MENYIKAPI KENAIKAN HARGA BBM Oleh: Indra Maipita, Ph.

D Kenaikan harga BBM seperti yang kita dengar beberapa waktu belakangan ini sudah diambang mata. Kepastiannya sudah disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada sidang kabinet tanggal 22 Februari yang lalu. Beliau menyampaikan bahwa harga BBM mau tidak mau mesti disesuaikan dengan harga yang tepat, artinya mesti dinaikkan. Namun seberapa besar kenaikan harga BBM akan dipatok belum dijelaskan. Rencana kenaikan harga BBM terjadi karena pemerintah berencana untuk mengurangi subsidi BBM. Pada saat ini, pemerintah berencana hanya memberikan subsidi BBM berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per liternya. Bila itu yang terjadi maka kita dapat mereka-reka berapa kira-kira harga BBM per liter nantinya dengan melihat harga BBM di pasar internasional. Kenaikan harga BBM dapat dipastikan akan disambut oleh kenaikan harga barang lainnya. Sebab, BBM merupakan satu dari beberapa komoditi yang memiliki keterkaitan luas terhadap barang komoditi lainnya sehingga kenaikan harga BBM akan memiliki dampak berantai terhadap harga barang lainnya. Menyikapi rencana ini, pihak Organda telah mengambil ancang-ancang untuk menaikkan tarif angkutan. Tarif angkutan umum direncanakan akan naik berkisar 30% hingga 35%. Menurut Ketua Umum Organda itupun bila kenaikan BBM hanya sekitar Rp 1.500 per liter. bila ini terjadi maka moda transportasi yang paling merasakannya adalah angkutan kota dan angkutan jarak dekat lainnya, karena jenis angkutan inilah yang memasang ongkos paling murah selama ini dibanding jenis angkutan lainnya. Ironisnya bahwa pengguna jasa angkutan kota dan angkutan jarak dekat kebanyakan adalah pelajar, mahasiswa dan masyarakat kurang mampu. Sebagai contoh, bila angkutan kota selama ini mematok ongkos Rp 2.000 per estafet, dengan kanaikan BBM nantinya bisa menjadi Rp 2.600 hingga Rp 2.700 per estafet (asumsi kenaikan 30%-35%). Tarif ongkos KUPJ Medan-Kisaran yang selama ini Rp 20.000 per orang per sekali jalan, bisa saja akan naik menjadi Rp 26.000 hingga Rp 27.000. Bila selama ini, seorang pelajar atau mahasiswa memerlukan onngkos untuk pergi sekolah atau kuliah Rp 5.000 sekali jalan atau Rp 10.000 pulang pergi, maka dengan kenaikan nanti dapat menjadi Rp 6.500-Rp6.750 sekali jalan atau Rp13.000-13.500 pulang pergi. Bagaimana dengan barang kebutuhan lainnya? Tentu akan merangkak naik juga. Sebut saja minyak goreng, biaya pengangkutan sawit dari kebun ke pabrik akan naik, biaya pengolahannya juga akan naik karena memerlukan BBM, saat distribusi juga memerlukan angkutan yang biayanya sudah naik, seterusnya hingga sampai ke tangan konsumen, tentu terpaksa dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya. Demikian juga dengan harga-harga barang lainnya. Bagaimana dengan masyarakat yang kurang berkemampuan dari sisi finansial? Sepintas akan terbayang kondisi yang menyedihkan. Angka kemiskinan Indonesia berdasarkan publikasi BPS pada tahun 2011 sebanyak 30.018.930 orang atau sekitar 12,49 persen serta jurang kemiskinan ( gap of poverty, P1) sebesar 2,08 dipastikan akan bertambah. Para saudara kita yang selama ini telah berada di bawah garis kemiskinan akan semakin jauh ke bawah, sementera mereka yang selama ini berada sedikit di atas garis kemiskinan akan jatuh ke bawah garis kemiskinan dan masuk pada golongan yang disebut miskin. memang semua lapisan masyarakat Indonesia akan merasakan dampak dari kenaikan harga BBM tersebut, namun yang paling merasakannya tentu para saudara kita yang kurang berkemampuan tadi. Karena dengan pendapatan yang kecil dan relatif tetap nilainya harus dipasangkan dengan biaya hidup yang semakin membengkak. Belum lagi bila kenaikan harga-harga ini diikuti dengan kontraksi ekonomi atau pengurangan lapangan pekerjaan terutama lapangan pekerjaan nonformal dan informal. Sebut saja petani jeruk, yang selama ini telah kalah bersaing dengan jeruk impor dari China. Dengan kenaikan harga BBM akan menaikkan biaya produksi mereka. Untuk mengimbanginya, terpaksa harga jual juga harus dinaikkan dan akhirnya boleh saja akan akan semakin menurunkan dayasaing terhadap jeruk impor.

