BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses. Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.

1

Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi. dan bahwa perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. seperti infeksi.BAB II PEMBAHASAN 2. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Gambaran kista bartolini 2.2. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. 2 . Kista Bartolini. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini atau abses bartolini daripada wanita hispanik. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. peradangan atau iritasi jangka panjang. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Epidemiologi Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat dalam kehidupannya.Definisi Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Hal ini mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia reproduksi. yang paling umum terjadi pada labia majora. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak daripada kista.1.

Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira. jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan.3. kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major. berjumlah dua buah berbentuk bundar. dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervushemoroidal inferior.Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun.114 kanker per 100. Anatomi Kelenjar Bartholini Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus.kira 2 cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen. Jadi. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi hymen. kelenjar bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di dalam hidup mereka.000 wanita-tahun). Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Beberapa penelitiantelah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0. hal ini adalah masalah yang perlu dicermati.Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada wanita pascamenopause dapat berkembang menjadi kanker. 2.Namun. seperti pada gambar dibawah ini : 3 . normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palapasi. tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau lebih muda. jika diagnosis kanker tertunda. Namun. prognosis dapat menjadi lebih buruk. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli.

Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi. Fisiologi Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi abtara traktus urinarius dengan traktus genital. seperti Escherichia coli. sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.4. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. 2.Histologi Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel kolumnair atau kuboid. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina. tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. Umumnya abses ini 4 . Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia vagina.Etiologi Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan.

Sedangkan kistayang berukuran lebih besar. Pasien dengan 5 . Namun. dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan. 2.melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Kista dapat terinfeksi. dan abses bisa berkembang dalam kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Kelenjar Bartholin sangat sering terinfeksi dan dapat membentuk kista atau abses pada wanita usia reproduksi. dengan akibat berupa pelebaran duktus dan pembentukan kista. bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. atau kista yang terinfeksi. Kista bartholin dengan diameter 1-3 cms eringkali asimptomatik. kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia. kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar.Sumbatan ini biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi.Patofisiologi Tersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan retensi dari sekresi. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi. Kista dan abses bartholin seringkali dibedakan secara klinis. Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar.5. dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat. sehingga menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan.

diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) 1. Diagnosa Untuk menegakkan diagnosa kista bartolini dapat ditegakkan dengan : 1. b. Anamnesa Pada anamnesa biasanya ditemukan gejala klinis. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:     Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda. a. berupa :     Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. Pemeriksaan ginekologi Hasil pemeriksaan ginekologi yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bartholin adalah sebagai berikut: 6 . Gejala klinis Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri.6.7. diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) 2. Abses kelenjar Bartholin disebakan oleh polymicrobial.abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progresif. 2.

meskipun tidak khas pada pasien sehat. 1.Dysontogenetic cysts merupakan kista jinak yang berisi mukus dan berlokasi padaintroitus atau labia minora. kista dapat tender. dan tidak disertai dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya.diperlukan incisi dan drainase sederhana. afebris. Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulent Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap abses Bartholin sebagai berikut:  Pada perabaan teraba massa yang tender. dan keras. 2. unilateral. suatu pertumbuhan massa pada wanita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda – tanda keganasan. Pemeriksaan Penunjang Apabila pasien dalam kondisi sehat. Pada keadaan terinfeksi. c. dapat terjadi Jika abses telah pecah secara spontan. Demam. tes laboratorium darah tidak diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. fluktuasi dengan daerah sekitar yangeritema dan edema. Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit. dapat terdapat discharge yang purulen Kista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya.Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. 2.    Dalam beberapa kasus. Kista sebaseous ini merupakansuatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik.8. didapatkan daerah selulitis di sekitar abses. Kultur bakteri dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses Bartholin.   Jika berukuran besar.dan seringkali asimptomatik 7 . terutama bila massanya bersifat irreguler. Beberapa diantaranya adalah: 1. Diagnosa banding Beberapa jenis lesi vulva dan vagina dapat menyerupai kista Bartholin. nodular. Terdiri dari jaringan yang menyerupai mukosa rektum. Karena kelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause.

pertumbuhan yang progresif.Penatalaksanaan Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien.kekerasan. kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase. Fibroma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan.3. Merupakan sebuah kateter kecil dengan balon yang dapat digembungkan dengan saline pada ujung distalnya.Incisi dan Drainase Meskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang cepat dan mudahdilakukan serta memberikan pengobatan langsung pada pasien. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi apabila timbul perdarahan dan diangkat bila timbul gejala 2. Panjang dari kateter karet ini adalah sekitar 1 inch dengan diameter No. namun prosedur iniharus diperhatikan karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses. biasanya digunakan untuk mengobati kista dan abses Bartholin. 2.Hematoma pada vulva. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan. 5. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat berolahraga.9. Indikasi untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri.Word Catheter Word catheter ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an. Balon kecil di ujung Word catheter dapat menampung sekitar 3-4 mL larutan saline 8 .Ada studiyang melaporkan.10 French Foley kateter. Hidradenoma merupakan tumor jinak yang dapat muncul pada labia majora dan labiaminora. dan kosmetik. Tindakan Operatif Beberapa prosedur yang dapat digunakan: 1. 4. bahwa terdapat 13% kegagalan pada prosedur ini.

Ujung bebas dari kateter dapat dimasukkan ke dalam vagina. Word catheter dapat lepas.Jika Kista Bartholin atau abses terlalu dalam. atau bila tidak kista dapat collapse dan dapat terjadi incisi pada tempat yang salah. Balon yang mengembang ini membuat kateter tetap berada di dalam rongga kista atau abses. pemasangan Wordcatheter tidak praktis.sekitar tiga sampai empat minggu. 9 . dan ujung balon dikembangkan dengan 2 ml hingga 3 ml larutan saline.Penting untuk menjepit dinding kista sebelum dilakukan incisi. Word catheter dibiarkan di tempat selama empat sampai enam minggu. Setelah insisi dibuat. dan pilihan lain harus dipertimbangkan. meskipun epithelialisasi mungkin terjadi lebih cepat. Word catheter dimasukkan.11 digunakan untuk membuat incisi sepanjang 5mm pada permukaan kista atau abses.Setelah persiapan steril dan pemberian anestesi lokal. dinding kista atau abses dijepit dengan forceps kecil dan blade no.Apabila incise dibuat terlalu besar.Agar terjadi epitelisasi pada daerah bekaspembedahan.Incisi harus dibuat dalam introitusexternal hingga ke cincin hymenal pada area sekitar orifice dari duktus.

antibiotik diperlukan. Pasien dianjurkan untuk merendam di bak mandi hangat dua kalisehari (Sitz bath).tanda abses akut. diberikan terapi antibiotikempiris. 10 . Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda.kasus tersebut. Dapat dilakukan kultur untuk mencari kuman penyebab. dimana hanya bagian pinggul dan bokong yang direndam di dalam air atau saline. dan pada kasus. Selama menunggu hasil kultur. Sitz bath (disebut juga hip bath. Koitus harus dihindari untuk kenyamanan pasien dan untuk mencegah lepasnya wordcatheter.) dianjurkan dua sampai tiga kalisehari dapat membantu kenyamanan dan penyembuhan pasien selama periode pascaoperasi. berasal dariBahasa Jerman yaitu sitzen yang berarti duduk. merupakan suatu jenis mandi.Abses biasanya dikelilingi oleh selulitisyang signifikan. Marsupialisasi Alternatif pengobatans elain penempatan Wordcatheter adalah marsupialisasi dari kista Bartholin . Antibiotik yang digunakan harus merupakan antibiotic spektrum luas untuk mengobati infeksi polymicrobial dengan aerob dan anaerob. Gambar 6: Alat yang digunakan untuk Sitz Bath 3.

Lalu dibuat incisivertikal pada vestibular melewati bagian tengah kista dan bagian luar dari hymenal ring. bergantung pada besarnya kista.18 Sitz bath dianjurkan pada hari pertama setelah prosedur dilakukan.Incisi dapat dibuat sepanjang 1.Eksisi (Bartholinectomy) Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak berespon terhadap drainase.5 hingga 3cm.Gambar 8. (kanan) Dinding kista dieversi dan ditempelkan pada tepi mukosa vestibular dengan jahitan interrupted Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian anestesi lokal. Setelah kista diincisi. Kekambuhan kista Bartholin setelah prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-10 %. Rongga ini dapat diirigasi dengan larutan saline. 4. lalu pisahkan mukosa sekiar. isi rongga akan keluar. 11 . dan lokulasi dapat dirusak dengan hemostat. Dinding kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan pada dindung vestibular mukosa dengan jahitan interrupted menggunakan benang absorbable 2 -0. dinding kista dijepit dengan dua hemostat kecil.Berikut adalah peralatanyang diperlukan dalam melakukan tindakan marsupialisasi. Marsupialisasi Kista Bartholin (kiri) Suatu incisi vertikal disebut pada bagian tengah kista. namun prosedur ini harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif.

maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi umum. diseksi harus dimulai dari bagian bawahkista dan mengarah ke superior. vaskulariasi utama dari kista dicari dan diklem dengan menggunakan hemostat. Bagian inferomedial kista dipisahkan secara tumpul dan tajam dari jaringan sekitar.Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan.Struktur vaskuler terbesar yang memberi supply pada kista terletak pada bagian posterosuperior kista. Hati – hati saat melakukan incisikulit agar tidak mengenai dinding kista. Gambar 9. Karena alasan ini. Gambar 8. Lalu dibuat insisi kulit berbentuk linear yangmemanjang sesuai ukuran kista pada vestibulum dekat ujung medial labia minora dansekitar 1 cm lateral dan parallel dari hymenal ring. Lalu dipotong dan diligasi dengan benangchromic atau benang delayed absorbable 3-0. Pasien ditempatkan dalam posisi dorsal lithotomy. Ligasi Pembuluh Darah 12 . Alur diseksi harus dibuat dekat dengandinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena dan vestibular bulb danuntuk menghindari trauma pada rectum. Diseksi Kista Setelah diseksi pada bagian superior selesai dilakukan.

Merupakan antibiotik tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan. Beberapa antibiotikyang digunakan dalam pengobatan abses bartholin: 1. dapat dianjurkan sitz bath hangat 12 kali sehari untuk mengurangi nyeri post operasi dan kebersihan luka. Azitromisin Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedangyang disebabkan oleh beberapa strain organisme. Doxycycline Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan dengan 30S dan 50S subunit ribosom dari bakteri. Dosisyang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari 4. antibiotik harus segera diberikan sebelum dilakukan insisi dan drainase. Alternatif monoterapi untukC trachohomatis. Dengan mengikat pada satu atau lebih penicillin-binding protein. Idealnya. akan menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri. efficacy yang lebih rendah terhadap bakteri gram-positif. Pengobatan Medikamentosa Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit menular seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan chlamydia.Cool packs pada saat 24 jam setelah prosedur dapat mengurangi nyeri. dan pembentukan hematoma. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose . oleh sebab itu akan menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri. pembengkakan. Diindikasikan untuk Ctra chomatis. 2. Setelah itu. dan efficacy yang lebih tinggi terhadap bakteri resisten. Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari 3. Ciprofloxacin Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Dosis yang dianjurkan: 1 g PO 1x 13 . Ceftriaxone Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan efisiensi broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif.

2. 14 . terutama pada pasien dengan koagulopati. Perdarahan. prognosisnya baik. Pada beberapa kasus dilaporkan necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses.Komplikasi     Komplikasi yang paling umum dari absesBartholin adalah kekambuhan.10. Timbul jaringan parut.Prognosis Jika abses dengan didrainase dengan baik dan kekambuhan dicegah.11. Tingkat kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%. 2.

Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk 15 . Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan. dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. seperti Escherichia coli. peradangan atau iritasi jangka panjang. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.BAB III PENUTUP 3. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan.Kesimpulan Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kista dapat terinfeksi. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:    Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral.1. bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. seperti infeksi. Namun. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi. dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista.

 Nyeri yang mendadak mereda. kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan. 16 . diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien.

2006.DAFTAR PUSTAKA Sarwono Prawiro hardjo.html http://obgynunair. Yayasan Bina Pustaka.com/2009/08/kista-bartolini.wordpress.com/tour-of-duty/ginek-akut/ http://www. Ilmu Kebidanan.blogspot.com/doc/43731478/LapKas-Kista-Bartholin-Ctine-drNandono 17 .Jakarta http://obginfo.scribd.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful