Respon Humoral Pada respon humoral ini yang sangat berperan adalah limfosit T. IL-1 kemudian akan mengaktifkan T-Helper yang mampu mengenali antigen. yang sangat berperan adalah sel PMN netrofil dan makrofag. respon seluler dan respon humoral. Reaksi pertahanan terhadap akumulasi bakteri ini dapat dibagi kepada dua. Respon humoral fagositosis Respon Seluler Gingivitis . Limfosit B yang telah mengenali antigen ini akan membelah menjadi sel plasma dan kemudian membentuk antibody. Antibodi akan membentuk ikatan dengan antigen menjadi ikatan antigen-antibodi kompleks yang berlanjut ke proses fagositosis.PROSES TERJADINYA PERIODONTITIS Akumulasi plak pada sulkus gingival akan menimbulkan respon radang sebagai reaksi pertahanan tubuh terhadap adanya jejas. Sel PMN dan makrofag ini akan migrasi ke sulkus gingival secara kemotaksis pabila dirangsang oleh lipopolisakarida (LPS) dari bakteri. Respon Seluler Pada respon seluler. Makrofag akan mensekresi Interleukin 1 (IL-1) setelah ada ransangan dari Antigen Presenting Cell (APC). T-Helper mengaktivasi limfosit B yang memiliki reseptor untuk mengenali antigen secara spesifik. Sel-sel PMN dan makrofag akan melakukan fagositosis terhadap bakteri.

respon keradangan sudah menjadi kronis. 2. tekstur dan ukuran pada gingiva. Namun secara klinisnya. Early Lesion Pada tahap ini respon keradangan lebih meningkat disbanding dengan initial lesion. Secara histologis terlihat infiltrasi leukosit di dalam jaringan ikat di bawah junctional epithelium terutama terdiri dari limfosit. maka ini akan berlanjut ke proses gingivitis. Secara klinis sudah terjadi perubahan pada warna. early lesion.Pada respon seluler atau humoral. Secara histologist mikroskopik tampak gambaran keradangan akut (PMN) pada jaringan ikat yang berada di junctional epithelium dan sulkus gingiva.Initial lesion Pada tahap ini berlakunya perubahan-perubahan vascular dimana adanya dilatasi kapiler dan peningkatan aliran darah pada gingiva sebagai respon pertama. . makrofag. Pada histologis tampak reaksi keradangan lebih hebat antara lain meningkatnya sel plasma. Hampir 70% kolagen rusak disebabkan infitrasi seluler dan pembentukan kolagen oleh fibroblast menurun. Established Lesion Pada tahap ini. 3. Aliran darah sudah menjadi lambat karena ada hambatan aliran darah. terjadi anoxemia gingiva yang terlokalisir dan warna gingival merah gelap karena hemoglobin pecah menjadi pigmen dan ekstravasasi sel merah ke jaringan ikat. sel-sel plasma dan sel mast. pabila respon tubuh baik atau virulensi bakteri lebih rendah. Secara klinisnya terlihat adanya kemerahan (eritema) pada gingiva disebabkan proliferasi kapiler dan sering terjadi perdarahan sewaktu probing (bleeding on probe). established lesion dan advanced lesion. 1. Namun. netrofil. Gingivitis Gingivitis dapat dibagi kepada 4 tahap : initial lesion. Banyak ditemukan sel plasma yang bermigrasi ke jaringan sekitar pembuluh darah dan serabut kolagen. Ditemukan infiltrasi seluler yang merusak komponen jaringan. masih belum tampak tanda-tanda kelainan. jika respon tubuh jelek atau virulensi bakteri lebih tinggi. tubuh dapat melawan dan sembuh.

terdapat dua kemungkinan yang mengatakan pabila berikatan dengan α macroglobulin dan Tissue Inhibitor of MMPs (TIMPs) akan menjadi inaktif lagi. sudah mula terjadinya phase of periodontal breakdown . . Kerusakan Jaringan Ikat Pada proses kerusakan jaringan ikat. fibroblast. Fase periodontal breakdown ini akan berkembang ke tahap merusak jaringan ikat dan merusak tulang. gelatin dan elastin) yang akan menyebabkan kolagen hilang sehingga juctional epithelium turun dan terbentuk poket periodontal. Chymotrypsin yang dihasilkan oleh bakteri Treponema denticola. MMP-1 dan MMP-8 yang dihasilkan masih berinaktif dan berubah menjadi aktif pabila adanya ransangan dari enzim katepsin yang disekresi oleh netrofil. Setelah MMP-1 dan MMP-8 aktif. Advanced Lesion Pada tahap ini. sel epitel dan makrofag mensekresi Matriks Metalo Proteinase 1 (MMP-1). PMN memproduksi enzim proteolitik MMP-8.4. MMP-1 dan MMP-8 yang aktif dapat mendegradasi dan merusak jaringan ikat (kolagen.

Kerusakan Tulang Pada pola kerusakan tulang. IL-1β. TNF-α. IFN-β. Osteoclast yang aktif akan menempel pada permukaan tulang. Proses rusaknya zat organic dan anorganik ini akan menyebabkan terjadinya destruksi tulang. Osteoclast yang menempel pada permukaan tulang mensekresi enzim katepsin dan asam fosfatase. akan mengaktifkan preosteoclast menjadi osteoclast yang aktif. pabila berikatan dengan RANKL. sehingga monosit akan menjadi sel precursor dengan Receptor Activator of Nuclear Factor-κB (RANK). Namun. Pabila enzim katepsin dan asan fosfatase bertemu zat organic akan menyebabkan rusaknya zat organik. Sel IL-1α dan IL-1β berikatan dengan monosit. Osteoclast yang menempel pada tulang mengakibatkan destruksi zat anorganik tulang dengan aktivitas pompa proton yang menyebabkan daerah sekitar menjadi asam sehingga terjadi demineralisasi zat anorganik. . Pabila berikatan dengan OPG. proses ini diawali dengan terbebasnya mediator-mediator radang seperti IL-1α. Sel precursor reseptor RANK ini dapat berikatan dengan Osteoprotegerin (OPG) atau dengan osteoblast yang memiliki Receptor Activator of Neclear Kappa Beta Ligand (RANKL). maka ikatan RANK dan RANKL akan terhambat sehingga preosteoclast tidak berdiferensiasi dan tidak aktif.

Pembedahan crown legthening mungkin termasuk membuang soft tissue gingiva atau kedua soft tissue gingiva dan tulang alveolar.CROWN LEGTHENING Crown legthening adalah prosedur bedah yang dilakukan untuk memberikan bentuk retensi untuk memungkinkan preparasi gigi yang lebih tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan prosedur gingivektomi atau bedah flap. prosedur dan menempatkan restoratif pada margin gingiva dan untuk menyesuaikan ketinggian gingiva dengan estetik yang baik. Pengurangan soft tissue sahaja diindikasi jika gingiva attached masih adekuat dan lebih dari 3 mm tisu koronal ke puncak tulang alveolar. Attached gingiva yang tidak adekuat dan kurang dari 3 mm dari soft tissue diperlukan prosedur bedah flap dan rekontouring tulang. Indikasi :   Karies subgingiva atau fraktur Panjang mahkota klinis yang tidak adekuat untuk retensi atau panjang gingiva yang tidak estetis .

Keadaan gigi tersebut didapatkan resiko restorasi yang jelek. .Kontra-indikasi:    Pada prosedur bedah dapat menyebabkan hasil yang tidak estetis Karies atau fraktur yang berada lebih dalam yang membutuhkan pembuangan tulang yang berlebihan yang dapat menyebabkan gigi tercabut atau terlepas.