Bagaimana kita menyikapi kenaikan harga BBM ini? Dari satu sisi jelas bahwa subsidi BBM yang diberikan pemerintah selama ini sebahagian besar dinikmati oleh kalangan masyarakat yang tergolong mampu, atas dasar itu subsidi BBM diyatakan banyak kalangan ‘kurang tepat sasaran dan terasa tidak adil’. Selain itu meningkatnya subsidi BBM semakin memberatkan APBN, sebanyak Rp 225 triliun APBN akan dipakai untuk subsidi bahan bakar. Situasi internasional juga turut berkontribusi terhadap kenaikan harga BBM dan membengkaknya APBN. Sebut saja dengan keputusan Iran untuk memutuskan kontrak perdagangan minyak dengan Inggris dan Prancis telah menyulut naiknya harga minyak. Per 20 Februari 2012, harga minyak di bursa berjangka New York naik USD 1,5 per barrel menjadi USD 104,85 per barrel. Bayangkan berapa besar kenaikan subsidi yang akan ditanggung bila APBN tahun 2012 masih menggunakan asumsi harga minyak Indonesia ( Indonesian Cruide Price, ICP) sebesar USD 90 per barrel, sementara menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sepanjang Januari 2012 rata-rata harga ICP telah mencapai USD 115,91 per barrel. Dari sisi yang berbeda, kenaikan hagra BBM (pengurangan subsidi BBM) akan membuat daya beli masyarakat menurun serta dapat memperparah kemiskinan dan memperluas kesenjangan. Dengan begitu terasa bahwa kenaikan harga BBM ini seperti pisau bermata dua. Permasalahannya sekarang bagaimana agar pisau itu terasa tidak begitu tajam atau malah tumpul sama sekali (dari sisi dampak negatifnya). Presiden SBY juga mengakui bahwa kenaikan harga BBM ini akan berdampak pada kenaikan harga barang lain dan menekan masyarakat miskin. oleh karena itu pemerintah telah menyiapkan sejumlah skim bantuan langsung yang ditujukan kepada masyarakat miskin. Seperti apa skim bantuan tersebut, apakah sama dengan BLT yangdiluncurkan pada tahun 2005 hingga 2009 yang lalu belum diketahui dengan pasti. Bila alasan pengurangan subsidi BBM adalah karena ketidak adilan, maka demi keadilan subsidi tersebut sebaiknya dialihkan kesektor lain yang lebih tepat sasaran. Harapan kita skim yang disusun oleh pemerintah tersebut benar-benar tepat sasaran serta dengan indikator yang jelas siapa yang akan menerimanya. Bila penerimanya adalah masyarakat miskin, harus jelas kriteria miskin yang digunakan, jangan sampai terjadi seperti pengalaman masa BLT dimana jumlah orang miskin tibatiba membengkak jauh dari jumlah orang miskin yang diumumkan BPS secara resmi. Kita juga berharap sebaiknya pemerintah membuat skim berlapis. Ada bantuan untuk jangka pendek yang sifatnya mendesak untuk menaikkan daya beli masyarakat yang turun akibat kenaikan hargaharga, sehingga masyarakat golongan tidak mampu bisa mengkonsumsi dengan wajar. Ada juga yang sifatnya jangka menengah dan jangka panjang, seperti pemberdayaan sektor nonformal dan informal, pemberdayaan dan peningkatan kualitas masyarakat melalui berbagai usaha seperti UMKM, sektor pertanian unggulan sesuai dengan daerahnya, dan lain sebagainya yang tidak semata bersifat konsumtif. Sebab, bila hanya skim jangka pendek yang dilakukan seperti BLT di waktu yang lalu, dikhawatirkan dapat menimbulkan ketergantungan. Banyak pendapat bahwa program BLT bersifat charity, menimbulkan budaya malas, dan menimbulkan sifat mengharap belaskasihan disamping secara mikro dapat menumbuhkan budaya konsumtif sesaat. Menghadapi masyarakat miskin seharusnya tidak dengan program hit and run tetapi dengan pemberdayaan ( empowering). Namun pemerintah juga perlu dan berkewajiban melakukan perlindungan sosial (social protection) terhadap masyarakat miskin dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM. Oleh karena itu, skim yang dibangun sebaiknya bukan hanya skim jangka pendek (untuk menanggulangi konsumsi), tetapi juga skim jangka menengah dan jangka panjang yang bersifar empowering . Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Unimed Telah dimuat di harian waspada tanggal 28 februari 2012.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful