ACARA I SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

I. TUJUAN 1. Mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman. 2. Mengetahui tanggapan beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda. II. TINJAUAN PUSTAKA Interaksi antara organisme dan lingkungannya disebut ekologi. Ekologi mempelajari makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan biotik. Lingkungan biotik terdiri dari makhluk hidup satu dengan makhluk hidup lainnya. Lingkungan fisik terdiri dari materi abiotik dann materi energi (Woodburry, 1954). Lingkungan terdiri dari dua faktor penyusun, yaitu faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor biotic adalah faktor hidup yang teridi dari organisme, seperti tumbuhan, hewan, mikroorganisme. Faktor abiotik adalah faktor yang tidak hidup seperti air, udara,, intesitas cahanya, salinitas, dan lain-lain (Barto et al., 2010). Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Setiap jenis tumbuhan mempunyai kebutuhan terhadap tiap faktor yang berbeda. Kebutuhan yang terpenuhi akan menyebabkan tumbuhan tumbuh secara optimum. Suatu jenis tumbuhan mempunyai batas-batas yang masih dapat dostolerir untuk suatu faktor. Batas-batas ini dinamakan batas toleransi. Toleransi bagi tumbuhan adalah batas maksimum dan minimum suatu faktor dibutuhkan tumbuhan untuk tumbuh (Brinker et al., 2010). Salinitas merupakan salah satu faktor ekologi. Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam suatu larutan tertentu. Kandungan garam berlebih di dalam air akan mengganggu proses ekologi. Sehingga sedikit spesies yang mampu tumbuh di daerah yang memliki salinitas tinggi ( Remmert, 1980 ). Salinitas alami adalah sebuah fenomena yang terbesar luas di bumi dan evolusi dari kehidupan organisme dihasilkan pada sejumlah spesies yang menunjukkan mekanisme adaptasi spesial untuk tumbuh pada lingkungsn salin. Pada kondisi nyata hampir semua biji tanaman tidak dapat tahan secara permanen pada kondisi tanah salin. Tanaman yang tumbuh pada tanah salin dihadapkan pada masalah yang lebih kompleks. Pada rizophere konsistensi garam pada kandungan tanah turun naik karena perubahan penyedian air, drainase, penguapan dan transpirasi. Salinitas tidak hanya disebabkan oleh NaCl tetapi juga oleh

Na2CO3, NaHCO3 dan Na2SO4 dan hubungan dari garam – garam tersebut dengan lainnya sebaik pada nutrisi lain seperti K+, Ca2+ dan Mg2+ adalah penting dan ada perbedaan besar pada tempat yang berbeda (Staples dan Toenieses, 1984). Kondisi salinitas dalam tanah dapat mengurangi produktivitas dan nilai suatu lahan. Pengaruh larutan garam dalam tanah terhadap tanaman adalah mengurangi ketrsediaan lengas tanah, mengubah kondisi fisik tanah sehingga mengurangi penetrasi akar dan secara langsung dapat menyebabkan ketersediaan air bagi tanaman berkurang (Isnawan, 1997). Meningkatnya konsentrasi garam NaCl dalam medium pertumbuhan tanaman berakibat pada berkurangnya panjang akar dan tunas dari bibit padi. Pertumbuhan akar lebih peka dibandingkan pertumbuhan tunas. Hal ini disebabkan akar berhubungan langsung dengan larutan garaam, sehingga akar lebih besar dipengarhi oleh NaCl daripada tunas (Dinata dan Putrana, 2007). Salinitas tanah umumnya menurunkan laju nitrifikasi yang umumnya diikuti dengan meningkatnya potensial osmotik tanah, sehingga hanya sedikit organisme yang toleran dengan keadaan ini. Kehadiran ion natrium pada tanah dalam jumlah tinggi dapat mempert ahankan tanah tetap tersuspensi sehingga dapat menurunkan porositas dan menghambat aerasi, tanaman (Sudiarso et al.,2002). Penting disadari bahwa tanaman tidak terdapat sebagai individu atau kelompok individu yang bersolasi. Semua tanaman berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan sejenisnya ( tanaman sama) dengan tanaman lain dan dengan lingkungan fisik tempat hidupnya. Dalam proses ini tanaman saling berinteraksi dengan yang lainnya dan dengan lingkungan sekitarnya. Begitu pula berbagai faktor yang mempengaruhi kegiatan hidup tanaman seperti tanah. Tanah berkadar garam tinggi atau yang salin terlarut dalam jumlah banyak sehingga mengganggu pertumbuhan sedangkan salinitas merupakan terakumulasinya garam-garam terlarut dalam tanah ( Venner dan Hua Ho, 1976 cit Kurniasih, 2008).

III. METODE PELAKSAAN PRAKTIKUM Praktikum Dasar – dasar Ekologi acara I yangberjudul “ Salinitas sebagi Faktor Pembatas Abiotik “ dilaksanakan Senin, 4 Maret 2013 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Tanaman, Jurusan Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat – alat yang digunakan adalah timbangan analitik, gelas ukur, Erlenmeyer, alat pengaduk, peralatan tanam dan penggaris. Sedangkan bahan – bahan yang digunakan adalah benih padi (Oryza sativa ), benih kedelai (Glicine max) ,benih ketimun ( Cucumis sativa), polibag, NaCl, tanah, kertas label dan air. Pertama – tama disiapkan polibag yang diisi tanah sebanyak kurang lebih 3 kg. Bila ada kerikil, sisa – sisa tanaman lain dan kotoran harus dihilangkan supaya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Kemudisn dipilih biji yang sehat dari jenis tanaman yang akan diperlakukan, selanjutnya ditanam lima biji kedalam masing – masing polibag. Penyiraman dilakukan setiap hari dengan air biasa. Setelah berumur 1 minggu, bibit dijarangkan menjadi 2 tanaman per polibag, dipilih bibit yang sehat. Selanjutnya dibuat larutan NaCl dengan konsentrasi 2000 ppm dan 4000 ppm. Sebagai pembanding digunakan aquades dengan masing – masing perlakuan diulang tiga kali. Masing – masing konsentrasi larutan garam tersebutdituangkan pada tiap – tiap polibag sesuai perlakuan sampai kapasitas lapang. Volume masing – masing larutan untuk tiap – tiap polibag harus sama. Tiap polibag harus diberi label sesuai perlakuan dan ulangan. Label yang diberikan harus mudah dibaca untuk mencegah tertukarnya dengan perlakuan lain saat pengamatan. Diberikan larutan garam setiap dua hari, namun selang hari diantaranya tetap dilakukan penyiraman dengan air biasa dengan volume yang sama. Percobaan ini dilakukan sampai tanaman berumur 21 hari, kemudian dilakukan pemanenan. Usahakan akar jangan sampai rusak atau terpotong. Kegiatan selanjutnya adalah pengamatan selama percobaan dilakukan. Langkah-langkah pengamatan meliputi mengukur tinggi tanaman setiap 2 hari sekali, menimbang berat segar dan berat kering pada akhir prngamatan dan mengamati abnormalitas tanaman. Pada akhir percobaan dari seluruh data yang terkumpul, dihitung rerata 3 ulangan pada setiap perlakuan. Setelah perhitungan maka dibuat grafik tinggi tanaman pada masing-masing konsentrasi garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tanaman, histogram panjang akar untuk masing-masing tanaman, histogrampanjang akar untuk masing-masing tanaman pada hari terakhir, dan histogram berat segar, berat kering pada masing-masing konsentrasi garam.

IV.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman

PERLAKUAN

TANAMAN PADI KEDELAI MENTIMUN

TINGGI TANAMAN (RATA-RATA) HARI KE- (cm) 1 10.36 10.07 8.18 2 14.37 14.60 13.44 13.84 13.92 16.06 8.56 8.017 9.04 3 17.13 17.84 16.59 17.56 19.58 20.58 9.37 8.54 10.24 4 5 6 22.92 24.40 22.30 29.99 34.35 38.66 14.23 14.25 16.45 7 24.05 24.54 22.67 37.67 43.39 49.22 16.61 18.94 19.81 8 26.83 26.09 24.21 45.82 50.87 55.88 19.79 20.48 21.37

0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

19.73 21.34 20.03 22.28 18.39 20.92 21.67 24.39 24.40 30.02 27.61 30.26 11.29 11.57 11.06 13.15 12.45 14.90

0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

9.86 8.98 10.32

0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

6.64 6.61 7.06

Tabel 2. Tabel Pengamatan Jumlah Daun

PERLAKUAN

TANAMAN PADI KEDELAI MENTIMUN

JUMLAH DAUN (RATA-RATA) HARI KE1 2 2 2 1.37 1.92 2 1.08 1.83 1 2 2.33 2.5 2.5 2.5 3.08 2.75 1.58 2.08 1 3 2.58 2.67 2.75 3.5 3.5 3.5 1.83 2.33 1.83 4 3.17 3.25 3.25 4.67 4.08 4.33 2.42 2.83 2 5 3.42 3.5 3.5 4.37 4.33 4.33 2.75 2.83 2.25 6 3.67 3.75 3.8 5.25 4.92 4.83 2.92 3.17 2.58 7 3.83 3.75 3.92 5.5 5.33 5 3.45 4 3 8 4 3.83 3.92 5.75 5.75 5.45 3.53 4.17 3.08

0 ppm 2000 ppm 4000 ppm 0 ppm 2000 ppm 4000 ppm 0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

Tabel 3. Tabel Pengamatan Berat Basah, Berat Kering, dan Panjang Akar. TANAMAN PERLAKUAN BERAT BASAH (gr) 0 ppm PADI 2000 ppm 4000 ppm 0 ppm KEDELAI 2000 ppm 4000 ppm 0 ppm MENTIMUN 2000 ppm 4000 ppm 0.53 0.46 0.39 3.63 3.66 3.7 8.97 7.67 8.47 BERAT KERING (gr) PANJANG AKAR (cm)

0.34 0.21 0.29 1.09 1.17 1.17 1.26 1.12 0.88

7.47 6.45 6.092 20.09 21.08 18.19 18.35 15.22 15.25

V. PEMBAHASAN Pratikum Dasar-Dasar Ekologi Acara I yang berjudul Salinitas Sebagai Faktor Pembatas Abiotik. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan mengenai perilaku adaptasi tumbuhan terhadap beberapa kadar garam. Menurut hukum toleransi Shelford organisme mempunyai batasan minimum dan maksimum terhadap faktor-faktor yang ada di alam termasuk dengan kadar garam. Kutub-kutub tersebut dikenal sebagai batas toleransi. Batas toleransi untuk tiap tanaman berbeda. Kadar garam yang berlebihan akan menganggu pertumbuhan tanaman hingga dapat menyebabkan kematian. Pada praktikum ini dilakukan pengecambahan tiga macam biji dengan tingkat salinitas berbeda untuk membuktikan kebenaran hukum Shelford tentang batasan tertentu tiap spesies terhadap salinitas yang sesuai kebutuhannya. Tiga jenis tanaman tersebut yakni padi (Oryza sativa), kedelai (Glycine max), mentimun (Cucumis sativum). Tiap tanaman akan mendapatkan 3 perlakuan salinitas 0 ppm, 2000 ppm, 4000 ppm. Tumbuhan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan unsur-unsur hara, salah satunya adalah garam. Garam disebut sebagai faktor pembatas karena garam dapat membatasi pertumbuhan, perkembangan serta perkembangbiakan tanamn baik dalam jumlah yang banyak maupun sedikit. Pemberian kadar garam yang tidak sesuai pada suatu lahan dapat mengakibatkan lahan mati. Kadar garam yang tinggi menjadikan tanaman pada lahan tersebut menjadi sulit untuk menyerap air dari larutan tanah, sehingga metabolisme tanaman terhambat dan tanaman menjadi kering. Hal itu dapat terjadi karena bila tanaman diberi kadar garam yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan mengakibatkan keracunan pada tanaman dan menghambat pertumbuhan. Konsentrasi garam yang tidak sesuai mengakibatkan

terganggunya perbesaran sel, pembelahan sel serta metabolisme sel pada tanaman. Pada konsentrasi yang rendah ion Na+ dan Cl- dimanfaatkan tanaman untuk pertumbuhan daun namun pada konsentrasi tinggi akan bersifat racun dalam metabolisme tanaman. Menurut Sunarto (2001) penyiraman larutan garam NaCl akan sangat menurunkan semua peubah pengamatan seperti tinggi tanaman, luas daun, bobot biji, bobot kering akar, dan tajuk. Penghambatan pertumbuhan tanaman oleh salinitas dapat terjadi melalui dua cara, yaitu dengan merusak sel-sel yang sedang tumbuh dan pembatasan suplai hasil-hasil metabolisme esensial . Pengaruh NaCl pada proses perkecambahan antara lain mengurangi hidrasi dari embrio dan kotiledon, menghambat dan mengurangi pemunculan radikula dan plumula, dan mengurangi pertumbuhan kecambah.

Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, maka hasil yang didapatkan dari pengamatan seharusnya menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman terganggu. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi bisa berlawanan dengan teori karena toleransi tumbuhan terhadap salinitas berbeda-beda.

GRAFIK

Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman Padi (Oryza sativa)

Dari grafik terlihat bahwa ketiga tanaman menunjukkan pertumbuhan yang pesat pada awal pengamatan sampai pengamatan hari ke-3 dan pada pengamatan hari ke-3 ketiga grafik hampir menyatu. Selanjutnya terjadi kenaikan yang tidak yang tidak begitu signifikan. Pada hari ke-6 sampai hari ke-7 grafik ketiga tanaman landai. Seperti kita ketahui, salinitas yang tinggi dapat menyebabkan menurunnya pertumbuhan tanaman dengan cepat dan dapat meracuni mekanisme metabolik tertentu dan secara tidak langsung mengganggu serapan berbagai unsur hara dalam metabolisme. Dari pengamatan diketahui bahwa tanaman padi (Oryza sativa) tetap mengalami pertumbuhan baik pada perlakuan 0 ppm, 2000 ppm maupun 4000 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman padi merupakan tanaman yang toleran terhadap salinitas atau termasuk tanaman halofit sehingga perawatan tanaman padi dapat dilakukan dengan mudah karena pengairannya tanpa kadar garam. Hal ini menyebabkan petani mayoritas menanam padi daripada jenis tanaman lainnya.

Grafik 2. Grafik Tinggi Tanaman Kedelai (Glycine max) Dari grafik terlihat bahwa grafik menunjukkan juga hampir linier sampai pengamatan hari ke-3. Pertumbuhan terjadi untuk semua kadar salinitas. Pengamatan mulai dari hari ke-1 sampai hari ke-8 terjadi kenaikan yang cukup tinggi untuk perlakuan konsentrasi 4000 ppm, sedangkan pada perlakuan 0 ppm dan 2000 ppm mengalami pertambahn tinggi di bawahnya. Pada hari ke-3 ketiga grafik tanaman berhimpit, selanutnya pada hari ke-5 pada perlakuan 2000 ppm dan 4000 ppm kembali berhimpit. Hal ini menunjukkan tanaman kedelai (Glycine max) tahan terhadap salinitas dan termasuk ke dalam golongan euhalofit.

Grafik 3. Grafik Tinggi Tanaman Mentimun (Cucumis sativa) Pada grafik pengamatan hari pertama sampai kedua ketiga grafik berhimpit. Pada hari ke-3 sampai ke-4 urutan tinggi tanaman berubah menjadi tanaman mentimun (Cucumis sativa) perlakuan 4000 ppm selanjutnya diikuti 0 ppm dan 2000 ppm. Kenaikan tinggi tanaman mentimun pada perlakuan 0 ppm dan 2000 ppm terlihat fluktuatif, sedangkan pada perlakuan 4000 ppm terlihat stabil. Pertumbuhan paling pesat terjadi pada perlakuan 4000

ppm, hal ini menunjukkan pada 4000 ppm terjadi pertumbuhan optimum. Padahal menurut teori mentimun tergolong glikofit, sedangkan pada percobaan termasuk euhalofit. Sehingga terjadi penyimpangan bila dibandingkan dengan teori. Perbedaan ini dapat disebabkan perbedaan tanah yang digunakan dan banyak larutan garam yang diberikan.

Grafik 4. Grafik Jumlah Daun Tanaman Padi (Oryza sativa) Jumlah daun pada ketiga perlakuan selalu mengalami kenaikan dan ketiganya mengalami kenaikan yang stabil. Ketiga perlakuan seringkali berhimpit satu sama lain. Sejak hari pertama sampai hari terakhir jumlah daun pada ketiga perlakuan sama, hal ini menunjukkan pemberian air garam dengan berbagai konsentrasi tidak berpengaruh signifikan pada jumlah daun padi. Berdasarkan percobaan ini menunjukkan padi termasuk toleran terhadap salinitas.

Grafik 5. Grafik Jumlah Daun Tanaman Kedelai (Glycine max) Dari grafik dapat diketahui jumlah daun tanaman kedelai pada semua konsentrasi hampir selalu mengalami peningkatan, kecuali pada perlakuan 0 ppm pada hari ke-5 yang mengalami penurunan sendiri. Secara umum terjadi kenaikan jumlah daun dalam berbagai konsentrasi. Fluktuasi kenaikan menunjukkan bahwa jumlah daun pada tanaman kedelai (Glycine max) sangat dipengaruhi oleh salinitas tanah selain itu kedelai juga tahan terhadap salinitas, hal ini dibuktikan pada perlakuan 4000 ppm yang terjadi peningkatan jumlah daun sejak hari pertama. Pada hari ke-8 diketahui rata-rata jumlah daun tertinggi pada perlakuan 0 dan 2000 ppm dengan 5,75 cm, sedangkan pada 4000 ppm sebesar 5,45 cm.

Grafik 6. Grafik Jumlah Daun Tanaman Mentimun (Cucumis sativa) Berdasarkan grafik diketahui semua perlakuan mengalami pertambahan jumlah daun pada setiap perlakuan, meskipun pada 2000 ppm dari hari ke-4 sampai ke-5 dan perlakuan 4000 ppm hari pertama sampai kedua tidak mengalami pertambahan. Kenaikan jumlah daun

terjadi fluktuatif, dapat diketahui pada perlakuan 2000 ppm merupakan pertumbuhan optimum pada tanaman mentimun yakni pada hari terakhir mampu mencapai 4,17. Sedangkan pada perlakuan 4000 ppm terjadi pertumbuhan minimum yakni 3,08. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah daun mentimun dipengaruhi salinitas. Sehingga mentimun tergolong tanaman rentan terhadap salitas atau glikofit.

HISTOGRAM

Histogram 1. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Perlakuan 0 ppm Tanaman dalam proses tumbuh selalu menyerap unsur hara, unsur hara yang terserap ditunjukkan oleh berat basah suatu tanaman. Mentimun memiliki berat basah tertinggi bila dibandingkan tanaman padi dan kedelai. Berat basah mentimun mencapai 8, 97 dan berat keringnya 1, 26 gram. Berat basah kedelai sebesar 3, 63 gram dan berat keringnya 1,09 gram. Paling ringan pada perlakuan 0 ppm adalah berat basah dan berat kering padi, berturut- turut pada nilai 0, 53 dan 0, 34. Sehingga mentimun tumbuh dengan baik pada keadaan normal.

Histogram 2. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Perlakuan 2000 ppm Pada perlakuan 2000 ppm terjadi penurunan pada berat basah maupun berat kering pada mentimun dan kedelai, namun terjadi sedikit penambahan pada tanaman padi. Perlakuan 2000 ppm memberikan data yang berbeda, sehingga diketahui salinitas berpengaruh terhadap berat suatu tanaman. Tanaman kedelai yang tergolong tahan terhadap salinitas akan mengalami kenaikan berat basah maupun kering sedangkan terjadi penurunan pada tanaman yang termasuk dalam golongan halofit (padi) dan golongan glikofit (mentimun).

Historam 3. Histogram Histogram Berat Basah dan Berat Kering Perlakuan 4000 ppm Perlakuan 4000 ppm menunjukkan padi kembali penurunan, berat basah 0,39 gram dan berat keringnya 0,29. Tanaman kedelai mengalami kenaikan berat basah, namun berat keringnya sama dengan perlakuan 2000 ppm. Hal ini memperlihatkan bahwa kedelai

memiliki sifaf tahan terhadap berbagai kadar salinitas baik rendah maupun tinggi. Tanaman mentimun memiliki berat basah 8,47 gram dan berat keringnya 0,88 gram, terjadi penurunan berat basah maupun berat kering bila dikomparasikan dengan perlakuan 0 ppm. Sehingga diketahui mentimun bersifat rentan terhadap salinitas.

