You are on page 1of 12

TRAUMA AKIBAT BAHAN KIMIA I.

Pendahuluan Trauma kimia merupakan trauma pada organ luar maupun organ dalam tubuh yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang merupakan asam kuat atau basa kuat (sering disebut alkali). Trauma kimia akibat bahan kimia terjadi pada saat tubuh atau kulit terpapar oleh asam atau basa. Bahan kimia ini dapat menimbulkan reaksi terbatas pada kulit, reaksi pada seluruh tubuh ataupun keduanya.1 Trauma kimia bisa disebabkan oleh asam atau basa yang kontak langsung dengan jaringan. Asam didefinisikan sebagai donor proton (H+), dan basa didefinisikan sebagai akseptor proton (OH-). Basa juga dikenal sebagai alkali. Kedua asam dan basa dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan pada suatu kontak dengan anggota tubuh. Kekuatan asam didefinisikan oleh seberapa kuat donor proton, kekuatan basa ditentukan oleh seberapa kuat ia mengikat proton. Kekuatan asam dan basa didefinisikan dengan menggunakan skala pH, yang berkisar antara 1-14 dan logaritmik. Asam kuat umumnya memiliki pH kurang dari 2, sedangkan basa membutuhkan pH 11.5 atau lebih untuk dapat melukai jaringan. 1,2 Trauma kimia oleh bahan kimia biasanya terjadi akibat kecelakaan. Pembunuhan dengan cara ini sangat jarang dilakukan, dengan melemparkan atau menyemprotkan cairan yang bersifat korosif seperti cairan asam pada korban lebih sering dimaksudkan untuk melukai dibandingkan untuk membunuh korban. Bunuh diri dengan menggunakan asam maupun basa kuat sangat jarang dilakukan saat ini tetapi sering ditemukan di negara-negara miskin.1,2,3,4 Trauma yang disebabkan akibat bahan kimia dapat terjadi di rumah, di tempat kerja atau sekolah maupun akibat kecelakaan. Meskipun cedera yang terjadi di rumah jarang. Trauma yang disebabkan akibat bahan kimia biasanya disebabkan akibat dari kecelakaan industri, terutama dalam bisnis dan pabrik yang menggunakan bahan kimia dalam jumlah besar. Pada kasus pembunuhan dengan cara ini jarang terjadi.
2,3,5,6

Di seluruh dunia bahan korosif biasanya digunakan untuk kekerasan dengan bahan kimia. Zat yang paling umum digunakan adalah alkali dan asam sulfat . Pada tahun 2008, American Association of Poison Control Center ( AAPCC ) melaporkan 26.596 kasus tereksposur terhadap zat asam. Dalam laporan tahun 2008 dari American

pembersih logam. 5. Asam asetat biasanya digunakan dalam pencetakan. pengawetan logam. Konsentrasi asam sulfat adalah higroskopis. pendingin dan pembuatan pupuk. Asam fosfat umumnya digunakan dalam pembersih logam. pembersih logam. atau bahan kimia lain yang dapat menyebabkan trauma kimia. Asam kloroasetat Asam monochloroacetik digunakan dalam produksi karboksimetilselulosa. pembersih saluran. Asam klorida juga dikenal sebagai asam muriatik. phenoxyacetates dan beberapa obat-obatan. dan 1788 kasus keracunan sedang. 8. dan bahan kimia laboratorium. Asam sulfat biasanya digunakan dalam pembersih toilet. kaca. Hal ini bersifat sangat korosif. kesan dari eksposur terhadap asam. semikonduktor.  Asam trikloroasetat digunakan di laboratorium dan di bidang manufaktur kimia. desinfektan. 83 kasus keracunan berat. 6. produk yang mengandung asam dan bahan kimia menyebabkan 10 kematian. pembersih kolam renang. Asam nitrat biasanya digunakan dalam ukiran. pembersih ban. cairan baterai mobil. Asam klorida umumnya digunakan dalam pembersih toilet.  Asam dikloroasetat digunakan dalam pembuatan bahan kimia. Konsentrasinya berkisar 5-44 %. dan pembuatan pupuk.Association of Poison Control Center. 7. Cuka adalah cairan asam asetat. 1 Sejumlah besar produk industri mengandung konsentrasi yang berbahaya asam. dan pembuatan pupuk. Ia memiliki toksisitas sistemik yang signifikan dan bisa menghambat respirasi selular. Ini adalah asam lemah dan dalam bentuk encer. pewarna. dan cedera kimia. Jadi. basa. tidak akan menyebabkan trauma langsung. 4. pemurnian logam. Ini adalah asam lemah dari asam trikloroasetat dan tidak menghambat respirasi selular. 2. pembuatan pewarna. . Berbagai konsentrasi dari asam 8% sehingga asam yang murni. pemasangan pipa. pembersih ubin. cedera termal. sehingga bisa menyebabkan luka dermal oleh dehidrasi. Beberapa produk asam yang lebih umum tersebut adalah sebagai berikut : 1 1. Asam Hidrofluorik umum digunakan untuk penghilang karat. dan pupuk manufaktur. Asam ini sangat korosif tetapi tidak menghambat respirasi selular. deterjen. serta pengawetan minyak bumi. 3.  Asam format umum digunakan sebagai lem pesawat dan pembuatan selulosa. desinfektan.

Sedangkan pada basa biasanya menyebabkan luka yang lebih dalam disebut sebagai nekrosis likuefaktif. Zona stasis. Zona hiperemia. 3. Kehilangan jaringan tidak separah zona koagulasi. 2. membentuk koagulum (misalnya. Kuantitas.II. Zona ini merupakan zona yang terletak paling dalam dan merupakan zona dengan kerusakan (damage) yang paling berat. Kekuatan dan konsentrasi. korosi. 2. yang memperlihatkan hiperemia di mana tingkat perfusi jaringan justru meningkat sebagai mekanisme kompensasi tubuh terhadap adanya inflamasi/trauma.3. 2.5 Bahan kimia akan terus bereaksi pada jaringan sampai saat dinetralkan oleh agen lain atau terinaktifasi oleh reaksi jaringan. Keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan permanen antara lain hipotensi lama.3 Derajat luka akibat bahan kimia tergantung pada: 1. Pada zona ini terjadi kerusakan jaringan yang ireversibel yang disebabkan oleh koagulasi protein-protein konstituen. eschar) yang membatasi penetrasi asam. dan masih memiliki kemungkinan untuk diselamatkan ( salvageable). atau sebagai hasil dari komplikasi iskemik dari vesicants.1. kompetisi metabolik atau inhibisi. 3.5. Zona koagulasi. desikasi. 2 Luka bakar pada kulit terjadi perubahan mikrosirkulasi kulit dan terbentuk edema. infeksi. dan edema. yang tidak membatasi penetrasi jaringan.6.7 1. dan Luas penetrasi tubuh oleh bahan kimia. 4. Kerusakan jaringan pada zona ini paling ringan dan akan sembuh. membentuk garam. Zona ini merupakan daerah yang paling luar. meracuni protoplasma. serta untuk mencegah kerusakan jaringan menjadi bersifat ireversibel. Trauma panas menghasilkan perubahan karakteristik pada daerah yang terbakar yaitu respon lokal. Patofisiologi Trauma akibat asam akan menyebabkan nekrosis koagulasi oleh protein denaturasi. Hal Ini melibatkan denaturasi protein serta saponifikasi lemak. dibagi dalam tiga zona yaitu:3. kecuali jika ada faktor-faktor penyulit seperti sepsis yang berat maupun hipoperfusi yang lama. Zona ini ditandai dengan perfusi jaringan yang menurun. . Bahan kimia menggumpalkan protein dengan cara mereduksi. mengoksidasi. Penanganan resusitasi pada luka bakar terutama bertujuan untuk mengembalikan tingkat perfusi jaringan yang normal pada zona ini. Lamanya kontak.

dan pada kasus-kasus luka bakar yang berat dapat terjadi sindrom distres pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome). Mediator-mediator radang akan menyebabkan bronkokonstriksi. Peningkatan permeabilitas kapiler akan menyebabkan perpindahan volume cairan serta protein intravaskuler ke jaringan interstisial. kontraktilitas miokard menurun (kemungkinan disebabkan oleh pelepasan TNF). bersama dengan hipoperfusi splanchnic. Efek respiratorius. 6 2. membutuhkan asupan nutrisi enteral yang cukup untuk meminimalkan katabolisme dan menjaga mukosa usus. Basal metabolic rate akan meningkat hingga tiga kali dari kadar normal. Hal ini. 6 1. dan akan memengaruhi baik respon imun humoral maupun seluler.Gbr 1. 6 3. Akan terjadi mekanisme regulasi nonspesifik dari respon imun. 6 . Efek kardiovaskuler. Hal ini. (dikutip dari kepustakaan 9): respon lokal pada luka bakar Respon sistemik terhadap luka bakar – berupa pelepasan sitokin dan mediatormediator radang – akan terjadi jika luas luka bakar mencapai 30% dari total luas permukaan tubuh. Efek metabolik. 6 4. akan berakibat pada hipotensi sistemik serta hipoperfusi ke organ dan jaringan perifer. disertai dengan kehilangan cairan dari luka bakar itu sendiri. Efek imunologis. Vasokonstriksi perifer dan splanchnic akan terjadi.

ion fluorida dilepaskan ke dalam sel. Pengecualian terjadi pada asam hidroflorida karena bahan ini merupakan suatu asam lemah yang dengan cepat menembus membran sel dimana senyawa ini tetap tidak terionisasi.Gbr 2. sehingga menyebabkan nekrosis koagulasi dengan hasil akhirnya berupa krusta atau keropeng. seperti kulit. Asam hidroflorida memberikan luka bakar yang jauh lebih dalam dibanding jenis asam-asam lain. Luka bakar yang timbul sering kali kedalaman dan ketebalannya derajad kedua. krusta kemudian menjadi gelap. Dalam kasus ini. menyebabkan nekrosis liquiefactive. Edema ringan. terutama dari sulfur atau asam nitrat pekat. dan kering. (dikutip dari kepustakaan 6): Respon sistemik pada luka bakar Asam dengan pH kurang dari dua akan mempresipitasikan protein. Bila ada kontak yang lama dapat menjadi luka bakar derajad ketiga. Tambahan lagi. Nyeri lokal yang amat berat diduga disebabkan oleh karena imobbilisasi kalsium. Ion fluorida ini dapat menghambat enzimenzim glikolitik dan dapat bersama-sama dengan kalsium dan magnesium membentuk suatu senyawa komplek yang tidak larut. asam hidroflorida bekerja seperti asam. Ciri-ciri luka bakar yang disebabkan oleh asam yaitu: 2. Dengan cara ini.3 1. yang menyebabkan stimulasi saraf . Kering dan keras 3. Batas tegas 2.

dan Asam karbol (fenol) berwarna abu-abu terang atau cokelat terang. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Asam nitrat menghasilkan krusta kuning.2. Luka bakar dapat merusak jaringan otot.10 III. Dampak trauma kimia terhadap organ 1. Bahan kimia pun dapat menyebabkan luka bakar pada kulit. Asam sulfat (Sulfur) berwarna hitam atau cokelat.9 Trauma inhalasi terjadi dalam 3 cara: (1) oleh trauma sel dan kerusakan parenkim paru oleh iritasi. dan (3) kerusakan organ akhir oleh penyerapan sistemik melalui saluran pernafasan. Hidroklorin berwarna putih atau abu-abu. Ketidakmampuan untuk membuka mata. 4. 3. Hipokalsemia yang parah. Fluorinosis akut dapat terjadi ketika ion fluoride memasuki sirkulasi sistemik. Jadi. (2) hipoksemia dengan gangguan pengiriman oksigen.8 Warna krusta tergantung pada derajat keasaman. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. dapat terjadi.3 1. Karakteristik warnanya yaitu: 2. menyebabkan gejala-gejala kardiak. gastroinsestinal. Gejala-gejala awal yang biasa terjadi pada trauma kimia mata adalah mata terasa sakit.3. 2. Kulit Luka bakar kimia merupakan reaksi iritan yang akut yang dapat menyebabkan trauma pada kulit yang irrefersibel dan terjadi kematian sel. luka bakar dapat juga . tulang. ketidakseimbangan elektrolit (inbalance electrolit) dan distress pernapasan. dan neurologis. Selain komplikasi yang berbentuk fisik. dimana resisten terhadap pemberian dosis besar kalsium. Trauma kimia asam pada mata menyebabkan koagulasi protein dalam epitel kornea. respiratori. Pembengkakan pada kelopak mata dan Penglihatan jadi kabur.12 2. Trauma kimia biasanya hasil dari suatu zat yang disemprotkan atau disiramkan di muka.dengan mengganti ion kalium. yang membatasi penetrasi lebih lanjut. infeksi.11. Kemerahan. iritasi pada mata. Sensasi benda asing di mata. Mata Trauma kimia pada mata merupakan trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya bahan kimia baik yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata tersebut. trauma kimia ini biasanya nonprogressive dan dangkal.

Saluran Pencernaan Di negara maju dan berkembang. dan nyeri dada. trauma kimia pada sistem pencernaan akibat menelan baik tidak disengaja atau untuk mencederai diri sendiri telah berkurang dibandingkan sebelumnya. kulit bewarna gelap. Edema saluran pernapasan atas. gangguan pernapasan. batuk darah dan atau jaringan yang nekrosis. erosi. Paru Luka bakar inhalasi dapat disebabkan oleh asam hidroklorik atau bahan kimia lainnya setelah seseorang menghirup zat kimia ini. rasa terbakar.10 Menghirup bahan kimia beracun dapat menyebabkan luka bakar di jalan napas atas dan bawah. pengelupasan.4 10 .menyebabkan distress emosional dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar).15 Gbr 3. nyeri. Gejala ini muncul dalam waktu 12 sampai 24 jam setelah kejadian luka bakar. Juga suatu kondisi yang jarang dapat terjadi di mana bahan kimia mengoksidasi hemoglobin paru-paru yang mengakibatkan gangguan transportasi oksigen (methemoglobinemia) dan gangguan pernapasan. Individu dengan luka bakar inhalsi bahan kimia datang dengan radang tenggorokan. melepuh dan ulserasi. (Dikutip dari kepustakaan 6): Luka bakar kimia yang disebabkan akibat tumpahanya asam sulfat 3. eritama. sesak napas. gangguan pernapasan. 4.8. dan toksisitas karbon monoksida ( CO ) adalah contoh dari trauma kimia dari inhalasi. Hal ini dikaitkan dengan peraturan yang lebih ketat terhadap deterjen dan bahan korosif lainnya. serta kesan dari kesadaran umum.14 Gejala yang nyata pada luka bakar bahan kimia tergantung pada bahan kimia yang menyebabkannya. Gejala tersebut termasuk gatal-gatal.

kadang-kadang sampai ke usus halus. dagu dan leher. glaukoma. Perubahan-perubahan pada kulit sesuai dengan derajat luka bakarnya. Perforasi esophagus dan gaster umumnya terjadi karena asam sulfat dan asam hidroklorida.9 Gbr 4. injeksi konjungtiva. Pemeriksaan Kedokteran Forensik 1. pada pemeriksaan luar perlu . Evaluasi fluorescein diperlukan untuk menentukan tingkat cedera. tanda khususnya yaitu bercak pada bibir. kerusakan kornea. diikuti dengan syok pada kasus yang berat. atau perforasi. listrik. basa kuat). Ini dapat mengungkapkan robek. dll) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat. Kemudian pencatatan penurunan ketajaman visual.3 IV. penilaian terhadap luka-luka yang berpotensi mengancam jiwa. Oleh karena itu. (dikutip dari kepuastakaan 9): Trauma kimia asam pada mata b) Kulit Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api. Setelah irigasi berlebihan. opacification kornea. Pemeriksaan Luar a) Mata Pada pemeriksaan fisik awal. blansing scleral. injeksi scleral. sama halnya dengan luka bakar pada mukosa dari bibir sampai ke lambung.Gejala yang paling cepat timbul adalah nyeri. uveitis. Pemeriksaan fisik awal pada mata mungkin terbatas pada pH dan ketajaman visual. muntah dan kesulitan bernapas dan edema. pemeriksaan ophthalmologi penuh diperlukan. pipi. cairan panas.

tetapi pencangkokan plasma kulit biasanya tidak dibutuhkan.ditentukan: keadaan luka. luas luka. Lapisan sel epidermis sampai dermis dapat hangus sama sekali. atau total. dan seluler. reaksi seluler yang nyata. Sehingga membantu proses reepitelisasi. termasuk protein plasma. Tentu saja pada luka bakar ketebalan total terdapat penghapusan atau koagulasi bukan saja seluruh epidermis tetapi juga seluruh adneksa kulit. dn pencetusan jejas vaskuler sehingga eksudat terjadi. yang dapat mencetuskan jejas dan metabolisme sel yang dipercepat. ii. Luka bakar ketebalan parsial umumnya menyatakan suatu intensitas panas yang rendah. pembengkakan inti. atau pada lapisan epidermis lebih dalam dapat menunjukkan bukti permeabilitas membran yang terganggu. Luka bakar ketebalan parsial Kehilangan sampai dengan seluruh epidermis tetapi jaringan dermis dan isinya masih baik.16 Kedalamannya Luka bakar secara klinis ditandai dengan ketebalan parsial. Pada pemeriksaan luka ini perlu dicari adanya tanda-tanda reaksi vital berupa daerah yang berwarna merah pada perbatasan pada daerah yang terbakar. biasanya peka terhadap infeksi sekunder.17 i. Luka bakar ketebalan total Bila luas biasanya memerlukan pencangkokan kulit. sebagai tanda-tanda yang lebih nyata pada luka bakar ketebalan total. luka bakar ketebalan total biasanya mengalami kehilangan cairan dan protein yang lebih banyak daripada luka ketebalan parsial. Walaupun pada luka daerah luas dermis terpapar dan diikuti oleh reaksi peradangan yang hebat dengan eksudasi masif cairan. dan peradangan vaskuler menjadi tampak di daerah berdekatan dengan jaringan yang selamat. inaktivasi enzim yang peka suhu. dan dalamnya luka. daripada luka bakar ketebalan parsial. Dalam waktu beberapa jam sampai dengan satu atau dua hari. Karena pada ukuran luka yang sebanding. . dan mengalami nekrosis koagulatif dengan piknosis inti.

sama halnya dengan luka bakar pada mukosa dari bibir sampai ke lambung. tidak ditemukan kelainan yang spesifik. dalam menggunakan asam . Pemeriksaan Dalam a) Mata Pada mata dilakukan beberapa pemeriksaan dalam untuk mengetahui penyebab trauma pada mata. (dikutip dari kepustakaan 8): Luka bakar kimia dari asam asetat c) Paru Jalan napas. Perforasi esophagus dan gaster umumnya terjadi karena asam sulfat dan asam hidroklorida. Efek sistemik jika mengalami trauma kimiawi haruslah selalu diantisipasi.3 2. Pada palpebra: permukaan tarsal kelopak mata. dimana kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan dalam juga bisa dijumpai pada keadaan-keadaan lain. Konyungtiva bulbaris terjadi perdarahan. pernapasan.Gbr 5. pipi. atau suara berderak dan suara ronki kasar di paru-paru yang berhubungan dengan edema. kadang-kadang sampai ke usus halus. tanda khususnya yaitu bercak pada bibir. dagu dan leher. laserasi. aberasi. Contohnya.9 b) Kulit Pada korban yang meninggal karena luka bakar bahan kimia. dan sirkulasi harus diperiksa pada korban trauma kimia. Pada sklera terdapat luka tertutup oleh perdarahan. Pada kornea dinilai pada korpus alienum. Pada pemeriksaan paruparu bisa didapatkan peningkatan laju napas. Pemeriksaan neurologis menyeluruh harus dilakukan.10 d) Pencernaan Pada pemeriksaa luar. bunyi mengi. laserasi. Semua tanda ini menunjukkan individu mengalami kesulitan pernafasan.

Sel-sel neuron tidak menunjukkan perubahan-perubahan abnormal kecuali sel-sel purkinye yang menunjukkan perubahan degenerative. terutama pada korban yang memakai dauer kateter. otak tidak selalu terpengaruh oleh jejas thermik.karbolik atau phenol untuk pengelupasan yang dalam. dapat terjadi acute tubular necrosis pada tubulus proksimal dan distal serta thrombosis vena. Pada penderita dengan septicemia. bakteri tersebut antara lain: pseudomonas. ditemukan adanya metastase focus septic pada myocardium dan endokardium. kongesti.18  Ginjal Organ ini tidak terpengaruh langsung pada luka bakar thermik. tetapi perubahan-perubahan ini tidak khas dan dapat ditemukan keadaan-keadaan lain. Pada penderita yang mengalami komplikasi berupa sepsis. Selain itu didapatkan juga kongesti dan edema paru pada trauma kimia yang disebabkan oleh bahan korosif . dan proteus. setiap dokter membutuhkan pemeriksaan jantung dan resiko dari kerusakan ginjal. Asam hydrofluoric bisa menyebabkan hipokalemia dan tetanus. Acute tubular nekrosis in diduga disebabkan adanya heme cast pada medulla yang bisa ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik. 18 c) Paru Pada pemeriksaan post mortem. jadi dengan demikian. kenaikan tekanan intracranial dan herniasi dari tonsilla cerebellum melewati forame magnum serta adanya perdarahan intracranial.8 1. Jantung Udem interstitial dan fragmentasi myocardium dapat terjadi pada penderita dengan luka bakar thermis. staphylococcus. Pada korban yang mengalami luka bakar yang fatal. disamping itu asam monocloroasetic dapat memproduksi metabolik asidosis dan masalah CNS. Pada korban ynang mengalami komplikasi berupa syok yang lama. dimana populasi bakteri yang ditemukan biasanya tidak berbeda dengan populasi yang terjadi. 18  Susunan saraf pusat Dilaporkan adanya perubahan-perubahan pada susunan saraf pusat berupa edema. dapat ditemukan adanya pembesaran ginjal. Tetapi perubahan-perubahan ini diduga terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan air dan elektrolit. maka dapat ditemukan adanya mikroabses dan meningitis hematogenous. trauma kimia meninggalkan kesan korosi pada saluran pernapasan dari tahap ringan hingga petengahan. Perubahan yang terjadi pada organ ini biasanya merupakan akibat dari komplikasi yang terjadi. Traktus genitalis merupakan sumber infeksi yang potensial pada luka bakar. karena kebanyakan pada pasien dengan luka bakar terjadi kenaikan temperature tubuh tidak lebih dari satu derajat. Perubahan lain berupa gambaran peteki pada pericardium dan endokardium. aerobacter.

licin. Sejumlah penyebab kerusakan jaringan bergantung pada kekuatan.10 d) Pencernaan Pada pemeriksaan dalam yang didapatkan pada trauma kimia.asam.2. 19 . dan kerusakan akan terus berlanjut sampai dalam. sedangkan basa kuat membentuk reaksi penyabunan intra sel sehingga luka bersifat basah. Hal ini sering dilakukan adalah dengan mandi. Kesimpulan Trauma yang disebabkan akibat bahan kimia biasanya disebabkan akibat dari kecelakaan industri. Asam kuat bersifat mengkoagulasikan protein sehingga luka korosinya kering. konsentrasi. dan irigasi secara menyeluruh bagian tubuh yang terkontaminasi. kadang juga terjadi dengan produk kimia rumah tangga.1. Hal ini telah ditunjukkan untuk membatasi kedalaman luka bakar. Inhalasi bahan kimia menyebabkan kerusakan sel yang parah pada saluran pernapasan. Semua pakaian yang terkontaminasi harus dilepas. dan asam hidroklorida. Luka akibat trauma kimia terjadi akibat efek korosi dari asam kuat atau basa kuat.3 Penangan awal dari semua luka bakar kimia adalah sama yaitu melepaskan bahan kimia yang terkena pada bagian tubuh. dan kuantitas dari bahan kimia yang terdapat di permukaan kulit dan mukosa.3 V. ditemukan perforasi atau ruptur gaster yang paling sering ditemukan oleh kerana trauma asam sulfur. dan keras.