KURIKULUM 2004

PEDOMAN KHUSUS PENGEMBANGAN SILABUS DAN SISTEM PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKOLAH MENENGAH ATAS

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum September 2003

1

KATA PENGANTAR

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

i

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ........................................................................................ ............. DAFTAR ISI ............................................................................................... .................. DAFTAR TABEL ........................................................................................................ .... i ii iii 1 2 3 4 4 9 10 11 15 16 17 18 19 21 22

I.

PENDAHULUAN.......................................................................... ..........................

II. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN PAI ..................................................... ....... III. STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN PAI.......................................... ...... IV. PENGEMBANGAN SILABUS DAN SISTEM PENILAIAN......................................
A. Langkah-Langkah Penyusunan Silabus dan Sistem Penilaian ......................... B. Penyusunan dan Analisis Instrumen ........................................... ......................

1. Langkah Penyusunan Instrumen..................................................... ............ 2. Bentuk Instrumen dan Penskorannya........................................................ .. 3. Analisis Instrumen .................................................................... .................. 4. Evaluasi Hasil Penilaian.......................................................... ....................
V. PELAPORAN HASIL PENILAIAN DAN PEMANFAATANNYA...................................

A. Pelaporan Hasil Penilaian ........................................................... .................... B. Pemanfaatan Hasil Penilaian .......................................................... ..............
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... ................. GLOSARIUM ................................................................................................ ................ LAMPIRAN-LAMPIRAN:

1. Daftar Kata Kerja Operasional........................................................... ............... 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar...................................... .............. 3. Contoh Format Analisis Instrumen.......................................................... .......... 4. Contoh Format Evaluasi Hasil Penilaian.................................................... ....... 5. Contoh Format Profil Hasil Belajar............................................................... ..... 6. Contoh Format Penilaian Kecakapan Hidup........................................ ............. 7. Contoh Format Laporan Hasil Belajar Siswa................................. ................... 8. Contoh Format Rancangan Pengujian dan Pemberian Tugas.......................... 9. Contoh Silabus dan Sistem Penilaian.................................................... ...........

26 29 32 35 36 37 38 43 44

ii

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1: Contoh Format Analisis Kompetensi Dasar dan Kecakapan Hidup.................. Tabel 2: Kisi-Kisi Silabus dan Sistem Penilaian Berkelanjutan ..................................... Tabel 3: Pedoman Penilaian Uraian Bebas......................................... .......................... Tabel 4: Contoh Format Daftar Cek atau Skala Penilaian untuk Perawatan Jenazah . . Tabel 5: Contoh Format Lembar Pengamatan Sikap Siswa ......................................... Tabel 6: Contoh Format Penilaian Minat Siswa terhadap Mata Pelajaran .................... Tabel 7: Contoh Format Penilaian Konsep Diri Siswa ................................................. .. 6 10 12 13 14 15 15

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

iii

I. PENDAHULUAN Kebijakan pemerintah memberlakukan Kurikulum 2004 didasarkan pada UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan PP Nomor 25 tahun 2000 tentang pembagian kewenangan pusat dan daerah jis (berhubungan dengan) UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada PP Nomor 25 tahun 2000, dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, dinyatakan bahwa kewenangan pusat adalah dalam hal penetapan standar kompetensi peserta didik dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan penetapan standar materi pelajaran pokok. Berdasarkan hal itu, Departemen Pendidikan Nasional melakukan penyusunan standar nasional untuk seluruh mata pelajaran di SMA, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian. Sesuai dengan prinsip otonomi, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan silabus dan sistem penilaiannya berdasarkan standar nasional. Bagian yang menjadi kewenangan daerah adalah dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar serta instrumen penilaiannya. Meskipun demikian, daerah dapat mengembangkan standar tersebut, misalnya penambahan kompetensi dasar atau indikator pencapaian. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mencakup komponen pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, akhlak, ketakwaan, dan kewarganegaraan. Menurut Wilson (2001) paradigma pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, pedagogi, dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pedagogi yang mencakup strategi atau metode mengajar. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar, yang mencakup ujian, tugas-tugas, dan pengamatan. Implikasi penerapan pendidikan berbasis kompetensi adalah perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill. Silabus adalah acuan untuk merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran, sedangkan sistem penilaian mencakup indikator dan instrumen penilaiannya yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen. Jenis tagihan adalah berbagai bentuk ulangan dan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta didik; sedangkan bentuk instrumen terkait dengan jawaban yang harus dikerjakan
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 1

oleh peserta didik, baik dalam bentuk tes maupun nontes. II. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lain. Adapun karakteristik mata pelajaran PAI adalah sebagai berikut: A. Secara umum PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaranajaran dasar yang terdapat dalam agama Islam. Ajaran-ajaran dasar tersebut terdapat dalam al-Quran dan al-Hadis. Untuk kepentingan pendidikan, dengan melalui proses ijtihad, para ulama mengembangkan materi PAI pada tingkat yang lebih rinci.

B. Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu
akidah, syariah, dan akhlak. Akidah merupakan penjabaran dari konsep iman; syariah merupakan penjabaran dari konsep islam, dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan. Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keislaman, termasuk kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya. C. Mata pelajaran PAI tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai berbagai ajaran Islam, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran PAI menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, psikomotor, dan afektifnya.

D. Tujuan diberikannya mata pelajaran PAI adalah untuk membentuk peserta didik
yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu semua mata pelajaran hendaknya seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI.

E. Tujuan akhir dari mata pelajaran PAI di SMA adalah terbentuknya peserta didik
yang memiliki akhlak mulia. Tujuan inilah yang sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, pendidikan akhlak adalah jiwa dari Pendidikan Agama Islam. Mencapai akhlak yang karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Sejalan dengan tujuan ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan setiap guru haruslah memperhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya. Tentang struktur keilmuan PAI dapat dilihat pada gambar berikut:

2

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

STRUKTUR KEILMUAN MATA PELAJARAN PAI

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

AL-QURAN

AL-HADIS

IJTIHAD

PENDIDIKAN AKIDAH

PENDIDIKAN SYARIAH

PENDIDIKAN AKHLAK

TARIKH ISLAM

III. STANDAR KOMPETENSI PAI Kompetensi adalah kemampuan yang dapat dilakukan peserta didik yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Standar adalah arahan atau acuan bagi pendidik tentang kemampuan dan keterampilan yang menjadi fokus proses pembelajaran dan penilaian. Jadi standar kompetensi adalah batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu. Cakupan materi yang terkandung dalam setiap standar kompetensi cukup luas dan terkait dengan konsep yang ada dalam siswa sebagai hasil dari mempelajari PAI. Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA, telah dirumuskan lima
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 3

suatu mata pelajaran. Sesuai dengan

pengertian tersebut, standar kompetensi PAI adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh

standar kompetensi sebagai berikut.

1. 2. 3. 4. 5.

Mendeskripsikan ayat-ayat al-Quran serta mengamalkan ajaranajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Menerapkan akidah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melaksanakan syariah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Mendeskripsikan perkembangan tarikh Islam dan hikmahnya untuk kepentingan hidup sehari-hari.

IV. PENGEMBANGAN SILABUS DAN SISTEM PENILAIAN Silabus dan sistem penilaian merupakan urutan penyajian bagian-bagian dari silabus dan sistem penilaian suatu mata pelajaran. Silabus dan sistem penilaian disusun berdasarkan prinsip yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Sesuai dengan prinsip tersebut maka silabus dan sistem penilaian PAI dimulai dengan identifikasi, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok dan uraian materi pokok, pengalaman belajar, indikator, penilaian, yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen, serta alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat. Silabus dan sistem penilaian di atas dapat berfungsi untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik, melakukan perbaikan, memotivasi guru agar mengajar lebih baik, dan memotivasi siswa untuk belajar lebih baik. Prinsip-prinsip yang harus dipenuhi adalah: valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka, berkesinambungan, menyeluruh, dan bermakna. A. Langkah-Langkah Penyusunan Silabus dan Sistem Penilaian Langkah-langkah dalam penyusunan silabus dan sistem penilaian meliputi tahaptahap: identifikasi mata pelajaran; perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; penentuan materi pokok; pemilihan pengalaman belajar; penentuan indikator; penilaian, yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen; perkiraan waktu yang dibutuhkan; dan pemilihan sumber/bahan/alat. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca uraian berikut.

1. 2.

Identifikasi. Pada setiap silabus perlu identifikasi yang meliputi identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/program, dan semester. Pengurutan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran PAI dirumuskan

4

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

berdasarkan struktur keilmuan agama Islam dan tuntutan kompetensi lulusan. Selanjutnya standar kompetensi dan kompetensi dasar diurutkan dan disebarkan secara sistematis. Sesuai dengan kewenangannya, Depdiknas telah merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran.

3.

Penentuan Materi Pokok dan Uraian Materi Pokok. Materi pokok dan uraian materi pokok adalah butir-butir bahan pelajaran yang dibutuhkan siswa untuk mencapai suatu kompetensi dasar. Pengurutan materi pokok dapat menggunakan pendekatan prosedural, hirarkis, konkret ke abstrak, dan pendekatan tematik. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam menentukan materi pokok dan uraian materi pokok adalah: a) prinsip relevansi, yaitu adanya kesesuaian antara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai; b) prinsip konsistensi, yaitu adanya keajegan antara materi pokok dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi; dan c) prinsip adekuasi, yaitu adanya kecukupan materi pelajaran yang diberikan untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Materi pokok inipun telah ditentukan oleh Depdiknas.

4.

Pemilihan Pengalaman Belajar. Proses pencapaian kompetensi dasar dikembangkan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar. Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar. Pengalaman belajar dilakukan oleh siswa untuk menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Baik pembelajaran tatap muka maupun pengalaman belajar, dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Untuk itu, pembelajarannya dilakukan dengan metode yang bervariasi. Selanjutnya, pengalaman belajar hendaknya juga memuat kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh siswa. Kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problem hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. Pembelajaran kecakapan hidup ini tidak dikemas dalam bentuk mata pelajaran baru, tidak dikemas dalam materi tambahan yang disisipkan dalam mata pelajaran, tidak memerlukan tambahan alokasi waktu, tidak memerlukan jenis buku baru, tidak

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

5

memerlukan tambahan guru baru, dan dapat diterapkan dengan menggunakan kurikulum apapun. Pembelajaran kecakapan hidup memerlukan reorientasi pembelajaran dari subject-matter oriented menjadi life-skill oriented. Secara umum ada dua macam kecakapan hidup (life skill), yaitu general life skill dan spesific life skill. General life skill dibagi menjadi dua, yaitu personal skill (kecakapan personal) dan social skill (kecakapan sosial). Kecakapan personal itu sendiri terdiri dari self-awareness skill (kecakapan mengenal diri) dan thinking skill (kecakapan berpikir). Spesific life skill juga dibagi menjadi dua, yaitu academic skill (kecakapan akademik) dan vocational skill (kecakapan vokasional/ kejuruan). Kecakapan hidup di atas dapat dirinci sebagai berikut. Pertama, kecakapan mengenal diri meliputi kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran akan eksistensi diri, dan kesadaran akan potensi diri. Kedua, kecakapan berpikir meliputi kecakapan menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan kecakapan memecahkan masalah. Ketiga, kecakapan sosial meliputi kecakapan komunikasi lisan, komunikasi tertulis, dan kecakapan bekerjasama. Keempat, kecakapan akademik meliputi kecakapan mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan hipotesis, dan kecakapan melaksanakan penelitian. Kelima, kecakapan vokasional sering disebut juga sebagai kecakapan kejuruan. Kecakapan ini terkait dengan bidang pekerjaan tertentu. Dalam memilih pengalaman belajar perlu dipertimbangkan kecakapan hidup apa yang akan dikembangkan pada setiap kompetensi dasar. Untuk itu diperlukan analisis kecakapan hidup pada setiap kompetensi dasar. Tabel 1: Contoh Format Analisis Kompetensi Dasar dan Kecakapan Hidup
No Kesadaran Diri Eksistensi diri Makhluk Tuhan Potensi diri Kecakapan Hidup Kecakapan Berpikir Mengambil keputusan Memecahkan masalah Menggali informasi Mengolah informasi Kecakapan Sosial Komunikasi tertulis Komunikasi lisan Bekerjasama Kecakapan Akademik Menghubungkan variabel Merumuskan hipotesis Melaksanakan penelitian Mengidentifikasi variabel

Kompetensi dasar

1

Membaca dan mengamalkan ayat-ayat tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah

v

v

v

6

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

di bumi

2

Mendeskripsikan tentang puasa dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari

v

v

v

v

v

v

Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA kecakapan hidup (life skill) yang dikembangkan adalah general life skill (GLS) dan academic skill (kecakapan akademik). Rumusan pengalaman belajar yang diturunkan dari kompetensi dasar hendaknya memuat kecakapan hidup di atas. Kecakapan hidup dalam pengalaman belajar ditulis dalam tanda kurung dengan cetak miring. Misalnya, mendiskusikan pembagian harta warisan (kecakapan hidup: kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran akan eksistensi diri, kesadaran akan potensi diri, menggali informasi, mengolah informasi, bekerjasama, dan mengambil keputusan)

5.

Penjabaran Kompetensi Dasar menjadi Indikator. Indikator merupakan kompetensi dasar secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian hasil pembelajaran. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang bisa diukur dan dibuat instrumen penilaiannya. Seperti halnya standar kompetensi dan kompetensi dasar, sebagian dari indikator telah pula ditentukan oleh Depdiknas.

6.

Penjabaran Indikator ke dalam Instrumen Penilaian. Indikator dijabarkan lebih lanjut ke dalam instrumen penilaian yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen. Setiap indikator dapat dikembangkan menjadi 3 instrumen penilaian yang meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Jenis tagihan yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut. a.Kuis. Bentuknya berupa isian singkat dan menanyakan hal-hal yang prinsip. Biasanya dilakukan sebelum pelajaran dimulai, kurang lebih 5 -10 menit. Kuis dilakukan untuk mengetahui penguasaan pelajaran oleh siswa. Tingkat berpikir yang terlibat adalah pengetahuan dan pemahaman. b.Pertanyaan Lisan. Materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip, atau teorema. Tingkat berpikir yang terlibat adalah pengetahuan dan pemahaman.

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

7

c.Ulangan Harian. Ulangan harian dilakukan secara periodik di akhir pembelajaran satu kompetensi dasar. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya mencakup pemahaman, aplikasi, dan analisis. d.Ulangan Blok. Ulangan Blok adalah ujian yang dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa kompetensi dasar dalam satu waktu. Tingkat berpikir yang terlibat mulai dari pemahaman sampai dengan evaluasi. e.Tugas Individu. Tugas individu dapat diberikan pada waktu-waktu tertentu dalam bentuk pembuatan klipping, makalah, dan yang sejenisnya. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, sampai sintesis dan evaluasi. f. Tugas Kelompok. Tugas kelompok digunakan untuk menilai kompetensi kerja kelompok. Bentuk instrumen yang digunakan salah satunya adalah uraian bebas dengan tingkat berpikir tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi. g.Responsi atau Ujian Praktik. Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya. Ujian responsi bisa dilakukan di awal praktik atau setelah melakukan praktik. Ujian yang dilakukan sebelum praktik bertujuan untuk mengetahui kesiapan peserta didik melakukan praktik di laboratorium atau tempat lain, sedangkan ujian yang dilakukan setelah praktik, tujuannya untuk mengetahui kompetensi dasar praktik yang telah dicapai peserta didik dan yang belum. h.Laporan Kerja Praktik. dan melaporkannya. Bentuk instrumen dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Bentuk instrumen tes meliputi: pilihan ganda, uraian objektif, uraian non-objektif, jawaban singkat, menjodohkan, benar-salah, unjuk kerja (performans) dan portofolio. Sedangkan bentuk instrumen nontes meliputi: wawancara, angket, inventori, dan pengamatan. Para guru diharapkan menggunakan instrumen yang bervariasi agar diperoleh data pencapaian belajar siswa yang akurat. Beberapa bentuk instrumen tes yang dapat digunakan, antara lain: a.Pilihan Ganda. Bentuk ini bisa mencakup banyak materi pelajaran, Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada

kegiatan praktikumnya. Peserta didik bisa diminta untuk mengamati suatu gejala

penskorannya objektif, dan bisa dikoreksi dengan mudah. Tingkat berpikir yang terlibat bisa dari tingkat pengetahuan sampai tingkat sintesis dan analisis. b.Uraian Objektif. Jawaban uraian objektif sudah pasti. Uraian objektif lebih tepat digunakan untuk bidang Ilmu Alam. Agar hasil penskorannya objektif, diperlukan

8

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

pedoman penskoran. Hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walaupun diperiksa oleh orang yang berbeda. Tingkat berpikir yang diukur bisa sampai pada tingkat yang tinggi. c.Uraian Non-objektif/Uraian Bebas. Uraian bebas dicirikan dengan adanya jawaban yang bebas. Namun demikian, sebaiknya dibuatkan kriteria penskoran yang jelas agar penilaiannya objektif. Tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi. d.Jawaban Singkat atau Isian Singkat. Bentuk ini digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa. Materi yang diuji bisa banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah. e.Menjodohkan. Bentuk ini cocok untuk mengetahui pemahaman atas fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berpikir yang terlibat cenderung rendah. f. Performans. Bentuk ini cocok untuk mengukur kompetensi siswa dalam melakukan tugas tertentu, seperti praktik ibadah atau perilaku yang lain. g.Portofolio. Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja siswa, dengan menilai kumpulan karya-karya dan tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswa. Karya-karya ini dipilih dan kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan siswa. 7. Menentukan Alokasi Waktu. Alokasi waktu adalah perkiraan berapa lama siswa mempelajari suatu materi pelajaran. Untuk menentukan alokasi waktu, prinsip yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi baik di dalam maupun di luar kelas, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari. 8. Sumber/Bahan/Alat. Istilah sumber yang digunakan di sini berarti bukubuku rujukan, referensi atau literatur, baik untuk menyusun silabus maupun mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan dan alat adalah bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan dalam praktikum atau proses pembelajaran lainnya. Bahan dan alat di sini dapat bervariasi sesuai dengan karakteristik mata pelajarannya.

