Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf!!

January 9th, 2006 9:39 am (Manhaj, Nasehat)
(Tanggapan terhadap komentar Akhuna Suripan)
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad,
keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti jejaknya hingga hari kiamat, amiin.
Selanjutnya berikut saya akan menanggapi tulisan saudara kita Suripan, yang menurut saya banyak
mengandung kebenaran, tetapi di waktu yang sama juga mengandung banyak kekeliruan atau
kerancuan. Agar lebih jelas tanggapan saya, maka akan saya sebutkan terlebih dahulu penggalan
ucapan saudara kita Suripan yang perlu ditanggapi, kemudian akan saya lanjutkan dengan komentar
saya, yang dimulai dengan tanda // (dua garis miring), dan diakhiri dengan // (dua garis miring)
juga.

Akhuna Suripan berkata:
Bismillahirrahmanirrakhim
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saudaraku Seiman yang saya cintai karena Alloh. Puji syukur ke hadirat Alloh dan Salawat beserta
Salam kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat beliau yang mulia. Saya
bukanlah orang yang alim di antara kalian dan bukan juga syaikh yang diagung-agungkan. Saya
hanya seorang muslim biasa yang sangat prihatin melihat perkembangan umat Islam dewasa ini
khususnya yang melibatkan saudara-saudara yang mengaku dirinya sebagai Salafiyun.
Maha Suci Alloh yang telah mengkaruniakan ilmuNya kepada saudara-saudara hingga saudara-
saudara mempunyai kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran Addin ini kepada
ummat. Bak ibarat pedang saudara-saudara mempunyai pedang dengan mata pedang yang sangat
tajam, segala puji hanya milik Alloh yang berhak menerima pujian.
//Alhamdulillah pada pembukaan tulisan ini, akhuna Suripan menunjukkan sikap jujur dan semoga
ini keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sikap jujur yang membawanya berterus terang
mengutarakan fenomena yang terjadi di medan dakwah, yaitu yang berkaitan dengan keutamaan
dan kelebihan yang ada pada diri ikhwah-ikhwah yang mendakwahkan dan berupaya meniti metode
ulama salaf dalam beragama. Yaitu kelebihan berupa karunia dari Alloh berupa ilmu agama,
sehingga mereka seperti yang diutarakan oleh akhuna Suripan memiliki kemampuan hujjah yang
baik dalam menyampaikan ajaran agama kepada umat. Sikap jujur ini semoga senantiasa membawa
keberkahan dalam kehidupan akhuna Suripan, dan menjadi modal besar baginya dalam mencari
kebenaran dan mengamalkannya, Amin.
Selanjutnya untuk sedikit membuktikan kepada para pembaca bahwa karunia ini ilmu yang didasari
oleh hujjah yang jelas nan shahih/otentik adalah karunia terbesar yang didapatkan oleh umat
manusia setelah hidayah mengikrarkan syahadat La ilaha illAlloh Muhammad Rasulullah, saya
akan sebutkan beberapa dalil yang membuktikan hal itu:
(»¹·¹ا ا·-وأ .-~¹او »´-~ ا·-~' .-~¹ا -ا ··- ت'=رد)
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11)
Ulama ahli tafsir menegaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah: Alloh akan meninggikan
kedudukan orang-orang yang beriman sebagai balasan bagi amalan mereka, sebagaimana Alloh
juga akan memberikan kelebihan bagi orang-orang yang berilmu dari kaum kalangan orang-orang
yang beriman, sehingga kedudukan mereka lebih tinggi dibanding orang mukmin lainnya beberapa
derajat. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thabary 28/19).
Dan di antara dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah firman
Alloh Ta’ala:
َ ن·ُ ~َ ¹ْ·َ - َ .-ِ ~´ ¹ا يِ ·َ -ْ~َ - ْ.َ ه ْ.ُ · ا·ُ ¹وُ أ ُ ´ آَ ~َ -َ - 'َ ~´ -ِ إ َ ن·ُ ~َ ¹ْ·َ -َ ` َ .-ِ ~´ ¹اَ و ِ ب'َ -ْ¹َ `ْا
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az
Zumar: 9)
Ibnu Katsir rohimahulloh ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya yang dapat
mengetahui perbedaan antara kelompok ini (yang berilmu) dari kelompok itu (yang tidak berilmu)
hanyalah orang-orang yang memiliki akal.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/48).
Ini sebagian dari sekian banyak dalil yang membuktikan bahwa orang yang berilmu lebih utama
dibanding orang yang tidak berilmu. Dan bukan hanya sekedar itu, pada ayat ke-2 Alloh
mengisyaratkan bahwa yang dapat membedakan antara mereka hanyalah orang-orang yang
memiliki akal sehat, sehingga dengan akalnya yang sehat ia dapat mengetahui bahwa orang yang
berilmu lebih utama dibanding yang tidak berilmu. Saya rasa hal ini sangat jelas dan gamblang bagi
orang-orang yang benar-benar berakal sehat, dan hatinya tidak ditutupi oleh dosa fanatis golongan,
ashabiyah terhadap guru, atau noda-noda perbuatan dosa. Dan saya yakin, akhuna Suripan adalah
termasuk salah seorang yang dapat mengetahui perbedaan antara keduanya, sehingga dengan jujur
dan tanpa rasa malu akhuna Suripan mengakui akan kelebihan ilmu yang ada pada orang-orang
yang mengakui dan berusaha meniti manhaj salaf, dibanding lainnya. Dan menurut akhuna, mereka
yang mengakui meniti manhaj salaf (salafiyyin) bak telah memiliki senjata tajam, dan ini adalah
modal besar untuk berjihad dan beramal. Dan ini adalah pengakuan bahwa bila salafiyyun berhasil
mengarahkan senjata tajamnya ini dengan baik dan benar, niscaya akan berhasil mengalahkan
musuh. Tentu dari pengakuan ini tersirat pengakuan lain bahwa, selain mereka (salafiyyun) belum
atau tidak memiliki senjata yang tajam, sehingga mana mungkin mereka dapat mengalahkan musuh
bila senjatanya tumpul atau bahkan tidak memiliki senjata sama sekali. Atau bahkan yang
dimilikinya adalah racun yang ia anggap sebagai obat, sehingga bukannya sembuh dari penyakit
yang ia derita, akan tetapi kebinasaanlah yang akan ia temui.
Untuk mengetahui kebenaran dari pengakuan tersirat dari akhuna Suripan, maka kita harus tahu
bahwa sumber kekuatan dan sebab datangnya pertolongan Alloh kepada umat islam ialah iman dan
amal shalih yang didasari oleh dalil dari Al Quran dan As Sunnah, bukan dengan rekayasa sendiri-
sendiri, oleh karena itu Alloh memerintahkan kita dengan firmannya:
ِ -ا ِ .ْ-َ =ِ - ا·ُ ~ِ -َ -ْ=اَ و ا·ُ ·´ َ -َ - َ `َ و 'ً ·-ِ ~َ =
“Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Alloh, dan jangan sekali-kali kamu bercerai
berai”. (QS. Ali Imran: 103)
Sebagaimana Alloh juga memerintahkan agar tidak bercerai berai dan saling berselisih, karena
perselisihan itu adalah sumber petaka, di dunia dan akhirat, dan sebab terjadinya kekalahan ketika
menghadapi musuh. Alloh ta’ala berfirman:
ِ ~ْ·َ - .ِ ~ ا·ُ -َ ¹َ -ْ=اَ و ا·ُ ·´ َ -َ - َ .-ِ ~´ ¹'َ آ ا·ُ -·ُ ´َ - َ `َ و َ `ْوُ أَ و ُ ت'َ - -َ -ْ¹ا ُ »ُ هَ ء'َ ='َ ~ ´ .َ -ْ-َ - َ مْ·َ - ُ »-ِ =َ = ٌباَ ~َ = ْ»ُ +َ ¹ َ =ِ - ُ ُ -·ُ =ُ و ´ دَ ·ْ~َ -َ و ُ ُ -·ُ =ُ و
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang
kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat
pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram”.
(QS. Ali Imran: 104-105)
Dan bila kita bertanya: Apakah tolok ukur persatuan dan kesatuan menurut Alloh dan Rasul-Nya?
Untuk mengetahui jawaban pertanyaan cerdas ini, maka marilah kita merenungkan firman Alloh
berikut:
ا·ُ =َ ز'َ -َ -َ `َ و ُ ·َ ¹·ُ ~َ رَ و َ -ا ا·ُ ·-ِ =َ أَ و ْ»ُ ´ُ =-ِ ر َ -َ هْ~َ -َ و ا·ُ ¹َ ~ْ-َ -َ ·
“Dan ta’atlah kepada Alloh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu
menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.” (QS. Al Anfaal: 46)
Amatilah, pada ayat ini Alloh ta’ala menjadikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya sebagi lawan
dari perselisihan, dan perselisihan/perbedaan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan dan
hilangnya kekuatan umat islam.
Dan sudah barang tentu, kita semua sadar bahwa ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya hanyalah
akan terealisasi, bila kita benar-benar mengamalkan Al Quran dan As Sunnah, sebagaimana yang
dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus
sholeh). Dan sudah barang tentu ini semua tidak akan dapat terealisasi tanpa adanya ilmu.
Wasiat dari Alloh ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda
beliau berikut:
ا·-¹-=ا »´¹-· ن'آ .~ ن'· ا·-¹-=- ` ا·´¹+·
“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka
binasa/ runtuh”. (HSR. Muslim)
Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan
diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Inilah sebab
terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat islam dari selain mereka dalam berbagai aspek
kehidupan. Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam
hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di
atas, yaitu umat islam pada zaman ini berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Alloh dan
Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syariat yang telah diajarkan dalam Al Quran dan As
Sunnah.
Saya harap akhuna Suripan sudi menjawab pertanyaan saya berikut: Apakah yang dapat dipetik
oleh umat islam sekarang ini dari kemajuan Pakistan & Iran dalam hal persenjataan nuklir yang
telah mereka miliki? Bukankah antum tahu bahwa banyak dari umat islam yang telah berhasil
mencapai kemajuan dalam berbagai IPTEK, memiliki kekayaan yang melimpah ruah, akan tetapi
apa yang dapat dirasakan oleh umat islam dari berbagai kemajuan dan kekayaan mereka?
Ini semua membuktikan kebenaran sabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
'+-·-· .¹إ ²¹آ`ا .=ا~- '~آ »´-¹= .=ا~- نأ »~`ا =~·- . .-'· ل'-· : ل'· ؟~-~·- .=- ²¹· .~و : ء'`= »´-´¹و -`آ ~-~·- »--أ .-
-ا .=´--¹و ،.-~¹ا ء'`·آ .ه·¹ا »´-·¹· .· -ا .·~--¹و »´-~ ²-'+~¹ا »آو~= رو~- .~ . -ا ل·~ر '- .-'· ل'-· .ه·¹ا '~و : ل'·
اآو '--~¹ا -= ت·~¹ا ²-ه . ·==-و دواد ·-أو ~~=أ -اور .-'-¹`ا
“Sebentar lagi berbagai umat akan bersekongkol untuk menindas/menggerogoti (mengeroyok)
kalian, sebagaimana para pemakan akan ramai-ramai menyantap hidangan mereka. Maka ada
salah seorang sahabat yang berkata: Apakah hal itu terjadi karena jumlah kami sedikit? Beliau
menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (lemah) bak buih air
bah, dan sungguh-sungguh Alloh akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa segan
terhadap kalian, dan Alloh benar-benar akan mencampakkan ke dalam hati kalian rasa wahan
(lemah). Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahn? Beliau
menjawab: Rasa cinta terhadap dunia dan takut akan kematian.” (HRS. Ahmad dan Abu Dawud,
dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah sumber permasalahan dan inti problematika umat pada zaman ini. Oleh karena itu marilah
kita semua kembali kepada ajaran agama, dengan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya dan
berupaya menghidupkannya dalam diri kita, keluarga, masyarakat kita. Tentunya semua ini harus
dengan metode yang bijak, penuh dengan hikmah, lembut dan dengan tidak terburu-buru ingin
segera memetik hasil dalam sekejap mata, bak membalikkan telapak tangan. Karena bila kita
terburu-buru, niscaya yang akan terjadi adalah kekecewaan dan kegagalan yang pasti, seperti dalam
pepatah:
·-'~=- -··= ·-اوأ .-· ء.~¹ا .=·-~ا .~
“Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan
dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.”
Dan ini pula yang sekarang kita lihat di negeri kita: Orang-orang yang ingin menegakkan syariat
islam dengan cara pengeboman, mereka hanya mendatangkan petaka dan permasalahan bagi umat,
setiap yang berusaha menjalankan syariat agama islam sekarang malah dicurigai sebagai anggota
teroris, dst.
Begitu juga kelompok lainnya, yang menempuh jalan demokrasi, dan membentuk partai dan hanyut
dalam kehidupan berpolitik, semua ini dengan alasan ingin segera mengubah sistem dan
menerapkan syariat islam sesegera mungkin. Akan tetapi apa yang terjadi, mereka malah ikut andil
dalam mengesahkan berbagai undang-undang yang menyelisihi syariat, dan ikut melakukan
berbagai amalan yang jelas-jelas diharamkan dalam syariat. Dan yang lebih ironis, seruan untuk
menerapkan syariat sekarang ini telah hilang dan sirna 100 % dari pembicaraan mereka, setelah
kebagian jabatan dan mendapatkan jatah kursi dst. La haula wala quwwata illa billah.
Hendaknya kita sadar dan mengamati, dan janganlah kita menutup mata dari fenomena yang ada di
lapangan, hanya sekedar terbuai oleh cita-cita dan slogan-slogan kosong mlompong, bagaikan
mimpi di siang bolong.
Hendaknya kisah yang disebutkan oleh ulama’ ahli sirah Nabi berikut ini menjadi pelajaran penting
bagi kita semua:
“Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam
beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negosiasi antara kedua belah pihak, di antara tawaran
yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran
yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah:
`'~ ~`ا ا~ه .~ ·- --= '~- ~-- '~-إ --آ نإ .=أ .-ا '- '·~ ·- ~-- --آ نإو `'~ '-`آأ ن·´- .-= '-¹ا·~أ .~ =¹ '-·~=
.-= '--¹= ك'-د·~ '--ر =--'- ي~¹ا ا~ه ن'آ نإو '--¹= ك'-´¹~ '´¹~ ·- ~-- --آ نإو =-ود ا~أ ·=-- ` - .= -در ·=--~- ` -ا
=--- .-= '-¹ا·~أ ·-· '-¹~-و ق'ر =¹ '--¹= =~-- ·-~
“Wahai keponakanku, bila yang engkau kehendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena
ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy,
sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah
kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan
pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi
raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit
(kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang
dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh”.
Sirah Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini
dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah.
Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas menerima
salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan
oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan
mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk
tatanan masyarakat muslim yang berakidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan
akhlak islamiah. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran orang ini
dengan membacakan surat Fushshilat, yang intinya menyebutkan maksud diturunkannya Al Quran,
yaitu guna mendakwahi manusia agar beribadah hanya kepada Alloh Ta’ala.
Inilah metode penegakan khilafah islamiyyah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam, yaitu membina generasi islam yang benar-benar islam dan bersih dari berbagai noda
kesyirikan dan bid’ah/penyelewengan dalam hal ibadah atau lainnya.//
Namun akhir-akhir ini saya jadi bertanya-tanya atas sikap saudara-saudara Salafiyin yang
menggunakan kelihaian hujjahnya, dengan mengatasnamakan menjaga kemurnian aqidah
mengarahkan mata pedangnya kesesama muslim, dan hal ini sungguh dilakukan dengan tanpa rasa
sungkan dan malu, bahkan seakan mereka tidak berfikir bahwa disamping kanan kiri banyak kaum
kuffar yang melihatnya.hal ini tidak dapat dipungkiri karena kita jumpai di internet di website-
website Salafy sangat banyak kita jumpai hal-hal tersebut sebagai contoh seperti yang turut saya
lampirkan diatas. Website Salafy tumbuh bak jamur dimusim hujan, sebenarnya itu hal sangat baik
sebagai wasilah da’wah, namun bila kita lihat, kita baca dan kita amat-amati secara mendalam
disana akan kita dapati bahwa mata pedang kaum salafy hari ini tidak diarahkan kepada musuh-
musuh Alloh namun sebaliknya malah diarahkan kepada kaum muslimin yang lain khususnya
gerakan-gerakan Islam, dan tidak perlu saya sebutkan nama gerakan tersebut disini karena semua
orang tahu hal itu. Saudaraku salafiyin yang saya cintai karena Alloh, dari tulisan-tulisan yang saya
dapat di website Salafy dan dari diskusi serta dari bertanya kepada orang-orang salafy bahwa
saudara-saudara punya cita-cita besar yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah, bahkan politikpun
diharamkan sebelum tegaknya Khilafah Islamiah.saudara-saudaraku ini adalah pekerjaan besar dan
bukan pekerjaan sederhana, itu perlu persiapan dengan melibatkan seluruh komponen ummat Islam
bukan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin, tetapi ummat Islam, mengapa? Karena ummat Islamlah
yang akan menjadi subjek (pelaku) dari kheKhilafahan tersebut, sedang diluar itu mereka harus
tunduk kalau memang mereka sudah ummat Islam tundukkan, nah berangkat dari sini izinkan saya
mengkritisi apa yang sudah saudara-saudara lakukan saat ini:
//Saya rasa, pada penggalan ucapan akhuna Suripan diatas kita dapat pahami bahwa akhuna Suripan
juga menunjukkan sikap jujur yang patut dipuji, yaitu akhuna mengakui bahwa di tengah-tengah
umat islam terjadi perbedaan atau dengan lebih tegas nan lugas: terjadi perpecahan. Perpecahan
yang oleh akhuna disebut dengan kata-kata lembut, yaitu “gerakan-gerakan Islam” Hal ini adalah
pengakuan yang patut diacungi jempol, sebab –Insya Alloh- pengakuan ini akan membimbing
akhuna kepada kebenaran.
Terjadinya perpecahan dan perselisihan ini jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau mengabarkan fenomena ini, bukan dalam rangka
berbangga-banga dengan keanekaragaman alur dan manhaj yang akan muncul di tengah-tengah
umatnya, akan tetapi beliau mengabarkannya dalam rangka memperingatkan umatnya dari
keanekaragaman tersebut. Cermatilah hadits berikut:
-ا ل·~ر ل'· ل'· ) : .·---¹ τير~=¹ا ~-·~ .-أ .= -- == .· ا·¹=د ·¹ .-= عار~- '=ارذو -~- ا-~ »´¹-· .~ .-~¹ا .-~
»ه·~-·--`. '-¹· : -ا ل·~ر '- : ل'· ؟ىر'--¹او د·+-¹' : ؟.~· !
“Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-
orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya
mereka masuk ke dalam lubang dhob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Kami pun
bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab:
Siapa lagi?” (HRS. Muttafaqun ‘Alaih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahullah- berkata: “Beliau mengabarkan bahwa akan ada dari
umatnya orang-orang yang meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka adalah ahlul
kitab, dan diantara mereka ada yang meniru bangsa Persia dan Romawi, yang keduanya adalah
orang-orang non arab”. (Iqtidlo’ Sirathol Mustaqim 6. )
Pada hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.-أ .= : (²·· .-·-~و .---`ا وأ .-·-~و ى~=إ .¹= د·+-¹ا -·--ε -ا ل·~ر ل'· ل'· τة-ه ق---و =¹ذ .`~ ىر'--¹او
²·· .-·-~و ث`` .¹= .-~أ.)
“Dari sahabat Abu Hurairah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau
tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku
akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy,
Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah fenomena yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang, umat Islam benar-benar telah
terpecah belah menjadi berbagai kelompok, dan setiap kelompok memiliki metode dan manhaj
tersendiri. Nah, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan fenomena ini
bukan dalam rangka menceritakan kenikmatan yang akan didapatkan oleh umatnya, akan tetapi
dalam rangka memperingatkan mereka dari petakan ini. Oleh karena itu dalam hadits lain beliau
shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya agar senantiasa meniti manhaj yang beliau
ajarkan dan meninggalkan berbagai manhaj dan golongan/gerakan lainnya yang tidak menerapkan
manhaj beliau . Simaklah wasiat beliau ini:
( »+~'~إو .-~¹~~¹ا ²='~= م´¹ا . -¹· : ل'· ؟م'~إ `و ²='~= »+¹ .´- »¹ ن'· : ة=~ .-'- .·- نأ ·¹و '+¹آ ق-¹ا =¹- ل´-='·
.¹= --أو ت·~¹ا =آر~- .-= =¹ذ).
“Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka.
Aku pun bertanya: Seandainya tidak ada jama’atul muslimin, juga tidak ada pemimpin
(imam/kholifah)? Beliau pun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut,
walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam
keadaan demikian itu”. (HRS. Al Bukhory dan Muslim)
Pendek kata, upaya menikam dan meruntuhkan berbagai gerakan dan manhaj yang tidak sesuai
dengan manhaj Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah metode berdakwah dan beragama yang
diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan diwasiatkan oleh beliau kepada umatnya.
Dan sebagai salah satu buktinya amatilah hadits berikut:
: ('~·· ا~ه ء.--- .~ نإε-ا ل·~ر ل'· ن··~- ن'`و`ا .هأ ن·=~-و م`~`ا .هأ ن·¹--- »ه='-= زو'=- ` ن'-¹ا نوأ--
.~ - '~آ م`~`ا د'= .-· »+-¹-·` »+-آردأ .-¹ ²-~¹ا .~ »+~¹ا ق~ ( ·--~ ·-¹=
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini
akan lahir suatu kaum yang mereka membaca Al Quran akan tetapi bacaannya tidak dapat
melewati tenggorokannya (mereka tidak memahami apa yang mereka baca), mereka membunuhi
kaum muslimin, dan membiarkan para penyembah berhala, mereka akan keluar dari Islam,
layaknya anak panah yang keluar dan menembus binatang buruan. Seandainya aku menemui
mereka, niscaya akan aku membunuh mereka hingga habis, layaknya kaum ‘Ad dibinasakan hingga
habis.” (Muttafaqun ‘alaih)
Ya Akhi Suripan, untuk sedikit membuktikan kepada antum, bahwa sebenarnya gerakan-gerakan
islam yang tidak sesuai dengan manhaj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah
dan beragama, maka hendaknya antum baca sejarah berikut ini:
Tatkala kaum muslimin telah berhasil menggulingkan dua negara adi daya kala itu (Persia dan
Romawi), dan tidak ada lagi kekuatan musuh yang mampu menghadang laju perluasan dan
penebaran agama Islam, mulailah musuh-musuh Islam menyusup dan menebarkan isu-isu bohong,
guna menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat Islam. Dan ternyata mereka berhasil
menjalankan tipu muslihat mereka ini, sehingga timbullah fitnah pada zaman Khalifah Usman bin
Affan, yang berbuntut terbunuhnya sang Khalifah, dan berkepanjangan dengan timbulnya perang
saudara antara sahabat Ali bin Abi Tholib dengan sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. (Untuk
lebih lengkapnya, silakan baca buku-buku sejarah dan tarikh, seperti: Al Bidayah Wa An Nihayah,
oleh Ibnu Katsir, dll.)
Bukankah runtuhnya khilafah Umawiyyah, akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Bani
Abbasiyyah, demi memperebutkan kekuasaan? Berapa banyak jumlah kaum muslimin yang
tertumpahkan darahnya akibat pemberontakan tersebut?!
Bukankah jatuhnya kota Baghdad ke tangan orang-orang Tartar pada tahun 656 H akibat
pengkhianatan seorang Syi’ah yang bernama Al Wazir Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqamy?
Pengkhianatan ini ia lakukan tatkala ia menjabat sebagai Wazir (perdana menteri) pada zaman
Khalifah Al Musta’shim Billah, ia berusaha mengurangi jumlah pasukan khilafah, dari seratus ribu
pasukan, hingga menjadi sepuluh ribu pasukan. Dan dia pulalah yang membujuk orang-orang Tatar
agar membunuh sang Kholifah beserta keluarganya. (Baca kisah selengkapnya di kitab Al Bidayah
wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir jilid 13)
Sepanjang sejarah, tidak ada orang Yahudi atau Nasrani yang berani menyentuh kehormatan
Ka’bah, apalagi sampai merusaknya. Akan tetapi kejahatan ini pernah dilakukan oleh satu
kelompok yang mengaku sebagai umat Islam, yaitu oleh (Qaramithoh) salah satu sekte aliran
kebatinan. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 317 H, mereka menyerbu kota Mekkah, dan
membantai beribu-ribu jamaah haji, dan kemudian membuang mayat-mayat mereka ke dalam
sumur zamzam. Ditambah lagi mereka memukul hajar Aswad hingga terbelah, dan kemudian
mencongkelnya dan dibawa pulang ke negeri mereka Hajer di daerah Bahrain. (Untuk lebih
lengkap, silakan simak kisah kejahatan mereka di Al Bidayah wa An Nihayah 11/171)
Perlu diketahui, bahwa kelompok Qoromithoh ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok
fathimiyyah, yang merupakan salah satu sempalan dari sekte Syi’ah, dan mereka pernah menguasai
negri Mesir selama satu abad lamanya. (Untuk lebih mengenal tentang siapa itu Qoromithoh,
silahkan baca kitab: Al Aqoid Al Bathiniyyah wa Hukmul Islam Fiha, oleh Dr. Shobir Thu’aimah.)
Oleh karena itu dalam memperjuangkan Islam, hendaknya kita tidak melupakah sejarah kita sendiri,
dan hendaknya kita menggali pelajaran dan hikmah dari sejarah kita sendiri, sehingga kita tidak
mengulang kegagalan, dan berhasil mengembalikan kejayaan umat yang telah hilang. Akhuna
Suripan camkanlah perkataan Imam Malik berikut:
-¹-أ '~ `إ ²~`ا -~ه =' -¹-- .¹ '+¹وأ
“Tidaklah mungkin akan dapat membaguskan urusan generasi akhir umat ini kecuali hal yang
telah membaguskan urusan generasi pendahulu mereka.”
Dan saya rasa akhuna Suripan juga tahu bahwa Islam mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi
mungkar, dan bahwasanya prinsip ini memiliki tiga tahapan, yaitu ingkar dengan hati, dengan
membenci amalan mungkar tersebut, kedua: ingkar dengan lisan: yaitu dengan menjelaskan bahwa
amalan itu mungkar dan haram, dan yang ketiga: ingkar dengan kekuatan:
»¹ ن'· -~-- --·-¹· ا´-~ »´-~ .~ ىأر .~ ·-¹--· ·=-~- »¹ ن'· ·-'~¹-· ·=-~-.
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan
tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan
hatinya”, (HR. Muslim). Dan apa yang antum sesali dari manhaj salaf, yaitu membongkar kesesatan
dan kesalahan pelaku kesesatan dan kesalahan, dan memperingatkan umat masyarakat dari
perbuatan tersebut adalah bagian dari ingkar al mungkar.
Sudah barang tentu syariat amar ma’ruf nahi mungkar ini dan wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam kepada umatnya di saat menghadapi perpecahan yang telah saya nukilkan di atas, sangat
bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang, yaitu metode yang
dikenal dalam bahasa Arab:
'--¹-=ا '~-· '-·- '--·- ر~·-و '----ا '~-· نو'·--
“Kita saling bekerja-sama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan
kita”.
Sepintas metode ini bagus sekali, akan tetapi bila kita sedikit berpikir saja, niscaya kita akan
terkejut, terlebih-lebih bila kita memperhatikan fenomena penerapannya. Hal ini dikarenakan
metode ini terlalu luas dan tidak ada batasannya, sehingga konsekuensinya kita harus toleransi
kepada setiap orang, dengan berbagai aliran dan pemahamannya, karena setiap kelompok dan aliran
yang ada di agama islam, syi’ah, jahmiyah, qadariyah, ahmadiyah, JIL (Jaringan Islam Liberal) dan
lain-lain memiliki persamaan dengan kita, yaitu sama-sama mengaku sebagai kaum muslimin.
Bahkan seluruh umat manusia pasti memiliki persamaan dengan kita, minimal persamaan dalam hal
menentang praktek kanibalisme, yaitu memakan daging manusia. Kalau demikian lantas akan ke
mana kita menyembunyikan prinsip-prinsip akidah kita, dan negara islam model apakah yang
hendak didirikan?!//
–Bersambung–
Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf !! (Bagian II)
January 18th, 2006 11:13 pm (Manhaj, Nasehat)
Tulisan berikut ini adalah bagian ke-2 (lanjutan) sekaligus bagian terakhir dari tulisan Ust
Muhammad Arifin sebelumnya yang menanggapi atas tulisan akhuna Suripan. Sekali lagi kami
berharap agar tulisan ini bukan hanya bermanfaat bagi akhuna Suripan namun juga bermanfaat bagi
kita semua yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan akhuna Suripan.

Akhuna Suripan berkata:
1. Kalau cita-cita mulia itu ingin saudara Salafiyin wujudkan dengan menikamkan mata pedang
saudara ke dada-dada kaum muslimin yang lain, hingga mereka tersungkur tidak berdaya, lalu
kepada siapa syariat Islam itu akan diimplementasikan/diterapkan? Mungkin saudara-saudara
akan katakan kepada kaum muslimin yang seaqidah dengan aqidah Salafy, kalau demikian
saudara-saudara sudah menganggap saudara-saudara muslim yang lain itu kafir dst. Kalau
demikian adanya maka Fiqud Da’wah yang saudara-saudara terapkan perlu diulang kaji.Tidak
layak seorang Muslim yang katanya mengikuti manhaj Salaf tapi berlaku berlawanan dengan
manhaj Salaf itu sendiri yaitu menghujat, mencela dan memberikan gelar-gelar yang tidak baik ke
sesama muslim dimuka umum (website). Bukankah demikian pendapat-pendapat saudara dalam
mengingatkan seorang penguasa, harusnya juga berlaku kepada sesama saudara muslim. Saudara-
saudaraku, orang-orang yang dihatinya ada penyakit, yang mereka benci kepada Islam (kaum
kuffar) akan bersorak sorai melihat apa yang saudara-saudara lakukan tersebut, maka selayaknya
mata pedang saudara-saudara arahkanlah kepada kaum kuffar, dan dekatilah saudara sesama
muslim dengan pendekatan kasih sayang yang tulus, Insya Alloh, Alloh akan membukakan pintu
kemenangan kepada kaum muslimin.
//Wah, kayaknya akhuna Suripan tidak pernah membaca sejarah islam, dan asal usul berbagai sekte
atau firqah yang ada di masyarakat sekarang ini. Agar akhuna Suripan dapat menyadari bahwa
ucapannya di atas amat tidak realistis, maka hendaknya membaca sejarah islam, sehingga akhuna
tahu bahwa semenjak dahulu kala, para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf setelah mereka senantiasa
memerangi sekte-sekte/firqah-firqah yang menyelisihi aqidah ahlu sunnah. Walau demikian negara
Islam (Khilafah Islamiyyah) masih bisa berjalan dengan baik, dan hukum islam tetap diterapkan.
Bahkan di antara penerapan hukum islam ialah dengan memerangi bid’ah dan para pelakunya.
Sebagai bukti, sahabat Ali mengadakan/mengobarkan peperangan melawan sekte (firqah) khawarij
yang mereka itu adalah nenek moyang orang-orang yang dengan enteng mengafirkan selain
golongannya, terutama para penguasa, sehingga mereka mengafirkan sahabat Ali beserta seluruh
orang yang taat dan mengakui kekhilafahannya, dan juga mengafirkan sahabat Mu’awiyyah dan
seluruh orang yang mendukungnya. Peperangan antara mereka terjadi di daerah yang disebut
Nahrawan, sebagaimana dikisahkan/diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no: 3414) & Muslim (no:
1066). Bukankah khawarij adalah kaum muslimin? Akan tetapi mengapa sahabat Ali Memerangi
mereka? Apakah sahabat Ali hanya ingin menerapkan/menjadikan pengikutnya saja sebagai obyek
kekhilafahannya? Ataukah Ali telah mengafirkan mereka? Agar akhuna Suripan tahu dengan benar
alasan sahabat Ali memerangi mereka, maka simaklah riwayat berikut:
²-رو=¹ا ·-= -ا .-ر .¹= .-· '~¹ ا·¹'· : ل'· ؟»ه ر'-آأ .--~·~¹ا -~أ '- ء`·ه .~ : او· -´¹ا .~ . .-· : ؟.--·'-~· ل'· : نإ
ا-`آ -ا نوآ~- ء`·هو ،`-¹· `إ -ا نوآ~- ` .--·'-~¹ا . .-· : '~· ل'· ؟»ه : '+-· ا·~·· ²--· »+--'-أ م·· . قاز¹ا ~-= -اور
10 / 150 ~=~و -- .- ~ ة`-¹ا ر~· »-=·- .· يزو~¹ا 2 / 543 .
“Tatkala Ali rodhiallohu ‘anhu telah selesai memerangi orang-orang haruriyyah (khawarij),
sebagian pasukannya bertanya: Siapakah sebenarnya mereka itu wahai Amirul Mukminin, apakah
mereka itu orang-orang kafir? Ia menjawab: Mereka itu melarikan diri dari kekufuran. Ditanya
lagi: Kalau begitu apakah mereka itu orang-orang munafik? Ia menjawab: Sesungguhnya orang-
orang munafik tidaklah mengingat Alloh selain sedikit sekali, sedangkan mereka itu banyak
mengingat Alloh. Ditanya lagi: lalu siapakah sebenarnya mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah
orang-orang yang tertimpa fitnah (kesesatan) hingga mereka buta mata karenanya.” (Riwayat
Abdurrazzaq 10/150, dan Muhammad bin Nashr Al Marwazi dalam kitab Ta’zhim Qadr AsS
Shalah, 2/543).
Akhuna Suripan, cermatilah baik-baik kisah ini, niscaya antum akan sadar bahwa orang-orang
khawarij yang suka mengafirkan selain kelompok mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok
(baca: sekte: LDII, JI dll) layak untuk dijauhi dan dibeberkan kesesatannya di hadapan umat,
bahkan kalau perlu diperangi seperti yang pernah dilakukan oleh khalifah sekaligus menantu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu khalifah Ali bin Abi Thalib.
Bahkan, sahabat Ali bukan hanya melakukan peperangan terhadap sekte khawarij saja, bahkan
kepada sekte yang mengultuskan beliau pun, yaitu yang terkenal dengan sebutan sekte Syi’ah,
sahabat Ali juga mengadakan peperangan, bukan hanya peperangan, bahkan malah dihukumi
dengan dibakar hidup-hidup, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Al Bad’u wa At Tarikh
5/125.
Kemudian berbagai kitab dan karya ilmiah yang ditulis oleh para ulama semenjak zaman dahulu
hingga sekarang, yang menjelaskan dan membongkar kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat,
adalah salah satu bukti bahwa di antara metode dakwah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi
wa sallam dan sahabatnya ialah menepis segala kesesatan dengan segala sarana yang kita miliki.
Bukan malah berupaya menutup-nutupi kesesatan mereka, karena sesungguhnya pertolongan Alloh,
dan kemenangan umat islam tidak akan pernah datang selama umat islam tercerai berai oleh bid’ah
dan kesesatan. Umat Islam akan jaya bila mereka benar-benar memurnikan agama mereka selaras
dengan Al Quran dan As Sunnah.
ٍ »ْ¹ُ =ِ - ْ»ُ +َ -'َ ~-ِ إ ا·ُ ~ِ -ْ¹َ - ْ»َ ¹َ و ا·ُ -َ ~اَ ء َ.-ِ ~´ ¹ا َ نوُ ~َ -ْ+´ ~ »ُ هَ و ُ .ْ~َ `ْا ُ »ُ +َ ¹ َ =ِ -َ ¹ْوُ أ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 82)
Dan janji berikutnya :
اْ·َ -´ -اَ و ا·ُ -َ ~اَ ء ىَ ُ -ْ¹ا َ .ْهَ أ ´ نَ أ ْ·َ ¹َ و ا·ُ -´ ~َ آ .ِ ´َ ¹َ و ِ ضْرَ `ْاَ و ِ ء'َ ~´ ~¹ا َ . ~ ٍ ت'َ آَ َ- »ِ +ْ-َ ¹َ = 'َ -ْ=َ -َ -َ ¹ ُ -ِ ~ْ´َ - ا·ُ -'َ آ 'َ ~ِ - ْ»ُ ه'َ -ْ~َ =َ 'َ · َ ن·
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu,
maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al A’raaf: 96)
َ و ِ ت'َ =ِ ¹'´ -¹ا ا·ُ ¹ِ ~َ =َ و ْ»ُ ´-ِ ~ ا·ُ -َ ~اَ ء َ .-ِ ~´ ¹ا ُ -ا َ ~َ = ْ»ِ +ِ ¹ْ-َ · .ِ ~ َ .-ِ ~´ ¹ا َ -َ ¹ْ=َ -ْ~ا'َ ~َ آ ِ ضْرَ `ْا .ِ · ْ»ُ +´ -َ -ِ ¹ْ=َ -ْ~َ -َ ¹ .َ -َ -ْرا يِ ~´ ¹ا ُ »ُ +َ --ِ د ْ»ُ +َ ¹ ´ .َ - ´َ ~ُ -َ ¹َ و
»ُ +´ -َ ¹ ~َ -ُ -َ ¹َ و ْ»ُ +َ ¹ ْ·َ - 'ً -ْ~َ أ ْ»ِ +ِ ·ْ·َ = ِ ~ْ·َ - . ~ .َ ~َ و 'ً -ْ-َ ~ .ِ - َ ن·ُ آِ ْ~ُ -َ ` .ِ -َ -وُ ~ُ - َ ن·ُ -ِ ~'َ -ْ¹ا ُ »ُ ه َ =ِ -َ `ْوُ 'َ · َ =ِ ¹َ ذ َ ~ْ·َ - َ َ -َآ
“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia
akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan menggantikan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi
aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun
dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang
fasik.” (QS An Nur: 55)
Dan juga firman-Nya :
َ -ا اوُ ُ --َ - نِ إ ا·ُ -َ ~اَ ء َ .-ِ ~´ ¹ا 'َ +´ -َ أ'َ - ْ»ُ ´َ ~اَ ~ْ·َ أ ْ- -َ `ُ -َ و ْ»ُ آُْ --َ -
“Hai, orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama)Alloh, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7)
Jadi jangan takut kalah oleh musuh bila kita benar-benar telah memurnikan iman dan amal shaleh
kita sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun ucapan antum bahwa ikhwah salafiyyin yang membeberkan kesesatan sekte-sekte yang ada
di masyarakat berarti mereka telah menganggap kafir sekte-sekte tersebut, adalah suatu tuduhan
yang tanpa dasar, sebab menyebutkan kesalahan, bahkan memerangi tidak relevan dengan
mengafirkan, sebagai salah satu buktinya adalah ucapan dan penjelasan sahabat Ali di atas. Dan
perlu antum ketahui bahwa manhaj salaf mengenal perbedaan antara mengklaim kafir pelaku dosa
dengan menyatakan bahwa perbuatan dosa itu adalah kekufuran, sebab tidak setiap pelaku
kekufuran itu kafir. Oleh karena itu manhaj Ahlusunnah mengajarkan adanya iqamatul hujjah
(menegakkan hujjah, -red) dan izalatus syubhat (menghilangkan syubhat, -red). Dan pada
kesempatan ini saya anjurkan akhuna Suripan untuk mengkaji permasalahan ini, yaitu iqamatul
hujjah dan izalatus syubhat menurut pemahaman salaf, dan silakan antum bertanya kepada salah
seorang ustad salafi yang antum kenal, semoga antum dapat membedakan antara mengklaim kafir
pelaku kekufuran dengan mengklaim kafir perbuatan kekufuran.
Kemudian dalam hal mengingkari kemungkaran, memang Ahlusunnah membedakan antara
mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat
biasa. Walau demikian, Ahlusunnah juga tetap mengajarkan bahwa selama kemungkaran dapat
diingkari dan ditanggulangi tanpa menyebutkan nama pelakunya, maka itulah yang harus dilakukan,
akan tetapi bila tidak mungkin, atau telah terlanjur menyebar di masyarakat, maka melindungi
agama masyarakat banyak lebih didahulukan dibanding menjaga kehormatan satu orang atau satu
kelompok tertentu. Akan tetapi bila kesalahan itu dilakukan oleh pemerintah atau penguasa, maka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar pengingkarannya dilakukan
dengan cara tersembunyi, dan tidak dibeberkan di hadapan khalayak ramai, demi menjaga
kemaslahatan umum dan agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar, Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
²--`= -~-- `· ~أ .· ن'=¹~ ي~¹ ---- نأ دارأ .~ ·-¹= ي~¹ا ىدأ ~· ن'آ `إو كا~· ·-~ .-· ن'· ·- ·¹=-· -~-- ~='-¹ .´¹و . -اور
.-ا .-'-¹`ا ·==-و »-'= .-أ
“Barang siapa yang hendak menasihati seorang penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah
disampaikan di depan khalayak ramai, akan tetapi hendaknya ia sampaikan di saat ia menyendiri
dengannya, dan bila ia menerima nasihatnya, maka itulah yang diinginkan, dan bila tidak
menerima, maka ia telah menunaikan kewajibannya.” (Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan
oleh Al Albani).
Bila akhuna Suripan merasa terusik oleh sikap ikhwah salafiyyin yang mengkritik kesesatan sekte-
sekte berbagai tokoh firqoh yang ada, maka ini pulalah yang akan dilakukan oleh para
pemimpin/penguasa yaitu akan marah dan tersinggung. Akan tetapi antara kemarahan penguasa
dengan sekte-sekte yang ada terdapat perbedaan, yaitu bila yang marah adalah pemerintah, maka
akan terjadi kerusakan yang luas, sedangkan bila yang marah adalah ketua sekte/firqah, maka
mereka tidak dapat berbuat apa-apa, selain menelan ludah pahit (terlebih-lebih bila supremasi
pemerintah tegak dan kuat). Selain itu bila kesalahan pemerintah diungkit-ungkit di khalayak ramai,
maka akan merusak kepatuhan masyarakat kepada pemerintah, dan menjadikan para penjahat
semakin berani melancarkan kejahatannya, bukankah antum sudah merasakan sendiri perbedaan
yang terjadi di masyarakat kita Indonesia antara masa Suharto/ORBA dengan berbagai
kejahatannya, dengan masa Reformasi? Keamanan hilang, harga bahan pangan menjadi mahal,
kejahatan dan kemaksiatan semakin merajalela, dst. Ini semua sebagian dari dampak buruk sikap
mengkritik/menyebarkan kesalahan penguasa di khalayak ramai.//
Akhuna Suripan berkata:
2. Dalam mensikapi keadaan yang demikian cepatnya berobah, saudara-saudara Salafiyin tidak
perlu panik, tenanglah dan bermohonlah kepada Alloh, bermusyawarahlah untuk mengambil
langkah-langkah yang terbaik, hingga langkah-langkah yang saudara-saudara ambil akan
bermanfaat kepada saudara-saudara dan kaum muslimin umumnya, dan tidak sebaliknya menjadi
bumerang bagi saudara-saudara dan kaum muslimin itu sendiri. Tidak usah buru-buru
menimpakan suatu keburukan kepada sesama gerakan muslim lain hanya karena ingin selamat dari
tudingan orang-oarang yang tidak senang kepada Islam. Lalu membuat tulisan-tulisan dimuka
umum (website) dengan menghujat salah satu gerakan Islam, padahal itu bisa menelanjangi
saudara-saudara sendiri. Contoh hal seperti apa yang tertulis diwebsite Salafy yang turut saya
lampirkan ini. Bagaimana kok bisa dikatakan menelanjangi saudara-saudara sendiri? Izinkan saya
mmenguraikanya.
a. Kata Presiden kami SBY Kata-kata diatas itu bisa diartikan bahwa saudara-saudara itu
mengakui dan turut memiliki Presiden tersebut, dan seakan-akan keberadaan Presiden tersebut itu
ada berkat kerja keras saudara-saudara pada saat pemilu yang lalu, karena mekanisme pemilihan
Presiden dilakukan melalui Pemilu, padahal saudara-saudara adalah kelompok orang-orang yang
menyakini dan memfatwakan bahwa Pemilu (Demokrasi) itu haram sehingga saudara-saudara
Salafiyin pada saat itu tidak ada yang turut mencoblos, alias Golput.nah sekarang kok ujuk-ujuk
dengan merasa tidak bersalah mengatakan Presiden kami Susilo bambang Yudoyono, kalau saya
tidak salah yang mendukum pencalonan SBY-Kala itu kan PKS dan PD, inikan lucu? Mungkin
saudara-saudara akan memberi hujjah, boleh melakukan hal itu bila dalam keadaan darurat,
setahu saya belum ada pernayataan pemerintah yang menyudutkan saudara-saudara? Mbok ya
mohon kepada Alloh semoga Alloh melindungi saudara-saudara.Dan tidak perlu disembunyi-
sembunyikan akan jati diri saudara-saudara, bahwa saudara-saudara Salafiyin itu dimata musuh-
musuh Alloh adalah penganut Islam garis keras (Islam Fundamentalis) karena menurut mereka
orang-orang/kelompok atau apalah itu namanya kalau yang tidak mengakui Demokrsi maka
mereka adalah musuh. Apa lagi? Sedang saudara-saudara sudah jelas-jelas mengharamkan
Demokrasi, jelas dimata mereka adalah musuh laten.
//Aduuh, akhuna Suripan, mbok yo jangan buru-buru menyalahkan suatu pendapat yang antum
belum tahu dasar dan dalil-dalilnya. Dan menurut hemat saya, akhuna Suripan benar-benar kurang
membaca sejarah Islam. Untuk sedikit membuktikan ucapan ini, saya harap akhuna Suripan
membaca sejarah berdirinya khilafah Umawiyyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah. Ketiga dinasti (baca:
khilafah) islam ini dimulai dengan kesalahan, yaitu menentang dan melawan khalifah yang sah.
Khilafah Umawiyyah dimulai dari perlawanan sahabat Mu’awiyyah terhadap khalifah yang sah
yaitu sahabat Ali Bin Abi Thalib, dan setelah melalui berbagai kejadian sejarah, akhirnya terjadilah
penyerahan kekuasaan oleh sahabat Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada sahabat Mu’awiyyah.
Khilafah Abbasiyyah dimulai dari pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh Bani
Abbasiyyah melawan khilafah yang sah, yaitu khilafah Bani Umawiyyah, dan akibat
pemberontakan ini tertumpahlah ratusan ribu jiwa umat islam. Begitu juga halnya dengan khilafah
Utsmaniyyah.
Walau proses perebutan kekuasaan ini telah disepakati oleh ulama sebagai tindakan yang
diharamkan, dan pelakunya berdosa karenanya, akan tetapi bila kekuasaan berhasil direbut, dan
para pemberontak berhasil menata kekhilafahan sehingga terciptalah stabilitas keamanan, kekuatan,
perekonomian dll, maka umat islam semenjak dahulu telah sepakat untuk mengakui khalifah hasil
pemberontakan tersebut. Jadi bisa jadi metode perebutan kekuasaan diharamkan, akan tetapi bila
telah berhasil direbut dan yang merebutnya memiliki kemampuan untuk menjalankan khilafah,
maka umat islam seluruhnya diwajibkan untuk mengakui khalifah tersebut, dan khalifah tersebut
menjadi khalifah yang sah dan wajib ditaati. Oleh karena itu tidak pernah ada seorang ulama’-pun
yang menyatakan bahwa khilafah Abbasiyah tidak sah, dan wajib digulingkan, walaupun semua
orang tahu bahwa mereka dapat sampai kepada kekuasaan/khilafah dengan cara yang diharamkan.
Bukankah demikian sejarahnya wahai akhuna Suripan?!
Oleh karena itu kami juga berkata: Pemilu dan demokrasi adalah haram dan bukan ajaran islam,
akan tetapi ajaran orang-orang kafir, akan tetapi bila dari pemilu ada seorang yang berhasil menjadi
pemimpin, maka kami akan mengakuinya dan taat kepadanya dan menentang setiap upaya
pemberontakan kepadanya, kecuali bila pemimpin tersebut melakukan kekufuran yang nyata-nyata
kufur dan tidak ada lagi keraguan padanya, dan umat islam memiliki kekuatan untuk menggantinya,
tanpa mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih berat dibanding berada di bawah
kekuasaannya, maka kita akan katakan boleh untuk menggantinya dengan paksa. Inilah metode
berpikir Ahlusunnah yang penuh dengan hikmah dan senantiasa mementingkan kepentingan umat
dibanding kepentingan pribadi.
Dari sedikit uraian di atas, jelaslah bahwa khilafah/kekuasaan bukanlah tujuan utama yang harus
ditegakkan. Akan tetapi khilafah adalah sarana untuk menegakkan hukum Alloh. Jadi bila upaya
menegakkan khilafah dengan jalur kekuatan hanya akan menimbulkan kerusakan, dan pertumpahan
darah yang tiada hentinya, maka apalah artinya. Karena khilafah ada di antara tujuannya adalah
guna melindungi jiwa dan agama umat islam. Oleh karena itu saya harap akhuna Suripan kembali
membaca dan merenungi kisah negosiasi yang dilakukan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah kepada
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Walau demikian saya katakan menurut sunnatullah,
hukum-hukum Alloh tidak akan dapat ditegakkan dengan sempurna tanpa adanya khilafah yang
islamiah.//
Akhuna Suripan berkata:
b. Permasalahan Bom Bunuh Diri (BBD) Secara terang-terangan bahwa saudara-saudara telah
mengarahkan kesalah satu gerakan Islam, padahal pemerintah sendiri dalam hal ini polisi tidak
berani melakukan hal itu.Bahkan tuduhan-tuduhan itu saudara-saudara lakukan tanpa kajian
mendalam dan tanpa melakukan tawazunitas terlebih dulu, hanya karena ada fatwa bahwa BBD
yang dilakukan kaum muslimin palestina adalah bukan BBD tapi Bom Syahid lalu dengan
entengnya saudara-saudara kait-kaitkan bahwa BBD itu karena akibat dari fatwa tersebut.Padahal
fatwa tersebut jelas-jelas menyebutkan bahwa bila BBD itu yang dilakukan diwilayah konflik
ummat Islam seperti Palestina hari ini yang boleh dikatakan sebagai Bom Syahid, bukan BBD yang
dilakukan di wilayah aman seperti di wilayah Indonesia, itu jelas tidak termasuk yang difatwakan.
(Penjelasan lebih lanjut masalah bom syahid, lain kali akan saya terlampir).
//Ya akhi pernahkah antum bertanya, siapakah korban pengeboman yang terjadi di JW Mariot,
Kedubes Australia, dll, siapakah yang menjadi korbannya? Apakah orang-orang muslim ataukah
orang non muslim atau campur antara keduanya? Nah dengan dosa dan sebab apa orang muslim
menjadi korban pengeboman? Pernahkah anda menelusuri dalil-dalil tentang haramnya
penumpahan darah seorang muslim? Sebagai pengingat diri saya dan diri antum, saya ajak antum
untuk merenungi hadits berikut:
ل'· .--¹ا نأ و~= .- -ا ~-= .= ) : .~ -ا .¹= ن·هأ '--~¹ا لاو´¹ »¹~~ .=ر .-· ( .-'-¹`ا ·==-و .-'~-¹او ي~~-¹ا -اور
“Dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh sirnanya dunia seisinya lebih ringan di sisi Alloh dibanding membunuh seorang
muslim.” (Tirmizy dan An Nasa’I dan disahihkan oleh Al Albani).
Dan berikut saya nukilkan fatwa ulama’ tentang masalah ini:
Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang meletakkan bom ditubuhnya, guna membunuh
segerombolan orang yahudi?
Jawaban: Menurut saya (dan tentang hal ini, kami telah ingatkan berkali-kali) bahwa aksi tersebut
tidak benar, sebab aksi ini merupakan aksi bunuh diri. Alloh berfirman:
»´~--ا ا·¹--- `و
“Janganlah kamu membunuh dirimu”.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
م·- ·- ب~= .-~- ·~-- .-· .~ ²~'--¹ا
“Barang siapa membunuh dirinya dengan cara sesuatu, maka ia akan disiksa dengannya pada hari
Kiamat”.
Seorang muslim harus berusaha melindungi jiwanya, dan jika telah dikumandangkan panggilan
jihad, maka dia pergi berjihad bersama kaum muslimin, kalau ia terbunuh maka Alhamdulillah.
Adapun ia membunuh dirinya sendiri dengan cara mengikatkan bahan peledak pada dirinya, agar
terbunuh bersama diri orang-orang yahudi, maka ini adalah metode yang salah dan tidak boleh, atau
dengan menikam dirinya agar ada orang kafir yang terbunuh bersamanya. Tapi jalan yang benar
adalah, jika telah disyariatkan jihad, ia berjihad bersama umat Islam lainnya. Adapun aksi yang
dilakukan remaja-remaja Palestina, adalah satu kesalahan, lagi tidak baik. Kewajiban mereka adalah
berdakwah, mendidik dan membimbing serta menasihati, tanpa melakukan aksi kekerasan. (Kaset
Aqwalul Ulama Fil Jihad. Studio Minhajus Sunnah Riyadh)
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rohimahulloh
Beliau rohimahulloh pada waktu menjelaskan kisah ashhabul ukhdud (Kisah mereka diriwayatkan
oleh Imam Muslim, pada Kitab Az Zuhud wa Ar Raqaiq, bab: Kisah Ashhabil Ukhdud, No:3005),
tatkala menyebutkan faedah darinya, berkata: “Sesungguhnya boleh bagi seseorang untuk
mengorbankan dirinya demi kemaslahatan seluruh kaum muslimin, karena anak ini telah
menunjukkan raja tersebut kepada hal yang bisa membunuhnya dan membinasakan dirinya, yaitu
dengan mengambil anak panah dari tempatnya…
Syeikhul Islam berkomentar: “Karena perbuatan anak tersebut adalah jihad fii sabilillah, satu umat
beriman (karenanya), sedang dia tidak kehilangan sesuatu apapun, walau dia mati, karena dia pasti
mati, cepat atau lambat”.
Adapun yang dilakukan sebagian orang, dengan membawa bahan peledak (bom), dan maju kepada
orang-orang kafir, kemudian apabila telah berada di tengah-tengah mereka, ia meledakkannya,
maka sesungguhnya tindakan ini termasuk bunuh diri wal’iyadzu billah, dan barang siapa yang
bunuh diri, maka dia akan kekal di neraka jahanam selama-lamanya, seperti yang disebutkan dalam
hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (Beliau mengisyaratkan kepada Hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhori, pada kitab: At Thib, bab: Hukum meminum racun dan obat yang dapat
mematikan, No:5778). Karena orang ini, telah membunuh dirinya sendiri, tanpa mendatangkan
kemaslahatan sedikit pun bagi kaum muslimin, karena apabila dia telah membunuh dirinya dan
membunuh 10 atau 100 atau 200 orang kafir, agama islam tidak mendapat manfaat darinya,
manusia tidak juga masuk islam, berbeda dengan kisah anak kecil tersebut, barangkali musuh akan
lebih mengganas, hingga membantai kaum muslimin dengan membabi buta.
Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap penduduk Palestina, karena
penduduk Palestina apabila satu di antara mereka mati dengan sebab bom bunuh diri, dan berhasil
membunuh 6 atau 7 orang yahudi, maka orang-orang yahudi itu akan membunuh 60 orang atau
lebih dengan sebab perbuatannya itu, maka hal ini tidak mendatangkan manfaat bagi kaum
muslimin, dan juga bagi orang yang bunuh diri tersebut.
Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa tindakan sebagian orang, dengan melakukan bom bunuh
diri, tergolong dalam perbuatan bunuh diri tanpa alasan yang dibenarkan, dan menjadikan
pelakunya masuk neraka wal‘iyadzu billah, dan pelakunya tidak dikatakan syahid. Akan tetapi jika
orang itu melakukan tindakan tersebut karena menta’wil, dia mengira bahwa hal ini diperbolehkan,
kami mengharap dia terbebas dari dosa, adapun untuk kemudian dia dijuluki sebagai orang syahid,
maka tidak bisa, karena dia tidak menempuh jalan syahadah (cara mati syahid yang benar), barang
siapa yang berijtihad dan dia salah, maka ia mendapat satu pahala” (Syarah Riyadhus Sholihin
1/165-166 )
Pertanyaan: Apa hukum syariat mengenai orang yang meletakkan bom di tubuhnya dan kemudian
meledakkan dirinya sendiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang kafir, dalam rangka
membantai mereka? apakah benar berdalil dengan kisah anak kecil yang seorang raja
memerintahkan agar dibunuh (kisah Ashhabul Ukhdud) ?
Jawaban: Orang yang meletakkan bom di tubuhnya dengan tujuan untuk kemudian meledakkan
dirinya di tempat keramaian musuh, maka dia telah membunuh dirinya, dan akan diazab di neraka
jahanam dengan alat yang ia gunakan untuk membunuh dirinya, ia kekal di neraka selama-lamanya,
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang
membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan diazab dengan alat tersebut di neraka jahanam.
Sungguh mengherankan orang-orang yang melakukan perbuatan seperti ini, padahal mereka telah
membaca firman Alloh Ta’ala:
'ً ~-ِ =َ ر ْ»ُ ´ِ - َ ن'َ آ َ -ا ´ نِ إ ْ»ُ ´َ ~ُ --َ أ ا·ُ ¹ُ -ْ-َ -َ `َ و
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Alloh amat kasih sayang
terhadapmu”. (QS An-Nisa’ : 29) lalu tetap nekat melakukan tindakan tersebut, apakah mereka
berhasil memetik sesuatu? apakah musuh terkalahkah dengan cara itu? apakah malah sebaliknya,
musuh bertambah ganas terhadap orang-orang yang melakukan tindakan ini, seperti yang kita
saksikan di negara Yahudi. Mereka tidaklah jera dengan adanya tindakan seperti ini, bahkan
semakin brutal, bahkan kita dapatkan negara Yahudi pada jajak pendapat terakhir, kelompok garis
kanan yang berkeinginan membasmi orang-orang Arab berhasil meraih kemenangan.
Akan tetapi orang yang melakukan tindakan ini dengan dasar ijtihad, dia mengira hal itu termasuk
amal baik yang akan mendekatkan dirinya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, maka kami mohon
kepada Alloh ta’ala untuk tidak menyiksanya, karena dia menta’wil dan jahil.
Adapun berdalih dengan kisah anak kecil (ashhabul ukhdud), maka kisah anak kecil itu
menyebabkan masuknya satu umat ke dalam agama islam, bukan membantai musuh, oleh karena itu
ketika sang raja tersebut mengumpulkan masyarakat dan mengambil anak panah dari tempatnya
anak kecil tersebut, sambil berkata: dengan menyebut nama Alloh Tuhan anak kecil ini, manusia
berteriak semuanya: Tuhan Yang Benar adalah Tuhannya anak kecil ini, dari sinilah suatu umat
yang banyak masuk islam, seandainya dihasilkan seperti kisah ini, maka kami akan mengatakan
mungkin bahwa ada benarnya berdalil dengan kisah ini, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
mengisahkannya kepada kita, agar kita mengambil pelajaran darinya. Akan tetapi mereka yang
melakukan peledakan dirinya sendiri, apabila berhasil membunuh 10 atau 100 orang musuh, maka
musuh semakin brutal dan kokoh dalam berpegang teguh dengan prinsip mereka.
Pertanyaan: Ada orang yang mengaku bahwa dirinya melakukan aksi jihad dengan model bunuh
diri, sebagai contoh, seseorang dari mereka memuati kendaraannya dengan bahan peledak dan
kemudian menerobos musuh, dan dia yakin bahwa ia pasti akan menemui ajalnya dalam aksi
tersebut:
Jawaban: Aksi ini menurut saya, adalah aksi bunuh diri dan ia akan disiksa di Jahanam dengan
cara yang dia tempuh untuk menghabisi nyawanya, seperti yang dikatakan oleh Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shohih.
Namun orang bodoh yang tidak mengerti dan ia melakukannya dengan anggapan bahwa
perbuatannya tersebut baik dan diridhoi Alloh, saya harap semoga Alloh mengampuninya, karena ia
melakukannya berdasarkan ijtihad. Meskipun saya berpendapat bahwa dia tidak memiliki alasan di
masa kini, sebab bunuh diri dengan bentuk di atas, telah dikenal dan menyebar di kalangan umat.
Seharusnya ia menanyakannya kepada ulama, agar jelas baginya kebenaran dari kesesatan. Yang
mengherankan, mereka membunuh diri mereka sendiri, padahal Alloh melarangnya. Alloh
berfirman:
ْ»ُ ´ِ - َ ن'َ آ َ -ا ´ نِ إ ْ»ُ ´َ ~ُ --َ أ ا·ُ ¹ُ -ْ-َ -َ `َ و 'ً ~-ِ =َ ر
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepadamu” (QS
An Nisaa: 29). Kebanyakan mereka hanya terdorong oleh keinginan balas dendam terhadap musuh,
dengan cara apapun, baik itu cara yang haram ataupun yang halal, ia hanya ingin memuaskan
dirinya. Semoga Alloh memberikan kepada kita penguasaan terhadap ilmu agama dan
mengamalkan setiap yang membuat-Nya ridho. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Majalah Ad Dakwah, edisi 1598)//
Akhuna Suripan berkata:
c. Walaupun berjenggot tetapi beda antara salafiyin dengan harakah lain Saudara-saudara
Salafiyin yang di Rahmati Alloh. Musuh-musuh Alloh tidak perlu dikecoh dengan pernyataan-
pernyataan seperti itu, mereka sudah kenyang dengan bermacam-macam tipu daya, 32 tahun
mereka berkuasa (khusus Indonesia) dengan perlakuan zolimnya, intelijen mereka banyak lebih
banyak dari jumlah saudara-saudara, lagi pula Alloh juga sudah mengingatkan kita didalam salah
satu ayatnya (QS.2:120) agar kita hati-hati kepada mereka, disana Alloh nyatakan dengan jelas
bahwa mereka tidak akan senang kepada sampai engkau mengikuti millah mereka. Jelas, mereka
benci kita bukan karena jenggot tapi karena kita punya millah yang hanif yaitu millah yang
mengakui bahwa Alloh itu Esa, Syariat Alloh adalah yang tertinggi tidak boleh ada yang lain,
karena itulah mereka benci, kebencian mereka akan hilang kalau kita mau ikut millah
mereka.Mereka sudah tahu siapa saudara-saudara, fatwa-fawta saudara yang saudara-saudara
rilis di website saudara terlihat jelas bahwa saudara-saudara mengharamkan, Pemilu, Demokrasi,
Demontrasi dll dan itu sudah cukup bagi mereka untuk memasukkan saudara-saudara kedaftar
pengikut Islam garis keras.Mungkin kalau selama ini mereka tidak mengutik-utik saudara-saudara,
bukan berarti bahwa mereka senang pada saudara-saudara, menurut saya sekurang-kurangnya
ada 2 hal, mengapa mereka tidak mengganggu saudara salafiyin sbb:
1. Selama ini, secara tidak langsung sikap saudara-saudara kepada harakah Islam yang lain
sangat menguntungkan mereka, dimana salafiyin sikapnya keras terhadap kaum muslimin dan
lemah lembut terhadap kaum kafirin?. Inilah poin penting bagi mereka untuk tetap memelihara
saudara-saudara, mereka tidak susah susah mengeluarkan banyak energi, tenaga dan biaya untuk
membunuh gerakan-gerakan Islam, cukup dengan tulisan dan lisan saudara salafiyin.Nanti bila
tiba saatnya, manakala kekuatan Islam yang selama ini bisa menghambat kezaliman mereka sudah
lumpuh, maka mata meriam-meriam mereka akan mereka arahkan kepada sasaran tunggal yaitu
kaum yang mengaku kaum Salafy. Bukankah saudara-saudara sadar dan ingat bahwa manusia
paling licik dan jahat adalah Yahudi? Contoh peristiwa dari kelicikan mereka adalah Afganistan,
dan Iraq. Dulu mereka adalah negara yang mereka bantu, namun sekarang mereka hujani mereka
dengan misil, bom dan meriam.
2. Saudara-saudara salafiyin yang dirahmati Alloh.Saudara-saudara dimata musuh-musuh Alloh
masih dikatagorikan da’wah yang masih difase teoritis, pada fase ini mereka tidak ambil pusing
dengan beberapa fatwa yang saudara-saudara keluarkan yang ahkikatnya sangat bertentangan
dengan prinsip mereka. Nanti pada saatnya saudara-saudara mau melangkah ke fase aplikatif, nah
disini pereng sesungguhnya dimulai, saudara-saudara harus siap mengerahkan segala kemampuan
baik materi, sumber daya manusia dan tenaga bahkan juga nyawa.Mereka tidak akan segan-segan
untuk menggunakan cara-cara yang keji untuk melaumpuhkan musuh-musuhnya, sementara
saudara-saudara umat islam (harokah islam) yang lain mungkin sudah duluan terkubur bahkan
mungkin jadi mereka terkubur oleh andil dari tangan dan lisan saudara-saudara. Ah, kan masih
ada Alloh yang akan membantu hambanya. Saudara-saudara harusnya malu kepada seorang
salafus shaleh yang mengatakan bahwa : yang haq tidak akan bisa mengalahkan yang bathil kalau
yang haq itu bercerai berai sedang kebathilan begitu kuat dan rapinya.
//Ya akhi, sebenarnya yang menjadikan pemerintah ORBA senantiasa menguber-uber berbagai
macam sekte/firqah yang ada di Indonesia adalah karena rasa khawatir akan kekuasaannya, yang
mereka sadari sedang diganggu oleh firqoh-firqoh tersebut. Adapun bila kita tidak berupaya
mengganggu kekuasaan mereka, niscaya mereka tidak akan mengusik dakwah kita. Apalagi bila
mereka sadar bahwa kekuasaan akan tetap berada di tangan mereka bila mereka menerima dakwah
kita, niscaya mereka akan tenang dan tidak akan nguber-nguber dakwah kita. Bukankah antum
semenjak dahulu sering membaca dan mendengar sebutan “Subversi”, akan tetapi apakah antum
pernah mendengar bahwa ORBA menangkap orang atau memenjarakan orang karena ia sholat
dengan benar, atau tidak mau syirik, tidak mau menyembah kuburan dll? Saya yakin antum tahu
dengan pasti hal ini. Nah inilah rahasianya mengapa pemerintah di manapun senantiasa nguber-
nguber setiap sekte yang berupaya merebut kekuasaan, dan senantiasa mengawas-awasi setiap gerak
mereka. Apalagi sekte yang mengajarkan kepada para pengikutnya bai’at kepada pemimpin mereka
atau mengaku mendirikan negara Islam bawah tanah atau yang serupa.
Adapun musuh-musuh Islam dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka sebenarnya yang paling
mereka takuti adalah orang-orang yang bertauhid dengan benar, dan senantiasa memerangi tindak
kesyirikan dan bid’ah, oleh karena itu mereka dengan dana besar-besaran mendukung berbagai
program kesesatan, dimulai dari seruan persatuan agama melalui JIL Paramadina, gerakan tasawuf
melalui Zikir berjama’ah, Jama’ah Tabligh, dll. Ini semua mereka lakukan demi mencari budak-
budak yang akan menjadi kambing hitam dalam menghancurkan kekuatan umat Islam.
Dan di antara makar yang senantiasa mereka persiapkan untuk menghancurkan umat islam ialah
dengan mendidik sekte-sekte garis keras, baik secara langsung atau tidak, agar suatu saat dapat
dijadikan kambing hitam, dan alasan untuk menyerang negara islam, sebagaimana yang mereka
lakukan dengan Usamah Bin Laden dan kelompoknya. Dahulu Amerika mendidik mereka
menggunakan senjata, dan juga mempersenjatai mereka, bahkan menurut pengakuan sebagian
kawan saya yang berasal dari Afghanistan dan pernah ikut andil dalam melawan Uni Soviet: setiap
orang Afghan yang angkat senjata melawan Uni Soviet setiap hari mendapat gaji 1/2 dolar US.
sebagaimana dan ketika tiba saatnya mereka ingin menyerang Afghanistan dan menguasai negeri
muslim ini, mereka jadikan antek-antek mereka (Usamah bin laden CS) sebagai dalih /kambing
hitam. (Lah, akhuna Suripan di tulisannya di atas telah menyadari akan hal ini, kok ya tidak
mengambil Ibrah). Dan tidak mustahil, berbagai pengeboman di negeri Islam termasuk Indonesia
ada campur tangan dari mereka, baik dengan suplai bahan peledak, atau pendidikan/kaderisasi para
perakit bom dll.
Saya menjadi heran dengan akhuna Suripan, mengesankan bahwa ikhwah salafiyyin keras terhadap
sesama muslim, padahal yang mereka lakukan hanyalah mengkritik, dan membuktikan kesalahan
dan penyelewengan sekte-sekte yang ada kepada masyarakat. Akan tetapi mengapa akhuna Suripan
tidak merasa kebakaran jenggot melihat nyawa sebagian kaum muslimin direnggut dan jasad
sebagian umat islam bergelimpangan akibat terkena bom yang dipasang oleh sebagian sekte yang
mengebom pasar umum atau perhotelan, atau fasilitas umum lainnya? Ataukah akhuna Suripan
memang menganut paham, bahwa selain kelompoknya adalah kafir, sebagaimana yang diyakini
oleh LDII? Ataukah akhuna Suripan menganggap bahwa masyarakat kita adalah masyarakat
jahiliyyah, sehingga seluruh anggota masyarakat kita selain anggota kelompoknya layak untuk
menjadi tumbal atau dikorbankan? La haula wala quwwata illa billah.
Pada kesempatan ini saya anjurkan antum untuk mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di
Indonesia melawan penjajah Belanda. Perjuangan yang dilakukan oleh Umat Islam di bawah
kepemimpinan Imam Bonjol melawan Nasrani dan budak mereka yaitu kaum adat. Dan hendaknya
antum juga mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di India melawan Nasrani Inggris beserta
anteknya Ahmadiyyah. Bila antum telah mengkaji sejarah ini, saya yakin antum akan
berkesimpulan lain.
Yang sangat mengherankan lagi dari seluruh tulisan akhuna Suripan adalah: Akhuna Suripan
merasa bersedih dan seakan tersayat-sayat hatinya melihat sebagian orang dan sekte yang dikritik
dan dibongkar kesesatannya, akan tetapi Akhuna Suripan tidak merasa terusik dengan kesalahan
dan penyelewengan yang dilakukan oleh berbagai sekte dari ajaran agama, misalnya seperti yang
dilakukan oleh JIL, sekte Syi’ah yang menuhankan sahabat Ali, dan menyangka bahwa Malaikat
Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, Ahmadiyyah yang mengaku bahwa Mirza Ghulam
Ahmad adalah seorang Nabi, kaum Tasawuf yang mengajarkan kasta dalam beragama, dimulai dari
kasta syari’at, ma’rifat, wali, wihdatus syuhud, hingga wihdatul wujud, LDII yang senantiasa
mengkalai kafir seluruh kaum muslimin yang tidak ikut dalam sektenya dll. Padahal hakikat bid’ah
adalah tuduhan terhadap Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah gagal
mengemban risalah atau ada syariat yang dikhianati atau disembunyikan oleh beliau. Maha Suci
Alloh dari segala yang mereka tuduhkan.
Akhuna Suripan! Dengarlah baik-baik penjelasan Imam Malik bin Anas berikut:
ل·~ر نأ »=ز ~-· '+-¹~ ·-¹= .´- »¹ '--~ م·-¹ا ²~`ا -~ه .· ث~=أ .~ ل·-- .¹'·- -ا ن` ²¹'~¹ا ن'= : ²--~¹ا »´-¹= -~=
'~و -´-=¹ا »=¹و م~¹اوε-ا ·- - -·¹ .هأ '~ `إ ·-~¹ا .آأ '~و ²=-=-¹او ²-د-~¹او ةذ···~¹او ²--=-~¹او .¹= --ذ '~و »--آذ
.~ او-آ .-~¹ا .-- م·-¹ا ·~· »´¹ذ م`ز`'- ا·~~--~- نأو ---¹ا -~~-أو »´--د »´¹ -¹~آأ م·-¹ا ن·~=و »ه·~=- `· »´--د
»´¹ ---رو .-~·- »´-¹= --'=-~ -= ²-~=~ .· =-ا .~· '--د م`~`ا »-=ر ر·-= -ا ن'· »`` ) ة~-'~¹ا 3 ) ~-~·- .´- »¹ '~·
'--د م·-¹ا ن·´- ` '--د.
“Barang siapa pada zaman sekarang mengada-adakan pada umat ini sesuatu yang tidak diajarkan
oleh pendahulunya (Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya), berarti ia telah
beranggapan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati kerasulannya,
karena Alloh Ta’ala berfirman: “Diharamkan bagimu bangkai, darah ………pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Kuridhoi Islam menjadi agamamu. Maka barang siapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha penyayang” (QS Al
Maaidah: 3) sehingga segala yang tidak menjadi ajaran agama kala itu (zaman Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam dan sahabatnya) maka hari ini juga tidak akan menjadi ajaran agama”. (Riwayat
Ibnu Hazm dalam kitabnya Al Ihkam 6/225).
Inilah hakikat bid’ah. Pada hakikatnya bid’ah adalah sanggahan terhadap kesempurnaan agama
Islam yang telah ditetapkan Alloh pada surat Al Maaidah ayat 3, dan merupakan tuduhan terhadap
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan amanat menyampaikan risalah ini telah
berkhianat. Seorang yang melakukan bid’ah Seakan-akan ia berkata: Bahwa agama Islam ini belum
sempurna, sehingga perlu ditambahkan amalan saya ini, atau Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah
berkhianat, sehingga amalan baik yang saya amalkan tidak beliau ajarkan kepada umatnya.
Na’uuzubillah min dzalika.
Semoga jawaban saya ini dapat berguna dan menghilangkan berbagai syubhat yang ada pada diri
akhuna Suripan dan setiap yang membaca tulisan saya ini. Dan semoga Alloh senantiasa
melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dan melindungi umat islam dari berbagai
kesesatan, bid’ah dan kejahatan musuh-musuhNya.
ِ تاو'~´ ~¹ا َ ='· َ .-·ا~إو َ .--'´-~و َ .--ا-= ´ بر »+¹¹ا ·-· ا·-'آ '~-· كِ د'َ -ِ = .-- ُ »ُ ´ْ=- َ --أ ،ةد'+´ ~¹او ِ --·¹ا َ »¹'= ،ِ ضر`او
.~ يِ ~ْ+َ - =´ -إ ؛َ =ِ -ْذِ '- ·=¹ا .~ ·-· َ -ِ ¹ُ -ْ=ا 'َ~ِ ¹ 'َ -ِ ~ْها ،ن·ُ -ِ ¹َ -ْ=َ - - .¹إ ء'َ ~َ - »---~~ طا . ·¹' .¹=و ~~=~ '---- .¹= »¹~و -ا .¹-و
´--·~=أ ·-'=-أو .-~¹'·¹ا بر - ~~=¹ا نأ '-ا·=د ='و ،با·´ -¹'- »¹=أ -او.
“Ya Alloh, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Zat Yang telah Menciptakan langit dan bumi,
Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu
dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas izin-Mu- kepada kebenaran dalam
setiap hal yang diperselisihkan padanya, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang
Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Sholawat dan salam dari Alloh semoga
senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan
Allohlah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “segala puji
hanya milik Alloh, Tuhan semesta alam”.
Amiin, Wallohu a’lam bisshawab. //