BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Benjolan pada seseorang tidak selalu berkonotasi jelek., tetapi jika benjolan itu terdapat pada bagian tubuh yang tak semestinya, tentu harus diwaspadai, jangan-jangan itu merupakan pertanda awal terjadinya tumor tulang. Ada tiga macam tumor tulang yaitu yang bersifat lunak, ganas dan yang memiliki lesi di tulang (berlubangnya struktur karena jaringan akibat cedera atau penyakit). Selain itu ada yang bersifat primer dan skunder. Pada tumor tulang sekunder misalnya, seseorang terkena tumor payudara, kemudian menjalar ke tulang dan selanjutnya menggerogoti tulang tersebut. Kanker tulang ini merupakan kelompok tumor tulang yang ganas. Keganasan tulang dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu tumor benigna dan maligna. Klasifikasi yang banyak digunakan untuk kedua jenis tumor ini adalah sebagai berikut :

1. Tumor Tulang BenignaKondrogenik: Osteokondroma, Kondroma Osteogenik : Osteoid osteoma, Osteobalstoma, Tumor sel Giant

2. Tumor Tulang Maligna Kondrogenik : Kondrosarkoma Osteogenik : Osteosarkoma Fibrogenik : Fibrosarkoma Tidak jelas asalnya : Sarcoma Ewing

Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara

penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radik ikal diikuti kemotherapy B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dengan tumor tulang secara komprehensif di ruang Seruni RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. 2. a. Tujuan khusus Mampu melaksanakan pengkajian menyeluruh pada pasien tumor tulang

b. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada pasien tumor tulang c. Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada pasien tumor tulang

d. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada pasien dengan tumor tulang C. Ruang Lingkup Penulisan Dalam makalah, penulis ini hanya membahas tentang Carsinoma Tulang dan Fraktur; yang meliputi, pengertian penyakit, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi,

penatalaksanaan serta asuhan keperawatannya. D. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini kami mengunakan metode studi kepustakaan yaitu mempelajari buku-buku dan sumber-sumber lainnya untuk mendapatkan dasar-dasar yang menjadi landasan dalam penulisan makalah ini. E. Sistematika Penulisan Tulisan ini terdiri dari 3 (tiga) bab, yaitu : BAB I : Berupa bab pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, Ruang Lingkup dan Sistematika Penulisan. BAB II BAB III BAB IV : Berupa bab isi dan penjelasan materi, yang terdiri dari Masalah Fraktur : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan Keperawatan. : Berupa bab penutup, berisi Kesimpulan, dan Saran. BAB II CARSINOMA TULANG A. DEFINISI

Tumor adalah pertumbuhan sel baru.Parosteal Osteosarkoma.Osteosarkoma .Osteoid Osteoma Ganas: . (Smeltzer. Osteoma . yaitu pertum buhan abnormal pada tulang yang bisa jinak atau ganas.Osteoblastoma . KLASIFIKASI Klasifikasi neoplasma tulang berdasarkan asal sel. B.    Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi Keturunan Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ). abnormal. penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu C-Fos dapat meningkatkan kejadian tumor tulang. 1. Primer a. ETIOLOGI Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Tumor tulang primer merupakan tumor tulang dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk jaringan tulang. C. Dengan istilah lain yang sering digunakan “Tumor Tulang”. 2001). progresif dimana sel-selnya tidak pernah menjadi dewasa. Tumor yang membentuk tulang (Osteogenik) Jinak : . Akhir-akhir ini. sedangkan tumor tulang sekunder adalah anak sebar tumor ganas organ non tulang yang bermetastasis ke tulang.

Tumor sumsum tulang (Myelogenik) Ganas : . Tumor yang membentuk tulang rawan (Kondrogenik) Jinak : .Non Ossifying Fibroma Ganas : . Tumor jaringan ikat (Fibrogenik) Jinak : .b.Multiple Myeloma -Sarkoma Ewing -Sarkoma Sel Retikulum e.Fibrosarkoma d.Osteokondroma c.Kondromiksoid Fibroma .Enkondroma . Tumor lain-lain .Kondroblastoma Ganas : .Kondrosarkoma .

Tumor induk • TX tumor tidak dapat dicapai • T0 tidak ditemukan tumor primer • T1 tumor terbatas dalam periost • T2 tumor menembus periost .Adamantinoma . Sekunder/Metastatik 3.Kordoma 2. Neoplasma Simulating Lesions . • T.Fibrous dysplasia .Jinak : .Eosinophilic granuloma .Simple bone cyst .Brown tumor/hyperparathyroidism Klasifikasi menurut TNM.Giant cell tumor Ganas : .

Terjadi destruksi tulang lokal. parah Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit) 2. TANDA DAN GEJALA 1. PATOFISIOLOGI Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor.. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang.• T3 tumor masuk dalam organ atau struktur sekitar tulang • N Kelenjar limf regional • N0 tidak ditemukan tumor di kelenjar limfe • N1 tumor di kelenjar limf regional • M. E. Fraktur patologik . karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat tempat lesi terjadi. Metastasis jauh • M1 tidak ditemukan metastasis jauh • M2 ditemukan metastasis jauh D. Pada proses osteoblastik. sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.

anoreksia. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor.. F. pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara. dan ginjal. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis didasarkan pada riwayat. 2003). Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas (Gale. poliuria. 1999). paru. keletihan. muntah. (Rasjad. Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. . mitramisin.Bila terdapat hiperkalsemia. dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. radioterapi. asteriografi. Penatalaksanaan meliputi pembedahan. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot. mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat. pemeriksaan fisik. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. kalsitonin atau kortikosteroid. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena 5.3. Hiperkalsemia harus diidentifikasi dan ditangani segera. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi. kemoterapi. 1999) 4. MRI. demam. (Gale. PENATALAKSANAAN 1. mual. Penatalaksanaan medis Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor. Fosfatase alkali biasanya meningkat pada sarkoma osteogenik. berat badan menurun dan malaise. G. mielogram. diurelika. penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena. kejang dan koma. biopsi. atau terapi kombinasi. batuk. dan penunjang diagnosis seperti CT.

muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi. program terapi. mual. Tindakan keperawatan a. d. dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ). Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas. c. bagaimana keluarga dan pasien mengatasi masalahnya dan bagaimana pasien mengatasi nyeri yang dideritanya. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN a.2. sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Pendidikan kesehatan Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi. 2001) H. Manajemen nyeri Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam. visualisasi. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. nyeri pada ekstremitas. dan teknik perawatan luka di rumah. proses penyakit. (Smeltzer. Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan. sakit kepala. b. Berikan perhatian khusus pada keluhan misalnya : keletihan. berkeringat pada malam hari. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka. . dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan. b. Memberikan nutrisi yang adekuat Berkurangnya nafsu makan. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter. Pemeriksaan fisik   Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena. kurang nafsu makan. dan malaise.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. tanda-tanda inflamasi. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status h 4. televisi ) . Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. tes lain untuk diagnosis banding. dan sistem pendukung tidak adekuat. aspirasi sumsum tulang (sarkoma ewing).Berikan lingkungan yang nyaman.Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi   Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri KH:.Pasien tampak rileks .Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien  Intervensi . persepsi tentang proses penyakit.(Wong. frekuensi. Nyeri tekan / nyeri lokal pada sisi yang sakit.   Tujuan : Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam aturan pengobatan KH:.  c.Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu. durasi.Melaporkan berkurangnya ansietas . dan bimbingan imajinasi. 2. tomografi paru. J. pemindaian tulang. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan. Pemeriksaan Diagnostik Radiografi. dan intensitas nyeri ) . radisotop. visualisasi. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan. 2003) I.Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam. dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik.Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan . Kaji status fungsional pada area yang sakit. dan sistem pendukung tidak adekuat 3. . Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi 2.  Intervensi .Kaji status nyeri ( lokasi. tomografi. persepsi tentang proses penyakit. RENCANA INTERVENSI 1. nodus limfe regional. atau biopsi tulang bedah.

. . .Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.penambahan berat badan.   efektif. nilai albumin dalam batas normal ( 3.    Tujuan: mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat KH:.Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien.5 – 5.Berikan informasi akurat.Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara .Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau pengobatan .Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan menyentuh pasien.Catat asupan makanan setiap hari ..Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap kehidupan pribadi pasien dan keluarga. perasaan tidak berdaya.  Intervensi: Tujuan: mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh. 4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.Ukur tinggi.Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan. . . berat badan. putus asa dan tidak mampu. 3. ketebalan kulit trisep setiap hari.5 g% ) intervensi . Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. .Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara. konsisten mengenai prognosis. KH:. bebas tanda malnutrisi.

Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.  Kekerasan akibat tarikan otot Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.BAB III FRAKTUR A. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang B.  Kekerasan tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan.Kekuatan dapat berupa pemuntiran. Definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al. 2000). Etiologi  Kekerasan langsung Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. . Sedangkan menurut Linda Juall C.

Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya D. Pathway Fraktur . C. Setelah terjadi fraktur.penekukan. dan infiltrasi sel darah putih. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks. penekukan dan penekanan. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. eksudasi plasma dan leukosit. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi. dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. kombinasi dari ketiganya. dan penarikan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang. marrow. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan.

2. disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. c.E. . 1. bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktru Inkomplit. b. 1. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma. 3. yaitu: a. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. 1. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.  Green Stick Fraktur. Fraktur Terbuka (Open/Compound). bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:   Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) Buckle atau Torus Fraktur. 4. Fraktur Komplit. Klasifikasi Fraktur Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis . 2. 5. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. Faktur Tertutup (Closed). Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan). bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. 2. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga. dibagi menjadi beberapa kelompok. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur. mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang. bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.

F. hematoma yang lebar. Komplikasi Fraktur a. Deformitas 2. dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur. dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Echimosis (Memar) 4. dan pembedahan. . 2. saraf.Faktor Ekstrinsik Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar. Kurang/hilang sensasi 7. Komplikasi Awal Kerusakan Arteri Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi. G. Faktor yang Mempengaruhi Fraktur . Manesfetasi klinis 1. tulang. cyanosis bagian distal. saraf. Kompartement Syndrom Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot. kelelahan. Krepitasi 8. dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat. elastisitas. Bengkak/edema 3. 1. .Faktor Intrinsik Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan. dan pembuluh darah. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot. Nyeri 6. CRT menurun. Spasme otot 5. waktu. Pergerakan abnormal H. dan kepadatan atau kekerasan tulang. tindakan reduksi. perubahan posisi pada yang sakit.

Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. 2. kuat. Komplikasi Dalam Waktu Lama 1. b. 6. dan stabil setelah 6-9 bulan. Test Diagnostik .3. hypertensi. 4. Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang. Infeksi System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan. tachypnea. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Malunion Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. Delayed Union Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. 3. I. Fat Embolism Syndrom Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. Shock Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Avaskuler Nekrosis Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia. 5. Ini biasanya terjadi pada fraktur. demam. tachykardi. Nonunion Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.

Hecting situasi 4. Antibiotik b. Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma. 5. Penatalaksanaan Medik Fraktur Terbuka Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period). 4. J. Pembersihan luka 2. 2001). Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. Seluruh Fraktur 1. 3. transfusi multiple. reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. a. Retensi/Immobilisasi Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun.1. Reduksi/Manipulasi/Reposisi Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun. 2. 3. 2. scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Exici 3. temogram. Reduksi tertutup Pada kebanyakan kasus. Kuman belum terlalu jauh meresap dilakukan: 1. Dapat juga diartikan Reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasfanatomis (brunner. Rekognisis/Pengenalan Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun. Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnyatrauma. Rehabilitasi . skan tulang. atau cederah hati. 4.

alamat. jenis kelamin. 2. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. termasuk analgetika). Kegelisahan. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Apakah seperti terbakar. perubahan posisi. Keluhan utama. agama. status perkawinan. dan dimana rasa sakit terjadi. pekerjaan. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (mis. nyeri. no. umur. Riwayat Keperawatan.Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi. Identitas. Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. gerakan) dipantau. a. golongan darah. tanggal MRS. 4. dan ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. ASUHAN KEPERAWATAN . Meliputi nama. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien. Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. 1. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: 1. Region : radiation. K. relief: apakah rasa sakit bisa reda. asuransi. 5. apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. diagnosa medis. kapan. berdenyut. meyakinkan. . 3. atau menusuk. pengkajian peredaran darah. apakah rasa sakit menjalar atau menyebar. Pengkajian. Status neurovaskuler (mis. register. 2. strategi peredaan nyeri. perabaan. bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. pendidikan. bahasa yang dipakai. Time: berapa lama nyeri berlangsung.

Riwayat penyakit dahulu.b. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Donna D. Riwayat penyakit sekarang. e. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. 1995). c. Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Selain itu. Riwayat kesehatan keluarga. yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Pola Nutrisi dan Metabolisme . Selain itu. Donna D. dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius. Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur. 1995). f. Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur. osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan. Donna D. 1995). dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius. Riwayat Psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius. seperti diabetes. penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang d. Pola-pola Fungsi Kesehatan 1.

warna. keterbatasan gerak. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. bau.Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium. 1995). 1995). Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius. vit. Pola Persepsi dan Konsep Diri . C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi. protein. 5. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius. Donna D. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi. dan jumlah. 2. Donna D. Pola Tidur dan Istirahat 3. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. zat besi. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi. Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri. konsistensi. 4. kepekatannya. Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.

rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. 1995). rasa cemas. 8. a. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien 3. timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius. Donna D. Pola Penanggulangan Stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya. Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu. perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak. Selain itu juga. klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. 7. 1995). Donna D. 1995).Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya. Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. 6. Sistem Integumen . Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur. Pemeriksaan fisik. lama perkawinannya (Ignatavicius. yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. Donna D. sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. 9. Selain itu juga. dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius.

Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka. sekrup) . terapi restriktif (imobilisasi) 5. Diagnosa Keperawatan Jantung Mata 1. perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial. pemasangan traksi. 2. nyeri. stress/ansietas. kongesti) 4. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler. gerakan fragmen tulang. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler. edema paru. kawat. Nyeri akut b/d spasme otot. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah. edema. edema. Abdomen B. pemasangan traksi (pen. emboli. pembentukan trombus) 3.Kepala Leher Muka e. cedera jaringan lunak. Telinga Hidung Mulut dan Faring Thoraks Paru k.

pemasangan traksi. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler.6. tidur. edema. Nyeri akut b/d spasme otot. mengurangi edema/nyeri . mampu berpartisipasi dalam beraktivitas. stress/ansietas. 2000) C. menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individua Intervensi : a. prosedur invasif/traksi tulang) 7. Intervensi Keperawatan 1. Tujuan: Klien mengataka nyeri berkurang atau hilang dengan menunjukkan tindakan santai. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit. gerakan fragmen tulang. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring. taruma jaringan lunak. Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena Rasional : Meningkatkan aliran balik vena. cedera jaringan lunak. bebat dan atau traksi Rasional : Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi b. pembentukan trombus) . edema. 2. istirahat dengan tepat. c. (Doengoes. kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada. gips. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi. keterbatasan kognitif. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif. Rasional : Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler.

. tidak pucat dan syanosis. Rasional : Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan kongesti paru. Lakukan dan ajarkan perubahan posisi yang aman sesuai keadaan klien. Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera Rasional : Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi b. Rasional : Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/spalk. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio. Rasional : Mencegah terjadinya pembekuan darah pada keadaan tromboemboli. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler. Rasional : Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi. kongesti) Tujuan : Klien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan kriteria klien tidak sesak nafas. c. edema paru. Intervensi : a.Tujuan : Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan kriteria akral hangat. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak 4. Instruksikan/bantu latihan napas dalam dan latihan batuk efektif. adanya 3. tidak cyanosis analisa gas darah dalam batas normal Intervensi : a. koran. perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial. bisa bergerak secara aktif Intervensi : a. nyeri. Rasional : Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi b. heparin) dan kortikosteroid sesuai indikasi. Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi sindroma kompartemen. Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warvarin. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah. terapi restriktif (imobilisasi) Tujuan : Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik yang memampukan melakukan aktivitas. kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien. emboli. c.

mempertahakan gerak sendi. abnormal. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Rasional : Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien. dimana sel-sel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. . abnormal. BAB IV PENUTUP  Tumor adalah pertumbuhan sel baru. mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi. Tumor tulang primer merupakan tumor tulang dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk jaringan tulang. progresif dimana sel-selnya tidak pernah menjadi dewasa.  Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru. 2000). mempertahankan tonus otot. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien Rasional : Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal. Sedangkan menurut Linda Juall C. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien. meningkatakan rasa kontrol diri/harga diri. sedangkan tumor tulang sekunder adalah anak sebar tumor ganas organ non tulang yang bermetastasis ke tulang. yaitu pertumbuhan abnormal pada tulang yang bisa jinak atau ganas  Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al. c. membantu menurunkan isolasi sosial b.Rasional : Memfokuskan perhatian. progresif. Dengan istilah lain yang sering digunakan “Tumor Tulang”.

A (1994). Brunner & Suddart. Edisi 4. Edisi 3. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC Price Sylvia. C (1997).DAFTAR PUSTAKA Tucker. E. Jakarta. EGC Smeltzer Suzanne. Jakarta. Edisi V. Vol 3. Standar Perawatan Pasien. Jilid 2 . Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. Jakarta. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3.Susan Martin (1993). EGC . (1993). EGC Donges Marilynn.