You are on page 1of 31

BAB I PENDAHULUAN

Kehamilan ektopik merupakan masalah yang besar bagi wanita yang sedang dalam usia reproduktif. Hal ini merupakan hasil dari kesalahan dalam fisiologi reproduksi manusia yang membiarkan hasil konseptus untuk berimplantasi dan matang diluar kavitas endometrium, yang secara langsung akan berakhir pada kematian fetus. Tanpa diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat, kehamilan ektopik ini dapat menjadi keadaan yang membahayakan jiwa. Kehamilan ektopik menjadi penyebab utama kematian yang berhubungan dengan kehamilan dalam trimester pertama kehamilan di Amerika Serikat. Dengan terjadinya keadaan sakit yang tiba-tiba akibat kehamilan ektopik, masa depan kemampuan wanita untuk hamil kembali dapat terpengaruh menjadi buruk. Kehamilan ektopik pertama kali diungkapkan pada abad ke-11, dan, sampai pertengahan abad ke-18, biasanya berakibat fatal. John Bard melaporkan satu intervensi bedah yang berlangsung sukses untuk mengobati sebuah kehamilan ektopik di New York pada tahun 1759. Angka keselamatan pada awal abad ke-19 sangat kecil, satu laporan mengatakan hanya 5 dari 30 yang dapat selamat dari operasi abdominal. Menariknya, angka keselamatan pasien yang tidak diobati 1 dari 3. Pada permulaan abad ke-20, kemajuan pesat dalam ilmu anestesi, antibiotik, dan transfuse darah berperan dalam menurunkan angka kematian ibu. Pada awal pertengahan abad ke-20, tercatat 200-400 kematian per 10.000 kasus. Sejak tahun 1970, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mulai mencatat dan membuat statistik mengenai kehamilan ektopik, dilaporkan terdapat 17.800 kasus. Pada tahun 1992, angka kehamilan ektopik meningkat menjadi 108.000 kasus. Namun, angka kematian menurun dari 35,5 per 10.000 kasus pada tahun 1970 menjadi 2,6 per 10.000 kasus pada tahun 1992.1

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Kehamilan ektopik adalah semua kehamilan dimana sel telur yang dibuahi oleh spermatozoa berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uterus.1,2,3,4,5,11,12 Berdasarkan tempat implantasinnya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan:4 • • • • • • Tuba Fallopii Uterus (diluar endometrium kavum uterus) Ovarium Intraligamenter Abdominal Kombinasi kehamilan didalam dan diluar uterus

Berdasarkan penggolongan diatas, maka kehamilan ektopik paling sering terjadi di Tuba ( 97% ), yang mana 55% muncul di pars ampullaris, 25% di isthmus, dan 17 % di fimbriae. Sisa 3 % berlokasi di uterus, ovarium, abdominal, dan intraligamenter, dimana sekitar 2-2,5% muncul di kornua uterus.1,2,3,5,6

A. Ampulla ; B. Isthmus ; C. Fimbriae ; D. Kornual/Intersisial ; E. Abdominal ;

2

F. Ovarium ; G. Serviks

Ada beberapa pendapat yang menggolongkan kehamilan ektrauterin, namun pendapat ini tidaklah tepat karena kehamilan di kornu, servik uterus termasuk dalam kehamilan ektopik.3,4

EPIDEMIOLOGI
Insiden dari kehamilan ektopik digambarkan dalam berbagai macam cara pada beberapa literature. Denominator yang paling umum digunakan adalah jumlah konsepsi yang dikenali, yang mana digambarkan sebagai jumlah kehamilan ektopik per 1000 konsepsi. Denominator lainnya adalah jumlah wanita dalam usia produktif, yang digambarkan sebagai jumlah kehamilan ektopik per 10.000 wanita dalam rentang usia 1444 tahun, dan jumlah total kelahiran yang digambarkan sebagai jumlah kehamilan ektopik per 1000 kelahiran. Akan sangat baik bila dapat menghitung insiden kehamilan ektopik per 1000 total konsepsi. Namun, bagaimanapun juga, sejak abortus spontaneous dan banyak abortus yang direncanakan tidak dilaporkan, denominator itu selalu lebih kecil dibandingkan dengan angka yang sebenarnya, dan juga sejak kehamilan ektopik asimptomatis yang tidak diketahui sehingga tidak dilaporkan. Hal ini mengakibatkan insiden kehamilan ektopik per 1000 total konsepsi yang sebenarnya tidak akan dapat diukur secara tepat. Jumlah insiden yang dilaporkan di literature, bagaimanapun juga, merupakan perkiraan yang baik dan, sejak metodologi yang digunakan sama , maka dapat dibandingkan secara tepat.7 Pada perkembangan terbaru, di Inggris Raya, kehamilan ektopik masih merupakan penyebab terbesar pada kematian ibu hamil trimester pertama. Hampir 32.000 kehamilan ektopik terjadi yang tercatat setiap tahunnya di Inggris Raya. Di Amerika Serikat, jumlah kejadian setiap tahunnya menurun dari 58.178 pada tahun1992 menjadi 35.382 pada tahun 1999. Di Norwegia, diperkirakan angka kejadian ini menurun seiring dengan menurunnya angka kejadian Pelvic Inflammatory Disease (PID).8

ETIOLOGI

3

Hal ini dapat disertai kelainan fungsi silia endosalping. riwayat kehamilan ektopik sebelumnya. 4 . penggunaan IUD. operasi pada tuba. Mekanisme apapun yang mengganggu fungsi normal dari tuba fallopii selama proses ini meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik. Normalnya. fungsional. Faktor-faktor ini mungkin berbagi mekanisme umum yang dapat berupa mekanisme anatomis.2. Pastinya. atau keduanya. sel telur dibuahi di tuba fallopii dan berjalan kedalam tuba ketempat implantasi. walau ada yang primer terjadi di rongga abdomen. atau nidasinya di tuba dipermudah. dan dalam perjalanan kedalam uterus telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih berada di tuba. Faktor dalam lumen tuba : a) Endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping. dan fertilisasi in vitro pada penyakit tuba.9 Kehamilan ovarium dapat terjadi apabila spermatozoa memasuki folikel de Gaaf yang baru pecah dan membuahi sel telur yang masih tinggal dalam folikel.6 Resiko terjadinya kehamilan ektopik ini meningkat dengan adanya beberapa factor.1. termasuk riwayat infertilitas. Pada tiap kehamilan akan dimulai dengan pembuahan didalam ampulla tuba. Sedangkan kehamilan abdominal biasanya terjadi sekunder dari kehamilan tuba. atau apabila sel telur yang dibuahi bernidasi di daerah endometriosis di ovarium. Kehamilan servikal berkaitan dengan faktor multiparitas yang beriwayat pernah mengalami abortus atau operasi pada rahim termasuk seksio sesarea. sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu. sangat sulit untuk menilai penyebab dari implantasi ektopik dengan tidak adanya alat pendeteksi kelainan tuba.6.Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki.3 Secara ringkas dapat dipisahkan faktor-faktor pada tuba yang dapat mendukung terjadinya kehamilan ektopik :2 1. seperti disebut diatas. namun sebagian besar penyebabnya masih tidak diketahui. Kehamilan intraligamenter biasanya terjadi sekunder dari kehamilan tuba atau kehamilan ovarial yang mengalami rupture dan mudigah masuk di antara 2 lapisan ligamentum latum. b) Lumen tuba sempit dan berlekuk-lekuk yang dapat terjadi pada hipoplasia uteri. paparan Diethylstil-bestrol (DES). infeksi pelvis.

Pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature. b) Fertilisasi in vitro.dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. dan oleh Breen. 2. Sequele morfologik berpengaruh pada setengah dari episode awal kehamilan ektopik. yaitu perjalanan dari ovum kanan ke tuba kiri. 5 . salpingitis akut merupakan penyebab utama.c) Lumen tuba sempit yang diakibatkan oleh operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna. 3. Faktor pada dinding tuba : a) Endometriosis tuba. Faktor lain : a) Migrasi luar ovum. Bagaimanapun juga. b) Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi ditempat itu. Diantara faktor-faktor tersebut diatas. hipotesis dari mereka adalah ada banyak insiden terjadinya kehamilan di distal tuba dengan ovulasi dari kontralateral ovarium. dilaporkan bahwa ovulasi dari arah kontralateral ditemukan pada sepertiga dari gestasi tuba yang diobati dengan laparatomi.atau sebaliknya. mengamati bahwa bagian dari tuba dimana terjadi implantasi pada wanita dengan kehamilan ektopik adalah sama pada apakah korpus luteum berada di ipsilateral atau kontralateral. dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba. Saito dkk. Jika transmigrasi adalah salah satu faktor. Tempat keluar ovum pada ovulasi di ovarium juga disinyalir mempunyai peran dalam kehamilan ektopik. Ovulasi yang berasal dari arah kontralateral dari ovarium telah dianggap sebagai penyebab dari terlambatnya transport blastokist. 4. Faktor diluar dinding tuba : a) Perlekatan peritubal dengan distorsiatau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan telur. b) Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba.

Secara iatrogenik. sekitar 25%. Wanita yang menjadi hamil sewaktu memakai IUD Copper T380 atau kontrasepsi oral progestin saja. dapat terjadi peningkatan estrogen dan progesterone setelah induksi ovulasi baik itu dengan clomiphene citrate atau human menopausal gonadotrophins. Wanita yang menjadi hamil selama memakai progesterone-releasing IUD bahkan lebih tinggi. bahkan bila dibandingkan dengan wanita yang tidak memakai alat kontrasepsi sama sekali. menunjukkan metode statistik yang digunakan untuk mengontrol efek dari faktor-faktor resiko. yang mana peningkatan kadar estrogen atau progesterone yang beredar dapat merusak kontraktilitas normal tuba.7 Tatum dan Schmidt menyimpulkan bahwa kehamilan yang mucul yang dikarenakan kegagalan beberapa metode kontrasepsi mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menjadi ektopik dibandingkan pada wanita yang hamil karena tidak memakai alat kontrasepsi.Penyebab lain yang lebih fisiologik adalah ketidakseimbangan hormonal. sekitar 80 %. Kelainan abnormal-abnormal ini dapat mengganggu transport normal di tuba. Stratford memeriksa 44 konseptus dari gestasi ektopik dengan mikrodiseksi dan potongan histologik dan menemukan sekitar duapertiga abnormal dan setengahnya mempunyai banormalitas structural umum. Walaupun pada banyak laporan yang mengatakan bahwa riwayat aborsi yang diinduksi meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik. kemungkinan terjadi kehamilan ektopik lebih besar dua lipat. riwayat dari satu aborsi yang diinduksi tidak meningkatkan secara bermakna kemungkinan terjadi kehamilan ektopik. Efek itu baru akan nyata bila sudah dua atau lebih aborsi. Kemungkinan penyebab lainnya adalah perkembangan embrionik yang abnormal. dan dilaporkan terjadi kenaikan angka kehamilan ektopik pada wanita dengan perlakuan seperti itu. Kemudian berturut-turut 6 . PATOFISIOLOGI Kebanyakan dari kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii. Hal ini disebabkan progesterone menghambat kontraksi tuba. Levin dkk. Kenaikan rata-rata kehamilan ektopik dilaporkan terjadi pada wanita yang digambarkan secara fisiologis dan farmakologis mempunyai kadar progestin yang meningakat. mempunyai kemungkinan 5% lebih tinggi untuk mengalami kehamilan ektopik. Tempat yang paling umum terjadi adalah pada pars ampullaris.

dan kadang-kadang ditemukan mitosis. dan endometrium dapat pula berubah menjadi desidua.10 7 . yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan halnya di kavum uteri.adalah isthmus (12%).2. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 minggu sampai 10 minggu. fimbriae (5%). dan sulit di diagnosis. hiperkromatik.7 Proses implantasi ovum yang dibuahi. dan bagian kornu dan daerah intersisial tuba (2%). Karena tuba bukan merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan hasil konsepsi.1. kehamilan ektopik non tuba sangat jarang. dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas. Dapat ditemukan pula perubahan-perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella. tidak mungkin janin dapat tumbuh secara utuh seperti di uterus. uterus menjadi besar dan lembek. dan seperti yang disebut pada bagian diatas. tebalnya dinding tuba. dan biasanya menghasilkan perdarahan yang sangat banyak bila terjadi rupture. dengan mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. karena baru mengeluarkan gejala yang muncul lebih lama dari tipe yang lain.7. Sitoplasma sel dapat berlubanglubang atau berbusa. seperti tempat implantasi. 2 Kemungkinan itu antara lain :2. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang-kadang tidak tampak. maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Setelah tempat nidasi tertutup. dan berbentuk tidak teratur. Kehamilan pada daerah intersisial sering berhubungan dengan kesakitan yang berat. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik dalam tuba. Dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum gravidatis dan trofoblas. Perubahan ini hanya terjadi pada sebagian kehamilan ektopik. lobuler. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan diresorbsi.

Abortus tuba Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi koriales pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari koriales pada dinding tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Bila fimbriae tertutup. Pada kejadian ini lebih sering terjadi bila ovum berimplantasi pada isthmus dan biasanya muncul pada kehamilan muda. perdarahan akan terus berlangsung. 2. 3. sehingga dapat mengikuti lebih mudah pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan dengan bagian isthmus dengan lumen sempit. Bila pelepasan menyeluruh. Perdarahan akan keluar melalui fimbriae dan masuk rongga abdomen dan terkumpul secara khas di kavum Douglas dan akan membentuk hematokel retrouterina. mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dan kemudian didorong oleh darah kearah ostium tuba abdominale. Perbedaan ini disebabkan karena lumen pars amoullaris lebih luas. Abortus tuba lebih umum terjadi pada kehamilan tuba pars ampullaris. sampai berubah menjadi mola kruenta. dari sedikit-sedikit oleh darah. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh apa-apa.1. tergantung dari derajat perdarahan yang timbul. dan perluasan hasil konsepsi dapa mengakibatkan rupture pada saluran lahir pada beberapa tempat. Pada pelepasan hasil konsepsi yang tidak sempurna pada abortus. sedangkan penembusan dinding tuba oleh villi koriales kea rah peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars isthmika. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung pada implantasi telur yang dibuahi. dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Ruptur tuba Penyusupan. banyak kasus kehamilan tuba berakhir pada trimester pertama oleh rupture intraperitoneal. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi Pada implantasi secara kolumner. Sebelum metode pengukuran kadar korionik gonadotropin tersedia. 8 . Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya. tuba fallopii dapat membesar karena darah dan membentuk hematosalping. ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang. hanya haidnya saja yang terlambat untuk beberapa hari.

kelak dapat diubah menjadi litopedion. namun bila besar. Kadang-kadang ruptur terjadi diarah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter. Dalam hal ini dinding tuba yang sudah menipis karena invasi dari trofoblas. Gambaran klinik klasik untuk kehamilan ektopik adalah trias nyeri abdomen. bila umur gestasi sudah meningkat dan perdarahan intraperitoneal muncul karena keluarnya dari dari fimbriae atau ruptur. Gambaran tersebut menjadi sangat penting dalam memikirkan diagnosis pada pasien yang datang dengan kehamilan di trimester pertama. dapat diresorbsi kembali. terdapat kehamilan intraligamenter. Bila memang terjadi kehamilan ektopik namun belum muncul gejala. maka kita sebut kehamilan ektopik belum terganggu. GAMBARAN KLINIK Pada wanita dengan faktor resiko untuk kehamilan ektopik. Ruptur dapat terjadi secara spontan. Sedangkan gejala dan tanda kehamilan 9 . dan perdarahan pervaginam. seluruh janin dapat keluar dari tuba. maka muncul pada kehamilan yang lebih lanjut. Pasien yang lain mungin muncul gejala-gejala yang umumnya terjadi pada masa kehamilan awal termasuk mual. lelah. nyeri abdomen ringan.sedangkan bila berimplantasi di pars intersisialis. Bila janin mati dan masih kecil. maka dapat timbul gejala. perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila pasien tidak mati dan meninggal karena perdarahan. Pada ruptur ke rongga perut. Namun. tetapi bila robekan kecil. Bila janin yang dikeluarkan tidak mati dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan dengan plasenta yang utuh. dan riwayat disparenu baru-baru ini. Ruptur sekunder dapat terjadi bila terjadi abortus dalam tuba dan ostium tuba tertutup. Namun sayangnya. nyeri bahu. akan pecah karena tekanan darah dalam tuba. atau karena trauma ringan seperti koitus atau pemeriksaan vagina. amenore. Jika janin hidup terus. dengan penggunaan tes hormonal awal dan sonografi vagina. kemungkinan tumbuh terus dalam rongga abdomen sehingga terjadi kehamilan abdominal sekunder. nasib janin bergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya kehamilan. sekarang dimungkinkan untuk menegakkan diagnosis dari kehamilan ektopik sebelum keluar gejala. hanya 50% pasien dengan kehamilan ektopik ini yang menampilkan gejala-gejala tersebut secara khas.

nyeri gerakan serviks. dari yang khas sampai tidak khas sehingga sukar untuk mendiagnosisnya.2.2 10 . tidak ada kombinasi penemuan yang boleh dianggap oleh seorang dokter di ruang gawat darurat yang menyimpulkan adanya kehamilan ektopik berdasarkan penemuan klinik saja.7 Pada pemeriksaan fisik harus difokuskan pada tanda vital dan pemeriksaan abdomen dan pelvik. peran alat bantu diagnostik sangatlah penting.5 DIAGNOSIS Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik yang belum terganggu sangat besar. dapat teraba kavum douglas yang menonjol dan terdapat nyeri gerakan serviks. Hipotensi dan takikardi yang dapat terjadi akibat perdarahan banyak akibat ruptur tuba tidak dapat memperkirakan adanya kehamilan ektopik walau tanda itu menunjukkan perlunya resusitasi segera. ketidakadaan tanda dan gejala ini tidak menyingkirkan kehamilan ektopik. dan sudah merupakan sesuatu yang harus dilakukan.5. seperti tersebut diatas. Satu yang harus diingat juga adalah pemeriksaan pelvik benar-benar normal pada kirakira 10% pasien dengan kehamilan ektopik. Adanya tanda-tanda peritoneal. dengan anamnesis yang teliti dapat dipikirkan kemungkinan adanya kehamilan ektopik. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dart dkk. Sekarang ini.2. Disisi yang lain.4. beberapa riwayat dan penemuan pemeriksaan fisik menngkatkan kecurigaan terhadap kehamilan ektopik. Lebih jauh lagi. tanda vital yang normal tidak dapat menyingkirkan adanya kehamilan ektopik. namun untuk menegakkan diagnosis pasti harus dibantu dengan pemeriksaan fisik yang cermat dan dibantu dengan alat bantu diagnostik.1.apabila memang tersedia. Terabanya massa adneksa juga tidak dapat memperkirakan kehamilan ektopik secara tepat. Dalam menegakkan diagnosis.ektopik terganggu. bahkan faktanya kedua hal tersebut lebih khas pada komplikasi kehamilan intrauterin. bagaimanapun juga. untuk menentukan diagnosis.5 Kesimpulannya. massa adneksa hanya muncul kurang dari 10% pada pasien yang di diagnosis dengan kehamilan ektopik. Untuk itu. dan nyeri lateral atau bilateral abdomen atau nyeri pelvik meningkatkan kecurigaan akan kehamilan ektopik dan merupakan temuan yang bermakna.. dapat berbeda-beda. sehingga pasien harus mengalami rupture atau abortus dahulu sehingga menimbulkan gejala. Pada pemeriksaan dalam.

Perabaan serviks dan gerakkannya menyebabkan nyeri. warna dari darahnya. dan apakah keluar gumpalan-gumpalan. penderita dapat tampak pucat dan kesakitan. dan biasanya terjadi setelah muncul keluhan nyeri perut bagian bawah. β-hCG diproduksi oleh trofoblas dan dapat dideteksi dalam serum pada kira-kira 1 minggu sebelum haid berikutnya. Terdapat nyeri perut bagian bawah. kemunkinan besar tidak terjadi kehamilan. apakah mengalir seperti air atau hanya seperti tetesan saja. Pada perdarahan dalam rongga perut aktif dapat ditemukan tanda-tanda syok dan pasien merasakan nyeri perut yang mendadak.2. Ditanyakan juga riwayat kehamilan sebelumnya. Pemeriksaan tunggal tes β-hCG kuantitatif ini berguna untuk mendiagnosis kehamilan. mungkin hanya terlihat perut bagian bawah yang sedikit menggembung dan nyeri tekan. Pada pemeriksaan dalam mungkin ditemukan tanda-tanda kehamilan muda. Pada jenis yang tidak mendadak. bila sudah pernah hamil.2. Jika serum β-hCG negative. dan pada saat itu sudah harus dilakukan diagnosis dengan USG.4 Pemeriksaan umum.2 Pemeriksaan ginekologi. berapa jumlah perdarahannya.Anamnesis. Perdarahan pervaginam dapat terjadi. Dinamika normal kenaikan kadar β-hCG dua kali lipat kira-kira setiap 1. Kavum Douglas juga teraba menonjol dan nyeri raba yang menunjukkan adanya hematokel retrouterina. Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan terlambat haid untuk beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala subjektif kehamilan muda.000 mIU/ml. Hanya ada sedikit sekali kasus yang dilaporkan pasien dengan tes serum β-hCG negative dengan kehamilan ektopik. kenaikan ini akan melambat bila sudah mencapai nilai puncaknya. namun tidak dapat membedakan antara kehamilan ektopik atau kehamilan intrauterine. sehingga menyulitkan perbedaan dengan infeksi pelvik. Para dokter di ruang gawat darurat biasanya menggunakan beta-human chorionic gonadotropin (β-hCG) untuk mendiagnosis kehamilan.1 hari sampai mencapai puncaknya 100. Pemeriksaan laboratorium umum lainnya adalah pemeriksaan 11 . Kadang terdapat suhu yang naik. dan kadang-kadang tenesmus. nyeri bahu. dan untuk membantu menentukan potensi pasien mengalami kehamilan ektopik. maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Bila uterus dapat diraba.4 Pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan umum. riwayat menstruasinya.4 sampai 2.

 Human Chorionic Gonadotrophin 12 . sehingga ada kemungkinan 2-5 % terjadi false-positif atau falsenegatif.7  Kuldosentesis Sebelum adanya perkembangan dari sonografi pelvis. didapatkan ada 4 dari 166 kehamilan ektopik yang tidak dapat dilihat oleh laparaskopis karena hal diatas. 2. Transvaginal Ultrasonography sekarang ini telah menggantikan posisi Laparaskopi karena lebih menguntungkan. Diagnosis awal diperlukan untuk perawatan yang maksimal terhadap ketahanan tuba dan mencegah potensi terjadinya perdarahan intraperitoneal.darah rutin untuk mengetahui kadar hemoglobin yang dapat rendah bila terjadi perdarahan yang sudah lama. kuldosentesis merupakan salah satu alat bantu diagnosis yang penting untuk mengenali kehamilan ektopik. Pada infeksi pelvik biasanya lebih tinggi hingga dapat lebih dari 20. yang merupakan batu acuan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik adalah Transvaginal Ultrasonography dan pemeriksaan kadar hCG serial. Juga dinilai kadar leukosit untuk membedakan apakah terjadi infeksi yang bisa disebabkan oleh kehamilan ektopik ini atau dugaan adanya infeksi pelvik.000. Penemuan hasil darah yang tidak membeku pada kuldosentesis dan terutama bila hematokrit lebih dari 15 % adalah bantuan yang  Laparaskopi Diagnosis definitif dari kehamilan ektopik dapat hampir selalu ditegakkan dengan melihat organ pelvis secara langsung melalui laparaskopi.5 ALAT-ALAT BANTU DIAGNOSTIK Diluar dari kemajuan teknologi sekarang ini. terutama transvaginal. atau kegemukan dapat menjadi penyulit dari laparaskopi. adhesi. Menemukan bahwa perdarahan menjadi penyebab terbesar (88%) kematian pada kasus kehamilan ektopik.8.9 Beberapa prosedur yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis kehamilan ektopik adalah berikut ini :1. kehamilan ektopik sering salah terdiagnosis pada saat kunjungan pertama pasien tentang keluhannya. Dalam penelitian oleh Samuellson dan Sjovall. Namun. Atrash dkk. Pada saat ini. dengan adanya hemoperitoneum.

Stern dkk. lebih mampu melihat lebih tepat organ pelvis pada awal kehamilan 13 . sehingga membutuhkan beberapa hari untuk melakukan serial tes. Tapi. kadar hCG biasanya tidak meningkat seperti seharusnya.  Ultrasonography Dengan menggunakan ultrasonografi abdominal. walaupun 85% diantaranya lebih rendah dibandingkan dengan kadar hCG pada kehamilan normal. Kadar dkk. karena banyak wanita (90%) dengan kehamilan ektopik mempunyai level hCG yang jauh dibawah nilai diatas. hampir pasti kehamilan ektopik. teknik ini tidak berguna secara klinik. dan 6.4%. Perkembangan alat dengan transduser transvaginal dengan frekuensi 5. Kadar dkk. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa jumlah progesterone yang dihasilkan korpus luteum pada kehamilan ektopik lebih sedikit dibandingkan dengan korpus luteum pada kehamilan normal. maka pengukuran kadar progesterone serum tunggal oleh beberapa kelompok dapat dipakai untuk membedakan kehamilan ektopik dengan kehamilan normal intrauterin. maka kemungkinan seseorang untuk mempunyai kehamilan abnormal tinggi. mengukur sampel kadar progesterone pada beberapa wanita hamil di minggu gestasi ke 4. Mereka melaporkan bahwa pada minggu ke-4 dengan kadar kurang dari 5 ng/ml. sensitifitas yang didapat 100% dan spesifitasnya 97% dan menurun seiring meningkatnya umur gestasi. Pada kehamilan yang abnormal seperti kehamilan ektopik ini.Wanita dengan kehamilan ektopik menunjukan adanya kadar hCG dalam serum.0 sampai 7.  Progesteron Karena pemeriksaan kadar hCG secara tunggal tidak dapat memberikan informasi untuk mendiagnosis kehamilan ektopik.0 MHz. melaporkan bahwa jika persentase kenaikan kadar hCG tidak lebih dari 66%. Bila kadar progesterone lebih dari 25 ng/ml menyingkirkan kehamilan ektopik dengan kepastian 97. melaoprkan pada tahun 1981 bahwa jika level hCG lebih besar dari 6500 mIU/ml dan tidak ada kantong gestasi pada uterus. Uji hCG tunggal kuantitatif tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik karena tanggal pasti dari ovulasi dan konsepsi terjadi tidak diketahui pada banyak wanita. 5.

biasanya antara 1500 dan 2500 mIU/ml. maka penemuan kantong gestasi intrauterine hampir selalu dapat menyingkirkan adanya kehamilan ektopik.dibandingkan transabdominal. lebih mungkin terjadi kehamilan patologis. Jadi kriteria diagnosis USG dengan menggunakkan transduser transvagina untuk kehamilan ektopik termasuk : adanya komplek atau massa kistik adneksa atau terlihatnya embrio di adneksa dapat dideteksi. dengan potong beku bila mau. dan harus dipikirkan kemungkinannya. maka diagnosis kehamilan ektopik dapat dibuat dan dilakukan tindakan. kuretase kavum endometrial dengan pemeriksaan histologi pada jaringan yang dikerok. yaitu terapi bedah dan terapi obat. apakah itu kehamilan ektopik. atau suatu gestasi intrauterine tidak viable. Spandorfer dkk. dan/atau kadar hCG diatas ambang tertentu. dan/atau tidak adanya kantong gestasi dimana diketahui bahwa usia gestasi sudah lebih dari 38 hari. Dengan alat ini biasanya mungkin bisa untuk mengidentifikasi kantong gestasi intrauterine saat kadar hCG mencapai 1500 mIU/ml dan selalu bila kadar hCG sudah mencapai 2000 mIU/ml pada sekitar 5 atau 6 minggu setelah haid terakhir. Karena kombinasi kehamilan intrauterine dan ekstrauterin hampir merupakan kejadian yang jarang. usia gestasi lebih dari 38 hari. Jika tidak ada jaringan villi koriales yang terlihat pada jaringan yang diangkat. Bila kantong gestasi tidak ditemukan dan kadar hCG lebih dari 1500 mIU/ml. Ada juga pilihan tanpa terapi. PENATALAKSANAAN Ada banyak opsi yang dapat dipilih dalam menangani kehamilan ektopik. atau serum kadar progesterone kurang dari 5 ng/ml dan tidak ada kantong gestasi interauterin yang terlihat denga transvaginal USG. dapat dikerjakan untuk menentukan apakah ada jaringan gestasi.  Dilatasi kuretase Saat serum kadar hCG lebih dari 1500 mIU/ml. Biasanya massa adneksa dan/atau struktur yang menyerupai kantong gestasi dapat dikenali pada saluran telur saat kehamilan ektopik muncul yang menghasilkan kadar hCG diatas 2500 mIU/ml. namun hanya bisa dilakukan pada pasien yang tidak menunjukkan gejala dan tidak ada bukti adanya rupture atau 14 . melaporkan bahwa potong beku 93 % akurat dalam mengenali villi koriales.

Pasien juga harus menerima segala resiko apabila terjadi rupture harus dioperasi.6.10 TERAPI BEDAH Sebagian besar wanita dengan kehamilan ektopik akan membutuhkan tindakan bedah.8. fasilitas dan persediaan untuk melakukan laparaskopi kurang. Namun pada pilihan ini pasien harus bersedian diawasi secara lebih ketat dan sering dan harus menunjukkan perkembangan yang baik. Pada banyak kasus. atau ada hambatan teknik untuk melakukan laparaskopi. Laparatomi merupakan teknik yang lebih dipilih bila pasien secara hemodinamik tidak stabil. Pada pasien kehamilan ektopik yang hemodinamiknya stabil dan dikerjakan salpingotomi dapat dilakukan dengan teknik laparaskopi. Tuba kiri yang tersumbat terlihat pada L. Salpingotomi laparaskopik diindikasikan pada pasien hamil ektopik yang belum rupture dan besarnya tidak lebih dari 5 cm pada diameter transversa yang terlihat komplit melalui laparaskop.ketidakstabilan hemodinamik. operator yang tidak terlatih dengan laparaskopi. Kehamilan ektopik tuba kanan yang terlihat pada laparaskopi. pasien-pasien ini membutuhkan salpingektomi karena kerusakan tuba yang banyak.wanita ini pernah dilakukan ligasi tuba 15 . Tindakan bedah ini dapat radikal (salpingektomi) atau konservatif ( biasanya salpingotomi ) dan tindakan itu dilakukan dengan jalan laparaskopi atau laparatomi. hanya beberapa kasus saja salpingotomi dapat dilakukan. Tuba kanan yang membesar karena terdapat kehamilan ektopik ada disebelah kanan di E.2.

atau laser. maka pada tempat idthmus dapat dilakukan salpingotomi. Penyembuhan secara sekunder atau dengan menggunakan benang menghasilkan hasil yang sama. Secara umum. perawatan pada laparaskopi lebih cepat dan lebih sedikit waktu yang hilang dalam penanganannya dibandingkan laparatomi. Kehamilan ektopik di pars ampullaris. Parsial atau total salpingektomi laparaskopik mungkin dilakukan pada pasien dengan riwayat penyakit tuba yang masih ada dan diketahui mempunyai faktor resiko untuk kehamilan ektopik. jika diagnosis ditegakkan lebih awal.Linier salpingektomi pada laparaskopi atau laparatomi dikerjakan pada pasien hamil ektopik yang belum rupture dengan menginsisi permukaan antimesenterik dari tuba dengan kauter kecil. Gestasi ektopik dikeluarkan secara perlahan melalui insisi dan tempat yang berdarah di kauter. dapat dilakukan gerakan seeperti memeras (milking) untuk mengeluarkan jaringan trofoblastik melalui fimbriae. gunting. Dilakukan linear salpingektomi di permukaan antimesenterik tuba. Kehamilan ektopik ini mempunyai kemungkinan invasi trofoblastik kedalam muskularis tuba yang lebih kecil dibandingkan dengan implantasi pada isthmus. Bagaimanapun juga. dan untuk itu dihindari. Pasien dengan implantasi pada isthmus akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari reseksi segmental dan anastomosis lanjut. Kemudian diinjeksikan pitressin dilute untuk memperbaiki hemostasis. Komplikasi bedah yang paling sering adalah kehamilan ektopik berulang (5-20 %) dan 16 . Pada kehamilan ektopik yang berlokasi pada ujung fimbriae. Pengkauteran yang banyak didalaam lumen tuba dapat mengakibatkan terjadinya sumbatan. Tindakan ini baik untuk pasien dengan tempat implantasi di ampulla tuba.

Perdarahan intra-abdominal kontraindikasi pemakaian methotrexate. dan biaya yang lebih murah. mempertahankan patensi dan fungsi tuba. METHOTREXATE Penggunaan methotrexate pertama kali direkomendasikan oleh Tanaka dkk. Keberhasilannya baik bila usia gestasi kurang dari 6 minggu.5 cm diameter. Methotrexate diberikan dalam dosis tunggal (50 mg/m2 IM) atau dengan menggunakan dosis variasi 1 mg/kgBB 17 . Lalu. (1997) direkomendasikan bahwa methotrexate tidak digunakan pada massa kehamilan itu lebih dari 4 cm. dan mifeproston (RU486). penyakit hati atau ginjal. Kemudian diikuti oleh Miyazaki (1983) dan Ory dkk. dan ulkus peptik. dan β-hCG kurang dari 15. yang menggunakannya sebagai terapi garis pertama pada kehamilan ektopik. bagi maka mulai diperbandingkan pemakaian methotrexate dengan terapi utama salpingostomi. Sejak itu banyak dilaporkan pemakaian methotrexate pada berbagai jenis kehamilan ektopik yang berhasil. prostaglandin.6.00 mIU. alkoholisme. Disarankan pemberian dosis tunggal methotrexate post operasi sebagai profilaksis para pasien resiko tinggi. massa tuba kurang dari 3.pengangkatan jaringan trofoblastik yang tidak komplit. penyakit paru aktif. Menurut American College of Obstetricians and Gynaecologist (1998). kontraindikasi lainnya termasuk menyusui. janin sudah mati. untuk kehamilan pada intersisial. Ukuran dari massa ektopik juga penting dan oleh Pisarska dkk.10 TERAPI OBAT Diagnosis dini yang telah dapat ditegakkan membuat pilihan pengobatan dengan obat-obatan memungkinkan. Zat-zat kimia yang telah diteliti termasuk glukosa hiperosmolar. Pasien yang akan diberikan methotrexate harus dalam keadaan hemodinamika yang stabil dengan hasil laboratorium darah yang normal dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati. imunodefisiensi. Methotrexate merupakan suatu obat anti neoplastik yang bekerja sebagai antagonis asam folat dan poten apoptosis induser pada jaringan trofoblas. Disini akan dibahas lebih jauh mengenai pemakaian methotrexate sebagai pilihan untuk terapi obat. zat sitotoksik ( misl: methotrexate dan actinomycin ). sengan semakin banyaknya aktif keberhasilan merupakan memakai obat. Keuntungannya adalah dapat menghindari tindakan bedah beserta segala resiko yang mengikutinya. urea.

Dengan kemajuan terapi yang ada sekarang.6 %.8.7 ditambah Leukoverin 0. Namun bila pertolongan terlambat. namun ini harus didukung kemampuan untuk menegakkan diagnosis dini sehingga dapat diintervensi secepatnya. Kegagalan terapi bila tidak ada penurunan β-hCG. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14. 2 18 .3. Sebagian wanita dapat menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain.6. β-hCG biasanya menghilang dari plasma dalam rata-rata antara 14 dan 21 hari.10 PROGNOSIS Kematian ibu karena kehamilan ektopik terganggu cenderung menurun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. kemungkinan ada massa ektopik persisten atau ada perdarahan intraperitoneal. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral.IM pada hari ke 1. maka angka kematian akan meningkat. Sedangkan janin pada kehamilan ektopik biasanya akan mati dan tidak dapat dipertahankan karena tidak berada pada tempat dimana ia seharusnya tumbuh. Setelah pemakaian methotrexate yang berhasil. kemungkinan ibu untuk dapat hamil kembali membesar.1 mg/kgBB IM pada hari ke 2.4.5.

berwarna merah tua. muntah (-). Riwayat terlambat haid (+). ANAMNESIS Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 27 april 2013 A. Pasien mengaku haid tidak lancar sejak 2 bulan yang lalu. demam (-). gumpalan (-). Keluhan Utama Pasien datang dengan keluhan nyeri perut 1 minggu SMRS B. Awalnya pasien mengeluh keluar darah dari vagina sekitar 1 minggu yang lalu. pasien saat ini sedang haid hari kedua dan mengganti pembalut 2x perhari serta darah haid berwarna hitam. pasien tidak muntah darah. keluhan bab dan bak (-).BAB III IKHTISAR KASUS I. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Rumah Sakit Arjawinangun dengan nyeri perut. nyeri perut (+). mual (+). 19 . nyeri. kapetakan 43283 27 april 2013 II. dengan jumlah sedang. Kurtini 39 th Perempuan Jawa/Indonesia Islam : Tamat SMP Ibu rumah Tangga Jl.RM Masuk RSF : : : : : : : : : Ny. muntah berupa makanan. seperti haid. keluhan keluar darah dari vagina sejak 3 hari SMRS. mual. IDENTITAS Nama Umur Jenis kelamin Suku/Bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat No.

2. Hipertensi. narkoba disangkal III. cukup bulan. Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran : : Baik Compos Mentis 20 . DM. spontan. sehat. DM. Riwayat Haid Menarche Siklus haid Lama haid Banyaknya Dismenore : : : : : 14 tahun Teratur (27-30 hari) 5 hari 2x/hari ganti softex - D. muntah (-). Riwayat Penyakit Sistemik Asma. alkohol. Hipertensi. PEMERIKSAAN FISIK A. Riwayat Kehamilan Sebelumnya 1. minum jamu. Riwayat Kebiasaan dan Psikososial Kebiasaan merokok. ANC belum (-) G. Riwayat Penyakit Keluarga Asma. ditolong bidan. Penyakit Jantung disangkal I. Alergi. BB/PB : 2800gr/48cm. Penyakit Jantung disangkal H. Riwayat Kehamilan Sekarang Hamil muda Hamil tua : : mual (+).C. dan dilepas pada bulan Oktober 2004 J. Alergi. Riwayat Keluarga Berencana Suntik selama 6 tahun setelah anak pertama. Riwayat Pernikahan Menikah satu kali. Laki-laki enam tahun. Sekarang F. E.

perdarahan (+) portio licin. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium pada tanggal 27 April 2013 Darah tepi : Hb Ht : : 2. Status Ginekologis  : : : : : : : : Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Anogenital Inspeksi Inspekulo VT TD:120/80 mmHg N: 84x/’ dbn RR: 20x/’ S : Afebris Konjungtiva ≠ anemis.Tanda Vital Kepala Mata THT Leher Thorak Abdomen Ekstremitas B. nyeri tekan (+). ostium tertutup. Darah: .livid. nyeri tekan (+) Bising Usus (+) N V/U tenang. tidak membuncit lemas nyeri ketuk (+). ginekologis Akral hangat. IV.Massa adneksa -/-. oedem -/- : : : : : : : rata. CD tidak teraba menonjol.  fluxus (+).9 % 32. nyeri goyang (+).000/ul 195. Sklera ≠ ikterik dbn dbn dbn lihat st.000/ul A/+ 21 Leukosit: Trombosit: Gol.5 g/dl 12. fluor (-) CUT sedikit membesar.AnteFlexi.

Riwayat terlambat haid (+). cairan bebas (+). tampak massa di kavum douglas. nyeri tekan (+). dbn Inspeksi Inspekulo VT fluxus (+). RESUME Pasien Ny. dengan jumlah sedang. perdarahan (+) portio licin. nyeri perut (+). Kesan : Curiga Kehamilan ektopik terganggu V. gumpalan (-). 39 th. 22 .cavum uteri kosong. Pada pemeriksaan fisik didapatkan : Status generalis Status ginekologis Anogenital : : : : : : V/U tenang. muntah (-).AnteFlexi. berwarna merah tua. fluor (-) CUT sedikit membesar. ostium tertutup. keluhan keluar darah dari vagina sejak 3 hari SMRS. K. nyeri goyang (+).livid. mual (+).015 6 (+) 6-8/LPB 10-15/LPB (-) Warna : : : Epitel : Leukosit: Eritrosit: Protein : Tes Kehamilan : (+) USG : Uterus bentuk dan ukuran normal.BT/CT : GDS Urin BJ pH : : 2’00/4’00 262mg/dl Kuning Jernih 1. Pasien datang ke Rumah Sakit Arjawinangun dengan nyeri perut. CD tidak teraba menonjol. G2P1A0 H 7 minggu. seperti haid.Massa adneksa -/-.

tanda-tanda perburukan Rencana Douglas Pungsi : jika (+) : Laparatomi Jika (-) : Laparaskopi IX.9/32.15 Berlangsung Laparatomi: Konsulen Jaga : Dr. hasil (+) A : KET Sikap : Laparatomi cito > lapor konsulen > Inform Consent Pkl 16.5/12. KET VII. SpOG Asisten operasi : Pak Amin / Coass Faisal Jenis Operasi : Laparatomi Laporan operasi : . SIKAP Observasi TNSP.00 : dilakukan DP.Dilakukan insisi pfannensiel 23 . DIAGNOSIS KERJA Menorraghia denagn anemia dan syok hipovolemik susp. Isnaina Perwira. FOLLOW-UP Pukul 16. PROGNOSIS ad vitam : dubia ad bonam dubia ad bonam dubia ad bonam ad fungtionam: ad sanationam: VIII.000/195.Pada pemeriksaan penunjang didapatkan : Darah tepi Tes Kehamilan USG : Hb/Ht/leuko/trombo : 2.pasien terlentang di meja operasi dalam anestesi umum A dan antisepsis pada daerah operasi dan sekitarnya .000 : (+) : curiga kehamilan ektopik terganggu VI. perdarahan.

Tampak tuba kiri normal.perdarahan selama operasi minimal. kuning jernih Diuresis ± 600cc A : H1 post op laparatomi ec KET ampula tuba kanan ruptur + tubektomi P : Th/ Cefazol 2x 1 gr iv Tramal drip 2 amp/RL 500 24 . fascia jelujur dengan vicryl no. 1. perdarahan. kulit dengan plain cat gut subkutikuler.Saat peritoneum dibuka. robek compang-camping dan berdarah .dilakukan salphingektomi dextra . Instruksi Post Op : - Observasi TNSP.Diyakini tidak ada perdarahan. dinding abdomen ditutup lapis demi lapis. .. tampak uterus bentuk dan ukuran normal. perdarahan dirawat.rongga abdomen dicuci dengan NaCl 500 cc . tampak darah dan bekuan darah ±150 cc dikeluarkan . tanda akut abdomen Mobilisasi dini Realimentasi bertahap bila BU (+) N Th/ Cefazol 2x1 gr iv profrnid supp 3x1 Asam Traneksat 2X1 Cefotaxime 3X1 Nebulizer Tramadol Tgl 27/04/13 : S: Nyeri post op (+).pada eksplorasi. demam (-) O : St gen : Ku/Kes : sakit sedang/ CM Td : 100/70 mHg N: 80x/’ S: afebris RR: 20x/’ Luka post op tenang DC : urin (+). pada pars ampula tuba kanan terdapat massa ukuran 3x2x2.

Pasien mengaku hamil karena diberitahu oleh bidan dan sudah di USG oleh dokter. kita dapat memikirkan beberapa kemungkinan berkaitan dengan perdarahan 25 . Namun. usia kehamilan pasien kira-kira 7 minggu. Berdasarkan anamnesis yang ada. dan sejak itu pasien tidak pernah mengeluh nyeri perut. jumlah sedang sejak 3 hari SMRS. Keluhan sudah muncul sejak 2 minggu yang lalu.Pasien dipindahkan ke ruang ICU pada tanggal 27 April 2013 pukul 17:30. BAB IV ANALISA KASUS BERDASARKAN DIAGNOSIS Pada kasus ini ditegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu berdasarkan dari anamnesis. muncul gejala mual. gejala nyeri perut disangkal pasien. HTA pasien adalah 15 Januari 2005. dimana didapatkan keluhan keluar darah dari vagina yang berwarna merah tua. dan berdasarkan itu.

ostium tertutup. Pada abortus. inspeksi terlihat perdarahan pervaginam. dari tiga gejala klasik tidak ada riwayat nyeri perut. dan suatu mola hidatidosa. Pada pemeriksaan ginekologi. sakit kepala. Dari semua gejala dan tanda yang ada pada pasien ini yang tidak khas tidaklah menyingkirkan suatu kehamilan ektopik.pervaginam yang terjadi pada masa trimester pertama kehamilan yaitu abortus. Hal ini dipikirkan setelah kita dapat menyingkirkan adanya abortus. Jadi masih diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang lainnya untuk membuat suatu diagnosis. dan tidak terdapat nyeri perut yang lebih khas pada kehamilan ektopik. kavum douglasi tidak menonjol. kehamilan ektopik. Pada pasien ini dapat dipikirkan adanya abortus karena riwayat keluar darah dari vagina yang jumlahnya sedang. Sedangkan data untuk menegakkan diagnosis kehamilan ektopik dari anamnesis tidak khas. namun setelah itu akan kembali seperti semula. fluor (-). Namun. dan kadang-kadang dapat keluar gumpalan-gumpalan. Ostium yang tertutup pada perdarahan vagina dapat menjadi petunjuk adanya kehamilan ektopik karena berarti portio hanya dilewati oleh darah yang mengalir. dan pada pemeriksaan dalam didapatkan nyeri goyang serviks (-). tapi hanya menunjukkan adanya kehamilan yang ditandai oleh portio yang livid. walau keluar gumpalan tidak khas pada abortus apalagi mengingat usia gestasinya yang masih sangat kecil. seperti mual. fluksus (+). biasanya ostium terbuka saat hasil konsepsi keluar. CUT sedikit membesar. karena ternyata demua gejala dan tanda itu tidak ada yang harus 100 % ada untuk menegakkan diagnosis kehamilan ektopik. Massa adneksa -/-. data yang didapat adalah keadaan umum yang baik dan dalam batas normal. AnteFlexi. Data ini tidak menunjukkan sesuatu yang khas untuk kehamilan ektopik. Bila dipikirkan suatu mola hidatidosa. dll. pasien compos mentis. karena biasanya perdarahan mola banyak dan pasien didominasi gejala mual. biasanya pasien akan datang dengan keluhan keluar darah dari vagina bisa dalam jumlah yang banyak maupun sedang saja. Berdasarkan pemeriksaan fisik. Pada abortus. bukan berupa suatu gumpalan. Nyeri perut biasanya tidak ada dan hanya mengeluhkan gejala-gejala hamil muda. muntah. inspekulo terlihat portio licin dan livid.7 26 . maka data anamnesis kurang mendukung. nyeri tekan (-). pasien menyangkal keluar gumpalan-gumpalan.

Jadi kita tidak mendapatkan data yang signifikan untuk membantu kita dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik. Tindakan pungsi douglasi atau “kuldosentesis” sebenarnya di luar negeri hampir sudah tidak dikerjakan sehubungan dengan semakin berkembangnya alat ultrasonografi terutama transvaginal ultrasonografi.1 g/dl. % Pasien dengan gejala 90–100 75–95 50–80 20–35 5–15 10–25 5–10 BERDASARKAN ETIOLOGI 27 . Hasil ini menguatkan perkiraan akan diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Keuntungan transvaginal ultrasonografi adalah ketepatan diagnosis yang bisa kita dapatkan tinggi dan tidak invasif seperti kuldosentesis. lemah Desakan untuk Defekasi Gejala-gejala kehamilan Terasa gerakan jaringan didalam perut Dari Weckstein LN: Obstet Gynecol Surv 40:259. didapatkan hasil pemeriksaan darah dalam batas normal.Gejala-gejala dari kehamilan ektopik Gejala Nyeri abdomen Amenorrhea Perdarahan Vagina Pusing. Hanya Hb sedikit turun menjadi 11. dan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi pada ibu. 1985. Untuk menguatkan atau mencari apa yang ada didalam kavum Douglas dapat dilakukan ‘pungsi douglasi’ dan ini dilakukan pada pasien ini dan hasilnya positif yang membuktikan diagnosis kehamilan ektopik mendekati ketepatan. Dari hasil pemeriksaan USG yang dilakukan di kamar bersalin didapatkan kavum uteri yang kosong dengan bentuk dan ukuran normal. Pada pemeriksaan penunjang. Pada kavum Douglas tampak massa dan cairan bebas yang sangat jelas.

Dan juga. jadi dapat menyingkirkan faktor resiko ini untuk mendiagnosis kehamilan ektopik BERDASARKAN PENATALAKSANAAN Pada pasien ini. Dilakukan douglas pungsi untuk mendukung penemuan dari USG dimana tampak cairan bebas di kavum Douglas. Hamil ini terjadi karena pasien sudah tidak memakai kontrasepsinya lagi. Setelah hasilnya positif. terlihat uterus yang normal dan tidak terabanya kavum douglasi dapat membingungkan kita dalam menegakkan diagnosis. menurut literature yang ada memang segera dilakukan tindakan bedah apabila terdapat suatu kehamilan ektopik terganggu. maka segera dilakukan laparatomi cito. o Gangguan hormonal : Pada pasien ini tidak dapat dievaluasi tentang adanya riwayat gangguan hormonal sebelumnya karena tidak pernah mempunyai keluhan dibidang kebidanan sebelumnya. Pada inspekulo. belum ada laporan yang menyatakan dapat terjadinya kehamilan ektopik pada orang yang menggunakan kontrasepsi suntik. tindakan yang dilakukan sejak awal dimana digunakan alat-alat untuk menegakkan diagnosis adalah melakukan pemeriksaan fisiknya dimana ditemukan adanya suatu perdarahan yang keluar dari liang vagina diluar masa haidnya. walau penyebab pastinya belum diketahui secara tepat. o Riwayat abortus sebelumnya : Pada pasien ini tidak mempunyai riwayat aborsi sebelumnya. Walaupun 28 . secara garis besar diantaranya adalah : o Penyakit tuba : Pada pasien ini dari anamnesis tidak mempunyai riwayat penyakit tuba yang dapat memicu terjadi kehamilan ektopik o Kegagalan kontrsepsi : Pasien memakai kontrasepsi cara suntik selama suntik dan tidak pernah terjadi kegagalan yang mengakibatkan pasien hamil.Berdasarkan etiologi yang mendasari terjadinya kehamilan ektopik terganggu. Tindakan yang sudah dilakukan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Diagnosis pada pasien ini adalah kehamilan ektopik terganggu. yang dapat menjadi faktor utama dalam menentukan dilakukannya laparatomi. namun tetap dilakukan laparatomi karena sudah memastikan suatu kehamilan ektopik yang sudah terganggu. jadi bagaimanapun juga. ditakutkan cairan bebas yang ada di rongga abdomen akan menjadi media yang baik untuk berkembangnya berkembang sehingga akan menambah penderitaan pasien dan ekan memperburuk prognosis pasien. dimana tidak ada nyeri pada perut. bila ada cairan bebas di rongga abdomen harus segera kita keluarkan dan sekaligus memperbaiki apa yang menjadi penyebabnya. yang pada kasus ini adalah dengan mengaangkat jaringan tuba yang sudah rupture dan dilakukan salpingektomi. Perawatan yang dilakukan sejak pasien datang adalah dengan segera mencari tahu dengan melakukan USG. selain anamnesis dan pemeriksaan fisik. namun dengan keterbatasan alat maka untuk 29 .pada pasien ini tidak ada keluhan lain selain perdarahan vagina. Walaupun akan lebih baik bila menggunakan Transvaginal Ultrasonografi.

memperketat perawatan kehamilannya agar dapat mencegah hal serupa terjadi lagi.com/health/topic3212. maka keadaan pasien setelah operasi baik dan pasien dapat pulang setelah hari ke-5 karena luka operasi juga terawatt baik selama di ruangan.html Wiknjosastro. Kehamilan Ektopik.1999.mendukung penemuan USG dilakukan Kuldosentesis.emedicine. Hal yang dapat kita lakukan sekarang adalah memberikan edukasi terhadap pasien untuk mengamati tanda-tanda apabila pasien hamil lagi. 30 .hal 323-338. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Ectopic Pregnancy. karena pada pasien sudah ada faktor resiko yang jelas untuk mendapatkan kehamilan ektopik lagi. BAB VI DAFTAR PUSTAKA 1. Vicken. Sepilian. Ellen W. Dengan pemastian diagnosis dan segera dilakukannya intervensi. Hanifa. www. 2. Ilmu Kebidanan edisi ketiga.

Endocrinology of Ectopic Pregnancy. Erkut. Ectopic Pregnancy. Kehamilan Ektopik. 884-905. 12. Comprehensive Gynecology. Cunnuingham. Jakarta. Volume 31 number 4. Stenchever. Ilmu Bedah Kebidanan edisi pertama. Sowter. Prentice Hall International Inc. Jakarta. Emergency Medicine Clinics of North America. Ectopic Pregnancy: an update. Attar. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.Jakarta.B Saunders Company. 12:359-376. FG et. W. 11. 7. December 2004.1999. 8. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. W. Wiknjosastro. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Volume 21 number 3. 9. August 2003. 2001.3. 16:289-293. Mosby Inc.hal 198-210. 2001. Lemus. 2004. 4. Hanifa. Cindy Farquhar. 10.2002 31 .2000. Della-Guistina. Julio. Obstetric and Gynecology Clinics. Kehamilan ektopik Terganggu. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology. 2000. Ectopic Pregnancy:an update. 4th ed.B Saunders Company. Williams Obstetrics. Standar Tatalaksana Medis Rumah Sakit fatmawati. Reproductive Succes and Failure.hal 250-260. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Connecticut. Kehamilan Ektopik. Mark Denny. David. Wiknjosastro. Appleton and Lange. Martin.Jakarta. Ilmu Kandungan edisi kedua. Gangguan Bersangkutan Dengan Konsepsi. 6. 21st ed. Hanifa. Ectopic Pregnancy. 5.2002. Al. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology.