You are on page 1of 16

Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Dalam pengelolaan diabetes dikenal 4 pilar utama pengelolaan yaitu: 1. 2. 3. 4.

Edukasi (penyuluhan) Terapi Nutrisi Medis Latihan Jasmani Intervensi Farmakologi

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes. Jangka pendek: bertujuan untuk menghilangkan keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman dan mencapai target pengendalian glukosa darah Jangka panjang: bertujuan untuk mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati.

Edukasi (Penyuluhan) Edukasi diabetes adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan diabetes yang diberikan kepada setiap pasien diabetes. Disamaping kepada pasien diabetes edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan.

Edukasi untuk pencgegahan sekunder ditujukan kepada mereka yang baru terdiagnosis diabetes agar mereka dapat mengedalikan penyalitmya dalam mengontrol gula darah, mengatur makanan dan melakukan aktifitas olah raga yang sesuai. Materi yang dapat diberikanpada edukasi adalah definisi diabetes mellitus, penatalaksanaan diabetes secara umum, obat-obatan untuk mengontrol gula darah, perencanaan makan, manfaat kegiatan jasmani, mengenal dan mencegah komplikasi diabetes.

ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor seperti: jenis kelamin. Lemak jenuh < 7%. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan.100) x 1 kg. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hamper sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. berat badan dll. terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin.Terapi Nutrisi Medis Terapi nutrisi medis merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total. . dan jumlah makanan. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari: Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45 – 65 % total asupan energi Lemak yang dianjurkan 20 – 25 % kebutuhan kalori. umur. jenis. Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut: Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm . lemak tak jenuh < 10 % dan anjuran konsumsi kolesterol < 200 mg/hari Protein dibutuhkan sebesar 10 – 20 % total asupan energi Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang diabetes. Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat terapi nutrisi medis sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. aktivitas. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal.

di atas usia 70 tahun. Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/kg BB.0-29.5 BB Normal 18. kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun.- Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm.9 BB Lebih ≥ 23.5-22. BB Normal : BB ideal ± 10 % Kurus : < BBI .0 Dengan risiko 23. Umur Untuk pasien usia di atas 40 tahun.10 % Gemuk : > BBI + 10 % Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).9 Obes II > 30 *WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and its Treatment.0-24. 2. rumus dimodifikasi menjadi : Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm . Aktivitas Fisik atau Pekerjaan .9 Obes I 25.100) x 1 kg. 3. Jenis Kelamin Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. dikurangi 10% untuk decade antara 60 dan 69 tahun dan dikurangi 20%. Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus: IMT = BB(kg)/ TB(m2) Klasifikasi IMT* BB Kurang < 18. Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain : 1.

1600 kkal perhari untuk pria. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien. 20% pada pasien dengan aktivitas ringan. .1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200 . Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat. 4. pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya. serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Berat Badan Bila kegemukan dikurangi sekitar 20 . sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. dan sore (25%).Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000 .30% tergantung kepada tingkat kegemukan Bila kurus ditambah sekitar 20 . siang (30%). Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%). Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain. dan 50% dengan aktivitas sangat berat. 30% dengan aktivitas sedang.30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.

2. jogging. merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2.Pilihan Makanan Gambar pilihan makanan 1. dan . lemak / minyak dan garam. 3. menggunakan tangga. Batasi konsumsi gula. bersepeda santai. berkebun harus tetap dilakukan. buah 2 .3 porsi/penukar.3 porsi/penukar sehari. Sumber protein: lauk hewani 3 porsi/penukar. 4. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar.7 porsi/penukar sehari(tergantung status gizi). Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. lauk nabati 2 . Sumber karbohidrat dikonsumsi 3 . Latihan Jasmani Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit). sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki. Sumber vitamin dan mineral: sayuran 2 .4 porsi/penukar sehari.

dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang. Untuk mereka yang relatif sehat. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. OHO dibagi menjadi 5 golongan: a. Untuk menghindari hipoglikemia . Namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan. Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Berdasarkan cara kerjanya.berenang. sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan. Tabel Aktivitas Fisik Terapi Farmakologis Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan mkan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat) 1. Pemicu Sekresi Insulin Sulfenilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.

Penghambat glukoneogenesis Metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis). kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular. tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. Peningkat sensitivitas terhadap insulin Tiazolidindion Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-g). suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial.berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua. b. di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala. - Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea. c. gangguan faal ginjal dan hati. Metformin . Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa.

Namun demikian. secara cepat GLP-1 diubah oleh enzim dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4). e. sepsis.dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin >1. gagal jantung).36). Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus.5 mg/dL) dan hati. sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. d. Sekresi GLP-1 menurun pada DM tipe 2. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.amide yang tidak aktif. renjatan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan. GLP-1 merupakan perangsang kuat pelepasan insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi glukagon. serta pasienpasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro-vaskular. Selain itu harus diperhatikan bahwa pemberian metformin secara titrasi pada awal penggunaan akan memudahkan dokter untuk memantau efek samping obat tersebut. Peptida ini disekresi oleh sel mukosa usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. DPP-IV inhibitor Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormone peptida yang dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. sehingga upaya yang ditujukan untuk meningkatkan GLP-1 bentuk aktif merupakan hal rasional dalam pengobatan DM tipe 2. Peningkatan konsentrasi GLP-1 dapat dicapai dengan pemberian obat yang menghambat kinerja enzim DPP-4 . Metformin dapat memberikan efek samping mual. menjadi metabolit GLP-1(9.

Pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemik oral. dapat diberikan sampai dosis optimal Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan Repaglinid. 4. baru pertimbangkan untuk beralih pada insulin. mampu menghambat kerja DPP-4 sehingga GLP-1 tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif dan mampu merangsang pelepasan insulin serta menghambat pelepasan glukagon. Nateglinid: sesaat sebelum makan Metformin : sebelum / pada saat / sesudah makan Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan suapan pertama Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atau sebelum makan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan Obat Hipoglikemik Oral: 1. 3. lama kerja dan efek samping obatobat tersebut. terdiri dari: OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah. . Cara Pemberian OHO. atau memberikan hormon asli atau analognya (analog incretin=GLP-1 agonis). Harus diketahui betul bagaimana cara kerja. Berbagai obat yang masuk golongan DPP-4 inhibitor. Dosis selalu harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap. Bila diberikan bersama obat lain pikirkan kemungkinan adanya interaksi obat.(penghambat DPP-4). 2. usahakanlah menggunakan obat oral golongan lain bila gagal lagi.

Insulin yang dipergunakan untuk mencapai sasaran glukosa darah basal adalah insulin basal (insulin kerja sedang atau panjang). Terapi Insulin Pada diabetes tipe II. Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya hiperglikemia pada keadaan puasa. sedangkan A1C belum mencapai target. 6. Usahakan agar harga obat terjangkau oleh penderita. . defisiensi insulin mungkin berupa defisiensi insulin basal. insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemi oral tidak berhasil mengontrolnya. Apabila sasaran glukosa darah basal (puasa) telah tercapai. sedangkan defisiensi insulin prandial akan menimbulkan hiperglikemia setelah makan. sebelum makan) hal ini dapat dicapai dengan terapi oral maupun insulin.5. Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap defisiensi yang terjadi. Terapi insulin diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin yang fisiologis. Penyesuaian dosis insulin basal untuk pasien rawat jalan dapat dilakukan dengan menambah 2-4 unit setiap 3-4 hari bila sasaran terapi belum tercapai. maka dilakukan pengendalian glukosa darah prandial (meal-related). Sasaran pertama terapi hiperglikemia adalah mengendalikan glukosa darah basal (puasa. 2. insulin prandial atau keduanya. Insulin yang dipergunakan untuk mencapai sasaran glukosa darah prandial adalah insulin kerja cepat (rapid acting) atau insulin kerja pendek (short acting). Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi basal dan sekresi prandial. Hipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita lanjut usia. oleh sebab itu sebaiknya obat hipoglikemik oral yang bekerja jangka panjang tidak diberikan pada penderita lanjut usia.

Hiperglikemia berat yang disertai ketosis 3. Insulin kerja cepat (rapid acting insulin) 2. Insulin campuran tetap. insulin terbagi menjadi 5 jenis yaitu: 1. kerja pendek dan menengah (premixed insulin) . stroke) 8. Insulin kerja menengah (Intermediet acting insulin) 4. IMA.Insulin diperlukan pada keadaan: 1. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat 10. Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO Jenis dan lama kerja insulin Berdasarkan lama kerja. Hiperglikemia dengan asidosis laktat 6. Insulin kerja panjang (long acting insulin) 5. operasi besar. Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal 7. Insulin kerja pendek (short acting insulin) 3. Ketoasidosis diabetik 4. Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik 5. Stres berat (infeksi sistemik. Penurunan berat badan yang cepat 2. Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan 9.

Intravena: bekerja sangat cepat yakni dalam 2-5 menit akan terjadi penurunan glukosa darah.Tabel Farmakokinetik Insulin Eksogen Berdasarkan Waktu Kerja Cara penyuntikan insulin Cara pemberian insulin ada beberapa macam: a. Intramuskuler: penyerapannya lebih cepat 2 kali lipat daripada subkutan. b. .

konsentrasi. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai. Subkutan: penyerapanya tergantung lokasi penyuntikan. harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Lokasi abdomen lebih cepat dari paha maupun lengan. Untuk kombinasi OHO dan insulin. fek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi nsulin atau resistensi insulin. Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani. yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Definisi . pemijatan. dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Ulkus Diabetika 1. terapi dengan kombinasi tiga OHO dapat menjadi pilihan.c. kedalaman. 3. bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan OHO kombinasi (secara terpisah ataupun fixed-combination dalam bentuk tablet tunggal). Terapi Kombinasi Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah. Efek samping terapi insulin Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai.

sering disertai osteomielitis Grade 4 Ganggren terlokalisasi Grade 5 Ganggren luas yang mengenai seluruh bagian region tubuh. yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan. Tanda dan Gejala . dan dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob . Grade 3 Ulkus dalam dengan selulitis atau disertai pembentukan abses. Grade 1 Ulkus Superfisialis yang mengenai seluruh tubuh namun terbatas pada kulit. 2. misal: kaki 3. tanpa melibatkan tulang atau pun pembentukna abses. kulit utuh. Grade 2 Ulkus lebih dalam menembus sampai otot dan ligamentum.Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk komplikasi kronik diabetes mellitus berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai adanya kematian jaringan setempat. Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya komplikasi makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati. Klasifikasi Klasifikasi Ulkus diabetika pada penderita Diabetes Mellitus menurut Wagner terdiri dari 6 tingkatan : Grade 0: Tidak ada luka terbuka.

lipid dan sebagainya. nyeri kaki saat istirahat. tibialis dan popliteal. c. tekanan yang berulang dapat menyebabkan ulkus. dan kuku menebal. Hal itu sangat penting dilakukan pada ulkus neuropati. kerja sama multi-disipliner sangat diperlukan. b. jika terlihat tanda klinis infeksi d. Pressure control Mengurangi tekanan. 4. f. sering kesemutan. Educational control Penyuluhan yang baik. irigasi. sehingga harus dihindari. kaki menjadi atrofi. kerusakan jaringan (nekrosis). Penatalaksanaan Dalam pengelolaan kaki diabetes. dan semuanya harus dikelola bersama: a. kompres) e.Ulkus yang dikelilingi kalus tebal. Berbagai hal yang harus ditangani dengan baik agar diperoleh hasil pengelolaan yang maskimal dapat digolongkan sebagai berikut. Metabolic control Pemgendalian keadaan metabolik sebaik mungkin seperti pengendalian kadar glukosa darah. Vascular control Perbaikan suplai vaskular (dengan operasi atau angioplasti) biasanya dibutuhkan pada keadaan ulkus iskemik. . Infection control Pengobatan infeksi secara agresif. serta kulit kering.sensasi rasa berkurang. penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis. Wound control Pembuangan jaringan terinfeksi dan nekrotik secara teratur. (debridemen. dan diperlukan pembuangan kalus dan memakai sepatu yang pas yang berfiungsi untuk mengurangi tekanan. dingin.