You are on page 1of 20

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pandemic HIV/AIDS yang mengancam penduduk dunia saat ini telah nyata menunjukkan berbagai dampak social dan ekonomi bahkan keamanan Negara disamping dampak kesehatan. AIDS ditemukan di Amerika 20 tahun yang lalu(1981) merupakan penyakit yang relative baru tapi telah menyita perhatian masyarakat global. AIDS adalah sekumpulan gejala yang terjadi akibat menurun atau menghilangnya daya tahan tubuh seseorang. Karena itu disebut Acuired Immunodeficiency Virus (AIDS). Penyebabnya sejenis virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus yang dapat berada dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan gejala sakit yang berarti, selama bertahun-tahun bahkan 10-11 tahun. Sulit bagi kita secara kasat mata mengetahui seseorang mengidap virus HIV atau tidak. Saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan dan vaksin yang dapat mencegah/menangkalnya (Anonim, 2002). Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) berlanjut kembali menjadi penyakit endemic di dunia. Sejak endemic AIDS dimulai tahun 1980an, pandangan mengenai HIV telah berubah. Populasi ras dan jenis kelamin yang terinfeksi HIV tidak hanya terbatas pada ras kulit hitam, hispanik dan wanita (CDC, 2008). Data WHO tahun 2007 menunjukkan, terdapat 33,2 juta orang di dunia yang hidup dengan HIV. Pada tahun 2010 telah terjadi 2,1 juta kematian akibat AIDS, dan 2,5 juta kasus HIV baru. Di banyak wilayah di dunia, infeksi baru HIV terkonsentrasi pada kelompok umur dewasa muda (15-24 tahun). Di Asia jumlah penderita HIV meningkat lebih dari 150%. Indonesia adalah Negara di Asia dengan pertumbuhan epidemic HIV tercepat. Hingga September 2007 di Indonesisa tercatat sekitar 170.000 orang yang terinfeksi HIV. Jika pada tahun 1988 tidak tercatat adanya infeksi yang terdeteksi pada pengguna napza suntik, maka pada tahun 2006, dalam survey yang dilakukan Departemen Kesehatan RI, terdapat 1517 pengguna napza suntik terinfeksi oleh HIV (Koalisi untuk Indonesia
1

Sehat, 2007). Wanita didiagnosa saat di usia reproduktif, dan kebanyakan dari mereka (80%) terinfeksi karena sering berganti pasangan, biseksual, pemakai obat-obatan (CDC, 2008). AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi HIV. AIDS dikarakteristikkan sebagai penyakit immunosupresif berat yang sering dikaitkan dengan infeksi oportunistik dan tumor ganas serta degenerasi susunan saraf pusat. Penyebaran HIV ini bserkembang dengan cepat dan mengenai wanita dan anakanak. AIDS menyebabkan kematian lebih dari 20 juta orang setahun. Tahun 2003 diperkirakan 700.000 bayi baru lahir terinfeksi HIV di seluruh dunia. Angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh HIV semakin meningkat dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling penting di semua Negara. penggunaan obat antivirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) dan persalinan berencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal mother to child transmission (MTCT) penyakit ini dari 30% menjadi 20%. Manajemen antenatal, persalinan, dan perawatan pascasalin yang terkontrol dengan baik pada ibu hamil dengan HIV dapat mencegah transmisi perinatal (Suhaimi et al., 2009).

Tujuan Penulisan Untuk mengetahui dan mempelajari mengenai HIV pada kehamilan, sehingga diharapkan jika di waktu mendatang menemui kasus HIV pada kehamilan maka dokter muda mampu mendiagnosis dan melakukan

penatalaksanaan secara benar.

2

Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan tubuh yang terusmenerus. Orang kekebalan tubuhnya defisien(Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi. Karena HIV tidak ditransmisikan oleh saliva. yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kejebalan. lalat. tidak perlu menghindari penggunaan gelas. HIV tidak ditransmisikan oleh nyamuk. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-komponen utama sistem kekebalan sel). atau buah bersama penderita. Infection drug user (IDU).BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. produk darah. terutama pihak wanita. Peningkatan kajadian penularan terjadi pada pasangan heteroseksual. yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. dengan 40 juta penderita. kontak dengan darah. 50% wanita. lebah. Tidak ada kasus infeksi HIV yang tercatat akibat kontak dengan air liur atau air mata yang tidak terkontaminasi darah. Jalur transmisi HIV : Kontak seksual. dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. 3 . laki atau wanita. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah yang dikenal dengan sebagai "infeksi oportunistik" karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Kelompok risiko utama tetap sama yaitu lelaki homoseksual. makanan. Paparan cairan tubuh yang terkontaminasi HIV (misal darah) terhadap kulit intak tidak cukup untuk transfer virus (Hoffman. HIV tidak ditransmisikan melalui kontak harian. Sistem kekebalan tubuh dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-penyakit. garpu. ASI. 2006). cairan tubuh. intrapartum/perinatal. Epidemiologi Pandemi global. atau kutu. 2010).

000 Selandia Baru dan Kawasan Pasifik Total 40.000 dan Tanggara Eropa Timur 1.000 0.2 550 380 180 180 110 160 Utara 510.500 1.300.tabel 2.9 740 170 0.000.5 20 10 1.3 120 80 60 50 70 30 Eropa Tengah 720. pasien kurang infeksius.600.000 Karibian 300.000 Timur Amerika Utara 1.6 0.000 7. 74.6 0.2 0.700 2.7 8.1 0.000 0.000 0.000 Asia Timur Afrika dan tengah 870.300 Asia Selatan 7.1 13.000 dan Asia Tengah Amerika Latin 1.700 baru Kematian harian dari AIDS 6. Viral load rendah.580 (WHO: Epidemiologi AIDS 2005) Hubungan kelamin tanpa pelindung merupakan rute transmisi infeksi HIV terbanyak di dunia.800.200. Resiko infeksi meningkat dengan setiap log viral load.530 8.000 dan Barat Australia. Keberadaan sex transmit disease yang lain meningkatkan resiko terinfeksi HIV juga.7 1.1 Epidemiologi AIDS Dewasa dan Pervalensi HIV Infeksi anak-anak pada dewasa per hari terinfeksi HIV (%) Subsaharian Afrika 25.400. Tercatat bahwa kadar viral load 4 .

pada keadaan tidak terdeteksi respon imun adaptif. Pada dasarnya. Di Negara barat. Sekitar 10 % infeksi vertical HIV terjadi sebelum trimester ketiga. Pada traktus genitourinarius wanita. dengan koreseptor (bagi HIV-1) : CCR5 dan CXCR4. perinatal (vertical) infeksi HIV sudah jarang sejak diperkenalkannya antiretroviral profilaksis dan operasi Caesar elektif (Douglas. virus bereplikasi ekstensif. tiap sel dengan reseptor CD4+ rentan terhadap infeksi HIV. Jaringan limfoid menjadi fokus infeksi dan propagasi virus. tidak terlindungi dari superinfeksi dengan virus strain baru. Terutama pada pasien infeksi akut HIV. atau selama partus. CD4+ menjadi reseptor seluler primer bagi HIV.dalam darah dan cairan tubuh yang tidak selalu terkait satu sama lain. Tanpa intervensi. meski setiap replikasi aktif virus diikuti viremia yang dapat dideteksi. 1998). Dimana resiko individual sulit untuk diperhitungkan. pasien lebih infeksius. HIV akan menginfeksi CD4+ limfosit T. Selama infeksi akut. epitel servikovaginal yang merupakan epitel kolumnar yang rapuh pada endoserviks membuat wanita lebih mudah terinfeksi melalui hubungan seksual (Levine. Viral load yang lebih tinggi. Transmisi terjadi melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi. 2007). Dengan adanya infeksi menyebabkan penurunan jumlah dan fungsi dari sel CD4. bisa mencapai lebih dari 100 juta copy HIV-1 RNA/ml. dan 10-15% disebabkan oleh ASI. Respon imun badan tidak mampu membersihkan virus HIV infeksi kronik dengan penurunan gradual jumlah limfosit T CD4+ (Taroeno. paparan perkutan melalui darah. Sindrom akut / infeksi primer HIV (yang didefinisikan sebagai periode daru infeksi awal HIV hingga munculnya antibody) menunjukkan simtom yang terkait 5 . Kira-kira 75% dari kasus. monosit. dan makrofag. Pasien terinfeksi HIV. dan perinatal (dari ibu ke janin). 2003). kira-kira 15-30% ibu yang terinfeksi HIV akan menularkan infeksi selama kehamilan dan kelahiran. Patogenesis Patogenesis utama : defek imun akibat defisiensi kulitatif dan kuantitatif limfosit T subset helper/inducer (limfosit T CD4+). HIV ditularkan selama kehamilan akhir.

dan diare. Pada situasi ini level CD4+ T-cell adalah 200 yang merupakan batas penting. berat badan turun. Klasifikasi kategori menurut CDC berdasarkan kondisi klinis. Setelah infeksi akut. keseimbangan antara replikasi virus dan respon imun host biasanya tercapai. Pada akhir masa laten. Klasifikas Klasifikas AIDS yamg diterima secara internasional adalah dari CDC (U. pasien dengan kandidiasis orofaring dan jumlah CD4+ T-cell 250/ul akan diklasifikasikan sebagai B2. keringat malam. Kategori CD4+ T-cell harus berdasar jumlah akurat terendah (CD4 nadir) dan bukan pada jumlah terbaru (CDC. Akan tetapi tanda dan gejala klinis tidak muncul di semua pasien. CD4+ T-cell diatas 200. menyebabkan virus meningkat tajam dan perusakan CD4+ T-cell tiap harinya. hematologi.S. kebanyakan jarang terjadi penyakit terkait AIDS (Douglas. diantaranya adalah infeksi oportunistik berat dan neoplasma tertentu. seseorang dengan infeksi asimtomatik dan CD4+ Tcell 550/ul akan dikategorikan sebagai A1. Termasuk gejala ringan dari imunologi. atau kutu. Selama infeksi akut HIV. dermatologi. Yang terlihat selama beberapa hari hingga minggu mengikuti paparan HIV. Sebagai contoh. periode laten tanpa manifestasi klinis ini akan berlangsung 8-10 tahun atau lebih. biasanya terdapat plasma viremia tinggi dan sering ditandai dengan menurunnya CD4+ T-cell. dimana level dibawahnya resiko munculnya penyakit terkait AIDS meningkat. lalat. Gejala konstitusi meliputi demam. dan beberapa individu terinfeksi tidak bermanifestasi klinis selama beberapa tahun. lebah. sejumlah gejala atau penyakit mungkin muncul dimana tidak terdefinisi sebagai AIDS. Penularan HIV tidak ditrasmisikan oleh nyamuk. HIV tidak 6 . 2008). Selanjutnya jumlah CD4+ T-cell akan naik kembali normal hingga batas bawah nilai pre infeksi. Akan tetapi periode laten ini bisa terlupakan. Centers for Disease Control and Prevention). neurologi. dan jumlah CD4+ T-cell. Bahkan tanpa terapi antiretroviral. 2003).dengan mononucleosis.

juga ditularkan melalui intrapartu. Penyakit ini selain ditularkan melalui kontak seksual dan darah.2006). merupakan rute transmisi infeksi HIV terbanyak di dunia.. dari ibu ke janin atau melalui air susu ibu pada ibu yang menyusui. Beberapa penelitian yang mengevaluasi gangguan menstruasi atau pengaduan wanita yang terinfeksi maupun tidak oleh HIV tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dalam hal amenore.al. Paparan cairan tubuh yang terkontaminasi HIV (misal darah) terhadap kulit intak tidak cukup untuk transfer virus. Namun beberapa penelitian belum mampu menegakkan adanya hubungan antara infeksi HIV dengan gangguan menstruasi. selain itu juga karena penggunaan jarum suntik secara bergantian (Kasper et al. 2005). Gejala Klinis Siklus menstruasi yang abnormal Gangguan menstruasi umumnya terdapat pada kebanyakan wanita dalam masa subur yang terdapat di masyarakat. kecuali kalau mampu di buktikan oleh pemeriksaan yang lebih maju (contoh : hitung CD4+ lymphocyte < 200 cell/mm). Hubungan sex tanpa pelindung. Wanita dengan HIV harus mendapatkan penanganan dan pengobatan yang sama untuk setiap gangguan menstruasi ( termasuk evaluasi faktor resiko) bagi wanita yang tidak terkena HIV (Harlow. siklus menstruasi yang memanjang. Tidak ada kasus infeksi HIV yang tercatat akibat kontak dengan air liur atau air mata yang tidak terkontaminasi darah. termasuk berhubungan seksual melalui anal (anal sex). et. Karena HIV tidak ditransmisikan oleh saliva. Infeksi menular seksual 7 . atau buah bersama dengan penderita. 2000). makanan. tidak perlu menghindari penggunaan gelas. atau variabilitas serotinus oleh HIV..ditransmisikan melalui kontak harian. Tidak jelasnya hubungan ini telah ditetapkan antara gangguan menstruasi (terutama amenore) dan penggunaan dari HAART. garpu. Keberadaan sex transmit disease yang lain meningkatkan resiko terinfeksi HIV juga (Hoffman.

. dan syphilis pada wanita dengan HIV. et al. HSV-2 mungkin tahan terhadap pengobatan asklovir. klamidia). PMS harus ditangani dengan serius pada wanita dengan HIV. dan trikomonas terdiagnosa dan ditangani diantara wanita yang terinfeksi HIV menggunakan metode diagnostik dan pengobatan dengan regimen yang sama yang telah dievaluasi pada wanita dengan HIV negatif. et al. penyakitnya sulit diidentifikasi.. HAART mungkin dapat menurunkan penyebaran HSV. tipe 2 (VHS2) merupakan penyebab tersering di dunia dari penyakit ulser pada kelamin. Infeksi gonore. gonore. 2002). trichomonas. CSC's Sexually Transmitted Disease Treatment Guidelines merekomendasikan terapi untuk kedua terapi yang episodik dan terapi yang kuat pada wanita dengan HIV (Kaplan.HERS dan penelitian lain tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam prevalensi infeksi chlamydia. trikomoniasis. klamidia. 2010). secara konsisten hadir dalam presentase yang cukup tinggi (50-90%) diantara orang yang terinfeksi HIV (McClelland. Bagaimanapun. meskipun data yang yidak konsisten. 2009) 8 . Sementara pervalensi dari varian VHS2 berdasarkan letak geografis. Beberapa PMS tanpa gejala. oleh karena itu. Karena adanya PMS mengakibatkan peningkatan penyebaran HIV(sehingga mampu menyebabkan penularan ke pasangan). mendapatkan pengobatan sama pada wanita dengan atau tanpa HIV. Co-infeksi HSV meningkatkan resiko HIV mungkin memiliki masalah yang berulang dengan wabah herpes dan terapi yang episodik serta terapi yang kuat akan lebih tampak hasil yang memuaskan. wanita yang melakukan hubungan seksual aktif yang terinfeksi HIV harus dilakukan pemeriksaan setidaknya setiap 1 tahun untuk mengobati penyakitnya (seperti : sifilis. Untuk semua tingkat dari sifilis. dan pada sekitar setengah dari kasus penyakit ulkus kelamin di antara peremouan dengan HIV. Penyakit menular sexual (PMS) yang terbaru mengindikasikan kebiasaan resiko tinggi dan memerlukan konseling lebih lanjut. pemantauan secara cermat setelah pengobatan sangat diperlukan bagi mereka yang terinfeksi (Williams&Jamieson. gonore. Penyakit Ulcer pada kelamin Virus herpes simplek tipe 2 Virus herpes simplex.

