You are on page 1of 5

ASUHAN GAWAT DARURAT PADA MATA (TRAUMA MATA)

Diposkan oleh Bayu on Minggu, 07 November 2010 Label: Keperawatan A. PENGERTIAN Kedaruratan mata adalah sikap keadaan yang mengancam tajam penglihatan seseorang berupa penurunan tajam penglihatan sampai terjadinya kebutaan (Roper- hall, 1990, FI UI 1982, perhimpunan indonesia 1994). Klasifikasi : Berdasarkan konsep penanganan masalah gawat darurat maka kedaruratan mata dapat dikelompokkan menjadi beberapa keadaan : 1. Sight threatening condition Dalam situasi ini mata akan mengalami kebutaan atau cacat yang menetap dengan penurunan penglihatan yang berat dalam waktu beberapa detik sampai beberapa menit saja bila tidak segera mendapatkan pertolongan yang tepat. Cedera mata akibat bahan kimia basa (alkali) termasuk dalam keadaan ini. Oklusi arteria sentralis retina merupakan keadaan bukan trauma yang termasuk dalam kelompok ini. 2. Mayor condition Dalam situasi ini pertolongan harus diberikan tetapi dengan batasan waktu yang lebih longgar, dapat beberapa jam sampai beberapa hari. Bila pertolongan tidak diberikan maka penderita akan mengalami hal yang sama seperti disebutkan pada sight threatening condition.

3. Monitor condition Situasi ini tidak akan menimbulkan kebutaan meskipun mungkin menimbulkan suatu penderitaan subyektif pada pasien bila terabaikan pasien mungkin dapat masuk kedalam keadaan mayor condition B. ETIOLOGI Kedaruratan mata dapat terjadi karena dua hal : 1. Tidak ada hubungannya denga trauma mata, misalnya : glaukoma akuta oklusi arteria sentralis retina 2. Disebabkan trauma Ada 2 macam trauma yang dapat mempengaruhi mata, yaitu: trauma langsung terhadap mata trauma tidak langsung, dengan akibat pada mata, misalnya - trauma kepala dengan kebutaan mendadak - trauma dada dengan akibat kelainan pada retina Pembagian sebab-sebab trauma langsung terhadap mata adalah sbb: 1. Trauma mekanik a. Trauma tajam Biasanya mengenai struktur diluar bola mata (tulang orbita dan kelopak mata) dan mengenai bola mata (ruptura konjungtifa, ruptura kornea) b. Trauma tumpul Fraktura dasar orbita ditandai enoftalmus. Dapat terjadi kebutaan pasca trauma tumpul pada orbita. Hematoma palpebra biasanya dibatasi oleh rima orbita, selalu dipikirkan cedera pada

sinus paranasal. c. Trauma ledakan/ tembakan Ada 3 hal yang terjadi, yaitu : - Tekanan udara yang berubah - Korpus alineum yang dilontarkan kearah mata yang dapat bersifat mekanik maupun zat kimia tertentu - Perubahan suhu/ termis 2. Trauma non mekanik a. Trauma kimia Dibedakan menjadi 2, trauma oleh zat yang bersifat asam dan trauma yang bersifat basa. b. Trauma termik Trauma ini disebabkan seperti panas, umpamanya percikan besi cair, diperlukan sama seperti trauma kimia c. Trauma radiasi Trauma radiasi disebabkan oleh inframerah dan ultraviolet C. MANIFESTASI KLINIS Adapun manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut: lembam oedema nyeri lakrimasi adanya benda asing pupil bergeser (T10 meningkat) adanya zat kimia perubahan visus D. KOMPLIKASI 1. Mengancam penglihatan glaukoma kronik perdarahan vitreus eksoftalmus unilateral kelainan saraf 2. kerusakan permanen benda asing (kornea atau intra okuler) Abrasi kornea Laserasi bola mata Infeksi konjungifitis berat, selulitis orbita Penyumbatan arteri Pengelupasan retina Ensoftalmus E. PENATALAKSANAAN 1. Trauma oftalmik jangan lakukan penekanan Bila ada kecurigaan adanya laserasi, cedera tembus, ruptur bola mata penekanan dapat diakibatkan ekstrusi isi intraokule dan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki letakkan ibu jari dan jari telunjuk pada atas dan bawah orbita robekan kelopak mata 2. Cedera bola mata

