BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa hal yang dulunya ialah tabu atau dianggap sebagai

sesuatu hal yang tidak layak dilakukan, namun berubah statusnya menjadi halhal yang dianggap biasa terjadi di masyarakat. Namun hal ini tentunya tidak semua dapat diterima oleh masyarakat Indonesia terutama dari segi etika, moral, hukum, dan agama. Masing-masing perihal diatur oleh dasar hukum dan menurut masing-masing agama sehingga permasalahan seperti perceraian, abnormalitas seksual, dan KDRT yang sekarang sedang pesat terdengar di pemberitaan , tidak sepenuhnya bisa dilakukan secara bebas terutama di Negara kita Indonesia yang masih sangat taat terhadap norma-norma dan aturan yang berlaku. Dilema antara Hukum dan etika sering sekali memicu permasalahan yang ada hubungannya dengan dokter dan pasien. Prinsip etika terhadap pasien harus dijunjung tinggi dan merupakan dasar untuk melakukan segala tindakan. Tetapi dari segala tindakan tersebut harus memikirkan hukum yang mengatur, karena hukum selain bisa melindungi, juga bisa menjatuhkan. Diskusi tutorial modul HAM Kedua dengan kasus ”Seorang Pasien pasca- strok yang menolak tindakan operatif” dimulai dengan sesi pertama pada hari Kamis, 27 Juni 2013 dan dilanjutkan dengan sesi kedua pada hari Selasa, 02 Juli 2013 di ruang 709A. Pada diskusi sesi pertama dimulai dari pukul 10.00 - 11.30 yang dipimpin oleh Cokorda Putra dengan sekretaris Aninda Rebecca dibimbing dr.Oktavianus sebagai tutor, membahas mengenai masalah yang didapatkan pada pasien. Pada diskusi sesi kedua dimulai dari pukul 08.00 – 09.30 yang dipimpin Clavi Hanum dengan sekretaris Tri Annisa dibimbing dr. Nuryani sebagai tutor membahas mengenai solusi serta permasalahan yang timbul ditinjau dari berbagai aspek Diskusi berjalan tanpa kendala dan membuahkan pengetahuan yang dapat kami terapkan dalam kehidupan

5 derajat C. Tidak terdapat riwayat stroke.BAB II LAPORAN KASUS Skenario 1 Tuan B. Status motorik kesan hemiplegia dekstra dengan refleks fisiologis (+2) dan refleks patologis (-/ -) pada keempat ekstremitas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: kesadaran tampak apatis. Pada saat itu keluarga langsung tertuju agar pasien segera menjalani kraniotomi. paresis nervus VII dekstra. pernafasan 20x/ menit. 65 tahun dibawa keluarganya ke UGD RS Trisakti dengan keluhan utama adanya penurunan kesadaran secara mendadak. Satu hari sebelumnya dibawa ke RS. sentral. suhu 36. Hasil CT scan kepala menunjukkan perdarahan intraserebral yaitu pada ganglia basal sinistra dengan volume 20 cc disertai pendorongan ventrikel lateral kiri serta pergesseran garis tengah. Pemeriksaan status neurologis awal di UGD didapatkan kesadaran somnolen. . Pada pemeriksaan nervi kranialis didapatkan kesan paresis nervus VII dekstra. Hemiplegia dekstra et causa stroke hemoragik. tensi 160/ 80 mmHg (kiri-kanan). Glasgow Coma Scale E3M5V3 pupil bulat isokor dengan diameter 3/ 3 mm. penyakit jantung maupun trauma kepala sebelumnya. diindikasikan untuk dilakukan tindakan kraniotomi pro evakuasi perdarahan. Dokter segera melakukan pemeriksaan dan direncanakan segera dilkaukan CT scan kepala. sentral. Pemeriksaan status generalis dalam batas normal. Pasien dirawat ke Unit Perawatan Intensif diberikan obat-obatan untuk mengatasi keadaan dan dikonsulkan ke Unit Bedah Saraf. Dari anmnesis keluarga diperoleh informasi bahwa pada pasien ada riwayat hipertensi sejak etahun yang lalu dan pasien tidak kontrol teratur. ketika hendak mengendarai motornya tiba-tiba terjatuh karena sisi kanan tubuhnya menjadi lemas. kencing manis. pasien dipasang kateter urin. nadi 86x/ menit. refleks cahaya tidak langsung +/ +. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Pada pasien ditegakkan diagnosis kerja: observasi penurunan kesadaran. Dokter kemudian memberikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang indikasi manfaat dan risiko prosedur itindakan ini. sedangkan status otonom. refleks cahaya laangsung +/ +. Status sensorik belum dapat dinilai. Sejak itu kesadarannya menjadi semakin menurun. Tidak didapatkan rangsangan meningeal.

pasien menjadi ketakutan dan tidak rasional lagi dalam mengambil keputusan untuk menolak operasi. Ketika pasien mengetahui bahwa ia akan menjalani operasi kraniotomi. dalam beberapa jam kemudian kesadaran pasien tampak semakin membaik. pasien menolak dan mengatakan ia bik-baik saja dengan diberikan terapi konservatif tanpa operasi. keluarga sangat menyesalkan tindakan dokter yang telah menjelaskan prosedur dan risiko operasi langsung kepada pasien. Bahkan akhirnya pasien sendiri memutuskan untuk menandatangani surat penolakn tindakan. diberikan penjelasan ulang tentang kondisi pasien. tatalaksana yang telah dilakukan serta erencanaan operasi kraniotomi untuk evakuasi perdarahan. Keluarga meminta agar pasien diberi obat penenang lalu dibius dan segera dilakukan operasi. Akibat penjelasan itu. Surat persetujuan operasi ditandatangani oleh keluarga sedangkan surat penolakan tindakan yang ditandatangani pasien dinyatakan tidak berlaku dengan adanya surat persetujuan operasi baru yang ditandatangani keluarga . dengan segala manfaat dan risikonya. bahkan cenderung compos mentis (Glasgow Coma Scale E4M6V5). Atas permintaan pasien.Skenario 2 Setelah dokter melakukan follow-up untuk mempersiapkan operasi. Setelah emngetahui pasien menolak operasi.

2 Analisis masalah Tn. 2. Tanda vital  Tekanan darah : 160/80 mmHg Tekanan darah pasien termasuk hipertensi sistolik terisolasi atau isolated systolic hypertension (sistol: ≥140 mmHg.1 Identitas Nama Usia : Tuan B : 65 tahun Jenis kelamin : pria Status Alamat Pekerjaan :::- 3. karena resistensi perifer yang meningkat. diastol: ≤90 mmHg)(1). B mengalami penurunan kesadaran mendadak dikarenakan strok hemoragik. Kesadaran : Somnolen Tingkat kesadaran pasien adalah somnolen. didapatkan data: Status Generalis 1. sedangkan tekanan diastolik bisa normal atau kurang dari normal. sehingga tekanan sistolik meningkat. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang secara keseluruhan. Hal ini normal ditemukan pada pasien lanjut usia. . artinya pasien mengalami penurunan kesadaran seperti mengantuk namun masih dapat merespon rangsangan intensitas ringan.BAB III PEMBAHASAN 3.

artinya kemungkinan pasien mengalami cedera kepala sedang. normal : +/+. artinya ada pergerakan motorik terhadap rangsangan nyeri : 3. Glasgow Coma Scale (E3M5V3) o Respon membuka mata verbal o Respon motorik o Respon verbal : 5. Suhu tubuh : 36. Rangsangan meningeal 4.  Frekuensi pernapasan : 20x/menit Frekuensi pernapasan normal.537. 2.2 °C)  Status Neurologis 1. (nilai normal: 36. artinya merespon pada rangsangan . normal : 3. 3/3 mm bentuk & diameter pupil normal : +/+. Pupil o Bentuk & diameter pupil o Refleks cahaya langsung o Refleks cahaya tidak langsung 3. sentral Disebut juga paresis hemifasialis sentral. Pemeriksaan nervus kranialis o Paresis N. Frekuensi nadi : 86x/menit Frekuensi nadi normal. (nilai normal: 16-20x/menit).VII dekstra. artinya dapat berbicara namun tidak dapat dimengerti apa yang dibicarakan. yaitu dijumpai asimetri wajah pada : (-) : bulat isokor. Jumlah GCS = 11.5 °C Suhu tubuh normal. (nilai normal: 60100x/menit).

Tindakan dokter jaga UGD ini dilihat dari segi etika. o Refleks patologis : -/Refleks patologis negatif pada kanan dan kiri. Sering dijumpai pada orang-orang yang sehat. 3. Berbuat baik (beneficence) Dalam keadaan gawat darurat. moral. beramplitudo cukup dan berlangsung cukup lama. terlihat bahwa dokter jaga UGD tersebut telah melakukan tindakan secara komprehensif. dokter ini tidak melanggar prinsip non maleficence karena telah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik untuk pasien serta tidak ada hal-hal merugikan yang terjadi baik secara sengaja ataupun tidak.bagian bawah saja. 2. Kelumpuhan tersebut biasanya disebabkan oleh lesi vaskular unilateral di kapsula interna atau korteks motorik. Tidak merugikan (non maleficence) Pada kasus. dan agama Dari pemeriksaan fisik di atas.3 Tindakan dokter jaga UGD dilihat dari segi etika.(2) 5. hukum. dokter telah melakukan tindakan medis dengan benar .(2) o Refleks fisiologis : (+2) Refleks fisiologis +2 artinya terdapat gerakan reflektorik yang cukup cepat. yaitu pada sudut mulut dan lipatan nasolabial saja. hukum. artinya normal. dan agama: Etika : Berdasarkan 4 prinsip etika kedokteran Indonesia 1. Status motorik o Hemiplegi kanan Hemiplegia adalah kelumpuhan atau kelemahan otot-otot lengan tungkai berikut wajah pada salah satu sisi tubuh. moral.

tindakan yang dilakukan sesuai dengan SOP sebagaimana mestinya. Hukum : Secara hukum. otonomi dalam kasus ini dokter juga tidak melanggar prinsip ini walaupun informed consent tidak dilakukan terhadap pasien. pasien dalam keadaan gawat darurat.sesuai dengan standar operasional prosedur dan sesuai dengan kompetensinya sebagai dokter umum. Moral : Pada kasus. Sehingga consent disetujui oleh keluarganya atau yang disebut proxy consent. Keadilan (justice) Dokter tidak membedakan jenis tatalaksana yang dilakukannya terhadap pasien. 4. 3. sesuai dengan syarat suatu tindakan medis tidak melanggar hukum. mempunyai indikasi medis b. dokter yang bertugas sebagai dokter jaga telah melakukan kewajiban nya sebagai seorang dokter yang berupaya sebaik mungkin melakukan tatalaksana terhadap pasien. sedangkan pembedahan yang harus segera dilakukan bukan kompetisi dokter umum sehingga dokter jaga merujuk pasien kepada dokter ahli bedah saraf untuk segera dilakukan tindakan kraniotomi. yaitu dalam keadaan penurunan kesadaran. Hal ini tentu saja bertujuan demi kepentingan pasien. dilakukan menurut aturan-aturan yang berlaku di dalam ilmu kedokteran . dokter jaga dalam hal ini ialah dokter umum telah memberikan pengobatan konservatif untuk memperbaiki keadaan pasien. karena pasien dalam keadaan tidak kompeten untuk membuat suatu consent. dokter tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum. yaitu : a.

c. tidak mendatangkan kerugian. 3.4 Tindakan pasien menolak tindakan kraniotomi dilihat dari segi etika. Tindakan pasien menolak tindakan tersebut dilihat dari segi etika. tatalaksana yang telah dilakukan. moral. serta tidak bertujuan untuk memperpanjang hidup. harus sudah mendapat persetujuan dahulu dari pasien seperti yang telah diuraikan diatas bahwa pasien mengalami penurunan kesadaran dalam hal ini dapat dikaitkan dengan KUH Perdata pasal 1354 yaitu yang mengatur “zaakwaarneming” yaitu suatu tindakan yang pada dasarnya merupakan pengambilalihan peranan orang lain yang sebenarnya bukan merupakan kewajiban si pengambil-alih itu. Oleh karenanya. Lalu pasien menolak untuk operasi kraniotomi.namun tetap melahirkan tanggung jawab yang harus dipikul oleh si pengambil alih tersebut atas segala sikap tindak yang dilakukannya. hokum. Agama : Tidak satupun agama yang melarang tentang adanya tindakan kedokteran dalam kegawatdaruratan asalkan tujuannya ialah menyembuhkan pasien. Penyebab yang muncul diantaranya masalah biaya perawatan hal ini sering menjadi polemik dalam pelayanan kesehatan. moral. dengan segala manfaat dan risikonya. dokter menjelaskan tentang kondisi pasien. serta perencanaan operasi kraniotomi untuk evakuasi perdarahan. dan agama Ketika kesadaran pasien sudah membaik. tindakan dokter jaga dalam kasus ini sudah benar dan tidak melanggar ajaran agama karena bertujuan untuk menolong dan menyembuhkan pasien yang membutuhkan pertolongan segera. terutama jika berhadapan dengan pasien . dan agama adalah: ETIKA Banyak penyebab pasien memutuskan untuk menolak dirawat atau mengakhiri pengobatan. hukum.

Selain itu tidak melupakan pasien untuk menyetujui surat penolakan dilakukan tindakan. E4 pada pasien berati pasien dapat membuka mata dengan spontan. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). 3. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya. Hal ini bisa dijadikan bukti jika ketika terjadi sesuatu pada pasien dan timbul tuntutan hukum. merasa kondisinya sudah lebih baik. tingkat keasadaran pasien dapat ditentukan dengan GCS (Glasgow Coma Scale). Tetapi yang perlu diperhatikan. Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata. respon verbal (V) bicara. meskipun pada akhirnya pasien tetap bersikukuh dengan penolakannya. Maka agar tidak terjadi hal demikian menghormati hak pasien lebih harus diperhatikan.yang kurang mampu dalam hal ekonomi. atau masalah lain yang tidak bisa diketahui oleh tenaga kesehatan. Tetapi ketika pasien menolak untuk dirawat beranggapan bahwa dia sudah memilih yang terbaik untuk dirinya meskipun mungkin bukan yang terbaik menurut tenaga medis. GCS (Glasgow Coma Scale) merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. HUKUM Semakin banyaknya tuntutan yang terjadi di masyarakat karena tenaga kesehatan bersikap memaksa terhadap tindakan yang akan dilakukan. terlebih jika sejak awal pasien sudah menolak untuk dilakukan tindakan. dan gerakan motorik. Beberapa alasan yang dikemukakan biasanya akan dicoba dicarikan solusi yang terbaik oleh tenaga paramedis ataupun dokter yang merawat dengan harapan pasien tidak menolak atau tetap bersedia meneruskan pengobatan atau mungkin juga menerima keputusan dokter untuk dilakukan tindakan seperti operasi. dengan menghormati Prinsip Kedokteran Hak Otonomi. bicara dan motorik. M6 pada pasien berarti . dokter harus berupaya untuk menjelaskan segala kemungkinan yang bisa terjadi jika pasien menolak.5 Tindakan keluarga pasien yang menandatangani surat persetujuan operasi pasien Jika ditinjau dari segi medis tingkat kesadaran. rasa takut terhadap tindakan atau operasi.

dan consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien apabila ia mampu memberikannya (baik buat pasien. obat bius dan dioperasi. yang berati yaitu kesadaran normal. Jika dikaitkan dengan kompetensi pasien. Proxy-consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu sendiri. maka pasien termasuk dalam golongan cakap dalam memberikan hal persetujuan tindakan medis yang akan dilakukan pada dirinya. dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. Pada kasus ini. pasien sesungguhnya telah berada pada taraf yang kompeten dalam memberikan persetujuan. sadar sepenuhnya. Apabila tetap dilakukan tindakan pemberian obat penenang. Dalam hal ini. baik itu merupakan persetujuan ataupun penolakan. Ketika keluarganya meminta untuk tetap dilakukan operasi kraniotomi dan menandatangani surat persetujuan operasi.pasien memiliki respon motorik yang dapat mengikuti perintah. maka dokter telah melanggar hak otonomi pasien yang terdapat dalam kaidah dasar bioetik. dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi. bukan baik buat orang banyak). maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya proxy consent/ surat persetujuan dari keluarga untuk melakukan operasi tidaklah sah. pasien juga compos mentis. Hal ini dikarenakan pasien telah memenuhi kriteria cakap dalam memberikan informed consent/ informed refusal. V5 berarti pasien memiliki orientasi yang baik dalam respon verbalnya. . berarti informed consent disini statusnya berubah menjadi proxy consent.

dapat didelegasikan kepada keluarga terdekatnya. Seperti dalam kasus ini. hukum. dokter harus selalu mengutamakan yang terbaik untuk pasien dan bukan untuk orang lain. Tidak lupa tentang pentingnya informed consent sebagai syarat legal dilakukannya tindakan medis yang wajib diberikan kepada pasien yang kompeten. Tindakan medis yang dilakukan haruslah bertujuan baik untuk penegakkan diagnosis dan perencanaan terapi. dan agama harus selalu diterapkan. dan bila pasien tidak kompeten.BAB IV KESIMPULAN Dalam profesi kedokteran. prinsip-prinsip bioetika. .

Jameson JL. 77-83.Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Siswaja TD. 17-29.30-1.2047. . Hauser SL.p. 3. Jakarta: Pustaka Dwipar. 2nd Ed. p. Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Fauci AS. Tata Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi. Syamsu Z. Sidharta P. Kasper DL. Kotchen TA. In: Longo DL. Sampurna B.p. 1994. Bagian Forensik FK UI. 2. p. 53-6. New York: McGraw-Hill.306. 2012. Editors. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 18th ed. 2010. Jakarta: Dian Rakyat. Hypertensive Vascular Disease. 2007. 4.DAFTAR PUSTAKA 1. Bioetik dan Hukum Kedokteran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful