You are on page 1of 18

MAKALAH UTILITAS

KESADAHAN TETAP

Disusun Oleh: Ridhani Rida Ramadhan (115061100111009) Febrika Larasati (115061101111001) Dwi C. Pujayanti (115061107111003) Intan Nuroniyah (115061113111001)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013

1. GAMBARAN UMUM KESADAHAN Kesadahan merupakan kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air dengan kesadahan rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air dengan kesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Kesadahan juga merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha untuk memanipulasi nilai pH. Kesadahan menggambarkan kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ serta ion logam polivalen lainnya. Kesadahan perairan berasal dari kontak antara air, tanah, dan bebatuan. Perairan yang memiliki kesadahan tinggi umumnya berada di wilayah dengan lapisan tanah atas tipis dan bantuan kapur yang relatif sedikit atau tidak ada sama sekali.

Gambar Penampang melintang tanah yang memperlihatkan proses terlarutnya kation penyusun kesadahan perairan (Sawyer dan McCarty, 1978) Kesadahan menggambarkan kandungan garam-garam alkalinitas tanah. Hal ini karena kation yang terdapat di perairan tawar sebagian besar terdiri dari garam-garam, berupa kalsium dan magnesium. Aktivitas bakteri dalam perairan juga dapat meningkatkan nilai kesadahan karena bakteri tersebut banyak mengeluarkan karbondioksida. Apabila pH dalam suatu perairan dikendalikan, terutama oleh sistem pem-buffer-an karbonat maka hubungan pH, kesadahan, dan CO2 terlarut akan merupakan hubungan yang tetap. Dengan demikian, salah satu dari parameter tersebut dapat diatur dengan mengatur parameter yang lain. Sebagai contoh, nilai pH dapat diatur dengan mengatur kesadahan atau kadar CO2. Suatu sistem CO2 injektor, misalnya, dapat digunakan untuk mengatur pH
1

dengan cara mengatur injeksi CO2 sedemikian rupa apabila nilai pH-nya mencapai nilai tertentu. Dalam hal ini, keasadahan dibuat tetap. CO2 digunakan oleh tanaman atau terdifusi ke atmosfer, akibatnya pH naik. Dengan sistem otomatis seperti di atas, sistem injeksi CO2 akan berjalan sedemikian rupa di sekitar nilai pH tertentu sehingga dapat menjaga CO2 pada kisaran yang memadai. Kesadahan biasanya dinyatakan dalam mg/l sebagai CaCO3. Klasifikasi kesadahan sebagai CaCO3 ditunjukkan dalam tabel berikut:

2. DAMPAK KESADAHAN AIR Kerugian yang ditimbulkan air sadah

Dalam penggunaan rumah tangga sebagai berikut : 1. Memasak, karena dapat menyebabkan kerak pada alat masak sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dan terhadap kesehatan dapat menyebabkan cardiovascular disease (penyumbatan pembuluh darah jantung) dan urithialis (batu ginjal). 2. Pemborosan sabun, karena pada air sadah susah untuk terbentuk busa, akibat reaksi antara ion Ca2+, Mg2+, dan sebagian kecil logam berat tertentu seperti strontium dan besi. dengan sabun dalam air. Ion-ion logam ini membentuk endapan tak larut dengan komponen asam lemak dari sabun (garam natrium dari asam lemak, seperti asam stearat, palmitat, dan oleat). M2+ + 2C17H35COONa
(M=Ca, Mg) Natrium Stearat (larut)
2+

M(C17H35COO)2 + 2Na+
Kalsium/Magnesium Stearat (tak larut)

3. Merusak pakaian, karena ion Ca

dan Mg2+ bereaksi dengan sabun membentuk

senyawa tidak larut yang menempel pada pakaian dan tidak mudah dihilangkan serta merusak pakaian.

2

Dalam industri 1. Industri textil. Air yang digunakan pada industri textil harus bebas dari kesadahan (ion Ca2+ dan Mg2+), bahan organik, partikel tersuspensi, dll. Air sadah mengendapkan pewarnaan dasar. Besi dan garam mangan menghasilkan titik berwarna pada kain. 2. Industri gula. Air harus terbebas dari kesadahan, partikel tersuspensinya seperti mikroorganisme patogen. Air sadah menyebabkan gula sulit mengkristal dari molas. 3. Industri kertas dan pulp. Air harus terbebas dari kesadahan, partikal tersuspensi, besi, mangan, dll. Kesadahan meningkatkan kandungan abu kertas. Silika terlarut menghasilkan kecenderungan retak pada kertas. Besi dan garam mangan mengurangi kecerahan dan warna kertas. 4. Industri aluminium. Air harus mempunyai kualitas yang tinggi. Semua jenis pengotor dan kesadahan bisa membuat kualitas menurun. 5. Industri minuman berkabonat. Air harus terbebas dari bahan pewarna, mikroorganisme patogen, kesadahan, besi, dan garam mangan, partikel tersuspensi, dll. Alkalinitas juga harus rendah. Kesadahan memproduksi garam sehingga membuat kualitas menurun. 6. Industri pati. Air harus terbebas dari dari semua jenis pengotoran kesadahan (organik dan anorganik), partikel tersuspensi, dll. Besi dan garam mangan menghasilkan warna kuning, yang tidak diinginkan. Kesadahan memproduksi garam menyebabkan pengendapan garam dan terakumulasi dalam pati. 7. Industri besi. Air sadah menyebabkan kualitas besi menurun. Korosi pada besi dan campuran logam. Pipa air akan buntu karena pengendapan garam selama merebus air sadah. Maka air harus bebas dari kesadahan dan pengotor. 8. Industri serat. Air yang digunakan dalam industri serat haru berkualitas tinggi. Silika, garam dari besi dan mangan, material organik dan anorganik terlarut membuat serat berkulitas rendah. Alkalinitas dan kesadahan menyebabkan ion sangat berbahaya bagi serat.

Dalam boiler Sejumlah besar air digunakan dalam boiler untuk menghasilkan uap. Boiler memainkan peran yang sangat penting untuk menghasilkan uap di industri. Air yang digunakan dalam boiler disebut air umpan boiler. Air sadah menciptakan sejumlah masalah seperti korosi, kerak dan pembentukan lumpur, kaustik perapuhan, pemberian cat dasar, dan busa, dll. Hal itu sangat berbahaya karena menyebabkan ledakan boiler akibat tekanan tinggi.
3

Air alami tidak langsung digunakan dalam boiler karena mengandung garam yang menghasilkan kesadahan. Maka air harus melunak dengan baik dan cukup murni sebelum dimasukkan ke boiler.

3. KESADAHAN TETAP Kesadahan air dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu kesadahan sementara (temporer) dan kesadahan tetap (permanen). Kesadahan sementara disebabkan oleh garam–garam karbonat (CO32-) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium dan magnesium, kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan atau dengan pembubuhan kapur tohor. Kesadahan tetap disebabkan oleh adanya garam–garam khlorida (Cl-) dan sulfat (SO42-) dari kalsium dan magnesium. Kesadahan ini disebut juga kesadahan non karbonat yang tidak dapat dihilangkan dengan cara pemanasan, tetapi dapat dihilangkan dengan proses soda–kapur, proses zeolit, dan demineralisasi.

4. PELUNAKAN AIR a. Proses Soda Kapur Proses ini merupakan proses yang paling sering digunakan untuk melunakkan air. Prinsip proses. Saat kapur [Ca(OH)2] dan soda (Na2CO3) ditambahkan pada air yang sadah, garam magnesium dan kalsium yang ada pada air dikonversi menjadi senyawa tidak terlarut seperti CaCO3, Mg(OH)2 , dll yang akan dihilangkan sebagai endapan dengan filtrasi. Fungsi kapur. Kapur [Ca(OH)2] sangat efektif untuk menghilangkan kesadahan sementara, kesadahan magnesium tetap, besi dan garam aluminium terlarut, asam mineral bebas, CO2 dan H2S terlarut. Adapun reaksi yang terjadi pada penghilangan kesadahan magnesium tetap sebagai berikut : Penghilangan kesadahan magnesium tetap MgCl2 + Ca(OH)2 MgSO4 + 2Ca(OH)2 Mg(OH)2 + CaCl2 Mg(OH)2 + CaSO4

Fungsi soda (Na2CO3). Saat kapur digunakan untuk menghilangkan kesadahan atau asam mineral, etc. Soda juga sangat efektif untuk menghilangkan kesadahan kalsium tetap (CaCl2) dan (CaSO4): CaCl2 + Na2CO3 CaSO4 + Na2CO3
4

CaCO3 + 2NaCl CaCO3 + Na2SO4

Pada suhu ruang partikel CaCO3 dan Mg(OH)2 sangat halus dan tidak dapat mengendap ke dasar, sehingga menyulitkan proses filtrasi. Partikel–partikel halus ini dapat menyebabkan penyumbatan dan korosi pada pipa dan boiler. Hal ini dapat terselesaikan dengan menambahkan zat kimia atau koagulan seperti tawas atau natrium aluminat dll. Proses. Proses soda-kapur berlangsung pada suhu ruang yang disebut proses soda-kapur dingin, dan pada suhu yang tinggi (90–100°C) yang disebut proses sodakapur panas. Proses soda-kapur dingin. Air yang diperoleh setelah menjalani proses sodakapur dingin mengandung sisa kesadahan sebesar 50–60 ppm. Pada suhu ruang air yang sadah ditambahkan kapur, soda, dan koagulan seperti tawas atau NaAlO2. Koagulan membantu mengendapkan partikel–partikel halus. NaAlO2 juga membantu menghilangkan silika dan minyak pada air, jika ada.

Metode. Jumlah kapur dan soda yang sudah dihitung dicampur dengan air bersama dengan sedikit koagulan. Campuran ini lalu diumpankan dari atas kolom bagian dalam. Kolom bagian dalam ini memiliki poros berputar vertical yang dilengkapi dengan paddle atau dayung. Saat air dan zat–zat kimia mengalir kebawah, terjadi pengadukan secara kontinu yang sangat kuat. Pada proses ini reaksi kimia berlangsung dan air sadah dikonversi menjadi air lunak. Tumpukan lumpur di dasar terbentuk karena partikel–partikel halus mengendap. Tumpukan lumpur ini akan dikeluarkan melalui sludge outlet. Selanjutnya, air lunak melalui media filter (biasanya terbuat dari serat kayu) untuk memastikan lumpur hilang seluruhnya. Air lunak yang sudah terpisah dari lumpur keluar secara kontinu melalui outlet yang berada di atas. Air lunak yang diperoleh dengan proses ini mengandung sisa kesadahan 50
5

– 60 ppm.

Tabel : Masalah dan penyelesaian pada proses soda-kapur Proses soda – kapur panas. Proses ini berlangsung secara cepat, pengendapan dan filtrasi beroperasi pada temperature yang tinggi (90 – 100oC) Metode. Perangkat yang digunakan pada proses ini ditunjukkan pada Fig. 4, meliputi: 1. Tangki reactor. 2. Filter pasir. 3. Bejana sedimentasi yang berbentuk kerucut. Sejumlah kapur dan soda dicampur dengan air yang sadah bersama dengan

sedikit koagulan. Campuran lalu dipanaskan dengan menggunakan superheated steam atau uap bersuhu sangat tinggi. Saat air yang bercampur zat kimia berkontakdengan uap, terjadi reaksi dan air yang sadah dikonversi menjadi air lunak. Air lunak yang bercampur dengan lumpur dialirkan menuju bejana sedimentasi agar lumpur mengendap dan seiringnya waktu tumpukkan lumpur tersebut dikeluarkan. Selanjutnya, air lunak melalui media filter untuk memastikan lumpur hilang seluruhnya. Air lunak yang sudah terpisah dari lumpur keluar secara kontinu melalui outlet yang berada di atas. Air lunak yang diperoleh dengan proses ini mengandung sisa kesadahan sebesar 15–30 ppm.
6

Keuntungan dari proses soda–kapur: 1. Ekonomis. 2. Proses panas lebih cepat daripada proses dingin. 3. Pada saat proses berlangsung pH air meningkat sehingga korosi pada pipa berkurang. 4. Disamping kesadahan, kandungan mineral dalam air juga berkurang. 5. Oleh karena sifat alkali air, jumlah bakteri pathogenic dalam air berkurang. 6. Membutuhkan jumlah koagulan yang lebih sedikit. Kerugian dari proses soda–kapur: 1. Air yang diperoleh dari proses masih memiliki kesadahan (15–30 ppm). 2. Terdapat lumpur dalam jumlah yang besar dari pembuangan. 3. Dibutuhkan ketelitian dan keahlian dalam mengopeasikan proses untuk hasil yang efisien. Perhitungan: 1. Pertama–tama hitung jumlah zat yang ada pada sampel air dalam bentuk equivalen CaCO3. equivalen CaCO3 = mg/L

2. Jumlahkan seluruh zat ekivalen CaCO3 untuk mendapatkan kesadahan total. 3. Zat seperti NaCl, KCl, Na2SO4, SiO2, Fe2O3, dll tidak menyebabkan kesadahan, sehingga tidak bereaksi dengan soda dan kapur dan tidak harus dipertimbangkan untuk menghitung kebutuhan soda dan kapur. 4. Saat pengotor berupa CaCO3 atau MgCO3, maka harus dipertimbangkan untuk menghitung kebutuhan soda dan kapur karena merupakan bikarbonat yang dapat menyebabkan kesadahan.
7

Kebutuhan Kapur Massa molar CaCO3 = 100 Massa molar kapur Ca(OH)2 = 74 Rasio CaCO3 dengan kapur yang dibutuhkan adalah 100 : 74 Jumlah kapur yang dibutuhkan untuk pelunakan air = sementara + 2 [Kesadahan kalsium

Kesadahan sementara magnesium + Kesadahan magnesium tetap +

CO2 + HCl + H2SO4 + Fe2+ + Al3+ + HCO3- – NaAlO2 ; semuanya dalam bentuk ekivalen CaCO3] Kebutuhan Soda Massa molar soda Na2CO3 = 106 Rasio CaCO3 dengan soda yang dibutuhkan adalah 100 : 106 Jumlah soda yang dibutuhkan untuk pelunakan air = [Kesadahan kalsium tetap +

Kesadahan magnesium tetap + Fe2+ + Al3+ + H2SO4 – HCO3- – NaAlO2 ; semuanya dalam bentuk ekivalen CaCO3] 5. 1 Ekivalen HCO3- membutuhkan 1 ekivalen kapur saat proses soda-kapur menghasilkan 1 ekivalen CO32-. 1 ekivalen CO32- membutuhkan 1 ekivalen soda. Oleh karena itu, dalam hal kebutuhan soda jumlah HCO3- dalam ekuivalen dikurangi. 6. Natrium aluminat (NaAlO2) tidak membutuhkan soda maupun kapur. Namun, 1 ekivalen NaAlO2 mengalami hidrolisis untuk menghasilkan 1 ekivalen OH- yang membutuhkan 1 ekivalen kapur. Oleh karena itu, jumlah NaAlO2 dalam ekivalen selalu dikurangi. NaAlO2 + 2H2O NaOH + Al(OH)3

Jika factor kemurnian diketahui (e.g, 85% kapur murni, 70% soda murni etc) maka gunakan rumus sebagai berikut : Kebutuhan kapur total = Kebutuhan kapur Kebutuhan soda total = Kebutuhan soda Faktor kemurnian Faktor kemurnian Volume air Volume air

Perbedaan antara Proses Soda-Kapur Dingin dan Panas No. 1. 2. Proses Soda-Kapur Dingin Proses berlangsung lambut Proses filtrasi tidak mudah Proses Soda-Kapur Panas Proses berlangsung cepat Proses filtrasi berlangsung dengan mudah dan cepat 3. Berlangsung pada suhu kamar Berlangsung pada suhu tinggi (90– 110°C) 4. Memiliki kapasitas pelunakan yang Memiliki kapasitas pelunakan yang
8

rendah 5. kesadahan sisa sekitar 50–60 ppm

tinggi kesadahan sisa sekitar 15–30 ppm

Air yang telah lunak mengandung Air yang telah lunak mengandung

b. Proses Zeolit (Proses Permutit) Zeolit dikenal sebagai permutit, misalnya batu didih. Zeolit terjadi secara alami dari mineral silikat natrium aluminium. (Na2O.Al2O3.xSiO2.yH2O) dimana x= 2–10 dan y=2–6. Mineral ini mampu menukar ion-ion penyebab kesadahan dalam air menggunakan ion natrium. Zeolit terdiri dari dua jenis: 1. Zeolit alami. Tidak berpori, tidak berbentuk, dan tahan lama. Contohnya Na2O.Al2O3.3SiO2.2H2O (Natrolite), CaO.Al2O3.4SiO2.4H2O (Laumontite). 2. Zeolit sintesis. Zeolit sintesis di alam umumnya berpori. Mereka memiliki struktur seperti gel dan dibuat dari pemanasan Na2CO3, Al2O3, dan SiO2. Zeolit sintesis memiliki kapasitas tukar yang lebih tinggi daripada zeolit alami. Sebagai contoh, zeolit natrium Na2O.Al2O3.xSiO2.yH2O (x=2–10 dan y=2–6). Natrium zeolit disederhanakan menjadi Na2Z, dimana Z mengacu pada kerangka radikal zeolit tak larut. Proses. Peralatan yang digunakan ditunjukkan pada Gambar 5. Air sadah dimasukkan dengan laju tertentu pada lapisan zeolit dalam suatu silinder. Zeolit kemudian disebar di atas kerikil (gravel). Kesadahan yang disebabkan ion-ion Ca2+, Mg2+, dll, yang hadir dalam air sadah diikat oleh zeolit sebagai kalsium zeolit atau magnesium zeolit, kalsium zeolit dan magnesium zeolit ini tertahan di atas gravel sehingga tidak ikut mengalir bersama air yang keluar, air yang keluar dari silinder mengandung garam natrium. Reaksi yang terjadi adalah: Ca(HCO3)2 + Na2Z Mg(HCO3)2 + Na2Z CaCl2 + Na2Z MgCl2 + Na2Z CaSO4 + Na2Z MgSO4 + Na2Z CaZ + 2NaHCO3 MgZ + 2NaHCO3 CaZ + 2NaCl MgZ + 2NaCl CaZ + Na2SO4 MgZ + Na2SO4

Garam natrium terlarut tidak menyebabkan kesadahan.
9

Regenerasi. Setelah berlangsung selama sekitar 10–12 jam natrium zeolit akan benar-benar habis karena konversi natrium zeolit menjadi kalsium zeolit dan magnesium zeolit sehingga diperlukan regenerasi. Regenerasi zeolit dilakukan dengan mereaksikan zeolit jenuh menggunakan larutan garam terkonsentrasi (10% NaCl). Kalsium zeolit dan magnesium zeolit masing-masing diubah menjadi kalsium klorida dan magnesium klorida yang dicuci selama pencucian dengan air dan larutan NaCl. Natrium zeolit kemudian dapat digunakan kembali untuk pelunakan air sadah. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: CaZ + 2 NaCl MgZ + 2 NaCl Keuntungan 1. Dapat menghilangkan kesadahan lebih baik daripada proses soda-kapur. Sisa kesadahan sekitar 10 ppm. 2. Murah dan bentuknya padat, sehingga berukuran kecil. 3. Tidak ada pembentukan lumpur sehingga tidak terjadi masalah pembuangan. 4. Cukup bersih tidak membutuhkan banyak waktu untuk pelunakan. 5. Tidak ada persyaratan jumlah soda atau kapur atau koagulan yang digunakan. 6. Proses secara otomatis dapat menyesuaikan diri dengan air atau kesadahan yang berbeda. 7. Tidak menimbulkan polusi. Kerugian 1. Ini berlaku hanya untuk menghapus Ca2+ dan Mg2+ hadir dalam air. 2. Sangat tidak efisien untuk menangani air yang mengandung sejumlah besar Fe2+ dan Mn2+ karena ion ini mengubah natrium zeolit menjadi zeolit yang sangat sulit untuk diregenerasi.
10

Na2Z + CaCl2 Na2Z + MgCl2

3. Proses ini tidak menghapus semua garam terlarut (organik dan anorganik). 4. Air lunak tidak cocok untuk penggunaan boiler. 5. Proses ini tidak menghialngkan kekeruhan dan pengotor yang tersuspensi. 6. Proses ini tidak menghancurkan semua bakteri phatogenik. 7. Anion tidak dihilangkan oleh proses ini.

Perbandingan proses zeolit dan proses soda-kapur Kedua proses tersebut efektif untuk pelunakan air tetapi terdapat perbedaan satu sama lain, diantaranya:

No. 1.

Proses Zeolit

Proses Soda-Kapur

Tidak membutuhkan kapur, soda, atau Membutuhkan kapur dan soda serta koagulan beberapa koagulan

2.

Air dari proses ini mengandung garam Air dari proses ini tidak mengandung natrium garam natrium ini tidak berguna pengotor untuk Juga dapat digunakan untuk

3.

Proses

menghilangkan turbiditas, dll. 4.

asam, menghilangkan mineral dalam air

Air yang telah lunak mengandung sisa Air yang telah lunak mengandung 50– kesadahan sekitar 10 ppm 60 ppm dalam proses soda kapur dingin dan 15–30 ppm dalam proses soda kapur panas.

5.

Prosesnya berlangsung secara cepat

Proses berlangsung secara lambat dalam proses soda kapur dingin dan berlangsung cepat dalam proses soda kapur panas

6. 7.

Biayanya lebih tinggi Dapat tinggi dioperasikan dan dapat pada didesain

Biayanya lebih rendah tekanan Tidak dapat dioperasikan pada tekanan untuk tinggi

digunakan secara otomatis 8. Biaya operasional lebih rendah Biaya operasional lebih tinggi

sebagaimana

menggunakan

NaCl sebagaimana kebutuhan kapur, soda, dan koagulan. Pabrik membutuhkan ruang yang lebih

dalam proses regenerasi 9. Pabrik membutuhkan sedikit ruang
11

besar 10. Tidak ada masalah dalam Terdapat kesulitan dalam pengendapan

pengendapan koagulan, filtrasi, dan koagulan, filtrasi, dan penghilangan penghilangan lumpur 11. lumpur

Air hasil proses mengandung NaHCO3 Air hasil proses bebas dari NaHCO3 yang menyebabkan masalah dalam sehingga boiler boiler digunakan dalam industri, dapat digunakan dalam

12.

Tidak cocok untuk digunakan dalam Cocok industri, terutama dalam boiler

khususnya boiler.

c. Demineralisasi Proses demineralisasi merupakan proses penghilangan seluruh ion (kation dan anion) dalam air menggunakan resin penukar ion. Resin penukar ion terdiri dari rantai bersilang panjang polimer organik. Secara umum polystyerenedivinylbenzene (PSDVB), polymethacylic acid-divinylbenzene atau polimer phenol-formaldehyde

digunakan sebagai resin penukar ion. Gugus fungsional resin dapat berupa asam ataupun basa. Terdapat dua jenis resin berdasarkan gugus fungsinya: 1. Resin penukar kation. Resin ini mengandung gugus yang bersifat asam seperti – COOH atau –SO3H , yang juga dapat menjadi co-polimer styrene dan divinylbenzene dimana dengan karboksilasi atau sulfonasi dapat menjadi penukar kation. Resin tipe ini menukar ion H+ dengan kation dalam air sadah. Umumnya dinyatakan sebagai RH dimana RH menyatakan jaringan resin. Resin yang mengandung gugus –SO3H bersifat asam kuat daripada resin yang mengandung gugus –COOH.

Gambar : Resin penukar kation
12

2. Resin penukar anion. Resin ini mengandung gugus fungsi yang bersifat basa, biasanya co-polimer styrene dan divinylbenzene yang mengandung amina atau gugus kuaterner ammonium sebagai garam hidroksida. Contohnya, resin penukar anion dapat berupa gambar seperti dibawah ini :

Pada umumnya resin penukar anion dinyatakan sebagai R’OH dimana R’ menyatakan jaringan resin. Resin ini menukar anion (OH-) dengan anion milik air sadah. Resin yang mengandung kuaterner garam ammonia bersifat basa dibanding yang mengandung gugus –NH2 atau –NH –NH2 Metode. Penukar kation dan penukar anion saling berhubungan dengan suatu pipa seperti ditunjukkan dalam gambar 6. Air sadah lewat melalui resin penukar kation pertama. Ca2+ dan Mg2+ dalam air ditukar oleh H+ dari penukar kation sebagai berikut: 2RH + Ca2+ 2RH + Mg2+ R2Ca + 2H+ R2Mg + 2H+

13

Kemudian air sadah dilewatkan melalui kolom resin penukar anion dimana anion seperti SO42-, Cl-, dsb. hadir dalam air sadah digantikan oleh ion OH- dari resin sebgaai berikut: R’OH + Cl2R’OH + SO42R’Cl + OHR2’SO4 + 2OH-

H+ yang lepas dari perlakuan penukar kation dan OH- dari perlakuan penukar anionbergabung untuk menghasilkan air. H+ + OHH2O

Ini disebut deionized water karena bebas dari kation dan anion. Regenerasi resin. Ketika penukar telah dipakai dalam jangka waktu yang lama, penukar ini kemudian diregenerasi. Penukar diregenerasi melalui first back washing dan kemudian dilewatkan melalui suatu larutan terhadap ion yang sesuai. Penukar kation diregenerasi dengan dilewatkan melalui asam yang cocok (2% HCl atau H2SO4) dan penukar anion diregenerasi dengan dilewatkan suatu basa (NaOH encer).

Untuk penukar kation. R2Ca + 2H+ R2Mg + 2H+ 2RH + Ca2+ (pencucian) 2RH + Mg2+ (pencucian)

Untuk penukar anion. R2’SO4 + 2OHR2’Cl + 2OH2R’OH + SO42(pencucian) 2R’OH + Cl(pencucian) Penukar dibilas dengan air lunak. Penukar ion tidak menghilangkan CO2. Hal ini dihilangkan dalam degasifier seperti pada Gambar 6. Sehingga regenerasi penukar siap digunakan lebih lanjut. Keuntungan 1. Melalui proses ini dihasilkan kesadahan yang sangat rendah (≈ 2 ppm). 2. Ketika penanganan air digunakan untuk tujuan boiler, tidak ada korosi yang akan terjadi, korosi dihilangkan. 3. Air dengan keasaman/basa yang tinggi juga dapat dilunakkan.
14

Kerugian 1. Peralatan mahal. 2. Regenerasi resin membutuhkan biaya yang mahal. 3. Turbiditas air menurunkan efisiensi resin. Demineralisasi air juga dapat dilakukan dengan menggunakan mixed bed seperti diuraikan sebagai berikut: Mixed bed deionizer. Terdiri dari kolom tunggal yang berisi campuran penukar kation yang kuat dan penukar anion yang kuat. Air sadah kemudian dibiarkan lewat seperti pada gambar 7. Air sadah mengalami kontak dengan penukar ion selama beberapa saat, sehingga proses ini sangat efisien daripada pemisahan kolom dari proses pertukaran ion. Air murni mengandung sangat sedikit kesadahan (sekitar 1 ppm atau kurang). Ini lebih mudah dan banyak digunakan.

Regenerasi resin. Setelah sekian lama, resin kemudian dibuang. Untuk regenerasi, lapisan resin dicuci kembali. Selama proses ini resin penukar anion digantikan oleh resin penukar kation karena resin penukar anion lebih ringan dari resin penukar kation. Hal ini mempermudah pemisahan kedua resin. Resin penukar anion diregenerasi dengan melewatkan larutan NaOH encer dan resin penukar kation diregenerasi dengan melewatkan H2SO4 encer, setelah itu dicuci dengan menggunakan air lunak, lalu dicampur dengan melewatkan aliran udara terkompresi dari bawah.

15

DAFTAR PUSTAKA Ambasta, B. K. 2001. Chemistry for Engineers. Laxmi Publications Pvt Limited: New Delhi. Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius: Yogyakarta. Ratnayaka, Don D., Malcolm J. Brand, Michael Johnson. 2009. Water Supply. Elsevier Ltd.: UK. Sivasankar, B. 2008. Engineering Chemistry. Tata McGraw-Hill Companies: New Delhi. Supriyadi, Hambali. 2002. Mewaspadai dan Menanggulangi Penyakit pada Louhan. Agromedia Pustaka: Jakarta.

16

DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN Sharfina Widyaningrum Pertanyaaan : 1. Apakah air yang digunakan memiliki karakteristik yang spesifik? 2. Apa fungsi gravel (kerikil) pada proses pertukaran ion? Jawaban : 1. Air yang masuk ke dalam proses soda kapur dingin tidak memiliki spesifikasi atau karakteristik khusus karena proses ini bertujuan untuk mengurangi kesadahan tetap yang terkandung dalam air. 2. Gravel atau kerikil berfungsi untuk menahan resin yang telah berikatan dengan ion-ion penyebab kesadahan sehingga resin tidak ikut mengalir bersama air yang telah mengalami pertukaran ion. Gravel juga berfungsi untuk memecah atau merengkahkan permukaan air dan memberi ruangan bebas bergerak untuk air, serta menurunkan kekeruhan influen dan suspended solid. Inggit Kresna Maharsih Pertanyaan : 1. Apa saja jenis koagulan yang digunakan dalam proses soda kapur? 2. Lumpur yang terdapat dalam bejana sedimentasi pada proses soda kapur dingin berupa apa? Jawaban : 1. Koagulan dapat berupa Al2O3 (tawas) atau NaAlO2. Di samping sebagai koagulan NaAlO2 dapat membantu menghilangkan silika dan minyak jika ada pada air. 2. Lumpur yang berakumulasi di dasar bejana merupakan endapan Mg(OH)2 dan CaCO3 yang terbentuk akibat reaksi MgCl2 dan CaCl2 (penyebab kesadahan tetap) dengan kapur dan soda. Sisca Ameliawati Pertanyaan : Bagaimana spesifikasi pasir yang digunakan pada proses soda kapur panas? Jawaban : Pasir yang digunakan sebagai filter dapat berupa pasir zeolit dan pasir aktif. Pasir zeolit lebih ekonomis, dapat dicuci, dan dapat mengikat ion-ion kesadahan. Pasir aktif memiliki kemampuan menyaring partikl-partikel pada air.

17