KONSEP DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT 2.1.

1 Pasien Gawat Darurat Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapatkan pertolongan secepatnya. Bisanya di lambangkan dengan label merah. Misalnya AMI (Acut Miocart Infac).

2.1.2 Pasien Gawat Tidak Darurat Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat. Bisanya di lambangkan dengan label Biru. Misalnya pasien dengan Ca stadium akhir.

2.1.3 Pasien Darurat Tidak Gawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya. Bisanya di lambangkan dengan label kuning. Misalnya : pasien Vulnus Lateratum tanpa pendarahan.

2.1.4 Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Bisanya di lambangkan dengan label hijau. Misalnya : pasien batuk, pilek.

2.1.5 Pasien Meninggal Label hitam ( Pasien sudah meninggal, merupakan prioritas terakhir. Adapun petugas triage di lakukan oleh dokter atau perawat senior yang berpengalaman dan petugas triage juga bertanggung jawab dalam operasi,pengawasan penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu. Selain dari penjelasan di atas di butuhkan pemahaman dampak atau psikologis pada saat keadaan gawat darurat.

2.1.6 Aspek Psikologis Pada Situasi Gawat Darurat • Cemas cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difius, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya. Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi, pada setiap orang tidak sama. • Histeris Dalam penggunaan sehari-hari nya histeria menjelaskan ekses emosi yang tidak terkendali.

Orang yang "histeris" sering kehilangan kontrol diri karena ketakutan yang luar biasa karena suatu kejadian atau suatu kondisi • Mudah marah Hal ini terjadi apabila seseorang dalam kondisi gelisah dan tidak tahu apa yang harus di perbuat

I.

Pendekatan Pelayanan keperawatan gawat Darurat

Tepat adalah melakukan tindakan dengan betul dan benar, Cermat adalah melakukan tindakan dengan penuh minat, perhatian, sabar, tanggap terhadap keadaan pasient, penuh ketelitian dan berhati-hati dalam bertindak serta hemat sesuai dengan kebutuhan sedangkan Cepat adalah tindakan segera dalam waktu singkat dapat menerima dan menolong pasien, cekatan, tangkas serta terampil. Sementara itu urutan prioritas penanganan kegawatan berdasarkan pada 6-B yaitu : • B -1 = Breath – system pernafasan • B -2 = Bleed – system peredaran darah ( sirkulasi ) • B -3 = Brain – system saraf pusat • B -4 = Bladder – system urogenitalis • B -5 = Bowl – system pencernaan • B -6 = Bone – system tulang dan persendian

Kegawatan pada system B-1, B-2, B-3, adalah prioritas utama karena kematian dapat terjadi sangat cepat, rangkin pertolongan ini disebut “ Live Saving First Aid “ yang meliputi : Ø Membebaskan jalan napas dari sumbatan Ø Memberikan napas buatan Ø Pijat jantung jika jantung berhenti Ø Menghentikan pendarahan dengan menekan titik perdarahan dan menggunakan beban Ø Posisi koma dengan melakukan triple airway menuver, posisi shock dengan tubuh horizontal, kedua tungkai dinaikan 200 untuk auto tranfusi Ø Bersikap tenang tapi cekatan dan berfikir sebelum bertindak, jangan panic Ø Lakukan pengkajian yang cepat terhadap masalah yang mengancam jiwa Ø Lakukan pengkajian yang siatematik sebelum melakukan tindakan secra menyeluruh. Berdasarkan urain diatas dapat disimpulkan segera sesuai dengan standar dan fasilitas yang

sosial) F. Bencana Peristiwa atau rangkaian peritiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. TBC kulit. . Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat Misalnya pasien dengan ulcus tropiurn.tersedia karena faktor waktu dan infornasi terbatas untuk mencegah kematian dan mencegah kecacatan. B. G. E. tetapi tidak mêngancam nyawa dan anggota badannya. tidak dikehendaki sehinga menimbulkan cedera (fisik. kerusakan Iingkungan. misalnya kanker stadium lanjut. Pasien Gawat Tidak Darurat Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat. dan sebagainya. PENGERTIAN A. kerugian harta benda. C. mental. Cedera Masalah kesehatan yang didapat/dialami sebagai akibat kecelakaan. Kecelakaan (Accident) Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai factor yang datangnya mendadak. D. misanya luka sayat dangkal. Pasien Darurat Tidak Gawat Pasien akibat musibah yang datag tiba-tiba. II. Pasien Gawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.

Pankreas Kegagalan (kerusakan) sistem/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. Mencegah kematian dan cacat (to save life and limb) pada periderita gawat darurat. Trauma/cedera 2. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas. Ginjal 6. I. dan bantuan. hingga dapat hidup dan berfungs kembali dalarn masyarakat sebagaimana mestinya. 2. kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai hedaruratan II. Merujuk penderita .1 Tujuan a.2 Prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan salah satu sistem/organ di bawah ini yaitu : 1. b.kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pembangunan nasional yang memerlukan pertolongar. Defenisi Keparawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis. Susunan saraf pusat 2. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2. c. Menanggulangi korban bencana. Keracunan (poisoning) . Hati 5. Pernapasan 3. lnfeksi 3. Kardiovaskuler 4. gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang Iebih memadai. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak urgen.

