Trauma Kranio Serebral

(Kuliah dr.Amsar AT, SpDS) PENDAHULUAN Dinamai cedera kranioserebral, karena cedera ini melukai baik bagian kranium (tengkorak) maupun serebral (otak). Cedera tersebut dapat mengakibatkan luka pada kulit kepala, fraktur tulang tengkorok, robekan selaput, kerusakan pembuluh darah baik intra maupun ekstra serebral dan kerusakan jaringan otaknya sendiri. Cedera ini dapat terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (yang terbanyak ) baik pejalan kaki maupun pengendara motor atau mobil. Selain itu, dapat juga terjadi akibat jatuh, peperangan (luka tembus peluru), dan lainnya. Akibat cedera ini, seseorang dapat mengalami kondisi kritis seperti tidak sadarkan diri pada saat akut, dan yang tidak kalah penting adalah saat perawatan bila penatalaksaan nya tidak akurat maka dapat terjadi kematian maupun kecacatan. Penatalaksaan cedera kranio-serebral secara garis besar, dapat dibagi dua yaitu non operatif dan terapi operatif. Terapi non operatif pada pasien cedera kronio-serebral ditujukan untuk : 1. mengontrol fisiologi dan mencegah kemungkinan terjadinya tekanan tinggi intra kranial. 2. mencegah dan mengobati brain swelling (golongan hiperosmolar, diuretik, barbiturat). 3. minimalisasi kerusakan sekunder ( golongan steroid, masih kontroversial). 4. mengobati simptom akibat trauma (gololongan sedatif dan stimulans ). 5. mencegah dan mengobati komplikasi, misal kejang, infeksi (golongan antikonvulsan dan antibiotik). Terapi operatif terutama diindikasikan untuk kasus-kasus : 1. Cedera kranio serebral tertutup dengan : a. fraktur impresi (depressed fracture) b. perdarahan epidural (epidural hematom) c. perdarahan subdural (subdural hematom) d. perdarahan intraserebral e. operasi dekompresi misalnya pada kontusio berat dan edema serebri 2. Cedera kranio serebral terbuka dengan : a. Luka pada kulit b. Fraktur multipel c. Dura yang robek disertai laserasi otak d. Liquorhoea e. Pneumoencephali f. Corpus alienum g. Luka tembak DEFINISI Cedera kranio serebral merupakan cabang ilmu neurotraumatologi yang mempelajari/ meneliti pengaruh trauma terhadap sel otak secara struktural maupun fungsional dengan segala akibatnya. Akibat trauma dapat terjadi pada masa akut (kerusakan primer) dan sesudahnya (kerusakan sekunder), maka penatalaksanaan segera harus dilakukan untuk mencegah/ mengurangi kematian maupun kecacatan. KLASIFIKASI Klasifikasi cedera kranio serebral berdasarkan : 1. Patologi: 1.1. Komosio serebri 1.2. Kontusio serebri 1.3. Laserasi serebri 2. Lokasi lesi : 2.1. Lesi difus jaringan otak 2.2. Lesi kerusakan vaskular otak 2.3. Lesi fokal : Kontusio dan Laserasi otak Hematoma intrakranial : 1

defisit Neurologik (+) Scanning Otak Normal Abnormal Abnormal Catatan : Pada pasien cedera kranioserebral dengan SKG 13 – 15. Hematoma Intraventrikular 3. Hematoma Intraserebral (ICH) 3. Hematoma intradural 1. untuk nilai 3 menjerit. Hematoma Subdural (SDH) c. untuk nilai 4 adalah menangis. klasifikasi berdasarkan derajat kesadaran ini yang banyak dipakai oleh karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu : 1. Penilaian SKG (Skala Koma Glassgow) dengan komponen E(ye) M(otorik) dan V(erbal) mempunyai nilai pasti dengan tampakan klinik yang mudah dinilai oleh medis maupun paramedis. Berat SKG 13 – 15 9 – 12 3–8 Gambaran Klinik Pingsan ≤ 10 menit. Penyebab terjadinya : Hematoma epidural (EDH) : 2 .a. tetapi pada hasil skening otaknya terlihat perdarahan. Hematoma epidural (EDH) b. maka diagnosis bukan lagi cedera kranioserebral ringan (CKR)/komosio tetapi menjadi cedera kranioserebral sedang (CKS) / kontusio. 2. Penilaian Glassgow Coma Scale (GCS) Tampakan Skala Spontan Dipanggil Rangsang nyeri Tidak ada respon Orientasi baik Jawaban kacau Kata-kata tak patut Bunyi tak berarti Tidak bersuara Sesuai perintah Lokalisasi nyeri Reaksi pada nyeri Fleksi (dekortikasi) Ekstensi (deserebrasi) Tidak ada respons (diam) Nilai 4 3 2 1 5 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1 E (YE) opening V(ERBAL) response M (OTOR) response Penilaian GCS pada bayi berbeda terutama pada verbal. Derajat kesadaran – Skala Koma Glasgow ( dipergunakan di klinik ) : Kategori C. bergumam . tanpa defisit neurologi. Kategori dan prognosis pasien cedera kranioserebral dapat diperkirakan melihat nilai SKG tersebut. pingsan ≤ 10 menit. nilai 2 merintih dan 1 tidak ada reaksi. Hematoma subaraknoid (SAH) 2. yaitu untuk nilai 5 adalah tersenyum.K.K Ringan C. Sedang C. Hematoma Intrasereberal 4. gelisah. defisit Neurologik (-) Pingsan > 10 menit s/d ≤ 6 Jam.K. Dari ketiga klasifikasi tersebut. defisit neurologi (+) Pingsan > 6 jam .

sehingga cairan lebih mudah menembus dindingnya. disertai terapi simptomatis. Keadaan pasien umumnya parah. pasien segera dibawa kembali ke rumah sakit. dan pada waktu diperiksa sudah sadar. kesadaran menurun. dan Sirkulasi 3 . Simple Head Injury Cedera kranio-serebral tanpa defisit neurologi. nafas (Breathing). istirahat baring dengan mobilisasi bertahap. Pasien dalam keadaan sadar (SKG = 15 ) 1. Penyebab lain adalah benturan yang dapat menimbulkan kelainan langsung pada dinding pembuluh darah sehingga menjadi lebih permiabel. Hematoma subdural ( SDH) : Terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan. Pasien dengan kesadaran menurun 1. B. Urutan tindakan sebagai berikut : a. Pasien tidak perlu dirawat jika : a. Jika dicurigai adanya hematoma. Tidak ada muntah atau sakit kepala d. Penguncupan pembuluh darah mulai terjadi pada hari ke 3 dan dapat berlangsung sampai 10 hari atau lebih. Tidak ada gejala fokal neurologik c. Ada yang bisa mengawasi kesadaran di rumah 2. MANAJEMEN A. Pasien dipulangkan dan keluarga diminta mengobservasi kesadaran. Terdapatnya darah di dalam cairan otak akan mengakibatkan spasme arteri di dalam rongga subaraknoidea. Dilakukan pemeriksaan fisik. Bila kesadaran menurun. Edema Serebri Traumatik : Cedera akan mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah di batang otak dengan akibat tonus dinding pembuluh darah nenurun. tanpa disertai defisit neurologi fokal. Bila kesadaran menurun. foto kepala. Penderita mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah trauma kranio-serebral. Pasien dipulangkan dan keluarga diminta mengobservasi kesadaran. Dilakukan perawatan luka. perawatan luka. sakit kepala. pasien dibawa kembali kerumah sakit . gejala-gejala lateralisasi ( pupil anisokor. Observasi minimal 24 jam di rumah sakit untuk menilai kemungkinan hematoma intakranial misalnya adanya lusid interval. Orientasi (waktu dan tempat ) baik b. Tidak ada fraktur tulang kepala e. dibuat skening otak. Cedera Otak Difus : Terjadi kerusakan baik pada pembuluh darah maupun pada parenkhim otak. Cedera kronio–serebral sedang (SKG = 9-12) Pasien dalam kategori ini bisa mengalami gangguan kardiopulmoner. muntah-muntah. Higroma (Hidroma) Subdural : Ialah penimbunan cairan di antara duramater dan araknoidea.Sebagian besar kasus akibat robeknya arteri meningea media. Dibuat foto kepala. Sebagian besar terjadi didaerah permukaan oksipital dan parietal. Dilakukan perawatan luka bila ada. sinus venosus dura mater atau robeknya araknoidea. sehingga tanda-tanda perangsangan meningen sering tidak dijumpai. Bila vasokonstriksi yang terjadi hebat disertai dengan vasospasme maka akan timbul gangguan aliran darah di dalam jaringan otak. Hasil akhirnya akan terjadi edema . Tempat tinggal dalam kota f. Kesadaran terganggu sesaat. 2. Periksa dan atasi gangguan jalan nafas (Airway). Keadaan ini tampak pada pasien yang tidak membaik setelah perawatan beberapa hari. Pemeriksaan radiologik atas indikasi. refleks patologis positif). Cedera kranio-serebral ringan (SKG = 13 – 15 ) Pasien mengalami perubahan orientasi. Hematoma Subaraknoid (SAH): Perdarahan subaraknoid traumatik terjadi pada lebih kurang 40% kasus cedera kranio serebral. disertai edema.

Tindakan tata laksana untuk mengatasinya dengan cara menghentikan sumber perdarahan. dicari penyebabnya dan segera diatasi. (Circulation). baringkan miring. atau foto bagian tubuh lainya bila perlu Scaning otak bila dicurigai ada hematoma intrakranial . Pemeriksaan laboratorium a. Foto kepala. b. Sedangkan Indra S. Pemeriksaan radiologi Dibuat foto kepala dan leher. Disamping kelainan serebral juga bisa disertai kelainan sistemik. Jalan nafas (Airways) Jalan nafas dibebaskan.9 % atau Ringer Laktat. tanda fokal serebral. 3. a. Resusitasi jantung paru dengan A (Airways). transfusi. extremitas.000 merujuk kepada skening otak abnormal (Emril RD. Soertidewi L. Kalau perlu pakai ventilator c.000 ternyata adalah kontusio 4 . edema paru. 3. nadi. pupil. dada dan abdomen dibuat atas indikasi. Pemeriksaan kesadaran. Kelainan perifer disebabkan karena : aspirasi. pola dan frekwensi respirasi. Cedera kranio–serebral berat (SKG = 3-8) Pasien dalam kategori ini. atau sementara waktu merestorasi volume darah yang hilang dengan cairan isotonik seperti NaCI 0. Pemeriksaan darah : Hb dan Leukosit Penelitian di RSCM mendapatkan bahwa leukositosis dapat dipakai sebagai salah satu indicator untuk membedakan kontusio (CKS) dan komosio (CKR). Isi lambung dikosongkan melalui pipa nasogastrik untuk menghindarkan aspirasi muntahan.2003). hiperventilasi neurogenik sentral atau ataksik. Hasil pemeriksaan dicatat dan dilakukan pemantauan ketat pada hari-hari pertama. segera pasang kerah fiksasi leher. intermiten 2. mendapatkan angka leukositosis > 14. berupa hipovolemi karena perdarahan luar atau ruptur alat dalam. Cari dan atasi faktor penyebab 3. 2. Tindakan tata laksana : 1. pupil. dan hiperkapne akibat gangguan kardiopulmoner. Bila terdapat perburukan dari salah satu komponen. c. Pemeriksaan fisik Setelah resusitasi ABC. Sirkulasi ( Circulation) Dapat terjadi hipotensi. Leukosit > 17. trauma dada. emboli paru atau infeksi.b. d. B (Breathing) dan C (Circulation). Pernafasan (Breathing) Gangguan pernafasan dapat disebabkan oleh kelainan sentral atau perifer. e. Hipotensi ini kebanyakan terjadi akibat faktor ekstrakranial. Hipotensi dengan tekanan darah sistolik < 90 mm Hg yang terjadi hanya satu kali saja. Kelainan sentral disebabkan oleh depresi pernafasan yang ditandai dengan pola pernafasan cheyne stokes. biasanya disertai cedera multipel. dan cedera organ lain. perbaikan fungsi jantung. kesadaran. Bila didapatkan fraktur servikal. posisi kepala ekstensi. Bila ada luka terbuka hentikan perdarahan. Foto anggota gerak. leher dsb. Berikan oksigen dosis tinggi. Skening otak dibuat bila ada fraktur tulang tengkorak atau bila klinis diduga ada hematoma intrakranial 4. trauma dada disertai tamponade jantung / pneumotorak atau akibat syok septik. sudah dapat meningkatkan kematian dan kecacatan. Bersihkan sisa muntahan. Pasien dengan cedera kranio-serebral berat sering mengalami hipoksi. pupil. tensi. 2000. klavikula. darah. Observasi fungsi vital. hipotensi. Bila pasien muntah. dilakukan pemeriksaan fisik yang meliputi kesadaran. 10 – 15 liter/menit. dan defisit fokal serebral lainya. Urutan tindakan menurut prioritas adalah sebagai berikut : 1. Bila perlu pasang collar. Kalau perlu pasang pipa orofaring atau pipa endotrakheal. defisit fokal serebral dan cedera ekstra kranial . lendir atau gigi palsu. Cari kemungkinan fraktur ditempat lain .

kadar fibrinogen < 40 ug/ml. Diagnosis ditegakkan bila trombosit < 40000/mm3. Yang dipakai NaCI 0. K dan CI Untuk mengetahui keseimbangan elektrolit. TIK normal adalah 0 – 15 mm Hg.7 – 3. c.5 – 1 g/kgBB diberikan dalam 30 menit. PCO2 yang tinggi dan PO2 yang rendah akan memberikan keluaran yang baik. Astrup ( Analisa gas darah ) Dikerjakan pada cedera kranioserebral dengan kesadaran menurun. lipid 10-40% dari kebutuhan kalori/hari.b. manitol tidak boleh diberikan. Total kalori yang dibutuhkan 25-30 kcl/kgBB/hari.v.9 kali lebih besar dibandingkan dengan kadar albumin normal ( Dewati E. PTT. bila dicurigai ada kelainan hematologis. PT > 16 detik dan PTT > 50 detik. Fibrinogen Dilakukan pemeriksaan.. e. Dosis : 40 mg /hari i. h. mendapatkan adanya hiperglikemia reaktif yang dapat merupakan faktor risiko bermakna untuk terjadinya kematian. Keseimbangan cairan elektrolit Pada saat awal (hari ke 1 – 2 ). Setelah 3 – 4 hari dapat dimulai makanan peroral melalui pipa nasogastrik. Kreatinin Pemeriksaan fungsi ginjal perlu dilakukan oleh karena pemberian manitol (cairan hiperosmolar). pemasukan cairan dikurangi untuk mencegah bertambahnya edema serebri dengan jumlah cairan 1500 – 2000 ml/hari. pipa nasogastrik dipasang setelah terdengar bising usus. Terapi diuretik : 1. Mula-mula isi perut 5 .2 gr/kg BB/hari. Tekanan Intra Kranial (TIK) meninggi Peniggian tekanan intra kranial terjadi akibat edema serebri atau hematoma intra kranial. Hiperventilasi b. E. 7 Nutrisi Pada cedera kranio–serebral berat terjadi hipermetabolisme sebanyak 2 – 2. berdampak pada fungsi ginjal. Soertidewi L. Loop diuretik (Furosemid) Pemberianya bersama Manitol. Trombosit. Oleh karena itu adanya gangguan fungsi ginjal yang buruk. Pemeriksaan laboratorium sederhana ini dapat digunakan dimana saja terutama didaerah yang tidak punya alat skening. karena elektrolit yang rendah dapat menyebabkan penurunan kesadaran. minimum karbohidrat 75–100 gr/hari dengan kecepatan infus maksimum 5 mg/kgBB /menit atau sekitar 7. Monitor : osmolariti tidak melebihi 310 mOsm. d.9% atau Ringer Laktat. Kebutuhan protein 1. Elektrolit Na.5 g/kg BB dalam waktu 30 menit. Untuk mencegah rebound diberikan ulangan manitol setelah 6 jam dengan dosis 0. g. Diatas 20 mm Hg sudah harus diturunkan dengan cara : a. Diferensiasi sel Gula darah sewaktu (GDS) Handisurya I. Kebutuhan energi pada cedera kranio-serebral berat meningkat rata-rata 40%.25 – 0. Ureum. PT. K yang diberikan berdasarkan indikasi. Beberapa vitamin juga direkomendasikan di berikan antara lain vitamin A. karena mempunyai efek sinergis dan memperpanjang efek osmotik serum manitol. 1996. C dan riboflavin serta vit. Bila ada fasilitas. chronium 50-150 mikrogram dan mangan 25-50 mg. Bagian kepala ditinggikan 20 – 300 6. 2. sebaiknya dipasang minitor TIK. Pada pasien dengan kesadaran menurun. f. Diuretik osmotik ( Manitol 20% ) Dosis : 0. Posisi tidur. selenium 50-80 mikrogram. 1999). dan rekomendasi tambahan mineral adalah sebagai berikut : zinc 10-30 mg/hari. c. 5. meskipun secara klinis kearah CKR/komosio.5–2 gr/kgBB/hari.5 kali normal dan akan mengakibatkan katabolisme protein.4 g/dl) mempunyai risiko kematian 4. Albumin serum (hari 1) Pasien CKS dan CKB dengan kadar albumin rendah (2.

v • Hari ketiga diberikan 5 mg/6 jam i. KOMPLIKASI a. terutama pada kasus cedera kranio-serebral berat.dihisap keluar. Ada yang mengatakan tidak ada gunanya dan ada yang mengatakan boleh saja diberikan. Bila pemberian nutrisi per oral sudah dan cukup. Status epileptikus : Diazepam 10 mg i. dilanjutkan dengan fenitoin (dilantin) 200 mg per oral. ganti obat lain. Early epilepsy lebih sering timbul pada anak-anak. • Kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/3 jam i. misalnya dengan fenitoin. Setiap 5–10 menit kolf cairan berisi diazepam di bolak-balik supaya selalu tercampur karena pelarut dengan diazepam akan membentuk propilen glikol yang bersifat cepat mengendap.v atau i. 8.m • Hari ketujuh diberikan 5 mg/24 jam i. dan seterusnya diberikan 3 – 4 x 100 mg/hari. Dari penelitian binatang percobaan (kucing) didapatkan hasil adanya pengurangan edema otak dengan pemberian deksametason. Bila telah diberikan diazepam sampai 100 mg dan tidak berhasil.m • Hari keenam diberikan 5 mg/12 jam i. 9.m Dosis methylprednisolone : 3 x 250 mg.dan yang terjadi setelah minggu pertama disebut late epilepsy. diberikan diazepam 10 mg. Hari ke. kecuali jika ada fraktur impresi. Pemberian streoid Kortikosteroid diberikan selektif. atau pada pasien dengan amnesia pasca traumatik yang panjang. Neurorestorasi / rehabilitasi Posisi baring dirubah setiap 8 jam.iv. Epilepsi/kejang Epilepsi yang terjadi dalam minggu pertama setelah trauma disebut early epilepsy. Cara pemberian fenitoin 6 . Sitikolin atau piracetam dianggap berperan sebagai neuroproteksi. Hari ke.v.3 dst : makanan cair 2000–3000 kal disesuaikan dengan keseimbangan elektrolit. maka infus dapat dilepas untuk mengurangi kemungkinan terjadinya phlebitis. Pada orang dewasa jarang terjadi.iv selama 5 hari 9.9% dengan tetesan ≤ 40mg/jam. Obat-obat tersebut antara lain golongan antagonis kalsium (antara lain nimodipine) yang terutama diberikan pada perdarahan subaraknoid (SAH). nutrisi diberikan : Hari ke -1 : berikan glukosa 10% sebanyak 100ml/2jam. Pengobatan : 1. Pemberian kortikosteroid untuk cedera kranioserebral ini masih kontroversial.v • Hari keempat diberikan 5 mg/8jam i. untuk mencegah regurgitasi sekaligus untuk melihat apakah ada perdarahan lambung atau tidak Selain infus. Bila cenderung berulang diberikan 50 mg/500 ml NaCl 0. memberi waktu bagi kita untuk memberikan neuroprotektan. Neuroproteksi Adanya tenggang waktu antara terjadinya cedera otak primer (primary insult) dengan timbulnya kerusakan sekunder (secondary effect). sedang pada tikus didapatkan hasil perbaikan motorik dengan pemberian methylprenisolone. dilakukan tapotase toraks dan ekstremitas digerakkan secara pasif untuk mencegah dekubitus dan pneumonia orthostatic.2 : berikan susu dengan dosis seperti glukosa. Tetapi efek yang jelas memang terlihat pada cedera spinal.v • Hari kedua diberikan 5 mg/4 jam i. Setiap 6 jam dibuat larutan baru oleh karena tidak stabil.v dapat diulang dalam 15 menit. 2. Pemberian deksametason dengan rangkaian jangka pendek (5 hari) atau panjang (7 hari) sebagai berikut : • Hari pertama saat pasien datang diberikan secara bolus 10mg i. Manfaat obat-obat tersebut masih terus diteliti. Kejang pertama : Saat kejang. hematoma intrakranial.v • Hari kelima diberikan 5 mg/12 jam i.

trombositopenia.v selama 5 hari. Bila ada kecurigaan infeksi pada meningen. hipotensi dan syok. edema pulmonum. Untuk terapi medikamentosa. Keadaan ini dicegah oleh pemberian antasida 3 x 1 tablet peroral atau famotidin dengan dosis 3 x 1 ampul i. Bila didapati kondisi ini. i. d. Catatan : Pemberian fenitoin (dilantin) lebih baik daripada pemberian diazepam drip. hipoksia. j. e. hematoma intrakranial dan pasien dengan amnesia pasca traumatik panjang. hipo-hiperagregasi trombosit. pemberian antikoagulan (heparin/LMWH) perlu dipertimbangkan. patah tulang yang nyeri. Gejala-gejalanya ialah dispnea. Bila emboli besar dapat dipertimbanhkan embolektomi kemudian diberikan terapi antikoagulasi. yaitu ampisilin 4 x 3 gram iv dan kloramfenikol 4 x 1 gram iv selama 10 hari. f. ketiak dan lipat paha. Umumnya tukak stres terjadi karena hiperasiditas atau akibat hiperfungsi kelenjar korteks adrenal yang ditandai oleh hiperkolesterolemia. 7 . b. lakukan pengosongan kandung kemih dengan pemasangan kateter. paling cepat 50 mg/menit. 10–4% diantaranya akan berdarah. tekanan intra kranial yang meningkat dan dapat pula terjadi pada emboli paru. Tromboemboli. Antibiotik yang diberikan bisa ampisilin dengan dosis 3 x 1 gram/hari intravena selama 10 hari. Gastrointestinal Pada pasien cedera kranio-serebral terutama yang berat sering ditemukan gastritis erosi dan lesi gastroduodenal lain. alveoli paru tertutup. Bila ada retensi urin. Edema pulmonum Edema pulmonum dapat terjadi pada gangguan fungsi hipotalamus yang mengakibatkan penguncupan vena-vena paru. atau tanpa memakai baju dan perawatan dilakukan dalam ruangan dengan pendingin. hiperkoagulolabilitas atau disseminated intravascula coagulopathy (DIC). Dalam hal ini mungkin perlu dilakukan operasi untuk memasang saringan di dalam vena kava atau menutupnya sama sekali. Selain itu dilakukan tindakan menurunkan suhu dengan kompres dingin pada kepala. Sedangkan emboli lemak umumnya terjadi karena patah tulang. seperti pada fraktur terbuka. Sesak napas akut Sesak napas akut dapat terjadi akibat aspirasi. fraktur basis kranii. Selain itu juga diberikan oksigen. tromboemboli atau emboli lemak ke dalam arteria pulmonalis. Diberikan fenitoin (dilantin) dengan dosis 3-4 x 100 mg/hari selama 7 hari.(dilantin) : bolus 18 mg/kg BB iv pelan-pelan. Obat yang dipilih adalah obat per oral dan tidak menimbulkan depresi pernapasan. Kelainan tukak stres ini merupakan kelainan mukosa akut saluran cerna bagian atas karena berbagai kelainan patologik atau stresor yang dapat disebabkan oleh cedera kranio-serebral. Profilaksis : diberikan pada pasien cedera kranio-serebral berat dengan risiko kejang tinggi.Tromboemboli pulmonal berasal dari trombosis venavena dalam tungkai atau lainnya. Dilanjutkan dengan 200–500 mg/hari iv atau oral. Kelainan Hematologis Kelainan hematologis bisa berupa anemia. Gelisah Kegelisahan dapat disebabkan oleh kandung kencing atau usus-usus yang penuh. h. Diazepam drip masih bisa dipakai. Infeksi Profilaksis antibiotik diberikan bila ada risiko tinggi infeksi. emboli lemak Pada keadaan ini dapat terjadi daerah-daerah infark. g. diberikan antibiotika dengan dosis meningitis. 3. Demam Setiap kenaikan suhu harus dicari dan diatasi penyebabnya. c. luka luar. Aspirasi Aspirasi dicegah dengan cara posisi kepala dimiringkan dan sedikit ekstensi agar jalan napas mudah dibersihkan dengan cara dihisap. seperti pada fraktur impresi. Semua tindakan untuk menghambat menghebatnya edema dapat dilakukan termasuk pemberian infus dengan hiperosmotika dan pemberian diuretika. Kelainankelainan tersebut meskipun sifatnya sementara tapi perlu cepat dicari dan ditanggulangi segera agar tidak memperburuk kondisi. edema dan perdarahan di dalam jaringan paru. Boleh diberikan tambahan antipiretik dengan dosis sesuai berat badan. bila perlu dapat diberikan penenang dengan observasi kesadaran lebih ketat. meskipun di negara-negara maju sudah tidak dipergunakan lagi.

Yang perlu juga diperhatikan adalah adanya amnesia pasca cedera yang tetap ada lebih dari 1 jam. dapat menekan kematin dan menambah perbaikan fungsi otak. PREDIKSI KELUARAN Prediksi keluaran pasien cedera kranioserebral berdasarkan banyak faktor antara lain umur. Subdural Hematoma (SDH) Operasi dilakukan bila terdapat : • Pendorongan garis tengah > 3 mm atau • Kompresi / obliterasi sisterna basalis PROTEKSI SEREBRAL Manajemen yang perlu perhatian adalah PROTEKSI SEREBRAL Dari beberapa percobaan penting. Juga pemberian nutrisi yang tidak adekuat dapat memperburuk keluaran. simptom neuropsikologi (salah satu cara dengan pemeriksaan MMSE) atau defisit neurologi saat keluar dari rumah sakit akan memberikan problem gejala sisa lebih sering dibandingkan mereka yang keluar tanpa adanya gejala tersebut diatas.Oksigen (O2) diberikan. Yang harus diketahui adalah sejak awal manajemen sudah harus dideteksi dan dilakukan pencegahan terhadap efek sekunder dengan cara memperhatikan kemungkinan terjadinya komplikasi sekunder dan kemungkinan adanya perbaikan dengan terapi intervensi non farmasi (terapi gizi). Perawatan konservatif dilakukan bila : • Kontusio / hematoma kecil • Hematoma dalam terletak dimasa putih atau basal ganglia 3. hipotensi dan atau iskemia serta defisit neurologik. terungkap bahwa zat/bahan neuroproteksi yang diberikan setelah cedera otak. Intraserebral Hematoma Operasi dilakukan bila hematoma besar dan menyebabkan terjadinya progresivitas kelainan neurology atau herniasi. beratnya cedera berdasarkan klasifikasi GCS dan skening otak. maupun demam yang dapat memperburuk kondisi serebral iskemia. fraktur tulang tengkorak. hipotensi. bila perlu dengan teknik tekanan ekspirasio akhir positif. ---oooOOOooo--- 8 . Epidural Hematoma (EDH) Operasi dilakukan bila terdapat : • Volume hematoma > 30 ml (kepustakaan lain > 44 ml) • Keadaan pasien memburuk • Pendorongan garis tengah >3 mm 2. TERAPI OPERASI 1. Dahulu pemberian neuroproteksi ini masih diragukan kegunaannya. komorbiditas. Hal yang perlu dipantau dari awal untuk proteksi serebral adalah kemungkinan terjadinya hipoksia. Tindakan yang juga harus dilakukan ialah mengurangi tekanan intrakranial yang tinggi.