BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Bentuk-bentuk akad jual beli yang telah dibahas para ulama dalam fiqih muamalah islamiah terbilang sangat banyak. Jumlahnya bisa mencapai belasan bahkan sampai puluhan. Sungguhpun demikian, dari sekian banyak itu, ada tiga jenis jual beli yang telah dikembangkan sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan modal kerja dan investasi dalam perbankan syariah yaitu murabahah, as-salam, dan al-istishna’. Kegiatan yang dilakukan perbankan syariah antara lain adalah penghimpunan dana, penyaluran dana, membeli, menjual dan menjamin atas resiko serta kegiatan-kegiatan lainnya. Pada perbankan syariah, prinsip jual beli dilakukan melalui perpindahan kepemilikan barang. Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi salah satu bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi jual beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barang. Pada makalah ini akan dibahas jenis pembiayaan salam dan istishna’. Jual beli dengan salam dan istishna’ ini, akadnya sangat jelas, barangnya jelas, dan keamanannya juga jelas. Maka jual beli salam dan istishna’ wajar jika masih banyak diminati.

1

sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari”.BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Salam Secara bahasa as salam berarti pesanan. • Al-Quran Hai orang-orang yang beriman. h. Jual beli salam adalah suatu benda yang disebutkan sifatnya dalam tanggungan atau memberi uang di depan secara tunai. dasar-dasar hukum ekonomi islam. Landasan Hukum Salam Landasan syariah transaksi bai’ as-Salam terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadist. 2008).Kitab Al-fiqh.1 Untuk hal ini para ahli hukum Islam (Fuqaha) menamainya dengan al-mahawi’ij yang artinya “barang mendesak”.dan utangpiutang dalam jual beli lainnya. 100 Wahbah Zuhaili. (Beirut: Darul Fikr. Al-fiqhu Asy-syafi’iyyah Al-Muyassar.3 1 2 Abd. h. sebab dalam jual-beli ini barang yang menjadi objek perjanjian jual beli tidak ada di tempat. Menurut ulama Syafi’iah akad salam boleh ditangguhkan pembayarannya hingga waktu tertentu dan boleh juga diserahkan secara tunai. SALAM 1. 244 2 . atau menjual suatu (barang) yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal. Hadi.2 2. sementara itu kedua belah pihak telah sepakat untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu. Dan utang secara umum meliputi utang-piutang dalam jual beli salam. Ibnu Abbas telah menafsirkan tentang utang-piutang dalam jual beli salam. hendaklah kamu menuliskannya. (Beirut: Darul fikri. 2010). (Surabaya : Putra Medianusantara. apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. secara terminologis para ulama mendefinisikan as salam dengan “menjual suatu barang yang penyerahan ditunda. 26 3 Abdurrahman al-Jaziry. 2004). barangnya diserahkan kemudian/untuk waktu yang ditentukan.

hal ini tampak jelas dari ungkapan beliau: “Saya bersaksi bahwa salam (salaf) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah pada kitab-Nya dan diizinkan-Nya. 2004) h. 3 . (Jakarta. h. (Beirut: Darul Fikri.dan minyak untuk suatu masa 4 5 Muhammad Syafi’i Antonio.Dalam kaitan ayat di atas Ibnu Abbas menjelaskan keterkaitan ayat tersebut dengan transaksi bai’ as-Salam." Muttafaq Alaihi. dan anggur kering -dalam suatu riwayat. sya'ir. dan masa tertentu. lalu kami beri pinjaman kepada mereka berupa gandum. 131 Abu al-Walid M ibnu Ahmad ibnu Rusyd al-Qurthuby al-Andalusy.4 • Al-Hadist Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan penduduknya biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun. Bank Syariah Wacana Ulama & Cendekiawan. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. timbangan. Menurut riwayat Bukhari: "Barangsiapa meminjamkan sesuatu. 2006)."5 Abdurrahman Ibnu Abza dan Abdullah Ibnu Aufa Radliyallaahu 'anhu berkata: Kami menerima harta rampasan bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Dan datanglah beberapa petani dari Syam. 162.” Ia lalu membaca ayat tersebut. Lalu beliau bersabda: "Barangsiapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya dalam takaran.

Shigat adalah ijab dan qabul. 91 8 Rahmat Syafe’i. 3603-3605. Muslam ilaih (penjual) adalah pihak yang memasok barang pesanan. h. berakal. Modal atau uang disyaratkan harus jelas dan terukur serta dibayarkan seluruhnya ketika berlangsungnya akad. Syarat Jual Beli Salam Syarat-syarat sahnya jual beli salam adalah sebagai berikut8: • • • Pihak-pihak yang berakad disyaratkan dewasa. jelas tempat penyerahannya. pembayaran tersebut harus dilakukan di tempat akad supaya tidak menjadi piutang penjual.9 6 7 Ibnu Hajar Al-‘Atsqolany. Bukhari)6 3. waktunya diketahui oleh kedua belah pihak. h. 33 9 Wahbah Al-Zahily. (HR. dan ukurannya. Rukun Bai’ As-Salam Pelaksanaan bai’ as-Salam harus memenuhi sejumlah rukun sebagai berikut7: • • • • • Muslam (pembeli) adalah pihak yang membutuhkan dan memesan barang.382-383. 2004). Ada pula yang menyebut harga (tsaman). Ada orang bertanya: Apakah mereka mempunyai tanaman? Kedua perawi menjawab: Kami tidak menanyakan hal itu kepada mereka.tertentu. dan tidak terpisah oleh halhal yang dapat memalingkan keduanya dari maksud akad. 4 . Modal atau uang. 2011). Ascarya. Para imam mazhab telah bersepakat bahwasanya jual beli salam adalah benar dengan enam syarat yaitu jenis barangnya diketahui. h. mengetahui kadar uangnya. banyaknya barang diketahui. (Damaskus: Darul Fikri. (Bandung: Pustaka Setia. Bulughul Maram min Adillatil ahkam. • Ijab dan qabul harus diungkapkan dengan jelas. Menurut kebanyakan fuqaha. Muslan fiih adalah barang yang dijual belikan. sifat barangnya diketahui. sejalan. Al-fiqhu Al-Islam wa Adillatuhu. Op. 4. h.Cit. (Surabaya: Mutiara Ilmu. 2007). ciri-ciri. Barang yang dijadikan obyek akad disyaratkan jelas jenis. dan baligh. Fiqih Muamalah.

Syarat Sah Salam • Pertama. kadar. dan syarat muslam fiih. yang hanya sah dilakukan oleh orang yang cakap membelanjakan harta. c. jagung kuning dan jenis barang lainnya. yaitu sebagai berikut: • Pertama. Apabila penerima pesanan harus menyerahkan barang itu di suatu tempat yang tidak layak dijadikan sebagai tempat penyerahan. Barang seperti lukisan berharga dan barang-barang langka tidak dapat dijadikan barang jual beli 5 . barang pesanan harus jelas jenis. atau layak dijadikan tempat penyerahan barang tetapi perlu biaya pengangkutan. Jika tidak maka pemesan tidak berhak menentukan tempat penyerahan. Alasannya. jikaharga berada dalam tanggungan. Kedua. Syarat Muslam Fiih (barang pesanan) Ada empat syarat yang harus dipenuhi dalam barang pesanan. Syarat-Syarat In’iqad • • Pertama. mengingat kesepakatan dua pihak sama dengan perpisahan. syarat sah. pihak pemesan secara khusus berhak menentukan tempat penyerahan barang pesanan. dengan sighat yang telah disebutkan. jika dia membayar ongkos kirim barang. bentuk. Ia dapat diukur dengan karakteristik tertentu yang membedakannya dengan barang lain dan tentu mempunyai fungsi yang berbeda pula seperti beras tipe 101. pihak yang mengadakan akad cakap dalam membelanjakan harta.Namun Imam Syafi’i menambahkan bahwa akad salam yang sah harus memenui syarat in’iqad. sepertihalnya akad jual beli. b. Artinya dia telah baligh dan berakal karena jual beli salam merupakan transaksi harta benda. akad salam hukumnya tidak sah. a. andaikan pembayaran salam ditangguhkan. Disamping itu akad salam mengandung gharar. dan sifatnya.. • Kedua. misalnya gurun sahara. gandum. pembayaran dilakukan di majelis akad sebelum akad disepakati.jagung putih. menyatakan shigat ijab dan qabul.terjadilah transaksi yang mirip dengan jual beli utang dan piutang.

