SKENARIO D PUBLIC HEALTH EDUCATION (PHE) Pak Widodo mengalami batuk-batuk sejak 3 minggu yang lalu.

Beliau tidak mengalami demam namun merasa nafsu makannya berkurang. Menurut teman-temannya itu hal yang biasa dan dapat dialami semua orang. Karena itu Pak Widodo membeli obat batuk di toko obat dan tetap bekerja seperti biasa karena ia merasa tidak sedang sakit dan kalau tidak bekerja ia tidak mendapatkan upah harian sebagai buruh lepas. Satu minggu kemudian ia merasa batuknya makin bertambah sering, nafsu makan hampir tidak ada, dan terasa meriang serta berkeringat pada sore dan malam hari. Ia kemudian membeli obat demam dan penambah nafsu makan. Tiga hari kemudian tiba-tiba ia mengalami batuk berdarah. Pak Widodo merasa takut dan secepatnya pergi ke puskesmas untuk berobat, dan kemudian didiagnosis menderita TBC. Sebagai dokter di puskesmas tersebut, yang memahami konsep kesehatan masyarakat dan kedokteran pencegahan, apa yang anda lakukan terhadap Pak Widodo secara comprehensive dan holistic? I. Identifikasi Masalah 1. Pak Widodo mengalami batuk-batuk dan penurunan nafsu makan sejak tiga minggu yang lalu. 2. Menurut teman-temannya keluhan tersebut merupakan hal yang biasa, sehingga Pak Widodo membeli obat batuk di toko obat. 3. Pak Widodo tetap bekerja karena merasa tidak sedang sakit dan takut tidak mendapatkan upah harian. 4. Satu minggu kemudian batuk makin bertambah sering, nafsu makan hampir tidak ada, terasa meriang, serta berkeringat pada sore dan malam hari. 5. Tiga hari kemudian, dia mengalami batuk berdarah dan pergi ke puskesmas, kemudian didiagnosis menderita TBC. II. Analisis Masalah 1. Apa saja kemungkinan penyebab batuk lebih dari 3 minggu? Penyebab batuk pada dasarnya adalah iritasi dari mukosa bronkus yang dapat disebabkan oleh inflamasi (peradangan), baik oleh bakteri, virus, dan jamur, disertai dengan mukus yang banyak. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena benda asing tetapi dapat pula oleh termal. Selain itu batuk juga dapat disebabkan oleh payah jantung, tumor THT, dan tumor pada saluran pernapasan. Baik penyakit paru obstruktif kronik (bronkitis kronik, asma, emfisema, dan bronkiektasis), maupun penyakit paru restriktif (berbagai penyakit interstisial dan degeneratif) dan berbagai penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan batuk. Iritasi pada saluran pernapasan selain disebabkan oleh faktor–faktor mekanik, dapat pula disebabkan oleh iritan, seperti rokok, gas, dan bahan-bahan kimia, dapat pula merupakan stimulan dalam terjadinya batuk. Tabel 1. Penyebab batuk kronis (batuk > 2minggu) Bronkitis kronik Batuk lebih dari 3 bulan berturut-turut atau lebih dari 2 tahun. Batuk mukopurulen dan terdapat eksaserbasi Bronkiektasis Batuk pagi, sputum kental, purulen dan berlapis-lapis TBC Batuk berminggu-minggu dan berdarah, sifat batuk dimulai dari batuk kering, batuk produktif, batuk darah Asma Batuk, ekspirasi panjang dengan adanya wheezing Fibrosis interstisial Batuk kering dan menetap dan infiltasi Perokok Batuk pagi dan sedikit produktif, kecuali bila terdapat gatal-gatal pada tenggorokan

fisik. memiliki tanggung jawab menurut kapasitas yang dimilikinya. and not merely an absence of disease or infirmity” World Health Organization (WHO). Abbott Penyakit Persentase pasien Penyakit Persentase pasien hemoptisis hemoptisis Karsinoma 56 Empiema 24. dapat tidak dengan hemoptisis Batuk non produktif Batuk yang disertai dengan sesak napas Batuk yang progresif dan disertai dengan tanda-tanda asfiksia Batuk keras.  Sehat secara mental menurut Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia. dapat produktif. dan emosionil yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang-orang lain". Tidak kecewa dengan keadaan dirinya. misal: denyut nadi pada saat istirahat. dan menunjukkan perilaku sosial yang penuh perhitungan.2 Karsinoma bronkogenik Tumor jinak Tumor mediastinum Benda asing Batuk berminggu-minggu. Sehat secara mental  “A healthy body is a healthy Mind ”  Secara mental  puas dengan keadaan dirinya. dalam pasal 1  "Kesehatan jiwa (mental health) adalah satu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik.5 Kista kongenital 25. intelektual. dapat hidup secara efektif dengan sesama. Undang-undang nomor 3 tahun 1960 tentang Kesehatan Jiwa. Apa definisi sehat? "Health is a state of complete physical. nomor 2805. tekanan darah. Penyebab batuk darah (hemoptisis) menurut penyelidikan Osler A. dan body mass indeks. dan spiritual Sehat secara fisik  Komponen terpenting. sosial. senang (ceria). Sehat secara rohani .5 Tumor 20 mediastinum Tuberkulosis 36. terutama pada posisi terlentang Dekompensasi ventrikel kiri Infark paru Baguk disertai dengan hemoptisis Tabel 2. Definisi di atas (terutama WHO) memproyeksikan keadaan sehat dalam 3 atau 4 dimensi pandang yang berbeda. tahun 1947. mental.2 Metastasis 24 karsinoma Infark pulmonal 44 Bronkiektasis 43. serta tidak pernah merasakan konflik di dalam dirinya.8 Obstruksi 9 esofagus 2.5 bronkogenik Abses paru 49.5 Penyakit jantung 17. Sehat secara sosial  Sehat secara sosial (social well-being) kemampuan seseorang untuk membina hubungan keakraban dengan sesama. Selalu bahagia. mental and social well-being. tanda-tanda sehat secara fisik  Sehat secara fisik dapat pula diukur dari parameter nilai-nilai normal dari tanda-tanda vital tubuh.

Apakah tindakan Pak Widodo membeli obat di toko obat sudah benar? . artinya sakit tersebut diabaikan dan tetap menjalankan kegiatan sehari-hari Perilaku yang ditunjukkan Pak Widodo di awal dengan tetap bekerja b. self medication masih diperbolehkan dalam kurun waktu 2x24 jam setelah itu harus ke dokter bila tidak ada perbaikan. keluarga juga tidak melakukan hal yang berarti (kemungkinan beranggapan sama) c. Pandangan Hidup  Pak Widodo kurang memahami dan minimnya pengetahuan tentang penyakit yang dideritanya. namun secara sosial ia masih dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Pelayanan medik Jadi kesemua faktor ini menyebabkan Pak Widodo merasa batuk yang dideritanya adalah batuk biasa. Sehingga Pak Widodo terlambat berobat. Ini merupakan tindakan Pak Widodo selanjutnya dengan membeli obat batuk di toko obat. 5. Perilaku b. dan merupakan kesalahan terbesar dari seorang dokter (zaman ini). Biologis/genetik d. berupa rasa "kerohanian" pada diri manusia. Lingkungan c. Selain itu kemungkinan tingkat pengetahuan teman-teman nya mengenai gejala TBC masih rendah. Keadaan biologis manusia itu sendiri  Pak Widodo merasa sehat b. Dimensi ini sering terlupakan. Mengapa Pak Widodo membeli obat sendiri (self-medication)/ tidak berobat ke dokter? Teori perilaku sakit Pada saat orang sakit ada beberapa tindakan atau perilaku yang muncul.3   Menyangkut hubungan yang transenden baik secara fisiologis maupun psikologis. secara fisik pak widodo mengalami batuk dan penurunan nafsu makan.E. Mengapa teman-temannya menganggap Pak Widodo tetap sehat? Kemungkinan pada kasus. ditambah lagi faktor lingkungan (teman-temannya) juga menganggap hal yang sama. Secara umum. Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self treatment atau self medication). yang mencoba memisahkan keadaan jiwa dan fisik seseorang. hal ini berhubungan dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat yaitu a. Menurut Park J. Pelayanan kesehatan  belum melaksanakan perannya secara maksimal Menurut Ladonde (1974) empat faktor yang mempengaruhi adalah a. 4. berpenghasilan rendah e. Lingkungan  menganggap batuk Pak Widodo adalah hal yang biasa. antara lain : a. sehingga teman nya menganggap ia sehat dan yang gejala yang dialami itu merupakan hal biasa. Status ekonomi  Pak Widodo hanya buruh lepas. lebih mementingkan kebutuhan ekonomi (tuntutan ekonomi) daripada kesehatan d. Mencari penyembuhan atau pengobatan keluar yakni ke fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu. Didiamkan saja (no action). 3. tingkat pendidikan dan pemahaman tentang penyakit yang diderita juga berperan penting pada kasus ini. c. Untuk kasus batuk tanpa demam waktu yang diperbolehkan kurang lebih 2 minggu.

Tidak boleh diberikan pada anak-anak berusia dibawah 3 tahun karena dapat tersedak menyumbat jalan nafas. Apa saja batasan seseorang untuk bisa mengobati diri-sendiri? Secara umum. perhatikan tanggal kadaluwarsa (masa berlaku) obat. Beberapa obat batuk yang dapat dibeli tanpa resep dokter antara lain yang mengandung: a. bila tidak ada perbaikan atau malah memburuk segera berobat ke dokter. Lingkungan (20%) . jika di awal. dan informasi tentang interaksi obat dengan obat lain yang digunakan dan dengan makanan yang dimakan. dll). Rhinos SR. 7. Triaminic. Yang salah adalah Pak Widodo tidak segera berobat setelah lebih dari 2minggu. status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 4 faktor: a. Permen obat batuk atau permen pedas dapat menolong pada batuk yang kering dan menggelitik. c. Bisolvon Extra. Namun apabila kondisi penyakit semakin serius sebaiknya memeriksakan ke dokter. b. terdapat hal. Apabila menggunakan golongan obat bebas dan golongan obat bebas terbatas. Genetik (20%) b. kontra-indikasi (yaitu petunjuk penggunaan obat yang tidak diperbolehkan). b. yang tentunya juga obat yang dipergunakan adalah golongan obat bebas dan bebas terbatas yang dengan mudah diperoleh masyarakat. selain meyakini bahwa obat tersebut telah memiliki izin beredar dengan pencantuman nomor registrasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Departemen Kesehatan. Guaifenesin (Cohistan Expectorant. cara penyimpanan obat. Menghirup uap hangat dapat menolong batuk kering dengan cara meningkatkan kelembaban di udara. Obat-obatan yang mengandung pseudoephedrine ini dapat digunakan untuk menghentikan pilek encer (meler) dan postnasal drip. Apa saja faktor yang mempengaruhi pola perilaku Pak Widodo? Menurut teori Blum. 6. Actifed Expectorant.4 Tidak masalah untuk mengobati diri sendiri guna mengurangi keluhan yang ada seperti sakit ringan. diantaranya: kondisi obat apakah masih baik atau sudak rusak. Disudrin. self-medication tidak boleh lebih dari 2 x 24 jam. Dekongestan seperti pseudoephedrine (Actifed. dosis obat (takaran pemakaian obat). Seseorang masih dibenarkan untuk melakukakan pengobatan sendiri hanya dalam keadaaan dan batas-batas tertentu seperti sakit ringan. dll). Obat batuk dan obat penambah nafsu makan masih wajar. Yang harus diingat adalah jika minum obat-obatan yang mengandung Guaifenesin adalah harus minum banyak air. Probat.Beberapa tips untuk mengurangi batuk: a. karena sudah mengindikasikan batuk kronis. Tidak boleh digunakan jika ada penyakit darah tinggi atau untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun kecuali atas resep dokter anda. efek samping (yaitu efek yang timbul. Dianjurkan untuk tidak sekali-kalipun melakukan uji coba obat sendiri terhadap obat-obat yang seharusnya diperoleh dengan mempergunakan resep dokter.hal yang perlu diperhatikan. Clarinase. Minum lebih banyak cairan dapat mengencerkan dahak di tenggorokan sehingga mudah dibatukkan keluar. membaca dan mengikuti keterangan atau informasi yang tercantum pada kemasan obat atau pada brosur / selebaran yang menyertai obat yang berisi tentang indikasi (merupakan petunjuk kegunaan obat dalam pengobatan). Actifed Expectorant. yang bukan efek yang diinginkan).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. yang kemungkinan besar tingkat pendidikan terakhir ialah SMA. pengetahuan. Faktor perilaku sendiri dipengaruhi oleh (Green): a. bahan. Selain itu. seharusnya masyarakat Pak Widodo cukup mampu menerima dan memahami informasi dan ide baru dengan strategi komunikasi yang baik. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak dan mencari solusi untuk masalah yang dijumpainya. Merujuk pada kasus. tentunya dengan status buruh lepas. semakin tinggi pendidikan seseorang. Perilaku (50%) d. Contohnya. Enabling factor (faktor pemungkin) c. seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki pandangan yang lebih terbuka tentang suatu hal dan lebih mudah untuk menerima ide atau cara kehidupan baru. Faktor predisposisi yang kemungkinan juga berpengaruh adalah pengetahuan. faktor perilaku adalah faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap status kesehatan. Reinforcing factor (faktor yang memperkuat) Faktor predisposisi: Kemungkinan faktor predisposisi yang membentuk perilaku pak Widodo adalah pendidikan. serta pola pikir individu tersebut di mana orang yang berpendidikan tinggi cenderung lebih rasional. Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan pola pengambilan keputusan dan penerimaan informasi.Pendidikan juga akan mempengaruhi pengetahuan dan persepsi seseorang tentang pentingnya suatu hal. maka semakin banyak materi. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan . Menurut Notoadmodjo. Predisposing factor b. atau pengetahuan yang diperoleh untuk mencapai perubahan tingkah laku yang baik. dan kondisi ekonomi serta sikap dari lingkungan Pak Widodo.5 c. Pak Widodo membeli obat batuk di took obat. Pelayanan kesehatan (10%) Dengan demikian.

sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari dari pengetahuan akan lebih bertahan (long lasting) dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Padakasus Pak Widodoinikurangnyaaksesmungkin yang menyebabkandiatidakpergikepuskesmaspadasaatkeluhanpertamadialaminya. Namun faktor lain yang harus diperhatikan adalah kurangnya akses terhadap informasi. pendengaran. Banyak faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap suatu hal. Sedangkan menurut teori Snehandu B. sarana kesehatan sudah tersedia dan dapat dicapai. lingkungan. kita tidak mengetahui bagaimana sikap dan perilaku petugas kesehatan di sana. seseorang juga akan lebih termotivasi untuk bertindak sesuai dengan ganjaran yang didapat. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. terlebih menurut teman-temannya itu hal yang biasa dan dapat dialami semua orang. Kondisi ekonomi yang menuntut Pak Widodo untuk tetap bekerja dalam upaya mendapatkan upah harian juga mempengaruhi perilaku Pak Widodo ini. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. 2) Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personnal references). dan pengalaman. Dengan demikian. Kurangnya pengetahuan akan mempengaruhi sikap serta tindakan masyarakat terkait dengan perilaku kesehatan dan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. pendidikan dan pengetahuan merupakan hal yang saling berkaitan. umur. hal ini juga tidak diketahui. Faktor penguat: Salah satu faktor penguat adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan. Seperti yang dijelaskan di atas. yaitu Puskesmas yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi pelayanan kesehatan primer dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan. yakni indera penglihatan. mungkin dapat disimpulkan bahwa edukasi dari pihak penyedia jasa kesehatan kepada Pak Widododanteman-temannya ini masih kurang baik. yaitu: 1) Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling). dan sosial budaya. Sebab dengan semakin kurangnya akses. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). rasa dan raba. 5) Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action situation) Menurut teori WHO. sehingga pengetahuan pun sedikit. 2) Adanya dukungan dan masyarakat sekitarnya (social support)kasus 3) Terjangkaunya informasi (accessibility of information)kasus 4) Adanya otonomi atau kebebasan pribadi (personnal autonomy) untuk mengambil keputusan.6 terhadap suatu sobjek tertentu. Di kasus ini mungkin kurangnya accessibility of information. Hal lain yang menjadi faktor penguat adalah punishment dan reward. Terkait dengan kasus. akses akan mempengaruhi pengetahuan yang kemudian berpengaruh terhadap perilaku. yang menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit TBC. Karr. Terkait dengan kasus. ada 4 alasan pokok (determinan). bagaimanagejalanyadanapa yang harussegeramerekalakukanketikamendapatigejala TBC. yaitu: 1) Adanya niat (intention). maka informasi yang didapat juga minim. antara lain adalah pendidikan. Jika Pak Widodo tidak bekerja maka dia tidak akan mendapatkan upah. akses terhadap informasi. Namun jika ada ganjaran atau hadiah tertentu. 3) Sumber daya (resources) yang tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat . Faktor pemungkin: Terkait dengan kasus. penciuman. Dari ketidaktahuan Pak Widododanteman-temannya. ada 5 determinan perilaku.

BB menurun.sosial dan spiritual). spanduk. Apa saja indikator seseorang dengan keluhan batuk sudah harus berobat ke dokter? Segera ke dokter jika: 1) Batuk sangat hebat yang timbul mendadak 2) Batuk disertai bunyi nada tinggi pada saat menarik nafas 3) Batuk berdarah 4) Demam (yang dapat mengindikasikan adanya suatu infeksi bakteri yang memerlukan antibiotika) 5) Dahak yang kental. Selain itu perlu juga dijelaskan tentang bagaimana pengobatan TBC secara komprehensif (kuratif. 4) ethnocentrism.Kebanyakan hemoptisis pada tuberkulosis terjadi pada kavitas. Hemoptisis dapat menyebabkan: 1) Terjadinya asfiksia oleh karena terdapatnya bekuan darah didalam saluran pernapasan akibt berkurangnya refleks batuk atau efek psikis yang tidak menahan batuk. Bagaimana alur diagnosis TBC? . 2) Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya hemoptisis dapat menimbulkan renjatan hipovolemik. tindakan Pak Widodo berobat ke Puskesmas sudah terlambat? Ya. 11. komunikasi dari mulut ke mulut dan media seperti brosur.7 4) Sosio budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku seseorang 5) Menurut G. seminar.M. yaitu suatu infeksi yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari setelah perdarahan. mental. sudah terlambat karena batuk darah/ hemoptisis sudah menandakan bahwa terdapat pembuluh darah yang pecah. Apakah saat mengalami batuk berdarah. hemoptisis sudah merupakan bentuk kegawatan paru. berbau busuk. Hemoptisis pada penderita TBC mengindikasikan beratnya penyakit yang diderita. 3) nilai. poster.preventif. 10. seperti batuk lebih dari 2 minggu.demam. tetapi dapat juga pada ulkus dinding bronkus. Hemoptisis masif bila pengeluaran darah >200cc/24 jam: 3) Pneumonia aspirasi. Foster (1973).promotif dan rehabilitatif) serta holistik (fisik. 5) unsur budaya. aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan seseorang antara lain adalah : 1) tradisi. dan berkeringat pada sore dan malam hari. penurunan nafsu makan. 8. berwarna kuning kehijauan (mengindikasikan terkena TBC) 6) Batuk lebih dari 10-14 hari 7) Batuk pada bayi berusia kurang dari 3 bulan Segera ke gawat darurat jika: 1) Nafas pendek atau sulit bernafas 2) Pembengkakan di muka dan kerongkongan disertai kesulitan menelan 9.diskusi kelompok. dan media elektronik. Bagaimana cara mendidik masyarakat untuk mengetahui tanda-tanda bahaya terhadap keluhan batuk? Pendidikan dan promosi kesehatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda bahaya batuk adalah melalui bimbingan dan penyuluhan (guidance dan councelling). pamflet. Pendidikan kesehatan masyarakat yang bisa kita lakukan adalah mengenai gejala TBC. 2) sikap fatalism.

8 Tersangka penderita TBC (suspek TBC) PERIKSA dahak Sewaktu Pagi Sewaktu (SPS) Hasil BTA +++ ++- Hasil BTA +-- Hasil BTA .-- Periksa Rontgen dada Beri antibiotik spectrum luas Hasil mendukung TBC Hasil tidak mendukung TBC Tidak ada perbaikan ada perbaikan Penderita TBC BTA (+) Ulangi periksa dahak SPS Hasil BTA +++ +++-- Hasil BTA .-- Periksa rontgen dada Hasil mendukung TBC Hasil rontgen negatif TBC. BTA negative. Rontgen positif Bukan TBC. Apa saja standar minimal sarana yang dimiliki puskesmas? . penyakit lain 12.

dan lingkungan pada kasus ini? 14. Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembab. alat diagnostik TB untuk pemeriksaan sputum/dahak. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet(percikan dahak). Setelah kuman TBC masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Sumber penularan adalah penderita TBC BTA positif. Bagaimana pola interaksi agen. alat diagnosis leptotex untuk avian influenza) d. tetapi juga mengenai organ tubuh lainnya. Alat deteksi khusus (malaria/rapid diagnostik test untuk daerah malaria dan malaria kit. host. 2) Tahap Patogenesa a) Inkubasi Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. . dengan tenaga surya (daerah tidak punya listrik). Penyediaan/penggantian kerusakan PONED kit.Sebagian besar kuman TBC menyerang paru. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan hidup di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. bidan kit.hemoglobin/Hb Sahli. KB kit b. Penyediaan alat deteksi pencegahan komplikasi kebidanan (protein dan glukosa urine/dip stick. HIV/rapid test 3 jenis untuk daerah dengan kasus HIV tinggi. Kuman tuberculosis berbentuk batang. Pada waktu batuk dan bersin.9 a. golongan darah) c. Bagaimana RAPP TBC (riwayat alami perjalanan penyakit)? 1) Tahap Pre-Patogenesa Tuberculosis adalahpenyakitmenularlangsung yang disebabkanolehkuman TBC (Mycobacteriumtuberculosis). Alat pengolahan limbah cair 13. mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Alat cold chain untuk vaksin. e.

misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang yang buruk. danpadasatupemeriksaanfollow upsebelumnya. yang bersangkutan akan menjadi penderita TBC. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TBC. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya. dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. akibatnya dalam beberapa bulan. Meskipun demikian. . Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengentikan perkembangan kuman. maka penderita tersebut dianggap tidak menular. sehingga dapat melewati system pertahanan mukosiler bronkus. tertidur lama selama beberapa tahun. melalui sistem peredaran darah. saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagianbagian tubuh lainnya. dan ini disebut sebagai kompleks primer. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelejar limfe disekitar hilus paru. Bila hasil pemeriksaan dahak negative (tidak terlihat kuman). Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant. b) PenyakitDini Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Masa inkubasi yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit.  Kolaps dari lobus akibat retraksi bonkial. c) PenyakitLanjut Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). yang mengakibatkan peradangan didalam paru. sistem saluran limfe. Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC.10 kuman TBC tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atu tahun sesudah infeksi primer. ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. d) Tahapakhirpenyakit  Sembuhsempurna Penyakit TBC akansembuhsecarasempurnabilapenderitatelahmenyelesaikanpengobatansecaralengkap . makin menular penderita tersebut. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.  Sembuhtapicacat Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :  Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. diperkirakan sekitar 6 bulan. danpemeriksanulangdahak (follow up) paling sedikit 2 kali berturut-turut hasilnyanegatifyaitupadaakhirdan/atausebulansebelumakhirpengobatan.

persedian. tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis. Penderita BTA negatif yang hasil pemeriksaan dahaknya pada akhir bulan kedua menjadi positif. pengobatan dengan OAT tidak diperlukan.Tindaklanjut :penderitadiberitahuapabilagejalamunculkembalisupayamemeriksakandiridenganmengi kutiprosedurtetap. Bagaimana penanganan comprehensive terhadap kasus Pak Widodo? 1) Kuratif Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis. Pirazinamid.  Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. Streptomisin. Kronik Penderita BTA positif yang hasilpemeriksaandahaknyatetappositifataukembalimenjadipositifpadasatubulansebelum akhirpengobatanataupadaakhirpengobatan. Panduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat lanjutan.Tindak lanjut : Penderita BTA positif baru dengan kategori 1 diberikan kategori 2 muali dari awal. Bilaperdarahanberat. Sedangkan . Etambutol. 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi. penderitaharusdirujukke unit spesialistik. Jenis obat utama yang digunakan adalah Rifampisin. sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. ginjal dan sebagainya. setelah lima tahun 50% dari penderita TBC akan meninggal. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir. MeninggalDunia Penderita yang dalam usia masa pengobatan diketahui meninggal karena sebab apapun.11  Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus sembuh.  InsufisiensiKardioPulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency) Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit. Pada kasus ini. 1996)    15. Seharusnya terhadap semua penderita BTA positif harus dilakukan pemeriksaan ulang dahak. Tanpa pengobatan. Penderita BTA positif pengobatan ulang ulang dengan kategori 2 dirujuk ke UPK spesialistik atau diberikan INH seumur hidup. yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7) bulan. Tindaklanjut :berikanpengobatankategori 2 mualidariawal. tulang.  Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. Upaya pengobatan TBC dibagi menjadi dua fase. Karier Penderita yang telahmenyelesaikanpengobatannyasecaralengkaptapitidakadahasilpemeriksaanulahdah ak 2 kali berturut-turutnegatif. dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO. dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6-8 bulan berturut-turut dengan menggunakan OAT standar yang direkomendasikan oleh WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease). INH. Penderita TBC paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah.

dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).  Undang-Undang No. Kapreomisin dan Kanamisin.23 tahun 1992 tentang Kesehatan  Peraturan Menteri Kesehatan tentang hygiene dan saniasi lingkungan  Pengendalian melalui administrasi/organisasi (administrative control)  Pesyaratan penerimaan tenaga kerja  Pencatatan pelaporan  Monitoring dan evaluasi  Pengendalian secara teknis (engineering control). Pencegahan Primer Pencegahan primer merupakan upaya yang dilaksanakan untuk mencegah timbulnya penyakit pada populasi yang sehat. dan etambutol setiap hari (tahap intensif). Paraaminosalisilat.1 tahun 1970 tentang Keselamatan kerja  Undang-Undang No. pirazinamid. Amikasin. Tabel 1. 1998) Fase Intensif Fase Lanjutan 2 bulan 4 bulan 6 bulan BB Harian Harian 3x/minggu Harian 3x/minggu Harian RHZE RHZ RHZ RH RH EH 150/75/400/275 150/75/400 150/150/500 150/75 150/150 400/150 30-37 2 2 2 2 2 1. antara lain : .12 obat sekundernya antara lain: Exionamid.5 38-54 3 3 3 3 3 2 55-70 4 4 4 4 4 3 >71 5 5 5 5 5 3 1) Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Selama 2 bulan minum obat INH.  Pengendalian melalui perundang-undangan (legislative control)  Undang-Undang No. 1. 2) Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3 Diberikan kepada: a) Penderita kambuh. b) Penderita gagal terapi. Sikloserin. Diberikan kepada: a) Penderita baru TBC paru BTA positif. 14 tahun 1969 Tentang ketentuan-ketentuan pokok tenaga kerja. 3) Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Diberikan kepada: a) Penderita BTA (+) 2) Preventif Adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit atau kondisi yang memperberat penyakit TBC. rifampisin. Dosis Obat Anti Tuberkolosis Kombinasi Dosis Tepat (IUALTD & WHO. b) Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat. c) Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.

Kurangnya ventilasi menyebabkan CO2 meningkat. kebersihan lingkungan. tuberculin test)  Peningkatan gizi pekerja  Penelitian kesehatan 2. berkala & khusus (anamnesis. Salah satu fungsi ventilasi adalah membebaskan udara dari bakteri. dinding. o Kepadatan penghuni rumah : minimum 9 m2 per orang. gizi kerja. o Pencahayaan : rumah dengan pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit TB Paru. dengan demikian viabilitas bakteri Mycobacterium tuberculosis di lingkungan juga sangat mempengaruhi. antara lain :  Pendidikan kesehatan : kebersihan perorangan. kelembaban. mencakup identifikasi TBC pada orang yang dicurigai dan rujukan pemeriksaan dahak dengan mikroskopis secara berkala. Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban. o Kelembaban o Suhu: Nyaman untuk ditinggali apabila suhu berkisar antara 18-30oC.13  Sistem ventilasi yang baik  Pengendalian lingkungan keja  Pengendalian melalui jalur kesehatan (medical control). Mycobacterium tuberculosis hidup dan tumbuh baik pada suhu 31-37 oC. Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai risiko TB paru 3-7 kali diobandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar matahari.  Membuat “Peta TBC”.  Pemeriksaan kesehatan awal. rumah. o Ventilasi : ≥ 10 % luas lantai rumah. suhuu udara naik. cara minum obat dll. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat o Memelihara kebersihan diri. mencegah meluasnya penyakit. dan lingkungan o Makanan yang sehat o Cara hidup sehat dan teratur Sanitasi lingkungan Lingkungan rumah adalah ventilasi. lantai. mengurangi bertambah beratnya penyakit. pemeriksaan laboratorium rutin. pemeriksaan fisik. kelembaban bertambah. suhu. serta lingkungan sosial yaitu kepadatan penghuni. luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan overcrowded. Lantai rumah jenis tanah memiliki peran terhadap proses kejadian penyakit TB Paru. o Lantai rumah: kontruksi lantai harus rapat air dan selalu kering agar mudah dibersihkan dari kotoran dan debu.. sehingga ada gambaran lokasi tempat kerja yang perlu prioritas penanggulangan TBC bagi pekerja . diantaranya:  Pengawasan dan penyuluhan untuk mendorong pasien TBC bertahan pada pengobatan yang diberikan (tingkat kepatuhan) dilaksanakan oleh seorang “Pengawas Obat” atau juru TBC  Pengamatan langsung mengenai perawatan pasien TBC di tempat kerja  Case-finding secara aktif. Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder adalan upaya untuk menemukan penyakit TBC sedini mungkin. Lantai yang tidak memenuhi syarat dapat dijadikan tempat hidup dan perkembangbiakan bakteri. pengap. hal ini tidak sehat karena di samping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen dan juga penularan TBC lebih mudah.

semua bergantung kepada waktu dan individu. Isoniazid banyak dipakai disebabkan tidak hanya memiliki harga yang murah melainkan juga efek samping yang dapat terjadinya sedikit (terbanyak hepatitis dengan frekuensi 1%. di dalam kemoprofilaksis juga dapat menggunakan rifampisin. Hal ini disebabkan bayi dengan usia muda memiliki kemungkinan sulit untuk menerima injeksi intradermal. Meski secara umum memberikan kekebalan sebesar 50-60%. 2006). Anjuran kemoprofilaksis diberikan kepada individu dengan latarbelakang HIV positif dan pasien yang mendapatkan terapi imunosupresi (Sudoyo. Lama profilaksis pun dapat memakan waktu 6-12 bulan. Kemoprofilaksis terhadap tuberkulosis merupakan masalah tersendiri dalam penanggulangan tuberkulosis paru (Sudoyo. Vaksin TB tidak mencegah sepenuhnya terhadap penyerangan penyakit TB. Keefektifan vaksin tersebut akan berkurang seiring dengan waktu.1 mg). yaitu pemberian vaksinasi BCG dan kemoprofilaksis. mengenalkan /menjual kesehatan. Pertama.05mg) dan dosis untuk anak-anak dengan umur di atas 12 bulan dan juga dewasa untuk satu dosis vaksin yaitu 0. peningkatan kebugaran jasmani. yaitu dalam waktu 5-15 tahun. Vaksin BCG dapat membutuhkan waktu sekitar 6-12 minggu untuk menghasilkan efek (perlindungan) kekebalannya dan akan memberikan kekebalan sebesar 50-60% terhadap TB bagi individu tersebut. peningkatan kepuasan kerja.14   Pengelolaan logistik Pencegahan agar tidak menular :  Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin dengan sapu tangan atau tisu  Tidak batuk di hadapan anggota keluarga atau orang lain  Tidur terpisah dari keluarga terutama pada dua minggu pertama pengobatan  Tidak meludah si sembarang tempat  Menjemur alat tidur secara teratur pada siang hari  Membuka jendela pada pagi hari dan mengusahakan sinar matahari masuk ke rumah  Minum obat secara teratur sampai selesai dan sembuh 3. . Program preventif lainnya yang diberikan yaitu melalui kemoprofilaksis (Sudoyo. 3) Promotif Peningkatan pengetahuan pekerja tentang penanggulangan TBC di tempat kerja melalui pendidikan & pelatihan petugas pemberi pelayanan kesehatan di tempat kerja. Di dalam kemoprofilaksis metode yang digunakan adalah penggunaan isoniazid. Selain itu. melainkan memungkinkan infeksi TB menjadi kecil atau bukan menyebabkan TB yang parah dan mengancam keselamatan individu tersebut. peningkatan gizi kerja. Promosi kesehatan merupakan upaya memasarkan. Program preventif terhadap penderita TB dapat dibagi menjadi dua bentuk. 2006). sedangkan yang berusia lebih dari 50 tahun adalah 2%). Selain penggunaan dengan isoniazid. penyuluhan. Rifampisin dapat menurunkan insiden tuberkulosis sampai 55-83% dan yang memiliki kepatuhan dalam minum obat tersebut meningkatkan angka penurunan insiden tuberkulosis yaitu sebesar 90% (Sudoyo. penyebarluasan informasi.1 ml (0. pemberian vaksinasi BCG adalah bentuk preventif terhadap adanya infeksi penyakit TB yang diberikan kepada manusia dengan vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dapat dilakukan melalui penyuntikan secara intrakutan atau intradermal yang dilakukan pada lengan bagian atas. 2006).05 ml (0. 2006). pemberian vaksin BCG juga dapat dilakukan secara injeksi perkutan terutama bagi bayi dengan usia muda. Dosis yang diberikan pada infant atau bayi dengan umur kurang dari 12 bulan yaitu untuk satu dosis sebanyak 0.

2006). 2. mengubah lantai tanah)  Penyuluhan kepada masyarakat tentang gejala-gejala TBC  Penyuluhan kepada masyarakat tentang penularan penyakit. pengurangan basil dorman. Program rehabilitasi meliputi dua program utama. Cycloserine. Pyrazinamide.15 Strategi promosi kesehatan : a. Prinsip pengobatannya pun pada pasien TB terdapat dua dasar. Obat lapis pertama mencakup isoniazid (INH). Ethambutol. Aminoglycosides di luar Streptomycin dan Quinolones yang tujuan pemberiannya pun sama dengan obat lapis pertama (Sudoyo. tidak memandang apakah dia peka atau resisten terhadap obat yang ada. dan pencegahan terjadi resistensi (Sudoyo. b. yaitu kemoterapi dan home health care. agar orang lain tersebut membantu atau mendukungt terhadap apa yang diinginkan. Edukasi kepada penderita untuk menerima pengobatan yang rutin dan sampai tuntas. Rifampisin. 2006). c. Dukungan sosial Dukungan sosial melalui tokoh tokoh masyarakat. Program rehabilitasi kedua yaitu home health care. 1. penemuan obat baru yaitu rifampisin menyebabkan adanya perubahan dalam penggunaan obat untuk kemoterapi. (3) mencegah kambuh. (4) mencegah munculnya resistensi obat. mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. dan Streptomycin yang obat tersebut memiliki fungsi untuk melakukan penghentian pertumbuhan basil. yaitu obat lapis pertama dan lapis kedua. mencegah kematian. Clofazimine. Pemberdayaan masyarakat Strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat Tindakan promotif yang dapat dilakukan : a. Kemoterapi pertama kali menggunakan streptomisin yang merupakan obat antituberkulosis. c. yaitu: fase bakterisidal awal (inisial) dan fase sterilisasi (lanjutan) (Sudoyo. 1. Edukasi kepada masyarakat :  Penyuluhan kepada masyarakat tentang penanggulangan TBC (misalnya : sanitasi lingkungan spt membuat ventilasi yang baik. Lalu. menjaga daya tahan tubuh dengan cara peningkatan gizi dan kebugaran jasmani. Pelatihan petugas kesehatan untuk menanggulangi TBC 4) Rehabilitatif Adalah upaya pengobatan penyakit TBC yang bertujuan untuk menyembuhkan penderita. Para-Amino Salicylic acid. dan (5) mencegah lingkungannya dari penularan. Hal ini disebabkan penggunaan obat rifampisin dapat mempersingkat waktu kemoterapi menjadi 6-9 bulan. Tujuan program kemoterapi ini yaitu (1) mengobati pasien dengan sesedikit mungkin mengganggu aktivitas hariannya. Advokasi Kegiatan meyakinkan oranglain. Di dalam program pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi dua fase. 2006). b. (2) Mencegah kematian atau komplikasi lanjut akibat penyakitnya. 1. Ethionamide. Edukasi kesehatan tersebut meliputi edukasi tentang efek samping terhadap obat . d. obat lapis kedua mencakup Rifabutin. obat yang diberikan minimal dua jenis dengan dua jenis resimen. Advokasi ke Dinas Kesehatan untuk memperberian masker kepada masyarakat. dalam periode pendek. Pada home health care berfokus pada pemberian edukasi kesehatan berkaitan penanganan TB kepada pasien maupun keluarga pasien.

Upaya penanganan kesehatan mental merupakan usaha untuk menjaga kondisi psikologis sesorang serta mencegah terjadinya kerusakan mental. perhatian dan kepedulian terhadaop keadaan pasien. Bagaimana penanganan holistik terhadap kasus Pak Widodo? 1) Fisik Penjelasan sama dengan penanganan kuratif 2) Mental Diperlukan dukungan emosi dari pihak keluarga yang mencakup ungkapan empati. Hal ini meliputi pemberian pencahayaan matahari natural ruangan yang cukup dan ventilasi yang sesuai. antara lain adalah: 1) umur. 16.16 yang diberikan. . 2006). Edukasi yang juga dapat diberikan dalam rangka mencapai keberhasilan program home health care yaitu edukasi kepada keluarga klien maupun klien untuk selalu mengkaji status nutrisi yang meliputi pemasukan nutrisi seperti vitamin D. bedrest dilakukan di ruang khusus. Hal ini disebabkan bila pasien TB memiliki aktivitas berlebih akan mejadi pemicu gejala-gejala yang baru (Sudoyo. bahwa identifikasi individu kepada kelompoknya juga berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. maupun kebutuhan individu lainnya. Ray Elling. Bedrest merupakan salah satu hal yang penting diberikan kepada pasien yang baru selesai menjalani perawatan TB di rumah sakit. edukasi tentang arti pentingnya istirahat yang adekuat dan juga pengaturan aktivitas yang sesuai dalam rangka proses penyembuhan terhadap pasien TB. Ini bertujuan agar pak Widodo tidak beranggapan bahwa penyakit yang dideritanya merupakan sakit yang parah yang dapat merusak kehidupannya. (1970). dan 2) image kelompok. antara lain: 1) self concept. yaitu di sanatorium tetapi saat ini diberi istirahat setempat terhadap fisiknya dan ditunjang dengan pemberian makanan yang bergizi tinggi sudah cukup membantu pemulihan pada pasien TB (Sudoyo. 4) sosial ekonomi. 2006). edukasi dalam pencegahan atau memperkecil resiko penularan kepada anggota keluarga lainnya dengan menganjurkan melakukan tes kesehatan berkaitan dengan positif/negatif tuberkulosis. Aspek Sosial yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan. Di samping itu.Memberikan edukasi kepada keluarga agar dapat memahami keadaan pasien dan dapat menyediakan kebutuhan yang diperlukan pasien. 2008). Melalui pendekatan yang baik secara psikologis keluarga mampu meringankan beban yang dirasakan oleh pasien. Selain itu. Bedrest bertujuan untuk memberikan istirahat kepada fisik pasien. kita juga dapat memberikan motivasi agar pak widodo dapat menjalani hidupnya dengan lebih baik. pengurangan akitivitas pasien TB dengan lingkungan yang padat karena dengan kondisi lingkungan yang tidak padat menyebabkan resiko penularan TB berkurang serta adanya akses pelayanan kesehatan yang mudah (LeMone. adanya akses air bersih yang baik. 2) jenis kelamin. G. sehingga akan menyebabkan pak Widodo depresi. Serta. Upaya yang mungkin bisa kita lakukan terhadap pak Widodo adalah memberikan pemahaman tentang penyakit TBC dengan baik. Selain itu. Menurut H. 3) pekerjaan.M Foster (1973) menambahkan. Pada waktu dulu. ada beberapa faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku kesehatan. 3) Sosial 1. edukasi lingkungan yang tepat dalam mendukung pemulihan pasien TB maupun pencegahan penularan TB. Selain itu.

kedua anak tersebut mempunyai perbedaan konsep tentang peranan dokter. Hipotesis Pak Widodo terlambat berobat ke puskesmas karena kurangnya tingkat pengetahuan. sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan Lingkungan medis dan besar kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter. apakah kita akan menerima keadaan diri kita seperti adanya atau berusaha untuk mengubahnya. aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan seseorang antara lain adalah : 1) tradisi. 4) Spiritual  Motivasi kepada pasien TB bahwa penyakitnya akan sembuh. Tetapi apabila orang lain berpandangan negatif terhadap perilaku kita dalam jangka waktu yang lama. agar pasien merasa senang dan percaya diri. kondisi sosial ekonomi dan belum berhasilnya proses edukasi kesehatan masyarakat (PHE). Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan Menurut G. Dengan demikian penanganan yang holistik terhadap kasus Pak Widodo adalah diadakannya pemberian informasi mengenai penyakit TBC sehingga untuk kedepannya diharapkan mereka dapat mengerti dan segera memeriksakan diri ke puskesmas jika ada gejala-gejala yang sesuai dengan penyakit TBC. 2. c. Sebagai contoh. perilaku dari masing-masing individu cenderung merefleksikan kelompoknya. 3) nilai.M. 5) unsur budaya. Foster (1973). Pengaruh Image Kelompok terhadap Perilaku Kesehatan Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelomok. Pengaruh Identifikasi Individu kepada Kelompok Sosialnya terhadap Perilaku Kesehatan. Oleh karena itu. III. secara tidak langsung self concept kita cenderung menentukan. Ttau dengan kata lain.17 a.  Mengambil hikmah dari penyakit yang dialami dan berdoa agar diberikan kesembuhan. 2) sikap fatalism. Apabila orang lain melihat kita positif dan menerima apa yang kita lakukan. anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan orang-orang dengan pendidikan tinggi. b. terutama bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain. 4) ethnocentrism.  Dukungan dari anggota keluarga.  Motivasi untuk minum obat sampai habis. Pengaruh Self Concept terhadap Perilaku Kesehatan Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasaan atau ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri. kita akan meneruskan perilaku kita. kita akan merasa suatu keharusan untuk melakukan perubahan perilaku. .  Motivasi untuk memliliki jiwa yang tabah dan tidak mudah putus asa serta menerima keadaannya. Dengan demikian.

Perjalanan Penyakit Tuberkulosis .18 RAPP TBC Infeksi primer Penyebaran basil TB Pembentukan primer komplek Sembuh 90% Sumber Penularan 10% Penyebaran endogen basil TB Pembentukan lesi Outbreak of tuberculosis Sembuh spontan Mati Skema 1.