foto copy PBB / Rekening listrik / Rekening telepon bulan terakhir c. Untuk Badan Usaha : Foto copy KTP Komisaris Foto copy KTP Direktur / Yang Diberi Kuasa Foto copy SIUP Foto copy NPWP Foto copy TDP Foto copy Surat Keterangan Domisili Foto copy SK Menkeh 75 . Foto copy Rekening Tabungan 3 Bulan terakhir Untuk Profesi : Foto copy KTP Pemohon Foto copy KTP Suami / Istri Foto copy KTP Penjamin (Jika diperlukan) Foto copy Kartu Keluarga Foto copy Ijin Praktek Foto copy PBB / Rekening listrik / Rekening telepon bulan terakhir Foto copy Rekening Tabungan 3 Bulan terakhir d.

. atau apabila karena meninggal dunia maka harus ada akte kematian 3. perusahaan memeriksa kebenaran data atau dokumen yang diserahkan dan menganalisa kemampuan debitur tersebut untuk membayar cicilan mobil yang akan dibelinya dengan melakukan survey terlebih dahulu. Analisis dan Evaluasi Data Pihak PT. yaitu dengan cara : 1) Kunjungan secara langsung ke alamat rumah calon debitur guna mencocokan denagn data yang diterima dengan kenyataan di lapangan serta melakukan intervew kepada calon debitur untuk mendapatkan keterangan tentang hal-hal sebagi berikut : a. 76 . Buana Finance mengadakan analisis dan evaluasi terhadap data dan informasi yang diterima kemudian dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan seperti : Kunjungan ke tempat konsumen ( plant visit ) Pengecekan ke tempat lain (credit checking ) Orientasi secara umum dan khusus Sebelum memutuskan untuk menyetujui permohonan dari seorang calon debitur atau konsumen.Foto copy Akta Pendirian dan Perubahan 7) Jika pemohon seorang duda atau janda harus ada surat keterangan cerai dari instantsi yang berwenang apabila perceraian. Pekerjaan atau sumber penghasilan yang dipakai untuk membayar cicilan.

Pengeluaran atau biaya-biaya rutin yang harus dikelurkan setiap bulan. 2) Setelah permohonan disetujui dan dikabulkan serta dinilai layak untuk dibiayai. Status kepemilikan rumah tinggal ( menyewa. Buana Fianance Cabang Semarang.b. c. e. mobil dapat dibawa langsung oleh konsumen atau diserahkan oleh dealer atau showroom di rumah debitur. Jumlah tanggungan keluarga ( bagi yang sudah menikah ). Contohnya adalah pembayaran listrik . dan sebagainya. atau punya orang tua / keluarga ). 4) Dengan ditandatanganinya Perjanjian Kredit Mobil. 3) Selanjutnya calon debitur diminta untuk membayar DP dan kemudian diajukan dengan penandatanganan perjanjian kredit mobil. Dalam melakukan analisis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 77 . Apabila masih ragu atas kebenaran dari data dan keterangan yang diberikan oleh calon pembeli. dapat juga menanyakan kepada tetangga atau relasi dari calon nasabah tersebut. oleh pejabat yang berwenang. 5) Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) setelah selesai diurus diserahkan kepada debitur atau konsumen. d. milik sendiri. maka petugas yang ditunjuk mempersiapkan perjanjian dengan mengisi formulir perjanjian kredit mobil. sedangkan BPKB selama angsuran dari debitur belum lunas tetap disimpan oleh Lembaga Pembiayaan PT. rekening telepon.

Kapsitas (capacity). Buana Finance mengadakan kerjasama dengan beberapa showroom antara lain : 78 . Waktu yang diperlukan untuk melakukan analisa data berkisar antara 1 (satu) . Kondisi (condition). Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisa data tersebut di atas maka dapat dihasilkan 3 alternatif keputusan yaitu : 1. adalah apakah sesuai antara penghasilan dengan besarnya cicilan yang diambil. Untuk jenis mobil-mobil baru PT. Karakter (character) si konsumen. Buana Finance Cabang Semarang adalah : a. Keputusan menunda permohonan. Keputusan menolak permohonan. adalah kondisi dari customer yaitu kemampuan bayar konsumen yaitu apakah konsumen memiliki kemampuan untuk membayar angsurannya atau tidak. dimana pihak analisis harus juga memperhatikan bagaimana karakter dari seseorang yang akan menjadi calon konsumennya. apabila pihak surveyor merasa masih ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi 3.1.3 (tiga) hari tergantung dari keadaan di lapangan. 3. dalam penolakan ini konsumen akan di beri tahu alasan-alasan penolakan 2. Menyetujui permohonan Sedangkan showroom-showroom dan dealer-dealer yang telah melakukan kerjasama dengan PT. pihak yang bertanggung jawab melakukan analisa ini adalah surveyor. 2.

PT.Harjaya Tugu Berlian .Nasmoco Gombel . Sun Motor PRPP .Duta Cemerlang Motor 3.BSG Motor .1.Nasmoco Pemuda .Nasmoco Majapahit 4. Showroom Total Mitsubishi . Bumen Redja Abadi .PT.PT. Showroom Total Honda -Mandala Pratama -Istana Cendrawasih -Honda Kusuma -Honda Kudus 2.Nasmoco Kaligawe .Sidodadi .PT. Showroom Total Suzuki .Bintang Buana Berlian .Sun Motor MT Haryono 79 . Sun Motor Johar . Showroom Total Toyota . Sun Indosentra Trada .

Anugerah Jaya Abadi b. Showroom Lain-lain . Kali . Sedangkan untuk jenis mobil-mobil bekas (used car).Lion Mobil .Asri Motor 80 .Gunawan Motor (Puri Anjasmoro) .UD Zidny Motor . Showroom Total Daihatsu .Astra Internasional .Yani 6.Puspanjolo Motor .5.Langgeng Jaya Motor . Showroom Total Hyundai . Buana Finance mengadakan kerjasama dengan beberapa dealer antara lain: .Astra Isuzu 7. Showroom Total Isuzu .Dwi Jaya Motor .Karya Zirang Izusu A. PT.Santosa Istana Mobil 8.Karya Zirang Siliwangi .Karya Zirang KP.Karya Zirang Utama Kudus .Market Mobil .

Mitra Motor Asuransi yang ditawarkan oleh pihak PT.Mobil 99 .Trinitas Motor . Untuk kategori Asuransi Group : Asuransi Bina Dana Artha ( ABDA) 2.. Buana Finance kepada konsumen adalah : 1. Untuk kategori Asuransi Non Group : Asuransi Buana Independendent Asuransi Wahana Tata Asuransi Sinar Mas Asuransi Raksa Pratikarsa Asurani Central Asia Asuransi Mega 81 .Bayu Putra Mobil .Mutiara Motor .Sumber Rejeki Motor .Rizky Mobil .Mobil Cipto Agung .Panen Motor .Alpine Mobil (lamper) .

PT. Intermassa.3.3 Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Oleh PT. Dari peristiwa ini. 33 Dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata disebutkan bahwa: 32 33 R. Hukum Perjanjian. Karena hubungan antara dua orang atau dua pihak tadi. berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain.1. Buana Finance Cabang Semarang Suatu perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak. dan pihak yang lain berkewajiban untuk memnuhi tuntutan itu. Dengan demikian hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian menerbitkan suatu perikatan. 32 Menurut Subekti suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seseorang berjanji kepada orang lain atau lebih atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Subekti. Untuk kategori Mercy dan Mobil-Mobil Built Up Matahari Auto Galery Platinum IV. adalah suatu hubungan hukum yang berarti bahwa hak si berpiutang itu dijamin oleh hukum atau Undang-undang. timbulah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Jakarta 1990. Perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau dituangkan secara tertulis. hal 1 Ibid 82 .

terlebih dahulu harus ditetapkan secar tegas dan cermat apa saja isi perjanjian tersebut. Suatu sebab yang halal. Dengan menekankan pada perkataan ”semua” maka menurut Subekti pasal tersebut seolah-olah berisikan suatu pernyataan kepada masyarakat bahwa kita diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa saja atau tentang apa saja dan perjanjian itu mengikat mereka yang membuatnya seperti Undang-undang. 4. 3. bagaimana serta bagaimana proses pembuatan bentuk akta 83 . yaitu : 1. Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan bahwa untuk sahnya suatu perjajian diperlukan empat syarat. Sedangkan Pasal 1321 KUHPerdata menyatakan bahwa ”tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan” . Suatu hak tertentu. antara calon debitur dan calon kreditur. Jadi. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Sepakat mereka mengikatkan dirinya . Untuk melaksanakan suatu perjanjian.”Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. atau dengan kata lain apa saja hak dan kewajiban para pihak. karena di dalam perjanjian kredit mobil di dalamnya meliputi berbagai proses yaitu mulai proses pengajuan perjanjiannya mekanismenya. pelaksanaan suatu perjanjian merupakan perwujudan dari kesepakatana yang telah dicapai sebelumnya diantara para pihak. 2.

Dalam perjanjian manakala para pihak telah menunaikan prestasinya maka perjanjian tersebut akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa menimbulkan persoalan. wanprestasi yang sering terjadi dalam perjanjian adalah bila para pihak tidak melakukan apa saja yang telah diperjanjikan 84 . Menurut Subekti. bisa juga adanya itikad tidak baik dari seorang debitur untuk memanfaatkan jasa pembiayaan konsumen ini untuk mencapi suatu tujuan tertentu. sehingga akan menimbulkan permasalahan baru yang mungkin dapat diselesaikan secara intern diantara para pihak. yang dalam pelaksanaannya dapat saja mengalami peristiwa yang dapat menyebabkan terhalangnya suatu proses pemenuhan prestasinya. Hal inilah yang disebut wanprestasi. Hambatan tersebut dapat berasal dari kesalahan salah satu pihak secara disengaja maupun yang sudah diperkirakan sebelumnya serta adanya hal-hal di luar kontrol atau kemampuan dari pihak. Namun kadangkala ditemui bahwa debitur tidak bersedia melakukan atau menolak memenuhi prestasinya dikarenakan sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian bermacam-macam faktor. bisa karena usahanya sedang tidak berjalan lancar atau karena hal-hal lainnya yang menyebabkan penunggakan angsuran bahkan sampai dengan penarikan unit mobil akibat ketidaksanggupan dari debitur untuk membayar angsuran yang telah ditetapkan pada awal perjanjian (kredit macet).perjanjiannya dan juga bagaimana pelaksanaan prestasinya.

dalam pelaksanaan perjanjian kredit mobil melalui lembaga pembiayaan PT. 3. ada tahapan-tahapan terlebih dahulu yang harus dilakukan oleh PT. tanggal 14 April 2008 85 . Pengatas namaan konsumen. 34 Imanuel Eka. ada beberapa permasalahan yang sering terjadi. tetapi sebelum penarikan terhadap obyek perjanjian tersebut dilaksanakan. Buana Finance untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang timbul pada saat pelaksanaan perjanjian kredit tesebut. 4.atau ingkar janji. diantarannya adalah 34 : 1. Buana Finace Cabang Semarang. Debitur terlambat membayar angsuran pertama 2. melanggar perjanjian. Oper kredit dari pihak debitur tanpa sepengetahuan dari pihak kreditur dalam hal ini PT. 5. Branch Manager Consumer Finance. Debitur terlibat tindak pidana money laundering. Proses penyelesaian atas wanprestasi yang dilakukan oleh pihak kreditur (PT. Pemindahtanganan obyek perjanjian. Wawancara Pribadi. Peristiwa wanprestasi yang terjadi dalam praktek perjanjian kredit mobil melalui lembaga pembiayaan sebagian besar memang dilakukan oleh debitur. Buana Finance. atau melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukannya dan hal-hal lain yang masih berhubungan dengan masalah ingkar janji. Buana Finance Cabang Semarang) adalah dengan cara mengeksekusi atau menarik obyek perjanjian yang dalam hal ini adalah mobil.

Buana Finance yang diantar langsung oleh debt collector ke tempat tujuan atau alamat debitur. khusus angsuran awal bila terlambat dua puluh empat hari. Buana Finance yang diwakili oleh debt collector. maka obyek perjanjian atau kendaraan roda empat tersebut harus ditarik dengan alasan debitur tidak mempunyai itikad baik. maka dalam jangka waktu 24 hari obyek perjanjian atau mobil ditarik / diambil oleh PT. Buana Finance akan keterlambatan pembayaran angsuran. maka dalam waktu 15 hari.Sebagai langkah pertama pihak finance akan menelpon debitur / konsumen. 86 . debitur akan mendapat surat pemberitahuan dari PT. untuk mengingatkan bahwa jangka waktu pembayaran sudah habis. jika debitur setelah diberikan surat pemberitahuan tetap tidak membayar angsuran. Secara aturan umum bila debitur terlambat dua bulan dari jangka waktu pembayaran yang telah ditentukan maka mobil harus ditarik. dikhawatirkan jika mengangsur 12 (dua belas) sampai dengan 48 (empat puluh delapan) kali debitur akan dapat melakukan tunggakan berkali-kali. maka dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari. jika debitur belum membayar. hal ini dikarenakan angsuran pertama sudah menunggak / wanprestasi. dan apabila debitur tidak mengindahkan surat teguran tersebut maka dalam kurun waktu 21 hari debitur akan diberikan lagi surat peringatan terakhir dari PT. jika debitur tetap tidak membayar angsuran setelah diberikan surat peringatan terakhir tersebut. debitur akan diberikan surat teguran.

Buana Finance. Pada saat pihak PT. Buana Finance ini.Untuk Pengatasnamaan konsumen tanpa perjanjian atau pemberitahuan terlebih dahulu dengan pihak PT. maka dia akan lebih mudah untuk mendapatkan kredit selanjutnya dari pihak PT. dengan menggunakan nama dari konsumen yang sebelumnya telah mendapat persetujuan tersebut. maka dengan sendirinya dari pihak finance akan mengetahui. Debitur yang membantu pengatasnamaan ini harus ikut bertanggung jawab. karena dari pihak finance sendiri akan terus menagih kepada debitur sesuai yang bertanda tangan kontrak. dari sinilah biasanya akan terbongkar bahwa debitur ini menggunakan atas nama orang lain dengan tujuan agar bisa disetujui pengajuan kreditnya oleh PT. Buana finance. apabila pihak yang menggunakan atas namanya mengalami wanprestasi. Buana Finance. tetapi pada saat si debitur mengalami tunggakan atau kredit macet. mungkin dari pihak finance tidak akan mengetahui adanya pengatasnamaan dalam pengambilan kredit mobil tersebut. biasanya konsumen menggunakan data dari konsumen lain yang sudah pernah menjadi konsumen dari lembaga pembiyaan ini sebelumnya. hal ini dikarenakan faktor dari konsumen baru ini tidak bisa memenuhi persyaratan yang diajukan oleh pihak lembaga pembiayaan.Buana Finance memberikan peringatan terakhir yang diwakili oleh collector datang langsung kerumah 87 . Apabila pembayaran angsuran tidak mengalami masalah. maka obyek perjanjian atau mobil dapat ditarik kembali oleh pihak PT.

dalam proses pengklarifikasian ini debitur yang digunakan atas namanya harus tetap tetap ikut bertanggung jawab penuh sampai dengan penyelesaian kewajiban oleh pihak yang menggunakan atas namanya tersebut. walaupun tanpa BPKB. Oleh pihak debitur pemindah tanganan objek perjanjian ini dilakukan tanpa sepengetahuan PT. dia tetap mau untuk menjadikannya sebagai barang jaminan. hal ini disebakan karakter dari konsumen yang tidak beritikad baik. misalnya konsumen ini tidak bisa membayar cicilan pada saat jatuh tempo (kredit macet). tetapi dari pihak finance akan terus mengejar kepada debitur tersebut bagaimanapun caranya untuk dapat menarik kembali unit mobil obyek perjanjian tersebut. 88 . biasanya dari pihak debitur akan memberikan alamat kepada finance supaya dari pihak finance melakukan penagihan secara langsung kepada pihak yang bersangkutan. biasanya si debitur baru menceritakan permasalahan sebenarnya dan akan berusaha untuk tidak ikut terlibat dalam masalah ini.debitur tersebut. Hal ini bisa terjadi apabila antar konsumen tersebut terdapat suatu hubungan relasi. Buana Finance Cabang Semarang. maka konsumen tersebut akan menggunakan kendaraan ini sebagai jaminan atas suatu pinjaman tertentu kepada pihak ketiga. barang atau kendaraan yang belum lunas kreditnya kemudian dijual dengan harga yang sangat murah. sehingga kendaraan yang digunakan sebagai jaminan. Dalam hal pemindah tanganan objek perjanjian. dilakukan oleh debitur sebelum selesainya masa angsuran. atau bisa juga dijaminkan kepada pihak ketiga akibat dari berbagai macam faktor.

apabila pembayaran kredit tersebut. walaupun itu merupakan pelanggaran dari perjanjian awal. maka dalam 3 x 24 jam terhitung dari saat itu. Untuk oper kredit tanpa sepengetahuan kreditur. Sama seperti halnya pengatasnamaan. maka pada saat collector memberi surat peringatan terakhir. Untuk menekan resiko tersebut. penyelesaian atau langkah yang diambil oleh pihak finance sama seperti pada permasalahan 89 . hal ini sering dilakukan oleh pihak finance selaku kreditur meskipun nyata-nyata debitur masih sanggup untuk membayar angsuran tiap-tiap jatuh tempo pembayaran karena dari pihak kreditur atau finance merasa khawatir apabila objek perjanjiannya akan digelapkan oleh pihak ketiga tersebut. apabila objek perjanjian tersebut tidak berada di tangan debitur. pihak finance akan melakukan eksekusi dengan cara menarik objek perjanjian yang telah dijaminkan kepada pihak ketiga tersebut dan perjanjian dinyatakan putus karena debitur wanprestasi. maka selama pihak finance tidak mengetahui hal tersebut. pihak finance akan bertindak cepat untuk mengatasi konsumen-konsumen yang dianggap bermasalah dalam pelaksanaan pembayaran kredit. tidak menjadi masalah untuk si debitur. masih berjalan lancar. sedang untuk cicilannya masih menjadi tanggung jawab dari si debitur. tetapi seandainya debitur tidak sanggup untuk memenuhi prestasinya.karena barang tersebut berada di tangan pihak ketiga. Hal ini diberlakukan tegas oleh pihak finance karena pihak finance itu sendiri merupakan suatu perusahaan yang beresiko besar dalam hal pembiayaan.

pemindah tanganan objek perjanjian maupun masalah pengatasnamaan. Hal ini sudah tertera pada peraturan yang telah disetujui oleh kedua belah pihak pada saat penandatanganan di awal perjanjian. Ongkos-ongkos atau biaya pada saat pengeksekusian mobil sepenuhnya dibebankan dan wajib dibayar oleh debitur. juga dipengaruhi oleh 90 . Objek perjanjian dijaminkan kepada pihak ketiga walaupun tidak disertai Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor. sehingga pihak ketiga tersebut tetap mau menerima benda yang dijaminkan walaupun tanpa BPKB. biasanya pihak ketiga tersebut adalah orang perorangan yang mempunyai hubungan relasi terhadap si debitur. pada saat kreditur mengambil secara langsung penguasaan mobil tersebut di tangan manapun mobil tersebut berada. Pembatalan atau pemutusan perjanjian dari pihak kreditur diikuti dengan mengeksekusi atau menarik kembali objek perjanjian. kuasa yang tidak dapat dicabut oleh debitur. bila perjanjian tersebut batal atau berakhir. Dalam kasus eksekusi objek jaminan fidusia yang pernah terjadi di Buana Finance adalah adanya pemindah tanganan objek perjanjian oleh debitur yang belum menyelesaikan masa angsurannya. jika perlu dengan jalan apapun secara paksa dengan bantuan alat kekuasaan negara atau polisi. maka dengan ini debitur sudah memberi kuasanya kepada kreditur. Peraturan ini merupakan perlindungan yang dipakai oleh Perusahaan Pembiayan untuk menghindari resiko-resiko terhadap debitur yang bermasalah. dengan pertimbangan selain karena faktor mempunyai suatu hubungan relasi.

agar akta tersebut 91 . dan pemenuhan kewajiban pembayaran tetap menjadi tanggung jawab si debitur. Namun. Perjanjian dengan jaminan fidusia antara debitur dengan pihak ketiga ini biasanya dilakukan di bawah tangan. Sebaliknya. Akta di bawah tangan bukanlah akta otentik yang memiliki nilai pembuktian sempurna. akta otentik adalah akta yang dibuat oleh atau di depan pejabat yang ditunjuk oleh Undang-Undang dan memiliki kekuatan pembuktian sempurna. sah-sah saja digunakan asalkan para pihak mengakui keberadaan dan isi akta tersebut. PPAT dll). Pertanyaannya adalah apakah sah dan memiliki kekuatan bukti hukum suatu akta di bawah tangan? Menurut pendapat penulis. Pengertian akta di bawah tangan adalah sebuah akta yang dibuat antara pihak-pihak dimana pembuatannya tidak di hadapan pejabat pembuat akta yang sah yang ditetapkan oleh undang-undang (notaris. misalnya di pengadilan. di kampung atau karena kondisi tertentu menyebabkan hubungan hukum dikuatkan lewat akta di bawah tangan seperti dalam proses jual beli dan utang piutang. Untuk akta yang dilakukan di bawah tangan biasanya harus diotentikan ulang oleh para pihak jika hendak dijadikan alat bukti sah.penguasaan atas benda yang dijaminkan tersebut. Benda atau objek perjanjian yang dijaminkan berada di bawah kekuasaan pihak ketiga. perjanjian tersebut tidak dibuatkan akta notaris dan tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia. Dalam prakteknya.

ditunjang dengan kondisi salah satu pihak yang membutuhkan dana secepatnya untuk memenuhi suatu kebutuhan.Buana Finance. mengatakan bahwa untuk mendaftarkan perjanjian tersebut ke Kantor Notaris selain menyita waktu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. hanya kepercayaan saja yang mereka pegang. tanggal 14 Apri 2008 92 . Menurut pihak-pihak yang sudah pernah melakukan perjanjian tersebut. Buana Finance lebih kuat apbila dibandingkan dengan kedudukan pihak ketiga. Wawancara Pribadi. tetap harus dilegalisir para pihak kepada pejabat yang berwenang tanpa dibuatkan Akta Jaminan Fidusia oleh Notaris. kemudian dijual. Buana Finance. hal inilah yang tidak menguatkan kedudukan pihak ketiga apabila suatu saat terjadi wanprestasi terhadap si debitur yang 35 mengakibatkan dapat ditariknya kembali objek jaminan tersebut oleh pihak kreditur preferen dalam hal ini PT. Kedudukan pihak ketiga ini hanya sebagai kreditur konkuren yaitu kreditur yang haknya dapat dipenuhi setelah adanya pemenuhan hak terhadap kreditur utama atau kreditur preferen. Buana Finance memegang Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor dari si debitur dan baru akan diserahkan kepada debitur apabila debitur tersebut telah melunasi kewajibannya sesuai dengan peraturan yang telah disepakati pada awal perjanjian. jadi bukti penjaminannya hanya berupa keterangan tertulis dengan tanda tangan kedua belah pihak di atas materai . maka 35 Imanuel Eka.kuat. jadi pada saat objek perjanjian dieksekusi oleh PT. karena PT. Branch Manager Consumer Finance. kedudukan PT.

Buana Finance melakukan eksekusi realisasi langsung terhadap debitur yang wanprestasi sebagai upaya melindungi kepentingan perusahaan. uang tersebut akan diperhitungkan kembali pada saat penjualan unit mobil untuk menutup kekurangan pembayaran ditambah dengan biaya denda dan biaya penarikan unit mobil. uang muka (DP) sebesar 15% – 20 % maupun angsuran yang telah dibayarkan oleh debitur tidak dapat dituntut atau ditarik kembali oleh debitur baik sebagian ataupun seluruhnya. Untuk mempertahankan haknya. maka kelebihan tersebut akan dikembalikan kapada debitur. objek perjanjian (unit mobil) tersebut dalam keadaan baik. 93 . dan sebagai pengganti kerugian. dan seandainya ada kelebihan dana. penyelesaian dengan sendirinya tanpa melalui pengadilan dengan melepaskan Pasal 1266 dan Pasal 1267 KUHPerdata. apabila dari hasil penjualan tersebut ada kebihan. atas semua yang telah ditetapkan oleh kreditur pada perjanjian tersebut. debitur seketika harus mengembalikan pada kreditur. PT. debitur bersedia untuk menerima dan tidak mengajukan gugatan. walaupun debitur merasa mampu unutk membayar angsuran yang telah ditetapkan di awal perjanjian.hasil dari penjualan diutamakan untuk menutup kekurangan pembayaran angsuran si debitur kepada PT. barulah kelebihan dana tersebut diserahkan kepada pihak ketiga tersebut untuk menutup hutang dari debitur yang bersangkutan. Buana Finance terlebih dahulu.

Mekanisme penyelesaiannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pertama pihak debitur dapat menjual kepada pihak luar atas objek perjanjiannya, dan tetap berada di bawah pengawasan pihak finance, selanjutnya hasil dari penjualan tersebut dipergunakan untuk menutup kekurangan angsuran kepada pihak kreditur, sedangkan kelebihannya merupakan hak dari debitur atau konsumen. Cara kedua adalah dengan menyerahkan unit mobil secara

langsung kepada kreditur atau pihak finance yang diwakili oleh collector, untuk selanjutnya dijual dengan cara diiklan oleh pihak finance dan dari hasil penjualan tersebut digunakan untuk menutup kekurangan angsuran dari pihak debitur, setelah dikurangi dengan biaya penarikan unit mobil dan biaya akomodasi untuk iklan, apabila ada kelebihannya maka dikembalikan ke debitur atau konsumen. Atas objek perjanjian telah dijaminkan secara fidusia kepada pihak ketiga, maka atas inisiatif dari kreditur sebagai usaha preventif atau pencegahan, dari pihak PT. Buana Finance akan melakukan pembatalan atau pemutusan perjanjian, dan segera mengeksekusi atau menarik unit mobil yang dijaminkan tersebut, meskipun angsuran tetap dibayarkan oleh debitur tepat sesuai dengan tanggal jatuh temponya, karena hal ini juga telah diatur atau ditetapkan di awal perjanjian sebelum terjadinya kesepakatan.

94

IV. 2 Hambatan-Hambatan Yang Timbul Dan Dihadapi Oleh PT. Buana Finance Pada Saat Mengeksekusi Objek Jaminan Fidusia Dan Cara Mengatasinya. PT. Buana Finance dalam pembiayaannya meliputi kredit untuk mobil-mobil baru maupun mobil-mobil bekas. Untuk pembiayaan mobil baru PT. Buana Finance Cabang Semarang bekerja sama dengan showroom-showroom mobil yang ada di Kota Semarang dengan cara memberikan penawaran yang menarik serta menjelaskan manfaat-manfaat yang bisa didapat dengan adanya lembaga pembiyaan ini khususnya bagi showroom dan dealer maupun calon konsumen sehingga bisa dijalin suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Untuk pembiayaan mobil-mobil bekaspun, PT. Buana Finance menggunakan konsep yang sama dengan tetap menjalin suatu hubungan kerjasama baik dan secara profesional dengan dealer-dealer yang ada di seluruh Indonesia khususnya yang berada satu wilayah dengan Kantor PT.Buana Finance Di dunia otomotif secara garis besar terdapat dua cara untuk melakukan pembelian, yaitu : 1. Cash, yaitu pembelian barang secara tunai. 2. Kredit, yaitu pembelian yang dilakukan melalui lembaga pembiayaan yang pembayarannya dilakukan dengan jangka waktu yang telah disepakati pada awal perjanjian. PT. Buana Finance Cabang Semarang merupakan pembiayaan lembaga

yang memberikan fasilitas pembiayaan berbentuk kredit

95

untuk perorangan maupun sewa guna usaha (leasing), dengan harapan fasilitas ini akan memeberikan keringan dan kemudahan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya terutama sarana transportasi, karena dengan adanya lembaga pembiayaan ini masyarakat memenuhi kebutuhan sarana transportasi khususnya kendaraan roda empat, dengan sistem pembayaran yang bisa diangsur, hal ini sangat menguntungkan khususnya bagi pengusaha ataupun perorangan karena dengan adanya lambaga pembiayaan ini jumlah uang yang harus dikeluarkan pada saat membeli barang yang diinginkan tidak sebesar jika harus membayar secara kontan, walaupun jika dihitung secara global atau keseluruhan nilai harga dari barang tersebut pasti tetap lebih mahal, tetapi disisi lain masyarakat tetap merasa diuntungkan karena pembayaran dari barang tersebut bisa diangsur sesuai dengan jangka waktu yang diinginkan. Pada PT.Buana Finance sendiri jangka waktu yang ditawarkan

oleh pihak PT. Buana Finance untuk kredit mobil baru (new car), dan kredit mobil bekas (used car), berkisar dari satu (satu) tahun hingga 4 (empat) tahun, dengan minimal DP yang berbeda-beda tergantung dari tahun pembuatan, jenis dan merk mobil . Berikut tabel suku bunga yang ditetapkan oleh PT. Buana Finance dalam pemberian kredit :
36

36

Tobing, SH, Remedial Staff, Wawancara Pribadi, tanggal 10 April 2008

96

45% 3.65% 2.25% 750.38% 5. Cabin / CBU Form A Eropa.000 4 Tahun 12.25% 7.Tabel 3 TABEL SUKU BUNGA NEW CAR Bunga (In Advance) 1 Tahun 6.50% 600. Wawncara Pribadi. SE Branch Manager Consumer Finance.50% 8.80% 8.000 3 Tahun 9.00% 6.00% 7.50% 500.25% 2. 14 April 2008 97 85 . Suzuki Merk Lainnya 15% 20% 20% Pinjaman Pokok di tas Rp.000 20% 25% Biaya Administrasi 1 Tahun ASURANSI Sedan / Jeep / Minibus Pick Up & Truck All Risk TLO TLO 3.50% 10.00% 7.70% 2 Tahun 6. USA Merk lainnya Biaya Administrasi Pick Up. 500 juta dikenakan Biaya Fidusia Rp.25% 550.08% 490% 800. Light Truck ( < 5 Ton) Mitsubishi.- Sumber Data: Immanuel Eka.50% 8.00% 700.000 4 Tahun 7.50% 9.000 2 Tahun 6.00% Jenis Merk Min DP Jepang Sedan / Jeep / Minibus / Doub.000 8.38% 3.000 9.50% 1.74% 6.25% 650.000. 750.20% 3 Tahun 6.75% 7.

BMW 1 Tahun Sedan / Jeep / ASURANSI Minibus Pick Up & Truck All Risk TLO TLO 4.00% 10.70% 2 Tahun 7.80% Biaya Administrasi + Polis Pick Up. 30 juta dan pinjaman di atas Rp.50% 9. Mercedes. Suzuki 2003-Up 2000-2002 Biaya Administrasi + Polis Pinjaman Pokok minimal Rp.50% 11.25% 9.25% 9.50% 10.50% 750.50% 9.000 10.000 4 Tahun 9.50% 10.25% 900.00% 9.45% 4 Tahun 12. 14 April 2008 98 86 . 750.10% 3.000.25% 850.25% 800.90% Sumber Data: Immanuel Eka. Wawncara Pribadi.000 950.000 3 Tahun 8.60% 3.25% 9.75% 9.25% 8.15% 1. USA Sedan / Jeep / Minibus / Doub.*) untuk tenor 48 bulan khusus merk Ex.000 25% 30% 9.000 2 Tahun 8.20% 3 Tahun 11. Jepang.80% 4.50% 8.50% 11. 500 juta dikenakan Biaya Fidusia Rp.50% 650.50% 700.00% 8.80% 2.40% 1.08% 4.Tabel 4 TABEL SUKU BUNGA USED CAR Jenis Merk 2003-Up Jepang.99% 9.18% 8. SE Branch Manager Consumer Finance. Eropa.000 10.50% 1.50% 9. Light Truck ( < 5 Ton) Mitsubishi. Cabin / CBU Form A Merk Lainnya 2000-2002 1998-1999 1998-1997 2003-Up 1998-2002 30% 25% 30% 20% Min DP Bunga (In Advance) 1 Tahun 7.

hambatan–hambatan yang sering timbul pada saat proses eksekusi adalah sebagai berikut 37 : 1.Dalam memberikan kreditnya PT. Branch Manager. 2. Buana Finance seringkali dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang mengharuskan penindakan secara tegas dari pihak PT. Tindakan yang diambil oleh pihak finance ini dengan cara mengeksekusi atau menarik unit mobil yang bermasalah dalam pembayarannya. Keberadaan obyek perjanjian/ unit-unit mobil yang berada sampai luar Pulau Jawa. Buana Finace. Pada saat collector mendatangi ternyata unit mobil tersebut 37 Imanuel Eka. menurut Imanuel Eka selaku Branch Manager PT. untuk selanjutnya diselesaikan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh PT. Buana Finance selaku kreditur. tanggal 16 April 2008 99 . Wawancara Pribadi. akibat dari kelalaian yang disebabkan oleh konsumen. tidak selamannya dapat berjalan dengan lancar. Debitur menggunakan perlindungan kepada aparat kepolisian yang dianggapnya berpengaruh di wilayah tersebut. Buana Finance Cabang Semarang. Buana Finance untuk menindaklanjuti atas kekurangan sisa pembayaran objek perjanjian tersebut. Misalnya debitur berada di Semarang akan tetapi obyek perjanjian atau unit mobil berada di Pulau Kalimantan. Eksekusi terhadap objek perjanjian yang bermasalah seperti yang telah penulis uraikan diatas. Hambatan yang pertama biasanya terjadi pada saat unit mobil yang telah dijadikan jaminan tersebut akan ditarik atau dieksekusi oleh PT.

yaitu tim khusus yang dibentuk untuk menangani penarikan unit mobil yang bermasalah yang dalam proses penarikannya mengalami sedikit kesulitan dengan menggunakan bantuan pihak yang berwajib di wilayah objek perjanjian berada dan akan mengusut sampai tuntas keberadaan unit mobil tersebut. Untuk hambatan yang kedua ini pihak PT.berada di luar Pulau Jawa. Dalam penjualannya pihak Buana Finance akan memperhitungkan kekurangan pembayaran atau tunggakan dari debitur. tetapi melalui iklan koran atau media masa. maka kelebihan dana itu akan dikembalikan kepada customer setelah dipotong biaya-biaya pada saat penarikan unit mobil tersebut. Buana Finance sedikit berlaku hati-hati karena debitur yang berkarakter tidak baik itu akan 100 . tujuannya adalah untuk mencari pembeli dengan harga tertinggi. namun jika ada kelebihan dana dari hasil penjualan. pihak Buana Finance biasanya menjual unit mobil tersebut tidak secara lelang. maka dari pihak finance segera menarik kembali unit mobil tersebut untuk kemudian dijual oleh pihak finance guna menutup kekurangan kewajiban pembayaran dari si debitur. Pada saat unit mobil telah ditemukan. maka dari pihak finance melalui membentuk tim collector . apabila masih ada kekurangan dari hasil penjualan unit mobil tersebut. untuk mengatasi permasalahan tersebut sangat menyita waktu dan biaya yang tidak sedikit. seperti contohnya Kalimantan atau Sumatera. untuk mengatasi hal tersebut. maka debitur wajib untuk melunasi sejumlah kekurangan tersebut.

tidak akan disetujui oleh pihak finance. walaupun untuk proses pengadilan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. jadi debitur tersebut menggunakan backing seorang aparat juga yang mempunyai kedudukan atau yang berpengaruh di wilayah tersebut. 101 . Proses pemutusan perjanjian atau pembatalan perjanjian ini atas inisiatif dari kreditur semata-mata untuk tindakan preventif atau pencegahan terjadinya hal-hal yang mengandung resiko bagi kreditur dalam hal ini PT. Buana Finance untuk merealisasikan haknya. Buana Finance akan melakukan pemutusan atau pembatalkan perjanjian. Buana Finance Cabang Semarang. biasanya untuk hal semacam ini PT. Buana Finance mengambil langkah terakhir yaitu eksekusi pengadilan melalui putusan hakim. Untuk hal ini seketika PT.berusaha mempertahankan unit mobil dengan cara melawan aparat dengan aparat. dan akan memasukkan data debitur tersebut ke dalam daftar hitam (membacklist). sehingga apabila nantinya dia akan mengajukan permohonan kredit lagi. hal ini menjadi alternatif terakhir bagi PT.

karena hal ini juga telah diatur atau ditetapkan di awal perjanjian sebelum terjadinya kesepakatan.20% yang telah dibayarkan oleh debitur pada awal perjanjian. Kesimpulan Berdasarkan analisa dan pembahasan terhadapa hasil penelitian yang penulis lakukan. Hal ini adalah inisiatif dari kreditur sebagai usaha preventif atau pencegahan. setelah dikurangi dengan biaya penarikan unit mobil dan biaya 102 . sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut : 1. maka dari pihak finance akan menjual mobil tersebut dengan cara diiklan di media atau surat kabar oleh pihak finance dan dari hasil penjualan tersebut digunakan untuk menutup kekurangan angsuran dari pihak debitur. Objek perjanjian yang belum selesai masa angsuranya namun oleh debitur telah dijaminkan secara fidusia kepada pihak ketiga. Setelah unit mobil berada di tangan pihak finance.BAB V PENUTUP V. maka pihak finance seketika akan memutuskan perjanjian dan mengeksekusi secara langsung objek tersebut dan untuk hal ini kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian sekaligus kerugian dengan tidak mengembalikan DP sebesar 15 % .1. meskipun angsuran tetap dibayarkan oleh debitur tepat sesuai dengan tanggal jatuh temponya.

