Pahlawan Dan Kaisar

Karya : Zhang Fu Disadur : SHinimatsu

Prolog : Sebelum China disatukan kembali oleh Zhao kuangyin. China terbagi menjadi 5 Dinasti dan 10 kerajaan.Di antara kelima dinasti yaitu : Liang akhir, Tang Akhir, Jin Akhir, Zhou Akhir, dan Han Akhir. 10 Kerajaan lainnya adalah : Wuyue, Min(Yin), Jing Nan (Nan Ping), Chu, Wu, Han Selatan,Tang selatan, Han Utara, QianShu, Shu Akhir. Selain itu, masih terdapat Kerajaan Liao. Masa ini adalah masa yang paling banyak kerajaan muncul. Kerajaan ini saling bergumul satu sama lainnya dengan periode waktu sekitar tahun 907-960 Masehi. **********************************************************************

BAB I : Gadis cantik nan cerdas
Tahun 962 Masehi. Atau 2 tahun setelah Zhao kuangyin mendirikan Dinasti Sung. Di sebuah Wisma mewah keluarga Yuan, tampak beberapa pemuda yang mengenakan pakaian kebangsawanan duduk di ruang tamu untuk menunggu. Diantaranya adalah pangeran Zheng, Huang, Lie dan Xia. Serta beberapa bangsawan dari keluarga Zhao, Wang, Lu, dan Han. Semua pemuda ini dilayani dengan sangat cermat oleh pelayan keluarga Yuan. Dan semuanya seperti duduk dengan tidak sabaran lagi kecuali

seorang pemuda yang dengan tinggi badan hampir 6 kaki,berusia sekitar 20 tahun. Pemuda ini asik minum teh yang disuguhkan sambil tersenyum, dengan wajah putih dan pakaian bangsawan, dia makin mirip dewa saja. Setelah menunggu beberapa saat, nampak muncul seorang setengah baya yang tegap dan berkata," Kepada semua pangeran dan bangsawan yang terhormat, Maaf telah membiarkan anda menunggu lama. Tetapi puteri Yuan Xufen tidak bersedia menerima para tamu. Jadi mohon untuk meninggalkan tempat ini dengan sesegera mungkin." Pangeran yang berada di sana tentu sangat emosi mendengar apa yang barusan dikatakan oleh pelayan tadi. Sebagian bahkan berteriak dengan marah, "Apa yang dipikirkan puteri sombong itu? Apa mentang mentang karena dia cantik luar biasa, kita para pria ini dibodohin?" Pria yang lain dari belakang pria ini juga berteriak hal yang sama. Namun mereka tidak berani bertindak macam-macam. Setelah mengumpat, mereka kemudian meninggalkan ruang tamu. Pria yang berjalan paling belakang dengan santai dan senyum penuh arti sampai para pelayan dibuatnya bingung. Semua pangeran dan bangsawan langsung meninggalkan tempat. Sementara pria ini malah tidak meninggalkan tempat itu sesegera. Lalu dia berkata,"Bisakah anda menunjukkan dimana kamar kecil? karena saya sendiri tadi terlalu banyak minum teh." Pelayan tegap tadi segera menunjukkan tempat. Pria itu langsung menuju ke kamar kecil. Sambil berjalan pelan dia berpikir," Ah, kakak I selalu

membawa masalah seperti ini kepadaku. Kenapa harus aku? Sementara kakak malah mengerjakan tugas kenegaraan untuk meminta bersekutu dengan Han utara. Saya sendiri malah disuruh melamar Puteri Xufen itu. Ini adalah kedatanganku yang ke tiga kalinya, tiap hari juga diusir. Tetapi setelah melihat wajah para pangeran lainnya, Aku merasa sangat geli..Ha Ha.. Padahal sudah pasti puteri itu bukan secantik yang diduga. Lagian mentang-mentang keluarga Yuan adalah keluarga yang banyak melepas budi pada kaisar, maka mereka juga bersikap agung-agungan begitu." Setelah berjalan beberapa blok, pemuda ini berniat pamitan dengan pelayan yang tadi. Tiba di ruang tamu, ternyata pelayan yang tadi sudah tidak ada ditempat lagi. Melainkan seorang wanita seakan jongkok di bawah kursi tamu tadi. "Nona kecil, sedang apa nona disana?" tanya pemuda tadi. Tidak kalah terkejutnya, si nona berpaling. Rupanya nona rumah ini cantiknya sangat luar biasa,kalau pada zaman dulu Tufu membuat puisi bunga nan indah. Semua puisi itu seakan tidak ada bandingnya dengan kecantikan si nona. Seakan marah dan terkejut nona ini berkata,"Anda sendiri siapa?Kenapa ada di ruangan ini? Bukankah anda sudah disuruh untuk meninggalkan tempat ini?" Pemuda itu menjawab,"Saya bernama JieJi, saya berasal dari Keluarga Xia yang hari ini datang untuk melamar." Si nona tadi menjawab,"Keluarga Xia yang melamar seharusnya bernama

WenLun. Kenapa malah jadi JieJi? Saya rasa anda ingin menipu, bukan begitu? Atau Wenlun tidak datang, dan menyuruh anda sebagai adiknya yang menggantikannya?" Jieji terkejut mendengar pernyataan nona cantik ini. Dan berkata,"Banyak orang mengatakan, di kota ChangSha yang paling sempurna baik kepintaran, kecantikan dan ilmu kungfu adalah nona yang bernama Yuan Xufen. Maaf Nona, tetapi apa yang ingin saya katakan sudah tertebak olehmu." Nona tadi tersenyum manis, kali ini Jieji dibikin terkejut, karena nona yang tadi dalam perawakan marah saja sudah luar biasa cantiknya. Apalagi nona ini tersenyum kepadanya. Mungkin tanpa terasa seperti Jieji sudah jatuh cinta kepada nona cantik tersebut. "Aku tahu, Wenlun adalah tipe orang yang bagaimana. Jadi bisa kupastikan kamu bukanlah dia. Wenlun juga anak I dari Keluarga Xia. Jadi bisa kupastikan anda adalah adiknya." Rinci Xufen dengan penuh kepastian. "Betul, saya bernama Xia Jieji. Saya adalah adik ke 5-nya. Sekarang kakak sedang melakukan tugas kenegaraan untuk pergi ke Han utara." kata Jie ji. Oya, boleh saya tahu kenapa nona tadi jongkok di bawah kursi tamu?" "Aku sedang memeriksa kesabaran tiap pria yang melamarku. Hanya itu saja."jawab Xufen. Jieji dibikin bingung oleh nona nan cerdas ini, namun dia sangat tertarik.Lantas dia berkata,"Apa hubungan dengan kursi dibawah ini dan

kesabaran yah kalau boleh saya tahu." Si nona tersenyum kembali dan berkata,"Baiklah, karena saya rasa kamu bukan orang tipe serius yang melamarku. Akan kukatakan. Lihat jejak kaki dibawah kursi ini. Semua orang memakai jenis sepatu yang berbeda khan. Kebetulan tadi siang sebelum kalian datang, masih hujan deras. Sehingga jejak kaki kalian jelas disana. Hanya 1 jejak kaki yang setelah masuk dan duduk dan tidak berpindah. Tentu itu jejak kaki anda sendiri." Baru si nona ingin melanjutkan kata-katanya. Jieji menyela,"Oh,jadi begitu yah? Ha Ha... Jejak kaki yang tertinggal banyak di tempat duduknya adalah jenis orang tidak sabar. Sedang dari tadi setelah sampai tujuan ku cuman diusir. Pantas nona berusaha menahan kita dengan sengaja berlama-lama, dengan tujuan supaya ketika kita keluar,sepatu sudah kering, begitu kan?" "Pintar..." kata si nona dengan senyuman manis. "Apa nona sendiri tidak tertarik dijodohkan seperti ini?"Tanya Jieji. "Bukan begitu, ini karena saya harus memilih dengan betul dan cocok. Aku sendiri tentu sangat mendengar perkataan orang tua untuk memilih salah satu diantara semua yang disini. Ini dikarena kan usia ku untuk seorang perempuan tidak begitu muda lagi." Kata Xufen. "Emang usia nona sendiri berapa tahun?" "25 tahun. Usia seorang wanita menikah kan 17 tahun, orangtua ku sudah memaksaku untuk memilih." "Wah.. Berarti anda lebih tua dariku sekitar 5 tahun. Lain kali kalau

ketemu, saya mesti panggil kakak ya." kata Jieji. "Tidak perlu kok, panggil Xufen saja." "Tidak bisa begitu, cemana pun kata kakak lebih sopan dari nama." "Jadi anda sendiri adalah detektif yang telah memecahkan beberapa kasus dalam 2 tahun terakhir ini?" kembali Xufen bertanya. Baru selesai si nona bertanya pada Jieji, Seorang tua yang setengah baya masuk ke ruang tamu tadi. Dengan agak kasar dia mengusir Jieji. Setelah pamitan dengan cepat dengan Nona tadi dan orang tua tersebut. Dia berjalan keluar dan meninggalkan Wisma. Jieji dari Wisma Yuan langsung menuju pulang ke rumahnya. Dari jauh dia melihat lumayan banyak orang berkerumunan di depan rumahnya. Dengan agak tergesa gesa Jieji langsung menuju kerumunan ini.

BAB II : Munculnya jago silat
Diantara beberapa orang, terdapat orang berpakaian biksu, serta yang lainnya pakaian yang merupakan pakaian para kaum persilatan. Semua rata rata mengganjalkan pedang, golok di pinggangnya. Mgereka kelihatan cukup angker. Terdengar pulak mereka berteriak," Dimana Raja Xia? Cepat keluar? Serahkan kitab Ilmu pemusnah Raga. Atau kuhancurkan bangunan ini." Raja Xia yang dimaksud adalah Xia RuJian, atau adalah ayahnya Jieji. Rujian mendapat gelar raja setelah menjadi penasehat Zhao kuangyin untuk menyatukan China di bawah bendera Zhou pada mulanya. Di antara banyak orang berjasa, Xia Rujian juga mendapat balas jasa yang setimpal. Dia bukan hanya seorang penasehat yang hebat, dia juga

berasal dari Dunia JiangHu. Jurus kungfunya yang paling terkenal adalah 7 Jurus pedang Ayunan dewa. Sedang Rujian sendiri hanya menguasai 4 jurus, namun namanya sudah sangat kesohor di Jianghu. Dan menempati 5 besar kungfu terhebat saat itu menurut si kamus kungfu Yan Jiao. Ada juga pernak pernik serta gosip dunia persilatan yang menyatakan kalau jurus kungfu ini sebenarnya berasal dari Ilmu pemusnah raga. Ilmu pemusnah raga sendiri adalah ilmu yang sangat aneh dan tidak pernah ada orang yang pernah menyaksikannya. Namun 15 tahun lalu, sebagian gosip menyatakan bahwa adanya ilmu nomor 1 di jagad persilatan. Dan entah atas dasar apa para kaum persilatan ini menyatakan kalau jurus pedang Ayunan dewa adalah salah satu ilmu dari Kitab pemusnah raga. Melihat hal begitu, Jieji sendiri juga kebingungan. Soalnya dia bukanlah tipe pesilat. Semenjak kecil, Jieji cuman belajar beberapa dasar dari ilmu silat. Menurutnya kekerasan tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Keluarga Xia memiliki 6 orang putera dan 1 orang puteri. Ayahnya Xia Rujian selalu mendidik 6 puteranya untuk belajar silat untuk kelak sebagai pegangan diri. Di antara 4 kakak, dan 1 adiknya semuanya termasuk jago ilmu pedang. Hanya adik perempuannya yang terakhirlah yang belum belajar silat karena umurnya baru 2 tahun saja. Melainkan Jieji, yang cuman belajar teori ilmu pedang, tetapi tidak pernah sekalipun dia mempraktekkannya. Namun diantara putera puteranya, Rujian paling menyayanginya. Disebabkan diantara para puteranya, Jieji adalah yang paling pintar, dan jago mengingat. Dia

menurunkan semua teori silat pedang ayunan dewa lengkap 7 jurus kepada Jieji,meskipun Rujian hanya menguasai 4 jurus. Tetapi jurus jurus ini tidak pernah dilatihankan Jieji. Karena situasi di depan kediaman raja Xia sedang kacau. Jieji mencoba menghampiri para pesilat tersebut. "Tuan-tuan, ada apa kalian berada di sini?" Pesilat yang nampak berotot besar dan tingginya 6 kaki lebih bertanya," Siapa kau? Kenapa ikut campur urusan kita?" "Saya cuma orang yang lewat di sini. Numpang tanya, ada apa anda sekalian berdiri dan berteriak di depan kediaman raja Xia?" "Amitabha.Kami disini ingin menuntut dikembalikannya Buku ilmu pemusnah raga yang sudah membahayakan dunia persilatan bertahun-tahun.." Kata seorang Biksu. "Buku Ilmu pemusnah raga? Apa hubungannya dengan Raja Xia?" Tanya Jieji kembali. "Ada masalah yang engkau tidak tahu, nak.. Dalam buku ilmu ini, terdapat ilmu racun yang ganas luar biasa.. Kedua Siau Di-ku pernah dibunuh dengan racun ini sekitar 15 tahun yang lalu. Ketika berada di Kaifeng, saya mendengar kalau ilmu pedang ayunan dewa sebenarnya adalah salah satu jurus mematikan dari Ilmu pemusnah raga." Jawab Biksu tadi. "Mohon maaf biksu tua, Bole saya tahu nama anda? Dan dari mana anda berasal?" "Amitabha.Nama biksu saya adalah Ru Chen. Saya adalah biksu dari Kuil

Quan An di Xuchang." "Oh, rupanya biksu Ruchen. Mohon maaf saya lancang. Tetapi setahuku, ilmu pedang ayunan dewa sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ilmu pemusnah raga. Karena ilmu ini adalah ilmu turunan dari keluarga Xia." kata Jieji. Pernyataan Jieji sungguh tidak menggembirakan para pesilat lainnya. "Kau cuman seorang anak kecil, kau tahu apa? Semua orang disini sangat tidak puas dengan adanya ilmu ini beredar lagi di dunia persilatan" Kata seorang pesilat yang memakai ikat kepala hijau dengan umur setengah baya. "Saya memang anak kecil, tetapi banyak hal yang saya tahu. Menurut gosip yang beredar di dunia persilatan, Ada 2 jenis pedang yang merupakan harta luar biasa berharga yang tercatat dalam kitab pemusnah raga. Jangan-jangan tuan tuan sekalian datang untuk pedang itu?"Tanya Jieji langsung tanpa basa basi lagi. "Keparat kau anak kecil, kau sudah bosan hidup? Sekalipun Xia Rujian tidak akan berani mengucapkan hal seperti ini." Kata pemuda setengah baya tadi dengan sangat gusar. Sebenarnya diantara para pesilat dan pejabat hampir tidak ada hubungannya. Jika seorang pesilat menjadi seorang pejabat. Maka dia harus mempertanggung jawabkan hal mengenai rimba persilatan dengan khalayak JiangHu. Dan urusan pejabatnya dengan para Menteri yang berpangkat lebih tinggi darinya. Xia Rujian termasuk ke kalangan seorang pesilat, disamping dia adalah

seorang raja. Oleh karena semua tindaknya di dunia persilatan, harus dipertanggung jawabkan kepada JiangHu. "Xia rujian itu seorang penipu besar, dengan ilmu pedang ayunan dewa dia terkenal di dunia persilatan, menurutku dia menjiplak ilmu orang lain saja dan dijadikan ilmu keluarganya." kata seorang pesilat yang rambutnya diikat dan mirip dengan bajak laut. Jieji gusar juga mendengar kata kata yang tidak beralasan tersebut.Namun dia masih bisa menahan dirinya. "Kalian semua mengaku dari bangsa pesilat, kenapa tidak sedikitpun memakai otak kalian?" tiba tiba muncul sebuah suara. Semua orang berpaling menengok, ternyata orang yang berteriak adalah seorang pemuda berumur sekitar 16 tahun. Romannya cakap dan gagah. "Memalukan, kalian semua berteriak di depan rumah keluarga orang. Seperti anak anak kalian ditangkap dan disandera. Menurutku, kalian lebih pantas jadi penjaga kandang kuda dan kandang babi di rumahku. Bagaimana? Ha Ha..." Pemuda yang tadi berkata dengan kata-kata yang cukup kasar. Mendengar hal ini Jieji malah terasa geli. Namun sedikit banyak dia juga mengkhawatirkan pemuda ini. "Siapa kau wahai anak kecil?" tanya pesilat yang mirip bajak laut tadi. Pemuda 1/2 baya tadi sudah tidak tahan. Dia berteriak sambil mengayunkan goloknya ke pemuda kecil tadi. " Aku Wen Puxia, ingat namaku, biar matimu tidak akan penasaran." Golok sudah dilayangkan dengan cepat. Jieji sangat mencemaskannya

ketika melihatnya. Namun apa daya, dia sendiri pun bukanlah seorang pesilat. Namun di luar dugaan, golok tadi yang seharusnya mengenai batok kepala anak tadi, malah melenceng dan membentur tanah. Wen Puxia merasa sangat aneh. Namun, kepalanya terasa sangat berat. Rupa-rupanya pemuda yang tadi sudah berdiri 1 kaki di atas kepalanya. Teman Wen Puxia, seorang pesilat yang mirip bajak laut langsung memotong gerakan tadi. Dia menggunakan senjata tombak pendek dan menusuk ke arah kaki pemuda muda tadi. Dengan 1 gerakan yang teramat cepat, tombaknya telah dibikin patah dua. Semua orang melihat dengan keheranan, bagaimana bisa seorang pemuda yang sangat muda itu mengalahkan 2 pesilat sekaligus dengan mudah, dan tidak nampak oleh mata biasa. Dan yang anehnya, Jieji yang bukan seorang pesilat mampu melihat semua gerakan pemuda tadi. Gerakan golok yang pertama dilihatnya jelas, pemuda tadi melompat dengan tenang menginjak bahu Wen Puxia. Dan dengan sebelah kaki terlihat dia mematahkan tombak tadi menjadi 2 bagian. Disini cuman 2 orang yang mampu melihat dengan pasti gerakan pemuda ini. Yaitu Jieji dan biksu Ruchen. "Amitabha, gerakan Si cu luar biasa hebatnya. Ini adalah jurus memetik daun dari wilayah barat. Boleh saya tanya, apakah guru anda adalah Wang Cou Di?" tanya Biksu Ruchen. "Betul Sefu( panggilan untuk guru dalam agama buddha). Saya pernah belajar dengannya sekitar 6 bulan."

"Amitabha, jurus anda sudah demikian mahir meski belajar cuman 6 bulan. Lauchen ingin mencoba kungfu anda. Mohon diberi petunjuk. Boleh Sicu memberitahu nama anda?" "Mohon maaf atas kelancanganku guru.Namaku Wei JinDu. Mari. " kata pemuda tadi. Guru Ruchen mulai mengambil ancang-ancang. Pesilat pesilat tadi langsung menyingkir agak jauh dan memberi ruang. Desiran angin seketika terasa menusuk, Biksu Ruchen mengeluarkan jurus cakar. Dengan cepat jurus tersebut telah tiba di muka JinDu. Dengan sebelah tangan JinDu menahan jurus tersebut, sebelah tangannya membalas mengincar tulang rusuk sang biksu. Namun kecepatan tangan Biksu Ruchen berhasil menepis tapak terbalik itu. Kali ini biksu Ruchen mengubah serangan dari cakar ke tinju. Gerakan tadi yang tertahan langsung ditarik, dan diarahkan ke dada JinDu. Dengan gesit JinDu menahan tinju dengan tapak. Kali ini desiran tenaga dalam keluar dengan cepat. Dan sekonyong konyong biksu Ruchen terpental beberapa langkah. "Amitabha. Saya mengaku kalah, Ilmu Sicu jauh diatas hamba." Kata Ruchen yang mengaku kalah. "Tidak berani... Anda mengalah terlalu banyak kepadaku." Kata pemuda tadi dengan sangat sopan. Melihat kalau guru besar Ruchen saja kalah di tangan pemuda tak ternama itu, semua pesilat lain segera mengundurkan diri karena lumayan takut.

Sesaat setelah pesilat bubar. Jieji mendekati pemuda tadi. Jieji kagum kepadanya. Selain tampan dan muda, pemuda ini pun berjiwa satria. "Tuan Wei, terima kasih. Anda telah membantuku." kata Jieji dengan penuh sopan santun. JinDu membalas hormat dan berkata,"Tidak, saya cuman tidak suka orang segerombolan datang mencari masalah saja." Jieji merasa lumayan berhutang padanya, disebabkan masalah hari ini pasti susah diselesaikan. Mengingat saat ini di rumah, cuman ada ibunya dan dia. Kakak kakaknya semua sedang tugas negara. Xia Rujian bersama 4 puteranya pergi menghadap kaisar. Sedang kakak I nya sedang berunding di markas Han utara. "Namaku Xia Jieji. Saya adalah putera kelima dari keluarga Raja Xia." Mendengar bahwa dia adalah Xia Jieji. Pemuda tampan ini lumayan terkejut.

BAB III : Detektif Lihai
"Ternyata anda adalah seorang pemuda yang membantu petugas polisi untuk memecahkan kasus yang sulit. Maaf saya sendiri tidak mengenali anda." Jieji tersenyum sipu-sipu, "Kepandaianku mana bisa dibandingkan dengan kepandaian anda." JinDu cukup kagum mendengar sepak terjang Jieji dalam memecahkan beberapa kasus yang lumayan sulit. Dia sangat menyukai pemuda ini. Keduanya cepat akrab, lantas mereka langsung menuju ke kedai minum Hua Ping.

Setelah sama sama duduk dan minum beberapa cawan serta menceritakan pengalaman masing masing. JinDu menceritakan riwayat hidupnya. Keluarganya terpencar gara gara perang sekitar 10 tahun lalu, lantas dia dibawa pergi seorang biksu dari barat. Dalam 10 tahun dia belajar banyak ilmu silat. Salah satu ilmu silat yang paling hebat di jagad persilatan yaitu Tapak Buddha Ru Lai. Namun JinDu mengaku dia baru menguasai 3 jurus saja. Jieji malah kebalikan, dia menceritakan bahwa dia sendiri tidak menyukai ilmu silat, dia belajar banyak sastra dan ilmu teknologi yang unik. Tanpa terasa, mereka kemudian dikejutkan seorang pemuda. Sinar mata pemuda ini sangat mengagumkan, wajahnya agung seperti dewa. Dia memegang kipas dan berpakaian seperti seorang sastrawan. Masuknya pemuda di kedai minum ini, mengundang perhatian orang banyak. Karena tidak ada satu pun yang tidak kagum menyaksikan pemuda yang mempunyai tinggi 6 kaki lebih ini. Pemuda tadi langsung duduk di meja Jieji dan JinDu. Jieji seraya tidak percaya langsung berkata," Kakak.. Apa kabarnya? Semenjak 2 tahun lalu kita berpisah, kita tidak pernah ketemu lagi." JinDu justru jauh lebih kaget dari Jieji. Karena dia terkejut kenapa Jieji malah memanggil orang tersebut kakak. " Adik-adikku, maafkan kakak yang telah lama berpisah dengan kalian.. Ha Ha.. Hari ini kita harus minum sampai puas dan tidak mabuk maka kita tidak pulang, bagaimana? " Kata pemuda tadi dengan sangat gembira.

JinDu meyakinkan pemuda tadi," Kak, sejak kapan anda bersaudara dengan Sdr. Jieji? Jadi sewaktu kita angkat saudara setahun lalu, kakak pernah mengungkit masalah kakak kedua ku, jadi orang ini adalah Xia Jieji?" "Betul, dia adalah Xia Jieji, loh bukannya kalian sudah kenalan?" Jieji menjawab," Saya bertemu dengan pemuda ini, saya rasa dia sangat cocok dengan ku makanya saya mengajaknya minum minum disini, ternyata malah kakak datang. Tentu saya sangat gembira punya saudara seperti adik JinDu." Ketiganya menghabiskan ratusan cawan di kedai minum ini. Sampai pagi lohor mereka baru pulang. Ketiganya yang mabuk berat terlihat sinting sinting. Mereka bertiga memasuki Biara Guan Di, dan disini kemudian mereka mengambil hio untuk sembahyang mengikat persaudaraan. Setelah itu mereka tidur di rumah Jie ji. Matahari telah terbit. Jieji bertiga masih tidur di ranjang yang sama. Namun mereka dikejutkan oleh suara berisik luar biasa. JinDu pertama bangun dan melihat keadaan. Seorang pelayan terburu buru mengetuk pintu. "Pangeran ke 5, ada berita gawat." "Ada apa?" tanya Jieji. "Kabarnya puteri Xufen hilang dari rumahnya..Kepala polisi Han Yin ingin anda datang dengan sesegera." Secepatnya Jieji meloncat bangun dari tempat tidurnya, dengan bergegas ganti pakaian dan cuci muka. Dia berlari ke Wisma Yuan diikuti 2 saudaranya.

Sesampainya di Wisma Yuan,mereka disambut oleh Yuan Fei. Pemilik wisma Yuan. Namun begitu Jieji masuk ke ruangan, diikuti oleh 2 saudaranya. Wajah Yuan Fei langsung pucat seperti ketemu hantu. Keringat dingin bermunculan di wajahnya. Tangan dan kakinya terasa gemetar. Ada apa gerangan? Jieji yang melihat reaksi tuan rumah langsung memapahnya dan membisikkan sesuatu padanya. Baru sekarang Yuan Fei terasa lebih tenang. "Bawa aku ke kamar puteri dimana dia hilang." Kata Jie ji kepada Yuan Fei. "Jadi anda adalah pangeran ke 5 keluarga Xia, Maafkan kelancangan hamba yang mengusir anda kemarin." Kata Yuan Fei dengan sopan. "Tidak masalah, saya tidak pernah menganggapnya penting di hati. Sekarang bawa saya pergi ke kamar nona besar." Yuan Fei memiliki 3 puteri; Yuan Xufen, Yuan Lifen, dan Yuan SiaoSe. Di antara ke tiga puterinya, Yuan Fei sangat menyayangi puteri sulungnya. Maka ketika dia tahu puterinya sudah tidak ada di rumah begitu pagi. Dia sangat cemas luar biasa. Sesampainya di kamar si nona besar. Jiejie bertanya pada Han Yin. " Apa ada orang yang telah memasuki ruangan dan mengubah posisi kamar ini?" "Tidak ada. Semua orang saya larang masuk sebelum anda tiba." Setelah mengamati sebentar ruangan puteri Xufen. Jieji langsung

memeriksa semua jendela. Dan nampak pada jendela terujung ada bekas ditusuk sesuatu. Lalu diambilnya bambu kecil di taman dan mencocokkannya. Ternyata sama persis. Setelah itu Jieji berjalan di dalam. Dan dilihatnya ranjang nona tersebut. Lalu dibongkar selimutnya. Dan ternyata, di dalam selimut tersimpan giok yang patah menjadi dua. Lalu dia kembali memeriksa bagian dari ruangan. Dan tampak ada goresan kecil di ujung jendela yang terbuka tersebut. Setelah dibersihkan dan dilihat dengan jelas. Disana ada sebuah aksara "Bu" = "Tidak". Setelah itu Jieji berjalan di depan taman,kemudian menyelidikinya sebentar dan terlihat 3 buah garis aneh di tanah yang agak basah itu. Begitu melihatnya, Jieji menghampiri kedua saudaranya dan berkata, " Kak, dan adik. Boleh saya minta bantuan anda berdua?" Tentu keduanya dengan senang hati mengiyakannya.

BAB IV : Penculik yang tertangkap dengan mudah
Han Yin bergegas membawa pasukan atas perintah Jieji. Dia membawa 50 orang pengawal. Dan bergegas ke rumah keluarga Wang. Keluarga Wang juga salah satu keluarga terkenal di Changsha. Wang Jiaxin adalah salah satu menteri pengawal suplai makanan pada saat perang menyatukan China sekitar 5 tahun lalu. Kaisar memberinya pangkat Menteri keamanan, namun karena usianya yang telah lanjut. Dia mengundurkan diri dan diberi gelar kebangsawanan. Han Yin dan 50 puluh serdadu disuruh berjaga di depan Wisma Wang. Di dalam ruang tamu keluarga Wang, tampak seorang nona diikat dengan rantai besi di kursi. Seorang pemuda umur 30 tahunan sedang girang

mendapati si nona di rumahnya. Belum sempat pemuda ini melakukan tindakan yang fatal. Tiba tiba dia sudah dijatuhkan oleh desiran angin yang deras. Dia terjerembab dan jatuh di tanah. Rupanya pemuda tadi terpental oleh jurus aneh yang membuatnya terlempar dari ruang tamu menuju ke lapangan datar depan ruang tamu. Pemuda yang lain bergegas menolong wanita yang diikat itu. "Tranggg..." rantai besi itu putus seketika. Di saat itu, Han Yin dan pasukannya telah menyerbu ke dalam, meski banyak anak buah keluarga Wang yang menghalangi. Namun bagaimana pun pesilat biasa tidak akan sanggup bertarung melawan serdadu dari kepolisian. "Anda ditangkap karena melakukan penculikan dan hampir melakukan tindakan senonoh." kata Jieji yang seraya ikut masuk ke dalam dengan kepala polisi Han Yin. Pemuda yang tadi roboh rupanya sanggup berdiri meski sempoyongan. Rupanya tadi jurus yang menghempaskannya adalah dari Kakak I Jieji. "Siapa kau? Beraninya kalian masuk dan menerobos ke rumahku. Akan kulaporkan pada ayahanda dan supaya ayahanda melaporkannya pada kaisar." "Nama saya Yang Ying. Sudah lama saya ingin dilaporkan kejahatanku pada kaisar. Ha Ha... Ayahmu sedang berada di tempat yang jauhnya ribuan li, Anda malah main gilak di rumahmu." "Tangkap!!" Teriak kepala polisi Han Yin. Dengan cepat Wang FeiYu tertangkap dan telah dibelenggu. "Apa hukuman buat Wang FeiYu ini ?" tanya Jieji kepada kepala polisi

HanYin. "Karena dia tidak melecehkan puteri, dan jika puteri tidak menuntutnya maka orang ini akan dipenjara selama 10 tahun saja paling lama." Dengan sesegera dia diringkus ke pengadilan Changsha. Namun teriakan penasaran , dampratannya juga ikut dengannya menuju pengadilan. "Dik, Bagaimana kau tahu kalau pelakunya berasal dari keluarga Wang?" "Kalau ini seharusnya tanyalah kepada puteri kita yang didalam itu." Kata Jieji dengan tersenyum. Sesaat kemudian JinDu keluar bersama puteri Xufen yang di dalam. Lantas Yang Ying menanyai puteri tersebut. Namun begitu Xufen keluar dari ruang tamu keluarga Wang. Dia juga terkejut sekali melihat Yang Ying ini. Namun Yang Ying memberi kode dengan kedipan mata. Dan mulai menanyainya," Nona, Bagaimana caranya kamu tahu kalau pencuri ini berasal dari keluarga Wang?" "Itu mudah saja tuan Yang, Aku pernah mendengar kabar bahwa obat bius keluarga Wang sangat hebat luar biasa. Ini disebabkan istri Wang Jiaxin adalah seorang nona yang berasal dari Yunnan. Sedang obat bius yang mampu membiusku sudah sangat sedikit." kata Xufen dengan tersenyum. "Lalu bagaimana anda memberi petunjuk di kamarmu sehingga kita bisa mengetahuinya?" "Giok, giok yang pecah menjadi dua itu." Dan tulisan Bu/ Tidak." Sambung Jieji. Si nona yang sedari tadi terpana melihat Yang Ying tidak menyadari kehadiran Jieji disana. "Pantas, anda juga datang. Kalau tidak, mungkin susah bagiku untuk

lolos dari sini. Terima kasih." Kata Xufen kepada Jieji. "Tidak apa nona.. Untung anda memberikan petunjuk yang mudah dimengerti, Giok yang terpecah 2 maksudnya ada 2 orang yang menculiknya. Tulisan Bu di jendela adalah menyatakan bahwa dia diculik oleh 2 orang melalui jendela. "Bu" artinya tidak.Giok yang patah menjadi dua berarti menjadi "tidak ada gunanya". Jadi jika dihubungkan dengan tulisan giok. Maka menjadi...." " "Wang"( Kata Giok(Yu) adalah kata Wang yang ditambah garis di bawah), saya rasa saya semakin hari makin kagum pada anda ." "Ditambah goresan sepatu anda di taman, maka semua cocok. Karena sepatunya tergores sebuah kata Wang yang tidak jadi, karena itu saya tahu anda diculik oleh keluarga Wang. Dan keluarga Wang yang sedikit banyak punya hubungan dengan anda belakangan ini tentu adalah keluarga yang datang melamar anda." Kata Jieji dengan percaya diri yang tinggi. Khalayak yang tertinggal disana tidak ada satu pun yang tidak kagum mendengar uraian Jieji. Semua orang baik petugas dan 2 orang saudara Jieji sangat kagum akan penyelidikannya yang cuma sesaat itu.

BAB V : Naga di bawah Langit
Setelah menyelesaikan kasus penculikan, Jie ji dan dua saudara angkatnya langsung menuju ke Wisma Yuan dengan membawa serta Xufen. Terlihat di depan pintu, sang ayah sudah tidak sabar menunggu putri kesayangannya pulang. Tiba-tiba wajah sang ayah cerah luar biasa kembali melihat puterinya kembali selamat tanpa kurang sesuatu apapun. Ketiga bersaudara segera diajak menuju ke ruang baca tuan rumah. Setelah menutup pintu dan

menyingkirkan semua pelayannya. Yuan Fei berlutut dan menjurah ke arah tiga bersaudara tadi. "Maafkan kelancangan hamba. Hamba cuma budak tidak berguna, tidak memberi hormat kepada anda, Yang Mulia. Hamba juga tidak tahu diri, membuat Yang Mulia terlibat dalam masalah rumah tanggaku. Mohon ampun .." Dengan segera, Yang Ying membimbing orang tua ini bangun dan berkata. "Anda sama sekali tidak bersalah, Anda adalah guru-ku sewaktu muda. Tidak perlu hormat berlebihan segala." Kata Yang Ying yang membimbing Yuan Fei dengan penuh rasa hormat kepadanya. Segera kemudian, Yang Ying memperkenalkan kedua saudara angkatnya kepada Yuan Fei. Yuan Fei memperlakukan mereka dengan sangat sopan. Setelah perkenalan, beberapa saat kemudian Yang Ying dan kedua saudaranya segera mohon pamit. Sampai di taman Wisma Yuan. Terdengar suara seorang nona. "Maafkan hamba Yang Mulia." Rupanya Xufen sedari tadi berlutut menunggu ketiga orang tersebut keluar dari ruang baca ayahnya. Dengan segera Yang Ying mempersilahkannya berdiri untuk berbicara. "Hamba sekeluarga telah merepotkan Yang Mulia, untuk masalah ini, hamba mohon maaf sebesar besarnya." "Tidak perlu, Sebenarnya saya sendiri keluar dari istana. Tujuanku untuk melihat keadaan masyarakat umumnya. Itu tujuan ku yang utama. Yang kedua, tentu saya sendiri sangat tidak senang dengan kehidupan

yang berlebihan di dalam istana. Oleh karena itu, di luar istana. Anda cuman cukup memanggil namaku Yang Ying." "Ini adalah dosa yang sungguh luar biasa besar." Kata Xufen dengan penuh penyesalan. Wei JinDu sebenarnya sangat terpesona melihat gadis nan ayu ini. Namun karena JinDu jelas jauh lebih muda daripada nona ini. Dia mengurungkan niatnya, dia cuman bisa melihatnya dengan diam-diam saja. Sementara, Jieji malah jalan-jalan di sekitar taman untuk melihat bunga mawar, dan tidak mengacuhkannya. Setelah pembicaraan singkat tersebut, Yang Ying memanggil adik ke II dan ke IIInya. "Saya harus kembali ke Kaifeng sesegera mungkin. Soalnya semua menteri dan raja harus menemuiku pada tgl 30 bulan ini. Sekarang kita harus berpisah kembali, entah kapan bisa bertemu.Saudara ku jaga diri kalian baik-baik. Setelah urusan mulai longgar, saya akan kembali menjumpai anda berdua." Sebenarnya Jieji merasa cukup sayang. Sebab pertemuan kali ini mungkin bakal terulang paling tidak beberapa tahun kemudian. Namun JinDu juga mengucapkan hal yang sama, Dia harus pergi ke barat. Sebab gurunya cuman memberinya waktu 1/2 tahun untuk mengunjungi makam Ayahnya yang tewas dalam perang sekitar 10 tahun lalu,serta satu-satunya keluarganya adalah kakak perempuannya. Sementara kakak perempuannya adalah istri seorang pejabat di Kota GuiYang. Tidak disangka, ketiganya bakal berpisah di Wisma keluarga Yuan.

Beberapa saat kemudian, Jieji juga minta pamit pada Xufen, si nona cantik ini. Tapi baru berjalan beberapa tindak. Xufen kembali menyapanya,"Tuan Xia Jieji, Saya ingin berterima kasih kepada anda. Jika tidak ada anda, mungkin saya sendiri tidak tahu bakal menjadi apa nantinya." Jieji melihatnya sebentar kemudian tersenyum dan berkata,"Nona, saya tidak menolong anda. Anda sendiri sudah sadar sepenuhnya ketika kami tiba khan?" "Wah,ternyata kecerdasan anda jauh diatasku. Tuan benar, Bius itu cuman bereaksi kepadaku sekitar 2 jam saja. Setelah itu, saya telah sadar. Sebenarnya saya ingin meringkusnya sendiri. Namun, anda sekalian datang terlebih dahulu." Xufen segera menyilakan Jieji duduk di bangku tamannya. Xufen sebenarnya seorang jago kungfu hebat, kungfunya di Changsha mungkin sudah nomor 1. Selain Xia Rujian, mungkin jarang orang yang bisa menandinginya. Xufen pernah diajari seorang tua, ilmunya yang paling hebat adalah Jari dewi pemusnah. Ilmu ini adalah asli salah satu ilmu dari Kitab Ilmu pemusnah Raga. Ilmu pemusnah raga kabarnya adalah ilmu yang sangat aneh, dan diciptakan tidak hanya satu orang. Semua jurus tangan kosong baik tapak, jari, tinju dan jurus senjata seperti pedang, golok, tombak nya tanpa tanding. Namun kesemuanya tidak menyatu dan terbagi menjadi beberapa bagian. Oleh karena itu, insan dunia persilatan sangat menginginkan buku ilmu tersebut. Namun setelah mempelajari jurus jari dewi pemusnah, Xufen tidak pernah

mengatakannya kepada orang lain, meskipun orang itu adalah ayahnya sendiri. "Ternyata anda adalah saudara angkat Zhao Kuangyin, Kaisar Sung. Maaf, saya sendiri tidak pernah mengetahuinya." Kata Xufen. "Saya dan kakak Zhao pernah mengangkat saudara. saat itu umurku cuman 15 tahun, dan kakak sendiri malah umurnya jauh lebih tua dariku. Namun, saat tersebut kakak belum menjadi Kaisar." "Wah, berarti sudah lengkap tuh. Matahari di langit, Emas di tanah. Dan orang sakti Di bumi." "Ha Ha.. Mana bisa hamba ini dikatakan sebagai orang sakti di bumi." Tertawa geli Jieji mendengar kata-kata Nona ini. Matahari di langit adalah nama Kaisar yang jika dihubungkan akan menjadi Kuang-Yin( diubah menjadi Cahaya ), Sedang Emas di tanah adalah nama Wei JinDu. Kata "orang sakti" ini maksudnya "Jie Ji" yang berarti pemikiran yang cemerlang. Namun Xufen sengaja menggantinya menjadi "orang sakti". "Sepertinya kita sangat cocok yah. Soalnya apa pun yang kita bicarakan mungkin tidak ada orang yang mampu mengerti mudah. Namun setiap kali anda melontarkan kata kata aneh itu, saya sudah tahu maksudnya." Kata Jieji dengan gembira. "Betul, baru kali ini saya bertemu dengan orang yang mampu mengerti diriku." Jawab Xufen. Namun perbincangan mereka terasa sangat akrab. Dan tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Oleh karena itu, Jieji segera memohon pamit kepada nona tersebut.

Kedua insan berbeda jenis ini, mungkin tidak merasa dalam hati mereka sebenarnya bukan rasa kekaguman saja yang tertinggal. Keduanya telah terlibat dalam rasa cinta. Dan tanpa disadari, akan terjadi masalah yang luar biasa peliknya.

BAB VI : Perjalanan ke utara
Sudah dua bulan berlalu sejak terjadinya penculikan di Wisma Yuan. Semua anggota keluarga Xia sudah pulang dari tugas kenegaraannya. Pada suatu pagi hari di musim dingin. Terlihat dari jauh seorang pemuda yang tergesa gesa melarikan kudanya ke Wisma Keluarga Xia. Sesampainya di pintu depan, dia dihalangi oleh pengawal. Pemuda tadi menyampaikan pesannya untuk bertemu pangeran ke-5 dari keluarga Xia, karena ada urusan yang sangat penting yang harus dibicarakan dengannya. Setelah menyampaikan pesannya, Pengawal bergegas menuju ke dalam mencari Jieji. Namun karena Jieji tadi pagi-pagi sudah berangkat. Yang menggantikannya untuk menemui utusan tadi adalah Xia Rujian/ Ayahnya Jieji. Di ruang tamu, Pemuda tadi segera melihat Xia Rujian masuk. "Maafkan kelancangan hamba, telah tergesa-gesa masuk ke kediaman keluarga Xia." "Tujuan anda datang sendiri kemari untuk apa?" tanya Xia Rujian. "Hamba diperintah oleh Da Jiangjin(Jenderal Besar) Ma Han untuk menemui pangeran ke-5 keluarga Xia." "Oh? Da Jiangjin pasti punya masalah tersendiri untuk menemui putera ke 5-ku. Namun tadi pagi lohor, Jieji sudah keluar dari rumah." kata Rujian.

"Sayang sekali... Yang Mulia tahu dimana keberadaannya sekarang? Hamba mempunyai surat yang sangat penting dan menyangkut hidup matinya Da jiangjin sendiri. Mohon maaf saya sendiri yang kelihatan terlalu mendesak." "Hidup mati? Ini bukan soal kecil. Karena surat ini tidak diperuntukkan bagiku. Maka saya akan menunjukkan beberapa lokasi yang mungkin di kunjungi oleh puteraku. Anda carilah dia sendiri. Hati-hati selama perjalanan." Setelah menjelaskan beberapa tempat yang kemungkinan disinggah JieJi. Rujian juga bergegas masuk ke belakang. Namun dia dihentikan suara istrinya. "Kenapa tidak anda sendiri saja yang mencarinya? Mungkin Jie dalam masalah." "Tidak bisa, jika Da jiangjin menyuruh orang mencari putera kita. Sebagai orang-tua kita tidak bisa terlalu protektif." "Namun bisa saja Jie dicelakai olehnya. Kenapa tidak tanya permasalahannya dengan jelas?" tanya Sang Istri. "Istriku, anda terlalu banyak berhati-hati. Meski Jie tidak bisa kungfu, namun disampingnya sekarang seharusnya ada orang yang lebih hebat dariku yang bisa menjaganya dengan selamat." Jelas Rujian. "Oh? Maksudnya puteri dari keluarga Yuan itu? Apa dia sehebat itu?" "Saat ini, Di Changsha. Orang yang bisa menandingi ke 4 jurus pedangku mungkin cuma dia saja. Istriku, tidak usah terlalu berkhawatir segala." "Tapi... Sebenarnya saya sendiri sangat takut terjadi sesuatu pada putera ke 5 kita. Meski kepintarannya luar biasa dalam memecahkan

kasus, tetapi saya sendiri takut jika ada pihak keluarga tertuduh yang tidak puas atas hasil pengadilan. Bisa saja khan mereka mencelakai putera kita." "Benar, tetapi ini adalah kebenaran dalam hati seorang pemuda. Kita tidak bisa dan tidak berhak sama sekali melarangnya." Di sebuah warung penjual Mie di sudut kota Changsha. Terlihat 2 orang yang duduk santai disana. Meski musim dingin. Mereka asik duduk dan sedang mengunyah mie. Namun mereka dikejutkan oleh suara ringkikan kuda, sesaat kemudian. Seorang pemuda berlutut di tanah bersalju dekat dengan keuda orang yang sedang menikmati mienya. "Hamba Jiang Wen dari ChangAn memberi hormat kepada pangeran ke 5 Xia. Hamba diperintah oleh Da JiangJin Ma Han menyampaikan surat yang sangat penting! Mohon diterima, Pangeran ke 5 .." "Sepertinya, untukmu tidak ada waktu istirahat... " kata seorang wanita di samping Jie ji dengan tersenyum. Dengan segera, Jieji membuka surat yang bertuliskan diperuntukkan namanya sendiri. Setelah membaca beberapa saat, Jieji berpikir sebentar. Kemudian menjawab," Anda datang dari jauh dan bercape lelah hanya untuk mencari diriku yang tidak ternama ini.. Maaf, tetapi silakanlah anda bermalam di rumahku. Besok pagi saya akan berangkat bersama anda." Kata kata Jieji yang sopan cukup menyenangkan si utusan tadi. Namun dengan sangat halus si utusan menolak ajakan Jieji. "Hamba cuma seorang budak, tidak pantas hamba berjalan berdampingan

dengan anda.. Maaf tuan, saya tidak bisa menerimanya.." "Manusia semua hakikatnya sama, tidak ada perbedaan budak dan tuannya. Harap anda kali lain jangan mengucapkan hal serendah ini lagi." Kata Jieji. "Terima kasih Tuan. Tetapi karena anda sudah menyetujuinya. Hamba harus cepat melapor ke Da JiangJin. Maaf jika hamba tidak bisa tinggal." Dengan cepat, si utusan mohon pamit dan bergegas menuju pintu utara Kota Changsha untuk menuju kembali ke ChangAn. "Bagaimana? Kamu tertarik akan isi suratnya?" Tanya Xufen.. "Hm..." Jie Ji tersenyum mendengar pertanyaan Xufen. sambil memandangnya. Jie ji berkata," Kamu bisa menebak apa isi suratnya?" "Sebagian saja." Sambil tersenyum penuh arti Xufen menjawab pertanyaan Jieji. "Coba jelaskan, saya ingin mengetahuinya." "Yang pasti surat itu bukan berisi kalau puterinya akan dinikahkan dengan kamu." Kata Xufen. Jie Ji tersenyum geli mendengar pernyataan tadi. "Kamu ini selain pandai merayu orang, kemampuanmu yang lain cuman memecahkan kasus-kasus. Jadi bisa dipastikan, kedatangan kamu ke sana adalah untuk menyelidiki sesuatu atas permintaan Ma Han khan?" "Betul, tetapi jika suatu hari kamu menjadi istriku, Jadi susah aku ini ingin menyeleweng.. Thienn... Alangkah celakanya aku ini.. Ha Ha.." Kata Jieji seraya bercanda. "Dasar kurang kerjaan. Ayok!! Sudah saatnya kamu pulang. Beresin

pakaianmu untuk dibawa Ke ChangAn." Kata Xufen seraya malu-malu dan berusaha mencari topik pembicaraan lain. Kedua orang ini berjalan bersama menuju ke tengah kota kembali. Jieji yang mengantarkan Xufen pulang terlebih dahulu. Langsung menuju rumahnya. Jie ji tahu benar akan perangai Ibunya. Jika ibunya tahu dia bakal menuju ChangAn, apalagi sendiri. Pasti tidak akan diizinkan. Maka daripada itu, dia mencari ayahnya. Sesampainya di ruang baca, Ayahnya melihat putera ke 5 ini sebentar. Jieji belum sempat berbicara. Ayahnya langsung mengatakan. "Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan." Setelah mengiyakan, Jieji bergegas menuju ke kamarnya untuk memberesi baju bajunya untuk keperluan keberangkatan besok. Namun belum selesai Jieji membereskan bajunya. Ibunya sudah mengetuk pintu untuk masuk. "Nak, apa yang kau lakukan?" Tanya Ibunya. Setelah menyapa semestinya. Jieji berkata. "Ada urusan gawat di Kota ChangAn. Da JiangJin Ma Han ingin saya menyelidiki sesuatu. Kabarnya dia diancam untuk dibunuh pada hari Imlek mendatang. Oleh karena itu, saya berniat untuk menyelidiki siapa yang mengirim surat ancaman ini." "Nak, cukuplah. Jangan terlalu terbawa perasaan hati. Ibu sangat mencemaskanmu." kata Nyonya Xia. "Bu, anda paling mengerti diriku. Saya tidak akan berhenti dengan cara begitu. Maafkan ananda tidak berbakti." Kata Jieji sambil berlutut pada ibunya itu.

sang Ibu sebenarnya sangat mengkhawatirkan puteranya ini. Namun apa daya, Jieji tidak bisa dilarang hanya dengan hal hal seperti itu. Terakhir sang Ibu juga mengizinkannya, walaupun dengan berat hati. Dia meminta Qian Lang dan Bai Hu (nama asli Bai Hu adalah Ma Han, tetapi Ma Han Disini tentu tidak sama dengan Ma Han Da JiangJin. Sedang Bai Hu adalah julukannya yang berarti Harimau Putih). Dua pengawal ayahnya untuk ikut bersama dengannya. Keesokan harinya, pagi pagi sekali. Jieji sudah siap berangkat, setelah berpamitan dengan Ayah ibunya, dia juga sempat berpamitan dengan seluruh kakak dan adik adiknya. Dia meminjam kuda QianLi milik ayahnya. Bersama dua pengawalnya dia bergegas menuju ke kediaman Yuan. Namun setelah mencari Xufen di rumahnya, pengawal mengatakan pagi pagi sekali si Nona telah keluar. Segera dia menuju ke utara kota Changsha. Namun di sana sudah ada seorang wanita cantik yang menunggunya di atas kuda. "Jangan bilang kalau kamu ingin ikut denganku ?" tanya Jieji. Ini disebakan karena di sela bahunya nampak buntelan kain yang terikat. "Tentu, saya sudah lama tidak masuk ke kota tua ChangAn. Tentu kali ini saya bermaksud melihat pemandangan disana." Kata Xufen seraya tertawa kecil. "Tetapi, guru besar Yuan tidak mungkin mengizinkanmu pergi di saat musim dingin seperti ini. Lalu bagaimana kamu bisa keluar dari rumah?"Tanya Jie ji kembali. "Lalu bagaimana kamu bisa diizinkan ibumu pergi?" Kata Xufen. "Ha Ha.. Baiklah.. Kita berangkat." Ke empat orang ini mengambil kota bagian utara untuk segera menuju ke

utara. Hanya dalam beberapa jam mereka telah sampai di Jiang Ling. Ke empat orang ini beristirahat sebentar. Lalu mereka mulai berangkat lagi. Setelah melewati beberapa hutan dan bukit kecil, mereka sampai di Sungai terluas di China, sungai ZhangJiang(Yang TzeKiang). Saat itu musim dingin, air disana hampir membeku. Namun hal ini tidak menghalangi niat ke empat orang tersebut untuk menyeberanginya. Setelah menyeberang beberapa jam, tiba tiba nahkoda kapal berteriak kengerian. Jieji berempat segera menuju ke tempat nahkoda tersebut. Mereka memandang ke arah sungai di bawah perahunya. Di sana, terdapat mayat yang sudah terapung. Segera Jieji memerintahkan Ma Han Dan Qian Lang mengangkat mayat tersebut dari sungai. Setelah melihatnya, Xufen dan Jieji sangat terkejut...

BAB VII : Ilmu jari Dewi pemusnah
Rupa-rupanya mayat orang tersebut adalah utusan Da JiangJin Ma Han sendiri. Jieji yang melihatnya sungguh sangat marah. "Biadab, terkutuk. Seorang utusan saja tidak diampuninya." "Dia mati tenggelam. Karena tidak ada bekas luka apapun di tubuhnya." kata Ma Han yang sudah menyelidiki tubuh si utusan. "Betul, dia meninggalkan Changsha sekitar jam 9 pagi. Perjalanan yang ditempuhnya adalah sendiri, mungkin lebih cepat dari kita. Seharusnya dia sampai di sungai ini sekitar sore jam 3-an."Kata Xufen. "Dia telah tenggelam selama 24 jam, jadi wajar mayatnya terapung kembali." kata Qian Lang.

Segera Jieji menyuruh nahkodanya untuk bergegas menuju daratan. Dalam 1 jam, perahu sudah menyandar di pinggir. Jie ji berempat kemudian turun. Dengan uang 1 tael emas, Jieji meminta nahkoda kapal untuk menguburkan utusan Jiang Wen dengan baik. Mereka terus melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya sekitar jam 9 malam. Mereka telah sampai di kota Xiangyang. Segera mereka memesan 3 buah kamar. Pada waktu tengah malam, terlihat kamar pintu yang dihuni Ma Han dan Qian Lang terbuka perlahan. Keadaan di dalam kamar sudah sangat gelap. Terdengar beberapa langkah kaki yang agak pelan menuju ranjang tempat kedua pengawal ini tidur. Dengan sekali menggerakkan pedang. Para penyerang menusuk ke arah ranjang ini berkali kali. Terdengar suara pisau yang seakan masuk ke perut. Namun sebelum mereka ingin meninggalkan kamar Ma Han dan Qian Lang. Mereka dikejutkan oleh lampu yang telah terang benderang. "Jika taktik seperti ini bisa menipu orang, maka orang yang mati di dunia ini sudah sangat banyak." Kata suara seorang pria. Penyusup ini segera menyadari kalau mereka terjebak. Dan yang tadi ditusuk mereka secara ramai ramai ternyata adalah bantal yang telah disusun sedemikian rupa. "Tangkap!! Jangan biarkan lolos!! Suara teriakan seorang wanita menyusul. Penyusup terdiri dari 5 orang. Ma Han dan Qian Lang segera bertarung melawan mereka berlima sekaligus. Pengawal Ma Han dan Qian Lang sebenarnya adalah pesilat yang lumayan hebat. Dan Xia Rujian juga

menurunkan mereka ilmu pedang ayunan dewa tingkat pertama. Dengan segera, Pedang Ma Han sudah menusuk salah satu penyusup itu. Qian Lang juga melakukan hal yang sama, penyusup yang lain juga kena bacok di arah kepalanya. Sekarang yang tertinggal hanay 3 orang penyusup. "Tidak usah membunuh lagi."kata Jieji memberitahukan kedua pengawalnya. Tujuan Jieji tentu untuk mengetahui siapa orang di belakang penyerang ini. "Menyerahlah, katakan siapa kalian. Maka semua akan diampuni." Sambung Xufen. Namun ke 3 penyerang justru tidak berhenti. Salah seorang yang lain berteriak,"Kita bekerja untuk majikan, sekarang sudah saatnya hidup-mati. Ayok!! Bertarung yang benar." Ajakan penyerang ini, membuat 2 orang lainnya bersemangat. 2 orang melayani Ma Han dan Qian Lang. Sedang penyerang lainnya menyerang ke arah Xufen. Mungkin penyerang berpikir, kalaupun ada seorang wanita. Ilmu silat pasti jarang tinggi. Dia tidak menyerang Jieji yang tidak bisa kungfu sama sekali. Melainkan menyerang Xufen yang dikiranya orang biasa. Ini adalah hari sial baginya. Belum sempat pedangnya sampai, sekilas berkelebat sinar tajam, Penyerang itu jatuh terjungkal. Inilah jurus Jari Dewi pemusnah. Hawa pedang tajam yang keluar dari jari jarinya sudah lebih dulu menyerang kedua bahu penyerangnya. Tujuan Xufen mengarahkan jurus ke bahu penyerang tentu mencegahnya bunuh diri.

Sekarang kedua tangan penyerang sudah tidak berkutik. Pedang yang di pegangnya telah terlempar jauh. Sementara Ma Han dan Qian Lang kelihatan agak kepayahan melawan dua orang penyerang yang sangat bersemangat. Dengan mencuri waktu untuk lari, Keduanya segera menggunakan ilmu meringankan tubuh meninggalkan kamar. Namun belum sempat mereka sampai di muka pintu. Keduanya juga jatuh terjerembab. Kali ini Xufen mengeluarkan jurus yang sama. Semua jurusnya di arahkan ke bahu kedua penyerang ini. "Jurus yang hebat, Nona. Boleh saya tahu apa nama jurus ini? Biar matipun aku tidak penasaran." kata seorang penyerang yang terlebih dahulu terjungkal tadi. "Ini cuma jurus biasa yang tidak usah dibikin terkejut." Kata Xufen. Jieji memaksa penyerang mengatakan siapa orang yang menyuruh mereka. Mereka bertiga menjawab kalau penyuruhnya adalah Bao SanYe. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengenalinya kecuali Xufen. "Maksud mereka mungkin adalah Tuan Bao ke 3. Tuan Bao Ke 3 memang terkenal licin dan kejam. Kungfunya sungguh tinggi. Dia adalah adik seperguruan Pei NanYang." Rinci Xufen. Mendengar nama Pei NanYang disebut sebut. Ma Han dan Qian Lang gemetar juga. Dalam Kamus kungfu, jurus Tapak Mayapada miliknya adalah yang paling kesohor dan menempati urutan pertama di dunia persilatan. Namun Jieji yang tidak tahu seluk beluk dunia persilatan kelihatan biasa biasa saja. Ke 3 penyerang ini diikat dengan tali bersamaan. Setelah menunggu fajar. Jieji meminta Qian lang dan Ma Han membawa ke tiga orang ini ke

pengadilan XiangYang dan menjelaskan kejadian pagi tadi. Jieji dan Xufen memutuskan berangkat terlebih dahulu. Mereka berdua menuju ke kota WanShia. Di perjalanan, meski capek mereka berdua menikmati pemandangan bersalju yang sudah mulai cair di wilayah Nan Yang. "Dulu Zhuge KungMing (Maksudnya Zhuge Liang dari Zaman San Guo) memilih tempat ini untuk menyepi sungguh sebuah pemikiran yang luar biasa." Kata Jieji sambil menghela nafas. "Oleh karena itu, sajak kuno sering mengatakan kalau di wilayah NanYang paling banyak orang pintar luar biasa yang hidup.Ini tidak bisa dipungkiri melihat keadaan alam disini sangat mirip dengan surga di kolong langit." Sambung Xufen. Mereka menempuh perjalanan dengan lumayan santai dan sekitar tengah hari. Mereka telah sampai di WanShia. WanShia juga sebuah kota yang menarik. Keramaian kota ini sangat khas. Banyak orang berjualan di pinggir jalan. Sehingga kota ini dijuluki "kota pasar". "Sekarang, kita cari penginapan. Kamu harus tidur, karena tadi malam kamu sudah begadang menunggu penyusup penyusup itu." kata Xufen. "Bagusan kamu sendiri tidur dulu, saya yang menjaga-mu." Kata Jie ji. "Tidak, saya tidak lelah. Kamu lupa.. Tenaga dalamku tinggi. Untuk masalah ngantuk,masih bisa diatasi. Sedang kamu tidak khan?" "Baiklah kalau begitu." Mereka cuman memesan sebuah kamar. Jieji tidur di ranjang sementara Xufen berjaga di kursi.

Namun belum sampai 3 jam, Jieji telah bangun dan menyuruh Xufen untuk bergantian dengannya. Xufen mengiyakan. Sesaat setelah Xufen tidur. Jieji datang melihat puteri nan cantik ini. Dalam hatinya, dia berkata Alangkah cantiknya bidadari ini. Desiran panas tubuhnya membuatnya cukup canggung melihat Xufen yang tidur tersebut. Wajahnya yang nan polos , alis matanya yang begitu indah telah membuatnya mabuk kepayang. Namun sebelum mata Jieji meninggalkan wajah Xufen. Xufen telah membuka matanya. Ini membuat Jieji sungguh salah kaprah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Memikirkannya mungkin akan semakin membuatnya salah paham. Namun sedikitpun Xufen tidak marah, dia bahkan berkata,"Jika mau lihat, bilang dulu. Kalau tidak, kamu saya tangkap sebagai pencuri." Kata Xufen seraya tidak peduli dan menutup matanya kembali. sampai saat itu, Jieji langsung menuju ke tempat duduk. Dan tidak berani lagi dia memandang ke arah ranjang. Xufen yang sesekali memandang Jieji dari tempat tidurnya, tersenyum dengan puas. Setelah tidur sekitar 3 jam. Ada orang yang mengetuk pintu mereka. Rupanya Ma Han dan Qian lang telah kembali. Mereka menemukan kuda Qian Li milik Jieji dan tahu kalau mereka menginap di penginapan tersebut. Xufen juga telah bangun dan segera dia bergegas untuk membersihkan mukanya apa adanya. "Saya rasa hari ini kita bisa tidur dengan tenang, namun tidak hari esok." Kata Jieji sambil berbisik.

Kedua pengawalnya segera mengiyakannya. Mereka segera memesan makanan dari penginapan. Sebelum mencicipinya, kedua pengawal ingin memeriksa apakah ada racun atau tidak. Tetapi Jieji mengatakan,"Tidak usah, tujuan mereka sebenarnya bukanlah kematian saya. Biar saya duluan yang mencicipi masakannya terlebih dahulu." Dan memang ternyata tidak terjadi reaksi apapun. "Mengapa mereka ingin membunuh kalian berdua terlebih dahulu? Tujuan mereka tentu menangkap saya untuk diserahkan ke Bao San Ye. Dan hari ini kita bisa tidur dengan tenang karena mereka justru berpikir kita akan was-was lagi. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan di malam ini." Kedua pengawalnya kagum akan kata-kata Jieji, mereka mengiyakannya. Kemudian mereka memesan kembali sebuah kamar tidur yang lebih besar. Jieji dan 2 pengawal tidur di ruangan yang sama.

BAB VIII : Terbunuhnya Jenderal Besar Ma Han di kediamannya
Di puncak Dai Shan (Gunung Tai).. Tampak dua orang tua yang rambutnya telah memutih. Walaupun mereka telah berusia sangat lanjut, namun wajah mereka tidak muncul kerutan, bahkan wajah mereka nampak seperti pualam yang putih. Bagaikan dewa-dewi, kedua pasangan ini mengamati langit dengan tenang. Tetapi, mereka dikejutkan ketika Bintang Ungu telah muncul 2 biji. Bintang ungu adalah bintang Kaisar sejati. Jika bintang ungu telah muncul, berarti adalah pertanda kaisar. Namun mereka cukup heran, sebab

tidak adanya hal aneh yang bisa mempengaruhi Kaisar untuk turun tahta. Mengapa di atas langit nampak dua buah bintang berwarna ungu? Sebuah bintang yang berada di timur laut seakan menuju ke barat nampak memancarkan sinar yang sangat gemilang. Inilah bintang Zhao kuangyin / Kaisar Sung Taizu. Melainkan sebuah bintang ungu yang lainnya muncul ini berada di tengah-tengah langit. Orang tua yang berjenis kelamin perempuan ini segera melempar 7 biji koin dari sakunya ke atas. Setelah turun, koin ini menggambarkan tanda "Yang" kesemuanya. Setelah itu, dia memandang ke langit dan berkomat kamit sebentar. Tampak bintang ungu di tengah ini memancarkan sinar ungu keperakan dan sebentar kelipnya makin memudar. Lalu wanita tua itu tampak menghela napas. "Ini adalah pertanda munculnya seorang pahlawan." Kata yang laki-laki. "Tetapi, ini adalah masa susah orang tersebut. Tidak lama lagi akan terjadi kegemparan.. Takdir.. Takdir..." Kembali wanita itu menghela napas panjang." Kembali ke WanShia. Jieji berempat langsung berangkat dari wilayah WanShia menuju ke utara. 100 Lie sebelum memasuki kota yang lainnya. Mereka dikejutkan oleh suara langkah kuda yang banyak sekali jumlahnya. Setelah menunggu beberapa saat, Seorang penunggang kuda segera turun dan memberi hormat. "Hamba Lie Gai,Kepala pasukan Da Jiangjin Ma Han datang menyambut Pangeran ke 5 dari keluarga Xia. Setelah Jenderal mendengar anda menjumpai masalah di Xiangyang. Dengan segera dia mengutusku bersama

500 orang pasukan menyambut anda. Mohon maaf sebesar besarnya jika ada perlakuan yang kurang menyenangkan selama perjalanan." "Tidak masalah, Saya sendiri harus berterima-kasih pada Da Jiangjin, meminta anda jauh jauh mengutus orang yang tidak ternama seperti aku ini." Kata Jieji dengan sopan. Setelah bergabung bersama pasukan pimpinan Lie Gai. Mereka menuju ke kota tua Luo Yang untuk terus ke barat menuju ke ChangAn. Di ibukota, Yang Ying atau Kaisar Taizu Zhao Kuangyin bermimpi tentang adik keduanya, Jieji. Dia bermimpi Jieji bersama puteri Xufen mengarungi daerah selatan dari Sungai dengan perahu. Dalam mimpi Zhao, Kapal yang ditumpangi tenggelam ke Sungai. Tiba-tiba Zhao lekas bangun dan terjaga. Keesokan harinya dia meminta peramal istana untuk meramalkan apa alamat mimpinya itu. Peramal segera memasukkan 7 buah koin di mangkuk. Menggoyangnya sebentar, sambil berkomat kamit. Tidak lama kemudian, peramal berkata. "Selatan juga adalah alamat yang buruk sekali. Kata "selatan" atau "Nan" juga bisa di artikan beda. "Nan" yang lain dari pelafalan lain berarti kesulitan. Sedang Jiang / "Sungai" mungkin berarti Jiang Hu / Dunia persilatan atau bisa diartikan begini, ChangJiang artinya sungai panjang nan luas, bisa dikatakan Kesulitan yang sangat luas dan besar. Berarti maksudnya adalah Jieji akan mengalami kesusahan luar biasa. Zhao yang sangat menyayangi adik keduanya segera mengutus orang meminta Jieji berhati hati. Namun utusannya kembali dengan tangan kosong. Sebab

katanya, Jieji sekitar seminggu lalu telah menuju ChangAn. Tanpa berpikir lagi, Zhao mendandani dirinya sedemikian rupa dan segera berangkat menuju ChangAn. Kali ini dia meminta 10 orang jago silat yang pernah berperang bersamanya ikut. Tujuannya tak lain tentu, melindungi adik angkatnya. Dalam seminggu, Jieji sudah sampai di kota Changan. Kota tua Changan mengandung nilai budaya dan seni yang tinggi. Tembok kota Changan juga sangat tinggi dan kokoh. Sebab Kota ini pernah menjadi ibukota Dinasti Qin, Han barat, dan Tang. Segera mereka menuju ke kediaman Da Jiangjin Ma Han. Saat mereka tiba di taman. Mereka disambut oleh Da Jiangjin. 4 orang tersebut memperkenalkan diri masing-masing. Jamuan pun segera diadakan. Setelah semua selesai, Jieji dan Xufen diajak ke kamar baca sang jenderal. Kamar baca Jenderal sangat aneh.. Karena dalam 1 ruangan dia sengaja membuat 2 pintu yang memisahkan ruangan ini. Kemudian dengan seraya mengeluarkan surat ancaman asli dia berkata. "Ini adalah surat yang ketiga. Saya sama sekali tidak mengerti siapa yang mengincar nyawaku. Namun ada gosip yang menyatakan ketika saya menyerang ke utara sekitar 7 tahun lalu, saya mendapatkan pedang ekor Api. Saya diminta untuk mengeluarkan pedang itu sampai tiba hari Imlek. Jika saya tidak menanggapinya, maka akan dibunuh." Pedang ekor Api adalah salah satu pedang yang pernah di ungkit Jieji ketika para pesilat itu ribut di depan rumahnya. Kabar dunia persilatan mengatakan, Pedang Ekor Api dan Pedang Es Rembulan adalah sepasang.

Pedang Ekor Api mengandung hawa panas luar biasa, sedang Pedang Es Rembulan mengandung Es nan dingin. Inipun cuma gosip dari dunia persilatan yang muncul. Tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim bahwa 2 pedang itu benar berada di dunia. "Boleh saya tahu surat ini ada dimana ketika pertama kali anda menerimanya?" tanya Jie Ji. Seraya menunjukkan, Jenderal berkata. "Surat ini ada di samping ku ketika aku tidur, karena saya sering tidur di ruang baca. Maka ketika bangun, saya mendapati 3 surat ini dengan masing masing waktu seminggu dikirim dan telah berada di meja tempat aku tidur." "Kalau bole tahu, tanggal berapa saja surat ini dikirim?" "Yang pertama bulan 11 tanggal 15, yang kedua bulan 11 tanggal 30, yang ketiga adalah..." "Tanggal 15 bulan dua belas ini khan? Sekarang ini sudah tanggal 27 bulan 12. Jadi 3 hari lagi mungkin dia akan datang membunuh." Kata Xufen. Setelah itu mereka memohon pamit. Setelah mengajak Xufen keluar, Jieji membisikinya. "Dajiang jin ini aneh, dia tahu kalau surat itu selalu di letakkan di mejanya. Kenapa dia tidak berusaha menyuruh orang untuk menunggu kapan lagi surat selanjutnya dikirim?" "Ini mungkin karena dia tidak menyadari tanggal seperti yang kusebutkan tadi. Tapi cukup aneh, kenapa dia sendiri tidak menyuruh orang lain berjaga di ruang bacanya. Atau..." kata Xufen kembali.

"Pedang ekor api maksudnya?" "Hm..." Kata Xufen seraya mengangguk. Malam ini mereka semua kembali beristirahat di kamar masing-masing. Pagi-paginya, semua orang diterkejutkan dengan suara yang ribut luar biasa. Jieji segera beranjak keluar dari kamar tidurnya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Di depan kediaman Da Jiangjin, banyak orang-orang tak dikenal dan sebagian memakai pakaian aneh telah muncul. Mereka mengaku dari kaum Jianghu. Disana juga hadir ketua Dunia persilatan, Yue Fuyan. Yue Fuyan adalah seorang yang ambisius, semua jenis kungfu pernah dipelajarinya. Dia sangat terobsesi dengan kungfu hebat, mendengar kabar kembalinya Ilmu pemusnah raga tentu dia orang pertama yang ingin memilikinya. Sebagai seorang pesilat kelas tinggi, Yue fuyan juga melakukan hal hal yang berbau kebenaran, tujuannya supaya posisinya bisa aman saja. Dalam rincian Kamus Kungfu Yan Jiao ilmu tertinggi adalah Tapak mayapada, di bawah tapak mayapada adalah tapak penghancur jagad milik Yue Fuyan. Jadi dia termasuk jago kelas atas. Semua pesilat ini meminta untuk masuk ke kediaman Jenderal. Tentu tujuan mereka adalah Pedang pusaka tersebut. Namun dengan kelicikan Fuyan dia mengatakan kalau para pesilat harus diberi pertanggung jawaban setimpal. Jenderal tidak mampu menahan mereka. Diantaranya adalah Biksu Kuil Shaolin yang sangat terkenal, bahkan yang datang kali ini adalah Biksu Wu Jiang, pemimpin kuil Shaolin saat sekarang. Jenderal mempersilahkan mereka masuk dan menyediakan 12 kamar untuk

para pesilat ini. Jenderal berpikir mungkin mereka bisa diminta bantuan untuk keselamatan nyawa-nya sendiri dalam 2 hari ini... Hari I tidak terjadi masalah yang serius atau sesuatu apapun. Hari Ke II atau hari malam Imlek. Jenderal Ma Han menjamu para pesilat di ruangan tamunya yang besar. Sekitar 20 orang pesilat serta Jieji,Xufen, dan 2 pengawalnya juga ikut didalamnya. Setelah lewat jam 12 malam, hari Imlek telah tiba. Jenderal sendiri sangat bersyukur, kalaupun ada yang mau membunuhnya, tidak mungkin pada saat sekarang. Ketika para pesilat lihai semua berkumpul. Jenderal yang merasa gerah daritadi bergegas menuju kamar bacanya sendiri. Jieji yang melihatnya langsung berkata pada Xufen, bahwa dia akan pergi ke kamar kecil. Setelah sampai di depan ruang baca. Jenderal segera masuk di dalam. Sedang Jieji cuma berani mengintip dari luar. Adanya lampu kecil mempermudahnya melihat bayangan jenderal itu. Namun sesaat, lampu di ruangan itu tiba-tiba mati. Jieji merasa mungkin saat ini dia akan keluar ruangan. Namun, setelah ditunggu tunggu. Jenderal tidak keluar. Hampir berbarengan itu, terlihat pelayan yang segera menegurnya. "Ada apa tuan berada disini?" Jieji cukup terkejut. Namun dia tidak menjawab apapun. Pelayan yang membawa sup ayam ke dalam itu merasa heran. Karena kamar dalam keadaan terkunci. Beberapa kali dipanggil juga tidak disahuti. Jieji mengambil inisiatif segera mendobrak pintu kamarnya.

Dan, begitu kamar terbuka mereka tidak melihat Jenderal, namun disamping kamar tersebut ada kamar lain. Pelayan tadi langsung bergegas mencari Majikannya. Tetapi baru berjalan beberapa tindak. Sup yang dipegang pelayan itu tumpah. Dan terdengar teriakan keras luar biasa darinya. Jieji segera melihatnya, ternyata Jenderal telah gantung diri. Di bawah kakinya terdapat kursi yang jatuh.

BAB IX : Detektif yang terluka
Sesaat setelah terdengar teriakan. Para pesilat dari ruang tamu segera datang untuk melihat apa yang terjadi. Posisi Jenderal yang tergantung segera di angkat Jieji ke bawah, dengan tujuan melihat apakah dia masih hidup. Namun sia-sia, tulang lehernya telah patah. Orang pertama yang sampai setelah teriakan adalah Yue Fuyan. Namun Jieji menyuruhnya untuk tidak masuk terlebih dahulu. Namun karena rasa sok hebatnya, dia tidak menghiraukannya. Pesilat yang lain langsung bersama-sama masuk ke dalam ruang baca. Mereka membawa obor dan lilin yang berfungsi sebagai penerangan. Tampak putera dari Jenderal yang masuk. Dan langsung menyuruh pelayannya yang tadi untuk segera memanggil petugas polisi. Jieji sedang memikirkan bagaimana cara Jenderal ini dibunuh. Ruangan ini dalam keadaan tertutup. Kalau tidak pintu tadi yang didobraknya masuk. Maka pintu yang disebelahnya juga bisa memungkinkan pembunuh itu masuk. Namun setelah diteliti, ternyata pintu sebelah juga dalam

keadaan terkunci. Setelah itu dia berjalan ke arah jendela, mengeceknya sebentar. Ternyata jendela semua juga terkunci dari dalam. "Anak kecil, saya ingin bertanya kepadamu. Dimana lukisan itu? Kamu menyimpannya khan?" Jieji melihat orang itu sebentar. Orang ini tak lain adalah Yue Fuyan. "Saya tidak pernah melihat adanya lukisan apa-apa di ruang ini." jawab Jieji dan segera menuju ke kamar sebelah, kamar dimana pintu masuk yang didobraknya. Semua peralatan rapi, tidak ada bekas perlawanan sama sekali disini. Semua jendela juga tertutup dengan rapi. Hanya 1 jendela yang membuatnya agak curiga. Yang terletak di sudut ruangan. Jendela ini tertutup kain yang cukup tebal. Bahkan kain disini dua lapis. Ini sangat mengherankan Jieji. Beberapa hari yang lalu, ketika dia masuk ruang baca,dia tidak pernah melihat adanya kain seperti itu. "Emang ada masalah dengan kain ini?" Xufen yang sedari tadi mengamati tingkah Jieji, kemudian menanyainya. "Aku sudah tahu kira-kira siapa pembunuhnya." kata Jieji. "Tetapi kamu tidak punya bukti yang kuat untuk menangkapnya kan?" "Betul.. Sekarang saya harus mencari buktinya. Maukah kamu membantuku?" "Tentu.. " jawab Xufen. Petugas polisi segera datang. Begitu tiba, mereka kemudian menyuruh semua orang keluar. Setelah memeriksanya dengan seksama, kepala polisi/ inspektur Lu Ming menyatakan ini adalah bunuh diri. Sebab kondisi ruangan yang tertutup, dan cuma didobrak oleh Jieji. Jadi ruangan ini sepenuhnya tertutup.

Jieji segera keluar mencari pelayan tadi yang masuk dengannya waktu kejadian. Terlihat pelayan tadi keluar untuk pergi ke kamar kecil setelah ditanyai oleh inspektur Lu Ming. Jie ji mengikutinya sampai dekat taman. "Hei, bisa saya bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Jieji. "Ya, tuan..." "Siapa tadi yang memesan sup ayam untuk Jenderal?" tanyanya lagi. Pelayan itu memberitahukan kepada Jieji. Dengan girang, Jieji bergegas kembali. Karena dia sudah tahu siapa yang membunuh Jenderal,juga telah mendapatkan bukti yang pasti. Saat itu terdengar suara aneh dari arah belakangnya dan langkah Jieji terhenti sesaat, ketika dia berpaling ke belakang. Pelayan yang tadi kelihatan telah tewas. Tulang lehernya telah patah. Dan dalam keadaan sekejap itu. Pedang penyerang sudah menusuk ke dada Jieji. Xufen yang menunggu Jieji demikian lama tidak kembali mulai merasa cemas. Dia telusuri kira kira dimana tempat yang akan dikunjungi Jieji. Setelah sampai di taman, dia merasa aneh. Yang paling aneh adalah dia melihat adanya tetesan darah di lantai yang terang karena disinari bintang yang banyak. Setelah mencoba menyentuhnya, Xufen sangat terkejut. Sebab darah ini masih terasa hangat, dan belum membeku. Dengan kebingungan Xufen berpikir. Jika terjadi sesuatu pada Jieji, Bagaimana caranya dia dipindahkan sampai tidak nampak dirinya disini, sementara tetesan darah ini cuma berakhir sampai posisinya sekarang? Dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sementara kediaman ini

pasti banyak polisi. Setelah berpikir sesaat, Xufen sadar. Pelaku pembunuhan Jenderal dan pelaku yang mungkin mencelakai Jieji adalah orang dalam yang tahu benar posisi rumah tersebut. Dia segera kembali ke ruang baca. Mengamati seluruh ruangan dengan jelas sekali lagi. Lalu mencari Inspektur Lu Ming, dikeluarkannya plat emas tanda status sebagai putri. Inspektur Lu Ming cukup terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau ada seorang putri disini. Dan putri ini adalah anak perempuan guru Kaisar sendiri. Xufen menyuruh semua petugas polisi dan Inspektur meninggalkan ruangan ini.Sesaat setelah ruangan kosong. Xufen loncat ke tiang atap. Dan memeriksa, ternyata disana ada gulungan lukisan. Dengan berbekal lilin dia membuka lukisan tersebut. Lukisan ini menggambarkan keadaan padang pasir. Disana terlihat 5 orang menunggang Onta. Sedang di bagian atas lukisan ini terdapat puisi singkat. "Angin keras menerpa Kehidupan bagaikan kuburan Air jernih susah dicari Tidak ada beda Dunia dan Akhirat" Puisi ini gampang di hapalnya. Lantas setelah itu, dia turun. Kembali ke ruangan sebelah, memeriksa kain tebal yang dua lapis tadi. Setelah sesaat, Xufen menyadarinya. Jieji kemungkinan dibunuh karena melihat ini. Tiba-tiba air matanya menetes. Namun dia berusaha menegarkan dirinya. Prinsipnya, sebelum melihat mayatnya. Dia harus tetap menganggapnya hidup.

Setelah itu, Xufen memanggil Inspektur Lu masuk ke ruangan. "Saya ingin anda menanyakan alibi tiap orang yang merupakan anggota keluarga Jenderal besar pada saat waktu kejadian. Bisakah anda membantuku?" "Tentu.."jawab Lu Ming. Setiap anggota keluarga yang tidak mempunyai alibi sekarang tinggal 5 orang. Yaitu putera satu-satunya Jenderal (Ma Yu), Tukang masak, Istri Jenderal, Kepala Pengurus keluarga, Dan Lie Gai, bawahan jenderal. Putera Jenderal mengatakan dia tidak keluar dari kamarnya sampai terdengar suara teriakan. Tukang masak mengatakan dirinya cukup capek karena telah memasak masakan yang lumayan banyak di hari ini, dia sendiri tertidur di kamarnya.Istri Jenderal juga sudah tidur karena hari ini tidak enak badan. Kepala pengurus mengatakan dia terus berada di kamarnya. Dan Lie Gai mengatakan dia tidak berada dalam rumah. "Ini bukanlah kasus bunuh diri semata, melainkan kasus sederhana yaitu pembunuhan." Kata Xufen. "Jadi siapa pelakunya nona?" tanya Yue fuyan yang sedari tadi menyaksikan interogasi tersebut. "Yang pasti diantara kelima orang tersebut, sekarang saya meminta anda melepas semua sepatu anda."kata Xufen kepada 5 orang yang tidak punya alibi tersebut. Sepatu telah terlepas, Xufen membisikkan sesuatu di telinga Lu Ming. Setelah itu, Lu Ming memberi perintah untuk menangkap putera jenderal. Kedua pengawal segera memegang kedua tangannya. Tetapi Putera jenderal yang bernama Ma Yu ini berontak.

"Kau sembarang tuduh...Apa buktinya kalau aku adalah pembunuh ayahku?" "Sekarang, dengarkanlah baik-baik. Ini berawal dari kisah 7 tahun lalu. Ayahmu pernah menyerang ke utara. Dia pernah mendapatkan sesuatu benda yang cukup berharga. Namun insan dunia persilatan menganggapnya itu adalah pedang ekor Api. Sebenarnya, itu cuma lukisan yang tidak bermanfaat." Baru berbicara. Petugas sudah menurunkan lukisan ini. Semua sangat tertarik melihatnya. Terutama Yue fuyan, dia menilik lukisan ini beberapa kali. Namun tidak menemukan hal yang janggal daripadanya. "Lalu apa hubungannya dengan ayahku? Dan kenapa harus aku? Para insan persilatan ini juga bisa melakukannya." "Kalau masalah ini, saya sendiri tidak tahu pasti. Tetapi saya tahu alasan kenapa ayahmu dibunuh." kata Xufen dengan pasti. "Lalu apa alasannya?" tanya Fuyan. "Semua insan dunia persilatan menerima gosip kalau Jenderal meninggalkan sedikit petunjuk tentang Ilmu pemusnah raga. Tentu para kaum pesilat ini tidak akan membunuhnya. Karena mungkin mereka bisa mendapat petunjuk darinya." Jawab Xufen. Kemudian Xufen melanjutkan kata-katanya,"Dengarkanlah baik-baik, Pertama-tama kamu sengaja meninggalkan pesan bahwa ayahmu akan dibunuh. Tujuannya supaya kamu bisa mengamati tingkah laku ayahmu yang sebenarnya. Jika dia tidak punya sesuatu yang bisa membahayakan dirinya, maka kamu pasti tidak akan membunuhnya khan?"

"Sembarang kau!!.. Ngomong tanpa bukti jelas.." Ujar Ma Yu dengan marah. "Setelah kamu mengamati tingkah ayahmu, kamu tahu. Dia mempunyai sebuah rahasia yang tidak ingin diketahui orang. Untuk merebutnya, kamu bukan tidak ada kemampuan. Namun jika merebut lukisan itu dari tangannya sebelum pembunuhan terjadi. Maka kamu adalah orang yang pantas dicurigai." Pesilat pesilat tadi yang melihat lukisan tersebut tidak merasa janggal akan adanya sesuatu di dalamnya. Sebagian besar sudah tidak tertarik melihatnya. Lagipula, puisi yang terdapat dalam lukisan itu sangat mudah dihapal. "Lalu bagaimana cara saya jika saya yang membunuhnya???" kata Ma Yu. "Ini mudah sekali, begini.. Setelah mengajak semua tamu makan malam, dan setelah menantikan hari Imlek. Ayahmu sebenarnya gelisah, dia takut kalau lukisan satu-satunya dicuri. Oleh karena itu dia segera kembali ke kamarnya. Namun ..." Kata Xufen dengan pelan. "Kau tidak tahu yah? kalau begitu aku tentu aman saja. Soalnya saya tidak ikut di belakang ayahku. Pemuda yang dari tadi disini juga bisa membuktikannya." "Loh? Kenapa kamu tahu kalau pemuda tadi bisa menjadi saksinya?" Tanya Xufen. "Kamu ini pembunuh tapi otakmu masih kurang jauh berpikirnya. Sekarang kamu sudah mengaku kalau kamu pembunuh ayahmu sendiri kan?" Tanya Xufen dengan penuh kepastian.

"Emangnya ada yang salah dengan kata-kataku? Pemuda itu kan..." Baru mengatakannya, Ma Yu terkejut. Tiba tiba suara seorang mengejutkan semuanya," Yah, itu dikarenakan kamu mengintipnya. Kamu mengintip dari jendela yang dipasangi Kain tebal itu. Kamu tahu kalau ada seorang pemuda yang datang mengikuti ayahmu dari belakang. Sebab, sedari awal. Kamu tetap di dalam kamar ini. Bukan begitu, Tuan Ma Yu?" Khalayak yang ramai berpindah mata ke arah orang ini. Orang yang muncul ini mempunyai ketinggian 6 kaki, memegang kipas di tangannya. Di belakangnya terdapat 10 orang yang berbaris rapi. Xufen cukup girang melihatnya, Dan ternyata orang yang muncul ini adalah Yang Ying Atau Zhao Kuangyin. "Betul, setelah ayahmu masuk. dia langsung menuju ke arah lukisan disimpan, yaitu tiang atap ruang baca ini." jelas Xufen. Kemudian terdengar suara lemah mengatakan. "Lalu dengan berpura-pura baru masuk, kamu berjalan ke arah ayahmu. Tentu setelah kamu meniup lilin itu terlebih dahulu. Dari belakang kamu mencekiknya sampai mati. Menarik tali sehingga ayahmu tergantung dan menyiapkan kursi dalam posisi jatuh di bawahnya. Sehingga kelihatan seperti bunuh diri. Sebelumnya tentu rencana ini tidak akan sempurna jika tanpa bantuan asisten, kamu sengaja memanggil pelayanmu menyiapkan sup ayam buat ayahmu, ini untuk membiarkan dia menemukan mayatnya. Lalu setelah gempar, kamu keluar dari kain tebal itu dengan muka tanpa dosa. Tetapi rencanamu tidak berjalan mulus, karena ada diriku yang mengikuti

Jenderal dari belakang. Selain itu, setelah melihat ayahmu yang terlentang di lantai, kamu bukannya memanggil dokter atau setidaknya kamu kebingungan melihat ayahmu. Tetapi kamu memanggil polisi, dengan begitu sudah jelas. Selain pembunuh, dia tidak akan tahu apakah korban sudah meninggal atau tidak." Betapa girangnya Xufen menyaksikan orang yang bersuara tersebut. Didekatinya pemuda ini, namun terlihat pemuda ini sedang memegang dadanya. Darah sudah tidak mengalir deras lagi. Namun pemuda ini masih kepayahan, dia tidak lain adalah JieJi. "Aku sudah melihat wajahmu. Ketika anda menusukku, anda kira saya telah tewas. Sehingga dengan gampang, membopongku untuk di masukkin ke lubang yang telah disiapkan. Namun saya sendiri sudah meninggalkan sesuatu di bagian atas punggungmu." Kata Jieji. Dan benar, di atas punggung Ma Yu terdapat sesuatu bercak darah. Meski dia telah berganti pakaian, namun karena kecerdikan Jieji. Jieji meninggalkan pesan darah itu di kerah baju dalamnya Ma Yu. Dan pada posisi belakang, tentu Ma Yu tidak pernah menyadarinya. Ma Yu diam tidak mampu berbicara. Lalu Yang Ying kembali mengatakan, "Kamu mengatakan tidak pernah keluar dari ruang tidur-mu. Sekarang bisa kamu jelaskan kenapa di tapak sepatumu ini ada rumput dari taman itu?" "Sekarang jelaskanlah kenapa kamu membunuh ayahmu?"tanya Xufen. "Ini mungkin disebabkan Bao kura-kura itu." kata Jieji. Ma Yu cukup terkejut. Karena dia tidak menyangka Jieji tahu hal ini sampai sedemikian rupa.

"Lukisan tersebut ?" Tanya Xufen. "Betul, di XiangYang. Tujuan mereka adalah menangkapku bersamamu. Supaya kita berdua bisa memecahkan arti lukisan itu. Namun setelah ditilik, lukisan ini cuma lukisan biasa saja. Tapi lukisan ini adalah karangan Tufu dari zaman Tang. Selain nilai sejarahnya, lukisan ini tidak ada manfaatnya." Terang Jieji. Setelah itu, Jieji memesankan sesuatu pada Yang Ying. Betapa gusarnya Ma Yu setelah dia tahu usahanya cuma sia-sia saja. Yang ying segera menotok jalan darah Ma Yu. Dan petugas polisi segera membopongnya keluar dari Kediaman Jenderal.

BAB X : Takdir...
Namun berjalan beberapa lama. Tiba tiba ada bayangan yang secepat kilat muncul. Sasarannya adalah Ma Yu yang di tengah tadi. Pesilat yang jago melihat dengan jelas, seorang bertopeng menyerang Ma Yu. Namun sebelum tapak itu mendarat di kening Ma. Sebuah tapak menahannya. Terdengar suara yang cukup keras. Penyerang itu berpindah dan bermaksud lari. Rupanya orang yang menahan tapak itu adalah Yang Ying. Para pesilat bermaksud mengejarnya. Namun ditahan oleh Jieji. "Tidak perlu, dia adalah Bao si Kura-kura itu." Jelas jieji. "Apa? Jadi dia adalah Bao Sanye? Tenaga dalamnya cukup tinggi. Dia bukan orang yang bisa dipandang enteng. Dik, cemana kamu tahu kalau dia adalah Bao Sanye?" Kata Yang Ying. "Bao kura-kura itu mudah ditebak kapan kepalanya bakal keluar dari cangkangnya.. Ha Ha....Uhukkk... " Jieji mengalami luka dalam, namun

karena dia berusaha ketawa malah luka lamanya kambuh. Khalayak ramai semua tertawa mendengar pernyataan Jieji. Namun sesaat kemudian terlihat Jieji jatuh pingsan. Paginya. Di salah satu penginapan di ChangAn. Jieji yang pingsan sudah kembali bangun. Lukanya telah diolesi obat. Dia berdiri merengganggkan tubuhnya. Dan membasuh mukanya. Setelah itu dia berjalan keluar. Pagi itu sekitar jam 9-an terdengar kota telah ramai. "Dik, kamu baru beristirahat sebentar. Kenapa bangun?" Yang Ying menyapanya. "Oh, Terima kasih kak. Tetapi saya sudah sembuh sepenuhnya kok. Tidak terasa sakit lagi." "Ha? Apa mungkin obat ini semujarab obat dewa?" Kata Yang keheranan. "Oh, mengenai ini. Kakak tidak usah keheranan. Setiap kali aku sakit, setiap kali juga cepat sembuhnya." Kata Jieji. "Iyah, seperti anak beruang saja. Baru diobati sudah mampu berjalan." Kata Xufen menyindirnya. "Heii... Masak aku dibilang anak beruang sih.." Kata Jieji. "Oyah, saya pengen pergi ke suatu tempat. Kalian tunggu aku disini saja yah.." kata Xufen. "Baik.." Keduanya mengiyakan. Setelah Xufen pergi jauh. Yang Ying menanyainya. "Bagaimana hubunganmu dengannya dik? Mungkin setelah pulang dari sini, kamu sudah boleh melamarnya ." "Ha? Nggak kok, mungkin kita tidak begitu cocok. Soalnya Nona itu lebih tua dari ku 5 tahun.

"Usia tidak menentukan segala hal. Jangan terlalu kolot. Selain itu, jika bukan dia yang berpasangan denganmu. Siapa lagi yang bisa?" Kata Yang. "Ini tergantung jodoh saja. Saya tidak berani berharap banyak." kata Jie ji kemudian. "Dik, saya sudah memerintahkan 1000 pasukan untuk menuju ChangAn. Saya ingin kamu ketika pulang dikawal oleh 1000 pasukan. Biar si Bao kura-kura itu tidak berani bertindak macam-macam terhadapmu." Jelas Yang lagi. "Terima kasih kak. Saya berhutang budi sungguh banyak kepadamu." "Ini wajar saja. Sesekali belajarlah kungfu. Setidaknya bisa mempertahankan dirimu dari ancaman-ancaman yang tidak diinginkan." Kata Yang. "Saya akan memikirkan lagi masalah ini lebih lanjut." Tidak berapa lama, Xufen telah kembali. Mereka bertiga kumpul makan dan minum di satu meja. Keesokan harinya, Yang minta pamit pulang ke Ibukota. Sedang 10 pengawalnya mengikutinya. Sementara 1000 pasukan Sung sudah siap menanti ke 4 orang ini di timur kota ChangAn. Di perjalanan Xufen dan Jieji berbicara banyak hal. Terutama mengenai masalah kungfu. Sebenarnya Xufen ingin sekali Jieji mempelajari beberapa jenis kungfu supaya setidaknya dia bisa menjaga diri, mengingat profesinya sebagai seorang detektif. Tentu profesi semacam ini akan mengundang bahaya bagi sendiri. Jie ji selalu mengatakan kepadanya akan mempertimbangkannya

demi wanita tersebut. Perjalanan terasa mulus dan tidak terjadi hal apapun lagi. Selang waktu 20 hari. Mereka telah kembali ke ChangSha. Sedang 1000 pasukan ini bergerak pulang kembali ke Ibukota. Begitu pulang di rumahnya. Jieji langsung menemui ayahnya. Namun sang Ayah tidak di rumah lagi. Ibu Jieji mengatakan, setelah mendapatkan surat yang tidak diketahui isinya. Ayahnya berangkat sendiri ke arah Barat. Jieji menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan dan ketika dia sampai di ChangAn, serta kasus terbunuhnya Da Jiangjin Ma Han. Ibunya merasa cemas, namun melihatnya pulang tanpa kurang suatu apapun. Ibunya merasa sangat senang. Ketika diberitahu bagaimana dia memecahkan kasus di kediaman Jenderal. Ibunya sangat senang dan kagum pada putera ke 5-nya ini. Jieji juga mengatakan niatnya untuk melamar puteri Xufen. Karena merasa dia cukup cocok untuk dirinya ini kepada Ibunya. Ibunya segera menyetujuinya, namun karena mereka berasal dari keluarga kerajaan. Tentu lamaran harus secara terbuka. Mereka hanya bisa menunggu kepulangan Xia Rujian untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Kembali Ke puncak Dai Shan(Gunung Tai). Dua orang ini tidak henti-hentinya mengamati bintang di langit. Bintang yang bercahaya ungu yang muncul tempo hari. Sekarang telah bergerang kembali ke selatan. Wanita itu kemudian berkata," Masalah satu sudah terbebas, masalah kali ini akan luar biasa beratnya. Takdir ternyata tidak semudah ini yah.." "Betul. Orang kokoh adalah orang yang mampu menahan badai yang seberapa

dahsyatnya. Kasihan, dalam beberapa bulan ini akan terjadi hal yang menggemparkan. Ketika bintang ini bergerak ke arah timur laut. Maka bahaya besar segera terjadi." Kata Pria tua itu. "Aku berniat menantikannya di Xuzhou." kata yang wanita. "Tidak, kamu tidak bisa pergi. Takdir susah dilawan." "Tapi... Dia itu termasuk murid kita kan? Setidaknya kita harus membantunya." Kata yang wanita kembali. Kali ini sambil berurai air mata. "Sejak kita mengajarinya kungfu itu, kita sudah tahu suatu saat kita bakal kehilangannya. Meskipun kamu pergi, takdir tidak akan berubah. Kamu juga tahu kan?" Sampai saat itu, keduanya pasrah. Dan terdengar hela napas yang panjang tidak terhenti. *********************************************************************** 10 Tahun kemudian. Sebuah sore di Kota Hefei, timur dari China. Di jalan tampak seorang pemuda dengan wajah yang penuh kepahitan, Kumisnya yang tidak dicukur, serta memelihara sedikit jenggot. Pakaian pemuda ini terlihat lusuh.Sendiri berjalan menelusuri jalan besar kota Hefei. Di pinggang pemuda ini tampak sebuah kendi arak yang cukup besar. Sebentar sebentar dia meneguk minuman keras ini. Kadang jalannya agak sempoyongan. Kadang dia membaca beberapa puisi zaman Tang. Setelah itu kadang dia tertawa sendiri. Rupanya pemuda ini sedang mabuk, dia meneguk minuman yang cukup banyak itu sendiri.

Setelah melewati simpang, Dia tidak mampu berdiri lagi. Dia tidur di jalan dengan sangat nyenyak. Sesaat setelah tidur, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara kuda. Dan dengan sangat marah. Seorang nona keluar dari kereta kudanya. Dan menegur pemuda ini,"Hei, pengemis. Minggir.. " "Siapa pengemis? Dimana dia?" Kata pemuda yang mabuk ini. "Pengawal!! lekas singkirkan orang ini." Teriak si nona. Pengawal secara kasar berusaha menyingkirkan pengemis ini. Namun sepertinya tidak ada orang yang mampu mengangkatnya. Karena penasaran, Nona ini memanggil ayahnya. Sebelum ayahnya sampai, pemuda ini telah berdiri kembali. Dan melihat papan nama di atas Wisma. Tertulis 3 buah huruf Wu Jia Zhuang / Wisma keluarga Wu. Tanpa sepatah kata, pemuda ini beranjak pergi. Sampai dia dikejutkan suara seorang nona yang merdu. "Ada apa Ayah?" Segera Pemuda ini berpaling dengan cepat. Di lihatnya nona tersebut yang berdiri di belakang orang paruh baya. Nona ini mirip sekali dengan seseorang. Seorang yang telah memanjakan hatinya selama ini. Tanpa disadari melalui bibir pemuda ini, dia mengatakan.. " Xufen.. Kamu masih hidup? Kenapa kamu tinggalkan aku yang merana ini di dunia.." Suaranya lumayan pelan. Namun orang tua ini mampu mendengarnya dengan cukup jelas. Begitu mendengarnya, orang tua ini berjalan beberapa tindak mendekatinya. Namun, Pemuda ini sepertinya telah mabuk arak. Dan akhirnya dia jatuh.

Setelah keesokan harinya, Pemuda ini bangun. Dia melihat dirinya telah tidur di sebuah kamar yang tidak begitu luas. Sambil memegang kepalanya dia berjalan ke depan. Namun, sesampainya dia di pintu. Dia melihat orang paruh baya yang memakai pakaian pelayan masuk ke dalam. "Tuan, anda sudah bangun? Lekaslah cuci muka. Tuan Besar ingin menemui anda." "Tuan besar? Apa yang terjadi denganku?" Tanya pemuda ini. "Anda minum terlalu banyak. Sehingga anda jatuh tidak sadarkan diri di kediaman Wu Jia Zhuang. Boleh tahu, tuan mengalami masalah apa sehingga menjadi begini." Lantas pemuda ini melayangkan pikirannya. Teringat 10 tahun yang lalu pada hari kemarin. Dia menyaksikan istrinya meninggal, demi menyelamatkan nyawanya. Tanpa terasa pemuda ini menitikkan air matanya. Namun dia dikejutkan suara orang tua ini,"Laki-laki pantang menangis, hidup ini milik Thien/Langit. Janganlah sesekali Tuan pasrah menghadapinya." Pemuda ini melihat sekilas ke mata orang paruh baya tersebut. Tetapi orang tua ini sungguh terkejut. Karena sinar matanya sangat tidak asing baginya. Meski sinar mata pemuda ini melambangkan kepahitan yang sangat. Namun bisa diingatnya dengan tidak asing tatapan itu. "Terima kasih pak tua. Tetapi untuk hari kemarin saja saya menjadi orang sinting. Setelah itu, saya akan menunggu tahun depan lagi." kata pemuda ini dengan senyuman pahit. "Baiklah, sekarang tuan mandilah. Setelah bersiap-siap beres, anda

boleh menemui Tuan besar." Selang sejam kemudian, Pemuda ini keluar. Dia berjalan ke ruang tamu pemilik Wisma ini. Pemilik Wisma ternyata sudah menunggunya sedari tadi. "Hormat saya kepada Tuan besar." Kata Pemuda ini. "Tidak perlu sungkan. Boleh saya tahu siapa nama anda?" Tanya Pemilik Wisma. "Hamba bermarga Zhang. Namaku Jieji." Kata pemuda ini. "Nama anda kebetulan mirip dengan putera seorang temanku." Kata pemilik wisma. "Nama yang sama di dunia sangat banyak sekali. Mungkin putera teman tuan besar adalah orang yang jauh beruntung daripadaku." Kata Jieji. "Tidak juga, 10 tahun yang lalu dia dikejar untuk dibunuh, demi kitab kungfu. Sekarang dia tidak tahu kemana rimbanya. Banyak orang mengatakan kalau dia sudah terbunuh oleh racun pemusnah raga." Kata Pemilik wisma. "Ini adalah urusan dunia persilatan. 10 Tahun yang lalu saya hidup sebagai pengemis di pinggiran kota Kaifeng. Untuk masalah ini saya sendiri tidak tahu menahu." Kata Jieji. Jieji bisa menebak apa yang ada dalam isi tuan rumah. Namun dia sanggup pura-pura tidak mengetahui maksudnya. Selain itu, dia juga tidak akan memberitahukan identitasnya lagi kepada siapapun. Kecuali orang yang pernah mengenalnya. 10 Tahun lalu para pesilat dunia persilatan menfitnahnya bahwa dia

memiliki Kitab ilmu pemusnah raga. Sehingga tidak ada satupun pesilat yang tidak mengincarnya. Pelarian 10 tahun lalu, membawa akibat yang sungguh fatal. Tetapi hal ini dilakukan Jieji untuk melindungi keluarganya, karena sampai saat itu, Ayahnya tidak kunjung pulang. "Jieji, boleh saya tahu. Siapa nona yang anda maksud tadi sewaktu kamu mabuk?" "Sungguh malu, sebenarnya saya sudah lupa apa yang telah saya ucapkan ini." "Xufen... Anda menggumam kata Xufen.." "Oh.. Itu adalah salah satu nama di karya puisi terkenal Hui Zhong pada zaman dinasti Tang. Saya cuma sembarang mengucapkannya." kata Jieji. "Oh.. Begitu yah.. " "Tuan besar, saya ingin bekerja disini. Apakah ada tempat yang masih kosong untuk kutempati?" tanya Jie ji. "Jika anda tertarik kerja di rumahku. Bagaimana kalau anda di tempatkan di posisi pelayan tamu?" "Baik. Saya menerimanya. Saya mohon pamit, Tuan besar." Keluarga Wu, adalah sebuah keluarga yang juga pernah membantu Kaisar Sung yang sekarang menyatukan seluruh China daratan. Karena Wu Quan / Pemilik Wisma Wu tidak tertarik akan kekuasaan. Dia menyepi di pinggiran timur China dan menetap di Kota Hefei. Sesaat itu, Jieji berjalan keluar dari ruangan. Dan di tengah taman, dia berjumpa dengan nona yang berteriak padanya untuk minggir. Nona ini terlihat galak. Dan matanya yang tajam sedang memandangnya. Jieji tidak ambil peduli. Setelah berjalan melewati taman, dia bergegas menuju ke

kamarnya.

BAB XI : Keanehan di Wisma Wu
Setelah sampai di kamarnya, Jieji meminta pisau kecil pada pelayan setengah baya tersebut. Pelayan ini segera mengambilnya. Jieji menanyai nama pelayan ini. "Hamba bernama Zhou Rui, berasal dari Changshan." "Pak tua, anda tidak boleh mengatakan hamba. Kata hamba itu cuma dipakai ketika kita berbicara dengan orang yang lebih mulia dari kita. Saya cuma seorang pengemis yang tidak berguna. Mana pantas anda memanggil begitu kepadaku." "Oh.. Iya.." kata pak Zhou seraya mengiyakannya. Terlihat Jieji mengambil pisau kecil itu untuk mencukur jenggotnya, serta kumisnya yang telah memanjang. Setelah selesai, orang tua ini melihatnya. Dan cukup terkejut dia melihat wajah dan penampilan pemuda tersebut. "Ada apa pak tua?" tanya JieJi. "Tidak apa, ketika di Changshan aku pernah menjumpai orang yang mirip denganmu. Tetapi saya sendiri kurang ingat lagi." "Pak tua, namaku Jieji. Lain kali panggillah nama saya saja jika ada keperluan." "Baik..." Orang tua ini berlanjut keluar. Setelah sebentar di kamarnya, Jieji juga beranjak keluar. Dia berjalan mengitari rumah yang tidak kalah luasnya dengan rumahnya sendiri. Namun samar-samar dia mendengar percakapan dua orang, suara yang terdengar

adalah suara wanita dan pria. Dia mengikuti arah suara tersebut, namun suara ini masih lumayan jauh. Dia berjalan beberapa ratus langkah. Akhirnya dia sampai ke taman. Disini tampak seorang pemuda tampan dan wanita. Pemuda ini menghadap ke arahnya. Sedang wanita, membelakanginya. Semenjak tewasnya Xufen, Jieji hidup cuma untuk 3 hal. Hal yang pertama adalah Mengungkapkan serta menghancurkan isi kitab dari Pemusnah raga, terutama racun pemusnah raga yang telah merenggut nyawa istri kesayangannya. Yang kedua Mencari orang tua asli dari Xufen. Yang Ketiga, menemukan jati dirinya yang asli. Jieji adalah putera yang dipungut oleh Xia Rujian ketika dia memimpin pasukan ke BeiHai. Saat itu secara kebetulan, Nyonya Xia keguguran puteranya yang seharusnya adalah putera ke 5 nya. Oleh karena itu, Jieji diangkat sebagai anak aslinya. Pemuda tadi memandang Jieji dengan rasa kurang senang dan menegurnya, "Bagaimana seorang budak berani mengintip disini?" Nona yang sedari tadi membelakangi ini, segera menghadap kepadanya. Alangkah terkejutnya Jieji ketika melihatnya. Wanita ini adalah wanita yang dilihatnya ketika dia mabuk kemarin. Wanita ini sungguh mirip dengan Xufen. Selain dandanannya, serta pembawaannya, semuanya mirip sekali. "Maafkan saya tuan muda. Saya tidak bermaksud begitu." Kata Jieji dengan merendah. "Pergi kau .. Disini tidak ada urusannya denganmu." Kata pemuda itu dengan kasar.

Setelah itu Jieji beranjak pergi dengan berpamitan. Sampai di sebuah simpang paviliun, dia bertemu dengan pak tua Zhou. "Anda dimarahi pemuda itu?" "Begitulah.." "Pemuda itu adalah sanak dari keluarga Zhao. Dia adalah anak dari sepupunya kaisar yang sekarang. Namun karena status semacam ini, dia suka sekali berbuat onar. Para pelayan paling tidak suka melihatnya." kata Pak Zhou. "Anak muda zaman sekarang sudah biasa begitu pak. Jangan dimasukkin ke hati." "Terima kasih." Kata pak tua zhou. Pak tua Zhou merasa sangat akrab dengan pemuda yang jauh lebih muda darinya ini. Seperti ada suatu ikatan batin antara mereka. "Boleh saya tahu, berapa umur anda yang sebenarnya?" tanya Pak tua zhou lagi. "Tahun ini saya genap berusia 30 tahun." "Tetapi dari wajah dan penampilan anda, sepertinya anda sudah umur 40 tahunan." "Betul. Manusia tidak terluput sama sekali dengan yang namanya Tua. Yang parahnya adalah manusia tua, tetapi tidak dewasa." 10 tahun ini, Jieji telah mendengar pesan pesan Xufen sebelum ajalnya. Dia rajin berlatih kungfunya. Setelah kematian Xufen. Jieji tinggal di kuburannya selama 1 tahun. Dia menguburkan istrinya yang tercinta itu di DongYang(Jepang). Wilayah

China sudah tidak ada tempat bagi mereka berdua. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk pindah ke DongYang. Namun keduanya memang sampai di DongYang. Tragisnya Xufen yang sampai disana cuma mayatnya saja. Malam telah tiba, Semua pelayan telah tidur. Namun Jieji masih terjaga. Saban-saban dia mendengar suara langkah kaki di atas genteng. Dengan cepat dia bergegas menuju pintu, dan membukanya perlahan. Terlihat orang berpakaian gelap di atas genteng. Sepertinya orang ini sedang mengamati ke dalam ruangan Tuan besar Wu. Di pinggang orang, tergantung pedang. Karena situasi mungkin termasuk gawat. Jieji sebenarnya ingin menghalanginya namun dia juga tidak ingin ketahuan. Dengan tiba-tiba dia mendapatkan ide bagus. Dia segera menuju ke jendela kamarnya. Membuka perlahan dan mematahkan rantingnya. Kembali dia menuju ke pintu kamarnya, dengan kekuatan tenaga dalam dia melemparkannya menembus ke pintu kamar Wu Quan, dan ranting itu terakhir menancap pas ke ranjang bagian atas Wu Quan. Tuan besar yang belum tidur ini terkejut. Dengan cepat dia keluar dari kamarnya. Sementara penyusup tadi langsung meninggalkan tempatnya untuk lari. Sekilas Wu Quan melihat orang berpakaian hitam yang lari. Dan sekembalinya ke kamar, dia melihat ranting yang menancap dalam di ranjang kayunya. Mau tidak mau dia juga merasa heran. Keesokan harinya, Wu memanggil putrinya yang paling jago silat. Nama putrinya adalah Wu Yun Ying. Nona ini juga yang kelihatannya mirip

dengan Xufen. "Ying, kamu lihat. Ranting ini menembus cukup dalam. Jika kamu, jarak berapa kaki kamu mampu melakukannya?" "Kalau saya berada di depan kamar, mungkin saya sanggup melakukannya." jawab si Nona. "Bagaimana kalau di tanah lapang depan?" "Tentu tidak bisa." Setelah ngobrol sebentar, Wu Quan meneliti lapangan depan. Lapangan depan ini mempunyai jarak sekitar 100 kaki. Seberang kamar tidurnya adalah kamar tempat tinggal pelayan. Disana terdapat banyak pohon-pohon. Dengan membawa ranting yang sudah dicabutnya. Wu Quan dan si nona mencocokkannya dengan pohon disana. Dan ternyata ada sebatang pohon yang memiliki ranting yang patahannya cocok. Setelah dilihat, dan diteliti. Mereka merasa tidak mungkin. Mana mungkin ada orang yang sanggup melempar ranting yang beratnya tidak seberapa itu sehingga menembus kamar tidurnya dan menancap kuat di ranjang kayu miliknya. Sampai saat ini, Wu Quan dan puterinya kembali ke kamar masing-masing. Jieji sedang melihat tingkah mereka di atap kamar Tn. besar. Setelah dirasanya aman. Dia turun menuju ke belakang. Kemudian berjalan santai ke kamarnya sendiri. "Nak Jieji, Semalam kamu melakukan hal yang besar." Tiba-tiba suara orang tua menyapanya. "Pak tua, apakah hal yang kulakukan itu tepat?"

"Tentu Nak, Penyusup itu sudah datang 2 hari yang lalu. Saya juga mengamatinya dari kamar ini." Kata pak tua Zhou. "Semenjak pertama kali bertemu, saya sudah tahu. Kungfu anda tidak dibawah Wu Quan. Kenapa anda bekerja sebagai kepala pelayan disini?" Tanya Jieji. "Dengan keluarga Wu, saya sangat berhutang budi. Meski Tn.besar tidak mengenalku. Tapi saya sangat mengenalnya. Dia pernah menyelamatkan hidupku. Juga menyelamatkan Nyawa anak majikanku. Meski hal ini tidak disadarinya." Kata pak tua Zhou mengenang. "Iya, saya rasa banyak hal misteri yang tersembunyi disini." "Anda datang juga untuk hal ini kan?" "Betul, saya tidak akan menyembunyikannya. Seumur hidupku ini, saya bersumpah. Atas kehilangan orang yang telah saya cintai. Saya harus mengungkapkan semuanya. Dengan begini meski kepala hancur. Saya sudah sangat puas." Kata Jieji dengan ketegasan yang tinggi. "Akan saya ceritakan,sekitar 10 tahun yang lalu. Istri Wu Quan juga hilang dari rumah ini. Kabarnya dia mempunyai buku itu, dan dengan berkuda sendiri. Dia menuju ke arah barat." rinci Pak Zhou. "Hm.. Ini sangat aneh. Yang hilang sebenarnya bukan cuma dia. Xia Rujian juga hilang sejak 10 tahun yang lalu. Dan kabarnya sampai sekarang dia tidak pulang." "Saya rasa anda tidak bermaksud jahat, makanya saya menceritakan semua hal ini kepada anda." Kata Pak Zhou. Pak Zhou semasa mudanya pernah menjadi pelayan sebuah keluarga di

Dongyang. Namun tidak sekalipun dia pernah menceritakannya kepada orang lain. Majikannya di Dongyang adalah orang yang sangat peduli terhadap sesama. Tidak sekalipun majikannya menganggap rendah orang, meski orang itu adalah pelayannya sekalipun. Dia mengajari semua pelayannya Kungfu, akhlak budi, dan pengetahuan yang didapatnya sendiri. Pak tua zhou tentu termasuk di antaranya. Sehingga sampai sekarang kungfunya juga tidak bisa dipandang enteng. Kembali ke kamar, Jieji duduk santai. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah lukisan pendek. Di lukisan ini menggambarkan seorang wanita nan cantik. Namun lukisan ini tampaknya agak lusuh. Bekas basah yang tersisa masih ada disana. Dipandangnya lukisan ini beberapa kali tanpa mengedipkan mata. Pikirannya saat itu telah menerawang entah kemana. Diingatnya kembali, saat terakhir dengan wanita itu. Keduanya terluka parah saat mereka sampai di kota Xiapi. Sesampainya di kota itu, mereka beristirahat. Wanita itu telah cepat pulih. Sehingga diajaknya dia segera menyingkir mencari perahu untuk berlayar ke timur. Sambil memapahnya, wanita ini melanjutkan perjalanan. Namun setelah sampai di sebuah lembah terakhir menuju laut. Muncul seorang jago silat yang bertopeng aneh. Wanita ini melayaninya beberapa jurus. Namun keadaan tampak seimbang. Sampai orang bertopeng ini melemparkan jarum senjata rahasia yang mengenai ke bahu pria tadi. Setelah itu, orang bertopeng segera lenyap dari pandangan. Wanita itu yang kaget segera mengoyak baju yang menutupi bahu pria ini. Dengan

segera dia menempelkan bibirnya ke arah bahu pria itu. Menghisapnya beberapa kali dan memuntahkan darah yang telah berwarna hitam kebiruan. Saat dalam kondisi menerawang, dia dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba telah berada di belakangnya. "Hei, pemuda tolol. Kenapa kamu memandang lukisan itu berkali-kali?" Sesaat Jieji melihat orang yang menegurnya. Lalu tanpa berkata banyak, dia menggulung kembali lukisannya dan memasukkan ke dalam bajunya. "Itu adalah potret adik ke tigaku. Bagaimana kamu ini berani menyimpannya, budak..." Teriak wanita ini geram. Ternyata orang yang meneriakinya adalah Puteri tertua keluarga Wu. Dan juga wanita inilah yang memandangnya dengan sorot tajam kemarin di taman. Jieji tidak menjawab, menghiraukan dia saja tidak. Lantas berdiri, dan berjalan ke luar seakan tidak melihat apa-apa. "Budak sombong, akan kulaporkan ke ayahku tingkah mu hari ini." Jieji kali ini berpaling pun tidak, berjalan dengan santai dia keluar kamar.

BAB XII : Si kamus Kungfu, Yan Jiao
Setelah keluar, Jie ji segera berjalan ke arah taman kembali. Kali ini Jieji ditegur seorang. "Jieji, apa yang kamu lakukan disini? Besok kita akan kedatangan tamu luar biasa dari dunia persilatan. Kamu harus menyiapkan diri baik-baik supaya tidak memalukan keluarga Wu." Yang menyapanya adalah Tn.besar Wu Quan.

"Baik, Tuan besar. Untuk kali ini, hamba tidak akan mengecewakan anda. Mohon untuk tidak mengkhawatirkannya terlalu banyak." "Baik. Sekarang kamu pergilah ke ruang masak. Disana kamu lihat dan pelajari masakannya. Jika ada tamu yang menanyaimu, kamu harus menjawab dengan pas apa hidangan kita besok." "Baik tuan besar.Terima kasih.." Kata Jieji seraya beranjak dari tempatnya. Jieji langsung menuju dapur. Disana selama beberapa jam dia menilik dan mempelajari semua daftar masakan yang akan dibuat besoknya. Setelah keluar dari ruang masak, dia menuju ke kamarnya sendiri. Pak tua telah menunggunya disana. "Nona besar sangat keterlaluan. Dia memberitahukan pada adik ke 3nya kalau anda menyimpan lukisannya." Jieji segera mengeluarkan lukisan pendeknya, dan memperlihatkannya pada pak tua Zhou. Setelah di teliti, wanita disini memang agak mirip dengan puteri ke 3 keluarga Wu. Selain penampilan dan gaya rambutnya. Semuanya mirip dengan puteri ke 3 keluarga Wu. "Ini bisa menjadi bahaya yang lumayan besar. Takutnya tuan besar akan menyita lukisan ini dari anda." kata Pak tua. "Lukisan ini bukanlah lukisan puterinya, ini adalah lukisan potret seorang temanku." "Apakah dia adalah kekasih anda?" tanya pak tua kembali. "Lebih dari itu, setiap sebulan sekali saya menulis surat untuknya.

Meski dia tidak pernah dapat menerimanya lagi." "Hayah...." Terlihat orang tua ini menghela nafas panjang. Maksud Jieji bisa ditebak mudah oleh pak tua Zhou. Kata Lebih dari itu maksudnya adalah istrinya, Sedang kalimat dia tidak pernah dapat menerimanya lagi berarti orang yang tertuju sudah tidak ada lagi di dunia. Oleh karena itu, laki-laki tua ini menghela napas yang panjang. Malam telah tiba, semua masakan kering telah mulai dibuat untuk menyambut pesilat yang datang keesokan harinya. Jieji juga dengan lugas dan cekatan menyiapkan masakan bersama para pelayan yang lainnya. Setelah semua terasa beres. Dia berjalan ke arah taman untuk menikmati bulan yang nan indah pada malam ini. Namun sesaat dia menikmati bulan, tiba-tiba dari arah belakang sebuah tapak melesat tepat di punggungnya. Tapak yang penuh tenaga ini langsung menyerangnya. Jieji yang terkena tapak, langsung terjerembab ke depan. Dari mulutnya mengalir darah segar. Penyerangnya kali ini adalah pria yang bersama gadis yang mirip dengan Xufen. Dengan marah dia berkata,"Budak tidak tahu diri, Kau pikir bahwa kau ini pantas untuk puteri ke 3 Wu. Berkacalah baik-baik sebelum kamu masuk disini. Phueiiii" Pemuda ini lantas meludah ke arah Jieji. Bukan saja Jieji tidak membalasnya. Setelah berdiri, dia berjalan agak kepayahan tidak menghiraukannya.

"Sudahlah kak Liang." terdengar suara wanita yang lembut di belakangnya. "Sudah?? Dia telah kurang ajar. Menggambar potret dirimu, setiap hari memandang potret itu. Sekarang saya akan mengambil potret itu. Dan kumusnahkan lukisan itu." Dengan gerakan cepat dia menotok peredaran darah Jieji. Dan merogoh ke balik bajunya. Namun anehnya. Potret ini tidak didapat di bajunya. Merasa aneh dia meminta pelayan lainnya untuk menggeledah kamar. Namun di kamar juga tidak didapati lukisan. YunYing yang kasihan melihat pria ini segera melepaskan totokannya. Sementara Liangxu telah pergi mencari potret itu di kamarnya. Dengan sopan Jieji berkata,"Terima kasih nona." "Apa benar lukisan itu adalah lukisan diriku?" tanya nona ini kembali. "Bukan, melainkan seorang yang mirip dengan mu." "Kalau begitu, tidak masalah. Oya, pemuda tadi yang kasar adalah kakak seperguruanku. Namanya Liangxu. Bermarga Yue. Sebagai adik seperguruannya, saya meminta maaf." Setelah berpikir sebentar, Jieji tahu. Orang itu adalah puteranya Yue Fuyan, Ketua dunia persilatan. Juga dia termasuk sanak dari keluarga Zhao (keluarga Zhao disini adalah keluarga kaisar, Zhao kuangying). Yue Fuyan adalah ketua Dunia persilatan. Ayah Fuyan dan Kakek Zhao Kuangyin, Zhao Ting adalah saudara angkat). Jadi Yue Fuyan termasuk paman dari Kaisar. Selain jago persilatan. Yue juga punya nama yang lumayan tinggi derajatnya dalam kerajaan. Dengan begitu, pantas saja

puteranya ini sangat kurang ajar. Liangxu yang keluar dari kamar pelayan segera marah. Dengan gusar dia ingin menghukum Jieji. Melihat totokannya telah lepas, Liangxu makin gusar. Dia berpikir, mana ada yang berani melepaskan totokan Jieji. Namun sebelum dia mencari masalah lebih jauh dengan Jieji. Yunying menegurnya. "Kakak telah melakukan kesalahan, potret wanita itu bukanlah saya. Melainkan orang lain. Cie-cie (maksudnya kakak perempuan yunying) telah salah paham akan kejadian ini. Dan totokannya kulepaskan sendiri." Kata Yunying seraya membela Jieji. Yunying termasuk wanita yang lumayan cerdas, walau dibanding dengan Xufen dia tidak apa-apanya. "Kalau begitu, pergi kau pelayan busuk. Jangan sesekali memandang Yunying lagi, atau kukorek biji matamu itu." Damprat Liangxu dengan gusar. Jieji yang sedari tadi berdiri segera memohon pamit untuk kembali ke kamarnya. "Kenapa anda tidak membalasnya?" tanya Pak tua Zhou yang juga tahu kejadiannya. "Membalasnya tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Lagipula, hal seperti ini tidak pernah kumasukkan ke dalam hati." kata Jieji dengan penuh pengertian. "Anda adalah orang yang berjiwa besar. Bahkan dihina seperti ini pun anda tidak marah. Sementara para pelayan lain marah luar biasa meski mereka tidak berani bertindak."

Sampai di saat itu, Jieji telah membasuh mukanya dan beranjak ke tempat tidur. Keesokan harinya. Sekitar tengah hari, para pesilat sudah berkumpul di dalam ruang tamu yang cukup luas ini. Wu Quan selain adalah pejabat yang telah mengundurkan diri. Dia juga termasuk seorang pesilat yang lumayan tangguh. Julukannya di dunia persilatan adalah " Dong Dao " atau "Golok timur". Golok keluarga Wu termasuk hebat di kalangan persilatan. Jurus goloknya bernama Ilmu golok belibis jatuh, kesemua jurus goloknya terkesan aneh dan terkadang malah terasa lembut. Semua putera-puterinya mempelajari beberapa jurus golok ini. Meski tidak semuanya mampu mempelajari lebih dari 3 jurus. Yunying adalah orang yang sanggup mempelajarinya sampai jurus ke 4. Sementara Wu Quan sendiri sudah berada dalam tahap ke 5 dari total 6 jurus golok. Wu Quan memiliki 3 orang putera dan 3 orang puteri. Puteranya yang sulung bernama Wu Lang, Yang kedua bernama Wu Tze, Yang ketiga bernama Wu DianYa. Ketiga puterinya dari sulung bernama Wu Linying, Wu Jiaying dan Wu YunYing. Suasana di Wisma ini segera ramai. Disana terlihat para pesilat kelas tinggi duduk dengan santai menikmati hidangan teh. Sementara para pesilat kelas bawah, berdiri di belakang mereka.

Jieji yang berdiri di depan menyambut tamu-tamunya. Ketika seorang tua berjenggot putih panjang datang. Dia terkesima melihat pemuda ini, dipandangnya wajah Jieji berkali-kali. Namun Jieji bereaksi menganggukkan kepalanya. Baru berjalan beberapa tindak, orang tua ini seperti melihat hantu. Dengan cepat dia berbalik menegur Jieji. Jieji yang sedari tahu mengapa orang ini begitu terkejut, segera menariknya. Setelah agak jauh ke taman. Dia berkata,"Tuan tidak usah takut, yang anda lihat bukanlah hantu atau semacamnya. Dia cuman mirip dengan orang yang anda temui 10 tahun yang lalu bersamaku." Setelah dijelaskan sedemikian rupa. Tamu tua ini baru lega. Dia berjalan kembali ke dalam ruangan. Tanpa membuat tamunya menunggu. Wu Quan segera keluar. Para pesilat yang menyaksikan tuan rumah ini, semuanya beranjak berdiri dari tempat duduk dan memberi hormat. Lantas Wu Quan mengatakan. "Tuan-tuan, anda datang dari jauh untuk mengunjungi orang tua ini. Sungguh sebuah kehormatan yang berlebihan." "Tidak perlu sungkan, Tuan besar Wu." Jawab seorang pemuda paruh baya yang tidak lain adalah Ketua dunia persilatan. Setelah mempersilahkan mereka semua duduk kembali. Wu Quan meminta para pelayannya segera menyiapkan hidangan. Namun sebelum hidangan di keluarkan. Terdengar suara gempar di luar. Seorang pemuda berlumuran darah mendatangi ke dalam,"Hati-hati kesemuanya. Baru berkata pemuda ini langsung jatuh terkulai."

Banyak pesilat ingin mendekati pemuda ini. Namun di cegah oleh seseorang yang berjangkut tipis. Orang ini mempunyai sepasang mata seperti elang. Pemuda yang telah terkulai ini memiliki ciri ciri, baik kedua mata, telinga, hidung,dan mulut mengeluarkan cairan aneh.Dahinya telah hitam kebiruan. Mulutnya mengeluarkan busa berwarna hijau, Telinganya mengeluarkan cairan bening, Hidungnya mengeluarkan darah berwarna merah jernih. Seluruh kukunya telah membiru. "Hentikan, tidak ada yang boleh mendekatinya." Semua orang berpaling ke arah suara itu. Ternyata dialah Si Kamus kungfu, Yan Jiao. Yan Jiao sebenarnya adalah seorang peneliti ilmu silat di bawah kolong langit. Dia membuat buku yang mengurut kungfu nomor 1 yang pernah dilihatnya secara langsung. Mengenai kondisi orang ini, dia sudah memastikan apa yang sedang terjadi. "Segera kalian cari sarung tangan, angkat kedua tangan dan kaki orang ini. Dan bakarlah mayatnya. Perintah ini harus segera dilakukan." Beberapa pesilat kelas bawah mengangsurkan mayat pemuda tadi. "Ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya tuan rumah. "Ini adalah racun terdahsyat di zaman ini." Kata Yan Jiao. Semua khalayak terkejut melihatnya. Sementara Jieji yang semenjak tadi berada di ruangan ini sudah tidak nampak.

BAB XIII : Pertarungan pertama setelah sekian lama

Sesaat setelah melihat kondisi pemuda itu, Jieji sudah tahu apa yang terjadi. Dengan segera dia mengejar ke depan. Tidak ada satupun yang melihat tingkah Jieji sebab semua orang disini sedang terpaku melihat kondisi pemuda yang tewas itu. Adalah kecuali seorang yang memandang tindakannya terus. Setelah berlari beberapa saat, Jieji meloncat ke atap. Disana masih terdapat jejak darah. Dengan segera dia menyusul. Begitu sampai di utara kota, dia menanyai penjaga pintu disana. Memang benar, ada seorang pria aneh yang memakai sorban hitam di atas kepalanya. Penjaga bermaksud menahannya, namun dengan sekali berkelebat. Entah dia hilang kemana. Dengan segera Jieji menyusulnya. Pemuda aneh bersorban hitam itu sedang berlari dengan ilmu ringan tubuhnya, dan sesekali dia meloncat di tengah rimba. Namun dengan tiba-tiba dan tanpa diketahuinya. Ada seorang pria disana yang sedang menunggu pas di depannya. "Kenapa? Sepertinya anda sedang takut dan merasa sedang dikejar?" "Minggir, atau kau tidak dapat menginjak tanah dengan benar lagi." Kata pemuda bersorban hitam di kepalanya. "Sorban hitam di kepalamu itu tujuannya adalah menutup wajah ketika melakukan aksimu. Namun, aksimu ketahuan olehku. Kamu juga tahu, yang sanggup mengejarmu mungkin cuma Yue Fuyan. Namun dia tidak akan mengambil urusan mudah dan tidak berhubungan dengannya. Karena itu mungkin kamu merasa akan aman-aman saja. Bukan begitu?" Tanya pemuda ini.

"Siapa kau?" Tanya pemuda bersorban hitam. "Kamu sudah melupakanku, tapi tidak denganku. Kamu kan Tuan Bao kura-kura itu?" Terkejut juga Bao melihatnya. Orang yang pernah terkena racun pemusnah raga itu masih hidup. Bao, terlihat terkesima seakan melihat setan. 10 tahun lalu, Bao memang mengejar Xufen dan Jieji dan sampai di sebuah lembah. Ketika berada di DongYang, Jieji pernah berpikir tentang masalah ini. Setelah beberapa tahun, dia makin sadar. Orang yang mau dibunuh seharusnya adalah dia. Sebaliknya, mungkin Xufen adalah orang yang ingin diculiknya 10 tahun yang lalu. Mengingat orang yang mempunyai hubungan dengan Ilmu pemusnah raga telah hilang satu-persatu. Di depan bukit, nampak seorang wanita berumur 50-an sedang menyaksikan dengan asyik percakapan dua orang ini. "Ha Ha.... Kamu ternyata tidak mati. Tapi ada yang perlu saya beritahukan. Orang yang mengejarmu itu memang aku. Namun orang yang melemparkan racun ke bahumu bukanlah diriku. Ini kuberitahu supaya kamu tidak mati penasaran." Kata Bao Sanye. Hal ini membuat Jieji lumayan terkejut. "Lalu siapa yang melemparkan jarum itu ke aku?" tanya Jieji. "Itu kamu pasti tahu, jika sudah berada di dunia lain sana. Selamat tinggal pemuda bodoh. Selamat bergabung dengan istrimu di surga sana." Kata Bao Sanye dengan angkuh. "Bodoh, 10 tahun yang lalu saja saya tidak menganggapmu sebagai seorang

pendekar. Apalagi sekarang. Kepandaianmu itu tidak berkembang sedikitpun. Pantas muridmu yang berasal dari keluarga Ma itu bisa bodoh seperti mu." Kata-kata Jieji sungguh membuat amarah Bao itu meluap. Jika bukan karena dia, maka Ma Yu , muridnya itu tidak perlu di bawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. "Kamu tahu, anda berada jauh di depanku saat terjadinya pembunuhan dengan racun Pemusnah raga itu. Lantas bagaimana anda terkejar olehku? Dasar bodoh!" Kata Jieji seraya senyum kecil. Tanpa basa-basi, Bao mengeluarkan pedang dari pinggangnya. Dengan cepat dia menusuk ke arah Jieji. Sasarannya kali ini adalah sedikit lebih kebawah daripada yang pernah dilakukan Ma Yu. Dia langsung mengincar titik jantung Jieji. Pedang sekitar 2 inchi telah sampai di depannya. Dengan sedikit gerakan kaki, Jieji menghindarinya. Pedang yang menusuk itu membentur wilayah kosong. Jurus pertama sanggup di hindarinya dengan mudah, namun ketika jurus ke dua datang. Betapa terkejutnya Jieji, Sebab jurus ini dikenalnya. Ini adalah jurus memenggal iblis, jurus kedua dari jurus pedang ayunan dewa milik keluarganya. Karena sudah terbiasa melatih jurus ini, jurus ini juga mudah dihindari Jieji. Berangsur jurus ke 3, Pedang yang menyabet segera diubah menjadi tusukan setelah berputar penuh. Pedang tusukan ini sekilas terlihat banyak titik lemah. Jieji tidak mengincar titik lemah lawan, Karena dia tahu pasti. Ini adalah jurus ke 4 dari Ayunan dewa. Begitu diserang,

pedang yang menusuk itu akan berbalik arah menyerang titik vitalnya. Ini juga dipelajari Jieji beberapa kali. Sehingga dia menunggu dengan diam saja. Setelah jurus itu sampai, kembali dia menghindarinya. "Kamu cuma menghindari setiap jurusku. Dengan begitu kamu pasti mati. Karena tidak berupaya melawan." Kata Bao Sanye seraya mengejek. Ini juga adalah taktiknya. Dia menginginkan Jieji mengeluarkan jurus untuk bergebrak dengannya. Jurus pedang ayunan dewa adalah jurus yang sangat aktif. Tidak terkondisi. Jurus ini sanggup mematahkan setiap jurus yang ada. Dan berbalik. Sementara, Jieji cuma diam dan hanya menghindar. Hal ini membuat Bao salah langkah. Namun karena kondisi emosinya masih lumayan tinggi, dengan segera dia menghujam kan pedangnya. Kali ini Jurus pedangnya aneh, ditambah sebuah tangannya dalam kondisi siap mengeluarkan tapak. Jieji sadar dengan posisi seperti itu. Tujuannya adalah jika Jieji menghindari serangan pedang, berikutnya tapaknya yang akan sampai. Dengan mengikuti gerakannya Jie berputar sedikit menghindari Ujung pedang. Bao segera mengeluarkan tapaknya untuk di hujamkan ke dada lawannya. Dengan gerakan mundur sedikit, Jieji mengeluarkan tapaknya. Kedua tapak segera beradu. Bao yang berada dalam posisi melayang segera terdorong mundur cukup jauh. Ketika mendarat, dia tidak sanggup mendarat dengan benar. Dia jatuh ke belakang. "Mustahil, itu adalah jurus tapak Mayapada tingkat ke 3. Kenapa dengan

mudah kamu bisa mengeliminasinya?" Tanpa menjawab,Jie ji kali ini mengeluarkan serangannya. Setelah berlari agak cepat ke arah Bao. Tangan kanannya mematahkan ranting bambu yang cukup panjang. Dengan segera Bao bangkit. Tusukan ranting itu ditahan dengan sabetan pedangnya. Bao mengira ranting itu akan patah menjadi dua, namun perkiraannya meleset sama sekali. Ranting yang sempat beradu sebentar langsung memutar perlahan. Pedang yang dipegang Bao tanpa sadar mengikuti arah ranting panjang Jieji. Dan mengarah ke lehernya. Sebelum sempat terkejut. Bao telah kehilangan kepalanya. "Inilah pertama kali saya melakukan pembunuhan. Namun segalanya belum berakhir. Ini cuma permulaan saja. Dengan merogoh kantung baju Bao. Jieji menemukan sebuah botol keramik. Dibukanya sebentar. Ternyata disana terdapat beberapa jarum panjang. Jarum yang sama yang pernah dilempar seseorang kepadanya 10 tahun lalu. Namun anehnya jarum ini tidak keras,melainkan lunak sekali. Setelah menutup botolnya, Jieji berteriak keras. "Jika anda mengenal orang ini, kuburkanlah dia!!!" Wanita tua yang sedari tadi memandang pertarungan itu cukup terkejut. Namun dia tidak keluar dari sana. Dengan beranjak meninggalkan tempat itu, Jieji berjalan ke arah tadi dia datang. Setelah beberapa ratus langkah. Dia menegur, " Kenapa harus bersembunyi? Keluar lah." Dari samping rumput yang cukup tinggi. Berdiri seorang wanita muda, yang tak lain adalah Wu YunYing. "Anda mengikuti dari belakang semenjak di Wisma Wu. Mana mungkin saya

tidak tahu?" "Tidak, bukan begitu. Saya cuma merasa heran kenapa saat kegemparan, kamu malah meninggalkan ruangan." "Mungkin kamu berpikir, saya terlibat dalam masalah ini, atau jangan-jangan engkau mengira akulah pelakunya ?" Tanya Jieji. "Tidak....Maksudku.. bukan begitu..." Jawab Yunying dengan terbata-bata. "Iya,tidak apa-apa, sekarang mari kita kembali,"kata Jieji. Setelah berjalan pelan selama 1 jam, mereka sampai kembali di Wisma Wu di Hefei. Liangxu adalah orang pertama yang melihat Yunying pulang. Lalu ketika dia melihat di belakang Yunying ada Jieji. Langsung dia gusar. Namun karena disini masih banyak pesilat, dia tidak berani menunjukkan aksinya. Dengan segera, Jieji mencari Orang yang yang tadi ditemuinya di depan pintu Wisma Wu, saat Jieji melayani tamu untuk masuk. "Tuan, lihat ini.. saya menemukan sesuatu." Kata Jieji. Dari balik bajunya Jieji mengeluarkan botol kendi kecil yang terbuat dari keramik ini. Orang tua ini segera menyiapkan sapu tangan. Setelah mengeluarkan isinya, sambil terkejut dia berkata. "Inilah.... akhirnyaaa...." katanya sambil girang. "Coba tuan cari apa jenis racun yang terkandung di dalamnya. Jika racun ini bisa di tawarkan, maka dunia tidak perlu takut lagi. Namun, setelah anda membuat penawarnya. Berjanjilah kepadaku, segeralah musnahkan semua jarum racun ini." kata Jieji kembali.

Orang tua inilah Tabib Dewa, Chen Shou. Dialah satu-satunya orang yang bersama Jieji 10 tahun lalu saat menyaksikan Xufen menutup mata.

BAB XIV : Perjalanan kembali setelah 10 tahun
Setelah memberikan jarum racun itu. Jieji bergegas menuju ruang tamu tadi. Dari sana nampak banyak petugas polisi yang menanyai kematian pemuda dari kalangan pesilat itu. Kamus kungfu Yan Jiao yang menjawab semua pertanyaan polisi. Mayat orang mati itu telah dibakar di luar kota bagian selatan kota Hefei. Jieji yang kembali kesana memandang sekelilingnya. Di tempat mayat tergeletak itu, seorang pemuda berusia sekitar 40 tahunan sedang jongkok mengamati. Dengan segera, Jieji menyapanya. Begitu pemuda itu menoleh, betapa terkejutnya dia melihat Jieji. Namun segera Jieji menariknya keluar untuk bicara. Beberapa pesilat heran, kenapa seorang pelayan bisa mengenal kepala polisi wilayah ini. Orang ini tak lain adalah Han Yin. Kepala kepolisian yang pernah bertugas di Changsha. Kepala polisi yang dulunya sangat mengandalkan Jieji dalam memecahkan kasus. Setelah sampai di depan, Jieji berkata kepadanya. "Ini adalah mutlak perbuatan orang JiangHu. Jadi tidak perlu diselidiki lebih lanjut lagi." "Tuan Jieji, apa kabarnya anda dalam sepuluh tahun terakhir ini? Saya sangat sedih ketika mendengar kabar bahwa anda telah tewas. Syukurlah, anda masih hidup dengan selamat." Kata Kepala Polisi itu. "Tidak ada yang baik dalam 10 tahun terakhir ini. Tetapi, dalam kasus

ini saya telah menyelesaikannya. Pembunuhnya adalah Bao Sanye. Di daerah utara, sekitar 10 li dari sini. Aku membunuhnya. Bisakah anda membantuku?" "Tentu, tidak pernah saya menolak anda kan?" Tanya polisi ini dengan gembira. "Kamu tunggulah sebentar". Seraya masuk ke dalam, dalam jangka waktu pendek. Jieji keluar kembali. Dia mengeluarkan surat dari tangannya. Surat yang baru ditulisnya untuk diangsurkan kepadanya. "Bawalah ini ke ibukota. Carilah Perdana menteri Yuan. Serahkan surat ini kepada orang yang bernama Yang ying." "Baik, tuan. Pesan anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya." kata kepala polisi Han Yin. "Oya, kenapa anda tidak pulang ke Changsha? Ibu anda sangat merindukanmu..." Tanya kepala polisi ini. Setelah pertanyaan ini, Pikiran Jieji segera melayang. Dipikirkan ibunya yang telah lanjut usia itu. Tanpa sadar air matanya meleleh. Dia menjawab. "Saya akan pulang. Tapi tidak sekarang. Jika ada yang menanyaiku. Mohon anggap kalau anda tidak pernah bertemu denganku. Tetapi jika anda ditanyai ibuku, bilang kepadanya kalau aku masih hidup, ini untuk menyenangkan hatinya. Dan tidak membuatnya cemas." Seraya mengeluarkan giok kecil dari bajunya. Jieji mengangsurkannya ke kepala polisi Han Yin. "Terima kasih sebesar-besarnya kepada anda." Jieji memberi hormat

kepadanya. Setelah itu, semua perwira polisi meninggalkan Wisma Wu. Jieji segera berjalan ke kamarnya. "Anda akan pergi? Bukan begitu?" tanya Pak tua Zhou kepadanya. "Betul, saya akan menuju ke Kaifeng terlebih dahulu. Ada hal yang mendesak luar biasa disana." "Lalu kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya pak tua itu kembali. "Entahlah," jawab Jieji sambil tersenyum. Setelah membungkus semua barang bawaannya. Dia menuju ke depan pintu depan wisma Wu. Dia berjalan dengan lumayan pelan ke arah tengah kota.Setelah itu terdengar Jieji bersuara,"Kenapa kamu ikuti aku lagi?" Di belakangnya nampak seorang perempuan muda, tak lain adalah YunYing. "Anda sudah mendapatkan sedikit petunjuk kan? Saya juga sedari 10 tahun lalu sangat heran. Kenapa ibuku meninggalkan wisma dan sampai sekarang tidak kunjung pulang." "Mengenai hal ini, saya akan berterus terang. Saya memasuki wisma Wu dengan tujuan untuk mengetahui apakah orang di Wisma Wu ini terlibat dengan ilmu pemusnah raga atau tidak. Sekarang saya telah mengerti, kalau yang terlibat seharusnya adalah ibumu. Jadi saya bermaksud meninggalkan wisma Wu." "Kalau begitu, bawalah serta diriku. Siang malam aku merindukan ibuku yang tidak kunjung pulang itu. Daripada diam di rumah, saya ingin ikut denganmu untuk mencari ibuku."

Jieji menatapnya sebentar. Teringat akan Xufen yang menunggunya di pintu Utara Kota Changsha lebih dari 10 tahun yang lalu,hatinya terasa sakit. Dan tanpa menghiraukan wanita muda ini. Jieji segera berpaling dan melanjutkan perjalanan. Sementara wanita ini mengikutinya dari belakang. Seminggu setelah terjadinya pembunuhan dengan racun di Wisma wu. Di Kaifeng, seorang pemuda yang berumur 40-an berjalan dengan langkah pelan. Di tangannya terpegang kipas, pemuda dengan tinggi 6 kaki ini terlihat berkharisma luar biasa. Sambil berjalan, dia berpikir sebentar. Begitulah hal yang dilakukannya berulang-ulang. Namun sampai di sebuah sudut kota Kaifeng, seorang yang berkuda segera melihatnya dan turun. Sambil berposisi berlutut. Pemuda ini memberi hormat. "Yang Mulia, ada surat penting dari kota Hefei." Pemuda yang memegang kipas tadi tak lain adalah Yang Ying / Zhao Kuangyin. Setelah membuka sampul surat itu dan membacanya. Wajah pemuda ini segera bersinar dan girang. Ini adalah surat dari Jieji. Isinya selain mengatakan kalau kabarnya baik-baik saja, Jieji juga memperingatkan adanya sesuatu hal yang cukup berbahaya yang pernah diselidikinya. Zhao diminta waspada. Dalam surat itu, juga mengatakan bahwa Jieji akan tiba dalam waktu 1 bulan ini. Yang ying segera menuju ke istananya. Dia memanggil pesilat pesilat yang pernah ikut dengannya ketika masih berada di ChangAn, pada kasus pembunuhan Jenderal besar Ma Han. "Coba kalian selidiki....." sambil berbisik Zhao kuangyin mengatakan sesuatu pada 10 pesilat itu.

Dengan segera, ke 10 orang ini meninggalkan ruangan utama Kaisar. Dan segera menyiapkan kuda untuk seterusnya dipacu ke selatan kota Kaifeng. Sementara dari Utara kota Hefei. Jieji langsung menuju JiangXia. Dia tidak menempuh jalan ke utara. Tidak menempuh jalan menuju Xiapi melainkan ke arah barat. Jieji kali ini diikuti seorang nona yang mirip istrinya. Perjalanan kali ini mirip dengan perjalanannya 10 tahun lalu. Tetapi, dalam perjalanan ini Jieji yakin tidak ada orang yang mengejarnya seperti perjalanan 10 tahun yang lalu. Setelah berjalan cukup lama, Yunying mengeluarkan suaranya. "Hei, kenapa kita tidak mencari kuda saja? Kenapa harus berjalan kaki?" Pertanyaan ini belum habis dikeluarkan. Yunying telah sadar. Jalanan di gunung sangat licin. dan Jalanan juga tidak besar seperti yang diperkirakan. Jieji tenang saja dan tidak segera menjawabnya. Setelah melewati tiga tanjakan. Mereka turun di sebuah lembah. Di Lembah itu, Jieji terus berjalan. Sementara Yunying sepertinya telah capai. Dia berjalan dengan pelan dan sesekali dia kepayahan. Jieji yang menoleh ke belakang, langsung tahu. Mereka telah berjalan lebih dari 4 jam. Jieji berkata, "Sekitar 3 Li dari sini. Ada sebuah rumah kecil. Disana bisa kita beristirahat. Tetapi mungkin anda sudah kepayahan. Kita istirahat saja disini sebentar. Jika terlalu lama, sore akan datang." Yunying yang merasa seakan diejek itu kesal. "Tidak perlu, kita jalan kaki saja. Orang toh 3 Li lagi kan?" "Betul.. Kalau begitu kita lanjutkan saja." Kata Jieji Yunying memang telah kepayahan. Meski dia tergolong pesilat, namun dia

sangat jarang keluar dari rumah. Dia tidak tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan para pesilat. Namun karena sifatnya, dia tidak mau mengakuinya di depan Jieji. Sambil berjalan pelan, Jieji menanyainya," Bagaimana caramu keluar dari rumahmu? Seharusnya kamu tidak menanyai orang tua mu terlebih dahulu kan?" "Iya, Saya cuma meninggalkan sepucuk surat. Dalam surat saya mengatakan akan mencari ibu. Hanya sesederhana ini kok." Jawab YunYing. "Kalau begitu, pasti gempar nantinya." kata Jieji pendek. Yunying tidak mengerti, tetapi tanpa peduli dia melanjutkan perjalanan bersama Jieji. Dan benar setelah 3 Li, nampak sebuah rumah yang sederhana. Rumah ini cukup untuk ditinggali paling banyak 5 tamu. Mempunyai 5 kamar yang selayaknya. Setelah membereskan semuanya, Jieji memesan makanan pada pak tua pemilik kedai. Kelihatan Yunying segera keluar menyantap makanannya dengan sangat lahap. Jieji cuma tertawa geli melihatnya. Setelah semua selesai. Yunying penasaran pada Jieji lantas menanyainya," Oya, tadi mengapa kamu bilang akan terjadi kegemparan?" Jieji memandangnya sekilas dan berkata," Kamu masih ingat kakak seperguruanmu? Jika dia tahu kamu tidak ada ditempat. Pasti memerintahkan banyak orang mencarimu. Ayahnya Yue fuyan adalah ketua dunia persilatan. Dia punya banyak mata-mata sepanjang jalan,jika dia

menemukanmu. Masalahnya akan jadi sulit." "Benar juga. Lalu bagaimana?" tanya Yunying. "Kalau begitu, pulang saja. Besok kuantarkan kamu balik ke Hefei. Bagaimana?" "Tidakkk.. Mana bisa aku pulang dengan cara begitu sih?" jawab Yunying dengan lantang. "Iya, betul juga. Hilang gengsi dong kalau kamu segera pulang seperti itu." Jieji tertawa geli juga. Nona ini meski romannya mirip dengan Xufen, tetapi tingkah lakunya sama sekali tidak. Nona ini sangat polos dan keras kepala. "Oiya, boleh tahu tahun ini nona berumur berapa?" tanya Jieji. "Tahun ini aku berumur 17 tahun." Jieji memandangnya lagi dan berkata,"Kamu baru berusia 17 tahun, tetapi berani sekali kamu mengikutiku yang tidak jelas seluk-beluknya, Apa kamu tidak takut kalau saya adalah seorang penyamun?" Kata-kata Jieji ini sengaja dilontarkan untuk membuat nona ini takut. Memang reaksinya terlihat jelas, sepertinya dia cicing juga mendengar kata Jieji ini. Setelah melihat jelas wajah Yunying. Jieji tertawa besar. "Tidak mungkin pak Zhou salah menilaimu." kata Yunying. "Oh? Jadi pak Zhou orang yang minta kamu ikut denganku?" HaHa.. pantas saja... Sekarang kamu boleh pergi tidur. Kamu sudah kecapekan kan? Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Terus terang saja." Yunying mengangguk. Dia berjalan menuju ke kamarnya. Sesaat setelah Yunying masuk ke kamar, Jieji keluar dari ruangan itu dan menuju ke

depan. Memesan 2 botol arak, sendirian dia duduk di meja depan. Baru beberapa teguk dia minum araknya. Terlihat dari jauh 4 pria masuk ke kedai dan memesan 4 kamar. Namun, pemilik penginapan mengatakan kalau dia cuma mempunyai 3 kamar kosong. Nampak 4 pria ini kurang senang. Dia menuju ke tempat Jieji minum dan berkata. "Hei, bisakah kamu memberikan ruangan kamarmu kepadaku?" Jieji memandangnya sekilas. Orang ini sangat pendek, tingginya mungkin 4 kaki lebih saja. "Boleh, silahkan saja." Kata Jieji pendek. Malam itu Jieji tidak masuk ke kamar. Melainkan dia duduk di depan Kedai, memesan 3 botol arak lagi. Dan duduk disana sambil menikmati rembulan. Setelah menghabiskan sebotol arak itu, dia berjalan ke depan. Di depan kedai ini terdapat air terjun kecil. Dia berjalan beberapa langkah ke depan. Setelah sampai, Jieji mengeluarkan sesuatu di balik bajunya. Ini adalah lukisannya Xufen. Sambil meneguk arak sisa itu Jieji memandangnya kembali dengan rasa kesepian yang dalam. Setelah menatapnya di bawah sinar rembulan dengan puas. Jieji tertidur, dia tertidur di salah sebuah batu besar di bawah pohon rindang dekat air terjun. Keesokan harinya, Teriakan seorang wanita membuat Jieji yang tidur di batu itu segera bangun. Dia lari kecil ke arah kedai itu. Setelah melihat keadaan, dia cukup terkejut juga. Dari deretan kamar 5 pintu itu. Salah satu yang terujung, dari bawah pintu keluar darah yang banyak.

BAB XV : Pedang Ekor Api
Dengan cepat Jieji langsung mendobrak pintu ke 5 ini, ternyata pintu tidak dikunci. Pemandangan di dalam jelas tidak sedap dipandang mata. Pemuda pendek itu telah tewas. Dia terduduk di ranjangnya. Sebuah lubang jelas terlihat di daerah jantungnya. Ke 3 orang lainnya yang merupakan teman yang sama-sama datang dengannya ini lumayan terkejut melihat salah satu temannya tewas dalam kondisi yang menakutkan. "Pak tua, segera panggil polisi. 2 Li sebelah barat dari sini. Ada istal kuda. Carilah orang yang bernama Wen Zhou. Berikan ini kepadanya". Kata Jieji yang segera memberikan sesuatu di balik bajunya. Ini adalah sebuah plat kecil. "Setelah itu paculah kuda ke kota San chou, carilah petugas polisi untuk datang kemari menyelidiki kematiannya." Tanpa menunggu,pak tua itu segera berangkat. 3 Orang teman dari korban berniat masuk. Namun dicegah Jieji. Ke 3 nya jelas kurang senang. Lantas mereka mengatakan akan pergi ke depan, ke air terjun itu untuk mandi. Namun Jieji juga mencegahnya. Ini membuat ke 3nya gusar. Salah satu temannya segera menyerang Jieji dengan tinju. Tetapi begitu tinju mengenai dada Jieji. Penyerang itu terpental. Ketiganya sadar, orang yang didepannya ini bukan orang sembarangan. Sehingga mereka cuma duduk saja dan tidak berani lagi meninggalkan tempatnya.

Dengan memberi pesan kepada Yunying. Jieji seraya masuk ke dalam kamar. Dilihatnya keadaan kamar. Darah di ranjang tidak banyak namun terlihat seakan mengalir ke pintu.Jendela terlihat terbuka dengan paksa. Jieji memeriksa keadaan jendela, disana sama sekali tidak terdapat jejak darah. Dia melihat keluar. Di sana cuma tanah lapang. Segera Jieji meloncat keluar. Diperiksanya sesuatu di tanah sambil jongkok. Setelah bangun, Dia beranjak ke samping, disana didapati sesuatu barang yang menarik. Namun baru berjalan beberapa tindak. Para polisi telah tiba, ini mengejutkan Jieji. Rupanya orang tua tadi memang telah sampai di istal kuda yang diceritakannya. Namun, baru dia memesan kuda. Dari jauh tampak segerombolan orang yang memakai pakaian kepolisian. Orang tua ini mengajak para polisi itu segera menuju ke lokasi kejadian. Jieji langsung masuk ke dalam. Dipesannya kuah panas dari nyonya tua itu. Ketiga orang itu masih duduk di satu meja. Sementara Yunying duduk di meja lain. Jieji masuk diikuti oleh petugas polisi. Setelah memesan kuah panas itu, Jieji segera menuju ke tempat 3 orang itu duduk. Dan dengan berpura-pura jatuh dia menumpahkan kuahnya ke kaki 3 orang ini. "Aduuh.. Maaf, maaf." Ketiganya gusar, mereka segera melepas sepatu mereka yang telah basah oleh sup. Begitu mereka membuka sepatunya. Jieji langsung dengan cepat mencuri ketiga sepatu ini. Dilihatnya tapak kaki sepatu masing-masing, setelah itu wajah tersenyumnya nampak.

Para petugas polisi itu terkejut juga melihat kematian tragis si pendek itu. Namun petugas senior itu keluar dari kamar dan berkata,"Pelakunya mungkin orang luar yang dendam terhadapnya. Lihatlah jendela itu, terbuka dengan paksa bukan?" "Bukan, ini bukan pembunuhan orang luar. Tetapi pembunuhan orang di dalam rumah ini." Sambung Jieji. "Siapa kamu?" "Saya juga sama seperti mereka, saya menyewa kamar ini kemarin." "Kalau begitu, kamu juga bisa dijadikan tersangka." "Jika anda datang sebelum aku masuk kesana, dan melihat keadaan kamar dengan seksama. Tentu orang yang pantas anda curigai itu saya." Kata Jieji. Setelah berbicara, Jieji menatap ke pemuda yang lumayan tinggi yang duduk bersama 2 orang lainnya. "Anda adalah pembunuhnya." Kata Jieji singkat. Pemuda dengan tinggi 6 kaki lebih ini sangat tidak puas. Sebelum dia beranjak dari tempatnya. Jieji mengeluarkan sepatunya yang telah di ambil tadi. "Lihatlah tapak dari Sepatumu ini, ada jejak darah bukan? Bisa kamu jelaskan. Bagaimana jejak darah ini ada?" Tanya Jieji. "Ini mungkin saya dapat dari wilayah Huiji." "Huiji? Kalian berdua. Saya tanyain kalian, Apa ketika kalian berada di Huiji. kalian melihat darah yang banyak sehingga tanpa sengaja kalian menginjaknya?" "Tidak ada,"keduanya jawab dengan pasti.

"Apa karena jejak darah itu saja kamu menuduhku?" Kata pemuda tadi yang sudah lumayan gusar. "Tentu saja tidak, Dengan jejak darah itu. Kita tidak mampu menuduhmu begitu." Kata Jieji. "Namun ada sebuah kesalahan besar dari dirimu. Sesuatu yang masih kamubawa sampai sekarang. Anehnya, setiap pembunuh merasa lebih aman membawa-bawa senjata pembunuhnya daripada membuangnya." Jieji meminta petugas polisi memeriksa bagian belakang rumah. Dan disana terdapat selimut yang lumayan besar yang bercipratkan darah. Merasa tidak ada angin, orang yang lumayan tinggi ini segera berlari. Karena semenjak tadi, setelah membunuhnya. Dia masih membawa pisau kecil dari balik bajunya. Dia berlari ke belakang dan menuju pintu belakang rumah kecil ini. Namun baru sampai ke daun pintu, dia terjerembab. Dia ditotok oleh Jieji yang jauh di belakangnya. Ini adalah jurus yang pernah dikeluarkan Xufen ketika terjadinya penyusup di Kota Xiangyang. Petugas segera meringkusnya. Mencari pisau itu dari dalam bajunya. Petugas senior segera menanyai Jieji. "Bagaimana kamu bisa tahu dia masih menyembunyikan pisau itu?" Seraya membawa selimut itu, Jieji membentangkannya. "Orang itu dibunuh dengan cara begini, setelah menyelimutinya. Pisau ditusuk pas ke jantung. Itu dilakukannya sekitar 1/2 jam sebelum kami belum menemukan mayatnya. Namun dia kembali datang. Kembali datang untuk mencabut pisaunya, pada saat dia rasa pas supaya orang mampu

menemukan darah yang keluar dari pintu. Cipratan darah yang belum membeku itu menembak ke selimut. Lalu seiring mencabutnya, dia keluar dari pintu. Tetapi tidak jendela. Berjalan melalui pintu belakang, dan membuang selimut ini. Juga berjalan ke arah jendela paling ujung ini. Dan merusaknya seakan pembunuh adalah orang luar. Setelah itu dia kembali ke kamar. Tinggal menunggu siapa yang menyadari adanya darah yang keluar dari pintu. "Lalu bagaimana bisa darah itu mengalir sedemikian rupa?"Tanya polisi itu lagi. "Ini bukan mengalir. Sebenarnya setelah menusuknya dia memindahkan korban ke lantai. Dan kembali mencabut pisaunya. Darah akan perlahan mengalir. Setelah dia tunggu beberapa saat, pelan-pelan mayatnya dipindahkan ke ranjang dan membuatnya dalam posisi duduk ini dilakukan supaya darah mengalir itu lebih wajar di banding orang ini dalam posisi tertidur. Sehingga seakan akan dia dibunuh di ranjang. Tanah dekat pintu tidak mengarah ke bawah. Jadi sangat sulit darah bisa mengalir seperti air. Dia menggunakan cara ini, karena dia tidak pernah menyangka. Darah orang ini begitu banyak. Jika darahnya keburu mengalir dan ada yang menyadarinya. Maka dia tidak akan sempat mencabut pisau yang menusuk ke jantung korban. Pisau itu miliknya, tentu dia pasti dicurigai." "Huh.. Darah yah... Memang, aku tidak menyangka darah orang ini begitu banyak. Sehingga mau tidak mau harus saya pindahkan ke ranjang. Dan gara-gara darahnya saya ditangkap." Kata pemuda tinggi yang terlentang di tanah ini.

"Tidak, sebenarnya juga ada sesuatu yang lebih menguatkan kalau kamu adalah pembunuhnya." "Apa itu? " Tanya petugas polisi. "Lihat lah kembali dengan seksama selimut itu." Petugas segera membalikkannya. Disana terlihat jelas, bekas darah yang dihapus di selimut itu. Bekas memanjang dan terukir dengan jelas oleh darah. "Jika pisau kecil itu dicocokkan, maka jelaslah." Kata Jieji. "Hebat, anda mirip dengan Xia Jieji, detektif terkenal itu." Kata polisi senior ini dengan girang. Jieji memberi hormat kecil sambil tersenyum, "Kepandaianku mana bisa dibandingkan dengannya." Dengan cepat petugas polisi ini membawa pergi tersangka pembunuh. Sesaat setelah memberesi bajunya. Jieji keluar dan memberikan sedikit uang kepada Pak Tua dan segera berangkat bersama YunYing. Jieji meminta Yunying untuk menduduki kuda yang dibawa pulang oleh Pak tua pemilik kedai. Kuda yang diambil dari Istal kuda Wen Zhou ini aneh, Warna bulunya merah kebiruan. Tinggi punggung kuda ini hampir 6 kaki. Otot kuda ini gagah lebih daripada biasanya. Yunying yang naik diatas kuda segera mengatakan. "Ini adalah kuda dalam legenda. Kuda Bintang biru, kabarnya kuda ini bisa berlari kencang dan menempuh ribuan li dalam sehari. Apa benar?" "Benar, inilah kuda Bintang biru. Tentu kuda ini bukan kuda dalam legenda itu. Mungkin kuda ini masih termasuk turunannya." Jawab Jieji.

Mereka berjalan pelan. Dan tidak berapa lama telah sampai di Istal kuda milik Wen Zhou. Jieji membeli kuda yang lain untuk dirinya sendiri. Siang itu mereka segera memacu kudanya ke Jiang Xia. Beberapa Li sebelum memasuki kota. Jieji menuju ke salah satu bukit. Turun dari kudanya dia berjalan perlahan. Yunying juga melakukan hal yang sama. "Ada apa?" tanyanya. "Saya akan mengambil sesuatu yang tertinggal disini. Tunggulah sebentar." "Baik." Yunying duduk bersandar di bawah pohon. Tidak berapa lama, Jieji sudah muncul. Di tangannya terpegang sebuah pedang aneh. Pedang yang memiliki genggaman warna perak. Sarung dari pedang ini juga lumayan aneh. Sepertinya dibalut oleh kertas, atau kain. Tidak jelas. Seraya mengangsurkan pedang ini kepada Yunying dia berkata. "Peganglah pedang ini. Jika kesulitan, kamu bisa menggunakannya." Yunying menerima pedang aneh ini. Panjangnya sekitar 2 kaki beberapa inchi saja. Pedang ini termasuk pendek. Lalu perlahan dibukanya sarung pedang ini. Namun sedikitpun sarung ini tidak mampu bergerak. Merasa dikerjain, Yunying kesal juga. "Tidak, membuka sarung pedang bukan begitu. Saya tidak sedang mengerjaimu. Coba tutup matamu, konsentrasilah. Setelah itu baru buka perlahan sarungnya." Yunying menuruti kata-kata Jieji. Dia menutup matanya,sebentar dia

langsung merasa pergerakan sarung itu melorot. Setelah terbuka semuanya, Yunying membuka matanya. Begitu terkejutnya dia melihat pedang ini. Pedang ini bersinar kemerahan. Terasa hawa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Inilah pedang Ekor Api yang termashyur di dunia persilatan. "Ini pasti pedang pusaka yah?" tanya Yunying. "Inilah pedang Ekor api, mungkin di dunia ini tidak ada orang yang mengenal pedang ini lagi. Namun pedang ini sangat tajam luar biasa. Kamu menguasai beberapa jurus keluarga Wu. Jika pedang ini dipakai. Kamu juga telah termasuk jago silat kelas atas." "Terima kasih... Tidak disangka kamu juga lumayan peduli kepadaku yah." Kata Yunying dengan girang. "Bukan begitu, kali ini bencana seperti apa yang akan muncul tidak kita ketahui. Memegang pedang ini mungkin akan berguna kelak. Tetapi berjanjilah, jika tidak terdesak. Jangan sekalipun mengeluarkan pedang ini dari sarungnya. Dengan begitu keadaan mungkin akan aman." Kata Jieji kemudian. "mmm.. " Yunying mengangguk. Perjalanan terus dilanjutkan.

BAB XVI : Pertemuan kembali
Dengan menaiki kuda, Jieji dan Yunying menuju ke Kota Perairan JiangXia, kota ini letaknya tidak jauh dari Sungai Changjiang. Selama perjalanan, Yunying banyak menanyai Jieji. Tentang asal usulnya, identitas, ataupun yang lainnya. Namun semua dijawabnya dengan seadanya

saja. Setelah itu, Yunying bermaksud menanyainya. Kenapa dia bisa memiliki pedang Ekor api itu? Bukankah pedang ini juga hanya ada dalam gosip? Mengenai masalah ini, Jieji sebenarnya enggan bercerita kepadanya. Disebabkan pedang ini bakal membawa bencana kepadanya jika ia tahu terlalu banyak. Tetapi karena Yunying memaksanya, akhirnya dia bercerita juga. Sekitar 9 tahun lalu. Saat dia berada di Dongyang. Setelah menjaga kuburan Xufen selama setahun. Jieji bergegas kembali ke China. Karena dipikir inilah saatnya untuk kembali. Jieji juga merasa kungfunya sudah termasuk mahir dan kelas atas. Orang yang mampu mencelakainya pun tidak banyak lagi. Setelah mempersiapkan segalanya, dia hendak berangkat. Namun, tiba-tiba daerah sana terjadi gempa kecil. Wajar saja, Jieji mengubur Xufen dekat dengan pegunungan Fuji di Dongyang. Kadang terjadi gempa-gempa setiap dia menjaga kuburannya. Namun gempa kali ini aneh. Setelah gempa mulai surut, terlihat cahaya hijau dari arah utara. karena penasaran,diikutinya cahaya ini sampai ke puncak gunung, cahaya tersebut masuk di sebuah kawah. Dengan pelan pelan dia turun ke bawah. Mengikuti dan menelusuri lorong yang agak panjang. Namun sinar itu masih sekilas nampak. Sampai pada ujungnya, terdapat pintu dari batu. Digesernya pintu ini, dari dalam dia menemukan sebuah ruangan yang luas. Sinar hijau itu masih nampak di sebelah kanan ruangan ini. Jieji mencoba melihat dari mana sesungguhnya sinar muncul, ternyata dari sebuah rak buku yang

cukup besar. Di rak buku ini, terdapat 2 kitab di kanan dan kirinya. Kitab yang sebelah kiri adalah Kitab kungfu Ilmu tendangan Mayapada. Sedang kitab yang sebelah kanan adalah Kitab Ilmu dewa Penyembuh tenaga dalam. Dicobanya untuk dilihat kedua kitab ini. Saat dia mengangkat buku Kitab Ilmu dewa penyembuh. Lalu muncul sinar yang terang. Bagian tengah dari ruangan itu muncul sebuah benda yang tertancap. Jieji yang melihatnya segera beranjak ke tempat benda tertancap itu. Di bawah benda tertancap tertulis,"Ekor Matahari berkobar, Menguasai dunia persilatan." Tentu Jieji cukup terkejut. Dicabutnya benda itu dari tempatnya berasal. Rupanya benda tertancap ini panjangnya kurang dari 4 kaki. Gagangnya berwarna perak. Dengan melihat sebentar, Jieji sudah tahu kalau ini adalah pedang Ekor Api, pedang yang terkenal di dunia persilatan, namun pedang ini hanya ada dalam gosip. Sebab tidak seorangpun yang pernah melihatnya. Setelah mengambil ke 3 benda pusaka ini, Jieji segera berlutut di tengah ruangan. Jieji menyatakan akan mengembalikan benda ini ke tempat semula, jika benda-benda tersebut telah tidak diperlukannya lagi. Setelah itu, Jieji tidak meninggalkan Dongyang dengan segera. Tetapi kembali ke gubuk kecil di kuburan Xufen. Disana dia mempelajari 2 jenis kungfu baru ini. Namun tidak sampai 2 bulan. Jieji sudah mampu menghapalnya. Walaupun belum semua ilmu ini mampu diterapkannya dengan baik. Jieji merasa urusannya sudah mendesak, dia kembali ke goa tadi.

Mengembalikan kedua kitab pusaka ke tempatnya, namun tidak Pedang pusaka itu, karena pedang ini menyangkut akan masalah Ilmu pemusnah raga. Dan dengan segera menuju ke China daratan. Yunying yang mendengar dengan asyik. Sesekali dia heran, sepertinya Jieji sedang mengarang cerita klasik untuk menghiburnya. Namun dia senyum-senyum saja. Perjalanan berjalan cukup mulus. Mereka telah sampai di JiangXia. "Ohya, ada suatu hal lagi yang pengen kutanyakan. Sebenarnya kita ini mau menuju kemana sih?" Tanya Yunying. "Kaifeng." Jawab Jieji. "Mengapa tidak mengambil jalan dari utara kota menuju Xiapi saja? Kan lebih dekat?" tanya Yunying. Jieji memandangnya sebentar. Lalu hendak berkata. Namun sudah dipotong Yunying. "Oh... Saya tahu. Kamu ingin mengambil pedang ini." "Betul." Yunying sangat senang, dia tidak menyangka pemuda dingin ini ternyata memiliki hati yang sangat hangat. Sedikit banyak mungkin Jieji memikirkan keselamatannya. Sehingga dia beranjak keluar dari kota barat menuju ke JiangXia, tetapi bukan dari utara menuju ke Xiapi. Setelah keesokan harinya mereka mulai berangkat. Dari Jiangxia mereka langsung menuju ke arah utara. "Kita harus cepat. Saya pernah berjanji dengan seseorang di ibukota. Dalam 1 bulan, saya harus sampai kesana. Sekarang tinggal 18 hari lagi."

"Mmm.. " Angguk Yunying. Perjalanan memakan waktu hanya sekitar 12 hari. Mereka telah sampai di ibukota China, Kaifeng. Ibukota Negeri Sung ini sangat Luas. Banyak orang lalu-lalang. Aktivitas di kota ini luar biasa padat. Dengan segera, Jieji mengajak Yunying ke kediaman Perdana menteri. Sesampainya di depan pintu, Jieji memberitahukan kalau dia ingin bertemu dengan Perdana menteri Yuan. Penjaga di depan pintu segera menyampaikan pesannya. Tidak berapa lama, Perdana menteri ini telah keluar menyambutnya. "Siapa anda tuan? Apa kepentingan anda disini?" Tanya Yuan. "Hamba Jieji, datang dari Hefei." "Oh.. Anda datang mencari saudara anda, Yang Ying?" tanya Yuan. Dengan cepat Yuan mempersilahkan kedua tamu ini masuk. Menyediakan 2 buah kamar yang cukup besar kepada dua tamunya. Yunying yang telah sampai segera berberes. Mandi dan mengganti bajunya. Sementara Jieji sedang menunggu di kamarnya sendiri. Tidak berapa lama,seseorang mengetuk pintunya. Jieji membuka pintunya, rupanya dia adalah Perdana menteri sendiri. "Tuan Yang sudah menunggumu di ruang tamu." Jieji bergegas memanggil Yunying. Yunying keluar dari kamar, harum semerbak wangi tercium dari dirinya. Ini dikarenakan Yunying baru mandi. "Tuan Jieji dan nona Xufen, sudah lama saya mendengar nama besar anda berdua. Hamba datang memberi hormat." Tiba-tiba suara orang yang muncul

dari belakang Perdana menteri. Pemuda yang menyapa mereka berdua ini, adalah puteranya Yuan. Umurnya sekitar 20 tahun. Beroman cakap dan sopan. "Hamba mana ada sesuatu yang pantas dibanggakan. Dan nona ini bukanlah Nona Xufen. Dia bernama Yunying." Jelas Jieji. "Ha? Tidak mungkin, tuan Yang yang disana mengatakan nama nona ini adalah Xufen khan? Ketika saya menceritakan kalau anda datang dengan seorang wanita nan elok." Kata Perdana Menteri. Jieji tidak segera menjawabnya. Namun, mengalihkan pembicaraan. "Ayok, kita segera bertemu dengannya. Tidak mungkin anda ingin Tuan Yang menunggu terlalu lama kan?" Kata Jieji. "Iya." Mereka berempat segera menuju ke ruang tamu. Begitu sampai di daun pintu. Terdengar suara seorang pria. "Adikku... Sudah lama saya tidak berjumpa denganmu. Semenjak kejadian 10 tahun lalu, setiap hari saya memikirkanmu. Mendengar gosip yang menyatakan kau sudah tewas membuatku hidup selama 10 tahun ini tidak tenang lagi." Kata Yang Ying yang berurai air mata. Dipeluknya adiknya ini. Sekilas nampak wajah adik ke 2 nya. Terlihat makin tua, makin dewasa. Sinar matanya telah berbeda dengan sinar matanya yang terdahulu. Sinar matanya mengandung kepahitan yang dalam. "Kakak. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Bukannya aku memberitahukan diriku telah selamat kepadamu dulu. Melainkan malah

tidak ada kabar, untuk masalah ini saya memohon maaf." Kata Jieji seraya berlutut. Namun dengan segera Yang ying membantunya berdiri. "Adikku. Kamu tampak tua. Apa hal yang berlaku setelah 10 tahun yang lalu?" Mendengar percakapan dua orang ini, Yunying yang sedari tadi berada di belakang merasa geli juga. Dilihatnya kedua orang lelaki ini berpelukan sambil menangis. Suara tertawa kecil segera didengar Yang ying. Namun begitu terkejutnya dia melihat nona ini. Yang mengiranya adalah Xufen. Segera dia menegurnya. "Nona , lama tidak jumpa. Anda justru berbeda dengan adikku ini. Anda malah kelihatan jauh lebih muda dari saudaraku. Mengapa bisa begitu?" tanya Yang Ying. "Ha? Memangnya kita pernah bertemu?" tanya Yunying agak keheranan. Dengan segera Jieji memotong pembicaraannya,"kak, nona ini bukanlah Xufen." "Mustahil, ini mustahil. Lalu dimana Xufen berada sekarang?"tanya Yang ying. Jieji meminta semua orang disini mengundurkan diri. Di dalam ruangan kecuali Yang Ying, Jieji yang tinggal cuma Yunying. Dia mengatakan bahwa Xufen telah tewas. Dia menceritakan bagaimana dia terkena racun pemusnah raga. Dan Xufen dengan nekad menghisap darahnya semua. Sehingga terakhir, Jieji selamat. Sedang Xufen harus membayar

dengan nyawanya. Begitu mendengar kejadiannya, Yang Ying meneteskan air mata. Begitu pula Yunying yang disana. Mereka terharu akan pengorbanan wanita itu. Sementara Jieji kembali terkenang masa susahnya. Sampai disitu, Jieji mengenalkan Yunying pada Yang Ying, dan berkata bahwa dia adalah puteri ketiga dari Wu Quan. "Wah, pantas saja. Beberapa hari yang lalu. Saya menerima surat dari Yue fuyan. Yang menyatakan puteri Wu Quan hilang, ternyata kamu diculik adik angkatku ini." kata Yang Ying seraya bercanda untuk menghangatkan kembali suasana yang dingin tadi. "Diculik? Memangnya dalam surat guruku mengatakan kalau aku ini diculik?" Tanya Yunying. "Tidak juga sih, saya cuma bercanda. Oya, dik. Bisa saya tahu mengapa kamu mencurigai Jenderal besar He Shen?" "Iya kak, sekitar setengah tahun lalu saya berada di Wuwei. Menyelidiki Ilmu pemusnah raga. Namun tanpa sengaja saya mendengar gosip, Setelah kuselidiki. bisa kupastikan kebenarannya." Kata Jieji. Jenderal besar He Shen adalah panglima yang bertugas menjaga perbatasan barat laut China. Dia dikabarkan Jieji akan berontak. Jenderal He shen terkenal jago dalam ilmu perang. 5 Tahun lalu dia pernah ditugaskan menghadapi pasukan Liao di timur laut China. Keberhasilannya membuat Zhao mengangkatnya menjadi raja muda yang memimpin pasukan menjaga perbatasan di sebelah barat laut. Jabatannya adalah panglima besar penumpas daerah barat.

"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Zhao. zhao merasa bimbang juga. Jika dia yang berontak, maka sangat sulit untuk dipadamkan. Mengingat letak daerah yang sangat jauh, maka sangat beresiko. Selama belum ada tanda pasti dia berontak. Dia tidak dapat berbuat apa-apa. Jikapun Kaisar mengutus seorang untuk mencabut jabatannya, takutnya malah akan membawa masalah yang lebih besar. "Tidak usah takut, kak. Anda bisa berpura-pura menaikkan pangkatnya terlebih dahulu. Ini untuk mencegah dia segera berontak. Sementara pasukan dari Wilayah Chengdu, Hanzhong, Changan bisa dikumpul dahulu. Utus salah seorang Jenderal tidak ternama, dan jago dalam berperang dari sini untuk memegang jabatan disana." Kata Jieji. Yang ying cukup kagum mendengar penjelasan Jieji. Tetapi untuk mengutus Jenderal seperti yang dikatakan Jieji sangat sulit. Karena tidak ada orang yang benar bisa dipercayai yang sanggup mengatasi He Shen.

BAB XVII : Meneliti Lukisan 7 Bidadari
"Ini memang masalah yang tidak gampang. Dengan mengatasnamakan Chai Zongxun (Putera Chai Rong, yang merupakan Raja dari salah satu diantara 5 Dinasti terdahulu. Dinasti Zhou), He Shen berontak." Kata Jieji. Setelah berpikir Yang ying berkata,"Memang salahku, seharusnya dia kukirim ke kota raja saja biar gampang diawasi, atau lebih baik dulu saya tidak merebut tampuk kekuasaannya dan mendukung putera satu-satunya Chai Rong." Sebenarnya Zhao kuangyin adalah salah satu Jenderal pasukan Dinasti Zhou. Seiring kematian Chai Rong, Dia dianjurkan mengkudeta Dinasti Zhou, banyak Jenderal dan para menteri yang berpihak padanya. Ini disebabkan Chai Rong bukanlah orang yang pandai memakai orang. Kelemahan utamanya adalah Emosinya yang labil. Sering anak buahnya yang di jatuhi hukuman mati, meski hanya karena hal kecil. Para Jenderal

dan Menteri tidak begitu suka padanya. Namun karena dia adalah kaisar Zhou, maka semua harus tunduk padanya. Setelah wafat, Chai rong digantikan puteranya yang baru berumur 6 tahun. Para menteri dan jenderal segera meminta Zhao Kuangyin melakukan kudeta. Zhao adalah Jenderal yang sangat sukses. Sejak kecil dia menguasai ilmu silat, dan ilmu perang. Kemampuannya memimpin pasukan membuatnya terpilih dan terfavorit diantara para jenderal maupun menterinya. Sifat Zhao juga sangat terbuka, tidak pernah dia menolak kritikan dari para bawahannya. Setiap kritikan dan saran yang sampai, semua dipelajarinya dengan benar. Zhao kelahiran kota Hebei. Di kota ini dia pernah menjadi seorang pengemis, sampai terakhir dia bertemu dengan gurunya. Seorang Daoist yang memiliki kungfu yang hebat. Selama 2 tahun lebih dia belajar ilmu silat dari guru Dao ini. Setelah benar-benar mahir, dia dilepas gurunya. Gurunya berpesan kepadanya untuk segera menuju ke utara. Tempat terjadinya peperangan. Dengan segera dia berangkat, dan meminta pekerjaan pada Guo Wei atau Kaisar pertama Zhou. Guo Wei wafat digantikan putera angkatnya, Chai Rong. "Tidak kak, jika anda tidak merebut kekuasaan Zhou. Mungkin sampai sekarang perang saudara masih berlanjut. Dalam perang ini, rakyat sangat kesusahan. Selama 53 tahun perang berlangsung terus-menerus. Banyak anak menjadi yatim piatu, orang tua bersedih hati menantikan puteranya pulang dari medan perang." Kata Jieji. Yunying yang sedari tadi mendengarkan cukup terkejut juga. Dia baru sadar orang yang bermarga Yang ini ternyata adalah Kaisar Sung, Zhao kuangyin. Namun reaksinya tidak diperhatikan oleh Jieji dan Yang Ying yang asyik berpikir tentang masalah pemberontakan barat laut China ini. Sebenarnya masalah pemberontakan semacam ini bukan hal yang perlu dikhawatirkan jika pemberontakan dilakukan di dekat atau di tengah China. Namun pemberontakan ini berada di propinsi Xi Liang. Propinsi sebelah barat laut yang terujung. Setelah menyatukan China, Zhao memutuskan untuk memberhentikan banyak prajurit, tujuannya kepada prajurit adalah supaya mereka dapat menikmati hasil perjuangannya. Supaya mereka dapat pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga mereka kembali. Seiring kekacauan pertempuran yang hebat, banyak anggota keluarga prajurit yang hilang, atau mati terbunuh. Oleh karena itu, pasukannya yang sekarang kebanyakan adalah orang yang sudah tidak punya rumah dan keluarga.

Diantara para prajuritnya, sekitar 70 persen sudah pulang ke rumah keluarganya. Dan 30 persen yang lain di tempatkan masing-masing di kotaraja, sisanya di tempatkan di kediaman Raja muda,Jenderal besar serta Menteri yang berkedudukan di tempat lain. Jikapun ada diantara mereka yang memberontak, pasti jumlah pasukan mereka tidak banyak. Dan jika mereka mengumpulkan pasukan, pasti akan ketahuan. Maka daripada itu, Zhao merasa akan aman dengan tindakan seperti ini. Tetapi adapun kelemahannya adalah Jenderal besar wilayah perbatasan. Jenderal besar wilayah perbatasan jika mengumpulkan pasukan dari wilayah lain di luar China, ataupun yang bersekutu sangat membahayakan kelangsungan Dinasti. He Shen adalah seorang Jenderal kelahiran Propinsi Xiliang. Propinsi ini berbatasan dengan barat laut China. Pasukan nomaden yang menamakan dirinya Pasukan Qiang sangat berbahaya. Selain pasukan ini ganas, mereka juga menciptakan banyak alat perang yang hebat. Oleh karena kesemua hal ini, Zhao juga merasa khawatir. "Hanya 1 orang yang pantas menurutku untuk dikirim kesana. Mengenai hal ini, mungkin sangat susah baginya." Kata Yang selanjutnya. "Maksudnya?" tanya Jieji. "Menurut mu siapa lagi?" Tanya Yang dengan wajah senyum penuh arti. Segera Jieji memberi hormat. "Saya bukanlah seorang Jenderal, mengenai ilmu perang, saya juga tidak begitu tahu. Saya membaca semua ilmu perang cuma dari buku. Tentu ini tidak bisa dijadikan patokan untuk melawan He Shen, seorang Jenderal besar yang tenar." "Adikku, tidak perlu terlalu rendah hati. Anda ini seorang detektif yang punya pemikiran cemerlang. Saya rasa kamu pasti sanggup mengatasinya." Balas sang kakak. "Tidak bisa.. " Kata Jieji. "Adikku, tidak usah menolak terlalu jauh lagi. Saya akan memilihmu menjadi Jenderal besar untuk menjaga Wilayah dari kota Changan ke arah barat." Kata Yang kemudian. "Tentu, saya akan mengirim utusan ke WuWei untuk menyenangkan hati He Shen terlebih dahulu. Lantas kamu bawa pasukan sekitar 5000 orang dari sini untuk segera ke Changan. Mengenai pasukan disana, akan saya kumpulkan terlebih dahulu." Kata Yang.

"Kalau kakak terlalu memaksaku, Adik mau tidak mau harus menerimanya lagi. Tetapi dari ibukota, saya tidak perlu membawa pasukan yang begitu banyak. Cukup 500 orang saja." kata Jieji. "Oh, betul juga. Jika terlalu banyak pasukan yang kamu bawa, malah akan terjadi kekacuan dan mungkin He Shen itu segera berontak, begitu maksudnya dik?" "Betul, saya rasa tidak perlu banyak membawa pasukan dari sini. Saya punya akal yang lumayan bagus." Kata Jieji menimpali. "Baiklah, jika begitu. Kamu hadirlah ke persidangan besok." Kata Yang. Setelah perbincangan ini, Yang meminta pamit pada adiknya. Namun sebelum mencapai pintu, Yang segera berbalik dan menanyai Jieji. "Dik, apa yang membunuh Bao Sanye itu kamu?" "Betul kak." kata Jieji. "Berarti kemajuan kungfumu sangat luar biasa, dalam 10 tahun ini kamu sudah melampaui kungfu Bao Sanye." Kata Yang lagi. "Tidak juga, saya cuma mujur kak." Kata Jieji sambil tersenyum. "Oya, ada hal yang mau saya sampaikan kepadamu. Beberapa tahun yang lalu, sering saya melihat seorang berpakaian hitam yang menuju ke ruang penyimpanan harta istana, namun dia cuma mengawasi dari atas atap, kakakmu ini juga ingin mengejarnya, namun anehnya dia cuma berada di atas atap. Entah, apa maksud kedatangannya." Kata Yang kembali. "Itu pasti Bao Sanye. Kenapa harus ke ruang penyimpanan harta istana?" Jieji berkata. "Inilah anehnya, ketika saya mengetahuinya. Lantas kuutus orang lebih banyak menjaga disana. Tetapi hal yang sama juga dilakukannya. Dia tidak beranjak dari atap." Kata Yang kembali. "Kak, boleh saya masuk melihatnya?" Tanya Jieji kembali. "Tentu, ayok kita berangkat sekarang." Kata Yang. "Aku juga pengen ikut." Wanita ini yang sedari tadi diam lantas bersuara juga. Jieji melihat ke arah Yang, Yang cuma mengangguk.

Tidak sampai setengah jam mereka telah sampai ke istana dan segera menuju ke ruangan penyimpanan harta. Ketiga orang ini masuk ke dalam. Ruangan ini lumayan luas. Jieji memandang sekitarnya, ruangan ini memiliki 3 kamar utama. Di kamar yang pertama lantas Jieji melihat ke seluruh ruangan. Ruangan ini menyimpan benda pusaka tak ternilai. Setelah melihatnya sebentar, Jieji menuju ke ruangan yang sebelah. Ruangan ini menyimpan banyak senjata pusaka terdahulu. Ruangan ini juga dilihat Jieji dengan seksama. Disana banyak senjata pedang, pisau, golok, serta yang lainnya yang merupakan peninggalan Kaisar terdahulu. Senjata disini tidak ternilai harga sejarahnya. Setelah itu, Jieji beranjak ke kamar sebelah. Ruangan ini berisi banyak Lukisan dan tulisan-tulisan karya pengarang terdahulu. Diantaranya banyak terdapat puisi dan lukisan Tang TuFu, Seorang sastrawan terbesar yang pernah hidup di masa Dinasti Tang. Semua tulisan disini sangat dikagumi Jieji, namun tidak ada sesuatu yang aneh dibaliknya. Sampai dia mendapati sebuah lukisan. Lukisan tujuh bidadari yang sedang mandi. Dia lihat lukisan ini dengan seksama. Di lukisan ini tertulis sajak pendek. "Sepuluh hari turun ke dunia Bidadari bermandikan cahaya Surga dunia demikian menggoda Kesenangan tiada taranya." Yunying yang melihatnya meneliti lukisan itu lantas berkata. "Emang ada yang aneh dari lukisan itu? Padahal semua dewi itu kan telanjang. Sebagai seorang lelaki yang belum menikah sepuluh dan tiga puluh tahun,kamu cukup tidak tahu malu." Jieji memandangnya sebentar. Sesaat setelah itu, Jieji loncat kegirangan. Langsung didekatinya Yunying. Dengan memegang bahunya dia berkata," Terima kasih, kamu sungguh bidadariku...." Yang Ying cukup heran melihat tingkah adik ke duanya ini. Lantas menanyainya. "Apakah adik mengerti maksud dari lukisan itu?" "Tidak, tetapi jika digabungkan ini pasti jelas." kata Jieji seraya mengeluarkan sesuatu di balik bajunya. Benda itu tak lain adalah lukisan pendeknya. Di depan tergambar Wajah Xufen. Tetapi yang akan dilihatnya kali ini bukanlah wajah Xufen, namun lukisan di belakangnya. Lukisan ini sama persis dengan lukisan yang pernah dilihat Xufen ketika terjadinya Kasus pada Keluarga Ma di Changan.

"Lukisan ini kan??" Tanya Yang ying. "Betul, ini lukisan yang sama persis dengan lukisan yang terdapat di rumah keluarga Ma di Changan. Kak, coba lihatlah dan cocokkan keduanya. Xufen tertarik melihat lukisan ini. Hanya berdasarkan ingatannya, dia menggambarnya kembali." Kata Jieji. Yang meneliti dengan cermat lukisan tersebut yang bergambarkan 5 orang menunggang Onta. Puisi disini adalah, "Angin keras menerpa Kehidupan bagaikan kuburan Air jernih susah dicari Tidak ada beda Dunia dan Akhirat" Kedua puisi ini sangat kontras. Yang 1 melambangkan surga dunia, yang lainnya melambangkan neraka dunia. Lantas dengan meminjam pedang yang terdapat pada pinggang Yunying. Jieji mengeluarkan sarungnya. Yang ying cukup terpesona melihat pedang pendek ini. Cahayanya merah menyala. "Jadi ini..." Kata Yang. "Inilah pedang Ekor Api yang terkenal di dunia persilatan. Aku menemukannya di gunung Fuji di Dongyang." Kata Jieji. Setelah itu Yang ying kembali meneliti kedua lukisan ini. Dan dia juga telah mendapatkan petunjuknya. Jieji yang melihatnya tersenyum langsung berkata. "Kata "sepuluh" bisa jadi petunjuk. Karena kedua lukisan ini sangat kontras. Maka cobalah balikkan huruf "Sepuluh"." Sepuluh disini menyatakan 5 orang ditambah 5 onta jadi jumlahnya adalah sepuluh. Huruf sepuluh jika di balikkan akan muncul sebuah simbol. Simbol itulah yang menggambarkan pedang. Sementara dari puisi yang terdapat pada lukisan Gurun adalah bersifat kebalikannya yang menggambarkan kondisi Gunung Fuji yang nan asri.Yaitu dimana terdapatnya Pedang Ekor Api. Jieji yang tinggal di Dongyang cukup lama tentu mengetahui keadaannya. Penduduk Dongyang sering mengatakan bahwa di Gunung Fuji hidup para Dewa-dewi karena tingginya gunung ini, hampir mencapai ke cakrawala.

Sedang penggambar dan pencipta puisi itu sengaja membalikkan keadaan yang sesungguhnya. Jika tidak salah satu lokasi pedang itu ditemukan terlebih dahulu. Maka puisi dan lukisan ini sangat samar dan beberapa orang menganggapnya tidak berguna. "Jadi lukisan Bidadari inilah petunjuk untuk mencari Pedang Es rembulan?" Tanya Yang. "Betul, dan saya sudah mendapatkan kira-kira dimana posisi pedang berada." Kata Jieji. "Berarti keberadaan pedang ini juga di salah satu gunung di China? Ataupun bisa ditempat yang sangat panas yang merupakan kebalikan dari gambar 7 bidadari ini" Tanya Yang. "Iya, malah keberadaan pedang ini mungkin juga di salah satu gunung tinggi China. Namun mengenai hal ini saya belum berpikir sejauh itu." Kata Jieji kemudian. "Oya kak, jika sudah kudapatkan pedang Es Rembulan. Akan kuserahkan ke kakak saja." Kata Jieji. "Tidak bisa, Pedang itu lebih baik bersamamu. Kamu ingin mencari petunjuk Pemusnah raga. Seharusnya pedang ini dipegang olehmu." Kata Yang Ying dengan penuh pengertian.

BAB XVIII : Perjalanan kilat menuju ChangAn
Setelah membahas kedua lukisan itu, Jieji bertiga meninggalkan ruangan Penyimpanan harta. Pedang Ekor api telah dimasukkan ke dalam sarung dan dipinjamkan kembali kepada Yunying. "Dik, besok pagi hadirlah ke persidangan. Saya akan mengumumkan pengangkatan Jenderal besar." Kata Yang. "Baik kak. Adik mohon pamit." Kata Jieji. "Hamba juga mohon pamit, Yang Mulia." kata Yunying. Segera Jieji dan Yunying meninggalkan Istana. Dari kejauhan, Yang masih menatap Adiknya. Namun, dia tersenyum sangat puas. 10 tahun yang lalu, begitu tahu kalau adiknya minggat bersama Xufen. Yang tidak dapat tidur dengan tenang. Beberapa kali dia bermimpi sangat buruk tentang adik ke 2 nya ini. Karena tidak kunjung ketemu, Yang dalam

10 tahun terakhir menyelidiki keberadaan adik ke 2 nya ini sendiri. Sering ditinggalkannya istana, dan menyerahkan tugas kenegaraan pada adik kandungnya, Zhao Kuangyi. Namun sepuluh tahun ini, batang hidung adiknya tidak juga nampak. Sekarang adiknya pulang dengan selamat. Dia merasa sangat lega sekali. Jieji dan Yunying segera menuju kediaman Perdana Menteri Yuan. Setelah sampai, mereka berdua berjalan menuju kamar masing-masing. Tetapi, sebelum sampai ke kamarnya. Yunying menegurnya. "Boleh saya pinjam lihat lukisan yang ada dalam balik bajumu gak?" "Boleh." Dikeluarkannya Lukisan dari balik bajunya. Yunying membentangkan lukisan pendek itu. Namun yang dilihatnya bukanlah Lukisan gurun. Tetapi lukisan di belakangnya, Lukisan Xufen. Setelah mengamatinya sebentar. Yunying mengatakan. "Apa saya ini sungguh mirip dengan perempuan cantik di lukisan ini?" "Banyak yang salah mengira mu adalah Dia. Tidak mungkin mata orang lain salah kan?" Kata Jieji. "Apa mungkin saya dengan wanita di lukisan ini berhubungan?" tanya Yunying kembali. Jieji cuma memandangnya, namun tidak menjawabnya. Karena penasaran, Yunying berkata,"Pasti sedikit banyak kamu tahu sesuatu kan?" "Tidak, hal ini baru bisa dijelaskan jika kita sudah bertemu dengan ibumu." Kata Jieji. Sampai disini, Yunying juga tidak menanyainya lebih lanjut lagi. Dan setelah sampai di kamar. Mereka pun masing-masing tidur. Keesokan harinya, Di Balairung istana, nampak banyak sekali pejabat yang datang. Semua berkumpul, berbaris dan berdiri menurut pangkat mereka masing masing. Tidak berapa lama, muncullah Kaisar. "Yang Mulia, Panjang umur. Panjang Umur. Panjang Umur."

"Berdiri. Hari ini saya mempunyai informasi yang cukup penting. Saya akan mengangkat seorang Jenderal untuk ditempatkan di perbatasan untuk membantu He Shen." Di antara para Jenderal yang hadir disana, semua merasa was-was. Jangan jangan merekalah yang terpilih. Ini berarti kenaikan pangkat yang cukup tinggi. Sesaat itu, Yang Mulia mempersilahkan seorang masuk. "Kepada Tuan Oda dari Dongyang dipersilahkan masuk." Terdengar suara kasim memanggil dengan suara cukup keras. Seorang pemuda masuk dengan santai. Setelah sampai, dia berlutut sambil memberi hormat. "Hari ini saya mengangkat Tuan Oda yang berasal dari Dongyang ini sebagai Jenderal besar dengan gelar Panglima pendamai wilayah Barat. Untuk itu, segeralah berangkat menuju ke pos baru. Bersamamu akan diberi 500 pasukan pengawal supaya selamat tiba di Changan." Kata Kaisar. "Terima kasih Yang Mulia. Yang Mulia panjang umur, panjang umur dan panjang umur."kata pria tadi. Mendengar bahwa seorang pria dari Dongyang diangkat menjadi Jenderal besar. Para Jenderal yang lain tentu tidak puas. Mereka tidak menyangka yang akan menjadi jenderal besar ini adalah seorang yang tidak ternama dari Dongyang. Selain itu, pemuda ini juga tidak pernah terdengar keberadaannya, dan tidak punya latar belakang yang jelas. Setelah mengangkat Jieji menjadi Jenderal. Kaisar menanyai para menteri, apakah masih ada urusan yang perlu didamaikan dengannya atau tidak. Para Menteri senior mengatakan tidak ada masalah yang serius yang perlu meminta pendapat kaisar lagi. Oleh karena itu sidang segera dibubarkan. Jieji yang sudah keluar sedari tadi, langsung menuju ke kediaman Perdana Menteri, lalu menyiapkan segala benda yang perlu dibawanya kesana. Setelah berkemas, dia beranjak keluar. Namun dia telah disambut oleh 5 pengawal. Semua pengawal ini berpakaian dinas, Dan ke 5 orang inilah yang akan menjadi pengawalnya menuju ke Changan. Setelah segala dirasa siap, Jieji segera meninggalkan kediaman Perdana Menteri. Sebelum sampai ke pintu depan dia ditegur seseorang. "Hei... Kenapa tidak membawaku serta?" Jieji berpaling. Dan mengatakan.

"Menjadi jenderal perang tidak bisa dijadikan barang main-main. Kamu tetaplah disini saja." "Tidak, jika kamu tidak mau aku ikut. Maka dengan diam-diam aku akan mengikutimu." Jieji tahu perangai wanita kecil ini bagaimana. Oleh karena itu, dia tidak melarang dia lebih jauh lagi. Perjalanan cepat pun segera dilakukan. Jieji menaiki kuda bintang birunya, dengan pakaian seorang Jenderal dia terlihat sangat gagah. Di Wu Wei, He Shen yang menerima gelar dan pangkat barunya ini cukup merasa heran. Dia bertanya pada puteranya, He Yan. "Kenapa tiba-tiba kaisar memberiku gelar baru? Gelar kali ini sangat bergengsi. Ini cukup aneh." "Iya, mungkin juga. Anehnya, kabarnya di ibukota telah diangkat Jenderal baru untuk membantu ayah." "Ha? Lalu siapa Jenderal tersebut?" tanya He Shen. "Dia adalah seorang yang berasal dari Dongyang. Umurnya hanya sekitar 30 an. Namanya kalau tidak salah Kawashima Oda." Kata He Yan. "Oda? Ha Ha... " Tertawa besar He Shen mendengarnya. "Kalau begitu, tidak usah khawatir. Kabarnya dia cuma membawa 500 pasukan menuju ke Changan." Kata He Yan. "Ha Ha Ha... Si kaisar tolol itu kali ini bisa juga melakukan kesalahan besar. Pasukan Qiang kita itu sudah mencapai hampir 100 ribu orang. Dengan 500 pasukan si tolol itu mana bisa bentrok dengan kita." Tertawa geli dan keras He Shen mendengar pernyataan puteranya. Sampai disini, mereka tidak membahas lebih jauh masalah ini lagi. Dan tidak disangkanya, hal ini sudah dipersiapkan Jieji terlebih dahulu. Perjalanan Jieji sungguh cepat. Pada malam hari mereka beristirahat, dan paginya langsung berangkat dengan cepat. Mereka sampai dalam Luo yang dengan tempo 1 1/2 hari saja. Di bagian timur tembok kota Luoyang. Jieji dan Yunying serta pasukan yang datang terlihat gagah. Sesampainya di depan kota, mereka mulai jalan perlahan.

"Nona ke tiga....." teriak seorang pemuda yang berpakaian pengemis. Yunying segera berpaling, karena dia biasa di panggil begitu. "Ada apa? Siapa kamu?" seru Yunying. "Saya adalah pengawal dari tuan Yue, begitu melihat kamu mau masuk ke kota,saya langsung mengenali anda. "Ada apa anda mencariku?" tanya Yunying lagi. "Saya diperintahkan Tuan muda untuk menjemputmu pulang. Disana ada kereta yang sudah dipersiapkan." Kata pengemis ini lagi. "Tidak, saya tidak akan pulang. Bilanglah pada kakak seperguruanku, jika nantinya urusan disini telah selesai. Saya akan pulang dengan sendirinya." Kata Yunying. "Tetapi, dalam jangka waktu setengah tahun lagi anda akan bertunangan kan? Bagaimana nantinya saya mempertanggung jawabkan hal ini pada Tuan Muda?" "Ini tidak usah kamu khawatirkan. Saya bisa pulang sendiri. Enyahlah dari sini." kata Yunying. Pengemis ini merasa tidak mampu menjemput nona ke 3 ini pulang. Lantas ditengoknya ke sekitar. Dilihatnya orang yang berpakaian perang, duduk di atas kuda yang sangat gagah. Pemuda ini sedari tadi tidak memandangnya. Lantas setelah mohon pamit, pengemis ini pergi. "Benar kan? Dunia sebentar lagi akan kalut." kata Jieji mengejek Yunying. "Ahh.. Kamu ini ada saja." Kata Yunying. "Kamu lari dari nikahmu. Tidak takut nantinya tidak bisa mendapat jodoh lagi?" Kata Jieji kembali mengejeknya. "Dasar.. Huh... Males aku meladenimu." Yunying kesal, namun sekilas dia tampak malu juga. Seraya tidak menghiraukannya, Yunying segera memacu kudanya pelan ke depan. Malamnya, Setelah berberes beres dan siap beristirahat. Tiba-tiba pintunya diketuk dengan cukup kasar oleh beberapa orang. Jieji segera keluar. Di pelataran Penginapan, dia melihat ada lima orang disana.

Dandanan orang-orang ini cukup aneh. Selain itu, roman mereka juga lumayan jelek. Mereka menegurnya. "Apa kamu orang yang sekitar bulan lalu tinggal di Hefei kediaman Wu?" tanya salah satu orang yang berjenggot pendek, dan matanya buta sebelah. "Benar." kata Jieji pendek. Barusan mengucapkan kata-katanya. Terdengar dampratan orang yang lain. "Perintah tuan muda, Jika ada yang melihat pemuda ini. Hajar dulu sampai babak belur, baru bawa ke hadapannya." Segera senjata mereka dikeluarkan. Di antara 5 orang ini, masing-masing memakai senjata yang berbeda. Orang pertama yang menyerang adalah yang memakai golok. Dengan mudah, Jieji menghindarinya. Begitu pula yang kedua. Orang ini menggunakan toya. Toya yang menyambar dengan cepat, namun tidak ada satu pun gerakannya yang mengenai Jieji. Orang ke 3 segera maju mengeroyoknya. Kali ini dia memakai pedang pendek, segera dengan cepat dia menusuk. Namun, tusukannya sia-sia belaka. Orang ke 4 dan ke 5 juga melakukan hal yang sama. Salah seorang diantara mereka memakai tombak pendek. Semua jurus mematikan, namun tidak ada satupun yang mengenai Jieji. Jieji mengeluarkan Langkah Dao-nya menghindari serbuan para pendekar ini. Barusan berganti jurus, kelimanya kembali mengeroyok Jieji, namun belum sempat jurus itu sampai. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita. "Hentikan. Kalian lima singa dari Wu ling. Kenapa begitu tidak sopan?" Rupanya suara ini berasal dari Yunying. Kelimanya sempat melihat Yunying sebentar. Langsung salah satu bersuara. "Perintah tuan muda tidak dapat ditolak." Mereka berlima segera melancarkan aksi jurusnya. Namun sebelum sampai, kelimanya langsung terpental. Dan parahnya, semuanya tertotok nadi geraknya. Mereka sangat heran, kenapa dari jarak lebih 10 kaki nadi geraknya sanggup ditotok orang ini. Sampai disitu, Jieji memerintahkan 5 pengawalnya. "Ringkus mereka, tidak usah membawa mereka kemana-mana. Biarkan mereka berlima tidur berpelukan saja. Besoknya lepaskan semua."

Segera ke 5 pengawalnya melakukan hal yang diminta. Yunying yang melihat posisi lima orang ini juga tertawa geli. Bagaimana Jieji bisa punya ide yang konyol seperti ini. Setelah membereskan mereka berlima, Jieji dan kawan-kawannya mulai tidur. Keesokan harinya, memang benar ke 5 orang ini tidur sambil berpelukan. Jieji memerintahkan segera melepaskannya. Setelah selesai, segera dia berangkat bersama pasukannya. Namun 5 singa ini tidak puas. Mereka ingin mencoba menyerangnya sekali lagi. Jieji yang tahu gelagat, langsung berpaling. Kelimanya tidak berani bertindak duluan. "Kalian lihat tiang di ujung jalan itu." Kata Jieji seraya menunjuk. Mereka mendapatkan sebuah tiang yang cukup tinggi. Dengan mengambil ancang-ancang jari, Jieji segera mengeluarkan jurusnya. Samar-samar terdengar suara, setelahnya tiang itu roboh. "Jika kalian berani mengikutiku lagi, maka selanjutnya nasib kalian seperti tiang itu."

BAB XIX : Munculnya Dewa sakti dan Dewi Peramal
Jieji bersama pasukannya segera berangkat ke arah barat. "Jika kalian berani mengikutiku lagi, maka selanjutnya nasib kalian seperti tiang itu." Kata Yunying seraya meniru ucapan Jieji untuk mengejeknya. "Sudah, sudah..." kata Jieji pendek. Perjalanan cepat, kembali dilakukan. Kira-kira 100 Li sebelum sampai ke Changan. Mereka melewati lembah dari Gunung Hua yang nan asri. Kecepatan perjalanan diubah Jieji menjadi lambat. Dia ingin menikmati pemandangan tersebut. Sambil berjalan dengan pelan dia menghirup udara nan segar ini. Namun, tanpa disadarinya. Ada 2 orang tua yang telah muncul di depannya. Begitu melihatnya, Jieji terkejut luar biasa. Jieji adalah seorang jago kungfu yang hebat. Mungkin dirasa, di dunia ini tidak ada orang lain yang mampu menandinginya lagi. Namun munculnya 2 orang tua ini sama sekali tidak dirasakannya.

2 Orang tua ini berjalan cukup pelan ke depan. Yang satu laki-laki dan seorang lagi wanita. Setelah dekat, Jieji terkejut. Sebab wajah kedua orang ini luar biasa. Jika dilihat dari rambut mereka yang telah memutih semua, mungkin usia mereka sudah diatas 70 tahun. Namun wajah kedua orang ini tidak berkeriput. Apalagi wajah si wanita tua ini, masih sangat mulus dan jika dibandingkan dengan Yunying. Kehalusan wajah mereka seimbang. "Tuan Jenderal. Apa kabarnya?" Tanya yang laki-laki. Jieji segera turun dari kudanya. Dan membalas memberi hormat. "Saya sendiri sangat baik. Boleh tahu nama besar anda berdua?" tanya Jieji. "Hamba cuma orang pegunungan. Datang untuk menikmati pemandangan nan indah ini bersama istriku." katanya kembali. Sementara yang wanita sedari tadi memandang ke arah Yunying. Tanpa berkedip dia memandanginya dengan penuh perasaan. Yunying merasa cukup risih dipandangi begitu juga. Dia segera turun dari kuda. Maksudnya, untuk menanyai orang tua ini. Mengapa dia memandanginya dengan begini. Tak disangkanya, wanita tua ini segera beranjak ke depan. Dengan kecepatan luar biasa. Dia memeluk Yunying. Yunying serba bingung diperlakukan begitu. Orang tua wanita ini terlihat menangis memeluknya. Setelah itu, wanita tua ini memandang wajahnya dengan penuh welas asih. Air matanya masih mengalir deras. Jieji yang berpaling ke belakang merasa sangat aneh. Setelah membisikinya, wanita tua ini segera meninggalkan Yunying yang serba heran. Pria tua itu juga dengan sopan memohon pamit dengan Jieji. Jieji membalasnya dengan penuh hormat. Jieji merasakan ada yang janggal dengan hal yang aneh ini. Berpaling dia menanyai pria tua itu. "Senior, mohon katakan nama besar anda." teriak Jieji. Sepasang orang tua ini telah cukup jauh. Namun yang lelaki segera berpaling. Dari jauh Jieji melihatnya. Orang tua ini mengambil ancangancang jari. Jieji yang melihatnya sangat terkejut. Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa hawa pedang telah mengarah kepadanya.

Dengan kedua tangan yang tidak siap, Jieji memutarnya penuh lingkaran. Hawa pedang itu langsung melesat melewati samping bahunya dan mengenai pohon yang jauhnya hampir 80 kaki di belakangnya. Pohon yang terkena hawa pedang itu langsung terbelah dua di tengahnya. Lalu terdengar orang tua ini bersuara. "Tapak berantai memang tiada tandingannya di dunia ini. Ha Ha Ha Ha...." Seraya tertawa, ke 2 orang tua itu lenyap. Para pasukan yang dibawa Jieji ini sangat heran. Namun mereka kagum pada atasannya. Dalam jarak yang sedikit itu, mampu membelokkan jurus jari yang berbahaya itu. Jieji cukup bengong akan kejadian barusan. Setelah terpaku cukup lama, Jieji segera melanjutkan perjalanannya. Dalam jangka waktu yang pendek mereka telah sampai di Changan. Jieji segera menempati kantor barunya yang lumayan luas. Yunying yang sedari mengikutinya segera mengeluarkan sebuah buku. "Siapa yang memberikan buku ini kepadamu?" Tanya Jieji. "Orang tua wanita yang tadi memelukku, Kamu tahu siapa mereka?" Kata Yunying. "Hm.. " Jieji mengangguk. "Lantas siapa mereka?" Tanya Yunying. "Mereka adalah Dewa sakti dan Dewi peramal dari gunung Dai." Kata Jieji. "Kenapa kamu bisa tahu?" "Mereka adalah guru Xufen. Mungkin dia memelukmu karena sangat rindu kepada Xufen yang merupakan muridnya." "Jadi begitu? Aku jadi heran dibuatnya. Tetapi buku apa yang diberikannya kepadaku ?" "Inilah kitab ilmu Memindah semesta. Dia memberikannya kepadamu supaya kamu mampu mempelajarinya." kata Jieji. "Wah, apa ilmu ini hebat?" tanya Yunying yang agak girang. "Tentu, Lihatlah jurus jari pak tua itu. Jurusnya mungkin 2 kali lipat lebih hebat dari jurus yang mampu kukeluarkan." kata Jieji.

"Tapi mengapa dia mengatakan Tapak berantai memang tapak yang tiada tandingan di dunia ini." tanya Yunying kembali "Jurus yang tadi kukeluarkan tidak lain adalah tapak berantai." kata Jieji. "Tapak berantai? kenapa tidak pernah kudengar?" tanya Yunying. "Karena ini adalah jurus ciptaanku." kata Jieji. "Ha Ha.. Yunying tertawa. Kenapa jurus ini jelek kali namanya?" kata Yunying. "Sebenarnya jurus ini bukanlah jurus yang mengada-ada. Jurus ini kugabungkan dari 5 jurus yang pernah kupelajari. Dan kesemuanya itu kugantikan ke tapak. Maka kunamakan tapak berantai. Tapak ini memiliki 5 tingkat. Yang tadi adalah jurus yang pertama." kata Jieji menerangkan. Dari kesemua Ilmu kungfu yang pernah dipelajari Jieji yaitu Pedang Ayunan dewa, Langkah Dao, Ilmu jari Dewi Pemusnah, Ilmu dewa Penyembuh tenaga dalam dan Tendangan Mayapada. Tidak ada satupun yang merupakan Jurus tapak. Jieji mendalami ke 5 ilmu ini dengan sempurna. Dan menciptakan jurus tapak Berantai. Ilmu ini diciptakannya sekitar 6 tahun yang lalu. Ilmu ini pernah dikeluarkannya saat menghadapi Bao Sanye. Jurus tapak mayapada tingkat ke 3 langsung sanggup dipatahkan oleh tapak berantai tingkat 1 nya. "Kamu sungguh beruntung, Ying. Pelajarilah ilmu ini baik-baik. Ini juga untuk dirimu." Kata Jieji. "Yah.. Saya akan berusaha." Kata Yunying sambil tersenyum. Setelah beristirahat, Esoknya Jieji segera mengumpulkan pasukannya dari 5 wilayah. Yaitu, Changan, Hanzhong, Wudu, Anding, dan ChengDu. Dengan berpura-pura mengucapkan selamat. Para Jenderal wilayah membawa pasukan ke Changan. Sebenarnya ini juga bertujuan menghilangkan kecurigaan He Shen. Dihitungnya sesegera, pasukan yang terkumpul dari 5 wilayah ini berjumlah sekitar 50 ribu orang. "Bawalah 20 ribu orang masing masing dibagikan, dan kembalilah ke tempat masing masing." Kata Jieji. Para Jenderal heran, karena setelah mereka mengumpulkan pasukan. Mereka disuruh pulang kembali. Tanpa bertanya terlalu banyak, Jenderal maupun menteri segera pulang ke daerah masing masing. Mereka membagi pasukannya masing-masing 4 ribu. Namun mereka dititip pesan

supaya berhati-hati, jika terjadi sesuatu. Mereka dilarang untuk keluar kota. Untuk ini, Jieji mengancam akan dihukum mati. Setelah itu dari antara 30 ribu pasukan, 3000 orang ditempatkan ke Changan. Masing-masing diantara 5 pengawal membawa pasukan sebanyak 5000 orang menuju ke pos masing masing. Jieji menetapkan pos pertamanya adalah Gunung Qi. Kedua ditempatkan di kota YinPing. Ketiga ditempatkan di Wu Zhang. Ke empat di tempatkan di Chen cang. Dan yang kelima di tempatkan di Gunung Jie Ding. Sementara itu Jieji segera membawa pasukannya 2000 prajurit ke HanZhong utara. Dia mendirikan perkemahannya disana. Semua pengawal juga mendapat pesan,dilarang bertempur meski mereka mendapat dampratan atau hujatan yang sangat tidak enak didengar. Untuk ini. Mereka juga di ancam hukuman mati. Sesampainya di kemahnya, Jieji membuka peta wilayah Xi Liang. Dilihat dan ditiliknya sebentar. Yunying dari tadi asik memperhatikannya. Lantas menanyainya. "Apa ada hal yang aneh? Kenapa kamu cepat sekali menetapkan pos penjagaan ? Padahal Si tua He itu tidak bergerak. Oya, kota DianShui, mengapa kamu tidak menempatkan pasukan disana?" "Sebentar lagi, Si tua itu tidak akan sabar lagi. Lihatlah beberapa hari lagi. Dianshui jauh hari sudah menjadi milik pemberontak." "Ha? Tidak mungkin." Yunying terkejut mendengarnya. "Dian Shui adalah perbatasan semua kota dari Xi Liang. Si tua itu tidak mungkin begitu bodoh. Jika kita menempatkan pasukan di Dian Shui. Si tua itu susah lari. Pasukan depan dan belakangnya akan susah menolong 1 sama lain, ini tidak mungkin tidak dipikirkannya." "Hebat.... Kamu sepertinya membaca pikiran si tua itu seperti membaca buku saja." Kata Yunying yang kagum padanya. "Malam ini aku akan melakukan penyelidikan ke DianShui. Kamu tetap di kemah yah." kata Jieji. "Tidak..." Kata Yunying. Jieji tahu wanita ini sulit dilarang. Dia mengiyakannya pergi. Namun dia ingin Yunying berjanji. Tanpa banyak macam, Yunying langsung mengiyakannya. Malam hari, Rembulan tidak terang. Sepasang bayangan hitam segera menuju ke atap kantor utama pejabat di kota DianShui.

Dengan pelan, Jieji membuka atap untuk dapat melihat ke dalam. Dari sini nampak seorang tua yang sedang berbicara dengan seorang yang berpakaian dinas. Suara mereka terdengar cukup jelas. "Sepertinya Kaisar sudah mencium bau pemberontakan kita." kata Pejabat DianShui itu. "Tidak usah takut, meski dia mengirimkan pasukan yang banyak, kita tidak akan kalah." Kata seorang pemuda. "Jangan memandang enteng Zhao Kuangyin, dia bukan orang sembarangan. Masih ingatkah anda saat menjadi Jenderal perang di bawah Zhou, dia sangat hebat." Kata Orang tua tadi. Jieji mengenali orang ini, yang tak lain adalah He Shen. "Kita punya pasukan Qiang sekitar 100 ribu orang, ditambah anak buahku dan prajuritmu semuanya jumlahnya hampir 200 ribu orang. Selain itu kita juga mempunyai Wen Dun. Sepertinya pemberontakan ini akan berhasil." Kata Seorang pemuda. "Bagaimana pun kita harus berhati-hati dahulu". Suara mereka agak pelan. Dengan tiba-tiba Jieji menyuruh YunYing untuk tunduk. Seorang pemuda segera masuk ke dalam. Setelah pemuda ini masuk, hal yang dibicarakan tadi telah diganti ke topik lain, topik yang dibicarakan sekarang adalah mengenai puisi dan sastra. Jieji berpikir mungkin 3 orang tadi tidak ingin pemuda yang baru masuk ini mengetahui apa yang sedang direncanakan. Setelah mendapat beberapa bukti, Jieji berniat meninggalkan atap. Tetapi......

BAB XX : Tapak berantai
Yunying yang tanpa sengaja menginjak atap terlalu keras. Sebenarnya suara ini tidak dapat diketahui jika didengar oleh ketiga orang yang sudah berada di dalam sebelumnya. Tetapi dari dalam langsung terdengar teriakan. "Siapa itu?" Pemuda yang baru masuk tadi segera beranjak keluar dari ruangan.

Jieji segera turun ke bawah. Dengan langkah Dao segera dia meninggalkan atap dan menuju Tanah lapang di depan kamar. Sesampainya dia dibawah. Pemuda tadi sudah keluar dari ruangan. Melihat gelagat yang tidak baik. Dengan tenaga dalam, dia melemparkan Yunying ke belakang. Dan segera beranjak untuk meninggalkan tempat ini. Namun belum sampai dia di atap yang tingginya hanya 10 kaki. Desiran tenaga dalam terasa sangat jelas dipunggungnya. Sambil berputar, dia mengeluarkan tapaknya. Sebelum kedua tapak beradu, telah terdengar dentuman suara yang keras. Jieji melayang keluar bagai layang-layang yang talinya putus. "Kejar!!!" Teriak He Shen. Saat itu semua prajurit yang menjaga,segera berlari keluar menuju ke rumah sebelah. "Tidak Usah!!!" Teriak pemuda yang mengeluarkan jurus ini. Namun penjaga yang keburu mengejar tidak mendengarkan suara pemuda ini lagi. "Kenapa? Mungkin orang itu bukan orang baik-baik. Di tengah malam memakai cadar hitam. Mungkin dia bermaksud mencelakaiku." Kata He Shen. "Ayah angkat tidak perlu khawatir." Pemuda ini tahu. Bagaimana mungkin sanggup mengejar orang itu. Dia menggunakan jurus tapak buddha Ru lai tingkat ketiga untuk menghalangi penyusup itu. Namun saat benturan terjadi, tangannya terasa sangat kesemutan. Ini membuktikan kungfu orang bercadar itu mungkin sudah diatasnya. Jieji yang melempar Yunying keluar segera mengejar ke arah lemparannya tadi. Tanpa disangka Yunying, dirinya melayang melesat itu bisa terpaut sampai 100 kaki lebih. Jurus tapak buddha Ru lai benar menghantam keras, Jieji yang berputar itu mengeluarkan jurus tapak berantai tingkat 1 nya untuk meminjam tenaga itu dan segera melayang keluar. Di depan kota Dian Shui, dekat dengan rimba An-lim, Jieji segera menaiki kudanya bersama kuda Yunying yang sengaja ditambatkan disana. Tidak sampai 2 jam, mereka telah kembali ke tangsi. "Wah, hebat. Lemparan kamu luar biasa sekali yah." Kata Yunying. "Tidak, Aku bahkan bisa melemparnya lebih jauh." Kata Jieji. "Apakah pemuda tadi yang menghalangimu hebat?" tanya Yunying.

"Itu jurus tapak Buddha Rulai. Jurus yang kukenal dengan baik sekali." kata Jieji. Jieji berpikir sebentar, mungkin orang yang bertarung dengannya adalah Wei JinDu atau adik ketiganya. "Kenal baik? Emang siapa yang pernah mengeluarkan jurus ini lagi?" tanya Yunying kembali. "Saudara ketigaku. Selain itu sekitar 3 tahun lalu, di dekat kota ChengDu saya pernah bertarung dengan seorang biksu tua dari India." Kata Jieji menjelaskan. "Lalu bolehkah saya minta sesuatu?" tanya Yunying dengan tersenyum. "Kamu ingin saya menceritakannya kan?" tanya Jieji kembali. Yunying mengiyakan. Sekitar 3 tahun yang lalu. Di timur ChengDu. Jieji sedang dalam perjalanannya menuju kota itu. Namun di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang biksu tua yang cukup aneh penampilannya. Di tengah jalan pegunungan itu, biksu tua ini menyapanya. "Tuan Muda, ada apa anda menuju ke kota Chengdu." "Sedikit urusan, tapi tidak terlalu penting kok." jawab Jieji. "Anda sedang berbohong." Jawab biksu itu singkat. "Tidak, terserah apa pikiran anda. Tetapi saya harus cepat." kata Jieji kembali. "3 tahun yang akan datang. Datanglah ke kota Hefei, disana pasti ada sedikit petunjuk tentang hal yang ingin dicarimu bertahun-tahun." kata Biksu. Jieji cukup terkejut mendengarnya. Namun, dia tidak menunjukkannya sedikitpun di wajahnya. Namun tanpa banyak berbicara,biksu itu segera mengambil ancang-ancang menyerangnya. Biksu itu melesit cepat, hanya selang beberapa saat dia telah sampai. Biksu mengeluarkan tapak, sekilas tampak sinar yang cukup terang. Jieji melayaninya. Tapak dilayani dengan Tapak. Karena dalam posisi yang kurang menguntungkan, Jieji terdesak mundur beberapa langkah. Dia pernah melihat jurus seperti ini, namun sudah terlupa, dia sama sekali merasa tidak asing akan jurus tersebut.

Setelah itu, Kembali mengambil posisi yang lebih bagus. Jieji mulai melancarkan serangannya. Mereka bertarung dalam 100 jurus lebih dalam waktu yang sangat singkat, beberapa kali terdengar tapak beradu namun keadaan masih tampak seimbang. Setelah itu, biksu tua segera merapal jurus baru. Dan seraya memperingatinya. "Tuan muda, anda harus serius kali ini." Jieji yang melihat gaya bertarung itu segera sadar. Itulah jurus tapak Buddha Rulai. Tapak yang pernah diceritakan adik angkatnya, Wei JinDu. Dengan mengambil kuda-kuda pas, Jieji membuka tapaknya dengan santai dan memutarnya satu lingkaran penuh. Hawa pertempuran disekitar terasa sangat menusuk. Kedua tenaga dalam ini telah beradu satu sama lainnya. Dengan teriakan ringan,keduanya segera melesat. Tapak keduanya kembali beradu. Namun kekuatannya sangat luar biasa. Pohon disekitar langsung tumbang akan desakan tenaga dalam nan dahsyat. Setelah tapak keduanya menyatu beberapa lama. Hasilnya nampak juga, Biksu terpental beberapa langkah ke belakang. Sementara Jieji tetap berdiri tegak. Sambil memberi hormat biksu itu mengatakan," Tuan Muda, kungfumu ini telah no 1 sejagad. Yang mampu menandingimu di dunia ini mungkin semuanya sudah tidak ada lagi." Seraya memberi hormat, Jieji juga membalas dengan sopan. "Adalah biksu yang mengalah kepadaku. Kepandaian ku tidak bisa dibuat terkejut." "Jurus ku tadi adalah jurus tingkat ke 7 dari Tapak Buddha Rulai. Namun tetap bukan tandingan Tapak tuan." Sampai disini, Biksu itu segera memohon diri. Namun dia tetap memesankan kepadanya untuk mencari sesuatu di Kota Hefei 3 tahun kemudian. Jieji berjanji akan menuruti pesan ini dengan baik. Setelah itu dia menuju ke ChengDu. Yunying mendengarkan dengan asyik apa yang sedang dibicarakannya. Kembali dia bertanya.

"Lalu, tapak berantai tingkat berapa saat itu kamu keluarkan?" tanya Yunying. "Tingkat 3." Jawab Jieji singkat. Yunying yang mendengarnya juga sangat terkejut. Dia tidak menyangka tapak berantai itu sangat lihai. Dia sangat mengagumi orang ini. "Satu pertanyaan lagi. Apakah benar ketika di Hefei kamu yang melempar ranting pohon itu?" "Benar." kata Jieji. "Hebat, luar biasa hebat. Kamu melemparnya dari kamar pelayan kan?" Tanya Yunying kembali. "Iyah. Saat itu,di atap kamar ayahmu. Bao Sanye sedang meneliti sesuatu. Makanya saya cuma mengejutkan ayahmu, untuk segera keluar dari kamarnya untuk memergoki pengintip itu." Jieji menjelaskan. Yunying tersenyum puas mendengar pernyataan Jieji. "Ying, besok adalah saatnya untuk mengatur pasukanku menuju utara. Saya ingin kamu tidak banyak menayaiku saat itu. Karena dalam peperangan, terlalu banyak berbicara kadang sangat tidak baik terhadap moral pasukan." "Baik, akan kuturuti. Selama dalam pasukan, saya akan menjadi patung." "Tidak bisa juga, bagaimana jika pasukan pemberontak itu mengejarmu?" "Iya, betul juga. Saya akan mencoba tidak berbicara." kata Yunying seraya tertawa kecil. Keesokan harinya. Jieji memajukan pasukannya sebanyak 500 orang menuju ke selatan DianShui. Tinggal 2 Li lagi sampai di Gerbang selatan kota itu. Disana telah siap semua pasukan, He Shen nampak dari atas kota bersama Chai Zongxun serta panglima dan pejabat kota Dian Shui. "Ada apa Jenderal baru datang?" tanya He Shen dari atas tembok kota. "Hamba datang memberi selamat atas penganugerahan pangkat anda yang baru, Selain itu, hamba juga diminta Kaisar untuk membantu anda mengusir pemberontak Qiang." kata Jieji.

"Tidak perlu! Pasukan Qiang sudah mundur kembali ke daerahnya. Anda bisa tenang dan pulang menempati pos barumu itu." Kata He Shen. "Yang mulia juga mengatakan, Jenderal besar He Shen telah membasmi semua pemberontak yang ada dengan baik sekali. Sehingga pejabat kota Dian Shui sendiri juga sudah merasa tenang dan aman." Kata Jieji. He Shen di atas kota yang menerima kata-kata aneh ini tidak tahu apa maksud Jenderal baru itu. Tetapi jika dia dilarang langsung memasuki kota, maka "CAP" Pemberontak pasti langsung ketahuan. Oleh karena itu, Setelah berbisik dengan pria di belakangnya. Dia mempersilahkan Jieji membawa pasukannya untuk menuju ke gerbang kota. Jieji bisa menebak apa yang dalam pikiran Jenderal He Shen. Segera dia memacu kudanya dengan agak lambat menuju gerbang. Semua prajuritnya dilarang bergerak dari posisi awal sedikitpun. Setelah 1/2 Li sebelum mendekati kota. Pemuda berumur sekitar 30 an lebih dari atas kota terlihat mentereng. Di tariknya busur panah dengan kuat. Lalu dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya, Panah telah terlepas menuju ke dada Jieji. Sesaat setelah itu, Jieji terlihat jatuh dari kudanya telungkup membelakangi He Shen. "Ha Ha Ha... Para pasukan disana dengarkan baik-baik. Sebaiknya semua menyerah kepadaku. Semua akan diberi ganjaran setimpal. Jika tidak maka semuanya akan kubasmi." Teriak He Shen yang kegirangan.

BAB XXI : Adu Strategi
He Shen kegirangan, mengira Jenderal yang roboh tadi telah tewas. Tetapi, kegirangan ini tidak kembali berlanjut ketika dia melihat Jenderal ini bangkit. "Hebat anak muda, kamu lah orang pertama yang tidak mati setelah dipanah oleh Dewa panah, Wen Dun." Teriak He Shen. Panah sempat tergores sedikit di baju perang Jieji. Namun sebelum menembus, Jieji sempat menangkapnya. "Ha Ha.. Kenapa anda pura-pura jatuh?" Teriak seorang pemuda disamping He Shen, yang ternyata adalah puteranya sendiri, He Yan.

He Shen yang disebelahnya berbisik,"Dia menunggu kata-kata yang baru kuucapkan tadinya, pemuda ini tidak bisa dipandang remeh." "Semua pasukan... Serang!! Tangkap hidup-hidup orang yang jatuh ini." Teriak He Shen. Jieji yang sudah bangkit segera menaiki kudanya dan mundur dengan cepat. "Siiiuuuttt..." Suara panah kembali terdengar. Namun dengan gesit, kuda bintang biru mengelak terus sambil membawa majikannya. "Itu kuda langka, saya harus mendapatkannya." kata He Yan. Pasukan dari kota Dianshui segera keluar. Jieji yang terpaut tidak jauh dengan 500 pasukannya segera mengambil langkah lari. "Kamu tidak akan jadi boneka khan?" tanya Jieji seraya lewat di sebelah Yunying. Dengan berputar, 500 orang pasukan segera kabur. Pengejaran seru pun di lakukan, setelah 20 Li. Pasukan yang mengejar Jieji ini cukup bingung. Disana terdapat jalan bercabang 5. Jieji dan pasukannya berpencar 5 ke arah tadi. Sementara Jieji dan Yunying berdua menuju ke Wu Du. Sesampainya di kota Wu Du. Jieji segera memerintahkan semua pasukannya untuk bersiap-siap. Karena malam ini, mereka akan menggebrak. Pasukan yang sengaja dipisahkan dari jalan tersebut menuju ke 5 pos penjagaan lainnya. Mereka memberikan surat tertanda Jieji kepada para

Hu Jiang yang sudah ada di pos penjagaan sebelumnya. Surat Jieji kepada mereka dirasa sangatlah aneh. Mereka diminta untuk membawa tiga ribu pasukan dari pos masing-masing. Dan harus sampai ke kota DianShui sebelum tengah malam. Jika salah satu pasukan mereka bertemu musuh, harus segera kembali ke pos. Dan mereka dilarang untuk bentrok lebih lanjut dengan pasukan musuh. Sementara 2000 pasukan lain harus tetap pada posisi pos masing-masing. Jieji mengancam bagi pasukan yang meninggalkan pos selangkah selain 3000 pasukan, sekeluarga harus dihukum mati. Mereka diminta hanya menjaga pos, dan tidak boleh keluar sampai dapat perintah lebih lanjut. Di kemahnya Jieji telah selesai mengatur persiapannya, hanya menunggu sampai malam tiba. Sebelum malam, Jieji mendapat tamu dari ibukota. Tamunya tidak lain adalah putera Perdana menteri Yuan, dan 2 Jenderal berpangkat menengah. "Bagus, kalian cepat juga sampai disini," kata Jieji. Putera Perdana menteri Yuan, Yuan FeiDian. Semenjak 10 tahun lalu, sangat mengagumi Jieji. Setiap kasus yang dipecahkan Jieji, selalu dibacanya berulang-ulang. Yuan FeiDian juga termasuk orang yang ahli dalam ilmu perang. Sebab ayahnya, Perdana Menteri Yuan ShangPen adalah seorang ahli militer terkenal dari Kekaisaran Sung. Kali ini dia datang untuk meminta pengajarannya. Jieji menerimanya dengan baik. "Kalian bertiga, saya ingin kalian tetap di kota Wudu. Salah satu dari kalian setelah malam tiba, harus segera mengangsurkan penduduk Wudu ke Hanzhong. Lewat tengah malam menuju pagi, jika pasukan pemberontak

tiba. Segera lepaskan kota ini dan menuju ke HanZhong. Jika 1 hari setelahnya kalian melihat tanda api dari kota Wudu, segera bawa pasukan untuk mengepung kota Wudu dari gerbang selatan." kata Jieji menjelaskan lebih lanjut. Mereka bertiga segera mengiyakan, meski tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Setelah rapat selesai, Jieji segera menuju ke kantornya. "Apa kita harus tengah malam bergerak?" tanya Yunying. "Tentu, kali ini saya akan memancing ikan yang besar sekali." Kata Jieji seraya tersenyum. "Bisa tolong beritahu tidak rencana mu?" tanya Yunying kembali. "Tidak bisa... Kamu ikut denganku saja. Nanti akan kupertunjukkan sulap yang hebat." kata Jieji dengan tersenyum. Pasukan He Shen yang mengejar Jieji, tidak berani berbuat lebih lanjut. dan mendirikan kemah di tengah jalan bercabang 5 itu. He Shen bersama panglimanya segera sampai di kemahnya. "Malam ini kita akan menyerang kota Wudu. Saya rasa dengan 1 gebrakan kita akan mampu merebut kota." Kata He Shen menjelaskan. "Jenderal He, Izinkan saya menjadi Xian Fung (Pasukan pelopor)." kata seorang pemuda yang berlogat agak kasar. Dia bernama Qian Long, berpangkat Jenderal keamanan saat dia memimpin pasukan Qiang. "Baik. Bawalah pasukan sebanyak 5 laksa ( 50 ribu ). Malam ini segera mengepung kota Wudu." Kata He Shen mengiyakan. "Penjagaan dari gunung Qi harus diwaspadai." kata putera He Shen, He Yan.

"Mustahil aku tidak tahu akan hal semacam ini. Saya sudah menempatkan 10 ribu pasukan disana. Tenang saja Nak." Kata He Shen dengan yakin. Lewat tengah malam, rembulan sama sekali tidak terang. Pasukan pemberontak telah sampai di utara kota Wudu. Dengan sekali gebrak, pasukan dalam kota segera menyingkir dari pintu kota timur. Dengan gampang, Qian Long masuk ke kota. Segera dia melaporkan keadaan kota yang sudah kosong itu kepada He Shen. He Shen yang menerima kabar itu cukup terkejut. Namun puteranya tidak merasa heran. "Gawat, PASUKAN... Segera bongkar perkemahan. Kita segera menuju ke kota DianShui." teriak He Shen. Tidak ada orang yang mengetahui apa yang dipikirkan He Shen saat ini, puteranya juga lumayan bingung dibuat sang Ayah. Dengan gerak cepat, He Shen menuju ke Kota DianShui. Sekitar 10 Li sebelum mendekati tembok kota. Dia memeriksa keadaan sekitar, tetap tampak sunyi senyap. Karena sunyinya, dia sendiri cukup merinding. Baru hendak berangkat. Dia mendapati luar biasa banyaknya obor di sekeliling pasukannya. Dari arah timur, tenggara, barat daya, dan barat. Seiring itu, terdengar dentuman meriam yang dahsyat sekali. Suara pasukan yang berteriak terdengar sangat jelas. Tanah disana seakan gempa seketika. Pasukan yang dipimpin Jieji langsung menggebrak. He Shen yang belum sempat memberi komando lebih lanjut, segera ambil langkah seribu. Di tujunya kota Dian Shui. Sampai di bawah kota, segera disuruhnya gerbang dibuka. Namun terlambat, pasukan Jieji menyusul

dengan luar biasa cepat. He Shen cuma bisa lari ke arah barat laut dan melepaskan kota DianShui di tangan lawannya. Setelah memasuki kota, Jieji langsung menghibur rakyat disana. ke 5 pengawalnya segera bertanya kepadanya. "Jenderal, posisi kita sangat mencil. Ini adalah posisi yang sangat berbahaya. Kenapa anda memilih untuk mengambil kota DianShui ini terlebih dahulu?" Memang, posisi DianShui ini adalah tepat berada antara WuWei, Xiping di utara dan Wudu di sebelah selatan. Wudu tadinya masih milik Sung, tapi kota itu dilepas oleh Jieji. Ke 5 pengawal ini semakin tidak mengerti. "Tidak usah terlalu banyak bertanya dahulu. Kalian berdua, segera pimpin pasukan 500 orang. Masing-masing harus bersembunyi 5 Li di utara kota Dian Shui ini. Sebelah kiri dan kanan dekat pegunungan adalah tempat yang bagus untuk menempatkan pasukan. Ingat, besok adalah hari yang sangat penting. Jadi, kalian tidak boleh lalai. Jika nampak ada orang berkuda lewat, segera sergap dan bawa kepadaku." Perintah ini juga diperuntukkan untuk 2 pengawal lainnya. Sedang 1 lagi pengawal harus tetap di kota untuk meronda. Keesokan harinya.... He Shen yang di Wuwei merasa sangat masgul. Pasukan yang dipimpinnya,1/2 telah rusak berat akibat terjangan pasukan Sung semalam. Salah satu hal yang membikinnya cemas adalah pasukan Qian Long yang telah putus kontaknya. "Siapa yang berani menerobos Dian Shui? Ada sesuatu yang perlu saya

kabarin ke Qian long." Kata He Shen. "Ananda dan Wen Dun akan melakukannya. Berikan kami pengawal 20 orang sudah cukup." kata He Yan. "Kita harus segera memberitahu Qian Long. Aku ingin pasukan kita disini dan pasukan Qian Long menyerang Dian Shui dari utara dan selatan. Kita harus berhasil menangkap Jenderal Kawashima Oda itu." kata He Shen. Dengan segera, Wen Dun dan He Yan berangkat. Namun setelah beberapa Li mendekati kota DianShui. Mereka dengan mudah dikepung, dan akhirnya mereka di tangkap hidup-hidup dan diangsurkan ke Jieji. "Kamu puteranya He Shen, namamu He Yan kan?" tanya Jieji. "Mau bunuh, bunuh saja. Tidak perlu banyak bicara." kata He Yan. "Ha Ha Ha..." Jieji tertawa mendengarnya. "Pengawal, segera siapkan kamar yang bagus untuk melayani tamu kita ini." Kata Jieji. Wen Dun dan He Yan tidak di masukkin ke penjara. Mereka malah ditempatkan di kamar pejabat DianShui. Namun ruangan ini sudah dikepung lebih dari 50 prajurit. He Shen yang di kota Wuwei menanti dengan tidak sabar, telah 3 hari berlanjut. Akhirnya, Beberapa pasukan pulang ke WuWei. Mereka mengabari kalau puternya telah sampai ke WuDu, dan tidak pulang sebab mereka sedang bersama dengan QianLong disana. "Saya tidak membawa surat, karena sangat berbahaya jika melewati kota DianShui sekali lagi. Kata QianLong, tanda api-lah yang akan menjadi

petunjuk. Saat di sebelah selatan kota DianShui kebakaran, Jenderal diminta segera mengepung Utara kota Dianshui." He Shen cukup girang mendengar kabar utusan ini. Sedikitpun dia tidak merasa curiga. Pada tengah malam hari keesokan harinya. He Shen telah memimpin pasukan sekitar 30 Li mendekati kota DianShui. Dan benar saja, dari kejauhan nampak api berkobar dengan terang. Segera pulak, dia memimpin pasukannya menerjang utara DianShui. Tampak kota sangat kalut akan kebakaran di pintu selatan. Dengan membawa pasukannya, He Shen masuk ke dalam kota. Maksudnya untuk membasmi pasukan Jieji. Namun sesampainya di dalam kota. Dia sangat terkejut, disini tidak nampak pasukan. Melainkan hanya para warga sipil yang berusaha memadamkan kebakaran itu. Sesegera itu, dia tahu telah terjebak. Warga sipil yang memadamkam api ini sebenarnya adalah Prajurit Jieji yang menyamar. Sedang penduduk kota kembali diungsikan 5 Li dari kota Dianshui. Karena kota DianShui ini lumayan kecil dan populasinya tidak banyak, maka tidak susah untuk diungsikan sementara waktu. Di samping kiri dan kanan tembok kota, para pemanah muncul. Jieji dan Yunying berada di atas tembok kota, ditegurnya He Shen. "Kura-kura tua, jika kamu bisa keluar, maka anakmu akan kukembalikan dengan selamat. Kita bertaruh, bagaimana?" kata Jieji sambil tertawa besar. He Shen segera memimpin pasukan keluar dari pintu dimana tadi dia masuk. Namun dari pintu itu, masuk lumayan banyak prajurit. Dengan

memimpin pasukannya dia berusaha menerjang. Setelah pertempuran kalut selama 1 jam, He Shen berhasil meloloskan diri. Namun pasukannya kali ini benar-benar hancur. Dia cuma kembali dengan 1000 orang saja. Itupun semuanya dalam kondisi terluka. He Shen terkena panah di lengan kirinya. Memasuki kota WuWei, dia sangat merasa masgul. Dia terus berpikir bagaimana seorang Jenderal muda sanggup mengalahkannya dengan begitu mudah.

BAB XXII: Orang hebat membunuh dengan pena
Pasukan He Shen yang mendapat perintah untuk menuju Gunung Qi, sejak awal sudah dibereskan Jieji. Yuan Fei Dian melaksanakan tugasnya dengan baik. Sebanyak 10 ribu pasukan yang berjalan di lereng dicegat oleh pasukan Yuan dari arah samping dua bukit. Pasukan panah yang tidak terhitung banyaknya mengancam, jika mereka tidak menyerah. Maka panah akan dilepaskan segera. Sementara dengan keadaan di Wudu . Di antara pasukan dari Gunung Qi yang menyerah kepada Jieji. Jieji memberikan tugas kepada mereka, juga menyusupkan beberapa orang dari pasukannya sendiri. Sehingga tanpa sadar, Qian Long ditipu keluar kota dengan mudah. Pasukan Qian Long yang keluar hendak menyerang selatan kota Dianshui, Langsung disergap di tengah jalan. Ketika ia melewati rimba An-Lim, 2 Jenderal lain telah siap di jalan ini dengan 10,000 pasukan pemanah

api. Qian Long menyerah tanpa syarat. Sesuai dengan janjinya, Jieji melepaskan puteranya. He Yan dilepaskan pulang sendiri dengan kedua tangan terborgol besi, tertotok nadi Dan dinaikkan ke kuda. Di wajahnya, tercoreng arang. Gambar pipi kanannya adalah Kura-kura sedang di pipi kirinya tulisan "HE" yang tak lain adalah marga He Shen. Betapa gusarnya He Shen melihat keadaan puteranya. Dia memaki Jieji dan mendampratnya habis-habisan. Namun, karena usia He Shen lanjut, serta luka di lengannya. Sesaat itu, dia muntah darah dan pingsan. Di Kota Dian Shui. Semua Jenderal, pengawal telah berkumpul di ruangan pejabat DianShui. Sementara pejabat sebelumnya dikirim ke ibukota untuk diadili. Pasukan Qiang yang menyerah semua segera dilepaskan kembali ke kampung mereka. Tidak ada satupun di antara mereka yang tidak bersyukur akan keputusan Jieji ini. Jieji meminta mereka berjanji untuk tidak membantu pemberontakan lagi. Hanya 2 orang yang tertinggal dan diawasi oleh Jieji yaitu Wen Dun dan Qian Long. "Inilah saatnya, kita akan merebut kota WuWei dan Xiping." kata Yuan. "Tidak, tidak perlu. Kota WuWei dan Xiping tidak perlu kita rebut. Mereka akan kembali dengan sendirinya." kata Jieji. Orang yang berkumpul disana sangat heran. "Beberapa hari yang lalu anda merasa tenang ketika kita dikepung dari 2 arah. Sekarang apa yang sedang anda pikirkan?" tanya 2 Jenderal itu serentak. "Saat itu, saya tahu keadaan pasukan QianLong. Mereka tidak akan

membawa banyak perbekalan. Karena merasa bahwa kita tidak akan menyerangnya, saya tahu dengan pasti bahwa setelah mereka mendapat Wudu yang kosong itu, pasti mereka dengan cepat akan menerjang kemari. Dengan sedikit tipu, aku mendapatkan kembali kota Wudu." Wudu setelah diungsikan penduduknya telah kosong. Sementara Qian Long dan pasukannya sekitar 50 ribu orang. Dengan perbekalan sendiri, paling mereka bisa bertahan kurang dari 10 hari. Oleh karena itu, mereka harus merebut jalan yang terputus itu sesegera mungkin. Untuk itu, mereka harus mengadakan kontak. Jieji sudah menyadarinya dari awal. Dan segera meminta 2 pengawal menjaga utara dan 2 pengawal lainnya menjaga selatan. Supaya para pembawa surat ini bisa tertangkap. Setelah tertangkap, maka Jieji meminta anak buah kepercayaannya untuk ke Wudu menyampaikan informasi kepada QianLong, tentu dengan memakai surat asli dari He Shen. Sedang saat menyampaikan informasi kembali ke WuWei, Jieji memakai semua anak buahnya yang menyamar sebagai anak buah QianLong. Jieji memesan kepada Jenderalnya, apabila nampak tanda api mereka harus segera mengepung WuDu yang sudah tidak ada panglima perangnya. Maka dengan mudah, Wudu dirampas kembali. Setelah mengingat kembali kejadiannya, Para jenderalnya dan pengawalnya sangat mengagumi Jieji. "Anda benar seorang malaikat hidup." Kata mereka serentak. "Aku akan membebaskan Wen Dun, tetapi dia harus dibekali surat.

setelah He Shen melihat suratnya. Maka WuWei dan XiPing akan aman." Para Jenderalnya bingung mendengar apa yang dikatakan Jieji. Namun mereka juga tidak bertanya lebih lanjut,karena tidak mungkin di jelaskan olehnya. Jieji segera memberi perintah rahasia kepada 5 Pengawalnya untuk segera menuju ke perbatasan Di Dao. "Apa malam ini kita harus bersiaga?" tanya Jenderalnya kembali. "Tidak perlu, cukup 500 orang saja yang menjaga di dalam kota. Sedang yang lainnya tidur. Dengan bergiliran masing-masing 4 jam." Kata Jieji. Qian Long yang tertinggal di dalam kota, segera dipersilahkan ke ruangan pejabat. Di sini Jieji menjamunya dengan luar biasa mewah. Jieji berbicara sangat sopan terhadapnya. Dia, yang diperlakukan begitu tentu sangat senang luar biasa. "Junjunganku dari Dinasti Sung yang besar selalu ingin bersahabat dengan pasukan Qiang. Mohon Jenderal bisa mengabulkan permintaannya." Kata Jieji "Maaf, ini kesalahan saya membawa pasukan sehingga merepotkan Tuan Jenderal. Setelah kembali ke Qiang, hamba akan mati-matian mengusulkan untuk mengikat persahabatan dengan Dinasti Sung, Ini adalah janji saya untuk membalas kebaikan Anda." kata Qian Long yang sangat bersyukur akan kemurahan hati Jieji. "Baik, saya sangat berterima kasih atas niat anda Tuan." kata Jieji kemudian. "Oya, ada yang mau saya tanyakan. Dimana pemuda bernama Wei JinDu itu

berada sekarang?" tanya Jieji. Qian Long merasa aneh kenapa dia bisa menanyai putera angkat dari He Shen. Namun dia tetap menjawabnya, "Sehari sebelum anda datang ke kota DianShui. Malam-malamnya atas perintah He Shen, dia segera berangkat ke ibukota." Jieji berpikir sebentar, dia sudah tahu maksud kedatangan JinDu ke ibukota. Lantas Yuan yang sedari tadi berdiri menanyainya. "Jenderal, kenapa anda membiarkannya pulang?" Jieji hanya tersenyum dan tidak menjawabnya lebih lanjut. Setelah itu Qian Long dipulangkan bersama prajuritnya yang masih tertinggal di Dianshui. Tengah malam ... Di depan kamar pejabat, Nampak Jieji sendiri duduk di tangga. Sambil meneguk sebotol arak. Dia sedang mengamati Lukisan Xufen. Lukisan wanita ini yang sedang tersenyum selalu menggoda hatinya. Dalam keadaan setengah mabuk dia menggumam,"Xufen.. Kenapa kamu tinggalkan aku sendiri?? Ingin rasanya aku ikut denganmu.. Kamu tidak tahu, betapa aku kehilangan dirimu.. " Seorang wanita kecil sedang memperhatikannya. Dia terpaku tanpa gerak memandang ke pria yang sudah berlaku sinting ini. Setelah beberapa lama, dia datang menyapanya juga, sambil duduk berduaan di tangga. "Kamu rindu sama Xufen lagi yah?" tanya wanita kecil itu tak lain adalah Yunying.

Jieji menatapnya. Sesekali dia menggoyang kepala, untuk menghentikan rasa mabuk yang sudah menjalarinya. "Kalau kamu rindu kepadanya, tidak usah pandangi lukisan itu. Pandangilah aku. Kan sama saja .. " kata Yunying dengan tersenyum. Jieji segera berpaling ke wajah Yunying, melihatnya dengan penuh perasaan, matanya mengandung rasa kepahitan dalam. Yunying tidak pernah tahu, kata-katanya malah jadi bumerang bagi dirinya. Dia tampak tertunduk malu. Jieji segera sadar. Dia meminta maaf terhadap kelakuannya yang kurang sopan. "Ohya? Boleh tau, dengan cara apa kamu mengambil kembali Wu Wei dan Xi Ping?" tanya Yunying kembali setelah suasana kembali cair. "Kamu tahu, orang hebat membunuh orang dengan cara bagaimana?" tanya Jieji dengan tersenyum. Yunying mengingat kata-kata ini sebentar. Setelah itu dia menjawabnya, "Saya tahu, dalam riwayat KungFu Tzu, pernah dikatakannya sekali. Ketika muridnya menanyainya. Dia menjawab "orang hebat membunuh orang dengan penanya. Orang biasa membunuh dengan lidahnya. Dan orang rendah membunuh orang dengan batu"." "Betul... " kata Jieji sambil tertawa. "Jangan-jangan Wen Dun yang membawa surat itu...." kata Yunying kembali. "SSStttt... " kata Jieji.

Percakapan mereka ditutup dengan tawa mereka berdua. Di Kota Wu Wei... He Shen yang sudah bangun akibat pingsannya tadi sore,segera meminta pengawalnya melakukan penjagaan ketat. Dia mengirim mata mata ke perbatasan Di Dao untuk mengetahui apa yang dilakukan pasukan Jieji. Selang waktu 2 jam, dia mendapat informasi. Pasukan Jieji terdiri dari 5 kelompok. Pasukan pertama menggali sumur dekat Di Dao, pasukan ke 2 berpencar di atas gunung untuk menebang kayu. pasukan ke 3 membakar rimba kecil di sebelah barat Di Dao. Pasukan ke 4 berlatih cara memukul genderang. Pasukan ke 5 tidak berbuat apa-apa selain berteriak "AKU CINTA PADAMU". He Shen yang mendapat informasi ini,sungguh luar biasa bingung. Dia sangat mencurigai apa yang dilakukan oleh musuhnya. Dia tidak bisa tidur dengan baik. Justru saat dia berpikir keras, Wen Dun dikabarkan telah kembali. "Kamu tidak apa-apa?" tanya He Shen. "Tidak, tuan. Ini ada surat dari Jenderal Oda itu." kata Wen Dun kemudian. Setelah membuka sampul suratnya, He Shen membacanya. "Kepada Panglima Besar Pemberantasan Wilayah barat, atau Raja muda- Xi Liang dengan gelar He Wang. Saya seorang jenderal dari negara Dongyang ingin memberikan beberapa usul. Mengingat akan jasa besar anda ketika berperang hebat melawan Liao. Anda layak diberi gelar Raja Dinasti He. Namun seiring daripada itu,

gelar anda yang akan mensejarah juga harus ditambahkan di setiap keturunan anda, tentu maksud saya disini adalah Raja Kura-kura. Anda tidak mempelajari ilmu perang dengan benar. Anda tertawa besar dan mengira berhasil, padahal cuma kupancing dengan sedikit ilmu. Anda datang ke Dian Shui, dan merebut Wudu. Anda pikir bahwa anda tanpa tanding. Ternyata, cuma katak dalam tempurung. Semua keluarga anda malu di Xi liang. Dimana anda dapat meletakkan kepala dan merasa bangga? Oleh karena itu, seperti yang kukatakan tadi. Anda tidak lebih baik dari seekor kura-kura. Umur anda sebenarnya tidak muda lagi, untuk ukuran Jenderal seharusnya anda pulang ke kampung dan menikmati kemerdekaan. Namun disini anda melakukan pemberontakan, seperti yang kukatakan kembali. Kura-kura tidak pernah akan berjaya. Anda memimpin pasukan istimewa untuk sampai di DianShui, tidak di sangka dengan mudah anda terjebak. Ini tidak lain karena, anda tidak tahu ilmu perang. Anda bagaikan seekor kunang-kunang yang bangga akan cahayanya. Padahal ketika matahari terbit, dimana anda? Untuk kepala kura-kura, anda pantas diberikan gelar baru. Saya sendiri sudah mengirimkan usulan gelar baru bagi anda ke Raja dinasti Sung, Zhao kuangyin yang bergelar Sung Taizu. Gelar baru bagi anda adalah : "Raja muda Xi Liang merangkap penjaga kura-kura dari pantai Bei Hai" Saya memikirkan gelar ini bermalam-malam, seperti saya merindukan istri saya yang jauh di alam sana.

Oleh karena semua hal semacam ini, mohon anda pertimbangkan dahulu secara masak-masak. Saya menantang anda untuk berperang keesokan harinya jika anda masih sanggup keluar dari benteng Wu Wei. Tertanda, Panglima pembantu He Kura-kura dengan gelar Panglima pendamai wilayah barat Kawashima Oda. Setelah membacanya, luar biasa gusarnya He Shen. Untuk sesaat tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat. Dia segera jatuh di tanah. Para pengawalnya terkejut, dan segera mendapati bahwa dia telah tewas.

BAB XXIII : PAHLAWAN
Putera He Shen yang tidak disana dikabari, bahwa ayahnya meninggal dengan kekecewaan yang sangat mendalam. He Yan, yang segera membaca surat yang dipersembahkan Jieji kepadanya langsung gusar. Dengan marah besar, dia bermaksud keluar kota untuk berperang mati-matian dengannya. Namun dia dicegah pengawalnya. "Tuan, anda tidak boleh sembarang bergerak. Jika anda bergerak sekarang, musuh pasti sudah menyiapkan perangkap untuk anda, mengingat Jenderal itu pasti ingin anda yang marah besar ini segera menerjangnya, sementara mereka telah mempersiapkan perangkap bagi anda." kata mereka seraya memperingatinya. He Yan bisa sadar akan situasi dan keadaan sebenarnya. Mengingat, beberapa kali mereka terpancing oleh Jieji dengan mudah. Maka daripada

itu, dia mengurungkan niatnya. Justru saat itu, Qian Long kembali dalam keadaan selamat. He Yan sangat heran, pasukan Qiang kembali semua. Tidak ada seorang pun yang di tahan di DianShui. Oleh karena ini, Qian Long dicurigai oleh He Yan. Dia memerintahkan pasukannya yang berjumlah sekitar 2000 orang saja untuk terus berjaga,tetapi tidak pasukan Qiang yang baru pulang. karena menurutnya mungkin musuh akan menerjang tidak lama lagi. Selain itu, dia membuat tanda perkabungan. Semua pejabat, Jenderal harus memakai pakaian berkabung. Semua keadaan pasukan Wu Wei sudah diketahui oleh Jieji sejak dia melepaskan Wen Dun. Padahal sama sekali dia tidak mempersiapkan perangkap baginya, juga semua pasukannya diperintahkan olehnya untuk beristirahat. Jika He Yan menerjang malam ini, kemungkinan berhasilnya lebih banyak. Tetapi pengalaman membuatnya jerih, dan terakhir pengalamanlah yang membuatnya tertipu mentah-mentah. Keesokan harinya... Jieji memimpin pasukannya sekitar 500 orang untuk menuju ke kota WuWei. "He Shen sudah mati. Sebentar lagi kota WuWei juga akan kembali." Kata Jieji singkat. Para Jenderalnya heran mendengar apa yang diucapkan Jieji. "Kenapa anda bisa berpikiran seperti itu?" tanya Jenderalnya. "Jika tidak, bukan kita yang harus ke WuWei. Tapi pasukan WuWei yang harus kemari. Pasukan Qiang yang kita bebaskan semalam, akan menjadi

malapetaka bagi Pasukan He. Lihat saja nanti." Kata Jieji. 1 Li di depan kota Wuwei. Jieji berteriak,"Saya jenderal di bawah pimpinan He Shen akan melayat jenazah Tuan He sebagai tanda perkabungan." He Yan keluar dan muncul dari atap kota. "Keparat! Hari ini aku akan mencincang tubuhmu. Pasukan!!! Dengarkan perintah, tangkap hidup-hidup orang yang memakai kuda biru itu." teriak He Yan. Pasukan Qiang yang dipimpinnya tidak ada seorang pun yang menaatinya. Semua diam membisu. Hal ini malah membuatnya makin gusar. Dia semakin curiga pada Qian Long, pasti Qian Long yang mengirim berita tewasnya ayahnya, He Shen pada Jenderal ini. "Pengawal.... Lekas tangkap Qian Long. Dan bunuh di tempat."teriak He Yan. Pasukan Qiang yang mendengar pemimpinnya akan dibunuh, dengan segera mengepung pasukan He Shen yang tinggal sekitar 2000 orang saja. Pasukan Qiang di dalam kota ini adalah pasukan yang pernah dilepaskan oleh Jieji, jumlahnya tidak kurang dari 5 laksa serdadu. Sekarang posisi He Yan mencil, dia telah terkepung. Sisa pasukannya semua menyerah, yang tinggal hanyalah dirinya dan 10 pengawalnya. Hingga akhirnya, mereka juga tertangkap dan diikat dengan tali dalam keadaan berlutut. Qian Long dari dalam segera membuka kota WuWei. Pasukan Qiang yang di dalam segera berlutut.

Jieji bersama 500 pasukannya berjalan pelan masuk. Dengan segera, Jieji turun dari kudanya karena melihat pemandangan yang sangat luar biasa ini. Semua pasukan Qiang yang jumlahnya 5 laksa ini sedang berlutut menantikannya masuk ke kota. "Kalian semua, Berdirilah..." kata Jieji kemudian. Namun mereka tidak beranjak dari sikap ini. Dan terdengar teriakan kecil dari ujung. Kemudian merambat ke depan. Sesaat kemudian, teriakan telah membahana. Para Pasukan Qiang ini cuma menyebut dua buah kata yaitu " ING SIUNG.../ PAHLAWAN.." Teriakan berulang ulang ini sangat membahanakan seluruh kota. Yunying dan para Jenderal yang berada di belakang merasa sangat senang luar biasa. Kegembiraannya tiada tara, lebih senang perasaan semacam ini daripada ketika mereka menang perang. Setelah teriakan membahana ini berhenti, Qian Long datang menyambutnya dengan segera berlutut. Namun dengan cepat, Jieji memintanya berdiri. Pasukan disamping juga segera diperintahkan bangkit. "Saya seorang tidak berguna dari Dinasti Sung, cuma mempunyai sedikit kepandaian yang tidak perlu dibuat terkejut. Kata "Pahlawan" terlalu berat untuk diterima olehku. Mohon maaf saudaraku sekalian." Teriak Jieji yang didengar oleh semua pasukan Qiang ini. "Tidak, jika bukan anda seorang pahlawan, lantas siapa lagi." Kata Qian long kemudian. Sesaat setelah itu, beberapa pengawal membawakan Chai Zongxun. Satu-satunya putera Chai Rong, kaisar Dinasti Zhou terdahulu.

Jieji segera mengatur 3000 pasukan dan meminta pengawalnya mengantarkan Chai zongxun dan He Yan serta beberapa Jenderal pemberontak untuk dikirim ke ibukota untuk diadili. Sedang mayat He Shen, diangkut ke ibukota juga. Setelah itu, Jieji melakukan pesta besar-besaran dengan pasukan Qiang di WuWei. Xiping, sebuah kota yang berseberangan dengan WuWei pun segera menyerah. Pemimpin kota Xiping adalah Huan Er yang berasal dari Pasukan Qiang , dia juga diminta ke WuWei untuk pesta bersama. Keesokan harinya... Jieji mengatur pejabat daerah disana, meminta pasukan Qiang untuk kembali ke wilayahnya masing-masing. Namun, Jieji juga berjanji untuk pasukan Qiang, mereka tidak perlu mengirimkan upeti kepada Dinasti Sung selamanya. Kedua belah pihak terus bersahabat. Sementara, pasukan Qiang yang terbunuh dalam perang pemberontakan ini akan mendapat ganjaran setimpal dari Kaisar Sung. Semua pasukan Qiang yang mendengarnya, sangat girang serta bersyukur luar biasa kepadanya. Sebuah surat menyusul ke ibukota. Di Kaifeng... Zhao kuangyin yang mengetahui adik ke 2nya telah berhasil memadamkan pemberontakan, sangat senang. Karena harapan dia berhasil dengan sukses. Dia juga mendapat surat dari adiknya, semua permohonan disini memang tidak berat untuk Dinasti Sung. Dan dia juga berpikir, setelah

ini maka selama Dinasti Sung berkuasa, maka pemberontakan Qiang tidak akan terjadi lagi. Dia menyetujuinya, dan meminta utusan segera menuju WuWei untuk mengumumkan keputusannya lebih lanjut. Setelah itu, dia mendapat kabar sampainya para pemberontak yang tertangkap. He Yan, putera He Shen segera dipenggal kepalanya berikut jenderal-jenderal Sung yang membantunya. Sedang Chai zongxun diluar dugaan malah dibebaskan. Para menteri sangat menyayangkan keputusan kaisar, Perdana menteri Yuan segera memberi saran kepada kaisar. "Yang Mulia, kenapa anda tidak segera membunuh penerus Chai Rong itu?" "Banyak orang tidak mengerti diriku.. Dulu.. Sewaktu aku masih menjadi seorang Jenderal kakeknya, saya sangat disayang oleh Guo Wei. Dia telah menganggap ku sebagai puteranya. Sekarang Keturunan keluarga mereka cuma Chai zongxun yang berusia belia, jika saya membunuhnya,bagaimana saya bisa bertemu Guo Wei di alam sana." kata Zhao seraya meneteskan air mata. Perdana Menteri ini menghela napas panjang seraya mengundurkan diri. Yuan tahu, sebenarnya Zhao adalah orang yang sangat berbudi, dia tidak mampu melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Yuan di satu sisi salut kepadanya, dan di satu sisi lagi menyayangkan keputusannya. Di bebaskannya Chai zongxung terbukti akan sangat merugikan Zhao pada masa yang akan datang. Namun, inilah keputusan bulatnya yang tidak bisa diganggu gugat lagi.

Chai ditempatkan di Nan Hai, yaitu kota terakhir sebelah selatan China. Namun gelar kebangsawanannya di cabut. Sekarang dia tidak ubahnya rakyat jelata saja. Di Wu Wei... Jieji akan pamit menuju kota raja kembali. Dia diantar oleh pasukan Qiang sebanyak ratusan ribu orang. "Mengantar ribuan li, terakhir akan berpisah juga." katanya kepada Qian Long. Dia diminta kembali ke tanah airnya. Qian Long meminta pamit dengan derai air mata. Dengan segera dia membawa pasukannya pulang. Dari sana masih terdengar suara," Ing Siung..." yang diucapkan berulang-ulang. Jieji segera menuju ke timur beserta 500 pasukan yang dibawanya. Selebihnya, pasukannya dipisahkan kembali ke kota Changan, Wudu, ChengDu, Anding dan HanZhong. Jieji di tengah perjalanan segera memberikan plakat tanda Jenderalnya kepada Yuan FeiDian untuk segera dikembalikan ke Kaisar. Yuan menanyainya. "Anda tidak menuju ke ibukota dahulu?" tanya Yuan. "Tidak. Saya ada sesuatu perlu. Jika jumpa dengan Yang mulia, kabarkanlah. Saya sudah mengerti arti tanda "Sepuluh" itu." Kata Jieji kemudian. "Ada sesuatu pengajaran yang saya ingin meminta petunjuk dari anda,"kata Yuan kemudian. "Saya tentu tidak ada kepandaian yang hebat. Jika ada yang saya tahu,

saya akan memberitahukannya kepadamu." Kata Jieji. "Bagaimana anda bisa menjadi seorang detektif yang sangat hebat?" tanya Yuan. "Saya sendiri tidak merasa hebat, tetapi jika anda ingin tahu. Saya akan mencoba memberitahukannya. Sesuatu hal kecil yang janggal,dimata detektif akan kelihatan sebagai sesuatu hal besar yang sangat luar biasa janggalnya." Kata Jieji. "Ingatlah kata-kata ini, maka anda sudah layak menjadi seorang detektif." Kata Jieji kemudian. "Terima kasih...." Balas Yuan. Kemudian mereka memisahkan diri di perbatasan menuju Kota Changan. Pasukan Yuan bergerak ke timur. Sementara Jieji dan Yunying menuju ke Anding. "Ada sesuatu yang kamu perlu cari disini?" tanya Yunying. "Betul.. Masih ingat hal yang kamu katakan di ruangan penyimpanan pusaka itu?" "Kata "Sepuluh"." kata Yunying. "Iya, itulah. Lihat gunung di bagian utara itu." kata Jieji kemudian seraya menunjuk. "Itu adalah gunung Hua, yang puncaknya tertutup salju setiap tahunnya." Baru berbicara, Yunying segera menyadarinya. "Benar juga, Huruf "Hua" itu kan terdiri dari Huruf "Qi / tujuh" di atas dan huruf " Sepuluh / Pedang " di bawahnya. " kata Yunying kemudian. "Ha Ha... Ternyata kamu ini cepat juga pintarnya yah.." kata Jieji seraya tertawa.

BAB XXIV : Pedang Es Rembulan

"Ada pepatah mengatakan, Dewa yang setiap hari bertemu hantu pun lama-kelamaan menjadi Hantu." kata Yunying tertawa mengejeknya. "Sial, kamu anggap aku ini hantu?" kata Jieji. "Tapi kamu ini hantu baik, toh setiap orang juga akan jadi hantu. Kenapa takut?" kata Yunying seraya tertawa. "Ohya, sejak kapan kamu menyadarinya? Kata tujuh dan sepuluh itu?" tanya Yunying kembali. "Saat kita bertemu dengan Dewa sakti dan Dewi peramal itu disini." Kata Jieji. "Hebat, kamu tidak langsung mencarinya karena tugas negara lebih penting khan?" tanya Yunying. "Tentu, itu sih tidak usah ditanya,anak-anak pun tahu." kata Jieji menyindirnya. Perjalanan terus dilanjutkan Ke kota Anding. Jieji mengambil keputusan untuk berangkat menuju Hua Shan besoknya. Sebenarnya kata "Hua" adalah gabungan antara "Qi / tujuh" dan "She / Sepuluh,sepuluh disini adalah tanda seperti salib yang mengartikannya sebagai lambang Pedang." Sedangkan kata "Shan" artinya gunung jika diubah maka akan menjadi kata "Xian" yang berarti bidadari. Jadi Tujuh bidadari dan pedang adalah kata lengkap dari Hua Shan/ Gunung Hua. Dalam 3 jam perjalanan, Jieji dan Yunying tiba juga di depan kota AnDing. Sesampainya di depan gerbang, saat itu langit telah mulai gelap. Di depan kota terjadi percecokan yang luar biasa ributnya. Jieji sangat suka akan hal-hal seperti itu, dianggapnya inilah "BAU KASUS". Disana tampak beberapa polisi, ditanyainya apa yang sedang terjadi.

Polisi yang melihat perawakannya, serta memakai Kuda berwarna biru ini sadar, pemuda ini bukan sembarang orang. Dia bermaksud memberitahunya apa yang sedang terjadi. "Nenek itu, sekitar beberapa saat yang lalu di rampok di depan gerbang ini. Namun perampok dikejar oleh seseorang, dia berhasil ditangkap. Namun ketika nenek itu menyusul. Mereka berdua mengaku kalau mereka bukanlah pencuri. Si nenek sendiri tidak bisa mengenal kedua pemuda ini. Mana yang menolongnya dan mana yang merampoknya. Kebetulan sekali mereka memakai pakaian yang berwarna agak gelap. Kami sedang memecahkan kasus ini." kata Polisi itu. Jieji yang mendengarnya segera tertawa terbahak-bahak. Lantas dibisikinya petugas polisi itu. Lalu diajaknya Yunying segera mencari penginapan. Yunying yang tidak sabar sedari tadi menegurnya. "Memangnya kamu tahu siapa pelakunya?" "Tidak." "Lalu kenapa bisa-bisanya kamu ketawa?" "Saya tidak tahu siapa diantara mereka yang merampok. Tapi saya tahu caranya untuk mengetahui siapa yang merampok atau yang mengejarnya." kata Jieji. "Bagaimana ? Kamu kan tahu aku ini bodoh, tidak secerdik kamu. Tolong kasih tahu donk..." kata Yunying. "Jika kamu adalah perampok, apa yang kamu lakukan?" "Tentu, lari secepatnya." kata Yunying.

"Bagaimana perasaanmu saat itu?" "Saya akan takut, dan berusaha lari semampuku." kata Yunying. "Lalu kenapa kamu terkejar?" tanya Jieji balik. "Oh...." Segera Yunying sadar. "Aku sudah tahu, saya berlari secepat-cepatnya. Namun ada yang sanggup mengejarku. Dengan begitu, berarti pasti kamu suruh polisi itu untuk memaksa mereka berlari. Siapa yang paling cepat, pasti dialah yang menolong nenek itu. Karena dia sanggup mengejar perampok yang lari dengan sekuat tenaga itu, betul khan??" Kata Yunying. "Ha Ha.. Sudah kubilang kamu ini pintar, tapi kamu tidak percaya." kata Jieji sambil tertawa. Malamnya mereka bermalam di Anding. Kota Anding adalah kota yang cukup dekat dengan HuaShan. Satu hal kenapa Jieji tidak segera menuju ChangAn adalah Kota Anding sebenarnya berarti "Kedamaian di atas". Lukisan 7 bidadari dan puisinya menggambarkan keadaan surga. Karena surga di atas, maka dia berangkat ke Anding. Bukannya ke Changan yang berarti "perdamaian abadi." Mungkin menurut Jieji, kota Anding inilah paling dekat keberadaannya dengan Pedang Es Rembulan. Keesokan harinya... Jieji dan Yunying segera berangkat setelah menyiapkan bekal makanan. Mereka menuju ke arah utara dengan santai. Angin sejuk disini lain sekali, angin gunung yang bertiup seakan bersuara damai. Mereka berdua sangat menikmati angin ini. Tiba-tiba pendengaran sensitif Jieji bekerja. "Ada yang menuju kemari. Sembunyi dahulu." katanya

Jieji dan Yunying memilih tempat di sebelah kanannya. Disana terdapat beberapa pohon yang lebat.Memang tidak lama, terdengar derap kaki kuda yang cukup cepat. Setelah dekat, mereka berdua segera mengenali orang berkuda ini. Dia tak lain adalah putera Yue Fuyan, Yue Liangxu. "Itu calon suamimu telah mencarimu sampai kesini." kata Jieji. "Hush.. Calon suami apa? Dasar gilak." kata Yunying. Sebenarnya dulu,Yue Liangxu bukanlah pemuda yang sok seperti sekarang. Tetapi setelah dia mewarisi jurus tapak penghancur jagad ayahnya, dia berubah. Dari pemuda yang sopan dan tampan menjadi seorang pemuda yang bengis, dan dengki hatinya. Dia merasa tapak penghancur jagad ayahnya yang totalnya 9 tingkat itu tanpa tanding lagi. Merasa dirinya sangat hebat, dia sering memamerkannya walaupun terhadap masalah yang kecil saja. Yunying yang 2 tahun lalu sangat mengagumi kakak seperguruannya ini, tetapi seiring diwarisinya tapak itu ke dia. Sang kakak seperguruan telah berubah, dia malah mulai tidak menyukainya lagi. Karena setiap kali dia bertemu, maka hal yang dibicarakannya tak lain adalah ilmu silatnya itu. Yue Liangxu yang kehilangan jejak mereka, segera menuju ke arah barat. Jieji berdua segera keluar dari tempat persembunyian. "Lihatlah, dia sedang mencari calon istrinya. Sementara calon istrinya malah bersembunyi dengan pria lain." kata Jieji mengejek. "Calon istri kepalamu, sebenarnya cuma dia dan ayahnya yang datang melamarku saja. Saya sendiri belum memutuskan lebih lanjut." kata

Yunying. "Oya? Jadi begitu kejadiannya. Kalau begitu, bagaimana kalau dengan status Pangeran-ku,aku datang ke rumahmu untuk melamar?? Bagaimana?" kata Jieji. "Itu lebih gawat. Kamu terlalu tua untukku, selain itu. Mana mau aku jadi istri kedua orang." kata Yunying. Meskipun mereka bercanda, namun muka Yunying memerah juga. Dia malu terhadap kata-kata candanya. Perjalanan mereka terus dilanjutkan ke utara. Mereka meninggalkan kuda mereka di sebuah pohon yang tertutup rimba. Dengan segera mereka mendaki Hua Shan. Sesampainya di dekat puncak, Jieji cukup terkejut melihat sebuah fenomena disana. Gunung Es, tetapi di sebuah tanjakan dia menemukan Air terjun kecil. Airnya yang mencair mengalir perlahan. "Ada apa?" tanya Yunying. "Coba periksa kesana." kata Jieji seraya menunjuk air terjun kecil. Mereka berdua berjalan ke arah air terjun kecil. "Emang ada yang aneh dengan air terjun itu?" "Lukisan pemandian 7 bidadari, Disini semua gunung tertutup salju. Sepertinya es yang mencair tidak banyak disini." kata Jieji. "Ayok.. Cepat kita cari tempat untuk bisa masuk ke dalam." kata Yunying. Dan ternyata dugaan Jieji sekali ini benar. Di belakang nampak sebuah goa es kecil.

Seraya meminjam pedang Ekor Api, Jieji mencabut sarungnya. Pedang Ekor api mengandung hawa panas, di buatnya lubang goa yang sempit itu menjadi besar dengan hawa panas pedang ini. Hanya beberapa saat, Depan goa itu telah mencair. Mereka berdua masuk ke dalam, namun Jieji memperingatkan Yunying untuk kembali menyimpan pedang itu di dalam sarungnya. Goa ini juga hampir sama dengan goa dimana dia menemukan Pedang Ekor Api. Goa berkelok-kelok dan sangatlah licin. Jieji dan Yunying berusaha untuk setengah jongkok supaya tidak terpeleset akan licinnya es di bawahnya. Sambil memegang tangan Yunying, Jieji meluncur perlahan bersamanya. Setelah sampai di dasar goa ini. Jieji menemukan sebuah lorong. Lorong yang cukup panjang dan lurus. Ketika Yunying mau beranjak terus ke depan. Jieji segera mencegahnya. "Ini aneh, jangan-jangan ada perangkapnya." Dengan tapak, dia menghancurkan sedikit es di bawah kakinya. Es segera digenggam di tangannya. Jieji melemparkan lurus ke arah lorong. Dan benar, ternyata ada perangkap. Ketika es ini meluncur, dari samping kiri keluar panah yang mengikuti es itu. "Kamu bisa lari lebih cepat dari lemparan esku itu?" tanya Jieji. "Tidak... Jadi bagaimana kita lewat?" Jieji berpikir sebentar. "Hm.. Ada cara." Kali ini di hancurkannya lebih banyak es. Lalu

dibagikannya dengan Yunying. "Ayok kita lempar rame-rame." Kata Jieji seraya bercanda. Mereka berdua melemparnya sekuat tenaga. Panah segera muncul tidak hentinya. Begitu es habis, Jieji kembali menghancurkannya lagi. Mereka berdua melempar es dalam waktu lebih dari satu jam. Dan terakhir, panah tidak meluncur lagi. "Kenapa kamu bisa tahu dengan cara seperti ini kita bisa lewat?" tanya Yunying. "Menurutmu, panah disana tersimpan berapa banyak?" "Mana kutahu. Maksudmu, suatu saat bisa habis ya?" kata Yunying kembali. "Pintar," kata Jieji seraya mengusap rambut si nona ini. "Ayok.. Segera berangkat." Mereka berdua segera melewati lorong panjang ini. Diujungnya terdapat sebuah pintu Es, Jieji mendorong pintu ini perlahan. Karena mungkin dirasanya ada perangkap. Namun, setelah pintu di dorong. Tidak terdapat sesuatu, kecuali sebuah tempat dan lorong yang gelap. Dan disana rupanya, kedua belah jurang telah menantinya. "Bagaimana ini? Dengan cara apa kita melewatinya." tanya Yunying. "Pinjam pedangmu itu." Jieji segera membuka sarungnya. Begitu dibuka, daerah gelap itu pun segera terang karena sinar merah pedang ini. Betapa terkejutnya mereka berdua, jalan yang tadinya jurang segera menampakkan setapak yang cukup jelas. "Kamu berani melewatinya?" tanya Jieji.

"Tentu." kata Yunying. "Kalau begitu kamu di belakang, berpeganglah terus kepadaku." "Baik." Pedang di arahkan ke jalan setapak yang muncul tersebut. Dengan perlahan, kaki Jieji mencoba mendarat ke jalanan ilusi itu. Dan benar, jalan ini bisa dipijak layaknya tanah. Dengan berjalan pelan, Jieji yang menggandeng Yunying melewatinya. Tidak sampai setengah jam mereka berhasil mencapai ujungnya. Di ujungnya terdapat sebuah pintu Es. Jieji kembali dengan perlahan mendorongnya. Saat pintu ini terbuka, keduanya terpesona melihatnya. Ruangan Es tampak luar biasa cantiknya akibat sinar matahari yang sedikit tembus. "Rupanya inilah yang dimaksud dengan "Surga dunia" itu. Seperti lukisan 7 bidadari yang mandi, cantik dan berseni sekali namun menyesatkan, terbukti banyak perangkap tadinya di luar." kata Jieji. "mm.. " kata Yunying seraya mengangguk. Jieji melihat ke kiri kanan, disana juga sama. Terdapat rak buku, yang dimana diletakkan sebuah kitab. Buku kitab itu ternyata sama dengan buku kitab yang dipegang Yunying. yaitu "Kitab ilmu memindah Semesta". "Coba keluarkan buku kitab mu itu." Kata Jieji. Setelah diteliti, ternyata keduanya tidak sama. Kepunyaan Yunying adalah kitab Ilmu memindah Semesta dari tingkat 1 sampai ke 5. Sedang buku kitab di rak berisi tingkat 6 sampai 10. Jieji seraya

mengangsurkan kedua kitab ini kepadanya. "Jadi ini untukku?" tanya Yunying. "Tentu, kamu punya awalnya. Mana mungkin kuambil akhirnya." Kata Jieji. "Terima kasih.... " Kata Yunying girang. Cuma ada 1 hal lagi yang membuatnya penasaran. Ketika di Gunung Fuji, saat diambilnya kitab di rak. Muncul cahaya terang. Namun ini juga tidak kunjung muncul. Dia berjalan segera ke arah tengah. Disana memang sepertinya ada tempat memasukkan pedang. Namun, kenapa pedang ini tidak muncul. Jika ada orang yang mencurinya, kenapa kitab ini tidak diambil. Baru berpikir sebentar, Yunying segera mengeluarkan pedang Ekor api dari sarungnya. Dan mendekatkan pedang itu ke arah di tancapkan pedang. Sesaat setelah itu, muncullah sinar terang luar biasa. Sinar ini berwarna biru muda. Sesaat itu, hilangnya sinar biru ini menuju ke arah ditancapkannya pedang. Dan muncullah sesuatu benda berbentuk batang di tengahnya. Yah, inilah Pedang legendaris itu. "Pedang Es Rembulan". Di bawahnya tertulis ukiran kalimat. "Aliran Air membeku, Menguasai dunia persilatan"

BAB XXV : Kembali Ke Hefei
Jieji yang melihatnya cukup terkejut. Bagaimana wanita kecil ini punya ide seperti itu? "Bagaimana bisa kamu tahu harus didekatkan?" "Wah, ternyata kali ini saya mampu berpikir mendahuluimu." Kata Yunying sambil tersenyum kecil.

"Wanita itu ibaratnya adalah Yin. Seorang laki-laki itu ibaratnya Yang. Keduanya saling melengkapi. Jadi ketika saya melihat benda aneh yang mirip colokan pedang. Langsung kukeluarkan saja pedang Ekor api ini. Cuma sesederhana ini, kok. Tentu mengingat ruangan sebelumnya, dan halhal sebelum kita masuk, maka bisa kutebak sedikit." sambungnya. "Wah, mungkin cara berpikir ku terlalu rumit. Ternyata pedang bisa muncul dengan cara begini sederhana. Sebelumnya malah kupikir bahwa pedang ini sudah dicuri. Mengingat keadaan di gunung Fuji, aku merasa heran. Kenapa kali ini setelah kitab diambil, sinar itu malah tidak muncul." kata Jieji menjelaskan. "Tidak, ini adalah karya luar biasa besar loh. Jika tidak percaya, aku akan mengembalikan kitab ini ke rak. Dan yang mengambilnya harus aku dari sana, pasti cahaya yang kamu bilang akan muncul." kata Yunying. Seraya berjalan ke arah rak, Yunying meletakkan kembali buku itu. Dan seiring itu, pedang yang nampak menancap itu hilang dari pandangan. Dan diambilnya kembali buku itu dari rak. Ternyata, apa yang dikatakan Yunying terbukti. Sinar biru muda itu kembali muncul, dan sesaat setelah itu. Pedang yang hilang itu muncul kembali. "Hebat... Makin lama rasanya kamu semakin menarik." kata Jieji memujanya. "Untung pedang Ekor api dari gunung Fuji ini kamu yang menemukannya. Jika seorang wanita, maka Cahaya disana tidak akan muncul selamanya." Kata Yunying sambil tertawa kecil. Jieji mengarahkan pandangannya ke pedang tertancap itu. Dengan segera, dia mengangkatnya, serta membuka sarungnya. Ketika terbuka, pedang ini kelihatan sangat indah. Warnanya biru muda dan mengandung hawa dingin luar biasa. Dengan meminjam Pedang Ekor api, Jieji menggabungkan kedua bilah pedang ini. Ternyata tidak muncul reaksi apapun. Jieji terus berpikir, apa rahasia yang terkandung dalam kedua bilah pedang. Setelah itu, Jieji berpikir mungkin kedua bilah pedang ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ilmu pemusnah raga. Yunying yang sedari tadi melihatnya berpikir dengan asyik, lantas mengeluarkan suara juga.

"Apa kita akan keluar dari tempat kita masuk?" "Tentu." Mereka berjalan kembali menuju pintu Es yang tadinya telah terbuka. Namun kedua pedang ini belum dimasukkan ke dalam sarung. Tibalah mereka di ruangan gelap tadi. Sesaat cahaya pedang langsung bereaksi. Jieji bisa merasakan getaran di kedua tangannya. Kemudian dengan pelan, dia menggabungkan kembali kedua pedang. Lantas cahaya nan terang lantas muncul. Sebenarnya ruangan ini dibawahnya adalah jurang nan gelap tadinya. Namun setelah kedua pedang di gabungkan, jurang nan gelap itu terlihat terang dan terlihat beberapa aksara. Ini adalah pesan yang terkandung di dalam 2 bilah pedang ini. Dengan berjalan ke depan, Jieji membacanya. "Selamat kepada pemegang 2 Pedang Legendaris. Saya seorang pandai besi dari Dinasti Tang sangat mempunyai keinginan menciptakan pedang terbaik sepanjang masa. Pedang Ekor Api kubuat dengan mencari batu meteor nan panas yang jatuh ke Utara. Sedang Pedang Es Rembulan kubuat dengan batu meteor yang jatuh disini dengan menggabungkan meteor dan Es nan dingin. Kedua batu meteor berfungsi mempertahankan sifat asli dua pedang ini. Semoga pemilik pedang mampu menggunakannya untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan." Setelah membacanya, Jieji kecewa juga. Dia berpikir bahwa inilah petunjuk untuk mencari asal-usul Ilmu pemusnah raga. Namun, yang didapatinya malah pesan dari pembuat pedang ini saja. Tetapi, Jieji sangat menghargai karya besar pandai besi ini. "Ruangan ini, betul Maha karya sempurna di jagad. Ingin rasanya kubungkus pulang dan kunikmati bersama kenalanku." kata Jieji seraya bercanda. "Mmm..." kata Yunying seraya mengangguk kecil. Dari ruangan ini, mereka berdua akhirnya keluar juga. Herannya, pintu masuk mereka tadi kembali tertutup salju yang membeku kembali. Dengan hal yang sama, mereka keluar dari air terjun kecil. Jieji dan Yunying sangat mengagumi karya nan hebat ini. Setelah beberapa lama mereka menikmati pemandangan gunung Hua yang tertutup salju. Akhirnya mereka turun gunung juga.

"Sekarang kita akan kemana?" tanya Yunying yang telah sampai di lembah gunung Hua. "Saya rasa kamu harus pulang dahulu. Sudah lebih dari 4 bulan kamu meninggalkan Hefei. Sekarang saatnya kamu kembali." "Tidak... Saya tidak akan kembali." kata Yunying. "Tenang saja. Jika ada informasi tentang ibumu. Saya akan mengabarkan padamu pertama." kata Jieji. "Memang saya sungguh mengganggumu yah?" tanya Yunying. "Tentu tidak, saya ingin kamu pulang ke Hefei. Latihlah ilmu kitab memindah semesta dengan baik. Selain itu, saya harus pulang ke Dongyang . Karena ada beberapa hal yang akan saya urus disana." "Kenapa tidak bawa aku sekalian saja?" tanya Nona kecil ini kembali. "Karena apa yang bakal kulakukan disana sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibumu." kata Jieji. "Kalau begitu, saya akan mendengarkan kata-katamu." kata Yunying. Jieji mengangsurkan pedang Ekor Api kepadanya. Namun Yunying menolaknya. "Ini adalah hasil jerih payahmu. Seharusnya pedang ini disimpan olehmu saja." kata Yunying. "Tidak, pedang ini kamu simpan saja. Saya tidak memerlukannya, karena saya sudah punya Pedang Es rembulan. Dan tenanglah, karena saya yang membawamu keluar dari Hefei. Maka saya yang akan mengantarmu kembali." Kata Jieji kembali. "Iya.." kata Yunying singkat. Dari kota Anding, mereka segera berangkat ke Hefei. Perjalanan ini cukup jauh, dan tidak terasa memakan waktu selama sebulan. Akhirnya mereka sampai juga di Hefei. Inilah saatnya Jieji akan berpisah dengan Yunying. Yunying yang berjalan dahulu menuju kota dengan pelan. Jieji terus melihatnya. Namun, tiba-tiba si nona berpaling. "Apa kamu akan merindukanku?" tanyanya.

Jieji menatapnya lama dan mengatakan. "Tentu, semoga kita bisa berjumpa kembali tidak lama." katanya. "Dan 1 hal yang harus kamu ingat, jangan sembarang mengeluarkan pedang itu dari sarungnya. Karena saya tidak ingin hal yang diinginkan terjadi padamu." kata Jieji kembali. "Semua pesanmu akan kuingat.." Kata Yunying sambil tersenyum manis. Setelah itu, si nona memacu kudanya menuju ke kota Hefei. Jieji terus menatap si nona ini sampai dia hilang dari pandangannya. Setelah nona ini sampai ke kota Hefei, langsung tidak lama ayahnya sudah menjemputnya. Ini wajar saja, semenjak Yunying keluar dari rumah. Sang ayah sangat mencemaskannya. Semua orang di kota mengenal puteri ke 3 keluarga Wu ini dengan baik, maka dengan cepat informasi kepulangan puterinya telah sampai di telinga Wu Quan. "Nak, kamu ini tampak kurus. Beberapa bulan ini kamu kemana saja?" "Saya mencoba mencari informasi tentang ibu, tetapi hasilnya tetap nihil." kata Yunying. Wu Quan segera mengingat isterinya yang tercinta itu. Setelah menikah dengannya di usia yang sangat muda, Sang istri cuma tinggal di rumah tidak sampai dua tahun. Dan pergi jauh dengan alasan menyelidiki Ilmu pemusnah raga. Namun tak disangkanya, 17 tahun setelahnya dia pulang. Namun kali ini kepulangannya juga tidak berapa lama. Setelah 7 tahun, kembali dia meninggalkan sang suaminya. Wu Quan, seorang bekas penasehat perang yang sangat terkenal di wilayah Timur China. Oleh karena itu, banyak yang bersedia membantunya. Yue Fuyan adalah teman lamanya ketika dia berada dalam pasukan Dinasti Zhou. Keduanya pernah berjanji untuk saling mengikat tali perkawinan antar anak mereka. Setahun yang lalu, mereka pernah membicarakannya. Mengingat keakraban Yunying dan Liangxu semenjak kanak-kanak. Keduanya berinisiatif untuk menjodohkannya. "Cepatlah pulang ke rumah, Nak Liangxu sudah sangat merindukanmu." kata Sang Ayah. Yunying cuma mengangguk pelan, langsung dibawanya kudanya berjalan di depan ayahnya.

Wu Quan yang melihat pedang pendek yang tergantung di pinggang Yunying, merasa aneh. Lalu ditegurnya anaknya, "Benda apa yang kamu bawa dipinggangmu?" Sambil menariknya keluar Yunying mengatakan, "Ini cuma pedang biasa, namun karena cantik. Saya membelinya di kota Kaifeng." Sang ayah tidak bercuriga lebih lanjut, diikutinya si nona ini menuju ke kediamannya. Di Wisma Wu, si nona setelah mengunjungi kakak-kakaknya langsung menuju ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Namun tidak berapa lama, pintunya telah diketuk. "Adik, kamu telah pulang?" tanya suara seorang pria. Yunying tahu, yang memanggilnya adalah kakak seperguruannya. Segera dia bangkit dari tempat tidurnya, dan menuju ke depan kamarnya. Seperti biasa, kakak seperguruannya selalu mengajaknya ke taman kecil. Yaitu taman dimana Jieji pernah melihat mereka berdua ngobrol. "Dik, apa kabarmu? Kenapa meninggalkan rumah tanpa pemberitahuan?" tanya Liangxu. "Saya mau mencari ibuku." katanya pendek. "Kamu keluar kota sebenarnya dengan siapa?" "Sendiri saja." kata Yunying. "Oh? Bukannya kamu keluar kota bersama orang bernama Jieji itu?" tanya Liangxu yang agak gusar. "Ya, memang dia keluar kota bersamaku. Tapi tidak lama, dia beranjak ke utara. Sedang aku ke barat." kata Yunying membohonginya. "Oh, jadi begitu yah? Jika dia ketahuan keluar bersamamu, tidak akan kuampuni dia." katanya. "Kakak, kenapa kamu ini selalu ingin mencari masalah dengan orang lain? padahal orang tidak pernah bersalah padamu."kata Yunying yang sebenarnya membela Jieji. "Kamu tahu, berapa besar cintaku kepadamu. Saya ingin memberikan kebahagiaan terbesar buatmu." kata Liangxu.

Sampai sini, Yunying tidak mau berkomentar banyak lagi dengannya. "Ohya, anak buah ayahku pernah nampak kamu di Luoyang. Kenapa saat itu kamu tidak pulang? Dan mereka melaporkan bahwa ada pesilat hebat yang mengancam mereka. Siapa sebenarnya orang itu?" tanyanya kembali. "Itu adalah Jenderal baru yang diangkat Kaisar, namanya Kawashima Oda." kata Yunying yang tidak sepenuhnya berbohong. "Jadi kamu bersama Jenderal itu? Aku pernah mendengar sepak terjangnya yang luar biasa dari ayah. Saya sangat mengaguminya, dan suatu hari saya juga akan melakukan hal yang lebih hebat dari yang pernah dilakukannya. Akan kuusir Pasukan Liao di Utara dan pasukan Han utara yang menjadi ancaman Sung bertahun-tahun." kata Liangxu dengan penuh kebanggaan. Yunying yang mendengarnya tertawa dalam hati. Dalam pikirannya, kalau dia tahu bahwa Kawashima Oda adalah Jieji. Entah apa yang akan terjadi.

BAB XXVI : Keputusan terakhir
Sepak terjang Jieji sebagai Jenderal telah diceritakan Yuan FeiDian kepada Kaisar dan para menteri. Semuanya sangat kagum akan hal yang dilakukannya. Dari cara menempatkan pasukan, tipu muslihatnya tidak ada bandingnya. Kaisar yakin Jieji akan sanggup melakukannya, karena dalam anggapannya. Detektif adalah seorang yang menggabungkan semua petunjuk kecil dan menjadikan gabungan petunjuk itu menjadi Kebenaran. Sedang seorang jenderal cerdik adalah kebalikan dari detektif, memecahkan dan mensamarkan petunjuk dan menyesatkan lawannya. Zhao yakin Jieji sanggup melakukannya, karena itu dia menunjuknya sebagai jenderal besar untuk mengatasi He Shen, Jenderal yang berpengalaman. Surat yang dikirim Jieji ke He Shen juga telah sampai di Ibukota. Setelah membacanya, tidak ada menteri yang tidak tertawa besar. Dan karena surat inilah, WuWei dan Xiping kembali aman. Semua hal mengenai Jieji di ibukota tentu telah sampai di telinga Yue Fuyan, ketua dunia persilatan. Oleh karena itu, Liangxu juga mengetahuinya. Di timur kota Xiapi... Tampak seorang pemuda yang berkuda gagah mendekati batas pantai. Dia sedang menunggu kapal untuk menyeberangi lautan. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang pendek yang sarungnya aneh.

Sambil menikmati desiran angin, dia memandang ke arah lautan nan luas itu. Tetapi, tiba-tiba dari arah belakang dirasakannya desiran angin mengoyak. Dengan cepat dia menghindari desiran angin yang menuju ke punggungnya itu. Tampak olehnya sekilas, sebatang anak panah meluncur dari samping. Dia segera menoleh, tetapi tidak ada orang disana. Kembali desiran itu terasa kembali, Dia bergegas menghindari. Kali ini sebatang anak panah melesat dan jatuh di laut. "Siapa? Tunjukkan dirimu?" tanya pemuda ini. "Wahai pemuda, Saya ini Wen Xiang. Datang untuk membalas dendam kematian adikku." terdengar sebuah suara dari arah rimba kecil di depan yang jauhnya sekitar 1/2 li lebih. Pemuda yang masih di atas kuda ini tak lain adalah Jieji. Suara itu didengarnya dengan cermat. Dia tahu, orang yang memanahnya adalah Dewa pemanah. Kemampuan orang ini jauh di atas Wen Dun. Jadi Jieji berkesimpulan, orang bernama Wen Dun yang juga bawahan He Shen yang telah dikirim ke ibukota ini telah meninggal karena dipenggal Zhao kuangyin. Wen Xiang mencarinya kembali untuk balas dendam atas kematian adik kandungnya. "Siuuuutttt...." sekali lagi terdengar suara melesatnya anak panah. Dengan tenang dan mendengarkannya secara cermat, kali ini panah itu bisa di tangkapnya. Namun tanpa disangka, Jieji melihat ujung panah itu mengandung racun. Racun yang tidak asing baginya. Inilah racun pemusnah raga. Jieji yang melihat ini segera gusar. Dipancingnya Wen Xiang untuk berbicara. "Adikmu ini tolol luar biasa, Kamu sebagai kakak seharusnya bangga. Aku pernah menangkapnya dengan mudah. Bagaimana adikmu yang tidak punya kemampuan itu berani melawanku." Kata Jieji keras dan tertawa. "Keparat, hari ini kamu akan membayarnya." Sebelum dilepaskannya panah dari arah rimba. Jieji segera memutar tubuhnya di atas kuda, dengan pengumpulan kekuatan nan kuat. Panah yang ada di tangan Jieji dilemparnya.

Panah itu melesat 2 kali lebih cepat dari Panah yang dilepaskan oleh Wen Xiang. Seiring dengan panah yang telah dilempar, Jieji mengejarnya ke arah rimba. Ditelitinya arah suara Wen Xiang yang muncul tadi, dan benar. Disana Wen Xiang telah terpanah di bahunya dan tembus. "Katakan, dari mana kau dapatkan racun di ujung panahmu itu." kata Jieji. "Kenapa kau harus tahu banyak?" katanya. Baru beberapa saat Wen Xiang berbicara, matanya melek. Tubuhnya kejang-kejang. Inilah ciri awal racun pemusnah raga itu. "Katakan, akan kutolong dirimu..." kata Jieji dengan cepat. "Ha Ha..aa.. Tidaaakkk... Haaarriii... innnii aakkuuu mmaaattii... Taapppii.. kkaauuu tttidakkk akannn hiiiddupp tennnaannngggg..Arrghhh..." Teriaknya dengan megap-megap. Dari 7 lubang utama di wajahnya keluarlah cairan aneh. Segera diingatnya keadaan Xufen 10 tahun yang lalu. Setelah menghisap racun di bahunya, Xufen juga sempat kejang-kejang. Namun, dengan tenaga dalam yang dimilikinya, dia berusaha menahan racun yang bekerja di tubuhnya. Setelah itu, dengan cepat Jieji menggendongnya untuk ke arah timur. Di perjalanan, dia bertemu dengan seorang tua yang wajahnya alim dan gaya berjalannya tenang sekali, dipunggungnya tergantung sebuah kotak yang cukup besar. Namun, ketika dia melihat wajah nona itu, Dia sangat terkejut. "Aku adalah dewa tabib, Chen Shou. Akan kuperiksa nona ini. Sepertinya dia keracunan sampai kepayahan." katanya. Jieji yang mengetahui kalau dia adalah tabib dewa yang sangat terkenal itu segera menurunkan Xufen yang ada di punggungnya. Setelah memakai sarung tangan nan tipis di tangannya. Chen Shou segera memeriksa nadi nona ini. "Gawat, inilah racun paling terkenal di dunia persilatan. Racun pemusnah raga." Jieji yang mendengarnya sangat bingung luar biasa. "Tabib, mohon sembuhkanlah Istriku ini."

"Jadi dia istrimu? Saya akan berusaha semampuku tuan. Tenangkan dirimu dahulu." Kata Chen Shou seraya mengambil peralatan kotak di belakang punggungnya. Setelah memeriksanya, dia mengeluarkan 7 jarum. Semua jarum itu ditusukkannya dengan hati hati di ubun-ubun Xufen. Untuk sejenak, Xufen sudah sadar. Dia mampu berbicara. "Jangan terlalu takut Jie. Aku tidak akan mati dengan begini mudah." kata Xufen. "Iya,"kata Jieji. Sebenarnya Xufen sangat tahu kondisinya saat itu. Dia merasa dirinya itu sudah kritis. Ibarat api lilin yang sedang di hembuskan kencang oleh angin. "Tuan, sekarang adalah kondisi yang paling berbahaya. Saya akan menusuk jarum ke semua nadi tangan dan kakinya. Dan jarum terakhir akan di tusuk ke keningnya." kata Chen Shou. Jieji cukup terkejut. "Tetapi, kali ini saya tidak berani mengambil keputusan terakhir. Karena anda adalah suaminya, jarum terakhir itu harus ditusuk anda sendiri." kata Chen Shou kemudian lagi. "Tetapi, saya tidak tahu caranya. Dan kenapa harus aku, bukannya tabib sendiri mampu?" kata Jieji kembali. "Karena jika salah sedikit saja, maka nona ini akan tewas. Racun itu sudah kukumpulkan di kepalanya. Dan titik terakhir itulah keningnya. Jarum harus ditusuk dalam 1 jam ini. Jika ada kata-kata terakhir yang akan anda ucapkan, saya akan menunggumu." Kata-kata Tabib Chen Shou memang terdengar tidak manusiawi. Tetapi inilah kondisi yang sesungguhnya. Jika dalam 1 jam jarum tidak ditusuk, maka Xufen akan meninggal akibat racun yang telah terkumpul di kepalanya itu bereaksi. Jika ditusuk, dan tidak pas. Maka saat itu Xufen akan tewas langsung. "Tabib, berikanlah kita waktu sedikit saja. Karena kita baru saja menikah semalam. Banyak hal yang belum kita bicarakan." kata Xufen kemudian. Chen Shou mengiyakannya, seraya berjalan ke depan pondok. Dia menunggu kedua pasangan tersebut. Dalam hatinya, dia sangat menyayangkan keputusan Tuhan yang akan memisahkan kedua insan yang saling mencinta ini. Padahal mereka baru saja menikah 1 hari, kenapa cobaan seberat ini lantas telah datang?

Chen Shou cuma memiliki 20 persen keyakinan akan sembuhnya nona itu. Tetapi, mau tidak mau harus dicoba. "Jie, jangan menyalahkan dirimu kalau terakhir kamu tidak sanggup menolongku. Walau hanya dalam 1 tahun ini kita bisa bersama, saya cukup puas. Sungguh, jika saya meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Teruslah hidup untukku, jangan menyia-nyiakan hidupmu. Untuk masalah ini, kamu harus berjanji kepadaku." kata Xufen kepadanya. "Kenapa kamu berbicara seperti itu. Tabib ini adalah tabib paling hebat dari Dinasti Sung yang besar. Dia pasti bisa menolongmu. Setelah itu, kita bisa ke Dongyang. Kita tidak akan terlibat dengan dunia persilatan lagi. Disana, kita akan menjadi pasangan kekasih yang hidup dalam kedamaian abadi." Kata Jieji yang berurai air mata menyaksikan istrinya yang sangat dicintai ini kepayahan. "Berjanjilah kepadaku lebih dahulu." Kata Xufen sambil tersenyum. "Baik... Aku akan berjanji padamu. Apapun yang terjadi, aku akan terus berusaha hidup. Aku tidak akan menyia nyia kan nyawaku." kata Jieji. "Sekarang ada pesan yang harus kuberitahu kepadamu. Sebenarnya aku ini bukanlah anak kandung guru Yuan.." kata Xufen kembali. Jieji cukup terkejut mendengarnya, sebelum dia berbicara. Xufen mendahuluinya. "Saya cuma mendapat petunjuk sedikit saja, orang tuaku mungkin hidup di Dongyang. Aku ingin kamu menguburku disana jika aku tidak mampu hidup. Dengan kemampuanmu, saya rasa tidak susah bagimu untuk menemukan mereka. Katakanlah kepada mereka, Saya tidak berbakti. Belum mampu melayani mereka dengan baik." Kata Xufen kembali. Jieji makin sakit hatinya mendengar apa yang diucapkan Xufen. "Tidak.. Kamu tidak akan mati... Kamu masih punya banyak sekali janji kepadaku.. Kamu bukan tipe orang yang mengingkar janji khan? Kamu harus menepatinya." kata Jieji yang seakan akan kehilangan istrinya ini. "Jika aku meninggal nantinya, carilah wanita yang lebih baik dariku. Menikahlah. Tentu, kisah cinta kita jangan kamu ceritakan kepadanya. Karena pasti kehidupan rumah tangga barumu nantinya tidak akan baik." kata Xufen. "Tidak.. Kamu tidak akan mati, kenapa menceritakan hal-hal yang begitu tidak baik?" tanya Jieji kembali. "Aku ingin kamu memelukku. Walau waktu kita tidak banyak.."kata Xufen kembali.

Jieji langsung menempatkan punggung Xufen di dadanya. Mereka tidak berbicara lebih lanjut. Selang lebih dari setengah jam, Jieji dan Xufen dikejutkan suara Chen Shou. "Waktu kita tidak banyak lagi. Sekaranglah saatnya." Xufen segera duduk bersila kembali. Sebelum menutup mata, dia memesankan sesuatu kepada Jieji. "Aku ingin kamu melatih kungfu. Supaya kelak kamu mampu hidup lebih baik. Semua teori ilmu Jari Dewi pemusnah sudah kamu ingat. Belajarlah dengan baik. Mulailah sesekali meneliti ilmu silat yang baru. Jika kamu suatu hari menjadi jago tingkat atas di dunia persilatan, maka aku sudah sangat tenang. Dan, yang terakhir... Ingatlah semua janjimu kepadaku..." Jieji seraya mengangguk meski dalam hatinya gejolak perasaan itu muncul saling bertabrakan. Setelah bermeditasi sebentar, Jieji mengatakan telah siap pada Chen Shou. Lalu diangsurkannya jarum terakhir itu ke tangan Jieji. Setelah menerimanya, Jieji sudah siap menusukkan jarum itu ke kening Xufen. Dengan sebuah hentakan ringan, jarum itu segera menusuk pas di kening yang lokasinya telah diberitahu oleh Chen Shou. Xufen yang sedari tadi diam, langsung membuka matanya. Jieji berhasil, dia berhasil menusuk pas ke keningnya. Namun tidak berapa lama, Xufen segera memuntahkan darah hitam. Dan langsung, dia jatuh ke belakang. Setelah Chen Shou memeriksanya, dia cuma menggoyangkan kepalanya. Yah, begitulah cara Xufen tewas. Selama 10 tahun terakhir, Jieji sangat menyesalkan dirinya. Dia anggap kematian Xufen adalah karenanya. Dia menjadi orang yang frustasi, tidak ada semangat hidup pada awalnya. Dengan membawa mayat Xufen, dan dipeluknya di bahunya. Dia menuju ke Dongyang. Nahkoda dan penumpang yang melihatnya sangatlah heran. Kenapa Pemuda ini membawa mayat seorang wanita. *****

Teriakan nahkoda membuyarkan lamunan Jieji. Rupanya sedari tadi, kapal telah siap untuk berlabuh ke Dongyang. Jieji segera bangkit, dia menuju ke arah kapal. Dengan membawa kudanya, dia menyewa 1 kapal itu sendiri. Kapal melaju cepat ke Dongyang. Namun tanpa disadari oleh Jieji. Sebenarnya ketika dia berada di rimba kecil, ada beberapa orang yang sedang mengamatinya dari puncak bukit di belakangnya. Tentu, yang mengamatinya adalah jago kungfu kelas tinggi. Jika tidak, tentu Jieji bisa merasakan hawa kehadiran mereka. "Anak muda itu, selain telah membunuh Bao Sanye, muridku. Hari ini malah telah membunuh murid kesayanganku, Wen Xiang." kata seorang berpakaian imam yang tua. "Itu karena ketololan Bao Sanye. selain itu, Kenapa Wen Xiang tidak pernah kamu ajari silat. Melainkan ilmu panah saja, salahmu sendiri." kata Seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahun. "Betul, ini adalah hal yang fatal. Pemuda itu cuma berniat balas dendam kematian istrinya, tidak ada niat lain dan kamu juga salah. Bukannya mencegah muridmu, malah kamu diam disini dan melihatnya." kata Seorang lelaki tua yang juga berumur 50 tahun lebih. "Keparat, muridku yang terbunuh. Tentu kamu bisa mengatakan begitu.Kali ini akan kucincang laki-laki muda itu." Katanya seraya hilang dengan cepat. Beberapa saat... "Tidak ada gunanya... Mungkin si tua kali ini akan menemui masalah besar." kata yang wanita. "Betul, dia yang cari masalahnya sendiri. Aku sudah memperingatinya. Tetapi apa betul dia benar-benar hebat?" kata yang lelaki. "Iya, aku pernah 2 kali melihat sepak terjangnya. Yang pertama adalah ketika di Chengdu beberapa tahun lalu. Biksu Tua India yang menguasai tapak buddha Rulai tingkat tujuh saja bukan tandingannya."Kata yang wanita. "Kalau begitu, meski kita bergabung. Pemuda itu jauh lebih unggul?" "Tentu... Tapak berantai adalah tapak tiada 2 di jagad."kata wanita itu kembali. Seraya berkata begitu, keduanya hilang dari bukit.

BAB XXVII : Tewasnya Lelaki tua, Lu Fei Dan

Sebulan kemudian, Di Dongyang... Jieji tinggal di sebuah wisma kecil. Setiap hari dia pergi ke makam Xufen yang letaknya sekitar 1 li saja. Disana dia bercerita mengenai pengalamannya kembali ke China. Hal ini selalu dilakukannya, jika dia pergi dari Dongyang dan kembali lagi kesana. Dia selalu menganggap kalau Xufen bisa mendengarkannya di alam sana. Kadang dia duduk disana sampai sore tiba, kadang juga dia bermalam disana. Suatu pagi... Seperti biasa,Jieji sudah siap berangkat ke makam Xufen. Setelah berjalan beberapa lama, dia hampir tiba di makam istrinya yang tercinta itu. Namun, dari jauh dia merasakan adanya sesuatu hal yang tidak beres. Pagar jimat yang melindungi kuburan Xufen telah hilang. Sejak 10 tahun yang lalu, setelah menggali kuburan buat Xufen. Jieji terus menerus tidur di sana. Namun, suatu hari... Dia merasa heran, sekitar radius 100 kaki dia mendapatkan sebuah hawa aneh. Di tanah tempat Xufen dikuburkan, ada tulisan yang berbunyi : "Anak muda, tidak usah aneh terhadap fenomena ini. Ini adalah pagar pelindung yang kubuat untuk melindungi makam anak muridku tercinta. Betapa tidak bergunanya engkau karena dengan cepat melupakan pesan muridku itu." Jieji yang membacanya ini segera sadar. Dia tidak boleh terbawa perasaannya terlalu dalam. Kata-kata ini menjadi angin sejuk baginya

yang sedang frustasi. Oleh karena itu, dengan segera dia berusaha mempelajari ilmu silat, karena inilah pesan Xufen terakhir untuknya yang bisa segera dilakukannya. Jieji sebelumnya telah tahu, Guru Xufen adalah pasangan Dewa sakti dan Dewi peramal. Mereka berdua sering sekali mengunjungi makam anak muridnya. Ini bisa dilihat Jieji, jejak sepatu selain punya dia ada terbentuk disana di tanah dekat makam istrinya. Hari ini Jieji merasa sangat aneh sekali, kenapa pagar pelindung itu bisa terlepas. Dengan berlari cepat, dia sampai ke makamnya Xufen. Dipandanginya dengan cermat makam istrinya, ternyata tidak ada masalah yang aneh. Untuk sejenak dia bisa bernafas dengan lega. "Aneh... Kenapa pagar pelindung yang dibuat 2 guru itu bisa hilang?" pikir Jieji. Tanpa perlu lama berpikir. Jieji telah tahu penyebabnya, karena dari arah belakang punggungnya terasa hawa kemunculan seseorang. "Tidak disangka Dewa Sakti dan istrinya itu bisa berbuat hal semacam ini disini. Ha Ha... Tapi ilmu mereka jelas masih rendah, orang sepertiku saja sanggup menghancurkan pagar pelindung." Terdengar seorang berujar keras. Segera Jieji menoleh.. Dia mendapatkan seorang tua yang berjubah imam. Wajahnya bengis, jenggot putih menutup lehernya. Rambutnya telah memutih semua. "Siapa anda? Ada perlu apa anda datang kemari?" tanya Jieji. "Membalaskan kematian 2 muridku." katanya pendek. Namun dari sinar matanya terlihat hawa pembunuhan.

"Hanya 2 orang yang pernah kubunuh dengan langsung. Saya rasa orang yang anda maksud tentu si Kura-kura Bao dan Si buta Xiang." Bao dari dahulu disebut Jieji sebagai kura-kura. Sedangkan Xiang, bagi seorang pemanah, dia harus menutup sebelah matanya untuk mengeker. Oleh karena itu, dia menyebut Xiang sebagai orang buta. Betapa gusarnya dia mendengar perkataan pemuda ini. Giginya sampai gemeretak. "Anak muda... Hari ini kita harus bertarung satu hidup satu mati." katanya dengan penuh kemarahan. "Tidak perlu.. Hanya saya yang hidup, dan kamu yang mati." kata Jieji pendek. Percakapan mereka didengar oleh sepasang manusia yang terus berada di ranting pohon besar dari jarak 1 li. "Hari ini, murid saudara seperguruanku akan menemui ajalnya." Kata Seorang tua yang tak lain adalah Dewa sakti. "Panah sudah dilepas, Dia tidak akan hidup lama lagi." Sambung yang wanita. Beralih lagi ke tempat Jieji. "Sebutkan namamu dulu. Aku ingin mencatat nama orang yang pernah kubunuh." kata Orang tua itu. "Namaku Xia Jieji, 10 tahun lalu aku menjadi detektif di Changsha." kata Jieji kemudian. "Jadi kau adalah detektif itu? Dengan begitu kau dan aku telah musuh bebuyutan sejak kau dengan analisismu berhasil menangkap cucu muridku."

Katanya dengan penuh kegusaran. "Betul, tapi juga sebutkan namamu dulu. Saya ingin mengukir namamu di kakus semua rumah di Dongyang. Tentu jika saya sanggup membunuhmu." Kata Jieji dengan senyum penuh arti. Gusarnya orang tua ini tidak kepalang lagi. Sambil berteriak dia berniat melancarkan serangannya. "Namaku Lu Fei Dan, Ingat itu baik-baik supaya nantinya ketika kamu ketemu Raja neraka. Ingat kirim salamku kepadanya." Jurus yang dikeluarkan oleh Fei Dan sama sekali tidak asing bagi Jieji. Inilah tapak Mayapada. Jieji tidak melayaninya secara langsung, dia cuma berusaha menghindari setiap pukulan lawannya. "Lu Ben Dan (maksudnya Lu disini telah diganti menjadi Rusa dan Ben Dan adalah Bodoh), Jurusmu itu cuma sanggup mengusir kucing. Bagaimana kamu bisa bertarung dengan benar." kata Jieji. Memang benar, Pemuda ini sengaja memancing kemarahan lawannya sehingga konsentrasinya pecah. Ini segera terbukti. Tapak Mayapada tingkat 4 segera dilancarkan, Jieji yang telah siap segera berkelit dengan melompat ke ranting pohon. Sejenak, tapak itu telah membelah pohon tempat yang dihinggapi Jieji. Jieji sekilas terlihat terjatuh dari pohon. Lu Fei Dan segera menyusul dengan tapaknya. Jieji yang jatuh dengan posisi jelek itu, segera bersalto. Sebelum tapak Lu sampai. Dari Jari Jieji telah terlihat sinar cemerlang.

Dalam keadaan kaki di atas dan tangan dibawah, dia melancarkan Jurus Jari dewi pemusnah. Hawa pedang yang sangat tajam segera menuju ke arah kepala Lu. Dengan cepat dia mencabut pedang di pinggangnya untuk menangkis. Namun sia-sia. Pedang yang baru dicabutnya itu kontan patah menjadi 2. Dan sisa hawa jari pedang membuatnya terpental jatuh sejauh 20 kaki dan muntah darah. Seraya bangkit dengan gusar, Dia kembali melancarkan tapak mayapadanya. Kali ini dipaksakan dirinya yang terluka itu untuk merapal jurus terakhir tapak mayapada. Jurus terakhir ini sangat dahsyat, daun-daun pohon sekitarnya kontan terpetik dari tangkainya dan berhamburan . Selang beberapa saat, Jieji cuma melihatnya dengan santai namun dia cukup siaga. Dia tahu, lawannya mengerahkan semua tenaganya untuk 1 kali pukulan. Dengan sebuah teriakan, jurus tapak mayapada tertinggi itu sampai. Arah yang diincarnya adalah ulu hati Jieji. Dengan tapak terbalik, Jieji melayaninya. Segera, kedua benturan tapak membahana. Terlihat dengan jelas, Lu lebih unggul. Jieji yang terdesak ke belakang menyeret tanah dengan kakinya. Namun Keunggulan ini tidak lah lama. Ketika tangan kiri Jieji membentuk lingkaran penuh. Lu sungguh sangat terkejut, Tenaga penuhnya ini seakan terhisap. Dengan satu hentakan kecil, Lu terpental jauh... Kali ini dia sudah sangat kepayahan. Namun dipaksakannya untuk berdiri.

"Akan kuampuni kau jika engkau mengatakan asal usul Ilmu pemusnah raga itu." Kata Jieji. "Baik.. Baik.. Akan kukatakan." kata Lu seraya bangkit dan berjalan ke arahnya. Lu berjalan pelan sambil memegang dada. "Ilmu pemusnah raga sebenarnya adalah gabungan semua ilmu terhebat di kolong langit. Para sesepuh dari 5 gunung terbesar di seluruh dunia saling merangkum setiap jenis silat, magis, pusaka, pengetahuan, racun dan lainnya yang merupakan tersakti di seluruh dunia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak yang menyalah gunakannya. Beberapa sesepuh itu telah tiada, namun yang meneruskannya tak lain adalah para pengikutnya ataupun keturunannya." Dan setelah selesai dia mengucapkan kata-katanya. Dari samping, Lu menggunakan pedang yang patah tadi untuk segera menusuk ke arah Jieji. Sebelum pedang patah itu sampai. Sekilas, nampak cahaya kebiruan yang terang. Begitu cahaya hilang, Lu telah tewas dengan tubuh terbelah di pinggangnya. Jieji yang ada disamping Lu segera mencabut pedang Es Rembulan dari sarungnya. Dan dengan satu bacokan, tubuh Lu telah terbelah menjadi dua. Jieji adalah seorang detektif, dia sangat sulit untuk ditipu lawannya. Tentu dia tahu maksud Lu jalan ke arahnya. Seraya mengucapkan kata-kata, dia ingin membuat lawannya sejenak lengah untuk berpikir. Namun, dugaannya kali ini harus dibayarnya dengan nyawa. Setelah beberapa saat... "Murid lancang membunuh di depan para Guru. Mohon dimaafkan." Jieji berlutut di arah pohon besar yang lumayan jauh itu. Tidak berapa lama, 2 makhluk segera sampai di depannya. Dengan sopan

keduanya membimbingnya berdiri. "Sekarang Xufen bisa beristirahat dengan tenang di alam sana." Kata Wanita tua itu seraya tersenyum senang. "Kamu tidak perlu kemana-kemana dulu untuk 1 tahun ini. Karena petunjuk tentang pemusnah raga akan datang mencarimu. Istriku telah meramalkannya dengan pasti." Kata Lelaki tua yang tak lain adalah Dewa Sakti. "Terima kasih guru..." Kata Jieji seraya memberi hormat. "Boleh kutahu? Tapak berantai tingkat berapa yang baru kamu rapal tadi?" tanya Dewa sakti kemudian. "Tingkat kedua, saya menamainya "Rantai pengisap Naga"." Kata Jieji kemudian. "Hebat. Lu itu bisa kamu kalahkan walau hanya dengan tingkat ke 2 tapak berantaimu." Kata Dewa Sakti memujinya. "Tetapi tapak mayapada yang dikuasai si Lu itu palsu. Tapak asli lebih berbahaya dan sangat sakti. Di dunia ini yang menguasainya cuma Pei Nan Yang." sambung Dewa Sakti. Jieji cukup tertegun mendengarnya. Pei Nan Yang adalah nama sebutan untuk seseorang yang belum pernah ditemuinya. Jieji cuma dengar kalau dalam kitab kamus kungfu Yan Jiao, Jurus ini menempati urutan pertama sejagad, ini tentu karena Yan Jiao belum pernah melihat tapak berantai. Jika tapak berantai dimasukkan disana, entah berapa urutannya... "Jurus Pei Nan Yang yang utama adalah tapak Mayapada, namun ada gosip yang mengatakan kalau tapak mayapada yang asli adalah tapak pemusnah raga. Pei Nan Yang mungkin benar menguasai ilmu yang telah hilang di

jagad tersebut." Kata Dewi Peramal. "Guru, Bisakah kalian memberitahu masalah Ilmu pemusnah raga itu kepadaku?" tanya Jieji yang yakin kedua orang ini pasti mengerti sedikit tentang ilmu aneh itu. "Apa yang dikatakan oleh Lu itu sebelum tewas memang benar adanya. Namun selebihnya saya ingin kamu menyelidikinya dengan pasti." Kata Dewa Sakti. Setelah mengatakan hal ini, Dewa Sakti dan Dewi peramal beranjak untuk segera pergi. "Ingatlah, jangan kemana-mana 1 tahun ini. Tetap disini saja." Seraya berkata begitu, pagar pelindung makam Xufen langsung keluar lagi membungkus. "Terima kasih guru." kata Jieji memberi hormat kepada keduanya yang seraya hilang dari pandangan.

BAB XXVIII : Berkumpul di Dongyang
Sudah 4 bulan lewat setelah tewasnya Lu Fei Dan di Dongyang. Di Hefei... Yunying, si nona cantik ini seperti sedang kebingungan. Dia tidak tahu harus duduk atau berdiri. Kadang dia berpikir sambil memegang pipinya. Dia telah berjalan bolak-balik di kamarnya beberapa kali. Namun dengan satu kepastian, segera dia membungkus pakaianpakaiannya. Sepertinya dia ingin pergi jauh. Dengan segera, dia mengambil bungkusan itu untuk dipikulnya. Dari wisma Wu, dengan segera dia menuju ke gerbang utara Hefei. Baru berjalan keluar kota beberapa langkah, dia dihentikan oleh suara

seseorang. "Nona ketiga, mohon untuk segera kembali." Yunying berpaling, dilihatnya seorang pemuda umur 40 tahun lebih. Segera dikenalnya karena tak lain adalah Dong Fu, pelayan keluarga Yue. "Saya ingin pergi, ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Katakanlah pada ayahku dan kakak seperguruan. Setelah semua hal itu dirasa baik, secepatnya saya akan kembali." "Tetapi... Tidak sampai sebulan lagi nona akan bertunangan. Mohon jangan pergi, nanti tuan muda akan menyalahkanku." kata Dong Fu. Seraya memberikan sesuatu kertas surat kepada Dong Fu, Yunying berkata kepadanya. "Ini.. Berikan pada kakak seperguruanku. Setelah membacanya, dia tidak akan menyalahkanmu." Setelah mengambilnya dari Yunying, Pelayan ini mengucapkan terima kasih. Dengan membeli kuda, Yunying segera ke arah utara menuju Kota Xiapi. Tempat yang dikunjunginya tidak lain adalah Dongyang. Dengan menumpang kapal dari sana, dia segera berlayar. Tidak sampai setengah bulan. Yunying telah mendarat. Didapatinya Pelabuhan ini sungguh asing. Percakapan orang disana tidak mampu didengarnya, karena inilah bahasa khas Dongyang. Lalu dihampirinya seorang ibu tua yang sedang menjahit jala penangkap ikan. "Bibi, bagaimana jalan ke gunung Fuji?" tanyanya. Namun bibi ini melihatnya, segera heran. Dia tidak mampu membalas apa yang dikatakan Yunying. Namun dia tahu, bahasa yang digunakan orang ini

adalah bahasa China. Segera dia memanggil seorang wanita muda. Wanita muda yang datang ini sangatlah cantik, sepertinya dia juga bukan orang Dongyang. Wanita muda ini datang, dan setelah melihat Yunying dia terkejut. "Saya Yunying, datang dari kota Hefei. Bisakah anda membawakan jalan kepadaku?" tanya Yunying dengan sopan. "Nona... Saya pernah melihatmu. Lantas kenapa anda datang ke gunung Fuji?" tanyanya. "Ada sedikit keperluan, saya ingin bertemu dengan seseorang disana." Kata Yunying. "Saya akan membawakanmu pergi, karena saya sendiri juga tinggal disana. Segera mereka berangkat menuju ke Gunung Fuji. Di tengah perjalanan, Wanita cantik ini memperkenalkan diri. "Namaku Huang XieLing. Saya berasal dari Shandang di China. Nona, ada yang mau kutanyakan." katanya. "Iya, saya akan berusaha menjawabnya." kata Yunying yang juga heran, entah kenapa wanita ini terus memandangnya dengan keheranan. "Guruku mempunyai potret dirimu. Setiap malam dia memandang lukisanmu sambil minum arak. Apa orang yang ingin kamu cari adalah guruku?" tanya wanita muda ini. "Ha? Gurumu? Maksudnya gurumu adalah Xia Jieji yang datang dari China itu?" tanya Yunying agak heran. "Kalau masalah itu saya sendiri kurang tahu. Tetapi yang saya tahu dia bernama keluarga Oda." kata XieLing. Yunying segera berpikir, kenapa Jieji bisa mengangkat seorang wanita

muda ini menjadi muridnya? Namun, segalanya akan terjawab setelah dia sampai disana. Sekitar 2 Li sebelum sampai ke wisma kecil tempat tinggal pemuda bernama Oda. Yunying menikmati pemandangan hutan yang sangat menakjubkan itu. Dengan berkuda perlahan sambil menikmati desiran angin, dia dikejutkan oleh sesuatu hawa. Sekitar beberapa puluh kaki didepannya terdapat hawa aneh yang membungkus. "Ada ada gerangan?" tanya Yunying kepada Xieling. "Ini adalah fenomena yang terus muncul, entah siapa yang membuatnya. Saya sendiri kurang tahu, karena saya baru tinggal 3 bulan bersama guru disini." kata Xieling. Setelah berjalan beberapa saat, Yunying kembali dikejutkan. Ditengahnya, ada makam yang lumayan besar. Dengan segera, dia turun dari kudanya menuju makam tersebut. Yunying terus memandang dengan penuh perhatian di makam. Segera dia lihat tulisan di nisan itu. "Tempat dikuburkannya istri tercinta, Yuan Xufen." Setelah membacanya dia cukup terkejut, rupanya inilah makam wanita yang dirindukan Jieji setiap saat. "Inilah makam istri tercinta dari guruku." kata Xieling. Baru mereka selesai berbicara, nampak pemuda yang segera menyapanya. "Wah, kenapa kalian berdua bisa barengan kemari?" Yunying yang melihat pemuda ini segera girang, karena pemuda ini tidak lain adalah Jieji.

"Apa kabarmu nona kecil? Kamu betul lari dari rumah dan pernikahanmu itu?" kata Jieji seraya menyindirnya. "Hei, ketemu orang setelah sedemikian lama bukannya memberi kata-kata menghibur, malah kamu ejek." kata Yunying. "Ha Ha.. Kenapa kamu datang kemari?" kata Jieji seraya tertawa. "Ada sesuatu hal lumayan penting yang akan kusampaikan kepadamu." kata Yunying. Mereka segera beranjak dari makam menuju ke wisma kecil Jieji. Setelah sampai, rupanya dalam wisma terdapat puluhan orang pelayan juga. Yunying lumayan terkejut, tidak disangkanya Jieji disini malah menjadi seorang saudagar. "Oya, kok kamu bisa menjadi pedagang disini?" tanyanya. "Bukan. Ini adalah bekas anak buah seorang yang tidak kukenal. Ketika mereka melihat diriku di makam sana sepuluh tahun yang lalu. Mereka terus menyebutku adalah Tuan besar. Saya sendiri cukup aneh, namun masalah ini tidak usah kita bahas lebih lanjut. Sekarang, katakanlah kenapa kamu ini datang kemari?" tanya Jieji. "Ada gosip baru yang kudengar dari dunia persilatan. Namun gosip ini cuma sampai di telinga beberapa orang." kata Yunying. "Jangan-jangan pasangan pedang yang kamu pegang itu?" tanya Jieji memotong. "Wah... Kamu kok bisa tahu?" tanya Yunying "Tidak mungkin gosipnya adalah keindahan gunung Fuji ini kan?" tanya Jieji seraya bercanda. "Ha Ha.. Betul, betul .. Setelah mendengarnya dari kakak seperguruanku,

saya langsung beranjak kemari. Oya, sejak kapan kamu menerima murid?" kata Yunying seraya berpaling ke nona muda. "Oh... Dia adalah orang yang datang kemari karena permintaan Dewa Sakti. Saya sendiri mengajarinya kungfu demi membalas dendam kematian keluarganya." kata Jieji. "Jadi begitu yah? Pantes. Mulanya kupikir kamu mendirikan perguruan silat disini." kata Yunying meledeknya. "Lama tidak jumpa. Selain tambah cantik, lidahmu itu juga makin tajam." kata Jieji meledeknya kembali. "Dasar...." Segera Jieji menyiapkan sebuah kamar untuk Yunying. Xieling adalah gadis yang lumayan cerdas. Dia pernah ketemu kedua orang tua dari Dai Shan di tengah jalan menuju ke Bei Hai. Dia berlutut minta diajarkan kungfu untuk membalas kematian keluarganya. Namun, kedua guru ini sudah lama berhenti dari dunia persilatan. Mereka segera memintanya ke Dongyang mencari Jieji. Dalam 3 bulan terakhir, Xieling telah menguasai setengah dari total jurus Ilmu jari Dewi pemusnah. Namun karena penguasaan tenaga dalamnya masih kurang. Maka Jieji belum mau melepasnya untuk kembali ke Shandang untuk membalaskan dendam. Nona ini sangat rajin, meski dia adalah nona keluarga terhormat di Shandang. Namun dia tidak pernah membedakan status, pekerjaan rumah tangga di wisma kecil ini pun dikerjainya. Yunying yang sedari tadi melihat nona ini, juga kagum kepadanya. Dia

terus bertekad hidup untuk membalaskan kematian keluarganya. Jika Yunying adalah dia, dia sendiri tidak yakin mampu menjalaninya. Namun dari hati yang paling dalam, Yunying juga merasa cemburu. Malamnya... Yunying menemukan sebuah siter. Dengan perlahan, dia memetikkan sebuah lagu. Petikan lagunya terasa sangat lembut. Namun dari suaranya terkandung sedikit tenaga dalam penyembuh. Dia memainkan beberapa lagu bernuansa romantis dan penuh kegembiraan. "Nona manis, sedang merindukan kekasih ya?" tanya Jieji yang tiba-tiba muncul di belakangnya. "Ngawur..." Yunying menghentikan petikan kecapinya. Jieji segera beranjak duduk di depannya. "Bagaimana dengan Ilmu kitab memindah semestamu? Kamu telah mempelajarinya sampai bab ke berapa?" tanya Jieji. "Sekarang telah mencapai bab ke VI." "Wah, cepat juga. Hanya 4 bulan lebih kamu sudah menguasai 5 bab dengan baik. Kamu ini tergolong cerdas juga yah." kata Jieji. "Tentu.. " kata Yunying seakan membanggakan diri. Yunying menceritakan pengalamannya dalam 5 bulan terakhir ini saat dia berada di Wisma Wu. Ada beberapa kabar aneh, terutama munculnya pembunuh bayaran yang tidak mampu ditangkap pesilat hebat. Selain itu, juga ada kabar tewasnya pesilat hebat di Dongyang. Dan yang terakhir adalah munculnya kembali Pedang Es Rembulan di Dongyang.

Jieji yang mendengarnya segera berpikir. Dan mengatakan. "Tidak lama lagi, tempat ini akan menjadi ajang pertempuran." "Lalu bagaimana hal yang akan dilakukan olehmu?" tanya Yunying. "Menunggu saja. Emang kamu punya pikiran yang lebih bagus? Kamu jauh-jauh dari Hefei kemari cuma untuk memberitahuku hal ini?" "Iya... " Kata Yunying singkat sambil memandangnya. "Kalau begitu, patah hati donk aku ini. Kupikir karena kamu merindukanku, makanya dengan cepat kamu datang." Kata-kata ini sungguh membuat Yunying tergugah, namun dia tahu Jieji cuma hanya bercanda-canda dengannya. Namun, mau tidak mau dia juga tersenyum malu-malu. "Tuan Oda, ada tamu yang datang mencarimu." Terdengar suara dari pelayan wisma ini. "Tamu? Kenapa ada tamu mencariku disini?" kata Jieji keheranan. Namun, langsung dia keluar menuju ke depan pintu gerbang wisma bersama Yunying. Ketika pintu dibuka. Betapa terkejutnya Jieji dan Yunying. Karena inilah orang yang sungguh dikenalnya, dan disampingya juga nampak seorang yang tidak asing bagi Jieji. "Kakak pertama dan adik ketiga.... "Kata Jieji seraya girang.

BAB XXIX : Tinju Panjang Zhao Kuangyin
Rupanya Zhao Kuangyin alias Yang Ying dan Wei Jindu datang sama-sama. Di belakang mereka berdiri 10 orang dengan gagah, yang tak lain adalah pengawal Yang Ying.

Segera Jieji meminta mereka masuk ke ruang tamu. Tetapi sebelum sampai, orang di belakang Yang Ying segera berlutut. Jieji segera menoleh, dan dengan cepat dia menyilakannya berdiri. "Kakak kedua. Maafkan kesalahanku tempo dulu. Aku tidak menyangka kalau He Shen memberontak." Katanya. Dialah Wei Jindu, yang terakhir ditemuinya di depan kantor pejabat DianShui. "Tidak mengapa dik. Ini sama sekali bukanlah kesalahanmu. Kenapa harus berlutut segala? Kita ini adalah saudara angkat yang bagaikan saudara kandung." Kata Jieji sambil memegang bahu adik ke 3 nya. Yang memotong pembicaraan mereka. "Kamu tahu, apa maksud Jindu datang ke ibukota sebelum perang DianShui itu?" "Tentu... Dia mengabarkan kalau Jenderal Kawashima Oda telah berontak kan?" kata Jieji kemudian. "Ha Ha.. Sepertinya orang yang paling mengenal He Shen adalah dirimu." kata Yang seraya tertawa besar. Memang benar, malam sebelum terjadi perang Dianshui. Wei mendapat perintah ayah angkatnya menuju Kaifeng secepatnya juga. Dia menyampaikan surat dari He untuk Zhao / Kaisar. Dalam surat, dilaporkannya bahwa Kawashima Oda telah berontak. He harus memadamkan pemberontakan dengan segera mungkin. Wei yang sampai disana memang bertemu dengan Zhao, dia menceritakan apa yang terjadi disana. Namun, setelah diceritakan bahwa Kawashima Oda adalah Jieji. Wei sangat terkejut, dia tidak menyangka orang yang bertarung 1 jurus dengan cepat itulah kakak keduanya. Tetapi lebih terkejut dia mendengar hal yang sebenarnya, bahwa He Shenlah orang yang memberontak. Mulanya dia tidak langsung percaya. Namun, dia berpikir tidak mungkin kakak pertamanya membohonginya. Setelah meneliti melalui mata-mata kekaisaran, dia sudah yakin. Wei sekitar 5 tahun lalu diangkat He Shen sebagai anak angkatnya. Karena melihat kemampuan orang ini lumayan hebat, dia bermaksud menggunakannya. Selain itu, He Shen juga tahu kalau Wei bersahabat rapat dengan Kaisar. Kalau ada sesuatu, dia mampu memanfaatkan Wei. He Shen yang sejak awal berniat memberontak kepada pemerintah Agung selalu berpura-pura sebagai seorang dermawan di Xi liang. Tujuannya tak

lain tentu untuk memperoleh simpati rakyat dan para pasukan Qiang di Utara WuWei. Di ibukota selama beberapa bulan, Jindu juga telah mendengar kabar kakak keduanya dari Sang kakak pertama. Dia juga tahu pelarian kakak keduanya dan bagaimana dia kembali muncul di dunia persilatan. Jindu sangat mengagumi kakak keduanya tersebut. Dari dalam ruangan keluar seorang nona membawa teh untuk menjamu tamunya. Yang melihat wajah nona ini yang kecantikannya sangatlah khas, wajahnya lebih putih dari orang China ataupun Dongyang pada umumnya. Hidungnya mancung, matanya sangat indah. Dan Yang menanyainya. "Nona, anda bukan orang Dongyang, dan bukan orang China?" "Iya,paman guru. Saya memang berasal dari Shandang. Ibuku adalah asli orang Persia. Oleh karena itu, wajahku agak berbeda dengan layaknya penduduk China ataupun Dongyang." katanya dengan lembut dan sopan. "Paman guru? Emang sejak kapan adik angkatku mengangkat murid?" pikir Yang. "Kakak pertama, Nona ini namanya Huang Xieling. Dia datang kesini karena permintaan guru Xufen, Dewa Sakti dan Dewi peramal. Kedua orang tuanya dan seluruh keluarganya meninggal dibunuh oleh musuh keluarga mereka di Shandang. Aku mengangkatnya sebagai muridku. Karena atas keinginan Dewa sakti, aku mengajarinya ilmu Jari Dewi pemusnah." kata Jieji, "Rupanya begini. Kamu boleh duduk disini." kata Yang seraya menunjukkan tempat di samping Jindu. Si nona kelihatan ragu-ragu. Dia menganggap statusnya tidak setinggi mereka, karena mereka adalah guru dan paman gurunya sendiri. Namun Jieji segera memintanya untuk duduk bersama. Si nona tidak menolak lebih jauh lagi. "Kakak kedua, tidak disangka ilmu kungfumu telah mencapai tingkat yang begitu tinggi. Aku sama sekali bukanlah lawanmu." Kata Jindu seraya memberi hormat kepadanya. Guru Jindu tak lain adalah Biksu tua India yang pernah meminta petunjuk pada Jieji beberapa tahun lalu di Chengdu. Jindu juga menguasai 7 jurus tapak Buddha Rulai, namun gurunya pernah menceritakan tentang pemuda yang bisa menahan tapak buddha itu dengan sangat tenang. Setelah mendengarnya dari Yang, Jindu yakin orang itu adalah kakak keduanya, Xia Jieji.

"Tidak.. Ada beberapa hal aneh dalam diriku yang tidak bisa dijelaskan melalui kata-kata, dan aku sedang menyelidikinya." kata Jieji seraya berpaling ke arah Yang. "Betul dik, kamu tidak merasa heran? Setiap kali kamu terluka, hanya dengan beristirahat sebentar kamu sudah sembuh sedia kala. Ini pasti sebelumnya ada tenaga dalam yang terpusat dan tertidur hinggap di tubuhmu. Sekarang kamu mempelajari ilmu silat tingkat tinggi, sehingga dengan cepat tenaga misterimu terpancar keluar. Mungkin sekarang di dunia ini tidak ada lagi orang yang bisa menandingimu." kata Yang memuji adik keduanya. "Mengenai ini saya mempunyai sedikit informasi saja. Itulah sebabnya mengapa saya tinggal disini. Saya rasa kakak pertama juga tahu identitasku yang sebenarnya. Aku bukanlah anak kandung keluarga Xia. Sewaktu ibuku mengandung puteranya, dia sempat keguguran. Namun tak berapa lama, di tengah jalan menuju ke Changsha. Dia menemukan seorang bayi berumur 8 bulan lebih di pinggir sungai ChangJiang. Dan saat itu aku diangkatnya sebagai anak kandung." Kata Jieji. "Apa jangan-jangan kamu orang asli Dongyang?" kata Yunying memotong ketika mereka sedang berpikir. "Betul, saya bisa memastikan kalau saya adalah orang Dongyang asli. Ketika saya menjaga makam Xufen sekitar 10 tahun yang lalu. Ada beberapa orang yang mendekatiku, setelah menatapku mereka mengatakan "Tuan besar". Saya sangat heran dibuatnya. Setelah mengajakku kemari, aku cukup heran karena mereka menyebutku Tuan Oda." kata Jieji. 10 tahun lalu.Jieji yang dijemput beberapa orang, segera masuk ke Wisma kecil ini. Beberapa orang dari mereka bisa berbahasa China dengan lancar. Mereka mengatakan kalau dia sangat mirip dengan bekas tuan besar mereka, meski penampakannya lebih muda banyak. Setelah berpikir beberapa saat, mereka juga tidak mampu mendapatkan apa-apa. Justru saat itu, terdengar suara pertarungan. Jieji dan kedua saudara, serta Yunying dan Xieling segera ingin melihat apa yang sedang terjadi di luar. Namun sebelum mereka beranjak dari tempat duduknya, seorang tua telah masuk dengan luka dalam sambil memegang dada. Dan dia diikuti oleh seorang pemuda lainnya. Pemuda ini berpaling ke arah meja dimana mereka duduk. Meja berbentuk persegi. Di tengahnya, dia melihat seorang duduk tenang dengan kipas di tangan dan berpakaian bangsawan, di belakang lelaki ini berdiri 10 orang yang mirip jagoan sedang mengamatinya dengan serius. Di sisi pertama meja, dia melihat seorang pemuda duduk dengan seorang

gadis cantik yang tidak dikenalnya. Di sisi kedua, dia melihat seorang Pemuda yang dikenalnya duduk dengan seorang wanita yang juga sangat dikenalnya, namun dia heran melihat pakaian wanita ini. Si nona memakai pakaian khas Dongyang. "Keparat!! Berani kali budak berbuat hal semacam ini." teriak pemuda itu, tentu dia adalah Yue Liangxu. Jieji yang melihat seorang tua yang terluka segera gusar. Hawa pembunuhan muncul dari dirinya. Sebelum bergerak, dia didahului oleh seseorang. "Tuan, apa maksud anda bertarung disini? Tidakkah kamu ini mempunyai sopan santun?" tanyanya. Baru selesai berkata, Yue Liangxu segera mengeluarkan tapaknya untuk menghantam pemuda tadi. Kerasnya hantaman membuatnya terbang ke belakang dan menabrak dinding yang kemudian ambruk. Sebelum pemuda yang terluka tadi bangun. Dengan tiba-tiba terasa hawa serangan yang sungguh cepat. Tahu-tahu Yue Liangxu telah terpental. Dia juga menghantam dinding di belakangnya dan ambruk. Pemuda ini menggunakan tinju panjang, yang tak lain adalah Yang Ying alias Zhao Kuangyin. Tinju Zhao sangatlah terkenal di kalangan dunia persilatan. Kekuatannya teramat dahsyat dan yang terhebat adalah kecepatannya. Banyak orang tidak mampu melihat gerakan tangannya. Maka sampai beberapa ratus tahun kemudian dan sampai sekarang, di Shaolin juga masih ada jurus ini. Jurus ini dinamai "Tinju panjang Zhao Kuangyin" Pemuda yang terlempar sebelumnya ke belakang adalah Wei Jindu. Dia sudah beranjak, luka yang di deritanya hanya luka kecil. Sedang Liangxu sangat parah, dia muntah darah. Beberapa giginya copot. "Kalian tidak akan hidup tenang... Adik, sekarang ikut aku pulang ke Hefei." teriak Liangxu. Yunying cuma memandanginya dingin. Dia tidak berkata apapun. Reaksi Yunying dilihat Jieji. Dengan segera dia berkata. "Nona ini bukanlah Yunying, adik seperguruanmu. Karena hari ini kamu mencari masalah disini, sudah seharusnya kamu tidak akan pulang dengan selamat. Jika sekali lagi kau melakukan hal yang sama, maka jangan salahkan diriku. Sekarang kamu pergilah." kata Jieji.

Liangxu yang mendongkol segera beranjak dari kediaman Oda. "Terima kasih kak.." kata Jieji. "Kamu juga mengerti maksudku kenapa aku yang turun tangan?" kata Yang. "Iya, ini juga untuk melindungiku dan wisma ini. Jika tadi saya yang turun tangan, mungkin pemuda itu tidak bisa bangun lagi." kata Jieji. Yang Ying memukul pemuda itu dengan maksud untuk melindungi Jieji, bukannya dia takut Jieji tidak mampu menang melawan dia ataupun ayahnya. Jika dia membiarkan Jieji turun tangan, masalah itu akan lebih ruwet. Mengingat ayah dari pemuda itu adalah ketua dunia persilatan. Terakhir dipikirnya Wisma Oda ini tidak akan aman lagi. Pak tua yang dipukul jatuh sebelumnya, tak lain adalah Pak Tua Zhou, Zhou Rui. Jieji sangat menyayanginya, dia anggap pak tua itu adalah pamannya sendiri. Maka melihat pak tua itu terluka dalam gara-gara Liangxu, Jieji gusar sekali. Setelah Jieji meninggalkan Hefei. Beberapa hari kemudian, Zhou Rui juga mengundurkan diri dari keluarga Wu. Dia menuju ke Utara, dan menyeberang ke Timur. Dia langsung menuju ke Rumah bekas majikannya di Dongyang. Disini dia bertemu dengan Jieji. Ada beberapa hal yang dia ceritakan, ternyata ceritanya juga sama dengan cerita pelayan-pelayan wisma. 30 Tahun lalu sebelum majikannya hilang tanpa bekas. Puluhan orang dari kaum persilatan menuju ke rumahnya. Mereka tinggal sekitar 3 bulan disana. Namun seiring dengan kepergian pesilat. Tuan rumah dan nyonya berangkat menuju ke China, namun sampai sekarang tidak ada lagi berita mengenainya. Tetapi pak tua ini mengatakan kalau yang mengikuti mereka berdua adalah 2 orang. Yang pertama adalah Lan Ie (Bibi Lan) dan yang lainnya adalah Pengawal mereka berdua yang bernama Kyosei. Sampai sekarang, kedua orang itu juga tidaklah kembali. *** "Kamu hebat nona kecil. Mencoba menyamar menjadi orang lain. Ha Ha.. Tipumu itu sangat bagus." kata Jieji. "Apa tujuannya dia tidak mengenal kakak seperguruannya itu?" tanya Wei. Sebelum Yunying menjawab, perkataannya dipotong oleh Yang. "Ini karena gurunya, dia sengaja pura-pura tidak mengenal Liangxu. Tentu supaya Liangxu tidak bisa mengatakannya dengan pasti bahwa adiknya

ada di kediaman Oda. Dengan begini, untuk sementara akan aman. Tentu, ketika kita dalam perjalanan kemari, tidak ada orang yang dirasakan keberadaannya mengikuti kita. Maka daripada itu, kesimpulannya dia cuma mengikuti pak tua Zhou dan mencoba menyerang kemari. Mungkin dipikirnya nona ini ada di dalam." "Betul kak." Kata Jieji. Si nona ini tersenyum. Wajahnya cerah. "Apa yang perlu kukatakan semua sudah di dahului." "Kamu makin lama makin pintar saja." kata Jieji memujinya. "Yah, kalau dewa tinggal bersama hantu. Lama kelamaan kan jadi hantu juga." kata Yunying dengan senyuman manis. Jieji menanyai kakak pertamanya. "Oya, ada apa kakak tiba-tiba menuju Dongyang?" "2 hal." kata Yang pendek. Hal pertama tentu gampang ditebak yaitu Pedang Es Rembulan yang kembali muncul di dunia persilatan. Karena Yang mendapat pesan pendek dari Jieji seiring pasukan mereka kembali dengan kemenangan besar, dia yakin pedang legendaris itu sekarang ada di tangan adik keduanya. Namun hal kedua tidak diketahui Jieji. "Ini mengenai persahabatan negara Sung dengan Klan Sakuraba di Edo. Saya datang sendiri kesini untuk menjalin hubungan dengan mereka dalam bidang perdagangan." Kata Yang. "Kalau begitu kakak datang dengan memakai status utusan Sung kan?" tanya Jieji. "Betul, tidak mungkin dengan status pemimpin negara kita mengunjunginya." Kata Yang Ying kembali.

BAB XXX : Liangxu mendapatkan pembalasan
Yang Ying bermaksud ke Edo untuk mencari Kaisar dari Dongyang yang bernama Enyu. Karena tertarik melihat kemajuan perdagangan Dongyang belakangan ini. Dia sendiri bermaksud membina hubungan antar negara melalui kelautan. Kaisar Enyu adalah seorang kaisar yang bijak, dia sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat saat itu. Para rakyat hidup dengan

gembira dan mengecap kesejahteraan dalam masa kepemimpinanya yang baru 3 tahun lebih. "Kak, kapan kamu mulai berangkat?" tanya Jieji. "Besok. Saya akan bermalam disini hari ini dan keesokannya saya harus cepat menuju kesana." Kata Yang. Jieji merasa sayang, kakaknya yang baru ditemuinya hari ini besok bakal berangkat jauh. "Bagaimana kalau kita semua ikut?" tanya Jieji kembali. "Tidak dik, kamu tetap saja disini. Karena si Yue itu pasti akan datang lagi. Tanpa kamu, saya rasa sangat susah. Saya juga ingin adik ketiga juga tinggal. Mengenai masalah Kaisar Enyu itu, kamu tidak usah khawatir. Cuma 10 orang pengawal ini ikut, saya tidak akan bermasalah." kata Yang. "Kalau begitu baiklah." Kata Jieji. Esoknya pagi-pagi... Jieji dan Jindu serta 2 wanita cantik di wisma Oda mengantar kepergian Yang Ying. Setelah beberapa saat, Jieji menanyai Jindu. "Dik, apakah gurumu pernah mengajari bagaimana cara melatih tenaga dalam yang baik?" "Pernah. Dulu tenaga dalamku sangat payah. Untuk belajar Tapak Buddha Rulai saya harus melatih tenaga dalam dahulu. Saya memerlukan waktu 6 bulan bermeditasi, setelah dirasa sanggup menerima jurus tapak buddha Rulai, guru baru mengajari." kata Jindu. "Kalau begitu, bisa minta tolong? Jurus Xieling memang sudah lumayan mahir, cuma tenaga dalamnya belum dapat berkembang maksimal. Saya ingin kamu melatihnya." kata Jieji kepada Jindu. "Tentu, nona ini pasti kuajari dengan benar. Saya tidak akan mengecewakan kakak." kata Jindu. Jieji tidak sanggup mengajarinya tenaga dalam dasar. Karena seperti yang di katakannya di bab sebelumnya, tenaga dalamnya sudah sejak awal tersimpan di tubuh. Jadi, Jieji tidak perlu melatih dasar tenaga dalam lagi. Sedang Ilmu Kitab Dewa penyembuh adalah ilmu yang sangat dalam, jika Xieling belajar tanpa punya dasar tenaga dalam. Maka akibatnya bisa fatal. Si Nona yang mendengarnya segera berlutut dan sambil menangis dia berkata.

"Terima kasih Paman guru, saya akan berusaha semampuku." "Paman guru apa? Tidak usah dipikirkan, lain kali panggil kakak saja kepadaku." kata Jindu kepada nona cantik ini seraya memintanya berdiri kembali. Di pelabuhan selatan Gunung Fuji... Liangxu yang terluka terlihat disana. Dari jauh dia melihat 2 orang yang ikut bersamanya ke Dongyang, lantas dengan kepayahan dia memanggil keduanya. "Ada apa tuan muda? Kelihatannya anda terluka dalam." kata keduanya. "Benar... Aku diserang secara tiba-tiba di Wisma Oda. Aku akan membalasnya. Kalian bawa banyak orang segera kesana, akan kita hancurkan wisma itu." Baru berkata begitu, sesaat ada yang menyapa mereka. "Tuan, anda datang dari China bukan? Ada masalah apa anda dengan keluarga Oda di sebelah utara?" tanya seorang lelaki tua. Seorang di antara dua teman Liangxu menjawab,"Benar paman. Tuan muda kami diserang secara diam-diam disana. Sekarang dia terluka parah. Emang ada masalah dengan keluarga Oda itu?" "Keluarga Oda secara turun temurun mempelajari ilmu silat yang tinggi. Anda sebaiknya jangan berurusan dengannya." kata Lelaki tua. Mendengarnya, Liangxu luar biasa marah. Walau kepayahan, dia berusaha menjambak lelaki tua itu. "Jangan berurusan? Kau orang tua tahu apa?" Kata Liangxu seraya marah. Dia melemparkan pria tua ini ke bawah lantai. Semua orang di pelabuhan tidak berani bertindak apa-apa, karena mereka merasa Liangxu adalah jago silat tangguh. Tetapi semuanya kelihatan marah melihat perlakuannya. "Tuan muda, sekarang tuan kembali beristirahat dulu di pondok sana. Setelah tuan muda pulih, kita akan membuat pembalasan." Liangxu bisa diberi pengertian, dia tidak langsung membalasnya melainkan menunggu lukanya sembuh dahulu. Selain itu, dia juga penasaran terhadap orang yang melukainya. Dia berjanji akan membalas penghinaan semalam di Wisma Oda. Sementara di Wisma Oda...

"Kak, kamu tahu tempat yang dirasa aman untuk berlatih tenaga dalam?" tanya Wei. "Tentu. Sekitar belasan Li dari sini ada danau. Pemandangan disana sangat indah dan tenteram. Besok saya akan membawamu beserta Xieling kesana." kata Jieji. Keesokan harinya, mereka berempat berangkat ke Danau yang disebut, nama danau ini adalah Danau Saiko. Tempat ini sangat asri, dan tenang. Ini adalah tempat yang dipilih oleh Jieji supaya Xieling bisa belajar dasar tenaga dalam tanpa gangguan. Mereka memilih sebuah hutan kecil disamping danau. Sementara Jieji dan Yunying meninggalkan mereka berdua disana. Jieji segera beranjak ke sebuah batu besar di bawah pohon yang rindang yang jaraknya sekitar 300 kaki dari tempat Jindu dan Xieling, disini dia mengambil posisi tidur di atas batu besar. "Kamu mengajakku kesini hanya untuk tidur?" tanya Yunying yang melihatnya sesaat setelah dia menutup matanya. "Begitulah, adik ketiga sedang menurunkan ilmu dasar tenaga dalam perguruannya. Tidak baik jika tetap disana." kata Jieji singkat. Akhirnya Yunying tidur juga disampingnya. Batu ini cukup besar, mereka mengambil posisi masing-masing di samping batu. Suara angin berhembus yang tipis, dan suara riakan air danau membuat suasana disana amat tenang. Mereka berdua menikmatinya dengan penuh kesenangan. Namun suasana ini ternyata tidaklah lama. Karena Jieji mendengar derap kaki yang lumayan kencang sedang berjalan ke arahnya. Dengan cepat, Jieji langsung mengambil posisi duduk. Dilihatnya ke arah pohon di depannya. Terlihat belasan orang, mereka cukup angker, dipinggang mereka terselip pedang. "Ha Ha... Mao mencari harimau, ternyata ketemu dengan rusa." Suara orang yang tertawa tak lain adalah Yue Liangxu. "Mao menunggu Harimau, tapi yang datang malah anjing rumah tetangga." kata Jieji membalas perkataannya. Bukan main gusarnya Liangxu mendengar kata-kata Jieji. "Budak... Hari ini adalah ajalmu. Jika ada kata-kata terakhir yang mau kau sampaikan. Sekaranglah saatnya.Ha Ha..." kata Liangxu seraya tertawa.

"Anjing, kalau ada tulang yang mao kau dapatkan. Segera kau gonggong tiga kali." kata Jieji kembali. Yunying yang disampingnya tertawa geli. Semua kata-kata kakak seperguruannya bisa dibalikkan dengan mudah oleh Jieji. "Keparat kau... Kau sudah terlalu menghinaku.." teriak Liangxu yang sangat marah. "Anjingku ternyata telah menggonggong, betapa penurutnya dia. Ha Ha.." Jieji tertawa, namun seiring itu, dia tetap mengambil posisi tidur. Yunying merasa heran kenapa Jieji tidur dengan segera. Sesaat dia tahu maksudnya. Dengan berlari kencang ke arah Jieji yang tertidur, Liangxu segera mencabut pedang dipinggang. Dengan sebuah teriakan, dia mulai melompat untuk membacok. Tetapi, sebelum bacokan itu sampai. Ada tenaga yang mendorongnya mundur. Rupanya Yunying yang menghalanginya. "Adik, kenapa kau menghalangiku?" tanya Liangxu kepadanya. Yunying tidak berbicara sepatah katapun kepadanya. Lantas dengan cepat dia mengeluarkan tapak untuk bertarung melawan kakak seperguruannya. Sekitar 10 jurus sudah dikerahkan masing-masing pihak. Melihat jurus wanita ini aneh, segera dia bertanya. "Dik, kapan kau belajar ilmu aneh ini?" tanyanya. Terakhir Yunying menjawabnya, Dia mengeluarkan kata-kata aneh, Liangxu tidak tahu bahasa apa yang diucapkannya. Sedangkan Jieji yang tertidur disana tertawa geli luar biasa. Dia tidak menyangka nona ini akan menggunakan cara seperti itu. Segera Liangxu sadar, wanita ini mungkin bukanlah adik seperguruannya. Lantas dengan serius dia bertarung melawan Yunying.. 20 jurus kemudian, kelihatan Liangxu telah terdesak. Para pengawalnya segera beranjak hendak membantu tuan mudanya. Namun baru berjalan ke depan hendak mencuri serang, mereka dihentikan oleh tenaga dalam yang aneh. Masing-masing di antara mereka terpental ke belakang. Dilihatnya Jieji yang sedang tertidur disana, namun tetap tanpa reaksi.

Mereka berpikir, mungkin ada orang sakti yang di dekat sini. Maka daripada itu, mereka tidak berani bertindak lebih lanjut. Yunying kelihatan lebih unggul dari kakak seperguruannya yang mengeluarkan tapak penghancur jagad. Hawa pertarungan terasa dahsyat mengoyak angin. Suara tapak berlaga dan tapak tertahan terdengar sangat jelas. Liangxu telah menguasai 7 jurus milik ayahnya. Namun dia sangat heran, nona ini dengan mudah sanggup membuatnya terdesak. Dengan sebuah tapak, akhirnya Yunying berhasil membuat Liangxu terpental dan jatuh. Setelah itu Yunying cuma melihatnya sekilas, dan segera berbalik ke arah batu besar. Namun tanpa disangka. Ketika dia berjalan menuju sana, sebuah hawa tapak melejit cepat menuju punggungnya. Si nona terkena pukulan dan melayang ke arah Jieji yang tidur. Dengan terkejut, Jieji segera bangun dan menangkapnya. Ternyata didapatinya nona ini muntah darah, sesaat itu dia pingsan. Betapa gusarnya dia melihat kelicikan Liangxu. Dengan segera dia meletakkan Yunying di batu besar. Dia sendiri berjalan perlahan ke arah mereka. Liangxu yang merasa menang, sangat bangga meski dia menggunakan cara licik. Dia mengatakan,"kenapa nona itu bodoh sekali, dia tidak tahu taktik dunia persilatan. Sekarang dia telah tidur, saatnya kamu ini kita hajar. Ha Ha Ha...." Segera mereka bersiap untuk mengepung Jieji yang tinggal sendirian. Namun tertawanya Liangxu tidak lama. Sesaat itu, mereka merasakan hawa yang sangat dahsyat. Mereka semua merinding. Liangxu yang sedari tadi tertawa segera diam. Langkah Jieji perlahan menuju ke depan. Dia berkata. "Tempo hari, Kakakku mencegah aku turun tangan. Kau tahu kenapa?" tanyanya dengan sorot mata tajam sarat dengan hawa pembunuhan. "Ha Ha.. Itu karena kungfumu tak seberapa." kata Liangxu seraya meyakinkan dirinya, karena dia cukup merinding juga melihat tatapan mata Jieji yang sangat dingin itu.

Liangxu masih mengingat kejadian di Wisma Wu dulu. Dari belakang dia memberikan 1 tapak ringan saja, namun Jieji terpental cukup jauh dan muntah darah. Dikiranya kemampuan pemuda itu hanya sebegini. "Itu karena kalau aku turun tangan, kalian tidak ada yang sanggup menginjak China lagi." Kata Jieji pendek. Mereka yang mendengar kata-kata Jieji itu terasa lucu luar biasa. Yang mengikuti Liangxu ke Dongyang adalah pesilat yang kelasnya lumayan tinggi. Terutama dua orang pengawal ayahnya. Mereka berdua dijuluki pasangan pedang kembar. Nama mereka lumayan terkenal di dunia persilatan. Liangxu merasa kali ini dia berada di atas angin. Dengan segera dia menyuruh orang di sampingnya yang jumlahnya belasan orang untuk menangkap Jieji. Kira-kira tiga langkah hampir sampai di depan Jieji. Mereka tiba-tiba terjatuh dalam posisi tertotok nadi. Semuanya terjatuh dengan posisi tidur. Liangxu yang melihatnya cukup heran, bahkan dia tidak melihat gerak tangan Jieji. Sesaat itu dia sadar, lawan di depannya sangat berbahaya. "Ayok, kita kepung dia." katanya kepada 2 pengawal ayahnya. Masing-masing pengawal itu segera mengeluarkan pedang dari sarung. Sedang Liangxu yang di belakang merapal jurus tapak penghancur jagadnya. Dia berpikir, kalau pertarungan telah seru. Dia akan mencuri serang. Namun dugaannya salah besar. Dua pengawal memang menggunakan pedang menuju ke arah Jieji. Sesaat sebelum pedang mereka membacok. Pedang yang dipegang mereka telah terbabat putus menjadi beberapa bagian. Mereka sangat terkejut melihat apa yang barusan terjadi. Diingat-ingatnya kejadian sekejap itu. Sinar biru muda menyilaukan mata mereka sesaat. Dan setelah itu, kedua pedang mereka tinggal gagangnya saja. Melihat hal ini, mereka berdua bahkan tidak sanggup berdiri. Posisi mereka menjadi berlutut. "Pedang Es Rembulan???" kata Liangxu kepadanya. Dia girang, jika pedang ini bisa direbut dari tangan Jieji. Maka namanya akan segera termahsyur di dunia persilatan. Dengan segera, Liangxu memancing Jieji. "Kalau berani, jangan memakai pedang itu. Kita bertarung secara jantan." "Kamu ingin saya tidak memakai pedang ini karena kamu pikir kemampuanku tidak ada apa-apanya jika saya tidak menggunakan

pedang? Kamu salah besar anak muda. Meski ayahmu yang bertarung melawanku, belum tentu dia mampu menang." kata Jieji seraya memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Liangxu tidak tertarik dengan kata-kata Jieji. Dia ingin merebut pedang dari tangan lawannya sesegera mungkin. Langsung Liangxu mengerahkan tapak penghancur jagad tingkat tertinggi yang pernah dipelajarinya. Dengan beranjak cepat, dia hampir sampai. Tapak itu keluar dengan cepat, sementara Jieji masih tenang. Begitu tapak hampir mengenai dadanya. Dengan memutar tubuhnya penuh dan menyeret kakinya kebelakang Jieji melayani tapak anak muda ini dengan tapak terbalik. Ini adalah jurus yang sama ketika dia bertarung melawan Lu, gurunya Bao Sanye. Sesaat itu, Liangxu sangat yakin dia sanggup mengalahkan lawannya karena dilihatnya lawan telah terdesak sambil menyeret kaki ke belakang. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama. Segera Liangxu kehilangan kendali, tenaganya seperti terserap dan hilang. Baru dia menyadarinya, dia telah terpental melayang. "Brukk.." Dia terjatuh ke tanah, setelah berusaha berdiri. Dia sempoyongan, dan menyadari Jieji sudah ada di depannya. Dengan gerakan memutar, Jieji menangkap tangan pemuda ini, dan mengambil ancang-ancang jari. Dikerahkannya jurus Jari dewi pemusnah untuk mematahkan nadi tangan pemuda ini. "Ini adalah pembalasan karena kamu kurang ajar terhadap semua makhluk di dunia ini." Namun gerakan itu tidak berhenti. Segera dia menangkap tangan Liangxu yang lainnya, dan melakukan hal yang serupa. "Ini karena kelicikan kamu terhadap nona itu." katanya. Liangxu menjerit keras, karena saat itu dia tahu. Kungfunya telah dimusnahkan oleh Jieji.

BAB XXXI : Munculnya Kyosei, pelindung keluarga Oda
"Keparat... Tunggu pembalasan dari ayahku sesegera mungkin. Kali ini kamu tidak akan hidup dengan tenang lagi." Teriak Liangxu sambil berlutut menahan rasa sakit di kedua tangannya.

Jieji tidak menghiraukannya lebih lanjut. Dia segera menuju ke batu besar tempat nona tadi dibaringkan. Dengan mendudukkan si nona di batu besar, Jieji menggunakan tenaga dalam untuk mengobatinya. Sepasang pedang kembar yang tadi ketakutan sudah sanggup berdiri. Dengan segera berjalan ke arah Tuan muda Yue, mereka membimbingnya berdiri. "Hari ini aku dihina semacam begini, lain kali kau pasti akan dapat pembalasan. Keparat, kamu benar akan mati nantinya." Dampratan pemuda ini sama sekali tidak didengarkan oleh Jieji. Dia sedang mengkonsentrasikan dirinya untuk menyembuhkan Yunying. Sesaat kemudian, si nona telah bangun. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Jieji. Yunying cuma menggelengkan kepalanya. Jieji segera membimbingnya untuk berbaring kembali. Dia segera menuju ke arah pengawal sekitar belasan orang yang dalam posisi tidur dan tertotok nadi. Dengan segera dia membuka simpul totokan. "Kalian segera pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran." Kata Jieji berteriak marah kepada mereka. Dengan tanpa banyak basa-basi, semua segera meninggalkan danau itu. Sepasang pedang kembar membawa pergi Yue Liangxu. "Kali ini baru kulihat kelicikan kakak seperguruanku. Dulunya aku sama sekali tidak percaya." Kata Yunying yang agak melemah. "Sudah, jangan terlalu banyak berbicara. Saya akan membawamu pulang untuk beristirahat." kata Jieji. Segera digendongnya Yunying, dan menuju ke Wisma Oda. Yunying sebenarnya merasa malu digendong Jieji. Tetapi dalam hatinya dia merasa sangat nyaman bersamanya. Tidak seperti kakak seperguruannya Liangxu. Setiap kali dia bertemu dengannya, selalu segala hal yang tidak pentingpun dibanggakannya. Bersama Liangxu, Yunying malah merasa sangat tidak nyaman. Meski Jieji sering bercanda dengannya, namun dia sebenarnya sangat menghormati pria ini. Yunying merasa dalam hati pria ini sangatlah hangat, ada sesuatu ikatan yang membuatnya begitu dekat dengannya. Dia merasa bahwa wanita yang mendapat cintanya pasti adalah wanita yang paling beruntung. Sesaat dia merasa seperti Xufen, wanita yang rela mati deminya. Jieji yang melihatnya tersenyum segera meledeknya.

"Kenapa? Emang enak sekali ya digendong? Seperti waktu anak-anak kamu digendong oleh orang tuamu kan?" "Tidak, kamu ini agak kasar. Apakah kamu menggendong setiap wanita dengan cara begitu?" tanyanya. "Tentu tidak. Hanya untukmu aku berlaku kasar." kata Jieji kembali. "Wah, kok begitu sih? Kamu ini jahat.... " "Tidak, untuk ini saya cuma bercanda,"kata Jieji sambil melihatnya dalamdalam. Yunying yang melihat begitu menjadi salah tingkah. "Maafkan aku... Tidak seharusnya aku membiarkan kamu bertarung melawan si Yue , sehingga membuatmu terluka dalam. Aku yang salah, setelah kamu sembuh nantinya mintalah sesuatu hal kepadaku. Meski harus menerjang badai dan api, aku akan melakukannya untukmu." Kata Jieji kemudian. "Kamu betul baik...." kata Yunying kemudian seraya menutup matanya sambil tersenyum manis. Di Wisma Oda... Jindu dan Xieling sudah ada disana. Mereka sedang menunggu pulangnya Jieji. Mereka berpikir mungkin Jieji dan Yunying keasikan bermain di luar dan belum pulang. Tetapi saat melihat Jieji yang menggendong Yunying, mereka terkejut. Dengan segera Jieji membimbingnya ke kamar untuk beristirahat. "Kak, apa hal yang terjadi?" tanya Wei JinDu. Jieji menceritakan semua hal kepada adik ke 3 nya dan nona Xieling. "Kalau begitu kita harus bersiap-siap dalam sebulan ini." "Betul, saya rasa kali ini akan timbul masalah besar. Semua ini terjadi karena aku." kata Jieji. "Tidak, kakak tidak boleh berbicara seperti itu. Kakak hebat.. Masih sanggup meredam emosi dan tidak membunuh. Ini adalah salah satu kebesaran hati kakak." kata JinDu seraya membungkuk memberi hormat. "Dik, mungkin kali ini kita tidak bisa hidup dengan benar-benar tenang. Pelayan keluarga Oda semuanya juga termasuk pesilat. Sepertinya kali ini kita harus bertarung benar-benar. Karena tidak lama lagi pasti Yue Fuyan akan menuntut balas anaknya."

"Yang sanggup menghentikan Yue Fuyan cuma seorang. Maksudku tentu bukan dengan cara kasar." Kata Wei. "Betul, cuma kakak pertama yang sanggup melakukannya." kata Jieji kemudian. Pertama-tama Jieji tidak turun tangan waktu melawan Yue Liangxu, ini karena dia merasa Yunying sudah sanggup mengatasi pemuda sombong itu. Namun tanpa disangka, Liangxu menggunakan cara licik dan memaksanya untuk bertarung. Pedang Es Rembulan pernah dipakainya sekali, tentu ini akan membawa masalah yang lumayan besar baginya. Perkiraan mereka berdua memang benar adanya. Tidak berapa lama semenjak Liangxu di punahkan kungfunya oleh Jieji. Terdengar kabar bahwa di pelabuhan tampak banyak sekali pesilat yang datang. Jieji sebelumnya telah memindahkan Wisma Oda. Dia membangun rumah yang lebih kecil dekat pelabuhan. Disana dia bisa melihat gerak-gerik orang yang menuju pelabuhan. Tentu tujuan lainnya adalah melindungi makam Xufen. Makam Xufen terletak di sebelah selatan Wisma. Jika para pesilat itu datang, tentu makam Xufen-lah yang harus dilewatinya sebelum sampai ke wisma Oda. "Sepertinya pertempuran akan dimulai." Kata Wei Jindu. "Betul. Tetapi sampai sekarang kakak pertama belum balik." Kata Jieji. Para pesilat memang telah sampai di pelabuhan. Yang datang disana sekitar 30 orang. Tentu yang memimpin pesilat kali ini adalah Yue Fuyan. Disampingnya adalah pengawal sepasang pedang kembar. Selain itu, Yan Jiao si kamus kungfu juga datang. Setelah mengetahui satu-satunya putera kesayangan telah punah kungfunya. Betapa marahnya Yue Fuyan. Dia berniat untuk membalaskan dendam puteranya itu. " Beberapa Li dari sini adalah gunung Fuji. Pemuda itu nampak di sebelah barat gunung Fuji, yaitu Danau Saiko. Selain itu tuan muda mengatakan bahwa orang itu berasal dari keluarga Oda." kata pengawal Yue. "Kalau begitu kita segera kesana." kata Yue. Baru berjalan beberapa Li, Yue berpapasan dengan seorang tua yang aneh, orang ini sengaja menghalangi jalan para pesilat. Rambut pria ini putih semua. Dia memegang tongkat yang lumayan panjang.

"Siapa tuan? Apa maksud anda menghalangi perjalanan kami?" tanya Yue. "Kamu ini keparat. Beraninya kau mengacau disini Yue Fuyan. Ketua dunia persilatan? Kurasa nama itu sangat cocok untuk nama anjingku." Kata orang tua ini dengan sangat kasar. Yue berusaha menenangkan dirinya. "Aku tidak kenal padamu. Kenapa kamu begitu tidak sopan?" tanya Yue. "Tidak kenal? Iya, betul. Kau memang tidak kenal padaku. Tetapi apa yang kau lakukan 31 tahun yang lalu aku tahu dengan pasti." kata Orang tua ini kembali. Betapa marah dan gusarnya Yue mendengar kata-kata pria tua itu. Dia ingat dengan teliti, bagaimana dia menipu gurunya untuk mendapatkan Kitab Tapak penghancur jagad sehingga namanya termahsyur. Dan parahnya dia mengklaim bahwa kungfu itu adalah ciptaannya. Seperti ayah maka begitulah anak, rupanya keduanya adalah orang licik luar biasa. Tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara lebih lama, Yue segera menyerangnya. Yue sangat yakin, jika orang ini dibunuh maka namanya pasti tidak akan tercemar selamanya. Jurus yang dikeluarkan Yue adalah tapak penghancur jagad. Namun jika dibandingkan dengan Yue Liangxu, Jurus Yue Fuyan lebih dahsyat dan mematikan. Tenaganya bahkan 2 kali lipat lebih dahsyat dari anaknya. Si tua sangat gesit, setiap jurus mampu dihindarinya. Dengan tongkat, sesekali dia membalas serangan lawannya. Setelah bertarung 20 jurus lebih, keadaan tampak seimbang. Dengan segera Yue merapal jurus baru. Inilah jurus tapak nya yang ke 5. Desiran angin terasa menusuk dan mengoyak. Pohon bambu disekitarnya tercabik di batang. Si tua sepertinya kalah angin. Apa yang diperbuat Yue jelas dilihat oleh 4 orang di atas bukit yang lumayan tinggi. "Gawat, si tua itu dalam bahaya." kata pemuda yang tak lain adalah Wei Jindu. "Tidak, kita tunggu sebentar dulu." Kata Jieji. Si tua yang sedari tadi menahan hawa tenaga dalam segera menghancurkan tongkat di tangannya.

Rupanya benda yang terkandung di dalamnya adalah sebuah pedang. Pedang ini agak melengkung dan hanya punya 1 sisi tajam. Inilah katana, senjata dari Dongyang. Yue sudah siap untuk membunuh orang tua ini. Dengan 1 gerakan dia melesit menuju ke arah orang tua itu. Namun sepertinya orang tua itu tetap tenang. Begitu hampir sampai, dia membacok dengan kecepatan tinggi. Yue cukup terkejut melihat pedang yang datang itu hampir tiba di mukanya. Seraya berkelit, Yue menghindari pedang itu dan dengan tangan lainnya dia memukul tepat di tulang rusuk orang tua tersebut. Sesaat terlihat orang tua itu muntah darah sambil terpelanting ke belakang. Yue yang melihatnya dalam posisi seperti itu berniat langsung membunuhnya. Dia ambil pedang khas Dongyang itu, dan menuju ke tempat orang tua berada. Dengan satu hentakan dia berniat mencabut nyawa si tua. Pedang telah hampir sampai, si tua segera menggunakan kakinya untuk menghantam tanah. Tenaga dalam si tua ini segera bekerja, pedang yang seharusnya mendarat di perutnya itu segera lepas dari tangan Yue. Yue cukup heran, dia belum pernah mendapati jurus ini. Tetapi dari belakang, Yan Jiao mengatakan." Inilah tendangan mayapada." Yue terkejut mendengarnya. Tidak disangka si tua ini mempelajari jurus yang sebenarnya tidak asing baginya. Seraya bangkit, orang tua itu berkata. "Hari ini adalah penentuan, jika bukan aku mati maka kau lah." katanya. "Aku Kyosei dari Dongyang sangat malu terhadap tuan besar dan nyonya di alam sana. Juga putera majikanku satu-satunya yang tidak mampu kuselamatkan. Ternyata setelah kupelajari tendangan mayapada dan jurus tuan besar dengan baik namun tidak mampu untuk membunuh Yue Fuyan." katanya kemudian dengan lirih. Jieji di atas bukit melihat jurus tersebut. Dia mengenalnya dengan pasti, karena ilmu tendangan ini juga dipelajarinya. Juga orang tua ini menyebut namanya adalah Kyosei, nama yang tidak asing baginya. "Itu adalah jurus tendangan mayapada. Dan dia adalah Kyosei, orang yang menjadi pelindung Wisma Oda. Aku harus menyelamatkannya. Mungkin ada petunjuk jati diriku tertinggal padanya." kata Jieji. "Tidak, kakak tidak usah turun tangan. Biar kutolong orang tua itu saja, jika kali ini kakak muncul akan sangat berbahaya." kata Wei Jindu. Dengan ilmu ringan tubuh, Jindu segera menuju ke tempat si tua itu.

Ilmu Wei tidaklah lemah. Dia adalah salah satu pewaris tapak Buddha Rulai sampai tingkat ke 7. Tenaga dalamnya juga tinggi.Tahu-tahu dia sudah berada di depan orang tua tadi. Dan membimbingnya. Yue yang kedatangan pemuda ini cukup terkejut. Karena dia datang dengan ilmu ringan tubuh yang tinggi, dan tidak dirasakan kehadirannya. Tahu-tahu dia sudah berada di depannya. "Siapa kau?" tanya Yue. "Namaku Wei JinDu dari barat." Kata Wei pendek.

BAB XXXII : Ironis
Yue Fuyan tentu belum pernah dengar nama pemuda tersebut. "Menyingkirlah pemuda. Saya tidak menganggap masalah ini penting, tetapi si tua harus mati." kata Yue. "Tidak, si tua ini akan ikut denganku." kata Wei kembali. Sebenarnya diantara 3 bersaudara, Wei adalah yang paling tinggi kesabarannya. Dia tetap mampu tenang walaupun apa hal yang terjadi. Disinilah Wei unggul atas kakak-kakaknya. "Kalau begitu sekalian kamu juga harus mati." kata Yue dengan sombong. "Kalau benar anda bisa membunuhku, maka saya rela..." kata Wei. Segera Wei mengangsurkan Kyosei ke jarak puluhan kaki ke belakang. Yue segera merapal jurus untuk mencoba pemuda yang belum dikenalnya. Wei cuma berdiri tenang. Namun kedua tapaknya telah siaga. "Apa nama jurus itu tuan Yan?" tanya pengawal Yue. "Belum tahu. Pertarungan belum berlangsung jadi tidak bisa kupastikan jurus apa itu." kata Si kamus kungfu, Yan Jiao. Segera sesaat mereka saling berpandangan, hawa pertarungan kembali terasa. Jieji yang di atas bukit bersama Yunying dan Xieling melihat dengan teliti. "Apa menurutmu adik ke 3 mu mampu mengatasi guruku?" tanya Yunying. "Kalau dilihat dari keyakinan adik ke 3, saya rasa pasti bisa. Adik ke 3 tidak pernah melakukan suatu hal yang belum pasti. Kali ini dia mewakiliku menemui Yue untuk menolong Kyosei. Dia pasti punya keyakinan." kata Jieji.

Mereka saling pandang beberapa saat. Yue terus mencari titik lemah pemuda ini, sebab Yue mempunyai prinsip tidak perlu bertarung lama, asal 1 jurus mematikan saja sudah cukup. Dengan hentakan keras, Yue duluan beranjak menuju pemuda tampan ini. Sesegera juga, Wei beranjak dari pijakannya. Kecepatan mereka sangat luar biasa, pesilat biasa susah melihat gerakan mereka. Begitu tapak mereka beradu terdengar dentuman yang keras. Pohon bambu di sekitar sana langsung ambruk. Jindu menyerang dengan pasti, semua tapaknya tidak ada yang sia-sia. Setiap kali tapak itu sampai, maka Yue selalu menahannya dengan cepat karena tidak sempat untuk berkelit. Pertarungan yang sungguh bagus. Sama-sama menggunakan jurus yang mematikan. Tanpa terasa mereka telah bertarung ratusan jurus. "Anak muda, kau hebat... Tetapi sepertinya kamu ini kurang serius." kata Yue Fuyan. "Anda juga, saya rasa anda juga belum mengerahkan kekuatan sesungguhnya." kata JinDu kembali. "Baiklah, kalau begitu kali ini dalam 1 serangan saja kita tentukan. Jika kamu mampu mengalahkanku, si tua itu ikut kamu pergi. Bagaimana?" tanya Yue. "Baik." kata Wei kemudian. Yue membubarkan pesilatnya supaya menyingkir lebih jauh. Sepertinya kali ini dia akan mengeluarkan tapak pamungkasnya. Jindu tetap tenang. Dia membentuk tangannya, seraya menutup mata. Dari samping tubuhnya keluar desiran angin yang luar biasa kuatnya. Yue yang melihatnya cukup terkejut. Namun dia tetap merapal jurus tertingginya, Tapak penghancur jagad tingkat ke 9. Yan Jiao yang menonton segera mengeluarkan suara. "Inilah jurus no 1 terhebat di wilayah barat. Tapak Buddha Rulai." kata Yan kemudian. Semua orang disana yang mendengarnya sangatlah terkejut. Sementara di atas bukit, Jieji mengatakan. "Itu jurus tapak Buddha Rulai tingkat 7." "Jadi ini adalah jurus yang sanggup kamu patahkan dengan tapak berantai tingkat ke 3 mu ?" tanya Yunying. "Betul...." Di bawahnya...

Detik-detik penentuan telah tiba. Kedua aura tenaga sudah saling beradu, membuat desiran angin panas kian menusuk terasa. Pesilat kelas menengah tidak sanggup menahannya, beberapa orang segera menyingkir agak jauh. "Anak muda, sekarang kita mulai. Bagaimana?" tanya Yue. "Baik. Aku sudah siap." kata Wei seraya membuka matanya. Dengan teriakan keras keduanya saling memacu kecepatan. Suara bising luar biasa segera muncul. Ketika tapak mereka hampir beradu, tanah disana terasa bergetar bagai gempa bumi. Suara memecah keras segera terdengar dahsyat. Hawa energi mengerikan terdengar. Di belakang semua pesilat segera menutup telinganya dengan kedua tangannya. Sementara dibukit, Xieling segera menutup telinganya. Sedang Jieji dan Yunying hanya biasa saja melihat. Kedua tapak yang beradu itu cukup lama. Sama-sama sepertinya tidak mau kalah. Yue bermaksud main curang. Diputarnya sebelah tangannya yang lain untuk mencuri serang dari arah samping. Sebelum tapak itu sampai, dari bukit depan terasa sebuah hawa pedang nan dahsyat menuju ke tapaknya Yue. Segera, tapak Yue terasa sangat kesemutan. Dari sini JinDu segera memastikan kemenangan. Yue tampak terpental lumayan jauh kebelakang dan muntah darah. "Siapa itu?" Katanya kemudian. Dengan segera Jieji telah sampai di bawah, namun dia tidak menyapa Yue Fuyan. Karena orang yang dicarinya pertama adalah Kyosei. Kyosei yang menyaksikan pertarungan itu dari arah agak jauh segera terkejut luar biasa. Dia merasa seperti melihat hantu. Dan segera dia berlutut. "Tuan Besar..... Tidak disangka anda masih hidup. Hamba betul tidak berguna, tidak mampu memenuhi pengharapanmu yang terakhir." Kata Kyosei. Segera Jieji memintanya berdiri, dia tidak berpaling ke arah Yue Fuyan. Melainkan menanyai Kyosei. "Saya bukan tuan besarmu. Saya ingin menanyaimu. Apa yang terjadi sejak terakhir kamu mengikuti tuan besar ke China?" Dari arah pesilat yang berdiri segera seseorang bersuara. "Itu adalah hawa pedang tak berwujud namun dahsyat sekali. Jurus ilmu jari Dewi pemusnah."

Semua hadirin disana sangat terkejut, beberapa orang mengenali Jieji. Dengan segera mereka berkata pada Yue. "Dia... Dialah orang yang melukai tuan muda. " Yue yang memandang pemuda itu dengan tatapan gusar ingin membunuhnya. Dia menegur Jieji dengan kasar. Namun, semua teguran itu tidak dihiraukannya. Bahkan Jieji tidak berbalik untuk melihatnya. "Baik tuan. Saya akan menceritakannya." kata Kyosei. Yue yang memandang lawannya tidak siap, segera beranjak cepat ke arah Jieji, tujuannya adalah nyawa Jieji dan pedang yang terselip di pinggangnya itu. Jindu yang masih di depannya terkejut. "AWAS kakak kedua... " Teriaknya. Jieji sebenarnya dari tadi sudah siap, dia tahu Yue akan mencuri serang padanya. Namun sebelum tapak itu sampai, sebuah kekuatan menahannya. Yue melihat dengan sekilas. Itulah tinju. Seorang yang menahan tapaknya itu dengan tinju adalah orang yang berperawakan tinggi 6 kaki, di tangannya memegang kipas, wajahnya sangat agung bak dewa. Lebih terkejut lagi si Yue melihat orang ini. Dia cuma diam terpaku. 10 pengawalnya segera beranjak ke depan mencegatnya. "Kenapa pesilat banyak berdatangan ke Wisma Oda tiga puluh tahun yang lalu?" tanya Jieji. "Tuan muda kecil yang baru berusia 4 bulan saat itu terkena racun yang sangat dahsyat. Karena Tuan besar sangat menyayangi puteranya itu, dia meminta semua pesilat dari semua belahan dunia untuk menolongnya." "Katakanlah lebih lanjut dan jelas," kata Jieji. "Iya, pesilat kebanyakan datang karena mereka mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Oda. Banyak di antaranya pernah ditolong oleh Tuan besar. Mereka merasa berhutang budi. Tujuannya adalah untuk memberikan tenaga dalam kepada tuan muda kecil." Disini Jieji sangatlah terkejut. "Chen Yang, kakaknya tabib dewa Chen Shou pernah langsung memeriksa tuan muda kecil. Setelah menusuk beberapa jarum di tubuh tuan muda kecil. Dia mengangsurkan jarum terakhir pada Tuan besar. Dengan segera tuan besar menusuk ke kening Tuan muda kecil. Sesaat itu, semua pesilat tingkat tinggi langsung memberikan tenaga dalamnya kepada tuan muda kecil."

Jieji mengingat dengan pasti momen ini. "Apa tuan muda kecilmu muntah darah hitam saat ditusukkan jarum ke keningnya?" "Tidak, yang dia muntahkan adalah cairan perak." Jieji yang mendengarnya sangatlah sedih. Rupanya saat dia menusukkan jarum terakhir ke kening Xufen, tusukan itu telah meleset. Sesaat itu, Yunying dan Xieling telah sampai dibawah. Yaitu di tempatnya Jieji. "Setelah itu, tuan muda besar dan nyonya berencana membawa tuan muda kecil ke China. Katanya bahwa dia harus mencari sedikitnya seorang lagi yang punya tenaga dalam nan tinggi untuk menyembuhkan tuan muda kecil. Namun di tengah perjalanan, dia bertemu dengan keparat Yue yang licik. Setelah mengangsurkan tuan muda kecil kepadaku dan Lan Ie. Tuan muda besar memintaku pergi. Namun tidak berapa lama, saya sanggup dikejarnya juga. Yue memukulku dengan satu tapak dan terakhir saya jatuh ke sungai. Dengan usaha tinggi aku mencari sebuah papan besar yang terapung. Kuletakkan tuan muda kecil disana, namun arus sungai sangatlah deras. Aku tenggelam terbawa arus. Saat aku sadar, tuan muda kecil telah hilang." Katanya seraya menangis sesedihnya. Jieji berpaling ke arah Yue dengan kegusaran tinggi. "Nasib, memang nasib. Tuan besar mengatakan jikalau tuan muda kecil selamat, maka selamanya dia akan kebal terhadap racun nomor 1 sejagad itu." kata Kyosei yang menangis sejadi-jadinya. Jieji yang mendengarnya segera merinding dan seakan hilang akal. Ditanyanya orang tua ini kembali. "Apa katamu??? Kamu bilang kalau orang yang terkena racun pemusnah raga akan kebal jika dia terselamatkan?" Segera Jieji berpaling ke arah kamus kungfu YanJiao. Yanjiao yang melihatnya dari jauh mengangguk pelan. Saat itu Jieji seperti seorang yang kehilangan akal. Dia berjalan sempoyongan ke tengah arena pertarungan itu dengan air mata berlinang. "KENAPAAAAAAAAAAA........................." Teriaknya dengan panjang. Hawa tenaga murni Jieji segera keluar bagai tanggul yang jebol.

BAB XXXIII : Dekisaiko Oda, nama asli Jieji.

Pendekar-pendekar disana kecuali Yang Ying dan JinDu. Semua menutup telinganya dan segera mengambil posisi bersila sambil merapatkan kedua tangan. Teriakan Jieji Maha Dahsyat. Lebih hebat teriakan Jieji ini 2 kali lipat dari suara benturan tapak antara JinDu dan Fuyan tadi. Pesilat kelas menengah segera muntah darah dan pingsan karena tidak sanggup menahannya. Yue yang sudah terluka sebelumnya, mengambil posisi bersila untuk menghimpun tenaga dalam mengatasi suara teriakan. Yang Ying terlihat berdiri di belakang pak tua Kyosei dan menutup telinganya sambil mengalirkan energi. Sesaat setelah teriakan mereda, Jieji nampak seperti orang yang linglung. Dengan segera dia muntah darah, dan jatuh terjerembab. Yang dan Jindu segera mendekatinya dengan cepat. Sedang pesilat lainnya masih berada dalam posisi bersila. Mereka mendapatkan Jieji telah jatuh pingsan disana. Segera Jindu membopong Jieji di punggungnya. Diantara para pesilat, tidak ada yang tahu apa maksud Jieji berteriak dengan demikian dahsyat. Yang tahu dengan pasti hanya Yang Ying, JinDu dan Yunying. Yah, memang sangat ironis sekali. Didengar dari apa yang diucapkan Kyosei, mereka sudah memastikan tuan muda kecil adalah Jieji adanya. Sebenarnya Xufen tidak perlu tewas jika dia tidak menghisap racun di bahu Jieji, karena Jieji telah kebal terhadap racun pemusnah raga. Jieji yang menyadari keadaan itu tentu menjadi luar biasa sakit hatinya. Yue Fuyan yang sedari tadi telah berdiri sebenarnya ingin merampas Pedang Es rembulan yang masih tergantung di pinggangnya Jieji. Namun dilihatnya orang yang bersamanya yaitu Yang Ying. Segera dia mengurungkan niatnya dan mengajak para pesilat segera meninggalkan Dongyang. Tetapi dia dihentikan suara seseorang. "Jika kamu masih menghormatiku, jangan sesekali lagi kau cari masalah disini." kata seseorang yang tak lain adalah Yang Ying. Yue sempat melihat sekilas kepadanya, sambil memberi hormat dia berangsur pergi bersama pesilat-pesilat. "Kenapa anda pergi ketua?" tanya para pesilat. Yue cuma diam saja, dia sangat mendongkol. Namun apa daya yang sanggup dilakukannya. Pertama, Dia tidak akan sanggup bertarung dengan

kondisi luka parah. Kedua, JinDu masih dalam keadaan sehat, tidak mungkin dia sanggup menang melawannya lagi. Sedang yang ketiga, dia melihat pemuda yang tingginya 6 kaki itu berada di pihak lawan. Tentu Yue sangat mengenal pemuda ini yang tak lain adalah Zhao Kuangyin atau kaisar Sung Taizu. Namun, dia tidak menceritakannya kepada para pesilat yang ikut bersamanya. "Tenaga dalam pemuda itu sungguh luar biasa, Dia sudah setara dengan Pei Nan Yang." Kata Yan Jiao. Semua pesilat lebih terkejut lagi. Pei Nan Yang adalah sebuah nama yang tentunya tidak asing bagi mereka. Meski di antara mereka semua, yang pernah melihat Pei Nan Yang cuma Yan Jiao seorang saja. Pei Nan Yang adalah seorang pesilat yang masih dalam misteri. Dia berguru pada Lu Fei Dan awalnya. Setelah berhasil, dia melanglang dunia persilatan untuk meningkatkan ilmunya. Dalam 20 tahun dia berkelana, kabarnya dia telah tanpa tanding. Yan Jiao juga tidak begitu mengenal orang ini, namun dia bisa memastikan Pei Nan Yang tinggal di sebelah selatan China di daerah dekat Yunnan. Para pesilat segera berlabuh kembali ke China. Sementara di wisma Oda. Jieji terlihat berbaring di ranjang. Sudah 6 jam lebih, dia masih belum siuman. "Takdir memang sangat menggenaskan. Adikku dipermainkannya sedemikian rupa." kata Yang Ying dengan wajah yang penuh penyesalan. "Betul... Mengapa langit sangat kejam kepada kakak?" Kata Wei seraya menghela nafas panjang. Sedari dibawa pulang, orang yang terus berada di samping Jieji adalah Yunying. Dia mengamatinya dengan sangat teliti, beberapa kali dia terlihat berurai air mata. "Dik, kita pergi keluar dahulu." Kata Yang. "Baik kak... " Barusan berjalan hampir mendekati pintu kamar, Yang berpaling ke arah Yunying dan mengatakan. "Cuma anda seorang saja yang sanggup menghiburnya. Berikanlah kembali dia semangat dan kekuatan. Jangan membiarkannya terus frustasi." Yunying berpaling dan cuma mengangguk pelan. Setelah itu, dia kembali melayangkan pandangan ke arah tempat tidur.

Tanpa terasa, telah 10 jam semenjak Jieji pingsan. Dia mulai kembali siuman, dilihatnya nona kecil yang berada disamping ranjang sedang tertidur, dia membimbingnya dengan pelan. Yunying telah bangun, dilihatnya sorot mata Jieji yang penuh kedukaan yang sangat mendalam. Langsung dengan cepat, dia didekap oleh Jieji. Sambil memeluknya dia berkata. "Maafkan aku Xufen,... Akulah tidak lain adalah penyebab kematianmu. Sekarang kamu telah datang dan menjemputku. Mari kita pergi ke daerah yang nan tenang dan tidak perlu lagi kita terlibat akan hal-hal yang kacau." Yunying memang merasa serba salah karena dipeluk oleh Jieji. Namun Jieji menyangka bahwa dia sedang bermimpi, dia merasa sedang bermimpi bertemu dengan Xufen. "Betul, kita pergi saja menuju tempat nan tenang. Disana kita akan menjadi sepasang dewa-dewi yang bahagia." Kata Yunying sambil menangis. Sebenarnya Yunying tidak ingin menipunya sedemikian rupa, namun karena dia tahu Jieji sedang menganggap dirinya adalah Xufen. Maka daripada itu, dia tidak mau membuyarkan angan-angannya. "Kenapa takdir mempermainkan kita sedemikian?" tanya Jieji sambil meneteskan air matanya. "Jika kita mampu melewatinya, maka kita berdua bisa menjadi orang yang nan tangguh." Kata Yunying. Spontanitas Xufen yang menghisap racun di bahu Jieji adalah tindakannya yang penuh dengan rasa cinta kepada Jieji. Namun, justru hal ini menjadi hal yang sangat fatal. Seperti yang dikatakan Dewa sakti lebih dari 10 tahun yang lalu. Takdir tidaklah bisa dilawan. Oleh karena itu mereka berpangku tangan meski Xufen adalah anak murid kesayangan mereka sendiri. Mereka berpelukan cukup lama, hingga akhirnya Jieji sadar. Dia langsung menolak pelan nona ini. "Maafkan aku... Aku..." Jieji tidak mampu menyelesaikan kata-katanya. Yunying memandanginya dengan penuh kasih. "Tidak apa... Kamu harus tetap tegar yah. Kamu ini seorang lelaki sejati, tidak mungkin kamu tidak mampu menerima takdir dan nasibmu kali ini." Jieji memandanginya dengan penuh pengertian. Dia cuma mengangguk pelan, namun kepahitan sorot matanya tidak hilang. Yunying segera memeluknya kembali. Jieji cuma diam, namun tangannya mengusap rambut si nona.

Setelah beberapa saat, Jieji mengatakan dengan memberikan kepastian. "Tenang saja... Saya cuma terlalu bersedih, nantinya akan kembali baik seperti semula." Yunying yang memeluknya mengangguk pelan. Kemudian, Jieji dan Yunying sama-sama tertidur di ranjang. Tetapi Yunying tertidur dalam posisi duduk di kursi dan kepalanya bersandar di atas dada Jieji. Keesokan harinya... Kyosei yang ikut mereka kembali ke Wisma Oda telah mendengar perihal tentang Jieji yang mirip Tuan besar dari para pelayan yang lain. Kali ini dia yakin kalau Jieji adalah tuan mudanya. Pagi sekali, Kyosei sudah berlutut di depan kamar dimana Jieji tinggal. Disana dia sudah berlutut lebih dari 3 jam. Namun dalam kamar belum ada tanda-tanda orang keluar. "Pak tua, tidak perlu anda berlutut seperti ini. Adikku selamanya tidak akan menyalahkanmu." Kata seseorang yang tak lain adalah Yang Ying. Dia segera membimbingnya untuk berdiri. "Terima kasih tuan." kata Kyosei sambil memberi hormat. Barusan dia mau berpaling ke arah kamar itu. Pintu kamar sudah terbuka dengan pelan. Nampak Jieji beranjak keluar bersama seorang nona. Kyosei segera menghampirinya dan segera berlutut, " Tuan muda, hamba tidak berguna. Semua ini adalah kesalahan hamba seorang yang tidak menjaga anda dengan benar." Kata pak tua ini seraya menangis. Jieji membimbingnya berdiri. "Ini bukanlah kesalahan anda, anda mati-matian melindungi nyawaku ketika masih kecil. Untuk jasa ini saja saya tidak akan mampu membalasnya selama aku hidup." Namun Kyosei menggelengkan kepalanya. Di saat itu, tanpa sengaja dia melihat pedang di samping pinggang nona di belakang tuan mudanya. "Tuan muda, pedang itu...." Kyosei terkejut melihat pedang itu ada di pinggang si nona. "Yah, emang ada yang aneh dari itu?" tanya Jieji. "Itu pedang legendaris di dunia persilatan, pemiliknya tidak lain adalah ayah anda atau tuan besar."

Jieji terkejut mendengar hal ini, tidak disangka Pedang Ekor api adalah pedang milik ayahnya. "Pedang Ekor api di turunkan turun temurun pada keluarga Oda. Si pewaris wisma berhak memilik pedang itu. Sebelum saya dan tuan besar berangkat ke China, pedang itu disimpan oleh Tuan besar di gua pada puncak gunung Fuji." Perihal mengenai pedang ini tidak diketahui banyak pelayan Wisma, sedangkan Kyosei adalah pengawal kepercayaan Sang tuan besar. Beberapa kali tuan besar Oda pernah mengungkit pedang itu di depannya. Jieji semakin jelas, dirinya yang beranjak ke puncak gunung sekitar 9 tahun lalu menemukan pedang dan dua buah kitab ilmu silat. Disini dia yakin bahwa kedua ilmu ini tak lain adalah milik keluarganya sendiri. Apalagi kemarin dia jelas melihat Kyosei mengeluarkan jurus tendangan mayapada. "Tuan besar segera berangkat bersama nyonya, aku dan Lan Ie yang menggendong tuan muda kecil dalam perjalanan menuju ke Hefei. Perjalanan pada awalnya sangat mulus. Tetapi ketika kita sampai di sebuah lembah dekat kota Shouchun. Di samping kiri kanan bukit itu keluarlah keparat Yue." kata Kyosei kemudian. "Jadi dialah orang yang membunuh kedua orang tua ku?" tanya Jieji kemudian. "Mengenai masalah ini saya kurang tahu pasti. Sesaat itu, Yue berteriak. Dia mengancam melepaskan panah jika pedang Ekor api tidak di angsurkan kepadanya sesegera mungkin... Melihat gelagat yang tidak baik, Tuan besar segera memintaku dan Lan Ie membawamu pergi dari sana. Namun baru berjalan beberapa langkah, panah dilepaskan ke arahku dan Bibi lan. Tuan besar yang melihatnya, segera menyapok semua batang anak panah yang secepat kilat itu dengan tendangan. Seraya memintaku segera pergi, tuan besar menjadi tameng bagiku. Dia menyepak semua panah yang datang dengan cepat. Saya yang terus berlari bersama Lan Ie untuk keluar dari lembah itu sempat menoleh, Tuan besar telah terluka. Kulihat sebatang anak panah telah menancap di paha Tuan besar. Saya segera kembali saat itu, namun tuan besar berteriak kepadaku untuk segera pergi. Saya masih mengingat kejadian itu dengan pasti. Tuan berteriak "Pergi, atau kubunuh kau sekarang juga." Aku yang mendengarnya sadar dengan keadaan kita semua. Langsung dengan ilmu meringankan tubuh, segera kutinggalkan lembah. Namun sampai di tengah jalan, bibi Lan meminta untuk berpisah denganku. Tuan muda yang sebelumnya digendong olehnya diangsurkan kepadaku. Bibi Lan ingin mengorbankan dirinya demi keluarga Oda. Sambil memikul sebuah batu, dia berpisah denganku. Dia menuju ke arah utara, sedangkan aku menuju ke selatan. Tetapi sampai sekarang saya

tidak pernah mendengar kabar bibi Lan lagi. Yang anehnya, kenapa Yue bisa tahu bahwa yang kupeluk adalah tuan muda kecil?" "Tidak, dia pasti mengetahui kalau kamu yang menggendongku. Mengenai bibi Lan, saya yakin keadaannya pasti baik pada saat itu. Ini karena bibi lan yang menggendong batu pasti tidak akan bertindak hati-hati. Sedangkan anda yang memelukku membelakangi mereka pasti kelihatan lebih curiga, karena meski kamu berlari. Kamu tetap akan lebih hati-hati dari padanya." kata Jieji. Jieji mengenang kembali kejadian ayahnya. Dia ingin segera menuju ke lembah dekat Shouchun untuk menyelidiki daerah itu sekali lagi. Yang Ying yang melihat reaksi adiknya segera berkata. "Jika Yue terbukti adalah pembunuh orang tuamu maka tentu saya akan berpangku tangan. Semoga adik kedua bisa menyelesaikannya dengan cara dunia persilatan."kata Yang Ying. Jieji melihat ke arah Yang, dia sangat bersyukur akan kata-kata kakak pertamanya. Karena Yue masih tergolong keluarga kerajaan, sebenarnya Jieji tidak ingin merusak hubungan persaudaraan mereka. Namun Yang Ying telah memberikan kepastian itu kepadanya. Hatinya mau tidak mau juga telah lega. "Kakak kedua, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Jindu kepadanya. "Saya sudah baikan banyak, tetapi saat ini saya belum bisa mampu meninggalkan wisma. Dewa sakti memesan kepadaku untuk tetap disini dalam 1 tahun, karena petunjuk tentang pemusnah raga akan datang kepadaku." kata Jieji. Kyosei yang mendengarnya lumayan terkejut. Lantas dia berkata," tuan muda, apakah anda tahu kalau pedang yang terselip di pinggang nona itu adalah Pedang pemusnah raga?" Jieji dan semua yang disana sangatlah terkejut. "Pedang pemusnah raga?" tanya Jieji. "Betul, pedang ini mendapat julukan Pedang pemusnah raga. Sebenarnya pedang ini tidak berada di Gunung Fuji. Melainkan di sebuah tempat yang nan panas di sebelah utara China." Kata Kyosei. Sesaat itu, Jieji segera mengingat lukisan gurun yang ada di balik bajunya. Ternyata petunjuk lukisan bukanlah di balik sedemikian adanya oleh si pelukis. Tetapi mulanya dia merasa begitu. Kalau hanya melihat lukisan dan tidak ada perjumpaan yang kebetulan di Gunung Fuji, mungkin pedang Ekor Api tidak akan ditemukannya selamanya.

"Tuan besar pernah mengatakan bahwa pedang ini oleh leluhurnya didapatkan melalui sebuah pertarungan dahsyat di gurun utara China. Setelah itu, pedang langsung disimpan di atas Gunung Fuji yang asri. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah pergi ke daerah Yunnan, disana saya mendengar kabar bahwa Ilmu pemusnah raga dimiliki seseorang disana." kata Kyosei kemudian. Kyosei mengatakan hal ini karena mengingat racun yang diderita oleh tuan muda kecilnya adalah memakai nama "pemusnah raga". Dia merasa ada hubungannya dengan tuan muda saat itu, makanya dia segera menyelidikinya. Namun hasilnya nihil. Sekarang telah jelas, petunjuk yang lain dari pemusnah raga adalah di sebelah barat daya china. Yaitu daerah Yunnan. "Oya, bisa anda beritahu. Siapa sebenarnya nama tuan muda besar dan tuan muda kecil?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Yunying. Seraya memberi hormat dengan sopan dia berkata. "Tuan besar bernama Hikatsuka Oda, sedang ketika lahir tuan muda kecil diberi nama Dekisaiko Oda. Tuan memilih nama ini karena dia sering bersama nyonya menikmati hari-hari indah di Danau Saiko." Jieji tidak terlalu peduli akan nama aslinya, dia terus berpikir. Dia bermaksud untuk segera menuju ke Yunnan. Namun, dia tidak tahu siapa yang bersedia tinggal di Wisma seiring kepergiannya, karena ini adalah salah satu warisan dari orang tuanya yang harus dijaga. Wei Jindu yang melihat kakak keduanya yang sedang berpikir, segera mengatakan. "Kak... Berangkatlah dengan hati yang tenang. Segala urusan disini biar kuurus saja." Betapa girangnya Jieji mendengar usulan adik ketiganya. Jieji memutuskan untuk segera berangkat keesokan harinya. Yang Ying mengatakan akan pergi bersamanya namun dia akan berpisah dengannya saat telah sampai China.

BAB XXXIV : Pembunuhan Di Wisma Wu
Kyosei ingin ikut dengan Jieji. Dia memohon dengan sangat kepada majikan mudanya. Akhirnya dia diluluskan untuk ikut bersama mereka. Jieji meminta Xieling untuk tinggal di wisma bersama JinDu. Tujuan utamanya adalah supaya si nona bisa belajar ilmu kepadanya, selain itu Jieji juga bermaksud mengikat tali persahabatan yang lebih erat antara

JinDu dan Xieling. Karena dilihatnya kedua orang ini cepat akrab. Si nona berbudi luhur dan sopan, selain itu dia juga sangat cantik. Dia merasa Wei JinDu sangat cocok dengannya.Namun setelah dipikir-pikir dia tidak mengatakannya langsung, menurutnya bagusan hubungan mereka terjadi secara alami saja. Keesokan paginya mereka segera sampai di pelabuhan selatan. Dengan menyewa sebuah kapal yang cukup besar, mereka menuju ke China. Dalam perjalanan pulang ke China... Setiap hari Jieji dan Yang Ying asik berbicara tentang kenegaraan. Baik itu keamanan, pertanian, perdagangan, stabilitas ekonomi sampai ke teknologi. Dulu, Jieji sebenarnya adalah seorang sastrawan dan pemikir. Mengenai masalah kenegaraan dan kesejahteraan rakyat, dia tahu banyak. Yunying yang duduk disampingnya sangat mengaguminya. Menurutnya pria ini adalah pria paling sempurna di kolong langit. Selain Kungfu tinggi, dia juga adalah seorang yang pintar. Dan terutama yang sangat disukainya adalah hatinya yang sangat hangat, dan penuh perhatian. Jieji sangat senang, karena setelah mengangkat saudara dengan Yang Ying. Dia tidak pernah menikmati waktu yang lama bersamanya. Kali ini di atas kapal yang berlabuh sekitar 1/2 bulan, mereka mempunyai kesempatan yang lama untuk bersama. Pepatah mengatakan tidak ada pesta yang tidak berakhir. Maka setelah 1/2 bulan lebih akhirnya mereka harus berpisah juga. Yang Ying dan 10 pengawalnya segera menuju ke utara, Sedang Jieji dan Yunying serta Kyosei menuju ke selatan. Segera mereka mengambil perjalanan cepat. "Kamu tahu kita akan kemana dahulu?" tanya Jieji pada Yunying. "Tentu, Kamu penasaran dengan lembah itu kan?" Yunying melihatnya sambil tersenyum. Jieji cuma menatapnya sambil tersenyum. 3 Ekor kuda yang membawa majikan mereka masing-masing menuju ke Shouchun. Sekitar 10 Li sebelah timur laut sebelum kota Shouchun. Mereka mendapatkan sebuah lembah yang sangat strategis. Lembah ini jalannya sempit, dan di kiri kanan lembah terdapat bukit yang lumayan tinggi. Panjang lembah ini sekiranya hampir 1 li.

"Disinilah tempatnya, tuan muda." kata Kyosei. Jieji sudah tahu. Dia turun dari kudanya, melihat ke segala arah sambil merenung. "Lembah ini posisinya sangat berbahaya, Si tua Yue itu sangatlah licik. Dia sengaja menunggu ayahmu lewat disini." kata Kyosei kemudian. "Kalau begitu, ayah dan ibuku saat itu tidak akan selamat." kata Jieji kemudian dengan wajah yang sedih setelah meneliti dengan seksama. Jieji adalah seorang ahli ilmu perang. Dia tahu, jika hanya menempatkan 100 pasukan masing-masing di bukit yang berseberangan tersebut. Maka sehebat apapun seseorang, pasti sangat susah lewat. Apalagi kondisi ayahnya saat itu bersama ibunya dan sedang melindungi dirinya. Tanpa terasa, Jieji meneteskan air matanya. Kyosei yang melihat begitu langsung berlutut. "Tuan besar. Gara-gara hamba anda tidak ada kabarnya sampai sekarang. Betapa berdosanya aku...." Katanya kemudian dengan lirih. Namun Jieji segera membimbingnya berdiri, dengan tangan dia mengusapkan air mata orang tua tersebut. "Sudah... Ini bukanlah kesalahan anda. Si tua Yue itu telah menyiapkan perangkap bagi kita sekeluarga pada saat itu. Jadi berhentilah menyalahkan diri anda lebih jauh. "Terima kasih tuan muda....." katanya panjang. Kyosei sangat menghormati tuan mudanya. Dia merasa sangat beruntung karena tuan mudanya adalah orang yang sangat mengagumkan. Selain itu, sikap sopan terhadapnya membuatnya sangat bersemangat untuk melayaninya. "Saya ingin kamu menuju Yunnan terlebih dahulu, bagaimana?" "Kenapa, tuan muda? Ada masalah apa?" tanya Kyosei. "Ini karena saya ada beberapa hal urusan yang harus kukerjakan terlebih dahulu. Saya menuju ke Hefei sekarang, setelah itu saya akan menuju ke Changsha. Kita ketemu di Yunnan saja bagaimana?" Tanya Jieji. Kyosei mau tidak mau juga mengangguk. "Ingat, janganlah terlalu memaksakan diri anda. Jika menemui bahaya, segera lari. Jangan terlalu menuruti perasaan." kata Jieji. "Terima kasih tuan muda, semua pesan anda akan hamba ingat di dalam hati."

Setelah itu, Pak tua ini segera melanjutkan perjalanannya ke arah barat. "Kenapa harus ke Hefei?" tanya Yunying. "Kamu harus pulang terlebih dahulu. Sudah 2 bulan lebih sejak kamu meninggalkan Wisma Wu. Setidaknya pulanglah, dan biarkan ayahmu melihatmu supaya dia tahu kamu dalam keadaan selamat saja." kata Jieji. Mereka segera menuju ke kota Hefei yang jaraknya hanya sekitar 100 Li dari tempat mereka sekarang. Barusan langit beranjak malam, mereka telah sampai di depan gerbang kota Hefei. "Apa kamu akan ikut denganku?" tanya Yunying. "Tidak, saya akan menyewa penginapan dekat rumahmu. Setelah segalanya beres, maka kamu carilah aku disana. Bagaimana?" Yunying mengangguk saja. Di Wisma Wu.... Wu Quan yang melihat puterinya pulang tanpa kurang satu apapun sangatlah senang. Sebenarnya Wu Quan tidak ingin puterinya mengembara di dunia persilatan. Namun dia juga tidak berdaya mencegah puterinya yang satu ini. Wu Quan akan mengadakan pesta untuk menyambut pulangnya Yunying. Namun tidak mungkin dilakukannya hari ini, mengingat sudah lumayan malam. Wu Quan meminta semua pelayan rumahnya untuk menyiapkan masakan untuk hari esok. Keesokan paginya.... Yunying dikejutkan oleh suara seseorang yang sedang berada di depan kamar. Yunying mengenal suara itu, yang tak lain tentunya adalah Liangxu. Dengan segera dia simpan pedang Ekor apinya. Setelah membuka pintu, mereka berdua berjalan barengan menuju ke taman belakang. Liangxu segera menanyainya. "Dik, selama 2 bulan ini kamu kemana saja?" Yunying melihatnya sekilas dan menjawab. "Saya berada di JingZhou ( propinsi Jing ). Disana saya mendengar sedikit kabar tentang ibuku." katanya dengan dingin.

"Jadi bukan kamu yang berada di Dongyang ?" tanya Liangxu kepadanya kembali sambil menatap wajah si nona. Dengan yakin si nona menjawabnya. Karena dia takut juga kakak seperguruannya akan curiga. "Tidak... Ngapain ke Dongyang. Aku dengar kabar dari sesama kaum persilatan bahwa kakak berada di Dongyang. Apakah benar?" Liangxu yang ditanya begitu segera muncul rasa kegusaran di wajahnya. Dia ingat terus penghinaan yang pernah diterimanya disana. "Iya, betul dik. Aku kesana untuk menyelidiki sesuatu. Disana saya bertemu dengan si keparat dan nona yang mirip denganmu. " Kata Liangxu. "Keparat? Siapa itu? Nona yang mirip denganku? Emang ada hal begini?" tanya Yunying dengan pura-pura heran. "Keparat itu adalah orang yang pernah tinggal beberapa saat di Wisma ini. Kamu mungkin masih mengenalnya. Dia yang mempunyai lukisan tentang dirimu. Sedangkan nona di Dongyang itu sangat aneh, meski semua perawakannya mirip denganmu. Namun dia memakai pakaian yang cukup aneh, selain itu ilmu kungfunya juga bukan ilmu kungfu keluarga Yue ataupun Wu." kata Liangxu menjelaskannya. Yunying yang mendengarnya sebenarnya merasa sangat geli. Namun dia berusaha untuk tidak tertawa. "Saya harus membalaskan dendam penghinaan disana. Akan kucabik seluruh tubuh mereka. Dari lelaki yang memegang kipas, pemuda sok hebat,dan si budak itu." Barusan pembicaraannya belum selesai. Yunying merasakan sebuah hawa pukulan melewatinya dan mendarat di wajah Liangxu. Liangxu ditampar seseorang sehingga dia jatuh tersungkur. Setelah berdiri, dia cukup terkejut. Ternyata orang itu adalah ayahnya sendiri. Liangxu sangat heran, kenapa ayahnya ini memukulnya. Dia sangat tidak puas. "Kerjaanmu itu cuma cari masalah saja. Tidak tahu diri. Kukatakan padamu, jangan sampai kau punya pikiran untuk ke Dongyang lagi. Sekarang kau itu sudah cacat. Pemuda itu tidak membunuhmu saja sungguh sangat syukur kau itu...."

Dampratan sang ayah membuatnya betul sakit hati. Biasanya si ayah selalu menuruti apa pemikiran anaknya. Tetapi kali ini, bukan saja tidak ada respon malah ayahnya memukulinya sedemikian rupa. Sebenarnya Yue Fuyan juga sangat malu saat berada di Dongyang, namun apa dayanya. Diingatnya sebelum dia pergi, Kaisar mengultimatum kepadanya supaya tidak mencari masalah lagi disana. "Guru,..." kata Yunying seraya memberi hormat. "Iya... Kamu sudah pulang... Syukurlah... Ayahmu itu sangat merindukanmu setiap saat, selalu dia menulis surat kepadaku untuk mencari dirimu." Kata Yue Fuyan. "Terima kasih guru..." kata Yunying pendek. Setelah itu, Yue Fuyan segera beranjak dari sana. Setelah meminta pamit pada Wu Quan, dia meninggalkan Wisma sendiri. Siangnya.... Yunying sedari tadi cuma berada di kamar saja. Dia mengingat semua kejadian di Dongyang. Dia sangat gembira dan juga sedih. Tanpa terasa, dia mengantuk dan tertidur di dalam kamarnya. Dia telah tertidur selama beberapa jam. Tiba-tiba kali ini dia dikejutkan oleh suara teriakan pelayan Wisma. Seraya bangun, dengan cepat dia menuju ke arah teriakan. Teriakan itu berasal dari kamar halaman belakang. Sesaat sampai disana. Dia melihat pemandangan yang sangat tidak asik untuk dilihat. Di kamar tempat disimpan lukisan itu ada mayat seorang lelaki tua yang berambut putih. Posisi orang tua ini adalah sedang berdiri. Tubuhnya berlumuran darah. Di arah jantungnya terdapat sebatang tombak yang menopang tubuhnya. Segera dikenalnya, orang ini adalah tamu ayahnya, Ding Wen.

BAB XXXV : Kejahatan Sempurna melawan Detektif Termahsyur
Sesaat setelah teriakan, Yunying adalah orang pertama yang sampai di ruangan tersebut. Tidak berapa lama, semua penghuni wisma telah sampai di depan pintu kamar yang terbuka ini.

Ding Wen adalah tamu Wu Quan pada hari itu, dia juga adalah pejabat tingkat menengah di kota Shouchun. "Segera panggil polisi kemari... Untuk sementara janganlah ada yang masuk ke dalam." kata Yunying kepada semua orang yang berada di belakangnya. Yunying teringat akan Jieji, jika Jieji melihat pembunuhan di ruangan seperti ini. Maka, dia akan meminta orang lain memanggil polisi. Sedangkan dia langsung menuju ke dalam dengan hati-hati. Tetapi Yunying bukanlah seorang detektif, dia tidak bisa melakukan hal yang biasa dilakukan Jieji. Dia cuma menunggu tibanya para polisi. Sekitar 1/2 jam, para polisi telah tiba di wisma Wu. Han Yin tiba dengan belasan orang polisi lainnya. Dengan segera dia menuju ke tempat yang dimaksudkan. Para pelayan dan semua orang yang berkumpul di depan kamar segera menyamping untuk memberi jalan kepada para polisi. Han Yin bertemu dengan Wu Quan di depan kamar kejadian. "Tuan Wu, anda kenal dengan korban?" tanya Han Yin kepada Wu Quan seraya menunjuk ke arah mayat. "Iya, dia adalah salah satu tamuku hari ini." kata Wu Quan pendek. "Apakah ada orang yang masuk ke dalam kamar ini sebelum kita datang?" tanya Han Yin lagi. "Um... Setahu saya cuma pelayan yang menemukan mayat. Dia pun cuma berada di depan pintu, dan sepertinya belum sempat dia masuk ke dalam." kata Wu Quan kembali. Sesaat setelah itu, para polisi masuk ke dalam kamar. Tetapi polisi yang masuk ke dalam hanya 5 orang, selebihnya mengawasi di luar. Yunying senang ketika dia melihat seorang polisi yang melewatinya. Namun, pemuda ini sama sekali tidak memandangnya sekilas pun. Oleh karena itu, si nona mengerti maksud si pemuda. "Kalau begitu, berarti tidak ada yang mengacak-acak kamar ini setelah mayat ditemukan?" kata Han Yin. Seraya menunjuk, Wu Quan mengatakan. "Itu... Pemuda itulah yang pertama mengacak ruangan ini."

Han Yin yang melihatnya berkata. "Itu asistenku. Dia terbiasa dengan hal seperti ini. Jadi bisa dipastikan, orang pertama yang masuk ke dalam meneliti adalah dia?" "Betul...." kata Wu Quan. Saat itu, langit sudah mencapai malam dan gelap. Orang-orang disana memang bisa melihat polisi yang mondar-mandir di dalam ruangan. Namun, selain Yunying. Tidak ada yang kenal siapa pemuda itu. Pemuda tersebut cukup aneh. Dia berjalan sebentar ke jendela, sebentar ke pintu, sebentar mengamati mayatnya dengan serius. Sebentar dia jongkok memeriksa. Semua hadirin sana merasa sangat geli akan perlakuan pemuda itu. Han Yin segera berjalan ke dalam ruangan. Di dapatinya bahwa darah di tubuh Ding Wen belum membeku sepenuhnya. Jadi bisa dipastikan, dia baru saja terbunuh. Mungkin sekitar 2 jam yang lalu sampai mayat di temukan. Ding Wen berdiri dengan posisi tubuh yang agak miring ke belakang. Selain itu, nampak pot keramik yang lumayan besar telah pecah tidak jauh darinya. Tombak yang menembus langsung ke jantung itu pasti adalah pemilik dari salah satu penghuni wisma. Pemuda dari dalam itu segera mendatangi Han Yin, dengan bisikan dia mengatakan. "Periksa semua alibi penghuni Wisma pada 2 jam yang lalu sampai mayat ditemukan. Selain itu, bawa tangga tinggi. Periksa semua atap di depan, carilah hal yang mencurigakan seperti bekas darah, ataupun jejak kaki. Lakukanlah dengan hati-hati. Setelah kalian keluar dari sini, tutuplah pintu." Pemuda ini telah terbiasa, belasan tahun yang lalu pun dia tidak pernah mengatakan sesuatu kepada Han Yin dengan tidak berbisik seperti ini. Tujuannya tak lain tentu untuk menghindari pembunuh menghilangkan jejak yang tertinggal. Setelah beberapa lama, Han Yin keluar dari ruangan tadi dan meminta semua penghuni wisma berkumpul di depan taman. Dia menanyai semua alibi orang yang berada di Wisma pada saat jam kejadian. Yaitu sekitar jam 4 sampai jam 6 sore karena anak buahnya telah memberi informasi bahwa tidak ada sesuatu yang aneh di atap depan maupun atap kamar tersebut. Setelah menanyai semua penghuni wisma, dia segera mendapatkan. Hanya 2 orang yang tidak punya alibi pada saat jam kejadian. Yaitu Yunying dan Kakak ketiganya, Wu Dian Ya.

Pelayan mengatakan kalau mereka semua berkelompok, kalaupun ada saat mereka sendiri hanya waktu pergi ke kamar mandi. Letak kamar mandi tidak jauh dari tempat mereka berada. Sedangkan letak kamar lukisan adalah halaman belakang. Wisma Wu sangatlah luas, untuk berjalan ke belakang saja memerlukan waktu yang tidak sedikit. Putera-puteri Wu Quan yang lain mempunyai alibi yang cukup sempurna. Putera kedua Wu Quan, Wu Tze. Mengatakan bahwa dia ada di ruangan baca yang tidak ditutup. Sedang depan ruang baca, adalah kamar dapur. Beberapa pelayan memastikan alibinya. Dia juga sempat keluar ke pintu depan, namun sesaat itu dia telah kembali. Alasannya adalah dia berjalan ke taman untuk menikmati suasana setelah membaca buku. Putera pertama Wu Quan, Wu Lang. Mengatakan bahwa dia juga sedang menikmati taman asrinya tersebut. Para pelayan bisa membuktikan alibi Wu Lang. Sedang puteri Wu Quan yang lain yaitu Wu Linying dan Wu Jiaying mengatakan bahwa mereka sedang menyulam di kamar puteri sulung Wu. Mereka tidak beranjak keluar. Pelayan juga dapat membuktikannya, karena mereka sering memanggil pelayan di luar kamar. Sesaat kemudian... Pemuda yang sedari tadi masih di dalam, segera membuka pintunya keluar. Dia berjalan ke arah Han Yin. Wu Quan sempat melihatnya, dia cukup terkejut. Karena dia mengenalnya sebagai seorang yang pernah tinggal di wisma yang bertugas sebagai pelayan tamu. Namun, beberapa saat setelah terjadinya pembunuhan dengan racun di kediamannya. Pemuda ini menghilang. Sekarang dia melihat bahwa pemuda tersebut muncul kembali dalam pakaian kepolisian. Hal ini membuatnya merasa sungguh aneh. Ternyata pemuda itu adalah dari kepolisian pikirnya. Si pemuda hanya diam disana dengan berpangkukan kedua tangannya. "Nona ke 3. Bisa anda beritahukan apa yang anda lakukan di kamarmu pada saat jam kejadian?" tanya Han Yin. "Saat itu saya sedang tidur, saya bangun karena dikejutkan oleh suara seorang pelayan." "Jadi anda sedang tidur? Boleh tanya berapa jam anda tidur?" tanyanya. "Saya tidur setelah lewat tengah hari."

"Jadi anda tidur siang selama itu?" tanya Han Yin. "Betul..." Kata Yunying yang seraya malu. Karena dia tidur hampir 5 jam. Han Yin berpaling ke Wu Dian-ya. "Anda sedang apa di kamar?" "Saya meneliti lukisan." "Anda meniliti lukisan begitu lama?" tanya Han Yin. "Iya, saya sangat suka akan lukisan. Hari ini tiba-tiba di mejaku terdapat sebuah lukisan. Lukisan ini cukup aneh, makanya saya membutuhkan waktu sekitar 3 jam lebih untuk menelitinya." kata Wu Dianya seraya mengeluarkan lukisan tersebut. Lukisan dipentangkan, ternyata gambar dan puisi disini tidaklah asing bagi 3 orang. yaitu Pemuda dari kepolisian, Wu Quan dan puteri ketiganya Wu Yunying. Inilah lukisan gurun yang ada dibalik baju Jieji. Tampak 5 orang pemuda yang menunggangi onta di padang pasir. Di sebelahnya ada puisi yang tidak asing bagi ketiganya juga. Wu Quan yang melihat bahwa lukisan itu ada di kamar putera ketiganya cukup terkejut. Ini juga adalah lukisan pemberian istrinya, Wu Shanniang. Setelah 17 tahun meninggalkan wisma, Nyonya Wu pulang ke rumah. Dia tinggal selama 7 tahun kembali di Wisma. Saat itu, Nyonya Wu memberikan lukisan ini kepada sang suami. Tetapi dia merasa janggal, bagaimana lukisan ini bisa berada di kamar putera ketiganya. "Boleh tahu tombak yang menembus jantung itu punya siapa?" tanya Han. "Itu punyaku yang kusimpan di ruang senjata." kata Wu Dian-ya. "Kalau begitu, anda adalah yang dicurigai." "Tidak, belum tentu. Ruangan senjata bisa dimasuki setiap orang." kata Dian-ya kembali. Han Yin berpikir sejenak. Apa yang dikatakan pemuda ini benarlah adanya. Setelah Han mendapatkan alibi mereka semua dengan pasti, Pemuda yang sedari tadi diam segera mengajak Han Yin ke dalam kamar terjadinya pembunuhan. "Anda mendapatkan sesuatu?"

"Tidak... Ini adalah pembunuhan sempurna. Di ruangan tidak ada jejak kaki. Di jendela juga sama. Selain itu di atap kamar disini juga tidak ada jejak kaki sama sekali. Mengingat posisi tombak, seharusnya pembunuh berada di balok itu. Balok itupun sudah kuteliti, ternyata balok itu sangat bersih tanpa debu.. ." Kata Pemuda ini seraya menunjuk ke atas. "Yang aneh cuma satu hal, yaitu pot keramik yang pecah tidak jauh dari mayat." Katanya kembali. "Kenapa atap di kamar itu sangatlah bersih?" tanyanya. "Ini kan ruangan yang tersimpan lukisan termahsyur, jika di dalam ruangan ini terdapat debu maka angin....." Barusan berkata begitu, pemuda ini segera menyadari sebuah hal. Segera pemuda ini berpikir sebentar dan segera tersenyum. Lalu dibisikinya Han Yin.. Han Yin yang mendengar permintaan pemuda tersebut cukup aneh. Mulamula dia bermaksud menolak. Namun terakhir, mau tidak mau dia juga melaksanakannya. Setelah itu, Han Yin segera menuju ke luar bersama si pemuda. Han Yin yang keluar kamar seolah marah. "Kauuuu... Tiap kali ada kau selalu banyak masalah." "Tidak Pak... Saya cuma berusaha untuk memecahkan kasus. Namun, kali ini saya sudah dapat pembunuhnya. Kenapa anda tidak percaya padaku?" tanya pemuda ini seraya berlutut memohon. "Pergi kauuu... Jangan sesekali lagi kau bikin masalah disini.." kata Han Yin. Namun pemuda ini berjongkok sambil menarik kaki Han Yin. Han Yin segera gusar, dia menyepak pemuda tersebut. Pemuda tadi segera berguling lumayan jauh. Di bibirnya mengalir darah segar. Yunying adalah orang yang sangat heran melihat perlakuan Jieji. Dia tidak mengerti maksud si pemuda dan kepala polisi. Sedang semua orang disana juga cukup heran melihat perwira polisi yang memohon itu. Dengan menyeret kakinya, Pemuda itu segera beranjak ke Han Yin. Namun sebelum sampai, Han Yin menamparnya cukup keras. Pemuda ini langsung oyong.

Semua bisa melihat, bahwa pemuda itu sangat lemah. Han Yin yang tidak mempelajari ilmu silat saja gampang merobohkannya. Semua terlihat sangat geli. "Tuaaaannn.... Saya sudah tahu pelakunya.. Mohon izinkan hamba untuk menangkapnya..." "Keparat.... Kau pergilah.. Saya tidak mahu mendengar ocehan kosongmu itu." kata Han Yin dengan sangat marah. Pemuda itu segera berdiri. Dengan sempoyongan dia menuju ke depan gerbang pintu Wisma Wu. "Tuan Wu, saya rasa pemeriksaan akan dilakukan besok kembali karena waktu sudah sangat malam. Maaf jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati anda." kata Han Yin namun seiring itu, dia memasukkan sesuatu kertas di tangan Wu Quan. Wu Quan juga memberi hormat. Han Yin segera mengajak polisi itu untuk kembali. **** Pemuda yang tadi sempoyongan segera menuju ke kedai arak. Di pesannya sebuah guci arak yang besar, dan sebuah kendi arak yang kecil. Dia membawanya dan minum dengan mabuk-mabuknya. Dia berjalan di kemalamam kota Hefei. Sambil melantunkan beberapa puisi cinta dan puisi orang patah hati. Dia berjalan sempoyongan. Dia tidak tahu kalau dari tadi ada seseorang yang sedang mengawasinya. Setelah melewati beberapa blok perumahan, dia sampai di ujung tembok kota. Disana terlihat dia berjalan secara sintingnya. Bayangan yang tadi sedang asik menatapnya. Dengan tiba-tiba dan gerakan sangat cepat. Dari belakang, bayangan ini membacokkan goloknya ke arah punggung pemuda mabuk itu. Sekilas tampak pemuda itu segera roboh bergulingan dan berlumuran darah....

BAB XXXVI : Putera pertama Wu Quan, Wu Lang
Bayangan hitam ini senang, dia merasa mampu membunuh pemuda mabuk tersebut hanya dengan sekali bacok.

Sesaat itu, dia tertawa besar. "HeHeHaHaHa....." Seraya berjalan mendekat, dia mengambil kendi arak besar yang tidak pecah itu. Dan ingin menuangkan isinya. Namun sebelum kendi arak ini dibalikkan terdengar suara. "Buanglah semua arak sisa yang terdapat di dalam. Kemudian isi dengan darah binatang." Bayangan ini tentu sangatlah terkejut. Dia melihat sekitar, keadaan gelap dan tetap tidak ada orang. Dia merasa orang yang berbicara dengannya adalah orang telungkup di tanah tidak jauh darinya. Pertanyaan di dalam pikirannya ternyata tidak perlu dijawab karena pemuda itu segera telah berdiri. "Pembunuhan di Wisma Wu memang oleh seorang yang sangat ahli..." belum sempat pemuda tersebut menyelesaikan kata-katanya. Di samping, segera muncul beberapa orang. Yang tak lain tentu adalah Han Yin dan beberapa polisi. "Anda ditangkap karena melakukan pembunuhan di Wisma Wu." kata Han Yin. Seiring datangnya Han Yin, Wu Quan dan puterinya Yunying juga telah sampai. Selain itu di belakang mereka terdapat beberapa pesilat. Pesilat ini datang bersama pemuda yang kedua tangannya telah dibalut karena cedera. Tentu pemuda ini adalah Yue Liangxu. Yue Liangxu yang mendengar bahwa di Wisma Wu terjadi pembunuhan, dengan segera meminta beberapa pesilat ikut bersamanya menuju ke sana. Namun, sesampainya dia disana. Han Yin telah pulang bersama petugas lainnya. Wu Quan yang diberikan sebuah kertas kecil tentu segera membacanya sendiri. Dia diminta untuk pergi ke pengadilan. Disana bersama Han dia mengikuti dengan pelan pria mabuk itu. Keadaan telah sangat gelap. Kedatangan Han Yin dan para pesilat segera menyulut obor sehingga terang. Di tengah nampak seorang berpakaian gelap. Dan wajahnya ditutupi kain hitam. "Kenapa? Apa hubunganku dengan pembunuhan?" tanya orang yang menutupi muka tersebut. Suara orang yang menutupi dirinya dengan kain

terdengar asing, karena orang ini sengaja mengubah suaranya dengan agak serak. "Kamu telah terperangkap olehku. Siasatmu membunuh memang sangat ternama. Jika tidak dengan cara ini, kita susah mengetahui siapa pelakunya." kata orang yang dikira mati tadi yang sebenarnya adalah Jieji adanya. Liangxu yang melihat pemuda ini tentu gusar tidak kepalang. Dia mengatakannya kepada Wu Quan. "Dia... Dialah orang yang membuatku kehilangan kungfu paman.. " kata Liangxu. Sesaat Wu Quan hanya melihat kepadanya. Jieji yang berpaling ke arahnya sebentar, segera berpaling balik ke pembunuh. "Petunjuk yang ditinggalkan tak lain hanya pot keramik yang pecah. Pot itu kalau dilihat tentu tak lain adalah Guci arak." "Guci arak apa? Jangan mengada-ada." "Lalu saya bertanya kepadamu, kenapa kau mau membunuhku?" tanya Jieji. Orang itu cuma diam mendengar pertanyaan Jieji. "Anda ingin membunuhku karena ketika di Wisma Wu saya berteriak kalau saya telah tahu pembunuhnya. Bukan begitu?" tanya Jieji kembali. Yunying yang sedari tadi diam berkata. "Anda membunuh Ding Wen. Tujuannya adalah untuk menfitnah kakak ke 3 ku, Wu Dian-ya. Anda sengaja memakai tombak kesayangannya. Juga anda yang meletakkan lukisan itu di kamar kakak ke 3 ku." Jieji segera berpaling ke arah si nona. Dia menggelengkan kepalanya sambil tertunduk. Yunying yang melihatnya tidak tahu apa maksud sesungguhnya. Dia mengira Jieji memintanya untuk tidak berbicara lebih lanjut. Pembunuh itu sempat berpaling ke arah Yunying. Dilihatnya dengan serius nona ini. Dan kemudian dia berkata. "Mana ada hal semacam begini? Jangan mengarang cerita, nona." katanya.

Wu Quan yang diam dari tadi sepertinya tahu siapa orang di balik topeng. Dia kelihatan sangat berduka. "Kejahatan anda mendekati sempurna. Darah di lantai sebenarnya bukanlah darah Ding Wen. Tetapi cuma darah binatang yang kau taruh di dalam kendi. Tujuannya tak lain tentu untuk mengaburkan penyelidikan. Kalau kendi itu tidak anda pecahkan, maka akan terasa sangatlah janggal." kata Jieji. Orang berpakaian gelap ini mengatakan. "Kendi? Apa hubungannya dengan kendi?" tanyanya pura-pura tidak tahu. Tetapi kegelisahannya bisa dilihat semua orang. "Secara singkatnya, maka beginilah aksimu. Saat itu baru tengah hari, kamu tahu Ding Wen yang datang ke rumahmu sebagai tamu. Setelah menunggu di dalam ruang tamu tidak berapa lama. Kamu memanggilnya, dan memintanya untuk ke ruang penyimpanan lukisan. Kamu sengaja menunjuk tempat yang agak membingungkan padanya sehingga Ding Wen yang mencari akan susah menemukan ruang lukisan. Sementara itu, kamu menuju ke ruang senjata dan mengambil tombak. Tengah hari adalah waktu yang sibuk bagi pelayan, sebab nanti malam kabarnya akan diadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kepulangan nona ke 3 Wu. Oleh karena itu jalan menuju kesana akan lempang dan tidak ada orang. Setelah itu dengan berpura-pura mencarinya kamu masuk ke ruang lukisan dan menunggunya. Sesaat dia masuk ke dalam, kamu memanggilnya dari atas. Saat dia menoleh, kamu melempar tombak itu dari atas, dan saat itulah dia tewas tertombak oleh tombaknya Wu Dian-ya. Dengan gerakan ilmu meringankan tubuh, kamu menginjak tombak itu sekuatnya sehingga tombak itu menancap. " "Ha Ha ... Omong kosong yang besar." Teriak pemuda bermasker hitam. "Jika saya ada di atas balok, dimana jejak kakiku yang tertinggal?" katanya kemudian. "Itu sih gampang, Di kamar ini ada kain kan? Selain itu, kamu tentu membuka sepatumu. Dengan kata lain, keadaanmu di atas adalah sedang telanjang kaki. Setelah kau membunuhnya. Dengan kain itu kamu menghapus semua jejak di balok. Ruangan itu adalah ruangan penyimpanan lukisan termahsyur. Oleh karena itu, Tuan Besar pasti akan meminta pelayannya sering membersihkannya. Jika ada debu di dalam, dan terhembus oleh angin. Maka sedikit banyak pasti bisa mempengaruhi nilai lukisan itu sendiri." Kata Jieji.

Han Yin yang mendengarnya segera berkata. "Tidak disangka kamu terjebak oleh kita. Ketika kamu mendengar bahwa pemuda ini tahu pembunuhnya. Kamu tidak tenang. Dan melihatnya tidak bisa silat, kamu ingin membunuhnya, karena kemungkinan berhasilmu itu banyak." "Jika tidak ada permainan sandiwara dan jebakan seperti ini, pembunuh akan sangat susah tertangkap." kata Jieji dengan menghela napas panjang. Semua orang disana tidak mengerti, kenapa si pemuda menghela nafas panjang. "Kamu punya bukti akulah pelakunya?" tanya orang yang bermasker gelap dan berpakaian gelap itu. "Tidak... Hanya dengan jebakan inilah aku tahu." kata Jieji. "Bodoh. Kalau begitu tidak mungkin kamu bisa menangkapku dan menyeretku ke pengadilan." katanya kembali. "Sebenarnya jika waktu terbunuhnya Ding Wen adalah sekitar 2 jam, maka kamu betul-betul bebas." kata Jieji. Semua yang mendengar lumayan terkejut. "Ha Ha... Kalian para polisi dan detektif juga telah memeriksa kematiannya kan? Bagaimana kamu bisa mengatakan waktu pembunuhan itu tidak pas?" "Wah, kamu sudah lupa.. Tadi setelah merasa membunuhku, kamu mengambil guci arak. Tentu ini untuk membuat trik pembunuhan itu sama. Dengan begitu, kamu tidak akan dicurigai lagi. Seiring kematianku, kau akan terbebas karena polisi pasti mengira pembunuh itu tidak berasal dari Wisma Wu. Mungkin begini aksi yang akan kau lakukan, setelah membuatku terkapar. Kamu bisa menyeretku ke pohon bambu disana dan menyembunyikan mayatku di belakangnya. Setelah itu, dengan muka tanpa dosa kau pulang ke rumah, tentu mengambil guci arak yang telah kosong itu. Kau isi guci arak itu dengan darah binatang yang kau bunuh. Binatang disini juga bisa kau dapatkan di luar kota. Menutupnya dengan kain tebal, dengan begitu darah tidak akan cepat membeku. Lalu kembali lagi kesini sesaat menjelang pagi. Menyiramkan darah itu ke seluruh tubuhku. Jika ada orang yang lewat setelahnya dan menemukan mayatku, pasti darah itu belum membeku sepenuhnya. Dengan begitu kau yang telah berada di wisma Wu tentu bisa mengambil salah satu alasan, ataupun seorang yang bersamamu untuk membuktikan alibimu.

Dengan kata lain, apa yang kau lakukan ke Ding Wen itu, tentu kau lakukan juga kepadaku." Kata Jieji menjelaskan. "Ini tidak bisa menjadi bukti kalau pembunuhnya adalah orang yang sama." kata pria gelap ini. "Benar... Untuk itu saya menjebakmu kesini. Tinggal membuka topengmu, kita semua sudah tahu siapa anda. Jika anda adalah orang dari Wisma Wu. Maka trik tadi itu bisa kau lakukan dengan mudah." kata Jieji kembali. "Semuanya cuma omong kosong...." Teriak pria ini. "Kamu membunuh Ding Wen lewat tengah hari. Setelah tahu dia telah mati, kau menuju ke taman dan menunggu. Kau tahu tuan besar sebelum makan malam akan melihat lukisan terlebih dahulu. Maka satu jam sebelum Tuan besar melihat lukisan. Kau sempat kembali ke kamar itu dengan membawa guci arak. Tetapi kali ini kau menyiram darah itu ke tubuh Ding Wen. Dan memecahkan guci itu dibawahnya. Tujuanmu tentu adalah ada yang datang kesini karena mendengar pecahan guci dalam kamar. Pelayan yang datang ke kamar yang tidak dikunci itu mengatakan mendengar pecahnya sesuatu. Sehingga 1/2 jam sebelum kita masuk, darah itu terlihat barusan hendak membeku. Dengan begitu, polisi membuat kesimpulan kalau Ding Wen baru terbunuh." Kata Jieji kembali. Pembunuh itu berpikir. Jika dia lolos dari pembunuhan sempurna itu. Dia tidak akan lolos dari pembunuhan yang barusan dilakukan itu, dengan segera beranjak dari tempat. Dia berteriak. "Hebat.... Xia Jieji memang seorang detektif mengagumkan." Dengan ringan tubuh, dia bermaksud lari dari arah belakangnya. Yaitu tembok kota. Namun segera dia disusul oleh seorang. Pembunuh sempat melihat ke belakang dan terkejut. Yang mengejarnya adalah Yunying. Dengan ilmu ringan tubuh kitab ilmu memindah semesta, Yunying dengan cepat telah melesat ke depannya. Mereka sempat beradu tapak maupun tendangan. Sesaat kemudian, dari bentrokan jurus kelima. Yunying sanggup melumpuhkannya. Dia jatuh terjerembab dari tempat yang lumayan tinggi.. Sebelum sampai di tanah, Wu Quan segera memapah orang tersebut. Dan meletakkannya di tanah dalam kondisi duduk. Jieji yang dari tadi melihat sangat menyayangkan hal tersebut. Dia sudah tahu kalau siapa sesungguhnya orang yang bertopeng hitam.

Wu Quan yang sedari tadi diam segera berkata. "Anak durhaka. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" katanya sambil menangis. Semua orang disana terkejut, kecuali Jieji yang telah tahu siapa dia sesungguhnya. Lebih-lebih lagi Yunying. Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang di balik topeng ini adalah kakaknya. Hanya, dia tidak tahu apakah orang ini adalah kakak pertamanya atau kakak keduanya. Lalu diingatnya waktu Jieji menggelengkan kepalanya sambil tertunduk. Jieji telah tahu siapa orang di balik topeng. Yunying sesaat merasa sangat menyesal. Dia juga adalah orang yang menangkap kakaknya, walau tidak disengaja. Han Yin segera membuka cadar hitam pembunuh. Semua mengenalinya, dia adalah putera pertama keluarga Wu. Wu Lang. "Ini karena ayah..... Kenapa kau tidak adil kepadaku? Kau tidak menurunkan ilmu silat kepadaku dengan benar. Selain itu, setiap hari kau cuma memarahiku tidak berguna." kata si anak dengan air mata deras. "Kau salah besar nak. Kamu adalah putera sulungku. Tentu aku berharap kau bisa unggul di atasku dan semua adik-adikmu. Melihat sekilas tadi, aku sudah tahu kamu pelakunya." kata Wu Quan dengan penyesalan dalam. Dia memang sering memarahi dia tidak berguna. Di antara putera-puteranya, Wu Quan paling menyayangi Wu Dian-ya. Selain kemampuan silat, sastra. Dia unggul di antara putera-puteranya Wu Quan. "Kamu tidak akan membunuh Ding Wen dan menfitnah adikmu hanya garagara kasih sayang kan? Ini sungguh sebuah kesalah pahaman besar." kata Jieji seraya jongkok di depannya. Wu Lang yang melihatnya tentu sangat terkejut. Kenapa Jieji bisa tahu kalau dia masih mempunyai hal lain yang terpendam. Sementara Yunying cuma terpaku di sana menyaksikan kalau pembunuhnya adalah kakak pertamanya. Dia tidak menyangka, keadaanya sekarang seperti orang linglung. Dia ikut menyudutkan kakaknya dan terakhir malah dialah yang menangkap kakak pertamanya. "Kenapa kau bisa tahu? Lukisan itu kan?" tanya Wu Lang yang kepayahan. Seraya mengeluarkan lukisan dari dalam bajunya. Dia memperlihatkannya.

Wu Lang yang melihatnya terkejut luar biasa. Dia tidak mengira Jieji juga punya lukisan yang diincarnya dan arti dari lukisan itu tentu diketahui Jieji. "Kamu tahu? Bahkan pedang itu sudah ada disini." kata Jieji lembut kepadanya seraya mengeluarkan pedang di samping pinggangnya. Dengan sekali cabut, pedang itu bersinar biru muda dengan terang luar biasa. Hawa dingin segera muncul. Semua orang yang menyaksikannya tentu sangat kagum akan pedang tersebut, melainkan hanya Liangxu yang gusar. "Kamu sudah mendapatkan petunjuk lukisan itu kan? Ding Wen memancingmu tentu karena pedang semacam ini." "Hanya kamu yang paling mengerti diriku, detektif luar biasa...." kata Wu Lang dengan tersenyum. Kemudian dia diborgol dan dibawa pergi oleh Han Yin. Yunying yang sedari tadi terpaku segera menuju ke arah Jieji dengan perlahan. Setelah sampai di mukanya. Dia memeluknya dan terdengar teriakan tangisannya. Ini lebih mengherankan semua orang yang ada di sana. Wu Quan dan Liangxu adalah orang yang paling terkejut melihat tingkah Yunying.

BAB XXXVII : Pertemuan dengan pesilat
Yunying tidak mengatakan sepatah kata apapun. Dalam pelukan Jieji dia cuma menangis deras. Hal ini tentu sudah diperkirakan Jieji. Cuma dia tidak pernah berpikir kalau si nona begitu berani mendekapnya di depan orang banyak. Liangxu sangatlah gusar melihat tingkah Yunying. Kemarahannya telah sampai pada puncak sementara Wu Quan malah terpaku melihat apa yang terjadi. "Budak keparat.... Kamu betul sudah bosan hidup? Setelah kau punahkan kungfuku, kau main gilak terhadap calon istriku. Denganmu aku bersumpah tidak akan hidup selangit." Katanya. Dia segera memerintahkan orang untuk membunuh Jieji di tempat. Namun dia dihalangi Wu Quan yang memberi alasan kalau puterinya sangat dekat dengan Jieji. Sesaat setelah tangisan Yunying reda, Jieji membimbingnya pelan dan menatapnya. "Ini bukanlah kesalahanmu. Jangan menyesali dirimu terlalu dalam."

"Aku baru tahu kenapa kamu menjadi sangat sedih waktu di hutan rimba dekat danau Saiko." Kata Yunying dengan lemah. Liangxu yang mengetahui percakapan mereka segera sadar. Gadis yang ditemuinya saat di Dongyang tak lain adalah adik seperguruannya yang sangat dicintainya. Yunying yang memeluk Jieji tadinya merasa tangannya seperti basah. Dia melihatnya dengan segera, ternyata ada bercak darah. "Kamu terluka?" "Iya, tapi sedikit saja. Aku tidak apa-apa. Setelah aku jatuh tadinya, sengaja kupecahkan kendi kecil di pinggangku sehingga nampak seperti darah yang mengalir karena saat itu sangat gelap." kata Jieji. Yunying segera mengeluarkan sapu tangannya untuk segera melap punggung Jieji. Tingkah mereka berdua tentu sangat aneh. Wu Quan tidak pernah tahu kalau puterinya dengan pemuda ini sangat akrab. "Adik... Rupanya kaulah orang yang berada di Dongyang. Kenapa kau membohongiku?" teriak Liangxu. Yunying memandangnya dengan dingin dan berkata. "Itu karena saya sangat tidak suka dengan perlakuanmu. Kau tahu... Kamu ini terlalu manja, dan bahkan terlalu licik." Liangxu yang dikatakan begitu sangat marah. "Aku tanya kenapa kau membohongiku, tidak hal yang lain." teriaknya kembali. "Itu karena tidak ada urusannya denganmu. Kamu terlalu banyak ikut campur masalah orang lain. Kalau kau pintar dan hebat, maka tidak masalah. Sedang kau ini tolol dan lemah. Bagaimana orang bisa senang terhadapmu. Kau juga terlalu manja, terlalu kurang ajar. Kau tahu berapa banyak orang yang membenci dirimu? Setiap saat malah kau sering membanggakannya." hardik Yunying dengan marah. Sampai sini Liangxu tidak mampu berkata apapun lagi. Dia pergi dalam keadaan yang sangat marah dan masgul. Wu Quan yang sedari tadi mendengar percakapan itu segera menuju ke arah Jieji dan puterinya. "Jadi anda adalah Xia Jieji?"

"Betul tuan besar." kata Jieji dengan sopan. "Jangan memanggilku tuan besar. Dulu aku dan ayahmu termasuk sahabat. Kamu cukup memanggilku paman saja." kata Wu Quan. "Terima kasih paman." Kata Jieji seraya memberi hormat pada orang tua tersebut. Wu Quan merasa pria ini sangat sopan, dia suka kepadanya. "Nak Yunying, sejak kapan kamu berkenalan dengan nak Jieji?" tanya Wu Quan. Yunying yang ditanya segera menjawab. Sambil berjalan pulang ke wisma, Yunying menceritakan pengalamannya kepada ayahnya. Di Wisma Wu... Jieji diminta Wu Quan untuk tinggal di wisma sementara waktu. Dan Jieji tidak menolaknya. Pembicaraan pengalaman Yunying belum selesai semuanya. Oleh karena itu, dia menuju ke ruang tamu bersama Wu Quan dan Jieji. Wu Quan yang mendengar pengalaman Yunying terasa sangat mengagumkan. Dia juga sangat menghormati Jieji yang melindungi puterinya saat keluar rumah. Yunying mengeluarkan pedang di samping pinggangnya untuk ditilik sang ayah. Seraya mencabut, Wu Quan juga terkejut. Pedang ini kebalikan dari pedang Es Rembulan. Warnanya merah menyala. Inilah pedang Ekor api. Setelah menyelesaikan semua pengalamannya bersama Jieji dalam beberapa bulan terakhir. "Ayah, saya ingin ikut bersama kak Jieji ke Yunnan." kata Yunying. Wu Quan berpikir sebentar, sebenarnya dia bukannya tidak mengizinkan sang puteri pergi mencari informasi mengenai ibunya. Tetapi dia berpikir Yunying baru saja pulang dan sekarang akan pergi lagi. Dia sangat menyayanginya. "Paman Wu, kita akan pergi sekitar 1 minggu lagi." Kata Jieji yang tahu maksud hati tuan rumah. Wu Quan lumayan girang. Setidaknya dia masih punya waktu 1 minggu bersama puteri kesayangannya. Wu Shan Niang sebenarnya adalah istri pertama Wu Quan. Dia menikah kepadanya saat usia yang sangat belia. Saat itu, nyonya rumah baru

berumur 15 tahun sedangkan Wu Quan telah berumur 25. Namun tinggal tidak lama, Wu Shanniang hilang dari rumah dan cuma meninggalkan sepucuk surat untuk suaminya yang tercinta. Dia mengatakan akan mencari ilmu peninggalan kakeknya yaitu Ilmu pemusnah raga. Setelah 17 tahun lamanya, Wu Shanniang kembali ke rumah. Kali ini dia tahu kalau Wu Quan yang ditinggalkannya telah menikah dan telah mempunyai 3 putera dan 2 puteri. Namun istri kedua Wu Quan langsung meninggal saat dia melahirkan puteri kecilnya yang bernama Wu Jiaying. Tinggal 3 tahun di Wisma Wu, Wu Shanniang memberinya seorang anak yaitu Wu Yunying. Yunying adalah anak yang mempunyai kakak-kakak yang tidak seibu dengannya. Tetapi para kakaknya tidak menganggap itu sebagai masalah. Mereka juga menyayangi Yunying seperti adik kandungnya sendiri. "Di dengar dari cerita nak Ying, berarti Liangxu adalah orang yang sangat licik dan pedendam." kata Wu Quan seraya menghela nafas. "Betul.. Kak Liangxu telah main licik denganku. Dia tahu dia bukan tandinganku, malah mencuri serang." kata Yunying yang agak kesal. Wu Quan yang mendengar cerita puterinya merasa sangat menyesal. Dia pernah sangat menghormati pemuda ini karena dilihatnya dia mempunyai masa depan yang cemerlang. Oleh karena itu keluarga Yue yang datang melamar puterinya itu sempat disetujuinya, karena melihat si nona dan pemuda itu cukup akrab. Setelah mendengar semua cerita Yunying sampai selesai. Wu Quan bangkit, dia memberi hormat kepada Jieji. Jieji yang melihat orang tua itu memberi hormat padanya langsung salah tingkah. Dia membimbing orang tua ini dengan sangat sopan. "Maafkan aku paman. Dulunya maksud aku datang ke rumah ini cuma menyelidiki. Saya tidak ada maksud yang lain." Kata Jieji seraya memberi hormat. "Tidak apa... Tapi saya sungguh sangat gembira. Selain kamu pintar, ilmu kungfumu pun sangat tinggi, serta berakhlak luhur." Pujinya kepada pemuda tersebut. Sampai disitu, pembicaraan mereka pun berakhir. Jieji dan Yunying segera minta pamit pada Sang orang tua. Setelah itu mereka pergi beristirahat, mengingat waktu juga telah tengah malam. Keesokan harinya...

Jieji telah bangun. Dia duduk di taman sambil menikmati angin pagi yang sejuk, dengan menutup mata dan santai dia menikmati dirinya sendiri. Namun dia dikejutkan oleh seseorang. "Hei... Pagi-pagi sudah melamun.. " Katanya. "Iya, saya sedang melamunkanmu...." kata Jieji pendek namun dengan tersenyum. "Dasar... Malas aku meladenimu." kata gadis yang tak lain tentu Yunying. Tetapi dia seraya duduk di bangku pas di depannya. Sambil bertopang dagu, Yunying mengamatinya yang masih tertutup mata. Yunying mengamatinya dengan asik dan sebentar sebentar juga tersenyum. Jieji yang membuka matanya dan melihat Yunying dalam posisi begitu langsung berkata. "Hei... Emang ada apa? Ada sesuatu di wajahku?" Sambil mengusap wajahnya sendiri. "Tidak.. Saya cuma memandangmu saja kok..." katanya sambil berpaling pura-pura melihat ke bunga di sampingnya. Dalam hati Yunying, dia berpikir. Kalau seorang wanita melihat pria dengan lama, jika tidak ada sesuatu di wajahnya, maka si wanita menyukainya. Saat santai mereka memang termasuk tidaklah banyak. Yunying menikmatinya dengan sangat senang bersama Jieji. "Oya, kamu tidak melatih kungfumu lagi?" tanya Jieji. "Tidak.. Emang ada apa?" "Kamu baru menyelesaikan 5 bab, bab lainnya cepat kamu selesaikan. Kita punya waktu 1 minggu yang senggang." kata Jieji. "Tidak perlu lagi...." kata Yunying seraya melihatnya dengan senyuman penuh makna. "Kenapa? Kamu ini aneh." kata Jieji yang cukup heran. "Itu karena ada kamu. Kamu sanggup melindungiku kan?" kata Yunying pendek. "Wah, tidak juga. Musuh di Yunnan mungkin sangat hebat. Saya tidak yakin sanggup melindungimu." Kata Jieji dengan serius.

"Kalau begitu, kita mati sama-sama saja." kata Yunying kemudian dengan pasti. "Tidak, kamu tidak boleh kubiarkan mati. Oleh karena itu, saya..." Jieji sesaat merasa kata-katanya terlalu aneh, karena dia tidak menganggap Yunying adalah kekasihnya. Yunying yang melihat tingkah Jieji sangat senang. Dia cuma tersenyum manis. Lantas dia berkata. "Iya, saya dengarkan katamu kok. Mulai hari ini saya akan berusaha belajar bab yang lain. Jangan menggerutu begitu donk. Kan cuma bercanda saja..." "Baiklah." kata Jieji seraya tersenyum juga. Mereka kemudian duduk untuk menikmati suasana pagi yang cerah tersebut. Setelah beberapa saat, disana datang beberapa orang. Jieji segera menoleh kepadanya. Dia lah Yue Fuyan bersama Liangxu puteranya, juga beberapa orang diantaranya adalah dari kaum pesilat. Jieji melihat mereka satu persatu. Salah satu diantaranya adalah Pemimpin kuil shaolin, Biksu Wu Jiang. Jieji yang telah menilik mereka satu persatu langsung menghiraukannya. Dia balikkan badannya dan tidak mau menengok sedikitpun pada mereka. Perlakuan Jieji sungguh membuat gusar Yue Fuyan. "Anak muda sombong. Keluarkan pedang Es Rembulan dengan segera." teriaknya. "Kalian masuk rumah orang tanpa memberitahu dahulu. Apa namanya kalau itu bukan kurang ajar?" tanya Jieji kembali. "Yang kurang ajar itu kamu. Kau tahu semua orang di sini adalah senior dunia persilatan." kata Fuyan dengan agak marah. "Dulu MengTzu pernah mengatakan bahwa orang tua yang tidak berguna tidak patut di dengarkan kata-katanya." kata Jieji kembali seraya meledek mereka semua. "Disini ada biksu dari Shaolin, dialah pemimpin Shaolin. Dia datang untuk menegakkan keadilan." Kata Fuyan kembali. "Keadilan? Dulu ujar pepatah tua mengatakan bahwa keadilan adalah segala sesuatu yang tidak berpihak satu sama lainnya. Sekarang kalian seperti rombongan serigala yang mengeroyok seekor domba. Kamu

sebagai ketua dunia persilatan tidakkah malu?" tanya Jieji seraya santai dan tersenyum sinis. "Keparat... Jangan banyak bicara. Serahkan atau kau kubunuh disini." teriak Fuyan yang telah emosi. Yue Fuyan sebenarnya sangat marah terhadap pemuda ini. Tetapi disini banyak jago persilatan yang merupakan anak buahnya atau ketua dari partai terkenal. Mau tidak mau dia berusaha menjaga mukanya. Seraya melihat biksu tua shaolin, Jieji mengatakan kepadanya. "Kamu ini belajar dhamma apa? Terhadap pedang yang hanya punya sedikit keistimewaan saja masih tertarik. Untuk apa kau menyebut terus kata Buddha itu di mulut. Sedang hati kau itu penuh keiblisan." Jieji sebenarnya tidak takut akan orang persilatan. Dia tidak suka untuk bergabung, baginya semuanya rata-rata adalah sampah yang mencari nama saja. Selain itu kebanyakan dari mereka mengatas namakan partai, atas nama leluhur untuk bertindak ekstrim. Partai putih baginya bahkan lebih kurang ajar daripada partai hitam. Partai hitam selalu bekerja dengan terang-terangan. Sedang partai putih mengambil nama partainya, cita-cita luhur dan bertindak sangat ekstrim. Salah satu hal paling tidak disukai Jieji adalah Kemunafikan. Biksu yang ditegur itu sedikit malu, namun dia menjawabnya. "Pedang itu ada hubungan dengan kematian saudara shaolinku selama ratusan tahun yang lalu. Oleh karena itu..." baru menjawab sampai setengah, Jieji segera mendahuluinya. "Orang yang menggerakkan pedang. Bukan pedang itu bergerak sendirinya. Kenapa anda bisa mengatakan sesuatu yang sangat keterlaluan seperti itu. Saudara leluhurmu semuanya telah menjadi abu. Tetapi kau masih berpikir balas dendam. Coba kau cermin dirimu itu dahulu. Baru datang kau cari aku." Jieji sangat pintar, dia adalah seorang detektif yang tidak kehabisan analisis. Semua kata-katanya adalah kata logika. Biksu ketua Shaolin ini bahkan tidak sanggup menjawabnya. Karena sebelum dia menjawab, Jieji telah memotong dia dengan kata yang menyindirnya langsung. Setelah pembicaraan tersebut, Wu Quan segera keluar dengan tergopohgopoh

BAB XXXVIII : Bertarung Melawan Yue Fuyan
"Saudara sekalian, kenapa anda datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?" tanya Wu Quan.

"Nah, ini apa namanya? Masuk ke rumah orang tanpa pemberitahuan adalah pencuri." kata Jieji seraya tertawa. Seorang di belakang mereka sudah tidak tahan lagi mendengar Jieji yang sangat menghina mereka dan tidak memandang mereka. Lantas dia berujar. "Anak kurang ajar. Kau tidak tahu diri. Kepandaian apa yang kau miliki itu?" Jieji segera melihatnya, dia kenal orang yang paruh baya dan memakai baju yang lebar dan tak lain adalah ketua partai laut timur ( Donghai Bai ). "Kepandaianku tidak bisa dibandingkan dengan kau yang jago menipu. Beberapa tahun lalu kau tipu ketua partai pasir putih dan mendapatkan kitab tinju halilintar. Kau yang mendapatkannya sangat girang, kau simpan pusaka itu di bantalmu setiap mau tidur. Dan kau pakai sebagai alat sembahyang. Untuk itu, saya mengalah benar banyak kepadamu tentu untuk kepandaianmu." Kata Jieji kembali. Yunying merasa sangat geli akan kata-kata Jieji barusan. Dia tertawa ringan. Yunying tahu , semua pesilat sudah terobsesi dengan pedang Es rembulan, kalau berbicara dengan jujur atau dengan sopan. Masalah tidak akan pernah selesai. Oleh karena itu, Jieji sengaja menyindirnya dengan kata-kata tajam yang menyakitkan. Orang toh sama saja, ngomong baik juga salah, dan ngomong jahat juga salah. Jieji yang bersikap terangterangan tentu akan memakai cara menyindir. Ketua partai laut timur yang bernama He MengZeng sangat marah. Dia segera beranjak dengan cepat akan menghajar pemuda ini. "Berhenti... Kita hanya bersilat lidah disini. Kalau kau mau bertarung, carilah batu di depan sana. Pukullah dengan tinju pembunuh semutmu sampai kau rasa puas, dan kembali kesini." kata Jieji menghinanya. Di antara pesilat-pesilat yang mengejarnya 10 tahun yang lalu. He MengZeng juga termasuk di dalamnya. Partai Kunlun, Sungsan, Ermei, Hanxue, Beiming, dan Shaolin. Wajar Jieji sangat marah terhadap mereka. Jika mereka tidak dikejar, mungkin perjalanannya bersama Xufen akan mulus. Apalagi terakhir dia harus kehilangan Xufen di timur kota Xiapi. Yunying yang sedari tadi mendengarkan hanya tersenyum saja. Dia tidak mengatakan suatu hal apa-pun. "Anda seorang pemuda yang baru lahir kemarin. Kenapa berani kau kurang ajar begitu? Selain itu pedang Es rembulan telah menghebohkan jagad selama beberapa ratus tahun lalu dan Xue Yang pernah menggunakan pedang ini untuk membantai para pesilat. Jika anda tidak mau

menyerahkan, maka maaf. Anda mungkin tidak akan selamat." Kata seorang tak lain adalah Wang Gezhuan, ketua partai kunlun. "Bagamana seorang ketua partai kunlun seperti kau itu bisa berbicara kurang ajar seperti itu? Dengarkan baik-baik kau ketua... Sebenarnya Pedang ini adalah pedang Raja Han barat Liu Bang. Sebelum pedang ini menjadi pedang es Rembulan, pedang ini namanya Pedang pembunuh ular karena Liu Bang membunuh ular putih sebelum dia mendirikan Dinasti Han yang jaya. Karena itu seorang pandai besi dinasti Tang sangat tertarik, dia mencurinya dari istana kerajaan. Kemudian di sebuah gunung, dia menemukan batu Es meteor, disanalah dia melebur pedang baja kuat dengan es dan batu meteor. Sehingga pedang yang kuno itu bisa menjadi pedang baru yang memiliki hawa dahsyat. Dan menyimpannya di suatu tempat selama beberapa tahun. Karena sangat tertarik dengan silat dan mengagumi Kaisar Dinasti Tang, pandai besi sengaja menghadiahkannya kepada Tang Daizhong, Li Shemin. Setelah wafatnya Li Shemin beberapa puluh tahun. Wu Zetian adalah pewaris pedang. Namun sebelum dia wafat, pedang ini telah dicuri oleh Dian Mao, kasim istana. Dalam perjalanan melarikan diri, Xue Yang bertemu dengannya. Disana Dian dibunuh Xue. Xue Yang memakai pedang tersebut tidak lebih dari 10 kali. Dia menggemparkan dunia persilatan. Membasmi kejahatan dan menegakkan kebenaran. Setelah hampir pupus jiwanya, dia mengembalikan pedang itu ke tempat asalnya. Jadi boleh dikatakan pemilik pedang semuanya adalah orang termahsyur dan berjiwa besar. Sedang kau, kamu tidak punya kepandaian istimewa yang bisa kau banggakan. Lima tahun lalu ketika mendengar adanya kabar informasi mengenai pedang Es rembulan, kau menangkap nenek tua yang menyebarkan informasi. Kau siksa dia sampai mati walaupun terakhir kau tidak pernah mengetahui informasi pedang dari si nenek. Tindakan kau itu dikutuk langit, dibenci manusia, kebiadaban kau sudah menjagad. Sekarang kau datang demi pedang. Betapa malunya kau itu. Kau pikir tindakanmu tidak ada yang tahu. Langit dan bumi maha mengetahui semua." Yunying yang mendengar penjelasan Jieji yang panjang itu segera menyadari kalau Ilmu kitab Memindah semesta yang didapatkannya adalah milik Xue Yang, seorang pengkelana yang memiliki sifat satria yang besar.

"Anak keparat...... Kau benar telah bosan hidup rupanya." Kata Ketua kunlun tersebut sambil merapal tinjunya. "Pedang Es Rembulan memang disini. Di pinggangku. Jika anda sekalian tidak malu terhadap sesamanya maka rebutlah. Jika anda rasa tidak enak hati, maka maaf saya tidak mengantar anda." Setelah mengatakan hal ini Jieji langsung berteriak. "Pergiiiii...." tetapi kali ini dia menggunakan tenaga dalamnya. Semua orang disana tergoncang juga mendengar teriakan Jieji. Tenaga dalam Jieji sangat dahsyat dan datang dengan tiba-tiba. Beberapa orang di antaranya telah terluka dalam. Beberapa pesilat langsung pergi sambil memegang dada. Diantaranya hanya Yue Fuyan dan Biksu Wu Jiang saja yang tinggal. "Tuan Fuyan, kamu dengan aku punya dendam pribadi. Wajar kau tinggal. Tapi biksu ini siapa? Dia tidak layak berada disini." Jieji sengaja memancing kemarahan si biksu. Tujuannya tentu mempermalukannya karena sebagai imam terkenal, dia malah sangat berambisi mengambil pedang Es Rembulan. Sepertinya kail kali ini termakan juga oleh ikan. Biksu itu segera marah. "Kau begitu kurang ajar. Kali ini yang tua akan memberimu pelajaran." Dengan ancang ancang tapak dia segera menyerang Jieji. Sedang Jieji segera membentuk jari di tangan. Segera dia adukan dengan tapak. Posisi Jieji masih duduk, sedang si Biksu berlari menghampirinya. Benturan kedua energi membuat riakan air kolam bergerak. Sesaat itu, tampak biksu mundur beberapa langkah. Sedang Jieji masih di tempatnya. "Ilmu jari dewi pemusnah?" kata Biksu dengan keheranan. "Betul, sekarang anda boleh pergi. Maaf tidak mengantar... Amitabha." kata Jieji seraya meniru perbuatan biksu shaolin yang biasa dilakukan jika akan pamit. "Amitabha." Lantas biksu Wu jiang segera beranjak dari sana. Di dalam pikirannya sangat kusut sekali. Kata "Amitabha" untuknya tentu memintanya segera meninggalkan tempat itu. Wu Quan yang melihatnya agak keheranan. Sementara Yue Fuyan bermaksud menguji kungfu pemuda tersebut. Dia meneriakinya. "Kalau kau berani, pergilah kita di lapangan. Kita adu kungfu."

"Kau bukan tandinganku. Cuma habis tenagaku kalau bertarung melawanmu. Dan ada sesuatu hal yang harus kutagih padamu. Tetapi tidak hari ini." kata Jieji. "Budak... Kau terlalu keparat." teriak Liangxu yang berada jauh di belakang ayahnya. "Wah, kau ternyata. Kau ini tidak tahu aturan. Sengaja kau pancing ayahmu, tetapi tidak mungkin aku tidak tahu. Betapa durhakanya dirimu itu." Kata Jieji mengejek Liangxu. Yue Fuyan yang sedari tadi sebenarnya sudah tidak sabar. Karena tadi banyak kaum persilatan disana, dia juga merasa malu menindas seorang pemuda yang jauh lebih muda daripadanya. Sekarang tidak ada lagi orang yang bisa menghalanginya. Tanpa banyak bicara dia menuju secara cepat ke arah meja taman yang diduduki oleh Jieji. Dengan tapak penghancur jagad dia menyerang. Jieji segera bangun melayaninya. Setelah beberapa jurus, mereka beralih menuju ke lapangan terbuka. Jieji kali ini menggunakan tendangan untuk melawan Yue Fuyan. Pertempuran seru segera terjadi. Mereka bertarung ratusan jurus di lapangan terbuka itu. Semua penghuni wisma juga menontonnya dengan terkagum-kagum. Setelah beberapa ratus jurus, Wu Quan berniat untuk mencegah mereka. Namun dia tidak mampu. Hawa tenaga dalam sekitar susah membuatnya masuk ke arena bersama mereka berdua. Yue Fuyan terlihat sedang sangat serius. Semua jurusnya mengancam jiwa. Jieji sempat melihatnya, ternyata dia sedang mengincar pedang di pinggangnya. Tetapi Jieji melayaninya dengan tidak begitu serius karena seringnya dia cuma menghindar saja. Hal ini membuat Yue Fuyan lumayan marah padanya. "Anak tak tahu diri. Kamu menganggap remeh diriku..." teriaknya dengan sangat marah. "Sudah kukatakan, kau ini bukan tandinganku. Melawanmu cuma membuatku habis tenaga sia-sia." Kata Jieji. Jieji sengaja memancing kemarahannya. Karena dengan marahnya dia, maka semua jurus yang dikeluarkannya pasti sedikit ngawur dari biasanya. Tindakan Jieji membuahkan hasil. Beberapa jurus kemudian ada seketika tapaknya yang mulai ngawur lewat dari samping. Segera Jieji dari belakang menendang punggungnya dengan jurus tendangan mayapada.

Yue yang ditendang segera berguling ke depan. Dengan marah, dia bangkit. Kali ini dikerahkannya jurus tapak penghancur jagad tingkat ke 8. Hawa pertempuran makin dahsyat. Jieji memberi kedipan pada Yunying. Dengan segera Yunying menuju ke tempat orang yang menonton tersebut. Walaupun jaraknya cukup jauh. Yunying memberitahukan bagi yang berilmu silat rendah segera meninggalkan tempat itu. Yue Fuyan yang tidak sabar segera akan menyelesaikan pertarungan. Setelah pengumpulan tenaga dalamnya selesai, dia melejit dengan kecepatan penuh ke depan. Sementara Jieji di luar dugaan malah diam saja. Hal ini dilihat oleh Liangxu. Dia segera ingin meneriaki ayahnya. Namun tidak keburu. Tapak Yue Fuyan yang dengan kecepatan tinggi telah sampai di depan dada Jieji. Seraya berkelit sambil memutar penuh tubuhnya. Jieji menggunakan tapak terbalik. "Ayah, hati-hati." suara ini baru keluar ketika tapak mereka telah berlaga. Yue Fuyan tidak mengerti maksud dari anaknya. Namun, sesaat itu dia telah mengerti benar.. Tapak memang beradu, dan orang yang kelihatan kalah angin adalah Jieji. Dia menyeret sebelah kaki ke belakang. Setelah mundur sekiranya 40 kaki, keadaan berbalik. Dengan sebuah hentakan, Jieji mementalkan Yue Fuyan. Yue Fuyan yang terbang melayang ke belakang tidak jatuh dengan benar. Dia roboh terguling. Dari mulutnya keluar darah segar. Jurus yang digunakan untuk merobohkan sang anak, sekarang ayahnya pun mendapati hal yang sama. Yue Fuyan segera bangkit, walaupun dia terluka dalam. Tetapi belum sampai dia mengeluarkan jurus, lehernya telah terpampang sesuatu yang dingin luar biasa. Dia sangatlah terkejut. Jieji telah membuka sarung pedang Es rembulan dan sedang mengarahkan ke arah lehernya. Wu Quan dan Yunying yang melihat keadaan itu segera berlari menghampiri Jieji. "Katakan!!! Kau taruh mayat ayah ibuku dimana???" kata Jieji dengan marah luar biasa. "Saya tidak mengerti maksud anda...." kata Yue yang cicing karena pedang telah dekat dengan lehernya.

"30 tahun lalu kau menunggu orang di lembah dekat kota Shouchun. Dimana mayat orang yang kau bunuh itu?" kata Jieji kemudian. "Mereka tidak sempat kubunuh... Aku tidak membohongimu... Sesaat setelah 2 pelayan itu pergi. Ada orang misterius dan memakai topeng. Orang ini menyelamatkan pria dan wanita tersebut. Dia mengatakan tidak perlu melaksanakan aksiku lebih jauh. Dia akan mengatur rencana supaya saya bisa menjadi Ketua dunia persilatan. Cuma itu yang kutahu...." kata Yue Fuyan dengan gugup. Jieji sempat berpikir dengan seksama. Siapakah orang yang menyelamatkan ayah ibunya disana? Dan apa pula tujuannya? Sesaat itu terdengar suara seseorang di belakang Yue. "Anda terlalu sering mencari masalah." kata pria tersebut. Yue segera menengok ke arah belakang. Dia melihat pemuda yang berpakaian sastrawan, roman wajahnya agung. Di tangannya terpegang kipas. Di belakangnya seperti biasa, dia membawa 10 orang pengikut. Yue sangat terkejut. "Saya tidak ingin anda berada lama disini. Segeralah tinggalkan Wisma. Inilah ultimatum. Jika kamu tidak berhenti mencari masalah dengan pemuda itu, maka janganlah kau salahkan saya. Camkan hal itu baik-baik." Disini, yang terkejut melihat kehadiran pemuda berpakaian sastrawan tentu adalah Yue Fuyan, Jieji, Wu Quan dan Yunying. Jieji segera memasukkan kembali pedang Es rembulan ke sarungnya. Sementara Liangxu teringat dendamnya dengan pemuda paruh baya tersebut ketika di Dongyang. Segera dia menuju ke tengah dan mengatakan kepada ayahnya sambil menunjuk. "Ayah, pemuda itu sangatlah kurang ajar... Dia..." Baru berkata begitu. Sang ayah segera menamparnya sampai roboh terguling. Wu Quan yang lumayan dekat dengan daerah pertarungan langsung terburu-buru menuju ke arah pemuda itu. Dengan segera dia berlutut. "Yang Mulia panjang umur, panjang umur , panjang umur." Semua penghuni wisma yang melihat Tuan besar berlutut, maka semua juga melakukan hal yang sama. Liangxu segera mengerti kenapa dia ditampari ayahnya. Dia sama sekali tidak menyangka, orang yang melayangkan tinju ke mukanya saat berada di Wisma Oda adalah Kaisar Sung, Zhao kuangyin.

"Berdirilah semua." kata Yang Ying pendek. "Ingat apa yang kukatakan tadi. Meski kau adalah pamanku. Selama kau tidak melakukan hal yang keterlaluan, saya tidak akan mencari masalah padamu." Kata Yang Ying. "Kau ambil kitab ini, berikan kepada anakmu. Ajari dia dengan benar bagaimana cara mengobati diri. Setelah sembuh, jangan kau ajari dia silat lagi. Biarlah dia belajar sastra saja. Dan semua hal yang kukatakan harus kau ingat." Kata Yang kemudian. Yue Fuyan segera menerima kitab dari Yang sambil berlutut. Setelah memberi hormat dan berterima kasih. Dia segera meninggalkan wisma bersama anaknya. Dia berpikir, telah tiga kali Kaisar berjumpa dengannya di khalayak ramai. Pertama adalah ketika terjadi pembunuhan di Wisma Ma di Changan belasan tahun lalu. Yang kedua adalah baru-baru ini ketika berada di Dongyang. Sekarang di Wisma Wu, dia lagi-lagi ketemu dengan Kaisar Zhao Kuangyin. Pertemuan dengan kaisar selalu membuatnya sial. Jieji sangat girang melihat kakak pertamanya. Dia berjalan beberapa langkah ke depan dan seraya berlutut. "Kakak... Kenapa anda datang lagi? Apa ada urusan yang mendesak?" kata Jieji. Sang kakak segera membimbingnya berdiri. "Adikku, kamu masih ingat. Ketika di Dongyang, saya sempat menjumpai Kaisar Enyu dari Dongyang. Mereka menjual beberapa kapal cepat untuk dipasokkan di China. Sewaktu mengamati kapal cepat tersebut di pantai timur. Aku mendengar adanya pesilat yang mengatakan kalau pedang Es rembulan muncul di Wisma Wu. Oleh karena itu, saya segera menuju kemari." Kata Yang Ying. "Jadi tidak lama lagi kakak akan pergi?" kata Jieji yang merasa sayang kakaknya akan pergi. "Betul... Tapi tenang saja dik. Waktu perjumpaan kita akan sangat banyak. Lakukanlah hal yang pantas kamu lakukan terlebih dahulu. Setelah itu, saya mungkin akan menyusul ke Yunnan. Dan adik tidak usah khawatir dengan wisma Oda. Saya sudah mengutus lumayan banyak orang kesana untuk berjaga. Sementara adik ke 3 tentu akan ikut denganmu ke Yunnan. Kalian akan berjumpa di Changsha kembali, karena saya yakin kamu pasti akan pulang ke rumahmu." kata Yang sambil tersenyum kepadanya.

"Terima kasih kak..Kakak sangat mengerti diriku.." Seru Jieji seraya bergembira. Jieji segera menuju ke arah Wu Quan dengan memberi hormat dia berkata, "Maafkan kelancangan saya paman jika ada kata-kataku yang terdengar sangat kurang ajar tadinya. Itu karena saya tidak ada pilihan dengan kedatangan mereka. Jika saya sopan, maka masalah tidak pernah akan selesai. Oleh karena itu sengaja saya memancing emosi para pesilat." Wu yang melihatnya segera membimbingnya dengan kedua tangan dan tersenyum puas.

BAB XXXIX : 5 Orang bertopeng aneh
"Dik.. Ada sesuatu juga yang perlu kusampaikan. Pak tua Zhou mencarimu. Dia menitipkan pesan kepadaku seraya berlinang air mata, kenapa dia malah melupakan sesuatu yang sangat penting. Ketika kamu meninggalkan Dongyang, dia baru sadar dan hendak mengejarmu. Katanya, sewaktu kamu yang masih bayi dan dinaikkan Kyosei di sebuah papan besar sebelum tenggelam. Sebenarnya pak tua Zhou sedang mengejar kalian. Dia diam-diam lari dari Dongyang. Mengetahui sungai sangatlah deras,dia segera melompat dan dengan segera membimbing papan itu sehingga kamu tidak tenggelam. Dia berenang hampir 6 jam sampai Wu Quan dan Xia Rujian yang sedang menyeberang sungai Changjiang menemukan kalian berdua. Mereka berdua menyelamatkan anak bayi tersebut. Namun setelah dilihat kondisi bayi yang aneh dan keracunan. Mereka berdua bersama-sama memberikan tenaga dalamnya kepadamu. Sehingga racun di tubuhmu telah ditawarkan semuanya." Jieji yang mendengarnya dengan teliti segera menuju ke Wu Quan. Dia berlutut sambil memberi hormat. "Jika tidak ada pertolongan paman, niscaya aku masih mempunyai hari ini." Orang tua ini segera membimbingnya berdiri. "Sebenarnya saya juga ingin menceritakannya kepadamu nak Jieji. Iya, hari itu sekitar 30 tahun lalu saya memang menemukanmu bersama orang itu. Tapi saya tidak menyangka dia adalah kepala pelayan rumahku setelah beberapa puluh tahun yang akan datang. Dan tak heran, karena sebenarnya saya yang ingin mengangkatmu sebagai anak dahulu saat itu. Setelah sampai di daratan, Zhou meminta pamit kepada kita semua tetapi dia berusaha meninggalkan anak itu kepada kami, karena dia juga tahu jika

anak itu bersama kami, maka keselamatannya akan lebih terjamin. Setelah beberapa saat kita berkuda... Ibumu karena mengingat dia baru saja keguguran karena perang berbahaya di timur. Akhirnya bersama Xia Rujian, mereka sepakat mengangkatmu sebagai anak mereka, tentu Zhou Rui yang telah pergi itu tidak mengetahuinya. Pantas setelah beberapa puluh tahun dia ke wisma Wu ini menjadi kepala pelayan dengan maksud bisa bertemu denganmu tanpa mengetahui kalau kamu telah menjadi anaknya Xia Rujian." "Kalau begitu mungkin dia mengira kalau salah satu putera anda adalah putera majikannya." Kata Yang. "Begitulah..." kata Wu Quan sambil memberi hormat. "Dik, saya akan pergi sekarang. Tapi tenanglah, perjalananmu kemungkinan bisa mulus karena setidaknya para pesilat di bawah pimpinan Yue tidak akan berani mengejarmu lagi." Kata Yang Ying kemudian. "Betul kak.. Terima kasih..." kata Jieji seraya memberi hormat padanya. Sesaat itu, bersama 10 pengawal. Yangying keluar dari Wisma Wu. Tuan rumah dan semua putera-puterinya dan Jieji mengantarnya keluar. "Nak Jie, tidak seharusnya aku menahanmu sementara ada urusan yang harus kamu selesaikan. Sekarang kamu pergilah bersama Yunying, saya tidak akan menahan lebih lanjut." kata Wu Quan kemudian. "Tidak paman. Saya pernah berjanji untuk tinggal seminggu. Saya tidak akan merubah pikiranku walaupun ada keadaan mendesak. Lagipula dilihat dari masalah kepentingan, saya toh tidak begitu bermasalah." Kata Jieji dengan sopan pada Wu. "Terima kasih nak..." Kata Wu Quan dengan hati senang. Untuk beberapa hari dalam seminggu, tidak ada lagi pengacau di Wisma Wu. Setiap hari Jieji memberi petunjuk kepada Yunying yang melatih kitab Ilmu memindah semesta yang masih dalam tahap ke 6. Yunying sebenarnya termasuk wanita yang sangat cerdas umumnya. Dia cepat menyerap semuanya, sehingga dalam 5 hari saja dan dengan petunjuk dari Jieji, dia telah menguasai jurusnya sampai tahap 8 dengan benar. Kungfu Yunying tidak bisa lagi dipandang dengan enteng. Jika dibanding dengan Lu Fei Dan, mungkin Yunying telah di atasnya. Jieji sangat puas walaupun tinggal 2 jurus lagi yang belum dikuasainya.

Tibalah saat mereka akan meninggalkan Wisma Wu. "Ayah... Saya akan menuruti kata-kata kak Jieji. Jadi tenang saja, saya tidak akan membiarkanmu cemas." Kata Yunying. "Iya... Kalau di jalan ada kesusahan, mintalah petunjuk pada nak Jie." Kata Wu Quan. Mereka berangkat menuju ke Changsha melalui pintu barat kota Hefei. Wu Quan dan semua keluarganya mengantarnya sampai keluar kota. Jieji memakai kuda biasa, sedangkan kuda Bintang birunya diberikan kepada Yunying untuk dipakai. Mereka berkuda dengan lumayan santai karena memang tidak mengejar waktu. Dengan mengambil jalan besar mereka berangkat. Setelah berkuda beberapa lama. Mereka sampai di kota Jiangxia. Perjalanan kali ini bersama Jieji tidak sama dengan perjalanan beberapa bulan lalu. Tetapi kali ini Yunying telah mantap dan yakin. Setelah istirahat semalam, mereka menuju ke kota Changsha. Di tengah perjalanan mereka mendengar kabar pesilat yang lumayan banyak dari partai terkemuka sedang menuju ke kota Changsha. Jieji juga lumayan terkejut mendengar kabar berita tersebut. Dia teringat dengan kasus 11 tahun yang lalu sebelum dia meninggalkan Changsha. Banyak pesilat juga kumpul di depan rumahnya dan memintanya untuk keluar karena mereka mengira kalau Lukisan di kediaman Jenderal besar Ma Han telah dipecahkan artinya oleh Jieji. Inilah hal yang membuat mereka mengejar Jieji dan Xufen. Menurut mereka, lukisan disana ada hubungannya dengan Ilmu pemusnah raga. Meski agak jauh dari Jiangxia. Tetapi jika ditempuh dengan sehari penuh dengan perjalanan kilat, maka mereka akan sampai. Yunying tidak menolak untuk melakukan perjalanan cepat untuk menyusul para pesilat. Dari pagi-pagi mereka berangkat, sorenya telah sampai di sebuah lembah yang telah lumayan dekat dengan kota Changsha. Jieji dan Yunying mengambil langkah yang agak santai kembali. Karena berniat mengistirahatkan kuda mereka sebentar. Jieji memandang sekeliling lembah tersebut. Dia memang pernah melewatinya bersama Xufen pada waktu pelariannya. Tetapi kali ini sungguh aneh.

"Ini aneh sekali.... " kata Jieji. "Memangnya ada apa?" tanya Yunying sambil melihat kesana kemari. "Lembah ini terlalu sunyi...." kata Jieji dengan serius. "Betul... Bahkan tidak ada suara kicauan burung.. Sungguh aneh..." kata Yunying sambil mengerutkan dahinya. Sesaat, Jieji mendengar ada suara yang sangat lemah terdengar dari arah samping. Dia berpaling, disana ada beberapa pohon yang cukup besar. Dengan segera, Jieji turun dari kudanya. Dan menuju ke tempat yang di tuju dan dia diikuti oleh Yunying. Setelah sampai, betapa terkejutnya mereka melihat seorang biksu yang terbaring. "Biksu Wu Jiang, kenapa dengan dirimu?" tanya Jieji. Biksu yang terbaring dan luka dalam dengan beberapa tulang yang patah itu tak lain adalah Biksu pemimpin Shaolin, Wu Jiang. Biksu ini segera melihatnya, "Tuan, hati-hati.. Aku disergap oleh lima orang yang lihai luar biasa." katanya dengan sangat lemah. Dengan segera, Jieji membimbingnya. Dan dengan aliran tenaga dalam, dia berusaha mengobati sang Biksu. Tetapi sang biksu berkata. "Tidak perlu tuan, semua nadiku telah putus. Meski kamu mengalirkan energi, tidak ada gunanya lagi...." kata Sang biksu dengan keadaan yang makin melemah. "Maafkan aku biksu, kelakuan kasarku terhadapmu bukanlah keinginanku. Kamu tahu, aku tidak akan menyerahkan dengan mudah pedang di pinggangku sebelum kutemukan rahasianya." kata Jieji dengan menghela napas. "Aku sudah tahu. Kamu ini putera Xia Rujian yang sangat terkenal dengan kearifannya. Dulu aku tidak percaya... Tetapi Yue Fuyan selalu memintaku maju ke depan untuk beberapa masalah yang sesungguhnya tidak ingin kulakukan. Untuk itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya Tuan...." katanya dengan makin melemah.

"Biksu, jangan berbicara lagi. Akan kubawa kau ke kuil Shaolin.... Disana kamu akan sembuh kembali. Ilmu pelentur otot pasti sanggup menyembuhkanmu." Kata Jieji seraya memapahnya. Namun Sang biksu sepertinya tidak sanggup lagi. Sebelum dia digendong, nafasnya telah putus. Jieji yang melihatnya sangat menyesal, dia menyesalkan tingkahnya waktu Di Wisma Wu. Tetapi bagaimanapun Yue-lah penyebab semuanya. Jieji memang sedih melihat akhir kehidupan biksu. Beberapa hari yang lalu bahkan mereka sempat beradu dan Jieji juga sempat menghinanya. "Jangan kamu salahkan dirimu.... Ini adalah kehendak langit. Kita sebagai manusia harus pasrah saja menerimanya." kata Yunying sambil memandangnya. Sekilas tampak beberapa orang di dekat sana, mereka segera lari. Yunying memang sempat melihat mereka. "Kali ini gawat. Mereka pasti akan mengatakan kalau kamu pembunuh biksu itu." kata Yunying. Jieji segera tersadar. "Benar.. Mereka melihatku yang mendekati Biksu tua sebelum putus nafas. Apalagi mereka tahu kalau aku pernah bermusuhan dengannya di Rumahmu. Sepertinya kali ini kita dalam masalah yang tidak kecil." Jieji dan Yunying segera meninggalkan tempat tersebut. Di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang petani. Dengan memberikannya beberapa tail uang, dia meminta petani segera menguburkan biksu tua tersebut. Dengan langkah kuda cepat mereka bermaksud meninggalkan lembah. Tetapi Jieji yang pikirannya tadi sangat kusut segera menyadari sebuah hal. "Gawat, Ini mungkin akan susah sekali.... " Kata Jieji. "Kenapa? Memang ada hal yang betul menyusahkanmu." Kata Yunying. Baru selesai Yunying berbicara. Segera nampak 5 orang bertopeng aneh dan berpakaian nan gelap di depannya menghadang. Mereka bahkan datang tanpa di sadari Yunying. Hawa pembunuhan 5 orang tersebut nan dahsyat. Angin disekitar sepertinya tidaklah ramah lagi. "Kami sudah menunggumu detektif terkenal." Kata suara seorang pria tua.

"Sudah kuduga... " Kata Jieji dengan tersenyum. "Siapa mereka?" kata Yunying menanyainya. "Seseorang yang tidak ingin kita temui walaupun terpaksa...." Kata Jieji, tetapi pandangannya tidak beralih pada 5 orang tersebut. "Jadi bagaimana? Kita bertarung saja?" tanya Yunying kepadanya. Jieji yang melihat pemandangan tersebut segera mencabut pedang di pinggangnya dan menyerahkan ke Yunying. "Kamu pergi ke Changsha juga secepatnya. Aku akan menyusul." Yunying tentu heran luar biasa. Sepertinya dia enggan untuk meninggalkan Jieji sendirian. "Tidak... Aku tetap akan disini." kata Yunying. "Ada sesuatu yang harus kutagih dengan mereka. Begitu pula mereka kepadaku. Bawalah kedua bilah pedang tersebut. Kamu harus dengarkan kataku dengan baik. Kali ini aku benar serius. Tujulah Changsha, cari adik ketigaku. Kamu tidak usah takut, saya akan pulang kesana dengan selamat." Kata Jieji seraya memandangnya dalam-dalam. Seraya melompat dari kudanya. Jieji segera menuju ke tempat mereka. Yunying sebenarnya tidak ingin meninggalkannya, namun karena dia tahu ini adalah hal yang serius. Dia tidak membantah lebih jauh lagi. Di pacukan kudanya dengan cepat seraya mengambil langkah melingkar untuk menjauhi mereka. Namun belum sampai setengah, tiba-tiba ada yang mengejar. Yunying sempat melihat ke samping. Sebelum pengejar tersebut bertindak lebih jauh. Dia dikejutkan sebuah hawa pedang dahsyat. "Lawanmu itu aku...." Teriak Jieji. Orang tersebut tidak sempat mengelak, dia menerima serangan itu dengan tapaknya. Perbedaan tenaga dan kesiapan terlihat jelas. Orang tersebut langsung terpelanting dan luka dalam. Tetapi dia masih sanggup berdiri dengan benar kemudiannya. "Tidak usah kau kejar nona kecil itu karena tidak ada urusannya dengan kita." kata suara dari seorang wanita tua. "Kalian tidak menungguku setelah sampai Changsha baru mencegatku dalam perjalanan ke Yunnan, karena kalian tahu. Kalian bukan tandinganku dan adik ketigaku kalau kita bergabung. Bukan begitu?" tanya Jieji.

"Betul seorang detektif hebat." Suara memuji dari orang lain yang juga suara wanita tua. Jieji memandang dengan serius ke arah 5 orang. Ternyata didapatinya setidaknya ada 2 wanita diantaranya. Dan suara wanita tersebut ternyata lumayan tua juga. "Lalu tunggu apalagi?" tanya suara seorang pria tua disana. Diantara mereka semua, cuma 1 orang yang tidak mengeluarkan suaranya. Dia hanya diam dan memandang ke Jieji dengan serius. "Kalau begitu, Ayo kita mulai...." kata Jieji seraya maju dengan kedua tapak yang telah siap. Hawa pertempuran disana segera terasa dahsyat luar biasa. Kali ini 5 orang misterius melawan Jieji seorang.

BAB XL : Pertarungan Dahsyat
Yunying memacu kudanya dengan luar biasa kencang untuk menuju Changsha. Kuda bintang biru adalah kuda yang mengagumkan. Mengetahui Majikannya sedang berada dalam kesusahan. Dia berlari kencang luar biasanya sambil membawa Yunying. Tanpa terasa telah 4 jam... Yunying akhirnya sampai juga di depan pintu timur Changsha, namun keadaan disana telah gelap. Dia terus memacu kudanya meski ada penjaga yang menghalanginya. Setelah sampai di dalam kota... Yunying segera menanyai pria yang berjualan mie di sana. Setelah mendapat kepastian tempat kediaman Keluarga Xia. Kembali dia memacu kudanya dengan cepat kesana. Baru melewati beberapa belokan, mata Yunying segera tertuju di rumah yang kelihatannya cukup besar dari luar. Di sana dilihatnya dengan jelas kalimat "Rumah kediaman Raja Xia". Dengan segera dia turun dari kuda dan menghampiri penjaga rumah tersebut. 2 penjaga segera menahannya pada awalnya. "Saya ingin bertemu dengan Nyonya rumah dan seorang pemuda bernama Wei JinDu yang tinggal disini. Saya ada urusan mendesak luar biasanya."

Penjaga yang mendengar hal tersebut segera dengan cepat mempersilahkannya masuk. Sesampainya di ruang tamu. Yunying melihat seorang nyonya tua dengan rambut yang telah putih. Tanpa disangka, Nyonya tua ini segera menyapanya dengan hangat. "Nak Xufen, akhirnya kamu kembali juga....... Betapa keluargamu merindukan dirimu... " Kata Nyonya tua ini dengan berlinang air mata. "Tapi... saya..." Belum selesai Yunying melanjutkan kata-katanya. Nyonya itu kembali mengatakan. "Dimana nak Jie? Kabarnya sehat tidak? Saya sudah mendengar kalau dia baik-baik saja belakangan ini dari kepala polisi Han Yin.... Tolong bawa saya ke tempat anakku...." kata orang tua tersebut dengan kegembiraan tiada tara. Justru barusan si nyonya berkata-kata, dari dalam muncul 2 orang. Sepasang... Pemuda tampan dan seorang wanita cantik. Begitu melihat Yunying yang wajahnya sedang masam. Mereka cukup terkejut juga. "Nona Yunying?? Dimana kakak keduaku?" tanya seorang pemuda yang tak lain tentu Wei JinDu. "Kakak ketiga. Kak Jieji menemui masalah di sebelah timur laut dari kota Changsha waktu menuju kemari. Dia bertemu dengan 5 orang misterius yang kelihatannya hebat sekali. Kita harus segera menyelamatkannya.. Ayok cepat kakak ketiga...." kata Yunying yang sebenarnya cemas luar biasa terhadap Jieji yang sedang bertarung melawan 5 orang misterius. "Ha? Anda bukan Xufen?" tanya wanita tua tersebut. "Bukan Bu... Saya adalah puteri dari keluarga Wu. Ayahku adalah Wu Quan dari Hefei. Namaku Wu Yunying." Meski mengenalkan dirinya, namun wajahnya sangat cemas. "Ibu... Saya sekarang akan menuju ke timur laut secepatnya. Sepertinya kakak kedua ku dalam masalah yang tidak kecil.... Sekarang saya harus mohon pamit secepatnya." Kata Wei dengan cukup tergesa-gesa. Nyonya tua tersebut segera meminta mereka menyusul puteranya. Karena dikiranya keadaan sedang tidak menguntungkan putera ke 5 nya. Wei, XieLing dan YunYing segera menyusul ke luar kota dengan cepat. Meski keadaan sudah lumayan malam. Mereka beranjak cepat menyusul Jieji. ***

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Jieji? Dia bertarung dengan luar biasa hebatnya pada saat Yunying menuju Changsha. 5 orang tersebut sepertinya tidaklah asing bagi Jieji..... Orang pertama yang bertarung dengan Jieji menggunakan jurus Tapak mayapada. Jieji melayaninya dengan jurus tendangan mayapada. Sedang 4 orang lainnya hanya melihat pertarungan saja. Dalam 10 jurus, Jieji telah berhasil membuatnya lumayan terdesak. Ketika satu tendangan hampir sampai ke mukanya. Jieji dihalangi oleh tendangan yang membuatnya lumayan terkejut. Jurus yang sama, penyerang tersebut menggunakan tendangan mayapada untuk menghalanginya. Sekarang, posisi Jieji telah dikeroyok mereka berdua. Dengan langkah Dao sesekali Jieji menghindar. Sesekali dia menggunakan jurus Ilmu jari dewi pemusnah. Pertarungan dahsyat membuat angin disana terasa mengoyak. Setelah bertarung lumayan lama. Sepertinya seorang pria tua tidak sabar, dia juga ikut mengeroyoknya. Kali ini dia menggunakan pedang. Jurus pedang pria tua tersebut sangat tidak asing bagi Jieji. Jurus inilah juga sama dengan jurus yang dia kuasai. Jurus pedang ayunan dewa. Tetapi jurus ini 5 kali lebih hebat daripada yang mampu dikeluarkan oleh Bao Sanye ketika pertarungan di dekat kota Hefei. Suara pedang mengoyak angin, tapak tertahan, tendangan tertahan sangat fasih disana. Jieji yang bertarung sangat serius dilayani oleh 3 orang bertopeng aneh. Mereka sangat seimbang. Pertarungan tanpa terasa telah memasuki 300 jurus lebih. Langit ketika itu telah malam, hanya berbekal sinar rembulan nan terang mereka melanjutkan pertarungan. Saat tusukan dari Ilmu pedang ayunan dewa tingkat ke 7 melewati samping pinggang kirinya. Tapak mayapada telah siap datang dari samping kanannya. Dengan tapak, Jieji menahan pelan. Penyerang sempat terpental. Namun dia dapat mendarat dengan baik. Namun belum sampai Jieji benar siap, jurus tendangan mayapada datang dari atas. Kali ini dengan kedua tangan bertahan, Jieji menahannya. Benturan terasa sangat dahsyat. Sepertinya sekarang posisi Jieji telah sangat jelek.

Dia dalam posisi terbaring di udara karena menahan tendangan dari atas. Pedang segera dengan cepat membacok ke arah perutnya. Namun sebelum sampai, Jieji menggunakan jurus tendangan mayapada untuk menendang tangan dari si topeng aneh. Pedang sempat terlempar lumayan jauh. Seiring dengan itu, Dengan memutarkan kakinya menendang 1/2 lingkaran, Jieji kembali berdiri dengan baik. "Hebat.... Ha Ha...Kalaupun itu aku, aku tidak dapat melakukannya." terdengar suara seorang pria tua yang menggunakan jurus tendangan mayapada memujinya. "Kenapa 2 orang wanita tua itu hanya melihat saja?" tanya Jieji dengan senyuman. "Ha Ha... Betul... Kalau begitu, kita tidak usah melihat lagi." Kata mereka berdua seraya melakukan rapalan Jurus. Jurus yang dirapal wanita tua ini tidak begitu asing juga. Yang 1 menggunakan golok. Yang 1 lagi menggunakan tinju. Segera, mereka berlima langsung mengeroyok bersamaan. Jurus mereka berlima bervariasi. Kelihatannya Jieji bisa dalam masalah yang besar. Pertarungan segera terjadi dengan sangat dahsyat. 5 orang kelihatan akan lumayan susah untuk Jieji yang hanya sendiri. Jurus semua penyerangnya sangatlah mematikan. Semua jurus mereka mengincar daerah vital dan berbahaya. Setelah melayani mereka puluhan jurus. Jieji mencoba mundur lebih jauh, dan berpikir akan menggunakan serangan jarak jauh karena pertarungan jarak dekat sangatlah tidak menguntungkan baginya. Ternyata kali ini dia berhasil. Ketika semua jurus dihindarinya dengan serius, dengan seraya menyeret kaki, dia mundur. Pengejarnya yang pertama adalah seorang wanita yang menggunakan golok. Ketika dia tinggal 10 langkah hampir sampai. Jieji mengancangkan jarinya. Wanita tersebut terkejut luar biasa. Namun sebelum terkejutnya berhenti. Hawa pedang maha dahsyat telah sampai. Wanita ini hanya mampu menahan dengan goloknya. Tetapi tak ayal, dia segera terseret cepat dan terpelanting ke belakang. Dengan perlahan, dia sanggup berdiri juga. Tetapi dari arah mulut topeng sepertinya mengalir darah segar.

"Hebat... Taktik bertarungmu tidak kalah dengan taktik memimpin pasukanmu." kata wanita tersebut dengan senang. Wanita tua tersebut jelas dipancing Jieji supaya mendekatinya. Karena dia dalam posisi berlari kencang ke arahnya. Jurus jari dewi pemusnah tentu lebih dahsyat dan cepat dari biasanya. "Kita tidak bisa bertarung dengan cara begitu... Ayok, kumpulkan energi kita sama-sama. Layani dia dalam 1 tapak." kata pria tua yang menguasai tendangan mayapada. "Betul.. Kalau kita bertarung jarak jauh tentu akan sangat rugi." kata Wanita yang menggunakan tinju. Dengan cepat, mereka membentuk posisi yang lumayan aneh. 2 wanita di belakang mengalirkan energi melalui tapak ke 2 pria di depannya. Sedang 2 pria di depannya menggunakan tapak untuk mengalirkan energinya ke 1 pria yang paling depan. "Sebenarnya kita terdiri dari 7 orang. Jika 7 orang, mungkin kamu pasti akan kesusahan luar biasa..." kata pria di depan yang tak lain adalah orang yang menggunakan jurus tendangan mayapada. Jieji juga telah siap, kelihatannya dia memutar sebelah tangannya 1 lingkaran penuh. Hawa energi Jieji sangat mantap. Desiran angin disekitarnya membuat orang merinding. "Iya.. Karena 2 orang itu telah masuk ke tanah. Jadi mereka tidak ikut bergabung dengan kalian." Kata Jieji dengan tersenyum. "Ha Ha... Betul.... Lu dan Bao adalah 2 orang tersebut. Sekitar 2 tahun lalu, kita bertujuh seimbang dengan jurus tapak terakhir dari pemusnah raganya Pei Nanyang. Hari ini kita akan membuktikan siapa yang lebih unggul." kata pria bertopeng yang didepan. "Kalau begitu, aku tidak akan memaksimalkan jurusku. Aku akan memotong 2 jurus." kata Jieji. "Sombong... Tetapi sungguh seorang pemberani dan satria..." Kata pria itu sambil memujinya. Jieji yang tadinya akan merapal jurus tapak berantai tingkat ke 5 yang belum pernah dikeluarkannya. Sekarang berniat hanya menggunakan tapak berantai tingkat ke 3 nya. Dia ubah pergerakan tangannya, sambil menutup mata dia menarik nafas dalam-dalam... Sanggupkah Jieji bertahan?

Jurus tapak berantai tingkat 3 memang unggul jauh dari tapak buddha Rulai tingkat 7 yang dikeluarkan oleh guru Jindu, biksu tua dari India. Tetapi kali ini, mereka berlima adalah pesilat kelas tinggi. Jika Biksu tua India ini bertarung 1 lawan 3 orang. Mungkin mereka masih seimbang. Tetapi kali ini Jieji melawan 5 sekaligus. Hawa disana tentu telah pekat dengan hawa kematian. Tanah disana terasa bergetar. Sekilas terdengar suara rumput yang tercabut. Angin berdesir tiada henti... Mereka sempat berhenti untuk memantapkan energi selama 1/2 jam lebih. "Kamu sudah siap detektif?" kata pria tua di depannya. Jieji yang melihatnya segera mengangguk. Kelima orang tersebut duluan maju. Dengan tapak masih lengket di punggung sesama, mereka melesat dengan luar biasa cepat. Dengan sebelah tapak Jieji melesat dengan kecepatan tinggi. Sebelum kedua tapak beradu, Desiran angin yang tadinya terkumpul. Langsung membuyar. Tanah di sana telah retak.. Saat tapak beradu... Dentuman sangat dahsyat. Jika saja ada pesilat biasa di jarak 100 kaki. Mereka pasti akan mati terbantai hawa pertarungan. Lembah itu seperti kiamat ketika tapak kedua pesilat ini beradu. Keadaan masih sangat seimbang. 5 orang mengalirkan energi mereka dengan sangat serius. Sementara Jieji tetap tenang menghadapi 5 aliran energi yang sangat menyesakkan dadanya. Sesaat kemudian... Dengan menarik nafas cukup panjang. Tangan Jieji yang lain seraya membentuk lingkaran penuh. Penyerang ini segera terkejut. Hawa serangan mereka seakan berbalik menuju mereka masing-masing. Hawa tenaga mereka seakan kacau luar biasa. 2 orang wanita tua di belakang langsung muntah darah mendapati hal tersebut. Setelah dirasa pas. Jieji mengalirkan energi nan dahsyat dari tubuhnya. Dengan sebuah hentakan, dentuman besar segera terjadi. Jieji tetap berdiri tegak di tempatnya. Sedang 5 orang terpental sangat jauh. Dan tidak ada diantara mereka yang mampu berdiri dengan baik. "Ha Ha... Tapak mu itu sudah tidak ada 2 nya di jagad. Dengan tingkat 3 saja kita tidak mampu mengalahkanmu. Kamu bahkan lebih menarik

daripada Pei Nanyang." kata orang yang berada paling depan tersebut seraya tertawa besar. Ketika Jieji berniat menghampiri mereka. Seseorang terlihat melemparkan sesuatu di depannya. Segera terlihat asap putih membumbung dengan luar biasa padatnya... Dengan hawa tenaga dalam, Jieji segera mengusir asap tersebut. Ketika asap hilang, kelimanya juga turut menghilang. Jieji merasa aneh, tetapi dia tidak heran luar biasa akan fenomena tersebut karena ada ilmu dari Dongyang yang menggunakan jurus melarikan diri seperti ini. Setelah pertempuran, hawa disana terasa baik kembali. Tanpa terasa, pertempuran tersebut memakan waktu lebih dari 6 jam. Jieji terus berdiri sambil berpikir dalam-dalam. Tetapi dari mulutnya mengalir darah segar.

BAB XLI : Pelarian
Yunying dan Wei serta Xieling mengejar dengan cepat, mereka hampir sampai di tujuannya. Setelah melewati beberapa tanjakan mereka dikejutkan suara seorang lelaki berkuda yang menghadang. "Ada apa tuan nan tampan dan nona-nona cantik luar biasa terburu-buru?" tanya pria tersebut. "Kakak kedua???" "Guru...." Yunying yang berada di posisi paling depan, segera girang luar biasa. Dia turun dari kudanya dan memeluk Jieji karena saking senangnya. Sebab tadinya nona ini sangat takut luar biasa akan keselamatannya. "Kamu tidak apa-apa kan?" katanya seraya melihat wajah si pemuda. Dilihatnya dengan teliti wajahnya dan dia mendapatkan bahwa dari samping bibirnya masih ada sisa darah segar. "Tentu tidak. Sudah kukatakan, aku akan menyusul. Untuk apa payah-payah kalian datang kesini." kata Jieji sambil tersenyum. "Nyonya ini saking cemas sama suaminya yang tidak kunjung pulang, tentu dia takut luar biasa. Atau jangan-jangan suaminya malah main gilak sama wanita lain?" kata Wei yang meledeknya. "Takut kalau suaminya lupa kasi uang jajan dan belanjanya?" tanya Jieji seraya bercanda.

Yunying merasa malu. Wajahnya yang merah merona jelas terpantul karena sinar rembulan yang terang. Dia segera melepaskan Jieji yang tadinya dipeluk itu sambil memberikan pedang Es rembulan kembali kepadanya. Percakapan pendek tersebut ditutupi dengan tawa mereka berempat. Dalam perjalanan kembali ke kota Changsha. Jieji menceritakan bagaimana pertarungannya dengan 5 orang misterius. Setelah pertarungan, Jieji sempat beristirahat menghimpun kembali tenaganya selama 1 jam. Setelah itu dia berkuda menuju ke Changsha, tetapi dalam perjalanan pendeknya malah mereka telah menemukannya. "Kalau begitu, kungfu kelima orang tua itu sangatlah tinggi... Aneh, kenapa sama sekali tidak pernah terdengar isu dunia persilatan akan ke 5 orang tersebut." kata Wei. Jieji cuma berpikir dalam-dalam. Sepertinya dia tahu beberapa orang disana adalah orang yang dikenalnya. Namun dia belum yakin sepenuhnya. "Tetapi kamu luar biasa hebatnya... Dengan jurus ketiga tapak berantaimu kamu mampu memukul mundur mereka berlima sekaligus... Hebat..." Kata Yunying yang memujinya sambil tersenyum puas. "Bukankah sudah kubilang, jadi suami kakak keduaku tidak akan rugi selamanya... Bagaimana? Biar saya meminta ibu untuk menjadi mak comblang. Segera kamu nikah saja sesampai di Changsha." Kata JinDu seraya berpaling pada si nona. "Hush... Males aku meladeni kalian..." kata Yunying yang tertunduk malu. Kali ini mereka terus tertawa. Sepertinya dalam pulangnya mereka ke Changsha, mereka sangat bahagia. Juga adalah karena mengingat tadinya mereka sangat cemas. Sekarang mereka telah lega luar biasa karena mendapatkan Jieji tidak apa-apa dan selamat. Jadi percandaan seperti itu akan membawa kebahagiaan yang luar biasa. Di kota Changsha.. Di depan kediaman keluarga raja Xia. Jieji segera berlutut. Dan menantikan sang ibunya keluar. Wei dan Xieling segera memanggil sang nyonya. Setelah nyonya sampai di depan pintu. Dia mengalirkan air mata dengan sangat deras. Perlahan-lahan dia pandangi puteranya yang ke 5 tersebut. Dia berkata. "Nak... Kamu telah pulang akhirnya... Betapa aku ini sangat merindukanmu belasan tahun...Kamu telah tampak sangat berbeda..."

Tentu saja, Jieji yang belasan tahun lalu adalah pemuda yang wajahnya berseri-seri. Sekarang didapatinya sang anak telah berubah banyak. Dia kelihatan sangat dewasa. "Ananda tidak berbakti. Untuk segala hal yang terjadi, ananda meminta maaf kepada ibu...." Kata Jieji yang juga berlinang air mata sambil menyembah orang tersebut. Tetapi sang ibu segera membimbingnya untuk berdiri kembali. Dilihatnya sang Ibu, sangat tua... Rambutnya telah memutih semuanya. Tidak sama dengan keadaan belasan tahun lalu ketika dia meninggalkan rumah. Sinar mata sang Ibu juga telah merem. Sesaat sang ibu langsung memeluknya, tangisannya tidak berhenti. Jieji merasa sangat durhaka. Dia tidak sempat melihat ibunya dalam beberapa tahun ini. Demi mencari tahu Ilmu pemusnah raga, Jieji telah memasuki hampir semua kota di China. Bahkan dia telah sampai ke Pyungyang(Koguryo), Liao, dan Han utara. Tetapi dia tidak pernah singgah ke Changsha. Sesaat, dia sangat menyesali dirinya sendiri. "Bu... Ada yang ingin kukatakan padamu... Xufen telah meninggal.. Dia meninggal karena ananda.. Anandalah yang telah membunuhnya..." kata Jieji.. Kali ini dia menangis sejadi-jadinya. Sang Ibu terkejut juga, kenapa mereka yang sangat baik tersebut bisa saling membunuh? Dan kenapa sang anak malah mengakuinya di depannya. "Kamu sangat mencintai Xufen. Begitu pula Xufen kepadamu. Mana mungkin kamu tega untuk membunuhnya?" tanya sang Ibu yang rada penasaran. Lalu diingatnya kejadian sekitar 11 tahun yang lalu.... Setelah tragedi pembunuhan di wisma Ma di Changan. Jieji dan Xufen sepertinya makin akrab. Dimana ada Jieji, maka Xufen juga berada disana. Kedua keluarga sangat merestui hubungan mereka. Meski Xufen lebih tua dari Jieji 5 tahun, namun mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Selama 4 bulan, Jieji dan Xufen sangat menikmati hari-hari mereka. Mereka sering pergi pesiaran di Jiang Nan. Menikmati pemandangan nan indah. Kadang mereka pergi melihat keramaian. Kadang juga ngobrol sampai lupa jam makan dan tidur.

Keduanya sepertinya tidak dapat lagi dipisahkan siapapun. Jieji dan keluarganya telah bermaksud mengambil Xufen menjadi keluarga sendiri. Namun, Xia Rujian belumlah pulang. Mereka harus menunggu keputusan kepala keluarga ini. Karena keluarga Xia adalah keluarga Raja. Dan Xufen diangkat Zhao KuangYin sebagai seorang puteri, maka pernikahan tidak bisa sembarang dilakukan layaknya rakyat biasa. Walaupun begitu Jieji sama sekali tidak pernah menganggapnya menjadi masalah, begitu juga Xufen. Hari-hari bahagia dilewati mereka dengan gembira. Sampai pada suatu hari... "Nyonya, Nyonyaa.... Ada berita gawat..." kata Seorang pengawal keluarga mereka. "Ada apa? Kenapa terburu-buru?" tanya Nyonya Xia. "Pesilat-pesilat telah datang berkumpul di wisma kita. Mereka menuntut supaya Raja keluar karena mereka ada sesuatu yang akan disampaikan." "Kalau begitu, kita pergi melihatnya dahulu." kata Nyonya Xia. Nyonya Xia segera beranjak ke ruang tamu bersama putera-puterinya dengan rasa cemas. Ruang tamu keluarga Xia lumayan luas, tetapi pesilat telah memadatinya. Setelah sampai, dilihatnya ada beberapa orang yang berpakaian persilatan. Disana banyak ketua partai. Yang dikenal oleh nyonya ini hanyalah Yue Fuyan dan Biksu Wu Shou, Adik seperguruan dari kepala biara shaolin. "Ada apa tuan-tuan sekalian datang kemari?" tanya Nyonya Xia. "Dimana Raja Xia? Kabarnya dia telah mendapatkan Kitab ilmu pemusnah raga dan lari dari rumah. Dia pasti berniat melatihnya sendiri."kata Yue Fuyan dengan sinis. "Mengenai itu, saya sendiri tidaklah tahu menahu." kata Nyonya ini dengan sopan. "Alah.... Jangan kau itu banyak omong lagi. Puteramu yang kelima itu telah mendapatkan petunjuk tentang dimana pemusnah raga. Pasti setelah memberitahukan kepada ayahnya, lantas dia pergi diam-diam dan berlatih." kata seseorang yang ternyata adalah ketua partai Kunlun. "Jangan kau menfitnah disini. Kita adalah keluarga raja, jangan sesekali kau bermain gilak. Orang persilatan yang bau seperti kau tidak pantas duduk

lama-lama disini.Silahkan kau pergi." kata seseorang yang ternyata adalah Xia Wenlun, atau putera pertama keluarga Xia. Yue Fuyan segera campur bicara. "Mengenai masalah persilatan, tidak usah kau ikut campur terlalu banyak. Aku juga adalah paman kaisar. Hari ini kedatangan kita adalah untuk meminta keadilan." Jieji yang melihat keadaan makin runyam hanya diam saja. Karena dia tidak berniat untuk ikut campur urusan seperti itu. Tetapi kali ini dia tidak mujur. "Kau... Kau putera kelima keluarga Xia, Xia Jieji kan?" tanya Yue Fuyan seraya menunjuknya. "Betul.. Akulah Xia Jieji." kata Jieji. "Sekarang kau katakan, apa arti dari lukisan tersebut yang kau temukan di wisma Ma di Changan." kata Yue Fuyan. "Aku tidak pernah melihat lukisan itu, saat kalian meniliknya. Aku sedang terluka parah." kata Jieji dengan jujur. "Kalau begitu, nona keluarga Yuan pasti telah tahu artinya. Akan kita seret kau kesana. Lihat apa kau akan berbicara atau tidak." kata Yue Fuyan kembali. Jieji sangat marah mendengar apa yang diucapkannya. Namun dia tidak berdaya. Yue Fuyan yang tidak sabar segera menggunakan ilmu ringan tubuh dan berlari cepat untuk menotok nadinya. Segera Jieji jatuh lemas. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu dia telah dilemparkan Yue ke para pesilat. Xia Wen Lun yang melihatnya segera mengambil ancang-ancang untuk menyerang Yue. Pertarungan segera terjadi. Tetapi hanya 20 jurus, dia juga telah dikalahkan oleh Yue. Para pesilat segera menggotong Jieji untuk dibawa ke rumah Keluarga Yuan untuk mencari Xufen. Sedangkan Nyonya dan semua putera-puterinya ikut pergi kesana. Tetapi dalam perjalanan yang sekitar hampir 1 Li tersebut, mereka dicegat oleh seorang nona nan cantik.

Tentu nona ini adalah Xufen adanya. Yue telah siap sedari tadi. Diperintahnya orang-orang di sampingnya untuk menjaga Jieji baik-baik dan menyanderanya untuk memaksa si nona berbicara. "Kamu.. Meski kamu adalah puteri terkenal, tetapi saya adalah Ketua persilatan dan saya juga adalah paman kaisar. Sekarang saya menanyaimu, apa arti dari lukisan itu?" tanya Yue. "Kamu.. Meski kamu adalah Ketua persilatan dan juga adalah paman kaisar. Sekarang saya menanyaimu, kenapa kamu begitu tolol? Bahkan lukisan biasa saja kamu menganggapnya adalah barang berharga?" tanya Xufen kembali. Yue segera marah akan tingkah si nona. Dia mau menghajarnya untuk memberinya pelajaran, tetapi dia merasa malu karena dia yang termasuk generasi tua malah mulai mengajak tarung generasi yang lebih muda darinya, apalagi nona nan lembut yang tidak diketahui pasti akan kehebatan ilmu silatnya. "Lepaskan Dia...." Kata Xufen yang terlihat agak marah. "Tidak akan nona..... Kecuali temani kita bersenang-senang sebentar. Bagaimana??" kata pesilat yang lain yang di belakangnya seraya mengejek. Jieji sangat marah mendengar perlakuan mereka, namun apa daya.. Dia bahkan tidak sanggup berdiri dengan benar. Xufen yang maju dengan pelan ke depan bahkan dianggap remeh oleh para pesilat. Setelah dia berada bersampingan dengan Yue Fuyan, dia terkejut mendengar suara seorang memanggilnya. "Nak... Kenapa dengan dirimu? Nak Jieji, ada apa?" tanya seorang tua yang tak lain adalah guru Yuan. "Ayah.... Maafkan anakmu ini membuatmu cemas. Saya tidak apa-apa...." kata Xufen sambil menatap ayahnya dalam-dalam.. Entah apa yang ada di pikiran puterinya tersebut. Yuan juga tidak bisa mengiranya. Jieji yang melihat kekasihnya bertingkah aneh, dia bahkan sangat bingung. Jarak antara Xufen dengan Yue Fuyan sangat dekat. Dengan mengancangkan jarinya, dari ujung telunjuk dan tengahnya segera keluar sinar terang sekejap.

Yue sangat terkejut, dia tidak menyangka nona ini akan menyerangnya. Dia juga terlalu menganggap remeh si nona. Jurus jari dewi pemusnah yang sanggup dikeluarkan Xufen sangat dahsyat. Dia adalah murid Dewa Sakti dan Dewi peramal yang telah menguasai jurus tersebut selama belasan tahun. Hawa pedang nan dahsyat segera membuat Yue Fuyan terpelanting. Dia tidak sanggup lagi bangkit dengan mudah. Meski Yue menguasai jurus tapak penghancur jagad sampai tingkat sembilan. Bahkan dia tidak mampu menahan jurus tersebut dari jarak yang sangat dekat. Dengan muntah darah yang banyak, dia berniat bangkit. Tetapi sekali lagi jari Xufen segera menotok nadinya dan mengarahkan jari ke kepala Ketua dunia persilatan tersebut. "Menurut kalian, siapa lebih penting? Pemuda itu? atau Ketua kalian? Kalau kalian rasa pemuda itu lebih penting, bawalah dia. Kalau tidak maka lepaskan. Maka aku ampuni nyawa orang tidak berguna ini." Kata-kata Xufen sangat menyakitkan Yue. Dia tidak disangka akan diserang orang. Dia berpikir kalau Xufen hanyalah seorang wanita lemah dan tidak berdaya. Tetapi pendugaannya sangat melenceng. Jika saat itu Xufen dan Yue bertarung 1 lawan 1 secara jantan. Belum tentu si tua Yue mampu mengalahkannya. Karena bahkan Xia Rujian mengakui ketangguhan nona tersebut. Para pesilat sepertinya enggan menyerahkan Jieji. Ketika mereka telah lumayan panik. Sinar dari jari tersebut kembali mengambil korban. Dua orang yang memegang Jieji serasa kedua tangannya telah lumpuh. Dengan gerakan nan cepat, Xufen segera maju melesat sambil membawa Jieji dengan ringan tubuhnya. Yuan dan semua keluarga Xia sangat terkejut. Mereka tidaklah tahu kalau Xufen telah mencapai tingkatan Kungfu yang sedemikian tinggi. "Buku ilmu pemusnah raga diambil oleh kami. Kalau berani, kejarlah kami. Jangan kau cari masalah dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan kami berdua." kata Xufen seraya terdengar suaranya sambil menghilang dari pandangan. Begitulah kepergian kedua orang tersebut. Dan tragisnya sekarang yang kembali cuma Jieji seorang.

BAB XLII : Saat Beristirahat

"Nak, jelaskanlah perihalnya. Kenapa Xufen terbunuh? Bagaimana dia bisa terbunuh olehmu?" tanya sang Ibu dengan sangat prihatin. Yunying yang tahu sebabnya semua segera menceritakan perihal ini kepada Nyonya tua. Setelah mendengarnya sampai selesai, Si nyonya sangat sedih. Dia terus menangis dan menghela nafas nan panjang. Kenapa puteranya bisa mengalami nasib yang demikian tragis. Walaupun tanpa sengaja Jieji lah penyebab kematian Xufen. Tetapi dari segi bersalah, tentu Jieji adalah orang yang terutama. Apalagi setelah tahu kalau Jieji adalah orang yang telah kebal dengan racun pemusnah raga, tentu sang nyonya hatinya sangat hancur. Dia sangat menyesali keputusan Tuhan membawa pergi Xufen dengan cara begitu. Dia juga sangat salut akan cintanya kepada puteranya kelima ini. "Saya ingin mencari guru Yuan untuk mengakui kesalahanku kepadanya.." Kata Jieji sambil hatinya masgul luar biasa. "Nak, kamu tahu? Guru Yuan telah meninggal sekitar 10 bulan yang lalu..." kata Nyonya tua itu kembali. "Apa? Jadi mertuaku telah meninggal? Ya Tuhan... Kenapa bisa menjadi begini?" kata Jieji seraya sangat menyesal. "Kamu telah menikah dengan Xufen?" tanya Nyonya tua ini seraya terkejut. "Betul bu.... Maafkan ananda tidak memberitahumu." kata Jieji dengan kepala tertunduk. Segera diceritakannya masalah pelariannya kepada mereka. Belasan tahun lalu..... Setelah meninggalkan Changsha.. Jieji dan Xufen segera menuju ke arah utara. Mereka menuju ke kota Xiapi. "Kamu tidak menanyaiku kenapa kita harus ke Xiapi?" tanya Xufen. "Tidak perlu. Kamu tahu apa yang terbaik buat kita berdua kan?" kata Jieji seraya tersenyum. "Kita akan menuju ke Dongyang. Kita menuju ke daerah gunung Fuji." kata Xufen kembali. "Kenapa harus kesana? Apa karena disana akan aman?" tanya Jieji kembali. "Tidak. 5 bulan lalu guruku pernah berpesan kepadaku. Jika tidak ada tempat yang bisa kita pergi. Maka kita harus ke Dongyang." kata Xufen.

"Jadi begitu? Baiklah...." kata Jieji yang tidak menanyainya lebih lanjut. Saat itu, Kaisar Enyu dari Dongyang belum berkuasa. Kedua negara sangat tidak akur. Xufen berpikir, jika hanya mereka berdua yang sampai Dongyang. Mungkin tidak begitu masalah. Jika para pesilat yang jumlahnya banyak pasti para penjaga disana akan sangat protektif. Sehingga mereka akan aman. Inilah pemikiran Xufen. Saat hampir mencapai kota Shouchun. Mereka kembali dihadang banyak pesilat. Ketua dari Beiming, ErMei, DongHai dan banyak partai yang kecil meminta mereka menyerahkan ilmu pemusnah raga. Pertarungan segera terjadi. Meski dalam pertarungan ini Xufen menang mutlak. Tetapi karena Jieji yang mereka incar, maka tak ayal konsentrasi si nona semakin buruk. Beberapa kali dia dan Jieji terkena beberapa pukulan dari pesilat. Keduanya saat itu telah terluka. Namun mereka sanggup juga melarikan diri karena para pesilat lebih parah keadaannya. Lalu di tengah jalan hampir mencapai Xiapi, mereka bertemu dengan Bao Sanye dan beberapa anak buahnya. Kali ini Xufen bekerja extra keras. Beberapa ratus jurus pertarungan mengakibatkan dirinya terluka parah. Meski Bao berhasil di usir bersama dedengkotnya, mereka berdua sepertinya telah keletihan. Segera mereka memacu kuda mereka untuk sampai secepatnya. Di penginapan Xiapi, mereka beristirahat seraya memulihkan diri. "Apa kita akan sampai di Dongyang?" tanya Xufen. "Tentu...." kata Jieji. Tetapi si nona sangat ragu. Dia tidak tahu mengapa kali ini hatinya sangat berdebar-debar. Setelah itu, dia hanya diam saja. Jieji dengan pandangan dalam-dalam memandangnya. "Hidupku sangatlah tidak berguna. Aku bahkan tidak bisa melindungi wanita yang sangat kucintai...." kata Jieji mengungkapkan isi hatinya sambil menghela nafas. Jieji sebenarnya bukanlah tipe orang yang sangat jago dalam percintaan. Belum pernah sekalipun dia mengungkapkan rasa hati yang begitu terang terhadap Xufen. Meski Xufen tahu kalau Jieji sebenarnya sangat mencintainya. Namun, baru kali inilah Jieji mampu mengucapkannya. "Tidak... Janganlah kau berpikiran seperti itu. Setelah sampai di Dongyang, kamu harus pelajari ilmu silat yah. Dengan begitu, gilirannya kamu yang melindungiku nantinya." kata Xufen dengan sangat pengertian kepadanya.

"Saya akan berjanji padamu. Tetapi, maukah .... Maukah sekarang kamu menjadi istriku?" tanya Jieji yang cukup canggung, kata-kata seperti ini sangatlah sukar diucapkannya. Dia juga sangat berniat menikahi nona tersebut. Siang malam dia selalu memikirkannya. Tetapi kali ini diungkapkannya jua. "Kenapa tidak sampai di Dongyang saja?" Kata Xufen yang seraya malu namun hatinya sangat senang. "Tidak... Kita akan mulai hidup baru disana. Jadi sebelum sampai kita bisa menikah dahulu. Ketika kita telah sampai disana, maka kita telah menjadi suami istri." kata Jieji kemudian. Xufen tidak menjawab kata-kata Jieji lebih lanjut. Dia hanya tersenyum manis sekali dengan wajah yang merona dan terakhir dia mengangguk pelan. Mereka berdua segera beranjak dari penginapan menuju ke kuil Dewi Guan Yin. Disana mereka mengikat janji sumpah setia. Jieji bersumpah akan sehidup semati dengannya. Begitu pula Xufen. Meski hidup masih dalam pelarian, mereka sangat senang. Seakan tidak ada sesuatu hal yang memberatkan hati mereka saat itu. Yunying dan Wei serta Xieling dan Nyonya tua yang mendengarnya tentu sambil menggeleng kepala mereka sambil menghela nafas panjang. Yunying dari tadi cuma meneteskan air matanya melihat kesedihan Jieji. Dia tidak sanggup berbuat apapun. Tengah malam... Di depan kamar Jieji. Dia duduk sendirian di bawah tangga. Sambil meneguk arak yang cukup banyak dia memandang bulan yang nan indah. Namun pandangannya kosong. Dari sinar matanya kembali nampak kepahitan yang dalam. "Kenapa? Kamu sedih lagi yah?" tanya seorang nona muda yang menghampirinya sambil duduk berduaan. "Iya...." kata Jieji pendek sambil meneguk arak. Yunying segera bersandar di bahunya. Sambil nyanyi dengan suara kecil, dia berniat menghibur pemuda tersebut. Jieji segera memandangnya, dia memandang nona tersebut yang bersandar di bahunya dalam-dalam. Diingatnya Xufen kembali...

Mereka mengambil posisi tersebut cukup lama sampai Yunying menanyainya. "Kamu belum mau tidur?" "Belum... Kamu tidurlah duluan." kata Jieji. Yunying cuma menggelengkan kepalanya. Dia terbaring di bahu si pemuda sambil menutup matanya. Mereka berdua tertidur dengan posisi seperti itu. Wei yang bangun pagi terkejut juga. Tidak disangkanya kakaknya dan Yunying bisa tertidur dalam posisi seperti itu. Dalam hati Wei dia juga merasa geli, dan terasa senang. Dia merasa jika Xufen bisa digantikan Yunying dalam hati kakak keduanya, maka sungguh baik sekali. Rupanya Nyonya tua juga memandang mereka berdua. Dalam hatinya, dia juga berharap Jieji segera melupakan Xufen untuk kehidupan barunya, karena dilihatnya nona kecil ini sepertinya mencintai putera ke 5nya. Setelah agak siang, Jieji bangun juga. Tetapi dia cukup terkejut. Dia tidak menyangka nona nan manis ini masih tertidur di pundaknya untuk semalaman. Segera dipanggilnya pelan nona ini. "Hei Pemalas... Bangun donk.." kata Jieji. Yunying segera membuka matanya, namun sepertinya dia masih ngantuk. "Berisik ahh...Aku masih mau tidur...." katanya seraya tidak menghiraukan Jieji. "Nak Jie... Kamu tidak tidur di dalam semalam?" tanya Nyonya tua sambil tersenyum geli. Yunying yang mendengar suara itu segera bangun dengan terkejut. Dia mengucek-ucek matanya. "Bibi...." katanya panjang. Kelakuannya sebenarnya dilihat beberapa orang. Semuanya merasa nona ini menarik sekali. Namun Yunying juga terasa malu. Mereka seraya tertawa.... Setelah mandi dan beres-beres pakaian. Yunying segera keluar dari kamarnya. Namun baru berjalan beberapa tindak dia bertemu dengan Nyonya Xia.

"Nona Yunying, bisa kita berbicara sebentar?" tanya Nyonya Xia. "Tentu.. Tentu... " Katanya dengan cukup canggung. Setelah mempersilahkan Nyonya tua ini masuk. "Bibi... Ada masalah apa? Mengenai semalam itu, saya... saya... Maafkan saya bi..." kata nona ini dengan canggung. Tetapi nyonya tua malah tersenyum melihatnya. Dipandanginya nona ini cukup lama. "Kamu sungguh sangat mirip dengan Xufen. Maukah kamu menceritakan bagaimana awal pertemuanmu dengan nak Jie?" tanya Nyonya Xia. Yunying yang mendengarnya segera mengisahkan cerita mereka berdua. Tetapi ada beberapa kali dia terasa malu menceritakannya. Namun dia tetap menceritakannya kepada Nyonya tua ini. Si Nyonya tertawa terbahak-bahak dan geli. Kali ini wajahnya tidak seperti semalam lagi. Sinar matanya telah hidup kembali. "Bagaimana jika kamu yang menggantikan Xufen dalam hidup nak Jie?" tanya nyonya tua ini dengan tersenyum. "Tetapi... Aku... Aku kan..." Yunying tidak sanggup menyelesaikan katakatanya tetapi wajahnya telah merah sekali. "Sepertinya kamu cukup mencintai puteraku. Berjanjilah, buatlah dia senang. Hidupnya telah susah beberapa tahun. Saya rasa kamu pasti mampu melakukannya. Buatlah dia melupakan Xufen." kata dia kembali. "Saya akan berjanji pada bibi untuk masalah yang pertama..." kata Yunying dengan kepala tertunduk. "Lalu, kenapa dengan Xufen?" tanya Nyonya tua kembali. "Tidak bisa bi.... Kita tidak boleh begitu. Jika kita membuatnya melupakan Xufen, maka Xufen akan benar-benar mati kan?" tanya Yunying dengan mata berkaca-kaca. Nyonya tua segera mengerti apa maksudnya. Dia tersenyum sangat puas melihat pandangan nona kecil ini. "Jadi apa benar nak Yunying tidak akan merasa cemburu sedikitpun?" tanya Nyonya tua ini dengan sangat pengertian.

"Tidak... Justru sebaliknya... Saya sangat mengagumi kak Xufen. Saya merasa selalu ingin menjadi dirinya..." kata Yunying dengan hati yang mantap. Namun pembicaraan selanjutnya terasa sangat hangat bagi mereka berdua. Sampai terasa pintu diketuk... Yunying segera membukakan pintunya. Dilihatnya Jieji berdiri di depan. "Kenapa? Kamu lagi cari perhatian sama ibuku? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Jieji seraya meledeknya. "Tidak.... Mana ada tuh. Jangan berprasangka terlalu banyak." kata Yunying seraya tidak menghiraukannya. "Betul... Ini adalah urusan wanita. Laki-laki silakan keluar, tidak ada tempat bagimu." kata Nyonya Xia kemudian sambil tertawa kecil. "Dasar... Awas kalian.... Kalian berdua telah mengeroyokku sebagai orang luar yah..Masalahnya sebentar lagi nasi akan dingin. Ayok, kita berkumpul. Kasihan adik ketiga yang sedari tadi telah lapar." kata Jieji seraya tertawa kecil juga. "Baik.. Baiklah..." kata Nyonya tua ini dengan tersenyum. Yunying segera membimbing orang tua ini ke ruangan makan. Mereka sangat bergembira karena sekeluarga telah berkumpul. Jarang ada waktu beristirahat yang tenang seperti sekarang. Mereka cukup menikmatinya, apalagi Jieji dan Yunying yang terlibat lumayan banyak masalah.

BAB XLIII : Menuju Koguryo
Telah beberapa hari berlalu semenjak kepulangan Jieji ke rumahnya sendiri. Suatu pagi nan cerah... Jieji sedang duduk di taman keluarganya sendiri bersama Yunying. Dengan agak tergesa-gesa seorang pengawal di pintu depan melapor. Ada seorang pria tua yang memakai tongkat dan mengaku berasal dari Dongyang ingin menemuinya. "Kyosei? Kenapa dia kembali?" tanya Jieji sambil keheranan. Tetapi dengan Yunying dia segera beranjak ke pintu depan rumah. Wei dan Xieling yang mengetahuinya juga segera mengikuti Jieji berdua.

Pas di depan pintu masuk... "Tuan muda...." kata seorang pria tua ternyata tentu adalah Kyosei. "Ada hal apa? Kenapa anda balik kembali dari Yunnan?" tanya Jieji yang agak penasaran. "Tuan muda, sesampainya hamba di Yunnan. Hamba berusaha mencari informasi tentang pemusnah raga. Tetapi dari seseorang, hamba mendengar bahwa ada informasi penting di Goryeo (Koguryo). Kabarnya Kaisar Koguryo, Gwangjong mempunyai salinan asli dari Ilmu pemusnah raga." "Betul? Kalau begitu kita tidak usah ke Yunnan lagi. Kita segera berangkat ke Koguryo saja..." Kata Yunying. Jieji cuma berpikir, dia tidak menjawab. "Koguryo adalah sebuah negara yang tadinya bermusuhan dengan daratan tengah. Jika kita sembarang pergi malah akan membawa masalah." kata seseorang di belakangnya yang tak lain adalah Wei Jindu. "Betul dik.. Kalau benar Kaisar itu mempunyai salinan Pemusnah raga yang asli. Maka kita tidak akan begitu mudah untuk mengambilnya disana. Saya pernah pergi ke Koguryo beberapa tahun lalu. Saya pernah mendengar kalau pesilat yang melindungi Kaisar itu sangat hebat luar biasa dan jumlahnya sangatlah banyak." kata Jieji. Koguryo adalah sebuah Dinasti di sebelah timur China. Koguryo yang dikemudian harinya adalah Negara Korea. Di timur laut China memang bisa langsung ke Koguryo melalui jalan darat, selain itu dari timur kota Beihai, jika melakukan perjalanan melalui laut selama 2 hari pun akan sampai ke negara tersebut. Justru pada saat mereka berpikir dalam-dalam. Datang utusan dari Yang Ying yang mengabarkan hal penting ke Jieji. Jieji segera mempersilahkannya. Utusan tersebut memberikannya selembar surat dari Yang. Dengan segera Jieji membacanya. "Adikku sekalian.... Saya telah mendapat informasi dari Beiping. Kabarnya dari timur laut, Han utara berniat bersekutu dengan Koguryo. Maka untuk mengikat persahabatan, saya berniat menikahkan puteri Chonchu dari Koguryo dengan putera pertamaku, Zhao Hongyun. Namun Koguryo tidak akan menyetujuinya jika putera pertamaku tidak langsung kesana.

Adikku sekalian... Memang keadaan mendesak mungkin ada di Yunnan. Tetapi kakak meminta kalian sudi datang ke Ibukota. Pembicaraan tentang masalah ini akan kita lanjutkan disana." Jieji yang membacanya segera girang. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk masuk ke Koguryo apalagi secara terang-terangan ke kediaman Kaisar. Tetapi sekarang dia telah mendapatkan dayanya. Tetapi kemudian hanya Jieji yang cukup penasaran. Dalam hatinya, dia takut juga kalau Gwangjong melakukan siasat. Kali ini jika Jieji dan Jindu menyetujuinya maka mereka akan pergi bersama putra pertama dari kakaknya. Tetapi inilah daya yang paling bagus. Dia merasa sanggup melindungi putera mahkota karena adanya Wei dan Yunying yang kungfunya telah meningkat pesat. "Kalau begitu kita berangkat saja..." kata Yunying kemudian. "Kenapa kamu dari tadi berangkat-berangkat saja?" tanya Jieji dengan senyum kepadanya. "Iya.. Aku kan belum pernah pergi ke Koguryo.. Kabarnya pemandangan disana sangat indah. Dan kebudayaan mereka sangat berbeda dengan orang China daratan.. Jadi saya..." baru bicara sampai setengah Jieji memotongnya kembali. "Rupanya kamu itu maunya main saja..." katanya sambil mendorong pelan kepala nona tersebut seraya bercanda dengannya. "Iya donk... "kata Yunying seraya tersenyum manis. "Betul, Koguryo memang tempat yang indah. Disanalah pada enam tahun yang lalu saya berhasil menciptakan tapak berantai." kata Jieji dengan mengenang kemudian. "Ha? Jadi kamu menciptakan ilmu tapakmu di sana? Ceritakan donk......" kata Yunying dengan agak manja kepadanya. "Tidak bisa. Nanti saja jika ada waktu. Oya, adik. Sekarang kita harus beresberes untuk menuju ke Kaifeng sesegera mungkin." kata Jieji kemudian. Dengan berpamintan dengan Ibunya, Jieji mengatakan kalau di ibukota ada masalah yang lumayan penting. Dia harus segera berangkat juga saat itu. Di Ibukota.... Kaisar telah mengadakan rapat dengan para menterinya. Dia berniat untuk mengirimkan puteranya yang pertama ke Koguryo, karena kaisar Gwangjong berniat melihat putera Sung Taizu dengan mata kepalanya sendiri.

Para menteri banyak yang menolak untuk hal tersebut. Tidak ada satupun yang berpendapat kalau Sung harus mengirim putera kerajaannya kesana walaupun hanya untuk mengadakan hubungan diplomasi sekalipun. Zhao berpikir keras di istananya. Dia merasa adik kedua dan ketiganya pasti sanggup melindungi puteranya sendiri. Dia juga berpikir hanya inilah cara untuk menghentikan aliansi antara Han Utara dengan Koguryo. Jika tidak, maka peperangan bakal terjadi mengingat Han Utara telah mengultimatumkan perang dengan Sung. Jika hanya Han utara maka masalah tidak akan banyak, tetapi jika ditambah Koguryo dan Liao di utara, maka ini sangatlah berbahaya bagi kelangsungan Dinasti. Beberapa hari tanpa kelanjutan keputusan dari Zhao. Suatu sore... Jieji dan saudaranya serta Yunying dan Xieling telah sampai di Kaifeng. Mereka segera menuju ke Istana kekaisaran. Pengawal di istana sangatlah banyak, wajah mereka juga sangat angker. "Tuan, tolong sampaikan kepada Kaisar kalau Jieji dan Wei Jindu telah sampai." Penjaga yang mendengar kata-kata ini merasa sangat aneh dan geli luar biasa. Menurut mereka, bagaimana beberapa orang ini bisa datang untuk menemui kaisar. Mereka tetap menolak beberapa orang tersebut masuk. Justru saat itu, dari dalam lapangan istana yang sangat luas tersebut kelihatan seorang pemuda berjalan keluar. Jieji dan Yunying yang melihatnya segera girang. Orang tersebut tak lain adalah puteranya Yuan ShangPen, Yuan FeiDian. Kaisar terkejut juga mendengar kalau adik-adiknya telah tiba dengan cepat. "Kak..." seru Jieji dan Wei. "Adikku... Maafkan kakakmu ini telah merepotkan kalian datang dari tempat jauh..." kata Yang yang memberi hormat pendek kepada mereka berdua. "Tidak kakak pertama... Urusan kakak tentu urusan kita juga.." kata Wei. Dengan tersenyum, Jieji mengatakan. "Tadinya kita masih ragu harus ke Yunnan atau ke Koguryo. Sebab Kyosei telah menemukan informasi bahwa kabarnya Kaisar Koguryo memiliki

salinan kitab Ilmu pemusnah raga tersebut. Saat kita masih bingung, datang utusan dari kakak. Tentu saja kita langsung menuju kemari." Yang tertawa dengan terbahak-bahak. "Kalau begitu tidak usah lagi adik berdua ke Yunnan dahulu. Kalian temani putera pertamaku untuk segera menuju Koguryo. Karena permintaan itu sejak 2 minggu lalu, tetapi sampai sekarang dari pihak kita juga belum ada yang berangkat." "Baik kak.. Begitu besok pagi, kita akan berangkat bersama ponakan kita." kata Wei kemudian dengan tersenyum. Keesokan harinya... "Adik-adikku.. Kalian harus hati-hati sesampai disana. Jika ada hal yang tidak beres, segeralah lari dan jangan terlalu memaksakan diri." kata Yang dengan serius. "Baik kak..." Kata mereka serentak. "Oya, ada yang mau saya sampaikan.... Kabarnya puteri Chonchu adalah seorang wanita yang sangat cerdas, selain itu dia juga bisa bermain silat. Kalian berdua juga harus cukup hati-hati kepadanya." kata Yang kembali. Kaisar mengantar kepergian mereka berlima bersama 2 orang penerjemah bahasa serta 200 pasukan ke arah timur untuk menyeberang melalui laut ke timur yaitu Dinasti Koguryo. Mereka memakai 5 kapal cepat untuk berlayar. "Apa kamu juga naik kapal dahulu ketika ke Koguryo?" tanya Yunying padanya. "Tidak, saya datang melalui jalan darat. Jalan darat lumayan jauh ke ibukota Koguryo, Pyungyang. Dari kota Xiangping pun harus menempuh waktu sekitar 20 hari." kata Jieji. "Wah... Hatiku berdebar-debar tuh.." kata Yunying seraya tersenyum. Sepertinya dia sangat suka perjalanan kali ini. Tentu saja.. Siapa yang bisa datang ke Koguryo dengan bebas-bebasnya? Koguryo memiliki sifat over protektif terhadap bangsa lain yang datang ke tempat mereka. Mereka lebih suka hidup tanpa tercampur dengan bangsa lain. Kali ini, Jieji berpikir bahwa jika mereka telah sampai di daratan. Pasti akan banyak sekali orang Koguryo yang menyambutnya karena sifat mereka itu. Tetapi, kali ini pemikiran Jieji salah...

Pas 2 hari... Mereka mendarat juga. "Aneh.... Kok tidak ada orang yang menyambut kedatangan kita?" tanya Wei dengan keheranan. "Betul... ini cukup aneh untuk sifat bangsa Koguryo." kata Jieji seraya berpikir. Sepertinya dia telah mendapatkan sesuatu. Sambil tersenyum, dia meminta perjalanan terus dilakukan ke arah timur. Baru berjalan 1/2 Li, mereka disambut oleh beberapa orang. Beberapa orang tersebut memakai baju pejabat khas koguryo. Segera Jieji berhenti, dan turun dari kudanya. "Saya Jenderal Kawashima Oda dari China daratan mengantar putera pertama dari keluarga kerajaan Sung kemari." kata Jieji dengan sopan. Segera penerjemah mengucapkan apa yang dikatakan Jieji. Pejabat tersebut bukannya senang. Mereka kelihatan tidak menghiraukan Jieji, sambil berbalik tubuh mereka melanjutkan perjalanan. Mereka berkuda dengan agung-agungnya. Yunying yang melihat perlakuan mereka segera marah. "Orang Koguryo itu tidak tahu adat.. Pejabat kecil seperti itu saja bisa berlagak-lagak." Tetapi Jieji segera memintanya diam. Dia tahu dengan pasti apa maksud Kaisar Gwangjong yang menyambut mereka dengan cara begitu. Sementara pangeran Sung terlihat tidak acuh saja. Dia hanya diam tanpa mengucapkan kata-kata. Tetapi dalam hatinya dia juga lumayan gusar melihat tingkah pejabat rendahan itu. "Apa maksudnya kakak kedua?" tanya Wei yang ada disampingnya dengan berbisik pelan. "Ini untuk menghina kita. Tenang saja.. Setelah berjumpa dengan Kaisar, saya mempunyai daya upaya tersendiri. Tidak usah khawatir." kata Jieji juga dengan berbisik pelan. Perjalanan terus dilanjutkan... Untuk mencapai ibukota Pyungyang, mereka harus menempuh 2 hari perjalanan juga. Dalam perjalanan, pejabat-pejabat itu juga sangat angkuh luar biasa. Dalam penginapan mereka cuma duduk di 1 meja mereka sendiri yang

lumayan jauh dari meja Jieji dan kawan-kawannya. Dan tidak sekalipun mereka menghiraukan orang Sung. Keesokan harinya, tingkah mereka juga makin menjadi. Ketika meminta mereka berangkat, mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Hanya menunjuk ke arah Jieji berlima dengan angkuh sekali, dan segera berbalik seraya melanjutkan perjalanan. Sebenarnya pangeran Sung dan Yunying serta Xieling sangat tidak puas akan perlakuan mereka. Tetapi mereka cuma diam dan menyimpannya dalam hati saja. Setelah sore, mereka sampai juga di pintu gerbang kota Pyungyang... Sebenarnya Yunying harusnya senang. Tetapi karena mendapatkan perlakuan keterlaluan itu, maka dia malahan jadi marah. Jieji mengamati tingkah si nona, dia tahu mengapa dia marah. "Tidak usah kamu itu marah-marah begitu. Tenang saja. Kuasai kondisi hatimu, jangan terlalu terbeban pada hal eksternal." kata Jieji dengan pengertian kepadanya. Sesaat itu Yunying bisa tersenyum kembali.

BAB XLIV : Puteri Koguryo, Chonchu
Jieji dan teman-teman segera meminta 200 pasukan untuk menunggu di tempat peristirahatan tamu negara. Hanya mereka berlima bersama 2 penerjemah saja yang masuk ke dalam istana. Meski telah sore, Kaisar Gwangjong tetap mempersilahkan mereka masuk ke ruangan utama. Istana Koguryo yang di Pyungyang luas sekali, jika di bandingkan dengan istana Kaifeng. Istana Koguryo ini malah jauh lebih besar. Mereka berjalan kaki selama 1/2 jam, akhirnya sampai juga di ruangan utama. Di ruangan ini telah siap banyak pejabat dan menteri. Bahkan disana nampak puteri Chonchu yang duduk dekat permaisuri dan kaisar. Jieji sempat melihat sebentar. Memang benar, kata orang kalau puteri Chonchu sangat cantik luar biasa. Hal itu adalah benar adanya. Namun, pandangannya hanya dingin saja kepada mereka yang baru masuk ruangan. "Maafkan saya tidak menjemput anda." Kata Kaisar dengan tertawa. Seraya memberi hormat mereka memperkenalkan diri.

"Saya Zhao Hongyun dari Sung. Datang kemari atas permintaan ayahanda Kaisar untuk melamar puteri Chonchu." kata Hongyun. Penerjemah segera mengartikan kata-kata pangeran. [ Untuk selanjutnya, maka perkataan mereka semua diterjemahkan langsung. Maka daripada itu, percakapan terlihat seperti biasa saja] Kaisar Gwangjong melihatnya dalam-dalam. Jieji yang melihat gelagat Gwangjong, lantas merasa aneh. Dari sinar matanya sepertinya ada hawa tak sedap. "Saya adalah Jenderal Kawashima Oda yang bertugas mengantar pangeran kemari." lantas kata Jieji memotong tingkah Gwangjong yang janggal itu. "Seorang Jenderal saja mana pantas berkata-kata pada Kaisar kita." Terdengar seseorang dari pihak pejabat yang berkata-kata. Orang ini juga salah satu orang yang menjemput mereka semua. "Pepatah tua mengatakan, tidak berbicara adalah kurang ajar, berbicara terlalu banyak maka lebih kurang ajar, berbicara apa adanya adalah yang terbaik. Lantas mengapa anda mengucapkan kata-kata seperti begitu?" tanya Jieji dengan sopan. "Kamu itu hanya utusan. Apa hakmu berbicara kepada Kaisar kita? Itu yang kutanyakan." katanya kembali tetapi dengan wajah yang kurang senang. Kaisar yang tahu situasi segera menengahi mereka. "Tidak salah orang memperkenalkan diri." katanya pendek. "Bagaimana dengan perjalanan anda kemari? Menyenangkan bukan para tuan-tuan dan nona-nona? " tanyanya kepada mereka semua tetapi sambil tersenyum agak sinis. Zhao Hongyun tidak sanggup menjawab. Tetapi dari sikapnya dia jelas tidak senang. Sekarang Kaisar Koguryo malah meledeknya dengan kata-kata seperti itu. Jieji yang melihat tingkah dari Hongyun segera bersuara. "Tentu Yang Mulia. Kami disambut dengan sangat luar biasa meriah. Meski ketika menang perang di Xi Liang, kami tidak disambut dengan sebegitu meriah seperti yang anda lakukan di sini. Untuk itu, kami sangat berterima kasih pada Yang Mulia." Kata Jieji tanpa berkespresi apapun, tetapi sambil menghormatinya. Yunying senang, dia tahu apa maksud Jieji mengatakan hal tersebut. Mereka tersenyum simpul.

Kaisar kehabisan kata-kata, dia tidak menyangka pemuda ini akan berbicara begini kepadanya. Dia berpikir memperlakukan tamunya dengan sangat tidak ramah akan membuat mereka dongkol, tetapi dia salah menduga. Sementara, kelihatan puteri Chonchu tersenyum melihat tindakan Jieji. "Kalian telah menjaga tamuku dengan baik, oleh karena itu sangat pantas anda sekalian diberi hadiah." kata Kaisar kepada para pejabat yang menjemput mereka. Ulah Kaisar tersebut tentu karena terpaksa, ini dikarenakan dia takut kehilangan gengsinya. Dia berpikir kalau melakukan penyambutan seperti itu akan membuat orang Sung malu. Tetapi malah dia sendiri yang terkena bumerang. 3 Orang pejabat yang menyambut mereka terlihat sangat gusar kepada Jieji. Mereka ingin melampiaskannya. "Yang Mulia, bagaimana seorang bawahan dari negara tidak ternama bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?" "Negara kita memang bukanlah yang paling ternama di seluruh pelosok dunia. Orang bijak mengatakan kalau Kehidupan di dunia ini sangatlah luas. Untuk negeri besar seperti Sung tentu hanya sebiji beras di antara lumbung padi. Selain itu, pemandangan disini luar biasa indah. Orangnya ramah, dan sangat sopan. Tentu, bagi kami inilah surga dunia sekarang. Jikapun kita tidak disambut dengan begitu meriah, maka kesenangan telah tiada tara bisa masuk ke Koguryo." kata Jieji. Kali ini dia pun tidak berekspresi apapun, tetapi dia tetap menghormat dengan sopan ke arah 3 pejabat. Ketiga orang hanya bisa mendongkol. Mereka tidak bisa lagi berbicara lebih lanjut. Kata-kata sindiran Jieji tentu tidak ada yang tidak tahu artinya. Kata-kata ini untuk menyindir mereka dengan sangat sopan. Kata-kata Jieji mengenai Negara Sung, tentu adalah untuk menyindir negeri Koguryo yang luasnya sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan Sung. "Saya rasa sudah hampir gelap. Sekarang kalian kembali ke Wisma dahulu. Besok kita lanjutkan pembicaraan mengenai 2 negara kembali. Pengawal... Antarkan mereka ke Wisma, dan layani mereka dengan istimewa...." kata Kaisar kemudian. Jieji bertujuh segera meninggalkan ruangan istana. Tetapi Kaisar dan menterinya belum beranjak dari sana. "Keparat... Pemuda itu kurang ajar sekali.. Mereka...." tunjuk salah satu pejabat yang ikut menyambut.

Kaisar cuma diam, dia juga lumayan marah dibuatnya. Dia tidak menyangka pemuda tersebut ahli mengucapkan kata-kata. Hanya beberapa kata yang keluar dari mulutnya saja sudah mampu membalikkan keadaan. "Ayahanda.. Pemuda itu bukanlah orang biasa." kata Chonchu kemudian. "Apa? Jadi kamu pernah mengenal dia?" tanya Kaisar. "Tidak... Saya cuma pernah mendengar namanya. Dia bernama asli Xia Jieji, seorang putera dari keluarga Xia, keluarga Raja. Dia jugalah orang yang menentramkan pemberontakan He Shen di Xiping. Selain itu, dia juga adalah detektif yang sangat terkenal di China daratan." kata Chonchu menjelaskan. "He Shen adalah Jenderal yang berpengalaman, kenapa dengan mudah pemuda itu mengalahkannya?" tanya Kaisar kemudian. "Dia menggunakan siasat mundur teratur untuk memancing He Shen. Bertempur selama 2 kali, He Shen terus kalah. Dan kabarnya dia menulis surat untuknya sebelum kematian He Shen. Surat itu mengolok-olok He Shen, karena tua dan sakit serta hati yang masgul. Dia meninggal seketika." kata Chonchu kemudian. Chonchu adalah puteri yang sangat cerdas, dia memiliki beberapa matamata di Daratan China. Untuk segala perubahan, dia tahu jelas. Tetapi hanya 1 yang dia tidak tahu, dia tidak tahu kalau Jieji adalah seorang pesilat yang hebat. "Jadi menurutmu kita tidak boleh bertindak macam-macam dulu?" kata Kaisar. Chonchu tidak menjawab, tetapi dia hanya tersenyum penuh arti. Di Wisma kenegaraan Koguryo... "Kak, akhirnya rasa sakit hati kita sudah agak berkurang." kata Wei. "Iya... Kita tidak bisa marah-marah pada mereka terus-menerus. Karena sama sekali tidaklah ada gunanya. Selain itu, tujuan kita kemari adalah untuk mendamaikan kedua negara. Untuk selanjutnya, kita bertindak lebih hati-hati." Saudaranya dan teman-temannya memberi anggukan kepala. "Apa menurutmu Kaisar itu akan bertindak semberono pada kita,paman?" tanya Hongyun. "Tidak, untuk hari ini kita masih aman." kata Jieji pendek kepadanya.

Malamnya... Setelah beres-beres untuk pergi tidur. Jieji segera berbaring di dalam kamar. Dia tidak langsung tidur. Dipikirkannya sesuatu. Untuk beberapa jam, dia tidak tidur dahulu. Sampai terdengar suara yang nan lembut, gerakan langkah ringan tubuh menuju ke kamar atapnya. Dengan segera, Jieji pura-pura tertidur. Gerakan itu berhenti pas di atap kamar tidurnya. Terdengar suara kecil, genteng atap segera dibuka perlahan. Jieji merasa aneh, siapa yang begitu kurang kerjaan mengintipnya. Tetapi dia tetap pura-pura tertidur saja. Lalu untuk beberapa saat, terdengar suara itu berpindah kembali. Sepertinya pengintip telah siap meninggalkan tempat. Jieji segera bangun, dengan langkah cepat dan tidak bersuara dia berjalan menuju ke pintu, membukanya. Dan berjalan pelan ke depan. Ternyata Wei dan Yunying juga sudah di sana. Mereka juga merasakan hal yang sama. "Kalian tunggu disini, jaga pangeran baik-baik. Saya akan mengejarnya." kata Jieji sambil berbisik. Mereka mengangguk pelan. Langkah dari pengintip ini hebat, ilmu ringan tubuhnya sudah sekelas pesilat tinggi. Arahnya adalah ke istana yang dikunjungi Jieji tadinya. Saat melewati daerah hutan kecil dia terkejut luar biasa, dia melihat bayangan di depannya. "Ada apa kamu tergesa-gesa?" tanya seseorang dengan bahasa Koguryo. Pengintip yang memakai kain hitam di wajah tentu sangat terkejut. Dia melihat ke arah pemuda yang mencegatnya. Karena waktu itu telah sangat malam, dia tidak melihat jelas wajah si pemuda. Dari tapaknya keluar sinar sekejap dan sangat cepat. Pemuda segera menahan tapak itu, dengan segera benturan tenaga dalam jarak jauh terjadi. Pengintip mundur beberapa langkah. "Siapa kamu?" tanyanya. Pemuda itu terkejut, karena suara dari pengintip itu adalah suara seorang wanita muda. Dia berjalan pelan ke depan. Tetapi nona yang berkain hitam di wajah telah siap, dia mengancangkan kedua tapaknya seraya merapalkan jurusnya yang lain.

"Kamu datang berkunjung ke wisma kenegaraan, lantas tanpa membawa hadiah malah dengan tangan kosong kamu pulang. Apa sebabnya?" kata Pemuda itu. Setelah si pemuda berjalan agak dekat, si nona segera terkejut. Dia mengenali pria ini. Dia tidak menyangka bahwa dia akan dicegat disini. Padahal tadinya dia masih mengintipnya. "Orang daratan China mengatakan kalau puteri kaisar Gwangjong, puteri Chonchu adalah seorang pesilat kelas tinggi. Tidak melihatnya maka saya tidak mempercayainya." kata pemuda itu tentunya adalah Jieji dengan senyuman manis. "Ha Ha.... Hebat.. Betul-betul seorang detektif terkenal.." katanya seraya membuka kain hitam di wajahnya. Dialah puteri Chonchu adanya. Wajahnya terlihat sangat cantik walau malam itu rembulan tidaklah begitu terang. "Dengan cara apa kamu bisa tahu kalau saya adalah puteri Chonchu." tanyanya dengan penasaran. "Itu tidak susah. Sebenarnya saya tidak yakin anda adalah puteri, hanya dengan melihat kamu berlari pulang ke istana, dan mendengar suaramu serta mengetahui kungfumu tidak rendah. Maka saya tahu, tetapi saya tidaklah yakin. Tetapi tadinya saya cuma memancing anda, tidak disangka anda malah membuka kain penutup wajah anda sendiri." kata Jieji menjelaskan sambil tersenyum geli. "Ha Ha.. Jadi begitu.. Kamu hebat, aku tertipu mentah-mentah olehmu..." kata Puteri Chonchu mengakuinya dengan tersenyum manis. "Lalu apa maksud puteri datang ke Wisma kenegaraan?" tanya Jieji padanya. "Tidak disangka kamu jago bahasa Koguryo. Selain itu, kamu juga adalah pesilat yang sangat handal sekali." kata Chonchu dengan mengalihkan pembicaraan. "Tidak juga, beberapa tahun lalu saya pernah tinggal selama 8 bulan lebih disini. Saya cuma belajar beberapa percakapan yang umum saja. Mengenai silat, saya cuma belajar beberapa ilmu yang tidak seberapanya. Puteri belum mengatakan apa maksud kedatangan anda di sana.." "Saya datang untuk membunuhmu." Kata Chonchu dengan wajah yang serius. Jieji melihatnya dalam-dalam sambil mengerutkan dahi.

"Lalu kenapa tidak kau bunuh aku waktu mengintip dari atap? Oh.... Janganjangan karena melihatku yang terlalu tampan, puteri jatuh hati dan mengurungkan niat?" kata Jieji yang meledeknya. Puteri Chonchu bukanlah tipe orang yang suka bercanda. Ditanyain begitu, dia sangatlah malu. Kelihatan dia marah sekali. "Oh, maaf.. Kenapa puteri marah-marah begitu? Saya cuma bercanda saja, tidak ada maksud lain." kata Jieji sambil memberi hormat kepadanya. Chonchu kelihatan lebih tenang sekarang. Dia lantas berkata tetapi dengan wajah yang malu. Wajahnya kelihatan sangat cantik dengan kepala yang agak tertunduk malu. "Saya mengagumi anda. Sepak terjang anda di daratan tengah telah kudengar. Hanya itu saja kok, jangan berpikiran bukan-bukan...." "Saya tidak mempunyai kepandaian apapun yang bisa dibanggakan. Ini membuat puteri susah saja jauh-jauh datang kemari." kata Jieji sambil memberi hormat. Tetapi dalam hatinya terasa geli sekali. Dia tidak menyangka puteri Chonchu adalah seorang yang sangat pemalu. "Kalau begitu, sampai jumpa besok saja di aula utama kekaisaran." kata puteri sambil tersenyum kepadanya. Jieji tidak menjawabnya lebih jauh, dia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Setelah itu, Chonchu dengan ilmu ringan tubuhnya pulang kembali ke istana.

BAB XLV : Aliansi dengan Koguryo
Sebenarnya Kaisar Gwangjong bukanlah seorang kaisar yang tidak tahu aturan. Orang-orang Koguryo sangatlah membenci orang China daratan. Disebabkan Kaisar Tang, Tang Taizong Li Shihmin pernah berusaha menyerang Koguryo untuk pertama kalinya. Meski terakhir Tang Taizong tidak pernah sanggup menguasainya, ratusan ribu pasukan Koguryo menjadi tumbal. Perang memang sangat mengerikan dan menjadi trauma bagi orang Koguryo. Setelah wafatnya Li Shihmin beberapa tahun, Koguryo akhirnya juga jatuh, ini disebabkan karena adanya pemberontakan dalam oleh bangsa Silla di bagian selatan dan Pasukan Tang menyerang bagian utara. Peperangan Koguryo sangat kacau. Tetapi setelah beberapa ratus tahun, akhirnya Koguryo bangkit kembali.

Karena disebabkan penyerangan yang sering dilakukan Dinasti Tang, tentu orang Koguryo sangat tidak menyukai bangsa China daratan. Mereka menganggap mereka adalah penjajah. Jieji dan kawan-kawan yang sampai disini sangatlah wajar jika tidak mendapat sambutan hangat. Keesokan harinya... Kaisar dan semua menteri telah sampai di aula utama kekaisaran Koguryo. Perdana Menteri, para Jenderal serta semua pejabat disana menyambut kedatangan pangeran Sung dan pengawal-pengawalnya. Setelah menjalankan kehormatan seperti biasanya. Zhao Hongyun yang ditengah lantas berkata. "Saya pangeran dari Dinasti Sung daratan tengah menjalankan tugas untuk melamar puteri Chonchu. Terima kasih kepada kaisar karena telah memperlakukan kita dengan sangat baik disini." Setelah pembicaraan semalam, Kaisar sepertinya tidak lagi begitu mempermasalahkannya. Kali ini dia telah sanggup berbicara diplomatis. "Baik... Maafkan saya karena telah membuat anda sekalian kecewa pada awalnya. Saya ingin bertanya, dengan cara apa anda yakin kalau Sung sangat layak untuk berdiplomasi dengan kita." "Ini disebabkan karena Han Utara bukanlah teman yang layak untuk bisa hidup berdampingan." kata Hongyun kembali. Perdana menteri segera melihat ke arah Zhao Hongyun, dia berkata. "Berdasarkan apa anda merasa kalau Koguryo tidak boleh bersekutu dengan mereka?" "Ini disebabkan Han utara bukanlah bangsa yang bisa pegang janji.. 3 tahun lalu, mereka mengoyak surat perdamaian dan mengerahkan pasukan ke selatan. Dalam peperangan kacau selama 2 bulan, akhirnya kedua pihak telah menyetujui gencatan senjata. Untuk itu, saya tidak yakin Han utara tidak akan mengulanginya kembali terhadap Koguryo." Semua kata-kata tersebut adalah ajaran Jieji kepada Hongyun. Dia tahu kaisar tentu akan melihat seberapa hebatnya putera Sung yang kelak akan jadi menantunya tersebut. "Han utara berjanji akan mengirimkan upeti kepada kita tiap tahun jika kita membantunya. Bagaimana dengan Sung?" tanya Kaisar kembali.

"Ini bukanlah masalah upeti atau tidak. Mustahil Kaisar yang kaya raya dan memiliki rakyat yang sangat sejahtera teriming akan harta upeti yang tidak seberapa itu. Han utara adalah negara yang cukup berbahaya. Jika Sung sanggup dihancurkan, maka mereka akan menguasai Koguryo kembali. Ayahanda Kaisar semenjak naik tahta tidak pernah melakukan hal seperti itu. Jika Sung berniat menelan Koguryo, tidak mungkin akan meminta ananda berdiplomasi dan mengikat tali perkawinan dengan keluarga Kaisar." Kata Hongyun kembali. Setelah berpikir-pikir, kaisar Koguryo tertarik juga. Dia pikir selama Sung berkuasa, meski kedua negara tidak terlibat perang tetapi tidak sekalipun Sung mencari masalah padanya. Sedang para menteri sepertinya kurang senang. "Kenapa anda bisa mengatakan hal yang belum jelas di masa depan?" tanya Perdana menteri dengan sikap yang kurang senang. "Negara anda sangat jauh letaknya dengan negara Sung. Selain itu, jika kedua negara hidup berdampingan tentu sangat sejahtera. Meski sekarang negara kita adalah terpisah melalui kelautan, jika Koguryo bersedia berdiplomasi, tentu kedua negara akan sangat terbina hubungan kerja samanya. Kami dari Dinasti Sung yang besar tidak akan pernah melanggar tapal batas Koguryo untuk selamanya. Untuk masalah ikatan pernikahan, tentu harus sesuai kesetujuan puteri Chonchu sendiri. Kita dari pihak Sung tidak sekalipun akan memaksa." kata Hongyun kembali dengan tenang dan hormat. "Ha Ha.... Bagus, baguss...Untuk masalah ini izinkan saya berpikir dahulu." kata Kaisar Gwangjong. "Kalian antarkanlah para utusan dari Dinasti Sung besar untuk beristirahat. Pindahkanlah tamu kita ini ke istana Belakang. Layani mereka dengan baik." Setelah memberi hormat, pangeran dan teman-teman segera menuju kembali ke wisma kenegaraan dan segera akan pindah ke istana yang baru. Sementara Kaisar dan para menterinya belum meninggalkan gedung. "Kaisar.... Apa kata-kata mereka bisa dipercaya?" tanya perdana menteri. Kaisar hanya diam, tetapi dia melihat ke arah Chonchu, puterinya. "Untuk masalah tersebut semua diharapkan supaya tenang saja. Zhao kuangyin adalah orang yang istimewa, dia adalah naga sejati di daratan tengah. Tentu semua kata-katanya bisa dipegang." kata Chonchu dengan tersenyum. "Kenapa kamu bisa berkata begitu pula?" tanya sang ayah heran.

"Kalian masih ingat Chai Zongxun, puteranya Chai Rong? Meski dia melakukan pemberontakan, dia dilepas juga oleh Zhao Kuangyin. Ini bukan dikarenakan Zhao termasuk tipe kaisar lemah. Dia sangat berbudi, dia juga adalah seorang Kaisar yang bertanggung-jawab. Jadi untuk sekarang, ananda yakin diplomasi dengan Sung tentu akan jauh lebih baik daripada Han utara." kata Chonchu. "Kamu memang sangat pintar, saya memang ingin melakukan diplomasi dengan Sung. Apalagi tadinya pangeran Sung sangat tangkas memberi jawaban kepada kita tanpa ragu-ragu. Saya rasa tidak akan ada masalah." kata Kaisar kembali dengan tersenyum. Jieji dan pangeran serta teman-temannya telah pindah ke istana baru. Istana ini letaknya 1 li dari aula utama kekaisaran. Kali ini kaisar telah meminta pelayannya melayani mereka dengan sangat istimewa. Mereka tentu sangat senang karena kelakuan kaisar telah berbeda dengan kemarin. "Kakak kedua, apa benar semalam yang datang mengintip itulah Chonchu?" tanya Wei kepada Jieji. Jieji segera menceritakan dengan sangat lengkap tentang pengejarannya. Yunying yang mendengarkannya sepertinya kurang senang. Dia merasa Chonchu menaruh hati pada Jieji, dalam hatinya ada rasa cemburu pada puteri Chonchu. "Kalau begitu kita tentu akan aman saja. Sepertinya puteri Chonchu bukanlah orang sembarangan." kata Wei. "Betul, dia adalah seorang yang sangat cerdas. Mungkin kecerdasan dia setara dengan Xufen. Untuk selanjutnya kalian harus agak hati-hati jika bertemu dengan puteri itu." kata Jieji seraya melihat ke Yunying. Tetapi Yunying hanya tertunduk, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Sorenya... Puteri Chonchu sendiri yang datang menjenguk tamu istimewa kekaisaran Sung itu. Anehnya, bukan pangeran Zhao Hongyun yang dia cari, melainkan adalah Jieji saja. Semua juga merasa aneh dengan tindakannya Chonchu. Apalagi Yunying, sepertinya dia sudah sangat cemburu kepadanya. Mau tidak mau, Jieji juga menyetujui pertemuannya dengan si puteri. Mereka berdua berjalan di taman samping istana. Setelah duduk, puteri berkata kepadanya.

"Bagaimana pelayanan pihak kita? Apakah menyenangkan?" tanyanya sambil tersenyum kepada Jieji. Sambil memberi hormat pelan Jieji berkata. "Tentu, sangat istimewa pelayanan Koguryo kepada kami. Tentu kami sangatlah bergembira." "Bagus kalau begitu. Mengenai masalah kemarin, saya meminta maaf karena telah mengecewakan kalian." kata Puteri itu dengan sangat sopan dan lembut. "Itu bukanlah masalah yang besar. Ini sangatlah wajar mengingat perlakuan dari bangsa China daratan kepada kalian sebelumnya. Wajar saja jika Koguryo membenci bangsa kita." kata Jieji dengan sopan. Suasana terasa sangatlah formal, tidak seperti semalam ketika dia bertemu dengan pria itu di hutan kecil. Untuk mencairkan suasana, Chonchu mencari cara ngobrol seperti biasa. "Oya, bisa anda ceritakan? Kabarnya dahulu anda menghilang, setelah itu anda kembali. Banyak yang mengatakan kalau anda telah tewas. Kenapa bisa begitu?" Jieji sebenarnya enggan menjawab pertanyaan ini, tetapi dia tahu kalau tidak menjawabnya maka seakan tidak menghormati puteri karena mereka hanyalah utusan. Kemudian dia menceritakan keberadaannya selama 10 tahun terakhir. Bagaimana dia sampai di Dongyang, bagaimana dia menyelidiki ilmu pemusnah raga dan terakhir tanpa terasa 10 tahun telah sampai dengan cepatnya. Semua hal diceritakan oleh Jieji kecuali hubungannya dengan Xufen serta Yunying. Puteri Chonchu yang mendengar Jieji menceritakan kisah hidupnya dalam 10 tahun terakhir terpesona. Dia melihat Jieji dengan dalam-dalam, sepertinya dugaan Yunying memang benar, puteri Chonchu menyukai pemuda tersebut. Mereka berbicara selama beberapa jam, terakhir mereka makan samasama di ruang makan istana. Wei, pangeran dan Xieling sangat aneh melihat tingkah puteri Chonchu. Bahkan mereka sendiri tidaklah diajak kesana. Mereka mendengar perihal itu dari pelayan-pelayan istana ketika menanyakan keberadaan Jieji. Sementara itu, Yunying malah ngambek. Sepertinya rasa cemburunya telah sampai di puncak. Dia mau pura-pura untuk menjenguk Jieji di sana, tetapi dirasakan hal tersebut sangatlah tidak dewasa. Dia hanya tidur di ranjang saja, dan tidak mau keluar kamar. Dari mulutnya berkomat kamit.

Setelah malam benar, Jieji akhirnya pulang kembali ke kediamannya. "Kakak kedua.." "Paman..." "Guru..." Sahut mereka bertiga ketika melihat Jieji. Mereka merasa aneh dengan Jieji, kenapa tuan puteri malah mengajaknya berdua saja di sana. Jieji segera menceritakan apa yang mereka ngobrolkan. Dan tanpa terasa cakap-cakap itu memakan waktu lebih dari 5 jam. Dia mengatakan kalau puteri Chonchu memang adalah seorang wanita yang sangat cerdas, dia cepat menangkap kata-kata seseorang. Selain itu dia juga mendalami sastra yang sangat rumit. Meski umurnya baru 23 tahun, dia tidak seperti nona-nona umumnya pada umur tersebut. "Mana si jangkrik?" kata Jieji. Jangkrik disini maksudnya tentu Yunying. Soalnya setiap dia berbicara panjang lebar, pasti ada seseorang yang disampingnya memotong pembicaraan itu tetapi kali ini dia tidak ada. "Kakak kedua... Sepertinya nona itu ngambek karena kamu tidak pulang. Bahkan tadi dia tidak keluar makan tuh." kata Wei seraya tersenyum geli. Jieji segera menjenguk Yunying di kamarnya. Dilihatnya lilin kamarnya telah padam. Jieji mengira bahwa dia telah tidur. Dia berdiri cukup lama di depan pintu. Pelayan-pelayan disana melihatnya juga merasa aneh. Keesokan harinya... Pagi sekali, Puteri Chonchu telah keluar untuk meminta Jieji bareng bersamanya kembali. Kali ini mereka berkeliling kota Pyungyang. Sebenarnya Jieji ingin menolak keinginan puteri tersebut, tetapi dia sendiri tidak mempunyai daya. Oleh karena itu, Jieji cuma melayani puteri tersebut apa adanya. Melihat keramaian kota selama 1 jam, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di sebuah restoran besar di ibukota itu. "Oya.. Anda belum menceritakan tentang kekasih anda.." kata Puteri Koguryo ini. Jieji cuma diam, dia tidak berniat menjawabnya. Melihat tingkah orang, puteri segera tahu. "Sepertinya nona yang ikut bersamamu itu ngambek." Kata Chonchu. Jieji lumayan terkejut. Bagaimana dia bisa tahu? Tetapi tanpa perlu berpikir, Chonchu telah memotongnya.

"Pelayan mengatakan kalau nona itu tidak keluar makan semalam, selain itu dengan cepat dia juga telah tidur. Dan pelayan memberitahukan bahwa kamu berdiri cukup lama di pintu kamarnya." Kata Chonchu seraya tersenyum. "Benar, saya memang berdiri disana beberapa lama. Hubungan saya dengannya adalah seperti kakak dan adik saja." kata Jieji dengan pendek tanpa mempertunjukkan sedikit pun reaksi di wajahnya. "Tetapi tidak sama pemikiran nona itu kepadamu. Apakah kamu mencintainya?" tanya Chonchu kembali. Jieji tidak mampu menjawabnya, dia tidak tahu bahwa Chonchu akan memberikan pertanyaan yang sebegini bingung. Dia hanya tertunduk tanpa mampu menjawab. "Dari wajah anda, saya tahu. Sedikit banyak kamu sangat mengkhawatirkannya kan? Selain itu, dalam hati anda sepertinya memang lagi bermasalah." Kata Chonchu sambil melihat ke wajah Jieji dengan serius. "Saya rasa memang sedemikian..." kata Jieji pendek sambil berpikir. Memang benar, jika hati Jieji sebelumnya tidak ada Xufen. Sangat mungkin Jieji telah tergila-gila kepada Yunying. Tetapi lain halnya dengan sekarang, gejolak perasaannya sangat susah diungkapkan dengan kata-kata. "Kalau begitu kejarlah dia, jangan membiarkannya sendiri. Maafkan kesalahanku yang terlalu akrab denganmu sehingga menimbulkan kesalah pahaman padanya." Kata Chonchu kemudian. Jieji segera meminta pamit pada puteri tersebut. Jieji sangat canggung menghadapi puteri Chonchu. Dia sepertinya terikat sangat akan kehadiran Chonchu, meski dia tidak mengatakannya. Namun Chonchu sepertinya mengerti bagaimana keadaan hatinya Jieji.

BAB XLVI : Buku Kisah Ilmu Pemusnah Raga
Setelah mengetahui Jieji kembali keluar dengan Puteri Chonchu. Di depan kamar Yunying pas di tangga, dia duduk terbengong-bengong. Dari dalam mulutnya terdengar dia berkata-kata. "Kurang ajar, Sialan... Lelaki tidak bertanggung-jawab..." kemudian kembali terdengar. "Kalau ketemu nantinya, akan kujambak rambutnya dan kuseret pulang ke Hefei... Ha Ha..." katanya kepada diri sendiri.

Sesaat kemudian terdengar suara seorang pria. "Siapa yang kurang ajar?" Yunying segera terkejut luar biasa. Dia lihat ke arah datangnya suara. Pemuda yang menyapanya adalah Jieji adanya. Langsung dia berpaling pura-pura tidak melihatnya. Jieji segera menuju ke arah si nona berpaling, kali ini katanya. "Siapa yang sialan?" katanya meledek nona tersebut. Tetapi si nona sama sekali tidak bereaksi, dia palingkan wajahnya ke arah berlawanan. "Lelaki tak bertanggung-jawab? Kamu mau jambak rambut siapa sambil kau bawa ke Hefei? Siapa yang beruntung sekali?" kata Jieji kembali meledeknya. Namun Yunying hanya duduk diam tak bersuara dengan wajah yang kelihatan sedang marah-marahnya. Kemudian terakhir dia tundukkan kepalanya untuk tidak melihat kemana-kemana lagi. Jieji cukup bingung juga dibuat si nona yang sedang ngambek ini. Sejenak dia hanya duduk di sebelah Yunying. Tetapi tidak lama, dia telah mendapatkan sebuah akal. Segera dia menuju ke kamar pintu Yunying, dia buka pintunya lebar-lebar. Setelah itu dia menuju ke arah lemari. Kembali lemari itu dia buka dengan lebar, tetapi tidak menutupnya kembali. Dia melakukan hal yang sama untuk jendela, laci, serta semua taplak yang menutupi meja atau tempat vas bunga. Yunying sempat berpaling sebentar ke belakang karena suara dibukanya banyak barang di dalam cukup mengganggunya, Dan dia melihat hal yang sangat aneh. Bagian dalam ruangannya telah di acak-acak Jieji yang seakan sedang mencari sesuatu barang. Setelah membukanya, Jieji menutup kembali semuanya. Dengan cepat, dia buka lagi semuanya. Keadaan terlihat sama kembali, semua barang yang bisa dibuka di ruangan itu kembali terbuka. Yunying sudah tidak tahan melihat perlakuan pemuda itu. Saat si pemuda menutup kembali semua barang di kamarnya kecuali pintu. Yunying segera beranjak ke dalam. "Apa yang kau cari itu????" katanya dengan sedikit lantang dan dalam keadaan marah.

Jieji segera melihatnya dengan dalam-dalam. Setelah beberapa lama, dia tersenyum. "Tentu... Suaramu itu..." Yunying segera tertawa geli..... Mereka berdua tertawa keras di dalam kamar itu. Tidak disangkanya Jieji akan menggunakan cara tersebut untuk membuatnya bersuara kembali karena cemburu butanya. "Dasar bodoh. Kenapa malah kamu yang marah-marah jadinya?" kata Jieji setelah suasana kembali cair. "Tidak, habis kamu tidak pulang sih dan terus-terusan dengan puteri itu...." kata Yunying sambil tertunduk malu. "Janganlah kamu berpikiran seperti itu, Ying. Kamu pikir saya sangat suka ngobrol tanpa tahu waktu dengan puteri itu? Saya bukanlah orang demikian, kamu juga tahu tujuan kita kemari adalah apa. Mana mungkin saya bertindak begitu lancang." kata Jieji kembali dengan sangat pengertian kepadanya. "Iya, saya memang bersalah. Sebenarnya saya..... Saya cemburu ..... cemburu buta terhadapnya." sahut Yunying. Sebenarnya Yunying cukup susah mengucapkan kata-kata seperti ini, tetapi baginya mau tidak mau harus mengatakannya. Jieji yang melihatnya segera datang dengan pelan, dia peluk nona ini dengan perlahan. "Saya sangat menghargai adanya dirimu. Adanya dirimu telah membuatku cukup kaya tanpa kekurangan apapun. Percayalah kepadaku..." kata Jieji pelan kepadanya. Sebenarnya Jieji juga sangat menyayangi Yunying, dia tidak menganggapnya sebagai Xufen lagi. Dia merasa sudah saatnya dia berpikiran hidup baru seperti keinginan terakhir Xufen kepadanya. Kali ini dia merasa harus memanfaatkan kebersamaan mereka dengan baik. Kemudian Yunying membalas pelukan pemuda itu. Mereka saling berpelukan selama beberapa lama. Yunying sangat senang, dia tutup matanya dan menikmati saat-saat berada dalam pelukan pria yang dicintainya itu. "Ayok..." kata Jieji kembali. "Pergi kemana?" tanya Yunying. "Tentu berkeliling kota... Kamu sangat suka pada awalnya kan? Tujuanmu tak lain kan melihat pemandangan serta kebudayaan Koguryo. Selain itu,

sepertinya kamu sudah tidak makan dari semalam...." kata Jieji kembali sambil tersenyum. Yunying hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum manis sekali. Waktu itu sudah siang, mereka berjalan berkeliling kota sambil berpegangan tangan. Mereka duduk di rumah makan, serta berkeliling ke luar kota untuk menikmati pemandangan khas Koguryo. Sampai sore menjelang malam, mereka barulah kembali ke istana. Wei yang pertama melihat mereka berdua pulang. Dia senang karena si nona tidaklah ngambek lagi. Dan dari wajahnya nampak keceriaan yang sangat. Dia segera meledek mereka berdua. "Wah, suami istri akhirnya pulang juga. Bagaimana dengan pemandangan kota Koguryo?" "Ha Ha.. Bisa saja kamu dik.. Saya hanya menemani nyonya rumahku berjalan-jalan saja." kata Jieji seraya bercanda. Yunying tertunduk malu. Dia malu terhadap kata-kata canda mereka dan juga terhadap dirinya sendiri yang bersikap sangat tidak dewasa, dalam hatinya dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. "Oya kak, apa kamu akan menyelidiki buku itu?" tanya Wei kembali kepadanya dengan berbisik pelan. "Betul.. Saya harus mencari tahu di istana, pasti ada yang tahu keberadaan buku itu. Malam ini cukup aku dan Yunying yang menyelidiki. Dik, kamu tolong lindungi pangeran." Kata Jieji dengan pasti. "Baik kak, serahkan kepadaku saja." kata Wei sambil tersenyum. Tengah malam... Tampak dua bayangan melesat dengan ringan tubuh yang sangat tinggi. Tujuannya adalah atap kamar tidur Kaisar Gwangjong. Dengan cepat, mereka telah sampai di atap kamar tidur Kaisar dengan tanpa suara. "Apa kamu yakin kalau buku itu ada disini?" kata seorang wanita yang tentunya adalah Yunying. "Hm..." Jieji hanya mengangguk saja. "Lalu bagaimana kita masuk mengambilnya?"

"Saya belum menemukan caranya. Kita harus menilik kelakuan Kaisar itu terlebih dahulu. Hari ini mungkin kita bukan datang untuk mencuri." kata Jieji. Dibukanya atap genteng di atas kamar Kaisar dengan sangat perlahan. Dia mengintip ke dalam ruangan. Kaisar Gwangjong memang belumlah tidur. Dia duduk di meja tulisnya dalam kamar. Dia menulis beberapa aksara Koguryo di atas putihnya kertas. Sepertinya itulah kaligrafi. Jieji berpaling sebentar ke seluruh ruangan. Dilihatnya dengan cermat, apakah ada buku yang mereka cari itu, tetapi judul buku yang dilihatnya hanya dalam aksara Koguryo. Setelah mencapai sudut mati, Jieji menutup kembali gentengnya dan beralih ke sudut lainnya. Dibukanya kembali genteng dari arah lain untuk melihat keberadaan buku itu. Dari sudut, dia sempat melihat adanya buku aneh yang memiliki judul aksara China. Dari jauh dia hanya bisa mengkonsenterasikan mata untuk membaca judul buku tersebut. Untuk sesaat Jieji terkejut. Karena dia bisa membaca dengan lumayan jelas bahwa itulah buku yang berjudul "Kisah Ilmu Pemusnah Raga". Dengan segera dia mengajak Yunying pulang ke kediaman mereka. Disana telah berkumpul Pangeran Hongyun, Wei dan Xieling. "Jadi buku itu betul ada di ruangan kamar tidur kaisar? Jadi bagaimana kita bisa mencurinya?" tanya Wei kepadanya. Berpikir sebentar, Jieji kemudian berkata. "Saya ada sebuah akal." Kata Jieji. Lalu dibisikinya mereka bagaimana caranya yang terbaik untuk mencuri buku itu. Keesokan harinya sore... Jieji dan Yunying keluar kota. Mereka kembali menikmati pemandangan yang indah dan khas dari negeri Koguryo. Sementara itu. Pangeran, Wei dan Xieling segera meminta bertemu dengan puteri Chonchu. Mereka mengatakan kalau pangeran ingin mengajaknya ngobrol-ngobrol. Dengan membawa penerjemah, mereka mengajak puteri Chonchu untuk berbicara di paviliun danau kecil dekat taman. Ngobrol-ngobrol mereka memang terasa agak kaku. Sebenarnya puteri Chonchu adalah orang yang dingin, maka tidak heran Jieji sangat canggung menghadapinya. Bahkan terhadap Jieji yang dikaguminya saja dia lumayan dingin, apalagi terhadap orang yang tidak begitu dikenalnya seperti mereka.

Pembicaraan dengan puteri Chonchu adalah salah satu taktik untuk membuatnya tetap tinggal di daerah sana. Karena malam ini Jieji telah bertekad untuk mencuri buku tersebut. Ketika mendekati malam... Terlihat kembali 2 orang yang memakai pakaian nan hitam telah siap di atap kamar tidur kaisar. Jieji membuka genteng atap kembali, dilihatnya kaisar Gwangjong tidak berada di dalam ruangan. "Saya akan mencoba masuk ke dalam, kamu disini saja sekalian melihat keadaaan yah." kata Jieji sambil mengambil sebuah peralatan yang berupa benang halus dari dalam saku bajunya. Yunying hanya mengangguk. Dengan cepat, Jieji ke arah belakang kamar tidur. Dia memasang alat yang dipegangnya dengan perlahan di lubang kecil jendela. Sekali tarik dengan ringan, jendela telah terbuka. Dengan perlahan dia mulai mau masuk. Tetapi kali ini dia terkejut, di lantai seperti ada sesuatu alat yang lumayan di kenalnya. Itulah keamanan ruangan tidur kaisar. Ruangan ini terdiri dari papan yang cukup besar. Di bawahnya tergantung tali halus yang menggantungkan banyak lonceng. Jika ada yang menginjaknya dengan pelan saja, maka lonceng akan segera berbunyi. Tombol utamanya berada di depan ruangan masuk. Dia juga tidak sanggup mencapainya. Setelah berpikir beberapa lama sambil menilik ruangan itu, dia mendapat akal yang mendadak. Meski akal ini cukup berbahaya, tetapi dia yakin bisa berhasil. Di sebelah jendela, ada sebuat pot keramik yang cukup besar. Dia membawanya dan langsung kembali menuju ke atap. Yunying yang melihat Jieji datang sambil membawa pot tentu heran luar biasa. Kenapa pemuda ini yang masuk ke dalam mencuri Buku malah keluar sambil mengambil pot. Jieji segera membisikinya pelan. Sesaat itu, Yunying segera mengangguk dan mengatakan telah mengerti. Dia menuju melalui atap depan ke lapangan di bawahnya dengan gerakan ringan tubuh yang biasa-biasa saja. Setelah Yunying hampir sampai ke bawah , dengan sebuah lemparan luar biasa hebat, Jieji melempar pot itu. Pot jatuh sekiranya 200 kaki lebih dari atap ruangan kamar istana dan pecah. Tentu para penjaga sangat terkejut. Mereka segera beranjak ke arah pot yang pecah, mereka sempat melihat bayangan hitam melewati di depan pot yang pecah itu. Penjaga dengan cepat telah sampai ke tempat pot pecah. Berbarangen itu, segera suara lonceng dalam kamar kaisar berbunyi. Dengan cepat dan

takut,semua penjaga segera kembali. Mereka membuka pintu ruangan kaisar, dan segera menilik dengan cermat, ternyata tidak ada orang disana. Semua jendela kamar dan pintu belakang telah tertutup. Jieji menggunakan tipu "memancing harimau turun gunung". Bukannya dia takut tidak mampu melawan belasan orang serdadu yang berjaga, tetapi dia tidak mau mencari masalah. Kaisar segera tahu bahwa ruangannya telah kemasukan orang. Dia beranjak cepat ke dalam sana. Setelah meneliti barang-barangnya, dia telah tahu benda apa yang hilang. Tetapi di tempat benda yang hilang tersebut terlihat sebuah kertas yang bertuliskan aksara Koguryo. "Saya datang meminjam buku. Saya akan mengembalikannya jika sudah tidak diperlukan lagi." Kaisar hanya terbengong-bengong. Dia tidak menyalahkan para penjaganya, karena dia tahu benar bahwa orang yang mencuri buku itu bukanlah orang sembarangan. Jieji dengan gerakan luar biasa cepat menuju ke arah luar kota. Tadinya dia membisiki Yunying untuk berpisah dengannya dahulu. Yunying mengambil arah selatan kota, sedang Jieji mengambil arah barat kota untuk keluar. Tentu Jieji yang kabur akan dilakukan dengan terang-terangan dan berharap ketahuan oleh penjaga, sehingga penjaga kota bisa memastikan bahwa pencuri telah lari ke luar kota. Tetapi lain halnya dengan Yunying, dia memintanya untuk diam-diam dan gesit tanpa ketahuan dan segera keluar kota. Setelah itu rencananya Jieji akan ketemu dengan Yunying di arah timur kota tempat mereka keluar tadinya dan kembali masuk ke kota dengan wajah yang tidak berdosa.

BAB XLVII : Tokoh No 1 Dunia Persilatan
Ketika Jieji sedang mendekati hutan dimana dia pernah bergebrak sebentar melawan Chonchu. Dia merasakan hal yang sangat aneh. Dari arah belakangnya, sepertinya ada yang sedang mengejar. Hawa tenaga dahsyat sedang menuju ke punggungnya. Dia sempat berpaling sambil terus berlari kencang. Dilihatnya sekilas orang yang mengejarnya. Orang ini berpakaian putih, gerakannya luar biasa cepat. Tanpa banyak bicara, Jieji segera meninggalkan tempat itu dengan kecepatan yang segera dinaikkan. Ilmu ringan tubuh Jieji sudah sangat luar biasa. Kecepatannya di dunia mungkin sudah tidak ada bandingnya lagi. Dan orang yang sanggup mengejarnya pun sudah sangat sedikit dan hampir tidak ada.

Jieji cukup terkejut, pengejar yang mengejar tersebut hampir sejajar ilmu ringan tubuhnya dengannya. Meski terpaut 100 kaki, mereka berdua segera melesat dengan cepat. Tanpa terasa pengejaran sepanjang 5 Li telah dilakukan. Sampailah mereka ke sungai kecil. Jieji segera berbalik dan berhenti sambil menunggu sampainya pengejar. Sesaat kemudian, pengejarnya juga telah mendarat. Jieji memandangnya dengan dalam-dalam. Orang ini mempunyai tinggi hampir 6 kaki, sedikit lebih tinggi darinya. Penampakan wajahnya lumayan jelas, karena rembulan malam ini tidak tertutup mega. Dilihatnya kembali wajah orang tersebut, mungkin umurnya sekitar 60 tahun lebih. Nafas pengejar tersebut biasa-biasa saja. Ini bisa dikatakan bahwa pengejarnya mempunyai tenaga dalam yang setara dengannya. Sedang si pengejar lebih merasa aneh, dia tidak menyangka orang yang berpakaian gelap dan menutup wajahnya ini sangat hebat. Selama ini dia merasa bahwa di dunia ini dia sudah tanpa tanding. Tentu ini sungguh adalah hal yang sangat mengherankan. "Ada apa anda terburu-buru keluar dari gerbang kota?" tanya orang tua tersebut. "Wah, anda betul hebat. Saya merasa yang sanggup mengejarku di dunia ini sudah tidak ada lagi. Ternyata hari ini ketemu dengan anda, Lau Chienpei." kata Jieji dengan serius seraya mengalihkan pembicaraan. Orang tua ini terkejut ketika mendengar suara Jieji. Dia berpikir orang di depannya paling tua hanya berusia 40 tahun. Tetapi kungfunya telah begitu hebat. Dia sangat heran dan penasaran, ingin sekali dia mencoba kungfu pemuda tersebut. "Betul... Bagaimana kalau kita bertanding?" kata orang tua ini segera kepadanya. "Anda jauh lebih tua dariku, mana mungkin saya bisa menjadi tandingan anda?" tanya Jieji dengan sopan. "Ha Ha Ha.... Kungfu tidak melihat usia. Kemajuan yang mengagumkan tentulah sangat layak. Anda hanya berusia palingan 30 tahun lebih. Umurku 1 kali lipat darimu, tetapi kungfumu mungkin sudah 1 kali dariku." katanya dengan tertawa keras. "Tidak... Lau Chienpei terlalu merendah. Dengan kata-kata seperti ini, saya sudah sangat tidak nyaman. Mohon Lau Chienpei menyebut nama besar anda, supaya dari pihak muda merasa tidak kurang ajar." kata Jieji seraya memberi hormat padanya.

"Namaku Zeng Qianhao... Orang-orang dunia persilatan memanggilku Pei Nan Yang...." Kata orang tua tersebut seraya tertawa. Jieji sangat terkejut. Pei Nan yang adalah sebuah nama yang merupakan gosip dari dunia persilatan saja, hampir tidak pernah ada orang yang bertemu dengannya. Kali ini dia dapat bertemu langsung. Tentu hal ini sangat menyenangkan Jieji, dia sangat ingin mencoba kungfunya dari dulu. Apakah benar kalau Pei Nan Yang itu sangatlah sakti. "Tidak disangka Lau Chienpei adalah tokoh dunia persilatan yang paling terkenal itu..." kata Jieji sambil menghormat dalam kepadanya. "Nama saya adalah Dekisaiko Oda dari Dongyang." katanya kembali. Qianhao yang mendengar keluarga Oda sempat terheran sebentar. "Dekisaiko Oda? Jadi anda punya hubungan dengan Hikatsuka Oda dari Dongyang itu?" tanya Qianhao dengan agak keheranan. "Tentu.. Dia adalah ayahku...." Kata Jieji kemudian. "Ha Ha Ha Ha........" Zeng Qianhao tertawa dengan deras. Tetapi tertawanya ini di iringin dengan tenaga dalam. Jieji hanya tenang saja melihat tingkah orang tua tersebut. "Kalau begitu inilah yang namanya teman lama. Dia pernah menjadi sahabatku selama berpuluh tahun. Tidak disangka malah aku bertemu dengan anaknya disini." kata orang tua ini dengan girang. "Ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan pada anda..." kata Jieji dengan serius. "Hm... Ada hal apa?" tanya Qianhao kembali. "Saya adalah orang yang membunuh guru anda, Lu Fei Dan dan Bao Sanye adik seperguruan Lau Chienpei." kata Jieji mengakuinya. "Ha Ha Ha.... Hebat...Hebat... Pemuda yang jujur sangatlah kusukai. Mengenai guruku, itu adalah hal yang sudah lama sekali. Sekitar hampir 40 tahun yang lalu kami telah putus hubungan gara-gara guruku itu mau membunuhku. Selain itu, anda juga tahu. Bao Sanye adalah adik seperguruanku yang menuruti guruku. Jadi sejak lama mereka berdua tidak punya hubungan lagi denganku." kata Qianhao sambil tertawa keras kembali. Jieji yang sedari tadi menutup mukanya segera membuka kain di wajahnya. Pei Nanyang yang melihatnya tentulah sangat terkejut. Wajah temannya, Hikatsuka Oda terpampang jelas.

"Hari ini saya sangatlah bergembira. Tidak disangka benar apa yang anda ucapkan itu. Anda sungguh mirip teman lamaku itu...." Katanya kembali dengan ekspresi luar biasa gembira. Selang beberapa saat, orang tua yang tadinya dengan wajah girang. Sekarang telah berubah menjadi serius. "Bagaimana jika kita mencoba kungfu sebentar?" "Sungguh sangat memalukan. Tetapi jika Lau Chienpei ingin mencoba beberapa jurus. Yang muda hanya bisa menerima petunjuk itu dengan senang hati." kata Jieji seraya tersenyum. Sesaat itu... Hawa pertarungan telah membungkus. Jieji juga sepertinya tidak sabar, dia sangat bergembira bertemu dengan lawan setaranya. Dengan gerakan cepat luar biasa, Jieji segera menyerang dengan tendangan. Tendangan yang melesat sangat cepat ke arah dadanya dengan mudah ditangkis Qianhao. Sesaat itu, Qianhao mengeluarkan tapak untuk mengambil tempat yang terbuka di arah rusuk Jieji. Dengan langkah Dao, dia menghindar. Tapak yang mengenai tempat kosong segera di sapu ke arah Jieji yang menghindar. Dengan gerakan menarik sebelah kakinya ke belakang, kaki lain Jieji kembali menggunakan jurus tendangan mayapada. Benturan segera terjadi. Tapak tangan melawan tapak kaki. Keduanya terpental beberapa langkah ke belakang. "Hebat anak muda... Tendangan mayapadamu jelas lebih hebat daripada yang sanggup dikeluarkan teman lamaku itu." kata Qianhao sambil tersenyum. "Terima kasih Lau Chienpei telah mengalah." kata Jieji dengan sopan. Kali ini Jieji mengubah jurus tendangannya. Dia datang dengan tendangan yang menyapu. Ketika hampir sampai, telapak tangan Qianhao segera keluar sinar sekejap. Sapuan tendangan kembali berlaga dengan tapak. Benturan ini dahsyat, air sungai di sekitar segera bergelombang dahsyat. Jieji terlihat terpental ke belakang sambil melayang, tetapi Qianhao hanya berdiri tegak. Saat Jieji hampir mendarat, Qianhao kembali datang dengan tapaknya dengan cepat. Sebelum sampai, dia melihat sinar sekejap yang datang luar biasa cepat padanya. Qianhao sangatlah terkejut. Segera dia mengubah haluan tapaknya untuk menahan jurus yang datang sangat cepat itu. Kembali suara benturan tenaga dalam terjadi. Kali ini terlihat Qianhao-lah yang terpental mundur beberapa langkah ke belakang.

Setelah sanggup berdiri dengan baik akibat dorongan tenaga dalam. Qianhao tertawa. "Ha Ha ... Kita betul seimbang. Tidak disangka kamu juga menguasai jurus ilmu jari dewi pemusnah.. Anak muda, kamu itu makin lama makin menarik..." kata Qianhao yang senang. Sesaat ketika kata-katanya selesai diucapkan. Kembali dia rapal tapaknya, kali ini tapaknya sangat berbeda dengan tapak sebelumnya. Tapak ini sangat terkenal di dunia persilatan, yaitu tapak mayapada. Jieji yang melihatnya segera mengubah suasana pertarungan. Dia patahkan sebuah ranting pohon yang pendek di sebelahnya. Dia tidak memakai pedang yang di pinggangnya, karena dirasa sangatlah tidak adil bagi Qianhao. Ketika keduanya telah siap. Qianhao segera melesat cepat.... Tapak Mayapada telah mengancam dengan luar biasa cepat. Jieji yang melihatnya, segera mengeluarkan jurus pedang ayunan dewa tingkat ke enam. Dia memakai ranting yang menusuk ke arah tapak. Ketika ranting hampir sampai ke tapak terbuka, jurus Jieji segera berbelok mengancam ke tenggorokan Qianhao. Dengan segera tapak yang sempat keluar itu dia tarik untuk melindungi tenggorokannya. Tusukan ranting pas mengenai tapaknya. Benturan tenaga dalam pun segera terjadi. Ranting yang dipakai Jieji segera koyak menjadi beberapa ratus bagian kecil. Ketika hampir sampai tubuh Jieji ke tapak Qianhao, dia mengerahkan tapaknya yang paling dahsyat. Seraya berputar tubuh, dia juga memutar lengannya satu lingkaran penuh. Dan segera mengarahkan ke tapak Qianhao. Tapak berantai tingkat 1 melawan Tapak mayapada tingkat 1 Qianhao. Benturan kali ini sangatlah dahsyat. Riakan air sungai makin menjadi. Tanah seakan bergetar sebentar ketika kedua tapak itu bertemu.. Hasil pertarungan segera tampak jelas. Jieji cuma bersalto ringan ke belakang. Sementara Qianhao terdorong ke belakang lumayan jauh sambil menyeret kakinya. "Hebat... Saya telah tahu kalau anda tidak mungkin hanya menguasai beberapa ilmu kungfu saja sudah demikian hebat. Tidak disangka jurus yang telah hilang di jagad persilatan itu masih dikuasai olehmu. Ilmu pemusnah raga... Ha Ha..." tertawa Qianhao dengan deras. "Ilmu pemusnah raga? Saya tidak tahu artinya. Ini hanya tapak berantai

ciptaanku dengan menggabungkan semua jurus yang pernah kupelajari..." Kata Jieji tentu dengan keheranan luar biasa sekali. Kenapa Qianhao bisa mengatakan kalau jurusnya adalah Ilmu pemusnah raga? "Ilmu ciptaanmu? Sangat heran... Jurus Ilmu pemusnah raga adalah sesungguhnya gabungan dari beberapa ilmu hebat di dunia persilatan. Kamu datang ke istana tentu ingin mencuri buku kisah ilmu itu kan?" tanya Qianhao kembali. "Betul Lau Chienpei. Beberapa tahun lalu di Koguryo, atas petunjuk seseorang dalam suatu mimpi. Dia memintaku untuk menggabungkan semua jurus yang kupelajari menurut semua inti semesta, yaitu Air, tanah, angin dan api. Sehingga saya menciptakan jurus tapak yang lima tingkat itu." kata Jieji dengan jujur kepadanya. "Apa? Jadi jurus itu adalah jurus ciptaanmu sendiri? Hebat nak... Saya sangat menyalutimu. Apa nama jurus tapak yang kamu ciptakan itu? Setelah pulang, lihatlah dengan jelas buku yang kamu curi itu. Pasti kamu bisa mengerti dengan baik apa maksud saya itu..." kata Qianhao kembali dengan tersenyum. "Jadi begitu? Saya telah penasaran terhadap ilmu itu selama beberapa tahun lamanya. Ini adalah tapak berantai. Tidak disangka inilah jurus yang hampir sama dengan jurus dalam Ilmu pemusnah raga..." Kata Jieji dengan agak keheranan. "Tapak berantai? Hebat nak... Ini adalah tapak yang sangat cocok antara nama dan jurusnya." kata Qianhao dengan puas. "Oya Lau Chienpei, bisa anda ceritakan kenapa tapak mayapadamu sangat berbeda dengan orang yang menguasainya itu? Disini tapakmu 10 kali lebih hebat dan cepat dari tapak yang biasa dikeluarkan." tanya Jieji kemudian. "Sama sepertimu, sebenarnya saya menggabungkan tiga ilmu tapak ke dalam tapak mayapada. Sehingga jurus ini bisa dikatakan tapak pemusnah raga." kata Qianhao. Saat selesai pembicaraan, keduanya mendengarkan langkah ilmu ringan tubuh yang dari jauh mendekati ke tempat mereka. Qianhao segera meminta pamit pada Jieji. Dia memberi hormat kepadanya dengan sangat sopan. Jieji juga membalasnya dengan sangat sopan juga. Sesaat itu, dengan ilmu ringan tubuh tingkat tinggi segera ditinggalkannya sungai kecil itu. Beberapa saat...

Jieji segera tahu siapa yang sedang mendekati tempat itu. Suara ringan tubuh yang sangat dikenalnya. Kemudian suara itu perlahan lenyap bersamaan dengan turunnya seorang wanita cantik. "Ha Ha... Kamu menungguku tentu sudah tidak sabar." kata Jieji seraya tertawa. "Tentu... Apa yang terjadi? Saya merasakan adanya hawa pertarungan disini tadinya, sekarang kok jadi lenyap???" kata wanita ini ternyata adalah Yunying adanya dengan agak keheranan. Dia datang sambil membawa buntalan yang berisi baju mereka berdua. "Saya akan menceritakannya begitu sampai di istana." kata Jieji kemudian sambil mengambil buntalan di tangan Yunying. Lalu dengan cepat, mereka mengganti baju mereka dan segera menuju ke timur kota untuk masuk kembali ke istana.

BAB XLVIII : Pemuda aneh asal Dongyang
Di dekat kota Pyungyang. Pintu Timur... Dengan mengambil langkah yang pelan dan santai, mereka pura-pura memasuki kota. Penjagaan kota memang telah diperketat dengan sangat cermat bagi yang ingin meninggalkan atau memasuki istana. Karena mereka berdua jelas dilihat oleh penjaga ketika keluar dari kota Timur, maka dengan sekembalinya mereka berdua, Penjaga hanya mengizinkan mereka berdua masuk tanpa bercuriga. Jieji dan Yunying yang masuk ke dalam kota segera menuju ke kediaman mereka di belakang istana. Disana telah terdapat 3 orang yang lainnya yaitu Pangeran Hongyun, Wei dan Xieling. Setelah mendengar bahwa pencuri telah kabur dari istana, Pangeran bertiga segera minta pamit pada Chonchu. Jieji sengaja meminta kepada teman-temannya untuk menyibukkan Chonchu. Karena di dalam istana, Jieji tahu yang berilmu tinggi hanya dia seorang. Oleh karena itu, selain menyibukkan dia maka akan sangat susah mengendap ke istana untuk mencuri. Tetapi Jieji dan teman-temannya sama sekali tidak tahu kalau Chonchu juga mengetahuinya. Setelah mereka duduk dan tenang sejenak. JinDu mulai menanyai kakak keduanya dengan suara pelan. "Kakak kedua.. Apa yang kamu dapatkan?"

Seraya mengeluarkan buku di balik bajunya, dia memapangkannya di meja. Buku itu tertulis sangat jelas " Buku Kisah Ilmu Pemusnah Raga ". "Kamu belum menceritakan bagaimana kamu bisa bertarung hebat di sungai kecil itu." Tanya Yunying kepadanya dengan mengerutkan dahinya. "Betul.. Mungkin lebih perlu jika kuceritakan hal itu kepada kalian terlebih dahulu." kata Jieji kemudian. Wei dan Xieling serta pangeran agak terheran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Jieji yang pulangnya agak telat dari waktu yang diperkirakan. Namun dengan segera, Jieji menceritakan bagaimana pertemuan dia dengan tokoh no 1 dunia persilatan itu dan bagaimana dia dengannya bergebrak sebentar. "Wah.. Hebatt.... Bahkan Pei Nanyang saja sanggup kamu kalahkan. Tidak sia-sia aku mengagumimu sangat." Kata Yunying sambil tersenyum bangga pada Jieji. "Tidak juga... Qianhao lebih hebat tenaga dalamnya dibanding diriku. Saya cuma untung-untungan menang melawannya. Ini cuma disebabkan karena adanya ilmu tapak berantai. Jika tidak, selamanya pun tidak sanggup ku desak dia..." kata Jieji sambil tersenyum. "Kalau begitu, memang benar gosip itu adanya? Pei Nanyang betul-betul orang yang hebat .." kata Wei Jindu. "Betul... Dalam pertarungan tersebut, saya juga mutlak kalah padanya jika tidak kukerahkan tapak berantai. Dia benar manusia hebat luar biasa." kata Jieji yang memuji Qianhao, Pei Nanyang. "Ohyah.. Saya benar penasaran, kamu tidak pernah menceritakan bagaimana kamu bisa menciptakan tapakmu yang sangat hebat itu?" kata Yunying yang memandangnya sambil mengerutkan dahinya. Jieji memandangnya dengan sekilas. "Lain kali sajalah...." katanya dengan membuang mukanya. "Tidak... Tidak bisa... Tempo lalu kamu sudah mengatakan untuk lain kali.. Sekarang lain kali lagii...Masak mau kamu kujambak pulang ke Hefei terlebih dahulu baru mau kamu ceritakan? Atau jangan-jangan kamu mau aku dah jadi nenek-nenek dulu baru kamu ceritakan kepadaku???" Kata Yunying seraya bercanda dengannya tetapi dengan setengah niat memaksanya. Mereka hanya tertawa saja melihat tingkah kedua orang tersebut.

"Baik.. Baik.. Lagian waktu kita masih panjang, saya akan menceritakannya..." Kata Jieji kemudian dengan wajah kesal sambil memandang si nona. Tetapi Yunying hanya tertawa geli saja sambil memandangnya. *** 6 Tahun lalu. Kota Ye Chen... Jieji seperti biasa.. Dia berjalan menelurusuri wilayah satu kota ke kota lainnya dengan berharap bahwa dia bisa menemukan sisa petunjuk tentang Ilmu no 1 sejagad itu. Setelah tiba di kota Ye. Dia mendengar gosip di kota bahwa para pesilat dari daratan tengah sedang menuju ke utara padang pasir. Ada gosip baru yang menyatakan kalau ilmu itu "ada" di tanah tua Mongolia. Jieji yang sebenarnya tidak ada kerjaan lain tentu tidak bermasalah jika dia menyusul ke Mongolia. Dengan segera, dia melarikan kudanya ke kota tujuan lain dan memasuki wilayah Han Utara. Setelah melewati kota YiChou, Jieji telah siap menuju ke utara. Dari sana dengan jarak sekitar 100 li ke utara, maka tanah tua Mongolia bisa dicapai. Namun, dalam perjalanannya yang hanya beberapa Li. Dia dicegat oleh seseorang. "Siapa anda? Mengapa menghalangi jalanku?" tanya Jieji sopan kepadanya. Tetapi orang ini hanya diam seribu bahasa sambil memandangnya beberapa saat. Jieji melihat perawakan orang tersebut. Umurnya palingan hanya 20 tahunan. Tingginya hanya 5 kaki lebih. Wajahnya sangatlah tampan, tetapi di pipi kanannya terdapat sebuah goresan yang lumayan panjang. Wajahnya sangat khas yaitu wajah khas orang Dongyang, begitu pula pakaiannya yang tidak mirip pakaian orang daratan tengah. Di tangan orang terpegang pedang panjang dengan sarung dan sedang berpangku tangan. "Serahkan pedang di pinggangmu jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan dirimu..." kata orang tersebut dengan mata yang sangat dingin. Jieji segera sadar. Orang di depannya bukanlah sembarang orang. Segera hawa pembunuhan muncul dengan berdesir dan merindingkan bulu kuduk. Penyerang tanpa banyak bicara karena melihat reaksi Jieji yang enggan menyerahkan pedang, lalu dengan segera dia mencabut pedangnya.

Pedang penyerang tidak lain tentu adalah pedang panjang dengan 1 sisi tajam, Katana. Pemuda aneh ini lari ke arahnya dengan kedua tangan siap di arah pegangan pedang. Gerakan pemuda itu sangatlah cepat. Jieji segera terkejut, dia segera melompat dengan ilmu ringan tubuh menjauhi kudanya dan melompat tinggi melewati pemuda itu. Sambil mencabut pedang di pinggang, Jieji segera mengeluarkan jurus pedang ayunan dewa. Tetapi jurus ini sepertinya dengan mudah ditahan penyerang. Dalam beberapa gerakan kelihatan Jieji sangat terdesak. Beberapa goresan telah jelas tertampak di tubuhnya. Jurus pedang ayunan dewa sepertinya bukan tandingan jurus pedang pemuda aneh tersebut. Mereka sempat bergebrak puluhan jurus. Jurus pemuda ini aneh dan sangat mengancam. Sementara Jieji hanya bisa menahan dan menghindar tanpa ada celah untuk menyerang baginya... Dalam satu ketika, jurus pedang pemuda itu makin mengancam. Dengan satu gerakan nan dahsyat, dia mengeluarkan hawa nan tajam yang keluar dari katana. Jieji yang melihatnya, hanya bisa menahan hawa pedang dengan pedang Ekor api. Namun tak ayal, Jieji terseret ke belakang dengan sedikit luka dalam. Lalu dengan gerakan yang teramat cepat sebelum Jieji siap benar kembali, pemuda ini loncat sangat tinggi. Dengan jurus membelah, dia segera membacok ke bawah... Yang diincarnya kali ini tentu batok kepala Jieji. Jieji sangatlah terkejut, dalam posisi ini dia serba salah. Mundur memang bisa, tetapi jika jurus membelah itu diubah menjadi membacok ke samping, maka riwayatnya pasti tamat ketika itu. Sepertinya kali ini dia tidak punya pilihan lain... Dengan gerakan pasti sambil menarik nafas, pedang yang datang sangat cepat itu segera dikepit dengan kedua tapak tangannya. Hawa di sekitar radius 5 kaki segera tidaklah ramah. Tanah di bawah kakinya yang agak berpasir itu segera membelah membentuk lingkaran besar karena hawa penyerangan yang datang dari atas itu sangat dahsyat. Dengan mengerahkan semua kekuatannya, si penyerang terus menekan. Sementara dari hidung dan bibir Jieji telah mengalir darah segar. Dalam keadaan serba bingung seperti itu, segera Jieji mendapat akal dadakan. Tidak dipedulinya lagi bacokan itu walaupun gerakan kali ini sangatlah berbahaya. Dengan seluruh tenaganya Jieji menyampingkan pedang yang sedang dikepitnya itu. Tidak dipedulikan bacokan itu mengenai dadanya.

Dengan gerakan memutar dan bersalto. Jieji mengerahkan tendangan mayapada untuk menghantam perut si penyerang. "Dhuakk...." Suara tertendang sangat jelas. Sementara bacokan pedang juga sama mengarah ke bahu Jieji sampai ke perutnya. Dalam keadaan itu, keduanya jatuh terbaring. Jieji masih sanggup berdiri, karena luka itu hanyalah goresan. Sementara penyerang bangun dengan memegang perutnya yang tanpa perlindungan tadi di tendang dengan jurus maha dahsyat. Penyerang tadinya segera muntah darah sangat banyak. Resiko kali ini dimenangkan oleh Jieji meski di tubuhnya juga terdapat sebuah goresan panjang. *** Yunying yang mendengarkannya dengan asik segera mendekati Jieji. Dia membuka bajunya dengan perlahan dan mengintip ke dalam.. Goresan itu masih terlihat lumayan jelas di sebelah kiri bahu pemuda itu dan turun sampai dekat perutnya. Sesaat Yunying merasa tidak enak hati juga. "Apa masih sakit?" tanya Yunying sambil mengerutkan dahinya. Jieji mendorong pelan kepala si nona sambil bercanda dengannya. "Kalau masih terasa sakit sampai sekarang berarti suamimu ini bukan lagi manusia..." Mereka segera tertawa geli mendengar kata-kata Jieji. "Kalau kamu ketemu sekarang.. Hajari dia sampai babak belur.. Bagaimana?" tanya Yunying kembali. "Tidak perlu.. Jangan-jangan kungfu orang itu malah telah lebih tinggi dariku saat ini." kata Jieji sambil berpikir, diingatnya jurus kungfu pemuda itu yang sama sekali tidak ada celah. "Jadi kalau begitu berarti kakak kedua sama sekali bukan tandingan si pemuda aneh saat itu?" kata Wei Jindu. "Betul.... Saat itu saya sama sekali bukanlah tandingannya meski di tanganku tergenggam pedang Ekor Api.." Kata Jieji seraya mengenangnya kembali kejadian itu. *** Jieji yang melihat penyerang sempat roboh, dengan segera dia menuju ke kudanya. Sambil memacu cepat, dia mengarahkan tujuannya yang tadinya

adalah ke utara dan menuju ke arah timur. Penyerang yang tidak puas segera merapal jurus barunya. Dengan tarikan nafas panjang yang di dengar Jieji dengan jelas walau terpaut puluhan kaki. Sebuah sinar terang berbentuk sabit segera keluar dengan luar biasa cepat. Kuda yang dinaiki oleh Jieji adalah kuda bintang biru. Kuda tersebut tahu bahwa bahaya segera mendekat. Meski dalam keadaan lari yang luar biasa kencang, dia bisa menghindari hawa pedang sabit yang sangat menusuk itu. Jieji sambil memegang dada segera mengikuti pergerakan kudanya yang menyamping menghindari hawa pedang. Hawa pedang yang lolos sempat bertemu dengan pohon kecil di samping mereka yang jaraknya sudah seratus kaki. Segera terdengar suara pohon terbacok yang sangat keras. Pohon langsung terbelah dua di tengah... Sungguh hebat jurus ini, meski jurus ayunan pedang dewa tidak mampu melakukannya. Dengan cepat, Jieji dan kudanya segera melaju. Segera dilihatnya tangan yang memegang dadanya. Darah sungguh banyak mengalir. Sesungguhnya arah Jieji adalah wilayah utara, yaitu tanah tua Mongolia. Dengan sangat sadar, Jieji tahu kalau si penyerang akan mencarinya kembali jika dia menuju ke tanah tua Mongolia. Oleh karena itu dia segera menuju ke tanah Koguryo. Yang letaknya juga tidak begitu jauh lagi dari posisinya. Dalam 5 jam, Jieji telah sampai di perbatasan antara Han utara dengan Koguryo. Penjaga disana memang sangat brutal terhadap orang luar. Mereka tidak suka orang China daratan yang sampai disana. Belasan serdadu yang melihat seorang pemuda berkuda dengan cepat ke arah mereka. Dengan segera mereka berniat untuk mencegatnya, tetapi Kuda bintang biru segera melesat dengan melompat sangat tinggi melewati para penjaga. Para penjaga hanya bisa keheranan, tetapi mereka tetap mengejar dengan cepat ke arah perginya orang tersebut bersama kuda yang lihai itu.

BAB XLIX : Inti dari Ilmu dahsyat, Tapak Berantai
Jieji segera memacu kudanya tanpa tujuan jelas. Baginya yang terpenting adalah menghindar dari bahaya duluan. Selama 2 jam dari perbatasan Koguryo, dia terus memacu kudanya ke arah timur. Beberapa saat kemudian, maka sampailah dia di sebuah danau kecil dekat hutan.

Jieji segera turun dari kuda gagahnya,dan membuka bajunya yang telah berlumuran darah yang banyak. Lukisan Xufen dan 5 orang di gurun yang selalu bersamanya memang terkena bercak darah yang tidak sedikit. Jieji sepertinya lebih mementingkan lukisan itu daripada tubuhnya yang tergores pedang. Segera dia bersihkan lukisan itu dengan hati-hati. Bahan dari lukisan bukanlah kertas biasa. Kertas itu berasal dari daerah Persia yang sangat terkenal dan tidak gampang basah. Setelah membersihkan lukisan itu, Jieji cukup puas juga. Karena hanya sedikit bagian yang lusuh seperti terkena air, tetapi tidak sempat merusak lukisan tersebut. Setelah itu dia baru mengobati dirinya sendiri dengan mengoyak lengan bajunya dan membalut luka goresan yang cukup panjang, sementara beberapa goresan kecil tidak berarti apa-apa baginya. Selang beberapa jam kemudian, dia hanya bersemedi untuk mengobati luka dalamnya. Setelah selesai, Jieji merasa aneh juga. Dia sampai di sebuah tempat yang tidak ada penghuninya. Dia memperhatikan sekeliling, disana terlihat pohon-pohon yang besarnya luar biasa, danau kecil di samping dengan air terjun yang kecil di hulu. Dia beranjak dari tempatnya sambil menunggang kuda untuk memeriksa sekeliling. Saat itu langit hampir gelap, dan matahari mulai tenggelam. Tanpa sadar, dia pun sudah mulai kelaparan. Diperhatikan buah-buah di pohon yang menjulang tinggi itu. Namun dia sama sekali tidak mengenal buah apa yang terdapat pada pohon. Dengan ilmu ringan tubuh, segera dipetiknya beberapa biji buah dari pohon yang menjulang tinggi. Kemudian diperhatikan kembali buah berwarna orange tersebut. Di China daratan, dia tidak pernah melihat buah semacam ini. Buah tersebut mirip jeruk, namun lebih besar. Besarnya sekitar besar buah melon. Karena tidak ada makanan yang bisa dimakannya, maka Jieji segera mengupas buah ini. Dengan lahap dia memakan habis 3 biji buah "Aneh" itu. Karena tidak ada tempat pergi, sementara waktu telah lumayan malam. Jieji segera mencari tempat yang lumayan baik dan bisa keluar dari hutan untuk bermalam. Tetapi setelah dikelilinginya daerah tersebut, dia kembali merasa aneh. Karena tidak sanggup keluar dari tempat ini, seakan-akan dia selalu kembali ke danau kecil. Namun Jieji tidak ambil pusing mendapati fenomena ini, karena

dianggapnya waktu telah malam, maka daripada itu susah untuk keluar dari wilayah yang mirip hutan tersebut. Dengan tidak berargumentasi lebih lanjut, dia mencari goa kecil atau tempat yang layak untuk bermalam disana. Setelah beberapa saat, dia mendapati sebuah goa yang lumayan layak untuk di tempati. Karena tidak ada penerangan, maka dicabutnya pedang Ekor api dari sarungnya. Sinar merah menyala segera tampak. Goa ini panjangnya memang tidak seberapa, tetapi cukup luas untuk di tinggalinya. Segera di periksa dengan jelas apakah di goa ini terdapat binatang beracun atau tidak. Jieji berjalan beberapa tindak ke depan. Sesaat dia memandang sekeliling dinding. Tetapi langsung dia terkejut. Di dinding terdapat beberapa ukiran bahasa China, Dan juga terdapat banyak ukiran bentuk manusia yang berlatih kungfu. Ukiran sebenarnya tidaklah diukir dengan senjata tajam biasa. Tetapi diukir dengan sebuah benda yang berwarna biru muda terang. Pedang Ekor api yang mendekat ke dinding membuat ukiran aksara dan gambar menjadi terang berkelap-kelip. Jieji yang melihatnya sangat terkejut mendapati fenomena semacam ini. Dan juga karena jurus kungfu di dinding sangat jelas dan sangatlah di kenalnya. Jurus kungfu itu tidak lain adalah jurus Ilmu Jari dewi pemusnah ciptaan Dewa sakti. Dia periksa dengan teliti, jurus ini terdiri dari 6 bagian. Semua jurus yang pernah dihapalkan Xufen kepadanya tentu terukir di dinding itu. Setelah mengamati sambil terkagum-kagum, Jieji segera menuju ke bagian yang agak dalam. Dinding disini lebih aneh. Masih sama dengan dinding yang di depan, tetapi jurus ilmu yang diukir di dinding kali ini tidak di kenalnya. Tetapi tidak begitu asing baginya. Jurus di dinding sangat bertolak belakang dengan jurus yang dikuasainya juga yaitu "Ilmu dewa penyembuh tenaga dalam". Ilmu ini terbalik karena mengajarkan cara membuyarkan tenaga dalam. Sedang ilmu dewa penyembuh adalah mengajarkan bagaimana cara untuk meningkatkan tenaga dalam. Jieji merasa aneh, entah siapa yang menciptakan kungfu yang sama sekali tidak perlu dipelajari itu. Dengan tidak melihat jurus kungfu "Aneh" ini lebih lanjut, dia menoleh ke belakang. Dia mencoba untuk melihat apakah di dinding juga ada goresan serupa. Ternyata apa yang dikiranya jitu. Di situ tertulis jelas beberapa aksara China yang besar. Lalu dengan pelan-pelan dia membaca aksara tersebut.

"Inilah gua misteri. Berpuluh-puluh tahun saya telah memecahkannya. Jurus Ilmu Jari Dewi pemusnah adalah layak untuk melengkapi jurus yang terakhir dari semua jurus yang ada. Dewa sakti mengira saya tidak tahu bagaimana cara memahami jurusnya. Ternyata dia salah besar. Ha Ha Ha....." Di bawah dinding terukir "Ilmu dewa harus dipelajari bagi siapapun yang melihat jurusnya." Jieji yang membacanya tentu heran. Dia berpikir mungkin orang yang mengukir jurus adalah orang yang bertantangan dengan Dewa Sakti, gurunya Yuan Xufen. Tetapi disini sama sekali tidak tertulis siapa nama orang yang mengukirnya. Jieji tetap penasaran. Kembali dilihatnya jurus "Ilmu dewa pembuyar tenaga dalam" yang sempat diungkit di dinding itu. Dia meneliti dengan cermat, bagaimana perbedaan kedua Ilmu dewa itu. Saat dia berkonsentrasi dan memikirkan tentang perbedaan keduanya, tiba-tiba dia merasa sangat pusing. Kepalanya seakan-akan bergoyang sangat cepat. Pandangannya sangat kacau. Tanpa tersadar, dia segera jatuh tak sadarkan dirinya disana. Beberapa saat... Jieji sepertinya telah bangun. Tetapi keadaannya sangat lemah. Dia mengusahakan dirinya untuk berdiri semampunya. Dilihatnya sekeliling daerah sana. Namun gelap sekali. Seteleh beberapa saat sampai dia mampu melihat sekeliling, dia berusaha berjalan. Jieji sangat heran, diusahakannya dirinya untuk mengingat kejadian sejak tadi sebelum dia roboh. Untuk sekilas, semua ukiran di dinding tentang "Ilmu dewa pembuyar tenaga dalam" terbayang dengan jelas. Tetapi hal tersebut malah membuatnya makin pusing. Dia tidak mampu menguasai dirinya untuk beberapa saat. Sampai terdengar sebuah suara. "Kamu mengingat jurus di dinding itu?" Jieji segera terheran-heran sambil melihat sekeliling. Ditelitinya tempat itu, dan dilihatnya bahwa selain gelap gulita maka tidak ada sesuatu yang bisa dilihatnya lagi... Tetapi suara itu telah menolongnya dan membuatnya kembali ke alam sadar. Kepalanya yang tadinya sempat bergoyang-goyang, sekarang telah baikan kembali. "Siapa? Mohon petunjuk Lau Chienpei kenapa saya bisa sampai ke tempat ini?" tanya Jieji yang memperkirakan suara orang itu termasuk suara orang yang jauh lebih tua darinya.

"Lau Chienpei??? Ha Ha Ha............" terdengar suara orang tersebut tertawa sangat panjang. Jieji heran, kenapa orang yang dipanggil tetua malah tertawa besar. "Jadi bukan lau chienpei lantas apa yang perlu kupanggil kepada anda?" "Saya ini adalah leluhurmu... Bagaimana kamu bisa memanggilku Lau Chienpei?" suara orang itu muncul kembali. Kali ini Jieji lebih heran, dia cuma berpikir tanpa mengeluarkan suaranya lagi. "Kamu memang pantas menjadi penerus keluarga Oda. Tetapi kungfumu sekarang sangatlah jelek....." "Mohon petunjuk kakek tua untukku. Saya sadar kalau kungfu saya memang masih jelek sekali." Kata Jieji sambil mengambil gerakan memberi hormat. "Semua ilmu yang kamu pelajari memang ilmu kelas tinggi yang jarang ada orang yang bisa menguasainya dengan cermat. Apakah kamu tidak pernah berpikir untuk menggabungkan semua energi di dalam tubuhmu menjadi satu?" kata suara itu dengan perlahan tetapi berwibawa. Jieji bisa menangkap apa maksud perkataan orang tua itu. Dia berpikir keras. Setiap dia mengeluarkan salah satu jurus yang pernah dipelajarinya, dia selalu merasa tidak cukup kuat. Sekarang orang tua itu menganjurkan menggabungkan semua hawa energi menjadi satu dan mengeluarkannya dengan sama-sama. Tetapi ada hal yang tidak di mengerti oleh Jieji. "Kakek tua.... Bagaimana cara menggabungkan semua jurus itu menjadi satu? Mohon berilah sedikit petunjuk kepada cucumu ini....." kata Jieji dengan sopan. "Semua unsur di dunia saling melengkapi. Unsur air, bumi, angin dan api adalah perpaduan semua materi yang ada di dunia. Semoga kamu dapat mengertikan artinya itu.......Pikirkanlah baik-baik..........." kata suara itu dengan cermat dan terakhir hilang. "Tetapi.... Kakek tua...." Jieji terus berteriak. Tetapi suara itu tidak muncul lagi sama sekali. Untuk sesaat, tiba-tiba kepalanya merasa sangatlah pusing. Dia kembali terjerembab dan jatuh.

Jieji merasa seperti kehilangan dirinya untuk waktu yang cukup lama. Dan akhirnya dia tertidur dengan pulas sekali. Ketika kedua matanya dibuka kembali. Jieji segera bangun dan berdiri. Waktu telah pagi... Matahari telah ayal-ayalan. Suara air terjun terdengar lumayan jelas. Lalu dilihatnya sekeliling kembali, ternyata dia telah kembali ke goa kecil. Pedang Ekor api masih terjatuh di tanah. Rupanya dia sedang bermimpi pikirnya.Tetapi mimpinya itu sangatlah jelas. Untuk sesaat dia kembali memikirkan tentang perkataan orang tua itu sambil berjalan keluar untuk mencuci muka. Ketika dia berjalan keluar, lantas dibenaknya terdapat sesuatu hal. Segera sambil berlari kecil dia menuju ke danau kecil. Dilihatnya air danau itu, dari air danau terpantul cahaya matahari, dan karena dasar danau dangkal maka dia mampu melihat bebatuan dan tanah di bawahnya. Sekilas dia kembali berpikir... Kemudian dirasakannya hembusan angin yang sepoi-sepoi. Saat itu tiba-tiba dia berteriak kegirangan. Sepertinya Jieji telah mengerti apa perkataan orang tua dalam mimpinya tersebut. Semua jurus yang dipelajari memang benar adanya terdiri dari 4 unsur utama dari alam semesta. Air, tanah, Angin dan Api adalah 4 unsur yang saling bertolak belakang dan terakhir 4 unsur menjadi saling melengkapi. Air dan Api adalah 2 buah unsur yang sama sekali tidak selaras, begitu juga Angin dan tanah yang diibaratkan langit dan bumi yang tidak mempunyai keselarasan. Tetapi jika keempat unsur tersebut digabungkan maka yang tercipta adalah materi. Dalam kitab ilmu kuno tentang mistik menyatakan seorang manusia terdiri dari 4 unsur yaitu air, api, tanah dan angin. Air dalam diri manusia tentu dimaksudkan air yang diminum, kelenjar, serta lain-lainnya. Api adalah darah, darah mengatur semua unsur dalam tubuh untuk dibawanya karena darah menjadi alat utama untuk menggerakkan pompa jantung. Tanah diibaratkan sebagai daging manusia. Sedangkan angin adalah tulang manusia. Semua unsur bertolak belakang ada di dalam manusia dan hebatnya unsurunsur itu tidaklah bertolak belakang satu sama lain ketika digabungkan sehingga manusia bisa hidup dengan baik. Jieji girang mendapati sesuatu hal yang tidak lain tentunya adalah inti ilmu sejati dengan menggabungkan semua jurus yang pernah dipelajarinya. Dan sungguh kebetulan sekali kalau 4 unsur utama juga terdapat pada 4 jurus yang dipelajarinya dengan cermat.

Jurus Ilmu penyembuh tenaga dalam adalah jenis air, karena memberi manfaat menyembuhkan diri. Jurus tendangan Mayapada adalah jurus yang seperti tanah karena kokohnya tendangan itu. Jurus Langkah Dao tentu adalah jurus yang diibaratkan dengan gerakan angin yang tanpa dapat dilihat tetapi membawa manfaat. Sedang jurus Ilmu jari dewi pemusnah sangat dahsyat, keluarnya tenaga dalam jurus itu seperti api yang menjilat. Dari sini dia mendapati ilham untuk kembali memahami semua energi di atas dan menciptakan sebuah kungfu yang baru. Jieji hidup disana selama 1 bulan untuk menggabungkan semua jurusnya. Dan sungguh kemajuan yang sangat luar biasa. Dalam 1/2 bulan saja dia telah berhasil menciptakan 4 tingkatan tenaga dalam tapak berantai. Setiap tingkatan dalam jurusnya semakin tinggi maka semakin dahsyat. Perputaran 4 energi sekaligus memang menghasilkan energi baru yang mengagumkan. Jurus tapak berantai yang pertama adalah jurus yang diambil dari energi "Air". Air memang kelihatan lemah, tetapi perputarannya terhadap benda jelas paling dahsyat dibanding dengan materi lain. Tapak berantai kedua mengandalkan energi "Tanah". Tanah yang penuh gravitasi menyerap segala sesuatu yang jatuh padanya. Tetapi tanah tetap kokoh tak terjatuhkan adanya. Tapak berantai tingkat ketiga mengandalkan energi "Angin". Setiap jurus yang datang padanya akan mampu dibalikkan seperti kuasa angin yang mengikuti suhu udara. Semakin panas energi datang maka angin yang lebih dingin akan berhembus berbalik ke daerah yang panas dimana energi itu datang. Tapak berantai tingkat keempat diambil berdasarkan energi "Api". Api membakar semua materi yang ada. Tetapi api disini tentu maksudnya adalah sinar matahari yang terus menembus dan tidak ada yang bisa menghalanginya. Serangan tingkat empat tapak berantai teramat dahsyat. Sedangkan tapak berantai tingkat lima adalah gabungan semua jurus dari 4 energi tapak. Jadi bisa dikatakan kalau tapak berantai tingkat lima adalah penggabungan 2 kali energi dari semua unsur. Karena dalam kitab mistik kuno menyatakan kalau 4 unsur yang digabung akan menjadi unsur "Emas/Logam".

BAB L : 5 Sesepuh Tua

Mereka sangat asyik mendengar cerita Jieji tentang pertualangannya yang barusan diceritakan. Mereka sangat mengagumi pertualangan ilmunya yang baru setengah bulan saja sudah dipahaminya dengan betul. "Kalau begitu, tapak berantai tingkat lima betul tanpa tanding yah?" tanya Yunying sambil tersenyum padanya. "Tidak juga.. Di dunia ini tidak ada istilah tanpa tanding. Di atas langit pasti ada langit lagi..." kata Jieji sambil berpikir. "Tapi cerdasnya kakak sampai bisa berpikir kalau semua jurus yang telah dipelajari kakak mengandung 4 unsur utama pembentuk jagad." kata Wei yang memuji kakak keduanya. "Tidak juga dik... Kamu tahu? Jurus tapak Buddha Rulai-mu juga mengandung unsur "API" yang membara kan? Selain itu, jika adik juga berhasil mendalami ilmu lainnya yang mempunyai unsur yang berbeda dan kesemua ilmu mempunyai tingkatan yang sama maka adik bisa menciptakan jurus yang baru juga." tanya Jieji sambil memandangnya. "Betul kak... Kalau dipikirkan, jurus tapak Buddha Rulai memang paling dominan mengandung unsur api. Kalau menciptakan jurus yang baru mungkin aku tidak secerdas itu kak..." kata Wei sambil mengangguk dan tersenyum. "Yang saya heran adalah kenapa Pei Nanyang yang sempat bergebrak denganmu mengatakan kalau Tapakmu adalah Ilmu Pemusnah raga?" tanya Yunying kembali kepadanya. Jieji berpikir sebentar, kemudian seraya menunjuk ke meja, dia berkata. "Jawabannya pasti ada di sana...." Buku yang telah diletakkan di meja itu segera diperhatikan mereka semua. Sambil berjalan ke depan, Yunying meraih buku yang berjudul "Kisah Ilmu Pemusnah Raga" tersebut. "Biar saya yang bacakan yah...." kata Yunying sambil tersenyum. *** Akhir zaman menjelang runtuhnya Dinasti Tang, Kaisar Ai Di... Saya adalah seorang pelayan yang melayani 5 orang dahsyat itu di lembah Gunung Hua, karena tiada kerjaan setelah pelayanan, saya menulis buku tersebut. Di dunia terdapat 5 manusia mengagumkan dan menggemparkan dunia persilatan. 5 orang itu tak lain adalah Dewa Semesta, Dewa Sakti, Dewa Ajaib, Dewa

Manusia dan Dewa Bumi. Mereka berusaha untuk menciptakan Ilmu baru yang akan menggemparkan seluruh jagad raya. Dengan menggabungkan semua inti ilmu dari semua ilmu ciptaan mereka masing-masing. Semua ilmu mengandung unsur dari semua unsur di jagad raya yang kesemuanya adalah saling bertolak-belakang. Seperti Yin dan Yang, kesemuanya bisa bercampur dan saling melengkapi satu sama lainnya. Ke 5 orang tersebut kabarnya pernah menjadi murid dari Maha Guru Xuan Wu dari Tanah tua Mongolia. Dewa Semesta adalah seorang pendekar yang berasal dari wilayah Si Zhuan, menempati JinBing Shan (Gunung JinBing). Dewa semesta mempunyai sifat yang sangat aneh, dia menciptakan jurus Tinju Semesta dan beberapa jurus yang mendukungnya yang dipelajari dari Guru-nya Jiang Xing yaitu Langkah Dao, Ilmu perpudaran alam semesta, dan Ilmu 8 Ba kwa pelindung. Yang kedua adalah Dewa Sakti, cucu murid dari Xue Yang yang pernah menggemparkan jagad persilatan. Dia menciptakan jurus Ilmu Jari Dewi pemusnah, dan belajar beberapa ilmu hebat peninggalan Xue Yang (kakek gurunya) yaitu Ilmu Memindah semesta. Selain itu Dewa sakti adalah orang yang paling pintar diantara 5 orang maha hebat, dia menguasai Lingkaran ajaib serta Ilmu tujuh bintang formasi dewa. Dia sering tampak di Gunung Dai dan Gunung Hua. Dewa Ajaib, seorang pendekar yang mempunyai sifat konyol luar biasa. Ilmu kungfunya adalah yang paling rendah di antara semuanya. Dia menciptakan Ilmu Pedang ayunan dewa dan Ilmu Golok Belibis jatuh. Dia pernah berguru kepada Han Dongming yang berasal dari wilayah Tibet. Disana dia mempelajari beberapa ilmu pengobatan dan pembedahan. Dewa ajaib mengambil daerah Gunung Heng selatan, daerah JiangNan. Dewa Manusia berasal dari Wilayah Dongyang, jauh letaknya dari negeri China daratan. Dewa Manusia yang paling hebat ilmu kungfunya di antara semua orang. Dialah orang yang menciptakan paling banyak ilmu hebat; Tendangan Mayapada, Ilmu Penyembuh tenaga dalam, Ilmu pembuyar tenaga dalam, dan Jurus tendangan matahari. Dikabarkan dalam pertarungan hebat di utara tanah tua Mongolia, Dewa Manusia keluar sebagai pemenang dan menjadi pemilik asli dari Pedang Ekor Api dan terakhir dinamakan sebagai Pedang Pemusnah Raga. Dia tinggal di Gunung Fu Tze ( Fuji ) di Dongyang. Dewa Bumi dikabarkan sebagai orang yang paling licik di antara mereka semua. Dia menciptakan Ilmu racun Pemusnah raga dan Ilmu Pedang bulan sabit. Dia juga meneliti semua racun paling hebat di seluruh dunia. Kabarnya dia tinggal di Gunung Qi, utara kota ChengDu.

*** "Jadi leluhurmu yang kamu ceritakan dalam mimpi itu adalah Dewa Manusia adanya??" tanya Yunying. "Mungkin saja, tetapi belum bisa kupastikan...." kata Jieji sambil berpikir dan mengelus dagunya. "Kalau begitu apa mungkin leluhurku dan leluhur keluarga Xia adalah sama, si Dewa ajaib itu, soalnya ilmu pedang keluarga Xia dan ilmu golok keluarga Wu diciptakan oleh orang yang sangat konyol itu?" kata Yunying sambil tertawa geli. "Mungkin juga, tetapi seiring perkembangan zaman mungkin juga ilmu itu telah di wariskan ke orang lain mengingat kejadian di buku adalah kejadian sekitar 70 tahun lalu." kata Jieji. "Pantas dewa sakti sangat awet muda yah.. Mungkin dia mendapatkan obat "Chang Shen Bu Lao.. Padahal umurnya paling sedikit sudah 100 tahun lebih." kata Yunying. Jieji yang mendengarnya cuma tersenyum. "Racun pemusnah raga ternyata diciptakan oleh Dewa Bumi. Tetapi ini sangat aneh. Sekarang racun itu kembali muncul, atau jangan-jangan orang itu masih hidup di dunia...." tanya Wei Jindu. "Tidak bisa dipastikan juga... Mungkin sesekali kita harus ke Gunung Qi untuk meneliti. Tempo lalu ketika kita menempatkan pasukan Sung di bawah Gunung Qi, tidak ada terdapat tanda-tanda aneh." Kata Jieji yang berpikir keras. Nona Xie Ling yang dari tadi mendengarkan mendadak berlutut di depan Jieji sambil menangis. "Guru.... Mungkin orang yang guru temui di YiChou adalah orang yang membunuh seluruh keluargaku." "Apa? Apakah kamu yakin?" tanya Jieji kepadanya. "Saya memang tidak melihat dengan jelas penampakan orang itu, karena saya diminta pura-pura mati oleh ibu ketika dia membantai seluruh keluargaku. Orang itu sepertinya menguasai jurus Ilmu pedang bulan sabit. Meski banyak orang di samping, saya cuma mengenali Zhang Lufu yang sangat membenci keluarga kita. Tetapi mereka tanpa turun tangan menyaksikan keluargaku yang dibantai sambil tertawa besar oleh orang yang dimaksudkan....." katanya sambil menangis makin menjadi.

"Hm.... Jika ada kesempatan untuk bertemu dengannya, aku akan menanyainya dengan pasti. Kamu tidak perlu menangis terlalu bersedih dahulu, jika memang benar dia yang membunuh keluargamu maka saya pasti akan memintakan keadilan untukmu..." kata Jieji dengan pengertian sambil membimbing berdiri si nona cantik. Mereka yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas... "Oya paman, kalau begitu Dewa semesta mungkin adalah orang yang mengajari kungfu pada Ayahanda kaisar?" tanya Hongyun kepada Jieji. "Betul, mungkin dialah orangnya. Saya pernah mendengar Xufen yang mengatakan kalau Dewa Sakti gurunya sangat akrab dengan seorang imam Dao yang umurnya sudah sangat lanjut. Kakak pernah belajar ilmu Langkah Dao dan tinju semesta yang terakhir disempurnakan menjadi tinju panjang Zhao Kuang-yin. Bisa dikatakan mungkin Dewa semesta adalah guru dari kakak pertama..." Kata Jieji. "Kalau benar cerita di buku, maka Dewa Bumi adalah orang yang sangat laknat. Semua ilmu kungfunya yang diciptakan malah membawa bencana yang lumayan besar di dunia persilatan sampai sekarang." kata Yunying. "Betul... Kamu coba lanjutkan lagi Ying..." kata Jieji kemudian kepadanya. *** 5 Orang tersebut berjanji untuk bertemu di lembah gunung Hua. Di sana mereka berjanji untuk menciptakan jurus paling hebat sedunia. Semua jurus mereka dipadukan dan diteliti semua orang guna mencocokkannya sehingga menjadi 8 unsur pembentuk semua "kekosongan" dan "keadaan". Tanpa terasa, waktu telah memasuki tahun ke 3. Semua ilmu dari kesemuanya hampir berhasil disatukan. Tetapi.... Pada hari terakhir, Dewa Sakti terlihat marah luar biasa kepada Dewa Bumi dan Dewa Manusia. Dia mengatakan tidak akan meleburkan jurus Ilmu Jari dewi pemusnah lagi. Dengan tanpa alasan jelas dia meninggalkan mereka semua. Dan terakhir diikuti oleh Dewa Semesta. Sementara 3 orang lainnya hanya terbengong-bengong. Alasan itu terakhir diketahui olehku. Dewa Bumi ingin menambahkan tenaga dalam racun di dalamnya. Tenaga dalam racun akan dibawa oleh tenaga dalam Jari Dewi Pemusnah. Disini Dewa Sakti segera marah luar biasa, dia menganggap bahwa jurus ciptaan mereka adalah ilmu yang lurus. Tanpa racunpun ilmu ini bisa menjadi yang paling sakti.

Sementara Dewa manusia ngotot untuk menambahkan ilmu Dewa pembuyar tenaga dalam yang asal-usulnya tidaklah diketahui. Dewa Sakti menganggap jika jurus pembuyar ditambahkan maka akan mengacaukan pelatihan. Semua orang yang berlatih akan kehilangan kendali mereka masing-masing. Bisa dikatakan proyek tentang ilmu 8 unsur tersebut menjadi terbengkalai gara-gara tidak adanya kesatuan hati masing-masing. *** "Jadi buku telah habis isinya?" tanya Jieji yang agak heran. "Betul..." Kata Yunying seraya memperlihatkan bagian belakang buku yang ternyata isinya kosong. "Mungkin ini hanya semacam buku harian dari seorang yang melayani mereka selama 3 tahun lamanya." kata Wei. "Mungkin juga begitu...." kata Jieji sambil berpikir. "Jadi 8 unsur yang dimaksud itu apa ya? Jurusmu kan hanya 4 unsur. Kenapa bisa ada 8 unsur?" tanya Yunying yang agak penasaran terhadap isi buku itu. Jieji telah tahu sesuatu yang dimaksud dari arti buku itu. "Betul... 4 unsur utama ditunjang dengan 4 unsur pendukung. Jadi terdapat 8 unsur utama. Jika jurus itu diciptakan maka setiap jurusnya akan sempurna jadinya." kata Jieji. "8 Unsur itu apa lagi yah selain Air, Angin, Tanah, dan Api?" tanya Yunying sambil mengerutkan dahinya. "4 Unsur pendukung lainnya adalah Matahari, Rembulan, Cahaya dan kegelapan..." kata Jieji kemudian. "Betul juga kak... 4 unsur itu adalah pendukung di antara semuanya." kata Wei. "Jadi dilihat dari semua jurus di atas, kamu bisa tahu kalau mana di antara 4 unsur pendukung itu?" tanya Yunying yang agak heran. "Tidak susah. Matahari bisa diibaratkan dengan jurus Tendangan matahari yang belum pernah kulihat. Sedangkan Rembulan tentunya adalah Ilmu pedang bulan sabit ciptaan Dewa Bumi. Kalau Cahaya bisa dikatakan dengan ilmu Tinju Semestanya Dewa Semesta dan kakak pertama, soalnya kecepatan jurus itu tidak mampu dilihat manusia lagi seperti cahaya adanya. Sedangkan kegelapan masih menjadi tanda tanya bagiku, mungkin

saja saat itu Dewa Bumi ingin menganjurkan Racun pemusnah raga dan Dewa Manusia menganjurkan Ilmu pembuyar tenaga dalam mengingat keduanya memang berbau "Kegelapan".." kata Jieji memberikan penjelasannya. "Hebat... Kamu bisa tahu dengan begitu jelas begitu mendengarnya sekali saja khan?" kata Yunying sambil tersenyum kepadanya. "Tidak juga... Ini disebabkan dengan adanya ilmu 4 unsur di dalam diriku. Maka tidak susah bagiku untuk mengertikannya." kata Jieji sambil memandang Yunying. "Kalau begitu tidaklah heran Pei Nanyang menganggap ilmu dari dalam dirimu adalah Ilmu pemusnah raga soalnya Ilmu itu tidaklah sempat disempurnakan. Dan bahkan di lembah Hua dulu Dewa Sakti mengaku kalau jurusmu itu adalah jurus tanpa tanding karena usaha mereka dilanjutkan olehmu yang tanpa sengaja." kata Yunying. "Betul..." Kata Jieji sambil mengangguk dan tersenyum kepadanya.

BAB LI : Tewasnya Xia WenLun
Percakapan mereka hanya sampai disini. Seiring, mereka segera kembali ke kamar masing-masing. Keesokan Harinya... Kaisar Gwangjong mempersilahkan tamu agungnya untuk bertemu dengannya untuk berdiplomasi kembali. Seperti biasa, di ruangan utama kekaisaran telah sampai semua Menteri maupun Jenderal besar. "Hari ini saya akan mengumumkan sesuatu pada kalian semua..." Kata Kaisar Gwangjong. Semua Menteri dan Jenderal memberi hormat dengan sopan ke arah singgasana. "Saya memutuskan untuk tidak beraliansi dengan Han Utara. Dengan Sung, kita akan hidup rukun untuk selamanya....." kata Gwangjong dengan gembira. "Terima kasih Kaisar..." kata Pangeran Hongyun bersamaan dengan Jieji berempat sambil memberi hormat.

Seraya menunjuk ke arah Jieji, Gwangjong berkata sambil tersenyum penuh arti kepadanya. "Anda melaksanakan tugas anda dengan sangat baik sekali." Penerjemah segera menerjemahkan kata-kata Kaisar Gwangjong kepadanya. Tetapi Jieji membalas dengan berbahasa Koguryo dengan sopan. "Persahabatan kedua negara akan kekal selamanya. Untuk itu Yang Mulia tidak perlu berkhawatir akan segala hal yang menyangkut dengan militer Sung yang akan tidak menguntungkan...." "Ha Ha Ha.... Memang benar kata-kata puteriku Chonchu, kamu orang yang punya 1000 kemampuan luar biasa...." kata Gwangjong seraya memujinya. Jieji membalas pujian itu dengan membungkukkan badan sambil memberi hormat dengan sangat sopan sekali. Wei, Yunying dan Xieling tidak mengerti apa ucapan yang dibicarakan Gwangjong kepada Jieji kecuali 2 penerjemah tentunya. Sedangkan Chonchu tersenyum manis sekali kepadanya. "Mengenai pernikahan antar dua negara tidak bisa kita putuskan dengan tiba-tiba seperti itu. Jika Chonchu telah siap, maka kami akan setuju melaksanakan pernikahan di Daratan tengah..." kata Gwangjong dengan sopan pula. "Sungguh terima kasih atas pengertian Kaisar..." kata Jieji kembali. Justru saat itu, mendadak datang seorang utusan yang merupakan matamata Koguryo di Han utara. "Yang Mulia, saya mendapat kabar pasti. Han utara telah bersekutu dengan Liao, dan sekarang dengan Sung telah terlibat beberapa peperangan kecil..." katanya. Jieji segera terkejut, dia tidak menyangka kalau Han utara telah bersekutu dengan bangsa yang paling ganas yaitu Liao. "Betul informasi itu? Lalu berapa jumlah pasukan total gabungan kedua negara itu?" tanya Gwangjong kepada utusan yang merupakan matamatanya di Han utara. "Hamba bisa memastikannya. Jumlah pasukan kira-kira 300 ribu infanteri dan 20,000 pasukan berkuda yang dipimpin oleh Liu MuShun, paman dari Raja Liu Jiyuan telah mulai mengambil daerah pertempuran di utara Kota Ye." kata Utusan tersebut. Sambil meminta mata-matanya undur diri, Gwangjong berkata kepada Jieji.

"Mungkin secepatnya anda sekalian harus kembali ke daratan tengah. Sepertinya keadaan sangat tidak menguntungkan kalian..." Jieji segera memberi hormat, dan meminta pengunduran diri dari Kaisar Gwangjong. Dia mengatakan harus kembali sekarang juga ke China daratan untuk terjun ke medan perang tersebut. Beberapa saat setelah pamitnya Jieji dan kawan-kawannya... Dari dalam ruangan di belakang singgasana Kaisar, segera keluar seorang yang tinggi besar dan lumayan tua. Orang itu tak lain adalah Zeng Qianhao atau Pei Nanyang. "Hanya dia yang mungkin bisa menghalau pasukan Han Utara..." kata Qianhao dalam bahasa Koguryo kepada Gwangjong. "Kenapa begitu kakak?" tanya Gwangjong. Ternyata Zeng Qianhao adalah kakak kandungnya Gwangjong. "Iya ayah... Kudengar kabar kalau dalam pasukan Han utara terdapat 2 pesilat yang luar biasa hebatnya. Mereka di bawah pimpinan Liu MuShun. Jika Jieji tidak kembali kesana, mungkin pasukan Sung akan dibantai mereka berdua..." kata Chonchu tetapi sambil memandang ke arah Pei Nanyang, dan bukan Kaisar Gwangjong. "Iya puteriku... Hanya pemuda itu yang sanggup menghalau kedua pesilat gila itu..." kata Pei Nanyang sambil melihat ke Chonchu. Sebenarnya apa hal yang terjadi? Pei Nanyang dan Chonchu adalah ayah dan anak. Tetapi ini akan dikisahkan selanjutnya. Sepamitnya Jieji... Pangeran Zhao Hongyun, Yunying, Wei JinDu dan Huang Xieling menanyainya apa hal yang terjadi sebenarnya karena mereka tidak mengerti apa yang diucapkan Jieji dan Gwangjong. Segera Jieji menjelaskan perihal penyerangan Han utara ke China daratan. Mereka yang mengetahuinya sangat terkejut dan dengan segera berangkat pulang hari dan saat itu juga. Jieji sebelum menuju ke pelabuhan sempat mengembalikan buku yang dicuri di ruangan kamar tidur kaisar. Dia tetap menuliskan pesan disana kembali. Isi pesan hanya pesan yang pendek yaitu "Terima Kasih". Perjalanan kilat melalui kelautan segera dilaksanakan mereka. Dengan mengambil jalan laut kembali mereka sampai dalam 3 hari ke Daratan China. Sebab perjalanan darat mereka dipaksakan dengan perjalanan kilat. Dari Timur kota Bei Hai, Jieji segera menuju ke arah Kaifeng yang terletak di barat laut.

Sesampainya di Istana, segera mereka menemui Kaisar Sung Taizu. "Kakak pertama..." kata Jieji memberi hormat kepada sang kakak. "Adik sekalian.. Kalian telah kembali. Bagaimana aliansi dengan Koguryo?" tanya Zhao Kuangyin yang agak heran karena kembalinya mereka dengan tergesa-gesa. "Kaisar Gwangjong telah sepakat membina hubungan yang kekal dengan Sung. Disana saya mendengar kalau pasukan Han utara telah bergerak mendekati tapal wilayah Sung." kata Jieji seraya menjelaskan aliansi mereka dengan Koguryo. Zhao Kuangyin yang mendengarnya tentu sangat bergembira. Dia tidak perlu lagi menguatirkan serangan Koguryo yang menuju ke timur China. "Betul.. Han utara telah mengultimatumkan perang dengan kita. Xia Wenlun dan Ma Jinglu telah berhasil memenangkan beberapa pertempuran kecil." Kata Zhao seraya menjelaskan pertempuran itu. "Kakak pertamaku memang selamanya adalah Jenderal yang hebat..." kata Jieji memuji Xia Wenlun yang merupakan Kakak pertamanya di keluarga Xia. "Jadi adik kembali karena mencemaskan pertempuran itu?" tanya Zhao kuangyin kepadanya. "Betul kak, bagaimanapun saya merasa sangat tidak enak perasaanku...." Kata Jieji sambil mengerutkan dahinya dan berpikir keras. "Kalau begitu, kamu boleh kesana untuk melihat-lihat kan?" tanya Zhao yang melihat reaksi adik keduanya. "Terima kasih kak... Besok pagi setelah beristirahat kita akan berangkat ke perbatasan Utara kota Ye." kata Jieji sambil memandang dalam-dalam Zhao. "Baik.. Saya juga akan ikut denganmu kesana.." Kata Zhao kuangyin. Jarak antara Kaifeng dengan kota Ye tidaklah jauh. Jika ditempuh dengan perjalanan kilat, maka tidak sampai sehari bisa sampai. Zhao merasa aneh akan kelakuan adik keduanya yang biasanya sangat tenang. Tetapi kali ini dia merasa ada sesuatu hal yang dikhawatirkan adik keduanya. "Kakak pertama... Apa kakak akan ke sana dengan status "Kaisar Sung" ?" tanya Wei JinDu.

"Tentu dik... Banyak Jenderal dan panglima yang mengenalku. Tidak mungkin saya datang kesana dengan status Yang Ying kan?" kata Zhao dengan tersenyum. Keesokan harinya pagi-pagi sekali.... Mereka berangkat menuju kota Ye untuk menyaksikan pertempuran langsung dengan seksama. Zhao, Jieji, Wei, Yunying dan Xieling disertai 10 pengawal utama Zhao serta 1000 pasukan berkuda mengambil perjalanan kilat luar biasa. Belum sampai sore, mereka telah mendekati kota Ye. Tetapi di daerah ini mereka nampak pemandangan aneh. Banyak penduduk kota yang telah mengungsi dari kota Ye. Jieji segera turun dari kuda bintang birunya untuk menanyai penduduk itu mengapa mereka sekalian mengungsi, padahal kota Ye dalam keadaan cukup aman sebab pertempuran tidaklah berada di dalam kota melainkan 100 Li arah utara kota Ye yang menjadi perbatasan kedua negara. "Ini disebabkan sepertinya kota Ye tidak akan bertahan lebih lama lagi..." kata seorang tua yang memapah istrinya yang lumayan tua. "Kenapa begitu pak tua?" tanya Jieji yang sangat heran. Dia tahu bahwa Xia Wenlun telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik dan beberapa kali sanggup mengusir pasukan Han utara. "Ini karena Jenderal besar Xia Wenlun telah tewas. Sedangkan pembantunya luka parah dan sampai sekarang tidak mampu beranjak dari ranjang." kata Pak Tua tersebut. "Apa?????" tanya Jieji yang sangat terkejut. "Ini betul tuan... Kabarnya Jenderal Wenlun telah terbunuh kemarin sore di daerah perbatasan. Pasukan yang dibawanya 500 orang semua tewas. Tetapi yang kembali hanyalah Jenderal pembantu Ma Jinglu, itupun kabarnya kedua tangannya telah tertebas dan terdapat banyak goresan di seluruh tubuhnya. Mungkin dia tidak akan bertahan lebih lama lagi." kata nenek tua yang dipapah orang tua tersebut. Jieji segera terkejut luar biasa. Tetapi dia masih sanggup mengontrol dirinya. Dengan cepat dia kembali ke arah Zhao dan menjelaskan perihal yang dikatakan kedua orang tua itu. Zhao tentu sangatlah terkejut mendengar pernyataan tersebut. Dia tahu Xia Wenlun dan Ma Jinglu setidaknya adalah pesilat yang tidak gampang dijatuhkan. Selain itu mereka juga termasuk Jenderal pilihan yang sangat cerdas, tidak mungkin mereka melakukan hal semberono. Mendengar kata-kata orang tua itu, maka dengan segera mereka memaksakan kembali kecepatan perjalanan memasuki kota Ye.

Jieji segera memacukan kudanya dengan cepat luar biasa menuju ke Kota Ye dengan meninggalkan Zhao dan semua teman-temannya di belakang. Dalam hatinya, dia merasa sangat tidak enak mendapati pernyataan orang tua itu. Tidak sampai 2 jam, dia sampai di bawah selatan pintu kota Ye yang dijaga ketat. Tentu para penjaga menghalanginya untuk masuk. Tetapi dengan ilmu ringan tubuh tinggi, Jieji segera meloncat cepat ke tembok kota yang tingginya lebih dari 40 kaki itu. Penjaga dengan cepat berniat menghentikannya. Tetapi, tanpa bergebrak dan hanya menginjak sebentar tembok kota tempat pasukan berjaga. Jieji segera lolos dengan mendarat turun ke kota bagian dalam. Penjaga gerbang dalam yang terdiri dari 50 orang lebih segera mengejarnya. Tetapi tidaklah mungkin bagi penjaga biasa untuk mengejarnya. Dia berlari dengan kecepatan tinggi begitu sampai di bawah kota. Tentu tujuannya adalah kediaman Jenderal. Dengan tidak memperdulikan apapun lagi, Jieji segera menuju ke ruangan jenderal Ma Jinglu. Sesampainya di depan kamar... Dilihatnya keadaan dalam kamar, Ma Jinglu terbaring dengan kedua lengan yang telah buntung. Di samping sepertinya ada beberapa jenderal yang pangkatnya lebih rendah. Selain itu masih terdapat tabib kemiliteran. Jenderal lain yang melihat Jieji segera menghunuskan pedang seraya memintanya untuk tidak mendekat. Tetapi tanpa ancang-ancang dan gerakan cepat, para Jenderal telah tertotok nadi olehnya. Dan dengan segera dia jongkok di depan pembaringan Ma Jinglu. "Jenderal Ma... Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Jieji yang sangat masgul melihat keadaan Jenderal Ma Jinglu. "Tuan....... Tuan siapa??" tanya Ma sambil kesakitan sangat dan terpatahpatah. "Saya adalah adik ke 5 dari Jenderal besar Xia Wenlun. Namaku Xia Jieji. Sebenarnya apa yang terjadi?" kata Jieji sambil memegang dada Ma seraya mengalirkan energi penyembuh untuk menghilangkan rasa sakitnya. "Kakak anda... Jenderal besar Xia Wenlun telah tewas....." kata Ma sambil menangis deras. Kedua kaki Jieji segera melemas, dari jongkok segera dia jatuh terduduk.. "Kenapa? kenapa bisa begitu???" tanya Jieji yang sangat penasaran.

"Kami berencana melakukan penyelidikan daerah peperangan.... Kami hanya membawa 500 pasukan ke arah timur laut perbatasan Sung dengan Han utara. Tetapi di tengah jalan, kami dicegat oleh 2 orang aneh. Yang 1 memegang kecapi di tangan dan yang kedua memegang pedang 1 sisi tajam. Tanpa banyak bicara mereka segera mengayunkan senjata masingmasing dan membantai kita semua." Kata Ma yang merasa agak baikan setelah energi Jieji telah tersalur lumayan banyak kepadanya. "Apa pipi pemuda pemegang pedang 1 sisi tajam itu ada goresan yang cukup panjang??" tanya Jieji. "Betul.. Dialah orangnya... Tidak sampai 1/2 jam, kita semua telah terbantai. Jenderal besar Xia Wenlun masih sempat bergebrak beberapa jurus dengan mereka berdua. Saya yang telah kehilangan kedua lengan segera diminta oleh Jenderal meninggalkan wilayah itu. Sambil memandang ke belakang, saya melihat kedua orang itu membunuh Jenderal. Bahkan dengan kejam pemuda pemegang pedang membacok ke arah kepala Jenderal besar. Saya sangat malu sekali tidak mampu berbuat apa pun dan kembali dengan cara begitu....." kata Ma yang mengenang kejadian kemarin sambil menangis deras. "Keparat!!!! Pemuda itu terlalu keterlaluan... Kakak pertama.... Saya berjanji akan membalaskan rasa sakit hatimu itu..." kata Jieji yang sangat gusar seraya menangis deras. Xia Wenlun semasa hidupnya sangat menyayangi Jieji. Jika ada kesenangan, dia selalu memberikannya kepada adik ke 5 nya itu terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah ketika Xia Rujian memintanya melamar puteri Yuan Xufen, dia rela meminta adik ke 5-nya untuk pergi menggantikannya. Dia juga tahu kalau Puteri Yuan Xufen adalah seorang yang sangat cantik luar biasa dan sangat pintar. Jika adik kelimanya bisa mendapati hatinya, pasti akan sangat bahagia. Dia selalu memberikan hal yang terbaik kepada adik ke 5 nya. Selain itu, Xia Wenlun adalah orang yang mati-matian membelanya ketika pesilat belasan tahun datang ke rumahnya untuk mengacau. Meski Wenlun bukan tandingan Yue Fuyan, mengetahui kalau Wenlun selalu membelanya tentu dia sangat kagum pada kakak pertamanya itu. Sekarang kakak pertamanya telah tiada dan tewas dengan sangat menggenaskan... Jieji yang mengenangnya tentu sangat sakit hati. Apalagi orang yang membunuh kakak pertamanya adalah orang yang pernah bergebrak secara kejam dengannya di utara YiChou beberapa tahun yang lalu.

BAB LII : Berperang dengan Han Utara

Sementara itu Zhao Kuangyin, JinDu, Yunying dan Xieling telah sampai di kamar Jenderal Ma. Mereka melihat Jieji yang terduduk itu segera sadar. Apa kata-kata orang tua di luar kota adalah benar adanya. Para Jenderal disana segera di bebaskan totokan nadinya oleh Zhao. Melihat Zhao, para Jenderal segera terkejut. Mereka segera berlutut dan semuanya meminta maaf karena tidak menjemput Kaisar Sung Taizu dari jauh. Ma yang terbaring, ingin bangkit tetapi Jieji segera mencegahnya. "Semuanya berdiri... Tidak perlu terlalu banyak basa-basi disini." kata Zhao pendek kepada mereka semua. Yunying segera mendekati Jieji yang terduduk tadinya dan berkata. "Jangan terlalu sedih yah... Kamu harus membalaskan dendam kakak pertamamu.." Jieji memandang Yunying sebentar. Dari mata nona mengalirkan udara sejuk baginya. Lalu dengan segera dia berdiri.Jieji memandang sekeliling sambil berkata. "Kakakku dibunuh oleh orang yang sempat bergebrak denganku di Utara Kota YiChou. Saya akan membuat perhitungan dengannya. Dan kabarnya masih ada sisa 1 temannya lagi yang menggunakan Kecapi sebagai senjata pembunuh." "Kecapi? Apakah dengan suara dia mampu bergebrak?" Tanya Yunying. "Mungkin juga. Lewat suara, tenaga dalam bisa disampaikan. Saya pernah mendengar guru mengatakan itu kepadaku." kata Wei JinDu. Ma yang terbaring dengan susah tadi segera berkata. "Betul, Yang Mulia dan tuan-tuan sekalian... Ketika pemuda itu membantai pasukan kami, orang berkecapi itu sedang memainkan alat musiknya itu seperti sedang menikmati pembunuhan....." kata Ma mengenang kejadian itu. "Kecapinya dimainkan bukanlah untuk menikmati pembunuhan. Pasti ada sesuatu rahasia yang membuat mereka sangat gampang membantai pasukan Sung yang berjumlah 500 orang dalam waktu yang hanya 1/2 jam." kata Jieji seraya berpikir. "Sepertinya kita semua harus turun tangan. Setidaknya 2 pesilat itu harus di basmi dahulu." kata Zhao sambil berpikir. "Tidak kakak pertama... Kamu tidak perlu turun tangan. Biar saya bersama kakak kedua saja." kata Wei JinDu. Jieji memandang kedua saudaranya dan mengangguk pelan pada Zhao. Zhao mengerti, posisinya disana adalah sebagai Pemimpin negara. Dia tidak bisa ikut pertarungan dengan 2 pesilat itu secara terang-terangan.

Selain berbahaya, seorang Kaisar mau tidak mau harus menjaga wibawanya. Zhao dengan segera mengambil alih kepemimpinan pasukan dari tangan Xia Wenlun yang telah tewas. Pasukan yang mengetahuinya tentu sangat gembira, telah puluhan tahun dan ada yang belum pernah menyaksikan bagaimana Zhao Kuangyin, SungTaizu memimpin pasukan Elite sejak peperangan sekitar beberapa puluh tahun lalu. Saat itu juga, segera Zhao mengumpulkan semua pasukan dalam kota di lapangan terbuka. Pasukan dalam kota lumayan banyak karena beberapa pasukan dari wilayah lain ikut dikumpulkan. Setelah mengecek jumlah pasukan, Zhao mendapatkan adanya lebih dari 30 ribu pasukan dalam kota Ye. Dia mengatur semua pasukan untuk berjaga di sekitar pintu gerbang dan di atas tembok kota. Penjagaan terketat haruslah pintu utara dimana pasukan Han utara akan sampai. Disana dia menempatkan 10 pengawalnya untuk bersiaga dan saling gantian berjaga. Sedang Zhao dan Jieji serta teman-temannya menempati ruangan kediaman Jenderal. "Kak...Sepertinya besok pertempuran akan dimulai..." kata Jieji. "Betul, besok pasti pasukan Han utara akan menerjang kota Ye ini. Adikadik sekalian, apa kalian telah siap?" tanya Zhao Kuangyin. Semuanya mengangguk memberi kepastian... Keesokan harinya pagi-pagi sekali... Dari mata-mata yang disebar, mereka mendapatkan informasi kalau posisi pasukan Han utara jaraknya 30 Li arah Utara dari gerbang Utara kota Ye. Pasukan Han utara telah mendirikan kubu sepanjang 3 Li untuk menempatkan pasukannya. Sekarang mereka sedang menuju ke kota Ye. Mungkin sekitar 3 jam lagi mereka akan sampai. Dengan segera bersiap. Zhao Kuangyin, Jieji, Yunying, Wei Jindu, dan Xieling menuju ke utara kota Ye dan menempati diri bersama beberapa pasukan di atas tembok kota. Setelah 2 jam lebih siaga di atas tembok kota. Mereka bisa melihat adanya debu yang mengepul tinggi. Debu yang mengepul tinggi bisa menjadi bukti kalau pasukan yang dibawa Han Utara tidaklah sedikit. Saat itu sedang mendung-mendungnya menjelang hujan. "Sepertinya langit tidak begitu berpihak kepada kita." kata Zhao sambil memandang ke atas. Sinar matahari sangat minim, udara lumayan sejuk.

"Betul kak. Kondisi pasukan Han utara pasti bagus di udara yang begitu. Jika saja hari ini cerah dan panas luar biasa, mungkin kita bisa menyerang mereka yang selagi mundur karena kelelahan dan kecapaian." kata Jieji. Jieji tahu keinginan Zhao yang ingin membuat pasukan Han utara kehilangan moral dahulu kemudian baru menerjangnya. Tetapi langit hari ini tidak menguntungkan mereka karena pasukan akan lebih susah capek daripada biasanya. Derap pasukan berkuda dengan cepat telah terdengar meski pasukan Han utara masih jauh. Jieji segera berdiri di atas tembok kota memandang kejauhan. Dari jauh segera tampak pasukan yang demikian garang. Cara berlari mereka sangat mengesankan. Pasukan teratur dengan sangat rapi. Senjata berkilau-kilau meski sinar matahari tidak begitu terang. "Dialah Liu MuShun...." kata seorang Jenderal seraya menunjuk ke arah tengah pasukan. Walau masih lumayan jauh, mereka bisa melihat seorang Jenderal di tengah yang memakai kuda putih. Di wajahnya terdapat kumis dan jenggot yang lumayan lebat. Di depan pasukan Han utara terdapat lumayan banyak orang yang berpakaian biasa. Pasukan Han utara sedang menawan mereka semua di depan, tentu tujuannya adalah pasukan Sung tidak bisa melepaskan anak panah kepada rakyat yang tidak berdosa. "Jenderal yang di atas... Segeralah menyerah, maka kujamin Ye tidak akan kuratakan dengan tanah." teriak Liu MuShun. Zhao segera berteriak membalasnya. "Han utara sangat kejam. Bahkan rakyat jelata pun tidak kalian ampuni. Kalau berani berperanglah dengan jantan...." "Ha Ha Ha.... " terdengar tawa Liu Mushun sambil mengangkat tangannya. Jenderal di belakangnya segera membawa kepala seorang manusia. Kepala itu tidak lagi utuh seperti biasa. Di tengah batok kepala telah hancur segaris sampai hidungnya. Sungguh menggenaskan. Jieji yang melihatnya tentu luar biasa gusar. Dia gertakkan giginya. Segera dia meminjam tombak dari pasukan yang di belakangnya. Dengan berputar di atas pijakan tembok kota yang lebarnya hanya 2 kaki itu dia berniat melemparkan tombak di tangannya dengan kekuatan penuh. Pasukan Han utara yang melihat tindakan Jieji tentu merasa aneh, mereka tertawa geli. Bagaimana orang itu mampu melemparkan tombak yang jaraknya masih 1/2 Li dengan mereka.

Tetapi tertawanya mereka tidaklah lama, karena dengan kecepatan yang sangat luar biasa tombak telah melaju ke arah Jenderal Liu Mushun. Tentu Liu MuShun sangatlah terkejut mendapati sebatang tombak yang melesat melebihi kecepatan anak panah ke arahnya. Sebelum terkejutnya berhenti, sebuah sinar pedang mematahkan tombak itu menjadi 2 bagian. Karena kecepatan tombak tidak berhenti dengan begitu saja, maka sebelah tombak sempat menghantam pasukan di samping. Sekitar 20 orang langsung roboh terkena hawa tenaga dalam yang belum habis itu. Sedangkan 1 bagian dari tombak yang memiliki sisi tajam segera tertancap di tanah dengan sangat dalam. "Ha Ha Ha...Hebat... Siapa kau?" Kata pemuda yang menggunakan 1 sisi pedang yang tajam itu seraya menunjuk ke atas. Jieji mengenali orang itu. Memang benar, dialah orang yang ingin merampas pedang Ekor api saat di Yi Chou beberapa tahun lalu. "Katakan... Kau yang membunuh Xia Wen Lun? Kaukah juga yang membunuh seluruh keluarga Huang di Shandang itu?" tanya Jieji seraya menunjuk kepadanya. "Betul.. Akulah orangnya... " kata Pemuda itu dengan tertawa deras. Tetapi pemuda itu tidak asing dengan Jieji yang diatas. "Dengan begitu, sudah cukup bagiku untuk mencabut nyawamu..." kata Jieji dengan sangat dingin dan segera hawa pembunuhannya muncul merindingkan bulu kuduk pasukan Sung yang berada tidak jauh dengannya. Pemuda itu yang memandang ke atas akhirnya mengenali juga siapa orang yang berbicara dengannya itu. "Ha Ha Ha... Kau pernah kupecundangi di Utara YiChou. Aku mengira kau sudah mati. Sekarang Tuhan memberikanku kesempatan untuk mencabut nyawamu dan mendapatkan pedang Ekor api... Hari ini aku Manabu Hirai akan membantaimu seperti orang ini." katanya dengan sangat bangga seraya menunjuk ke arah kepalanya Xia Wenlun. Ketika semua orang sedang berkonsentrasi melihat ke arah pasukan Han utara... Di tembok kota Ye segera kedatangan seseorang dengan ringan tubuh yang luar biasa hebat. Zhao, Wei, Yunying dan Xieling terkejut. Karena sebelum mereka mengetahui pasti hawa yang datang. Dia telah berdiri dengan tegak di atas tembok kota. Sekarang pemandangan kota Ye sangat luar biasa. Jieji berdiri cukup jauh di sebelah kiri. Sedangkan pemuda yang sekiranya paruh baya itu berdiri tidak jauh juga di sebelah kanan.

Jieji mengenali orang tersebut sedang Zhao, Jindu, Yunying dan Xieling serta semua pasukan merasa sangat aneh. Orang itu melihat Jieji sambil tersenyum penuh arti. "Aku tidak akan melewatkan pertarungan dahsyat...." kata pemuda paruh baya itu. "Terima kasih Tuan Qianhao... " Kata Jieji dengan sopan. Semua orang di atas kota segera terkejut melihat orang paruh baya tersebut yang ternyata adalah Pei Nanyang, Zeng Qianhao adanya. Qianhao sempat memberi hormat dengan sopan ke arah Zhao Kuangyin. Rasa hormat itu kembali dibalas oleh Zhao. *** Sebelah timur Kota Ye, di bukit Han. Tertampak 2 orang tua yang sangat berkharisma. 1 Laki-laki dan 1 lagi perempuan adanya. Pakaian mereka serba putih, begitu pula rambut di kepala mereka yang telah memutih semua. "Saudara seperguruanku selalu mengangkat banyak murid-murid." kata Orang tua yang ternyata adalah Dewa Sakti sambil tersenyum geli. "Ha Ha... Betul, walau dia tidur dan bermimpi pun tidak pernah sadar kalau semua murid-muridnya akan tewas di bantai oleh 1 orang saja." kata yang wanita yang tentunya adalah Dewi Peramal. "Memang... Saudara seperguruanku itu licik luar biasa dan sangat berambisi. Sampai sekarang dia masih berpikir untuk menggabungkan kembali semua jurus itu.. Kasihan dia..." kata Dewa Sakti seraya menggelengkan kepalanya. "Betul... Keputusanmu untuk tidak mengangkat Jieji sebagai murid adalah keputusan terbaik sekitar belasan tahun lalu." kata Dewi Peramal sambil tersenyum. "Betul katamu.... Jika kejadian hari ini telah lewat, tentu dia-lah orang yang terutama yang akan menyalahkan diriku atas segala kejadian..." kata Dewa Sakti. "Dulu.. Dewa Bumi dan Dewa Manusia bertukar kungfu satu sama lain setelah kepergianku. Kali ini tidak disangka 2 murid Dewa bumi telah menguasai 2 jenis kungfu mereka yang terdahsyat." kata Dewa Sakti kembali sambil menunjuk ke arah pasukan Han utara. "Tetapi bagaimana dengan Ilmu Jari Dewi Pemusnah-mu? Apakah mereka sempat bertukar satu sama lain?" tanya Dewi Peramal.

"Tidak... Jurusku diteliti ulang oleh Dewa manusia sebelum meninggal. Memang benar dia telah mendapatkan semua jurus dan inti Ilmu jari Dewi pemusnah. Tetapi jurus itu tidak sempat di wariskannya ke orang lain." kata Dewa Sakti. "Jadi kamu ingin turun sendiri kesana untuk melihat pertempuran itu?" tanya Dewi peramal. "Tidak perlu.. Jika kita telah mengetahui hasilnya, untuk apa dilihat lagi kan?" kata Dewa sakti seraya tersenyum.

BAB LIII : Pertarungan hebat di bawah kota Ye
Jenderal Liu Mushun segera memerintahkan pasukannya menggiring rakyat jelata maju ke depan pintu utara kota Ye. Zhao yang menyaksikannya segera gusar tidak dibuat. "Keparat!!! Binatang kalian semua...Jangan lepaskan panah!!!" teriak Zhao sambil menunjuk ke arah Liu Mushun. Sedang terlihat Liu hanya tertawa keras. Sekarang batas pasukan depan Han utara tidaklah jauh lagi. Hanya tinggal 1/4 Li mereka akan sampai di gerbang kota. Jieji yang melihatnya segera menggunakan ringan tubuhnya dan meminjam pijakan tembok kota untuk melayang dengan santai ke bawah. Dengan secepat lesatan anak panah, Jieji menuju ke pasukan depan tempat banyak rakyat jelata digiring. Dengan sekali tendang, Jieji menjatuhkan puluhan orang pasukan Han utara di depannya. "Kalian cepat masuk ke dalam kota." Kata Jieji segera. Zhao segera meminta orang-orangnya untuk membukakan pintu kota jika rakyat jelata itu telah lari mendekati gerbang kota. Tanpa sengaja, Jieji melihat seorang yang berlari di sampingnya. Jieji mengenalnya sangat. Dialah Yue Liangxu. Tentu Jieji sangat terkejut, tetapi sebelum terkejutnya berhenti. Ayunan pedang dan tusukan tombak telah dekat. Dengan segera dia menghindari ayunan pedang di arah perut, dan menangkap tombak yang menusuk. Dengan sedikit teriakan, penusuk segera terpental ke belakang dan menghantam beberapa pasukan di belakangnya dan langsung roboh. Kemudian beberapa pasukan depan segera menyerang Jieji. Jieji dengan tenang menghindar dan sesekali dia

merobohkan pasukan penyerang disana. Dia tidak melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa. Jieji sebetulnya sadar akan tindakannya ketika dia turun dari atas tembok kota. Dia tahu jika rombongan telah sampai di depan pintu gerbang yang dibuka, maka pasukan Han utara segera melancarkan serangannya. Diketika itu, dia sempat melihat ke atas tembok kota sambil memandang ke arah Wei JinDu. Wei yang melihatnya segera mengerti maksud kakak keduanya. Dan benar... Ketika rombongan rakyat telah hampir sampai, pintu segera dipentangkan lumayan lebar. Manabu Hirai yang diatas kudanya segera beraksi... Dengan loncatan cukup tinggi, dia mengambil daerah samping dari posisi Jieji. Namun Jieji sengaja tidak mencegatnya. Kemudian sambil berlari cepat, Manabu hampir sampai di depan gerbang. Tetapi dia dikejutkan sesuatu hawa dari atas kepalanya. Dengan segera dia menghindar sambil berguling ke depan. Jurus tapak Buddha Rulai Wei Jindu segera menghantam tanah dengan sangat keras. Manabu tidak apa-apa. Tetapi dilihatnya penyerangnya tersebut, dengan segera dia mencabut pedang untuk melayani Wei. Xieling yang melihat dari atas tembok kota tentu sangat penasaran terhadap pembunuh keluarganya ini. Dengan segera, dia menggunakan ilmu ringan tubuh untuk membantu Wei mengeroyok Manabu. "Kembalikan nyawa seluruh keluargaku...." teriak Xieling dengan penasaran padanya. Pertarungan Wei, Xieling dan Manabu sangatlah menarik. Mereka menjadi bahan tontonan asyik bagi pasukan Han utara dan pasukan Sung yang di atas tembok kota. Pertarungan bahu membahu Wei Dan Xieling sangat cocok, mereka setimpal melayani Manabu. Xieling telah lumayan mahir menggunakan jurus Ilmu jari dewi Pemusnah walau dalam keadaan emosi tinggi. Tetapi lawannya kali ini bukanlah lawan yang biasa. Beberapa kali dia sempat terdesak, sedang Wei selalu siap di belakangnya untuk membantunya. "Kamu jangan terlalu bernafsu menyerang... Santai saja.." kata Wei kepada Xieling. XieLing segera mengangguk mendengar nasihat dari Wei kepadanya. Wei tahu emosi nona ini telah meluap karena mendapati pembunuh keluarganya ada disini.

Sesaat jurus Ilmu jari Xieling kelihatan lebih lancar daripada ketika dia masih emosi, sedang Wei terus mendukungnya dari arah belakang. Manabu bukanlah pendekar biasa, setiap jurus Jari Xieling mampu di tahannya dengan baik. Sesekali dia bahkan menyerang mengancam nona itu. Wei juga merasa lawannya kali ini bukan lawan yang biasa. Dia juga terkejut akan kemampuan bertarung orang Dongyang tersebut. Sesaat, dia merasa tidak heran kalau kakak keduanya pernah dipecundanginya sampai begitu parah. Beberapa saat melayani kedua orang penyerang tersebut, Manabu sepertinya tidak tahan lagi. Dia tidak ingin membuang energinya sia-sia. Maka dengan segera dirapallah jurus Pedang Ilmu bulan sabitnya. Jieji yang sedang melayani pasukan Han utara sempat melihat keadaan di belakangnya sebentar. "Adik ketiga dan Xieling berhati-hatilah..... Itulah jurus pedang Bulan sabit..." Kata Jieji berteriak untuk mengingatkan mereka berdua karena melihat Manabu mulai merapal jurus dahsyatnya. Setelah itu, Jieji kembali sibuk melayani para pasukan yang mengepungnya sendiri. Wei segera merapal jurus tapak Buddha Rulainya yang ketujuh untuk melayani jurus pedang Manabu. Dengan sebuah hentakan keras, Pedang katana Manabu segera bersinar terang. Muncullah sebuah hawa bulan sabit yang dahsyat dan suara mengoyak anginnya bisa di dengar siapa saja. Wei tidak menghantamkan jurus tapak buddha Rulainya. Melainkan dia hanya membentuk energi pelindung untuk melindungi dirinya dan Xieling yang dibelakangnya. Ketika telah mantap betul, Xieling mengalirkan energi lewat jarinya ke arah punggung Wei. Sesaat kemudian...Benturan teramat dahsyat segera terjadi... Segera kelihatan Wei dan Xieling di bawah angin. Jurus pedang Bulan sabit sempat mengoyak melewati baju dan celana Wei. Sedang Xieling di belakangnya terus memperkuat energi membantu Wei yang di belakang dengan jari tetap pada punggung Wei. Melihat kesempatan yang sangat susah diincar... Dengan segera, seorang meluncur ke depan dengan cepat nan pasti. Orang ini sedang mengincar Wei yang sedang menahan energi pedang Bulan sabit. Dia berniat mencuranginya yang sedang menahan jurus. Gerakannya sungguh cepat, tahu-tahu dia telah berada di atasnya. Wei sempat melihat ke atas. Dilihatnya di tangan penyerang sedang tergenggam kecapi yang siap dipetikkan. Sebelum jarinya menggesek tali kecapi, tiba tiba dia dikejutkan oleh sebuah hawa yang dahsyat. Sebelum penyerang sempat terkejut, dia telah tertendang jatuh lumayan jauh. Namun dia masih dapat berdiri. Luka dalam di tubuhnya tidak seberapa.

Lalu dengan penasaran dilihatnya orang yang menyerangnya dengan tibatiba itu. Ternyata seorang nona yang sangat cantik... Tentu Nona ini tak lain adalah Yunying adanya. "Kamu curang..." Kata Pemuda itu yang memegang kecapi sambil menunjuk ke arah Yunying. "Kamu licik.. Kalau bukan kamu duluan, tidak mungkin aku menggunakan cara begitu..." kata Yunying melayani kata-katanya. Tanpa banyak bicara dengan mencabut pedang di pinggangnya Yunying segera membacok dengan energi Ilmu memindah semestanya ke arah Manabu. Karuan Manabu sangat terkejut, tetapi pemuda pemegang kecapi segera beralih ke samping Manabu. Dengan hentakan tenaga dalam, dia memetikkan kecapinya sekali. Hawa benturan tenaga dalam segera terjadi. Pertemuan tenaga dalam yang baru ini sempat menghentikan pertarungan tersebut. Ilmu pedang bulan sabit segera ditarik oleh Manabu. Begitu pulak Wei yang menarik kembali tenaga dalamnya. Kali ini mereka bertiga melawan dua orang dari Han utara. "Ha Ha Ha.... Kalian bertiga.. Ingatlah nama kita dua bersaudara. Namaku Fei Shan dari Nan Hai. Kali ini kalian akan mati tak memiliki kuburan jika kita berdua bergabung..." kata Orang yang memegang kecapi yang ternyata bernama Fei Shan. Mereka bertiga segera mengambil ancang-ancang siap. Sedangkan Fei Shan terlihat sangat serius. Dia petikkan kecapinya dengan nada kosong dan perlahan. Zhao dan Pei Nanyang diatas sangat terkejut. Sementara Jieji sangat mengenal jurus itu, Ilmu dewa pembuyar tenaga dalam. Tidak disangkanya Ilmu dewa pembuyar tenaga dalam bisa disampaikan melalui suara kecapi. Wei, Yunying dan Xieling sangatlah terkejut. Nada-nada itu sangat mengganggu pemikiran mereka. Semua tenaga dalam seakan sedang terkikis. Sedangkan Manabu sepertinya telah siap merapal jurus pedang bulan sabitnya untuk diarahkan ke tiga orang yang sedang terguncang. Sementara Jieji terkejut melihat mereka semua dalam kondisi yang cukup berbahaya. Ketika tombak panjang yang jumlahnya belasan batang datang. Dengan segera Jieji menendang sampai patah semuanya. Dengan mengangkat tombak dengan kakinya, Jieji menendang dengan kekuatan penuh ke arah Fei Shan. Fei Shan tahu dia tidak mampu berbalik lagi. Dia hanya pasrah. Tetapi dengan segera berbalik, Manabu ternyata membacok tombak itu dengan

pedangnya. Tombak memang tidak sempat mengenai Fei Shan tetapi patah akibat jurus dari Ilmu pedang bulan sabit. Bulan sabit yang keluar dan sempat memotong tombak langsung menuju ke arah pasukan Han utara. Tanpa sempat berkedip, sekitar 50 orang yang dekat dengan hawa pedang semuanya terpotong tubuhnya menjadi dua. Manabu sangat gusar mendapati hal tersebut. Jurusnya mengenai ke orang sendiri. Jieji segera melompat dengan ilmu ringan tubuh yang cepat ke arah Wei bertiga. Suara kecapi memang terus berkumandang. Sementara Yunying dan Xieling sepertinya seperti orang linglung. Sedangkan Wei sedang mengkonsenterasikan dirinya untuk tidak terpengaruh lebih lanjut. Jieji yang melihat keadaan keduanya segera meraih sebelah tangan Yunying dan Xieling dengan kedua tangannya. Dengan gerakan berputar, dia melemparkan keduanya ke atas tembok kota. "Hebat....." kata Pei Nanyang yang memujinya sambil bertepuk tangan. Yunying dan Xieling segera mendarat di atas tembok kota. Keadaan mereka telah lumayan membaik. Saat Jieji berusaha melakukan hal yang sama untuk JinDu. Manabu tidak memberikannya kesempatan kembali. Dengan sebuah hentakan jurus pedang bulan sabit, kembali sinar terang keluar bersama hawa dahsyat dari pedang. "Awas kak Jie..............." teriak Yunying dari atas yang sangat cemas akan keadaan Jieji yang di bawah kota. "Gawatt....Adik kedua dalam bahaya...." kata Zhao kuangyin dari atas yang seraya ingin melompat ke bawah. Tetapi dia dihentikan oleh Pei Nanyang. "Yang Mulia tidak usah takut... Dia pasti mempunyai upaya tersendiri..." Kata Qianhao yang sangat yakin akan Jieji. Sementara Jieji sedang berputar untuk melemparkan adik ketiganya ke atas tembok kota. Ketika lemparan telah dilakukan, hawa pedang nan tajam juga telah sampai. Jieji langsung menyeret kakinya ke belakang dan mundur dengan cepat untuk menahan jurus pedang bulan sabit itu. Kecepatan pedang memang luar biasa, sedang gerakan Jieji untuk menahan tentu tidaklah memadai mengingat posisinya sangat jelek. Hawa menusuk segera mendekat ke arah dada Jieji.. Dengan sebuah tarikan nafas yang panjang. Sebelah tangan Jieji segera membentuk lingkaran penuh.

Hawa pedang yang hampir sampai dilihat siapapun pasti mengenai dirinya. Tetapi hawa bulan sabit itu tiba-tiba melenceng ke arah atas mengikuti putaran tangannya. Sasaran telah berubah, kali ini hawa bulan sabit segera mengenai tembok kota. Dan terdengan benturan yang lumayan dahsyat. Zhao dan semua orang dari tembok kota melihat ke arah bawah. Di tembok terlihat jelas terbacok bentuk pedang yang lumayan panjang. "Tapak berantai benar luar biasa... Ha Ha Ha........" Kata Qianhao yang menyaksikannya dari atas tembok kota. Dia sangat mengingat jurus tersebut. Jurus yang sama yang digunakan untuk mementalkannya ketika pertarungan antara dirinya dengan Jieji di sungai kecil, Koguryo. Jieji yang masih menyeret kaki ke belakang segera mengancangkan jarinya dengan pasti. Dia mengarahkan jari ke arah Fei Shan yang masih memetik kecapi. Segera hawa pedang dahsyat mengarah ke arah Fei Shan. Fei Shan yang melihatnya tentu sangat terkejut, dia petikkan kecapinya dengan tenaga dalam penuh. Hawa suara kecapi segera berbenturan dengan hawa pedang Ilmu jari dewi pemusnah. Benturan segera terjadi dengan dahsyat. Tanah di sekitar segera bergetar. Hanya sekejap, kemenangan segera tampak. Fei Shan terlihat terlempar lumayan jauh dari tempatnya bersama kecapinya. Dari mulutnya keluar darah segar yang banyak. Dia terluka cukup parah oleh jurus Jieji. Manabu yang melihat jurus jari yang hebat itu tidak sempat membantu saudara seperguruannya. Dia merasa sangat heran. Sekitar 6 tahun lalu dia pernah bergebrak dengan Jieji. Saat itu dia menang mutlak terhadapnya. Mengapa sekarang kungfunya yang telah tinggi banyak malah tidak di atas Jieji. "Kakak... Kita gabungkan jurus kita untuk melayaninya.." kata Manabu kepada kakak seperguruannya, Fei Shan. Manabu yang dalam keadaan emosi yang cukup tinggi mengangguk. Mereka ingin menyelesaikan pertarungan tersebut dengan segera.

BAB LIV : Tapak Berantai tingkat Empat
Segera dengan cepat, hawa pertarungan dahsyat membungkus. Mereka berdua segera mengumpulkan energi guna 1 gebrakan. Jieji yang melihat mereka sangat serius, malah tenang saja tanpa mengambil posisi apapun. Tentu teman-temannya yang di atas tembok kota sangat terkejut melihat Jieji yang sama sekali tidak siap. "Kau menganggap remeh kita berdua???" tanya Fei Shan dengan lumayan marah.

Jieji tidak membalas perkataan Fei Shan tetapi dia hanya tersenyum sambil melihatnya. Pengumpulan tenaga semakin hebat. Para pasukan langsung mundur untuk tidak mengambil resiko yang terlalu dalam. Manabu dan Fei Shan termasuk pesilat kelas yang sangat tinggi. Bergabungnya mereka berdua tentu sangat tidak menguntungkan Jieji yang hanya sendiri saja. Sementara itu, Pei Nanyang yang melihat ketidak siapan Jieji lantas tertawa besar. "Ha Ha Ha..................." Tingkah Pei Nanyang juga dianggap sangat aneh oleh Zhao, Yunying, Wei dan Xieling yang telah berada di atas tembok kota. Semua Jenderal terkejut melihat keadaan Jieji. Dia sepertinya tidak ingin bertarung. Bahkan sama sekali Jieji tidak berkuda-kuda. Dia tetap berdiri tegak saja. Sebelum mereka berdua sampai pada puncak pengerahan tenaga dalam. Tiba-tiba dari arah belakang terlihat pasukan yang mendekati mereka. Kepulan udara semakin tinggi, mereka memutuskan untuk meneliti dahulu siapa yang datang. Oleh karena itu, tenaga dalam yang dari tadi telah dikumpulkan, segera mereka simpan balik. Dari kejauhan, semua nampak dengan jelas. Pasukan yang sampai adalah pasukan berkuda. Beberapa saat kemudian, tampak jelas penunggang kuda yang paling depan. Orang itu telah berusia sangat lanjut. Rambut dan kumis maupun jenggotnya sangat panjang. Tetapi kesemua helai bulu disana telah memutih. Fei Shan dan Manabu sangat girang luar biasa mendapati kedatangan orang tua itu. Dengan segera mereka berlutut. "Guru......" kata mereka sambil memberi hormat. Orang tua itu segera turun dari kudanya. Sementara itu pasukan yang berada di belakangnya juga telah sampai. Pasukan itu dikenal oleh Zhao Kuangyin di atas kota, itulah Pasukan Liao. Yang langsung dipimpin oleh Raja Liao, Yeli Xian. Orang tua itu beranjak dengan pelan ke depan. Hawa pembunuhannya terasa sangat kental. Sambil membimbing muridnya berdiri dia bertanya kepada Jieji dengan mata yang sangat sadis. "Kau Xia Jieji? Kau telah berguru dengan Dewa Sakti???" tanyanya seakan marah.

"Betul.. Namaku Xia Jieji. Saya tidak seberuntung itu untuk menjadi murid dewa Sakti." Kata Jieji memandangnya sambil tersenyum simpul. "Ha Ha Ha................." teriak Orang tua itu. Namun segera tenaga dalamnya keluar dengan hebat. Beberapa pasukan di belakangnya telah jatuh terjerembab dan muntah darah. Sedang Jieji hanya berdiri biasa tanpa bereaksi apapun. Tidak kelihatan dia menahan energi teriakan orang tua itu. "Hei, Dewa kakus...... Apa kabarmu?" teriak seseorang dari atas tembok kota. Orang tua itu segera mengangkat kepalanya ke atas tembok kota. Dia melihat seorang pemuda paruh baya yang berdiri dengan gagah di atas tembok kota. "Keparat kau!!!!! Beraninya kau menghinaku sedemikian rupa....." teriak orang tua itu. Orang yang menghinanya adalah Pei Nanyang adanya. "Beberapa puluh tahun yang lalu, kau sebagai guru dari Lu Fei Dan tidak becus. Karena takut ilmu kungfuku melebihimu. Kau suruh muridmu yang tolol itu untuk membunuhku. Tetapi langit maha adil. Sampai sekarang aku masih hidup dengan sangat baik. Tentu jasa itu harus kubalas kepadamu...." kata Pei Nanyang seraya tertawa besar. "Hari ini aku tidak akan bertindak tangan denganmu.... Hari ini aku datang untuk membalaskan kematian muridku dan cucu muridku serta cucu muda muridku itu..." kata si Orang tua. Jieji yang mendengarnya segera tahu, Orang itulah dewa bumi yang pernah di ungkit dalam buku Kisah Ilmu Pemusnah Raga. "Ha Ha Ha.... Memang benar.... Muridmu itu tolol biasa, tetapi jika ada seorang guru yang menerima murid tolol. Maka gurunya itu adalah orang luar biasa tolol di kolong langit...." kata Jieji seraya tertawa menghinanya. Jieji memang sangat membenci orang ini yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Tentu karena dialah pencipta Racun pemusnah raga. Dewa Bumi segera naik pitam. Dia berniat mencuri serang dengan mengambil jarum perak yang berisi racun pemusnah raga. Tetapi Jieji tetap santai saja dan tidak melakukan ancang-ancang bertahan ataupun menghindar. "Dewa Kakus.... Tidak ada gunanya.. Dahulu kau cipta racun itu,kau juga tahu kelemahan utamanya adalah apa kan???" tanya Pei Nanyang.

Jieji yang mendengarnya tentu tersenyum geli. "Kelemahannya? Ha Ha ... Belum ada orang yang sempat hidup dari racun pemusnah raga. Di antara 253 orang yang kuracuni ataupun di racuni oleh murid-muridku. Tidak ada satupun yang masih hidup sampai sekarang..." kata Dewa Bumi dengan sangat senang. "Tidak Dewa Kakus. Kau masih ingat, racun yang dilemparkan olehmu ke Hikatsuka Oda dan mengenai puteranya yang masih bayi?" tanya Pei Nanyang. Dengan segera, Dewa bumi mengerti. Dia tahu Jieji-lah orang pertama yang hidup dari keganasan racun itu. "Ha Ha Ha....... Kalau begitu tidak perlu kuracuni. Aku tidak percaya kungfu pemuda yang baru berusia 30 tahun lebih ini sangat hebat.... Dan tidak kusangka dia adalah cucu dari saudara seperguruanku..." kata Dewa Bumi. "Betul... Dia tidak lain adalah cucu dari Dewa Manusia, teman lamamu itu...Kutanya kau, bagaimana kungfumu dibanding denganku?" tanya Pei Nanyang kembali kepadanya. "Kalau dibanding denganmu mungkin aku bukan tandinganmu. Selain itu 2 muridku ada disini. Jika mereka mengeroyokmu bersamaku mungkin kita akan seimbang." kata Dewa Bumi. "Hm..... Tetapi kungfu pemuda itu jauh di atasku...." kata Pei Nanyang seraya menunjuk ke arah Jieji. Tentu Dewa bumi dan kedua muridnya sangat tidak percaya. Terlebih lagi Manabu, dia pernah mempercundangi Jieji sekitar 6 tahun lalu. Dia tahu kungfu Jieji tidak seberapa. "Ha Ha ... Kalau begitu boleh kita coba saja..." kata Dewa bumi dengan segera melesat luar biasa cepat ke arah Jieji. Jieji tentu melihat dengan jelas gerakan Dewa Bumi yang tidak bisa dilihat mata orang biasa. Dia mengeluarkan tapak untuk menghantam ke dada Jieji. Tetapi dengan sangat gesit, Jieji mengelak ke samping. Saat lewat, Jieji segera mengeluarkan jurus tendangan mayapada untuk menghantam punggung Dewa Bumi. Meski Dewa bumi telah tua, dia sanggup memutar cepat tubuhnya. Dan dengan tapak yang tadi telah menghantam tempat kosong segera dia adukan dengan tendangan yang sangat cepat itu. Suara bergelegar segera muncul... Jieji tetap tenang saja di tempat. Sedangkan Dewa bumi sempat mundur 2 langkah ke belakang.

"Ha Ha Ha.. Hebat... Tidak disangka di dunia ini telah muncul pesilat yang sangat luar biasa. Pantas murid-muridku tidak mampu melawanmu seorang..." kata Dewa Bumi. Sambil mundur perlahan, Dewa bumi memberikan kedipan kepada kedua muridnya. Kedua muridnya segera mengangguk pelan. Jieji sudah tahu apa maksud dewa bumi. Mereka ingin menggabungkan serangan untuk melayani dia yang sendiri. "Ayok!!!! " teriak Dewa bumi seraya mengancangkan tapak untuk merapal tapak Mayapada tingkat tertingginya. Kedua muridnya telah siap benar. Karena energinya tadi masih sempat terkumpul, kembali mereka mengeluarkan energinya kembali. Manabu sedang berposisi kedua tangannya menggenggam pedang katana. Sedang Kakak seperguruannya, Fei Shan sedang memegang kecapinya dengan posisi satu kaki menahan tanah dan kakinya yang lain dilipat untuk meletakkan kecapi. Hawa angin disana segera berhembus mengelilingi ke 3 orang yang mengumpulkan energi. Sementara seperti tadi, Jieji tidak melakukan persiapan apapun. "Apa yang sedang dipikirkannya sih?" tanya Yunying yang sangat cemas sambil mengerutkan dahinya. "Tidak usah takut nona. Dalam hatinya sangat tenang. Sangatlah cocok untuk melayani kehebatan 3 orang itu yang mempunyai tenaga dalam sangat dahsyat." kata Qianhao menghibur nona ini. Zhao dan Wei serta Xieling daritadi tetap memperhatikan Jieji. Mereka juga bingung, kenapa Jieji hanya diam saja dan tidak bertindak apa-apa. Untuk selang waktu yang lumayan lama, Dewa bumi dan kedua muridnya mengumpulkan tenaga dalam. Sedang Jieji hanya tersenyum manis melihat tingkah mereka. Hawa pertarungan disana betul tidak lagi ramah. Tadinya hanya angin yang berdesir kencang. Sekarang sapuan angin telah membawa pasir yang terbang tinggi ke atas. Desiran angin terlihat jelas di sekitar daerah ketiganya. "Anak muda... Kau masih punya impian yang belum terwujudkan? Katakanlah sekarang.... Ha Ha ..." kata Dewa bumi sambil tertawa. "Tidak ada.. Kalaupun ada susah bagimu untuk melaksanakannya..." kata Jieji pendek dan tersenyum. "Lalu apa itu?" tanya Dewa Bumi.

"Kalau ketemu kakekku di alam sana. Jadilah orang yang baik-baik bersamanya. Janganlah berpikiran untuk menciptakan jurus-jurus yang aneh lagi.." kata Jieji. Maksud Jieji tentu untuk dirinya. Kalau Dewa bumi kalah dan tewas dalam 1 gebrakan tersebut maka dialah yang akan pergi menemui kakeknya, Dewa Manusia. Dewa bumi sangat marah mendapati pernyataan Jieji. Dengan segera dia berteriak. "Anak muda keparat!!! Tidak tahu diri!!!! Ayok!! Kita serang bersama." Pengumpulan energi pasti itu telah memuncak. Inilah saatnya energi tersebut dilontarkan melalui jurus. Dewa bumi siap mengantarkan energi melalui tapak, Manabu siap melontarkan Jurus sabetan pedang sabit. Sedangkan Fei Shan telah siap memetikkan kecapinya dengan 1 gerakan pamungkas. Jieji yang melihatnya segera membentuk lingkaran melalui kedua tangannya. Dan mempertemukan kedua tapak di tengah dada. Sementara matanya tetap tertutup. Hawa serangan telah melesat keluar dengan dahsyat sekali mengarah ke Jieji. Lesatan tenaga dalam membuat tanah yang dilewatinya terkelupas dan bergetar seperti gempa bumi. Ketika tenaga luar biasa hebat itu hampir mengenai Jieji yang sedang menutup matanya, Energi itu seakan berputar di sekeliling tubuhnya tanpa melukainya. Hal itu tentu membuat 3 orang penyerang sangat terkejut. Bukan saja mereka melihat energi hanya membentur tempat kosong. Namun energi milik mereka seakan menjadi milik Jieji karena kelihatan energi itu malah membaur dengan dirinya. "Dewa bumi itu dalam keadaan yang sangat berbahaya..." kata Pei Nanyang yang di atas tembok kota. Jieji yang sedari tadi menutup matanya, segera membuka matanya. Energi hebat yang membludak sekarang ada di samping tubuhnya. Dengan gerakan memutar kedua tangannya yang tadinya menutup dengan gerakan 1 lingkaran penuh. Hawa energi yang tadinya tidak ramah menjadi mulai buyar. Dengan mengancangkan tapak, Jieji segera mendorong keras dengan menggunakan energi mereka yang telah keluar tadi. Tiga orang yang bertarung melawannya sangat terkejut. Kali ini yang berbalik bukan saja tenaga mereka sendiri, tetapi yang mendorong tenaga dalam mereka berbalik adalah tenaga dalam Jieji.

Segera terdengar dentuman tenaga dalam dahsyat. Ini hanya permulaannya saja. Ketika belum sampai siap benarnya ketiga orang itu, hawa tapak yang luar biasa banyak segera terarah di depan mereka. Dewa Bumi yang melihatnya segera merapal jurus tapak mayapada tingkat terakhir untuk menahan puluhan tapak yang datang dengan sangat dahsyat. Tetapi tidak ayal, beberapa tapak mengenai dada, muka, perut dan tulang rusuknya. Fei Shan paling parah, tidak ada 1 tapakpun yang sanggup ditahannya. Dia terbang melayang jauh dan kehilangan keseimbangan seperti layangan putus, karena saat itu dia telah tewas. Sedangkan Manabu berusaha keras menahan tapak yang jumlahnya sangat banyak di depannya dengan gerakan pedang cepat. Tetapi barusan dia sanggup mengeliminasi 3 atau 4 tapak, pedang katana-nya segera patah menjadi 5 bagian. Tidak ayal dia juga terkena tapak yang maha hebat itu di bagian wajah, dada dan perutnya. Dia terpelanting beberapa puluh kaki dan tidak sanggup untuk bangun lagi, nafasnya sudah hampir putus. "Hebattttt....... " Teriak orang-orang di atas tembok kota Ye yang menyaksikan pertarungan itu. Dewa bumi yang segera bangun dengan luka dalam yang sangat parah segera menggendong anak muridnya, Manabu yang dilihatnya masih bernafas itu. Dengan segera dia berteriak kepada pasukan yang letaknya tidak jauh dari sana. "Serang..... Bunuh pemuda di tengah itu!!!!!" Pasukan segera beranjak maju dengan sangat cepat untuk menyerang Jieji. Tetapi Jieji hanya tenang. Dengan sekali menghembuskan nafas, tidak ada orang yang bisa mendekatinya sama sekali. Hawa sisa tenaga tapak berantai tingkat 4 masih mengelilingi tubuhnya.

BAB LV : Tewasnya Dewa Bumi
Dewa bumi sambil menggendong Manabu segera meninggalkan tempat itu dengan ringan tubuh. Meski terluka dalam, sepertinya Dewa bumi masih sanggup bertahan. Mereka berdua telah menjauh dari Jieji hampir mencapai 1/2 Li. Jieji yang melihatnya kabur tidak memberikan kemudahan baginya. Kebetulan di tanah ada sebatang tombak patah dengan ujung tajam yang tadinya sempat dipotong Manabu. Dengan gerakan kaki yang menghempaskan tanah kuat, tombak itu segera melayang setinggi pinggang. Dengan menghembuskan nafas panjang, Jieji menendangnya dengan sangat kuat.

Tombak patah pada bagian yang tajam segera melesat melebihi kecepatan anak panah beberapa kali dan seakan mengejar dua orang yang kabur itu. Dewa Bumi yang sedang menggendong Manabu di punggungnya segera terkejut, karena dia merasakan hawa tusukan yang sangat dahsyat dan sangat dekat di belakang punggungnya. Tidak ayal sebelum dia mengumpukan seluruh energi untuk bertahan, tombak tajam itu telah menembus tubuh Manabu dan ujung tombak sempat menusuk cukup dalam di bahu Dewa Bumi. Dewa Bumi tiada pilihan lain selain mengerahkan tenaga dalamnya yang tersisa untuk memblokir dahsyatnya tusukan tombak. Manabu yang sangat lemah terkena tusukan tombak maka dia langsung tewas di pundak Dewa Bumi. "Laknatttt Kau !!!!" Teriak Dewa Bumi dari kejauhan yang suaranya lumayan jelas terdengar. Jieji hanya memandangnya dingin, tidak sepertinya dia gembira atas kejadian itu. Xieling yang menyaksikan di atas tembok kota, segera berlutut ke arah barat daya yaitu dimana kota Shandang berada. Dia mendoakan ayah ibunya kembali, karena dendamnya telah terbalaskan. Hanya tinggal seorang pejabat kecil yang bermarga Zhang saja yang perlu ditagih kembali hutang itu. Sesaat itu, Jieji berpaling ke arah pasukan Liao yang berada tidak jauh dengannya. "Raja Yelu.... Kenapa anda melanggar janji dengan Sung? Ketika kedua negara mengadakan perjanjian, anda berkata bahwa akan bekerja sama dengan Sung membasmi Han utara. Mengapa begitu cepat anda itu berubah pikiran?" tanya Jieji kepada YeLu Xian, Raja negeri Liao. Tentu kata-kata ini hanya untuk memecah belah aliansi antara Han utara dan Liao. Setelah mendengar kata-kata Jieji, Liu MuShun memandang dengan tajam ke arah YeLu Xian. "Jangan kau dengarkan kata-kata dari pemuda itu...." Teriak Yelu Xian yang agak gusar sambil memandang ke arah Jieji. "Lalu saya menanyaimu, kenapa anda tidak menggerakkan pasukan anda sekarang? Karena begitu pasukan Han utara telah bergebrak dengan Sung, kau akan memimpin angkatan perangmu balik untuk merebut ibukota Han Utara. Begitu kan??" tanya Jieji dengan tersenyum. Rasa curiga Liu Mushun makin menjadi. Dia berteriak dengan sangat keras ke arah YeLu Xian.

"Raja Yelu...... Bagaimana kau bisa kurang ajar seperti itu?? Saya mengerti maksudmu sebagai Raja Liao. Tidak mungkin kau akan hidup terpencil di arah utara saja kan??" tanya Liu sambil gusar kepadanya. Ketika mereka saling menuduh, pasukan mereka sedikit banyak juga ikut kacau. Melihat keadaan sedemikian rupa, Jieji segera mengangkat tangannya tinggi. Zhao dan Jenderal di atas tembok kota mengerti sinyal tersebut. Dengan segera Zhao memberi perintah. "Pasukan! Serang!!!... " Beberapa kali dentuman meriam segera terdengar dari arah dalam kota Ye. Segera dari pintu utara kota dipentangkan, suara pasukan yang masih bermoral tinggi itu mebludak sangat membahana seiring majunya pasukan Sung dengan gagahnya. Dengan segera, Zhao Kuangyin yang tadinya di tembok kota segera meloncat ke bawah dengan ilmu ringan tubuh dan turun pas di atas kudanya yang telah disiapkan oleh pasukannya. Zhao memacu kudanya sangat cepat ke arah Liu MuShun dan diikuti pasukan berkudanya yang berjumlah 10 ribu orang untuk bergebrak langsung. Liu MuShun yang melihat keadaan tidak begitu menguntungkan baginya karena 2 pengawal yang diandalkannya telah tewas, dengan segera meminta pasukannya untuk berperang mati-matian. YeLu Xian yang melihat keadaan kalut itu, lalu berniat maju bersama pasukan Liao untuk berperang mati-matian juga. Apa mau dikata, ketika dia baru berniat beranjak, sebuah lemparan tombak yang tiba-tiba dengan cepat telah tepat menembus jantungnya dari depan. YeLu Xian langsung tewas di atas kudanya. Pelempar tombak tak lain adalah Jieji adanya. Pasukan Liao segera kalut karena mendapati Raja mereka telah tewas. Mereka segera kabur tanpa mempedulikan peperangan itu lagi. Sementara dengan sangat cepat, Jieji menuju ke arah pengawal Jenderal yang sedari tadi memegang kepala Xia Wenlun yang telah buntung. Dengan sekali menendang, pengawal jenderal segera roboh dari kuda. Kepala kakak pertamanya direbut dan dengan segera dipegang dengan kedua tangan. Jieji yang memandangnya tentu sangat hancur hatinya mendapatkan kembali kepala kakak pertamanya yang tidak lagi utuh sepenuhnya. Pasukan Sung yang hebat menyerbu bagaikan aliran air pada tanggul yang jebol. Pasukan Han utara tidak sanggup menahan gempuran dahsyat itu karena sepertinya Pasukan Sung sangatlah beringas dan bersemangat.

Dengan memacu kudanya sangat cepat, Zhao telah sampai di depan Jenderal Liu Mushun. Sebelum dia sanggup bertindak, pedang Zhao yang di tangannya menebas kepala Jenderal itu. Para pasukan yang tadinya masih berniat untuk bertempur jadi kehilangan semangat. Dengan segera, mereka beranjak kabur. Sebagian besar pasukan mereka rusak berat karena posisi mereka sangat jelek ketika kabur. Senjata serta pakaian perang pasukan Liao dan Han utara di buang di tengah jalan Pengejaran yang seru dilakukan sepanjang 100 Li ke arah utara. Banyak pasukan Liao maupun Han utara yang tertawan hidup-hidup. Yang tewas juga tidak terhitung banyaknya. Mayat saling susun tindih. Setelah para pasukan Han utara kembali ke kota Yichou, mereka menutup pintu gerbang kota secara rapat. Zhao memerintahkan pasukannya untuk mundur perlahan dan hati-hati menuju ke perbatasan. Setelah menempati perbatasan utara Ye yang telah ditinggal kosong oleh pasukan Han utara dan Liao. Zhao kembali bersama sisa pasukannya ke kota Ye dengan kemenangan besar. Pasukan Han utara maupun Liao yang tertawan jumlahnya hampir 1 laksa. Jumlah itu lumayan banyak. "Dik, bagaimana dengan tawanan pasukan Han utara dan Liao?" tanya Zhao kepadanya yang lumayan bimbang menghadapi perkara tersebut. Jieji memandang kakak pertamanya dan senyum dengan penuh arti. "Pasukan kedua belah pihak seharusnya dibebaskan pulang kembali ke tanah air. Tetapi sebelum itu, berikanlah mereka kemudahan. Buatlah mereka semua senang sehingga mereka bersimpati pada kakak. Dengan begitu, sedikit banyak pasukan mereka akan mempunyai hati yang tidak lurus lagi dengan majikan mereka." "Bagaimana jika pasukan Han utara ataupun Liao yang ingin tinggal disini?" Tanya kakak pertamanya kembali. "Tidak.. Itu tidak bisa dilakukan dan terlalu beresiko.. Jika pasukan Han utara atau Liao yang telah di tawan kita jadikan pasukan Sung. Itu lebih berbahaya karena jika mereka masih mempunyai kemantapan hati dengan raja mereka, maka selanjutnya hal itu sama sekali tidak menguntungkan Sung. Untuk menghindari resiko lebih lanjut bagusan kita lepaskan mereka semua saja." "Ha Ha... Betul... Ditahan disini pun tidak ada gunanya sama sekali...." kata Zhao yang memuji akal adik keduanya. Jieji tidak mengusulkan kepada kakak pertamanya untuk membantai seluruh tawanan karena diingatnya hal itu malah makin mengancam

kelangsungan Dinasti. Karena pasukan yang terbantai tentu masih mempunyai keluarga di Han utara. Jika suatu hari Sung berhasil menyatukan Han utara, maka tentu kekacauan dalam negeri pasti lebih sering terbit. Setelah itu, Zhao mengajak semua tawanan ke tanah lapang kota. Para tawanan tentu sangatlah takut, karena mereka mengira pasti Sung sudah siap membantai mereka. "Kalian pasukan dari Han utara dan Liao. Sebenarnya dengan kita sama sekali tidak perlu adanya permusuhan yang berarti. Mengingat Kaisar kalian sangat rakus dan tidak bisa menepati janji, maka semua yang dilakukan Kaisar kalian tidak ada hubungannya dengan kalian sama sekali. Saya sebagai Kaisar dinasti Sung menghormati kalian para prajurit Han utara maupun Liao. Marilah kita bersulang bersama-sama sebagai insan yang hidup sekolong langit." Tentu apa yang dikatakan Zhao disambut sangat meriah oleh tawanan perang itu. Mereka sangat bersyukur, semuanya berlutut di tanah lapang dan memuji keputusan Kaisar Sung tersebut. Setelah itu, Zhao bahkan menjamu pasukan Han utara dan Liao dengan sangat teliti. Mereka dibiarkan kembali ke negara mereka masing-masing dan bahkan Zhao memberi mereka bekal makanan ataupun kuda. Tidak ada pasukan yang tidak bersyukur atas keputusan Zhao tersebut. Mereka berlutut di tengah tanah lapang sambil berteriak. "Panjang umur Yang mulia......." Sementara itu, Dewa bumi yang menggendong Manabu yang telah tewas segera menuju ke arah utara YiChou, dia kembali ke perkemahan Liao disana. Dewa Bumi memang sangat sakit hati mendapati Manabu murid tercinta dan terpintarnya itu tewas. Dia berjanji dan menyumpahi Jieji akan melakukan pembalasan dendam. Luka dalam yang dideritanya sangat parah. Dia berusaha untuk menyembuhkan dirinya kembali dengan tenaga dalamnya. Setelah lewat 3 jam, dia mendengar ada langkah yang mendekati ke kemahnya dengan lumayan pelan. Sesaat itu Dewa bumi segera membuka matanya. Di dapatinya seorang pemuda yang tampan telah berdiri di depannya. "Kenapa kau tidak ikut diriku menyerang pemuda bernama Jieji itu?" tanya Dewa Bumi. "Karena meski kita semua bergabung, belum tentu dapat mengalahkannya. Aku tidak akan melakukan hal yang sia-sia." kata pemuda tampan itu dengan santai.

"Bukannya kau yang pengecut? Beraninya kau bilang hal sebegitu?" kata Dewa bumi yang agak gusar karena dirinya yang dipercundangi sedemikian rupa tadinya. "Ha Ha...... Tentu tidak sebegitu.. Akan kuberitahukan alasannya kepadamu..." kata Pemuda itu dengan tertawa besar dan sangat senang hatinya. Tetapi dari sinar matanya seperti mengandung pembunuhan. Dewa bumi yang melihatnya segera merinding bulu kuduknya. Dia merasakan adanya hal yang sama sekali tidak beres. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan sangat penasaran. "Akan kau tahu sendiri......" kata pemuda itu dengan cepat beralih ke belakang Dewa bumi. Dengan tapak yang cepat dia segera menempelkannya di tengkuk Dewa Bumi. "Kauuuuuu....... Keparaaaattttt..... Murid laknattttttt......." teriak Dewa bumi dengan sangat penasaran. Pemuda itu kelihatan tertawa sangat besar. Tenaga dalam yang dihimpun dewa bumi sebelumnya sepertinya telah buyar seluruhnya dihisap pemuda tampan itu. "Kau ingin tahu alasannya guru?" tanya pemuda itu. "Kaauuu....." kata Dewa bumi sambil menengok ke arah pemuda itu. "Karena kau tidak pantas. Kupinjam tenagamu untuk kelak dapat membalaskan dendammu itu. Untuk itu pergilah kau temui sobat lamamu di neraka." katanya kembali. Dewa bumi yang tenaganya telah terhisap terasa sangat kesakitan di seluruh tubuhnya. Untuk selang beberapa saat, Dewa bumi telah terkapar. Semua energi miliknya telah habis dihisap. "Dulu Dewa manusia mengatakan jurus yang paling hebatnya selain tendangan matahari adalah jurus ini. Lalu kenapa kau ajarin kepada muridmuridmu ilmu tersebut? Kau terlalu tolol.... Ha Ha Ha....." kata Pemuda itu sambil tertawa keras. "Kauu...." kata Dewa bumi yang lemah sekali sambil menunjuk kepadanya. Sesaat itu, Dewa bumi roboh. Dia tewas di perkemahan Liao. Sedang pemuda itu sangat senang karena bisa mendapatkan energi maha dahsyat milik gurunya sendiri.

Setelah itu, terlihat tirai perkemahan Liao dibuka beberapa orang. Dan ketika masuk terlihat jelas 5 orang. "Kamu sudah menyelesaikannya?" tanya orang yang masuk. Orang tersebut lumayan tua, suaranya serak dan sangat berwibawa. "Betul... Dewa ini telah kujadikan Dewa Bumi beneran..." katanya dengan sangat dingin. "Ha Ha.... Bagus... Tanpa dia kita pun bisa berhasil..." "Sekarang apa yang kita lakukan?" tanya si pemuda tampan. "Tentu... Kita fitnah dan kambing hitamkan orang itu." kata Seorang tua lainnya. Sedang terlihat seorang wanita tua hanya tertunduk lesu. Dia tidak berkata apa-apa. "Kau tidak bisa begitu. Inilah hal seharusnya yang akan diterimanya." kata Pemuda tua lainnya yang melihat reaksi perempuan tua itu. "Sekarang kita harus meninggalkan tempat ini.." kata pemuda tua kembali. "Lalu bagaimana dengan ayahmu?" terlihat seorang wanita tua yang lain bersuara kepada pemuda tampan tadi. Wanita tua ini telah berumur 50 an, tetapi kelihatannya dia masih sangat cantik. Bekas wajah seindah bunganya masih tersisa kepadanya. Pemuda tampan memberi hormat kepada Wanita tua itu dan berkata. "Mengenai hal tersebut tentu secepatnya akan kuselesaikan...." "Bagus.... Bagus.... Kelak jika kau jadi menantuku tentu aku sangat bergembira.. Kau adalah tipe orang yang pemberani dan berani mengambil resiko.." kata wanita tua itu memuji si pemuda tampan dengan puas. Pemuda tampan itu tersenyum sangat puas, di matanya mengandung sinar pembunuhan yang sangat mengerikan...

BAB LVI : Sang Puisi Dewa
Kemenangan pasukan Sung atas Han utara dan Liao disambut hangat oleh seluruh penduduk di seluruh negeri. Kaisar Sung Taizu memberikan banyak hadiah pada tentaranya yang ikut dengannya berperang kali ini. Terakhir, Kaisar memberikan anugerah gelar bagi Xia Jieji, adik keduanya dengan gelar tanpa jabatan yang disebut sebagai "Pahlawan dari Selatan". Di Ibukota... Setelah kemenangan besar, Zhao kembali ke Ibukota bersama 2 saudara

dan teman-temannya. Mereka hanya tinggal 2 hari di sana. Kepala Xia WenLun telah dijahit dengan seksama kembali ke tubuhnya yang ditemukan di tempat yang dikatakan oleh Jenderal Ma. Setelah itu Zhao sendiri yang mengantarkan kedua adiknya yang memiliki kesibukan tersendiri ke luar kota sebelah selatan Kaifeng. "Adik kedua, apa yang kamu pesankan telah kulaksanakan..." kata Zhao kepada Jieji. "Terima kasih kak.." kata Jieji sambil menunduk lesu. "Kemarin telah kuutus lumayan banyak pasukan untuk mengawal jenazah Xia Wenlun ke Dongyang. Keluargamu pasti sedang menantikannya disana." kata Zhao sambil menghela nafas. "Ha? Sejak kapan kamu mengirim keluargamu ke Dongyang?" tanya Yunying yang terkesan heran. Jieji memandangnya, setelah itu dia berkata. "Ketika kita kembali ke Changsha, saya sempat menulis surat untuk di antarkan orang ke ibukota. Kamu masih ingat tentang biksu Wu Jiang?" "Oh... Iya...." kata Yunying. "Betul kakak kedua... Sepertinya cukup berbahaya bagi keluarga Xia yang di Changsha. Soalnya mereka pasti mengiramu yang telah membunuh biksu Wu Jiang. Dan pasti dengan berbagai alasan lagi mereka akan mengacau di rumahmu." kata Wei Jindu menimpali. "Oiya Dik... Utusanku tadi melaporkan. Sekitar 15 hari lalu, ada beberapa pesilat yang sempat bertarung dengan seorang yang aneh dan bertopeng. Dengan sekali bergebrak, mereka telah jatuh hampir putus nafas di depan rumahmu yang di Changsha." kata Zhao kepada Jieji. "Apa?" tanya Jieji yang agak keheranan. Mereka semua juga ikut keheranan. Kedatangan para pesilat pastilah mencari Jieji untuk menuntut balas dendam atas kematian Biksu kepala Shaolin, Wu Jiang. Tetapi Jieji mendengar para pesilat itu telah dirobohkan oleh orang yang tidak dikenal. Hal ini tentu membuat mereka semua heran. Tetapi Jieji berpikir keras, dia berpikir siapa yang sedang melindungi keluarganya. Sekilas di dalam pikirannya hanya terdapat 1 orang. "Oya dik.. Kamu ingin pulang ke Dongyang?" tanya Zhao. "Tentu... Saya harus ikut perkabungan atas meninggalnya kakak pertamaku." kata Jieji. "Kalau begitu aku ikut denganmu yah?" kata Yunying.

"Kakak pertama, kakak kedua, saya harus pulang dahulu ke Barat untuk menemui guruku. Mengingat sudah lama sekali saya tidak pulang." kata Wei Jindu sambil berpaling pada Xieling. Jindu ingin Xieling ikut bersamanya kesana. Xieling hanya mengangguk pelan. Dendam keluarga nya telah terbalaskan, selain itu Zhao telah berjanji padanya untuk meneliti dosa pejabat bermarga Zhang di Shandang yang pernah diceritakannya. Jika pejabat itu terbukti bersalah dalam kasus keluarga Xieling, maka pejabat itu harus dihukum mati. Xieling tidak mengambil masalah itu penting jika bisa diselesaikan dengan hukum. "Betul... Kita semua punya kesibukan masing-masing. Selamat jalan adikadikku." Kata Zhao dengan tersenyum kepada kedua adiknya. Setelah mereka memohon pamit, maka Jieji dan Yunying menuju ke arah timur, sedang Jindu dan Xieling mengambil arah selatan untuk terus ke arah barat. *** Dalam 3 hari, Jieji dan Yunying hampir sampai di pantai timur Xiapi untuk berlayar ke Dongyang. Tetapi di tengah jalan, di arah lembah terakhir dari gunung Dai. Secara samar mereka mendengar ada orang yang sedang membacakan puisi indah. Jieji mendengar dengan sangat cermat. Orang yang berpuisi itu sepertinya memiliki tenaga dalam yang tinggi, karena suara yang dibawakannya ikut bersama tenaga dalam yang sangat lembut sekali. Para pendengar pasti bisa terpesona akan suara dan arti puisi tersebut. Jieji dan Yunying tidak jadi melanjutkan perjalanannya dahulu karena mereka ingin menemui orang yang sedang berpuisi itu. Mereka hanya duduk di atas kuda untuk menantikan. "Hebat yah... Orang yang berpuisi itu masih dalam jarak yang cukup jauh. Yang terdengar hanya suaranya yang sangat bergema hebat." kata Yunying sambil tersenyum terpesona. Sedang Jieji tidak menjawabnya. Di bibirnya tersungging senyuman. Setelah beberapa lama, maka dari jauh nampak seorang tua yang berpakaian serba putih dan memegang tongkat. Langkahnya sangat pelan dan gagah, tidak sepertinya orang tua itu kelelahan. Jieji yang melihatnya segera turun dari kudanya untuk menghampiri orang tua tersebut. Setelah benar dekat. Jieji menyapanya dengan sangat manis.

"Pak tua... Apa kabarmu?" Orang tua yang melihat wajah Jieji sangat terkejut. "Kamu... Tidak disangka setelah belasan tahun kita bisa bertemu kembali." kata Orang tua itu dengan senang dan agak terkejut. "Betul....." Kata Jieji sambil memberi hormat kepadanya. "Belasan tahun lalu, pernah saya memberikan peringatan kepadamu. Sepertinya itu malah sia-sia sekali...." kata Orang tua itu dengan wajah yang sangat sedih. Sementara itu Yunying maju ke depan untuk menanyai Jieji siapa orang tua tersebut. Tetapi Jieji tidak menjawabnya. "Saya telah mengerti puisi yang anda ucapkan saat berada dekat dengan kota XuDu. Terima kasih banyak kepada anda pak tua." kata Jieji yang seraya menitikkan air matanya sambil sangat sedih. "Takdir.... Takdir... " kata Orang tua itu sambil menunjuk langit dengan wajah yang teramat sedih sekali. Setelah itu, orang tua itu berpaling kepada Yunying yang ada di belakang Jieji. Di luar dugaan orang tua itu tersenyum sangat cerah dan sempat berpuisi. "Bunga indah tiada layu... Senyum surga selalu membuktikan janji... Tiada akhir yang susah... Tiada perlu bersusah.." Puisi untuk Yunying sepertinya sangat bagus. Untuknya mungkin tidak akan ada kesusahan yang berarti dalam hidupnya. Setelah itu orang tua itu meminta pamit kepada Jieji dan Yunying. Maka dengan langkah yang lumayan cepat dia telah berada lumayan jauh di belakang Jieji. Jieji berpaling dan melihatnya berjalan cepat hanya bisa pasrah meratapinya. Ada sesuatu hal di sinar matanya yang terkandung kepahitan belasan tahun silam. Tetapi baru berjalan lumayan jauh, Orang tua itu kembali berpuisi dengan cukup keras dan penuh tenaga dalam kuat. "1 Bintang utara telah lenyap... Raja tanpa sebuah tiang lurus... 4 Bintang selatan berkelap-kelip... Berkumpul dan ditabrak Bintang juga... Semuanya seperti binatang Fu Yi...

Tiada kesempatan... Tiada kesempatan... Tiada kesempatan...." Jieji yang mendengarnya kali ini sangat luar biasa terkejut. Diingatnya dengan jelas ketika pelariannya dengan Xufen. Orang tua tersebut mengucapkan puisi yang sangat tidak menentramkan hatinya seperti sekarang. Jieji berpikir sangat keras. Sepertinya kali ini seperti belasan tahun silam, dia tidak pernah mendapatkan jawabannya sampai telah terjadinya hal tersebut. Dia hanya diam terpaku. Sebenarnya arti dari puisi itu tidak susah diterjemahkan. Ketika orang tua itu membacakannya, Jieji telah mendapatkan separuh artinya. Tetapi dia hanya bisa menduga tanpa mampu berhipotesa lanjut. **[1 Bintang utara telah lenyap tidak diketahui artinya oleh Jieji. Raja tanpa tiang lurus artinya : Kata "Wang/Raja" yang hilang garis lurus yang artinya "Tiga". 4 Bintang selatan masih sangat kabur dan belum dimengerti. Tetapi binatang Fu Yi sangat jelas diketahui Jieji. Itu artinya Orang tidak akan panjang umur.]** Yunying yang melihatnya tentu sangat heran. Ada apa gerangan dengan Jieji? Setelah membiarkan Jieji terpaku lumayan lama. Yunying akhirnya juga berani menanyainya. "Siapa orang tua itu?" "Dia adalah adik seperguruan dari Dewi Peramal. Julukannya adalah Sang Puisi dewa, nama aslinya tiada orang yang mengetahuinya...." kata Jieji. "Kamu mengerti apa maksudnya tidak?" kata Yunying dengan sedikit keheranan. "Tidak... Jika saya mampu mengerti, mungkin saya tidak akan kehilangan Xufen belasan tahun lalu..." kata Jieji yang teringat kembali kejadian itu. Di matanya terlihat goresan kesedihan lampau." "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Yunying yang juga merasa tidak enak hati melihat Jieji yang terpaku sedemikian rupa. Jieji memutuskan untuk menceritakan hal tersebut kepada Yunying. *** Belasan tahun silam... Ketika Jieji dan Xufen bermaksud untuk lari ke Dongyang. Mereka bertemu dengan orang tua tersebut pada saat ingin melewati kota XuDu.

Seperti kali ini, Jieji dan Xufen pun merasa keheranan ketika mendengar ada suara orang berpuisi dengan tenaga dalam nan lembut. Mereka berdua memutuskan untuk menyapanya. Tetapi ketika melihat wajah Xufen dan Jieji. Orang tua itu tiba-tiba sangat berduka sekali. Dia menangis sangat deras seakan mampu melihat hal yang akan datang. Jieji dan Xufen yang heran segera menanyainya. "Pak tua... Ada hal apa sebenarnya? Siapa sesungguhnya anda?" tanya Xufen kepadanya dengan rasa hormat tinggi. "Saya adalah Puisi dewa... Saya ingin memberikan peringatan kepada kalian berdua. Tetapi....." katanya dengan nada yang sangat pelan. Xufen terkejut. Orang di depannya adalah peramal yang hebat seperti Ibu gurunya, Dewi Peramal. Dia juga pernah mendengar Dewi peramal yang mengungkit kalau adik seperguruannya sering memberitahukan perihal ramalannya melalui puisi yang lumayan susah dimengerti. Jieji dan Xufen juga terpaku di sana. Tetapi orang tua itu segera berpuisi. Puisi yang keluar dengan suara yang sangat lembut. "Malang melintang melewati daratan... Terakhir hanya sanggup mendekati.. Masuk dengan sendiri... Dia seperti ikan kecil tiada berdaya.. Tetapi Ikan berubah menjadi naga pada akhirnya..." Puisi itu memang kedengarannya cukup tidak baik bagi mereka berdua. Tetapi mereka memutuskan tetap pergi. Setelah memohon pamit seperti di atas, orang tua itu berangkat meninggalkan mereka. Tetapi dia tetap bersuara sambil tangannya menunjuk ke langit. "Tiada keadilan??? Dimana keadilan??? Takdir adalah Keadilan....." Setelah itu, orang tua tersebut menghilang tanpa bekas. *** "Jadi artinya baru bisa dimengerti mudah yah ketika kamu telah mendapatkan kenyataannya..." kata Yunying sambil menghela nafas panjang. Jieji hanya mengangguk pelan. [Malang melintang melewati daratan tentu seperti keadaan mereka berdua yang sedang dikejar musuh. Terakhir hanya sanggup mendekati artinya mereka tidak akan sampai di tujuan. Masuk dengan sendiri artinya hanya 1 orang yang berhasil melewati rintangan. Dia seperti ikan tiada berdaya

tentu artinya setelah kematian Xufen, Jieji seperti seekor ikan kecil yang tiada punya kuasa seperti halnya ikan sedang berada di daratan. Berubah menjadi naga tentu maksudnya adalah Jieji suatu hari pasti menjadi "Naga".] Sayang sekali takdir memang mengharuskan sebegitu. Tiada upaya untuk melawannya. Jikapun mereka mengerti maksudnya dengan jelas, maka hal tersebut belum tentu mudah di lewatinya. Perjalanan kembali dilanjutkan oleh Jieji dan Yunying, meski dalam hati mereka terdapat sebuah ganjalan.

BAB LVII : Menuju Panggung Batu 1000 Cermin
Dalam perjalanan Yunying selalu menghibur Jieji yang sedikitnya teringat kembali kepada Xufen. Yunying memang sangat hebat dalam menghiburnya, kadang dia bertingkah agak gilak sambil bercanda. Ada kadangnya dia menghiburnya dengan hati yang sangat hangat. Setelah itu, Jieji memang terlihat dapat tersenyum kembali dengan melupakan kejadian tempo dulu. Yunying terlihat seperti seorang ibu yang penuh kasih melayani anaknya sendiri. Hidup Jieji terasa kembali "Hidup" setelah mengenal gadis ceria ini. Mereka telah sampai juga di Dongyang pada akhirnya. Semua keluarga Xia sangat sedih mendapati kematian Xia Wenlun, seorang pria yang sangat bertanggung jawab dalam melayani negara. Kaisar bahkan terakhir memberinya gelar kematian Jenderal Besar pengaman negara. Hari-hari selanjutnya juga sanggup dilewati Jieji dan keluarganya dengan gembira kembali. Tanpa terasa telah 8 bulan sejak kejadian tewasnya Xia Wenlun. Di sebelah selatan Gunung Fuji... Setiap hari, Jieji dan Yunying selalu mengunjungi makam Xufen. Mereka berdua kadang duduk sampai malam tiba dan sering Jieji memberikan petunjuk kepada Yunying tentang Kitab Ilmu Semesta yang belum berhasil dipelajarinya. Selang 8 bulan, akhirnya Yunying telah menguasai semua Kitab Ilmu semesta dengan mantap. Pada suatu hari... Seperti biasa Jieji dan Yunying tetap duduk di gubuk yang lumayan kecil dekat makam. Dari arah kejauhan, mereka merasakan adanya derap kaki yang lumayan cepat ke arah gubuk.

Setelah dilihat ternyata adalah Kyosei, pengawal dari ayahnya sendiri Hikatsuka Oda. "Ada apa anda begitu tergesa-gesa?" tanya Jieji kepadanya karena terlihat dia lumayan terburu-buru. Kyosei adalah pengawal kepercayaan ayahnya yang sering sekali melanglang China daratan. Setiap kali dia pulang, pasti sedikit banyak membawa informasi yang lumayan penting. "Tuan Muda... Saya menemukan sebuah informasi.." katanya dengan hormat kepada Jieji. "Lalu apa itu Tuan?" tanya Yunying memotong yang seraya tersenyum. Untuk masalah gosip ataupun berita, Yunying sangat suka mendengarnya. "Di barat dari wilayah Xi Zhuan, saya mendengar adanya sebuah tempat. Tempat itu dinamakan sebagai panggung batu 1000 cermin." kata Kyosei kemudian. "Panggung batu 1000 cermin? Kenapa saya tidak pernah tahu hal itu?" tanya Jieji dengan agak penasaran karena dia juga sering melewati daerah Xi Zhuan sejak 10 tahun lalu. "Lalu apa manfaatnya kalau boleh tahu?" tanya Yunying yang lumayan penasaran. "Panggung batu ini hanya setiap bulan purnama akan menampilkan fenomena yang lumayan gaib. Kabar beberapa tetua dari penduduk sana mengatakan bagi manusia yang ingin menemui orang yang telah mati. Dan berdoa dengan khusuk sekali, maka roh orang tersebut akan muncul di cermin. Beberapa orang mengatakan bahkan bisa berbicara langsung dengan roh tersebut." kata Kyosei menjelaskan. Jieji lumayan heran tetapi dia tetap diam saja. Dalam hatinya langsung mendapatkan sesuatu ganjalan. Yunying yang melihat sikapnya langsung tersenyum manis. Sementara Kyosei bermaksud mengajak tuan mudanya kesana untuk melihat-lihat. Mana tahu dia sanggup bertemu dengan majikannya sendiri jika majikannya telah meninggal. Jika tidak, maka dalam hatinya pasti sangat lega. "Kalau begitu kita harus menuju kesana sesegera. Semoga gosip itu adalah benar adanya." kata Jieji dengan agak bersemangat kemudian. Yunying tetap memandangnya dengan tersenyum penuh arti. Dia tahu, jika benar ada tempat seperti itu, tentu yang pertama yang akan ditemuinya adalah wanita yang telah berada lama di dalam hatinya itu. Anehnya, Yunying sama sekali tidak cemburu. Tentu bukan karena Xufen

telah tiada, maka daripada itu dia tidak cemburu. Di dalam hatinya, dia merasa adanya ikatan dengan gadis yang telah tiada dan tidak pernah ditemuinya itu. Dengan cepat Jieji dan Yunying serta Kyosei minta pamit pada seluruh keluarga Xia yang tinggal di Kediaman keluarga Oda tersebut. *** Di Wilayah barat dari Xi Zhang (Tibet) 7 bulan yang lalu... Wei Jindu telah sampai ke Xi Zhang bersama Xieling. Mereka disambut oleh guru Jindu, Biksu Ba Dao yang pernah bergebrak dengan Jieji di Xi zhuan beberapa tahun yang lalu. Selama 7 bulan juga mereka tinggal di sana. Biksu Ba Dao tidak mengambil masalah adanya seorang wanita/ Xieling yang tinggal di biaranya di bawah gunung Xima Laya( Mount Everest ) karena berbeda dengan adat biara di China daratan yang melarang seorang wanita yang tinggal di biara khusus laki-laki saja. Ba Dao memungut Jindu dari kekacauan yang pernah terjadi pada saat perang menyatukan Sung di sebelah barat wilayah Gui Yang. Jindu kehilangan keluarganya dalam perang tersebut kecuali kakak perempuannya yang sekarang telah menjadi istri pejabat kota Guiyang. Ba Dao amat menyayangi Jindu, pemuda yang amat tampan, selain itu dia sangat berbakat, berbakti, lembut dan nan sabar. Semua muridnya tidak pernah diturunkan Ilmu terdahsyatnya Tapak Buddha Rulai sampai tingkat 7 kecuali Jindu. Meski timbul rasa yang kurang sreg dan cemburu antara semua murid, tetapi mereka juga tidak berdaya. Di antaranya, penguasa tapak itu yang tertinggi di bawah Jindu adalah kakak seperguruannya yang pertama adalah Zhu Xiang, yang merupakan cucu asli dari Zhu Zhen yaitu Kaisar Dinasti Liang akhir. Zhu Xiang menguasai 5 tingkatan tapak Buddha Rulai, tenaga dalamnya jauh lebih tinggi dari Jindu. Tetapi mengenai jurus, Jindu unggul 2 jurus darinya. Zhu Xiang termasuk seorang yang memiliki bakat, tetapi ambisinya terlalu tinggi. Sampai sekarang dia berniat untuk membangkitkan kembali Dinasti Liang yang dulunya runtuh di tangan kaisar Zhu Zhen. Ba Dao memang mengetahui ambisinya, setiap hari dia hanya membimbing murid pertamanya untuk mampu melupakan kejayaan keluarganya sendiri dengan mengajarkan dhamma tingkat tinggi kepadanya. Biksu Ba Dao semenjak remaja adalah seorang biksu di Biara Wu Xiang. Beberapa tahun belajar dhamma disana, dia ingin beranjak ke Shaolin untuk mendalami ilmu dan kungfu. Tetapi di tengah jalan dia bertemu dengan seorang biksu yang lumayan tua, pakaian biksu sangat berbeda dengan pakaian biksu China daratan.

Biksu tua itu yang melihat penampakan Ba Dao, segera mengangkatnya sebagai murid dan membawanya langsung ke India ke Vihara Veluvanaa. Disana selama 20 tahun, Ba Dao mendalami tapak Buddha Rulai hingga tingkat ke 7 di bawah arahan biksu tua India itu. Sebelum biksu itu wafat, Dia pernah berpesan kepadanya untuk mencari sutra tapak buddha Rulai tingkat terakhir yang kabarnya berada di China daratan. Oleh karena itu sering terlihat Ba Dao mengembara di China daratan. Di China daratan dia berteman dengan beberapa jago kungfu kawakan seperti Dewa Semesta, Dewa Sakti dan Dewi peramal serta Puisi Dewa yang sangat terkenal itu. Ba Dao mendirikan biara sendiri di sebelah timur dari India tepat pada wilayah Xi Zhang di bawah lembah gunung Himalaya yang tertutup salju. Kembali kepada Jindu dan Xieling... Setiap hari Jindu dan Xieling terlihat sering melatih kungfu dan memantapkan tenaga dalam. Keduanya terlihat sangat cocok satu sama lainnya, Ba Dao juga bermaksud untuk memperikat hubungan keduanya. Sepertinya pemikiran Ba Dao juga hampir sama dengan Jieji. Tetapi keputusannya, Ba Dao juga mengambil langkah yang sama seperti yang pernah di lakukan Jieji. Menurutnya sangat bagus jika segala sesuatu dibiarkan secara alami saja. Suatu hari... Seperti biasa, Jindu dan Xieling terlihat santai sambil duduk di Batu dekat sungai lereng gunung Himalaya. "Bagaimana dengan kungfumu sekarang?" tanya Wei kepada Xie Ling. "Sudah lumayan bagus kak Jindu..." kata Xieling. "Bagus... Sepertinya tidak lama lagi kita akan ke Dongyang, Bagaimana?" kata Wei sambil tersenyum. "Baik.. Sudah lama saya tidak menjumpai guru dan Yunying..." kata Xieling sambil membalas senyumannya. "Baiklah, kalau begitu besok kita minta pamit pada guru terlebih dahulu. Perjalanan memang cukup jauh sekali. Mungkin dalam 2 bulan kita bisa sampai di Dongyang..." kata Jindu. Keesokan harinya di dalam kamar Biksu Tua Ba Dao. Wei Jindu dan Xieling memberi hormat untuk minta pamit kepada Ba Dao. Ba Dao memang menyetujui mereka yang ingin menuju ke Dongyang. Tetapi kali ini dia berbisiki untuk memesankan sesuatu hal yang lumayan penting kepadanya.

"Nak... Kamu tahu? Tapak Buddha Rulai tingkat tertinggi bukan tingkat 7." kata Ba Dao kepadanya sambil berbisik agak pelan. "Apa? Jadi masih ada jurus yang lainnya lagi?" tanya Wei yang agak heran. "Betul.. Dahulu guruku sebelum wafat mengatakan kepadaku untuk mencari Sutra Tapak buddha tingkat ke 8 di China daratan. Tetapi sudah 20 tahun lebih berlalu, namun tidak dapat kutemukan..." kata Ba Dao mengenang dengan perasaan yang bercampur aduk. :"Guru.... Kenapa sutra tapak buddha Rulai tingkat 8 bisa sampai ke China daratan? Bukankah jurus ini asli dari daerah barat?" tanya Wei kepada Ba Dao. "Ini bisa kuceritakan karena saya berharap kamu juga mampu menemukannya dan mengambilnya untuk disimpan kembali ke biara kita." kata Ba Dao mengenang kembali pesan gurunya sendiri. Sekitar 400 tahun lalu, Yang Jian seorang bhiksu dari daratan China mengembara ke India untuk mempelajari Ilmu Tapak Buddha Rulai tersebut. Saat itu Biksu kepala biara Jiang Dang, Fu To menerimanya sebagai seorang murid. Yang Jian sangatlah berbakat, dia mampu mempelajari semua jurus tapak Buddha Rulai hanya dalam jangka 10 tahun. Setelah itu, dia mengundurkan diri sebagai biksu disana. Dia kembali ke daratan China dan memimpin pasukan untuk menaklukkan perang antara Dinasti Utara dan selatan di China. Dalam 5 tahun, dia berhasil menyatukan China dan menjadi Kaisar pertama dinasti Sui dengan gelar Kaisar Wen Di. Tetapi Yang Jian bukanlah seorang yang bijaksana dalam memerintah kerajaan. Setelah dia menjadi Kaisar Sui, dia terlalu semena-mena. Rakyat banyak yang membencinya, pajak dipungut dengan biaya sangat tinggi dan setiap 2 bulan rakyat di wajibkan membayar pajak itu. Hingga suatu hari... Biksu Fu To dari India yang merupakan gurunya Yang Jian mengunjunginya untuk mampu menyadarkannya atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Fu To datang untuk memberikan ajaran dhamma kepadanya untuk saling mengasihi sesamanya. Bukannya Yang Jian bertobat atas kesalahan-kesalahannya, dia gusar luar biasa. Di dalam Istananya, dia bertarung habis-habisan melawan Fu To. Akhirnya Fu To tewas di tangannya yang kalah di jurus terakhir. Sepak terjang Yang Jian makin menjadi, dia memerintahkan 1000 pasukannya untuk langsung menuju ke Biara Jiang Dang dan memerintahkan untuk meratakan biara tersebut. Tidak lama telah terdengar kabar kalau Biara itu telah habis dibakar tak

bersisa. Tetapi Yang Jian yang sayang dengan kitab tapak Buddha Rulai segera membuat replikanya. 8 Jurus tapak Buddha Rulai masing-masing di bagi menjadi 8 buku sutra. Ke 8 buku tersebut di simpannya di dalam Istana. Beberapa puluh tahun setelah wafatnya Kaisar Sui, Yang Jian. Kembali pergantian singgasana terjadi. Li Yuan naik tahta menjadi Kaisar pertama Dinasti Tang. Hanya memerintah 8 tahun, dia digantikan oleh Tang Taizong, Li Shih Min. Li Shih Minlah orang pertama yang menemukan 7 jilid buku di dalam tanah dari kolong dapur Istana. Saat itu, Agama Buddha menyebar dengan sangat cepat di seluruh daratan China. Adik angkat Li Shih Min yang merupakan seorang biksu dari China daratan, Tang Shanzang bermaksud ke India untuk mengambil salinan kitab suci asli agama Buddha. Li Shih Min menitipinya ke 7 Jilid buku tersebut untuk dikembalikan. Alhasil, Tang Shanzang berhasil sampai disana dan menitipinya di vihara Veluvana. Namun, dalam catatan sejarah vihara Veluvana. Jurus tersebut ternyata memiliki 8 tingkatan. Kabarnya salah satu sutra lagi mungkin masih tertinggal di dalam Istana. Beberapa kali saya pernah menjumpai Zhao Kuangyin bersama Dewa Semesta gurunya sendiri. Kami di izinkan untuk mencari. Tetapi alhasil tetap kosong adanya. Oleh karena itu, sekarang saya ingin kamu mengemban tugas berat ini. Saya pernah menanyai Puisi Dewa tentang hal tersebut. Namun dia memberi beberapa petunjuk yang cukup membingungkan. Saya ingin dia lebih menjelaskan petunjuk keberadaan Sutra jurus itu, tetapi karena itu adalah masalah takdir. Dia tidak berani menceritakannya lebih jauh. Kamu harus mengingat dengan baik puisi yang diberikan padaku tersebut karena dalam puisi terkandung daerah tempat di simpannya sutra kitab itu. "Hati tulus nan Indah... Di ujung naga dia terpendam... Terbawa aliran menuju ke hulu... Apakah aliran bisa mencapai puncak? Takdir mengiyakannya..." Mungkin di China daratan nantinya kamu bisa meminta petunjuk dari kakak keduamu yang sangat pintar. Semoga kelak kamu berjodoh dengan Ilmu yang telah hilang dari jagad persilatan selama 400 tahun." Jelas Ba Dao sambil tersenyum kepada Jindu. Wei Jindu memberi hormat kepada Sang gurunya dalam-dalam. Dia berjanji semua pesannya tidak akan dilupakan.

Wei dan Xieling memulai kembali petualangannya. Dari daerah Xi Zhang, mereka langsung menuju ke arah timur untuk kembali ke China daratan.

Bab LVIII : Dewa Ajaib
Jieji, Yunying dan Kyosei kali ini bertualang kembali ke China daratan untuk menuju ke Panggung batu 1000 cermin di Propinsi Xi Zhuan, sebelah barat dari negeri China. Dalam perjalanan, mereka bertiga mendengar banyak sekali gosip dunia persilatan dalam 7 bulan terakhir ini. Salah satunya yang paling heran adalah tewasnya Dewa bumi, gosip dunia persilatan kali ini adalah mengenai tewasnya orang tua itu di tangan pemuda dari Dongyang. Para insan dunia persilatan hanya mendapat kabar bahwa yang membunuh Dewa bumi adalah keturunan terakhir dari keluarga Oda. Selain itu kabarnya keturunan keluarga Oda pernah membunuh Biksu kepala Shaolin, Wu Jiang. Oleh karena itu, semua insan dunia persilatan diharapkan hati-hati jika bertemu dengannya. "Apa mungkin dewa bumi tewas saat itu?" tanya Yunying yang juga penasaran akan hal tersebut. Jieji berpikir sambil mengusap bibir, "Tidak mungkin, hanya tusukan ke bahu dengan kekuatan tidak seberapa itu tidak mungkin sanggup membunuhnya. Mungkin hanya gosip saja, atau......." kata Jieji dengan tidak melanjutkan lagi kata-katanya. "Atau apa?? Bikin penasaran saja kamu ini...." kata Yunying yang memang kelihatan agak penasaran kepadanya. "Entahlah... Tetapi yang bisa kupastikan dia tidak mati saat tusukan tombak itu telah sampai ke bahunya. Buktinya dia masih bisa lari sambil menggendong anak muridnya lagi." kata Jieji kembali yang berwajah purapura kesal sambil melihat Yunying. Yunying yang melihatnya hanya tersenyum geli kepadanya. Ada juga gosip baru dari dunia persilatan mengenai munculnya kembali racun pemusnah raga. Tetapi kabarnya racun ini memiliki sifat ganas yang baru, kabarnya orang tidak langsung tewas begitu terkena racun. Tetapi akan menjadi gila dahulu dan sembarang menyerang orang dengan gigitan. Ini sangat berbahaya.

"Kalau ada hal seperti itu, mungkin sangat riskan sekali. Saya pikir seiring tewasnya Dewa Bumi maka racun itu juga punah...." kata Yunying seraya berpikir. "Tidak... Saya sedang memikirkan 5 orang yang pernah bertarung dengan saya di dekat kota Changsha itu.." kata Jieji kepadanya. "Iyahhh.... Betulll..... Pasti mereka...." kata Yunying yang agak girang karena tahu sebabnya. "Semoga saja tidak begitu......." kata Jieji seraya berpikir keras. Mimik wajahnya segera tampak sangat jelek. Dia tidak berharap 5 orang itulah pencipta racun baru tersebut. "Kenapaaa? Kamu ini kok misterius sekali sih?" tanya Yunying yang balik kembali penasaran. "Tidak apa...." Jawab Jieji dengan tidak bermaksud berargumen lebih lanjut. Perjalanan terus dilanjutkan, tanpa terasa telah 1 bulan mereka melanjutkan perjalanan. Akhirnya mereka telah dekat dengan kota Shangyong. Sebelah barat dari kota Wanshia. Jieji, Yunying dan Kyosei berjalan lumayan pelan di dekat rimba yang sekitar kiri kanannya terdapat jurang yang lumayan terjal. Samar-samar mereka mampu mendengar suara pertarungan yang cukup jauh. "Ada yang sedang bertarung hebat di depan..." kata Jieji. "Iya.. Sepertinya hawa itu bisa kurasakan meski sangat lembut saja..." kata Yunying yang berkonsentrasi di depan rimba yang lebat itu. "Kalau begitu bagaimana tuan muda? Apa kita pergi kesana segera?" tanya Kyosei yang sedari tadi hanya diam. "Tentu...." kata Jieji. Mereka kemudian turun dari kudanya masing-masing. Setelah menambatkan kuda di pohon, dengan segera ketiganya berlari ke arah suara pertarungan itu. Setelah hampir dekat, mereka tidak langsung memunculkan diri terlebih dahulu. Melainkan hanya sembunyi sambil melihat apa yang sedang terjadi. Di daerah yang lumayan lapang dari rimba mereka melihat 3 orang sedang mengeroyok seorang pemuda paruh baya dan seorang pemuda paruh baya lainnya hanya diam menyaksikan. Ketiga orang yang sedang mengeroyok pemuda paruh baya itu sangat dikenal Jieji dan Yunying.

Ketiganya adalah He Mengzeng(ketua partai Laut timur), Wang Gezhuan (ketua partai Kunlun) dan Lu Ji (ketua partai Sungsan). Pemuda paruh baya yang sedang dikeroyok tidak dikenal Jieji bertiga. Pertarungan lumayan dahsyat disana. Ketiganya sepertinya seimbang melawan pemuda paruh baya tersebut. Sedang di samping, terlihat Yue Fuyan hanya diam dan senyum licik sambil mengawasi. "Guruku itu kurang ajar sekali..." kata Yunying kepada Jieji sambil berbisik pelan. "Betul... Dia hanya diam seperti raja yang mengawasi budaknya bergulat. Sepertinya orang yang dikeroyok bakal menemui bahaya." kata Jieji sambil memandang ke arah Yue Fuyan. Pertarungan terus berlanjut. Nampak jelas pemuda paruh baya itu menggunakan tongkat, dia menyapu ke sana kemari. Tiga orang lainnya sepertinya tidak mampu mendekatinya. "Cepat katakan..... Dimana baju legendaris itu?" tanya Yue Fuyan dari arah jauh. "Keparat!! Sudah kukatakan, tidak pernah aku melihat barang seperti itu....." kata pemuda paruh baya itu dengan marah sambil bertarung menghadapi ketiga ketua dari partai itu. Lalu ketika jurus pedang ketua Sungsan, Luji hampir mengenai tubuhnya. Dengan gesit, dia mengelak dan dengan tongkat dia bermaksud menghantamkan kepadanya. Tetapi, He Mengzeng telah sampai duluan dengan tinju halilintarnya dari arah belakang punggungnya. Tongkat diputar balik dengan setengah lingkaran, lalu dengan gerakan cepat luar biasa tongkat langsung menggebuk wajah He.He terlempar jauh dengan keras. "Hebat.... Itu jurus pedang ayunan dewa yang di rapal ke tongkat." kata Jieji dengan tersenyum. Melihat He jatuh terjerembab, keduanya tidak memberi waktu kepada pemuda paruh baya untuk bernafas sejenak. Dengan merapal jurus tingkat tinggi, mereka langsung menyerang dengan buas. Sepertinya pemuda paruh baya itu bakal menemui kesulitan tinggi. Meski kungfunya lumayan tinggi, tetapi menghadapi dua jurus yang cukup termahsyur sekaligus, dia cukup kewalahan. Saat jurus pedang mengoyak angin yang dahsyat di depan mata. Dia bermaksud mengayunkan tongkat untuk menghantam dari samping. Ketika tongkat dan pedang berlaga, terlihat jelas tongkat berputar cepat penuh 1 lingkaran dengan lembut dan seakan tiada tenaga. Sedang tangan pemuda

paruh baya sepertinya tidak menggenggam tongkatnya lagi. Namun, dia mengancangkan tendangan. "Itu salah satu jurus dalam jurus pedang golok belibis jatuh." kata Yunying sambil girang. Tetapi sebelum tendangan dikeluarkan, dari arah belakang punggung pemuda paruh baya itu segera tersengat dengan luar biasa sakit. Dia jatuh terjerembab ke depan dengan berguling beberapa kali. Orang yang menyerang dari belakang tak lain adalah Yue Fuyan. "Licik.. Orang rendahan... " Kata Jieji sambil marah. Yue Fuyan yang menjatuhkan pemuda paruh baya itu langusng tertawa keras, seakan hal yang dilakukannya sangatlah benar. "Keparat!! Kau binatang rendahan...." teriak pemuda paruh baya itu. "Gan Ze.... Kau tahu 5 benda keramat di dunia itu? Kau bersama dengan gurumu demikian lama, tidak mungkin kau tidak tahu itu kan? Dimana gurumu menaruh Baju pusaka sakti itu? Katakanlah, jika tidak kau tidak akan hidup lebih lama...." kata Yue Fuyan. "Kau pikir tidak ada yang tahu tindakanmu itu? Bangsat! Kau lebih licik dari seekor Anjing piaraanku di rumah." kata Gan Ze mendampratnya. Yue segera marah, dengan gerakan amat cepat dia menendang perut Gan Ze yang masih berbaring. "Dhuakkk....." Terlihat Gan Ze terseret sambil muntah darah yang banyak dan menabrak pohon di belakangnya. Sepertinya pemuda paruh baya ini pingsan langsung. "Bagaimana? Kita harus menolongnya tidak?" tanya Yunying yang agak cemas. "Betul..." kata Jieji seraya bangkit. Tetapi sebelum dia memunculkan diri, dia merasa hawa dahsyat lain dari arah depan yang cukup jauh telah terasa. "Tunggu dulu... " Kata Jieji yang melarang Yunying untuk jalan ke depan. Yue Fuyan-lah orang yang juga merasakan hawa dahsyat itu muncul dengan cepat ke arah tempat pertarungan . Dia diam sambil mengawasi ke depan. Selang beberapa saat, terlihat dari jauh seorang tua yang berpakaian putih

dengan jenggot dan kumis yang sangat panjang nan putih. Dia berlari dengan tindakan yang sangat lucu. Larinya orang tua itu sepertinya sebentar-bentar menggoyang pantat dan menunggingkannya. Tetapi kecepatannya termasuk tinggi. Yue yang melihatnya cukup terkejut. Selang tidak lama, orang tua itu telah sampai. "Siapa anda?" tanya Yue sambil mengerutkan dahinya. "Keparat.... Kau ini mau cari mati? Aku kakekmu saja tidak kau kenal?" tanyanya sembari marah kepada Yue. "Maaf.. Tapi kakekku telah tewas dalam peperangan sekitar 80 tahun yang lalu..." kata Yue yang menyindirnya. "Kurang ajar......" kata Orang tua itu sambil menunjuk dengan sikap yang marah kepada Yue. Sedang 3 ketua partai lainnya langsung tertawa dengan sangat keras menghina orang tua tersebut. "Siapa sih orang tua itu? Kelihatannya lucu sekali dan sedikit bodoh." kata Yunying sambil tersenyum geli ke arah kakek tua itu. "Itu mungkin adalah leluhurmu..." kata Jieji sambil tersenyum geli kepada Yunying. Sesaat, Yunying sepertinya mengerti apa ucapan Jieji. Orang tua itu mungkin adalah Dewa Ajaib. Seorang pendekar tua yang kabarnya konyol luar biasa. Tetapi apa benar dia juga tolol??? Sebelum ketiga ketua partai itu tutup mulut akibat rasa tawanya, tiba-tiba mereka masing-masing merasakan sesuatu yang panas di pipi mereka. Dengan tak ayal, ketiganya jatuh terguling, di bibir mereka mengalir darah segar. Yue Fuyan yang melihatnya segera terkejut. Dia tidak menyangka kecepatan kakek konyol ini bisa meningkat sangat tajam dalam keadaan yang sesaat itu. Tanpa terasa Yue juga merinding dan diam seribu bahasa. "Kau... Ketua dunia persilatan.... Menurutku lebih cocok kau jadi ketua rumah duka di Kaifeng...." Katanya dengan tingkah yang seperti anak kecil sambil menunjuk ke Yue. Yue sangat marah mendengar hinaan itu.

"Siapa kau kakek keparat?" "Aku yang kau cari-cari kan? Begitu ketemu, kau tidak ingat? Apa kau itu pura-pura?" tanyanya sambil sangat marah. "Jadi kau..... Dewa ajaib?" kata Yue yang terpaku. "Betul... Ha Ha..... Sekarang kau tahu rasa. Akan kugoreng dagingmu untuk kujadikan penelitian..." kata Dewa Ajaib sambil menjilat-jilat kan lidahnya. Yunying yang melihatnya begitu, tentu sangat geli sambil tertawa. Yue melihat angin tidak berpihak kepadanya sama sekali. Dia bermaksud untuk lari, dengan gerakan pura-pura melihat ke belakang. Dia mengambil langkah seribu. Di luar dugaan, orang tua ini tidak mengejarnya. Tetapi dengan gerakan cepat, dia menuju ke arah Gan Ze. Dengan mengeluarkan 7 batang jarum perak panjang. Dia menusuk dengan sangat cepat dan teliti ke tubuhnya. Sesaat, sepertinya Gan Ze telah bangun. "Guru...... Maafkan aku merepotkanmu...." kata Gan dengan rasa tidak enak hati. "Tidak apa... Hush... Kau pulang dahulu... Aku.. Aku...." Katanya terbatabata, dan dengan gerakan cepat sekali dia menuju ke arah semak. Entah tindakan apa yang dilakukan orang tua itu. Tetapi dengan segera, semua sudah tahu penyebabnya. Suara perut yang berbunyi dengan kentut yang sangat keras terdengar. Jieji, Yunying dan Kyosei sangat geli melihatnya. Mereka tahu benar, kenapa dalam buku Kisah Ilmu pemusnah raga disebutkan Dewa Ajaib adalah orang yang konyol luar biasa. Dengan sikap Dewa Ajaib, ketiga ketua partai segera meninggalkan tempat tadinya dengan luka dalam yang lumayan parah. Setelah beberapa saat, Dewa ajaib telah lega. Dia menuju ke arah muridnya, Gan Ze. "Guru, kenapa mereka semua mengincar baju pusaka itu?" tanyanya kepada Dewa Ajaib sambil berlutut. Tetapi Dewa ajaib tidak segera menjawabnya. "Keluar kalian... Kucing, tikus dan .... Dan apa yah???" katanya yang tadi berteriak, tetapi sekarang dia malah berpikir. Tindakan orang tua tersebut segera menggelikan Jieji bertiga yang sedari tadi bersembunyi.

Ketiganya segera keluar dari pohon besar tempat mereka bersembunyi tadinya. Dewa ajaib yang melihat mereka bertiga segera seperti gusar dan menunjuk. "Kau... Kau juga mengincar baju itu?" tanya orang tua itu. "Tentu tidak.. Saya cuma lewat disini saja..." kata Jiejie merendah sambil tersenyum. Dewa ajaib dengan gerakan cepat, langsung ke depan Jieji. Dia berdiri mengawasi Jieji lumayan lama. Saat itu tak sengaja matanya beralih ke arah pinggangnya. Dia karuan terkejut melihat benda yang terselip di pinggang Jieji. "Pedang...... Ha Ha...." katanya tertawa sangat ceria. "Betul...... Anda pernah melihat pedang ini?" tanya Jieji sambil tersenyum kepadanya. "Tidak... Sama sekali tidak...." Katanya dengan sikap urak-urakan sambil memandang sekeliling. Dengan tanpa sengaja kembali, dia memandang adanya pedang yang terselip kembali di belakang Jieji. Dilihatnya dengan seksama, tetapi dia tidak berani mendekati. Saat dia menengadahkan kepalanya. Dia melihat seorang wanita berbaju putih yang sangat cantik. "Wah.. Wanita cantik... Tidak disangka pedang ini juga ada padamu??" katanya heran dan girang. "Betul... Apa Tetua mengenalinya?" tanya Yunying kepadanya. Di luar dugaan, orang tua ini malah marah-marah. "Keparat!! Binatang.... Adoooo...." katanya sambil memegang kepalanya dengan tingkah seperti anak-anak. Jieji yang melihatnya segera mengetahui sebabnya. "Betul... Pedang inilah yang akan kalian rebutkan dalam pertarungan berpuluh tahun yang lalu di utara Mongolia kan?" tanyanya. Dewa Ajaib segera melihatnya dengan dalam-dalam. Sesaat itu, terlihat senyuman di bibirnya.

BAB LIX : Pertemuan Tiga Tetua sakti

"Kamu pintar sekali seperti Dewa Sakti..." kata Dewa Ajaib dengan senang. Tetapi senangnya hanya terlihat sebentar, kemudian dia gusar kembali. "Jangan-jangan kau itu muridnya Dewa Sakti..." katanya dengan tidak senang. "Tentu bukan kok..." kata Jieji yang tersenyum geli melihat tingkahnya. "Baguslah kalau begitu..." Katanya dengan wajah tersenyum kembali. Reaksi Dewa Ajaib dianggap sangat aneh oleh mereka semua, karena terlihat sebentar dia marah, sebentar lagi tertawa, sebentar senyum manis, sebentar ngambek. "Kakek... Saya ada pertanyaan kepadamu..." tanya Yunying kepadanya tibatiba. "Kakek? Aku ini masih kakak seperguruanmu. Mana bisa kamu panggil aku kakek?" katanya dengan wajah tidak senang. Yunying sangat geli melihat tingkahnya, tetapi dia tetap melayaninya. "Kakak seperguruanku hanya 1 orang, dan dia adalah anak dari Yue Fuyan itu." "Ha? Kurang ajar. Kalau begitu, kalian guru dan murid mengeroyokku?" katanya dengan wajah yang langsung gusar. "Bukan begitu kek..." kata Yunying yang serba salah. Tetapi belum sampai siapnya Yunying, Dewa ajaib mengambil ancangancang untuk menyerangnya. Maksud Dewa ajaib sendiri tentu ingin melihat bagaimana kemampuan gadis cantik tersebut. Dengan gerakan cukup cepat, dia mengancangkan tapak untuk menghantam ke arah bahu si nona ini. Yunying yang melihatnya, segera beranjak mundur cepat sambil tangannya merapal jurus Ilmu memindah semesta. Tapak berlaga dengan keras dan dahsyat. Dalam 30 jurus, Yunying terlihat seimbang dengan Dewa Ajaib. Lalu dengan cepat, Dewa Ajaib menarik diri. Kali ini dia kembali gusar tanpa dibuat, sambil menunjuk ke Yunying dia berteriak. "Bangsat Dewa Sakti...... Dia mengangkat kamu sebagai murid...." "Bukan kek... Saya bukan murid Dewa Sakti kok..." kata Yunying yang agak heran.

Tetapi Dewa Ajaib segera mendekatinya. Dia pandang wajah nona ini kembali dengan serius. "Dulu kudengar Dewa sakti pernah mengangkat 1 murid saja. Murid itu kabarnya sangat pintar, berbakat, dan sangat cantik. Dia hanya mengajarinya Ilmu jari dewi pemusnah. Kenapa malah kamu bisa menguasai jurus Ilmu Memindah semesta?" tanyanya dengan heran. "Itu...." kata Yunying. Jieji yang dari tadi hanya tersenyum segera beranjak kesana. Dia menceritakan beberapa garis besar kejadian yang sesungguhnya kepada Dewa Ajaib. Setelah mendengarnya, Dewa Ajaib langsung tersenyum manis penuh arti kepada Jieji. Jieji yang melihat mimik wajahnya segera mengerti apa maksudnya. "Tuan, mana mungkin saya ini sanggup melayanimu dalam pertarungan." katanya dengan ramah. "Tidak..... Tidak...... Hari ini mau kucoba kembali kemampuan Ilmu jari dewi pemusnah yang dulunya sanggup mengalahkanku dalam 5 jurus. Dan garagara itu aku kalah tanpa sempat bergebrak dengan 3 dewa lainnya. Huh......" Jelas Dewa Ajaib sambil mendongkol. Barusan menyelesaikan kata-katanya, dari arah depan segera terdengar suara gaib yang sangat sakti. "Ha Ha..... Dewa Ajaib... Apa kabarmu? Kabarnya makin lama kamu itu makin gilak. Saudara tuamu datang untuk menengokmu....." Semua yang disana heran akan suara hebat menggema itu. Tetapi lain halnya dengan Dewa Ajaib. Meski dia marah, tetapi dia tidak mengeluarkan kata-kata untuk berargumen. "Siapa itu?" tanya Yunying kepada Dewa Ajaib. Dewa Ajaib hanya diam tidak menjawab. "Ada 3 orang yang datang kemari... Ke semuanya mempunyai ilmu ringan tubuh yang sangat sakti..." kata Jieji sambil tersenyum manis. "Ha? Jadi siapa mereka?" tanya Yunying. "Kamu akan segera tahu..." kata Jieji kembali kepadanya. Memang benar, selang beberapa saat segera muncul 3 orang. Dua orang diantara tiga sangatlah dikenal Jieji dan Yunying.

Ketiga orang tersebut memang sudah sangatlah tua. Tetapi dari wajah mereka, tidak tampak seperti kakek dan nenek. Melainkan seperti pemuda pemudi yang mengecat rambut mereka menjadi putih. Wajah ketiganya sangat merah merona, seperti Dewa dan Dewi yang turun ke bumi. Sementara Dewa ajaib yang melihatnya segera berpaling, dia pura-pura tidak melihat ketiga orang tersebut. Ketiganya segera turun melayang dari udara ke bawah dengan sangat santai. Jieji dan Yunying yang melihatnya segera memberi hormat kepada mereka dengan sangat sopan. "Apa kabar guru berdua??" 2 Orang tersebut tentu adalah Dewa Sakti dan Dewi Peramal, mereka berdua juga memberi hormat pendek kepada Jieji dan Yunying yang disana. Sedang seorang lagi kelihatan sangat aneh. Dia berpakaian serba putih, wajahnya tidak kalah agungnya dengan Dewa Sakti, di pinggangnya terselip sebuah alat musik khas timur yang lumayan di kenal Jieji. Alat musik itu seperti seruling dari daratan tengah, hanya bentuknya lebih lebar dan sangatlah pendek. Sedari turun dia terus mengelus jenggot putihnya yang panjang ke pinggang sambil tersenyum melihat ke arah Jieji. Jieji dan Yunying heran melihat tindakannya. Sedang Dewi peramal sendiri terus mengamati Yunying dengan wajah yang sangat welas asih. "Adik... Kenapa kamu ngambek lagi? Melihat kakakmu kenapa tidak beri hormat atau ngomong-ngomong kek tuk senangin hati kita berdua..." kata Dewa Sakti sambil tersenyum sangat manis kepadanya. "Kau!!!!....." katanya sambil menunjuk. Setelah itu, dia berpaling kembali ke arah lain dengan pura-pura tidak melihat. Dewa Sakti segera berpaling ke arah Jieji dan menanyainya. "Kamu tahu mengapa Dewa Ajaib itu marah?" "Tentu...." Jawab Jieji dengan tersenyum pulak sambil memberi hormat kepadanya. Dewa Ajaib yang mendengarkan segera berpaling ke arah Jieji. Dia membentak sambil marah. "Kau tahu apa anak muda? Cepat kau katakan!! Jika tidak kau akan kucabik dan kutusuk dengan jarum 1000 nadi." "Ha Ha......" Dewa Sakti tertawa sangat keras.

"Betul... Anda marah karena mungkin dulunya ada perjanjian mengenai cara waris dari ilmu kungfu terhebat dari masing-masing 5 Dewa kan?" Kata Jieji kepadanya. "Ha? Kenapa kau bisa tahu?" kata Dewa Ajaib dengan sangat heran kepadanya. "Hanya anda sendiri yang mengganggap ilmu kungfu anda tidak ada apaapanya di antara mereka semua. Tetapi dalam ilmu pengobatan, anda tidak ada tandingannya bagi 4 Dewa lainnya." Kata Jieji sembari memujinya. Dewa Ajaib yang sedari tadi marah besar langsung tersenyum sangat senang. Dia sangat bahagia dipuji oleh Jieji. "Tapi....." katanya dengan kerut dahi kembali. "Tidak masalah.... Anda menganggap kungfu anda tidak ada ahli warisnya yang hebat lagi di dunia persilatan. Tetapi mengenai ilmu pengobatanmu itu tiada duanya sungguh...Selain itu di antara 5 Dewa tentu kesemuanya mempunyai kemampuan yang berbeda masing-masingnya kan?" kata Jieji kembali. Dewa Ajaib kembali sangat senang setelah mendengarnya. "Betul.... Dewa Manusia memang telah meninggal berpuluh tahun yang lalu. Tetapi sekarang sainganku juga tidak banyak lagi. Setelah 2 orang ini, masih ada lagi Dewa Bumi....." kata Dewa Ajaib yang tidak mengetahui tentang telah tewasnya Dewa Bumi. Jieji segera mengetahui orang tua yang lainnya yang bersama Dewa Sakti dan Dewi Peramal itu. Tentu dia adalah tak lain Dewa Semesta, guru silatnya Zhao Kuangyin, Sung Taizu. Jieji segera memberi hormat dalam-dalam kepadanya. Dewa Semesta yang melihatnya juga membalas dengan senyuman manis. "Ada apa sebenarnya? Kenapa sangat kau hormati pemuda itu? Emang apa yang hebat darinya?" tanya Dewa Ajaib dengan heran kepada mereka. "Dia adalah cucu satu-satunya dari Dewa Manusia.." Kata Dewa Semesta sembari menunjuk ke arah Jieji. Dewa Ajaib yang melihatnya segera gusar, tetapi selain gusar dia juga terlihat sangat senang. Jieji tentu bisa menebak dengan pasti apa yang ada di dalam otak orang tua ini. Dengan memberi hormat kepadanya dia berkata. "Tetua.... Tidak mungkin aku yang masih muda ini sanggup menerima pelajaran dari anda..."

"Apa? Kamu cucu asli darinya.... Ilmu apa yang telah diturunkan si tua itu kepadamu?" kata Dewa Ajaib yang kelihatan mulai marah kembali. Sebelum Jieji menjawab, Dewa Sakti memotongnya. "Ha Ha...... Mana bisa kau itu bertarung dengannya... Kamu masih ingat, berapa hebat kemampuan Dewa Bumi dulu?" "Tentu... Dia lumayan hebat di antara kalian berempat, selain Dewa Manusia tidak ada yang sanggup mengalahkannya." jawab Dewa Ajaib. "Kalau begitu, bagaimana kungfu Dewa Bumi sekarang?" tanya Dewa Sakti kembali. "Mungkin sudah sangat hebat. Aku dengar dia telah melatih Ilmu Pembuyar tenaga dalam dan tendangan mayapadanya si Tua itu dengan sangat lihai. Sekarang tidak mungkin aku melawannya." kata Dewa Ajaib sembari agak malu. "Baik... Baik.... Tetapi si tua itu tidak ada bandingnya dengan pemuda ini..." kata Dewa Sakti sambil menunjuk ke arah Jieji dengan tersenyum. "Apa katamu?????" tanya Dewa Ajaib yang heran luar biasa. "Ha Ha... Betul... Di utara Kota Ye, dia bertarung hebat dengan Dewa Bumi dan 2 muridnya. Hasilnya, dengan ilmu pamungkas ketiga orang itu bahkan tidak mampu menyentuh pemuda ini sehelai rambut pun.." Kata Dewa Sakti kemudian. Dewa Ajaib hanya terheran-heran saja. Dia tidak percaya kemampuan Jieji sangatlah tinggi. "Tetapi Dewa Bumi telah tewas...." kata Dewa Semesta dengan tenang. "Apa? Jadi dia dibunuh oleh pemuda ini?" tanya Dewa Ajaib kemudian. "Bukan... Dia masih sangat sehat ketika meninggalkan daerah Ye...." kata Dewa Semesta sambil melirik ke arah Jieji. Jieji yang melihatnya segera memberi hormat. "Tetua, boleh anda katakan siapa yang membunuhnya? Meski gosip dunia persilatan mengatakan pembunuhnya adalah diriku. Tetua pasti tahu sedikit banyak hal tersebut." kata Jieji kepada Dewa Semesta. Dewa Semesta hanya diam saja tidak menjawabnya. "Itu akan kau ketahui sendiri nantinya." Kata Dewa Sakti yang melihat tindakan Dewa Semesta.

"Boleh saya tanya kenapa anda berdua datang kemari?" tanya Dewa Ajaib kepada Dewa Sakti dan Dewa Semesta. "Ini menyangkut kehidupan yang akan datang. Kau tahu ada 5 Benda sakti di dunia ini?" tanya Dewa Sakti kepadanya. "Kehidupan yang akan datang? Mengenai itu barang pusaka tentu saya sangatlah tahu..." Kata Dewa Ajaib. "Sekarang kedatangan kita berdua untuk meminjam Jubah saktimu dan 2 bilah pedang." kata Dewa Sakti seraya melirik ke arah Jieji. Jieji yang melihatnya segera mengerti. Dia mengangguk. "Coba kau jelaskan dahulu.... " Kata Dewa Ajaib. "Baiklah... Beberapa bulan lalu, saya melihat fenomena langit. Ada sedikit perubahan yang sama sekali tidak menguntungkan. Hal yang bisa saya pastikan adalah adanya beberapa orang yang sedang menembus batas langit untuk mengubah semesta..." kata Dewa Sakti. Jieji dan Yunying serta Kyosei terkejut mendengarnya. Begitu pula Dewa Ajaib. "Memangnya ada masalah apa dengan itu?" tanya Dewa Ajaib. "Tentu ada.... Bintang naga sepertinya telah dirubah oleh seseorang yang mampu bertindak gaib. Selain itu, sepertinya ada yang sedang menciptakan sebuah ilmu terlarang di jagad." kata Dewa Sakti kembali. "Apa katamu? Yang benar? Kalau begitu sangat berbahaya...." Kata Dewa Ajaib. "Betul... Dahulu, Huang Yuzong(kakek dari Huang Shanniang(istri dari Wu Quan, atau ibu dari Yunying))-lah orang yang meneliti ilmu tersebut. Ilmu itu sangat dahsyat dan sangat sesat. Sebagian kaum persilatan menyebutnya adalah Ilmu pemusnah raga tetapi tentu sangat lain sekali. Kita mau tidak mau harus menghentikannya untuk jiwa yang damai di seluruh negeri meski kita tidak lagi terlibat di dunia persilatan." kata Dewa Sakti menjelaskannya. Yunying yang mendengarnya tentu sangat terkejut. Tidak disangka kakek tua luar-nya adalah tetua sesat. "Betul.. Sewaktu muda, kita berlima bertarung melawan Huang Yuzong. Alhasil, dalam jurus terakhir dia tewas dibunuh oleh Dewa Manusia. Tetapi itu pun untung-untungan kita saja karena dia kerurupan pada akhirnya. Mengenai masalah itu, kita semua terluka sangat parah sehingga dalam waktu 10 tahun baru bisa pulih." kata Dewa Ajaib mengenang.

"Betul.. Mengingat hal itu, saya tentu masih merinding..." kata Dewa Sakti. "Dewa Ajaib... Kita ingin meminjam Jubah saktimu dengan sesegera mungkin karena perlu kita bangun altar 7 tingkat formasi dewa untuk menghancurkan fenomena gaib Bintang kaisar." kata Dewa Semesta segera. Jieji segera melihat Dewa Semesta. Di wajahnya seperti terlihat kecemasan, dia takut sesuatu telah terjadi pada kakak pertamanya. Tetapi sebelum dia menjawab, Dewa semesta memotongnya. "Tidak usah kamu takut... Tidak ada sesuatu yang terjadi pada anak muridku untuk sementara..." Katanya dengan wajah tersenyum kepada Jieji. "Baiklah.. Kalau begitu saya ikut dengan kalian saja. Kita kembali dahulu ke Gunung Heng, disana saya ambil itu jubah." kata Dewa Ajaib kemudian. Meski tindakan Dewa Ajaib urak-urakan, tetapi terhadap hal serius dia tidak pernah main-main. "Baik.... " kata Dewa Sakti sambil mengangguk. Tetapi Yunying yang sedari tadi diam segera menanyai Dewa Ajaib.

BAB LX : Nenek Du Dari Tanah Hei Longjiang
"Kakek... Boleh kutanya bagaimana jurus ciptaanmu bisa sampai ke keluarga Xia dan Wu?" Dewa ajaib memandangnya sebentar. Kelihatannya dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan nona cantik ini. Dia tertunduk agak malu dengan wajah yang lumayan mendongkol. "Ha Ha.... Kamu mau mendengar ceritanya?" tanya Dewa Sakti kepada Yunying karena dia melihat Dewa Ajaib enggan untuk menceritakannya. Yunying tersenyum sambil mengangguk kepada orang tua ini. "Sebenarnya kakekmu dan ayah dari Xia Rujian adalah saudara angkat dari Dewa Ajaib..." Baru Dewa Sakti menceritakan. Dewa Ajaib segera memotong perkataannya sambil marah-marah. "Dua saudara angkatku itu tidak dapat dipercaya..... Sialan......" Teriaknya, tetapi dia bergegas menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan tidak mau berbicara lebih lanjut.

Dewa Sakti hanya tertawa saja mendengar marahnya Dewa Ajaib dan sikap kekanak-kanakannya. Setelah itu dia melihat ke arah Jieji sambil tersenyum. Jieji kembali mengerti apa maksud Dewa Sakti. "Hm.... Kalau begitu, berarti Jurus pedang ayunan dewa dan Golok belibis jatuh diciptakan kalian bertiga. Jadi dengan begitu, mereka juga mendapat salinannya... Begitu kan?" tanya Jieji yang berpikir sambil memegang dagunya. Bukan main marahnya Dewa Ajaib mendengar kata-kata Jieji barusan. Dia yang sedari tadi menutup mulutnya langsung berteriak. Sementara itu maksud Jieji tentu untuk memancingnya, tidak susah ternyata untuk memancing Dewa Ajaib yang sifatnya seperti kanak-kanak itu. "Keparat!!! Mereka mencuri salinan ilmu yang kucipta selama 10 tahun dengan memeras otak luar biasa sulit. Bangsat!!!" Dewa Sakti dan Dewa Semesta karuan tertawa luar biasa. Mereka mengerti kata-kata Jieji tadinya hanya untuk memancingnya berbicara jujur. Karena kata-kata Dewa Ajaib, semua menjadi tertawa deras. "Kedua saudara angkatku itu tidak berbudi. Masing-masing mencuri satu kitab saat aku tidak ada di gunung Heng, kemudian mereka diam-diam mempelajarinya. Saat aku tahu kitabku dicuri, aku mencari mereka. Eh... Keduanya ternyata telah meninggal karena sakit. Kurang Ajar!!!!" teriak Dewa Ajaib yang tidak puas. Semua yang disana memang tertawa lucu mendengar apa yang di uraikan Dewa Ajaib, hanya sang murid saja yang tidak berani tertawa seperti mereka berenam. "Dewa Ajaib... Kamu sudah siap ikut dengan kita?" tanya Dewa Semesta kemudian. "Tentu... Secepatnya lebih bagus." kata Dewa Ajaib yang amarahnya kontan reda. Jieji yang melihat mereka sudah siap untuk berangkat segera mengeluarkan pedang yang terselip di pinggangnya dan memberikan kepada Dewa Sakti. Tindakan Jieji juga diikuti oleh Yunying yang melihatnya. Dewa Sakti menerima kedua bilah pedang tersebut seraya mengucapkan terima kasih. "Setelah semuanya beres, kedua bilah pedang ini akan kukembalikan padamu." Kata Dewa Sakti sambil tersenyum. Jieji dan Yunying memberi hormat kepada Dewa Sakti.

"Kita harus cepat menuju ke Gunung Heng, setelah itu kita menuju ke Gunung Dai." kata Dewi Peramal. Sebenarnya diantara 5 benda sakti, 2 di antaranya telah dimiliki oleh Dewa Semesta dan Dewa Sakti yaitu Plat 8 Ba Gua Semesta dan Sabuk Naga Sejati. Kegunaan Plat 8 Ba Gua semesta adalah untuk mengubah fenomena alam. Sedangkan Sabuk Naga Sejati adalah semacam sabuk yang berfungsi untuk memperdalam Ilmu meringankan tubuh. Sabuk ini sangat hebat dan sakti, bagi seorang pemula dan tidak jago bersilat jika memakai sabuk tersebut, maka ilmu ringan tubuhnya akan diperoleh langsung tanpa melatihnya. "Kamu akan ikut?" tanya Dewa Sakti kepada Jieji. "Tidak guru... Di Xi Zhuan saya masih ada sesuatu masalah yang harus ku selesaikan..." kata Jieji. Dewa Sakti dan Dewi peramal hanya tersenyum manis kepadanya. Setelah semua hal dirasain telah beres, maka kelima orang tersebut minta pamit pada Jieji dan kawan-kawan. Jieji bertiga memandang mereka yang beranjak dari sana sampai tidak nampak lagi bayangannya. "Apa kita akan melanjutkan perjalanan?" tanya Yunying. Jieji melihatnya sebentar dan mendorong pelan kepalanya. "Tentu, memang mau kita bermalam disini?" Yunying hanya tersenyum manis kepadanya. Keesokan harinya... Mereka telah sampai di hulu sungai Yang Tze yang terletak di timur dari kota ChengDu, Xi Zhuan. Tidak seperti biasanya, kali ini di sana hadir lumayan banyak pesilat. Jieji bertiga cukup bingung melihatnya, kenapa daerah yang telah termasuk terpencil tersebut banyak di datangi pesilat. Kyosei segera pergi menanyai apa hal yang sedang terjadi sebenarnya disana. Jieji dan Yunying hanya duduk tidak beranjak dari kuda mereka. Sedang beberapa saat kelihatan Kyosei telah kembali ke arah Jieji. "Ada hal apa?" tanya Jieji kepada Kyosei. "Para pesilat semua ingin pergi ke panggung batu 1000 cermin karena di sana kabarnya ada harta Dinasti Tang yang tersembunyi." jawab Kyosei kepada majikan mudanya.

"Hm...." Jieji tidak menjawab lebih lanjut. "Apa kita akan pergi juga?" tanya Yunying. "Tentu... Tidak mungkin kita mundur hanya karena hal seperti itu..." kata Jieji seraya tersenyum. Penyeberangan sungai Chang Jiang di sana terhambat karena terlalu sedikitnya kapal mengingat daerah tersebut sangat jarang dikunjungi orang daratan tengah secara gerombolan. Menunggu selama 5 jam, akhirnya Jieji dan temannya berhasil juga mendapat kapal. Sementara di antara pesilat yang naik, ternyata ada beberapa orang yang mengangkut peti ataupun beberapa barang yang lumayan besar. Maksud para pesilat itu mungkin jika harta Dinasti Tang ditemukan, maka peti itu bisa di isi barang berharga. Di kapal yang lumayan besar, Jieji bermaksud berlayar bersama puluhan orang dari dunia Jianghu. Tetapi sebelum kapalnya berlayar jauh. Dari arah daratan terdengar teriakan seseorang pemuda. "Berhenti........ Berhenti....... Berhenti.........!!!" Semua orang yang di atas perahu segera menengok ke arah pemuda yang berteriak dari daratan tersebut. "Ada hal apa?" tanya nahkoda kapal yang melihatnya berteriak berulangulang. Seraya menunjuk ke arah kapal. Dia berteriak. "Di kapal ada pembunuh berdarah dingin...... Saya datang dengan maksud membalas dendam...." Jieji yang melihatnya segera heran. Jangan-jangan pembunuh yang dimaksud adalah dia. Mengingat namanya yang sudah buruk di dunia persilatan. Tetapi sebelum Jieji hendak beranjak maju, dari arah belakang muncul seorang nenek tua yang sambil berjalan perlahan ke depan. Perawakan nenek tua itu tidak besar, dia bongkok dengan tubuh yang kecil. Wajahnya terlihat sangat menyeramkan dan bengis. "Ha Ha... Tidak disangka kau mengejarku sampai disini..." teriak nenek tua itu seraya terkekeh-kekeh. Orang yang berada di daratan tersebut segera mematahkan beberapa kayu dermaga yang sengaja di pancangkan tersebut.

Dengan menendang semua tongkat sampai ke sungai ke arah kapal, dia langsung menggunakan ilmu ringan tubuh untuk menginjak kayu yang telah terapung di atas sungai. "Mustahil dia mampu melakukannya...." kata Yunying yang agak heran mengingat jarak mereka yang telah terpaut lebih dari 100 kaki. Sedangkan Jieji hanya melihatnya sambil tersenyum. "Oya, itu nenek kenapa asyik memandangku saja dari tadi? Sampai radarada aku takut dibuatnya..." kata Yunying yang merasa risih. "Apa benar?" tanya Jieji dengan heran ke arah nenek yang telah berada di depannya. Yunying memandang Jieji sambil mengangguk pelan. Ilmu ringan tubuh orang yang berada di daratan tadinya tidaklah rendah. Dia menginjak dengan sangat pas semua kayu yang telah terapung tersebut. Dan tanpa terasa dia hanya terpaut sekitar 10 kaki saja dengan kapal. Semua melihat gaya orang tersebut, tetapi ketika dia hampir sampai... Sesaat dia tiba-tiba kehilangan keseimbangannya. Dengan tak ayal, dia mengeluarkan sesuatu benda di balik bajunya yang ternyata adalah cemeti dan menghujamkannya keras ke arah kayu penyangga di belakang kapal tersebut. Dengan sekali menghentak, dia bermaksud loncat tinggi ke kapal. Tetapi nenek tua itu tidak memberikannya kesempatan. Dia mengeluarkan sesuatu benda yang ternyata adalah senjata rahasia dari balik bajunya. Namun sebelum sempat dia melempar, tangannya tiba-tiba dipegang lumayan keras oleh seseorang. Nenek itu langsung terkejut. Dia berpaling ke arah orang yang memegang tangannya. Ternyata adalah seorang pemuda yang hanya berusia paling 30 tahunan. Pemuda itu tak lain tentu adalah Jieji adanya. Dan tidak berapa lama, orang yang di bawah tadi telah mendarat di atas kapal. Jieji juga melepaskan tangan nenek tua yang tampak gusar karena ulahnya. "Terima kasih Daxia...." kata orang itu dengan hormat dan sopan kepada Jieji. Jieji membalas hormat kepadanya. Dilihatnya pemuda itu tidaklah tua, palingan seumur dengannya saja.

"Kau nenek busuk.... Kau menculik banyak gadis cantik, kemudian kau manfaatkan mereka , terakhir malah kau membunuh mereka. Sekarang kau mau lari, tidak semudah itu...." katanya sambil menunjuk pada nenek itu. "Apa?? Kau nenek Du dari Heilong Jiang?" Para pesilat sangat heran. Nenek Du adalah seorang pesilat yang kungfunya sangat tinggi. Semua pesilat rada ketakutan mendengar nama besarnya yang muncul dalam 2 tahun terakhir. Tindakannya yang paling kejam di dunia persilatan kabarnya adalah menculik semua gadis cantik di desa maupun kota. "Ha Ha... Betul.. Akulah orangnya. Kali ini kalian akan tahu rasa akan kehebatanku." Katanya sambil pamer, dia melihat ke arah Jieji. Jieji hanya melihatnya dingin. Tidak seperti pesilat lain yang langsung gugup, Jieji memandangnya dengan mata yang penuh hawa dingin luar biasa. Si nenek terlihat lumayan gugup akhirnya. Dia tidak menyangka adanya orang yang tidak takut kepadanya, melainkan berani memandangnya dengan penuh hawa "pembunuhan". Yunying yang di belakangnya segera menanyai Jieji. "Kenapa nenek ini menculik para gadis? Apa maunya sebenarnya?" Pemuda yang tadinya segera menjawab. "Dia menculik gadis baik-baik. Kabarnya dia membawanya pulang ke Heilong Jiang. Disana gadis itu di garap oleh anak buahnya selama berbulan-bulan. Sebelum melahirkan, dia akan mengorek isi janin dari para gadis itu dengan pisau sampai gadis itu mati. Janin yang belum jadi itu akan diperjual belikan yang kabarnya bisa membuat orang awet muda karenanya..." Yunying memang tidak tahu menahu soal tersebut. Dengan polos dia bertanya pada Jieji. "Digarap itu sebenarnya apa sih?" Semua orang di kapal tertawa besar sekali melihat kepolosan gadis cantik tersebut. Sementara Jieji hanya memegang jidatnya dan menggoyang kepalanya perlahan, kemudian dia meminta Yunying untuk diam saja. Nenek itu yang melihat sikap polos Yunying segera terkekeh-kekeh, dari sorot matanya mengandung sinar pembunuhan kepada gadis tersebut. Tentu si nenek ingin korban berikutnya adalah Yunying.

"Kalau begitu, teman-temanmu di kapal ini pasti tidaklah sedikit...." kata Pemuda itu kepada si nenek. Memang benar perkiraan pemuda itu, di antara puluhan pesilat. 8 Orang segera berjalan ke arah si nenek sambil tertawa besar. Sedang si nenek hanya memandang ke arah Yunying dengan penuh hawa pembunuhan yang mengerikan. "Huh... Seharusnya aku tahu dari awal. Jika tanpa anak buah, bagaimana kau bisa culik gadis yang lumayan banyak...." katanya sambil tersenyum pahit. "Kali ini kau gawat pemuda...." kata salah seorang di antara 8 orang kepada pemuda tersebut. Pemuda itu memang terlihat lumayan gugup. Dia tidak menyangka komplotan si nenek masih banyak di sana. Dia tidak yakin sanggup selamat dari kapal yang berlabuh lumayan jauh. Jieji yang sedari tadi diam segera berbicara. "Rupanya begitu... Tujuanmu sebenarnya hanya gadis kecil ini, kau purapura naik kapal bersama kami. Setelah di tengah sungai, kau akan menculik gadis ini dengan diam-diam..." "Ha Ha... Pemuda hebat..." teriak si nenek dengan tertawa. "Tetapi nyawamu juga tidak akan lama lagi mengingat kau juga telah turut campur urusanku disini." Jieji hanya tertunduk dengan wajah penuh senyuman dan menggelengkan kepalanya. Kemudian terdengar suara yang lumayan berisik, sepertinya ada yang menyeret peti di sana dengan lumayan kasar. Sesaat itu terlihat 4 orang yang menyeret dua buah peti yang lumayan besar. Ukurannya tidak lebih kecil dari peti mati umumnya ke arah nenek Du. Jieji yang melihatnya segera tahu apa isinya nantinya. "Jadi itu adalah peti dimana bisa kau sembunyikan orang? Berarti pasti peti itu berisi dua gadis?" tanya pemuda itu. "Tidak... Isinya hanya 1 orang...." kata Jieji yang memandang pemuda itu dengan senyum penuh arti. "Ha Ha... Kau pintar sekali nak...." kata si nenek kepadanya. Sementara itu, pemuda tersebut malah heran dibuatnya.

"Jangan-jangan...." katanya sambil memandang ke arah Yunying. Jieji yang melihatnya segera mengangguk pelan. "Dia menarik peti itu untuk memasukkan seorang gadis lagi ke dalam." kata Jieji. "Ha Ha... Betul... Selain ini, yang itu isinya juga seorang gadis yang sangat cantik. Kecantikannya tidak kalah dengan gadis ini, tetapi kungfunya juga sangat tinggi...." kata si nenek sambil tersenyum menyeramkan. Jieji sepertinya bisa menebak siapa di dalam peti itu. Tetapi dia hanya mengira-ngira tanpa bisa memastikan. "Para pesilat yang masih ingin hidup.... Segera loncat ke sungai, atau tidak ada 1 pun yang bisa lolos lagi..." teriak salah seorang di antara 12 orang pengawal Nenek Du. Pesilat-pesilat yang di sana langsung tanpa banyak bicara segera meloncat mencebur ke dalam sungai Chang Jiang untuk menyelamatkan diri. Sekarang di atas kapal hanya tinggal Jieji, Yunying, Kyosei dan pemuda itu dengan Nenek Du dan 12 orang pengawalnya. "Kau mau bunuh diri atau bertarung?" kata si nenek. Pemuda itu segera berancang-ancang untuk menyerang si nenek. "Ha Ha.. Tidak tahu diri..." Sesaat itu, si nenek yang sedari tadi bersiap segera melemparkan bubuk yang mirip bedak ke arah Jieji dan Yunying yang tidak terpaut jauh. Bubuk putih itu langsung melesat sangat kencang ke arah mereka bertiga. Jieji yang melihatnya segera terkejut, dengan tangan yang menggenggam Yunying dan Kyosei. Dia menarik diri dengan cepat sambil menyeret kaki ke arah belakang. Bubuk memang tidak sempat mengenai mereka bertiga. Tetapi sepertinya Yunying dan Kyosei mulai bergoyang-goyang karena sempat menghirup bau bedak melalui hidung. Tanpa sadar, keduanya seperti lemas dan terkulai. Sementara itu, Jieji malah tidak mengapa-mengapa. Si Nenek kontan terkejut. "Ha Ha.. Tidak disangka disini juga ada pesilat kelas tinggi. Tetapi tidak akan ada gunanya...." Katanya dengan mata berbinar-binar penuh hawa pembunuhan.

Jieji yang melihat tindakan nenek itu kontan gusar. Di matanya segera terkandung hawa pembunuhan. Angin sungai sepertinya mulai bertiup kencang mengelilingi tubuhnya. Hawa tenaga dalam dahsyat segera membungkus.

BAB LXI : Wang Sungyu, Pewaris Tendangan Matahari
Nenek Du terkejut melihat fenomena di depannya. Dia tidak menyangka pesilat di depannya ternyata bukanlah pesilat yang lemah. "Kau....." tunjuknya sambil sedikit gugup. "Kau tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama. Semakin lama hidupmu, maka semakin banyak orang yang kau celakakan." kata Jieji dengan sangat serius kepadanya. 12 Orang pengawal berniat maju dengan sama-sama untuk mengeroyok pemuda yang berada di belakang nenek Du. Nenek Du yang melihat keadaan Jieji, segera bergaya sangat aneh. Tangannya menghempas ke kanan dan ke kiri ataupun ke atas. Mulutnya seakan berkomat kamit sesuatu. Dia mengeluarkan ilmu pamungkasnya karena dia tahu, dengan kungfu biasa tidak akan sanggup melawan Jieji yang kungfunya jauh di atasnya. Jieji hanya diam dan memandangnya dengan sangat serius. Di ketika itu, langsung langit terlihat agak gelap. Mulut si nenek terus berkomat-kamit, dia menghempas tangannya ke segala arah. Sepertinya perubahan cuaca tiba-tiba itu akibat tindakan nenek tua itu. 12 Orang pengawal sudah bergebrak dengan si pemuda yang berdiri di ujung kapal. Jurus pemuda itu tidaklah sangat asing bagi Jieji, hanya Jieji tidak tahu jurus apa yang di rapalnya. Si Pemuda juga menggunakan tendangan, tendangannya terlihat sekilas lambat dan tidak bertenaga sama sekali. Tetapi... Ketika tendangan hampir mengenai seseorang di depan. Seseorang lain berniat menolongnya, namun tanpa di ketahui tendangan ke depan itu malah menghantam orang di belakangnya. Jurus tendangan yang sangat hebat, sekelas tendangan mayapadanya Jieji. "Jurus tendangan matahari?" kata Si nenek yang heran. Jieji juga heran. Tidak disangka jurus tendangan matahari yang pasti telah hilang seiring meninggalnya Dewa manusia kembali muncul di jagad

persilatan. Jieji juga kagum akan jurus ciptaan kakeknya. Berbeda dengan tendangan mayapada yang keras dan cepat. Tendangan matahari justru sekilas malah terlihat lambat, tetapi hampir tiada celah. Luar Biasa... Tanpa terasa di antara 12 orang, 6 orang sudah di jatuhkannya. Bahkan 4 orang tercebur ke sungai nan deras. Si nenek yang tahu keadaannya semakin tidak menguntungkan segera menuju cepat maju ke arah Jieji sambil mencabut sesuatu barang dari dalam bajunya. Jieji sempat melihat sekilas, benda yang di cabutnya adalah pisau yang sangat pendek. Tidak disangka, nenek reyot ini gerakannya malah cukup cepat. Ketika hampir sampai kedua pisau itu ke dadanya, Jieji menghindar dengan gesit seraya mengancangkan tendangan ke arah rusuk si nenek. Nenek yang melihatnya, segera berguling di udara dengan cepat sambil memutar kedua tangannya. Posisinya sekarang cukup bagus, dia berputar di udara lumayan cepat dengan memutar kedua pisaunya. Jieji yang melihat keadaan itu, segera mundur 3 langkah ke belakang sambil mengancangkan jarinya untuk di arahkan ke nenek Du yang sedang berputar cepat ke arahnya. Sesaat, sinar cemerlang segera muncul. Dari arah jari Jieji segera keluar hawa pedang nan dahsyat. Dan benturan segera terjadi... Nenek Du segera terpental jatuh di kapal cukup jauh. Sementara Jieji hanya diam dan tidak bergerak. Nenek Du memang masih sanggup bangun, tetapi dari mulutnya segera muntah darah segar. "Keparat!!! Ilmu jari dewi Pemusnah?" "Betul..." kata Jieji mengangguk. "Kau!!!! Kau pembunuh Dewa Bumi????" teriaknya sangat keras dengan penasaran. "Tidak... Dewa Bumi memang pernah ku kalahkan di utara Kota Ye. Tetapi bukan aku yang membunuhnya." kata Jieji dengan dingin. "Bangsat!!!! Hari ini akan kubalas dendam atas terbunuhnya suamiku...." teriak nenek Du.

Sementara pemuda itu sangatlah terkejut. Dia tidak menyangka pemuda di depannya itu tak lain adalah "Pahlawan dari Selatan" sekaligus Pewaris satu-satunya keluarga Oda di Dongyang. Nenek Du segera melempar beberapa barang aneh ke udara sambil berkomat-kamit. Sesaat itu, hujan segera turun. Angin terhempas makin deras. Kapal terasa goyang sangat cepat. Hempasan air hujan dan air dari sungai ke arah Kyosei dan Yunying membuat mereka berdua tersadar akan bius, mereka berdua langsung bangun. Sambil memegang kepala mereka yang masih pusing, mereka melihat keanehan fenomena tersebut. Jieji hanya diam sambil mengawasi ke arah Nenek Du. "Pemuda keparat..... Hari ini kita adu nyawa!!!" Dengan cepat, fenomena itu seakan menyatu dengan Nenek Du yang berdiri sambil merapal jurus hebat. Sekali lagi terlihat dia berkomat-kamit membaca mantera dengan keras sambil melihat ke arah belakang. Pengawal dari Nenek Du yang sedari tadi bertarung segera menarik diri ke arahnya untuk berkumpul. Semuanya mengambil sikap yang sama untuk berkomat-kamit keras. Sepertinya si nenek bermaksud menyerangnya secara gaib. Ketika di rasa siap, si nenek menunjuk ke arah Jieji sambil terus berkomat kamit. Sepertinya inilah serangan kegelapan. Jieji yang hanya berdiri disana segera menyadarinya. Di sekililingnya tidak terlihat apapun, selain kegelapan. "Ha Ha... Kali ini selamat tinggal pemuda.... Istrimu itu yang tolol akan kusiksa dengan sangat hebat...." Terdengar teriakan si nenek Du yang yakin jurus kegelapannya telah berhasil. Di ketika itu, ke 12 orang pengawal segera mengeluarkan senjata pedang pendek. 4 Orang lainnya juga ikut bertarung kembali karena telah keluar dari sungai nan deras. Dengan gerakan cepat 12 orang segera menyerang Jieji yang sedang diterpa kuasa "kegelapan". Sementara itu, Yunying yang tidak terpengaruh kegelapan segera meneriakinya. "Awas Kak Jiee........"

Jieji sebenarnya tahu apa maksud serangan kegelapan ini. Dia hanya diam dan menantikan serangan hebat lainnya yang datang. Ketika suara pedang yang mengoyak angin menuju ke arahnya. Dia berusaha menghindari semuanya dengan hanya mengandalkan perasaannya. Dengan gerakan Dao yang nan lembut, Jieji berputar seraya menghindari bacokan ataupun tusukan pedang dari 12 Pengawal Nenek Du. Dalam puluhan jurus, terlihat Jieji memang agak kepayahan menghindari hawa pedang yang datang sangat rapat tanpa bisa membalasnya. "Tidak ada gunanya... Aku mau lihat seberapa lama kau sanggup bertahan anak muda.. Ha Ha...." teriak si nenek yang melihat keadaan jelek dari Jieji. Tetapi sebelum tawanya berhenti. Dia terkejut luar biasa. Sebuah sinar pedang tajam kembali menuju ke arahnya. "Blammmmm...." Tanpa ayal, si nenek langsung terpental sangat jauh menabrak tiang kayu kapal sampai patah. Dia terjerembab dalam posisi yang sangat jelek. "Bodoh... Saya sengaja memancingmu untuk berbicara supaya tahu posisimu..." kata Jieji dengan dingin. Fenomena gelap dan angin keras telah hilang seiring jatuhnya nenek Du. Nenek Du sekarang sangat kepayahan, dia muntah darah yang sangat banyak. Dia sudah tidak sanggup untuk berdiri dengan benar lagi. Sedang ke 12 pengawal yang sedang mengeroyoknya malah semakin buas. Ke dua belas orang itu langsung membacok dari atas ke bawah ke arah Jieji. Jieji yang melihatnya segera merapal tapaknya setengah lingkaran sambil mundur teratur dengan sangat cepat. 12 Orang yang kesemuanya tadi mempunyai sasaran Jieji seorang, entah kenapa pedang yang datang membacok kepadanya semua mengenai ke sasaran lain. Sepertinya ke 12 orang itu malah saling membacok. Keadaan sungguh sangat mengerikan. Pedang pendek nan tajam ada yang membelah leher, kepala, tubuh ataupun tangan. Ketika mereka semua turun dari udara, kedapatan 10 orang telah tewas. Sedang 2 orang masing-masing buntung tangan. Darah membanjiri kapal seperti telaga saja. Banyak daging serta bentuk tubuh yang tidak utuh lagi jatuh ke kapal. Yunying yang masih pusing kepalanya melihat keadaan ini segera muntah.

Sementara itu, Jieji telah sampai kepadanya sambil mengelus punggungnya dengan lembut. "Maaf... Jangan dilihat lagi..." katanya dengan penuh perhatian kepadanya. Yunying hanya mengangguk pelan seraya berputar ke belakang. Pemuda yang melihat keadaan, segera memuji Jieji. "Hebat.. Benar benar seorang pahlawan yang hebat!!" "Nenek Du... Kekejamanmu tiada tandingan di jagad yang damai seperti sekarang. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi kepadamu. Jumpailah Dewa Bumi di neraka sana." Kata Jieji dengan sangat dingin kepadanya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Jieji menuju ke arahnya. Ketika itu, nenek Du segera membacok dengan pedang pendek yang masih tergenggam. Tetapi dengan gerakan pergelangan yang berputar, Jieji segera mengayunkan telapaknya mengikuti arah pedang pendek. Alhasil, keadaan nenek tua itu sama seperti Bao Sanye. Pedang pendek langsung berbalik menggores urat lehernya. "Ilmu pedang ayunan Dewa?.........." katanya dengan lirih sambil rebah ke bawah. Saat inilah nenek Du telah tewas. Kedua pengawalnya yang telah buntung tangan melihat kedaaan disana segera bunuh diri dengan melompat dari kapal. Nahkoda kapal terlihat sangat pucat mendapati kenyataan di depannya. Tetapi Jieji berjalan ke arahnya sambil menghiburnya. Dikeluarkannya beberapa tail perak kepadanya untuk memintanya membersihkan kembali kapalnya supaya dia tetap mampu berusaha kembali. Pemuda yang sedari tadi mengamati, segera menghampiri Jieji sambil memberi hormat. "Terima kasih Nan Ying Siung...." "Ini hanya sebutan yang tidak pantas untukku. Namaku adalah Jieji. Boleh tahu siapa nama besar anda tuan?" tanya Jieji dengan sangat ramah kepadanya. "Namaku Wang Sungyu. Jadi anda benar adalah Detektif dari Changsha itu?" tanyanya kepada Jieji dengan sangat girang. "Betul.. " kata Jieji sambil memberi hormat kepadanya.

"Terima kasih hari ini anda menolongku untuk lolos dari maut....Dari dulu saya sangat menghormati anda." katanya dengan sangat senang. Jieji memberi hormat sopan kepadanya. "Ohya Saudara Wang, Bole saya tahu ilmu tendanganmu dari mana dipelajari?" tanya Jieji yang cukup penasaran akan Ilmu tendangan ciptaan Kakeknya itu. "Ilmu tendanganku di turunkan oleh ayahku yang telah meninggal 7 tahun yang lalu. Nama ayahku adalah Wang Yanzheng." "Jadi anda adalah keturunan dari Dinasti Min?" kata Jieji yang agak heran. "Betul... Ayahku terakhir membaurkan pasukan dengan Kaisar Sung Taizu yang sekarang." katanya sambil tersenyum manis. Dinasti Min disebut juga Dinasti Yin sebelum mereka menggabungkan pasukan dengan pasukan Zhou Akhir yang terakhir menjadi Sung. Dinasti Min/Yin bukanlah Dinasti yang kuat, selain itu Wang Yanzheng bukanlah tipe seorang yang suka akan kekuasaan. Dia menawarkan diri untuk bergabung dengan Zhou Akhir. "Jadi kakak kandung anda adalah Wang Sunghao, raja dari HanZhong? Dengan begitu berarti ayahmu juga sahabat ayahku Wu Quan." Kata Yunying yang sedari tadi diam mengamatinya saja. "Betul Nyonya Xia...." kata Sungyu. Tentu kata-katanya segera memalukan Yunying. Sungyu tidak tahu jika Yunying bukanlah istrinya Jieji. Hanya dia sempat mendengar kata-kata dari Nenek Du tadinya. Sambil memberi hormat ke arah Jieji. Sungyu mengatakan. "Kakekku Wang Yanxi dulu pernah akrab dengan Dewa manusia, kakeknya Xia Daxia. Dia yang menurunkan Ilmu tendangan matahari secara langsung kepada kakekku. Kemudian kakekku menurunkan langsung kepada Ayah, dan terakhir kita 3 orang putera semuanya mempelajari jurus tendangan matahari." "Jadi begitu..." kata Jieji kemudian sambil tersenyum manis. Setelah itu, dia berjalan ke arah peti nenek Du dan pengawalnya yang masih berada di sudut kapal bersama Sungyu, Yunying dan Kyosei. Dengan kedua tangan, Jieji membuka dan mendorong perlahan tutupnya. Ketika melihat ke dalam, Jieji cukup terkejut. Sedang Yunying tentu sangat

terkejut. Karena orang di dalamnya cukup di kenal mereka. Wanita secantik rembulan yang bersinar terang sedang tidur dengan sangat pulas di dalamnya. Wanita di dalam peti itu tak lain adalah Puteri Koguryo, Chonchu adanya. Kenapa nona nan cantik ini bisa berada dalam peti? Lalu bagaimana dia yang sangat jago bersilat dan sangat pintar bisa ditangkap dengan mudah oleh nenek Du yang kemampuan sebenarnya tidaklah seberapa. Sungyu yang melihatnya tentu juga terkejut. Dia tidak menyangka Nenek Du akan menangkap Nona secantik ini untuk di jadikan tumbal. Desiran darah dalam dirinya seakan naik dengan sangat tinggi. "Keparat nenek itu. Gadis secantik ini pun tidak di ampuninya. Nenek itu dari dulu memang mencari gadis secantik bunga untuk dijadikan korbannya." kata Sungyu sambil menghela nafas panjang akibat emosi sesaatnya itu. Yunying yang melihatnya segera menggodanya. "Jangan-jangan kau menyukai puteri ini?" "Ha? Tidak.. bagaimana kamu bisa berpendapat demikian?" tanya Sungyu yang heran kepadanya. "Tentu.. Begitu melihatnya, kamu langsung emosi tak karuan kan? Tidak usah berbohong... Tetapi bagus juga jika kamu mampu menggaetnya..." kata Yunying dengan senyum geli. "Tapi..... Jadi dia adalah seorang puteri? Boleh saya tahu dia puteri dari keluarga kerajaan mana?" tanya Sungyu yang terlihat memiliki maksud dengan Chonchu yang sedang tertidur sangat manis. Sementara itu, Jieji hanya memandang Yunying dengan samping matanya. Yunying yang melihatnya langsung tersenyum geli. Maksud Yunying tentu tidak susah di tebak. Jika Chonchu menyukai pemuda bernama Sungyu ini, maka setidaknya dia tidak ada saingan dalam cintanya karena Chonchu sangat mengagumi Jieji. "Dia puteri dari Kaisar Gwangjong dari negeri Koguryo...." kata Yunying. "Pantas saja... Saya pernah dengar kabar, katanya Puteri Chonchu sangat pintar dan kecantikannya tiada 2 nya." kata Sungyu seraya berpikir. "Bagus... Kalau begitu, cepat kau belajar bahasa Koguryo dari kakakku Jieji. Setelah itu, kamu melamarnya saja..." kata Yunying dengan geli. Sementara itu, Jieji segera memotong.

"Hush.... Cepat kau angkat dia dahulu...." Yunying yang mengerti sikap Jieji segera membopong tubuh Chonchu yang sedang tertidur. Di letakkannya dalam posisi bersila. Yunying yang berada di belakangnya segera menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Chonchu seraya mengeluarkan energi untuk menyadarkan Chonchu yang sedang terbius. Selang beberapa saat, sepertinya Chonchu telah sadar dan siuman. "Kau tidak apa?" kata Jieji dalam bahasa Koguryo menanyainya. Chonchu yang telah siuman segera terkejut. Dia tidak menyangka Jieji ada disini, dan dia juga tidak tahu menahu kenapa dia bisa berada di atas kapal yang sedang berlayar.

BAB LXII : Fenomena Aneh Panggung Batu 1000 Cermin
"Aku tidak apa-apa..." kata Chonchu sambil memegang kepala dan menggoyangkan perlahan karena rasa pusing masih bergelut di kepalanya. Sikap Chonchu yang sangat manis tentu sangat mendesirkan darah Sungyu yang melihatnya dengan sangat cermat. Wajar saja, sebenarnya Chonchu sangatlah cantik adanya. Yunying yang melihat keadaan Sungyu kembali menggodanya. "Nah, Bagaimana tawaranku yang tadi?" Sungyu yang mendengarnya tentu karuan terkejut. Dia hanya diam dan tertunduk malu. "Hush... Jangan banyak berbicara aneh..." kata Jieji. "Puteri... Bagaimana kamu bisa sampai di China daratan dan sempat ditangkap oleh Nenek Du?" Chonchu yang mendengar pertanyaan Jieji lantas sedikit heran. "Nenek Du maksudnya nenek Du dari Hei Longjiang yang sangat kejam itu?" "Betul...." kata Jieji. "Jadi saya di tangkap olehnya? Kamulah orang yang menolongku?" tanyanya kepada Jieji dengan tatapan penuh arti.

Yunying yang melihat tindakan Chonchu segera cemburu. Tetapi dia hanya diam dan menunduk. Jieji sempat melihat perubahan wajah Yunying yang tiba-tiba itu segera berkata. "Bukan... Yang menolongmu adalah pemuda ini..." katanya sambil menunjuk ke arah Sungyu. Chonchu langsung melihat ke arah Sungyu. Dia memberi hormat dengan sangat sopan kepadanya. "Terima kasih atas pertolongan tuan....." katanya dengan bahasa China. Tentu Jieji, Yunying dan Sungyu sangat terkejut. Bahasa Chinanya sangatlah fasih, dan tidak kelihatan Chonchu dalam proses belajar bahasa Daratan tengah. Setidaknya Chonchu sudah sangat jago dalam bahasa China layaknya orang Daratan tengah umumnya. Sungyu langsung memberi hormat kepadanya dengan pelan. Lantas berkata. "Bukan... Yang menolong anda adalah Xia Yingsiung...." Segera dia menceritakan kejadian di atas kapal yang sedang berlayar melewati sungai Changjiang tersebut. Chonchu segera berpaling ke arah Jieji. Sepertinya dia mengerti maksud Jieji mengatakan hal tersebut. Dia hanya tersenyum manis kepadanya tanpa bertanya lebih lanjut kembali. "Lalu kenapa puteri bisa keluar dari Koguryo? Apa anda masih mengingatnya?" tanya Jieji kembali kepadanya. Chonchu melihatnya dengan tersenyum. "Sebenarnya aku datang ke daratan tengah untuk mencari ayah dan ibuku...." "Ha? Apakah Kaisar Gwangjong dan permaisuri datang ke daratan tengah?" tanya Jieji yang sangat heran adanya. "Bukan... Ayah dan Ibuku sebenarnya tinggal di daerah Yunnan...." kata Chonchu sambil tersenyum penuh arti padanya. Jieji langsung heran. Tetapi dia masih mampu berpikir jernih. "Jangan-jangan ayahmu sesungguhnya adalah..........." Chonchu hanya tersenyum manis tanpa menjawabnya lebih lanjut lagi. Jieji telah mengetahuinya karena dia kembali mengingat dengan benar

kejadian-kejadian ketika berada di Koguryo. Zeng Qianhao atau Pei Nanyang-lah ayah dari Chonchu sebenarnya. "Jadi bagaimana kamu bisa jatuh ke tangan nenek Du?" tanya Jieji. "Itu karena....." kata Chonchu seraya berpikir kejadiannya. Sekitar 1 bulan lalu, Chonchu berniat mencari ayah dan ibunya yang di daratan tengah. Ketika dia melewati kota Jiangling, dia sempat menginap semalam disana. Pada waktu malam tiba, dia mendengar adanya suara di atas atap genteng penginapannya. Lalu dengan mencabut pedangnya, dia berjalan keluar untuk melihat situasi. Sesampainya dia di depan taman penginapan, dia sempat melihat seorang pemuda tampan muda yang memakai baju sastrawan. "Siapa anda?" tanya Chonchu. Tetapi si pemuda tidak menjawabnya lebih lanjut. Dia hanya memandang puteri Chonchu dengan sikap dingin, dari sorot matanya seperti bukanlah orang yang ingin berkawan dengannya. Chonchu yang melihatnya, segera mengancangkan jurus untuk menyerang pemuda tampan itu. Tetapi baru bergerak 2 langkah ke depan. Dia seperti telah kehilangan tenaganya dan terjerembab. Di lihatnya sekilas si pemuda tampan berjalan ke arahnya bersama dengan belasan orang. Setelah itu, dia tidak sadarkan diri lagi. "Jadi saya ditangkap oleh nenek Du? Syukurlah kalian disini menyelamatkanku. Jika tidak saya tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya." katanya dengan sangat hormat kepada Jieji dan Sungyu. Yunying yang diam di belakang segera menanyai Chonchu. "Kak Chonchu, apa sebenarnya hal yang dilakukan Nenek Du terhadap gadis-gadis itu selain membunuhnya sih? Dan apa pulak maksud menggarap gadis muda?" Yunying yang menanyai Chonchu tentu sangat tidak tahu apa arti sesungguhnya dari keinginan Nenek Du. Namun Chonchu sangat tahu artinya dengan jelas. Chonchu sekilas terlihat sangatlah malu. Wajahnya tertunduk tidak sanggup berbicara. Jieji yang melihatnya segera menariknya. Dia membisiki sesuatu di telinga Yunying. Yunying sebenarnya bukanlah gadis yang bodoh, hanya dia tidak tahu

sebenarnya maksud dari Nenek Du mengingat sejak usia sangat muda dia telah di tinggalin ibunya. Dan tidak mungkin ayahnya Wu Quan menjelaskan hal seperti itu kepadanya. Yunying yang mendengar kata-kata Jieji segera kaget. "Apa? Jadi gadis cantik itu dikeroyok oleh semua pemuda yang tadinya 12 orang sampai hamil dahulu? Baru janinnya di korek untuk dijual belikan?" Semua orang tertawa mendengar kata-kata polos Yunying. Tetapi Yunying sebaliknya malah malu adanya. Dia tidak mampu berujar kata-kata lagi karena dia baru mengerti apa maksud sesungguhnya dari Nenek Du. "Sudah.. Sudah... Jangan kau bicara lagi..." kata Jieji yang tersenyum geli kepadanya. Sungyu segera menghampiri Jieji. "Da Xia, apa perjalanan anda selanjutnya?" tanyanya. "Saya akan menuju panggung batu 1000 cermin di Xi Zhuan..." kata Jieji kepadanya. Chonchu yang mendengarnya segera bertanya. "Apa boleh saya juga ikut denganmu?" "Tidak ada masalah sama sekali... Tetapi bukankah kamu ingin mencari ayah dan ibumu di Yunnan?" tanya Jieji. "Selatan dari Xi Zhuan juga adalah Yunnan. Setelah ke panggung batu, saya akan menuju ke Yunnan." kata Chonchu. "Baiklah.. Bagaimana dengan Saudara Wang?" tanya Jieji kepada Sungyu. "Mumpung saya juga tiada kerjaan, saya juga akan ikut..." katanya. Sementara itu, Yunying sepertinya tidak begitu senang. Tetapi sikapnya tidak dia tunjukkan. 2 Jam berlayar, mereka hampir sampai di daratan. Jieji hanya duduk di ujung kapal sendirian, di belakangnya berdiri Kyosei dengan sangat setia. Sedangkan Yunying mengambil samping kapal sambil bertopang dagu melamun melihat sungai Changjiang yang luas itu selang beberapa lama. Lalu di belakangnya tiba-tiba muncul seorang. "Apa kabarnya anda?" tanya orang yang tak lain adalah Chonchu adanya.

"Baik kak... Lalu kabar anda sendiri bagaimana?" tanya Yunying yang cukup terkejut juga. "Baik saja tentunya.Bagaimana pertualanganmu belakangan dengan Xia Daxia?" tanya Chonchu kepadanya. "Biasa saja kak... Tidak ada yang istimewa...." jawab Yunying pendek. Chonchu segera mengerti sikap nona cantik di depannya. Dia hanya tersenyum manis dan geli kepadanya. Yunying yang melihatnya segera mengerutkan dahinya. "Ada masalah apa sih kak Chonchu?" "Tidak... Sepertinya kamu sangat menyukai dia kan?" tanya Chonchu. "Ah... Tidak... Siapa yang bilang..." kata Yunying acuh tidak acuh kepadanya, tetapi wajahnya segera kelihatan memerah. Chonchu segera tertawa deras. "Kalau begitu, kenapa menampakku langsung kamu terlihat sangat cemburu?" tanya Chonchu kepada Yunying. "Siapa bilang aku cemburu..." jawab Yunying dengan muka yang memerah karena isi hatinya bisa di tebak Chonchu. "Dengarkanlah... Saya memang mengagumi pemuda itu, tetapi dia dan aku tidak ada hubungan apa-apa yang lainnya. Saya rasa kamu mengerti maksud saya. Ketika di Koguryo, saya pernah menanyainya beberapa hal mengenaimu. Dan saya yakin di dalam hatinya sudah ada dirimu. Lantas kenapa kamu bisa cemburu kepadaku?" tanya Chonchu yang tersenyum geli. "Apa Benar kak? Kamu tidak membohongiku?" tanya Yunying dengan polos kepadanya. "Tentu tidak... " kata Chonchu dengan manis kepadanya. Selanjutnya mereka sanggup ngobrol dengan akrab layaknya kakak dan adik. Tanpa terasa telah waktunya mendarat... Panggung batu 1000 cermin tidaklah jauh lagi. Sekitar beberapa puluh li, maka panggung tersebut telah sampai. Perjalanan tidak sanggup dilanjutkan dengan memakai kuda, karena pegunungan disini sangatlah terjal adanya.

Mereka berlima segera berjalan kaki menyusuri setapak kecil dari pegunungan yang sangat licin. Sungyu memang sangat pintar memperlakukan wanita. Dia perlakukan Chonchu dengan sangat baik sepanjang perjalanan. Tidak seperti Jieji yang hanya jago membuat analisis serta jago kungfu. Sebaliknya dia susah menunjukkan rasa kehangatan meski kepada orang yang disayangi sekalipun. Yunying yang melihat keakraban Chonchu dengan Sungyu segera membisiki Jieji. "Lihat... Itu orang romantis sekali, tidak seperti dirimu...." Jieji hanya memandang wajahnya sambil kesal. "Kamu mau kugendong? Biar tampak lebih romantis dari mereka...." "Tidak..... Huh.. Kakiku belum pincang dan mataku belum buta.... Digendongmu tentu sangat merugikanku...." katanya dengan geli kepadanya. Mereka berdua akhirnya tertawa dengan deras. Dari arah Jauh, mereka melihat ke bawah tanah lapang. Segera tampak 5 Batu yang menjulang tinggi. Sedang sepertinya banyak sekali orang yang berada di sana. "Ternyata pesilat-pesilat telah sampai juga disana...." kata Jieji. "Apa kita harus menggabungkan diri dengan mereka?" tanya Yunying. "Kenapa tidak?" kata Jieji sambil tersenyum. Jieji berlima segera datang kesana sambil menggabungkan diri mereka dengan para pesilat. Terdengar suara lumayan berisik yang keluar dari para mulut pesilat. "Ayok kita gali saja.... Kita lihat apa harta pusaka ada di bawah batu batu itu?" Kemudian terlihat seorang berteriak kepada semua pesilat. "Baik...." kata mereka secara serentak. Sedang Jieji hanya diam saja melihat tingkah mereka. Mereka berlima mengambil jarak yang lumayan jauh kemudian dari para pesilat untuk menengok. Kerja para pesilat sepertinya sangat rajin, mereka giat untuk menggali ke 5 buah batu yang letaknya seumpama lingkaran besar.

"Sepertinya itu batu ada yang janggal yah?" tanya Yunying. "Betul... Batu itu sepertinya kurang 2 biji...." kata Chonchu yang ikut meneliti dari tempat tinggi. "Kyosei... Fenomena yang kamu dengar itu apa saja?" tanya Jieji kepada Kyosei kemudian. "Kabarnya semua batu bisa berkelap-kelip ketika bulan purnama pas. Sedangkan semua penduduk sekitar mengatakan batu itu bersifat magis sebab batu bisa memanggil roh orang yang telah meninggal..." kata Kyosei menjelaskan. Waktu itu sudah hampir gelap, rembulan cukup besar dan bersinar lumayan terang. Jieji hanya berpikir sambil diam dan mengamati ke arah pesilat. Sepertinya dia kembali mendapatkan sesuatu. "Gawat!!!" teriak Jieji. Tetapi barusan dia berkata, para pesilat telah merasa heran adanya. Penggalian memang sudah lumayan dalam. Batu menjulang tinggi seakan berubah posisinya saling berputar menghasilkan desiran angin yang kuat. Para pesilat yang takut akan fenomena tersebut hendak naik dari lubang tengah di antara 5 batu. Sebelum mereka sampai ke atas, mereka sangatlah terkejut. 5 Batu segera bersinar terang. Saat itu segera muncul sinar yang terang sekali dari arah 5 batu menuju ke arah tengah. Bentuk sinar terlihat sangat jelas, yaitu banyak aksara orang yang berlatih kungfu segera muncul. Pesilat yang melihatnya selain heran langsung berniat mempelajarinya. Jieji yang melihatnya segera meminta Yunying, Kyosei, Sungyu, dan Chonchu untuk berpaling supaya tidak melihat aksara gambar orang berlatih kungfu tersebut. Dengan segera, Jieji berlari ke depan untuk menyelamatkan para pesilat yang disana. Tetapi telah terlambat, semuanya seperti telah kesurupan. Dengan mencabut senjata dari pinggang, semua pesilat seakan saling bunuh disana. Jieji yang melihat fenomena tersebut berniat untuk menghentikannya. Tetapi apa dayanya, semua pesilat telah kesurupan sangat luar biasa. Beberapa di antara mereka telah tewas dengan sadis. Dengan segera dia mengeluarkan jurus Ilmu jari dewi pemusnah untuk menotok nadi para pesilat yang masih hidup.

"Gawat...." kata Jieji seraya mengancangkan tapak berantainya. Dia melayang di tengah sambil menggunakan jurus tapak berantai tingkat ketiga untuk memutar semua batu itu dengan tenaga dalam. Pergeseran batu terdengar sangatlah jelas oleh semua orang. Batu tergeser membalik 360 derajat. Sesaat, para pesilat yang masih hidup segera sadar. Mereka melihat sekeliling dan sungguh terkejut. Tadinya jumlah pesilat telah mencapai sekitar 50 orang. Sekarang yang terselamatkan tidak lebih dari 10 orang. Karena tidak tahu diri mereka kesurupan, mereka berpikir orang yang membunuh semua pesilat adalah Jieji adanya. "Keparat!!! Kenapa kau bunuh semua pesilat? Kau mau mengangkangi harta benda Dinasti Tang." Jieji hanya melihat mereka tanpa berargumen. Dia tahu tidak ada gunanya memberi alasan kepada mereka yang tidak tahu menahu. Sedang teman-temannya segera turun dari bukit kecil ke arah 5 batu tersebut. "Apa kau bilang? Jelas-jelas kalian kesurupan dan di tolong pemuda ini. Kalian tidak tahu budi malah sembarang menfitnah." kata Yunying yang gusar. "Tidak ada gunanya... Mereka tentu tidak tahu hal yang sebenarnya..." kata Jieji dengan pengertian kepada Yunying. "Oya? Kenapa kamu bisa tahu hal yang aneh yang akan muncul dari 5 Batu?" tanya Chonchu heran kepada Jieji. "Saya pernah mengalaminya di Koguryo beberapa tahun lalu. Semua kejadian hampir mirip. Oleh karena itu saya meneriaki kalian untuk tidak melihat lagi lebih jauh... Yang tadi adalah fenomena Ilmu pembuyar tenaga dalam. Ilmu tersebut terlalu dahsyat untuk di pelajari orang yang tenaga dalamnya rendah, maka daripada itu mereka semua pasti kesurupan." kata Jieji seraya berjalan untuk mengamati batu-batu tersebut sambil berpikir. Setelah beberapa lama, senyum segera tampak dari bibir Jieji.

BAB LXIII : Pertemuan Kembali Di Alam Kegelapan
Dengan segera dia membalikkan kembali batu yang tadinya telah bergeser. Tetapi yang dia balikkan hanya 2 batu, tidak kelimanya sekaligus. Batu besar dibiarkan berhadapan satu sama lain, tetapi tentu hanya 2 buah saja, yang lainnya dibiarkan tetap terbalik.

Setelah itu, fenomena sinar terang kembali muncul. Tetapi dengan cepat kembali Jieji memutarnya kembali. Dia ulang beberapa kali pemutaran batu untuk mencocokkannya. Ketika pemutaran yang ketiga kalinya, Batu tidak memunculkan sinar terang lagi. Melainkan timbul fenomena baru, kegelapan langsung muncul dengan segera. Jieji yang melihatnya segera tersenyum manis. Dia masih ingat dengan pasti keadaan tersebut, selain itu kata-kata Kyosei memberikannya sedikit inspirasi. "Ying dan Kyosei... Kalian konsentrasikanlah masing-masing terhadap orang yang ingin kalian cari sesegera mungkin..." Kata Jieji. Yunying dan Kyosei yang mendengar suara Jieji walaupun tidak bisa melihat dengan jelas karena kegelapan, segera mengiyakannya. Seraya mengambil posisi meditasi, Yunying mengingat ibunya sedangkan Kyosei mengingat Hikatsuka Oda. Sedang Jieji tentu menutup matanya untuk mengingat istrinya tercinta, Yuan Xufen. Pengkonsentrasian mereka lumayan lama... Sepertinya Yunying dan Kyosei gagal, karena mereka tidak merasakan adanya apapun selain kegelapan. Melainkan Jieji sangat aneh, dirinya seakan sedang melayang terbang di kegelapan nan pekat, kemudian di dalam hatinya seperti ada yang sedang memanggil padanya. "Jie....... Jie......." Suara yang sangat dikenal Jieji. Suara yang telah memabukkannya belasan tahun. Suara yang memberikan semangat dalam hatinya. Suara yang bahkan bisa membuat setiap mimpinya menjadi sangat indah. Suara yang membuat hidupnya kembali berarti. "Xufen....... Kaukah itu?" kata Jieji dengan lirih. "Betul Jie.... Aku telah datang...." kata suara itu. Jieji segera berpaling ke segala arah untuk mencarinya. Dia lari dengan cepat ke arah suara tersebut. Jalan di depan seakan tiada ujung. Dia terus berlari kencang untuk mengejar tetapi dia sama sekali tidak mendapati istrinya. "Xufen..... Dimana kau adanya??" Teriaknya. Setelah beberapa saat, suara itu muncul kembali. "Aku hanya di sampingmu... Kenapa kau kejar aku tanpa tujuan?" tanya suara itu.

Jieji telah banjir air mata di wajahnya. Dia seperti orang yang telah kehilangan akal. "Tetapi kenapa aku tidak mampu melihatmu? Kenapa??? Tunjukkanlah dirimu...." teriak Jieji. Dia menengok ke kiri dan kanannya untuk mencari Xufen sambil meraba dalam kegelapan. Tetapi rabaan itu sama sekali tidak mengenai sesuatu. Sesaat itu, segera di samping kiri Jieji muncul cahaya yang lumayan terang yang membuat matanya sangatlah silau karena tadinya sangat gelap. Jieji sempat menutup matanya yang kesilauan akan cahaya tersebut. Lalu ketika dia membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat sesuatu... Dia melihat seorang gadis yang berpakaian putih yang sangat dekat dengan jarak paling 1 kaki saja. Wajahnya tentu sangat tidak asing baginya, wajahnya yang sangat terang. Wajah yang paling ingin dilihatnya selang belasan tahun. Lirih? Tidak juga... Senang? Juga tidak... Sedih? Sama sekali tidak... Gembira? Tentu tidak... "Kamu telah munculll.... Akhirnya kamu telah muncul untuk melihatku..." teriak Jieji yang dengan perasaan yang sangat bercampur aduk. Xufen terlihat seperti dulu, terlihat seperti saat dia meninggalkannya belasan tahun lalu. Dia bahkan tidak berubah sama sekali. Sinar matanya sangatlah terang. Bagaikan matahari yang menyinari dunia. Bagaikan Maha Cahaya yang memberikan sinarnya tanpa pamrih ke seluruh jagad. Pandangan Xufen kepadanya dipenuhi dengan kasih yang luar biasa... Kasih yang Maha sempurna, seakan tiada hal yang meragukan, tiada hal yang mencemaskan. Sedangkan pandangan Jieji kepadanya sangat lirih, dia menangis dengan sangat deras. Perasaan bahagianya tertampak jelas karena masih bisa melihat istrinya yang tercinta itu datang kepadanya. Mereka hanya terpaku, keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun. Sebenarnya banyak hal yang ingin dikatakan Jieji langsung kepadanya. Tetapi entah kenapa ketika berjumpa dengan Xufen, Jieji seakan telah lupa segalanya. Dia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan kepadanya. Rindu? Cinta? Rasa sakit hati? Semuanya tercampur di dalamnya.

Karena sangat girang mendapati Xufen di depannya, Jieji tidak melihat adanya 2 orang di belakang Xufen. Sesaat itu, suara tersebut menegurnya. "Kau anak tidak berguna...." kata suara itu. Jieji yang hanya terpaku pada Xufen tadinya segera terkejut. Dia segera melihat ke arah suara yang muncul. Seseorang yang dilihatnya adalah seseorang yang cukup dikenalnya. Seorang tua yang berpakaian putih... Sangat kontras sekali keadaan disana. Kegelapan yang nan pekat dengan orang tua yang berpakaian serba putih. Jieji juga sempat melihat ke samping orang tua tersebut, seorang tua yang lainnya juga ikut berada disana. Orang tua ini tidak dikenali oleh Jieji. Dia juga berpakaian serba putih adanya. Dari wajahnya tampak keagungan yang tinggi dengan jenggot putih yang lumayan panjang. Tetapi dia hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia memandang Jieji dengan tersenyum penuh arti. "Paman Yuan???" Kata Jieji yang agak heran setelah berpaling ke arah orang tua yang dikenalnya itu. Tetapi si orang tua segera gusar. "Kau sudah menikahi puteriku. Tetapi hari ini kau memanggilku Paman? Kurang ajar....." Jieji segera terkejut. Dia langsung berlutut dan memberi hormat kepadanya. "Maafkan aku ayah mertua...." Yuan segera membimbingnya berdiri. Saat dia memegang tangan Jieji. Jieji merasakan hal yang cukup aneh. Tangan orang tua itu dingin, sangat dingin sekali. "Tidak perlu terkejut nak. Kita hidup di alam tersebut dengan sangat senang. Lupakanlah masa lalumu. Jadilah orang yang berguna, jangan terus hidup tanpa melangkahkan kakimu ke depan." kata Yuan dengan pengertian kepadanya. Orang tua yang tadinya tidak bersuara, segera datang menghampiri Jieji. "Kamu sangat hebat... Aku sangat gembira mendapati kenyataan itu sekarang...." katanya dengan tersenyum sangat gembira kepadanya. Sesaat kemudian setelah berpikir, Jieji segera terkejut. Dia mengenali suara orang tua ini, sama seperti suara orang tua yang pernah memanggilnya saat dia pingsan di dalam gua di negeri Koguryo.

"Kakek tua?????" tanya Jieji dengan sangat heran. "Betul...... Akulah Dewa manusia....." katanya sambil tersenyum sangat manis. "Kakek..... Tidak disangka kamu juga ada disini?" kata Jieji yang sangat gembira mendapati Dewa Manusia ternyata juga disana. "Sekarang kamu telah menjadi pendekar tanpa tanding sejagad. Sebagai kakekmu saya sangat bangga sekali. Tidak disangka kamu mampu mewarisi kemampuan kakek...." katanya. "Tidak kek... Semua bisa terjadi hanya karena adanya petunjuk kakek...." kata Jieji merendah memberi hormat kepadanya. Dewa Manusia berpaling ke arah Xufen. "Kamu sangat hebat nak. Demi kamu, cucuku telah mampu menjadi seorang yang sangat hebat dan menjadi manusia sejati. Saya bangga kepadamu...." "Tidak kek... Semua hal melainkan adalah usaha ketekunan dan kepintarannya. Saya mana sanggup membuatnya menjadi begitu." Kata Xufen seraya tersenyum sangat manis. "Tetapi ingatlah... Musuh di depanmu masih sangatlah banyak, semuanya sedang mengincarmu...." kata Dewa Manusia. Jieji mengiyakan. "Jadi kamu juga tahu musuhmu yang sesungguhnya sekarang?" tanya Dewa Manusia yang cukup heran. "Iya... Saya bisa menebak lebih dari 5 bagian...." kata Jieji. "Ha Ha Ha....... Kamu betul pantas menjadi cucuku tetapi kamu harus ingat. Keluarga kita, keluarga Oda adalah keluarga yang mementingkan kebenaran di atas segalanya. Ingatlah hal itu baik-baik karena tidak ada sesuatu yang ingin kupesankan kepadamu lagi selain ini....." kata Dewa Manusia kemudian. Jieji memberi hormat kepadanya. Dia berjanji pesan kakeknya akan diingat selamanya. Setelah itu, Dewa manusia mengajak Yuan untuk meninggalkan tempat tersebut. "Tetapi kek.... Kenapa begitu cepat perginya?"

Dewa Manusia dan Yuan hanya tertawa keras seraya berjalan membelakanginya. Hanya berselang sesaat, keduanya telah ditelan kegelapan. Keduanya tentu ingin memberikan kesempatan kepada mereka berdua yang tidak berjumpa sekian lamanya. Setelah keduanya lenyap, Jieji tetap melihat kepergian mereka dengan bengong. Beberapa saat kemudian, Xufen berjalan menghampirinya. Jieji memandangnya kembali dengan sinar mata yang sangat hangat. Lalu dengan segera dia memeluknya, dia mendekapnya dengan lumayan erat. Tetapi yang dirasakan Jieji sama seperti ketika ayah mertuanya memegang tangannya. Dingin.... Sangat dingin sekali.... Xufen hanya memeluknya dengan penuh kasih dalam beberapa saat. "Maafkan aku.... Aku tidak berguna sama sekali.... Seharusnya kamu sama sekali tidak perlu mati. Aku dan kamu telah dipermainkan sedemikian rupa." kata Jieji kemudian dengan suara lirih. Kedua matanya segera tumpah air mata yang deras. Xufen segera memalingkan pandangannya ke mata Jieji. Dia usap perlahan air matanya, tangan yang mengusap wajahnya terasa sangatlah dingin. "Bukanlah kesalahanmu sama sekali. Inilah takdir... Takdirlah yang memisahkan kita.... Jangan sedih lagi yah..." kata Xufen dengan pengertian kepadanya. "Tetapi.... Saya tidak ingin meninggalkan tempat ini lagi selamanya....Aku ingin tetap disini bersamamu, melayanimu, mencintaimu...." Kata Jieji dengan berurai air mata kepadanya. "Tidak bisa.... Inilah pertemuan kita yang pertama, dan juga yang terakhir kalinya." kata Xufen sambil tersenyum sangat manis kepadanya. "Kenapa? Kenapa bisa begitu? Saya akan tinggal disini, setiap hari saya akan datang kepadamu..... Apa kamu tidak suka akan kedatanganku?" tanya Jieji kepadanya dengan heran. "Tidak.. Tentu bukan begitu.. Kamu tahu kan, kita ini dari dunia yang berbeda. Jika saya terlalu sering mendekatimu, hawa Yin dalam tubuhku bisa buyar. Begitu pula dirimu, hawa Yang dalam tubuhmu bisa kacau. Selain itu...." kata Xufen yang mulai menangis. Jieji mengerti sebabnya. Dia tahu, manusia dan roh tidak mungkin bisa bersatu. Sebab dalam beberapa ajaran Dao yang menembus gaib

mengatakan jika setan terlalu sering bertemu manusia, maka setan akan "mati" dan begitu pula dengan manusia. "Lalu apa ada cara lain untuk menemuimu lagi?" tanya Jieji yang agak penasaran. "Tentu tidak... Kamu tahu.... Memunculkan diriku saja memerlukan banyak sekali tenaga." kata Xufen dengan pengertian kepadanya. "Apakah selamanya saya tidak mampu lagi bertemu denganmu?" kata Jieji dengan lirih. Xufen hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menjawabnya lebih lanjut, melainkan langsung merebahkan dirinya di pelukan pemuda tersebut. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan ini. Mereka tidak berbicara apapun sama sekali, hanya diam terpaku disana sambil berpelukan. Sesekali Jieji mencium rambutnya yang harum dan mengelusnya dengan perlahan. Selang beberapa lama, Xufen menanyainya kembali. "Bagaimana dengan orang tua-ku? Apakah kamu sudah tahu hal sesungguhnya?" Jieji hanya mengangguk. Dia bisa memastikan hampir sebagian besar hal itu. "Jadi.... Apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu ucapkan pada Dewa Manusia?" tanya Xufen dengan mengerutkan dahinya. "Saya tidak tahu....." kata Jieji sambil menghela nafas panjang. "Untukku... Demiku dan gadis itu... Janganlah mengambil langkah terakhir jika tidak terpaksa.. Bagaimana?" tanya Xufen memberi saran kepadanya. Jieji yang mendengar dengan cermat kata-kata Xufen segera mengiyakan. "Aku berjanji kepadamu.. " katanya. Xufen segera bergembira, dia memeluk Jieji dengan sangat erat. "Ohya, bagaimana kelanjutanmu dengan gadis itu?" tanyanya kemudian. Jieji hanya diam tidak mampu menjawab.

"Nikahilah dia... Jangan pernah menyesal, jangan pernah mengingat kejadian yang lampau. Dia memang ditakdirkan untukmu sebagai penggantiku...." kata Xufen dengan hati yang senang. "Untuk masalah ini, izinkanlah aku berpikir dahulu." kata Jieji. Tetapi Xufen langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan... Jangan buat gadis lain menderita. Bahagiakanlah dia... Aku sangat tulus. Jangan hanya karena diriku, kamu terus menyiksa dirimu. Berjanjilah kepadaku untuk hal ini...." kata Xufen yang seakan merengek kepadanya. Jieji hanya diam saja sedemikian lama. Tetapi Xufen memandang matanya terus tanpa mengucapkan kata-kata. Selang beberapa lama, Jieji akhirnya juga mengiyakan. "Aku berjanji kepadamu. Aku tidak akan menyia-nyiakannya sama seperti kamu." kata Jieji dengan penuh pengertian kepadanya. "Ingatlah... Kamu adalah lelaki sejati, jangan terpaku sangat lama akan masa lalumu. Kamu seharusnya mencari kebahagiaan yang telah kamu tinggalkan dalam waktu yang sangat lama. Cobalah berjalan ke depan, janganlah melihat ke belakang terus menerus." kata Xufen kepadanya. Jieji mengangguk pelan kepadanya sambil tersenyum. Setelah itu, mereka berdua memilih duduk berduaan. Jieji memeluk Xufen dari belakang. Mereka tidaklah lagi berbicara banyak, melainkan hanya menikmati kesenangan karena mampu bertemu lagi setelah sekian lama. Keduanya menutup matanya menikmati kenangan akan rasa rindu yang telah menggantungi hati masing-masing selama belasan tahun. Sementara itu..... Di luar, Yunying dan Kyosei telah keluar dari rancangan batu 1000 cermin. Mereka melihat ke arah Jieji yang masih berdiri. Tetapi kedua matanya telah tertutup, tidak sedikitpun mereka melihatnya beranjak. Dia diam seribu bahasa seperti sedang ketiduran. "Tuan muda pasti telah bertemu dengan istrinya..." kata Kyosei sambil tersenyum. "Betul... Semoga saja pertemuan itu menyenangkannya yah..." Kata Yunying dengan wajah tersenyum sambil memandang ke arah Jieji. Jieji masih tertutup matanya. Rohnya sebenarnya sedang berada di alam lain.

Setelah cukup lama... Akhirnya Xufen berbicara kepadanya. "Aku akan pergi...." Jieji segera terkejut, dia mempererat pelukannya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi.... Aku..." katanya dengan lirih kemudian. "Kamu tidak bisa begitu. Banyak hal yang harus kamu lakukan lagi. Ingatlah... Janganlah kamu kembali lagi kesini kecuali nantinya kamu telah meninggal..." kata Xufen dengan pengertian kepadanya. Jieji hanya mengiyakannya pelan dengan hati yang sangat perih. "Janganlah terus terpaku kepadaku. Wanita yang pantas kamu cintai ada di depanmu. Kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersatu Jie......" kata Xufen kemudian. "Izinkanlah diriku bersamamu sebentar lagi.... Hanya sebentar...." kata Jieji yang sedikit memaksanya. "Tidak bisa.... Sepertinya hawa dalam tubuhku mulai sangat kacau. Jika terlalu lama, aku akan kehilangan banyak dan bahkan bisa lenyap selamanya. Mungkin selanjutnya aku tidak bisa...." kata Xufen yang terlihat mulai melemah. Jieji yang melihatnya segera melepaskan genggamannya. Dengan perlahan dia membimbingnya berdiri. "Baiklah..." kata Jieji sambil mengangguk. Tetapi air matanya kembali sangat deras mengalir. "Bodoh... Jangan begitu terus lagi yah... Saya akan pergi... Semoga kamu berhasil dan menjadi orang yang sangat berguna nantinya. Aku sangat bangga kepadamu di alam baka... Dan terakhir, ingatlah semua janjimu kepadaku tadinya." Kata Xufen dengan tersenyum sangat manis kepadanya. Jieji hanya terpaku bengong tanpa bisa berucap kata-kata lagi. Sesaat, dia melihat Xufen berjalan membelakanginya. Dia bermaksud dengan segera mengejar istrinya tersebut. "Jangan beranjak lagi... Ingatlah semua janjimu kepadaku. Aku sangat mencintaimu." Kata Xufen yang seraya berbalik melihatnya sambil menangis deras.

"Kenapa???" tanya Jieji. Dalam hatinya dia tentu tidak ingin melepaskan istrinya tercinta pergi selama-lamanya. Tetapi dalam pikirannya, dia sadar sekali. Tidak mungkin baginya lagi untuk bisa bersama-sama dengannya. Akhirnya Jieji hanya mengangguk pelan. Dia tidak beranjak maju lagi, dia hanya terpaku. Xufen yang melihatnya, segera tersenyum manis. Perlahan, dia membalikkan badan dan berjalan. Setelah itu, Xufen telah lenyap dalam kegelapan nan pekat. Jieji hanya terpaku. Hatinya bercampur aduk dengan hebat. Setelah beberapa saat berpikir keras akhirnya dia berteriak keras. "Aku bersumpah kepadamu.... Semua janjiku kepadamu akan kutepati sama seperti cintaku yang tidak pernah layu kepadamu...." Sekarang hati Jieji telah baikan setelah teriakannya di ruang gelap ini. Hatinya berbunga-bunga seindah fajar menerangi bumi di pagi hari. Dengan segera, dirinya terasa melayang. Jieji tahu, dirinya akan kembali ke tubuh asalnya. Roh yang telah keluar dalam dirinya segera kembali terbang dengan pesat. Tidak berapa lama, Jieji yang tadinya berdiri di tengah batu 1000 cermin segera membuka matanya. Dia menegakkan kepalanya memandang ke atas sambil menarik nafas panjang. Dari bibirnya menungging senyuman yang sangat bahagia...

BAB LXIV : Pernikahan
Mereka yang melihat Jieji berdiri lumayan lama dalam keadaan yang mirip tidur, segera menghampirinya karena melihat Jieji sudah mulai bergerak. Yunying-lah orang pertama yang beranjak ke tempatnya. Dia segera menanyainya. "Bagaimana? Sudah ketemu dengan kak Xufen?" Jieji melihatnya dengan dalam-dalam sambil menyunggingkan bibirnya. Dia hanya mengangguk perlahan tanpa menjawab. Sementara Kyosei segera bertanya kepada Jieji. "Tuan muda, saya tidak mendapatkan fenomena apapun? Kenapa begitu? Apakah...??" Jieji beralih pandangan ke arah Kyosei. "Memang benar. Saya sudah tahu dari awal jika ayahku masih hidup adanya..." tetapi pandangan matanya malah terlihat lumayan sayu.

Kyosei yang melihat tuan mudanya memandang dengan cara begitu segera terkejut. "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya kemudian. "Tidak... Saya hanya mampu mengiranya sedemikian rupa. Tetapi hal yang bisa saya pastikan adalah ayah masih hidup dengan baik di dunia ini...." "Jika begitu, ibuku tentu masih hidup di dunia ini dong??" tanya Yunying yang seraya memotongnya. "Betul...." kata Jieji. "Syukurlah... Dengan begitu, maka masih ada kesempatan bagiku untuk bertemu dengannya." kata Yunying dengan girang. Sementara itu Jieji malah tidak berpikir demikian. Ingin sekali dia mengatakan tidak perlu berharap terlalu banyak kepadanya. Namun karena melihat kegirangan si gadis, dia tidak jadi mengatakan kepadanya. Dia hanya diam membisu. Sementara itu, Chonchu sepertinya bisa menebak beberapa bagian isi hati Jieji dari melihat wajahnya saja. Langsung dia beralih menanyainya. "Bagaimana perjumpaanmu?" "Bagus... Sungguh baik sekali..." Kata Jieji yang melihat Chonchu sambil tersenyum. "Baguslah jika begitu... Pasti banyak pesan yang dia nyatakan kepada kamu kan?" tanya Chonchu penuh arti kepadanya. "Betul... Ada beberapa yang masih menggaung di hatiku sampai sekarang..." kata Jieji dengan tersenyum. Chonchu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Yunying. Dia tersenyum kepadanya. Jieji yang melihat tingkah Chonchu segera mengetahui. Dia tahu Chonchu mengerti bagaimana cara perjumpaannya, bagaimana kira-kira percakapannya dengan istrinya. "Kalau begitu, kamu harus melaksanakan dahulu yang pertama janji itu kan?" tanya Chonchu kemudian dengan tersenyum manis penuh arti. "Tidak tahu... Tetapi mungkin pesan itulah yang paling mudah kujalankan saat ini..." Jawab Jieji yang tahu Chonchu mengetahui isi hatinya.

"Semua wanita di dunia ini pemikirannya pasti sama kepada orang yang dicintainya. Jadi tidaklah perlu merasa heran adanya kenapa aku bisa mengetahuinya...." kata Chonchu. Jieji mengagumi gadis ini. Dia memujinya tinggi sekali. Sementara itu, Yunying malah merasa heran. Dia segera bertanya kepadanya. "Ada apa sih? Maksud kalian itu apa?" "Tidak apa-apa... Nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya..." kata Jieji sambil tersenyum. Wang Sungyu yang sedari tadi diam segera maju menanyai Jieji. "Xia Daxia.... Jadi anda akan pulang kembali? Atau bagaimana?" "Tentu... Kita akan pulang ke Dongyang." Jawab Jieji. "Kalau begitu, kita berpisah disini sajalah..." kata Chonchu kemudian kepadanya. Wang Sungyu ingin sekali ikut dengan Chonchu ke Yunnan. Tetapi tidak berani dia mengatakan kepada gadis tersebut. Dari wajahnya terlihat dia berpikir namun sambil ragu. Jieji yang melihat tindakan pemuda ini segera menghampiri Chonchu dan Sungyu. "Saya rasa bagus sekali jika Saudara Wang mengantar Chonchu ke Yunnan. Bagaimana menurutmu puteri?" tanya Jieji. "Saya tidak masalah, tetapi sangat tidak enak hati merepotkan kak Sungyu..." Sungyu sepertinya terlihat agak malu. Dia tidak berani berkata apapun pada si gadis tetapi dia berterima kasih atas tindakan Jieji yang sepertinya membuka jalan kepadanya. "Tidak juga... Di perjalanan tambah seorang kan lebih aman daripada hanya sendiri." kata Jieji kemudian sambil berjalan ke arah pesilat tadinya yang telah tertotok nadi. Dengan gerakan cepat, nadi para pesilat yang tertotok segera terbuka. Chonchu mengangguk sambil tersenyum kepadanya. Sedangkan Sungyu memberi hormat kepada Jieji dan berterima kasih. Para pesilat yang masih hidup itu, segera lari dan tidak mempedulikan Jieji dan kawan-kawannya disana.

Wang Sungyu dan Chonchu segera memberi hormat kepada Jieji dan kawan-kawannya sambil meminta pamit. Disinilah mereka berpisah... Dari tempat panggung batu 1000 cermin, Wang Sungyu dan Chonchu mengambil ke arah selatan. Sedangkan Jieji dan Yunying serta Kyosei segera berangkat menuju ke timur ke arah datangnya mereka. 2 Hari kemudian... Jieji dan kawan-kawan telah sampai ke kota Xiangyang. Sepertinya Jieji setelah pertemuan dengan Xufen mulai sedikit berubah, setidaknya adalah pandangan dia terhadap Yunying adanya. Dia ingin menjalankan pesan Xufen kepadanya, tetapi seperti biasa. Dia tidak mampu mengucapkannya dengan jujur kepadanya. Pagi hari yang cukup cerah... Jieji dan Yunying berjalan ke samping kota. Mereka memutuskan mencari makan untuk sarapan. Setelah berjalan melewati beberapa blok, mereka memutuskan untuk makan mie yang berada di samping tembok kota. Tetapi ketika hampir dekat kesana. Jieji dan Yunying melihat sepansang muda-mudi yang tampan dan cantik adanya. Tanpa melihat terlalu lama, Jieji dan Yunying segera mengenali kedua orang tersebut. "Adik ketiga? Xieling???" tanya Jieji yang penuh kegembiraan. Ternyata kedua orang yang sedari tadi telah duduk di warung makan segera menyapanya dengan sangat girang pula. "Kakak kedua... Apa kabarmu? Kenapa bisa sampai kesini?" tanya Wei yang agak heran mendapati Jieji. "Baik..." kata Jieji yang langsung menceritakan perjalanannya kepada Wei dan Xieling yang disana. Wei yang mendengarnya menghela nafas panjang saja. Tetapi dengan segera dia menanyai Jieji. "Guruku di Xizhang, guru Ba Dao sebenarnya menitipkan beberapa pesan kepadaku..." katanya seraya menceritakan kejadiannya beberapa bulan terdahulu. Jieji mendengarnya dengan seksama. Dia terlihat tertarik akan puisi yang sempat disampaikan puisi dewa kepada Ba Dao.

"Hati tulus nan Indah... Di ujung naga dia terpendam... Terbawa aliran menuju ke hulu... Apakah aliran bisa mencapai puncak? Takdir mengiyakannya..." Jieji asyik berpikir 5 baris bait dari puisi tersebut. Sepertinya dia mendapatkan sesuatu bagian arti puisi tersebut. "Bagaimana? Kamu sudah tahu artinya?" tanya Yunying yang agak penasaran melihat cara berpikir Jieji yang kadang tersenyum, kadang mengerutkan dahinya. "Sedikit..." Jawab Jieji yang tersenyum. "Lalu apa itu kak? Apakah ada sedikit petunjuk mengenai keberadaan sutra?" tanya Wei. "Jika kita pisahkan baris pertama dan baris kelima, maka artinya orang yang berhati tulus adanya yang mampu mendapatkan sutra tersebut. Baris kedua menyatakan di ujung naga, kamu juga tahu arti naga adalah Kaisar. Kaisar disini tentu maksudnya adalah Yang jian, Kaisar Dinasti Sui yang menyembunyikan benda itu. Sedang maksud menuju ke hulu, sangat bertolak belakang adanya. Sebab air selalu menuju ke hilir dan bukan hulu. Jika kita bandingkan dengan baris keempat, maka juga sama adanya. Aliran air seharusnya dari puncak mengalir ke bawah. Dan bukan aliran air itu bisa mencapai puncak adanya." kata Jieji menjelaskan dengan tersenyum. "Apa sih maksudnya? Kok makin lama makin rumit?" tanya Yunying yang agak heran. Jieji hanya tersenyum penuh arti. Sepertinya kali ini dia telah mendapatkan semua arti yang diberikan Sang puisi dewa. "Kamu masih ingat? Pada saat menyeberangi sungai Changjiang menuju ke panggung batu? Kita bertemu siapa disana?" tanya Jieji penuh arti kepada Yunying. "Tentu... Si Nenek Du dari Heilong Jiang itu kan?" kata Yunying. "Nah, lantas hubungkanlah dengan puisi yang di atas..." kata Jieji melirik sambil tersenyum ke Jindu. JinDu yang sedari tadi berpikir lantas tiba-tiba girang. "Apakah sutra itu ada di tanah utara Hei Longjiang? Kakak kedua hebat, hanya membaca puisi sebentar sudah mengerti cara pemecahannya."

Hei Longjiang sebenarnya artinya adalah Sungai Naga kegelapan. Dalam sastra kuno sering disebutkan bahwa Kaisar yang telah kehilangan pamor dan kekuasaannya akan di masukkan ke sungai naga kegelapan. Bahwa Heilong Jiang diberi nama sedemikian rupa tentu artinya bahwa Kaisar yang telah jatuh dari Dinastinya akan digusur ke tanah kegelapan yang nan tandus. Perumpamaan ini tentu diberlakukan kepada Kaisar Dinasti Sui, Yang jian yang artinya naga telah sampai ke ekor. Atau telah kehilangan derajat kekaisarannya. "Tidak juga... Ini dikarenakan pertemuan kita dengan nenek Du yang berasal dari Hei Longjiang. Jika tidak, maka tidak akan begitu cepat saya mampu mengerti arti puisi tersebut." kata Jieji. "Lalu dari baris lainnya sebenarnya apa?" tanya Yunying memotong. "Baris yang ketiga dan keempat memang terlihat sangatlah aneh, karena keduanya saling berlawanan adanya. Tetapi harus diingat, disana sama sekali tidak disebutkan adanya "Air". Jadi tentu bisa dikatakan selain air yang tidak mampu naik ke tempat tinggi, maka ada unsur lain adanya selain itu..." kata Jieji sambil tersenyum. Wei Jindu yang mendengarkan kata-kata Jieji segera girang. Dia telah mendapatkan arti seluruhnya dari baris puisi tersebut. "Betul... Selain air, unsur yang bisa naik ke puncaknya sesuka hati adalah angin adanya. Kabar yang pernah kudengar, di daerah nan tandus sering muncul angin dahsyat sekali. Jadi maksud dari baris ketiga dan keempat harus kita teliti kesana terlebih dahulu untuk mendapatkan sutra?" "Ha Ha... Betul... " Jawab Jieji sambil tersenyum dengan girang kepadanya. "Kalau begitu, apakah kakak akan ikut bersama kita kesana?" tanya Wei kepadanya. "Tidak bisa dik... Ada sesuatu hal lagi yang harus kukerjakan. Setelah berhasil disana, carilah aku di Wisma Wu di kota Hefei..." kata Jieji kemudian. Yunying yang melihatnya segera heran. "Hei... Kenapa harus ke Hefei? Apa kamu akan menyeretku pulang kesana?" "Tentu tidak gadis bodoh... Ada masalah yang harus kurundingkan dengan ayahmu. Sebenarnya tadinya tidak jadi, tetapi setelah berpikir harus juga aku pergi kesana. Memang sebagai tamu tidak boleh aku kunjungi rumahmu?" tanya Jieji sambil mengerutkan dahi. "Tentu saja boleh... Rumahku selalu terbuka untukmu..." katanya girang.

"Tentu boleh... Rumahku tentu terbuka besar luas untuk suamiku tercinta..." kata Wei yang mengikuti kata-kata si gadis sambil tersenyum geli kepadanya. "Hush....." Lantas mereka tertawa deras... Keesokan harinya pas, mereka kembali berpisah adanya. Jieji meminta Wei untuk menemuinya di Hefei. Kenapa Jieji tidak langsung pulang ke Dongyang? Melainkan meminta Wei untuk menuju ke Hefei setelah perjalanannya ke Hei Longjiang? Selain itu, Jieji juga telah menulis sebuah surat untuk langsung di antarkan ke Ibukota, Kaifeng kepada Kakak pertamanya. Jieji meminta Kyosei untuk mengantarkannya sendiri, jika pekerjaannya telah selesai. Kyosei juga diminta menuju ke Wisma Wu. Yunying yang melihat tindakan Jieji yang serba aneh tentu heran sekali adanya. Dia berulang kali menanyai Jieji, tetapi tidak sekalipun Jieji menjawabnya. Jieji hanya memintanya sabar adanya. Tetapi memang dasar gadis kecil, dia terus mendesaknya untuk memberitahukan maksud sesungguhnya Jieji. "Tunggu saja... Begitu sampai ke Hefei kamu akan tahu sendirinya kok...." kata Jieji sambil tersenyum kepadanya. "Memang ada apa? Kok misterius sekali... Kasih tahu sekarang dong.... Aku sudah penasaran sekali... " Katanya memohon kepada Jieji. "Nanti saja ahh.... Nantinya kamu sudah tahu malah tidak enak.. Ini kejutan!!! Selain itu kamu harus pulang kan? Jika tidak nantinya orang tuamu malah menganggap aku menculikmu pergi..." Kata Jieji yang terlihat muncul keringat dingin. Dia tidak mampu mengatakan hal sesungguhnya kepada si gadis. Karena tujuannya ke He Fei tentu meminta izin restu dari Wu Quan untuk menikahi si gadis. Tentu dia yang terus menerus di desak Yunying yang tidak tahu apa-apa malah merasa kaget dan hatinya makin berdebar adanya. Lalu tanpa berargumentasi lebih lanjut, Jieji segera mengambil perjalanan cepat ke arah timur. Dalam 5 hari, akhirnya Jieji dan Yunying telah sampai ke Hefei... Wu Quan sangat girang mendapati puterinya kembali juga ke rumah dalam jangka waktu yang telah hampir 1 tahun adanya. Wu Quan asyik mendengar kisah pengalamannya dengan Jieji selama hampir 1 tahun. Lantas dengan segera dia membuka perjamuan makan malam untuk kembalinya sang puteri dan Jieji.

"Nak Jieji... Terima kasih telah melindungi puteriku dengan sangat baik adanya. Apakah dalam perjalanan ada informasi mengenai istriku?" tanya Wu Quan kepadanya. "Tidak apa-apa paman, memang sudah seharusnya hal tersebut kulakukan. Belum ada titik terangnya sampai sekarang. Tetapi hal yang pasti adalah bibi masih hidup adanya di dunia..." kata Jieji. "Baguslah jika begitu. Dengan begitu, masih ada kesempatan untuk menemuinya." kata Wu Quan dengan sinar mata yang terlihat agak pahit. Di luar dugaan saat perjamuan dilakukan, Jieji tiba-tiba berlutut ke orang tua tersebut. Semua orang yang melihatnya tentu sangat heran, terlebih lagi Yunying. Orang tua ini segera membimbingnya untuk berdiri sambil menanyainya. Tetapi Jieji yang melakukan hal spontan tersebut langsung bungkam, dia seakan sulit mengatakan bahwa dia akan memperistri Yunying kepadanya. Wu Quan sepertinya bisa menebak isi hati Jieji yang terlihat agak malu. Lantas dia tertawa keras seakan berpaling ke arah Yunying. Jieji hanya melihat ke arah orang tua tersebut, sambil mengangguk pelan. Orang tua ini segera memandangnya penuh arti. Setelah beberapa lama, dia mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Jieji tentu girang, tidak disangka sang orang tua sangat mengertikan dirinya. Tanpa melalui katakata, ternyata Wu Quan telah menyetujui pernikahan puterinya tersebut. "Lalu kapan?" tanya Wu Quan kepadanya. "Terserah kepada paman adanya. Untuk masalah waktu tidak perlu terlalu mendesak." kata Jieji. Yunying dan kakak-kakaknya tentu tidak mengerti sama sekali arti pembicaraan ayah mereka dengan Jieji. Tetapi mereka tidak ingin menanyai dan memotong pembicaraan sang ayah lebih lanjut. "Baik ... Baik ... Kamu tinggal disini saja terlebih dahulu selama 3 bulan. Bagaimana?" Kata Wu Quan sambil tersenyum manis kepadanya. "Baik paman. Terima kasih..." kata Jieji dengan sopan dan penuh hormat kepadanya. Setelah selesainya perjamuan... Yunying terlihat luar biasa penasaran. Dia tidak mampu menahannya lebih lanjut. Dengan menarik lengan bajunya Jieji, dia menuju cepat ke arah taman rumahnya.

"Ada apa sih? Kok sampai sekarang tidak kamu mau beritahukan hal sesungguhnya? Kamu dari tadi membicarakan hal apa sih dengan ayah?"tanya dengan luar biasa penasaran. "Uhmm... Sebenarnya..." kata Jieji yang tertunduk. Yunying yang melihat ekspresi Jieji yang lain daripada lain tentu merasa agak heran. Di dalam hatinya dia bisa menebak sekitar 3 bagian hal itu. Lalu dengan langsung dia terlihat tertunduk malu akan angan-angannya. Jieji yang melihatnya melamun sedemikian rupa lantas berkata langsung kepadanya. "Ying.... Kamu tahu, terhadap urusan sebegitu sebenarnya saya tidak mampu berkemampuan...." kata Jieji yang memancingnya saja. Dia tidak bisa menyebutkan hal pernikahan secara langsung. "Jadi? Apa benar hal itu?" tanyanya sambil malu. Jieji mengangguk saja, tetapi setelah itu dia datang ke arah Yunying dan memegang kedua tangannya. "Bisakah kamu percayakan kehidupanmu kepadaku?" tanya Jieji dengan penuh pengertian kepadanya. Yunying yang tadinya sangat malu langsung menganggukkan kepalanya perlahan dan mendekapnya. Di wajahnya tentu terbit senyuman yang sungguh indah, seindah cahaya matahari pagi. Hari-hari selanjutnya dilewati Jieji dan Yunying dengan bahagia. Selang waktu 3 bulan, memang benar Jieji menikahi Yunying di kediaman Wu. Sedangkan tamu yang di undang sama sekali tidaklah banyak. Keluarga Xia dan Oda yang telah menetap di Dongyang tanpa kecuali semuanya datang ke Wisma Wu. Meski Yunying adalah puteri terakhir dari keluarga mereka, tetapi kali ini dia-lah orang pertama dari keluarganya yang menikah dahulu. Wei dan Xieling yang telah kembali dari perjalanan ke Heilong Jiang juga ikut bergabung. Bahkan kakak pertama Jieji dan Jindu, Zhao kuangyin juga hadir disana. Pesta tidak dibuat sampai luar biasa meriah dan megah. Pesta dibuat cukup seadanya saja mengingat permintaan Jieji yang tidak ingin terlalu berlebihan. Karena nama persilatan Jieji telah rusak adanya, maka dia menikahi Yunying dengan status Jenderal besar Kawashima Oda. Hal tersebut tentu untuk melindungi keluarga Wu dari kejaran para Pesilat. Setelah pernikahan, Jieji membawa Yunying untuk pulang ke Dongyang. Mereka berdua bersama puluhan penghuni lainnya serta keluarga Xia yang di Changsha hidup rukun di sebelah selatan Gunung Fuji...

BAB LXV : Tiga Tahun Kemudian
*** 3 Tahun kemudian. Tahun 976, Musim panas... Di puncak pegunungan Dai / ThaiShan... Dewa Sakti, Dewi Peramal, Dewa Semesta dan Dewa Ajaib kembali berkumpul merundingkan masalah yang pernah mereka selesaikan 3 tahun yang lalu. Tetapi kali ini sangatlah berbeda. Keempat orang Maha sakti tersebut memandang langit yang penuh dengan bintang. Wajah mereka berempat terlihat penuh kecemasan sangat. Sepertinya sesuatu yang sangat tidak baik akanlah terjadi. "Kali ini mungkin tidak bisa kita hentikan lagi..." Kata Dewa Sakti. "Apa benar? Bagaimana sekali lagi kita coba?" tanya Dewi Peramal yang terlihat sangat cemas. Dewa Semesta hanya menggelengkan kepalanya. "Ini takdir... Muridku pernah kuberitahukan... Semoga dia bisa selamat dari kekacauan kali ini...." Dewa Ajaib yang mengetahui sedikit masalah tersebut langsung menanyai Dewa Semesta. "Kakak... Apa ada cara untuk lolos dari bahaya? Kita masih bisa meminjam kedua bilah pedang itu. Disini kita kembali melakukan penyembahan langit seperti yang kita lakukan tiga tahun lalu..." "Tidak ada gunanya Dik... Sepertinya semua kita serahkan saja ke takdir. Semoga nantinya 3 orang yang kita harapkan bisa mengubahnya." kata Dewa Semesta yang penuh rasa duka. "Sebentar lagi sepertinya kita sudah boleh menuju ke Dongyang..." Kata Dewi peramal. Terdengar suara 3 orang lainnya mengiyakan. Setelah itu, keempat orang yang berdiri di puncak Gunung Dai hanya bisa menghela nafas panjang... *** Dongyang... Tiga tahun pernikahan antara Jieji dan Yunying membawa rasa damai yang luar biasa di Dongyang. Sepertinya mereka tidak pernah mengalami masalah yang berarti. Bahkan Yunying telah memberikan seorang putera kepada Jieji. Jieji tentu bahagia tak terkira karena telah menjadi seorang ayah. Dia

bahkan sanggup untuk lupa makan seharian karena melihat putera kesayangannya lahir dengan sangat sehat. Putera Jieji diberi nama China, Xia JienFei. Nama khusus yang diberikan oleh Yunying yang diambil dari arti pertemuan mereka berdua di kota Hefei. Jien artinya pertemuan, sedangkan Fei diambil dari kata terakhir kota He Fei. Sedangkan dalam bahasa Dongyang, putera mereka diberi nama Kawashima Oda, sebuah nama karangan Jieji sendiri yang akhirnya menjadi nama puteranya. Keluarga Oda tanpa terasa telah memperluas pengaruhnya di selatan Gunung Fuji. Jieji bahkan mendirikan perguruan untuk mengajarkan silat kepada rakyat jelata asal Dongyang. Dia tidak pernah membeda-bedakan status dalam pengajaran silatnya. Semua orang yang ingin belajar haruslah melatih dasar kungfu terlebih dahulu. Wisma Oda yang dulunya hanya kecil, sekarang justru telah diperluas. Halamannya bahkan telah sampai ke makam Xufen, istri pertamanya. Jadi bisa dikatakan makam Xufen telah menjadi rumahnya sendiri yang terletak di sebelah kiri gerbang depan pas Wisma besarnya. [Wisma Oda asli berada di selatan Gunung Fuji, dan sampai sekarang Wisma itu tetap ada adanya meski kelihatan tidak terawat. Dan di pekarangan depan gerbang masuk, ada papan peringatan makam seorang wanita. Pengarang hanya mengambil fiksinya saja, dan tentu saja makam seorang wanita disana bukanlah Xufen adanya.] Hari menyenangkan Jieji dan Yunying terus berlanjut sampai suatu ketika... Seperti biasa... Setiap pagi-pagi Jieji dan Yunying selalu melakukan hal pertamanya yaitu menjenguk makam Xufen pas di depan rumah mereka sendiri. Barusan saja mereka hendak bersembahyang, mereka berdua agak terkejut karena mendengar suara orang yang agak kepayahan dari arah belakang mereka berdua. Sebenarnya suara orang tersebut tidaklah keras, namun karena pendengaran Jieji dan Yunying di atas manusia biasa. Mereka segera mendapati suara itu. Lalu dengan segera diajaknya Yunying menuju ke arah suara. Dengan gerakan cepat dan sambil berlari pesat, akhirnya Jieji dan Yunying sampai juga ke tempat dimana datangnya suara. Begitu melihatnya, Jieji dan Yunying sangatlah kaget luar biasa mendapati seseorang yang sangat dikenal mereka sedang rebah di bawah pohon. "Kakak pertama????" Teriak Jieji karena mendapati orang tersebut tidak lain adalah Zhao Kuangyin, Kaisar Sung Taizu adanya.

"Adikk..... Syukurrlah.. Akhirnya aku bisa sampai juga di tempatmu...." kata Zhao yang terlihat sangatlah kepayahan. Tanpa berbicara lebih banyak, Jieji segera mengangkat Zhao dengan cepat dan melesat kencang ke Wismanya sendiri. "Cepat panggil tabib!!!" Teriak Jieji begitu dia sampai di Wisma. Penghuni Wisma Oda semuanya heran, tetapi dengan sesegera mungkin mereka memanggilkan tabib untuknya. Zhao terlihat terluka dalam sangat parah. Di seluruh wajah dan pakaiannya telah membekas darah yang luar biasa banyaknya meski telah kering. Jieji yang melihat keadaan kakak pertamanya tentu sangatlah masgul. Selang beberapa saat tabib yang dipanggil segera datang untuk memeriksa Zhao. Terlihat Jieji berjalan hilir mudik di depan kamar karena tabib masih memeriksa Zhao. "Bagaimana keadaannya?" tanya Jieji yang melihat tabib yang telah keluar dari kamar. "Tuan Oda... Sepertinya nasib pendekar di dalam kamar sudah di ujung tanduk. Hanya bisa berharap munculnya keajaiban." kata tabib itu dengan menggelengkan kepalanya. "Apa katamu??? Tabib... Mohon carilah cara untuk mengobatinya.. Sebenarnya apa hal yang terjadi padanya?" tanya Jieji dengan sangat cemas luar biasanya. "Pendekar di dalam selain terluka dalam, di tubuhnya masih terdapat 7 jenis racun yang aneh. Jika dia tidak mempunyai tenaga dalam yang tinggi mungkin belasan hari yang lalu dia telah tewas." kata Tabib memberi penjelasan. "Jadi apakah ada cara yang lain untuk menyelamatkannya? Apakah ada obat yang bisa membuatnya pulih?" tanya Jieji kemudian. Tabib hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil berjalan pergi. Tetapi belum sampai tabib itu meninggalkan tempat, tiba-tiba dia berbalik ke arah Jieji dan berkata. "Mungkin tabib Dewa Chen Shou bisa menyelamatkannya..." Jieji hanya mengangguk perlahan. Tetapi dia segera meminta para pelayan keluarga Oda untuk mencari Chen Shou, tabib dewa. Setelah itu Jieji hanya diam seribu bahasa tidak mampu berucap kata-kata. Di dalam hatinya dia sungguh sangat masgul. Beberapa kali dia terlihat menghela nafas panjang.

Yunying yang disana segera menghiburnya karena melihat keadaan Jieji yang serba susah. "Jangan terlalu berkhawatir. Nasib kakak pertama tentu akan sangat bagus sekali. Dia tidak akan meninggalkan kita dengan cara begitu.." kata Yunying dengan pengertian kepadanya. Jieji mengangguk perlahan. Lantas dia segera masuk ke kamar kakak pertamanya. "Kakak pertama? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Jieji dengan wajah penuh duka. Dan tanpa terasa air matanya telah mengalir. "Tidak apa dik... Saya masih baik-baik saja..." kata Zhao pendek dengan kepayahan. Jieji bermaksud mengalirkan tenaga dalamnya kepada sang kakak. Tetapi dia khawatir sekali, sebab takutnya peredaran tenaga dalam dapat membuat jalan darah semakin tidak teratur mengingat kondisi Zhao memang sudah sangat kepayahan adanya. "Dik... Ada yang perlu saya sampaikan kepadamu..." kata Zhao sambil melihat wajah Jieji. "Bagusan kakak istirahat dahulu... Setelah sembuh, baru berbicaralah kepadaku..." kata Jieji dengan susah. "Tidak... Ini adalah hal yang sangat penting. Kamu dengarkanlah baik-baik. Di Istana telah terjadi bahaya. Penyerang yang menyerangku jumlahnya sekitar 20 orang lebih. 15 orang adalah pendekar hebat yang bertarung dengan formasi aneh. Setahuku mereka menamakan diri mereka 15 pengawal sakti. Sedangkan 5 orang lainnya semua berpakaian gelap dan menutup muka mereka dengan topeng. Selain itu terlihat 1 orang yang hanya berdiri tanpa mengucapkan katakata, orang itu juga bertopeng adanya. Sepertinya dialah pemimpin mereka. Adik... Kamu harus hati-hati, kemungkinan mereka akan datang kemari mengincarmu..." Jelas Zhao meski agak kepayahan. Sebelum Jieji menjawab. Pintu kamar Zhao segera di dobrak seseorang dengan sangat keras. Jieji segera berpaling, dia terkejut dan berbareng girang adanya karena mendapati 4 orang tua telah masuk. Orang tua yang mendobrak pintu segera menuju ke arah Zhao, dia berteriak. "Tidak tahu gelagat.... Kau tahu sebentar lagi akan mati tidak?? Masih berbicara panjang lebar?"

Jieji segera melihatnya dengan wajah yang agak kesal. Orang ini tidak lain adalah Dewa Ajaib yang urak-urakan itu. Dengan segera, Jieji menuju ke arah Dewa Sakti bertiga. Dia memberi hormat dengan sopan. "Para Guru sekalian, apakah anda mempunyai cara menyelamatkan kakak pertama?" tanyanya. Mereka hanya diam sambil tersenyum adanya. Sedangkan Dewa Semesta segera menuju ke arah Zhao. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan welas asih kepada Zhao. "Tidak guru...." jawab Zhao sambil tersenyum. "Akhirnya kamu bisa melewatinya. Saya bangga kepadamu..." kata Dewa Semesta dengan tersenyum sangat manis kepada Zhao. Yunying yang di luar tadinya juga telah masuk ke dalam kamar mengikuti 4 orang sakti ini. "Apakah guru sekalian telah bertemu Tabib Dewa?" tanya Yunying kepada mereka. Dewi Peramal hanya melihatnya dengan tersenyum penuh arti. Yunying tentu heran adanya. Tetapi sebelum dia bertanya lebih lanjut, Dewi peramal berkata. "Ini.. Dia lah gurunya dari Tabib dewa. Sepertinya Zhao kuangyin tidak akan ada masalah lagi..." kata Dewi peramal. Jieji dan Yunying tentu sangatlah senang adanya. Mereka baru tahu kalau Dewa Ajaib, orang yang urak-urakan tersebut adalah gurunya Chen Shou, Tabib Dewa. *** Di Xi Zhang / Tibet... Wei JinDu tiga tahun yang lalu telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan sangat baik sekali di Hei Longjiang. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan Jieji kepadanya di Kota Xiang yang. Dia telah berhasil mendapatkan salinan buku dari jurus ke 8 tapak Buddha Rulai. Seperti kata Jieji adanya, salinan kitab itu pasti ada di sebuah tempat yang dimana terdapat putaran angin yang menuju ke atas. Setelah meneliti dengan baik selama 1 bulan. Wei dan Xieling akhirnya menemukannya pas di tanah sebuah gundukan pasir yang tinggi.

Gundukan pasir yang tinggi tersebut seperti gua pada gunung adanya. Tetapi yang berbeda hanya gundukan itu memiliki banyak lubang. Setelah menelitinya dengan baik benar, ternyata setiap hari pas jam 12 siang dimana matahari pas di kepala. Angin selalu bertiup berdesir dengan kencang dan seakan akan berputar di tengah gua pasir. Dengan segera mereka menggali tepat pada putaran angin. Hanya sekitar dalamnya 10 kaki, Wei telah mendapatkan sebuah buku dengan judul "Sutra kedelapan Tapak Buddha Rulai". Tetapi sutra tersebut sangat aneh. Kertasnya sangat tebal seperti halnya kulit, namun yang lebih heran adalah sutra tersebut tidak berisi kata-kata melainkan hanya kertas yang kosong. Setelah itu, mereka berdua membawanya kepada Jieji di Hefei. Jieji melihat kertas semacam itu lantas tersenyum. Dia mengajak Wei dan Xieling ke arah kolam depan wisma Wu. Dengan tanpa ragu Jieji menceburkannya ke dalam air. Wei dan Xieling yang melihatnya tentu luar biasa terkejut. Tetapi... Ketika Jieji mengangkatnya kembali dari air. Dia membuka buku tersebut, dan benarlah adanya. Tulisan segera nampak sangat jelas disana. "Kenapa kakak kedua bisa tahu kalau perlu di celupkan ke air terlebih dahulu?" tanya Wei yang heran. "Tidak susah.. Masih ingat puisi yang diberikan Sang dewa puisi?" tanya Jieji dengan senyuman penuh arti. "Tentu..." jawab Jindu. "Namamu dan Nama Xieling yang lengkap...." kata Jieji. "Oh... Jadi begitu...." kata Wei tertawa keras dan girang adanya. "Betul... Setiap puisi yang diberikan puisi dewa adalah refleksi orangnya. Kabarnya guru Ba Dao adalah seorang yang sangat sabar dan tenang bagaikan air yang mengalir. Jadi yang kurang tentu hanya Ba Dao seorang saja..." Kata Jieji sambil tersenyum puas kepadanya. Nama Wei JinDu ( Artinya adalah Emas dan Tanah ). Sedangkan Huang Xieling yang di ambil hanya marganya yaitu Huang / Kuning yaitu refleksi dari "Api", Api disini tentu apinya- Cahaya matahari yang berwarna kuning. Sedangkan masalah "Angin" dalam puisi telah dijelaskan Jieji ketika di Xiangyang. Yang perlu dilihat terakhir adalah takdir mengiyakannya yang juga bisa

diartikan dunia mengiyakannya. Dengan adanya "Dunia mengiyakan", maka makhluk hidup terbentuk di dunia. Dunia terbentuk tentu oleh 4 unsur utama yang menjadi "Emas". Semuanya telah ada dalam nama mereka berdua kecuali "AIR". Oleh karena itu, Jieji segera mencelupkannya kepada air untuk menyempurnakan semuanya. Wei dan Xieling sangat senang karena mendapati kepintaran Jieji yang dengan mudah mampu mengartikan semua arti puisi dan membuka misteri buku tersebut. Tapak Buddha Rulai tingkat kedelapan langsung diwariskan oleh Ba Dao kepada Wei Jindu sesampainya dia di Xizhang. Dan tentunya tidak begitu susah untuk dipelajari oleh Wei yang memang sangat berbakat terhadap ilmu silat. Dalam 3 tahun, kemajuan kungfu Wei sangat mempesona. Tingkat ke delapan dari tapak Buddha Rulai sangatlah dahsyat. Jurus ini bisa dikatakan tiada tandingannya lagi jika didalami dengan sungguh sungguh. Dan anehnya jurus tapak Buddha Rulai tingkat kedelapan sangat mirip dengan Tapak berantai tingkat keempatnya Xia Jieji karena sama-sama menghasilkan ribuan serangan hebat yang datang sekaligus adanya. Rasa pilih kasih dari Guru Ba Dao sepertinya mulai akan mengundang bahaya kepadanya sendiri. Zhu Xiang, murid pertama dari Ba Dao jelas adalah orang yang sangat tidak senang adanya. Dia merencanakan pembunuhan terhadap Ba Dao, selain itu dia juga berkeinginan merebut semua kitab sutra yang belum dipelajarinya. Tetapi karena mengingat kungfu Wei sudah jauh di atasnya, dia tidak berani bertindak semberono terlebih dahulu. Dia masih bertindak sesuai gelagat sambil menunggu adanya kesempatan. Suatu hari... Xieling sepertinya kurang betah tinggal di Xi Zhang, dia ingin mengajak Wei ke Dongyang untuk mencari Jieji dan Yunying. Lantas dia berkata kepada Wei. "Kak Wei... Sudah lama sekali kita tidak punya kabar dari guru dan Yunying. Apakah sebaiknya kita mengunjungi mereka?" "Baik... Nanti saya akan meminta perkenan guru. Sudah lama kita tidak berjumpa dengan kakak kedua. Semoga saja mereka hidup bahagia di Dongyang." kata Wei sambil tersenyum mengingat kakak keduanya. Wei dan Xieling segera meminta perkenan gurunya, Ba Dao untuk pergi ke Dongyang mencari Jieji. Ba Dao sepertinya tidak begitu mengizinkan

kepergian Wei kali ini, tetapi karena dia sangat menyayangi JinDu, dan selain itu dia juga tahu Wei telah tinggal 3 tahun di Xi zhang pasti akan merindukan kakak kedua dan kakak pertamanya. Terakhir dia memberikan izin meski dengan berat hati... Ba Dao tidak tahu kalau kepergian JinDu dan Xieling kali ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu lagi satu sama lain.

BAB LXVI : Penyempurnaan Ilmu Silat Dari Empat Dewa
Dongyang... Tiga hari kemudian setelah kedatangan Zhao Kuangyin yang terkena racun dan terluka parah di Wisma Oda. Jieji tetap cemas menyaksikan kakak pertamanya yang belum kunjung sembuh. Sementara Dewa Ajaib selama 24 jam penuh terus berada di kamar Zhao untuk mengobati luka dalam dan racun yang di tubuhnya. Luka dalam Zhao kuangyin memang termasuk sangatlah parah. Jika tabib biasa, selamanya tidak akan sanggup mengobatinya. Tetapi yang mengobatinya kali ini adalah Dewa Ajaib, gurunya Chen Shou. Tentu seharusnya tidak ada masalah yang berarti lagi. Jieji, Yunying, Dewa Sakti, Dewa Semesta dan Dewi Peramal sejak pagi terus duduk di depan taman tepat pada kamar dimana Zhao dan Dewa Ajaib berada. "Seharusnya tidak ada lagi masalah yang berarti..." kata Dewa Sakti kepada semuanya. "Semoga saja begitu...." kata Jieji yang masih terlihat cemas. "Kamu tahu kira-kira siapa yang menyerangnya?" tanya Dewa Semesta kepada Jieji. "Mmm.." Jieji mengangguk. "Memang siapa yang menyerang kakak pertama? Apakah orangnya juga sangat hebat?" tanya Yunying. "Orang yang pernah mencegat kalian di perjalanan menuju Changsha serta dedengkotnya. Mereka betul tidak bisa dipandang remeh..." kata Dewi peramal sambil menengadahkan kepalanya. "Kalau begitu, kak Jie.. Bagaimana kita kembali ke Daratan tengah, Kaifeng. Kita akan menentukan nasib dengan mereka.." kata Yunying.

Jieji hanya diam saja, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Yunying yang mengajaknya ikut ke Kaifeng. Dalam hatinya terasa masgul sekali, dia sama sekali tidak berharap 5 orang yang mereka jumpai di Changsha adalah pelakunya. Karena dia tahu dengan sangat pasti, orang yang dimaksud tentu memiliki hubungan erat dengannya dan Yunying. Karena daripada semua hal itu, dia segera menanyai Dewa Sakti. "Guru... Apakah perkiraanku adalah benar adanya?" tanya Jieji yang terlihat mengerutkan dahinya ke arah Dewa Sakti. Dewa Sakti hanya diam saja memandangnya dalam-dalam tanpa menjawab apapun. Selang berapa lama, Jieji hanya menghela nafas yang panjang karena mengerti apa maksud dari diamnya Dewa Sakti. Yunying yang melihatnya tentu heran, tetapi dia tidak ingin menanyai Jieji lebih lanjut. Selama kehidupan dia dalam 3 tahun tersebut, terasa bahwa makin lama dia makin memahami Jieji adanya. Jika Jieji terlihat diam dan berpikir keras, maka masalah yang ditemuinya bukanlah masalah yang gampang. Dia hanya diam sambil melihat ke arah suaminya dengan tersenyum manis. "Kabarnya kungfumu telah maju sangat pesat?" tanya Dewa Semesta yang melihat ke arah Jieji setelah diam beberapa lama. "Tidak juga Tetua...." kata Jieji memberi hormat kepadanya. "Ha Ha.... Betul... Kabarnya kamu telah menyempurkan beberapa jurus yang dulunya diciptakan oleh kita berempat." kata Dewa Sakti sambil tertawa keras. "Untuk beberapa ilmu, memang ada yang telah kutambah demi penyaluran tenaga dalam yang tinggi." kata Jieji. Memang benar, jika tenaga dalam yang telah terlalu tinggi dan jurus tidak mampu mengimbanginya maka haruslah dicari penyaluran yang pas betul. Oleh karena itu, dalam setiap Ilmu yang dipelajari Jieji, dia berusaha memaksimalkan semua Ilmu itu dengan menciptakan jurus baru dari Ilmuilmu tersebut. Ilmu yang diciptakan para Dewa sebenarnya adalah ilmu yang telah sangat sakti. Untuk menguasainya secara sempurna semua, haruslah memperkuat tenaga dalam sehingga sampai batas maksimum. Sehingga tenaga dalam pemakai haruslah dapat sejalur dengan jurus yang dikeluarkan. Dulunya sebelum menciptakan tapak berantai dengan menggabungkan semua aliran tenaga dalam semua Ilmu. Dia sering mendapatkan bahwa setiap jurus yang dikeluarkan tidaklah maksimal dan memadai, karena tenaga dalamnya tidak mampu dimaksimalkan dengan jurus sakti tersebut.

Lain halnya dengan sekarang, semua Ilmu itu berkembang dengan sangat pesat mengingat tenaga dalam Jieji telah maju pesat karena Tenaga dalam tapak berantai yang sakti telah membaur dalam dirinya. "Hebat......" kata Dewa Semesta dengan bertepuk tangan sambil memujinya. Jieji memberi hormat dalam-dalam kepada orang tua tersebut. Barusan dia menyelesaikan hormatnya, dari dalam kamar Zhao segera terdengar pintu didobrak. Dewa Ajaib segera keluar dengan lari cepat ke arah Jieji. "Apa?? Kamu menambah jurus pedang ayunan Dewa? Coba kamu jelaskan bagaimana kamu menambahnya?" Rupanya Dewa Ajaib mendengar apa percakapan mereka. Dengan tidak tahan karena mendengar adanya tambahan jurus baru dari 7 Jurus pedang ayunan Dewa, dia segera lari keluar untuk mendengar percakapan mereka. "Bagaimana kakak pertamaku?" tanya Jieji yang agak heran adanya melihat Dewa Ajaib telah keluar dari kamar Zhao. Dewa Ajaib hanya diam, di wajahnya tampak senyuman menggoda. "Bagaimana?? Cepat beritahukan dahulu. Kenapa tetua dengan cepat keluar dari sana?" tanya Jieji yang seraya berdiri dan mulai berjalan ke arah kamar. Tetapi dengan tiba-tiba dia dicegat Dewa Ajaib. "Katakan dulu... Kamu menambah berapa jurus pedang itu?" tanya Dewa Ajaib. "Dua...." Jawab Jieji pendek. Tetapi di luar dugaan, Dewa Ajaib segera berlutut kepadanya. Tentu Jieji terkejut tidak terkira. Wajah Dewa Ajaib seperti anak-anak yang ingin meminta sesuatu. "Tetua... Berdiri dahulu... Akan saya beritahukan dengan segera...." "Terima aku sebagai muridmu dahulu, ajarkan aku 2 jurus yang lain. Aku akan menyelamatkan Zhao kuangyin. Bagaimana? Pertaruhan yang adil bukan? "tanya Dewa Ajaib penuh harap dengan berlutut. Jieji tentu sangat heran melihatnya. Jurus pedang ayunan dewa adalah ciptaannya, sekarang dia malah ingin belajar darinya. "Baik ... Baik ... Tapi kumohon tolonglah kakak pertamaku dahulu..."

Sementara itu Dewa Semesta dan Dewa Sakti segera tertawa keras. "Nah... Ini janjimu kan. Apa yang dijanjikan seorang lelaki tentu pantang dilanggar, bukan begitu?" tanya Dewa Ajaib. "Aku akan mengajarimu, tetapi tolong tetua berdiri dahulu. Dan mengenai masalah murid, tentu itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin...." kata Jieji dengan kesal kepadanya. Setelah selesai Jieji menyelesaikan kata-katanya. Terlihat Zhao kuangyin telah keluar dari kamarnya dengan langkah yang telah bagus dan mantap, tidak terlihat dia sedang terluka sangat parah. Jieji yang melihatnya tentu sangatlah gembira. "Ha Ha... Kamu tertipu olehku juga kan? Jangan kira aku ini tolol..." teriak Dewa Ajaib yang berhasil akan siasatnya memancing Jieji untuk mengajari 2 jurus baru ilmu ciptaannya sendiri. Lantas mereka semua tertawa keras adanya. Ilmu pedang ayunan dewa ciptaan Dewa Ajaib terdiri dari 7 tingkat. Semuanya sebenarnya telah termasuk jurus yang sangat hebat. Tetapi Jieji menambah 2 jurus adanya di dalam. 2 Jurus itu tak lain adalah Ayunan Dewa musim semi dan Ayunan Dewa musim gugur. Dua jurus ini tak lain adalah hanya bisa dipelajari dan dimantapkan orang yang mempunyai tenaga dalam yang sudah sangat tinggi. Kedua jurus mengutamakan serangan maha dahsyat, tidak seperti 7 jurus lainnya yang sering terlihat banyaknya perubahan serangan. Selain itu, Jieji juga menambahkan 1 jurus dalam Ilmu Jari dewi Pemusnah yang tadinya hanya 6 tingkatan saja. Jurus Ilmu Jari dewi pemusnah 1 jurus terakhir juga adalah jurus yang Maha Sakti. Tenaga dalam yang keluar dari Jari dipertajam, dan jurus ini bahkan bisa membunuh dengan tusukan maha tajam seperti layaknya tajamnya pedang. Dan yang paling berbahaya adalah jarak serangannya yang sangat jauh. Dia mendapat ilham setelah melihat Ilmu Pedang bulan sabit-nya Dewa Bumi. Selain itu, Langkah Dao-nya Dewa Semesta juga ditambah 1 jurus. Jurus yang diciptakan Jieji dari langkah Dao yang terakhir adalah untuk memantapkan gerakan Tapak berantainya dan mendukungnya sehingga menjadi sangat kokoh adanya. Terutama untuk jurus ke 2, 4 dan 5 dari Tapak berantai. Sedangkan Ilmu Tendangan Mayapada Jieji disempurnakan adanya. Dia menyempurnakan jurus tendangan mayapada dan meleburnya dengan tendangan matahari yang pernah dilihatnya sendiri ketika Wang Sungyu mengeluarkannya dalam pertarungan di sungai Changjiang 3 tahun yang

lalu. Jieji sangatlah tertarik akan Jurus tendangan matahari yang tanpa celah adanya. Jurus tendangan mayapada baru ini tertampak paling jelas di antara semua jurus yang ditambahkan. Tendangan yang disempurnakan terlihat sangatlah kokoh, bahkan jika pilar yang kokoh dan sangat keras sekalipun jika ditendang akan patah menjadi dua. Dalam 3 tahun belakangan, kungfu Jieji juga maju pesatnya sama seperti Wei JinDu adanya yang telah mematapkan jurus ke 8 tapak Buddha Rulai. Keesokan harinya pagi-pagi... Zhao telah terlihat sangat sehat adanya. Dia bahkan sanggup berjalan seperti biasa lagi seperti orang yang tidak terluka dalam adanya. Dewa Ajaib melakukan tugasnya dengan sangat berhasil. Oleh karena itu sesuai janjinya, Jieji mengajari dewa Ajaib 2 jurus lainnya dari Ilmu pedang ayunan dewa. Zhao berjalan ke arah taman, tetapi dia langsung disapa oleh Jieji. "Kakak pertama? Kamu sudah sehat dan baikan?" tanya Jieji yang puas melihat keadaan kakak pertamanya yang barusan 3 hari ditangani Dewa Ajaib. "Tidak apa-apa lagi Adik kedua... Saya merasa sangat baikan... Dewa Ajaib benar adalah Tabib luar biasa sekolong langit meski tenaga dalamku belumlah pulih sepenuhnya..." Tutur Zhao dengan tersenyum sangat puas. "Betul, tidak disangka orang tua aneh seperti dia mampu melakukan hal sebaik ini. " kata Jieji dengan tersenyum puas pula. "Ohya kakak pertama, Memang di istana telah terjadi sesuatu hal yang hebat?" tanya Jieji kembali setelah beberapa saat. "Betul... Hal ini sangatlah serius, sepertinya tidak lama lagi kita harus kembali ke Kaifeng." Kata Zhao yang berubah menjadi sangat serius adanya. "Memang bagaimana hal sesungguhnya yang terjadi?" tanya Jieji sambil mengerutkan dahinya. Zhao mulai bercerita kepada Jieji... *** Sebulan yang lalu... Istana kaisar di Kaifeng...

Zhao terlihat duduk dengan santai sendirian di taman istananya. Sambil meneguk teh, dia menikmati keindahan taman. Zhao sangat senang hatinya setiap menikmati keindahan taman Istana sehabis melaksanakan tugas negaranya. Tidak berapa lama, terlihat adiknya Zhao kuangyi datang menemuinya disana. "Kakanda kaisar... Saya membawa arak istimewa dari wilayah utara... Mari kita minum bersama..." katanya sambil tersenyum. Zhao sebenarnya bukanlah tipe orang yang sangat mencintai arak. Tetapi karena arak dari Wilayah utara sangat terkenal, dia ingin mencicipinya lagi karena teringat akan dirinya sewaktu muda dia tinggal di daerah utara padang pasir. Zhao Kuangyi menuangkan arak yang cukup penuh di cawan keduanya. Seraya memberi hormat, Kuangyi langsung meneguk arak itu sampai habis. Zhao hanya tersenyum melihat tingkahnya. Tanpa bercuriga, Zhao kuangyin juga meneguk habis semua arak susu kuda dari padang pasir itu. Disana, selang beberapa saat Kuangyi segera menanyainya. "Ada sesuatu yang harus kukatakan kepada Huang Siung/kakanda kaisar..." "Ada apa? Apa ada hal yang penting adanya?" tanya Zhao kuangyin yang lumayan heran melihat keseriusan Kuangyi, adiknya. "Bagaimana jika kita beraliansi dengan pasukan Liao?" Zhao kuangyin yang mendengarnya segera tidak senang, perubahan di wajahnya segera tertampak. "Kamu tahu dik... Pasukan Liao sangatlah kejam, mereka belum beradab seperti kita sekarang. Beraliansi sepertinya tidak akan ada gunanya. Selain itu, kamu masih ingat? Peperangan setahun yang lalu, mereka menindak pasukan tawanan kita dengan sangat ganas. Dan juga mereka bahkan sembarang membunuh rakyat jelata yang tidak berdosa? Kenapa kamu selalu..........." Barusan Zhao kuangyin ingin menyelesaikan kata-katanya, dia menyadari sesuatu yang telah terjadi dengan dirinya sendiri. "Ada apa Huangsiung?" tanya Zhao kuangyi. "Tidak apa... Mungkin terlalu capek adanya..." Kata Zhao kuangyin yang memegang kepalanya yang telah terasa pusing. Dia belum bercuriga terhadap arak yang diberikan oleh adiknya sendiri. Zhao kuangyin terus memegang kepalanya dengan mata yang tertutup. Lalu ketika dia sempat membuka matanya, dia sangat terkejut. Karena disana telah hadir puluhan orang. Jumlahnya mungkin sekitar 20

orang lebih. Tetapi dia segera tahu, kedatangan mereka bukanlah untuk hal yang baik adanya. "Bagaimana Yang Mulia? Apakah arak itu rasanya sangat bagus? Sampai baru minum seteguk saja sudah mulai mabuk?" tanya seorang pria yang bertopeng. "Kalian....." Teriak Zhao kuangyin yang segera sadar sesuatu yang terjadi padanya adalah akibat ulah adiknya sendiri. Dengan segera, Zhao menutup matanya sendiri. Dia menarik nafas panjang untuk mencegah penyaluran racun itu dengan tenaga dalam. "Itu adalah Racun bubuk 7 serangga. Tidak mungkin kau bisa sanggup menahannya.." kata Pria itu kembali. Zhao kuangyin hanya diam tanpa berjawab apapun padanya. Dia sedangn mengkonsentrasikan dirinya untuk menghalau racun itu bekerja lebih lama. Pria itu segera beranjak ke arahnya. "Kakak... Dahulu kamu mengkudeta Zhou. Apakah kamu sudi memberikan kekuasaan negara kepadaku?" tanya Zhao kuangyi. Zhao kuangyin hanya diam seribu bahasa. Dia tidak menjawabnya. "Kalau begitu, kita kurung dia sahaja. Dengan begitu, sama saja kan? Kekuasaan tetap di pegang olehmu." kata pemuda itu. Zhao Kuangyin selama berekspedisi ke wilayah lain, Adiknya Zhao kuangyi adalah orang yang terus memegang jabatan tertinggi jika dia tidak ada di Istana. Maka daripada itu, usul pemuda itu cukup masuk akal bagi Zhao kuangyi. Dia mengangguk pelan kepadanya. Pemuda itu segera mendekati Zhao kuangyin yang masih bermeditasi menghalau racun. Dengan tangannya, dia hendak mengangkatnya bangun. Tetapi tanpa disadarinya... Zhao kuangyin yang masih menutup matanya segera melancarkan serangan terkuatnya ke arah dada pemuda itu. "Dhuakkk!!!" Suara tertinju sangatlah jelas terdengar. Pemuda itu segera terlempar sangat jauh dengan pesat.Semua orang disana sangatlah terkejut adanya. Mereka sama sekali tidak menyangka Zhao kuangyin yang telah terkena racun malah masih begitu hebat. Dengan segera, tertampak 15 orang di depan Zhao Kuangyin dan seraya mengurungnya. Sementara itu Zhao kuangyi telah beranjak mundur dari tempatnya.

"Hebat... Kamu masih bisa melancarkan serangan setelah terkena racun bubuk 7 serangga." Terdengar suara seorang pria disana. Lima belas orang itu memperkenalkan diri sebagai 15 Pengawal sakti. Zhao hanya diam di tengah dengan mata yang masih tertutup adanya. Dia berpikir inilah saatnya menentukan hidup-matinya. Lima belas pengawal sakti segera melancarkan serangan sekaligus. Serangan lima belas pengawal terlihat sangatlah aneh, sementara itu Zhao kuangyin hanya menghindar semua serangan dengan Langkah Dao. Dia tidak mampu untuk membalasnya lagi karena jika menggunakan tenaga dalam sekali saja seperti tadi, maka akan sangat berbahaya bagi penyebaran racun 7 bubuk dalam dirinya. Zhao kuangyin bukanlah pesilat yang lemah sama sekali. Meski dirinya terkena racun, masih dengan lumayan mudah baginya untuk menghindari semua serangan dari 15 pengawal sakti itu. Semua orang disana sangat heran dan terkagum-kagum akan kemampuan asli dari Zhao kuangyin. Tetapi 5 orang yang bertopeng aneh segera maju untuk mengeroyoknya juga karena melihat Zhao masih lumayan kuat. Zhao kuangyin sangatlah terkejut, dia mendapatkan jurus yang sangat dikenalnya. Jurus pedang ayunan dewa, tendangan mayapada dan ilmu golok belibis jatuh adalah 3 Ilmu yang sedang dikerahkan ketiga penyerangnya. Dengan menyeret kakinya cepat, Zhao kuangyin bermaksud untuk lari dari tempat pertarungan. Tetapi tanpa disadarinya, dari arah belakang dia telah terkena sebuah tinju yang cukup kuat adanya. Dia terlempar ke depan cukup jauh... Setelah berdiri dia mendapati dirinya muntah darah hitam. *** Jieji mendengarnya dengan sangat serius. Dalam pemikirannya, dia mendapati sesuatu. "Jadi kakak yakin Zhao Kuangyi mengkhianati kakak adanya?" "Betul... Sepertinya dia ditekan oleh beberapa orang tersebut..." kata Zhao yang terlihat mengerutkan dahinya. Dalam pemikiran Jieji, dia membayangkan Zhao Kuangyi yang pernah berbincang langsung dengannya beberapa kali. Dia merasa Zhao Kuangyi bukanlah seorang yang takut akan ancaman, selain itu Kuangyi juga tipe pemimpin yang sangat hebat dan tidak kalah dari Zhao kuangyin, kakaknya sendiri. Lalu kenapa dia bisa menuruti kata-kata pendekar-pendekar tersebut.

Jika ingin melakukan kudeta, mungkin ini juga merupakan salah satu caranya... Ataukah?......

BAB LXVII : Kembali Ke China Daratan
Jieji berpikir tanpa mampu mengerti maksud sebenarnya dari Zhao kuangyi. Apakah memang benar Kuangyi telah tunduk dengan 5 pendekar dan kawan-kawannya yang pernah bertarung melawannya di dekat kota Changsha. Semuanya masih menjadi pertanyaan dalam hatinya. "Kak... Saya harus pulang ke China daratan untuk melihat-lihat keadaan sebentar."Kata Jieji. "Jadi maksud adik, adik tidak bersamaku pulang tetapi hanya sendirian?" tanya Zhao yang agak heran. Dalam hatinya dia berpikir, kesehatannya memang belumlah pulih sepenuhnya. Tetapi membiarkan adik keduanya pergi sendiri tentu cukup berbahaya. "Betul kak... Tiada jalan lain... Aku harus menyelidikinya dengan pasti terlebih dahulu sebenarnya apa hal yang terjadi." kata Jieji kemudian. "Tetapi....." Zhao hanya berpikir dalam-dalam. "Tidak usah kuatir kak.. Saya masih mampu menjaga diri dengan baik.. Tanpa mengetahui maksud sesungguhnya dari Kuangyi, kita tidak mampu bertindak dengan pasti.." kata Jieji. Zhao tidak menjawabnya lagi, tetapi dalam hatinya dia merasa apa yang dikatakan adik keduanya adalah hal yang benar adanya. Tanpa adanya kebenaran sesungguhnya dari kejadian tersebut, siapapun pasti susah bertindak apalagi Zhao kuangyi adalah adik kandungnya sendiri. Setelah berpikir beberapa lama, Zhao kembali menanyainya. "Dik... Kamu tahu apa hal yang terjadi dari dunia persilatan belakangan ini?" "Beberapa hal bisa kutebak.. Tentu yang ingin kakak pertama katakan adalah nama-ku yang dipakai orang untuk melakukan hal yang jahat?" kata Jieji. Zhao sangat terkejut, dia tidak mengira adik keduanya bisa menebak dengan begitu benar. Memang benar, selang 3 tahun "hilang-nya" Xia Jieji dari dunia persilatan. Banyak sekali gosip telah beredar seiring kematian beberapa tokoh dunia persilatan. "Kamu tahu? Yue Fuyan telah tewas?" tanya Zhao kemudian kepadanya.

Jieji hanya diam saja, dia berpikir keras. Dia tahu pasti, tentu kematian Ketua Dunia persilatan itu juga ditimpakan kepadanya. Setelah beberapa saat, dia menjawab kakak pertamanya kembali. "Mengenai masalah ketua dunia persilatan, saya benar tidaklah tahu adanya. Apa kakak melihat ciri-ciri kematian Yue Fuyan?" tanya Jieji. "Betul... Saya sempat melihatnya karena saya tidak berada jauh dari tempat kejadian waktu itu, luka goresan di tubuhnya ada empat. Tetapi yang paling mematikan adalah di urat lehernya. Selain itu, di tubuhnya sama sekali tidak terdapat racun ataupun luka dalam lainnya." tutur Zhao. "Kalau begitu, dia tidak dibunuh dengan pedang..." kata Jieji kemudian sambil tersenyum kepada kakak pertamanya. "Ha? Bagaimana kamu bisa tahu? Aku memang sempat bercuriga adanya, tetapi aku tidak pernah mendapatkan buktinya..." kata Zhao. "Tidak susah kak.. Goresan pedang itu tujuannya adalah menfitnahku, tentu jurus yang dipakai untuk menggores urat lehernya adalah Jurus pedang ayunan Dewa. Semua insan dunia persilatan tahu kalau "Xia Jieji" menguasai dengan baik Ilmu pedang ayunan dewa. Otomatis maka semua kesalahan akan ditimpakan kepadaku... Mengenai dia tidak dibunuh dengan pedang, tentu aku tahu benar. Pedang ayunan dewa tidak akan mampu membunuh Yue Fuyan yang menguasai 9 tingkatan tapak penghancur jagad..." Zhao sangat senang mendengar penjelasan adik keduanya. Dia tidak pernah mengira dengan hanya berbincang, Jieji telah tahu seperti halnya dia melihat kejadian itu sendiri. "Kak, besok pagi-pagi saya akan berangkat. Aku akan menunggumu di Kaifeng, bagaimana?" tanya Jieji. Zhao tersenyum sambil mengangguk pelan kepadanya. Jieji langsung mencari istrinya, Yunying untuk mengatakan kepadanya akan kepergiannya ke China daratan kembali. Tetapi kali ini, Jieji tidak akan membawa Yunying. Tentu alasan Jieji adalah keselamatan Yunying yang barusan melahirkan puteranya sekitar lima bulan lalu. Selain itu, Jieji juga ingin Yunying tinggal untuk menjaga puteranya dan sekaligus menjaga Wisma Oda. Yunying menyatakan kesediaannya tetap di Dongyang bersama keluarga Xia yang tinggal disana, dia memberikan Pedang Ekor Api kepada suaminya untuk berjaga-jaga akan kemungkinan yang buruk. Jieji menerimanya dengan senang hati. Keesokan paginya...

Dewa Semesta dan Dewa Sakti serta Dewi peramal minta pamit juga pada mereka semua, mereka ikut Jieji ke China daratan. Tetapi bukan dengan tujuan yang sama dengan Jieji adanya. Mereka bertiga yang telah mendapatkan Zhao kuangyin sehat adanya lantas pulang kembali ke "gunung" mereka masing-masing. Sementara itu Dewa Ajaib menyatakan suka tinggal di Dongyang karena masih dalam tahap mempelajari ilmu pedang ayunan dewa. Dalam perjalanan menuju ke China daratan... Dewa Sakti bertiga duduk di dalam kapal, sementara Jieji duduk di ujung depan sambil meneguk guci arak yang kecil. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu di ujung kapal. Dewa Sakti segera menghampirinya. "Kamu yakin dengan apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dewa Sakti yang melihat Jieji termenung seorang diri. "Tidak tahu... Kakek pernah juga menanyaiku hal yang serupa.. Ternyata dengan kekerasan hati tidak mudah melakukan sesuatu... "Ha Ha.... Benar... Benar... Lantas apa jawabanmu kepada kakekmu?" tanya Dewa Sakti penuh arti kepadanya. Jieji melihat orang tua ini dengan dalam-dalam. Tidak berapa lama, lantas dia juga tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Dewa Sakti. Dewa Sakti adalah seorang yang sangatlah pintar adanya, kepintarannya tentu tidak dibawah Jieji adanya. Dia sengaja memberikan pertanyaan dengan tujuan memberikan jawaban kepadanya. Jieji pernah berjanji pada kakeknya sendiri, dia ingat benar... Begitu pula janjinya yang pernah diungkapkan kepada Xufen. Oleh karena itu, dalam hatinya lantas terbit sebuah jawaban yang pasti yaitu -Jika terpaksa, maka dia baru akan ambil tindakan-. Seperti biasa, perjalanan dari Dongyang menuju ke China daratan perlu waktu 15 hari. Setelah lima belas hari... Mereka berempat lantas berpisah menuju ke daerah masing-masing. Dewa Sakti dan Dewi peramal tentu sangat dekat dengan Gunung Dai, sedangkan Dewa Semesta menuju ke arah barat ke Gunung Jin Bing. Jieji hanya diam beberapa saat di sana untuk mengawasi kesibukan pelabuhan sambil berpikir. Setelah satu jam lamanya, dia segera mengambil arah barat juga tetapi tidak ke utara. Dalam perjalanannya yang baru lima jam... Jieji kali ini tidak memakai kuda bintang birunya tetapi memakai kuda biasa saja, tentu karena tujuannya ke China daratan adalah untuk menyelidik, dia tidak ingin ketahuan oleh kaum persilatan bahwa dia adalah "Xia Jieji".

Selain itu, dia memilih berpakaian sastrawan sejak keluar dari Dongyang. Di tangannya sengaja dia pegang sebuah kipas layaknya seorang sastrawan. Sebelum sampai di kota Chen Liu, Jieji melihat ada sesuatu hal yang aneh di depannya.. Di daerah yang masih tergolong hutan terlihat lumayan banyak pengemis yang berpakaian compang-camping. Di tangan setiap pengemis terpegang sebuah tongkat, mereka berjalan dengan gagah secara berkelompok ke arahnya. Dia melihat mereka dengan sambil berpikir, para pengemis itu bukanlah orang sembarangan. Setidaknya dalam langkah bisa membuktikan mereka adalah jago silat juga. Apalagi orang yang memimpin mereka, seorang paruh baya yang memiliki kharisma yang lumayan tinggi di wajahnya. Cara berjalan orang ini tidaklah aneh seperti orang biasa layaknya, tentu hal tersebut adalah berlaku untuk orang biasa yang melihatnya. Tetapi Jieji tidak melihatnya begitu, dia merasa orang di tengah itu memiliki Nei-kung(tenaga dalam) yang cukup tinggi. Suara hembusan nafasnya terdengar cukup bertenaga. Selain itu gerakan kakinya yang mantap membuktikan bahwa pengemis di tengah memiliki kekuatan tubuh yang hebat. Setelah mereka hampir berpapasan. Pemuda paruh baya yang berada di tengah itu segera memandang Jieji. Pandangan mata mereka berdua bertemu, selang beberapa saat orang di tengah segera tersenyum kepadanya sambil mengangguk pelan. Senyum ini juga dibalas oleh Jieji sambil mengangguk. Jieji menghentikan kudanya sambil berpikir. Tetapi belum sampai mereka lewat semuanya, Jieji merasakan adanya hawa orang yang mendekati tempat tersebut. Dia berpura-pura tidak tahu akan adanya hawa tersebut, tetapi orang tua di tengah segera berhenti. Sepertinya dia menantikan orang yang datang dengan ringan tubuh. Selang beberapa saat, seorang tampak berlari ke arah mereka. Jieji berpaling ke belakang untuk melihat orang yang datang itu. Juga seorang pengemis adanya, pengemis yang datang juga lumayan tua. Mungkin umurnya sekitar 50-an, jenggot dan kumis menutupi hampir separuh wajahnya. "Tetua Wu... Ada kabar yang datang tiba-tiba dari Beihai..." Pemuda paruh bayu ternyata bermarga Wu pikir Jieji. Tetapi untuk apa dia datang dengan cara tergesa-gesa seperti itu. "Ada apa tetua Han?" tanya tetua Wu kepada orang yang baru datang tersebut.

Tetapi para pengemis di belakang segera melihat ke arah Jieji. Jieji yang melihat pandangan mereka segerombolan segera mengerti, lantas dengan menarik tali kudanya, dia berniat meninggalkan tempat tersebut. Tidak ada yang tahu, jika bisikan ringan sekalipun bisa di dengar Jieji dengan jelas adanya dalam jarak sekitar 50 kaki "Tetua Wu... Kabarnya pasukan Liao akan melewati tapal batas Sung sesegera mungkin..." "Apa? Kamu yakin akan informasimu?" "Betul... Tidak salah lagi. Tetua Chen dan tetua Lu sudah berada di kota Ye untuk menunggu ketua." "Kalau begitu, kita harus secepatnya mengejar kesana. Mengenai masalah timur, sepertinya tidak perlu kita kerjakan terlebih dahulu." kata tetua Wu dengan segera. Di ajaknya para pengikutnya yang terdiri dari belasan orang untuk segera mengambil arah utara. Jieji diam dan berpikir, dia mendengar dengan jelas kedua orang tetua berbicara. Hanya dia heran, dari manakah "pengemis berkungfu" ini berasal. Diam-diam dia berniat mengikuti mereka untuk menuju ke kota Ye. Tetapi dipikirkannya tujuan dia yang sebenarnya adalah untuk menuju ke Kaifeng. Lantas Jieji tetap melanjutkan perjalanannya ke Chenliu terlebih dahulu. Dia memacu kudanya lantas dengan kecepatan tinggi menuju ke kota Chenliu. Jieji tidak segera mengambil jalan menuju Kaifeng, tak lain adalah untuk mengecoh pasukan Istana. Jieji tahu dengan pasti, jika ada yang berniat mengikutinya maka mereka akan menunggu di pelabuhan timur Xiapi. Jika mereka mendapatkan orang yang persis ciri-cirinya dengannya dan sedang mengambil perjalanan ke utara, maka orang itu tentu tidak lain adalah dia. Maka dia segera mengambil ke arah barat terlebih dahulu. Dan diam-diam baru menuju ke utara. Tidak sampai malam, dia telah tiba di kota Chenliu.. Jieji menyewa sebuah kamar yang biasa saja di penginapan besar yang cukup ramai. Dia merasa penginapan yang biasanya ramai pasti banyak juga gosip dunia persilatan. Meski Jieji tidak pernah tertarik akan gosip begituan, tetapi kali ini dia bertujuan untuk menyelidik. Maka mau tidak mau dia juga ingin mendengar sedikit petunjuk akan sesuatu hal di istana dan ada tidaknya berhubungan dengan dunia persilatan. Sementara itu Pedang ekor apinya tidak digantungkan di pinggang, melainkan dia bungkus bersama buntalan pakaiannya. Karena pedang Ekor api bukanlah jenis pedang panjang, maka setelah dirapikan bahkan tidak tampak adanya Jieji sedang membawa pedang.

Sekitar jam 8 malam, Jieji telah keluar dari kamarnya yang lantai kedua gedung belakang untuk mencari makan di depannya yang merupakan restoran. Apa yang di tebak Jieji benar adanya. Penginapan yang luas tersebut memiliki sebuah restoran yang luas juga. Disana terlihat lumayan banyak orang dari kaum persilatan yang sedang duduk sambil minum arak dan mengobrol lumayan keras. Dia memilih sebuah tempat yang agak sudut dekat tangga. Disana dia duduk seorang diri sambil mencuri dengar. "Kak Feng... Kabarnya setan pembantai kembali mengambil mangsa.. Kali ini adalah tetua partai Hua Shan, Mo LieTze. Dia juga sama dibantai dengan ilmu pedang ayunan dewa sebulan lalu. Luka mematikannya adalah tepat segaris di leher. Sebenarnya apa hal yang diinginkannya?" tanya seorang pemuda yang berpakaian warna emas juga dengan ikat kepala emas. "Betul... Jika ketemu, kita akan habisi dia... Setelah membunuh biksu Wujiang, dia membantai pengkhianat Liao, Dewa Bumi untuk bersekutu dengan mereka. Setelah itu, sepak terjangnya makin menjadi. Dia membantai saudara seperguruan kita 6 nyawa di Panggung batu 1000 cermin. Baru 2 bulan lalu, dia kembali beraksi di Huiji dengan membunuh ketua dunia persilatan. Sekarang kemudian terdengar hal terbunuhnya tetua partai Hua Shan... Dia tidak dapat diampuni..." kata seorang lainnya yang juga berpakaian sama dengan gusar. Suara kedua orang tersebut sebenarnya tidaklah benar-benar besar. Namun Jieji bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Dalam pikirannya. "Setan pembantai... Mengerikan sekali julukan baruku itu..." pikirnya dengan geli juga. Jieji juga berpikir, apa yang dikatakan mereka berdua adalah sangat tidak beralasan adanya. Tidak mungkin seorang sanggup mencapai wilayah Hua Shan dari Huiji dalam jangka waktu sebulan. Karena jarak antara Huiji ke Hua Shan sangatlah jauh adanya. Lain halnya jika dia memakai kuda bintang biru. Tetapi sungguh tidak masuk akal benar-benar. Tetapi Jieji tidak ingin berargumentasi lebih lanjut, karena semenjak di Dongyang dia sendiri juga telah tahu bagaimana kira-kira dirinya bakal di fitnah kaum persilatan. Jieji mencoba mencari informasi lainnya di meja lainnya, dia mengkonsentrasikan apa yang sedang dibicarakan orang lainnya. "Lie Hui... Lie Hui.... Sungguh cantiknya engkau bagai bidadari..." terdengar seseorang yang berkata kepada temannya. "Lie Hui meski adalah wanita dari rumah bordir Yuen Hua, tetapi kecantikannya betul tanpa tanding. Seumur hidup jika ada pria yang bisa

mendapatkan hatinya maka dia adalah lelaki yang paling beruntung...." kata lainnya. Jieji muak sekali mendengar apa hal yang sedang di ucapkan mereka berdua. Ternyata keduanya adalah penggemar wanita di rumah bordir Yuen Hua. Tentu dia tersenyum sangat geli sekali. Sesekali terlihat dia menggelengkan kepalanya. Sekali lagi dia mencoba mendengar pembicaraan dari meja lainnya. Dia mendapatkan adanya 2 orang yang duduk di meja, tepatnya di belakang 2 orang penggemar wanita rumah bordir tersebut, seorang pemuda dan pemudi. Jieji menyapu ke arah mereka sambil pura-pura minum arak dan makan. Dilihatnya si pria, pemuda yang tergolong tampan dan berpakaian sastrawan, umurnya paling hanya 20 tahun. Sedangkan si wanita terlihat cantik dengan wajahnya yang putih, si nona juga tergolong muda jika dilihat dari penampilannya. Jieji juga bermaksud mendengar apa yang mereka bicarakan. "Racun pemusnah raga... Racun yang sungguh kejam... Tiga orang saudara seperguruan kita dibunuh 10 tahun yang lalu oleh racun tersebut.. Sekarang malah kabarnya Xia Jieji telah menyempurnakan racun ini. Dia mengurangi dahsyatnya racun, tetapi memperbahaya cara penularannya. Ini justru lebih mengerikan daripada racun yang sebelumnya." kata yang pria. "Betul Sesiung(Kakak seperguruan)... Hanya gosip dunia persilatan sepertinya sangat menjelek-jelekkan Xia Jieji. Sebenarnya hal ini ada atau tidak, kita belum bisa memastikannya..." kata yang wanita dengan pengertian. "Apa yang adik bilang cocok dengan pemikiranku. Mengenai Xia Jieji, sebenarnya jarang sekali ada orang yang melihatnya. Kita memang benar tidak bisa mengambil kesimpulan seperti itu langsung..." kata yang lelaki. Jieji yang mendengar percakapan kedua orang tersebut, merasa terharu. Tidak disangkanya ada yang masih bisa melihat kebenaran, setidaknya mereka tidak percaya langsung terhadap hal yang belumlah pasti adanya. Ketika Jieji sedang berpikir, wajahnya sebentar terlihat mengerutkan dahinya, sebentar terlihat tersenyum manis, sebentar terlihat dia kesal, sebentar terlihat dia tersenyum geli adanya. Tetapi tidak disangkanya sama sekali ada seorang pria umur 30 tahunan yang duduk sendiri dan berseberangan meja dengannya melihat semua tingkah Jieji...

BAB LXVIII : Ketua Perkumpulan Pengemis, Yuan Jielung
Jieji juga merasakan adanya pandangan "khusus" dari seseorang kepadanya kemudian. Dia hanya pura-pura tidak tahu. Tetapi dia tahu dengan pasti, orang yang berseberangan meja dengannya bukanlah lelaki biasa. Setelah beberapa saatnya makan dan minum, Jieji berniat keluar dari restoran untuk menuju kembali ke kamarnya. Dia berjalan pelan-pelan layaknya dia tidak tahu apa-apa. Dengan tenaga dalam tinggi, dia menyimpan semua tenaga dalamnya supaya tidak terlihat mencurigakan oleh orang yang sedang duduk dengan sebuah kaki di atas kursi tersebut. Tetapi baru berjalan melewati taman belakang penginapan, dia sudah tahu bahwa dia sedang diikuti. Lalu, dengan berbalik badan Jieji melihat pria tersebut. Mereka bertatapan tanpa berbicara banyak hal. Keadaan belakang yang sunyi menambah keangkeran pandangan keduanya. Lantas tidak berapa lama, pemuda itu segera bersuara. "Siapa anda? Sangat mengagumkan sekali kemampuan anda...." katanya dengan sopan dan penuh hormat. Jieji memandangnya, pakaian orang ini tidaklah bagus bahkan terlihat telah luntur. Beberapa bagian pakaiannya sepertinya telah koyak. Wajahnya cakap dan gagah. Gaya dan kharismanya tinggi dengan tinggi tubuh hampir 6 kaki. Dadanya bidang dan tangannya panjang hampir mencapai lututnya. "Saya hanya seorang sastrawan yang kebetulan tinggal di penginapan ini...." kata Jieji merendah sambil memberi hormat. "Ha Ha........" Pemuda itu hanya tertawa mendengar jawaban Jieji. Tetapi Jieji tersenyum melihat tindakan orang tersebut. "Margaku Yuan. Namaku Jielung." katanya memperkenalkan dirinya. Jieji berpikir cukup aneh, setidaknya adalah nama depannya sama dengannya. Lalu dengan berbohong Jieji menjawabnya. "Margaku Zhang, orang-orang memanggilku FeiRung..." "Tidak disangka kemampuan tuan Zhang sangatlah luar biasa..." kata Jielung dengan tersenyum kepadanya. "Tidak... Aku tidak mengerti apa yang anda maksudkan.." kata Jieji kemudian dengan berpura-pura tidak tahu.

Tetapi apa yang dilakukannya tidak luput dari pandangan Yuan. Yuan mampu melihat kemampuan Jieji adalah sangat tinggi. Dia berpikir mungkin mereka berdua adalah sekelas dalam hal silat. Karena dia tahu orang yang mampu mendengar dengan baik suara yang jauhnya 50 kaki lebih dengan jelas meski adanya keributan, maka orang tersebut adalah orang yang kungfunya sangat tinggi. "Ha Ha... Sesekali kita akan ngobrol-ngobrol sambil minum arak, bagaimana saudara Zhang?" tanyanya. "Tentu...." kata Jieji kepadanya. "Aku masih ada urusan yang maha penting adanya. Lain kali aku ingin mencoba kungfu saudara Zhang juga..." katanya sambil memberi hormat dalam-dalam kepadanya. Jieji juga melakukan hal yang sama. Tidak berapa lama, di tempat itu segera hadir seorang pengemis. Sambil memberi hormat ke arah Jielung, dia berkata. "Yuan Pangcu (Ketua Yuan)... Kita akan berangkat malam ini juga?" "Betul.. Secepatnya paling bagus..." kata Jielung, setelah itu dia memandang ke arah Jieji. "Saudara Zhang... Ingat janjimu kepadaku....." katanya sambil tersenyum. Jieji membalasnya dengan tersenyum manis sambil mengangguk. Dia sedang berpikir seiring perginya ketua Yuan. Di dunia ini banyak hal yang aneh adanya, tetapi dia belum pernah tahu adanya Ketua dari perkumpulan pengemis. Lalu apa pula sebenarnya yang menjadi tujuan perkumpulan pengemis itu? Keesokan harinya... Jieji kembali bersiap untuk meninggalkan Kaifeng. Dari sini dia berniat menuju ke kota Puyang. Kota besar yang paling dekat dengan kaifeng. Dia memacu kudanya ke arah utara dari Chenliu. Kota Puyang sebenarnya telah lumayan dekat dengan kota Chenliu. Paling hanya dalam 4 jam dia bisa sampai kesana. Tetapi kali ini Jieji kembali meningkatkan kewaspadaannya, dia tidak ingin dirinya diketahui oleh orang lain dari dunia persilatan lagi. Perjumpaan dengan Yuan Jielung semalam adalah hal yang sangat khusus baginya. Dia juga tahu, Jielung memiliki kepandaian yang tinggi. Tidak pernah disangkanya, selama 3 tahun dia mengasingkan diri dari dunia persilatan China daratan, disana telah muncul lumayan banyak jago silat. Perjalanan yang seharusnya 4 jam, tidak ditempuh Jieji dengan cepat. Melainkan dia sengaja berlambat-lambat. Dia berniat memakai waktu

sekitar 8 jam untuk sampai, karena jika dia terlihat memacu kudanya cepat maka akan lebih mencurigakan bagi orang yang melihatnya. Sambil menikmati pemandangan sawah dan tanah lapang yang luas, sesekali Jieji berpuisi sambil membuka kipasnya di atas kuda. Puisi yang dibacakannya adalah puisi Hui Zhong dan Tang Tufu. Beberapa petani disana yang melihatnya tentu heran, tetapi tanpa mempedulikan semuanya dia terus bersajak meski dalam hati dia merasa sangatlah konyol. Ketika dia melewati sebuah lembah... Dia mendengar dengan samar suara pertarungan. Suara pedang berlaga sangat jelas adanya. Dengan segera, Jieji berniat melihat apa yang sedang terjadi. Sambil memacu kudanya lumayan cepat ke arah utara, dia telah sampai ke daerah pertarungan. Tanpa turun dari kuda, Jieji melihat pertarungan tersebut dari depan bukit. Di arahkanlah pandangannya ke tanah lapang pas di bawahnya. Dia mengenal 2 orang yang sedang bertarung di tengah tanah lapang. 2 Orang tersebut tak lain adalah pemuda pemudi yang dia temui di penginapan semalam. Sedangkan lawannya terdiri dari 30 orang lebih yang berpakaian putih semua, tetapi di wajahnya mereka memakai topeng yang lumayan aneh. "Kalian tidak akan sempat pulang ke Luoyang... Partai Giok utara telah musnah..." Kedua orang yang mendengarnya segera gusar. Mereka melancarkan serangan yang lebih berbahaya ke arah lawan mereka yang sedang mengepung mereka. Sementara itu, Jieji hanya memandang dengan serius ke arah 30 orang lebih yang memakai pakaian aneh tersebut. Jurus pedang dari partai Giok utara tidak dapat dipandang remeh. Jurus pedangnya cukup mematikan. Sedangkan kedua orang tersebut terlihat lumayan lihai mengeluarkan jurus partai mereka. Hanya berselang beberapa lama, terlihat 5 orang telah roboh dengan luka bacokan. Tetapi seperti tidak mau memberikan kesempatan, mereka malah makin gencar menyerang. Kali ini penyerang yang terdiri dari 20 orang lebih membuas. Jurus mereka kelihatan langsung meningkat. Jieji yang di atas melihat dengan pasti, jurus pedang yang baru di keluarkan pasukan aneh itu adalah jurus pertama pedang ayunan dewa. Mereka semua melakukannya secara serentak. Jieji merasa kedua orang itu pasti segera dalam bahaya besar. Kedua orang dari partai Giok utara sebenarnya bukan lagi pesilat kelas menengah, tetapi karena banyaknya keroyokan dari pihak lawan. Sepertinya mereka mulai terdesak.

Dalam sebuah kesempatan, wanita cantik yang berwajah putih itu terlihat kewalahan, dia tertendang lawannya dan jatuh. Sementara orang yang lain segera menotok nadinya. Sesaat si wanita tidak mampu lagi bergerak. Sementara itu, pria yang bertarung terlihat gusar. "Lepaskan adik seperguruanku...." teriaknya sambil melancarkan jurus baru. Jurus barunya tersebut sangat hebat. Jieji bahkan terkagum melihat jurus pedang ini, sepertinya jurus pedang pemuda adalah jurus pedang yang tertinggi dari partai mereka. Semua jurus mengancam penyerangnya dengan sangat cepat, ketika bacokan pemuda hampir sampai di kepala penyerangnya. Seseorang terdengar berteriak... "Hentikan!!! Jika tidak, kubunuh adik seperguruanmu...." kata orang yang segera menawannya dengan pedang di leher. Pemuda segera terkejut, jurus yang sempat dikeluarkannya langsung disimpannya balik. Tetapi tidak ayal, dengan cepat dia mendapat sebuah tendangan dari arah belakang dan jatuh tersungkur ke depan sambil muntah darah. "Tendangan mayapada? Kalian dedengkotnya Xia Jieji?" tanya pemuda yang jatuh dengan luka lumayan parah. "Betul.... Ha Ha... Sekarang aku ingin kalian memilih... Siapa yang harus mati di antara kalian berdua?" tanya orang dengan topeng aneh yang di tengah. Pemuda itu segera menghela nafas panjang. "Tentu saja aku.... Lepaskan adik seperguruanku...." katanya. Tetapi adik seperguruannya segera berteriak. "Mau bunuh, bunuh saja... Hidup bukan bisa dijadikan alat jual beli bagi orang hina...." Jieji sangat kagum mendengar suara wanita kecil itu yang membahana seakan tidak takut akan kematian. Di dalam hatinya dia sangat kagum. "Majikan kita Xia Jieji tidak ingin pasangan pemuda pemudi yang hidup bahagia, karena melihat keakraban kalian berdua. Kita beri kalian kesempatan, segera kalian tentukan siapa yang harus mati." kata seorang yang lainnya. "Keparat!!" Damprat si lelaki muda. Dia ingin berdiri untuk bertarung kembali, tetapi luka dalamnya malah membuatnya jatuh tersungkur. Dengan segera, seorang bertopeng menotok jalan darahnya.

"Baik... Baiklah... Kalau begitu, kubunuh saja yang perempuan.. Jika kamu berkemampuan carilah Xia Jieji, majikan kita di Dongyang. Disana kamu bisa membalas dendam kematian adik seperguruanmu..." kata Seorang bertopeng yang sedang menawan nona cantik tersebut. Orang bertopeng telah siap dengan pedang di tangannya yang sedang mengarah ke lehernya. Dengan gerakan cepat, si topeng berniat memutuskan urat leher si gadis dengan jurus pedang ayunan Dewa. Tetapi.... Sebelum pedang sempat menggores, si topeng segera merasakan hal yang sangat aneh adanya, yaitu tangannya yang memegang pedang seperti sangat ringan. Sebelum dia merasa kesakitan, dia sempat melihat sebelah tangannya yang memegang pedang itu telah buntung melayang sekepalanya. Dalam sesaat, dari lengan yang buntung segera memuncratkan darah yang sungguh banyak ke wajah si nona. Si nona karuan sangat terkejut, hampir saja dia pingsan melihat keanehan di depannya. "Siapa???" Semua orang segera berpaling untuk mencari siapa yang melukai temannya. Mata mereka semua menyapu ke segala arah tempat tersebut. Lalu Mereka melihat dengan sekilas ke tempat tinggi yang jauhnya telah 200 kaki itu. Seakan tidak percaya melihat hal barusan, mereka sangat terkejut. Sebab tidak ada seorang pun disana yang merasakan adanya hawa penyerangan datang. Tahu-tahu tangan temannya telah buntung. Sesaat mereka merasakan kengerian yang sangat. Jieji-lah orang yang membuntungkan tangan orang yang menawan nona cantik tersebut dengan jurus baru dari Ilmu Jari dewi pemusnah. Seakan bukan sedang berada dalam keadaan pertarungan, dia memacu kudanya lambat untuk menuju ke arah pasukan bertopeng aneh. "Kau!!!...." teriak mereka. "Betul... Akulah pelakunya..." kata Jieji pendek. "Siapa kau sebenarnya??" tanya seorang di antara mereka. "Akulah orang yang akan datang membunuh Xia Jieji. Katakan dimana dia sesungguhnya?" tanya Jieji. "Dia ada di Dongyang.... Kau carilah disana..." terdengar teriakan keras dari mereka.

"Sekarang aku tiada kerjaan, lagian dendam kesumatku telah lumayan tinggi pada Xia Jieji. Maka sekarang kalianlah orang yang akan kubantai..." kata Jieji seraya menakut-nakuti mereka semua. Apa yang dikatakan Jieji sepertinya membuahkan hasil, semuanya terlihat cicing juga. "Jangan takut... Dia hanya sendiri.. Kita keroyok dia.. Ayok cepat!!!" terdengar seseorang yang berteriak karena merasa tidak bisa bertindak apapun lagi selain bertempur mati-matian. Dengan tanpa berancang lebih lanjut, penyerang segera mengepungnya. Sementara itu, Jieji hanya duduk diam di kudanya tanpa bergerak. Semua penyerang ingin mengambil kesempatan jeleknya posisi Jieji. Dengan serentak dan tanpa aba-aba mereka langsung menyerang dengan pedang dan menikam ke arahnya. Suara pedang mengoyak angin terdengar sangatlah jelas. Inilah ilmu pedang ayunan dewa yang termahsyur itu. Tetapi sebelum pedang mereka sanggup melukai Jieji, sekitar 30 orang sepertinya telah jatuh melayang dengan cepat ke tanah. Beberapa bahkan terpelanting seperti sedang di banting oleh sebuah tenaga yang sungguh aneh. Setelah bangun dengan cepat, beberapa orang di antara mereka mendapati jejak kaki pas di dada, karena baju mereka putih. Semuanya segera heran, dengan luka dalam yang tidak ringan mereka bermaksud menyerangnya kembali. Tetapi kali ini mereka mendapati hal yang sama... Belum sempat mereka melihat tendangan bekerja, mereka telah terpental semuanya. Pemuda dan pemudi yang disana tentu lebihlah heran. Gerakan Jieji bisa dilihat samar oleh mereka berdua. Gerakan tendangan yang sangat cepat luar biasa sedang menendang 1 lingkaran penuh di atas kuda. Tidak berapa lama, dilihatnya kesemua penyerang jatuh kembali ke tanah. "Kalian pergilah, katakan pada Xia Jieji kalau aku Zhang Feirung mencarinya...." kata Jieji dengan datar dan tawar. Semua penyerang tahu mereka tidaklah mampu bertarung lagi, sebab sebelum serangan mereka betul kena malah mereka semua telah roboh. Dengan tiada berkata lebih banyak, semuanya segera meninggalkan tempat tersebut dengan berlari kencang. Jurus tendangan yang dikeluarkan Jieji tentu adalah tendangan mayapadanya yang baru dengan menggabungkan kecepatan tendangan mayapada dan kesempurnaan tendangan matahari. Sungguh sebuah tendangan luar biasa yang tidak bisa dipandang remeh pesilat kelas tinggi sekalipun.

Dengan segera, Jieji turun dari kuda dan membuka totokan nadi si pemuda. Sambil mengalirkan energi, dia mengobati pria tersebut. Energi dewa penyembuh tenaga dalam segera masuk dengan cepat dan mengobati si pemuda. Pemuda kali ini lebih heran, dia tidak menyangka orang di depannya adalah orang yang sangat luar biasa. Tenaga dalamnya mungkin sudah 20 kali lipat atau 30 kali lipat di atasnya. Hanya berselang sesaat, wajahnya kembali memerah. Ini tandanya si pemuda telah baikan dan telah pulih dari luka dalamnya.Dengan segera dia memberi hormat kepada Jieji. "Terima kasih atas pertolongan anda, Tuan Zhang...." "Tidak perlu... Cepatlah kamu membuka totokan nadi adik seperguruanmu...." kata Jieji dengan tersenyum. Si nona cantik segera tersenyum manis kepadanya, dia tahu Jieji adalah pemuda sopan. Jieji tidak segera membuka totokan nadinya adalah karena gadis itu adalah seorang yang tidak dikenal. Jika Jieji sengaja membuka totokannya terlebih dahulu, maka bagi seorang wanita yang tidak dikenal tentu akan sangat rugi adanya. Sebab bersentuhan bagi orang yang tidak dikenal tentu merugikan para wanita. Dengan segera, pemuda itu menghampiri adik seperguruannya dan membuka totokan nadinya. "Terima kasih pendekar Zhang..." katanya dengan lembut dan sopan. Jieji hanya merangkapkan kedua tangan sambil memberi hormat pelan kepadanya. Setelah itu, pemuda tampan segera memberi hormat kepada Jieji sambil berkata. "Namaku adalah Chang Guizhuang. Aku adalah murid ke 4 dari partai Giok utara di Luoyang... Ini adalah adik seperguruanku, Yu Xincai." Jieji juga membalasnya dengan sopan. Dia tidak pernah tahu adanya partai Giok utara dari Luoyang, tetapi mengetahui keduanya yang teramat sopan maka Jieji cukup senang juga. Setidaknya partai Giok utara lumayan hebat dalam mendidik murid partai mereka. Karena Yu Xincai terkena percikan darah yang lumayan banyak di wajah, dia segera meminta pamit pada kakak seperguruannya dan Jieji untuk pergi membersihkan mukanya. Selang beberapa saat, Jieji segera menanyai Guizhuang. "Bagaimana perjalanan saudara-saudari sekalian, kalian ingin menuju kemana?" tanya Jieji. "Kami berniat ke Puyang, untuk dilanjutkan langsung ke kota Ye..." kata Guizhuang dengan sopan.

"Ooo?? Memang ada sesuatu yang terjadi di kota itu?" tanya Jieji yang agak heran. "Betul... Anda pasti bukan berasal dari daratan tengah adanya.. Gosip menggemparkan tentu tidaklah di ketahui pendekar Zhang..." "Betul... Saya berasal dari Wilayah Edo di Dongyang...." kata Jieji sambil memberi hormat. "Dongyang? Jadi anda pernah bertemu dengan Xia Jieji atau pewaris satusatunya dari keluarga Oda?" tanya Chang. "Keluarga Oda sama sekali tidak pernah kudengar disana. Apalagi anda mengatakan kalau Xia Jieji berada disana, tentu sangat mustahil karena beberapa kali saya sempat meneliti di daerah gunung Fuji...." kata Jieji yang berbohong. "Dan apa hal yang sedang terjadi sebenarnya di kota Ye?" tanya Jieji seraya mengalihkan pembicaraannya. "Pasukan Liao kabarnya akan beraliansi dengan Sung. Mereka berniat memposisikan 5 laksa pasukan di perbatasan kota Ye." kata Chang. "Liao? Aneh sekali... Lalu bagaimana dengan Han utara?" tanya Jieji yang sangat heran adanya. Setahunya, 3 tahun lalu Han utara beraliansi dengan Liao. Letak negara Han utara adalah pas di tengah antara Liao di utara dan Sung di selatan. Lalu bagaimana Liao bisa dengan mudah melewati Han utara? Ini menjadi pertanyaan yang sangat aneh baginya. "Ini hanya kabar saja yang belum bisa dipastikan. Kabar tersebut mengatakan kalau Liu Jiyuan telah ditawan oleh Yelu Xian dari Liao. Sebenarnya semenjak 1 1/2 tahun lalu, Negara han utara seharusnya telah musnah adanya." kata Chang. Bagai geledek di siang hari Jieji mendengarnya. Dia tahu dengan jelas, pada pertempuran 3 tahun lalu Yelu Xian telah tewas dibunuhnya. Lalu kenapa Yelu Xian, raja Liao itu kedapatan masih hidup dan sedang mengancam Sung adanya. Tentu hal tersebut menjadi seribu pertanyaan bagi Jieji.

BAB LXIX : Kasus Di Kota Puyang
"Benarkah? Aneh sekali.... Sungguh aneh...." kata Jieji sambil mengerutkan dahinya sambil menggelengkan kepalanya. "Apa yang pendekar Zhang rasakan aneh adanya?" tanya Chang. "Mengenai Yelu Xian... Tiga tahun yang lalu saya pernah mendengar bahwa dia telah tewas pada pertempuran kacau di bawah kota Ye." kata Jieji.

"Apa benar adanya? Kalau mengenai hal tersebut, saya tidak pernah mengetahuinya sama sekali. Tetapi yang bisa dipastikan, Yelu Xian masih hidup adanya. Perkumpulan KaiBang adalah perkumpulan pertama yang menginginkan kepalanya..." kata Chang. "KaiBang (Partai pengemis)? Apa itu??" kata Jieji yang heran, tetapi dia bisa berpikir dengan jernih. Mungkin orang yang semalam ditemuinya adalah ketua perkumpulan pengemis. Jieji tidak tahu kalau pengemis-pengemis tersebut telah mendirikan perguruan silat. Pantas mereka setidaknya memiliki Neikung yang lumayan tinggi. "Benar... KaiBang adalah sebuah partai yang didirikan oleh Yuan Jielung lebih setahun yang lalu. Tujuan utama KaiBang adalah mengusir bangsa utara, yaitu Liao. Dalam 1 tahun, Yuan Jielung melakukan hal yang sangat menggemparkan dunia persilatan. Sering terlihat dia membela kebenaran, menindas pengacau dan membela yang lemah. Selain itu, kabarnya kungfu Yuan Jielung sangatlah tinggi, belum ada yang bisa memastikan sehebat apa dirinya sesungguhnya." kata Chang menjelaskan. "Lalu bagaimana muridnya bisa bertambah begitu banyak dengan kurun waktu yang hanya sekitar satu tahun.." kata Jieji yang agak heran. "Kabarnya dulu Yuan Jielung adalah seorang yang sangat kaya raya, dia meletakkan semua kekayaannya dan mendirikan perkumpulan pengemis. Semua hartanya dia sumbangkan pada pengemis, sehingga banyak pengemis yang berdatangan kepadanya untuk menjadi anak buahnya. Dengan cepat, namanya telah menghebohkan dunia persilatan. Beberapa tetua yang mengikutinya sesungguhnya adalah pesilat kelas tinggi sebelumnya. Hanya hal ini yang kuketahui pendekar Zhang..." tutur Chang menjelaskan kepadanya. Jieji hanya diam sambil berpikir keras. Tidak disangkanya pertemuan dia dengan para pengemis kemarin telah terjawab adanya. Jika cita-cita mereka adalah mengusir Liao, maka tentu cita-cita ini sangatlah mulia adanya. Sepertinya, Yu Xincai telah siap membersihkan wajahnya yang berlepotan darah tadinya. Dengan segera mereka mengajak Jieji untuk meninggalkan tempat itu. "Pendekar Zhang, anda juga menuju Puyang? Bagaimana jika kita mengambil perjalanan sama-sama?" tanya Chang. Jieji tentu mengangguk kepadanya. Dengan adanya 2 orang tersebut yang bersamanya, dia tidak perlu merasa berhati-hati terlalu banyak lagi. Setidaknya, bagi orang biasa yang belum pernah melihatnya pasti tidak akan mengenali dirinya. Perjalanan kembali dilanjutkan...

Selang 3 jam kemudian, mereka telah sampai di kota Puyang. Sebuah kota yang luar biasa ramainya. Populasi kota tersebut tidak kalah dengan kota Ye. Mungkin sekitar 300 ribu lebih penduduk yang menduduki kota besar ini. Ketika mereka berkuda dengan pelan masuk ke kota. Mereka segera melihat keramaian yang sangat. Banyak khalayak sedang berkumpul dan sesekali berteriak sangat keras. Jieji sebenarnya sangat suka akan hal tersebut, Baginya ini adalah salah satu "pengasahan otaknya" karena ini adalah bau kasus. Bau yang tidak pernah lagi diciumnya sejak tiga tahun yang lalu. Dia segera menghampiri khalayak ramai tersebut. Terdengar seorang pria yang berumur sekitar 40 tahunan berteriak dengan sangat marah. "Kalian... Ibu dan anak... Ikut aku ke pengadilan.. Kalian telah mencuri uangku..." "Tidak tuan.. Apa yang kukatakan sangat jelas adanya. Uang itu ditemukan anakku di jalan saat pagi. Uang itu hanya dipakai anakku untuk membeli 1 kilo daging adanya." kata seorang ibu yang umurnya juga sekitar 40 tahunan sambil menangis. Sementara itu, anaknya yang hanya berumur sekitar 7 tahun terlihat menangis tersedu-sedu. Jieji segera turun dari kudanya. Dia hampiri seorang nenek tua yang juga berada disana. "Nek, sebenarnya apa hal yang sedang terjadi?" tanya Jieji. Si nenek melihat Jieji, dia terlihat sungguh terkejut adanya. Sepertinya nenek ini mengenali Jieji. Dilihatnya dengan sangat cermat sekali lagi, mungkin juga bukan orang yang dikenalinya. Sebab orang tersebut tidaklah semuda ini, orang ini hanya sekitar 30 tahun. Sesaat dia terlihat bengong. "Nek... Ada hal apa?" tanya Jieji yang lumayan heran melihat tingkah nenek yang diam saja. "Tidak.... Tidak..." kata nenek tersebut sambil menggelengkan kepalanya. "Ibu di tengah mengatakan anaknya menemukan buntalan uang di pagi hari yang masih gelap. Uang itu berada dalam kantung kain yang lumayan besar adanya. Setelah itu, si anak segera membelikan daging 1 kilo dengan 1/2 tail dari kantung tersebut. Begitu pulang, si ibu segera memarahinya. Dia mengatakan darimana si anak mendapati duit yang sangat banyak karena jumlahnya telah ribuan tail. Ibunya berpikir bahwa si anak mencurinya karena keluarganya yang hanya dua orang tersebut sangatlah miskin adanya. Mereka bahkan hanya memakan daging dalam jangka waktu setahun sekali saja.

Setelah beberapa lama, si anak juga mengaku akhirnya dan mengatakan bahwa uang tersebut dia dapat di depan restoran ini. Ibunya segera menyeret anaknya kemari untuk mengembalikan duit itu, mereka berdua duduk selama beberapa jam sampai tuan ini lewat yang kelihatan sedang mencari uangnya. Si ibu langsung memberikan duit tersebut kepadanya. Tetapi bukannya tuan ini berterima kasih, dia malah menuntut ibu tersebut. Katanya duitnya telah kurang 1000 tail perak dari sana. Dia meminta si ibu miskin segera mengembalikannya...." Jelas nenek tua tersebut. Jieji hanya diam saja sambil berpikir. Tanpa perlu waktu yang lama, dia telah mendapatkan jawabannya. Tetapi dia tidak ingin menyelesaikannya karena dia tahu posisinya sekarang. "Sungguh keterlaluan orang tersebut. Tidak tahu terima kasih...." kata Chang yang mendengarkan dengan sambil marah. Jieji yang mendengarnya segera tersenyum. Dia segera mendatangi Chang. Dengan berbisik pelan padanya beberapa lama. Lantas terlihat Chang mengangguk sambil tersenyum ceria adanya. Chang langsung menghampiri kerumunan di tengah. Dilihatnya si ibu telah menangis tersedu sedu sambil memeluk anaknya. Bukannya pemuda itu merasa kasihan, tetapi malah makin mengancam adanya. Lantas dengan pura-pura berjalan sempoyongan ke tengah, Chang segera merebut kantung uang dari tangan pemuda. Pemuda itu segera terkejut, dengan marah dia berniat merebutnya kembali. "Keparat!!! Orang muda sinting!!!" teriaknya sambil gusar. Tetapi bukannya Chang diam, dia malah bertambah marah adanya. "Kau Keparat!!!! Bagaimana kau berani mencuri duitku?" "Mencuri??? Jelas sekali kau terlihat merebut kantung itu dari tanganku... Kau mengatakan aku mencuri???" teriak pemuda itu kembali. "Kau bilang bahwa kantung itu milikmu... Kau ada bukti? Coba kutanya kau adanya, berapa jumlah uang di dalamnya? Kamu harus jawab dengan jujur...." tanya Chang. Pemuda itu tanpa ragu-ragu menjawab. "3099 1/2 tail.. Karena 1/2 tail telah dipakai anak ini..." katanya sambil menunjuk si anak yang sedang menangis. Dengan segera, Chang mengeluarkan semua isi duit itu. Duit segera jatuh di lantai dan pas di tengah kerumunan orang. Dengan berjongkok, dia segera menghitungnya. Ternyata jumlahnya adalah kurang 1000 tail adanya. Semua khalayak juga ikut menghitungnya.

"Nah..." kata Chang. "Kau mengatakan kalau duitmu jumlahnya 3099 1/2 tail. Tetapi disini hanya 2099 1/2 tail, jadi ini bukan karungmu, karung uangmu jatuh di tempat lain. Kau pergilah cari di tempat lain.... Uang ini adalah pemberian Yang kuasa di langit untuk seorang ibu dan anaknya yang sangat miskin... Bukankah begitu semua??" kata Chang sambil memberikan buntalan uang kepada Ibu dan anaknya. Perkataan Chang langsung disambut meriah oleh semua orang yang disana. Semuanya bertepuk tangan sambil tertawa puas. Sementara itu, Jieji yang melihatnya tersenyum puas. "Kau!!!!" Tunjuk pemuda itu sambil geram. "Kalau begitu, kita pergi ke pengadilan... Bagaimana?" tanya Chang dengan senyuman penuh arti. Pemuda itu telah tahu kalau dia dijebak dengan sangat mudah. Semua kata-katanya telah dikatakan dengan sangat jelas dan terdengar dengan jelas pula oleh semua orang disana. Jikapun sampai di pengadilan, maka hakim juga tidak akan mengatakan uang itu adalah miliknya. Sebab jumlah yang dikatakannya sangatlah melenceng adanya. Dia hanya mendongkol dan marah besar sambil meninggalkan tempat tersebut. Semua khalayak tentu bertepuk tangan sangat meriah dan sangat mengagumi Chang. Sedangkan ibu dan anak berniat mengembalikan duit kepadanya. Oleh Chang, dia tolak dengan mengatakan sambil tersenyum. "Uang ini adalah pemberian Thien/Langit kepada anda berdua..." Kedua orang segera memberi hormat dan berterima kasih dengan sangat dalam kepadanya. Chang segera membimbing mereka berdua berdiri. Sementara itu Chang segera menuju ke arah Jieji. Dia memberi hormat dengan sangat dalam. "Tidak disangka pendekar adalah orang yang sangat pintar adanya...." katanya sambil memuji Jieji tinggi. Jieji membalas hormat itu, dan tersenyum sangat manis. Sementara itu nenek yang menyapanya tadi, segera menuju ke arahnya. "Tuan... Anda mirip sekali dengan seseorang..." katanya dengan suara agak parau. Jieji segera berpaling. Dia memandang si nenek dalam-dalam, dari sinar matanya Jieji mendapatkan sesuatu. Sesuatu kerinduan yang dalam... Dengan tanpa bertanya kepada si nenek. Jieji menariknya ke arah lain menjauhi Chang dan adik seperguruannya.

"Nek... Nanti setelah aku tidak dalam tugasku, aku akan mencarimu kembali...." kata Jieji yang setengah yakin akan perkiraannya. Si nenek memandangnya sambil mengangguk pelan. Jieji berpikir mungkin dia adalah Lan Ie(bibi Lan). Orang yang bersama Kyosei yang melindunginya saat pertarungan di lembah ShouChun sekitar 30 tahun lebih lalu. Tetapi Jieji sangat yakin akan tugasnya. Dia tidak berani berterus terang terlebih dahulu kepada nenek tua tersebut. "Aku masih tinggal di Dongyang, tempat tinggal anda 30 tahun lebih lalu..." kata Jieji kemudian. Si nenek seakan tersambar geledek... Tidak disangkanya orang yang di rindukannya selama puluhan tahun benar adanya ada disini. "Jadi???" tanyanya. Jieji hanya mengangguk pelan. Dia meminta kepada nenek tersebut untuk menuju ke Dongyang saja karena Kyosei juga ada disana sekarang. Nenek tentu girang bukan kepalang. "Aku adalah Dekisaiko Oda.. Orang yang anda lindungi mati-matian...." kata Jieji menjelaskan dengan terharu. "Tidak disangka tuan muda kecil telah dewasa.... Kamu sangat mirip dengan tuan besar..." kata si nenek dengan suara yang parau. "Betul nek... Sekarang saya minta anda tidak menceritakan akan pertemuan kita kepada siapapun terlebih dahulu. Segeralah kembali ke wisma Oda, dan carilah Kyosei disana... Saya masih ada tugas yang maha penting disini..." kata Jieji kemudian. Si nenek tersenyum sangat girang sambil menganggukkan kepalanya. Lalu setelah berpisah, Jieji segera menuju ke arah Chang. "Bagaimana saudara Chang? Anda ingin menginap terlebih dahulu disini?" tanya Jieji. "Betul... Tetapi ada sesuatu hal yang penting yang akan kukerjakan disini..." kata Chang sambil melirik ke arah adik seperguruannya. Xincai segera tersenyum sambil mengangguk pelan. Chang segera mengajak Jieji mencari tempat yang agak aman dan tidak banyaknya orang disana. Sambil memberi hormat, dia berkata. "Pendekar Zhang, sebenarnya ada sesuatu hal yang masih kurahasiakan..." katanya. Jieji hanya mengangguk pelan.

"Sebenarnya guruku meminta kita berdua untuk menyusul ke Puyang karena adanya rapat dari Kaibang disini. Guru meminta kita berdua untuk menghadirinya, dan menggabungkan diri dengan pasukan Kaibang untuk melawan Liao...." kata Chang. Chang yakin Jieji bukanlah orang jahat, maka daripada itu dia menceritakannya kepadanya. Jieji mengangguk pelan kembali dan berkata. "Saudara Chang ingin aku juga ikut di dalam pasukan Kaibang disana?" "Betul... Dengan adanya pendekar Zhang, pasti tidak akan susah untuk memberikan beberapa petunjuk..." kata Chang seraya tersenyum manis. Chang tahu Jieji bukanlah orang sembarangan, selain kungfu tinggi. Jieji juga sangatlah pintar adanya. "Baik... Untuk malam ini, aku akan ikut anda hadir disana... Bagaimana?" kata Jieji kemudian. Chang dan adik seperguruannya segera tersenyum manis sambil mengangguk. Tengah malamnya... Terdengar beberapa kali tentengan suara besi yang di adukan ke tiang. Ini adalah tanda ronda jaga malam yang ketat di kota besar Puyang. Tampak sekilas tiga bayangan sedang beranjak cepat dengan ilmu ringan tubuh yang tinggi menuju ke arah sebuah kuil tua yang telah rusak di pinggiran kota Puyang. Tiga orang tersebut adalah Jieji, Chang dan Xincai. Dengan ilmu ringan tubuh, mereka melesat ke kuil tua. Tetapi sebelum sampai di gerbang depan kuil tersebut, mereka segera dihadang beberapa orang. Jieji sempat melihat sekilas ke arah mereka meski sangat gelap. Dia melihat dengan pasti, mereka adalah pengemis yang terdiri dari 5 orang. "Aku Chang Guizhuang dari partai giok putih ingin masuk ke dalam..." kata Chang dengan suara pelan. "Sandinya?" tanya pengemis di tengah. "Kepala beralaskan air sungai...." kata Chang pendek. Dengan segera, kelimanya mengajak mereka untuk masuk ke dalam. Chang berjalan mengikuti kelima pengemis itu. Dan diikuti oleh adik seperguruannya. Jieji berjalan paling belakang di antara mereka semua. Sesampainya mereka disana, Jieji melihat ruangan telah lumayan terang benderang. Di antara mereka, terlihat 2 tetua yang pernah ditemuinya di

hutan dekat kota Chenliu. Tetapi, sepertinya kedua orang tersebut tidak mengenalinya. Di dalam ruangan, terdapat banyak pengemis. Mungkin jumlahnya sekitar 20 orang lebih. Sepertinya mereka sedang menantikan dengan siaga. Ketika mereka masuk, pengemis tersebut segera berdiri dan memberi hormat dengan sangat sopan. Jieji terkejut juga, tidak disangkanya para pengemis tersebut sudah sangat sopan. Tidak seperti pengemis-pengemis biasa adanya yang terlihat sangat menyeramkan tingkah lakunya. "Selamat datang... Maaf merepotkan anda yang datang jauh-jauh kemari..." kata Orang di tengah yang adalah tetua Wu. Chang membalas sambil memberi hormat dalam kepadanya. Mereka di persilahkan untuk duduk di lantai yang sudah dilapisi jerami yang lumayan tebal. Jieji hanya mengikuti mereka dari belakang. Para pengemis tidak tahu siapa Jieji, mereka berpikir mungkin dia juga adalah salah seorang murid dari partai Giok utara. Oleh karena itu, mereka tidak menanyainya sama sekali. Meski pengemis terlihat sangat sederhana, tetapi mereka juga minum arak yang lumayan terkenal. Jieji yang mengawasi ke arah mereka tentu menggelengkan kepalanya. Tetapi sebelum dia bosan, dia telah ditawari arak oleh orang yang disampingnya. "Tuan... Cobalah arak kita.. Inilah arak pengemis... Enaknya luar biasa..." katanya sambil terkekeh-kekeh. Karena tiada kerjaan, Jieji segera menerimanya. Dia meminum sedikit untuk mencoba rasanya. Jieji lumayan terkejut, tidak disangkanya arak pengemis malah begitu lezat adanya. Sebelum dia meminum tegukan ketiga, kelihatan ada seseorang yang sedang terburu-buru masuk ke dalam. "Ketua telah datang... Ketua telah datang.... " Katanya dengan suara yang tidak keras. Segera, dengan berdiri para pengemis itu telah berbaris sangat rapi. Sementara itu, Jieji segera mengikuti barisan tersebut sambil berdiri menunggu ketua partai pengemis. Tidak berapa lama, Jieji telah merasakan hawa kehadiran seseorang yang mendekati depan pintu kuil tua ini. Hawa yang cukup dikenalinya, sebuah hawa petarung tingkat tinggi. Setiap langkahnya bahkan bisa dirasakan Jieji yang cermat. Langkah yang hebat, seperti langkah yang dirasakannya 2 hari lalu di penginapan Chenliu. Tanpa berapa lama, seorang pemuda segera masuk dari pintu luar. Pemuda itu tidak lain tentunya adalah Yuan Jielung adanya. Sifat gagahnya memang terlihat sangat mempesona, di tangannya terpegang sebuah tongkat tipis yang lumayan panjang.

"Ketua....." kata mereka secara serentak.

BAB LXX : Pertarungan Hebat di Perbatasan Sung-Han Utara
"Yah... Silakan..." Kata Yuan pendek kepada mereka. Jieji hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin dirinya ketahuan dahulu oleh pimpinan Kaibang. Tetapi seiring masuknya Yuan, di belakangnya juga ikut 2 orang. Sepasang pemuda-pemudi. Dan hebatnya, kedua orang tersebut sangat dikenal oleh Jieji. Jieji tidak ingin menyapa mereka terlebih dahulu, sebab dia harus mendengar apa yang sedang terjadi dengan adanya rapat Kaibang yang kelihatan cukup serius. Kedua pemuda-pemudi terlihat cukup serius, mereka juga diam saja dan tidak bergerak. Jieji berpakaian sastrawan yang tidak begitu mencolok. Keduanya memang sempat melirik ke arahnya, tetapi pandangan keduanya hanya lewat dan tidak berhenti padanya. Cukup untung karena di dalam ruangan telah terdapat sekitar 30 orang pengemis bersamanya. Tetua Wu disana segera berjalan ke arah Yuan, dia memberi hormat dengan sangat sopan. Yuan juga melakukan hal yang sama, dia membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat ke orang tua tersebut. "Ketua... Informasi mengatakan tidak lama lagi Liao akan memasuki batas tapal utara Sung. Selain itu, kabarnya Zhao kuangyi adik kaisar Sung Taizu akan menyambut mereka semua." "Betul... Hal ini juga telah kudengar... Mengenai masalah yang cukup serius seperti ini, kita tidak dapat berpangku tangan adanya... Tetua Wu, bagaimana penyelidikan kamu di timur?" tanya Yuan. "Belum ada juga informasi.. Sekarang kapal yang berlabuh dari Dongyang ke China juga cukup banyak. Untuk mencari orang yang ketua bilang tidaklah mudah. Tetapi beberapa saudara-saudara kita belum menemukan informasi berarti di pelabuhan..." kata Tetua Wu. Barusan tetua Wu menyelesaikan pembicaraannya, disana segera muncul seorang pengemis yang berlutut dengan segera ke arah Yuan. "Ketua.... Mengenai masalah timur janganlah dipandang remeh... Menurutku seorang Xia Jieji lebih berbahaya dari 10,000 pasukan Liao.." Semua orang melihat ke arah pengemis yang sedang berbicara. Pengemis ini juga adalah salah satu tetua yang posisinya cukup tinggi, setidaknya

tetua tersebut setingkat dengan posisi tetua Wu. Yuan yang mendengarnya segera membimbingnya berdiri. "Memang apa yang tetua Liang katakan benar adanya. Tetapi sekarang musuh telah di depan mata, bagaimanapun kita harus mengutamakan hal yang besar terlebih dahulu...." kata Yuan dengan pengertian kepadanya. Tetapi tetua Liang yang mendengarnya segera menangis tersedu-sedu. "Ketua....... Xia Jieji telah membunuh semua keluargaku 3 tahun lalu. Untuk itu aku sangat penasaran adanya... Maaf sekali ketua, hamba akan berusaha mengesampingkan dendam pribadi dan melaksanakan kepentingan negara terlebih dahulu." "Hm... Baik... Kamu kembalilah terlebih dahulu..." kata Yuan dengan menghela nafas. Jieji berpikir sambil menunduk. Dia merasa dirinya disini cukup berbahaya adanya, tetapi orang yang bakal melindungi dirinya mungkin adalah sepasang pemuda-pemudi yang baru datang tadi. Setidaknya hal yang mengherankan dirinya adalah terbukanya sayap yang luar biasa lebar dari nama pembunuh "Xia Jieji". Dia tidak tahu apakah Yuan juga merasa begitu atau tidak. "Jadi maksud ketua kita harus menempati posisi garis depan dan memecah belah pasukan Liao terlebih dahulu?" tanya tetua Wu kembali kepada Yuan. "Tentu.. Hanya inilah caranya... Di dalam pasukan Liao terdapat beberapa jago kungfu yang hebat. Ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Mungkin akan sangat berbahaya....." kata Yuan sambil berpikir. "Tetapi inilah tugas kita sebagai bangsa Sung. Kita tidak bisa melihat rakyat jelata yang dibantai sesuka hatinya oleh Liao...." kata tetua Wu. Dari sinar matanya langsung terlihat kegusaran yang tinggi luar biasa. Dahulu, tetua Wu adalah seorang bos dari biro keamanan Xianya. Xianya terletak di utara kota Nanpi, yaitu kota Xumu. Ketika peperangan setahun yang lalu, pasukan Liao sempat masuk ke perbatasan utara Nanpi. Seluruh keluarganya tewas dibantai oleh pasukan Liao. Oleh karena itu, dia masuk partai pengemis tentu tujuannya adalah membalaskan dendam keluarganya kepada bangsa beringas Liao. "Betul... Yelu Xian kabarnya adalah pemimpin yang hebat, selain jago berperang dia juga adalah seorang jago kungfu tingkat tinggi. Semua saudara disini diharapkan berhati-hati jika bertemu dengannya. Aku tidak ingin lagi saudara kita yang berkorban sia-sia ketika menghadapi pasukan Liao...." kata Yuan dengan nada berwibawa. Semua pengemis segera memberi hormat dengan sangat sopan dan hikmad kepadanya.

"Ketua... Saudara Kaibang kita telah berjumlah 800 orang lebih totalnya dan sudah berkumpul di utara Kota Ye... Jadi kita kapan akan berangkat kesana?" tanya Wu. "Besok pagi kita harus berangkat semuanya. Tidak boleh ada yang lalai. Pencarkanlah orang-orang kita dari seluruh daerah. Buat 10 kelompok kecil untuk menuju ke kota Ye." kata Yuan kemudian. "Baik... " jawab pengemis itu secara serentak. "Saudara Chang dan saudari Yu... Bagaimana menurut anda berdua?" tanya Yuan sambil memandang ke arah mereka berdua. "Baik... Semua hal kita akan menuruti ketua saja...." kata Chang sambil tersenyum. Yuan Jielung membalas senyuman Chang sambil memberi hormat pendek. Setelah itu, Yuan segera mengambil langkah membelakangi, sepertinya dia akan berangkat pergi. Tetapi suara seseorang segera mengatakan sesuatu kepadanya. "Apa menurut kakak seperguruan, Xia Jieji-lah penyebab semua hal tersebut?" tanya seorang wanita yang tadinya datang bersamanya. "Tidak tahu... Itu belum bisa kupastikan... Guru juga sangat menghormati pria ini adanya. Setidaknya dalam pertarungan utara kota Ye yang menjadi fitnahan baginya dan pembunuhan pesilat di panggung batu 1000 cermin 3 tahun lalu tidaklah dilakukannya karena kalian berdua juga berada di sana kan?" kata Yuan dengan bijaksana. "Betul... " jawab mereka berdua. 2 Orang tersebut tak lain tentunya adalah Chonchu dan Wang Sungyu. Mereka ikut Yuan datang kali ini ke utara. Dan tak disangka, ternyata Yuan adalah murid dari Pei Nan Yang alias Zeng Qianhao. Teka-teki dalam hati Jieji telah terjawab adanya. Kehebatan Yuan yang luar biasa tentunya adalah karena didikan Zeng Qianhao. Jieji tersenyum puas melihatnya. "Lalu kita akan menuju kemana kak sekarang?" tanya Chonchu. "Kita akan menginap di penginapan Puyang saja..." kata Yuan pendek seraya meninggalkan kuil tua. Suara pengemis yang serentak mengiringi kepergian Yuan. "Ketua harap jaga diri......"

Begitulah terdengar suara dari mereka semua. Chang, Yu dan Jieji juga segera meninggal tempat itu. Jieji lumayan senang karena Yuan tidak mendapatinya disana. Setidaknya identitas dirinya belumlah bocor, karena disana telah hadir Chonchu bersama dengan Wang Sungyu, kedua orang yang sangat dikenalnya. Keesokan harinya... Jieji, Chang dan Yu Xincai segera berangkat ke arah kota Ye. Jieji yang mendengar Zhao kuangyi berada di kota Ye tentu membatalkan niatnya ke ibukota Kaifeng. Setidaknya di Ye, Jieji pasti akan mencarinya untuk membincangkan masalah kakak pertamanya. Perjalanan mereka sepertinya kali ini lumayan mulus. Tetapi perjalanan istimewa kali ini sangatlah aneh. Ternyata banyak pesilat juga ingin melihat "keramaian" tersebut. Perjalanan mereka yang pendek tersebut bahkan mengalami beberapa pertemuan dengan lumayan banyak pesilat. Setidaknya dalam "pasukan" pesilat. Beberapa orang dari partai terkenal seperti Shaolin, Kunlun, Khongtong, Heng Shan, Hua Shan, Beiming, Hanxue, dan BeiYu(Giok utara) juga ikut. Entah apa saja tujuan mereka, tetapi kali ini pertemuan para pesilat pasti ada hubungan dengan "Jieji" dan "Liao". Hanya selang 5 jam perjalanan, mereka telah sampai di kota Ye. Sebuah kota terakhir yang berbatasan dengan Han utara. Kota ini sepertinya telah seram adanya, banyak penduduk telah mengungsi karena mendengar pasukan Liao akan masuk. Sedang pasukan kerajaan tertampak angker di dalam. Para pesilat yang datang kesana sepertinya tidak mendapat halangan. Karena mereka semua rata-rata menyampaikan maksud untuk balas dendam kepada "Jieji" dan Liao. Jieji dan kedua temannya juga ikut masuk ke dalam tanpa halangan. Tetapi Jieji belum melihat adanya pengemis yang berada disana. Sesaat, dia merasa aneh... Zhao kuangyi mempersilakan mereka masuk dengan sangat sopan. Zhao kuangyi berdiri di atas kota selatan, sementara para pesilat juga berdiri di bawah kota selatan bagian dalam. Di atas, kuangyi menyambut mereka dengan sopan. "Pangeran kuangyi... Kami disini ingin menanyaimu... Apa maksudnya anda beraliansi dengan Liao yang ganas itu.. Hal itu benar mencelakakan banyak rakyat Sung yang tidak berdosa..." teriak seseorang yang tiada lain adalah Ketua perguruan Hua Shan. "Mengenai masalah tersebut, Huangsiung(kakanda kaisar)-lah yang memutuskannya. Saya tidak dapat berbuat banyak..." kata kuangyi di atas tembok kota.

Jieji yang melihat dan mendengarnya tentu lumayan gusar. Selain dirinya yang difitnah kaum persilatan, ternyata kakak angkatnya juga mengalami hal yang sama. Entah apa maksud semuanya, Jieji juga sangat heran adanya mendengar kuangyi mengatakan hal seperti ini. Kuangyi terasa sangat berbeda, dia terasa sangat kejam dan ganas. Tetapi Jieji tahu gelagat, oleh karena itu dia diam saja. "Katakan dimana Sung Taizu??? Kami sangat tidak puas akan hal ini..... Selain itu, kami juga akan mencari Xia Jieji dalam pasukan Liao.. Pangeran tidak akan menghentikan langkah kami kan?" tanya Ketua Huashan kembali. Ketua Huashan bernama Yang Xiu. Julukannya adalah "Yi Jien Bu Bai", yang artinya 1 pedang tanpa tanding. Ilmu kungfu pedangnya kabarnya adalah tanpa tanding adanya. Jurus pedang dari leluhurnya kabarnya sangatlah sakti sehingga dia mendapat julukan 1 pedang tanpa tanding. Oleh karena itu, dia berani berbicara langsung dengan pangeran tanpa basa-basi. Selain itu, tetua Huashan Muo LieTze adalah paman gurunya. Tentu dia sangat marah dan ingin mencabik Xia Jieji. "Seperti perjanjian Sung dengan para pesilat terdahulu. Untuk masalah dunia persilatan, maka saya akan berpangku tangan dan membiarkan para pesilat untuk menindaknya sesuai aturan persilatan." kata kuangyi sambil tersenyum. Tentu kata-katanya mendapat sambutan yang luar biasa meriah dari para pesilat. Mereka berbahagia akan keputusan Zhao kuangyi. "Bantai Setan pembantai!!!!" teriak mereka berulang-ulang. Jieji hanya diam saja tanpa mampu berkata-kata. Sekalipun banyak hal yang ingin dikatakannya, tentu tidak mungkin di saat begitu. Dia hanya menghela nafas beberapa kali. Chang yang dibelakangnya segera menyapanya. "Pendekar Zhang, Apa anda tahu dimana ketua Yuan? Sepertinya mereka sama sekali tidak terlihat. Tiada 1 pengemis pun disini...." kata Chang yang agak heran. "Betul... Ini sangat aneh..." kata Jieji sambil memegang dagunya sambil berpikir. Sesaat kemudian, sepertinya dia terkejut juga. Dia ingin segera meninggalkan tempat tersebut, mungkin dirasanya ada hal yang cukup janggal di dalamnya. "Saudara Chang dan saudari Yu, saya harus pergi menyelidiki terlebih dahulu...." kata Jieji sambil memberi hormat. Keduanya langsung mengiyakan. Dengan cepat, Jieji mencari lubang kosong dari ramainya pesilat untuk meloloskan diri.

Sementara itu, Chang terlihat tersenyum sangat sinis atas kepergian Jieji. Entah apa yang sedang bergelut dalam pikirannya saat itu. Jieji dengan licin menerobos semua orang persilatan, setelah sampai dia di tembok utara kota Ye yang gerbangnya tertutup. Dengan segera, dia meloncat pesat tinggi ke atas. Para penjaga sangat terkejut mendapati seorang pesilat hebat yang sedang menerobos utara kota Ye. Tetapi sebelum mereka menghalanginya dari atas tembok kota, Jieji telah hilang bagaikan setan. Di dalam pikiran Jieji terdapat sesuatu hal yang janggal mengenai partai pengemis tersebut. Mengapa di dalam kota Ye, tidak terdapat barang 1 pengemis pun. Ini adalah hal kecil yang terasa luar biasa aneh baginya. Dengan ringan tubuh, Jieji bermaksud menuju ke arah pasukan Liao untuk meneliti.... 2 jam kemudian... Jieji telah sampai di perbatasan pertama pasukan Sung. Dia meneliti dengan baik-baik di tanah datar yang gersang tersebut. Dia sempat melihat beberapa jejak kaki yang datangnya bergerombolan dari selatan ke arah utara. Hal tersebut membawa Jieji untuk mengikuti jejak kaki yang tertinggal. Selang beberapa Li kemudian, disana segera terdengar suara pertarungan yang hebat. Dengan gerakan cepat, dia menuju ke arah suara pertarungan. Jieji kali ini tidak muncul terlebih dahulu, dia bermaksud meneliti siapa yang sedang bertarung hebat di sana. Dari arah semak yang lumayan tinggi, sambil berjongkok dia mengamati pertarungan. Pertarungan yang telah mirip dengan pertempuran, nampak tetua Wu dan Han sedang melayani banyaknya "pasukan" berpakaian putih dan bertopeng aneh. Ketiga orang yang di tengah sangat dikenal Jieji. Rupanya apa yang dikiranya betul adanya. Para pengemis telah bertarung hebat dengan pesilat aneh yang diceritakan oleh Zhao kuangyin ketika berada di Dongyang. 15 orang sepertinya sedang menghimpit Chonchu dan Wang Sungyu. Sedangkan Yuan Jielung di tengah sedang bertarung hebat melawan 5 pesilat. 5 pesilat tersebut adalah pesilat bertopeng aneh dan berpakaian hitam. Kelima orang ini juga pernah bertarung melawannya. Jieji tidak berniat keluar dahulu. Dia ingin melihat bagaimana berlangsungnya pertarungan. 15 orang yang dikatakan Zhao adalah 15 pengawal sakti. Ke 15 orang sedang membuat formasi untuk mengurung Chonchu dan Sungyu yang berada di tengah. Mereka semua sedang membentuk formasi aneh.

Di antara ke 15 orang memang terlihat angker. Tetapi ternyata 2 orang diantaranya adalah wanita cantik sekali. Sedangkan 10 orang terlihat pemuda berbadan tegap dan sangat angker. 3 orang lainnya adalah wanita tua. Kesemuanya tidak dikenali oleh Jieji. "Serahkan nyawa kalian.... Kalian tidak akan lolos lagi.. " terdengar seorang pria berkata. Sementara itu, Chonchu dan Sungyu hanya diam. Keduanya siap dengan ancang-ancang jurus. Chonchu mengancangkan tapak, sedangkan Sungyu telah siap dengan jurus tendangannya. Dengan segera, mereka berlima belas langsung berpindah posisi satu sama lain. Gerakan mereka pertama-tama terlihat biasa saja. Tetapi.... Lama kelamaan, gerakan mereka sangat cepat. Perubahan posisi seperti itu sangat dikenal oleh Jieji. Inilah 8 diagram untuk mengunci lawan. 8 Diagram Dao. 8 Diagram Dao terdiri dari 8 pintu keluar masuk. yaitu pintu hidup, mati, luka, tewas, hancur, selamat, aman dan terkurung. Ternyata apa yang dikatakan Zhao kuangyin sungguh benar adanya. Tetapi kenapa harus 15 orang saja? Jika tambah seorang yang mengisi ruang 16 posisi dari 8 diagram. Mungkin lawan tidak akan mampu bertindak lagi. Jieji berpikir sesaat akan posisi mereka yang ditengah. Tanpa lama berpikir, dia telah melihat jawabannya. Semua penyerang menggunakan pedang. Jika hanya 8 Diagram, maka ruang lolos masih banyak. Dan formasi seperti ini tidaklah begitu membahayakan. Tetapi jika dikali 2 yaitu jadi 16 ruang. Tentu hanya perlu 1 ruang untuk meninggalkan tempat karena format ini terdiri dari 15 orang yang melakukannya. Tetapi inilah hal yang khas dari formasi tersebut. Formasi ini memancing lawan untuk "masuk" ke arah formasi yang dikiranya aman. Tetapi jika semua orang disini menguasai Ilmu pedang ayunan dewa, maka orang yang di tengah pasti sulit untuk lolos lagi mengingat ilmu pedang ayunan dewa sangat sering berubah arah pedangnya. Jieji kembali cemas terhadap Chonchu dan Sungyu yang di tengah meski mereka cukup berkungfu tinggi. Saat dia sedang berpikir, di arah lain terdengar suara yang sangat hebat. Yuan Jielung sedang bertarung hebat dengan ke 5 pendekar. Suara tapak berlaga dan tapak tertahan sangat jelas. Pertarungan yang sangat luar biasa, bahkan Jieji sangat mengagumi kemampuan ketua kaibang tersebut. Jurus Yuan kadang lemah, kadang kuat, kadang terlihat gabungan kedua jurus yang bersamaan.

Sepertinya jurus Yuan adalah jurus tapak pemusnah raga yang sangat terkenal itu, tetapi disini terlihat agak lain. Ketika penyerang menggunakan jurus tendangan mayapada untuk menghantam ke arah Yuan, dengan tenang dia bertahan dan meminjam tenaga untuk mundur. Tetapi penyerang lain tidak memberinya kesempatan. Jurus tapak yang sangat dikenalnya segera di arahkan dari arah belakang. Dengan berputar penuh, Yuan yang terjepit segera merapal tapaknya cepat dan diadukan langsung ke tapak mayapada penyerang tersebut. Kali ini, jurus Yuan sangat hebat. Dahsyat bagaikan gelombang. Sesaat menyentuh tapak, terdengar dia berteriak tertahan. Suara dan hembusan keras tenaga dalam terasa. Orang yang menahannya segera terpental sangat jauh. Dia sempat terjatuh terjungkal beberapa kaki. Penyerang sepertinya tidak mampu lagi berdiri dengan baik. Di bibirnya mengalir darah segar yang banyak. "Jurus yang hebat pemuda... Apa nama jurus tersebut??" tanya seorang pemuda yang tadinya menggunakan jurus tendangan mayapada. "Inilah 18 tapak Naga mendekam..." kata Yuan dengan dingin. "Ha Ha... Ternyata beberapa tahun ini, telah banyak muncul jago silat.... Sepertinya kita yang tua tidak lagi berguna...." teriak seseorang dengan tertawa keras. Suara seseorang yang sangat dikenal Jieji... Dulunya Jieji pernah mencurigai dirinyalah orang yang dibalik topeng. Tidak disangka kali ini benar adanya... Pemuda tua yang tidak pernah bersuara padanya adalah orang yang sangat-sangatlah dikenalnya. Pemuda tua yang hanya diam pada saat pertarungan antara dia dengan kawan-kawannya sekitar 4 tahun lalu di timur kota Changsha. Perasaan Jieji yang mendengar suara tersebut langsung bercampur aduk sangat hebat sekali.

BAB LXXI : Identitas Lima Pendekar Bertopeng Aneh
Ingin sekali Jieji keluar untuk bersua dengan pria bertopeng yang sedang tertawa keras tadinya, tetapi selalu diurungkan niatnya. Dia tidak ingin memunculkan dirinya karena dia tahu sesuatu yang berbahaya bakal terjadi nantinya padanya. Bukannya dia sendiri takut akan hal yang berbahaya. Tetapi baginya dengan memunculkan diri di hadapan mereka semua, maka masalah akan tambah ruwet nantinya. Sebenarnya apa hal yang ada di benaknya? Mungkin sebentar lagi akan terlihat bagaimana perkiraannya menjadi kenyataan.

Wang Sungyu dan Chonchu yang sedang terkepung di tengah sangat kebingungan, keduanya tidak tahu lagi bagaimana cara menyerang yang paling baik. Mereka hanya berupaya mempertahankan diri mereka. Sedangkan Jielung sedang berusaha sangat keras di antara kepungan 5 pendekar hebat. Para tetua kaibang bersama dengan saudara-saudara mereka juga sedang berusaha keras menghadapi "Pasukan Bertopeng aneh". Keadaan sepertinya sama sekali tidaklah menguntungkan bagi pasukan Kaibang. Dengan aba-aba menyerang, kelima belas pengawal sakti segera beranjak sangat cepat. Sekilas... Nampak sebatang pedang yang cepat sedang menuju ke arah Chonchu. Chonchu yang melihatnya sangat terkejut, dia berusaha untuk mengelak. Tetapi... Seperti perkiraan Jieji adanya, jurus pedang salah satu dari 15 pengawal sakti yang berkelebat adalah Jurus pedang ayunan dewa. Mengikuti gerakan Chonchu, jurus pedang itu dengan cepat mengancamnya. Sambil berputar ke depan, dia berniat untuk menghempaskan tapak ke arah dada penyerangnya. Tetapi baru saja dia merapal tapaknya, dia telah di hentikan kelebat pedang dari samping. Sungguh sebuah kerja sama yang sangat bagus. Sedangkan Wang Sungyu juga mengalami hal yang sama dengan Chonchu di tengah. "Kalian tidak akan mampu bertahan lama... Dengan menghindar maka sudah sama saja dengan mengantarkan nyawa kalian... Ha Ha..." kata seorang di antara 15 pengawal sakti. Bagi yang tidak mengeluarkan jurus, mereka hanya berputar selingkaran mengepung. Tujuan mereka sangat jelas adanya, yaitu untuk mencari "celah" dari hindaran pihak bertahan. Formasi yang sangat kuat adanya... Formasi seperti ini telah diperkirakan Jieji yang melihatnya dari tempat yang jauh. Sementara itu, Yuan Jielung kembali dikepung oleh 5 orang pendekar. Pria tua yang tadinya terhempas jauh akibat pukulannya telah kembali bangkit untuk mengepungnya. Pertarungan Yuan sebenarnya sangatlah seru. Ketua kaibang betul-betul adalah jago zaman ini, kelima pendekar yang dulunya pernah bertarung melawan Jieji sebenarnya telah maju pesat kungfu dan

tenaga dalamnya. Tetapi menghadapi Yuan Jielung sebenarnya lebih sulit jika dibandingkan melawan Jieji saat pertarungan hebat di timur kota Changsha. Jieji hanya diuntungkan karena dia memiliki tapak berantai. Suara pertarungan membahana segera terdengar. Yuan di satu kesempatan sempat menarik kakinya mundur cepat, tetapi para penyerang tidak memberinya kesempatan. Tujuan Yuan tentu adalah untuk memecah format 15 pengawal sakti. Dia ingin menerjang mereka dengan tapak mautnya. Tetapi sepertinya dia juga sendiri tidak pernah mempunyai kesempatan. Jieji yang melihatnya tentu sangat cemas terhadap mereka berdua. Kali ini dia tidak lagi memikirkan akibatnya. Segera dia mengeluarkan sebatang pedang dari buntalan kain yang berada di bahunya, serta seperangkat alat yang mirip bulu manusia. Entah apa maksud Jieji mengeluarkan benda tersebut. Dengan cepat, dia menerjang ke arah Chonchu dan Wang Sungyu... Chonchu tidak punya pilihan ketika dia beranjak menghindari 2 kelebat pedang yang datang bersamaan. Tanpa disadarinya, dia telah terperangkap ke pintu yang paling tidak boleh dimasuki dalam format 8 diagram Dao, yaitu pintu "Mati". Dengan segera dia mendapati banyak kelebat sinar pedang telah mengancamnya dari 8 penjuru. Puteri koguryo ini sangat bingung karena mendapati belasan sabetan telah datang sangat dekat padanya. Sesaat, dia menutup matanya untuk pasrah karena mendapati dirinya bakal "dicincang" hingga tubuh tercerai-berai. Tetapi... Ketika penyerang berpikir bahwa diri mereka berhasil... Saat itu juga, segera muncul sekelebat sinar merah menyala yang sangat terang. Penyerang sempat menutup mata mereka masing-masing karena "silaunya" cahaya yang datang. Suara seperti sesuatu yang pecah terdengar sangat keras dan pada saat yang bersamaan. Penyerang yang memiliki sasaran Chonchu tidaklah berhenti. Tetapi... Pedang mereka semua sepertinya tidak mengenai Chonchu, baik itu bacokan atau tusukan. Semuanya mengenai tempat yang kosong. Chonchu yang terheran segera membuka kedua matanya, begitu pula Sungyu segera berpaling ke arah seseorang yang datang. Kemudian dengan terkejut girang tak terkatakan mereka melihat orang yang menolong mereka tersebut. Sedangkan ke 15 pengawal sakti sangat heran sekali. Di antara 12 orang yang memegang pedang tadinya, semua pedang di tangan telah buntung menjadi dua bagian. Oleh karena itu, semua pedang berkelebat tersebut tidak mengenai Chonchu.

Yuan Jielung dan 5 orang pendekar segera menghentikan pertarungan dan melihat ke arah Jieji yang telah sampai. Yuan Jielung mengenal pria ini, pria yang pernah bertatap muka dengannya di penginapan kota Chenliu. "Saudara Zhang??" tanyanya ke arah Jieji. Jieji hanya memberi hormat sambil merapatkan kedua tangan dan membungkukkan tubuhnya. Hal ini juga diikuti ketua Kaibang. Sementara itu, semua anggota Kaibang dan para pasukan aneh juga melakukan hal yang sama, mereka langsung menghentikan pertarungan dan menuju ke belakang dari 5 pendekar bertopeng aneh. Sementara itu, anggota Kaibang juga beranjak ke arah Yuan Jielung dan berdiri baris rapi di belakangnya. "Siapa kau??" tanya seorang dari salah satu 15 pengawal sakti kepadanya. Jieji sengaja memakai bulu sebagai kumis dan jenggotnya sehingga mereka tentu tidak mengenali Jieji adanya dengan sekali melihat. Tetapi seorang yang bertanya segera sadar saat dia melihat sesuatu pedang "aneh" yang sedang di pegangnya. Pedang yang merah membara, seakan terasa jilatan apinya pada dirinya. Tentu pedang ini tidak lain adalah pedang Ekor api yang sangat terkenal di dunia persilatan. Jieji tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dengan segera dia berbalik ke arah 5 pendekar. "Akulah Hikatsuka Oda...." kata Jieji dengan serius sambil memandang ke arah mereka. Sementara itu, di antara 5 orang tadinya yang mendengar apa yang dikatakan Jieji. Tertampak seorang yang melihat ke seseorang di sampingnya. Jieji yang melihatnya segera menggelengkan kepalanya. Dari wajahnya timbul penyesalan yang sangat dalam. Hatinya berdebar-debar, dan sangatlah sakit hatinya. Tentu ini adalah pancingan untuk "mencari" Hikatsuka Oda, apakah benar dia berada dalam pasukan pakaian hitam itu atau tidak. Kali ini melihat reaksi salah seorang pemakai topeng aneh, dia segera mengerti semuanya. Bukan saja ayahnya Xia Rujian, bahkan ayah kandungnya Hikatsuka Oda dan Ibunya juga berada di pasukan tersebut. "Ha Ha.... Ternyata kau itu tidak berkurang kepintarannya..." kata seseorang di tengah. Seseorang yang tiada lain pemakai tendangan mayapada tadinya. Sementara tadinya seseorang yang melihat ke arahnya segera

menundukkan kepalanya. Dengan segera pula, seorang yang berbicara ini melepas topeng anehnya. Wajah yang tidak pernah di kenalinya.... Wajah yang tidak asing baginya... Segera terpampang bagai mimpi yang tiada berkesudahan. Wajah orang tersebut memang sedikit mirip dengan dirinya. Meski wajah pria tersebut kelihatan lebih tua. "Ayah......" kata Jieji dengan mata yang sayu sambil melihat ke arahnya. "Bagus... Bagus... Ha Ha....." kata Hikatsuka sambil tertawa. "Anakku...." kata seseorang disampingnya seraya melepaskan topengnya. Terlihat seorang wanita tua yang telah berusia 50 tahun lebih. Orang inilah yang "terpancing" oleh siasat sederhana Jieji. Jieji sempat melihat dalamdalam ke arah Ibunya. Ibu yang melahirkannya. Tetapi kenapa sang Ibu dan Ayah malah sangat kejam terhadapnya? Apakah ada sesuatu hal yang sangat beralasan yang tersembunyi di dalamnya. Jieji ingin berpikir, tetapi saat dia mulai... Dia merasa sangat ketakutan dan tidak tenteram adanya. Oleh karena itu, dia tidak bertindak apapun selain hanya melihat ibunya dengan mata yang penuh kasih beberapa lama. Tetapi setelah itu, Jieji memalingkan wajahnya ke arah seseorang di sana. Seseorang yang sempat memuji kungfu Yuan Jielung tadinya. "Ayah...." kata Jieji kembali, tetapi matanya terlihat sangat sayu. "Ha Ha Ha........" terdengar suara tawa pria tua tersebut. Pria tua ini segera melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hikatsuka Oda. Dengan segera, dia melepas topeng aneh yang dikenakan. Memang benar, dialah Xia Rujian. Ayah yang mengasihinya dan menjaganya selama 20 tahun.Entah apa maksud semua hal tersebut. Tetapi satu hal yang dipikirkan Jieji sekarang, dia tidak akan mundur selangkah pun. Jiwa kebenarannya semakin membara di dalam dirinya. Jieji kembali berpaling ke arah seseorang lagi. Seseorang yang tadinya terluka dalam karena mendapat sebuah tapak maut dari Yuan Jielung. "Raja Yelu... Apa kabarnya... Kamu masih sehat adanya...." kata Jieji sambil tersenyum menatap ke arahnya.

Pemuda tua itu tidak menjawab perkataan Jieji, tetapi dia hanya melepas topengnya sendiri. Memang benar, wajah seorang yang pernah dibunuhnya sekitar 4 tahun lalu di pertempuran hebat di bawah kota Ye. "Kamu bisa menebak seseorang lagi?" tanya Xia Rujian tersenyum sambil melihat ke arah seseorang yang topengnya belum dilepas. "Dialah orang yang sangat penting bagi kedua istriku...." kata Jieji sambil memandang ke arahnya. "Ha Ha........ Betul... Betul... Tidak kusangka, aku mempunyai dua puteri yang nan cantik. Keduanya malah dinikahi orang yang menjadi musuhku dalam belasan tahun terakhir. Ha Ha.... Menarik sekali....." Dengan segera, dia juga membuka topengnya. Terpampang wajah Yunying dan Xufen disana, wajah yang mirip. Tetapi kali ini, wajah yang terlihat tersebut telah termakan usia adanya. Rambutnya agak memutih, tetapi kecantikannya betul masih tersisa di wajah yang tiada asing baginya. Yuan Jielung yang tidak mengenal Jieji segera sadar. Pemuda yang bermarga Zhang yang ditemuinya beberapa hari lalu ternyata adalah Xia Jieji, orang yang paling diincarnya. Tetapi disini dia kembali mendapat teka-teki. Kenapa mereka yang tadinya datang dengan nama "Xia Jieji" sekarang malah terlihat bermusuhan dengannya. "Kenapa? Kenapa kau tidak membiarkan puterimu untuk selamat adanya sampai ke Dongyang belasan tahun lalu...." kata Jieji ke arah Wu Shanniang. "Itu adalah sebuah hal yang sampai sekarang tersisa rasa sakit hatiku... Tetapi, kaulah penyebabnya... Semua adalah gara-gara kau..." kata Wu Shanniang sambil marah menatapinya. "Aku? Jadi benar kau pelempar senjata rahasia itu ke arahku?" tanya Jieji yang heran. "Betul... Akulah orangnya... " kata Wu Shanniang pendek. Teringat kembalinya sebuah lemparan jarum perak ke arahnya belasan tahun yang lalu. Wu Shanniang yang bersama Hikatsuka Oda saat itu tentu tahu kalau Xia Jieji telah kebal racun pemusnah raga. Tetapi apa yang diperkirakan manusia, tidak mampu di perhitungkan dengan langit. "Ternyata semua hal adalah untuk menakut-nakuti Xufen. Supaya Xufen bisa bersama kembali denganmu jika aku mampu diselamatkan. Tentu kamu akan muncul dengan pura-pura mengenyahkan Racun pemusnah

raga dalam diriku. Setelah itu, kamu akan mengajak kita berdua untuk ikut dalam pasukanmu. Bukankah begitu, Ibu mertua?? Tetapi...." kata Jieji yang terlihat sedih karena hal sesungguhnya telah diketahui. Wu Shanniang hanya diam tiada menjawabnya. Karena apa maksudnya saat itu telah diketahui Jieji dengan sangat jelas. Pasukan mereka pasti berniat mengambil Jieji dan Xufen sebagai salah satu anggot di antara mereka. Selain keduanya sangat pintar, dan tentu sangat berguna dalam pengembangan proyek rahasia mereka. Xufen juga menguasai Ilmu jari dewi pemusnah. Ilmu jari yang sangat diperlukan untuk melengkapi semua jurus untuk membentuk "Ilmu pemusnah raga". Tetapi takdir sepertinya tidak menginginkan hal tersebut terjadi. "Anakku... Jadi kamu memutuskan tetap melawan kita semua?" tanya Xia Rujian yang melihat suasana sedang dingin. Jieji melihat ke arah ayahnya. Dia diam beberapa saat untuk memandangi ayahnya dalam-dalam. "Betul..." katanya pendek. Mendengar apa yang diucapkan Jieji, kelima orang langsung tertawa sangat keras. "Nah.... Sudah kutebak kan?" Hikatsuka Odalah orang yang memotong suara tertawa. "Betul... Kalau begitu, sepertinya hubungan ayah dan anak kita bakal putus sampai disini saja... Kelak jika bertemu, kita telah menjadi musuh bebuyutan... Bagaimana?" kata Xia Rujian kembali kepadanya. "Ananda tidak berbakti... Tidak mampu melayani orang tua dengan baik... Inilah kesalahan yang sangat fatal bagi seorang manusia...." Kata Jieji sambil berlutut. Dengan gerakan cepat, dia menyembah ke arah 4 orang yang berdiri tersebut dengan sangat hikmad. Dia sempat melakukannya 3 kali. Setelah itu, Jieji berdiri. Sinar matanya terlihat merah menyala dan penuh dengan hawa pertarungan. "Tetapi.... Kebenaran bagiku di atas segalanya....." Keempat orang tersebut segera tersenyum sangat puas melihatnya. "Apa tujuan kalian yang sebenarnya?" tanya Jieji kembali.

"Kamu telah tahu dengan sangat baik, bukankah begitu?" tanya Hikatsuka kepadanya. Jieji bisa menebak sebagian besar akan kebenaran di balik semuanya. Tetapi dia tahu dengan benar, meski meminta mereka menyebut "alasan". Adalah sesuatu yang tidak mungkin adanya. Oleh karena itu, dia tidak berkata lagi lebih lanjut.... "Tetapi untuk apa?" tanya Jieji dengan heran ke arah mereka. "Ha Ha Ha......" Hanya terdengar keempatnya tertawa dengan sangat keras. Disini Jieji telah tahu, mereka tidak akan memberitahukan hal yang sebenarnya ke dia. Oleh karena itu, Jieji segera menaikkan hawa pertarungannya. Tenaga dalamnya segera dikasih bekerja. Desiran pasir yang hebat segera menyelimuti dirinya. Dari matanya segera terlihat tatapan yang haus pertarungan. Sedangkan di bibirnya segera tersungging senyuman manis. Sebelum pertarungan dimulai, dari jauh telah terdengar langkah kaki yang sangat banyak jumlahnya menuju ke arah mereka semua. Sedangkan ke 5 orang yang berada di depannya segera tersenyum sangat puas. Dengan segera, terlihat Yelu Xian mengangkat tangannya tinggi sekali. Pasukan aneh di belakang langsung bubar dengan sangat cepat. Sedangkan 5 pendekar segera melepas pakaian mereka semua. Sekarang 5 pendekar tersebut memakai baju biasa, semua bajunya telah mulai dibakar. "Jadi ini adalah perangkap yang anda semuanya siapkan untukku?" kata Jieji sambil tersenyum ke arah mereka. Terlihat Ibu dari Jieji segera mengerutkan dahinya sambil memandang puteranya dalam-dalam. Maksud dari sang Ibu tentu diketahui oleh Jieji. Dia juga melakukan hal yang sama, memandang mata ibunya dalam-dalam. Sesaat, terlihat Jieji menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kamu tahu siapa yang sedang mendatangi?" kata Xia Rujian. "Tentu... Kalian meminta para pesilat untuk menagih hutang kepada "Xia Jieji". Bukan begitu?" kata Jieji sambil tersenyum kepadanya. "Ha Ha.... Cerdas sekali...." terlihat Xia Rujian tertawa keras sambil memegang jenggotnya. "Tetapi.... Kalian tidak akan berhasil.. Kamu mengharapkanku untuk membantai mereka semua, supaya apa yang kalian lakukan akan beres dan tiada

tercegah?" kata Jieji seraya tersenyum. "15 pembunuhan tetua partai besar, 22 keluarga pejabat, serta 107 pesilat ditambah sesepuh persilatan Dewa Bumi dan Biksu Wujiang. Sepertinya kamu kali ini dalam masalah yang tiada kecil..." kata Hikatsuka Oda. "Hmmm.... Hanya karena aku tidak tunduk tentu tidak akan mendapat sangsi seperti itu. Ada sesuatu yang kalian simpan dalam hati... Kenapa tidak katakan saja dengan jujur?" tanya Jieji seraya tersenyum. "Masalah itu akan kamu ketahui sendirinya. Masalah benci sepertinya tidak mungkin, tetapi hanya kamulah orang yang bisa menghentikan langkah pesilat..." kata Hikatsuka Oda kembali dengan tersenyum. "Aku mengerti..." kata Jieji kembali juga dengan tersenyum. Jieji tahu dengan benar, sekarang dia menjadi "alat" untuk membantai para pesilat. Untuk ketua dan tetua hebat dari beberapa partai terkenal, mungkin 5 orang tersebut tidak mudah melenyapkannya. Tetapi dengan adanya Xia Jieji, mungkin perjalanan mereka akan mulus. Tadinya Jieji juga sempat berkata bahwa tujuan mereka tidak akan berhasil. Apakah memang semua hal bisa terjadi seperti yang telah diperkirakannya? Suara pesilat yang mendatangi dengan langkah lari telah terasa sekali. Jarak mereka hanya sekitar 1 li saja untuk sampai. Sementara itu, Chonchu dan Wang Sungyu segera menghampiri Jieji. "Kak Jieji... Lari saja.. Disini kita Kaibang yang akan bertanggung jawab..." kata Chonchu dengan pengertian kepadanya. "Tidak... Aku tidak akan lari...." Kata Jieji kepadanya sambil tersenyum. "Ohya? bagaimana dengan hubungan kalian berdua?" katanya kembali sambil melirik ke arah Sungyu. Chonchu hanya tersenyum sangat manis. Tetapi Sungyu juga terlihat malu sambil menunduk. Jieji yang melihat perlakuan mereka segera tertawa besar, tiada terlihat baginya bahwa dia cemas karena bakal menghadapi bahaya besar. Di wajahnya, tetap tertampak sinar cemerlang seakan tiada masalah. "Kalian berdua... Sungguh aku tidak mempunyai waktu untuk mengundang kalian ke Dongyang. Jika sempat, sesekalilah menuju kesana. Saya telah mempunyai seorang putera sekitar 5 bulan lalu..." kata Jieji dengan wajah yang senang. "Jadi? Kakak telah mempunyai seorang putera dari dik Yunying?" tanya Chonchu yang tersenyum sangat ceria juga.

Sedangkan mereka berlima yang melihat tingkah Jieji, hanya menggelengkan kepala. Mereka sangat salut akan pendirian Jieji yang teguh tak tergoyahkan meski masalah besar bakal datang kepadanya. Dari arah jauh... Telah terdengar suara yang membahana bagaikan langit sedang runtuh. Suara yang sangat jelas sekali.... "Bantai Setan Pembantai......" Tiga buah kata terdengar terus bergema di lembah datar yang luas itu.

BAB LXXII : Pertarungan Dahsyat Tiga Babak
"Apakah kamu merasa takut?" tanya Chonchu kepada Jieji. Jieji melihatnya sambil tersenyum beberapa saat, kemudian dia berkata. "Tidak...." "Kita berdua akan mendukung apa yang anda lakukan...." kata Sungyu seraya berjalan ke arahnya dengan tersenyum. Jieji memandangnya beberapa saat, dia hanya mengangguk pelan. Setelah itu, dia berjalan ke arah Sungyu mendekatinya. Terlihat Jieji membisikkan sesuatu hal kepadanya. Sungyu yang mendengar bisikan sesekali mengangguk pelan. Lalu dia berjalan ke arah tengah tanah lapang sambil berdiri tenang menghadap ke arah para pesilat yang akan datang kesana. Beberapa saat kemudian telah terlihat rombongan pesilat dari arah yang cukup jauh sedang berlari mendatangi. Kepulan asap bahkan terlihat lumayan jelas menggumpal ke atas. Kelihatannya semua pesilat yang berada di bawah kota Ye tadinya mendekati tanah lapang sambil berteriak keras. "Bantai Setan Pembantai!!!" Akhirnya tidak beberapa lama, sampailah para pesilat itu. Yang terasa aneh oleh Jieji adalah orang yang memimpin para pesilat tersebut. Orang yang cukup dikenalinya. Seorang pemuda tampan yang pernah bermusuhan dengannya selama beberapa tahun lamanya. Pemuda tampan yang pernah dipunahkan ilmu kungfunya olehnya. Tentu pemuda tersebut adalah Yue Liangxu adanya, putera tunggal dari Yue Fuyan. Tetapi kelihatannya Liangxu disini agak berbeda dengan Liangxu yang sebelumnya yang pernah dikenalnya.

Tatapan Liangxu kepadanya terasa sangatlah "khas". Hawa pembunuhan dari kedua matanya bersinar sangat terang saat menatapnya. Tidak seperti dahulu, tatapan matanya yang penuh cemburu dulunya telah hilang. Tetapi digantikan dengan tatapan buas penuh nafsu membunuh keluar darinya. Jieji hanya merasa mungkin karena gosip mengatakan Yue Fuyan dibunuhnya, maka daripada itu Yue Liangxu datang untuk membalas dendam. Ternyata apa yang dipikirkan Jieji kali ini melenceng sekali adanya. "Yang di tengah dan berpakaian sastrawan itulah Xia Jieji....." kata Yue Liangxu seraya menunjuk ke Jieji sambil tersenyum sinis. Langsung dan secara spontan, para pesilat yang berkedudukan tinggi melangkahkan kakinya ke arah Jieji. Terlihat yang maju terdepan adalah Yang Xiu, Ketua HuaShan yang dengan julukan "Yi Jien Bu Bai". "Kaukah Xia Jieji?" tanyanya. Seraya menarik kumis dan jenggot buatannya, Jieji mengakuinya. "Betul.. Akulah orangnya..." "Kalau begitu janganlah salahkan aku yang tua mengeroyok yang muda..." katanya kembali. "Silakanlah lakukan ketua Huashan...." kata Jieji menatapnya sambil tersenyum. Di Lembah datar yang luas telah dipenuhi luar biasa banyak pesilat. Mungkin jumlahnya telah mencapai hampir 300 orang jika ditambah dengan pasukan Kaibang. Namun, Jieji tidak terlihat gentar adanya. Dia tetap tenang dan sesekali memberi senyuman manis ke arah pesilat. "Ketua..... Biarkan kami menyelesaikannya juga...." kata seseorang yang ternyata adalah tetua Liang dari Kaibang, tetapi dia diikuti oleh Tetua Han dan tetua Wu. Yuan Jielung hanya diam, dia tidak sanggup berkata banyak. Sambil berpikir keras, dia menganggukkan kepalanya pelan. Sedangkan Chonchu dan Sungyu segera mendekati Yuan Jielung. "Kakak... Kamu sudah tahu hampir sebahagian besar kebenarannya. Kenapa kamu tidak mencegahnya?" tanya Chonchu yang agak heran. "Ini tidak bisa kulakukan... Tetapi tenanglah dik, akan kucari upaya menguntungkan dia..." kata Yuan sambil berbisik ke arah Chonchu. Tentu Chonchu yang mendengarnya segera tersenyum. Yuan Jielung bukannya tidak mau membantu terang-terangan kepada Jieji. Hanya dia merasa akan cukup rumit masalahnya jika Kaibang membantu

"Jieji". Oleh karena itu, dia hanya diam dan berpangku tangan. Tetapi dia mendapat sedikit ide bagus untuk keselamatan Jieji adanya. Tanpa banyak bicara, Ketua Beiming, Hanxue, Hengshan, Shaolin, Kunlun, Khongtong, Donghai, BeiYu telah maju serentak. Sementara itu temannya Jieji, Chang hanya diam saja sambil tersenyum sinis kepadanya. Tentu hal ini tidaklah diketahui Jieji. Sebenarnya dari dulu Chang juga adalah salah satu orang dari pasukan bertopeng. Dialah pengkhianat dari partai BeiYu yang memberikan Informasi supaya para pesilat menuju ke tanah lapang tersebut. Tentu adik seperguruannya, Yu Xincai tiada mengetahui hal tersebut. Dia hanya diam terpaku karena mendapati orang yang menyelamatkan nyawanya beberapa hari lalu adalah "Xia Jieji". Sesaat dia merasa kalau Xia Jieji-lah orang yang memainkan sandiwara pertarungan antara dia dan kakak seperguruannya dengan pasukan bertopeng aneh di dekat kota Ye. "Tuan muda... Kenapa anda begitu kejam? Apa maksud anda membunuh seluruh pesilat kawakan?" tanya seseorang dari partai Shaolin. Jieji melihat ke arahnya, dia tidak berkata apa-apa. Sesaat penyesalan penghinaan terhadap Biksu Wu Jiang termuncul dalam benaknya. Dia menatap biksu Shaolin tersebut dengan penuh perasaan. Ketua pengganti partai Shaolin adalah Biksu Wu Huan. Kata Wu Huan adalah artinya tiada membalas. Huan diambil dari kata "Huan Shou" yang artinya membalas. "Aku tidak mengerti sesungguhnya terhadap apa yang anda katakan sesungguhnya. Tetapi aku sendiri tiada penjelasan mengenai tewasnya Biksu Wu Jiang. Hanya satu hal yang bisa kupastikan, Biksu tua Wu Jiang tidak dibunuh olehku..." kata Jieji dengan mantap. "Alaaa... Banyak alasan kau itu... Kamu tahu tiada tempat lari lagi bagimu... Oleh karena itu kau mengatakan hal seperti itu? Kutanya sekali padamu, dimana kesombonganmu dulunya? Ha Ha..." tanya ketua partai laut timur, He MengZheng tetapi dia langsung melihat ke arah pedang yang masih terpegang oleh Jieji adanya. "Hm... Jika seekor burung elang terbang ribuan Li, Burung biasa mana mungkin bisa tahu maksudnya?" tanya Jieji seraya tersenyum kepadanya. "Kau!!! Kau pernah menghinaku di Wisma Wu. Kau harus menerima pembalasan sekarang..." teriak seorang pria paruh baya yang ternyata adalah Ketua partai kunlun, Wang Ge Zhuan. "Oh? Rupanya anda masih hidup dengan baik sekali adanya ketua Wang." kata Jieji sambil tersenyum kepadanya. Tidak seperti dulunya, Jieji yang berada di Wisma Wu selalu menghina setiap orang yang datang kepadanya. Hal itu tidak dilakukannya lagi

mengingat namanya sekarang telah jelek luar biasa. Jika memancing lagi emosi para pesilat di sana, maka akan terasa lebih runyam nantinya. Oleh karena itu, Jieji berusaha sabar. Menurutnya kali ini hanya perlu dilakukan pertarungan saja, tetapi tidak lagi dia ingin bersilat lidah. "Kita maju bersama saja.. Kita cincang Xia Jieji... Bagaimana?" tanya Wang Gezhuan seraya mengangkat sebelah tangannya tinggi. Kata-kata ketua Kunlun segera di sambut sangat meriah oleh para pesilat disana. Semuanya langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing dari sarung. Sedangkan Jieji sama sekali tidak terlihat gentar adanya. Setidaknya jumlah pesilat disini hampir 300 orang adanya. Selain itu, beberapa di antara mereka adalah pesilat kelas tinggi. Namun hal ini tidak membuatnya gentar, karena dia tahu nantinya pasti akan terjadi sesuatu hal. Dia terus tersenyum saja tanpa melakukan apapun. Sementara itu, Yuan Jielung segera datang ke tengah menengahi. "Kita berasal dari perguruan putih, tidak mungkin kita mengeroyok seorang pemuda yang nyawanya telah di ujung tanduk... Bagaimana pertarungan kita tentukan melalui duel satu lawan satu saja?" teriak Yuan ke arah pesilat. Yuan sangatlah berkharisma, kata-katanya terkesan sangat agung. Beberapa pesilat di belakang diam saja dan tiada bertindak apa-apa. Sedangkan ketua perguruan Hua Shan segera mengangguk. "Betul apa yang dikatakan ketua Yuan... Jika kita mengeroyoknya, bagaimana wajah kita selanjutnya di dunia persilatan?" Mereka berdua mendapat sambutan yang baik dari para pesilat terhadap keputusan tersebut. "Tetapi pertarungan 1 lawan 1 akan memakan waktu yang cukup lama..." kata Wang Gezhuan kemudian. "Lalu apa usul anda?" tanya Yuan Jielung kemudian. "Kita bergabung saja... Tentukan dalam 3 babak.. Bagaimana?" katanya kembali. "Baik.. Itu ide yang bagus... Bagaimana pendekar Xia?" tanya Yuan yang melihat ke arah Jieji. Jieji tahu dengan benar, sebenarnya Yuan Jielung sedang membantunya. Dia tentu mengangguk sambil tersenyum manis. "Baiklah, Kita-kita ketua HuaShan, Kunlun, Kongtong, Donghai, Hanxue adalah orang-orang pertama yang menjajalnya. Bagaimana?" tanya Wang Gezhuan sambil tersenyum girang.

"Baik... Bagaimana dengan anda?" tanya ketua Huashan kepada Jieji. Seraya melebarkan kedua tangannya, Jieji berkata. "Tidak masalah....." Dengan segera, semua pesilat dari pihak lain segera memisahkan diri. Sedangkan yang tertinggal hanyalah 5 ketua perguruan silat. Yang Xiu, Wang Gezhuan, Hung Shuguang, He Mengzheng, dan Ren Suiyan segera mendekati Jieji. Mereka hanya terpisah sekiranya 20 kaki. "Anak muda... Kali ini kita tidak akan bermain-main.. Oleh karena itu, cobalah serius...." kata Yang Xiu kepadanya sambil mencabut pedangnya dari sarung. Sementara itu, Wang Gezhuan telah siap dengan pedang di tangan juga. Hung Shuguang mengancangkan tapaknya, sedang He MengZheng juga telah siap dengan tinju halilintarnya. Ren sendiri memilih menggunakan tendangan untuk bertanding. Segera, hawa pertarungan terasa menggumpal dari dua sisi. Jieji juga melakukan hal yang sama, kali ini dia tidak bermain-main juga. Di wajahnya segera tertampak keseriusan yang sangat. Dengan gerakan cepat, orang yang menyerangnya pertama adalah Yang Xiu. Pedang cepat segera menuju ke arah lehernya. Ketika saat yang sangat berbahaya, terlihat Jieji mengambil posisi kayang untuk menghindari tusukan pedang cepat itu. Wang yang melihat posisi Jieji yang jelek segera membacok dari arah udara cepat ke perut Jieji. "Sepertinya Wang dalam masalah..." kata Hikatsuka Oda yang melihat gerakan awal Jieji yang terlihat sangat jelek. Memang benar perkiraannya. Jurus yang sama yang pernah "diterima" Hikatsuka Oda. Jieji terlihat dengan gerakan menendang ke arah tangan Wang. Tendangan Jieji sangat keras dan kokoh. Meski sebenarnya posisinya tidak bagus, namun dengan gabungan tendangan, Wang terkejut luar biasa. Sebelum dia melihat apa yang terjadi. Tahu-tahu dia telah tertendang tangannya yang memegang pedang, pedang terlempar puluhan kaki ke depan. Sebelum tangannya terasa kesemutan akibat tendangan, dengan gerakan amat cepat, sapuan tendangan kembali tiba, tetapi kali ini di mukanya. Wang segera tertendang keras ke belakang dan jatuh berguling. Dengan sangat cepat, lima orang telah roboh seorang. Sedangkan Hung dan He langsung menjepit ke Jieji yang posisinya kurang bagus tadinya. Hung segera mengancangkan tapak dari posisi samping. Sedangkan He Mengzheng merapal tinju halilintarnya untuk mengeroyoknya dari

belakang. Posisi Jieji sekarang masih melayang di udara. Dia tetap tenang menyaksikan kedua jurus hebat sedang di arahkan ke arahnya. Sambil berputar cepat, dia kembali menendang. Kali ini sasarannya adalah orang yang maju terdepan ke arahnya. Hung-lah orang yang telah datang cepat dengan tapak. Tetapi dengan gerakan yang sama cepat, Hung juga telah terbanting luar biasa cepat ke belakang. Dia telah tertendang di muka juga. Sedangkan setelah menyelesaikan Hung, Jieji langsung menendang dengan ekor kakinya membelakangi ke arah He Mengzheng. Kali ini Tendangan mayapada melawan tinju halilintar. Kerasnya suara berlaga segera terdengar. He terlihat mundur pesat sambil menyeret kakinya. Setelah benar sampai berhenti, dia mendapati dirinya telah luka dalam dan muntah darah. Kemudian dengan gerakan menendang melingkarkan kakinya penuh, Jieji telah mendarat dengan baik. Luar biasa.... "Hebat.... Ha Ha....." teriak Yang Xiu yang melihat gerakan awal Jieji yang sangat bagus. Sedangkan Yuan Jielung, Chonchu dan Sungyu tersenyum sangat puas ke arah Jieji. Hal ini juga diikuti oleh 5 pendekar. Mereka bertepuk tangan sambil tertawa. Sekarang hanya tinggal 2 pendekar lagi, yaitu Yang Xiu dan Ren Suiyan. Keduanya terlihat amat serius. Dengan gerakan yang gagal tadinya, Yang Xiu kembali menyerang dengan jurus yang sama. Jurus yang sama ke arah leher Jieji. Sedangkan Ren terlihat berlari penuh ke arah belakang Jieji sambil mengayunkan tendangan cepat. Jieji sepertinya bakal dalam masalah, 2 buah jurus yang hebat dan cepat sedang mengarah padanya. Melihat itu, Jieji segera berputar ke belakang. Dan melayani tendangan Ren terlebih dahulu dengan sebuah tendangan. Tendangan Jieji kali ini sangat hebat. Inilah gabungan tendangan mayapada dan tendangan matahari. Semua orang yang melihat pertarungan bisa melihat apa hal yang sedang dilakukan oleh Jieji. Gerakan tendangan Jieji terlihat amat lemah dan lambat. Bahkan seorang pemuda tiada berkungfu pun mampu melakukan apa yang dilakukan Jieji. Gerakan tendangan yang lemah telah menuju ke arah Ren.

Tetapi Ren yang melihatnya sungguh sangat terkejut. Selain 5 pendekar, Yuan Jielung-lah orang yang melihat jelas apa yang dilakukan Jieji adanya. Tendangannya bukan-lah lambat, tetapi telah terlalu cepat. Sehingga dengan mata manusia biasa, orang tidak mampu melihatnya jelas. Sebelum nampak tendangan mengarah di tubuh Ren, hanya suara terdengar jelas. Tahu-tahu, Ren juga telah mengalami hal yang sama. Dia tertendang 3 kali, yaitu di wajah, dada dan pahanya. Dia terseret serta terpental ke belakang dengan pesat sambil muntah darah. Sedangkan hawa pedang dari Yang Xiu telah terasa sangat jelas di belakang tengkuknya. Jieji yang membelakangi Yang Xiu segera mengancangkan jarinya dari bahunya. Ketika pedang Yang Xiu hampir sampai ke tengkuk, dia sangat terkejut. Sinar cemerlang yang sesaat telah menuju ke arahnya mengingat posisi Yang sendiri masih beranjak pesat menusuk ke arah Jieji. Suara pertemuan tenaga dalam segera terdengar dahsyat. Kemudian... Dengan menyeret kaki, terlihat ketua Huashan mundur hebat dan pesat ke belakang. Dia juga mengalami luka dalam setelah gerakan kakinya berhenti. "Hebat!!" Puji ketua HuaShan, Yang Xiu kepadanya. Dengan begitu, telah jelas. Lima orang pertama yang mengeroyoknya semua dikalahkan dengan amat mudah. "Tidak disangka kungfumu telah maju pesat...." kata Xia Rujian kepada Jieji. Jieji hanya melihat ayahnya sambil mengangguk pelan. "Sekarang adalah giliran kita... " kata tetua Wu sambil menuju ke arah Jieji. Orang yang mengikuti ketua Wu adalah ketua Han, dan Liang. Ketiganya berasal dari Kaibang. Ketiganya mempunyai alasan kuat untuk bertanding. Yang mengikuti 3 orang tetua kaibang adalah ketua pengganti Shaolin, Biksu Wu Huan. Ketua perguruan Giok Utara Yu Thien, ayahnya Yu Xincai. Sementara itu ketua perguruan kecil sepertinya tiada berniat bertarung lagi karena mendapati orang sehebat Yang Xiu saja kalah dalam satu jurus. "Baiklah... Kita mulai lagi..." kata Biksu Wu Huan memimpin. Biksu Wu Huan sebenarnya adalah tadinya tetua kuil Shaolin. Kungfunya jauh lebih tinggi dari Biksu Wu Jiang. Wu Huan tidak pernah ingin terlibat lagi dengan dunia persilatan, tetapi kali ini dia melakukannya dengan terpaksa. Karena adik seperguruannya, Biksu Wu Jiang telah terbunuh oleh

"Xia Jieji". Oleh karena itu, dengan mengesampingkan niat menyendirinya, dia kembali terlibat akan dunia persilatan. Jurus dari Biksu Wu Huan yang paling terkenal adalah Ilmu jari Jing Gangnya yang hebat. Selain itu dia menguasai total 36 jurus dari 72 jurus Jing Gang, Ilmu terdahsyatnya kuil Shaolin. Jadi bisa dikatakan Biksu Wu Huan telah sangat hebat ilmu kungfunya. Jieji yang melihat pertarungan kedua tersebut merasa cemas juga. Setidaknya, jika dia mampu melewati rintangan ini. Maka rintangan terakhir tentu dari kelima pendekar dan 15 pengawal sakti yang masih berada disana. Dia terlihat berpikir keras, kenapa sampai sekarang bantuan yang diharapkannya belumlah datang. Sementara itu, tanpa gerakan kuda-kuda awal. Biksu Wu Huan telah menyerangnya secara dahsyat. Dia mengancangkan tapak untuk menyerang Jieji yang masih berpikir. Gerakan Biksu Wu Huan sungguh luar biasa cepat, tahu-tahu dia telah berada sangat dekat dengan Jieji. Jieji yang melihatnya segera terkejut, dia mengayunkan kakinya ke belakang dengan sangat cepat dan menyeret kaki. Biksu Wu Huan terlihat segera mengubah jurusnya dengan mengancangkan jari untuk menyerang. Sesaat Jieji segera melayaninya dengan membentuk tapak. Tenaga dalam segera beradu... Suara pertemuan kedua tenaga dalam amat dahsyat. Tanah di sekitar terasa bergoyang sebentar. Hasil dapat dilihat... Jieji yang masih menyeret kakinya ke belakang segera berputar cepat sekali. Sementara Biksu Wu Huan telah berdiri dengan tegak. Saat dia mendarat, tanah di sekitar langsung retak. Sepertinya kali ini Jieji telah mengalami luka dalam akibat serangan tibatiba Biksu Wu Huan. Di bibirnya tersungging senyuman manis dan mengalir darah segar. "Biksu Wu Huan benar sakti adanya...." kata Jieji pendek. Chonchu dan Sungyu-lah kedua orang yang terlihat sangat cemas mendapati keadaan Jieji yang terluka dalam. Sementara Yuan Jielung yang melihatnya segera terkejut. Rupanya selain Biksu Wu Huan menguasai Jari Jing Gang dan 36 jurus Jing Gang. Tenaga dalam pembentuk jurus adalah tenaga dalam Yu Jing Jing (Ilmu pelentur Otot). Sungguh sebuah penyempurnaan silat yang tinggi. Yuan sebenarnya juga mempelajari Yu Jing Jing sebagai pembentuk tenaga dalamnya. Selain itu, Jurus 18 tapak naga mendekamnya adalah gabungan tiga buah tapak (Tapak pemusnah raga) dan Buku susunan formasi I Ching. Jurus baru tersebut diciptakan oleh Pei Nanyang dan Yuan Jielung setelah meneliti selama 2 tahun lamanya.

Sesaat, dia merasa cemas juga melihat keadaan Jieji yang sedang bertarung itu. "Biksu Wu Huan memang hebat...." kata Hikatsuka Oda kepada rekanrekannya. Sedang Ibu Jieji terlihat sangat cemas melihat anaknya yang dalam posisi kurang menguntungkan ini. Di hatinya segera terasa berdetak keras mendapati kenyataan luka dalam puteranya tersebut. Tetapi Jieji malah terlihat biasa saja. Dia terlihat menutup matanya. Dengan menarik nafasnya dalam-dalam seraya memutar sebelah tangannya satu lingkaran penuh. Kemudian terdengar dia menghembuskan kembali nafasnya yang tertahan. Sesaat itu, jalan darahnya telah kembali teratur. Dia membuka matanya sambil tersenyum ke arah Wu Huan. Biksu Wu Huan yang melihatnya tentu sangat kagum akan kemampuan lawannya tersebut. Sambil merapatkan kedua tangannya di dada, dia memuji. "Benar-benar hebat......."

BAB LXXIII : Pertarungan Babak Kedua
Jieji merapatkan kedua tapaknya dan memberi hormat kepada Wu Huan. Tetapi setelah bersikap begitu, kali ini Jieji-lah yang bermaksud menyerang duluan. Dia langsung melakukan kuda-kuda menyamping ke arah Wu Huan. Sedangkan 3 tetua Kaibang dan Yu Thien terlihat berdiri rapi di belakang Wu Huan. Maksud mereka tentu untuk membantu Wu Huan, jika Wu Huan telah dikalahkan Jieji. Maka kesempatan babak ke II tersebut telah musnah bagi keempat pendekar lainnya. Tatapan Jieji telah terlihat serius kembali. "Biksu... Hati-hati lah...." kata Jieji kemudian. Begitu menutup mulutnya, Jieji telah maju pesat ke arahnya. Wu Huan sangat terkejut, gerakan Jieji sangat cepat. Bahkan hampir 2 kali kecepatannya yang melaju ke arahnya daripada serangan pertamanya tadi. Saat dia berniat untuk membentuk tapak, tendangan maha cepat telah sampai. Biksu Wu Huan yang ingin menghindar saja tidak punya kesempatan, terpaksa dia menahan tendangan dahsyat itu dengan lengannya. Suara beradu tenaga dalam luar biasa keras....

Wu Huan terlihat mundur dua langkah dari tempatnya. Sementara itu 3 tetua Kaibang mengarahkan tapak ke arah pundak Wu Huan diikuti oleh Yu Thien dengan tujuan menahan gelombang tenaga dalam yang masih bersisa. Tetapi, Jieji yang melihat tendangan pertamanya telah berhasil langsung merapal tendangan kedua. Namun Biksu Wu Huan telah siap adanya, dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalam Yi Jingjing untuk menahan tendangan hebat tersebut. Tapak para pesilat yang masih mengalirkan tenaga dalam di pundak Wu Huan juga ikut serta membantu. Tendangan kali ini berlaga dengan tapaknya Biksu Wu Huan. Getaran yang ditimbulkan kali ini Maha dahsyat. Suara seperti sesuatu benda meledak sangat fasih. Sesaat, terlihat Jieji-lah orang yang kalah. Dia menyeret kakinya sebelah untuk mundur sambil menggores tanah. Lawannya langsung tidak memberinya kesempatan. Biksu Wu Huan langsung beranjak maju cepat dan diikuti 4 kawannya. Kali ini Wu Huan mengerahkan jari Jing Gang untuk mengejar. Semua orang yang menyaksikan pertarungan terasa berhati debar-debar. Wu Huan ternyata adalah seorang pesilat yang luar biasa tinggi kemampuannya. Yuan, Chonchu dan Sungyu sangatlah terkejut karena mendapati tenaga dalam Jieji jelas kalah dibanding gabungan tenaga dalam 5 orang itu. Sedangkan Ibu Jieji yang melihat "bahaya" sedang mengancam puteranya, dengan segera berteriak. "Awas... Hati-hati....." Jieji yang menyeret kaki ke belakang sempat melihat ke arah ibunya. Dilihatnya sorot mata ibunya yang sendu dan juga terasa pahit. Sebelum dia sempat menyadari, Jari Jing Gang dari Biksu Wu Huan telah sangat dekat ke arahnya. Dengan merapal tapak, sekilas nampak cahaya keluar. Jieji masih menggunakan tapak untuk menyatukan ke arah jari Jing gangnya Biksu Wu Huan. Sama seperti pergebrakan pertama tadinya, tetapi kali ini Jieji berbeda. Saat tapak telah menyentuh jari Jing Gang, Jieji membentuk tangannya yang lain dengan gerakan setengah lingkaran. Suara beradu masih terdengar keras, jari dan tapak masih tetap menyatu. Sedangkan Wu Huan terlihat sangat serius, dia mengubah kembali jurusnya. Dengan jari Jing Gang tahap terakhir dia bermaksud untuk mengalahkan lawannya langsung.

Jieji merasakan hawa tenaga dalam dahsyat telah masuk melalui tapaknya sampai ke lengan. Jika hawa tenaga dalam tersebut menuju ke jantung, maka dia akan terluka dalam yang parah. Sesaat terlihat dia menarik nafas dan menghembuskan dengan cepat... Hawa tenaga Jinggang seakan telah kembali berbalik. Kali ini Biksu Wu Huan-lah yang dalam keadaan payah sepertinya. Sebab tanpa disadarinya, tenaga dalamnya telah dibalikkan. Inilah jurus tapak berantai tingkat I. Semua orang yang melihatnya segera sangat terkejut, mereka tidak menyangka dengan mudah Jieji mampu membalikkan tenaga dalam nan dahsyat itu dengan sekali hembusan nafas. Tanah disekitar terlihat retak, sedang angin disana terasa berdesir amat hebat. Belum sempat biksu Wu Huan kalah dalam laga tenaga dalam, sepertinya Yu Thien tidak memberikan kesempatan bagi Jieji. Langsung secara cepat, dia telah berada di belakangnya sambil memegang pedang. Dengan berteriak, dia maju untuk menusuk punggung Jieji. Jieji yang melihatnya spontan terkejut, jika saat ini dia menarik tenaga dalamnya. Maka dia pasti mengalami luka parah yang hebat. Dia sepertinya hanya diam saja menyaksikan tusukan pedang itu datang. Sementara itu, Wu Huan yang tadinya telah kalah hawa. Sekarang meningkatkan energi untuk mengepungnya dari arah depan. Hawa energi yang tadinya sempat mengarah kepadanya, sekarang telah berbalik. Jieji merasakan dengan pasti, tenaga dalam Wu Huan telah bekerja sampai di lengannya kembali. Posisinya sekarang telah sangat jelek adanya. Sama seperti ikan yang telah berada di daratan. Yang mencemaskan Jieji disana hanya 4 orang adanya. Yuan Jielung, Wang Sungyu, Chonchu dan Ibunya. Sepertinya kali ini Jieji dalam masalah yang besar sekali... *** Dongyang... Yunying yang mengantarkan suaminya pergi sampai ke pelabuhan sekitar hampir sebulan yang lalu tetap merasa cemas. Setiap hari sepertinya dia tidak mempunyai nafsu makan yang baik maupun tidur. Zhao kuangyin yang melihat keadaannya, segera mencarinya untuk berbincang-bincang.

"Ada apa adik? Kamu mencemaskan adik keduaku?" "Betul kakak pertama....." kata Yunying yang mengerutkan dahinya. "Tenanglah... Kungfu adik kedua telah sangat tinggi adanya. Belum ada manusia yang sebanding dengannya sekarang. Kamu tenang saja...." kata Zhao. Tetapi dalam hatinya, dia juga merasa sangat bimbang adanya. Yunying hanya mengangguk pelan, tetapi dalam hatinya dia merasa sungguh tidak enak. "Bagaimana kita menyusulnya?" tanya Yunying setelah diam beberapa saat. "Baik.... Kita pergi sekarang juga.... Bagaimana dik?" tanya Zhao yang sepertinya tiada begitu bersabar. Sebenarnya keadaan Zhao kuangyin sekarang telah lumayan baikan. Tenaga dalamnya telah pulih lebih dari 5 bagian. Dewa Ajaib yang tinggal disana setiap hari memeriksanya dan mengobatinya. Maka daripada itu, Zhao tiada berniat untuk memulihkan semua kondisinya mengingat adiknya pasti tidak "baik" di China daratan. "Kalau begitu, kita harus mengajak Dewa Ajaib sekalian... Bagaimana kak?" tanya Yunying. "Baik.. Dengan adanya dia, maka kita setidaknya bakal aman-aman saja...." kata Zhao kemudian. Mereka segera berangkat ke pelabuhan hari itu juga untuk menuju ke China daratan. Dewa Ajaib tentu setuju saja, mengingat dia mulai merasa bosan di Dongyang. Tentu karena dia tidak mampu berbahasa Dongyang, maka orang yang dia sanggup ajak berbincang hanya dari keluarga Oda saja. Sementara itu, semua urusan keluarga di Dongyang diserahkan kepada Kyosei. *** Kembali ke tempat Jieji... Tusukan pedang dari Yu Thien telah sangat dekat sekali, hanya sekitar 1 kaki saja telah menyentuh pundaknya Jieji. Dia cukup merasa girang, karena sepertinya kali ini serangannya bakal berhasil. Tetapi... Ketika pedang telah berada sangat dekat.Sinar merah menyala segera tampak bersinar sangat terang.

Ketua partai Giok utara amat terkejut, karena dia tahu sinar pedang merah membara tersebut adalah dari pedang Ekor api yang masih terselip di pinggang Jieji tadinya. Sementara itu, semua orang melihat jelas apa yang sedang dilakukan Jieji. Sebelah tangannya menahan Jari Jing gang biksu Wu Huan. Sedang sebelah tangannya mencabut pedang sakti itu dari pinggang. Dengan gerakan mengayunkan tangannya, pedang ekor api berputar penuh beberapa kali di udara. Babatan pedang dari ekor api segera mengambil tumbal. Pedang yang dipegang ketua Partai Giok utara terbabat tiga kali. Sehingga pedang panjang yang dipegangnya telah menjadi 4 bagian. Pedang Ekor api yang tadinya berputar, segera menancap ke tanah pas di belakang kaki kanan Jieji. Lalu, sebelum sempat ketua Yu terkejut, sebuah tendangan telah mengarah ke perutnya. "Dhuakkk!!!" Dia terlempar sangat jauh, dan berguling beberapa kali ke belakang. Dia tidak mampu lagi berdiri, luka dalamnya tidaklah ringan. "Ayah....." teriak Yu Xincai sambil menuju ke arah ayahnya yang terluka dalam. Sementara itu, terlihat 5 pendekar bertepuk tangan hebat. "Hebat.... Ilmu pedang ayunan dewa yang disempurnakan...." kata Xia Rujian sambil tersenyum sangat puas. Inilah jurus ayunan pedang dewa Musim semi. Jurus ciptaan Jieji yang menyempurnakan jurus pedang ayunan dewa. Sementara itu, Jieji sepertinya telah terluka dalam. Hawa tenaga Jinggang telah masuk sampai ke dada kanannya. Dia segera memuntahkan darah segar. Hal ini terjadi karena dia telah membagi tenaga dalamnya menjadi 2 jalur. Jalur pertama menahan serangan tenaga dalam, sedangkan jalur kedua adalah menyerang Yu Thien. Sedangkan ketiga tetua Kaibang yang melihat situasi telah merugikan Jieji, segera beranjak maju. Serangan mereka bertiga juga mengambil posisi yang sama seperti yang dilakukan Yu Thien. Yuan yang melihat gerakan Jieji segera berpikir keras. Ada sesuatu yang berada di benaknya beberapa saat berpikir. "Gawat!!!!" teriak Yuan Jielung.

Entah apa maksudnya berkata begitu. Sebenarnya dia sedang melindungi ketiga tetua ataukah Jieji? Hal ini segera dapat dilihat semua khalayak disana. Serangan ketiga tetua disalurkan melalui tongkat pendek. Tongkat yang terbuat dari bambu tersebut adalah ciri khas para pendekar Kaibang. Ketiganya datang dengan jurus yang baru. Tetua Wu datang dengan tusukan, Tetua Liang datang dengan samberan ke arah kaki kanannya. Sedangkan Tetua Han memilih membacok dari atas kepalanya. Posisi ketiga tetua memang sangat bagus. Sebab posisi penyerangan seperti itu sangat rapat adanya. Tiga senjata mengarah ke arah yang tidak sama. Yang satu dari atas ke bawah, sedang yang satu menyerang bawah, dan yang lainnya menyerang di tengah. Jieji sangat sadar akan posisi buruknya sekarang. Sebenarnya dia mempunyai sesuatu ide dari saat dia menghadapi Yu Thien. Tetapi jika dia menggunakan Idenya tersebut, maka lawannya akan tewas dengan mengerikan. Oleh karena itu, dia tidak berniat melakukannya. Dengan tendangan, dia mengangkat pedang Ekor api yang masih tertancap di tanah. Sesaat, pedang ekor api segera berputar dari atas kebawah. Ketika pedang ekor api telah setinggi dengan tangannya, dia memutarkannya kembali. Jurus yang sama dengan jurus yang digunakan untuk menghadapi Yu Thien. Namun, tetua kaibang bukanlah orang sembarangan. Mereka bertiga melihat dengan jelas bagaimana Yu Thien dikalahkan, maka mereka segera mengubah jurus masing masing. Jurus yang sama juga, hanya bergantian orang yang merapalnya. Pedang ayunan dewa musim semi kembali bekerja, tetapi kali ini pedang berada di tangan majikannya. Tetua Wu, Han dan Liang masih tetap merapat dengan jurus hebat. Tetapi... Ayunan pedang yang cepat dan dahsyat telah mengarah ke arah mereka bertiga. Tanpa sadar, mereka hanya mampu menahan pedang yang datangnya sekilas menyabet ringan tersebut. Ketika mereka masih terkejut akan sinar pedang, hantaman kaki telah sampai ke dada masing-masing ketiga tetua. Tetapi, hantaman kali ini telah terasa lebih ringan dibanding yang tadinya. Ini wajar saja, sebab kekuatan Jieji ke tendangan telah terbagi menjadi tiga. Sedangkan Yu Thien menerima sepenuhnya kekuatan tendangan Jieji. Ketiganya terlihat terdorong mundur juga jauh. Namun luka dalam mereka

tidaklah sedalam Ketua partai giok utara. Kali ini, Jieji mengalami masalah yang sangat gawat. Dia kembali muntah darah yang banyak. Tetapi dengan segera dia mengubah posisinya, Dia menyeret kaki ke belakang dengan sangat cepat... Hanya Yue Liangxu-lah orang yang terkejut melihat tindakan Jieji. Sedangkan para pesilat, ada yang mencemaskan Jieji. Ada pula yang merasa girang karena terlihat Jieji telah kalah hawa dengan Wu Huan. Ketiga tetua tidak berniat lagi melakukan penyerangan, meski mereka bertiga mampu melakukannya. Pertarungan babak kedua bakal ditentukan sekarang. Sepertinya kali ini Jieji terlihat dalam masalah, kejaran biksu Wu Huan sangat pesat. Sedang Jieji berada dalam posisi menyeret kakinya sebelah ke belakang. Saat Wu Huan mengira dirinya bakal menang, dia terkejut luar biasa. Jieji yang menyeret kaki segera menancapkan pedangnya di tanah. Kemudian dengan cepat, dia merapal tangannya penuh 1 lingkaran. Wu Huan sangat terkejut, tenaga dalam kirimannya seakan telah hilang semuanya. Tenaga dalamnya seakan terhisap oleh Jieji. Saat dia merasa aneh, sebuah hentakan tenaga dalam dahsyat telah sampai padanya. Tanpa mampu berpikir, dia telah terpental sangat pesat ke belakang. Biksu Wu Huan sungguh hebat, dia masih sanggup menyeret kakinya ke belakang meski terkena hantaman tenaga dalam dahsyat dari Jieji. Tetapi sesaat dia berhenti, dia merasakan sesuatu yang aneh. Dengan gerakan mual, dia segera muntah darah. Inilah jurus kedua tapak berantai : "Rantai penghisap Naga" Wu Huan yang melihat ke arah Jieji, sungguh kagum. Dia berpikir sesaat, kemudian dia berkata. "Aku telah kalah...... Anda sungguh mengagumkan....." Sedangkan Yu Thien yang telah bangun, menyaksikan bagaimana cara Jieji mengalahkan Wu Huan. Dia segera beranjak maju dan memberi hormat kepadanya. "Sungguh anda amat mulia adanya....."

Hal ini tentu sangat dirasa terkejut oleh semua orang yang disana. Selain Yuan, 3 tetua kaibang, 5 pendekar dan Yue Liangxu, tiada orang yang mengerti apa maksud perkataan ketua Giok utara. Sesaat itu, tetua kaibang 3 orang juga memberi hormat yang serupa padanya. Sedangkan Jieji membalas hormat mereka sambil tersenyum sangat manis. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Jika Jieji langsung mengerahkan tapak berantai tingkat keduanya, dia tidak akan terluka dalam sedemikian. Tetapi kali ini dia tidak melakukannya secara langsung karena jika tapak berantai tingkat 2 dipindahkan ke belakang. Maka hantaman tenaga dalam luar biasa tersebut akan mengarah ke Yu Thien dan 3 tetua. Tentu mereka tidak akan sanggup menahan tenaga dalam Jing Gang-nya biksu Wu Huan. Mereka berempat berpikir sama. Jika saja Jieji melakukannya, maka ke empat orang tersebut pastilah "tewas". Oleh karena itu, mereka berempat menghormati sikap lawan bebuyutannya tersebut. "Hebat!!! Kamu masih memikirkan apa tujuanmu itu?" tanya Xia Rujian seraya tertawa kepadanya. "Betul.... Tadi sudah kukatakan kan? Aku tidak akan membiarkan kalian berhasil..." kata Jieji sambil tersenyum padanya. Setelah itu, Jieji berjalan ke arah tancapan pedang ekor apinya. Dia sempat melihat ke bawah untuk mencabut kembali pedangnya. Tetapi... Tanah tempat tertancap pedang sepertinya sedang bergetar kecil. Jieji yang melihatnya segera tersenyum sangat manis. Sedangkan 5 pendekar dan 15 pengawal sakti telah tahu apa maksud getaran tanah itu. Para pesilat tentu sangat heran, tetapi mereka tahu "gempa" ini menandakan banyaknya orang yang sedang menuju ke sana dari arah utara. Apakah "bantuan" yang dimaksud Jieji telah sampai? Lalu apa arti senyuman Jieji sesungguhnya? Jika terasa pasukan yang datang dari arah utara, tentu pasukan yang datang pasti adalah dari "Liao" ataupun "Han utara". Lantas mendapati bahaya seperti ini, masakah Jieji mampu tersenyum? Di benaknya tentu ada sesuatu hal yang masih misteri...

"Kamu tahu apa artinya? Kenapa kamu tersenyum saja?" tanya Xia Rujian ke arah Jieji. "Tentu... Aku tahu dengan sangat pasti...." kata Jieji. "Lalu apa maksudnya?" tanya Hikatsuka Oda. "Ternyata apa impian anda sekalian bakal menjadi kenyataan... Tetapi........" Kata Jieji sambil tersenyum sangat manis kepada kedua "Ayah-nya". "Kamu pergilah......" kata Ibunya sendiri yang mencemaskannya. "Tidak bu.... Tidak akan... Aku tidak akan meninggalkan tempat tersebut selangkahpun sampai pasukan yang datang itu kabur semuanya...." kata Jieji sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Para pesilat tentu heran luar biasa. Mereka segera merasa takut. Sepertinya mereka juga merasakan hal yang sama. Semua tahu bahwa pasukan yang mendekati itu adalah pasukan "bukan Sung". Oleh karena itu, mereka segera bersiap menantikan pasukan tersebut dengan was-was adanya. Kepulan asap telah sangat tinggi di udara dan seakan menyentuh langit. Pasukan yang datang terasa sekali derap kaki kudanya. Sedangkan Yelu Xian telah beranjak ke depan untuk menantikan. Akankah semua pesilat disini bakal terbantai oleh pasukan ganas dari Liao? Semuanya masih menjadi teka-teki bagi semua orang disana. Kecuali tentunya oleh Xia Jieji yang terus tersenyum saja. Di benaknya, dia telah mendapati sesuatu hal yang pasti....

BAB LXXIV : Pertarungan Dahsyat Dadakan
Ketika pasukan terlihat dekat... Semua pesilat mampu melihat "pasukan" yang datang adanya, tiada lain... Sebab bendera di sana telah terpampang sebuah tulisan dengan sangat jelas yaitu : "Liao" Mendapati hal ini, para pesilat banyak yang terdengar memaki dengan sangat marah ke arah Jieji. "Keparat kau!!! Rupanya inilah perangkap yang kau buat untuk kita semua!!!" Semua pesilat yang tiada tahu hal sebenarnya langsung marah tiada karuan. Suasana disana telah lumayan kalut, karena mereka tahu. Pasukan Liao yang datang jumlahnya mungkin 5 laksa (50 Ribu) lebih.

Tentu jika pasukan Liao menyerang, maka kemungkinan "musnah"-nya pesilat sudah diambang mata. Tetapi hal yang aneh adalah Jieji masih tersenyum sangat manis mendapati kenyataan ini. Dari wajahnya terpancar seakan tiada masalah baginya walaupun dikepung puluhan ribu prajurit ditambah dengan ratusan pesilat yang disana. Semua mata pesilat sekarang telah tertuju pada Jieji adanya. Hal ini tentu lebih membangkitkan amarah mereka semua karena Jieji malah terlihat senyum-senyum saja. Mereka semua berpendapat sama bahwa pasukan Liao yang datang adalah suruhan Jieji untuk membantai mereka. Hal ini tiada berlaku bagi beberapa orang saja dari kaum dunia persilatan seperti Yuan Jielung, Chonchu dan Wang Sungyu adanya. Selain itu 15 pengawal sakti dan 5 pendekar serta Yue Liangxu dan Chang Gui Zhuang tentu tiada berpikiran seperti para pesilat tersebut. Namun, melihat gaya Jieji yang tiada takut. Mereka mau tidak mau salut juga. Pasukan Liao yang datang segera bersiap rapi dari arah utara-nya para pesilat di sana. Mereka sepertinya hanya menunggu komando dari Yelu Xian saja untuk bergebrak. Tetapi mimpi semacam apapun, pasukan Liao tidak pernah tahu bagaimana akhir yang bakal mereka terima sebentar lagi. "Sekarang... Apa kamu menyetujui permintaan kita?" tanya Hikatsuka Oda kepada Jieji. Jieji hanya berpaling melihatnya dan tanpa berkata apapun, senyum kepuasan di wajahnya masih tidak berakhir. "Apa kamu masih berpikir mampu lolos dari sini?" tanya Xia Rujian dengan mata serius ke arahnya. Jieji terlihat menggelengkan kepalanya. "Mengenai apa permintaan kalian... Sudah sangat jelas sekali... Belasan tahun yang lalu sekalipun aku berada disini... Aku dan Xufen juga tidak akan menyetujui permintaan kalian semua...." kata Jieji. "Bagus.... Bagus.... Kamu adalah pria sejati...." kata Hikatsuka Oda memujinya. "Kita belum selesaikan pertarungan babak ketiga... Bagaimana bisa kalian pastikan kemenangan terlebih dahulu?" tanya Jieji kepada ayahnya. "Ha Ha.... Betul... Betul.... Sepertinya kali ini kita harus menentukan lewat pertarungan terlebih dahulu... Bagaimana?" tanya Xia Rujian kembali.

"Baik... Sepertinya aku sendiri tiada pilihan...." kata Jieji. Jieji telah berniat maju ke depan. Tetapi 15 pengawal sakti segera mengepungnya sebelum dia beranjak. "Kali ini kita 20 orang mengeroyok 1 orang... Menurutmu ini adil atau tidak?" tanya Xia Rujian. "Dari dahulu, sebuah kata "Keadilan" tiada lebih dari arti sebuah "balas dendam"... Ha Ha...." kata Jieji dengan tertawa puas. "Kamu tidak usah lanjutkan lagi pertarungan kali ini... Ikutlah kita saja.. Bagaimana?" tanya Ibunya ke arahnya. Jieji menatap dalam ke ibunya beberapa saat, namun dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Setelah itu, Jieji segera melihat ke arah Wang Sungyu. Wang Sungyu yang melihat tatapan mata Jieji, segera mengerti maksudnya. Dia berjalan ke arah Yuan Jielung dan terlihat membisikkan sesuatu di telinganya. Yuan yang serius mendengarnya hanya sesekali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sepertinya pertarungan tidak akan bisa lagi dihentikan. Babak ketiga tentu adalah babak yang paling menggetarkan jantung dari semua babak yang telah dijalani Jieji. Tetapi dia tetap terlihat tenang saja. Sepertinya 15 pengawal sakti telah berganti pedang. Di antara 12 orang yang telah "patah" pedangnya akibat samberan pedang ekor api, segera menggantikan pedang dari "pasukan berjubah putih" yang telah kabur terlebih dahulu. "Kalian tidak perlu lagi lanjutkan pertarungan!!!!" teriak Wang Ge Zhuan yang berada disana. Semua mata tertuju kepada Wang. "Kenapa?" "Ada hal apa?" Semua pesilat sangat heran akan tindakan ketua partai Kunlun tersebut. Dengan gaya mentereng, dia langsung berjalan ke arah 5 pendekar. "Kalian semua sama saja... Kalian dan Xia Jieji adalah sekelompok.. Tidak perlu kau semua mainkan lagi sandiwara tersebut.... Kau pikir aku tidak tahu? Ha???" tanyanya sambil marah-marah.

Tetapi baru dia tutup mulut, dia merasakan sesuatu hawa yang terasa di tengkuknya. Saat dia baru hendak terkejut, sebuah hawa pembuyar tenaga dalam telah bekerja. Dari Tan Thien-nya (Pusat Tenaga Dalam Manusia) segera terasa buyar semua tenaganya. Semua orang disana segera melihat ke arah Wang. Di belakangnya berdiri seorang pemuda berusia 20-an dan tampan sedang merapatkan cakarnya ke tengkuknya. Jieji yang berdiri tidak jauh segera terkejut. Dia sempat berpikir tidak lama, kemudian dia melihat ke arah Wang. Sesaat, wajah tersenyumnya tadi segera berubah hebat. Dengan amarah yang meluap, dia menerjang ke arah pemuda itu yang tak lain tentunya Yue Liangxu. 15 pengawal sakti adalah semua orang yang paling terkejut. Sebab tadinya Jieji sedang dikepung oleh mereka. Tetapi saat mereka sempat menoleh ke tengah, Jieji telah "hilang". Saat mereka memandang ke arah lain, mereka telah melihat jelas bahwa Jieji sedang merapal tendangannya ke arah atas. Yue Liangxu yang "keasikan" menghisap tenaga dalam ketua partai Kunlun tentu tidak menyadari sebuah hawa hebat sedang menuju ke arah pelipisnya. Saat dia baru merasakan hawa hebat yang muncul, dia telah terpental sangat jauh. Dia terseret dan berguling dengan posisi yang sangat buruk adanya. Ketika dia bangun, semua orang mampu melihat bagaimana gayanya. Tendangan Maha cepat dan hebat dari Jieji bahkan tidak sanggup melukainya secara parah. Yang sangat terkejut disini tentu adalah Biksu Wu Huan. Dia tidak pernah tahu bahwa Yue Liangxu kungfunya telah lebih tinggi darinya. Tetapi dia mampu melihat dengan jelas, Jieji yang datang secara pesat tadinya sepertinya tiada main-main. Serangan ke arah biksu Wu Huan tadinya bahkan tidak lebih cepat dari gerakannya sekarang. Sesaat, Wu Huan segera mengerti. Saat bertarung dengan Jieji, dia telah mengalah sungguh banyak. Sebenarnya apa tindakan Jieji sungguh mengherankan banyak orang. Kenapa sepertinya Jieji sangat membencinya dan ingin memusnahkannya langsung tanpa banyak bicara. Tiada seorang pun yang mengerti apa yang sedang dipikirkannya.

Kalau saingan cinta tentu tidak mungkin, sebab Yunying sekarang telah menjadi istrinya yang sah. Ini tentu menimbulkan pertanyaan yang sangat aneh bagi para pesilat disana. Sebab mereka tahu dulunya, puteri ke tiga keluarga Wu hampir dinikahkan dengan Yue Liangxu. Tetapi sekarang mereka juga tahu kalau Xia Jieji-lah orang yang beruntung yang telah menikah nona nan cantik tersebut. Jieji yang telah menendang Liangxu, tidak memberinya kesempatan. Dengan gerakan super cepat, dia segera menuju ke arah Liangxu. Liangxu sepertinya telah mampu berdiri. Dia melihat Jieji sedang beranjak cepat, segera merapal jurus tapak penghancur jagadnya untuk melayani Jieji. Tetapi... Ketika tapaknya yang bertenaga luar biasa dahsyat hendak sampai ke dada Jieji. Dia merasakan hal yang aneh, Jieji telah "hilang". Tapak dahsyatnya hanya membentur tempat kosong. Saat dia berusaha melihat dimana Jieji. Ternyata Jieji telah berada di belakangnya... Tetapi sebelum sempat dia menoleh, dia telah terkejut dan merinding. Jieji kembali mengerahkan tendangan mayapada terdahsyatnya untuk mengarahkannya ke tulang rusuk anak muda tersebut dari belakang. Karuan 5 pendekar segera terkejut luar biasa, mereka mengejar dengan cepat ke arah Jieji. Tetapi telah terlambat. Inilah tendangan terakhir Jieji yang sanggup merobohkan pilar terkeras sekalipun. Tendangan yang terlihat lambat... Tendangan yang terlihat tiada tenaga... Tetapi sebelum orang-orang disana melihat bagaimana Jieji melukainya, Liangxu telah terpental jauh ke depan sambil berguling dan muntah darah. Kali ini baru dia mendapat luka dalam yang sangat parah. Beberapa tulang rusuknya bahkan patah. 5 Pendekar yang beranjak ke arahnya segera dilayani Jieji dengan cepat. Kali ini dia merapal Jurus Ilmu jari dewi Pemusnahnya. Dengan gerakan sangat cepat, Satu-satu jari di arahkan ke 5 orang yang pesat ke arahnya. Sesaat, jarinya bersinar sungguh terang sekali... 5 pendekar karuan sangat terkejut... Mereka masing-masing mencabut senjata masing-masing untuk menahan "hawa jari" yang mengarah pada mereka masing-masing.

Tetapi, jurus Jieji tiada ampun kali ini. Meski terlihat mereka masih mampu menahan, tetapi kelimanya kontan luka dalam. Melihat mereka semua sedang terpental ke belakang akibat dorongan tenaga dalam nan dahsyat. Jieji langsung maju dengan sangat pesat kembali. Yang diincarnya masih Yue Liangxu. Dengan melompat tinggi, Jieji segera mengeluarkan pedang Ekor api yang tadinya telah disarungkan. Seraya membacok keras, Jieji sepertinya tiada memberi ampun kepada Yue Liangxu. Sepertinya inilah akhir riwayat pemuda tampan ini. Pedang yang bersinar luar biasa terang telah menyilaukan mata Yue Liangxu yang masih terbaring. Semua orang yang sedang melihat Jieji pesat melayang di udara mampu mengira-ngira nasib pemuda tampan tersebut. Tetapi ketika pedang hanya terpaut beberapa inchi di depan dadanya... Dengan tiba-tiba, Jieji merasakan tenaga dalam yang luar biasa "panas" sedang menuju ke arahnya. Sinar terang yang datang bisa dilihat semua orang tanpa terkecuali. Tenaga dalam yang sangat dikenalnya sedang mengarah kepadanya... Jieji yang merasakannya, segera membuang pedang ekor apinya. Tetapi dia merapal tangannya rapat sambil mengerahkan 100 persen tenaganya untuk memutarkan tangannya selingkaran penuh. Memang benar... Jurus yang sedang mengarah padanya adalah jurus yang hebat luar biasa di zaman ini. Inilah jurus tapak Buddha Rulai tingkat ke delapan... Sesaat, cahaya yang datang tadinya langsung redup. Tetapi digantikan ribuan tapak mengarah kepadanya. Dengan menghembuskan nafasnya kuat, Jieji melayani "ribuan tapak" itu. Benturan teramat cepat dan dahsyat segera terjadi. Inilah benturan tenaga dalam paling dahsyat dari semua benturan tenaga dalam yang pernah dilakukan oleh Jieji. Tanah langsung bergetar dahsyat, dan retak dalam sekali. Sedangkan Yue Liangxu sepertinya telah "terkubur". Suara tenaga dahsyat itu "memaksa" para pesilat yang tidak jauh segera merapal tenaga dalam untuk menahan benturan yang meski masih jauh letaknya dengan mereka.

Hebatnya, untuk para pesilat kelas menengah dan kelas bawah. Semuanya telah terluka dalam parah. Saat mereka berusaha melihat apa yang sedang terjadi. Telah terlihat seseorang berdiri di bawah sambil memegang dadanya. Dari bibirnya, telah mengalir darah segar yang cukup banyak. Sedang Jieji terlihat bersalto lumayan ringan dan indah ke belakang. "Luar biasa sekali...." kata orang yang di bawahnya. Orang yang menggunakan jurus tapak Buddha Rulai untuk bertarung sekejap melawan Jieji. "Kamu sudah datang??" tanya Xia Rujian seraya girang ke arahnya. "Betul..." Jieji yang telah mendarat tepat di tempat "dibuangnya" pedang ekor api, segera mencabutnya terlebih dahulu dan menyimpannya di dalam sarung. Tetapi, dia melihat ke arah "penyerang" dadakan itu. Seorang pemuda paruh baya. Di matanya tampak sinar pembunuhan yang hebat. "Siapa kau?" tanya Jieji yang agak heran kepadanya. "Namaku Zhu Xiang, dari arah barat...." katanya dengan tersenyum sinis. "Jadi kau ada hubungannya dengan Wei Jin Du?" tanya Jieji kembali. Seraya berjalan untuk mengangkat Yue Liangxu, dia berkata. "Betul.... Dia adalah adik seperguruanku..." Tetapi kali ini, matanya tampak sinar kecemburuan dan dengki yang sangat dalam. "Lalu dimana dia sekarang?" tanya Jieji. Zhu Xiang tiada menjawabnya. Tetapi dengan langsung dia memapah Yue Liangxu ke arah pasukan Liao. Dengan segera, dia meminta pasukan Liao untuk mengantarkannya kembali. "Kau ada dendam apa dengan pemuda itu? Ha?" tanya Zhu Xiang sangat marah kepada Jieji. Semua orang cukup terkejut melihat datangnya Zhu Xiang yang sangat hebat. Meski dia baru mempelajari jurus ke delapan tapak Buddha Rulai, namun tenaga dalamnya sungguh tinggi.

"Dia adalah anak bangsat... Dialah orang yang menfitnahku dalam beberapa tahun terakhir. Kau kira aku tidak tahu? Aku pernah mengampuninya, tetapi tindakannya kali ini lebih biadab." kata Jieji yang marah kemudian. "Katakan kepadanya, jangan sempat ketemu denganku lagi. Kali ini adalah yang kedua kalinya aku mengampuni nyawanya. Sebab kau sendiri masih jauh kelas dibawahku, kamu tidak akan mampu melindunginya. Kalian pergilah... Bawa pasukan Liao semuanya pergi sebelum aku berubah pikiran...." Kali ini tatapan mata Jieji sungguh telah sangat serius, sepertinya hawa pembunuhannya muncul kembali karena tindakan Yue Liangxu yang telah dimengertikannya sesaat. Zhu Xiang yang mendengarkannya segera kalah gertak. Tetapi dia masih mampu bersikap semampunya. Dia berjalan ke arah 5 pendekar sambil mentereng. "Tidak akan.... Pasukan Liao yang telah keluar dari sarang mana mungkin pulang dengan tangan hampa?" Kata YeLu Xian dengan marah. Semua pesilat segera menyadari sekarang. Pasukan Liao sama sekali tiada hubungannya dengan Jieji. Oleh karena itu, semuanya hanya diam saja. "Boleh kutahu, jurus tapak berantai tingkat berapa yang kamu keluarkan untuk menghadapi ku tadinya?" tanya Zhu Xiang yang agak penasaran, karena jurus yang dikerahkannya adalah tahap akhir dari Tapak buddha rulai, namun belum mampu menjatuhkannya. Dan bahkan tiada mampu melukainya sedikit pun. "Itu tingkat ketiga...." kata Jieji. Sesaat, 5 pendekar langsung heran adanya. 3 tahun lalu, mereka sempat bertanding hebat dengan Jieji. Meski terakhir mereka kalah dengan tingkat ketiga, tetapi tapak berantai tingkat ketiga Jieji saat itu masih jauh dibandingkan sekarang. "Lalu bagaimana kau bisa mengalahkannya dengan begitu mudah?" tanya Xia Rujian yang mulai heran. "Sebab.... Aku kali ini mengeluarkan semua tenaga dalamku untuk melayaninya..." kata Jieji sambil tersenyum ke arah ayahnya. Semua orang yang mendengarnya segera berdecak kagum. Ternyata kemampuan bertanding Jieji yang ditunjukkannya dalam 2 babak pertama jelas hanya menggunakan sebagian dari tenaga saja. Tetapi tidak seluruhnya.

Tenaga dalam Jieji dalam 3 tahun ini telah maju sangat pesat. Tentu hal ini tiada diketahui oleh siapapun disana. Oleh karena itu, jurus ketiga tapak berantainya telah mampu berkibar hebat di dunia persilatan. Boleh dikatakan, hanya kali inilah Jieji mengeluarkan tenaga dalamnya 100 persen dalam pertarungan. Sejauh ini, dia tidak pernah melakukannya. Tentunya hanya berlaku saat dia telah menguasai tapak berantai. Saat mereka sedang "gosip", mereka merasakan adanya suara kembali yang datang. Sama seperti suara yang pertama, saat pasukan Liao telah datang. Tanah di bawah segera bergetar hebat kembali. Tetapi kali ini, arahnya berlawanan dengan yang pertama. Karena suara pasukan yang datang berasal dari "Selatan". Para pesilat segera mampu bergembira kembali. Mereka berpikir pasukan Sung telah datang untuk membantu mereka. Apakah pemikiran polos seperti itu benar berlaku? Sekarang Zhu Xiang, 5 pendekar dan 15 pengawal sakti terlihat sangat senang adanya. Sedang Jieji segera tersenyum cerah. Yuan sendiri juga telah bersiaga bersama Chonchu dan Wang Sungyu. Mereka terlihat tersenyum puas juga. Sebenarnya apa hal yang sedang di benak mereka masing-masing? Lalu dalam pikiran mereka, manakah yang terbukti benar adanya. Jelas... Pasukan Sung yang datang pasti dipimpin oleh Zhao Kuangyi adanya. Lalu apa maksud dari pasukan Sung yang datang ini? Penyelamatan... Atau pembantaian besar-besaran bakal terjadi... atau pula yang terjadi malah kedamaian? Semua telah menunggu dengan hati yang cemas adanya.

BAB LXXV : Pertempuran Hebat
Saat itu, langit telah mulai mendung. Bahkan desiran angin dingin terasa lumayan "menggigit" orang-orang yang disana walaupun masih musim panas mendekati musim gugur. Ditambah lagi goncangan lemah dari tanah dan suara derap kaki kuda membuat para pesilat sedikitnya merinding. Jieji berdiri di posisi tengah dengan hanya diam dan memandang ke arah selatan. Sementara Yuan, Chonchu dan Sungyu segera berjalan ke arahnya.

Pasukan Liao dan semua kawan-kawannya sangat bergembira karena Zhao kuangyi hampir sampai. Semuanya merasa hari ini adalah hari kemenangan terbesar sepanjang sejarah mereka. Karena Pesilat yang menjadi halangan serta batu sandungan bagi mereka akan lenyap secepatnya. Memang benar adanya... Ketika benar dekat dan terpaut sekiranya 1/2 li, mereka telah melihat bendera besar luar biasa. Kebanyakan bendera di samping terlihat sebuah huruf saja yaitu "Sung". Sedangkan bendera di tengah yang berwarna kuning dan lumayan besar berkibar, bertuliskan "Raja Yi Chou, Zhao Kuangyi". Kontan semua orang girang sekali mendapatinya... Hanya dalam otak mereka masing-masing berbeda persepsi. Semua orang Liao mengira Zhao kuangyi akan membantu Liao memusnahkan para pesilat. Sedangkan dalam pemikiran pesilat adalah Zhao kuangyi membantu pesilat untuk menyingkirkan Liao. Dua pendapat dalam pikiran masing-masing yang saling antagonis. "Apa benar apa dugaaan anda kak Jie?" tanya Chonchu yang agak heran kemudian karena melihat pasukan Sung yang telah dekat sekali. "Aku punya keyakinan lebih dari 8 bagian..." Kata Jieji dengan tersenyum kepadanya. Yuan melihat ke arah Jieji dan mengangguk pelan saja. Sesaat, dia segera memimpin pasukan Kaibangnya untuk berkumpul dan berbaris rapi untuk menantikan kedatangan Raja YiChou tersebut. Desiran angin dingin makin deras saja, sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Apakah hujan kali ini membawa berkah? Tentu sebentar lagi akan kelihatan hal sebenarnya. Dari jauh, orang-orang telah melihat penunggang kuda putih di tengah sedang mendatangi dengan gerakan biasa-biasa saja. "Itu Raja Yi Chou, Zhao Kuangyi....." teriak para pesilat dengan gembira. Memang benar... Penunggang kuda putih tak lain adalah Zhao Kuangyi adanya. Saat dia sampai, 5 pendekar dan Zhu Xiang tidak bertindak apapun. Tetapi kesemuanya tersenyum manis sekali. Di dalam pemikiran mereka, mereka telah mendapati sesuatu sehingga semuanya menjadi sangat girang karenanya.

Sementara itu, 15 pengawal sakti segera beranjak dari tempat mereka dan menghadap ke arah Zhao kuangyi. Saat mereka benar dekat, kesemuanya berlutut. "Selamat datang Raja Yi Chou...." kata mereka semua serentak. "Baik... Berdirilah semua..." kata Zhao kuangyi. Sepertinya Zhao kuangyi juga tidak membawa pasukan yang sedikit. Dari arah selatan, lembah tersebut telah penuh oleh pasukan yang gagah. Bahkan di lembah yang agak berkelok, pasukan mereka seperti ular yang mengikuti lintasan saja. Mungkin jumlah pasukan Sung di atas 5 laksa juga. Yang gawatnya sekarang, para pesilat terkepung di tengah ratusan ribu prajurit adanya. Dimana Liao berada di utara, dan Sung berada di sebelah selatan. Setelah menjalankan adat kerajaan, Zhao Kuangyi segera menengok ke arah Jieji. "Bagaimana keadaanmu dik? Kamu sehat?" tanya Zhao sambil tersenyum kepadanya. "Baik... Atas pertanyaan anda raja, tidak mungkin aku berani mengapamengapa..." kata Jieji sambil tersenyum kepadanya. "Bagaimana dengan keadaan kakakku di Dongyang?" Jieji hanya diam saja, dia tidak mau menjawab pertanyaan Zhao Kuangyi adanya. Sebab semua pesilat tentu tahu kakak dari Zhao kuangyi adalah Sung Taizu, Zhao Kuangyin. Hal ini segera disadari oleh Zhao kuangyi, dia tertawa sangat keras melihat tindakan Jieji. Sementara itu, Jieji hanya tersenyum melihatnya. Saat semua merasa aneh dengan perkataan Zhao kepada Jieji. Saat itu terasa langit telah menumpahkan air hujan yang lumayan deras. Lembah datar yang luas tersebut telah basah... Saat semua sedang merasa heran, Zhao kuangyi segera memberi aba-aba dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Gerakannya yang dilihat oleh Yelu Xian, segera dia juga memberi aba-aba untuk menyerang. Baru kali ini, semua pesilat sangat terkejut... Posisi mereka sedang "terkepung". Jika kedua pasukan melakukan penyerangan, maka semuanya pasti akan tewas. Para pesilat segera ketakutan luar biasa melihat hal tersebut, sepertinya

mereka tiada berdaya lagi. Ternyata pasukan Sung juga mengincar nyawa mereka semua. Tetapi sebagai pesilat, prinsip mereka sekarang adalah bertempur matimatian. Pasukan Sung telah menuju cepat bagaikan gelombang lautan yang ganas ke arah mereka dari arah selatan ke utara. Sedangkan pasukan Liao mengambil posisi kebalikannya, Liao juga melakukan hal yang sama dengan pasukan Sung. Sungguh hebat getaran tanah akibat kedua pasukan yang datang dengan cepat sekali. Hujan semakin deras saja kelihatannya. Sedangkan di arah tengah... Jieji tertawa keras melihat hal tersebut. Zhao sebenarnya asyik memperhatikan gerak-gerik Jieji. Melihat Jieji yang seperti "gila" tentu membuatnya heran. Tetapi, sesaat... Dia telah tahu maksud Jieji yang sesungguhnya. Tidak disangkanya, dari semua orang disana. Hanya Jieji seorang saja yang mengerti apa maksud sebenarnya dari serangannya kali ini. Langsung, dia bertepuk tangan dengan sangat meriah. Kontan pasukan Sung yang melihat mereka berdua, langsung heran luar biasa. Tetapi mereka tetap melanjutkan pertempuran itu. Para pesilat yang sedikitnya mengalami luka dalam, langsung menerjang ke arah pasukan Liao terlebih dahulu. Mereka tidak lagi berpikir untuk bertarung melawan Sung adanya. Hal ini tentu telah diperkirakan oleh Zhao kuangyi sendiri. Hal ini jugalah yang akan membawa kemenangan luar biasa besar bagi pasukan Sung. Terjangan para pesilat ke arah Liao memang benar hebat. Karena semua pesilat berpikir bahwa mereka tidak mampu lari lagi, maka semangat bertempur mereka langsung melonjak tinggi sekali. Yuan Jielung-lah orang yang bertarung di depan dengan sangat hebat sambil memimpin pasukan Kaibang untuk bergebrak mati-matian. Kemampuan Yuan sangat luar biasa, dia sering terlihat mengeluarkan tapak hebatnya untuk melayani pasukan Liao yang datang terdekat kepadanya. Tanpa terasa hanya beberapa saat. Yuan Jielung telah membunuh 50 orang lebih dengan jurus saktinya. Karena melihat keadaan bakal runyam, kelima pendekar dan Zhu Xiang langsung mengeroyoknya dengan hebat. Kali ini, Yuan tidak lagi melakukan pertempuran dengan pasukan Liao, tetapi dia melayani 6 lawannya sekaligus.

Chonchu dan Sungyu segera membantu Yuan untuk bertarung melawan 6 orang hebat ini. Pasukan Sung memang belum sempat bergebrak melawan para pesilat. Terjangan mereka telah sangat dekat sekali dengan "pasukan ekor" para pesilat. Maksud pasukan ekor adalah pasukan terakhir dan pasukan belakang tadinya, sebab pasukan depan mereka adalah pasukan yang sedang bertempur hebat dengan pasukan Liao. Pasukan ekor pesilat segera maju untuk bertarung mati-matian dengan pasukan Sung yang telah hampir sampai. Tetapi... Ketika hanya berjarak puluhan kaki, pasukan Sung sepertinya memisahkan diri. Pasukan sayap kiri segera mengambil arah melingkar dari sebelah kiri. Sedang pasukan sayap kanan segera mengambil arah melingkar dari sebelah kanan. Gerakan pasukan Sung telah dimengerti Jieji adanya sebelum mereka datang. Yuan Jielung terlihat tersenyum puas, sebab apa yang dibisikkan Sungyu kepadanya telah jelas sekali. Tetapi 5 pendekar yang melihatnya, langsung girang. Mereka berpikir bahwa gerakan melingkar itu akan sampai ujungnya yaitu di tengah pasukan pesilat. "Kali ini pesilat akan kehilangan nama mereka masing-masing disini..." kata Zhu Xiang yang terlihat girang mendapati pergerakan pasukan Sung. Kelimanya segera tersenyum melihat gerakan pasukan Sung itu. Tetapi mereka salah besar... Ketika gerakan melingkar pasukan Sung terasa janggal karena terlalu luas oleh keenam orang itu, maka semuanya telah terlambat sekali. Sebab ujung dari pasukan sayap kiri dan kanan tidak mengambil arah tengah pesilat untuk memecahkannya, melainkan yang terlihat adalah mengambil posisi tengah dari pasukan Liao. Tidak disangka oleh mereka semua, ternyata Zhao kuangyi mengkhianati Liao. Dengan gerakan bagai tukang jagal binatang, pasukan Sung menghantam luar biasa cepat dan dahsyat pada pasukan tengah Liao yang tidak tahu bakal diserang dan dihantam sedemikian rupa. Melihat kemenangan sudah tidak mungkin diraih, kesemuanya berniat langsung menawan Zhao Kuangyi yang masih di tengah dan duduk di atas

kudanya dengan mentereng di posisi pasukan tengah dari Sung. Tetapi, saat mereka menoleh... Mereka melihat jelas Jieji telah siap dengan pedang ekor api yang sedang tergenggam sambil mengawasi dengan garang. Sedangkan di belakangnya berdiri 15 pengawal sakti yang telah siap dengan pedang dan siaga adanya. Mau tidak mau, mereka segera mengambil langkah seribu karena mereka tidak tahu bakal diserang sedemikian rupa oleh Sung. Pekerjaan dan pengkhianatan Zhao kuangyi yang luar biasa hebat... Memang benar... Pasukan Liao segera terlihat rusak parah hanya dalam sekejap mata saja... Pasukan depan telah diterjang oleh para pesilat tadinya. Pasukan tengah mereka dilabrak dengan hebat oleh Sung dari 2 arah. Yang hebatnya, ketika pasukan Sung telah bertemu di tengah, mereka langsung membagi pasukan menjadi 2 kembali. Yaitu pasukan sayap kiri segera mengambil posisi menghadap ke arah para pesilat untuk membantai pasukan Liao. Dengan begitu, pasukan Liao disini telah terkepung hebat. Sedangkan pasukan sayap kanan dari tengah segera membelah ke kanan untuk melabrak pasukan belakang Liao. Pasukan Liao yang melihat kehancuran mereka dalam sekejap saja, segera lari tunggang-langgang tanpa memikirkan akibatnya lagi. Tiada pasukan Liao yang masih memiliki keinginan untuk bertempur. Hujan yang lebat kali ini telah membawa kehancuran luar biasa parahnya bagi para pasukan Liao adanya. Pengejaran yang dilakukan pasukan sayap kanan sangatlah seru adanya. Pasukan Liao yang tiada pemimpin telah menjadi berantakan sekali cara kaburnya. Semua orang hanya memikirkan bagaimana cara selamat pulang ke negeri Liao. Mereka tidak berpikir hal lain lagi selain ini. Sedangkan Jieji hanya terlihat lesu sambil memandang ke arah pasukan Liao yang dibantai habis-habisan oleh Sung. Dia tidak menyangkanya sama sekali kalau pasukan Sung akan bergebrak luar biasa hebat dan dahsyatnya dalam melakukan peperangan dengan Liao. Dia memikirkan tentang "bantuan" yang telah sampai ini. Tetapi baginya... Taktik yang hebat, tetapi sangatlah kejam adanya. Zhao kuangyi terlihat tersenyum penuh makna melihat kehancuran pasukan Liao yang dalam waktu sesaat saja. Pengejaran dilakukan beberapa puluh Li... Banyak sekali mayat pasukan Liao yang berserakan di sepanjang jalan akibat terjangan pasukan Sung yang hebat.

Dalam peperangan kali ini, Liao benar kehilangan pasukan yang luar biasa banyak karena yang benar mampu kembali hanya sekitar 200 orang lebih saja. Itupun kesemuanya rata-rata mengalami cedera baik itu ringan ataupun parah. Zhao kuangyi tidak pernah tahu, serangan kali inilah yang membangkitkan "dendam" sampai ratusan tahun lamanya. Selama Sung berkuasa, maka Liao selalu mengancamnya dari arah utara... Zhao kuangyi segera mengumpulkan pasukannya kembali. Dia mendapati kemenangan yang luar biasa besar. Banyak sekali dia dapati ransum dan alat senjata yang sangat banyak yang ditinggalkan oleh pasukan Liao. Para pesilat disana sangatlah bersyukur akan kejadian yang disebabkan oleh Zhao kuangyi. Kesemuanya terlihat banyak yang berlutut sambil menangis untuk memuji kebijaksanaanya. Sedangkan Jieji hanya terlihat menggelengkan kepalanya sambil timbul penyesalan yang dalam. Tidak disangkanya, kuangyi bakal menggunakan siasat sedemikian rupa untuk menarik simpati para pesilat disana. Ternyata aksi Zhao kuangyi tidak sampai disini... "Para pesilat yang budiman... Sebagai raja dari negeri Sung yang besar, aku tidak akan membiarkan Liao yang kejam menginjak tanah kita lagi untuk selamanya. Mengenai kakanda kaisar, saya pasti akan melawannya secara terang-terangan jika kakanda kaisar masih berpikir ingin bersekutu dengan Liao..." kata kuangyi dengan tegas. Tentu apa kata Zhao kuangyi adalah untuk menarik simpati yang hebat dari semua orang disana. Mereka juga tahu, para pesilat adalah "Gudangnya" Gosip. Jika mereka tahu apa tindakan kuangyi, tentu mereka akan sangat bersyukur. Dan semua rakyat tidak lama lagi akan tahu "simpati"nya. Siasat yang tidak salah, namun sangat licik adanya. Sesaat itu, dia berpaling ke arah Jieji. "Adik... Bagaimana menurutmu keputusanku?" tanyanya dengan tersenyum. "Itu cukup baik... Untuk semua orang tentu cukup baik.. Hanya tidak baik untuk seseorang..." kata Jieji kemudian dengan agak marah.

"Ha Ha... Betul.. Betul.. Untuk itu, saya mengundang kamu dan orang di Dongyang itu untuk datang 3 bulan kemudian ke Kaifeng... Bagaimana?" tanya Zhao kuangyi. "Baik... Meski harus mati, aku akan mengawal dia untuk datang..." kata Jieji dengan tegas. Apa yang dikatakan mereka berdua tentu tiada orang yang mampu mengerti maksudnya. "Dik.. Kamu tahu? Kenapa kamu tidak bisa membunuhku?" tanyanya kembali. "Betul... Hal ini tidak mungkin kulakukan... Keadilan akan kutagih kembali 3 bulan kemudian sesuai dengan janjimu kepadaku sekarang..." kata Jieji. Tentu, bagi Jieji yang sangat menghormati kakak pertamanya. Dia tidak akan mampu berturun tangan untuk membunuh adik kandungnya. Sedangkan Jieji sekarang mengerti dengan pasti apa maksud dari kuangyi. Ternyata kuangyi mengincar "tahta" kerajaan Sung. Dia tidak lagi mampu berbicara apapun karena menurutnya untuk masalah seperti ini, hanya kakak pertamanya yang mampu memutuskan lebih lanjut. "Jadi, sekarang kamu mau kemana dik?" tanya kuangyi kembali. "Aku akan pulang ke Dongyang kembali..." "Bagus... Kamu bawalah ini...." kata Kuangyi seraya mengangkat tangannya tinggi. Saat itu juga, terlihat seorang serdadu sedang menggiring seekor kuda yang "aneh". Sesaat sampainya kuda, semua yang melihatnya sangat kagum sekali. Kuda ini tingginya hampir 6 kaki, bulunya berwarna kuning kemerahan. Bentuk badannya sangatlah gagah adanya, sedangkan hembusan nafas kuda sangatlah bertenaga. "Apa maksudmu?" tanya Jieji yang terlihat agak marah. "Tidak apa dik... Ini cuma untuk buah kalam sebagai tanda penghormatanku kepadamu. Segeralah pakai untuk menuju ke Dongyang." kata Zhao kemudian, tetapi sorot matanya kemudian telah berubah sangat pengertian sekali. "Baiklah kalau begitu..." kata Jieji kemudian.

Zhao kuangyi segera mengajak pasukannya untuk kembali ke kota Ye. Namun sebelum dia beranjak, dia sempat membalikkan badannya dan berkata beberapa patah kata. "Para pesilat... Mengenai terbunuhnya keluarga kalian sebenarnya sama sekali tiada hubungannya dengan Xia Jieji, melainkan adalah tindakan orang-orang dari Liao untuk memfitnahnya sehingga terjadi kejadian hari ini. Oleh karena itu, saya berharap kepada semua orang untuk tidak mengejarnya lagi...." teriak Zhao membahana. Semua pesilat terlihat setuju juga dengan apa yang dikatakan Zhao Kuangyi, karena mereka sendiri telah melihat dengan lumayan jelas bagaimana sepak terjang Jieji tadinya. Semua malah berdecak kagum akan kemampuannya yang dahsyat, sepertinya rasa "permusuhan" mereka semua telah mereda kepada Jieji. Saat berpamitan dengan 15 pengawal sakti, terlihat seorang wanita cantik luar biasa dari mereka memberi hormat kepadanya dengan sangat sopan sekali. Semua orang yang melihatnya cukup heran adanya. Tetapi Jieji juga melakukan hal yang serupa, dia membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada gadis itu. "Namaku Lie Xian... Anda benar seorang yang luar biasa di zaman ini..." katanya memuji. "Terima kasih...." kata Jieji seraya memberi hormat kepadanya. Ketika para pesilat ingin berpamitan satu sama lain, mereka semua memberi hormat ke arah Jieji yang tentu dibalasnya dengan sangat sopan pula. Biksu Wu Huan terlihat menuju ke arahnya untuk pamitan. "Tuan muda... Anda sungguh luar biasa... Yang tua mungkin telah salah paham terhadap anda beberapa lama. Oleh karena itu, Yang tua meminta maaf sebesar besarnya..." Jieji membalasnya dengan sangat sopan. "Biksu tua, maaf tadinya hamba telah bertindak lancang. Mengenai biksu Wu Jiang tidak pernah ada suatu kata dusta pun sesungguhnya dari apa yang kukatakan...." kata Jieji yang terlihat menyesal. Wu Huan segera memberi hormat kepadanya. "Tuan muda, jika ada waktu.. Kunjungilah kuil Shaolin.. Sebagai tuan rumah, kita akan menyambut anda dengan sangat baik...." katanya kemudian. "Pasti biksu tua..." kata Jieji kembali.

Beberapa lama setelah para pesilat berpamitan, lembah itu telah "kosong" penghuninya karena semua pesilat juga telah meninggalkan tempat tersebut kecuali Yuan, Chonchu dan Sungyu. Terlihat mereka bertiga berjalan ke arah Jieji. "Hebat kak Jie... Kamu mampu mengiranya dengan tepat.. Kenapa bisa begitu?" tanya Sungyu ke arah Jieji. "Itu tidaklah susah. Dari dulu aku telah mengenal Zhao kuangyi. Sifatnya bahkan lebih keras dari kakaknya sendiri. Selain itu, rasa keadilannya juga sangat tinggi... Maka daripada itu, aku mengambil kesimpulan kejadian tersebut..." kata Jieji. "Hebat.... Ha Ha... " Kata Yuan Jielung memujinya. "Ini adalah kakak seperguruanku... "kata Chonchu kemudian memperkenalkannya. "Tetapi kita pernah bertemu sebelumnya..." kata Jieji yang menceritakan kejadian penginapan Chenliu kepadanya. Tentu mereka tertawa puas. "Oya? Boleh saya tanyakan kepada anda?" tanya Jieji kepada Yuan Jielung. "Tentu..." kata Yuan seraya tersenyum kepadanya. "Apa tujuan anda mendirikan Kaibang? Inilah pertanyaan yang masih berada di benakku sampai sekarang...." kata Jieji agak penasaran. "Ha Ha... Tujuan utamaku adalah mengusir bangsa Liao. Dulu aku memang hidup di selatan dengan waktu yang lumayan lama. Tetapi menyaksikan kekejaman pasukan Liao, aku berniat untuk membela kebenaran...." kata Yuan dengan tertawa puas. "Hebat... Anda benar sungguh mengagumkan.. " Kata Jieji memberi hormat kepadanya. Hormatnya Jieji dibalas dengan baik juga oleh Yuan. Sebelum mereka sempat berkata, Chonchu segera menghampiri Jieji. "Kamu tahu... Kakak seperguruanku itu siapa?" tanya Chonchu seraya tersenyum penuh arti. Hal ini tentu diikuti oleh Yuan dan Sungyu adanya. Chonchu sekarang ingin mencoba kepandaian Jieji dalam menebak. Jieji segera tersenyum sambil melihat ke arah Yuan. Dia pandangi pemuda ini dengan serius...

Dari tatapan Yuan, wajahnya, keagungannya semua sangat mantap. Jieji merasa bahwa identitas Yuan tentu adalah orang yang mulia adanya. "Siapa?" tanya Chonchu kembali dengan tersenyum. "Jangan-jangan?... " tanya Jieji dengan heran. "Ha Ha.... Sepertinya dia hampir mampu menebaknya... Apa yang ada dalam pikiran anda sekarang pendekar Xia?" tanya Yuan. "Kamu pasti salah seorang raja antara negeri Jing Nan, Tang selatan ataupun Han selatan?" tanya Jieji sambil mengerutkan dahinya. "Ha Ha... Betul.. Betul... Akulah Kaisar terakhir Tang Selatan, Li Yu...." Kata Yuan Jielung kemudian. Heran... Sungguh heran... Bagaimana kaisar Tang Selatan, Li Yu bisa menjadi murid pertama dari Zeng Qianhao? Dan paling aneh adalah Kaisar Tang Selatan bisa menjadi Ketua perkumpulan pengemis.... Semuanya masih dalam misteri...

BAB LXXVI : Naga Yang Kembali
"Oh? Jadi bagaimana anda bisa menjadi ketua perkumpulan pengemis? Sungguh aneh sekali..." kata Jieji bertanya kepada Li Yu. Semua hanya melihat Jieji dengan tersenyum. Li Yu sendiri bahkan tidak begitu berniat menjawabnya. Dia hanya terlihat tertawa keras kemudiannya. Jieji tidak pernah tahu dalam 3 tahun yang lalu tersebut, hal yang paling membuatnya dibenci tentu adalah gosip yang mengatakan kalau Dewa Bumi adalah mata-mata dari Sung ke pihak Liao yang dibunuh oleh Jieji. Semua orang dari Sung, kaum persilatan sungguh menyalahkan Jieji adanya karena menjadi pengkhianat Sung yang berpihak kepada Liao. Tujuan Yuan Jielung/Li Yu mendirikan partai pengemis tentunya adalah untuk memblokir serangan dari arah utara (Liao) ke daratan China. Kaisar Tang selatan tersebut merasa dirinya cukup sanggup untuk mengalahkan "Xia Jieji" jika dia terbukti adalah penjahat terbesar yang menjadi ancaman Sung. Tetapi sekarang keadaannya telah berbeda 180 derajat, sebab Xia Jieji yang dikiranya adalah musuh utamanya malah merupakan teman sejati mereka. Tentu ketika ditanya Jieji, mereka tidak mampu menjawabnya dengan jelas kepadanya. "Kak Jie,... Lalu apa rencanamu sekarang? Apa kamu akan pulang ke Dongyang?" tanya Chonchu kemudian.

"Mungkin belum perlu aku pulang ke Dongyang sekarang. Sebab Zhao Kuangyi berjanji akan bertemu dengan kita semua 3 bulan kemudian di Kaifeng. Masih ada 1 bulan lebih waktu luang untukku...." kata Jieji sambil berpikir. "Oya saudara Jie, mendengar apa yang kamu bicarakan tadinya dengan 4 pendekar bertopeng. Berarti benar bahwa mereka adalah "ayah" dan "ibu" anda sendiri? Tetapi sungguh mengherankan sekali. Sebenarnya apa tujuan mereka kepadamu?" tanya Li Yu sambil berkerut dahi. "Benar... Mereka berempat tak lain adalah Xia Rujian, Hikatsuka Oda, Ibu kandungku sendiri dan Ibu mertuaku, Wu Shanniang." kata Jieji sambil berpikir keras. Tiba-tiba di dalam pemikirannya dia merasa ada hal yang sungguh janggal. "Oya saudara Yuan, kamu masih ingat bagaimana saat kukeluarkan Jurus Ilmu jari dewi pemusnah tadinya sewaktu bertarung melawan 5 orang itu?" tanya Jieji dengan penasaran ke arah Yuan. "Betul... Masih ku ingat jelas.. Jurusmu yang pertama dari jarimu adalah mengenai ibu mertuamu. Sepertinya dialah orang yang terluka paling parah." kata Yuan mengenang pertarungan tadi yang sekejap tersebut. Jieji langsung terkejut. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang terdepan adalah Wu Shanniang. Saat itu, dia telah sangat marah pada Yue Liangxu. Tujuan utamanya adalah "memusnahkannya". Dia tidak sempat melihat bagaimana luka dalam yang diderita oleh Ibu mertuanya sendiri. Tentu ketika dia mengerahkan jurus maha hebat itu, dia tidak pernah tahu bagaimana akibatnya nantinya. "Benar... Apa yang saudara Yuan katakan itu sangatlah benar adanya. Ketika jurus keduaku telah ku rapal. Aku melihat ibu kandungku sesaat, sehingga energi untuk keempat orang lainnya tidak ku maksimalkan. Mungkin mereka hanya luka dalam yang tidak parah. Tetapi aku sekarang tiada yakin dengan Wu Shanniang..." kata Jieji sambil menghela nafas panjang. "Ini bukanlah salahmu kak Jie... " kata Chonchu kemudian kepadanya. "Betul... Ini tiada hubungannya dengan anda pendekar Xia..." kata Sungyu kepadanya. Apakah kekhawatiran dalam hati Jieji itu akan menjadi kenyataan? *** 50 Li arah utara daerah Yi Chou, perkemahan Liao... "Keparat.... Zhao kuangyi tidak menepati janjinya... Saya akan datang sendiri untuk membunuhnya...." teriak seorang yang agak tua yang tidak lain adalah Yelu Xian. "Huh... Kau yakin sanggup membunuhnya?" tanya seorang disamping yang tak lain adalah Hikatsuka Oda. "Keparat... Ini sangat memalukan bangsa Liao kita.. Kau hidup sebagai orang Liao, bagaimana kau bisa berkata begitu? Ha???" tanya Yelu Xian dengan sangat marah.

"Ha Ha... Kau tahu? Marah tiada pernah menyelesaikan masalah. Sepertinya kita harus mengulang semua rencana kita kembali...." kata Hikatsuka kemudian. Aneh!!! Kenapa Yelu Xian mengatakan kalau Hikatsuka Oda adalah "orang Liao?" "Kalian tahu? Dalam pertempuran kali ini, bukan saja prajurit kita yang mati terbunuh sungguh banyak sekali. Tetapi, Wu Shanniang terluka sangat parah... Sepertinya tangan kirinya tidak mampu digunakan lagi...."kata Xia Rujian. "Sialan... Ini gara-gara kau.. Kau didik anakmu dengan luar biasa hebat...." tutur Yelu Xian kemudian dengan sangat marah kepadanya. "Ha Ha... Ini tidak bisa disalahkan semua kepadaku... Dahulu telah kukatakan untuk membunuhnya di timur kota Xiapi. Tetapi tidak mau didengarkan olehmu..." tutur Xia Rujian. "Itu tidak bisa disalahkan semua kepadanya. Tentu dikarenakan tanpa sengaja malah puteri kandungnya sendiri terbunuh disana..." tutur Hikatsuka Oda kemudian. Heran.... Tidak disangka kalau Yuan Xufen adalah puterinya Yelu Xian sendiri dari hasil hubungannya dengan Wu Shanniang. Rupanya Yunying dan Xufen adalah saudara yang tidak seayah. "Sekarang bagaimana keadaan Liangxu?" tanya Hikatsuka Oda kemudian. "Sepertinya luka dalamnya sangat parah, mungkin dalam 3 bulan dia baru bisa sembuh. Chen Yang sedang mengobatinya..." kata Yelu Xian sambil menggoyangkan kepalanya. "Hanya dialah orang yang bisa menjadi harapan kita untuk mengalahkan anakmu itu..." kata Zhu Xiang kemudian yang sedari tadi diam ke arah Hikatsuka. "Betul.. Hanya dialah.. Sekarang kamu telah datang kemari.. Tentu ini adalah hadiah kita yang terbesar.. Ha Ha... Kali ini Jieji tidak akan lolos lagi..." kata Hikatsuka kemudian. Ada seorang disamping mereka semua, seorang wanita yang diam seribu bahasa tanpa mengucapkan apapun. Sepertinya dia merasa cemas dengan perkataan mereka semua. Dia terlihat sering mengerutkan dahinya. "Oya, Bagaimana dengan Zhao Kuangyin?" tanya Xia Rujian. "Sepertinya dia masih berada di Dongyang. Dia bukanlah orang yang kita cemaskan sama sekali..." kata Yelu Xian. Tetapi Hikatsuka tidak berpikiran demikian... Diingatnya kembali bagaimana pertarungan dengannya di dalam istana. *** Saat itu di taman istana...

Zhao kuangyin memang rebah ke tanah akibat pukulan hebat dari "Ibunya" Xia Jieji. Semua yang melihatnya tentu bakal mengira Zhao akan tumbang. Tetapi... Ketika dia berdiri sambil muntah darah hitam, dia masih terlihat cukup sehat. Wajahnya masih belum berubah banyak. Dari sinar matanya mengandung hawa petarung sejati. 15 pengawal sakti tidak memberinya kesempatan untuk berdiri lebih lama. Dengan segera, mereka mengepungnya kembali. Tetapi sebelum benar mereka siap adanya, Tinju Zhao sepertinya bekerja kembali dengan sangat cepat. Semua orang memang belum sempat merasakan hawa energi Zhao keluar, terlihat 4 orang dari anggota 15 pengawal sakti telah jatuh tersungkur dan tiada sadar diri lagi. 5 Pendekar yang melihat kejadian tersebut segera tidak bermain-main. Mereka melancarkan jurus hebat untuk menjatuhkannya. Tetapi... Saat jurus mereka hampir sampai, Zhao mengerahkan energi untuk merubah serangan. Dari tinju, dia mengubahnya menjadi cakar. Cakar Zhao sungguh cepat, setara dengan tinjunya itu. Tendangan Hikatsuka Oda yang duluan sampai sepertinya melenceng ke arah teman-temannya. Dalam 10 jurus, terlihat Zhao memang kepayahan. Tetapi semua jurus mereka masih sanggup di balikkan dengan hebat olehnya. Kelima orang ini sangatlah terkagum oleh kemampuan Zhao yang telah teracun hebat itu. Selain itu, luka dalam Zhao juga tidak ringan. Dalam satu kesempatan, Zhao mengadu nasibnya.. Tendangan mayapada memang sampai kembali ke arahnya. Terlihat Zhao menarik nafas panjang untuk menerima serangan itu mentah-mentah. Semua orang disana sangat terkejut. Mereka mengira Zhao kali ini akanlah tewas mengingat kondisinya yang telah payah sekali. Tetapi ketika tendangan itu benar sampai, Zhao menarik diri dan menerima serangan itu. Dengan gerakan Dao tingkat tinggi, dia meminjam tendangan Hikatsuka untuk melayang mundur dengan sangat cepat. Zhao kuangyin mundur dengan sangat pesat. Ringan tubuhnya kali ini adalah 10 kali lebih hebat dari ilmu ringan tubuh yang sanggup dikeluarkannya karena telah meminjam tendangan hebat dari Hikatsuka Oda. Semua orang disana segera mengejar ke arah Zhao yang melayang pesat tersebut. Zhao melayang melewati batas istana belakang. Kemudian dia sanggup turun dengan mudah. Dengan sisa tenaganya, dia berlari cepat untuk mencari kuda yang bisa membawanya pergi jauh. Setelah lari kencang selama beberapa saat... Sungguh nasib bagus, sebab disana terlihat adanya beberapa ekor kuda yang ditinggalkan pedagang di belakang istana. Dengan tanpa banyak bicara, dia "mencuri" kuda itu dan memacunya ke arah timur kota Kaifeng.

*** Hikatsuka Oda yang mengingat kejadian itu sangatlah kagum sekali. Dia tidak menyangka racun hebat 7 bubuk bunga tidak mampu menjatuhkan Zhao kuangyin. Sesaat dia merasa gentar juga. "Lalu bagaimana dengan 15 pengawal sakti itu?" tanya Yelu Xian. "Mereka memang hebat, tetapi hanya saat mereka 15 orang saja. Mereka juga bukanlah duri dalam daging." kata Xia Rujian. "Baiklah, kalau begitu setelah 3 bulan kemudian, aku akan menggabungkan 7 tingkatan energi di tubuh Liangxu. Saat itu, dialah alat untuk melaksanakan rencana terbesar kita..." kata Zhu Xiang kemudian. "Ha Ha... Betul.. Betul.. Dengan begitu, kita tidak usah takut lagi rencana besar kita tidak terlaksana... Saat itu, meski Xia Jieji ada 5 orang. Dia tidak sanggup berbuat apa-apa lagi..." kata Yelu Xian kembali dengan girang. Sedangkan di tanah perkemahan itu, terlihat seorang biksu tua yang sedang kepayahan dan merebahkan dirinya. Biksu tua ini sepertinya hanya menunggu ajal menjemput saja. Tetapi tiada disangkanya, dia masih berguna untuk mereka semua meski dirinya telah kepayahan luar biasa. *** Di daerah barat kota Xiapi... Dari jauh terlihat tiga orang yang berkuda cepat menuju ke kota lainnya. Kota yang dituju tak lain adalah kota Chenliu adanya. Tiga orang tersebut adalah seorang wanita cantik dengan kuda bintang birunya, di pinggangnya terselip sebuah pedang pendek yang agak aneh. Sedangkan 2 orang lainnya adalah pria paruh baya dengan pria yang tua sekali. Tentu ketiga orang ini adalah Zhao Kuangyin, Yunying dan Dewa Ajaib. Ketiganya sepertinya sangat sibuk. Mereka terus memacu kudanya dengan sangat cepat sekali. Mereka telah berkuda selama 3 jam sampai dengan... Ketika mendekati sebuah tikungan yang cukup curam, mereka bertemu dengan sekelompok orang. Sekelompok orang tersebut sepertinya sedang menghadang di jalan. Orang tersebut berpakaian compang-camping, dengan tongkat bambu di tangan mereka masing-masing. Yunying dan dewa ajaib yang melihatnya sungguh heran. Mereka tentu tidak tahu mereka adalah kelompok pengemis. "Para tuan-tuan.. Ada apa gerangan dengan kalian semua?" tanya Yunying yang agak heran. Dia tidak menyangka bahwa pengemis bukannya meminta-minta di dalam kota, tetapi malah terlihat di luar kota yang agak sepi tersebut. Entah apa tujuan mereka semua.

Tetapi pengemis tersebut tidak menjawabnya, mereka hanya berbisik-bisik pelan saja sambil mengamati dengan penuh kecurigaan ke arah Yunying. Pandangan mereka sepertinya tidak lagi bersahabat. Kemudian, dari arah sekelompok pengemis segera muncul seseorang yang wajahnya agak pucat, tingginya hampir 6 kaki juga. Dia terlihat sangat tua dengan penampilan seperti ini. "Nona... Boleh saya tahu dimana pemilik kuda yang anda tunggangi ini?" tanyanya kemudian. "Pemilik kuda ini? Tentu saya sendiri... Memangnya ada hal apa?" tanya Yunying. Mendengar apa jawaban Yunying, semua pengemis yang jumlahnya sekitar 20 orang lebih segera mengepungnya. Dan dalam sesaat saja, pergerakan mereka telah mengepung habis nyonya muda nan cantik tersebut. Sedangkan Zhao kuangyin segera turun dari kudanya. Sambil memberi hormat dia berkata. "Kuda ini adalah milik suami dari nyonya tersebut. Memangnya ada masalah apa dengan hal tersebut...." kata Zhao yang juga lumayan heran dibuatnya. "Jadi dia-lah istri si "Setan pembantai"? Sepertinya langit memberi kita kesempatan untuk membalas dendam... Ha Ha......." kata tetua yang paling depan tersebut. "Setan pembantai? Maksud anda apa?" tanya Dewa Ajaib yang turun dari kudanya dengan agak keheranan. "Kau tidak tahu? Kau pura-pura tidak tahu... Dia telah membunuh banyak bangsa Sung, selain itu dunia persilatan telah kacau tidak karuan dibuatnya. Dia pengkhianat Sung dan berbelot ke Liao... Ini tidak bisa dimaafkan. Kalian semua akan kita sandera untuk memancingnya keluar..." kata Tetua tadi dengan marah. "Hei.... Tidak tahu aturan kau itu yah? Memang siapa kau? Orang sok hebat seperti kau mana pantas berbicara begitu kepada kita?" damprat dewa ajaib dengan marah menjadi-jadi kemudian. Tetapi para-para orang Kaibang sepertinya tidak memberi mereka kesempatan. Mereka segera mengancangkan tongkat untuk menyerang, sebab tadinya posisi mereka telah terkepung dengan ketat. Mereka bertiga tidak terlihat cemas adanya, bahkan dewa ajaib yang marah tadinya langsung tersenyum sangat menggoda ke arah mereka semua. Tentu hal ini sangat mengherankan semua anggota Kaibang. "Sudah mau mati malah tersenyum, sudah gilak kau itu..." kata Tetua Kaibang meledeknya. Dewa Ajaib yang dikatakan hal semacam ini tentu sangat tidak puas. Dengan segera, dia berpaling ke arah Zhao dan Yunying dengan wajah yang penuh senyum arti. Mereka berdua melihat tingkah Dewa Ajaib segera mengangguk. Dengan langkah aneh, Dewa Ajaib segera menuju ke tengah. Sedang para pengeroyok yang melihatnya juga segera membentuk formasi aneh untuk mengelilinginya seorang saja.

Dewa Ajaib tidak pernah melihat formasi semacam ini, tetapi ada sedikit hal yang dikenalnya sangat. Inilah formasi I-Ching. Formasi 8 arah yang berdasarkan bentuk cangkang kura-kura tua. Sepertinya mereka bakal menyerang secara kompak untuk menjatuhkan dewa Ajaib. Dengan tanpa aba-aba panjang, semua pengeroyoknya segera menyerang ke arah dewa ajaib. Sungguh sebuah formasi yang hebat... Formasi yang terlihat tidak ada lagi celah. Formasi ini sangat cocok mengepung seorang saja. Sepertinya dewa ajaib bisa dalam masalah yang tidak kecil. Tongkat para pengemis itu bergerak sesuai dengan perubahan formasi I-ching. Semua jurusnya padat dan bertenaga dalam tinggi. Sedangkan dewa ajaib yang melihat hal ini sempat bingung, sepertinya dia tidak mampu berkelit dengan cepat lagi. Karena betapapun hebatnya dia berkelit, pasti ada ruang yang janggal kemudian. Dalam beberapa puluh jurus, terlihat Dewa ajaib telah menerima 3-4 pukulan ke arah kakinya. Lalu dengan sangat marah, dia menarik tongkat salah seorang pengemis. Dengan sekali hentak, pengemis itu telah terlempar lumayan jauh. Dengan tongkat itu, segera dia rapal jurus yang "diajari" oleh Jieji. Jurus pedang ayunan dewa musim semi. Kelebat tongkat dari Dewa Ajaib sungguh hebat, meski dia baru belajar beberapa minggu. Tetapi jurusnya ini tidak gampang dipandang remeh. Ayunan Pedang ini tidak melawan jurus tongkat mereka, tetapi malah mengikutinya dengan gerakan yang amat cepat. Semua orang yang melihatnya sangat terkagum-kagum. Sebelum tongkat terlihat menyerang orang depan, orang di belakangya telah roboh. Tetapi ketika penyerang dari depan mengeluarkan jurus hebat ke arahnya, dia tidak berkelit. Tetapi mengikuti arah serangan, tongkat-nya dewa ajaib berbalik kembali. Dalam 10 jurus kemudian, terlihat belasan pengemis telah jatuh akibat pukulan tongkat. Jika saja tongkat diganti dengan pedang, mungkin pengemis itu tidak akan hidup lebih lama lagi jika terserang. Dewa Ajaib sangat bergembira, tidak disangka ilmu penyempurnaan Jieji sangat hebat ketika bertarung dalam pengeroyokan musuh. Sewaktu menciptakan ilmu ini, Dewa Ajaib merasa sangat sempurna adanya. Hanya 1 hal yang tidak terpikirkan olehnya yaitu jika yang menyerangnya adalah banyak orang, maka ilmu pedang ayunan dewanya yang 7 tingkat memiliki kelemahan yang banyak. Sekarang hal ini telah teratasi akibat ciptaan 2 jurus baru tersebut. Tetapi sebelum dia girang lama, dia merasakan hawa tapak yang dahsyat luar biasa sedang menuju ke arahnya. Dewa ajaib tentu sangat terkejut... Dengan mengancangkan tapaknya cepat, dia melayani tapak dahsyat dengan sebuah hentakan. Ketika kedua tapaknya bertemu... Sinar kilat cepat dan benturan hebat segera terjadi. Terlihat penyerang mundur hampir 10 kaki akibat benturan tenaga dalam yang dalam sekejap itu.

Dewa Ajaib meski tidak apa-apa terakhir, tetapi dia juga sangat terkejut. Inilah jurus tapak mayapada yang disempurnakan. Dewa Ajaib pernah melihat tapak seperti itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi dia tidak menyangka ada juga pengemis yang menguasai ilmu ini. "Tapak pemusnah raga?" tanyanya heran kemudian. Penyerangnya tak lain adalah tetua di tengah tadi. "Bukan... Inilah jurus kedua dari 18 tapak naga mendekam milik Kaibang... Siapa sesungguhnya anda?" tanya tetua itu. "Ha Ha... Hebat... Hebat... Tidak disangka si tua Pei Nanyang itu melakukan hal yang hebat.. Dia malah mengangkat seorang pengemis untuk menjadi muridnya. Tidak tahu malu dia itu..." kata Dewa Ajaib sambil tertawa keras. Tetapi, para pasukan Kaibang sangat tidak senang mendengarnya. Apalagi tetua di tengah itu. Dengan marah dia menghampiri dewa ajaib. "Dia itu kakek guruku... Beraninya kau!!!!" "Kakek guru? Ha Ha.... Ini lebih lucu lagi.. Kau dengannya tiada banyak perbedaan umur. Tetapi dia mengangkatmu sebagai cucu muridnya... Lain halnya dengan diriku, jika kau kuangkat sebagai cucu murid, mungkin masih sangat pantas... Sungguh lucu sekali...." kata Dewa Ajaib sambil terpingkal-pingkal Para pengemis Kaibang sepertinya tidak tahan lagi mendengar ejekan dari Orang tua aneh ini, mereka lantas telah siap untuk menyerang kembali. Tetapi, sebelum mereka melancarkan jurus. Mereka dengan tiba-tiba melihat seorang pemuda paruh baya telah berdiri di tengah. Entah kapan pemuda ini datang, siapapun belum sempat melihatnya. Tetapi dia telah berada di depan Dewa Ajaib... "Kau......" kata Dewa Ajaib dengan sangat girang. Sedangkan Zhao kuangyin dan Yunying yang melihat orang tersebut juga sangatlah girang. Dengan berjalan ke arah tengah, Zhao memberi hormat kepadanya. "Tuan Qianhao... Apa kabarnya?" tanyanya. "Yang mulia tiada perlu sungkan...." kata Zhen Qianhao membalas hormat itu. Tentu semua partai pengemis kontan terkejut luar biasa. Mereka tahu bahwa kakek guru mereka telah sampai di tengah arena pertarungan tadinya. Tetapi hal yang paling tidak disangka mereka adalah Sung Taizu juga berada disana. Tetua ditengah sangatlah malu, dia tidak menyangka bahwa kakek gurunya sendiri adalah teman baik mereka semua. Dengan segera, dia maju dan memberi hormat. "Maafkan kita semua kakek guru...."

"Sudah... Tidak apa-apa... Segera pimpin anggotamu untuk menuju ke kota Ye saja." kata Pei Nan Yang. Mendengar apa kata Qianhao, mereka semua segera bubar. Tetapi bersama Zeng Qianhao, mereka berniat melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda sesaat itu. "Yang Mulia, jadi benar adanya anda tidak berada di Kaifeng?" tanya Qianhao dengan hormat ke arah Zhao. "Betul..." kata Zhao yang seraya menceritakan pengalamannya, bagaimana dia diracuni dan bagaimana dia bisa sampai ke Dongyang kemudian. Zeng Qianhao mendengarnya dengan sangat cermat, beberapa kali dia menghela nafas panjangnya. "Tuan... Apakah kamu mendengar bagaimana gosip dunia persilatan kemudian dalam 3 tahun ini?" tanya Yunying ke arahnya. "Iyah... Sepertinya hal ini tidak menguntungkan Xia Jieji, aku sedang dalam perjalanan menuju ke kota Ye. Tetapi tidak disangka bertemu dengan kalian disini. Sepertinya kali ini lumayan gawat untuknya. Selain itu... Saya juga akan mencairkan sebuah masalah disana..." Kata Pei Nanyang yang kemudian. Mereka dengan cepat melanjutkan perjalanan sebelum malam adanya menjemput.

BAB LXXVII : Gurun Tua Mongolia
Kembali kepada Jieji... Setelah berpamitan dengan Yuan Jielung dan kawan-kawan di perbatasan kota Ye. Dia segera berniat untuk mengambil arah utara. Entah apa maksudnya, tetapi di dalam hatinya dia berniat mencari sesuatu yang telah tertunda beberapa tahun yang lalu disana. Dalam perjalanan yang hanya sekitar 1 jam ke arah utara, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu hal. Hal yang dirasakannya memang sepertinya penting. Tetapi karena hal ini tidaklah begitu memusingkan dirinya. Maka dia segera melanjutkan perjalanannya pula ke arah utara tanpa menghiraukan benda yang sempat tertinggal tadinya itu. Jieji tidak tahu, benda ini meski kelihatan tidaklah penting. Tetapi benda ini jugalah yang akan menentukan hubungan dirinya dengan keluarganya. Di daerah perbatasan tempat terjadinya pertarungan... Di sana tertampak seorang pemuda yang keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan berjalan cepat, dia menuju ke arah sesuatu yang sempat dijatuhkan oleh Jieji saat pertarungannya tadinya. Dia segera jongkok untuk mengambil benda tersebut yang tak lain adalah kipas yang dipakai Jieji untuk menyamar sebagai seorang sastrawan. Terlihat pemuda itu tersenyum sangat sinis dan penuh kemenangan saat dia mengambil kipas tersebut, di dalam pemikirannya terdapat beberapa hal yang tidak mengasikkan tentunya.

Sepuluh hari kemudian di tanah tua Mongolia... Jieji telah sampai disana. Sepertinya dia sedang mengamati sesuatu hal yang dirasakannya sangat penting. Tentu hal ini adalah menyangkut asal-usul benda yang masih terselip di pinggangnya sendiri. Pedang ekor api... Kenapa pedang ini disebut sebagai pedang pemusnah raga? Dan kenapa para "Dewa" memperebutkan benda tersebut, dan bukannya pedang Es rembulan. Hal ini cukup menjadi pertanyaannya selama beberapa tahun yang belum terjawab. Mumpung waktu Jieji masih banyak, dia berniat memecahkan misteri yang masih tertanam di hatinya. Gurun pada siang hari memang panas sangat luar biasa. Dengan berpakaian yang cukup tertutup, Jieji berniat mencari desa terdekat terlebih dahulu untuk mencari informasi tentang daerah gurun tua ini. Setelah sekitar 5 jam dia berkeliling daerah gurun, akhirnya dia menemukan sebuah tempat yang terdapat banyak perkemahan. Orang-orang di gurun bersifat nomaden. "Rumah" mereka biasanya dibangun dekat aliran air ataupun sungai kecil guna bisa menghidupi diri disana. Jieji dari jauh melihat pemandangan yang cukup luar biasa yang belum pernah dilihatnya langsung. Barisan perkemahan disini sangat mirip dengan barisan perkemahan di perbatasan layaknya ketika kedua negara sedang melakukan peperangan. Dengan terkagum-kagum akan perkemahan yang lumayan luas itu, dia berkuda pelan mendekatinya. Orang-orang yang tinggal di daerah dekat aliran sungai tersebut segera memandang ke arahnya.Melihat Jieji datang berkuda sendirian, mereka segera keluar sambil membawa senjata mereka masing-masing untuk menghadangnya. Jieji yang melihat hal aneh ini, segera turun dari kuda dan memberi hormat ke arah mereka. "Ada apa para tuan-tuan begitu terkejut melihatku?" "Siapa kau... Apa maksudnya datang ke daerah kita?" tanya seorang yang di tengah setelah serius mengamatinya beberapa saat. "Tidak ada apa-apa... Saya hanya ingin meminta air untuk diriku sendiri dan kudaku... Selain itu, sepertinya malam mulai mendekati. Bisakah saya meminjam tempat untuk beristirahat malam ini?" tanya Jieji kemudian. "Tidak bisa... Kau lanjutkan saja perjalananmu itu secepatnya. Masih sekitar 10 li dari sini sebelah barat. Kau bisa temukan penginapan, disana kau bisa beristirahat.." katanya dengan sangat kasar. Orang di tengah ini sepertinya usianya hanya sekitar 30 tahun-an. Mukanya berewokan dan suaranya juga sangat kasar. Jieji hanya memandang ke arahnya dengan serius.

Tetapi saat mereka berdua berbincang, hal ini telah mengundang lumayan banyak penduduk disana untuk mendekati Jieji. Mereka memandang ke arah Jieji dengan cukup heran. Mereka merasa kenapa pemuda dari daratan tengah bisa sampai ke sana? Tidak berapa lama sebelum Jieji ingin meninggalkan tempat itu. Dia disapa oleh seseorang. Jieji segera melihat ke arah orang tersebut, dan segera turun dari kuda kembali. Dia datang memberi hormat kepadanya dengan sopan. "Tuan... Anda benar dari daratan tengah? Apa maksud anda datang ke tempat ini?" tanyanya. Orang yang berbicara kepada Jieji adalah seorang tua yang berpakaian cukup aneh. Selain itu, di tangannya memegang sebuah tongkat yang cukup besar. Dia cukup terlihat berkharisma adanya. "Pak Tua.. Namaku Jieji dari daratan tengah. Tujuanku kemari adalah untuk mengamati pemandangan gurun yang nan indah ini saja. Tidak ada maksud lain..." kata Jieji berbohong kepadanya. "Ha Ha... Orang bilang daratan tengah adalah daerah yang nan subur dengan pemandangan yang luar biasa indah dan sangat cocok untuk ditinggali, tetapi tidak disangka di daratan tengah juga ada orang yang seaneh anda yang jauh-jauh kemari hanya untuk melihat pemandangan..." katanya sambil tertawa keras. Hal ini diikuti oleh beberapa orang di belakang pak tua tersebut. Tetapi Jieji hanya tersenyum simpul sambil memberi hormat. Dia merasa orang tua ini adalah orang yang mempunyai pengaruh lumayan besar dari semua orang disana. Lantas kembali dia memberi hormat. "Pak tua, bisakah aku tinggal beberapa saat disini? Karena kudaku juga telah capek sepertinya. Mungkin perjalananku tidak bisa dilanjutkan lagi..." kata Jieji dengan sopan kepada orang tua tersebut. "Baiklah kalau begitu.. Kamu boleh tinggal disini. Tetapi hanya untuk beberapa hari saja. Sebab...." katanya dengan mengerutkan dahinya kembali. "Tenang saja pak tua... Saya tidak akan berani merepotkan anda terlalu lama... Begitu besok pagi, aku akan melanjutkan kembali perjalananku..." kata Jieji memberi hormat kepadanya. Pak tua kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan. Setelah itu, dia meminta beberapa orang dibelakangnya untuk menyediakan sebuah tempat untuknya. Sebuah perkemahan yang tidaklah besar, tapi sudah sangat cukup untuk bisa ditinggali oleh Jieji sendiri. Saat sore... Jieji berjalan sendiri untuk menikmati pemandangan daerah itu. Di sebelah barat perkemahan terdapat sungai kecil yang alirannya tidak deras. Selain itu, terlihat adanya padang rumput yang lumayan luas disana terbentang.

Sungguh sebuah pemandangan yang jarang dilihatnya. Dia bernafas lega juga melihat semua pemandangan itu. Sambil duduk di sebuah batu kecil. Jieji mulai berpikir. Dia ingin menanyakan hal mengenai pedang kepada orang tua itu, tetapi dia belum mendapatkan daya yang sempurna. Apalagi pedang ekor api bukanlah sebuah pedang sembarangan, maka dalam mengungkapkannya dia juga ingin sangat berhati-hati sekali. Tetapi tidak lama sebelum dia berpikir keras. Seseorang mendekatinya. Dari langkah saja, Jieji telah tahu siapa yang sedang datang tanpa melihatnya. Karena langkah tersebut diikuti dengan suara tongkat yang lembut terasa adanya. Sambil berdiri dan berbalik menghadap kepadanya, Jieji memberi hormat. "Pak tua...." "Hm...." Kata orang tua itu seraya duduk mengambil batu di sampingnya. "Kamu tahu nak? Kenapa tadi banyak orang yang mencegatmu di tengah jalan?" tanya orang tua itu. "Tidak tahu pak tua...." "Kamu tahu? Kita sebagai bangsa nomaden selalu saja tidak pernah akur satu sama lain. Oleh karena itu, kita selalu mencurigai orang sendiri daripada orang lainnya..." kata pak tua itu dengan mengerutkan dahinya. "Benarkah? Jadi memang benar ada musuh dari desa tersebut yang benar akan datang suatu saat nantinya?" tanya Jieji. "Ha Ha... Kamu sangat cerdas nak... Saya mendengar kalau banyak orang daratan tengah yang cerdas. Ternyata benarlah adanya.." kata orang tua ini sambil tertawa. Jieji hanya memberi hormat kepadanya pendek. "Di daerah kita... Suku sendiri saja saling berebut tanah. Entah sampai kapan semua suku kita ini bisa akur dan membina hubungan baik sesamanya..." kata pak tua sambil menghela nafasnya. "Ini pasti juga ada sebabnya kan? Selain itu, jika bangsa Mongolia bersatu padu. Mungkin bangsa lainnya tidak akan mampu meremehkan bangsa mongol lagi..." kata Jieji memberi kesimpulan. "Betul nak.. Mungkin suatu hari akan sampai nantinya. Tetapi hal yang kita bicarakan sesungguhnya bukanlah ini.. Nak, namaku Agula. Saya adalah kepala desa disini sejak 50 tahun yang lalu. Suku kita dinamakan suku Jiamojin. Penduduk disini mungkin telah sekitar 1000 orang lebih. Tetapi suku kita selalu mendapat ancaman dari arah utara, yaitu suku Mibao. Dalam 5 tahun terakhir, kita sudah mengalami perang beberapa kali.”

Sebelum Pak tua menceritakan lebih lanjut, Jieji memotongnya. “Jadi karena inilah aku dicurigai ketika pertama kali datang kemari?” “Ha Ha.. Betul.. Oleh karena itu nak, kami meminta maaf kepadamu.” “Tidak apa-apa pak tua..” kata Jieji pendek. “Hm.... Aku kira beberapa hari lagi mungkin akan terjadi lagi pertempuran satu sama lainnya karena sejak 5 hari yang lalu, suku Mibao telah mengirimkan surat tantangan perang. Sampai kapan bisa damai kembali?” kata pak tua itu dengan sungguh sungguh. Jieji yang mendengar apa hal yang dikatakan pak tua Akula, hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian terlihat mereka berdua hanya duduk melihat pemandangan matahari terbenam yang sungguh indah adanya. Malam harinya... Jieji diundang kepala desa Akula untuk menghadiri rapat persidangan mereka. Tetapi dengan diundangnya Jieji, maka banyak pihak juga yang tidak senang adanya. Bagaimanapun mereka menganggap bahwa Jieji kemungkinan adalah mata-mata dari suku lainnya untuk mencari informasi. Tetapi sepertinya Akula tidak menganggapnya begitu. Dia melayani Jieji dengan sangat baik. Dia diberikan status “duduk” yang cukup tinggi. Selain itu, Jieji mendapat gelas emas untuk susu arak kuda yang terkenal. Sepertinya pak tua merasa dia ada “jodoh” dengan Jieji. Sehingga dia sangat menghormati pemuda ini. Suasana dalam ruangan rapat yang hanya berbekal tenda yang tidak terlalu besar tersebut cukup tegang. Sepertinya para "jenderal" tidak sabar lagi semuanya. “Kepala desa... Tidak usah kita banyak berbicara terlalu banyak dengan suku Mibao lagi. Besok akan saya pimpin pasukan melewati hutan misteri untuk berhadapan langsung dengan mereka semua sambil menunggu pasukan dari Mibao tiba." tutur seorang pemuda yang sempat menghalangi Jieji di depan tenda perkumpulan suku mereka tadinya. Jieji berpikir mungkin orang inilah termasuk "Jenderal" dari desa mereka. Tetapi bagaimanapun peperangan langsung berhadapan sungguh tidaklah manjur, sebab bagaimanapun korban yang berjatuhan akan banyak sekali. Jieji hanya duduk sambil mengusap dagunya sambil berpikir. Dia tidak sanggup memberikan komentar apapun karena dia sama sekali tidak tahu lokasi strategis di daerah itu yang baik. Tetapi dia juga ingin sekali menolong orang tua itu. "Baiklah... Bersamamu akan diangkat asisten 3 orang. Selain itu kamu bisa membawa 200 orang pasukan dari sini." kata Pak tua itu dengan perasaan yang masih bercampur aduk. "Saya ingin ikut juga...." teriak seseorang dari arah samping. Semua segera melihat orang tersebut. Perawakan orang ini tidaklah tinggi, dari sinar matanya nampak kepercayaan diri yang tinggi. Selain itu, tubuh pemuda ini agak kekar dan kasar.

"Tidak bisa Jing Hu, kamu disini untuk melindungi desa ini. Melindungi rakyat yang masih di bawah umur dan wanita bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, aku mengangkatmu untuk berposisi di dalam bukannya di luar..." kata Pak Akula dengan pengertian kepadanya. "Tetapi dalam peperangan beberapa tahun ini, aku tidak pernah berada di garis depan. Untuk hal ini aku cukup malu adanya...." kata Jing Hu dengan tunduk. "Tidak bisa kamu katakan hal semacam ini. Tanpa desa ini, suku kita Jiamojin tidak mungkin ada. Kamu sangat kuharapkan karena tiada orang lain lagi yang sanggup menjaga desa ini..." kata Pak tua kembali. Terlihat pemuda bernama Jing Hu ini hanya menyilangkan tangannya ke dada. Ternyata inilah cara bangsa mongol memberi hormat. Namun, dari wajahnya masih tertampak rasa tidak senang dan mendongkol. Semua hal telah diputuskan. Oleh karena itu, rapat hari ini telah selesai adanya. Tinggal persiapan untuk peperangan saja. Dalam ruangan, Jieji terakhir berjalan keluar sambil meminta pamit kepada kepala suku atau kepala desa ini. Kepala desa hanya menganggukkan kepalanya pelan saja sambil memandang ke arah Jieji yang terus keluar meninggalkan ruangan. Setelah keluar, dia langsung memilih tempat yang tadi sorenya sempat dia duduk. Yaitu di arah aliran sungai kecil dan duduk di batu sambil menenteng guci arak yang cukup besar. Sambil menikmati pemandangan malam dia meneguknya dengan sangat nikmat seperti sedang dahaga saja. Desiran angin malam sepertinya makin dingin saja. Tetapi hal ini sama sekali tidak menghalangi Jieji untuk menikmatinya. Dia duduk telah sekitar 2 jam disana. Sampai kembali dari arah belakang ada suara yang mendekatinya. Suara yang tentu tidak asing. Suara yang tadi sore dirasakannya. Langsung saja suara itu berhenti di tempat pas di sampingnya. Sambil duduk dia memandang ke arah Jieji yang terus-terusan meneguk guci arak itu. Tentu orang ini adalah Pak tua Akula yang juga menenteng seguci arak kecil di tangannya. "Kamu belum tidur nak?" tanyanya. "Belum pak... Aku telah terbiasa tidur tidak pada waktunya...." kata Jieji. "Ha Ha... Betul... Semua orang tentu punya masalah tersendiri yang susah diungkapkan..." "Betul.... Betul.... Hidup memang begini..." kata Jieji sambil meneguk arak di guci yang telah hampir habis. "Kamu sudah berkeluarga nak?" tanya Akula. "Tentu... Aku berasal dari wilayah timur, Dongyang. Disana aku telah mempunyai seorang isteri yang cantik dan seorang anak yang masih bayi...."

"Ha Ha... Tetapi anehnya kenapa kamu tidak membawa mereka kemari sekalian?" "Tidak pak.. Saya tidak mungkin membawa mereka ke tempat tersebut mengingat gurun bukanlah tempat bermain yang bagus..." kata Jieji dalam keadaan setengah mabuknya. "Betul... Sesekali mungkin aku akan mencoba menikmati pemandangan daratan tengah. Jika perdamaian telah baik disini. Aku akan ikut cucuku untuk ke daratan tengah saja.." "Wah, ternyata anda juga telah punya seorang cucu? Apakah cucumu berada di daratan tengah sekarang?" "Betul... Dia berada disana. Tadinya ingin kujodohkan dengan anda. Tetapi karena tahu nak Jieji telah mempunyai pedamping, tentu tidak akan kulakukan lagi... Ha Ha..." Jieji yang melihat tingkah orang tua ini juga agak heran. Kenapa orang tua ini yang belum mengenalinya lantas berani menjodohkan cucunya dengannya. Lantas dengan mengalihkan pembicaraan Jieji berkata sendiri. "Orang-orang mengatakan gurun adalah tempat yang seperti surga adanya...." kata Jieji sambil menatap langit yang penuh bintang. Sepertinya langit di gurun sungguh berbeda dengan langit China daratan. Langit disini sangat penuh bintang adanya. Bagaikan sorga tiada beroda kaki. Suasana malam di gurun memang sungguh luar biasa sekali. Tentu Jieji yang lumayan puitis melihatnya segera mengucapkan kata-kata seperti itu. "Siang berkepanjangan dan tiada akhir dengan Malam abadi dan damai berkelanjutan...." sambungnya kembali sambil meneguk arak di guci. Orang tua ini yang melihat tingkah Jieji yang terkesan aneh segera mengaguminya. Dia merasa bahwa Jieji bukanlah orang sembarangan. Selain itu, dari pinggangnya yang terus terselip sebuah "pedang aneh" lantas memberinya perkiraan bahwa Jieji adalah seorang pesilat. Setidaknya mungkin ilmu silat Jieji juga telah lumayan tinggi adanya. Mereka berdua duduk sampai pagi adanya di tempat itu. Sesekali mereka menceritakan tentang kehidupan mereka sendiri. Pak tua mengatakan bahwa dia mempunyai seorang cucu perempuan yang juga bisa silat. Kata Pak tua, cucunya melayani kerajaan. Dan merupakan pasukan khusus dalam kerajaan. Sementara Jieji menceritakan tentang keluarganya yang di Dongyang. Mereka berdua sering terlihat tertawa senang sambil meneguk arak. Keesokan harinya... Jieji tetap 1 malam tiada tidur. Dia hanya duduk disana, di dekat aliran sungai. Sementara itu pak tua akula telah pulang ke tendanya menjelang pagi benar. Sebenarnya malam di gurun sungguh sangatlah berbeda dengan siang hari disana. Malam di gurun sungguh sangat dingin. Dinginnya malam di gurun tidak jauh berbeda dengan dinginnya daerah gunung Fuji pada malam hari. Jieji adalah seorang yang mempunyai tenaga dalam yang tinggi, jadi mengenai masalah cuaca tentu tidak sanggup membuatnya tidak berkutik. Sementara orang-orang di perkemahan yang mengetahui Jieji tidak tidur semalaman juga merasa heran.

Bukan saja karena dia tidak tidur, melainkan dia duduk sendiri tanpa alas dan tiada pakai baju yang sangat tebal. Paginya, orang-orang yang melihatnya sungguh terkejut. Sebab dari wajahnya, tiada tampak rasa mengantuk ataupun lelah. Semua orang di daerah itu terkagum-kagum melihatnya. Pak tua Akula segera mengantar kepergian Jenderalnya bersama 200 orang prajurit ke arah utara menuju ke arah hutan misteri. Setelah semua dirasanya beres, dia kembali mencari Jieji. "Nak Jieji, apa kamu sungguh akan pergi hari ini?" tanya pak Akula kepadanya. "Tidak pak... Saya tidak akan pergi dengan begitu saja..." kata Jieji menatapnya serius. "Loh? Memang ada masalah apa Nak Jieji?" tanya Akula sambil keheranan kepadanya. "Mengenai suku Mibao.. Aku tidak akan berpangku tangan..." kata Jieji. "Bagaimana menurut pandangan anda sendiri?" "Pasukan Jiamojin mungkin saja sulit mencapai kemenangan..." tutur Jieji pendek. "Kenapa??" "Itu tidak usah diherankan dahulu... Pasukan Jiamojin baru saja berangkat sekarang ke sana. Lalu pak Akula pernah berpikir bahwa bagaimana jika pasukan Mibao terlebih dahulu telah menempatkan pasukan di hutan misteri itu?" tanya Jieji. "Ha Ha.. Memang.. Jika hutan misteri itu adalah hutan biasa, maka mungkin kita bisa takut. Tetapi hutan misteri bukanlah hutan biasa. Disana dikabarkan oleh nenek moyang bahwa leluhur kita suku nomaden berada disana dan terus menunggu hutan tersebut. Oleh karena itu, semua orang mongol tidak berani bertindak kurang ajar disana seperti membunuh...." tutur Akula menjelaskannya. "Jadi begitu?" kata Jieji sambil berpikir. "Tetapi lebih bagus jika aku menyusul saja kesana..." katanya kembali. "Jadi nak Jieji...." kata Akula dengan wajah yang senang. "Betul.. Tidak mungkin aku berpangku tangan. Tenanglah pak Tua, aku akan berusaha mendamaikan suku Mibao supaya peperangan serta jatuh darah masih bisa dihindari..." jelas Jieji dengan senyuman kepadanya. Pak tua Akula hanya melihatnya sambil tersenyum sangat manis ke arahnya. Tidak disangkanya Jieji juga berniat membantunya terhadap masalah peperangan kali ini.

BAB LXXVIII : Guo Lei, Pendekar Aneh dari Suku Mibao
Sekitar 10 Li arah utara dari perkemahan Jiamojin...

Wilayah yang "aneh" sudah terpampang di mata seorang pemuda yang menunggang kuda kuning kemerahan. Meski hanya sendirian, dari wajah pemuda ini terus tertampak berseri-seri. Dan dari sinar matanya seakan tertampak cahaya yang lembut tetapi membara. Dengan santai dia menunggang kuda bermaksud melewati daerah tersebut. Daerah yang nan asri cukup menganehkan sebab bagaimanapun daerah ini masih termasuk daerah gurun. Suara burung berkicau menghangatkan suasana. Selain itu, masih terdapat suara riakan air yang hampir jelas terdengar. Suasana hutan "aneh" sungguh sangat indah bagaikan surga saja. Pohon-pohon menjulang tinggi layaknya hutan di daerah selatan China daratan. Sebentarbentar tercium bau wangi yang harum yang berasal entah darimananya. Sambil memegang sebuah kain yang sepertinya adalah peta. Pemuda tersebut berjalan untuk melintasi daerah hutan belantara. Peta yang digenggam adalah peta untuk bisa keluar dari hutan yang cukup rumit ini. Sebelum dia meninggalkan perkemahan Jiamojin, dia diberikan selembar kain peta oleh kepala suku disana. Pemuda juga dipesan supaya lebih berhati-hati karena banyaknya jalan yang bisa memerangkapkan dirinya. Tentu pemuda yang berada di daerah aneh ini tiada lain adalah Xia Jieji adanya. Terlihat dia duduk di kuda gagahnya sambil berpikir keras akan daerah asri tersebut. Hal yang paling membingungkannya adalah terdapatnya tanah subur yang luasnya mungkin telah mencapai 5 Li persegi di daerah nan tandus. Peta yang digenggamnya seakan membuatnya teringat akan sesuatu hal. Sesuatu hal yang sungguh tiada asing baginya. Sambil mengamati dengan serius, Jieji mendapatkan sebuah ide dari pemikirannya. Peta yang dipegangnya dan terlukis indah membuatnya teringat akan sebuah formasi ilmu silat yang baru-baru dilihatnya sendiri. Yah, inilah formasi dari jurus pedang 15 pengawal sakti kerajaan. Sungguh aneh adanya, apakah memang 15 pengawal sakti mendapat ide menciptakan formasi tersebut dari hutan misteri? Ataukah ada sesuatu hal yang masih terpendam di dalamnya? Tetapi niat Jieji kali ini bukanlah untuk memecahkannya, namun untuk segera keluar dari hutan misteri. Oleh karena itu, dia hanya menelusuri peta dan tidak mengambil pusing akan hal lainnya. Seperti biasa, formasi 8 diagram Dao terdiri dari 8 pintu utama. Kesemua pintu tersebut banyak yang menyesatkan, banyak juga yang meminta "orang" untuk kembali ke "asal". Perubahan di dalamnya terus berubah setiap waktu dan tiada bisa dihapal dengan mudah. Tentu Jieji yang memandang daerah tersebut membuatnya berdecak kagum. Bagaimanapun formasi adalah formasi. Di dalamnya tiada terkandung hal licik layaknya manusia. Dengan berbekal peta pemberian Akula, Jieji telah sanggup keluar dari tempat yang lumayan aneh ini. Dalam sekitar 1 jam saja, Jieji kembali telah melihat sinar yang sangat terang di depannya. Tentu sinar ini adalah akibat pantulan cahaya matahari nan panas ke gurun yang menimbulkan

fenomena cukup terang. Padahal dalam hutan, sinar matahari masih tidak mampu masuk semuanya sehingga wilayah hutan misteri cukup gelap adanya. Seraya keluar, Jieji telah melihat hal yang cukup aneh. Di depannya tidak jauh, dia merasakan sebuah hawa yang cukup di kenalnya. Hawa yang dimaksudkan tentu adalah hawa peperangan. Hanya Jenderal berpengalaman ataupun seorang pendekar hebat yang mampu merasakan hawa semacam ini. Meski menurutnya mungkin dari tempatnya ke arah utara masih sekitar 2 li lebih, namun dia telah mampu merasakannya dengan sangat baik. Dengan tanpa berpikir lebih lanjut, dia segera memacu kudanya kencang ke arah dirasakannya "hawa" peperangan itu. Tanpa perlu lama berkuda, dia telah sampai di sebuah tebing yang cukup tandus. Ujung tebing tiada lain adalah ujung yang buntu, tetapi di bawahnya adalah jurang yang cukup tinggi. Dari atas sebelum melihat saja, Jieji telah yakin bahwa kedua pihak pasukan telah "bertemu" satu sama lainnya. Dan apa yang diperkirakannya adalah benar. Dia melihat ke bawah dari ujung tebing tersebut. Kedua belah pihak pasukan meski berjumlah tiada banyak, tetapi kedua pihak telah sangat siap adanya. Pasukan terlihat sedang saling berhadapan. Di depan para pasukan terlihat jenderal yang semalam menyatakan akan memimpin pasukan Jiamojin. Sedang di pihak lainnya, terlihat bahwa jenderal lain juga maju. Keduanya sepertinya telah terlibat dengan perbincangan yang cukup serius. Namun, Jieji tidak ingin keluar terlebih dahulu. Sebab dia ingin mendengar apa hal yang sedang diperdebatkan mereka berdua. "Kau.... Telah lebih dari beberapa puluh tahun, kita tidak akan menyerahkan daerah hutan misteri kepadamu. Tetapi kenapa kau begitu memaksa?" tanya jenderal dari pihak Jiamojin. "Tu Bao... Bagaimanapun peperangan kali ini tidak bisa dihindari. Kau tahu, wilayah hutan masih termasuk wilayah kita. Bagaimana kau bisa tidak menyetujui pembagian setengah wilayah hutan saja?" "Kepala suku kita semenjak beberapa puluh tahun yang lalu telah menyatakan hal ini, jadi tiada perlu lagi kalian memaksa. Jika kalian menang, maka daerah ini bisa menjadi milik kalian. Kita suku Jiamojin tidak perlu lagi mempertahankannya selama suku kita telah musnah." Kata Tu Bao dengan gagahnya. Apa yang dikatakan Tu Bao ternyata mengundang reaksi tawa dari pasukan suku Mibao. Semuanya menganggap Tu Bao adalah sedang bercanda adanya. "Jadi cucu kepala suku kalian tidak bisa kau lindungi? Ha?" tanya jenderal pasukan Mibao. Tetapi sambil mengangkat tangan, dia memerintah pasukannya untuk membawa keluar seseorang. Terlihat dengan cukup jelas, beberapa pasukan dari pihak Mibao menggiring seorang gadis kecil. Gadis kecil berada di atas kuda dengan tangan dan kakinya terikat kencang dengan tali di

pelana kuda. Sambil di giring ke depan dengan perlahan, terlihat gadis tersebut tidak mampu bersuara karena sepertinya nadi bicaranya telah tertotok. Jieji yang dari atas melihat si gadis tentu terkejut. Gadis kecil cantik ini pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu saja. Yaitu saat terjadinya pertempuran antara pasukan Liao dengan pasukan Sung di utara kota Ye. Gadis cantik ini tiada lain yang bernama Lie Xian yang sempat memujinya saat pertarungan hebatnya di perbatasan utara kota Ye. Lie Xian juga adalah seorang wanita yang berada dalam pasukan 15 pengawal sakti. Jadi apa yang dikatakan Akula sangat tepat bahwa cucunya adalah salah seorang dari pasukan khusus kerajaan tadinya. Tetapi ada hal yang aneh, kenapa gadis bernama Lie Xian tersebut bisa ditangkap dan tertotok nadinya tiada berdaya oleh suku Mibao yang berada di utara suku Jiamojin sukunya sendiri. Selain itu, gadis cantik tersebut mempunyai kungfu yang tidak rendah dan tidak bisa dipandang remeh begitu saja. Namun, kenapa bisa di tangkap dengan mudah dan tak berkutik. Semua pasukan dari pihak Jiamojin tentu terkejut tiada kepalang. Mereka melihat cucu dari kepala suku mereka yang sedang terikat tiada berdaya di atas kuda. Sepertinya moral pertempuran mereka segera merosot drastis karena melihat hal tersebut. Jenderal Tu Bao yang sangat berpengalaman di medan perang juga terlihat terguncang melihat Lie Xian berada di bawah ancaman pasukan Mibao. Dia tahu dengan pasti, kepala suku Jiamojin, Akula amat menyayangi cucu satu-satunya tersebut. Dia juga tahu tentunya suku Mibao pasti memanfaatkan kejadian ini untuk mengancamnya dan setidaknya meminta mereka menyerah atas semuanya. Tetapi apa yang diperkirakan Tu Bao salah sekali. "Apa maumu Da Wu?" tanya Tu Bao. "Ha Ha.... Sekarang kau sudah tidak mampu berkata lebih banyak lagi. Permintaanku tidaklah susah. Dan juga sederhana saja...." katanya "Katakan keparat Da Wu.... Jangan kau terlalu banyak berbasa basi...." teriak Tu Bao dengan sangat marah. Jenderal Da Wu dari suku Mibao hanya tersenyum sangat sinis sambil mengangkat sebelah tangannya kembali. Entah kali ini apa maksudnya lagi. Segera, dari pihak musuh suku Jiamojin keluar seorang laki-laki yang kurus tinggi. Pemuda ini tidak berkuda, tetapi hanya berjalan kaki adanya. Di pinggangnya terselip sebuah pedang besar dan panjang tetapi tidak disarungkan. Pedang yang cukup aneh untuk seorang pendekar. Tetapi pedang tersebut cukup berat sepertinya. Karena pemuda tersebut sepertinya sedang menyeret kakinya sambil berjalan ke depan. "Apa maumu Da Wu????" tanya Tu Bao yang agak keheranan melihat seorang pemuda telah keluar dari pasukan Mibao.

"Sekarang... Ada hal yang harus benar diselesaikan. Perkenalkanlah, pemuda tersebut namanya Guo Lei. Dia berasal dari wilayah Jinyang. Dia termasuk seorang pesilat hebat juga. Selain itu...." tutur Da Wu. Tetapi sebelum dia melanjutkan, dia telah dipotong oleh Tu Bao. "Kita ini para lelaki.. Tidak perlu kau itu terlalu banyak basa-basinya. Sekarang katakan apa maumu...." "Ha Ha.... Betul jenderal mongol sejati. Baiklah....." kata Da Wu sambil tertawa sangat keras. Setelah tertawanya telah benar berhenti, dia kembali melanjutkan. "Di antara para pasukanku. Banyak jumlah korban yang telah jatuh di tangan pendekar kalian. Sekarang, keinginanku mudah saja. Yang merasa telah membunuh para jenderal kita segera maju untuk bertarung melawan Guo Lei. Jika ada yang bisa hidup, maka nona Lie Xian akan kulepaskan...." Tentu kata-kata Da Wu membuat semangat para pasukan Jiamojin bangkit kembali karena tadinya melihat Lie Xian ditawan yang membuat moral pasukan mereka merosot. Bagaimana dia yang hanya seorang saja mampu bertarung melawan banyaknya jenderal yang lumayan hebat dari Jiamojin. "Kau tidak bercanda Da Wu?" tanya Tu Bao sambil kelihatan senang. "Tentu tidak... Yang merasa pernah membunuh jenderal kita saja yang maju. Tetapi orang lain yang tidak pernah bertarung hebat dengan kita di harapkan mundur...." tutur Da Wu dari Mibao. Mendengar apa yang dituturkan Da Wu, semua pasukan Jiamojin kembali sangat bersemangat. Pendekar dari tanah Mongolia memang keras dan memegang janjinya, jadi mereka merasa dengan mengalahkan orang bernama Guo Lei. Maka nona Lie Xian telah sanggup di tolong keluar. Jieji yang melihatnya dari atas tiada merasa heran. Dia tahu dengan pasti apa maksud jenderal Da Wu adanya. Dia hanya tersenyum melihat semua hal itu, tetapi dalam hatinya dia merasa cukup bimbang juga. Sesaat, dia melihat ke arah Guo Lei yang dingin dan tiada berperasaan tersebut sepertinya. Dia memandang ke arahnya dengan serius sekali. "Baiklah, sekarang tiada perlu lagi banyak cakap. Aku pahlawan dari Jiamojin, Heng Biu melayanimu." Dari arah pasukan Jiamojin telah muncul seorang yang kelihatannya cukup gagah. Perawakannya cukup tinggi dan tubuhnya cukup tegap seperti sebuah pilar yang kokoh saja. "Baik... Kau boleh bertarung...." kata Da Wu dengan sinis ke arahnya. Jenderal Heng Biu segera keluar dari daerah pertahanan Jiamojin menuju ke arah tengah "arena" pertarungan. Sambil menyandang tombak pendek, dia berkuda dengan gagah dan telah sampai sambil memandang serius ke arah lawannya. Sedangkan Guo Lei juga berjalan ke arah arena. Tetapi dia berjalan dengan cara menyeret kakinya sebab pedang berat itu telah menggesek ke tanah. Orang-orang yang melihat Guo Lei berjalan tentu heran, beberapa bahkan menertawainya. Sepertinya Guo Lei seperti orang yang pincang sebab pedang masih terlalu berat untuk

tubuhnya yang kurus kering itu. Tetapi Jieji yang melihatnya tentu tiada berpikiran demikian. Dia merasa cukup aneh melihat gaya dan gerakan Guo Lei. Jika dia benar lemah, mana mungkin dia berani bertarung hanya seorang diri saja. Tentu orang bernama Guo Lei tidak bisa dipandang remeh. Sedangkan Heng Biu terlihat cukup heran melihat lawannya. Dengan segera dia bersuara. "Mana kudamu?" "Aku tidak bisa berkuda...." jawab Guo Lei. Semua pasukan Jiamojin tentu tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kata dari Guo Lei. Semua orang tahu bahwa "kuda" bagi bangsa Mongolia adalah "nyawanya". Mendengar Guo Lei tidak bisa berkuda tentu banyak orang yang terkesan menghinanya. Tetapi hal ini malah membuat darah dalam diri Guo Lei segera berdesir hebat. Sinar matanya kali ini telah penuh dengan hawa pembunuhan. Heng Biu di tengah tersebut memang tiada menertawainya, tetapi dengan melihat sinar mata Guo Lei. Dia juga merasa gentar adanya. "Kau maju dululah karena kau tidak berkuda...." kata Heng Biu untuk memberinya kesempatan. "Tidak perlu... Kau maju saja..." kata Guo Lei dengan nada rendah. Sebenarnya Heng Biu termasuk seorang satria, dia tidak ingin memanfaatkan kesempatan dengan mencuri serang terlebih dahulu. Tetapi karena Guo Lei memintanya menyerang dahulu, dia tidak berkata apa-apa lagi. Kali ini kelihatan Guo Lei telah serius untuk menyerangnya. Sementara itu, Lie Xian yang tertutup mulutnya terlihat mengerutkan dahinya dan sesekali dengan sangat kepayahan dia berusaha untuk menggelengkan kepalanya. Tentu ini adalah peringatan darinya untuk tidak bertarung. Namun sayang sekali, tiada seorangpun dari pasukan Jiamojin yang melihat tingkah cucu kepala desa mereka. Dengan ancang-ancang menyerang seraya teriak sangat keras. Heng Biu segera melancarkan serangan dengan berkuda sangat cepat ke arah Guo Lei. Detik pertama yang cukup mendebarkan. Semua tahu, jika Heng Biu berhasil dalam serangan pertamanya. Maka selanjutnya mungkin telah sangat mudah. Tetapi... Arah berkuda Heng Biu memang tiada salah, kecepatannya memang hebat dan gaya ancangancang tusukannya memang sekilas terlihat sangat mematikan. Saat dia masih terpaut 10 kaki di depan Guo Lei, dia cukup heran. Sebab terlihat Guo Lei masih diam saja meski jarak itu telah sangat dekat sekali. Sementara itu Jieji yang melihat di atas tebing segera sangat terkejut. Dia langsung berteriak. "Awasss!!!!!"

Tetapi seperti yang diperkirakan Jieji adanya. Saat kuda telah sangat dekat, tiada yang melihat bagaimana Guo Lei menghindari tusukan tombak pendek dari Heng Biu. Tiada orang yang melihat bagaimana Guo Lei melawan serangan musuhnya. Tahu-tahu mereka semua menutup mata karena silaunya sebuah benda yang telah terangkat. Silau dari sebuah benda yang mirip besi mulus yang terpancar karena bias sinar matahari. Ketika pasukan Jiamojin dan pasukan Mibao menutup mata karena "silau"nya sebuah cahaya yang datangnya entah darimana. Mereka mendengar suara bacokan. Suara bacokan yang sungguh sangat fasih terdengar. Saat mereka membuka kembali mata mereka. Mereka melihat pemandangan yang sungguh tiada mengasikkan adanya. Pemandangan yang membuat orang memuntahkan makanannya saat sedang makan. Ternyata tubuh dan kuda dari Jenderal Heng Biu telah terbelah dua... Darah masih muncrat dengan deras dari kuda dan tubuh Heng Biu yang terbelah dua pas di kepalanya. Muncratan darah membasahi semua tubuh dari Guo Lei layaknya dia sedang mandi hujan sahaja. Sementara itu, Guo Lei malah terlihat tersenyum sangat sinis mendapati hal ini. Dia seperti setan yang sedang haus-haus akan darah manusia. Sungguh mengerikan!!! Sementara itu, terlihat Da Wu sangat girang mendapati hal ini. Terbalik dengan Tu Bao yang sangat merinding melihat kecepatan dan jurus hebat dari musuhnya. "Sekarang siapa lagi?" tanya Da Wu dengan sinis. "Aku Heng Bu dari Jiamojin, adiknya Heng Biu akan membalaskan dendamnya....." teriak seseorang dari pasukan Jiamojin. Sepertinya Heng Bu telah sangat marah mendapati saudaranya tewas terbantai dengan mengerikan oleh "setan" tersebut. Dia tiada berpikir akibatnya lagi sebab emosi telah menggelayutinya sampai ke puncak. Jenderal Tu Bao berniat mencegahnya, sebab dia tahu. Kemampuan sang kakak saja jauh lebih tinggi dari adik. Mana mungkin adiknya Heng Bu mampu mengalahkan "setan" ini. Namun, sepertinya dia tidak mampu mencegahnya barang sekalipun. Sebab Heng Bu telah maju di tengah arena pertarungan dengan cepat. "Aku bersumpah.... Tidak kau mati berarti aku...." teriak Heng Bu dengan tidak bermacammacam lagi. Dengan segera terlihat otaknya masih lumayan jernih bekerja. Dia tidak menyerang dari depan seperti almahum kakaknya sendiri. Melainkan berusaha memperbaiki jarak dengan pendekar aneh tersebut. Dia melarikan kudanya berkeliling lingkaran penuh mengepung Guo Lei dengan cepat. Sementara itu, Guo Lei tetap tersenyum sangat sinis. Darah di tubuhnya masih terus menetes dan belumlah kering. Sesekali dia bahkan menjilati amis darah dari kuda dan Heng Biu sambil memandang ke arah Heng Bu. Karuan karena hal ini, sang adik kontan marah luar biasa. Dia segera mengeluarkan busur panah yang masih terselip di punggung. Dengan menyelipkan tombak di pinggang. Heng Bu langsung memanah ke arah Guo Lei.

"Siuttt.... Siutt...." Terdengar suara anak panah mengoyak angin sangat jelas. Tetapi sepertinya "setan" bernama Guo Lei sungguh hebat. Dia terlihat sangat tenang meski anak panah mengancamnya. Kembali dengan gerakan yang tiada terlihat dan silau. Anak panah terlihat telah terbelah dua. Dua batang anak panah yang meluncur sekaligus sepertinya tiada berarti baginya. Jieji yang melihat keadaan dari atas tebing segera berkhawatir. Karena hanya dialah orang yang sanggup menyaksikan bagaimana kelebat pedang nan cepat itu bekerja. Sesaat, Jieji juga merasa sangat kagum akannya. Tetapi bagaimana pun Guo Lei adalah seorang setan yang berdarah dingin. Tentu dia tetap mencemaskan Heng Bu yang sebenarnya nyawanya seperti telur yang telah berada di ujung tanduk. Kembali lesatan anak panah mengoyak angin terdengar. Karena tiada mampu melukai Guo Lei, Heng Bu bermaksud untuk memanah secara tiga batang sekaligus. Tiga batang anak panah yang sangat cepat telah mengarah ke arah kepala, dada, dan paha kanan Guo Lei. Heng Bu yang merasa sedang di atas angin karena dia mengambil serangan jarak jauh cukup girang. Tetapi... Tiga batang anak panah memang mengarah ke arah 3 sudut mati dari Guo Lei. Namun dengan sangat cepat dan sigap, Guo Lei segera mundur beberapa langkah ke belakang. Entah apa maksudnya... Tetapi ketika anak panah betul dekat, dia menangkap ke semua anak panah dengan luar biasa cepat. Alhasil, ketiganya berhasil di tangkap sangat mudah oleh Guo Lei. Pasukan Mibao yang melihat keberhasilan Guo Lei segera bersorak sangat bergembira. Sedang pasukan Jiamojin sangat terguncang menyaksikannya. Tetapi tanpa membuat lawannya menunggu lama. Guo Lei melemparkan ketiga anak panah ke udara. Sesaat itu, sinar terang kembali muncul luar biasa hebatnya. Silau kali ini dirasakan bagi kedua belah pihak sangat menggigit mata mereka. Namun, Heng Bu malah terlihat sebaliknya. Dia terkejut menyaksikan hal tersebut. Sesaat dia tahu apa hal yang sedang di alami kakaknya menjelang detik-detik kematian sang kakak tercintanya. Dia terlihat telah pasrah sekali. "Jleb... Jleb... Jleb..." Suara tiga kali benda yang masuk ke daging sangatlah jelas terdengar. Ketika kembali orang-orang membuka mata. Mereka sangat terkejut kembali. Meski kali ini tiada se-ngeri apa yang dialami oleh Heng Biu. Namun, cukup membuat hati para pasukan Jiamojin terguncang.

Tiga batang anak panah-nya menancap di kedua bahunya dan sebatang pas di perut Heng Bu. Darah segera mengucur dengan deras sekali. Heng Bu terlihat telah terjatuh dari kudanya sambil pasrah mendapati ajalnya yang telah mendekat. Sesaat ketika matanya telah mulai mampu melihat, dia melihat hal yang membuatnya seakan bermimpi sangat buruk. Sebab, Guo Lei telah berdiri di depannya sambil mengancungkan senjatanya tinggi siap membacok. Sepertinya Heng Bu bakal menemui ajalnya disini. Dengan gerakan tanpa perasaan dan sungguh dingin, dia membacokkan ke arah Heng Bu yang sedang terlentang tiada bergerak. Sinar silau kembali muncul seperti tadinya. Semua pasukan dari Jiamojin sungguh telah sangat ketakutan melihat sikap darah dingin penyerang tersebut. Beberapa dari mereka bahkan menangis tiada berani melihatnya. Ketika pedang berat telah dekat dengan tubuhnya. Seakan-akan terdengar suara benda keras yang membentur. Suara kali ini tentu tidak sama dengan suara yang seharusnya terdengar. Suara kali ini bahkan seperti suara bertemunya kedua baja. "Klangggg....." Kerasnya suara tersebut mendengungkan telinga para pasukan di kedua belah pihak. Sementara Heng Bu telah membuka matanya. Dia melihat fenomena aneh. Dia yang telah merasa dirinya telah tewas entah kenapa masih terasa sakitnya anak panah masih menggelayuti dirinya. Sempat-sempatnya dia memegang wajahnya sendiri. Ternyata dia tidak tewas. Wajahnya bahkan masih baik-baik saja. Dia melirik ke arah Guo Lei yang tadinya membacok. Namun sekarang, pedang beratnya tidak ada lagi di tangannya sendiri. Entah kenapa pedang berat itu telah terlepas dari tangan Guo Lei. Sedang pandangan matanya sedang di arahkan ke arah tebing tinggi yang jauhnya hampir 1/4 Li dari tempatnya. Semua pasukan dari kedua belah pihak sungguh terkejut adanya. Mereka melihat Guo Lei telah "kehilangan" senjatanya. Beberapa bahkan melirik ke samping. Mereka menemukan senjata ampuh milik Guo telah tertancap jauh sekitar 50 kaki dari tempat yang seharusnya. Tentu tanpa menduga-duga, mereka sangat terkejut. "Siapa Kau!!!!" teriak Guo Lei ke arah atas. Pandangan mereka segera mengarah ke arah Jieji yang masih duduk di atas kudanya dengan gagah. Tetapi dari arah tangannya, telah terancang sebuah jari. Memang benar... Penyerang dadakan itu adalah Jieji adanya, dan jurus yang digunakan tentu tiada lain adalah jurus Ilmu jari dewi Pemusnah.

BAB LXXIX : Pedang Bumi Berpendar
Tanpa menjawab pertanyaan Guo Lei lebih lanjut, Jieji turun dari kuda sambil berjalan pelan ke arah tengah arena pertempuran. Semua orang dari pasukan Jiamojin maupun Mibao yang melihatnya cukup merasa aneh, karena mereka sama sekali tidak tahu bahwa penyerang yang menggunakan satu jurus untuk menghalangi Guo Lei adalah pemuda ini. Sementara itu, Guo Lei melihat dengan sangat serius ke arah Jieji yang datang dengan tenang. "Siapa kau? Mengapa kau halangi aku?" Jieji memandang cukup serius ke arahnya. Dan tidak berapa lama dia menjawab. "Namaku Dekisaiko Oda dari Dongyang." Jawab Jieji. "Ha Ha... Ternyata orang Dongyang. Kali ini kamu telah mencampuri urusan besar ku disini. Jadi jangan harap kau bisa lolos meski kau menguasai Ilmu Jari dewi pemusnah dengan baik." tutur Guo Lei sambil memandang dingin ke arah Jieji. Setelah itu, dia berjalan pelan untuk memungut pedang beratnya yang terpisah cukup jauh dari sana. Sementara itu, Lie Xian terlihat sungguh senang tiada karuan mendapati Jieji telah berada disana. Dari sinar matanya terpampang sebuah sinar kebahagiaan. Dia tidak menyangka "pahlawan" dalam hatinya-lah yang telah datang kesana untuk menghentikan pemuda berdarah dingin tersebut. Meski disandera, dia merasa sungguh senang mendapati hal ini. Jieji yang berjalan tenang akhirnya telah sampai juga ke arah Heng Bu tergeletak. Tanpa menjawab pertanyaan Guo Lei, dia segera menotok jalan darah Heng Bu untuk mencegah darah yang mengalir deras akibat menancapnya tiga buah panah. Seraya berpaling ke arah Tu Bao, Jieji memberikan tanda dengan menganggukkan kepala pelan. Dengan mudah, Tu Bao mengerti apa maksud Jieji. Dia meminta 5 orang dari pasukannya untuk mengangkut jenderalnya. Lalu dengan gerakan cekatan dan tanpa banyak bicara, 5 orang tersebut telah mulai datang dan me