INTEGRATED WAYFINDING DESIGN (ARCHITECTURE AND GRAPHIC

)
/ DESAIN UNTUK MENEMUKAN JALAN YANG TERINTEGRASI (ARSITEKTUR DAN GRAFIS)
SEMESTER 5 (DLM BHS INGGRIS/ IN ENGLISH) Prepared by : Gunawan Tanuwidjaja, ST., M.Sc.

COURSE 4 – ASPECTS OF INTEGRATED WAYFINDING DESIGN
(ASPEK – ASPEK DESAIN MENEMUKAN JALAN YANG TERINTEGRASI)
Prepared by : Gunawan Tanuwidjaja, ST., M.Sc.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Definition Wayfinding could be defined as ability to find way to a certain location Meanwhile, the Spatial Orientation is the ability of individual to understand the space and located him/herself within the space. Sometimes the individual could not determine his/her location but could find the way to the final destination. (Passini, R. 1984). Definisi Wayfinding dapat dididefinisikan sebagai kemampuan untuk menemukan jalan menuju suatu lokasi. Sedangkan Spatial Orientation adalah kemampuan seorang individu untuk memahami ruang di sekitarnya dan meletakkan dirinya. Seringkali individu tidak dapat menentukan posisinya dalam lingkungan tetapi dapat menemukan jalan ke sebuah lokasi. (Passini, R. 1984).

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Important Aspects of Wayfinding (Hunter, S., 2010a): Legibility of space: Ease of user in organizing visual information in a space into a coherent basis for action. Boundary: The separation between interior and exterior space. Clear articulation: Easily identified spaces, demarcated by shape, color, arrangement, or signage. Aspek – Aspek Penting Menemukan Jalan (Hunter, S., (2010): Keterbacaan ruang: Kemudahan pengguna dalam mengorganisir informasi visual dalam ruang menjadi dasar yang koheren untuk bertindak. Batasan: Pemisahan antara interior dan ruang eksterior. Jelas artikulasi: spasi Mudah diidentifikasi, dibatasi oleh bentuk, warna, pengaturan, atau signage.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Important Aspects of Wayfinding (Hunter, S., 2010a): Coherent grouping: Spaces that are well organized according to function or as destination zones. Legible circulation systems. User paths that are intuitively perceptible and lead the user to well defined decision points. Aspek – Aspek Penting Menemukan Jalan (Hunter, S., (2010): Pengelompokan yang koheren: Ruang-ruang yang terorganisasi dengan baik sesuai dengan fungsinya atau sebagai zona tujuan. Terbaca sistem sirkulasi. Pengguna jalan yang intuitif jelas dan mengarahkan pengguna ke didefinisikan dengan baik poin keputusan.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Important Aspects of Wayfinding (Hunter, S., 2010a): Integrated communication systems. Environmental graphics and signage that are well placed and underscore wayfinding messages in the built environment. Aspek – Aspek Penting Menemukan Jalan (Hunter, S., (2010): Sistem komunikasi yang terintegrasi. Grafis lingkungan dan signage yang baik ditempatkan dan menggarisbawahi pesan wayfinding dalam lingkungan dibangun.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Architectural Wayfinding Components (Arthur and Passini, 1992).
Objectives (Tujuan) Clear articulation and coherent grouping of exterior and interior spaces (Artikulasi yang jelas dan kesatuan pengelompokan ruang luar dan ruang interior)

Komponen Menemukan Jalan Secara Arsitektur (Arthur dan Passini, 1992).
Elements (Elemen – Elemen) Landscaping, berming(Taman, tanggul) Roadways, entrances/exits(Jalan– jalan kendaraan, pintu – pintu masuk dan keluar) Pedestrian routes sidewalks, pathways(Jalur – jalur pejalan kaki di sisi jalan dan jalur terpisah)

Components (Komponen - Komponen) Shaping site and setting (Pembentukkan site dan kondisinya)

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Sample of Wayfinding Design (Hunter, S., 2010a),Shaping Setting and Site - National Assembly Building Dhaka, Bangladesh

Contoh Desain Menemukan Jalan (Hunter, S., (2010), Membentuk Setting dan Tapak - Gedung Majelis Nasional Dhaka, Bangladesh

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Sample of Wayfinding Design (Hunter, S., 2010a),Shaping Setting and Site - National Assembly Building Dhaka, Bangladesh

Contoh Desain Menemukan Jalan (Hunter, S., 2010a), Membentuk Setting dan Tapak - Gedung Majelis Nasional Dhaka, Bangladesh

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Architectural Wayfinding Components (Arthur and Passini, 1992).
Objectives (Tujuan)

Komponen Menemukan Jalan Secara Arsitektur (Arthur dan Passini, 1992).
Elements (Elemen – Elemen)
Building Form(Bentuk Bangunan) Building volumes(Ukuran – ukuran bangunan) Physical separation or clustering of components(Permisahan secara fisik atau pengelompokkan komponen - komponen) Roof design (Desain Atap) Placement of openings(Penempatan bukaan) Cladding (skin) - textures, materials,colors(Selubung bangunan – berbagai tekstur, material, warna) Decoration, ornamentation (Dekorasi dan ornamentasi)

Components (Komponen - Komponen)

Clear articulation and coherent Building form and architectural grouping of exterior and interior spaces features (Artikulasi yang jelas dan kesatuan (Bentuk bangunan dan bagian – pengelompokan ruang luar dan ruang bagian arsitektur yang khusus) interior)

Introduction to Wayfinding Design
Sample of Wayfinding Design (Hunter, S., 2010a), Building Form - The Neuroscience Building La Jolla, California

Contoh Desain Menemukan Jalan (Hunter, S., 2010a), Bentuk Bangunan - Gedung Neuroscience La Jolla, California

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Architectural Wayfinding Components (Arthur and Passini, 1992).
Objectives (Tujuan) Clear articulation and coherent grouping of exterior and interior spaces (Artikulasi yang jelas dan kesatuan pengelompokan ruang luar dan ruang interior)

Komponen Menemukan Jalan Secara Arsitektur (Arthur dan Passini, 1992).
Elements (Elemen – Elemen) Programmatic organization(Organisasi program ruang) Defining spatial units (Definisi unit – unit ruang) Defining destination zones(Definisi zona tujuan) Interior design (Desain interior)

Components (Komponen - Komponen) Articulating interior spaces (Artikulasi ruang interior)

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Sample of Wayfinding Design (Hunter, S., 2010a), Legible circulation systems - Guggenheim Museum New York City

Contoh Desain Menemukan Jalan (Hunter, S., 2010a), Sistem sirkulasi yang mudah dimengerti Guggenheim Museum New York City

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Architectural Wayfinding Components (Arthur and Passini, 1992).
Objectives (Tujuan)
Creating legible circulation systems design

Komponen Menemukan Jalan Secara Arsitektur (Arthur dan Passini, 1992).
Elements (Elemen – Elemen)
Design concepts [paths, markers, nodes/ intersections, edges/links] (Konsep Desain [jalur, penanda, simpul/ persimpangan, batas/ hubungan]) Approach from street(pendekatan dari jalan) Roadways (Jalan – jalan kendaraan) Parking (Parkir) External paths and walkways(Jalur jalur pejalan kaki eksternal) Entrances and exits (Pintu – pintu masuk dan keluar) Connection to mass transportation (Koneksi ke transportasi masal)

Components (Komponen - Komponen)
External and internal circulation systems

(Menciptakan desain sistem sirkulasi (Sistem - sistem sirkulasi eksternal yang mudah dimengerti) dan internal)

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Architectural Wayfinding Components (Arthur and Passini, 1992).
Objectives

Komponen Menemukan Jalan Secara Arsitektur (Arthur dan Passini, 1992).
Elements (Elemen – Elemen) Elevators (Elevator – elevator) Staircases(Tangga – tangga) Escalators(Eskalator – escalator)

Components

(Tujuan) (Komponen - Komponen) Creating legible circulation systems Level change devices (Alat untuk design bergerak antar lantai) (Menciptakan desain sistem sirkulasi yang mudah dimengerti) Internal transportation(Alat Transportasi internal)

Mobility aids (Alat pembantu pergerakkan) People movers(Alat transportasi kelompok orang) Fixed rail systems(Sistem jalur kereta)

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Architectural Wayfinding Components (Arthur and Passini, 1992).
Objectives

Komponen Menemukan Jalan Secara Arsitektur (Arthur dan Passini, 1992).
Elements (Elemen – Elemen) Environmental graphics (Grafik lingkungan) Sign systems(Sistem tanda) Orientation devices (Alat - alat pembantu orientasi) You are there maps(Peta penunjuk lokasi individu) Real-time information devices (Alat – alat penunjuk informasi realtime)

Components

(Tujuan) (Komponen - Komponen) Integrating communication systems Information wayfinding (Integrasi sistem – sistem design(Desain informasi untuk komunikasi) menemukan jalan)

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Sample of Wayfinding Design (Hunter, S., 2010b), Visual landmark, Student project, University College of Gjøvik Norway

Contoh Desain Menemukan Jalan (Hunter, S., 2010b), Penanda Visual, Proyek Mahasiswa College of Gjøvik Norway

“Architectural Wayfinding Element”

Pathways

Nodes

Theories of “Architectural Wayfinding Element“, by Boulding (1956) and Lynch (1960), stated that the ability of "wayfinding" related to legibility properties (easiness to understand) and imageability (easiness to remember) from the building. Beberapa teori tentang “Architectural Wayfinding Element” , yang dikemukakan oleh Boulding (1956) dan Lynch (1960), menyatakan bahwa kemampuan “wayfinding” terkait dengan sifat legibility (kemudahan untuk dimengerti) dan imageability (kemudahan untuk diingat) dari bangunan.
Boulding, K. (1956), The Image, Universit of Michigan Press, Ann Arbor. Lynch, K. (1960). The Image of the City, Cambridge, Massachusetts: MIT Press.

Landmarks Districts

Edges

“Architectural Wayfinding Element”

Pathways

Nodes

The five elements to support them are : Pathways, Nodes, Landmarks, Districts Edges. Lima elemen untuk menunjang 2 sifat tsb : Pathways, Nodes, Landmarks, Districts Edges.
Boulding, K. (1956), The Image, Universit of Michigan Press, Ann Arbor. Lynch, K. (1960). The Image of the City, Cambridge, Massachusetts: MIT Press.

Landmarks Districts

Edges

“Architectural Wayfinding Element”
Pathways in the city scale could be defined as “the channels along which the observer customarily, occasionally, or potentially moves”, Pathways in the building scale of are an independent corridor, promenade, corridor in the gallery, stairs, escalators, elevators Pathways dalam skala kota dapat didefinisikan sebagai “jalur pergerakan pengamat secara biasa, sering dan potential”. Pathways dalam skala bangunan berupa koridor terpisah, promenade, koridor di dalam galeri, tangga, eskalator, elevator

Pathways

“Architectural Wayfinding Element”
Nodes in the city scale are “the strategic spots in the city into which an observer can enter, and which are the intensive foci to and from which is he travelling” Nodes in the building scale are the meeting point of all circulation and the is a meeting. Thus they only differ in scale compared to the city scale nodes. Nodes dalam skala kota merupakan “sebuah tempat strategis yang dapat dimasuki oleh pengamat dan sebuah pusat intensif dimana individu tersebut pergi menuju dan darinya”. Nodes dalam skala bangunan merupakan pertemuan sirkulasi dan aula pertemuan. Sehingga hanya berbeda dalam skala terhadap nodes dalam skala kota.

Nodes

“Architectural Wayfinding Element”
Landmarks in the city scale could be defined as a type of point of reference … a rather defined physical object: building, sign, store or mountain”, Landmarks in the building can be a shop, cinema, information tables, sculptures, landscaping, structural elements and decorative elements. Often landmarks can be an empty space which has a function as a reference point. Landmarks dalam skala kota dapat didefinisikan sebagai “sebuah titik referensi … yang dapat berupa benda fisik, seperti: bangunan, tanda, pertokoan atau gunung” Landmarks dalam bangunan dapat berupa toko, bioskop, meja informasi, patung, lansekap, elemen struktur dan elemen dekoratif. Seringkali landmarks dapat berupa ruangan kosong yang memiliki fungsi sebagai titik referensi.

Landmarks

“Architectural Wayfinding Element”
Edges in the city scale could be define as “the linear elements not used or considered as paths by observer; they are boundaries … edges may be barriers” Edges in the building scale can be either wall, especially the wall outside of the building. Edges dalam skala kota adalah atau “elemen – elemen linear yang bukan merupakan jalan oleh pengamat; mereka adalah batas – batas … tepian merupakan pembatas” Edges dalam skala bangunan dapat berupa dinding pembatas terutama dinding luar bangunan.

Edges

“Architectural Wayfinding Element”
Districts in the city scale are “medium to large sections of the city, conceived of a having two dimensional extent… which an recognizable as having some common, identifying character” Districts in the building scale of can be a large areas that have similar functionality like shopping. Districts dalam skala kota merupakan “bagian kota yang berukuran sedang atau luas yang memiliki karakter khusus yang kuat” Districts dalam skala bangunan dapat berupa kawasan yang berukuran luas yang memiliki fungsi serupa seperti pertokoan.

Districts

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Wayfinding Architectural Elements were found in Building P UK Petra by Boulding (1956) and Lynch (1960) such as : Landmark building is a prominent part of the environment such as: cafeteria, administrative offices, columns, walls, doors, floors, ceilings, elevators, etc.. Pathway is building circulation paths such as corridors, roads, stairs, elevators and escalators, etc.. Architectural Wayfinding Elements ditemukan di Gedung P UK Petra menurut Boulding(1956) dan Lynch (1960) seperti : Landmark adalah bagian bangunan yang yang menonjol dari lingkungan seperti: kantin, kantor tata usaha, kolom, dinding, pintu, lantai, langit-langit, lift, dll. Pathway adalah jalur sirkulasi bangunan seperti: koridor, jalan, tangga, elevator dan eskalator, dll.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Wayfinding Architectural Elements were found in Building P UK Petra by Boulding (1956) and Lynch (1960) such as : Node is circulation pathways as a meeting place hall, hall or showroom, etc.. Zoning (substitute District) is a group of rooms which have similar functions such as: faculty rooms, classrooms, studios, computer labs, etc. (Passini, 1984). Architectural Wayfinding Elements ditemukan di Gedung P UK Petra menurut Boulding(1956) dan Lynch (1960) seperti : Node adalah tempat pertemuan jalur sirkulasi seperti hall, aula atau ruang pamer, dll. Zoning (pengganti District) adalah kelompok ruangan yang memiliki fungsi serupa seperti: ruang dosen, kelas, studio, laboratorium komputer, dll (Passini, 1984).

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)

Arrangements and circulation space in the building is part of the responsibility of architects, field designers, a team of engineers, interior designers, building owners and building managers. But this team should include experts in the field of environmental information, especially complex because the buildings are integrated with spatial planning information system will define the success or failure of the use of the building in the future.
Evans, G. and McCoy, M. (1998). When Buildings Don’t Work: The Role of Architecture in Human Health, Journal of Environmental Psychology, v. 18: 85-94.

Pengaturan ruang dan sirkulasi dalam bangunan merupakan bagian tanggung jawab dari arsitek, desainer di lapangan, tim insinyur, desainer interior, pemilik bangunan dan manajer bangunan. Tetapi tim ini harus melibatkan ahli bidang informasi lingkungan terutama dalam bangunan yang kompleks karena perencanaan ruang yang terintegrasi dengan sistem informasi akan mendefinisikan keberhasilan atau kegagalan penggunaan bangunan di masa depan.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)

Definition: "Signage" are required by individuals to find its way properly. Typically contains information about where the occurrence of an event, when an event occurs, and how an incident that may happen (Passini, 1984). Definisi: “Signs” atau tanda – tanda diperlukan oleh individu untuk menemukan jalan dengan baik. Biasanya informasi berisi tentang dimana terjadinya sebuah kejadian, kapan sebuah kejadian terjadi, dan bagaimana sebuah kejadian yang mungkin terjadi (Passini, 1984) .
Passini, R., (1984), Wayfinding in Architecture, Environmental Design Series Volume 4, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)

The Signage system should be placed in appropriate locations in accordance with the process of wayfinding and choice of individual users. Sistem tanda ini harus diletakkan pada lokasi yang tepat sesuai dengan proses menemukan jalan dan pilihan individu penggunanya.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Various types of sign systems described by Passini (1984) as follows: Directional Signs Identification Signs Signs reassurance Berbagai jenis sistem tanda dideskripsikan oleh Passini (1984) sbb: Directional Signs (Penanda Arah/ Jurusan) Identification Signs (Penanda Indentifikasi Tempat) Reassurance Signs (Penanda Penentram/ Pengaman)
Passini, R., (1984), Wayfinding in Architecture, Environmental Design Series Volume 4, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Directional Signs

Directional Signs

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Various types of sign systems described by Passini (1984) as follows: Directional Signs Identification Signs Signs reassurance Berbagai jenis sistem tanda dideskripsikan oleh Passini (1984) sbb: Directional Signs (Penanda Arah/ Jurusan) Identification Signs (Penanda Indentifikasi Tempat) Reassurance Signs (Penanda Penentram/ Pengaman)
Passini, R., (1984), Wayfinding in Architecture, Environmental Design Series Volume 4, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Identification Signs

Identification Signs

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan) Various types of sign systems described by Passini (1984) as follows: Directional Signs Identification Signs Signs reassurance Berbagai jenis sistem tanda dideskripsikan oleh Passini (1984) sbb: Directional Signs (Penanda Arah/ Jurusan) Identification Signs (Penanda Indentifikasi Tempat) Reassurance Signs (Penanda Penentram/ Pengaman)
Passini, R., (1984), Wayfinding in Architecture, Environmental Design Series Volume 4, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Surabaya
Reassurance Signs

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Gambar 2: Tipe Pengelihatan pada Jarak

Agar besar huruf dapat terlihat maka besar huruf harus berada dalam range Pada 100 feet (30 meter) maka huruf sebesar 4 inches (10 cm)

Pada 100 feet (30 meter) maka huruf sebesar 2 inches (5 cm) masih terbaca walau tidak ideal

Sumber: http://librisdesign.org/docs/WayfindingSignage.pdf

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

. Carrol, M-J., Center for Inclusive Design and Environmental Access (2010), Design Resources, Text Legibility and Readability of Large Format Signs in Building and Sites, School of Architecture and Planning, University of Buffalo. Characteristic [Karakteristik] Letter Height [Tinggi Huruf] Recommendation [Rekomendasi] 35 ft./in. (d:lh) (With vision loss, and dependent on the age group, may diminish to between 17 ft./in to 22 ft./in for the 85th percentile.) [35 ft/ in jarak:tinggi huruf]. [dengan berkurangnya kemampuan pengelihatan dan derajat penambahan umur, maka diperlukan 17 ft./in to 22 ft./in untuk 85 % populasi]. Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research on this variable is fairly strong. [Riset dalam bidang ini cukup baik].

• •

• •

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Width (Lebar Huruf) Letter Height (Tinggi Huruf)
Interline Spacing (Spasi Antar Baris)

Positive Contrast on high contrast ground (Kontras Positif pada latar belakang yang berwarna kontras)

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage
. Characteristic [Karakteristik] Width to Height Ratio Rasio Lebar berbanding Tinggi Huruf • Recommendation [Rekomendasi] 0.7 -1.0 Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research for this is fairly strong and supports the use of 5:7 (w:h) character ratio. Riset dalam bidang ini cukup baik dan disarankan untuk rasio 5:7 (lebar huruf:tinggi huruf). Existing research on this variable is fairly strong. Riset dalam bidang ini cukup baik.

Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

Stroke Width to Height Ratio [ Rasio Lebar Strip berbanding Tinggi Huruf

• •

1:5 (w:h) 1:5 (lebar:tinggi).

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage
. Characteristic [Karakteristik] Text Color Warna Huruf • Huruf hijau, kuning, abu-abu pada latar belakang yang kontras. • Recommendation [Rekomendasi] Green, yellow or grey letters on • high contrast background Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research indicates that these two colors provide the best legibility for readers with vision impairments. Red, yellow or green on high contrast backgrounds were read equally well be sighted users. Riset yang ada menunjukkan bahwa warna – warna ini menunjukkan kemudahan mengingat dari pengguna dengan pengelihatan yang terbatas. Warna merah, kuning atau hijau pada latar belakang yang kontras akan dapat terbaca atau terlihat.

Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage
. Characteristic [Karakteristik] Font Huruf • • 5x7 untuk Huruf Besar. 7x9 untuk Huruf Kecil. • • • Recommendation [Rekomendasi] 5x7 for Uppercase 7x9 for Lowercase Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research is fairly strong for highway signs but almost non-existent for persons with vision impairments reading commercial signs. Riset terdahulu membahas penanda pada jalan raya tetapi tidak pernah membahas huruf untuk pengguna dengan keterbatasan pengelihatan pada commercial sign. Existing research is fairly strong. Riset dalam bidang ini cukup baik.

Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

Inter character Spacing Spasi antar karakter

• •

25 to 40% letter height 25 sampai 40% dari tinggi huruf.

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage
. Characteristic [Karakteristik] Inter line Spacing Spasi antar baris Recommendation [Rekomendasi] 75 to 100% spacing 75 sampai 100% spasi. • Case Huruf Besar atau Kecil • • • • Uppercase or mixed case for • single words. Lowercase for longer messages • Huruf besar atau campuran untuk Kata Tunggal. Huruf kecil untuk pesan yang panjang. Riset dalam bidang ini cukup baik. Existing research is fairly strong. Riset dalam bidang ini cukup baik. Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research is fairly strong.

Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

• •

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage
. Characteristic [Karakteristik] Contrast Orientation Orientasi Kontras Recommendation [Rekomendasi] Positive contrast message • (minimum 70%) Legibility is compromised when contrast approaches threshold. Pesan kontras yang positif. minimum 70%. • Kemudahan diingat akan dikompromikan ketika kontras mendekati ambang. Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research is strong for people without vision impairments. More research is required for persons with vision impairments. Riset dalam bidang ini cukup baik untuk orang tanpa keterbatasan pengelihatan. Lebih banyak riset akan dibutuhkan untuk orang dengan pengelihatan terbatas.

Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

• • •

• • •

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Carrol defined a table for designing clear signage
. Characteristic [Karakteristik] Serifs Serif • • • • Recommendation [Rekomendasi] Serif or sans serif. Sans serif only for tactile signage per ADA Serif atau sans serif. San serif hanya untuk tanda yang menonjol berdasarkan American Disability Act]. Research Needs [Kebutuhan Riset] Existing research is strong but results are not conclusive. Variability occurs around first time observers and familiarity with font. Riset dalam bidang ini cukup baik tetapi kesimpulan tidak didapatkan, Variabilitas terjadi pada pengamat pertama dan keterkenalan dari jenis huruf.

Carrol definisikan tabel untuk merancang tanda yang jelas

Aspects of Wayfinding Design (Aspek – Aspek Desain Menemukan Jalan)
Sample of More Effective Signage in North Glasgow College.. IdN Vol. 17 No. 5, 2010, Five. Contoh Signage yang lebih Efektif di North Glasgow College..

THE END (AKHIR PRESENTASI)
Prepared by : Gunawan Tanuwidjaja, ST., M.Sc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times