You are on page 1of 24

REFERAT ANTIBIOTIK PROFILAKSIS

Disusun oleh : Azhar A Wijaya Rossy Marlina Ngahu Shaumy Saribanon G0002039 G0006220 G9911112129

Yusuf Allan Pascana G9911112148

Pembimbing : dr. Dhani Redhono H., Sp.PD FINASIM

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN Referat ini disusun untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Referat ini telah disetujui dan dipresentasikan pada : Hari :

Tanggal :

Oleh: Azhar A Wijaya Rossy Marlina Ngahu Yusuf Allan Pascana Shaumy Saribanon G0002039 G0006220 G9911112148 G9911112129

Mengetahui dan menyetujui Pembimbing Referat :

dr. Dhani Redhono H., Sp.PD FINASIM

KATA PENGANTAR Segala puji kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan petunjuk dan rahmat-Nya, referat Ilmu Penyakit Dalam berjudul Antibiotik Profilaksis dapat diselesaikan. Referat ini disusun sebagai salah satu tugas untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelah Maret / RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Kepala Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi Surakarta. 2. dr. Dhani Redhono, Sp.PD FINASIM atas bimbingan dan masukannya dalam pembuatan referat ini. 3. Segenap staf bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi Surakarta atas bimbingan, pengarahan, dan sarana yang diberikan kepada kami. 4. Semua pihak yang telah membantu penulisan referat ini. Kami menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih banyak terdapat kekurangan, namun kami berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembacanya.

Surakarta, Juli 2012

Penyusun

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR............................................................................................ 3 DAFTAR ISI............................................................................................................4 BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................5 BAB II. ANTIBIOTIK PROFILAKSIS..................................................................6 A. Definisi antibiotik profilaksis ................................................................6 B. Prinsip penggunaan antibiotik profilaksis..............................................6 C. Antibiotik profilaksis pada pembedahan ...............................................8 D. Antibiotik profilaksis untuk berbagai kondisi medis...........................15 BAB IV. PENUTUP..............................................................................................22 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................23

BAB I PENDAHULUAN

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikroba antara lain antibakter/antijamur, antijamur, antivirus, antiprotozoa. Antibiotik merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Terapi menggunakan antibiotik itu sendiri dapat dibagi menjadi terapi empiris, terapi definitif, dan terapi profilaksis (Permenkes, 2011). Antibiotik sebagai terapi profilaksis sudah mulai digunakan setelah perang dunia II semenjak dikenalkannya penisilin ke masyarakat luas dan mendapat dukungan yang nyata ketika American Heart Association (AHA) mengeluarkan rekomendasi pertama untuk pencegahan endokarditis bakterial. Sejak saat itu, banyak usaha dan penelitian yang telah dilakukan untuk membuktikan keefektifannya, mengembangkan obat dan dosis yang sesuai, serta untuk menentukan indikasi klinis dari penggunaan antibiotik profilaksis. Akan tetapi, sejak pertengahan tahun 1980, perhatian dunia diarahkan untuk mencari efek potensi antibiotik yang merugikan, terutama terhadap kasus alergi penisilin (Pallasch, 2003). Saat ini, salah satu perhatian utama terhadap antibiotik profilaksis adalah penggunaannya untuk populasi yang besar dan bagaimana hal tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan global dengan adanya resistensi mikroba terhadap antibiotik. Permasalahan ini muncul mengingat efek samping dari penggunaan antibiotik profilaksis yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi. Hal ini terjadi karena pemilihan penderita yang tidak tepat, pemberiannya terlalu lama, atau digunakannya obat generasi terbaru. Oleh karena itu, hal ini menjadi dasar bagi penulis untuk membahas antibiotik profilaksis lebih lanjut sehingga dapat diketahui prinsip penggunaan antibiotik sebagai profilaksis yang benar dan dapat mengoptimalkan penggunaannya secara bijak.

BAB II ANTIBIOTIK PROFILAKSIS

1. Definisi Antibiotik Profilaksis Antibiotik profilaksis adalah antibiotik digunakan bagi pasien yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapatkannya, atau bila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien. Tujuan dari profilaksis adalah untuk memperbesar mekanisme ketahanan tubuh terhadap invasi bakteri. Profilaksis adalah usaha untuk mencegah organisme sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menginfeksi. 2. Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis Penggunaan antibiotik profilaksis harus dibatasi pada infeksi yang memiliki tingkat mortalitas tinggi atau infeksi yang tidak memiliki mortalitas tinggi, tetapi sering terjadi. Satu-satunya situasi klinis dimana antibiotik profilaksis telah terbukti berhasil adalah dalam pencegahan demam rematik yang berulang, dengan cara pemberian terapi penisilin yang terus menerus. Berikut ini merupakan prinsip penggunaan antibiotik profilaksis (Pallasch, 2003): Indikasi Umum Kriteria dasar infeksi yang memiliki tingkat mortalitas tinggi atau infeksi yang tidak memiliki mortalitas tinggi, tetapi sering terjadi 1. Perbandingan antara risiko dan cost benefit harus rasional 2. Antibiotik harus sudah berada dalam peredaran darah atau organ target sebelum tindakan invasive dimulai. 3. Dosis optimal dibutuhkan agar didapatkan konsentrasi yang tinggi dalam darah dan jaringan 4. Pilihan antibiotik harus sesuai dengan mikroorganisme penyebab infeksi atau bakterimia 5. Antibiotik hanya boleh dilanjutkan selama masih ada Profilaksis pada pembedahan kontaminasi dari bakteri atau dari tempat operasi 1. Infeksi yang jarang tetapi berhubungan dengan morbiditas atau mortalitas yang tinggi 2. Dalam prosedur pembedahan dengan tingkat infeksi yang 7

tinggi 3. Untuk mencegah kontaminasi pada area yang steril Efek tidak 4. Selama proses implantasi dari materi prosthetic yang 1. Risiko alergi atau keracunan antibiotik 2. Adanya risiko super infection

diharapkan 3. Menginduksi ekspresi gen terhadap resistensi antibiotik Kontraindikasi 1. Pada situasi klinis dimana belujm ada bukti tentang antibiotik Profilaksis efektifitas antibiotik tersebut atau tingkat efektifitas terlalu kecil. 2. Bakterimia yang akan dicegah sangat jarang menyebabkan penyakit 3. Jika profilaksis ditujukan untuk semua jenis bakteri pathogen, bukan hanya ditujukan pada satu koloni yang bersifat paling patogen Tabel 2. Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis Profilaksis antibiotik diperlukan dalam keadaankeadaan berikut (Anonim,2008): a. Untuk melindungi seseorang yang terkena kuman tertentu. b. Mencegah endokarditas pada pasien yang mengalami kelainan katub jantung atau defek septum yang akan menjalani prosedur dengan resiko bakteremia, misalnya ekstrasi gigi, pembedahan dan lainlain. c. Untuk kasus bedah, profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah. Antibiotik profilaksis digunakan untuk membantu mencegah infeksi. Jika seorang ibu dicurigai atau didiagnosis menderita suatu infeksi, pengobatan dengan antibiotik merupakan jalan yang tepat. Pemberian antibiotik profilaksis 30 menit sebelum memulai suatu tindakan, jika memungkinkan, akan membuat kadar antibiotik dalam darah yang cukup pada saat dilakukan tindakan. Dalam operasi bedah sesar, antibiotik profilaksis sebaiknya diberikan sewaktu tali pusat dijepit setelah bayi dilahirkan. Satu kali dosis pemberian antibiotik profilaksis sudah mencukupi dan tidak kurang efektif jika dibanding dengan tiga dosis atau pemberian antibiotik selama 24 jam dalam mencegah infeksi (Saifudin, 2008).

Dasar pemilihan jenis antibiotik untuk tujuan profilaksis adalah sebagai berikut (Permenkes, 2011): 1. Sesuai dengan sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus yang bersangkutan. 2. Antibiotik yang dipilih memiliki spektrum sempit untuk mengurangi resiko resistensi kuman 3. Memiliki toksisitas rendah 4. Tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian anestesi 5. Memiliki potensi sebagai bakterisidal 6. Harga terjangkau Pemberian antibiotik pasca operasi untuk kepentingan profilaksis tampaknya tidak memberikan arti yang bermakna. Dosis tambahan pasca operasi akan menimbulkan banyak kerugian (resiko efek samping meningkat, merangsang timbulnya kuman resisten, dan beban biaya tambahan untuk pasien) (Saifudin, 2008). Dosis untuk mencapai konsentrasi puncak, antibiotik harus diberikan dalam dosis cukup tinggi serta dapat berdifusi dalam jaringan dengan baik. Pada jaringan operasi konsentrasi terapi harus mencapai 3 4 kali konsentrasi hambatan minimal, sedangkan pada profilaksis harus mencapai sedikitnya 2 kali lipat konsentrasi terapi (Saifudin, 2008). 3. Antibiotik Profilaksis pada Pembedahan a. Definisi Pemberian antibiotik sebelum, saat dan hingga 24 jam pasca operasi pada kasus yang secara klinis tidak didapatkan tanda-tanda infeksi dengan tujuan untuk mencegah terjadi infeksi luka operasi. Diharapkan pada saat operasi antibiotik di jaringan target operasi sudah mencapai kadar optimal yang efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri (Avenia, 2009). Penggunaan antibiotik di rumah sakit, sekitar 30-50% untuk tujuan profilaksis bedah. b. Keuntungan dan Kerugian Keuntungan penggunaan antibiotik profilaksis: 1. Antibiotik profilaksis menurunkan insidensi infeksi pasien sehingga menurunkan kematian post operatif.

2. Antibiotik profilaksis yang sesuai dan efektif menurunkan biaya perawatan kesehatan. 3. Penggunaan antibiotik profilaksis yang sesuai membutuhkan waktu yang lebih singkat daripada pemberian terapi, sehingga menurunkan jumlah total antibiotik yang diperlukan. Kerugian penggunaan antibiotik profilaksis: 1. Dapat mengakibatkan infeksi sekunder. 2. Jika resiko infeksi rendah, penggunaan antibiotik profilaksis tidak menghasilkan keuntungan sehingga tidak menurunkan insidensi infeksi. 3. Biaya antibiotik juga harus di perhitungkan. 4. Selalu ada resiko toksisitas terhadap obat yang di pakai. c. Prinsip Penggunaan 1. Tepat Indikasi Antibiotik profilaksis diberikan pada pembedahan dengan klasifkasi bersih kontaminasi, yang mempunyai kemungkinan terjadi ILO sebesar 10,1% Dengan pemberian antibiotik profilaksis maka angka kejadian ILO dapat diturunkan menjadi 1,3% . Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pembedahan kriteria bersih yang memasang bahan prostesis. Juga diberikan pada operasi bersih yang jika sampai terjadi infeksi akan menimbulkan dampak yang serius seperti operasi bedah syaraf, bedah jantung, dan mata. Antibiotik profilaksis tidak tepat digunakan pada operasi kontaminasi atau kotor karena telah terjadi kolonisasi kuman dalam jumlah besar atau sudah ada infeksi yang secara klinis belum manifest. 2. Tepat Obat Antibiotik yang digunakan untuk untuk tujuan profilaksis berbeda dengan obat yang digunakan untuk tujuan terapi. Pada umumnya dipilih antibiotik dengan spektrum sempit, generasi yang lebih tua dibandingkan antibiotik untuk tujuan terapi. Dengan memperhatikan spektrum, antibiotik ditujukan pada kuman yang potensial menimbulkan ILO, dan antibiotik tersebut dapat melakukan penetrasi ke jaringan yang dilakukan pembedahan dengan konsentrasi yang

10

cukup. Walaupun disatu bidang pembedahan kadang didapatkan banyak macam kuman normoflora, namun tidak semuanya potensial menimbulkan infeksi dan jumlah koloninya tidak banyak. Dalam pemilihan antibiotik harap diperhatikan faktor alergi, efektivitas, toksisitas, serta kemudahan cara pemberiannya. Pada umumnya untuk berbagai macam pembedahan masih digunakan sefalosporin generasi I-II sebagai profilaksis. Pada kasus tertentu yang dicurigai melibatkan bakteri anaerob dapat ditambahkan metronidazol. Sedangkan sefalosporin generasi III dan IV, golongan karbapenem, dan golongan kuinolon tidak dianjurkan sebagai profilaksis bedah (Permenkes, 2011). 3. Tepat dosis Untuk tujuan profilaksis diperlukan antibiotika dosis tinggi, agar didalam sirkulasi dan didalam jaringan tubuh dicapai kadar diatas MIC (minimal inhibitory concentration) antibiotik terhadap kuman yang potensial menimbulkan infeksi. Untuk itu kadang diperlukan loading-dose yang takarannya 2-4 kali dosis normal. Dosis yang kurang adekwat, tidak hanya tidak mampu menghambat pertumbuhan kuman tetapi justru merangsang terjadinya resistensi kuman. 4. Tepat rute Agar antibiotik dapat segera didistribusikan ke jaringan maka sebaiknya pemberiannya dilakukan secara intravena. 5. Tepat waktu pemberian Pemberian antibiotik profilaksis dilakukan pada 30 menit (intravena) atau 1 jam (intramuskuler) sebelum insisi dengan maksud agar pada saat insisi maka kadar antibiotik didalam jaringan sudah mecapai puncaknya. Pemberian antibiotik profilaksis lebih baik dilakukan di dalam kamar operasi, pada waktu anestesi melakukan induksi, untuk itu dapat minta tolong anaestesis untuk memberikannya. Antibiotik tersebut harus mencapai kadar puncak didalam jaringan sebelum terjadinya inokulasi kuman kedalam jaringan di lapangan operasi. Antibiotik tidak bermanfaat untuk mencegah terjadinya ILO jika diberikan sebelum 2 jam atau sesudah 3 jam dilakukan insisi.

11

Pada operasi kolon, diberikan juga antibiotik peroral yaitu neomisin dan eritromisin masing-masing 1g pada jam 13.00, 14.00 dan 23.00. obat lain yang dapat diberikan juga ialah metronidazole+ kanamycin/ neomycin. 6. Tepat lama pemberian Pada operasi yang lama > 3 jam atau perdarahan selama operasi > 1500 ml akan terjadi penurunan dosis antibiotik didalam jaringan, oleh karena itu pada kondisi tersebut dapat diberikan dosis tambahan. Jika operasi sangat memanjang maka pemberian dosis tambahan dapat diberikan setiap 2 jam untuk sefoksitin atau setiap 4 jam untuk sefazolin. Pada beberapa operasi yang sederhana seperti apendiktomi atau herniotomi menggunakan mesh maka antibiotik profilaksis cukup diberikan sekali preoperatif saja. Pada umumnya pemberian antibiotik profilaksis tambahan sebanyak 1 dosis setiap 8 jam diberikan hanya selama 1 hari saja, karena pemberian lebih dari 1 hari tidak memberikan manfaat lebiH. (Reksoprawiro, 2009) d. Dosis Antibiotik Profilaksis Dosis antibiotik profilaksis adalah dua kali dari dosis terapi. Untuk anak-anak dosis profilaksis yang diberikan sesuai dengan rumus : Dosis Profilaksis = 2 x BB xDmax T1/2 Contoh: Akan diberikan antibiotik Opimox kepada anak dengan berat badan 6 kg, dengan dosis maksimal 50mg/hari dan interval pemberian setiap 8 jam/hari (T1/2=3). Dosis Profilaksis = 2 x 6 kg x 50mg/hr 3 Dosis Profilaksis = 200 mg Jumlah obat yang diberikan kepada pasien = 200 mg : 250 ml = 0,8 cc. Jadi, jumlah antibiotik yag diberikan sebanyak 0,8 cc. Penyuntikan antibiotic profilaksis dilakukan dengan menggunakan spuit 3 cc. Dosis Antibiotik Profilaksis Situasi Standard prophylaxis Medikasi Amoxicillin Dosis Dewasa: 2.0 g; Anak: 50 mg/kg orally 1 jam 12

Tidak dapat meninum obat po Alergi Penicillin

Ampicillin

Clindamycin Cephalexin or cefadroxil Or Azithromycin or Clarithromycin

Alergi penisilin dan Clindamycin or tidak bisa minum obat Cefazolin po

sebelum prosedur Dewasa: 2.0 g IM or IV; Anak: 50 mg/kg IM or IV 30 menit sebelum Prosedur Dewasa: 600 mg; Anak: 20 mg/kg 1 jam sebelum prosedur po Dewasa: 2.0 g; Anak; 50 mg/kg 1 jam sebelum prosedur po Dewasa: 500 mg; Anak: 15 mg/kg 1 jam sebelum prosedur po Dewasa: 600 mg; Anak: 20 mg/kg IV 30 menit sebelum prosedur Dewasa: 1.0 g; Anak: 25 mg/kg IM atau IV 30 menit sebelum Prosedur

e. Antibiotik profilaksis untuk berbagai jenis operasi Jenis operasi Operasi Organ Pencernaan Gastroduodenal Cholesistotomi Transjugular intrahepatic portosystemic shunt Appendektomi Kolorektal Patogen tersering Antibiotik profilaksis yang dianjurkan Cefazolin 1x1 gr Cefazolin 1x1 gr Ceftriaxone 1x1gr Cefaxitin atau cefotetan 1x1gr PO : neomycin 1g + eritromisin 1g jam 11, 12 dan 1 siang sehari sebelum operasi IV : Cefaxitin atau cefotetan 1gr PO : Amoxicilin 2x1 Tingkat rekomen dasi 1A 1A 1A 1A 1A

Gram (-) enterik basil, gram (+) kokus, anaerob oral Gram (-) enterik basil, anaerob Gram (-) enterik basil, anaerob Gram (-) enterik basil, anaerob Gram (-) enterik basil, anaerob

Endoskopi

Bermacam-macam

1A 13

tergantung dari prosedur, tetapi yang tersering adalah Gram (-) enterik basil, gram (+) kokus, anaerob oral Operasi urologi Reseksi Prostat, Reseksi Kandung kemih. Sistoskopi Operasi Kandungan Sectio Caesaria Histerektomi Escheria Coli

gr IV : Ampisilin 2x1 gr atau Cefazolin 1x1 gr Cefazolin 1x1gr 1B

Gram (-) enterik basil, Anaerob, streptococcus grup B, enterococcus Gram (-) enterik basil, Anaerob, streptococcus grup B, enterococcus

Cefazolin 2x1 gr Vaginal : Cefazolin 1x1 gr Abdominal : Cefotetan 1x1 gr atau Cefazolin 1x1 gr Cefazolin 1gr atau clindamycin 600 mg Clindamicin 600 mg saat induksi dan 2x dosis setiap 8 jam setelahnya Cefazolin 1g x 1 preoperatif, dilanjutkan dua dosis lagi dalam 2x8 jam berikutnya Cefazolin 1g x 1 preoperatif, dilanjutkan setiap 8 jam selama 48 jam berikutnya Cefazolin 1g x 1 preoperatif,

1A 1A

Operasi Kepala dan Leher Operasi Staphylococcus aureus, Maksillofasial streptococci oral anaerob Reseksi keganasan Staphylococcus aureus, kepala dan leher streptococci oral anaerob Bedah Ortopedi Penggantian Sendi S. aureus S. epidermidis

1A 1A

1A

Fraktur Panggul

S. aureus S. epidermidis

1A

Fraktur Terbuka

S. aureus S. epidermidis

1A

14

Bakteri gram (-) Poli mikroba Bedah Saraf Pemasangan shunt cairan serebrospinal Kraniotomi

dilanjutkan setiap 8 jam selama ada dugaan infeksi

S. aureus S. epidermidis S. aureus S. epidermidis

Cefazolin 3 x 1 g setiap 8 jam, atau ceftriaxon 2 x 1g Cefazolin 1x1g atau Cefotaxime 1x1g Cefazolin 1x1g

1A

1A

Bedah Spinal

S. aureus S. epidermidis

1B

Bedah Jantung dan Thoraks Bedah Jantung S. aureus, S. Epidermidis, Bedah Thoraks Corynebacterium S. aureus, S. Epidermidis, Corynebacterium, bakteri gram (-) enterik Bedah Vaskuler Bedah aorta abdominal dan pembuluh darah ekstremitas bawah S. aureus, S. epidermidis Bakteri gram (-) enterik Cefazolin 1g saat induksi dan dilanjutkan dua dosis lagi dalam 2x8 jam berikutnya 4. Antibiotik Profilaksis Untuk Berbagai Kondisi Medis a. Pencegahan Demam Rematik Rekuren Demam rematik adalah penyakit sistemik yang bisa terjadi sesudah faringitis akut faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus betahaemoliticus grup A. Penyakit ini dapat mengenai jaringan penyambung dari jantung, persendian, kulit dan pembuluh darah. Di negara-negara 1B Cefazolin 1g setiap 8 1A jam selama 48 jam Cefuroxime 750 mg setiap 8 jam selama 48 jam 1A

15

berkembang, demam rematik merupakan suatu endemik dan masih merupakan salah satu penyebab utama dari penyakit jantung didapat, paling banyak dijumpai pada populasi anak-anak dan dewasa muda. Demam rematik juga merupakan penyebab utama kematian pada kelompok umur dibawah 50 tahun dengan insidens tiap tahun 100-200 kali lebih besar dibandingkan hasil yang diamati pada negara-negara maju (Davidson & Carson-Dewytt, 2011). Penderita demam rematik mempunyai resiko besar untuk mengidap serangan ulang demam rematik setelah terserang infeksi Streptococcus hemolyticus grup A berikutnya. Oleh karena itu, pencegahan merupakan aspek penanganan demam rematik yang sangat penting. Pencegahan sekunder pada dasarnya merupakan pemberian antibiotik secara teratur pada penderita yang pernah mengidap demamrematik agar tidak terjadi infeksi streptokokus pada saluran pernafasan bagian atas,sehingga tidak terjadi serangan ulang demam rematik. Pencegahan sekunder dianjurkan untuk tetap diberikan paling tidak sampai usia 18 tahun. Pada penderitademam rematik yang mengalami kelainan katup jantung, pencegahan ini dianjurkandiberikan seumur hidup (Behrman et al., 2006). Salah satu pengobatan demam rematik adalah pemberian antibiotik untuk eradikasi tahap awal dan profilaksis. Pasien diberikan penisilin atau eritromisin secara oral selama 10 hari atau injeksi penisilin G benzatin dosis tunggal intramuskular untuk mengeradikasi Streptococcus -hemolyticus Grup A dari saluran pernapasan bagian atas. Setelah terapi insial antibiotik ini diberikan, maka pasien harus segera memulai profilaksis antibiotik jangka panjang (Behrman et al., 2006). Antibiotik Injeksi benzatin minggu penisilin Kondisi G Pada populasi dengan insiden demam individu tetap mengalami demam rematik akut rekuren walau sudah patuh pada rejimen 4 minggua, bisa Penicillin V2 x 250 mg/hari diberikan setiap 3 minggu. Pada pasien dengan risiko rekurensi 16

intramuscular 1,2 juta unit setiap 4 rematik yang sangat tinggi atau bila

demam rematik lebih rendah, bisa dipertimbangkan mengganti obat menjadi oral saat pasien mencapai remaja akhir atau dewasa muda dan tetap bebas dari demam rematik minimal 5 tahun. Sulfadiazin atau sulfisoksazol 0,5 Untuk pasien yang alergi penicillin. g/hari untuk pasien dengan BB 27 Profilaksis BB 27 kg akhir dengan sulfonamid pasase kg dan 1 g/hari untuk pasien dengan dikontraindikasikan pada kehamilan karena adanya transplasenta dan kompetisi dengan bilirubin pada lokasi pengikatannya di albumin. Antibiotik makrolida (eritromisin, Untuk pasien yang alergi penisilin atau klaritromisin, atau azitromisin). dan sulfisoksazol Obat-obat ini tidak boleh diberikan bersama inhibitor sitokrom P450 3A seperti antijamur azol, inhibitor HIV protease, dan beberapa antidepresi SSRI. (Permenkes, 2011) b. Pencegahan Endokarditis Endokarditis adalah infeksi permukaan endokardium jantung, yang bisa mengenai satu katup jantung atau lebih, endokardium otot, atau defek septum. Panduan untuk terapi profilaksis terhadap endokarditis: 1) Kondisi penyakit jantung yang berisiko tinggi untuk terjadi endokarditis infeksiosa, dianjurkan diberikan profilaksis: a) Katup jantung prostetik b) Riwayat menderita endokarditis infeksiosa sebelumnya c) Penyakit jantung congenital d) Penerima transplantasi jantung yang mengalami valvulopati jantung

17

2) Untuk pasien dengan kondisi di depan, profilaksis dianjurkan untuk semua prosedur gigi yang melibatkan manipulasi jaringan gingival atau daerah periapikal gigi atau perforasi mukosa mulut. Prosedur berikut ini tidak memerlukan profilaksis : injeksi anestetik rutin menembus jaringan yang tidak terinfeksi, foto rontgen gigi, pemasangan piranti prostodontik atau ortodontik yang bisa dilepas, penyesuaian piranti ortodontik, pemasangan bracket ortodontik, pencabutan gigi primer, dan perdarahan karena trauma pada bibir atau mukosa mulut. 3) Profilaksis antibiotik dianjurkan untuk prosedur pada saluran napas atau kulit, struktur kulit, atau jaringan musculoskeletal yang terinfeksi, hanya bagi pasien dengan kondisi penyakit jantung yang berisiko tinggi terjadi endokarditis infeksiosa. Rejimen yang dianjurkan: 1. Antibiotik profilaksis harus diberikan dalam dosis tunggal sebelum prosedur. Bila secara tidak sengaja dosis antibiotik tidak diberikan sebelum prosedur, dosis bisa diberikan sampai 2 jam sesudah operasi. 2. Rejimen untuk prosedur gigi: a. Untuk pemberian oral: amoksisilin; apabila tidak bisa mengkonsumsi obar per oral: ampisilin atau sefazolin atau seftriakson secara IM atau IV. b. Kalau alergi terhadap golongan penisilin, secara oral diberikan sefaleksin (atau sefalosporin oral generasi pertama atau kedua lainnya), atau klindamisin, atau azitromisin, atau klaritromisin. Bila tidak bisa mengkonsumsi obat oral, diberikan sefazolin atau seftriakson atau klindamisin secara IM atau IV. Sefalosporin tidak boleh digunakan pada individu dengan riwayat anafilaksis, angioedema, atau urtikaria pada pemberian golongan penisilin. (Permenkes, 2011) c. Profilaksis Pada Meningitis Meningitis adalah sindrom yang ditandai oleh inflamasi meningen. Tergantung pada durasinya, meningitis bisa terjadi secara akut dan kronis. Mikroba penyebab: Streptococcus pneumoniae, N. meningitidis, H.

18

influenzae, L. monocytogenes, S. agalactiae, basil Gram negatif, Staphylococcus sp, virus, parasit dan jamur. Tujuan kemoprofilaksis: mencegah meningitis akibat kontak dengan pasien. Profilaksis meningitis meningococcus dan H. influenzae harus disarankan pada orang yang kontak erat dengan pasien, tanpa memperhatikan status vaksinasi. Profilaksis harus ditawarkan pada individu dengan kriteria berikut: 1) Kontak erat yang lama dengan individu meningitis (paling sedikit selama 7 hari). 2) Kontak pada tempat penitipan anak 3) Kontak erat sementara dengan pasien, terpapar secret pasien (misalnya melalui kontak mulut, intubasi endotrakhea atau manajemen TT) di sekitar waktu rumah sakit. Kontak erat dengan pasien infeksi meningokokus harus mendapat salah satu rejimen ini: a. Rifampisin: dewasa 600 mg/12 jam selama 2 hari; anak 1-6 tahun: 10 mg/kgBB/12 jam selama 2 hari; anak 3-11 bulan 5mg/kgBB/12 jam selama 2 hari b. Siprofloksasin: dewasa 500 mg dosis tunggal c. Seftriakson: dewasa 250 mg IM dosis tunggal; anak < 15 tahun 125 mg IM dosis tunggal. Bila antibiotik lain telah digunakan untuk terapi, pasien harus menerima antibiotik profilaksis untuk eradikasi carrier nasofaring sebelum dipulangkan dari rumah sakit. (Permenkes, 2011) d. Profilaksis Pada Pasien dengan Neutropenia Beberapa upaya telah dilakukan untuk mencegah infeksi pada pasien neutropenia antara lain ( Hadinegoro, 2002): Trimethoprim-sulfamethoxazole sebagai antibiotik profilaksis, namun makin hari makin banyak bakteri yang mulai resisten. Siprofloksasin juga telah dipakai sebagai antibiotik profilaksis untuk mengurangi infeksi bakteri Gram negatif namun tidak untuk Gram positif. 19

Profilaksin antifungal fluconazole telah dapat menurunkan insidens candidiosis, namun tampaknya telah muncul pula spesies candida yang resisten terhadap fliconazole.

Trimethoprim-sulfamethoxazole Pneumocystis glikokortikoid. carinii

sebagai cukup

pencegahan efektif

terhadap dan tetap

tampaknya

direkomendasikan untuk pasien keganasan yang mendapat pengobatan Kebersihan lingkungan merupakan hal yang tidak boleh diabaikan. Isolasi sederhana perlu diterapkan untuk pasien neutropenia, kebiasaan mencuci tangan bagi dokter, perawat, dan pengasuh perlu harus selalu diingatkan, aliran udara dalam kamar cukup baik, sehingga mengurangi paparan mikroba pada pasien. Beberapa institusi juga merekomendasikan untuk selalu memasak makanan dengan baik, terutama untuk menghindari infeksi jamur. Menjaga pencemaran dari polusi bahan bangunan untuk mencegah infeksi Aspergillus. Ventilasi kamar perlu diperhatikan kebersihannya untuk mencegah infeksi Legionella. e. Profilaksis Pada Artritis Septik Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius dan sampai saat ini masih merupakan tantangan bagi para klinisi karena prognosis tidak berubah selama dua dekade terakhir ini. Infeksi pada sendi dapat melalui hematogen ataupun inokulasi langsung melalui prostetik sendi. Penyebab yang paling banyak adalah Staphylococcus aureus. Proses kerusakan sendi melalui tiga tahap yaitu kolonisasi bakteri, terjadinya infeksi, dan induksi respon inflamasi hospes. Faktor predisposisi menderita arthritis septik oleh adanya faktor lokal dan kondisi sistemik yang memudahkan terjadinya infeksi ( Darya I.W. dan Putra T.R., 2009). Karena akibat lanjutan dari artritis septik yang berat (mortalitas, morbiditas, dan kehilangan fungsi sendi), artritis septik yang menyebar via hematogen merupakan masalah besar pada pasien-pasien dengan penyakit sendi. Penggunaan profilaksis antibiotika untuk pencegahan artritis bakterial

20

secara

hematogen

melalui

penyebaran

hematogen

transien

masih

controversial (Balabaud et al., 2007). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Krijnen et al (2001), profilaksis antibiotika pada kasus infeksi kulit merupakan cost-effective pada pasien dengan penyakit sendi yang kepekaannya tinggi. Pada pasien dengan risiko tinggi seperti artritis rheumatoid dan penggunaan prostesis pada sendi besar, profilaksis tidak hanya efektif tetapi juga mengurangi biaya secara keseluruhan. Sedangkan infeksi saluran kencing dan saluran nafas merupakan risiko rendah terjadinya septik artritis. Profilaksis efektif pada kasus ini bila penderita sangat berisiko mangalami arhtritis bakterial seperti pemakaian prostesis pada sendi panggul atau lutut, adanya penyakit komorbid, artritis rheumatoid, dan usia 80 tahun atau lebih (Hughes et al., 2005; Balabaud et al., 2007). Berdasarkan panduan dari Belanda, profilaksis yang digunakan adalah amoksisilin/asam klavulanat untuk mengatasi artritis bakterial untuk berbagai sumber infeksi. Pilihan lain adalah golongan sefalosporin. Tidak diketahui antibiotika mana sebagai profilaksis yang lebih baik. Dosis amoksisilin/asam klavulanat sebagai profilaksis adalah 2000/200 mg intravenus sebelum tindakan invasif, 3x500/125 mg sehari selama 10 hari pada kasus infeksi, dan 3000/750 mg per oral sekali sebelum tindakan di bidang dental. Efikasi profilaksis ini adalah 90%, dengan kejadian efek samping 0.01% mengalami reaksi non fatal dan 0,002% mengalami reaksi fatal (Balabaud et al., 2007).

21

BAB III PENUTUP

Salah satu penggunaan dari antibiotik adalah sebagai terapi profilaksis dengan tujuan untuk memperbesar mekanisme ketahanan tubuh terhadap invasi bakteri. Profilaksis merupakan usaha untuk mencegah organisme sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menginfeksi. Penggunaan antibiotik profilaksis harus dibatasi pada infeksi yang memiliki tingkat mortalitas tinggi atau infeksi yang tidak memiliki mortalitas tinggi, tetapi sering terjadi. Untuk tujuan profilaksis diperlukan antibiotika dosis tinggi, agar didalam sirkulasi dan didalam jaringan tubuh dicapai kadar diatas MIC (minimal inhibitory concentration) antibiotik terhadap kuman yang potensial menimbulkan infeksi. Untuk itu kadang diperlukan loading-dose yang takarannya 2-4 kali dosis normal. Dosis yang kurang adekwat, tidak hanya tidak mampu menghambat pertumbuhan kuman tetapi justru merangsang terjadinya resistensi kuman. Penggunaan antibiotik profilaksis terbanyak di rumah sakit adalah untuk tujuan profilaksis bedah yaitu sekitar 30-50%. Selain itu juga profilaksis dapat digunakan untuk berbagai kondisi medis lainnya seperti profilaksis pada demam rematik rekuren, endokarditis, meningitis, pada pasien dengan neutropenia dan arthritis septik.

22

DAFTAR PUSTAKA

Balabaud L., Gaudias J., Boeri C., Jenny J.Y., Kehr P. 2007. Results of treatment of septic knee arthritis: a retrospective series of 40 cases. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 15(4):387-92. Behrman, Klegman, Arvin 200. Rheumatic Fever in: Nelson Text Book of Pediatrics, 17 Th edition. USA: 1140-11445. Darya, I Wayan. Putra, Tjokorda R. 2009. Diagnosis dan Penatalaksanaan Artritis Septik. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud. Davidson, Tish, Carson-Dewytt, Rosalyn. 2011 \. Encyclopedia of Childrens Health: Rheumatic Fever. http://www.healthofchildren.com/R/Rheumatic-Fever.html. (2 Juli 2012). Ganiswara, S. G. 2003. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta : FKUI. Hadinegoro, Sri Rezeki S. 2002. Demam pada Pasien Neutropenia. Sari Pediatri. Vol. 3: 235-241. Hughes, L.B. 2005. Infectious Arthritis. In: Koopman WJ, Moreland LW, Ed. Arthritis and allied conditionsa text book of rheumatology. 15th ed. Philadelpia: Lippincott William & Wilkins. Pp: 2577-2601. Katzung, E.G. 1997. Obat-Obat Kemoterapeutika, dalam Farmakologi Dasar & Klinik. Jakarta: EGC. Kisworo. 1997. Demam Rematik. Available from http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09DemamRematik116.pdf/09DemamRem atik116.pdf Krijnen P., Kaandorp C.J.E, Steyerberg E.W., van Schaardenburg D., Bernelot Moens H.J., Habbema J.D.F. 2001. Antibiotic prophylaxis for haematogenous bacterial arthritis in patients with joint disease: a cost effectiveness analysis. Ann Rheum Dis. 60;359-66. Pallasch, Thomas J. 2003. Antibiotic Prophylaxis. Endodontic Topics 4: 46-59. PERMENKES. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2406/ MENKES/ PER/XII/2011.

23

Reksoprawiro, S. 2009. Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pembedahan. Surabaya: Departemen/SMF Ilmu Bedah FK-UNAIR/RSU Dr. Soetomo. Rosen, E.J., Quinn, F.B. 2000. Microbiology, infections, and antibiotic therapy. http://www.utmb.edu/otoref/grnds/Infect-0003/Infect-0003.pdf . (1 Juli 2012). Usri, K., et al. 2006. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. Bandung : LSKI. Wells B., DiPiro J., Schwinghammer T., DiPiro C. 2011. Pharmacotherapy Handbook, Eighth Edition. New York : McGraw-Hill Winotopradjoko, M, et al. 2006. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta: ISFI.

24