REFERAT APPENDISITIS AKUT

Pembimbing: dr. Aladin S. Johan, Sp.B

Oleh: Nama: Primarini Kusuma Dewi A. NPM: 1102009218

BAGIAN ILMU BEDAH RSUD KABUPATEN BEKASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2013-2014

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalammu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul ”APPENDISITIS AKUT” ini. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di RumahSakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyakepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian referat ini. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan referat ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, untuk perbaikan lebih lanjut. Akhir kata dengan mengucapkan Alhamdulillah, semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua pada umumnya, dan bagi penulis pada khususnya. Wassalam.

Jakarta, April 2013

Penulis

2

......................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR....10 2........................................7 Diagnosis ...................................................8 Diagnosis Banding ..........................................................19 2...............................................................................................................17 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................9 2.........................................................................12 2........................9 Komplikasi ...........................5 2.........................5 Pemeriksaan Fisik ...........19 2.............................................................12 Prognosis…………………………………………………………………………………..........17 2..............10 Penatalaksanaan.....4 Manifestasi Klinis .....................17 2......................................................................................................................................................4 BAB II APPENDISITIS AKUT 2...........................18 2........................................1 Anatomi dan Fisiologi Apendiks ….......................................................................................................................3 Klasifikasi Appendisitis .............................................19 BAB III KESIMPULAN…………………………………………………………………….........................................................................2 Etiologi dan Patofisiologi Appendisitis .........11 Komplikasi……………………………………………………………………………….................18 3 .................................................................6 Pemeriksaan Penunjang ..............16 2...6 2......................................................................................................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang …………………................

Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yangmenjelaskan bahwa Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinyaakut abdomen di seluruh dunia 4 . Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan. Hampir 1/3 anak dengan Appendicitis acuta mengalami perforasi setelah dilakukan operasi. Hanya 50-70% kasus yang bisa didiagnosis dengan tepat pada saat penilaian awal. Appendix merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi kesehatan. Meskipun telah dilakukan peningkatan pemberian resusitasi cairan dan antibiotik yang lebih baik. Peradangan akut Appendix atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah. Riwayat perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam mendiagnosis Appendicitis.BAB I PENDAHULUAN Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis. Diagnosis Appendicitis acuta pada anak kadangkadang sulit. Appendicitis dapat mengenai semua kelompok usia. Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari Appendix yang terinflamasi. baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. meskipun tidak umum pada anak sebelum usia sekolah. terutama pada anak usia prasekolah masih tetap memiliki angka morbiditas yang signifikan. Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan. Angka appendectomy negatif pada pasien anak berkisar 10-50%. maka angka kematian akan tinggi. terutama disebabkan karena peritonitis dan syok. appendicitis pada anak-anak.

1. 5 .apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Pada kasus selebihnya. Pendarahan apendiks berasal dari a.torakalis X. tinea colica. Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun karena jumlah kelenjar limfe disini sedikit sekali jika dibandingkan jumlahnya di saluran cerna atau di seluruh tubuh. ialah IgA. apendiks terletak intraperitoneal.mesenterika superior dan a. atau di tepi lateral kolon ascendens. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. dan enzim proteolitik. Namun demikian pada bayi apendiks berbentuk kerucut.vagus yang mengikuti a. oleh karena itu. apendiks akan mengalami gangrene. panjangnya kira-kira10 cm dan berpangkal di sekum. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut AssociatedLymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. tetapi mukosa apendiks seperti mukosa lainnya mampu menghasilkan sekresi cairan. dan tinea omentum). lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. musin. Meskipun fungsi apendiks sampai saat ini tidak jelas. yaitu dibelakang sekum. Jika arteri ini tersumbat. Apendiks terletak di ileosekum dan merupakan pertemuan ketiga tinea koli (Tinea libera. misalnya karena thrombosis pada infeksi.retroileal. Anatomi dan Fisiologi Apendiks merupakan organ berbentuk tabung.apendikularis. dan pelvic Pada 65% kasus. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Apendiks juga dapat terbentang retrocaecal. Lumennya menyempit di bagian proksimaldan melebar di bagian distal. apendiks terletak retroperitoneal. sedangkan persarafan simpatis berasal dari n.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. di belakang kolon ascendens. nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus.

2 Etiologi dan Patofisiologi Appendisitis Obstruksi Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. cacing usus terutama Oxyuris vermicularis. Kapasitas lumen pada Appendix normal0. biji sayuran. dan Shigella. gallstone. Obstruksi Appendix juga dapat terjadi akibat tumor carcinoid. seperti measles. dan cytomegalovirus. Frekuensi obstruksi meningkat sejalan dengan keparahan proses inflamasi.2. 6 .1 mL. Selama lebih dari 200 tahun. baik lokal maupun generalisata. atau akibat invasi parasit seperti Entamoeba. atau Ascaris. sekitar 65% padakasus Appendicitis gangrenosa tanpa perforasi. chicken pox. Strongyloides. Enterobius vermicularis. dapat disebabkanoleh infeksi Yersinia. Fecalith merupakan penyebab umum obstruksi Appendix. dan batu cherry dilibatkan dalam terjadinya Appendicitis.5 mL pada distal sumbatan meningkatkan tekanan intraluminalsekitar 60 cmH. Penyebab yang lebih jarang adalah hiperplasia jaringan limfoid di sub mukosa Appendix. khususnya jika tumor berlokasi di 1/3 proksimal. Insidensi Appendicitis juga meningkat pada pasien dengan cystic fibrosis. Reaksi jaringan limfatik. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya Appendicitis adalah trauma. Appendicitis juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus enterik atau sistemik.stress psikologis. Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan sekresi normal mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. biji-bijian. corpus alienum seperti pin. dan herediter. barium yang mengering pada pemeriksaan sinar X. yaitu sekitar 20% pada anak dengan Appendicitis akut dan 30-40% pada anak dengan perforasi Appendix. dan 90% pada kasus Appendicitis acutagangrenosa dengan perforasi. Fecalith ditemukan pada 40% kasus Appendicitis acuta sederhana. Hal tersebut terjadi karena perubahan pada kelenjar yang mensekresi mukus. Salmonella. Schistosoma. Sekresi sekitar 0.

Jika mual muntah timbul mendahului nyeri perut. pasien akan mengalami gejala gangguan gastrointestinal ringan seperti berkurangnya nafsu makan. Distensi Appendix menyebabkan perangsangan serabut saraf visceral yang dipersepsikan sebagai nyeri di daerah periumbilical. Dengan adanya distensi. khususnya di titik Mc Burney’s. dan kesalahan pencernaan. Pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal atau di pelvis. Hal-hal tersebut semakin meningkatan tekanan intraluminal Appendix. nyeri pada testis. terjadi gangguan aliran limfatik sehingga terjadi oedem yang lebih hebat. Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa. gangguan vaskuler. perubahan kebiasaan BAB. Distensi biasanya menimbulkan refleks mual. Appendix yang berlokasi di pelvis. diikuti demam.Distensi merangsang akhiran serabut saraf aferen nyeri visceral. dan nyeri yang lebih nyata. infark jaringan. dan gangren. dapat dipikirkan diagnosis lain. Nyeri pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal dapat timbul di punggung atau pinggang. sangat rentan terhadap kekurangansuplai darah. Perforasi Appendix akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau peritonitis difus. Appendix yang mengalami obstruksi merupakan tempat yang baik bagi perkembang biakan bakteri. invasi bakteri. Jarang terjadi nyeri somatik pada kuadran kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. Ketika eksudat inflamasi yang berasal dari dinding Appendix berhubungan dengan peritoneum parietale. atau keduanya. yang terletak dekat ureter atau pembuluh darah testis dapat menyebabkan peningkatan frekuensi BAK. Di awal proses peradangan Appendix. Seiring dengan peningkatan tekanan intraluminal. Dengan bertambahnya distensi yang melampaui tekanan arteriol. serabut saraf somatik akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada lokasi Appendix. Anoreksia berperan penting pada diagnosis Appendicitis. Akantetapi aliran arteriol tidak terhambat. Proses inflamasi segera melibatkan serosa Appendixdan peritoneum parietal pada regio ini. infark. mengakibatkan perpindahan nyeri yang khas ke RLQ. Inflamasi ureter atau Vesica urinaria akibat penyebaran infeksi Appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat berkemih. takikardia.mengakibatkan nyeri yang samar-samar. bakteri melakukan invasi ke dinding Appendix.khususnya pada anak-anak. Mukosa gastrointestinal termasuk Appendix. Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah perforasi dan kemampuan tubuh pasien berespon terhadap perforasi tersebut.muntah. Tanda perforasi Appendix mencakup peningkatan 7 . Nyeri awal ini bersifat nyeri tumpuldi dermatom Th 10. peningkatan tekanan ini menyebabkan gangguan aliran sistem vaskularisasi Appendix yang menyebabkan iskhemia jaringan intraluminal Appendix. Sejalan dengan peningkatan tekanan organ melebihitekanan vena. nyeri somatik biasanya tertunda karena eksudat inflamasi tidak mengenai peritoneum parietale sebelum terjadi perforasi Appendix dan penyebaran infeksi. Akhirnya. nyeri difus pada perut tengah atau di bawah epigastrium. Setelah itu. daerahdengan suplai darah yang paling sedikit akan mengalami kerusakan paling parah. aliran kapiler dan vena terhambat menyebabkan kongesti vaskular. tetapi juga dari pertumbuhan bakteri yang cepat di Appendix. Distensi yang semakin bertambah menyebabkan mual dan muntahdalam beberapa jam setelah timbul nyeri perut. atau nyeri seperti terjadi retensi urine. dan leukositosisakibat pelepasan mediator inflamasi karena iskhemia jaringan. terjadi perforasi biasanya pada salah satu daerah infark di batas antemesenterik.

Appendicitis acuta dan Appendicitis perforasi adalah Eschericia coli dan Bacteriodes fragilis. Bakteri yang umumnya terdapat di Appendix. lebih banyak lemak.dan gejala dapat menetap hingga > 48 jam tanpa perforasi. dan gejala peritonitis pada pemeriksaan fisik. Perforasi yang terjadi pada anak yang lebih tua atau remaja. Appendicitis.suhu melebihi 38. lebih memungkinkan untuk terjadi abscess. penyakit Divertikel. akibat iritasiIleum terminalis atau caecum. dan pasien yang mengalami abscess setelah terapi Appendicitis. Abscess tersebut dapat diketahui dari adanya massa pada palpasi abdomen pada saat pemeriksaan fisik. Sekitar 60% cairan aspirasi yang didapatkan dari Appendicitis didapatkan bakteri jenis anaerob. Flora normal pada Appendix sama dengan bakteri pada Colon normal. sebagai akibat dari obat-obatan atau penyakit lain. Appendicitis merupakan infeksi polimikroba. Namun berbagai variasi dan bakteri fakultatif dan anaerob dan Mycobacteriadapat ditemukan. Pada Appendicitis perforata. antibiotik diberikan 7-10 hari secara intravena hingga leukosit normal atau pasien tidak demam dalam 24 jam. Diduga lumen merupakan sumber organisme yang menginvasi mukosa ketika pertahanan mukosa terganggu oleh peningkatan tekanan lumen dan iskemik dinding lumen. carcinoma Colorectal lebih sering pada orang 8 . Bakteri ini hanya terlihat pada orang dewasa. Apalagi. seringkali pasien telah mengalami perbaikan. organisme yang dikultur dan kemampuan laboratorium untuk mengkultur organisme anaerob secara spesifik sangat bervariasi. yang terjadi dalam jangka waktu yang pendek. Kultur peritoneal harus dilakukan pada pasien dengan keadaan imunosupresi.6⁰C. Saat hasil kultur selesai. Kultur intraperitonal rutin yang dilakukan pada pasien Appendicitis perforata dan non perforata masih dipertanyakan kegunaannya. Peranan lingkungan: diet dan higiene Di awal tahun 1970an. Bakteriologi Flora pada Appendix yang meradang berbeda dengan flora Appendix normal. Diare seringdijumpai pada anak-anak.000. Flora padaAppendix akan tetap konstan seumur hidup kecuali Porphyomonas gingivalis. Perlindungan antibiotik terbatas 24-48 jam pada kasus Appendicitisnon perforata. Burkitt mengemukakan bahwa diet orang Barat dengan kandungan serat rendah. Tenesmus ad ani sering dijumpai. sehingga tidak ada jaringan yang melokalisir penyebaran infeksi akibat perforasi. dan gula buatan berhubungan dengan kondisi tertentu pada pencernaan. Konstipasi jarang dijumpai. Flora normal Colon memainkan peranan penting pada perubahan Appendicitis acuta ke Appendicitis gangrenosa dan Appendicitis perforata. leukositosis > 14. dengan beberapa kasus didapatkan lebih dari 14 jenis bakteri yang berbeda dikultur pada pasien yang mengalami perforasi. Penggunaan irigasiantibiotik pada drainage rongga peritoneal dan transperitoneal masih kontroversi. Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi perforasi. Peritonitis difus lebih sering dijumpai pada bayi karena bayi tidak memiliki jaringan lemak omentum. Adanya diare dapat mengindikasikan adanya abscess pelvis.dibandingkan yang didapatkan dari 25% cairan aspirasi Appendix yang normal.

edema. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadipeningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe. Bila terdapaat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. flora normal.3. 2.hiperemia. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertaidengan tanda-tanda peritonitis umum. Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis) Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. dan tidak ada eksudat serosa.dan keadaan lumen yang mempunyai kecenderungan untuk timbul fecalith. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dindingappendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karenadilapisi eksudat dan fibrin. 9 . mual. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis) Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edemamenyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks danmenimbulkan trombosis. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bias mempermudah terjadinya perforasi. Disini nyeri dirasaakn lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan somatic setempat. Burkitt mengemukakan bahwa diet rendah serat berperan pada perubahan motilitas. anoreksia. defans muskuler. muntah.Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan. mukosaappendiks jadi menebal. dan kemerahan. nyerilepas di titik Mc Burney. malaise. dan nyeri pada gerak aktif danpasif.dengan diet seperti di atas dan lebih jarang diantara orang yang memakan makanan dengan kandungan serta lebih tinggi. b. Umumnya nafsu makan menurun. hiperemia. dan demamringan. Gejala diawali dengan rasanyeri di daerah umbilikus. a. dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. edema. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema. Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihatnormal. Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.Klasifikasi Appendisitis Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut: 1. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema padaapendiks. Appendisitis Akut Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang disadari oleh radang mendadak apendiks yang memberikan tanda setempat. disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum local.

gejala. khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. retrocaecal. Appendicitis Infiltrat Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum. Manifestasi klinis Appendisitis akut mempunyai gejala klinis yang banyak sekali dan menyerupai penyakit lain. Padaappendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairanperitoneal yang purulen. biasanya di fossa iliaka kanan. aliran darah arteri mulaiterganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Appendicitis akut gangrenosa Bila tekanan dalam lumen terus bertambah. kolon dan peritoneum sehinggamembentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yanglainnya. Pada bebrapa kasus appendiks tidak mempunyai tanda utama.c. 2. Appendicitis Abses Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah(pus). kadang disertai rasa kram yang intermitten. biasanya antara 4-6 jam lokasi nyeri terlokalisir di kuadran kanan bawah di titik McBurney. Dindingappendiks berwarna ungu. dan pelvic. Diagnosa appendicitis kronisbaru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kananbawah lebih dari dua minggu. hijau keabuan atau merah kehitaman.4. 5. Appendicitis Kronis Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagaiproses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensirendah. Kadang tidak ada nyeri epigastrium. Appendicitis Perforasi Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggrenyang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitisumum. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit daneosinofil pada sub mukosa. muskularis propia. lateral dari sekum. appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. menetap. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringannekrotik. sekum. usus halus. radang kronik appendiks secara makroskopik danmikroskopik. dan serosa. Secara klasik nyeri timbul pertama kali ditengah bagian bawah epigastrium atau daerah umbilicus. 4. maupun tes diagnostik yang akurat Gejala klinis Gejala klinis appendisitis akut adalah nyeri abdomen. Secara histologis. 3. Setelah periode 12 jam. Selain didapatkan tandatandasupuratif. Pembuluh darah serosatampak dilatasi. dinding appendiks menebal. sub mukosa danmuskularis propia mengalami fibrosis. Tindakan itu dianggap 10 . subcaecal. 2.

Bila muntah mendahului nyeri perut. Obstipasi sebagian besar terjadi sebelum nyeri abdomen danmerasa bahwa defekasi dapat mengurangi rasa nyeri perutnya. Anoreksia hampir selalu menyertai Appendicitis. Umumnya. dapat ditemukan nyeri tekan yang difus. dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan hasil PA diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu radang akut dan bukan radang akut. Gejala Klinik Adanya migrasi nyeri Anoreksia Mual/muntah Nyeri RLQ Nyeri lepas Febris Leukositosis Shift to the left 11 . Umumnya. serta yangterletak retroileal dapat menyebabkan nyeri pada daerah testis. suhu tubuh meningkat hingga >39oC. Selanjutnya ditentukanapakah akan dilakukan Appendectomy. bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan. Diare timbul pada beberapa pasien terutama anak-anak. Setelah Appendectomy. Appendiks yang terletak retrosekal akan menyebabkan nyeri peda daerah sisi dan nyeri punggung. bising usus yang menurun atau hilang pada distensi abdomen. Muntah yang timbul sebelum nyeri abdomen mengarah pada diagnosis gastroenteritis. Bila terjadi peritonitis. Skor Alvarado Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu. maka diagnosis Appendicitis diragukan. Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang merasa nyeri berkurang setelah buang air besar. sedangkan appendiks yang terletak pelvic akan menyebabkan nyeri pada suprapubis. Value Gejala 1 1 1 Tanda 2 1 1 Lab 2 1 Total poin 10 Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit.defence muskuler. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya terjadi satu atau dua kali saja. Anoreksia hampir selalu menyertai appendicitis. Vomitus terjadi pada kira-kira 75% pasien tetapi tidak terus menerus.berbahaya karena mempermudah terjadinya perforasi. pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix. Tetapi pada keadaan perforasi. diikuti nyeri perut dan muntah. sebagian besar pasien mengalami vomitus hanya 1-2 kali. Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendix. urutan munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia. skor <6 dan skor >6. biasanyasuhu naik hingga 38oC. Diare dapat terjadi pada beberapa pasien. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Variasi letak appendiks akan menyebabkan letak nyeri yang bervariasi juga.

Inspeksi Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling.karena pada sikap itu Caecum tertekan sehingga isi Caecum berkurang. dan anoreksia. pada akhirnya jarangdidiagnosis sebagai Appendicitis. peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada pemeriksaan rektum (Rectal toucher). perubahan suara bising usus berhubungan dengan tingkatinflamasi pada Appendix. dan Rovsing’s sign bersifat konfirmasidibanding diagnostik. Tanda Klinis Anak-anak dengan Appendicitis biasanya lebih tenang jika berbaring dengan gerakanyang minimal. demam. khususnya pada pasien dengan pelvis abscess karena ruptur Appendix.5. sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasanya ditemukan distensi perut.Gejala Appendicitis yang terjadi pada anak dapat bervariasi. irritabilitas. Kecepatan nadi dapat normal atau sedikit meningkat. 12 . Pada kedua kelompok tersebut. Adanya psoas sign. maka pemeriksaan rectaltoucher tidak diperlukan lagi. Kenaikan temperature jarang melebihi 1⁰C. Pemeriksaan rectal toucher juga bersifat konfirmasi dibandingdiagnostik. Namun. 360⁰ mengelilingi pangkal Caecum. pemeriksaan ini tidak spesifik untuk Appendicitis. Appendix umumnya terletak di sekitar McBurney.hanya dijumpai gejala letargi. Pada awal perjalanan penyakit pada bayi. Namun perlu diingat bahwa letak anatomis Appendix sebenarnya dapat pada semua titik. muncul gejala muntah. kecuali pada anak dengan Appendicitis letak retrocaecal. terjadi perangsangan ureter sehingganyeri yang timbul menyerupai nyeri pada kolik renal. Pada penderita Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri dan tanda inflamasi yang khas. Tetapi pasien dengan Appendix retrocaecal menunjukkan gejala lokal yang minimal. Pasien dengan peritonitis difus biasanya bernafas mengorok. Pemeriksaan Fisik Appendicitis Tanda-tanda vital tidak mengalami perubahan yang banyak pada appendicitis yang sederhana. 2. Penderita Appendicitis umumnya lebih menyukai sikap jongkok pada paha kanan. Pada beberapa kasus yang meragukan. Hal tersebutakan mengurangi tekanan ke arah Appendix sehingga nyeri perut berkurang. diagnosis biasanya sering terlambat sehingga Appendicitisnya telah mengalami perforasi. Anak yang menggeliat dan berteriak-teriak. Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah positif. Diagnosis Appendicitis sulit dilakukan pada pasien yang terlalu muda atau terlalu tua. Secara teori. Selanjutnya. obturator sign. pasien dapatdiobservasi dulu selama 6 jam. dan nyeri. Appendicitis letak pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal. dehidrasi. nyeri local pada perut kanan bawah. Hampir semua pasien merasa nyeri pada nyeri lokal di titik McBurney’s. Pada pemeriksaan fisik. Pada Appendicitis letak retrocaecal. mulai dari yang menunjukkan kesan sakit ringan hingga anak yang tampak lesu. bayi yang tampak sepsis. Appendicitis letak retrocaecal dapat diketahui dari adanya nyeri di antara costa 12 dan spina iliaca posterior superior.

ampula teraba distensi/cenderung kolaps. Pada appendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Nyeri tekan yang maksimal terletak pada atau dekat titik McBurney. Pada kehamilan trimester I tidak berbeda dengan orang tidak hamil. tidak diperlukan rectal toucher. keluhannyeri pada appendiks sewaktu hamil trimester I dan III akan bergeser kekanan sampai ke pinggang kanan. terbukti proses bukan berasal dari appendiks. akan didapatkan : -Nyeri tekan positif pada arah jam 9-11. Pemeriksaan tambahan (pemeriksaan khusus) 13 . Nyeri tekan dan nyeri lepas secara klasik di kuadran kanan bawah pada appendiks letak anterior yang mengalami inflamasi. Pada anak-anak. bisa disertai nyeri lepas.peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.Palpasi Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan. -Pada yang mengalami komplikasi.Peristaltik usus sering normal. Nyeri tekan pada perut kanan ini merupakan kunci diagnosis.nyeri akan berpindah sesuai dengan pergeseran uterus. misalnya pada appendisitis pelvika. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah (tanda Rovsing). bila penderita miring ke kiri. Rectal Toucher Pada rectal toucher menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai dengan jari telunjuk. karena itu harus dibedakan apakahnyeri berasal dari appendiks atau uterus. pada appendisitis pelvika. karenaappendiksnya berbentuk konus atau pendek. tanda perut sering meragukan maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan rectal toucher. Karena terjadi pergeseran sekum ke kraniolateral dorsal oleh uterus. Pada pemeriksaan rectal toucher. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.

3. Tes inidilakukan dengan rangsangan otot psoas dengan hiperekstensisendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisiterlentang akan menimbulkan nyeri pada appendisitis pelvika. 2. Obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Obturator sign Dilakukan untuk melihat apakah appendiks yang meradang kontak dengan m. tungkai kanandifleksikan dan dilakukan rotasi interna secara pasif. Tesdilakukan dengan cara pasien berbaring terlentang. Obturator internus yang menandakan iritasi pada daerah tersebut.1.Rasa nyeri pada maneuver ini menandakan tes positif.Positif dari nyeri hipogastrik pada peregangan m. Psoas sign : Mengindikasikan adanya iritasi ke muskulus psoas. Rovsing’s Sign : Dengan cara penekanan pada kuadran kiri bawah menyebabkanrefleks nyeri pada daerah kuadran kanan bawah. 14 . psoas. Tes ini dilakukan dengan cara pasien terlentang.kemudian paha ditahan. Secara perlahan tungkai kanan pasien diekstensikan kearah kiri pasien sehingga menyebabkan peregangan m.

Manuver ini dikatakan positif bila pada saat dilepaskan. 9. 8.Dunphy’s sign (nyeri ketika batuk) 15 .Pemeriksaan Obturator sign 4. pasien merasakan nyeri di RLQ.Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada saat penekanan di sisi lateral 10.Nyeri pada daerah cavum Douglasi Nyeri pada daerah cavum Douglasi terjadi bila sudah ada abscess di cavum Douglasiatau Appendicitis letak pelvis.Wahl’s sign Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri pada saat dilakukan perkusi di RLQ. 5. dan terdapat penurunan peristaltik di segitiga Scherren padaauskultasi. 6.Defence muscular Defence musculare bersifat lokal sesuai letak Appendix.Blumberg’s sign (nyeri lepas kontralateral) Pemeriksa menekan di LLQ kemudian melepaskannya.Baldwin’s test Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri di flank saat tungkaikanannya ditekuk. 7.

USG menunjukkan sensitifitas 75%. Pada CT scanappendiks yang mengalami inflamasi tampak berdilatasi (lebih besar dari 5cm) dan dindingnya lebih tipis. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy menrupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi. Analisis urin Bertujuan untuk mendiagnosia batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah Pengukuran enzim hati dan tingkatan amylase membantu mendiagnosa peradangan hati. dan pancreas. sehingga dapat menurunkan appendektomi yang tidak perlu sekitar 7% dan penundaan operasi yang lebih dari 6 jam. Serum Beta Human Chorionic Gonadotropin (B-HCG) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.000-18. Ultrasonografi Dapat membantu dalam menegakkan diagnosis appendiks akut. berkurangnya peristaltik ataupun akumulasi cairan disekitar periappendikal. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10. CT scan Dapat digunakan untuk diagnosis appendisitis. maka dapat langsung dilakukan appendektomi per laparoskopi. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tnada pasti appendicitis. tidak tertekan. sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. Bila diagnosis appendisitis akut dapat ditegakkan.2. 16 . Alat ini dapat membedakan kelainan ginekologis dan ileitis dengan appendisitis. Angka sensitifitas dan spesifitas CRP adalah 80% dan 90%.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Peradangan appendiks ditujukkan dengan pembesaran diameter terluar lebih dari 6 mm. Fekalit dapat mudah dilihat.6 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). sekaligus terapi. tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. tetapi kehadirannya tidak patognomonis pada diagnosis appendisitis. Appendiks yang meradang dapat ditunjukkan secara tepat pada 86% kasus. kandung empedu. spesifisitasnya 100%. dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Laparoskopi dapat digunakan sebagai alat diagnostik. sebanyak 2%.

Kelainan ovulasi Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri peurt kana bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Pada gadis dapatdilakukan colok dubur bila perlu untuk diagnosis banding 17 . tetapimungkin dapat mengganggu selama dua hari.Demam Dengue Demam Dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam.8. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda seringtimbul gangguan yang mirip apendisitis akut.Limfadenitis Mesenterika Limfadenitis mesenterika yang biasanya didahului oleh enteritis ataugastroenteritis ditandai dengan nyeri perut.Gastroenteritis Pada gastroenteritis. e. Infeksi panggul pada wanita biasanyadisertai keputihan dan infeksi urin. akan timbulnyeri hebat dipanggul jika uterus diayunkan. d. Hiperperistalsissering ditemukan. dan hematokrit yang meningkat. muntah.Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. dan diare mendahului rasa sakit. radang di pelvis. Padaanamnesis. Diagnosis Banding Terdapat banyak penyakit akut abdomen yang mempunyai tanda dangejala yang mirip dengan apendisitis akut : a. Tidak ada tanda radang. diagnosis klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding lelaki. terutama kanan disertaidengan perasaan mual. menstruasi. nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu. atau penyakit ginekologik lain. Pada colok vagina. mual.Infeksi panggul Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan apendisitis akut. nyeri tekan perut samar. b. diikuti dengan pemeriksaan fisik dan diperkuat dengan pemeriksaan penunjang.7 Diagnosis Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti. 2.2.Di sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumple Leede. c.Untuk menegakkan diagnosis appendisitis akut didahului dengan anamnesis yang lengkap.trombositopenia.Suhu biasanya lebih tingi daripada apendesitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. Panas dan leukositosis kurang menonjoldibandingkan apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi. terutama kanan.

h. akan timbul nyeri yang mendadak difus didaerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. perforasi kolon. Eritrosituria serung ditemukan. Tidak terdapat demam.Kista ovarium terpuntir Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan terabamassa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut. Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaranyang khas. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan diluar rahimdengan perdarahan. Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi.9. terjadi penyebaran kontaminasi didalam ruang atau rongga peritoneum akan menimbulkan peritonitis generalisata. perforasi tukak duodenum atau kolon. menggigil. 2. j.seperti divertikulitis Meckel.f.Endometriasis eksterna Endometrium diluar rahim akan memberikan keluhan nyeri ditempatendometriosis berada. terjadi Appendicular infiltrat jika pertahanan tubuh baik (massa lama kelamaan akan mengecil dan menghilang) Appendicitis kronis. g. demam tifoid abdominalis. Pemeriksaan ultrasonografidapat menetukan diagnosis. dan lekuk usus halus. merupakan serangan ulang Appendicitis yang telahsembuh 18 . Foto perut polos atauurografi intravena dapat meyakinkan penyakit tersebut. colok vaginal. Pada pemeriksaanvaginal didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan padakuldosentesis di dapatkan darah. dan piuria.obstruksi usus awal. nyeri kostovertebraldisebelah kanan. dan darah menstruasi terkumpul ditempat itukarena tidak ada jalan keluar. dan mukokel apendiks.sekum.Kehamilan diluar kandungan Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu.Penyakit saluran cerna lainnnya Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan diperut. Pielonefritissering disertai dengan demam tinggi. Komplikasi apendisitis akut diantaranya : Perforated Appendicitis. i.Urolitiasis pielium/ureter kanan Batu ureter atau batu ginjal kanan. Baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks. atau colok rektal.karsinoid.

Fistel berfaeces Appendicitis gangrenosa. pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob. Hernia cicatricalis. serta pemberian antibiotic sistemik. Pemberian antibiotic berguna untuk mencegah infeksi. cairan i. yang semakin baik.000 pada tahun1939 sampai 0. mungkin karena emboli retrograd darisistem porta ke dalam vena di gaster/ duodenum. sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit. karena benda asing. kadang–kadang setelah 10–14 hari. Pada abses appendiks dilakukan draignase (mengeluarkan nanah).Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi penanggulangan konservatif dan operatif. Sebelum pembedahan perlu dilakukan perbaikan keadaan umum dengan infus. Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotic dapat mengakibatkan abses dan perforasi. tuberculosis. sertameningkatnya persentase pasien yang mendapat terapi tepat sebelum terjadi perforasi. Komplikasi Post Operasi 1. Faktor.2. 2.12 Prognosis Mortalitas dari Appendicitis di USA menurun terus dari 9. ketersediaan darah dan plasma.2% per 100. dan pemasangan pipa nasogastrik.. Sumbernya adalah echymosisdan erosi kecil pada gaster dan jejunum. a) Penanggulangan konservatif Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotic. 19 .faktor yang menyebabkan penurunan secara signifikan insidensi Appendicitis adalah sarana diagnosis dan terapi.antibiotika. Pada penderita appendicitis perforasi. b) Operasi Bila diagnose sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). maupun fistel tak berfaeces.11. perlu dilakukan laparotomi. 2.10.000 pada tahun 1986. Perdarahan dari traktus digestivus: kebanyakan terjadi 24–27 jam setelahAppendectomy.v. Aktinomikosis. 2. Ileus 4. Pada appendisitis dengan abses atau pyda appendisitis dengan perforasi. 3.9% per 100.

Obturator sign. peritonitis. Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh Appendicitis adalah perforasi. nyeri berpindah. Faktor-faktor yang menjadi etiologi dan predisposisi terjadinya Appendicitis meliputifaktor obstruksi. nyeri pada pemeriksaan rectal toucher.BAB III KESIMPULAN Appendicitis adalah peradangan pada Appendix vermicularis. Diagnosis banding Appendicitis antara lain. analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah. Appendix merupakan derivat bagian dari midgut. shock Septic. ultrasonografi. Appendicular infiltrat. pada pasien yang menjalani laparotomi. Skor Alvarado. nyeri pada daerah cavum Douglas bila ada abscess di rongga abdomen atau Appendix letak pelvis. pemberian antibiotikai. dan gejala sisa klasik berupa nyeri periumbilikal kemudian anorexia /mual/muntah.v. Psoas sign. mual. Defence musculare. 20 . dan perdarahan GIT. Tanda klinis yang dapat dijumpai dan manuver diagnostik pada kasus Appendicitis adalah Rovsing’s sign. mesenterial pyemia dengan Abscess hepar. Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis Appendicitis adalah pemeriksaan laboratorium. Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. demam. anorexia. Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta meliputi. dan radiologi. . Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan.Gejala klinis Appendicitis meliputi nyeri perut. yang lokasi anatomisnya dapat berbeda tiap individu. dan diet. bakteriologi. puasakan pasien. pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia. muntah. Appendicular abscess.

Wilson. Edisi 2. 2004 David C Sabiston : buku Ajar Bedah. Edisi 6. EGC: Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidjat.Jakarta. EGC. De Jong. bLorraine M. 2005 21 . R. Buku Ajar Ilmu Bedah. W. EGC: Jakarta. Patofisiologi. Bagian I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful