You are on page 1of 8

http://zenosphere.wordpress.

com/2011/01/28/empat-paradoks-zeno/ Empat Paradoks Zeno
7 KomentarPosted by sora9n pada Januari 28, 2011 Di dunia filsafat Yunani Kuno, terdapat satu set teka-teki yang disebut Paradoks Zeno. Paradoks ini pertama kali dilontarkan oleh filsuf Zeno dari Elea; kurang lebih sekitar abad kelima sebelum Masehi.

Zeno dari Elea (490-430 SM) (courtesy of wikipedia)
Sebelum bicara tentang karyanya, tentu ada baiknya berkenalan dengan filsufnya dulu. Oleh karena itu kita akan sempatkan membahas tentang Bapak Zeno di atas. *** Zeno dari Elea adalah seorang filsuf dari mazhab pemikiran Eleatik. Ia mengikuti jejak gurunya yang bernamaParmenides — sama-sama mempercayai bahwa semua gerak dan perubahan di dunia bersifat semu. Baik Zeno maupun Parmenides berpendapat bahwa alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan. Meskipun begitu di masa kini, hampir tidak ada karya asli Zeno dan Parmenides yang bertahan. Hanya satu-dua kutipan dari filsuf sepantaran mereka yang memberi petunjuk. Mengenai Zeno sendiri keadaannya agak menyedihkan: dikatakan bahwa aslinya dia mempunyai buku berisi 40 buah paradoks, akan tetapi buku itu kemudian hilang dicuri orang.

Akan tetapi. Lewat catatan Aristoteles itu kita di masa kini dapat mengenal berbagai pemikiran Zeno. Akan tetapi setibanya di sana. tiap kali Achilles bergerak maju. Ketika Achilles sampai di tempat kurakura. Agar dapat menyamai kura-kura.Untunglah. kura-kura juga bergerak maju. Pertama-tama dia harus menempuh perjalanan setengah jarak. Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Oleh karena mustahil melakukan perjalanan sebanyak tak-hingga. Achilles menetapkan sasaran ke tempat kura-kura saat ini berdiri. Demikian seterusnya ad infinitum. Paradoks Anak Panah “Misalnya kita membagi waktu sebagai “deretan masa-kini”. seperdelapan. maka benda tidak akan dapat sampai tujuan. Akan tetapi setibanya di sana.[1] Seperti apa ceritanya? Seperti Apa Paradoksnya? Terdapat empat buah paradoks Zeno sebagaimana dicatat oleh Aristoteles. Paradoks Achilles dan Kura-kura “Achilles dan Kura-kura melakukan lomba lari. . filsuf Aristoteles sempat mencatat sebagian di antaranya. kura-kura diizinkan start lebih awal. Lalu setelah itu dia mesti menempuh seperempat. meskipun begitu. biarpun buku aslinya hilang. Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang.” 2. Di setiap “masakini” anak panah menduduki posisi tertentu di udara. Kemudian kita lepaskan anak panah. Jadi kesimpulannya: mustahil bagi Achilles untuk bisa menyamai kura-kura dalam balapan.[2] Empat paradoks itu adalah: 1. kura-kura juga sudah maju sedikit lagi. seperenambelas. sepertigapuluhdua … Sedemikian hingga jumlah perjalanannya menjadi tak-hingga.” 3. kura-kura juga sudah maju sedikit lagi. salah satu yang terkandung dalam salinan tersebut adalah Empat Paradoks Zeno. Paradoks Dikotomi “Sebuah benda yang bergerak tidak akan pernah mencapai tujuan. kura-kura sudah berjalan sedikit ke depan. Nah.

Ada baiknya kalau kita simak lagi paradoksnya di bawah ini.Oleh karena itu anak panah dapat dikatakan diam sepanjang waktu. Antara “Sebelum” dan “Sesudah”. Kemudian B dan C bergerak saling mendekati dengan kecepatan yang sama (hendak bersejajar dengan barisan A). Paradoks Stadion “Terdapat tiga buah barisan benda A. Barisan A terletak diam di tengah lapangan.” 4. Zeno menganggap bahwa perubahan di dunia bersifat semu. Sebagaimana sudah diceritakan di awal. Pendapat itu kemudian tercermin lewat empat buah paradoks di atas. yakni gerak dan ketakhinggaan. Dalam paradoks pertama (“dikotomi”). B. mengandung aspek filsafat yang misterius. tetapi cuma satu buah A. Sementara B dan C masing-masing terletak di ujung kiri dan kanan A. Padahal A dan B adalah unit yang identik! Mungkinkah setengah waktu = satu waktu?” Analisis: Sebenarnya. Apa sih yang Dibicarakan Oleh Zeno? Ada dua tema yang dominan dalam Paradoks Zeno. . Berarti waktu C untuk melewati B = setengah waktu untuk melewati A. dan C di lapangan tengah stadion. Zeno menyampaikan bahwa gerak benda antara dua titik bersifat mustahil — atau minimal. titik C paling kiri melewati dua buah B.

Setiap Achilles sampai di tempat kura-kura. . Kemudian supaya bisa lewat. Ibaratnya begini. Yang mengganggu Zeno di sini bukan geraknya. Dalam contoh di atas Zeno mengetengahkan bahwa — karena jumlah segmen yang harus ditempuh sejumlah takhingga — maka gerak dari satu tempat ke tempat lain adalah mustahil. Lewat paradoks ini Zeno menyatakan bahwa “mustahil bagi orang yang telat balapan untuk dapat menyamai lawannya”. bukan tak mungkin bahwa itu sebenarnya hanya ilusi. Apabila orang hendak berjalan menuju garis finis. maka lintasan jalannya dapat dibagi jadi bagian kecil-kecil. Sedemikian hingga pada akhirnya orang sampai garis finis. *** Hal yang sama juga berlaku di paradoks kedua “Achilles dan Kura-kura”. melainkan. Zeno sendiri akhirnya menilai bahwa gerak antara dua titik itu adalahsemu. Pada akhirnya Achilles digambarkan Zeno sebagai “tak akan mampu melewati kura-kura”. Biarpun di dunia nyata orang melakukannya dengan mudah. Akan tetapi problemnya adalah bahwa yang kecil-kecil itu jumlahnya amat banyak. Jadi sekarang sudut pandangnya berubah. maka bagian kecil-kecil itu harus dijalani satu per satu. Malah menurut Zeno: jumlahnya mencapai tak-hingga. Kita tahu orang bisa menempuh jarak kecil-kecil. Alasannya? Karena terdapat sejumlah kemajuan kecil-kecil yang tak mungkin dikejar. bisakah orang menempuh jarak kecil-kecil itu tak berhingga kali? Nah di sini akal mengatakan bahwa itu mustahil. bagaimana ketakhinggaan bisa begitu merepotkan. kura-kura selalu sudah melaju sedikit lagi di depan.Setengah. seperdelapan. tetapi. seperenambelas… Dalam grafik di atas digambarkan bagaimana terdapat banyak segmen perjalanan antara dua titik (0-100). seperempat.

Berbeda dengan sebelumnya yang ini mencoba menunjukkan bahwa “gerak” dan “diam” itu sebenarnya tak dapat dipisahkan. Sebagaimana halnya dengan paradoks pertama. dan seterusnya) Problemnya tentu saja bahwa di dunia nyata hal itu tidak berlaku. . *** Sementara itu. Siapapun yang pernah nonton balap tahu hal ini. makanya disebut paradoks. t1 melambangkan situasi pada saat kedua. tetapi bukan tidak mungkin. lain lagi dengan paradoks ketiga tentang anak panah.(keterangan: t0 melambangkan situasi pada saat pertama. yang hendak disampaikan Zeno di sini adalah bagaimana konsep gerak jadi semu kalau dianalisis secara tak-hingga. Pembalap yang start belakangan selalu bisa menyalip lawan di depannya. Memang kadang agak sulit melakukannya.

Sebenarnya ini adalah penerapan dari relativitas Galileo yang diajarkan di bangku SMA kita dulu. Meskipun begitu tetap ada baiknya kalau dianalisis barang sedikit. ^^v . Semua tampak diam. maka jumlah waktu sebelum mereka saling bertemu juga akan mengecil. “masa-kini” setelah beberapa detik di angkasa. dan seterusnya. Jadi di sini ada problem: bahwa anak panah itu “diam” sekaligus “bergerak”. Di setiap frame tampak berbagai kondisi anak panah. Ada yang masih ingat ceritanya? Kalau dua benda bergerak. Sementara A (yang tidak bergerak) tidak mendapat keuntungan tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah. So here goes. Problemnya adalah bahwa di tiap “masa-kini” itu anak panah mendiami tempat yang tetap.Zeno melihat waktu sebagai rangkaian “masa-kini” yang berkesinambungan. sebab kecepatannya saling menjumlahkan. sementara yang satu lagi kecepatannya dijumlahkan. Dalam Paradoks Stadion. Zeno mengetengahkan bahwa “dua benda yang saling mendekati butuh waktu lebih singkat untuk bisa bersejajar”. Nah demikian juga dengan kasus Paradoks Stadion di atas. barulah terkesan bahwa anak panah itu sebenarnya bergerak. Ada “masa-kini” sesaat sesudah lepas dari busur. yang satu bisa dianggap diam. Ketika B dan C sama-sama bergerak. Zeno menilai bahwa paradoks anak panah menunjukkan kebenaran filsafatnya. Bahwa gerak itu aslinya semu — suatu benda terkesan bergerak cuma oleh persepsi manusia saja. apakah gerak itu? Singkat cerita. Oleh karena itu sebuah anak panah yang meluncur memiliki berbagai versi “masa-kini” di perjalanannya. Persis seperti kalau direkam kamera video. *** Paradoks terakhir (“Paradoks Stadion”) adalah yan g paling sederhana dan kurang bermutu dibandingkan dengan yang lain. Akan tetapi kalau videonya diputar.

Menariknya: biarpun irisannya tak-hingga. Akan tetapi ini bukan berarti semua masalah Zeno sudah selesai. have afforded grounds for almost all theories of space and time and infinity which have been constructed from his time to our own. Tentunya kemudian timbul pertanyaan. misalnya. Masih ada pertanyaan-pertanyaan filosofis yang perlu dijawab. ia menganalisisnya lewat serangkaian kecil-kecil yang jumlahnya mendekati tak-hingga. kemungkinan akan ngeh bahwa ide-ide Zeno punya bidang bahasannya sendiri. bagaimana memahami filosofi di balik jalan pikiran Zeno.” [4] —— . Pada akhirnya jalan berpikir ini menghasilkan ide baru yang segar — kalau tidak boleh dibilang absurd sama sekali. Sebagai seorang Eleatik Zeno berpendapat bahwa semua gerak benda itu semu. Zeno adalah filsuf yang tidak percaya pada gerak dan perubahan. Apa itu gerak? Apa sebenarnya hakikat perubahan? Seperti apakah realitas? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah concern filsafat yang sifatnya di luar jangkauan matematik. Biarlah diserahkan pada yang ahli filsafat sahaja.Penutup: Infinity in finity Sebagaimana sudah disebut beberapa kali di atas. Lewat ilmu kalkulus para ahli matematika belajar bagaimana menjumlahkan irisan-irisan kecil yang jumlahnya mendekati tak-hingga. kalau diintegralkan. ternyata jumlahnya finite. Saya sendiri amat tertarik dengan ide Zeno yang menghubungkan antara kesemuan gerak dengan konsep tak-hingga.[3] Masalahnya sendiri bukan pada bagaimana matematika menyelesaikan paradoks Zeno. Lewat empat paradoks di atas ia ingin memastikan hakikat kenyataan sebenarnya. Keanehan Paradoks #1 dan #2. nah di situ menariknya. dapat dijelaskan lewat deret konvergen. ia kemudian merancang serangkaian paradoks. Ketika berbicara keseharian yang terbatas. oleh karena itu. konsep “ketakhinggaan dalam berhingga” (“infinity in finity”) jadi mudah dicerna. melainkan. apakah pendapat Zeno itu benar atau salah? Meskipun begitu soal itu tak akan kita bahas di sini. Kalau ada di antara pembaca yang akrab dengan matematika. untuk membuktikan keyakinannya. ”Zeno’s arguments. Bagaimana perkara keseharian yang terbatas (finite) dapat dianalisis menggunakan metode tak-hingga (infinite). Sebagaimana filsuf terkenal Bertrand Russell berkomentar secara khusus tentang Zeno. Seiring dengan kemajuan ilmu matematika. Yang semacam ini membantu menjelaskan hal-hal paradoks dalam paparan Zeno. in some form.

Ross) [3] ^ Papa-Grimaldi. Bradley: Zeno’s Paradoxes (Internet Encyclopedia of Philosophy) . Physics. [2] ^ Aristoteles.Catatan: [1] ^ Sebenarnya tidak cuma empat.D. Alba. “Why Mathematical Solutions of Zeno’s Paradoxes Miss the Point: Zeno’s One and Many Relation and Parmenides’ Prohibition”. (terjemahan Inggris oleh W. (The Review of Metaphysics) (format PDF) [4] ^ Sebagaimana dikutip dalam Dowden. ada juga beberapa tambahan yang disampaikan oleh Aristoteles. Meskipun demikian empat paradoks yang ditampilkan di sini adalah yang paling terkenal.