Mekanisme Kontraksi Otot Mekanisme Kontraksi Otot a.

Filamen-filamen tebal dan tipis yang saling bergeser saat proses kontraksi Menurut fakta, kita telah mengetahui bahwa panjang otot yang terkontraksi akan lebih pendek daripada panjang awalnya saat otot sedang rileks. Pemendekan ini rata -rata sekitar sepertiga panjang awal. Melalui mikrograf elektron, pemendekan ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pemendekan sarkomer. Sebenarnya, pada saat pemendekan berlangsung, panjang filamen tebal dan tipis tetap dan tak berubah (dengan melihat tetapnya lebar lurik A dan jarak disk Z sampai ujung daerah H tetangga) namun lurik I dan daerah H mengalami reduksi yang sama besarnya. Berdasar pengamatan ini, Hugh Huxley, Jean Hanson, Andrew Huxley dan R.Niedergerke pada tahun 1954 menyarankan model pergeseran filamen (=filament sliding). Model ini mengatakan bahwa gaya kontraksi otot itu dihasilkan oleh suatu proses yang membuat beberapa set filamen tebal dan tipis dapat bergeser antar sesamanya. b. Aktin merangsang Aktivitas ATPase Miosin Model pergeseran filamen tadi hanya menjelaskan mekanika kontraksinya dan bukan asal-usul gaya kontraktil. Pada tahun 1940, Szent-Gyorgi kembali menunjukkan mekanisme kontraksi. Pencampuran larutan aktin dan miosin untuk membentuk kom-pleks bernama Aktomiosin ternyata disertai oleh peningkatan kekentalan larutan yang cukup besar. Kekentalan ini dapat dikurangi dengan menambahkan ATP ke dalam larutan aktomiosin. Maka dari itu, ATP mengurangi daya tarik atau afinitas miosin terhadap aktin. Selanjutnya, untuk dapat mendapatkan penjelasan lebih tentang peranan ATP dalam proses kontraksi itu, kita memerlukan studi kinetika kimia. Daya kerja ATPase miosin yang terisolasi ialah sebesar 0.05 per detiknya. Daya kerja sebesar itu ternyata jauh lebih kecil dari daya kerja ATPase miosin yang berada dalam otot yang berkontraksi. Bagaimanapun juga, secara paradoks, adanya aktin (dalam otot) meningkatkan laju hidrolisis ATP miosin menjadi sekitar 10 per detiknya. Karena aktin menyebabkan peningkatan atau peng-akti-vasian miosin inilah, muncullah sebutan aktin. Selanjutnya, Edwin Taylor mengemukakan sebuah model hidrolisis ATP yang dimediasi / ditengahi oleh aktomiosin. Model ini dapat dilihat pada skema gambar 8. Pada tahap pertama, ATP terikat pada bagian miosin dari aktomiosin dan menghasilkan disosiasi aktin dan miosin. Miosin yang merupakan produk proses ini memiliki ikatan dengan ATP. Selanjutnya, pada tahap kedua, ATP yang terikat dengan miosin tadi terhidrolisis dengan cepat membentuk kompleks miosin-ADP-Pi. Kompleks tersebut yang kemudian berikatan dengan Aktin pada tahap ketiga. Pada tahap keempat yang merupakan tahap untuk relaksasi konformasional, kompleks aktin-miosin-ADP-Pi tadi secara tahap demi tahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP sehingga kompleks yang tersisa hanyalah kompleks Aktin-Miosin yang siap untuk siklus hidrolisis ATP selanjutnya. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa proses terkait dan terlepasnya aktin yang diatur oleh ATP tersebut menghasilkan gaya vektorial untuk kontraksi otot. c. Model untuk interaksi Aktin dan Miosin berdasar strukturnya Rayment, Holden, dan Ronald Milligan telah memformulasikan suatu model yang dinamakan kompleks rigor terhadap kepala S1 miosin dan Faktin. Mereka mengamati kompleks tersebut melalui mikroskopi elektron. Daerah yang mirip bola pada S1 itu berikatan secara tangensial pada filamen aktin pada sudut 45o terhadap sumbu filamen. Sementara itu, ekor S1 mengarah

Jaringan Otot Jantung/Miokardium  Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung. Rayment.  Otot polos berkontraksi secara refleks dan di bawah pengaruh saraf otonom.sejajar sumbu filamen. Keadaan itu disebut keadaan transien. kepala S1melepaskan ikatannya pada aktin. . dan Milligan mengeluarkan postulat bahwa tertutupnya celah aktin akibat rangsangan (berupa ejeksi ADP) itu berperan besar untuk sebuah perubahan konformasional (yang menghasilkan hentakan daya miosin) dalam siklus kontraksi otot. kepala S1 mengikatkan diri dengan lemah pada suatu monomer aktin yang posisinya lebih dekat dengan disk Z dibandingkan dengan monomer aktin sebelumnya. Relasi kepala S1 miosin itu nampaknya berinteraksi dengan aktin melalui pasangan ion yang melibatkan beberapa residu Lisin dari miosin dan beberapa residu asam Aspartik dan asam Glutamik dari aktin. dinding pembuluh darah. Holden. Pada tahap kedua. hentakan-daya terjadi dan suatu geseran konformasional yang turut menarik ekor kepala S1 tadi terjadi sepanjang 60 Angstrom menuju disk Z. Kepala-kepala Miosin “berjalan” sepanjang filamen-filamen aktin Hidrolisis ATP dapat dikaitkan dengan model pergeseran-filamen. Postulat ini selanjutnya mengarah pada model “perahu dayung” untuk siklus kontraktil yang telah banyak diterima berbagai pihak. Pada tahap keempat. Lalu. kita mengasumsikan jika cross-bridges miosin memiliki letak yang konstan tanpa berpindah-pindah. Selanjutnya.  Otot polos terdapat pada saluran pencernaan.  Bila otot polos dirangsang. Kemampuan tersebut disebabkan karena jaringan otot mampu berkontraksi. ATP muncul dan mengikatkan diri pada kepala miosin S1 sehingga celah aktin terbuka. reaksinya lambat. saluran pernafasan. Sebagai akibatnya. Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan organ-organ tubuh. pada tahap kelima. d. Posisi tegak itu merupakan keadaan molekul dengan energi tinggi (jelas-jelas memerlukan energi). celah aktin akan menutup kembali bersamaan dengan proses hidrolisis ATP yang menyebabkan tegaknya posisi kepala S1. Sebaliknya. pada tahap akhir. maka model ini tak dapat dibenarkan. cross bridges itu harus berulangkali terputus dan terkait kembali pada posisi lain namun masih di daerah sepanjang filamen dengan arah menuju disk Z. Kepala S1 melepaskan Pi yang mengakibatkan tertutupnya celah aktin sehingga afinitas kepala S1 terhadap aktin membesar. Pada mulanya. Melalui pengamatan dengan sinar X terhadap struktur filamen dan kondisinya saat proses hidrolisis terjadi. Pada mulanya. Gambar 9 menjelaskan tentang tahaptahap siklus tersebut. ADP dilepaskan oleh kepala S1 dan siklus berlangsung lengkap. Pada tahap ketiga. Kontraksi otot dapat berlangsung karena molekul-molekul protein yang membangun sel otot dapat memanjang dan memendek Jenis-Jenis Otot Jaringan Otot Polos  Jaringan otot polos mempunyai serabut-serabut (fibril) yang homogen sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak polos atau tidak bergaris-garis.

Dua rantai berat berpilin bersama untuk membentuk sebuah ekor panjang dengan dua kepala globular 2. pada setiap dua rantai membentuk satu kepala. troponin.  Kontraksinya menurut kehendak kita dan di bawah pengaruh saraf sadar. Miofibril Sub unit dari masing-masing serat otot Sebuah sel otot dibentuk dari banyak miofibril Miofilamen unit fungsional sel otot Sub unit dari miofibril Terdiri atas protein-protein kontraktil yang tebal dan tipis Sarkomer  Miofilamen yang berkelompok bersama kedalam suatu pola berulang  Setiap sarkomer mengandung filamen tebal dan tipis  Filamen tebal terletak didaerah central sarkomer yang terdiri dari ratusan salinan protein kontraktil miosin  Filamen tipis melekat pada bagian tepi sarkomer yang terdiri atas tropomiosin. dengan sebuah kepala miosin.  Kontraksi otot lurik berlangsung cepat bila menerima rangsangan. dan aktin  Daerah sarkomer yang hanya terdiri filamen tebal disebut zona H. pita A adalah tempat filamen tebal dan tipis saling tumpang tindih. meskipun begitu kontraksi otot jantung secara refleks serta reaksi terhadap rangsang lambat.  Dinamakan otot lurik karena bila dilihat di bawah mikroskop tampak adanya garis gelap dan terang berselang-seling melintang di sepanjang serabut otot. kepala-kepala tersebut membentuk tonjolan-tonjolan kecil yang terbentang dari filamen miosin . Sedangkan garis Z adalah tepi sarkomer tempat aktin melekat. Empat rantai ringan bergabung. Oleh sebab itu nama lain dari otot lurik adalah otot bergaris melintang. Strukturnya menyerupai otot lurik. bila hanya terdapat filamen tipis disebut zone I.  Fungsi otot jantung adalah untuk memompa darah ke luar jantung Jaringan Otot Lurik  Nama lainnya adalah jaringan otot kerangka karena sebagian besar jenis otot ini melekat pada kerangka tubule.  Fungsi otot lurik untuk menggerakkan tulang dan melindungi kerangka dari benturan keras.  Setiap sarkomer terentang dari garis Z kegaris Z lainnya Jembatan-Silang (Cross Bridge)  Adalah kepala miosin yang membentuk tonjolan-tonjolan kecil yang terbentang dari filamen miosin  Satu molekul miosin terdiri dari 6 rantai 1. berkontraksi sesuai dengan kehendak dan di bawah pengaruh saraf sadar.

Kontraksi Otot  Terjadi apabila jembatan silang miosin berikatan dengan tempat-tempat spesifik diprotein aktin  Bila pengikatan ini terjadi maka sebuah molekul ATP yang terdapat dikepala miosin akan terurai oleh enzim miosin ATPase dan terjadi pembebasan energi  Energi tersebut digunakan untuk mengayunkan jembatan silang sehingga filamen aktin dan miosin bergeser satu sama lain yang menyebabkan pemendekan otot (kontraksi)  Selama kontraksi. tetapi pita I dan Zona H memendek  Setiap kontraksi otot melibatkan siklus berulang pergeseran filamen dan menimbulkan tegangan pada otot untuk bekerja Gambar pengikatan myosin dengan tempat pengikatan di aktin Penggabungan Eksitasi-Kontraksi  Penyampaian potensial aksi oleh neuron motorik ke serat otot rangka yang menyebabkan neuron melepaskan asetilkolin (Ach) ke taut neuromuskular kemudian Ach berdifusi ke end plate dan berikatan dengan receptor. Pengikatan ini menyebabkan channel Na terbuka sehingga ionion Na masuk kedalam sel dan menimbulkan depolarisasi lalu terjadi potensial aksi kemudian disalurkan keserat otot sehingga terjadi depolarisasi serat otot kemudian menyebar keserat via tubulus transversus yg berjalan antara pita A da I.  Bila konsentrasi kalsium intrasel meningkat maka akan berikatan dengan troponin sehingga terjadi pergesaran posisi troponin pada molekul tropomiosin yang menyebabkan pergeseran posisi tropomiosin terhadap aktin.  Kepala miosin dihambat untuk berikatan dengan molekul aktin karena adanya dua protein lain yang membentuk filamen tipis : tropomiosin dan troponin.  Tropomiosin diperkirakan terletak diatas molekul aktin pada keadaan istirahat dan menghambat pengikatan jembatan silang miosin suatu tempat diaktin.  Tanpa mengikat aktin. panjang filamen aktin da miosin tidak berubah.  Troponin melekat kemolekul aktin dan tropomiosin serta troponin juga memilki tempat ikatan untuk kalsium. Spsbils jembatan silang terayun maka filamen-filamen bergeser satu sama lain yang menyebabkan otot berkontraksi  Semakin banyak jumlah jembatan silang yang berhubungan dan terayun pada suatu saat maka semakin besar tegangan yang dihasilkan oleh otot . Hal ini menyebabkan terbukanya tempat aktif untuk mengikat miosin sehingga terjadi pengikatan miosin dengan tempat aktif aktin dan ATPase miosin diaktifkan dan ATP diuraikan untuk menghasilkan energi sehingga jembatan silang terayun. ATP miosin tdk dapat diuraikan dan otot tidak berkontraksi.  Bila bagian dalam sel positif maka ion-ion kalsium dibebaskan dari kompartemen intrasel (retikulum sarkoplasma) sehingga kadar kalsium intra sel meningkat yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot Peran Kalsium Intrasel Pada Iniasi Kontraksi Otot  Sewaktu serat otot rangka berada dalam keadaan istirahat maka kepala miosin dihambat untuk berikatan dengan filamen aktin.

 Terjadi kerja berupa pengangkatan beban.  Penggabungan eksitasi-kontraksi terjadi apabila konsentrasi kalsium intrasel meningkat dari konsentrasi molar istirahat sebesar kurang dari 10-7 menjadi 10-5  Selama potensial aksi yang lazim. tegangan terbentuk tetapi otot tidak memendek Kontraksi Isotonik  Terjadi saat memendek karena mengangkat beban tetap. tanpa pemendekan otot  Terjadi sewaktu mencoba mengangkat suatu beban yang memerlukan tegangan yang lebih besar daripada tegangan yang ia hasilkan  Tidak terjadi kerja mekanis. konsentrasi kalsium adalah sekitar 2 x 10-4 molar. Setelah setiap ayunan jembatan silang maka molukel ADP dibebaskan dari miosin yang memungkinkan molukel ATP kedua berikatan dengan miosin.  Apabila kalsium intrasel masih tetap tinggi maka ATP baru akan diuraikan dan jembatan silang kembali terayun. maka troponin dan tropomiosin kembali menghambat pengikatan aktin serta miosin dan kontraksi otot berhenti Kelelahan Otot  Apabila sumber-sumber ATP diotot habis maka terjadi kelelahan  Apabila otot kekurangan oksigen maka kelelahan lebih cepat terjadi  Apabila tejadi kelelahan otot maka otot bergantung pada glikolisis anaerob dan energi cadangan (simpanan glikogen)  Glikolisis anaerob menghasilkan asam laktat yang mempengaruhi keasaman darah yang dapat mencetuskan terjadinya asidosis metabolik Kontraksi Isometrik  Adalah kontraksi dimana terjadi ayunan jembatan silang dan terbentuk tegangan. sekitar 10 kali kadar yang diperlukan untuk kontraksi maksimun otot Relaksasi Otot  Sewaktu kalsium dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma à serat otot melemas  Pemompaan kalsium adalah suatu proses aktif yang terjadi di membrane retikulum Sarkoplasma.  Sewaktu ATP baru terikat maka jembatan silang dibebaskan dari aktin. Proses ini menggunakan energi yang berasal dari penguraian molekul ATP yang lain  Sewaktu kadar kalsium turun sampai sekitar 10-7.  Contoh mengangkat berat  Sebagian besar kontraksi otot mencakup periode isotonik dan isometrik Serat “Kedut” Cepat  Adalah serat besar yang dapat menghasilkan tegangan besar setiap kali berkontraksi  Fast twitch febers dapat melepaskan kalsium dengan sangat cepat dari retikulum sarkoplasma  Serat-serat ini kurang memerlukan vaskularisasi karena kurang mengandalkan diri pada fosforilasi oksidatif  Serat ini tampak putih karena kurang vaskularisasi .

yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang ke saraf sensori ke pusat saraf yang diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor.  Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak. gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut . sangat tervaskularisasi dan terutama tergantung pada fosforilasi oksidatif sebagai sumber ATPnya  Otot dengan serat kedut lambat tampak merah karena vaskularisainya yg tinggi dan adanya protein mioglobin. misalnya. impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas. Serat-serat ini cepat lelah dan predominan pada otot atlit angkat beban dan pelari cepat Serat Kedut Lambat  Berukuran kecil. Otot punggung Aktifitas Refleks  Pada gerak refleks. mioglobin berikatan dan menyimpan oksigen diserat kedut lambat  Serat kedut lambat memiliki daya tahan lama dan predominan pada otot-otot yg diperlukan untuk menghasilkan tegangan jangka mis. yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful