Keselamatan dan Kecelakaan Kerja Nurfaaza Binti Senin NIM: 102009295 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

, Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510 Email: nurfaazasenin@yahoo.com

PENDAHULUAN
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan instrument yang memproteksi pekerja perusahaan, lingkungan hidup dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. Walaubagaimanapun, proses ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja tetapi harus dianggap sebagai bentuk usaha investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa akan datang. Kecelakaan kerja dapat dilihat sebagai disfungsi sistem dan pada analisis kasus kecelakaan harusla dicari penyebabnya. Setiap kecelakaan mempunyai banyak penyebab dan penyebab dasar dapat menunjukkan disfungsi manajemen. Sekiranya terjadi kecelakaan kecil dan insiden kecil di tempat kerja sebaiknya ia dianalisis jika merasakan menimbulkan kecelakaan besar di masa hadapan kelak. ia mempunyai potensi untuk

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 1

LATAR BELAKANG KASUS
Suatu kelompok kerja di beri tugas untuk memasang kabel transmisi tegangan rendah, mereka meminta tangga dan berbagai peralatan lain dari petugas gudang. Pada saat melaksanakan pekerjaan , seorang teknisi memanjat tangga tersebut dan menginjak bagian yang cacat, dan bagian tersebut patah, teknisi yang tidak menggunakan sabuk pengaman tersebut terjatuh. Ternyata tangga yang diberikan petugas gudang adalah sebuah tangga yang cacat pada anak tangga ke tiga dari bawah. Tangga tersebut disimpan di gudang perusahaan. Petugas gudang saat itu tidak mengetahui tangga tersebut cacat, karena itu ia menyerahkan tangga tersebut kepada pimpinan kelompok untuk digunakan. Pengawas gudang sudah mengetahui bahwa tangga tersebut cacat, tapi ia lupa memasang tanda peringatan atau member perintah agar tangga tersebut diperbaiki.

RUMUSAN MASALAH KASUS
1) Seorang teknisi yang tidak memakai sabuk pengaman terjatuh kerana tangganya cacat. 2) Pengawas gudang lupa untuk memberikan tanda peringatan tangga diperbaiki. atau memberi perintah

TUJUAN
1) Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan di samping memahami

aspek-aspek penting dalam keselamatan kerja di lingkungan kerja.

MANFAAT
1) Bagi Mahasiswa: Dilatih untuk memecahkan berbagai macam kasus yang memerlukan

pertimbangan dari beberapa aspek terkait mengenai kecelakaan kerja.
2) Bagi Universitas: Dapat menambah referensi mengenai kecelakaan kerja.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 2

PEMBAHASAN
Walaupun keselamatan kerja selalu diutamakan, kecelakaan ketika bekerja juga kadang- kadang tidak dapat dielakkan dan terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan ketika bekerja. Pengertian Kecelakaan Kerja:1  Kecelakaan: kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.

o Tidak terduga: Kecelakaan yang berlaku tidak terdapat unsur kesengajaan. o Tidak diharapkan: Peristiwa kecelakaan yang disertai dengan kerugian material atau penderitaan korban dari yang paling ringan kepada yang paling berat.  Kecelakaan akibat kerja: Kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada perusahaan, berarti kecelakaan terjadi dikeranakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.  Bahaya pekerjaan: Faktor - faktor dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan. Bahaya ini juga bisa diartikan sebagai potential, jika faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan tetapi jika kecelakaan sudah terjadi, maka bahaya tersebut disebut bahaya nyata. 1) Teori Penyebab Kecelakaan Kerja2 1. Teori Heinrich (Teori Domino) Teori ini mengatakan bahwa suatu kecelakaan terjadi dari suatu rang kaian kejadian . Ada lima faktor yang terkait dalam rangkaian kejadian tersebut yaitu : a) Lingkungan atau keturunan Contoh: Keras kepala, Pengetahuan lingkungan jelek

b) Kesalahan atau kelalaian manusia Kelemahan sifat perseorangan atau kelompok yang akhirnya akan menunjang terjadinya kecelakaan Contoh: kurang pendidikan, angkuh, cacat fisik atau mental

c) Kondisi atau keadaan yang tidak aman Contoh: Pencahayaan tidak memadai, alat kerja yang lama
Page 3

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

d) Kecelakaan Contohnya: Akan berdampak kepada keluarga korban, bisa menimpa pekerja lain

e) Cedera Contoh: luka, cacat, tidak mampu bekerja atau meninggal dunia

Gambar 1: Teori Heinrich “Teori Domino Efek”

Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya, tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan.

2. Teori Frank E. Bird Petersen Penelusuran sumber yang mengakibatkan kecelakaan . Bird mengadakan modifikasi dengan teori domino Heinrich dengan menggunakan teori manajemen, intinya sebagai berikut: a. Manajemen kurang control

b. Sumber penyebab utama c. Gejala penyebab langsung (praktek di bawah standar)

d. Kontak peristiwa ( kondisi di bawah standar ) e. Kerugian gangguan (tubuh maupun harta benda)

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 4

Usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya berhasil apabila dimulai dari memperbaiki manajemen tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Kemudian, praktek dan kondisi di bawah standar merupakan penyebab terjadinya suatu kecelakaan dan merupakan gejala penyebab utama akibat kesalahan manajemen. 2) Penyebab Kecelakaan3 a. Penyebab Dasar  Faktor manusia/pribadi, antara lain karena :

o kurangnya kemampuan fisik, mental, dan psikologis o kurangnya/lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/keahlian. o stress o motivasi yang tidak cukup/salah 

Faktor kerja/lingkungan, antara lain karena :

o tidak cukup kepemimpinan dan atau pengawasan o tidak cukup pembelian/pengadaan barang o tidak cukup perawatan (maintenance) o tidak cukup alat-alat, perlengkapan dan berang-barang/bahan-bahan. o tidak cukup standard-standard kerja o penyalahgunaan

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 5

b. Penyebab Langsung  Kondisi berbahaya (unsafe conditions/kondisi-kondisi yang tidak standard) yaitu tindakan yang akan menyebabkan kecelakaan, misalnya: o Peralatan pengaman/pelindung/rintangan yang tidak memadai atau tidak memenuhi syarat. o Bahan, alat-alat/peralatan rusak o Terlalu sesak/sempit o Sistem-sistem tanda peringatan yang kurang mamadai o Bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan o Kerapihan/tata-letak (housekeeping) yang buruk o Lingkungan berbahaya/beracun : gas, debu, asap, uap, dll o Bising o Paparan radiasi o Ventilasi dan penerangan yang kurang  Tindakan berbahaya (unsafe act/tindakan-tindakan yang tidak standard) adalah tingkah laku, tindak-tanduk atau perbuatan yang akan menyebabkan kecelakaan, misalnya: o Mengoperasikan alat/peralatan tanpa wewenang. o Gagal untuk memberi peringatan. o Gagal untuk mengamankan. o Bekerja dengan kecepatan yang salah. o Menyebabkan alat-alat keselamatan tidak berfungsi. o Memindahkan alat-alat keselamatan. o Menggunakan alat yang rusak. o Menggunakan alat dengan cara yang salah. o Kegagalan memakai alat pelindung/keselamatan diri secara benar.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 6

3) Tinjauan Kasus  Rumusan kasus: Seorang teknisi yang tidak memakai sabuk pengaman terjatuh kerana tangganya cacat. Pengawas gudang lupa untuk memberikan tanda peringatan atau memberi perintah tangga diperbaiki.  Standar Operasional Prosedur (SOP)4,5 Merupakan suatu standar atau pedoman yang dipergunakan untuk menyelesaikan suatu proses kerja. Kepentingan SOP:     Sebagai acuan untuk membuat suatu standar proses pada sistem produksi. SOP akan dijadikan sebagai alat komunikasi dan pengawasan bagi pekerja. Penting dalam menentukan standar proses dan biaya standar yang akan menentukan output yang dihasilkan Merupakan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikatorindikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan.   Dengan adanya SOP, penyelenggaraan administrasi suatu organisasi dapat berjalan dengan pasti. Berbagai bentuk penyimpangan dapat dihindari atau sekalipun terjadi penyimpangan di lingkungan pemerintahan, hal tersebut dapat ditemukan penyebabnya dan bisa diselesaikan dengan cara yang tepat.  Apabila semua kegiatan sudah sesuai dengan yang ditetapkan dalam SOP, maka secara bertahap kualitas pelayanan publik akan lebih profesional, cepat dan mudah. Aturan tentang keselamatan dan kesehatan6 Pada kasus ini, teknisi tersebut tidak memakai sabuk pengaman semasa sedang bekerja.

i.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 7

-

Situasi ini memberi contoh teknisi tersebut tidak mematuhi aturan dan ia akan memberikan contoh buruk kepada teknisi lain selain dapat membahayakan keselamatan teknisi itu sendiri. Dengan demikian, aturan keselamatan dan kesehatan harus dipatuhi oleh semua teknisi tanpa kecuali.

ii. -

Lingkungan atau tempat kerja Memiliki tempat kerja yang bersih dan rapih memberikan banyak manfaat, misalnya:     Mengurangi biaya operasional Meningkatkan produktivitas Menggunakan tempat kerja secara lebih efektif Mengurangi angka kecelakaan

iii. -

Alat pelindung Diri (APD) 6,7 Untuk kasus ini, jenis APD misalnya:     Helm keselamatan Sabuk pengaman Sarung tangan dan pakaian pelindung Sepatu keselamatan, misalnya sepatu anti selip

Gambar 2: Pemakaian APD yang benar
Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510 Page 8

-

Cara penggunaan:    Pemilihan dan cara penggunaan harus sesuai dengan instruksi dari pabrik dan majikan. Pelengkapan diri tidak boleh diubah tanpa izin. Jika APD yang digunakan cacat, majikan harus diberi tahu agar dapat diganti dan majikan juga bertanggungjawab untuk memastikan pekerjanya memakai APD misalnya seperti kasus ini, ketua kelompok teknisi harus memastikan teknisinya memakai APD.

iv. -

Alatan Kerja- Tangga (material dan syarat- syarat tangga yang baik) Tangga: Alat tersendiri atau bagian dari suatu bangunan untuk turun atau naik dari satu dataran ke dataran lain. Kecelakaan yang umumnya terjadi: Terjatuh Bahan yang dipakai untuk membuat tangga: Bambu, kayu, logam dan lain- lainnya. Agar lebih mudah dipindahkan, tangga sebaiknya seringan mungkin. Tangga aluminium relatif ringan jika dibandingkan dengan kayu. Namun begitu, keburukan dari tangga tersebut adalah ia berbahaya bila berada dekat dengan kabel listrik yang telanjang, oleh kerana sifat konduktornya.

-

Material tangga:

 Fiberglass: kuat, ringan, non conductive, mahal  Metal : tidak dapat digunakan pada tempat yang mempunyai bahaya

kelistrikan,ringan  Kayu: berat, non conductive, cepat rusak Syarat- syarat keselamatan tangga:6 o Tangga harus terbuat dari bahan yang baik dan memiliki kekuatan yang tepat ditinjau dari sudut beban dan tekanan yang dihadapinya. o Spasi anak tangga jaraknya tidak boleh lebih dari 12 inch (304,8 mm) dan harus pararel

-

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 9

o Jarak minimum antara rel tidak kurang dari 11.5 inch (292 mm) o Lebar minimum rel tidak kurang dari 1 inch (25,4 mm). o Tangga tidak boleh berdiri atas batu bata atau dataran yang goyah, harus pada dataran yang kukuh. o Tangga yang anak tangganya cacat atau hilang tidak boleh dipakai.

-

Pemakaian tangga di perusahaan:  Tersedianya tangga dalam jumlah yang cukup menurut jenis dan panjang yang tepat merupakan kebutuhan di perusahaan khususnya untuk pekerjaan perawatan dan perbaikan.    Tangga- tangga harus selalu dipelihara dan dalam kondisi yang sebaikbaiknya dan harus diperiksa secara teratur. Tangga- tangga dengan anak- anak tangga yang cacat atau hilang tidak boleh dikeluarkan untuk dipakai. Tangga- tangga yang kurang sempurna harus segara diperbaiki.

-

Penyimpanan tangga:      Mudah diambil untuk pemakaian Mudah dicapai tempatnya Tidak dipengaruhi cuaca seperti panas dan lembap Tempatnya cukup aliran udara Jika diletakkan mendatar, harus dipakai penyangga agar tidak lengkung.

-

Kondisi- kondisi tidak aman yang dilarang keras dilakukan:     Menambah ketinggian tangga. Membawa benda berat sambil menaiki tangga. Berdiri diatas anak tangga yang teratas pada tangga. Mengenakan sepatu sandal, atau mendaki dengan kaki telanjang.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 10

-

Pencegahan Kecelakaan Kerja8

1. Perundang-undangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisikondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan pemeliharaan, pengawasan, pengujian dan cara kerja peralatan industry, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis dan pemeriksaan kesehatan. 2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi atau tidak resmi mengenai misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-praktek keselamatan dan hygiene umum atau alat-alat perlindungan diri. 3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan perundangundangan yang diwajibkan. 4. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat dan cirri-ciri, bahan-bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu atau penelaahan tentang bahanbahan dan desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkatan dan peralatan pengangkat lainnya. 5. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis, dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan. 6. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. 7. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya, mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa dan apa sebab-sebabnya. 8. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik, sekolah-sekolah perniagaan atau kursus-kursus pertukangan. 9. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khususnya tenaga kerja yang baru dalam keselamatan kerja. 10. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menimbulkan sikap untuk selamat.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 11

11. Asuransi, yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan misalnya dalam bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan, jika tindakantindakan keselamatan sangat baik. 12. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya penerapan keselamatan kerja. Pada perusahaanlah kecelakaan-kecelakaan terjadi, sedangkan pola-pola kecelakaan pada suatu perusahaan sangat tergantung kepada tingkat kesadaran akan keselatan kerja oleh semua pihak yang bersangkutan.

4) Kerugian kerana kecelakaan Kecelakaan menyebabkan 5 jenis kerugian (5K): a. Kerusakan    Misalnya: Bagian mesin, alat kerja, bahan, proses, lingkungan kerja

b. Kekacauan organisasi Proses produksi mengalami kekacauan

c. Keluhan dan kesedihan Orang yang ditimpa kecelakaan akan mengeluh dan menderita, keluarga dan rakan sekerja akan bersedih. d. Kelainan dan cacat  Kelainan tubuh dan cacat anggota.

e. Kematian

-

Kerugian dapat diukur dengan besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan:  Biaya langsung o Biaya pemberian pertolongan pertama bagi kecelakaan, pengobatan, perawatan, biaya rumah sakit, dan lain- lainnya. Selain itu, biaya perbaikan alat- alat mesin serta biaya atas kerusakan bahan.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 12

 Biaya tersembunyi o Meliputi segala suatu yang tidak terlihat pada waktu atau beberapa waktu setelah kecelakaan terjadi. o Biaya ini juga mencakup terhentinya proses produksi oleh kerana pekerja lainnya menolong atau tertarik dengan peristiwa kecelakaan.

-

Kecelakaan besar dengan kerugian besar biasanya dilaporkan sedangkan kecelakaan kecil tidak dilaporkan.

5) Peran Tenaga Kesehatan Dalam Menangani Korban Kecelakaan Kerja  Salah satu upaya dalam perlindungan tenaga kerja adalah menyelenggarakan P3K di perusahaan sesuai dengan UU dan peraturan Pemerintah yang berlaku. P3K yang dimaksud harus dikelola oleh tenaga kesehatan yang professional. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K):9 DEFINISI: 1. Pertolongan Pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda. 2. Pertolongan Pertama harus tepat sehingga akan meringankan sakit korban bukan menambah sakit korban. Prinsip Dasar : 1. Pastikan Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong korban, periksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya. 2. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok pahlawan. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh anggota. 3. Biasakan membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb. Catatan ini berguna bila penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 13

Sistematika Pertolongan Pertama Secara umum urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah :

1. Jangan Panik 2. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.  Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban. 3. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.   Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan bantuan.

4. Pendarahan. Pendarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 35 menit. Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat pendarahan kuat-kuat kemudian ikatlah saputangan tadi. Kalau lokasi luka

memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh. 5. Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.  Korban tidak boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi korban dibiarkan ditempat tersebut. 6. Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.  Setelah dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan terapi.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 14

Contoh kasus kasus kecelakaan (berdasarkan kasus) Berikut adalah kasus-kasus kecelakaan atau gangguan yang sering terjadi dalam kegiatan di alam terbuka berikut gejala dan penanganannya:

Luka: Keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan/injury. Gejala
  

Terbukanya kulit Pendarahan Rasa nyeri Penanganan

1. Bersihkan luka dengan antiseptic (alcohol/boorwater) 2. Tutup luka dengan kasa steril/plester 3. Balut tekan (jika pendarahannya besar) 4. Jika hanya lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan luka Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani luka: 1. Ketika memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:
  

Keluarkan tanpa menyinggung luka Kasa/balut steril (jangan dengan kapas atau kain berbulu) Evakuasi korban ke pusat kesehatan

Bekuan darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka ini berarti luka mulai menutup. Bekuan tidak boleh dibuang, jika luka akan berdarah lagi.

Pendarahan: Keluarnya darah dari saluran darah kapan saja, dimana saja, dan waktu apa saja.

Patah Tulang/fraktur: Rusaknya jaringan tulang, secara keseluruhan maupun sebagian Gejala
    

Perubahan bentuk Nyeri bila ditekan dan kaku Bengkak Terdengar/terasa (korban) derikan tulang yang retak/patah Ada memar (jika tertutup)
Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510 Page 15

Terjadi pendarahan (jika terbuka)
 

Jenisnya: Terbuka (terlihat jaringan luka) Tertutup

Penanganan Tenangkan korban jika sadar

Untuk patah tulang tertutup  Periksa Gerakan (apakah bagian tubuh yang luka bias digerakan/diangkat) o Sensasi (respon nyeri) o Sirkulasi (peredaran darah)  Ukur bidai disisi yang sehat  Pasang kain pengikat bidai melalui sela-sela tubuh bawah  Pasang bantalan didaerah patah tulang  Pasang bidai meliputi 2 sendi disamping luka  Ikat bidai

Untuk patah tulang terbuka 1.Buat pembalut cincin untuk menstabilkan posisi tulang yang mencuat 2.Tutup tulang dengan kasa steril, plastik, pembalut cincin 3.Ikat dengan ikatan V 4.Untuk selanjutnya ditangani seperti pada patah tulang tertutup

EVAKUASI KORBAN Adalah salah satu tahapan dalam Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yang aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 16

Prinsip Evakuasi 1. Dilakukan jika perlu 2. Menggunakan teknik yang baik dan benar 3. Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian

Alat Pengangutan Dalam melaksanakan proses evakusi korban ada beberapa cara atau alat bantu, namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi korban ketersediaan alat). Ada dua macam alat pengangkutan, yaitu: 1. Manusia Manusia sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pengangkut mempengaruhi cara angkut yang dilaksanakan.     

Bila satu orang maka penderita dapat: Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu berat serta tidak patah tulang Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas Dipanggul/digendong Merayap posisi miring

-

Bila dua orang maka penderita dapat: Maka pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diterapkan bila korban tak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang punggung.

  

Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan Model membawa balok Model membawa kereta

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 17

Persiapan Yang perlu diperhatikan: 1. Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak berdasarkan penilaian kondisi dari: keadaan respirasi, pendarahan, luka, patah tulang dan gangguan persendian 2. Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama proses evakuasi 3. Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan tempat akhir korban diangkut 4. Memilih alat 5. Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang berjuntai atau badan penderita yang tidak daolam posisi benar

KESIMPULAN
Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja. Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja adalah menjadi melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kerja. A. Saran Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 18

DAFTAR PUSTAKA

1. Suma’mur P.K. Keselamatan kerja dan pencegahan

kecelakaan. Pendahuluan:

pembatasan dan tujuan keselamatan.9th ed. Jakarta: Penerbit PT Toko Gunung Agung; 1996.p.1-4. 2. John Ridley. Alih bahasa: Soni Astranto. Ikhtisar Keselamatan dan Kesehatan Kerja. In: Lemeda Simartata, S.T. editor. Bab 7: Kecelakaan. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2006. p. 113- 114. 3. Ferry Efendi dan Makhfudli. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam keperawatan. In: Nursalam, M. Nurs (Hons). Penyebab kecelakaan kerja. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. 2009. p. 235. 4. Budi S, Naning A.W, Yudha A, editors. Perancangan SOP dan biaya standar. Surabaya: Kampus ITS Sukolilo;2010. 5. International Thinking Training and Consultancy. Penyusunan standar operasional prosedur. ITTC (serial online) 2011 (cited 2012 Oct 12). Available from: URL:

http://www.ittc.co.id/penyusunan-sop.php. 6. Occupational safety and health administration (OSHA) Indonesia version. Buku panduan keselamatan dan kesehatan kerja. 2005. p. 6-7, 11. (cited 2012 Oct 12). Available from http://www.oshc.org.hk/others/bookshelf/cb1301o.pdf 7. Ocupational safety and Heatlh administration (OSHA). Stairways and ladder, a guide to OSHA rules. U.S. Department of Labor. 2003. p. 4- 15. (cited 2012 Oct 12). Available from: http://www.osha.gov/Publications/osha3124.pdf 8. Suma’mur P.K. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Pencegahan kecelakaan kerja. 9th ed. Jakarta: Penerbit PT Toko Gunung Agung; 1996.p. 11- 12. 9. Eryadi. Intisari pengetahuan umum lengkap (IPUL). Bab VIII: Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Edisi 1. Jakarta: Penerbit Kawan Pustaka; 2004.p.80-84

Fakultas Kedokteran Ukrida, Jln Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Page 19