Sejak spektrum klinis dan mikrobiologis VVC sama bagi perempuan dengan dan tanpa HIV. pada wanita dengan HIV. Penyakit Radang Panggul 9 . Namun. Bakterial vaginosis Bakteri vaginosis (BV) adalah penyebab paling umum dari keputihan pada wanita usia reproduksi. 2003). terutama karena infeksi yang lebih persisten lebih darupada insiden dari infeksi. 2010). evaluasi dari HERS menyimpulkan bahwa BV memiliki prevalensi lebih tinggi pada wanita dengan HIV. 2010). Spektrum klinisnmengenai tanda dan gejala dan tingkat keparahan penyakit. keputusan pengobatan harus didasarkan pada indikasi klinis.. namun efek dari pengobatan VVC pada penyebaran penularan HIV tidak diketahui (Williams&Jamieson. yang cenderung menjadi faktor predisposisi dari sub kelompok perempuan dengan HIV dan jumlah CD4 yang rendah untuk infeksi yang berulang atau infeksi yang berat (Duerr. Pasa kedua wanita tanoa HIV. Wanita yang mengalami immunocompromised (CD4+ <200 sel/MCL) memiliki prevalensi lebih tinggi terhadap BV pada wanita dengan infeksi HIV adalah sama seperti untuk mereka yang tidak terinfeksi (Williams&Jamieson. penyebab paling umum pada VVC adalah candida albicans. Beberapa studi klinis telah menemukan bahwa prevalensi BV pada wanita dengan HIV serupa dengan perempuan tanpa terinfeksi HIV.Vulvovaginal Kandidiasis Kandidiasis vulvovaginal (VVC) meripakan prnyebab vaginitis umum di kalangan wanita. et al. Frekuensi kolonisasi dari ragi vaguna berbanding terbalij dan berhubungan dengan jumlah CD4. Penelitian secara konsisten telah menemukan bahwa kedua kolonisasi vagina dan VVC lebih sering menginfeksi di antara perempuan yang terinfeksi HIV (Williams&Jamieson. namun tampaknya tidak berbeda antara mereka yang terinfeksi dan orang-orang yang tidak terinfeksi HIV. 2010). VVC berkaitan dengan peningkatan penyebaran HIV cervicovaginal.

namun tampak bahwa wanita dengan HIV dan memiliki kanker serviks invasif memiliki tingkat kekebalan lebih besar dari perempuan dengan HIV yang 10 . Namun. meskipun infeksi HIV meningkatakan resiko sitologi serviks yang abnormal. 18) untuk perkembangan terjadinya kanker serviks. tetapi hal ini tampak sama dalam respon pengobatan standar antibiotik IV dan oral pada perempuan yang tidak (Williams&Jamieson. dan biasanya terdapat kelainan sitologi. Dengan demikian. 2010). dan sampai 91% kasus bebas dalam waktu 2 tahun. Abses tubo-ovarium mungkin lebih umum di kalangan wanita yang terinfeksi HIV. et al. Hampir 70% dari kanker serviks incasif disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18 ( Harlow. penyebaran jenis yang beresiko tinggi biasanya berbeda.Beberapa data menunjukkan bahwa penyakit radang panggul (PID) di antara perempuan dengan HIV lebih buruk daripada perempuan tanpa HIV. 2000). jenisnya biasanya dikelompokkan kedalam resiko rendah dan berisiko tinggi (type 16. Lebih dari 40 jenis HPV menyebabkan infeksi kelamin. namun tidak terdapat perbedaan dengan status serostatus HIV? Derajat korelasi imunosupreai berbanding terbalik dengan frekuensi dan tingkat keparahan kelainan sitologis. kebanyakan berasal dari kelas rendah. hubungan antara infeksi HIV dan invasif kanker serviks masih belum jelas. Sekitar 70% infeksi HPV baru pada wanita muda yang tidak terinfeksi HIV bebas secara spontan dalam waktu 1 tahun.. Di antara perempuan dengan HIV. sering. penanganan harus dikelola per standart pengobatan berdasarkan kriteria masing-masing. Infeksi Human Papillomavirus dan Penyakit Servikal Human papillomavirus (HPV) adalah virus yang menyebabkan kelainan sitologi (seperti sel-sel skuamosa atipikal signifikansi yang belum diketahui asalnya [ASCUS] dan skuamosa intraepitel neopoasia [ SIL]) dan kanker serviks. infeksi HIV lebih sering dan terusmenerus. bersifat sementara dan tanpa gejala pada populasi umum di kalangan wanita muda dengan hubungan intimnsecaea aktif. Sedangkan lesi kelas tinggi dan kanker invasif jarang terjadi. Jenis HPV risiko tinggi memiliki tingkat clearance yang lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis resiko rendah. Beberapa studi telah melaporkan bahwa. Infeksi HPV sangat umum.

Chraibi J.immunokompeten. METODE: Selama jangka waktu 3 tahun. Pemeriksaan Pemeriksaan sedini mungkin untuk mengetahui infeksi HIV sangat membantu dalam pencegahan dan pengobatan yang lebih lanjut. kehamilan tampaknya tidak memiliki pengaruh terhadap penyakit HIV (Berrebi A. Pengaruh Kehamilan Terhadap HIV-AIDS : Untuk menilai pengaruh kehamilan pada penyakit HIV. Untuk menyelidiki pengaruh kehamilan terhadap HIV-AIDS di Perancis tahun 2000 telah diadakan penelitian kohort prospektif. Kesimpulan penelitian : Tidak ada efek merugikan bagi mereka yang hamil terhadap penyakit HIV-AIDS (Saada et all. Dengan sampel 365 perempuan (n=241 yang tidak hamil dan n=124 yang hamil). Fournie dalam International Conference on AIDS tahun 1991. limfosit relatif. Kobuch KAMI. 1991). membandingkan keadaan klinisnya dengan melihat leucocyte count. dan HIV p24 antigenemia”. Akibatnya. rasio T4 atas limfosit T8. HAART telah meningkatkan lama dan kualitas hidup peremouan yang terinfeksi HIV. sedimentasi. tingkat serum IgA spesifik . Tes HIV untuk yang beresiko dilakukan setiap 6 bulan. 2010). Grandjean H. Kesimpulan penelitian : Dalam asimtomatik pasien terinfeksi HIV. “Dari 200 pasien perempuan yang terinfeksi HIV. Apabila sudah terdiaknosis infeksi HIV dilakukan dengan dua cara 11 . Puel J. para peneliti telah memperkirakan bahwa HAART mampu mengurangi resiko displasia serviks dan pengembangan menjadi kanker serviks invasif dengan mengurangi replikasi HIV. tetapi hiootesis ini belum terbukti.telah diadakan penelitian oleh Berrebi A. absolut limfosit T4. selain itu pencegahan dapat mengurangi faktor resiko. et all. Hasil : Tidak ada parameter statistic yang memperlihatkan perbedaan yang signifikan selama tiga tahun masa studi. Pada tahun 2009 laporan publikasi HERS melaporkan bahwa HAART dikaitkan dengan peningktan HPV clearance tetapi tidak dengan regresi pap tes kelainan (Williams&Jamieson. 2000). laju 1 jam.

tidak perlu listrik.pemeriksaan antibody yaitubELISA dan Western blot. Kelemahan : lebih mahal dari tes ELISA. cocok dalam surveilans dan pelayanan transfuse darah terpusat. efisien.Keuntungan : hasil cepat. belum banyak dievaluasi si lapangan. rancangan tes tunggal untuk spesimen terbatas. dapat dikerjakan oleh staf dengan pelatihan terbatas. Tes Air Liur dan Air Kencing .Keuntungan : prosecur pengumpulan lebih sederhana.Keuntungan : murah. Kelemahan : mahal. lebih aman (karena mengandung sedikit virus). Kelemahan : kurang sensitif untuk tes darah. hasil mudah dibaca. Tes Western blot dilakukan di negara-negara maju. HIV-2 dan varian HIV. Kelemahan : harus menhilutimorosesur testing yang spesifik dan hati-hati. sumber listrik konstan. cocok untuk orang yang menolak memberikan darah. butuh mesin pendingin (2 C dan 30 C). sederhana. waktu yang cukup. memonitor pengobatan dengan ARV. menggunakan sampel darah lengkap ( whole blood). 2010). berpotensi untuk testjng mandatory. Beberapa kelemahan dan keunggulan tes pemeriksaan infeksi HIV ( Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. VCT (Voluntary Counseling And Testing) . mendiagnosis infeksi bayi baru lahir. Tes Sederhana/Cepat.Keuntungan : mengetahui infeksi dini HIV. Meningkatkan potensi testing wajib. pemeriksa harus terlatih. menurunkan resiko kerja. dapat dupindahpindahkan dan fleksibel.Kelemahan : perlu pelayanan 12 . cocok untuk testing dalam jumlah besar . tidak buyuh peralatan khusus. mendorong timbulnya mitos penularan HIV lewat ciuman. peralatan canggih. 2010) : Tes ELISA . sedangkan untuk negara berkembang dianjurkan oleh WHO pemeriksaan menggunakan tes ELISA yang dilakukan 2-3 kali (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Tes Konfirmasi ( Western blot) -Keuntungan : untuk memastikan suatu hasil positif dari tes pertama. dapat mendeteksi HIV-1. Antigen virus . membutuhkan peralatan khusus. skrinning darah. pemberitahuan hasil tes tidak terpikirkan implikasinya. punya kontrol internal sehingga hasil akurat. Kelemahan : butuh staf dan tehnisi laboratorium yangbterampil dan terlatih.

Wanita yang terinfeksi HIV sdngan kelainan sitologi. HPV positif. dan anus harus segera dilakukan secara hati-hati. seluruh saluran genital baguan bawah harus di lakukan pemeriksaan. 2010). Tes papanicolao harus dilakukan dua kali selama satu tahun. Jika hasil kedua tes normal. vagina. Karna ada peningkatan prevalensi dari sitologi servikal abnormal. dan resiko HPV positif. Penatalaksanaan Pengobatan dari lesi intraepitelial squamosa dari serviks Setelah diagnosa awal didapatkan. HERS menemukan 63% wanita dengan HIV dengan bukti neoplasma servical intraepitelial sebelum dan baru saja mendapatkan penanganan histerektomi SIL sitologi vaginal selama pemeriksaan. tanpa memperhitungkan CD4+ atau status pengibatan antiretroviral. wanita dengan HIV namun sitologi servicalnya normal tidak harus menerima pemeriksaan colposcopy dan biopsi. termasuk dilakukan tindakan biopsi 13 . dilaporkan terdapat peningkatan level yang signifikan daripada laporan pada wanita pada umumnya (Williams&Jamieson. wanita dengan HIV harus memberikan riwayat penyakitnya secara lengkap mengenau penyakit cervikal sebelumnya. konselor perlu disupervisi. dan mereka harus mendapatkan pemeriksaan gynekologi secara lengkap (Kaplan. Sebaliknya. Faktor resiko perkembangan pada vulvar. dan neoplasma anal intraepitelial termasuk angka CD4+ < 200 sel/mL. konselor terkadang perlu konseling. tes papanicolao yang berikut harus dilakukan sekali setahun.. harus menjalani pemeriksaan colposcopy dan biopsi secara langsung. Saat wanita dengan HIV mendapatkan pemeriksaan pelvik secara rutin. wanita dengan HIV harus melakukan tindakan histerektomi untuk SIL derajat tinggi atau carcinoma in situ.konseling yang efektif. Saat ada indikasi untuk melakukan colposcopy. et al. HPV dan penyakit vulvar/vaginal Wanita dengan HIV lebih memiliki resiko tinggi terkena neoplasma intraepitelial vulvar. 2009). pemeriksaan vulva. vaginal dan regresi anal jika dibandingkan dengan wanita tanpa HIV. vagina.

350 sel/mm3 2 < 200 sel/mm3 200 . menghalangi kerja enzim integrase yang berfungsi menyambung potongan-potongan DNA untuk membentuk virus. Imuune stimulators (perangsang imunitas) tubuh melalui kurir (messenger) kimia. Reticulose.350 sel/mm3 Tanpa hitung CD4 melihat Terapi ART Pertimbangkan terapi Terapi ART Pertimbangkan terapi Terapi ART Terapi Rekomendasi terapi Jenis obat-obat antiretroviral (William. Obatbini adalah obat baru yang sedang diteliti manusia. Lopinavir. Integease inhibitors. merupakan “bayangan cermin” kode genetic HIV yang mengikat pada virus untuk mencegah fungsinya (HGTV43).). Obat ini masih dalam 14 . Penelitian obat ini pada manusia dimulai tahun 2001 (S-1360). Obat antisense. Ritonavir. menghalangi enzim protease yang berfungsi memotong DNA menjadi potongan-potongan yang tepat. termasuk interleukin-2 (IL-2). Golongan obat ini sekarang telah beredar di pasaran (Saquinavir. Stadium WHO 1 klinis Kriteria Imunologis (hitung sel CD4) <200 sel/mm3 200 . HRG214. Reverse transcriptase inhibitors atau RTI. 2010) : Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel host) dan fusion inhibitors (mencegah fusi membran luar virus dengan membran sel host). Protease inhibitoers(PIs). 2010). Obat ini masih dalam penelitian lebih lanjut pada manusia. mencegah salianan RNA virus kedalam DNA sel host. dll.350 sel / mm3 3 4 200 .(Williams&Jamieson. Beberapa obat-obatan yang dipergunakan saat ini adalah golongan Nukes dan Non-Nukes.

Kebanyakan ahli menganggap bahwa risiko penularan pada bayi sangat amat rendah bila viral load ibu di bawah 1000 waktu melahirkan. Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi. Jadi jika bayi disusui oleh ibu HIV-positif. Bayi dilahirkan oleh ibu dengan viral load HIV yang tinggi lebih mungkin tertular. virus penyebab AIDS. dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya yang baru lahir. Air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi HIV juga mengandung virus. dan bila ibu menyusui bayinya selama 18-24 bulan. Pencegahan HIV. Golongan / Nama obat Nucleoside RTI Abacavir (ABC) Didanosine (ddl) 300 mg setiap 12 jam 400 mg sekali sehari 250 mg sekali sehari bila berat badan <60kg 250 sekali sehari diberikan bersama TDF Lamivudin (3TC) Stavudine (d4T) 150 mg ssetiap 12 jam atau 300 mg sekali sehari 40 mg setiap 12 jam 30 mg setiap 12 jam bila berat badan < 60 kg Zidovudine (ZDV atau AZT) Tenofovir (TDF) 300 mg sekali sehari (catatan : interaksi obat dengan ddl. 2009). Tanpa upaya untuk mencegahnya. kurang lebih 35% bayi dari ibu yang terinfeksi HIV menjadi tertular juga. bayi bisa tertular (Anonim. perlu mengurangi dosis ddl) Non-nucleoside 300 mg setiap 12 jam Dosis 15 . sebagian besar penularan terjadi waktu melahirkan atau melalui menyusui. Bayi dalam keadaan beresiko tertular oleh darah ibunya.percobaan.

Angka penularan hanya 1-2% bila ibu memakai ART.Selama 6 bulan terakhir kehamilannya dan bayinya diberikan AZT selama 6 minggu pertama hidupnya. Ada 2 cara yang mampu mengurangi separuh penularan ini. namun jika sang ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan. c Ibu HIV-positif dapat mengurangi risiko bayinya tertular dengan : a.RTI Evavirenz (EFV) Nevirapine (NVP) 600 mg sekali sehari 200 mg sekali sehari selama 14 hari. AZT dan 3TC dipakai selama waktu persalinan dan untuk ibu dan bayi satu minggu setelah lahir 2. larutan oral 400 mg/ 5 ml 800 mg/100 mg setiap 12 jam b. Mengkonsumsi obat anti viral (ARV) Resiko penularan sangat rendah bila terapi ARV dipakai. 1. kemudian 200 mg setiap 12 jam Protease inhibitor Indinavir/ritonavir (IDV/r) Lopinavir/ritonavi r (LPV/r) 400 mg/100 mg setiap 12 jam (533 mg/ 133 mg setiap 12 jam bila dikombinasi dengan EFV atau NVP Nelvinavir (NFV) Saquinavir/ritona vir (SQV/r) Ritonavir r) (RTV. Satu tablet nevitrapin pada waktu sakit melahirkan kemudian satu tablet lagi diberikan pada bayi setelah 2-3 hari melahirkan 16 . Angka ini kurang lebih 4% bila ibu memakai AZT. 1250 mg setiap 12 jam 1000 mg/ 100 mg setiap 12 jam atau 1600 mg/ 200 mg sekali sehari d Kapsul 100 mg. 2.

Bila ibu memakai AZT dan viral load dibawah 1000. Walau begitu terapi jangka pendek lebih terjangkau di negara berkembang. 17 . HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel system kekebalan tubuh manusia. Resestensi ini juga dapat terjadi pada bayi sewaktu menyusui.Menggabungkan AZT dan nevitrapin selama persalina mengurangi penularan hanya menjadi 2 persen. Resiko ini dapat dihindari jika diberi pengganti ASI (PASI atau formula) Namun jika PASI tidak diberikan secara benar maka resiko lain pada bayi menjadi semakin tinggi. Menjaga proses kelahiran tetap singkat pada watunya Semakin lama proses kelahiran semakin besar resiko penularan. Mungkin cara yang paling cocok bagi sebagian ibu adalah menyusui secara eksklusif ( tidak campur dengan PASI ) selama 3-4 bulan pertama kemudian diganti dengan formula secara eksklusif (tidak campur dengan ASI) BAB III KESIMPULAN HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Hindari menyusui Kurang lebih 14 persen bayi yang terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. resiko hampir nol.Jika formula tidak dilarut dengan air bersih atau masalah biaya menyebabkan jumlah fomula yang diberikan tidak cukup maka sebaiknya bayi disusui. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu.. b. Namun resistensi pada nevitrapine dapat muncul hingga 20% pada perempuan yang memakai satu tablet saat hamil. Ibu dengan viral load tinggi dapat mengurangi resiko dengan bedah sesar. c. Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI.

Diakses tanggal 6 Desember 2012 dari htpp://www. Ini dapat mengurangi keberhasilan terapi untuk ibu dan bayi. http://gateway. HV / AIDS Fact Sheet. 2002.nlm.aidisinfonet. 1991. Chraibi J. Risiko bayinya terinfeksi HIV waktu lahir dapat hampir dihindari jika perempuan dan bayi yang baru lahir memakai terapi jangka pendek selama persalinan. Kobuch KAMI. Anonym. Diakses tanggal 6 Desember 2012 18 . Puel J. Laporan Esekutif Menkes RI Tentang Penanggulangan HIV/AIDS Respon Menangkal Bencana Nasional Pada Sidang Kabinet Maret 2002. Namun risiko cacat lahir disebabkan obat lebih tinggi jika obat dipakai pada triwulan pertama. Kehamilan dan HIV. Jika kita memutuskan untuk berhenti memakai beberapa obat selama kehamilan. Daftar puataka Anonym. Fournie.html Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Manun terapi jangka pendek meningkatkan kemungkinan menimbulakan resistensi terhadap obat yang dipakai. Seorang perempuan yang mempertimbangkan menjadi hamil sebaiknya membahas pilihan pengobatan dengan dokter.nih. Jakarta. Grandjean H. mungkin hal ini akan memperburuk kesehatannya.org/ Berrebi A. HIV / AIDS among Women Augst 2008.Seorang perempuan HIV-positif yang menjadi hamil harus memikirkan kesehatan dirinya sendiri dan kesehatan bayinya. 2008. 2009.gov/MeetingAbstracts/102192628. Pengaruh Kehamilan Terhadap HIV-AIDS.

J Acquir Immune Sefic Syndr. Ehrlich I. Lin X. Kasper DL. Jamieson DJ. MD Manual of HIV/AIDS Therapy 2003 Edition Current Clinical Strategies Publishing Duerr A. dan perianal intraepithelial neoplasia in women with or at risk for human immunodeficiency virus. Page 424-425. Oct 2001. Cohen M.98(4):656-63. Cu-Uvin S. HIV Medicine diakses dari www. May 2006. Obstet Gynecol. Braunwald E. Feldman J.107(5):1023-8.24(1):68-75. Cu-Uvin S.HIVmedicine. Benson C.58:1-207. Duerr A. Longo DL. Rockstroh JK. apr 10 2009. Meikle SF. Brown W. 2005. Fauci AS.com tanggal 6 Desember 2012 Jamieson DJ.dari www. Guidelines for prevention and treatment of opportunistic infections in HIV-infected adults and adolescents: recommendation from CDC. Duerr A. Kamps BS.pdf Douglas C. Aug . May 1 2000. Vulvar. Jameson JL. Cu-Uvin S. HIV Infection and AIDS dalam Harrisons’s Manual of Medicine. effect of HIV infection on menstrual cycle length. Harlow SD. Paramsothy P.gov/hiv/topics/women/resources/factsheets/pdf/women. 2006. quiz 19 virus-infected women. Ohmit SE.cdc. Clarke LM. Klein RS. Obstet Gynecol. United States of America. DeHovitz J. vaginal. MMWR Recomm Rep. Incident and persistent vulvovaginal candidiasis among human immunodeficiency virusinfected women: Risk factors and severity. Kaplan JE. Paramsothy P. Schuman P. Sixth Edition. longitudinal analysis of bacterial vaginosis: findings from the HIV epidemiology research study. and the HIV Medicine Association of the Onfectious Diseases Society of America. Sierra MF.90(2):252-6. Holmes KH. Hoffmann C. Duerr A. Obstet Gynecol. Klein RS. pricenton. HIV Epidemiology Research Study Group.101(3):548-56. Cu-Uvin S. Pau A. immunecompromise and prevalence of Candida vulvovaginitis in human Immunodficiency 1997. McGraw Hill Companies. Heilig CM. the National Institutes of Health. Hauser SL. Brooks JT. Mar 2003. Pompalo A. Obstet Gynecol. Masur H.

aidsindonesia. A. Wang CC.. Kehamilan Dan Pengembangan Menjadi AIDS.177:167-74.2000.vol14.No15 Taroeno. 2000. Richardson BA. Saada M. McClelland RS. Koalisi untuk Insonesia Sehat. TB dan HIV di Indonesia. Corey L. Overbaugh J. association between cervical shedding of herpes simplex virus and HIV1. . Surakarta. Dec 6 2002.com 20 .pdf Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. http://www/AIDS. Jamieson D. Ashley RL.. FK UMS. 2010. http://www. Increase in endocervical CD4 lymphocytes among women with nonulcerative sexually transmitted disease. Suryo. Tropic Medicine “HIV AIDS”.or. 2007. 2010.id Levine WC. Bongain A..16(18):2425-30. L.org/dokumen/dokumen7682.CEI-4. 2007. Gynecologic Care of Women Infected With HIV diakses tanggal 6 Desember 2012 dari http://emedicine.J. L. Williams D. Chenadec A. J Infect Dis.medscape.. 1994. Info HIV & AIDS diakses tanggal 6 Desember 2012 dari http://www. AIDS. et al.koalisi.