You are on page 1of 11

BAB I PENDAHULUAN

Tahun 2012 ini Bumi bukan saja terancam banjir besar di Jakarta. Melainkan juga ancaman suhu panas yang dilaporkan masuk dalam 10 suhu tertinggi sejak tahun 1850. Dilaporkan Badan Nasional Cuaca Inggris, Met Office, jika suhu temperatur global akan naik setengah derajat Celcius dari rata-rata sebelumnya 14 derajat dari kurun waktu 1961-1990. Sebelumnya di tahun 2011, suhu Bumi juga naik 0,36 derajat Celcius di atas kurun waktu yang sama. "2012 diperkirakan akan lebih hangat 0,48 derajat dibanding suhu rata-rata global 14,0 derajat di jangka waktu panjang (1961-1990). Diprediksi rentang suhunya antara 0,34 sampai 0,62 derajat," ujar pernyataan Met Office dilansir Alert News, Rabu (4/1). —artikel dari National Geographic Indonesia. 2012, Salah Satu Tahun Terpanas Sejak 1850, 5 Januari 2012.

Artikel tersebut menunjukkan bahwa planet bumi terus mengalami peningkatan suhu yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Selain makin panasnya cuaca di sekitar kita, kita juga menyadari makin banyaknya bencana alam dan fenomena-fenomena alam yang cenderung semakin tidak terkendali belakangan ini. Mulai dari banjir, puting beliung, semburan gas, hingga curah hujan yang tidak menentu dari tahun ke tahun. Semua ini merupakan tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa planet bumi sedang mengalami proses kerusakan yang menuju pada kehancuran. Hal ini terkait langsung dengan isu global yang belakangan makin marak dibicarakan oleh masyarakat dunia, yaitu Global Warming (Pemanasan Global).

BAB II ISI

2.1

Pengertian Pemanasan Global Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O), dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.

2.2

Penyebab Pemanasan Global Pemahaman ilmiah yang umum sekarang ini adalah bumi sedang mengalami kecenderunagn penghangatan yang hampir pasti disebabkan oleh aktivitas manusia yang terkait dengan pabrik-pabrik skala besar. Proses itu dimulai di penghujung tahun 1700an dengan Revolusi Industri. Revolusi Industri pada intinya merupakan revolusi dalam penggunaan energi dan daya. Awal revolusi ini ditkitai dengan kehadiran motor uap yang didasarkan pada konversi energi kimia dalam kayu dan batubara menjadi energi panas dan kemudian menjadi kerja mekanik. Batubara akhirnya menggantikan kayu karena untuk massa yang sama, batubara mengandung energi dua kali lebih banyak dari kayu (diukur dalam BTU, British Thermal Unit, per pon) dan karena pengggunaannya membantu menghemat yang masih tersisa dari hutan iklim sedang dunia. Ketika minyak bumi ditemukan pada pertengahan tahun 1800-an, masih beberapa dasawarsa sebelum kehadiran listrik, bahan ini dibakar dalam bentuk minyak tanah, dalam lampu-lampu penerangan. Sama seperti batubara, minyak bumi juga digunakan untuk memasok panas ke rumah-rumah dan proses-proses industri, serta sebagai bahan bakar untuk motor-motor industri dan otomotif.

Dengan kata lain, Revolusi Industri melahirkan sesuatu yang baru sama sekali dan penting, seperti yang oleh Rochelle Lefkowitz, Presiden Pro-Media Communications dan pakar energi disebut “bahan bakar dari neraka”—batubara, minyak bumi, dan gas alam. Ketiga bahan bakar ini memang datang dari bawah tanah, bisa habis dan mengeluarkan CO2 serta bahan-bahan pencemar lain ketika mereka dibakar untuk transportasi, pemanasan, dan proses industri. Bertolak belakang dengan yang oleh Lefkowitz disebut “bahan bakar dari surga”—angin, hidroelektrik, pasangsurut, biomassa, dan tenaga surya. Semua tadi berasal dari atas tanah, senantiasa terbarukan dan tidak menghasilkan emisi berbahaya. Tahun-tahun pertama abad 20 juga menghadirkan sebuah revolusi transportasi dengan penemuan motor pembakarasn dalam (internal combustion engine) serta penggunaannya untuk mendayai mobil-mobil kecil maupun besar. Motor pembakaran dalam mengubah dunia perdagangan, membuat minyak bumi menjadi luar biasa berharga untuk menggerakkan kendaraan bermotor, dan sangat meningkatkan permintaan atas besi, baja, dan karet. Dalam paroan kedua abad 20, sebuah pemahaman ilmiah mulai muncul bahwa penumpukan berlebihan bahan-bahan pencemar yang sebagian besar tidak dapat dilihat, yang disebut gas rumah kaca, berpengaruh terhadap iklim. Penumpukan gas rumah kaca ini telah berjalan sejak awal Revolusi Industri, di sebuah tempat yang tidak dapat kita lihat dan dalam bentuk yang tidak dapat kita sentuh atau cium. Gasgas rumah kaca ini, terutama CO2 yang berasal dari industri, hunian, dan alat-alat transportasi manusia, bertumpuk di atas kepala kita, di atmosfer bumi. Jika atmosfer bumi seperti sehelai selimut yang membantu mengatur temperatur planet ini, penumpukan CO2 menyebabkan selimut itu bertambah tebal sehingga bumi semakin hangat. Berkantung-kantung CO2 yang kita buang dari mobil kita mengapung dan terkumpul di atmosfer, bersama berkantung-kantung CO2 yang berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara, minyak

bumi dan gas, ditambah berkantung-kantung CO2 yang dilepaskan dari pembakaran dan penebangan hutan, yang sama artinya dengan pelepasan seluruh simpanan karbon dalam pepohonan dan tanah. Sesungguhnyalah, banyak orang tidak sadar bahwa penggundulan hutan di tempat-tempat seperti Indonesia dan Brazil telah melepaskan CO2 jauh lebih banyak daripada yang dihasilkan mobil, pesawat terbang, kapal, dan kereta api sebagai sebuah kesatuan, yakni sekitar 20 persen dari emisi global keseluruhan. Dan ketika kita tidak melemparkan kantung-kantung berisi CO2 ke atmosfer, kita terus melemparkan gas-gas rumah kaca lain, misalnya metana (CH4) yang dilepaskan dari lahan-lahan pertanian, pengeboran minyak, penambangan batubara, kotoran hewan, limbah padat di tempat pembuangan sampah, dan termasuk hewan ternak yang bersendawa. Ya, ternak yang bersendawa. Sekawanan ternak yang sedang bersendawa bisa berdampak lebih buruk daripada serangkaian Hummer yang berbaris di sepanjang jalan dengan mesin yang menyala. Gas dari ternak sangat kaya akan CH4 dan seperti CO2, CH4 merupakan salah satu gas ruimah kaca yang begitu dilepaskan ke atmosfer, juga menyerap panas yang terpancar dari permukaan bumi. “Sama-sama untuk tiap molekul, CH4 di atmosfer memiliki kemampuan memerangkap panas 20 kali lebih kuat daripada CO2, gas rumah kaca yang paling berlimpah,” lapor Science World (21 Januari 2002). Menurut penelitian pakar-pakar iklim, seekor sapi rata-rata mengeluarkan 600 liter CH4 dalam sehari. Dengan 1.3 miliar sapi bersendawa hampir tiada henti di seluruh dunia tidak mengherankan jika CH4 yang dilepaskan oleh hewan ternak adalah salah satu sumber utama gas rumah kaca di dunia.

2.3

Dampak Pemanasan Global a) Mencairnya es di kutub utara & selatan Pemanasan global berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah

mencair hampir mencapai 19 juta ton. Dan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya. Mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model-model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan. Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat sebelumnya

memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya. Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh. Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar 1.609 kilometer selatan Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal, diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. “Ini akibat pemanasan global,” ujar ketua peneliti NSIDC Ted Scambos. Menurutnya, lempengan es yang disebut Wilkins Ice Shelf itu sangat jarang runtuh. Sekarang, setelah adanya perpecahan itu, bongkahan es yang tersisa tinggal 12.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan menghubungkan dua pulau. “Sedikit lagi, bongkahan es terakhir ini bisa turut amblas. Dan, separo total area es bakal hilang dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Scambos. “Beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan titik yang memicu dalam perubahan sistem,” ujar Sarah Das, peneliti dari Institut Kelautan Wood Hole. Perubahan di Antartika sangat kompleks dan lebih terisolasi dari seluruh bagian dunia. Antartika di Kutub Selatan adalah daratan benua dengan wilayah pegunungan dan danau berselimut es yang dikelilingi lautan. Benua ini jauh lebih dingin daripada Artik, sehingga lapisan es di sana sangat

jarang meleleh, bahkan ada lapisan yang tidak pernah mencair dalam sejarah. Temperatur rata-ratanya minus 49 derajat Celsius, tapi pernah mencapai hampir minus 90 derajat celsius pada Juli 1983. Tak heran jika fenomena mencairnya es di benua yang mengandung hampir 90 persen es di seluruh dunia itu mendapat perhatian serius peneliti. b) Meningkatnya level permukaan laut Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan berdampak langsung pada naiknya level permukaan air laut. Para ahli memperkirakan apabila seluruh Greenland mencair, level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter, cukup untuk menenggelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh dunia. c) Perubahan Iklim/cuaca yang semakin ekstrim NASA menyatakan bahwa pemanasan global berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca dan iklim bumi. Pola curah hujan berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat, tetapi kekeringan di tempat yang lain. Topan dan badai tropis baru akan bermunculan dengan kecenderungan semakin lama semakin kuat. Tanpa diperkuat oleh pernyataan NASA di atas pun kita sudah dapat melihat efeknya pada lingkungan di sekitar kita, betapa panasnya suhu belakangan ini. betapa tidak dapat diprediksinya kedatangan musim hujan ataupun kemarau yang mengakibatkan kerugian bagi petani karena musim tanam yang seharusnya dilakukan pada musim kemarau ternyata malah hujan. kita juga dapat mencermati kasus-kasus badai ekstrim yang belum pernah melanda wilayahwilayah terntentu di Indonesia. Tahun-tahun belakangan ini kita makin sering dilanda badai-badai yang mengganggu jalannya pelayaran dan pengangkutan baik via laut maupun udara. d) Gelombang Panas menjadi Semakin Ganas Pemanasan global mengakibatkan gelombang panas menjadi semakin sering terjadi dan semakin kuat. Tahun 2007 adalah tahun

pemecahan rekor baru untuk suhu yang dicapai oleh gelombang panas yang biasa melanda Amerika Serikat. Daerah St. George, Utah memegang rekor tertinggi dengan suhu tertinggi mencapai 48° Celcius. Suhu di St. George disusul oleh Las Vegas dan Nevada yang mencapai 47° Celcius, serta beberapa kota lain di Amerika Serikat yang rata-rata suhunya di atas 40° Celcius. Daerah Death Valley di California malah sempat mencatat suhu 53° Celcius. Serangan gelombang panas kali ini bahkan memaksa pemerintah di beberapa negara bagian untuk mendeklarasikan status darurat siaga I. Serangan tahun itu memakan beberapa korban meninggal (karena kepanasan), mematikan ratusan ikan air tawar, merusak hasil pertanian, memicu kebakaran hutan yang hebat, serta membunuh hewan-hewan ternak. Pada tahun 2003, daerah Eropa Selatan juga pernah mendapat serangan gelombang panas hebat yang mengakibatkan tidak kurang dari 35.000 orang meninggal dunia dengan korban terbanyak dari Perancis (14.802 jiwa). Perancis merupakan negara dengan korban jiwa terbanyak karena tidak siapnya penduduk dan pemerintah setempat atas fenomena gelombang panas sebesar itu. Korban jiwa lainnya tersebar mulai dari Inggris, Italia, Portugal, Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya. Gelombang panas ini juga menyebabkan kekeringan parah dan kegagalan panen merata di daerah Eropa. e) Habisnya Gletser- Sumber Air Bersih Dunia Mencairnya gletser-gletser dunia mengancam ketersediaan air bersih, dan pada jangka panjang akan turut menyumbang peningkatan level air laut dunia. Dan sayangnya itulah yang terjadi saat ini. Gletsergletser dunia saat ini mencair hingga titik yang mengkhawatirkan. NASA mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005 saja, jumlah gletser-gletser di berbagai belahan dunia yang hilang tidak kurang dari 8.000 meter kubik. Para ilmuwan NASA kini telah menyadari bahwa cairnya gletser, cairnya es di kedua kutub bumi, meningkatnya temperatur bumi secara global, hingga meningkatnya level air laut

merupakan bukti-bukti bahwa planet bumi sedang terus memanas. Dan dipastikan bahwa umat manusialah yang bertanggung jawab untuk hal ini.

2.4

Solusi Penanganan Pemanasan Global Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbondioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca. Menghilangkan karbon Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca. Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumursumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan . Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Langkah awal penanganan pemanasan global secara individu: 1. Kurangi konsumsi daging jadilah vegetarian Memproduksi daging sarat CO2 dan CH4 dan membutuhkan banyak air. Hewan ternak seperti sapi atau kambing merupakan penghasil terbesar metana saat mereka mencerna makanan mereka. Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%). Lebih lanjut, dalam laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”, 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitrooksida dunia (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2). Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan “Kick The Habit”, 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2. Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk mengurangi makan daging. 2. Tanam pohon Satu pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 kg CO2 per tahunnya. Dalam seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap 1 ton CO2. United Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan bahwa pembabatan hutan menyumbang 20% emisi gas rumah kaca. Seperti kita ketahui, pohon menyerap karbon yang ada dalam atmosfer. Bila mereka ditebang atau dibakar, karbon yang pernah mereka serap sebagian besar justru akan dilepaskan kembali ke atmosfer. 3. Bepergian yang ramah lingkungan Cobalah untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan,

gunakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2. 4. Kurangi belanja Industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil. Jenis industri yang membutuhkan banyak bahan bakar fosil sebagai contohnya besi, baja, bahan-bahan kimia, pupuk, semen, gelas, keramik, dan kertas. Oleh karena itu, jangan cepat membuang barang, lalu membeli yang baru. Setiap proses produksi barang menyumbang CO2. 5. Beli makanan organik Tanah organik menangkap dan menyimpan CO2 lebih besar dari pertanian konvensional. The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara organik dapat mengurangi 26% CO2 yang disumbang oleh pertanian. 6. Gunakan lampu hemat energi Bila Anda mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat menghemat 400 kg CO2 dan lampu hemat energi 10 kali lebih tahan lama daripada lampu pijar biasa 7. Gunakan kipas angin AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr CO2 per jamnya. Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin. 8. Jemur pakaian anda di bawah sinar matahari Bila Anda menggunakan alat pengering, Anda mengeluarkan 3 kg CO2. Menjemur pakaian secara alami jauh lebih baik: pakaian Anda lebih awet dan energi yang dipakai tidak menyebabkan polusi udara. 9. Daur ulang sampah organik Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal

dari sisa makanan, kertas, daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini 10. Pisahkan sampah kertas, plastik, dan kaleng agar dapat

didaur ulang Mendaur ulang aluminium dapat menghemat 90% energi yang dibutuhkan untuk memproduksi kaleng aluminium yang baru, 9 kg CO2 per kilogram aluminium. Untuk 1 kg plastik yang didaur ulang, Anda menghemat 1,5 kg CO2, untuk 1 kg kertas yang didaur ulang, Anda menghemat 900 kg CO2.