h. 68. 25-32. Dewan Pengawas Syariah Rajhi Banking & Investment Corporation telah menetapkan fatwa yang membolehkan praktek salam paralel dengan syarat pelaksanaan transaksi salam kedua tidak tergantung pelaksanaan akad salam yang pertama. Dikatakan : istashna'a fulan baitan. ‘Abdullah ibn Mas‘ud melarang adanya kontrak salam pada binatang. meminta seseorang untuk membuatkan rumah untuknya. Disyaratkan menggunakan timbangan dalam pemesanan buah-buahan yang tidak dapat diukur dengan takaran. • Kedua. Artinya meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya. Salam Paralel Salam paralel yaitu melaksanakan dua transaksi bai’ as-Salam antara bank dengan nasabah.10 • • Ketiga. (Jakarta Timur: Almahira. Penyebutan karakteristik tersebut sangat perlu dilakukan untuk menghindari ketidakjelasan barang pesanan. ISTISHNA’ 1. karena itu dilarang alam akad salam. 2006). hitungan perbiji. B.‫)اتصصصصنع‬. Pengertian Istishna' (‫ )استصناع‬adalah bentuk ism mashdar dari kata dasar istashna'a-yastashni'u ( ‫ يستصصصصنع‬. Tetapi ‘Abdullah ibn ‘Umar membolehkannya jika pembayaran ditentukan pada waktu yang telah disepakati.salam. 11 Wahbah Zuhaili. barang pesanan harus berupa utang (sesuatu yang menjadi tanggungan). Fiqih Imam Syafi’i. 12 Lihat Lisanul Arab pada madah (‫)صنع‬ 6 . 2008). barang pesanan dapat diketahui kadarnya baik berdasarkan takaran. barang pesanan dapat diserahkan begitu jatuh tempo penyerahan. h. Sales And Contracts Early Islamic Commercial Law. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat terus mengizinkan praktek penjualan di muka.12 10 ‘Abdullah Alwi Haji Hassan. (New Delhi: Kitab Bhavan. dan antara bank dengan pemasok (supplier) atau pihak ketiga lainnya secara simultan. timbangan. Keempat.11 5. Barang yang sulit diserahkan tidak boleh diperjual belikan. atau ukuran panjang dengan satuan yang dapat diketahui.

Landasan Hukum Akad istishna' adalah akad yang halal dan didasarkan secara sayr'i di atas petunjuk AlQuran.‫ه‬ ِ ‫د َك ص‬ ِ ‫ي َك ص‬ َ ‫فى لا‬ ِ ‫ه َك ص‬ ِ ‫ض َك ص‬ ِ ‫يا َك ص‬ َ ‫ب لا‬ َ ‫لى لا‬ َ ‫إلا‬ ِ ‫ر َك ص‬ ُ ‫ظ بْلا‬ ُ ‫ن بْلا‬ ْ‫أ َع‬ َ ‫نى لا‬ ِّ‫أ‬ َ ‫ك لا‬ َ ‫ لا‬:‫ل‬ َ ‫قا لا‬ َ ‫ لا‬. Sehingga bila seseorang berkata kepada orang lain yang punya keahlian dalam membuat sesuatu. dan orang itu menerimanya. (Qs. istishna' Adalah sebuah akad untuk sesuatu yang tertanggung dengan syarat mengerjakaannya. Al Baqarah: 275) Berdasarkan ayat ini dan lainnya para ulama' menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal.14 Namun kalangan Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengaitkan akad istishna' ini dengan akad salam. • As-Sunnah ‫ رواه مسلم‬.Sedangkan menurut sebagian kalangan ulama dari mazhab Hanafi.‫م‬ ٌ. As-Sunnah dan Al-Ijma' di kalangan muslimin. "Buatkan untuk aku sesuatu dengan harga sekian dirham".15 Jadi secara sederhana. 2. agar pihak ke-2 membuatkan suatu barang sesuai yang diinginkan oleh pihak 1 dengan harga yang disepakati antara keduanya. Sehingga definisinya juga terkait.‫ة‬ ٍ ‫ض ر‬ َّ‫ف م‬ ِ ‫ن َك ص‬ ْ‫م َع‬ ِ ‫ما َك ص‬ ً‫ت ا‬ َ ‫خا لا‬ َ ‫ع لا‬ َ ‫ن لا‬ َ ‫ط لا‬ َ ‫ص لا‬ ْ‫فا َع‬ َ ‫لا‬ Dari Anas RA bahwa Nabi SAW hendak menuliskan surat kepada raja non-Arab. 13 14 . kalangan ulama mazhab Hambali menyebutkan jualbeli barang yang tidak (belum) dimilikinya yang tidak termasuk akad salam. Dalam hal ini akad istishna' mereka samakan dengan jual-beli dengan pembuatan (‫)بيع بالصنعة‬. • Al-Quran ‫ربا‬ ِّ ‫م ال‬ َ ‫ر لا‬ َّ‫ح م‬ َ ‫و لا‬ َ ‫ع لا‬ َ ‫ي لا‬ ْ‫ب َع‬ َ ‫ل لا‬ ْ‫لل ا َع‬ ُ ‫ل ا بْلا‬ َّ‫م‬ َّ‫ح م‬ َ ‫أ لا‬ َ ‫ولا‬ َ ‫لا‬ Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.13 Senada dengan definisi di atas. kecuali yang nyata-nyata diharamkan dalam dalil yang kuat dan shahih. Maka beliau pun memesan agar ia dibuatkan cincin stempel dari bahan perak. yaitu suatu barang yang diserahkan kepada orang lain dengan cara membuatnya. maka akad istishna' telah terjadi dalam pandangan mazhab ini. istishna' boleh disebut sebagai akad yang terjalin antara pemesan sebagai pihak 1 dengan seorang produsen suatu barang atau yang serupa sebagai pihak ke-2. lalu dikabarkan kepada beliau bahwa raja-raja non-Arab tidak sudi menerima surat yang tidak distempel. ‫ت‬ ِ ‫خصا َك ص‬ َ ‫ه لا‬ ِ ‫يص َك ص‬ ْ‫ل َع‬ َ ‫علا‬ َ ‫بصا لا‬ ً‫تا ا‬ َ ‫ك لا‬ ِ ‫ال َك ص‬ َّ‫إ م‬ ِ ‫ن َك ص‬ َ ‫لصنو لا‬ ُ ‫ببْلا‬ َ ‫ق لا‬ ْ‫ي َع‬ َ ‫ال لا‬ َ ‫م لا‬ َ ‫جص لا‬ َ ‫ع لا‬ َ ‫ل لا‬ ْ‫ن ا َع‬ َّ‫إ م‬ ِ ‫ه َك ص‬ ُ ‫لص بْلا‬ َ ‫ل لا‬ َ ‫قيص لا‬ ِ ‫لا َ َك ص‬ ‫مف‬ ِ ‫جص َك ص‬ َ ‫ع لا‬ َ ‫ل لا‬ ْ‫لصى ا َع‬ َ ‫إلا‬ ِ ‫ب َك ص‬ َ ‫تص لا‬ ُ ‫ك بْلا‬ ْ‫ي َع‬ َ ‫ن لا‬ ْ‫أ َع‬ َ ‫د لا‬ َ ‫را لا‬ َ ‫أ لا‬ َ ‫ن لا‬ َ ‫كصا لا‬ َ ‫للص ص لا‬ ِ ‫ى ا َك ص‬ َّ‫م‬ َّ‫ب م‬ ِ ‫ن َك ص‬ َ ‫ن لا‬ َّ‫أ م‬ َ ‫س رضي الل عنه لا‬ ٍ ‫ن ر‬ َ ‫أ لا‬ َ ‫ن لا‬ ْ‫ع َع‬ َ ‫لا‬ Badai'i As shanaai'i oleh Al Kasaani jilid 5 halaman 2 Kasysyaf Al-Qinna' jilid 3 halaman 132 15 Raudhatuthalibin oleh An-Nawawi jilid 4 halaman 26 dan Al-Muhadzdzab jilid 1 halaman 297 7 .

bai’ al-istishna’ termasuk akad yang dilarang karena mereka mendasarkan pada argumentasi bahwa pokok kontrak penjualan harus ada dan dimiliki oleh penjual.17 • Kaidah Fiqhiyah Para ulama di sepanjang masa dan di setiap mazhab fiqih yang ada di tengah umat Islam telah menggariskan kaedah dalam segala hal selain ibadah: ‫الصل في اليشياء الباحة حتى يدل الدليل على التحريم‬ Hukum asal dalam segala hal adalah boleh. tidak ada alasan untuk melarangnya.19 16 17 Fathul Qadir oleh Ibnul Humaam 7/115) Al Mabsuth oleh As Sarakhsi jilid 12 halaman 138. sedangkan dalam istishna’. Menurut Hanafi. Dan barang dengan ketentuan demikian itu tidak di dapatkan di pasar. Muslim) Perbuatan nabi ini menjadi bukti nyata bahwa akad istishna' adalah akad yang dibolehkan.16 • Al-Ijma' Sebagian ulama menyatakan bahwa pada dasarnya umat Islam secara de-facto telah bersepakat merajut konsensus (ijma') bahwa akad istishna' adalah akad yang dibenarkan dan telah dijalankan sejak dahulu kala tanpa ada seorang sahabat atau ulama pun yang mengingkarinya.Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau. • Logika Orang membutuhkan barang yang spesial dan sesuai dengan bentuk dan kriteria yang dia inginkan. (Jakarta : Gema Insani." (HR. 114 8 . Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Namun mazhab Hanafi menyutui kontrak istishna’ atas dasar istishan. pokok kontrak itu belum ada atau tidak dimiliki penjual. hlm. sehingga ia merasa perlu untuk memesannya dari para produsen. hingga ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya. Fathul Qadir oleh Ibnul Humaam jilid 7 halaman 115 18 Badai'i As-Shanaai'i oleh Al Kasaani jilid 5 halaman 3 19 Muhammad Syafi’I Antonio. Bila akad pemesanan semacam ini tidak dibolehkan.18 Secara umum landasan syariah yang berlaku pada bai’ as-salam juga berlaku pada bai’ al-istishna’. Dan sudah barang tentu kesusahan semacam ini sepantasnya disingkap dan dicegah agar tidak mengganggu kelangsungan hidup masyarakat. 2001). Dengan demikian. maka masyarakat akan mengalamai banyak kesusahan.

Tujuan istishna’ umumnya diterapkan pada pembiayaan untuk pembangunan proyek seperti pembangunan proyek perumahan. hlm. Kedua transaktor disyaratkan memiliki kompetensi berupa akil baligh dan memiliki kemampuan untuk memilih yang optimal seperti tidak gila. ( Jakarta : Kencana. dapat dilakukan dengan izin dan pantauan dari walinya. Terkait dengan penjual. 149-150 9 . Dalam hal pesanan sudah sesuai dengan kesepakatan. pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad. Maka rukun dan syarat istishna’ mengikuti bai’ as-salam. sekiranya ada barang yang dilunasi terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan. listrik. 2011). DSN mengharuskan penjual agar penjual menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati. Adapun dengan transaksi dengan anak kecil. Penjual dibolehkan menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang telah disepakati dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan dan ia tidak boleh menunutut tambahan harga. pertambangan. Misal : Memesan rumah. • Objek Istishna’ 20 Ismail. komunikasi. Akan tetapi. dan sarana jalan. yang diistilahkan dengan sebutan shani' ( ‫)الصانع‬. Rukun dan Syarat al-Istishna’ Pada prinsipnya bai’ al-istishna’ adalah sama dengan bai’ as-salam. Berikut ini adalah rukun dan syarat-syarat akad istishna’ : • Transaktor Transaktor adalah pihak pemesan yang diistilahkan dengan mustashni'(‫)المستصصصنع‬ sebagai pihak pertama. gedung sekolah. Hanya saja pada bai’ al-istishna’ pembayaran tidak dilakukan secara kontan dan tidak adanya penentuan waktu tertentu penyerahan barang. tidak sedang dipaksa dan lain-lain yang sejenis. Pihak yang kedua adalah pihak yang dimintakan kepadanya pengadaaan atau pembuatan barang yang dipesan. Pembiayaan yang sesuai adalah pembiyaan investasi. hukumnya wajib bagi pembeli untuk menerima barang istishna’ dan melaksanakan semua ketentuan dalam kesepakatan istishna’. Perbankan syariah. tetapi tergantung selesainya barang pada umumnya.20 3. maka tidak bisa dipastikan kapan bangunannya selesai.

b. bukan barang massal. Istishna tidak dapat dibatalkan.Barang yang diakadkan atau disebut dengan al-mahal (‫ )المحل‬adalah rukun yang kedua dalam akad ini. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati. Pelafalan perjanjian dapat dilakukan dengan lisan. • Shighah (ijab qabul) Ijab qabul adalah akadnya itu sendiri. c. f. Dan qabul adalah jawaban dari pihak yang dipesan untuk menyatakan persetujuannya atas kewajiban dan haknya itu. kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan. tindakan maupun tulisan. Sehingga yang menjadi objek dari akad ini semata-mata adalah benda atau barang-barang yang harus diadakan. Syarat-syarat objek akad menurut Fatwa DSN MUI. bergantung pada praktik yang lazim di masyarakat dan menunjukan keridhaan satu pihak untuk menjual barang istishna’ dan pihak lain untuk membeli barang istishna’. e. Barang yang diserahkan harus sesuai dengan spesifikasi pemesan. Namun menurut sebagian kalangan mazhab Hanafi. Menurut yang kedua ini. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya. yaitu : a. isyarat (bagi yang tidak bisa bicara). Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. Kedua belah pihak setuju untuk membatalkannya 21 PSAK 104 paragraf 12 10 . Tidak boleh menukar barang. Ijab adalah lafadz dari pihak pemesan yang meminta kepada seseorang untuk membuatkan sesuatu untuknya dengan imbalan tertentu. akadnya bukan atas suatu barang. g. yang disepakati adalah jasa bukan barang. kecuali memenuhi kondisi21 : a. d. namun akadnya adalah akad yang mewajibkan pihak kedua untuk mengerjakan sesuatu sesuai pesanan. Penyerahannya dilakukan kemudian. Demikian menurut umumnya pendapat kalangan mazhab Al-Hanafi.

shani’) dengan harga yang disepakati bersama oleh para pihak. 11 . sehingga memerlukan jasa pembiayaan dari bank. dan masing masing pihak bisa menuntut pembatalannya. maka bank mendapatkan margin dari jual beli barang yang terjadi. nasabah.22 Secara praktis pelaksanaan kegiatan istishna dalam perbankan syari’ah cenderung dilakukan dalam format istishna paralel. Margin diperoleh dari selisih harga beli bank kepada 22 Pasal 1 ayat 3 Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Pembiayaan Nomor: PER04/BL/2007 tentang akad-akad yang digunakan dalam Kegiatan Perusahaan Pembiayaan Berdasarkan Prinsip Syariah. kegiatan istishna oleh bank syari’ah merupakan akibat dari adanya permintaan barang tertentu oleh nasabah. dan pemasok. Hal ini dapat dipahami karena pertama. Berakhirnya akad istishna Kontrak istishna bias berakhir berdasarkan kondisi kondisi berikut: • • • Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak . 4. 5. Akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad. Atas pembiayaan terhadap pembangunan barang. dan kedua.Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kotrak Pembatalan hokum kontrak ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk mencegah dilaksanakannya kontrak atau penyelesaiannya. mustashni’) dan penjual (pembuat. bank syari’ah bukanlah produsen dari barang dimaksud. Pada istishna’ pararel terdapat tiga pihak yang terlibat.b. yaitu bank. Pembiayaan dilakukan karena nasabah tidak dapat melakukan pembayaran atas tagihan pemasok selama masa periode pembangunan. Aplikasi Istishna’ Pada Lembaga Keuangan Syariah Istishna di lembaga keuangan syariah diartikan dengan akad pembiayaan untuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan criteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli.

BAB III PENUTUP A. Pekerjaan ini dapat berupa pekerjaan manufactur atau konstruksi (banguan/kapal/pesawat).pemasok dengan harga jual akhir kepada nasabah. Obyek transaksi. tetapi tergantung selesainya barang pada umumnya. tengah atau akhir. Rukun dan syarat istishna’ mengikuti bai’ as-salam. pembayaran modal lebih awal. Rukun dan syarat jual beli as-salam yaitu Mu’aqidain yang meliputi Pembeli dan penjual. instalasi (mesin/software) atau istilah teknis engineering lainnya. Hanya saja pada bai’ al-istishna’ pembayaran tidak dilakukan secara kontan dan tidak adanya penentuan waktu tertentu penyerahan barang. Dimungkinkan juga. Pengertian yang dibuat tau dibangun dalam istishna menunjukan periode yang diperlukan (antara akad jual-beli dengan penyerahan barang) untuk suatu pekerjaan penyelesaian barang. dan alat tukar. Sighat ‘ijab qabul. bank mendapatkan pendapatan selain margin berupa pendapatan administrasi. Perbedaan salam dan istishna’ adalah cara penyelesaian pembayaran salam dilakukan diawal saat kontrak secara tunai dan cara pembayaran istishna’ tidak secara kontan bisa dilakukan di awal. 12 . Al-Istishna’ adalah akad jual beli pesanan dimana bahan baku dan biaya produksi menjadi tanggungjawab pihak produsen sedangkan sistem pembayaran bisa dilakukan di muka. rakit/assemble (kendaraan/mesin). KESIMPULAN Salam adalah menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda. tengah atau akhir.

Al-fiqhu Al-Islam wa Adillatuhu. Hassan. 2007. New Delhi: Kitab Bhavan. Damaskus: Darul Fikri. Dasar-Dasar Hukum Ekonomi Islam. 2011. Bulughul Maram min Adillatil ahkam. Wahbah. Syafe’I. 2008. Muhammad Syafi’i. Al-‘Atsqolany. Bandung: Pustaka Setia. 2010. Al-fiqhu Asy-syafi’iyyah Al-Muyassar. Rahmat. Jakarta. 2004. Surabaya: Mutiara Ilmu. Fiqih Muamalah. Abd. 13 .Beirut: Darul Fikri. Abu al-Walid M ibnu.DAFTAR PUSTAKA Hadi. Al-Jaziry. Surabaya : Putra Media Nusantara Zuhaili. 2004. Beirut: Darul Fikr. Ibnu Hajar. 2004. Sales And Contracts Early Islamic Commercial Law. Bank Syariah Wacana Ulama & Cendekiawan. Abdurrahman.‘Abdullah Alwi Haji. 2006.Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Ahmad. Al-Zahily. Antonio. Wahbah. Kitab Al-fiqh. Beirut: Darul fikri. 2006.

Jakarta Timur: Almahira. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008.Zuhaili. Perbankan syariah. Antonio. Wahbah.Akad dan Produk Bank Syariah. Jakarta : Kencana Ascarya. Jakarta : Gema Insan. 14 . 2011. Muhammad Syafi’i. 2011. Ismail. 2001. Fiqih Imam Syafi’i. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful