You are on page 1of 147

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

II.

TINJAUAN PUSTAKA

III.

DATA PREFORMULASI

3.1 Morfologi 3.1.1 3.1.2 Zat khasiat Paracetamol Zat tambahan

3.1.2.1 Laktosa 3.1.2.2 Talcum 3.1.2.3 Amylum 3.1.2.4 Aerosil 3.2 farmakologi 3.2.1 3.2.2 Farmakokinetik Farmakodinamik

IV.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

4.1 Peralatan 4.2 Bahan 4.3 Alasan pemilihan bahan 4.4 Tujuan 4.5 Perhitungan 4.5.1 4.5.2 4.5.3 4.5.4 4.5.5 Formula yang di rencanakan Formula yang di buat Formula standar Formula yang beredar Penimbangan bahan

4.6 Cara kerja

4.6.1 4.6.2 4.6.3

Pembuatan larutan bahan pengikat Pembuatan masa granul Pembuatan tablet

4.7 Evaluasi bahan 4.7.1 4.7.2 Evaluasi granul Evaluasi tablet

V.

HASIL DAN DISKUSI

5.1 Hasil 5.2 Permasalahan

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan 6.2 Saran

VII.

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

Tablet merupakan salah satu sediaan formasi yang paling banyak dibuat atau diproduksi dewsa ini.karena bentuk tablet dapat menjamin kesetabilan sifat fisika dan kimia bahan obat. Sebab dia merupakan sediaan kering,mudah dalam pengemasan,pengepakan, transportasi dan penggunannya. Disamping itu takaran obatnya pun ckup teliti dan serba sama untuk setiap tablet.

Makanya dewasa ini telah diperkirakaan paling tidak 40% dari seluruh obat yang beredar di pasaran di buat dalam bentuk tablet ini. Dan Pada umumnya sebagian besar bahan obat yang dikenal dalam bidang farmasi dapat diproses menjadi menjadi tablet.

Secara garis besar bahan obat yang digunakan per oral atau lewat mulut untuk sediaan tablet terdiri dari bahan obat yang tidak larut an bekerja local pada saluran pencernaan (seperti antasida dan absorben) dan bahan yang larut,terdisolusi dalam usus dan bekerja local pada saluran pencernaan (seperti antasida dan absorben) dan bahan yang larut terdisalusi dalam usus dan bekerja secara sistematik.

BAB II TINJAUAN PUSTKA

Menurut farmakope Indonesia edisi III. Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Dimana zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, zat pengikat, zat pelincir, zat pengembang, zat pembasah atau zat lain yang cocok. Tablet adalah bentuk sediaan farmasi yang paling banyak dibuat / diproduksi karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan dari bentuk sediaan lainnya yaitu : 1. 2. 3. 4. Takaran obat cukup teliti dan serba sama untuk setiap tablet. Pembebasan obat dapat diatur sesuai dengan efek terapi yang diinginkan Rasa dan bau yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan penyalutan Bahan obat yang dapat rusak oleh cairan atau enzim dalam saluran pencernaan dapat diatasi dengan penyalutan. 5. 6. Mudah dalam pengemasan, pengepakan, transportasi dan penggunaannya Biaya produksi relaatif mudah dibandingkan dengan bentuk sediaan lain.

Dan memiliki kerugian / kelemahan yaitu : 1. 2. 3. Sukar diberikan pada anak-anak dan penderita yang sukar menelan Biasanya efek terapi yang diinginkan lebih lambat Bentuk yang menarik dan rasa yang enak dapat menyebabkan anak-anak semaunya saja. Persyaratan khusus untuk sediaan tablet dalam farmakope Indonesia edisi III : 1. 2. Mengandung zat berkhasiat sesuai yang tertera pada etiket. Mempunyai keseragam ukuran yaitu diameter tidak lebih dari 3x dan tidak kurang dari 1 1/3 tablet tebalnya. 3. 4. Mempunyai keseragam bobot. Kecuali dinyatakan lain, waktu hancur dari tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut selaput.

Berdasarkan sifat fisika kimia dari bahan obat, maka tablet dapat dibuat dengan berbagai cara : 1. a. Cara kering Cetak langsung

Yang dimaksud dengan cetak langsung disini adalah proses pembuatan tablet yang dilakukan dengan mencetak langsung bahan obat dengan atau tanpa penambahan bahan pembantu. Dimana cara ini dapat digunakan untuk zat aktif yang mempunyai sifat seperti :    Mudah mengalir Dapat dimampatkan Mudah dibasahi Dan untuk tablet yang mempunyai bahan aktif 10% dari bobot tablet, maka sifat tablet tergantung dari sifat bahan pembantu, dan jika bahan aktifnya <10% maka yang menentukan sifat tablet adalah sifat dari bahan aktifnya. Cara pembuatan tablet cetak langsung :  Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien  Mencampur semua komponen untuk tablet  Pencetakan tablet

b. Granulasi kering / prekompresi Cara ini merupakan proses pembuatan granul tanpa melibatkan air sama sekali. Di manna campuran serbuk dicetak menjadi tablet besar dan keras (slug), kemudian slug di ayak menjadi granul yang diinginkan. Cara slugging ini sangat cocok untuk bahan aktif yang sifat alirnya kurang baik, peka terhadap panas dan kelembaban. Pada penyusunan formula untuk tablet yang dibuat dengan cara prekompresi ini perlu dipertimbangkan bahn-bahan pembantu yang dipilih haruslah dapat menghasilkan slug yang keras. Kegagalan akan terjadi pada waktu membuat granul dari slug akan terbentuk serbuk bukan granul. Cara pembuatan tablet granulasi kering :  Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien  Mencampur semua komponen untuk tablet  Mencetak menjadi tablet besar dan keras untuk membuat slug  Pengayakan slug menjadi granul  Mencampur granul dengan bahan penghancur dan pelincir  Pencetakan tablet

2. a.

Cara basah Granulasi basah Merupakan cara yang paling umum dan banyak dilakukan, karena hamper semua jenis bahan aktif dapat diproses secara granulasi basah. Disebut granulasi basah karena di dalam proses pembuatan granulnya mempergunakan larutan bahan pengikat, dimana campuran serbuk ditambah dengan larutan bahan pengikat atau dalam bentuk mucilage sampai terbentuk masa yang konsistensinya dapat dikepal. Cara pembuatan tablet granulasi basah :  Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien  Mencampur semua komponen untuk tablet  Membuat larutan pengikat  Mencampur larutan pengikat dengan campuran bahan komponen obat, untuk membentuk masa yang basah.  Mengayak secara kasar masa basah, dengan ayakan ukuran mesh 14.  Mengeringkan granul basah  Mengayak granul kering melalui ayakan ukuran mesh 16  Mencampur granul kering yang sudah diayak dengan bahan pelincir dan penghancur luar.  Pencetakat tablet.

b. Granulasi dasar Tablet yang dibuat dengan granulasi dasar yaitu bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air atau terurai dengan adanya panas. Sifat aliran dan daya kompresibilitasnya jelek, dimana tahap-tahap pengerjaannya sama dengan cara granulasi basah. Hanya pada granulasi dasar bahan obat tidak di granulasi bersama-sama dengan bahan pembantu, seperti bahan pengisi, penghancur dalam tetapi ditambahkan pada tahap lubrikasi dalam bentuk serbuk halus atau fine kedalam granul bersama-sama dengan penghancur luar dan bahan lubrikan. Pada cara granulasi dasar ini perlu diperhitungkan terlebih dahulu jumlah fine dalam masa cetak ini karena dapat menimbulkan kesulitan selama proses pencetakan. Fine dalam cara ini berasal dari bahan obat, bahan penghancur luar, bahan lubrikan juga berasal dari hasil pengayakan granul yang dikeringkan.

c.

Cara-cara khusus Cara-cara khusus ini juga bertujuan untuk menghasilkan granul baik yang mengandung bahan obat sendiri maupun granul-granul dari bahan pembantu tablet. Granul-granul yang dihasilkan dengan cara ini digunakan untuk kondisi-kondisi tertentu karena harganya mahal. Cara-cara khusus ini ada tiga cara pengerjaannya :

 Soray congealing Cara ini juga dikenal sebagai cara spray chilling yang mirip dengan cara spray drying tetapi tanpa menggunakan panas. Bahan obat yang dapat diproses dengan cara ini terlebih dahulu dilarutkan atau disuspensikan dalam lelehan malam. Lelehan ini disemprotkan kedalam udara yang mengalir, udara yang mengalir ini sejuk / dingin tergantung pada titik beku dari produk, sebagai contoh monogliserida memerlukan udara dingin sekitar 10oC. granul yang dihasilkan dengan cara ini memiliki sifat mudah mengalir dan sifat kemudahan dalam pencetakan.  Spray drying Serbuk bahan obat / bahan-bahan pembantu tablet dalam keadaan halus ditiup dengan angin turbulensi kemudian disemprotkan bahan penyalut dalam bentuk larutan disperse secara berkala. Serbuk-serbuk yang baru dibasahi ini dikeringkan dengan udara hangat yang telah disaring terlebih dahulu kemudian hasil kering ini dibawa bersama udara tersebut ketempat penampungan. Bahan obat dalam bentuk padat ataupun cairan dapat dip roses secara spray drying ini seperti Vitamin A dan Vitamin D yang larut di dalam minyak dapat disalut dengan larutan bahan pengikat sehingga tidak mudah terurai. Bahan pembantu yang sering dip roses dengan cara ini adalah laktosa dan pati, hasilnya berupa granul-granul yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi, bahan pengikat kering ataupun bahan penghancur.  Speronisasi Proses pembuatan masa granul basah sama dengan cara granulasi basah dimana bahan obat, bahan pengisi (bila perlu) digranulasi dengan larutan bahan pengikat, masa basah ini

dilewatkan terlebih dahulu kedalam alat Extrude machine untuk membentuk batang silinder dengan diameter 0,5-12 mm, melalui ayakan ukuran mesh tertentu baru dilewatkan kedalam Marumerizer dimana batang-batang tersebut akan dirubah bentuknya menjadi bentuk spheris, akibat gya sentrifugal dan gaya gesek dari ayakan yang berputar. Granul-granul spheris ini kemudian dikeringkan. Keuntungan cara spheronisasi ini adalah menghasilkan granul dengan keseragaman bentuk dan ukuran disamping jumlah fine nya minimal.

BAB III DATA PREFORMULASI

3.1 MONOGRAFI 3.1.1  Zat khasiat Paracetamol (Acethaminophen) Rumus bangun

Rumus molekul

= C8H9NO2

 

Berat molekul

= 151,16

Pemerian Serbuk halus, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.

Kelarutan Larut dalam air mendidih dan dalam Natrium Hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.

Identifikasi dalam Kalium Bromida (p) menunjukkan hanya max pada λ yang sama seperti pada Paracetamol BPFI.

A. Spektrum serapan IR zat yang telah dikeringkan diatas pengering yang cocok dan didipersikan di

B. Spektrum serapan UV larutan (1 dalam 200.000) dalam campuran asam chloride 0,1 N dalam methanol P (1 dalam 100) menunjukkan max dan min pada λ yang sama seperti Paracetamol BPFI. C. Memenuhi uji identifikasi secara kromatografi lapis tipis, gunakan laritan 1 mg/ml dalam methanol P dalam fase gerak Diklorometana P metanhol P.   

Jarak lebur

= Antara 168 dan 172

Sisa pemijaran

= Tidak lebih dari 0,1%

Penetapan kadar kurang 12 μg/ml.

 Larutan baku timbang seksama sejumlah Paracetamol BPFI, larutkan dalam air hingga kadar lebih  Larutan uji timbang seksama lebih kurang 120 mg, masukkan kedalam labu ukur 500 ml, larutkan dalam 10 ml methanol P, encerkan dengan air sampai tanda batas dan campur.  (AU) Ukur serapan larutan uji dan larutan baku pada λ serapan max ± 200 nm terhadap air sebagai blanko, hitung jumlah dalam mg C8H9NO2 dengan rumus :

AU 10oC =  Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya. 

Khasiat

= Analgetik dan Antipiretik

3.1.2 

Zat tambahan 3.1.2.1 Laktosa

Rumus bangun

O

  

Rumus molekul

= C12H22011.H2O

Berat molekul

= 342,30

Pemerian Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih crea, tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau.

Kelarutan

Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter. 

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

= zat tambahan

3.1.2.2 

Talcum

Pemerian Serbuk hablur sangat halus, putih dan putih kelabu, berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran.

Kelarutan Tidak larut dalam hamper semua pelarut.

Identifikasi

A. Campur dengan 500 ml lebih kurang daalm 200 mg Na.karbonat anhidrat dengan 2 g kalium karbonat anhidrat p dan lebur dalam krus platina. B. setelah melebur tambahkan 100 mg zat uji dan teruskan pemanasan sampai melebur sempurna, dinginkan dan pindahkan campuran tersebut kedalam gelas piala atau cawan dengan pertolongan ± 50 ml air panas + HCl P kedalam larutan, hingga tidak terbentuk gas lagi. C. kemudian + lagi 10 ml HCl P dan uapkan campuran diatas tangas uap sampai kering, dinginkan + 20 ml air, dinginkan dan saring sisa larutan dalam silica. D. Larutan dalam filtrate ± 2 g NH4Cl P dan 5 ml NH4OH 6 N saring, bila perlu pada filtrate + Na Fosfat di basakan Lp termasuk endapan hablur putih Mg ammonium fosfat. 

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Kadar

= 1-5%

Khasiat

= Zat tambahan

3.1.2.3 

Amylum

Pemerian Serbuk sangat halus, putih.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol

Identifikasi

A. panaskan sampai mendidih selama 1 menit suspense 1g dalam 50 ml air, dinginkan, terbentuk larutan kanji yang encer. B. campur 1 ml larutan kanji yang diperoleh pada identifikasi A dengan 0,05 ml Iodium 0,005 M terjadi warna biru tua yang hilang pada pemanasan dan tibul kembali pada pendinginan.    Susut pengeringan = Tidak lenih dari 15%, pengeringan pada suhu 100o-105o.

Sisa pemijaran

= Tidak lebih dari 0,6% (Metoda II)

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat

3.1.2.4 

Mg. stearat

Pemerian Serbuk halus, putih, licin dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, etanol (95%), dan dalam eter P.

Identifikasi

Panaskan 1 gr dengan campuran 25 ml air dan 5 ml HCl P, dinginkan lapisan minyak memadat pada suhu lebih kurang 50o dan lapisan air menunjukkan reaksi Mg 

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

= zat tambahan

3.2 FARMAKOLOGI 3.2.1 Farmakokinetik Pemberian Paracetamol secara oral sangat efektif, Paracetamol memberikan efek analgetik yang mirip dengan salisilat, yang dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Efek ini disebabkan oleh aktifitas pada system saraf pusat dengan menghambat sintesa prostaglandin disusunan saraf pusat. Secara perifer mencegah sensitasi reseptor rasa sakit terhadap rangsangan mekanik dan kimiawi. Paracetamol didalam tubuh akan mengalami proses ADME, dimana diekresi sebagian besar melalui feses atau urin. Paracetamol yang diberikan secara oral akan diabsorbsi dalam saluran cerna sangat cepat dan hamper sempurna. Konsentrasi dalam plasma mencapai puncak maksimum dalam waktu 30-60 menit, dan waktu paruh dalam plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keeseluruh cairan tubuh dalam plasma sebagian terikat oleh protein plasma (25%).

3.2.2 Farmakodinamik Metabolism terjadi di hati yang dilakukan enzyme-enzym mikrosom hati. Umumnya dalam bentuk konjugasi dihati dengan asam glukoronat (±60%), asam sulfat (±3%) dengan sistein (±3%) dan sebagian Paracetamol ditransformasikan menjadi derivat hidroksi dan diasetil.

Diduga terjadinya metabolit hidroksi merupakan indikasi hepatotoksik pada pemakaian dosis sangat berlebihan. Paracetamol dieliminasi melalui ginjal, pada penderita gagal ginjal terjadi akumulasi metabolit terkonjugasi dalam darah. Efek toksik dari Paracetamol pada pemberian dosis terapetik dapat ditolerir, kadang-kadang dapat terjadi ruam pada kulit dan alergi lain.

BAB IV PELAKSANAAN PRAKTIKUM

4.1   pengaduk   tester   tangan  mesh 10  Becker glas Batang Cawan Hardnes Gelas ukur Sarung Ayakan Oven

    

Peralatan Gelas ukur Corong Timbangan Piknometer Lumpang dan alu

  

Perkamen Jangka sorong Penggaris

4.2 Bahan      Paracetamol Laktosa Amylum Aerosil Talcum

4.3 Alasan pemiliham bahan 1. Paracetamol Merupakan zat aktif yang memiliki sifat alir kurang baik. Umum digunakan cara granulasi basah, Paracetamol berkhasiat annalgetik atau anntypiretik. 2. Laktosa Sebagai bahan pengisi yang memiliki sifat alir kurang baik umum digunakan untuk granulasi basah, bersifat inert. 3. Amylum   Sebagai pengikat diambil 33,3% karena Paracetamol bersifat hidrofob. Sebagai penghancur luar, karena sifatnya mudah mengenbang bila didispersikan kedalam air, diambil sebanyak 10% karena besarnya bobot tablet yang dibuat. Maka bahan penghancur yang dibutuhkan cukup besar, selain itu bahan amylum mudah didapat dan harganya relative murah. 4. Talcum Kombinasi kedua bahan ini baik digunakan untuk granulasi basah. Sifat talcum yang hidrofob akan meningkatkan density sebelum dicetak dan sebagai lubricant. 5. Mg. stearat digunakan sebagai lubrikan atau pelincir yang berfungsi untuk mencegah atau mengurangi gesekan antara dua permukaan yang relative bergerak.

4.4 Tujuan Untuk membuat dan mengevaluasi suatu tablet yang baik, sehingga tablet yang didapatkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

4.5 Perhitungan 4.5.1 Formula yang direncanakan R/ Paracetamol Laktosa Amylum Mucillago Amili Amylum Talcum Mg Stearat 4.5.2 Penimbangan bahan Jumlah tablet Berat tiap tablet Jumlah sediaan   x100 % = 31,25 Fasa dalam  Paracetamol = 100 buah = 400 mg = 400mg x 100 tablet = 40.000 mg = 40 gr = 90% x 40 gr = 36 % = 125 mg x 100 tablet = 12.500 mg = 12,5 gr 125 mg x 10% 15% 33,3% 5 % 2 % 3 %

% paracetamol = 125 400  Laktosa  x40 gr = 4 gr = 100 % - ( 31,25 % + 10 % + 33,3 % ) = 100 % - 74,55 % = 25,45 % x 40 gr = 10,18 gr

Amylum

= 10 100

 Mucillago Amyli dilebihkan menjadi 50 gr =

x50 gr = 7,5 gr

= 15 100  Air  Air sisa   x25,8737 gr = 1,437 gr Fase Luar = 1,5 x 7,5 gr = 11,25 ml = 11,25 ml – 7,5 ml = 3,75 ml = 10 %

 Granul kering = 25,8737 gr

Amilum 

= 5% 90%

x25,8737 gr = 0,574gr

Talk 

= 2% 90%

x25,8737 gr = 0,862 gr

Mg.stearat

= 3% 90%

4.6 Cara kerja 4.6.1 Pembuatan larutan bahan pengikat. 7,5 gr amylum + air 1 ½ kali nya (11,25 ml) aduk sampai homogen,air sisa dipanaskan. Dispersikan campuran air dan amyli ke dalam air mendidih,aduk hingga dingin dan bening. Pembuatan masa granul.

4.6.2

1) Paracetamol digerus + laktosa + amylum (penghancur dalam), gerus sampai halus dan homogen. MASSA I.

2)

Tambahkan mucillago sedikit demi sedikit ke MASSA I sampai diperoleh massa yang dapat dikepal.

3) Kemudian diayak dengan menggunakan ayakan mesh 14 sehingga menjadi granul. 4) Timbang granul yang telah jadi. 5) Granul dikeringkan pada suhu kamar.sampai kandungan air nya 5 %. Selama 24 jam. 6) Setelah kering timbang kembali granul. 7) Lalu diayak dengan mesh 16. 8) Lakukan evaluasi granul 4.6.3 1) Pembuatan tablet. lalu tambahkan amylum (penghancur luar), + talcum + mg stearat,homogenkan dalam homogenizer 15 – 30 menit. 2) Timbang granul ,masing-masing 400 mg untuk dicetakk menjadi 1 tablet. 3) Cetak dengan mesin tablet 4) Lakukan evaluasi tablet

4.7 Evaluasi bahan 4.7.1 1. Evaluasi granul Bobot jenis  BJ benar Adalah masa granul dibagi dengan volume granul tanpa volume rongga antar granul dan volume poripori pada granul. Alat Cara : piknometer :  Tmbang piknometer kosong (a)  Timbang piknometer + gliserin (d)  Timbang piknometer + serbuk 2 g (b) = 22,8247 = 56,0164 = 24,8247

 Timbang piknometer + serbuK + gliserin (c) g/ml

= 55,0124

d-a v  Rumus : BJ pelarut :

=

BJ granul

:

(24,8247- 22,8247) x 1,3276 (24,8247- 22,8247) + (56,0164-55,0124)

=

= 0,8838

2.

