Hukum Perkawinan dan Perceraian islam di Indonesia

Andika Dwiyadi B111 12 273 Hukum Perdata Kelas E

pribahasa itulah yang hampir kerap kali kita dengar dari setiap orang. baik melalui proses alamiah ataupun sebab mempertahankan hak-hak insaniah. sehinga perpisahan atau dalam hal ini disebut bubarnya perkawinan pasti tidak dapat dihindari oleh setiap pasangan suami istri. sejahtera dan kekal. dan dengan hal ini pula pemakalah akan mencoba untuk membahahsnya. sebagaimana yang dikatakan dalam peribahasa diatas. Oleh karena itu pemrintah melalui hukumnya membahas dan mengatur masalah ini demi tercipta dan terlaksananya kehidupan yang harmonis. Akan tetapi pada kenyataannya hal itu sulit dan tidak sepenuhnya bisa dialami. Tidak lepas dari pribahasa itu ialah perkawinan atau pernikahan. Pada dasarnya perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorng pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia. Hal inilah yang menjadi dambaan dan tujuan utama setiap orang dalam menempuh bahtera rumah tangga yang diikat oleh oleh suatu akad yang namanya perkawinan. Dalam perkawinan seseorang pasti akan merasakan yang namanya perpisahan. Latar Belakang “Jika ada pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan”.BAB I PENDAHULUAN a. .

seperti yang diamanahkan oleh Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. ekonomis. berarti dalam rumah tangga itu seharusnya tercipta adanya hubungan yang harmonis antara suami isteri dan anggota keluarganya berdasarkan adanya prinsip saling menghormati (menghargai) dengan baik. Pada umumnya dapatlah dikatakan bahwa sudah menjadi kehendak dari orang-orang yang melangsungkan perkawinan agar perkawinannya berlangsung terus menerus dan hanya terputus apabila salah seorang baik suami ataupun isteri meninggal dunia. Perbuatan-perbuatan tersebut dapat merusak perkawinan. Keberadaan institusi perkawinan menurut Hukum Islam dapat terancam oleh berbagai perbuatan para pelaku perkawinan itu sendiri. sangat bergantung pada jenis perbuatan yang mereka lakukan. Namun dalam kenyataan. Menciptakan sebuah rumah tangga yang damai berdasarkan kasih sayang yang menjadi performance merupakan idaman bagi setiap pasangan suami isteri merupakan upaya yang tidak mudah. Putusnya Perkawinan Perkawinan merupakan awal hidup bersama dalam suatu ikatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud membentuk keluarga yang bahagia. dalam waktu yang lama bahkan terputus untuk selamanya. biologis. Oleh karena perkawinan/pernikahan bertujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Kenyataan tersebut di atas membuktikan bahwa memelihara kelestarian dan kesinambungan hidup dalam rumah tangga bukanlah merupakan perkara yang mudah untuk dilaksanakan. terhentinya hubungan untuk bebarapa saat. tenang.BAB II PEMBAHASAN A. tenteram dan saling mencintai dengan tumbuhnya rasa kasih sayang. perbedaan pandangan hidup dan lain sebagainya terkadang muncul dalam kehidupan rumah tangga bahkan dapat menimbulkan krisis serta dapat mengancam sendi-sendi rumah tangga. Faktor-faktor psikologis. baik itu dilakukan pria maupun oleh wanita. banyak pasangan suami isteri yang . yang berbunyi : “Tujuan perkawinan adalah juga untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. tidak sedikit pasangan suami isteri yang gagal dan berakhir dengan sebuah perceraian.

a) Perceraian Karena Talak (Cerai Talak) Menurut UU. Dimulai sejak tanggal meninggal tersebut. Yaitu perceraian karena talak (cerai talak)dan perceraian karena gugatan (gugat cerai). Talak Raj’i Yaitu talak kesatu atau kedua dimana suami berhak rujuk selama dalam masa iddah (pasal 118 KHI).1/1974 pasal 66 ayat (1) cerai talak adalah permohonan yang diajukan oleh seorang suami yang beragama Islam kepada pengadilan guna menceraikan istrinya dengan penyaksian ikrar talak. b. Talak Ba’in Sughra Yaitu talak yang tidak boleh rujuk namun boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam masa iddah (pasal 119 KHI). Sedangkan talak menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 117 adalah ikrar suami dihadapan sidang Pengadilan Agama dan menjadi sebab putusnya perkawinan. ada beberapa jenis talak yang menyebabkan putusnya perkawinan. yaitu seperti yang tercantum dalam Pasal 38 atau dalam undang-undang Kompilasi Hukum Islam pasal 113. perkawinan dapat putus karena adanya hal-hal berikut : 1. talak dengan tebusan atau khulu’. Kematian Hukum perkawinan Agama Islam menentukan bahwa apabila salah seorang di antara kedua suami istri meninggal dunia. .terpaksa harus putus ikatan perkawinannya di tengah jalan. maka telah terjadi perceraian dengan sendirinya. 1) Jenis-jenis Talak Menurut Kompilasi Hukum Islam. Antara lain: a. 2. Secara umum mengenai putusnya hubungan perkawinan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan membagi sebab-sebab putusnya perkawinan ke dalam 3 (tiga) golongan. Perceraian Ada dua macam perceraian yang menyebabkan bubarnya perkawinan. Talak Ba’in Sughra adalah talak yang terjadi qabla al dukhul. dan talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. No.

Pasal 34 ayat (3) dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 77 ayat (5). Tidak boleh dirujuk dan tidak boleh dinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba’da al dukhul dan masa iddah. Talak Ba’in Kubra Yaitu talak untuk yang ketiga kalinya. Terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran antara suami istri yang tidak dapat didamaikan lagi.1/1974. menjadi pemabuk. Istri berbuat zina.9/1975. penjudi dan lain sebagainya yang sulit atau tidak dapat disembuhkan seperti yang tercantum dalam PP. Pasal 19 huruf a dan 116 huruf a. No. PAsal 19 huruf e dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 166 huruf e. No. Istri melakukan kekejaman atau penganiayayaan yang membahayakan pihak lain tercantum dalam PP. 9/1975. Istri meninggalkan suami selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin suami dan tanpa alas an yang sah seperti yang terdapat dalam PP. 9/1975. 9/1975. Tercantum dalam PP. Pasal 19 huruf c dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 huruf c. h. b. Pasal 19 huruf f dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 166 huruf f. pemadat. Yaitu talak yang dijatuhkan pada istri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri karena cacat badan atau penyakit sebagaimana tercantum dalam PP.c. No. Yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan haid. Istri murtad. Pasal 19 huruf b dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 huruf b. (pasal 121 KHI) e. (pasal 122 KHI) 2) Macam-macam Alasan Permohonan Cerai Talak Permohonan cerai talak dapat diajukan berdasarkan alasan-alasan berikut ini: a. Pasal 19 huruf d dan Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 huruf a. d. c. Istri melalaikan kewajibannya sebagaimana terdapat pada UU. No. Talak Sunni Adalah talak yang dibolehkan. No. atau istri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri. No. (pasal 120 KHI) d. 9/1975. yaitu terjadi peralihan agama yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga. No. g. Istri mendapat hukuman penjara 5 tahun atau lebih terdapat dalam PP. . e. Talak Bid’i Adalah talak yang dilarang. Terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 huruf h. f. 9/1975.

1/1974. 4) Saat Mulai Terjadinya Perceraian Karena Talak Menurut PP. No. No. Pasal 76 ayat (1-2). Menurut UU. 7/1989 Pasal 65. Pasal 66 ayat (1-4). Yaitu tuduhan kepada salah satu dari suami istri ada yang berzina. Dalam UU. c. Seperti terdapat dalam UU. Pasal 39 ayat (1-3). j. dan Kompilasi Hukum Islam. 7/1989. Syiqaq. dengan syarat harus mendengar keterangan saksi-saksi yang berasal dari keluarga atau orang-orang yang dekat dengan suami atau istri.7/1989. 9/1975. atau suami mengingkari anak dalam kandungan maupun yang sudah lahir dari istrinya. No. kecuali apabila penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat tinggal bersama tanpa izin tergugat. Li’an. Pasal 87 ayat (1-2) dan Pasal 88 ayat (1-2). ditentukan bahwa perceraian hanya dilakukan di depan sidang Pengadilan dengan alasan antara suami dan istri tidak bisa didamaikan lagi. seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tulisan kepada Pengadilan Agama di tempat tinggal istri dengan alasan meminta diadakan sidang. No. Pasal 17 dan 18. Dan menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 132 ayat (1).i. No. Perceraian Hanya Dapat Dilakukan di Depan Sidang Pengadilan d. Bisa juga diajukan kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Terdapat dalam UU. sedangkan pemohon atau penggugat tidak mempunyai bukti-bukti dan tergugat menyanggah tuduhan tersebut. seorang suami mengajukan permohonan kepada Pengadilan daerah setempat atau apabila pemohon dan termohon tinggal di luar negeri. Menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 129. No. perceraian dihitung setelah keputusan hakim dinyatakan di depan sidang Pengadilan dengan surat keterangan perceraian yang dibuat oleh Ketua Pengadilan untuk dikirim kepada Pegawai Pencatat di tempat terjadinya perceraian. b. No. UU. serta dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 123. 3) Tempat Mengajukan Permohonan Cerai Talak a. maka permohonan diajukan kepada Pengadilan yang meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan untuk mengadakan sidang penyaksian ikrar talak. serta dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 125-128.7/1989 pasal 73 ayat (1) adalah gugatan perceraian yang diajukan istri atau kuasanya kepada Pengadilan daerah setempat. b) Perceraian Karena Gugatan (Gugat Cerai) Adapun pengertian cerai gugat menurut UU. gugatan cerai adalah gugatan yang diajukan oleh istri atau kuasanya pada Pengadilan Agama setempat kecuali si istri meninggalkan tempat tinggal bersama . 7/1989.

Akibat dari Perceraian Ada dua akibat yang muncul apabila terjadi perceraian antara suami istri. Putusan perceraian tidak berlaku surut. Menurut KHI pasal 149. Sebagai satu contoh kasus apabila seorang istri ditinggal suaminya ke medan perang dan tidak kembali selama 10 tahun sehingga dinyatakan hilang. maka karena ini si istri meminta kejelasan statusnya kepada pengadilan. Akibat yuridis yang timbul akibat cerai talak adalah : 1. Pertama adalah akibat bagi istri dan harta kekayaan dan yang kedua adalah akibat bagi anak-anak yang belum dewasa. Sebab hal inilah pengadilan berhak memutuskan setatus si istri tersebut dengan membubarkan perkawinannya demi kemaslahatan dirinya dan keluarganya.tanpa izin suami. Menurut UU. dan setengah bagi istri yang belum dicampuri. 1/1974 pasal 41 putusnya perkawinan karena perceraian adalah timbulnya kewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya dan yang bertanggung jawab sepenuhnya atas pembiayaan pemeliharaan dan pendidikan anak adalah bapaknya. pengadilan memutuskan bahwa ibunya ikut menanggung biaya tersebut. hanya mulai berlaku pada saat dibukukannya surat keputusan itu dalam segister Catatan Sipil. 2. maka pengadilan yang berhak memberi keputusan. Karena pada dasarnya putusan sidang bisa menjadi alasan bubarnya suatu perkawinan apabila dilandasi adanya suatu kemaslahatan yang harus dituju dan ditegakkan. Jika terjadi perselisihan tentang penguasaan anak. apabila perkawinan putus karena cerai talak. 3. Perceraian berakibat pada adanya pembagian hak-hak antara bekas suami dan bekas istri menyangkut masalah hak asuh anak maupun pembagian harta. Perceraian berakibat pada adanya pembagian hak-hak antara bekas suami dan bekas istri menyangkut masalah hak asuh anak maupun pembaian harta. maka suami wajib melunasi mahar (yang terhutang) seluruhnya apabila istrinya sudah dicampuri. B. Pengadilan juga berhak mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan atau menentukan kewajiban bagi bekas istri. Putusan pengadilan Untuk masalah yang satu ini sebetulnya tidak serumit yang kita bayangkan. Namun apabila bapaknya tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut. No. Kemudian bekas suami .

3. Hak Penguasaan Pemeliharaan Anak (Hadhanah) Ø Menurut KHI pasal 156.wajib memberikan mut’ah berupa uang atau benda kepada bekas istri kecuali belum dicampuri. dan Pasal 156 huruf d. anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari ibunya. maka penyusuan dibebankan kepada orang yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayahnya atau walinya. terlepas dari ada atau tidaknya orang tua atau perwalian yang telah mengurus anak tersebut. Apabila ayahnya meninggal dunia. Ø Hak pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun jika terjadi perceraian adalah menjadi hak ibunya. . Seperti yang tercantum dalam Kompilasi hukum Islam Pasal 104 ayat(1-2). Apabila pihak yang menguasai anak itu menolak menyerahkannya. Pasal 105 huruf c. Ø Biaya pemeliharaan dan penyusuan anak menjadi tanggung jawab ayahnya menurut kemampuannya. maka juru sita boleh menjadi perantara untuk melaksanakan keputusan itu. Serta adanya kewajiban memberikan biaya hadhanah bagi anak di bawah umur 21 tahun. sebagaimana tercantum dalam Kompilasi hukum Islam Pasal 105 huruf a. Dan pengadilan berhak memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang berhak hadhanah pula apabila keselamatan jasmani dan rohani anak tidak terjamin meskipun nafkah hadhanah sudah terpenuhi. Selain itu ada juga kewajiban memberi nafkah berupa maskan dan kiswah selama bekas istri dalam masa iddah kecuali jatuh talak ba’in atau nusyuz sedang bekas istri dalam keadaan hamil. kecuali ibunya meninggal dunia maka kedudukannya digantikan oleh : a) Wanita-wanita dalam garis lurus ibu b) Ayah c) Wanita-wanita dalam garis lurus ayah d) Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan e) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ibu f) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah Sedangkan anak yang sudah mumayyiz berhak memilih hadhanah dari ibu atau ayahnya. Ø Eksekusi putusan hadhanah menurut KUH Perdata Pasal 319 f ayat (5) adalah tentang kepada siapa seharusnya anak itu dipercayakan. sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).

dan putusan pengadilan. Dari pembahasasn diatas pula kita dapat menganalisis betapa berbelit-belitnya suatu perceraian. maupun susunannya. hal ini disebabkan agar terbentuknya keluarga yang bahagia dan langgeng.BAB III KESIMPULAN Dari pembahasan diatas jelas sudah bahwasanya undang-undang telah mengatur dan membahas secara rinci atas dapat putusnya suatu perkawinan dengan adanya tiga hal yaitu kematian. sehingga terlaksananya hak-hak dan kewajiban masing-masing. . Pengaturan hal ini dalam undang-undang dimaksudkan tidak lain demi terciptanya masyarakat yang tertib. harmonis serta keluarga yang bahagia tanpa adanya saling merugikan satu sama lain antara suami istri. Demikinlah makalah ini saya buat. Sehingga saya sangat mengharapkan saran dan masukan para pembaca yang konstruktif demi lebih baik dan sempurnanya makalah yang saya susun ini. perceraian. tata bahasanya. dan saya sangat sadar sekali bahwa didalamnya masih banyak kekurangan disana-sini baik subtansinya. maka perceraian sejauh mungkin dihindarkan dan hanya dapat dilakukan dalam hal-hal yang dianggap sangat terpaksa dengan alasan-alasan tertentu yang telah diatur oleh undang-undang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful