Sabar

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
artinya : Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang kita memuji -Nya, kita memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, yang kita memohon dari kejelekan jiwajiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Saya bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk disembah melainkan Ia Subhanahu wa Ta’ala dan tiada sekutu bagi -Nya serta Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ya ayyuhal-ladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun [Ali 'Imran : 102]
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan islam” [Ali 'Imran : 102]

----Topik yang ingin saya bahas kali ini adalah sabar. Akhir-akhir ini kita melihat dan bahkan menghadapi banyak masalah. Masalah ini baik yang terjadi di sekitar kita, di Indonesia, dan bahkan di dunia. Perekonomian Indonesia yang tidak begitu baik (jika tidak dapat dikatakan memburuk) sehingga semakin banyak orang yang mengalami kesulitan secara finansial. Harga yang meningkat. Di tempat lain, pemimpin berebut jabatan. Penegak hukum tidak dapat dipegang. Dan masih banyak contoh lainnya. Kita menjadi bingung. Akibatnya adalah rakyat, seperti ini, kehilangan kesabaran. Mulai terlihat rakyat menjadi hakim sendiri. Pertengkaran terjadi di mana-mana. Rakyat memaki pemimpinnya. Ternyata bukan saja rakyat bertengkar dengan para pemimpin, tetapi rakyat dan rakyat bertengkar. Diadu seperti domba. Orang ini melawan orang itu. Warga ini melawan warga itu. Dan yang lebih menyedihkan ada juga mahasiswa/kampus itu melawan yang itu. Semua hilang kesabarannya. Padahal sumber pertengkarannya juga sepele. Isi berita di surat televisi dan surat kabar adalah seperti itu. Bahkan media ikut memilintir fakta, membuat suasana menjadi lebih panas. Semakin banyak berita yang dapat diliput semakin laris juga media. Jarang atau hampir tidak ada media yang memberitakan kesabaran. Seolah-olah sabar itu rugi. Bangsa kita seolaholah diajarkan bahwa bentak-bentak, teriak-teriak, atau marah-marah itu adalah hal yang biasa.

Kesemua ini mengerucut pada satu hal, hilang kesabaran.

Sabar. Mengapa sabar itu penting? Ada beberapa surat di Al Qur’an yang memberitakan tentang kesabaran ini. Mari kita perhatikan surat Al Ashr (Wal ashri): Demi masa,[1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,[2]. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”[3] Surat ini mengatakan bahwa kita harus saling menasihati untuk menetapi kesabaran. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10) Kali ini dikatakan bahwa orang yang bersabar itu dicukupkan pahalanya tanpa batas. Luar biasa. “Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuuraa:43) “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153) … dan masih ada beberapa lainnya … Intinya adalah sungguh sangat merugi jika kita tidak sabar. Rasulullah (saw) pun mencontohkan kesabaran yang luar biasa. Dalam perjalanan hidupnya, beliau diludahi, dilempari batu, dan banyak lagi hal-hal yang kalau itu dilakukan kepada kita, sudah pasti kita kehilangan kesabaran. Jangankan dilempari batu, baru dikata-katai saja kita sudah marah. Mengapa kita tidak mencontoh beliau? Sebetulnya, apa untungnya kita marah ya? Apakah dengan marahnya kita orang lain akan menjadi lebih baik? Bisa jadi, tetapi seringkali justru orang lain itu juga menjadi marah juga. Marah akan dilawan dengan marah. Hasilnya tentu saja menjadi ricuh. Rusuh. Inilah yang kita hadapi sekarang. Selain itu ketika kita marah, maka kesehatan kita juga dapat terganggu. Tekanan darah naik dan entah apa lagi kerusuhan yang terjadi di badan kita. Maka, bersabarlah. Masalahnya … sabar itu ternyata tidak mudah. Ada hal-hal (taqdir) Allah yang dianggap tidak menyenangkan atau menyakitkan dalam pandangan kita sebagai

manusia. Ada banyak yang kita merasa diperlakukan secara tidak adil. Maka kita marah. Sesungguhnya kesabaran itu membuat kehidupan kita menjadi lebih menyenangkan, lebih baik. Kita harus percaya bahwa keadilan itu ada. Bila kita kelihatannya belum menemukan keadilan pada kehidupan saat ini, kita harus tetap percaya bahwa Allah itu tidak tidur. Bahwa keadilan itu ada. Hal ini dapat membuat kita menjadi lebih sabar dan hidup menjadi lebih menyenangkan. Biarlah semua terjadi karena semua itu diatur oleh Allah. Semoga kita termasuk orang yang sabar dan tidak merugi. Amiiin.

(Kultum – BR, Bandung, Juli 2013)

Related Interests