You are on page 1of 21

Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO, Bandung, 2012

TANTANGAN KESIAPAN SEKTOR KONSTRUKSI NASIONAL MENGHADAPI PEMBANGUNAN MASA DEPAN BERBASIS GREEN DEVELOPMENT
Sangkertadi
Akademisi, Arsitek, Greeenship Profesional

Abstrak
Melalui tulisan ini meskipun singkat berupaya secara komprehensip memaparkan berbagai definisi mengenai green development, serta menunjukkan latar belakang mengapa masyarakat dunia sepakat untuk menerapkan konsep green development sebagai suatu model bagi pembangunan sejak kini hingga masa-masa mendatang. Berbagai pemahaman mengenai Green Building, Green City, Green Industry, serta Green Economy juga diungkapkan secara praktis. Ditekankan bahwa sektor konstruksi memiliki peran kunci dalam penerapan Green Development ini karena sector konstruksi tetap eksis memenuhi siklus pembangunan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas manusia di muka bumi. Karena itu, sektor konstruksi adalah pemegang kunci utama bagi keberhasilan penerapan konsep Green Development.

Latar Belakang Green Development mulai marak diperbincangkan dunia sebagai suatu konsep pembangunan masa depan dalam menghadapi keberlanjutan kehidupan di muka bumi yang semakin kompleks disertai adanya indikasi penurunan kualitas lingkungan. Cikal bakal green development sebenarnya sudah dimulai dari dideklarasikannya istilah sustainable development pada tahun 1987, berasal dari laporan Brundtland Comission, yang mana arti sustainable development adalah: sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Hal mengenai perubahan iklim adalah akibat dari model pembangunan yang tidak berbasis pada keberlanjutan. Secara fikalis perubahan iklim terjadi karena peningkatan gas rumah kaca di atmosfir, dimana laju peningkatan gas rumah kaca tersebut berasal dari akibat lajunya proses pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Pada Tahun 1992 hampir 180 negara bertemu di KTT Bumi (Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan) di Rio de Janeiro untuk membahas bagaimana mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Pertemuan tersebut menyetujui yang namanya “Deklarasi Rio” tentang Lingkungan & Pembangunan yang menetapkan 27

1

Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO, Bandung, 2012 prinsip yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Juga disepakati rencana aksi, Agenda 21, & rekomendasi bahwa semua negara harus menghasilkan strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Berangkat dari situasi tersebut, maka masyarakat dunia sekali lagi berkumpul di Kyoto dan menghasilkan apa yang namanya “Kyoto Protocol”, yang pada dasarnya adalah komitmen dunia untuk bersama-sama menurunkan laju emisi gas rumah kaca. Salah satu bagian kesepakatan adalah perwujudan aksi “clean development mechanism”. Indonesia, melalui UU No 17 Tahun 2004, telah turut mengesahkan protocol Kyoto, yang dengan demikian, maka seyogyanya model pembangunan di Indonesia adalah yang berorientasi model “pembangunan bersih” yang mampu membantu mereduksi emisi gas rumah kaca. Pertanyaannya apakah segenap lapisan masyarakat Indonesia sudah menyadarinya dan apakah sudah sadar untuk turut berperan dalam proses pembangunan bersih sebagaimana amanat UU tersebut. Ada memang yang sudah melaksanakannya namun, masih diperlukan bentuk sosialisasi masal guna mencapai apa yang diamanatkan lewat UU tersebut. Selanjutnya sebagaimana dijelaskan dalam bagian penjelasan UU tersebut, bahwa “clean development mechanism” (mekanisme pembangunan bersih) merupakan bentuk investasi baru di Negara berkembang yang bertujuan mendorong Negara industri untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di Negara berkembang dan membantu negara berkembang untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Mekanisme Pembangunan Bersih mencakup tiga kategori implementasi yaitu "Clean Production" (Produksi Bersih), "Saving Energy" (Penghematan Energi) dan "Fuel Switching" (Pengalihan Bahan Bakar). Terhadap ketiga kategori tersebut, menuju pada bentuk realisasi berupa pengurangan produksi emisi gas rumah kaca dan/atau penyerapan karbon. Apa definisi Green Development ? Terminology Green mengandung makna keberlanjutan yang didasari pada tematema keramahan terhadap lingkungan, sedangkan terminology Development mengarah pada definisi “pembangunan” dalam pandangan yang luas. Pembangunan secara fisik jelas mengarah pada pembaharuan perwujudan fisik konstruksi dalam skala kewilayahan, apa itu negara, provinsi, kabupaten, kota atau kawasan bahkan sampai pada titik lokasi. Pembangunan dalam pandangan “mental” mengandung arti pengembangan pola pikir masyarakat. Sedangkan pembangunan dalam pandangan
2

kemudian pada tahun 2010 diperkirakan sudah sekitar 60% penduduk bumi menempati kawasan kota. Bandung. Namun demikian green development tidak akan berarti apa-apa tanpa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. Penyebab dari peningkatan yang cukup drastis ini adalah pembakaran bahan bakar fosil. oli pelumas) dan gas alam sejenis yang tidak dapat diperbaharui. Kegiatan penduduk di perkotaan yang berperilaku urban. 2012 ekonomi. Green development perlu dihargai sebagai basis dari segala bentuk penerapan pembangunan untuk menghadapi perkembangan kehidupan yang semakin kompleks di muka bumi ini. Akibat selanjutnya adalah peristiwa mengkhawatirkan seperti mencairnya gunung-gunung es di kutub. Dari berbagai sumber menunjukkan bahwa pada tahun 1900-an hanya sekitar 10% penduduk dunia hidup di kawasan perkotaan. telah menyebabkan emisi gas rumah kaca yang berakibat pada pemanasan global Efek pemanasan global telah menaikkan suhu rata-rata global sekitar 1. menurut dokumen IPCC (Intergovernmental Panel and Climate Change). 3 . sehingga muka air laut meningkat. Jadi Green Development dapat didefinisikan sebagai suatu model atau konsep pembangunan yang berbasis pada kaidah “green”. Definisi umum menjelaskan bahwa permanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata di atmosfer. Apa resiko bumi tanpa Green Development Strategy ? Sampai sejauh ini. Pembakaran dari bahan bakar fosil ini melepaskan karbondioksida dan gas gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer bumi. laut dan daratan di bumi. berbagai satwa mulai hilang sehingga ekosistem terganggu. seperti batu bara. dunia telah mencanangkan bahwa model pembangunan yang harus tetap diterapkan di masa depan adalah yang berbasis pada filosofi Green Development. jelas mengandung arti peningkatan kesejahteraan. Ketika atmosfir semakin banyak mengandung gas-gas rumah kaca ini. Betapa kota harus menerima beban untuk menghidupi penduduk dunia. Selama kurun waktu dari tahun 1861 sampai 2005 telah terjadi kenaikan suhu global rata-rata 0. minyak tanah.7 derajat celcius. maka atmosfir menjadi insulator yang menahan lebih banyak radiasi panas matahari yang dipancarkan ke bumi.4 – 5. avtur.8 derajat celcius pada tahun 2100 (menurut para spesialis).6-0. minyak bumi (yang diolah menjadi bensin. atau suatu mental atau pola pikir untuk mengembangkan masyarakat agar berperilaku menuju keberlanjutan. dan diperkirakan bahwa tahun 2050 sekitar 75% penduduk dunia tinggal di kota.

rumah tinggal dan bangunan utilitas atau bangunan industri. Bahkan penyakit malaria tetap mengancam kematian anak akibat terganggunya ekosistim. sehingga setiap upaya mereduksi emisi gas karbon melalui bangunan.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. Pemanasan global telah terjadi dan diperkirakan akan terus melaju meningkat. Upaya gerakan pembangunan berwawasan ”hijau” dan penghijauan ”nyata” sambil menghambat laju deforestasi serta gerakan lain untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi andalan dalam menghadapi bencana akibat pemanasan global tersebut. Tingginya suhu udara di pusat kota yang berbeda jauh dibandingkan dengan suhu udara di pinggiran kota. Para perencana bangunan. dimana klasifikasi bangunan dibagi menurut jenis bangunan komersial. berbagai dokumen dan hasil kajian mengungkapkan bahwa bangunan dapat memproduksi emisi gas karbon sampai lebih dari 40% di beberapa tempat di dunia. Harapan untuk menahan atau mengendalikan lebih banyak tergantung pada perilaku manusia penghuni bumi ini. kemudian sekitar 2. kenaikan suhu permukaan air laut sampai 27 derajat celcius. kenaikan suhu global sampai 1 derajat celcius akan menyebabkan 30 persen spesies mengalami resiko kepunahan. yang diantaranya memproduksi gas-gas rumah kaca seperti karbondioksida. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan berkurangnya jumlah vegetasi yang berfungsi sebagai penahan radiasi matahari sekaligus menyerap karbondioksida. dan metana. seyogyanya sudah memiliki kepekaan dalam menerapkan konsep atau ide desain bangunan yang berwawasan lingkungan dimana dalam hal ini adalah berorientasi pada konsep ”green building”. kendaraan bermotor dan lain-lain. Kecenderungan lainnya. 4 . CFC.2 juta anak resiko meninggal akibat polusi udara dalam ruangan. bahwa di negara berkembang (termasuk Indonesia) diperkirakan tahun 2050 sekitar 3. Bandung. dikatakan sebagai “urban heat island”. menimbulkan resiko naiknya suhu udara. Sebagai catatan penting. dipusat kota yang dipadati oleh bangunan-bangunan tinggi yang tidak menerapkan konsep arsitektur hijau. beresiko menimbulkan badai tropis. 2012 Sementara itu. arsitek. menjadi langkah strategis untuk menahan laju pemanasan global. Menurut dokumen OECD (2012). dikarenakan semakin banyaknya elemen penebar pantulan panas matahari serta adanya panas dari hasil produksi kehidupan seperti asap dapur.5 juta anak beresiko meninggal akibat polusi di ruang luar. dan bahkan saling berhimpitan.