Asfiksi 6. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat 2. Degenerasi (failure) 5. Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Pendenta Gawat Darurat (PPGD) dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh: 1.1 Tujuan Tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal. II.4. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan penanggulangan penderita . Upaya pelayanan kesehatan pada penderita gawat darurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu mencegah kematian atau cacat yang mungkin terjadi. Penanggulangan penderita di tempat kejadian b. Kegagalan sistem susunan saraf pusat. pernapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit). Kecepatan meminta pertolongan 3. tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien. Sistem pelayana bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus memiliki kemampuan. 3. Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi: a. dalam perjalanan kerumah sakit. keterampilan. terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang berada daam keadaan gawat darurat. Transportasi penderita gawat darurat dan tempat kejadian kesarana kesehatan yang lebih memadai. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan ditempat kejadian. kardiovaskuler. c. dan pertolongan selanjutnya secara mantap di Puskesmas atau rumah sakit. sedangkan kegagalan sistem/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolit) 7.Dan lain-lain. Sistem Pelayanan Gawat Darurat Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan asukan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga.

Triase di lakukan oleh perawat yang profesional (RN) yang sudah terlatih dalam prinsip triase.Keterampilan pengkajian yang tepat. pengalaman bekerja minimal 6 bulan di bagian UGD. ACLS. • Komprehensif Merupakan triase dasar yang standart di gunakan. Dan di dukung oleh ENA (Emergenci Nurse Association) meliputi: • A (Airway) • B (Breathing) • C (Circulation) • D (Dissability of Neurity) • E ( Ekspose) • F (Full-set of Vital sign) . Triage dalam keperawatan gawat derurat di gunakan untuk mengklasifikasian keperahan penyakit atau cidera dan menetapkan prioritas kebutuhan penggunaan petugas perawatan kesehatan yang efisien dan sumber-sumbernya. Upaya rujukan ilmu pengetahuan. Upaya penanggulangan penderita gawat darurat di tempat rujukan (Unit Gawat Darurat dan ICU).Lulus Trauma Nurse Core Currikulum (TNCC) . Sistem Triase • Spot check 25% UGD menggunakan sistem ini. dan memiliki kualisifikasi: .Menunjukkan kompetensi kegawat daruratan .pasien dan tenaga ahli e. d.gawat darurat.Pengetahuan tentang kebijakan intradepartemen . dll IV. PALS. Sisten ini memungkinkan identifikasi segera.Sertifikasi ATLS. Standart waktu yang di perlukan untuk melakukan triase adalah 2-5 menit untuk orang dewasa dan 7 menit untuk pasien anak-anak. Pasien-pasien yang terancam hidupnya harus di beri prioritas utama. perawat mengkaji dan mengklasifikasikan pasien dalam waktu 2-3 menit. Upaya pembiayaan penderita gawat darurat. III. ENPC . f. Triage Dalam Keperawatan Gawat Darurat Yaitu skenario pertolongan yang akan di berikan sesudah fase keadaan pasien.

Gangguan pernapasan . dan hitam untuk kasus kematian atau pasien menjelang ajal. hijau digunakan untuk pasien rawat jalan. Contoh: . cepat tanpa perlu menunggu antri. Yaitu kondisi yang mengancam kehidupan dan memerlukan perhatian segera. Tes lab (Darah. 61% menggunakan 4 kategori pengambilan keputusan yaitu dengan menggunakan warna hartu/status sebagai tanda klasifikasi yaitu Merah (Emergen). hitam (Expectant) VI. kuning (Urgen). Urinalisis. waktu tunggu 0 (nol) .Syok oleh berbagai kausa . KGD. Pemeriksaan diagnostik 3. Kuning menandakam perioritas sedang. Perawat harus mampu mampu mengkaji dan menggolongkan pasien dalam waktu 2 – 3 menit. Merah (Emergent) Yaitu korban-korban yang membutuhkan stabilisasi segera. Pemberian obat 4.perdarahan berat. dll) • Triase Bedside Pasien dalam sistem ini tidak di klasifikasikan triasenya. hijau (non Urgen). kompres.Perdarahan eksternal masif Prioritas 1 atau Emergensi: warna MERAH (kasus berat) Pasien dengan kondisi mengancam nyawa. Merah menunjukan perioris tinggi perawatan atau pemindahan. memerlukan evaluasi dan intervensi segera.• Pulse Oximetry • Trise two-tier Sistenm ini memetluhan orang kedua yang bertindak sebagai penolong kedua yang bertugas mensortirpasien untuk di lakukan pengkajian lebih rinci. rawat luka) 2. KATEGORI/ KLASIFIKASI TRIAS Sistem triage dikenal dengan system kode 4 warna yang diterima secara internasional.Trauma kepala dengan pupil anisokor . • Triase Expanded Sistem ini dapat di tambahkan ke sistem komprohensif dan two-tier mencakup protokol penanganan: 1. V. langsung di tangani oleh perawat yang bertugas. Pertolongan pertama (bidai. pasien dibawa ke ruang resusitasi.

area critical care. tetapi perawatan dapat di tunda sementara. trauma. mungkin membutuhkan trolley. cedera cervical. cedera pada maxilla Trauma kepala dengan koma dan proses shock yang cepat Fraktur terbuka dan fraktur compound Luka bakar > 30 % / Extensive Burn Shock tipe apapun VII. Tanda-tanda fital klien ini masih stabil. Hijau (Non urgent) Yaitu kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian pengobatan dapat di tunda. Kuning (Urgent) Yaitu korban yang memerlukan pengawasan ketat. Semua korban dengan kategori ini harus di berikan infus. · · · · Trauma thorax non asfiksia Fraktur tertutup pada tulang panjang Luka bakar terbatas ( < 30% dari TBW ) Cedera pada bagian / jaringan lunak VIII. waktu tunggu 30 menit. Prioritas 2 atau Urgent: warna KUNING (kasus sedang) Pasien dengan penyakit yang akut. kursi roda atau jalan kaki. Kondisi yang merupakan masalah medisyang disignifikan dan memerlukan penata laksanaan sesegera mungkin. Penyakit atau cidera minor Contoh .Luka bakar minor . obdomen berat) • Luka bakar luas • Gangguan kesadaran/trauma kepala • Korban dengan status yang tidak jelas.· · · · · Asfiksia. Contoh • Fraktur multiple • Fraktur femur/pelvis • Korban dengan resiko syok (korban dengan gangguan jantung.Luka minor . pengawasan ketat terhadap kemungkinan timbulnya komplikasi dan berikan perawatan sesegera mungkin.Fektur minor .

luka lama.Severity (intensitas) . Hitam (Expectant) Korban yang meninggal bunia atau yang berpotensi untuk meninggal dunia . ekstremitas.Provokes (pemicu) .kondisi yang timbul sudah lama.6% memakai sistem empat kelas yaitu 1.Time (waktu) . tindakan segera mungkin) 3.Radiation (penyebaran) . · · Minor injuries Seluruh kasus-kasus ambulant / jalan IX.Quality (kualitas) . Kelas1: kritis (mengancam jiwa. Kelas ii: Akut (terdapat perubahan yang signifikan. Kelas iv: Non Urgent (tidak terdapat resiko yang perlu segera di tangani) .Prioritas 3 atau Non Urgent: warna HIJAU (kasus ringan) Pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal. penglihatan atau tindakan segera) 2. area ambulatory / ruang P3.Treatment (penanganan) .10% digunakan sistem 5 tingkat yaitu Tingkat contoh 1 Kritis Segera Henti jantung 2 Tidak stabil 5-15 menit Fraktur mayor 3 Potensial tidak stabil 30-60 menit Nyeri abdomen 4 Stabil 1-2 jam Sinusitis 5 Rutin 4 jam Pengangkatan jahitan Prioritas 0: warna HITAM (kasus meninggal) · · · · Tidak ada respon pada semua rangsangan Tidak ada respirasi spontan Tidak ada bukti aktivitas jantung Tidak ada respon pupil terhadap cahaya X. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Penghajian (PQRST) . tikdakan pada waktu yang tepat) 4. Kelas iii: Urgent (signifikan.

Kaji berdasarkan ABCD . • Evaluasi dan pemulihan curah jantung .Aggraviting Factor (faktor yang memperberat) .Usia .Kontrol yang ketat XV.Treatment ( penanganan sebekumnya) XI.Location of Problem (lokasi masalah) .setekah itu baru diklasifikasikan. Prinsip Penatalaksanaan Keperawartan Gawat Darurat • Memelihara jalan nafas dan menyediakan ventilasi yang adekuat.Kaharusak pasien berbaring .Onset of system (awitan gejala) . Alur Pasien UGD . imunisasi. melakukan resusitasi pada saat dibutuhkan.Kaji segera yang penting (HR. • Kontrol pendarahan dan konsekuensinya.jika ada luka dep dengan segera) .Akses klien dalam institusi pelayanan kes . haid terahir.Kaji awitan yang baru timbul .Alur pasien dalam kedaruratan XII.Kemunduran secara progresif .Relieving Factors (faktor yang meringankan) .Psikososial . Pertimbangan Pengambilan Keputusan Triase Menurut standart ENA (1999) .Setiap gejala yang di sertai pebahan pasti lainnya .Tumbuh kembang .Ditambah dengan riwayat alergi.Duration of Symptoms (karakteristik gejala yang di rasakan) .Pantau: setiap gejala cendrung berulang atau intensitas meningkat .Kebutuhan fisik .Misteri . Kaji cedera dan obstruksi jalan nafas.Pastikan keluhan klien (cocokkan apa yang perawat lihat) .Awitan . obat-obatan terahir. Tipsord-Klinkhammer dan Adreoni menganjurkan OLD CART .

• Mulai pantau EKG. XVI. • Mulai mengisi alur tanda vital. keadaan cedera atau penyakit yang serius dari pasien tidak statis • Menentukan apakah pasien dapat mengikuti perintah. TD dan status neurologik untuk mendapatkan petunjuk dalam mengambil keputusan. http://mulvina.com/2012/09/konsep-dasar-keperawatan-gawat-darurat. memelihara sirkulasi • Mendapatkan pemeriksaan fisik secara terus menerus. evaluasi.blogspot.• Mencegah dan menangani syok. vital signdievaluasi secara berkala. ukuran dan aktivitas pupil dan respon motoriknya. jika kondisi mulai stabil pindahkan keruangan yang sesuai. Evaluasi Setelah mendapat pertolongan adekuat. jika diperlukan • Lakukan penatalaksanaan jika ada dugaan fraktur cervikal dengan cedera kepala • Melindungi luka dengan balutan steril • Periksa apakah pasien menggunakan kewaspadaan medik atau identitas mengenai alergi dan masalah kesehatan lain. setelah itu konsulkan dengan dokteratau bagian diagnostik untuk prosedur berikutnya.html PENGKAJIAN GAWAT DARURAT APA YANG PERAWAT KAJI? JENIS PENGKAJIAN § § § § UMUM KESADARAN PRIMER SEKUNDER PENGKAJIAN UMUM § § § § Kesan perawat terhadap pasien saat datang Sakit berat Sakit sedang Sakit ringan PENGKAJIAN KESADARAN: AVPU § § Alert/sadar lingkungan Verbal/menjawab pertanyaan .

refill time lambat (kuku. telapak) jika suara jelas = airway bebas Pasien sadar raba nadi radialis shock ? evaluasi perfusi ukur tek darah Ada nadi carotis raba nadi radialis shock ? evaluasi perfusi ukur tek darah Pasien tak sadar raba nadi carotis cardiac arrest ? Tidak ada nadi carotis .basah cap.dingin .§ § Pain/nyeri Unresponsive/tidak bereaksiss PENGKAJIAN PRIMER: • • • AIRWAY à bebasnya jalan nafas BREATHING à adekuat pernafasan CIRCULATION à adekuat jantung dan sirkulasi tubuh Korban sadar atau tidak ? (sumber GELS) Sadar ® ajak bicara – • – • – – • – • – – • – • • Shock ? • – – Perfusi : pucat .

MCI. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. lihat. LISTEN AND FEEL § RIWAYAT PASIEN: – otot-nafas-tambahan § SEKUNDER v liquid) – Q (Quality) • M (Medications) – Warna kulit. lihat pergerakan dada • adanya pergerakan udara PENGKAJIAN PRIMER § bicara?) § LOOK. keracunan obat. § Henti napas. tersengat listrik. dengar. § Tujuan BHD§ atau berhentinya pernafasan § Mencegah berhentinya sirkulasi Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari pasien yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui resusitasi jantung paru ( RJP ).perdarahan Riwayat serangan Radiology Lecet/ luka Pengkajian psikososial • Pemeriksaan laboratorium • Reaksi emosional • Tanda-tanda gangguan psikososial Pemeriksaan penunjang • USG dan EKG BANTUAN HIDUP DASAR PADA DEWASA DAN ANAK ANATOMI JANTUNG & PARU Bantuan hidup dasar Indikasi melakukan RJP adalah . menghirup asap. § Disebabkan beberapa hal seperti : tenggelam. kedalaman dan Wajah – Mata – Hidung – Tekanan darah § Irama dan kekuatan nadi § Kulit kepala – penggunaan otot bantu pernafasan§ WAJAH • OBSERVASI dan PALPASI – telinga – Mulut – Suhu tubuh PENGKAJIAN KEPALA. § Ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari pasien. mukosa. obstruksi jalan napas akibat benda asing. Nilai nafas dengan. § Henti jantung § Pada saat terjadi henti jantung.• • Nadi > 100 Tekanan darah < 100 (atau 90) mmHg CARA MENGKAJI • LOOK àlihat tanda LISTEN à dengar suara nafas • FEEL à rasa Kesadaran (bisa Ada nafas ? §Gerak dada § Gerak trauma. trauma. LEHER & Leher – Nyeri tulang servikal dan tulang belakang dll. dan rasakan Ada nafas Tidak ada nafas Pertahankan posisi Ada denyut Jamin jalan nafas Tiup nafas 2x terbuka Nilai fungsi sirkulasi Tidak ada denyut Nafas buatan Intubasi ETT Lakukan RJP Oksigen . Minta bantuan 2. Langkah-langkah BHD § Pastikan keamanan penolong § Pastikan keamanan pasien ALGORITMA PENANGGULANGAN GANGGUAN HENTI NAFAS DAN HENTI JANTUNG Nilai Respon Pasien Ada respon Tidak ada respon Observasi 1.stroke. warna kulit. dll. kuku § Cara palpasi nadi PENGKAJIAN A (Allergies) – P (Provoked) • S (signs and symptoms) – P (Pertinent past medical history) – S (Severity) • L (Last oral intake solid E (Event leading to injury or illness) PENGKAJIAN NYERI • R (Radian) • T (Time) TANDA-TANDA VITAL § Irama. Pengkajian dada Pengkajian abdomen Pengkajian pelvis Pengkajian ekstremitas Pengkajian tulang belakang • • panik • dan scaning • Deformitas tulang belakang • Tanda-tanda jejas. secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. tercekik.

berikan . Memastikan pasien tidak bernafas. jika terjadi segera terlentangkan Jika tetap gagal memberikan napas buatan. • pasien dan lakukan nafas buatan kembali. ubah posisi Waspada pasien ke posisi miring mantap. • Jika tidak ada nafas tetapi nadi teraba. dilakukan Jika ada nafas dan denyut nadi kembali kompresi dan bantuan nafas dengan rasio 15:2. Melihat (look).Anamnesa IV cateter Pem fisik Tanda vital Monitoring PERIKSA KEMBALI KEADAAN KORBAN DENGAN CARA MENGGONCANGKAN BAHU KORBAN SEGERA BERTERIAK MINTA PERTOLONGAN Memeriksa jalan nafas. mendengar (listen). berarti hampir 2 X kompresi dalam 1 detik ) EVALUASI • Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudin pasien dievaluasi kembali. • Lepaskan tekanan tanpa melepas kontak antara tangan dan sternum pasien. • Jika tidak ada nadi karotis. mendengar (listen). • teraba letakan pasien pada posisi mantap. Letakkan salah satu pangkal telapak tangan penolong pada pertengahan dari seperdua bagian bawah tulang dada ( sternum ) • Tepatkan badan penolong vertikal diatas pasien dengan bertumpu pada kedua lengan yang diluruskan diatas`sternum pasien dan tekan sternum tegak lurus sedalam 3.kembali. merasakan (feel) MEMBERIKAN BANTUAN NAFAS MULUT KE MULUT MULUT KE HIDUNG MULUT KE STOMA BAG VALVE MASK ( AMBU BAG ) Evaluasi airway & breathing Jika mengalami kesulitan untuk memberikan nafas buatan yang efektif. Merasakan (feel) Memastikan jalan nafas • Melihat (look). • Arteri karotis • Sirkulasi ( C ) • Bila arteri karotis tidak teraba lakukan kombinasi nafas buatan dan kompresi jantung luar dengan perbandingan 15 : 2 (baik 1 atau 2 Jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada ( sternum ) Dari pertemuan tulang sternum diukur kurang lebih 2 atau 3 jari keatas daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. – terhadap kemungkinan pasien mengalami henti nafas. bila pasien muntah tidak terjadi aspirasi .periksa apakah masih ada sumbatan di mulut pasien serta perbaiki posisi tengadah kepala dan angkat dagu yang belum adekuat. Melihat (look) Mendengar (listen) Merasakan (feel) PEMERIKSAAN JALAN NAFAS MEMPERBAIKI POSISI KORBAN/ PASIEN MEMPERBAIKI POSISI PENOLONG MEMBUKA JALAN NAFAS Chin lif dan Head tild • Tengadahkan kepala – topang dagu (chin Lift) Gerakan mengedapkan rahang (mencakillan) Jaw Thrust BREATHING ( BANTUAN NAFAS ).8 – 5 cm. tetap lanjutkan ke pemeriksaan tanda-tanda sirkulasi CIRCULATION ( BANTUAN SIRKULASI ) Memastikan ada tidaknya denyut jantung Memastikan ada tidaknya denyut jantung • Arteri brakhialis • orang penolong). • Bila pasien kembali bernafas spontan dan normal tetapi tetap belum sadar. Lakukan sampai dapat dilakukan 2 kali nafas buatan yang adekuat. kemudian ulangi penekanan/ kompresi jantung luar dengan kecepatan 100 X/ menit ( dilakukan 4 siklus / menit .

Menanggulangi korban bencana. Merujuk penderita .dll Kegagalan sistim susunan saraf pusat. • terbuka. RJP tetap diteruskan walaupun terasa ada fraktur iga. – Evaluasi pernafasan pasien tiap 1 menit saat dilakukan RJP – perlu diperhatikan – Lakukan RJP sampai – Dinyatakan meninggal – ada respon. Komplikasi RJP • Penolong tidak mampu atau sudah 30 menit tidak Fraktur iga. Perencanaan 3. PENATALAKSANAAN OBSTRUKSI JALAN NAFAS OLEH BENDA ASING PADA DEWASA MANUVER HEIMLICH PADA KORBAN SADAR DENGAN POSISI BERDIRI ATAU DUDUK. Tujuan PPGD 1. • – Jika sudah terdapat pernafasan spontan dan adekuat serta nadi teraba.Otak kekurangan Sifat Reversible Ø . .12 x/menit dan monitor nadi setiap 10 detik. Fraktur mungkin terjadi bila posisi tangan salah • Perdarahan intra abdominal Posisi tangan yang terlalu rendah akan menekan procesus xipoideus ke arah hepar (limpa). Mati Ø Terjadi gangguan fungsi Mati Klinis : Otak kekurangan Oksigen dlm 6-8 mnt Mati Biologis : . Berasal dari istilah critical ill patient (pasien kritis/gawat) dan emergency patient (pasien darurat). 3. • Distensi lambung karena pernafasan buatan. Penderita Gawat Darurat Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan salah satu sistem/organ di bawah ini yaitu : o Pernapasan o Organ o Kardiovaskuler o Trauma/cedera3 o Asfiksi o Hati o Susunan saraf pusat o Ginjal o Pancreas Penyebab Kegagalan Keracunan (poisoning) o lnfeksi o Degenerasi (failure) o Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolit. 2. Proses KGD Proses dalam KGD meliputi : 1. Dokumentasi PPGD (Penanggulangan Penderita Gawat Darurat) Suatu pertolongan yang cepat dan tepat untuk mencegah kematian maupun kecatatan. sedangkan kegagalan sistim/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama. kardiovskuler. Sering terjadi terutama pada orang tua. Evaluasi 5. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. Manuver Heimlich pada korban yang tergeletak ( tidak sadar ) KONSEP-KONSEP KEPERAWATAN DARURAT Pengertian KGD Rangkaian kegiatan praktik keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan oleh perawat yang kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang gawat darurat. pernapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit). gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang Iebih memadai.bantuan nafas sebanyak 10. jaga agar jalan nafas tetap Lanjutkan resusitasi sampai : – Pertolongan diambil alih oleh yang lebih ahli Pasien menunjukan tanda-tanda sirkulasi – Timbul nafas spontan. Pengkajian 2. – Penolong kelelahan. Pelaksanaan 4. Mencegah kematian dan kecacatan (to save life and limb) pada penderita gawat darurat. Hal – hal yang Diambil alih alat/ petugas lain.

Penanganan cepat dan tepat 2. Exposure v Resusitasi pada kasus dengan henti napas dan henti jantung Pada kasus-kasus tanpa henti napas dan henti jantung. dokter). 4. Keracunan CO 4. ALS Triage Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan. 3. misal pasien koma dan pasien dengan trauma inhalasi atau luka bakar grade II-III pada daerah muka dan leher. Medis : Kemampuan medis berupa pengetahuan maupun ketrampilan : BLS. dalam perjalanan ke rumah sakit dan pertolongan selanjutnya di puskesmas atau rumah sakit Filosofi Dasar PPGD • Universal • Penanganan oleh siapa saja • Penyelesaian berdasarkan masalah Prinsip 1. Tension Pneumothorax 5. (Perawat sebagai anggota Tim Kes. misalnya kanker stadium lanjut.Terjadi kerusakan sel Penyebab Kematian a. menyiapkan alat-alat. Henti jantung 6. Meninggal . darurat – kuning Kelompok pasien akibat musibah yang datag tiba-tiba. perawat. Potentially Life Threatening Case 1. Koma Kelompok kasus yang perlu penanganan segera karena adanya ancaman kecatatan • • Sindroma Kompartemen Faktor Penentu Keberhasilan PPGD • menemukan penderita gawat darurat • Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan di tempat kejadian. 5. Tidak gawat. Peran & Fungsi Perawat Gadar Fungsi Independen Fungsi mandiri berkaitan dengan pemberian asuhan (Care) Fungsi Dependen Fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau sebagian dari profesi lain Fungsi Kolaboratif Kerjasama saling membantu dlm program kes. Kontusio Jantung / Fraktur tulang disertai cedera pada persyarafan • Crush Injury Kecepatan Kecepatan meminta pertolongan • Paru 3. Tamponade Jantung b. Gawat darurat – merah Kelompok pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.hitam Lingkup PPGD v Melakukan Primary Survey. Asphixia 3. Non medis : Cara meminta pertolongan. tidak darurat – hijau. 1990) • Mengenal klasifikasi pasien • Mampu mengatasi pasien : syok. tetapi tidak mêngancam nyawa dan anggota badannya. Sifat Ireversible Kategori Kasus Immediately Life Threatening Case : 1. Defibrilator. 2. Gawat tidak darurat – putih Kelompok pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat. maka upaya penanganan harus dilakukan untuk mencegah keadaan tsb. Meliputi tindakan : A. Perdarahan Masif 4.Oksigen dlm 8-10 mnt . Obstruksi Total jalan Napas 2. tanpa dukungan alat bantu diagnostik kemudian dilanjutkan dengan Secondary Survey v Menggunakan tahapan ABCDE A : Airway management B : Breathing management C : Circulation management D : Drug. Pertolongan segera diberikan oleh siapa saja yang menemukan pasien tersebut ( awam. gawat . 1. Disability E : EKG. transportasi. misanya luka sayat dangkal. Tidak gawat. B.) Kemampuan Minimal Perawat UGD (Depkes. Ruptura Tracheobronkial 2.

menyelamatkan) 7. Tuntutan hukum dalam praktek KGD biasanya berasal dari : 1. kejang. Berasal dari istilah : Critical ill Patient Emergency Patient MATI Mati Klinis : Otak kekurangan Oksigen dlm 6-8 mnt Terjadi gangguan fungsi Sifat Reversible Mati Biologis : Otak kekurangan Oksigen dlm 8-10 mnt . Kewajiban untuk merahasiakan (etika >< hukum) Pengertian KGD Rangkaian kegiatan praktik keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan oleh perawat yang kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang gawat darurat. Hak otonomi pasien : informed consent (dewasa. Kegagalan komunikasi 2. Proses KGD Pengkajian Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi Dokumentasi PPGD Pertolongan Penderita Gawat Darurat Suatu pertolongan yang cepat dan tepat untuk mencegah kematian maupun kecatatan. anak) 5. Kualifikasi tenaga medis 4. Ketidakmampuan mengatasi dillema dalam profesi Permasalahan etik dan hukum KGD merupakan isu yang juga terjadi pada etika dan hukum dalam kegawatdaruratan medik yaitu : 1. gagal jantung paru otak. kolik.nafas. perdarahan. Kewajiban untuk Kewajiban untuk mencegah cedera atau bahaya pada pasien 6. • keperawatan gawat darurat • Mampu melaksanakan dokumentasi asuhan Mampu melaksanakan komunikasi eksternal dan internal Aspek Hukum Dalam KGD Pemahaman terhadap aspek hukum dalam KGD bertujuan meningkatkan kualitas penanganan pasien dan menjamin keamanan serta keselamatan pasien. koma. Diagnosis keadaan gawat darurat 2. nyeri hebat daerah pinggul & kasus ortopedi. status asthmatikus. memberikan kebaikan pada pasien (rasa sakit. Standar Operating Procedure 3. Aspek hukum menjadi penting karena konsensus universal menyatakan bahwa pertimbangan aspek legal dan etika tidak dapat dipisahkan dari pelayanan medik yang baik.

Tamponade Jantung Potentially Life Threatening Case 1. Obstruksi Total jalan Napas 2. darurat – kuning Tidak gawat. Meninggal – hitam Prinsip Penanganan cepat dan tepat . Fraktur tulang disertai cedera pada persyarafan 2. Henti jantung 6. Sindroma Kompartemen Filosofi Dasar PPGD Universal Penanganan oleh siapa saja Penyelesaian berdasarkan masalah TRIAGE Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan. Perdarahan Masif 4. Tension Pneumothorax 5. Keracunan CO 4.Terjadi kerusakan sel Sifat Ireversible Kategori Immediately Life Threatening Case : 1. Gawat darurat – merah Gawat tidak darurat – putih Tidak gawat. Kontusio Jantung / Paru 3. Ruptura Tracheobronkial 2. Koma Kelompok kasus yang perlu penanganan segera karena adanya ancaman kecatatan 1. tidak darurat – hijau. Asphixia 3. Crush Injury 3.

Pertolongan segera diberikan oleh siapa saja yang menemukan pasien tersebut ( awam. kemajuan IPTEK. lingkungan pemukiman. transportasi. tepat dan aman Mempunyai masalah patologis. Medis : Kemampuan medis berupa pengetahuan maupun ketrampilan : BLS. misal: Pasien Koma Pasien dengan trauma inhalasi atau luka bakar grade II-III pada daerah muka dan leher Peran & Fungsi Perawat Gadar Pelayanan ga w at darurat yang lebih baik / prima. perawat. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat semakin meningkat Sifat pasien gawat darurat Perlu pertolongan segera. menyiapkan alat-alat. kepadatan penduduk. tanpa dukungan alat bantu diagnostik kemudian dilanjutkan dengan Secondary Survey Menggunakan tahapan ABCDE Resusitasi pada kasus dengan henti napas dan henti jantung A : Airway management B : Breathing management C : Circulation management D : Drug Defibrilator Disability DD/ E : EKG Exposure Pada kasus-kasus tanpa henti napas dan henti jantung. ALS Lingkup PPGD Melakukan Primary Survey . sangat dibutuhkan karena Kasus gawat darurat meningkat akibat : Modernisasi pengangkutan dan pembangunan. cepat. B. dokter) Meliputi tindakan : A. lingkungan. psikososial. maka upaya penanganan harus dilakukan untuk mencegah keadaan tsb. Non medis : Cara meminta pertolongan. keluarga Tidak sabar menunggu à informasi Unik Perawat profesional .

berikan oksigen. merupakan rangkaian dari upaya penanggulangan pasien gd yang terorganisir Peran perawat Sesuai lokakarya nasional keperawatan th 1993 : Sebagai tenaga pelaksana pelayanan keperawatan Sebagai pengelola dalam bidang pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan keperawatan Sebagai pendidik dalam ilmu keperawatan Sebagai peneliti Peran perawat sebagai pelaksana dapat dijabarkan sbb Pemberi asuhan keperawatan (care giver) Pelindung pasien (advocate) Sebagai penasehat (counsellor) Sebagai pendidik Sebagai koordinator Sebagai kolaborator Sebagai konsultan Fungsi perawat adalah sebagai berikut Fungsi independen Fungsi mandiri berkaitan dengan pemberian asuhan (Care) Fungsi dependen Fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau sebagian dari profesi lain Fungsi kolaboratif Kerjasama saling membantu dlm program kes.Perawat gawat darurat Orang terdekat dengan pasien Paling mengetahui perkembangan pasien saat dirawat à tanda – tanda kegawatan Mampu mengenal gejala dan pertolongan sebelum dokter datang Bertanggung jawab atas perkembangan dan tindakan yang telah dilakukan à pencatatan Berfikir dan berinisiatif à melihat gejala pasien syok hipovolemik à interpretasi data à syok à Produk urine. kehausan.) . memerlukan tindakan medik segera dan tepat Ird : suatu tempat / unit di RS yg memiliki tim kerja dengan kemampuan khusus & peralatan. (Perawat sebagai anggota Tim Kes. hangatkan perifer Pengertian peran : tl yg diharapkan oleh orang lain terhadap sesorang dengan kedudukan dalam sistem fungsi : pekerjaan / segala sesuatu yang harus dilakukan sesuai peran gawat darurat medik : peristiwa yang menimpa seseorang dengan tiba-tiba dapat membahayakan jiwa. yg memberikan yan ps gawat darurat. kesadaran à atur posisi pasien. sirkulasi perifer.

Sebagai pemberi askep pasien gawat darurat selama 24 jam terus menerus berkesinambungan. Mampu Melaksanakan pencatatan & pelaporan yan askep . DEPKES 1999 : Mampu mengenal klasifikasi pasien : Pasien TGDG “false emergency” ( label hijau ) korban memerlukan tindakan medis tdk segera Pasien DTG ( label kuning ) korban tidak gawat memerlukan pertolongan medik untuk mencegah lebih gawat atau mencegah cacat. balut bidai. Gagal Jantung Paru Otak. Perdarahan. Pasien GTD ( label putih ) pasien parah pertolongan tidak mempunyai arti bagi penyelamatan jiwanya. KEMAMPUAN TENAGA PERAWAT UGD SS PEDOMAN KERJA PERAWAT. Mampu berkomunikasi : Intern. Kejang. air viva dll. respirator. Mengevaluasi Yan Kep. B. Nyeri hebat daerah pinggul & Kasus Ortopedi. transportasi. Merencanakan Yan Kep.Fungsi independen di ugd dijabarkan Sebagai tuan rumah yg baik bagi pasien / anggota tim kes. Status Asthmatikus. Melaksanakan Tindakan Askep. Membuat diagnosa. nebulizer. Melaksanakan kebijakan dan prosedur yg berlaku di RS / UGD Sebagai komunikator Merawat & menjaga keutuhan alat agar siap pakai Sebagai operator untuk alat kedokteran : ekg. defibrilator. Mendokumentasikan Proses Kep. Gawat Nafas. Koma. membuat & membaca rekaman EKG. Kolik. Lain Melaksanakan pengkajian. monitor jantung. Ekstern . turut serta dalam klb. pengenalan & penggunaan obat resusitasi. Pasien GD ( label merah ) korban dlm keadaan mengancam nyawa bila tdk segera ditolong. Pasien yg meninggal/Death on Arrival ( label hitam ) Mampu mengatasi pasien : Syok. Kemampuan minimal petugas UGD Pedoman depkes 1990 Membuka & membebaskan jalan nafas (airway) Memberikan ventilasi pulmoner & oksigenisasi (breathing) Memberikan sirkulasi artificial dengan jalan massage jantung luar (circulation) Menghentikan perdarahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful