:: Alat Pembayaran Nontunai Alat pembayaran nontunai sudah berkembang dan semakin lazim dipakai masyarakat.

Kenyataan ini memperlihatkan kepada kita bahwa jasa pembayaran nontunai yang dilakukan bank maupun lembaga selain bank (LSB), baik dalam proses pengiriman dana, penyelenggara kliring maupun sistem penyelesaian akhir (settlement) sudah tersedia dan dapat berlangsung di Indonesia. Transaksi pembayaran nontunai dengan nilai besar diselenggarakan Bank Indonesia melalui sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) dan Sistem Kliring. Sebagai informasi, sistem BI-RTGS adalah muara seluruh penyelesaian transaksi keuangan di Indonesia. Bisa dibayangkan, hampir 95 persen transaksi keuangan nasional bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent) seperti transaksi di Pasar Uang AntarBank (PUAB), transaksi di bursa saham, transaksi pemerintah, transaksi valuta asing (valas) serta settlement hasil kliring dilakukan melalui sistem BI-RTGS. Pada tahun 2010, BI-RTGS melakukan transaksi sedikitnya Rp174,3 triliun per hari. Sedangkan transaksi nontunai dengan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) dan uang elektronik masing-masing nilai transaksinya hanya Rp8,8 triliun per hari yang dilakukan bank atau LSB. Melihat pentingnya peran BI-RTGS dalam sistem pembayaran nasional, sudah barang tentu harus dijaga kontinuitas dan stabilitasnya. Bila sesaat saja sistem BI-RTGS ini ngadat atau mengalami gangguan jelas akan sangat menganggu kelancaran dan stabilitas sistem keuangan di dalam negeri. Hal itu belum memperhitungkan dampak material dan nonmaterial dari macetnya sistem BIRTGS tadi. Untuk itulah BI sangat peduli menjaga stabilitas BI-RTGS yang dikategorikan sebagai Systemically Important Payment System (SIPS). SIPS adalah sistem yang memproses transaksi pembayaran bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent).Adalah wajar saja apabila Bank Indonesia sangat peduli menjaga kestabilan SIPS dengan mengelola risiko, desain, kehandalan teknologi, jaringan pendukung dan aturan main dalam SIPS. Selain SIPS dikenal pula System Wide Important Payment System (SWIPS), yaitu sistem yang digunakan oleh masyarakat luas. Sistem Kliring dan APMK termasuk dalam kategori SWIPS ini. BI juga peduli dengan SWIPS karena sifat sistem yang digunakan secara luas oleh masyarakat. Apabila terjadi gangguan maka kepentingan masyarakat untuk melakukan pembayaran akan terganggu pula, termasuk kepercayaan terhadap sistem dan alat-alat pembayaran yang diproses dalam sistem. Perlu diketahui bahwa BI bukan semata peduli akan terciptanya efisiensi dalam sistem pembayaran, tapi juga kesetaraan akses hingga ke urusan perlindungan konsumen. Yang dimaksud terciptanya sistem pembayaran, itu artinya memberi kemudahan bagi pengguna untuk memilih metode pembayaran yang dapat diakses ke seluruh wilayah dengan biaya serendah mungkin. Sementara yang dimaksud dengan kesetaraan akses, BI akan memperhatikan penerapan asas kesetaraan dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Sedangkan aspek

(***) KARAKTERISTIK KARTU YANG DITERBITKAN PERBANKAN : : Karakteristik Kartu Kredit : : Tampak Depan : : Tampak Belakang : : Tampak Belakang .perlindungan konsumen dimaksudkan penyelenggara wajib mengadopsi asasasas perlindungan konsumen secara wajar dalam penyelenggaraan sistemnya.

Masa berlaku kartu kredit. Chip pada kartu kredit yang selalu diletakkan di bagian depan sisi kartu. Magnetic stripe yang masih dapat digunakan jika kartu kredit tersebut digunakan untuk bertransaksi di luar negeri. 4. Nama penerbit kartu kredit.DETAIL FITUR KARTU KREDIT DENGAN CHIP Tampak Depan : 1. Alamat Bank penerbit kartu kredit. Nama pemegang kartu. Tampak Belakang : 1. Nomor kartu yang terdiri atas 16 digit. 2. 5. Nama / Logo penerbit kartu kredit. chip ini telah ditambahkan berbagai aplikasi yang dapat mengenkripsi data sehingga data dapat tersimpan lebih aman. Signature panel adalah tempat pembubuhan tanda tangan pemilik kartu pada kartu kredit yang dimiliki. 3. Nomor verifikasi yang terdiri atas tiga digit. 6. 3. MEKANISME PENGGUNAAN KARTU KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN CHIP . Logo Jaringan Kartu kredit. 4. 5. 2.

Nama "Cek" harus termuat dalam teks. Kartu kredit yang Anda serahkan ke kasir akan diproses dengan cara memasukkan kartu ke dalam mesin EDC yang telah dilengkapi chip atau dikenal dengan istilah di-dip. Ketika bertransaksi. 
 4. Pernyataan tanggal beserta tempat Cek ditarik. 
 3. 
 2. 
 6. Tanda tangan orang yang mengeluarkan Cek (penarik). kartu mengalami proses enkripsi terlebih dahulu sebelum akhirnya secara online di-link-an dan di verifikasi dengan penerbit kartu kredit yang dipakai. jika dalam bertransaksi kartu kredit Anda masih menggunakan mekanisme yang lama yaitu digesek. mesin EDC yang telah dilengkapi chip akan mengeluarkan bukti transaksi yang akan ditandatangani oleh pemegang kartu yang melakukan transaksi. Transaksi selesai. 
 5. Penunjukan tempat dimana pembayaran harus dilakukan. Segera minta penggantian kartu Anda kepada penerbit kartu yang tertera pada kartu kredit Anda. itu berarti kartu kredit dan mesin EDC belum menggunakan Chip. Mekanisme yang sama mudahnya dengan teknologi sebelumnya yang dikenal dengan magnetic stripe. Pada saat di-dip. Yang perlu diingat adalah. . 2. halhal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kartu kredit chip adalah: 1. Setelah proses verifikasi selesai. (***) KARAKTERISTIK CEK YANG DITERBITKAN PERBANKAN Cek harus memenuhi syarat formal sebagai berikut : 
 1. Nama pihak yang harus membayar (tertarik). 3. Perintah tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu. transaksi tidak lagi digesek tapi di-dip.Mekanisme Penggunaan Kartu Kredit dengan menggunakan chip tidak banyak mengalami perubahan dengan mekanisme sebelumnya.


 8. Nama "Bilyet Giro" dan nomor Bilyet Giro yang bersangkutan. 
 5. ** Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran contoh BG dalam Ketentuan SE Warkat No 8/35/DASP tgl 22 Des 2006 perihal Warkat Debet dan Dokumen Kliring serta Percetakannya pada Perusahaan Percetakan Warkat dan Dokumen Kliring (PPWDK) dalam Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional. 
 7. nama jelas dan atau dilengkapi dengan cap/stempel dengan persyaratan pembukaan rekening.** Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran contoh Cek dalam Ketentuan SE Warkat No 8/35/DASP tgl 22 Des 2006 perihal Warkat Debet dan Dokumen Kliring serta Percetakannya pada Perusahaan Percetakan Warkat dan Dokumen Kliring (PPWDK) dalam Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional. 
 6. SE Warkat ini . Tanda tangan. Nama bank penerima. 
 4. Nama dan nomor rekening pemegang. KHARAKTERISTIK BILYET GIRO YANG DITERBITKAN PERBANKAN Setiap Bilyet Giro harus memenuhi syarat formal sebagai berikut : 
 1. Jumlah dana yang dipindahkan baik dalam angka maupun dalam huruf selengkap-lengkapnya. 
 2. SE Warkat ini mencabut SE sebelumnya tahun 2004 perihal yang sama. 
 3. Tempat dan tanggal penarikan. Nama tertarik. Perintah yang jelas dan tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atas beban rekening penarik.

. SE Warkat ini mencabut SE sebelumnya tahun 2004 perihal yang sama.mencabut SE sebelumnya tahun 2004 perihal yang sama KHARAKTERISTIK NOTA DEBET YANG DITERBITKAN PERBANKAN ** Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran contoh Nota Debet dalam Ketentuan SE Warkat No 8/35/DASP tgl 22 Des 2006 perihal Warkat Debet dan Dokumen Kliring serta Percetakannya pada Perusahaan Percetakan Warkat dan Dokumen Kliring (PPWDK) dalam Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful