TANGGAPAN ATAS ED PSAK 46 (REVISI 2010

)
Jawaban atas Pertanyaan A. Pengaturan mengenai Pajak Penghasilan Final
1. Komentar atas pertanyaan a. Ketentuan mengenai PPh Final masih diperlukan di PSAK sehingga ada keseragaman perlakuan akuntansi di dalam praktik, khususnya dalam hal pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan. b. Hal ini merujuk pada penjelasan Pasal 28 ayat 7 UU KUP 2007 “…pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia, misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain.” 2. Komentar atas paragraf 98 baris 38 a. Penggunaan kata “maka” di baris 38 tidak tepat karena tidak ada induk kalimat dalam kalimat tersebut. “Apabila nilai tercatat aset atau liabilitas yang berhubungan dengan pajak penghasilan final berbeda dari dasar pengenaan pajaknya” merupakan anak kalimat, sedangkan “maka perbedaan tersebut tidak diakui sebagai aset atau liabilitas pajak tangguhan” juga merupakan anak kalimat. b. Seharusnya kata “maka” ini dihilangkan sehingga bunyi kalimat secara lengkap adalah “ Apabila nilai tercatat aset atau liabilitas yang berhubungan dengan pajak penghasilan final berbeda dari dasar pengenaan pajaknya, perbedaan tersebut tidak diakui sebagai aset atau liabilitas pajak tangguhan”. Dengan demikian, “Apabila nilai tercatat aset atau liabilitas yang berhubungan dengan pajak penghasilan final berbeda dari dasar pengenaan pajaknya” berfungsi sebagai anak kalimat, sedangkan “perbedaan tersebut tidak diakui sebagai aset atau liabilitas pajak tangguhan” menjadi induk kalimat. 3. Komentar atas paragraf 101 baris 19 dan paragraf 102 baris 22 a. Dalam kata “dimuka” seharusnya ditulis “di muka” karena kata “di” dalam kata tersebut berfungsi sebagai kata depan, bukan awalan “di”. b. Untuk membedakan kata “di” sebagai awalan atau pun kata depan, kita bisa melihatnya dalam kalimat pasif dan aktif. Misalnya, 1) Kata “di” sebagai awalan ▪ “dibebankan” (pasif) bisa diubah menjadi “membebankan” (aktif), ▪ “dibayar” (pasif) bisa diubah menjadi “membayar” (aktif) ▪ “diakui” (pasif) bisa diubah menjadi “mengakui” (aktif), dan ▪ “disajikan” (pasif) bisa diubah menjadi “menyajikan” (aktif). 2) Kata “di” sebagai kata depan ▪ “didepan” tidak bisa diubah menjadi “medepan” atau “mendepan” ▪ “dimuka” tidak bisa diubah menjadi “memuka” ▪ “diatas” tidak bisa diubah menjadi “meatas” atau “mengatas” 4. Komentar atas paragraf 101 baris 20 a. Kata “dan” seharusnya diganti dengan “atau”. b. Jika kata “dan” dipakai, akun Pajak Dibayar di Muka dan akun Pajak yang Masih Harus Dibayar harus dipakai bersamaan. Jika digunakan kata “atau”, entitas bisa memilih akun yang sesuai. c. Dalam hal beban pajak < PPh Final terutang, entitas akan menjurnal selisihnya sbb.: Db. Beban pajak kini xxxx Kr. Pajak yang Masih Harus Dibayar xxxx d. Dalam hal beban pajak > PPh Final terutang, entitas akan menjurnal selisihnya sbb.: Db. Pajak Dibayar di Muka xxxx Kr. Beban pajak kini xxxx 1/8

kenaikan. Kenaikan 100% dari PPN kurang bayar dalam SKPKB 5. Denda 1. Pidana Fiskal Karena Menghalangi/Mempersulit Penyidikan Pajak 9. Denda karena terlambat melaporkan SPT 2. Komentar atas penggunaan kata “Surat Ketetapan Pajak (SKP)” a. Komentar atas penggunaan kata “denda” a.: Rincian Sanksi Administrasi A. Denda 150% dalam pembetulan SPT 3. 2. 2/8 . c & d dan ayat 3 huruf c 15 17C & 17D 38 39 ayat 1 UU 39 ayat 2 39 ayat 3 39A 41 41A 41B 35A & 41C 3. Bunga 2% karena terlambat setor pajak 3. Kenaikan 1. 4. Kenaikan 100% dalam SKPKBT 6. Pidana Fiskal Karena Kewajiban Memberikan Data/Informasi Perpajakan Tidak Terpenuhi Pasal Terkait dlm UU KUP 7 8 ayat 3 14 ayat 1 huruf d. 2. bukan “denda” b.B. Bunga 2% dari pajak kurang bayar dalam SKPKB 4. Bunga 1. Kenaikan 50% karena pembetulan SPT 2. Kenaikan 100% dari PPh kurang bayar dalam SKPKB 4. Isi paragraf 103 “Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP) harus dibebankan sebagai pendapatan atau beban lain-lain pada Laporan Laba Rugi periode berjalan. Ketiga sanksi yang ada di dalam SKP tersebut terangkum sbb. Denda 2% dari DPP 4. dan bunga. Bunga 2% per bulan dari PPN yang telah direstitusi 7. Bunga 2% per bulan dari utang pajak yang belum dilunasi C. & f dan ayat 4 13A 8 ayat 2 dan 2a 9 ayat 2a & 2b 13 ayat 1 huruf a & e dan ayat 2 13 ayat 5 Pasal 14 ayat 1 huruf a & b dan ayat 3 14 ayat 1 huruf g & ayat 5 19 ayat 1-3 8 ayat 4 & 5 13 ayat 1 huruf b & d dan ayat 3 huruf a 13 ayat 1 huruf b & d dan ayat 3 huruf b 13 ayat 1 huruf b. Kenaikan 100% dalam restitusi pendahuluan 1. 3. 5. kecuali apabila diajukan keberatan dan atau banding. Kenaikan 50% dari PPh kurang bayar dalam SKPKB 3. Apabila terdapat kesalahan maka perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK 25 (revisi 2010): Kebijakan Akuntansi. Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”. e. Penggunaan kata “denda” dalam baris 29 dan 34 kurang tepat karena di dalam UU KUP sanksi administrasi pajak yang ada di dalam SKP terdiri dari denda. Pidana Fiskal Karena Kealpaan Pidana Fiskal Karena Kesengajaan Pidana Fiskal Karena Pengulangan Tindak Pidana Pidana Fiskal Karena Percobaan Melakukan Tindak Pidana Pidana Fiskal Karena Penerbitan Faktur Pajak Pidana Fiskal untuk Pejabat yang Tidak Memenuhi Kewajiban Merahasiakan 7. Bunga 2% per bulan dalam penerbitan STP 6. Denda 200% untuk kealpaan pertama kali yang berakibat kerugian negara B. Seharusnya dipakai istilah “sanksi administrasi”. Pidana Fiskal untuk Orang yang Tidak Memberi Keterangan 8. Bunga 2% karena pembetulan SPT 2. Bunga 48% karena ada pidana fiskal setelah daluwarsa 5 tahun lewat 5. Jumlah tambahan pokok pajak dan denda yang ditetapkan dengan SKP ditangguhkan pembebanannya sepanjang memenuhi kriteria pengakuan aset. 6. Di dalam paragraf 103 perlu diatur juga tentang perlakuan akuntansi untuk “Surat Tagihan Pajak (STP) yang sama dengan perlakuan SKP. Pengaturan mengenai perlakuan terhadap Surat Ketetapan Pajak 1.

terkadang kantor pajak juga menerbitkan Surat Tagihan Pajak. serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri. Pasal 20 UU PPh di antaranya mengatur sbb. lalu gugatan ke pengadilan pajak. para praktisi pajak yang juga terlibat menekuni akuntansi sering menggunakan istilah koreksi positif dan koreksi negatif. kami tidak setuju atas pengakuan aset pajak tangguhan atas unused tax credit tersebut. 4. Hal ini diatur di dalam Pasal 20 UU PPh. laba rugi Penghasilan Koreksi positif Biaya Penghasilan Koreksi negatif Biaya Akuntansi < Pajak Akuntansi > Pajak Akuntansi > Pajak Akuntansi < Pajak Istilah yang digunakan dalam PSAK No. 2. Dalam hal wajib pajak mengajukan permohonan penghapusan/pengurangan sanksi ke kantor pajak. dan atau 2) Gugatan ke Pengadilan Pajak sesuai Pasal 23 UU KUP. dan alasan terakhir bahwa stakeholder Direktorat Jenderal Pajak akan pada apriori terhadap ED PSAK 46 (Revisi 2010). wajib pajak juga bisa menempuh prosedur yang berurutan berikut ini: 1) Permohonan penghapusan/pengurangan sanksi sesuai Pasal 36 UU KUP. Di dalam proses penagihan pajak. Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”. atas penerbitan STP. C. 46 Perbedaan termporer Aset pajak tangguhan dapat dikurangkan Perbedaan termporer Aset pajak tangguhan dapat dikurangkan Perbedaan temporer kena Liabilitas pajak tangguhan pajak Perbedaan temporer kena Liabilitas pajak tangguhan pajak Pajak Tangguhan 3/8 .b. Koreksi fiskal tersebut terbagi menjadi beda tetap dan beda waktu. Jika di dalam proses sengketa atas SKP dikenal dengan keberatan dan atau banding. otomatis kriteria pengakuan aset terkait dengan adanya “future economic benefit” untuk unused tax credit tersebut menjadi tidak terpenuhi. b. 2. c. Di dalam terminologi pajak. Pelunasan pajak tersebut merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Penerbitan STP tersebut bisa bersamaan dengan SKP atau secara terpisah. Ketentuan mengenai unused tax credit 1. Contoh-contoh dalam ED PSAK 46 (Revisi 2010) 1. Kredit pajak hanya bisa diklaim pada tahun dilakukannya pemotongan/pemungutan. kedua istilah “perbedaan temporer kena pajak” (taxable temporary difference) dan “perbedaan temporer dapat dikurangkan” (deductible temporary difference) kurang lazim dikenal di Indonesia.: a. Pelunasan pajak tersebut dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Karena kredit pajak tersebut tidak bisa lagi dimanfaatkan di tahun pajak berikutnya. dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun pajak berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain. kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final 3. baik di dalam peraturan pajak maupun praktik perpajakan. Sebagai gantinya. Komentar atas penggunaan kata “maka” di baris 36 Seharusnya kata “maka” dihilangkan sehingga kalimat secara keseluruhan berbunyi “Apabila terdapat kesalahan. Alasan pertama bahwa perpajakan Indonesia tidak menganut prinsip tersebut. D. pembebanan sanksi menjadi tertunda sampai ada keputusan yang bersifat tetap. d. perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK 25 (revisi 2010): Kebijakan Akuntansi. Pajak yang diperkirakan akan terutang dalam suatu tahun pajak. Tabel berikut menggambarkan koreksi fiskal saat penyusunan Surat Pemberitahuan (SPT) dan dampak pajak tangguhannya jika koreksi fiskal tersebut terkait dengan perbedaan temporer : Koreksi fiskal Jenis akun yang Perbandingan nilai tercatat dikoreksi di lap. c. alasan kedua adalah dikhawatirkan informasi laporan keuangan yang dihasilkan dapat menyesatkan. selain SKP. Dengan demikian.

permasalahannya bukan terletak pada secara akuntansi biaya tersebut dikapitalisasi. atau 20 tahun sesuai dengan peraturan. 4. h. = baris E. menagih.3. h. Akan tetapi. Di dalam ketentuan perpajakan Indonesia tidak ada (tidak dikenal) SPT konsolidasi. Tabel pada butir 2 merupakan contoh yang bisa menjembatani antara terminologi pajak dan akuntansi. komprehensif tapi dikurangkan dalam  Di dalam Pasal 11A UUPPh di antara diatur bahwa menentukan laba kena pajak pada pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud periode terjadinya.02 Pendapatan dari penjualan barang yang  Sesuai dengan Pasal 28 UU KUP. Ilustrasi di dalam PSAK perlu menambahkan terminologi yang lazim digunakan di dalam praktik perpajakan di Indonesia atau menggunakan tabel yang menjembatani penggunaan terminologi PSAK sesuai IFRS dan terminologi pajak dalam praktik. menandatangani serta menyampaikannya ke kantor pajak. 2. 4/8 . h. pajak juga diperhitungkan dalam laba akuntansi mengakui pendapatan berdasarkan standar akuntansi ketika barang dikirim tapi yang berlaku dan metode pengakuannya bisa diperhitungkan dalam laba kena pajak berbasis akrual atau pun kas. p.  Dengan demikian. dan memelihara penghasilan harus dikapitalisasi dan bebannya dilakukan melalui amortisasi selama 4. pada saat kas diterima …  Di dalam praktik perbedaan perlakuan seperti ini jarang terjadi karena di dalam perpajakan pendapatan dari penjualan barang juga diakui ketika barang dikirim.  Jadi.03 Biaya persediaan yang terjual sebelum Lihat komentar no. permasalahannya pada masa manfaat dan metode amortisasinya 3. Ketentuan Transisi dan Tanggal Efektif Kami setuju dengan ketentuan transisi dan tanggal efektif ED PSAK 46 (revisi 2010): Pajak Penghasilan SPT Konsolidasi di Paragraf 10 1. 2. 1 di atas akhir periode pelaporan dikurangkan dalam penghitungan laba akuntansi apabila barang atau jasa telah diberikan. dan b.50 p. dan pengeluaran lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan. transaksi ini tidak menimbulkan perbedaan temporer. tetapi dikurangkan dalam penghitungan laba kena pajak saat kas telah diterima Ket: h. = paragraf.04 Biaya pengembangan sudah  Biaya pengembangan juga bisa dikapitalisasi dalam dikapitalisasi dan akan diamortisasi pajak sepanjang memenuhi kriteria Pasal 11A terhadap laporan laba rugi UUPPh. sedangkan secara fiskal biaya tersebut dibebankan pada tahun berjalan. 8. akan terbuka terhadap ED PSAK 46 (Revisi 2010). = halaman. 16. Perbandingan perbedaan temporer akan lebih praktis dan aplikatif dilakukan dalam laporan keuangan konsolidasian jika perbedaan temporer tersebut mengacu pada laporan keuangan masing-masing entitas. Usulan ini disampaikan agar salah satu stakeholder. Ini mengacu pada Pasal 3 ayat (1) UU KUP 2007 yang di antaranya mengatur bahwa setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan.50 p. Komentar per paragraf No Halaman & Isi paragraf Komentar Paragraf 1. yaitu Direkrtorat Jenderal Pajak.55 p.

apabila manfaat ekonomi tersebut tidak akan dikenakan pajak”. Penggunaan kata “maka” yang tidak tepat dalam penerapan kalimat bersyarat dan beberapa kalimat majemuk seperti contoh di bawah ini:  Contoh 1: “Apabila manfaat ekonomi tersebut tidak akan dikenakan pajak. dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah tercatat aset. 3. apabila manfaat ekonomi tersebut tidak akan dikenakan pajak”.7 Apabila dasar pengenaan pajak aset atau liabilitas tidak begitu jelas.6 p.10 b. dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah tercatat aset”. h. alasan kedua adalah dikhawatirkan informasi laporan keuangan yang dihasilkan dapat menyesatkan. Penggunaan Tata Bahasa Indonesia 1. Kalimat tersebut tidak bisa ditukar menjadi ”maka dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah tercatat aset. No 1. maka dasar pengenaan pajak yang ditimbulkan liabilitas tersebut merupakan jumlah tercatat liabilitas h. dan alasan terakhir bahwa stakeholder Direktorat Jenderal Pajak akan pada apriori terhadap ED PSAK 46 (Revisi 2010). maka tidak ada liabilitas pajak tangguhan” tidak bisa ditukar menjadi “Maka tidak ada liabilitas pajak tangguhan berdasarkan kedua analisis tersebut”.18 dan Berdasarkan kedua analisis tersebut. dasar pengenaan pajak tersebut dapat ditentukan menurut prinsip dasar yang digunakan pada Pernyataan ini Dalam hal entitas melaporkan menggunakan SPT konsolidasi. dasar pengenaan pajak yang ditimbulkan liabilitas tersebut merupakan jumlah tercatat liabilitas Apabila dasar pengenaan pajak aset atau liabilitas tidak begitu jelas. standar yang mengatur tentang SPT konsolidasi bisa dihilangkan. tidak ada liabilitas pajak tangguhan. 4.9 b. 5. Halaman. Jika dimungkinkan. maka dasar pengenaan pajak merujuk pada SPT Konsolidasi h.25 tidak ada liabilitas pajak tangguhan. maka dasar pengenaan pajak tersebut dapat ditentukan menurut prinsip dasar yang digunakan pada Pernyataan ini h. dasar pengenaan pajak merujuk pada SPT Konsolidasi Apabila jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode kini dan periode-periode sebelumnya 2. 6.6 p. Kalimat “Berdasarkan kedua analisis tersebut. maka dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah tercatat aset.1 Apabila jumlah pajak yang telah dibayar untuk periode kini dan periode-periode sebelumnya Kalimat seharusnya Apabila manfaat ekonomi tersebut tidak akan dikenakan pajak.8 p. Kalimat yang tertulis Paragraf & baris h. Kalimat tersebut bisa ditukar menjadi ”dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah tercatat aset.11 b. Tabel berikut berisi rangkuman beberapa penggunaan kata “maka” yang kurang tepat. maka b.6 b. Komentar perbaikan kami sajikan pada tabel di bawah ini. tidak ada liabilitas pajak tangguhan” bisa ditukar menjadi “Tidak ada liabilitas pajak tangguhan berdasarkan kedua analisis tersebut”. 2.9 p.6 b.8 p.  Contoh 2: Kalimat “Berdasarkan kedua analisis tersebut. Alasan pertama bahwa perpajakan Indonesia tidak menganut prinsip tersebut. Dalam hal pendapatan diterima dimuka. disarankan tim konvergensi di IAI melihat kembali terjemahan dalam ED PSAK 46 dan terjemahan ED PSAK lainnya maupun PSAK yang sudah disahkan.3. “Apabila manfaat ekonomi tersebut tidak akan dikenakan pajak. maka dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah tercatat aset”. h. 5/8 .18 Apabila manfaat ekonomi tersebut tidak akan dikenakan pajak.26 Dalam hal entitas melaporkan menggunakan SPT konsolidasi.32 Dalam hal pendapatan diterima dimuka.7 b. Berdasarkan kedua analisis tersebut.5 p. Untuk itu.

entitas mengakui manfaat tersebut sebagai aset … Namun. timbul perbedaan temporer yang mengakibatkan timbulnya liabilitas pajak tangguhan Jika entitas selanjutnya mengakui kerugian penurunan Rp 20 atas goodwill tersebut. h.30 10.27 13.9 15. h.21 b. p. Paragraf & baris Kalimat yang tertulis melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode-periode tersebut. h.000 dan membayar pajak sebesar 400 Kalimat seharusnya melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode-periode tersebut. selisihnya diakui sebagai aset Apabila kerugian pajak digunakan untuk memulihkan pajak kini dari periode sebelumnya. maka entitas harus memperoleh laba kena pajak sebesar 100 …apabila penyusutan menurut pajak lebih lambat dibanding penyusutan menurut akuntansi.10 p. h. h.9 p.11 p. maka timbul perbedaan temporer dapat dikurangkan dalam penghitungan laba kena pajak… …apabila jumlah tercatat aset disesuaikan ke nilai wajarnya tetapi dasar pengenaan pajak aset tersebut tetap sebesar harga perolehan sebelumnya. entitas harus memperoleh laba kena pajak sebesar 100 …apabila penyusutan menurut pajak lebih lambat dibanding penyusutan menurut akuntansi.30 9.31 16.000 dan membayar pajak sebesar 400 7.17 11.15 p.22 b.15 p. cabang dan entitas asosiasi. maka liabilitas pajak tangguhan harus diakui sesuai dengan paragraf 40 Untuk memulihkan jumlah tercatat 100. dan bagian partisipasi dalam ventura bersama.24 12. = baris 3. dan b. maka selisihnya diakui sebagai aset Apabila kerugian pajak digunakan untuk memulihkan pajak kini dari periode sebelumnya. cabang dan entitas asosiasi. maka perbedaan temporer kena pajak adalah Rp20 ditimbulkan pada akhir tahun tersebut Karena perbedaan temporer kena pajak tidak terkait pada pengakuan awal goodwill.23 b. dan bagian partisipasi dalam ventura bersama. = halaman.15 b. maka liabilitas pajak tangguhan harus diakui sesuai dengan paragraf 40 Untuk memulihkan jumlah tercatat 100. jumlah perbedaan temporer kena pajak berkaitan pada goodwill berkurang dari Rp 100 menjadi Rp 80 Apabila jumlah tercatat goodwill pada akhir tahun akuisisi tetap sebesar Rp100. h. h.6 14.12 p. Penggunaan kata penghubung “…mana…” yang tidak tepat dalam anak kalimat karena dalam tata bahasa Indonesia tidak dikenal dengan kata penghubung “di mana” atau “yang mana”. Beberapa contoh penggunaan kata penghubung yang kurang tepat terlihat pada tabel berikut: 6/8 . maka entitas mengakui aset atau liabilitas pajak tangguhan dan mengakui beban atau penghasilan pajak tangguhan dalam laporan laba rugi … Selama entitas memulihkan jumlah tercatat aset. untuk perbedaan temporer kena pajak terkait dengan investasi pada entitas anak.9 p. maka entitas akan menghasilkan penghasilan pajak sebesar 1.13 b. perbedaan temporer kena pajak adalah Rp20 ditimbulkan pada akhir tahun tersebut Karena perbedaan temporer kena pajak tidak terkait pada pengakuan awal goodwill. entitas akan menghasilkan penghasilan pajak sebesar 1. h. timbul perbedaan temporer dapat dikurangkan dalam penghitungan laba kena pajak… …apabila jumlah tercatat aset disesuaikan ke nilai wajarnya tetapi dasar pengenaan pajak aset tersebut tetap sebesar harga perolehan sebelumnya. untuk perbedaan temporer kena pajak terkait dengan investasi pada entitas anak. maka jumlah perbedaan temporer kena pajak berkaitan pada goodwill berkurang dari Rp100 menjadi Rp80 Apabila jumlah tercatat goodwill pada akhir tahun akuisisi tetap sebesar Rp100. = paragraf. h.15 p.16 b.16 Ket: h. apabila transaksi tersebut mempengaruhi baik laba akuntansi maupun laba kena pajak.15 p. hasil liabilitas pajak tangguhan diakui. h. maka hasil liabilitas pajak tangguhan diakui.16 p.23 b.22 b.14 b. apabila transaksi tersebut mempengaruhi baik laba akuntansi maupun laba kena pajak.No Halaman.18 b. maka timbul perbedaan temporer yang mengakibatkan timbulnya liabilitas pajak tangguhan Jika entitas selanjutnya mengakui kerugian penurunan Rp20 atas goodwill tersebut. entitas mengakui aset atau liabilitas pajak tangguhan dan mengakui beban atau penghasilan pajak tangguhan dalam laporan laba rugi … Selama entitas memulihkan jumlah tercatat aset. maka entitas mengakui manfaat tersebut sebagai aset … Namun.9 8.

entitas telah mengalami kerugian pada periode entitas telah mengalami kerugian pada periode kini atau periode sebelumnya dimana aset kini atau periode sebelumnya yang aset pajak pajak tangguhan terkait.45 p. 4.7 entitas kena pajak berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan liabilitas pajak kini dengan dasar neto. 7/8 .81 IAS 12) 5.40 p.6 h. atau merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan. jadwal rinci mungkin diperlukan untuk meyakinkan apakah liabilitas pajak tangguhan dari satu entitas kena pajak akan menghasilkan peningkatan pembayaran pajak pada periode yang sama dimana aset pajak tangguhan dari entitas kena pajak lainnya akan menghasilkan pengurangan pembayaran pajak oleh entitas kena pajak kedua. h. atau merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan.38 jika suatu kombinasi bisnis di mana entitas adalah pihak pengakuisisi yang menyebabkan perubahan pada jumlah diakui untuk aset pajak tangguhan praakuisisi (lihat paragraf 71).26 Pada keadaan tersebut.88 b.91 b. h. jumlah perubahan aset pajak tangguhan yang terjadi dalam suatu kombinasi bisnis jika kombinasi bisnis yang entitas menjadi pihak pengakuisisinya tersebut menyebabkan perubahan pada jumlah diakui untuk aset pajak tangguhan praakuisisi (lihat paragraf 71).26 Seringkali.37 Apabila tarif pajak yang berlaku berbeda untuk tingkat laba kena pajak yang berbeda. aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan tarif pajak rata-rata yang diharapkan terhadap laba kena pajak (rugi pajak) pada periode ketika perbedaan temporer diharapkan terpulihkan entitas kena pajak berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan liabilitas pajak kini dengan dasar neto. the amount of that change (lihat p. 6. pada setiap periode masa depan yang mana jumlah signifikan atas aset atau liabilitas pajak tangguhan diharapkan diselesaikan atau dipulihkan h.17 Penjelasan: Yang perlu diungkapkan secara terpisah adalah jumlah perubahan aset pajak tangguhan yang terjadi dalam suatu bisnis kombinasi jika entitas menjadi pengakuisisinya.43 p.47 p. jumlah perubahan tersebut Kalimat seharusnya Apabila tarif pajak yang berlaku berbeda untuk tingkat laba kena pajak yang berbeda.27 p. Halaman.79 b.No 1.82) Seringkali. tarif yang sangat berguna adalah tarif pajak domestik di negara di mana entitas berdomisili Contoh kasusnya di mana entitas memiliki entitas anak di luar negeri dalam jumlah banyak.87 b. pada setiap periode masa depan ketika jumlah signifikan atas aset atau liabilitas pajak tangguhan diharapkan diselesaikan atau dipulihkan Pada keadaan tersebut.95 b. maka aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan tarif pajak rata-rata yang diharapkan terhadap laba kena pajak (rugi pajak) pada periode dimana perbedaan temporer diharapkan terpulihkan h. 7.50 b. Kalimat yang tertulis Paragraf & baris h.81 b. tarif yang sangat berguna adalah tarif pajak domestik di negara tempat entitas berdomisili Contoh kasusnya adalah entitas yang memiliki entitas anak di luar negeri dalam jumlah banyak.44 p. h. 2. Versi IAS 12: if a business combination in which the entity is the acquirer causes a change in the amount recognised for its pre-acquisition deferred tax asset (see paragraph 67). 3.40 p. jadwal rinci mungkin diperlukan untuk meyakinkan apakah liabilitas pajak tangguhan dari satu entitas kena pajak akan menghasilkan peningkatan pembayaran pajak pada periode yang sama ketika aset pajak tangguhan dari entitas kena pajak lainnya akan menghasilkan pengurangan pembayaran pajak oleh entitas kena pajak kedua. tangguhan terkait dengan periode tersebut Versi IAS 12: the entity has suffered a loss in either the current or preceding period in the tax jurisdiction to which the deferred tax asset relates (p.

di mana perubahan pada tarif pajak atau peraturan pajak ditetapkan atau diumumkan setelah periode pelaporan. Penggunaan kata depan “di” pada “dimuka” seharusnya terpisah sehingga tertulis “di muka”. Komentar di atas adalah bertujuan untuk lebih menyempurnakan ED PSAK 46 (Revisi 2010). namun alangkah baiknya bila hal ini dikonsultansikan dengan pihak yang lebih memahami masalah penggunaan bahasa Indonesia. Kalimat yang tertulis Paragraf & baris h. = paragraf. tapi kata depan. Pengurus Pusat IKPI 8/8 . = baris 4.26 Hal yang sama juga terjadi.01 b.No 8. 101. p. Penutup Jakarta. dan b. = halaman.48 p.52 p. ketika perubahan pada tarif pajak atau peraturan pajak ditetapkan atau diumumkan setelah periode pelaporan. 9. entitas mengungkapkan adanya dampak signifikan … Pihak peminjam mencatat pinjaman pada saat pendapatan diterima (yang setara dengan jumlah pada saat jatuh tempo) dikurangi biaya transaksi Ket: h. Ini karena kata “di” pada kata tersebut bukan merupakan awalan. Halaman.97 b. dan 102.12 Pihak peminjam mencatat pinjaman pada saat pendapatan diterima (yang mana setara dengan jumlah pada saat jatuh tempo) dikurangi biaya transaksi Kalimat seharusnya Hal yang sama juga terjadi. maka entitas mengungkapkan adanya dampak signifikan … h. 26 Oktober 2010 Disampaikan oleh. Lihat paragraf 07.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful