Cermin Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

113. Gigi Desember 1996

Daftar Isi :
2. Editorial 4. English Summary Artikel 5. Periodontologi dari Masa ke Masa – SW Prayitno 10. Peranan Splin Permanen dalam Perawatan Periodontal Yuniarti Soeroso 15. Status Penyakit Gigi dan Mulut dan Perilaku Anak terhadap Kesehatan Gigi di Klinik Afia, Beji, Depok I - Yuyus Rusiawati 17. Kalkulus - Hubungannya dengan Penyakit Periodontal dan Penanganannya - Sri Lelyati SU 21. Frekuensi Nyeri pada Perawatan Saluran Gigi Anterior Sekali Kunjungan - penelitian pendahuluan - Wiwi Werdiningsih, Narlan Sumawinata, Ansar Bansar 23. Regenerasi Jaringan Periodontium Setelah Perawatan Periodontal - Yuniarti Syafril 28. Antiseptik Sebagai Obat Kumur - peranannya terhadap pembentukan plak gigi dan radang gusi - Prijantojo 33. Peranan Chlorhexidine terhadap Kelainan Gigi dan Rongga Mulut - Prijantojo 38. Pencemaran Air Raksa di Lingkungan Kerja Dokter Gigi Harmas Yazid Yusuf 41. Efek Merokok terhadap Rongga Mulut - Gupran Ruslan 44. Perilaku Mantan Pengguna Sarana Air Bersih (SAB) di Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan di Sulawesi Selatan Siti Sapardiyah Santoso, Riris Nainggolan, Sunanti ZS 48. Kartu Menuju Sehat Untuk Menilai Cara Hidup Sehat – Andri Sudjatmoko 51. Proses Penemuan Obat Baru - Boenjamin Setiawan 54. Perhitungan Waktu Untuk Penyinaran Tumor dengan Pesawat Teleterapi Cobalt-60 Susetyo Tijoko 58. Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran tahun 1996 61. Pengalaman Praktek 62. Abstrak 64. RPPIK

Karya Sriwidodo WS

Cermin Dunia Kedokteran kali ini muncul dengan topik pembahasan yang agak berbeda, yaitu mengenai berbagai aspek kesehatan gigi - selain untuk menyegarkan kembali pengetahuan para dokter gigi yang menjadi pembaca majalah kami, juga sekaligus untuk memperluas wawasan para sejawat dokter - umum maupun spesialis mengenai hal yang sebenarnya pernah didapat semasa pendidikan dahulu. Selamat membaca.

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996

1984. Baltimore. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. DR. Jakarta. Swartz MN. Siti Wuryan A. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis.H. 113. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Kusumanto Setyonegoro Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. bila tujuh atau lebih. Contoh: Basmajian JV. bila menggunakan bahasa Indonesia. – Prof. – Prof. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. sebutkan semua.Ort Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti. Sri Oemijati. Chandra Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.O.D – DR. Philadelphia: WB Saunders. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia.O. Sodeman WA. – Prof. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 PENERBIT Grup PT Kalbe Farma PENCETAK PT Temprint REDAKSI KEHORMATAN – Prof. Sudarto Pringgoutomo Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. – Prof. Pathogenetic properties of invading microorganisms. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Dr. Ranti Atmodjo PETUNJUK UNTUK PENULIS . Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. B. Dr Oen L. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan. Surabaya.10 halaman kuarto. DR. Semarang. Jakarta. 4. eds. Letjen Suprapto Kav. B. Cermin Dunia Kedokt. Jakarta. – Prof. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. 1st ed. DR. Dr. Jakarta – Prof. Sjahbanar Soebianto Zahir MSc. Kirby RL. Prayitno SKM. Jakarta – DR. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. kedokteran dan farmasi. MScD. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Cempaka Putih. Dalam: Sodeman WA Jr. Hal 174-9. Hendro Kusnoto Drg. Bila terpisah dalam lembar lain. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.Sp. Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta. akan diberitahu secara tertulis. Dr. Departemen Kesehatan RI. London: William and Wilkins. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran.Cermin Dunia Kedokteran International Standard Serial Number: 0125 – 913X KETUA PENGARAH Prof. Gedung Enseval. 1974. 90 : 95-9). disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979.Prof. 1996 3 . DR. P. DEWAN REDAKSI – Dr. Bila tidak ada. Letjen Suprapto Kav. Jakarta 10510 P. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Box 3117 Jkt. Medical Rehabilitation. Cempaka Putih Jakarta 10510. satu muka. Bila pengarang enam orang atau kurang.. PhD. Drg. R. 4208171/4216223 Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. 4. JI. Telp. Pathologic physiology: Mechanisms of diseases. l990 64 : 7-10. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Box 3117 Jakarta. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. 457-72. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. bila telah pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. MSc KETUA PENYUNTING Dr Budi Riyanto W PEMIMPIN USAHA Rohalbani Robi PELAKSANA Sriwidodo WS TATA USAHA Sigit Hardiantoro ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran Gedung Enseval Jl. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Weinstein L. Setiawan Ph.

Hasan Sadikin General Hospital. Permanent splint includes fixed bridge. Indonesia MERCURY POLLUTION IN DENTISTS’ WORKING ENVIRONMENT Harmas Yazid Yusuf Dept. of Dental and Oral Medicine.. fixed or removable. 113: 10-4 Environmental contamination by mercury may cause some hazardous effects on human health. the review is restricted only to the effects of smoking on oral mucosa. Faculty of Dentistry. University of Indonesia. removable partial prosthesis or resin composite filling. 1996: 113:41-3 Everyone hears only what he understands (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. 1996:113:38-40 The literature related to the effects of tobacco smoking on the oral cavity is reviewed. Splint can be temporary of permanent. Jakarta. It is usually caused by industrial waste but also can be found in the dentist working environment. In this paper. oral bacteria. The elucidation of those effects is presented where the characterishics of tobacco component are expounded previously. 113. Indonesia EFFECTS OF SMOKING ON ORAL CAVITY Gupran Ruslan Muaroteweh General Hospital. 1996. extracoronal or intracoronal. Hyy Cermin Dunia Kedokt. oral hygiene and periodonhium. The other effects have been well described elsewhere and beyond the scope of this literature review. Some data showed that permanent splint combined with maintenance therapy can en hance the recovery of periodonal fissue. Bandung. Indonesia Splint is a device used to stabilize unstable teeth due to injury or disease.English Summary THE ROLE OF PERMANENT SPLINT IN PERIODONTAL CARE Yuniarti Soeroso Perlodontology Dept. Brw Cermin Dunia Kedokt. Central Kalimantan. 1996 . Gr Cermin dunia Kedokt.

Cermin Dunia Kedokteran No. Praktek-praktek mengenai pencegahan penyakit ini telah dibuktikan semenjak 300 tahun S. Di antara tugas orang muslim yang ditentukan (Hadits) adalah keharusan membersihkan din lima kali setiap hari. tangkai pohon Salvadora Persica. sebelum menunaikan ibadah shalat. didahului secara singkat mengenai garis besar sejarah perkembangannya. Berbagai bentuk penyakit jaringan ini telah mulai dikenal manusia sejak permulaan sejarah. menganjurkan pencegahan penyakit gusi dengan obat-obat kumur Besar kita Muhammad SAW yang dilahirkan di Mekah pada tahun 570 telah mengenalkan dasar-dasar kebersihan mulut kepada kaumnya dengan cara memasukkannya ke dalam syariah agama. tulang penyangga gigi dan jaringan ikat di sekitar gigi dalam keadaan sehat dan sakit yang meliputi juga cara pencegahan dan perawatannya.M. 113. Bukti lain yang dapat diungkapkan adalah bahwa pada abad 15 bangsa Inggris masih kurang memberikan perhatian pada masalah kebersihan pribadi. Caracara yang dianjurkan oleh Nabi tersebut sampai sekarang masih digunakan. di Sumeria dengan ditemukannya peninggalan kuno berupa tusuk gigi emas. Ratu Elizabeth I sendiri menjelaskan bahwa beliau hanya mandi satu kali dalam satu bulan. Tetapi pembahasan mengenai penyebab dan metode perawatannya baru muncul pada abad 15. yang mengimpor barang tersebut dari Perancis. Islam telah mengajarkan pentingnya kebersihan raga dan jiwa. SEJARAH PERIODONTOLOGI(1) Studi dalam paleopatologi menjelaskan bahwa penyakit periodontal dengan tanda-tanda kehilangan tulang telah menyerang manusia dan berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan. Meskipun demikian perlunya membersihkan mulut sering ditekankan dalam tulisan-tulisan pada waktu itu. Penggunaan tusuk gigi sangat populer di antara orang-orang pandai dan kaya. Sikat gigi ternyata tidak biasa digunakan meskipun beberapa orang membersihkan giginya dengan jan yang dibungkus kain. Hubungan antara karang gigi dan penyakit periodontal sering dibahas. termasuk melakukan kumurkumur 5 x 3 atau 15 kali sehani. Nabi juga menganjurkan membersihkan gigi dengan siwak atau miswak. Dalam makalah ini akan dibahas secara bertahap perkembangan periodontologi dan waktu ke waktu. Selama beberapa dasawarsa terakhir ini perkembangannya demikian pesat. yang kayunya mengandung natrium bikarbonat dan asam tanin dan juga adstringen yang mempunyai efek menyehatkan gusi. lebih-lebih dengan kecanggihan teknologi di bidang diagnostik sehingga misteri-misteri mengenai periodontologi dapat terungkap. dan penyakit sistemik sering diperkirakan sebagai penyebab penyakit periodontal. Prayitno Max Joseph Herman Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. ditemukan banyak bab yang menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit periodontal. 1996 5 . Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Modern. Pada hampir semua tulisan zaman dahulu yang dapat diselamatkan. Kemudian berdasarkan hasil pengamatan maupun penelitian-penelitian yang dilakukan para ahli ilmu ini terus berkembang melalui berbagai macam perubahan konsep. Lama sebelum Pierre Fauchard (1678–1761). Jakarta PENDAHULUAN Periodontologi adalah cabang Ilmu Kedokteran Gigi yang mempelajari pengetahuan mengenai jaringan gusi.W. Sabun sangat mahal dan jumlahnya sangat terbatas karena merupakan barang impor. seperti antara lain yang ditemukan pada orang-orang Mesir purba dan penduduk asli Amerika pra Columbus.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Periodontologi dari Masa ke Masa S.

ini bukan berarti masalah oklusi traumatik tidak penting. Gingival abscesses Periodontal diseases and conditions Periodontitis in adults 1. Gingival recession 6. Puncaknya pada akhir tahun 1992 telah diselenggarakan International Conference on Periodontal Research (ICPR) IX di Jepang dengan tema Pathologic Features of Host Responses and Their Use in Diagnostic Strategies. Hal ini disebabkan karena perkembangan yang demikian pesat di bidang etiologi sehingga berbagai faktor risiko telah banyak diketahui. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Genco. Neoplasms 4. Clinical based on history : recurrent acute necrotizing ulcerative periodontitis and post localized juvenile periodontitis. ada kesan bahwa pada kiasifikasi ‘56 marginal periodontitis dianggap merupakan lanjutan gingivitis yang tidak: terawat. clenching etc) 1. Adult periodontitis Non-aggravated Systemically aggravated Neutropenias Leukemias Lazy leukocyte syndrome AIDS Diabetes mellitus Crohn's disease Addison's disease 2. Clinical based on treatment : refractory and recurrent 4. Akhir-akhir ini dengan mengkaitkan faktor penyakit sistemik dan sistem pertahanan tubuh Ranney (1993) telah menyusun kiasifikasi yang lebih jelas dan rinci sebagai berikut(4). Gingivitis and other gingival changes with systemic involvement 1. Gingivitis l. Clinical Diagnostic Strategies dan Periodontal Tissue Regeneration ( cellular and molecular biology). Gingival clefts 5. antara lain yang terkenal dengan nama International Academy of Periodontology. Immunopathogenesis (cellular and molecular). BIDANG DIAGNOSTIK Apabila perkembangan periodontologi ditelusuri.Goldman. Gingivitis 1. Infective gingivo stomatitis 5. 1993)(4) A. Tabel 1. 1996 . Periodontltis 1. plaque bacterial Non-aggravated Systemically aggravated Related to sex hormones Related to drugs Related to systemic disease 2.Cohen. Goldman. kongres atau majalah-majalah international yang terkenal. Dystrophy A.periodontosis. Gingivitis in generalized systemic diseases 4. Tabel 2. Mereka saling tukar menukar pengetahuannya melalui seminar. Drug associated gingival changes C. Masalah oklusi traumatik yang pada klasifikasi ‘56 merupakan bagian yang cukup mendapatkan perhatian. non-plaque Associated with skin disease Allergic Infectious B. Dan pada tahun 1995 ini ICPR X diadakan lagi di Rochester Amerika Serikat dengan tema Molecular Basis of Periodontal Pathology and Therapy. Occlusal traumatism . Dalam berbagai literatur. Malfunctional occlusion 2. Schiuger. ‘90 tidak terungkap. Gingivitis. Miscellanous gingival conditions 1. 1956)(2) I. Pembahasannya meliputi Bacterial Pathogenesis. sebagai hasil penelitian dengan menggunakan teknologi tinggi. Hal ini semua sangat erat hubungannya dengan penyakit periodontal. C. Early-onset periodontitis Localized early-onset periodontitis Setelah lebih dari 30 tahun melalui berbagai penelitian dan pengamatan. Fox. Gingival changes associated with sex hormnones 2. pada klasifikasi 6 Cermin Dunia Kedokteran No. Epulis or gingival pyogenic of granuloma 8. Secondary to periodontitis. Epidemiologic : moderately and rapidly progressing periodontitis 3. Schluger dan Fox (1956) mengklasifikasikan penyakit periodontal sebagai berikut(2) (Tabel 1).accentuated or initiated by habits (bruxism. Dewasa ini perkumpulan dokter gigi yang berminat di bidang Periodontologi telah banyak terbentuk di seluruh dunia. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Goldman. Marginal gingivitis 2. Apabila diamati. 1990)(3) Gingival diseases and conditions A. Goldman dan Cohen (1990) dalam bukunya yang berjudul Contemporary Periodontics telah menyarankan kiasifikasi penyakit periodontal sebagai berikut(3) (Tabel 2). Istilah idiopathic dimasukkan dalam klasifikasi ‘56 dan tidak muncul dalam kiasifikasi ‘90. Demikian juga faktor-faktor lokal yang dianggap sebagai penyebab gingivitis juga dianggap sebagai penyebab marginal periodontitis. Gingivitis (with or without gingival enlargement acute or chronic) II. Genco. Gingival changes associated with diseases of the skin and mucous membranes 3. Inflammation A. Tabel 3. Gingival fistulas 3. 4. 113. Klasifikasi Penyakit Periodontal (Ranney. Faulty restorations 3. Disuse B. AAP classification I. Secondary to marginal periodontitis where clinical crown be comes greater than clinical root. II. Acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) B. bidang diagnostik ini sering dijelaskan melalui pembagian penyakit atau klasifikasi. dapat diamati perkembangan konsep mengenai diagnostik. IV 2.Spanyol dan Portugal. Aberrant frena or muscle attachments 7. Degenerative disease of the attachment apparatus . Gingival cysts 2. Necrotizing ulcerative gingivitis Systemic determinants unknown Related to HIV 3. baik secara laboratorik maupun klinik. tetapi karena tidak banyak pembuktian yang dilaporkan bahwa oklusi traumatik merupakan salah satu penyebab itama terjadinya marginal periodontitis seperti yang diperkirakan semula.. Gingivitis. III. Akhirnya pada abad 20 ini bermunculan para klinisi dan ahli yang meminati bidang Periodontologi.

belum menjelaskan peran mikroorganisme yang telah ditemukan tersebut. karena permukaan akar merupakan tempat timbunan bakteri yang dapat masuk dalam tubuli dentin.Neutrophil abnormality Generalized early-onset periodontitis Neutrophil abnormality Immunodeficient Early-onset periodontitis related to systemic disease Leukocyte adhesion deficiency Hypophosphatasia Papillon-Lefevre syndrome Neutropenias Leukemias Chediak-Higashi syndrome AIDS Diabetes mellitus type I Trisomy 21 Histiocytosis X Ehlers-Danlos syndrome (Type VIII) Early-onset periodontitis. kebiasaan merokok dan lain-lain dapat memperberat penyakit periodontal. pembersihan kalkulus serta semendan dentin yang sakit. Di samping mikroorganisme dan sistem pertahanan. tetapi apabila pasien telah menderita penyakit periodontal diperlukan juga penghalusan permukaan akar. dan diperkirakan prevalensinya cukup tinggi (5%). Mereka yang merokok tetapi tidak ada masalah suseptibilitas tidak akan terkena penyakit periodontal. Skeling saja sebenarnya sudah cukup untuk membersihkan kalkulus dan permukaan email. Dewasa ini para ahli banyak menaruh perhatian terhadap penyakit periodontal lanjut yang terjadi pada usia muda seperti yang dikelompokkan dalam juvenile periodonritis dan rapidly progressive periodontitis. Dewasa ini mikroorganisme tertentu seperti Porphyromonas gingivalis. (1965). TERAPI PENYAKIT PERIODONTAL Sejalan dengan perkembangan di bidang diagnostik dan etiologi. Didukung oleh perkembangan teknoiogi yang demikian pesat dalam dua dasawarsa terakhir ini para ahli lebih dapat memperkirakan macam mikroorganisme yang berbeda pada kelainan periodontal yang secara klinis menunjukkan gambaran kelainan yang serupa. Diagnosis pada umumnya hanya berdasarkan perbedaan gambaran klinik tanpa dibarengi den. systemic determinants unknown 3. Skeling merupakan bagian dan prosedur perawatan yang penting untuk menghilangkan endapan yang lunak dan keras pada daerah koronal dan epitel perbatasan (junctional epithelium). faktorfaktor risiko lain seperti penyakit sistemik. Periodontal abscess Klasifikasi menurut Ranney ini didasari oleh berbagai hasil penelitian yang dikaitkan dengan perkembangan mutakhir teknologi canggih bidang diagnostik khususnya mikrobiologi dan imunologi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa etiologi penyakit periodontal sangat kompleks sehingga memerlukan pemilihan dengan seksama terapi yang harus dilakukan. Actinobacillus actinomycetemcomitans dan beberapa bakteri anaerob lain sering ditemukan mendominasi daerah jaringan periodontium yang mengalami keradangan Atas dasar penemuan tersebut masalah konsep spesifik dan nonspesifik pada penyakit periodontal menjadi bahan perdebatan. dianjurkan juga mengevaluasi efektifitas dan hasil penghalusan sisa akar tersebut dengan melihat secara visual kondisi jaringan. sebaliknya apabila ada masaláh suseptibilitas. merupakan titik awal dari penyelidikan yang lebih intensif mengenai mikroorganisme sebagai penyebab utama penyakit periodontal. dalam buku teksnya yang berjudul Periodontal Therapy. Leeuwenhoek (1682–1723) dengan menggunakan mikroskop pertama hasil ciptaannya(5). Tampaknya penemuan Loe dkk. Yang menarik adalah mengenai faktor merokok yang pada beberapa publikasi aianggap sebagai faktor risiko. Sebagai akibatnya istilah ‘periodontosis" selalu dipergunakan untuk segala bentuk kerusakan jaringan periodontal pada usia muda dengan tambahan penyebabnya idiopatik.gan penjelasan mengenai faktor penyebab. yang meliputi pembersihan bakteri dan toksinnya. Apabila setelah skeling dan penghalusan permukaan akar ETIOLOGI PENYAKIT PERIODONTAL Meskipun sejak permulaan abad ke 18 mikroorganisme pada permukaan gigi telah ditemukan oleh Anton V. Apabila telah disepakati bahwa mikroorganisme tertentu Cermin Dunia Kedokteran No. 1996 7 . Oleh karena itu dalam beberapa dasawarsa terakhir ini di samping melakukan skeling dan penghalusan permukaan akar. Kasus ini sangat mengganggu baik fisik maupun mental penderita. hormonal. Pengelompokan ini antara lain berdasarkan macam organisme yang ditemukan dalam poket. sebagai penyebab utama penyakit periodontal. 113. Meskipun demikian anggapan tersebut masih perlu dipertanyakan karena penghalusan permukaan akar dengan sempurna secara taktil belum menjamin kebersihan secara mikroskapis. Meskipun demikian diagnosis yang tegas dan penyakit periodontal tampaknya belum atau tidak dapat ditegakkan untuk masa sekarang maupun di masa mendatang. maka peran daya tahan dan imunitas tubuh tidak dapat dipisahkan. jelas sekali belum ada ketegasan mengenai faktor penyebabnya sehingga istilah idiopathic masih banyak digunakan. manifestasi penyakit periodontal akan timbul(9). bidang terapi juga mengalami beberapa perubahan. Necrotizing ulcerative periodontitis Systemic determinants unkown Related to HIV Related to nutrition 4. Apabila kita menelusuri kembali etiologi penyakit periodontal di masa sebelum penemuan Loe dkk.(6) keberadaan mikroorganisme tersebut mulai dikaitkan dengan terjadinya keradangan gingiva. ini membuktikan bahwa memang benar penyakit periodontal sifatnya sangat kompleks. akhir-akhir ini dilaporkan kemungkinan faktor suseptibilitas lebih berperan daripada rokoknya sendiri. hingga tahun 1956 Goldman dkk. 1) Skeling dan Penghalusan Akar Skeling dan penghalusan akar sejak lama merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk perawatan penyakit periodontal. Penghalusan permukaan akar yang sempurna. dapat menghasilkan pennukaan akar yang secara biologis masih dapat diterima. Baru pada tahun 1965 bertitik tolak pada suatu penelitian kiasik terkenal yang dilakukan oleh Loe dkk.

tetapi akhir-akhir ini obat yang mengandung metronidazol telah dibuktikan sangat efektif terhadap bakteri patogen periodontal. 1996 . ditangguhkan atau ditunda. pengasahan dilakukan pada tonjol miring bukal gigi rahang bawah. yang telah terbukti di samping dapat mematikan bakteri patogen periodontal juga dapat menghambat terbentuknya plak dental. Obat pilihan untuk kasus ini adalah tetrasiklin. beberapa fase perawatan bedah seperti osteotektomi yang telah dianjurkan. maka pada masa lalu tindakan penyesuaian oklusi selalu dilakukan bila ditemukan oklusi prematur atau bloking. BAHAN BANTU REGENERASI Pada prinsipnya perawatan penderita penyakit periodontal meliputi terapi anti infeksi. Umumnya terapi ini diberikan untuk kasus gingivitis dan periodontitis ringan. dewasa ini splinting dapat dengan mudah dilakukan. gigi rahang atas biasanya yang disesuaikan tetapi dalam beberapa kasus kadang-kadang perlu dilakukan juga penyesuaian pada rahang bawah. hal ini dapat dipakai sebagai salah satu indikator bahwa penghalusan perrnukaan akar juga kurang sempurna. penyesuaian oklusi tidak akan memberikan efek. Dengan berkembangnya ilmu di bidang bahan kedokteran gigi. Oleh karena itu banyak dilakukan penelitian untuk menentukan macam obat apa yang paling efektif terhadap bakteri patogen periodontal. Pada permulaan terapi bedah periodontal diperkenalkan. 4) Penyesuaian Oklusi dan Splinting Karena oklusi traumatik dianggap sebagai penyebab penyakit periodontal. Dalam keadaan demikian satu-satunya cara adalah dengan splinting. terapi rekonstruksi dan terapi pemeliharaan. Pemberian metronidazol gel dan tetrasiklin juga banyak dipergunakan untuk terapi lokal. Pada prinsipnya GTR dapat menghambat pertumbuhan jaringan epitel melekat pada permukaan akar selama proses kesembuhan setelah dilakukan bedah periodontal atau penghalusan permukaan akar. Banyak dan prosedur tersebut diperkenalkan tanpa melalui percobaan pada binatang maupun pada manusia. Apabila dahulu dilakukan dengan penggunaan kawat halus. osteoplasti. Akhir-akhir ini penggunaan bahan GTR (guided tissue regeneration) dilaporkan telah membantu regenerasi dan pelekatan jaringan baru ke permukaan akar dengan lebih baik. Kemudian diperkenalkan bahan-bahan bantu regenerasi (graft) seperti penggunaan tulang alveolar. Sebaliknya apabila kegoyangan disebabkan berkurangnya ketinggian jaringan pendukung. c) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah 3. atau bahan-bahan lain untuk memperoleh regenerasi tulang alveolar yang lebih baik. Pengalaman klinik menunjukkan bahwa metronidazol dikombinasikan dengan amoksisilin sangat efektif untuk perawatan periodontitis lanjut dan hasilnya sangat menjanjikan(10). sekarang dapat dilakukan dengan komposit yang lebih stabil. Apabila pada masa-masa lalu obat-obat kumur yang dianjurkan antara lain adalah NaCl atau peroxida. 3) Bedah Periodontal Pada prinsipnya kuretase adalah merupakan suatu tindakan membersihkan bagian dalam dari dinding poket dengan tujuan menyembuhkan jaringan dan keradangan. Teknik-teknik bedah untuk perawatan lesi jaringan tulang dan jaringan lunak seperti osteotektomi. pengasahan dilakukan pada tonjol miring bagian lingual gigi rahang atas. Pada sekitar tahun tujuh dan delapan puluhan beberapa peneliti membuktikan terjadinya beberapa risiko pada jaringan pendukung setelah teknik-teknik bedah tersebut di atas dilakukan. yang mungkin akan dipergunakan sebagai cara atau model yang definitif untuk perawatan periodontal. Sebaliknya pentingnya skeling dan penghalusan akar dewasa ini sedang diteliti. 2) Antibakteri Telah dijelaskan bahwa akhir-akhir ini peran berbagai macam mikroorganisme terhadap penyakit periodontal sangat menentukan. Sebelum dasawarsa lima-puluhan berbagai tindakan bedah untuk perawatan penyakit periodontal telab banyak diperkenalkan. Kuretase dapat dilakukan bersamaan dengan skeling pada kasus-kasus psedopoket atau sebagai bagian dan perawatan bedah flap. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa oklusi traumatik tidak menyebabkan kelainan periodontal sehingga terdapat pembatasan pembatasan dalam melakukan penyesuaian oklusi. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada prinsipnya penyesuaian oklusi dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah 1. Akibat hasil penelitian klinik ini. rekonstruksi atau regenerasi jaringan diharapkan terjadi melalui proses kesembuhan murni.kesembuhan jaringan belum sempurna. Untuk kasus periodontitis lanjut di samping pemberian obat-obat kumur tersebut juga diberikan antibiotika secara sistemik. gingivektomi dan gingivoplasti merupakan cara-cara pilihan pada masa itu. 113. sangat dianjurkan penggunaannya. Apabila ter- dapat kontak prematur atau bloking tidak perlu dilakukan penyesuaian oklusi kecuali apabila terjadi pada gigi yang ekstrusi. pada dua dasawarsa terakhir ini obat kumur yang mengandung heksitidin atau klorheksidin. Dalam fase rekonstruksi diharapkan terjadinya regenerasi jaringan yang mengalami kerusakan setelah tindakan bedah. b) Apabila ada hubungan oklusi yang tidak normal pada daerah 2.

P. 10.S. Abrams Inc. Cutler CW.P. Hart TC. 19: 279–91. KEPUSTAKAAN 1. Louis.lantarHyperkeratosis. Dari hasil penelitian-penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa etiologi penyakit periodontal sifatnya sangat kompleks dan heterogen dengan berbagai macam interaksi antara faktor keturunan dan faktor risiko lingkungan. 7. 12. Goldman. Schluger. imunologi. Microbiodata of periodontal pockets losing crestal alveolar bone. Tanner ACR. Munksgard. 1993 : 13–4. Bukti yang paling jelas mengenai risiko genetik pada periodontitis dapat dilihat dari timbulnya periodontitis pada usia muda. September 1995. Dentistry an illustrated history. Februari 1993. dewasa ini sedang banyak dilakukan penyelidikan serupa untuk penyakit periodontal. Hart TC. Genco RJ. 9. KESIMPULAN Dengan pesatnya kemajuan di bidang ilmu dan teknologi. Shapira L. Abstracts I. Theilade E. 1990 : 63–65. 427–429. 63: 412–21. mempelajari implikasi dari hasil pengetahuan yang diperoleh. agar dapat memberikan umpan balik kepada para peneliti untuk penelitianpenelitian lebih lanjut.2. CV. 13. Ranney RR. Scott R. Goodson JM. Meyle J. cabang ilmu kedokteran gigi. New York. Experimental gingivitis in man. . 1985. Papillon-Lefevre syndrome: Periodontology 2000. Goldman HM. 6. Pidato Pengu kuhan. Hasil berbagai macam studi yang dilakukan akhir-akhir ini memberikan kesan bahwa perbedaan genetik antar individu memegang peran penting dalam suseptibilitas terhadap periodontitis yang terjadi pada usia muda (early onset periodontitis)(11).S. penegakan diagnosis dan cara perawatannya. Munksgaard-Copenhagen Vol 6. Individu-individu tertentu mempunyai risiko yang lebih tinggi datipada individu yang lain. Hal ini memberikan kesan bahwa penyakit-penyakit ini merupakan model yang sangat berharga untuk mempelajari peran genetik pada suseptibilitas penodontitis. 8. Malvin ER. Prayitno SW. ShapiraL. 2. Seymour Gg. Loe H. U. Classification of periodontal diseases. 113. CV. 1996 9 . September 1995. Dengan mengacu pada pengetahuan mengenai faktor genetik dan bentuk penyakit lain dalam tubuh seperti karsinoma dan penyakit kardiovaskuler. St. van Dyke TE. 5/177–15/187. Fox.R. by Harold Loe & L. Demikian antara lain perkembangan penelitian-penelitian mutakhir di bidang periodontologi untuk membuka tabir-tabir yang selama ini masih tertutup. Socransky SS. Para klinisi diharapkan selalu mengikuti perkembangan ilmu di bidang penodontologi dan mengetrapkannya. khususnya yang tampaknya berhubungan dengan faktor intrinsik. Soshone A. khususnya untuk kasus-kasus penyakit periodontal lanjut yang ditemukan pada usia muda yang dewasa ini masih cukup memprihatinkan para klinisi. Mosby Company. menghasilkan berbagai bentuk kelainan yang sampai dewasa ini secara klinis belum dapat dibedakan. Risiko ini mungkin sebagian di bawah pengaruh genetik. 1994 : 88–100. St. van Dyke TE. 5. 11. 3.C.R. dan karena disebabkan oleh berbagai mekanisme patogenik. Western New York. Western New York. U.S. Black pigmented bacteroides soeçies. Genetic Studies of Syndromes with Severe Periodontitis and Palpoj. Periodontology 2000 Ed. 4.C. Periodontal therapy. Cohen DW. PERKEMBANGAN MUTAKHIR DI BIDANG PERIODONTOLOGI Di atas telah dijelaskan berbagai macam gambaran klinik penyakit periodontal yang sering ditemukan. Hany N. Genco RJ. Contemporary Periodontics. serta meningkatnya jumlah peneliti yang berminat melakukan studi di bidang penodontologi. Abstracts I. Cermin Dunia Kedokteran No. untuk bahan pe nelitian di masa datang. Stabhotz A. Risiko terhadap perkembangan periodontitis tidak sama pada setiap individu. Studi ini memusatkan penyelidikan mengenai pertahanan tubuh keturunan (inherited hostdefenses) sebagai pelengkap dan studistudi terdahulu yang mempelajari interaksi bakteri. J Periodon tol 1965. 1956: 15–18. klinik 1995. Periodontologi. Louis. Prayitno SW. Jackson Brown. Capnocytophage species and Actinobacillus IinomycctemcomitanS human periodontal disease Virulence factors in lonization survival and tissue destanction J Den Res 1984. diharapkan di masa mendatang akan ditemukan cara-cara pencegahan dan perawatan yang lebih sederhana dan efektif. Ed. Hasil studi genetik ini memberikan kesan bahwa efek dan gen pada sindrom HaimMonk bukan disebabkan oleh mutasi dari gen keratin seperti yang terjadi pada kasus-kasus hiperkeratosis yang lain tetapi kemungkinan disebabkan oleh mutasi gen lain yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut(13). Komunikasi pribadi.1 Periodon Res 1984. Sebagai salah sam contoh adalah studi genetik mengenal sindrom Papillon-Lefevre dan sindrom Haim-Monk. 1995. Mosby Company. Scots J. sitologi dan mekanisme biokimiawi dan patogenesis penyakit pada daerah kerusakan jaringan. Pada kedua sindrom tersebut terdapat gambaran klinik yang hampir minip sehingga kedua penyakit tersebut dikelompokkan dalam diagnosis banding dengan tanda-tanda klinik kerusakan jaringan periodontium yang hebat pada usia 1–5 tahun dan terdapat hiperkeratosis pada telapak tangan(12). Copenhagen Vol. Jensen SB. peranannya dalam menunjang pembangunan nasional bidang kesehatan.A.Dengan bahan bantu regenerasi yang lain GTR juga diharapkan dapat mengembalikan bentuk dan jaringan alveolar setelah kesembuhan. Some thoughts on what might be learned by comparison of early onset periodontitis with other complex human disease.

Kegoyangan juga terjadi karena kerusakan tulang angular akibat keradangan atau penyakit periodontal lanjut. 113. penggunaan splin permanen yang dikombinasi dengan terapi pemeliharaan. yaitu tinggi jaringan pendukung dan lebarnya ligamentum periodontal. Kegoyangan ini dapat dikurangi dengan penyesuaian oklusi atau splinting. Keadaan ini dianggap sebagai suatu kegoyangan fisiologis(5). Setelah keberhasilan suatu perawatan periodontal. Splin periodontal dapat bersifat temporer atau sementara dan permanen atau tetap. Jakarta PENDAHULUAN Splin merupakan alat yang dibuat untuk menstabilkan atau mengencangkan gigi-gigi yang goyang akibat suatu injuri atau penyakit(1. Splin permanen antara lain berupa fixed bridge. sehingga tekanan yang jatuh pada beberapa gigi lebih besar daripada sebelum pemakaian splin. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Beberapa data klinis menunjukkan keberhasilan pemakaian splin permanen pada penderita dengan penyakit periodontal lanjut dan kehilangan gigi geligi. Kegoyangan gigi dapat terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar. Trauma oklusi dapat memperberat kehilangan perlekatan dan bertambahnya kerusakan tulang serta meningkatkan kegoyangan gigi(4). SPLINTING SEBAGAI PENUNJANG TERAPI PERIODONTAL Derajat pergerakan gigi ditentukan oleh 2 faktor. Splinting juga dapat dilakukan pada fase pertama perawatan periodontal. Hipermobilitas pada gigi dengan jaringan periodonsium sehat. dan dapat diletakkan ekstrakoronal (eksternai) maupun intrakoronal (internal). protesa sebagian lepas. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai splin permanen dalam perawatan periodontal. Kadang-kadang setelahdilakukan penyesuaian tekanan oklusal. 1996 . Bila kegoyangan gigi disebabkan atau diperberat oleh tekanan oklusal yang abnormal.2). Dalam hal ini digunakan splin temporer atau provisional splint. Seringkali splin dibuat tanpa melihat penyebab kegoyangan gigi tersebut dan desain yang cocok untuk sisa gigi yang ada. akan menghasilkan jaringan periodonsium yang sehat.Splin periodontal bukan merupakan satu-satunya metode untuk menstabilkan gigi geilgi. dilakukan sebagai bagian dan fase restorasi atau rekonstruktif dari perawatan periodontal(6). Splinting merupakan perawatan pendukung yang dilakukan bersama dengan perawatan periodontal lainnya. atau karena pelebaran ligamentum periodontal. sehingga kegoyangan tersebut mengganggu fungsi penderita. sebelum tindakan bedah. terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar dan pelebaran ligamentum periodontal. Bentuk splin dapat berupa splin cekat atau lepasan. atau penggabungan tambalan dengan komposit resin(3). dapat pula merupakan kombinasi keduanya. maka splinting dilakukan setelah tindakan penyesuaian oklusi(2). dan kegoyangan tersebut tidak mengganggu fungsi pengunyahan atau kenyamanan penderita maka keadaan ini tidak membutuhkan splin(2). Pada gigi yang displint tekanan oklusal akan dibagikan pada seluruh gigi. kegoyangan gigi berkurang dan posisi gigi menjadi lebih stabil sehingga splinting tidak diperlukan lagi. Pada perawatan periodontal splin digunakan pada keadaan kegoyangan gigi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Peranan Splin Permanen dalam Perawatan Periodontal Yuniarti Soeroso Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas indonesia. Kekakuan alat splin kadang-kadang dapat memungkinkan terjadinya gerakan mengungkit. kegoyangan gigi yang masih terjadi dianggap sebagai kegoyangan patologis. Bila terdapat peningkatan kegoyangan gigi dengan gambaran ligamentum periodontal normal. Sebelum dilakukan splinting. Pemakaian splin permanen berupa restorasi. perlu diketahui penyebab kegoyangan gigi atau migrasi patologis yang terjadi.

Gambar 3. b. Occlusal rest mutlak diperlukan untuk meneruskan tekanan vertikal(3. Splin lepasan tidak boleh digunakan pada gigi-gigi goyang yang mempunyai tendensi besar untuk bermigrasi. Splin permanen ini hanya digunakan bila benar-benar diperlukan untuk menambah stabilitas tekanan oklusal dan menggantikan gigi yang hilang(1). showing a unilateral splint that has excellent resistance to mesiodistal displacement but less resistance to buccolingual movement. Forces applied meslodistally. SPLIN PERMANEN TIPE LEPASAN EKSTERNAL Gigi tiruan sebagian lepas dapat berfungsi sebagai splin permanen. mengurangi serta mencegah trauma oklusi. sehingga dapat menahan tekanan dari segala arah(2. Splin ini terutama menahan tekanan arah mesio distal. a. Therapeutic splinting of teeth. Selain menstabilkan gigi yang goyang. Gambar 1.3). Beberapa laporan menunjukkan keadaan gigi penjangkaran dan penderita yang menggunakan gigi tiruan sebagian lepas.7). pemakaian GTS lepas tidak akan menambah kerusakan jaringan periodonsium. Dalam hal ini penjagaan kebersihan mulut harus diperhatikan. apalagi splin tersebut hanya digunakan pada malam hari(3). 1996 11 . Penderita yang memakai GTS lepas juga mempunyai kesehatan jaringan periodonsium lebih buruk. Cengkram tipe continuous Splin unilateral adalah splin yang menyertakan dua atau lebih gigi geligi pada 1 sisi rahang. Splin permanen dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal. Cermin Dunia Kedokteran No. Untuk mengurangi tekanan dapat digunakan stress breakers. membantu penyembuhan jaringan periodontal. Pada keadaan tertentu penggunaan protesa lepas tidak dapat dihindari untuk menggantikan gigi yang hilang. Pemakaian splin pennanen lepas pada keadaan tidak bergigi dikombinasikan dengan gigi tiruan. c. 113. Therapeutic splinting of teeth.6) (Gambar 2.Splinting pada gigi goyang yang diperberat trauma oklusi. Splin lepasan unilateral sebaiknya digunakan pada keadaan kelainan periodontal ringan. Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan yang dapat menunjang keberhasilan perawatan periodontal. Untuk mencapai stabilitas yang maksimum digunakan cengkram tipe continuous dan menyertakan seluruh gigi yang ada (Gambar 1). yang menghubungkan retainer dan saddle dengan suatu alat seperti sendi yang fleksibel. Sedang splin bilateral atau tipe cross arch melibatkan dua sigmen atau lebih dari lengkung lawan. tidak akan memperbaiki kerusakan yang terjadi(2). Klamer harus pasif dan tidak menekan gigi penjangkaran. Splin permanen lepasan eksternal ini desainnya merupakan bagian dan gigi tiruan kerangka logam. splin ini juga harus mendistribusikan kekuatan oklusi. Ditinjau dan sudut kesehatan jaringanperiodonsium protesa cekat merupakan pilihan utama untuk menggantikan gigi-gigi yang hilang. Splin permanen sangat terbatas penggunaannya. dan memperbaiki estetika(3. dibanding penderita tidak bergigi yang tidak menggunakan GTS lepas(1). Gambar 2. point of resistance to forces applied to opposite tide of arch.8). b.transmission of forces around anterior segment of arch. showing a bilateral splint with resistance to force in all directions. a. ternyata mengalami kerusakan jaringan periodonsium lebih besar dibandingkan gigi yang lain. Forces applied buccolingually. forces applied buccolingually.

one may eliminate maxillary anterior portion. These splints may be constructed of either metal or clear acrylic. SPLIN PERMANEN CEKAT INTERNAL Splin ini merupakan splin permanen yang paling efektif dan tahan lama. 1996 . tergantung juga kepada masing-masing kondisi penderita. Jumlah gigi tidak goyang yang diikutsertakan dalam splinting. This type of extracoronal splint has the advantage of being removable. Jumlah gigi yang diperlukan untuk menstabilkan gigi goyang bergantung kepada derajat kegoyangan dan arah kegoyangan. 113. Splin cekat ini dapat berupa multiple crown. or tongue. allowing patient to cleanse thoroughly.Beberapa Contoh Splin Permanen Tipe Lepasan Gambar 4. Bila 12 Cermin Dunia Kedokteran No. If aesthetics becomes a factor and metal is desirable because of its durability. Appliance is rigid and does not irritate lips. Removable cast splint with occiusal rests. cheek. Splin ini merupakan penggabungan dan restorasi yang membentuk suatu kesatuan rigid dan direkatkan dengan penyemenan. se gigi yang goyang pada lengkung rahang. inlay dan mahkota 3/4.

Cermin Dunia Kedokteran No. dibutuhkan beberapa gigi di daerah anterior sebagai gigi penjangkaran. Setelah itu dievaluasi 2 bulan hingga 6 bulan apakah terdapat penurunan derajat kegoyangan. Bila gigi yang ada benar-benar akan dipertahankan maka splinting tersebut dapat mengikutsertakan gigi-gigi dan lengkung yang berlawanan (cross arch design). 1996 13 . Jika gigi penjangkaran sebelah distal merupakan gigi terakhir dan mengalami kegoyangan. Dalam hal ini sangatlah penting diperhatikan desain oklusinya agar tidak menambah kegoyangan. Beberapa Contoh Splin Permanen Cekat Gambar 5. Untuk igi anterior misalnya overbite gigi penjangkarannya dikurangi. mengamati gigi-gigi penyangga suatu bridge dengan kehilangan jaringan penodonsium yang cukup berat. A. Buccal aspect of prosthesis with extension of palatal bar to provide catch for removal (Courtesy of Dr. Penelitian oleh Nyman & Ericsson selama 8 hingga 11 tahun. copings and superstructure. Pada beberapa kasus kadang-kadang terlihat bahwa setelah dilakukan pembuatan bridge. Palatal bar. Keadaan ini didukung dengan penjagaan kebersihan mulut secara sempurna termasuk pembersihan secara profesional pada masa-masa tertentu(9). Removable palatal bar bracing bilateral maxillary splints. Hasilnya memperlihatkan bahwa gigi-gigi penyangga tersebut tidak mengalami kerusakan lebih lanjut. Sebelum diputuskan pembuatan suatu splin permanen harus dilakukan pemakaian splin sementara dahulu. 113. Fixed splints without removable bar. C.terdapat kegoyangan lebih dari satu gigi. Gigi-gigi dengan sisa jaringan periodonsium yang sedikit tidak dapat dijadikan penyangga untuk splin bridge internal atau gigi tiruan sebagian lepas. B. Perluasan ini dapat mencegah pergerakan gigi ke arah anterior(4) (Gambar 5). sertakan gigi depan saja. Morton Amsterdam). dapat digunakan beberapa gigi untuk stabilisasi. Untuk ini dibutuhkan splint dengan perluasan ke bagian posterior. Pemakaian bridge dapat sebagai splinting dan pengganti gigi yang hilang. Stabilisasi gigi anterior dengan kerusakan jaringan periodonsium yang cukup berat tidak cukup dengan hanya mengikut Gambar 5. Notice the occlusal anatomy and the contour of the casting on the right cuspid. Desain ini dibuat untuk mengatasi tekanan oklusi nonnal yang datang dari berbagai arah(4). D. kegoyangan gigi penjangkaran tetap sepert semula.

Nyman S. The capacity of reduced periodontal tissues to support fixed bridge work. KEPUSTAKAAN 1. 1st ed. 9: 497–533. Ericsson J. Philadelphia: WB Saunders 1972 : 917–24. Ash MM. Ericsson I. Tooth mobility and the biological rationale of splinting teeth. Lang NP. 4th ed. 9: 409–14. Cohen DW. The CV Mosby Company.Philadelphia: WB 2. J. 3. 1994. Everett FO. Clin. 4. Periodontology & Periodontics 1979 : 489–97. Textbook of Periodontology. 6th ed. 7th ed. Periodontology 2000. 1980: 1121–54. Periodontal Therapy. Grant DA. Munksgaard: WB Saunders 1985 454–64. Splin permanen sangat terbatas penggunaannya. Splin permanen dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal. Othans Periodontics: a concept. 1972 : 657–72. Saunders 1990 : 943–54. 9. Carranza FA. Effect of longstanding jiggling on experimental marginal periodontitis in the beagle dog. 7. Goldman HM.Glickman's Clinical Periodontology.RANGKUMAN Splin periodontal merupakan perawatan pendukung yang dilakukan bersama dengan perawatan periodontal lainnya. Hanya digunakan bila benar-benar dipergunakan untuk menambah stabilitas tekanan oklusal dan menggantikan gigi-gigi yang hilang. 5. theory and practice. Nyman SR. 1996 . J Clin Periodontol 1982. 4th ed. 6. 113. (Hickman I. 14 Cermin Dunia Kedokteran No. 4: 15–22.Lindhe J. St Louis: Mosby. Periodontol 1982. Lindhe J. Pemakaian splin permanen merupakan bagian dari fase restorasi atau fase rekonstruktif dan perawatan periodontal. Ramfyord SP. 8. Clinical Periodontology. Stern 18.

gangguan konsentrasi belajar dan produktivitas kerja. gigi dicabut. anomali dentalfasial.3% (Tabel 3) sedangkan anak perempuan ada 34. yang terkena tetrasiklin. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita anak-anak maupun dewasa adalah penyakit pada jaringan keras gigi yaitu karies. (Tabel 1) Pada kelompok umur 7–8 tahun karies di molar permanen bawah. 9–10 tahun. yang akhirnya mempengaruhi kualitas sumber daya manusia(2). anomali dentofasial. saku gusi. yang dipengaruhi oleh konsumsi refined carbohydrate seperti gula-gula/biskuit. BAHAN DAN CARA Data didapat dari laporan kasus klinik gigi AFIA daerah Beji Depok 1 pada bulan Januari–Desember 1992. anak diperiksa di poliklinik gigi dan diterangi dengan lampu dental unit kemudian dicatat pada kartu status keadaan gigi berlubang. satu sikat gigi dapat dipakai berganti-ganti (Tabel 4). yang bersifat kariogenik. Depok I Yuyus.6% sering rewel/susah makan(3).3. Beji. 7–8 tahun. (Tabel 2) Anak laki-laki yang mengikuti program sikat gigi sesuai anjuran Depkesada 3 3.0%. sil gigi sehabis mandi pagi dan sore. karies di molar permanen rahang atas rata-rata DMFT 0. 20. 1996 15 . peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.7. HASIL Hasil pemeriksaan diketemukan beberapa penyakit gigi yaitu karies gigi. rata-rata DMFT 0. Pada kelompok umur 9–10 tahun.8 pada molar rahang atas. lalu dicatat pada formulir perawatan kesehatan gigi dari UKGS. makanan lunak tidak berserat.4% dan pada anak wanita 04. kelompok umur 11–12 tahun rata-rata DMFT 2. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan. dampaknya akan sangat merugikan seluruh masyarakat. gigi ditambal. lebih banyak daripada molar atas dengan rata-rata DMFT 0. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan peningkatan sumber daya manusia serta kualitas hidup. sikat gigi ni1ik sendiri pada anak pria 94. gigi ditambal. gangguan fungsi kunyah yang menghambat konsumsi makanan/nutrisi. warna coklat/kuning terkena obat tetrasiklin. baik pada anak laki-laki dan perempuan lebih 50-%. Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran. gangguan kenyamanan berupa gangguan tidur. Anak pria dan anak wanita semua mempunyai sikat gigi. dengan sampel 1000 anak balita di Posyandu di 5 Wilayah DKI menemukan. Cermin Dunia Kedokteran No. saku gusi. Jumlah yang datang berobat 156 anak. Akibat penyakit karies antara lain : rasa sakit. penerbang atau pramugari. 15. hilangnya kesempatan menerjuni bidang karier tertentu misalnya masuk ABRI. abses. belum tentu milik sendiri. gigi yang hilang.04.2. Tujuan WHO pada tahun 2000 untuk DMF-T pada usia 12 tahun kurang atau sama dengan 3(4). terdiri 84 anak perempuan dan 72 anak laki-laki yang diperiksa keadaan gigi dan mulutnya. Anak dikelompokkan menjadi lima kelompok usia 4–6 tahun. 11–12 tahun dan 13–18 tahun(5). 85.5% dan yang lain-lain termasuk sikat gigi bangun pagi dan setiap habis mandi. pada molar rahang bawah dan rata-rata DMFT 1. R Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.HASIL PENELITIAN Status Penyakit Gigi Mulut dan Perilaku Anak terhadap Kesehatan Gigi di Klinik Afia. Apabila masalah karies dibiarkan dan kecenderungan peningkatannya di masa mendatang tidak dicegah. berarti yang punya sikat gigi. Pemeriksaan dilakukan dengan kaca mulut dan sonde. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudayakan di seluruh lapisan masyarakat(1). Perilaku diketahui melalui wawancara langsung pada anak dan orang tua sebagai pendamping sewaktu datang berobat. abses. Survai Badan Litbangkes dan Dinas Kesehatan DKI pada tahun 1993.05 sedangkan molar permanen bawah rata-rata DMFT 1.3% sering mengeluh sakit. 113.9% gigi berlubang/karies.

7 55 65. Januari–Desember 1992 Pria Wanita n 62 10 4 3 9 Jenis Penyakit Gigi n Karies Dentis Abses Saku Gusi Coklat/kuning pada gigi Anomali DentoFasial Tabel 2.10 tahun 11 .0% KEPUSTAKAAN 1. Towards a Better Oral Health Future. 8. Januari–Desember 1992 N 54 57 20 11 14 Mean DMFT 2. Jakarta. 5.3% jawaban yang salah berdasarkan tahap UKGS.6 tahun 7 . Kristanti.57% yang paling rendah di Propinsi Nusa Tenggara Barat 1. Kebijaksanaan Program Kesehatan Gigi dan Mulut Masyarakat.4% 94. Laki-laki Perempuan 72 84 PEMBAHASAN Pada penelitian di JawaTengah(1985) 14. The Information Material Produced by the Oral Health Unit. dapat diukur dengan ratio tindakan penambalan berbanding pencabutan di puskesmas adalah 1:4(9). 7.98% dan di pedesa an yang paling tinggi di Kalimantan Timur 7.3%. 9. WHO Geneva.664 rumah 3. 1992. Ratna. 6. 2. Perilaku Mengenal Waktu Sikat Gigi Januari–Desember 1992 Sesudah sarapan dan sesudah makan malam Lain-lain N n 24 29 % 33. motivasi masyarakat untuk pergi berobat belum sedini mungkin. KESIMPULAN DAN SARAN Persepsi masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut masih rendah. baik dan segi kualitas maupun kuantitas.18 tahun Tabel 3. 1994. Jumlah anak dan % dalam perilaku mempunyai sikat gigi Januari-Desember 1992 Punya sikat gigi n % 100 100 n 68 79 Milik sendiri % 94.5 n % Laki-laki 72 48 66. Sistim Kesehatan Nasional. Melihat besarnya angka karies gigi. Macam Penyakit di Klinik Gigi AFIA. Penyuluhan kesehatan gigi pada orang dewasa terutama ibuibu hamil/orangtua murid lebib ditingkatkan dan disarankan agar mengutamakan makanan-makanan berserat yang lebih menarik untuk anak-anak daripada makanan yang lunak bersifat kariogenik.Tabel 1.4 2. Perlu adanya pembinaan yang sistematis agar kegiatan UKOS lebih seragam dan lebih intensif. Basic Method. p 120–30. 1982.3 34. usaha preventif perlu ditingkatkan melalui penyuluhan di sekolahsekolah di PKK dan di Posyandu. 1996 .8 Kelompok Umur 4 . Oral Health Survey. hal 17–21. Jumlah anak yang menyatakan lama sakit gigi dan lama tidak masuk sekolah selama 1 hari ada 67. Cara Pemeliharaan Gigi Yang Baik. Direktorat Kesehatan Gigi. Departemen Kesehatan RI. Opitz) 16 Cermin Dunia Kedokteran No.7 3. Survei Kesehatan Rumah Tangga Badan Litbangkes. Jakarta. It is the highest wisdom not to be always wise (M. Departemen Kesehatan RI. Hasil Survai Sosial Ekonomi Kesehatan tahun 1992. 1994. WHO Head Quarters.8% menyikat gigi sesudah makan. 67.60%(9). laporan BPS dan Badan Litbang Kesehatan yang melakukan survai Kesehatan Rumah Tangga dengan jumlah sampel 65.8 tahun 9 . Jumlah DMFT pada Kelompok Umur di Klinik Gigi AFIA.5 Perempuan 84 Tabel 4. Andreas. Kesadaran dan perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan masih rendah.12 tahun 13 .6% menyikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur. 1977. 1994. 1985. 49 12 3 2 11 tangga di perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa persentase penduduk yang selama satu bulan yang lalu sakit gigi paling tinggi di perkotaan Propinsi Kalimantan Tengah 7.2 3. Survei Perilaku Kesehatan Gigi Anak SD di Daerah Jawa Tengah. 4. Tindakan kuratif perlu ditingkatkan terutama dalam kegiatan tumpatan/penambalan selain itu pendayagunaan guru/ dokter kecil perlu lebih dipertajam dengan petunjuk yang lebih praktis dan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah). Hasil Survei Sosial Ekonomi Kesehatan. 1986. 113. BPS dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.1 2. 2nd ed. Seminar Sehari Peningkatan Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesgigi Oleh Masyarakal. Jakarta. Leimena SL. Buku Pedoman UKGS. Seminar Sehari tentang Peningkatan Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesgig OIeh Masyarakat. 4. berarti anak tidak menunggu beberapa hari untuk pergi berobat(7).46% dan yang paling rendah di Propinsi Sulawesi Utara 1. 1992.3% menyikat gigi sebelum tidur malam dan 13.

113. Selain pada permukaan gigi. Tetapi ternyata bukan kalkulusnya yang berperan langsung.Dahulu orang beranggapan bahwa kalkulus merupakan penyebab penyakit periodontal. KALKULUS Rongga mulut manusia tidak pernah bebas dari bakteri dan umumnya bakteri plak memegang peranan penting dalam menentukan pembentukan kalkulus. sedangkan kalkulus subgingival dan serum darah(5). Jakarta PENDAHULUAN Hubungan kalkulus dan penyakit periodontal telah sering dibahas. sedangkan permukaan kalkulus supragingival dan kalkulus subgingival selalu diliputi oleh plak gigi.5). Kalkulus yang melekat pada permukaan gigi akan mengintasi gingiva(1). Pada suatu saat kalkulus dapat cepat terben tuk. Hal ini dimungkinkan oleh struktur permukaan kalkulus yang kasar sehingga memudahkan timbunan plak gigi pada permukaan kalkulus. . yang menyebabkan pH Cermin Dunia Kedokteran No.ULASAN Kalkulus Hubungannya dengan Penyakit Periodontal dan Penanganannya Sri Lelyati. Kalkulus merupakan suatu endapan amorfatau kristal lunak yang terbentuk pada gigi atau protesa dan membentuk lapisan konsentris(6). yang diselenggarakan oleh PDGI Cabang Bekasi pada tanggal 10 Juli 1993. Pada plak gigi kelompok kalkulus terdapat lebih banyak spesies Bacteroides intermedius. Sumber mineral untuk kalkulus supragingival diperoleh dan saliva. Organisme yang terdapat pada plak gigi yang sudah matang juga terdapat pada kalkulus(11). ditemukan ada 22 mikroorganisme di dalamnya. kalkulus juga terdapat pada gigi tiruan dan restorasi gigi dan hanya bisa hilang dengan tindakan skeling(3. sering dijumpai ketidak sempurnaan perawatan kalkulus. pelekatan kalkulus dimulai dengan pembentukan plak gigi. Oleh karena itu. Komposisi kalkulusdipengaruhi oleh lokasi kalkulus dalam mulut serta waktu pembentukan kalkulus(3). dalam makalah ini akan diuraikan mengenai kalkulus. sedangkan pada saat yang lain lambat atau tidak terbentuk kalkulus(12). Permukaan luar kalkulus selalu diliputi oleh organisme-organisme bentuk filamen dan bulat. Ada perbedaan jumlah koloni pada plak gigi dengan atau tanpa kalkulus supragingival(10). pengendapan garam kalsium fosfat terjadi akibat adanya perbedaan tekanan CO2 dalam rongga mulut dengan tekanan CO2 dari duktus saliva. 1996 17 . Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi.Penelitian morfologi kalkulus menggunakan scanning electron microscopy (SEM) menunjukkan bahwa kalkulus supragingival dan kalkulus subgingival kasar dan porus serta terdapat retensi dan plak gigi(7. Bacteroides melaninogenicus serta Capnocytophaga. S. yaitu dalam proses mineralisasi.4. meningkatkan kejenuhan cairan di sekitarnya sehingga lingkungannya menjadi tidak stabil atau merusak faktor penghambat mineralisasi. Bakteri plak diperkirakan memegang peranan penting dalam pembentukan kalkulus. hubungannya dengan penyakit periodontal serta penanganannya.U. antara lain: 1) Teori CO2 Menurut teori ini. akan tetapi yang berperan adalah bakteri plak pada plak gigi yang melekat pada permukaan kalkulus(2). Kalkulus terjadi karena pengendapan ganam kalsium fosfat. Universitas Indonesia. Dalam praktek sehari-hari. Beberapa macam teori dikemukakan oleh para peneliti mengenai proses terbentuknya kalkulus. kalsium karbonat dan magnesium fosfat(5).9).5). Kalkulus disebut juga "tartar" merupakan endapan keras hasil mineralisasi plak gigi. Disajikan pada Seminar Perkembangan Pedodontik dan Periodontologi Masa Kini. sedangkan permukaan dalam kalkulus tidak(8). melekat erat mengelilingi mahkota dan akar gigi(3.4.8.

Perawatan non bedah periodontal dilakukan pada kelainan periodontal dengan poket 4-6 mm. HUBUNGAN KALKULUS DENGAN PENYAKIT PERIODONTAL Kalkulus secara langsung tidak berpengaruh terhadap terjadinya penyakit periodontal. sehingga mengurangi stabilitas larutannya dan terjadi pengendapan garam kalsium fosfat(3. aliran saliva berkurang. terjadi penyembuhan lesi periodontal melalui proses pengerutan gusi serta regenerasi jaringan periodonsium yang rusak(5).5. dan gigi yang terkena juga lebih banyak dibandingkan dengan orang Eropa (Oslo)(10). Terapi awal perawatan non bedah periodontal bertujuan menghilangkan seluruh faktor penyebab lokal. Banyak faktor yang merupakan predisposisi terbentuknya plak gigi. Skeling adalah suatu tindakan pembersihan plak gigi. Kalkulus subgingival terletak di bawah margin gingiva.4. Alat-alat kuret digunakan untuk membuang kalkulus subgingival yang letaknya dalam. membantu proses hidrolisis ester lemak menjadi asam lemak bebas yang dengan kalsium membentuk kalsium fosfat(5). diikuti oleh gigi molar pertama maksila. sedangkan bila shank nya contra angle untuk gigi posterior. Silika yang ditambahkan dalam makanan tikus akan meningkatkan pembentukan kalkulus(10).14).5.4. bila shank nya lurus digunakan untuk gigi anterior dan gigi premolar.14). Diketahui ada dua macam kalkulus menurut letaknya terhadap gingival margin yaitu kalkulus supragingival dan kalkulus subgingival.14). umumnya penderita tidak mengetahui adanya kelainan dan datang sudah dalam keadaan lanjut dan sukar disembuhkan. kemudian gigi-gigi anterior maksila(5. bila keradangan gusi ini tidak dirawat. chisel dan file. Skeling subgingiva lebih sulit dilakukan daripada skeling supragingiva karena sangat diperlukan kepekaan perabaan. Penghalusan akar dilakukan untuk mencegah akumulasi kembali dari depositdeposit tersebut(5. Penyakit periodontal bersifat kronis dan destruktif. skeler hoe. dan pada permukaan lingual gigi insisivus pertama dan kedua mandibula Endapan kalkulus subgingival paling banyak terdapat pada gigi insisivus pertama dan kedua mandibula. Pembentukan kalkulus supragingival pada orang Asia (tentara Indonesia) lebih banyak.12). Tertinggalnya kalkulus supragingival maupun kalkulus subgingival serta ketidak sempurnaan penghalusan permukaan gigi dan akar gigi mengakibatkan mudah terjadi rekurensi pengendapan kalkulus pada permukaan gigi. Fosfatase membantu proses hidrolisa fosfat saliva sehingga terjadi pengendapan garam kalsium fosfat(3. perbedaan pembentukan tersebut tidak disebabkan oleh umur. 2) Teori protein Pada konsentrasi tinggi. dan warnanya kehitaman(5). 6) Teori pembenihan Plak gigi merupakan tempat pembentukan inti ion-ion kalsium dan fosfor yang akan membentuk kristal inti hidroksi apatit dan berfungsi sebagai benih kristal kalsium fosfat dari saliva jenuh(13). warnanya putih kekuning-kuningan dan distribusinya dipengaruhi oleh muara duktus saliva mayor. Kalkulus dan gingivitis terdapat lebih banyak pada para perokok daripada bukan perokok(17). faktor yang memperberat serta pengaruh faktor lokal(17). jenis kelamin. alat kuret. 5) Teori amonia Pada waktu tidur.13. akan tetapi karenakalkulus terbentuk dan plak gigi yang termineralisasi karena pengaruh komponen saliva. akibatnya gigi menjadi goyang atau tanggal. Sedangkan Sheiham(17) melaporkan bahwa para perokok mempunyai skor plak.13.4. dapat terlihat langsung di dalam mulut.saliva meningkat sehingga larutan menjadi jenuh(3. 4) Teori esterase Esterase terdapat pada mikroorganisme. 3) Teori fosfatase Fosfatase berasal dari plak gigi.19). Plak gigi dan kalkulus mempunyai hubungan yang erat dengan keradangan gusi. Perawatan ini dapat dilakukan oleh dokter gigi praktek umum dan dokter gigi puskesmas karena tidak memerlukan keahlian khusus dan dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana(18. maka secara tidak langsung kalkulus juga dianggap sebagai penyebab keradangan gusi (gingivitis). Tetapi akhir-akhir ini dilaporkan bahwa baik pada penelitian klinis(16) maupun epidemiologis(11) ternyata tidak semua gingivitis selalu berkembang menjadi periodontitis. Alat-alat tangan yang umum dipakai adalah skeler sickle. PENANGANAN KALKULUS Skeling dan penghalusan akar adalah bagian dari terapi awal yang paling sering dilakukan.kalkulus dan deposit-deposit lain dari permukaan gigi. 1996 .19). Kalkulus supragingival terletak di atas margin gingiva. tidak dapat terlihat langsung di dalam mulut. Endapan kalkulus supragingival terbanyak adalah pada permukaan bukal gigi molar pertama maksila. Regio kalkulus yang telah dibersihkan dan plak gigi dan dipoles permukaannya ternyata tidak menimbulkan keradangan gusi dibandingkan dengan regio kalkulus yang tidak dipoles(15). Keberhasilan tindakan pembersihan di daerah subgingiva menyebabkan hilangnya peradangan. urea saliva akan membentuk amonia sehingga pH saliva naik dan terjadi pengendapan garam kalsium fosfat(3). Skeler hoe untuk menghaluskan permukaan akar dengan membuang sisa-sisa kalkulus dari jaringan lunak sementum. frekuensi menyikat gigi atau daya abrasif dari pasta gigi. beras mengandung silikon yang daya abrasifnya rendah sehingga meningkatkan rata-rata pembentukan kalkulus pada orang Asia. Skeling dan peaghalusan akar dapat dilakukan menggunakan alat tangan atau alat ultrasonik. protein koloida saliva bersinggungan dengan permukaan gigi maka protein tersebut akan keluar dari saliva. kalkulus dan derajat penyakit periodontal yang lebih tinggi dibandingkan dengan bukan perokok. Diperkirakan perbedaan tersebut karena kebiasaan makan dan jenis makanannya. sel-sel epitel mati atau bakteri. penghalusan permukaan sementum akar dan menghilangkan dinding poket jaringan lunak. Alat-alat ultrasonik digunakan untuk skeling. akan berkembang menjadi periodontitis atau keradangan tulang penyangga gigi.13. Skeler sickle dipakai untuk membuang kalkulus supragingival. 113. kuret dan meng- 18 Cermin Dunia Kedokteran No.

J. Peranannya Dàlam Menunjang Pembangunan Nasional Bidang Kesehatan. 8: 1–10. dan permukaan gigi harus halus. Gaffar A. 1990. Prayitno SW. Periodontics. Scanning Electron Microscopy of Supragingival Calculus. Allen. St.2% chlorhexidine sebagai obat kumur selama satu minggu dapat menghambat pertumbuhan plak gigi sampai 85%(23). 1993. Mereka menyimpulan bahwa skeler ultrasonik efektif membersihkan deposit bakteri subgingival pada permukaan gizi.23). Ten Cate JM. 12. Experimental Gingivitis in Man. 3rd ed. United Kingdcm. Calculus Revisited. Recent Advance in The Study of Dental Calculus. 3. maka larutan 0. Philadelphia: Lea and Febiger. Schroeder NE.tetapi tanpa ketrampilan operator bagian tepi gingiva akan rusak atau sering masih dijumpai adanya kalkulus. Cara kerja alat ini melalui gerakan vibrasi(5). 14. Loe H. Pemakaian bubuk yang mempunyai daya abrasif harus hati-hati. Stem lB. Periodontol. International Conference Workshop on Research in the Biology of Periodontal Disease. 1979. Pencegahan terhadap terbentuknya kalkulus bertujuan mengurangi jumlah massa bakteri yang berperan dalani proses kalsifikasi. 141–160. Tepi gingiva rusak oleh bagian tajam dan skeler akibat tekanan serta arah gerakan yang salah dan tanpa tumpuan jan di tempat yang tepat sehingga menimbulkan celah gingiva(22). Alat ini sederhana. Essentials of Periodontology and Periodontics. mudah dibawa dan disiapkan. – Mandel I. J. 9. 1977.2% chlorhexidine (Minosep®) lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan plak dan keradangan gusi(24). 1973. 3rd ed. London: CV. karena dapat mengiritasi jaringan gigi dan gusi. New York. 11. 1982. Periodontol. 1990. 3rd ed. Hamp SE. Beberapa peneliti membandingkan skeling menggunakan alat tangan dan alat ultrasonik. Bravacos JS. sehingga bakteri dapat masuk ke tubulus dentin yang terbuka(10. Bila dibandingkan dengan larutan 0. Perawatan terhadap kalkulus dapat dilakukan menggunakan alat tangan atau alat ultrasonik. 51: 553–562. Tokyo: Igaku Shoin/Saunders. Periodontics for Dental Hygienist. Glickmans Clinical Periodontology. Baumhammers A. Periodontology. 8. 3rd ed. 1969. 1986. Periodontics. Cara penanganan yang lain terhadap kalkulus. Friskopp J. 1975. 44: 92–95. Feldman RS. 54: 553–562. tetapi yang berperan adalah plak gigi yang terdapat pada permukaan luar kalkulus. 42–68. Color Atlas of Periodontology. Hine MK. Tokyo. Skeling dengan cara ini murah dan banyak dilakukan di lapangan. Periodontol. Thesis Ph. 152–170. Melbourne: Blackwell Scient. 7th ed. pemakaian larutan 0. Louis. dan tidak kalah pentingnya. Cara pencegahannya yaitu dengan menghambat pembentukan kalkulus pada tingkatan plak gigi serta menghambat proses mineralisasi. Cabang Ilmu Kedokteran Gigi. Hunter. Everett FG. Pidato Pengukuhan. 18. 1965. J. Association between smoking different tobacco products and penodontal disease indexes. KEPUSTAKAAN 1.hilangkan stain. Matta RK. 17. 72–7.1% hexetidine (Bactidol®). Lindhe J. Experimental Periodontitis in Beagle Dog. 1996 19 . Mc. 7. Dalam perawatan tersebut perlu diperhatikan bahwa permukaan mahkota dan akar gigi telah bebas dan kalkulus supragingival maupun subgingival. adalah pencegahan. Mosby Co. juga antara penggunaan alat ultrasonik dan alat tangan(10). Jensen SB. 10. 5th ed. London: Henry Kimpton Publishers. 1973. A Review J. Keadaan ini mengakibatkan terjadi peradangan dengan rasa perih dan sakit. Illionis. 1980. Chicago. Rateitschak EM. PubI. Skeling menggunakan alat ultrasonik sekarang sudah banyak dilakukan di Indonesia. Pada pemeriksaan mikrobiologi diperlihatkan bahwa pembersihan daerah subgingival dengan alat ultrasonik dapat merubah komposisi mikrobia pada plak gigi(23). 113. Theilade E. Wales. 4. antara lain dengan penyuluhan atau pemberian obat kumur. Cermin Dunia Kedokteran No. Periodontol. 27–30. Philadelphia: Lea and Febiger. 1958. Manson JD. J. Alat penghalus permukaan gigi yang umum dipakai adalah rubber dan brush (sikat). Pada ujung alat ultrasonik terdapat semprotan air yang bertujuan untuk menghilangkan panas yang umumnya terjadi akibat vibrasi ultrasonik. 13: 249–57. KESIMPULAN DAN SARAN Kalkulus tidak berperan secara langsung terhadap penyakit periodontal. Pencegahan pembentukan kalkulus dapat dilakukan dengan mengurangi terjadinya akumulasi plak gigi yang berperan dalam proses kalsifikasi. Oxford University Press. Hammarstrom L. 15. Jadi penggunaan harus dengan tekanan ringan dan mengenai sedikit mungkin daerah. 15–18. A comparative. Rose CL. Fall. Stuttgart.D. Pengaruh dan pemakaian alat ultrasonik serta pemolesan permukaan ggi dengan mesin berkecepatan tinggi (jet) mengakibatkan jaringan gigi turut terambil. Karena permukaan kalkulus kasar dan porus maka memudahkan plak gigi melekat pada permukaan kalkulus. selain itu juga berfungsi sebagai pembersih permukaan gigi(5). Res. Pencegahan bisa dengan penyuluhan kesehatan jaringan periodontal. 1979. Conway JC. digunakan dengan kecepatan rendah. Skeling dengan menggunakan alat tangan membutuhkan ketrampilan tersendiri. Period. Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan data mikroskopik(21). Peneliti lain melaporkan bahwa pemakaian pasta gigi yang mengandung zinc sitrat dapat mengurangi pertumbuhan bakteri plak sampai 30%(10). 1989. A Review of Methods of Prevention and control of Penodon tal Disease. Dalam hal ini ketrampilan operator serta pemilihan alat yang benar dan sesuai memegang peranan penting untuk keberhasilan perawatan penyakit periodontal. 16. Grant DA. A Comparison of The Periodontal Health of Two Groups of Young Adult Indonesian and Characterizatipn of Advanced Periodontal Disease. Dengan demikian diharapkan pembentukan kalkulus juga dapat dihambat. Thieme Verlag. Georg. LoeH. Pembentukan plak gigi dapat dikurangi dengan pemakaian obat kumur(22.20). 1980. Prayitno SW. 5. 36: 177–87. 6. 1985. Scanning Electron Micro scopy Study of Supragingival and Subgingival Calculus. Sheiham A. pemakaian obat kumur atau pasta gigi yang bersifat antiseptik. Macphee T. Clin Periodontol. Carranza FA. 2. J. 13. Saltzberg D. Periodontologi. Coolidge ED. Vienna: Hans HuberPubl. Formation and Inhibition of Delital Calculus.

Buku Naskah Ilmiah KPPIKG IX. 1991. 21.2% Chlorhexidine sebagai Obat Kumur. Penurunan Radang Gingiva dengan Pemakaian Larutan 0. 22. Tehnik Perawatan Non Bedah pada Poket 4-6 mm. Prijantojo.19. 417–19.2% Chlorhexidine sebagai Obat Kumur. 1991. 1991. 24. Sunarto H. 1992. 1991. J. Sukardi Al. Buku Naskah llmiah KPPIKG IX. Dewi Nurul M. 113. Thilo. 20. din. Period. 23. Prijantojo. Perbandingan Pengaruh Chlorhexidine dan Hexetidine terhadap Radang Gingiva secara JUinis. 351–54. 1992. 240-49. 355–61. Buku Naskah Ilmiab KPPIKG IX. 19: 455–59. 20 Cermin Dunia Kedokteran No. Prijantojo. Buku Naskah llniiah KPPIKG IX. Effect of Ultrasonic and Sonic Scalers on Dental Plaque Microflora in vitro and in vivo. Baehni P. 1996 . Buku Naskah Kongres PDGI1 Semarang. Pemet D. Keadaan latrogenik yang umum teijadi dalam Bidang Periodontologi. Hambatan Pembentukan Plakoleh Larutan 0.

Universitas Indonesia.2% pada gigi dengan fistel. bahwa dan 63 dokter gigi yang melakukan perawatan endodontik ternyata dijumpai 12 penderita yang mengalami flare up. dan 56. di samping tentu saja faktor biaya perawatan itu sendiri. perawatan sekali kunjungan dengan pemberian analgetika untuk menekan rasa nyeri tidak mendukung. Penelitian banyak yang menyatakan bahwa kegagalan perawatan endodontik sekali kunjungan berkisar antara 2. pada satu dan tujuh hari setelah pengisian saluran akar gigi dengan diagnosis awal nekrosis dengan atau tanpa kelainan periapeks. dan pada hari ke 7 tidak satupun yang masih merasa nyeri. Kontrol rasa sakit dilakukan 1 dan 7 hari setelah pengisian. Lain lagi yang dikemukakan oleh Pekruhn(5) dikatakan bahwa rasa nyeri pada pasien setelah perawatan sekali kunjungan. Tidak selesainya perawatan endodontik dalam satu atau lebih dari satu kali kunjungan sering menjadi alasan terhentinya perawatan. pemeriksaan subyektif dan obyektif pada gigi tersebut dan jaringan sekitarnya. 4) Preparasi dilakukan dengan metoda double flare supaya tidak mendorong jaringan nekrotik ke periapeks. Dalam kaitannya dengan jumlah kunjungan. Sementara itu Fox yang merawat 291 pasien dengan perawatan sekali kunjungan menyatakan bahwa dalam pemeriksaan ulang 1. 3) Tentukan file awal (initial file). Narlan Sumawinata. rasa nyeri hanya terdapat pada 10% kasus saja dengan intensitas berat pada hari pertama. di FKGUI dan praktek sore.5% gigi dengan kelainan periapeks. 1996 21 . Ansar Bansar Fakultas Kedokteran Gigi. 113. METODA DAN CARA KERJA 1) Perawatan dilakukan terhadap 15 gigi anterior dengan pulpa nekrosis. 33. Sementara itu ternyata keberhasilan perawatan sekali kunjungan ini mencapai 40. 2) Mula-mula ditentukan panjang kerja.6% kasus(4). Mengapa rasa nyeri setelah perawatan timbul belum diperoleh jawaban yang pasti. Kriteria klinik untuk menilai keberhasilan perawatan ada1ah(7) : 1) Tidak adanya rasa nyeri 2) Hilangnya fistel 3) Fungsi tetap baik 4) Tidak ada tanda kerusakan jaringan. Oleh karena itu. Dalam pada itu O1iet(2) dan Pekruhn(3) mengatakan tidak ada hubungan yang jelas antara keberhasilan/ kegagalan perawatan dengan jumlah kunjungan. 8% kasus pada hari kedua. Yang dilakukan adalah anamnesis. 3 sampai dengan 30%. Jakarta PENDAHULUAN Keinginan pasien untuk mempertahankan giginya daripada dicabut kini makin meningkat ialah dengan perawatan endodontik. tetapi dinyatakannya. Sedang dalam hal timbulnya rasa nyeri dinyatakan bahwa pada gigi vital terdapat 35.HASIL PENELITIAN Frekuensi Nyeri pada Perawatan Saluran Gigi Anterior Sekali Kunjungan Penelitian Pendahuluan Wiwi Werdiningsih.2 dan 7 hari setelah pengisian. Ternyata rasa nyeri hebat terdapat pada penderita dengan kondisi awal pulpa vital. sementara perawatan multi visit memungkinkan operator menilai keadaan kesehatan jaringan saat akan dilakukan pengisian(1).5% gigi non vital. ternyata secara statistik tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan perawatan dalam banyak kunjungan. Radiograf dibuat kembali untuk evaluasi pengisian. Cermin Dunia Kedokteran No. yaitu absennya rasa nyeri.5% kasus dan gigi non vital pada 57. dipotong secukupnya dan ditumpat sementara dengan semen. tujuan penelitian ini adalah melihat salah satu aspek keberhasilan.5% sampai dicapai file utama (master apical file) dan file terbesar. Saluran akar dikeringkan dengan poin kertas isap dan dicobakan bahan pengisian utama dan guttaperca dan dibuat radiograf. Setiap kali penggantian alat dilakukan irigasi dengan NaC1 2. 5) Pengisian dilakukan dengan semen saluran akar AH-26 dengan metoda kondensasi lateral.

pengetahuan. Walton and Torabinejad). 4. Endodontics 1986. 22 Cermin Dunia Kedokteran No. Dengan demikian kepribadian dan kedewasaan pasien sangat menentukan persepsi rasa nyeri ini. Fox mengungkapkan dalam hasil penelitian bahwa rasa sakit pada hari ke I sebesar 10%. Single visit endodontic. Pekruhn RB. Bender lB. mungkin disebabkan oleh adanya reaksi jelas yang menyebabkan keluarnya eksudat dan karena tidak mendapat jalan keluarnya. 1986. J. Dalam: Principles and Practice of Endodontics (ads. Philadelphia: Saunders. 12(2): 68–72. Single visit endodontic therapy. Philadelphia: Saunders.HASIL No. 1989. Flatley CJ. Rasa nyeri setelah perawatan juga dapat timbul karena instrumentasi yang tidak tepat yaitu panjang kerja yang terlalu 1ama(10). Yang perlu diperhatikan adalah keadaan gigi dan saluran akar yang akan dirawat. Valle G. Kasus tersebut adalah gigi nekrosis disertai abses periapeks yang kemungkinan masih dalam keadaan akut. 7. Philadelphia: Saunders. 8. Penyembuhan di daerah ini memerlukan waktu antara 5 s/d 7 hari. menunjukkan hal yang sesuai dengan masa penyembuhan di daerah periapeks. dalam Valle G : Principles and Practice of Endodontics (ed. bahan/obat yang dipakai dan tindakan seasepsis mungkin(7). 1989. terutama kejujuran operator dalam menerangkan kemungkinankemungkinan yang dapat timbul karena perawatan tersebut. Seltzer S. 312. 3. Balaban FS.67% pasien. ditunjang kerja yang asepsis.34%. KESIMPULAN DAN SARAN Perawatan endodontik sekali kunjungan mungkin sekali dilakukan bila didukung oleh kemampuan. Pain in endodontics. lainnya gigi nekrosis tanpa kelainan(4). dan perawatan yang asepsis. Sedikit rasa nyeri yang timbul pada hasil di atas mungkin disebabkan sedikitnya faktor penyulit misalnya morfologi akar. Pekruhn RB. Hal ini tentu saja tidak akan terjadi pada gigi dengan fistel. Pasien 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 I1 12 13 14 15 Rasa sakit hart ke 1 + 3 + 7 + Perkusi +(1. DISKUSI Faktor yang mempengaruhi keberhasilan perawatan antara lain adalah(7) : • Anatomi gigi meliputi morfologi saluran akar.2% untuk gigi dengan fistel. 113. yang diperinci 33. Seltzer S. walau semakin berkurang menunjukkan masih adanya infeksi di daerah periapeks yang membutuhkan waktu untuk penyembuhannya. Acute exacerbations following initial treatment of necrotic pulps. a preliminary clinical study. J. 7) Palpasi +(1. dalam Gerstein H : Techniques in Clinical Endodontics. dan diagnosis operator kasus yang terpilih dan tepat. JADA 1981. Philadelphia: Saunders. jenis gigi yang memudahkan instrumentasi dan radiografi.5%. 1996 . dan faktor immunologi dan psikologik penderita. serta prosedur perawatan yang memenuhi syarat seperti panjang kerja yang tepat. Tidak adanya rasa nyeri pada hari ke 7 setelah perawatan tetapi masih agak nyeri pada perkusi walaupun palpasi tidak sakit. Di lain pihak Pekruhn(3). • Keadaan jaringan pulpa dan periapeks. Evaluation of success and failure. Calhoun RL. 3) - Rasa sakit dirasakan pada 1/15 = 6. 1989. 67. 1984. teknik dan bahan yang dipakai. Dari data Calhoun terungkap keberhasilan 82% dan pada penelitian ini sebesar 93. mengemukakan bahwa hasil perawatan gigi anterior dan posterior secara statistik tidak berbeda bermakna. juga sangat berperan. dan lain-lain. 12(2): 875–77. The Incidence of failure following single visit endodontic therapy. sehingga kemungkinan terjadi flare up dapat dikurangi. sehingga Balaban cenderung menganjurkan pada perawatan endodontik seyogyanya pada kunjungan pertama hanya sampai preparasi selesai dan diberi obat dahulu. Tetapi Se1tzer(9) mengingatkan adanya faktorfaktor lain yang mungkin saling berhubungan dengan rasa sakit yang diderita pasien setelah perawatan satu kali kunjungan. Untuk menunjang keberhasilan suatu perawatan endodontik sekali kunjungan mutlak diperlukan diagnosis kasus yang tepat. adanya kanal tambahan. Endodontic Succ Dalaxn: Principles and Practice of Endodontics (ads. Walton dan Torabinejad). Tentu saja yang sangat menentukan keberhasilan perawatan sekali kunjungan ini secara umum ialah keterampilan dan pengetahuan operator ditunjang dengan alat-alat yang tepat. 311–19. 6. Selain itu dinyatakan bahwa keberhasilan untuk gigi nekrosis hanya 40. 2. 9. Rasa sakit yang diderita 1 pasien pada hari ke 1 s. a nationwide survey of endodontists. untuk mempersiapkan jaringan periapeks lebih kondusif terhadap perawatan. Walton dan Torabinejad). J.5% untuk gigi nekrosis dengan kelainan periapeks dan 56. akan menekan jaringan sekitar dan menimbulkan rasa sakit. Oliet S. Endodont. KEPUSTAKAAN 1. keterampilan operator. Di samping itu komunikasi antara operator dan pasien sebelum perawatan dilakukan. Endodont. 310. Rasa sakit setelah pengisian lebih banyak dikarenakan tindakan operator misalnya prosedur kerja yang tidak baik atau perhitungan panjang kerja yang terlalu panjang sehingga menimbulkan inflamasi di jaringan periapeks. 5. dan telah terjadi resorpsi eksudat yang menekanjaringan. karena diagnosis itu sendiri telah menentukan keberhasilan perawatan(4). Incidence of post operative pain following one appointment treatment of painful pulpitis without apical radiographic involvement. One appointment endodontic therapy.d 7. 1983. 3. antara lain adanya perbedaan perorangan terhadap sindrom adaptasi lokal. 10(2): 78–81. • Kesalahan yang mungkin terjadi dalam perawatan misalnya timbul birai (ledge) atau perforasi.

Akhir-akhir ini prosedur perawatan periodontal dengan guided tissue regeneration banyak dilakukan. serta mengurangi hilangnya gigi-geligi(2). mengurangi kedalaman poket. 1996 23 . menghentikan kerusakan jaringan lunak dan tulang. menghentikan proses infeksi. Proses penyembuhan dipengaruhi oleh faktor lokal dan Cermin Dunia Kedokteran No. pembentukan perlekatan baru merupakan aspek yang terdapat pada penyembuhan setelab perawatan periodontal. Beberapa istilah perlu dibedakan dalam hubungannya dengan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan periodontium. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN Tujuan perawatan periodontal tidak hanya bermaksud menghentikan penyakit periodontal. 113.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Regenerasi Jaringan Periodontium Setelah Perawatan Periodontal Yuniarti Syafril Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.3). Beberapa istilah perlu dibedakan dalam hubungannya dengan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan. perbaikan jaringan. perbaikan jaringan. tahan terhadap penyakit dan merupakan perlekatan jaringan ikat sebenarnya(4). tetapi juga dapat meramalkan regenerasi jaringan periodontium pada sisi yang mengalami kerusakan. Regenerasi jaringan periodontium merupakan proses fisiologis yang terus berlanjut. trauma daerah sementum. Menurut penelitian sulkus gingiva yang dalam ini dibatasi oleh epitel yang panjang. Jakarta PENDAHULUAN Tujuan utama perawatan periodontal tidak hanya menghentikan penyakit periodontal. perdarahan gingiva. atau perawatan lesi periapikal(2). ligamentum periodontal dan tulang alveolar. Istilah new attachment atau perlekatan baru menerangkan proses reunion jaringan ikat dengan permukaan akar gigi yang terbuka karena proses patologis. mencegah rekurensi penyakit. Proses regenerasi jaringan. Perawatan periodontal dengan "GTR" diharapkan dapat mencegah kehilangan jaringan penyangga pada batas tertentu. memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan. tetapi juga menggantikan bagian jaringan penyangga yang mengalami kerusakan(1). Tetapi Nyman dan kawan-kawan menyatakan bahwa jaringan ikat gingiva tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk perlekatan jaringan ikat baru pada permukaan gigi yang terbuka karena proses penyakit(5). menghentikan pembentukan pus. pembentukan perlekatan baru. tipis. Proses penyembuhan pada dasarnya sama untuk setiap jenis perawatan. Keberhasilan perawatan periodontal sangat bergantung kepada kesempurnaan dalam menghilangkan keradangan gingiva. Perlekatan kembali lebih ditujukan untuk menerangkan adanya reunion jaringan ikat dengan akar gigi yang terpisah karena adanya injury atau insisi(1). fraktur gigi. merupakan aspek yang terdapat pada proses penyembuhan setelah perawatan periodontal. Keadaan tersebut misalnya: setelah suatu tindakan bedah. karena perawatan poket yang tidak sempurna sebelumnya. Probe tidak dapat masuk ke dalam celah poket. Regenerasi yang diharapkan antara lain terbentuknya sementum. Adaptasi epitel atau epithelial adaptation berbeda dengan perlekatan baru. Proses regenerasi jaringan. memperbaiki fungsi oklusi. antara lain reattachment atau perlekatan kembali. Pada keadaan ini epitel gingiva melekat ke permukaan akar gigi. new attachment atau perlekatan baru. mengurangi kegoyangan gigi. adaptasi epitel. Istilah reattachment atau perlekatan kembali digunakan untuk menerangkan proses regenerasi struktur jaringan penyangga gigi setelah suatu perawatan. Pada keadaan ini terjadi pembentukan serat ligamentum baru yang tertanam pada sementum baru dan melekatnya epitel gingiva pada permukaan akar gigi yang terbuka sebelumnya karena proses penyakit(1.

Bila sel yang berasal dari jaringan ikat gingiva berkumpul pada permukaan akar. penderita dengan penyakit infeksi yangt melemahkan tubuh(1. Keadaan ini secara klinis menunjukkan hasil yang memuaskan. Pada keadaan normal sel-sel baru dan jaringan terbentuk secara tetap. Kelainan sistemik dapat mempengaruhi atau menghambat penyembuhan jaringan setelah perawatan periodontal. pada keadaan defisiensi nutrisi tertentu. menggantikan jaringan matang dan mati. pembentuk kolagen dan sel endotel.7).10). Tulang serta sementum tidak digantikan oleh tulang dan sementum yang ada. Dilakukan flap mukopenosteal di daerah korona hingga tulang alveolar terbuka. akan menekan pembentukan jaringan granulasi serta menghambat penyembuhan. tetapi oleh jaringan ikat atau prekursornya(1. Tujuannya agan selama penyembuhan tidak terdapat gangguan yang berupa migrasi epiteldentogingival. Bila sel yang berasal dari oral epithelium berproliferasi sepanjang perrnukaan akar sampai batas epitel poket. epitelisasi dan pematangan jaringan ikat. pengangkatan kelenjar tiroid. dan tulang alveolar yang mengelilingi gigi(14. dan neseksi tulang alveolar serta pengangkatan seluruh sementum seluas 3 mm ke arah apeks hingga 2 mm dari tepi puncak tulang alveolar.. proliferasi sel epitel untuk mencapai setinggi epitel poket sebelum tindakan bedah. sel tulang dan sel jaringan ikat gingiva dicegah berkontak dengan akan selama penyembuhan(12. Hal ini terjadi karena aktivitas mitotik epitel gingiva dan jaringan ikat ligamentum periodontal. sel tulang dan sel yang berasal dari ligamentum peniodontal(8). Di sini terlihat bahwa jaringan granulasi yang berasal dari ligamentum periodontal mempunyai kemampuan membentuk jaringan ikat baru.20). setelah insisi dan pengangkatan jaringan granulasi.17. Selama penyembuhan. Hasilnya adalah pembentukan sementum baru yang tertanam di antara serat-serat kolagen pada permukaan akar yang telah terbuka sebelumnya(16).6).2. jika sel dan ligamenturn periodontal berprolifereasi ke arah korona. karena ligamentum periodontal merupakan penghubung antara sementum dan tulang baru(16. hormon adenokortikotropik dan estrogen dalam dosis besar.2). Jaringan ikat di bawahnya serta ligamentum periodontal digantikan oleh jaringan ikat. epitel dan jaringan ikat gingiva dicegah untuk berkontak dengan akar gigi selama penyembuhan. Penyembuhan luka jaringan periodonsium setelah tindakan bedah merupakan proses yang kompleks. perlekatan jaringan fibrous dan tulang alveolar(19).migrasi jaringan granulasi yang berasal dari jaringan ikat gingiva juga dihambat berkontak dengan permukaan akar selama penyembuhan. Untuk mencegah jaringan ikat gingiva berkontak dengan permukaan akar selarna penyembuhan. Setelah 3 bulan penyembuhan.19. Keadaan yang paling ideal adalah. Jaringan periodonsium. pemberian glukokortikoid seperti kortison dapat menghalangi proses perbaikan jaringan. Kemampuan iigamentum periodontal untuk beregenerasi hanya terjadi jika sel epitel. dan menghalangi perlekatan jaringan ikat ke sementum(7. Regenerasi adalah pertumbuhan serta pembelahan sel-sel baru dan substansi interseluler yang membentuk jaringan baru. 113. Jika sel tulang bermigrasi hingga berkontak dengan akar. Menghilangkan plak dan semua faktor yang mempermudah retensi plak serta menghilangkan tekanan yang berlebihan. tetapi proses regenerasi yang terjadi tidak menunjukkan hasil yang memuaskan(13). tidak hanya migrasi epitel dentogingival saja yang dapat dicegah pada saat penyembuhan. Regenerasi juga merupakan rekonstitusi perlekatan jaringan periodontium termasuk perlekatan gingiva. Jadi regenerasi ligamentum periodontal merupakan kunci terjadinya perlekatan baru. Penelitian Gottlow dan kawan-kawan memisahkan pertumbuhan jaringan granulasi yang berasal dari ligamentum periodontal dengan permukaan akan gigi. proliferasi endotel. secara histologis terlihat adanya pembentukan perlekatan baru termasuk pembentukan sementum baru. maka akan terjadi resorbsi permukaan akar gigi dan ankilosis(11). deposisi dan substansi dasar intersisial dan kolagen. dilakukan penutupan fenestrasi daerah alveolar dengan filter millipore. serta mempunyai kemampuan membentuk sementum baru(8). menutup permukaan akar yang terbuka(8). Regenerasi jaringan penodonsium merupakan proses fisiologis yang terus berlanjut. Dengan adanya kemampuan ligamentum periodontal membentuk jaringan ikat baru. pemberian hormon testosteron. Hal ini dibuktikan pada binatang percobaan monyet yang permukaan bukal gigi kaninusnya diinsisi berbentuk U. maka yang terbentuk adalah long junctional epithelium atau epitel penghubung yang panjang. Regenerasi terjadi dari pertumbuhan jaringan dari jenis yang sama atau prekursornya. sementum. penderita Diabetes Meilitus. ligamentum periodontal. Regenerasi terdiri dari fibroplasia.18). penyembuhan jaringan akan terhambat pada penderita dengan infeksi menyeluruh. maka sejenis jaringan ikat akan melekat di antara jaringan lunak dan jaringan keras. Setelah tindakan bedah regeneratif yang dilakukan pada 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Aktivitas ini berupa pembentukan tulang baru serta deposisi terus menerus dan sementum(2). Epitel ini dapat berproliferasi dengan cepat ke arah apikal.9. sel yang berasal dari jaringan ikat gingiva. ligamentum periodontal juga mengandung sel yang dapat mensintesis dan membentuk kembali ke tiga jenis jaringan ikat yang merupakan bagian alveolar dan jaringan periodontium. 1996 .sistemik. maka permukaan gigi akan diisi oleh 4 bentuk sel yang berbeda yaitu: sel epitel. PENYEMBUHAN JARINGAN PERIODONTIUM Perawatan bedah periodontal dilakukan dengan menghilangkan jaringan lunak dan keras yang mengalami kerusakan karena proses penyakit periodontal. Stres sistemik. Migrasi epitel ini berfungsi sebagai barier pelindung agar tidak terjadi resorbsi akar dan ankilosis(13). epitel gingiva digantikan oleh epitel.15). dapat meningkatkan regenerasi tulang dan menghasilkan perlekatan jaringan baru(2. oklusi merupakan faktor yang sering menghambat penyembuhan jaringan. Bentuk penyembuhan yang sering terjadi setelah tindakan bedah adalah pertumbuhan long junctional epithelium atau epitel penghubung panjang dan perlekatan jaringan ikat. Faktor hormonal juga berpengaruh.6. adalah 1 minggu setelah operasi(12). menekan reaksi radang atau menghambat pertumbuhan fibrobias. Faktor lokal seperti kontaminasi mikroorganisme.

Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap pengaruh penetrasi probing kedalaman poket. Menentukan tinggi perlekatan lebih penting daripada pengukuran poket. Ankilosis terjadi pada 24 area dan 39 sampel. Kombinasi fibronektin dan asam sitrat telah diteliti terhadap hewan percobaan. yang selanjutnya akan menghambat pertumbuhan. Tiga cara probing yang dilakukan yaitu pengukuran kedalaman poket. Beberapa peneliti telah mengembangkan penggunaan graft tulang yang semuanya bertujuan untuk mencegah migrasi epitel. regenerasi tulang pertama kali terjadi di daerah yang paling dekat dengan permukaan akar. serta pencegahan migrasi epitel pada saat penyembuhan setelah suatu tindakan bedah sangatlah penting(13.20).22). Perlekatan baru hanya akan terbentuk jika sel yang berasal dari ligamentum periodontal mengisi daerah luka yang berdekatan dengan permukaan akar(16). debridemen seluruh iritan(2). Keadaan ini akan merangsang proses sementogenesis dan perlekatan serat-serat kolagen(2) tetapi pemakaian asam sitrat pada permukaan akar tidak meningkatkan penyembuhan setelah bedah periodontal(26). dapat menyèmpurnakan penyembuhan atau perbaikan jaringan(25). pada waktu flap operasi. radiografis. Penambahan jaringan yang mengalami mineralisasi pada penyakit periodontal lanjut setelah pembedahan dengan GTR. Penetrasi probing ini sangat bervariasi bergantung kepada derajat keradangan jaringan. kemudian ditambahkan asamsitrat pada permukaan akan. serat periodontium yang tertanam di antara sementum. antana lain tindakan bedah dengan kuretase. Bedah rekonstruktif dibagi menjadi dua yaitu tanpa graft dan dengan graft yang keduanya berhubungan dengan pembentukan perlekatan baru. modified widman flap. telah dibuktikan pada penderita dengan penyakit periodontal lanjut disertai terbukanya permukaan akar(13. dan tinggi tulang. Teknik GTR telah membuka kemungkinan baru untuk memperbaiki atau mengembalikan kehilangan jaringan penyangga pada tingkat tertentu. bila berkontak dengan permukaan akan selama penyembuhan akan menghasilkan resorbsi akar daripada pembentukan. Hal ini karena kegagalan penutupan tepi bukal dan lingual pada daerah interproksimal pada waktu penyembuhan. Hasilnya menunjukkan penyembuhan yang lebih cepat disertai dengan peningkatan proliferasi sel(27). Kemampuan ligamentum periodontal untuk beregenerasi dan membentuk perlekatan baru. Beberapa metode dapat digunakan untuk pengangkatan epitel penghubung dan epitel poket. perlekatan jaringan ikat baru(5. Pemakaian asam sitrat pada binatang percobaan menunjukkan bahwa tertanamnya matriks dentin yang mengalami demineralisasi ke dalam jaringan ikat. Pada penelitian ini fibronektin diletakkan pada daerah flap. Pengangkatan junctional epithelium atau epitel penghubung dan epitel poket. Sedang Warrer dan Karring mengevaluasi pemakaian graft tulang (Tissel) yang dikombinasi dengan membran GTR (Zitex) pada poket supraboni. EVALUASI KEBERHASILAN PERAWATAN JARINGAN PERIODONTIUM Evaluasi keberhasilan perawatan periodontal kadang-kadang agak sukar diketahui secara klinik maupun eksperimental. Jaringan granulasi yang berasal dari jaringan periodontium lainnya seperti dari tulang alveolar atau dari jaringan ikat gingiva. menyebabkan penyembuhan daerah operasi kurang baik dan keluamya materi graft tulang. atau secara histologis. PENCEGAHAN MIGRASI EPITEL PENGHUBUNG DAN EPITEL POKET Perlekatan baru dengan regenerasi tulang merupakan hasil yang terbaik setelah suatu perawatan. Pemakaian membran millipore telah dilakukan pada binatang percobaan dengan hasil memuaskan(19). internal bevel incision tanpa pembukaan area operasi.20). akan merangsang sel mesensim untuk berdiferensiasi menjadi osteoblas dan kemudian terjadi proses osteogenik.binatang percobaan dengan kerusakan daerah furkasi. Selama penyembuhan migrasi epitel dentogingival juga dapat membahayakan pembentukan perlekatan jaringan ikat baru(23).20). diikuti daerah sentral interadikular. Guided tissue regeneration atau GTR merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mencegah migrasi epitel sepanjang dinding semen dan poket periodontal. akan menghasilkan permukaan akan yang terdemineralisasi. yang secara langsung berpengaruh Cermin Dunia Kedokteran No. tindakan bedah. kadang-kadang tidaklah cukup untuk menghasilkan penyembuhan yang baik. Bedah rekonstruktif pada perawatan periodontal dibutuhkan untuk membantu regenerasi tulang. Pemberian fibronektin pada permukaan akar dapat meningkatkan perlekatan baru. Metode klinis yang digunakan dengan membandingkan keadaan sebelum dan sesudah probing. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan tepi gingiva setelah perawatan. Adanya epitel poket dan epitel penghubung akan mengganggu aposisi jaringan ikat dan sementum. dan pembentukan perlekatan baru(20). serta mengenai daerah dengan kerusakan yang luas. menyilang di antara jaringan ikat dan sementum. 1996 25 . gingivektomi ke arah puncak tulang alveolar serta pengangkatan. Dari penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa membran harus benar-benar tertutup jaringan selama penyembuhan dengan menghindari pemakaian membran yang terlalu besar. 113. Keberhasilan perawatan dapat dilihat secara klinis. Selanjutnya terjadi resesi dan terbukanya membran yang menyebabkan terjadinya pengumpulan plak serta sisa-sisa makanan(24). tinggi perlekatan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemakaian membran yang terlalu besar serta kontaminasi daerah operasi. GTR menghasilkan penambahan jaringan yang cukup bermakna selama 4 sampai 6 minggu setelah tindakan bedah. Hal ini disebabkan karena epitel yang berasal dari potongan daerah tepi sangat cepat berproliferasi ke apikal. berupa peletakan suatu barier yang menutup tulang alveolar dan ligamentum periodontal(13. Gottlow dan kawan-kawan menggunakan membran teflon yang diletakkan pada permukaan akan yang terbuka. Hasilnya menunjukkan adanya penyembuhan berupa penutupan akan yang terbuka. Pemakaian asam sitrat pada pH 1 selama 2 sampai 3 menit pada permukaan akan gigi. Pengangkatan epitel penghubung dan epitel poket saja. Seluruh sampel menunjukkan adanya penyembuhan berupa perlekatan jaringan ikat yang mengelilingi daerah furkasi(19).

J Clin Periodontol 1983. Tindakan ini biasanya dilakukan 6 sampai 12 bulan setelah pembedahan pertama. 9: 290–96. 7: 394–401. 410-30. Pemakaian teknik digital komputer substraction radiography akan menghasilkan gambar yang baik. I Clin Periodontol 1986. In Carranza Jr FA. 836–59.14). 836–59. Gottlow J. RINGKASAN Tujuan perawatan periodontal tidak hanya bermaksud menghentikan penyakit periodontal. 9: 428–40. J Periodontol 1992. Jika pengukuran ini dikombinasi dengan penilaian klinis jaringan lunak. Nyman S. Smith BA. J Periodontol 1991. Significance of early healing events on periodontal repair : A review. J Clin Periodontol 1982. J Clin Periodontol 1982. Nyman S. St Louis: CV. Anderson GB. 4. dapat memberikan informasi yang bermanfaat sesuai tujuan perawatan yaitu regenerasi jaringan periodontium. 63: 158–65. Nyman S. 16. 13. radiografis. Melcher AH. 1. Nyman S. 410–30. Lindhe J. Healing following implantation of periodontitis affected roots into bone tissue. sehingga menghasilkan perkiraan yang berlebihan dan kedalaman poket(28). Analisis radiografis dan re-entry operations dilakukan untuk mengukun regenerasi tulang pada kerusakan tulang angular sebelum dan sesudah perawatan. Gottlow J. Nyman S. J Clin Periodontol 1980. perubahan kepadatan tulang. J Clin Periodontol 1984. Gottlow J. 8. Textbook of Clinical Periodontology. 12. 6. Rylander H. 2. Morrison EC. Mosby 1980. Probing mungkin tidak mencatat kedalaman poket yang sebenarnya. 20. tetapi merupakan hasil penetrasi probe ke jaringan periodontium. Regenerasi jaringan periodontium dan perlekatan baru hanya dapat ditentukan secara tepat melalui pemeriksaan mikroskopis. Plaque-induced gingival inflammation in the absence of attached gingiva in dogs. Nasjleti CE. Proye M. 26 Cermin Dunia Kedokteran No. Karring T. Lindhe J. Penilaian dilakukan dengan membuat model cetakan tulang pada waktu pembedahan pertama dan pembedahan kedua. Healing following implantation of periodontitis affected roots into bone tissue. Nilveus RE. Proses regenerasi jaringan. 12: 687–96. Weinstrom J. 21. Penilaian histologis perlekatan baru hanya membutuhkan. The current status of New Attachment Therapy. The regenerative potential of the periodontal ligament. Penilaian klinis jaringan keras memerlukan re-entry surgery atau pembedahan kedua setelah periode penyembuhan. Walaupun terdapat standar teknik pemotretan. 19. ed. Attstrom R. Regeneration of alveolar bone following surgical and non surgical periodontal treatment. Isidor F. Periodontal healing following Guided tissue regeneration with citric acid and fibronectin application. perbaikan jaringan dan pembentukan perlekatan baru merupakan aspek-aspek yang terdapat pada penyembuhan. Lindhe J. 3. 18. Karnng T. Periodontal therapy. 62: 21–29. Beberapa peneliti menyatakan bahwa pemeriksaan radiografis kurang akurat dibanding probing secara klinis(29). Carranza Jr FA. Karnng T. Effect of root surface alterations on periodontal healing. 63: 1085–92. Setelah perawatan regenerasi terjadi dan pertumbuhan jaringan dari jenis yang sama atau prekursornya. Planten S. Experimental periodontal treatment in rhesus monkeys. 10. Ramfyord SP. KEPUSTAKAAN 1. tetapi juga menggantikan bagian jaringan penyangga yang mengalami kerusakan. Nyman S. Philadelphia: WB Saunders 1990. On the repair potential of periodontal tissue. ditentukan dan beberapa titik yaitu: 1) Tinggi puncak tulang alveolar. 7th ad. An experimental study in the monkey. Poison AM. J Clin Periodontol 1986. Philadelphia: WB Saunders 1983. Wikesjo U ME. Perlu adanya standar teknik pemotretan. Nyman S. Lindhe J. 17. 52: 529-44. 9: 157–265. 5. Lindhe J. 12: 456–64. 22. J Ciin Periodontol 1985. ke permukaan luar dan kedudukan probe pada lekukan furkasi(14). Nyman S. Healing following implantation of periodontitis affected roots into bone tissue. J Periodon tol 1992. Lindhe J. New attachment formation in the human periodontium by guided tissue regeneration. Karnng T. J Clin Periodontol 1’ 0. Pembedahan kedua ini biasanya berjalan lebih cepat dan trauma yang terjadi lebih sedikit. 15. Karring T. 7th ed. Nilveus R. Klinge B. yaitu jarak dari batas semen enamel ke dasar kerusakan tulang. 11. Philadelphia: WB Saunders 1990. Hasilnya dapat memperlihatkan perubahan tinggi puncak tulang dan dasan kerusakan yang berdekatan dengân permukaan akar. Bone regeneration pattern and ankylosis in experimental furcation defects in dogs. tindakan bedah atau re-entry surgery dan pemeriksaan histologis. Wirthlin MR. 7. Karring T. Engelberg I. Philadelphia: WB Saunders 1983. perubahan persentasi jaringan penyangga gigi pada setiap akar gigi(14). Cohen DW. yaitu jarak dan puncak tulang alveolar ke dasar kerusakan tulang. Lindhe J. 113. antara lain dengan graft tulang dan guided tissue regeneration. Karring T. Lindhe J. Lynch SE. Healing following implantation of periodontitis affected roots into gingival connective tissue. J Clin Penodontol 1980. 1996 . Wennstrom J. Selvig KA. yaitu jarak dan permukaan bukal atau lingual daerah furkasi yang mengalami kerusakán. J Clin Periodontol 1980. I Clin Periodontol 1985. J Clin Periodontol 1982. 2) Kehilangan tulang.terhadap dasar poket. J Periodontol 1981. Bedah rekonstruktif diperlukan untuk membantu regenerasi tulang. 10: 266–76. Teknik pengukuran secara linear terhadap perubahan jaringan keras gigi. 6th ad. Karring T. Glickman’s clinical pei-iodontology.yang kemudian dibandingkan(1. 4) Kedalaman probing pada kerusakan daerah furkasi horizontal. 7:96–105. New attachment following surgical treatment of human periodontal disease. Nyman S. Penilaian regenerasi jaringan diperlukan bukti adanya sementum baru dan pertumbuhan ligamentum periodontal ke arah koronal tulang alveolar. yaitu jarak dan batas semen enamel ke puncak tulang alveolar. Lindhe J. New attachment formation as the result of controlled tissue regeneration. untuk menilai regenerasi tulang alveolar. gambaran radiografis tidak dapat memperlihatkan topografi keseluruhan daerah tulang sebelum dan sesudah perawatan. Textbook of Clinical Penodontology. 555–562. Lindhe J. Glikman’s Clinical Periodontology. Isidor F. Methods for evaluation of regenerative procedures. 721–32. Karring T. 9. Penilaian regenerasi jaringan dapat dilihat secara klinis. 3) Dalamnya kerusakan. In Lindhe J. bukti terbentuknya sementum baru dengan pertumbuhan serat kolagen di antaranya(14). The significance of coronal growth of periodontal ligament tissue for new attachment formation. Lindhe J.2. Goldman HM. 7:96–105. Lopatin DE. 13: 604–16. 11: 494-503. 13: 145–150. serta pembentukan perlekatan baru secara sempurna. Caffesse RG. Analisis ini tidak dapat memperlihatkan adanya pembentukan sementum baru pada permukaan akar dan ligamentum periodontal baru(1). 7:96-105. 14. Karr ngT. Surgical denudation.

Selvig K. 63: 876–882. Listgarten MA.dontol 1994. 28. 21: 113–17. Healing of the intrabony periodontal lesion following root conditioning with citric acid and wound closure including an expanded PTFE membrane. J Clin Periodontol 1980. J Clin Periodontol 1992. Lang NP. New attachment formation on teeth with a reduced but healthy periodontal ligament. J Clin Periodontol 1985. KarringT. J Clin Periodontol 1976. Karnng T. Wikesjo UM. Hill RW. Sam Khorsandi. Kon S. 1996 27 . Radiographs in periodontics. 25. 24. 29. Warrer K. Nilveus R. Experiences with Guided tissue regeneration in the treatment of advanced periodontal disease. 7: 165–176. 12: 51–60. J Periodontol 1992. Nasjleti CE. Chamberlain AD. Periodontal probing: What does it mean?. 26. 113. Zimmermann A. 4: 16. 27. 12: 578–590. J Clin Penc. Lindhe J. Tsalikis L. 19: 449–54.23. Effect of tisseel on healing after periodontal flap surgery. Caffesse RG. Cermin Dunia Kedokteran No. The effect of citric acid and fibronectin application on healing following surgical treatment of naturrally occurring periodontal disease in beagle dogs. J Clin Periodontol 1985. Nyman S. Kersten BG. Isidor F. Holden M. Flores-de-Jacoby L.

maka para pakar di bidang periodontologi mengadakan penelitian-penelitian menggunakan antiseptik yang mempunyai sifat antibakteri. Jakarta PENDAHULUAN Peranan plak gigi terhadap terjadinya kelainan periodontal sudah dikenal selama hampir 80 tahun(1. Uji coba klinis antara 7–60 hari menunjukkan adanya hambatan pembentukan plak dan radang gingiva bila digunakan untuk membantu kontrol plak secara mekanis(13. karena hanya berperan terhadap plak gigi yang supragingival.(18) melakukan penelitian untuk membuktikan pengaruh listerin terhadap pembentukan plak dan gingivitis.ngan pesat baik di lingkungan dokter gigi maupun di kalangan masyarakat. Pada penelitian ini dilibatkan 144 mahasiswa kedokteran gigi dan staf Fakultas Kedokteran Gigi di Dickinson. umur antara 18–54 tahun. Karena bakteri plak merupakan penyebab kelainan periodontal maka diharapkan pemakaian obat kumur akan dapat mengurangi terjadinya kelainan periodontal(8).15). kerusakan tulang serta bergeraknya epithelial attachment ke arah apikal(4). 1996 PEMBAHASAN Antiseptik merupakan suatu senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme tanpa merusak secara keseluruhan(6).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Antiseptik Sebagai Obat Kumur Peranannya terhadap Pembentukan Plak Gigi dan Radang Gusi Prijantojo Laboratorium Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.17). Sebagai antibakteri. Pemakaian antiseptik sebagai obat kumur mempunyai peran ganda yaitu sebagai pencegahan langsung pertumbuhan plak gigi supragingiva dan sebagai terapi langsung terhadap plak gigi subgingiva(5).2. kerusakan mcmbran periodontal. usaha untuk mengurangi/mencegah pertumbuhan plak dilakukan secara mekanis dengan memakai sikat gigi(5). Di samping itu cara ini tidak mungkin dilakukan secara sempurna pada tiap individu karena adanya beberapa faktor misalnya letak gigi yang berjejal. Para dokter gigi yang bekerja di klinik ternyata mendukung pendapat beberapa peneliti bahwa kontrol plak secara kimia dengan menggunakan antiseptik sangat membantu kontrol plak secara mekanis(9-12). Dalam makalah ini dikemukakan beberapa macam antiseptik yang digunakan sebagai bahan dasar obat kumur yang dipasarkan di Indonesia. Sampai sekarang kontrol plak secara kimia dengan menggunakan antiseptik sebagai obat kumur berkembang de. LISTERIN Listerin dipasarkan dengan merek dagang Listerin®. Kelainan periodontal yang lanjut biasanya ditandai dengan adanya radang jaringan lunak. merupakan antiseptik yang efektif sebagai anti plak.14. 12 Agustus 1993. Orang percobaan kumur-kumur dengan larutan listerin 2 kali sehari sebanyak 20 ml tiap kali kumur selama 30 . 28 Cermin Dunia Kedokteran No. 113. pemakaian antiseptik sebagai obat kumur bertujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri plak(7). walaupun ada beberapa yang dikemas dalam bentuk gel/pasta gigi. Untuk mencegah terjadinya plak yang merupakan kumpulan mikroorganisme secara sempurna. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Sebelum ditemukan bahan-bahan kimia khususnya antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan plak gigi. Bandung. Pada makalah ini akan dibahas peran beberapa macam antiseptik yang merupakan bahan dasar obat kumur dalam upaya mencegah atau mengurangi terjadinya kelainan periodontal termasuk radang gusi.3). yang menunjukkan bahwa listerin dapat mengurangi penimbunan plak dan menurunkan derajat keradangan gingiva(16. Gordon dkk. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Lamser dkk. Cara ini ternyata kurang efektif. selama 6 bulan. Dibacakan pada Seminar Sehari tentang Periodontogi (One Day Course on Periodontogy). Kebanyakan antiseptik dikemas dalam bentuk obat kumur.

detik.1%.3% bakteri anaerob.2%.5.37. HIDROGEN PEROKSIDA Hidrogen peroksida (H. Percobaan dilakukan selama 10 hari dengan kontrol pada hari 2. hasilnya didapat penurunan indeks radang gingiva sebanyak 5.0%.(22) mengadakan penelitian untuk membuktikan pengaruh povidone iodine (Betadin) terhadap pembentukan plak dan jumlah bakteri dalam ludah. Obat kumur ini dapat dipakai untuk mengurangi bakteremia setelah pencabutan gigi atau setelah perawatan bedah(20. Efek betadine terhadap bakteri rongga mulut sangat cepat dan pada konsentrasi yang tinggi dapat mematikan bakteri rongga mu1ut(22). Penelitian 1ain melibatkan 131 orang percobaan yang pada akhir percobaan tinggal 103 orang. Addy dkk. Sebagai obat kumur biasanya dipakai konsentrasi 3%. 23. 10. Hasilnya menunjukkan penurunan skor plak yang bermakna pada bulan 1. 3 dan 6. 85 orang dan 144 orang percobaan dievaluasi perubahan indeks radang gingivanya.1% hexetidine sebagai obat kumur yang dipakai 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap kali kumur selama 30–60 detik. 18.9. 20. 3. 9. Selama 6 bulan penggunaan obat kumur diawasi oleh petugas kecuali hari libur dan 3 bulan terakhir. Hexetidine dapa digunakan pada penderita dengan radang rongga mulut dan nasopharynx(26. betadine hanya sedikit mempunyai sifat anti p1ak(23). Pemakaian hidrogen peroksida sebagai obat kumur dapat mencegah/menghambat pertumbuhan bakteri plak(36.9%. bermanfaat untuk bakteri Gram positif dan Gram negatif. Pada 3 bulan terakhir hanya 85 orang percobaan dievaluasi. 3 dan 6.9% pada bulan 1.9%. Penelitian menggunakan larutan 0. kelompok II kumur dengan listerin 2 kali sehari dan kelompok III kumur dengan air/plasebo 2 kali sehari. 20. HEXETIDINE Hexetidine sebagai obat kumur dipasarkan dengan merek dagang Bactidol® termasuk golongan antiseptik dan merupakan derivat piridin(25). Penelitian dilakukan terhadap 18 orang percobaan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang kumur dengan betadin dan kelompok lain kumur dengan plasebo/air.5%. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine. Hal ini berarti hexetidine akan bermanfaat untuk penderita dengan kelainan periodontal yang disebabkan oleh mikroorganisme. 18% pada bulan 1. dan 9. Evaluasi dilakukan pada bulan 1. 113.9.6. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) hasil ini menunjukkan perbedaan yang bermakna. Ikatan protein tersebut akan menghambat metabolisme mikroorganisme yang berada pada permukaan mukosa dan plak. Orang percobaan dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok I kumur dengan listerin 4 kali sehari. Ham- Cermin Dunia Kedokteran No.8% dan 23. 6.8%. Hasil evaluasi sampai akhir percobaan menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna dari indeks plak antara kedua kelompok. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol didapatkan perbedaan yang bermakna. Mempunyai sifat antibakteri. Hexetidine juga dapat menghambat pertumbuhan plak. Pernyataan ini dibuktikan pada percobaan dengan larutan 0. didapat penurunan indeks radang sebanyak 0.6% pada kelompok kumur 4 kali sehari dan 56.9%. Penelitian dilakukan selama 2 minggu dan menunjukkan hasil sebagai berikut: Pada kelompok kumur 4 kali sehari terjadi penurunan indeks plak sebanyak 48. Hasil evaluasi radang gingiva mendapatkan penurunan indeks radang gingiva sebanyak 59.27. Penelitian menyimpulkan bahwa povidon iodin tidak dianjurkan untuk membantu kebersihan mulut dan perawatan gingivitis karena tidak dapat menurunkan terjadinya penumpukan plak sehingga radang gusi akan terus berlangsung(22).3. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan indeks plak yang bermakna yaitu sebanyak 15. 3. dan dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya keradangan. Penelitian dengan menggunakan larutan 0.5% pada bulan 1.34). namun didapatkan penurunan jumlah bakteri dalam ludah sebanyak 39. Pendapat ini diperkuat oleh Bourgonet(30) yang mengatakan bahwa hexetidine dapat memperpanjang efek antibakteri karena adanya ikatan dengan protein mukosa.4% pada bulan 1. tergantung dari keparahan keradangan maka ratarata akan sembuh selama 4 minggu(33). 7. Masing-masing orang percobaan kumurkumur dengan betadine/plasebo 2 kali sehari sebanyak 10 ml tiap kali kumur selama 1 menit. Terhadap radang gingiva. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol maka didapatkan perbedaan yang bermakna. tetapi kurang efektif bila dibandingkan dengan chlorhexidine(31).7% dan 19.21). Ikatan dengan mukosa dan plak ini terjadi selama 7 jam setelah kumur(31). Bila dibandingkan dengan plasebo penurunan terjadinya akumulasi plak tidak ada berbeda bermakna(32. menyebabkan penurunan indeks plak sebanyak 25% pada hari ke 3 dan 52% pada hari ke 7. 1996 29 .1 % hexetidine sebagai obat kumur pada orangorang Anglo di Amerika yang menderita radang rongga mulut.38).1%.6.4.28).4% pada kelompok kumur 2 kali sehari. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine penurunan jumlah bakteri jauh berkurang(24). ternyata radang dapat sembuh dengan baik. Penurunan terjadi 1–2 jam setelah kumur-kumur. Hexetidine merupakan antibakteri dengan spektrum luas dengan konsentrasi rendah bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mu1ut(26). Penelitian 1ain(29) membuktikan bahwa hexetidine dapat mengikat protein mukosa mulut sehingga dapat menguntungkan hexetidine sebagai antibakteri.3%. namun bila kelompok kumur 4 kali sehari dibandingkan dengan kelompok kumur 2 kali sehari tidak didapatkan perbedaan yang bermakna.2% bakteri aerob dan 31. Pada bulan ke 9. kelompok 2 kali kumur sebanyak 38. 3 dan 6 bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) sebesar 12. 6 dan 9. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (kumur dengan air) maka penurunan indeks radang ini tidak bermakna. POVIDONE IODINE Povidone Iodine 1 % sebagai obat kumur yang dipasarkan dengan merek dagang Betadine® (untuk selanjutnya kami sebut betadine) sebagai antiseptik mempunyai sifat antibakteri.0 merupakan antiseptik karena dapat melepaskan oksigen sebagai zat aktif(35).1% hexetidine sebagai obat kumur pada orang-orang percobaan selama 14 hari dapat menurunkan radang gingiva sampai 34% pada hari ke 7 dan 38% pada hari ke 15(37).

Efek bakterisid kurang penting dibandingkan dengan efek bakteriostatik(58). Ikatan tersebut terjadi 15–30 detik setelah kumur dan lebih dari 1/3 bagian chlorhexidine diserap dan melekat. Chlorhexidine sangat efektif mengurangi radang gingiva dan akumulasi p1ak(40). tidak mempengaruhi kondisi gingiva secara nyata. pelikel. bahwa chlorhexidine dapat menghainbat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva(48). Dasar yang kuat untuk mencegah terbentuknya plak adalah terjadinya ikatan antara chlorhexidine dengan molekul-molekul permukaan gigi antara lain polisakarida.46). Dapat disimpulkan bahwa pengaruh chlorhexidine terhadap plak subgingival berkurang dibandingkan dengan plak supragingival. Penelitian menunjukkan bahwa larutan 0. Pengaruh ini pertama-tama dilaporkan oleh Loe dan Schiott(47) pada golongan Aarthus bahwa chlorhexidine dapat menghambat pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva. Pemakaian hidrogen peroksida 1% selama 5 hari juga dapat mengurangi terjadinya radang gingiva dan menghambat pembentukan plak(37). bakteri ragi juga jamur(56). Hambatan pertumbuhan plak oleh chlorhexidine dihubungkan dengan sifat chlorhexidine untuk membentuk ikatan dengan komponen-komponen pada permukaan gigi(45.dan tidak tampak tanda-tanda radang gingiva setelah beberapa minggu walaupun tanpa membersihkan mulut secara mekanis. Pada pH fisiologis chlorhexidine mengikat bakteri di permukaan rongga mulut. yang berarti sebanding dengan efek bakteriostatik terhadap bakteri(60). Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa hidrogen peroksida sangat membantu kontrol plak secara mekanis. mukosa serta permukaan dari hidroxiapatit. protein. Namun di regio yang terdapat poket dengan kedalaman 3 mm penurunan indeks keradangan kurang bermakna. CHLORHEXIDINE Chlorhexidine merupakan derivat disquanid dan yang umumnya digunakan dalam bentuk glukonatnya. Pemakaian chlorhexidine pada anak-anak yang terbelakang (mentally retarded) juga memberikan hasil yang kurang memuaskan walaupun ada penurunan indeks plak dan radang gingiva(53).2%(22). 1996 . Percobaan yang dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi di Norwegia selama 2 tahun menunjukkan perbedaan yang kurang bermakna antara grup kontrol yang melakukan penyikatan gigi dengan baik dibandingkan kelompok percobaan yang mcnggunakan obat kumur chlorhexidine 0. Hasil ini menunjukkan bahwa kontrol plak secara khemis pada penderita dengan kebersihan mulut yang baik. MEKANISME KERJA CHLORHEXIDINE Seperti telah disebutkan di atas chlorhexidine mempunyai pengaruh yang luas terutama untuk bakteri Gram positif dan Gram negatif. tergantung konsentrasinya. namun jumlah pelekatan sebanding dengan konsentrasinya(59). Cara pemberian. Efek anti plak chlorhexidine tidak hanya bakteriostatik tetapi juga mempunyai daya lekat yang lama pada permukaan gigi sehingga memungkinkan efek bakterisid(45. Pernyataan ini menguatkan percobaan yang telah dilakukan di beberapa negara. tergantung dari keadaan klinis penderita. Untuk hasil yang baik dari menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan 1% chlorhexidine gel di daerah dengan pembentukan poket perlu dilakukan skeling(51). Penggunaan larutan hidrogen peroksida 3% sebagai obat kumur 3 kali sehari selama 2 minggu dapat menurunkan pembentukan plak sebanyak 50% dan menurunkan indeks radang gingiva sebanyak 22%. Dengan demikian akumulasi plak dapat dicegah.batan ini dimungkinkan karena oksigen yang dilepaskan oleh hidrogen peroksida akan mengoksidasi protein kuman sehingga enzim kuman sebagai penyebab radang gingiva menjadi tidak aktif(35). hasilnya menunjukkan penurunan pertumbuhan plak(49). Berbagai percobaan klinis menggunakan obat kumur mengandung chlorhexidine telah banyak dilakukan dan ternyata chlorhexidine berpengaruh terhadap gingivitis dan periodontitis. dan terjadi 30 Cermin Dunia Kedokteran No.46). frekuensi pemakaian serta konsentrasi chlorhexidine ternyata mempunyai pengaruh. pendapat ini sesuai pendapat bahwa larutan chlorhexidine sangat efektif digunakan untuk plak kontrol pada perawatan radang gingiva(42-44). Sifat bakteriostatik bila konsentrasi antara 4–32 ug/ m1(57). Mempunyai antibakteri dengan spektrum luas. Untuk meningkatkan pengaruh chlorhexidine terhadap radang jaringan periodonsium yang mengandung poket perlu dilakukan skeling. 113. glikoprotein dan saliva.2% chlorhexidine sebagai obat kumur selama 1 minggu menurunkan indeks plak sebanyak 72% pada hari ke 3 dan 85% pada hari ke 7. walaupun tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi radang gingiva(54). karena terjadinya presipitasi protein sitoplasma. Cara aplikasi ini tidak selalu dapat dilakukan di tiap individu. tetapi kurang baik bila dibandingkan dengan pemberian 2 (dua) kali sehari. Aplikasi 0. konsentrasi yang lebih tinggi akan menyebabkan efek bakterisid. Percobaan terhadap sekelompok anggota militer menggunakan obat kumur chlorhexidine dua kali sehari untuk membantu melakukan kebersihan mulut selama 4 (empat) bulan. Penggunaan larutan hidrogen peroksida 3% sebagai obat kumur selama 4 hari menunjukkan penurunan indeks plak sebanyak 34% dan mengurangi terjadinya radang gingiva(39). efektif terhadap Gram positif an Gram negatif meskipun untuk jenis yang terakhir efektivitasnya sedikit lebih rendah(6). Aplikasi pasta chlorhexidine pada sekelompok anak-anak muda sekali sehari menghasilkan penurunan indeks baik plak maupun radang gingiva. Hampir 50% mikroorganisme anaerob terdapat pada radang gingiva dan sangat sensitif terhadap oksigen. Dinyatakan pula bahwa perawatan radang gingiva dapat dilakukan dengan menggunakan obat kumur chlorhexidine. Penelitian lain menyatakan bahwa ada pertumbuhan plak pada pemakaian chlorhexidine dengan konsentrasi yang rendah.2%. Pembentukan plak dapat dicegah dengan kumur-kumur larutan chlorhexidine 0. sehingga mengurangi terjadinya radang gingiva. dapat bersifat bakteriostatik atau bakterisid.2% larutan chlorhexidine dibandingkan dengan kumur-kumur memberikan hasil yang sama efektif(50). Penelitian menunjukkan bahwa pelekatan akan terjadi sampai 24 jam. Akibat terjadinya ikatan-ikatan tersebut maka pembentukan plak yang merupakan penyebab utama dan radang gingiva dihambat(58).

2: 6–lI. 1986. 1979. Chicago. Harjola 0. Robertson PB. Chang ii. Symposium on hexetidine. Prijantojo. Wennstrom J. Renolds JEF. 1965. Povidone Iodine (Betadine(&) Hexetidine (Bactidol ®) Hidrogen Peroksidase (H2O2 3%) Chlorhexidine Gluconate 0. Zahnartl. 78: 506. Periodont. Brenman HS. Lang NP. 1977.P. Clinical efficacy of listenne in inhibiting and reducing plaque and experimental gingivitis. The use of hexetidine on the treatment of iunflammations in oral cavity. 34: 235–249. Jensen SB. 1987. Tehranirad M. Watso Wi. Dikutip dan Kuhr W. Clin. RINGKASAN DAN KESIMPULAN Bakteri plak merupakan penyebab utama terjadinya radang gusi. 20. Am. Davies RM. Lusk SS. 1983. meskipun dapat mengurangi jumlah bakteri dalam ludah. Leatherwood EC. Axelsson P.2% (Minosep®) Keterangan: * Bermakna 14. J. J. 35. 30. 1980. Bourgonet. Florida. Clin. Jakarta 26-31 Maret 1984. Miami Beach. Killing efficiency of povidone iodine in vivo and in vitro studies of microbial activity. 1981. Bower GM. Schmidt H. Reform. Dent. 363–371. Effect of controlled oral hygiene procedures on caries and periodontal disease in adults-results after 6 years. Salkin LM. Clin. Clin. 1966. A summary of current work. Pathogenesis of inflammatory oeriodontal disease. Fosdick LS. J. J. 7. enzymes and vaccines in plaque control. J. 26. The implications of antiseptics. Tow HD. Hexetidine. 28. Mostler K. Jensen SB. Sciences. Prior to gingivectomy. Pengaruh hexetidine terhadap peradangan gingiva. Effect of listerine on dental plaque and gingivitis. 18: 212–19. 1KG IX. Penodontol. Reddy J. Kilian M. Penodont. J. 22. Periodontol. Loe H. The plaque-inhibiting effect of hexetidine (Oraldene) mouthwash compared to that of chlorhexidine. 13: 957–64. Gordon JM. 83: 18–25. 1977. 16. 5: 12–6. Raymond A. Northwestern University. Greene JC. Clin. 19. Axelsson P. Doyle J. Vermillion JR. Wdde A. Prijantojo. WeltZahnartl Reform. The effect of povidone iodine on plaque and salivary. The effect ofa urea peroxide rinse of dental plaque and gingivitis. 1991. Theilade E. The effect of controlled oral hygiene procedures on the progression of periodontal disease in adults : Results after third and final year. Chicago ill. 13. Quintesse Books. Periodont. Welt-Zahnaerzt. October. Saxen L. J. Clin. Clin. Lamm R. Dewi Fatma S. Preventive Dentistry 1974. Lindhe J. Jensen SB. Local degerming with povidone-iodine II. 4. 113. 27.kumur. 6: 115–30. Hambatan peinbentukan plak gigi dengan larutan 0. 23. 1985. Alfano MC. 36: 177–87. Med. Isaac R. TrummelCL. Clinical trial. Weatherford. 1970. Bergenholtz A Hanstrom. Sundin Y. April 8. The effect of listerine antiseptic on reduction of existing plaque and gingivitis. Fornell J. 8: 239–48. Community Dent. Antiseptik dan desinfektan dalam kedokteran gigi. 1958. Kartanegara SS. Moffitt WC. Antibacterial properties of hexetidine against microorgan ism isolated from patients mouth. Anerud K.5* Kurang bermakna 25 52* 50* 72* 85* 5. Dit. Harle F. Schiott CR. Lamter. Dent. Experimental gingivitis in man.P. Effect of hydrogen peroxide on developing plaque and gingivitis in man. J. l97l. Dent.9* Kurang bermakna 24 37 58* 22* 32 77* 9. Kuhr HW. Nov: 730–732.U. J. Res. Dent. 3. Suomi JD. 1958. Glavind. J. Seiger MC. 1974. 4: 31–4.9 23. Cermin Dunia Kedokteran No. 37. The Extra Pharmacopoeia.42: 152–60. 18. 11. Clin.penurunan indeks radang gingiva sebanyak 32% pada hari ke 3 dan 77% pada hari ke 7(61). 1975. 8. Loe H. 1985. Menaker L.7 19. Chlorhexidine compared with other locally delivered antimicro bial. Periodontol.8 23. dan Chlorhexidine dapat membantu kontrol plak secara mekanis. J. Lamster lB. 24. Adouble-blindcrossovertrial. ChatimA. Koinman KS. Loe H. Penodontol.5 20. Pills G. 45: 870. Penodont. Tabel penurunan indeks plak dan indeks radang gingiva dari beberapa antiseptik dibandingkan dengan plasebo/air Penurunan Penurunan Antiseptik Lama Indeks radang Indeks plak (Obat kumur) Pemakaian (dalam %) gingiva (dalam % ) Listerin® 1 bulan 3 bulan 6 bulan 9 bulan 10 hari 3 hari 7 hari 14 hari 14 hari 3 hari 7 hari 15. Alabama J. 16:71–77. The effect of chlorhexidine on the human oral flora. Translated from the German. Invest. Gnffiths C. Lionetti FJ. Farmakologi beberapa qptiseptik dan infeksi nosokomial. Lindhe J. 1980. Effect of an oral rinse on experimental gingivitis. Ass. Epidemiol. Lab. Res. Res. N. 10. 4: 145–65. 2: 70–74. Periodontol. J. Soc. 31. Carter H. Penataran Pengelolaan/lsolasi Penderita Penyakit Menular. plaque formation and formed plaque.C. 27th ed. Conversion (Medical Div. 1974. Ross NM. Theilade E. The pharma ceutical press London. 33. P3M Dep. Zahnaerzt. Oct. 1982. 3: 195. A review of antimicrobial agent in plaque disease. A longitudinal clinical and bacteriological investigation. Periodont. Ross NM. Schwalber J. J.1 9 20. J. 7: 431– 42. The effect of two commercial antibacterial mouthrinses on plaque growth in vivo. Inhibition of plaque formation in humans by octinidine mouthrinse. 32. Patters MR. Periodon.1% hexeti dine sebagai obat. Nalbandian J. 21. 15. Experimental gingivitis in man. 36. Barnes GP. Sieger MC. Chicago. Symposium on hexetidine. Randall E. 14: 285–88. 78: 560. Periodontol. 12. RI. Communications A. VanderWyk RW. Clinical trial. 1976. Periodontol. 1: 126–38. 34. Periodon. KEPUSTAKAAN 1. Page. Prey. Povidone iodine (Betadine®) bukan untuk membantu kontrol plak secara mekanis karena menurunkan indeks plak dan indeks radang gusi secara tidak bermakna. 5. Bahan antiseptik sebagai obat kumur sangat membantu mencegah terjadinya akumulasi plak dan menurunkan radang gusi. J. Chemical inhibition on plaque. Listerin. The effect of preventive program on dental plaque. Gordon JM. Efficacy of listerine antiseptic inhibiting the development of plaque and gingivitis. 1974. Am. 1968. Clin. 1976. Periodontol. Addt M. Utji R. 1969. The effects of listerine antiseptic on dental plaque. Wright WH. Periodont. Lindhe J. 1980. 2. Addy M.W. Prey. 25. The use of hexetidine in the treatment of inflammations in the oral cavity. Clinical trial. 1957. Ainamo J. Res. 10: 607–10. J. 12: 697–704. Periodontol.S. Scrod. Mankodi S. J. 647. J. June 25. 1: 1–13.) Miami. K. 57–65. 1996 31 . 6. 29. 5: 84. 1969. Kes. Hidrogen peroksida. Hull PS. J. 1975. J. mencegah atau mengurangi akumulasi plak akan dapat mengurangi terjadinya radang gusi. Lindhe J. gingivitis and canes Result after one and two years. Effects of three mouthwashes on existing dental plaque accumulations. II. Schroeder HE.

Scand. Cerra MB. Kumpulan Makalah llmiah Kongres PDGI XVII 1992.A. Ochsenbein H. Gjermo P. 48. Periodont. J. Br. chlorhexidine on the bacterial colonization on the teeth and gingiva. Chlorhexidine in dental practice. Effect of chlorhexidine gluconate on granulation tissuc. 20: 52. Res. 19: 209. Chlorhexidine a review of literature. Loe H.R. Bonesvoll P. 5: 102–109. 1982. Res. The effect of mouthrinses and topical application of chlorhexidine on the development of dental plaque and G. 68–75. Rolla G. The effect of sodium bicarbonate and hydrogene peroxode on the microbial flora of periodontal pockets. A clinical trial. 41. Hellden L. Assn. Res. J. Davies A. Res. 9: 225. Bassiouny MA. A 4 month study on the effect of ehiorhexidine mouthwashcs on 50 soldiers. J. Rolla G. 1973. 47. 54. 1972. The effect of topical application on 51. Periodont. J. 1977. J. Chlorhexidine in der Zahnheil Kunde. 42. J. 2: 153–59. 49. Gjermo P. 5: 102–09. Periodont. 1974. 1975. Loe H. The toothbrush application on chlorhexidine.D. 139: 322–27. 50. J. 83: 113–22. 1972. 39. Symposium 1969. Periodont. 5: 9. Literature Review. Canad. Edinburg 1970. Periodont. 59. Dent. Rolla G. 61. J. 113. Jensen SB. 1972. Dent. Lundgren D. Clin. Rolla G. J. (l. 57. Rolla G. Oral Biol. Periodont. It is easy to preach fasting with a full belly 32 Cermin Dunia Kedokteran No. Gjermo P. Gjermo P. 58. 1975. Schiott CR. Usher PJ. Baastad KL. Periodont. 1970. Heyden G. Nagle PJ. in man. Prijantojo. Clin. Penurunan radang gingiva dengan pemakaian larutan 0. J. Periodont. 4: 74–101. 1978. J. Soc. Schiott R. The affinity of chlorhexidine for hydro xyapatite and salivary mucins. 60. 1974. 1975. The effect of supression of the oral microflora upon the development of dental plaque and gingivitis in dental plaque. Schiott R. 7: 192. 1970. Loe. 1975. 5: 96–101. Erikson HM. 1970. Retention of chlorhexidine in the human oral cavity after mouthrinses. Gjermo P. Dent. Res. J. Relationship between plaque inhibiting effect and relation of chlorhexidine in the human orak cavity. Plaque inhibition.2% chlorhexidine sebagai obat kumur. 5: 79–83. Davies RM. Eine Literatur Ubersicht-Schweiz Monatsschr Zahn Keilkd. 53. 247–55. Ed. J. 56. 1970. Loe H. antibacterial activity and toxicity of 6 bisbisquanide J. Livingstone Ltd. The effectofachlorhexidine containing gel on oral cleanliness and gingival health in young adults. 1973. 52. Res. The plaque inhibiting capacity 11 anti bacterial compounds. 329–34. 55. Periodont. Res. 1996 . The plaque inhibiting capacity of 11 antibacterial compounds. Res. Res. 10: 599–603. by McHugh. Arch. Periodont. Gjermo P. 46. 40. Effect of2 years use of chlorhexidine and caries. Eriksen HM. West. Periodontol. 44. Dent. Br. Periodont. HirstR. Gjermo P. 80: 10–17. Lokien P. Schiott CR. 19: 1031. Oral Biol. Schiott CR. 45. Killoy WJ. Rolla G. Dent. Res. Clin. Bonesvoll P. Flotra L. 1974. Rolla G. Chlorhexidine : An ideal plaque inhibiting agent?. J. 143–52. Johansen JR. Grant AA. The mode of action of chlorhexidine.38. Arch. 8: suppl 13. Scan. J. 83: 288–92. Res. 1974. Hansen F. 2: 73–5. Dent. The sensitivity of oral Streptococci to chlorhexidine. J. 1970. Habitan in peridontal diseases. Baastad K. WDE and S. Oral hygiene in mentally handicapped children.l. abstr 204) 1972. Turnbull. 138: 217–21. Periodont. J. Waerhaug J. A pilot study of the use of chlorhexidine gel. 43. J. Gjermo P. Gjermo P.

Pada permulaannya sebagian besar bakteri dalam plak adalah bakteri streptokokus Gram (–). Interaksi ini akan meningkatkan permeabilitas dinding sel bakteri yang menyebabkan terjadinya penetrasi ke dalam sitoplasma yang menyebabkan kematian mikroorganisme. CHLORIIEXIDINE Chlorhexidine mulai dikenal sejak 1950 sebagai antimikroba dengan rumus kimia: Cara kerja Telah dibuktikan bahwa chlorhexidine dapat mengikat bakteri. Keadaan ini merupakan dasar aktivitas chlorhexidine untuk menghambat pembentukan plak (anti-plak)(6). kemudian dilepas perlahan-lahan dalam bentuk yang aktif. algae dan virus dapat juga dihambat oleh chlorhexidine. bakteri ragi. baik oleh para dokter umum. sehingga dapat meningkatkan sensitivitas streptokokus dalam rongga mulut terhadap chlorhexidine(4. Jakarta PENDAHULUAN Chlorhexidine telah dipakai secara luas di kalangan kedokteran. chlorhexidine digunakan di rumah sakit berbagai negara sebagai antiseptik. Akhir-akhir ini chlorhexidine dipakai secara luas di kalangan kedokteran gigi sebagai obat untuk menyembuhkan serta mencegah kelainan rongga mulut. 1996 33 . terutama alat-alat operasi. Chlorhexidine merupakan antibakteri dengan spektrum yang luas dan sangat efektif untuk bakteri Gram (+).2% larutan chlorhexidine akan mengurangi jumlah mikroorganisme dalam saliva sebanyak 80% dan apabila pemakaian obat kumur dihentikan bakteri akan kembali seperti semula dalam waktu 24 jam(7. jamur serta protozoa. Cermin Dunia Kedokteran No. Penyelidikan secara in vitro menunjukkan bahwa chlorhexidine diserap oleh hydroxiapatit permukaan gigi dan mucin dari saliva. Makalah ini merupakan ringkasan dan berbagai penelitian serta uji coba secara klinis untuk membuktikan peranan chlorhexidine guna mencegah serta terapi dan kelainan rongga mulut dan karies.Di atas pelikel ini akan menempel berbagai macam bakteri yang membentuk koloni. selama lebih dari 25 tahun. PLAK GIGI (DENTAL PLAQUE) Merupakan kumpulan berbagai macam bakteri di atas pelikel permukaan gigi.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Peranan Chlorhexidine terhadap Kelainan Gigi dan Rongga Mulut Prijantojo Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Plak ini tidak bisa dihilangkan dengan kumur-kumur air(9).3). sebagai antibakteri. Sangat efektif sebagai disinfektan pada kulit sebelum operasi. Streptokokus tertentu dapat terikat oleh chlorhexidine pada media polisakarida di luar se1(2. baik sebagai obat kumur maupun dalam bentuk pasta gigi serta membandingkan dengan antiseptik yang lain. 113. Tujuan penelitian kebanyakan untuk menguji efektivitas dan chlorhexidine.5). cuci tangan sebelum operasi serta sebagai disinfektan dan alat-alat kedokteran. Filamen mulai ditemukan setelah beberapa Sejak diperkenalkan.8). spesialis maupun dokter gigi. Lebih dari 500 artikel tentang chlorhexidine yang merupakan hasil penelitian dan pakar-pakar di bidang kedokteran seluruh dunia telah dipublikasikan. Banyaknya plak sangat tergantung dari macam makanan dan kebersihan mulut seseorang. cocci dan bakteri basil (bacilli). Pembentukan plak didahului oleh pe1ikel yang terdiri dari glikoprotein dari saliva. Gram (–). Kumur-kumur dua kali sehari dengan menggunakan 0. mungkin disebabkan adanya interaksi antara muatan positif dan molekul-molekul chlorhexidine dengan dinding sel yang bermuatan negatif(1).

50 1.2% chlorhexidine glukonat sebagai obat kumur selama satu minggu menghasilkan penurunan pembentukan plak sebanyak 72% pada hari ke 3 dan sebanyak 85% pada hari ke 7 (Gambar 1). Bila dibandingkan dengan obat kumur lain. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa chlorhexidine efektif sebagai antiplak. hexidine. di samping itu plak juga dapat memudahkan terjadinya karies dari gigi(11. Cetylpyridinium chlorida 0.75 0.22). Indeks plak rata-rata pada 60 penderita setelah pemakaian berbagai macam obat kumur selama 4 hari Obat kumur Kontrol : obat kumur sukrosa 1.19 1. Uji coba klinis selama 4 bulan yang melibatkan 50 orang anggota militer menunjukkan bahwa larutan 0. Pemakaian obat kumur dengan larutan 0. walaupun begitu bukan tidak mungkin akan berlanjut menjadi periodontitis.2% 2. Gingivitis tidak selalu menjadi periodontitis(13).2% chlorhexidine 2 X 1 hari Skeling ternyata dapat meningkatkan pengaruh chlor Penelitian lain yang membandingkan efek obat kumur chlorhexidine dengan hexetidine terhadap kebersihan mulut menunjukkan bahwa chlorhexidine lebih efektif dibandingkan dengan hexetidine untuk menurunkan derajat akumulasi plak dan derajat keradangan gingiva(22).2% 3. dengan chlorhexidine memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan hexetidine(23). Hasil dan penelilian ini menunjukkan perbedaan yang bermakna.2% 8. Biasanya kelainan periodontal dimulai dengan keradangan gingiva (gingivitis).20). pada suatu saat akan terjadi kerusakan tulang alveolar dan jaringan kolagen (periodontal membrane) dan terjadilah penodontitis.1 % 6. Chlorhexidine gluconat 0. Chlorhexidine sangat efektif untuk plak kontrol secara khemis sehingga dapat mencegah terjadinya gingivitis dari kerusakan jaringan periodonsium(19). Uji coba klinis dengan larutan 0. 1996 . Dibromopropamidine diisothionate 0. Aminocridine hydrochiorid 0. Penelitian Bosman & Powell membandingkan efek ini chlorhexidine dengan pembersihan rongga mulut secara konvensional memakai sikat gigi pada penderita gingivitis.2% 10. sedangkan dengan kumur-kumur larutan chlorhexidine 0. Hidrogen peroxida 3% 11.2% chlorhexidine glukonat untuk membantu pembersihan gigi secara konvensional akan meningkatkan kesehatan gingiva secara bermakna terutama di daerah interdental(14). chlorhexidine ternyata lebih efektif untuk menurunkan terjadinya akumulasi plak(21).23 0. Uji coba klinis Hambatan pembentukan plak dan berkurangnya radang gingiva setelah pemakaian larutan 0.2% chlorhexidine sebagai obat kumur 2 kali sehani pertama-tama dibuktikan oleh Loe dan Schiott (1970)(15). 113.43 1. Dequalinim chlorida 0. Spiral dan spirocheta mulai terlihat setelah 1–2 minggu. Chlorhexidine asetat 0. Ethanol 50% u/w Indeks plak rata-rata 1.1% (Bactidol®).65 1.: Kumur Chlorhexidine Grafik 1. Hasil penelitian ini didukung oleh Prijantojo pada penelitiannya terhadap siswa sekolah dasar yang berumur antana 10–15 tahun untuk membandingkan pengaruh larutan 0. Benzalkonium chlorida 0. Pemakaian pasca bedah Penutup luka setelah operasi periodontal telah lama digunakan dengan tujuan untuk melindungi terhadap trauma dan luar serta mencegah terbentuknya jaringan granulasi yang berlebih 34 Cermin Dunia Kedokteran No.1 % 5.2% sekali sehari gingiva akan menjadi normal dalam waktu 4 hari(24). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menyikat gigi sekali sehani kesehatan gingiva akan menjadi normal setelah 10 hari.1 % 4. Indeks plak rata-rata setelah kumur-kumur 0.92 Keterangan: ––––––––– : Tidak menyikat gigi ------------. PEMAKAIAN CHLORHEXIDINE DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI SECARA KLINIS Kelainan periodontal kronis bila tidak diobati akan berkembang progresif dan akan merusak jaringan periodonsium. tetapi hasilnya akan lebih baik setelah dilakukan skeling baik supra maupun subgingiva(14).hari. Mepacrine hydrochlorida 0.88 0.15 1.47 1.2% chlorhexidine sebagai obat kumur dapet menurunkan terjadinya akumulasi plak sebanyak 66% bila sebelumnya tidak dilakukan terapi. Chlorhexidine telah dibuktikan sebagai antiplak yang sangat efektif sehingga mempunyai peranan penting pada terapi gingivitis dan pencegahan kelainan periodontal. Banyak penelitian yang hasilnya mendukung penelitian terdahulu yaitu bahwa chlorhexidine efektif untuk menurunkan/mencegah pembentukan plak dan meningkatkan derajat kesehatan gingiva(16.93 1.2% 7.2% chlorhexidine sebagai obat kumur (Minosep®) dengan hexetidine 0.2% 9. Proguanil hydrochlorida 0. Kelainan periodontal ini merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada usia muda. Komposisi dari plak yang telah matang terdiri dari(10) : – Gram (+) cocci dan basil 50% – Gram (–) cocci dan basil 30% – Fusobakteri 8% – Filamen-8% – Vibrio 2% – Spirocheta 2% Sampai saat ini plak masih dianggap penyebab utama kelainan periodontal. sedang setelah dilakukan skeling baik supra maupun subgingiva akan terjadi penurunan indeks plak sebanyak 85%(17).36 1.

Leukemia Myeloid Akut (LMA) sering terjadi perdarahan gingiva. ternyata chlorhexidine 0. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa pada penderita ini sering mengabaikan kebersihan mulut karena sakit pada waktu menyikat gigi.29).33.2% . Larutan 0. Chlorhexidine dapat membantu penyembuhan ulkus (sariawan). Pernyataan ini telah dibuktikan pada 137 pasien dengan pemakaian gigi tiruan penuh. astringen. kelompok II menggunakan astringen sebagai obat kumur. misalnya pada penderita haemophili. Karies gigi Karies gigi terjadi karena demineralisasi jaringan gigi yang Keterangan: A = Astringen. penderita ini tidak mungkin melakukan pembersihan rongga mulut secara sempurna. Candidiasis rongga mulut (Oral Candidiasis) Mikroorganisme Candida terdapat ± 50%. sedangkan kesembuhan luka menjadi lebih cepat bila dibandingkan dengan menggunakan larutan salin (Gambar 3). sedangkan kelompok ke III menggunakan plasebo sebagai obat kumur.2% sebagai obat kumur. Candidiasis rongga mulut sering sulit dikontrol dengan metoda konvensional.2% chlorhexidine sebagai obat kumur dengan tujuan mencegah atau mengurangi terjadinnya akumulasi plak dan mempercepat kesembuhan luka. Banyak masalah yang sering timbul pada penderita yang dirawat secara intensif karena penyakit umum yang serius. Untuk membantu kebersihan mulut digunakan larut an 0. Gigi tiruan penuh sering menyebabkan terjadinya perubahan pada mukosa muiut (denture stomatitis).34). Hal ini telah dibuktikan pada penelitian terhadap penderita ulkus mukosa (sariawan). Gigi tiruan sebagian merupakan predisposisi untuk terjadinya akumulasi plak yang memungkinkan kelainan periodontal yang lebih lanjut. yang tentunya akan meningkatkan radang gingiva.chlorhexidine efektif untuk membantu kesembuhan dari infeksi ini(40). Kumur-kumur dilakukan 3–8 kali sehari. Terjadinya perdarahan ini diperberat dengan meningkatnya akumulasi plak. Pemakaian larutan 0. Larutan 0. Keadaan ini menyulitkan dokter atau perawat yang menangani penderita ini. hingga kesembuhan akan lebih cepat(25. serta 5 penderita leukemia akut dengan kumur larutan 0.2% chlorhexidine sebagai obat kumur 3 kali sehari memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan penutup luka setelah operasi(28. Orang percobaan dibagi tiga kelompok: Kelompok I menggunakan chlorhexidine glukonat 0. perubahan ini disebabkan karena adanya perubahan situasi rongga mulut misalnya karena adanya gigi tiruan. Hasil penyembuhan ulkus pada pemakaian chlorhexidine. Uji coba klinis menggunakan larutan 0. Uji coba klinis juga dilakukan terhadap penderita dengan fiksasi rahang karenã fraktur(42) untuk memperbaiki hubungan oklusi antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah.26. sehingga pengobatan antileukemia dapat lebih efektif.2% chlorhexidine infeksi akan sembuh dalam waktu 2-4 hari. Kira-kira 65% penderita dengan gigi tiruan penuh (GTP) mengalami stomatitis yang dimulai dengan infeksi ringan di permukaan mukosa tertentu dan lama kelamaan melebar ke daerah sekitarnya. C = Placebo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akumulasi plak berkurang. Larutan chlorhexidine dapat membantu kebersihan rongga mulut. selama pengobatan dengan antibiotik atau terapi dengan radiasi. Ulkus mukosa (Aphthous Ulcers) Penyebab ulkus mukosa ini belum jelas dan perawatannya pada umumnya dilakukan secara simptomatis dengan tujuan menghilangkan faktor predisposisi. Chlorhexidine yang merupakan antibakteri efektif mengobati/mencegah terjadinya infeksi Candida(41).2% chlorhexidine sangat membantu meningkatkan kebersihan mulut pada penderita dengan gigi tiruan sebagian(39). biasanya disebabkan karena jamur Candida terutama Candida albicans. sehingga penyembuhan menjadi lama. rasa sakit dan kurangnya kebersihan mulut akan memberikan efek yang kurang baik. serta penderita setelah operasi rongga mulut. Candida dapat berubah menjadi patogen menyebabkan terjadinya infeksi dan rongga mulut.31) (Grafik 2). Hasil dari penelitian ini ternyata sangat memuaskan. mungkin disebabkan karena berkurangnya kolonisasi bakteri yang berkontaminasi dengan luka dan mengurangi terjadinya infeksi sekunder(30). kuman dan akan menghambat atau mempengaruhi pengobatan. Keadaan ini akan meningkatkan akumulasi plak yang tentunya akan menambah keparahan ulkus.2% memberikan hasil yang lebih baik dari kelompok-kelompok 1ainnya(30. Pada kelompok ini chlorhexidine 0. Hal ini telah dibuktikan pada 153 penderita dengan pemakaian gigi tiruan sebagian.27).2% sangat efektif untuk membantu kebersihan mulut(32. Kebérsihan mulut perlu ditekankan untuk meningkatkan kesehatan gingiva dan memperpanjang pemakaian gigi tiruan(38). 113. Stomatitis terjadi oleh karena tekanan gigi tiruan pada permukaan mukosa sehingga terjadi perubahan lingkungan mikroorganisme rongga mulut dan menyebabkan infeksi pada mukosa.an.2% chlorhexidine dapat mencegah terjadinya invasi kuman-kuman. Namun kekurangannya yaitu kadang-kadang terjadi penumpukan sisa makanan/plak pada luka operasi. H = Chlorhexidine Grafik 2. 1996 35 . Uji coba klinis terhadap 8 penderita Candidiasis yang akut. Walaupun desain gigi tiruan bagus. Perdarahan ini akan menyebabkan terjadinya invasi Cermin Dunia Kedokteran No. plasebo Pemakaian pada penderita yang tidak dapat melakukan kebersihan mulut dengan baik Kelompok ini termasuk penderita yang terbelakang (mentally retarded) atau penderita dengan kelainan umum yang serius. orang dewasa tanpa menunjukkan gejala infeksi.

Dent 1975. Pethandingan pengaruh chlorhexidine dan hexetidine terhadap radang gingiva secara klinis. Say. Hasil pemeriksaan setelah 2 minggu terlihat bahwa Streptococcus mutan menurun sampai 700 koloni. Res 1970. Jensen S et al. 8: 57. J. Schiott CR. 17. (Supp 12). 29. The effect of chlorhexidine mouthrinses on the human oral flora. Prey. Dent. 80: 361–63. Bergenholtz A. Jensen SB. A longitudinal clinical and bacteriological investigation. Dent. 19. Kilian M. 25.5% pasta gigi yang mengandung chlorhexidine ternyata dapat menghambat terbentuknya karies(44. Periodont.oe H. KEPUSTAKAAN 1. Loe H.2% chlorhexidine sebagai obat kumur. J. Klewansky P. 18. Periodontol. Res 1973. namun tidak ada hubungan langsung antara terjadinya karies dan konsumsi gula. Gjermo P. Bay L. Am. Res. Glavind K. B. J. Bila perlakuan dengan sukrosa dikombinasikan dengañ kumur-kumur larutan 0. Res 1972. A comparison of a periodontal dressing and chlorhexidine gluconate mouthwash after the internal bevelled flap proce dure. Dent. (Supp 12). J. The reversal of localized experimental gingivitis. The effect of chlorhexidine mouthrinses on the human oral flora. Periodont. Res 1970.D. Rolla 0. Gjermo P. Clin. Clin. Experimental gingivitis in man. Prijantojo. Gjermo P.1% dan 0. J. 1. Schiott CR. 16: 661–71. Periodont 1977. N. Thai of astrigont and antibacterial 4. KESIMPULAN Penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh para ahli Menunjukkan bahwa chlorhexidine memegang peranan penting 7. Rolla G. 360. Gouk DN. 13. 1973. Daniesmand H. Effects of chlorhexidine mouthwashes on man. 240–47. Oral Epidemiol. Konsultasi pribadi. Prayitno SW. 113. J. Schiott CR. 2: 73–75. 22. 5: 84–89. Scand. Gjermo P. 14-C-chlorhexidine interactions with in vitro plaque components. Aplikasi topikal menggunakan pasta 1% chlorhexidine terhadap 5 penderita wanita dengan infdeks karies tinggi untuk menurunkan jumlah bakteri Streptococcus mutan yang diduga merupakan penyebab utama dan karies(46). J. Davies R. J. Longworth AR. 5: 84. J. 2: 70-4. Effect of chlorhexidine on the microflora of the oral cavity. 80: 10. 21. IADR Abstract No. Literature review. 26. 8: (Supp 12). Res 1973. 1996 . Mandel ID. Dolles OK. Res 1973. J. Hambatan pembentukan plak oleh larutan 0. Prijantojo. Comming BR. 17: 28. Clin. 1974. J. 1. Addy M. Anvendelse afklotheksidin I. 1: 143–52. Dent.2% chlorhexidine sebanyak 2 kali sehari akumulasi plak akan dihambat dan hanya sedikit terjadi peningkatan karies. Hjeljord LO. Tandlaegebladet 1976. 30. Res 1973. The plaque-inhibiuting capacity of 11 antibacterial compounds. 11. Penelitian yang dilakukan terhadap 73 mahasiswa dengan menggunakan larutan 0. Hennessey TD. Library. Baastad KL. New approachestoplaqueprevention. Periodont. Seal M. Loesche Wi. 1975. Bakteri plak akan meragikan gula dan menghasilkan asam organik dengan pH rendah. 52: 607 (Abstr). suasana asam akan menyebabkan terjadinya kerusakan enamel yang 95% di antaranya adalah hydroksiapatit dan menyebabkan terjadinya demineralisasi dan karies.untuk pengobatan serta pencegahan kelainan rongga mulut dan kelainan gigi (karies). Periodont. 61. 1974.2% chlorhexiditie mouthrinse. Periodont. 20. Act. ternyata akumulasi plak meningkat dengan hebat sedangkan indeks karies meningkat sampai 86%. 4: 161–72. 7. Periodont. Addy M. Res. KPPIKG Ul 1991. Res 1970. Chlorhexidine : An ideal plaque inhibiting agent?. 1993. Periodontal kirurgien. J. Periodont. Rolla 0. Dent. 1978. Dent. 6. Dolby AE. Gjermo P.4% chlorhexidine sebagai obat kumur selama 2 tahun dan 0. A copy of Thesis. The use of chiothexidine-containing meshacrylic gel as a periodontal dressing. 5: 102–09. 8. 16. Gambar 3. Percobaan dilakukan selama 2 minggu. Dent.M. Cytological aspects of the mode of action of chlorhexidine. Sebelum percobaan jumlah Streptococcus mutan 105 unit/koloni dalam 1 ml air ludah. 3. L. Hanstrom L.A. Res 1973. Flotra L. J. 28. secara klinis akan tampak adanya lubang pada gigi. 49. Davies A. Loe H.45). kemudian cairan ludah diambil dan diperiksa. 68. Langebaek 1. The mode of action of chlorhexidine. 355–59. I 576–79. Chlorhexidine in dental practice. Res 1980. Assn 1978. Nagle PJ. 9. Schiott CR. Olsen 1. I. 5: 17–24. Bonesvoll P. The plaque inhibiting effect of chlorhexidine (Oraldere (R)-mouthwash compared to that ofchlorhexidine. Periodontol. Cohen PN. A 4 month study on the effect of chlorhexidine rnouthwashes on 50 soldiers. Comm. J. J. Powell RH. Some antibacterial properties of chlorhexidine. Addy M. 14-C-chlorhexidine to plaque and teeth in vitro and in vivo. 5. The effect of mouthrinses and topical application of chlorhexidine on the development of dental plaque and gingivitis in man. 1973. Hugo WB. The effect of chemical control plaque on the healing of periodon tal surgical wound. Antimicrobial agents for the treatment of dental caries. 2. 46: 465-468. Optimal dosage and method of delivering chlorhexidine solutions forthe inhibiting of dental plaque. Karies dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan plak gigi dan dapat diperberat oleh makanan mengandung karbohidrat. 27. 10. A comparison between mechanical toothbrushing procedures and a 0. 24. 23. dapat disimpulkan bahwa chlorhexidine menghambat pembentukan asam akibat fermentasi sukrosa oleh bakteri. Jensen SB. 21: 81–6. J. Res 1970. Newman DS. Wright WH. 52: (Supp 1). Turnbull. 88: 22–7. Periodont. Am 1972. J. Loe H. Periodontol 1974. KPPIKG IX 1991. Res 1977. Pharm. Pasta gigi dioleskan dan ditunggu sampai 5 menit. Hjeljord LG. Percobaan dilakukan pada mahasiswa dengan kumurkumur sebanyak 9 kali sehari dengan 50% larutan sukrosa. Pharmacol 1965. Canad. Tapper-Jones L. 5: 79. Chlorhexidine efektif sebagai antiplak sehingga dapat mencegah terjadinya karies. 62. 36 Cermin Dunia Kedokteran No. 15. Dent. Periodont. 14. 12. Frank RM. Scand J. Ned. Tran 1978. Theilade E. BosmanCW. Penelitian selama 2 tahun terhadap siswa suatu sekolah dengan menggunakan kombinasi chlorhexidine dan fluor sebagai obat kumur menunjukkan terjadinya penurunan karies bila dibandingkan dengan menggunakan larutan fluor sebagai obat kumur(11). Indeks plak rata-rata pada penderita dengan fiksasi inter– maxilary setelah pemakaian saline dan chlorhexidine 3X sehari. I.

Dent. 4: 41–7. Scand. A pilot study of the use of chlorhexidine gel. The clinical effect of chlorhexidine and amphotericin B. Lancet (Oct) 1977. 46. J.Munksgaard Philadelphia 1983. 1977. Studies on salivary microorganisms by use of a chlorhexidine containing toothpaste. Res 1973. J. 17: 251–55. Textbook of Clinical Periodontology. Emilson CO. supp 12: 41–4. 40. Jameson B. Russel B. Carpenter R. J. 34. 35. Oral Surg 1979. The use of chlorhexidine gluconate mouthrinses in patients with intermaxillary fixation. vander Fehr FR. 125–49. Johansen JR. Dent. Addy M. 113. 526). Olsen I. Gjermo P. Wilshaw E. Dent. Dent. Management of recurrent aphthous ulcerations. Chemotherapy 1. Flotra L. Chlorhexidine as a denture disinfectant in the treatment of denture stomatitis. Loe H. Emilson CG. Gaya H. Bates JF. Lie SO. J. J. Acta Paediatr. Br. Stomng RA. 1996 37 . The effect of partial dentures and chlorhexidine gluconate gel on plaque accumulation in the absence of oral hygiene. J. Acta Odont Scand 1975. Microbiology of plaque associated periodontal disease.D. 37. 1975. 141: 118–20. Nash E. Olsen 1. 1976. Bay L. Different modes of chlorhexidine application and related local side effects. 1973. Res 1975 (I. 63: 809-11. A trial of chlorhexidine gluconate gel. Schiott RC. The effect of oral rinsing with chlorhexidine on the development of plaque and gingivitis in mentally retarded children. Dent. Dent. Res 1971. Penodont. L. Susceptibility of various microorganisms to chlorhexidine. LindheJ. Stomng RA.A. The effect of chlorhexidine rinses on experiment caries in man. Budtz J. McElwain TJ. 36. 38. 1974. Addy M. 41. Usher PJ. Scand. 32.31. 43. 42. J. J. 1976. 85: 255–65. 45. 33. J. mouthwashes in the management of recurrent aphthous ulceration. Chlorhexidine treatment of oral candidiasis in seriously diseased children. Res 1976. 93–98. Scand. 39. Addy M. 33: 47–52. gingivitis and caries. 84: 308–19. 44. 1974. Eriksen HM. Br. Gaya H. J. Dent. Abstract No. Roberts WR. 83: 288–292. Cermin Dunia Kedokteran No. Dent. 837–840. 138: 217–21. Res 1979. Jameson B. Loe H. Langslet A. Scand.R. 50: 706. Lokken P. Periodontol. 52: 991 (Supp 5). Fornall J. Spiers ASD. J. Clin. Denture stomatitis. Res. Br. Res 1975. Effect of 2-years use of chlorhexidine containing dentrifrices on plaque. 136: 452–55. Dent. Br. Oral hygiene in mentally handicapped children.

serta penggunaan alat ultrasonik(4. Pencemaran air raksa di lingkungan kerja dokter gigi.ULASAN Pencemaran Air Raksa di Lingkungan Kerja Dokter Gigi Harmas Yazid Yusuf SMF Gigi dan Mulut. ekonomis. Pencemaran tersebut umumnya diakibatkan dan pembuangan limbah industri pengguna yang tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan namun dapat pula teijadi di lingkungan kerja dokter gigi. Di lingkungan kerja dokter gigi. baik tubuh operator maupun tubuh pasien yang se. penggunaan sterilisator panas kering (dry heat). air raksa yang telah terikat 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Meskipun demikian.dang dirawat melalui pernapasan.3). Hasan Sadikin. kulit melalui kontak langsung atau melalui saluran cerna akibat tumpahan air raksa yang tidak segera dibersihkan. 113. pemasangan karpet lantai ruang. yang secara garis besar adalah sebagai ber-ikut: Ag3Sn + Hg –> Ag2Hg3 + Sn7Hg + Ag3Sn Pencampuran kedua macam bahan tersebut dapat secara manual atau melalui alat(1). Bandung ABSTRAK Pencemaran lingkungan oleh air raksa telab diketahni mempunyai dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Keracunan air raksa seperti halnya dengan logam berat lainnya dapat terjadi melalui berbagai jalan antara lain melalui pernapasan. kebocoran kapsul amalgam. sisa-sisa amalgam atau air raksa yang dibuang secara sembarangan. wadah air raksa yang tidak tertutup rapat. PENDAHULUAN Air raksa atau merkuni (Hg) merupakan suatu bahan kimia yang diperlukan dan dipakai oleh banyak industri seperti industri cat.5. 1996 . TINJAUAN MENGENAI PENCEMARAN AIR RAKSA Pencemaran air raksa terhadap lingkungan hidup akan menimbulkan dampak negatif pada kesehatan manusia. Amalgam sebagai bahan tumpatan gigi geligi terutama gigi bagian posterior masih banyak dipergunakan. Pencemaran tersebut akan mengakibatkan tenjadinya toksisitas atau keracunan tubuh manusia.6). pemakaian amalgam sebagai bahan tumpatan gigi mempunyai risiko terjadinya pencemaran air raksa terutama bila cara penanganannya kurang baik. kerja. AmalDibawakan pada Seminar Nasional Kedokteran Lingkungan (Environmental Medicine) tanggal 24–25 Januari 1994 di Bandung Jabar. dapat terjadi pada pemakaian amalgam sebagai tumpatan gigi. air raksa dapat masuk kedalam tubuh. Reaksi yang timbul antara air raksa dan alloy amalgam disebut proses amalgamasi. baik di dalam maupun di mar negeri karena mempunyai berbagai keuntungan yang tidak dipunyai bahan tumpatan lainnya antara lain dalam hal kekuatan menahan daya kunyah. gam merupakan pencampuran dari bahan alloy dengan air raksa. mempunyai masa kadaluarsa yang panjang serta teknik manipulasi yang mudah. peredaran kembali udara dalam ruang kerja tanpa adanya ventilasi. farmasi serta dipakai sebagai bahan campuran tumpatan gigi yaitu amalgam. Selain dan hal tersebut di atas. Rumah Sakit Umum dr. pemerasan rutin air raksa yang berlebihan dari amalgam. pestisida. suntikan serta makanan dan minuman yang terce mar(2.

lidah bengkak. serta mudah dibersihkan dengan sempurna untuk mencegah penimbunan bahan-bahan tersebut. ulserasi pada membran mukosa. pH yang berubah-ubah akibat diet makanan serta dekomposisi bahan makanan. penimbunan plak dan kalkulus. Antidotum yang adekuat untuk keracunan air raksa adalah dimekaprol. 9) Nilai Ambang Batas tidak beleh melebihi dari yang telah ditentukan pemerintah. Tingkat air raksa normal dalam urine adalah antara 0-0.11). Pada waktu tindakan burnishing.650 ug/cm2 setelah periode 35 minggu(5). Parameter lain yang dianjurkan sebagai indikator pencemaran air naksa di dalam tubuh adalah air ludah. sakit dan mengalami ulserasi. Dalam darah. sukar berbicara. Menurut Paffenbarger (1982). tekanan yang dilakukan akan mengangkat kelebihan air raksa ke permukaan yang kemudian akan terlepas.4).10.06–0. fluktuasi suhu. stomatitis. faring. rambut dan kuku(2. ketidakteraturan bunyi jantung. Kriteria Nilai Ambang Batas untuk bahanbahan yang berbahayapun telah dikeluarkan oleh berbagai instansi yang terkait. nekrosis tulang alveolaris. gigi geligi menjadi goyang. 4) Sewaktu pembongkaran tambalan amalgam. halusinasi. diarhea disertai lendir dan darah. Perawatan keracunan akut adalah mengatasi anurla dan syok yang terjadi. Pada waktu pemolesan.menjadi amalgam dapat terlepas sewaktu tindakan tersebut di bawah ini(1. adanya rasa sakit dan terbakar pada kerongkongan dan perut. apakah halhal tersebut sudah diterapkan atau dijalankan dengan seharusnya. burnishing dan pemolesan amalgam. Pelepasan air raksa dapat terjadi karena adanya friksi dan abrasi pada permukaan amalgam. rasa haus. 8) Suhu udara harus diatur karena air raksa mudah menguap pada suhu tinggi. Keracunan air raksa terjadi karena terbentuknya senyawa yang mudah diserap yaitu air raksa yang teroksidasi atau terikat dengan sulfida.4.01 mg/cm3.8 ug pada subyek yang memiliki 12 tambahan amalgam atau 1ebih(7). Air raksa dapat terlepas dan tambalan amalgam sewaktu dimasukkan maupun dibongkar. Keracunan akut air raksa menunjukkan gejala-gejala seperti berkurangnya pengeluaran air seni sampai berhenti sama sekali. Proses korosi dapat diperbesar dengan adanya beberapa tambalan logam yang berlainan. albuminuria. Jumlah total air raksa yang terlepas pada proses ini berkisar antara 62–1. depresi mental dan lain-lain(2. radang selaput mata serta kebutaan. air raksa dan unsur-unsur logam lainnya akan terlepas karena terjadinya friksi antara permukaan logam dengan batu poles.11). 2) Ventilasi keluar yang tertutup tersebut harus dapat menutupi proses kerja dengan sempurna.05 mgHg/l. permukaan restorasi logam yang tidak homogen. palatum. UPAYA PENCEGAHAN Secara umum untuk rnencegah dan menanggulangi masalah pencemaran lingkungan hidup termasuk pencemaran oleh air raksa. Hanya masalahnya sekarang. air raksa diikat oleh protein plasma dan eritrosit. urtikaria.8). 1) Sewaktu tindakan kondensasi. saliva menjadi kental. erythema. pusing. EDTA dan penisilamin(2. 4) Tempat-tempat pengolahan bahan berbahaya termasuk air raksa harus mempunyai lantai yang tidak tembus oleh bahan tersebut.63% berat. Parameter yang banyak dipakai untuk mendeteksi pemakaian air raksa yang berlebih adalah darah dan urine. Sedangkan pada keracunan kronis akan tampak gejala mirip Parkinsonism seperti terjadi perubahan kepribadian. Korosi adalah peristiwa kerusakan suatu logam karena reaksi kimia atau elektrokimia dengan lingkungannya. 3) Bahan-bahan yang mengandung bahan berbahaya termasuk air raksa harus diangkut dengan alat angkut yang tertutup baik. Cermin Dunia Kedokteran No. polineuropati. Air raksa tersebut sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan larut dalam ludah. rasa gatal dan rasa logam di lidah. 6) Air raksa yang turnpah harus dibersihkan dengan kain basah atau minyak serta harus segera dicuci.11. tremor. penyempitan lapang pandang. Pembongkaran amalgam menggunakan bor kecepatan tinggi tanpa air pendingin dan aspirator akan menghasilkan uap mengandung air raksa pada daerah pernapasan operator berkisar antara 0–1 mg/cm3 udara(6).7. tremor dan kejang. inaktivasi dan pengeluaran air raksa dan saluran cerna dengan kuras lambung dan pemberian antidotum yang adekuat. menelan dan bernapas. Konsentrasi uap air raksa yang terdapat di dalam rongga mulut setelah periode stimulasi pengunyahan adalah 29. Uap air raksa cepat sekali teroksidasi sehingga pada dosis berlebih akan menimbulkan keracunan. Pada rongga mulut.02 mgHg/l dan dalam darah 0-0. 7) Sedapat mungkin gantilah pemakaian air raksa dengan bahan lain yang kurang beracun. Hal ini terjadi karena mulut merupakan lingkungan ideal untuk terjadinya proses korosi pada logam atau alloy karena terdapat cairan. gejala keracunan air raksa akan menunjukkan gejala-gejala seperti perubahan warna gusi menjadi abu-abu yang menyebar. Air raksa mudah pula diabsorpsi melalui kulit karena mudah larut dalam lemak.05mg/cm3 udara dan untuk merkuri organik di udara 0. nadi cepat dan tidak teratur serta kulit pucat dan dingin. 5) Air raksa yang tumpah atau tercecer harus diambil dengan alat penghisap vakum. air raksa yang terlepas sewaktu kondensasi berkisar antara 0. 3) Karena proses korosi. Pelepasan air raksa pada waktu kondensasi terjadi karena proses penguapan. telah dibuat Undang-undang maupun peraturan mengenai lingkungan hidup. mulut terasa panas.12). Secara umum upaya pencegahan keracunan air raksa pada lingkungan pekerjaan dapat dilakukan dengan upaya sebagai beriikut(13) : 1) Unit-unit kerja yang menimbulkan gas atau uap air raksa ke udara harus memakai sistem ventilasi keluar yang tertutup agar supaya tidak terjadi pencernaran udara.9. Nilai Ambang Batas untuk air raksa atau uapnya di udara adalah 0. muntah darah. 1996 39 . 113. 2) Sewaktu pemakaian di dalam mulut. Air raksa akan dikeluarkan dalam waktu 6 hari setelah masuk ke dalam tubuh akan tetapi dapat pula tinggal sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun(9). kelenjar ludah dan limfe membengkak dan sakit(10.

12. Side effects of amalgam and its alternatives. Long term dissolution of mercury from a non mercury releasing amalgam. Bergman M. 40(1): 4–10. hal yang utama dilakukan adalah membuang sebanyak mungkin air raksa yang tercecer. Chew CL et al. 1980.4. kapsul tidak boleh bocor. KEPUSTAKAAN 1. 8) Buanglah amalgam yang tidak terpakai dalam wadah yang mengandung air. 231–32. 1971. Mercury vapour release during the removal of old amalgam restoration. 1979. bahan yang mengandung hydrated calcium oxide dan belerang yang dicampur dengan air membentuk pasta maupun larutan natrium tiosulfat dalam 10% campuran air. Oral Medicine. Rest.Upaya pencegahan pencemaran air raksa pada lingkungan kerja dokter gigi. Pencemaran ini akan membahayakan baik kesehatan petugas. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. 15: 207–218. KESIMPULAN Pekerjaan di lingkungan kedokteran gigi dapat menimbulkan pencemaran yang berbahaya yaitu pencemaran air raksa. 7: 68–72. Cetakan 3. hal. Mercury. dapat dipakai bubuk sulfida air raksa yang larut dalam air. 5. 12) Lakukan pemeriksaan konsentrasi uap air raksa pada tempat kerja atau praktek secara teratur. 2) Semua petugas yang bekerja di lingkungan kedokteran gigi harus mendapatkan pendidikan dan latihan bagaimana menangani limbah air raksa dengan cara yang benar. J. 6. A review of the literature. 1980. 113. J. Dent. 8. Serial measurement of intra oral air mercury. a critical view of recent literature. Dent. Dent. Shafer et al. 1987. Singapore. 3) Ruangan kerja atau praktek harus mempunyai ventilasi yang baik. Logam Berat dan Antagonis. 7) Selalu memakai masker terutama dalam menangani tumpatan amalgam. Br. FKUI. 2. Maruzen Asian Ed. 1980. 4. J. Langan DC. Ed. Jakarta. Burket LW. 1990. Jika terjadi penumpahan air raksa. h. alloy and theirelement and phases. 10) Hindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan suhu tinggi pada waktu menangani tumpatan amalgam. Mercury release from amalgam. Tumpahan air raksa tersebut dapat diambil dengan cara(1. Tokyo Igaku Shoin Saunders. Operative Dentistry. KagaMetal. 10. 5th ed. Richard JM. 1996 . Gunung Agung. J. 13(3): 5–7. 1985. Br. 6th ed. Jones DE. 9) Bila memakai amalgamator. 1983. untuk mencegah kemungkinan terjadinya toksisitas atau keracunan yang sangat merugikan kesehatan. SumamurPK. 4) Hindarkan pemakaian karpet pada ruang kerja atau ruang praktek. 3) Menggunakan penyedot hampa yang mempunyai saringan khusus dan mempunyai daya hisap yang lebih kuat dan penyedot hampa biasa. 141–4. Staunord JG. Upaya pencegahan pencemaran air raksa di lingkungan kedokteran gigi dapat dilakukan dengan jalan antara lain(2. Chatton MJ. mutlak diperlukan karena mengingat pemakaian amalgam sebagai bahan tumpatan sampai saat ini masih sangat banyak. 11. 16th ed. Diagnosis and Treatment. 64(8): 1072–75. Dental Material 1991.13) : 1) Monitoring tingkat air raksa baik di dalam udara ruang kerja maupun di dalam tubuh petugas yang bekerja di lingkungan kerja kedokteran gigi. Cytotoxicityof amalgam. 9. Istiantoro YH. 7. The use of mercury in dentistry. 6) Jangan memeras amalgam dengan tangan telanjang. A Textbook of Oral Pathology. 13. Farmakologi dan Terapi. Jakarta. 1991.5. Pencegahan pencemaran air raksa perlu diupayakan. 1985. Handbook of Medical Treatment. kesehatan gigi maupun kesehatan penderita yang dirawat. 37–47. 11) Lakukan pemeriksaan teratur terhadap kadar air raksa di dalam tubuh petugas yang berhubungan dengan air raksa secara teratur. 3. JADA. Internat Dental J. 2) Menggunakan pita perekat. estimation of daily dose from dental amalgam. He who knows nothing. Vimy HJm Lorscheider FL. 115.5) : 1) Menyedot dengan menggunakan pipa berdiameter kecil yang dihubungkan dengan aspirator unit gigi. doubts nothing 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Clinical Preventive Dent. 1991 (September) 151: 134–48. Ahmad R. 5) Air raksa harus disimpan dalam botol atau wadah yang tidak gampang pecah dan mempunyai tutup yang baik. Sedangkan untuk mencuci barang-barang yang terkontaminasi. 2. Philadel phia: JB LippincottrCo. J.

Kandungan Tar dalam rokok di negara-negana yang sedang berkembang cukup tinggi(6).9). Di Cina. kadannya dalam tembakau antana 1–2%(8). dihasilkan kira-kira 500 mg gas (92%) dan bahan-bahan partikel padat (8%)(4). benzo(a) pyrene- Cermin Dunia Kedokteran No. benzene. juga diekskresi melalui air susu. Nikotin selain dimetabolisme di hati.dan nitrogen(4). kandungan Tar berkisar antara 0.8). seperti ada tidaknya filter. Pada perokok berat. Indonesia dan India misalnya.ULASAN Efek Merokok terhadap Rongga Mulut Gupran Ruslan Rumah Sakit Umum Daerah Muara Teweh. Selain bahan-bahan tersebut di atas. perokok menderita periodontitis yang lebih parah dan mempunyai insidens acute ulcerative gingivitis yang lebih tinggi daripada bukan perokok(5). amonia. menambah denyut jantung dan menginduksi vasokonstriksi perifer(8. c) pola merokok individu(6). Nikotin berubah warna menjadi coklat dan berbau mirip tembakau setelah bersentuhan dengan udara. risiko terjadinya neoplasma larynx. mempunyai efek farmakologis yang mendorong faktor habituasi atau ketergantungan psikis(4. KARAKTERISTIK KOMPONEN TEMBAKAU ROKOK Asap rokok tembakau mengandung gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat racun dan atau karsinogenik(5. Lebih dari 1000 macam bahan telah diidentifikasi dalam tembakau(4). merupakan basa yang mudah menguap(8). menaikkan tekanan darah. kebersihan mulut dan periodontium. sedang di negara-negara industri. Filter yang baik sudah tentu dapatmengurangi bahan-bahan ini.7. Penelitian-penelitian mengenai hubungan merokok dengan penyakit periodontal juga sudah dilaporkan. telah banyak diselidiki(1-3). sebelumnya diuraikan lebih dahulu karakteristik komponen tembakau rokok. esophagus dan sebagainya. kadar nikotin dalam air susu dapat mencapai 0. Bahan-bahan ini tentu menambah sifat toksik dan asap rokok(8). oksigen . Banyak penelitian labocatoris mengungkapkan bahwa beberapa hidrokarbon yang diisolasi dari hasil produk tembakau dapat menginduksi karsinoma bukal pada binatang-binatang percobaan dalam kondisi-kondisi ekspenimen tertentu(4). tidak berwarna. Nikotin merupakan bahan yang mempunyai aktifitas biologi yang poten yang akan menaikkan tingkat epinefrin dalam danah. yang merupakan suatu sebab mengapa seorang perokok sulit untuk berhenti merokok(7). paru-paru dan ginjal. dan sebagainya(6. Komposisi kimia dan asap rokok tergantung pada a) jenis tembakau. benzo(a) pyrene.6). Kalimantan Tengah PENDAHULUAN Merokok merupakan kebiasaan yang memiliki daya merusak cukup besar terhadap kesehatan. 1996 41 . Tulisan ini dimaksudkan untuk mengulas efek merokok terhadap mukosa mulut. hidrogen sianida. Telah diketahui bahwa benz(a) anthracene merupakan hidrokarbon yang bersifat karsinogenik(11. Nikotin berbentuk cairan. penyakit kardiovaskuler. Sementara itu. masih banyak terdapat zat-zat kimia lainnya yang berefek buruk yang dihasilkan pada pembakaran tembakau di antaranya : piridin. Hubungan antara merokok dengan berbagai macam penyakit seperti kanker paru. Dari satu batang rokok yang dibakar/disulut. Sebagian besar fase gas adalah karbondioksida. fenol. b) disain rokok. Kebiasaan merokok juga diasosiasikan dengan berbagai macam perubahan yang berbahaya dalam rongga mulut seperti kaitannya dengan kanker mu1ut(2. 113. tetapi menaikkan tekanan darah secara bermakna yang akan berpengaruh pada sistem pertukaran hemoglobin(4).5 –20 mg(10). Tar (hidrokarbon aromatik) berkisan antara < 1 –35 mg dan dalam kelompok ini terdapat bahan karsinogen yang paling poten(4).4). Nikotin mendorong terjadinya adhesi platelet yang diasosiasikan dengan penyakit kardiovaskuler dan hipertensi(4).12).8). bakteri mulut. sedangkan salah satu merek rokok di Indonesia mengandung 55 mg Tar/batang rokok(6). Kandungan nikotin berkisar dari <1 – 3 mg. bahan-bahan tambahan. dan sebagainya. benz(a) anthracene.5 mg/l(8).-nikotin di pasaran Inggris dan Amerika Serikat telah menurun(6). Meskipun persentase karbonmonoksida rendah. Kandungan Tar dan. kandungan Tar berkisar antana 19 – 33 mg.

Sementara itu. pada tahun 1975. Asap rokok tembakau mengandung fenol dan sianida yang berpengaruh terhadap sifatsifat toksik dan anti-bakteri(9). EFEK MEROKOK TERHADAP MUKOSA MULUT Bahan-bahan kimia dan gas dalam asap rokok. perubahan mulut biasanya lebih luas. Pada perokok yang menggunakan pipa. dan sebagainya. yang bervariasi dan penebalan menyeluruh bagian epitel mulut (smoker’s keratosis) sampai bercak putih keratotik yang menandai leukoplakia dan kanker mulut(5). Rangsangan asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang ter kena. Keller (1967) mengungkapkan adanya asosiasi yang bermakna antara merokok dengan kanker mulut (tidak termasuk bibir)(19). EFEK MEROKOK TERHADAP BAKTERI MULUT Perubahan variasi potensial reduksi-oksidasi (Eh) di daerah gingivadan rongga mulut merupakan indikasi adanya anaenobiosis. Tembakau merupakan penyebab keratosis yang paling sering dalam mulut. hidrogen Sianida. Di samping itu. Pasien sering kali mempunyai kebersihan mulut yang buruk dan berada pada dekade kehidupan ke lima atau enam. seperti : amonia. menambah sifat karsinogenik dan benzo(a) pyrene(4). perokok yang mempunyai enzim ini dalam jumlah banyak mungkin mempunyai risiko yang lebih besar untuk terkena kasus keganasan pada bagian-bagian "zona tembakau" dalam mu1utnya(4). Merokok mempunyai efek karsinogenik pada mukosa mulut(15). dan sebagainya(18). Terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan kanker di berbagai bagian mulut(19). hormonal. Pada waktunya. pada kelompok perokok terdapat peningkatan persentase bakteri Gram-positif terhadap bakteri Gramnegatif yang bermakna secara statistik daripada kelompok bukan perokok. Oral leukoplakia merupakan lesi prekanker(4). merangsang infeksi mukosa. Jumlah rokok yang dihisap lebih penting daripada lamanya merokok. lidah dan palatum dari 5 orang sampel laki-laki muda yang merokok lebih dari 20 batang sigaret sehani bila dibanding dengan 4 orang sampel lainnya yang tidak merokok(9). Colman et at. Merokok dapat memperlambat penyembuhan luka. juga melaporkan adanya asosiasi yang bermakna secara statistik antana merokok dengan kanker bibir(6). 1976. Leukoplakia bervariasi dan lesi putih yang rata/halus sampai lesi yang tebal dan keras. baik pada regio gingiva molar pertama rahang atas maupun pada dasar mulut dan 19 orang perokok dan 19 orang bukan perokok. Merokok menyebabkan perubahan panas pada jaringan mukosa mulut(14). penetitian Bandell secara in vitro mengkonfirmasikan bahwa bakteri Gram positif tampaknya kurang rentan terhadap asap rokok tembakau danipada bakteri Gram negatif(5). jenis kelamin. Hipotesis ini telah diuji oleh Kenney et al. Kerentanan individu tampaknya menjadi faktor yang penting dalam menentukan derajat dan sifat dan hiperkeratosis(16). juga karsinogenik(4. Sementara itu. 1996 . Dilaporkan bahwa pada hari ke 3 tahap awal pembentukan plak. yang akhirnya menjadi keabuabuan dan kemungkinan mengkerut. terlihat pertumbuhan bercak putih yang kecil pada palatum molle dekat duktus kelenjar liur. Tembakau mengeluarkan efek karsinogenik yang tampaknya bersifat kimia(15). persentase bakteri Grain positif terhadap persentase bakteri Gram negatif tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok tersebut(21). Dari setiap kepu Ian asap rokok. Merokokdiperkirakandapatmeningkatkan terjadinyakanker mulut sebanyak dua sampai empat kali(20).18). Berkembangnya neoplasma pada individu akibat stimulus karsinogenik ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keturunan/genetik. Pada perokok sigaret. Menghentikan kebiasaan merokok dengan pipa. Mereka meny bahwa perubahan-penubahan tersebut mungkin akibat kondisi anaerobik yang lebih banyak tendapat pada perokok atau sifat antibakteri dan asap rokok tembakau. Karsinoma mukosa mulut terutama disebabkan oleh karsinogen bahan kimia di samping fisik dan virus(17. terutama pada daerah cominisura. biasanya akan menyelesaikan masalah ini(13).selain bersifat mutagenik. Dry Socket terjadi empat kali lebih banyak pada perokok daripada bukan perokok(13). Lebih sering menyerang pria daripada wanita dan ada hubungan antara jumlah rokok dan jumlah serta keparahan lesi(15). San Fransisco mengungkapkan bahwarisiko terkena kanken mulut bagi perokok kirakira lima kali daripada bukan perokok(4). Kenney melaporkan adanya penurunan nilai potensial reduksi-oksidasi yang bermakna. 18 mg darinya berupa bahan partikel padat yang berupa droplet aerosol cair dan partikel Tar padat submikroskopik dengan diameter mikron atau lebih kecil. enzim AHH (Aryl Hydrocarbon Hydroxylase) yang terutama dihasilkan pada lekosit manusia dalam jumlah yang berbeda-beda. Bastian dan Waite (1978) melaporkan jumlah proporsi bakteri pewarnaan Gram pada perkembangan plak d 10 perokok dan 10 bukan perokok. diet. Merokok dapat menyebabkan penurunan Eh dan ini akan mengakibatkan peningkatan bakteri plak yang anaerobik. penelitiän prospektif di Universitas California. tercampur déngan oksigen dan nitrogen dan udara(5). sering dijumpai adanya stomatitis nikotina(13). Pasien yang sering membiarkan sigaret tetap tergantung di bibir sering mengalami pembentukan groove yang dapat ter- keratinisasi(15). Initasi kronis dan panas menyebabkan per ubahan vaskularisasi dan sekresi kelenjar liur(14). Efek penurunan tersebut tampaknya mendorong pertumbuhan mikro-organisme yang anaerobik(5). perokok menghirup kira kira 50 mg bahan. Mukosa bukal pipi tampak berwanna putih susu. Gejalanya antara lain adanya kemerahan di daerah palatum. Stomatitis seperti in janang berkembang menjadi kanker. menemukan bahwa Neissena (Gramnegatif aerob) lebih sedikit jumlahnya pada plak. Iangsung setelah merokok sebatang siga ret(9). Sedang pada hari ke 7 dan ke 10 pembentukan plak.12) mengikat diri ke nukleoprotein. Kira-kira 3% – 5% kasus yang didiagnosis leukoplakia akan berkembang menjadi kanker(13). 113. dan menghilang ke daerah gigi geraham besar. nikotin. Karena itu. 42 Cermin Dunia Kedokteran No. Sisanya terdini dari karbondioksida dan sampai 5% karbonmonoksida.

Panjaitan M. Darmansjah I. Cigarette smoking and periodontal disease. JOral Pathol 1988. Penelitian-penelitian epidemiologis lainnya juga menunjukkan bahwa deposisi kalkulus. di samping kesehatan secara umum. 17. Chiang Mai. 309. 1971: 100. 5. Rivera . Hong Kong : Dental Review Asia. Akumulasi plak dalam rongga mulutjuga lebih besar pada perokok daripada bukan perokok(1. debris dan stain makin bertambah pada perokok daripada bukan perokok(9). 8. 1985: 7–36. 7. Burket LW. ia bertindak sebagai ko-faktor untuk terjadinya gingivitis dan periodontitis(9). Burt BA. menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi tembakau dan deposisi ka1ku1us Analisis selanjutnya dan data yang sama oleh Kowalski menunjukkan bahwa bukan perokok mempunyai kalkulus supragingival yang lebih kecil(9). Smith Ci. 17: 193–201. atau seringkali akibat gabungan efek nikotin. ed. Preber dan Kant (1973). Cohen DW. ATextbookofPi Dentistry. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI. 106: 617–21. Neisseriaperiava dan Neisseria sicca lebih rentan terhadap asap rokok daripada tiga spesies bakteri Gram positif. Smoking and Periodontal Disease. Preventing Cancer. Smokii in Saraphee District. Philadelphia: WB Saunders Company. 10. 12. J Periodontol 1978. 2nded. Knight JF. J Oral Pathol 1988. McCann D. ed. Effects of Smoking on Oral Ecology. EFEK MEROKOK TERHADAP KEBERSIHAN MULUT DAN PERIODONTIUM Pindborg et al. jenis kelamin. 1980:64–69. Epidemiologic patterns of smoking and periodontal disease in the United States. Sheiham dan Ainamo. 118: 19–25.. 133–140. 1980: 142–144. Setiadi L. 2nd ed. Obat Ganglion. Dalam: Stallard RE. 14. 22. meneliti efek merokok pada anak sekolah usia 15 tahun dan melaporkan peningkatan indeks kebersihan mulut pada perokok bila dibanding dengan kontrol bukan perokok. Periodontal Therapy. Streptococcus salivarius dan Streptococcus sanguis(9). Boyd NM. Factors associated with the development of neo plasm. JADA 1968. JADA. 6. tentunya dapat memainkan peranan yang penting dalam menyadarkan masyarakat terhadap bahaya merokok. Bolden TE. debris. 3rd ed. khususnya untuk alasan-alasan kesehatan mulut. Ulkus ini diakibatkan oleh pengurangan aliran darah ke daerah jaringan gingiva. House. 15. France. Tobacco Smoking: a major risk factor for loss of teeth in three 70-year-old cohorts. 3. 20. ras. Mechanisms of carcinogenesis with particular reference to the oral mucosa. diketahui bahwa kehilangan tulang alveolar bertambah dengan bertambahnya penggunaan tembakau(9). Tobacco Smoking. Waite IM. Clinical Pharmacology For Dental Pmfessio nals. 81. Mellstmm D. tetapi bila perokok dan bukan perokok dengan tingkat kebersihan mulut yang sama dibanding kan maka tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik antara status periodontal mereka(1). Piiore RL. Shillitoe EJ. Dalam: A Symposium On The Early Diagnosis of Oral Cancer.bahan kimia yang bersifat toksik dan atau karsinogenik. 17: 202–207.Dilaporkan bahwa tiga spesies bakteri Gram negatif yaitu Branhamella catarrhalis. melaporkan bahwa frekuensi merokok berkorelasi positif dengan penyakit periodontal. 6th ed. Lyon. Penyakit Mulut. New York: WW Norton & Co. Global Epidemiology and Aetiology of Oral Cancer. 1996 43 . 1983. ed. Farmakologi Dan Terapi. Oral Medicine. Merokok dapat menimbulkan efek yang merugikan pada jaringan di dalam rongga mulut. teij. Jakarta: EGC. 87. Silverman Sir. LARC Monographs On The Evaluation Of The Carcinogenic Risk Of Chemicals To Humans. Etiology and Predisposing Factors. Ciancio SG. Dental Review. Macgregor 1DM. Cermin Dunia Kedokteran No. 1990. 14: 367–70. 65. Ekiund SA. 38. Ch 2. 1985. Bross IDJ. Major Paper. 1987: 97–102. Philadelphia: JB Lippincott. 1989: 362–366. Reade PC. kebersihan mulut dan status ekonom(1). gingivitis dan periodontitis daripada orang-orang yang tidak merokok. Dalam: Gan S. Tobacco use and oral health. St. 2. Yuwono L. Epidemiology of and Factors Related to Oral Cancer. 9. 1990: 109–15. 1988:6–10. tezj. Inc.232.Hidalgo F. 2: 4–8. Balti more: Williams & Wilkins. Reade PC. Jamison. Haskell R. Arno et al. stres dan pengabaian kesehatan mulut(13). Louis: CV Mosby Co. 16. Chicago: Year Book Medical Publ. Bangkok: l Mahidol University. 271–274. KEPUSTAKAAN 1. 18. 231. Community Dent Oral Epidemiol 1986. Osterberg T. 11: Basmajian JV e al. Jantung Sehat. 1982: 7 1–89. Bastiaan Ri. 27th ed. Ismail et al. Whelan E. 21. Ismail Al. Oral Cancer. Banyak penelitian sebelumnya tidak mempertimbangkan perbedaan status kebersihan mulut perokok dan bukan perokok. Orang yang merokok lebih dari 10 batang sigaret per hari mempunyai kesempatan 10 kali lebih besar untuk mendapat acute necrotizing ulcerative gingivitis. 113.Vol. Thailand. 86. (eds. Dalam: Lyon HE. Gayford ii. 49: 480–82. 6th ed. semuanya menyimpulkan bahwa orang-orang yang merokok mempunyai lebih banyak kalkulus. 57: 6 17–24. 1989. Goldman HM. WHO. Bandung: Indonesia Pubi. 4. Pada penelitian selanjutnya. Perokok juga lebih mudah mengalami gingivitis daripada orang yang tidak merokok(2). 1973: 82–7. London: Federation Dentaire Inteniationale. 13. 313.) Stedman’s Medical Dictionary. ed. (1958) dan Sumners dan Oberman (1968). yaitu Streptococcus mitis. Dokter gigi sebagai pemberi pelayanan kesehatan gigi dan mulut. New York: The American Cancer Society. Bourgault PC. Effects of tobacco smoking on plaque development and gingivitis. Asosiasi ini juga masih jelas setelah penyesuaian variabel usia. J Periodontol 1986. sehingga hasil penelitian-penelitian tersebut meragukan. Gan 5. KESIMPULAN Kandungan asap rokok tembakau terdiri dari gas dan bahan.22). 77: 1081–4. Diagnosis and Treatment. Bradtzaeg. Boyd NM. 19. melaporkan adanya asosiasi negatif antara merokok dengan penyakit periodontal pada populasi penelitian sebanyak kurang lebih 3000 individu dengan usia antara 25 –74 tahun. World Health Oitganization. JADA. 1982: 165. 3. Solomon HA. Merokok tampaknya memperburuk status kebersihan mulut seorang individu dan bersama-sama dengan kebersihan mulut yang buruk. Dalam: Silvennan Sir. 1990: 79–82.

ternyata kurang berdaya guna dan berhasil guna(2). dan di Sulawesi Selatan Siti Sapardiyah Santoso. Tanpa air berbagai proses kehidupan mustahil dapat berlangsung.HASIL PENELITIAN Perilaku Mantan Pengguna Sarana Air Bersih (SAB) di Jawa Tengah. dan masyarakat masih banyak memanfaatkan air sumur gali walaupun telah dibangun sumur pompa tangan (SFT). Hal ini tercermin dan keadaan sarana (kran umum) yang tidak berfungsi baik. 113. bahkan cenderung terus menurun baik dan segi kuantitas maupun kua1itasnya(1).S. Responden adalah 360 ibu runah tangga dan mantan pengguna SAB. dan saranajaringan pasir lambat. Data dikumpulkan secara kuantitatif dan kualitatif. Kalimantan Selatan. telah dia. Untuk pengumpulan data kuantitatif dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan untuk pengumpulan data kualitatif digunakan focus group discussion. yang meliputi pómbangunan sistem perpipaan. SAB tidak keluar air. RI. sert terletak tidak jauh dan pemukiman dan penanggungjawabnya. Kalimantan Selatan. penampungan air hujan (PAH) dan sarana saringan pasir lambat. Alasan tidak menggunakan SAB lagi karena jarak terlalu jauh. PENDAHULUAN Air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang paling penting. Penelitian ini bertujuan antara lain untuk mengungkapkan perilaku masyarakat yang 44 Cermin Dunia Kedokteran No. Untuk memperoleh gambaran/informasi mengenai faktor-faktor termasuk sosio budaya yang berperan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan SAB tersebut telah dilakukan penelitian di propinsi Jawa Tengah. Dep. Pembangunan sarana tersebut kini telah selesai dan diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat yang mendapat sarana tersebut. namun kenyataan menunjukkan bahwa ketersediaan air tanah tidak pernah bisa ber tambah. tetapi dan berbagai laporan hasil kunjungan/monitoring petugas Direktorat PAIR. Sulawesi Selatan. Dalam kaitan tersebut. Namun karena SAB yang dibangun pemerintah tersebut banyak yang sudah tidak berfungsi (rusak atan tidak keluar air). sumur pompa tangan dangkal (SPTDK).iakan penelitian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bekerjasama dengan Direktorat PAIR.Kes. 1996 . penentuan jumlah pemakai 1 SAB 10 kepala keluarga. masyarakat banyak yang beralih ke sumur gali. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan. Jakarta ABSTRAK Pembangunan sarana air bersih (SAB) telah dilakukan sejak tahun 1974 di daerah pedesaan di Indonesia meliputi sistem perpipaan. Riris Nainggolan. Disarankan agar penempatan SAB lebih sesuai dengan melihat lapisan tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. sumur pompa tangan (SPT) dangkal. Meskipun air termasuk sumberdaya alam yang dapat diperbaiki (renewable resource). terlalu banyak pemakal. Sejak tahun 1974/1975 melalui Inpres di daerah pedesaan telah dibangun berbagai sarana penyediaan air bersih. air tidak bersih. Sunanti Z. Ditjen Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. penampungan air hujan (PAll). Ditjen PPM & PLP.

Karena penulisan ini hanya menyajikan responden mantan pengguna SAB. 3) Sarana Air Bersih yang Digunakan Sekarang (Tabel 2) Tabel 2.2 2.1 1.menyebabkan sarana penyediaan air bersih kurang berguna dan berhasil guna.3% menggunakan sumur gali.3 2. Sumurgali 6.8 5.3 68.8 31.1 9. sedangkan Sulawesi Selatan dipilih karena merupakan daerah bantuan UNICEF.4 19.1 23.5 100.3 1. Penelitian ini hanya dibatasi pada mantan pengguna sarana air bersih. Air sekitar kali 7.1 35.0 28. Sumur pompa tangan dalam 3. pada khususnya di Jawa Tengah. yang merupakan bagian dan penelitian mengenai sosio budaya kelompok pembinaan pemakai sarana air bersih.0 4) Alasan Tidak Menggunakan Sarana Air Bersih (SAB) Lagi (Tabel 3) Hasil Focus Group Discussion Mantan Pengguna 1) Jawa Tengah Di Jawa Tengah.1% menggunakan saningan pasir ketat/ cepat dan 19. Pipa/kran umum 2.6 100.5 13. BAHAN DAN CARA 1) Penentuan Daerah Penelitian Daerah penelitian dipilih dan 3 propinsi yaitu Jawa Tengah. dan Sulawesi Selatan. 2) Masyarakat belum memakai sarana air bersih yang ada. menjadi 360 responden. 3) Jumlah Sampel • Data Kuantitatif Dari setiap desa penelitian dipilih 20 responden mantan pengguna SAB. Swasta Wiraswasta Nelayan Jumlah 13 23 25 9 8 1 2 81 12 34 10 6 13 1 76 % 16.0 n 17 18 15 15 10 2 77 53 1 13 9 76 % 22.9 17.2 82 100.8 42. 113.0 n 4 26 24 10 11 2 77 59 6 8 1 2 76 Kalsel % 5. Pemilihan daerah penelitian berdasarkan keadaan daerah dengan sosio budaya yang berbeda.3 2. 3) Masyarakat belum/tidak menggunakan sarana air bersih umum maupun pribadi.4 30.2 7.8 44. Sumur pompa tangan dangkal 4.3 17. Di Kalimantan Selatan dipilih sebagai daerah kumuh perkotaan.8 100.0% menggunakan sumur pompa tangan (SFT) dalam. Kalimantan Selatan. Karakteristik Responden Mantan Pengguna SAB Jawa Tengah n Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD TamatSLTP Tamat SLTA Tamat Akademi Tidak tahu Jumlah Pekerjaan Petani pemilik Petani buruh Peg.0 15.8 1. maka jumlah responden berjumlah 80 orang untuk mewakili setiap propinsi. sebanyak 26. karena di setiap kecamatan dipilih 4 desa. 1996 45 .0 69. Tabel 1.7 13.0 77 100.8 1.4 n 5 1 24 20 7 Kalsel % 8. dan kabupaten terpilih dipilih satu kecamatan (pada penelitian ditentukan 1 kecamatan kota yaitu di Kalimantan Selatan dan 2 kecamatan desa yaitu di Jawa Tengah dan di Sulawesi Selatan).1 11. Sarana Air Bersih yang Digunakan Sekarang Jenis Sarana Jenis Sarana 1.2 12.2 n 2 1 1 53 16 4 Sulsel % 2.8 12 86.0 2) Sarana Air Bersih yang Pernah Digunakan Sarana air bersih yang pennah digunakan di ketiga daerah penelitian: sebanyak 52. menurut peserta FGD sumur yang di- Cermin Dunia Kedokteran No.5 1. 4) Pengumpulan Data Pengumpul dan tim pusat yaitu peneliti Puslit Ekologi Kesehatan dan dan Direktorat PAIR. Untuk FGD mantan pengguna SAB dilakukan 2 kali di setiap kecamatan.5 19.3 100. makapenyajian desa terpilih hanyapada masyarakat yang pernah memakai sarana air bersih umum yang ada.0 10.0 57 100. FGD dilakukan di setiap propinsi. Dari masing-masing propinsi dipilih salah satu kabupaten.6 8. Lain-lain (kombinasi berbagai sarana) Jumlah Jawa Tengah n 8 1 71 2 % 9.8 20. Di Kabupaten Cilacap pembangunan sarana air bersih besarbesaran tetapi tidak diketahui mengapa banyak yang ditinggalkan atau tidak dilanjutkan.9 14. Kalimantan Selatan.6 2.9 1. 5) Anallsis Data Dilakukan dengan cara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. 2.0 77.2 33. dan dari setiap kecamatan terpilih dipilih 4 desa. Negeri/ABRI Peg. HASIL 1) Karakteristik Responden Karakteristik responden meliputi pendidikan dan pekerjaan (Tabel 1).6 1. Hasil penelitian diharapkan akan digunakan sebagai bahan penyusunan program intervensi komunikasi dan bagi pembinaan tentang mantan pengguna sarana air bersih di Indonesia.5 100.0 2.6% menggunakan sumur pompa tangan (SFT) dangkal. Sumur bor 5. Desa-desa terpilih diperkirakan mempunyai kriteria berikut: 1) Masyarakat pernah memakai sarana air bersih umum yang ada.1 12. Sulawesi Selatan. Karena ada 4 propinsi maka jumlah responden mantan pengguna SAB. 2) Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah.6 100.9 11.

Hasil FGD (Focus Group Discussion) menyatakan sarana dan pemenintah sudah rusak dan tidak keluan airnya sehingga masyarakat kadang-kadang meminta air dan tetangga yang mempunyai PAM. meskipun sudah menggunakan air bersih. Responden Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan tidak menggunakan air bersih dan pemerintah terutama karena jarak 46 Cermin Dunia Kedokteran No.0% penduduk masih menggunakan air minum dari sarana yang tidak terlindung(8). Dilihat dari hasil penelitian ini baik di Jawa Tengah. saringan pasir ketat/cepat. dan cuci.9 100. Adapun alasan dan mantan pengguna sarana air bersih di Jawa Tengah tidak menggunakan sarana tersebut karena jaraknya terlalu jauh. sekanang di Jawa Tengah sebagian besar berganti menggunakan sumur gali.0 Jenis Sarana 1. Terlalu banyak pemakai 3. sedangkan air pompa rasanya asam. dan sumur pompa tangan dalain (SPTDL) untuk kedalaman 20–30 m(3). tidak keluar air. berkisar antara 60. Walaupun mantan pengguna sarana air bersih yang tadinya menggunakan sumur pompa kemudian beralih menggunakan sumur gali.6%. 113.8% (4.9 28. Hasil ini menunjukkan bahwa yang menggunakan sarana air bersih dati sumur. Responden yang kembali menggunakan air untuk masak dan minum menggunakan air sungai terutama di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. dan cuci(5). 3) Sulawesi Selatan Di Sulawesi Selatan. Sarana air bersih yang disediakan pemerintah sebagian berupa sumur pompa tangan. Di Sulawesi Selatan alasan tidak menggunakan air bersih lagi karena jaraknya terlalu jauh. Sumur pompa tangan ada yang dalam. sedang. Air tidak bersih 6. mandi. Sumur pompa tangan dangkal (SPTDK) merupakan sumur dilengkapi dengan pompa tangan yang bisa mengisap air secara teonitis dengan tekanan atmosfir. Bila dilihat dari hasil Survai Kesehatan Rumah Tangga 1992 memang sebanyak 9. berbau dan kadang-kadang berwarna keabu-abuan. 2) Kalimantan Selatan Di Kalimantan Selatan. sementara air sumur bila musim hujan kadang-kadang kotor (merah) dan musim kemarau airnya kering.4 59. mandi. Alasan Alasan Tidak Menggunakan Sarana Air Bersih (SAB) Jawa Tengah n % 44. Penduduk yang menggunakan air PAM karena kuantitas dan kualitasnya baik sepanjang tahun. Pekerjaan paling banyak sebagai petani baik sebagai petani pemilik maupun sebagai buruh tani.560 responden) menggunakan air bersih dan sumur pompa.6% (19. Rusak total Jumlah 34 6 22 11 3 76 bangun oleh pemerintah kebanyakan sudah rusak atau tidak keluar airnya. bahkan di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan selain sebagian besar menggunakan sumur gali juga kembali menggunakan air sungai baik untuk masak. terlalu banyak yang memakai dan ada yang menyatakan rusak total. merupakan kebiasaan (folkways) di samping rasa air pompa dikatakan asam. kemudian air tidak keluar. mengingat air memiliki nilai penting bagi keberlanjutan ekosistem dan manfaat sosial ekonomi(4).14 1. di Kalimantan Selatan maupun di Sulawesi Selatan.5% – 85. peserta FGD menyatakan bahwa mereka kebanyakan mengambil air untuk mandi dan mencuci di sungai serta sebagian untuk air minum. peserta FGD menyatakan bahwa sarana (SPT) yang dibangun pemerintah sudah rusak. yang menggunakan sumur terlindung sebanyak 28. sehingga masyarakat mengambil air dari tetangga yang mempunyai sumur gali.43 100.3%).71 17.041 dan 66. terlalu banyak yang memakai. Hasil FGD menyatakan bahwa sarana air bersih dan pemerintah tidak keluar airnya dan sudah rusak. responden yang tadinya menggunakan sarana air bersih dan sumur pompa tangan dalam (SPTDL). dengan kenyataan seperti ini orang-orangnya mempunyai sifat pemikiran yang sangat sederhana. mereka kembali menggunakan sumur gali atau air sungai yang terdekat dengannya. air sungai untuk minum di daerah tersebut sudah merupakan kebiasaan.539 dan 66. Pendidikan dan pekerjaan sangat mempengaruhi cara berpikir. terlalujauhjanaknya dan rumah. Sumber daya air merupakan unsur dasar semua perikehidupan di bumi. Masyarakat bila kekurangan mengambil air dari sumur bor (artesis) dan kadang-kadang meminta air tetangga yang telah mempunyai sambungan PAM. sumurpompatangan dangkal (SPTDK). dan dangkal.5 3. 1996 .9 14. Tidak keluar air 5.0 n 31 22 4 12 1 70 Sulsel % 44. sangat disayangkan karena air sungai termasuk sarana air yang tidak terlindung dan dan segi kesehatan bisa mendatangkan berbagai macam penyakit antara lain diare. tidak keluar air sehingga masyarakat mengambil air dan sumur gali tetangga. dalam penyediaan air bersih terdapat 37. mandi. Sumur pompa tangan sedang untuk kedalaman antara 7–20 m.8% (6. atau membuat Jubang atau sumuran dengan jalan pemboran maupun penyidukan.43 5.560 responden) dan yang menggunakan sungai 6.7 30. PEMBAHASAN Pendidikan responden tergolong rendah karena sebagian besar tidak sekolah sampai dengan tamat SD (65% – 75.6 100. tetapi dalam praktek (setelah dikurangi daya gesek dan lainnya) dapat menaikkan air dan kedalaman 7 meter atau kurang.506 dart 66.8 7. Masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan air dan sungai untuk masak. terlalu banyak pemakai. Terlalu lama antri 4.Tabel 3.560 responden). kedua jenis sumur tersebut (sumur pompa dan sumur gali) masih termasuk sarana air yang terlindung. Di Kalimantan Selatan alasan tidak menggunakan sarana air bersih karena tidak keluar air. pompa tangan dapat dipasang pada sumur gali. demikian juga masih ada yang menggunakan air sungai untuk masak.0 n 6 1 43 22 72 Kalsel % 8. terlalu lama antri dan air tidak bersih. baik terlindung maupun tidak terlindung masih banyak. air dan bersih. berbau dan kadang-kadang berwarna keabu-abuan. air tidak bersih. Menurut hasil Susenas 1992.29 31.3 1. Terlalu jauh 2. karena tidak mau repot dan mau yang dekat saja.

Kes RI. 1. 3) Alasan tidak menggunakan sarana air bersih lagi di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan karena terlalu jauh. 2) Sarana air bersih yang digunakan sekarang di ketiga daerah penelitian adalah sumur gali. Simposium Air. 4. Tita Sobari. Biro Pusat Statustilc. KEPUSTAKAAN Retno Soetaryono. 1992. edisi keenam.Kes RI. 1994.Kes RI. air tidak ke luar. Kalender Peristiwa January 6–11. saringan pasir/ketat/cepat dan sumur gali. 1996 47 . Anwar Musadad dkk. KESIMPULAN 1) Sarana air bersih yang pernah digunakan di ketiga daerah penelitian sebagian besar sumur pompa tangan dalam. yang lain menggunakan sumur pompa tangan. Universitas Tarumanagara. AIih bahasa Aminudin Rawi. Direktorat Jenderal PPM & PLP Dep. Studi Evaluasi Pengembangan Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan di Bengkulu dan Jawa Barat (Laporan Penelitian). Salemba Raya 6 Tromol Pos 3225 Jakarta 10002 INDONESIA Tel/Fax: (62-2 1) 3154175 Cermin Dunia Kedokteran No. Program Kali Bersih (Prokasih). 3. 5. Pola Pedoman Pelaksana dan Program Pemberantasan dan Pengembangan Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan. 113. Horton PB et al. Universitas Taruma Negara. 1994. Susenas 1992. 8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dep.terlalu jauh. Khusus di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan kembali menggunakan air sungai di sekitarnya karena sudah merupakan kebiasaan. Laporan Hasil Monitoring Dir. 1992. Konteks kebudayaan.: Indonesian Society of Oncology c/o Bagian Patologi Anatomok FKUI/RSCM Jl. Indonesia Secr. Direktorat Jenderal PPM & PLP Dep. Sarwono Kusumaatmaja. sedangkan alasan responden dan Kalimantan Selatan karena air tidak keluar sehingga kembali lagi menggunakan air sungai. Alasan dan mantan pengguna SAB di Kalimantan Selatan karena air tidak keluar dan air tidak bersih. 1990. 1997 BASIC SCIENCES IN ONCOLOGY AND PEDIATRIC ONCOLOGY Ill COURSE AND WORKSHOP Jakarta. Pengelolaan Sumberdaya Air Berwawasan Lingkungan. Sosiologi jiid I. Puslit Ekologi Kesehatan Badan Utbangkes. Survai Kesehatan Rumah Tangga. 1988. Simposium Air. Jakarta. 2. 6. Jakarta. 7. 1994. PA11 ke Propinsi JawaTengah (Unpublished).

3) Program kesling (sarana) juga merupakan prioritas. Kartu Swadarma 3 K mempunyai nilai dan merupakan kebutuhan cara hidup sehat. masyarakat daerah kumuh. merupakan benda berharga. Pesanpesan yang disampaikan. masyarakat daerah terpencil. Kartu Swadarma 3K adalah Kartu Menuju Sehat (KMS). 1996 . 48 Cermin Dunia Kedokteran No. 2) Deteksi risiko secara dini baik petugas ataupun kepala keluarga. Buteki. Deteksi status keluarga. untuk diisi oleh petugas kesehatan/ kader kesehatan dalam wilayah kerja dengan memberi tanda Centang (V) pada kolom yang telah tersedia pada saat pelayanan kesehatan. promotif.dalam keluarga. Bayi.ULASAN Kartu Menuju Sehat Untuk Menilai Cara Hidup Sehat Andri Sudjatmoko Puskesmas Bangil. Yang terpenting menjadi tujuan dalam kehidupan bermasyarakat di bidang kesehatan terutama peran puskesmas untuk dapat menyehatkan lingkungan serta masyarakat yang ada dalam wilayah kerjadapat berperilaku hidup sehat. kuratif yang sederhana misal penggunaan Oralit /LGC. Program Kesling (Sarana). Jadi KMS berfungsi selama sasaran itu hidup sehat misal KMS Bumil merupakan gambaran kehamilan yang berbeda dalam keluarga anak ke 1 atau ke 2. Kartu Swadarma 3 K perlu dibawa dalam setiap kegiatan Posyandu pelayanan kesehatan seperti juga KMS. Kartu Swadarma 3 K dengan segi tiga emas sama sisi mempunyai arti yang sama-sama penting dan masing-masing program kesehatan kependudukan. Gambaran fungsi KMS yang ada Yang menarik dari fungsi kartu Swadarma 3 K adalah sebagai berikut: 1) Data sasaran yang terperinci sesuai keperluan. Balita. Bumil. kebersihan serta warna emas/ logam mulia menandakan sampai kapan pun kartu ini tetap berfungsi. Kartu Swadarma 3 K sebagai kartu potret diri keluarga tentang gambaran keluarga sehat sejahtera. Kartu Swadarma 3 K diberikan kepada bayi dan ibu hamil dalam satu keluarga mengingat angka kematian bayi/bumil menjadi prioritas utama. Program Gizi. kependudukan. Kartu menuju sehat (KMS) atau kartu sehat termasuk benda berharga yang memberi informasi pentmg tentang gambaran potret diti sasaran yang ada artinya selama sasaran itu menikmati kehidupan menuju sehat. Kader mempunyai peran penting dalam pelaksanaan kartu Swadarma 3 K sebagai motivator dan juga sebagai dokter kecil dalam tugas upaya preventif. penulis mencoba membagi pengalaman sesuai pengetahuan dan kemampuan dengan menggunakan kartu Swadarma 3 K yang memuatberbagai informasi tentang program prioritas kesehatan. 113. Kartu Swadarma 3 K merupakan KMS yang lebih lengkap meskipun ada sedikit kekurangan termasuk pengadaannya. kartu ini diberikan pada sejumlah 190 kepala keluarga dalain wilayah kerja. Polindes. Manula. Program Imunisasi. Upaya upaya ini belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. termasuk juga KMS Balita tidak untuk 5 tahun masa berlaku tetapi selama sasaran itu menikmati kehidupan sehat. Pasuruan. karena kartu Swadarma 3 K memuat data kesehatan Calon Pengantin Wanita (CPW). dukungan peran serta masyarakat dalam daya dan dana misal Dana Sehat. juga kartu menuju sehat. merupakan alat menilai status kesehatan. Jawa Timur Dengan keberhasilan pembangunan bidang kesehatan selama PJP I telah tampak berbagai keberhasilan dengan pemerataan pelayanan kesehatan dasar. Pra Sekolah. Untuk menilai perilaku hidup sehat memang tidak mudah. 4) Ada pesan yang sederhana dan punya makna penting. alat penilai perubahan keadaan sehat sejahtera. Anak Sekolah. KMS sebagai bukti monitor. menilai dan cara kebutuhan hidup sehat. diberikan secara bertahap pada kepala keluarga dengan sasaran bumil/bayi. PUS. Keluarga miskin/masyarakat daerah kumuh/terpencil dapat menggunakan kartu Swadarma 3 K sebagai Kartu Sehat. Waktu pemakaian. kebersihan. pengobatan batuk pilek sederhana dan rehabilitatif sesuai pengetahuan pembinaan.

Fungsi Kartu Menuju Sehat No. 1 2 Indikator Identitas penduduk Data sasaran CPW Bumil Bayi Anak balita Anak pra sekolah Anak sekolah Ibu meneteki PUS Manula Jumlah jiwa Riwayat/latar belakang sasaran Riwayat kehamilan Riwayat kelahiran Riwayat gejala/kasus penyakit Program imunisasi CPW Bumil Bayi Program gizi Deteksi risiko bumil Deteksi risiko bayi Deteksi risiko buteki Pemberian gizi Kartu Kartu Swadarma Balita 3K + + + + + + + + + + + + – – + + – – – – – – Kartu Bumil + + + + – – – – – – – Kartu Rumah + – – – – – – – – – +

3

– – – + + + + + + –

– + + – – +

+ + + – + –

– – – – – – – – – –

4

5

– + + – – + + + (Vit A) (Fe) (PMT) (PMT) – – – + – – – – – + – – – + – – – – – +

6

7 8

9

Program kesling (sarana) Pendanaan (dana sehat/ jimpitan Keadaan rumah Sarana rumah Pekerjaan KK Sarana air bersih Pemeriksaan Ventilasi rumah Kelembaban Kepadatan penghuni Kebersihan pekarangan Pesan–pesan yang disampaikan Jangka waktu kegunaan kartu Satu tahun Dua tahun Tigatahun Empat tahun Lima tahun Pendeteksian status kesehatan Perorangan/satu sasaran Satu keluarga Jumlah Dalam prosentase

+ + + + + – – + – +

– + + + + + + + + –

6) Pendeteksian status kesehatan keluarga atau perorangan termasuk kesimpulan sehat sejahtera di dalam keluarga. Kartu Swadarma 3 K sebagai kartu sehat dapat berfungsi sebagai keterangan tidak mampu untuk keluarga yang kurang mampu agar mendapatkan pelayanan kesehatan dasar secara cuma-cuma, dengan tujuan dapat meningkatkan kemampuan menuju hidup sehat serta lebih produktif dan aktif. Kepala keluarga yang bertanggungjawab langsung kepada sasaran dibantu oleh petugas kesehatan/kader kesehatan dalam wilayah kerja; selain itu kartu Swadarma 3 K sebagai kartu sehat untuk membentuk dana sehat atau jimpitan; kartu Swadarma 3 K dapat mencatat hasil kegiatan/partisipasi kegiatan bidang kesehatan/keadaan keluarga. Sebagai kartu yang baru (kartu Swadarma 3 K) dengan segala keterbatasan cukup penting karena: 1) Seperti kartu keluarga dengan komponen sasaran program prioritas, kepala keluarga dapat memantau status pada saat itu dan gambaran yang akan datang. 2) Bentuk dan warna menarik seperti KMS yang dapat dipasangldisimpan sesuai keperluan. 3) Pesan yang cukup sederhana dan Swadarma 3 K a) Kewajiban sendiri melaksanakan kesehatan, kependudukan, kebersihan dengan baik. b) Perlu dibawa setiap kali kegiatan posyandu bersama KMS sasaran. c) Perintah untuk senantiasa minta nasihat/manfaat kegiatan hari ini dan akan datang kepada petugas. 4) Mendapatkan kesimpulan yang sederhana tentang status kesehatan keluarga sehat sejahtera.

– – – – +

– – – – +

+ – – – –

– – + – –

+ + + (27) – (11) 71%

+ – + (12) – (26) 31.5%

+ – + (15) – (18) 39%

– – + (11) – (26) 29%

Keterangan :

+ –

= =

Ya/ada Tidak ada

5) Jangka waktu pemakaian kartu lebih dari 5 tahun sesuai keperluan.

PENUTUP Kartu menuju sehat (KMS) penting untuk menilai cara hidup sehat. Menuju sehat adalah harapan semua orang, KMS perlu dimiliki oleh setiap sasaran dan dipergunakan sesuai keperluan untuk menuju hidup sehat. KMS adalah alat monitor/sumber data perorangan atau kelompok terhadap program prionitas kesehatan, kependudukan, kebersihan dengan jangka waktu yang tidak terbatas. KMS ini adalah kartu Swadarma 3 K. Kartu Swadarma 3 K sebagai KMS dapat juga sebagai kartu sehat, dengan segala kelebihan dari kekurangannya; untuk itu kartu Swadarma 3 K sebagai pendamping KMS yang telah ada perlu dibawa dalam setiap kegiatan posyandu untuk memperoleh pelayanan dasar sesuai jadual.

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996

49

No. Urut 1 1. 2. 3. 4. 5. 6.

NAMA LENGKAP (Kaum / Kecil) 2

JENIS KELAMIN 3

HUBUNGAN DENGAN KELUARGA 4

KELAHIRAN TGL. / BLN. / THN. TEMPAT 5

PENDIDIKAN PEKERJAAN TERAKHIR JABATAN 6 7

AGAMA 8

CARA PENGISIAN KARTU SWADARMA 3 K • Isilah sesuai tanggal kegiatan posyandu seperti pada KMS. • Mintalah NASEHAT MANFAAT kegiatan Hari ini dan Akan datang. KESIMPULAN SWADARMA 3 K SEBAGAI UPAYA MENILAI STATUS KESEHATAN KELUARGA SEHAT SEJAHTERA PRA SEJAHTERA KELUARGA SEJAHTERA TAHAP I KELUARGA SFJAHTERA TAHAP II KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III KELUARGA SEJAHTERA TAHAP III PLUS TANGGAL / BULAN / TAHUN …………………………………………………… …………………………………………………… …………………………………………………… …………………………………………………… …………………………………………………… PETUGAS ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… TANDA TANGAN …………………………… …………………………… …………………………… …………………………… ……………………………

MAKALAH

Proses Penemuan Obat Baru
dr. Boenjamin Setiawan, Ph. D. PT Kalbe Farma, Jakarta, Indonesia

PENDAHULUAN Obat tidak dapat dipisahkan dan hidup manusia sejak jaman nenek-moyang sampai jaman modern di masa yang akan datang. Karena obat, maka banyak penderitaan umat manusia dapat dikurangi, dicegah, bahkan dapat ditiadakan. Rasa nyeri pada operasi dapat dihilangkan dengan anestesi dan analgetika. Berbagai penyakit infeksi dapat dilawan dengan antibiotika. Pasien dengan hipertensi dapat ditolong dengan berbagai obat antihipertensi, seperti betabloker, diuretika, antagonis kalsium dan ACE-inhibitor. Tukak lambung dan tukak duodenum yang dahulu (sebelum 1976) dapat menimbulkan berbagai komplikasi dan membutuhkan pengobatan lama, sekarang dengan omeprazol, amoksisilin atau kiaritromisin dan metronidazol dapat disembuhkan dalam satu minggu. Ratusan obat telah ditemukan dan memperkaya formularium dan pilihan para dokter dalam usaha mengurangi penderitaan orang sakit. Tetapi masih banyak penyakit yang masih belurn dapat diberantas. Penyakit kanker, HIV, atheroskierosis pembuluh darah jantung maupun otak sampai sekarang masih menjadi momok dunia modern, Proses penuaan dengan segala akibatnya, seperti osteoporosis, kegagalan fungsi berbagai organ dan penyakit Alzheimer sampai sekarang tidak ada obatnya. Berbagai penyakit bawaan/genetik seperti Thalasemia, Sindrom Down dan berbagai penyakit kejiwaan tidak ada obatnya. Banyak tantangan yang masih dihadapi dunia kedokteran pada umumnya dan dunia farmasi khususnya untuk dapat mengatasi berbagai macam penyakit. Dalam makalah ini saya ingin meinbahas proses penemuan obat baru. OIeh para pembicara lain akan dibahas teknologi penemuan obat baru high throughput screen dan "combinatorial chemistry" yang saya kira akan mempunyai dampak cukup besar dalam proses pénemuan obat baru. Dengan cara ini, yang baru dikembangkan beberapa tahun terakhir, maka proses mencan molekul bioaktif dapat dipercepat. Glaxo mengumumkan
Makalah untuk Seminar HUT 30 tahun Kalbe Farma, 9 Oktober 1996

bahwa mereka sekarang mampu mensknin puluhan ribu zat kimia per hari. Dengan demikian maka dalam tahun-tahun yang akan datang kecepatan penemuan obat baru akan sangat bertambah. Karena Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat besar maka kita perlu menguasai teknologi HTS sehingga di tahun-tahun yang akan datang juga dapat ikut berbicara dalam kancah penemuan obat baru. Singapore sudah mempunyai unit peneinuan obat baru dan sumber alam. Mereka telah mendapatkan sumbangan 50 juta US$ dari Glaxo untuk melakukan penelitian berbagai tanaman obat. Institute of Cellular and Molecular Biology merupakan lembaga penelitian bertaraf internasional dengan puluhan peneliti tamu ternama dunia. Dengan mengundang peneliti bertaraf internasional maka dengan cepat akan terjadi alih teknologi dan alih budaya penelitian yang di4ndonesia masih merupakan komoditi sangat langka. Lembaga Eykman akan mengembangkan unit high throughput screen dan Kalbe Farma sedang mempelajari sebaiknya memfokuskan kepada HTS dalam kelas terapeutik yang mana. Supaya secepatnya dapat menghasilkan suatu produk yang mempunyai nilai tambah cukup besar dan mengingat keterbatasan peneliti berpengalaman dan sumber dana maka perlu diadakan koordinasi dan kerjasama yang baik antara Lembaga Penelitian Pemerintah, Laboratorium Universitas dan Laboratorium Penelitian Industri. PROSES PENEMUAN OBAT BARU Sejak umat manusia diciptakan dan mulai mengembangkan kemampuan menulis maka ditemukan berbagai catatan mengenai cara-cara pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan, mineral dan berbagai organ binatang. Buku tertua ialah Huang Ti Nei Ching Su Wen, (The Yellow Emperor’s Medicine), yang ditulis lebih dari 4000 tahun yang lalu (2697 Sebelum Masehi)1. Mesir, India dan Yunani juga telah menggunakan berbagai tanaman untuk pengobatan dan mengembangkan berbagai teori mengena sebab

Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996

51

yang sekarang sedang mengalami penubahan dengan HTS. Setelab ditemukan molekul obat yang mempunyai efek farmakologi tertentu. Ratusan obat telah ditemukan melalui proses skrining yang biasanya dilakukan secara acak.6%. yang setelah ditembakkan mencari mangsanya atau reséptor dan menimbulkan efeknya. seperti digitalis. Tetapi baru tahun 1941. Karena jasa-jasanya inilah maka Paul Ehrlich sering disebut sebagai Father of Pharmacotherapy. Kita dapat membagi tahapan proses penemuan obat baru sebagai berikut: a) Tahap sintesa dan ekstraksi b) Tahap skrin biologi dan farmakologi c) Tahap test toksikologi dan keamanan d) Tahap formulasi dosis dan stabilitas e) Tahap test klinik fase I.bioavailability3.0% dan lain-lain 6. Waktu keseluruhan mulai dan sintesa/ekstraksi. skrin farmako1og selanjutnya sampai pada fase klinik dan persetujuan 52 Cermin Dunia Kedokteran No. diharapkan seluruh genom manusia telah selesai diteliti. menyebabkan perubahan cara berpikir dunia kedokteran. Mengapa? Karena otak Fleming setelah observasi bercak jernih itu mulai bekerja dan bertanya. Hoechst. Dengan mempelajari pengobatan tradisional telah ditemukan berbagai obat. maka molekul obat dapat disamakan seperti peluru. morfin. Tahap selanjutnya. Tetapi sejak observasi Paul Ehrlich pada akhir abad ke-19 bahwa berbagai zat warna mempünyai afinitas selektif terhadap berbagai jaringan dan usahanya melakukan skrining berbagai zat kimia terhadap kuman sifilis dan penemuannya bahwa Salvarsan dapat membunuh kuman sifihis. Dengan teori Magic Bullets. menyerap dana 5. yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli dari Eropa sejak abad ke-16 terus sampai sekarang. Obsevasi kebetulan inilah yang kemudian menghasilkan penisilin. Dengan penemuan Salvarsan melalui sknining berbagai zat kimia maka industri farmasi mulai mencari berbagai molekul obat melalui cara ini. Structure Activity Relationship studies. Cara ini akan dimungkinkan bila struktur molékul reseptor telah diketahui secara tiga dimensi dan kita mengetahui cara kerjanya obat pada taraf molekul. ephedrine. Terapi Gen. yang juga disebut tahap penelitian preklinik menghabiskan dana 14. Cara ini pada dasarnya ialah otomatisasi proses skrining sehingga menjadi sangat efisien. di laboratorium Rumah Sakit St. Dunia pengobatan modern berkembang dan berbagai teori yang telah dikemukakan oleh Hippocrates. Tahap b. Dikombinasi dengan penyediaan ekstrak oleh kimia medisinal dan kimia kombinatorial maka HTS akan mampu menghasilkan lead compounds dengan cepat dan efisien. Paul Herlichmelalui hipotesanya bahwa semua obat harus bergabung dengan suatu )reseptor.4%. cocain. Tujuannya ialah untuk menemukan zat kimia dengan efek farmakologi tinggi dan efek toksik rendah. maka terjadilah revolusi dalam dunia farmasi. dihasilkan cukup banyak zat penisilin untuk dicobakan pada seorang polisi dengan infeksi campuran Staphylococcus dan Streptococcus. Dengan demikian maka dapat diharapkan bahwa dalam tahun-tahun yang akan datang puluhan obat baru akan dihasilkan oleh cara ini. Secara kebetulan ia melihat bahwa dalam salah satu petri ada bercak jemih di mana Staphylococcus tidak tumbuh. tigabelas tahun kemudian.9% atau 100 juta US$ per obat.5%. dengan hasil yang sangat menakjubkan(2). 113. atau lebih baik sebagai roket.penyakit dan cara-cara untuk mengatasinya. cara bergabungnya dan peran berbagai kekuatan fisik dan kimia terhadap penggabungan kompleks reseptor-agonis. Mengingat keterbatasan kemampuan kita untuk dapat mengukur dan melihat pada taraf nanomter maka pembuatan molekul obat secara rasional masih akan membutuhkan beberapa puluh tahun. Mary di London. Kita akan mempunyai peta genom manusia dan berbagai penyakit herediter akan diketahui dasar genetiknya. Dengan demikian ditemukanlah bahwa lisis Staphylococcus disebabkan jamur Penicillium. sknin biologi dan farmakologi. dan IH f) Tahap evaluasi klinik fase IV g) Tahap proses manufaktur dan kontrol kualitas h) Tahap pendaftaran IND dan NDA i) Tahap penelitian bioavailabiliiy j) Lain-lain Tahap pertama. menghabiskan biaya 17. ialah mengambil sampel dan tempat jernih itu dan membiakkannya lebih lanjut. fisostigmin dan lain sebagainya. (lead compound) maka dilakukan SAR. evaluasi klinik fase IV. proses manufaktur dan kontrol kualitas 9.1% atau rata-rata 40 juta US$ untuk setiap molekul obat yang berhasil dipakai dalam klinik(3). Cara penemuan obat yang diidam-idamkan ialah Rational Structure Based Drug Design atau Computer Ass isted Drug Design. Pada akhir abad-20. sintesa dan ekstraksi menghabiskan waktu 2-10 tahun dan mengeluarkan biaya sampai 12. empat tahun lagi. II. Sandoz dan sebagainya yang tadinya merupakan industri kimia. Penisilin telah ditemukan secara kebetulan oleh Fleming sewaktu ia sedang melakukan penelitian mengenai berbagai vanan kuman Staphylococcus pada tahun 1928. atau 62juta US$ per NCE (New Chemical Entity). Bilamana hal ini telah dicapai maka kita akan masuki fase cara pengobatan baru. Apakah yang menyebabkan kuman Staphylococcus tidak tumbuh di tempat itu ? Kalau yang mengobservasi bercak jernih itu bukan seorang yang terlatih maka tidak akan timbul pertanyaan yang kemudian disusul oleh tindak lanjutan. baru terjadi efek yang diinginkan.3%. Tahap c dan d. Lahirlah industri farmasi seperti Bayer. Penelitian lain yang akan mempunyai dampak cukup besar terhadap dunia pengobatan ialah proyek Penelitian Genom Manusia. pendaftanan 3. 1996 . Cara lain yang juga telah menghasilkan penemuan berbagai obat ialah secara kebetulan (serendipity). BIAYA PENEMUAN OBAT BARU Setelah ditemukan molekul obat dengan efek farmakologi tertentu masih diperlukan perjalanan panjang sebelumnya zat potensial ini dapat dipakai dalam klinik.5% seluruh biaya penelitian obat yang berhasil dipasankan yang jumlahnya rata-rata 359 juta US$ per obat Tahap e yaitu penelitian klinik menghabiskan 27. Cara baru yang sedang banyak dibahas untuk menemukan molekul obat baru ialah yang disebut high throughput screen.7%. Bapak Dunia Kedokteran Modern. curare.

sedangkan Malaysia USD 12. Indonesia yang paling terbelakang dalam kemampuan memproduksi bahan baku obat. Gilman A. tetapi kalau dihitung dengan Purchasing Power Parity (PPP) 3 kali maka kita punya PDB sama dengan 600 milyar USD.6% dan negara lain Asia. 1995.5 milyar) pada 1995. 130 3. 6 obat SSP. Spanyol 175 dan Belanda 168(9). 10. Demikian juga halnya dengan India.000 bahan kimia yang diskrin dengan seluruh biaya 359 juta US$ pada tahun 1990(6). maka konsumsi oba per kapita hanya 5US$.K. Jepang 20.. Mengingat konsumen terbesar obat adalah USA. 1996 53 . 7.6%. 5 obat antiinfeksi. U. Bahkan kita perlu meningkatkan kemampuan untuk juga berperan dalam penelitian dan penemuan bahan baku obat. Kalau kita berasumsi bahwa konsumsi obat adalah 1% PDB maka jumlahnya 32.50 dan Singapore USD 42. p19.6%. The Yellow Emperors Classic of Internal Medicine. Prous. Fifth ed.5% atau 3 obat(7). America's Pharmaceutical Research Companies. World PharmaceuticalMarket 1995. JR. The Years New Drugs. Kekayaan alam ini yang penlu diteliti. Walaupun PDB kita masih relatif kecil. dan pada 2020.phrma. Perancis 8.7%. Cina sekarang sudah mampu membuat semua bahan baku obat penting. Thailand USD 13.6%.7%. Cina. Jerman 335. perannya sebagai konsumen maupun sebagai produsen obat masih sangat kecil. Menurut kepustakaan kurang dari 5% dan lebih 250. di Jepang 32. Afrika dan Amerika Selatan. India. OECD Health Data. Cina dan India yang relatif akan cepat berkembang karena sekarang mereka sudah menguasi teknologi dasar kimia maupun bioteknologi.. Korea dan Taiwan mulai berkembang. Centre for Medicines Research. prg/index. 4 masing-masing obat kardiovaskuler dan obat paru/ antialergi Dari 40 NCE ini yang di-"launch" pertama.html. Swiss 5. Idem. 181. Indonesia memiliki fauna dan flora yang sangat beranekaragam. Seluruh pasar obat dunia tahun 1995 diperkirakan 250 milyar US$. p. 5. of California Press. USAHA PENEMUAN OBAT BARU DI INDONESIA Setiap tahun ditemukan antara 40 sampai 60 molekul obat baru (NCE). di AS 25% atau 10 obat dan di berbagai negara lain 7. 8. Italia 5. Sisanya adalah Australia. PhRMA Home Page. http://www.K.4. 6. adalah di Eropa 35% atau 14 obat. Mereka beruntung karena memiliki sumber daya manusia terdidik yang cukup banyak.58 milyar USD atau sama dengan konsumsi obat Perancis (USD 15 milyar) dan Jerman Barat (USD 14. hanya 200 milyarUSD. Alam telah menciptakan jutaan molekul yang sangat beranekaragam. ldem. U. 1. Purchasing Power Parity $US.0%.8 tahun dan rata-rata 10.pendaftaran memakan waktu 14. February 1996. Dengan kerja sama yang baik maka semoga kita akan mampu menggali dan memanfaatkan megabiodiversity untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia pada umumnya dan masyanakat Indonesia pada khususnya. Bilamana pertumbuhan per tahun 7% maka pada 2000 PDB kita dihitung dengan PPP adalah sebesar S40 milyar USD. 9. Idem. Indonesia dan Brazil akan menjadi pemain yang perlu diperhatikan dalam dunia produsen obat di abad ke-21. AS mengeluarkan 32. Mengingat bahwa Asia pada umumnya dan ASEAN pada khususnya akan berkembang dengan cepat di masa yang akan datang sehingga konsumsi obat di negara-negara ini terus akan naik dan Indonesia dengan penduduk 200 juta merupakan pasar obat yang potensial maka kita perlu mempersiapkan din untuk ikut bermain sebagai produsen bahan baku obat. USA 280. 2. dan teknologi HTS akan sangat membantu untuk mempercepat proses skrining. 113. jauh lebih bervariasi dan yang mampu diciptakan oleh umat manusia.. Inggris 7. Dari jumlah ini 9 adalah obat neoplastik.000 tanaman telah diskrin efek farmakologinya. Jerman 11. Perancis 309. Univ. maupun infrastruktur dasar industri kimia. kita belum memiliki SDM terlatih. digabung menjadi satu(10). Eropa dan Jepang maka tidak mengherankan bahwa mereka juga yang mendapatkan obat baru pada tahun 1991 yang diperkirakan berjumlah 25 milyarUS$. Cermin Dunia Kedokteran No.258 milyar USD.5% atau 13 obat.jumlahnya 3. di luar Jepang. KEPUSTAKAAN Ilza Veith. Filipina USD 13. p6. Italia 275. The Pharmacological Basis of Therapeutics. Eropa kurang dari 30% dan Jepang sekitar 27%. Pasar obat USA adalah lebih dari 30%. Dengan jumlah penduduk 200juta orang dan konsumsi obat 1 milyar US$ pada tahun 1995. 1972. Pada tahun 1995 telah ditemukan 40 NCE(6). Drug News and Perspectives 9 (1). PhRMA Home Page. Konsumsi obat negara maju adalah sebagai berikut : Jepang USD400. 4. Untuk kemampuan sintesa. tetapi mengingatjumlahpendukungnya yang relatif kecil maka pasar obat domestiknya tidak akan banyak berkembang. Goodman LS. Vietnam USD 2.

Sinar gamma dan Co-60 tersebut mempunyai daya tembus sangat tinggi. Karena daya tembusnya yang begitu besar dan bisa mematikan sel kanker. Untuk mencapai maksud tersebut maka penentuan letak/posisi tumor dan laju dosis radiasi yang keluar dari pesawat adalah sanga penting dan mutlak diperlukan. Pasar Jumat. Makatah ini akan menjelaskan dan memberikan contoh praktis bagaimana cara menghitung waktu penyinaran tumor dengan pesawat teteterapi Cobalt-60 yang dengan mudah bisa diikuti oleh para fisikawan medik di bagian unit radioterapi. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. 1996 . Kedalaman dosis acuan ini biasanya selalu diambil berdasarkan kedalaman dosis maksimumnya. inti pesawat teleterapi Cobalt-60 adalah satu sumber radioisotop Co-60 yang memancarkan sinar gamma berenergi rata-rata 1250 MeV. Laju dosis acuan pesawat teleterapi Cobalt-60 ditetapkan pada kedalaman (d) 0. sangat diperlukan guna pemilihan metoda dan parameter-parameter penyinaran. Jakarta PENDAHULUAN Pada saat ini terdapat 17 rumah sakit negeri dan swasta yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia telah memiliki pesawat teleterapi Cobalt-60 untuk tujuan terapi kanker. Dalam proses penyinaran (treatment) tumor dengan radiasi gamma harus setalu diupayakan agar sel-sel kanker mendapatkan dosis radiasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh dokter ahli radioterapi (radiotherapist). Pelaksanaan kalibrasi FKTN selalu menggunakan peralatan dan mengacu pada prosedur yang dikeluarkan oleh Badan Tenaga Atom Intemasional (IAEA)(2).5 cm air untuk lapangan penyinaran (FS) 10cm x 10cm dan jarak sumber-permukaan tubuh (SSD) 80cm. Inilah salah satu keuntungan penggunaan pesawat teleterapi Cobalt-60. PSPKR BATAN. Informasi yang berkaitan dengan posisi tumor. sehingga tercapai dosis seperti yang dikehendaki.TEKNIK Perhitungan Waktu untuk Penyinaran Tumor dengan Pesawat Teleterapi Cobalt-60 Susetyo Trijoko PSPKR BATAN. Pada dasarnya. sehingga mampu menembus jaringan/organ yang berada di dalam tubuh sekalipun. yaitu pengobatan/terapi kanker dan luar tubuh tanpa pembedahan pasien. sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun. maka sinar gamma bisa dimanfaatkan untuk membunuh sel-sel kanker yang berada di dalain tubuh tanpa harus melalui operasi/pembedahan. Sedangkan laju dosis keluaran pesawat diperlukan untuk inenentukan waktu penyinaran. Telah diketahui pula bahwa sel kanker bersifat lebih sensitif terhadap sinar gamma daripada sel normal. FKTN akan menerbitkan sertifikat keluaran sumber radiasi pesawat yang menyatakan besarnya laju dosis acuan. 113. seperti kedalaman dan luas permukaan tumor.Setelah melaksanakan kalibrasi. METODA PERHITUNGAN Menurut peraturan yang berlaku laju dosis setiap pesawat teleterapi wajib dikalibrasi oleh Fasititas Kalibrasi Tingkat Nasional (FKTN).

9 39.3 91.0 59.7 38.7 79.9 68. Kondisi penyinaran seperti yang diminta dalam contoh tersebut dapat dihubungkan dengan kondisi kalibrasi laju dosis acuan. dosis di titik B (DB) dan dosis di titik C (DC) sama-sama berada di kedalaman dosis maksimum (kedalaman acuan = d0) namun luas lapangan penyinarannya berbeda.5 31.0 21.4 88.0 97.6 151 13.6 226 20.0 97.8 38. sehingga dapat dirumuskan(3) (DA/DB) = PDD (d.7 50.9 70.0 97. dan dituliskan.6 310 28.9 41.4 34.4 9.4 86.2 23.8 60.8 17. Dengan demikian perbedaan antara DB dan DC hanya tergantung pada kontribusi hamburan kolimator dan hamburan fantom (tubuh)(5).6 77.3 65.3 6x6 100.4 74.1 64.0 81.9 67.3 50.4 57.3 34.5 33.8 9.4 15.7 22.0 61.9 61.9 65.7 92.6 21.6 51. 80 cm dan 100 cm diambil dan BJR Suppl No. Untuk SSD penyinaran = f.2 48.0 79.9 295 273 25.3 37.5 13.9 15.4 38.5%.3 32.5 33. untuk Jarak permukaan-sumber (SSD) 60 cm(3) Kedalaman (cm) 0.8 64. pada lapangan penyinaran w x w dari jarak sumber-permukaan tubuh (SSD) = f.0 12. f) adalah prosentase dosis kedalaman untuk kedalaman d.9 93.5 10.2 63.0 98.3 45.4 14.7 31.8 32.3 33.7 59.9 17.4 73.0 97.7 41.9 23. maka pertama kali harus ditentukan besarnya luas lapangan penyinaran (FS) pada jarak SSD kalibrasi.3 49. f) PDD (d.2 44. FS penyinaran = w dan SSD kalibrasi = fo maka Wk = (fo/f) x w Wk adalah FS penyinaran pada jarak SSD kalibrasi.3 46.6 69.0 60.2 83. sedangkan kondisi penentuan laju dosis acuan ditunjukkan pada Gambar 2d yang identik dengan Gambar 1.6 87.7 13.7 72.8 58.1 30.3 17.9 27.4 40.2 54.3 407 37.4 52.2 8x8 100.7 67.0 58.9 40.9 14.5 24.9 57.3 Cermin Dunia Kedokteran No. Gambar 2.7 24. 113.2 19.7 922 86.6 45.4 41.2 71.0 910 847 78.7 9x9 100.0 14. untuk penyinaran tumor berbeda dengan SSD saat kalibrasi.5 37.8 46.0 97.1 31. Karena jarak sumber-permukaan tubuh (SSD) Faktor-faktor kontribusi hamburan tersebut dinormalisasi- Tabel 1.0 97.9 47.0 127 10.7 41.9 28.1 51.2 15.8 25x25 100.6 43.0 11.5 76.4 62.6 48.2 20.8 43. harus disinari dengan luas lapangan radiasi w x w dan jarak sumber-permukaan tubuh f cm. hubungan antara dosis di titik A (DA) dengan dosis di titik B (DB) hanya tergantung pada kedalaman.7 48.8 25.6 88.2 36.0 28.4 23.0 19. Perbandingan nilai PDD menurut BJR(3) dengan literatur lain(4) terdapat deviasi maksimum 21.5 11.8 38.5 46.5 47.0 26. w.0 25.1 53.4 79.5 69.6 72.7 26.6 40.0 80.Pada kenyataannya tumor bisa terjadi di mana saja dalam tubuh dengan berbagai ukuran.3 29.5 17.1 66.7 26.5 582 54.6 29.8 84.3 24.1 10.0 97.2 16.4 11.2 19. w.5 31.2 16.8 15.2 62.4 20x20 100.0 93.2 23.2 10x10 100.1 74.8 87.1 44.1 33.0 27.4 42.9 36.6 30.0 55.1 30.5 66.6 14.5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 22 24 26 28 30 Luas lapangan penyinaran (cm x cm) 5x5 100.3 82.3 786 738 69.6 36. Untuk itu perhatikan rangkaian pada Gambar 2.4 34.8 569 524 48.5 42.1 63.6 20. Besar dosis yang diminta pada tumor disebut DA dan dosis acuan diberi notasi D.1 76.0 97.3 31.2 50.7 55. Dalam hal in misalkan saja suatu tumor terletak di kedalaman d cm.2 dan 3.6 49.5 21.0 98. Kondisi penyinaran yang diminta diperlihatkan dengan Gambar 2a.0 74.8 402 376 352 33. (DB/DC) = Sk (wk) x Sp (w) Sk (wk) adalah faktor kontribusi hamburan kolimator untuk luas kolimator wk x wk pada jarak fo dan Sp (w) adalah faktor kontribusi hamburan fantor untuk luas lapangan penyinaran w x w.0 54.0 87.1 53.2 39.7 82.6 12.5 35.7 56.1 35. llustrasi hubungan antara kondisi penyinaran secara umum dengan kondisi pada seat kalibrasi Nilai PDD pesawat teleterapi cobalt-60 untuk jarak sumberpermukaan (SSD) 60 cm.6 32.0 49.2 27.9 71.7 7x7 100.6 24.2 22.1 18.0 757 70.8 92. Nilai Prosentase dosis kedalaman (PDD). Kemudian dari Gambar 2b dengan 2c.7 30x30 100.0 27.8 44.2 16.7 12x12 100.1 93.9 39.2 353 327 303 28.6 42.8 92.2 18.7 25.6 18.0 45.6 23.5 58.0 97.3 80.3 43.9 86.5 91.4 22.7 68.5 655 60.5 85.2 44.4 15x15 100. 17(3) dan berturut-turut ditampilkan pada Tabel 1.8 25..0 36.7 13.9 932 88.7 34.5 17. 1996 55 .6 752 69.4 12.4 19.6 16.6 81.9 20.0 53.2 61. (1) Dari Gambar 2a dan 2b.4 29.7 15.1 26.5 51.5 83.5 55.

3 24.8 15.7 25.6 18.9 100.6 38.1 72.9 45.9 93.1 84.0 64.2 56.7 47.8 223 192 16.Tabel 2.6 556 52.6 45.2 428 397 36.1 40.9 583 55.6 38.8 62.5 94.5 397 37. Perbandingan nilai Sk (Tabel 4) terhadap literatur 1ain(6) terdapat perbedaan maksimum tidak lebih dari 1.7 38.6 100.8 27.0 44.8 65.0 89.6 679 63.8 52.4 69.5 14.3 90.9 25.3 27.3 34.2 14.4 36.0 98.0 217 18.7 78.2 23.7 88.5 17.3 25.0 59.3 86.5 65.0 Tabel 3.8 73.4 83.4 33.5 30.9 17.6 689 64.0 31.5 100.9 24.6 14.0 982 939 89.2 41.9 39.2 58.8 50.5 90.1 35.6 35.1 78.2 33.1 35.2 26.0 61.5 75.6 39.6 16.7 83.7 51.5 19.1 39.8 40.7 952 91.0 21.3 94.8 46.9 80.4 609 57.5 69.5 48.8 57.7 37.8 72.6 23.6 83.3 29.3 123 100.6 11. 1996 .5 53.2 19.5 33.9 52.5 35.0%.7 154 100.4 20.9 kan ke luas lapangan 10 cm x 10 cm.5 84.9 223 19.0 98.5 49.1 93.3 16.5 56.1 44.4 28.4 18.1 443 416 39.7 20.9 57.8 54.2 55.7 77.2 40.9 23.0 83.5 12.sedangkan nilai Sp dihitung dan nilai fakktor hamburan maksimum (PSF)(3) yang dinormalisasikan ke luas lapangan penyinaran 10cm x 10cm.1 41.4 25.0 97.9 29.4 884 832 783 733 686 64.7 60.3 76.1 87.0 78.6 87.9 77.7 90.3 82.0 14.7 72.9 49.6 18.0 35.5 67.5 18.6 32.0 33.0 81.9 12.2 61.7 53.1 347 32.5 941 88.3 82.0 52.7 40.8 61.7 26.1 76.0 767 71.5 945 90.9 53.3 47.3 65.3 75.3 74.0 12.3 100.6 100.9 57.0 98.9 27.7 15.6 61.8 54.2 27.2 40.2 936 88.2 479 44.8 15.9 70.3 69.6 57.6 81.5 39.1 85.4 43.7 407 37.8 43.5 74.3 510 47.0 17.6 41.8 49.8 73.0 55.5 68.0 600 56.0 48.8 71.5 79.3 79.0 876 82.0 84.2 52.5 18.0 98.5 86.1 317 29.2 47. untuk Jarak permukaan-sumber (SSD) 80 cm(3) Luas lapangan penyinaran (cm x cm) Kedalaman (cm) 5x5 6x6 7x7 8x8 9x9 10x10 12x12 15x15 20x20 25x25 0.6 50.9 30.4 486 45.7 408 38.0 42.9 42.8 100.0 971 92.3 51.1 85.4 14.0 100.8 74.4 24.7 47.3 44.4 39.6 37.5 71.3 309 28.0 98.4 87.6 78.1 70.6 87.9 55.0 30.8 51.7 72.0 62.7 26.8 34.9 42.5 27.1 202 17.5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 22 24 26 28 30 100.7 35.4 15.0 30.5 17.8 39.8 34.9 21.6 762 70.8 50.8 28.1 43.8 77.2 61.4 46.3 653 61.7 57.2 20.0 32.4 36.8 63.8 23. Nilai-nilai Sk dan Sp untuk pesawat teleterapi cobalt-60 diperlihatkan dalam Tabel 4.9 70.0%.4 30.2 36.1 63.4 37.3 28.7 41.8 46.0 804 75.1 71.7 45.0 98.0 98.0 98.8 26.4 37.3 100.6 27.9 41.3 49.3 53 1 50.4 79.2 100.0 984 94.2 43.8 75.2 13.2 36.3 15.7 587 54.3 64. Dan perbandingan nilai Sp (Tabel 4) terhadap literatur Iain(7) juga terdapat deviasi maksimum 1.5 51.8 65.9 33.0 984 94.0 97.4 12.8 36. untuk Jarak permukaan-sumber (SSD) 100 cm(3) Luas lapangan penyinaran (cm x cm) Kedalaman (cm) 5x5 6x6 7x7 8x8 9x9 10x10 12x12 15x15 20x20 25 25 30x30 0.7 85.7 28.9 21.6 95 0' 91.5 38.9 48.9 36.0 43.1 25.9 19.1 112 100.2 36.9 34.6 59 1 558 528 49.3 94.9 69. 56 Cermin Dunia Kedokteran No.8 40.1 241 20.4 41.7 81.5 107 1000 97.0 63.7 647 59.8 1000 97.0 51.6 545 51.5 121 29.6 48.4 360 32 1 28.7 92.7 752 69.1 82.0 77.7 30.0 47.9 100.4 291 26.2 88.6 24.8 39.0 98.3 60.5 33.7 70.3 938 89.8 11.5 31.9 17.5 29.9 38.7 56. Nilai Sk diambil dan Khan et a1(5).2 16.9 67.4 13.8 66.0 81.3 59.7 55.2 21.8 44.3 33.5 283 26. Nilai Prosentase dosis kedalaman (POD). 113.2 140 100.0 64.4 42. 86.5 48.1 79.0 34.5 247 21.5 73.2 32. Nilai Prosentase dosis kedalaman (POD).8 54.4 66.2 537 505 474 445 41.1 73.7 49.9 44.0 61.5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1I 12 13 14 15 16 17 18 19 20 22 24 26 28 30 100.2 22.8 68.7 17.0 98.5 159 13.9 26.9 80.2 30x30 100.4 47.8 21 1 18.8 33.4 52.0 93.5 23.9 31.0 20.7 34.3 80.3 77.0 98.1 23.5 66.8 67.2 66.1 66.5 22.7 35.7 38.5 293 25.3 57.9 71.6 20.2 880 82.6 948 905 86.1 58.5 274 23.0 43.5 30.7 45.2 280 25.3 82.3 63.2 19.8 93.3 46.7 928 87.2 20.1 30.4 23.0 23.6 73.9 50.8 58.8 13.7 34.6 42.9 100.8 26.4 322 284 24.6 61.5 31.7 83.3 84.0 98.4 45.0 19.8 31.7 33.0 325 30.0 41.7 954 91.9 53.5 19.4 37.3 68.8 100.6 67.8 47.5 29.8 48.0 59.1 89.0 98.9 219 193 17.7 18.7 35.0 76.9 16.9 43.7 371 34.0 57.0 98.9 726 686 '64 6 60.0 157 13.0 93.3 168 146 100.

030 1. dan fo = 80cm).ratio (TAR) to high-energy X-ray beams. 1987.023 (4) Dari Tabel 3 diperoleh. 277.5)2} = 0. DA = Do x Sf x Sk (wk) x Sp (w) x PDD (d.014 1. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Moroney JP.035 (intepolasi) dan Sp(20) = 1.5) / (100 + 0. The Physical Basis of Radiotherapy. Orton C.Tabel 4. (1) wk = (80/100) x 20cm = 16cm (2) Sf = { (80 + 0. 8. Tingkat kesalahan ini masih lebih kecil dari tingkat kesalahan maksimum yang diperbolehkan oleh IAEA(2) yang besarnya 5%.968 0. (4) dengan Sf = [(fo + do) / (f + do)]2 akan diperoleh. 1983. f) (6) Telah diketahui bahwa kalibrasi laju dosis acuan menggunakan alat ukur radiasi yang ada di pasanan dan prosedur yang diberikan oleh IAEA(2) akan memiliki tingkat ketelitian 2. Thirteenth ed. Untuk penyinaran tumor dengan teknik jarak sumber-permukaan (SSD) seperti yang diuraikan dalam tulisan i.023 1.043 1.984 0. Phys. f) (4) Dalam perhitungan ini harus selalu diingat bahwa laju dosis acuan yang digunakan adalah laju dosis acuan pada saat penyinaran. Penentuan Karakter Pesawat Teleterapi Co-60. Leung PMK. Vienna. Chart of the nuclides. 5. w. International Atomic Energy Agency (IAREA). Separating output factor into collimator factor and phantom scatter factor for megavoltage photon calculations. 9.957 0.5 cm.000 1. 17.6416 KEPUSTAKAAN 1. Central axis depth dose data for use in radiotheraphy.011 1. APLIKASI PRAKTIS Misal satu pesawat teleterapi Cobalt-60 milik suatu rumah sakit telah dikalibrasi oleh FKTN dan diberikan sertifikat laju dosis acuan sebesar 120 cGy/menit.5%(2).015 1. KESIMPULAN Secara ringkas telah dijelaskan cara menghitung waktu penyinaran tumor dengan pesawat teleterapi Cobalt-60 yang telah dikalibrasi oleh FKTN.035 x 1. XVIII(4). PDD (10. Spicka J. The extension of the concept of tissueair. Khan FM. Absorbed dose determina tion in photon and electron beams.023 x 63. 7(3). Ontario. Cermin Dunia Kedokteran No.995 1. Sk (16) = 1. Penggabungan semua tingkat ketelitian/kesalahan dari setiap parameter yang diambil untuk perhitungan dengan menggunakan persamaan (6) di atas akan memberikan kesalahan maksimum 3.989 0. Medical Dosimetry 1988. PSPKR BATAN. T= 200 menit 120 x 0. 2.3% (5) Waktu penyinaran. Williamson JF. Peraturan tentang kalibrasi alat ukur radiasi dan keluaran sumber radiasi.990 0. Br J Radiol Suppl No. Radiology 1970. Revision of tissuemaximum ratio and scatter-maximum ratio concepts for cobalt-60 and higher energy x-ray beams. Standardisasi radionuklida dan fasilitas kalibrasi.27 tahun(9). 1983.034 Luas Lapangan Penyinaran (cm x cm) 5x5 6x6 7x7 8x8 9x9 10 x 10 11 x 11 12 x 12 13 x 13 14 x 14 15 x 15 18 x 18 20 x 20 25 x 25 30 x 30 (3) Dari Tabel 4 diperoleh. Faktor koreksi hamburan kolimator (Sk) dan hamburan fantom (Sp) Faktor koreksi (Sk)(4) 0. 100) = 63. T= DT DA = Do x Sf x Sk (wk) x Sp (w) x PDD (d. Med. California.3% = 3. The Ontario Cancer Institute and The Princess Margaret Hospital.6416 x 1.977 0. (Dc/Do) = [(fo+ do) / (f + do) ]2 Penggabungan persamaan (2). maka waktu penyinaran (T) dapat dihitung dengan perumusan berikut.051 1. 3. Sewchand W. w. 113.5%(8) dan penunjukan waktu dan pesawat teleterapi Cobalt-60 umumnya memiliki kesalahan tidak lebih dari 0.5%. laju dosis acuan yang diberikan adalah untuk do = 0.059 Faktor koreksi (Sp)(3) 0. Lee J.006 1.997 1.003 1. Techn Rep Ser No.021 1. The British Institute of Radiology. General Electric. thaka para fisikawan medik yang mengendalikan penggunaan pesawat Cobalt-60 yang tersebar di seluruh Indonesia dapat menerapkan dan mengikuti cara perhitungan ini dengan tingkat kesalahan masih dalam batas yang diijinkan. HiswaraE.1% per bulan karena radioisotop Co-60 meluruh dengan waktu paruh (T1/2) = 5.987 0. Pesawat tersebut akan digunakan untuk menyinari tumor dengan dosis 2100 cGy yang terletak di kedalaman 10cm dengan menggunakan luas lapangan radiasi 20 cm x 20 cm dan jarak sumberpermukaan tubuh 100 cm Selanjutnya harus dihitung waktu (lama) penyinarannya Langkah-Iangkah yang dilakukan. 1978. (Ingat. 1996 57 . 13(1).019 1.026 1.059 1.9%. 1992. Laju dosis acuan berkurang sekitar 1.994 0.032 1. Perhitungan nilai Sf diasumsikan memiliki tingkat ketelitian 0. (3). 4. 6. 1980. perbedaannya hanya terletak pada janak sumber-permukaan (SSD).876 menit Selanjutnya dari Gambar 2c dan 2d. 96. Dengan demikian hubungan keduanya menuruti hukum kuadrat jarak dan bisa dinyatakan sebagai berikut. Jakarta.000 1. 7. Maj BATAN 1985.008 1. Heffon D. Holt JG. 20.009 1. (5) Dari persamaan (5) di atas jikalau dosis tumor yang diminta di titik A dinyatakan dengan DT dan laju dosis acuan dinyatakan dengan Do(cGy/menit). Laughlin JS. An International Code of Practice. wo = 10 cm.

Ima Nurisa. Sukarno: Uji Patogenisitas Bacillus thuringiensis yang Diisolasi dari Tanah Pohon Kelengkeng (Euphoric langan) terhadap Jentik Nyamuk Vektor di Laboratorium Amrul Munif. Blondine Ch. Sutopo: Kepadatan Vektor dan Malaria di Desa Waiklibang. Harijani A. Emiliana Tjitra. 989: 9 Asam Lemak Tak Jenuh Scrip 1995.22 23 .59 53 . perebusan dan pengukusan terhadap kandungan asam fitat dalam tampa kedelai Budi Riyanto W.48 49 . 23 Famotidin dalam Biskuit Inpharma 1995. 2020: 25 4 10 . 989: 5 Ganciclovir untuk lnfeksi Scrip 1995. 26: 155-64 Skizofreni Scrip 1995. Azis Tanra. 2009: 22 CMV Penyebab Diare N. 345: 1067-70 Ace Inhibitors dan Hipoglikemi Lance: 1995. Marwoto. 29(3): 174 63 63 63 5-9 107. Rabardjo. Soekirno. Madjid: Efek Residu Permethrin yang Dipoles pada Berbagai Macam Benda Tempat Istirahat Aedes aegypti dalam Upaya Pemberantasan Demam Berdarah Dengue Hasan Boesri. Harijani A. 346: 1065-69 Faktor Risiko Perdarahan Intraserebral Spontan Stroke 1995. Marvel Renny: Penelitian Pemberantasan Malaria di Kabupaten Sikka. Mardiana: Respon Aedes aegypti terhadap Ekstrak Jamur Beauveria bassiana. 1995.Engl J.25 34 .Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran tahun 1996 CDK 106. Siti Sundari Yuwono. J.40 31 . Engl. Med. Enny W. Mucor haemalis dan Geogrichum candidum Amrul Munif Supraptini: Perbedaan Virulensi Cendawan Metarhizum anisopilae yang Dikultur pada Berbagai Medium Terhadap Larva Aedes aegypti Umi Widyastuti. Medan Prijantojo: Hambatan Pembentukan Plak Gigi dengan Larutan Obat Kumur Hexetidine 0.25 11 .60 61 62 62 62 62 62 62 62 63 63 62 62 62 62 62 62 63 63 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 1995. Marwoto.36 26 . Tri Suwarjono.54 55 . Rita Marleta Dewi. Sekartuti. Pengaruh lama perendaman.. 2002: 15 Obat Terlaris 1994 Scrip 1995. 983: 14 Keracunan Litium Clin Pharmacokinet. 991. 989-20 Tiamin untuk Penyakit Jantung Inpharma 1995. Pranoto: Pengujian Metoda Larvasida Teknar 1500 S terhadap Larva Anopheles maculatus yang Merupakan Vektor Malaria di Daerah Aliran Sungai Rabea Pangerti Jekti.33 20 . Kecamatan Tanjung Bunga. P.10 15 . Sutopo: Penentuan Vektor Filariasis bancrofti di Kecamatan Tanjung Bunga. Flores Timur Sebelum dan Sesudah Gempa Bumi Damar Tri Boewono . 332: 728 4 Gemuk dan Kanker Ovarium Lancet 1995.56 57 . Penelitian Entomologi 2: Bionomik Anopheles Setelah Gempa Bumi Barodji. Tri Sumaryono: Pengaruh Jarak Pengasapan ULV dengan Beberapa lnsektisida dalam Uji Hayati terhadap Aedes aegypti Eni Ratna Mintarsih. EmillanaTjitra: Penelitian Malaria di Kecamatan Teluk Dalam. Tri Suwardjono. Rita Marleta Dewi. Dasni Daud: Manfaat Pemeriksaan Radiologik Toraks sebagai Alat Bantu Diagnosis Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Kabupaten Faisal Yatim: Hasil Uji Coba Dengue Stick lgG Amrul Munif. 1996 .18 19 . Sustriayu Nalim : Anopheles hyrcamus group dan Potensinya Sebagai Vektor Malaria di Kecamatan Teluk Dalam . 345: 1195-98 Mikroemboli pada Stroke Stroke 1995.P. Hadi Suwuono: Pengaruh Suhu dan Kelembaban Udara Alami terhadap Jangka Hidup Aedes aegypti Retina di Kotamadya Salatiga dan Semarang IG Seregeg: Kepadatan Aedes albopictus di Lingkungan Beberapa Rumah Sakit di Jakarta Selatan Nunik Sri Aminah. Ludfi Santoso. Lastan. Nias. 19 Ganja Untuk Terapi Inpharma 1995. Heru Prijanto.36 41 .44 45 . 113. 2008: 25 Kematian Akibat N. Koesnindar. Hadi Suwasono. Hestining Pupus Pangastuti: Penelitian Proses Pembuatan Tempe Kedelai: I. 2040.14 5-9 9 .19 26 . Flores Timur Budi Riyanto W: Nyeri Kepala Tipe Tegang Monang Panjaitan: Pengaruh Pemberian Obat Kumur Mengandung Fluor terhadap Perkembangan Karies Gigi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta. Suinardi. Mursiatno. Harijani A.29 30 .: Nyeri Kepala Klaster Pengalaman Praktek Abstrak Terapi ALS Inpharma 1995.. Suwarni.43 44 .30 37 . Umi Widyastuti.52 52 .16 17 .47 48 . Flores. Marwoto. Rabea Pangerti Jekti: Keadaan Hematologis Mencit yang Diinfeksi dengan Plasmodium berghei ANKA Amrul Munif: Cendawan Patogen pada Larva C. A. 345: 1087-88 Semprot Hidung untuk Migren Inpharma 1995. 1995. Sumatera Utara Blondine Ch. MALARIA English Summary Rita Marleta Dewl. Sustriayu Nalim.51 37 . Widiarti. M. Edhie Sulaksono. Sumardi.1% (secara klinis) Abstrak Efek Samping Kombinasi Cisapnid dengan Ketokonazol Scrip 1995. quinquefasciatus yang Berasal dari Kubangan Air Limbah Rumah Tangga Untuk Menunjang Pengendalian Hayati Barodji. 983: 5 ASI Mengurangi Risiko Atopi Lancet 1995. 332: 1399-404 Malaria Donor Ginjal Lancet 1995.39 40 . Subiantoro: Pengujian Patogenisitas Isolat Bacillus thuringiensis terhadap Jentik Nyamuk Vektor secara Semi Kuantitatif M. 26: 1588-92 Profllaksis Ulkus di Perawatan Intensif Inpharma 1995. Subiantoro. Nias Sumatera Utara Sahat Ompusunggu. Syafei Hamzah: Dermatitis Kontak Karena Pestisida RS Siregar: Dermatosis Akibat Kerja Prijantojo: Kondisi Jaringan Periodonsium pada Kelompok Masyarakat dengan Perbedaan Frekuensi Penyikatan Gigi Sitoresmi Triwibowo. DENGUE English Summary Husein Albar. Amrul Munif. Med. Subahagio: Pengaruh Pasase tcrhadap Gejala Klinis Mencit strain Swiss derived yang Diinfeksi dengan Plasmodium berghei ANKA Rita Marleta Dewi.

2032: 22 4 5-9 10 .26 31 . 333: 1369-73 Efek Samping Omeprazol Scrip 1995.Jumlah Penulis Naskah Ilmiah Preskripsi Obat Asma Efektivitas Vaksinasi Koyo Anti Nafsu Makan Permen Nikotin Lancet 1995. Wien Winarno: Efek Farmakologi dan Fitokimia Komponen Penyusun Jamu Keputihan B. PENYAKIT HATI English Summary Suwarso: Biologi Molekuler Hepatitis C dan Aplikasi Diagnostiknya Djoko Yuwono. Dzulkarnain.24 Cermin Dunia Kedokteran No.20 21 . 2063: 23 Stres Menghambat Penyembuhan Luka Lancet 1995.61 62 62 62 62 62 62 63 63 63 63 63 63 63 M. B.57 58 . 333: 123 7-41 Alat Bantu Dengar di Kedua Telinga MCHL 1995. aureus dan E.12 62 62 62 62 63 63 63 13 . 2022: 4 Inpharma 1995. coli in vitro 4 5-9 10 . Cardiol. 346: 459-61 Nifedipin Meningkatkan Inpharma 1995.34 35 . Bus. Ramly Bandy. 17: 6 Scrip 1995. 981: 5 Scrip OTC 1995. Armeiny Romita: Isolasi Mikroba Tanah Penghasil Antibiotika dan Sampel Tanah pada Lokasi Penumpukan Sampah Agus Sjahrurachman: Resistensi Bakteri terhadap Aminoglikosida Sitoresmi Triwibowo. 2050: 22 Zn Untuk Diare N.41 42 . Med. 13(12): 8 4 5-8 9 . Dian Sundari: Informasi Penelitian Komponen Jamu Pengatur Haid Dian Sundari. III. 1995.17 18 .Engl J Med. 11(246/247): 9 Untuk Impotensi Pembedahan Untuk Kasus Epilepsi Lancet 1995. 1995.44 45 .20 21 . 1995.52 53 . II. 2038: 23 63 63 63 63 63 108.46 47 .48 49 . 1001: 15 Botak Neurogenik? Lancet 1995. 11(253): 8 Risiko Kanker Scrip 1995. News 1995. Anwar Musadad: Sistim Penyediaan Air Bcrsih di Beberapa Rumahsakit Ketut Ngurah: Pengaruh Magnesium Sulfat Proanalisis dan Garam Inggris serta Periode Opsional terhadap Efektivitas Pemeriksaan Pemeriksaan Tinja Flotasi Kusnindar Atmosukarto: Peran Sumber Air Minum dan Kakus Saniter dalam Pemberantasan Diare di Indonesia M. J. Dian Sundari. Dian Sundari: Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Obat Diare di Indonesia D. M. 2022: 23 Interaksi Kafein dengan Litium Inpharma 1995. 1995. 346: 639 Trombolitik Untuk Stroke Iskhemik Lancet 1995. 1996 59 . Helmi Arifin. OBAT TRADISIONAL English Summary Djoko Hargono: Sekelumit Mengenai Obat Nabati dan Sistim Imunitas Nurendah PS-Praswanto. 830-33 Bahaya Hiperkolesterolemi N. DIARE DAN LINGKUNGAN English Summary SM Salendu-Warouw: Evaluasi Klinis Sindrom Disentri Anak di RS Gunung Wenang. 333: 873-4 Jahe Untuk Mual Inpharma 1995. Engl. Pudjiastuti.38 30 . Adjirni: Efek Antidiare Infus Daun Kesembukan (Paederia foetida L) pada Tikus Putih dan Toksisitas Akutnya pada Mencit Imam Masduki: Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu) terhadap S. Med. 1995:333: 621-7 25 .25 26 . Dzulkarnain. 113. 2023: 27 Obat Migren Scrip 1995. J.32 33 . 346: 1402 Penggantian Obat Antihipertensi Scrip 1995. Jus. Dolih Gozali: Pengaruh Ekstrak Daun Antanan dalam Bentuk Salep.20 21 . Hestining Pupus Pangastuti: Penelitian Proses Pembuatan Tempe Kedelai. J Med.18 19 . Dzulkarnain.34 35 . Engl. Retno Iswari: Upaya Pengembangan Vaksin Hepatitis C Zulkarnain Arsyad: Evaluasi Faal Hati pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Mendapat Terapi Obat Anti Tuberkulosis Nuchsan Umar Lubis: Program Imunisasi Masal Hepatitis B di Indonesia AB Wardoyo: Penyakit Hati pada Kehamilan Sunarto: Diagnostik Thalassemia dengan Polymerase Chain Reaction Rochman Na’im: Pengembangan Uji Diagnostik melalui Teknik Molekuler B. 1011: 3-4 Obat Untuk Alzheimer Scrip 1995.49 50 . Sri Adi Sumiwi. Manado Charles Darwin Siregar: Pola Penyakit Anak Rawat Inap di RSU Panyabungan. 13(12): 8 Angioplasti VS.333:953-7 Alprostadil Pharm. 345: 1242 Scrip 1995. 2061: 22 Riluzole Untuk ALS Scrip 1995. B.49 49 . 2028: 27 Obat Untuk ALS Scrip 1995.61 62 62 62 62 62 63 63 63 63 63 110. News 1995.53 54 .31 32 . Hestining Pupus Pangastuti: Penelitian Proses Pembuatan Tempe Kedelai.Engl J Med. Reflinar: Berbagai Detcnninan yang Mempengaruhi Penilaian Pasien terhadap Pelayanan Medis Pengalaman Praktek Abstrak Usia Ibu dan Kematian Janin N. Engl. 984: 21 Gangguan Visus Akibat Kompresi Khiasma Lancel 1995. 346: 1194-96 Sumatriptan Untuk Migren Lancet 1995. Ali Chozin: Tanaman Obat Bersifat Antibakteri di Indonesia Budi Riyanto W: Obat-obat Antiepilepsi Baru Benyamin Lumenta.16 17 .55 56-60 109. Krim dan Jelly terhadap Penyembuhan Luka Bakar Max Joseph Herman: Antijamur Sistemik Akmal. J. Wien Winarno.14 15 . Suhardjo: Sikap dan Perilaku Pemuda di DKI Jakarta dan di DI Yogyakarta mengenai Masalah Kesehatan Lingkungan Djohansjah Marzoeki: Kebutuhan Dokter Spesialis di Indonesia (Pelayanan dan Dosen) dengan Acuan Dokter Spesialis Bedah Nawazir Bustami: Perforasi Divertikel Jejunum -laporan kasus Sitoresmi Triwibowo. 346: 1445-49 Penyebab Penyakit Huntington Scrip 1995.56 57 . 2083: 27 Cuka Apel Untuk Antnitis? MCHL 1995. analisis mikrbbiologi Prijantojo: Evaluasi Klinis Perawatan Hipersensitivitas Dentin dengan Potasium Nitrat Abstrak ESPS-2 Scrip 1995. Pengaruh lama fermentasi terhadap kandungan asam fitat dalam tempe kedelai Prijantojo: Pengaruh Klinis Pasta Sodium Khlorida dan Sodium Bikarbonat terhadap Radang Gingiva Abstrak Tanaman Obat Inpharma 1995. 1015: 21 Mortalitas? Diabetes Wanita Hamil N. Streptokinase Am. 1995.36 37 . Tapanuli Selatan Pudjarwoto Triatmodjo: Infeksi Bakteri Enteropatogen pada Balita Penderita Diare di Jawa Barat dan Pola Resistensinya terhadap Beberapa Antibiotik Sa’roni. Wahjoedi: Informasi Ilmiah Kegunaan Kosmetika Tradisional Suratman. 346: 1509-14 Prevalensi Depresi Pharm. 2083: 27 Vitamin A Dosis Tinggi N. 346: 923-26 Heparin Untuk Trombosis Vena Dalam Lancet 1995.

40 41 .48 49 . Cornelis Adimunca: Penentuan Nilai Biologik Tempe Bosok pada Tikus Putih strain Wistar Geertruida Sihombing: Komposisi Zat Gizi dan Mutu berbagai Macam Jajanan Ditinjau dan Penggunaan Bahan Tambahan Makanan Geertruida Sihombing.31 32 .24 25 . Rabindarjeet Singh.61 Payudara 4 5-8 13 . 1996. 1. 7(4): 10 Manfaat Pravastatin Inpharma 1996. GIZI DAN MAKANAN English Summary Laurentia C. Gonta: Osteoporosis sebagai Problema Klimakterium Dwi Djuwantoro: Osteoporosis Yoseph: Perdarahan Selama Kehamilan Paul Zakaria Dagomez: Terapi Imun pada Kasus Abortus spontan .14 15 .43 44 .56 57 . 97: 192-7 Obat Antihiperlipidemi Inpharma 1996. Lucie Widowati: Dukungan Ilmiah Penggunaan Ramuan untuk Obesitas Iwan Harjono Utama: Lektin . 334:701-6 Serangan Jantung Akibat N. 22: 1941-46 Scrip 1995. Miharja: Defisiensi Zat Besi dan Pola Makan serta Hubungan dengan Absorpsi Laktosa pada Anak 1-2 Tahun Tanpa KKP di Pos Yandu Kelurahan Utan Kayu Selatan Geertruida Sihombing: Komposisi Zat Gizi dan Bahan Baku Lainnya dari Berbagai Macam Kiupuk Rianawati Aminah. Med. Puji Lastari: Jenis Informasi yang Dapat Diperoleh dari Rekam Medik di Beberapa Rumahsakit Umum Pemerintah .54 55 .43 44 .58 59-60 61 62 62 62 62 62 62 62 Sriana Azia. 113. 1996. Dzulkarnain.47 48 .18 19 .61 62 62 62 62 62 62 63 63 63 63 63 113. Titik Ratih Rahayu: Dasar Formulasi Jamu MaJun/Kuat Pria Rochman Na’im: Aktivitas Antimikroba Plasma Semen Chriadiono M.59 60 . 15(6): 778-80 Obat Baru Scrip 1995. 1996. Marice Sihombing: Mutu Jajanan Goreng Ditinjau dan Minyak yang Diserap Gusbakti Rusip.11 12 .50 51 . 1996:11(2): 117-19 Omeprazol Paroxetine Pharmacotherapy 1995. FERTILITAS English Summary Max Joseph Herman: Pemanfaatan Hormon dalam Kontrasepsi Cornelis Adimunca: Kemungkinan Pemanfaatan Ekstrak Buah Pare sebagai Bahan Kontrasepsi Pria 4 5 . 1031: 13-4 Balsem Cap Macan Untuk Nyeri Kepala Inpharma 1996.27 28 -32 33 .57 60 Cermin Dunia Kedokteran No. 5(16): 7 Selegilin Merugikan D&TP 1996.22 23 .53 54 . 2081: 27 Saat Hubungan Seksual dan Kehamilan N Engl. 334: 356. Depok I Sri Lelyati SU: Kalkulus .20 21 . Ang Boon Suen: Pengaruh Minuman Karbohidrat Berelektrolit terhadap Performance Olahraga Sepeda dalam suasana Lembab Sarjaini Jamal: Penggunaan VitaRIM sebagai Software dalam Menentukan Prevalensi Xerophthalmia di Satu Daerah Akmal. Rheumatof 1995. Marlina: Cemaran Mikroba pada Produk Perikanan Iswiasih Hldayatun.48 49 . J. Sunanti ZS: Perilaku Mantan Pengguna Sarana Air Bersih (SAB) di Jawa Tengah. 2081: 26 Hipertrofi Pnostat Scrip 1995.37 38 . Barodji.41 41 .Hubungannya dengan Penyakit Periodontal dan Penanganannya Wiwi Werdiningsih.NSAID Untuk Osteoartritis Lutut Piracetam Untuk Stroke J. Ondri D.Sifat dan Aplikasinya dalam Biologi/Biomedis Sudibyo Supardi: Sakit dan Perilaku Sakit Pengalaman Praktek Abstrak Thalidomid Drug News 1996. Med. Kalimantan Selatan dan di Sulawesi Selatan Andri Sudjatmoko: Kartu Menuju Sehat Untuk Menilai Cara Hidup Sehat Boenjamin Setiawan: Proses Penemuan Obat Baru Susetyo Trijoko: Perhitungan Waktu Untuk Penyinaran Tumor dengan Pesawat Teterapi Cobalt-60 4 5-9 10 .Engl J Med 1996. Nani Sukasediati.40 41 . 324: 1077-83 Mortalitas Pasien Parkinsonisme N Engl.16 20 .15 44 .Engl J.Med.24 25 . 346: 1589-63 Furosemid Untuk Antikonvulsan Science 1995. 1030: 14 Pengalaman Merawat AIDS N. 2072: 30 63 63 111. 346: 1361 Risiko Kontrasepsi Oral (1) Lancet 1995: 346: 15 75-82 Risiko Kontrasepsi Oral (2) Lancet 1995. 333: 1517-21 Lemak dan Kanker N. Med 1995. 1028: 5 Terapi Neuralgia Trigeminus N.Infeksi Fetomaternal Dipandang dan Sudut Imunologi Soebandiri: Pengaruh Umur pada Hasil Terapi Limfoma Non Hodgkin Sarjaini Jamal: Karakteristik Kesehatan di Daerah Pedesaan dan Perkotaan Retno Gitawati. Drug Invest.53 54 . Riris Nainggolan. 347: 569-73 Risiko Chorionic Villus Sampling Lancet 1996.35 36 . 347: 489-94 Relaps pada Epilepsi Pediatrics 1996. Narlan Sumawinata. Med 1995. 5(11): 5 Kontrasepsi Pria Drug News 1996.27 33 . GIGI English Summary SW Prayitno: Peniodontologi dan Masa ke Masa Yuniarti Soeroso: Peranan Splin Permanen dalam Perawatan Periodontal Yuyus Rusiawati: Status Penyakit Gigi dan Mulut dan Perilaku Anal terhadap Kesehatan Gigi di Klinik Alfa. Beji.37 38 .data retrospektif 1988/1989 dan 1992/1993 Rivai: Program Pertemuan dan Penyuluhan Keluarga Klien dalam Konteks Asuhan Keperawatan di RSJP Bogor Susetyo Trijoko: Penentuan Faktor Kalibrasi Berkas Pesawat Terapi Cs-137 dengan Metoda Interpolasi Sudibyo Supardi: Pengambilan Keputusan dan Pemilihan Sumber Pengobatan Abatrak Asma Akibat Mainan Lego Lancet 1996. J. 270: 99-102 17 . 1996 .penelitian pendahuluan Yuniarti Syafril: Regenerasi Jaringan Periodontium Setelah Perawatan Periodontal Prijantojo: Peranan Chlorhexidine terhadap Kelainan Gigi dan Rongga Mulut Harmas Yazid Yusuf: Pencemaran Air Raksa di Lingkungan Kerja Dokter Gigi Gupran Ruslan: Efek Merokok terhadap Rongga Mulut Siti sapardiyah Santoso. 334: Gempa Bumi 413-9 Keracunan Clin.28 29 . Engl. J. Achadiat: Tumor-tumor Ovarium Borderline P.43 112. Engl.20 63 63 63 63 63 63 21 .16 17 . Ansar Bansar: Frekuensi Nyeri pada Perawatan Saluran Gigi Anterior Sekali Kunjungan . Sampurno. Ludfi Santoso: Spesies yang Dapat Berkembang Biak di Dalam Daging Ikan yang Dikeringkan untuk Pembuatan Ikan Asin Harrizul Rivai: Hubungan Antara Kadar Kafeina Plasma dengan Kebiasaan Minum Kopi B. 334: 71-6 Malaria Akibat Jarum Suntik Lancet 1995. 334: 406 Pen Altematif Lancet 1996.

ini obatnya . datang seorang ibu yang sudah cukup berumur. Beberapa saat bu Painem tidak beranjak. saya ‘kan belum dipus-pus ‘Di pus-pus bagaimana.. pagi itu suasana di puskesmas ramai oleh pasien. pak dokter "Ya . 347: 527 Indikasi Bedah Caesar Lancet 1996. maaf ya.! Seperti biasa. 113.. sambil berkata: "Sudah bu Painem. "Hasilnya normal bu Painem …atasnya 120. Febianto Ary P. J. 2087: 22 63 63 63 63 63 Happiness is theirs who are sufficient for themselves (Aristotle) Cermin Dunia Kedokteran No. Med 1995..." kata saya mengalah... Madiun (Sambungan dari halaman 60) Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran tahun 1996 Pengalaman Praktek Abstrak Hirudin Scrip 1995. Setelah saya lakukan anamnesa ala kadarnya.. terima kasih .. sebut saja bu Painem.. Med. iya .J. 2078: 21 Miastenia Gravis Akibat Kontrasepsi Oral Lancet 1995.. 333: 1301-7 N Engl . sudah ke sana bu. biar disuntik bu mantri.. 1996 61 . tidak usah disuntik ya ?" Lho . pak dokter ." Ia pun berlalu menuju ke kamar suntik. 1020: 12 Scrip 1995. "Oh ... bawah 80…" "Terima kasih pak dokter . tadi saya lupa Bu Painem pun tersenyum lega seakan gatalnya hilang. sekian ... bu?" "ini lho pak dokter" (sambil menunjuk ke arah tensimeter)... Engl. 333: 1462-7 JAMA 1996. 346: 1556 Karakteristik Pria dan Wanita Pasien Infark Miokard Akut JAMA 1996.Pengalaman Praktek Lupa dipus-pus…. 347: 544 58-61 61 62 62 62 62 62 Pravastatin untuk Hiperkolesterolemi Exercise untuk Hipertensi Suplementasi Vitamin untuk Angina Pektoris Propofol untuk Status Epileptikus Bahaya Tamoksifen N. 275: 693-98 Inpharma 1996.. dengan keluhan gatal-gatal. Saya harus cepat cepat menyelesaikan karena siang itu akan ada rapat dinas.. 275: 777-82 Merokok untuk Parkinson Lancet 1996. segera saja saya diagnosa dan membuat resep untuknya. mari sini bu . saya ke sini kan mau disuntik to. Sesampainya pasien ke.... tapi malah memandangi saya "Ada apa bu Painem ?" "Lho . 1995.

p <0. sedangkan kematian dan/atau reinfark terdapat pada 9.001). sebaliknya operasi by-pass lebih sedikit di kalangan wanita (7% VS. tetapi dapat diatasi dengan piridostigmin 4 dd 60 mg.001) dengan relative risk sebesar 1.31). Perdarahan terjadi pada 4 pasien dengan hepanin dan pada 4. Di lain pihak.8% pasien dengan hepanin dan pada 12. reinfark atau gagal jantung terdapat pada 11. p <0. 347: 527 hk MEROKOK UNTUK PARKINSON Satu-satunya data statistik yang mendukung para perokok ialah rendahnya kejadian penyakit Parkinson di kalangan perokok dibandingkan dengan pada populasi normal. p <0. Pengobatan lebih lambat di kalangan wanita (1.3% vs.3% pasien heparin dan pada 9.4% pasien dengan hirudin. sebanyak 282 ahli kebidanan darn 31 klinik di London dikirimi pertanyaan:cara persalinan apa yang dipilih bila anda/partner anda primigravida tanpa komplikasi. pasien-pasien wanita ratarata berusia 7 tahun lebih tua. Para peneliti di New York menggunakan PET mendapatkan bahwa aktivitas MAO-B isoenzim di kalangan perokok 40% lebih rendah dibandingkan dengan populasi normal. meskipun presentasi kepala. 5. dengan hirudin dosis 0. 19%. hal ini yang mungkin dapat INDIKASI BEDAH CAESAR Suatu studi mengenai bedah caesar dilakukan di kalangan ahli kebidanan di Inggris.001).01).001). JAMA 1996.5 kg. Tindakan angiografi tidak berbeda bermakna. 5%. Setelah 30 hari. p <0.1% vs. Scrip 995. Setahun kemudian. dibandingkan dengan hanya 8% di kalangan ahli ke bidanan pria (p <0. 1 jam. meskipun bukan indikasi bedah.001) dan stroke (2. Sebanyak 68% memilih bedah bila taksiran berat bayinya lebih dani 4.001). p < 0. Sebanyak 73% mengirimkan jawaban.. Para wanita lebih banyak yang mempunyai riwayat diabetes. reinfark (5..6% pasien hirudin (tidak bermakna).4% pasien dengan hirudin (tidak bermakna).7% pasien dengan heparin dan pada 0. sedangkan perdarahan intrakrainal terjadi pada 0. implan tersebut diangkat dan dalam beberapa minggu gejala miastenia gravisnya berkurang dan penggunaan piridostigmin dapat dikurangi sampai separuhnya. Lancet 1996.001). meskipun dapat dilahirkan per vaginam.2jam vs. 5. 9%. 57% tetap memilih bedah bila merupakan persalinan pertama. hipertensi dan merokok. 3. Di antara yang memilih bedah caesar. dan 17% memilih bedah caesar. Preferensi bedah caesar lebih menonjol pada risiko persalinan.7% untuk TPA + hirudin. p <0. 32%. kematian. 346: 1556 Hk KARAKTERISTIKPRIA DAN WANITA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT Karakteristik 10315 wanita dan 30706 pria penderita infark miokard akut peserta GUSTO-1 yang berasal dari 15 negara.2%.5%.7% untuk TPA + heparin. padahal enzim itu diketahui berperan dalam metabolisme dopamin. sedangkan bila beratnya 4–4.8% untuk kombinasi streptokinase + heparin. 7%. dan 18 menit (median) lebih lama tiba di rumahsakit setelah serangan. p <0.1 mg/kgbb/jam lama 96 jam. 39% karena alasan risiko pada bayi dan 27% karena menginginkan pemilihan saat bersalin.001). 30% tetap memilih bedah. 113. 2078: 21 Brw MIASTENIA GRAVIS AKIBAT KONTRASEPSIORAL Sebuah surat pembaca di Lancet melaporkan satu kasus wanita 37 tahun mendenita miastenia gravis kira-kira 6 bulan setelah menggunakan implan levonorgestrel. perhari. 1996 .0– 1.5 kg.80% karena alasan komplikasi persalinan per vaginam (ruptur perineum. 3.6%. para peneliti mengajukan kemungkinan bahwa penurunan aktivitas MAO-B yang meningkatkan kadar dopamin mungkin merupakan faktor penyebab adiksi di kalangan perokok atau alkoholisme karena dopamin diketahui berperan dalam memperkuat/ memotivasi tingkah laku. kerusakan sphincter).1% vs. perdarahan senius (15% vs. payah jantung kongestif (22% vs. Ternyata.ABSTRAK HIRUDIN Hirudin – suatu thrombin inhibitor – agaknya kurang bermanfaat untuk pasien infark miokard akut. Kematian juga lebih sering di kalangan wanita (11.001). Studi yang melibatkan 3002 pasien infark miokard akut membandingkan efek heparin dengan dosis 5000 U bolus diikuti dengan infus 1000 U/jam.8% pasien dengan hirudin (tidak bermakna). p < 0. tetapi angioplasti lebih banyak dilakukan di kalangan wanita (35% vs.15 (95%CI: 1. 58% karena kekuatiran fungsi seksual. Lancet 1995. gejalanya memberat selama 10 bulan.7% untuk streptokinase + hirudin dan 4. Risiko perdarahan untuk obat trombolitik lain ialah 3. Sebanyak 31% ahli kebidanan wanita memilih bedah caesar. 40% tetap memilih tindakan bedah. 1. 1996: 347: 544 hk 62 Cermin Dunia Kedokteran No. 275: 777–82 brw menerangkan efek di atas. p <0. selain itu wanita lebih sering mengalami komplikasi non fatal seperti shock (9% vs. bila merupakan persalinan ke dua. diperbandingkan. bayi tunggal letak kepala. bila kedudukan bayi sungsang.

9 kasus.9 tahun. pravastatin secara buta-ganda kepada 6595 pria berusia 45–64 tahun yang menderita hiperkolesterolemi tetapi tanpa riwayat infark miokard. 1020: 12 brw EXERCISE UNTUK IHPERTENSI Sejumlah 46 pria Afrika-Amerika berusia 35–76 tahun penderita hipertensi menjalani dua cara pengobatan. antara kelompok beta-karoten dengan kelompok non beta-karoten relative risknya 1. dibandingkan dengan hanya 2 kasus di kelompok kurang dan 5 tahun.16. Med 1995.09). Med. Alfa-tokofenol hanya sedikit menurunkan kejadian angina pektoris. Selain itu terdapat pengurangan ketebalan septum interventrikuler (p = 0.27. Terdapat 248 kejadian koroner di kelompok plasebo dan 174 dikelompok pravastatin (relative reduction risk 31%. sedangkan beta-karoten berkaitan dengan sedikit peningkatan kejadian angina pektoris.96 (95%CI: 0.971. sedangkan di kalangan yang menggunakan tamoksifen selama lebih dari 5 tahun. selain itu di kelompok ini juga ditemukan 6 kasus kanker endometrium. dan 12 kasus kanker primer lain vs. p <0. 6 kasus kanker payudara baru kontralateral vs. Scrip 1995. N. juga terdapat penurunan kejadian infark miokard sebesar 31% (p < 0. kepastiannya masih memerlukan penelitian lanjutan. dokter di Finlandia mencoba propofol: 8 pasien yang gagal diatasi dengan diazepam. 95%CI: 17-43%. 113.002). yaitu obat antihipertensi (23 pria) atau antihipertensi + aerobik menggunakan sepeda statis (23 pria). kadar LDL-kolesterol rata-rata turun 26% di kelompok studi. p = 0. Hanya satu pasien yang masih memerlukan perawatan intensif setelah kejangnya teratasi. p = 0. atau plasebo. diberi 30 mg.05 1).J. 92% masih bebas kanker sampai 4 tahun setelah menghentikan pengobatan. Setelah 16 minggu. hanya 86% yang masih bebas kanker. Studi di AS yang melibatkan 1166 wanita pasien kanker payudara yang node-negative.001). Analisis perbandingan antara kelompok alfa-tokoferol dengan kelompok non alfa-tokoferol menunjukkan relative-risk 0.04). massa ventrikel kiri (p = 0. 333: 1301–7 hk rata-rata 88 ± 7 mmHg menjadi 83 ± 8 mmHg. sedangkan di kelompok plasebo tidak ditemui penurunan. beta karoten/hari. p = 0.00-1. estrogen receptor positive menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan tamoksifen selama 5 tahun. Engl . p = 0.13 (95%CI: 1.02) dan index massa ventrikel kin (p = 0.97 (95%CI: 0. 333: 1462-7 hk PROPOFOL UNTUK STATUS EPILEPTIKUS Bila selama ini kita menggunakan diazepam untuk mengatasi status epileptikus.J. kadar kolesterol darah rata-rata turun 20%. tekanan diastolik ini tetap bertahan sampai 32 minggu meskipun antihipertensi dikurangi dosisnya. propofol tiap 30 detik sampai kejangnya terhenti.06 (95%CI: 0. atau keduanya.834-0.91 (95%CI: 0. penurunan kejadian kematian akibat penyakit jantung koroner – untuk kasus pasti penurunan sebesar 28% (p = 0. 2087: 22 brw Cermin Dunia Kedokteran No. dosis total yang diperlukan berkisar antara 100–200 mg.06). 1996 63 . kelompok álfa-tokoferol + beta-karoten sebesar 0. Selama 4. para peneliti memberikan 40 mg. Sethngkan risiko kematian akibat semua sebab turun 22% di kalangan pravastatin (95%CI: 0–40%.99.7 tahun (96427 personyears) tercatat 1983 kasus angina pektoris baru. Inpharma 1996.19). Penurunan efek terapeutik ini dapat disebabkan oleh adaptasi tumor. Engl . atau 20mg.10). dan tujuh pasien kembali ke keadaan semula tanpa gejala sisa.04) secara bermakna setelah 16 minggu menjalani exercise. Setelah rata-rata 4. sedangkan untuk kelompok beta-karoten sebesar 1. sedangkan di kalangan tanpa aerobik justru naik dan 88 ± 6 mmHg menjadi 90 ± 7 mmHg (p 0. 1995. kelompok alfa-tokoferol relative risknya 0.13) dan untuk kasus pasti + tersangka sebesar 33% (p = 0.85–1. tekanan diastolik rata-rata di kalangan aerobik turun dari SUPLEMENTASI VITAMIN UNTUK ANGINA PEKTORIS Sebagai bagian dan studi atas 29133 pria perokok berusia 50–69 tahun di Finlandia.042).ABSTRAK PRAVASTATIN UNTUK HIPERKOLESTEROLEMI Mengingat penurunan kadar kolesterol darah dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Dibandingkan dengan kelompok plasebo. alfatokoferol/hari. 22269 pria tanpa riwayat angiunapektoris diberi 50 mg. 2 kasus.03).85–1.001). N. JAMA 275:693–98 brw BAHAYA TAMOKSLFEN Dua studi yang dilaksanakan di AS dan Skotlandia menunjukkan bahwa penggunaan tamoksifen selama lebih dari 5 tahun untuk pengobatan kanker payudara dapat memberikan efek merugikan. Para peneliti menyimpulkan bahwa pravastatin secara bermakna menurunkan kejadian infark miokard dan kematian akibat kejadian kardiovaskuler pada pria dengan hiperkolesterolemi sedang tanpa niwayat infark miokard.

Antibiotik pilihan untuk penyakit periodontal: a) Tetrasiklin b) Ampisilin c) Amoksisilm d) Metronidazol e) Sulfametoksazol 7. A 7. 1996 JAWABAN RPPIK : 1. Tingkat Hg dalam urine tidak boleh melampaui : a) 0. B 3. C 2. Bakteri yang dominan terdapat dalam plak: a) Grain + b) Gram c) Spirochatea d) Vibno e) Fusobakteri 5. kecuali: a) Kuretase b) Osteotektomi c) Gingivoplasti d) Gmgivektomi e) Tanpa kecuali Genius invent. Yang digunakan sebagai antidotum pada keracunan Hg: a) Arang aktif b) EDTA c) Heparin d) Laksan e) Susu 3. 113.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. C 8. E .02 mg/l c) 0. Yang merupakan tanda keracunan akut Hg: a) Anuria b) Dispnoe c) Polineuropati d) Tremor e) Diare 2.01 mg/l b) 0. C 6.03 mg/l d) 0. Pembentukan plak tidak dapat dicegah dengan cara: a) Kumur-kumur b) Sikat gigi c) Suplementasi fluor d) Penggunaan antiseptik e) Semua bisa 6.05 mg/l e) 0. wit merely finds (Weber) 64 Cermin Dunia Kedokteran No. B 4. A 5. Tindakan periodontal dapat berupa sebagai berikut.1 mg/l 4. Obat kumur yang dianjurkan untuk mencegah penyakit periodontal: a) NaCl b) H202 c) Khlorhexidine d) Tetrasiklin e) Metronidazol 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful