BAB I REKAM MEDIS

IDENTIFIKASI Nama Umur Alamat Agama Status Pekerjaan Suami Pekerjaan MRS : Ny. D : 31 tahun : Jl. Sumbawa Kec. Sumbawa Kab. Banyuasin : Islam : Menikah : Ibu rumah tangga : Tn. H : Wiraswasta : 17 Mei 2013, pukul 06.00 WIB

ANAMNESIS Anamnesis Umum (18 Mei 2013) Riwayat Obstetri : G3P2A0
No 1. 2. 3. Tempat Bersalin RS AK Ganie RSMH Hamil ini Tahun 2007 2011 Hasil Kehamilan Aterm Aterm Jenis Persalinan SC Spontan Penyulit Plasenta previa totalis Nifas Baik Baik Kel ♂ ♂ Anak Berat Kead. 2700 gram 2800 gram Sehat Sehat

Riwayat kehamilan sekarang Haid Lamanya Banyaknya HPHT Taksiran persalinan Lama hamil Gerakan anak dirasakan : teratur, siklus 28 hari : 7 hari : biasa : lupa :: 39 - 40 minggu : 5 bulan yang lalu

1

Periksa hamil Nafsu makan Miksi Defekasi Riwayat Persalinan Dikirim oleh His mulai sejak tanggal Darah lendir sejak tanggal

: 4 kali di bidan : baik : normal : normal

: bidan : 17 Mei 2013 pukul 20.00 WIB : 17 Mei 2013 pukul 20.00 WIB

Rasa mengedan sejak tanggal : Ketuban belum /sudah pecah : 18 Mei 2013 pukul 02.00 WIB Riwayat Perkawinan Riwayat Sosial ekonomi Riwayat gizi Anamnesis Khusus Keluhan Utama : Mau melahirkan dengan bekas SC 1x. Riwayat Perjalanan Penyakit : ± 10 jam SMRS, os mengaku perut mules, menjalar ke pinggang, hilang timbul, makin lama makin sering dan kuat. Riwayat keluar darah lendir (+), riwayat keluar air-air (+) 4 jam SMRS, jernih, bau (-). Os lalu ke bidan kemudian dirujuk ke RSMH. Os mengaku pernah operasi sesar saat melahirkan anak pertama karena tembuni yang menutupi jalan lahir. Os mengaku hamil cukup bulan dan gerakan anak masih dirasakan. PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Frekuensi pernafasan : tampak sakit sedang : compos mentis : 120/70 mmHg : 80 x/mnt : 20 x/mnt : 1 x selama 7 tahun : sedang : sedang

2

penunjuk ubun-ubun kecil kiri depan. bau (-). : -/: sedang : (+/+) : gallop (-). taksiran berat janin 3100 gram. his 4 kali dalam 10 menit selama 45 detik. letak janin memanjang. posisi anterior. pendataran 100%.Suhu Berat badan Tinggi badan : 36. punggung kiri. murmur (-) : bising nafas vesikuler N. penurunan Hodge III.5 oC : 53 kg : 154 cm Konjunctiva palpebra pucat : -/Sklera ikterik Gizi Payudara hiperpigmentasi Jantung Paru-paru Hati dan lien Edema pretibia Varises Refleks fisiologis Refleks patologis Status Obstetri Pemeriksaan luar: Tanggal : 18-5-2013 pukul 06. Ketuban (-) jernih. Pemeriksaan Dalam: Tanggal : 18-5-2013 pukul 06. bagian terbawah kepala. ronkhi (-) : sulit dinilai : (-/-) : (-/-) : (+/+) : (-/-).00 WIB Portio : konsistensi lunak. wheezing (-). Pemeriksaan Panggul: 3 . pembukaan 9 cm. penurunan 3/5. detak jantung janin 145 kali/menit teratur. terbawah kepala.00 WIB Tinggi fundus uteri 3 jari dibawah procesus xipoideus (32 cm).

bentuk PAP ginekoid. DJJ. kimia darah.Promontorium tidak teraba. spina ischiadika tidak menonjol. dan tanda vital ibu Rencana partus pervaginam IVFD RL gtt XX/m Kosongkan kandung kemih Evaluasi partograf WHO modifikasi Pemeriksaan laboratorium darah rutin. sakrum konkaf.5 cm. DKP tidak ada. dinding samping lurus. linea inominata 1/3-1/3. Skoring VBAC (Vaginal Birth After C-Section) FLAMM-GEIGER Usia < 40 = 2 Riwayat VBAC = 1 Indikasi seksio sesarea =1 Penipisan serviks saat masuk > 75% =2 Dilatasi serviks >4cm = 1 Total Skor = 7 Diagnosis G3P2A0 hamil aterm dengan bekas SC 1x (a. kesan panggul luas. KD >13 cm.i. urin rutin. plasenta previa totalis) inpartu kala I fase aktif janin tunggal hidup presentasi kepala Prognosis Ibu : dubia Janin : dubia Tindakan       Observasi : His.00 WIB) Keluhan Utama Status Present Habis melahirkan dengan bekas operasi Keadaan Umum: Sakit sedang TD: 110/80 mmHg 4 . arkus pubis >900. crossmatch Follow Up Tanggal 18 Mei 2013 (jam 08. KV >11.

lokia (+) rubra.7˚ C Status Obstetri PL : Fundus uteri 2 jari bawah processus xiphoideus. perdarahan Mobilisasi dini ASI on demand Vulva hygiene Obat-obatan:  Asam mefenamat 3x500 mg  Cefadroxil 2x500 mg  Vit B complex 2x1 tab  Cek darah (Hb) Tanggal 18 Mei 2013 (jam 14. perdarahan aktif (-). vulva tenang Diagnosis P3A0 post partum spontan neonatus hidup ♂ BB 3300 gram PB 47 cm AS 8/9 FT AGA Terapi  Observasi tanda vital ibu.Nadi: 80 x/m RR: 18 x/m T: 36. kontraksi baik. perdarahan aktif (-). perdarahan 5 . lokia (+) rubra. kontraksi baik.5˚ C Status Obstetri PL : Fundus uteri 2 jari bawah processus xiphoideus.00 WIB) Keluhan Utama Status Present Habis melahirkan Keadaan Umum: Sakit sedang TD: 120/70 mmHg Nadi: 82 x/m RR: 20 x/m T: 36. vulva tenang Diagnosis P3A0 post partum spontan neonatus hidup ♂ BB 3300 gram PB 47 cm AS 8/9 FT AGA Terapi      Observasi tanda vital ibu.

15 WIB) Keluhan Utama - 6 .    Mobilisasi dini ASI on demand Vulva hygiene Obat-obatan:  Asam mefenamat 3x500 mg  Cefadroxil 3x500 mg  Vit B complex 3x1 tab Tanggal 19 Mei 2013 (jam 06. lokia (+) rubra.7˚ C Status Obstetri PL : Fundus uteri 2 jari bawah processus xiphoideus. kontraksi baik. vulva tenang Diagnosis P3A0 post partum spontan neonatus hidup ♂ BB 3300 gram PB 47 cm AS 8/9 FT AGA Terapi      Observasi tanda vital ibu. perdarahan Mobilisasi dini ASI on demand Vulva hygiene Obat-obatan:  Asam mefenamat 3x500 mg  Cefadroxil 3x500 mg  Vit B complex 3x1 tab Tanggal 20 Mei 2013 (jam 06. perdarahan aktif (-).30 WIB) Keluhan Utama Status Present Keadaan Umum: Sakit sedang TD: 120/80 mmHg Nadi: 80 x/m RR: 20 x/m T: 36.

bau (-)  Kepala  HIII  UUK kiri depan D/ G3P2A0 hamil aterm dengan bekas seksio sesarea 1x (a. vulva tenang P3A0 post partum spontan neonatus hidup ♂ BB 3300 gram PB 47 cm AS 8/9 FT AGA      Diagnosis Terapi Observasi tanda vital ibu.30 WIB parturien tampak ingin mengedan kuat. kontraksi baik. Pada pemeriksaan dalam didapatkan:  Portio tak teraba  Bukaan lengkap  Ketuban (-). plasenta previa totalis) inpartu kala I fase aktif janin tunggal hidup presentasi kepala 7 . perdarahan Mobilisasi dini ASI on demand Vulva hygiene Obat-obatan:  Asam mefenamat 3x500 mg  Cefadroxil 3x500 mg  Vit B complex 3x1 tab Laporan Persalinan (Laporan operasi) Tanggal 18 Mei 2013 Pukul 07.i. perdarahan aktif (-).Status Present Keadaan Umum: Sakit sedang TD: 120/80 mmHg Nadi: 80 x/m RR: 20 x/m T: 36. lokia (+) rubra. jernih.5˚ C Status Obstetri PL : Fundus uteri 2 jari bawah processus xiphoideus.

ukuran 19x20 cm. Luka laserasi dihecting secara jelujur subkutikuler dengan chromic catgut 2. 45 WIB plasenta lahir lengkap. PTP 49 cm. didapatkan laserasi grade II. BB 3300 gram. 8 . Dilakukan manajemen aktif kala III:  Injeksi oksitosin 10 IU  Masase fundus uteri  Peregangan tali pusat terkendali Pukul 07. perdarahan aktif (-). AS 8/9 FT AGA.40 WIB lahir spontan neonates hidup ♂.Th/ Pimpin persalinan Pukul 07.0 Keadaan umum ibu postpartum baik. PB 47 cm. BP 630 gram. Dilakukan eksplorasi jalan lahir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.4 c. Panggul sempit absolut c.4 Leveno. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.1 Seksio sesaria merupakan suatu persalinan buatan.3 2. Indikasi Ibu a. Operasi ini bertujuan mengeluarkan janin melalui suatu jalan yang dibuat pada dinding perut dan uterus. Seksio sesaria diikuti dengan histerektomi (caesarian histerektomy = sectio hysterectomy)2 d.3 Luka sayat di perut dapat transversal (Pfannenstiel) maupun vertikal (mediana).3 Indikasi I. Stenosis serviks atau vagina 9 . Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi d. Seksio sesaria secara transperitonial profunda (supracervicalis = lower segmen caesarian section)2. Seksio sesaria klasik: pembedahan secara sanger2. dkk (2003) menyatakan bahwa definisi ini tidak mencakup pengeluaran janin dari rongga abdomen pada kasus ruptur uterus atau pada kasus kehamilan abdomen. Seksio sesaria ekstra peritoneal2 e.2 Jenis a.1.1.1.4 b. Seksio sesaria vagina2 2. Riwayat sesar b.1 Seksio Sesarea 2. sedangkan di uterus dapat transversal (SC Transperitonealis Profunda) maupun insisi vertikal (SC klasik/corporal).2.1 Definisi Seksio sesarea merupakan salah satu tindakan operasi yang tertua dan terpenting dalam bidang obstetri.

Kelainan letak d.5 Prosedur I. f.3 2. tali pusat dijepit dan dipotong di antara kedua penjepit. c. Disproproposi kepala panggul g. Presentasi bokong c. g. Setelah kavum uteri terbuka. Setelah janin lahir seluruhnya. Disuntikkan 10 unit oksitosin ke dalam rahim secara intramural.e. Luka insisi segmen atas rahim dijahit kembali. selaput ketuban dipecahkan. Gawat janin2.1. Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama b. sebelum diatasi c. Ruptur uteri membakat2. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ± 12 cm sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.4 Kontraindikasi Pada umumnya seksio sesaria tidak dilakukan pada: a. anemia berat. Janin mati b. Distosia persalinan b.1. 10 .3 II. Kelainan kongenital berat (monster) 2. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi d. kemudian diperlebar secara sagital dengan gunting e. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundus uteri. Dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atas rahim. Plasenta dilahirkan secara manual. Plasenta previa f. Syok. Teknik Seksio Sesaria Klasik (Corporal) a. Indikasi Janin a.

i.3 d. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim. Seksio sesaria yang diikuti dengan sterilisasi 11 . c.3 Sumber: Ilmu bedah kebidanan. Setelah dinding rahim selesai dijahit. Lapisan III : Perimetrium saja dijahit secara simpul dengan benang cat gut biasa. kedua adneksa dieksplorasi.2. misalnya karena adanya perlekatanperlekatan akibat pembedahan akibat seksio sesaria yang lalu. Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. Janin besar dalam letak lintang.Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang cat gut. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. khromik Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul (berhubung otot segmen atas rahim sangat tebal) dengan cat gut khromik. h. 2. 2002 Gambar 1. Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. Seksio sesaria secara klasik Teknik seksio sesaria klasik (corporal) ini diindikasikan bila: a. b.

Kesembuhan luka operasi cukup sulit Kemungkinan terjadinya perlekatan pada dinding abdomen lebih besar. c. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbulikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.6 Keuntungan dari teknik ini. Grande multipara yang diikuti dengan histerektomi. II. g. d. Kepala bayi telah masuk pintu atas panggul. Kemungkinan terjadinya ruptura uteri kehamilan berikutnya lebih besar. Terdapat pembuluh darah besar sehingga diperkirakan akan terjadi robekan di segmen bawah rahim dan perdarahan. f. Sayatan bisa diperpanjang proksimal ataupun distal6 Kerugiannya. yaitu: a.6 b. Dibuat bladder flap. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk operator. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversal) sesuai cara Kerr. Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. Mengeluarkan janin lebih cepat c. atau membujur (sagital) sesuai cara Kronig. Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ± 2 cm. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. c. Mudah dilakukan karena lapangan operasi relatif luas b. Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik d. yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) di depan segmen bawah rahim secara melintang. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. 12 . antara lain: a. e. Teknik Seksio Sesaria Transperitoneal Profunda a.e. b.

3 Teknik ini diindikasikan untuk: a. Indikasi janin Gawat janin Malpresentasi dan malposisi kedudukan janin Prolaps tali pusat dengan pembukaan kecil Kegagalan persalunan vakum atau forsep ekstraksi 13 . Tali pusat dijepit dan dipotong. Setelah dinding rahim selesai dijahit. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. Badan janin dilahirkan dengan mengai kedua ketiaknya. mioma uteri. g. kedua adneksa dieksplorasi. b.2. Indikasi ibu               Pada primigravida dengan kelainan letak Primi para tua yang disertai kelainan letak. Luka dinding rahim dijahit. h. karsinoma serviks. dan diabetes melitus. Ke dalam otot rahim intamural disuntikkan 10 unit oksitosin. yaitu preeklampsia sampai eklampsia Setelah operasi plastik vagina Gangguan perjalanan persalinan karena kista. Lapisan III : dijahit jelujur pada plika vesikouterina. Lapisan I : dijahit jelujur.f. Setelah kavum uteri terbuka. Kehamilan disertai penyakit. selaput ketuban dipecahkan. ruptur uteri. pada endometrium dan miometrium Lapisan II : dijahit jelujur hanya pada miometrium saja. seperti penyakit jantung. disproporsi sefalopelvik (disproporsi janin/ panggul) Sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk Terdapat kesempitan panggul Plasenta previa terutama pada primigravida Solusio plasenta Komplikasi kehamilan. plasenta dilahirkan secara manual. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya.

Terdapat perluasan luka insisi dan menimbulkan perdarahan Sumber: Ilmu bedah kebidanan. 2002 Gambar 2. Segmen bawah rahim lebih tenang b. Seksio sesaria transperitoneal profunda 14 . yaitu: a.Keunggulan teknik ini. Tidak banyak menimbulkan perlengketan Kerugiannya. antara lain: a. Terdapat kesulitan pada waktu mengeluarkan janin b. Kesembuhan lebih baik c.

0. Jaringan yang terpotong diikat dengan jahitan transfiks untuk hemostasis dengan catgut no. Jaringan ligamentum latum yang sebagian adalah avaskular dipotong secara tajam ke arah serviks. Melalui lubang pada ligamentum latum ini. dan pada tempat yang sama di sisi rahim dijepit dengan cunam Kocher lurus. dan pembuluh darah dalam jaringan tersebut dijepit dengan 2 cunam oshner lengkung dan di sisi rahim dengan cunam Kocher. c. rahim boleh dikeluarkan dari rongga pelvis. cukup dengan jahitan jelujur atau simpul b. Untuk memudahkan histerektomi. f. Setelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim. Tindakan ini dilakukan pada beberapa tahap sehingga ligamentum kardinale terpotong seluruhnya. Setelah pemotongan ligamentum latum sampai di daerah serviks. Dengan cara ini ureter akan terhindar dari kemungkinan terpotong. e. dilakukan hemostasis pada insisi dinding rahim. 0 15 . ligamentum uteroovarica. kandung kencing disisihkan jauh ke bawah dan samping. Pada ligamentum latum belakang dibuat lubang dengan telunjuk tangan kiri di bawah adneksadari arah belakang. Pada ligamentum kardinale dan jaringan paraservical dilakukan penjepitan dengan cunam Oshner lengkung secara ganda. Kemusian jaringan di antaranya digunting dengan gunting mayo. Bladder flap yang telah dibuat pada waktu seksio sesaria transpertoneal profunda dibebaskan lebih jauh ke bawah dan lateral. Teknik Seksio-Histerektomi a. tuba falopii. Jaringan di antaranya kemudian digunting dengan gunting Mayo. d. Punctum ligamentum kardinale dijahit transfiks secara ganda dengan benang catgut khromik no.III. dan jaringan yang sudah dipotong diligasi dengan benang catgut khromik no.0. Mula-mula ligamentum profundum dijepit dengan cunam kocher dan cunam oschner kemudian dipotong sedekqat mungkin dengan rahim.

Demikian juga ligamentum sakrouterina kiri dan kanan dipotong dengan cara yang sama dan diligasi secara transfiks dengan benang catgut khromik no.g. luka perut ditutup lapis demi lapis. kemudian melaui insisi tersebut dinding vagina dijepit dengan cunam Oshner melingkari serviks dan dinding vagina dipotong tahap demi tahap. sehingga terjadi hemostasis pada kedua ujung puntung vagina. Setelah kulit perut dibersihkan dari sisa darah. pada sisi dcepan serbiks dibuat irisan sagital dengan pisau. Puntung vagina dijahit secara jelujur untuk hemostasis dengan catgut khromik. j. i. asalkan tidak terlalu kencang. 0 h. Pemotongan dinding vagina dapat dilakukan dengan gunting atau pisau. Akhirnya puntung vagina ditutup dengan retroperitonealisasi dengan menutupkan bladder flap pada sisi belakang puntung vagina. Puntung vagina dijepit beberapa cunam Kocher untuk hemostasis. Puntung adneksa yang telah dipotong dapat dijahitkan digantungkan pada puntung vagina. 2. Rahim akhirnya dapat diangkat. Mulamula puntung kedua ligamentum kardinane dijahitkan pada ujung kiri dan kanan puntung vagina.3 16 . Setelah mencapai di atas dinding vagina serviks.

sepsis dan ileus paralitik. Perdarahan Perdarahan dapat disebabkan karena banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka. Sedang: kenaikan suhu tubuh lebih tinggi.4 17 . atonia uteri. Seksio-histerektomi 2.1.Sumber: Ilmu bedah kebidanan. 4 b. dan perdarahan pada placental bed. c. Infeksi Puerperal (nifas) Infeksi puerperal terbagi 3 tingkatan. 2002 Gambar 3. dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama. Perdarahan dapat mengakibatkan terbentuknya bekuan-bekuan darah pada pembuluh darah balik di kaki dan rongga panggul. disertai dehidrasi dan sedikit kembung. Berat: dengan peritonitis. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar. yaitu: a. Ringan: kenaikan suhu tubuh beberapa hari saja b.6 Komplikasi Komplikasi yang terjadi setelah tindakan seksio sesarea sebagai berikut: a.

c.1. apabila dilakukan dengan tidak hati-hati dapat mengakibatkan luka pada organ lain seperti kandung kemih. Menurut Cunningham FG (2001) kriteria seleksinya adalah berikut : a.2.2.2. Parut uterus pada segmen bawah rahim vertikal c. Letak sungsang 18 . persalinan dan seksio sesarea emergensi. Kehamilan kembar d. Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea darurat1. Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus d.3. b.2.3. Parut uterus yang tidak diketahui b. Luka Kandung Kemih Tindakan seksio sesarea.1 2. Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring. Definisi Persalinan pervaginam dengan bekas seksio sesarea atau Vaginal Birth After Cesarean-section (VBAC) adalah proses melahirkan normal setelah pernah melakukan seksio sesarea. yang dapat menyebabkan infeksi. Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik c. Indikasi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun 1999 dan 2004 memberikan rekomendasi untuk menyeleksi pasien yang direncanakan untuk persalinan pervaginal pada bekas seksio sesarea.2.5 Menurut Cunningham FG (2001) kriteria yang masih kontroversi adalah : a. Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim. e.4 2. Persalinan Pervaginam dengan Bekas Seksio Sesarea 2.5 2. Diagnosis VBAC dapat didiagnosis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yaitu dengan adanya parut luka di perut.

Perjalanan persalinan normal Untuk memprediksi keberhasilan penanganan persalinan pervaginal bekas seksio sesarea.persalinan pervaginal sesudah seksio sesarea .5 Sementara berdasarkan POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia).25 – 75 % .tidak ada Alasan lain seksio sesarea terdahulu Pendataran dan penipisan serviks saat tiba di Rumah Sakit dalam keadaan Inpartu: . Skor VBAC menurut Flamm dan Geiger (1997) No 1 2 Karakteristik Usia < 40 tahun Riwayat persalinan pervaginal .persalinan pervaginal sebelum seksio sesarea . beberapa peneliti telah membuat sistem skoring.sebelum dan sesudah seksio sesarea . Taksiran berat janin lebih dari 4000 gram1. Kehamilan lewat waktu f. dilakukan persalinan pervaginam jika: 4 a.5 Tabel 1 .< 25 % Dilatasi serviks > 4 cm Skor 2 4 2 1 0 1 3 4 5 2 1 0 1 Interpretasi: Skor 0-2 3 4 5 6 7 8-10 Total Angka Keberhasilan 42-49% 59-60% 64-67% 77-79% 88-89% 93% 95-99% 74-75% 19 . Adapun skoring yang ditentukan untuk memprediksi persalinan pada wanita dengan bekas seksio sesarea adalah sebagai berikut:1. Imbang feto pelvik baik b.e.>75 % .

Penyembuhan luka operasi yang lalu buruk j. PRM. g. Panggul sempit i. 1.4. Operasi yang lalu kolporal/klasik 20 . Pasien menolak persalinan pervaginal h. Posterm dengan skor pelvik rendah h.5 Berdasarkan POGI. CPD/FPD d. Bekas komplikasi operasi seksio sesarea dengan laserasi serviks yang luas e. Persalinan Prematur  Fetal Distres. Vasa previa c. Kembar  HAP. Bekas seksio sesarea klasik b. 2 kali seksio i. Panggul patologik e. 2. seksio primer dilakukan jika: 4 a. 3. Kelainan letak g. Presentasi abnormal f. Kontraindikasi Kontra indikasi mutlak melakukan VBAC adalah : a. Prolapsus tali pusat  Makrosemia. Ada komplikasi medis dan obstetrik yang merupakan kontra indikasi persalinan pervaginal1. Bekas sayatan uterus lainnya di fundus uteri contohnya miomektomi f. Bekas ruptur uteri d. CPD. Disproporsi sefalopelvik yang jelas.Tabel 2. Bishop Score 4 Riwayat persalinan pervaginal sebelum seksio sesarea Indikasi seksio sesarea yang lalu  Malpresentasi.Preeklampsi/Eklampsi. Skor VBAC menurut Weinstein Factor No. Plasenta previa b. Bekas seksio sesarea dengan insisi T c.2. IUGR Tidak 0 0 0 0 0 0 Ya 4 2 6 5 4 3 2.

5 80. Luka pada uterus dengan cara ini mungkin tidak dapat pulih seperti semula dan dapat terbuka lagi sepanjang kehamilan atau persalinan berikutnya. Bekas seksio sesaria klasik.1 d.4 21 . Penyembuhan luka pada seksio sesarea sebelumnya Insisi uterus dengan potongan vertikal yang dikenal dengan seksio sesarea klasik dilakukan pada otot uterus.2.1 b. Jumlah seksio sesarea sebelumnya VBAC tidak dilakukan pada pasien dengan insisi korporal sebelumnya maupun pada kasus yang pernah seksio sesarea dua kali berurutan atau lebih. sebab pada kasus tersebut diatas seksio sesarea elektif adalah lebih baik dibandingkan persalinan pervaginal.5. insisi T pada uterus dan komplikasi yang terjadi pada seksio sesarea yang lalu misalnya laserasi serviks yang luas merupakan kontraindikasi melakukan VBAC.7 100 100 79. Faktor-faktor yang Mempengaruhi VBAC a.1 c. Indikasi operasi pada seksio sesarea yang lalu Tabel 3.6 63. Teknik operasi sebelumnya Pasien bekas seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim transversal merupakan salah satu syarat dalam melakukan VBAC. Hubungan indikasi seksio sesarea lalu dengan keberhasilan penanganan VBAC Indikasi seksio yang lalu Letak sungsang Fetal distress Solusio plasenta Plasenta previa Gagal induksi Disfungsi persalinan Keberhasilan VBAC (%) 80. dimana pasien dengan tipe insisi ini mempunyai resiko ruptur yang lebih rendah dari pada tipe insisi lainnya.2.

antara lain: a. c. Kematian maternal dan gangguan-gangguan lain.1 22 . Ruptur uteri. Riwayat persalinan pervaginal Pasien dengan bekas seksio sesarea yang pernah menjalani persalinan pervaginal memiliki angka keberhasilan persalinan pervaginal yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa persalinan pervaginal. Tanda-tanda ruptur uteri adalah sebagai berikut :       Nyeri akut abdomen Sensasi popping (seperti akan pecah) Teraba bagian-bagian janin diluar uterus pada pemeriksaan Leopold Deselerasi dan bradikardi pada denyut jantung bayi Presenting parutnya tinggi pada pemeriksaan pervaginal Perdarahan pervaginal b. Induksi persalinan dengan misoprostol akan meningkatkan resiko ruptur uteri pada maternal dengan bekas seksio sesarea.1 2. Keadaan serviks pada saat partus Penipisan serviks serta dilatasi serviks memperbesar keberhasilan VBAC. Endometritis. Usia kehamilan saat seksio sesarea sebelumnya Pada usia kehamilan <37 minggu dan belum inpartu misalnya pada plasenta previa dimana segmen bawah rahim belum terbentuk sempurna kemungkinan insisi uterus tidak pada segmen bawah rahim dan dapat mengenai bagian korpus uteri yang mana keadaannya sama dengan insisi pada seksio sesarea klasik.e.6 Komplikasi Menurut Landon komplikasi terhadap maternal. d. Gangguan sistem tromboembolik.1 h.1 f.1 g. Usia Maternal Dari penelitian didapatkan wanita yang berumur lebih dari 35 tahun mempunyai angka seksio sesarea yang lebih tinggi.

Bagaimana cara mendiagnosis kasus ini? Bagaimana penatalaksanaan kasus ini? Bagaimana jenis persalinan untuk kasus ini? 23 .BAB III PERMASALAHAN 1. 2. 3.

bau (-). taksiran berat janin 3100 gram. penunjuk ubun-ubun kecil kiri depan. Evaluasi partograf WHO modifikasi f. penurunan 3/5. Observasi : his. jernih. terbawah kepala. kimia darah. Ini adalah kehamilan yang ke tiga. anterior. Rencana partus pervaginam c. bagian terbawah kepala. Pemeriksaan dalam menunjukkan portio dengan konsistensi lunak. pernah seksio sesarea 1x karena tembuni menutupi jalan lahir. pembukaan 9 cm. ketuban (-) jernih. keluar air (+) 4 jam SMRS. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini? a. pendataran 100%. Pemeriksaan luar menunjukkan parut bekas seksio sesarea masih utuh dan tidak ada nyeri tekan abdomen. punggung kiri.Tinggu fundus uteri 3 jari di bawah processus xyphoideus (32cm). Pemeriksaan laboratorium darah rutin. riwayat keluar darah lendir (+). his 4x dalam 10 menit selama 45 detik. plasenta previa totalis) inpartu kala I fase aktif janin tunggal hidup presentasi kepala. dan tanda vital ibu b. Dari anamnesis dan pemeriksaan obstetrik di atas dapat disimpulkan bahwa diagnosis pada kasus ini adalah G3P2A0 hamil aterm dengan bekas seksio sesarea 1x (a.i.BAB IV ANALISIS KASUS 1. Kosongkan kandung kemih e. IVFD RL gtt XX/m d. sebelumnya tidak pernah keguguran. perut mules menjalar ke pinggang hilang timbul makin lama makin sering dan kuat. bau (-). 2. denyut jantung janin 145x/mnt teratur. crossmatch 24 . denyut jantung janin. penurunan Hodge III. letak janin memanjang. Bagaimana cara mendiagnosis kasus ini? Dari anamnesis didapatkan pasien hamil 39-40 minggu. urin rutin.

b. Imbang feto pelvik baik 2. 2. yaitu: 1. Bagaimana jenis persalinan untuk kasus ini? Jenis persalinan untuk kasus ini adalah persalinan pervaginam. Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea darurat1. Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus 4. persalinan dan seksio sesarea emergensi. 25 .3. Tidak ditemukan kontraindikasi untuk VBAC. Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim. seperti usia <35 tahun.3.5 Dari POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) (2006): 1. Beberapa faktor ibu mendukung keberhasilan VBAC. dan keadaan serviks saat partus baik. d. Berikut alasan dipilih persalinan pervaginam: a. Hasil scoring VBAC FLAMM-GEIGER didapatkan skor 7 yang mengindikasikan keberhasilan VBAC sebesar 93%. Perjalanan persalinan normal c. Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring. riwayat seksio sesarea hanya 1x dengan indikasi plasenta previa. 5. Pasien ini memenuhi kriteria seleksi VBAC Dari American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) (2004). Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik 3. riwayat persalinan pervaginal.

crossmatch. kimia darah. Jenis persalinan untuk kasus ini adalah persalinan pervaginam. 3.BAB V KESIMPULAN 1. evaluasi partograf WHO modifikasi. dan tanda vital ibu). partus pervaginam. Diagnosa pada kasus ini didapatkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan obstetri. urin rutin. denyut jantung janin. IVFD RL gtt XX/m. 2. pemeriksaan laboratorium darah rutin. 26 . Penatalaksanaan pada kasus yaitu observasi (his. kosongkan kandung kemih.

Jakarta: EGC. 6.Didapatdari:http://www. 13343. Brian MC. h.DAFTAR PUSTAKA 1. 8. In: Obstetrics normal and problem pregnancies. Dalam: Hanifah W.id/download/pdf. Ltd. 7. Simpson JL.scribd. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Steven LB. Breech Presentation and Delivery In: Williams Obstetrics. Bekas seksio sesarea. Gary C. penyunting. Dalam: Leveno KJ. Norman FG. Jakarta: EGC. Sesar.ac. 2006. 4. Persalinan pervaginam dengan bekas seksio sesarea [serial online] 2010 [diakses 03 Agustus 2011]. 5. Seksio sesarea. Vaginal Birth after Cesarean-section [serial online] 2009 [diakses 02 Agustus2011]. 2. Obstetri Williams panduan ringkas. Leveno KJ.2003. Abdul BS.com/doc/15127665/faktor_predis posisi_seksio_sesarea.G et al.dkk. Gabbe SG. New York: Churchill Livingstone. h. Malpresentation. Porter TF dan James RS. h. 509-536. Angsar MD dan Listya S.usu. Isilo. Niebyl JR. 3. 247-58. 2000.22st edition. Didapat dari: http://library. penyunting. dan Trijatmo R. Dalam: Danforth’s obstetric and gynecology. dkk. chapter 24. 2000:478-90. James MA. 3rd ed. Anonim. New York: Mc Graw Hill Medical Publising Division. Ilmu Bedah Kebidanan. Cesarean Delivery. 27 . Cunningham. 2007. Anonim. 4748. 2005. Dalam: Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Jakarta: POGI. F.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful