A. Negara Kesatuan Republik Indonesia Wacana tentang federalisme hampir hilang dari permukaan.

Tetapi wacana tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak pernah hilang dalam kancah perdebatan tentang negara-bangsa Indonesia dan otonomi daerah. Melalui revisi UU No 22/1999 yang disiapkan Depdagri, pemerintah berupaya kembali memperteguh NKRI sebagai kerangka institusional (yang tidak bisa ditawar) bagi otonomi daerah. Berpijak pada tafsir UUD 1945, pendukung NKRI menegaskan, konsepsi otonomi daerah di Indonesia mengandung nilai unitaris dan nilai desentralisasi teritorial. Nilai unitaris diwujudkan dalam pandangan, Indonesia tidak akan mempunyai kesatuan pemerintah lain di dalamnya yang bersifat "negara". Kesatuan pemerintah daerah merupakan hasil pembentukan pemerintah, bahkan dapat dihapus pemerintah lewat proses hukum. Desentralisasi dimanifestasikan dalam bentuk penyerahan atau pengakuan atas "urusan" pemerintahan, khususnya yang terkait kepentingan masyarakat setempat. Kebijakan desentralisasi dilakukan pemerintah, sedangkan penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan pemerintah daerah. KONSEP NKRI yang ditonjolkan dalam naskah revisi UU No 22/1999 tentu membawa implikasi terhadap desain desentralisasi, otonomi daerah, hubungan pusatdaerah hingga akuntabilitas pemda. Bahkan penguatan NKRI cenderung mengarah pada penegasan hierarki, resentralisasi, dan reduksi terhadap makna otonomi daerah. Desentralisasi dan otonomi daerah tidak dipahami sebagai pengakuan terhadap daerah dan pembagian kekuasaan-kewenangan, tetapi penyerahan wewenang penanganan urusan pemerintah oleh pemerintah kepada daerah untuk menjadi urusan otonomi daerah dalam kerangka NKRI. Maka, hak dan kewenangan telah direduksi hanya menjadi "urusan" yang diserahkan pusat. Desentralisasi juga direduksi menjadi sekadar pembentukan daerah dan penyelenggaraan otonomi daerah.

Naskah revisi menegaskan pemilihan kepala daerah secara langsung, tetapi logika demokrasi yang dibangun menjadi tidak konsisten saat akuntabilitas ditarik ke atas. Kepala daerah maupun kepala desa tidak bertanggung jawab secara horizontal maupun ke bawah, tetapi ke atas. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden melalui Mendagri, Bupati/Wali Kota bertanggung jawab kepada Mendagri melalui Gubernur, dan Kepala Desa bertanggung jawab kepada Bupati melalui Camat. Maka, NKRI mengharuskan desentralisasi dan demokrasi lokal yang terkendali dan terpusat. Menurut pendukungnya, peneguhan NKRI untuk memelihara integrasi nasional (persatuan-kesatuan) tanpa diganggu separatisme maupun demokrasi lokal yang kebablasan. SEJAUH mana argumen itu bisa dipertanggungjawabkan? Kita harus belajar pada sejarah dan pengalaman di negeri lain. Bagi saya memperdebatkan dua bentuk negara (kesatuan versus federal) secara dikotomis, apalagi mendramatisasi NKRI, tidak relevan lagi. Sejarah membuktikan, sentralisme NKRI untuk tujuan membangun integrasi nasional justru yang menimbulkan bahaya disintegrasi. Perlawanan daerah mulai dari Sumbar dan Sulsel, gerakan merdeka Aceh dan Papua, kemerdekaan Timor Timur, sampai federalisme Riau, merupakan bukti kerapuhan sentralisme NKRI. Di negara lain, faham negara kesatuan tidak dijadikan sebagai berhala. Kebanyakan negara yang menganut sistem kesatuan menghadapi kuatnya tantangan federalisasi atau devolusi. Devolusi telah berkembang menjadi bentuk baru distribusi kekuasaan secara teritorial, yang menggabungkan antara desentralisasi dan federalisme asimetris. Di banyak negara kesatuan, sebagian wilayah negara telah disiapkan menjadi unit federal, tanpa mengubah bentuk negara dan daerah tidak diubah menjadi negara bagian yang berdaulat. Sebagai contoh adalah devolusi di Inggris, yang menempatkan Skotlandia, Wales, dan Irlandia menjadi unit federal, sebagaimana Papua dan Aceh di Indonesia. Cina juga memberikan otonomi khusus kepada Hongkong. Kasus Italia memperlihatkan, klaim federalisme yang dipromosikan partai lokal Lega Nord telah mengusung proses inovasi desentralisasi untuk membagi kekuasaan lebih besar dari pusat kepada daerah.

Lontaran kritik terhadap NKRI bukan berarti harus mengubah negara kesatuan menjadi negara serikat (federal). Dikotomi kesatuan-federal harus mulai ditinggalkan karena menghadapi tantangan pertarungan antara sentralisme-otoritarisme versus desentralisasi-demokrasi. Isu pertarungan antara sentralisme-otoritarisme versus desentralisasi-demokrasi sebenarnya lebih menonjol ketimbang dikotomi federalkesatuan. Uni Soviet, misalnya, menerapkan sistem federal bergaya sentralistik-otoriter, yang akhirnya dihancurkan kekuatan desentralisasi-demokrasi dan diikuti dengan disintegrasi. Fakta ini memperlihatkan, penyebab disintegrasi Soviet bukan sistem federalnya, tetapi formasi negara yang sentralistik-otoriter. Sementara pergolakan melawan sentralisme-otoritarian juga meluas di banyak negara kesatuan di Asia, yang diikuti perluasan desentralisasi-demokrasi. Cina, Korsel, Thailand, dan Filipina merupakan contoh kasus. Indonesia mengikuti garis yang sama. Artinya, isu utama bukan dikotomi negara kesatuan-federal atau peneguhan sentralisme melalui negara kesatuan, tetapi bagaimana rebuilding the nation-state dan memperkuat desentralisasi-demokrasi. Pemerintah dan kalangan nasionalis tak perlu membuat fatwa secara dramatis terhadap negara kesatuan dengan dalih untuk memperkuat integrasi nasional. Tantangan Indonesia kini adalah bagaimana melakukan pembangunan kembali terhadap nation-state melalui kontrak sosial baru antara pusat dan kekuatan lokal, serta memperdalam desentralisasi guna memberi pengakuan terhadap lokalitas, mengembangkan demokrasi lokal, memperbaiki dan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat lokal, mengembangkan potensi dan prakarsa lokal, serta meningkatkan keadilan pembagian kekuasaan dan kekayaan antara pusat dan daerah. Konsepsi desentralisasi itu tentu belajar pada sejarah. Kita tahu, Indonesia tidak lahir begitu saja sejak pergerakan nasional, sumpah pemuda, proklamasi, maupun revolusi fisik 1945-1950. Sebelum ada Indonesia telah ada daerah-daerah kerajaan otonom yang umumnya bergolak menentang kolonialisme.

Pembentukan Indonesia tidak diawali dengan penyatuan, apalagi penundukan, terhadap daerah-daerah atau penyerahan cek kosong daerah-daerah terhadap RI. Berbagai daerah yang amat beragam itu telah memberi dukungan penuh pada pergerakan nasional hingga revolusi fisik mempertahankan Indonesia, dan mereka secara sukarela bergabung (bersatu) pada Indonesia, yang disatukan oleh kolonialisme Belanda sebagai musuh bersama (common enemy) dan negara-bangsa Indonesia sebagai perekat bersama (common denominator). Dengan demikian, pengorbanan, dukungan, kesukarelaan, kebersamaan, persatuan, dan kontrak sosial semua daerah bekas jajahan Belanda di Nusantara mempunyai kontribusi besar terhadap pembentukan RI. Pemerintah tidak bisa mengabaikan sejarah itu dalam memaknai

desentralisasi. Desentralisasi tak boleh dimaknai berdasar teori-teori modern tentang relasi antarstruktur pemerintahan. Desentralisasi bukan sekadar pembentukan wilayah dalam kerangka NKRI, tetapi yang paling dasar adalah pengakuan terhadap daerah (hak, identitas lokal, budaya, entitas politik, dan sumber daya ekonomi). Pengakuan ini menjadi dasar pembagian (sharing) kekuasaan-kekayaan secara seimbang dan adil antara pusat dan daerah. Kini desentralisasi dan otonomi daerah bisa digunakan sebagai arena untuk membangun kembali negara-bangsa Indonesia. Upaya besar ini tidak cukup dilakukan hanya dengan pengelolaan isu-isu administratif (kewenangan, urusan, keuangan, kepegawaian, pembinaan, pengawasan dan lain-lain), tetapi harus ditempuh dengan kontrak sosial dan transformasi kultural yang lebih otentik. Kita harus membuka wacana dalam ruang publik yang lebih dialogis. Pemerintah harus bersedia belajar bersama dengan daerah dan masyarakat lokal. Ketika berkuasa, Abdurrachman Wahid sebenarnya telah menempuh langkah-langkah ini melalui perluasan wacana kritisnya tentang pluralisme, lokalitas, identitas lokal, persatuan, dan seterusnya. Ke depan, semua wacana ini harus terus dikembangkan sebagai bagian agenda transformasi kultural, seraya melampaui (beyond) isu-isu administratif dalam otonomi daerah.

B. OTONOMI DAERAH Salah satu produk reformasi adalah ditetapkannya otonomi daerah (Otda) melalui penetapan UU Nomor 22/1999 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Otda tersebut telah dirancang untuk mengoreksi pola pembangunan yang sentralistik sebagaimana di praktekkan selama Orde Baru. UU ini juga di rancang sebagai langkah peningkatan partisipasi dan tanggung jawab daerah dalam proses pembangunan di daerahnya sendiri dalam kerangka mewujudkan pembangunan yang berkeadilan. Hal menarik yang patut di cermati adalah adanya salah satu pasal yang mengatur kewenangan daerah dalam pengelolaan wilayah perairan laut dalam skenario Otda. Disebutkan dalam Pasal 10, bahwa daerah provinsi berwenang mengelola wilayah laut sejauh 12 mil dari garis pantai, sementara daerah tingkat dua (Dati II) berwenang mengelola wilayah laut sejauh 4 mil laut. Jenis kewenangan tersebut mencakup peraturan kegiatan-kegiatan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut. Kewenangan tersebut terwujud dalam bentuk pengaturan kepentingan administratif, pengaturan tata ruang, serta penegakan hukum. Dengan demikian, jelas bahwa implementasi Otda membawa sejumlah implikasi terhadap aktivitas pemanfaatan sumberdaya perikanan. Pertama, sudah seharusnya daerah mengetahui potensi perikanan serta batas-batas wilayahnya sebagai dasar meregulasi pengelolaan sumberdaya, seperti penetuan jenis dan tipe kegiatan perikanan yang sesuai di daerahnya. Kedua, derah dituntut bertanggung jawab atas kelestarian sumberdaya perikanan dan kelautan di daerahnya itu. Ketiga, semakin terbuka peluang bagi masyarakat lokal (nelayan) untuk terlibat dalam proses pengelolaan sumberdaya.

I. Batasan Desentralisasi / Otonomi Desentralisasi adalah pelaksanaan tugas-tugas pemerintah pusat oleh pemerintah daerah. Pomeroy dan Berkes (1997) dalam Nikijuluw V.P.H Tahun 2002 mendefinisikan desentralisasi sebagai penyerahan kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab secara sistematis dan rasional dari pemerintah pusat kepada pemerintahan yang secara vertikal ada di bawahnya atau kepada lembaga lokal dari pemerintah pusat ke pemerintah provinsi pada kasus negara kesatuan. Seterusnya, kepada pemerintah daerah atau lokal atau bahkan kepada organisasi masyarakat. Pendekatan desentralisasi adalah pemerintah pusat menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada pemerintah yang ada di bawahnya atau instansi pemerintah yang lebih rendah. Oleh karena itu otonomi lokal atau otonomi daerah merupakan hal yang terpenting dalam proses desentralisasi. Umumnya, kekuasaan dan wewenang pemerintah pusat dialihkan kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah pusat. Selain definisi atau batasan desentralisasi tadi, definisi yang khas Indonesia tercantum dalam Undang-undang No. 22 tahun 1999 (UU 22/99) tentang Pemerintahan Daerah. Pada Bab 1 tentang Ketentuan Umum UU ini, paling sedikit, ada tiga definisi yang menunjukkan penyerahan kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Ketiga definisi tersebut adalah :

(1)

Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintahan pusat kepada Daerah Otonom dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Daerah otonom yang di maksudkan di sini adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan NKRI.

(2)

Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/ atau perangkat pusat di daerah. (3) Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan desa, dan dari daerah ke desa, untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumberdaya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggung jawabkannya kepada pihak yang menugaskan.

Kewenangan Pemerintah Pusat dalam Bidang Kelautan 1) Penetapan kebijakan dan pengaturan eksplorasi, konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam perairan di wilayah laut di luar perairan 12 mil, termasuk perairan Nusantara dan dasar lautnya serta Zone Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan landasan kontinen. 2) Penetapan kebijakan dan pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan benda berharga dari kapal tenggelam di luar perairan laut 12 mil. 3) Penetapan kebijakan dan pengaturan batas-batas maritim yang meliputi batas-batas daerah otonom di laut dan batas-batas ketentuan hukum internasional. 4). 5). Penetapan standar pengelolaan pesisir pantai dan pulau-pulau kecil. Penegakan hukum di wilayah laut diluar perairan 12 mil dan di dalam perairan 12 mil yang menyangkut hal spesifik serta berhubungan dengan internasional. Kewenangan Pemerintah Propinsi dalam Bidang Kelautan 1) Penataan dan pengelolaan perairan di wilayah laut Provinsi.

2)

Eksplorasi , eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut kewenangan Provinsi.

3)

Konservasi dan pengelolaan plasma nutfah spesifik lokasi serta suaka perikanan di wilayah laut kewenangan Provinsi.

4)

Pelayanan izin usaha pembudidayaan dan penangkapan ikan pada perairan laut di wilayah laut kewenangan Provinsi.

5)

Pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan di wilayah laut kewenangan Provinsi.

Terdapat beberapa tantangan berkaitan dengan institusionalisasi Otda untuk konteks wilayah laut, antara lain : a. Belum adanya institusi/lembaga pengelola khusus yang menangani masalah pengembangan pesisir dan laut. Implikasinya, tidak tersedianya instrumen hukum perbatasan antar provinsi tersebut (RTRW, zonasi) untuk dapat diketahui masyarakat luas, khususnya dunia usaha yang diharapkan dapat menanamkan investasinya, serta pedoman bagi instansi di daerah (Tk I dan II) dalam pengelolaan dan pengembangan wilayah laut guna peningkatan kesejahteraan masyarakat. b. Keterbatasan sumberdaya manusia (aparat pemerintahan) dalam bidang pesisir dan laut yang terdidik dan terlatih. Sehingga kendala yang di hadapi adalah kesulitan dalam pendayagunaan serta peningkatan perangkat instansi daerah yang ada terhadap pengelolaan di wilayah pesisir dan 12 mil laut serta 4 mil laut yang merupakan kewenangan kabupaten/kota. Sebagai contoh adalah kesiapan regulasi tentang pemanfaatan lahan peisisir untuk kegiatan

pembangunan (pariwisata, permukiman dan lain sebagainya), pengaturan pemanfaatan sumberdaya laut, pengaturan alur pelayaran; dan lain-lainnya. c. Ketersediaan data dan informasi perikanan sangat terbatas. Dengan

pelaksanaan Otda yang memberikan otonomi terutama kepada kabupaten/kota, maka tingkat kepatuhan kabupaten/kota untuk mengumpulkan dan megirimkan data kepada provinsi, yang selanjutnya akan dikirimkan ke pusat, menjadi rendah. d. Terbatasnya wahana dan sarana dalam penerapan dan pendayagunaan teknologi bidang perikanan. Akiibatnya, upaya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pengelolaan sumberdaya perikanan/SDL dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat, belum bisa terwujud. Selain itu bersamaan dengan dikeluarkannya UU No. 22 tahun 1999, pemerintah juga mengeluarkan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam UU tersebut diatur bagaimanan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, termasuk di dalamnya keuangan yang berasal dari kegiatan perikanan di daerah. Pada Pasal 6 ayat 5 dikatakan bahwa penerimaan negara dari sumberdaya alam.

II. Prospek Otonomi Daerah di Masa Mendatang Beberapa waktu belakangan semenjak bergulirnya gelombang reformasi, otonomi daerah menjadi salah satu topik sentral yang banyak dibicarakan. Otonomi Daerah menjadi wacana dan bahan kajian dari berbagai kalangan, baik pemerintah, lembaga perwakilan rakyat, kalangan akademisi, pelaku ekonomi bahkan masayarakat awam. Semua pihak berbicara dan memberikan komentar tentang “otonomi daerah” menurut pemahaman dan persepsinya masing-masing. Perbedaan

pemahaman dan persepsi dari berbagai kalangan terhadap otonomi daerah sangat disebabkan perbedaan sudut pandang dan pendekatan yang digunakan. Sebenarnya “otonomi daerah” bukanlah suatu hal yang baru karena semenjak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia , konsep otonomi daerah sudah digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Bahkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda, prinsip-prinsip otonomi sebagian sudah diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Semenjak awal kemerdekaan samapi sekarang telah terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan Otonomi Daerah. UU 1/1945 menganut sistem otonomi daerah rumah tangga formil. UU 22/1948 memberikan hak otonomi dan medebewind yang seluas-luasnya kepada Daerah. Selanjutnya UU 1/1957 menganut sistem otonomi ril yang seluas-luasnya. Kemudian UU 5/1974 menganut prinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung. Sedangkan saat ini di bawah UU 22/1999 dianut prinsip otonoi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab. Otonomi Daerah yang dilaksanakan saat ini adalah Otonomi Daerah yang berdasarkan kepada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Menurut UU ini, otonomi daerah dipahami sebagai kewenangan daerah otonom untuk menatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan prinsip otonomi daerah yang digunakan adalah otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kewenangan otonomi yang luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelengarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk

menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup, dan berkembang di daerah. sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung-jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi, berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semkain baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah dalam UU 22/1999 adalah : 1. Penyelengaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman Daerah. 2. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertangung jawab. 3. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 4. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara Daerah. 5. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom, dan karenanya dalam daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi wilayah administratif. 6. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah, baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 7. Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam kedudukannya Pemerintah. sebagai Wilayah Administratis untuk melaksanakan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil

8. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa yang disertai dengan pembiayaan sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. Dalam implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang dilaksanakan mulai 1 Januari 2001 terdapat beberapa permasalahan yang perlu segera dicarikan pemecahannya. Namun sebagian kalangan beranggapan timbulnya berbagai permasalahan tersebut merupakan akibat dari kesalahan dan kelemahan yang dimiliki oleh UU 22/1999, sehingga merekapun mengupayakan dilakukannya revisi terhadap UU 22/1999 tersebut. Jika kita mengamati secara obyektif terhadap implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang baru berjalan memasuki bulan kesepuluh bulan ini, berbagai permasalahan yang timbul tersebut seharusnya dapat dimaklumi karena masih dalam proses transisi. Timbulnya berbagai permasalahan tersebut lebih banyak disebabkan karena terbatasnya peraturan pelaksanaan yang bisa dijadikan pedoman dan rambu-rambu bagi implementasi kebijakan Otonomi Daerah tersebut. Jadi bukan pada tempatnya jika kita langsung mengkambinghitamkan bahkan memvonis bahwa UU 22/1999 tersebut keliru. Sebagian kalangan menilai bahwa kebijakan Otonomi Daerah di bawah UU 22/1999 merupakan salah satu kebijakan Otonomi Daerah yang terbaik yang pernah ada di Republik ini. Prinsip-prinsip dan dasar pemikiran yang digunakan dianggap sudah cukup memadai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat dan daerah. Kebijakan Otonomi Daerah yang pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan dan pendemokrasian kehidupan masyarakat diharapkan dapat mememnuhi aspirasi berbagai pihak dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan negara serta hubungan Pusat dan Daerah.

Jika kita memperhatikan prinsip-prinsip pemberian dan penyelenggaraan Otonomi Daerah dapat diperkirakan prospek ke depan dari Otonomi Daerah tersebut. Untuk mengetahui prospek tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan yang kita gunakan disini adalah aspek ideologi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Dari aspek ideologi , sudah jelas dinyatakan bahwa Pancasila merupakan pandangan, falsafah hidup dan sekaligus dasar negara. Nilai-nilai Pancasila mengajarkan antara lain pengakuan Ketuhanan, semangat persatuan dan kesatuan nasional, pengakuan hak azasi manusia, demokrasi, dan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat. Jika kita memahami dan menghayati nilai-nilai tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan Otonomi Daerah dapat diterima dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui Otonomi Daerah nilai-nilai luhur Pancasila tersebut akan dapat diwujudkan dan dilestarikan dalam setiap aspek kehidupan bangsa Indonesia . Dari aspek politik , pemberian otonomi dan kewenangan kepada Daerah merupakan suatu wujud dari pengakuan dan kepercayaan Pusat kepada Daerah. Pengakuan Pusat terhadap eksistensi Daerah serta kepercayaan dengan memberikan kewenangan yang luas kepada Daerah akan menciptakan hubungan yang harmonis antara Pusat dan Daerah. Selanjutnya kondisi akan mendorong tumbuhnya dukungan Derah terhadap Pusat dimana akhirnya akan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Kebijakan Otonomi Daerah sebagai upaya pendidikan politik rakyat akan membawa dampak terhadap peningkatan kehidupan politik di Daerah. Dari aspek ekonomi , kebijakan Otonomi Daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas daerah akan memberikan kesempatan bagi Daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya. Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di Daerah. Melalui kewenangan yang dimilikinya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat, daerah akan

berupaya untuk meningkatkan perekonomian sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan. Kewenangan daerah melalui Otonomi Daerah diharapkan dapat memberikan pelayanan maksimal kepada para pelaku ekonomi di daerah, baik lokal, nasional, regional maupun global. Dari aspek sosial budaya , kebijakan Otonomi Daerah merupakan pengakuan terhadap keanekaragaman Daerah, baik itu suku bangsa, agama, nilai-nilai sosial dan budaya serta potensi lainnya yang terkandung di daerah. Pengakuan Pusat terhadap keberagaman Daerah merupakan suatu nilai penting bgi eksistensi Daerah. Dengan pengakuan tersebut Daerah akan merasa setara dan sejajar dengan suku bangsa lainnya, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap upaya mempersatukan bangsa dan negara. Pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal akan dapat ditingkatkan dimana pada akhirnya kekayaan budaya lokal akan memperkaya khasanah budaya nasional. Selanjutnya dari aspek pertahanan dan keamanan , kebijakan Otonomi Daerah memberikan kewenangan kepada masing-msing daerah untuk memantapkan kondisi Ketahanan daerah dalam kerangka Ketahanan Nasional. Pemberian kewenangan kepada Daerah akan menumbuhkan kepercayaan Daerah terhadap Pusat. Tumbuhnya hubungan dan kepercayaan Daerah terhadap Pusat akan dapat mengeliminir gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia . Memperhatikan pemikiran dengan menggunakan pendekatan aspek ideologi, politik, sosal budaya dan pertahanan keamanan, secara ideal kebijakan Otonomi Daerah merupakan kebijakan yang sangat tepat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Hal ini berarti bahwa kebijakan Otonomi Daerah mempunyai prospek yang bagus di masa mendatang dalam menghadapi segala tantangan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasya-rakat, berbangsa dan bernegara. Namun demikian prospek yang bagus tersebut tidak akan dapat terlaksana jika berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi tidak dapat diatasi dengan baik. Untuk

dapat mewujudkan prospek Otonomi Daerah di masa mendatang tersebut diperlukan suatu kondisi yang kondusif diantaranya yaitu :

Adanya komitmen politik dari seluruh komponen bangsa terutama pemerintah dan lembaga perwakilan untuk mendukung dan memperjuangkan implementasi kebijakan Otonomi Daerah.

Adanya konsistensi kebijakan penyelenggara negara terhadap implementasi kebijakan Otonomi Daerah. Kepercayaan dan dukungan masyarakat serta pelaku ekonomi dalam pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Otonomi Daerah. Dengan kondisi tersebut bukan merupakan suatu hal yang mustahil Otonomi

Daerah mempunyai prospek yang sanat cerah di masa mendatang. Kita berharap melalui dukungan dan kerjasama seluruh komponen bangsa kebijakan Otonomi Daerah dapat diimplementasikan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah

III. Kendala Implementasi Kebijaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia Selama hampir seperempat abad kebijaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Otonomi Daerah disini diartikan sebagai hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Prinsip pelaksanaan Otonomi Daerah itu sendiri adalah Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggung jawab. Pada hakekatnya Otonomi Daerah disini lebih merupakan kewajiban daripada hak, yaitu kewajiban Daerah untuk ikut melancarkan jalannya pembangunan sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang harus diterima dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut membawa beberapa dampak bagi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Diantaranya yang paling menonjol adalah

dominasi Pusat terhadap Daerah yang menimbulkan besarnya ketergantungan Daerah terhadap Pusat. Pemerintah Daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya. Demikian juga dengan sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan yang diatur oleh Pusat. Beranjak dari kondisi tersebut timbul keinginan Daerah agar kewenangan pemerintahan dapat didesentral-isasikan dari Pusat ke Daerah. Akhirnya tanggal 7 Mei 2001 lahirlah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang menegaskan kembali pelaksanaan Otonomi Daerah. Otonomi Daerah disini diartikan sebagai kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut maka dimulailah babak baru pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia. Kebijakan Otonomi Daerah ini memberikan kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Kota didasarkan kepada desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kewenangan Daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Namun demikian lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta dapat menyelesaikan permasalahan dominasi kekuasaan Pusat yang dirasakan Daerah selama ini. Berbagai permasalahanpun muncul sebagai ekses implementasi kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut. Sebagian pihak menganggap bahwa kebijaksanaan Otonomi Daerah yang diatur oleh UU 22/1999 adalah kurang tepat, sehingga perlu segera dilakukan revisi terhadap Undang-Undang tersebut. Kendala-kendala yang dihadapi dalam mengimplemen-tasikan kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut secara umum dapat kita klasifikasikan dari beberapa aspek

antara lain; aspek politik, aspek regulasi, aspek kelembagaan, aspek aparatur pemerintahan baik Pusat maupun Daerah dan aspek masyarakat. Dari segi aspek politik kebijaksanaan Otonomi Daerah sebenarnya sudah mendapat dukungan secara nasional dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Namun demikian dalam perjalanan pelaksanaan UU tersebut sepertinya kurang mendapat perhatian dan dukungan politik di tingkat nasional. Hal ini terlihat dari belum dilakukannya penyesuaian beberapa Undang-Undang yang tidak sejalan dengan kebijaksanaan Otonomi Daerah. Mengingat kebijaksanaan Otonomi Daerah ini menyangkut seluruh aspek kehidupan dan penyelenggaraan pemerintahan maka sudah seharusnya UU 22/1999 dijadikan acuan bagi Undang-Undang lainnya. Sebagai tindak lanjut dari aspek politik tersebut adalah aspek regulasi atau peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 22/1999 sebagai regulasi induk kebijaksanaan Otonom Daerah yang diamanatkan pasal 18 UUD 1945 tentu harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden serta peraturan perundang-undangan lainnya. Untuk mengatur lebih lanjut tentang kewenangan antara Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom, dimana PP tersebut memberikan kejelasan dari batasan kewenangan Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota. Namun demikian regulasi implementasi kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut masih sangat terbatas, padahal masih sangat banyak hal yang harus segera diatur dengan Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden. Disamping itu juga terdapat inkonsistensi Pemerintah Pusat dalam mengeluarkan regulasi bagi pelaksanaan kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut, seperti Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang Pertanahan. Keppres tersebut menganulir kewenangan di bidang pertanahan yang sudah menjadi kewenangan Daerah dengan mengembalikannya menjadi kewenangan Pusat.

Dari aspek kelembagaan untuk mengimplementasikan kebijaksanaan Otonomi Daerah mengharuskan adanya restrukturisasi kelembagaan pemerintahan baik di Pusat maupun Daerah. Secara bertahap hal ini telah dilakukan antara lain dengan melakukan peleburan terhadap instansi vertikal yang berada di Daerah menjadi Perangkat Daerah serta pelimpahan pegawai negeri sipil Pusat ke Daerah. Namun demikian dalam pelaksanaannya masih mengalami kendala yang disebabkan antara lain perbedaan persepsi dalam menafsirkan regulasi yang ada. Sehingga timbulnya ekses seperti pembentukan dan pemekaran organisasi Perangkat Daerah tanpa memperhatikan kapasitas dan kondisi Daerah setempat. Hal ini juga mengakibatkan timbulnya pembengkakan kebutuhan belanja pegawai. Kendala berikut dalam implementasi kebijaksanaan Otonomi Daerah adalah terbatasnya kapasitas sumber daya manusia aparatur baik di Pusat dan Daerah. Keterbatasan kapasitas ini menimbulkan perbedaan persepsi dalam menafsirkan dan memahami konsep dan semangat Otonomi Daerah. Kondisi ini akan menghambat percepatan implementasi kebijaksanaan Otonomi Daerah. Sebagian di antaranya merasa takut akan kehilangan kekuasaan dan sebaliknya sebagian lagi kebablasan dalam menerapkan Otonomi Daerah. Kondisi SDM aparatur tersebut sebenarnya tidak terlepas dari sistem kerja dan regulasi yang berlaku selama ini, sehingga mengakibatkan mereka seperti kehilangan kreatifitas dan inovasi dalam melaksanakan tugasnya. Sedangkan dari aspek masyarakat sendiri kendala yang tampak adalah kondisi masyarakat yang sudah cukup lama terabaikan. Berbagai program pemerintah selama ini sebagian kurang menyentuh kepentingan masyarakat karena direncanakan secara top down . Sehingga kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut disambut secara beragam oleh masyarakat. Walaupun tanggapan masyarakat cukup beragam, namun secara umum masyarakat cukup antusias dalam menymabut kebijaksanaan Otonomi Daerah. Hanya saja sebagian kurang yakin apakah Pusat sudah spenuh hati dalam mengimplementasikan kebijaksanaan ini.

Dari pengalaman melaksanakan kebijaksanaan Otonomi Daerah semenjak Januari 2001 dapat disimpulkan beberapa kendala yaitu antara lain : a. Belum memadainya regulasi atau peraturan pelaksanaan kebijakan Otonomi Daerah b. Terdapatnya inkonsistensi pemerintah pusat dalam melaksanakan kebijaksanaan Otonomi Daerah c. Belum terdapatnya persamaan persepsi dalam menafsirkan kebijakan Otonomi Daerah dar berbagai kalangan d. Terbatasnya kemampuan SDM dalam melaksanakan kebijakan Otonomi Daerah. Kendala-kendala tersebut akan dapat diatasi, jika semua komponen bangsa turut memberikan dukungannya. Memvonis bahwa UU 22/1999 harus segera direvisi merupakan suatu langkah yang kurang tepat. Hendaknya dilakukan monitoring dan evaluasi yang komprehensif terhadap pelaksanaan kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut. Mengingat waktu pelaksanaan UU 22/1999 yang kurang dari satu tahun, kiranya akan lebih baik jika diupayakan dulu mengoptimalkan implementasi kebijaksanaan Otonomi Daerah tersebut.

IV. Format Otonomi Daerah dan Dampaknya Terhadap Anggaran Pembangunan Daerah Jika kita membicarakan otonomi daerah maka hal ini tidak akan terlepas dari membicarakan desentralisasi. Otonomi daerah sebenarnya bukanlah merupakan barang baru dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di republik tercinta ini. Bahkan semenjak masa pemerintahan kolonial Belanda sudah dikenal adanya otonomi daerah diantaranya sebagai diatur dalam Wethoundende Decentralisatie van het Bestuur in Nederlandsch Indie yang lebih dikenal dengan Decentralisatie Wet 1903. Kemudian semenjak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai sekarang telah banyak undang-undang yang mengatur otonomi daerah tersebut,

diantaranya ; UU 1/1945, UU 22/1948, UU NIT 44/1950, UU 1/1957, Penpres 6/1959, UU 18/1965, UU 5/1974 dan terakhir denganUU.22/1999. Lebih dari dua dekade penyelenggaraan pemerintahan daerah di bawah UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah menggunakan azas dekonsentrasi, desentralisasi dan pembantuan. Pada masa itu dilak-sanakan prinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab. Otonomi daerah dipahami sebagai hak, wewenang dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun demikian otonomi daerah tersebut lebih mengarah kepada kewajiban dibandingkan sebagai hak. Urusan-urusan yang menjadi urusan rumah tangga daerah ditentukan oleh pusat bukan oleh daerah sendiri, sehingga urusan yang diserahkan tersebut lebih menekankan kepada kewajiban daripada hak. Sebagai akibat dari pelaksanaan otonomi daerah di bawah UU 5/1974 tersebut ketergantungan daerah kepada pusat sangat besar. Daerah yang seharusnya diberdayakan untuk mengurus rumah tangganya sendiri pada kenyataannya sangat tergantung kepada juklak, juknis dan berbagai panduan lainnya yang dikeluarkan oleh pusat. Sehingga boleh dikatakan pelaksanaan otonomi daerah selama ini ibarat kepala dilepas tapi ekor dipegang . Dalam rangka pemberdayaan daerah dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakatnya maka pelaksanaan otonomi daerah di bawah UU 22/1999 telah membawa angin segar. Lahirnya UU 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewenangan yang sangat luas bagi daerah dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, dan bidang agama. UU 22/1999 menyatakan bahwa otonomi daerah merupakan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya ke depan kita berharap pelaksanaan otonomi daerah di bawah UU 22/1999 ini akan dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan dan aspirasi masyarakatnya. Karena daerah lebih memahami kondisi dan karakter daerah serta masyarakatnya maka setiap kebijakan yang diambil tentu akan lebih menyentuh kepentingan dan sesuai dengan aspirasi masyarakatnya. Dengan kewenangan yang dimilikinya daerah akan lebih leluasa dalam menyusun dan menetapkan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Pelaksanaan pembangunan daerah tentu saja tidak terlepas dari ketersediaan dana untuk pembiayaannya. Pembiayaan bagi pelaksanaan pembangunan daerah dituangkan dalam anggaran pembangunan. Selama ini anggaran pembangunan daerah terbagi atas anggaran pembangunan yang termasuk dalam APBD dan anggaran pembangunan yang dikelola oleh instansi vertikal di daerah. Anggaran pembangunan daerah pada umumnya bersumber dari bantuan pembangunan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Bantuan pembangunan yang diberikan oleh pusat kepada daerah terdiri atas bantuan umum dan bantuan khusus. Bantuan umum pada prinsipnya merupakan dana yang diserahkan penggunaannya kepada daerah dalam rangka pembangunan daerah, sedangkan bantuan khusus penggunaannya ditetapkan oleh pemerintah melalui Inpres. Dalam pelaksanaan bantuan umum tersebut pada kenyataannya pemerintah pusat memberlakukan dua ketentuan yaitu diarahkan dan ditetapkan. Ditetapkan maksudnya penggunaan dana tersebut telah ditetapkan khusus oleh pemerintah pusat sehingga daerah hanya melaksanakan sesuai ketetapan tersebut. Sedangkan pada penggunaan yang diarahkan, pusat menetapkan ketentuan dan batasan yang harus diikuti daerah dalam penggunaan dana tersebut. Kalau kita perhatikan kondisi tersebut secara seksama sebenarnya selama ini program pembangunan daerah lebih banyak ditentukan oleh pusat daripada daerah sendiri. Perencanaan pembangunan yang disusun daerah harus berada dalam

ketentuan atau batas-batas yang digariskan pusat. Batasan-batasan yang diberikan oleh pusat tersebut kadang-kadang berbenturan dengan kepentingan dan kebutuhan daerah sehingga dapat menyebabkan program pembangunan yang disusun tidak menyentuh kebutuhan daerah dan masyarakat. Disamping hal di atas pengalokasian anggaran pembangunan sektoral di daerah yang dikelola oleh instansi vertikal sering tumpah tindih dengan program pembangunan daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah. Hal ini tentu saja merupakan pemborosan anggaran pembangunan. Melalui kewenangan yang diberikan oleh UU 22/1999 kepada daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah maka berbagai kelemahan dalam penyusunan dan pengelolaan anggaran pembangunan daerah diharapkan dapat disempurnakan. Dengan kewenangan yang dimilikinya daerah dapat menyusun perencanaan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan aspirasi masyarakat. Perencanaan pembangunan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. Anggaran pembangunan yang disusun dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan daerah tentu akan lebih efektif dibandingkan dengan anggaran pembangunan yang disusun dengan prinsip keseragaman antar daerah. Anggaran pembangunan tersebut diharapkan dapat mengatasi terjadinya pemborosan sebagai akibat program pembangunan yang tumpang tindih. Secara ideal, jika pengelola keuangan daerah yang bersumber dari PAD, dana perimbangan, pinjaman daerah dan lain-lain pendapatan yang sah merupakan kewenangan daerah maka penggunaannya untuk anggaran pembangunan akan lebih efektif. Pengalokasian dana tersebut ke dalam anggaran pembangunan tentu harus berdasarkan pengkajian dan pertimbangan yang matang. Mustahil daerah akan mengalokasikan sejumlah dana tanpa melalui perencanaan yang matang, karena hal ini dapat menjadi pemborosan baik keuangan daerah.

Dalam tahap awal pelaksanaan otonomi daerah banyak daerah yang mengalami shock akibat terbatasnya Dana Alokasi Umum (DAU) yang dapat dialokasikan untuk anggaran pembangunan karena sebagian besar dana tersebut terserap untuk anggaran belanja rutin. Hal ini antara lain karena selama ini dalam penyusunan anggaran pembangunan dan anggaran rutin dalam APBD sudah ada pedoman dan panduan dari pusat, sedangkan sekarang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. Disamping itu jajaran instansi vertikal yang dulu menerima anggaran pembangunan dari DIP APBN, setelah sekarang dilebur menjadi perangkat daerah tidak lagi mengelola dana yang sama tetapi mengelola dana yang bersumber dari APBD. Tahun-tahun awal pelaksanaan otonomi daerah merupakan masa-masa yang berat dan penuh tantangan bagi sebagain besar daerah dalam menyusun dan mengelola anggaran pembangunan tersebut. Namun demikian kita harus yakin bahwa hal ini akan dapat disempurnakan secara bertahap sehingga pada saatnya nanti sejalan dengan peningkatan kapasitas SDM, keuangan, dan kelembagaan, daerah akan mampu menyusun dan mengelola anggaran pembangunan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu tujuan pembangunan daerah adalah untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Sedangkan pertumbuhan ekonomi digunakan sebagai alat ukur bagi keberhasilan pembangunan. Peningkatan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi selanjutnya akan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan yang dilaksanakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut harus memperhatikan antara lain; kondisi ekonomi masyarakat yang ada, potensi sumber daya alam dan manusia, dan infrastruktur yang tersedia. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut selanjutnya disusun perencanan pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana telah dibahas di depan dengan kewenangan yang dimiliki daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat menurut prakarsa sendiri

berdasarkan aspirasi masyarakat dimungkin daerah untuk menyusun perencanaan dan melaksanakan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Pembangunan daerah yang dilaksanakan tersebut tentu akan membawa prospek baik bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Akhirnya untuk mencapai hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kapasitas dan partisipasi dari para stakeholders di daerah serta keseriusan dan kerelaan pusat mmeberikan pembinaan dan dukungan. Tanpa keterlibatan para stakeholders dan dukungan pusat tersebut akan sulit bagi daerah dalam melaksanakan pembangunan menuju terwujudnya pertumbuhan ekonomi daerah.

C. PEMBERIAN OTONOMI KHUSUS KEPADA SUATU DAERAH DI INDONESIA Dengan adanya perjanjian yang dibuat oleh pemerintah Indonesia terhadap wilayah Daerah Istimewah Aceh agar mempunyai hak membangun sendiri daerahnya tanpa campur tangan pemerintah menimbulkan kecemburuan sosial terhadap berbagai daerah lainnya di Indonesia misalnya Papua dan Maluku. Kebijakan pemerintah untuk membarkan D.I.Aceh mengembangkan daerahnya secara mandiri itu disebabkan atau merupakan perjanjian yang dibuat pemerintah Indonesia dengan pemerintah aceh yang dahulu disebut GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Helsinki Findlandia. Perjanjian ini dbuat agar pihak GAM mau berdamai dengan pemerintah Indonesia dan membatalkan usahanya untuk mendirikan negara sendiri dan berpisah dari negara kesatuan republik Indonesia.

I. Otonomi Daerah yang Terjadi di Aceh Jika dirunut, salah satu isu sentral yang mencuat, terkait negara kesatuan. Saat itu ada pendapat, hasil perundingan Helsinki akan menjadi jalan kemerdekaan bagi Aceh. Contoh yang sering dikemukakan, hasil perundingan Helsinki tidak eksplisit menyebut UUD 1945 dan NKRI Kecemasan itu menjadi catatan khusus penyusun RUU PA sehingga perlu tepat dirumuskan posisi Aceh dalam NKRI. Hasil rumusan RUU PA terbaca dalam Pasal 1 angka 1: "Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip NKRI berdasar UUD 1945". Pasal 1 angka 4 RUU PA menguatkan rumusan itu, "Pemerintahan Aceh adalah pemerintahan daerah provinsi dalam sistem NKRI berdasar UUD 1945 yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang dilaksanakan Pemerintah Daerah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing".

Jika dibaca cermat, rumusan Pasal 1 angka 1 dan angka 4 RUU PA merupakan titik temu antara prinsip negara kesatuan dan hasil perundingan Helsinki. Frasa terbuka "bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat" dikunci dengan frasa "sesuai peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip NKRI berdasarkan UUD 1945". Tidak hanya terbatas pada meletakkan otonomi khusus Aceh dalam NKRI, Pasal 7 Ayat (1) RUU PA menggariskan, Pemerintahan Aceh dan kabupaten/kota berwenang mengurus urusan pemerintahan dalam semua sektor publik kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pusat. Dalam hal ini, kewenangan pusat meliputi urusan pemerintahan yang bersifat nasional, politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter, fiskal nasional, dan bidang agama. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran otonomi khusus akan meruntuhkan NKRI. Apalagi, UUD 1945 melandasi pelaksanaan prinsip desentralisasi yang tidak simetris (asymetrical decentralization) antara satu daerah dan daerah lain. Prinsip itu ditemukan dalam Pasal 18 UUD 1945. Berdasarkan penjelasan itu, isu luruhnya bangunan NKRI dalam RUU PA tidak relevan. Yang jauh lebih rumit, keberatan dan penolakan terhadap RUU PA dari sejumlah kalangan Tanah Rencong. Misalnya, aktivis Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA) menilai RUU PA memangkas kewenangan Aceh terutama terkait pembagian sumber daya alam dan migas (Kompas, 12/7). Bahkan, karena Jakarta dianggap belum ikhlas memberi kewenangan kepada daerah, Jaringan Demokrasi Aceh (JDA) menolak pengesahan RUU PA dan akan mempersoalkan hal itu melalui mekanisme hak uji materiil. Masalah itu bisa menjadi kian rumit karena beberapa substansi RUU PA dipersoalkan sejumlah petinggi GAM. Misalnya, penggantian istilah "persetujuan" menjadi "pertimbangan" dalam rencana persetujuan internasional dan pembentukan UU oleh DPR, terkait pemerintahan Aceh. Tidak hanya itu, peluang pemerintah pusat

menetapkan norma, standar, dan prosedur serta melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan yang dilaksanakan Pemerintah Aceh bisa mereduksi kekhususan Aceh (Koran Tempo, 12/07). Dari beberapa keberatan itu, catatan GAM perlu disikapi serius. Penyikapan itu tidak terlepas dari posisi RUU PA saat ini yang tidak mungkin diubah. Yang paling masuk akal dilakukan, meski tidak disebut dengan istilah "persetujuan", DPR harus memerhatikan sungguh-sungguh tiap "pertimbangan" Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Jika itu bisa dilakukan, penggantian istilah "persetujuan" menjadi "pertimbangan" tentu tidak akan menjadi penghambat dalam meneruskan proses rekonsiliasi di Aceh. Yang perlu disadari, saat perundingan Helsinki, perumusan naskah MOU hanya berlangsung antara GAM-Pemerintah RI. Namun, ketika hasil perundingan harus dituangkan dalam bentuk UU, kepentingan politik DPR menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan GAM. Artinya, jika ada sebagian kecil hasil perundingan Helsinki tidak terakomodasi dalam RUU PA, jangan dijadikan alasan untuk merusak suasana damai yang telah terbangun. Dalam situasi seperti sekarang, semua pihak harus saling mengerti dan menerima. Misalnya, bagi semua elemen di Aceh, penyelesaian RUU PA harus dijadikan kesempatan untuk menggenjot segala aspek pembangunan guna menciptakan kesejahteraan masyarakat. Apalagi, sebagian materi RUU PA akan dielaborasi lebih jauh dalam qanun. Kegagalan dalam merumuskan qanun amat potensial menghancurkan sejumlah lompatan besar yang ada dalam RUU PA. Sementara itu, pemerintah pusat tidak boleh lagi menggunakan kekuasaan (seperti di daerah lain) untuk mereduksi sifat kekhususan yang diberikan kepada Aceh. Tindakan represif terhadap qanun mesti dihindari. Jika pusat keberatan dengan substansi qanun, sebaiknya dilakukan upaya nonrepresif. Bagaimanapun, dengan tetap mengedepankan tindakan represif, penilaian bahwa pemerintah pusat tidak ikhlas dan berupaya mereduksi kekhususan Aceh sulit untuk dihindari. Jika semua

pihak bisa saling memahami, RUU PA benar-benar akan menjadi fajar baru bagi otonomi khusus di Aceh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times