B. Penyusunan dan Analisis Instrumen Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui apakah siswa telah atau belum menguasai suatu kompetensi dasar tertentu. Penilaian juga bertujuan untuk: (1) mengetahui
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

9

tingkat pencapaian kompetensi siswa, (2) mengukur pertumbuhan dan perkembangan siswa, (3) mendiagnosis kesulitan belajar siswa, (4) mengetahui hasil pembelajaran, (5) mengetahui pencapaian kurikulum, (6) mendorong siswa belajar, dan (7) mendorong guru agar mengajar dengan lebih baik. 1. Langkah Penyusunan Instrumen Langkah awal dalam mengembangkan instrumen adalah menetapkan spesifikasi, yaitu berisi uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu instrumen. Penyusunan spesifikasi instrumen mencakup kegiatan: (a) menentukan tujuan, (b) menyusun kisi-kisi, (c) memilih bentuk instrumen, dan (d) menentukan panjang instrumen. Kisi-kisi berupa matriks yang berisi spesifikasi instrumen yang akan dibuat. Kisi-kisi ini merupakan acuan bagi penyusun instrumen, sehingga siapapun yang menyusunnya akan menghasilkan isi dan tingkat kesulitan yang relatif sama. Matriks kisi-kisi tes terdiri dari dua jalur, yaitu kolom dan baris. Tabel 2: Kisi-Kisi Silabus dan Sistem Penilaian Berkelanjutan Standar Kompetensi:
Kompetensi Dasar Materi Pokok dan Uraian Materi Pokok Pengalaman Belajar Indikator Jenis Tagihan Penilaian Bentuk Instrumen Contoh Instrumen Alokasi waktu Sum ber/ Bahan/ Alat

Pemilihan bentuk instrumen akan ditentukan oleh tujuan, jumlah peserta, waktu yang tersedia untuk memeriksa, cakupan materi, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Bentuk pilihan ganda misalnya, sangat tepat digunakan apabila jumlah peserta banyak, waktu koreksi singkat, dan cakupan materi yang diujikan banyak. Bentuk instrumen yang digunakan sebaiknya bervariasi seperti pilihan ganda, uraian objektif, uraian bebas, menjodohkan, jawaban singkat, benar-salah, unjuk kerja (performans), dan portofolio. Panjang instrumen ditentukan oleh waktu yang tersedia dengan memperhatikan bahan dan tingkat kelelahan peserta tes. Pada umumnya ulangan dalam bentuk tes membutuhkan waktu 60 sampai 90 menit. Sedangkan ulangan dalam bentuk nontes dan praktik bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Penentuan panjang tes dan nontes dapat ditentukan berdasarkan pengalaman para guru. Pada umumnya, setiap butir tes pilihan ganda memerlukan waktu pengerjaan sekitar 1 sampai 3 menit, tergantung pada tingkat kesulitan soal. Untuk tes bentuk uraian, lama tes ditentukan berdasarkan pada kompleksitas jawaban yang dituntut. Untuk mengatasi agar

10

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

jawaban soal tidak terlalu panjang, sebaiknya jawaban dibatasi dengan beberapa kalimat atau beberapa baris. 2. Bentuk Instrumen dan Penskorannya a. Bentuk Instrumen Tes dan Penskorannya 1) Pertanyaan Lisan. Penskoran pertanyaan lisan dapat dilakukan dengan pola kontinum 0 s.d. 10, atau 10 s.d. 100. Untuk memudahkan penskoran, dibuat rambu-rambu jawaban yang akan dijadikan acuan. Contoh soal: Uraikan beberapa arti kata al-din? 2) Pilihan Ganda. Bentuk soal pilihan ganda dapat dipakai untuk menguji penguasaan kompetensi pada tingkat berpikir rendah seperti pengetahuan (recall) dan pemahaman, sampai pada tingkat berpikir tinggi seperti aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pedoman pembuatan tes bentuk pilihan ganda adalah: (a) pokok soal harus jelas, (b) isi pilihan jawaban homogen, (c) panjang pilihan jawaban relatif sama, (d) tidak ada petunjuk jawaban benar, (e) hindari menggunakan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah, (f) pilihan jawaban angka diurutkan, (g) semua pilihan jawaban logis, (h) jangan menggunakan negatif ganda, (I) kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes, (j) bahasa yang digunakan baku, (k) letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak, dan (l) penulisan soal diurutkan ke bawah. Contoh soal: Seseorang telah dikenai wajib zakat apabila: A. Telah menikah B. Telah memiliki nafkah sendiri C. Telah memiliki kekayaan lebih

D. Telah mencapai nisab
E. Telah memiliki kekayaan selama setahun Penskoran pilihan ganda dapat dilakukan dengan rumus:

Skor =
B N

B x100 N

= adalah banyaknya butir yang dijawab benar = adalah banyaknya butir soal

3) Uraian Objektif. Pertanyaan yang biasa digunakan adalah simpulkan dan tafsirkan. Langkah untuk membuat tes uraian objektif adalah: (a) menulis soal berdasarkan indikator pada kisi-kisi, dan (b) mengedit pertanyaan. Untuk mengedit pertanyaan perlu diperhatikan: (1) apakah pertanyaan mudah dimengerti, (2) apakah data yang digunakan benar, (3) apakah tata letak keseluruhan baik, (4) apakah pemberian bobot skor sudah tepat, (5) apakah kunci jawaban sudah benar, dan (6) apakah waktu untuk mengerjakan tes cukup.
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 11

Penskoran instrumen uraian objektif dapat dilakukan

dengan memberikan skor

tertentu berdasarkan langkah-langkah dalam menjawab soal. Contoh soal: Ada seorang suami yang mati dengan meningalkan seorang isteri dan tiga orang anak (dua laki-laki dan satu perempuan). Ia meninggalkan uang sebesar 100 juta rupiah. Bagaimanakah langkahlangkahnya dan berapakah bagian yang diperoleh oleh masing-masing ahli waris? 4) Uraian Bebas. Bentuk instrumen ini dapat dipakai untuk mengukur kompetensi siswa dalam semua tingkat ranah kognitif. Kaidah penulisan instrumen bentuk uraian bebas adalah: (a) gunakan kata-kata seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah dan buktikan; (b) hindari penggunaan pertanyaan seperti siapa, apa, dan bila; (c) gunakan bahasa yang baku; (d) hindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda; (e) buat petunjuk mengerjakan soal; (f) buat kunci jawaban; dan (g) buat pedoman penskoran. Untuk memudahkan penskoran, dibuat rambu-rambu jawaban yang akan dijadikan acuan. Contoh soal: Mengapa agama Islam mengharamkan riba? Jawaban boleh bermacam-macam, namun pada pokoknya memuat hal-hal berikut: Tabel 3: Pedoman Penilaian Uraian Bebas
Kriteria Jawaban Riba merusak ekonomi umat Riba memberatkan peminjam Riba menyebabkan kemiskinan Riba menyebabkan kebangkrutan Skor maksimum Skor 1 1 1 1 4

5) Jawaban Singkat atau Isian Singkat. Tes bentuk jawaban/isian singkat dibuat dengan menyediakan tempat kosong yang disediakan bagi siswa untuk menuliskan jawaban. Jenis soal jawaban singkat ini bisa berupa pertanyaan dan melengkapi atau isian. Penskoran isian singkat dapat dilakukan dengan memberikan skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban salah. Contoh soal: Perbedaan pergantian khalifah pada masa Khulafa al-Rasyidin dan Muawiyah adalah.... 6) Menjodohkan. Bentuk ini cocok untuk mengetahui fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berpikir yang terlibat cenderung rendah. Contoh soal: Jodohkanlah konsep-konsep di bawah ini: 1. Hadis 2. Kitab Suci 3. Al-Quran 4. Shahih A. Al-Furqan B. Dlaif C. Zabur D. Adil E. Kufur

12

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

7) Portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya, tugas atau pekerjaan siswa yang disusun berdasarkan urutan kategori kegiatan. Karya-karya, tugas atau pekerjaan ini dipilih, kemudian dinilai sehingga dapat menggambarkan perkembangan kompetensi siswa. Portofolio sangat bermanfaat baik bagi guru maupun siswa dalam melakukan penilaian proses. Contoh soal: Laporan kegiatan keagamaan yang diikuti siswa, pengalaman keagamaan seorang siswa, menulis artikel atau makalah keagamaan, dan tugas-tugas individual. Agar penilaian terhadap hasil penugasan ini objektif, maka guru perlu mengembangkan rubrik, yakni semacam kisi-kisi pedoman penilaian. Rubrik hendaknya memuat: (a) daftar kriteria kinerja siswa, (b) aspek-aspek atau konsep-konsep yang akan dinilai, dan (c) gradasi mutu. Sebagai alat penilaian tugas, sebelum rubrik digunakan, guru harus mengomunikasikannya kepada siswa. Skor nilai bersifat kontinum 0 s.d. 10 atau 10 s.d. 100. Porsi untuk tiap keterlibatan berpikir dalam menjawab soal dari tahap pemahaman, aplikasi, dan analisis (sintesis dan evaluasi) disarankan sebesar 20%, 30%, dan 50%. Batas ketuntasan ditetapkan dengan skor 75% penguasaan kompetensi. 8) Performans (Unjuk Kerja). Performans (unjuk kerja) digunakan untuk kompetensi yang berhubungan dengan praktik. Performans dalam mata pelajaran PAI umumnya berupa praktik ibadah. Untuk melakukan penilaian terhadap praktik ini dapat digunakan format berikut: Tabel 4: Contoh Format Daftar Cek atau Skala Penilaian untuk Perawatan Jenazah
Bacaan Takbir kedua (Solawat Nabi) Bacaan doa pada takbir ketiga Cara memandikan mayat Cara mengkafani mayat laki-laki Cara shalat jenazah laki-laki Mengangkat tangan saat takbiratul ihram Bacaan doa pada takbir keempat Cara mengkafani mayat perempuan Cara shalat jenazah perempuan ..................................... .................................... Bacaan al-Fatihah

No Aspek

Nama Siswa

1 2 3 4 5

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Nilai rata-rata (kualitatif/huruf) 13

Penskoran praktek ibadah di atas dapat diisi dengan tanda silang (x) atau dengan rentang angka 1 s.d. 5. Skor-skor itu kemudian dijumlahkan dan ditafsirkan secara kualitatif. b. Bentuk Instrumen Nontes dan Penskorannya Instrumen nontes meliputi: angket, inventori, dan pengamatan. Instrumen ini digunakan untuk menilai aspek sikap dan minat terhadap mata pelajaran, konsep diri dan nilai. Langkah pembuatan instrumen sikap dan minat adalah sebagai berikut: (1) pilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap atau minat; (2) tentukan indikator minat, misalnya: kehadiran di kelas, banyaknya bertanya, tepat waktu mengumpulkan tugas, dan catatan buku rapi; (3) pilih tipe skala yang digunakan, misalnya skala Likert dengan empat skala: seperti dari sangat senang sampai tidak senang, dari selalu sampai tidak pernah. (4) telaah instrumen oleh sejawat; (5) perbaiki instrumen; (6) siapkan inventori laporan diri; (7) tentukan skor inventori; dan (8) buat hasil analisis inventori skala minat dan skala sikap. Tabel 5: Contoh Format Lembar Pengamatan Sikap Siswa
Menepati janji Kepedulian Nilai rata-rata (kualitatif/huruf) Tenggang rasa Kedisiplinan Kerjasama Ketekunan belajar Hormat pada guru Ramah dg teman Tanggung jawab Keterbukaan Kerajinan Kejujuran

No

Indikator Sikap Nama Siswa

1 2 3 4

Skor untuk masing-masing sikap di atas dapat berupa angka. Akan tetapi, pada tahap akhir skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif. Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s.d. 5. Penafsiran angka-angka tersebut adalah sebagai berikut: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, dan 5 = amat baik. Penilaian terhadap minat siswa dapat menggunakan skala bertingkat, misalnya dengan rentangan 4-1 atau 1-4 tergantung arah pertanyaan/pernyataan. Misalnya, jawaban sangat setuju diberi skor 4, sedangkan sangat tidak setuju 1. Skor keseluruhannya diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor butir pertanyaan/pernyataan. Misalnya instrumen untuk mengukur minat siswa terdiri atas 10 butir. Jika rentangan yang dipakai 1 sampai 4, maka

14

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

skor terendah adalah 10 dan skor tertinggi adalah 40. Jika dibagi menjadi 4 kategori, maka skala 10-16 termasuk tidak berminat, 17 – 24 kurang berminat, 25 – 32 berminat, dan skala 33 – 40 sangat berminat.

Tabel 6: Contoh Format Penilaian Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pernyataan Sl Saya senang mengikuti pelajaran ini Saya rugi bila tidak mengikuti pelajaran ini Saya merasa pelajaran ini bermanfaat Saya berusaha menyerahkan tugas tepat waktu Saya berusaha memahami pelajaran ini Saya bertanya pada guru bila ada yang tidak jelas Saya mengerjakan soal-soal latihan di rumah Saya mendiskusikan materi pelajaran Saya berusaha memiliki buku pelajaran ini Saya berusaha mencari bahan di perpustakaan Jumlah Keterangan: Sl = Selalu, Sr = Sering, Jr = Jarang, dan Tp = Tidak pernah Penilaian konsep diri siswa dapat dilakukan melalui inventori. Instrumen konsep diri digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Tabel 7: Contoh Format Penilaian Konsep Diri Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pernyataan Saya sulit mengikuti pelajaran PAI Saya sulit menghafal ayat-ayat al-Quran Saya sulit menghafal hadis-hadis Nabi Saya sulit untuk shalat malam Saya belum bisa melaksanakan shalat dhuha Saya sulit untuk melaksanakan puasa Senin-Kamis Saya melaksanakan shalat wajib tepat waktu Saya mudah bergaul dengan siapa saja Saya selalu membaca salam ketika bertemu Saya membutuhkan waktu lama untuk belajar Alternatif Ya Tidak Sr Skala Jr Tp

3. Analisis Instrumen

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

15

Suatu instrumen hendaknya dianalisis dulu sebelum digunakan. Ada dua model analisis yang dapat dilakukan, yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif adalah analisis yang dilakukan oleh teman sejawat dalam rumpun keahlian yang sama. Tujuannya adalah untuk menilai materi, konstruksi, dan apakah bahasa yang digunakan sudah memenuhi pedoman dan bisa dipahami oleh siswa. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan cara mengujicobakan instrumen yang telah dianalisis secara kualitatif kepada sejumlah siswa yang memiliki karakteristik sama dengan siswa yang akan diuji dengan instrumen tersebut. Jawaban hasil uji coba itu lalu dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan teknik yang ada, misalnya program MicroCat. Hasil ujicoba bertujuan untuk melihat karakteristik instrumen seperti indeks kepekaan atau kesensitipan instrumen, yaitu dengan cara membagi jumlah siswa yang menjawab benar dengan jumlah peserta tes. Batas minimumnya adalah 75%. Untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara melihat karakteristik butir instrumen dengan mengikuti acuan kriteria yang tercermin dari besarnya harga indeks sensitivitas. Hal ini dapat diketahui manakala dilakukan tes awal atau pretest dan tes setelah pembelajaran atau posttest. Indeks sensitivitas butir instrumen memiliki interval -1 sampai dengan 1. Indeks sensitivitas suatu butir soal (Is) ujian formatif adalah sebagai berikut :

Is =
RA = RB = T =

R A − RB T
Banyaknya siswa yang berhasil mengerjakan suatu butir instrumen sesudah proses pembelajaran. Banyaknya siswa yang berhasil mengerjakan suatu butir instrumen sebelum proses pembelajaran Banyaknya siswa yang mengikuti ujian

Jika tidak ada tes awal, maka indeks sensitivitas dapat dilihat dari besarnya tingkat pencapaiannya berdasarkan hasil tes akhir. Jika tingkat pencapaian suatu butir instrumen kecil (banyak siswa yang gagal) maka proses pembelajaran tidak efektif. Namun demikian, seperti telah dikemukakan di atas, harus diperhatikan pula bagaimana kualitas butir tersebut secara kualitatif. Jika hasil analisis secara kualitatif sudah memenuhi syarat, dapat diartikan bahwa rendahnya indeks kesukaran menunjukkan tidak efektifnya proses pembelajaran. Contoh analisis instrumen, dapat diperiksa pada Lampiran 3. 4. Evaluasi Hasil Penilaian Guru harus melakukan evaluasi terhadap hasil tes dan menetapkan standar ketuntasan. Guru segera melakukan remedial kepada siswa yang belum mencapai

16

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

ketuntasan, dan pengayaan kepada yang sudah tuntas. Jika semua siswa sudah menguasai suatu kompetensi dasar, maka pelajaran dapat dilanjutkan dengan materi berikutnya. Evaluasi terhadap hasil belajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar. Dari hasil evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi dasar, materi, atau indikator yang belum mencapai ketuntasan. Dengan mengevaluasi hasil belajar, guru akan mendapatkan manfaat yang besar untuk melakukan program perbaikan yang tepat. Jika ditemukan sebagian besar siswa gagal, perlu dikaji kembali apakah instrumen penilainnya terlalu sulit, apakah instrumen penilaiannya sudah sesuai dengan indikatornya, ataukah cara pembelajarannya (metode, media, teknik) yang digunakan kurang tepat. Jika ternyata instrumen penilaiannya terlalu sulit maka perlu diperbaiki. Akan tetapi, dan seterusnya. Contoh evaluasi hasil belajar dapat diperiksa pada Lampiran 4. Evaluasi hasil belajar nontes, misalnya minat dan sikap, adalah untuk mengetahui minat dan sikap siswa terhadap mata pelajaran. Evaluasi ini berangkat dari skala minat siswa terhadap mata pelajaran PAI dan segala sesuatu yang terkait. Skala dibuat bertingkat, misalnya dengan rentangan 4-1 atau 1- 4 tergantung arah pertanyaan atau pernyataannya. Misalnya, jawabannya sangat setuju diberi skor 4, sedangkan sangat tidak setuju diberi skor 1. Skor keseluruhannya diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor butir pertanyaan atau pernyataan. Jika pernyataan itu berjumlah 10 butir, skor tertinggi seorang siswa adalah 40 dan terendah adalah 10. Jika ditafsirkan ke dalam empat kategori, maka skala 10-16 termasuk tidak berminat, 17 – 24 kurang berminat, 25 – 32 berminat, dan skala 33 – 40 sangat berminat. Apabila dari sekian banyak siswa ternyata tidak berminat dengan substansi mata pelajaran PAI, maka guru PAI harus mencari sebab-sebabnya. Perlu dikaji dan dilihat kembali secara menyeluruh segala hal yang terkait dengan pembelajaran PAI, baik menyangkut metode, media maupun tekniknya. V. PELAPORAN HASIL PENILAIAN DAN PEMANFATANNYA Penilaian pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru. Informasi hasil belajar atau hasil mengajar berupa kompetensi dasar yang dikuasai dan yang belum dikuasasi oleh siswa. Hasil belajar siswa digunakan untuk memotivasi siswa, dan untuk perbaikan serta peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru. Pemanfaatan hasil belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran harus didukung oleh siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua siswa.
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 17

jika

instrumen penilaiannya ternyata tidak sulit, mungkin pembelajarannya yang harus diperbaiki,

Dukungan ini akan diperoleh apabila mereka memperoleh informasi hasil belajar yang lengkap dan akurat. Untuk itu diperlukan laporan perkembangan hasil belajar siswa untuk guru, sekolah, siswa, dan untuk orang tua siswa. Laporan hasil belajar siswa mencakup ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Informasi ranah kognitif dan psikomotor diperoleh dari sistem penilaian yang sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar. Sedangkan informasi ranah afektif diperoleh melalui wawancara, kuesioner, inventori, dan pengamatan yang sistematik. A. Pelaporan Hasil Penilaian Hasil penilaian ranah kognitif dan psikomotor dapat berupa nilai angka maupun deskripsi kualitatif terhadap kompetensi dasar tertentu. Untuk nilai angka dapat diberikan dalam bentuk skor 75 sebagai batas minimal ketuntasan (mastery). Artinya, jika seorang siswa sudah mencapai skor 75 untuk suatu kompetensi dasar, maka dikatakan siswa tersebut telah tuntas. Sebaliknya, keterangan tertulis. Pelaporan hasil penilaian afektif ini akan bermanfaat untuk mengetahui sikap dan minat siswa terhadap pelajaran dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sikap serta minat siswa terhadap pembelajaran PAI. Pelaporan ranah afektif dilakukan secara kualitatif, misalnya A (amat baik), B (baik), can C (kurang). 1. Laporan untuk Siswa dan Orang tua Laporan yang berisi catatan tentang siswa diusahakan dapat memberikan informasi yang lengkap. Akan tetapi, membuat laporan yang lengkap setiap saat merupakan beban yang berat bagi seorang guru. Oleh karena itu, pembuatan laporan dapat bersifat singkat, disesuaikan dengan kebutuhan. Laporan yang dibuat guru untuk siswa dan orang tua berisi catatan prestasi belajar siswa. Catatan itu dapat dibedakan atas dua cara, yaitu lulus atau belum lulus. Prestasi siswa yang dilaporkan guru kepada siswa dan orang tua dapat dilihat dalam buku rapor yang diisi pada setiap semester 2. Laporan untuk Sekolah Selain membuat laporan untuk siswa dan orang tua, guru juga harus membuat laporan untuk sekolah. Sekolah berkepentingan untuk mengetahui catatan perkembangan siswa yang ada di dalamnya. Dengan demikian hasil belajar siswa akan diperhatikan dan dipikirkan oleh pihak sekolah. Laporan yang dibuat guru untuk sekolah sebaiknya lebih lengkap. Guru tidak semata-mata melaporkan prestasi siswa tetapi juga menyinggung problem kepribadian
18 Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

jika seorang siswa belum mencapai skor 75, maka

dikatakan belum tuntas. Sedangkan deskripsi kualitatif dapat dilaporkan dalam bentuk

mereka. Laporan tidak hanya dalam bentuk angka tapi juga dalam bentuk deskripsi tentang siswa. 3. Laporan untuk Masyarakat Pada umumnya laporan untuk masyarakat berkaitan dengan jumlah lulusan sekolah. Setiap siswa yang telah lulus membawa bukti bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan tertentu. Namun pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa dari suatu sekolah tidaklah sama. Tingkat keberhasilan ini dinyatakan secara lengkap dalam laporan prestasi. B. Pemanfaatan Hasil Penilaian 1. Untuk Siswa Informasi hasil belajar siswa dapat diperoleh melalui ujian, kuesioner, wawancara, atau pengamatan. Informasi hasil belajar ranah kognitif dan psikomotor diperoleh melalui ujian, sedangkan ranah afektif diperoleh melalui angket, inventori, dan pengamatan. Informasi hasil belajar dapat dimanfaatkan siswa untuk: (a) mengetahui kemajuan hasil belajar diri, (b) mengetahui konsep-konsep atau teori yang belum dikuasai, (c) memotivasi diri untuk belajar lebih baik, dan (d) memperbaiki strategi belajar. Untuk memberi informasi yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh siswa seoptimal mungkin, maka laporan yang diberikan kepada siswa harus berisi: (a) hasil pencapaian belajar siswa, (b) kekuatan dan kelemahan siswa dalam semua mata pelajaran, dan (c) minat siswa pada masing-masing mata pelajaran. 2. Untuk Orang Tua Informasi hasil belajar dimanfaatkan oleh orang tua untuk memotivasi anak agar belajar lebih baik. Untuk itu diperlukan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa, yang meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Informasi ini digunakan orang tua untuk: (a) membantu anaknya belajar, (b) memotivasi anaknya belajar, (c) membantu sekolah meningkatkan hasil belajar siswa, dan (d) membantu sekolah melengkapi fasilitas belajar. Untuk memenuhi kebutuhan orang tua dalam meningkatkan hasil belajar, bentuk laporan hasil belajar harus mencakup semua ranah, serta deskripsi yang lebih rinci tentang kelemahan, kekuatan, dan keterampilan puteranya dalam melakukan tugas, serta minat terhadap mata pelajaran. 3. Untuk Guru dan Kepala Sekolah Hasil penilaian digunakan guru dan sekolah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam satu kelas dan sekolah dalam semua mata pelajaran. Hasil penilaian harus dapat mendorong guru untuk mengajar lebih baik, membantu guru untuk menentukan
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 19

strategi mengajar yang lebih tepat, dan mendorong sekolah memberi fasilitas belajar lebih baik. Laporan hasil belajar untuk guru dan kepala sekolah harus mencakup hasil belajar dalam semua ranah untuk semua pelajaran. Informasi yang diperlukan adalah kompetensi dasar yang telah dan belum dikuasai oleh siswa. Guru memerlukan informasi yang spesifik untuk masing-masing kelas yang diajar, sedangkan kepala sekolah memerlukan informasi yang umum untuk semua kelas dalam satu sekolah. Contoh laporan profil hasil belajar siswa dalam semua ranah, dapat dilihat pada Lampiran 5. Sedangkan laporan hasil belajar siswa untuk siswa, orang tua, guru dan sekolah dapat dilihat pada Lampiran 7.

20

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

DAFTAR PUSTAKA Ajat Sudrajat. (1995). Din al-Islam. Yogyakarta: UPP IKIP Yogyakarta. Ali, Maulana Muhammad. (1996). Islamologi (Dinul Islam). Terj. Kaelan dan HM Bachrun. Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah. Al-Faruqi, Isma’il Raji. (1988). Tauhid. Terj. Rahmani Astuti. Bandung: Pustaka. Budy Moenawar-Rahman (ed.). (1994). Kontekstualissi doktrin Islam dalam sejarah. Jakarta: Paramadina. Departemen Agama RI. (1984). Al-Quran dan terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama RI. Depdiknas. (2001). Pedoman umum sistem pengujian hasil kegiatan belajar mengajar berbasis Kompetensi dasar siswa Sekolah Menengah Umum (SMA). Jakarta: Dit Dikimenum. --------. (2001). Pedoman umum penyusunan silabus berbasis Kompetensi dasar siswa sekolah menengah umum. jAKARTA: Dit. Dikmenum Djemari Mardapi. (2001). “Analisis soal tes hasil pembelajaran mahasiswa”. Makalah. Disampaikan pada Pelatihan Evaluasi Pembelajaran UMS pada tanggal 9-10 Maret 2001. --------. (1997). “Berbagai bentuk tes objektif”. Makalah. Disampaikan pada Pelatihan Evaluasi dan Hasil Belajar Mahasiswa UGM, pada tanggal 18 Nopember 1997. Endang Saefuddin Anshary. (1979). Islam, filsafat, dan agama. Surabaya: Bina Ilmu. Hall, Gene E. (1986). Competency – Base Education : A Process for the improvement of education, New Jersey : Englewood Cliffs, Inc. Harun Nasution. (1985). Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Jilid I dan II. Jakarta: UI Press. Hasbi Ash-Shiddieqy. (1977). Al-Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Moenawar Chalil. (1986). Kembali kepada al-Quran dan As-Sunnah. Jakarta: Bulan Bintang. Nurcholish Madjid. (1992). Islam, doktrin dan peradaban. Jakarta: Paramadina. Quraish Shihab. (1994). Membumikan al-Quran. Bandung: Mizan. --------. (1999). Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan. Rahman, Fazlur. (1983). Tema pokok al-Quran. Bandung: Pustaka. Sabiq, Sayid. (1993). Fiqh sunnah. Jilid I sampai 14. Bandung: Al-Ma’arif. Sulaiman Rasyid. (1973). Fiqh Islam (Hukum fiqh lengkap). Jakarta: At-Tahiriyah. Zarkasyi A. Salam dan Oman Fathurohman. (1986). Pengantar ilmu fiqh dan ushul fiqh. Yogyakarta: Bina Usaha.
Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 21

GLOSARIUM adaptif: mudah menyesuaikan diri dengan keadaan afektif: berkenaan dengan perasaan dan atau sikap analisis: kajian/telaah terhadap sesuatu hal untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. analisis butir empiris: analisis kuantitatif butir; analisis butir soal berdasarkan hasil ujicoba. analisis butir teoretis: analisis kualitatif butir; telaah butir; pengkajian terhadap kualitas soal secara teoretis. asesmen: penilaian; penentuan baik buruk dan atau benar salah sesuatu hal. berkesinambungan: berkelanjutan; tidak berhenti pada suatu saat, tetapi dilanjutkan pada periode-periode berikutnya. evaluasi: kegiatan untuk menentukan mutu atau nilai suatu program, yang di dalamnya ada unsur ‘pembuatan keputusan’, sehingga mengandung unsur subjektivitas; kegiatan yang sistematik untuk menentukan kebaikan dan kelemahan suatu program. gerak adaptif: gerak terlatih hipotesis: sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat, meskipun kebenarannya masih harus diuji; anggapan dasar. indikator: karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan, atau respons, yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa siswa itu telah memiliki kompetensi dasar tertentu. jenis tagihan: golongan tagihan menurut klasifikasi menjadi kuis, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, ulangan blok, tugas individu, tugas kelompok, laporan kerja praktik, laporan praktikum, responsi, ujian praktik, dsb.; jenis kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk menunjukkan hasil belajar yang telah dicapainya kecakapan hidup (life skill): Kompetensi yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat, misalnya: kompetensi berpikir kompleks, berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai warganegara yang bertanggung jawab, kesiapan untuk terjun ke dunia kerja. kecukupan (adequacy): mempunyai cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran yang memadai untuk menunjang penguasaan Kompetensi dasar maupun standar kompetensi. kesahihan isi tes: petunjuk sejauh mana isi tes sesuai dengan kompetensi dasar dalam silabus yang hendak diukur kesahihan konstruk tes: petunjuk sejauh mana faktor yang diungkap oleh hasil tes itu sesuai dengan faktor yang hendak diukur. kesahihan prediktif tes: petunjuk sejauh mana hasil tes dapat memprediksi kompetensi yang akan ditunjukkan oleh data empirik. kesalahan pengkuran sistematik: kesalahan pengukuran yang terjadi karena alat ukurnya tidak selalu memberikan ukuran yang sebenarnya, atau penskorannya mempunyai tingkat kemurahan atau kemahalan yang bervariasi.

22

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

kesalahan pengukuran acak: kesalahan pengukuran yang terjadi karena kondisi yang diukur bervariasi, atau orang yang diukur bervariasi, atau bahan yang diujikan tidak tepat. kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan oleh siswa, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku. kompetensi dasar: kompetensi minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan; Kompetensi minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa dari standar kompetensi untuk suatu mata pelajaran. kompetensi afektif: kompetensi yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat, penerimaan atau penolakan terhadap suatu objek. kompetensi kognitif: kompetensi berpikir; kompetensi memperoleh pengetahuan; kompetensi yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran. kompetensi psikomotor: kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan; Kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik. kompetensi lulusan SMA: kompetensi yang dapat dilakukan atau ditampilkan oleh lulusan SMA, meliputi lulusan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. konsistensi (ketaat-asasan): keselarasan hubungan antarkomponen dalam silabus (kompetensi dasar, materi pokok dan pengalaman belajar). kuis: ulangan singkat atau ujian singkat, baik lisan maupun tertulis. materi pembelajaran: bahan ajar minimal yang harus dipelajari siswa untuk menguasai kompetensi dasar. materi pokok: pokok bahasan dan subpokok bahasan dari suatu kompetensi dasar paradigma: model dalam teori; kerangka pikir; norma yang dianut oleh sekelompok komunitas. pedagogi: ilmu pendidikan; ilmu pengajaran pembelajaran berbasis kompetensi: pembelajaran yang mensyaratkan dirumuskannya secara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. pendekatan hierarkis: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas penjenjangan materi pokok. pendekatan holistik: strategi pengembangan materi pembelajaran dengan memperhatikan keseluruhan materi yang tercakup dalam satuan mata pelajaran. pendekatan prosedural: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas urutan penyelesaian suatu tugas pembelajaran. pendekatan spiral: strategi pengembangan materi pembelajaran berdasarkan atas lingkup lingkungan, yaitu dari lingkup lingkungan yang paling dekat dengan siswa menuju ke lingkup lingkungan yang lebih jauh. pendekatan tematik: strategi pengembangan materi pembelajaran yang bertitik tolak dari sebuah tema. pendekatan terjala (webbed): strategi pengembangan pelajaran, dengan menggunakan topik dari beberapa mata pelajaran yang relevan sebagai titik sentral, dan hubungan antara tema dan sub-tema dapat digambarkan sebagai sebuah jala (webb).

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

23

pengalaman belajar: pengalaman atau kegiatan yang perlu dilakukan oleh siswa untuk menguasai Kompetensi dasar atau materi pembelajaran. pengujian: pengukuran yang dilanjutkan dengan penilaian. pengukuran: proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. penilaian: metode yang biasa digunakan untuk menentukan mutu unjuk kerja individu; pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karakteristik seseorang atau karakteristik sesuatu; penafsiran data hasil pengukuran. portofolio: kumpulan hasil karya seorang siswa; sejumlah hasil karya seorang siswa yang sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasi siswa, perkembangan siswa itu dalam Kompetensi berpikir, pemahaman siswa itu atas materi pelajaran, Kompetensi siswa itu dalam mengungkapkan gagasan, dan mengungkapkan sikap siswa itu terhadap mata pelajaran tertentu, laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan. ranah afektif: ranah yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu obyek. ranah kognitif: ranah yang berkaitan dengan kompetensi berpikir; kompetensi memperoleh pengetahuan; kompetensi yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran. ranah psikomotor: ranah yang berkaitan dengan kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan; kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik. reliabilitas (ajeg): kompetensi alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konstan atau ajeg. sahih: mengukur faktor yang seharusnya diukur. silabus: susunan teratur materi pembelajaran mata pelajaran tertentu pada kelas/semester tertentu. sintesis: paduan berbagai pengertian atau hal yang merupakan kesatuan yang selaras. sistem: perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan; susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas, dsb. sistematik: mengikuti suatu prosedur tertentu. sistem penilaian: uraian keterangan yang teratur sebagai penjelasan tentang prosedur dan cara mengembangkan kompetensi dasar menjadi indikator pencapaian kompetensi itu, dan cara mengembangkan indikator menjadi soal ujian. sistem ujian berkelanjutan: sistem ujian yang meliputi soal untuk semua indikator kompetensi mata pelajaran yang bersangkutan, yang hasilnya dianalisis dan digunakan untuk menentukan ujian berikutnya. soal analisis: soal yang menuntut uraian informasi, penemuan asumsi pembedaan antara fakta dan pendapat, dan penemuan hubungan sebab-akibat. soal aplikasi: soal yang menuntut penerapan prinsip dan konsep dalam situasi yang belum pernah diberikan. soal evaluasi: soal yang menuntut pembuatan keputusan dan kebijakan, dan penentuan “nilai” informasi. soal pemahaman: soal yang menuntut pembuatan pernyataan masalah dengan kata-kata penjawab sendiri, pemberian contoh prinsip atau contoh konsep.

24

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

soal pengetahuan: soal yang menuntut jawaban yang berdasarkan hafalan. soal sintesis: soal yang menuntut pembuatan cerita, karangan, hipotesis dengan memadukan berbagai pengetahuan atau ilmu. soal ujian yang sahih: soal ujian yang bahannya mewakili bahan ajar yang ada di dalam silabus. standar kompetensi: kompetensi yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki oleh siswa; kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran. tagihan: berbagai bentuk ulangan atau ujian untuk menunjukkan tingkat kompetensi siswa dalam mata pelajaran tertentu. tes acuan kriteria: tes yang berdasarkan anggapan bahwa hampir semua orang dapat belajar (menguasai) materi pelajaran apa saja tetapi memerlukan waktu yang mungkin berbeda. tes acuan norma: tes yang berdasarkan anggapan bahwa kompetensi penempuh tes itu merupakan variabel yang mengikuti distribusi normal. tes non objektif: jenis ujian yang penskorannya dapat dipengaruhi oleh subjektivitas pemberi skor. tes objektif: jenis ujian yang penskorannya objektif, tidak bergantung pada subjektivitas pemberi skor. tes pilihan ganda: jenis ujian yang bagi setiap butir soalnya tersedia sejumlah jawaban yang harus dipilih salah satu oleh penempuh tes karena hanya salah satu dari jawabanjawaban itu yang benar. ujian: proses kuantifikasi (pemberian angka) kompetensi siswa pada ranah kognitif dan psikomotorik. ujian berkelanjutan: ujian yang hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang sudah dimiliki siswa peserta tes dan mengetahui kesulitan siswa, yang dilakukan sampai siswa menguasai semua kompetensi dasar. validitas: kompetensi alat ukur yang memenuhi fungsinya sebagai alat ukur, alat ukur itu mampu mengukur apa yang harus diukur.

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

25

Lampiran 1: Daftar kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam perumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kata Kerja Operasional Standar Kompetensi Mendefinisikan Menerapkan Mengkonstrusikan Mengidentifikasikan Mengenal Menyelesaikan Menyusun Mendeskripsikan Kompetensi Dasar Menunjukkan Membaca Menghitung Menggambarkan Melafalkan Mengucapkan Membedakan Mengidentifikasikan Menafsirkan Menerapkan Menceriterakan Menggunakan Menentukan Menyusun Menyimpulkan Mendemonstrasikan Menterjemahkan Merumuskan Menyelesaikan Menganalisis Mensintesis Mengevaluasi

Keterangan: 1. Satu kata kerja tertentu (misal mengidentifikasikan) dapat dipakai pada standar kompetensi dan kompetensi dasar. Perbedaannya adalah pada standar kompetensi cakupannya lebih luas dari kompetensi dasar. 2. Satu standar kompetensi dapat dipecah menjadi 3 sampai 6 atau lebih kompetensi dasar. 3. Satu kompetensi dasar nantinya harus dapat dipecah menjadi minimal 2 indikator.

26

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Kognitif Pengetahuan Mengutip Menyebutkan Menjelaskan Menggambar Membilang Mengidentifikas i Mendaftar Menunjukkan Memberi label Memberi indek Memasangkan Menamai Menandai Membaca Menyadari Menghafal Meniru Mencatat Mengulang Mereproduksi Meninjau Memilih Menyatakan Mempelajari Mentabulasi Memberi kode Menelusuri Menulis Pemahaman Memperkirakan Menjelaskan Mengkategorikan Mencirikan Merinci Mengasosiasikan Membandingkan Menghitung Mengkontraskan Mengubah Mempertahanka n Menguraikan Menjalin Membedakan Mendiskusikan Menggali Mencontohkan Menerangkan Mengemukakan Mempolakan Memperluas Menyimpulkan Meramalkan Merangkum Menjabarkan Penerapan Menugaskan Mengurutkan Menentukan Menerapkan Menyesuaikan Mengkalkulasi Memodifikasi Mengklasifikasi Menghitung Membangun Mengurutkan Membiasakan Mencegah Menentukan Menggambarka n Menggunakan Menilai Melatih Menggali Mengemukakan Mengadaptasi Menyelidiki Mengoperasikan Mempersoalkan Mengkonsepkan Melaksanakan Meramalkan Memproduksi Memproses Mengaitkan Mensimulasikan Memecahkan Melakukan Mentabulasi Menyusun Memproses Meramalkan Analisis Menganalsis Mengaudit Memecah Menegaskan Mendeteksi Mendiagnosis Menyeleksi Memerinci Menominasikan Mendiagramka n Megkorelasikan Merasionalkan Menguji Mencerahkan Menjelajah Membagankan Menyimpulkan Menemukan Menelaah Memaksimalka n Memerintahkan Mengedit Mengaitkan Memilih Mengukur Melatih Mentransfer Sintesis Mengabstraksi Mengatur Menganimasi Mengumpulka n Mengkategorikan Mengkode Mengombinasi kan Menyusun Mengarang Membangun Menanggulangi Menghubungkan Menciptakan Mengkreasikan Mengoreksi Merancang Merencanakan Mendikte Meningkatkan Memperjelas Memfasilitasi Membentuk Merumuskan Menggeneralisasi Menggabungkan Memadukan Membatas Mereparasi Menampilkan Menyiapkan Memproduksi Merangkum Merekonstruksi Penilaian Membandingkan Menyimpulkan Mengarahkan Menilai Mengkritik Menimbang Memutuskan Memisahkan Memprediksi Memperjelas Menugaskan Menafsirkan Mempertahankan Memerinci Mengukur Merangkum Membuktikan Mendukung Memvalidasi Mengetes Memilih Memproyeksi

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

27

Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Untuk Ranah Psikomotor Peniruan Mengaktifkan Menyesuaikan Menggabungkan Melamar Mengatur Mengumpulkan Menimbang Memperkecil Membangun Mengubah Membersihkan Memposisikan Mengkonstruksi Manipulasi Mengoreksi Mendemonstrasikan Merancang Memilah Melatih Memperbaiki Mengidentifikasikan Mengisi Menempatkan Membuat Memanipulasi Mereparasi Mencampur Ketetapan Sama dengan manipulasi, tetapi dengan kontrol yang lebih dan kesalahan lebih sedikit Artikulasi Mengalihkan Menggantikan Memutar Mengirim Memindahkan Mendorong Menarik Memproduksi Mencampur Mengoperasikan Mencampur Mengemas Membungkus Pengalamiahan Mengalihkan Mempertajam Membentuk Memadankan Menggunakan Memulai Menyetir Menjeniskan Menempel Mensketsa Melonggarkan Menimbang

Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Untuk Ranah Afektif Menerima Memilih Mempertanyakan Mengikuti Memberi Menganut Mematuhi Meminati Menanggapi Menjawab Membantu Mengajukan Mengompromikan Menyenangi Menyambut Mendukung Menyetujui Menampilkan Melaporkan Memilih Mengatakan Memilah Menolak Menilai Mengasumsikan Meyakini Melengkapi Meyakinkan Memperjelas Memprakarsai Mengimani Mengundang Menggabungkan Memperjelas Mengusulkan Menekankan Menyumbang Mengelola Menganut Mengubah Menata Mengklasifikasikan Mengombinasikan Mempertahankan Membangun Membentuk pendapat Memadukan Mengelola Menegosiasi Merembuk Menghayati Mengubah perilaku Berakhlak mulia Mempengaruhi Mendengarkan Mengkualifikasi Melayani Menunjukkan Membuktikan Memecahkan

28

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Lampiran 2: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

No 1

Standar Kompetensi
Mendeskripsikan ayat-ayat al-Quran serta mengamalkan ajaranajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Dasar

1.1. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat
tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.2. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang prinsip-prinsip beribadah serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.3. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang demokrasi serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.4. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang kompetisi dalam kebaikan serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.5. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang perintah menyantuni kaum lemah serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.6. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.7. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang toleransi serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.8. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang etos kerja serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. 1.9. Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat yang berisi dorongan untuk mengembangkan IPTEK serta menerapkannya dalam perilaku seharihari.

2

Menerapkan akidah Islam dalam kehidupan seharihari.

2.1.Mendeskripsikan fungsi keimanan kepada Allah
untuk kepentingan hidup sehari-hari.

2.2.Mendeskripsikan fungsi keimanan kepada
malaikat untuk kepentingan hidup sehari-hari.

2.3.Mendeskripsikan fungsi keimanan kepada
rasul-rasul Allah untuk kepentingan hidup sehari-hari.

2.4.Mendeskripsikan fungsi keimanan kepada
kitab-kitab untuk kepentingan hidup sehari-hari.

2.5.Mendeskripsikan fungsi keimanan kepada hari
akhir untuk kepentingan hidup sehari-hari.

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

29

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

2.6.Mendeskripsikan fungsi keimanan kepada
qadha dan qadar untuk kepentingan hidup sehari-hari.

3

Melaksanakan syariah Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Mendeskripsikan tentang sumber-sumber hukum Islam dan pembagiannya. Mendeskripsikan tentang shalat dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Mendeskripsikan tentang puasa dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Mendeskripsikan tentang zakat dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Mendeskripsikan tentang haji/umrah dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Mendeskripsikan tentang wakaf dan hikmahnya bagi kehidupan umat Islam. Mendeskripsikan tentang jual beli dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mendeskripsikan tentang riba dan mengambil hikmahnya untuk kehidupan sehari-hari. Mendeskripsikan tentang kerjasama ekonomi Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mendeskripsikan tentang perawatan jenazah dan mampu mempraktikkannya. Mendeskripsikan tentang jinayat dan hudud dan mengambil hikmahnya untuk kepentingan hidup sehari-hari. Mendeksripsikan tentang khutbah jum’ah dan dakwah serta mempraktikkannya. Mendeskripsikan tentang mawaris dan hikmahnya serta menerapkannya dalam kehidupan. Mendeskripsikan tentang pernikahan dan hikmahnya serta menerapkan dalam kehidupannya kelak. Membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan menghindari perilaku tercela dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan bertatakrama dalam kehidupan sehari-hari.

4

Menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan seharihari.

5

Mendeskripsikan perkembangan tarikh Islam dan hikmahnya untuk

Menganalisis perkembangan Islam pada masa Umayyah dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari-hari.

30

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

No

Standar Kompetensi
kepentingan hidup seharihari.

Kompetensi Dasar
Menganalisis perkembangan Islam pada masa Abbasiyah dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari-hari. Menganalisis perkembangan Islam pada Abad Pertengahan dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari-hari. Menganalisis perkembangan Islam pada masa Pembaharuan dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari-hari. Menganalisis perkembangan Islam di Indonesia dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari-hari. Menganalisis perkembangan Islam di dunia dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari-hari.

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

31

Lampiran 3: Contoh Format Analisis Instrumen I. Analisis Butir Soal Bentuk Uraian JENIS PERSYARATAN A. ASPEK MATERI 1. Butir soal sesuai dengan indikator. 2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas. 3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran. 4. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkat kelas. B. ASPEK KONSTRUKSI 5. Rumusan kalimat dalam bentuk kalimat tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai. 6. Ada petunjuk yang jelas cara mengerjakan/ menyelesaikan soal. 7. Ada pedoman penskorannya. 8. Tabel, grafik, diagram, kasus, atau yang sejenisnya bermakna (jelas keterangannya atau ada hubungannya dengan masalah yang ditanyakan). 9. Butir soal tidak bergantung pada butir soal sebelumnya. C. ASPEK BAHASA: 10. Rumusan kalimat komunikatif. 11. Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta sesuai dengan ragam bahasanya. 12. Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. 13. Menggunakan bahasa/kata yang umum (bukan bahasa lokal). 14. Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan peserta didik. NOMOR SOAL 1 2 3 4 5 6 v v V v V v v

v v v v v v v

v

v v v v v v v v v v v

Keterangan: • Soal nomor 1, perlu dirumuskan kembali karena ruang lingkup pertanyaan dan jawabannya tidak menunjukkan batas-batas yang jelas, kurang memberikan petunjuk tentang cara mengerjakan, dan dapat menimbulkan penafsiran ganda atau salah makna. • Soal nomor 2, sudah baik dan tidak memerlukan perbaikan.

Soal nomor 3, memerlukan tambahan penjelasan tentang cara mengerjakan.

32

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

2. Analisis Butir Soal Bentuk Melengkapi JENIS PERSYARATAN A. ASPEK MATERI 1. Butir soal sesuai dengan indikator. 2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas. 3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran. 4. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkat kelas. B. ASPEK KONSTRUKSI 5. Rumusan kalimat dalam bentuk kalimat terbuka (yang belum lengkap) yang hanya memerlukan tambahan kata yang merupakan jawaban/kunci. 6. Butir soal tidak bergantung pada butir soal sebelumnya. C. ASPEK BAHASA: 7. Rumusan kalimat komunikatif. 8. Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta sesuai dengan ragam bahasanya. 9. Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. 10. Menggunakan bahasa/kata yang umum (bukan bahasa lokal). 11. Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan peserta didik. NOMOR SOAL 1 2 3 4 5 6 v v v v v v v v v

v v v v v

v v v v v v v v v v v

Keterangan: • Soal nomor 1, perlu dirumuskan kembali karena ruang lingkup pertanyaan dan jawabannya tidak menunjukkan batas-batas yang jelas. • Soal nomor 2, sudah baik dan tidak memerlukan perbaikan.

Soal nomor 3, memerlukan perbaikan dalam bahasa.

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

33

3. Analisis Butir Soal Bentuk Pilihan Ganda JENIS PERSYARATAN A. ASPEK MATERI 1. Butir soal sesuai dengan indikator. 2. Hanya ada satu kunci atau jawaban yang benar. 3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran. 4. Isi materi sesuai dengan jenjang, jenis sekolah dan tingkatan kelas. 5. Pilihan benar-benar berfungsi, jika pilihan merupakan hasil perhitungan, maka pengecoh berupa pilihan yang salah rumus/salah hitung. B. ASPEK KONSTRUKSI 6. Pokok soal (stem) dirumuskan dengan jelas. 7. Rumusan soal dan pilihan dirumuskan dengan tegas. 8. Pokok soal tidak memberi petunjuk/mengarah kepada pilihan jawaban yang benar. 9. Pokok soal tidak mengandung pernyataan negatif ganda. 10. Bila terpaksa menggunakan kata negatif, maka harus digarisbawahi atau dicetak lain. 11. Pilihan jawaban homogen. 12. Hindari adanya alternatif jawaban : "seluruh jawaban di atas benar" atau "tak satu jawaban di atas yang benar" dan yang sejenisnya. 13. Panjang alternatif /pilihan jawaban relatif sama, jangan ada yang sangat panjang dan ada yang sangat pendek. 14. Pilihan jawaban dalam bentuk angka/waktu diurutkan. 15. Wacana, gambar, atau grafik benar-benar berfungsi. 16. Antar butir soal tidak bergantung satu sama lain. C. ASPEK BAHASA: 17. Rumusan kalimat komunikatif. 18. Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta sesuai dengan ragam bahasanya. 19. Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. 20. Menggunakan bahasa/kata yang umum (bukan bahasa lokal). 21. Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan peserta didik. NOMOR SOAL 1 2 3 4 5 6 v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v

v v v v v

v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v

v v v v v v v v v

v v v v v

v v v v v v v v v v v v

v v v v

v v v v v

Keterangan: • Soal nomor 1 dan 2 sudah baik dari ke tiga ranah dan tidak memerlukan perbaikan.

Soal nomor 3 dan 5 perlu perbaikan pada pilihan jawaban, karena ternyata terdapat lebih dari satu jawaban benar dan pilihan jawaban tidak homogen.

34

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Soal nomor 4 perlu perbaikan dari segi bahasa.

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

35

Lampiran 4: Contoh Format Evaluasi Hasil Penilaian Evaluasi Hasil Penilaian Kompetensi Dasar Jumlah Butir 4 Jumlah Betul 3 % Pencapaian 75 Penguasaan V Keterangan

Membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.

Menguasai sebagian besar kompetensi dalam mendeskripsikan ayat-ayat tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.

Mendeskripsikan keimanan kepada Allah dan menghayati sifatsifat-Nya.

4

2

50

-

Belum menguasai kompetensi mendeskripsikan keimanan kepada Allah dan menghayati sifatsifat-Nya.

Keterangan: Batas nilai ketuntasan adalah ≥ 75.

36

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Lampiran 5: Contoh Format Profil Hasil Belajar Profil Hasil Belajar Nama Siswa Sekolah Kelas Tahun Pelajaran : ……………………………….... : ……………………………….... : ……………………………….... : ...............................................

No. KD

Kompetensi Dasar

Pencapaian Belajar K 10-100 P 10-100 A A/B/C A

Keterangan

1.4.

Membaca dan mendeskripsikan ayatayat tentang kompetisi dalam kebaikan serta mampu menerapkannya dalam perilaku seharihari. Membaca dan mendeskripsikan ayatayat tentang perintah menyantuni kaum lemah serta mampu menerapkan-nya dalam perilaku sehari-hari.

78

Menguasai kompetensi dalam membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang kompetisi dalam kebaikan.

1.5.

65

C

Belum menguasai seluruh kompetensi membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang perintah menyantuni kaum lemah.

3.2.

Mendeskripsikan tentang shalat dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku seharihari. Mendeskripsikan tentang perawatan jenazah dan mampu mempraktikkannya.

85

75

B

Menguasai kompetensi dalam mendeskripsikan tentang shalat dan hikmahnya.

3.10

80

70

C

Belum menguasai seluruh kompetensi tentang mendeskripsikan perawatan jenazah.

Keterangan: • Batas lulus skor ranah kognitif dan psikomotor ≥ 75.

• •

K (Kognitif),

P (Psikomotor), dan A (Afektif).

A (Amat Baik), B (Baik), dan C (Kurang).

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

37

Lampiran 6: Contoh Format Penilaian Kecakapan Hidup Penilaian Kecakapan Hidup
Kesadaran Diri Makhluk Tuhan Eksistensi diri Potensi diri Kecakapan Berpikir Menggali informasi Mengolah informasi Mengambil keputusan Memecahkan masalah Kecakapan Sosial Komunikasi lisan Bekerjasama Komunikasi tertulis Kecakapan Akademik Menghubungkan variabel Merumuskan hipotesis Melaksanakan penelitian Mengidentifikasi variabel

Kecakapan Hidup

No

Nama Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Keterangan: Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s.d. 5. Penafsiran angkaangka tersebut adalah sebagai berikut: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, dan 5 = amat baik.

38

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Lampiran 7: Contoh Format Laporan Hasil Belajar LAPORAN HASIL BELAJAR SISWA Nama Siswa : ……………………. Nomor Induk : ……………………. Kelas/Semester : ……………………. Nama Sekolah : ………........ TahunPelajaran : ……….…... Program : IA/IS/BHS*)

No

Nilai Hasil Belajar Mata Pelajaran Keterangan Kognitif Psikomotor Afektif

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Pendidikan Agama Kewarganegaraan Bahasa dan Sastra Indonesia Bahasa Inggris Matematika Kesenian Pendidikan Jasmani Sejarah Geografi Ekonomi Sosiologi Fisika Kimia Biologi Teknologi Informasi dan Komunikasi

*) Coret yang tidak perlu

Kegiatan Ekstrakurikuler No 1 2 3 4 Jenis Kegiatan Keterangan

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

39

Ketidakhadiran No 1 2 3 Alasan Ketidakhadiran Sakit Izin Tanpa Keterangan Lama (jam/hari)

Kepribadian Kepribadian 1 2 3 4 Kelakuan Kerajinan/Kedisiplinan Kerapihan Kebersihan Catatan Wali Kelas: Keterangan

Orang Tua/Wali Siswa

Mengetahui Kepala Sekolah

……………., …................. Wali Kelas

……………………..

……………………….

……………………................

40

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

CARA PENGISIAN LAPORAN HASIL BELAJAR A. Tabel Laporan Hasil Belajar 1. Kolom kognitif diisi dengan nilai rata-rata pencapaian aspek kognitif standar kompetensi mata pelajaran. 2. Kolom psikomotor diisi dengan nilai rata-rata aspek psikomotor dari suatu mata pelajaran, yang dinilai aspek psikomotornya. 3. Nilai tertinggi hasil remedial aspek kognitif dan psikomotor tidak melebihi nilai standar minimum ketuntasan yang ditetapkan oleh sekolah. 4. Kolom afektif diisi dengan nilai mata pelajaran yang dapat dinilai aspek afektifnya secara kualitatif. Aspek yang dinilai dapat berupa salah satu atau lebih dari aspek minat, sikap, disiplin, atau aspek lainnya yang dipandang penting oleh sekolah. Contoh: Pengisian Kolom Afektif (Tabel Laporan HBS) No 1 2 Mata Pelajaran Bhs. Inggris Matematika baik Di kelas kurang perhatian Afektif Minat cukup baik, disiplin mengerjakan tugas cukup dari semua

5. Penilaian aspek kognitif, psikomotor, dan afektif harus dijelaskan kepada siswa di awal semester. 6. Kolom keterangan diisi dengan uraian singkat kompetensi yang telah dicapai, yang memuat predikat prestasi dan deskripsi tentang ketercapaian kompetensi tersebut. 7. Klasifikasi predikat prestasi terdiri atas: Amat Baik (AB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K). Contoh : Pengisian Kolom Keterangan (Tabel Laporan HBS) No 1 Pendidikan Agama Islam 4 Bahasa Inggris Keterangan Baik: kompetensi mendeskripsikan sumber ajaran Islam dan kerangka dasar Islam telah mencapai ketuntasan, tetapi kompetensi membaca al- Qur’an perlu ditingkatkan. Cukup: kompetensi menulis paragraf dan menentukan ide utama telah mencapai ketuntasan, tetapi kompetensi bercakapcakap masih kurang, dan kompetensi menulis surat perlu 5 Matematika ditingkatkan. Kurang: kompetensi tentang mendefinisikan rumus belum mencapai ketuntasan, penguasaan tentang materi yang

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

41

berhubungan 7 Pendidikan Jasmani

dengan

ruang/dimensi

tiga

masih

perlu

ditingkatkan. Baik: pada permainan bola basket untuk kompetesi melempar, menangkap, dan mendribel bola, telah mencapai ketuntasan, tetapi dalam hal teknik memasukkan bola ke dalam jaring masih perlu latihan intensif.

B. Tabel Kegiatan Ekstrakurikuler Kolom keterangan diisi dengan uraian singkat tentang kompetensi/keterampilan yang telah dicapai, yang memuat predikat prestasi dan deskripsi tentang ketercapaian kompetensi/keterampilan tersebut. Contoh: Pengisian Tabel Ekstrakurikuler Jenis Kegiatan Olahraga Karate Paskibra UKS Seni Musik Gamelan Keterangan Baik: telah lulus ban kuning. Cukup: dalam baris berbaris dan mengibarkan bendera masih perlu latihan kekompakan. Baik: terampil melakukan pernafasan buatan. Cukup: sudah mampu menabuh gong untuk gending Kodok Ngorek. C. Tabel Ketidakhadiran Ketidakhadiran siswa perlu dicatat dan dilaporkan kepada orang tua/wali siswa dalam Laporan Hasil Belajar. Ketidakhadiran ini bukan hanya disebabkan sakit atau izin saja, tetapi juga ketidakhadiran yang tidak disertai dengan surat keterangan orangtua/wali siswa, atau dokter. Contoh: Pengisian Tabel Ketidakhadiran Alasan Ketidakhadiran Sakit Izin Tanpa Keterangan D. Tabel Kepribadian Lama (jam/hari) 5 hari 3 jam 7 hari

1. Kolom keterangan diisi dengan predikat prestasi kepribadian siswa yang mencakup empat aspek yang dinilai. 2. Klasifikasi predikat prestasi kepribadian: Baik, Cukup, dan Kurang. 3. Siswa yang memperoleh predikat “Cukup” dan “Kurang” perlu diberi penjelasan.

42

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Contoh: Pengisian Tabel Kepribadian No. 1 2 3 4 Aspek yang Dinilai Kelakuan Kerajinan/Kedisiplinan Kerapihan Kebersihan Keterangan Baik Cukup: sering terlambat masuk kelas Baik Baik

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

43

Lampiran 8: Contoh Format Rancangan Pengujian dan Pemberian Tugas Contoh Format Rancangan Pengujian
No Kompetensi Dasar Blok 1 Juli Agustus September Oktober Nopember

Blok 2 Blok 3

Contoh Format Rancangan Pemberian Tugas
No Kompetensi Dasar K1 Juli Agustus September Oktober Nopember

PR 1 K2 PR 2 K3 PR 3

Keterangan: K= Kuis PR = Pekerjaan Rumah

44

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

1

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful