Peran dan Kedudukan

(Dewan) Wali Sanga1
Cin Pratipa Hapsarin

Peran Dewan Sembilan dalam menegakkan kerajaan Islam pertama di Jawa sangatlah besar. Banyak berita simpang siur mengenai keberadaan mereka, asal mula mereka, wilayah kerja, ‘keajaiban-keajaiban’ yang mereka ciptakan bahkan termasuk benar ada atau tidaknya mereka.2

Wali Sanga adalah kelompok syiar – dakwah Islam (Mubaligh) yang kerap juga disebut dengan Walilullah atau ‘wakil Allah’. Menurut Saksono (1996: 17-19), awalnya kata ini berasal dari bahasa Arab, wala atau waliya yang berarti qaraba, dekat, yang dapat dipadankan dengan kerabat, pelindung, teman dan lainnya. Mengenai kata songo, Moh. Adnan berpendapat jika sebenarnya kata itu telah mengalami penyimpangan pelafalan. Menurutnya, songo berasal dari kata sana, atau dalam bahasa Arab, tsana yang berarti mulia (sepadan dengan mahmud – terpuji). Pendapat lain datang dari R. Tanojo, menurutnya kata itu dapat diartikan sebagai sana, yang dalam Jawa Kuno berarti menunjuk nama tempat atau daerah. Namun, umum tetap berpendapat bahwasanya songo berarti sembilan. Kata itu, pertama dianggap mengacu pada sistem koordinasi atau pembagian kerja yang ada pada Lembaga Dakwah Dewan Wali. Yang kedua dianggap ‘memang harus berjumlah sembilan’ karena berasal dari anggapan pencerapan esensi sembilan sebagai nilai-angka tertinggi. Di Jawa, mereka yang duduk dalam Dewan Wali tidak hanya berkuasa dalam bidang agama, tapi juga dalam pemerintahan dan politik. Jumlah Wali sendiri tidaklah seperti yang selamanya ini diyakini orang, yakni sembilan, melainkan selalu berubah dari waktu ke waktu. Namun demikian kepercayaan masyarakat Jawa mengenai hal ini sulitlah diubah, bagi mereka Wali Sanga tetaplah Sembilan Wali yang terdiri dari Maulana Malik Ibrahim,

Bagian ini dikutip dari berbagai sumber, diantaranya Simon, Hasanu. 2004. Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; Saksono, Widji. 1996. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo. Bandung: Mizan; http://www.seasite.niu.edu/Indonesian; http://www.javapalace.org/sejarah_singkat_karaton-karaton_lama_jawa/ 2 Lih. Sjamsudduha, 2006, Wali Sanga Tidak Pernah Ada: Menyingkap Misteri Para Wali dan Perang Demak - Majapahit, Telaah Naskah Pegon Badu Wanar dan Drajat. Surabaya: JP Books.

1

Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati.3
“Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal” (http://www.seasite.niu.edu/Indonesian).

Kebanyakan dari mereka tinggal di pantai utara Jawa, khususnya di sepanjang wilayah Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.

Profil Para Wali
Maulana Malik Ibrahim / Syekh Magribi
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy (dalam lidah Jawa sering disebut dan dikenal sebagai Asmarakandi, Syekh Magribi ataupun Kakek Bantal). Diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah dan wafat 1419. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur. v Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq (sering disebut juga Syekh Wali Lanang – ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah Sunan Giri atau Raden Paku) adalah anak seorang ulama Persia – Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. 4 Ia diyakini adalah keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Kanjeng Nabi.

Namun demikian tidak semua versi mengatakan hal yang sama. Misalkan saja pada Serat Centini bagian 2, edisi Bahasa Indonesia (1992: 160-161), dijelaskan jika Wali hanya berjumlah delapan. Mereka yang disebut Wali Wolu Tanah Jawa ini adalah Sunan Ampel Gading, Sunan Gunung Jati, Sunan Ngundung, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga. Adapun lainnya disebut Wali Nujebba atau susulan. Satu nama yang disebut dan diberi tempat khusus adalah Sultan Agung. Ia disebut sebagai Wali Nurbuat, ‘Cahaya Kenabian’, yang menjadi wali penutup atau yang terakhir. 4 Samarakand adalah daerah Sunni yang menganut paham sunnah mutasyaddidah (ekstrem) karena pada rentang waktu tertentu ia menjadi daerah bawahan dawlah Sunniyin, terutama semenjak masa Abbasiyah, Seljuq, Sassan hingga Gaznawiyah. Oleh karena itu boleh jadi paham keilmuwan Maulana Jumadil Kubro, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Gresik dan Sunan Majagung mengikuti mahzab yang sama.

3

v Sempat bermukim di Campa (sekarang Kamboja) selama tiga belas tahun (sejak tahun 1379) dan menikahi putri raja. Dua putranya adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim dipercaya hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. v Sesampai di Jawa ia sempat berdagang dengan harga sangat murah dan menjadi tabib yang sohor. Ia juga mengajarkan cara baru bercocok tanam pada masyarakat kasta bawah Hindu dan membangun-menata pondokan tempat belajar agama di Leran. v Ia adalah guru bagi putra dan kemenakannya: Sunan Ampel, Sunan Gresik dan Sunan Majagung.

Sunan Ampel Denta / Raden Rahmat
Putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecil dikenal dengan nama Raden Rahmat. Lahir di Campa pada 1401 Masehi (walaupun hal ini sulit dipahami karena ayahnya, Maulana Malik Ibrahim dikatakan meninggalkan Campa tahun 1392. Dua kemungkinan adalah, Malik Ibrahim sempat kembali ke Campa atau kemungkinan kecil lainnya adalah Sang Puteri Campa yang menyusul sang suami ke Jawa). Diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. v Menurut beberapa versi Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, saudaranya. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang selama tiga tahun. Setelah itu mereka bermaksud menemui bibi mereka, Puteri Darawati, isteri Brawijaya – Raja Majapahit dan kemudian berlabuh di Gresik. Raden Rahmat menikah dengan putri adipati Tuban. Penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. v Bermukim di Ampel Denta (yang kini menjadi bagian dari Surabaya – Wonokromo sekarang) dan membanggun pesantren di atas tanah rawa yang dihadiahkan Raja Majapahit. Pada pertengahan Abad 15 pesantren itu menjadi sentra pendidikan berpengaruh di Nusantara maupun manca. v Turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa dan menunjuk Raden Patah sebagai Sultan Demak I tahun 1475 M. v Penganut fikih mahzab Hanafi, yang ditekankan pada penanaman akidah – ibadah dan mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). v Sunan Giri, Bonang, Drajat, Ngundung dan Raden Patah adalah sekian diantara santrinya.

Sunan Bonang / Raden Makdum Ibrahim
Ia anak Sunan Ampel (cucu Maulana Malik Ibrahim) dari Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Diperkirakan lahir 1465 M dan meninggal pada tahun 1525, Jenazahnya dimakamkan di Tuban. v Lepas dari Pesantren Ampel Denta, Sunan Bonang (bersama Sunan Giri) sempat meneruskan studi ke Pasai dan Malaka. Di sana mereka berguru kepada Maulana Ishaq untuk memperdalam ilmu tassawuf. Disamping itu keduanya mempelajari fiqh, terutama mengenai al-ahkam al-shulthaniyah dan tauhid yang bersandar pada kitab Jawhar mu’min (pengetahuan mengenai Hakikat Tuhan, Sejatinya Muhammad dan nukad gaib). Selepas itu keduanya berencana meneruskan perjalanan ke Makkah. Tetapi mengikuti saran Maulana Ishaq akhirnya mereka memilih kembali ke Jawa dan berdakwah ke berbagai pelosok penjuru Jawa. v Sunan Bonang sendiri awalnya menuju Kediri dan di sana ia sempat mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia juga sering mengunjungi daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean, lalu menetap di Bonang – desa kecil di Lasem, Jawa Tengah. Di sana ia membangun tempat pesujudan / zawiyah sekaligus pesantren yang dikenal dengan nama Watu Layar. v Ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks (dan ini berbeda dengan gaya Sunan Giri yang lugas dalam fikih). Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. v Inti ajaran: filsafat ‘cinta’(‘isyq): Cinta sama dengan Iman, Pengetahuan Intuitif (Makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin (tidak berbeda dengan kecenderungan Jalalludin Rumi). v Melahirkan karya sastra. Salah satunya dikenal dan dipercaya sebagai karyanya adalah Het Book van Mbonang (saat ini disimpan di Leiden). Selain itu adalah “Suluk Wijil” yang mungkin dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (RIP 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut (mirip pendekatan yang digunakan Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi maupun Hamzah Fansuri). v Menggubah gamelan Jawa menjadi seperti sekarang dan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya memiliki nuansa dzikir. “Tombo Ati” adalah salah satu contoh tembang karyanya yang dikenal hingga hari ini. v Masyarakat mempercayai Sunan Bonang adalah seorang piawai yang dapat mencari sumber air di tempat gersang. v Ia merupakan Imam resmi pertama Kasultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi.

v Walau demikian dalam Darmo Gandhul ia justru digambarkan sebagai orang ‘kasar’ yang tidak dapat menghormati peninggalan leluhur kecuali hanya kepada mereka yang telah insyaf dan berada di jalan Rasul.

Sunan Drajat / Raden Qosim
Anak Sunan Ampel (dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang). Bergelar Raden Syaifuddin. Diperkirakan lahir tahun 1470 M. v Mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia sempat terdampar di Dusun Jelog – pesisir Banjarwati (atau Lamongan sekarang). Setahun berikutnya ia berpindah 1 kilometer ke selatan lalu mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Pacitan-Lamongan. v Dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

Sunan Giri / Raden Paku
Ia memiliki nama kecil Muhammad Ainul Yakin dan kadang disebut Jaka Samudra. Lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ia adalah putera Syekh Wali Lanang atau Maulana Ishaq (saudara Maulana Malik Ibrahim) dan Puteri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu. Waktu bayi Jaka Samudara sempat dibuang ke laut dan kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (lih. Babad Tanah Jawi versi Meinsma). Ayahnya pergi berkelana hingga ke Samudra Pasai, meninggalkan Blambangan setelah berhasil meng-Islamkan isterinya namun gagal meng-Islamkan sang mertua. v Menuntut ilmu di pesantren Ampel. Sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Selain menjadi pusat pengembangan masyarakat, pesantren itu juga menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton (Raja Majapahit— konon karena khawatir Sunan Giri akan mencetuskan pemberontakan—justru memberi keleluasaan pada Sunan itu untuk mengatur pemerintahan). Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri disebut juga Prabu Satmata. v Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku,

Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Giri yang berasal dari Minangkabau. v Ia adalah penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit (tercatat dalam Babad Demak dan selanjutnya Demak tak pernah lepas dari pengaruh Sunan Giri). v Diakui pula sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. v Pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih, menyebabkan ia dijuluki Sultan Abdul Fakih. v Dikenal juga sebagai pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Termasuk pula Gending Asmaradana dan Pucung bernuansa Jawa yang syarat dengan ajaran Islam.

Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayatullah
Diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rarasa atau menurut Tjarita Tjaruban adalah Prabu Siliwangi. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Sunan Gunung Jati menikah dengan saudari perempuan Trenggana. Pada tahun 1568 M, wafat dalam usia 120 tahun di Caruban (Cirebon) dan dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat. v Mendalami ilmu agama sejak usia 14 tahun dari para ulama Mesir dan sempat berkelana ke berbagai negara, salah satunya Makkah. Diduga ia memiliki ilmu yang terkandung dalam kitab Ibrahim Arki, Syaik Sabti, Syaik Muhyidin Ibnu ‘Arabi, Syaikh Abu Yajid Bastami, Syaikh Rudadi dan Syaikh Samangun ‘Asarani. Oleh karena itu dalam berdakwah ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. v Menurut beberapa pendapat, Sunan Gunung Jati beraliran Syi’ah karena ia memiliki rantai silsilah dari Syi’iyin. Tetapi ia cenderung dekat dengan aliran Syi’ah Zaidiyah, yakni satu aliran yang dianggap paling murni dari bid’ah dan dekat dengan paham ahlus sunnah wal jama’ah sebagai prinsip. v Ia adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Menyusul berdirinya Kesultanan Demak Bintara, atas restu kalangan ulama, Gunung Jati mendirikan Kasultanan Cirebon yang dikenal dengan nama Kasultanan Pakungwati. v Memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran, ia menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan secara ‘sukarela’ penguasaan atas wilayah Banten yang kelak

menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk menekuni dakwah semata. Kekuasaannya diserahkan pada Pangeran Pasarean. v Banyak kisah seputar Sunan Gunung Jati. Diantaranya bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj dan bertemu Rasulullah SAW, Nabi Khidir dan menerima wasiat Nabi Sulaeman (Babad Cirebon, Naskah Klayan hal.xxii).

Sunan Kudus / Jaffar Shadiq
Putra pasangan Sunan Ngudung (putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa) dan Syarifah (adik Sunan Bonang – anak Nyi Ageng Malaka). v Sebagaimana ayahnya, ia pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak dan menjadi konsolidator kelompok penghulu bersenjata. v Awalnya ia tinggal di Demak namun kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Pada akhirnya Sunan Kudus memutuskan untuk mendirikan Kota Kudus yang dipadankan dengan Al Quds, yakni kota suci – Baitul Mukadis. Disana ia membangun Masjid yang diberi nama persis dengan Masjid Al Quds, al-Manar atau al-Aqsa (Kudus awalnya disebut juga Tajug atau Ngundung). Diduga kepergian ini berangkat dari perselisihan Sunan Kudus dengan Sultan Demak berkait dengan penetapan awal Ramadhan. Namun berdasar sumber lisan, de Graaf & Pigeaud menyatakan bahwa kepergian Sunan Kudus berkait dengan masuknya Sunan Kalijaga dari Cirebon ke Demak akibat rekomendasi Sunan Gunung Jati, mertua Kalijaga.5 v Jenis ulama ulung yang tidak segan menggunakan cara kekerasan dalam kerjanya. Banyak kisah mengenai hal ini: Memimpin serangan ketiga untuk menjatuhkan ‘kafir Majapahit’. Membungkam ‘empat serangkai suci’, Tingkir, Butuh, Ngerang bahkan membunuh Kebo Kenanga. Melakukan kekerasan kepada guru mistik yang dicap bi’dah, Siti Jenar yang berakhir dengan kematian. Menyingkirkan Prawata melalui tangan Arya Panangsang walaupun dalam perang ia diketahui membantu Prawata.6
5

de Graaf & Pigeaud mengatakan bukan tak mungkin Sunan Kudus ‘iri’ dengan keberadaan Kalijaga. Bagaimanapun Sunan ini berasal dari keluarga bangsawan lama yang dihormati sehingga lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan. 6 Pembunuhan Sunan Prawata oleh Arya Panangsang diduga berkat hasutan Sunan Kudus. Alasan bagi pembunuhan ini adalah tidak layak jika seseorang berguru pada dua guru sekaligus disaat bersamaan (Serat Kandha menyebutkan jika pada suatu ketika Sunan Prawata mengatakan kalau Kalijaga adalah juga gurunya. Seperti diketahui baik Sunan Prawata maupun Panangsang adalah

-

Hampir menghukum Syekh Jangkung hanya karena mau mendirikan Masjid tanpa seijinnya. Hukuman ini dilimpahkan kepada pengikut Syekh Jangkung berkat peran Kalijaga. Sejak itu Syekh Jangkung mengucap kaul kekal, dendam selama kepada pengikut – keturunan Kudus.

-

Diduga membunuh Syekh Maulana dari Krasak, murid Sunan Gunung Jati, hanya karena pernah dianggap membuat malu pada sebuah pertemuan. Saat itu Syekh Maulana dari Krasak menerangkan perkara jalan mistik yang tidak dapat diterima Sunan Kudus.

-

Merubah wujud suami-isteri Ki dan Ni Mulak, murid-muridnya sendiri, menjadi anjing hitam hanya karena keduanya dianggap menjengkelkan dirinya.

v Dari Serat Cabolek (Soebardi, 2004: 42-43) digambarkan bahwa Ketib Anom dari Kudus bersengketa dengan Haji Mutamakin yang dianggap mengikuti jalan sesat Siti Jenar. Ketib Anom bersama dengan 11 ulama yang dipilih dari 142 ulama pesisir membuat mahkamah tertutup dengan maksud menyidang Mutamakin. Namun hukuman yang dimaksud ditolak Paku Buwana II karna ia mengganggap jalan mistik Muatamakin adalah untuk dirinya sendiri dan tidak dimaksudkan untuk mengubah dasar akidah seluruh masyarakat Jawa. Dari gambaran ini terlihat bagaimana keturunan atau pengikut Kudus begitu ‘tegas’ mengikuti syariat atau setidaknya menolak apapun jalan mistik, meski sesama agama Nabi. v Namun demikian Sunan ini dipercaya banyak menggubah cerita-cerita ketauhidan yang disusun berseri macam cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Selain itu ia mendekati masyarakat Kudus dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu-Budha (terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran / padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha).

Sunan Muria / Raden Prawoto
Ia putra Dewi Saroh (adik kandung Sunan Giri, anak Syekh Maulana Ishaq) dengan Sunan Kalijaga. v Cara dan gaya dakwahnya banyak meniru ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun demikian ia berbeda dengan sang ayah. Ia lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota, macam Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus juga Pati dan bergaul dengan rakyat kebanyakan sambil mengajarkan keterampilan

murid Sunan Kudus tetapi Arya Panangsang adalah murid kesayangannya. Dalam sejarah padepokan, hubungan guru dan murid adalah sekali untuk selamanya, sehingga tabu sifatnya jika seseorang melanggar—dalam arti menduakan—hal tersebut. Hal ini sudah menjadi semacam tradisi bahkan semenjak masa pra Islam).

bercocok tanam, berdagang dan melaut. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. v Dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu sehingga kerap dipercaya menjadi penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak periode 1518-1530.

Sunan Kalijaga / Raden Said
Memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Lahir sekitar tahun 1450 Masehi dan setelah wafat dimakamkan di Kadilangu-selatan Demak. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban—keturunan tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. v Menurut cerita tutur, nama Kalijaga berasal dari kegiatannya yang senang kungkum (berendam) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon (Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati). Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” Kasultanan. v Dikabarkan jika ia tidak saja berguru pada Sunan Bonang, namun juga kepada Sunan Gunung Jati dan Sunan lainnya sehingga ilmunya adalah cakupan ilmu para Wali. Beberapa cerita malahan menyebut jika Kalijaga juga sempat berguru dengan Nabi Khidir, a.s. Pada initnya, setelah berguru ke Dara Petak di Palembang, Kalijaga meneruskan perjalanan ke Pulau Upih (Malaka) untuk berguru kepada Syaikh Sutabris.7 v Sempat pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. v Pola dakwahnya sama dengan guru sekaligus sahabatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” – bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
7

Syaikh Sutabris, menurut Hoesein Djajadiningrat adalah pseudo dari Syamsu Tabriz atau Syamsu Alt-Thabriz. Penulis Persia ini adalah guru teologi dan mistik sekaligus sahabat Jalaluddin Rumi, yang menulis Kitab Diwan-i Syam-i Tabriz. Dalam penyelidikan mengenai kitab itu ditemukan ide-ide artisik Socrates yang cenderung menitikberatkan ukuran-ukuran rasa atau yang interior. Ia adalah darwis pengembara sekaligus sufi fakir yang wafat akibat pembunuhan kejam yang dilakukan lawan mahzabnya, tahun 645 H (1247 M). Dengan demikian Kalijaga yang sebenarnya hidup beberapa abad setelah wafatnya Tabriz mungkin hanya berguru kepada pengikut Tabriz di Upih. Ide dan gagasan yang turun kepada Kalijaga dari ‘kedekatannya’ dengan Tabriz adalah laku kembara dan yang paling nyata adalah kecenderungannya sebagai seorang socratesian (Saksono, 1996: 70-75).

v Untuk itu ia memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah: menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk. Metode ini sangat efektif. Dialah pencipta Baju taqwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karyanya.8 v Sebagian besar Adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga (di antaranya Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang – sekarang Kotagede, Yogya). v Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati.

Syekh Siti Jenar
Satu tokoh yang tidak dapat tidak disebut walaupun sering kali dianggap ‘Wali yang bukan Dewan Wali’, adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil atau lebih dikenal dengan sebutan Syekh Siti Jenar, Syekh Lemah Abang atau Sitibrit. v Menurut beberapa sumber ia diyakini sebagai putera Resi Bungsu, seorang raja pendeta dari Hindu-Budha. Dalam kisah ini, Syekh Lemah Abang konon ditulah menjadi cacing oleh ayah kandungnya tersebut dan dibuang ke dalam sungai. Pada suatu ketika, Sunan Bonang sedang memberi wejangan berupa ilmu hakikat kepada Sunan Kalijaga. Demikian penting atau rahasianya wejangan itu sampai-sampai harus diberikan di tempat sunyi. Maka keduanyapun berada di atas perahu, di tengah laut. Namun perahu bocor, Sunan Kalijagapun berusaha menambal perahu dengan tanah merah. Saat keadaan kembali tenang, Sunan Bonang akhirnya memberi wejangan. Pada saat itulah, tanpa diduga, tanpa dinyana, cacing yang terikut dalam tanah untuk menambal perahu tadi berubah menjadi manusia karna mendengar ilmu hakekat Sunan Bonang. Dialah yang kemudian dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang (lemah: tanah; abang: merah). Alhasil, diangkatlah baik Sunan Kalijaga maupun Syekh Lemah Abang sebagai murid Sunan Bonang.

8

Salah satu karyanya yang cukup terkenal hingga hari ini adalah tembang Ilir-ilir: Lir ilir lir ilir tandure wis sumilir, Tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar, Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotiro-dodotiro, Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Domono jlumotono kanggo seba mengko sore, Mumpung jembar kalangane mumpung padhang rembulane, Yo surako surak horee.

v Ajaran Siti Jenar adalah kesatuan tunggal dengan Allah atau Manunggaling Kawula Gusti. Pada titik-titik terekstremnya, perwujudan dari pemahaman filosofis itu adalah pengakuan bahwa diriNya sendiri adalah Allah. Dan Allah tiada lain dari dirinya.
Ya, ingsun iki Allah Ingsun iki jatining Pangeran Mulya Syekh Siti Jenar iku wajahing Pangeran Jati Artinya, Ya Aku inilah Allah Aku ini Hakikat Yang Maha Kuasa Syekh Siti Jenar (adalah) wajahNya Tuhan Jati (Huda, 2005: 268).

v Pada akhirnya, tidak berbeda dengan Al Hallaj (858-922), Siti Jenar dihukum oleh Dewan Wali. Konon ia diesekusi di Mesjid Demak. Namun beberapa versi menyebutnya diesekusi di Masjid Agung Kasepuhan Cirebon. Setelah menjalani hukuman maka terdengarlah suara Siti Jenar. Darmo Gandhul menyebutkan jika Jenar berkata kelak ia akan kembali dan menuntut balas. Bukan di akhirat tetapi di dunia yang nyata ini. Tubuh Jenar sendiri terangkat. Ia tidak meninggalkan apapun kecuali bau harum. Melihat keajaiban itu, paniklah para wali. Mereka kemudian bersepakat meletakkan bangkai anjing sebagai ganti jasad Jenar sekaligus contoh manusia sesat yang tercela kepada masyarakat. Dengan pencitraan demikian diharapkan ajaran Jenar tidak berkembang luas. v Sebuah Tarekat yang menyatakan diri sebagai penerus ajaran Jenar didirikan di Kediri, tahun 1527 (walau tidak dapat dipastikan tetapi beberapa sumber menyebutkan jika tarekat itu didirikan sendiri oleh Jenar, sebelum wafatnya). Tujuan tarekat itu adalah Manunggaling Kawula Gusti dengan syarat melepas basyar (badan) dan hal ini dilakukan dalam kemerdekaan penuh. Artinya tidak diperlukan hukum atau batasan: guru-murid, waktu shalat, jumlah dzikir, dll. Selama nafas terhirup selama itulah Allah patut disebut. Dalam tiap situasi, dalam tiap apapun. v Pengaruh Jenar sendiri waktu itu sangat besar dan berkembang di beberapa daerah seperti, Ngawi, Salatiga, Klaten, Luragung-Jawa Barat, Banten dan sepanjang Sumatera. Tarekatnya konon hingga kini tetap berkembang dalam bentuk kelompokkelompok kecil yang tidak saling berhubungan dan berada di sekitar Nganjuk, Banyuwangi, Malang, Kediri dan Tulung Agung-Jawa Timur. v Jenar sendiri dipercaya memiliki beberapa keturunan yang keberadaannya tetap dirahasiakan hingga hari ini. Menurut Huda (2005: 266) diantaranya adalah Abdul Qadir atau Datuk Bardut yang setelah kematian Jenar menetap di daerah Cirebon dan Abdul Qahar alias Datuk Fardun – menetap di Lamongan, Jawa Timur.

v Sahabat dan ‘pengikutnya’ antara lain Ki Ageng Pengging (Kebo Kenanga), Ki Ageng Tingkir (kelak disebut Hadiwijaya – Sultan Pajang), Sunan Panggung, Haji Mutamakin, Amongrogo dan Ki Bebeluk dari Pajang.

Dewan Wali
Hasanu Simon (2004: 50-55) mengutip keterangan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid yang diambil dari Kitab Kanzul ‘Ulum karya Ibnul Bathuthah (yang kini tersimpan di Perpustakaan Istana Kasultanan Ottoman, Istambul, Turki) mengatakan bahwa berdasar laporan Saudagar Gujarat mengenai perkembangan Islam di Jawa, potensi alam maupun berkuasanya dua kerajaan Hindu-Budha yang ada di sana (Majapahit dan Pajajaran), Sultan Turki Muhammad I segera menyusun rencana untuk mengirimkan sebuah team yang dapat melakukan syiar di Pulau itu. Sebagai persiapan, Sultan Turki menghubungi Amir di Afrika Utara dan Timur Tengah untuk mempersiapakan anggota kelompok tersebut. Setelah melalui beberapa pertimbangan, diantaranya kelengkapan ahli di masing-masing bidang yang bakal bermanfaat di Jawa, maka diberangkatkanlah team tersebut ke Jawa (untuk memperlancar niat, sebelum keberangkatan team itu Sultan Turki diduga sempat mengirim utusan kepada Brawijaya). Demikianlah susunan Dewan Wali menurut kitab Kanzul ‘Ulum Ibnul Bathuthah:

Dewan I tahun 1404 M
1. Syeh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, ahli tata negara, dakwah di Jawa Timur, wafat di Gresik tahun 1419. 2. Maulana Ishaq, asal Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan, dakwah di Jawa lalu pindah dan wafat di Pasai (Singapura). 3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, asal Mesir, dakwah keliling, makam di Troloyo – Triwulan Mojokerto. 4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, asal Maghrib - Maroko, ahli irigasi, dakwah keliling, makamnya di Jatinom Klaten tahun 1465. 5. Maulana Malik Isroil, asal Turki, ahli tata negara, dimakamkan di Gunung Santri antara Serang Merak di tahun 1435. 6. Maulana Muhammad Ali Akbar, asal Persia / Iran, ahli pengobatan, dimakamkan di Gunung Santri tahun 1435. 7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina, dakwah keliling, dimakamkan tahun 1462 di samping masjid Banten Lama. 8. Maulana Aliyuddin, asal Palestina, dakwah keliling, dimakamkan tahun 1462

di samping masjid Banten Lama. 9. Syeh Subakir, asal Persia / Iran, ahli menumbali tanah angker yang dihuni jin jahat, beberapa waktu di Jawa lalu kembali dan wafat di persia tahun 1462.

Dewan II tahun 1436 M
1. Raden Rahmad Ali Rahmatullah, dikenal sebagai Sunan Ampel (Surabaya), dari Cempa Muangthai Selatan, datang tahun 1421, mengganti Malik Ibrahim yang wafat. 2. Sayyid Jafar Shodiq, asal Palestina, datang tahun 1436 dan tinggal di Kudus, dikenal sebagai Sunan Kudus, menggantikan Malik Isroil. 3. Syarif Hidayatullah, asal Palestina, datang tahun 1436 mengganti Ali Akbar yang wafat..

Dewan III tahun 1463 M
1. Raden Paku atau Syeh Maulana Ainul Yaqin pengganti ayahnya yang pulang ke Pasai, kelahiran Blambangan, putra Syeh Maulana Ishaq, berjuluk Sunan Giri dan dimakam di Gresik. 2. Raden Said atau Sunan Kalijaga, putra adipati Tuban bernama Wilatikta, mengganti Syeh Subakir yang kembali ke Persia. 3. Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel yang menggantikan Hasanuddin yang wafat. 4. Raden Qosim atau Sunan Drajad kelahiran Ampel, putra Sunan Ampel mengganti Aliyyuddin yang wafat.

Dewan IV tahun 1466 M
1. Raden Patah putra Brawijaya (tahun 1462 - adipati Bintoro, tahun 1465 - membangun masjid Demak dan tahun 1468 menjadi raja) murid Sunan Ampel, mengganti Jumadil Kubro yang wafat. 2. Fathullah Khan, putra Gunung Jati, menggantikan Al Maghrobi yang wafat.

Dewan V
1. Raden Umar Said (Sunan Muria), putra Kalijaga, menggantikan wali yang telah wafat. 2. Syeh Siti Jenar adalah wali serba kontraversial, mulai dari asal muasal, ajarannya yang dianggap menyimpang dari Islam (tapi hingga saat ini masih dibahas di berbagai lapisan masyarakat dan masih memiliki pengikut), cara kematiannya, termasuk dimana ia wafat dan dimakamkan. 3. Sunan Tembayat atau Adipati Pandanarang, menggantikan Jenar yang dihukum mati.

Sebenarnya selain di Jawa, di Cina juga terdapat semacam kelompok Dewan Wali yang juga beranggotakan sembilan orang. Menurut web Suarajumaat, pada masa Dinasti Ming,
“...kerajaan Islam mula terbentuk di sana dan penggagasnya adalah Chu Yuan Chang. ... Menurut Ma Wen-Sheng dalam bukunya Secret History of Chinese Muslim, sebaik sahaja Chu Yuan Chang menguasai tentera bapa mertuanya, satu majlis rahsia telah ditubuhkan oleh beliau dan anggota majlis ini terdiri daripada sembilan orang ahli yang semuanya adalah orang Islam. Walau bagaimana pun,majlis ini tidak diketahui oleh orang ramai kecuali Ratu Ma. Anggota majlis itu ialah: 1) Hsu Tah (1331-1385 M) dari Fengyang; 2) Ch'ang Yu -Chun (1330-1369 M) dari Huaiyuan; 3) Li Wenchung (1339-1384 M) dari Yu-i; 4) T'ang Ho (13251395 M ) dari Fengyang; 5) Teng Yu (1336-1337 M) dari Ssuhi; 6) Hu Tah-hai (m.1367 M) dari Ssuhi; 7) Hua Yun (1321-1360 M) dari Huaiyuan; 8) Ting Tehhsing (m.1367 M) dari Tingyuan; 9) Mu Ying (1344-1392 M) dari Tingtuan”.

Belum dapat ditarik kesimpulan apakah data mengenai Dewan Wali di Jawa dan di Cina ini benar-benar otentik. Dan jika memang benar otentik, belum diketahui pula apakah keduanya pernah bekerja sama dan secara organisatoris memang berada di bawah satu otoritas tunggal. Yang pasti diketahui bahwasanya Turki adalah salah satu entitas Muslim yang sempat masuk ke Cina tak lama setelah wafatnya Nabi. Salah satu yang terbesar selain akibat aktifitas dagang adalah, sempat dikirimnya pasukan Muslim Turki dalam jumlah besar oleh Khalifah Abbasid Mansur untuk membantu Liu Chen menghadapi musuh-musuhnya (760 M). Pasca itu banyak Muslim Turki memilih menetap di sana dan segeralah Muslim Cina segera berkembang.

Pembagian Kerja Dewan Wali
Mengenai pembagian kerja Dewan wali secara struktural, demikianlah hasil penelitian Widji Saksono (1996: 97-100): Sunan Ampel Sunan Bonang Sunan Gresik Sunan Drajat Sunan Majagung Mengurus susunan aturan syariat dan hukum perdata, khususnya berkenaan dengan masalah nikah, talak, rujuk. Merapikan aturan-aturan termasuk di dalamnya kaidah ilmu, selain menggubah lagu, nyanyian maupun gamelan Jawa. Merubah pola dan motif batik, lurik maupun perlengkapan berkuda. Mengurus hal ikhwal pembangunan rumah maupun berbagai ragam alat angkut. Mengurus hal ikhwal perkara masakan (makanan) maupun alat tani dan barang pecah belah lainnya.

Sunan Gunung Jati

Selain bertugas memperbaiki doa, mantra bagi pengobatan bathin, firasat, jampi-jampi bagi pengobatan lahir, ia juga mempunyai tugas untuk membuka hutan, mengurus transmigrasi atau membuka desa baru (perluasan wilayah).

Sunan Giri

Bertugas menggubah perhitungan bulan, tahun, windu, lalu menyusun dan merapikan segala perundang-undangan kerajaan, termasuk urusan protokolernya. Secara teknis Sunan Giri bertugas membuat kertas.

Sunan Kalijaga Sunan Kudus

Bertugas

mengurus

bidang-bidang

seni-budaya,

misalkan

menggubah dan menciptakan langgam maupun gending. Bertanggungjawab atas perlengkapan persenjataan, perawatan bahan besi dan emas, juga membuat peradilan dengan undang-undang syariat.

(bahan ini adalah bagian dari telaah atas “Politik Identitas Jawa-Cina: Kajian Atas Ungkapan Tradisional ‘Jawa Safar Cina Sajadah’ Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa”)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful