You are on page 1of 100

Indonesia Rumah Bersama

13 suara untuk 68 tahun Indonesia

buku #2

untukharmoni.com
#17an

Indonesia Rumah Bersama
13 suara untuk 68 tahun Indonesia
Penulis Koordinator : Rio Tuasikal Penulis : Anastasia Monica Azizah Siti Bastinus Matjan Clara Tobing Isti Toq’ah Glenysz Febryanti Masduki Ping Setiadi Ria Apriyani Risa Sarah Septiarani Risdo Simangunsong Vida Semito Willy Illuminatoz Diterbitkan oleh : untukharmoni.com #17an

Catatan penulis koordinator

Rio Tuasikal :
Islam, Sunda-Maluku

“Melakukan Tunggal Ika”

13

N a m u n i n i b u ka n l a h i s e n g sembarang iseng. Saya merasa ini tepat waktu lantaran longgarnya penghormatan kita terhadap mereka yang berbeda. Salah satunya, nyaris persis tahun lalu, kawan-kawan Syiah di Sampang harus terusir dari kampungnya sendiri. Kini mereka hidup di pengungsian dan kurang perhatian. Tengok juga kawan-kawan GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia yang tak kenal lelah memperjuangkan hak mereka. Betul, seperti itulah kondisi kita sebagai bangsa. Di sana-sini, konflik atas nama beda merajalela. Ada yang merasa congkak mengatakan orang lain salah dan dirinya tidak. Ada yang merasa berhak memukuli dan melempari orang, padahal kekerasan tak pernah memberi jalan keluar. Satu sinyal bahwa di usianya sekarang, rakyat Indonesia masih belum dewasa. Hey, bangsa ini sepertinya lupa kesepakatan pendiri bangsa. Bahwa 68 tahun lalu, pendiri bangsa sepakat menyatukan Sabang hingga Merauke dalam satu nama : Indonesia. Ketika mereka sadar bahwa kita terlalu berbeda, 17.000 pulau 1.300 suku dan 500 bahasa, maka dibuatlah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman bergaul kita. Mereka berpesan pada kita untuk bekerjasama, bukan saling hina. Mereka ingin kita melihat perbedaan sebagai kekayaan, yang justru patut kita banggakan.

Semangat itulah yang kami hayati di untukharmoni.com. Lahir dua bulan lalu (ya, memang web ini masih begitu muda) kami mencoba terlibat dalam upaya membangun persahabatan lintasiman. Kami percaya bahwa perbedaan adalah kekayaan dan keberagaman adalah sarana saling belajar. Kami percaya lebih banyak orang yang ingin damai, hanya saja mereka tak pernah dapat kesempatan bersuara. Maka kami berkelana mencari para pecinta damai yang mau menyumbangkan artikel, cerpen, curhat, gambar, foto, kata-kata mutiara, video, apa pun. Perdamaian harus vokal. Begitu pula dengan buku digital ini, yang dari isinya saja, sudah menunjukkan perbedaan di antara para penulisnya. Sebanyak 13 orang dari berbagai kepercayaan, suku dan latar belakang, menuliskan apa yang mereka lihat tentang Indonesia, dengan bentuk, gaya dan cara mereka masing-masing. Untuk itu saya ingin berterimakasih kepada nama-nama yang sudah mencurahkan idenya di sini. Terimakasih dan dua jempol untuk Ping Setiadi, Vida Semito, Bastinus Matjan, Azizah Siti, Clara Tobing, Risa Sarah, Glenysz Febryanti, Isti Toq'ah, Ria Apriyani, Risdo Simangunsong, dan Anastasia Monica atas tulisan yang menggugah. Spesial untuk Pak Masduki dan Willy Illuminatoz, yang keduanya baru saya kenal akhir Juli lalu saat mengomentari berita VOA Indonesia, terimakasih banyak telah menjadi bagian keluarga pecinta damai.

Te r i m a ka s i h p u l a p a d a Wa wa n Gunawan, Firman Sebastian, Yunita Chen dan lainnya di Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub) Bandung atas dukungannya terhadap untukharmoni.com sejak awal. Selama saya menyunting 12 tulisan, tak jarang saya terharu sekaligus optimis. Ternyata masih banyak orang ya n g t i d a k m e m p e r m a s a l a h ka n perbedaan. Sebagaimana buku digital ini pun berisi macam-macam tulisan dan fokus : mulai dari surat personal ala Risa hingga makalah akademik ala Isti, mulai dari tema Islam ramah ala Masduki hing ga nasionalisme ala Risdo. Semuanya berbeda-beda, namun punya satu cita-cita. Dan itulah kenapa saya memberi pembuka ini judul Melakukan Tunggal Ika. Karena kami berusaha melakukannya. Dirgahayu Republik Indonesia

Mari berteman,

Rio Penulis koordinator pemula untukharmoni.com

Daftar Isi
Pengantar
Rio Tuasikal : Melakukan Tunggal Ika 3 Gabriella Ria Apriyani : Etnis Tionghoa (Katanya) Tidak Mau Berbaur 70 Azizah Siti : Tuhan dalam Pasal-Pasal 75 Ping Setiadi : Damai Itu Ada Dalam Kebersamaan 78

I Ngobrolin Indonesia 8
Risa Sarah Septiarani : Indonesia Rumah Bersama 10 Clara Ignatia Tobing : Indonesia Punya Siapa? 12 Willy Illuminatoz : Kenapa Harus di Sini? 21 Bastinus Matjan : Rumah Kita 25

III Bangga Sebagai Bangsa 84
Risdo Simangunsong : Sehabis Tujuh Belasan 85 Anastasia Monica : Radio Rusak 87 Glenysz Febryanti : Ketika Kemerdekaan Bukan Berarti Kebebasan 91

II Identitas, Konflik dan Upaya Damai 33
Isti Toq'ah : Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? 34 Vida Semito : Merah Putih dan Reruntuhan 49 Surat Untuk Presiden 53 Masduki : Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah 57

Para penulis cinta damai 94

TAK PERNAH SATU WARNA

I Ngobrolin Indonesia
untukharmoni.com
#17an

lirik

1/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

Indonesia kami lahir untukmu ...

Risa Sarah Septiarani :
Islam, Jawa-Sunda

“Indonesia Rumah Bersama”

Indonesia Rumah Bersama - Risa

Saya suka sekali dengan tema Untuk Harmoni kali ini yang bertujuan untuk memperingati HUT RI ke-68 yaitu “Indonesia Rumah Bersama”. Kenapa ya saat saya membaca tema ini, berbagai perasaan muncul seperti senang, bangga, haru sekaligus sedih. Perasaan senang, bangga dan haru bahwa memang ternyata bangsa kita tercinta ini yaitu Indonesia adalah “rumah” di mana berbagai macam suku, agama, dan kewarganegaraan ada. Are you realize that buddies? Dan seharusnya yang berada di dalamnya harus merasakan kenyamanan seperti rasanya teman-teman saat berada di rumah masing-masing. Rumah bagaikan tempat teman-teman untuk berteduh, berlindung dan merasakan nyaman, bukan? Dan itu sudah berlangsung sejak lama, sejak kerajaan-kerajaan di Indonesia masih kokoh berdiri sampai sekarang. Di mana para saudagar dari Cina, Belanda, Portugis dan berbagai bangsa lain sering singgah di Indonesia, baik untuk melakukan transaksi atau sekedar beristirahat. Salah satu faktor yang menyebabkan mereka kembali lagi ke Indonesia karena kehangatan dari masyarakat Indonesia itu sendiri yang kembali lagi menimbulkan perasaan seperti di “rumah”. Sedih karena seringkali konsep “rumah bersama” yang seharusnya memang menjadi jati diri bangsa kita ini malah membuat banyak perselisihan. Dapat dilihat banyak bentrokan antarwarga yang mengatasnamakan perbedaan agama atau perbedaan suku sebagai penyebabanya. Tidakkah kalian sadar bahwa perbedaanlah yang membuat bangsa kita indah dengan berbagai macam keragamannya? HUT-RI yang bisa kita rasakan dan kita rayakan sekarang ini juga berkat perjuangan yang tiada kenal lelah dari para pejuang kita, tanpa kenal perbedaan. Semua bersatu. Kalau tidak bersatu, apakah bisa kita menikmati kemerdekaan yang luar biasa indah ini? _ Risa Sarah Septiarani | @risarahs _

Clara Ignatia Tobing :
Kristen Katolik, Batak

“Indonesia Punya Siapa?”

Indonesia Punya Siapa? - Lala

Saya pernah berbicara dengan seorang teman mengenai kecenderungan preferensi seksual seseorang, dengan mengemukakan argumen satu sama lain. Diskusinya berjalan alot, dengan dua pihak yang memiliki jalan pikiran begitu berbeda satu sama lainnya.

Beliau, teman tersebut, adalah seseorang yang pintar, telah lama tinggal di luar negeri, menjunjung tinggi apa yang disebutnya sebagai nilai-nilai tradisional asli milik Indonesia. Saya, yang lebih muda, telah sering dikatakan dididik untuk tidak berpikir sebagai orang Indonesia, melainkan berpikir seperti produk masyarakat kapitalis. Di akhir diskusi teman tersebut berkata “Ya, karena kelihatannya segalanya alami bagi kalian, anak muda Indonesia sekarang, yang tidak lagi mengetahui mana budaya yang pantas dan tidak untuk orang Indonesia. Pemikiran seperti itu bukan milik orang Indonesia.” Setelah diskusi tersebut usai, saya terkejut. Secara tidak langsung, saya dipojokkan dan dikatakan bahwa saya b u k a n o r a n g I n d o n e s i a . Wa h , membingungkan. Di akte lahir, KTP dan semua dokumen saya tertulis jelas bahwa saya berkebangsaan Indonesia. Lahir, tinggal, menetap dan hidup di sini. Saya diajari sejarah Indonesia, semua nama-nama presidennya, semua nama negara penjajah, semua pergantian jumlah provinsi Indonesia. Saya berpenampilan 100% orang Indonesia, ras mongoloid yang berkulit coklat. Saya berbahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, sebagaimana yang disiratkan oleh janji Sumpah Pemuda. Saya tidak kurang Indonesia dari berjuta-juta masyarakat Indonesia lainnya. Lantas, mengapa saya dikatakan demikian?

Indonesia Punya Siapa? - Lala

Secara tidak langsung, bukan hanya saya yang pernah dilabeli stereotype “bukan Indonesia”, karena memiliki ciri yang berbeda dengan ciri yang menjadi kekhasan, trademark apa yang disebut “Indonesia” itu. Berkulit putih, mata sipit, bukan Indonesia! Wanita bekerja, tidak punya suami tetapi membesarkan anak sendiri, bukan Indonesia! Beragama lain dari 6 a ga m a ya n g d i te nt u ka n , b u ka n Indonesia! Pria menyukai sesama pria, wanita menyukai sesama wanita, bukan Indonesia! Berpikir dengan pemikiran tokoh diluar Indonesia, bukan Indonesia! Bla bla bla, bukan Indonesia! Bla bla bla, bukan Indonesia! Lebih mengerikan lagi, label-label “bukan Indonesia” itu biasanya diikuti tindakan kekerasan untuk mengusir jauh orang-orang yang berbeda itu. Banyak kita dengar mereka yang diberi label demikian menjadi korban kekerasan didalam negara Indonesia sendiri. Tentu kita masih ingat peristiwa kerusuhan Mei 1998 di mana ribuan keturunan etnis Tionghoa di Indonesia menjadi korban kekerasan, penculikan, pemerkosaan bahkan dibunuh. Mereka

ini dibantai dalam negaranya sendiri, negara yang memberikan KTP terhadap mereka dan mengakui mereka sebagai bangsa Indonesia. Tetapi apa, pada prakteknya mereka tidak diakui sebagai bagian dari bangsa ini.

Label semacam ini mau tidak mau masih dilakukan sampai sekarang, contoh kecilnya dari penamaan “Cina” terhadap etnis tionghoa di Indonesia. Padahal, sudah berpuluh-puluh tahun nenek moyang mereka hijrah dan m e n e t a p d i n e g a ra i n i , sebagaimana yang dilakukan nenek moyang kita berjuta tahun yang lalu.
Ada lagi kekerasan berdasarkan agama yang begitu menjamur sekian tahun lamanya. Sebagai contoh kasus pengungsi Syiah yang masih berlangsung sampai sekarang. Mereka meninggalkan kampung halamannya di Madura karena agama yang mereka anut dinilai sesat dan tidak sesuai dengan ajaran agama masyarakat di situ. Ratusan warga Syiah sampai sekarang berada dalam pengungsian, tidak bisa mendapatkan pendidikan, tidak punya tempat tinggal, tidak bekerja, tidak mempunyai penghidupan yang layak. Seakan mereka bukan bagian dari negara ini. Tak jarang juga kita melihat dalam ke h i d u p a n s e h a r i - h a r i , s e o ra n g t ra n s ge n d e r ata u m e re ka ya n g melakukan operasi pergantian kelamin,

Lebih mengerikan lagi, label-label “bukan Indonesia” itu biasanya diikuti tindakan kekerasan untuk mengusir jauh orangorang yang berbeda itu.

lirik

2/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

... Berkarya dan mengabdi bagimu

Indonesia Punya Siapa? - Lala

dipersulit kehidupannya. Pilihan pekerjaan bagi mereka terbatas, kebanyakan berkisar di industri kecantikan, atau lebih naas, menjadi pengamen di persimpangan jalan. Selebihnya? Jangan harap. Mereka dianggap bukan bagian dari masyarakat Indonesia yang hanya mengenal 2 jenis ke l a m i n d a r i l a h i r, l e l a k i ata u perempuan. Selebihnya, tidak ada tempat dalam masyarakat. Padahal Indonesia menjamin kebebasan bekerja dan berserikat. Indonesia tidak bisa menyediakan penghidupan yang lebih baik bagi mereka-mereka ini. Indonesia tidak bolehkah dimiliki mereka?

Indonesia juga punya mereka-mereka ini!
Orang-orang yang diberi label “bukan Indonesia” tentu bertanya, kenapa kami disebut demikian? Lantas, Indonesia ini punya siapa? Indonesia itu nama negara, nama suatu bangsa. Didalamnya ada yang kita sebut sebagai manusia, datang dari berbagai ras, macam suku, daerah, kebiasaan, pemikiran, dan agama. Setiap suku tersebut merupakan hasil migrasi atau perpindahan suku-suku yang lebih tua di

berbagai daratan Asia dahulu kala. Perpindahan, pencampuran, itulah yang membentuk Indonesia sekarang, suatu bangsa yang melintang di khatulistiwa. Yang membuat seseorang menjadi orang Indonesia adalah kesamaan cita-cita, cita-cita ingin membentuk bangsa ini menjadi bangsa yang lebih besar. Tanggal 29 Juli 1956 di Semarang Bung Karno, bapak negara Indonesia pernah berkata dalam pidatonya “Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia di dunia ini, Saudarasaudara, "basically" - pada dasar dan hakekatnya - adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah yang harus diperhatikan.” Bung Karno menyiratkan, bahwa yang terpenting, bagi kebesaran suatu bangsa, adalah penghormatan terhadap manusia di dalam negara tersebut. Penghormatan terhadap manusia yang membentuk bangsa tersebut. Tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya, semua sama di mata dunia. Menarik sekali bahwa pidato Bung Karno yang saya kutip diatas adalah bagian dari sebuah pidato panjang mengenai bagaimana Indonesia, yang dikatakan beliau sebagai “tanah air yang

Tanggal 29 Juli 1956 di Semarang Bung Karno, bapak negara Indonesia pernah berkata dalam pidatonya “Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia di dunia ini, Saudara-saudara, "basically" - pada dasar dan hakekatnya adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah yang harus diperhatikan.”

Indonesia Punya Siapa? - Lala

paling cantik di dunia”, agar menjadi bangsa yang lebih besar, mengalahkan rekan-rekan kita di dunia Barat. Bahwa kunci untuk menjadi bangsa demikian, salah satunya adalah penghormatan satu sama lainnya. Masih beranikah kita membedakan bangsa kita, mengkotak-kotakkan mereka s e b a ga i “ I n d o n e s i a d a n B u ka n Indonesia” kalau cita-cita kita adalah sama? Orang muda adalah orang-orang yang biasanya dijuluki sebagai orangorang yang bukan orang Indonesia lagi. Tidak mengenal kebudayaannya, tidak mengenal kakek neneknya. Berpikir di luar tradisi yang telah ditetapkan, tidak sesuai dengan ciri Indonesia.

Bahwa kunci untuk menjadi bangsa demikian, salah satunya adalah penghormatan satu sama lainnya
Kemudian kenapa begitu marah kepada orang-orang muda yang berpikiran tidak sama seperti pendahulunya? Orang-orang muda Indonesia adalah orang-orang muda yang dididik secara dinamis. Orangorang muda yang dilahirkan dari perjuangan berpuluh-puluh tahun lamanya. Untuk saat inilah dahulu para pejuang gugur di batas-batas peperangan, agar rakyat Indonesia di dalam tanah airnya sendiri dapat berpikir, berbicara, membentuk peradaban yang lebih maju lagi. Tidak adil rasanya kalau orang-orang muda seperti ini dikungkung dengan apa yang telah ada, tanpa kebebasan untuk membentuk masyarakat yang lebih baik lagi dengan caranya sendiri. Terkadang orang-orang muda ini berjuang dengan membentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Banyak dari orang muda yang percaya bahwa batas-batas seperti agama, suku, stereotype (yang menghalangi pendahulu kami untuk mau membantu), bukanlah penghalang untuk saling menghormati dan beriteraksi. Orang muda adalah orang-orang yang kecewa saat apa yang telah ada di I n d o n e s i a t i d a k l a g i m e m b awa ke s e j a hte ra a n b a g i s e s a m a nya . Kekerasan berdasarkan suku, misalnya.

Padahal, negara ini adalah negara dinamis. Kita adalah orang-orang yang percaya perubahan. Ini telah kita buktikan saat dengan beraninya kita bangkit dari beratus tahun penjajahan dan membentuk negara yang berdaulat sendiri.
Saat dengan beraninya kita berulang-ulang membentuk pemerintahan yang berbeda, belajar dari negara-negara yang lebih maju agar negara ini lebih sempurna lagi. Kita mengadopsi berbagai teknologi, mempermudah kehidupan, mensejahterakan rakyat. Kita bukan masyarakat yang mau berhenti di satu titik.

Indonesia Punya Siapa? - Lala

Bila perbedaan menjadi halangan dahulu untuk saling menghormati, maka niscaya ada begitu banyak orang muda yang percaya bahwa perbedaan bukan rintangan, melainkan bagian dari kekayaan yang membentuk Indonesia.

Banyak dari orang muda yang terus belajar dari negara lain yang ingin membantu Indonesia melepaskan prasangka terhadap apa yang berbeda darinya. Karena toh prasangka muncul dari ketakutan karena ketidaktahuan, maka biarkan orang-orang muda yang ingin mencari tahu ini menjelaskan untuk memusnahkan prasangka. Kebencian karena perbedaan, inilah yang dihadapi Indonesia tahuntahun sekarang.

menjadi dasar didirikannya negara ini. Orang-orang muda ini juga orang Indonesia, yang mempunyai dan ingin menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Mengutip sepenggal tulisan dari surat terbuka oleh Romo Franz Magnis Suseno yang berkeberatan atas penganugerahaan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ditulis pada bulan Mei 2013, beliau mengatakan bahwa: “I have to add that I am not a radical, not even a "human right extremist" (if such exist). I am just appealed about so much hypocrisy. You are playing in the hands of those - still few - radicals that want to purify Indonesia of all what they regard as heresies and heathen.” Penghormatan terhadap sesama manusia tidak perlu menjadi seorang yang radikal, tidak perlu "pake otot", tidak perlu menjadi seorang ekstrimis seperti yang telah banyak ditunjukkan

Banyak dari orang muda yang percaya bahwa batas-batas seperti agama, suku, stereotype (yang menghalangi pendahulu kami untuk mau membantu), bukanlah penghalang untuk saling menghormati dan beriteraksi.
Orang-orang muda, meski tidak hidup pada jaman dahulu kala, tetapi merupakan orang-orang yang belajar dari sejarah kelam tersebut. Orangorang inilah yang menyaksikan bahwa kebencian karena perbedaan tidak menghasilkan apapun selain perpecahan, padahal persatuanlah yang oleh orang-orang yang mengaku “sangat Indonesia. Dan yang menarik adalah kata-kata "not even a human right extremist, if such exist". Jadi, seorang ekstrimis hak asasi manusia itu tidak pernah ada? Untuk menghormati hakhak dasar manusia, tidak pernah ada

Indonesia Punya Siapa? - Lala

Beliau mengatakan bahwa: “I have to add that I am not a radical, not even a "human right extremist" (if such exist). I am just appealed about so much hypocrisy. You are playing in the hands of those - still few - radicals that want to purify Indonesia of all what they regard as heresies and heathen.”
jalan ekstrim. Penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, adalah jalan panjang yang sepi dan damai, tanpa huru hara, tanpa perlu kobaran api dan bahkan amarah. Bahwa penghormatan itu muncul dari pemikiran-pemikiran terdalam yang didapat dari perenungan lama dan tidak berbenturan. Bahwa penghormatan adalah jalan yang lembut dan tidak menghakimi. “I am just appealed about so much hypocrisy.” Ya, saya juga kagum dengan banyaknya kemunafikan yang saya temui. Saya kagum dengan banyaknya orang yang berkata dia membela jalan yang benar, tetapi menyakiti orang lain dengan tangannya. Jalan yang benar selalu adalah jalan mencintai sesama. Penghormatan, penghargaan, pertolongan adalah jalan untuk mencintai Tuhan dalam entitasnya yang paling dekat dengan kita. Demikian adanya untuk membentuk suatu bangsa, untuk membangun Indonesia menjadi

negara yang lebih baik lagi, yakinilah bahwa kita semua yang mempunyai Indonesia. Jalan kita adalah membentuk Indonesia menajdi bangsa yang lebih besar lagi. Dengan jalan menghormati sesama manusia Indonesia, dan manusia-manusia lain di luar sana. (H)

Jalan yang benar selalu adalah jalan mencintai sesama. Penghormatan, penghargaan, pertolongan adalah jalan untuk mencintai Tuhan dalam entitasnya yang paling dekat dengan kita.

lirik

3/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

Bersatu untuk membangun Bagi negeri tercinta

Willy Illuminatoz :
Kristen Protestan, Dayak

“Kenapa Harus di Sini?”

Mengapa Harus di Sini? - Willy

Pernah melintas pertanyaan di benakku, mengapa aku dilahirkan di sini? Minder rasanya menjadi manusia di tempat seperti ini.
Masih lekat benar di pikiranku ide yang mengajarkan bahwa orang-orang yang dilahirkan di sini derajatnya lebih rendah dari pada orang-orang di seberang sana. Lihat saja orang-orang sini: kurus, dekil, pendek, dan, maaf, agak bodoh. Selalu saja diulang-ulang bak petisi pemikiran yang menyebutkan kalau orang-orang di sini kalah bersaing, tidak dapat diandalkan, malas, terbelakang dan tidak senang bekerja keras. Bahkan setelah 68 tahun merdeka, tiada apapun yang bisa dibanggakan kecuali bualan serta buaian tentang sumber daya alamnya melimpah ruah yang entah sampai kapan tersisa. Ironisnya, orangorang di seberang sanalah yang malah menikmatinya! Aku tak habis pikir, selama 68 tahun apa yang dilakukan orang-orang di sini? Mereka sibuk mengejar kuasa dan menimbun harta. Menggadaikan citacita pendiri bangsa demi melayani kepentingan para penguasa yang haus harta. Tak peduli apa pun agamanya dan seberapa tinggi tingkat pendidikannya, di hadapan harta semua jadi gelap mata.

Dulu di sini pernah dijajah. Sekarang pun tetap terjajah. Apakah 68 Tahun sekadar ilusi? Tak ada sama sekali arti? Apakah merdeka jika masih seperti ini?

Mengapa Harus di Sini? - Willy

Aku sama sekali tidak bisa memahami dan mengerti mengapa semuanya harus begini. Jika bisa memilih, aku tak mau dilahirkan di sini. Tapi kenyataan tidak bisa dipungkiri, aku di sini. Di sini, kenapa aku di sini? Itulah yang ingin aku mengerti. Aku tak ingin sekadar hidup begini. Menjalani hari demi hari tanpa satu pun arti. Batinku meronta dan hatiku meratap, marah membara di benakku dan sinisme memuncah sikapku. Percuma menjadi baik, merenda hidup lurus kalau pada akhirnya merana, terinjak-injak karena nekat mengelana demi melawan arus dunia. Namun, tiba-tiba aku berhenti dan tersentak! Di mana bumi dipijak disitu pulalah langit dijunjung. Aku dilahirkan di sini, tak seharusnya mencela seperti ini. Aku telah bangun, nur Ilahi itu menerangi hatiku, kini aku sadar. D i s i n i l a h Ya n g M a h a E s a memelihara aku, memberikan aku sesuap nasi dan menghilangkan dahagaku. Semua yang kukenal, kerabat,

sahabat, dan keluarga ada di sini bersamaku. Di sini pula aku berkarya, membuat hidupku bermanfaat dan berguna bagi orang-orang seraya bersama-sama giat bekerja. Di sini aku menghirup udara bebas, merasakan hangatnya mentari dan semilirnya hembusan angin. Di sini, di tengah isak tangis Ibu Pertiwi, aku hadir untuk menghibur dan menyenangkan rahim yang telah melahirkanku dan membentuk diriku menjadi seperti sekarang ini. Barangkali di sini bukanlah tempat terbaik, tapi aku tak ingin lagi terus menyesali kenapa harus di sini. Aku ingin hidupku memberi sejumput arti bagi Ibu Pertiwi, karena aku sadari, hidup itu ternyata singkat sekali. (H)

Di sini pula aku berkarya, membuat hidupku bermanfaat dan berguna bagi orang-orang seraya bersama-sama giat bekerja. Di sini aku menghirup udara bebas, merasakan hangatnya mentari dan semilirnya hembusan angin.

lirik

4/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

Mari majulah Indonesiaku

Bastinus N. Matjan :
Kristen, Dayak

“Rumah Kita”

Rumah Kita - Bastinus

Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Indonesia tanah airku......
Ya, Indonesia tanah airku, tanah air kita semua. Tempat kita dilahirkan, tempat darah ibu kita menetes ketika kita dilahirkan. Indonesia adalah rumah kita dan kita adalah saudara. Tetapi, sebagai pemilik rumah tahukah Anda apa dan bagaimana rumah kita yang bernama Indonesia? Jawabannya bisa “tahu”, bisa tidak “tahu”. Dengan semakin tenggelamnya pelajaran sejarah Indonesia, maka saya merasa yakin sebagian besar saudarasaudara saya rakyat Indonesia hanya sebagian kecil yang tahu. Selebihnya adalah yang tidak tahu, termasuk para pejabat negara sekarang. Indonesia adalah gugusan pulaupulau seperti yang dikatakan dalam syair lagu di atas. Sebagai gugusan pulau maka nama yang diberikan sejak jaman dahulu kala pun bermacam-macam. Cina, misalnya, sejak zaman purbakala menyebutnya Nan-Hai (Kepulauan Laut Selatan). India kuno menyebutnya Dwipantara, bangsa Arab menyebutnya Jaza'ir al-Jawi (kepulawan Jawa). Selanjutnya bangsa Eropa menyebutnya “Kepulauan Hindia” kemudian pada zaman penjajahan Belanda disebut Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda). Sedangkan pemerintah pendudukan Jepang pada 1942-1945 menyebutnya To-Indo (Hindia Timur). Pada era tahun 1820-1887, Eduard Douwes Dekker, yang dikenal dengan nama Multatuli, mengusulkan nama yang spesifik, yaitu Insulinde, artinya “Kepulauan Hindia”. Selanjutnya pada 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), menyebut unsur kata 'India' memberi nama untuk Indonesia dengan sebutan

Cina, misalnya, sejak zaman purbakala menyebutnya Nan-Hai (Kepulauan Laut Selatan). India kuno menyebutnya Dwipantara, bangsa Arab menyebutnya Jaza'ir al-Jawi (kepulawan Jawa). Selanjutnya bangsa Eropa menyebutnya “Kepulauan Hindia” kemudian pada zaman penjajahan Belanda disebut Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda). Sedangkan pemerintah pendudukan Jepang pada 1942-1945 menyebutnya To-Indo (Hindia Timur).

Rumah Kita - Bastinus

Nusantara. Setiabudi mengambil nama itu dari Kitab Pararaton, kitab kuno Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad 19, yang lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada 1920. Namun pengertian nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara pada masa Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan “pulaupulau di luar Jawa” ('antara' berarti luar/seberang dalam Sansekerta), dan Jawa disebut Jawadwipa. Seperti kita ketahui Gajah Mada pernah bersumpah yang bunyinya sebagai berikut, “lamun huwus kalah nusantara, ingsun amukti palapa” yang berarti “kalau pulau-pulau seberang telah kalah, barulah aku akan istirahat”. Nusantara pada Majapahit yang berkonotasi penjajahan itu diubah oleh Dr. Setiabudi. Dia menggunakan kata

Melayu asli yang makananya diubah menjadi lebih nasionalis, nusa – antara. Artinya pulau di antara dua benua dan dua samudra. Dengan demikian Jawa pun termasuk di dalamnya. Nama terssebut dengan cepat menjadi populer dan penggunaannya hingga sekarang tetap dipakai untuk menyebutkan Indonesia. Dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations”. Dalam artikelnya, Earl menegaskan sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ('nesos'

gambar milik : indocropcircles.wordpress.com

Rumah Kita - Bastinus

berarti pulau dalam bahasa Yunani). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: “the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”. Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl juga berpendapat bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

“ M r. E a r l s u g g e s t s t h e ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago”. Ketika mengusulkan nama “Indonesia”, agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini pun menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada 1884, guru besar etnologi di Universitas Berlin, Adolf Bastian (1826-

gambar milik : indocropcircles.wordpress.com

Dalam JIAEA volume IV itu juga, halaman 252-347, Logan menulis artikel “The Ethnology of the Indian Archipelago”. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl. Huruf 'u' digantinya dengan huruf 'o' agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

1905), menerbitkan buku “ Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada 1864-1880. Buku Bastian inilah yang mempopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam “Encyclopedie van Nederlandsch-Indië” tahun 1918.

lirik

5/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

Reff:

Bersatulah semua raih kejayaan ...

Rumah Kita - Bastinus Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan. Orang pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Sur yaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke Belanda pada 1913, beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “Indonesische Pers-bureau”. Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917).

Sejalan dengan itu, sebutan inlander (pribumi) diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).
Pada 1922, atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk pada 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya: “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik, karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya”. D i I n d o n e s i a , D r. S u t o m o mendirikan Indonesische Studie Club pada 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada 1925, Jong Islamieten Bond membentuk

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya: “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik, karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya”.
Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air,

Rumah Kita - Bastinus

Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Pada Agustus 1939, tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat / parlemen Hindia Belanda); Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Namun, Belanda menolak mosi ini. Ketika pendudukan Jepang pada 8 Maret 1942, secara otomatis lenyaplah nama “Hindia Belanda”. Lalu pada 17 Agustus 1945, seiring dengan proklamasi kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdiri sendiri tanpa penjajahan dari bangsa asing. Sekarang 68 tahun sudah kita merdeka dari penjajahan asing, 68 tahun sudah kita memeliki rumah besar yang bernama Indonesia. Di dalam rumah kita ada banyak harta karun, namun sayang harta karun itu banyak dirampok oleh orang asing dan para tokoh politik dan pengusaha laknat.

Dalam usianya yang sudah 68 tahun itu keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat yang diamanatkan oleh Pancasila masih saja belum terwujut. Korupsi dan berbagai tindak kekerasan muncul terus akibat hukum hanya tertera di dalam kertas atau buku.
Mungkinkah pada masa mendatang tetap berada dalam satu rumah yang bernama Indonesia, atau mungkin hanya beberapa tahun lagi kita akan berpisah dan tidak lagi sebagai saudara? (H)

Mungkinkah pada masa mendatang tetap berada dalam sutu rumah yang bernama Indonesia, atau mungkin hanya beberapa tahun lagi kita akan berpisah dan tidak lagi sebagai saudara?

lirik

6/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

... Melengkapi dalam perbedaan

II Identitas, Konflik dan Usaha Damai
untukharmoni.com
#17an

Isti Toq’ah:
Islam, Orang Balikpapan

“Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? “

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

lirik

7/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

Bersatulah demi merah putih tercinta

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

lirik

8/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

Bangkitlah Indonesia Tunjukkan pada dunia...

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

lirik

9/9
Bersatulah Indonesia
Cipt. Liliana Tanoesoedibjo

... Mari majulah Indonesiaku

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

Is Islamophobia an Inextinguishable (Re) Action? - Isti

546 bahasa 1.340 suku 17.504 pulau
Tak ada, dan takkan pernah ada, bangsa setajir ini. Cuma Indonesia.

Vida Semito :
“Merah Putih dan Reruntuhan” & “Surat Untuk Presiden”

Wida Semito

Merah Putih dan Reruntuhan - Vida

Merah Putih dan Reruntuhan
oleh: Vida Semito Masih segar kuingat Kala bunda menganyun manja diriku di peraduan depan rumah kami Lirih lembut suaranya senandungkan lagu rindu Rindu pada Sang Pencipta; Rindu pada Sang Nabi Masih segar ku ingat Kala riuh tawa canda temanteman bermain di depan halaman rumah kami Kuning, merah, hitam atau putih warna kulit kami, tidak masalah Ke masjid, gereja atau pura kami pergi mengaji kitab suci kala senja menutup hari, tidak masalah Dan masih segar kuingat Kala bapak sibuk memancang tiang, naikkan kain dua warna; Merah dan Putih, di depan halaman rumah kami “Itu Bendera kita Nak! Merah Putih yang harus selalu kau jaga dengan segenap hati” ujar bapak dengan sinar bangga menatap kain itu yang gagah menari dibiru angkasa langit Indonesiaku Dan masih segar kuingat juga Kala si Acong, Rahman, Made dan Poltak menghormat takjim pada sang Merah Putih yang berkibar gagah di depan rumah Tapi.....itu semua masa lalu Kini, Warna kulit kami, kini jadi masalah! Masjid, Gereja dan Pura kami mengaji kitab suci, kini jadi masalah! Ucap “sesat” sudah jadi santapan kami setiap saat Nama Tuhan Maha Pengasih yang dulu syahdu lembut disebut kini, garang berkawan parang siap menebas siapapun yang menghadang Dulu kawan sekarang lawan Dulu sayang sekarang garang Sunyi....senyap sesaat Sesakkan dada Pelan ku dongakkan kepala, kulihat dilangit angkasa raya Indonesiaku Merah Putih ku tak lagi utuh Dicabik, dikoyak, terkulai lusuh ~~ [Menteng, 14 Agustus 2013] 22:32

lirik

1/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

Satu rasa satu hati Semestinya kita itu...

Surat Untuk Presiden - Wida

Surat Untuk Presiden
Ketika beragama dipermasalahkan di negeri ini
Dramatisasi oleh: Vida Semito
Malam semakin larut, dingin hembusan sang bayu lenakan rembulan genit yang enggan bersinar di langit kota ini untuk semakin menciutkan tubuh bulat mungilnya berselimut dibalik awan tebal. Dentang bening suara bel di ruang tengah sebanyak dua belas kali memecah keheningan malam yang kian sepi. “Ah, panas sekali malam ini!”, ujarku yang sejak tadi tak jua bisa pejamkan mata meski hanya untuk sekejap. Kupaksa bangkitkan tubuh renta ini dari ranjang kecil hadiah ulang tahunku dari ibuku berpuluh tahun yang lalu. Gundah gulana sudah kurasa sejak kemarin. Kemarin sore, kata cerita yang kudengar dari seorang perempuan cantik dari dalam kotak bersuara m e n g i s a h ka n te l a h te r j a d i l a g i penyegalan sebuah masjid karena konon dianggap “sesat” dan lagi, pembakaran rumah-rumah penduduk di Sampang, lagi-lagi karena dianggap “sesat”. Manakala sudah tujuh tahun berlalu tanpa sebuah kepastian, nun jauh di sebrang pulau ini disebuah tempat bernama Transito hanya untuk menyembah Tuhan Yang Esa saja warga negri ini harus dibuang dari tanah kelahirannya, dicerabut dari akarnya, kini, hal serupa terjadi lagi si sebuah pulau bernama Madura. Hanya karena dianggap “tidak sama”, lantas sang raja merasa berhak untuk memisahkan mereka dari tanah dan makam leluhur mereka ke sebuah tempat yang jauh dari kampung halamannya, katanya orang-orang menyebut daerah baru itu: Sidoarjo. “Ah! lagi-lagi”ujarku pilu. Akan terus lekat kuingat, manakala aku, ibuku, ayahku, uwakku, pamanku, nenekku, kakekku dan teman-temanku harus terus berpanas matahari dan bersiram deras air hujan hanya untuk berdoa memuja Tuhan yang sama yang disembah semua manusia di setiap minggu siangnya di depan Istana kami, berharap sudi sang penguasa melembutkan hati mendengar kisah kami. Kuberanjak menuju meja tulisku, kucari pena dan secarik kertas, coba tuliskan sebuah surat; surat cintaku yang terindah untuk presidenku. Karena ku yakin, dia pasti punya solusi terbaik untuk semua gundah yang ku rasa sejak kemarin sore. Tinta meluncur diatas kertas putih polos dan kucoba tuangkan kegelisahan diatasnya seperti berikut:

Surat Untuk Presiden - Wida

“Dear Presidenku yang baik Mohon kiranya bapak sudi berbaik hati menyinggahi kami dan sodara-sodara saya sebangsa setanah air yang hanya untuk menyembah Tuhan saja dilarang!”[stop]
“Ah! formal sekali”, gumamku sambil kuremas kertas tersebut dan kulempar ke dalam keranjang rotan yang kualihkan fungsinya menjadi keranjang sampah di sisi meja tempatku menulis. Kuambil lagi kertas dan coba mencoretkan tinta di atasnya, tapi lagilagi tak ada kalimat yang tepat untuk kutuliskan kepada presidenku yang bisa mewakili rasa gundahku sejak kemarin. Senyap.... Hari semakin larut beranjak mendaki pagi dan aku termangu saja di depan serakan kertas dan pena. Pandanganku teralihkan pada sebuah foto tua di layar komputerku yang

sengaja kubiarkan menyala sejak tadi sore; sebuah foto yang menunjukkan gambar seorang anak laki-laki usia 12 tahunan dengan senyumnya yang gagah dan sorot matanya yang cerdas dan berani sambil menggengam secarik kertas. Secarik kertas, sepertinya itu bukan kertas biasa, mungkin secarik surat pikirku dalam hati. Kugeserkan kursor pada icon loop untuk memperbesar gambar di foto dan tepat seperti dugaanku, itu adalah sebuah surat, tulisannya seperti ini: “Selamat siang Pak Presiden SBY, Apa Kabar” Hei! tunggu! Presiden?!...surat itu menyebutkan kata “presiden”?! “Berarti, surat dalam foto itu adalah surat untuk presiden!”, pekikku ke g i ra n ga n s a m b i l m e n e r u s ka n memperbesar gambar di foto tersebut untuk membaca isi suratnya yang ditulis dengan tulisan tangan. Tertulis demikian:

Bogor, 27 Juli 2013 Selamat siang Pak Presiden SBY Apa Kabar? Bapak masih ingat saya? Saya Edo pak, Edward Matthew Sitorus, yg tahun lalu pernah kirim surat sama Bapak mungkin Bapak lupa atau tidak baca surat saya, ya udah gak apa-apa, Saya tahu kok Bapak sibuk. Waktu buat surat itu, saya masih kelas 6 SD di SD BPK Penabur, sekarang saya sudah SMP sekarang, saya buat lagi surat utk Bapak SBY, isinya masih sama kayak yg dulu kok. Kalo bisa, tolong bapak bilang ke walikota Bogor utk buka gereja saya, GKI Yasmin itu yg sampai sekarang masih disegel Pak Presiden pernah lihat gereja saya akhir-akhir ini? kasian gak terawat, rumputnya sudah setinggi pagar. mungkin sudah jadi sarang ular minggu lalu kami ibadah didepan istana Bapak lagi. Kata ibu, kebaktian di situ sudah 30 kali. Saya aja gak inget loh, saking seringnya, tapi tak sekalipun Bapak melihat kami Minggu lalu itu, hujan derass sekali. Kami kehujanan pak. Baju kami basah pulang dari sana, pada pilek dan masuk angin. Ibu saya bilang itu perjuangan. Emangnya salah kami dimana? mau ibadah saja harus panas-panasan sampe hujan-hujanan segala.

Surat Untuk Presiden - Wida

Saya tahu Pak SBY pasti sibuk. mungkin juga gk sempet baca surat saya ini. tapi saya mohon, dengarkan permintaan saya ini, pak. 6 bulan lagi saya mau natalan. Sudah 3 kali kami natalan di trotoar. sedih sekali. Semoga tahun ini, kami bisa merayakan Natal di dalam gereja. Kami mohon Pak SBY. Salam damai dan selamat hari anak Pak SBY Edo GKI Yasmin

Unwanted and Abandoned; Tak diinginkan dan ditinggalkan [untuk mati secara perlahan], mungkin itulah perasaan yang kini bisa kurasakan akan perasaan-perasaan mereka yang hanya karena 'beda' dengan kebanyakanorang lalu dituding “sesat”. Masih diam termanggu kutatap foto dilayar komputerku. Hening terus hinggapi bumi dan kini hening yang sama juga merayapi dinding kalbu ini usai membaca bait demi bait kerinduan seorang anak untuk bisa kembali berdoa pada Sang Khalik dan merayakan Natal bersama handai taulannya di dalam sebuah tempat yang disebut GEREJA. Sayup-sayup kudengar dari music playerku lirik lagu ini:for someone must stand up for what is right, cause where there's a man has no voice, there ours shall go singing...we're God eyes, God's Hands, God's minds Kupejamkan mata coba resapkan dalam hati setiap kalimat dari lirik lagu tersebut dan bisikku: every life is beautiful; rencana-Nya selalu indah. (H)

*Terinspirasi dari grafiti disebuah kawasan di Cikini dan sebuah surat yang ditulis oleh Edo (Edward Matthew Sitorus), salah seorang jemaat dari GKI Yasmin. note: isi surat Edo di dalam tulisan ini, sama seperti tertulis dalam surat yang asli

Sayup-sayup kudengar dari music playerku lirik lagu ini:for someone must stand up for what is right, cause where there's a man has no voice, there ours shall go singing...we're God eyes, God's Hands, God's minds

lirik

2/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

Sudahkah engkau mengerti Indahnya hitam dan putih itu sama?

Masduki :
Islam, Jawa

“Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah”

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

Tidak disangsikan lagi bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terkenal dengan keragaman baik budaya, suku maupun agamanya. Keragaman ini bisa berdampak negatif juga bisa berdampak positif, tergantung kualitas kematangan berpikir pribadi penduduknya.
Ada yang mengatakan bahwa kematangan pribadi seseorang tergantung level pendidikannya. Namun jika dilihat dari kenyataan yang ada, pendapat ini tidak seratus persen benar. Sebab bisa kita lihat dilapangan tidak sedikit yang berpendidikan tinggi, sarjana, namun perilakunya mencerminkan pribadi yang masih sangat kurang dewasa. Mudah menghakimi, ringan berkomentar buruk, terhadap pendapat yang tidak sama dengan pendapat pribadinya. Padahal orang yang dewasa akan berpikir dulu sebelum mengambil keputusan. Orang yang cukup matang akan mendahulukan hati dan pikiran ketimbang lidah atau mulut. Jadi lidah harus ditaruh di belakang hati, bukan di depan hati. Sebab kata orang lidah itu tak bertulang. Pada hakikatnya, perbedaan suku atau budaya jarang sekali menciptakan konflik, walau pernah terjadi (seperti di Sampit, Kalimantan beberapa tahun silam). Namun sesungguhnya, setahu saya, pemicunya bukan soal suku tapi ekonomi. Meski demikian, perbedaan agama cukup sering menjadi alasan terjadinya konflik antar penduduk di Indonesia, seperti kasus Poso. Padahal biasanya pemicunya hanya masalah spele. Dari masalah spele inilah emosi bangkit, tersulut karena diobori perbedaan agama yang terlibat dalam persoalan ini. Dari sinilah lahir sifat balas dendam dan menelorkan konflik besar sampai terjadi bunuh membunuh. Jika sudah seperti ini, konsep baik yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad maupun Yesus bahwa “memaafkan itu lebih baik” sudah tak mempan. Ini sesungguhnya pelajaran besar bagi kita bahwa di saat kita gagal mengendalikan emosi di level awal, maka untuk mengendalikan emosi yang sudah tak terkendali itu semakin sulit dan runyam. Cek saja pengalaman kita sendiri, bukankah di saat gagal mengkontrol emosi maka akibatnya penyesalan. Kenapa begitu? Sebab banyak hal yang seharusnya tidak dilakukan, namun dilakukan karena out of control. Nabi

Padahal biasanya pemicunya hanya masalah spele. Dari masalah spele inilah emosi bangkit, tersulut karena diobori perbedaan agama yang terlibat dalam persoalan ini.

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

Muhammad memberikan pesan cukup bagus dalam hal ini, “sabar adalah pada pukulan pertama”. Artinya kualitas sabar sangat ditentukan bagaimana sikap awal kita saat dihantam musibah, saat emosi ditekan. Konflik yang terjadi antarpenduduk berbeda agama ini akan menjadi konflik besar ketika para pemimpin agama sendiri tidak mampu mengendalikan diri dan hanyut dalam emosi pengikutnya. Pada saat kasus Poso, kebetulan saya mengikutinya lewat BBC London. Saat itu seorang pendeta diwawancarai oleh penyiar BBC lewat telepon. Emosinya

Dalam Islam, sedari dulu perbedaan selalu ada dalam hal-hal tertentu. Setiap ahli tafsir bisa saja tidak sependapat dengan ahli tafsir lainnya. Perbedaan ini terjadi saat mengambil kesimpulan atas ayat tertentu atau pada masalah yang tidak disebutkan secara gamblang oleh Al Quran maupun hadits. Sehingga dalam hal ini subyektivitas ikut menentukan dalam pengambilan kesimpulan. Yang sangat menentukannya adalah level spiritual atau kebersihan hati. Namun perbedaan diantara ahli tafsir ini tidak menjadikan masalah,

Namun perbedaan diantara ahli tafsir ini tidak menjadikan masalah, sebab beliau-beliau ini dewasa dalam berpikir dan bisa menghargai perbedaan.
cukup tinggi, dan tentu dalam hal ini setan yang tertawa, karena dia berhasil menyulut emosi. Mungkin pemimpin Islam demikian juga, walaupun saat itu saya nggak menyempatkan diri mendengarkan kelanjutan wawancara BBC kepada pemimpin muslim di Poso. sebab beliau-beliau ini dewasa dalam berpikir dan bisa menghargai perbedaan. Imam Al-Ghozali, setahu saya, pernah mengatakan pemahaman firman Allah itu tergantung pada level kebersihan hati, semakin bersih hati seseorang maka semakin luas dan dalam pemahaman yang diperoleh. Ini karunia Allah. Sebab semakin bersih hati seseorang semakin hati itu menjadi rumah bagi Allah. Perbedaan akan menjadi masalah jika pribadi yang ada di aliran-aliran ini tidak dewasa, mengedepankan emosi, dan seperti anak kecil bahwa hanya pendapatnya saja yang paling benar, paling “ber-Al Quran-Hadits”. Maka komentar-komentar tak sedap,

Ada konflik –yang menurut s aya – l e b i h m e n g e r i ka n ketimbang konflik antar agama, yaitu konflik yang bersumber dari perbedaan pendapat di dalam satu agama. Dikenal juga dengan beda aliran, grup atau kelompok. Ini biasanya lebih lama dan bisa dibilang tak ada ending-nya.

lirik

3/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

Pernahkah engkau sadari Begitu banyak terjadi Kerapuhan persaudaraan?

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

Mengedepankan hati nurani dalam setiap tindakan, dan berpikir keras sebelum bertindak atau berkomentar, adalah salah satu sinyal karakter pribadi yang dewasa.
menyinggung dan menyakitkan keluar dari mulut mereka. Yang parah, sudah salah, mengajak melakukan kesalahan secara berjamaah. Akhirnya bisa mengarah kepada tindakan anarkis, seperti pembakaran Masjid Ahmadiyah dan pembakaran serta perusakan rumah warga Syi'ah di Madura. Mengedepankan hati nurani dalam setiap tindakan, dan berpikir keras sebelum bertindak atau berkomentar, adalah salah satu sinyal karakter pribadi yang dewasa. Pandai dalam beragama tidak menjamin pribadinya punya wawasan luas dan matang dalam berpikir. Ada yang tambah pinter beragama (secara syari'at) tetapi komentar-komentarnya semakin tidak menyejukkan dan beringas. Sehingga pendewasaan karakter dan pribadi tergantung kepada banyak aspek. Satu hal yang pasti, bahwa kita sebagai orang yang beriman mesti ngerti tujuan syari'at, rahasia diturunkannya aturan tersebut. Misalnya konflik sekte yang terjadi dalam Islam. Sebagian kecil kelompok Sunni di Indonesia – tidak semua – merasa paling berpegang Al Quran Sunnah dan merasa pendapatnya saja yang benar sehingga mereka dengan enteng mencap sekte lain seperti Syi'ah

sebagai sesat. Mereka tidak sadar bahwa didalam Sunni sendiri juga begitu banyak perbedaan. Dan semua mengaku rujukannya Al Quran dan Sunnah. Kita mesti ingat bahwa Nabi Muhammad diturunkan untuk menyempurnakan akhlak. Tujuannya agar kita punya koneksi batin dengan Tuhan, dapet arahan-Nya, bimbinganNya sehingga betul-betul bisa punya karakter menjadi wakil-Nya untuk memakmurkan Bumi tercinta ini. Peduli dengan yang kurang mampu, menjaga Bumi agar tetap hijau, tidak serakah, senang berbagi, suka menolong, dan lain-lain.

Kita mesti ingat bahwa Nabi Muhammad diturunkan untuk menyempurnakan akhlak. Tujuannya agar kita punya koneksi batin dengan Tuhan, dapet arahan-Nya, bimbingan-Nya sehingga betul-betul bisa punya karakter menjadi wakil-Nya untuk memakmurkan Bumi tercinta ini. Peduli dengan yang kurang mampu, menjaga Bumi agar tetap hijau, tidak serakah, senang berbagi, suka menolong, dan lainlain.

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

Perbedaan sudut pandang dalam melihat satu masalah, jika tidak diiringi dengan kematangan pribadi, ini bisa menyulut konflik, baik antar suku, sekte maupun antara agama. Jika tidak salah ingat Almarhum Nurcholis Majid, mantan rektor Paramadina pernah berkata, “Agama itu seperti roda, semakin keluar semakin berbeda tetapi semakin kedalam semakin sama, jadi satu.” Artinya tujuannya sama hanya jalan yang diambil berbeda, dan memang orang mendekati Tuhan dengan jalan yang berbeda-beda. Mana yang tercepat? Saya melihat setiap pengikut agama merasa bahwa yang diikutinya jalan yang paling cepat. Ini tidak salah, selama tidak mencela yang lain. Namun Imam Al Ghozali m e m b e r i i s y a r a t , “A d a l a h j i k a pengetahuannya semakin bertambah, semakin bertambah rendah hatinya, tunduknya, takutnya akan Tuhan. Ssemakin sadar akan kekurangan dan cacat diri, sehingga tak sempat melihat cacat orang lain. Mencintai

Perbedaan sudut pandang dalam melihat satu masalah, jika tidak diiringi dengan kematangan pribadi, ini bisa menyulut konflik, baik antar suku, sekte maupun antara agama.

kesederhanaan sehingga lebih punya peluang untuk berbagi dan lebih mencintai kehidupan setelah mati.” Saya melihat dan saya yakin jika batin seseorang hidup, punya koneksi dengan Tuhan, persoalan-persoalan hidup lebih bisa disederhanakan. Sebab sabar dan doa dijadikan sebagai penolong dalam hidupnya. Logikanya begini jika seseorang melibatkan Tuhan dalam kehidupannya otomatis Tuhan melibatkan diri-Nya dalam kehidupan seorang hamba. Dia menganugerahkan kesabaran, memampukan dalam mengnangani persoalan yang dihadapinya, menurunkan kedamaian dan ketenangan Ilahiyah, yang mungkin orang lain mampu lihat dari raut wajahnya mungkin juga nggak. Satu hal yang pasti, si penerima sakinah dari Allah ini bisa merasakannya. “Ingat Aku, maka aku akan mengingatmu.” Jika Allah ingat kita, tentu bukan sekadar ingat, tetapi lebih dari itu, Dia membantu dan menemani hidup kita. Dan bagaimana kita menduga Tuhan, begitu Dia kepada kita. Kualitas hati kita kepada Allah, menentukan sikap Dia kepada kita. Mengapa kualitas hati harus diprioritaskan? Sejarah membuktikan di saat nabi Muhammad dalam ancaman mati, di Gua Tsur –dalam perjalan hijrah menuju Madinah (Yatsrib) – bersama Abu Bakar. Para pembunuh telah berada di mulut Gua tersebut, dan Abu Bakar sangat gelisah. Ini normal, sebab jika saja para musuh nabi tersebut sedikit jongkok, maka Nabi Muhammad dan

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

Abu bakar terlihat dan mungkin saja habis riwayatnya. Tapi Tuhan Maha Bijak dan Maha Pemaksa, Jika Dia menghendaki apapun akan terjadi. Saat Nabi Muhammad melihat Abu Bakar gelisah, dia meluncurkan sebuah kalimat yang menunjukkan bahwa dia sedang diselimuti oleh sakinah Ilahiyah. “Jangan bersedih, Allah bersama kita,” yang diabadikan dalam QS. At Taubat (9):40. Setinggi apapun ilmu kita, sekaya apapun kita, jika tidak menambah kerendahan hati dan ketundukan batin kepada Tuhan maka kebahagiaan yang didapat akan mudah datang dan pergi. Lebih tidak stabil dan rentan terhadap situasi. Berbeda dengan kebahagiaan Ilahiyah yang berada di batin, yang jika hanya dilengkapi dengan kebutuhan dasar hidup saja, sudah mampu menciptakan kedamaian diri. Artinya income yang nggak begitu gede bisa membuat seseorang bahagia, dan jika lebih, mampu berbagi. Berbeda dengan yang tidak dihinggapi oleh sakinah ilahiyah, seberapapun income didapat akan terasa kurang dan berat untuk berbagi. Seandainya mau berbagi toh

biasanya karena diwajibkan dan bukan keinginan batin yang murni. Ada standar yang cukup baku tentang “Manusia Surga”, karakter yang melekat pada diri seorang peace maker di dunia ini, dan menjadi penduduk surga setelah mati nanti. Simak kisah singkat figur ahli surga “Sa'd bin Abi Waqqash” berikut yang sedikit dimodifikasi dari aslinya. Suatu hari di sebuah masjid ketika rasullullah saw bersama-sama para sahabat selesai melaksanakan sholat, rasul mendapat informasi dari langit bahwa sebentar lagi akan datang ahli surga. Rasul informasikan itu pada para sahabat. Kemudian masuklah seseorang yang melakukan sholat dan langsung berlalu ketika dia selesai melakukannya. Hari berikutnya, di waktu yang sama, rasulullah saw Mmenyampaikan kalimat yang sama. Datanglah juga orang yang sama. Ahli syurga yang berjalan di madinah. Kejadian ini mengusik rasa ingin tahu seorang sahabat yang lain. Maka Abdullah Ibn Amr mengikuti Sa'd. Berpura-pura ingin menumpang di rumahnya. Tiga hari. Dia pikir cukup untuk mengorek rahasia

Setinggi apapun ilmu kita, sekaya apapun kita, jika tidak menambah kerendahan hati dan ketundukan batin kepada Tuhan maka kebahagiaan yang didapat akan mudah datang dan pergi. Lebih tidak stabil dan rentan terhadap situasi.

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

amal-amal Sa'd untuk dia tiru, agar bisa mendapat syurga Allah sebelum kematiannya. Namun rupanya, sahabat ini tidak mendapati keistimewaan ibadah yang Sa'd lakukan. Maka, dia tak tahan lagi. Dia sampaikan semua niatnya dengan kejujuran yang putih. Sa'd mendengar. Sangat seksama. Namun Sa'd menyampaikan bahwa ibadah yang dia

menjadi penghuni syurga. Adalah, setiap menjelang berbaring dan beristirahat di malam hari, aku berusaha memaafkan saudara-saudaraku dan melepaskan hasad dari dalam hatiku…” Kisah ini menunjukkan bahwa pembaharuan batin itu mesti diutamakan, sebab dari sanalah tindakan-tindakan seseorang

“Mungkin,”, kata Sa'd “Kalau amal ini yang bisa dianggap membuatku menjadi penghuni syurga. Adalah, setiap menjelang berbaring dan beristirahat di malam hari, aku berusaha memaafkan saudara-saudaraku dan melepaskan hasad dari dalam hatiku…”
lakukan sama seperti yang terlihat. Tak ada yang dianggap spesial. Tidak dikurang-kurangi, apalagi dilebihlebihkan. Sahabat yang penasaran ini kemudian meminta undur diri dari hadapan Sa'd. Sambil berterima kasih karena mau menerima tumpangannya. Beberapa langkah berjalan, Sa'd memanggilnya. “Wahai saudaraku, kemarilah sebentar”, pinta Sa'd. Kemudian sahabat ini berjalan mendekati Sa'd. Setelah cukup dekat dia berkata “Ada apa wahai Sa'd” “Mungkin,”, kata Sa'd “Kalau amal ini yang bisa dianggap membuatku bersumber. Jika yang di dalam kualitasnya baik, maka secara otomatis yang diluar akan mengikutinya. Begitu juga dengan negara ini, step awal agar Indonesia betul-betul menjadi rumah bersama harus dimulai dari pembentukan karakter. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badanya” bangunan dalam didahulukan. Jika yang di dalam damai maka yang di luar ikut damai dan insya Allah mampu mendamaikan. Jika hati kita sendiri nggak damai, tenang, bagaimana mampu mendamaikan yang lain? Ketika hati kita benar, semakin bersih dari kebencian, hasad dan iri terhadap sesama dan penuh dengan maaf, maka surga menanti.

lirik

4/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

Jangan dengar kata mereka yang tak ingin kita satu...

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki Simak potongan do'a Nabi Ibrahim berikut ini: “….dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari para manusia dibangkitkan, hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali mereka yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”.(QS.26:87-89) Sejauh yang saya tahu, untuk membangkitkan, menghidupkan batin atau secara spiritual ada yang bilang dengan istilah inisiasi ini melalui banyak cara. Saya secara pribadi juga pernah mengikuti satu jalur spiritual dan pernah ke sana-sini mencari pemandu. Namun ternyata kuncinya “kesungguhan tanpa palsu” dari diri kita. Seperti kata Allah sendiri “Siapa yang serius, berjuang keras, tulus untuk hidup dijalan-Ku akan Kutunjukkan jalan-Ku untuk mereka” (QS.29:69). Reaksi awal yang muncul biasanya kerendahan hati dan hilangnya fanatisme. Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang menunjukkan start awal dan seterusnya kita sendiri yang mesti serius. Terus ekonomi? Tuhan akan mencukupkan kita seiring keseriusan kita menuju Dia. Memberkati kita dengan cinta kesederhanaan dan suka berbagi.

Reaksi awal yang muncul biasanya kerendahan hati dan hilangnya fanatisme.
Di sisi lain, Tuhan akan terus menguji keseriusan kita. Apakah ketika jatuh kita akan bangun lagi atau malah tidur? Di sini diperlukan satu do'a, minta kepada-Nya agar diberi semangat berjuang yang tanpa lelah untuk menjadi orang benar menurut Dia. Jika semangat tanpa kenal lelah bersemayam di dalam diri, terus mengisi hari-hari dan waktu luang untuk memahami firman-Nya, maka kehadiran-Nya dalam hidup kita, sinyalnya juga akan semakin menguat. Dia akan mengingatkan kita saat setan sedang menggoda, ini adalah cara Dia membantu kita agar tidak terlalu sering jatuh dan mudah bangkit lagi. Namun – seperti kata SupremMaster Ching Hai, lupa dan salah tetap akan menjadi bagian kita. Artinya Allah masih tetap memberi ruang untuk salah dan lupa, agar kita terus semakin rendah hati dihadapan-Nya. Semakin lekat kepadaNya dan mohon ampun atas dosa-dosa yang merupakan buah dari salah dan lupa tersebut. Saat kita memahami hal-hal tersebut di atas, akan ada kontrol yang cukup kuat untuk tidak mudah komentar buruk atau yang menyakiti pihak lain. Dari sini kita akan ngerti Sabda Rasul “Berkatalah yang benar, jika tidak bisa, diamlah”. Sehingga diam itu lebih baik ketimbang ngomong salah atau menyakiti.

Di tengah gemerlapan dunia, di mana orang berlomba menunjukkan mereka ekonominya maju, baik itu lewat kepunyaan mobil dan kendaraan lain, kita justru dianugerahi mencintai hidup simple dan hanya mengambil dunia sebatas kebutuhan bukan keinginan.

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki

Saat kita memahami hal-hal tersebut di atas, akan ada kontrol yang cukup kuat untuk tidak mudah komentar buruk atau yang menyakiti pihak lain.
Dan tahap berikutnya rasul mengingatkan kita agar kita menjadi sumber kedamaian bagi sesama, memastikan bahwa tetangga, teman, saudara-saudara kita selamat dari tangan, mulut dan kaki kita. Sebab kata Muslim itu dalam bahasa Arab bisa berarti “ Yang memberi keselamatan” dan “Yang menyerahkan diri kepada Tuhan”. Bahwa yang terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya terhadap sesame, dan kita berupaya bergerak kesana. Indonesia memang membutuhkan pribadi-pribadi yang rendah hati, senang berbagi, yang punya toleransi tinggi terhadap perbedaan, lebih banyak lagi,

agar Indonesia betul-betul menjadi “a home for all”. Keragaman agama, suku, sekte mampu hidup berdampingan dan bahu membahu dalam menjalani hidup. Dan itu mesti dimulai dari kitakita ini. Kita harus mampu menjadikan iman sebagai sumber damai yang

Indonesia memang membutuhkan pribadi-pribadi yang rendah hati, senang berbagi, yang punya toleransi tinggi terhadap perbedaan, lebih banyak lagi, agar Indonesia betul-betul menjadi “a home for all”. Keragaman agama, suku, sekte mampu hidup berdampingan dan bahu membahu dalam menjalani hidup. Dan itu mesti dimulai dari kita-kita ini.

Islam ramah yes!

Jadi Sumber Kedamaian Sesama Itu Indah - Masduki mendamaikan. Jika kita menganggap diri k i t a b e l u m p u ny a ke m a m p u a n memahami firman Tuhan secara sendirian, hendaklah mencari seseorang yang kita perhitungkan batinnya hidup. Jika kita kreatif, di zaman internet ini sesungguhnya sangat mudah untuk mencari sumber yang kita cari. Cukup dengan satu klik saja kita bisa terbang ke Amerika, Arab, London dan lain-lain. Situs-situs yang kita perlukan juga tersedia untuk semua dan kebanyakan gratis. Bisa dijadikan guru di setiap saat, yang mampu menggiring kita meraih kedamaian batin. Saya secara pribadi jarang secara khusus menonton tv, kecuali “orang Pinggiran, IndonesiaKu, Golden Ways dan Tv luar seperti Global 300 (DW-TV) dan Tv Iqraa (Saudi Arabia). Selebihnya waktu di luar kerja saya gunakan untuk menyimak penceramah Islam, seperti Oemar Sulaiman, Nouman Ali Khan, Yasir Qadhi, Muhammad Ibnu Adam Al Kautsari, Moutasem Al-Hameedi, Hamzah yusuf, Ingrid Mattson, Mustafa Umar, dan lainnya.

Penceramah-penceramah di atas, menurut saya, level spiritualnya sangat bagus, mampu menembus batin. Sehingga saya pribadi tidak pernah bosan untuk mengulanginya hingga berkali-kali. Tidak boleh bosan untuk belajar. Hampir semua resources bisa didapat secara gratis dengan download dari Youtube. Ini betul-betul karunia dan mukjizat besar dari Allah. Akhir kata, Ya Allah.. damaikan Indonesiaku, lembutkan yang hatinya kasar, dinginkan yang hatinya panas. Saudarakan yang hatinya penuh kebencian, limpahkan kepada kami-kami hati yang pemaaf, yang rendah hati dan penuh kasih terhadap sesama. Hiasilah hati kami dengan kesederhanaan dan suka berbagi, serta penuhilah dengan cinta kepada-Mu dan kepada hambahamba-Mu. Serta jadikan pribadipribadi penghuni Indonesia yang beragam ini menjadi sumber kedamaian bagi sesama. Amien. (H)

Ya Allah.. damaikan Indonesiaku, lembutkan yang hatinya kasar, dinginkan yang hatinya panas. Saudarakan yang hatinya penuh kebencian, limpahkan kepada kami-kami hati yang pemaaf, yang rendah hati dan penuh kasih terhadap sesama. Hiasilah hati kami dengan kesederhanaan dan suka berbagi, serta penuhilah dengan cinta kepada-Mu dan kepada hambahamba-Mu. Serta jadikan pribadi-pribadi penghuni Indonesia yang beragam ini menjadi sumber kedamaian bagi sesama. Amien.

lirik

5/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

... Lakukan saja kata hatimu

Gabriella Ria Apriyani :
Kristen Katolik, Tionghoa-Sunda

“Etnis Tionghoa (Katanya) Tak Mau Berbaur”

Etnis Tionghoa (Katanya) Tak Mau Berbaur - Ria

“Mengapa semua Cina peranakan di Indonesia sejak dulu sampai sekarang tidak pernah mau berbaur dengan pribumi?"

Pertanyaan tersebut terlontar dari salah seorang teman pada saat presentasi budaya Cina di kelas Komunikasi Lintas Budaya (KLB) Jumat lalu. Alih-alih bertanya mengenai budaya dari negara yang sedang dipresentasikan, kelas KLB yang seharusnya menjadi ajang pertukaran pengetahuan soal budaya tersebut justru berubah menjadi kelas untuk memperdebatkan masalah sosial. Sebagai seseorang(dan mungkin satusatunya di kelas itu) yang setengah darahnya Cina, saya merasa tertohok. Premis selanjutnya dari teman saya adalah bahwa semua peranakan Cina di Indonesia sampai sekarang masih eksklusif. Mulai dari sekolah, gereja, hingga pergaulan. Semua berkumpul dalam satu komunitas tertutup dan ia menyebut peranakan Cina di Indonesia tidak mau berbaur dengan masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa, atau dengan istilah yang mereka gemar gunakan adalah pribumi. Dalam hati saya, saya bertanya-tanya, benarkah? Sejak TK saya masuk ke sekolah swasta Katolik dimana mayoritas siswa di sana memang keturunan Tionghoa. Yang saya ingat, ketika ayah saya menyekolahkan saya di sana sama sekali tidak bermaksud membuat sebuah pagar pembatas antara saya dengan kelompok pribumi. Ayah saya hanya ingin agar saya tetap dapat dekat dengan tradisi kami, dimana dia berharap saya bisa banyak belajar dan berbagi dengan temanteman saya, apa yang mungkin tidak bisa dia berikan secara maksimal mengenai tradisi leluhur kami. Tidak ada maksud sama sekali untuk menjadikan saya manusia eksklusif.

.. ketika ayah saya menyekolahkan saya di sana, ia sama sekali tidak bermaksud membuat sebuah pagar pembatas antara saya dengan kelompok pribumi.

Etnis Tionghoa (Katanya) Tak Mau Berbaur - Ria

Lingkungan tempat tinggal saya 99% bukan keturunan Tionghoa. Kami hidup rukun dan baik-baik saja. Teman main saya saat kecil semuanya bukan keturunan Tionghoa dan kami tidak pernah memperdebatkan soal suku dan identitas saat itu. Kami bermain, kami bertengkar, kami saling curang, tanpa harus berpikir apakah saya Tionghoa atau bukan. Di sekolah saya, banyak juga mahasiswa yang bukan berasal dari keturunan Tionghoa. Dan selama 14 tahun saya bersekolah di sana, tidak pernah sekalipun saya dengar ada perdebatan mengenai asal-usul suku

Budhist, atau Khonghucu. Dan sebagian besar dari orang tua mereka ingin anaknya bersekolah dan kuliah di Universitas yang berbasis agama Kristen, Buddhisme, atau Konghucu (saya kurang tahu apakah ada universitas yang berbasis agama-agama ini. Kalau sekolah saya tahu ada). Tindakan itu didasarkan alasan supaya mereka mendapat pelajaran agama yang layak dan memadai, tidak kesulitan. Menurut saya ini logis. Apa bedanya dengan orang tua Muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis agama Islam? Untuk semua ketidaksetujuan saya itu, saya merasa perlu memberikan

Lingkungan tempat tinggal saya 99% bukan keturunan Tionghoa. Kami hidup rukun dan baik-baik saja. Teman main saya saat kecil semuanya bukan keturunan Tionghoa dan kami tidak pernah memperdebatkan soal suku dan identitas saat itu. Kami bermain, kami bertengkar, kami saling curang, tanpa harus berpikir apakah saya Tionghoa atau bukan.
ataupun etnis. Tidak sekali-kalipun. Teman-teman saya juga tidak. Kami tumbuh dan berkembang bersama, tanpa perlu memikirkan perbedaan Sekalipun saya tidak memungkiri bahwa ada saja beberapa keluarga yang memang masih tertutup pemikirannya seperti yang dikatakan teman saya tersebut. Misalnya saja ada beberapa teman saya yang berasal dari keturunan Tionghoa diharuskan oleh orang tuanya untuk memilih pacar(pasangan) yang juga merupakan keturunan Tionghoa. Tapi lebih daripada itu, berkaitan dengan pergaulan pertemanan tidak pernah ada pembatasan. Kalaupun mungkin misalnya yang tampak bahwa sebagian besar anakanak etnis Tionghoa disekolahkan dan dikuliahkan di sekolah dan kampus te r te n t u , s aya p i k i r i t u b u ka n sepenuhnya karena tidak mau berbaur. Saya tidak akan bicara soal kualitas di sini. Tapi lebih kepada kedekatan identitas dan efisiensi. Sebagian besar etnis Tionghoa di Indonesia memeluk agama Kristen, sebuah argumen. Saya tidak memungkiri bahwa memang masih ada saja keturunan Tionghoa yang cenderung bersikap eksklusif. Mungkin lebih tepatnya saya tidak suka dengan kata 'semua' yang teman saya itu gunakan. Yang saya tahu, sekarang ini sebagian besar dari kami sudah berbaur. Karena perkembangan zaman, interaksi itu tidak bisa dihindarkan lagi. Tapi pertanyaan teman saya itu pada akhirnya menjadi sebuah bahan renungan bagi saya selama beberapa hari ini. Mungkin saya dan orang-orang keturunan Tionghoa yang lain harus mengecek ke dalam diri kami, apakah benar kami masih saja terlalu eksklusif?

Mungkin saya dan orang-orang keturunan Tionghoa yang lain harus mengecek ke dalam diri kami, apakah benar kami masih saja terlalu eksklusif? Namun, intropeksi diri ini juga menurut saya tidak bisa dilakukan sepihak saja.

Etnis Tionghoa (Katanya) Tak Mau Berbaur - Ria

Namun, intropeksi diri ini juga menurut saya tidak bisa dilakukan sepihak saja. Saya tidak mau menutupi bahwa sampai saat ini masih ada saja masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa yang melontarkan ejekan bernada SARA, sekalipun tidak frontal. Jadi bukankah ini berarti kedua belah pihak harus sama-sama intropeksi? Entah kenapa sampai saat ini saya pribadi tidak pernah bisa menyukai istilah pribumi dan non pribumi. Istilah itu menjadikan identitas asal saya seolah sangat jauh dari Indonesia. Padahal saya lahir di Indonesia, besar di Indonesia, pertama kali menapakkan kaki di sini, meminum airnya, menghirup udaranya. Saya benar-benar merasa Indonesia. Bukan berarti kan mata yang sipit dan kulit yang lebih putih menjadikan saya bukan bagian dari Indonesia?

Jujur, saya takut terlalu lama istilah itu dipakai, nasionalisme saya terkikis karena lama-kelamaan saya bisa jadi merasa bahwa saya bukan orang Indonesia. Saya tidak kehilangan cinta pada negara ini, hanya saja pada sebagian masyarakatnya. Saya harap hanya saya sendiri yang merasa takut akan hal ini. Saya harap istilah pribumi dan non pribumi bisa terdengar lebih ramah di sini. (H)

Entah kenapa sampai saat ini saya pribadi tidak pernah bisa menyukai istilah pribumi dan non pribumi.

lirik

6/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

Satu rasa satu hati Semestinya kita itu...

Azizah Siti :
Islam, Jawa

“Tuhan dalam Pasal-Pasal”

Tuhan dalam Pasal-Pasal - Azizah

Sebagai pengatur atau regulator dipegang teguh oleh pemerintah yang bertindak membuat tata aturan bagi rakyat yang mendiami daerah yang di aturnya. Menurut Socrates, negara bukanlah semata-mata merupakan keharusan yang bersifat objektif, yang asal mulanya berpangkal pada pekerti manusia. Sedang tugas negara adalah m e n c i p ata n h u ku m ya n g h a r u s dilakukan oleh para pemimpin atau para penguasa yang dipilih secara seksama oleh rakyat. Keseimbangan dan keadilan merupakan impian yang diharapkan dari adanya regulasi yang dibuat oleh pemerintah terhadap rakyatnya. Regulasi yang termuat tentu berasal dari gejolak sosial yang muncul di dalam kehidupan sosial rakyatnya. Regulasi yang dibuat terkadang membuat sebagian orang merasa tidak bebas d a l a m m e n j a l a n k a n ke h i d u p a n bermasyarakat. Indonesia merupakan negara yang menerapkan pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah. Pemerintah p u s at m e m b e r i ka n h a k ke p a d a pemerintah daerah dalam bentuk otonomi daerah. Penyeleng gara pemerintahan daerah dilakukan oleh Gubernur, Bupati, atau Walikota. Sebagai wujud penyelenggaraan pemerintahan daerah, penyelenggara pemerintahan daerah menerbitkan peraturan untuk daerahnya dalam bentuk peraturan daerah (perda). Peraturan daerah selanjutnya disebut adalah peraturan daerah provinsi dan/atau peraturan daerah kabupaten/kota. Penerbitan peraturan daerah (perda) yang mengandung unsur

diskriminatif di tingkat kabupaten/kota bahkan provinsi marak terjadi pasca munculnya reformasi di Negara Indonesia. Pemerintah melalui pembagian kewenangan pusat dan daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, d i a ra h ka n u n t u k m e m p e r c e p a t terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perda yang diterbitakan oleh penyelenggara daerah terkadang bersinggungan dengan hak asasi manusia sebagai pemilik hak yang diberikan oleh Tuhan. Sebagai contoh kabupaten Sampang mengeluarkan SK Bupati tentang wajib jilbab untuk pegawai negeri sipil. Selain itu, adanya Peraturan Gubernur Jabar tentang larangan untuk Jemaat Ahmadiyah. C o n t o h l a i n d a e ra h ya n g j u ga mengeluarkan perda yang diskriminatif terhadap agama terjadi di Aceh, Maluku U ta ra d a n S e l ata n , Po s o s e r ta Ka l i m a n t a n B a ra t d a n Te n ga h , Monokwari, Purwakarta, Situbondo, Tasikmalaya, Bandung, Bogor dan Cianjur, dan lain-lain. Dari beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa perda yang dikeluarkan daerah banyak yang

Tuhan dalam Pasal-Pasal - Azizah

berbenturan dengan hak asasi manusia dalam hal beragama. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak agama dan kepercayaan, sehingga munculnya Perda berbasis agama akan mempersempit gerak kehidupan beragama di dalam masyarakat karena timbul sekat pemisah. Peraturan tersebut memicu konflik yang berpotensi mengganggu keseimbangan sosial, terlebih lagi dapat mengahancurkan tatanan sosial melalui aksi-aksi kekerasan bertendensi agama. Kondisi yang terjadi di daerah adalah bahwa perda di daerah tertentu diikuti oleh daerah lain bahkan kadang dari anggota DPRD datang untuk studi banding mengenai Perda yang akan di buat di daerah sehingga terkadang tidak sesuai dengan local wisdom dari daerah yang dipimpinnya. Kenyataanya ini

membuat miris keadaan beragama di Indonesia mengingat kemajemukan beragama dan kepercayaan yang ada di dalam negara ini. Konflik datang atas nama Perda yang berbasis agama tersebut. Kebijakan daerah yang “demokratis” ternyata menjadi bumerang bagi idealisme demokrasi, yaitu lahirnya peraturan yang anti toleransi. Hak-hak asasi manusia terenggut oleh deretan pasal-pasal yang mengatasnamakan Tuhan. Kesatuan dan persatuan merupakan cita-cita luhur dari founding father atas kemerdekaan bangsa Indonesia tercerabut oleh generasi bangsanya dengan mengatasnamakan Tuhan. Dalam pelaksanaan kehidupan beragama, agama adalah masalah yang peka. Jika tidak tertanam saling pengertian dan toleransi di antara pemeluk agama yang berbeda-beda, akan mudah timbul pertentangan, bentrokan, bahkan permusuhan antarpemeluk agama. Hukum yang dibuat berbasis agama jauh dari cita-cita luhur yang diharapkan, bahkan dapat dikatakan “membunuh”nya. Kualitas pemimpin mencerminkan kualitas dari regulasi yang dibuat. Sehingga pemilihan pemimpin yang berkualitas akan mempengaruhi isi dari hukum yang akan dibuat di tempatnya, sehingga tidak ada lagi wakil (yang mengatasnamakan) Tuhan di atas kekerasan yang intoleransi dalam beragama. (H)

Ping Setiadi :
“Bahagia Itu Ada Dalam Kebersamaan”

Bahagia Itu Ada Dalam Kebersamaan - Ping

Sering saya mengajukan pertanyaan pada teman-teman saya tentang pertanyaan ini : Kira-kira kalau Anda memiliki kesempatan untuk bisa bebas memilih tinggal di mana saja di belahan dunia ini, negara mana yang akan Anda pilih?

Jawaban-jawaban di balik negara yang terpilih kemudian menggambarkan negara yang dianggap ideal untuk ditinggali, negara yang aman dan tentram untuk melahirkan atmosfir kebebasan beraktualisasi diri, dan sejumlah alasan yang terpapar bahwa sebuah negara dianggap cukup ideal untuk bisa dianggap sebagai “rumah tinggal”. Kita juga sering mendengar pengalaman cerita bahwa ketika kita berada jauh dari rumah dari negara kita berasal di mana kita tinggal, biasanya kita baru tersadar bahwa kita memiliki rumah. Kesadaran itu yang melahirkan rasa rindu, kangen dengan segala atribut dan suasana tentang rumah, tentang tanah air. Dan biasanya juga “rasa” itu semakin meng”indonesia”kan kita, karena kita berjarak secara fisik dengan keberadaan rumah dan negara yang membuat “rasa” itu terlahirkan. Rumah adalah saksi sejarah tempat kita bertumbuh, tempat kita mengenal dunia untuk pertama kalinya secara lingkup kecil. Jendela yang terdapat di rumah rumah memampukan kita menatap dunia luar, memandang bagaimana kehidupan tetangga kita, kehidupan segala di luar lingkungan hidup terkecil kita. Sedang pintu rumah berfungsi untuk mempersilahkan mereka yang di luar untuk bisa masuk dan mengenal bagaimana kita di mata pihak luar rumah. Di dalamnya juga kita mengenal konsep kehidupan keluarga. Keluarga yang pada hakikatnya yang dianggap paling mampu memberi rasa aman kita

Bahagia Itu Ada Dalam Kebersamaan - Ping

Jendela dan pintu rumah kita, setelah menjadi media kita memandang dunia, hendaknya menjadi titik berangkat kita untuk bisa membuka ruang dialog dengan dunia.
sebagai pusat bertumbuhkembangnya segala hal yang disebut kebajikan dan kebenaran hidup. Jendela dan pintu rumah kita, setelah menjadi media kita memandang dunia, hendaknya menjadi titik berangkat kita untuk bisa membuka ruang dialog dengan dunia. Begitu kita keluar melangkah dari pintu rumah kita, kita membawa berbagai bekal rumah berupa nilai-nilai kecil kita tentang mengenal dunia. Nilainilai itu mau tidak mau harus terbenturkan dengan realita hidup yang lebih luas selain realita rumah. Nilai-nilai yang mengiring itu layaknya berdiri bukan sebagai batu cadas yang keras, melainkan sebentuk air yang mudah melebur yang begitu lentur memperkaya nilai-nilai kecil yang telah kita miliki sebelumnya untuk terus membesar melalui tempaan.

Menurut Aristoteles “manusia adalah mahluk s o s i a l ”, a r t i nya m a n u s i a bahagia bila hidup bersama orang lain. Dan untuk membuat dunia kehidupan itu harmonis dan layak untuk kita huni bersama, manusia mengenal dan belajar tentang nilai-nilai moralitas.
Ketika dalam skala kecil keluarga dan lingkungan rumah kita mengenal nilai-nilai moralitas untuk dipatuhi demi menjaga keharmonisan keluarga. Ketika skala itu kita zoom out lagi di lingkungan RT maka kita mengenal nilai-nilai moralitas lingkungan RT, dan terus skala itu membesar hingga lingkungan bangsa dan dunia. Sapaan sesama, tangan-tangan sesama, bentuk ketulusan orang lain memberikan kita kekuatan hidup. Kekuatan-kekuatan ini melahirkan budaya yang luhur, memberi spirit yang membebaskan kita untuk berbuat baik bagi siapa saja dan melahirkan karyakarya terbaik untuk peradaban. Menolong mereka yang berbeda bukan menjadi hal yang perlu ditakutkan karena ikatan kekuatan keluarga yang

Sapaan sesama, tangan-tangan sesama, bentuk ketulusan orang lain memberikan kita kekuatan hidup.

Bahagia Itu Ada Dalam Kebersamaan - Ping

telah terjalin begitu rupa. Kesakitan seorang sesama merupakan kesakitan kita juga karenanya. Kekuatan budaya ini melebihi kekuatan kekayaan alam atau luas suatu wilayah bangsa yang kita miliki. Kekuatan ini juga tidak tiba-tiba turun dari langit begitu rupa. Tetapi lebih merupakan proses panjang yang terbentuk dari usaha kolektif sebuah keluarga dengan peran-peran unik di setiap anggota-anggota di dalamnya. Menyadar akan keunikan-keunikan dan keragaman dalam sebuah keluarga besar membutuhkan toleransi sebagai jalinan untuk memeliharanya. Toleransi yang bukan sekedar membiarkan orang lain yang berbeda berbahagia, tetapi melibatkan kita juga untuk bisa turut berbahagia karenanya. Kita tidak terpisah dengan kebahagiaan orang lain. Rasa ketidakterpisahan ini membuat kita menjadi tulus dalam bertoleransi. Secara fisik kita mungkin memang berada di rumah, berada di tanah air rumah bersama kita Indonesia, tetapi rasa untuk bisa merasa bahwa rumah dan tanah air itu kita miliki belum tentu kita miliki secara otomatis. Kita butuh berjarak dari perspektif kita memandang keseharian kita lebih luas, bahwa persoalan-persoalan kehidupan itu

bukan hanya melulu permasalahan kita sendiri secara personal, secara lingkungan kecil rumah secara harafiah.

Cara pandang yang berjarak dan berpikir jernih melahirkan sikap empati sebagai kunci memahami dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan dari lingkup
Kemampuan mengambil jarak ini membuat kita tidak mudah tenggelam dalam situasi negatif. Berjarak bukan berarti tidak terlibat. Manusiawi, bila di dalamnya kita melibatkan emosi pribadi, tapi dengan keberjarakan juga tidak membuat kita tertutup untuk bisa berpikir jernih menghadapi situasi. Cara pandang yang berjarak dan berpikir jernih melahirkan sikap empati sebagai kunci memahami dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan dari lingkup personal hingga kebangsaan. Tatanan sebuah bangsa memang dilahirkan dari bagaimana bangsa itu menyelesaikan konflik-konflik yang dihadapinya. Sebagaimana hubungan antar manusia juga ditempa oleh konflik dan pertengkaran.

Toleransi yang bukan sekedar membiarkan orang lain yang berbeda berbahagia, tetapi melibatkan kita juga untuk bisa turut berbahagia karenanya.

Bahagia Itu Ada Dalam Kebersamaan - Ping

Musuh besar persoalan dalam kebersamaan di lingkar kebangsaan itu kini bukan lagi ke persoalan tentang siapa musuh kita secara fisik (etnis, agama, ras, dan perbedaan yang tampak secara lahiriah)
Yang dibutuhkan kemudian a d a l a h k i ta b i s a s e g e ra terbangun dan sadar bahwa kita berada di tengah konflikkonflik yang membutuhkan kebersamaan dalam penyelesaiannya.
Konflik atau musuh besar persoalan d a l a m ke b e rs a m a a n d i l i n g ka r kebangsaan itu kini bukan lagi ke persoalan tentang siapa musuh kita secara fisik (etnis, agama, ras, dan perbedaan yang tampak secara lahiriah). Musuh bersama itu kini bersifat abstrak, melingkupi lingkar personal dari nafsu hasrat kuasa pribadi, hingga persoalan lingkar sosial dari kemiskinan, konflik horisontal dengan segala sekat-sekat perbedaannya yang jadi pemicu. Ya, sebab kita dahulu pernah disatukan bersama oleh musuh secara fisik yang mewujud mereka yang kita sebut bangsa penjajah. Musuh besar secara fisik itu kini terurai menjadi p o t o n g a n - p o t o n g a n ke c i l y a n g berhambur bagai puzzle-puzzle yang harus kita pungut dan kumpulkan dalam perjalanan kebersamaan kita sebagai sebuah keluarga. Sebab kebahagiaan dalam sebuah keluarga itu bukan dalam kesendirian, kebahagiaan itu lahir karena keberadaan orang di luar diri kita, bahagia itu ada dalam kebersamaan. (H)

Musuh besar secara fisik itu kini terurai menjadi potongan-potongan kecil yang berhambur bagai puzzle-puzzle yang harus kita pungut

lirik

7/7
Satu Rasa Satu Hati
Oleh Fortuna Band @FortunaBands

... Jangan pernah saling hancurkan sesama yang berbeda

III Bangga Sebagai Bangsa
untukharmoni.com
#17an

Risdo Simangunsong :
Kristen Ortodoks, Batak

“Sehabis Tujuh Belasan”

Sehabis Tujuh Belasan - Risdo

foto milik : karangturi.com

Seorang perempuan kecil menghampiriku, ia bertanya : “Masihkah kakak bangga dengan Indonesia? Masihkah kakak cinta Indonesia?”
Tangan anak itu memegang merah-putih kecil, yang dipakai upacara tadi. Aku terdiam sejenak memandang wajahnya. Wajah itu penuh gundah dan sedih. Dalam benakku, aku bergulat tanya, akankah anak ini nanti bisa berdiri dengan kepala tegak di tengah teman sepergaulannya dari berbagai bangsa. Ataukah dia malu menyebut nama negeri yang hampir lebur diinjak-injak kebrengsekan ini. Aku mencoba menghiburnya dengan mencoba mengingatkannya akan sejarah agung peradaban di bumi Nusantara, tapi aku sadar segala kisah itu hanya akan membuainya jika ia toh tak bangga atas keadaan kini. Aku mencoba menejejalkan betapa indahnya falsafah kebhinekaan, tapi matanya sudah pasti lebih melihat betapa banyak kekerasan dibingkai ego-etnoreligi. Lantas aku berusaha menggerus cerita tentang disiplin, kreatifitas, keramah-tamahan, keindahan, dan banyak anugerah ilahi lainnya bagi bangsa ini. Tapi aku khawatir ia hanya akan mengira itu adalah sempalan kecil dari sekian banyak kebobrokan. Lalu aku mulai diam… Hati-hati aku mulai berbisik: “Dik, kita memang lahir di masa kita hampir tak punya lagi teladan untuk dibanggakan dari negeri ini … kepercayaan kita pada diri sendiri dan diri kita sebagai bangsa telah remuk redam diremas orang-orang dewasa, pemimpin, bapak dan ibu yang kita berikan hormat… kita jadi kecil hati, tak bangga bahkan semakin tak peduli…” Aku genggam tangan anak itu… “Tapi tangan kecil kita ini bisa mengembalikan bahkan menopang kebanggaan luhur yang baru. Tangan ini dipakai dalam doa, dijejalkan dalam karya dan dianjungkan dalam gelora … bisa memberi suatu arti…” “Bahwa Tuhan tak pernah salah mendaulatkan Indonesia sebagai suatu bangsa, bahwa Pertiwi takkan mati di hati orang yang mau mengabdi … Bahwa negeri ini masih punya kita dan begitu banyak orang yang mau mengembang nadi demi kebangkitan …” Ia diam dalam ketakmengertian… bahasaku mungkin aneh baginya, tapi ia kemudian berkata: “Jadi Allah sayang Indonesia, Kak?” Sedikit tergagap aku jawab… “Ya, tentu saja. Kemerdekaan kita adalah hadiah dariNya… “ dalam hati aku berharap ia ingat alinea ketiga mukadimah konstitusi negeri ini. Ia menitipkan bendera kecilnya ke tanganku, lalu mulailah tampangnya jadi syahdu, “Ya Allah…,” ia menengadahkan tangan, “Ampunilah dosa-dosa bangsa kami, ampunilah kami, aku juga sayang Indonesia ya Allah… aku pengen Indonesia bangkit dari kehancuran ya Allah.. Amin Ya Rabbal alamin” Kucium bendera kecil itu, seraya membuat tanda salib, “Ya Tuhan yang diseru sekalian alam… Ya Tuhan yang berdaulat atas bangsa ini… dengarkanlah doa anak kecil ini, aku juga mengamininya ya Bapa…” Aku tersenyum simpul… pemandangan kecil ini pasti sudah amat jarang terjadi di persada Nusantara… Tidak untuk doa bersama, mungkin juga tidak untuk karya bersama.. (H)

Anastasia Monica :
Islam, Betawi-Tionghoa

“Radio Rusak”

Radio Rusak - Anastasia

foto milik : djejakmasa.blogspot.com

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku... D i s a n a l a h a ku b e r d i r i , Jadi pandu ibuku...
DUAR! DUAR! Ketika meriam di luar tengah sibuk saling menyahut, seorang anak laki-laki kecil sibuk dengan radio yang baru saja ditemukannya; milik tentara Jepang yang telah gugur, sepertinya. Ia baru saja menghapal satu lagu, meskipun takkan bisa membaca teks liriknya jika diberi—ia belum diajarkan bagaimana cara membaca dan menulis sejak kecil. Ayahnya gugur di medan perang jauh sebelum ia lahir dan ibunya baru saja wafat beberapa hari yang lalu karena penyakit TBC. Jadi kini, ia menyusuri jalan dengan tanah basah sambil sembunyi-sembunyi mendengarkan lagu Indonesia Raya dari radionya. Waktu itu Agustus 1945,

Indonesia sudah merdeka, katanya. E nta h l a h a p a m a k n a d a r i kata merdeka—ia tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa tanah yang ia pijak kini direbut dengan gelimpangan mayat dan lautan darah.

Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan tanah airku, Marilah kita berseru, Indonesia bersatu...
Seorang remaja berkulit sawo matang lewat di depan Istana Merdeka, dengan dada membusung dan tangan kanan membentuk sikap hormat, ia mengikuti upacara bendera. Hari itu tanggal tujuh belas Agustus tahun 1955. Indonesia. Negara yang baru beberapa tahun diakui dunia. Tangan kiri remaja itu memegang radio yang dimilikinya sejak sepuluh tahun lalu, masih bagus dan berfungsi

Radio Rusak - Anastasia dengan sangat baik karena ia selalu merawatnya, dibersihkan setiap malam sebelum tidur, dibawa kemanapun ia pindah tempat tinggal. Ia tersenyum ketika pengibaran bendera usai, nanti malam pasti di radio diulangi lagi lagu Indonesia Raya serta pidato kepresidenan. Sambil merangkul sahabat karibnya dari Sumatera, ia berjalan menyusuri jalan Medan Merdeka. Ia belajar untuk tumbuh bersama dengan tanah yang ia pijak; berkembang bersama negrinya. keturunan Belanda. Hari ini panen, ya?

Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya...
Agustus 1998, aku melihat kakek duduk di kursi goyangnya, tangannya mengetuk-ngetuk pelan radio berwarna hijau tosca yang mungkin sudah tidak berfungsi itu. Setahuku, kakek tidak pernah menyalakannya. Kuhampiri kakek dengan rasa penasaran, disambut dengan senyum yang diukir indah di wajah tua itu. Diletakkannya radio itu ke atas meja yang ada di dekat kursi goyang, kemudian ia mengangkat tubuh mungilku ke dalam pangkuannya, sambil mengelus-elus rambut hitamku pelan. “Susah ya sekarang kalau mau dengar lagu Indonesia Raya,” ujarnya pelan-pelan. “Ada kok, Kek!” ujarku cepat. “Iya? Kapan?” “Di televisi sering muncul, lalu kalau ada pertandingan olahraga dengan luar negri, lalu... lalu... ummm...” aku berpikir sambil menempelkan telunjukku ke dahi. “Hehehe...” kakek terkekeh sambil menggoyangkan kursinya, “...dulu waktu kakek muda, di radio ini, setiap hari dan setiap beberapa jam sering memperdengarkannya.” Aku mengangguk-angguk mengerti; ah, lagu kebangsaan. Siapapun akan hapal kalau nanti sudah mulai masuk sekolah. Itu kan fungsi upacara.

Hiduplah tanahku, Hiduplah neg'riku, Bangsaku, Rakyatku, semuanya...
Radio berwarna hijau tosca dengan bulatan besar di sisi kirinya dan tombol tombol kecil di kanan itu disimpan rapi oleh seorang pemuda berpakaian kaus putih, agak lusuh. Tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya. Tidak sang istri, tidak juga anak-anaknya. Kadang-kadang kalau malam tiba, keluarga kecil itu mendengarkan lagu Indonesia Raya. Ah, hanya beberapa frekuensi radio saja yang memperdengarkannya, itupun di jamjam tertentu. Mereka hidup di salah satu kota di Jawa Tengah, tempat salah satu penghasil beras, makanya pemuda itu kini bekerja sebagai petani. Tidak ada keluhan walau tinggal di bawah atap bolong-bolong dan dinding anyaman. Ini lebih baik daripada beberapa puluh tahun lalu, saat Indonesia masih dibelenggu penjajah. Agustus 1978, Indonesia sudah bisa berdiri dengan dua kakinya sendiri, kokoh, negara yang sudah dikenal oleh dunia dengan keramahannya. Sambil tersenyum ramah, bapak dari tiga orang anak itu melangkah meninggalkan rumah sambil membawa cangkul di pundaknya. Disapanya tetangga yang tengah duduk-duduk sambil membaca koran di teras; namanya Van Dwight Everhart,

Indonesia Raya, Merdeka, merdeka, Tanahku, neg'riku yang kucinta! I n d o n e s i a R a y a , Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raya.
Aku menatap layar televisi layar datar sambil memangku adikku yang masih kecil. Usiaku sekarang sembilan belas. Disiarkan upacara bendera di

Radio Rusak - Anastasia

televisi. Kakek, seperti biasa, memangku radio tuanya, ikut menonton bersama aku dan adik. Radio itu mungkin adalah bagian lain dari hatinya selain nenek yang bulan lalu sudah kembali kepada Sang Pencipta dan anak-cucunya. “Kek, mau kubelikan radio baru?” tawarku. Kakek tersenyum, “Tidak. Radio kakek masih bagus, kok.” “Bukannya sudah tidak berfungsi?” “A h , k a ke k t i d a k b i s a mendengarkan lagu kesukaan kakek di radio baru.” Ya, Indonesia Raya, entahlah, kakek sangat senang mendengarnya. “Kalau dengar lagu itu, kakek tahu bahwa dulu, buyut kamu ndak berjuang di medan perang seperti robot yang disetel; merdeka atau mati tanpa tahu maknanya. Kalo kata kamu, belum ada settingnya,” kakek terkekeh sendiri sebelum melanjutkan kalimatnya, “kayak radio rusak, toh? Cuma bersuara

saja, yang penting didengar.” Aku mengerutkan kening bingung. “Walaupun sekarang tanah sudah jadi aspal, gubuk sudah jadi gedung t i n g g i , ta p i t u l a n g d a n d a g i n g bersemayam dipeluk ibu pertiwi, diperjuangkan dengan tumpahan darah. Kamu ndak paham?” kakek menghela nafas, “Indonesia Raya itu kenapa kakek suka? Biar ndak lupa. Kalo kakek lupa, siapa toh yang mau nyanyiin ke cucucucu kakek?” Aku terkesiap; bagaimana bisa aku cinta jika aku belum sepenuhnya mengerti tentang Indonesia? Seulas senyum kuberikan, kemudian aku merogoh ponselku yang buatan Korea dan mengunduh lagu Indonesia Raya. Ah, biarlah, ponsel ini bukan buatan Indonesia, yang penting kalau ada yang melihat isinya, semua tahu bahwa ini milik orang Indonesia; ada lagu kebangsaannya di sana. (H)

Glenysz Febryanti :
Kristen Protestan, Batak

“Ketika Kemerdekaan Bukan Berarti Kebebasan”

Ketika Kemerdekaan Bukan Berarti Kebebasan - Glen

Setiap tahun perayaan 17 Agustus tidak pernah menjadi hal yang 'biasa saja' untuk bangsa Indonesia. Akan selalu ada pidato kebanggaan, perlombaan dan upacara 17-an yang memberikan nilai lebih dibanding hari lainnya.
Pada hari tersebut selalu kita dapati pemandangan yang menguji rasa memiliki kita terhadap bangsa ini. Lagu kemerdekaan yang dinyanyikan dengan lantang seakan berlomba untuk menunjukkan jiwa nasionalisme siapa yang lebih tinggi. Bendera yang digerek perlahan oleh anak-anak di setiap sekolah, lagu pembebasan yang dinyanyikan oleh peserta upacara, artikel dari berbagai media cetak tentang sejarah Indonesia atau setiap stasiun televisi yang menayangkan megahnya Upacara Kemerdekaan di Istana Negara. Ini jelas kebanggan! Sebuah proses panjang telah berlangsung di bawah langit bernama Indonesia enam puluh delapan tahun silam. Ratusan bahkan ribuan nyawa pejuang negeri ini telah berkorban. Dan sebuah penantian panjang yang akhirnya menghasilkan pengakuan dan kebebasan dari penjajahan. Jadi apakah sudah bisa dibilang 'bebas'? Sayangnya, Indonesia belum mampu membuat semua warga negaranya percaya pada Indonesia itu sendiri. Bentuk demonstrasi anarkis masih sering terjadi karena kekecewaan dalam pemerintahan, kasus korupsi yang tidak pernah berhenti mengalir dilakukan pejabat negeri ini, tindak kriminal karena masalah ekonomi, konflik antar agama di beberapa daerah, kasus narkoba yang merajalela di kalangan anak muda, banyaknya perokok aktif yang meracuni orang lain yang tidak merokok (yang sebagian besar adalah anak-anak), dan rentetan kasus lainnya yang mendampingi negeri ini. Apakah ini bukti Indonesia belum benar-benar bisa dikatakan merdeka? Ini salah masyarakat atau pemerintah? Tidak adil jika kita mempersalahkan satu nama atas nama lainnya untuk jutaan kasus di negeri ini. Terus menyudutkan pemerintah dengan tuntutan ataupun aksi anarkis bukanlah upaya yang tepat. Indonesia perlu pemerataan di setiap wilayah dalam hal infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Mahalnya biaya operasional setiap infrastruktur turut menjadi alasan terhambatnya pembangunan di daerah, rendahnya kesadaran akan kesehatan, kurangnya sarana pendidikan di tempat terpencil, masih rendahnya kesejahteraan guru dan pengajaran maksimal. Karena dari itu setiap anak muda harus peka dan inisiatif memulai pergerakan membantu Indonesia mewujudkan apa yang dikatakan 'merdeka'. Di saat kita memperingati hari kemerdekaan, banyak anak Indonesia di luar sana yang terancam putus sekolah, kelaparan, kedinginan, tidur di jalanan, atau terlibat kasus kriminal. Saat membaca atau mendengar kata 'Indonesia' disebut dengan penggambaran yang demikian, jawaban

Ini jelas kebanggan! Sebuah proses panjang telah berlangsung di bawah langit bernama Indonesia enam puluh delapan tahun silam.

Ketika Kemerdekaan Bukan Berarti Kebebasan - Glen

bagaimana potret Indonesia masa depan adalah tanggung jawab wajib setiap warga negara. Indonesia telah memiliki banyak orang yang mampu berwacana dengan sempurna, menghasilkan pikiran dan ide paling bijak yang pernah ada, tetapi sekarang Indonesia membutuhkan realisasi atas mimpi-mimpi di atas kertas tersebut. Bagaimana sinkronisasi masyarakat dan pemerintah untuk mencipkatan kenyamanan bersama adalah yang terpenting.

mampu menciptakan solusi dan realisasinya untuk setiap masalah. Kita bisa mulai dari detik ini. Karena kebebasan adalah harga yang harus dibayar mati! Untuk sebuah kata 'merdeka'. Indonesia, 17 Agustus 2013

Indonesia telah memiliki banyak orang yang mampu berwacana dengan sempurna, menghasilkan pikiran dan ide paling bijak yang pernah ada, tetapi sekarang Indonesia membutuhkan realisasi atas mimpimimpi di atas kertas tersebut.
Kepada setiap anak muda Indonesia, negara ini bukan untuk para koruptor, bukan untuk mereka yang membeli kekuasaan, bukan untuk orang yang ragu akan negaranya sendiri, bukan untuk orang yang tidak peduli akan bangsanya, bukan untuk orang yang hanya ingin jadi follower dan bukan untuk orang yang enggan berjuang. Kita adalah anak Indonesia yang ditakdirkan lahir untuk menjadi teladan, yang menawarkan diri membantu orangorang miskin dan terpinggirkan, merangkul perbedaan, memahami s e j a ra h d a n b e r t i n d a k d e n ga n menegakkan nilai kemanusiaan. Indonesia tidak membutuhkan orang yang hanya dapat mengkritik tetapi Indonesia butuh anak muda yang

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.” ― Soe Hok Gie

Para Penulis Cinta Damai
untukharmoni.com
#17an

Anastasia Monica
Bernama pena: Ararancha Hanazono), berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Bunda Mulia. Tertarik pada sastra dan jurnalistik, saat ini menjabat sebagai koordinator majalah kampus dan wakil ketua klub Jurnalistik. Dapat dikontak via email anastasiatjahyadi@gmail.com atau Twitter @ararancha

Bastinus Matjan
Penulis pernah menjadi dosen FPOK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan kini telah pensiun. Kini penulis menjabat sebagai sekretaris umum Dewan Adat Dayak Jawa Barat. Kontak penulis di email: matjan_dad_jabar@yahoo.co.id

Clara Tobing Azizah Siti
Saat ini kuliah magister Hukum di Universitas Padjajaran. Ngebolang ke sana ke sini dan foto -foto adalah hobinya. Intens terhadap isu Hak Azasi Manusia dan keberagaman. Dapat dihubungi di: email azizah12elbar@yahoo.com atau Twitter @zahguuulll Lulusan Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dan saat ini sedang menjalani pendidikan Pasca Sarjana di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung. Ketertarikan utama dalam bidang penegakan hak asasi manusia dalam berbagai cabang dengan dasar filosofis filsafat manusia atau humanisme. Saat ini sedang menyusun riset untuk tesis dalam bidang pencari suaka/ asylum seeker. Dapat dihubungi di: lalatobing07@gmail.com atau Tw i tte r @ l a l ato b i n g ata u B l o g lalaignatiatobing.blogspot.com

Isti Toq’ah
Dear Brothers and Sisters, I am Isti Toq'ah. In social media, people know me as Meccisti Mecca. I was born and grown up in Balikpapan at the last day of 1992. That's why I prefer to be known as Balikpapanese to Javanese—although my parents are Javanese. I'm proud of being guided by my faith, Islam. I don't want to enjoy it alone because Islam is rahmatan lil'alaamiin (blesses for every being). Warm Regards, Your Sister Twitter @meccistimecca Blog peaceofhumanitarianbrotherhood.blogspot.com

Glenysz Febryanti
Nama saya Glenysz Febryanti Limbong, akrab dipanggil Glen. Saya adalah seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Saya seorang Christian, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Menyukai hal tulis menulis berbau isu sosial, agama dan fiksi. Menarik bagi saya ketika kita bisa berbicara, meredakan konflik dan menciptakan perubahan lewat tulisan. Kontak bisa melalui : Twitter @gleenfbr Blog gleenfebry.tumblr.com

Dongwha (KORINDO) sekitar 4 tahun. Tahun 1998 menikah dijawa dan istri saya bawa ke Balikpapan. Karena sakit saya keluar dari perusahaan dan nganggur selama 1 tahun.Desember 1999 pulang ke Blitar sampai sekarang. Tapi anak saya kelahiran Balikpapan. Hidup ini memang berliku dan kita pasti pernah berbuat salah. Namun keterpurukan bisa memaksa kita menjerit kepada Tuhan. Dan Tuhan menunjuki jalan, menuju Dia, kecil tapi cukup menarik dan menantang, sekaligus menyenangkan. E-mail ngabdiinggusti@yahoo.co.id Blog thevalueofsincerity.blogspot.com

Masduki
Saya Masduki, lahir, -menurut ijazah dan KTP – 9 Januari 1968, di sebuah pelosok dusun kayang, Desa Bader, kec. Dolopo Kab. Madiun, 15 menit perjalanan sepeda motor menuju Danau Ngebel Ponorogo. Hidup saya banyak dipenuhi oleh kekecewaan saat belajar disekolah – yang menurut saya – karena kualitas gurunya yang minim dan hanya mengikuti kurikulum, yang nggak peduli anak2 bisa atau tidak. Khususnya bahasa Arab dan Inggris. Dari tekanan batin yang pengen mampu berbahasa Inggris, saya pernah bertanya gimana caranya bisa, tapi guru saya bilang “Pergi saja ke Australia” saya kecewa. Kekecewaan di PGAN Ponorogo, membuatsaya di tahun 1988 hijrah ke Jogja, ke PP. Al-Munawir Krapyak. Asuhan Mbah Yai Ali maksum. Di Jogja saya hanya mondok selama 3 tahun dengan biaya sendiri, maksudnya sambil kerja. Lalu hijrah ke Sampang Madura 1 setengah tahun. Desember 1993 saya pergi Balikpapan untuk cari kerja dan sempat bekerja di Plywood PT Inne

Ping Setiadi
Keseharian beraktivitas sebagai guru gambar di SDK Yahya, Bandung. Montir Garasi 10, Bandung, dan pekerja lepas ilustrasi dan desain. Kontak penulis di email: mahissapink@yahoo.com Blog mystupidmindmystupidmind.blogspot.com

Risa Sarah Ria Apriyani
Mahasiswi jurnalistik. Hobinya hujanhujanan. Terobsesi pada anak kecil. Menulis untuk waktu luang dan waktu tidak luang. Cinta damai. Kontak penulis di email gabriellariaa@gmail.com atau twitter @GRiaA_ juga blog inilahtandatitiknya.blogspot.com
Mengambil jurusan manajemen di Universitas Gunadarma angkatan 2011. Membaca, mendengarkan musik dan bermain musik (gitar) adalah sebagian hobinya. Saat ini aktif sebagai Kepala Bidang Seni dan Budaya di BEM Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Sebagai Secretary-General di organisasi kepemudaan yang baru dirintisnya yaitu iCare (Interfaith Trajectory) yang bergerak di bidang toleransi keagamaan (interfaith) di Indonesia. Tergabung pula di Young On Top Campus Ambassador (YOTCA) batch 4 dan juga aktif menjadi volunteer di organisasi kepemudaan YEP! (YouthEmPowering). Dapat dihubungi di risarahseptiarani@gmail.com atau twitter @risarahs email

Rio Tuasikal
3/4 Sunda 1/4 Maluku. Gemar obrolan dan aktivitas keberagaman. Suka promosi persahabatan lintas-iman. Lulusan jurnalistik. Penulis koordinator di untukharmoni.com. Cinta damai. Berteman dengannya di email riotuasikal@gmail.com twitter @riotuasikal blog riotuasikal.com

Risdo Simangunsong
Baca, nerjemahin, ngedit, ngoceh sesekali nulis dan baca puisi sambil berdoa syafaat di atas kuda lumping Twitter @RisdoMangun Blog· beranirukun.wordpress.com

Vida Semito
Widayati Semito yang oleh rekanrekannya biasa dipanggil Wida Semito atau Vida Semito. Warga Indonesia yang 100% proud to be Baha'i and proud to be Indonesian. Lahir di Yogyakarta pada 26 Desember dan menyelesaikan S3 nya (SD, SMP, SMA) di Bandung, jadi lebih senang di sebut Indonesian born Sundanesse. Karena kecintaannya pada nasionalisme salah satu bapak bangsa Soekarno, sempat mempelajari Ilmu Hukum di Universitas Bung Karno. Masih memendam keinginan terbesarnya untuk menjadi ahli dalam bidang wine dan menjadi editor dan kritikus dalam bidang kuliner & restoran, penyuka makanan tapi tak bisa memasak, senang menari, tapi bukan penari dan pencinta menulis but not a writer yet, aktifitas sehari-harinya sebagai kontibutor lepas beberapa media online dan mengajar TK dan SD di bilangan Jakarta Pusat. Kontak penulis di email : vidad13@yahoo.com

Willy Illuminatoz
Penulis adalah seorang blogger pemula, pengiat media sosial yang tertarik pada dunia tulis menulis terutama filsafat, agama, dan fiksi. Penulis lulusan Teknik I n fo r m a t i ka , b e r w i ra u s a h a d a n pemerhati kesehatan ginjal. Saat ini berdomisili di Bantul, Yogyakarta. Kontak penulis di email: darknezz.world@gmail.com

Indonesia Rumah Bersama
13 suara untuk 68 tahun Indonesia

Sebab Indonesia rumah bersama negara harus ramah pada semua

Download buku kompilasi lainnya di : untukharmoni.com/search/label/Buku

untukharmoni.com
#17an