Hindari manipulasi mata sampai saat perdarahan Pasang balutan ringan (tanpa tekanan) dan perisai logam yang bersandar pada tulang orbita diplester kedahi dan pipi jaga jarak bola mata minimal Pembalutan bilateral antibiotik, analgesik, anti tetanus dll Kolaborasi Bila ruptur bola mata sudah teratasi periksakan struktur lain dapat dilakukan penjahitan Laserasi kelopak mata 3. Benda asing Benda asing tidak menembus dibawah kelopak mata atas sehingga memungkinkan kelopak mata bawah menyapu benda asing untuk keluar Angkat kelopak mata atas keatas kelopak mata bawah hati-hati jangan sentuh kornea Lakukan irigasi rujuk tutup mata jika benda asing gagal keluar irigasi benda asing supervisial kornea pembedahan benda asing tertanam alat berujung tumpul hindari gunakan aplikator beraujung kapas karena dapat bergesek epitel terlalu banyak ambil benda asing 4. Abrasi kornea mengimobilisasi kelopak mata Beri balut tekan mata Kolaborasi pemberian antibiotik, anastesi, dll terlambat penyembuhan Monitor efeki anastesi untuk abrasi ekstensif berlapisan bagian 24 jamPembalutan sebelah penyembuhan tanpa jaringan parut (24 s/d 48 jam)bawah tidak terkena Monitor epitelisasi dan penyembuhan 5. Luka bakar kimia Irigasi segera dengan air bersih atau larutan NaCl Cuci mata dibawah aliran air keran mengejap-ngejapkan mata Memasukkan mata kedalam air Bilas terus selama 20 mnt atau sampai bersih kolaborasi Lain-lain Balut mata bilateral 6. Ruptur bola mata Jangan buat bahaya atau cedera lain pasang perisai hindari manipulasi gunakan spekulum mata saat pemeriksaan mata > tekanan vertikal bukan kedepan Jangan beri tetes mata Tutup dan lindungi bola mata 7. Trauma tumpul kompres es, istirahatkan Kontusio orbita bedah kamera posisi tegak, dan isrirahatkan mata. Kolaborasikan Hifema anterior penurunan dosisanemia sel sabit dan penggunaan obat anti koagulan waspadai F. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pemeriksaan fisik Inspeksi : Infeksi palpebra lebih teliti bagi memar/ laserasi Periksa mata bagi cedera Periksa kornea bagi laserasi/ kekeruhan Inspeksi iris Lihat kedalam pupil Periksa konjungtifa dan sklera dalam tiap kuadran 2. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan lapang panjang Pemeriksaan oftalmoskopi untuk melihat mata Pemeriksaan neurologi/ syaraf-syaraf pada mata G. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri B.D cidera, inkontinuitas jaringan, peningkatan tekanan intra okuler 2. Resiko perdarahan B.D kerusakan pembukuh darah mata sekunder terhadap trauma mata, peningkatan tekanan intraokuler,.... 3. Cemas B.D gangguan penglihatan dan gangguan anatomi 4. Perubahan sensori visual B.D trauma okuler, penyakit infeksi, penyakit struktur mata 5. Kurangnya pengetahuan tentang prosedur operasi B.D misperseption, kuragnya mengenal sumber-sumber informasi H. INTERVENSI 1. Untuk diagnosa 1 Pasang balutan mata cukup terang Atur pencahayaan Anjurkan untuk tidak melihat TV, membaca kacamata gelap Anjurkan istirahatkan mata atau turunkan TI0 Anjurkan tidak lakukan gerakan tiba-tiba mengejan, angkat berat, (hindari gerakan valsava manauver) Kolaborasi 2. Untuk diagnosa 2 fiksasi tidak terlalu ketat Pasang balutan mata Kompres dingin Hindari gerakan valsava manauver Kolaborasi..... 3. Untuk diagnosa 3 bersama dokter Beri informasi hasil pemeriksaan fisik, rencana lanjut pengobatan dan perawatan serta efeknya 4. Untuk diagnosa 4 Beri penjelasan terkait penurunan visus Orientasikan ruangan Kolaborasi.. 5. Untuk diagnosa 5 Beri informasi tentang perioperatif care (pre operasi, intra operasi, pasca operasi) persiapan op terkait anastesi spt puasa, lavement pembatasan aktivitas, pemasangan tameng mata pasca operasi untuk jangka wakru tertentu.

DAFTAR PUSTAKA 1. Penanggulangan penderita gawat darurat. 1994. Jakarta; AKPER Muhammadiyah Semarang 2. Tjokronegoro, Arjatmo. 1995. Kedaruratan dan kegawatan medik. Jakarta ; FKUL 3. Roper, Michael J. 1987. kedaruratan mata. Jakarta ; Hipokrates 4. Karimudin. 1986. pedoman pertolongan pertama pada kecelakaan . Jakarta; Teragung