Histogram 1. Panjang Akar Perlakuan 0 ppm Pada perlakuan 0 ppm, akar paling panjang adalah tanaman kedelai 20,09 cm. Sedangkan tanaman mentimun diposisi kedua dengan panjang 18,35 cm dan akar terpendek pada tanaman padi ialah 7,47 cm. Sehingga diketahui kecepatan pertumbuhan akar pada tanaman mentimun berlangsung baik bila dibandingkan dua tanamn lainnya. Hal ini bisa disebabkan karena faktor volume tanaman dan karketeristik pertumbuhan pada mentimun.

Histogram 2. Panjang Akar Tanaman Mentimun (Cucumis sativa) Panjang akar mentimun terpanjang pada perlakuan 0 ppm yakni 18,25 cm. Pada perlakuan 4000 ppm panjang akar mencapai 15,25 cm dan terpendek pada perlakuan 2000

ppm yang panjangnya 15,22 cm. Histogram menunjukkan bahwa salinitas mempengaruhi panjang akar, tepatnya berkurangnya pertumbuhan pada akar mentimun. Berdasarkan berbagaikan perlakuan salinitas memperlihatkan mentimun memiliki sifat rentan terhadap salinitas.

Histogram 3. Panjang Akar Tanaman Kedelai (Arachis hypogaea) Tanaman kedelai memiliki akar terpanjang pada perlakuan 2000 ppm yakni 21,08 cm, selanjutnya diikuti pada perlakuan 0 ppm yaitu 20,09 dan akar terpendek pada perlakuan 4000 ppm. Fluktuasi tinggi kedelai dalam berbagai perlakuan menerangkan bahwa kedelai dipengaruhi oleh salinitas tanah. Padahal menurut teori, tanaman kedelai bersifat tahan terhadap salinitas tanah. Sehingga disini terjadi penyimpangan, penyimpangan yang terjadi bisa dikarenakan kesalahan proses pencabutan.

KESIMPULAN 1. Salintas menjadi salah satu faktor pembatas pertumbuhan tanaman, Salinitas mempengaruhi panjang akar, jumlah daun, berat basah dan kering, serta panjang akar. 2. Tanaman memiliki sifat toleransi berbeda pada berbagai kondisi salinitas. 3. padi (Oryza sativa) termasuk ke dalam tanaman yang toleran (kelompok halofit) terhadap tingkat salinitas yang tinggi. mentimun (Cucumus sativus) termasuk ke dalam tanaman yang rentan (kelompok glikofit) terhadap tingkat salinitas tinggi. kedelai (Glycine max) termasuk ke dalam tanaman yang rentan (kelompok euhalofit) terhadap tingkat salinitas tinggi. 4. Jika kebutuhan tanaman akan kelebihan atau tepat salinitas terpenuhi, tidak kekurangan maupun

pada keadaan optimumnya maka perkembangan,

pertumbuhan keadaan jaringan, produksi, sampai pada kualitas hasil akan menjadi baik.

DAFTAR PUSTAKA Barto, E.K. , A. Fabian, O.W. Wolfgang, C.R. Mathias 2010. Contribution of biotic and abioctic factors to soil aggeregation across a land use gradient. Soil Biology and Biochemistry 42:2316-2324. Brinker, M., B. B. V. Mikael, A. Atef , F. Payam, J. Dennis. 2010. Linking the salt trascriptome with physiological responses of a salt resistant Popilas Species os a strategy to identify genes important for stress acclimation. Plant Physiology. 153:1697-1709. Dinata, K dan Putrana. 2007. Pengaruh NaCl terhadap perkecambahan benih padi varietas PB56 dan kruing Aceh. Agrotropika 3(1): 19-20. Isnawan. 1997. Permasalahan salinitas pada pertumbuhan dan perkembangan tanamantanaman budidaya. Jurnal Fakultas Pertanian Muhammadiyah 6(2): 25-26. Kurniasih, B. 2008. Hasil sifat perakaran varietas padi gogo tingkat salinitas. Ilmu Pertanian 9(1). Remmert, H. 1980. Ecology a Text Book. Springer Herdelberg ang Sprinnger Verlag, New York. Sunarto. 2001. Toleransi kedelai terhadap tanah salin. Bul. Agron. 29 (1): 27–30. Staples,R.C.dan G.H.Toniesen.1984.Salinity Tolerence in Plants Stategnes for Crop Improvement. Awiley-Inter Science Publication. New York. Woodburry, A. M. Principles of General Ecology. Mc Graw hill Book Company.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful