DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA NO (1) 1.

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (2) RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ….. TAHUN …… TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, USUL PEMERINTAH (3) RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ….. TAHUN …… TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Draf 11 Januari 2013

CATATAN RAPAT (2)

2.

Menimbang: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita Menimbang: bangsa sebagaimana tercantum dalam a. bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita pembukaan Undang-Undang Dasar Negara bangsa dan mewujudkan tujuan negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu sebagaimana tercantum dalam pembukaan dibangun Aparatur Sipil Negara yang Undang-Undang Dasar Negara Republik profesional, bebas dari intervensi politik, bersih Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, Aparatur Sipil Negara yang profesional, netral serta mampu menyelenggarakan pelayanan dan bebas dari intervensi politik, bersih dari publik bagi masyarakat dan mampu praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta menjalankan peran sebagai unsur perekat mampu menyelenggarakan pelayanan publik persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan bagi masyarakat dan mampu menjalankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara peran sebagai unsur perekat persatuan dan Republik Indonesia Tahun 1945; kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa pelaksanaan manajemen aparatur sipil b. bahwa untuk mewujudkan aparatur sipil negara belum berdasarkan pada perbandingan negara sebagaimana dimaksud dalam huruf a, antara kompetensi dan kualifikasi yang perlu ditetapkan aparatur sipil negara sebagai diperlukan oleh jabatan dengan kompetensi profesi yang memiliki kewenangan mengelola dan kualifikasi yang dimiliki calon dalam dirinya dan wajib mempertanggungjawabkan rekrutmen, pengangkatan, penempatan, dan kinerjanya dan menerapkan prinsip merit promosi pada jabatan sejalan dengan tata dalam pelaksanaan manajemen aparatur sipil kelola pemerintahan yang baik; negara

3.

1

NO 4.

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR c. bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sudah tidak sesuai dengan penyelenggaraan kepegawaian sehingga perlu diganti; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk UndangUndang tentang Aparatur Sipil Negara; Mengingat: Pasal 20 ayat (1), ayat (2), dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang dengan: ini yang dimaksud

USUL PEMERINTAH c. bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sudah tidak sesuai dengan tuntutan nasional dan tantangan global sehingga perlu diganti; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara; Mengingat: Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang dengan: ini yang dimaksud

CATATAN RAPAT

5.

6.

7.

8.

9.

1. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang bekerja pada instansi dan perwakilan.

1. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang bekerja pada instansi pemerintah.

2

NO 10.

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR 2. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang.

USUL PEMERINTAH 2. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. 3. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS, adalah mereka yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai pegawai ASN oleh Pejabat yang Berwenang secara permanen untuk menduduki jabatan pemerintahan. 4. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang selanjutnya disingkat PPPK, adalah pegawai ASN yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. 5. Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN unuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme 6. Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara adalah rangkaian informasi dan data mengenai pegawai Aparatur Sipil Negara yang disusun secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dengan berbasis teknologi. 7. Jabatan Pimpinan tinggi adalah sekelompok jabatan tinggi pada instansi 8. Pimpinan tinggi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan pimpinan tinggi

CATATAN RAPAT

11.

3. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS, adalah Warga Negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan diangkat oleh pejabat yang berwenang. 4. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah adalah warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan diangkat oleh pejabat yang berwenang sebagai Pegawai ASN.

12.

13.

5.

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara adalah rangkaian informasi dan data mengenai pegawai Aparatur Sipil Negara yang disusun secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dengan berbasis teknologi. Jabatan Eksekutif Senior adalah sekelompok jabatan tertinggi pada instansi dan perwakilan. Aparatur Eksekutif Senior adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Eksekutif Senior melalui seleksi secara nasional yang dilakukan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara dan diangkat oleh Presiden.

14.

6.

15.

7.

16.

8.

3

10. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. dan kesekretariatan lembaga non-struktural. Pegawai Jabatan Administrasi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Administrasi pada instansi dan perwakilan. dan lembaga teknis daerah 17. dinas daerah. 13. 11. 9. Instansi adalah instansi pusat dan instansi daerah. 23. Instansi Daerah adalah perangkat daerah provinsi dan perangkat daerah kabupaten/kota yang meliputi sekretariat daerah. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Jabatan Administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan administrasi. 12. 13. 22. CATATAN RAPAT 18.NO 17. 17. Pegawai Jabatan Administrasi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Administrasi pada instansi. 9. Instansi Daerah adalah perangkat daerah provinsi dan perangkat daerah kabupaten/kota yang meliputi sekretariat daerah. 21. 16. Pejabat yang Berwenang adalah pejabat karier tertinggi pada instansi dan perwakilan. dinas daerah. lembaga pemerintah non-kementerian. Pegawai Jabatan Fungsional adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Fungsional pada instansi dan perwakilan. 15. 20. Instansi Pusat adalah kementerian. Konsulat 24. dan memberhentikan Aparatur Sipil Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan. dihapus 19. sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. memindahkan. Instansi adalah instansi pusat dan instansi daerah. 4 . 25. dan pembangunan. Pegawai Jabatan Fungsional adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Fungsional pada instansi. manajemen kebijakan pemerintahan. Instansi Pusat adalah kementerian. dan kesekretariatan lembaga non-struktural 16. lembaga pemerintah non-kementerian. Pejabat Yang Berwenang adalah pejabat yang mempunyai kewenangan mengangkat. USUL PEMERINTAH Jabatan Administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan manajemen kebijakan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan administrasi. Perwakilan adalah perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia. kesekretariatan lembaga negara. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. 10. dan lembaga teknis daerah. 12. sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 15. kesekretariatan lembaga negara. 14. 14. 11.

proporsionalitas. 20. 31. kepastian hukum. kepastian hukum. c. 28. Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat KASN adalah lembaga negara yang mandiri. 21. dan diberi kewenangan untuk menetapkan regulasi mengenai profesi ASN. Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disingkat BKN adalah lembaga pemerintah non kementerian yang diberi kewenangan melakukan pembinaan dan menyelenggarakan manajemen ASN secara nasional sebagaimana diatur dalam undangundang ini. dan Perwakilan Republik Indonesia yang bersifat sementara. 21. Perutusan Tetap Republik Indonesia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa. 18. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pendayagunaan aparatur negara 19. Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat KASN adalah Lembaga Non Struktural yang mandiri. Lembaga Administrasi Negara yang selanjutnya disingkat LAN adalah lembaga pemerintah non kementerian yang diberi kewenangan melakukan pengkajian dan diklat ASN sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. DAN KODE ETIK Pasal 2 Penyelenggaraan manajemen berdasarkan asas: a. b. proporsionalitas. 18. Konsulat Republik Indonesia. bebas dari intervensi politik. profesionalitas. PRINSIP. ASN dilakukan 5 . b. Lembaga Administrasi Negara yang selanjutnya disingkat LAN adalah lembaga yang diberi kewenangan berdasarkan Undang-Undang ini. mengawasi Instansi dan Perwakilan dalam melaksanakan regulasi. Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disingkat BKN adalah badan yang diberi kewenangan berdasarkan Undang-Undang ini. dan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 29. BAB II ASAS.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Jenderal Republik Indonesia. 30. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pendayagunaan aparatur negara. ASN dilakukan 20. BAB II ASAS. NILAI-NILAI DASAR. PRINSIP. 19. NILAI-NILAI DASAR. DAN KODE ETIK Pasal 2 Penyelenggaraan manajemen berdasarkan asas: a. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 26. bebas dari intervensi politik untuk menjamin pemberlakuan sistem merit 27. profesionalitas. c.

dan tanggung jawab pada pelayanan publik. c. b. memelihara dan menjunjung tinggi standar 6 . dan kesejahteraan. c. keterbukaan non-diskriminasi persatuan dan kesatuan. jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas. kode etik. delegasi. h. 32. g. Pasal 3 Aparatur Sipil Negara sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut: a. d. keterbukaan non-diskriminasi persatuan dan kesatuan. komitmen. d. f. Pasal 4 Nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi: a. netralitas. setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945. setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945. komitmen. b. efektif dan efisien. e. d. nilai dasar. dan h. kualifikasi akademik. m. delegasi. kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. f. l. e. e. j. netralitas. f. e. integritas moral. menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak. nilai dasar. i. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila. dan kesejahteraan. f. c. j. i. serta Pemerintahan yang sah. efektif dan efisien. kualifikasi akademik. k. jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas. keadilan dan kesetaraan. h. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian. menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila. f. kode perilaku. profesionalitas jabatan. keadilan dan kesetaraan. USUL PEMERINTAH keterpaduan. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian. k. l. e. c. dan g. f. g. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR keterpaduan. dan tanggung jawab pada pelayanan publik. b.NO d. Pasal 3 ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut: a. b. Pasal 4 Nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi: a. e. menciptakan lingkungan kerja yang non- CATATAN RAPAT 33. d. mengabdi kepada Negara dan Rakyat Indonesia. akuntabilitas. kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. integritas moral. akuntabilitas. g. m. d. menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif. profesionalitas jabatan. kode etik.

tepat. j. USUL PEMERINTAH diskriminatif. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan. (3) Pegawai ASN harus menjalankan tugasnya dengan hati-hati dan rajin. k. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi. memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program Pemerintah. cepat. n. memberikan layanan kepada publik secara jujur. dan santun. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi. cepat. berdaya guna. memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program Pemerintah. 36. berhasil guna. mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik. konsultasi. m. g. Kode Perilaku Pegawai ASN (1) Pegawai ASN harus menjalankan tugasnya dengan jujur dan dengan integritas tinggi. dan kerjasama. Pasal 5 (1) Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN. akurat. j. akurat. 35. dan n. (4) Pegawai ASN dalam menjalankan tugas pelayanan harus bersikap hormat. berhasil guna. dan santun. Pasal 5 (1) Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN. berdaya guna. tepat. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur. tanggap. i. l. memberikan layanan kepada publik secara jujur. dan o. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir. Pasal 5A CATATAN RAPAT 34. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir. dan kerjasama. dan tanpa tekanan. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai. menghargai komunikasi. l. mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai. k. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.NO g. menghargai komunikasi. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan. sopan. konsultasi. 7 . h. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR etika yang luhur. m. h. i. tanggap.

b. Tugas. dan dengan sebaik dan seefisien mungkin. kepala lembaga Negara. kekuasaan dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain. menteri.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH (5) Pegawai ASN dalam menjalankan tugasnya harus tunduk pada peraturan perundangan yang berlaku. (9) Pegawai ASN harus menjaga agar tidak terjadi pertentangan kepentingan dalam melaksanakan tugasnya. Informasi intern negara. (7) Pegawai ASN harus menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijaksanaan Presiden. CATATAN RAPAT 8 . (8) Pegawai ASN harus menggunakan kekayaan dan barang milik Negara secara bertanggungjawab. (13) Pegawai ASN harus melaksanakan semua ketentuan peraturan perundangan tentang disiplin ASN. (6) Pegawai ASN dalam menjalankan tugasnya harus taat pada arahan dari atasan atau pejabat yang berwenang. (10) Pegawai ASN dilarang memberikan informasi yang salah dan/atau menyesatkan kepada fihak lain yang memerlukan informasi tentang kepegawaian pegawai ASN untuk kepentingan kedinasan. (11) Pegawai ASN tidak boleh menyalahgunakan: a. dan kepala lembaga pemerintah non kementerian. status. (12) Dalam menjalankan tugasnya Pegawai ASN harus memegang teguh nilai-nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN.

41. PPPK Bagian Kedua Status Pasal 7 (1) PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh Pejabat Yang Berwenang dan memiliki Nomor Induk Pegawai secara nasional. CATATAN RAPAT Pelanggaran Kode Perilaku 38. (2) Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b merupakan pegawai yang diangkat dengan perjanjian kerja dalam jangka waktu paling singkat 12 (dua belas) bulan pada Instansi dan Perwakilan. . BAB III JENIS. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. Bagian Ketiga Kedudukan 44. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH Pasal 5B Pimpinan instansi harus mengenakan sanksi terhadap pegawai Aparatur Sipil Negara di bawah pimpinannya yang melakukan pelanggaran Kode Perilaku sesuai dengan peraturan perundangan. Bagian Ketiga Kedudukan 9 40. (2) PPPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja sesuai keperluan instansi menurut ketentuan Peraturan Perundang-undang. dan b. Bagian Kedua Status Pasal 7 (1) PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a merupakan pegawai yang berstatus pegawai tetap dan memiliki Nomor Induk Pegawai. PNS. BAB III JENIS. STATUS. STATUS. b.NO 37. DAN KEDUDUKAN Bagian Kesatu Jenis Pasal 6 Pegawai ASN terdiri dari: a. 39. DAN KEDUDUKAN Bagian Kesatu Jenis Pasal 6 Pegawai ASN terdiri dari: a. PNS. 43. 42.

49. 51. Pegawai ASN melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Pimpinan Instansi dan Perwakilan. perekat bangsa. BAB IV BAB IV FUNGSI. pemersatu bangsa. dan pembangunan. adil. Bagian Kedua Tugas Pokok Pasal 11 Pegawai ASN bertugas: a. pelayan publik. dan Perwakilan merupakan satu kesatuan ASN. dan perwakilan luar negeri. 50. (2) Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan (2) Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. Bagian Kedua Tugas Pokok Pasal 11 Pegawai ASN bertugas: a. dan f. dan . USUL PEMERINTAH Pasal 8 Pegawai ASN berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Negara. DAN PERAN Bagian Kesatu Fungsi Pasal 10 Bagian Kesatu Fungsi Pasal 10 Pegawai ASN berfungsi sebagai: d. (2) Pegawai ASN yang bekerja pada Instansi Pusat. dihapus CATATAN RAPAT 46. b. dan c. TUGAS. TUGAS. pemerintahan. pelaksana kebijakan publik.NO 45. (1) Pasal 9 (1) Pegawai ASN melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Pimpinan Instansi. memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas. dan 10 Pegawai ASN berfungsi sebagai: a. jujur. Instansi Daerah. 52. b. memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas. b. 53. DAN PERAN FUNGSI. dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara. (1) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 8 Pegawai ASN berkedudukan di pusat. e. Pasal 9 47. daerah. pelaksana kebijakan publik. pelayan publik. melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. intervensi semua golongan dan partai politik. 48.

. dan c. Pasal 15 CATATAN RAPAT 56. dan c. jabatan pengawas. Jabatan Administrasi. Bagian Kedua Jabatan Administrasi Pasal 14 (1) Jabatan Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a terdiri dari: a. bebas dari intervensi politik. 60. Jabatan Eksekutif Senior. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketentuan mengenai klasifikasi Jabatan Administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. BAB V JABATAN ASN Bagian Kesatu Umum Pasal 13 Jabatan ASN terdiri dari: a. Jabatan Administrasi. dan nepotisme. b. 11 . jabatan administrator. dan bersih dari praktik korupsi. USUL PEMERINTAH mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Pegawai ASN berperan selaku perencana. 57. 54. 58. dan nepotisme. dan iii. b. kolusi. pelaksana dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan. dan c. ii. Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Pegawai ASN berperan mewujudkan tujuan pembangunan nasional melalui pelayanan publik yang profesional. BAB V JABATAN ASN Bagian Kesatu Umum Pasal 13 Jabatan ASN terdiri dari: a. dan bersih dari praktik korupsi. Pasal 15 61. Ketentuan lebih lanjut mengenai Jabatan Administrasi diatur dengan Peraturan Pemerintah. (1) Bagian Kedua Jabatan Administrasi Pasal 14 Jabatan Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a terdiri dari: i. kolusi. 59. jabatan pelaksana. Jabatan Pimpinan Tinggi. c. 55. bebas dari intervensi politik. Jabatan Fungsional. dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional. b. jabatan pelaksana. jabatan pengawas.NO c. Jabatan Fungsional. jabatan administrator. (2) (2) 62.

Ahli muda. (1) 68. (2) Jabatan pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf b bertanggung jawab mengawasi pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pelaksana. Ahli muda. b. (3) Jabatan administrator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf c bertanggung jawab memimpin pelaksanaan seluruh kegiatan pelayanan publik. dihapus USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 63. d. administrasi pemerintahan. a. c. dan d. Ahli madya. dihapus 65. Ahli utama. dan pembangunan. 12 . dan c. administrasi pemerintahan. Ahli pertama. dan pembangunan. Pasal 16 dihapus (1) Setiap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) ditetapkan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Ahli madya.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (1) Jabatan pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pelayanan publik. Ahli pertama. b. fungsional keterampilan. (2) Penetapan kompetensi yang dibutuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Jabatan fungsional keahlian sebagaimana (2) Jabatan fungsional keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. 66. Ahli utama. (2) Bagian Ketiga Jabatan Fungsional Pasal 17 Bagian Ketiga Jabatan Fungsional Pasal 17 Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri dari (1) Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri dari jabatan fungsional keahlian dan jabatan jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan. 67. Pasal 16 dihapus 64.

Terampil. dan c.NO 69. 73. (1) Bagian Keempat Jabatan Pimpinan Tinggi Pasal 18 Jabatan Pimpinan Tinggi terdiri dari: a. II : Direktur. Kelompok II (Madya) : Pimpinan yang setingkat Es. staf ahli. Lembaga Non Struktural. 72. Ketentuan lebih lanjut mengenai jabatan (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan sebagaimana dimaksud pada keterampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Pemerintah Propinsi. dan Sesjen. Pemula a. Kelompok III (Pratama) : Pimpinan yang setingkat Es. Mahir. (3) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 70. dan Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pejabat Karir Tertinggi. Sesmen. Menteri. Terampil. I : Dirjen/Deputi. (4) 71. Jabatan fungsional keterampilan (3) Jabatan fungsional keterampilan sebagaimana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: dari: a. (1) Bagian Keempat Jabatan Eksekutif Senior Pasal 18 Jabatan Eksekutif Senior terdiri dari pejabat struktural tertinggi. analis kebijakan. Jabatan Pimpinan Tinggi Madya. b. Pemula b. Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Catatan: Kelompok I (Utama) : Pimpinan tertinggi instansi seperti Kepala LPNK. dan Lembaga Pemerintah Non Kemeterian adalah Menteri dan Pimpinan Lembaga. Jabatan Pimpinan Tinggi Utama. Mahir c. dan c. Kepala Dinas/Badan Prov/Kab/Kota 13 . Sekda Kab/Kota. dan b. Sekda Provinsi. (2) Pejabat yang Berwenang ditingkat Sekretariat Lembaga Negara. Bagian Ketiga A Pejabat yang Berwenang Pasal 17A (1) Pejabat yang Berwenang ditingkat Kementerian. dan pejabat lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Keteladanan dalam mengamalkan nilainilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik ASN. dan jaminan sosial. dan jaminan sosial. tunjangan dan jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. Penetapan kompetensi. Mengembangkan kerjasama dengan Instansi lain. tunjangan dan jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. Keteladanan dalam mengamalkan nilainilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik ASN. dan persyaratan lain yang dibutuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan persyaratan lain yang dibutuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan persyaratan lain yang dibutuhkan Penetapan kompetensi. tunjangan. CATATAN RAPAT 75. (3) (3) 76. kualifikasi. kualifikasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai. 2. gaji. Ketentuan lebih lanjut mengenai. (6) (6) 14 . dan persyaratan lain yang dibutuhkan. Kepeloporan dalam bidang: 1. dan 3. Kepemimpinan manajemen. kualifikasi. Mengembangkan kerjasama dengan Instansi lain. Setiap Jabatan Eksekutif Senior ditetapkan kompetensi. Keahlian profesional.NO 74. (2) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Jabatan Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi memimpin dan mendorong setiap Pegawai ASN pada Instansi dan Perwakilan melalui: a. Pejabat yang menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak atas gaji. kualifikasi. Kepemimpinan manajemen. b. 2. integritas. Keahlian profesional. tunjangan. Analisis dan rekomendasi kebijakan. integritas. Setiap Jabatan Pimpinan Tinggi ditetapkan kompetensi. Kepeloporan dalam bidang: 1. dan 3. integritas. dan c. (5) (5) 78. Pejabat yang menduduki Jabatan Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak atas gaji. gaji. (4) (4) 77. (2) USUL PEMERINTAH Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi memimpin dan mendorong setiap Pegawai ASN pada Instansi melalui: a. dan c. Analisis dan rekomendasi kebijakan. integritas. b.

lembaga pemerintah non kementerian.NO 79. (4) Panitia Seleksi Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk untuk masa 84. 85. Staf Ahli tertentu. (2) Pengisian Jabatan Eksekutif Senior. (2) Panitia Seleksi Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan proses seleksi berdasarkan penilaian uji kompetensi melalui assesment center dan penelusuran jejak jabatan dan kinerja. (2) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi tertentu dapat berasal dari Non PNS apabila kompetensi yang dibutuhkan instansi tidak tersedia di kalangan PNS dan wajib mendapat persetujuan dari Presiden dan ditetapkan dalam Peraturan Presiden. CATATAN RAPAT 80. 82. staf ahli. (1) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 19 Pengisian Jabatan Eksekutif Senior pada jabatan struktural tertinggi kementerian. dan Analis Kebijakan tertentu. Pasal 19A (1) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilakukan oleh Panitia Seleksi Instansi. khusus pada jabatan struktural tertinggi lembaga pemerintah non kementerian. 83. Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan pengisian Jabatan pimpinan Tinggi tertentu misalnya pada Lembaga Pemerintah Non Kemeterian. (4) Pengisian jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dilakukan secara kompetitif dan terbuka pada tingkat nasional. atau antar instansi dalam 1 (satu) kabupaten/kota. 15 . (3) Panitia Seleksi Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur internal maupun eksternal instansi yang bersangkutan yang dibentuk oleh Pejabat yang Berwenang. kesekretariatan lembaga negara. kesekretariatan lembaga negara. dan Pemerintah Daerah dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS. staf ahli. dan analis kebijakan dilakukan melalui promosi dari PNS yang berasal dari seluruh Instansi dan Perwakilan. lembaga non struktural. 81. (3) Pengisian Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh KASN. Penjelasan Pasal 19 ayat (7) Yang dimaksud dengan unsur eksternal adalah pihak-pihak yang memiliki independensi dan kompetensi dalam bidang Sumber Daya Manusia dan Pemerintahan. (3) Pengisian jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Madya dilakukan secara kompetitif dan terbuka pada tingkat nasional. dan analis kebijakan dapat berasal dari Non PNS yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. USUL PEMERINTAH Pasal 19 (1) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Madya pada kementerian. propinsi. 86.

(2) Penggantian Pejabat Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebelum 2 (dua) tahun dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Menteri. performance appraisal. 90.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH kerja 1 (satu) tahun dan menjalankan tugasnya untuk semua proses seleksi pengisian jabatan terbuka dalam waktu tersebut. talents pool. . Pasal 19D (1) Pejabat yang Berwenang tidak diperbolehkan mengganti Pejabat Pimpinan Tinggi selama 2 (dua) tahun sejak pelantikan Pejabat yang bersangkutan. 89. 92. Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan sistem pembinaan pegawai dalam hal ini meliputi antara lain career path. succession plan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pembentukan Panitia Seleksi Instansi diatur dalam Peraturan Menteri. (2) Presiden memilih dan menetapkan Pejabat Pimpinan Tinggi yang diajukan oleh Panitia Seleksi Instansi. 88. (2) Pejabat Pimpinan Tinggi yang menduduki jabatannya selama 5 (lima) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kembali menduduki jabatan yang setelah mengikuti proses seleksi telah tahun dapat sama untuk 16 93. Pasal 19E (1) Jabatan Pimpinan Tinggi hanya dapat diduduki maksimal selama 5 (lima) tahun. 91. Pasal 19C (1) Untuk pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Madya Panitia Seleksi Instansi menyampaikan 3 (tiga) nama calon kepada Presiden untuk setiap 1 (satu) jabatan. Pasal 19B Ketentuan mengenai Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dan Pasal 19A dapat dikecualikan pada Instansi yang telah menerapkan sistem merit dalam pembinaan pegawai dengan persetujuan KASN. CATATAN RAPAT 87.

dihapus CATATAN RAPAT 95. Pasal 19F (1) Pejabat Pimpinan Tinggi harus memenuhi target kinerja tertentu yang diperjanjikan dengan Pejabat atasannya. (4) Pejabat yang berwenang atau pimpinan Instansi dan Perwakilan mengajukan permintaan pengisian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan mengajukan kompetensi dan kualifikasi serta jabatan yang lowong kepada KASN. (3) Dalam hal Pejabat Pimpinan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menunjukan perbaikan kinerja maka Pejabat yang bersangkutan harus mengikuti seleksi ulang uji kompetensi kembali. 98. diberikan kesempatan selama 6 (enam) bulan untuk memperbaiki kinerjanya. 99.NO 94. (5) dihapus 17 . Pasal 19G Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di Propinsi dan Kabupaten/Kota yang akan mencalonkan diri menjadi Kepala Daerah wajib mengundurkan diri dari jabatanya 1 (satu) tahun sebelum pelaksanaan proses pemilihan umum kepala daerah. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH pengisian jabatan tersebut. (2) Pejabat Pimpinan Tinggi yang tidak memenuhi kinerja yang diperjanjikan dalam waktu 1 (satu) tahun pada suatu jabatan. KASN mengumumkan lowongan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ke seluruh Instansi dan Perwakilan disertai 100. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. dan Kepala SKPD Kabupaten/Kota. 97. Jabatan Tinggi Pratama adalah Kepala SKPD Propinsi. (4) Berdasarkan hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pejabat Pimpinan Tinggi dimaksud dapat dipindahkan pada jabatan lain sesuai dengan kompetensi yang dimiliki atau ditempatkan pada jabatan yang lebih rendah. Pejabat Pimpinan Tinggi Madya adalah Sekretaris Daerah Propinsi. 96.

kualifikasi. tunjangan. 105. f. (6) 102. calon Pejabat Pimpinan Tinggi mengucapkan sumpah/janji di hadapan pimpinan Instansi. persyaratan lain yang dibutuhkan dan dihapus USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 101. calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (7) mengucapkan sumpah/janji di hadapan pimpinan Instansi atau Perwakilan. dan g. biaya perawatan. b. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak Paragraf 1 Pegawai Negeri Sipil Pasal 20 dihapus (3) Sebelum menduduki jabatannya. dan a. KASN melakukan seleksi untuk memilih 1 (satu) orang calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Calon Pejabat Eksekutif Senior yang memenuhi kompetensi. cuti. dan kesejahteraan yang adil pendapatan lain-lain.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dengan kompetensi. 106. (8) 104. dan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawabnya. tunjangan bagi yang menderita cacat jasmani atau cacat rohani dalam dan sebagai akibat menjalankan tugas kewajibannya yang mengakibatkan tidak dapat bekerja lagi dalam jabatan apapun. e. (7) 103. kualifikasi. pengembangan kompetensi. d. uang duka. gaji. tunjangan. 107. c. dan persyaratan lain yang dibutuhkan berhak mengajukan lamaran kepada KASN. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak Paragraf 1 Pegawai Negeri Sipil Pasal 20 Pegawai Negeri Sipil berhak memperoleh: (1) PNS berhak memperoleh gaji. Sebelum menduduki jabatannya. 18 . pensiun bagi yang telah mengabdi kepada negara dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

dan pemerintah yang sah. Tunjangan. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak PPPK diatur dengan Peraturan Pemerintah. melaksanakan kebijakan umum yang dirumuskan pejabat pemerintah yang 19 . Biaya kesehatan. (1) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri Bagian Kedua Kewajiban Pasal 22 Pegawai ASN wajib: a. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. setia dan taat kepada Pancasila. Honorarium yang adil dan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawabnya. setia dan taat kepada Pancasila. c. 109. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak dan Kewajiban PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Kewajiban Pasal 22 Pegawai ASN wajib: a. dan pendapatan lain-lain. menaati semua ketentuan peraturan perundang-undangan. Paragraf 2 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Pasal 21 (1) PPPK berhak memperoleh: Gaji. Paragraf 2 Pegawai Tidak Tetap Pemerintah Pasal 21 (1) Pegawai Tidak Tetap Pemerintah berhak memperoleh: a. d.NO 108. b. b. Uang duka. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengembangan kompetensi. dan f. 113. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH (2) Pegawai Negeri Sipil wajib bersedia ditempatkan dimanapun di wilayah Negara Republik Indonesia. 111. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. CATATAN RAPAT 110. Tunjangan. b. 114. c. e. c. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cuti. 112. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

121. (2) Untuk melakukan pembinaan profesi dan pegawai ASN. perilaku. g. f. BAB VII KELEMBAGAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 23 (1) Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pembinaan dan manajemen ASN. dan ucapan kepada setiap orang baik di dalam maupun di luar kedinasan. 115. tindakan. 116. e. LAN. 20 . berkaitan dengan kewenangan perumusan dan penetapan kebijakan. dan tanggung jawab. dan tanggung jawab. USUL PEMERINTAH berwenang. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap. Menteri. KASN berkaitan dengan Monitoring dan evaluasi kebijakan dan manajemen ASN untuk menjamin pemberlakuan sistem merit. tindakan. dan ucapan kepada setiap orang baik di dalam maupun di luar kedinasan. b. serta pengawasan atas pelaksanaan kebijakan ASN. berkaitan dengan kewenangan 120. (2) Untuk melakukan pembinaan profesi dan pegawai ASN. BAB VII KELEMBAGAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 23 (1) Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pembinaan dan manajemen ASN. 118. perilaku. berkaitan dengan kewenangan perumusan kebijakan pembinaan profesi ASN dan pengawasan pelaksanaannya pada Instansi dan Perwakilan. kesadaran. Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaan pembinaan dan manajemen ASN kepada: i. kejujuran.NO d. berkaitan dengan kewenangan CATATAN RAPAT e. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian. kejujuran. kesadaran. koordinasi dan sinkronisasi kebijakan. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap. 117. 119. dan menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Menteri. d. iii. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian. Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaan pembinaan dan manajemen ASN kepada: a. LAN. c. menaati semua ketentuan peraturan perundang-undangan. berkaitan dengan kewenangan perumusan kebijakan umum pendayagunaan Pegawai ASN. dan menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. f. ii. KASN.

melakukan pemindahan Pegawai antarjabatan. mengaktifkan status kepegawaian Pegawai ASN yang telah menyelesaikan tugas sebagai Pejabat Negara. f. g. klasifikasi jabatan Pegawai ASN. pengkajian kebijakan manajemen ASN. 123. 127. antardaerah. pembinaan Pusat Penilaian Kinerja Pegawai ASN. berkaitan dengan kewenangan Penyelenggaraan manajemen ASN Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Norma Standar Prosedur dan kriteria manajemen ASN. iv. menetapkan sistem pensiun pegawai ASN. kebijakan reformasi birokrasi di bidang SDM. h. vi. BKN. 125. b. Menetapkan analisis keperluan pegawai ASN untuk semua Instansi dan Perwakilan. menetapkan skala penggajian dan tunjangan pegawai ASN. e. mengangkat kembali Pegawai ASN yang telah 130. 129. c. Pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN. skala penggajian dan tunjangan pegawai ASN. dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan untuk penjenjangan Aparatur Sipil Negara. g. kebijakan 124. memberhentikan sementara Pegawai ASN yang diangkat sebagai Pejabat Negara dari status kepegawaiannya. CATATAN RAPAT 122. Pasal 24 Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a berwenang menetapkan kebijakan pendayagunaan pegawai ASN sebagai berikut: a. dan pembinaan pendidikan fungsional analis kepegawaian. sistem pensiun pegawai ASN. kebijakan umum pembinaan profesi ASN. analisis keperluan pegawai ASN untuk semua Instansi berdasarkan struktur yang telah di evaluasi. BKN. antarinstansi. pemeliharaan dan pengembangan Sistem Informasi Pegawai ASN. v. ASN dan USUL PEMERINTAH Penelitian. menetapkan klasifikasi jabatan Pegawai ASN. pembinaan pendidikan dan pelatihan Pegawai ASN. 21 131. . penyusunan materi seleksi umum calon Pegawai ASN. dan d. 128. Pasal 24 (1) Menteri berwenang menetapkan pendayagunaan pegawai ASN. berkaitan dengan kewenangan pembinaan manajemen Pegawai ASN. dan d. klasifikasi jabatan dan standar kompetensi Pegawai ASN. c. d. 126. (2) Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR penelitian dan pengembangan administrasi pemerintahan negara.

Pasal 25 KASN merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri yang dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. 136. i. 133. Bagian Kedua Komisi Aparatur Sipil Negara Paragraf 1 Sifat Pasal 25 KASN merupakan Lembaga Non Struktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik untuk menjamin pemberlakuan sistem merit. l. j. dan antar instansi. pemberhentian sementara Pegawai ASN yang diangkat sebagai Pejabat Negara dari status kepegawaiannya. 142. h. 139. i. 141. Paragraf 1 Sifat 140. Paragraf 2 Tujuan Pasal 26 KASN bertujuan: a. pemindahan Pegawai ASN antar jabatan. dan m. dan mengoordinasi pelaksanaan tugas BKN dan LAN. penindakan Pejabat yang Berwenang dan penyelesaian penyimpangan terhadap tata cara manajemen ASN yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. antar daerah. rencana kinerja KASN. k. 138. meningkatkan Paragraf 2 Tujuan Pasal 26 kekuatan dan kemampuan Bagian Kedua KASN pengaktifan status kepegawaian Pegawai ASN yang telah menyelesaikan tugas sebagai Pejabat Negara. 137. LAN dan BKN di bidang manajemen ASN. 134. menindak Pejabat yang Berwenang atas penyimpangan terhadap tata cara manajemen Pegawai ASN yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. 135. pengangkatan kembali Pegawai ASN yang telah menyelesaikan masa bakti sebagai Pejabat Negara pada jabatan ASN. KASN bertujuan: a.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR menyelesaikan masa bakti sebagai Pejabat Negara pada jabatan ASN. menjamin pemberlakuan sistem merit dalam 22 . j. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 132.

149. berkemampuan tinggi. menjamin kebijakan dan sebagai pemersatu bangsa. efisien. CATATAN RAPAT 143. kolusi. menjamin terwujudnya imparsialitas ASN. ASN bebas dari campur b. dihapus dihapus Paragraf 3 Kedudukan Pasal 27 KASN berkedudukan di ibukota negara. USUL PEMERINTAH kebijakan dan manajemen ASN. dan terdepan dalam manajemen kebijakan publik. e. f. adil dan sejahtera. Pasal 28 KASN berfungsi menetapkan peraturan mengenai profesi ASN dan mengawasi pelaksanaan regulasi Paragraf 4 Fungsi . dan melakukan Senior. 148. berdedikasi. Membangun ASN yang professional. d. pembinaan Paragraf 3 Kedudukan Pasal 27 Pejabat Eksekutif c. dan nepotisme. 150. terbuka. manajemen ASN mendorong penyelenggaraan negara dan pemerintahan negara yang efektif. bersih dari praktik korupsi. dan 145. melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai tujuan negara. 146. b. c. menjamin terwujudnya pembinaan profesi ASN dihapus 147. 152. d. menciptakan sistem kepegawaian sebagai perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Paragraf 4 Fungsi Pasal 28 KASN memiliki fungsi monitoring.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR ASN dalam penyelenggaraan pelayanan publik. c. menjamin agar tangan politik. 151. 144. evaluasi dan rekomendasi mengenai kebijakan dan manajemen 23 KASN berkedudukan di ibukota negara. jujur. mewujudkan negara hukum yang demokratis.

mempromosikan nilai-nilai dasar dan Kode Etik ASN. b. Peringatan b. 154. 157. Melaporkan Hasil monitoring dan evaluasi kepada Menteri. menjamin kebijakan dan manajemen ASN sebagai pemersatu bangsa. Perintah menerbitkan keputusan d. (2) Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan d. 159. menjamin pemberlakuan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. dan d. b. (3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa : a. memberikan pertimbangan kepada Menteri dalam penetapan kebutuhan pegawai e. Melaporkan hasil monitoring dan evaluasi pemerintah daerah kepada Menteri Dalam Negeri. mengusulkan calon Aparatur Eksekutif Senior terpilih pada Instansi dan Perwakilan kepada Presiden untuk ditetapkan. Paragraf 5 Tugas Pasal 29 KASN bertugas: a. mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai dasar ASN oleh Instansi dan Perwakilan. Teguran c. Khusus untuk pejabat politik dijatuhi sanksi sesuai dengan peraturan perundang-perundangan. c. e. (4) Terhadap keputusan yang dibuat oleh pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) 24 155. Khusus untuk pejabat karier dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 156. 160.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR tersebut oleh Instansi dan Perwakilan. profesi ASN. BKN dan LAN sesuai dengan bidang tugas masing-masing. 158. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 153. . d. menyusun pedoman analisis keperluan pegawai. c. Paragraf 5 Tugas Pasal 29 (1) KASN bertugas: a. pejabat yang membuat keputusan kepegawaian yang melanggar prinsip dan ketentuan sistem merit dapat dikenakan sanksi.

Menteri terhadap keputusan yang ditetapkan oleh Pejabat Karier. meninjau ulang. (6) Presiden dapat mendelegasikan kewenangan penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a kepada Menteri dan Kepala BKN sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. a. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap 25 . harus di perbaiki.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH berdasarkan rekomendasi KASN. melakukan tugas lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. menetapkan peraturan mengenai kebijakan a. CATATAN RAPAT 161. dicabut dan dibatalkan. Paragraf 6 Wewenang Pasal 30 KASN berwenang: 164. mengevaluasi sistem dan mekanisme kerja Instansi dan Perwakilan untuk menjamin pelaksanaan peraturan perundangundangan mengenai disiplin ASN. dan f. d. Dihapus 162. Presiden selaku pembina kepegawaian tertinggi terhadap keputusan yang ditetapkan oleh pejabat politik. menyusun. Paragraf 6 Wewenang Pasal 30 KASN berwenang: 168. dan dikembalikan pembayaran yang sudah dilakukan. Dihapus 166. b. dan mengevaluasi kebijakan dan kinerja ASN pada Instansi dan Perwakilan. Dihapus 165. (5) Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan pembatalan keputusan pada ayat (4) dilakukan oleh: a. 167. 163. e.

NO

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pembinaan profesi ASN;

USUL PEMERINTAH kebijakan dan manajemen ASN untuk menjamin pemberlakuan sistem merit ASN; b. Menyusun prosedur dan kriteria pelaksanaan seleksi dalam rangka promosi untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi; dan c. Memonitor pelaksanaan proses seleksi promosi jabatan pimpinan tinggi yang dilaksanakan oleh instansi untuk menjamin sistem merit ASN berjalan. dihapus dihapus

CATATAN RAPAT

169. 170.

b. melakukan pengawasan pelaksanaan kebijakan pembinaan profesi ASN; c. melakukan penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran peraturan-peraturan pembinaan profesi ASN. d. melakukan manajemen kepegawaian Pejabat Eksekutif Senior; e. menerima pengaduan atau masukan dari kepala daerah mengenai kinerja Pejabat yang Berwenang f. melakukan mediasi antara kepala daerah dengan Pejabat yang Berwenang di daerah; dan Pejabat yang daerah apabila

171. 172.

173.

dihapus

174.

g. melakukan penggantian Berwenang pada Instansi diperlukan. Pasal 31

dihapus

175.

Pasal 31 KASN melaporkan pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya termasuk yang terkait dengan kebijakan dan kinerja ASN sekurang-kurangnya sekali pada akhir tahun kepada Presiden. Paragraf 7 Susunan Pasal 32 (1) KASN terdiri atas: a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota b. 1 (satu) orang wakil ketua merangkap anggota, dan c. 5 (lima) orang anggota.

KASN melaporkan pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya termasuk yang terkait dengan kebijakan dan kinerja ASN pada setiap akhir tahun kepada Presiden. 176. 177. Paragraf 7 Susunan Pasal 32 (1) KASN terdiri atas: a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota b. 1 (satu) orang wakil ketua merangkap anggota, dan c. 5 (lima) orang anggota. 178. (2) Dalam hal Ketua KASN berhalangan, Wakil

(2) Dalam hal Ketua KASN berhalangan, Wakil 26

NO

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Ketua KASN menjalankan tugas dan wewenang Ketua KASN

USUL PEMERINTAH Ketua KASN menjalankan wewenang Ketua KASN. Pasal 33 dan tugas dan

CATATAN RAPAT

179.

Pasal 33

(1) KASN dalam melaksanakan tugas dan (1) KASN dalam melaksanakan tugas wewenangnya dibantu oleh asisten KASN. wewenangnya dibantu oleh asisten KASN. 180. (2) Asisten KASN diangkat dan diberhentikan oleh Ketua KASN berdasarkan persetujuan rapat anggota KASN. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian serta tugas dan tanggung jawab asisten KASN diatur dengan Peraturan KASN. Pasal 34 (1) KASN dibantu oleh sebuah sekretariat yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal. 183. 184. 185. (2) Sekretaris Ienderal diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul KASN. (3) Syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian Sekretaris Jenderal KASN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kedudukan, susunan organisasi, fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab Sekretariat Jenderal diatur dengan Peraturan Presiden

(2) Asisten KASN diangkat dan diberhentikan oleh Ketua KASN berdasarkan persetujuan rapat anggota KASN. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian serta tugas dan tanggung jawab asisten KASN diatur dengan Peraturan KASN Pasal 34 (1) KASN dibantu oleh sebuah sekretariat yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekretariat. (2) Kepala Sekretariat dapat berasal dari PNS atau Non PNS. (3) Kepala Sekretariat diangkat dan diberhentikan oleh Ketua KASN. (4) KASN dibiayai oleh APBN.

181.

182.

186.

187. 188.

Paragraf 8 Keanggotaan Pasal 35 (1) Anggota KASN terdiri dari unsur sebagai

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kedudukan, susunan organisasi, fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab Sekretariat, tata kerja, sistem dan manajemen SDM, serta tanggung jawab dan pengelolaan keuangan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Paragraf 8 Keanggotaan Pasal 35 Anggota KASN terdiri dari unsur sebagai berikut : 27

NO

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR berikut :

USUL PEMERINTAH

CATATAN RAPAT

189. 190. 191. 192. 193. 194.

a. wakil pemerintah sebanyak 1 (satu) orang; a. akademisi sebanyak 2 (dua) orang; b. tokoh masyarakat sebanyak 1 (satu) orang; c. wakil organisasi ASN sebanyak 1 (satu) orang; dan d. wakil daerah sebanyak 2 (dua) orang. (2) Anggota KASN harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Warga negara Indonesia; b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; c. berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan setinggi-tingginya berusia 60 (enam puluh) tahun; d. tidak menjadi anggota partai politik dan/atau tidak sedang menduduki jabatan politik; e. sehat jasmani dan rohani; f. memiliki kemampuan, pengalaman, dan/atau pengetahuan di bidang manajemen ASN; g. berpendidikan paling rendah pascasarjana (strata dua) di bidang administrasi negara, manajemen publik, ilmu hukum, dan/atau ilmu pemerintahan; dan h. tidak pemah dipidana penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

a. wakil pemerintah sebanyak 4 (empat) orang; dan b. akademisi atau praktisi sebanyak 3 (tiga) orang; dihapus dihapus dihapus (2) Anggota KASN harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Warga negara Indonesia; b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; c. berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun pada saat mendaftarkan diri sebagai calon anggota KASN; d. tidak menjadi anggota partai politik dan/atau tidak sedang menduduki jabatan politik; e. mampu secara jasmani dan rohani untuk melaksanakan tugas; f. memiliki kemampuan, pengalaman, dan/atau pengetahuan di bidang manajemen sumber daya manusia; g. berpendidikan paling rendah pascasarjana (strata dua) di bidang administrasi negara, manajemen publik, kebijakan publik, ilmu hukum, ilmu pemerintahan dan/atau strata dua bidang lain yang memiliki pegalaman di bidang manajemen sumber daya manusia; dan h. tidak pemah dipidana penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana 28

dan anggota KASN ditetapkan dan diangkat oleh Presiden untuk ditetapkan dan diangkat oleh Presiden selaku masa jabatan selama 5 (lima) tahun dan Kepala Negara untuk masa jabatan selama 5 hanya dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali (lima) tahun dan hanya dapat diperpanjang masa jabatan. 202.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun. dibentuk oleh Menteri. dan dan Anggota KASN dari anggota KASN terpilih Anggota KASN dari anggota KASN terpilih yang yang diusulkan oleh tim seleksi sebagaimana diusulkan oleh tim seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4). alt diambil dari UU BPJS: Diberhentikan sementara : 29 . (1) Ketua. (2) Anggota KASN berhenti atau diberhentikan (3) Anggota KASN berhenti atau diberhentikan oleh Presiden pada masa jabatannya. Wakil Ketua. 199. anggota dari masing-masng unsur untuk dipilih dan ditetapkan oleh Presiden (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi dan tata cara pembentukan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). untuk 1 (satu) kali masa jabatan. (2) Tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Menteri. 200. (1) Presiden menetapkan Ketua. CATATAN RAPAT 195. dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4). (3) dan (4) diatur dengan Peraturan Menteri. Wakil Ketua. dan anggota KASN (2) Ketua. Paragraf 10 Pengangkatan dan Pemberhentian Pasal 37 Paragraf 10 Pengangkatan dan Pemberhentian Pasal 37 201. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Paragraf 9 Seleksi Anggota KASN Pasal 36 Paragraf 9 Seleksi Anggota KASN Pasal 36 197. 196. (1) Presiden menetapkan Ketua. apabila: a. (1) dipimpin oleh Menteri (3) Anggota tim seleksi harus memiliki (3) Anggota tim seleksi harus memiliki pengalaman pengalaman dan pengetahuan di bidang ASN dan pengetahuan di bidang ASN (4) Tim seleksi menyampaikan 7 (tujuh) orang (4) Tim seleksi menyampaikan 3 (tiga) kali jumlah anggota KASN kepada Presiden. a. 204. meninggal dunia. 203. 198. meninggal dunia. (1) Anggota KASN diseleksi dan diusulkan oleh (1) Anggota KASN diseleksi dan diusulkan oleh tim tim seleksi yang beranggotakan 5 (lima) orang seleksi yang beranggotakan 5 (lima) orang yang yang dibentuk oleh Menteri. apabila: oleh Presiden pada masa jabatannya.

(1) Pasal 38 Anggota KASN yang berhenti pada masa jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) digantikan oleh calon anggota yang diusulkan oleh tim seleksi.tidak mampu jasmani dan rohani selama 6 bulan sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya . atau e. mengundurkan diri. mengundurkan diri.menjadi terdakwa karena melakukan tindak pidana kejahatan . c. tidak sehat jasmani atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai anggota KASN. Diberhentikan tetap : . Tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh menteri.meninggal dunia . Pasal 38 (1) Anggota KASN yang berhenti pada masa jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) digantikan oleh calon anggota yang diusulkan oleh tim seleksi. dihukum penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan menjadi anggota partai politik dan/atau menduduki jabatan negara. Presiden menunjuk pejabat sementara anggota KASN dikembalikan ke dalam jabatannya apabila dinyatakan sehat kembali untuk menyelesaikan tugas atau bila status sebagai tersangka dicabut. - CATATAN RAPAT karena sakit terus menerus 3 bulan sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya ditetapkan menjadi tersangka dalam hal diberhentikan sementara.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR b.tidak menjalankan tugasnya sebagai anggota KASN secara terus-menerus lebih dari 3 bulan karena alasan selain karena sebagaimana dimaksud pada hutuf a . (2) . (lima) tahun. d. USUL PEMERINTAH b. tidak mampu jasmani atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai anggota KASN d. c. menjadi anggota partai politik dan/atau menduduki jabatan negara. dihukum penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 e.mengundurkan diri secara tertulis atas permintaan sendiri 205. Menteri membentuk tim seleksi untuk menseleksi 30 206.tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai anggota KASN .melakukan perbuatan tercela . (2) Dalam hal Presiden tidak menyetujui atau yang bersangkutan tidak bersedia.

pengkajian kinerja kelembagaan dan sumber daya aparatur dalam rangka pembangunan administrasi negara dan peningkatan kualitas sumber daya aparatur. 212. Masa tugas anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meneruskan sisa masa kerja anggota yang berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 211. c. penelitian dan pengembangan administrasi pembangunan dan otomasi administrasi negara. koordinasi kegiatan dungsional dalam pelaksanaan tugas LAN. (5) Masa tugas anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meneruskan sisa masa kerja anggota yang berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. LAN bertugas: a. Bagian Ketiga LAN Paragraf 1 Tugas dan Fungsi Pasal 39 (3) Tim seleksi mengusulkan calon anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan unsur keanggotaan KASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) kepada Presiden (4) Presiden mengesahkan anggota pengganti yang diusulkan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). d. b.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH calon pengganti. pengkajian dan pengembangan manajemen kebijakan dan pelayanan di bidang pembangunan administrasi negara. Bagian Ketiga Lembaga Administrasi Negara Paragraf 1 Tugas dan Fungsi Pasal 39 LAN bertugas: a. pembinaan dan penyelenggaraaan pendidikan dan pelatihan aparatur negara. memberikan sertifikasi kelulusan peserta pendidikan dan pelatihan penjenjangan. fungsional dan penjenjangan tertentu serta pemberian akreditasi dan sertifikasi di bidangnya dengan melibatkan kementerian dan lembaga terkait. merencanakan dan mengawasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan ASN secara nasional. melakukan pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN berbasis kompetensi. (3) 208. (4) Tim seleksi mengusulkan calon anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan unsur keanggotaan KASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) kepada Presiden Presiden mengesahkan anggota pengganti yang diusulkan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. dan f. . pelatihan teknis. c. melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian manajemen ASN sesuai kebutuhan kebijakan. d. melakukan pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan analisis kebijakan 31 209. e. CATATAN RAPAT 207. f. penyusunan standar dan pedoman penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional tertentu di bidang administrasi negara. (5) 210.

melakukan akreditasi lembaga pendidikan dan pelatihan pegawai ASN baik sendiri maupun bersama lembaga pemerintah lainnya. melakukan kajian terkait dengan kebijakan dan manajemen ASN. perlengkapan dan rumah tangga. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang administrasi negara. d. 215. Pasal 40 LAN berfungsi: (1) berkaitan dengan kewenangan pembinaan manajemen ASN. dan c. keuangan. ketetausahaan. dan penyelenggaraaan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum. penetapan sistem informasi di bidangnya. kearsipan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai fungsi dan tugas LAN lainnya diatur dengan Peraturan Presiden. penyusunan rencana program nasional di bidangnya. 214. organisasi dan tata laksana. melakukan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kompetensi manajerial pegawai ASN baik secara sendiri maupun bersama-sama lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya. Pasal 40 publik.NO g. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 213. dan e. Paragraf 3 Kewenangan Paragraf 3 Kewenangan 32 . mengembangkan standar kualitas pendidikan dan pelatihan pegawai ASN b. Paragraf 2 Kedudukan Pasal 41 LAN berkedudukan di ibukota negara. kepegawaian. melakukan pembinaan pendidikan dan pelatihan kompetensi manajerial pegawai ASN. perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro. hukum. dihapus dihapus LAN berfungsi: a. persandian. 216. c. LAN memiliki fungsi: a. b. h. 217.

merencanakan dan menyelenggarakan ASN. membantu Presiden dalam penyelenggaraaan manajemen kepegawaian negara dalam rangka terciptanya sumber daya manusia Aparatur Negara yang profesional serta berkualitas dan bermoral tinggi. dan pembinaan pendidikan dan pelatihan untuk b. c. melakukan kegiatan pengkajian. b. c. perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang administrasi negara. menyelenggarakan lembaga pendidikan Aparatur Sipil Negara. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 42 USUL PEMERINTAH Pasal 42 CATATAN RAPAT LAN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 LAN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 berwenang: berwenang melakukan: a. dan e. Bagian Keempat BKN Paragraf 1 Tugas dan Fungsi PasaI 43 BKN bertugas: a. pengkajian kebijakan manajemen b. a. melakukan pembinaan jabatan fungsional di bidang kepegawaian. penyusunan norma. menyimpan informasi yang telah dimutakhirkan oleh Instansi dan Perwakilan serta bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan SIstem Informasi Aparatur Sipil Negara. d. pelatihan fungsional dan penjenjangan tertentu serta pemberian akreditasi dan sertifikasi di bidangnya. Pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan pengembangan kapasitas ASN. mengelola dan mengembangkan Sistem Informasi Pegawai ASN berbasis kompetensi didukung oleh sistem informasi kearsipan yang komprehensif. melakukan seleksi kompetensi dasar calon Pegawai ASN. Penelitian. penyusunan standard dan pedoman penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan. Bagian Keempat Badan Kepegawaian Negara Paragraf 1 Tugas dan Fungsi PasaI 43 BKN memiliki tugas : a. 220. dan pelatihan ASN. guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. 33 221. melakukan pembinaan dan penyelenggaraan penilaian kompetensi dan penilaian kinerja Pegawai ASN.NO 218. e. standar dan prosedur teknis pelaksanaan kebijakan manajemen ASN. d. dan b. 219. .

dan 225. e. BKN memiliki fungsi: a. penyediaan calon pejabat struktural dan fungsional tertentu bagi semua instansi pemerintah termasuk untuk Daerah Otonom pengawasan dan pengendalian pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sumber daya manusia Aparatur Negara. d. dihapus 229. dan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan norma. dihapus dihapus dihapus 223. Pasal 43 CATATAN RAPAT 222. penyimpanan informasi pegawai ASN yang telah dimutakhirkan oleh Instansi serta bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. dihapus 34 . pembangunan dan pengembangan sistem informasi kepegawaian negara. h. dihapus 230. pembinaan penyelenggaraan manajemen ASN. penyelenggaraan manajemen ASN dalam bidang pertimbangan teknis formasi. a. Pasal 44 BKN berfungsi: a. pengelolaan dan pengolahan data dan penyajian informasi yang mendukung pengembangan sumber daya manusia Aparatur Negara. dan c. g. 224. perpindahan antar instansi. pengadaan. g. penyiapan penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian.. USUL PEMERINTAH menyelenggarakan administrasi kepegawaian ASN. 227. standar dan prosedur manajemen kepegawaian ASN. penyusunan kebijakan teknis pengembangan kepegawaian negara. f. perencanaan pengembangan kepegawaian negara. b. persetujuan kenaikan pangkat. pensiun. penyusunan norma dan standar baik teknis maupun profesional bagi jabatan negeri. 226.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR f. penyusunan kebijakan penggajian penghargaan bagi Pegawai Negeri Sipil. b. c. penyelenggaraan administrasi sumber daya manusia Aparatur Pemerintah yang meliputi 228.

237. k. menyelenggarakan Pusat Penilaian Kinerja Pegawai ASN. h. 234. c. 238. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 231. menyusun materi seleksi umum Pegawai ASN. perumusan. dihapus 35 . 240.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pemberian pertimbangan. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan Norma Standar Prosedur dan Kriteria manajemen ASN BKN berkedudukan di ibukota negara. b. dihapus 233. persetujuan dan/atau penetapan mutasi kepegawaian dan pensiun. menyelenggarakan manajemen ASN b. 236. 235. i. pelaksanaan dan koordinasi sistem pengawasan kepegawaian yang efektif dan efisien berdasarkan prinsip akuntabilitas. dan calon 241. pemberian bimbingan teknis pelakasanaan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian kepada instansi pemerintah. Paragraf 2 Kedudukan Pasal 45 dihapus 232. dihapus dihapus Paragraf 2 Kedudukan dihapus Paragraf 3 Kewenangan Pasal 46 BKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 berwenang: a. j. Paragraf 3 Kewenangan Pasal 46 BKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 berwenang: 239. koordinasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang kepegawaian dengan instansi pemerintah. a. dan penyelenggaraan administrasi kepegawaian pejabat negara dan mantan pejabat negara. menyelenggarakan pembinaan manajemen kepegawaian ASN.

penggajian. Bagian Kedua Manajemen PNS Pasal 48 (1) Manajemen PNS meliputi: a. d. jabatan. 248. 243. c. h. penetapan kebutuhan dan pengendalian jumlah. g. f. e. e. kesejahteraan. c.NO 242. dan fungsional analis dihapus dihapus USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT memelihara dan mengembangkan Sistem Informasi Pegawai ASN melalui pengumpulan data dan pencatatan informasi Pegawai ASN. 247. penghargaan. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pembinaan pendidikan kepegawaian. h. i. dan n. pengembangan dan pendidikan. l. f. BAB IX MANAJEMEN APARATUR SIPIL NEGARA Bagian Kesatu Umum Pasal 47 Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK. pensiun. i. disiplin dan sanksi. b. k. g. pemberhentian. Bagian Kedua Manajemen PNS Pasal 48 (1) Manajemen PNS meliputi: a. penetapan kebutuhan dan pengendalian jumlah. dan penataan administrasi Pegawai ASN. k. tunjangan. j. penilaian kinerja. 246. pengadaan. d. tunjangan. kesejahteraan. j. 245. e. pola karier. (2) Manajemen PNS di daerah dilaksanakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan (2) . d. sanksi. perlindungan. pemberian informasi data Pegawai ASN. perlindungan Manajemen PNS pada pemerintah daerah dilaksanakan oleh pemerintah daerah sesuai 36 Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. m. 249. penempatan. pengadaan. pemberhentian. penghargaan. pola karier. dan l. BAB IX MANAJEMEN APARATUR SIPIL NEGARA Bagian Kesatu Umum Pasal 47 244. penggajian. b. pensiun.

(3) Berdasarkan penyusunan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri menetapkan kebutuhan jumlah. Bagian Kedua Penetapan Kebutuhan dan Pengendalian Jumlah Pasal 49 251. 250. dan ruang lingkup tugas setiap instansi secara nasional setelah memperhatikan pendapat menteri keuangan dan pertimbangan teknis dari kepala BKN.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR peraturan perundang-undangan. maupun untuk mengisi jabatan Eksekutif Senior. ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah dihapus 37 255. jenis jabatan PNS. dan status PNS yang dan jenis jabatan PNS berdasarkan analisis diperlukan untuk melaksanakan tugas utama jabatan dan analisis beban kerja. (1) Pasal 50 Pejabat yang Berwenang pada Instansi mengusulkan kebutuhan PNS di Instansi masing-masing kepada Menteri serta mengirim tembusan kepada KASN. Penetapan kebutuhan PNS merupakan analisis (1) Setiap instansi menyusun kebutuhan jumlah keperluan jumlah. (4) . Catatan: . secara efektif dan efisien untuk mendukung beban kerja Instansi dan Perwakilan. USUL PEMERINTAH dengan ketentuan peraturan perundangundangan (3) Manajemen PNS pada pemerintah pusat dilaksanakan oleh pemerintah pusat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Bagian Kedua Penetapan Kebutuhan dan Pengendalian Jumlah Pasal 49 CATATAN RAPAT 217a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Pengusulan kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan analisis keperluan pegawai.penetapan kebutuhan pada pasal 49 dilakukan dalam rangka mengisi pegawai baru sedangkan penyesuaian jabatan yang lowong (mutasi dan promosi) dilakukan sesuai kebutuhan tanpa menunggu penetapan. jenis. Menteri menetapkan kebutuhan PNS secara nasional setelah mendapat pertimbangan (2) Penyusunan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang diperinci per 1 (satu) tahun berdasarkan prioritas kebutuhan dan sesuai dengan siklus anggaran. (2) 254. menteri menetapkan setelah melakukan evaluasi dan verifikasi 252. Kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebutuhan pegawai administrasi. pegawai fungsional. . 253.perlu diatur dalam penjelasan pasal bahwa setelah menerima usulan kebutuhan jumlah dan jenis PNS dari instansi.

(3) (3) 263. masa percobaan. seleksi. dan pengangkatan menjadi PNS. Pasal 52 pelaksanaan (2) USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 256. seleksi. pengumuman hasil seleksi. Paragraf 2 Pengadaan Pasal 51 (1) (1) Pengadaan calon PNS merupakan kegiatan untuk mengisi jabatan yang lowong Pengadaan calon PNS di Instansi dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (4). Penetapan kebutuhan PNS oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan sebagai wujud tanggung jawab pengendalian jumlah PNS dan menjaga proporsionalitas PNS antar Instansi. Paragraf 2 Pengadaan Pasal 51 Pengadaan calon PNS merupakan kegiatan untuk mengisi jabatan yang lowong sesuai kebutuhan pegawai. masa percobaan. Menteri mengumumkan penetapan kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (5) Ketentuan mengenai Pedoman penyusunan analisis keperluan pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan KASN. (3) dihapus 257. pelamaran. (2) 262. pelamaran. Setiap Instansi merencanakan pengadaan calon PNS 264. Pengadaan calon PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. (6) dihapus 259. Pengadaan calon PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. Pasal 53 Setiap Instansi merencanakan pengadaan calon PNS Pasal 53 38 . pengumuman hasil seleksi. Pasal 52 pelaksanaan 261. pengumuman lowongan. pengumuman lowongan. Pengadaan calon PNS di Instansi dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (3). (5) dihapus 258. dan pengangkatan menjadi PNS.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dari KASN dan Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang keuangan. 260.

dan persyaratan yang persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan. Pasal 54 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon PNS setelah memenuhi persyaratan. Seleksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi atau Perwakilan masing-masing untuk memeriksa kelengkapan persyaratan. (2) 270. yaitu seleksi administrasi. dan seleksi khusus. Pasal 55 Seleksi penerimaan calon PNS dilaksanakan (1) Seleksi penerimaan calon PNS dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan untuk oleh Instansi dengan melalui evaluasi secara mengevaluasi secara obyektif kompetensi. dan dibutuhkan oleh jabatan.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Setiap Instansi mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat adanya lowongan jabatan calon PNS. dihapus CATATAN RAPAT 265. (3) dihapus 271. seleksi umum. Pasal 55 (1) 266. Seleksi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi atau (2) Seleksi calon PNS terdiri dari 3 (tiga) tahap. dan kualifikasi. Seleksi calon PNS terdiri dari 3 (tiga) tahap. yaitu seleksi administrasi. (1) Pasal 54 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon PNS setelah memenuhi persyaratan. USUL PEMERINTAH Setiap Instansi mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat adanya lowongan jabatan calon PNS. obyektif kompetensi. dihapus 268. (4) dihapus 39 . (1) 269. oleh pelamar. dan yang dimiliki yang dimiliki oleh pelamar. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri dengan pertimbangan KASN. kualifikasi. (2) 267. seleksi umum. Instansi atau Perwakilan yang menerima pendaftaran calon PNS memberikan nomor peserta penyaringan bagi pelamar yang sudah lulu persyaratan administrasi. dan seleksi khusus.

tahun. dan informatif oleh Instansi masing-masing. Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk pelatihan kerja di Instansi yang bersangkutan dan di instansi pembina jabatan fungsional bagi calon pegawai Jabatan Fungsional. (1) Pasal 58 (2) (3) Masa percobaan sebagaimana dimaksud (1) Masa percobaan sebagaimana dimaksud dalam dalam Pasal 57 bagi calon pegawai Pasal 57 bagi calon pegawai administrasi dan administrasi dan calon pegawai fungsional calon pegawai fungsional yang lulus seleksi yang lulus seleksi dilaksanakan melalui dilaksanakan melalui pendidikan dan pendidikan dan pelatihan selama 1 (satu) pelatihan selama 1 (satu) tahun. kualifikasi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai masa Pendidikan sebagaimana dimaksud pada percobaan sebagaimana dimaksud pada Pasal ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk 57 dan 58 diatur dengan Peraturan pendidikan di dalam kelas oleh LAN atau Pemerintah. 40 . Instansi yang telah mendapat sertifikasi dari LAN. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh pelamar. Pasal 57 Calon PNS yang lulus seleksi wajib menjalani masa percobaan Pasal 58 Pengumuman tahapan seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dilaksanakan secara terbuka. luas.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR perwakilan masing-masing dengan materi yang disusun oleh BKN. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 272. Pasal 57 Calon PNS yang lulus seleksi wajib menjalani masa percobaan 275. 274. (5) Seleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Instansi atau Perwakilan dilakukan dengan membandingkan secara obyektif kualifikasi dan kompetensi yang dipersyarakan oleh jabatan dengan kompetensi. Pasal 56 Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi penerimaan calon PNS diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Pasal 56 dihapus 273.

Bahwa saya. e. diangkat menjadi PNS oleh Pejabat yang (3) Calon PNS yang tidak memenuhi ketentuan Berwenang sesuai dengan peraturan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) perundang-undangan. dan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan f. diusulkan oleh Pejabat yang (2) Calon PNS yang telah memenuhi ketentuan Berwenang. (1) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 59 USUL PEMERINTAH Pasal 59 CATATAN RAPAT (2) (3) Calon PNS menjadi PNS dalam suatu (1) Calon PNS menjadi PNS dalam suatu jabatan jabatan didasarkan pada ketentuan sebagai didasarkan pada ketentuan sebagai berikut: berikut: d. akan selalu membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. kesadaran. akan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. diusulkan oleh Pejabat yang Berwenang. c. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan tanggung jawab. (1) (2) Setiap calon pegawai PNS pada saat (1) Setiap calon pegawai PNS pada saat pengangkatannya wajib mengucapkan pengangkatannya wajib mengucapkan sumpah/janji dengan disaksikan oleh sumpah/janji dengan disaksikan oleh Pimpinan Pimpinan Instansi atau Perwakilan. Bahwa saya. a. Bahwa saya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat Calon PNS yang telah memenuhi ketentuan menjadi PNS oleh Pejabat yang Berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan jasmani dan rohani. telah lulus pendidikan dan pelatihan. saya bersumpah: Bahwa saya. dan ketentuan peraturan perundang-undangan. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara dan martabat Bahwa saya. Calon PNS yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberhentikan sebagai Calon PNS. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara dan martabat 41 . akan selalu membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. telah memenuhi syarat kesehatan b. kesadaran. saya bersumpah: "Demi Allah. Pasal 60 Pasal 60 277. Bahwa saya. dan tanggung jawab. telah lulus pendidikan dan pelatihan.NO 276. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. akan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. diberhentikan sebagai Calon PNS. akan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani. Bahwa saya. akan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Instansi atau Perwakilan. Bahwa saya. Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada (2) Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut: ayat (1) berbunyi sebagai berikut: "Demi Allah.

staf ahli. seseorang. atau golongan. Bahwa saya. 280. cermat dan bersemangat untuk kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. dengan Pengangkatan calon PNS ditetapkan keputusan Pejabat yang Berwenang. (2) dihapus 42 . tertib. Pasal 62 Sudah diatur dalam Pasal 56 atau DIM No. staf ahli. Pasal 61 Pengangkatan calon PNS ditetapkan keputusan Pejabat yang Berwenang. Bahwa saya. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat daripada kepentingan pribadi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengadaan calon PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) diatur dengan Peraturan menteri setelah mendapat pertimbangan KASN.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Aparatur Sipil Negara. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. (1) Pasal 63 Pengisian Jabatan Eksekutif Senior pada jabatan struktural tertinggi kementerian. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat daripada kepentingan pribadi. tertib. Bahwa saya. khusus pada jabatan struktural tertinggi lembaga pemerintah non kementerian. Bahwa saya. kesekretariatan lembaga negara. tidak akan menerima pemberian berupa hadiah dan/atau janjijanji baik langsung maupun tidak langsung yang ada kaitannya dengan pekerjaan saya. atau golongan. akan bekerja dengan jujur. Bahwa saya. dan analis kebijakan dilakukan melalui promosi dari PNS yang berasal dari seluruh Instansi dan Perwakilan. seseorang. cermat dan bersemangat untuk kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. .” Pasal 61 CATATAN RAPAT 278. dengan 279.” USUL PEMERINTAH Aparatur Sipil Negara. akan bekerja dengan jujur. Bahwa saya. dan dihapus 281. Pengisian Jabatan Eksekutif Senior.. lembaga pemerintah non kementerian. tidak akan menerima pemberian berupa hadiah dan/atau janjijanji baik langsung maupun tidak langsung yang ada kaitannya dengan pekerjaan saya..

Sebelum menduduki jabatannya. 290. Pejabat yang Berwenang atau pimpinan Instansi dan Perwakilan mengajukan permintaan pengisian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan mengajukan kompetensi dan kualifikasi serta jabatan yang lowong kepada KASN. dan persyaratan lain yang dibutuhkan. (7) dihapus 287. (6) dihapus 286. (5) dihapus 285.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR analis kebijakan dapat berasal dari Non PNS yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 282. (3) Pengadaan Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh KASN. calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (7) mengucapkan sumpah/janji di hadapan pimpinan Instansi atau Perwakilan. 289. kualifikasi. dan persyaratan lain yang dibutuhkan berhak mengajukan lamaran kepada KASN. Calon Pejabat Eksekutif Senior yang memenuhi kompetensi. KASN mengumumkan lowongan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ke seluruh Instansi dan Perwakilan disertai dengan kompetensi. Paragraf 3 Pangkat dan Jabatan Pasal 64 Penjelasan pasal: 43 . KASN melakukan seleksi unuk memilih 1 (satu) orang calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ditetapkan dengan keputusan Presiden. Paragraf 3 Pangkat dan Jabatan Pasal 64 dihapus 283. (8) dihapus 288. kualifikasi. (4) dihapus 284.

dan persyaratan yang dimiliki oleh pegawai. 292. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi. Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Klasifikasi Jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Klasifikasi Jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Setiap Instansi dapat menyusun pola karier Aparaturnva secara khusus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pola karier nasional. Ketentuan lebih lanjut mengenai pola karier USUL PEMERINTAH (1) PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada Instansi. (3) . (3) Setiap jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam Klasifikasi Jabatan PNS yang menunjukkan kesamaan karakteristik. dan pola kerja. Paragraf 4 Pola Karier Pasal 65 (1) Untuk menjamin keselarasan potensi PNS dengan kebutuhan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan perlu disusun pola karier PNS yang terintegrasi secara nasional. Setiap jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam Klasifikasi Jabatan PNS yang menunjukkan kesamaan karakteristik. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola karir 44 293. Pengangkatan dan penetapan PNS dalam jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayati (1) ditentukan berdasarkan perbandingan obyektif antara kompetensi. kualifikasi. kualifikasi. kualifikasi. dan persyaratan yang dimiliki oleh pegawai. CATATAN RAPAT yang dimaksud dengan jabatan tertentu adalah jabatan administrasi atau jabatan fungsional (3) (4) (5) 291. Ketentuan lebih lanjut mengenai pangkat sebagaimana dimaksud pda ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan pola kerja. (2) Pengangkatan dan penetapan PNS dalam jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan perbandingan obyektif antara kompetensi. Paragraf 4 Pola Karier Pasal 65 (1) Untuk menjamin keselarasan potensi PNS dengan kebutuhan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan perlu disusun pola karier PNS yang terintegrasi secara nasional. (2) 294. (2) Setiap Instansi dapat menyusun pola karier Aparaturnya secara khusus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pola karier nasional. mekanisme. mekanisme. kualifikasi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.NO (1) (2) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada Instansi atau Perwakilan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai kenaikan (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kenaikan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) diatur dengan Peraturan Menteri setelah diatur dengan atau berdasarkan Peraturan mendapat pertimbangan KASN. kompetensi. dan penilaian kinerja.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Aparatur PNS secara nasional diatur dengan Peraturan Menteri setelah mendapat pertimbangan KASN. dan fungsional berdasarkan kualifikasi. Pengembangan karier PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan integritas-dan moralitas. Pengembangan karier PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan integritas-dan moralitas. (2) Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi. USUL PEMERINTAH PNS secara nasional Peraturan Pemerintah. PNS dapat berpindah jalur antar jabatan eksekutif senior. (1) Pasal 66 Setiap PNS direkrut untuk menduduki jabatan administrasi. (1) 302. dan Aparatur Fungsional yang lowong. 301. Pasal 67 dinaikkan jabatannya secara diatur dengan CATATAN RAPAT 295. . (2) Kenaikan jabatan secara kompetitif (2) Kenaikan jabatan secara kompetitif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kualifikasi. dan penilaian kinerja. administrasi. (2) (1) 297. dan penilaian kinerja. penilaian kinerja. kompetensi. kompetitif. administrasi. Pasal 66 (1) Setiap PNS direkrut untuk menduduki jabatan administrasi. didasarkan pada kualifikasi. dan dan penilaian kinerja. kompetensi. 296. dan penilaian kinerja. dan Aparatur Fungsional yang lowong. Pasal 67 (1) Setiap PNS dinaikkan jabatannya secara (1) Setiap PNS kompetitif. PNS dapat berpindah jalur antar jabatan eksekutif senior. Pemerintah Paragraf 5 Pengembangan Karir Pasal 68 Paragraf 5 Pengembangan Karir Pasal 68 (1) (2) Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi. kompetensi. 298. (3) 300. kompetensi. 45 299. dan fungsional berdasarkan kualifikasi. kompetensi.

Paragraf 5A Pengembangan Kompetensi Pasal 68A (1) Setiap pegawai ASN berhak diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. dan c. dan pengalaman bekerja secara teknis. pelatihan teknis fungsional. kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama. budaya. kursus. pelatihan struktural/manajemen. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan. budaya. (4) (4) 305. dan pengalaman kepemimpinan. b. dan c. (3) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Kompetensi sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi: a. bangsa dan negara Moralitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari penerapan dan pengamalan nilai-nilai etika agama. 273b. pelatihan teknis fungsional. kemampuan bekerja sama dan pengabdian kepada masyarakat. dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari kejujuran. dan pengalaman bekerja secara teknis. kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. (3) Pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dievaluasi oleh pejabat yang berwenang dan dipergunakan sebagai 46 273d. bangsa dan negara Moralitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari penerapan dan pengamalan nilai-nilai etika agama. dan pengalaman kepemimpinan. (2) Pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain melalui pendidikan dan pelatihan. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan. suku. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama. CATATAN RAPAT 304. suku. dan penataran. (3) USUL PEMERINTAH Kompetensi sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi: a. dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari kejujuran. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan. 273c. seminar. pelatihan struktural/manajemen.NO 303. . (5) (5) 273a. workshop. dan sosial kemasyarakatan. b. kemampuan bekerja sama dan pengabdian kepada masyarakat. dan sosial kemasyarakatan.

dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan. Paragraf 6 Promosi Pasal 69 (1) Promosi PNS dilaksanakan berdasarkan hasil penilaian kompetensi. CATATAN RAPAT 273e. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan. kepemimpinan. kerjasama. integritas. (2) 310. dan moralitas oleh Tim Penilai Kinerja PNS (2) Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh pimpinan Instansi masing-masing (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Paragraf 6 Promosi Pasal 69 (1) Promosi PNS dilaksanakan berdasarkan hasil penilaian kompetensi. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan KASN. kualifikasi.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH salah satu dasar dalam pengangkatan jabatan dan pengembangan karir selanjutnya. dan moralitas oleh Tim Penilai Kinerja PNS. Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh pimpinan Instansi masing-masing. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 308. 306. Pasal 70 (6) Promosi dilakukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi. 307. kualifikasi. integritas. 273f. 47 . (1) Pasal 70 Promosi dilakukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi. (4) Dalam rangka pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setiap instansi wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Anggaran Tahunan masing-masing instansi. (1) 309. penilaian atas prestasi kerja. penilaian atas prestasi kerja. kepemimpinan.

tanpa membedakan jender. (1) Mutasi merupakan perpindahan tugas atau perpindahan lokasi dalam satu Instansi Pusat. dan pertimbangan dari Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masingmasing. dan ipar. 48 . USUL PEMERINTAH kerjasama. antar Instansi Pusat dan Instansi Daerah di dalam dan di luar wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. antarInstansi Pusat. ras. suku. 316. kakak-adik kadung. Penjelasan Pasal Yang dimaksud dengan memiliki hubungan tali perkawinan adalah suami-istri.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR kreativitas. paman-bibi. tanpa membedakan jender. Pembiayaan sebagai dampak dilakukannya mutasi dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. agama. antar Instansi Daerah. satu Instansi Daerah. dan golongan. satu Instansi Daerah. (8) Promosi pegawai Jabatan Administrasi dan Pegawai Jabatan Fungsional dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang setelah mendapat pertimbangan Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masing-masing Pasal 71 (1) Setiap PNS dapat dipindahkan tugas dan/atau lokasi dalam satu Instansi Pusat. (7) Setiap PNS yang memenuhi syarat mempunyai hak yang sama untuk dipromosikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi.antarInstansi Pusat dan Instansi Daerah dalam wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan darah secara langsung adalah ayahibu-anak. (2) Setiap PNS yang memenuhi syarat mempunyai hak yang sama untuk dipromosikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang dalam wilayah kewenanganya. Pasal 71A Pegawai ASN yang memiliki hubungan tali perkawinan dan hubungan darah secara langsung dalam satu unit dimutasi pada unit yang berbeda berdasarkan keputusan Pejabat yang Berwenang. Pasal 71 312. mertua-besan. ras. Promosi pegawai Jabatan Administrasi dan Pegawai Jabatan Fungsional dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang setelah mendapat pertimbangan Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masing-masing. antar Instansi Pusat. (3) Pembiayaan sebagai dampak dilakukannya mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk instansi pusat dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk instansi daerah. (3) 313. kreativitas. agama. dan pertimbangan dari Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masingmasing. (2) 315. (2) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang dalam wilayah kewenangannya. CATATAN RAPAT 311. 314. suku. dan golongan. antar Instansi Daerah. (3) Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan pembiayaan akibat mutasi antara lain adalah Rumah Dinas Jabatan.

Penilaian kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didelegasikan secara berjenjang kepada atasan langsung dari PNS. dengan memperhatikan target. mutasi. dan transparan. pemberian tunjangan dan sanksi. Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif. akuntabel. Yang dimaksud dengan unit yang berbeda adalah setingkat Jabatan Pimpinan Tinggi Utama pada Instansi Pemerintah. Penilaian kinerja PNS dapat juga dilakukan oleh bawahan kepada atasannya. dan promosi. Hasil penilaian kinerja PNS dimanfaatkan untuk menjamin objektivitas dalam pengembangan PNS. Hasil penilaian kinerja PNS dimanfaatkan untuk menjamin objektivitas dalam pengembangan PNS. 317. 319. terukur. pemberian tunjangan dan sanksi. Pasal 72 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan mutasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 diatur dengan Peraturan Menteri. sasaran. sasaran. 49 318. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat unit/organisasi. Hasil penilaian kinerja PNS disampaikan kepada Tim Penilai Kinerja PNS. Penilaian kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didelegasikan secara berjenjang kepada atasan langsung dari PNS. serta untuk mengikuti pendidikan dan (3) (4) (3) (4) (5) (6) (7) (5) (6) (7) . hasil dan manfaat yang dicapai. dan dijadikan sebagai persyaratan dalam pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat. dan dijadikan sebagai persyaratan dalam pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat. (1) (2) Paragraf 7 Penilaian Kinerja Pasal 73 Penilaian kinerja PNS berada dibawah kewenangan Pejabat yang Berwenang pada Instansi masing-masing. mutasi. dengan memperhatikan target. Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif. dan promosi. terukur.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT kakek nenek dan cucu. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat unit/organisasi. dan transparan. Penilaian kinerja PNS dapat juga dilakukan oleh bawahan kepada atasannya. Hasil penilaian kinerja PNS disampaikan kepada Tim Penilai Kinerja PNS. partisipasi. Pasal 72 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan mutasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 diatur dengan Peraturan Menteri Paragraf 7 Penilaian Kinerja Pasal 73 (1) (2) Penilaian kinerja PNS berada dibawah kewenangan Pejabat yang Berwenang pada Instansi masing-masing. serta untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan. partisipasi. akuntabel. hasil dan manfaat yang dicapai.

(4) Gaji PNS yang bekerja pada pemerintah daerah dibebankan pada APBD. Tunjangan sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak boleh melebihi gaji. Pasal 74 Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diatur dengan Peraturan Pemerintah. 291a. PNS juga menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Gaji PNS yang bekerja pada pemerintah pusat dibebankan pada APBN. dan berdasarkan pada kinerja. (2) (1) Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. (2) Gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat memacu produktivitas. (2) Paragraf 8 Penggajian Pasal 75 Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawab PNS. (3) 325. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Gaji PNS diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 77 pada 327. Pasal 74 Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diatur dalam Peraturan KASN. (1) 323. Gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. PNS juga menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 326. Paragraf 9 Tunjangan Pasal 76 Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pelatihan. Paragraf 8 Penggajian Pasal 75 (1) Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab PNS. Gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat memacu produktivitas dan menjamin kesejahteraan PNS. 328. pemerintah pusat dapat memberikan tunjangan kemahalan kepada 50 321. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 320. (1) Paragraf 9 Tunjangan Pasal 76 Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. dihapus (1) Pasal 77 Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. pemerintah daerah dapat . 324. menjamin kesejahteraan PNS. 322.

ayat (2). 333. Paragraf 11 Paragraf 11 Penghargaan Penghargaan Pasal 79 Pasal 79 (1) PNS yang telah menunjukkan kesetiaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan kemahalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR memberikan tunjangan kepada PNS di daerah sesuai dengan tingkat kemahalan. Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan PNS. (1) Selain gaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76. (2) Dalam pemberian tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kejujuran dan pengabdian. 336. pemerintah daerah wajib mengukur tingkat kemahalan berdasarkan indeks harga yang berlaku di daerahnya masing-masing. kecakapan. dan ayat (3) diatur dengan atau berdasarkan dalam Peraturan Pemerintah. (1) PNS yang telah menunjukkan kesetiaan. Pemerintah memberikan jaminan sosial kepada PNS. 335. (1) Selain gaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76. (4) (4) 331. (2) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan PNS. Paragraf 10 Kesejahteraan Pasal 78 CATATAN RAPAT 329. Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) 334. Pemerintah memberikan jaminan sosial kepada PNS. Paragraf 10 Kesejahteraan Pasal 78 330. 332. pengabdian. (3) (3) 297a. (2) Tanda kehormatan sebagaimana dimaksud (2) penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat pada ayat (1) diberikan secara selektif hanya (1) diberikan secara selektif hanya kepada PNS 51 . kejujuran dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugasnya kedisiplinan. USUL PEMERINTAH PNS pusat yang bekerja pada instansi vertikal di daerah sesuai dengan tingkat kemahalan. pemerintah pusat wajib mengukur tingkat kemahalan berdasarkan indeks harga yang berlaku di masing-masing daerah. kecakapan. penghargaan. Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan daerah. (2) Dalam pemberian tunjangan kemahalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan prestasi kerja dalam dianugerahkan tanda kehormatan melaksanakan tugasnya dapat diberikan Satyalencana.

pengangkatan atau kenaikan jabatan peraturan perundang-undangan. promosi jabatan secara istimewa berdasarkan kompetensi. 338. kenaikan pangkat secara istimewa. Tanda Jasa. Pasal 80 (1) USUL PEMERINTAH yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketetentuan peraturan perundang-undangan. c. dan Tanda Kehormatan atas usul Pejabat yang Berwenang.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR kepada PNS yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketetentuan peraturan perundang-undangan. kesempatan prioritas untuk pengembangan diri. (2) dihapus 341. c. Penghormatan dan penghargaan (2) Pengusulan dan Penetapan penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: dilaksanakan sesuai dengan ketentuan b. Pencabutan tanda kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden setelah mendengar pertimbangan Dewan Gelar. Pasal 80 CATATAN RAPAT 337. dan/atau hak protokol dalam acara resmi dan acara kenegaraan Pasal 81 Pasal 81 Hak memakai Satyalancana dicabut apabila PNS yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS atau tidak lagi memenuhi syarat-syarat yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. d. pemberian sejumlah uang sekaligus atau berkala. kesempatan menghadiri acara-acara resmi dan kenegaraan. a. secara istimewa. tanda kehormatan. dan/atau e. (1) Setiap penerima tanda kehormatan berhak (1) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam atas penghormatan dan penghargaan dari Pasal 79 ayat (1) dapat berupa pemberian: negara. Pasal 82 PNS yang dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pemberhentian tidak dengan hormat dicabut haknya untuk memakai tanda kehormatan berdasarkan Undang-undang ini. Pasal 82 Ketentuan lebih lanjut mengenai penghargaan terhadap PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Ketentuan lebih lanjut mengenai penghargaan terhadap PNS sebagaimana dimaksud dalam . 340. (2) 339. b.

d. sanksi administratif. c. atau b. sanksi administratif sedang. perampingan organisasi. b. pelanggaran sedang. mencapai batas usia pensiun. Paragraf 13 Pemberhentian Pasal 86 (1) PNS diberhentikan dengan hormat karena: a. (2) Ketentuan Iebih lanjut mengenai mekanisme pemberian sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur dengan Peraturan Pemerintah. pelanggaran ringan. Paragraf 12 Sanksi Pasal 83 (1) PNS yang melanggar sanksi administratif. pelanggaran berat. sanksi perdata. c. b. dan/atau Pasal 81 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Paragraf 12 Sanksi Pasal 83 PNS yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi. meninggal dunia. mencapai batas usia pensiun. Pasal 80. USUL PEMERINTAH 79. 343.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 79. (2) Jenis sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. 347. Pasal 80. meninggal dunia. Pasal 85 (1) Sanksi yang diberikan kepada PNS berupa: a. 344. sanksi administratif ringan. 53 . 345. atas permintaan sendiri. 346. dan/atau c. tidak cakap jasmani dan/atau rohani Paragraf 13 Pemberhentian Pasal 86 (1) PNS diberhentikan dengan hormat karena: a. b. Pasal 84 Jenis pelanggaran yang dilakukan oleh PNS terdiri dari: a. d. sanksi administratif berat. atau Penjelasan Pasal: tidak memiliki kompetensi dan tidak mencapai sasaran kerja selama 2 (dua) tahun akibat halhal diluar kemampuan ybs. dan/atau Pasal 81 diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau e. disiplin dikenakan CATATAN RAPAT 342. b. atas permintaan sendiri. dan/atau c. perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan pensiun dini. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai disiplin dan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. 350. tidak setia kepada Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 349. tidak memiliki kompetensi dan tidak mencapai sasaran kerja selama 2 (dua) tahun. atau e. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. merangkap jabatan lain baik dalam jabatan negara maupun jabatan politik. (2) PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena: b. (3) PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena: a. b. melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tidak setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban. c. f. melanggar sumpah/janji dan sumpah/janji jabatan. c. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih (3) PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena: a. tanpa ijin atasan yang berwenang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. merangkap jabatan lain baik dalam jabatan negara maupun jabatan politik. d. 54 . melanggar sumpah/janji dan sumpah/janji jabatan. atau c. USUL PEMERINTAH e. b. d. melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat. melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat. atau d. melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau e. c. (2) PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena: a. tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban. (4) PNS yang diberhentikan tidak dengan hormat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b tidak dapat diangkat kembali sebagai CATATAN RAPAT 348. b.

Paragraf 14 Pensiun Pasal 88 Pensiun PNS dan pensiun janda/duda PNS diberikan sebagai jaminan hari tua dan sebagai penghargaan atas pengabdian PNS. Pasal 87 PNS diberhentikan sementara karena menjadi tersangka melakukan tindak pidana kejahatan sampai mendapat putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap Paragraf 14 Pensiun Pasal 88 (1) Jaminan Pensiun PNS dan Jaminan Janda/Duda PNS dan Jaminan Hari Tua PNS diberikan sebagai perlindungan kesinambungan penghasilan hari tua. Pasal 87 PNS diberhentikan sementara karena menjadi tersangka melakukan tindak pidana kejahatan sampai mendapat putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 352. 354. (2) Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup jaminan pensiun dan jaminan hari tua yang diberikan dalam rangka program jaminan sosial nasional. sebagai hak dan sebagai penghargaan atas pengabdian PNS. Pasal 89 Pasal 89 55 . 353.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH pegawai ASN dan/atau menduduki jabatan ASN. 355. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan pensiun dini diatur dengan Peraturan Pemerintah. (4) Sebelum ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku maka ketentuan mengenai Pensiun dan Tabungan Hari Tua dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pensiun dan Tabungan Hari Tua. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku setelah Undangundang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial berlaku efektif. CATATAN RAPAT 351.

Pasal 90 (1) Sumber pembiayaan pensiun berasal dari iuran PNS yang bersangkutan dan pemerintah selaku pemberi kerja dengan perbandingan 1:2 (satu banding dua). (2) PNS yang pada saat berlakunya UndangUndang ini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum mencapai Batas Usia Pensiun dan sedang menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi dapat diperpanjang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini. USUL PEMERINTAH (1) PNS yang berhenti bekerja berhak atas jaminan pensiun dan jaminan hari tua PNS sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan. 357. . Pasal 89A (1) Ketentuan mengenai Batas Usia Pensiun sebagaimana dimaksud pada Pasal 89 ayat (2).NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (1) PNS yang berhenti dengan hormat berhak menerima pensiun apabila telah mencapai batas usia pensiun. Pasal 90 (1) Sumber pembiayaan Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua PNS berasal dari Pemerintah selaku pemberi kerja dan iuran PNS yang bersangkutan (2) Pengelolaan program Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua PNS dilakukan sesuai 56 359. (4) Usia pensiun bagi Jabatan Fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (1) Pengelolaan dana pensiun diselenggarakan oleh pihak ketiga berdasarkan peraturan 363. (4). (4) Usia pensiun bagi Jabatan Eksekutif Senior adalah 60 (enam puluh) tahun. dan (5) mulai berlaku 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang ini. 362. (2) PNS yang telah mencapai batas usia pensiun. 358. CATATAN RAPAT 356. 360. (2) PNS yang telah mencapai batas usia pensiun. (5) Usia pensiun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Utama adalah 60 (enam puluh) tahun. diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. (4) Usia pensiun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama adalah 58 (lima puluh delapan) tahun. diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. (2) Usia pensiun bagi Pejabat Administrasi adalah 56 (lima puluh enam) tahun. (3) Usia pensiun bagi Jabatan Administrasi adalah 58 (lima puluh delapan) tahun. 361. (3) Usia pensiun bagi Jabatan Fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

b. Pengadaan. 368. Paragraf 15 Perlindungan Pasal 91 (1) Pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum serta perlindungan keselamatan dan perlindungan kesehatan kerja terhadap PNS dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR perundang-undangan. 57 367. kecelakaan kerja. b. kesehatan lingkungan kerja. dan/atau risiko lain Bagian Ketiga Manajemen Pegawai Tidak Tetap Pemerintah Paragraf 1 Umum Pasal 92 (1) Manajemen Pegawai Tidak Tetap Pemerintah meliputi: a. 370. bencana alam. c. 366. kebakaran pada waktu kerja. kesehatan lingkungan kerja. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pensiun PNS diatur dengan Peraturan Pemerintah. . 365. 371. Honorarium. (3) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja. USUL PEMERINTAH dengan ketentuan undangan dihapus Peraturan Perundang- CATATAN RAPAT 364. kecelakaan kerja. Penetapan kebutuhan. Pengadaan Paragraf 15 Perlindungan Pasal 91 (1) Pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum serta perlindungan keselamatan dan perlindungan kesehatan kerja terhadap PNS dalam melaksanakan tugas dan fungsinya (2) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya dan memperoleh bantuan hukum terhadap kesalahan yang dilakukan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sampai putusan terhadap perkara tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. Penetapan kebutuhan. kebakaran pada waktu kerja. 369. (3) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja. bencana alam. (2) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya dan memperoleh bantuan hukum terhadap kesalahan yang dilakukan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sampai putusan terhadap perkara tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. dan/atau risiko lain Bagian Ketiga Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Paragraf 1 Umum Pasal 92 (1) Manajemen PPPK meliputi: a.

Perlindungan. Paragraf 3 Pengadaan Pasal 94 (5) Pengadaan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pada instansi dan . CATATAN RAPAT 372. Tunjangan. (4) Jenis-jenis jabatan yang dapat diisi oleh PPPK untuk penetapan kebutuhan dan perencanaan pengadaanya diatur dalam Peraturan Presiden. (2) Ketetentuan lebih lanjut mengenai manajemen Pegawai Tidak Tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri. 58 338a. 377. dan status Pegawai Tidak Tetap Pemerintah yang diperlukan untuk melaksanakan tgas utama secara efektif dan efisien untuk mendukung beban kerja Instansi dan Perwakilan. (2) Ketetentuan lebih lanjut mengenai manajemen PPPK diatur dengan Peraturan Pemerintah. Honorarium. 374. Kesejahteraan. f. 375. Paragraf 2 Penetapan Kebutuhan Pasal 93 Penetapan kebutuhan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah merupakan analisis keperluan jumlah. dan ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri dengan memperhatikan pendapat Menteri Keuangan dan Pertimbangan BKN. Paragraf 3 Pengadaan Pasal 94 (3) Pengadaan calon PPPK merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pada instansi. jenis. Tunjangan. e. jenis. Kesejahteraan. 373. dan status PPPK yang diperlukan untuk melaksanakan tugas utama secara efektif dan efisien untuk mendukung beban kerja Instansi. dan f.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR c. Paragraf 2 Penetapan Kebutuhan Pasal 93 (1) Penetapan kebutuhan PPPK merupakan analisis keperluan jumlah. 376. dan Perlindungan. e. USUL PEMERINTAH d. d. (2) Penetapan kebutuhan PPPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan perencanaan kebutuhan 5 (lima) tahun dengan rincian pertahun. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat(1).

(6) Pengadaan Calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah di Instansi dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh instansi dan Perwakilan. Pasal 96 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon PPPK setelah memenuhi persyaratan. seleksi. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh instansi dan yang dimiliki oleh pelamar. dan pengangkatan menjadi PPPK. USUL PEMERINTAH (4) Pengadaan calon PPPK di instansi dilakukan berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja instansi. Pasal 95 Setiap instansi mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat mengenai adanya lowongan PPPK. seleksi umum. Pasal 97 (1) Seleksi penerimaan calon PPPK dilaksanakan oleh instansi untuk mengevaluasi secara obyektif kompetensi. seleksi umum. (5) Pengadaan calon PPPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. pelamaran. Seleksi calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah teriri dari 3 (tiga) tahap. pengumuman hasil seleksi. (3) 59 . (7) Pengadaan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan.NO 378. 381. pengumuman lowongan. kualifikasi. Pasal 96 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah setelah memenuhi persyaratan. pengumuman lowongan. yaitu seleksi administrasi. dan seleksi khusus (3) Seleksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh instansi masing-masing untuk memeriksa kelengkapan persyaratan CATATAN RAPAT 379. seleksi. dan seleksi khusus Seleksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan masing-masing untuk memeriksa kelengkapan persyaratan 383. kualifikasi. dan pengangkatan menjadi Pegawai Tidak Tetap Pemerintah Pasal 95 Setiap instansi dan perwakilan mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat mengenai adanya lowongan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. (1) Pasal 97 Seleksi penerimaan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan untuk mengevaluasi secara obyektif kompetensi. 382. pelamaran. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh instansi dan yang dimiliki oleh pelamar. pengumuman hasil seleksi. yaitu seleksi administrasi. (2) 384. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR perwakilan. 380. (2) Seleksi calon PPPK terdiri dari 3 (tiga) tahap.

dan harus mengikuti semua proses serta memenuhi persyaratan untuk dapat diangkat menjadi PNS. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh pelamar. Pasal 98 CATATAN RAPAT 386.NO 385. 352a. Pasal 99 Pengangkatan calon PPPK ditetapkan dengan keputusan Pejabat yang Berwenang dan berdasarkan Perjanjian Kerja. Pengumuman lowongan PPPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilaksanakan secara terbuka. Pasal 99 Pengangkatan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah ditetapkan dengan keputusan Pejabat yang Berwenang. Pasal 99A (1) PPPK tidak dapat diangkat menjadi PNS. Paragraf 4 Paragraf 4 60 390. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh pelamar. (2) PPPK yang berkeinginan pindah status menjadi PNS harus mengundurkan diri sebagai PPPK. kualifikasi. 352b. (5) (6) 388. luas. dan informatif oleh Instansi dan Perwakilan masingmasing. 387. . (4) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Instansi dan Perwakilan yang menerima pendaftaran calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah memberikan nomor peserta penyaringan bagi pelamar yang sudah lulus persyaratan administrasi Seleksi Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan masing-masing Seleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Instansi dan Perwakilan dilakukan dengan membandingkan secara obyektif kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatan dengan kompetensi. luas. Pengumuman lowongan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilaksanakan secara terbuka. Pasal 98 USUL PEMERINTAH (4) Instansi dan Perwakilan yang menerima pendaftaran calon PPPK memberikan nomor peserta penyaringan bagi pelamar yang sudah lulus persyaratan administrasi (5) Seleksi Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan masing-masing (6) Seleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Instansi dilakukan dengan membandingkan secara obyektif kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatan dengan kompetensi. dan informatif oleh instansi. 389. kualifikasi.

394. Paragraf 6 Kesejahteraan Pasal 102 (3) Selain honorarium dan tunjangan (3) Selain honorariumGaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 100 dan sebagaimana dimaksud dalam pasal 100 dan pasal 101. Paragraf 5 Tunjangan Pasal 101 Selain honorarium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100. PPPK dapat menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pemerintah. 396. 393. (2) HonorariumGaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memacu produktivitas dan menjamin kesejahteraan PPPK. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah dapat menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada (4) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan 61 . 392. 397. 398.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Honorarium USUL PEMERINTAH Honorarium Gaji Pasal 100 (1) Pemerintah wajib membayar honorariumGaji yang adil dan layak kepada PPPK sesuai dengan beban pekerjaan sesuai perjanjian kerja. Pemerintah memberikan jaminan sosial kepada Pegawai Tidak Tetap sosial kepada PPPK. 395. Pasal 100 (1) Pemerintah wajib membayar honorarium yang adil dan layak kepada Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawab. Paragraf 6 Kesejahteraan Pasal 102 CATATAN RAPAT 391. Paragraf 5 Tunjangan Pasal 101 Selain honorariumGaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100. (4) HonorariumGaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (3) Honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (2) Honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memacu produktivitas dan menjamin kesejahteraan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. Pemerintah memberikan jaminan pasal 101.

405. dan Kesejahteraan PPPK diatur dengan Peraturan Pemerintah. tugas dan fungsinya. dan/atau risiko risiko lain. dan perlindungan kesehatan kerja terhadap Pegawai perlindungan kesehatan kerja terhadap PPPK Tidak Tetap Pemerintah dalam melaksanakan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. memperoleh kekuatan hukum tetap. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 399. bencana kebakaran pada waktu kerja. BAB IX PENCALONAN DAN PENGANGKATAN DALAM JABATAN NEGARA Pasal 104 Pegawai ASN dapat mencalonkan diri untuk jabatan Negara tertentu. Pemerintah wajib memberikan perlindungan (1) Pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum. . (2) Perlindungan keselamatan dan perlindungan (2) Perlindungan keselamatan dan perlindungan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan terhadap ayat (1) meliputi perlindungan terhadap risiko risiko gangguan keamanan kerja. kesehatan lingkungan kerja. dan hukum. kerja. dan/atau kesehatan lingkungan kerja. 404. kebakaran pada waktu kerja.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. kecelakaan kerja. (1) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud (1) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya dan dalam melaksanakan tugasnya dan memperoleh memperoleh bantuan hukum terhadap bantuan hukum terhadap kesalahan yang kesalahan yang dilakukan dalam dilakukan dalam pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas dan fungsinya sampai fungsinya sampai putusan terhadap penjara putusan terhadap penjara tersebut tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. lain. 62 403. Paragraf 7 Perlindungan Pasal 103 Pasal 102A Ketentuan lebih lanjut mengenai Gaji. (5) 400. Paragraf 7 Perlindungan Pasal 103 402. perlindungan keselamatan. kecelakaan gangguan keamanan kerja. Tunjangan. BAB IX PENCALONAN DAN PENGANGKATAN DALAM PEJABAT NEGARA Pasal 104 Pegawai ASN dapat menjadi pejabat Negara dan pimpinan atau anggota lembaga non struktural. 401. bencana alam. alam. perlindungan keselamatan. PPPK.

b. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 105 Jabatan Negara sebagaimana dimaksud dalam asal 104 adalah : a. huruf. dan Anggota Mahkamah Konstitusi. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang-Undang. b. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Ketua. Presiden dan Wakil Presiden. Wakil Ketua. Ketua. dan Anggota Komisi Yudisial. dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. c. Ketua. e. dan huruf k diberhentikan Sementara dari jabatan yang didudukinya dan tidak kehilangan status sebagai PNS. Kepala perwakilan Repbulik Indonesia di Luar Negeri yang berkedudukan sebagai Duta besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Ketua Muda dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung serta Ketua. j. Pasal 106 (1) Pegawai ASN dari PNS yang diangkat pada Jabatan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 huruf f. Ketua. Wakil Ketua. dan Anggota Komisi Yudisial. Ketua. g. Kepala perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri yang berkedudukan sebagai Duta besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. f. Ketua. d. m. Wakil Ketua. huruf I. Ketua. Bupati/Walikota dan wakil Bupati/Wakil Walikota. Ketua. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. h. dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. Ketua Muda dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung serta Ketua. dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah. dan Anggota Mahkamah Konstitusi. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Ketua. Wakil Ketua. dan n. g. USUL PEMERINTAH Pasal 105 Jabatan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 adalah : a. k. huruf h. Ketua. i. Wakil Ketua. g. Menteri dan Jabatan setingkat Menteri. Wakil Ketua. c. Ketua. Wakil Ketua. Ketua. Ketua. dan Anggota Komisi Pemilihan Umum. f. Presiden dan Wakil Presiden. k. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang-Undang. dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. d. i. Gubernur dan Wakil Gubernur. Gubernur dan Wakil Gubernur. Bupati/Walikota dan wakil Bupati/Wakil Walikota. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Menteri dan Jabatan setingkat Menteri. CATATAN RAPAT 407. dan l. e. dan Hakim pada semua Badan Peradilan.NO 406. dan Anggota badan Pemeriksa Keuangan. (1) Pasal 106 Pegawai ASN dari PNS yang diangkat pada Jabatan Negara dan pimpinan atau anggota lembaga non struktural sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 diberhentikan Sementara dari jabatan yang didudukinya dan tidak kehilangan status sebagai PNS kecuali ditetapkan lain dalam Undang63 . j. Wakil Ketua. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Ketua. l. dan Hakim pada semua Badan Peradilan. huruf j. h.

dihapus 411. huruf b. huruf l.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Undang. (2) Pegawai ASN dari PNS yang tidak menjabat lagi pada Jabatan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaktifkan kembali sebagai PNS. 413. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 408. (3) Pegawai ASN dan PNS yang mencalonkan diri untuk jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 105 huruf a. mewujudkan jiwa korps ASN sebagai pemersatu bangsa 64 . pengaktifan kembali dan hak-hak PNS yang diangkat menjadi pejabat negara dan pimpinan/anggota lembaga non struktural diatur dalam Peraturan Pemerintah. 410. huruf c. dan huruf m. huruf d. bersifat non kedinasan untuk menyampaikan aspirasinya. jabatan administrasi atau jabatan fungsional. BAB X ORGANISASI Pasal 109 412. menjaga kode etik profesi dan standar Menteri pelayanan profesi ASN: dan b. (2) (3) Pegawai ASN dari PNS yang tidak menjabat lagi pada Jabatan Negara dan Lembaga non Struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaktifkan kembali sebagai PNS. Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi (2) Korps Profesi Pegawai ASN RI memiliki tujuan: Pegawai ASN diatur dengan Peraturan a. Pasal 108 Ketentuan lebih lanjut mengenai Pegawai ASN yang menduduki jabatan Negara diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 108 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengangkatan. 409. mengajukan permohonan berhenti sebagai Pegawai ASN sejak masa pencalonan Pasal 107 Pejabat eksekutif senior berstatus Pegawai negeri Sipil yang tidak menjabat lagi pada jabatan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dapat menduduki jabatan eksekutif senior. pemberhentian. (2) Pegawai ASN merupakan anggota Korps (1) Pegawai ASN berhimpun dalam wadah Korps Pegawai ASN Republik Indoneisa yang Profesi Pegawai ASN Republik Indonesia. (1) BAB X ORGANISASI Pasal 109 414. Pegawai ASN dari PNS yang mencalonkan diri untuk jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 105 huruf c mengajukan permohonan berhenti sebagai Pegawai ASN sejak masa pencalonan.

419. memberikan perlindungan hukum dan advokasi kepada anggota Korps Profesi ASN RI terhadap dugaan pelanggaran sistem merit dan mengalami masalah hukum dalam melaksanakan tugas. Pasal 110 (1) Untuk menjamin efisiensi. setiap Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memutakhirkan data secara berkala dan menyampaikannya kepada BKN. 416. memberikan rekomendasi kepada Majelis Kode etik instansi terhadap pelanggaran kode etik profesi dan kode perilaku profesi. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 415. c. b. setiap Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memutakhirkan data secara berkala dan menyampaikannya kepada BKN. (3) Untuk menjamin keterpaduan dan akurasi data dalam Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. 65 418. efektivitas.NO 376a. efektivitas. (3) Untuk menjamin keterpaduan dan akurasi data dalam Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. menyelenggarakan usaha-usaha untuk peningkatan kesejahteraan anggota Korps Profesi ASN RI sesuai dengan peraturan perudang-undangan (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Korps Profesi Pegawai ASN diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara nasional dan terintegrasi antar berbagai Instansi. dan akurasi pengambilan keputusan dalam manajemen ASN diperlukan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. dan akurasi pengambilan keputusan dalam manajemen asn diperlukan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. . pembinaan dan pengembangan profesi ASN. 417. BAB XI BAB XI SISTEM INFORMASI APARATUR SIPIL NEGARA SISTEM INFORMASI APARATUR SIPIL NEGARA Pasal 110 (1) Untuk menjamin efisiensi. d. (2) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara nasional dan terintegrasi antar berbagai Instansi. (3) Dalam rangka mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Korps Profesi ASN RI memiliki fungsi : a.

riwayat penghargaan/tanda jasa/tanda kehormatan. 426. riwayat pendidikan formal dan non formal. e. b. daftar penilaian pekerjaan. dan i. riwayat pengalaman berorganisasi. d. riwayat jabatan dan kepangkatan. riwayat pendidikan dan latihan. (5) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara dapat diakses dan dipergunakan oleh BKN dan instansi terkait baik untuk keperluan pemutakhiran data maupun untuk pengambilan keputusan. mudah diakses dan memiliki sistem keamanan yang dipercaya. 424. (2) Upaya administratif sebagaimana dimaksud . (2) Upaya administratif sebagaimana dimaksud 66 423. (3) Data Pegawai ASN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. mudah diakses dan memiliki sistem keamanan yang dipercaya. riwayat jabatan dan kepangkatan. surat keputusan. h. 422. CATATAN RAPAT 421. b.NO 420. 425. BAB XII PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 112 (1) Sengketa Pegawai ASN diselesaikan melalui upaya administratif dan Peradilan Tata Usaha Negara. Pasal 111 (1) Sistem informasi aparatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) memuat seluruh informasi dan data Pegawai ASN. data riwayat hidup. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (4) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berbasiskan teknologi informasi yang mudah diaplikasikan. riwayat pengalaman berorganisasi. riwayat gaji. f. USUL PEMERINTAH (4) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berbasiskan teknologi informasi yang mudah diaplikasikan. surat keputusan. daftar penilaian pekerjaan. riwayat pendidikan formal dan non formal. g. h. (2) Data Pegawai Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. dan i. g. f. d. c. riwayat pendidikan dan latihan. BAB XII PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 112 (1) Sengketa Pegawai ASN diselesaikan melalui upaya administratif dan Peradilan Tata Usaha Negara. riwayat penghargaan/tanda jasa/tanda kehormatan. Pasal 111 (2) Sistem informasi aparatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) memuat seluruh informasi dan data Pegawai ASN. riwayat gaji. c. e. data riwayat hidup.

429. 428. Pasal 114 Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN dilarang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. BAB XIII LARANGAN Pasal 113 Setiap orang dilarang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. BAB XIII LARANGAN Pasal 113 Setiap orang dilarang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. (3) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum dengan memuat alasan keberatan dan tembusannya disampaikan kepada pejabat yang berwenang menghukum. 431. 433. Pasal 114 Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN dilarang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. 432. (4) Banding administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada Badan Pertimbangan Aparatur Sipil Negara. (3) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum dengan memuat alasan keberatan dan tembusannya disampaikan kepada pejabat yang berwenang menghukum. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah. (4) Banding administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada Badan Pertimbangan Aparatur Sipil Negara.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pada ayat (1) terdiri dari keberatan dan banding administratif. USUL PEMERINTAH pada ayat (1) terdiri dari keberatan dan banding administratif. Pasal 115 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN CATATAN RAPAT 427. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 115 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN 67 . 430.

USUL PEMERINTAH secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Pasal 118 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon pejabat eksekutif senior dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. 438. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri Panitia seleksi penerimaan calon Jabatan Pimpinan Tinggi dilarang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu. Pasal 116 Setiap orang dilarang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada anggota KASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam seleksi pengisian pejabat Eksekutif Senior.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 119 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dipidana dengan pidana penjara paling . 437. dihapus CATATAN RAPAT 434. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. Pasal 117 Pasal 117 Anggota KASN atau panitia seleksi penerimaan calon pejabat Eksekutif Senior dilarang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu. 435. membayar. membayar. Pasal 118 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Jabatan Pimpinan Tinggi dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 119 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dipidana dengan pidana penjara paling 68 Arahan wapres ketentuan pidana mengacu pada RUU KUHAP DAN RUU KUHP 436.

000. 50. 50.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. 50.000.000. 500. 250.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000. Pasal 122 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada anggota KASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam seleksi pengisian pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000. 250. 250.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. Pasal 122 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Panitia Seleksi agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam seleksi pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000. 1000. Pasal 121 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain sebagaimana dimksud dalam Pasal 115 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000. 100.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 441.000.00 (lima ratus juta rupiah) USUL PEMERINTAH singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 250.000.000.00 (seratus juta rupiah) CATATAN RAPAT 439.000.000.000.000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.00 (lima ratus juta rupiah) Pasal 121 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain sebagaimana dimksud dalam Pasal 115 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 50. Pasal 120 Pegawai atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN yang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000.000.000.00 (seratus juta rupiah) 69 .000. 100.000. 440.000. Pasal 120 Pegawai atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN yang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500. 1000.000.

000. 1.00 (satu miliar rupiah).000. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. Pasal 123 Anggota KASN atau panitia seleksi penerimaan calon pejabat Eksekutif Senior yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu.000. membayar.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. membayar.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 (satu miliar rupiah). 350. Pasal 124 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Jabatan Pimpinan Tinggi dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 (lima ratus juta rupiah). 200. 100. 200. 500.000. 445. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 Ketentuan mengenai pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 berlaku bagi Pegawai ASN yang diangkat sejak 1 Januari 2013.000.000.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). 500.000.000. 444.000. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000. Pasal 123 Panitia seleksi penerimaan calon jabatan Pimpinan Tinggi yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu.000.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). 350. 70 . 443.000. 1. Pasal 124 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon pejabat Eksekutif Senior dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000. USUL PEMERINTAH dan paling banyak Rp.00 (lima ratus juta rupiah).000. 100.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dan paling banyak Rp.000.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 Dihapus CATATAN RAPAT 442.

Pasal 128 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus sudah ditetapkan paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 127 Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 dan pasal 111 dilaksanakan secara nasional paling lambat tahun 2013. Pasal 129 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerah disebut sebagai Pegawai ASN. 451.NO 446. Tim seleksi menyampaikan 7 (tujuh) orang KASN (1) Kebijakan dan Manajemen ASN yang diatur terpilih kepada Presiden untuk ditetapkan paling dalam Undang-Undang ini dilaksanakan dengan lambat 3 (tiga) bulan setelah Undang-undang ini memperhatikan kekhususan daerah-daerah diundangkan. 71 . Pasal 130A 449. Pasal 127 Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 dan pasal 111 dilaksanakan secara nasional paling lambat tahun 2012. tertentu. daerah terpencil. 448. daerah konflik. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 130 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1974 Nomor 55. 447. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1974 Nomor 55. Pasal 128 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus sudah ditetaplam paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerah disebut sebagai Pegawai ASN. Pasal 129 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. daerah tertinggal. Pasal 130 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 450. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 126 USUL PEMERINTAH Pasal 126 CATATAN RAPAT Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan daerah-daerah tertentu misalnya: daerah yang memiliki otonomi khusus. daerah istimewa dan lain-lain.

semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kepegawaian harus disesuaikan . Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55. semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kepegawaian harus disesuaikan 72 453. Pasal 131 Ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kode etik dan penyelesaian pelanggaran terhadap kode etik bagi jabatan fungsional tertentu dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 132 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. CATATAN RAPAT 452. ketentuan tentang Kepegawaian Dearah yang diatur dalam Bab V Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125) dan peraturan pelaksananya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 133 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. 454. semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UndangUndang ini. Pasal 132 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 131 Ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kode etik dan penyelesaian pelanggaran terhadap kode etik bagi jabatan fungsional tertentu dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. Pasal 133 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.

. Agar setiap orang mengetahuinya. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. REPUBLIK INDONESIA CATATAN RAPAT 455.. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal… MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.. Disahkan di Jakarta pada tanggal. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal… MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. NOMOR ..NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. NOMOR . 456. . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. Pasal 134 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. USUL PEMERINTAH dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA TAHUN . Pasal 134 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . 73 ... Disahkan di Jakarta pada tanggal.. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful