You are on page 1of 42

BAB I LAPORAN KASUS

1. Identitas Kasus Nama: Tn. U Umur: 17 Tahun Jenis Kelamin: Laki-laki Alamat: Jl. Singambul Majalengka No CM: 383119 Tanggal Masuk: 22-11-2011

2. Anamnesa Ku: Nyeri Punggung bagian bawah 2 bulan SMRS Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien rujukan dari RS. Ceremai Cirebon datang dengan keluhan nyeri punggung bagian bawah sejak 2 bulan SMRS. Nyeri dirasakan pasien pada saat bangun dari tidur atau pada saat membungkuk. Pasien mengaku, nyeri yang dirasakan menjalar ke tungkai bawah dan pasien merasakan adanya benjolan yang tajam pada punggung bawahnya sejak 2 bulan SMRS. Namun pasien masih dapat berjalan. Pasien memiliki riwayat batuk, sering demam, keluar keringat pada malam hari sejak 1 tahun SMRS. Pasien juga perokok aktif. Pasien mengaku telah melakukan pemeriksaan dahak di RS. Cirebon dan di diagnosa TB, pasien telah menjalankan pengobatan selama 2 bulan.

Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat batuk lama: diterima Penyakit jantung: disangkal Penyakit asma: disangkal Penyakit diabetes: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat batuk lama: disangkal Penyakit jantung: disangkal Penyakit asma: disangkal Penyakit diabetes: disangkal

3. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Vital Sign T : 120/80 mmHg N : 88 x/menit Tinggi Badan Berat Badan Status Gizi Status Umum Status generalis 1.Pemeriksaan Kepala - Bentuk Kepala 2. Pemeriksaan Mata - palpebra : edema (-/-), ptosis (-/-) : mesochepal, simetris R : 18 x/menit S : 36,3 º C : 170 cm : 50 kg : Kurus : Tampak sakit sedang : Compos mentis

- konjungtiva : anemis (-/-) - sklera - pupil : ikterik (-/-) : reflek cahaya (+/+), isokor, diameter 3 mm

3. Pemeriksaan Telinga : otore (-/-), deformitas (-/-), nyeri tekan (-/-) 4. Pemeriksaan Hidung : nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-/-) 5. Pemeriksaan mulut & Faring: bibir sianosis (-), bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), tepi hiperemis (-), tremor (-), ikterik (-), tonsil: dbn 6. Pemeriksaan Leher - trakea : Deviasi trakea (-)

- kelenjar lymphoid : tidak membesar, nyeri (-)

- kelenjar tiroid - JVP 

: tidak membesar

: tidak meningkat

7. Pemeriksaan Dada Paru-paru inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (-), sianosis (-), barrel shaped chest (-) palpasi : vokal fremitus kanan = kiri perkusi : sonor auskultasi: SD: vesikuler, ST: ronkhi (-), wheezing (-)  Jantung Inspeksi: iktus cordis tidak tampak Palpasi : iktus cordis teraba di SIC V LMC sinistra, kuat angkat (-) Perkusi : batas jantung kiri atas Kanan atas Kiri bawah : SIC II LSB : SIC II RSB : SIC V LMC sinistra

Kanan bawah: SIC IV RSB Auskultasi : S1 > S2, reguler, bising (-) 8. Pemeriksaan abdomen Inspeksi auskultasi palpasi Perkusi : datar, scar (-) : peristaltik usus (+) Normal : Supel, nyeri tekan (-), Hepar dan Lien tidak teraba, : tympani, tes pekak beralih (-)

9. Pemeriksaan ekstremitas Superior : deformitas (-), kekuatan motorik 5/5, fungsi sensorik dbn, reflek fisiologis +/+,reflek patologi -/Inferior : deformitas (-), kekuatan motorik 5/5, fungsi sensorik dbn, reflek fisiologi +/+, reflek patologi -/Status lokalis regio lumbal Look : Gibus (+), kifosis (-), skoliosis (-), Feel : Nyeri tekan (+), immobile,

Move : ROM tidak dilakukan

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium tanggal 22/11/2011 Hematogen Darah rutin Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC LED Kimia Ureum Kreatinin Natrium Kalium Klorida Glukosa sewaktu 22 0,5 144 4,6 104 91 13,4 44 5,7 8.200 563.000 77 24 31 Tidak dilakukan

Foto lumbosakral 13/10/2011

Foto rontgen Thorax Tanggal 8/11/2011 Foto MRI .

PENATALAKSANAAN: Perbaikan nutrisi Obat Anti tuberkulosis Operatif 7.5. DIAGNOSA: Spondilitis Tuberkulosis Vertebra Lumbal IV 6. PROGNOSIS: Quo vitam Quo functionam Quo sanationam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam .

reflek fisiologi +/+. reflek patologi -/Inferior : deformitas (-). kekuatan motorik 5/5. pasien masih dapat berjalan.Resume: Pasien laki-laki usia 17 tahun datang dengan keluhan nyeri pada punggung bawah sejak 2 bulan SMRS. reflek patologi -/Status lokalis L: Gibus (+). skoliosis (-). Pasien memiliki riwayat penyakit TB 1 tahun SMRS dan sedang menjalankan pengobatan baru 2 bulan selain itu juga pasien merupakan perokok aktif. F: Nyeri tekan (+). M: ROM tidak dilakukan . Pemeriksaan fisik: status gizi kurus status generalis: Pemeriksaan ekstremitas Superior : deformitas (-). kekuatan motorik 5/5. reflek fisiologis +/+. fungsi sensorik dbn. nyeri yang dirasakan menjalar sampai tungkai bawah dan mengeluhkan adanya benjolan pada punggung bawah pasien sejak 2 bulan SMRS. immobile. kifosis (-). fungsi sensorik dbn.

dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih menjadi merupakan .3). maka insidensi usia ini mengalami perubahan sehingga golongan umur dewasa menjadi lebih sering terkena dibandingkan anakanak(3). yang terutama berusia 3 – 5 tahun. tetapi hal tersebut tidak dihubungkan dengan basil tuberkulosa hingga ditemukannya basil tersebut oleh Koch tahun 1882. namun pada kasus – kasus tertentu diperlukan tindakan operatif serta tindakan rehabilitasi yang harus dilakukan dengan baik sebelum ataupun setelah penderita menjalani tindakan operatif. Saat ini dengan adanya perbaikan pelayanan kesehatan. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh Percival Pott pada tahun 1779 yang menemukan adanya hubungan antara kelemahan alat gerak bawah dengan kurvatura tulang belakang. Pendahuluan Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal yang dikenal pula dengan nama Pott’s disease of the spine atau tuberculous vertebral osteomyelitis merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Di waktu yang lampau. spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang dipergunakan untuk penyakit pada masa anak-anak. Terhitung kurang lebih 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini(1). Terapi konservatif yang diberikan pada pasien tuberkulosa tulang belakang sebenarnya memberikan hasil yang baik. Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan sedang berkembang. II. sehingga etiologi untuk kejadian tersebut menjadi jelas(2. terutama di Asia. Epidemiologi Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi di seluruh dunia dan biasanya berhubungan dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia serta kondisi sosial di negara tersebut.BAB II TINJAUAN PUSTAKA SPONDILITIS TUBERKULOSA I.

Dari seluruh kasus tersebut. keterlibatan tulang dan sendi terjadi pada kurang lebih 10% kasus. Di Amerika Utara.9). Perlu dicermati bahwa di Amerika dan Inggris insidensi penyakit ini mengalami peningkatan pada populasi imigran. Defisit neurologis muncul pada 10-47% kasus pasien dengan spondilitis tuberkulosa.5. Di negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan penyebab paling sering untuk kondisi paraplegia non traumatik(7). lutut dan tulang-tulang lain di kaki. Pada negara-negara yang sudah berkembang atau maju insidensi ini mengalami penurunan secara dramatis dalam kurun waktu 30 tahun terakhir(2. terjadi lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan dengan anakanak. sedangkan tulang di lengan dan tangan jarang terkena. tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena tuberkulosa tulang (kurang lebih 50% kasus).4. Insidensi paraplegia.4. Hal ini berhubungan dengan insidensi . diikuti kemudian oleh tulang panggul. Pola ini mengalami perubahan dan terlihat dengan adanya penurunan insidensi infeksi tuberkulosa pada bayi dan anak-anak di Hong Kong(7. lalu dikuti dengan area servikal dan sakral(2.3. Selain itu dari penelitian juga diketahui bahwa peminum alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang adalah kelompok beresiko besar terkena penyakit ini(8). akan tetapi tulang yang mempunyai fungsi untuk menahan beban (weight bearing) dan mempunyai pergerakan yang cukup besar (mobile) lebih sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain. Area torako-lumbal terutama torakal bagian bawah (umumnya T 10) dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari weight bearing mencapai maksimum.7). Walaupun setiap tulang atau sendi dapat terkena.10). penyakit ini terutama mengenai dewasa.8.masalah utama. Eropa dan Saudi Arabia. dengan usia rata-rata 40-50 tahun sementara di Asia dan Afrika sebagian besar mengenai anak-anak (50% kasus terjadi antara usia 1-20 tahun). Pada kasus-kasus pasien dengan tuberkulosa.6.5). tunawisma lanjut usia dan pada orang dengan tahap lanjut infeksi HIV (2.9.

ataupun non-tuberculous mycobacteria (banyak ditemukan pada penderita HIV)(7. sehingga diduga adanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosa traktus urinarius. yang penyebarannya melalui pleksus Batson pada vena paravertebralis(3.10). III. Meskipun menular. Perbedaan jenis spesies ini menjadi penting karena sangat mempengaruhi pola resistensi obat. Spondilitis tuberkulosa merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh. walaupun spesies Mycobacterium yang lainpun dapat juga bertanggung jawab sebagai penyebabnya. Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakal bawah dan lumbal atas. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yg bersifat acid-fastnon-motile (tahan terhadap asam pada pewarnaan. kecuali pada dekade pertama dimana sangat jarang ditemukan keadaan ini(2. 95 % disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik ( 2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin ) dan 2. Menurut . bovine tubercle baccilus.7). 10 % oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Bakteri yang paling sering menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tubuh secara lambat dalam media egg-enriched dengan periode 6-8 minggu(2). Penularan penyakit ini memerlukan waktu pemaparan yg cukup lama dan intensif dengan sumber penyakit (penular). Dipergunakan teknik Ziehl-Nielson untuk memvisualisasikannya. Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil (basilus). Produksi niasin merupakan karakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu untuk membedakannnya dengan spesies lain. seperti Mycobacterium africanum (penyebab paling sering tuberkulosa di Afrika Barat). 1.usia terjadinya infeksi tuberkulosa pada tulang belakang.4). tetapi orang tertular tuberculosis tidak semudah tertular flu. sehingga sering disebut juga sebagai Basil/bakteri Tahan Asam (BTA)) dan tidak dapat diwarnai dengan baik melalui cara yang konvensional.

Komponen lipid. gelap.3). tetapi basil tuberkulosa sendiri jarang dapat diisolasi.Mayoclinic. Dalam tubuh. protein serta polisakarida sel basil tuberkulosa bersifat immunogenik. Tetapi dalam tempat yg lembab. IV. Pasien dengan infeksi bakteri yang kurang virulen akan . Virulensi basil tuberkulosa dan kemampuan mekanisme pertahanan host akan menentukan perjalanan penyakit. Sementara masa inkubasi TB sendiri. seseorang yg kesehatan fisiknya baik. demam. kuman dapat bertahan hidup selama beberapa jam. memerlukan kontak dengan penderita TB aktif setidaknya 8 jam sehari selama 6 bulan. kuman ini dapat tertidur lama (dorman) selama beberapa tahun(2. yaitu waktu yg diperlukan dari mula terinfeksi sampai menjadi sakit. Gambar: Bakteri Miycobacterium sp. Patogenesa Patogenesa penyakit ini sangat tergantung dari kemampuan bakteri menahan cernaan enzim lisosomal dan kemampuan host untuk memobilisasi immunitas seluler. sehingga akan merangsang pembentukan granuloma dan mengaktivasi makrofag. Respon seluler dan kandungan protein dalam cairan serebrospinal akan tampak meningkat. Bakteri TB akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung. Pasien dengan infeksi berat mempunyai rogresi yang cepat . Jika bakteri tidak dapat diinaktivasi. Beberapa antigen yang dihasilkannya juga dapat juga bersifat immunosupresif(2). dan pada suhu kamar. untuk dapat terinfeksi. maka bakteri akan bermultiplikasi dalam sel dan membunuh sel itu. diperkirakan sekitar 6 bulan. retensi urine dan paralisis arefleksi dapat terjadi dalam hitungan hari.

Bayi dan anak muda dari kedua jenis kelamin mempunyai kekebalan yang lemah. terutama perempuan usia 10-14 tahun setelah pubertas daya tahan tubuh mengalami peningkatan dalam mencegah penyebaran secara hematogen. Hingga usia 2 tahun infeksi biasanya dapat terjadi dalam bentuk yang berat seperti tuberkulosis milier dan meningitis tuberkulosa. Angka kejadian pada pria terus meningkat pada seluruh tingkat usia tetapi pada wanita cenderung menurun dengan cepat setelah usia anak-anak. ataupun juga bentuk kronis lain dari infeksi tuberkulosa seperti infeksi ke nodus limfatikus. Nutrisi Kondisi malnutrisi (baik pada anak ataupun orang dewasa) akan menurunkan resistensi terhadap penyakit. . Setelah usia 1 tahun dan sebelum pubertas. sementara pria bisa mencapai usia 60 tahun. Sebelum pubertas. 2. yang berasal dari penyebaran secara hematogen.menunjukkan perjalanan penyakit yang lebih lambat progresifitasnya. Usia dan jenis kelamin Terdapat sedikit perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan hingga masa pubertas. jarang menimbulkan meningitis (2) serebral dan infeksinya bersifat terlokalisasi dan terorganisasi . lesi primer di paru merupakan lesi yang berada di area lokal. tulang atau sendi. anak yang terinfeksi dapat terkena penyakit tuberkulosa milier atau meningitis. Puncak usia terjadinya infeksi berkisar antara usia 40-50 tahun untuk wanita. Kekuatan pertahanan pasien untuk menahan infeksi bakteri tuberkulosa tergantung dari(10): 1. tetapi menjadi lemah dalam mencegah penyebaran penyakit di paru-paru. walaupun kavitas seperti pada orang dewasa dapat juga dilihat pada anak-anak malnutrisi di Afrika dan Asia. insidensi ini kemudian meningkat kembali pada wanita setelah melahirkan anak.

4. mempunyai daya tahan tubuh yang kurang terhadap penyakit ini. leukemia meningkatkan resiko terkena penyakit tuberkulosa. yaitu setengah bagian bawah vertebra diatasnya dan bagian atas vertebra di bawahnya atau melalui pleksus Batson’s yang mengelilingi columna vertebralis yang menyebabkan banyak vertebra yang terkena. Sumber infeksi yang paling sering adalah berasal dari sistem pulmoner dan genitourinarius(2. Demikian pula dengan pengguna obat kortikosteroid atau immunosupresan lain. Faktor toksik Perokok tembakau dan peminum alkohol akan mengalami penurunan daya tahan tubuh. Pada anak-anak biasanya infeksi tuberkulosa tulang belakang berasal dari fokus primer di paru-paru sementara pada orang dewasa penyebaran terjadi dari fokus ekstrapulmoner (usus.3. 5. V. Ras Ditemukan bukti bahwa populasi terisolasi contohnya orang Eskimo atau Amerika asli. silikosis. Penyakit Adanya penyakit seperti infeksi HIV. leprosi. Pada penampakannya. Penyebaran basil dapat terjadi melalui arteri intercostal atau lumbar yang memberikan suplai darah ke dua vertebrae yang berdekatan. 6.7. ginjal. penyakit ini diawali dengan terkenanya dua . Hal inilah yang menyebabkan pada kurang lebih 70% kasus.10). diabetes. Lingkungan yang buruk (kemiskinan) Kemiskinan mendorong timbulnya suatu lingkungan yang buruk dengan pemukiman yang padat dan kondisi kerja yang buruk disamping juga adanya malnutrisi. tonsil). Patologi Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau penyebaran langsung nodus limfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar tulang belakang. fokus infeksi primer tuberkulosa dapat bersifat tenang.8. sehingga akan menurunkan daya tahan tubuh.5.

serta lesi artikuler yang berada di sendi intervertebral . Sering terjadi pada anak-anak.4. Keadaan ini sering menimbulkan kolaps vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehingga menghasilkan deformitas spinal yang lebih hebat. prosesus transversus dan spinosus. Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis(7. 2) Sentral Infeksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra. 3) Anterior Infeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan dibawahnya.9): 1) Peridiskal / paradiskal Infeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise di bawah ligamentum longitudinal anterior / area subkondral). terisolasi sehingga disalahartikan sebagai tumor. 4) Bentuk atipikal : Dikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak dapat diidentifikasikan. Banyak ditemukan pada orang dewasa. sementara pada 20% kasus melibatkan tiga atau lebih vertebra(3. Pola ini diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik yang ditransmisikan melalui abses prevertebral dibawah ligamentum longitudinal anterior atau karena adanya perubahan lokal dari suplai darah vertebral. Terbanyak di temukan di regio torakal. Dapat menimbulkan kompresi. Terbanyak ditemukan di regio lumbal. iskemia dan nekrosis diskus. Termasuk didalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan keterlibatan lengkung syaraf saja dan granuloma yang terjadi di canalis spinalis tanpa keterlibatan tulang (tuberkuloma). Dapat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat trauma. lesi di pedikel.10). Gambaran radiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian anterior dari sejumlah vertebra (berbentuk baji). lamina.vertebra yang berdekatan.

melibatkan dua atau lebih vertebrae yang berdekatan melalui perluasan di bawah ligamentum longitudinal anterior atau secara langsung melewati diskus intervertebralis. Discus intervertebralis. berpenetrasi ke dalam korteks tipis korpus vertebra sepanjang ligamen longitudinal anterior. Terkadang dapat ditemukan fokus yang multipel yang dipisahkan oleh vertebra yang normal. sekunder karena perubahan kapasitas fungsional dari end plate. hilangnya tulang subchondral disertai dengan kolapsnya corpus vertebra karena nekrosis dan lisis ataupun karena dehidrasi diskus. Terjadinya nekrosis perkijuan yang meluas mencegah pembentukan tulang baru dan pada saat yang bersamaan menyebabkan tulang menjadi avascular sehingga menimbulkan tuberculous sequestra. Suplai darah juga akan semakin terganggu dengan timbulnya endarteritis yang menyebabkan tulang menjadi nekrosis. relatif lebih resisten terhadap infeksi tuberkulosa. yang avaskular. Infeksi tuberkulosa pada awalnya mengenai tulang cancellous dari vertebra. terutama di regio torakal. jadi akan timbul deformitas berbentuk kifosis yang progresifitasnya (angulasi posterior) tergantung dari derajat kerusakan.posterior. level lesi dan jumlah vertebra yang terlibat. Destruksi progresif tulang di bagian anterior dan kolapsnya bagian tersebut akan menyebabkan hilangnya kekuatan mekanis tulang untuk menahan berat badan sehingga kemudian akan terjadi kolaps vertebra dengan sendi intervertebral dan lengkung syaraf posterior tetap intak. Insidensi tuberkulosa yang melibatkan elemen posterior tidak diketahui tetapi diperkirakan berkisar antara 2%-10%. Area infeksi secara bertahap bertambah besar dan meluas. Bila sudah . atau infeksi dapat juga berdiseminasi ke vertebra yang jauh melalui abses paravertebral. Penyempitan rongga diskus terjadi karena perluasan infeksi paradiskal ke dalam ruang diskus.

sehingga mengakibatkan ankilosis tulang vertebra yang kolaps(8). maka hal tersebut merupakan tanda bahwa penyakit ini sudah meluas. Terkadang jaringan fibrosa itu mengalami osifikasi. Terkadang. sedangkan di bagian servikal. dan tulang nekrotik serta sumsum tulang akan menonjol keluar melalui korteks dan berakumulasi di bawah ligamentum longitudinal anterior. Dengan adanya peningkatan sudut kifosis di regio torakal. tampak pada radiogram sebagai gambaran bayangan berbentuk fusiform radioopak pada atau sedikit dibawah level vertebra yang terkena. bahan perkijuan. Di regio torakal. di area lumbar hanya tampak sedikit karena adanya normal lumbar lordosis dimana sebagian besar dari berat badan ditransmisikan ke posterior sehingga akan terjadi parsial kolaps. tulang-tulang iga akan menumpuk menimbulkan bentuk deformitas rongga dada berupa barrel chest(8). Pembentukan abses paravertebral terjadi hampir pada setiap kasus. kalaupun tampak hal itu disebabkan karena sebagian besar berat badan disalurkan melalui prosesus artikular(3). Dengan kolapsnya korpus vertebra maka jaringan granulasi tuberkulosa. ligamentum longitudinal menghambat jalannya abses.timbul deformitas ini. kolaps hanya bersifat minimal. membentuk gambaran abses paravertebral yang menyerupai „sarang burung‟. Proses penyembuhan kemudian terjadi secara bertahap dengan timbulnya fibrosis dan kalsifikasi jaringan granulomatosa tuberkulosa. jika terdapat tegangan yang besar dapat terjadi ruptur ke dalam mediastinum. Cold abcesss ini kemudian berjalan sesuai dengan pengaruh gaya gravitasi sepanjang bidang fasial dan akan tampak secara eksternal pada jarak tertentu dari tempat lesi aslinya di regio lumbal abses berjalan sepanjang otot psoas dan biasanya berjalan menuju lipat paha dibawah ligamen inguinal(8). Di regio torakal kifosis tampak nyata karena adanya kurvatura dorsal yang normal. abses torakal dapat .

Sejumlah mekanisme yang menimbulkan defisit neurologis dapat timbul pada pasien dengan spondilitis tuberkulosa.7): 1. Kompresi syaraf sendiri dapat terjadi karena kelainan pada tulang (kifosis) atau dalam canalis spinalis (karena perluasan langsung dari infeksi granulomatosa) tanpa keterlibatan dari tulang (seperti epidural granuloma. Salah satu defisit neurologis yang paling sering terjadi adalah paraplegia yang dikenal dengan nama Pott’s paraplegia.mencapai dinding dada anterior di area parasternal. paraplegia ini biasanya terjadi pada pasien berusia kurang dari 10 tahun (kurang lebih 2/3 kasus) dan tidak ada predileksi berdasarkan jenis kelamin untuk kejadian ini. Pott’s Paraplegia Sorrel-Dejerine mengklasifikasikan Pott’s paraplegia menjadi(3. dihubungkan dengan penyakit yang aktif. Early onset paresis Terjadi kurang dari dua tahun sejak onset penyakit 2. Paraplegia ini dapat timbul secara akut ataupun kronis (setelah hilangnya penyakit) tergantung dari kecepatan peningkatan tekanan mekanik kompresi medula spinalis. Type I (paraplegia of active disease) / berjalan akut Onset dini. tuberculous arachnoiditis). Type II Onsetnya juga dini. Late onset paresis Terjadi setelah lebih dari dua tahun sejak onset penyakit Sementara itu Seddon dan Butler memodifikasi klasifikasi Sorrel menjadi tiga tipe: a. memasuki area retrofaringeal atau berjalan sesuai gravitasi ke lateral menuju bagian tepi leher(3). b. Pada penelitian yang dilakukan Hodgson di Cleveland. terjadi dalam dua tahun pertama sejak onset penyakit. Dapat membaik (tidak permanen). VI. dan dihubungkan dengan penyakit yang aktif. intradural granuloma. bersifat permanen bahkan walaupun infeksi tuberkulosa .

Tidak dapat ditentukan apakah dapat membaik. Type III / yang berjalan kronis Onset paraplegi terjadi pada fase lanjut. abses (cairan atau perkijuan) b. reaktivasi penyakit atau insufisiensi vaskuler (trombosis pembuluh darah yang mensuplai corda spinalis). c. Secara klinis pasien tampak mempunyai spastisitas yang berat dengan spasme otot involunter dan reflek withdrawal. material perkijuan. sekuestra tulang dan diskus atau karena subluksasi atau dislokasi patologis vertebra. Bisa terjadi karena tekanan corda spinalis oleh granuloma epidural. Prognosis tipe ini buruk dan bervariasi sesuai dengan luasnya kerusakan korda spinalis. b) Invasi duramater oleh tuberkulosa Tampak gambaran meningomielitis tuberkulosa atau araknoiditis tuberkulosa.menjadi tenang. tetapi tidak tampak adanya spasme otot involunter dan reflek withdrawal. Penyebab timbulnya paraplegia pada tipe I dan II dapat disebabkan oleh karena : a) Tekanan eksternal pada korda spinalis dan duramater Dapat disebabkan oleh karena adanya granuloma di kanalis spinalis. Secara umum dapat terjadi inkontinensia urin dan feses. gangguan sensoris dan paraplegia. peningkatan deformitas kifotik ke anterior. Klasifikasi untuk penyebab Pott’s paraplegia ini sendiri dijabarkan oleh Hodgson menjadi (11):  Penyebab ekstrinsik : 1) Pada penyakit yang aktif a. adanya abses. Secara klinis pasien akan menampakkan kelemahan alat gerak bawah dengan spastisitas yang bervariasi. jaringan granulasi . fibrosis meningen dan adanya jaringan granulasi serta adanya tekanan pada corda spinalis.

8.6. hilangnya berat badan dan berkurangnya nafsu makan akan terlihat dengan jelas. dapat juga terlihat berkurangnya keinginan bermain di luar rumah. demam yang berlangsung secara intermitten terutama sore dan malam hari serta cachexia.9. Adanya riwayat batuk lama (lebih dari 3 minggu) berdahak atau berdarah disertai nyeri dada. Pada beberapa kasus di Afrika terjadi pembesaran dari nodus limfatikus. Gambaran adanya penyakit sistemik : kehilangan berat badan. Durasi gejala-gejala sebelum dapat ditegakkannya suatu diagnosa pasti bervariasi dari bulan hingga tahun. tuberkel di subkutan. maka demam (terkadang demam tinggi).2. dan pembesaran hati dan limpa. Sering tidak tampak jelas pada pasien yang cukup gizi sementara pada pasien dengan kondisi kurang gizi. Pada pasien anak-anak. Penyebab yang jarang : a) Trombosis corda spinalis yang infektif b) Spinal tumor syndrome VII.4. keringat malam. sebagian besar kasus didiagnosa sekurangnya dua tahun setelah infeksi tuberkulosa. fibrosis duramater  Penyebab intrinsik : Menyebarnya  peradangan tuberkulosa melalui duramater melibatkan meningen dan corda spinalis. subluksasi patologis e.10) Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa bervariasi dan tergantung pada banyak faktor(7). Anamnesa dan inspeksi : 1. 2.c.5.3. transverse ridge dari tulang anterior ke corda spinalis b. dislokasi vertebra 2) Pada penyakit yang sedang dalam proses penyembuhan a. Biasanya onset Pott's disease berjalan secara mendadak dan berevolusi lambat. sekuester tulang dan diskus d.7. . Penegakkan Diagnosa (1.

Saat mengambil sesuatu dari lantai ia menekuk lututnya sementara tetap mempertahankan punggungnya tetap kaku (coin test). akan mendorong trakhea ke sternal notch sehingga akan menyebabkan kesulitan menelan dan adanya stridor respiratoar. Hal ini perlu diperhatikan karena gambaran klinisnya serupa dengan tuberkulosa di regio servikal (Lal et al. Infeksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. sementara tangan lainnya di oksipital. Jika terdapat abses.3. Pasien juga mungkin mengeluhkan rasa nyeri di leher atau bahunya. Rasa nyeri ini hanya menghilang dengan beristirahat. 5. Dislokasi atlantoaksial karena tuberkulosa jarang terjadi dan merupakan salah satu penyebab kompresi cervicomedullary di negara yang sedang berkembang. Bila infeksi melibatkan area servikal maka pasien tidak dapat menolehkan kepalanya. Pada lesi di bagian torakal bawah maka nyeri dapat berupa nyeri menjalar ke bagian perut. bukan mengayunkan dari sendi panggulnya. Pola jalan merefleksikan rigiditas protektif dari tulang belakang. Untuk mengurangi nyeri pasien akan menahan punggungnya menjadi kaku. 1992). 6. Nyeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang menjalar. Lesi di torakal atas akan menampakkan nyeri yang terasa di dada dan intercostal. mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam posisi dagu disangga oleh satu tangannya. Rigiditas pada leher dapat bersifat asimetris sehingga menyebabkan timbulnya gejala klinis torticollis. maka tampak pembengkakan di kedua sisi leher. 4. sementara kompresi medulla spinalis pada orang dewasa akan menyebabkan tetraparesis (Hsu dan Leong 1984). . karena mencoba menghindari nyeri di punggung. Bila berbalik ia menggerakkan kakinya. terutama pada anak. Abses yang besar. Langkah kaki pendek. Infeksi yang mengenai tulang servikal akan tampak sebagai nyeri di daerah telingan atau nyeri yang menjalar ke tangan.

Onset yang lambat dari pembengkakan tulang ataupun sendi mendukung bahwa hal tersebut disebabkan karena tuberkulosa. Terjadi pada kurang lebih 10-47% kasus. Jarang sekali pus dapat keluar melalui fistel dalam pelvis dan mencapai permukaan di belakang sendi panggul. Pasien tampak berjalan dengan lutut dan hip dalam posisi fleksi dan menyokong tulang belakangnya dengan meletakkan tangannya diatas paha. Adanya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis (defisit neurologis). Palpasi : 1. dan dislokasi. Adanya kontraktur otot psoas akan menimbulkan deformitas fleksi sendi panggul. 10. maka abses dapat berjalan di bagian kiri atau kanan mengelilingi rongga dada dan tampak sebagai pembengkakan lunak dinding dada. Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit diatasnya terasa sedikit hangat (disebut cold abcess. Pembengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri akut seperti pada infeksi septik. Di regio lumbar : abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang terjadi di atas atau di bawah lipat paha. dapat berupa : kifosis (gibbus/angulasi tulang belakang). Jika timbul paraplegia akan tampak spastisitas dari alat gerak bawah dengan refleks tendon dalam yang hiperaktif. Insidensi paraplegia pada spondilitis lebih banyak di temukan pada infeksi di area torakal dan servikal. Tampak adanya deformitas. bayonet deformity. subluksasi. Dapat pula terjadi gangguan fungsi kandung kemih dan anorektal. fossa iliaka. atau di . 9. pola jalan yang spastik dengan kelemahan motorik yang bervariasi. skoliosis. spondilolistesis. 7. Jika menekan abses ini berjalan ke bagian belakang maka dapat menekan korda spinalis dan menyebabkan paralisis. yang membedakan dengan abses piogenik yang teraba panas). Dapat dipalpasi di daerah lipat paha.Jika terdapat abses. 8. retropharynx.

Dapat juga teraba di sekitar dinding dada. dari 20 sampai lebih dari 100mm/jam. Tuberculin skin test ini dikatakan positif jika tampak area berindurasi. kemerahan dengan diameter ³ 10mm di sekitar tempat suntikan 48-72 jam setelah suntikan. Pemeriksaan Penunjang : 1. paratyphoid dan brucellosis (pada kasuskasus yang sulit dan pada pusat kesehatan dengan peralatan yang cukup canggih) untuk menyingkirkan diagnosa banding. . malnutrisi atau disertai penyakit lain)  Kultur urin pagi (membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal). sputum dan bilas lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paruparu yang aktif)  Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat relatif. Pada perkusi secara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus vertebrae yang terkena. 2. Laboratorium :  Laju endap darah meningkat (tidak spesifik). Perkusi : 1. Spasme otot protektif disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang terkena. sering tampak tenderness. Perlu diingat bahwa tidak ada hubungan antara ukuran lesi destruktif dan kuantitas pus dalam cold abscess. typhoid. Hasil yang negatif tampak pada ± 20% kasus dengan tuberkulosis berat (tuberkulosis milier) dan pada pasien yang immunitas selulernya tertekan (seperti baru saja terinfeksi.  Tes darah untuk titer anti-staphylococcal dan anti-streptolysin haemolysins. tergantung dari level lesi.sisi leher (di belakang otot sternokleidomastoideus). Hasil yang positif dapat timbul pada kondisi pemaparan dahulu maupun yang baru terjadi oleh mycobacterium.  Tuberculin skin test / Mantoux test / Tuberculine Purified Protein Derivative (PPD) positif.

Pleositosis (dengan dominasi limfosit dan mononuklear).14): Gambarannya bervariasi tergantung tipe patologi dan kronisitas infeksi. 2. Kandungan protein cairan serebrospinal dalam kondisi spinal terblok spinal dapat mencapai 1-4g/100ml. Kandungan protein meningkat. .8. Cairan serebrospinal akan tampak: Xantokrom Bila dibiarkan pada suhu ruangan akan menggumpal. Pada pasien ini adanya peningkatan bertahap kandungan protein menggambarkan suatu blok spinal yang mengancam dan sering diikuti dengan kejadian paralisis. Pemeriksaan cairan serebrospinal secara serial akan memberikan hasil yang lebih baik. Cairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis tuberkulosa). Pada tahap akut responnya bisa berupa neutrofilik seperti pada meningitis piogenik (Kocen and Parsons 1970. Adanya basil tuberkel merupakan tes konfirmasi yang absolut tetapi hal ini tergantung dari pengalaman pemeriksa dan tahap infeksi. Traub et al 1984). Pada keadaan arachnoiditis tuberkulosa (radiculomyelitis).12. Pemberian steroid akan mencegah timbulnya hal ini. ulangi pemeriksaan. Kultur cairan serebrospinal. punksi lumbal akan menunjukkan genuine dry tap. Normalnya cairan serebrospinal tidak mengeksklusikan kemungkinan infeksi TBC. Radiologis (6.  Foto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di paru (2/3 kasus mempunyai foto rontgen yang abnormal). Kandungan gula normal pada tahap awal tetapi jika gambaran klinis sangat kuat mendukung diagnosis.

lamina. Tahap awal tampak lesi osteolitik di bagian anterior superior atau sudut inferior corpus vertebrae. Abses psoas akan tampak sebagai bayangan jaringan lunak yang mengalami peningkatan densitas dengan atau tanpa kalsifikasi .   Jika mungkin lakukan rontgen dari arah antero-posterior dan lateral. serta erosi corpus vertebrae anterior yang berbentuk scalloping karena penyebaran infeksi dari area subligamentous .  Dapat terlihat keterlibatan jaringan lunak. Kondisi ini banyak terlihat pada kasus tuberkulosa dengan pusat pertumbuhan korpus vertebra yang belum menutup saat terkena penyakit tuberkulosa yang melibatkan vertebra torakal. terjadi karena adanya stress biomekanik yang lama di bagian kaudal gibbus sehingga vertebra menjadi lebih tinggi. Foto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di tulang belakang. prosesus transversus atau prosesus spinosus. Keterlibatan bagian lateral corpus vertebra akan menyebabkan timbulnya deformita scoliosis (jarang) Pada pasien dengan deformitas gibbus karena infeksi sekunder tuberkulosa yang sudah lama akan tampak tulang vertebra yang mempunyai rasio tinggi lebih besar dari lebarnya (vertebra yang normal mempunyai rasio lebar lebih besar terhadap tingginya). seperti abses paravertebral dan psoas. Tanda radiologis baru dapat terlihat setelah 3-8 minggu onset penyakit. Tampak bentuk fusiform atau pembengkakan berbentuk globular dengan kalsifikasi.    Infeksi tuberkulosa jarang melibatkan pedikel. osteoporosis regional yang kemudian berlanjut sehingga tampak penyempitan diskus intervertebralis yang berdekatan. Bentuk ini dikenal dengan nama long vertebra atau tall vertebra.

 Membantu menilai respon terapi.pada saat penyembuhan. Computed Tomography – Scan (CT) Terutama bermanfaat untuk memvisualisasi regio torakal dan keterlibatan iga yang sulit dilihat pada foto polos. Bermanfaat untuk :  Membantu memutuskan pilihan manajemen apakah akan bersifat konservatif atau operatif. 1999 : 62). Kerugiannya adalah dapat terlewatinya fragmen tulang kecil dan kalsifikasi di abses. Crofton SJ. Neddle biopsi / operasi eksplorasi (costotransversectomi) dari lesi spinal mungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi membutuhkan pengalaman dan pembacaan histologi yang baik . 4. (Dari : Miller F. Tampak destruksi dari vertebra yang berdekatan dan penyempitan ruang diskus. 5.2nd ed. In : Clinical Tuberculosis. Horne N. oleh karena merupakan salah satu indikasi tindakan operasi (tergantung ukuran abses). Tuberculosis in Bone and Joint.: London : Macmillan Education Ltd. Gambar Tuberkulosis spinal : diagram X-ray. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Mempunyai manfaat besar untuk membedakan komplikasi yang bersifat kompresif dengan yang bersifat non kompresif pada tuberkulosa tulang belakang. Keterlibatan lengkung syaraf posterior seperti pedikel tampak lebih baik dengan CT Scan. 3. Deteksi (evaluasi) adanya abses epidural sangatlah penting.

MRI dan mielografi dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura dan corda spinalis. Cedera corda spinalis (spinal cord injury). spondylitis) Adanya sklerosis atau pembentukan tulang baru pada foto rontgen menunjukkan adanya infeksi piogenik. Diagnosa Banding(6.6. Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa. Infeksi piogenik (contoh : karena staphylococcal/suppurative IX.14) 1. Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral di torakal ke dalam pleura.10.10.8. lalu kemudian dapat diinokulasi di dalam guinea babi. sekuestra tulang. Diagnosis juga dapat dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi pus paravertebral yang diperiksa secara mikroskopis untuk mencari basil tuberkulosa dan granuloma.13) 1.(untuk menegakkan diagnosa yang absolut)(berhasil pada 50% kasus). VIII. 2. Selain itu keterlibatan . Komplikasi(4. 6. sekuester dari diskus intervertebralis (contoh : Pott‟s paraplegia – prognosa baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh : menigomyelitis – prognosa buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis pada tumor).

2. Scheuermann’s disease mudah dibedakan dari spondilitis tuberkulosa oleh karena tidak adanya penipisan korpus vertebrae kecuali di bagian sudut superior dan inferior bagian anterior dan tidak terbentuk abses paraspinal. Hodgkin‟s disease. Manajemen terapi(2. 2. Pemberian dini obat antituberkulosa dapat secara signifikan mengurangi morbiditas dan mortalitas.7. Mereka menyimpulkan bahwa untuk kondisi negara yang belum berkembang secara ekonomi .9) Pemberian kemoterapi anti tuberkulosa merupakan prinsip utama terapi pada seluruh kasus termasuk tuberkulosa tulang belakang. Secara radiologis kelainan karena infeksi mempunyai bentuk yang lebih difus sementara untuk tumor tampak suatu lesi yang berbatas jelas.dua atau lebih corpus vertebra yang berdekatan lebih menunjukkan adanya infeksi tuberkulosa daripada infeksi bakterial lain. Infeksi enterik (contoh typhoid. parathypoid).8) Tujuan terapi pada kasus spondilitis tuberkulosa adalah :  Mengeradikasi infeksi atau setidaknya menahan progresifitas penyakit  Mencegah atau mengkoreksi deformitas atau defisit neurologis Untuk mencapai tujuan itu maka terapi untuk spondilitis tuberkulosa terbagi menjadi : A. 3. aneurysma bone cyst dan Ewing‟s sarcoma) Metastase dapat menyebabkan destruksi dan kolapsnya corpus vertebra tetapi berbeda dengan spondilitis tuberkulosa karena ruang diskusnya tetap dipertahankan. Dapat dibedakan dari pemeriksaan laboratorium.7. X. 4. Tumor/penyakit keganasan (leukemia. eosinophilic granuloma. Hasil penelitian Tuli dan Kumar dengan 100 pasien di India yang menjalani terapi dengan tiga obat untuk tuberkulosa tulang belakang menunjukkan hasil yang memuaskan. Terapi Konservatif  Pemberian nutrisi yang bergizi  Pemberian kemoterapi atau terapi anti tuberkulosa(4.

2) Resistensi sekunder Resistensi yang timbul selama pemberian terapi pasien dengan infeksi yang awalnya masih bersifat sensitif terhadap obat tersebut. The Medical Research Council telah menyimpulkan bahwa terapi pilihan untuk tuberkulosa spinal di negara yang sedang berkembang adalah kemoterapi ambulatori dengan regimen isoniazid dan rifamipicin selama 6 – 9 bulan. karena kultur dan uji sensitivitas terhadap obat anti tuberculosa memakan waktu lama (kurang lebih 6-8 minggu) dan perlu biaya yang cukup besar sehingga situasi klinis membuat dilakukannya terapi terlebih dahulu lebih penting walaupun tanpa bukti konfirmasi tentang adanya tuberkulosa. Terapi dapat diberikan selama 6-12 bulan atau hingga foto rontgen menunjukkan adanya resolusi tulang. Resistensi primer terjadi selalu terhadap satu obat baik itu SM ataupun INH. Adanya respon yang baik terhadap obat antituberculosa juga merupakan suatu bentuk penegakkan diagnostik(7. . Adanya pola resistensi obat yang bervariasi memerlukan adanya suatu pemantauan yang ketat selama pemberian terapi. 1980). Jarang terjadi resistensi terhadap RMP atau EMB(Glassroth et al. Resistensi terhadap obat antituberkulosa dapat dikelompokkan menjadi : 1) Resistensi primer Infeksi dengan organisme yang resisten terhadap obat pada pasien yang sebelumnya belum pernah diterapi. Regimen dengan dua obat yang biasa diberikan tidak dapat dijalankan pada kasus ini. Pemberian kemoterapi saja dilakukan pada penyakit yang sifatnya dini atau terbatas tanpa disertai dengan pembentukan abses.8).manajemen terapi ini merupakan suatu pilihan yang baik dan kesulitan dalam mengisolasi bakteri tidak harus menunda pemberian terapi.

 Berpenetrasi baik pada seluruh cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal. streptomycin (SM) dan ethambutol (EMB). dapat menimbulkan ketidakpatuhan dan biaya yang cukup tinggi. cycloserine. pyrazinamide (PZA). Durasi terapi pada tuberkulosa ekstrapulmoner masih merupakan hal yang kontroversial. kanamycin dan capreomycin.  Relatif aman untuk kehamilan  Dosis INH adalah 5 mg/kg/hari – 300 mg/hari Rifampin (RMP)  Bersifat bakterisidal. Pasien yang tidak patuh akan dapat mengalami resistensi sekunder. efektif pada fase multiplikasi cepat ataupun lambat ekstraseluler. Obat anti tuberkulosa yang utama adalah isoniazid (INH). baik di intra ataupun reversibel dengan pemberian suplemen . sementara bila terlalu singkat akan menyebabkan timbulnya relaps. dari basil.  Efek samping : hepatitis pada 1% kasus yang mengenai lebih banyak pasien berusia lanjut usia. intramuskuler dan intravena.  Bekerja untuk basil tuberkulosa yang berkembang cepat. Obat aminosalicylic antituberkulosa acid (PAS).Masalah yang timbul dari pemberian kemoterapi ini adalah masalah kepatuhan pasien. sekuder adalah para- ethionamide. rifamipicin (RMP). Di bawah adalah penjelasan singkat dari obat anti tuberkulosa yang primer: Isoniazid (INH)  Bersifat bakterisidal baik di intra ataupun ekstraseluler  Tersedia dalam sediaan oral. Terapi yang lama. peripheral neuropathy karena defisiensi piridoksin secara relatif (bersifat piridoksin). 12-18 bulan.

Arthralgia dapat timbul tetapi tidak berhubungan dengan kadar asam urat.  Efek samping : 1.  Dosis : 15-30mg/kg/hari Ethambutol (EMB)  Bersifat bakteriostatik intraseluler dan ekstraseluler  Tidak berpenetrasi ke dalam meningen yang normal  Efek samping : toksisitas okular (optic neuritis) dengan timbulnya kondisi buta warna. trombositopenia dan dose dependent peripheral neuritis. Hepatotoksisitas dapat timbul akibat dosis tinggi obat ini yang dipergunakan dalam jangka yang panjang tetapi bukan suatu masalah bila diberikan dalam jangka pendek. Pyrazinamide (PZA)  Bekerja secara aktif melawan basil tuberkulosa dalam lingkungan yang bersifat asam dan paling efektif di intraseluler (dalam makrofag) atau dalam lesi perkijuan. Hepatotoksisitas meningkat bila dikombinasi dengan INH.  Relatif aman untuk kehamilan  Dosisnya : 10 mg/kg/hari – 600 mg/hari.  Berpenetrasi baik ke dalam cairan serebrospinalis.  Efek samping yang paling sering terjadi : perdarahan pada traktus gastrointestinal. cholestatic jaundice. akan tetapi kondisi gout jarang tampak.  Didistribusikan dengan baik di seluruh cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal. . 2. Asam urat akan meningkat. Keuntungan : melawan basil dengan aktivitas metabolik yang paling rendah (seperti pada nekrosis perkijuan). berkurangnya ketajaman penglihatan dan adanya central scotoma.  Lebih baik diabsorbsi dalam kondisi lambung kosong dan tersedia dalam bentuk sediaan oral dan intravena.

al 1987).  Istirahat tirah baring (resting)(3. radiologis dan pemeriksaan laboratorium secara periodik. Pada pasien-pasien yang diberikan kemoterapi harus selalu dilakukan pemeriksaan klinis. Tindakan ini biasanya dilakukan pada penyakit yang telah lanjut dan bila tidak tersedia keterampilan dan fasilitas yang cukup untuk melakukan operasi radikal spinal anterior. Istirahat dapat dilakukan dengan memakai gips untuk melindungi tulang belakangnya dalam posisi ekstensi terutama pada keadaan yang akut atau fase aktif. nausea dan vertigo (terutama sering mengenai pasien lanjut usia)  Dipakai secara berhati-hati untuk pasien dengan insufisiensi ginjal  Dosis : 15 mg/kg/hari – 1 g/kg/hari Peran steroid pada terapi medis untuk tuberculous radiculomyelitis masih kontroversial.13) Terapi pasien spondilitis tuberkulosa dapat pula berupa local rest pada turning frame / plaster bed atau continous bed rest disertai dengan pemberian kemoterapi.9. Obat ini membantu pasien yang terancam mengalami spinal block disamping mengurangi oedema jaringan (Ogawa et.4.7. atau bila terdapat masalah teknik yang terlalu membahayakan.8. Relatif aman untuk kehamilan  Dipakai secara berhati-hati untuk pasien dengan insufisiensi ginjal  Dosis : 15-25 mg/kg/hari Streptomycin (STM)  Bersifat bakterisidal  Efektif dalam lingkungan ekstraseluler yang bersifat basa sehingga dipergunakan untuk melengkapi pemberian PZA. Pemberian gips ini ditujukan untuk mencegah .  Tidak berpenetrasi ke dalam meningen yang normal  Efek samping : ototoksisitas (kerusakan syaraf VIII).

Secara klinis ditemukan berkurangnya rasa nyeri. Pada kondisi ini perawatan selama tirah baring untuk mencegah timbulnya kontraktur pada kaki yang mengalami paralisa sangatlah penting. dimulai sejak penderita diperbolehkan berobat jalan. Hal ini disebabkan oleh karena terjadinya resorpsi cold abscess intraspinal yang menyebabkan dekompresi. kavitasi ataupun sekuester. Lama immobilisasi berlangsung kurang lebih 6 bulan. pada daerah vertebra torakal. lumbosakral dan sakral dilakukan immobilisasi dengan body jacket atau korset dari gips yang disertai dengan fiksasi salah satu sisi panggul. dilakukan pemeriksaan klinis. radiologis dan laboratoris. radiologis dan laboratorium. Terapi untuk Pott‟s paraplegia pada dasarnya juga sama yaitu immobilisasi di plaster shell dan pemberian kemoterapi. jaringan kaseonekrotik dan sekuester . sedangkan pada daerah lumbal bawah. Pada pemeriksaan radiologis tidak dijumpai bertambahnya destruksi tulang. torakolumbal dan lumbal atas diimobilisasi dengan body cast jacket. Istirahat di tempat tidur dapat berlangsung 3-4 minggu. suhu badan normal. hilangnya spasme otot paravertebral. Secara laboratoris menunjukkan penurunan laju endap darah.pergerakan dan mengurangi kompresi dan deformitas lebih lanjut. Seperti telah disebutkan diatas bahwa selama pengobatan penderita harus menjalani kontrol secara berkala. sehingga dicapai keadaan yang tenang dengan melihat tanda-tanda klinis. Alat gerak bawah harus dalam posisi lutut sedikit fleksi dan kaki dalam posisi netral. nafsu makan dan berat badan meningkat. Bila tidak didapatkan kemajuan. Pemasangan gips bergantung pada level lesi. Dengan regimen seperti ini maka lebih dari 60% kasus paraplegia akan membaik dalam beberapa bulan. maka perlu dipertimbangkan hal-hal seperti adanya resistensi obat tuberkulostatika. Mantoux test umumnya < 10 mm. Pada daerah servikal dapat diimobilisasi dengan jaket Minerva.

yang banyak. operasi tidak dilakukan bila timbul tanda dari keterlibatan traktur piramidalis. B. Diagnosa yang meragukan hingga diperlukan untuk melakukan biopsi 2.6. Untuk penyakit yang lanjut dengan kerusakan tulang yang nyata dan mengancam atau kifosis berat saat ini 5. Terapi Operatif Sebenarnya sebagian besar pasien dengan tuberkulosa tulang belakang mengalami perbaikan dengan pemberian kemoterapi saja.13). Terdapat instabilitas setelah proses penyembuhan 3. keadaan umum penderita yang jelek.7. gizi kurang serta kontrol yang tidak teratur serta disiplin yang kurang. operasi debridement dengan fusi dan dekompresi juga diindikasikan bila(4. mengambil sekuester tuberkulosa serta tulang yang terinfeksi dan memfusikan segmen tulang belakang yang terlibat(9. Intervensi operasi banyak bermanfaat untuk pasien yang mempunyai lesi kompresif secara radiologis dan menyebabkan timbulnya kelainan neurologis. Terdapat abses yang dapat dengan mudah didrainase 4. Setelah tindakan operasi pasien biasanya beristirahat di tempat tidur selama 3-6 minggu(2. tetapi ditunda hingga terjadi kelemahan motorik.10). . Selain indikasi diatas. Tindakan operasi juga dilakukan bila setelah 3-4 minggu pemberian terapi obat antituberkulosa dan tirah baring (terapi konservatif) dilakukan tetapi tidak memberikan respon yang baik sehingga lesi spinal paling efektif diterapi dengan operasi secara langsung dan tumpul untuk mengevakuasi “pus” tuberkulosa. Penyakit yang rekuren Pott‟s paraplegia sendiri selalu merupakan indikasi perlunya suatu tindakan operasi (Hodgson) akan tetapi Griffiths dan Seddon mengklasifikasikan indikasi operasi menjadi(11) :  Indikasi absolut 1) Paraplegia dengan onset selama terapi konservatif.12) : 1.

paraplegia flasid. 5) Paraplegia berat dengan onset yang cepat. atau hilangnya kekuatan motorik selama lebih dari 6 bulan (indikasi operasi segera tanpa percobaan pemberikan terapi konservatif)  Indikasi relatif 1) Paraplegia yang rekuren bahwa dengan paralisis ringan sebelumnya 2) Paraplegia pada usia lanjut. dapat juga disebabkan karena trombosis vaskuler yang tidak dapat terdiagnosa 6) Paraplegia berat. indikasi untuk operasi diperkuat karena kemungkinan pengaruh buruk dari immobilisasi 3) Paraplegia yang disertai nyeri.2) Paraplegia yang menjadi memburuk atau tetapi statis walaupun diberikan terapi konservatif 3) Hilangnya kekuatan motorik secara lengkap selama 1 bulan walaupun telah diberi terapi konservatif 4) Paraplegia disertai dengan spastisitas yang tidak terkontrol sehingga tirah baring dan immobilisasi menjadi sesuatu yang tidak memungkinkan atau terdapat resiko adanya nekrosis karena tekanan pada kulit. paraplegia dalam posisi fleksi. nyeri dapat disebabkan karena spasme atau kompresi syaraf 4) Komplikasi seperti infeksi traktur urinarius atau batu  Indikasi yang jarang 1) Posterior spinal disease 2) Spinal tumor syndrome . mengindikasikan tekanan yang besar yang tidak biasa terjadi dari abses atau kecelakaan mekanis. hilangnya sensibilitas secara lengkap.

Pendapat lain menyatakan bahwa kemoterapi diberikan 4-6 minggu sebelum fokus tuberkulosa dieradikasi secara langsung dengan pendekatan anterior. Secara umum jika lesi utama di anterior maka operasi dilakukan melalui pendekatan arah anterior dan anterolateral sedangkan jika lesi di posterior maka dilakukan operasi dengan pendekatan dari posterior. Pada kasus dengan kifosis berat atau defisit neurologis. Area nekrotik dengan perkijuan yang mengandung tulang mati dan jaringan granulasi dievakuasi yang kemudian rongga yang ditinggalkannya diisi oleh autogenous bone graft dari tulang iga. Pendekatan langsung secara radikal ini mendorong penyembuhan yang cepat dan tercapainya stabilisasi dini tulang belakang dengan memfusikan vertebra yang terkena. Walaupun dipilih tindakan operatif. Terapi operatif juga . Saat ini terapi operasi dengan menggunakan pendekatan dari arah anterior (prosedur HongKong) merupakan suatu prosedur yang dilakukan hampir di setiap pusat kesehatan(9.9).13). Pemberian kemoterapi tambahan 10 hari sebelum operasi telah direkomendasikan. terutama pada pusat kesehatan yang tidak mempunyai perlengkapan untuk operasi spinal anterior(6). kemoterapi tambahan dan bracing merupakan terapi yang tetap dipilih.3) Paralisis berat sekunder terhadap penyakit servikal 4) Paralisis berat karena sindrom kauda ekuina Pilihan pendekatan operasi dilakukan berdasarkan lokasi lesi. adanya intabilitas karena destruksi elemen posterior atau konsolidasi tulang terlambat serta tidak dapat dilakukan pendekatan dari anterior(3. pemberian kemoterapi antituberkulosa tetaplah penting. bisa melalui pendektan dari arah anterior atau posterior. Fusi spinal posterior dilakukan hanya bila terdapat destruksi dua atau lebih korpus vertebra.

Operasi pada kondisi tuberculous radiculomyelitis tidak banyak membantu. operasi hanya diindikasikan jika ukuran lesi tidak berkurang dengan pemberian kemoterapi dan lesinya bersifat soliter. dikombinasikan dengan 6-12 bulan tirah baring dan 18-24 bulan selanjutnya menggunakan spinal bracing (9). Laminektomi hanya diindikasikan pada pasien dengan paraplegia karena penyakit di laminar atau keterlibatan corda spinalis atau bila paraplegia tetap ada setelah dekompresi anterior dan fusi. suatu periode tirah baring diikuti dengan sokongan eksternal dalam TLSO direkomendasikan hingga fusi menjadi berkonsolidasi(7). Pada pasien dengan lesi-lesi yang melibatkan lebih dari dua vertebra. Pada pasien dengan intramedullary tuberculoma. BCG akan menstimulasi immunitas. serta mielografi menunjukkan adanya sumbatan(8). BCG telah menunjukkan efek proteksi pada sekitar 80% anak selama 15 tahun setelah pemberian sebelum timbulnya infeksi pertama. Pencegahan Vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) merupakan suatu strain Mycobacterium bovis yang dilemahkan sehingga virulensinya berkurang. Akan tetapi percobaan lain dengan tipe percobaan yang sama di Amerika dan India telah gagal menunjukkan keuntungan pemberian BCG. Sejumlah . meningkatkan daya tahan tubuh tanpa menimbulkan hal-hal yang membahayakan. Vaksinasi ini bersifat aman tetapi efektifitas untuk pencegahannya masih kontroversial.biasanya selain tetap disertai pemberian kemoterapi. Percobaan terkontrol di beberapa negara Barat. Hodgson dan kawan-kawan menghindari tindakan laminektomi sebagai prosedur utama terapi Pott’s paraplegia dengan alasan bahwa eksisi lamina dan elemen neural posterior akan mengangkat satu-satunya struktur penunjang yang tersisa dari penyakit yang berjalan di anterior. XI. dimana sebagian besar anak-anaknya cukup gizi.

pemberian terapi profilaksis dengan INH berdosis harian 5mg/kg/hari selama 1 tahun juga telah dapat dibuktikan mengurangi resiko infeksi tuberkulosa(2. Dosis normal vaksinasi ini 0. Selain BCG. a.1 ml untuk anak yang lebih besar dan dewasa. Diperlukan kontrol yang efektif dari infeksi tuberkulosa di populasi masyarakat sehingga seluruh kontak tuberkulosa harus diteliti dan diterapi. Saat ini WHO dan International Union Against Tuberculosis and Lung Disease tetap menyarankan pemberian BCG pada semua infant sebagai suatu yang rutin pada negara-negara dengan prevalensi tuberkulosa tinggi (kecuali pada beberapa kasus seperti pada AIDS aktif). Oleh karena efek utama dari vaksinasi bayi adalah untuk memproteksi anak dan biasanya anak dengan tuberkulosis primer biasanya tidak infeksius. Pada tahun 1978. Untuk mengurangi insidensinya di kelompok orang dewasa maka yang lebih penting adalah terapi yang baik terhadap seluruh pasien dengan sputum berbasil tahan asam (BTA) positif karena hanya bentuk inilah yang mudah menular. Mortalitas Mortalitas pasien spondilitis tuberkulosa mengalami penurunan seiring dengan ditemukannya kemoterapi (menjadi . Prognosa(7) Prognosa pasien dengan spondilitis tuberkulosa sangat tergantung dari usia dan kondisi kesehatan umum pasien. XII.05 ml untuk neonatus dan bayi sedangkan 0. maka BCG hanya mempunyai sedikit efek dalam mengurangi jumlah infeksi pada orang dewasa.10).10). The Joint Tuberculosis Committee merekomendasikan vaksinasi BCG pada seluruh orang yang uji tuberkulinnya negatif dan pada seluruh bayi yang baru lahir pada populasi immigran di Inggris(Glassroth et al. derajat berat dan durasi defisit neurologis serta terapi yang diberikan.kecil penelitian pada bayi di negara miskin menunjukkan adanya efek proteksi terutama terhadap kondisi tuberkulosa milier dan meningitis tuberkulosa. 1980)(2.

kurang dari 5%. Relaps Angka kemungkinan kekambuhan pasien yang diterapi antibiotik dengan regimen medis saat ini dan pengawasan yang ketat hampir mencapai 0%. dengan akurasi 90% pada pasien yang tidak dioperasi. Untuk memprediksikan sudut deformitas yang mungkin timbul peneliti menggunakan rumus : Y = a + bX dengan keterangan : Y = sudut akhir dari deformitas X = jumlah hilangnya corpus vertebrae a dan b adalah konstanta dengan a = 5. Defisit neurologis Defisit neurologis pada pasien spondilitis tuberkulosa dapat membaik secara spontan tanpa operasi atau kemoterapi. d. b. 5. Jika sudut prediksi ini berlebihan. Dengan demikian sudut akhir gibbus dapat diprediksi. tetapi juga dapat menyebabkan pernafasan Rajasekaran timbulnya defisit jantung karena neurologis atau kegagalan fungsi paru.5 dan b= 30. Kifosis Kifosis progresif selain merupakan deformitas yang mempengaruhi kosmetis secara signifikan. dan keterbatasan dalam dan Soundarapandian penelitiannya menyimpulkan bahwa terdapat hubungan nyata antara sudut akhir deformitas dan jumlah hilangnya corpus vertebra. . Tetapi secara umum. prognosis membaik dengan dilakukannya operasi dini. maka operasi sedini mungkin harus dipertimbangkan. c. jika pasien didiagnosa dini dan patuh dengan regimen terapi dan pengawasan ketat).

prognosis lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa f.e. Fusi Fusi tulang yang solid merupakan hal yang penting untuk pemulihan permanen spondilitis tuberkulosa. Usia Pada anak-anak. .

program rehabilitasi serta kerja sama yang baik antara pasien. penyakit ini akan terus menjadi suatu masalah kesehatan di negara-negara yang belum dan sedang berkembang dimana diagnosis dan terapi tuberkulosa sistemik mungkin dapat tertunda. nyeri dan gejala sisa neurologis dapat dikurangi secara agresif dengan intervensi operasi. Kemoterapi yang tepat dengan obat antibuberkulosa biasanya bersifat kuratif.BAB III KESIMPULAN Walaupun insidensi spinal tuberkulosa secara umum di dunia telah berkurang pada beberapa dekade belakangan ini dengan adanya perbaikan distribusi pelayanan kesehatan dan perkembangan regimen kemoterapi yang efektif. . keluarga dan tim kesehatan. akan tetapi morbiditas yang berhubungan dengan deformitas spinal.

In : The spine. 9. Horne N. 1996 : 270-91 7. Kozak J.H.G. New Jersey : Upper Saddle River. 6.com.. Wood. editor.com.151 2. Rajamani K. Eismont F. Paraplegia of Late Onset in Adolescents wit Healed Childhood Caries of Dorsal Spine. In : http:/www.. The Lymphatic System and Immunity.L.B. London : Springer-Verlag. In : Campbell‟s Operative Orthopaedics. Crenshaw A. St.: London : Macmillan Education Ltd.V. . In : Clinical Tuberculosis. 3rd ed. Tuberculosis in Bone and Joint. Miller F.DAFTAR PUSTAKA 1. Martini F. Cotler HB. Infections of The Spine. In : http://ijoonline. Rothman Simeone editor. Book of orthopaedics and traumatoloty. Diagnosis and Management.medscape. In : Pediatric Orthopedics. 5th ed. Rangachari Varavastu.emedicine. 5. 2001: 132. Crofton SJ. George Alangaden. Louis : C. Philadelphia : W. editor. Spinal Tuberculosis. 1999 : 62-6. Tachdjian.H editor. Graham JM. Savant C. 7th ed. Sauders. 10. St. Rehabilitation Of The Spine : Science and Practice. Tuberculosis of the spine. In : Miller. Philadelphia : W. Tropical Diseases of the Spinal Cord. Infections of Spine.B. Mosby Company.2nd ed. 3. 1997 : 378-87. In : Critchley E. Guyer RD. 1987 : 3323-45. Louis : Mosby-Year Book.O. Natarajan M.html. Vol 42. 1992 : 1353-64 8. 1990 : 1449-54 4. In : Hochschuler SH. In : Fundamentals of Anantomy and Physiology. Currier B. editor. Saunders.. Saunders. 2010.2nd ed. Spine.J. Welch K. MD. M. 1993 : 387-90. 2nd ed. Pott Disease (Tuberculous Spondylitis) in: http://www. Lauerman WC./book/APTEXT/intex. Regan M..bonetumour org. Jose A Hidalgo. Updated: Aug 29. Spinal Cord Disease : Basic Science. Eisen A. Review of Orthopaedics. 11. Maxilvahanan. Inc. Philadelphia : W.W. MD.B. Tuberculosis of the spine. 2008. A Cause of Pressure on The Cord and Treatment.

Infection : Non Suppurative Osteomyelitis (tuberkulosis)..Tuberculous Osteomyelitis. 334-36. Salter R. Bone and Soft Tissue Inflammation. Bohndorf K. 2nd ed. Baltiomore : Williams and Wilkins. Y. Baltimore : Williams & Wilkins.12.B. . Terry R. In : Essential of Skeletal Radiology. In : Textbook of Disorders and Injuries of The Musculoskeletal System. 1999 : 228-31 14. Lindsay R. 13. Imhof H. In : Musculoskeletal Imaging : A Concise Multimodality Approach. New York : Thieme. 3rd ed. 1996 : 1227. 2001 : 150.