00% ia us a in Gambar.00% R an rm Je ne do In Am C n pa Je -2. disiapkan dan disediakan berbagai kerangka rencana dan aksi pembangunan yang berbasis green development. Prosentase rata-rata peningkatan emisi gas karbon beberapa negara 1997-2005 (Sangkertadi.00% 6. Green City bahkan sampai pada Green Behavior serta Green Growth. maka negara – negara tersebut tetap mendorong laju peningkatan emisi gas rumah kaca. seperti yang kita kenal dengan istilah-istilah Green Building. 2010) Apa Saja Yang Termasuk Dalam Green Development ? Dalam rangka menghadapi masa depan yang harus berkelanjutan. karena akibat sebagai pertumbuhan ekonomi. Rata-rata Peningkatan Emisi Karbon Setiap Tahun (1997 . kini sudah ramai dibicarakan. Bandung.00% 4.00% 12. namun apabila negara berkembang tetap menerapkan model pembangunan konvensional (non green concept).00% 0.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO.00% 8. Green Economy. 2012 Meskipun saat ini kontribusi emisi gas rumah kaca dari negara berkembang.00% 2. Green Industry. ik er a at ri k Se g a si 5 .2005) 14. masih dibawah dari negara maju.1.00% 10. industry serta pemakaian sumber daya alam konvensional.

dicapai suatu kriteria desain dan konstruksi bangunan hijau kedalam sertifikasi jenis green yang ”silver”.33 2. kehadiran Green Building merupakan jawabannya. Bandung. Kehadiran Green Building ditengah tengah proses pembangunan.1 26 36.19 0.2 1. Prinsip penilaian mengandung 8 komponen yaitu: 6 .22 4. bahwa sector bangunan dapat menyumbangkan emisi gas rumah kaca sampai 40%.5 2 10 8 1 4. Green Building adalah konsep konstruksi bangunan yang menerapkan filosofi “green” dari sejak tahap perencanaan sampai operasionalnya.97 0.1. ”gold”. Sebagaimana dijelaskan di atas.73 5.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO.67 2.352 0. Konversi emisi CO2 dari beberapa kegiatan dan produk Produk / Kegiatan Listrik (interkoneksi dengan dominan PLTA) Elpiji (LPG) Bensin (kendaraan) Solar (kendaraan) Batubara Listrik PLTU (Batubara) Air Minyak Bakar Limbah Karton & Kertas Limbah Plastik Limbah Aluminium Foils Limbah Tekstil Sampah Taman Limbah dapur Aneka Limbah padat rumah tangga Pembuatan Batu Bata Tanah Liat Pembuatan Semen Pembuatan/ Pengolahan/ Pemotongan Besi Pembuatan Gypsum Pembuatan PVC Pembuatan Lembar Aluminium Pembuatan Kaca Pembuatan Stainless Steel Pupuk Fosfat Pestisida Daging Sapi/ Domba Pernafasan Manusia kerja santai Satuan kWh Liter Liter Liter kg kWh m3 liter kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg kg org/hari Kg ekivalen CO2 0. merupakan jawaban sektor konstruksi yang turut berperan mereduksi emisi gas rumah kaca.5 2.35 6. karena itu. atau ”platinum”.5 1.34 0. 2012 Tabel.4 2.4 4.3 3 1.4 Green Building.54 1.5 0. Melalui metode LEED (Leadership in Energy and Environmental Design).97 0. atau tidak green sama sekali. Di AS yang pertama kali menerbitkan metode LEED pada tahun 1994 yaitu suatu cara atau alat ukur (tool) untuk membantu menentukan apakah suatu bangunan tergolong berkategori green atau tidak.

pemeliharaan serta akibat produk limbahnya. bahwa bangunan hijau (green building) adalah bangnan baru yang direncanakan dan dilaksanakan atau bangunan sudah terbangun yang dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan/ekosistem dan memenuhi kinerja: 1) bijak guna lahan. air. bahwa suatu bangun arsitektur dikatakan 7 . 4) hemat bahan kurangi limbah. efisiensi energi. perangkat penilaian untuk sertifikasi bangunan hijau yang dinamakan ”Greenship”. mengurangi limbah. 5) kualitas udara dalam ruangan. 3) hemat energi. 2) hemat air. desain. dan 2) mengurangi dampak negative terhadap kesehatan. lingkungan melalui penataan tapak. Namun secara lebih teknis. 6) kualitas udara lingkungan dalam. baru diluncurkan tahun 2010 oleh Green Building Council Indonesia (didirikan 2009). 5) material dan sumber-sumber daya. 2010). 6) tata kelola lingkungan Adapun pengertian menurut India Green Building Council. 4) tentang energi dan lingkungan udara. Bandung. Di Indonesia. yang juga bagian dari World Green Building Council. 7) inovasi dan proses perancangan dan 8) keterkaitan dengan konteks prioritas pembangunan daerah. 2012 1) aspek lokasi dan perencanaan. operasional. secara praktis adalah bangunan yang: 1) meningkatkan efisiensi bangunan dan lahannya terhadap penggunaan enerji.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. 2) kesinambungan lingkungan tapak. Sepadan dengan pengertian menurut GBCI (Green Building Council Indonesia. mengkonservasi sumberdaya alam. konstruksi. 3) efisiensi pemakaian air.AS (1994). memberikan ruangan lebih sehat dibandingkan dengan bangunan konvensional. dan bahan. Secara umum definisi bangunan hijau menurut Office of the Federal Environmental Executive . bahwa bangunan hijau harus hemat air.

Negara-negara didunia telah menerbitkan berbagai perangkat ukur/ tools (Tabel. maka dalam tahap operasionalnya akan lebih menguntungkan secara finansial dan dari segi kenyamanannya yakni dampak dari penerapan kriteria efisiensi energy. Sehingga mesikupun tool sudah ada dihadapan para pelaksana konstruksi namun. yang semakin hemat energi listrik maka semakin baik kontribusinya untuk turut meredam peningkatan pemanasan global. baik ditinjau dari segi desain. 2012) sampai saat ini tercatat sebanyak 92 negara di dunia sudah mendeklarasikan adanya tool atau metode untuk menghasilkan tipologi Green Building.2) untuk menetapkan apakah suatu bangunan tergolong dalam tipe bangunan hijau.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. saat pelaksanaan konstruksi maupun saat beroperasi. masih diperlukan tindakan yang arif bagi pelaksana konstruksi untuk mencoba menterjemahkan tool tersebut agar dapat dipakai untuk tipologi konstruksi bangunan yang lebih meluas. indoor comfort. Diyakini bahwa suatu bangunan yang menerapkan konsep Green Building. dan menyumbangkan suatu nilai tertentu dalam proses kuantifikasi suatu bangunan agar termasuk dalam kualifikasi “bangunan hijau” dengan rating atau star tertentu. Sebagian besar dari tool tersebut sifatnya masih terbatas hanya untuk tipologi konstruksi bangunan tertentu. atau hanya untuk tipe gedung perkantoran. Ini berarti sudah hampir mayoritas negara di dunia menyatakan terlibat aktif dalam upaya bersama-sama menerapkan konsep green development melalui green building mechanism. Perosalannya. adalah apakah tool atau metode tersebut sudah diketahui dan sudah diterapkan secara masal dan terkendali baik?. dll. apakah hanya untuk tipe gedung bertingkat tinggi. Dalam dokumen WBGC (World Green Bulding Councils. Tindakan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap berbagai kesepakatan internasional mengenai perlindungan lingkungan hidup dan mekanisme pembangunan berkelanjutan. indoor health dalam proses perencanaan Green Building. Bandung. Pada saat beroperasinya bangunan. 8 . 2012 tergolong dalam klasifikasi arsitektur atau bangunan hijau secara “terukur” apabila memiliki kapasitas atau kinerja “terukur” yakni untuk meminimalkan produksi ekivalen CO2. indikator konsumsi energi listrik dalam satuan kWh dikonversikan kedalam produk kg CO2.

2. HQE HKBEAM VERDE SI-5281 Protocollo Itaca CMES BREEAM Netherlands LiderA Green Mark & CONQUAS Minergie Pearls Rating System EEWH BERDE GBI (Green Building Index) dll dll Indonesia Brasil Korea Selatan Cina Finlandia Perancis Hongkong Spanyol Israel Italia Meksiko Belanda Protugal Singapura Swiss Uni Emirat Arab Taiwan Philippines Malaysia Dll dll Sumber: Sangkertadi (2010) 9 . Bandung.. 2012 Tabel. Tools untuk merating Green Building No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Metode/ Tools Green Star LEED Canada & GRIHA DGNB Certification System IGBC Rating System & LEED India CASBEE Green Star NZ Green Star SA BREEAM LEED Green Building Rating System Negara Australia Canada Jerman India Jepang Selandia Baru Afrika Selatan Inggris Raya USA 10 11 12 13 14 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 ..Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO.. Greenship LEED Brasil/ AQUA GBS / Green Building System GB Evaluation standard for Green Building PromisE Care & Bio.. Chantier Carbone... .

Nyaman. karena diharapkan apabila di pakai untuk suatu produk pembangunan. mengklaim memproduksi hasil yang dinyatakan green. dan terjaganya Ekosistim. Demikian luasnya pemahaman industry di masa kontemporer ini. dll. telah diterapkan teknologi yang mampu mereduksi emisi karbon. pipa. maka hasilnya akan dapat dikategorikan green juga. Mereka mengklaim bahwa dalam proses produksinya. tersebar pada 7 sasaran sektor perkotaan untuk mencapai Kota yang Berkesinambungan. Green Transportation tentu saja suatu tatanan transportasi yang bercirikan penggunaan bahan bakar terbarukan. Industri Hijau ditujukan sebagai pengarah untuk memberi pertimbangan lingkungan. perlu mengungkapkan bahwa produknya adalah berkategori green. di San Fransisco. seperti aspek kesehatan dan keamanan. 'Industri Hijau' diantaranya mengubah proses industri manufaktur dan sub sektor industri lainnya dengan memperkenalkan metode penggunaan bahan baku agar lebih efisien / produktif dan agar sector industry dapat berkontribusi lebih efektif untuk pengembangan industri berkelanjutan. adalah juga dianggap bagian dari Green Industry. misalnya industri semen. Industri hijau dengan demikian merupakan sector strategis untuk mewujudkan Sejumlah ekonomi industry Hijau. Green City Pada Tahun 2005. baja. Adapun sasaran tersebut meliputi: 1) Energi 10 . sedemikian hingga hal mengenai transportasi. Para pelaku industry tersebut. iklim dan sosial ke dalam operasi perusahaan. partisi. dan hasil produknya dinyatakan aman ditinjau dari berbagai aspek. California saat World Environment Day. 2012 Green Industry Definisi sederhana oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization. dideklarasikan Green Cities: “Plan for the Planet “ dimana saat itu juga dirumuskan Urban Environmental Accord yang berupa rencana aksi (action plan) sebanyak 21 butir. ramah lngkungan. 2012). bahwa Industri Hijau adalah industri produksi dan industri pembangunan yang hadir dengan tidak mengorbankan kebersihan sistem alami atau tidak mengakibatkan kerugian bagi kesehatan manusia. dalam rangka menuju klasifikasi Green City.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. aman dan nyaman. Rumusan 21 tindakan (Actions) tersebut. sudah menuju tercapainya dirinya pembangunan berkelanjutan. Sehat. Bandung. yang mengarah pada “Green Transportation”. ramah lingkungan. efisiensi bahan bakar.

untuk sama-sama menerapkan actions menuju green city tersebut. Green Growth Sebuah dokumen dari OECD 2012. dampak social ekonomi dan potensi degradasi lingkungan adalah sangat penting bagi negara-negara berkembang. seperti penerapan aturan-aturan penataan ruang. sebagai suatu cara pandang terintegratif yang Green terhadap kebijakan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. perijinan bangunan. karena harus didukung oleh berbagai bentuk pengaturan lainnya. Melalui penerapan konsep Green City. Pertama. tidak dapat serta merta. Negara-negara berkembang adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan hijau skala dunia (global) karena dua alasan utama. kota bioklimatik. Negara berkembang dianggap yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan cenderung lebih tergantung dari negara maju pada eksploitasi sumber daya 11 . mengangkat definisi Green Growth. 2012 2) Pengurangan Limbah 3) Urban Desain 4) Perlindungan Alam Urban 5) Transportasi 6) Kesehatan Lingkungan 7) Manajemen Penggunaan Air Kesepakatannya bahwa pada periode 2005 hingga Tahun 2012 ini actions tersebut sudah dijalankan secara terukur oleh kota-kota di dunia. maka kota akan menjadi kota hidrologis. Bandung. dll. Berbagai pihak penghuni kota mesti bersama-sama diajak bicara. dan pengelolaan lingkungan yang lebih efisien yang diperlukan untuk mengatasi kelangkaan sumber daya dan perubahan iklim. karena hal tersebut sudah menyangkut harkat masyarakat banyak. diskusi. Konsep pertumbuhan hijau. Jadi Green Growth adalah suatu model pertumbuhan ekonomi yang terjadi berkat dukungan model pembangunan hijau dan berorientasi pada tujuan tercapainya pembangunan berkelanjutan. Namun kenyataanya justru sebagian besar negara-negara didunia baru memulai menerapkan kaidah menuju Green City melalui berbagai cara. Ternyata untuk menerapkan secara terukur terhadap actions tersebut. kota produktif. menyangkut dua kunci penekanan yang teritegrasi: pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. kota transit dan sebagai kota hunian yang nyaman dan sehat.

selain bahwa suatu ekonomi hijau merupakan ekonomi berbasis lokal. Sebagai tambahan banyak negara berkembang menghadapi ancaman ekonomi. Karena. Misalnya. pangan dan air untuk menghadapi perubahan iklim dan risiko cuaca yang ekstrim. bagaimanapun. konstruksi. Mencermati tulisan Sudomo S tersebut. bahwa Ilmu ekonomi hijau memperlebar lingkaran kepeduliannya melampaui spesies manusia demi memperhatikan sistem planet Bumi secara keseluruhan dengan semua ekologi dan spesies yang beragam. OECD mendefinisikan pertumbuhan hijau sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi sambil memastikan bahwa aset alam tetap mampu menyediakan sumber daya dan layanan lingkungan di mana kesejahteraan kita bergantung. yang definisinya sendiri sulit untuk dirumuskan secara spesifik. Green Economy Satu lagi yang sedang marak diperbincangkan adalah istilah Green Economy. ekonomi tidak berdiri sendiri.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. 2012 alam untuk pertumbuhan ekonomi. perdagangan. sosial dan ekologi yang parah dari ketidakamanan energi. Karena itu. Disampaikan oleh S Sudomo (2010) bahwa definisi ekonomi hijau juga tidak mudah diungkapkan secara spesifik. maka focus Green Growth di utamakan pada kelompok Negara Berkembang. Kini konsep pertumbuhan hijau telah muncul sebagai pendekatan baru untuk membingkai ulang model pertumbuhan ekonomi secara konvensional dan dapat dipakai untuk menilai ulang sejumlah keputusan investasi. dimana manusia terhubung lebih dekat dengan sumber pangannya. transportasi dll. maka semestinya terdapat mata rantai yang terpadu dalam satu kesatuan sistim “Green Development”. Selain itu juga diungkapkan oleh Sudomo S (2010) beberapa ciri ekonomi hijau yang antara lain bahwa ekonomi hijau akan menggantikan bahan bakar fosil dan sistem pertanian intensif dengan pertanian organik. namun meliputi sector-sektor industry. Bandung. dimana terdapat hubungan linier dan interaksi dimulai dari Green Behavior sampai pada Green Growth menuju tercapainya Sustainibility (Gambar 2) 12 . namun dapat dilihat dari ciri-cirinya dan pemahaman yang membedakannya dengan ekonomi konvensional. dan berbagai sistem seperti pertanian dengan dukungan komunitas. dan juga memperhatikan pemahaman greengreen yang lain.

2. 2012 Planet Sustainibility Green Growth Green Economy Green City Green Building Green Industry Green Behavior Gambar. Artinya suatu tindakan yang sebelumnya dianggap kreatif. namun apabila kita hendak bertindak lebih dari itu. Bahkan kreatifitas dan inovasi mungkin sudah dilaksanakan juga oleh sejumlah kalangan tersebut. Mata Rantai Green Development Tantangan Kesiapan Sektor Konstruksi Dalam masa kontemporer ini. efisiens dan inovatif belumlah cukup. Dalam sector konstruksi. maka siapapun yang ingin memenangkan suatu persaingan. dimana perihal efisiensi dan efektifitas dari suatu program kegiatan menjadi perhatian utama berkat kemajuan teknologi.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. maka tindakan berdasar kreatifitas dan inovasilah yang akan membantu mendudukkan kita pada posisi yang lebih “terhormat”. material dan finansial. hal teraktual yang kini juga menarik perhatian dunia. Bandung. Kini semua sektor sudah secara massif mendengungkan berbagai anjuran efisiensi dalam berbagai segi seperti energy. Karena masih harus diberi 13 . sendi-sendi efisiensi adalah bagian yang sudah lajim dan biasa dilakukan oleh para actor bidang konstruksi. Nah. tentu saja harus memiliki kapasitas sebagai kompetitor yang mengandalkan kreasi menarik serta inovatif. adalah yang dinamakan dengan “sustainaibility” atau “keberlanjutan”.

dan memberi peluang yang memadai bagi serapan air permukaan. desain tata ruang dalam yang mengutamakan aspek kenyamanan sirkulasi (hubungan ruang yang efektif). efisiensi energy. ruang hijau dengan KDH (Koefisien Dasar Hijau) yang minimal mengikuti aturan tata ruang wilayah. pemilihan tapak dengan prioritas untuk pemilihan lokasi bangunan hijau adalah yang terjangkau dengan sistim transportasi wilayah/kota. kenyamanan dan kesehatan dalam ruang. yaitu bahan yang diproduksi dengan teknologi hijau yang dibuktikan dengan suatu sertifikat tertentu (pemakaian bahan bangunan dapat 14 . desain taman. serta memberi lokasi bagi penanaman pohon peneduh untuk membantu penangkapan CO2. tidak menyebabkan kelelahan penghuni yang dapat berakibat peningkatan CO2 dari pernafasan. desain struktur dan material. d. Berikut ini diangkat suatu Best Practices peranan sektor konstruksi dalam keikutsertaan menuju Indonesia Hijau. Disini terkandung makna konstruksi hijau. yakni menggunakan bahan hasil produksi jenis ”industri hijau”. pada dasarnya mengandung sejumlah pemikiran yang sama. dll) b. 2010). Disinilah pentingnya peran sector konstruksi yang menjadi bagian dari masyarakat dunia. 2012 tambahan nilai-nilai “keberlanjutan” dalam rangka menyelamatkan dunia dari ancaman laju kerusakan yang mengkhawatirkan. Dari sejumlah tools atau metode untuk menilai green atau tidaknya suatu konstruksi bangunan. dan bebagai istilah yang sering kita dengar dalam berbagai forum mengenai pembangunan ramah lingkungan. tidak saja mengandalkan kapasitas dalam hal efisiensi kinerja dan inovasi. yang diantaranya ada suatu model kegiatan konstruksi yang “ramah lingkungan”. meliputi perhatian pada aspek pra konstruksi yang bahkan bisa pada aspek pasca konstruksi (Sangkertadi.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. tidak membutuhkan pengolahan site yang cukup berat. Bandung. dilengkapi dengan sarana dan prasarana kota. Best Practices Orientasi Green Building Pada Tahap Perencanaan (Pra Konstruksi) a. namun juga perlu melaksakan aktifitas berbasis pada nilai-nilai “keberlanjutan”. agar dapat menghemat pemakaian enerji transportasi (pergerakan kendaraan dari lokasi site ke tempat lain. efisiensi bahan. c. khususnya lewat penerapan konsep green building.

penerangan). diutamakan pemakaian bahan yang mendukung penghematan enerji operasional bangunan. penggunaan kembali limbah yang masih dapat dimanfaatkan dalam skala tertentu. b. Orientasi Green Building Pada Tahap Pelaksanaan Pembangunan (Konstruksi) a. dan jarak asal bahan dengan pemakaian BBM dari kendaraan pengangkut. termasuk penggantian lampu yang sudah mengalami penurunan efisiensinya. waktu dan keuangan b. terbuka peluang untuk pemeliharaan taman. bahan. bau. serta pemanfaatan kembali terhadap limbah tersebut. e.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. berorientasi green material d. 2012 menyumbangkan sampai sekitar 15 – 20% dari total enerji gedung dikarenakan ”embodied energy”). efisiensi pengangkutan material. serta sistim perpipaan yang tidak beresiko menimbulkan kemudahan kebocoran dan hambatan aliran fluida (hemat air). senantiasa diadakan pemeriksaan terhadap kejadian kebocoran pipa. desain utilitas berorientasi hemat enerji namun tidak mengorbankan kenyamanan dan keamanan (enerji listrik penghawaan. f. dll) c. misalnya bahan dengan nilai sifat termal tertentu yang mendukung OTTV (Overall Transfer Transmission Value) agar tidak lebih dari 45 watt/m2 (standar SNI) e. dan penghijauan kembali e. pipa gas. memenuhi saran perencanaan green building. terbuka peluang memantau pemakaian enerji listrik dan air (meter listrik dan air. jaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan (debu. terbuka peluang kemudahan penggantian material berusia tua dengan material baru yang memiliki nilai material hijau atau berasal dari industri hijau. diperhitungkan kapasitas angkut. panas) 15 . sisa limbah. pada posisi mudah dipantau) d. c. mengurangi proses pembakaran di lokasi pembangunan Orientasi Green Building Pada Tahap Operasional dan Pemeliharaan Bangunan a. penerapan sistim manajemen konstruksi untuk mendapatkan penghematanpenghematan dari segi enerji. efisiensi pemakaian air saat pelaksanaan konstruksi dan menerapkan minimum limbah bahan bangunan. seperti penggunaan material yang ramah lingkungan. Bandung. resiko kebakaran (arus pendek.

diperhitungkan kapasitas angkut. ---------------------------------. 2001. Mueller S. 2010. Sadourny R. Economi Hijau: Pendekatan Kultural. 2010. UK 2. 2005. bahan.2004. :Clean Energy”. 2010. June 1998. Referensi . NED Journal of Architecture and Planning. efisiensi pengangkutan material. MATERI PRESENTASI SEMINAR NASIONAL BIMBINGAN TEKNIS PELAKSANAAN PENATAAN RUANG SULAWESI UTARA. DTI. volume 10. 1. Naeem Irfan. Materi Diskusi “KONSEP EKONOMI HIJAU/PEMBANGUNAN EKONOMI YANG BERKELANJUTAN UNTUK INDONESIA”. Soedomo S.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. Seminar Nasional Teknologi Ramah Lingkungan Institut Teknologi Nasional – Malang – 15 Juli 2010 9. Juli 2010 16 . Peran Arsitektur Hijau dalam Mekanisme Pembangunan Bersih melalui upaya pengurangan emisi gass karbon.2. NY 11. Princeton Architectural Press. Sangkertadi. 6. Nadeemullah Khan. Vol. penerapan sistim manajemen konstruksi untuk mendapatkan penghematanpenghematan dari segi enerji. Architectural Science Review. 2012 Orientasi Green Building Pada Tahap Perobohan/Penggantian Bangunan a. pengolahan kembali tanah agar berfungsi sebagai areal serapan air permukaan dan lahan penghijauan c. 2001. Le Climat de La Terre. Dominos Flammarion.No. Fajardo J. 1994. Green Growth and Developing Countries. Menuju Green City 2012. Duran S. Manado. Jakarta. 7. dan Teknologi. 5. dan jarak asal bahan dengan pemakaian BBM dari kendaraan pengangkut ke lokasi pembuangan d. Collins Design. di Kantor BAPPENAS. NY 4. June 2012 3. Sustainable Construction. Sangkertadi. Brief 2.2012. A Summary for Policy Makers. Stang A. OECD. The Sourcebook of Contemporary Green Architecture. dalam FuturArc Green Issue 2008. Architects Commitment Regarding Energy Efficient/ Ecological Architecture. The Green House. terbuka peluang penggunaan kembali terhadap sisa bahan yang masih layak dipergunakan kembali dan tidak menimbulkan resiko keamanan dan kesehatan pemakai. waktu dan keuangan saat kegiatan perobohan dan desain kembali untuk fungsi tertentu b. Vol One. 2008. New Directions in Sustainable Architecture. 8. 22 September 2010 10. Nov. 41. Hawthorne C. Wittman S. Perlu Kontribusi Tata Ruang Terhadap Urban Environmental Accord. 2010. Bandung. Paris. Adnan Zahoor. Minimising The Urban Heat Island Effect Through Lanscaping. ---------------------------------.

Stitt F A (editor). Hakim R. 2009 Masdar City Center. and Planning. NY 13. 2010 Unilever Headquarters For Germany. Jakarta. And Switzerland. Sugandhy A. Interior Design. Bandung. Hamburg. Austria. Bumi Aksara. Mc Graw Hill. Ecological Design Handbook. 2010. Seville. Green Building Handbook. Vol 2. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. dll) SIEEB-SINO Building. 1999. 2006 Metropole. Kimmins S. 14. 2012 12. Sustainable Strategies for Architecture. 2007. E & FN Spon. Landscape Architecture. Abu Dhabi. 2014 17 . Parasol. Woolley T. UK LAMPIRAN : BEBERAPA CONTOH GAMBAR HASIL PEMBANGUNAN TIPE GREEN BUILDING DI DUNIA (sumber diantarnya dari Duran & Fajardo.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. Beijing.

2008 Kantor Kementerian PU. 2012 18 . Bandung. Indonesia.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. 2008 Bendigo Bank Headquarters. 2012 Az Vub University Hospital of Brussels Manchester Civil Justice Center. Victoria. Jakarta. Australia.

Oregon Curtiba. Bandung. 2012 Beberapa Contoh GREEN CITY : Vancouver Malmoe Rekjavik Portland .Brazil 19 .Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO.

Uganda 20 . 2012 Copenhagen San Fransisco-California London Bahía de Caráquez. Ecuador Sidney Australia Austin Texas Barcelona-Spain Kampala . Bandung.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO.

S2 (DEA. Pemegang setifikat anggota IAI – Madya. 1985).Sangkertadi. 1994).Ir. Methode de Conception en Batiment et Technique Urbaines.Dr. S3 (Doctorat. Manado. INSA de Lyon. dan Greesnship Profesional. DEA. INSA Lyon. 2012 Tentang Penulis Prof. 21 . Bandung. France. France. Genie Civil et Science de la Conception.Makalah Disampaikan Pada Musyawarah Nasional GAPEKSINDO. Ketua Program Studi Studi S2 Arsitektur pada Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi. adalah Arsitek (ITS. 1990).