You are on page 1of 3

Cok Tosapati

hal. 1 Atas kerinduanku pada segala mimpi-mimpi indah yang tak pernah kumiliki, di sana di kampung halamanku, pada seorang wanita yang cintanya tak pernah berhenti mengalir untukku, ibuku … ku tuangkan semua itu dalam Kupu-Kupu

Kupu-Kupu
“Ibu tangkapkan kupu-kupu itu?, yang hinggap di atas pohon mangga, depan rumah kita, aku ingin memilikinya, betapa indah warna sayapnya, aku ingin menggenggamnya ibu, tolonglah?” “Tidak anakku! Biarkan kupu-kupu itu liar, dia akan mati kala kita menjeratnya, biarkan dia terbang, dan kita duduk di sini, memandanginya, dia adalah anak alam ini seperti juga kita. Kita tidak berhak memiliki, sebab keindahan itu akan sirna kala berada lama dalam genggaman kita.” “Ibu, kau biarkan anakmu menangis hanya karena seekor kupu-kupu, sungguh teganya engkau ibu?” “Engaku ini aneh! Hanya seekor kupu-kupu katamu? Tidak! Bukan karena seekor kupu-kupu, tapi hanya karena hasratmu untuk memiliki kemerdekaannya, itu … itulah yang tidak dapat dibenarkan anakku !” “Apa bedanya ibu ? aku sungguh tak mengerti?” “Ini bukan sesuatu yang harus dimengerti, anakku…, ini hanya mampu engkau pahami dengan merasakan. Cobalah sejenak engkau membayangkan bahwa dirimu adalah kupu-kupu itu yang dengan riangnya terbang ke sana ke mari, lalu tiba-tiba harus meringkuk dalam genggaman seorang anak manusia?, apa yang kamu rasakan?, mungkin hanya bisa menangis meratapi nasib.” “Tapi, kalau aku tidak bisa memiliki kupu-kupu itu, aku juga sangat sedih ibu?” “Anakku, sungguh beda tangisanmu saat kau tidak bisa menangkap kupu-kupu itu dengan air mata yang berlinang karena kehilangan sebuah kemerdekaan, pada saat-saat tertentu kita meski mengalahkan

Dokumentasi Pribadi
catatan ini aku buat di sebuah sudut dari sebuah tempat. Denpasar, 08 Agustus 2001 Sebuah kerinduan yang terlalu dalam, Mungkin tak kenal waktu…. Mungkin lupa pada ruang…., Tapi entahlah, sedang kerinduan itu sendiri akupun tak menerti kenapa….

Cok Tosapati ’08

Cok Tosapati

hal. 2 Atas kerinduanku pada segala mimpi-mimpi indah yang tak pernah kumiliki, di sana di kampung halamanku, pada seorang wanita yang cintanya tak pernah berhenti mengalir untukku, ibuku … ku tuangkan semua itu dalam Kupu-Kupu kemauan kita demi keselarasan alam ini, dimana kita adalah menjadi bagian dari penghuninya.” “Sungguh tidak adil kalau kemauanku dikalahkan oleh seekor kupukupu!” “Lebih tidak adil lagi, hanya karena kemauan seseorang, harus merampas kemerdekaan makhluk lain, anakku!” “Ah… ibu, adakah cintamu kepadaku kini harus terbagi dengan seekor kupu-kupu?” “Betapa jauh engkau berfikir anakku?, bukan … bukan begitu sebuah cinta itu terbagi. Begini anakku!, di rumah, ada tiga bungkus jajan yang baru saja ibu beli dari pasar, salah satunya untukmu, sementara dua yang lain adalah bagian bapak dan adikmu, adakah dengan demikian ibu telah bertindak tidak adil? Dengan memberikan hak pada masingmasing, adakah dengan demikian mengurangi cinta ibu kepadamu?, padahal itu yang telah ibu lakukan tiap hari, apakah engkau merasa ada yang kurang dari cinta ibu kepadamu anakku sayang?” “Tidak ibunda.” “Maka begitulah yang terjadi kali ini, ibu sangat mencintaimu, sementara di satu pihak ibu juga berkewajiban menjaga hak hidup kupu-kupu itu, sebagaimana Tuhan telah menganugerahkan padanya.” “Tapi kenapa tetangga kita boleh menangkapnya, dan lihatlah ibu, betapa anaknya riang bermain dengan kupu-kupu itu!” “Adakah engkau mau bersabar barang dua jam anakku?” “Kenapa ibu?” “Kamu akan saksikan siapakah yang masih tetap bisa memandang kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayap indahnya?, kita ataukah mereka?” “Baiklah ibu, ananda akan sabar menunggu.”
Dokumentasi Pribadi
catatan ini aku buat di sebuah sudut dari sebuah tempat. Denpasar, 08 Agustus 2001 Sebuah kerinduan yang terlalu dalam, Mungkin tak kenal waktu…. Mungkin lupa pada ruang…., Tapi entahlah, sedang kerinduan itu sendiri akupun tak menerti kenapa….

Cok Tosapati ’08

Cok Tosapati

hal. 3 Atas kerinduanku pada segala mimpi-mimpi indah yang tak pernah kumiliki, di sana di kampung halamanku, pada seorang wanita yang cintanya tak pernah berhenti mengalir untukku, ibuku … ku tuangkan semua itu dalam Kupu-Kupu

Matahari berlalu, menginjakkan kakinya di ufuk barat, semburat cahaya keemasan menerpa langit, cahayanya jatuh di sela-sela pohon Jati yang meranggas habis dimakan kemarau. Di bawah bayangan Bukit Kendeng, alam nampak semakin kering, yang ada hanya tumpukan kapur tumpang tindih. Ilalang kering yang bergoyang diterpa angin melepaskan bunganya, dibiarkan terbang kemana sang bayu membawa, berputar, memusing dan terus naik ke atas bukit, semakin tinggi semakin pelan dan semakin jauh. Akhirnya turun ke bumi, di atas sebongkah batu kapur si sela-sela pohon Serut yang akarnya kuat menggenggam bebatuan. Tidak nampak air, semuanya kering hanya warna keemasan yang meningkahi bukit itu membuat segalanya berjalan begitu cepat. Antara bayangan dan kegelapan diantara tebingtebing gundul Bukit Kendeng. Tapi ada kehidupan… seperti terbangun oleh setangkai daun jati tua yang gugur, setelah menyelesaikan tugas menemani ranting seumur hidupnya, seekor kupu-kupu terbang, jauh … kemudian hinggap di atas setangkai Petai cina, Lamtoro. Kupu-kupu ya… seekor kupu-kupu, diakah mimpiku? Diakah kehidupan itu? Sebutir keceriaan dan aku pun tersenyum, bukan hanya dua jam ibunda, tapi hampir selama hidupku, aku menunggu dan memang bukan hanya seekor kupu-kupu. Andai bunda tahu?

Dokumentasi Pribadi
catatan ini aku buat di sebuah sudut dari sebuah tempat. Denpasar, 08 Agustus 2001 Sebuah kerinduan yang terlalu dalam, Mungkin tak kenal waktu…. Mungkin lupa pada ruang…., Tapi entahlah, sedang kerinduan itu sendiri akupun tak menerti kenapa….

Cok Tosapati ’08