Peter Kasenda

Wisata Sejarah
Peristiwa 30 September 1965

Gelora Bung Karno Pada hari Kamis Malam, tanggal 30 September 1965, Presiden Soekarno menghadiri dan berpidato di depan perserta Munastek di Istora Gelora Bung Karno. Malam itu, Presiden Soekarno didampingi istrinya, Haryatie, ajudan Presiden Kolonel KKO Bambang Widjanarko, dan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, bertugas memimpin pengamanan di Istora Senayan dan sekitarnya.

Di dalam pidatonya, Presiden Soekarno berbicara mengenai keinginan agar anak-anaknya menjadi benih-benih sosialisme masa depan. Soekarno beranggapan, kekuatan sosialisme dapat mengikar kuat melalui

pembangunan dalam bidang pertanian. Sektor ekonomi, inilah yang sejak bertahun-tahun menjadi sandaran kaum petani, kelompok masyarakat yang mendominasi Indonesia, benih lahirnya Marhaenisme. Lebih dalam, pada pidato yang sama, Soekarno juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menanamkan apa yang ia sebut sebagai dedication of life. Dedikasi ini tidak lain dibangun atas prinsip sosialisme yang anti penindasan. Soekarno mengajak masyarakat untuk bersama membangun bangsa Indonesia, membawa ke arah kemakmuran. Untuk mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Soekarno membutuhkan kekuataan massa, dukungan rakyat dan kekuatan pemerintah. Istana

1

Peter Kasenda

Acara yang dimulai pada pukul 190.00 WIB itu berakhir sekitar pukul 23.00 WIB Presiden Soekarno pun, setelah berpisah dengan Haryatie, kembali ke istana. Setibanya di Istana Merdeka, rombongan pengawal membubarkan diri. Kolonel CPM Maulwi Saelan kembali ke rumahnya di Jalan Birah I No 81 Kebayoran Baru. Demikian juga, Kolonel Bambang Widjanarko yang keesoklan harinya harus mengikuti peringatan Hari Ulang Tahun ke-20Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Lapangan Parkir Timur Gelora Bung Karno sebagai Inspektur Jenderal. Wisma Yaso Presiden Soekarno sendiri berganti pakaian dengan pakaian biasa, dan kemudian secara encognito pergi menjemput Dewi yang saat itu menghadiri resepsi di Hotel Indonesia. Dewi pada malam itu dijamu oleh Dutabesar Iran untuk Indonesia. Presiden Soekarno dikawal oleh Dinas Khusus Destasemen Kawal Pribadi (DKP) yang dipimpin oleh Inspektur Polisi II Zulkifli Ibrahim. Komandan DKP Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo ikut serta. Bertindak sebagai pengemudi mobil Presiden Soeharto Soeparto, Kepala Kendaraan Istana, yang berpangkat Mayor Tituler Angkatan Darat. Di samping Soeparto (di kursi penumpang depan) duduk anggota DKP Inspektur Polisi I Sudarso. Sesampainya di Hotel Indonesia, rombongan Presiden segera memasuki areal parkir berhenti di sana, dan menunggu di kegelapan malam. Soeparto kemudian turun dari mobil dan menjemput Dewi yang waktu itu dikawal oleh Ajun Inspektur Polisi II Sudibyo, anggota DKP. Soekarno sempat jengkel karena ia harus menunggu agak lama di dalam mobil. Setelah Dewi

2

Peter Kasenda

memasuki mobil, rombongan berangkat ke kediamannya di Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto.

Dari sana, Mangil Martowidjojo kemudian kembali ke rumahnya di Jalan Brantas No 13 Jakarta Pusat. Mangil selalu mengatur jika Presiden Soekarno bermalam di Wisma Yaso, maka di dekat kediaman Haryatie ikut ditempatkan satu tim DKP yang menggunakan jip yang dilengkapi radio transmitter & receiver Lorenz, yang dapat digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Begitu juga sebaliknya, Pos taktis DKP itu akan ditarik jika Presiden Soekarno telah tiba kembali ke Istana Merdeka.

Pada pukul 06.30 Presiden Soekarno sudah keluar dari rumah Dewi Soekarno dan langsung menuju mobil kepresidenan Chrysler Imperial hitam dengan nomor polisi B 4747. Pagi hari itu, Presiden Soekarno dijadwalkan menerima Wakil Perdana Menteri I Dr Johanes Leimena dan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani pada acara minum kopi ( koffe wartje) pukul 07.00 WIB. Melihat Presiden keluar, kemudian Inspektiur Polisi I Sudarso berlari-lari menyusul. Inspektur Polisi 1 Sudarso, anggota Dinas Khusus DKP, duduk di kursi penumpang depan mendampingi Soeparto

mengemudikan mobil tersebut.

Mobil Presiden segera bergerak, tetapi baru berjalan beberapa meter. Mobil itu berhenti dan Presiden Soekarno segera memanggil Mangil dan meminta penjelasan tentang penembakan di rumah Dr Johanes Leimena dan Jenderal AH Nasution. Tampaknya Soeparto dan Sudarso sudah menceritakan tentang penembakan di rumah Dr Johanes Leimena dan Jenderal AH Nasution kepada Presiden Soekarno.
3

Peter Kasenda

Presiden Soekarno pun memerintahkan kepada Soeparto untuk berangkat Mobil kepresidenan pun bergerak lagi, dan meninggalkan Wisma Yaso. Di samping Soeparto duduk Sudarso yang dilengkapi mini talkie untuk berkomunikasi jarak dekat dengan mobil Mangil. Di depan mobil Presiden ada satu jip DKP yang dilengkapi radio transmitter & receiver Lorenz, yang dipegang oleh Komandan Tim Dinas Khusus Inspketur Polisi II Zulkifli Ibrahim..

Dengan kecepatan sedang rombongan Presiden Soekarno menuju ke Istana Merdeka. Menjelang bundaran Air Mancur sewaktu mendekati Jalan Medan Merdeka Barat yang dijaga oleh pasukan Angkatan Darat, Mangil ragu-ragu, akankah ia melewati pasukan Angkatan Darat itu, atau tidak? Tiba-tiba Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa Kolonel Saelan menghubungi Mangil lewat radio transmitter &receiver Lorenz untuk menanyakan posisi Presiden Soekarno. Ketika Mangil menginformasikan bahwa posisi Presiden Soekarno mendekati Bundaran Air Mancur. Saelan segera memerintahkan Mangil untuk menghindari pasukan Angkatan Darat yang berjaga-jaga di Jalan Medan Merdeka Barat, dan segera membawa Presiden Soekarno ke kediaman Haryatie. Mangil kemudian segera memerintahkan Sardi untuk menghubungi Sudarso lewat mini talkie dan meminta agar mobil Presiden membelok kiri, masuk je Jalan Kebon Sirih Barat. Akan tetapi, perintah itu agaknya tidak dapat diterima Sudarso dengan jelas sehingga ia minta agar komandan sendiri yang bicara. Dengan cepat Mangil menangmbil walkie talkie dari tangan Sardi, dan dengan suara keras ia memerintahkan untuk membelok ke kiri,

4

Peter Kasenda

masuk ke Jalan Kebon Sirih Barat. Namun perintah itu sudah tidak mungkin dilaksanakan karena mobil Presiden sudah terlanjur melewati Perempatanan Kebon Sirih . Akhirnya Mangil memerintahkan agar rombongan membelok ke kiri dan masuk ke Jalan Budi Kemuliaan. Namun, karena Jalan Medan Merdeka Barat ditutup untuk umum, maka pada pagi hari itu Jalan Budi Kemulian, dalam keadaan macet. Perjalanan rombongan Presiden pun tersendat. Sewaktu rombongan berhenti agak lama di depan bekas Keduataan Besar Malaysia untuk Indonesia di Jalan Budi Kemuliaan, Mangil segera meloncat turun dari mobilnya dan berlari ke mobil Presiden, Mangil kemudian mengetuk kaca jendela depan tempat Sudarso duduk. Ketika kaca jendela itu diturunkan. Mangil memerintahkan agar Presiden Soekarno dibawa ke kediaman Hatyatie, karena Kolonel Saelan sudah menunggu di sana. Rombongan Presiden Soekarno langsung menuju ke kediaman Haryatie, lewat Jalan Tanah Abang Timur, masuk kawasan Tanah Abang naik jembatan terus masuk Jalan Petamburan (kini Jalan KS Tubun), Bundaran Slipi, dan membelok ke kanan ke arah Grogol. Tiba di kediaman Haryatie, sekitar pukul 07.00 WIB. Presiden Soekarno langsung masuk ke dalam rumah didampingi Kolonel Saelan. Kemudian Kolonel Saelan melapor situasi saar ini sementara di luar Mangil sibuk mengatur penjagaan keamanan.

Halim

5

Peter Kasenda

Kolonel Saelan, lalu keluar dan memberi tahu bahwa Prersiden Soekarno akan ke PAU Halim Perdanakusuma, sesuai dengan SOP (standard operating procedure) Resimen Tjakrabirawa. Jauh sebelum terjadinya peristiwa Gerakan 30 September, pimpinan Tjakrabirawa menggariskan bahwa jika dalam perjalanan pengamanan Presiden terjadi sesuatu hal yang mengancam keamanan dan keselamatan Presiden, maka secepatnya Presiden dibawa ke Markas Angkatan Bersenjata terdekat. Alternatif lain adalah menuju ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma karena di sana ada pesawat kepresidenan C-140 JrtStar. Atau pelabuhan Angkatan Laut Layar Terkembang, tempat kapal kepresidenan Varuna berlabuh. Atau bisa juga ke Istana Bogor karena di sana diparkir helikopter kepresidenan Sikorsky S61V.

Persiapan pun segera dilakukan. Agar tidak menarik perhatian, Presiden Soekarno tidak menggunakan mobil kepresidenan Chrysler Imperial hitam bernomor polisi B 4747, Presiden Soekarno menggunakan mobil VW Kodok berwarna biru laut dengan nomor polisi B 75177. Pengawalan pun hanya dilakukan oleh anggota DPK yang menggunakan pakaian sipil. Sedangkan anggota DKP yang mengunakan seragam Resimen Tjakrabirawa

diperintahkan kembali ke asrama. Sekitar pukul 08.30 – 09.00 WIB rombongan Presiden Soekarno meninggalkan kediaman Haryatie menuju ke PAU Halim Perdanakusuma. Jip DKP berjalan di depan, diikuti VW Kodok untuk ditunmpangi Presiden Soekarno, dan mobil ketiga, sebuah jip, yang ditumpangi Mangil, Saelan, dan Zulkifli. Di dalam VW Kodok, Prersiden Soekarno didampingi oleh

6

Peter Kasenda

Jaksa Agung Muda Brigadir Jenderal Soenarjo. Duduk di kursi pengemudi Soeparto yang didampingi Sudarso.

Perjalanan ke PAU Halim Perdanakesuma memakan waktu sekitar 30 menit. Saat memasuki wilayah PAU Halim Perdanakesuma sekitar pukul 09.30, Jip DKP diberhentikan oleh personel PGT yang berugas di pos depan. Setelah melakukan pemeriksaan seperlunya, rombongan dipersilahkan meneruskan perjalanan. Suasana di PAU Halim Perdanakusuma sepi sekali, sama sekali tidak terlihat ada kegiatan pasukan. Iring-iringan mobil presiden langsung menuju ke landasan mendekat pesawat kepresidenan C-149 Jetstar.

Di depan Markas Koops, tampak Men/Pangau Laksamana Madya Udara Omar Dhani dan Panglima Koops Komodior Udara Leo Wattimena berdiri menunggu. Mobil yang ditunggangi Presiden Soekarno pun memutar dan mendekati mereka. JIP DKP yang terlanjur menuju lanfdasan terpaksa dipanggil untuk kembali dan masuk ke pelataran parkir Markas Koops. Kemudian, Presiden Soekarno dan Men/Pangau Laksamana Madya Udara, Omar Dhani masuk keruang kerja Panglima Koops. Di sana Omar Dhani melaporkan situasi yang terjadi, sebatas yang diketahuinya.

Satu jam kemudian, Presiden Soekarno bertemu dengan Soepardjo di kantor komandan Halim, keenam jenderal Angkatan Darat yang diculik mungkin sudah dibunuh. Soepardjo barangkali sudah mengetahui petihal ini dari pembicaraan yang baru saja dilakukannya dengan para pemimpin inti Gerakan 30 September. Soekarno semestinya sudah curiga bahwa setidaktidaknya ada beberapa di antara enam jenderal itu yang dibunuh. Berita yang beredar dari mulut ke mulut mengatakan, dua jenderal Yani dan Pandjaitan,
7

Peter Kasenda

kemungkinan sudah tewas. Tetangga mereka mendengar bunyi tembakmenembak dan kemudian mendapati darah di lantai rumah mereka akibat lika-luka tembak. Jenderal lainnya, Harjono, mungkin juga sudah tewas dirumahnya oleh tusukan dalam di perut akibat hujaman bayonet para penculik. Tiga jenderal lainnya (S Parman, Suparto, dan Soetojo) dan letnan yang salah ambil dari rumah Nasution (Pierre Tendean) masih hidup ketika diculik, tetapi dibunuh di Lubang Buaya. Sekelompok pasukan Gerakan 30 Septembet menembak masing-masing perwira berkali-kali. Untuk

menyembunyikan para korban dan menghilangkan jejak mereka pasukan melemparkan ketujuh jenazah itu ke dalam sumur dengan bebatuan, tanah dan dedaunan. Bagi Presiden Soekarno wajah Gerakan 30 September pada 1 Oktober adalah Brigadir Jenderal Soepardjo, Presiden tidak berjumpa dengan lima pimpinan inti Gerakan 30 September saat ia berada di Halim. Dari siaran radio pagi hari itu, satu-satunya orang lain dengan pasti diketahuinya terlibah ialah Letnan Kolonel Untung. Demikian juga, Soekarno tidak bertemu Aidit dan barangkali tidak pernah diberitahu bahwa Aidit ada di kawasan pangkalan udara. Mengingat satu-satunya orang dari Gerakan 30 September yang dijumpai Presiden Soekarno ialah Soepardjo, Presiden

kemungkinan pagi itu sudah menyimpukan bahwa Gerakan 30 September memang benar seperti yang dinyatakan dalam siaran radio pertama suatu gerakan murni intern Angkatan Darat yang dirancang untuk membersihkan perwira sayap kanan, serta untuk mempertahankan dirinya selaku presiden. Dan patut diingat bahwa semula Gerakan 30 September bemaksud membawa serta dua komandan batalyon, Kapten Sukirno dan Mayor Bambang Supeno, menemui Presiden Soekarno. Tapi hanya Soepardjo yang
8

Peter Kasenda

dibawa kembali dengan helikopter ke Halim. Ternyata Soepardjo menjadi duta Gerakan 30 September.

Ketika Presiden Soekarno dan Soepardjo bertemu untuk pertama di kantor komandan pangkalan udara Halim, Kolonel Wisnoe Djajengminado. Pada waktu itu Soekarno sudah mengetahui bahwa Yani diculik, Karena juga telah dilaporkan kepadanya bahwa tembak-menembak terjadi di rumah Yani dan darah terlihat berceceran di sana. Soekarno barangkali menduga Yani telah terbunuh. Jadi presiden mengetahui Soepardjo mewakili sebuah gerakan yang mungkin sekali, baru saja membunuh panglima angkatan bersenjata.

Sebagaimana dikatakan Soepardjo dalam sidang Mahmilub, Presiden Soekarno tidak terlalu cemas menanggapi berita tentang penculikan para jenderal. Presiden tidak menuduh Gerakan 30 September sebagai jahat, khianat atau kontrarevolusioner. Soekarno tetap tenang dan mengatakan bahwa kejadian sema\cam itu akan terjadi dalam suatu revolusi. Kendati demikian, Soekarno cemas kalau-kalau petistiwa itu menimbulkan perang saudara yang tidak terkendali antara kekuatan sayap kanan danm sayap kiri di kalangan militer. Ia meminta Soepardjp agar menghentikan Gerakan 30 September, sementara ia akan berusaha menemukan pemecahan politis. Lebih lanjt Soekarno mengatakan bahwa kalau begini pertempuran nanti bisa meluas. Lantas yang untung nanti ialah Nekolim. Presiden Soekarno meminta kesanggupan Soerpardjo untuk memberhentikan Gerakan 30 September dan Soepardjo menyatakan kesanggupannya. Kalau tidak bisa menghentikan Gerakan 30 September, Soepardjo akan ditindak.

9

Peter Kasenda

Sebagaimana dikatakan Omar Dhani, Presiden Soekarno

menolak

permintaan Soepardjo untuk mendukung Gerakan 30 September, lalu dia meminta agar Soepardjo menghentikan Gerakan 30 September. Soekarno juga tidak mendukung juga tidak menentang G-30-S. Di satu pihak, ia tidak mengeluarkan pernyataan dukungan terhadapnya (seperti yang dilakukan Omar Dhani) atau diam-diam mendorong agar meneruskannya. Di lain pihak ia tidak melihat G-30-S sebagai bahaya yang akan mencelakan dirinya atau kedudukan sebagai presiden. Bahwa ia tinggal di Halim, justru tempat yang diketahuinya dipakai sebagai pusat pimpinan Gerakan 30 September, bahwa ia melihat Soepardjo dan Untung sebagai perwira-perwira yang setia kepadanya. Soekarno kelihatan tidak menjadi panik oleh kejadian pagi itu. Antara pukul 11.30 WIB dan tengah hari, sesudah berbicara dengan Soepardjo di pusat komando pangkalan udara. Soekarno pindah ke sebuah rumah yang sedikit lebih luas milik Komodor Susanto dan beristirahat siang beberapa jenak di sana.

Presiden Soekarno kemudian menugaskan Komisaris Besar Polisi Sumirat untuk memanggil Men/Pangal, Men/Pangak, Panglima Kodam V Jaya, Jaksa Agung, dan Wakil Perdana Menteri I, hanya tinggal menemui Panglima Kodam Jaya. Dalam perjalanan ke Markas Kodam V Jaya yang pada waktu itu terletak di Lapangan Banteng, Komisaris Besar Polisi Sumirat menjemput ajudan Presiden Soekarno lainnya, Kolonel Bambang

Widjanarko, di Istana Merdeka dan bersama-sama ke sana. Ternyata Panglima Kodam V Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah tidak berada di tempat, ia sedang menghadap Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto di markasnya. Kedua ajudan itu kemudian menyusul ke Markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka Timur.
10

Peter Kasenda

Sesampai di sana, Komisaris Besar Polisi Sumirat menghadap Mayor Jenderal Soeharto, dan melaporkan bahwa ia diinstruksikan oleh Presiden Soekarno memanggil Panglima Kodam V Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah untuk menghadap. Kepada Komisaris Besar Polisi Sumirat, Mayor Jenderal Soeharto mengatakan bahwa Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap, dan karena saat itu Panglima Angkatan Darat tidak ada di tempat, semua instruksi untuk Angkatan Darat disampaikan melalui Panglima Kostrad. Komisaris Besar Polisi Sumirat dan Kolonel KKO Bambang Widjanarko lalu meninggalkan Markas Kostrad, dan kembali ke PAU Halim Perdanakusuma. Sampai di PAU Halim Perdanakusuma, kepada Presiden Soekarno, Komisaris Besar Polisi Sumirat melaporkan bahwa semua menteri panglima sudah dihubungi untuk menghadap, dan menyampaikan pesan Mayor Jenderal Soeharto bahwa Panglima Kodam V Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusuma.

Presiden Soekarno kelihatan kurang senang karena Panglima Kodam V Jaya tidak diizinkan menghadap oleh Panglima Kostrad. Kekurangsenangan Presiden Soekarno itu wajar. Mengingat tindakan yang dilakukan oleh Mayor Jenderal Soeharto itu adalah pembakangan (insubordinasi) terhadap atasan. Pasal 10 Undang-Undang Dasar 1945 jelas-jelas menetapkan

bahwea Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Pada pukul 13.00 WIB, Presiden Soekarno memanggil Men/Pangau Laksamana Madya Udara Omar Dhani ke kamarnya untuk membicarakan

11

Peter Kasenda

caretaker Men/Pangad. Mengingat Men/Pangal Laksamana Madya Laut RE Martadinata sudah datang, maka Men/Pangal turut serta dalam pembicaraan. Mayor Jenderal Mursjid, Mayor Jenderal Soeharto dan Mayor Jenderal Basuki Rachmat disebut-sebut sebagai pengganti Letnan Jendral Ahmad Yani, tetapi belum ada keputusan. Pembicaraan kemudian dihentikan, karena tiba-tiba Komandan Resimen Tjakrabirawa BrigadirJenderal Sabur masuk ruangan sambil membawa radio transitor. Ia ingin Presiden Soekarno, Men/Pangau dan Men/Pangal mendengarkan siaran RRI pukul 14.00 WIB yang berisi pengumuman tentang Dewan Revolusi dan pengumuman tentang penurunan dan kenaikan pangkat seluruh anggota ABRI, dengan ketentuan pangkat tertinggi adalah Letnan Kolonel Untung. Baru saja siaran dimulai, Men/Pangak Inspektur Jenderal Polisi Sutjipyo Judodihardjo yang baru datang dari Sukabumi langsung masuk kamar Presiden Soekarno dan ikut mendengarkan siaran. Begitu siaran selesai, ketiga Menteri/Panglima Angkatan ditanya oleh Presiden Soekarno, sampai di mana pengetahuan mereka tentang Dewan Revolusi, pendemisioneran kabinet, penurunan pangkat, dan lain-lain. Ketiga Menteri/Panglima Angkatan mengatakan sama sekali tidak tahumenahu mengenai hal-hal tersebut. Tampaknya nama-nama yang

dicantumkan di dalam daftar angggota Dewan Revolusi itu hanya asal ambil saja, tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan. Empat pengumuman yang dikeluarkan oleh Gerakan 30 September tersebut merupakan seluruh penampilan Gerakan 30 September di depan masyarakat Indonesia. Jika disimpulkan bersama, keempat pengumuman itu sangat sedikit mengungkapkan sifat Gerakan 30 September. Yang paling jelas,

12

Peter Kasenda

pengumuman itu tidak memberikan pembenaran terhadap tindakan mendemisionerkan kabinet dan penetapan bentuk pemerintahan yang sama sekali baru. Pengumuman-pengumuman itu juga tidak mengungkapkan pertentangan ideologi apa pun dengan pemerintahan Soekarno. Semua prinsip yang dengan tegas dijunjung Gerakan 30 September ialah prinsipprinsip yang dianjurkan atau ditemukan oleh Soeharto, yaitu UUD 1945, politik luar negeri yang menentang kolonialisme dan neokolonialisme, Pancasila, Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera), Panca Azimat Revoilusi. Gerakan 30 September menyeruhkan pembentukan dewan-dewan revolusi di tingkat propinsi dan kabupaten, Dan bahkan menetapkan jumlah anggota yang akan duduk di dewan-dewan itu. Tapi Gerakan 30 September tidak menjelaskan bagaimana anggota dewan akan dipilih dan apa wewenang dewan-dewan dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga negara yang ada, selain hanya mengatakan bahwa dewan mempunyai “segenap kekuasaan “ Gerakan 30 September. Pada pukul 15.00 WIB, Presiden Soekarno dan para pejabat yang ada makan siang bersama. Duduk bersama Presiden Soekarno di ruang makan, Wakil Perdana Menteri II Dar Johanes Leimena, Jaksa Agung Brigadir Jenderal Soetardo, dan ketiga Menteri/Panglima Angkatan. Setelah makan siang, Presiden Soekarno meminta kepada mereka untuk menyusun pernyataan tertulis antara lain isinya. 1 2 Bung Karno dalam keadaan sehat wal’afiat di Halim Perdakusuma Semua pihak diperintahkan untuk menghentikan tembak-menembak, jangan ada pertumpahan darah.

13

Peter Kasenda

3 Tunggu penyelesaian politik oleh Presiden

Sesudah memerintah DKP untuk menjemput anak-anaknya di Istana Merdeka, Presiden Soekarno kemudian memasuki kamar untuk beristirahat. Tidak lama kemudian, anak-anaknya tiba di rumah Komodor Udara Susanto. Setelah berpamitan, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh berangkat ke Bandung dengan helikopter, di mana Fatmawati tinggal untuk berobat.

Sementara itu memerintahkan ajudannya Kolonel Bambang Widjanarko untuk memanggil Mayor Jenderal Parnoto di Markas Kostrad. Tetapi Soeharto dan Nasution telah tiba di Kostrad menjelang sore hari sesudah seharian bersembunyi, memutuskan untuk mengutus kembali Bambang Widjanarko ke Halim dengan jawaban bahwa perintah presiden tidak dapat dilaksanakan sementara operasi-operasi sedang berlangsung dan nasib para jenderal yang hilang belum dapat diketahui. Widjanarko diberi perintah tambahan bahwa Soekarno harus di bawa pergi dari Halim, karena satiansatuan dari Kostrad sedang bersiap-siap masuk ke sana. Penolakan Soeharto untuk melepaskan Pranoto pergi ke Halim jelas untuk dimengerti sekaligus tidak dapat menerima penunjukan Pranoto sebagai pejabat Panglima Angkatan Darat.

Menjelang magrib, RE Martadinata pamit untuk kembali ke Markas Angkatan Laut dengan maksud memberikan briefing kepada segenap anggota ALRI. Ia diminta untuk membawa pernyataan tertulis tentang keberadaan dan perintah Presiden Soekarno yang disusun usai makan siang guna diberikan kepada RRI untuk disiarkan.

14

Peter Kasenda

Pernyataan tertulis Presiden segera dibawa ke RRI di Jalan Medan Merdeka Barat untuk segera disiarkan. Namun, hal itu tidak dapat dilaksanakan karena dicegah oleh pasukan RPKAD yang telah menguasai RRI. Mengingat pada saat itu Mayor Jenderal Soeharto sudah mermbuat semacam ketentuan bahwa setiap berita atau pengumuman apa pun yang akan disiarkan RRI haruslah melalui dan seizin dirinya.

Martadinata kemudian membawa pernyataan tertulis Presiden Soekarno itu ke Markas Kostrad untuk diserahkan kepada Panglima Kostrad, dengan maksud agar disiarkan secepatnya, mengingat masyarakat bertanya-tanya tentang keadaan dan keberadaan Presiden Soekarno. Selanjutnya sebagai ganti pengumuman dari Soekarno – yang dibawa oleh Laksamana Martadinata – yang menunjuk Pranoto dan memerintahkan seluruh pasukan untuk tinggal di pos masing-masing. Soeharto

menyampaikan pidato radionya yang mengumumkan bahwa ia telah mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat dan telah mengerahkan kekuatan untuk menindak Geralkan 30 September. Dalam pidato radio sekitar jam 9 malam itu digambarkannya Gerakan 30 September sebagai suatu kudeta kontrarevolusioner melawan Soekarno dan menyatakan bahwa “ kini kita telah berhasil menguasai situasi, baik di pusat maupun di daerah daerah”

Sementara itu Bambang Widjanarko kembali ke Halim. Ia melapor bahwa pasukan Kostrad sedang bersiap-siap menduduki Halim dan presiden harus segera meninggalkan tempat itu. Soepardjo kemudian mengajukan usul agar
15

Peter Kasenda

Soekarno diterbangkan ke Bali walaupun Omar Dhani menyarankan Soekarno ke Jawa Timur di mana ia dapat mengerahkan rakyat melawan para jenderal di Indonesia. Soekarno yang menyadari bahwa negara mungkin sedang berada di puncak perang saudara, berkeputusan menuruti anjuran yang berhati-hati dari Leimena dan pergi dengan mobilnya ke Istana Bogor.

Begitu pasukan Soeharto merebut kembali Lapangan Merdeka dan stasiun RRI pada sekitar pukul 18.00 dan sekitar satu jam kemudian ia membacakan perngumuman yang menyatakan Gerakan 30 September sebagai

kontrarevolusioner, lima pimpinan inti G-30-S menyadari bahwa mereka telah dikalahkan di Jakarta. Dalam keadaan putus asa dan bingung oleh semua penyimpangan dari rencana semula, mereka tidak bisa mengambil keputuisan tentang strategi untuk menghadapi Soeharto. Mereka tidak mendesak perwira-perwira Angkatan Udara di Halim untuk membom Kostrad pada malam hari 1 Oktober. Mereka tidak menggunakan Batalyon 454 yang berdiri di sekitar jalan-jalan di selatan Halim untuk mempertahankan diri terhadap pasukan RPKAD yang sedang mendekat pada pagi 2 Oktober. Komandan Batalyon, atas prakarsa sendiri, hampir terlibat dalam pertempuran dengan pasukan RPKAD tapi mengundurkan diri memenuhi permintaan para perwira AURI yang tidak menginginkan adanya pertempuran di sekitar pangkalan udara. Begitu Batalyon 454 bubar pagi itu. Gerakan 30 September tidak lagi mempunyai sisa kelompok pasukan yang cukup besar. Pasukan Kostrad, ketika menduduki pangkalan udara Halim, tidak menemukan jenderal-jenderal MBAD yang telah diculik, tetapi mereka
16

Peter Kasenda

sudah mendapat petunjuk yang mengisyaratkan bahwa mereka semuanya sudah mati dan bahwa mayat mereka telah dikubur di suatu tempat di mana jenderal-jenderal itu dibantai sudah diketahui. Bagaimanapun, pada 3 Oktober Soeharto memerintahkan mayat-mayat mereka hanya akan digali apabila dia sudah menginstruksikannya. Sore hari tanggal 4 Oktober, dengan dihadiri oleh para juru kamera televisi, wartawan-wartawan radio dan pers, mayat yang sudah dirusak secara mengerikan dari keenam jenderal dan ajudan Nasution itu diangkat dari sebuah sumur tempat mereka dibuang . Pada kesempatan itu Soeharto menegaskan pendirian Angkatan Darat, bahwa sumur tempat jenderal dibuang adalah Lubang Buaya, yang letaknya di dalam daerah pangkalan udara Halim. Di sinilah pula tenaga sukarelawan dari Pemuda Rakyat dan Gerwani dilatih. Tidak disangsikan lagi bahwa penggalian mayat jenderal-jenderal itu di hadapan kamera-kamera TV merupakan suatu siasat politik yang sudah diperhitungkan untuk menarik ;publik ke pihak Angkatan Darat, mencegah mempercayai Angkatan Udara yang berpura-pura tak tahu-menahu, dan untuk mempersalahkan Presiden Soekarno.

Disiarkan langsung oleh RRI dan TVRI, Senin 4 Oktober 1965, sekitar pukul 15,00, pernyataan itu dilontarkan Soeharto selaku Pangkostrad, sesaat setelah pengakatan jasad para korban pembunuhan G-30-S di Lubang Buaya. Dan beberapa jam setelah itu Soeharto mengeluarkan perintah pembentukan tim forensik yang terdiri dari dua dokter tentara, masingmasing Brigadir Jenderal dr Roebiono Kertopati dan Kolonel dr Frans Pattisina, dan tiga ahli forensik sipil dari Fakultas Kedokteran UI, Prof Dr Sutomo Tjokronegoro, dr Laiuw Yan Siang, dan dr Liem Joe Thay. Tim itu

17

Peter Kasenda

kemudian bekerja secara marathon, sejak pukul 16.30 hingga 03.00 di Ruang Otopsi RSPAD.

Dan hasilnya justru jauh berbeda dengan pernyataan Soeharto sendiri. Tim forensik sama sekali tidak menemukan bekas siksaaan biadab di tubuh korban, sebelum mereka terbunuh. Tetapi media massa tiba-tiba saja begitu gencar memberitakan bahwa para korban memang disiksa secara biadab. Bahkan matanya dicungkil, alat vitalnya dipotong dan dimasukkan kedalam musing-masing korban. Padahal, kenyatannnya, baik mata maupun alat vital korban diketemukan dalam keadaan utuh.

Pada edisi 5 Oktober, Harian Angkatan Bersenjata bahkan menampilkan beberapa foto kabur dari mayat-mayat yang mulai membusuk lalu menggambarkan kematian mereka sebagai “perbuatan barbar dalam bentuk penyiksaan yang dilakulkan di luar batas kemanusian.” Sementara itu, Berita Yudha menyebutkan mayat-mayat itu tertutup dengan tanda-tanda yang mengindentifikasikan adanya penyiksaan. Dalam suatu penjelasannya kepada pers, Soeharto sendiri mengatakan bahwea dengan mata kepala sendiri dia melihat bekas penyiksaan biadab telah dilakukan oleh segerombolan manusia barbar yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September.”Pada tanggal 20 Oktober, Harian Api Pantjasila, milik IPKI yang berafiliasi dengan militer, mengumumkan bahwa alat yang digunakan untuk mencungkil mata para jenderal sudah diketemukan oleh para pemuda antikomunis yang menggeledah sebuah bangunan milik PKI di desa Haurpanggung Garut Jawa Barat.

18

Peter Kasenda

Pemberitaan yang terus-menerus dilakukan berbagai media massa telah menimbulkan rasa ketakutan di berbagai kalangan masyarakat. Dalam beberapa pemberintaan media massa, masyarakat secara psikologis dibuat siap untuk membunuh orang-orang yang dianggap tergolong anggota PKI atau organisasi-organisasi massa yang ada dibawahnya. Rumah-rumah orang PKI serta para simpatisannya juga dirusak dan dihancurkan. Poster mengecam segala tindakan PKI seperti “Ganyang PKI “ dan “ Gantung Aidit “ . Sejak saat itulah para aktivis PKI dan tokoh-tokoh PKI serta organisasi yang mernjadi onderbouwnya dikejar dan ditangkap. Sentimen-sentimen antikomunis terus meningkat. Suasana ibu kota semakin memanas, bahkan terus meluas hingga ke daerah-daerah. Rakyat didorong untuk tidak memberikan ampun kepada para pelaku yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September. Secara terang-terangan mereka dituduh sebagai penghianat dan setan. Suasana “membunuh atau dibunuh“ semakin kuat setelah persitiwa Gerakan 30 September. Propaganda media massa pada saat itu sangat effektif untuk menumbuhkan rasa kebencian masyarakat terhadap PKI dan onderbouwnya. Pembunuhan massal menjadi pemandangan yang biasa dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga propinsi. Itulah yang terjadi di Indonesia sejak Oktober dan berpuncak pada Desember 1965. Sasaran utama pembunuhan adalah kaum komunis dan mereka yang dituduh komunis. Setelah jenzah enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat itu diketemukan. Presiden Soekarno langsung menetapkan untuk menaikkan pangkat mereka satu tingkat, dan memberi mereka gelar Pahlawan Revolusi. Presiden Soekarno dalam kesempatan itu juga memerintahkan agar jenazah

19

Peter Kasenda

ketujuh Pahlawean revolusi itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada tanggal 5 Oktober jenazxah para Pahlawan Revolusi itu diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Masing-masing jenaxah dinaikkan ke atas sebuah panser. Puluhan ribu masyarakat mengantar ke tujuh Pahlaewan Revolusi itu ke tempat peristirahatan mereka yang terakhir. Atas alasan keamanan, Presiden Soekarno tidak hadir di Taman Makam Pahlawan Kalibata saat pemakaman ketujuh Pahlawan Revolusi itu dilakukan. Ia

diwakili oleh Wakil Perdana Menteri I / Menlu Soebandrio. Sore harinya, barulah Presiden Soekarno datang ke Taman Makam Pahlawan Katlibata dan menamburkan bunga di makam ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut.

Istana Bogor Ketika tuntutan untuk membubarkan PKI berikut organisasi massa mulai marak di mana-mana, Presiden Soekarno dalam Sidang Paripurna Kabinert Dwikora yang berlangsung pada tanggal 6 Oktober di Istana Bogor. menegaskan bahwa kita jangan mau diadu domba dengan menuruti

perasaan dendam. Kita harus tenang dalam menghadapi persoalan ini dan tidak terseret oleh tuduhan-tuduhan. Presiden Soekarno tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh Gerakan 30 September dan segera mencari penyelesaian politik yang adil demi keselamatan Revolusi Indonesia. Namun, permintaan Presiden Soekarno itu hanya dianggap sebagai angin lalu saja. Tuntutan kepada Presiden Soekarno untuk membubarkan PKI semakin menghebat. Tindakan kekerasan terhadap PKI terus berlanjut.

20

Peter Kasenda

Kekurangyakinan bahwa PKI adalah penanggung jawab utama Gerakan 30 September menjadikan Presiden Soekarno tidak mau memenuhi tuntutan berbagai kalangan untuk membubarkan PKI. Sebaliknya, janji Presiden Soekarno untuk mencari penyelesaian politik yang adil demi kesalamatan Revolusi Indonesia pun tidak kunjung datang. Belakangan, keengganan Presiden Soelarno untuk membubarkan PKI itu digambarkan oleh Soeharto dan kelompoknya sebagai salah satu indikasi keterlibatannya dalam Gerakan 30 September.

Ketika Presiden Soekarno terasing di Bogor, semasa perasaannya baru saja terguncang akibat menemukan sebuah kenyataan pahit, terjadinya

penculikan berikut pembunuhan terhadap jenderalnya, dalam hari-hari tersebut, hanya kepada Dewi, Presiden Soekarno mencurahkan gejolak yang ada dalam lubuk hatinya. Presiden Soekarno mulai mengirim surat kepada Dewi tanggal 2 Oktober 1965. Selama menjalin korespondensi, suratnya dikirim, memakai bahasa Inggris, bahasa yang juga dikuasai Dewi. Surat-surat tersebut ditangani anggota DKP Resimen Tjakrabirawa. Surat pertamanya,tertanggal 2 Oktober 1965, Soekarno menyatakan dirinya sibuk karena harus bertemu para panglima militer sekaligus mencoba menyelesaikan konflik yang sedang terjadi. Surat keduanya, tertanggal 3 Oktober 1965, Soekarno menceritakan mengenai pengangkatan Mayor Jenderal Pranoto sebagai pelaksana tugas sehari-hari Angkatan Darat dan Soekarno tetap sebagai Panglima Tertinggi. Sekiranya situasi sudah aman, Soekarno akan mengangkat seorang Panglima Angkatan Darat. Surat ketiga, tertanggal 4 Oktober 1965, Soekarno meminta Dewi agar tidak menceritakan kepada wartawan mengenai surat-menyurat di

21

Peter Kasenda

anata Soekarno dengan Dewi. Surat keempat, tertanggal 5 Oktober 1965, Soekarno menjelaskan mengenai ketidakhadiran dalam upacara pemakaman enam orang perwira tinggi dan permira muda Angkatan Darat. Subandrio dan J Leimena, tidak mengizinkan Soekarno menghadiri pemakaman dengan alasan keamanan. Pada 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno memimpin sidang paripurna Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Suasana mencekam, seluruh hadirin dan jutaan rakyat Indonesia sehari sebelumnya baru saja mengikuti dengan perasaan galau upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata atas enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI, korban keganasan Gerakan 30 Serptember. Usaha Presiden Soekarno memecahkan kebekuan suasana dengan berbagai joke mengalami kegagalan. Mangil mengenang peristiwa itu dan mengatakan bahwa joke-joke semacam itu hanya menambah rasa kecewa hadirin. Tampaknya Presiden Soekarno tidak tepat dalam membaca suasana . Bersama Lukman, Nyoto hadir dalam sidang pertama pasca meletusnya Peristiwa Gerakan 30 September, Jenderal Nasution tidak hadir, begitu juga Aidit. Dalam sidang kabinet tersebut, Presiden Soekarno mempersilahkan Nyoto untuk menyampaikan statement mengenai peristiwa Gerakan 30

September 1965. Dalam kesempatan itu, Nyoto mengeluarkan selembar kertas tulisan tangan yang langsung dia baca. Bunyi statement tersebut menyatakan bahwa peristiwa penculikan kemudian diikuti pembunuhan yang baru saja terjadi merupakan sebuah persoalan intern Angkatan Darat. PKI tidak mengetahui mengapa persitiwa menyedihkan tersebut terjadi.

22

Peter Kasenda

Raut muka Nyoto tidak berubah ketika Presiden Soekarno menuduh Aidit dan PKI menderita penyakit kekanak-kanakan. Kemudian Presiden Soekarno mengatakan bahwa peristiwa yang baru saja terjadi sekadar percikan kecil dalam samudra revolusi yang luas tanpa batas. Kejadian bukan semata-mata isu Angkatan Darat, tetapi merupakan isu politik,

bahkan sebuah isu Revolusi.

Sebelum mengambil keputusan yang merupakan penyelesaian politik dan menghukum siapa saja yang bersalah, terl;ebih dahulu Soekarno meminta waktu untuk mempelajari lebih dahulu prolog, kejadiannya sendiri, dan juga epilog dari peristiwa tersebut. Oleh karena itu, Presiden Soekarno menyeruhkan agar semua pihak tetap tenang dan selalu ikut menjaga ketertiban.

23

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.