BJ nyata Adalah masa granul dibagi volume granul tanpa volume rongga antar granul Cara :  Timbang 20 gr granul masukkan dalam gelas ukur 100 ml  Amati volumenya, VO = 40 ml

Rumus W Vo

:

BJ nyata

: 20 40

=

= 0,5

3. BJ mampat Adalah perbandingan antara berat granul dengan volume yang telah dimampatkan Cara :  Granul (20 gr) yang terdapat dalam gelas ukur pada pengukuran BJ nyata diketuk sebanyak 1250x, catat volume (Vt1) = 33,7 ml  Ulangi pengetukan sebanyak 1250x, catat volume (Vt2) = 34 ml  Jika selisih (Vt1) dengan (Vt2) lebih dari 2 maka diambil data (Vt1). W Vt

Rumus : BJ mampat 20 34

:

=

= 0,5882

4. Porositas Porositas berbanding terbalik dengan waktu hancur, jadi jika porositas kecil maka waktu hancurnya lambat, dan berbanding lurus dengan kekerasan tablet, jadi jika porositas kecil tabletnya kurang keras. syarat X 100% 1 – BJ mampat BJ benar Rumus : Porositas : : 37 – 40%

x 100%

= = 46,59% 5. Kompresibilitas syarat : 10 – 21% BJ mampat – BJ nyata BJ mampat

X 100%

Rumus

: kompresibilitas = :

X 100% = 14,99%

0,5882 – 0,5 0,5882

= 6. Factor hausner (FH) Syarat BJ mampat BJ nyata : < 1,25

Rumus FH

: : 0,5882 0,5

=

= 1,17

7. Kandungan air Alat Syarat Cara : oven dengan suhu 100o – 105oC : 2- 4% : = 85, 9673 = 87, 9673

 Timbang cawan penguap kosong  Tambahkan granul 2 gr, timbang  Keluarkan dari oven, timbang

 Masukkan kedalam oven (dikeringkan) pada suhu 100o – 105oC sampai bobot tetap = 87, 9188

berat awal – berat akhir Berat awal

X 100%

Rumus

: Kandungan : 2 – 1,9515 2

X 100% = 2,425%

= Berat awal Berat akhir : 87,9673 – 85,9673 = 2 gr : 87,9188 – 85,9673 = 1,9515

8. Kecepatan alir granul Alat : corong

Kecepatan aliran granul akan dipengaruhi oleh factor :  Ukuran partikel  Distribusi ukuran  Bentuk  Bobot jenis  Karakteristik permukaan  Geometri dan ukuran relative hopper. Cara :  Timbang serbuk sebanyak 20g masukkan kedalam corong.  Kemudian buka tutup lobang corong, catat waktu yang diperlukan untuk mengalirkan serbuk tersebut melalui corong dengan bebas.  Hitung kecepatan alir serbuk dengan persatuan waktu pengaliran.

T1 T2 T3 Trata-rata

= 17 = 16,8 = 17,8 = 17,2

berat serbuk (g) waktu (dt)

Rumus : Kecepatan aliran : 20 gr 17,2

=

= 1,1627

9. Sudut istirahat Adalah sudut antara permukaan kerucut dan bidang horizontal. Hubungan sudut istirahat dengan sifat alir (kecepatan alir):  Jika sudut alpha besar dari 60o, serbuk sangat kohesif dan biasanya menunjukkan sifat alir serbuk yang jelek dan ukuran partikel antara 70 – 100 mikron.  Jika sudut alpha kecil dari 20o, serbuk bersifat kohesif dan biasanya menunjukkkan sifat alir yang baik dan ukuran partikel biasanya lebih besar dari mesh 60 / 250 mikron. Syarat Cara    : 25-60o :

 Cara silinder Masukkan granul kedalam tabung silender kaca dgn dm 9,4 cm dan tinggi 20 cm yang terletak diatas permukaan horizontal, ratakan permukaan granul. Tabung silinder secara perlahan-lahan dan tegak lurus diangkat keatas sampai semua granul meninggalkan tabung. Ukur tinggi puncak timbunan granul serta diameternya.

 Cara corong    Isi corong dengan serbuk (20 g) yang akan diukur Lalu jari dilepaskan dari mulut corong dan serbuk dibiarkan mengalir bebas keatas ertas grafik yang tersedia. Maka akan terjadi tumpukkan granul seperti puncak dimana dapat di ukur tumpukkan granul dengan tinggi (h) dan dm sehingga di dapat jari-jari (r) maka sudut istirahat (tangens alpha) dapat diukur. D1 = 15 h1 = 3 D2 = 15,5 h2 = 3,5 D3 = 14,5 h3 = 3 Drata-rata = 15 hrata-rata = 3,16 r = 7,5

Tingginya pucak timbunan (h) ½ diameter (r)

Rumus

: Tangens alpha : 3,16 7,5

=

= 0,421 = 22,83  Cara drum   Masukkan granul kedalam drum Kemudian drum digulirkan pada permukaan bidang datar.

10. Kadar fine Syarat Cara : tidak lebih dari 20% :

 Timbang semua granul atau granul total = 20 gr  Ayak granul selama 5 menit sampai didapat granul kasar, timbang.  Timbang juga fine yang didapat = 4,0086 gr

X 100%

Berat fine Berat total granul Rumus : Kadar fine :

=

= 20,043%

11. Kekerasan granul Cara :  Sebutir granul diletakkan diatas bidang datar yang dapat dinaik turunkan tepat dibawah piring timbangan.  Letakkan sedikit demi sedikit pemberat diatas piring sampai granul retak atau pecah, kekerasan granul sama dengan berat dari beban.

12. Cara :

Distribusi ukuran granul  Keatas set ayakan yang masing-masingnya telah ditimbang seksama dan terdiri dari ayakan No 18, 25, 35, 45, 75, 100, 120 dan 170.  Ayak 10g granul selama 5 menit  Masing-masing fraksi ditimbang dan ditentukan distribusi dan diameter mediannya. 4.7.2 Evaluasi tablet

1. Keseragaman bobot  20 tablet yang telah dibersihkan dari debu ditimbang satu persatu = 8,3085 Hitung bobot rata-rata = 8,3085 g = 0,4154 g 20 Syarat : tidak boleh lebih dari 2 tablet mempunyai penyimpangan lebih besar

 Timbang berat masing-masing tablet NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X Berat Tablet 0,4584 0,4002 0,4213 0,4137 0,4106 0,3919 0,4043 0,3986 0,3779 0,3865 0,3864 0,3779 0,3751 0,3905 0,4149 0,4003 0,3872 0,3819 0,3921 0,3752 8,3085 (x-xi)2 1,849 x 10-3 2,3104 x 10-5 3,841 x 10-5 2,89 x 10-6 2,304 x 10-5 5,5225 x 10-4 1,2321 x 10-4 2,8224 x 10-4 1,40625 x 10-3 8,3521 x 10-4 8,41 x 10-4 1,40625 x 10-3 1,62409 x 10-3 6,2001x 10-4 2,5 x 10-7 2,2801 x 10 -4 7,9524 x 10-4 1,12225 x 10-3 5,4289 x 10-4 1,61064 x 10-3 6,9658 x 10-4 SD = √Σ ( X – X1)2 SD x 100% n–1 X = √ 6,9658 X 10-4 = 0,0549 X 100% 20 – 1 = √ 3,66 X 10-5 0,4154 = 13,21%

SD relatif =

= 0,0549

BOBOT RATA-RATA

PENYIMPANGAN BOBOT RATA-RATA (%) A B 30 20 15 10

25 mg / kurang 26 mg - 150 mg 151 mg – 300 mg > 300 mg

15 10 7,5 5

2. Keseragaman ukuran Alat : jangka sorong tebal tablet. Syarat : dm tablet tidak boleh melebihi 3x tebal tablet dan tidak kurang dari 11/3x  Menggunakan 10 tablet  Letakkan sebuah tablet diantara penjepit yang terdapat pada jangka sorong, lalu tablet dinyatakan telah ketat setelah timbul bunyi.  Ukur diameter dan tablet. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 Tebal tablet 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,5 1,6 Diameter

Tebal tablet rata-rata Diameter tablet rata-rata

= 0,9 = 1,5

3. Kekerasan tablet Alat : Hardnes tester Syarat : 4 – 8 mg/cm2  Menggunakan 5 tablet  Letakkan 1 tablet diantara penjepit, lalu jepit tablet dengan cara menjepit alat tersebut sampai tablet pecah/retak.  Pada saat tablet tersebut mulai pecah/retak yang ditunjukkan oleh skala, maka kekerasan tablet tersebut mulai dihitung. Kekerasan tablet rata-rata = 6,2 kg/cm2

NO 1 2 3 4 5 7 8 4 8 4

Kekerasan tablet

4. Kerapuhan tablet Alat : Rhoche friabilitor

Tujuan : menentukan kemampuan dan daya tahan tablet terhadap gesekan dan goncangan selama prossesing, packing, transportasi sampai pada konsumen. Syarat : menurut lochman = o,8% dan menurut Roche = 1%  20 tablet bebas debu ditimbang bersama (W1g), kemudian dimasukkan dalam Roche.  Jalankan alat, biarkan berputar selama 4 menit (100x putaran)  Bersihkan kembali 20 tablet tersebut dari debu dan timbang (W2g) 

W1- W2 W1

Hitung besarnya kerapuhan tablet X 100%

Rumus :

5. Waktu hancur tablet Factor yang mmempengaruhi waktu hancur tablet :     Factor formulasi Sifat fisik bahan obat Bahan pembantu Tekanan yang diberikan pada saat pencetakan

Syarat : kecuali dinyatakan lain dalam FI, untuk tablet tidak bersalut waktu hancurnya tidak lebih dari dari 15 menit dan untuk tablet bersalut gula = 60 menit.  Isi bejana dengan campuran yang cocok seperti cairan lambung spt : Hcl atau cairan usus buatan sesuai dengan tablet yang akan diukur waktu hancurnya.  Larutan yang digunakan diukur / diatur suhunya sampai 37 + 2oC.  Jumlah cairan ini diatur sedemikian rupa sehingga pada saat keranjang turun permukaannya tidak tenggelam dalam cairan dan pada saat keranjang ini naik permukaan disebelahnya tidak melebihi permukaan cairan.  Masukkan tablet yang akan ditentukan waktu hancurnya satu persatu pada 6 tabung yang ada, setelah itu kedalam masing-masing tabung dimasukkan cakram yang terbuat dari tali plastic.  Jalankan alat dan catat waktu saat mulai alat dijalankan sampai semua tablet telah melewati saringan yang terdapat pada setiap tabung.  Kecepatan turun naiknya alat diatur sebanyak 30x/ menit.

6. Penetapan kadar Menurut FI mebutuhkan 30 tablet, 10 tablet ditetapkan kadarnya satu persatu.

Tablet memenuhi syarat, jika hasilnya antara 95 – 105% dari persyaratan diatas, 20 tablet sisa ditetapkan kadarnya. I. Pembuatan larutan induk II. Pembuatan kurva kalibrasi III. Pembuatan larutan sampel IV. Mengukur absorban dengan spektrofotometer UV I. Pembuatan larutan induk Timbang 3 mg paracetamol murni, larutakan dalam 10 ml metanol. Kemudian dicukupkan sampai 100 ml dengan agua dest. Konsentrasi larutan induk = 30 μg/ml II. Pembuatan kurva kalibrasi Dibuat pengenceran larutan induk menjadi 5 seri konsntrasi 1. Dibuat pengenceeran dengan konsentrasi 5 ppm V1 x C1 = V2 x C2 V1 X 30 = 10 x 5 V1 = 1,67 ml 2. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 10 ppm V1 x C1 = V2 x C2 V1 X 30 = 10 x 10 V1 = 3,33 ml

3. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 15 ppm V1 x C1 = V2 x C2 V1 X 30 = 10 x 15 V1 = 5 ml 4. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 20 ppm V1 x C1 = V2 x C2 V1 X 30 = 10 x 20 V1 = 6,67 ml 5. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 25 ppm V1 x C1 = V2 x C2 V1 X 30 = 10 x 25 V1 = 8,33ml Larutan induk dengan 5 seri pengenceran di ukur absorbennya didapat hasil: No Konsentrasi 1. 5 2. 10 3. 15 ABS 0,157 0,184 0,218

4. 5.

20 25

0,264 0,325

Dari kurva kalibrasi didapatkan hasil:

0,157 ABS 0,325 5 ppm 25 konsentrasi

ABS

0,153

Dari kurva kalibrasi didapatkan hasil Konsentrasi Paracetamol dalam 100 ml larutan sampel = 30 μg/ml x 100 ml = 3000 μg/ml = 3 mg/ml % kadar Paracetamol dalam tablet = 3 mg/ml 400 mg x 100% = 0,75%

Dari data didapatkan regerasi linearnya yaitu: a = 0,055 b = 0,0107 r = 0,9967 III. Pembuatan larutan sampel Tablet digerus dalam lumpang, ditimbang sebanyak 3 mg kemudian dilarutkan dalam 10 ml metanol kemudian ditambahkan dengan agua dest. 100 ml. Stelah diukur dengan spektofotometer UV maka didapat absorbennya: 0,273 Absorben = 0,273 Didaptakan: Nilai y = 0,273 y = a + bx x= y+a b 0,0107 = 30,65μg/ml = 0,03065 mg/ml % kadar paracetamol dalam tablet adalah: 0,03065 mg/ml x 100% 3 mg 7. Uji disolusi dapat dilakukan secara invitro Disolusi adalah suatu proses dimana bahan obat padat melarut kedalam medium disolusi dan laju disolusi senyawa padat ditentukan oleh laju difusi suatu lapisan yang sangat tipis dari larutan jenuh yang terbentuk disekeliling bahan padat. = 1,021% = 0,273 + 0,055

(CS– C)

Hubungan kecepatan disolusi :

Syarat : Alat : dissolution tester  Menggunakan 5 tablet  Tablet diletakkan dalam keranjang kawat yang dapat berputar 50, 100, 150x/ menit.  Keranjang dimasukkan dalam wadah yang berisi medium pada suhu 37oC.  Putar keranjang dengan kecepatan 50x/ menit.  Dalam selang waktu tertentu cairan medium diambil dengan pipet melalui sampling port, kemudian kedalam wadah ditambahkan larutan medium baaru sebagai penggantian yang telah diambil.  Cairan medium yang diambil dalam selang waktu tertentu ditentukan secara kwantitatif jumlah bahan obat yang larut pada waktu tertentu. ABS 5’ 10’ 15’ 30’ 45’ 0,254 0,412 0,563 1,264 1,253 K.ABS 0,543 0,547 1,703 1,81834 2,112

Maka didapat persamaan linier untuk persamaan diatas : y = 0,1006 + 0,0309x

a.

Pada waktu 5’ dimana Maka y = a +bx x = y – a = 0,254 – 0,1006 b 0,0309 Konsentrasi = 4,96 μg/ml = 4,96 μg/ml x 2,5 ml x 900ml 10 ml

= 1,116 μg % terdisolusi 400mg = 2,79 -3% b. Pada waktu 10’ dimana Maka y = a + bx

= 1,116 x 10-2 mg = 1,116x 10-2 mg x 100 %

x = y – a = 0,412 – 0,1006 b 0,0309 FK = 10 x 1,116 x 10 -2 =1,24 x 10-4 900 Konsentrasi = 13,007μg/ml = 13,007μg/ml x 2,5 ml x 900ml 10 ml = 2,926 μg = 2,926 x 10-3 mg 1,25 x10 -4 + 2,926 x 10-3 = 3,051 x 10-3 % terdisolusi = 3,051x 10-3 mg x 100 % 400mg = 7,6275 x 10-4% c. Pada waktu 15’ dimana Maka y b

FK

= y – a = 0,563- 0,1006 0,0309 Konsentrasi = 14,96 μg/ml = 14,96 μg/ml x 2,5 ml x 900ml 10 ml -3 = 3,366 μg = 3,366 x 10 mg = 10 ml x 2,926 x 10-3 mg = 3,251 x 10-3 mg 900ml 3,375 x 10-3mg + 2,5161 x 10-5 mg = 3,253 x 10-3 % terdisolusi = 3,253 x 10-3mg x 100 % 400mg = 8,1325 x 10-3%

= a +bx x

Buat kurva antara % terdisolusi terhadap waktu:

BAB V HASIL DAN DISKUSI 5.1 HASIL Dari pratikum yang dilakukan di dapatka hasil, sebagai berikut: a. Pada evaluasi granul :           Bj benar Bj nyata Bj mampat Porositas Kompresibilitas Faktor hausner Kandungan air = 0,8838 = 0,5 = 0,5882 = 46,59% = 14,99% = 1,17 = 2,425%

persyaratan kandungan air = < 5% (tablet memenuhi persyaratan ) Kecepatan alir = 1,1627 = 22,83oC

persyaratan kecepatan alir = 10 g/detik ( tablet tidak memenuhi persyaratan ) Sudut istirahat

persyaratan sudut istirahat = 25 - 60º ( tablet memenuhi persyaratan ) Kadar fine = 20,043%

persyaratan kadar fine tidak lebih dari 20% ( tablet tidak memenuhi persyaratan) b. Pada evaluasi tablet :  Keseragaman bobot SD  = 0,0549

SD relatif = 13,21% Keseragaman ukuran Diameter rata-rata Ketebalan rata-rata  Kekerasan tablet = 0,9 = 1,5 = 6,2 kg/cm2

  

5.2 DISKUSI Tablet memenuhi persaratan kandungan air (kecil dari 5%) Kecepatan alir tablet tidak memenuhi persaratan ( 10 gram /detik) Pada pnetapan kadar kadar parasetamol didapatkan dari hasil pengujian adalah 1,021 % ini disebabkan karena kesalahan dalam pembuatan larutan sampel, penimbangan bahan yang terlalu kecil kesalahan pemipetan Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam penetapan kadar ini yaitu

1. Aliran granul 2. Kemurnian zat aktif 3. Metoda analisa yang digunakan 4. Metoda pembuatan sampel  Pada uji disolusi, didapatkan persen disolusi yang kecil dari 100, kesalahan ini mungkin terjadi akibat kesalahan dalam pemipetan 10 ml larutan parasetamol dari tabung diolusi yang tanpa disertai tambahan 10 ml larutan media disolusi baru dalam tabung disolusi.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan Pembuatan tablet pada pratikum farmasetik III, setelah dilakukan evaluasi baik terhadap granul atau tablet itu sendiri diperoleh kesimpulan bahwa tablet yang dibuat secara garis besar belum memenuhi persaratan, yaitu % disolusi(uji pelarutan tablet) yang akan berpengaruh terhadap pelarutan zat aktif dari tablet sehinga efek yang dihasilkan akan dipengaruhi dan kecepatan alir yang sangat lambat yaitu 1.1627 g/detik yang diakibatkan granul yang keras menyebabkan zat aktif akan lama lepas dari granulnya sehinga efek akan lebih lama. 7.2. Saran Untuk pratikan selanjutnya disarankan agar dapat memformula sediaan tablet dengan bahan dan konsentrasi yang baik, tepat dan ketelitian penimbangan sebelum percetakan tablet, juga diperlukan ketelitian dalam melakukan evaluasi baik evaluasi granul maupun evaluasi tablet karena hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah tablet yang telah kita buat memenuhi sarat atau tidak.

BAB VIII DAFTAR PUSTAKA Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta Firmansyah, 1989, Formula tablet, Universitas Andalas press

Bagian Farmakologi FK UI, 1995, Farmakologi dan Terapi edisi IV, Jakarta, UI press Shargel, L, 1988, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Surabaya ; Airlangga university press Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita

Pharmacyst INFO
VO Mahasiswa Farmasi dan Sekitarnya :P :P :P

1. Oct 6

REAKSI UMUM / KHUSUS ALKALOID ERGOT
REAKSI UMUM ALKALOID ERGOT a. Presipitas Alkaloid Kebanyakan alkaloid diendapkan dari larutan netral atau asam oleh sejumlah reagen yang mengandung logam berat seperti merkuri (Hg) platina (Pt), bismuth (Bi) dan emas (Au), dengan membentuk ikatan garam. Contoh reagen pengendap alkaloid : a. Wagner’s reagent (I/KI)

Memberikan endapan warna merah bata terhadap hamper semua alkaloid

c. Hager’s reagent (larutan asam pikrat pekat)

Memberikan endapan kuning

d. Dragendroff s reagent (larutan potassium bismuth iodida)

Memberikan warna orange kemerahan hingga kecoklatan.

REAKSI KHUSUS ALKALOID ERGOT

a. Erlich’s reagent (Van-Urk reagent) Larutan p-dimethylaminobenzaldehide dalam asam, memberikan warna khas birun kelabu atau kehijauan dengan Ergot

Diposkan 6th October 2012 oleh Helen Sonita 2. Oct

6

ANATOMI LENGAN BAWAH
A.TULANG1. Radius Radius adalah tulang lateral lengan bawah . ujung atasnya bersendi dengan humerus pada articulation cubiti dengan ulna pada articulation radioulnaris proximal. Ujung distalnya bersendi dengan os scaphoideum dan lunatum pada articulation carpalis dan dengan ulna pada articulation radioulnaris distal. Pada ujung atas radius terdapat caput yang berbentuk bulat kecil.permukaan atas caput kecil dan bersendi dengan capitulum humeri yang cembung.circumferentia articulare radii bersendi dengan incisura radialis ulnae.dibawah caput tulang menyempit membentuk collum.dibawah collum terdapattuberositas bicipitalis/ tuberositas radii yang merupakan tempat insertion musculus biceps. Corpus radii berlainan dengan una, yaitu lebih lebar dibawah dibandingkan dengan bagian atas.corpus radii di sebelah medial mempunyai margo interossea yang tajam untuk tempat melekatnya membrane interossea yang menghubungkan radius dan ulna. Tuberculum pronator ,untuk tempat insertion musculus pronator teres,terletak di pertengahan pinggir lateralnya. Pada ujung bawah radius terdapat processus styloideus yang menonjol kebawah dari pinggir lateralnya.pada permukaan medial terdapat incisura ulnae,yang bersendi dengan caput ulnae yang bulat,.permukaan bawah ujung radius bersendi dengan os scaphoideum dan os lunatum.pada permukaan posterior ujung distal radius terdapat tuberculum kecil,tuberculum dorsalis,yang pada pinggir medialnya terdapat sulcus untuk tendo musculi flexor pollicis longus. 2. Ulna ulna merupakan tulang medial lengan bawah.ujung atasnya bersendi dengan humerus pada articulation cubiti dan dengan caput radii pada articulation ulnaris proximal. Ujung distalnya bersendi dengan radius pada articulation ulnaris distalis, tetapi dipisahkan dari articulation radiocarpalis dengan adanya facies articularis. Ujung atas ulna besar, dikenal sebagai processus olecranii. Bagian ini membentuk tonjolan pada siku.processus ini mempunyai incissura di permukaan anterioirnya,incissura trochlearis,yang bersendi dengan trochlea humeri.di bawah trochlea humeri terdapat processus coronoideus yang berbentuk segitiga dan pada permukaan lateralnya terdapat incissura radialis untuk bersendi dnegan caput radii. Corpus ulnae mengecil dari atas ke bawah.di lateral mempunyai margo interosseus yang tajam untuk tempat melekatnya membrane interossea.pinggir posterior membulat ,terletak subcutan,dan mudah diraba seluruh panjangnya.di bawah incissura radialis terdapat lekukan, fossa supinator,yang mempermudah gerakan tuberositas bicipitalis radii.pinggir posterior fossa ini tajam dan dikenal sebagai crista supinator yang menjadi tempat origo musculus supinator.Pada ujung distal ulna

terdapat caput yang bulat, yang mempunyai tonjolan pada permukaan medialnya, disebut processus styloideus. Dua tulang lengan bawah mempunyai hubungan rumit. Di proximal, radius dan ulna bersendi satu sama lain dengan humerus distal. Di distal, artikuatio radioulnaris pada pergelangan tangan dipertahankan oleh kompleks fibrokartilago triangularis. Korpus radii dan ulna dihubungkan oleh membrane interossea fibrosa. Perubahan bentuk anatomi apapun dalam lengan bawah akan mengubah fungsi biokimiawinya dan membatasi kemampuan lengan bawah menjalani pronatio dan supinasi. B. RUANG FASCIAL LENGAN BAWAH Lengan bawah dibungkus oleh fascia profunda yang melekat pada periosteum margo posterior ulnae yang terletak subkutan. Sarung fascial ini bersama dengan membrane interossea dan septa intermuscularis fibrosa membagi lengan bawah menjadi beberapa ruang yang masing-masing mempunyai otot, saraf dan pembuluh darah yang mengurusnya. Membrane interossea adalah membran tipis tetapi kuat yang menghubungkan radius dan ulna. Membrane ini melekat pada margo interossea os radius dan ulna. Serabut-serabutnya berjalan miring ke bawah dan medial, sehingga gaya yang mengenai ujung bawahradius diteruskan dari radius ke ulna dan kemudian ke humerus dan scapula. Serabut-serabutnya menegang sewaktu lengan bawahdalam posisi semipronatio, yaitu pada posisi fungsional. Membrane interossea merupakan tempat perlekatan otot-otot di sekitarnya. Isi ruang fascial anterior lengan bawah:- Otot: kelompok superficial terdiri dari musculus pronator teres, musculus flexor carpi radialis, musculus Palmaris longus dan musculus flexor carpu ulnaris; kelompok intermedia terdiri atas musculus flexor digitorum superficialis; dan keompok profunda terdiri dari musculus flexor policis longus, musculus flexor digitorum profundus, dan musculus pronator quadrates. - Suplai darah ke otot: arteri ulnaris dan radialis - Persarapan: semua otot dipersarafi oleh nervus medianus dan cabangcabangnya, kecuali musculus flexor carpi ulnarisdan bagian medial musculi flexor digitorum profundusyang dipersarafi oleh nervus ulnaris. Isi ruang fascial lateral lengan bawahRuang ini dianggap sebagai bagian dari ruang fascial posterior.- Otot: musculus brachioradialis dan musculus extensor carpi radialis longus. - Perdarahan: arteria radialis dan brachialis - Persarafan otot: Nervus radialis Isi ruang fascial posterior lengan bawah- Otot: Kelompok superficial: musculus extensor carpi radialis brevis, musculus extensor digitorum, musculus extensor digiti minimi, musculus extensor carpi ulnaris, dan musculus anconeus. Otot-otot ini mempunyai tendo bersama pada origonya yang melekat pada epycondilus lateralis humeri.Kelompok profundus: musculus supinator, musculus abductor poicis longus, musculus extensor policis brevis, musculus extensor policis longus, dan musculus extensor indicis.Pendarahan: arteriae interosseus anterior dan posterior. - Persarafan otot: Ramus profundus nervi radialis. FRAKTUR RADIUS ULNA8.1. Introduksia. DefinisiFraktur yang mengenai tulang radius ulna karena rudapaksa termasuk fraktur dislikasi proximal atau

distal radioulnar joint ( Fr.Dislokasi Galeazzi dan Montegia )· Fraktur Galeazzi : adalah fraktur radius distal disertai dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar distal. · Fraktur Monteggia: adalah fraktur ulna sepertiga proksimal disertai dislokasi ke anterior dari kapitulum radius · Klasifikasi Bado: · Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi anterior kaput radius · Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai dislokasi posterior kaput radii dan fraktur kaput radii · Fraktur ulna distal processus coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radii · Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii dan fraktur 1/3 proksimal radii di bawah kiberositas bicipitalis b. Ruang lingkupL* Fraktur dial-isis radius dan ulna* Fraktur-dislokasi Galea771* Fraktur-dislokasi Monteggia.c. .Pemeriksaan KlinisPatofisiologisMekamsme
trauma pada antebrachii yang paling sering adalah jatuh dengan outstreched hand atau trauma langsung. Gaya twisting menghasilkan frak-tur spiral pada level tulang yang berbeda.Trauma langsung atau gaga angulasi menyebabkan fraktur transversal pada level tulang van , , sama.Bila salah sate tulang antebrachii mengalami frakfur dan mengiami angulasi, maka tulang tersebut menjadi lebih pendek terhadap tulang alinnya. Bila perlekatan dengan wrist jomt'dan humerus intak, tulang van( , lain akan -nengalami dislokasi (frakturdislokasi GalcaVzi/Monteggia) Penierikswin KiinisFraktur radius ulnaØ Deformitas di daerah yang fraktur:

angulasi, rotasi (pronasi atau supinasi) atau shorthening Ø Nyeri Ø Bengkak Ø Pemeriksaan fisik harus meliputi evaluasi neurovascular dan pemeriksaan elbow dan wrist. Dan evaluasi kemungkinan adanya sindrom kompartemenFraktur GaleazziFraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi radioulnar Joint distal.Fragmen distal angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan Ujung distal ulna. Fraktur dislokasi Galeazzi terjadi akibat trauma langsung pada wrist, khususnya pada aspek dorsolateral atau akibat jatuh dengan outstreched hand dan pronasi forearm. Pasien dengan nyeri pada wrist atau midline forearm dan diperberat oleh penekanan pada distal radioulnar joint_ Fraktur MonteggiaFraktur setengan proksimal ulna dengan dislokasi radioulnar joint proksimal. Pasien dengan fraktur-dislokasi Monteggia datang dengan siku yang bengkak, deformitas serta terbatasnya ROM karena nyeri khususnya supinasi dan pronasi. Kaput radius bisanya dapat di palpasi.Harus dilakukan pemeriksaan neurovascular dengan teliti oleh karena Bering terjadi cedera saraf periper n radialis atau PIN. Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado: 1. Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi anterior

kaput radius2. Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai dislokasi posterior kaput radii dan fraktur kaput radii3. Fraktur ulna distal processes coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio
4. Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput

radii dan fraktur 1/3 proksimal radii di bawah kiberositas bicipitalis

d. Kontra indikasi Operasi Keadaan umum jeleke. Diagnosis Banding Tidak adaf. Pemeriksaan Penunjang X Ray dengan dua proyeksi Tehnik Penanganan terapi konservatif dan operasi· Metode Penanganan KonservatifPrinsipnya dengan melakukan traksi ke distal dan kembalikan posisi tangan berubah akibat rotasiPosisi tangan dalam arah benar dilihat letak gans patahnya- 1/3 proksinal posisi fragmen proksimal dalam supinasi untuk dapat kesegarisan fragmen distal supinasi- 1/3 tengah posisi radius netral maka posisi distal netral- 1/3 distal radius pronasi maka posisi seluruh lengan pronasi, setelah itu dilakukan immobilisasi dengan gips atas siku Komplikasi· Malunion · Kompartemen sindrom · Cross union · Atropi sudeck · Trauma N. Medianus· Rupture tendo ekstensor sendi pergelangan tangan, pronasi, supinasi, fleksi palmar, pergerakan serta ekstensi Diposkan 6th October 2012 oleh Helen Sonita 3. May 30

LAPORAN PRAKTIKUM TABLET PARACETAMOL

DAFTAR ISI

I.

PENDAHULUAN

II.

TINJAUAN PUSTAKA

III.

DATA PREFORMULASI 3.1 Morfologi 3.1.1 3.1.2 Zat khasiat Paracetamol Zat tambahan

3.1.2.1 Laktosa 3.1.2.2 Talcum 3.1.2.3 Amylum 3.1.2.4 Aerosil 3.2 farmakologi

3.2.1 3.2.2

Farmakokinetik Farmakodinamik

IV.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM 4.1 Peralatan 4.2 Bahan 4.3 Alasan pemilihan bahan 4.4 Tujuan 4.5 Perhitungan 4.5.1 4.5.2 4.5.3 4.5.4 4.5.5 Formula yang di rencanakan Formula yang di buat Formula standar Formula yang beredar Penimbangan bahan

4.6 Cara kerja 4.6.1 4.6.2 4.6.3 Pembuatan larutan bahan pengikat Pembuatan masa granul Pembuatan tablet

4.7 Evaluasi bahan 4.7.1 4.7.2 Evaluasi granul Evaluasi tablet

V.

HASIL DAN DISKUSI 5.1 Hasil 5.2 Permasalahan

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

6.2 Saran

VII.

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

Tablet merupakan salah satu sediaan formasi yang paling banyak dibuat atau diproduksi dewsa ini.karena bentuk tablet dapat menjamin kesetabilan sifat fisika dan kimia bahan obat. Sebab dia merupakan sediaan kering,mudah dalam

pengemasan,pengepakan, transportasi dan penggunannya. Disamping itu takaran obatnya pun ckup teliti dan serba sama untuk setiap tablet.

Makanya dewasa ini telah diperkirakaan paling tidak 40% dari seluruh obat yang beredar di pasaran di buat dalam bentuk tablet ini. Dan Pada umumnya sebagian besar bahan obat yang dikenal dalam bidang farmasi dapat diproses menjadi menjadi tablet.

Secara garis besar bahan obat yang digunakan per oral atau lewat mulut untuk sediaan tablet terdiri dari bahan obat yang tidak larut an bekerja local pada saluran pencernaan (seperti antasida dan absorben) dan bahan yang larut,terdisolusi dalam usus dan bekerja local pada saluran pencernaan (seperti antasida dan absorben) dan bahan yang larut terdisalusi dalam usus dan bekerja secara sistematik.

BAB II TINJAUAN PUSTKA

Menurut farmakope Indonesia edisi III. Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Dimana zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, zat pengikat, zat pelincir, zat pengembang, zat pembasah atau zat lain yang cocok. Tablet adalah bentuk sediaan farmasi yang paling banyak dibuat / diproduksi karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan dari bentuk sediaan lainnya yaitu : 1. 2. 3. 4. Takaran obat cukup teliti dan serba sama untuk setiap tablet. Pembebasan obat dapat diatur sesuai dengan efek terapi yang diinginkan Rasa dan bau yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan penyalutan Bahan obat yang dapat rusak oleh cairan atau enzim dalam saluran pencernaan dapat diatasi dengan penyalutan. 5. 6. Mudah dalam pengemasan, pengepakan, transportasi dan penggunaannya Biaya produksi relaatif mudah dibandingkan dengan bentuk sediaan lain.

Dan memiliki kerugian / kelemahan yaitu : 1. 2. 3. Sukar diberikan pada anak-anak dan penderita yang sukar menelan Biasanya efek terapi yang diinginkan lebih lambat Bentuk yang menarik dan rasa yang enak dapat menyebabkan anak-anak semaunya saja. Persyaratan khusus untuk sediaan tablet dalam farmakope Indonesia edisi III : 1. 2. Mengandung zat berkhasiat sesuai yang tertera pada etiket. Mempunyai keseragam ukuran yaitu diameter tidak lebih dari 3x dan tidak kurang dari 11/3 tablet tebalnya. 3. 4. Mempunyai keseragam bobot. Kecuali dinyatakan lain, waktu hancur dari tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut selaput.

Berdasarkan sifat fisika kimia dari bahan obat, maka tablet dapat dibuat dengan berbagai cara : 1. Cara kering a. Cetak langsung Yang dimaksud dengan cetak langsung disini adalah proses pembuatan tablet yang dilakukan dengan mencetak langsung bahan obat dengan atau tanpa penambahan bahan pembantu. Dimana cara ini dapat digunakan untuk zat aktif yang mempunyai sifat seperti :    Mudah mengalir Dapat dimampatkan Mudah dibasahi

Dan untuk tablet yang mempunyai bahan aktif 10% dari bobot tablet, maka sifat tablet tergantung dari sifat bahan pembantu, dan jika bahan aktifnya <10% maka yang menentukan sifat tablet adalah sifat dari bahan aktifnya. Cara pembuatan tablet cetak langsung :  Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien  Mencampur semua komponen untuk tablet  Pencetakan tablet

b. Granulasi kering / prekompresi Cara ini merupakan proses pembuatan granul tanpa melibatkan air sama sekali. Di manna campuran serbuk dicetak menjadi tablet besar dan keras (slug), kemudian slug di ayak menjadi granul yang diinginkan. Cara slugging ini sangat cocok untuk bahan aktif yang sifat alirnya kurang baik, peka terhadap panas dan kelembaban. Pada penyusunan formula untuk tablet yang dibuat dengan cara prekompresi ini perlu dipertimbangkan bahn-bahan pembantu yang dipilih haruslah dapat menghasilkan slug yang keras. Kegagalan akan terjadi pada waktu membuat granul dari slug akan terbentuk serbuk bukan granul. Cara pembuatan tablet granulasi kering :

 Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien  Mencampur semua komponen untuk tablet  Mencetak menjadi tablet besar dan keras untuk membuat slug  Pengayakan slug menjadi granul  Mencampur granul dengan bahan penghancur dan pelincir  Pencetakan tablet

2.

Cara basah a. Granulasi basah Merupakan cara yang paling umum dan banyak dilakukan, karena hamper semua jenis bahan aktif dapat diproses secara granulasi basah. Disebut granulasi basah karena di dalam proses pembuatan granulnya mempergunakan larutan bahan pengikat, dimana campuran serbuk ditambah dengan larutan bahan pengikat atau dalam bentuk mucilage sampai terbentuk masa yang konsistensinya dapat dikepal. Cara pembuatan tablet granulasi basah :  Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien  Mencampur semua komponen untuk tablet  Membuat larutan pengikat  Mencampur larutan pengikat dengan campuran bahan komponen obat, untuk membentuk masa yang basah.  Mengayak secara kasar masa basah, dengan ayakan ukuran mesh 14.  Mengeringkan granul basah  Mengayak granul kering melalui ayakan ukuran mesh 16  Mencampur granul kering yang sudah diayak dengan bahan pelincir dan penghancur luar.  Pencetakat tablet.

b. Granulasi dasar

Tablet yang dibuat dengan granulasi dasar yaitu bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air atau terurai dengan adanya panas. Sifat aliran dan daya kompresibilitasnya jelek, dimana tahap-tahap

pengerjaannya sama dengan cara granulasi basah. Hanya pada granulasi dasar bahan obat tidak di granulasi bersama-sama dengan bahan pembantu, seperti bahan pengisi, penghancur dalam tetapi ditambahkan pada tahap lubrikasi dalam bentuk serbuk halus atau fine kedalam granul bersamasama dengan penghancur luar dan bahan lubrikan. Pada cara granulasi dasar ini perlu diperhitungkan terlebih dahulu jumlah fine dalam masa cetak ini karena dapat menimbulkan kesulitan selama proses pencetakan. Fine dalam cara ini berasal dari bahan obat, bahan penghancur luar, bahan lubrikan juga berasal dari hasil pengayakan granul yang dikeringkan.

c.

Cara-cara khusus Cara-cara khusus ini juga bertujuan untuk menghasilkan granul baik yang mengandung bahan obat sendiri maupun granul-granul dari bahan pembantu tablet. Granul-granul yang dihasilkan dengan cara ini digunakan untuk kondisi-kondisi tertentu karena harganya mahal. Cara-cara khusus ini ada tiga cara pengerjaannya :  Soray congealing Cara ini juga dikenal sebagai cara spray chilling yang mirip dengan cara spray drying tetapi tanpa menggunakan panas. Bahan obat yang dapat diproses dengan cara ini terlebih dahulu dilarutkan atau disuspensikan dalam lelehan malam. Lelehan ini disemprotkan kedalam udara yang mengalir, udara yang mengalir ini sejuk / dingin tergantung pada titik beku dari produk, sebagai contoh monogliserida memerlukan udara dingin sekitar 10oC. granul yang dihasilkan dengan cara ini memiliki sifat mudah mengalir dan sifat kemudahan dalam pencetakan.

 Spray drying Serbuk bahan obat / bahan-bahan pembantu tablet dalam keadaan halus ditiup dengan angin turbulensi kemudian

disemprotkan bahan penyalut dalam bentuk larutan disperse secara berkala. Serbuk-serbuk yang baru dibasahi ini dikeringkan dengan udara hangat yang telah disaring terlebih dahulu kemudian hasil kering ini dibawa bersama udara tersebut ketempat penampungan. Bahan obat dalam bentuk padat ataupun cairan dapat dip roses secara spray drying ini seperti Vitamin A dan Vitamin D yang larut di dalam minyak dapat disalut dengan larutan bahan pengikat sehingga tidak mudah terurai. Bahan pembantu yang sering dip roses dengan cara ini adalah laktosa dan pati, hasilnya berupa granul-granul yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi, bahan pengikat kering ataupun bahan penghancur.  Speronisasi Proses pembuatan masa granul basah sama dengan cara granulasi basah dimana bahan obat, bahan pengisi (bila perlu) digranulasi dengan larutan bahan pengikat, masa basah ini dilewatkan terlebih dahulu kedalam alat Extrude machine untuk membentuk batang silinder dengan diameter 0,5-12 mm, melalui ayakan ukuran mesh tertentu baru dilewatkan akan kedalam dirubah

Marumerizer

dimana

batang-batang

tersebut

bentuknya menjadi bentuk spheris, akibat gya sentrifugal dan gaya gesek dari ayakan yang berputar. Granul-granul spheris ini kemudian dikeringkan. Keuntungan cara spheronisasi ini adalah menghasilkan granul dengan keseragaman bentuk dan ukuran disamping jumlah fine nya minimal.

BAB III DATA PREFORMULASI

3.1 MONOGRAFI 3.1.1 Zat khasiat Paracetamol (Acethaminophen)  Rumus bangun

  

Rumus molekul

= C8H9NO2

Berat molekul

= 151,16

Pemerian Serbuk halus, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.

Kelarutan

Larut dalam air mendidih dan dalam Natrium Hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol. 

Identifikasi A. Spektrum serapan IR zat yang telah dikeringkan diatas pengering yang cocok dan didipersikan di dalam Kalium Bromida (p) menunjukkan hanya max pada λ yang sama seperti pada Paracetamol BPFI. B. Spektrum serapan UV larutan (1 dalam 200.000) dalam campuran asam chloride 0,1 N dalam methanol P (1 dalam 100) menunjukkan max dan min pada λ yang sama seperti Paracetamol BPFI. C. Memenuhi uji identifikasi secara kromatografi lapis tipis, gunakan laritan 1 mg/ml dalam methanol P dalam fase gerak Diklorometana P metanhol P.

  

Jarak lebur

= Antara 168 dan 172

Sisa pemijaran

= Tidak lebih dari 0,1%

Penetapan kadar  Larutan baku timbang seksama sejumlah Paracetamol BPFI, larutkan dalam air hingga kadar lebih kurang 12 μg/ml.  Larutan uji timbang seksama lebih kurang 120 mg, masukkan kedalam labu ukur 500 ml, larutkan dalam 10 ml methanol P, encerkan dengan air sampai tanda batas dan campur. 

(AU) Ukur serapan larutan uji dan larutan baku pada λ serapan max ± 200 nm terhadap air sebagai blanko, hitung jumlah dalam mg C8H9NO2 dengan rumus :

AU

10oC =

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.

Khasiat

= Analgetik dan Antipiretik

3.1.2

Zat tambahan 3.1.2.1  Laktosa

Rumus bangun

O

  

Rumus molekul

= C12H22011.H2O

Berat molekul

= 342,30

Pemerian Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih crea, tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau.

Kelarutan Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

= zat tambahan

3.1.2.2 

Talcum

Pemerian Serbuk hablur sangat halus, putih dan putih kelabu, berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran.

Kelarutan Tidak larut dalam hamper semua pelarut.

Identifikasi A. Campur dengan 500 ml lebih kurang daalm 200 mg Na.karbonat anhidrat dengan 2 g kalium karbonat anhidrat p dan lebur dalam krus platina. B. setelah melebur tambahkan 100 mg zat uji dan teruskan pemanasan sampai melebur sempurna, dinginkan dan pindahkan campuran tersebut kedalam gelas piala atau cawan dengan pertolongan ± 50 ml air panas + HCl P kedalam larutan, hingga tidak terbentuk gas lagi. C. kemudian + lagi 10 ml HCl P dan uapkan campuran diatas tangas uap sampai kering, dinginkan + 20 ml air, dinginkan dan saring sisa larutan dalam silica.

D. Larutan dalam filtrate ± 2 g NH4Cl P dan 5 ml NH4OH 6 N saring, bila perlu pada filtrate + Na Fosfat di basakan Lp termasuk endapan hablur putih Mg ammonium fosfat. 

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

 

Kadar

= 1-5%

Khasiat

= Zat tambahan

3.1.2.3 

Amylum

Pemerian Serbuk sangat halus, putih.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol

Identifikasi A. panaskan sampai mendidih selama 1 menit suspense 1g dalam 50 ml air, dinginkan, terbentuk larutan kanji yang encer. B. campur 1 ml larutan kanji yang diperoleh pada identifikasi A dengan 0,05 ml Iodium 0,005 M terjadi warna biru tua yang hilang pada pemanasan dan tibul kembali pada pendinginan.

Susut pengeringan = Tidak lenih dari 15%, pengeringan pada suhu 100o-105o.

Sisa pemijaran

= Tidak lebih dari 0,6% (Metoda II)

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat

3.1.2.4 

Mg. stearat

Pemerian Serbuk halus, putih, licin dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, etanol (95%), dan dalam eter P.

Identifikasi Panaskan 1 gr dengan campuran 25 ml air dan 5 ml HCl P, dinginkan lapisan minyak memadat pada suhu lebih kurang 50o dan lapisan air menunjukkan reaksi Mg

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

= zat tambahan

3.2 FARMAKOLOGI 3.2.1 Farmakokinetik Pemberian Paracetamol secara oral sangat efektif, Paracetamol memberikan efek analgetik yang mirip dengan salisilat, yang dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Efek ini disebabkan oleh aktifitas pada system saraf pusat dengan menghambat sintesa prostaglandin disusunan saraf pusat. Secara perifer mencegah sensitasi reseptor rasa sakit terhadap rangsangan mekanik dan kimiawi. Paracetamol didalam tubuh akan mengalami proses ADME, dimana diekresi sebagian besar melalui feses atau urin. Paracetamol yang diberikan secara oral akan diabsorbsi dalam saluran cerna sangat cepat dan hamper sempurna. Konsentrasi dalam plasma mencapai puncak

maksimum dalam waktu 30-60 menit, dan waktu paruh dalam plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keeseluruh cairan tubuh dalam plasma sebagian terikat oleh protein plasma (25%).

3.2.2 Farmakodinamik Metabolism terjadi di hati yang dilakukan enzyme-enzym mikrosom hati. Umumnya dalam bentuk konjugasi dihati dengan asam glukoronat (±60%), asam sulfat (±3%) dengan sistein (±3%) dan sebagian Paracetamol ditransformasikan menjadi derivat hidroksi dan diasetil. Diduga terjadinya metabolit hidroksi merupakan indikasi hepatotoksik pada pemakaian dosis sangat berlebihan. Paracetamol dieliminasi melalui ginjal, pada penderita gagal ginjal terjadi akumulasi metabolit terkonjugasi dalam darah. Efek toksik dari Paracetamol pada pemberian dosis terapetik dapat ditolerir, kadangkadang dapat terjadi ruam pada kulit dan alergi lain.

BAB IV PELAKSANAAN PRAKTIKUM

4.1   pengaduk   tester   tangan  mesh 10  Becker glas Batang Cawan Hardnes Gelas ukur Sarung Ayakan Oven

Peralatan         Gelas ukur Corong Timbangan Piknometer Lumpang dan alu Perkamen Jangka sorong Penggaris

4.2 Bahan   Paracetamol Laktosa

  

Amylum Aerosil Talcum

4.3 Alasan pemiliham bahan 1. Paracetamol Merupakan zat aktif yang memiliki sifat alir kurang baik. Umum digunakan cara granulasi basah, Paracetamol berkhasiat annalgetik atau anntypiretik. 2. Laktosa Sebagai bahan pengisi yang memiliki sifat alir kurang baik umum digunakan untuk granulasi basah, bersifat inert. 3. Amylum   Sebagai pengikat diambil 33,3% karena Paracetamol bersifat hidrofob. Sebagai penghancur luar, karena sifatnya mudah mengenbang bila didispersikan kedalam air, diambil sebanyak 10% karena besarnya bobot tablet yang dibuat. Maka bahan penghancur yang dibutuhkan cukup besar, selain itu bahan amylum mudah didapat dan harganya relative murah. 4. Talcum Kombinasi kedua bahan ini baik digunakan untuk granulasi basah. Sifat talcum yang hidrofob akan meningkatkan density sebelum dicetak dan sebagai lubricant. 5. Mg. stearat digunakan sebagai lubrikan atau pelincir yang berfungsi untuk mencegah atau mengurangi gesekan antara dua permukaan yang relative bergerak.

4.4 Tujuan Untuk membuat dan mengevaluasi suatu tablet yang baik, sehingga tablet yang didapatkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

4.5 Perhitungan 4.5.1 Formula yang direncanakan R/ Paracetamol Laktosa Amylum Mucillago Amili Amylum Talcum Mg Stearat 125 mg x 10% 15% 33,3% 5 2 3 % % %

4.5.2

Penimbangan bahan Jumlah tablet Berat tiap tablet Jumlah sediaan  = 100 buah = 400 mg = 400mg x 100 tablet = 40.000 mg = 40 gr = 90% x 40 gr = 36 % = 125 mg x 100 tablet = 12.500 mg = 12,5 gr

Fasa dalam  Paracetamol 

x100 % = 31,25

% paracetamol = 125 400  Laktosa = 100 % - ( 31,25 % + 10 % + 33,3 % ) = 100 % - 74,55 % = 25,45 % x 40 gr = 10,18 gr  x40 gr = 4 gr

Amylum

= 10 100  Mucillago Amyli dilebihkan menjadi 50 gr =

x50 gr = 7,5 gr

= 15 100  Air  Air sisa  Fase Luar = 1,5 x 7,5 gr = 11,25 ml = 11,25 ml – 7,5 ml = 3,75 ml = 10 %

 Granul kering = 25,8737 gr  x25,8737 gr = 1,437 gr

Amilum

= 5% 90% 

x25,8737 gr = 0,574gr

Talk

= 2% 90% 

x25,8737 gr = 0,862 gr

Mg.stearat

= 3% 90%

4.6 Cara kerja 4.6.1 Pembuatan larutan bahan pengikat.

7,5 gr amylum + air 1 ½ kali nya (11,25 ml) aduk sampai homogen,air sisa dipanaskan. Dispersikan campuran air dan amyli ke dalam air mendidih,aduk hingga dingin dan bening. 4.6.2 Pembuatan masa granul.

1)

Paracetamol digerus + laktosa + amylum (penghancur dalam), gerus sampai halus dan homogen. MASSA I.

2) Tambahkan mucillago sedikit demi sedikit ke MASSA I sampai diperoleh massa yang dapat dikepal. 3) Kemudian diayak dengan menggunakan ayakan mesh 14 sehingga menjadi granul. 4) Timbang granul yang telah jadi. 5) Granul dikeringkan pada suhu kamar.sampai kandungan air nya 5 %. Selama 24 jam. 6) Setelah kering timbang kembali granul. 7) Lalu diayak dengan mesh 16. 8) Lakukan evaluasi granul 4.6.3 Pembuatan tablet. 1) lalu tambahkan amylum (penghancur luar), + talcum + mg stearat,homogenkan dalam homogenizer 15 – 30 menit. 2) Timbang granul ,masing-masing 400 mg untuk dicetakk menjadi 1 tablet. 3) Cetak dengan mesin tablet 4) Lakukan evaluasi tablet

4.7 Evaluasi bahan 4.7.1 Evaluasi granul 1. Bobot jenis  BJ benar Adalah masa granul dibagi dengan volume granul tanpa volume rongga antar granul dan volume pori-pori pada granul. Alat Cara : piknometer : = 22,8247 = 56,0164 = 24,8247 = 55,0124

 Tmbang piknometer kosong (a)  Timbang piknometer + gliserin (d)  Timbang piknometer + serbuk 2 g (b)  Timbang piknometer + serbuK + gliserin (c) g/ml

d-a v Rumus :  BJ pelarut :

=

BJ granul

:

(24,8247- 22,8247) x 1,3276 (24,8247- 22,8247) + (56,0164-55,0124)

=

= 0,8838

2.

BJ nyata Adalah masa granul dibagi volume granul tanpa volume rongga antar granul Cara :  Timbang 20 gr granul masukkan dalam gelas ukur 100 ml  Amati volumenya, VO = 40 ml Rumus :

W Vo

BJ nyata

: 20 40

=

= 0,5

3. BJ mampat Adalah perbandingan antara berat granul dengan volume yang telah dimampatkan Cara :  Granul (20 gr) yang terdapat dalam gelas ukur pada pengukuran BJ nyata diketuk sebanyak 1250x, catat volume (Vt1) = 33,7 ml  Ulangi pengetukan sebanyak 1250x, catat volume (Vt2) = 34 ml  Jika selisih (Vt1) dengan (Vt2) lebih dari 2 maka diambil data (Vt1). W Vt

Rumus : BJ mampat 20 34 :

=

= 0,5882

4. Porositas

Porositas berbanding terbalik dengan waktu hancur, jadi jika porositas kecil maka waktu hancurnya lambat, dan berbanding lurus dengan kekerasan tablet, jadi jika porositas kecil tabletnya kurang keras. syarat X 100% 1 – BJ mampat BJ benar Rumus : Porositas : : 37 – 40%

x 100%

=

= 46,59% 5. Kompresibilitas syarat BJ mampat – BJ nyata BJ mampat : 10 – 21%

X 10 0 %

Rumus

: kompresibilitas = : X 100% = 14,99%

0,5882 – 0,5 0,5882

=

6. Factor hausner (FH) Syarat BJ mampat BJ nyata : < 1,25

Rumus

: FH 0,5882 0,5 :

=

= 1,17

7. Kandungan air Alat Syarat Cara : oven dengan suhu 100o – 105oC : 2- 4% : = 85, 9673 = 87, 9673

 Timbang cawan penguap kosong  Tambahkan granul 2 gr, timbang

 Masukkan kedalam oven (dikeringkan) pada suhu 100o – 105oC sampai bobot tetap  Keluarkan dari oven, timbang berat awal – berat akhir Berat awal = 87, 9188

X 1 0 0 %

Rumus

: Kandungan 2 – 1,9515 2 :

X 100% = 2,425%

=

Berat awal Berat akhir

: 87,9673 – 85,9673 = 2 gr : 87,9188 – 85,9673 = 1,9515

8. Kecepatan alir granul Alat : corong

Kecepatan aliran granul akan dipengaruhi oleh factor :  Ukuran partikel  Distribusi ukuran  Bentuk  Bobot jenis  Karakteristik permukaan  Geometri dan ukuran relative hopper. Cara :  Timbang serbuk sebanyak 20g masukkan kedalam corong.  Kemudian buka tutup lobang corong, catat waktu yang diperlukan untuk mengalirkan serbuk tersebut melalui corong dengan bebas.  Hitung kecepatan alir serbuk dengan persatuan waktu pengaliran. T1 T2 T3 Trata-rata berat serbuk (g) waktu (dt) = 17 = 16,8 = 17,8 = 17,2

Rumus : Kecepatan aliran : 20 gr 17,2

=

= 1,1627

9. Sudut istirahat Adalah sudut antara permukaan kerucut dan bidang horizontal. Hubungan sudut istirahat dengan sifat alir (kecepatan alir):  Jika sudut alpha besar dari 60o, serbuk sangat kohesif dan biasanya menunjukkan sifat alir serbuk yang jelek dan ukuran partikel antara 70 – 100 mikron.  Jika sudut alpha kecil dari 20o, serbuk bersifat kohesif dan biasanya menunjukkkan sifat alir yang baik dan ukuran partikel biasanya lebih besar dari mesh 60 / 250 mikron. Syarat Cara  : 25-60o :

 Cara silinder Masukkan granul kedalam tabung silender kaca dgn dm 9,4 cm dan tinggi 20 cm yang terletak diatas permukaan horizontal, ratakan permukaan granul.      Tabung silinder secara perlahan-lahan dan tegak lurus diangkat keatas sampai semua granul meninggalkan tabung. Ukur tinggi puncak timbunan granul serta diameternya.  Cara corong Isi corong dengan serbuk (20 g) yang akan diukur Lalu jari dilepaskan dari mulut corong dan serbuk dibiarkan mengalir bebas keatas ertas grafik yang tersedia. Maka akan terjadi tumpukkan granul seperti puncak dimana dapat di ukur tumpukkan granul dengan tinggi (h) dan dm sehingga di dapat jari-jari (r) maka sudut istirahat (tangens alpha) dapat diukur.

D1 = 15 7,5 h1 = 3 Tingginya pucak timbunan (h) ½ diameter (r)

D2 = 15,5 h2 = 3,5

D3 = 14,5 h3 = 3

Drata-rata = 15 hrata-rata = 3,16

r=

Rumus

: Tangens alpha : 3,16 7,5

=

= 0,421 = 22,83  Cara drum   Masukkan granul kedalam drum Kemudian drum digulirkan pada permukaan bidang datar.

10. Kadar fine Syarat Cara : tidak lebih dari 20% :

 Timbang semua granul atau granul total = 20 gr  Ayak granul selama 5 menit sampai didapat granul kasar, timbang.  Timbang juga fine yang didapat = 4,0086 gr X 100%

Berat fine Berat total granul Rumus : Kadar fine :

=

= 20,043%

11. Kekerasan granul Cara :  Sebutir granul diletakkan diatas bidang datar yang dapat dinaik turunkan tepat dibawah piring timbangan.  Letakkan sedikit demi sedikit pemberat diatas piring sampai granul retak atau pecah, kekerasan granul sama dengan berat dari beban.

12. Cara :

Distribusi ukuran granul  Keatas set ayakan yang masing-masingnya telah ditimbang seksama dan terdiri dari ayakan No 18, 25, 35, 45, 75, 100, 120 dan 170.  Ayak 10g granul selama 5 menit  Masing-masing fraksi ditimbang dan ditentukan distribusi dan diameter mediannya.

4.7.2

Evaluasi tablet 1. Keseragaman bobot  20 tablet yang telah dibersihkan dari debu ditimbang satu persatu = 8,3085

Hitung bobot rata-rata = 8,3085 g = 0,4154 g 20 Syarat lebih besar  Timbang berat masing-masing tablet NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X Berat Tablet 0,4584 0,4002 0,4213 0,4137 0,4106 0,3919 0,4043 0,3986 0,3779 0,3865 0,3864 0,3779 0,3751 0,3905 0,4149 0,4003 0,3872 0,3819 0,3921 0,3752 8,3085 (x-xi)2 1,849 x 10-3 2,3104 x 10-5 3,841 x 10-5 2,89 x 10-6 2,304 x 10-5 5,5225 x 10-4 1,2321 x 10-4 2,8224 x 10-4 1,40625 x 10-3 8,3521 x 10-4 8,41 x 10-4 1,40625 x 10-3 1,62409 x 10-3 6,2001x 10-4 2,5 x 10-7 2,2801 x 10 -4 7,9524 x 10-4 1,12225 x 10-3 5,4289 x 10-4 1,61064 x 10-3 6,9658 x 10-4 : tidak boleh lebih dari 2 tablet mempunyai penyimpangan

SD = √Σ ( X – X1)2 = SD x 100% n–1 X = √ 6,9658 X 104

SD relatif

= 0,0549 X 100% 20 – 1 = √ 3,66 X 10-5 = 0,0549 0,4154 = 13,21%

BOBOT RATA-RATA

PENYIMPANGAN BOBOT RATA-RATA (%) A B 30 20 15 10

25 mg / kurang 26 mg - 150 mg 151 mg – 300 mg > 300 mg

15 10 7,5 5

2. Keseragaman ukuran Alat : jangka sorong dari 11/3x

Syarat : dm tablet tidak boleh melebihi 3x tebal tablet dan tidak kurang tebal tablet.  Menggunakan 10 tablet  Letakkan sebuah tablet diantara penjepit yang terdapat pada jangka sorong, lalu tablet dinyatakan telah ketat setelah timbul bunyi.  Ukur diameter dan tablet.

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9

Tebal tablet 1,5 1,5 1,5 1,5 1,6 1,6 1,5 1,6 1,5 1,6

Diameter

Tebal tablet rata-rata Diameter tablet rata-rata

= 0,9 = 1,5

3. Kekerasan tablet Alat : Hardnes tester Syarat : 4 – 8 mg/cm2  Menggunakan 5 tablet  Letakkan 1 tablet diantara penjepit, lalu jepit tablet dengan cara menjepit alat tersebut sampai tablet pecah/retak.  Pada saat tablet tersebut mulai pecah/retak yang ditunjukkan oleh skala, maka kekerasan tablet tersebut mulai dihitung. Kekerasan tablet rata-rata = 6,2 kg/cm2

NO 1 2 3 4 7 8 4 8

Kekerasan tablet

5

4

4. Kerapuhan tablet Alat : Rhoche friabilitor

Tujuan : menentukan kemampuan dan daya tahan tablet terhadap gesekan dan goncangan selama prossesing, packing, transportasi sampai pada konsumen. Syarat : menurut lochman = o,8% dan menurut Roche = 1%  20 tablet bebas debu ditimbang bersama (W1g), kemudian dimasukkan dalam Roche.  Jalankan alat, biarkan berputar selama 4 menit (100x putaran)  Bersihkan kembali 20 tablet tersebut dari debu dan timbang (W2g)  W1- W2 W1

Hitung besarnya kerapuhan tablet X 100%

Rumus :

5. Waktu hancur tablet Factor yang mmempengaruhi waktu hancur tablet :     Factor formulasi Sifat fisik bahan obat Bahan pembantu Tekanan yang diberikan pada saat pencetakan

Syarat : kecuali dinyatakan lain dalam FI, untuk tablet tidak bersalut waktu hancurnya tidak lebih dari dari 15 menit dan untuk tablet bersalut gula = 60 menit.  Isi bejana dengan campuran yang cocok seperti cairan lambung spt : Hcl atau cairan usus buatan sesuai dengan tablet yang akan diukur waktu hancurnya.  Larutan yang digunakan diukur / diatur suhunya sampai 37 + 2oC.  Jumlah cairan ini diatur sedemikian rupa sehingga pada saat keranjang turun permukaannya tidak tenggelam dalam cairan dan pada saat keranjang ini naik permukaan disebelahnya tidak melebihi permukaan cairan.  Masukkan tablet yang akan ditentukan waktu hancurnya satu persatu pada 6 tabung yang ada, setelah itu kedalam masing-masing tabung dimasukkan cakram yang terbuat dari tali plastic.  Jalankan alat dan catat waktu saat mulai alat dijalankan sampai semua tablet telah melewati saringan yang terdapat pada setiap tabung.  Kecepatan turun naiknya alat diatur sebanyak 30x/ menit.

6. Penetapan kadar Menurut FI mebutuhkan 30 tablet, 10 tablet ditetapkan kadarnya satu persatu. Tablet memenuhi syarat, jika hasilnya antara 95 – 105% dari persyaratan diatas, 20 tablet sisa ditetapkan kadarnya. I. Pembuatan larutan induk II. Pembuatan kurva kalibrasi III. Pembuatan larutan sampel IV. Mengukur absorban dengan spektrofotometer UV

I. Pembuatan larutan induk Timbang 3 mg paracetamol murni, larutakan dalam 10 ml metanol. Kemudian dicukupkan sampai 100 ml dengan agua dest. Konsentrasi larutan induk = 30 μg/ml

II. Pembuatan kurva kalibrasi Dibuat pengenceran larutan induk menjadi 5 seri konsntrasi 1. Dibuat pengenceeran dengan konsentrasi 5 ppm V1 x C1 V1
X

= = =

V2 x C2 10 x 1,67 ml 5

30 V1

2. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 10 ppm V1 x C1 V1
X

= = =

V2 x C2 10 x 3,33 ml 10

30 V1

3. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 15 ppm V1 x C1 V1
X

= = =

V2 x C2 10 x 5 ml 15

30 V1

4. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 20 ppm V1 x C1 V1
X

= = =

V2 x C2 10 x 6,67 ml 20

30 V1

5. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 25 ppm V1 x C1 V1
X

= = =

V2 x C2 10 x 8,33ml 25

30 V1

Larutan induk dengan 5 seri pengenceran di ukur absorbennya didapat hasil: No Konsentrasi 1. 5 2. 10 3. 15 4. 20 5. 25 ABS 0,157 0,184 0,218 0,264 0,325

Dari kurva kalibrasi didapatkan hasil:

0,157

ABS

0,325 5 ppm 25 konsentrasi

ABS

0,153

Dari kurva kalibrasi didapatkan hasil Konsentrasi Paracetamol dalam 100 ml larutan sampel = 30 μg/ml x 100 ml = 3000 μg/ml = 3 mg/ml % kadar Paracetamol dalam tablet = 3 mg/ml 400 mg x 100% = 0,75%

Dari data didapatkan regerasi linearnya yaitu: a = 0,055 b = 0,0107 r = 0,9967 III. Pembuatan larutan sampel Tablet digerus dalam lumpang, ditimbang sebanyak 3 mg kemudian dilarutkan dalam 10 ml metanol kemudian ditambahkan dengan agua dest. 100 ml. Stelah diukur dengan spektofotometer UV maka didapat absorbennya: 0,273 Absorben = 0,273 Didaptakan: Nilai y = 0,273 y = a + bx x= y+a b 0,0107 = 30,65μg/ml = 0,03065 mg/ml % kadar paracetamol dalam tablet adalah: = 0,273 + 0,055

0,03065 mg/ml x 100% 1,021% 3 mg

=

7. Uji disolusi dapat dilakukan secara invitro Disolusi adalah suatu proses dimana bahan obat padat melarut kedalam medium disolusi dan laju disolusi senyawa padat ditentukan oleh laju difusi suatu lapisan yang sangat tipis dari larutan jenuh yang terbentuk disekeliling bahan padat.

(CS– C)

Hubungan kecepatan disolusi :

Syarat : Alat : dissolution tester  Menggunakan 5 tablet  Tablet diletakkan dalam keranjang kawat yang dapat berputar 50, 100, 150x/ menit.  Keranjang dimasukkan dalam wadah yang berisi medium pada suhu 37oC.  Putar keranjang dengan kecepatan 50x/ menit.

 Dalam selang waktu tertentu cairan medium diambil dengan pipet melalui sampling port, kemudian kedalam wadah ditambahkan larutan medium baaru sebagai penggantian yang telah diambil.  Cairan medium yang diambil dalam selang waktu tertentu ditentukan secara kwantitatif jumlah bahan obat yang larut pada waktu tertentu. ABS 5’ 10’ 15’ 30’ 45’ 0,254 0,412 0,563 1,264 1,253 K.ABS 0,543 0,547 1,703 1,81834 2,112

Maka didapat persamaan linier untuk persamaan diatas : y = 0,1006 + 0,0309x

a.

Pada waktu 5’ dimana Maka y = a +bx x b Konsentrasi = 4,96 μg/ml = 4,96 μg/ml x 2,5 ml x 900ml 10 ml = 1,116 μg = 1,116 x 10-2 mg 0,0309 = y – a = 0,254 – 0,1006

% terdisolusi 400mg = 2,79 -3%

= 1,116x 10-2 mg x 100 %

b. Pada waktu 10’ dimana Maka y = a + bx x b FK 0,0309 =y–a = 0,412 – 0,1006

= 10 x 1,116 x 10 -2 =1,24 x 10-4 900

Konsentrasi

= 13,007μg/ml = 13,007μg/ml x 2,5 ml x 900ml 10 ml = 2,926 μg = 2,926 x 10-3 mg

1,25 x10 -4 + 2,926 x 10-3 = 3,051 x 10-3 % terdisolusi 400mg = 7,6275 x 10-4% = 3,051x 10-3 mg x 100 %

c. Pada waktu 15’ dimana Maka y = a +bx x = y – a = 0,563- 0,1006

b Konsentrasi = 14,96 μg/ml

0,0309

= 14,96 μg/ml x 2,5 ml x 900ml 10 ml = 3,366 μg FK = 3,366 x 10-3mg x 2,926 x 10-3 mg = 3,251 x 10-3 mg

= 10 ml 900ml

3,375 x 10-3mg + 2,5161 x 10-5 mg = 3,253 x 10-3 % terdisolusi = 3,253 x 10-3mg x 100 %

400mg = 8,1325 x 10-3%

Buat kurva antara % terdisolusi terhadap waktu:

BAB V HASIL DAN DISKUSI 5.1 HASIL Dari pratikum yang dilakukan di dapatka hasil, sebagai berikut: a. Pada evaluasi granul :        Bj benar Bj nyata Bj mampat Porositas Kompresibilitas Faktor hausner Kandungan air = 0,8838 = 0,5 = 0,5882 = 46,59% = 14,99% = 1,17 = 2,425%

persyaratan kandungan air = < 5% (tablet memenuhi persyaratan )  Kecepatan alir = 1,1627

persyaratan kecepatan alir = 10 g/detik ( tablet tidak memenuhi persyaratan )

Sudut istirahat

= 22,83oC

persyaratan sudut istirahat = 25 - 60º ( tablet memenuhi persyaratan )  Kadar fine = 20,043%

persyaratan kadar fine tidak lebih dari 20% ( tablet tidak memenuhi persyaratan) b. Pada evaluasi tablet :  Keseragaman bobot SD = 0,0549

SD relatif = 13,21%  Keseragaman ukuran Diameter rata-rata Ketebalan rata-rata  Kekerasan tablet = 0,9 = 1,5 = 6,2 kg/cm2

5.2 DISKUSI    Tablet memenuhi persaratan kandungan air (kecil dari 5%) Kecepatan alir tablet tidak memenuhi persaratan ( 10 gram /detik) Pada pnetapan kadar kadar parasetamol didapatkan dari hasil pengujian adalah 1,021 % ini disebabkan karena kesalahan dalam pembuatan larutan sampel, penimbangan bahan yang terlalu kecil kesalahan pemipetan

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam penetapan kadar ini yaitu 1. Aliran granul 2. Kemurnian zat aktif 3. Metoda analisa yang digunakan 4. Metoda pembuatan sampel  Pada uji disolusi, didapatkan persen disolusi yang kecil dari 100, kesalahan ini mungkin terjadi akibat kesalahan dalam pemipetan 10 ml larutan parasetamol dari tabung diolusi yang tanpa disertai tambahan 10 ml larutan media disolusi baru dalam tabung disolusi.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Pembuatan tablet pada pratikum farmasetik III, setelah dilakukan evaluasi baik terhadap granul atau tablet itu sendiri diperoleh kesimpulan bahwa tablet yang dibuat secara garis besar belum memenuhi persaratan, yaitu % disolusi(uji pelarutan tablet) yang akan berpengaruh terhadap pelarutan zat aktif dari tablet sehinga efek yang dihasilkan akan dipengaruhi dan kecepatan alir yang sangat lambat yaitu 1.1627 g/detik yang diakibatkan granul yang keras menyebabkan zat aktif akan lama lepas dari granulnya sehinga efek akan lebih lama.

7.2. Saran Untuk pratikan selanjutnya disarankan agar dapat memformula sediaan tablet dengan bahan dan konsentrasi yang baik, tepat dan ketelitian penimbangan sebelum percetakan tablet, juga diperlukan ketelitian dalam melakukan evaluasi baik evaluasi granul maupun evaluasi tablet karena hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah tablet yang telah kita buat memenuhi sarat atau tidak.

BAB VIII DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta

Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta

Firmansyah, 1989, Formula tablet, Universitas Andalas press

Bagian Farmakologi FK UI, 1995, Farmakologi dan Terapi edisi IV, Jakarta, UI press

Shargel, L, 1988, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Surabaya ; Airlangga university press Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita 4. May 30

RUMUS STRUKTUR SENYAWA AKTIF OPTIK DEXTRO

1. Dextromethorphan Molecular formula: C18H25NO =271.4 Chemical name: (+)-3-Methoxy-9a-methylmorphinan; (9S,13S,14S)-6,18-Dideoxy7,8-dihydro-3-O-methylmorphine

Chemical Structure of Dextromethorphan

2. Anhydrous Glucose Synonyms: Anhydrous Dextrose; Anhydrous Glucose;
D-Glucose;

Dextrosum

Anhydricum; Gliukozė, bevandenė; Glucosa anhidra; Glucosum; Glucosum Anhydricum; Glukoosi, vedetön; Glukos, vattenfri; Glukosa; Vízmentes glükóz Chemical name: D-(+)-Glucopyranose Molecular formula: C6H12O6 =180.2

Chemical Structure of Anhydrous Glucose 3. Dexamfetamine Sulfate Synonyms: Dexamphetamine Sulphate; Dexamphetamini Sulfas; Dexanfetamina, sulfato de; Dextro Amphetamine Sulphate; Dextroamphetamine Sulfate; NSC-73713 (dexamfetamine) Chemical name: (S)-αMethylphenethylammonium sulphate; (+)-

αMethylphenethylamine sulphate Molecular formula: (C9H13N)2,H2SO4 =368.5

Chemical Structure of Dexamfetamine

RUMUS STRUKTUR SENYAWA AKTIF OPTIK LEVO
1. Hyoscyamine Synonyms: (-)-Hyoscyamine; l-Hyoscyamine; Hiosciamina; Hyoscyamin;

Hyoscyaminum; Hyoskyamiini Chemical name: (-)-(1R,3r,5S)-Tropan-3-yl (S)-tropate Molecular formula: C17H23NO3 =289.4

Chemical Structure of Hyoscyamine

2. Levofloxacin Chemical name: (-)-(S)-9-Fluoro-2,3-dihydro-3-methyl-10-(4-methyl-1-

piperazinyl)-7-oxo-7H-pyrido[1,2,3-de]-1,4-benzoxazine-6-carboxylic acid Molecular formula: C18H20FN3O4 =361.4

Chemical Structure of Levofloxacin

3. Levodopa Chemical name: (-)-3-(3,4-Dihydroxyphenyl)-L-alanine

Molecular formula: C9H11NO4 =197.2

Chemical Structure of Levodopa 4. Norgestrel Chemical name: (±)-13-Ethyl-17β-hydroxy-18,19-dinor-17α-pregn-4-en-20-yn-3one Molecular formula: C21H28O2 =312.4

Chemical Structure of Norgestrel

5. Levonorgestrel

Chemical dinor-17α-pregn-4-en-20-yn-3-one

name:

(-)-13β-Ethyl-17β-hydroxy-18,19-

Chemical Structure of Levonorgestrel

6. Levopropoxyphene Napsilate Chemical name: (1R,2S)-1-Benzyl-3-dimethylamino-2-methyl-1-phenylpropyl

propionate naphthalene-2-sulphonate monohydrate Molecular formula: C22H29NO2,C10H8O3S,H2O =565.7

Chemical Structure of Levopropoxyphene

I.

Penetapan Kadar Suspensi Oral Paracetamol Dengan KCKT Fase Gerak: Buat campuran air: Metanol (p) 3:1, saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian sesuai dengan yang tertera pada kromatografi (931).

Larutan Baku: Timbang seksama paracetamol BPFI larutkan dalam fase gerak hingga kadar labih kurang 0,01 mg/mL. Larutan uji: Ukur seksama sejumlah volume suspense yang telah dikocok setara dengan kurang lebih 100 mL fase gerak kocok 10 menit encerkan dengan fase gerak ad tanda batas. Pipet 5 mL larutan ini ke dalam labu ukur 250 mL, encerkan sampai tanda. Saring melalui penyaring dengan porositas 0,5 um atau lebih, buang 10 mL filtrat pertama gunakan filtrat sebagai larutan uji. Prosedur: Suntikkan secara terpisah volume yang sama (kurang lebih 10 mL) larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatografer, ukur respons puncak utama. Hitung jumlah mg C8H9NO2 dalam tiap mL suspense dengan rumus:

Keterangan: C: Kadar paracetamol BPFI mg/mL larutan baku V: Volume mL Suspensi Ru dan rs: Respon puncak dari larutan uji dan larutan baku

II.

Tablet Phenobarbital Larutan pH 4,5 untuk 6,6 g Na Asetat Trihidrat dan 3 mL Asam, Asetat P dalam 1000 mL. air. Fase Gerak: Campuran dapar pH 4,5 metanol (p) (3:2) saring dan awaudarakan. Larutan baku internal: Timbang seksama sejlumlah kafein kemudian larutkan methanol (p) larutan dapar pH 4,5 (1:1) hingga kadar kurang lebih 125 mg/ mL. Larutan baku: Timbang kurang lebih 20 mg fenobarbital BPFI larutkan dalam 15 mL larutan baku internal, jika perlu sonikasi.

Larutan Uji: Timbang dan serbukkan > 20 tablet. Timbang serbuk halus setara dengan kurang lebih 20 mg Phenobarbital tambahkan 15 mL larutan baku internal, campur dan sonikasi selama 15 menit dan saring dengan penyaring membrane porositas 0,5 um atau lebih sebelum digunakan. Prosedur: Suntikkan terpisah kurang lebih 10 uL, ukur respon puncak utama. Waktu retensi relative kafein dan Phenobarbital kurang lebih 0,6-1,0. Hitung C12H12N2O2

Keterangan: W= Bobot phenobarbital BPFI (mg) Ru dan Rs= Perbandingan respon puncak larutan uji dan larutan baku.

III.

Antibiotika Amoxicillin Pengencer: 13,6 g Kalium Fosfat monobosa P dalam 2 L air, atur pH 5,0 kurang lebih 0,1 dengan larutan KOH P 45 %. Fase Gerak : Campurn pengencer dengan asetonitril p (96:4) saring. Larutan Baku: Amoxicillin BPFI timbang dan larutkan tambahkan pengencer hingga kadar kurang lebih 1,2 mg/mL. Gunakan larutan dalam waktu 6 jam. Larutan Uji: Timbang 240 mg dalam labu tentukur 200 mL dan larutkan encerkan dengan pengencer ad tanda (dalam 6 jam). Prosedur:

Suntik secara terpisah dengan volume yang sama (kurang lebih 10 uL) rekam dengan kromatogram dan ukur respon puncak utama. Hitung ug dari C16H19N3O5S /ing dengan rumus:

Keterangan: C: Kadar Amoxicillin BPFI (mg/ mL) larutan Baku W= Jumlah zat yang ditimbang Ru= Respon puncak larutan uji Rs= Respon Puncak larutan baku

4. Membuat Kurva Kalibrasi No 1 2 3 4 5 C (mg/ mL) 10 50 90 130 170 AuC 10,725 14,528 22,601 26,124 29,461

5. Berapa Rotasi spesifik morfin bila 0,45 g/30 mL larutan metanolnya mempunyai sudut rotasi 4,920 dan panjang 25 cm?

Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita 5. May 30

Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita 6. May 30

FARMASIS

Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita 7. May 30

Rubella atau campak Jerman
Rubella atau campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan suatu virus RNA dari golongan Togavirus. Penyakit ini relatif tidak berbahaya dengan morbiditas dan mortalitas yang rendah pada manusia normal. Tetapi jika infeksi didapat saat kehamilan, dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan organ dan dapat mengakibatkan kecacatan. Sejarah Epidemi Sebelum dilakukan imunisasi massal mulai tahun 1969, di Amerika terjadi epidemi rubella tiap 6 – 9 tahun dengan epidemi terakhir pada tahun 1964 dengan perkiraan sebanyak lebih dari 20.000 kasus sindroma rubella kongenital dan 11.000 kasus keguguran. Insidens tertinggi adalah pada umur 5 – 9 tahun sebanyak 38,5 % dari kasus pada tahun 1966-1968. Meskipun insiden rubella turun sampai 99 % antara 1966-1968, 32 % dari semua kasus terjadi pada umur 15-29 tahun. Tanpa imunisasi, 10 % - 20% populasi di Amerika dicurigai terinfeksi rubella. Tujuan imunisasi adalah eradikasi infeksi rubella kongenital. Jumlah kasus sindroma rubella kongenital yang dilaporkan turun sampai 99 % sejak tahun 1969. Setelah penurunan yang tajam dari insiden sindroma rubella kongenital, insiden mendatar sekitar 0.05 per 100.000 kelahiran hidup selama10 tahun terakhir karena infeksi rubella tetap berlanjut pada wanita usia subur. Bila semua wanita ini telah divaksinasi (idealnya) insiden sindroma rubella kongenital pasti akan turun sampai nol. Penyebaran Penularan virus rubella adalah melalui udara dengan tempat masuk awal melalui nasofaring dan orofaring. Setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara 11 sampai

14 hari sampai timbulnya gejala. Hampir 60 % pasien akan timbul ruam. Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi terutama secara hematogen. Infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia maternal dan viremia fetal. Viremia maternal terjadi saat replikasi virus dalam sel trofoblas. Kemudian tergantung kemampuan virus untuk masuk dalam barier plasenta. Untuk dapat terjadi viremia fetal, replikasi virus harus terjadi dalam sel endotel janin. Viremia fetal dapat menyebabkan kelainan organ secara luas. Bayi- bayi yang dilahirkan dengan rubella kongenital 90 % dapat menularkan virus yang infeksius melalui cairan tubuh selama berbulan-bulan. Dalam 6 bulan sebanyak 30 – 50 %, dan dalam 1 tahun sebanyak kurang dari 10 %. Dengan demikian bayi - bayi tersebut merupakan ancaman bagi bayi-bayi lain, disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi tersebut.

Gejala klinis

Gambaran klinis infeksi rubella serupa dengan penyakit lain dan kadang-kadang tidak tampak gejala dan tanda infeksi. Pada orang dewasa mula-mula terdapat gejala prodromal berupa malaise, mialgia dan sakit kepala. Pada anak-anak sering tidak diketahui gejala prodromal ini, atau apabila ada sangat minimal. Onset dari gejala prodromal sering dilaporkan dengan munculnya limfadenopati postaurikuler, yang biasanya dilanjutkan dengan munculnya ruam setelah 6-7 hari. Bercak-bercak berupa exanthema yang khas yaitu makulo papular yang sentrifugal mulai dari dada atas, abdomen kemudian ekstremitas yang akan menghilang dalam 3 hari. Kadang-kadang timbul arthralgia yang tergantung dari virulensi virus. Pada janin, infeksi rubella dapat menyebabkan abortus bila terjadi pada trimester I.. Mula-mula replikasi virus terjadi dalam jaringan janin, dan menetap dalam kehidupan janin, dan mempengaruhi pertumbuhan janin sehingga menimbulkan kecacatan atau kelainan yang lain. Infeksi ibu pada trimester kedua juga dapat menyebabkan kelainan yang luas pada organ. Menetapnya virus dan dan interaksi antara virus dan sel di dalam uterus dapat menyebabkan kelainan yang luas pada periode neonatal, seperti anemia hemolitika dengan hematopoiesis ekstra meduler, hepatitis, nefritis interstitial, ensefalitis, pankreatitis interstitial dan osteomielitis.

Gejala rubella kongenital dapat dibagi dalam 3 kategori : 1. Sindroma rubella kongenital yang meliputi 4 defek utama yaitu : a. Gangguan pendengaran tipe neurosensorik. Timbul bila infeksi terjadi sebelum umur kehamilan 8 minggu. Gejala ini dapat merupakan satu-satunya gejala yang timbul.

b. Gangguan jantung meliputi PDA, VSD dan stenosis katup pulmonal. c. Gangguan mata : katarak dan glaukoma. Kelainan ini jarang berdiri sendiri. d. Retardasi mental dan beberapa kelainan lain antara lain: e. Purpura trombositopeni ( Blueberry muffin rash ) f. Hepatosplenomegali, meningoensefalitis, pneumonitis, dan lain-lain 2. Extended – sindroma rubella kongenital.. Meliputi cerebral palsy, retardasi mental, keterlambatan pertumbuhan dan berbicara, kejang, ikterus dan gangguan imunologi ( hipogamaglobulin ). 3. Delayed - sindroma rubella kongenital. Meliputi panensefalitis, dan Diabetes Mellitus tipe-1, gangguan pada mata dan pendengaran yang baru muncul bertahun-tahun kemudian.

Diagnosis

Diagnosis infeksi rubella sangat sulit karena gejalanya yang tidak khas. Timbulnya ruam selama 2-3 hari dan adanya adenopati postaurikuler dapat sebagai diagnosis awal kecurigaan infeksi rubella, tetapi untuk diagnosis pastinya diperlukan konfirmasi serologi atau virologi. Virus rubella dapat ditemukan pada struktur jaringan yang dapat diambil dari hapusan orofaring, tetapi tindakan ini sulit dilakukan.

Antibodi rubella biasanya lebih dahulu muncul saat timbul ruam. Diagnosis rubella ditegakkan bila titer meningkat 4 kali saat fase akut, dan biasanya imunitas menetap lama. Apabila pasien diperiksa beberapa hari setelah timbul ruam, diagnosis dapat ditegakkan dengan analisis antibodi IgM anti rubella dengan menggunakan sistem ELISA. IgM spesifik rubella dapat terlihat 1 – 2 minggu setelah infeksi primer dan menetap selama 1 - 3 bulan. Adanya antibodi IgM menunjukkan adanya infeksi primer, tetapi bila negatif belum tentu tidak terinfeksi.

Diagnosis prenatal dilakukan dengan memeriksa adanya IgM dari darah janin melalui CVS ( chorionoc villus sampling ) atau kordosentesis. Konfirmasi infeksi fetus pada trimester I dilakukan dengan menemukan adanya antigen spesifik rubella dan RNA pada CVS. Metode ini adalah yang terbaik untuk isolasi virus pada hasil konsepsi.

Berdasarkan gejala klinik dan temuan serologi, sindroma rubella kongenital (CRS, Congenital Rubella Syndrome) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. CRS confirmed. Defek dan satu atau lebih tanda/ gejala berikut : * Virus rubella yang dapat diisolasi. * Adanya IgM spesifik rubella * Menetapnya IgG spesifik rubella..

2. CRS compatible. Terdapat defek tetapi konfirmasi laboratorium tidak lengkap. Didapatkan 2 defek dari item a , atau masing-masing satu dari item a dan b. a. Katarak dan/ atau glaukoma kongenital, penyakit jantung kongenital, tuli, retinopati. 1. Purpura, splenomegali, kuning, mikrosefali, retardasi mental, meningo ensefalitis, penyakit tulang radiolusen.

3. CRS possible. Defek klinis yang tidak memenuhi kriteria untuk CRS compatible.

4. CRI ( Congenital Rubella Infection ). Temuan serologi tanpa defek.

5. Stillbirths. Stillbirth yang disebabkan rubella maternal

6. Bukan CRS. Temuan hasil laboratorium tidak sesuai dengan CRS:

Tidak adanya antibodi rubella pada anak umur < 24 bulan dan pada ibu.. Kecepatan penurunan antibodi sesuai penurunan pasif dari antibodi didapat.

Pencegahan

Penanggulangan infeksi rubella adalah dengan pencegahan infeksi salah satunya dengan cara pemberian vaksinasi. Pemberian vaksinasi rubella secara subkutan dengan virus hidup rubella yang dilemahkan dapat memberikan kekebalan yang lama dan bahkan bisa seumur hidup.

Vaksin rubella dapat diberikan bagi orang dewasa terutama wanita yang tidak hamil. Vaksin rubella tidak boleh diberikan pada wanita yang hamil atau akan hamil dalam 3 bulan setelah pemberian vaksin. Hal ini karena vaksin berupa virus rubella hidup yang dilemahkan dapat berisiko menyebabkan kecacatan meskipun sangat jarang. Tidak ada preparat kimiawi atau antibiotik yang dapat mencegah viremia pada orangorang yang tidak kebal dan terpapar rubella. Bila didapatkan infeksi rubella dalam uterus, sebaiknya ibu diterangkan tentang risiko dari infeksi rubella kongenital. Dengan adanya kemungkinan terjadi defek yang berat dari infeksi pada trimester I, pasien dapat memilih untuk mengakhiri kehamilan, bila diagnosis dibuat secara tepat.

Mengapa wanita atau calon ibu harus tahu..??!! Menurut DSA kami, campak Jerman atau rubela berbeda dari campak biasa. Pada anak, campak Jerman jarang terjadi dan dampaknya tak sampai fatal. Kalaupun ada biasanya terjadi pada anak yang lebih besar, sekitar usia 5 sampai 14 tahun (kok anakku bisa kena yah dok..???) dan nafsu makan anak akan menurun karena terjadi pembengkakan pada limpanya, sulit menelan makanan dan akan merasa mual dan muntah bila makan. Yang perlu dikhawatirkan jika campak Jerman ini menyerang wanita hamil karena bisa menular pada janin melalui plasenta (ari-ari). Akibatnya, anak yang dilahirkan akan mengalami sindrom rubela kongenital. Mata bayi akan mengalami katarak begitu lahir, ada ketulian, dan ada pengapuran di otak, sehingga anak bisa mengalami keterbelakangan perkembangan. Bahkan bisa menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan atau kelainan bawaan pada bayi. “Sebelum hamil sebaiknya setiap ibu-ibu melakukan test laboratorium untuk mengetahui, apakah mempunyai gen penyakit ini, bila ada harus di suntik vaksinya dan kira-kira 3 bulan kemudian baru ibu dan bapak merencanakan kehamilan. Karena penyakit campak jerman ini akan lebih berbahaya dampaknya bila yang terkena adalah ibu-ibu hamil,”sambung DSA kami. Bagaimana virus rubella menular ? Virus yang terdapat pada percikan lendir saluran napas dapat disebarkan ke udara saat anak yang sedang terinfeksi rubella bersin, batuk, atau berbicara. Anak atau orang lain yang berdekatan dapat tertular jika menghirup udara yang mengandung virus tersebut. (yang ternyata didapet dari tantenya, dan mungkin juga kondisi anak yang kurang sehat, sehingga bisa tertular padahal sebelumya tidak ada masalah tuh deket dengan tantenya tersebut) Bagaimana mencegah penularan virus rubella? Cara yang paling efektif adalah dengan pemberian imunisasi. Saat ini imunisasi yang dapat diberikan untuk mencegah rubella adalah dengan pemberian vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) dan sebisa mungkin menjauhkan anak dari orang yang menjadi perantara penyakit tersebut.

RUBELLA
Penyakit rubella pada anak Campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. biasanya ringan. Rubella disebut juga sebagai campak 3 hari, karena biasanya anak dengan rubella akan membaik dalam waktu 3 hari. Keadaan yang paling berbahaya adalah jika virus rubella menginfeksi janin karena hal ini dapat mengakibatkan sindroma rubella kongenital. Infeksi virus pada janin dapat terjadi jika wanita yang sedang mengandung terserang virus rubella pada 4 bulan pertama usia kehamilannya. Bagaimana virus rubella menular? Virus yang terdapat pada percikan lendir saluran napas dapat disebarkan ke udara saat anak yang sedang terinfeksi rubella bersin, batuk, atau berbicara. Anak atau orang lain yang berdekatan dapat tertular jika menghirup udara yang mengandung virus tersebut. Jika rubella menyerang wanita hamil pada 3 bulan pertama usia kehamilannya, maka ibu ini dapat menularkan virus pada janinnya melalui plasenta. Keadaan ini disebut sebagai infeksi rubella kongenital dan dapat menyebabkan sindroma rubella kongenital. Bagaimana proses perjalanan penyakit rubella? Masa inkubasi yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya virus rubella kedalam tubuh sampai timbulnya gejala penyakit berkisar antara 14-21 hari. Biasanya gejala bersifat ringan berupa demam. Nyeri sendi dapat terjadi pada anak perempuan yang sudah besar dan orang orang dewasa. Tanda yang paling khas adalah pembesaran kelenjar getah bening di daerah belakang kepala, belakang telinga, dan leher bagian belakang. Umumnya pembesaran kelenjar getah bening ini disertai dengan rasa nyeri. Keadaan ini kemudian diikuti dengan munculnya ruam yang dimulai pada daerah muka dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh dalam waktu 1 hari. Ruam dan demam biasanya menghilang dalam waktu 3 hari. Infeksi rubella kongenital dapat menyebabkan sindroma rubella kongenital yang terdiri dari:  pertumbuhan janin yang terhambat (merupakan kondisi yang paling sering terjadi) * katarak yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata. Katarak adalah pemutihan lensa mata sehingga mengakibatkan kebutaan menetap. Kelainan katarak ini biasanya disertai dengan bola mata yang kecil. * kelainan jantung bawaan * hilang fungsi pendengaran akibat proses infeksi yang terjadi pada saraf pendengaran * radang otak dan selaput otak Bagaimana mengobati infeksi rubella? Tidak ada obat spesifik untuk mengobati infeksi virus rubella. Obat yang diberikan biasanya bersifat untuk meringankan gejala yang timbul. Hanya saja pada anak-anak dan orang dewasa, gejala-gejala yang timbul adalah sangat ringan. Bayi yang lahir dengan sindroma rubella kongenital, biasanya harus ditangani secara seksama oleh para ahli. Semakin banyak kelainan bawaan yang diderita akibat infeksi kongenital, semakin besar pula pengaruhnya pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Biasanya infeksi rubella kongenital dipastikan dengan pemeriksaan serologi segera setelah bayi lahir, yaitu dengan terdeteksinya IgM Rubella (imunoglobulin M) pada darah bayi. Bagaimana mencegah penularan virus rubella? Cara yang paling efektif adalah dengan pemberian imunisasi. Saat ini imunisasi yang dapat diberikan untuk mencegah rubella adalah dengan pemberian vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Pemberian imunisasi MMR pada wanita usia reproduktif yang belum mempunyai antibody terhadap virus rubella amatlah penting untuk mencegah terjadinya infeksi rubella kongenital pada janin. Setelah pemberian imunisasi MMR, penundaan kehamilan harus dilakukan selama 3 bulan.(Sumber :artikel kesehatan)

RUBELLA oleh : Redaksi [ 2008-08-02 03:21:13 ]
Penyakit rubella pada anak Campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. biasanya ringan. Rubella disebut juga sebagai campak 3 hari, karena biasanya anak dengan rubella akan membaik dalam waktu 3 hari. Keadaan yang paling berbahaya adalah jika virus rubella menginfeksi janin karena hal ini dapat mengakibatkan sindroma rubella kongenital. Infeksi virus pada janin dapat terjadi jika wanita yang sedang mengandung terserang virus rubella pada 4 bulan pertama usia kehamilannya. Bagaimana virus rubella menular? Virus yang terdapat pada percikan lendir saluran napas dapat disebarkan ke udara saat anak yang sedang terinfeksi rubella bersin, batuk, atau berbicara. Anak atau orang lain yang berdekatan dapat tertular jika menghirup udara yang mengandung virus tersebut. Jika rubella menyerang wanita hamil pada 3 bulan pertama usia kehamilannya, maka ibu ini dapat menularkan virus pada janinnya melalui plasenta. Keadaan ini disebut sebagai infeksi rubella kongenital dan dapat menyebabkan sindroma rubella kongenital. Bagaimana proses perjalanan penyakit rubella? Masa inkubasi yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya virus rubella kedalam tubuh sampai timbulnya gejala penyakit berkisar antara 14-21 hari. Biasanya gejala bersifat ringan berupa demam. Nyeri sendi dapat terjadi pada anak perempuan yang sudah besar dan orang orang dewasa. Tanda yang paling khas adalah pembesaran kelenjar getah bening di daerah belakang kepala, belakang telinga, dan leher bagian belakang. Umumnya pembesaran kelenjar getah bening ini disertai dengan rasa nyeri. Keadaan ini kemudian diikuti dengan munculnya ruam yang dimulai pada daerah muka dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh dalam waktu 1 hari. Ruam dan demam biasanya menghilang dalam waktu 3 hari. Infeksi rubella kongenital dapat menyebabkan sindroma rubella kongenital yang terdiri dari:

pertumbuhan janin yang terhambat (merupakan kondisi yang paling sering terjadi) * katarak yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata. Katarak adalah pemutihan lensa mata sehingga mengakibatkan kebutaan menetap. Kelainan katarak ini biasanya disertai dengan bola mata yang kecil. * kelainan jantung bawaan * hilang fungsi pendengaran akibat proses infeksi yang terjadi pada saraf pendengaran * radang otak dan selaput otak Bagaimana mengobati infeksi rubella? Tidak ada obat spesifik untuk mengobati infeksi virus rubella. Obat yang diberikan biasanya bersifat untuk meringankan gejala yang timbul. Hanya saja pada anak-anak dan orang dewasa, gejala-gejala yang timbul adalah sangat ringan. Bayi yang lahir dengan sindroma rubella kongenital, biasanya harus ditangani secara seksama oleh para ahli. Semakin banyak kelainan bawaan yang diderita akibat infeksi kongenital, semakin besar pula pengaruhnya pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Biasanya infeksi rubella kongenital dipastikan dengan pemeriksaan serologi segera setelah bayi lahir, yaitu dengan terdeteksinya IgM Rubella (imunoglobulin M) pada darah bayi. Bagaimana mencegah penularan virus rubella? Cara yang paling efektif adalah dengan pemberian imunisasi. Saat ini imunisasi yang dapat diberikan untuk mencegah rubella adalah dengan pemberian vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Pemberian imunisasi MMR pada wanita usia reproduktif yang belum mempunyai antibody terhadap virus rubella amatlah penting untuk mencegah terjadinya infeksi rubella kongenital pada janin. Setelah pemberian imunisasi MMR, penundaan kehamilan harus dilakukan selama 3 bulan.(Sumber :artikel kesehatan)

1. Vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella). Rubella adalah infeksi yang ditandai gejala bercak kemerahan (pink-red rash) pada wajah yang kemudian menyebar ke bagian tubuh lain. Penyakit ini disertai demam ringan dan pembesaran kelenjar getah bening . Ibu hamil yang terinfeksi virus rubella pada tiga bulan pertama, beresiko mengalami gangguan pembentukan dan perkembangan janin sebesar 50-85 persen. Janin yang terinfeksi rubella, mengalami kelainan yang disebut sindrom rubella kongenital. Kelainan itu dapat berupa gangguan mata (katarak), jantung, atau lingkar kepala yang mengecil (Mikrosefalus). Pada umur kehamilan 16-20 minggu, cacat bawaan yang dialami janin adalah gangguan pendengaran atau tuli. Sedangkan infeksi rubella pada ibu berusia kehamilan lanjut (lebih dari 20 minggu) jarang menyebabkan cacat bawaan. Bayi yang mengalami cacat karena rubella akan terus menyandang kelainan tersebut selama hidupnya. Umumnya 1 dari 10 bayi yang mengalami infeksi rubella akan meninggal dalam usia satu tahun. Tidak ada yang dapat dilakukan terhadap janin bila dimasa hamil ibu terinfeksi rubella.

Nama Rubella berasal dari bahasa Latin yang berarti merah kecil. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Rubivirus. Tidak ada obat spesifik untuk mengobati infeksi virus Rubella. Obat yang diberikan biasanya bersifat untuk meringankan gejala yang timbul. Bayi yang lahir dengan sindrom Rubella kongenital, biasanya harus ditangani secara seksama oleh para ahli. Semakin banyak kelainan bawaan yang diderita akibat infeksi kongenital, semakin besar pula pengaruhnya pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Biasanya infeksi Rubella kongenital dipastikan dengan pemeriksaan serologi segera setelah bayi lahir, yaitu dengan terdeteksinya IgM Rubella (immunoglobulin M) pada darah bayi (Anonymous, 2006). Seorang ibu positif Rubella hanya apabila hasil laboratorium menunjukan Rubella IgM-nya positif, tetapi apabila Rubella IgM-nya negatif dan Rubella IgG-nya positif, itu berarti si ibu mempunyai antibodi atau daya tahan tubuh terhadap virus Rubella, sedang virus Rubellanya sendiri tidak ada (Anonymous, 2008). Cara pencegahan yang paling efektif adalah dengan pemberian imunisasi. Saat ini imunisasi yang dapat diberikan untuk mencegah Rubella adalah dengan pemberian vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Pemberian imunisasi MMR pada wanita usia reproduktif yang belum mempunyai antibodi terhadap virus Rubella sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi Rubella kongenital pada janin. Setelah pemberian imunisasi MMR, penundaan kehamilan harus dilakukan selama 3 bulan (Anonymous, 2006). Ahmed et al. (2006) menambahkan bahwa sejak tahun 1969, cara preventif yang efektif terhadap penyakit Rubella (campak Jerman) adalah dengan pemberian vaksin berupa virus Rubella aktif yang telah dilemahkan. Dosis tunggal vaksin Rubella disamakan dengan imunitas seumur hidup. Pernyataan ini berdasarkan penelitian yang menunjukkan hasil seluruh anak-anak dan wanita dewasa yang diberi vaksin Rubella, setelah beberapa tahun mereka mengandung dan anak yang dilahirkan tidak ada yang mengalami infeksi Rubella kongenital. Namun, pemberian vaksin hidup tidak dianjurkan untuk wanita hamil.

Anonymous (2007) menyatakan bahwa sistem imun humoral dan sistem imun termediasi akan aktif jika terjadi infeksi virus Rubella. Antibodi IgM dan IgG Rubella akan aktif setelah 14-18 hari infeksi virus, bersamaan dengan munculnya ruam merah. Setelah 2 bulan sejak infeksi, IgM Rubella berkurang dengan cepat dan biasanya tidak terdeteksi, sedangkan IgG Rubella akan terus ada. Setelah 1 minggu terjadi respon humoral terhadap infeksi virus Rubella, limfosit spesifik termediasi akan aktif menyerang virus Rubella dan sistem imun ini akan ada seumur hidup.

Rubella yang sering disebut orang dengan Campak Jerman merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Rubella dapat menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Bisa menyerang orang tua, remaja, anak - anak, bahkan bayi sekalipun. Sebenarnya Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg dari Eropa sejak tahun 1941, namun baru dapat disosialisasikan pada tahun 1962. Walaupun penderita Rubella tidak menampakkan gejala klinis 14-21 hari, namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia. Penyakit ini biasanya menyerang pada bagian saluran pernafasan atau di dalam tenggorokan. Cara penularannya bisa lewat udara, ludah, kontak kulit, dan dapat juga lewat kotoran manusia. Virus ini sangat berbahaya bila menyerang ibu hamil karena bisa mengakibatkan keguguran. Kalau tidak keguguran maka anak yang dilahirkan bisa terkena penyakit katarak, tuli, hidrosefalus, microsefalus, hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, para - paru, dan limpa). Bisa juga menyebabkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata dan beberapa jenis penyakit lainnya. Serangan Rubella pada anak - anak biasanya menyebabkan panas badan dan sakit di persendian tubuh. Kemudian tampak bercak - bercak merah yang berdiameter sekitar 2-3 mm. Juga terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di belakang telinga atau di bawah leher. Mula - mula bercak - bercak merah menyerang wajah, kemudian menjalar ke seluruh tubuh secara merata. Gejala pada ibu sama dengan gejala yang ada pada anak. Bercak - bercak ini seperti campak, makanya di Jerman Rubella sering disebut German Measless (Campak Jerman). Pengaruhnya secara langsung kepada janin adalah keguguran spontan yang bisa mencapai 50%. Sel yang belum mtang lebih mudah terinfeksi virus Rubella. Hal ini disebabkan antigen yang dibuat janin baru berfungsi setelah kelahirannya. Ini berarti antigen harus menunggu sampai jangka waktu tertentu. Karena itu, virus mudah terinfeksi pada kehamilan 3 bulan pertama. Akibatnya yang nampak, kecenderungan resiko pada bayi keguguran mencapai angka 50%. Biasanya selain menyebabkan abortus spontan, juga

menyebabkan pertumbuhan tengkorak kecil dan penyakit lainnya. Makin tua kehamilan (terutama setelah 20 minggu) kelainan pada bayinya lebih sedikit. Pengobatan virus Rubella terbilang sulit. Sampai sekarang medis belum menemukan obatnya. Biasanya yang dapat dicapai adalah menghilangkan keluhan pasien seperti demam atau rasa nyeri. Dibandingkan dengan pemeriksaan bakteri, pemeriksaan virus Rubella lebih sulit. Cara yang agak mudah mendeteksi dengan teknik Fluorescent. Pemeriksaan terhadap penderita infeksi Rubella dilakukan dengan cara tes darah serologi antigen Rubella. Ada beberapa dokter yang menangani ibu hamil terinfeksi Rubella biasanya diberi dua pilihan meneruskan kehamilan dengan risiko tertentu atau terminasi (aborsi). Begitu sulitnya mendeteksi dan mengobati virus Rubella, kadang dokter medis menganjurkan seorang wanita yang merencanakan kehamilan untuk memeriksakan darah. Bagi wanita yang terkena virus Rubella biasanya lebih kebal terhadap virus ini. Setelah vaksin diberikan dianjurkan untuk tidak hamil selama 3 bulan sejak menerima vaksin. Namun sekarang ibu hamil yang terkena Rubella tidak perlu khawatir, karena meskipun secara medis belum mampu mengobati, namun dengan adanya pengobatan Spesialis TORCH oleh bapak Ir. H. Anda Juanda, Insya Allah virus Rubella tersebut bisa disembuhkan. Banyak kasus yang telah ditangani, misalnya seorang ibu meskipun sudah pernah mengalami keguguran 4 kali ke atas, namun dengan secara rutin pasien meminum formula obat herbal Aquatreat Therapy, maka virus Rubella yang selama ini menjadikan banyak orang menderita (khususnya ibu hamil) Insya Allah bisa dihindari. Sehingga keinginan para ibu yang ingin segera mendapatkan anak pun bisa tercapai. Infeksi virus Rubella merupakan penyakit infeksi ringan pada anak dan dewasa muda, tetapi memberi nuansa istimewa seandainya infeksinya mengenai ibu hamil, di mana virus dapat menembus barier plasenta dan langsung patogenik terhadap janin yang dikandungnya. Dampak kelainan kongenital setelah kelahiran terutama dapat berupa katarak mata, kelainan jantung, tuli, diabetes, dan paru - paru. Biasanya anak lahir dengan berat badan rendah, trombositopenia, purpura, mikrofthalmi, glaukoma, kornea yang keruh, rettinopati pigmentosa, tuli dan gambaran radiolusen pada tulang. Virus dapat diekspresikan melalui urin maupun pernafasan sampai selama 2 tahun, tetapi sebagian menetap dalam tubuh bayi yang membentuk respons imunitas kuat. Dilaporkan pula bahwa virus Rubella persisten pada bayi dan anak, dapat menyebabkan kelainan endokrin, misalnya terjadinya hipo. Rubella dapat ditularkan melalui kontak perpafasan dan memiliki masa inkubasi antara 23 minggu. Penderita dapat menularkan penyakit ini selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya rash (bercak - bercak merah) pada kulit. Rash pada Rubella berwarna merah jambu, mengjilang dalam waktu 2-3 hari dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi.

Rubella yang sering disebut orang dengan Campak Jerman merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Rubella dapat menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Bisa menyerang orang tua, remaja, anak - anak, bahkan bayi sekalipun. Sebenarnya Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg dari Eropa sejak tahun 1941, namun baru dapat disosialisasikan pada tahun 1962. Walaupun penderita Rubella tidak menampakkan gejala klinis 14-21 hari, namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia. Penyakit ini biasanya menyerang pada bagian saluran pernafasan atau di dalam tenggorokan. Cara penularannya bisa lewat udara, ludah, kontak kulit, dan dapat juga lewat kotoran manusia. Virus ini sangat berbahaya bila menyerang ibu hamil karena bisa mengakibatkan keguguran. Kalau tidak keguguran maka anak yang dilahirkan bisa terkena penyakit katarak, tuli, hidrosefalus, microsefalus, hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, para - paru, dan limpa). Bisa juga menyebabkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata dan beberapa jenis penyakit lainnya. Serangan Rubella pada anak - anak biasanya menyebabkan panas badan dan sakit di persendian tubuh. Kemudian tampak bercak - bercak merah yang berdiameter sekitar 2-3 mm. Juga terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di belakang telinga atau di bawah leher. Mula - mula bercak - bercak merah menyerang wajah, kemudian menjalar ke seluruh tubuh secara merata. Gejala pada ibu sama dengan gejala yang ada pada anak. Bercak - bercak ini seperti campak, makanya di Jerman Rubella sering disebut German Measless (Campak Jerman). Pengaruhnya secara langsung kepada janin adalah keguguran spontan yang bisa mencapai 50%. Sel yang belum mtang lebih mudah terinfeksi virus Rubella. Hal ini disebabkan antigen yang dibuat janin baru berfungsi setelah kelahirannya. Ini berarti antigen harus menunggu sampai jangka waktu tertentu. Karena itu, virus mudah terinfeksi pada kehamilan 3 bulan pertama. Akibatnya yang nampak, kecenderungan resiko pada bayi keguguran mencapai angka 50%. Biasanya selain menyebabkan abortus spontan, juga menyebabkan pertumbuhan tengkorak kecil dan penyakit lainnya. Makin tua kehamilan (terutama setelah 20 minggu) kelainan pada bayinya lebih sedikit. Pengobatan virus Rubella terbilang sulit. Sampai sekarang medis belum menemukan obatnya. Biasanya yang dapat dicapai adalah menghilangkan keluhan pasien seperti demam atau rasa nyeri. Dibandingkan dengan pemeriksaan bakteri, pemeriksaan virus Rubella lebih sulit. Cara yang agak mudah mendeteksi dengan teknik Fluorescent. Pemeriksaan terhadap penderita infeksi Rubella dilakukan dengan cara tes darah serologi antigen Rubella. Ada beberapa dokter yang menangani ibu hamil terinfeksi Rubella biasanya diberi dua pilihan meneruskan kehamilan dengan risiko tertentu atau terminasi (aborsi). Begitu sulitnya mendeteksi dan mengobati virus Rubella, kadang dokter medis menganjurkan seorang wanita yang merencanakan kehamilan untuk memeriksakan darah. Bagi wanita yang terkena virus Rubella biasanya lebih kebal terhadap virus ini. Setelah vaksin diberikan dianjurkan untuk tidak hamil selama 3 bulan sejak menerima vaksin. Namun sekarang ibu hamil yang terkena Rubella tidak perlu khawatir, karena meskipun secara medis belum mampu mengobati, namun dengan adanya pengobatan Spesialis TORCH oleh bapak Ir. H. Anda Juanda, Insya Allah virus Rubella tersebut bisa disembuhkan. Banyak kasus yang telah ditangani, misalnya seorang ibu meskipun sudah

pernah mengalami keguguran 4 kali ke atas, namun dengan secara rutin pasien meminum formula obat herbal Aquatreat Therapy, maka virus Rubella yang selama ini menjadikan banyak orang menderita (khususnya ibu hamil) Insya Allah bisa dihindari. Sehingga keinginan para ibu yang ingin segera mendapatkan anak pun bisa tercapai. Infeksi virus Rubella merupakan penyakit infeksi ringan pada anak dan dewasa muda, tetapi memberi nuansa istimewa seandainya infeksinya mengenai ibu hamil, di mana virus dapat menembus barier plasenta dan langsung patogenik terhadap janin yang dikandungnya. Dampak kelainan kongenital setelah kelahiran terutama dapat berupa katarak mata, kelainan jantung, tuli, diabetes, dan paru - paru. Biasanya anak lahir dengan berat badan rendah, trombositopenia, purpura, mikrofthalmi, glaukoma, kornea yang keruh, rettinopati pigmentosa, tuli dan gambaran radiolusen pada tulang. Virus dapat diekspresikan melalui urin maupun pernafasan sampai selama 2 tahun, tetapi sebagian menetap dalam tubuh bayi yang membentuk respons imunitas kuat. Dilaporkan pula bahwa virus Rubella persisten pada bayi dan anak, dapat menyebabkan kelainan endokrin, misalnya terjadinya hipo. Rubella dapat ditularkan melalui kontak perpafasan dan memiliki masa inkubasi antara 23 minggu. Penderita dapat menularkan penyakit ini selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya rash (bercak - bercak merah) pada kulit. Rash pada Rubella berwarna merah jambu, mengjilang dalam waktu 2-3 hari dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi.

Rubella yang sering disebut orang dengan Campak Jerman merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Rubella dapat menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Bisa menyerang orang tua, remaja, anak - anak, bahkan bayi sekalipun. Sebenarnya Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg dari Eropa sejak tahun 1941, namun baru dapat disosialisasikan pada tahun 1962. Walaupun penderita Rubella tidak menampakkan gejala klinis 14-21 hari, namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia. Penyakit ini biasanya menyerang pada bagian saluran pernafasan atau di dalam tenggorokan. Cara penularannya bisa lewat udara, ludah, kontak kulit, dan dapat juga lewat kotoran manusia. Virus ini sangat berbahaya bila menyerang ibu hamil karena bisa mengakibatkan keguguran. Kalau tidak keguguran maka anak yang dilahirkan bisa terkena penyakit katarak, tuli, hidrosefalus, microsefalus, hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, para - paru, dan limpa). Bisa juga menyebabkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata dan beberapa jenis penyakit lainnya. Serangan Rubella pada anak - anak biasanya menyebabkan panas badan dan sakit di persendian tubuh. Kemudian tampak bercak - bercak merah yang berdiameter sekitar 2-3 mm. Juga terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di belakang telinga atau di bawah leher. Mula - mula bercak - bercak merah menyerang wajah, kemudian menjalar ke seluruh tubuh secara merata. Gejala pada ibu sama dengan gejala yang ada pada anak. Bercak - bercak ini seperti campak, makanya di Jerman Rubella sering disebut German

Measless (Campak Jerman). Pengaruhnya secara langsung kepada janin adalah keguguran spontan yang bisa mencapai 50%. Sel yang belum mtang lebih mudah terinfeksi virus Rubella. Hal ini disebabkan antigen yang dibuat janin baru berfungsi setelah kelahirannya. Ini berarti antigen harus menunggu sampai jangka waktu tertentu. Karena itu, virus mudah terinfeksi pada kehamilan 3 bulan pertama. Akibatnya yang nampak, kecenderungan resiko pada bayi keguguran mencapai angka 50%. Biasanya selain menyebabkan abortus spontan, juga menyebabkan pertumbuhan tengkorak kecil dan penyakit lainnya. Makin tua kehamilan (terutama setelah 20 minggu) kelainan pada bayinya lebih sedikit. Pengobatan virus Rubella terbilang sulit. Sampai sekarang medis belum menemukan obatnya. Biasanya yang dapat dicapai adalah menghilangkan keluhan pasien seperti demam atau rasa nyeri. Dibandingkan dengan pemeriksaan bakteri, pemeriksaan virus Rubella lebih sulit. Cara yang agak mudah mendeteksi dengan teknik Fluorescent. Pemeriksaan terhadap penderita infeksi Rubella dilakukan dengan cara tes darah serologi antigen Rubella. Ada beberapa dokter yang menangani ibu hamil terinfeksi Rubella biasanya diberi dua pilihan meneruskan kehamilan dengan risiko tertentu atau terminasi (aborsi). Begitu sulitnya mendeteksi dan mengobati virus Rubella, kadang dokter medis menganjurkan seorang wanita yang merencanakan kehamilan untuk memeriksakan darah. Bagi wanita yang terkena virus Rubella biasanya lebih kebal terhadap virus ini. Setelah vaksin diberikan dianjurkan untuk tidak hamil selama 3 bulan sejak menerima vaksin. Namun sekarang ibu hamil yang terkena Rubella tidak perlu khawatir, karena meskipun secara medis belum mampu mengobati, namun dengan adanya pengobatan Spesialis TORCH oleh bapak Ir. H. Anda Juanda, Insya Allah virus Rubella tersebut bisa disembuhkan. Banyak kasus yang telah ditangani, misalnya seorang ibu meskipun sudah pernah mengalami keguguran 4 kali ke atas, namun dengan secara rutin pasien meminum formula obat herbal Aquatreat Therapy, maka virus Rubella yang selama ini menjadikan banyak orang menderita (khususnya ibu hamil) Insya Allah bisa dihindari. Sehingga keinginan para ibu yang ingin segera mendapatkan anak pun bisa tercapai. Infeksi virus Rubella merupakan penyakit infeksi ringan pada anak dan dewasa muda, tetapi memberi nuansa istimewa seandainya infeksinya mengenai ibu hamil, di mana virus dapat menembus barier plasenta dan langsung patogenik terhadap janin yang dikandungnya. Dampak kelainan kongenital setelah kelahiran terutama dapat berupa katarak mata, kelainan jantung, tuli, diabetes, dan paru - paru. Biasanya anak lahir dengan berat badan rendah, trombositopenia, purpura, mikrofthalmi, glaukoma, kornea yang keruh, rettinopati pigmentosa, tuli dan gambaran radiolusen pada tulang. Virus dapat diekspresikan melalui urin maupun pernafasan sampai selama 2 tahun, tetapi sebagian menetap dalam tubuh bayi yang membentuk respons imunitas kuat. Dilaporkan pula bahwa virus Rubella persisten pada bayi dan anak, dapat menyebabkan kelainan endokrin, misalnya terjadinya hipo. Rubella dapat ditularkan melalui kontak perpafasan dan memiliki masa inkubasi antara 23 minggu. Penderita dapat menularkan penyakit ini selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya rash (bercak - bercak merah) pada kulit. Rash pada Rubella berwarna merah jambu, mengjilang dalam waktu 2-3 hari dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi.

Klasifikasi Virus Berdasarkan Fisikokimia Asam Nuklea t DNA Simetri kapsid dan amplop Icosahedral,tida k Beramplop Sensitivita s terhadap eter Resisten Famili Virus Diamete r partikel (nm) 18 – 26 45 – 55 70 – 90 100 – 150 Contoh Virus

Parvovirus Papovavirus Adenovirus

Adenoassociated virus Papilloma virus Adenovirus Virus Herpes simplek, Varicella-zoster, cytomegalovirus , Smallpox (variola), vaccinia virus, molluseum contagiosum virus Enterovirus, rhinovirus Reovirus, Orbivirus Virus Rubella California Arbovirus, Bunyamwera Arbovirus Coronavirus

DNA

Icosahedral, beramplop

Sensitif

Herpesvirus

DNA

Kompleks

Bervariasi

Poxvirus

230 – 300

RNA

Icosahedral, tidak beramplop

Resisten

Picornavirus Reovirus

20 – 30 60 – 80 40 – 70 90 – 100

RNA RNA

Icosahedral, beramplop Heliks, tidak beramplop

Sensitif Sensitif

Togavirus Bunyavirus

Coronavirus

100

Orthomyxviru s Paramyxoviru s Retrovirus Rhadbovirus RNA Heliks, beramplop Sensitif Arenavirus

80 – 120 100 – 200 100 – 200 70 – 170 50 – 300

Virus Influenza A dan B Parainfluenza Animal tumor virus Virus Rabies Lyphocytic choriomeningitis virus

c. Famili : Togaviridae Sifat penting : RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal, replikasi RNA melalui pembentukan RNA komplementer, yang bertindak sebagai cetakan RNA genom. Virion : berselubung, nukleokapsid ikosahedral, tersusun atas 3-4 jenis protein utama. Protein selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 60-70 nm. Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran sel. Spektrum hospes luas. Contoh : virus Chikungunya, virus rubella

Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita 8. May 30

Virus Hepatitis
Virus Hepatitis Virus hepatitis adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi pada organ hati. Samapai saat ini telah dikenal 5 virus hepatitis, yaitu Virus Hepatitis A (HAV), Virus Hepatitis B (HBV), Virus Hepatitis C (HCV), Virus Hepatitis D (HDV), Virus Hepatitis E (HEV). Hepatitis akut merupakan infeksi sistemik yang terutama mengenai hati dan bersifat akut. Setelah paparan pada virus, terjadi masa inkubasi. Gejala awal adalah demam yang bervariasi tergantung dari virus penyebab, malaise, anoreksia, nausea, dan nyeri pada sendi, otot serta kepala. Urin berwarna terdapat 1-5 hari sebelum terjadi fase ikterus. Dengan timbulnya ikterus, gejala awal biasanya menurun, tetapi pada beberapa pasien terjadi penurunan berat badan. Gejala lainnya adalah adanya rasa gatal, hati membesar dan terdapat nyeri tekan, limpa membesar disertai adenopati pada kelenjar leher. Kelainan biokimiawi yang ditemui adalah peninggian serum bilirubin dan enzim alanineeminotransferase dan aspartateaminotransferase. Diagnosis hepatitis anikterik

sukar dilakukan karena didasarkan atas gambaran klinis dan peninggian enzim amino transferase, meskipun adakalanya kadar bilirubin meninggi. Pengukuran waktu protrombin sangat penting pada hepatitis akut pleh virus, karena perpanjangan waktu ini dapat menunjukkan adanya kerusakan hati yang ekstensif serta mengisyaratkan prognosis yang buruk. Lesi morfologik terdiri dari infiltrasi panlobular dengan sel mononuklear, nekrosis sel hati, hyperplasia sel Kupfer dan berbagai derajat kolestasis. Terdapat juga regenerasi sela hati yang terlihat dengan adanya berbagai gambaran mitosis, sel multinuklear dan pembentukkan rosette. Infiltrasi mononuklear terdiri terutama dari sel limfosit kecil, meskipun sel plasma dan eosinofil kadang terlihat. kerusakan sel hati terdiri dari degenerasi dan nekrosis sel hati, menggembungnya sel, menghilangnya sel dang degenerasi asidofilik dari hepatosit. Lesi hepatologik yang berat yang disebut bridging hepatic necrosis atau subacute/confluent necrosis kadang ditemukan pada beberapa pasien, hati masih membesar, begitu pula masih ditemui kelainan biokimiawi. Penyembuhan secara klinik dan biokimiawi diharapkan dalam 1-2 bulan pada kasus HAV dan HEV serta 3-4 bulan pada HBV dan HCV. Hepatitis fulminan adalah suatu keadaan dengan gejala dan tanda ensefalopati hepatic pada pasien hepatitis akut, keadaan sering berlanjut menjadi koma.Gejala awal berupa gangguan tidur, mimpi buruk, dan perubahan kepribadiaan. Perkembangan ke arah ensefalopati terlihat dari adanya gangguan kesadaran yang mula-mula ringan sampai akhirnya koma. Secara histologis ditemukan nekrosis massif dan hilangnya sel hati pada lobules disertai kolaps ekstensif dan kondensasi jaringan retikulin. Kelainan yang ditemui adalah: - mengecilnya ukuran hati secara mendadak - demam tinggi - gangguan kesadaran

- kenaikkan serum bilirubin yang tajam - pemanjangan waktu protrombin - kenaikkan aminotransferase secara tajam yang kemudian diikuti penurunan Sebagian pasien dengan hepatitis akut, akan berkembang menjadi kronik. Ada 3 hepatitis kronik, yaitu hepatitis kronik aktif, persisten, dan lobular yang perbedaannya dilakukan dengan biopsi hati. Hepatitis kronik aktif ditemukan nekrosis hati yang berlangsung terus menerus, peradangan aktif dan fibrosis yang mungkin menuju atau disertai gagal hati, sirosis, dan kematian. Pemeriksaan biokimiawi menunjukkan kenaikkan dan fluktuasi

aminotransferase, sedangkan bilirubin sedikit meninggi pada kasus yang berat.Waktu protrombin sering memanjang pada fase akhir. Umumnya ditemukan antibodi nonspesifik yang beredar dalam darah seperti antibodi terhadap mitokondria, otot polos, dan lain-lain. Sirosis adalah istilah patologik yang ada hubungannya dengan spektrum manifestasi klinik yang khas. Gambaran patoogik yang utama adalah kerusakan kronik parenkim hati dan terdiri dari fibrosis ekstensif yang berkaitan dengan pembentukkan nodul regeneratif. Hilangnya fungsi hati dapat menyebabkan keadaan ikterik, edema, koagulopati, berbagai kelainan metabolik, fibrosis dan gangguan sistem vaskuler yang menyebabkan hipertensi portal dan gejala sisanya yaitu varises gastroesofagus dan splenimegali. Asites dan ensefalopati hepatik merupakan akibat dari insufisiensi hepatoseluler dan hipertensi portal. Karsinoma hepatoseluler adlah kanker primer pada sel hati. Sering tidak terdeteksi secara dini pada pasien yang menderita sirosis. Adanya pembesaran hati disertai nyeri tekan yang ringan pada perut merupakan keluhan utama. Pemeriksaan laboratorik biasanya menunjukkan adanya anemia dan peningkatan kadar fosfatase alkali. Diagnosis dilakukan dengan ultrasonografi atau CT scan yang memperlihatkan lesi dengan kepadatan berbeda dari jaringan hati normal dan pemeriksaan biopsi hati.

1. Virus Hepatitis A (HAV) HAV dapat menimbulkan penyakit hepatitis akut dan jarang sekali hepatitis fulminan. Masa inkubasi pendek sekitar 15-40 hari. Virus masuk ke dalam tubuh terutama melalui oral karena virus banyak ditemukan dalam tinja. Cara penularan melalui fekal-oral. Deteksi infeksi HAV pada pasien dilakukan dengan: Menemukan virus dalam tinja dengan mikroskop electron Menemukan IgM anti HAV dalam darah Saat ini sedang dikembangkan pembuatan vaksin terhadap HAV, salah satu diantaranya telah disetujui untuk digunakan. 2. Virus Hepatitis B (HBV) HBV dapat menimbulkan penyakit hepatitis akut/kronik, fulminan, sirosis, dan kanker hati. Masa inkubasi lama antara 50-180 hari. Virus masuk melalui darah. HBV dapat ditemukan dalam darah, saliva, urine, cairan semen, monosit, leuksosit, sumsum tulang dan pankreas, dan jumlah terbanyak terdapat dalam darah. Kelompok orang yang beresiko tinggi terinfeksi adalah tenaga medis dan dokter gigi, pasien dengan hemodialisis, pemakai obat intravena, homseksual, pengelana internasional, pekerja pad institusi untuk yang mentalnya terbelakang, dan bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi HBV. Deteksi HBV dilakukan dengan: ï Menemukan virus dalam darah dengan mikroskop electron ï Menemukan pertanda serologi ï Menemukan HBV DNA dengan hibridsasi atau PCR ï Menemukan pertanda infeksi HBV pada jaringan biopsi hati

Untuk pencegahan telah beredar berbagai macam vaksin, baik yang mengandung HBsAg atau yang dibuat dengan teknik DNA rekombinan. Ada yang hanya berisi HBsAg dan ada juga yang mengandung protein. 3. Virus Hepatitis C (HCV) Merupakan penyebab utama hepatitis non A non B (NANB) pasca transfuse. Masa inkubasi umumnya berkisar antara 6-12 minggu. Infeksi kaut umumnya lebih ringan daripada hepatitis B dan sevagian besar tidak terjadi ikterik.Gambaran khas adalah peningkatan SGPT yang berfluktuasi (polifasik), meskipun pada sebagian kecil peningkatan SGPT bersifat resisten atau monofasik. Infeksi yang persisten merupakan cirri khas infeksi HCV; diduga 50% kasus infeksi HCV pasca transfuse menjadi hepatitis kronik yang ditandai dengan adanya peningkatan SGPT yang berfluktuasi atau menetap lebih dari 1 tahun setelah serangan akut. Infeksi kronik umumnya bersifat progresif, karena pada pemeriksaan biopsi hati ditemukan gambara histologis berupa hepatitis kronik aktif maupun sirosis. Infeksi HCV dapat juga menimbulkan karsinoma sel hati. Mekanisme karsinoma oleh HCV belum diketahui pasti tetapi diduga berkaitan infeksi HCV persisten yang menyebabkan kerusakan hati kronis dan nekrosis yang diikuti regenerasi sel hati secara terus menerus. Meningkatnya jumlah sel hati memperbesar terjadinya mutasi yang dapat menyebabkan sel mengalami transformasi menuju ke arah keganasan. 4. Virus Hepatitis D (HDV) Hepatitis karena delta virus umumnya bentuk akut, kronik aktif dan sirosis. Kadang-kadang dapat menyebabkan bentuk fulminan. Infeksi HDV kronik lebih banyak menimbulkan sirosis daripada HBV. Secara epidemiologik, infeksi HDV banyak ditemukan di daerah Timur jauh dan Laut Tengah. Deteksi infeksi HDV dilakukan dengan:

Menemukan penanda serologik Adanya RNA HDV pada serum 5. Virus Hepatitis E (HEV) Masa inkubasi antara 2 sampai 9 minggu. Merupakan penyakit yang self limiting seperti infeksi HAV. Belum ditemukan bentuk penyakit hati kronis atau viremia persisten. Menimbulkan banyak kematian pada wanita hamil. Terbanyak ditemukan pada usia 15-40 tahun. Diduga ada kasus subklinis pada usia yang lebih muda. Wabah terjadi pada negara berkembang terutama India. Kasus sporadic terdapat pada daerah endemik. Penularan melalui air minum dan lingkungan yang terkontaminasi tinja. Puncak epidemic terjadi kira-kira 6 minggu setelah paparan primer. Kematian tinggipada wanita hamil yang terinfeksi. Diposkan 30th May 2012 oleh Helen Sonita 9. May 30

VIRUS INFLUENZA
Flu sebenarnya merupakan sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan virus. Ada tiga
kelompok Virus influenza, yang dapat menyebabkan gejala Flu, yaitu: 1. Virus Influenza A 2. Virus Influenza B 3. Virus Influenza non A non B Gejala flu itu sendiri sangat bervariasi, dari mulai yang ringan sampai yang berat. Yang ringan seperti pilek dan batuk. Sementara itu, yang berat seperti demam tinggi, sesak napas, sampai radang paru-paru. Gejala flu yang muncul pada masing-masing orang tergantung pada daya tahan dan respons tubuhnya. Bila daya tahan tubuh penderita baik, gejala yang timbul akan ringan-ringan saja, seperti: Pegal-pegal, pusing, itupun paling tidak hanya bertahan

satu-dua hari saja. Namun, bila orang tersebut menderita penyakit radang paru menahun, kurang gizi dan kurang istirahat, gejala flu yang timbul bisa lebih berat, sampai timbul kesulitan bernafas. Pada umumnya, virus influenza masuk ke tubuh manusia melalui saluran napas. Virus itu masuk melalui udara yang berisi droplets, yang kita hirup saat kita bernapas. Virus akan menyerang saluran napas atas sampai saluran napas bawah. Saluran napas atas mulai dari hidung sampai pita suara, sedangkan saluran napas bawah mulai dari pita suara sampai paru-paru. Karena Flu termasuk dalam penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya, sebab virus dapat diatasi oleh daya tahan tubuh kita sendiri, Virus influenza bisa dihilangkan total dari tubuh kita. Maka serangan virus yang menyebabkan flu akan hilang dengan sendirinya sekitar empat sampai tujuh hari kemudian. Penderita flu hanya perlu meningkatkan daya tahan tubuhnya. Bila suatu saat kita terkena lagi, biasanya karena virus tersebut berubah sifat, strain-nya berubah, sehingga tubuh kita tidak mengenali virus itu lagi. Jadi, kita bisa terkena infeksi berulang bukan karena virus yang ada di tubuh kita itu aktif lagi, tapi karena ada virus baru. Pada dasarnya, penderita flu tak perlu minum obat, apalagi minum obat antibiotika. Karena memang tidak ada antibiotika yang dapat mematikan virus. Obat-obatan yang diperlukan pun hanya sebatas obat simptomatis, seperti untuk menghilangkan batuk dan bersin. Namun, kita harus waspada jika gejala flu yang muncul sangat berat, seperti: 1. Demam lebih dari dua hari yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa 2. Demam sangat tinggi disertai menggigil yang hebat 3. Sesak napas 4. Gejala gangguan pencernaan 5. Diare 6. Muntah-muntah. Bila terdapat satu atau lebih dari gejala ini, maka sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Hal ini dikarenakan kemungkinan terjadi komplikasi dengan penyakit lain. Komplikasi penyakit lain ini biasanya: 1. Infeksi bakteri sekunder 2. Pneumonia 3. Infeksi otak (encephalitis) Selain yang menderita penyakit menahun dan kronis, yang perlu waspada juga adalah orang-orang yang memang berisiko tinggi terserang virus influenza. Mereka antara lain: 1. Bayi berusia enam sampai 23 bulan, termasuk pengawasnya (baby sitter) 2. Manula (65 tahun keatas) 3. Wanita hamil 4. Pekerja medis yang berhubungan dengan pasien langsung 5. Anak-anak 6 bulan sampai 18 tahun yang sedang menjalani terapi aspirin dalam waktu yang lama. Biasanya, orang-orang yang berisiko tinggi terserang virus influenza itu disarankan oleh dokter untuk menjalani vaksinasi setahun sekali. Vaksinasi ini memiliki tingkat keberhasilan menghalau flu sampai 70 persen. Tapi, tingkat keberhasilannya akan menurun jika daya tahan si penerima vaksin melemah. Yang perlu diingat, vaksinasi flu ini tidak dapat diberikan kepada orang-orang yang alergi terhadap telur. Saat ini juga ada vaksin flu nasal, yang berisi virus influenza yang telah dilemahkan untuk kepentingan vaksinasi. Cara pemakaiannya hanya disemprotkan ke dalam lubang

hidung. Vaksinasi Jenis ini dapat dimanfaatkan oleh anak berusia lima tahun sampai orang dewasa yang berusia 49 tahun. Jenis-Jenis Flu Bila dilihat dari jenis virus utamanya, flu sebenarnya hanya terbagi dua, yaitu: 1. Influenza A, yang disebabkan virus influenza A 2. Influenza B, yang disebabkan virus influenza B Karena sifat virus yang sangat mudah bermutasi, membuat jenis influenza juga menjadi banyak. Saat ini kitapun mengenal istilah flu burung, flu Hongkong, flu tulang, dan sebagainya. Itu karena virusnya memang berbeda-beda, baik jenis maupun strainnya. Strain itu artinya dari Jenis virus tertentu terbagi lagi menjadi beberapa jenis virus lain. Seperti flu Hongkong atau flu burung, itu disebabkan salah satu jenis virus influenza A, tapi strain-nya macam-macam, tipenya ada beberapa puluh. Misalnya golongan H atau haemoglobinase dan golongan N atau neoroaminidase. Flu burung di Hongkong dan yang saat ini menyerang dunia adalah dari subtipe H5N1. Jadi, tipe itu banyak dan gampang sekali berubah. Kalau kita sudah terkena tipe tertentu sekarang dan virus itu kemudian berubah, kita tidak kebal lagi terhadap tipe virus yang sudah berubah itu. Singkatnya, kita mungkin saja bisa kena lagi. Pada dasarnya semua virus memang memiliki sifat yang sama, yaitu menyerang pejamu dan suka melakukan replikasi, yang berbeda adalah virulensi (derajat infeksi). Bila virulensinya tinggi, virus tersebut mengakibatkan serangan yang berat. Dengan sifatnya yang seperti itu, virus yang tadinya tidak berbahaya dan hanya menyerang burung, misalnya, dapat menyerang dan menjadi berbahaya bagi manusia. Itu sebabnya akhir-akhir ini kita mengenal flu tulang (disebabkan virus parvovirus B19), yang merupakan hasil mutasi berbagai virus flu, antara lain adenovirus dan coxakyvirus. Gejala yang timbul demam tinggi sampai mengigil terutama malam hari seperti malaria, dan ketika menjelang pagi hari, tubuh akan terasa kaku dan ngilu pada setiap persendian. Ini adalah reaksi antibodi di dalam tubuh untuk melawan antigen virus. Begitupun rasa ngilu yang menyerang persendian. Biasanya, serangan ngilu itu muncul setelah gejala flu biasa telah reda dua sampai empat minggu. Kadang, pada penderita flu tulang juga muncul bercak-bercak merah pada mulut dan kulit, seperti pada penderita demam berdarah atau campak jerman (rubella). Hanya pemeriksaan darah di laboratorium yang dapat memastikan bercak merah itu karena flu tulang atau karena demam berdarah. Meski penderita flu tulang biasanya membaik setelah tiga minggu, ada baiknya jika Anda terserang gejala-gejala flu tulang segera memeriksakkan diri ke dokter. Pasalnya, selain dapat memicu timbulnya penyakit lain, pengobatan yang tidak sempurna justru akan membahayakan diri Anda. Flu tulang ini dapat menyerang siapa saja, tanpa kecuali. Namun, yang paling mudah terserang adalah mereka yang sudah lanjut usia. Karena, biasanya, kondisi tubuhnya sudah menurun dan sistem cairan sendinya tidak normal lagi. Selain flu tulang, di masyarakat juga sering dibicarakan atau sering dilontarkan istilah flu perut. Sebenarnya penyakit ini bukan disebabkan oleh virus flu, meski gejalanya memang seperti flu yang diiringi dengan rasa sakit di perut. Pada orang dewasa, gejalanya termasuk mual-mual, diare, rasa sakit di perut, dan agak demam.

Influenza DEFINISI Influenza (flu) adalah suatu infeksi virus yang menyebabkan demam, hidung meler, sakit kepala, batuk, tidak enak badan (malaise) dan peradangan pada selaput lendir hidung dan saluran pernafasan. PENYEBAB Virus influenza tipe A atau B. Virus ditularkan melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk atau bersin; atau melalui kontak langsung dengan sekresi (ludah, air liur, ingus) penderita. GEJALA Influenza berbeda dengan common cold. Gejalanya timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tibatiba.

Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4?Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala. Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak. Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu 6-8 minggu ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan.

KOMPLIKASI Influenza merupakan penyakit serius, tetapi sebagian besar penderita akan kembali sehat dalam waktu 7-10 hari. Komplikasi bisa memperberat penyakit ini. Resiko tinggi terjadinya komplikasi ditemukan pada penderita yang sangat muda, usia lanjut dan penderita penyakit jantung, paru-paru atau sistem saraf. Kadang influenza menyebabkan peradangan saluran pernafasan yang berat disertai dahak berdarah (bronkitis hemoragik). Komplikasi yang paling berat adalah pneumonia virus; yang bisa berkembang dengan segera dan menyebabkan kematian dalam waktu 48 jam. Pneumonia virus kemungkinan akan terjadi selama wabah influenza A. Komplikasi lainnya dalah pneumonia bakteri yang terjadi karena adanya ganguan dalam kemampuan paru-paru untuk melenyapkan atau mengendalikan bakteri di dalam saluran pernafasan. Meskipun sangat jarang terjadi, virus influenza jgua dihubungkan dengan peradangan otak (ensefalitis), jantung (miokarditis) atau otot (miositis). Ensefalitis bisa menyebabkan penderita tampak mengantuk, bingung atau bahkan jatuh dalam keadaan koma. Miokarditis bisa menyebabkan murmur jantung atau gagal jantung.

Sindroma Reye merupakan komplikasi serius dan bisa berakibat fatal, yang terjadi terutama pada anak-anak selama wabah influenza B. Sindroma Reye terutama terjadi jika anak-anak mendapatkan aspirin atau obat yang mengandung aspirin. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Beratnya penyakit dan adanya demam tinggi membedakan influenza dari common cold. Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pembiakan virus dari sekret penderita. PENGOBATAN Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan dan menghindari kelelahan. Tirah baring sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi, bisa diberikan asetaminofenn, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Kepada anak-anak tidak boleh diberikan aspirin karena resiko terjadinya sindroma Reye. Obat lainnya yang biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap. Jika segera diberikan pada infeksi influenza A yang belum mengalami komplikasi, obat rimantadin atau amantadin bisa membantu mengurangi lama dan beratnya demam serta gejala pernafasan. Ribavirin (dalam bentuk obat hirup atau tablet) mampu memperpendek lamanya demam dan mempengaruhi kemampuan virus untuk berkembangbiak, tetapi pemakaiannya masih bersifat eksperimental. Ribavirin bisa diberikan untuk meringankan gejala pneumonia virus. Infeksi bakteri sekunder diobati dengan antibiotik. Pneumonia bakteri karena pneumokokus, bisa dicegah dengan memberikan vaksin yang mengandung pneumokokus. Tetapi vaksin ini tidak diberikan kepada seseorang yang telah menderita influenza. PENCEGAHAN Seseorang yang pernah terkana virus influenza, akan membentuk antibodi yang melindunginya terhadap infeksi ulang oleh virus tertentu. Tetapi cara terbaik untuk mencegah terjadinya influenza adalah vaksinasi yang dilakukan setiap tahun. Vaksin influenza mengandung virus influenza yang tidak aktif (dimatikan) atau partikelpartikel virus. Suatu vaksin bisa bersifat monovalen (1 spesies) atau polivalen (biasanya 3 spesies). Suatu vaksin monovalen bisa diberikan dalam dosis tinggi untuk melawan suatu jenis virus yang baru, sedangkan suatu vaksin polivalen menambah pertahanan terhadap lebih dari satu jenis virus.

Amantadin atau rimantadin merupakan 2 obat anti-virus yang bisa melindungi terhadap influenza A saja. Obat ini digunakan selama wabah influenza A untuk melindungi orang-orang yang kontak dengan penderita dan orang yang memiliki resiko tinggi-yang belum menerima vaksinasi. Pemakaian obat bisa dihentikan dalam waktu 2-3 minggu setelah menjalani vaksinasi. Jika tidak dapat dilakukan vaksinasi, maka obat diberikan selama terjadi wabah, biasanya selama 6-8 minggu. Oba ini bisa menyebabkan gelisah, sulit tidur dan efek samping lainnya, terutama pada usia lanjut dan pada penderita kelainan otak atau ginjal.

. Influenza Penyebab influenza adalah virus orthomyxorius yang berbentuk seperti bola. virus influenzs ditularkan lewat udara dan masuk ke tubuh manusia melalui alat pernapasan. virus influeza pada umumnya menyerang pernapasan. terdapat tiga tipe serologi virus infuenza, yaitu tipe A, B, dan C. Tipe A dapat menginfeksi manusia dan hewan, sedangkan B dan C hanya menginfeksi manusia. Gejala infuenza adlah demam, sakit kepala, pegal linu otot, dan kehilangan nafsu makan. orang yang terserang biasanya akan sembuh dalam 3 sampai 7 hari. penanggulangan virus ini telah diusahakan oleh beberapa ahli dengan pembuatan vaksin. pendekatan terbatu adalah dengan pemakaian mutan virus hidup yang telah dilemahkan untuk mendorong agar respon kekebalan tubuh meningkat. Pencegahan terhadap penyakit influenza adalah dengan menjaga daya tahan tubuh dan menghindari kontak dengan penderita influenza.

Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament. Virus influenza adalah virus dengan genom asam ribo-nukleat (RNA) serat tunggal dan berpolaritas negatif yang terpisah dalam 8 dari Familia. Virus-virus dari keiuarga ini dikelompokkan menjadi klas A, B dan C berdasarkan, perbedaan antigenik protein nukleoprotein dan matriks protein. Semua Virus AI diklasifikasikan dalam tipe A. Pembagian sub-tipe lebih lanjut didasarkan pada struktur antigen dua glikoprotein permukaan virus, yaitu hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Sampai saat ini 16 macam HA dan 9 NA telah diidentifikasi pada virus influenza A. Derajat homologi dari susunan asam amino HA antar subtipe adalah kurang dari 70

persen. Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament. Dua protein yang menentukan patogenitas dan kekebalan suatu virus influenza, serta sangat mudah mengalami mutasi, yaitu HA dan NA, membentuk penjuluran khas di permukaan partikel virus dengan panjang sekitar 16 nm. Kedua protein ini adalah glikoprotein yang vital bagibiologi virus. HA berperan dalam memulai infeksi pada sel dengan menempel pada reseptor sialiloligosakarida pada permukaan sel. HA juga menginduksi antibodi penetral yang penting dalam pencegahan infeksi. Derajat kemudahan pemecahan protein ini dan tersedianya enzim protease yang sesuai menentukan virulensi Virus AI dan tropisme jaringan. Sedangkan NA adalah suatu enzim sialidase yang menghambat agrerasi virion dengan menghilangkan asam sialat sel. Antibodi terhadap NA juga berperan dalam perlindungan hewan terhadap infeksi berikutnya. Protein virus influenza lain tampaknya juga sangat berperan dalam patogenitas strain. Protein-protein tersebut adalah M1, M2, IMP, tiga enzim polymerase RNA kompleks (PB1, PB2, dan PA) dan IMS2. Protein IMS1 yang hanya terdapat pada sel terinfeksi dan tidak diintegrasikan dalam partikel virus yang berfungsi menekan fungsi interferon hewan/manusia. Fungsi ini juga vital dalam patogenesis virus. Dalam hal menginduksi kekebalan yang protektif, protein-protein ini tampaknya juga tidak dapat diabaikan. Jika protein permukaan, yaitu HA dan NA berperan sebagai antigen penetralisai dengan menginduksi kekebalan humoral yang mencegah penetrasi virus pada jaringan, protein yang lain berperan dalam menginduksi kekebalan berperantara sel. Protein yang banyak diulas dengan kapasitas seperti itu adalah nukleoprotein (NP) dan matriks (M1). Karena protein-protein ini secara genetik relatif stabil, maka, jika kekebalan humoral menginduksi kekebalan terhadap virus yang homolog, CMI protektif terhadap virus yang heterolog. Hal yang sama tampaknya berlaku untuk infeksi virus Al H5N. Struktur antigen virus influenza berubah secara bertahap oleh karena mutasi dan rekombinasi atau secara drastis karena reassortment. Mutasi terjadi karena enzim RNApolimerase virus tidak mempunyai kemampuan memperbaiki kesalahan. Sedangkan dari inang, cekaman imunologis pada HA dan NA dikatakan sebagai "motor"

penggerak terjadinya hanyutan antigenik. Kajian tentang HA pada strain virus influenza manusia H3 menunjukkan bahwa mutasi pada satu posisi saja dapat mengubah struktur glikoprotein tersebut yang menyebabkan terjadinya variasi antigenik yang signifikan. Mutasi ini merupakan proses yang berlangsung setiap saat. Tercatat perubahan antigenik yang signifikan pada stud: tentang virus H9N2 yang diisolasi setiap tahunsejak 1997 sampai 2003 dan H5N1 sejak tahun yang sama sampai 2004. Hanyutan antigenik dapat terjadi karena rekombinasi. Fenomena ini terjadi bila RNA virus influenza terpotong dan disisipipotongan RNAasing yang berasal dari sel. Meskipun peristiwa ini relatif jarang dilaporkan pada Virus AI, tetapi kecenderungannya meningkat akhir-akhir ini. Lompatan antigenik terjadi karena transmisi langsung virus non-manusia ke manusia atau reassortment genetik dari dua virus influenza yang berbeda setelah menginfeksi satu sel yang sama. Secara teoritis, 256 kombinasi RNA dapat terbentuk dari tukar-menukar 8 segmen genom virus. Reassortment genetik sudah sering dilaporkan di alam maupun laboratorium. Di samping itu, infeksi campuran sering terjadi di alam yang dapat menyebabkan terjadim reassortment genetik. Dalam model reassortment klasil yang dikembangkan 200 babi berperan sebagai wahana pencampuran. Basis model tersebut adalah spesifisitas strain terhadap reseptor pada permukaan sel Virus influenza avian dapat menginfeksi sel yang mempunyai reseptor berbeda dengan influenza manusia. Kedua macam reseptor ini terdapat pada trakeal babi. Jika dua virus influenza unggas dan manusia atau mamalia menginfeksi satu sel yang sama pada sel tersebut, maka progeni virus dapat merupakan kombinasi 8 segmen virus unggas dan 8 segmen virus manusia atau mamalia. Mekanisme lain yang memungkinkan virus influenza unggas dapat bereplikasi secara efisien pada manusia adalah adaptasi untuk berikatan dengan reseptor dalam tubuh babi. Dengan kata lain, Virus AI asal unggas berevolusi sedemikian rupa sehingga dapat mengenali reseptor mamalia. Fakta ini telah terbukti dengan meyakinkan dari studi tentang virus H5N1 dan H9N2 yang menyebabkan wabah di Hong Kong, masing-masing tahun 1997 dan 1999. Protein HA dari kedua virus tersebut dapat berikatan dengan reseptor unggas dan manusia. Di masa depan, teori spesifisitas reseptor untuk virus avian dan mamalia tampaknya akan mengalami pergeseran yang signifikan. Juga berhasil dibuktikan kedua reseptor tersebut terdapat pada sel-sel epitel pernafasan manusia.

Lokasinya memang berbeda. Reseptor a2,6 terdapat pada sel-sel yang tidak bercilia, sementara reseptor a2,3 terdapat pada sel-sel yang bercilia. Temuan ini akan dapat menjelaskan kemungkinan penularan langsung dari unggas kepada manusia tanpa hewan perantara. Dalam banyak kasus wabah, peran babi sering sulit ditelusuri. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa HPAI H5N1 merupakan produk reassortant virus-virus yang secara alarm bersirkulasi pada puyuh, angsa, dan itik liar dari Cina. Diduga reassortment terjadi pada burung puyuh di pasar burung atau pasar hewan hidup. Berbagai jenis hewan dan burung diletakkan dalam kandang-kandang saling berdekatan atau bahkan bercampur di tempat tersebut, sehingga peluang untuk saling tukar menukar virus influenza terjadi dengan mudah. Juga berhasil ditunjukkan perubahan molekul HA sudah menyebabkan adaptasi dan peningkatan kemampuan suatu virus H9 asal itik untuk menginfeksi burung puyuh. Dapat pula dibuktikan bahwa burung puyuh menyediakan lingkungan yang memungkinkan suatu virus asal mamatia, yaitu influenza babi H3N2, dapat mengalami reassortment dan menghasilkan vius influenza yang berpotensi menyebabkan pandemi. Fenomena reassortment telah dapat dibuktikan di alam. Contoh yang paling baru adalah perbandingan susunan RNA semua gen virus influenza Hong Kong-H5N1/1997 dengan dalam kandang yang berdekatan turut membantu kesinambungan virus influenza. Manajemen seperti itu memungkinkan sebagai tempat evolusi virus influenza yang cepat dan lestari. Hal ini telah dibuktikan pada kasus virus Al H5NI. Virus influenza dikeluarkan oleh unggas terinfeksi dalam jumlah yang besar bersama kotoran, leleran, dan udara pernafasan. Karena sifat-sifat virus yang labil dalam udara terbuka, penularan melalui udara pernafasan dapat terjadi melalui kontak yang sangat dekat. Penularan melalui kotoran dan leleran lebih besar peluangnya. Virus influenza dapat bertahan lebih lama dalam material organik seperti dalam kotoran, darah ayam, atau leleran dan dapat menulari manusia atau hewan lain secara langsung dari kandang maupun secara tidak langsung melalui pakaian, kendaraan, atau peralatan yang tercemar. Virus influenza dapat mencemari produk-produk hasil olahan unggas seperti daging, telur, dan pupuk kotoran ayam. Salah satu bukti kuat potensi ini adalah isolasi HPAI H5N1 dari daging itik asal Cina di Korea Selatan. Kerabang telur dapat mengandung virus influenza menular yang berasal dari kontaminasi kotoran.

Penyakit influenza disebabkan oleh virus influenza. Sebenarnya ada tiga macam virus influenza, yaitu virus influenza A, B, dan C. Namun, virus influenza yang menimbulkan penyakit pada manusia adalah virus influenza A dan B. Gejala penyakit yang ditimbulkan oleh virus influenza B biasanya lebih ringan. Virus influenza A selain menyerang manusia juga dapat menyerang binatang, di antaranya unggas dan babi. Pada binatang, virus influenza cepat sekali menular dan juga banyak menimbulkan kematian. Virus influenza A yang menyerang burung (flu burung) diberi nama influenza A H5N1, sementara yang menyerang babi adalah influenza A H1N1. Virus influenza A yang menyerang manusia ada beberapa macam, misalnya H3N2, tapi juga dapat H1N1. Virus influenza A H5N1 yang biasanya menyerang burung atau unggas lainnya juga dapat menular ke manusia. Jika manusia tertular, gejala penyakit dapat berat dan angka kematiannya tinggi. Sampai sekarang ini penularan H5N1(flu burung) dari manusia ke manusia belum terbukti. Kalau itu terjadi, akan terjadi penularan yang amat cepat dan kemungkinan angka kematian juga tinggi. Ketika perhatian dunia, termasuk kita, di Indonesia menyiapkan diri menghadapi pandemi H5N1 ternyata yang justru jadi pandemi adalah H1N1. Untungnya sifat H1N1 berbeda dengan H5N1. Memang H1N1 dapat menular dari manusia ke manusia bahkan penularan tersebut cepat terjadi, namun kematiannya jarang. Jadi Anda benar di Indonesia sekarang ada flu musiman (seasonal flu) yang disebabkan oleh influenza A dan B. Ada juga flu burung (H5N1) yang kasusnya masih sedikit (meski untuk tingkat dunia kita terbanyak). Dan H1N1 juga sudah masuk dan tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Pencegahan Pencegahan flu

prinsipnya adalah dengan menjaga kekebalan tubuh, menghindari kontak dengan orang (atau binatang) yang sedang flu dan vaksinasi. Penularan influenza pada umumnya melalui udara meski sekarang penularan melalui kontak langsung (misalnya tangan) dianggap semakin penting. Karena itu hindari kontak dengan orang yang sedang flu. Jika kita flu, hindari menularkan flu pada orang lain dengan menutup mulut dan hidung dan membuang tisue yang mengandung ingus atau ludah pada tempat yang aman sehingga tak terpapar pada orang lain. Cuci tangan merupakan salah satu cara yang baik untuk menghindari berbagai penyakit termasuk penyakit flu. Vaksinasi yang tersedia di Indonesia adalah untuk mencegah penularan flu musiman. Vaksinasi dianjurkan selain untuk kelompok usia lanjut juga untuk anak-anak (umur 6-23 bulan), orang yang mempunyai penyakit kronik (asma, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit gagal ginjal kronik), yang mempunyai kekebalan tubuh rendah (penderita infeksi HIV), serta petugas kesehatan. Vaksinasi influenza dilakukan setahun sekali. Memang penelitian kedokteran telah berhasil menemukan vaksin H5N1 dan H1N1. Vaksin H5N1 sementara ini masih disimpan dan akan digunakan jika terjadi pandemi. Sedangkan vaksin H1N1 telah mulai digunakan di beberapa negara, namun di Indonesia dianggap belum waktunya untuk digunakan. Pemerintah tetap memantau penularan influenza, baik influenza musiman, flu burung, maupun flu babi. Kegiatan tersebut berkesinambungan dan laporannya dikeluarkan secara berkala. Obat tamiflu cukup mahal dan jika penggunaannya tak dikendalikan dapat menimbulkan resistensi. Di Jepang misalnya yang penggunaan tamiflu cukup tinggi dilaporkan timbulnya resistensi. Jadi pemerintah berhati-hati dalam penggunaan tamiflu di masyarakat agar penggunaannya dapat terkendali.

k. Famili : Orthomyxoviridae Sifat penting : RNA : rantai tunggal, segmen berganda (7 untuk influenza C dan 8 untuk influenza A dan B), polaritas negatif. Replikasi RNA dimulai dengan sintesis mRNA dengan bantuan transkriptasa virion. Dengan bantuan protein produk mRNA, RNa komplementer dibuat dan dijadikan cetakan pembuatan RNA genom. Sifat segmentasi genom virus memudahkan terjadinya virus mutan.

Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas 7-9 protein utama. Bentuk pleomorfik. Selubung beraktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 90-120 nm. Pada filamentosa panjangnya mencapai beberapa mikrometer. Replikasi RNA di inti dan sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran plasma. Contoh : virus Influenza A,B, dan C

Virus influenza KLASIFIKASI VIRUS INFLUENZA Ordo (Orthomyxovirales) Familia (Orthomyxoviridae) Subfamilia (Orthomyxovirinae) Genus (Orthomyxovirus) Virus influenza digolongkan dalam kelompok virus RNA (Ribose Nucleic Acid) dan dibagi atas tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Virus dengan tipe A dan B bisa menyebabkan epidemik, khususnya saat musim salju di negara dengan empat musim. Sedangkan virus influenza tipe C hanya menyebabkan masalah pernafasan yang ringan, dan diduga bukan penyebab dari epidemik. Gejala klinis Gejalanya timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba. Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa

hari pertama sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4°Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala. Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak. Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu 6-8 minggu ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan. Penyebaran dan penularan Virus ini tersebar di antara sesama manusia lewat butir-butir percikan saat penderitanya batuk atau bersin. Di tempat orang berkerumun atau tertutup orang lebih mudah ketularan. Masa inkubasi dari penyakit ini sekitar satu hingga empat hari (rata-rata dua hari). Pada orang dewasa, sudah mulai terinfeksi sejak satu hari sebelum timbulnya gejala influenza hingga lima hari setelah mulainya penyakit ini. Sedangkan anak-anak dapat menyebarkan virus ini sampai lebih dari sepuluh hari. Pengobatan Umumnya penyakit yang diakibatkan oleh virus bisa sembuh sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah infeksi bakteri/kuman lainnya yang biasanya menyertai infeksi virus (komplikasi). Pengobatan influenza adalah dengan membiarkan tubuh penderita

membentuk antibodinya sendiri. Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan dan menghindari kelelahan. Istirahat sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Obat flu biasanya terdiri dari komponen untuk menurunkan panas (parasetamol, ibuprofen), mengurangi pilek atau hidung berair (efedrin, pseudo-efedrin, atau fenilpropanolamin [maksimal 15 mg/tablet], dan komponen obat batuk (dekstrometorfan atau noskapin). Namun, bila gejalanya hanya demam saja, tidak perlu mengonsumsi semua komponen. Pemberian obat itu akan meredakan gejala sekaligus mengurangi penderitaan pasien flu. Vitamin dan pengencer dahak tidak mutlak diperlukan dan perlu dinilai secara individual. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi, bisa diberikan asetaminofen, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Kepada anak-anak tidak boleh diberikan aspirin karena resiko terjadinya sindroma Reye. Obat lainnya yang biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap. Bila hanya pilek, pilih obat bebas yang mengandung komponen pilek saja; bila dicampur dengan komponen antihistamin (CTM, misalnya) masih diperbolehkan. Pemilihan obat kombinasi tergantung kecocokan individual. Jika segera diberikan pada infeksi influenza A yang belum mengalami komplikasi, obat rimantadin atau amantadin bisa membantu mengurangi lama dan beratnya demam serta gejala pernafasan. Ribavirin (dalam bentuk obat hirup atau tablet) mampu memperpendek lamanya demam dan mempengaruhi kemampuan virus untuk berkembangbiak, tetapi pemakaiannya masih bersifat eksperimental.