You are on page 1of 13

4.2.

Injeksi Air (Waterflooding)
Waterflooding merupakan metode perolehan tahap kedua dengan
menginjeksikan air ke dalam reservoir untuk mendapatkan tambahan perolehan
minyak yang bergerak dari reservoir menuju ke sumur produksi setelah reservoir
tersebut mendekati batas ekonomis produktif melalui perolehan tahap pertama.
Keuntungan dari pelaksanaan Waterflooding dibandingkan dengan metode
perolehan tahap kedua yang lainnya (gas flooding), antara lain adalah :
 tersedia dalam jumlah yang melimpah,
 relatif mudah diinjeksikan dan mampu menyebar melalui formasi bearing
minyak, dan
 lebih efisien dalam mendesak minyak.
Penginjeksian air bertujuan untuk memberikan tambahan energi kedalam
reservoir. Pada proses pendesakan, air akan mendesak minyak mengikuti jalur-
jalur arus (stream line) yang dimulai dari sumur injeksi dan berakhir pada sumur
produksi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.12, yang menunjukkan
kedudukan partikel air yang membentuk batas air-minyak sebelum breakthrough
(a) dan sesudah breakthrough (b) pada sumur produksi.
s u m u r p r o d u k s i
s u m u r i n j e k s i
A
B
C
D
E
( a )
A
B
D
E
( b )
Gambar 4.12.
Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus
(a) sebelum dan (b) sesudah Tembus Air Pada Sumur Produksi
3)
4.2.1. Perencanaan Waterflood
Sebelum membuat perencanaan operasi waterflooding diperlukan studi
pendahuluan. Data-data yang dibutuhkan dalam studi pendahuluan antara lain
adalah sebagai berikut :
 Sifat fisik batuan reservoir.
 Permeabilitas rata-rata dalam berbagai luasan reservoir.
 Data porositas dalam berbagai luasan reservoir.
 Heterogenitas reservoir.
 Sifat fluida reservoir. Distribusi saturasi air, baik sebelum injeksi maupun
sesudah injeksi.
 Model geologi, yang meliputi stratigrafi dan struktur.
 Sejarah produksi dan tekanan.
Data tersebut diatas, digunakan dalam studi pendahuluan mengenai
pelaksanaan waterflood, yang meliputi :
 Perencanaan Air Injeksi.
Air untuk injeksi harus mempunyai syarat-syarat :
o Tersedia dalam jumlah yang cukup sepanjang masa injeksi
o Tidak mengandung padatan-padatan yang tidak dapat larut.
o Secara kimiawi stabil dan tidak mudah bereaksi dengan elemen-
elemen yang terdapat dalam sistem injeksi dan reservoir.
 Simulasi Reservoir.
Sebelum waterflooding diterapkan terlebih dahulu dibuat simulasinya
berdasarkan data-data diatas. Simulasi dapat dibuat dalam sistem 1 dimensi, 2
dimensi, dan 2 dimensi dengan teknik numerik.
 Studi Laboratorium.
Penelitian laboratorium dimaksudkan untuk mencari kecocokan antara proses
waterflooding dengan sifat batuan dan fluidanya.
 Pelaksanaan Pilot Project.
Mencoba mengaplikasikan ke dalam permasalahan di lapangan. Ada dua jenis
pola injeksi yang umum digunakan, yaitu pola five-spot dan single-injection.
Kedua pola ini dapat memaksimalkan jumlah migrasi minyak.
 Monitoring Pelaksanaan Pilot Project.
Memonitor dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari pelaksanaan pilot
project..
 Resimulasi.
Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan pilot project dibandingkan dengan
simulasi reservoir yang dibuat, lalu diadakan penyesuaian antara kondisi
lapangan dengan simulasi reservoirnya.
 Evalusi Ekonomi.
Meliputi: Perkiraan biaya yang dibutuhkan, perhitungan-perhitungan dan
presentasi.
Hasil dari studi pendahuluan untuk selanjutnya digunakan dan dijadikan
acuan dalam perencanaan operasi waterflood. Perencanaan tersebut meliputi
penentuan lokasi sumur injeksi dan sumur produksi, penentuan pola sumur
(pattern) serta penentuan debit dan tekanan injeksi.
Penentuan Lokasi Sumur Injeksi-Produksi
Pada umumnya dipegang prinsip bahwa sumur-sumur yang sudah ada
sebelum injeksi dipergunakan secara maksimal pada waktu berlangsungnya
injeksi nanti. Jika masih diperlukan sumur-sumur baru maka perlu ditentukan
lokasinya. Untuk memilih lokasi sebaiknya digunakan peta distribusi cadangan
minyak tersisa. Di daerah yang sisa minyaknya masih besar mungkin diperlukan
lebih banyak sumur produksi daripada daerah yang minyaknya tinggal sedikit.
Peta isopermeabilitas juga membantu dalam memilih arah aliran supaya
penembusan fluida injeksi (breakthrough) tidak terjadi terlalu dini.
Penentuan Pola Sumur Injeksi-Produksi
Salah satu cara untuk meningkatkan faktor perolehan minyak adalah
dengan membuat pola sumur injeksi-produksi, yang bertujuan untuk mendapatkan
pola penyapuan yang seefisien mungkin. Tetapi kita harus tetap memegang
prinsip bahwa sumur yang sudah ada sebelum injeksi harus dapat digunakan
semaksimal mungkin pada waktu berlangsungnya injeksi nanti.
Pertimbangan-pertimbangan dalam penentuan pola sumur injeksi produksi
tergantung pada:
 Tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas ke arah
lateral maupun ke arah vertikal.
 Struktur batuan reservoir meliputi patahan, kemiringan, dan ukuran.
 Sumur-sumur yang sudah ada (lokasi dan penyebaran).
 Topografi.
 Ekonomi.
Pada operasi waterflooding sumur-sumur injeksi dan produksi umumnya
dibentuk dalam suatu pola tertentu yang beraturan, misalnya pola tiga titik,lima
titik, tujuh titik, dan sebagainya. Pola sumur dimana sumur produksi dikelilingi
oleh sumur-sumur injeksi disebut dengan pola normal. Sedangkan bila sebaliknya
yaitu sumur-sumur produksi mengelilingi sumur injeksi disebut dengan pola
inverted. Masing-masing pola mempunyai sistem jaringan tersendiri yang mana
memberikan jalur arus berbeda-beda sehingga memberikan luas daerah penyapuan
yang berbeda-beda. Diantara pola-pola yang paling umum digunakan :
 Direct line drive : sumur injeksi dan produksi membentuk garis tertentu
dan saling berlawanan. Dua hal penting untuk diperhatikan dalam sistem ini
adalah jarak antara sumur-sumur sejenis (a) dan jarak antara sumur-sumur tak
sejenis (b)
 Staggered line drive : sumur-sumur yang membentuk garis tertentu
dimana sumur injeksi dan produksinya saling berlawanan dengan jarak yang
sama panjang, umumnya adalah a/2 yang ditarik secara lateral dengan ukuran
tertentu.
 Four spot : terdiri dari tiga jenis sumur injeksi yang membentuk segitiga
dan sumur produksi terletak ditengah-tengahnya.
d i r e c t l i n e d r i v e s t a g g e r e d l i n e d r i v e
r e g u l a r
f o u r s p o t p a t t e r n
s e v e n s p o t p a t t e r n
f i v e s p o t p a t t e r n
i n v e r t e d
s e v e n s p o t p a t t e r n
n i n e s p o t p a t t e r n i n v e r t e d
n i n e s p o t p a t t e r n
s k e w e d
f o u r s p o t p a t t e r n
i n j e c t i o n w e l l p r o d u c t i o n w e l l
Gambar 4.13
Pola-pola Sumur Injeksi-Produksi
3)
 Five spot : Pola yang paling dikenal dalam waterflooding dimana sumur
injeksi membentuk segi empat dengan sumur produksi terletak ditengah-
tengahnya.
 Seven spot : sumur-sumur injeksi ditempatkan pada sudut-sudut dari
bentuk hexagonal dan sumur produksinya terletak ditengah-tengahnya.
Penentuan Debit dan Tekanan Injeksi
Debit injeksi yang akan ditentukan di sini adalah untuk sumur-sumur
dengan pola tertutup dengan anggapan bahwa mobility ratio (M) sama dengan
satu. Besarnya debit injeksi tergantung pada perbedaan tekanan injeksi di dasar
sumur dan tekanan reservoirnya. Bentuk persamaan dikembangkan dari
persamaan Darcy sesuai dengan pola sumur injeksi-produksi,sebagai berikut :
 Pola direct line drive (d/a ≥1),
( )
1
1
]
1

¸

− +

,
_

¸
¸
µ

·

838 , 1
a
d
571 , 1
r
a
ln
10 x P k 541 , 3
i
w
w
3
w
................................. (4-12)
 Pola staggered line drive (d/a ≥1),
( )
1
1
]
1

¸

− +

,
_

¸
¸
µ

·

838 , 1
a
d
571 , 1
r
a
ln
10 x P h k 541 , 3
i
w
w
3
w
................................. (4-13)
 Pola five spot (d/a = 0,5),
( )
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
µ

·

619 , 0
r
d
ln
10 x P h k 541 , 3
i
w
w
3
w
.................................................. (4-14)
 Pola seven spot,
( )
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
µ

·

619 , 0
r
d
ln
10 x P h k 72 , 4
i
w
w
3
w
................................................... (4-15)
Persamaan yang disebutkan diatas adalah laju injeksi dari fluida yang
mempunyai mobilitas yang sama (M=1) karena reservoir minyak terisi oleh cairan
saja. Untuk menentukan laju injeksi sampai dengan terjadinya interferensi
digunakan persamaan:
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸ µ
+

,
_

¸
¸ µ

·

r
r
ln
k r
r
ln
k
P h k 10 x 07 , 7
i
e
ro
o
w rw
w
3
w
................................................. (4-16)
Untuk mencapai keuntungan ekonomis yang maksimal biasanya
diinginkan debit injeksi yang maksimal, namun ada pembatasan-pembatasan yang
harus diperhatikan. Batas bawah debit injeksi adalah debit yang menghasilkan
produksi minyak yang merupakan batas ekonomisnya. Batas atas debit injeksi
adalah debit yang berhubungan dengan tekanan injeksi yang mulai menyebabkan
terjadi rekahan di reservoir.
Analisa berikutnya adalah injeksi air dari interface sampai dengan fill-up.
Besarnya laju injeksi pada perioda ini dinyatakan dengan persamaan :
i
wf
= τ x i ......................................................................................... (4-17)
Dengan diketahuinya laju injeksi pada setiap periode dari perilaku water
flood, maka diramalkan waktu injeksi dari setiap periode.
4.2.2. Perhitungan Performance Injeksi Berpola
Percobaan model fisik berskala kecil menghasilkan beberapa grafik
performance dalam bentuk hubungan E
s
(effisiensi penyapuan) terhadap V
id
(volume yang diinjeksikan, tak berdimensi), atau f
w
(fraksi laju aliran dari fluida
pendesak, misalnya air) terhadap M (perbandingan mobilitas air terhadap
minyak). Model fisik ini menggambarkan reservoir dan aliran sebagai berikut :
 Tebal lapisan dibandingkan dengan ukuran reservoir adalah kecil,
sehingga persoalan dapat dianggap 2 dimensi.
 Tidak ada pengaruh gravitasi atau kemiringan reservoir adalah kecil (<10
o
)
 Reservoir bersifat homogen
 Pendesakan torak dan aliran mantap berlaku pada proses injeksi.
Hasil percobaan diperoleh dari perekaman daerah yang didesak dan
dinyatakan dalam hubungan E
s
terhadap bermacam-macam harga f
w
dan V
id
injeksi pola unit luas
front belakang di daerah luas
E
s
·
(4-18)
( )
( )
d
i
id
V didesak yang pori pori volume
V diinjeksi telah yang volume
V

·
(4-19)
V
d
= V
b
φ (1 – S
wc
–S
or
) (4-20)
Hasil percobaan ini dapat digunakan untuk menentukan performance dari
reservoir yang mengalami injeksi berpola, baik untuk lapisan tunggal maupun
untuk reservoir berlapis-lapis. Dalam hal ini akan dibahas untuk reservoir lapisan
tunggal.
Pada waktu injeksi dimulai reservoir akan mengandung gas bebas
bila tekanan reservoir berada dibawah tekanan jenuh. Gas bebas ini baru dapat
mengalir bila saturasi gas sudah melampaui harga saturasi yang kritis (S
g
> S
gc
).
Gas bebas pada saat saturasi mencapai S
g
≤ S
gc
masih belum dapat mengalir,
sehingga injeksi air tidak dapat mendesak gas ke arah sumur-sumur produksi
melainkan tertinggal di belakang front atau larut kembali dalam minyak.
Perhitungan Performance apabila S
g
memenuhi keadaan 0 ≤ S
g
≤ S
gc
Besaran yang digunakan adalah N
p
(produksi minyak kumulatif, bbl),
W
p
(produksi air kumulatif, bbl), W
i
(injeksi air kumulatif, bbl) dan WOR
(perbandingan debit produksi minyak dan debit produksi air)
Parameter yang dibutuhkan untuk perhitungan:
1. Perbandingan mobilitas
w
o
wr ro
or rw
S k
S k
M
µ
µ
·
(4-21)
2. Volume pori yang dapat didesak oleh air

( )
or g wc b D
S S S 1 V V − − − φ ·
(4-22)
3. Dari grafik pada Gambar 4.14 dapat ditentukan hubungan E
s
dan V
iD,
kemudian dibuat gambarnya seperti Gambar 4.15.
1 1 0 1 0 0 0 , 1 1 0 0 0
0 , 3
0 , 4
0 , 5
0 , 6
0 , 7
0 , 8
0 , 9
1 , 0
0 , 5
0 , 6
0 , 7
0 , 8
0 , 9
1 , 0
1 , 5
2 , 0
3 , 0
i n j e c t e d v o l u m e
d i s p l a c e a b l e p o r e v o l u m e
B
R
E
A
K
T
H
R
O
U
G
H
M o b i l i t y r a t i o , M
A
r
e
a
l

s
w
e
p
t

e
f
f
i
c
i
e
n
c
y
,

E
s
Gambar 4.14
Grafik Hubungan antara E
s
vs V
iD
untuk berbagai Harga M.
2)
1 . 0
0 . 0
2 1 3 4
V
i D
M = 2
M - 2 , M >
0
E
s
Gambar 4.15
Grafik Hubungan antara V
iD
vs E
s

2)
Dari grafik tersebut dapat dihitung :
1.
( )
iD
s
iD
s
iD res o
dV
dE
V
E
lim 0 V t f ·


· → ∆
(4-23)

( ) ( )
res o w
f 1 f − ·
2.
( )
( )
( )
res
w
res
w
res
f 1
f
WOR

·
.................................................................... (4-24)

( ) ( )
w
o
res s
B
B
WOR WOR ·
(4-25)
(WOR)
res
dan (WOR)
s
berturut-turut adalah perbandingan debit produksi air
dan minyak di reservoir dan di permukaan.
3.
( ) ( )
o
D
el mod
s
p
B
V x E
N ·
(4-26)
( ) ( )
w
D
el mod
iD
i
B
V x W
W ·
(4-27)
w
o p w i
p
B
B N B W
W

·
(4-28)
Dari hasil perhitungan di atas dapat dihitung :
( )
( )
v p
p
s
o
N W d
dN
f
+
·
(4-29)
( )
( )
( )
s
o
s
o
f
f 1
WOR

·
(4-30)
Penentuan Performance apabila S
g
Memenuhi Keadaan S
g
>S
gc
Anggapan yang digunakan adalah sebagai berikut :
 Oil bank bertemu pada sumur produksi yang dikelilingi oleh sumur injeksi
 Minyak telah mengisi seluruh bagian reservoir, kecuali daerah yang diisi
air. Oil bank breakthrough bersamaan di semua sumur injeksi berpola
 Selama pengisian minyak pada pori-pori yang telah ditinggalkan gas
hingga oil bank breakthrough tercapai (fill up), sumur tetap memproduksikan
minyak dengan debit q
o
seperti sebelum injeksi dimulai
Volume air dan situasi minyak pada saat oil bank breakthrough :
Displaceble pore volume
( )
or gr wc b D
S S S 1 V ) V ( − − − φ ·
1. Keadaan minyak pada oil bank
( )
gr wc o
S S 1 S − − ·
(4-31)
2. Jumlah air yang telah diinjeksikan
( )
( )
or gr wc
w w
o o
gr g
iDf
S S S 1
B t
B q
1
S S
W
− − −

,
_

¸
¸


·
(4-32)
a. Sampai dengan fill up, minyak yang diproduksi :
w w
iDf D
o
w w
if
o pf
B i
V V
x q
B i
W
x q N · ·
(4-33)
b. Sesudah fill up, produksi minyak kumulatif :
( )
o
D iDf s
pf p
B
V V E
N N

· −
(4-34)
Volume air yang telah diinjeksikan sejak operasi dimulai :
w
D
el mod
D
i
t
B
xV
V
V
W

,
_

¸
¸
·
(4-35)
Produksi air kumulatif (W
p
) sebanding dengan selisih antara volume air
yang diinjeksikan sebelum fill up dengan volume air yang menggantikan minyak
sesudah fill up.
W
p
=
( ) ( )
w
D iDf s
w
D iDf iD
B
V V E
B
V V V −


=
( )
w
D s iD
B
V E V −

(4-36)
Perbandingan air-minyak di permukaan :
( )
p
p
s
dN
dW
WOR ·
(4-37)