Audit Investigatif Sebelum memulai suatu investigasi, pimpinan atau lembaga perlu menetapkan apa yang sesungguhnya ingin

dicapai dari investigasi itu. Investigasi merupakan proses yang panjang, mahal, dan bisa berdampak negative terhadap perusahaan atau stakeholdersnya. Proses yang panjang dan lama, diikuti dengan banyaknya pihak (baik intern maupun ekstern) yang terlibat atau dilibatkan, menyebabkan investigasi itu menjadi mahal. Perusahaan juga harus menyediakan banyak sumber daya atau harus meng-commit sumber daya yang akan disediakan. Reputasi perusahaan juga bisa hancur kalau pengungkapan investigasi ini tidak dikomunikasikan dengan baik. Contoh: obat yang sudah kadaluarsa dan seharusnya dihancurkan, justru dijual oleh pegawai bagian gudang. Kecurangan ini dapat menjadi bencana bagi konsumen. Namun kalau hasil investigasi dikomunikasikan dengan baik, maka hubungan antara perusahaan dan konsumen (atau stakeholders lainnya) justru dapat mencegah hancurnya reputasi perusahaan. Karena itu, tujuan dari suatu investigasi harus disesuaikan dengan keadaan khusus yang dihadapi,dan ditentukan sebelum investigasi dimulai. Tujuan Investigatif: Dibawah ini disajikan bermacam-macam alternative mengenai tujuan investigasi: 1. Memberhentikan manajemen. Tujuan utamanya adalah sebagai teguran keras bahwa manajemen tidak mampu mempertanggung jawabkan kewajiban fidusiernya. Kewajiban fidusier ini termasuk mengawasi dan mencegah terjadinya kecurangan oleh karyawannya. 2. Memeriksa, mengumpulkan dan menilai cukupnya dan relevannya bukti. Tujuan ini akan menekankan bisa diterimanya bukti-bukti sebagai alat bukti untuk meyakinkan hakim di pengadilan. Konsepnya adalah forensic evidence, dan bukan sekedar bukti audit. 3. Melindungi reputasi karyawan yang tidak bersalah. Misalnya dalam pemberitaan di media masa bahwa karyawan di bagian produksi menerima

uang suap. Tanpa investigasi, reputasi dari semua karyawan dibagian produksi akan tercemar. Investigasi mengungkapkan siapa yang bersalah. Mereka yang tidak bersalah terbebas dari tuduhan (meskipun perguncingan seringkali tetap tidak terhindari). 4. Menemukan dan mengamankan dokumen yang relevan untuk investigasi. Banyak bukti dalam kejahatan keuangan berupa dokumen. Kalau banyak dokumen disusun untuk menyembunyikan kejahatan, atau kalau dokumen ini dapat memberi petunjuk kepada pelaku dan penanggung jawab kecurangan, maka tujuan dari investigasi ini adalah menjaga keutuhan dokumen. Ruang kerja harus diamankan, tidak boleh ada orang masuk keluar tanpa izin, dokumen harus diindeks dan dicatat. 5. Menemukan asset yang digelapkan dan mengupayakan pemulihan dari kerugian yang terjadi. Ini meliputi penelusuran rekening bank, pembekuan rekening, izin-izin untuk proses penyitaan dan atau penjualan asset, dan penentuan kerugian yang terjadi. 6. Memastikan bahwa semua orang, terutama mereka yang diduga menjadi pelaku kejahatan, mengerti kerangka acuan dari investigasi tersebut; harapannya adalah bahwa mereka bersedia bersikap kooperatif dalam investigasi itu. Tehnik pelaksanaannya adalah dengan “dengar pendapat orang terbuka” yang menghadirkan orang luar sebagai panelis. Orang luar ini biasanya orang terkemuka dan terpandang. Hal ini umumnya dilakukan apabila “operasi tertutup dan rahasia” (covert operations) gagal mengungkapkan kecurangan yang berdampak luas. 7. Memastikan bahwa pelaku kejahatan tidak bisa lolos dari perbuatannya. Ada dua versi dari pendekatan ini. Pertama, lakukan penuntutan tanpa pandang bulu, berapapun besar biayanya, siapapun pelakunya (penjahat besar maupun kecil). Hal ini akan mengirimkan pesan kepada seluruh karyawan dan pihak luar, bahwa perusahaan atau lembaga itu serius dalam mengejar si penjahat. Kedua, kejar si penjahat untuk mengembalikan dana atau asset yang dicurinya, dan kemudian minta dia

mengundurkan diri atau diberhentikan. Pendekatan kedua, lebih “tenang”, tak ada gembar-gembor. 8. Menyapu bersih semua karyawan pelaku kejahatan. Seperti pada butir diatas, tujuan utamanya adalah menyingkirkan “buah busuk” agar “buah segar” tidak ikut busuk. Pendekatannya adalah pendekatan disiplin perusahaan. Pembuktian terhadap tindak kejahatan ini mungkin tidak akan lolos disidang pengadilan. Tapi pembuktian disini diarahkan kepada penerapan peraturan intern perusahaan. 9. Memastikan bahwa perusahaan tidak lagi menjadi sasaran penjarahan. Kecurangan menggerogoti sumber daya perusahaan, dan umumnya pemulihan kerugian ini tidak ada atau sangat sedikit. Pendekatan ini menghentikan kerugian lebih lanjut dan menutup celah-celah peluang (loopholes) terjadinya kejahatan. 10. Menentukan bagaimana investigasi akan dilanjutkan. Apakah investigasi akan diperluas atau diperdalam, atau justru dibatasi lingkupnya. Kadang-kadang suatu investigasi dilaksanakan secara tentative atau eksploratif dan bertahap. Dalam investigasi ini laporan kemajuan memungkinkan evaluasi, apakah kita akan melanjutkannya dan kalau ya, bagaiman lingkupnya. 11. Melaksanakan investigasi sesuai standar, sesuai dengan peraturan perusahaan, sesuai dengan buku pedoman. Tujuan semacam ini biasanya didasarkan atas pengalaman buruk. Dimasa lalu, misalnya, tujuan dari pada investigasi adalah untuk menangkap pelakunya. Ketika investigasi dilakukan secara gencar, investigasinya “kebablasan” dan pelaksanaannya melanggar ketentuan. 12. Menyediakan laporan kemajuan secara teratur untuk membantu pengambilan keputusan mengenai keputusan mengenai investigasi ditahap berikutnya. Banyak investigasi bersifat iterative, artinya suatu investigasi atas dugaan kejahatn menghasilkan temuan baru yang melahirkan dugaan tambahan atau suatu dugaan baru. Investigasi pertama diikuti dengan investigasi berikutnya, dan seterusnya, secara iterative memperluas

Kedua sikap tadi akan merugikan perusahaan. kalau pimpinan atau rekan sekerjanya tidak menyukai si pelaku kecurangan. dengan sumberdaya dan terhentinya kegiatan perusahaaan seminimal mungkin. Memperoleh gambaran yang wajar tentang kecurangan yang terjadi dan membuat keputusan yang tepat mengenai tindakan yang harus diambil. Pendekatan ini berupaya mencari pemecahan yang optimal dalam kasus yang terjadi. pendekatan ini sangat tepat. 15. tidak akan menelan mentah-mentah “fakta” yang diajukan . 13. diskusi. dan presentasi dari temuan-temuan secara berkala(mingguan. Dengan memperoleh gambaran yang layak (fair) maka pimpinan secara sadar membuat keputusan tentang siapa yang melakukan investigasi (harus seorang professional) dan bagaimana tindaklanjutnya. Kalau karyawan itu disukai oleh atasan atau rekan sekerjanya. Investigasi yang didasarkan pada tujuan ini. baik lisan maupun tertulis baik dengan nama terang atau dalam bentuk surat kaleng) untuk menanggapinya secara tepat. 16. Hasil investigasi seringkali ditindaklanjuti secara emosional. pimpinan cenderung menghukumnya seberat-beratnya. 14. Mengumpulkan cukup bukti yang dapat diterima pengadilan. pimpinan cenderung “memaafkan” perbuatannya dan tidak memaanfaatkan peluang untuk memperbaiki sistem yang berhasil “dijebolnya”. Konsultasi. Sebaliknya. Ini biasanya merupakan tujuan investigasi dalam hal pelaku tertangkap tangan seperti dalam kasus pencurian di supermarket. Mendalami tuduhan (baik oleh orang dalam atau luar perusahaan.pemahaman invstigator mengenai berapa dalamnya masalah yang dihadapi. misalnya penggelapan uang yang melibatkan pihak-pihak diluar perusahaan. Umumnya kejahatan ditempat kerja tidak memiliki cirri kasus ini karena karyawan dikenal atau mempunyai identitas yang disimpan dalam pencatatan perusahaan. misalnya). merupakan ciri khas dari pendekatan ini. Memastikan pelakunya tidak melarikan diri atau menghilang sebelum tindak lanjut yang tepat dapat diambil. Tetapi dalam kejahatan tertentu.

. dan konsekuensi terhadap pelanggarannya. Fokusnya adalah pada konteks tuduhan itu apakah tuduhan itu akan dianggap serius. Tujuan dari investigasi ini tentunya bukan untuk melindungi lembaga yang sebagian besar memang sudah korup. 19. Dengan menetapkan tujuan investigasi ini. 21. Karena itu. Melaksanakan investigasi dalam koridor kode etik. Dalam situasi dimana pelaku kecurangan “pasrah”. 17. 18. Dalam kondisi seperti ini. Dengan demikian. misalnya pengadilan tindak pidana korupsi. Hal ini sangat penting ketika morale kerja merupakan kunci keberhasilan dalam perusahaan atau tim kerja. Prakarsa ini bermaksud untuk menyeret si pelaku ke pengadilan pidana. si investigator lupa akan kode etiknya. Kalau tujuan ini ditetapkan dalam kondisi semacam ini. ia seringkali mengikuti kehendak sang investigator. padahal reputasi perusahaan secara keseluruhan terancam. Namun. menyuburkan praktek-praktek pelanggaran kode etik. Seringkali kepasrahan si “terduga” diikuti dengan arogansi si investigator. Kita umumnya menyadari akan perlunya ketentuan perundang-undangan dipatuhi. lebih sulit mengikuti kewajiban etika.dalam tuduhan itu. 20. maka yang tejadi adalah persekongkolan jahat atau kolusi. Memastikan bahwa hubungan dan suasana kerja tetap baik. perlu pengumpulan bukti yang cukup untuk proses penyidikan yang diikuti dengan penuntutan dan selanjutnya proses pengadilan. sekedar karena pada saat itu si “terduga” tidak mempertanyakan sikap dan tingkah si investigator. Mengikuti seluruh kewajiban hokum dan mematuhi semua ketentuan mengenai due diligence dan klaim kepada pihak ketiga (misalnya klaim asuransi). Melindungi nama baik perusahaan atau lembaga. Tujuan investigasi diatas sangat tepat apabila kejahatan dilakukan oleh segelintir orang. Menentukan siapa pelakunya dan mengumpulkan bukti mengenai niatnya. perusahaan ingin memastikan bahwa investigator senantiasa mengikuti kode etik yang sudah ditetapkan.

Ini serupa dengan tujuan dalam butir 21 diatas. Tahap pertama diarahkan kepada pelaku. yang sangat sejalan dengan kebijakan “tanpa ampun” (zero-tolerance policy). Mengidentifikasi saksi yang melihat atau mengetahui terjadinya kecurangan dan memastikan bahwa mereka memberikan bukti yang mendukung tuduhan atau dakwaan terhadap sipelaku. Mengumpulkan bukti yang cukup untuk menindak pelaku dalam perbuatan yang tidak terpuji. Sedangkan tahap kedua. Tujuan ini berkaitan dengan petunjuk bahwa sipelaku mengidentifikasi orang-orang yang secara potensial bisa menjadi saksi. 26. 22. Mengidentifikasi praktek manajemen yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atau perilaku yang melalaikan tanggung jawab. Tujuan investigasi dalam butir ini adalah untuk tahap kedua tadi. yang dipakainya untuk pembelian property mewah. Investigasi dilakukan dalam dua tahap. manajemen . Mempertahankan kerahasiaan dan memastikan bahwa perusahaan atau lembaga ini tidak terperangkap dalam ancaman tuntutan pencemaran nama baik. 25. 24. Memberikan rekomendasi mengenai bagaimana mengelola risiko terjadinya kecurangan ini dengan tepat. Tahap kedua ingin menjawab pertanyaan: Mengapa atasannya tidak melihat petunjuk awal (anak buah bertambah kekayaan dalam jangka waktu pendek). Dalam jangka panjang. 23. Hal ini memungkinkan karyawan memperkaya dirinya sendiri. Karena itu. kepada atasannya. atau bukti yang diperlukan.seluruh daya dikerahkan disertai publisitas penuh. petunjuk. Seorang karyawan dibagian pengadaan berkolusi dengan pemasok. jelaskan kemudian” seringkali rawan terhadap kemungkinan perusahaan dituntut. dengan perbedaan bahwa butir ini diproses melalui ketentuan administrative atau perdata. ataukah sekurang-kurangnya mewawancarai anak buahnya. tujuan investigasi ini harus jelas dan ditegaskan sebelum investigasi dilakukan. baik dalam proses penyidikan maupun dalam sidang pengadilan. Perlindungan terhadap para saksi ini dapat mendorong mereka memberikan keterangan. Gaya kerja” serbu dan tangkap” atau “tangkap dulu.

prudent auditor. seorang professional yang berupaya menghindari tuntutan dengan tuduhan teledor (negligent) dalam melaksanakan tugasnya. namun. Dengan landasan atau dasar ini. menjebloskan koruptor ke penjara dan atau mendapatkan kembali sebagian atau seluruh hasil jarahannya. bagaimana. Ada sebab lain kenapa harmonisasi antara konsep-konsep hukum dan auditing tidak dapat berjalan. Suatu investigasi hanya dimulai apabila ada dasar yang layak. dan budaya di lembaga tersebut.hal itu tidaklah mungkin.risiko yang baiklah yang akan mencegah atau mengurangi terjadinya kecurangan. Tujuan akhirnya. yang dalam investigasi dikenal sebagai predication. siapa dan pertanyaan lain . Istilah investigasi dalam penggunaan sehari-hari. Investigatif Pengertian investigasi dan pemeriksaan fraud digunakan silih berganti sebagai sinonim. jenis dan besarnya kecurangan. Hukum Indonesia. Untuk itu. Jenis yang kita kenal umumnya adalah dalam konteks tindak pidana korupsi. pemeriksa fraud perlu memahami kedua-duanya. Idealnya ada kesamaan makna konsep-konsep auditing dan hukum. khususnya hukum pidana dan hukum secara pidana. Dari contoh-contoh diatas. Sedangkan konsep-konsep akuntansi dan auditing kita adopsi dari Amerika Serikat. tergantung dari organisasi atau lembaganya serta mandate yang dipunyainya. seorang investigator mereka-reka mengenai apa. masih berasal dari hukum Napoleonic. Pemilihan di antara berbagai alternative tujuan investigasi. Karena perbedaannya yang penting antara konsep-konsep auditing dan hukum. memberi kesan seolah-olah hanya ada satu jenis. Tanggung jawab untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu investigasi terletak pada pimpinan. dari ssegi filsafat auditing dan filsafat hukum. terlihat berbagai tujuan dalam melakukan suatu investigasi. Dalam filsafat auditing kita mengenal konsep due audit care. pemeriksa fraud atau investigator perlu mengetahui tiga aksioma dalam pemeriksaan fraud.

terjadi dua scenario. Transaksi ini . Fraud selalu tersembunyi – Berbeda dengan kejahatan lain. minta para teller mengisi kantongkantong mereka dengan uang dan barang berharga lain yang ada dalam kasanah (vault. Aksioma adalah asumsi dasar yang begitu gamblangnya sehingga tidak memerlukan pembuktian mengenai kebenarannya. Investigasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai upaya pembuktian. Ketiga aksioma ini berkenaan dengan sifat fraud yang tersembunyi.kluis). pembuktian tentang fraud yang dilakukan secara timbal balik. Bayangkan sejenak perampokan bank yang dilakukan segerombolan penjahat. menodongkan senjata api kepada teller (juru bayar) dan manajer bank. Skenario pertama yang terjadi di permukaan. Bandingkan adegan tadi dengan adegan lain di mana kepala cabang suatu bank besar memfasilitasi “pelanggannya” dengan membuka L/C fiktif atau memberikan kredit bodong yang segera menjadi NPL (non-performing loan). Semuanya disaksikan oleh pelanggan bank yang sedang atau akan bertransaksi. seolaholah ini transaksi normal antara banker dan pelanggan “terhormat”. sifat perbuatan fraud adalah tersembunyi atau mengandung tipuan (yang terlihat di permukaan bukanlah yang sebenarnya terjadi atau berlangsung). Tapi jangan remehkan “kegamblangannya”. yang dibahas berturut-turut dibawah. Ada tiga aksioma dalam pemeriksaan fraud. dan terjadinya fraud semata-mata merupakan kewenangan pengadilan untuk memutuskannya. Mereka masuk ke lobby bank. Dalam adegan kedua. Aksioma Dalam Investigatif Dalam melakukan investigasi ada beberapa aksioma. kemudian meninggalkan bank dengan kecepatan tinggi. Pemeriksa yang berpengalaman pun menghadapi kesulitan ketika ia mengabaikan aksiomaaksioma ini. Umumnya pembuktian ini berakhir di pengadilan dan ketentuan hukum (acara) yang berlaku.yang diduganya relevan dengan pengungkapan kasusnya: ia membangun teori fraud (fraud theory).

notaries. Karena itu. Adegan pembobolan pertama (oleh perampok) terlihat kasar dan kasat mata. Dalam scenario kedua. arranger. Fraud tersembunyi (atau lebih tepat. Dalam hukum Amerika Serikat. Pernyataan yang mengandung risiko yang sangat besar. Metode pembungkusannnya begitu rapi sehingga pemeriksa fraud atau investigator yang berpengalaman sekalipun seringkali terkecoh. karena bagian yang kotor sudah tersembunyi dlam pembungkusan atau packaging yang rapi. Karena itu pemeriksa fraud atau investigator harus menolak memberikan pernyataan bahwa hasil pemeriksaannya membuktikan tidakada fraud.”disembunyikan”). penyuapan aparat penegak hukum dan instansi lain merupakan biaya penutup kebusukan ini. dirigennya juga mempunyai nama terhormat. “proof of fraud must preclude any explanation other than guilt” artinya pembuktian fraud harus mengabaikan setiap penjelasan. kita harus berupaya membuktikan fraud itu terjadi harus ada upaya pembuktian timbale balik atau reverse proof. Dan sebaliknya. pihak-pihak yang terlibat menutup rapat-rapat kebusukan mereka. Hanya Pengadilan yang Menetapkan Bahwa Fraud Memang Terjadi - . pengacara. satu menguatkan yang lain dalam jalinan ayau packaging yang rapi. untuk membuktikan fraud tidak terjadi. Kedua sisi fraud (terjadi dan tidak terjadi) harus diperiksa. bank. Adegan pembobolan kedua (oleh kelompok yang disebut atau menamakan diri mereka “professional”) terlihat bersih. kantor akuntan. fraud dibungkus rapi. Kedua scenario ini tidak terpisah. bermacam-macam legitimasi (termasuk surat-surat keputusan dari lurah sampai petinggi Negara lainnya) dan entah berkas apalagi. Pembuktian Fraud Secara Timbal-Balik – Pembuktian ada atau telah terjadinya fraud meliputi upaya untuk membuktikan fraud itu tidak terjadi.didukung dengan segala macam berkas resmi dari perusahaan sang pelanggan. kecuali pengakuan kesalahan.

Masalahnya adalah membuktikan apakah perbuatan mereka dapat dianggap fraud. bahkan tipologi.si pemeriksa harus memahami dengan baik segala seluk beluk (konsep) mengenai L/C dan celahcelah. pemeriksa membuat dugaan mengenai apakah seseorang bersalah (guilty) atau tidak (innocent). Metodologi Investigatif Kembali ke contoh pembobolan bank diatas. identitas perampok tidak diketahui dan ini yang ingin diungkapkan. sehingga mudah dicerna oleh hakim yang harus memutus dan jaksa atau pengacara pembela yang harus diyakinkan. Dalam penjarahan bank oleh pejabatnya yang bersekongkol dengan pelanggan.Pemeriksa fraud berupaya membuktikan fraud memang terjadi. Diagram yang menunjukkan arus uang dari hasil kejahatan kepada pelaku yang merupakan otak kejahatan. Dalam pembobolan oleh perampok. dari kejahatan dengan modus operandi L/C fiktif. Bersalah atau tidaknya seseorang merupakan dugaan atau bagian dari “teori”. sampai pengadilan memberikan keputusannya. Disini harus ditegaskan: pemeriksa fraud harus menolak memberikan pernyataan bahwa pemeriksanya membuktikan adanya fraud. Hanya pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan hal itu. Yang tidak kalah penting adalah kemahiran si pemeriksa untuk menyampaikan konsep-konsep penting itu secara sederhana. Dalam upaya menyelidiki adanya fraud. Di Amerika Serikat wewenang itu ada pada pengadilan (majelis hakim) dan para jury. Diatas dikatakan: pemeriksa Fraud harus menolak memberikan pernyataan bahwa hasil pemeriksaannya membuktikan tidak ada fraud. Dalam contoh L/C fiktif. identitas mereka bukan masalahnya. Kemahiran si pemeriksa dalam menguasai konsep keuangan dalam kasus yang dihadapinya dan kemampuannya menarik kesimpulan dari penerapan konsep tersebut (secara benar atau menyimpang) akan membantunya dalam mengungkapkan apakah perbuatan itu merupakan fraud (kejahatan atau pelanggaran) menurut hukum. . merupakan contoh dari kemampuan menyajikan sesuatu yang rumit secara sederhana.

Teori ini tidak lain dari rekaan atau perkiraan yang harus dibuktikan. Investigasi dengan pendekatan teori fraud meliputi langkah-langkah sebagai berikut: • • • • Analisis data yang tersedia Ciptakan (atau kembangkan) hipotesis berdasarkan analisis di atas Uji atau test hipotesis tersebut Perhalus atau ubah hipotesis berdasarkan hasil pengujian sebelumnya. kemudian “dugaan” ini diujinya. Pemeriksaan Dalam Hukum Acara Pidana Pembahasan mengenai pemeriksaan fraud di atas adalah dari kaidah-kaidah auditing. latar belakang kedua bidang ilmu ini berbeda. Namun. Padahal pemeriksaan fraud dimaksudkan untuk pembuktian di pengadilan. Istilah yang digunakan dalam pembahasan sebelumnya adalah istilah auditing. Ia baru mempunyai dugaan atas dasar predication yang dijelaskan di atas. dan segala hal yang terkait atau berkaitan yang membawa seseorang yang cukup terlatih dan berpengalaman dengan kehati-hatian yang memadai. Keadaan ini tidak berbeda dengan ilmuwan yang membuat “dugaan” atas dasar pengamatannya terhadap berbagai fakta. Setiap investigasi dimulai dengan keinginan atau harapan bahwa kasus ini berakhir dengan suatu litigasi. Padahal ketika memulai investigasi. pendekatan auditing dan hukum berjalan seiring.Fraud Examiners Manual (2006) menjelaskan predication sebagai berikut: Predication adalah keseluruhan dari peristiwa. pemeriksa fraud membuat teori tentang bagaimana fraud itu terjadi selanjutnya akan disebut teori fraud. keadaan pada saat peristiwa itu. Investigasi atau pemeriksaan fraud jangan dilaksanakan tanpa adanya predication yang tepat. Idealnya. pemeriksa belum memiliki bukti yang cukup. . Seperti hipotesis yang harus diuji oleh seorang ilmuwan. sedang atau akan berlangsung. Predication adalah dasar untuk memulai investigasi. kepada kesimpulan bahwa fraud telah.

Penyelidikan tidaklah berdiri sendiri atau terpisah dari penyidikan. Penyelidikan Penyelidikan adalah serangkaian kegiatan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu perbuatan yang diduga merupakan tindak pidana guna menentukan dapat/tidaknya penyelidikan dilakukan. Putusan pengadilan 6. Upaya hukum 7. penggeledahan dan penyitaan. Penyidikan 3. Penuntutan 4. Pelaksanaan putusan pengadilan 8. penggeledahan dan penyitaan. Penyelidikan 2. melainkan merupakan satu rangkaian yang mendahului tindakan penyidikan lainnya. Pemeriksaan dan penyitaan surat. . Penyelidik mempunyai wewenang sebagai berikut: • • • Menerima laporan atau pengaduan tentang adanya dugaan tindak pidana Mencari keterangan dan barang bukti Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri Atas perintah penyidik. Hal ini dijelaskan dalam setiap tahap dari Tahap 1 sampai dengan Tahap 6. Pemeriksaan di sidang pengadilan 5.Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) mengatur tahapan hukum acara pidana sebagai berikut: 1. penahanan. penyelidik dapat melakukan tindakan berupa: • • Penangkapan. Pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan Tahap 1 (penyelidikan) sampai dengan Tahap 6 (Upaya Hukum) merupakan satu rangkaian pemeriksaan yang merupakan upaya pembuktian. yakni penangkapan. larangan meninggalkan tempat.

apalagi kalau ada keterkaitan dengan barang bukti yang ditemukan. dan dari persesuaian itu diyakini bahwa memang telah . yang keterangannya dituangkan dalam berita acara pemeriksaan tersangka. tidak dikenal penghentian penyelidikan. dan dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi untuk menemukan tersangkanya. Wewenang penyelidik seperti mencari keterangan dan barang bukti sudah memasuki ruang lingkup pembuktian. Apabila dari bukti-bukti yang terkumpul diperoleh persesuaian antara yang satu dengan yang lainnya. Mendatangkan ahli untuk memperoleh keterangan ahli yang dapat juga diberikan dalam bentuk laporan ahli. Penyidikan Penyidikan adalah serangkaian kegiatan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti. Kalau keterangan yang diperoleh dari beberapa orang saling bersesuaian satu sama lain. Untuk mencari dan mengumpulkan bukti. undang-undang memberi wewenang kepada penyidik untuk: • • • • • Menggeledah dan menyita surat dan barang bukti. maka penyelidik melaporkan kepada KPK untuk menghentikan penyelidikan. Memanggil dan memeriksa saksi. yang keterangannya dituangkan dalam berita acara pemeriksaan saksi. Menahan tersangka. Memanggil dan memeriksa tersangka. Apabila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyelidikan dan dari penyelidikan itu tidak ditemukan sekurang-kurangnya dua bukti. tanpa proses. Selanjutnya penyidikan dapat dilakukan. menghilangkan barang bukti atau mengulangi melakukan tindak pidana. Sedangkan apabila Kejaksaan dan Kepolisian yang melakukan penyelidikan. Dalam hal penyelidik (Kejaksaan dan Kepolisian) berpendapat perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana maka penyelidikan tidak dilanjutkan.• Membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik. maka penyelidik dapat menduga telah terjadi suatu tindak pidana. dalam hal tersangka dikuatirkan akan melarikan diri.

terjadi tindak pidana dan tersangka itulah yang melakukannya. Hasil penyidikan ini tertuang dalam berkas perkara yang didalamnya terdapat bukti-bukti. sesuai dengan cara yang diatur dalam hukum acara pidana. . Karena bukti ini akan dijadikan alat bukti di sidang pengadilan untuk membuktikan tindak pidana yang didakwakan. pembuktian merupakan focus utama dalam meneliti berkas perkara hasil penyidikan. dengan permintaan agar diperiksa dan diputus oleh Hakim di sidang pengadilan. Dalam hal Penyidik (Kepolisian atau Kejaksaan) berpendapat bahwa dari buktibukti yang dikumpulkan secara maksimal ternyata tidak cukup bukti atau terbukti tapi bukan merupakan tindak pidana (korupsi) maka mereka berwenang menghentikan penyidikan. Di tahap prapenuntutan. Setelah Penuntut Umum menerima atau menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik. karena kewenangannya ada pada penghentian penyelidikan. ia segera menentukan apakah berkas perkara itu sudah/ belum memenuhi syarat untuk dilimpahkan ke pengadilan. mempelajari atau meneliti kelengkapan berkas perkara hasil penyidikan yang diterima dari penyidik serta memberikan petunjuk guna dilengkapi oleh penyidik untuk dapat menentukan apakah berkas perkara tersebut dapat dilimpahkan atau tidak ke tahap penuntutan. Penuntut Umum tidak akan menerima berkas perkara hasil penyelidikan yang buktinya tidak lengkap. Prapenuntutan – Prapenuntutan adalah tindakan jaksa (Penuntut Umum) untuk memantau perkembangan penyidikan setelah menerima pemberitahuan dimulainya penyidikan dari penyidik. maka penyidik menyerahkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum. Penuntutan – Penuntutan adalah tindakan Penuntut Umum yang melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri yang berwenang. KPK tidak dibenarkan menghentikan penyidikannya.

untuk mendapat alat bukti keterangan terdakwa. yaitu mencari alat bukti yang membentuk keyakinan hakim tentang bersalah atau tidaknya terdakwa. diperiksa kembali disidang pengadilan. Putusan Pengadilan Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah. acara pemeriksaan di sidang pengadilan utidak lain berkenaan dengan pembuktian. namun keyakinan itu harus .Pemeriksaan di pengadilan – Seperti pada tahap-tahap sebelumnya. yang dapat meyakinkan hakim tentang kesalahan terdakwa. Ahli yang telah memberikan keterangan di penyidikan atau yang telah membuat laporan ahli. dipanggil kembali untuk didengar pendapatnya atau dibacakan laporannya di sidang pengadilan. Alat bukti yang sah ini terdiri atas: • • • • • Keterangan saksi Keterangan ahli Surat Keterangan terdakwa Petunjuk Pemeriksaan di sidang pengadilan mempunyai satu tujuan saja. • Surat dan barang bukti yang telah disita oleh penyidik diajukan ke sidang pengadilan untuk dijadikan alat bukti surat dan petunjuk. Itulah cara memperoleh alat bukti di sidang pengadilan. Tersangka yang sudah diperiksa di tahap penyidikan. Bukti-bukti yang diperoleh di tingkat penyidikan diperiksa kembali di sidang pengadilan untuk dijadikan alat bukti: • • • Saksi-saksi yang telah diperiksa oleh penyidik dipanggil kembali ke sidang pengadilan untuk memperoleh alat bukti keterangan saksi. agar diperoleh alat bukti keterangan ahli. Kesalahan terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim. Hanya alat bukti yang sah yang diperoleh di sidang pengadilan.

Upaya Hukum – Upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan yang berupa perlawanan atau banding atau kasasi. atau hak Jaksa Agung untuk mengajukan kasasi demi kepentingan hukum dalam hal seta menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Putusan bebas. apabila pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali.didasarkan atas sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. Upaya Hukum Biasa terdiri atas Pemeriksaan Tingkat Banding dan Pemeriksaan Kasasi. Upaya Hukum Luar Biasa Terdiri atas Pemeriksaan Kasasi Demi Kepentingan Hukum dan Peninjauan Kembali putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. apabila pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti. apabila pengadilan berpendapat bahwa terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Bukti Dan Pembuktian – Auditing Dan Hukum Dari penjelasan di bagian terdahulu. jelas bahwa keenam tahapan dalam KUHAP (mulai tahap Penyelidikan sampai Tahap Upaya Hukum baik upaya hukum biasa maupun upaya hukum luar biasa) berkenaan dengan pembuktian. yang harus ada persesuaian satu dengan yang lain. tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana atau terbukti akan tetapi terdakwa tidak dapat dipertanggung jawabkan terhadap perbuatannya. Upaya hukum ada dua macam. Berdasarkan alat bukti yang diperoleh di sidang pengadilan. Juga penjelasan . • Putusan lepas dari segala tuntutan hukum. yaitu Upaya Hukum Biasa dan Upaya Hukum Luar Biasa. hakim menjatuhkan putusan: • • Putusan pemidanaan.

Tabel 12.Mengenai Fraud Theory tidak lain dari proses mengumpulkan bukti yang dapat diterima di pengadilan. Para auditor yang berlatar belakang pendidikan akuntansi mengenal istilah bukti audit.1 Comparative Classification of Evidence In Two Fields Significant Law Characteristics Special purpose of area to Maintenance of justice which evidence is pertinent Subject matter to which Occurrences at evidence is pertinent times and places Auditing Protection of statement readers Statement given Financial propositions Method of collection or Presentation by opposing development parties Rational deduction and inference Role of judgement-maker Passive in collection or development Submission by interested and disinterested parties Collected and developed by independent party Rationalization Both positive and passive Nature of rules governing Logical presumptions Professional standards the study of evidence Rules of admissibility and relevance Importance of time in A controlling factor A controlling factor judgement formation and evidence collection Compulsiveness of Persuasive evidence in judgement formation Varies from absolute to persuasive Dalam bidang mereka sendiri para akuntan dan auditor di Indonesia sering terkecoh dengan “bukti” dan sesuatu yang mengandung unsur-unsur pembuktian (evidential matter). Investigatif dengan Tehnik Audit . Mereka bahkan mengira bahwa pengertian bukti dalam auditing sama dengan pengertian yang digunakan di pengadilan atau dalam bidang hukum.

Tehnik-Tehnik Audit Ada tehnik audit yang lebih dekat kepada praktek investigasi perpajakan dan organized crime(seperti Net Worth Method dan Expenditure Method). yakni: 1. Padahal. dengan jenis bukti auditnya dalam kurung (kata benda bahasa Inggris). Sederhana. Banyak auditor yang sudah berpengalamanpun. namun ampuh. Menghitung Kembali (reperformance) 7.Kata “investigasi” dalam akuntansi forensic umumnya berarti audit investigasi atau investgatif (investigative audit). memadai untuk dipergunakan dalam audit investigasi. mencari “wilayah garapan”. Tehnik-tehnik audit relative sederhana untuk diterapkan dalam audit investigative. yang dirinci dalam bentuk kata kerja bahasa Indonesia. Ada juga tehnik audit seperti Follow the Money. diantara beberapa tehnik investigasi ada tehnik-tehnik yang berasal dari tehnik-tehnik audit (audit techniques). tehnik-tehnik audit yang mereka kuasai. Karena itu secara alamiah. yang mempunyai unsure pencucian uang . Memeriksa dokumen (documentation) 4. Ada tujuh tehnik. Hasil dari penerapan tehnik audit adalah bukti audit. Memeriksa fisik (physical examination) 2. maka bukti audit yang berhasil dihimpun akan mendukung pendapat auditor independent. Reviu analitikal (analytic review atau analytical review) 5. Tema kesederhanaan dalam pemilihan tehnik audit (termasuk audit investigative). Dalam audit investigative. Meminta konfirmasi (confirmation) 3. Meminta informasi lisan atau tertulis dari auditan (inquiries of the auditee) 6. tehnik-tehnik audit tersebut bersifat eksplorative. merasa ragu untuk terjun dalam bidang investigasi. Tehnik audit adalah cara-cara yang dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian laporan keuangan. Mengamati (observation) Kalau tehnik-tehnik audit itu diterapkan dalam audit umum. atau probing (misalnya dalam reviu analitikal) maupun pedalaman (misalnya dalam confirmation dan documentation).

dan lain-lain) atau bahkan bau yang menyengat (misalnya ditempat penyamakan kulit atau tempat pengolahan sampah). Investigator mempunyai “bayangan”. banyaknya dan beragamnya tenaga kerja. rumah. Meskipun semua (tujuh) tehnik audit yang disebutkan pembahasan akan berfokus pada reviu analitikal. kegiatan yang dilakukan. Pemahaman ini lebih . dan lain-lain yang rusak. obat. dan barang berwujud (tangible assets) lainnya. Ini salah satu pemahaman. Sidoarjo tahun 2006. rumah ibadah. Kita merasa suhu panas atau dingin ditempat kerja. Pemahaman ini penting ketika nantinya ia membaca laporan para ahli secara rinci tentang luasnya kerusakan dan besarnya kerugian. kita melihat luasnya pabrik. Singkatnya. persediaan barang. Mengamati sering diartikan sebagai pemanfaatan indera kita untuk mengetahui sesuatu. aktiva tetap. pabrik. Kita juga mendengar sesuatu. Dalam kedua tehnik ini investigator menggunakan inderanya. untuk mengetahui atau memahami sesuatu. bisa salah satu atau beberapa indera sekaligus. kertas berharga. mungkin sesuatu yang wangi (seperti di pabrik parfum. investigator menyaksikan sendiri apa yang terjadi dan luasnya musibah. kita melihat berbagai tingkat pemahaman yang bisa diperoleh dari pengamatan dan pemeriksaan fisik: • Dari kunjungan ke lokasi yang terkena dampak semburan Lumpur panas di Porong.misalnya dipabrik yang menghasilkan makanan. Dari beberapa contoh dibawah. sekolah. mengamati adalah menggunakan indera. Kita bisa mencicipi. para relawan dan petugas dari dinas Sosial dapat menentukan jumlah kilometer jalan. Memeriksa Fisik dan Mengamati Memeriksa fisik atau physical examination lazimnya diartikan sebagai penghitungan uang tunai (baik dalam mata uang rupiah atau mata uang asing). Kalau kita melakukan kunjungan pabrik. peralatan yang ada. aromatic.dalam tindak pidananya yang berkaitan erat dengan naluri penjahat dan sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dalam pengungkapannya. kantor. • Dari kunjungan ke wilayah yang terkena gempa.

dengan kemajuan teknologi. Disini ada data kuantitatif. permintaan informasi harus dibarengi. Hanya saja. Dalam audit. Reviu Analitikal Dalam reviu analitikal yang penting bukannya perangkat lunaknya. diperkuat. supaya yang diperiksa tidak mengetahui apa yang kita cari? Yang bersangkutan juga mempunyai kepentingan dan peluang untuk berbohong. dan juga merupakan prosedur yang normal dalam suatu investigatif. definisi dokumen menjadi luas. Pertanyaannya. Pada dasarnya seorang invvestigator secara intuitif terobsesi dengan “sesuatu yang melenceng” dan bahwa “something must be wrong because it appears so”. Karena itu ia memerlukan patokan atau benchmark untuk . tehnik ini umumnya diterapkan untuk mendapat kepastian mengenai saldo utangpiutang.dalam dari “bayangan” mengenai intensitas kerugian akibat semburan Lumpur panas tadi. atau dikolaborasi dengan informasi dari sumber lain atau diperkuat (substantiated) dengan cara lain. Permintaan informasi sangat penting. keuangan maupun non keuangan. Seperti dalam audit juga dalam investigatif. apakah dalam investigasi hal itu perlu dilakukan? Apakah sebaiknya kita tidak meminta informasi. Memeriksa Dokumen Tehnik ini tidak memerlukan pembahasan khusus. merupakan prosedur yang biasa dilakukan auditor. termasuk informasi yang diolah. Tak ada investigasi tanps pemeriksaan dokumen. tetapi semangatnya. Tapi sebenarnya ia dapat diterapkan untuk berbagai informasi. disimpan dan dipindahkan secara elektronis/digital. Meminta Informasi dan Konfirmasi Meminta informasi baik lisan maupun tertulis kepada auditan. Meminta konfirmasi adalah meminta pihak lain (dari yang diinvestigasi) untuk menegaskan kebenaran atau tidak keebenaran suatu informasi.

Tetapi mungkin juga ada perbedaan yang bersifat tetap (permanent difference) misalnya dalam hal deposan dalam negeri yang mendapat pembebasan pajak penghasilan dan deposan di cabang-cabang luar negeri dimana bank tidak berkewajiban memungut pajak penghasilannya. perbedaan antara saat memotong dan saat menyetor pajak penghasilan. Kedua. Patokan inilah yang dirumuskan Stringer dan Stewart sebagai results that may reasonably be expected. ini adalah hasil perkalian antar tarif pajak (misal 10 %) dengan jumlah bunga yang dibayarkan bank itu kepada kepada para nasabahnya. Perbedaan ini mudah diketahui karena umumnya jumlah deposan dalam negeri yang dibebaskan. Dengan contoh ini. Kita mulai dengan mencocokkan angka-angka agregat. kita tentukan jumlah pajak penghasilan yang sudah disetorkan untuk bank secara keseluruhan (Kantor Pusat dan Cabang-cabang). Yakni. evidence of the reasonbleness of the aggregate of the results. Di sinin kita membuat deduksi dari data agregat. data menyeluruh. tidak banyak. Selanjutnya. Pertama. Sedangkan untuk deposan di cabang-cabang diluar negeri. Timming difference ini juga mudah dialokasi. Kiita haeus memulai dari belakang. mari kita saji definisi reviu analitikal diatas: a form of deductive reasoning in which the propriety of the individual details is inferred from evidence of the reasonableness of the aggregate results. Misalnya kita sedang menginvestigasi suatu bank yang berkewajiban memungut pajak penghasilan atas bunga yang diperoleh nasabahnya. menurut pembukuan bank itu. ini diperoleh dari data B yang diadjust untuk deposan dalam negeri yang dikecualikan pemungutan pajak penghasilannya dan bunga di cabang-cabang luar negeri. Pertama. kita mengabaikan seluruh data bunga luar negeri (bagian dari data B semula).membandingkannya dengan apa yang dihadapinya. baik dalam jumlah maupun waktu penyetoran? Apakah investigasi ini harus dimulai di cabang-cabang atau kantor-kantor perwakilan? Menurut reviu analitikal. Apakah bank menyetorkan pajak penghasilan ini sesuai ketentuan.tidak. data global. Perbedaan antara data A dengan data B bisa merupakan perbedaan waktu (timming difference) saja. yang dalam hal ini adalah data A dan data . a form of deductive reasoning.

bisa mempunyai keterkaitan yang dapat dimanfaatkan untuk reviu analitikal.B. Penjualan kredit dan pengiriman barang secara besar-besaran pada akhir tahun merupakan indikasi mengenai hal itu. dan berusaha menjawab sebabnya tterjadi kesenjangan. Apakah ada kesalahan (error). Kita “think ananlytical first”. penghasilan bunga dengan saldo rata-rata tabungan dan seterusnya. atau mungkin per pejabat bank sesuai dengan kewenangannya. fraud. dan tidak langsung terjun dan menyibukkan diri dengan detailed substantive test. Individual details disini adalah pemungutan dan penyetoran pajak penghasilan oleh bank secara transaksi demi transaksi. Membandingkan anggaran dengan realisasi – Membandingkan data anggaran dan realisasi dapat mengindikasikan adanya fraud. Pengembalian barang sesudah akhir tahun memperkuat indikasi adanya fraud. Investigator perlu mengantisipasi kecenderungan realisasi penjualannya dibuat tinggi (overstated). dan insentif (keuangan maupun non keuangan) yang terkandung dalam sistem anggarannya. Deduksi ini berkenaan dengan the proprierty of the individual details. cabang demi cabang. pejabat tertentu menerima insentif (bonus) sesuai dengan “keberhasilan” yang diukur dengan pelampauan anggaran. baik dalam suatu maupun beberapa laporan keuangan. Hubungan antara satu data keuangan dengan data keuangan lain– Beberapa akun. Ada bermacam-macam variasi dari tehnik reviu analitical. Menggunakan data non keuangan – . atau salah merumuskan patokannya. namun semuanya didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi dengan apa yang layaknya harus terjadi. angka penjualan dengan bonus bagian penjualan. Dalam entitas yang merupakan profit center atau revenue center. evaluasi atas pelaksanaan anggaran. Contoh: angka penjualan dengan piutang dan persediaan rata-rata. Yang perlu dipahami di sini adalah mekanisme pelaksanaan anggaran.

mempunyai hubungan linier dengan banyaknya visa yang diterbitkan. Bahkan industri-industri atau perusahaan pemeringkat mengembangkan dan menyebarkan industry ratios. jumlah calon haji yang diterbangkan. Di pabrik gula ada ukuran antara jumlah ton tebu yang masuk ke pabrik dan jumlah ton gula yang dihasilkan. ceteris paribus). Reviu analitikal sering dilakukan dengan hitungan cepat untuk menunjukkan keganjilan. Regresi atau Analisis Trend Dengan data historikal yang memadai(makin banyak makin baik. Semua data untuk membuat kesimpulan itu ia peroleh selama makan siang dengan calon debiturnya.Inti dari reviu analitikal adalah mengenal pola hubungan. . Pola hubungan ini tidak mesti hanya antara satu data keuangan dengan data keuangan lain. seperti jumlah ton untuk pupuk dan sawit. dapat diperoleh dari sumber intern maupun ekstern Garuda. Perusahaan penerbangan Garuda mendapatkan hasil yang sangat signifikan dari perjalanan haji. tidak akan bisa beroperasi karena bahan bakunya tidak akan cukup. angka masukan maupun keluaran dinyatakan dalam satuan non keuangan. relationship pattern. Dalam bisnis perkebunan ada hubungan antara jumlah pupuk yang dipergunakan dengan hasil produksi atau panen. reviu analitikal dapat mengungkapkan trend. Perhitungan serupa kita lihat di industri kayu lapis atau blackboard. Seorang bankir mencatat informasi yang diterimanya dari calon nasabah kreditnya. misalnya STAR. Bermacam ratio kita gunakan untuk berbagai industri. Berbagai perangkat lunak mempermudah hitungan dan grafiknya. Data yang penting. dengan nama recovery. Dengan cepat ia menetukan bahwa pabrik pulp berkapasitas besar dilokasi yang terisolasi. Pola hubungan antara masukan dan keluaran ini dinyatakan dalam suatu ratio yang dalam industri gula dikenal sebagai rendemen. Pola hubungan non keuanganpun bisa bermacam-macam bentuknya. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di konsulat-konsulat kita diluar negeri.

Kalau tidak dihitung kembali oleh counterpart PSC atau lembaga pemeriksa independen. • Perhitungan cost recovery oleh kontraktor bagi hasil (Production Sharing Contractor). seorang junior auditor di kantor akuntan. indikator ekonomi negara-negara yang menjadi partner perdagangan Indonesia. tambah. hargaminyak mentah dan komoditi lain. kurang. Perhitungan ini dilakukan atau disupervisi oleh investigator yang berpengalaman. Ini prosedur yang sangat lazim dalam audit.01/2006 tanggal 16 Maret 2006 mensyaratkan penetapan jumlah kewajiban berdasarkan data terakhir. Dalam investigatif. cadangan devisa. Cost recovery ini sangat besar jumlahnya. MENGHITUNG KEMBALI Menghitung kembali atau repeform tidak lain dari mencek kebenaran perhitungan (kali. • Biaya yang dikeluarkan BUMN yang mempunyai kewajiban memberikan pelayanan umum (public Service Obligation). bagi.Menggunakan indikator ekonomi makro – Ada hubungan antara besarnya pajak penghasilan yang diperoleh dalam suatu tahun dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi. Beberapa contoh penghitungan kembali semacam itu yang berpotensi triliunan rupiah: • Kasus penyelesaian kewajiban pemegang saham menurut Keputusan Menteri Keuangan nomor 151/KMK. tingkat pengangguran. dan lain-lain. Keterlambatan pembayaran PSO mempunyai dampak yang besar terhadap likuiditas BUMN yang bersangkutan. dan lain-lain). Investigatif Dengan Tehnik Perpajakan . cost recovery rawan penyalahgunaan. Biasanya tugas ini diberikan kepada seseorang yang baru mulai bekerja sebagai auditor. didasarkan atas kontrak atau perjanjian yang rumit. perhitungan yang dihadapi umumnya sangat kompleks. mungkin sudah terjadi perubahan dan renegoisasi berkali-kali dengan pejabat(atau kabinet) yang berbeda. Ini merupakan bidang studi yang ditekuni para ahli ekonomi makro dan ekonometri.

Kedua tehnik investigatif ini adalah Net Worth Method dan Expenditure Method.Triad. Untuk organized crime yang ingin dibuktikan adalah terdapatnya penghasilan yang tidak sah. Kedua tehnik investigasi ini digunakan untuk menentukan panghasilan kena pajak (PKP) yang belum dilaporkan oleh wajib pajak dalam SPT-nya. . dalam hal ini SPT PPh).Investigatif dengan tehnik perpajakan menggunakan dua tehnik yang secara luas dipraktekkan oleh IRS (Internal Revenue Services) di Amerika Serikat. Keduanya menggunakan logika pembukuan atau akuntansi yang sederhana. dan lainlain). Net worth method untuk investigasi pajak ingin membuktikan adanya PKP yang belum dilaporkan oleh wajib pajak. NET WORTH METHOD Net worth method diterapkan oleh kantor pajak Amerika Serikat (IRS). Pemakaiannya bisa ditelusuri kembali ke tahun 1931 ketika IRS berhasil menjaring Al(fonso) Capone. Sejak Congress mengundangkan RICO Act pada tahun 1970. Perlindungan hak wajib pajak diperlukan karena pergeseran beban pembuktian tersebut diatas. sehingga menjadi umum digunakan dalam memerangi organized crime. penggunaannya diperluas untuk menemukan indikasi illegal income dari organized crime (kejahatan yang diorganisasi seperti Mafia. atau illegal income. dasar penggunaannya adalah kewajiban wajib pajak untuk melaporkan semua penghasilannya (sebagaimana didefinisikan oleh undangundangnya) dalam tax returns mereka. melawan hukum. Tehnik ini menggeser beban pembuktian dari negara/fiskus kepada wajib pajak. IRS menggunakannya sebagai bukti tidak langsung (circumstantial evidence). Penerapan tehnik-tehnik ini terus berkembang. Net Worth Method untuk Perpajakan Di Amerika Serikat di mana Net Worth Method diterima sebagai cara pembuktian tidak langsung. Ketentuan serupa juga berlaku di Indonesia di mana wajib pajak diwajibkan penghasilannya secara lengkap dan benar dalam SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan.

Seperti Net Worth Method. Expenditure Method juga dimaksudkan untuk menentukan unreported taxable income. Jadi di awal tahun tertentu. Seperti disebutkan tadi. .Pemeriksa pajak menetapkan net worth atau kekayaan bersih pada awal tahun. kita dapat menentukan illegal income. Expenditure Method juga merupakan cara pembuktian tidak langsung. Inilah yang dibandingkan dengan net worth increase (sesudah di-adjust dengan personal expenses) untuk menentukan illegal income. Ini diperoleh dari pengurangan seluruh assets seseorang dengan seluruh liabilitiesnya.sebutlah Tahun-1. Karena itu kenaikan net worth ini dibandingkan dengan penghasilan yang dilaporkan dalam SPT PPh tahun-2. EXPENDITURE METHOD Sebagaimana halnya dengan Net Worth yang dijelaskan. net worth Tahun-1 dibandingkan dengan net worth tahun-2. Expenditure Method lebih cocok untuk para wajib pajak yang tidak mengumpulkan harta benda. Net Worth Method untuk organized crime Dengan rumus yang hampir sama. Selanjutnya. Ketika RICO Act diundangkan dalam tahun 1970. Di Indonesia pendekatan ini dapat digunakan untuk memerangi korupsi. Ketentuan perundang-undangannya sudah ada. penerapan Expenditure Method juga dipelopori IRS. Expenditure Method dimanfaatkan sebagai petunjuk organized crime. perbandingan ini akan menghasilkan kenaikan net worth (net worth increase) yang seharusnya sama dengan PKP untuk tahun-2. yakni laporan mengenai kekayaan pejabat. tetapi mempunyai pengeluaran-pengeluaran besar (mewah). net worth = assets-lialibilities. Legal income adalah semua penghasilan yang dilaporkan yang bersangkutan. Hal yang sama dilakukan untuk menentukan net worth Tahun-2. Expenditure Method yang merupakan derivasi atau turunan dari net worth method digunakan IRS sejak tahun 1940an. di Amerika Serikat metode ini digunakan dalam memerangi organized crime.

Tersangka diduga mengepalai jaringan kejahatan. dan juga lebih mudah dimengerti oleh orang awam. Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus perpajakan apabila kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau dominan: 1. 2. Wajib pajak tidak menyelenggarakan pembukuan atau catatan. Wajib pajak menyembunyikan pembukuan. karena Expenditure Method lebih mudah dibuat atau dihitung. 3. Wajib pajak tidak mempunyai assets yang terlihat atau dapat diidentifikasi. atau semua saksi yang memberatkan dia adalah para penjahat yang sudah dijatuhi hukuman. dan . utang. tanah. Hal yang sama juga berlaku untuk persediaan barang. 5. dan pungutan negara lainnya. Tersangka mempunyai gaya hidup mewah dan agaknya diluar kemampuannya. Wajib pajak menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak memadai. piutang. Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus organized crime apabila kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau dominan: 1. dan seterusnya. 4. hanya perubahannya yang diambil (kenaikan atau penurunan kas dan bank). menghitung kerugian negara (dalam kasus korupsi). mobil atau kapal mewah. dalam Net Worth Method penyidik akan mencantumkan saldo akhir kas dan bank. perlakuan terhadap asset dan liabilities-nya berbeda. Mahkamah Agung di Amerika Serikat tidak menetapkan Expenditure Method secara khusus sebagai alat pembuktian. Pembukuan dan catatan wajib pajak tidak tersedia. perhiasan. Dalam Expenditure Method. Tersangka kelihatannya tidak membeli asset seperti rumah. saham. 4. Expenditure Method adalah derivasi dari Net Worth Method.Expenditure Method lebih populer dari Net Worth Method. 3. Seorang akuntan harusnya mampu menghitung unreported taxable income berdasarkan Net Worth Method akan mengkonversikannya ke Expenditure Method. misalnya karena terbakar. Illegal income harus ditentukan untuk menghitung denda (misalnya dalam kejahatan penebangan hutan ilegal). Misalnya. 2. karena Expenditure Method dianggap derivasi atau turunan dari Net Worth Method. Namun.

terorisme. Depresiasi. Untuk itu. dan fraud khususnya. Itulah sebabnya. Itulah sebabnya Follow The Money mempunyai banyak peluang untuk digunakan dalam investigatif. Uang sangat cair/likuid. deplesi. dan lain-lain) yang merupakan tindak pidana. Di lain pihak. Mengetahui currency of crimeakan membuka peluang baru untuk menerapkan tehnik Follow The Money. . nalurinya ini akan meninggalkan jejak-jejak berupa gambaran mengenai arus uang. Jejak-jejak uang atau money trails inilah yang dipetakan oleh penyidik. Ketentuan perundang-undangan mengenai tindak pidana pencucian uang menginagtkan kita bahwa bukan kejahatan utamanya saja (seperti korupsi. deffered gains. Kalaupun bukanitu motive-nya ada aliran uang ke diri pelaku(atau keluarganya). Naluri Penjahat Dalam setiap kejahatan pada umumnya. dan semacamnya juga diabaikan dalam Expenditure Method ini sebenarnya merupakan hal yang elementer untuk seorang akuntan. mata uang kejahatan atau currency of crime bukanlah uang semata-mata. tetapi juga pencucian uangnya adalah tindak pidana. Tanpa disadarinya. pencurian.pinjaman bank. Namun. penyelundupan barang dan manusia. salah satu aksioma dalam fraud ialah fraud is hidden atau fraud itu tersembunyi. penyuapan. pelaku “harus jauh” dari fraud itu sendiri dan “harus jauh” dari uang yang merupakan hasil kejahatan.pada akhirnya ada arus uang atau dana dari “tempat persembunyian” atau “tempat penitipan” yang mengalir ke alamat sipelaku utama. prostitusi. ada suatu gejala yang sangat lumrah. motive dari perbuatan fraud itu sendiri pada umumnya. amortisasi. FOLLOW THE MONEY Pertama kita akan melihat naluri penjahat. adalah mendapatkan uang. mudah mengalir. yakni pelaku berupaya memberi kesan bahwa ia tidak terlibat fraud.

investigator menelusuri jejak-jejak uang ini. Kita tidak bisa mulai dengan pelakunya. layering. Follow The Money dan Data Mining Tehnik investigasi ini sebenarnya sangat sederhana. tanpa harus membuktikan kejahatan utamanya. disebut Follow The Money. berupa arus uang. maka banyak kasus kejahatan (termasuk tindak pidana korupsi) dapat diproses (pengadilan) melalui kejahatan utamanya dan melalui pencucian uangnya. . Tehnik investigatif yang menelusuri arus dana dan mencari muaranya. dalam mencari pelaku. Dengan diperlakukannya pencucian uang sebagai tindak pidana (kriminalisasi dari pencucian uang). Tindak perbuatan ini denga tegas diperlakukan serbagai tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak pidana Pencucian uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 25 tahun 2003. Kriminalisasi dari pencucian uang Pola perilaku pelaku kejahatan dengan “menjauhkan” uang dari pelaku dan perbuatannya dilakukan melalui cara placement. dan integration. Mata Uang Kejahatan Ciri dari penggunaan currency of crime yang bukan berupa uang adalah izin-izin atau lisensi untuk akses ke sumber-sumber daya alam yang umumnya dialokasikan kepada keluarga dan kerabat sang diktator. memfasilitasi proses ini. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) merupakan lembaga yang penting untuk mengungkapkan pelaku-pelaku dengan menelusuri laporanlaporan dari berbagai sumber. Karena itu. Disamping kerumitan karena data yang begitu besar. Kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi. Kesulitannya adalah datanya sangat banyak dalam hitungan terabytes. juga diperlukan kecermatan dan persistensi dalam mengumpulkan bahan-bahannya. yang kita ingin kita lihat justru adanya pola-pola arus dana yang menuju ke suatu tempat (yang memberi indikasi tentang pelaku atau otak kejahatan). dalam hal ini.Jejak-jejak kejahatan.

yakni arus dana dan arus fisik barang. Arus fisik barang sering memberikan indikasi kuat. Contoh: data statistik resmi mengenai impor-ekspor yang menunjukkan kesenjangan yang besar. Pasal 12 huruf f 12 huruf g 12 huruf h 12 huruf i 12 B 12 C 13 . 16. Analisis Pasal-Pasal TPK Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 27. 12. 14. Pasal 2 3 5 ayat (1) huruf a 5 ayat (1) huruf b 6 ayat (1) huruf a 6 ayat (1)huruf b 7 ayat (1) huruf a No. 7. antara data negara pengimpor dan negara pengekspor. Investigatif Tindak Pidana Korupsi Tindak Pidana Korupsi (TPK) dilihat dari ketentuan perundangan yang berlaku di Indonesia.Dalam hal itu currency of crime. minyak bumi. 11. 4. yakni tanggal 21 november 2001. berlaku Undang-Undang nomor 3 tahun 1971. dan lain sebagainya. bagian inti atau bestanddeel. 3. Pasal 7 ayat (2) 8 9 10 11 12 huruf a 12 huruf b No. dan jaksa penuntut umum. 24. Pendekatan ini dipakai oleh penyelidik. 1. 5. 22. penyidik. kayu bundar (logs). 6.nya bisa berupa intan berlian. 21. Yang akan dipakai sebagai acuan dalam pembahasan ini adalah Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan TPK. 15. 13. di luar masalah penyuapan kepada penegak hukum. ganja. Di sini ada dua arus yang bisa diikuti investigator. Analisis pasal-pasal TPK akan menganalisis semua pasal yang mengandung TPK ke dalam unsur-unsurnya. Untuk TPK yang dilakukan sebelum berlakunya undang-undang ini. 26. Ini dapat dilihat dalam pasal-pasal dan ayat-ayat yang berikut: No. 2. mencakup 30 tindak pidana yang diartikan sebagai tindak pidana korupsi (TPK). 23. karena adanya anomali. 17. 25. ditentukan oleh kemampuan membuktikan bagian-bagian inti dan meyakinkan majelis hakim dalam persidangan pengadilan. pasir laut. Keberhasilan atau kegagalan suatu investigatif TPK.

maka upaya diarahkan kepada pengumpulan dan penyajian alat-alat bukti. 19. Dalam dokumentasi investigasinya. 10. 9. 29. penting sekali bagi pemeriksa untuk mengetahui bagian inti atau berstanddeel dari ke 30 TPK. 12 huruf c 12 huruf d 12 huruf e 28. 7 ayat (1) huruf b 7 ayat (1) huruf c 7 ayat (1) huruf d 18. Beberapa Konsep Undang-Undang TPK Dibawah ini ada catatan mengenai beberapa konsep.8. baik yang secara umum dikenal dalam KUHP dan KUHAP. Pasal-pasal ini juga disertai dengan penjelasan undang-undangnya. maupun yang khas untuk TPK. Dengan meningkat dan mendalamnya investigasi. Dalam uraian pasal-pasal dan ayat-ayat yang mencangkup ke 30 TPK. 20. berstanddeel ini digaris bawahi. Karena itu. 30. 14 15 16 Pemeriksa memfokuskan investigasinya pada pencarian indikasi-indikasi atau bukti awal dari masing-masing unsur atau bagian inti TPK. pemeriksa merinci semua indikasi dan alat bukti untuk masing-masing bagian inti atau tindak pidana korupsi yang disangkakan atau didakwakan. Konsepkonsep itu adalah: • • • • • • • • • • Alat bukti yang sah Beban pembuktian terbalik Gugatan perdata atas harta yang disembunyikan Pemidanaan secara in absentia “Memperkaya” versus” Menguntungkan” Pidana mati Nullum delictum Concursus idealis Concursus realis Perbuatan berlanjut .

yang langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.461. Kasus Samadikun Hartono Penuntut Umum mendakwa Samadikun Hartono (Presiden Komisaris PT Bank Modern Tbk). Prof. Andi Hamzah adalah seorang di antara ahli hukum pidana dan hukum secara pidana yang banyak menulis tentang kasus-kasus korupsi. Analisis di bawah merupakan ringkasan untuk menonjolkan hal-hal yang penting bagi akuntan forensik. mengenai kasus-kasus yang sudah ada putusan hakim. Analisis Beberapa Kasus Korupsi Para akuntan forensik dapat menarik pelajaran berharga dari pendapat dan komentar para ahli hukum. Dalam analisis kasus para investigator dapat melihat penerapan sebagian konsep-konsep ini. sampai kepada putusan Mahkamah Agung. yakni sejak surat dakwaan yang diajukan penuntut umum. Jur. Profesor Andi Hamzah secara rinci mencantumkan posisi dan analisis kasusnya. Dr. kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan.986. Dalam bukunya.• “Lepas dari tuntutan hukum” versus “ bebas” Konsep ini dimaksudkan untuk membantu investigator yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan hukum.492. Para akuntan forensik sebaiknya mempelajari secara utuh dokumentasi dari suatu kasus. . bersama-sama dengan Bambang Trianto ( Presiden Direktur PT Bank Modern Tbk): Dakwaan Primair: Secara berlanjut melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan secara melawan hukum atau secara tidak patut menggunakan uang atau menyalurkan sejumlah dana BLBI atau bertentangan dengan peruntukkannya yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara sebesar Rp 169.54 Dakwaan Subsidair: Dengan perbuatan itu juga menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan dengan menyalahgunakan kewenangan.

Nyata sekali kekeliruan hakim karena pada dakwaan subsidiair yang terdakwa juga dibebaskan. Tidak banyak yang masuk ke .. melaporkan kasus pengadaan yang mengansung unsur tindak pidana korupsi. serta tragedi pada akhirnya: Didalam pertimbangan Pengadilan Negeri perbuatan terdakwa tidak dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum karena itu. Tjandra melakukan kontrak cessie dengan Rudi Ramli (Bank Bali). yang sekarang menjadi pasal 13 UU PTPK 1999. Karena perbuatan itu dilakukan pada tahun 1998. Menurut Andi Hamzah: Kurang tepat mendakwa perbuatan cessie sebagai merupakan perbuatan melawan hukum memperkaya diri sendiri. terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan baik yang primair maupun yang subsidiair. Tjandra. sehingga tidak perlu dibuktikan. penuntut umum mendakwa Djoko Tjandra dengan pasal 1 ayat 1 huruf a dari undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi nomor 3 tahun 1971. Tjandra Djoko S. Tiap-tiap tahun BPK maupun BPKP. tidak ada bagian inti (bestandeel) melawan hukum.Menarik sekali apa yang dikatakan Andi Hamzah mengenai putusan Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung dalam kasus Samadikun Hartono. subsidiair pasal 1 ayat (1) huruf d undang-undang 3/1971. Mengapa kalau orang lain yang membuat cessie. hasil cessie-nya sulit dicairkan? Jadi seharusnya Djoko S Tjandra didakwa memberi suap kepada pejabat negara dan BPPN primair pasal 209 KUHP juncto pasal 1 ayat (1) huruf c undang-undang 3/1971. dengan alasan perbuatan melakukan cessie adalah perbuatan perdata dan bukan pidana. Investigatif Pengadaan Pengadaan merupakan salah satu sumber korupsi terbesar dalam sektor keuangan publik. Kasus Djoko S. Sehingga Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung membebaskan Djoko S. Yang menjadi soal sebenarnya adalah mengapa pencairan uang hasil cessie itu berjalan dengan cepat dan mulus.

Tahap pra tender 2. 4. . baik dalam kasus hukum administratif maupun hukum pidana. lazimnya ada tiga tahapan besar sebagai berikut: 1. 5. 3. Beban pembuktian ada pada yang “menduga” pegawainya melakukan kecurangan. Tahap pelaksanaan dan penyelesaian administratif Auditor harus menguasai seluk-beluk dan potensi fraud dalam setiap tahap. Cakup seluruh substansi investigasi dan “kuasai” seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu. Dalam sistem ini. standar adalah ukuran mutu. dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut. membuyarkan legenda bahwa mark-up “hanya” 30%. Karena itu dalam pekerjaan audit. dalam keadaan aman. terlindungi dan diindeks. Yang dapat membantunya adalah gejala-gejala yang sering muncul ke permukaan pada setiap tahap tersebut diatas. Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak azasi pegawai dan senatiasa menghormatinya. pihak yang memakai laporan audit. 6. Hal yang sama juga ingin dicapai para investigator dan forensic accountant. diterapkan dalam pengadaan yang menggunakan sistem tender atau penawaran secara terbuka. dan pihak-pihak lain dapat mengukur mutu kerja si auditor. Pastikan bahwa seluruh dokumentasi. para auditor ingin menegaskan standar mereka. Standar tersebut adalah: 1. dan jejak audit tersedia. kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian sehingga bukti-bukti tadi dapat diterima dipengadilan. Beberapa kasus pengadaan yang berhasil diselesaikan di pengadilan. Cara-cara investigasi yang dijelaskan di bawah. Seluruh investigasi harus dilandasi praktek terbaik yang diakui 2.persidangan pengadilan. Standar Secara sederhana. Dengan standar ini pihak yang diaudit (auditee). Tahap penawaran dan negoisasi 3.

kewajiban hukum. Upaya ini disebut benchmarking. termasuk perencanaan. pengumpulan bukti dan barang bukti.upaya benchmarking dilakukan terus menerus untuk mencari solusi terbaik.istilah best practices sering dipakai dalam penetapan standar. terlindungi. Standar-2 Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian (due care) sehingga buktibukti tadi dapat diterima dipengadilan. pengamanan mengenai hal-hal yang bersifat rahasia.7. Standar-3 Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman.adanya upaya membandingkan antara praktek-praktek yang ada dengan merujuk kepada yang terbaikpada saat itu. Referensi ini juga membantu perusahaan dalam upaya perbaikan cara-cara investigasi sehingga accepted best practices yang dijelaskan dapat dilaksanakan. Standar –1 Seluruh investigasi harus dilandasi praktek-praktek terbaik yang diakui (accepted best practices). Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi. yang bersangkutan dapat menuntut perusahaan dan investigatornya. Pertama. keterlibatan polisi. Bandingkan standar ini dengan nasehat kedua dari daviadi atas. Bukti-bukti yang sudah dikumpulkan dengan waktu dan biaya yang banyak. menjadi sia-sia. wawancara. . Kedua. dan persyaratan mengenai pelaporan. dokumentasi dan penyelenggaraan catatan. dan jejak audit tersedia. dan diindeks. ikuti tata cara atau protokol. kontak dengan pihak ketiga. Dalam istilah ini tersirat dua hal. Dokumentasi ini diperlukan sebagai referensi apabila ada penyelidikan di kemudian hari untuk memastikan bahwa investigasi sudah dilakukan dengan benar. Standar-4 Pastikan bahwa investigator mengerti hak-hak azasi pegawai dan senantiasa menghormatinya. Kalau investigatif dilakukan dengan cara yang melanggar hak azasi pegawai.

baik dalam kasus hukumadminstratif dan pidana. wawancara. danpada penuntut umumyang mendakwa pegawai tersebut. Standar-7 Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigatif. termasuk perencanaan. beban pembuktian ini harus beyond reasonable doubt atau “melampaui keraguan yang layak”. Dalam menghormati azaspraduga tidak bersalah. Dalam kasus pidana di Amerika Serikat. kontak denganpihak ketiga. dan persyaratan mengenai pelaporan. hak dan kebebasan seseorang harus dihormati. kita menghadapi keterbatasan waktu. dan barang bukti. Standar-6 Cakup seluruh substansi investigasi dan “kuasai” seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu.Standar-5 Ingatlah bahwa beban pembuktian ada pada perusahaan yang “menduga” pegawainya melakukan kecurangan. ikuti tata cara atau protokol. dokumentasi dan penyelenggaraan catatan. pengamanan mengenai hal-hal yang bersifat rahasia. kewajiban hukum. . Dalam melaksanakan investigatif. keterlobatan polisi. pengumpulan bukti.

Adanya permintaan dari dewan komisaris atau DPR untuk melakukan audit. Adapun sumber informasi audit investigasi adalah: • • • Pengembangan temuan audit sebelumnya. misalnya karena adanya dugaan manajemen/ pejabat melakukan penyelewengan. periodenya tidak dibatasi. Tujuan audit investigasi adalah mengadakan temuan lebih lanjut atas temuan audit sebelumnya. Tim yang melaksanakan audit investigasi sebaiknya oleh tim atau minimal salah satu auditor yang telah mengembangkan temuan audit sebelumnya. Tanggung jawab pelaksanaan audit investigasi adalah pada lembaga audit atau satuan pengawas. . dengan hasil audit berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bergantung pada derajat penyimpangan wewenang yang ditemukan. auditor dapat menyusun langkah audit yang hendak dilaksanakan. Tim audit baru dapat dibentuk apabila sumber informasi berasal dari informasi dan pengaduan masyarakat.Audit Investigasi (Special Audit) Oleh Admin KeuLSM / Selasa 28 Agustus 2012 Audit investigasi adalah kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu. Dalam merencanakan dan melaksanakan audit investigasi. Program audit untuk audit investigasi umumnya sulit ditetapkan terlebih dahulu atau dibakukan. serta melaksanakan audit untuk membuktikan kebenaran berdasarkan pengaduan atau informasi dari masyarakat. auditor mengunakan skeptic profesionalisme serta menerapkan azas praduga tidak bersalah. seperti financial audit dan operational audit. Prosedur dan teknik audit investigasi mengacu pada standar auditing serta disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi. dan ditandatangani oleh kepala lembaga satuan audit. Adanya pengaduan dari masyarakat. Laporan hasil audit investigasi menetapkan siapa yang terlibat atau bertanggungjawab. lebih spesifik pada area-area pertanggungjawaban yang diduga mengandung inefisiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang. Kalau audit investigasi yang dilaksanakan merupakan pengembangan temuan audit sebelumnya.

Kertas kerja audit biasa disusun sebagai berikut: • • kertas kerja audit yang umum.Meskipun terkadang setelah dilaksanakan masih banyak mengalami penyesuaian atau perubahan. yaitu menyangkut data umum objek atau kegiatan yang diperiksa termasuk ketentuan yang harus dipatuhi. namun tidak merugikan negara atau perusahaan. . antara lain. kertas kerja audit untuk setiap orang yang diduga terlibat. Terjadi kerugian negara akibat perbuatan melawan hukum dan tindak pidana lainnya. yaitu berisi antara lain. dan bendaharawan tidak dapat membuktikan bahwa kekurangan tersebut diakibatkan bukan karena kesalahan atau kelalaian bendaharawan. Kertas kerja harus dibuat sedemikian rupa. Apa yang diadukan terbukti. misalnya terjadi penyimpangan dari suatu aturan atau ketentuan yang berlaku. identitas seseorang. • • Terjadi kerugian bagi perusahaan akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh karyawan. tahap perhitungan 5 C. tindakan yang melanggar hukum serta akibatnya yang dilengkapi dengan bukti yang mendukung. • • Terjadi kerugian negara akibat terjadi wanprestasi atau kerugian dari perikatan yang lahir dari undang-undang. sehingga mudah dibuat laporan khusus. • • Apa yang dilaporkan masyarakat tidak terbukti. Selain itu. dapat pula disusun per tahapan transaksi seperti pada kasus kredit macet. Adapun hasil audit investigasi pada umumnya dapat disimpulkan berikut ini. Terjadi ketekoran/kekurangan kas atau persediaan barang milik Negara. serta tahap setelah kredit cair sampai dinyatakan macet. tahap permohonan kredit. tahap pencairan dan penggunaan kredit.

terutama apabila laporan tersebut akan diserahkan kepada kejaksaan. Dalam menyusun laporan. temuan audit memuat: modus operandi.com/article/audit/audit-investigasi-special-audit/ . sebab terjadinya penyimpangan. tindak lanjut dan saran.Laporan audit investigasi bersifat rahasia. temuan audit. Sedangkan laporan audit yang akan diserahkan kepada kejaksaan. bukti yang diperoleh dan kerugian yang ditimbulkan. auditor tetap menggunakan azas praduga tak bersalah. Pada umumnya audit investigasi berisi: dasar audit. http://keuanganlsm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful