You are on page 1of 4

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Kesehatan reproduski menurut World Health Organization ( WHO ) adalah kesejahtraan fisik, mental dan sosial dan bukan hanya tidak adanya penyakit dan kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta proses-prosesnya. Pada era globalisasi dan modernisasi ini telah terjadi perubahan dan kemajuan di segala aspek dalam menghadapi perkembangan lingkungan, kesehatan dan kebersihan, dimana masyarakat dituntut untuk selalu menjaga kebersihan fisik dan organ atau alat tubuh. Salah satu organ tubuh yang penting serta sensitif dan memerlukan perawatan khusus adalah alat reproduksi. Pengetahuan dan perawatan yang baik merupakan faktor penentu dalam memelihara kesehatan reproduksi. Apabila alat reproduksi tidak dijaga kebersihannya maka akan menyebabkan infeksi, yang pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit.3 Organ reproduksi kurang mendapatkan perhatian dalam kehidupan sehari-hari, hal ini disebabkan oleh budaya kita yang terkadang merasa kurang nyaman untuk membicarakan masalah seksual. Padahal, organ tersebut sangat membutuhkan perhatian, terutama kesehatan dan kebersihannya. Penelitian yang pernah dilakukan di Asia Selatan, di daerah Bengal Selatan tentang tingkat pengetahuan kebersihan organ reproduksi pada saat menstruasi dari 160 anak perempuan didapatkan 67,5% memiliki pengetahuan yang baik, sedangkan 97,5% tidak mengetahui tentang kebersihan alat reproduksi pada saat menstruasi.4,5 Beberapa penyakit-penyakit infeksi pada organ reproduksi wanita adalah dapat berupa trikomoniasis, vaginosis bakterial, kandidiasis , vulvovaginitis, gonore, klamidia, dan sifilis. Salah satu gejala dan tanda- tanda penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah terjadinya keputihan. Keputihan merupakan salah satu masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Keputihan (flour albus) adalah cairan berlebih yang keluar dari vagina. Organ reproduksi merupakan salah satu organ tubuh yang sensitif dan memerlukan perawatan khusus. Pengetahuan dan perawatan yang baik merupakan faktor penentu dalam memelihara kesehatan reproduksi.1 Salah satu gejala terjadinya kelainan atau penyakit pada organ reproduksi adalah keputihan. Keputihan merupakan gejala yang sangat sering dialami oleh

Jadi. jarang mengganti celana dalam.sebagian besar wanita.4 Jamur dan bakteri banyak tumbuh dalam kondisi tidak bersih dan lembab. Sedangkan dalam keadaan patologis akan sebaliknya.2 Semua wanita dengan segala umur dapat mengalami keputihan. Angka ini berbeda tajam dengan Eropa yang hanya 25% saja karena cuaca di Indonesia yang lembab sehingga mudah terinfeksi jamur Candida albicans yang merupakan salah satu penyebab keputihan.6 Berdasarkan latar belakang di atas. terdapat cairan berwarna. karena masalah tersebut paling banyak muncul pada negara berkembang. lembab dan kotor. Organ reproduksi merupakan daerah tertutup dan berlipat. seperti Indonesia karena kurang tersedianya akses untuk mendapat informasi mengenai kesehatan reproduksi. Keputihan dapat fisiologis ataupun patologis.1 Masalah reproduksi pada wanita usia subur perlu mendapat penanganan serius. Lebih dari 70% wanita Indonesia mengalami keputihan yang disebabkan oleh jamur dan protozoa (Trichomonas vaginalis). memakai pembilas secara berlebihan. Dalam keadaan normal. Hal itu terbukti dari banyak penelitian menyatakan rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kebersihan organ genitalia para remaja putri dan wanita usia subur. dapat diambil perumusan masalah dalam penelitian ini. yaitu apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna wanita dengan kejadian keputihan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan. jumlahnya tidak terlalu banyak dan tanpa rasa gatal atau nyeri. seperti mencucinya dengan air kotor. perilaku dalam menjaga kebersihan genitalia eksterna merupakan faktor penting dalam pencegahan keputihan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian keputihan tingkat pengetahuan dan perilaku menjaga kebersihan eksterna dari remaja putri dan wanita usia subur pada Puskesmas . sehingga lebih mudah untuk berkeringat. tak sering mengganti pembalut dapat menjadi pencetus timbulnya infeksi yang menyebabkan keputihan tersebut. dan hal itu dapat dirasa sangat mengganggu.5 Perilaku buruk dalam menjaga kebrsihan genitalia.3 Sedangkan wanita Indonesia sendiri 75% pasti mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya. berbau. Berdasarkan data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75% wanita di dunia pasti menderita keputihan. paling tidak sekali dalam hidupnya. menggunakan celana yang tidak menyerap keringat. jumlahnya banyak dan disertai gatal dan rasa panas atau nyeri. getah atau lendir vagina adalah cairan bening tidak berbau.

2 Pertanyaan Masalah 1. Untuk mengetahui hubungan perilaku terhadap kejadian keputihan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan.Kecamatan kembangan dan membuktikan adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna.1 Tujuan Umum Untuk mengidentifikasi pengetahuan dan perilaku remaja putri dan wanita usia subur terhadap higienitas organ reproduksi di Puskesmas Kecamatan Kembagan pada Oktober 2013 1. . Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi untuk penyelenggaraan upaya peningkatan kesehatan reproduksi wanita usia subur dan petugas kesehatan agar dapat memberikan pelayanan dan konseling mengenai kesehatan alat reproduksi semenjak dini untuk mencegah terjadinya keputihan. Bagaimana hubungan antara pengetahuan.1 Pernyataan Masalah Tingginya jumlah penderita keputihan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan I. Berapa banyak pasien usia 15-49 tahun yang datang berobat ke wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kembangan 2.2 Perumusan Masalah I. I. b.3 Tujuan 1.2. Untuk mengetahui angka kejadian keputihan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan. dan perilaku higienitas organ reproduksi terhadap kejadian keputihan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan.3.2.2 Tujuan Khusus a.3. 1.

4 Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap kejadian keputihan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan. 2. Untuk mengetahui hubungan kesehatan reproduksi dengan perilaku higienitas organ reproduksi pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan.c. 3. Penelitaian Untuk menambah pengetahuan pelaksana penelitian kesehatan. salah satunya mengenai kejadian keputihan. 1. d. Wanita usia subur Memberikan penyuluhan pada remaja putri dan wanita usia subur di Puskesmas Kecamatan Kembangan mengenai faktor faktor apa saja yang berhubungan dengan keputihan sehingga mendapat perhatian khusus oleh remaja putri dan wanita usia subur dalam penyelnggaraan kesehatan organ reproduksi remaja. dan mengubah perilaku kesehatan . Puskesmas Memberikan gambaran mengenai kejadian keputihan terhadap higienitas organ reproduksi wanita serta memberikan hasil penelitian yang mempunyai hubungan kuat dengan higienitas organ reproduksi waita terhadap kejadian keputihan sehingga dapat menjadi pertimbangan di Puskesmas Kecamatan Kembagan dalam menyusun program usaha kesehatan Puskesmas.