apabila menghadapi debitur yang mempunyai bad 103 . walaupun hal tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang lebih. untuk selanjutnya apabila objek perjanjian tersebut telah diketemukan. Misalnya debitur berada di Semarang akan tetapi obyek perjanjian atau unit mobil berada di Pulau Kalimantan. 2. Buana Finance apabila debitur mempunyai itikad tidak baik seperti tersebut diatas adalah melalui pengadilan. namun alternatif itulah yang akan ditempuh oleh pihak Finance untuk megeksekusi objek jaminan fidusia. 2) Debitur menggunakan perlindungan kepada aparat kepolisian yang dianggapnya berpengaruh di wilayah tersebut. maka seketika itu juga dilakukan proses eksekusi penarikan mobil. 2) Alternatif terakhir yang dilakukan oleh pihak PT. yaitu eksekusi melalui putusan hakim. dan apabila ada kelebihannya maka dikembalikan ke debitur atau konsumen.akomodasi untuk iklan. sekaligus pembatalan kontrak perjajian dengan debitur yang wanprestasi tersebut. Buana Finance dalam proses eksekusi dan cara mengatasinya Hambatan yang timbul dalam proses eksekusi antara lain : 1) Keberadaan obyek perjanjian/ unit-unit mobil yang berada sampai luar Pulau Jawa. Cara mangatasi hambatan-hambatan tersebut : 1) Membentuk tim collector dengan dibantu pihak yang berwajib untuk menyelidiki atau mencari informasi keberadaan unit mobil yang berada di luar wilayah operasional kantor. Hambatan yang timbul dan dihadapi oleh PT.

sehingga pada saat debitur tersebut akan mengajukan permohonan kredit untuk yang kedua kalinya. sehingga tidak akan timbul masalah di tengah-tengah perjanjian yang menyulitkan pihak finance. 3. calon debitur tersebut. pihak finance hendaknya mensurvey dengan benar. Saran 1. V. Sebelum memutuskan untuk menyetujui pengajuan permohonan kredit. 2. untuk itu diharapkan kepada pemerintah agar segera merumuskan Rancangan Undang-Undang yang jelas mengenai peraturan Perjanjian Pembiayaan Kosumen dan segera mengusahakan kepada DPR untuk mensahkan.charatcer. dan akan segera memasukkan data si debitur ke dalam daftar hitam (membacklist).2. pihak finance tidak akan menyetujui permohonan tersebut. hendaknya terlebih dahulu diselidiki apa yang menjadi penyebabnya sebelum pihak kreditur melakukan tindakan hukum dengan demikian akan dapat dihindari proses hukum yang lebih jauh. dan memastikan ada kecocokan antara data yang diterima dengan data yang sebenarnya. Apabila terjadi wanprestasi dari debitur. 104 . Perusahaan Finance dalam prakteknya di masyarakat semakin berkembang dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam memenuhi barang kebutuhannya.

Bandung: Bina Cipta. 2000. Semarang: Dies Natalis F. 1993. Malayu S. R. 1993. Pengembangan Perbankan November –Desember 1993. Bandung: Citra Aditya Bakti. 1980. Muchdasaryah Sinungan. UNDIP ke-43. 1983. Mohammad Nazir.1995.H. S. Bumi Aksara. 2002. Jakarta: Pradnya Paramita. Marhainis Abdul Hay. 1991. Jakarta: Yagrat. Jakarta: Teruna Grafika. Munir Fuady. Kredit Seluk Beluk dan Teknik Pengelolaan. 1990. Metode Penelitian. 2004. Retnowulan Sutantio. Perjanjian Pembiayaan Konsumen. Hukum Acara Perdata. Lembaga Pembiayaan di Indonesia. Hukum Perbankan di Indonesia. Mochammad Djais. Jakarta: Dalam Pustaka Peradilan Proyek Pembinaan Tehnis Yustisial Mahkamah Agung RI.. Radiks Purba. Roni Hanitijo Soemitro. Deddi Anggadiredja. Bandung: Alumni. Dasar-dasar Perbankan. Mariam Darus Badrulzaman. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri.DAFTAR PUSTAKA Abdulkadir Muhammad. R. Pengembangan Perbankan November-Desember. Subekti.. Jakarta: Ghalia Indonesia.P. 1992. 105 . Orasi Ilmiah Hukum Eksekusi sebagai Wacana baru di Bidang Hukum. Hukum Tentang Pembiayaan Dalam Teori dan Praktek.Hasibuan. Jakarta: Ghalia Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Hukum Dagang. Bandung: Alumni. 1994. Memahami Asuransi di Indonesia. 1993. Lembaga Pembiayaan dan Peranannya dalam Menunjang Kegiatan Usaha. Hukum Acara Perdata Indonesia. Ali Ridlo.. Karnedi Djairan. 1982.H. Perjanjian Kredit Bank. 1979. Jakarta: PT.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 1251/ KMK. 1986.017/ 2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. 106 . Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Pokok-Pokok Perbankan.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.Sudikno Mertokusumo. 1988. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 448/ KMK. Hukum Acara Perdata Indonesian. Surjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. DAFTAR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fiducia. Yogyakarta: Liberty.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful