You are on page 1of 10

Narita Susanty 240210070046 Kelompok 10

Hasil Pengamatan

Tabel Pertambahan Berat Sampel Waktu (Hari) 0 1 2 3 4 5 PP 0,1 52,9278 52,9678 52,9890 53,0086 53,0435 53,0580 PP 0,3 49,7500 50,3347 50,8791 50,4150 50,4343 50,4467 Pertambahan Berat LDPE 40,5728 48,3128 49,4862 49,5939 49,5939 49,7881 HDPE 51,7896 51,7265 51,7381 51,7703 51,7684 51,7545 PVC 50,6167 50,6326 50,7032 50,7817 51,7651 50,8208

Tabel Pertambahan Berat Blanko Waktu (Hari) 0 1 2 3 4 5 Ket: Hari 0  Rabu, 1Kamis, 2Jumat, 3Senin, 4Selasa, 5 Rabu Perhitungan Kecepatan Transmisi Uap Air KecTransmisi = ( JumlahGas / Air )( Ketebalan) BeratAirYangDiserap × tebal = ( Luas )(Waktu / Hari )(Tekanan) Luas × Hari × 1mmHg PP 0,1 28,3840 28,3770 28,3045 28,3113 28,3085 28,3785 PP 0,3 23,3864 23,3833 23,3797 23,3864 23,3810 23,3776 Pertambahan Berat LDPE 22,1716 22,1715 22,1727 22,1725 22,1748 22,1741 HDPE 24,6661 24,5981 24,5978 24,6014 24,5988 24,5949 PVC 25,4780 25,9340 25,9361 25,9372 25,9324 25,9319

Jumlah hari = 6 hari Pada Sampel

PP 0,1 tebal = 0,01 mm, Luas = 1256,7mm2 KecTransmisi = (530,580 − 529,278) × 0,01 = 1,726.10 −5 1256,7 × 6 × 1mmHg

PP 0,3 tebal= 0,03 mm, Luas = 1256,7 mm2 KecTransmisi = (6,967) × 0,03 = 2,772.10 −5 1256,7 × 6 × 1mmHg

LDPE tebal= 0,017 mm, Luas = 1256 mm2 KecTransmisi = (92,135) × 0,017 = 2,078.10 − 4 1256 × 6 × 1mmHg

HDPE tebal 0,0333 mm, Luas = 1256 mm2 KecTransmisi = (−0,351) × 0,0333 = −1,55.10 −6 1256 × 6 × 1mmHg

PVC tebal 0,0442 mm, Luas = 1256 mm2 KecTransmisi = (6,967) × 0,0442 = 4,086.10 −5 1256 × 6 × 1mmHg

Pada Blanko PP 0,1 tebal = 0,01 mm, Luas = 754,76mm2

KecTransmisi =

(−5,5.10 −2 ) × 0,01 = −1,214.10 −7 754,76 × 6 × 1mmHg

PP 0,3 tebal= 0,03 mm, Luas = 754,76mm2 KecTransmisi = (−8,8.10 −2 ) × 0,03 = −5,83.10 −7 754,76 × 6 × 1mmHg

LDPE tebal= 0,017 mm, Luas = 706,85 mm2 KecTransmisi = (2,5.10 −2 ) × 0,017 = 1,002.10 −7 706,85 × 6 × 1mmHg

HDPE tebal 0,0333 mm, Luas = 706,85 mm2 KecTransmisi = ( −0,712) × 0,0333 = −5,59.10 −6 706,85 × 6 × 1mmHg

PVC tebal 0,0442 mm, Luas = 706,85 mm2 KecTransmisi = (4,539) × 0,0442 = 4,73.10 −5 706,85 × 6 × 1mmHg

Grafik

Pertambahan Berat Sampel
60 50 Berat(gram) 40 30 20 10 0 0 1 2 Hari 3 4 5 PP 0,1 PP 0,3 LDPE HDPE PVC

Perbesaran
Pertambahan Berat Sampel
55 PP 0,1 PP 0,3 LDPE 45 HDPE PVC 40 0 1 2 Hari 3 4 5

Grafik

Berat(gram)

50

Pertambahan Berat Blanko
30 25 Berat(gram) 20 15 10 5 0 0 1 2 Hari 3 4 5 PP 0,1 PP 0,3 LDPE HDPE PVC

Perbesaran

Pertambahan Berat Blanko
30 28 Berat(gram) 26 24 22 20 0 1 2 Hari 3 4 5 PP 0,1 PP 0,3 LDPE HDPE PVC

Pembahasan
Praktikum dilakukan untuk menguji permeabilitas uap air oleh plastik. Seperti kita ketahui plastik merupakan plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaran-lembaran yang mempunyai ketebalan yang berbeda. Bahan pertama pembuat plastik adalah resin, baik alami atau sintetik. Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain yang sengaja ditambahkan untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan makanan adalah kontak dengan gas (oksigen) dan kelembaban. Alasan banyak bahan pangan dikemas dengan plastik adalah mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2 .Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987). Kemasan diharapkan mampu melindungi bahan makanan dengan menjaga oksigen dan kelembaban berada di luar kemasan. Sifat permeabilitas plastik terhadap gas dan uap air mampu melindungi produk yang dikemas dengan menjaga supaya oksigen dan uap air tetap berada di luar kemasan, pada kenyataannya ternyata plastik pengemas tidak secara absolut mampu menahan gas dan uap air tersebut karena film plastik permeabel terhadap gas dan uap air. Sampel plastik yang digunakan dalam praktikum adalah PP 0,1; PP 0,3; LDPE; HDPE dan PVC. Masing-masing plastik pengemas memiliki permeabilitas terhadap gas dan uap air yang berbeda dan besarnya dipengaruhi oleh faktor jenis plastik, ketebalan plastik, temperatur dn beberapa parameter lainnya. Permeabilitas plastik terhadap gas dan uap air (Gas or water vapor permeability = WVP) yang banyak digunakan dalam teknologi pengemasan. Metode yang umum digunakan untuk mengukur permeabilitas uap ialah dengan metode gravimetri

(pengukuran perubahan berat). Dalam metode ini digunakan suatu desikan yang bisa menyerap uap air dan menjaga supaya tekanan uap air dan memiliki aw tetap rendah disimpan dalam suatu wadah yang kemudian ditutup dengan film plastik yang akan diukur permeabilitasnya. Dari prinsip tersebut, praktikum dilakukan dengan desikan berupa silica gel yang diketahui dapat menyerap uap air sehingga keadaan lingkungan RH terjaga. Praktikum dilakukan dengan menimbang silica gel terlebih dahulu sebanyak 10 gram, kemudian dimasukkan dalam beker glass, dan ditutup dengan sampel plastik oleh karet gelang. Malam ditimbang dan setelah itu dirapatkan pada plastik yang ada agar rapat. Setelah malam terpasang kemudia beker glass tersebut ditimbang kembali. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 5 hari namun hari libur tidak dilakukan pengamatan. Setelah didapat data berat selama 5 hari kemudian dilakukan perhitungan transmisi uap air. Seharusnya semakin tebal plastik, permeabilitas akan semakin rendah, Hal inilah yang akan diuji pada praktikum. Pengamatan dilakukan pada sampel dan pada blanko sebagai pembanding. Pada Blanko tidak diberi Silica Gel. Penggunaan beaker glass dimaksudkan karena beaker glass terbuat dari kaca yang impermeable terhadap gas dan uap air. Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa pertambahan berat tidak stabil, dan dari data tersebut dapat diketahui selama penyimpanan terjadi penambahan atau penurunan berat setiap harinya. Penambahan berat dapat terjadi karena adanya uap air yang masuk atau terserap ke dalam kemasan karena Silica Gel bersifat menyerap uap air dari lingkungan. Sedangkan pada kontrol yaitu beaker glass yang tidak berisi silika gel serta ditutup dengan plastik PE, HDPE, PP, PVC lebih tidak stabil antara penambahan berat, bahkan ada yang berangsur-angsur berkurang beratnya. Mungkin akibat peletakkan beaker glass yang berdekatan sehingga silica gel pada sampel lain berpengaruh pada blanko dan uap air dari dalam beaker glass ikut tertarik keluar sehingga beratnya berkurang. Walaupun hal ini terjadi, tidak ada masalah penambahan atau pengurangan berat karena yang dihitung adalah transmisi uap airnya. Ini artinya pada blanko uap air tertarik keluar sehingga ada plastik yang beratnya menurun. Pada hasil perhitungan transmisi uap air dapat dilihat bahwa transmisi uap air pada plastik LDPE>PVC>PP 0,3>PP 0,1>HDPE

Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui permeabilitas plastik yang digunakan sebagai penutup. Plastik dengan permeabilitas yang paling kecil berarti paling baik digunakan untuk mengemas produk yang peka dengan oksigen dan uap air, namun hasil sampel dibandingkan terlebih dahulu dengan blanko. Menurut Blanko transmisi uap air pada plastik PVC>HDPE>LDPE>PP 0,1>PP 0,3. Terjadi perbedaan antara blanko dan sampel. Perbedaan ini seperti yang telah disebutkan mungkin karena fluktuatifnya RH lingkungan tempat menyimpan sampel sehingga terjadi perbedaan berat. Menurut hasil pengamtan berarti PE danPP paling baik untuk mengemas karena permeabilitas rendah. Oleh sebab itu banyak kemasan menggunakan PP dan khususnya LDPE karena sifat ini selain karena tahan panas. Sedangkan PVC jarang disukai sebagai pengemas.

KESIMPULAN
pertambahan berat tidak stabil pada blanko banyak uap air yang terserap dari dalam sehingga hasilnya negatif hasil sampel dan blanko tidak sama LDPE dan PP merupakan jenis kemasan baik untuk makanan karena permeabilitas rendah Perbedaan karena RH lingkungan tidak stabil dan peletakan yang berdekatan

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A, Edwards, R.A, Fleet, G.H. dan M. Wooton, 1985. Ilmu Pangan. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. UI-Press, Jakarta. Desroiser, N.W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Penerjemah Muchji Mulyohardjo. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Syarief, Rizal. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. IPB. Bogor