HISTORIOGRAFI MELAYU: KAJIAN ATAS TUHFAT AL-NAFIS KARYA RAJA ALI HAJI HISTORIOGRAFI MELAYU: KAJIAN ATAS TUHFAT

AL-NAFIS KARYA RAJA ALI HAJI Oleh: Ali M. Hassan Palawa A. Pendahuluan Pembahasan aspek intelektual Raja Ali Haji dalam bidang sejarah direfresentasikan oleh, meminjam istilah Matheson, dua buku “bersaudara”. Buku pertama, “saudara perempuan”, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya, ditulis Raja Ali Haji mulai pada 7 September 1865 dan dirampungkan pada 15 Januari 1866. Sementara buku kedua, “suadara laki-laki”, Tuhfat al-Nafis, mulai ditulis sebelum “saudara (kakak) perempuannya” selesai, yaitu pada 22 Desember 1865 dan 25 November 1866. Artinya Tuhfat al-Nafis rampung tulis kira-kira enam atau tujuh tahun sebelum wafat pengarangnya, Raja Ali Haji pada 1873. Meskipun demikian, menurut dugaan kuat Matheson, sejatinya Tuhfat al-Nafis awalnya ditulis oleh ayahnya, Raja Ahmad, kemudian dielaborasi dan disempurnakan oleh anaknya, Raja Ali Haji. Berbeda dengan “saudara perempuannya”, Tuhfat al-Nafis, karya Raja Ali Haji, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya tidak terlalau banyak mendapat perhatian dari para sarjana dan peneliti, menurut Beardow, penyebabnya karena Silsilah Melayu dan Bugis berada di bawah bayang-bayang kebesaran dan ketenaran “saudara laki-lakinya”, Tuhfat al-Nafis. Meskipun demikian, antara Silsilah Melayu dan Bugis dan Tuhfat al-Nafis, menurut Winstedt terdapat kesamaan gaya dan materi, bahkan karya yang disebut belakangan meerupakan kelanjutan dari karya disebut pertama. Pada bagian-bagian awal dari Tuhfat al-Nafis memang di ambil dari Silsilah Melayu dan Bugis yang, menurut Matheson, tanpa memberikan pengakuan, tetapi itu dapat dipahami karena ditulis dalam waktu hampir bersamaan dan oleh penulis yang sama. Tuhfat al-Nafis pada awalnya, lebih setengah abad sepeninggalan pengarangnya, juga tidak begitu dikenal dan tidak sepopuler naskah-naskah sejenis, mislanya Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), Hikayat Hang Tuah, dan Kisah Pelayan Abdullah. Dalam wacana pensejarahan di Alam Melayu, Tuhfat al-Nafis untuk kali pertama disebut oleh W. E. Maxwell, ketika menulis tantang Raja Haji pada tahun 1890. Dalam tulisanya yang berjudul “Raja Haji” itu, ia menyebut tantang Tuhfat al-Nafis: “…. And besides the English and Dutch accounts I found a long description of Raja Haji‟s invansion of Malaka in a Malay historical work called “Tuhfat al-Nafis”, which treats of the Malay Rajas of Bugis extraction in the Straits of Malaka.” Kemudian, pada 1899 C. O. Blanden membaca naskah Maxwell dan memberikan tanggapannya, “Tuhfat Al-Nafis merupakan karya historis yang berisi tentang sejarah daerah Melayu hingga zaman modern yang mencakup penjelasan mengenai keluarga kerajaan Selangor yang ditulis oleh Raja Ali Riau.” B. Naskah-Naskah Tuhfat al-Nafis Dalam tulisan ini Winstedt menyebutkan bahwa “Tuhfat Al-Nafis adalah suatu riwayat yang berharga dan menarik, saya mengetahui ada dua salinannya saja.” Belakangan, Virginia Matheson menyempurnakan pendapat Winstedt tersebut, dengan menemukan, di saat melakukan penelitian untuk penyelesaian disertasinya pada 1973, ada empat naskah Tuhfat alNafis. Akan tetapi, dalam penyelusurannya lebih lanjut, Matheson menyatakan bahwa ada satu naskah lagi, sehingga naskah Tuhfat al-Nafis ada lima buah. Meskipun demikian, menurut Dr. Shaharil Talib dari Universtas Malaya, sebagaimana disebutkan Matheson, ada satu naskah Tuhfat al-Nafis berasal dari Terengganau, disalin pada akhir abad ke19. Naskah Tuhfat al-Nafis ini, lagi-lagi menurut Shahari Tali, belum/tidak pernah diteliti. Jadi, penemuan mutahir menunjukah adanya enam naskah Tuhfat al-Nafis.

L. Mohd. Or. merupakan yang indah. jika dibandingkan dengan lima naskah Tuhfat alNafis lanilla. sehingga seseorang menawarkan naskah ini dengan cara jual-beli. Belakangan naskah ini. 69 (sebelumnya disebut HS 630). jelas terdapat sejumlah kesalahan dalam penyalinan “naskah Terengganu” ini. yaitu naskah versi pendek dan naskah versi panjang. tetapi pada 17 Juli 1857 dibeli oleh Dewan Bahasa dan Pustaka. Akan tetapi. Naskah yang tersimpan di Istana Dirija Terengganau dan menjadi pusaka yang diwariskan oleh Sultan Zainal kepada putranya. termasuk syair yang digubah untuknya. setelah masa jabatannya berakhir pada 1927 A. Maxwell.Pertama. disalin oleh Haji Abdul Rahman bin Encik Long pada 1901 berdasarkan naskah Tuhfat al-Nafis yang disalin di Pulau Karimun oleh Alwi pada 1886. diwasiatkan A.L. Naskah ini disalin berdasarkan naskah milik YDM Riau pada 1896 di Pulau Penyengat untuk hadiah kenang-kenangan kepada A. Raja Ali Haji. naskah pada awalnya milik Raja Aziz bin Raja Kasim. tetapi naskah ini lebih enak dibaca. Menurut Saidin. Kedua. Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Tengku Ismail bin Tengku Su. Menurut Matheson. Naskah ini. Naskah ini tersimpan di Koninklijk Instituut voor Taa-. tempat naskah tersebut ditulis oleh pengarangnya. Residen Selangor 1889-1892.M. KITLV Or. Lan-ed Vol-Kenkunde (KITLV) pada tanggal 13 September 1903 di Leiden. Akan tetapi. Khalid Saidin kemudian memastikan bahwa naskah berjudul Sejarah Rajaraja Melayu dan Bugis ini adalah Tuhfat alNafis. MS 87. Johor. Residen Riau 1893-1896. Sultan Muhammad. 8554. naskah tidak diketahu secara pasti. Naskah miliki Dr. yaitu naskah miliki Hasselt. menurut Matheson. naskah miliki Tengku Fatimah binti Sultan Abu Bakar. A. naskah milik A. beserta sejumlah naskah lain miliknya. Kelima. diserahkan W. latar belakang peroleh naskah ini tidak begitu jelas. dan tersimpan di perpustakaan Dewan Bahawa dan Pustaka. Ringkes. Keenam naskah Tuhfat al-Nafis tersebut di atas dapat diklasifikasi ke dalam dua versi. Kemudian. Menurut Matheson. sementara yang lainnya tergolong dalam versi panjang. Naskah Tuhfat al-Nafis ini dipinjam oleh Sir Richard Winstedt ketika menjabat sebagai Penasehat Umum Sultan/ Kerajaan Johor pada 1931. tidak satu pun naskah yang diperoleh dari Pulau Penyengat.L. naskah milik Sir Willian E. Naskah ini salin oleh Syamsuddin bin Imam Musa di Perak pada 1890 untuk diberikan kepada W. naskah ini relatif mirip naskah Maxwell 2. kemungkinan naskah tersebut diperoleh dalam kapasitasnya sebagai Ketua Balai Pustaka di Batavia dan minatnya yang begitu besar terhadap teks Melayu. Untuk naskah versi pendeknya hanya ada satu. Naskah ini tersimpan di Royal Asiatic Society London. Ringkes juga memiliki minat cukup kuat terhadap kajian keislaman dengan penelitian disertasi doktor tentang Abd Rauf al-Singkili.E. kira-kira sebelum 1927. di mana naskah milik Tengku Fatimah ini tersimpan. Winstedt menerbitkan naskah dalam hurup Jawi dan dimuat secara utuh dalam JMBRAS pada 1932. ketua Balai Pustaka (1917-1927). Sementara itu. Padahal sejumlah sumber/ data menyebutkan bahwa pada akhir . Kemudian naskah ini dan sejumlah naskah lain miliknya. Cod. Ringkes kembali ke Belanda dan menyerahkan naskah ini kepada Perspustakaan Universitas Leiden. Naskah yang tergolong cukup tua ini (1877) berjudul Sejarah Rajaraja Melayu dan Bugis dan pertama kali diulas dalam Dewan Bahasa (1971). menurut Matheson. di Terengganau. Ketiga. Maxwell 2. Setahun kemudian. Lan-ed Vol-Kenkunde. Keempat. Hasselt. naskah yang ditemukan oleh Y. Dari keenam naskah Tuhfat al-Nafis yang mampu diidentifikasi hingga saat ini. Keenam. tetapi kemungkinan di perpusatakaan Sultan Johor. Maxwell kepada pada perpustakaan Royal Asiatic Society di London. Hasselt untuk dihadiahkan kepada dan diterima perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taa-. Hasselt yang telah berakhir masa tugasnya sebagai Residen di Riau. Maxwell.E.

mulai mendapat perhatian dari para sarjana. memberikan apresiasi terhadap Tuhfat al-Nafis sebagai “karya sejarah Melayu yang paling penting sesudah kitab Sejarah Melayu” karya Tun Sri Lanang. C. Sebelum kemerdekaan. yaitu pada “Pendahuluan” dalam Tuhfat alNafis. Hikayat Hang Tua. Penilain dan pengakuan tersebut. “A Malay History of Riau Johor” dalam JMBRAS pada 1932. Matheson memberikan penilain dan pengakuan terhadap “karya agung” Raja Ali Haji. Riau dan Selangor kalau buku ini tidak digunakan karena bukan saja pengarang-nya telah dapat mengkaji bahan2 yang tiada lagi pada masa ini tetapi Raja Ali Haji ialah seorang Melayu. cucu Raja Ali Haji. mislanya datang dari Zainal Abidin bin A. karya Raja Ali Haji. misalnya dari P. diduga kuat disebabkan musnah terbakar bersama-sama naskah-naskah lainnya milik Raja Haji Abdullah. Amin Sweeny. Wahid. Tuhfat al-Nafis selanjutnya dialih-aksarakan oleh Inche Munir bin Ali ke dalam hurup Latin. menurut Matheson. Pertama. Setelah diterbitkan dalam huruf Latin. L. dan persuratan intelektual Melayu-Riau umumnya.” Setelah itu. Tuhfat al-Nafis. Selanjutnya. Critically Examined. teks ini tidak digunakan di sekolah sebagai teks wajib. menerbitkan Tuhfat al-Nafis dari berbagi versinya. Winstedt dalam karya magnum opus-nya. ia menulis: Oleh itu. di saat rumahnya dilalap api pada 1924. beliau juga hidup hampir sa-masa dengan sa-bahagian besar daripada sejarah yang ditulisnya. Dari segi kronologis. ketika ia melakukan penelitian disertasinya. A History of Classical Malay Literature pada 1939. Tuhfat al-Nafis kurang diketahui dan dikaji pada abad ini. Tuhfat al-Nafis meliputi peristiwa dengan rentang waktu dari awal abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19 (atau . berjudul: “Tuhfat al-Nafis (the Precious Gift): A Nineteenth Century Malay History. Raja Ali Haji. dan dengan kesadaran bahwa karya ini merupakan kemuncak yang gemiling dalam penyataan pemikiran dan kebudayaan Melayu.L. konsepsi sejarah karya ini jauh lebih luas dan mendalam dibanding dengan sejarah-sejarah Melayu lainnya. Rasa-rasanya tidaklah sempurna bagi seorang itu penulis serajah negeri2 Melayu. lagi-lagi menurut Matheson.abad ke-19 masih dapat ditemukan di Pulau Penyengat. Tuhfat al-Nafis semakin mendapat perhatian dan penilaian serta pengakuan dari sejumlah sarjana dan penelitia sebagai buku sejarah yang teramat penting untuk pengkajian sejarah Melayu dan masyarakatnya. Baru setelah itu. yang bertahun-tahun ia geluti. Meskipun demikian. Tambah lagi. Walaupun begitu. kalau Tuhfat al-Nafis ini dianggap sa-bagai sa-buah sejarah yang sangat penting dalam pengkajian Alam Melayu di-kurun yang ke-18 hingga kapertengahan kurun ke-19. Hilangnya naskah Tuhfat al-Nafis di Pulau Penyengat. Penilain dan Pengakuan Sarjana Atas Tuhfat al-Nafis Tuhfat al-Nafis kali pertama diterbitkan dalam huruf Jawi secara utuh dan diberikan ringkasan dalam bahasa Inggris oleh Winstedt. Hikayat Abdullah. Selanjutnya. R. tidak-lah rasanya-terlalu. dan diterbitkan pada tahun 1965 di Singapura. bahwa Tuhfat alNafis merupakan karya agung segaligus menjadi ciri khas yang membedakannya dengan teksteks historis lainnya. misalnya Sejarah Melayu. Begitu pula. demikian: Karya agung Tuhfat al-Nafis ini ialah karya sejarah Melayu yang paling komplek dan canggih antara semua karya Melayu yang dikarang sebelum abad kedua puluh. van Hasselt disalin berdasarkan naskah milik YDM Riau pada saat itu. dan selanjutnya ia benar-banar menjadi seorang sarjana paling otoritatif dan produktif dalam mengulas Tuhfat alNafis khususnya. Virginia Matheson Hooker. perhatian dan penelitian terhadap Tuhfat al-Nafis mencapai puncaknya pada Virginia Matheson. anak Melayu memabaca naskah pilihan daripada karya sejarah Melayu yang lain. dengan artikata Melayu umum. barangkali karena pada zaman penjajahan Inggris. terutama Johor. Penerbitan Tuhfat al-Nafis ini. Ada beberapa argumentasi untuk menunjukkan. Tuhfat al-Nafis. misalnya data yang mengungkap bahwa naskah milik A. akan membangkitkan lagi kebanggaan terhadap kejayaan penulisnya.

dalam Tuhfat al-Nafis. teknik penyusunan yang cermat dan pendekatan sistimatis. Bab pertama memberikan gambaran meneyeluruh terhadap bab berikutnya melalui silsisilah lengkap nama-nama figur yang akan diulas pada bab kedua. Tuhfat al-Nafis dikatakan karya agung karena gaya bahasa dan isinya mudah dibaca. tetapi ini tidak membingungkan karena “senerai kandungan” sudah diberikan pada bab pertama. dan cerita tentang pertempuran Raja Kecik dengan Bugis yang terjadi laut serta termasuk konflik antara orang-orang Melayu dan Bugis. seperti sumber Siarah Siak atau Siarah Pontianak. tetapi juga mencakup daerah lain. ia menceritkan peristwa-peristiwa lainnya. Begitu pula.hingga memasuki zaman modern). Begitu pulu. merupakan keutamaan Tuhfat al-Nafis yang luar biasa. dari segi histriografi. Meskipun banyak “watak” yang termasuk dalam sejarah ini. ia mempergunakan prinsif kronologis yang multi locus atau tidak mencertikan suatu peristiwa dalam satu lokasi georafis dari awal hingga akhir. menarik untuk diikuti kisah perjalanan pengarangnya yang bertolak ke Timar Tengah untuk menunaikan Ibadan haji di Mekkah dan Madinah. menurut Raja Ali Haji. Kedah dan Terangganau. Maka tidak jarang ia menolak atau meninggalkan sember sejarah yang benar-benar tidak bersifat sejarah untuk dimasukan dalam Tuhfat al-Nafis. Raja Ali Haji mensintesakan antara tradisi Melayu dan tradisi Islam. Artinya Raja Ali Haji meneyebutkan dengan jelas sumber-sumber refrensinya. sumber rujukan yang dapat dipercaya adalah yang memiliki atau menyebutkan tahun-tahun peristiwa-peristiwa itu terjadi. dari segi bahasa. di Siak atau Pontianak dalam kurun waktu yang sama secara simultan dengan merujuk kepada sumber-sember tempatan. ditemukan kisah tentang wanita yang mempunyai daya tarik agung. apabila sumber rujukannya bersifat mitos. filsafat dan historiografi. Kadiah tersebut adalah bahwa ia sangat kritis terhadap kebenaran dan keabsahan sember rujukan yang dipergunakannya. Sebaliknya. serta Selangor. Dan yang lebih penting laigi. Siak (daratan dan pesisir Sumatera Timur). dan walaupun interaksinya sangat rumit pada bab kedua. dalam menulis Tuhfat alNafis. teliti dan sistimatis. karena konsepsi serta cakupan ruang dan waktu yang begitu luas. entah tidak. ia juga menyebut beberapa peristiwa pada zaman Sriwijaya dan Malaka. Misalnya. gambaran tentang kehidupan seherihari di Pulau Penyengat sebagai pusat peradaban dan pemerintahan YDM pada abad ke-19. Raja Ali Haji merancang teknik penyampaian naratifnya dengan baik. Kadiah yang lainya. Sehingga dalam menerapkan prinsif-prinsif dan kaidah-kaidah historigrafi Islam. Gaya bahasanya adalah gaya bahasa Melayu murni dengan tambahan dari bahasa Arab. Tuhfat al-Nafis mendiskripsikan tidak saja hubungan antara orang Melayu dan Bugis di kerajaan Melayu RiauLingga-Lingga yang berdomisili di Kepuluan Riau dan Semananjung Melayu. Tidak dapat dinafikan bahwa kaidah historiografi Islam sangat mempegaruhi Raja Ali Haji. Untuk itu. dan sebagai latar belakang. seperti Kalimantan Barat. cerita tentang perlawanan Raja Haji yang heriok dalam perang melawan Belanda di Malaka. Keempat. tetapi juga menyatakan keyakinan dengan menerapkan hujah teologi dan etika dalam narasinya tentang kisah-kisah raja-raja Melayu dan Bugis. seolah-olah . seperti Tengku Tengan dan Engku Putri. Dengan membaca Tuhfat al-Nafis. misalnya. peristiwa yang terjadi di Riau. Kedua. Raja Ali Haji membagi dua bukunaya ini dalam dua bab. Misalnya. dan mengasyikan untuk terus mengikuti narasinya. ia tidak saja melahirkan efik sejarah. terkadang ada beberapa rujukan peristiwa terjadi di Batavia. Raja Ali Haji membangun kadiah baru dalam menceritkan sejarah peristiwa masa lalu. Ketiga. kisah perjalanan Raja Ahmad dan rombongan yang mengunjugi pulau Jawa (Batavia dan Semarang) yang terjadi beberapa kali. Dari segi geografis. ia sering mengatakan “entah sacan kaul percatan itu. Kelima. ia menganut kaidah historiogafi Islam bahwa sejarah haruslah berdasarkan fakta. atau kisah Sultan Mahmud yang lebih mengutakan hidup berfoya-foya di Singapura daripada menjalankan pentadbiran kerajaan di Lingga.

Penulisan sejarah semacam ini. Maka Virginia Matheson benar ketika mengatakan bahwa Tuhfat al-Nafis.” Motif dalam menulis semacam ini tidak ia warisi dari tradisi historiografi Melayu sebelumnya yang menulis atas dorongan oleh pihak lain. Kekurangan penulisan Tuhfat al-Nafis tampak ketika Raja Ali Haji masih mempercayai dan mencantumkan beberapa mitos dalam karya tersebut. Sumber-sumber yang digunakan itu diterangkan secara eksplisit. penggunaan tarikh secara terperinci yang akurat dan meyakinkan. sebagaimana akan utarakan berikutnya. Raja Ali Haji telah melakukan beberapa langka maju yang “memecahkan” tradisi penulisan historiografi Melayu. kemudian ia tidak lupa memberikan pandangan dan penilaiannya: sahih atau tidak sahih. kata Hashim. sebagaimana tercermin dari judulnya. penegasan secara eksplisit kata “AKU” dalam narasi penulisannya yang mengindikasikan kemandirian kehendak kediriannya. hampir tidak dijumpai nada-nada memuji. khususnya penguasa yang menaunginya. merupakan hadiah yang teramat berharga bagi generasi yang datang setelahnya. Tuhfat al-Nafis tidak mampu lagi untuk diberikan komentar karena dipandang demikian bagus. Begitupun. disebut berlebihan karena Tuhfat al-Nafis sendiri bukan tanpa kekurangan. “… dan bangkitlah hatiku bahawa memperbuat kitab ini yang sempurna. Disebut kurang tepat karena. tidak pernah ditunjukkan oleh penulis historiografi Melayu sebelumnya. penggunaan sumber-sumber dilakukan Raja Ali Haji tidak hanya sumber-sumber naskah tertulis. Penggabungan ketiga jenis sumber ini. penggunaan sumber-sumber rujukan dengan cara yang kiritis. Kaedah penulisan Raja Ali Haji ini. Hamidi. Pertama. Bagi Hooykas. misalnya tentang asal usul raja-raja berasal dari keturunan Ratu Balkis dari Saba‟. kalau dilihat dari kacamata penulisan sejarah ilmiah dewasa ini. sepertinya. Hamidi dan Hooykas. Hamidi yang mengatakan bahwa Raja Ali Haji menulis sejarah tanpa tabir.U. kurang tepat dan berlebihan dalam memberikan komentar terhadap karya Raja Ali Haji tersebut.U. Raja Ali Haji sangat memuji-muji leluhurnya dari pihak Bugis. Tuhfat al-nafis diberikan seorang ilmuan/ ahli sejarah dari Malaysia. Keempat. Muhammad Yusoff Hashim lewat karyanya yang sangat otoritatif dan komprehensi dalam memotret alam Melayu. keterlibatan dan pengalaman pribadi semasa hidupnya. lengkap uraian yang diberikan oleh pengarangnya. Tuhfat al-Nafis padat dengan penggunaan data-data pentarikhan berawal sejak kira-kira 196 tahun sebelum masa pengarangnya. dan tentang peti janazah Raja Haji memancarkan api ketika mau dipindahkan dari Melaka ke Riau. layaknya penggunaan catatan kaki atau catatan bibliografi. Kendatipun ia sendiri berasal dari kalangan bangsawan. Penilaian tentang Tuhfat al-Nafis yang lainnya datang dari U. Malah Raja Ali Haji menulis dengan nada pedas terhadap beberapa sikap pembesar kerajaan yang dipandang menyimpang dari tanggungjawab. meskipun itu terjadai satu setengah abad yang lampau. Kedua. D. Sikap Raja Ali Haji Atas Sumber-sumber Tuhfat al-Nafis Dalam penulisan sejarah Raja Ali Haji mempergunakan tulisan-tulisan sejarah yang telah ada . ditulis secara terus terang. tentang mimpi Opu Daeng Manambung melihat zakar saudaranya Daeng Celak menjulur jadi naga dengan kepalanya menghadap ke Johor. tetapi diramunya dengan sumber-sumber lisan serta berdasarkan penglihatan. belum dilakukan sebelumnya. U. bahkan ia memberikan kritik. Penilaian positif terhadap Raja Ali Haji dan karyanya. menurut Hashim. Menurut Hashim. seperti yang dikutip oleh U. Penserajarah Melayu: Kajian Tentang Tradisi Sejarah Nusantara. Ketiga.U. menurut Hashim.pembaca terlibat dalam peristiwa-peristiwa tersebut.

Untuk penulisan Tuhfat al-Nafis misalnya. Perlakuannya terhadap teks yang disusun dari perspektif yang berbeda dengan perspektifnya tidak dikuti kata demi kata. mempergunakan sumber-sumber rujukan yang ada. salah satu keistimewaan Tuhfat al-Nafis dibandingkan dengan penulisan sejarah Melayu lainnya. Menurut Virginia Matheson. menurut Yusoff Hashim. menurut Al Azhar. sumber-sumber tersebut Raja Ali Haji dipilih dengan cermat untuk menekankan sudut pandang dalam penulisannya. Sumber rujukan Raja Ali Haji tersebut. Siarah Haji Kudi dan Tawarikh Tok Ngah. Bahkan teks-teks yang tidak sejalan dengan perspektifnya. Bahkan kalau teks-teks sejarah pro Bugis tersebut mengungkapan suatu peristiwa yang sama. Raja Ali Haji ada kalanya menyajikan dua atau lebih versi yang berbeda tentang suatu peristiwa. karena Raja Ali Haji menyebutkan sumber-sumber yang dijadikan rujukan. Ia juga menggunakan sumber informasi lisan dengan frase “kata orang tua” atau memori kolektif masyarakat yang meragukan dengan mencantum frase “konon”. Kalau pun data-data Siarah Siak dimasukkan dalam penulisan Tuhfat al-Nafis. Pada bagian lain ketika ia memaparkan sumber-sumber dengan versi yang berbeda atas suatu peristiwa. data-datanya pada bagian-bagian tertentu dirubah dan dimanipulasi oleh Raja Ali Haji agar sesuai dengan sudut pandangnya dalam penulisan Tuhfat al-Nafis. Siarah Selangor (Hikayat Negeri Johor) dan Sejarah Pihak Terengganau (Aturan Setia Bugis dengan Melayu) serta Siarah Siak (Hikayat Siak atau Sejarah Raja-Raja Melayu) yang diperoleh dari sanak saudaranya dalam kerajaan-kerajaan tersebut. wallahu‟alam. lantaran Siarah Siak bersifat anti Bugis. Dalam penulisan sejarahnya. Perlakuan Raja Ali Haji sangat kritis terhadap teks Siarah Siak bila dibandingkan dengan teksteks lainya yang pro Bugis. mengambil teks-teks yang paling mengangung kebesaran akan pihak Bugis. menurut Matheson. menurut Hashim. Mislanya. sepertinya belum pernah dilakukan dalam penulisan sejarah Melayu sebelumnya. ini menjadi satu alasan untuk menempatkan Raja Ali Haji sejajar dengan penulis sejarah modern. karena ada kesamaan dengan sudut pandanganya dalam penulisan Tuhfat alNafis. dan kalau perlu di lewatkannya saja. seperti Siarah Pontianak (Hikayat Opu Daeng Menambung). Artinya. Sikap dan pandangan Raja Ali Haji seperti ini. menurut Andaya.memberikan penilaian yang kurang simpatik . cucu Raja Haji ini. Raja Ali Haji sepertinya tidak saja ingin memberikan data-data “perbandingan”. tetapi sekaligus seolah-olah ia ingin memberikan peluang kepada para pembacanya untuk menilai kejujurannya dan penekanan terhadap arti penting episode yang dipaparkannya. entahkah mana yang terlebeh sah?” Sikap Raja Ali Haji semacam ini. ia bukan penulis tanpa berpikir dan hanya menyalin dari sumbernya. Raja Ali Haji terkadang tidak dapat/ mau menentukan salah satu di antara sumbersumbernya yang pailing sahih. merupakan teksteks yang bersudut pandang/ pro Bugis. menurut Muhammad Yusoff Hashim. menurut Andaya. adalah yang dua kaul itu pula. Raja Ali Haji juga menggunakan sumber perorangan seperti. ditolaknya mentah-mentah. ada kalanya. Bahkan tidak jarang Raja Ali Haji --penulis pribumi pertama yang yang menjadi Siarah Siak sebagai rujukan -. “Syahadan. Dalam pandangan Virginia Mathesen. Selain itu. khususnya terkait perseteruan antara pihak Bugis leluhurnya dengan Raja Kecil. menunjukkah bahwa ia berkerja sebagai seorang sarjana yang pendapat-pendapatnya dibentuk oleh sutu tujuan penulisan sejarahnya. Sikap dan pandangan Raja Ali Haji terhadapa sumber-sumbernya berbeda ketika menggunakan Siarah Siak sebagai teks rujukannya dalam penulisan Tufat al-Nafis. ia akan mengatakan. kemungkinan tidak begitu menjadi masalah baginya untuk digunakan. Raja Ali Haji akan memilih dan mengambil yang teks-teks yang paling menyudutkan musuh keluarga pihak Bugis dan/ atau sebaliknya. terkadang Raja Ali Haji menghindari memasukkan data-data dari Siarah Siak ke dalam penulisan Tuhfat al-Nafis. walaupun data-data itu memiliki kaitan. kecuali Siarah Siak. Meskipun begitu. Karennya.sebelumnya.

ia menyebut Siarah Siak sebagai “tiada bertarikh”. sangat disayangkan. apa lagi bulan dan harinya. mislanya ia menyebut “Raja Kecik sebagai raja yang garang dan pemberang”. Raja Ali Haji berbeda dengan penulis-penulis Melayu sebut. Raja Ali Haji menyebutkan secara perbandingan dengan kaedah yang diambil dan diterapkan dalam penulisan Tuhfat al-Nafis sedemikian objektif dan teliti. Kritik Raja Ali Haji terhadap Siarah Siak tertulis: Syahdan. “kurang sedap dibaca” atau “menyurat kurang selidik”. Tetapi yang pasti. khususnya dalam aktitifitas politik pemerintahan (penadbiran) dalam konteks sejarah Melayu dan Riau diberi “lebel dan kemasan” agama dan ilmu. Dan suratnya pun terlalu kopi. Dan ketelitian “waktu” adalah salah satu syarat untuk mengatakan sebuah penulisan karya sejarah modern. “Hai anak Heiwan”. Akan tetapi. Kendatipun demikian. Siarah Siak. Misa Melayu ditulis/ dikarang pada masa pemerintaan Sultan Iskandar Zulkarnain (1752-1765) di Kerajaan Perak. Ketelitiannya. Raja Ali Haji sebagai penulis sejarah berdasarkan fakta-fakta yang bertujuan menghabsahkan keberadaan dan kekuasaan . Raja Ali Haji dipandang sebagai pencatat sejarah Nusantara yang pertama. Demikianlah sangkaku. E. Hashim masih melihat bahwa Tuhfat al-Nafis masih memilik ciri-ciri penulisan secara tradisional. Raja Ali Haji: Tujuan dan Minat Atas Sejarah Penulisan sejarah yang bertujuan untuk mengabsahkan dan mengagungkan penguasa dan keturunannya telah dilakukan penulis-penulis Melayu sebelum Raja Ali Haji menulis Tuhfat alNafis maupun Silsilah Melayu dan Bugis. akan tetapi sejarah dan siarah Siak itu daripada awal hingga akhirnya tiada bertahun dan tiada bertarikh. Pandangan Raja Ali Haji dalam penulisan Tufhat al-Nafis kaitannya dengan sumber rujukannya. apakah dengan sengaja memperlihatkan kelemahan penulisan atau ia bersikap bias terhadap Siarah Siak. Dalam syair tersebut Raja Ali Haji mempergunakan katakata kasar penuh kebencian. Dan karangannya pun banyak kurang sedap dibaca. menurut Nur Dzai. Bustan al-Salatin ditulis/ dikarang pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1637-1641) di Kesultanan Aceh. sepertinya dilatarbelangi oleh sentimen subjektif masa lalu dan demi tanggung jawab moral untuk mengabsahkan keberadaan dan kekuasaan serta mengagungkan orangorang Bugis dan keturunannya. Dalam bidang sejarah. sebagaimana di uturan sebelumnya. akan tetapi aku terjumpa dengan siarah sebelah Siak.kepada Siarah Siak. Tambah pula. sebagaimana tercermin dari syair-syair yang digubahnya dalam Silasaha Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya. menurut Kratz. Benar dan ternafikkan. serta yang menurat pun kurang selidik pada mengisahkannya. Syed Muhammad Naquib al-Atas mengakui kalau Raja Ali Haji adalah penulis sejarah modern. Akan tetapi. kalau Raja Ali Haji penulis sejarah pertama dalam bahasa Melayu secara Modern. yang ia tuangkan dalam bentuk syair. Misalanya. dan memanggil orang Minangkabau dengan kalimat. mencatat tahun-tahun sejarah melebihi ketelitian Abdullah Munsyi. Sejarah Melayu ditulis/ dikarang pada masa Sultan Alauddin Ri‟ayat Syah (1597-1613) di Kerajaan Johor. sehingga tujuan penulisan sejarahnya tersampaikan dengan cernih dan gamblang. Sejalan dengan ini. sebab banyak berpindah-pindah agaknya daripada tangan seorang ke tangan seorang. Sikap kritis Raja Ali Haji terhadap Siarah Siak tidak tertalu jelas. Nurdin alRaniri. menurut Hashim. Sementara sikap Raja Ali Haji yang mengubah-suaikan dan apa lagi memanipulasi bagianbagian tertentu dari Siarah Siak menjadi masalah tersendiri dalam penulisan sejarah. ia lebih canggih dalam mengubah dan melakukan penyesuaian secara tersirat dan halus. pengesahan keberadaan orang-orang Bugus (nenek moyangnya). tiada sekali-kali aku bertemu. seperti Tun Sri Lanang. dan Raja Chulan. sikap dan pandangannya tersebut sewaktu-waktu berubah menjadi kebencian terhadap Raja Kecil dan orang-orang Minangkabau. meskipun ia tidak mengakui sebagai bantahan terhadap anggapan orang Barat.

tetapi juga sejarah/ peristiwa kontemporer di belahan dunia lain. sudah sewajarnya karena sejatinya leluhur Raja Ali Haji memang sudah mengukir prestasi membanggakan dalam bidang penadbiran di perairan Barat Nusantara. Bahkan Siti Hawa Salleh. Perhatian Raja Ali Haji terhadap Pertempuran Crimea menimbulkan pertanyaan. misalnya mekanisme pemilihan dan pengangkatan keempat Khalifah al-Rasyidun. Raja Ali Haji merinci bahwa di antara seribu orang sabahat ahl al-Uhud terdapat “… tiga ratus orang daripada sahabatnya yang munafik yakni pada zahirnya sahabat. tidak saja terhadap sejarah alam Melayu. Residen Belanda (1861-1870) di Riau. sebagaimana misalnya yang dilakukan oleh utusan Temenggong Abu Bakar dari Johor ketika menemui Raja Ali Haji. dan menurut riwayat lainya berjumlah seribu lima ratus orang sahabat. termasuk sejarah nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad. Abdullah ibn Ma‟sud. Abu Salamah. misalanya Raja Ali Haji menyebutkan sejumlah ulama besar yang berperan dalam masa formatif berbagai cabang ilmu pengetahuan dalam Islam. merupakan salah satu sifat manusiawi yang melekat padanya. ilmu Kalam. Pengabsahan dan pengagungan terhadap Bugis leluhurnya yang tetap dalam bingkai rasa kebangsaan/ kemelayuan itu. khususnya tentang “sejarah dan Siarah. termasuk umpamanya upaya khalifah Umar ibn Khattab menyebarkan Islam dengan menaklukkan Persia dan Syam. seperti Tafsir. menurut Siti Hawa. Sahabat-sahabat………… Pada era tabi‟in dan tabi‟in al-tabi‟in serta sesudahnya. Pada era kenabian. Raja Ali Haji cukup mengetahui tantang pengangkatan dan perjuangan Nabi Muhammad dalam mengembang misi keislaman. menurut Al Azhar. Begitu pula. meskipun pada waktu itu semakin menunjukkan kemerosatan kekuasaannya. Hadis. Tasawuf. sebagaimana dilaporkan oleh Eliza Netscher. misalnya dalam perang Badr terdapat 313 sahabat ahl al-Badr dan dalam perang Uhud terdapat 1000 (seribu) orang sahabat ahl al-Uhud sebagai “junddu Allah fi al Ardh”. menurut satu riwayat kata Raja Ali Haji. Raja Ali Haji menempati kedudukan yang tinggi dalam pada tataran historiografi Melayu tradisonal. karena Pertempuran Criema berhubungan langsung dangan kerjaan Turki Usmani yang. Raja Ali Haji telah pula mengukir prestasi mulia dalam bidang persuratan intelektual di Alam Melayu.” Raja Ali Haji menyebutkan bahwa sahabat munafik ini di bawah pimpinan Abdullah ibn Abi Saul. khususnya Nabi Isa. dalam melihat kepawaian penulisan sejarah. pada bathinnya seteru jua. Raja Ali Haji menyebutkan sejumlah nama ulama. dan Fiqh. sebagaimana di sebutkan dalam Tsamarat alMuhimmah. menganugrahkan gelar “pengarang agong” kepada Raja Ali Haji bersama-sama dengan Raja Chulan dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. seperti “Pertempuran Crimen”. Imam Asy‟ari.orang-orang Bugis di dunia Melayu. undang-undang dan aturan kerajaan”. yaitu Abdullah bin Abbas. Pengetahuan Raja Ali Haji tentang sejarah Islam klasik juga cukup mumpuni. Apa latar belakang dan motovifasi Raja Ali Haji. sehingga mengikuti perkembangan Pertempuran Crimea dengan seksama? Jawabanya. ia juga mengetahui sejarah perjuangan para khalifah al-Rasyidun dalam menyebarkan Islam. sebanyak seribu empat ratus. Kasim bin Muhammad bin Sidiq al-Akbar. Raja Ali Haji menuturkan tentang sirah Nabi Muhammad dari masa kandungan hingga hijrah ke Madinah dalam Syair Mustika Alam.” Pada era Khalifah al-Rasyidun juga diketahui Raja Ali Haji. Perhatian dan minat Raja Ali Haji terhadap sejarah memang cukup besar. Said bin Masa‟ib. menurut Al Azhar. Imam Ja‟fat al-Shadiq. Sementara untuk dirinya sendiri. Untuk itu. Penilian Siti Hawa Salleh di atas tidak berlebihan. sebagaimana terlihat dalam Tuhfat al-Nafis. Sufran . pada masa hidupnya saja Raja Ali Haji sudah dipandang sebagai pakar dan menjadi tempat orang merujuk dan bertanya berbagai hal. merupakan satu-satu kerjaan Islam yang dapat diharapkan sebagai “benteng terakhir” Dunia Islam dalam menghadapi hegemoni Dunia Barat yang mulai bangkit pada waktu itu. Lebih dari itu. seperti dikutip Al Azhar. Sahabat Nabi Muhammad secara umum yang kategorikan sebagai ahl al-bait al-ridhawan jumlahnya.

Raja Ali Haji memberikan nasehat kepada Abu Bakar supaya membaca. Kencenderungan dan minat yang besar terhadap sejarah. Salah seorang cucunya. adat istiadat Kerajaan Melayu dan lainnya. seperti katanya: “Syahadan di-belakang ini kelak siapa2 daripada anak chucho-ku hendak menghubongkan-nya siarah ini. Menurut pengakuan utusan Temenggung Abu Bakar bahwa mereka sempat membaca beberapa naskah sejarah dari koleksi Raja Ali Haji tersebut. al-Ghazali. sebagaimana tercermin dari judulnya. dan lain-lainnya. Bahkan ketika utusan rombongan Temenggong Abu Bakar mau pulang ke Johor. Abu Kasim ibn Muhammad al-Junaid. misalnya terlihat dari koleksi sejumlah naskah/ buku dari berbagai disiplin ilmu. “sejarah dan siarah karangan aku dari awalnya hingga akhirnya dan perhatikan baik-baik”. akan tetapi dengan jalan patut dan dengan „ibarat perkataan yang wadha‟ dan sah serta atoran yang patut serta benar supaya terpakai…. Karya sejarah Raja Khalid Hitam ini di antaranya berisi tentang Perjanjian antara Kerajaan Riau-Lingga dengan Gubernur Belanda di Batavia.” Harapan ini Raja Ali Haji agar di antara anak-cucunya meneruskan tradisi penulisan sejarah terwujud sepeninggalannya. F. menulis Kitab Tsamarât al-Matlub fi Anwr al-Qulûb. Penutup Dalam buku catatan harian utusan Temenggong Abu Bakar ke Kerajaan Riau pada tahun 1868. Tuhfat al-Nafis. Untuk itu. Imam Maliki. karya Raja Khalid Hitam diselenggarakan oleh A. termasuk naskah/buku tentang sejarah yang tersimpan di rumahnya.diduga kuat termasuk karangannya sendiri. Samad Ahmad dari Malaysia. Raja Khalid bin Raja Hassan (atau lebih dikeânal dengan nama Raja Khalid Hitam). Akhirnya. termasuk juga buku sejarah kejayaan kerajaan RiauLingga pada masa lalu. Imam Hambali dan Imam Syafi‟i serta Imam Haramain dan tidak tak terkeculai Imam Hujjah al-Islam. Tuhfat al-Nafis bagi generasi berikutnya. Imam Hanafi. . Raja Ali Haji meminjamkan dan menghadiahkan beberapa naskah. Belakangan. maka patut-lah. Di antara naskah-naskah milik Raja Ali Haji yang pinjamkan --dan menurut Raja Ali Haji sampai dua tahun naskah sejarah tersebut tidak dikembali-. Raja Ali Haji berharap kepada anak cucunya. “maka patut -lah” melanjutkan penulisan Tuhfat al-Nafis.al-Tsauri. Raja Ali Haji berharap kepada anak-cucunya agar juga memberikan “hadih berharga” kepada generasi berikutnya. Anjuran Raja Ali Haji ini mununjukkan kalau ia mengaggap karya sejarahnya sebagai “hadiah berharga”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful