LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

BAB IV METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN

4.1 Umum Untuk meningkatkan upaya, pelayanan air bersih kepada

masyarakat, perlu adanya upaya-upaya untuk memberikan dan membuka kawasan-kawasan yang sampai saat ini belum dan kurang terjangkau ataupun tidak mencukupi oleh sistim pelayanan air bersih yang memenuhi standart kesehatan bagi manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemerintah untuk membangun sarana dan prasarana air bersih bagi masyarakat yang belum terjangkau pelayanan air bersih baik diperkotaan dan diperdesaan.

Dalam merencanakan sistim penyediaan air bersih perkotaan dan perdesaan menentukan lain-lain perlu sistim adanya besaran-besaran air bersih dan yang pada dapat wialayah untuk penyediaan

perencanaan, baik kebutuhan minum, cuci dan mandi dan dalam satuan liter/orang/hari standart kebutuhan daerah perkotaan dan pedesaan. Dengan demikian perlu adanya perencanaan secara mendetail mengenai sistim penyediaan air bersih pada suatu wilayah.

IV - 1

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Maksud dari kegiatan ini adalah memberikan gambaran secara rinci tentang program penyediaan air bersih di wilayah perencanaan secara bertahap sesuai tahapan perencanaan. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah membuat rencana rinci (DED) sistim penyediaan air bersih daerah perencanaan untuk masa perencanaan 10 tahun

4.2 Perhitungan Debit Sumber Untuk mengetahui debit aliran pada suatu tampang saluran/sungai dapat digunakan persamaan: Q=vxA dimana Q = Debit aliran (m3/dt) v = Kecepatan aliran (m/dt) A= Luas Penampang (m2) Apabila aliran yang diukur merupakan luapan atau pancuran yang relatif kecil maka untuk memperoleh debit air dapat dilakukan dengan menampung limpahan air tersebut dalam interval waktu tertentu (t) kemudian mengukur volume air (V) dengan menggunakan gelas ukur, sehingga debit aliran dirumuskan sebagai berikut :
Q= V t

dimana Q = Debit aliran (m3/dt) V= Volume air (m3) t = Waktu (dt) 4.2.1 Peralatan Adapun peralatan yang digunakan dalam pekerjaan pengukuran debit ialah :
IV - 2

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

1. Current Meter dan assesorisnya 2. Gelas Ukur 3. Stopwatch 4. Penggaris Besi 5. Roll Meter 4.2.2 Metode Pengukuran Pada prinsipnya penelitian debit dimulai dengan mengukur kecepatan aliran pada beberapa titik, kemudian mengukur luas tampang aliran. Bila dari hasil pengukuran kecepatan didapatkan nilai kecepatan pada beberapa titik berbeda secara signifikan maka sebaiknya tampang aliran dibagi dalam beberapa pias sehingga diperoleh debit masingmasing pias. Debit total merupakan penjumlahan dari debit masing-masing pias tersebut. Namun bila diperoleh kecepatan pada beberapa titik tersebut yang hampir seragam, maka kecepatan tempang merupakan nilai ratarata dari kecepatan tiap titik. Selanjutnya debit aliran adalah perkalian dari kecepatan rerata tampang dengan luas total tampang aliran. Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu harus

ditentukan lokasi yang tepat untuk pengukuran kecepatan. Syarat yang harus dipenuhi adalah: 1. 2. 3. 4. Aliran air relatif konstan, tidak ada turbulensi/olakan, Situasi saluran relatif lurus, Penampang aliran diusahakan segi empat atau trapezium, Semua debit air dapat mengumpul tanpa ada yang masuk ke tempat lain.

IV - 3

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Secara lengkap penelitian debit dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 1. 2. 3. Tentukan lokasi pengukuran kecepatan Gambar sketsa tampang aliran Tentukan titik-titik pengukuran, jika kedalaman aliran memungkinkan diambil 6 titik pengukuran yaitu: • • • • • • Titik 1 : Kiri Atas Titik 2 : Kiri Bawah Titik 3 : As Atas Titik 4 : As Bawah Titik 5 : Kanan Atas Titik 6 : Kanan Bawah

Kiri

As

Kanan

1

Atas

3

Atas

5

Atas

2

Bawah 4 Bawah

6

Bawah

b

Gambar 4.1 Titik-titik pengukuran kecepatan 4. 5. 6. 7. 8. 9. Siapkan Current Meter dan assesorisnya Masukkan Current Meter dalam air secara perlahan sampai semua baling-baling tenggelam Lakukan pengukuran setelah putaran baling-baling konstan Box Counter akan mencatat jumlah putaran Hidupkan stopwatch saat Box Counter mulai dinyalakan Matikan stopwatch saat Box Counter dimatikan

IV - 4

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

10. Jumlah

putaran

per

detik

(n)

diperoleh

dengan

membagi angka pembacaan di Box Counter dengan waktu pencatatan dari stopwatch 11. Lakukan langkah 5 sampai 10 untuk titik yang lain 12. Ukur lebar saluran dengan roll meter 13. Ukur kedalaman aliran pada beberapa titik (minimal 3 titik : kiri, as dan kanan) 14. Semua hasil pengukuran dicatat atau ditabelkan 15. Untuk propeller No. 50/250, kecepatan aliran diperoleh dari : n ≤ 1,74 ; v = 1,20 + 24,73n n > 1,74 ; v = 0,24 + 25,68n 16. Hitung luas tampang aliran (A) 17. Debit aliran dapat di hitung, Q = v x A

current meter

Box

Counter

Ata s Arah Aliran Bawa h Propelle r

Gambar 4.2

Sketsa penempatan current meter pada pengukuran kecepatan

Sedangkan bila debit air yang diukur merupakan limpahan atau pancuran maka pengukuran debit dilakukan dengan mengukur volume air yang melimpah selama interval waktu tertentu.

IV - 5

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pancuran Penampungan Gelas Ukur

Gambar 4.3 Pengukuran debit air dengan metode takar 4.3 Pengukuran dan Pemetaan Topografi Rencana Jalur Pipa A. Pengukuran Penampang Memanjang (Long Section) Pengukuran Long dimaksudkan untuk mendapatkan potongan memanjang dan melintang, adapun teknis pekerjaannya adalah sebagai berikut: a) Pengukuran trase dilakukan pada rencana jalur pipa yang direncanakan sesuai dengan layout yang definitive b) Penampang memanjang • Dalam melaksanakan pengukuran ini dilakukan pengukuran beda tinggi dengan jarak maksimum tiap 100 m, kecuali pada daerah-daerah khusus yang kemiringannya cukup besar dan kondisi medan yang spesifik, • maka pengukuran harus dilaksanakan secara lebih teliti (dirapatkan) Hasil review tersebut di atas, sudah harus dapat memberikan sistem dan jalur direncanakan • Sudut jalan atau belokan jalan (untuk menentukan bend yang harus digunakan sepanjang jalur pipa) harus dilaksanakan dengan cermat, baik untuk menentukan bend horisontal maupun bend vertikal pada tanjakan yang pada tanjakan yang memang diperlukan pipa yang akan

IV - 6

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pada titik-titik pengukuran rencana jalur pipa, harus diberi tanda dengan menggunakan cat atau patok sehingga secara jelas dapat dibuat pedoman didalam pelaksanaan fisik pekerjaan

c) Penampang melintang • • • Lebar potongan melintang diukur 50 m ke kiri dan ke kanan dari tepi Alat ukur yang digunakan adalah theodolit T.O Jarak 2m • Interval penampang 100 m pada tempat yang lurus dan • pada tikungan posisi cara dirapatkan titik sesuai kondisi akan sedang tikungan Pengukuran menggunakan penampang poligon pengukuran pengamatan disesuaikan dengan sifat

kemiringan tanah dengan kerapatan titik maksimum

ketinggian dengan cara tachymetri B. Ketelitian Pengukuran Dalam suatu pengukuran harus dilakukan kontrol untuk mengetahui tingkat ketelitian dari pengukuran yaitu : a. Ketelitian horisontal Minimal 90% titik yang mudah dikenal dilapangan, digambarkan dengan toleransi kesalahan kurang dari 0,8 mm pada skala peta b. Ketelitian vertikal • Jarak pengukuran semua titik dibagi kedalam ruasruas dengan panjang maksimum 2 km, tiap ruas diukur bolak-balik dengan toleransi kesalahan 6 D mm

IV - 7

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Kontrol

azimut

ditentukan

dengan

pengamatan
N

astronomi dengan toleransi ketelitian 20” atau 20 •

Koreksi sudut antara 2 titik kontrol azimuth adalah 20” atau 20
N

.N = jumlah titik sudut

4.4 Proyeksi Penduduk Proyeksi penduduk pada studi ini direncanakan sampai dengan 10 tahun yang akan datang. Untuk perhitungan proyeksi penduduk digunakan Metode Geometri yang sudah umum digunakan. Adapun pada metode ini pertumbuhan rata-rata penduduk berkisar pada persentase r yang konstan setiap tahun. Perhitungan dengan metode ini dapat dirumuskan sebagai berikut (Punmia 1987 : 184) : Pn = Po ( 1+r)n dengan : Pn Po r = Jumlah penduduk yang diperkirakan = Jumlah penduduk pada akhir tahun data = Jumlah pertumbuhan penduduk tiap tahun.

4.5 Analisa Kebutuhan Air Bersih Kebutuhan air penduduk akan dihitung berdasarkan beberapa jenis kebutuhan, antara lain : 1. Kebutuhan air bersih domestik untuk sambungan rumah dan kran umum 2. Kebutuhan air non domestik, misalnya untuk fasilitas peribadatan dan kran umum, diperhitungkan sebesar 20 % dari kebutuhan domestik. 3. Kehilangan air 4. Kebutuhan hari maksimum, diperhitungkan sebesar 1.1 × kebutuhan air bersih
IV - 8

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

5. Kebutuhan

jam

puncak,

diperhitungkan

sebesar

1.5

×

kebutuhan air bersih. Selanjutnya kebutuhan air bersih penduduk dapat dirumuskan sebagai berikut : Keb. Total = Kebutuhan Domestik + Kebutuhan air sosial + kehilangan air 4.6 Analisa Cakupan Pelayanan Cakupan pelayanan ditargetkan dapat melayani 80% dari jumlah penduduk, untuk masa 10 tahun yang akan datang. Dasar dari hal ini mengacu pada arah perkembangan kota dan pertambahan jumlah penduduk dilihat dari kondisi saat ini dan prediksi yang akan datang. Target layanan tersebut dapat dipenuhi dari komposisi sambungan rumah dan jumlah penduduk yang dapat dilayani.

4.7 Analisa Kemampuan Sumber Analisa ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar potensi sumber air yang ada saat ini untuk mencukupi kebutuhan air bersih penduduk Kota Batu di masa sekarang dan masa yang akan datang. Ada beberapa hal yang mempengaruhi kemampuan produksi sumber air antara lain pengelolaan daerah tangkapan air dan konservasi vegetasi di sekitar sumber. 4.8 Analisa Hidrolika Dalam Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih 4.8.1 Hukum Bernoulli Air di dalam pipa selalu mengalir dari tempat yang memiliki tinggi energi lebih besar menuju tempat yang memiliki tinggi

IV - 9

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

energi lebih kecil. Aliran tersebut memiliki tiga macam energi yang bekerja di dalamnya, yaitu : 1. Energi ketinggian = h, dengan : h = ketinggian titik tersebut dari garis referensi yang ditinjau (m) 2. Energi kecepatan =
v2 , dengan : 2g

v = kecepatan (m/det) g = percepatan gravitasi (m2/det) 3. Energi tekanan =
P , dengan : γw

P = tekanan (kg/m2) γw = berat jenis air (kg/m3)

Hal tersebut dikenal dengan prinsip Bernoulli bahwa tinggi energi total pada sebuah penampang pipa adalah jumlah energi kecepatan, energi tekanan dan energi ketinggian yang dapat ditulis sebagai berikut : ETot = Energi ketinggian + Energi kecepatan + Energi
P v2 + γw 2g

tekanan = h+

Menurut teori kekekalan energi dari hukum Bernoulli yakni apabila tidak ada energi yang lolos atau diterima antara dua titik dalam satu sistem tertutup, maka energi totalnya tetap konstan. Hal tersebut dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini :

IV - 10

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Garis Energi Garis Tekanan

V2

Gambar 4.4 Diagram Energi Pada Dua Tempat Hukum kekekalan Bernaulli pada gambar di atas dapat ditulis sebagi berikut (Haestad, 2002 : 267) :
2 2

Z1 +
dengan :
p1 p2 , γw γw
v1 v , 2 2g 2g
2 2

p1 v1 P v + = Z2 + 2 + 2 + h L γ w 2g γ w 2g

= = = = = = =

tinggi tekan di titik 1 dan 2 (m) tinggi energi di titik 1 dan 2 (m) tekanan di titik 1 dan 2 (kg/m2) berat jenis air (kg/m3) kecepatan aliran di titik 1 dan 2 (m/det) = percepatan gravitasi (m/det2) dari garis yang tinggi elevasi di titik 1 dan 2 ditinjau (m)

P1, P2 γw v1, v2 g Z1, Z2 hL

kehilangan tinggi tekan dalam pipa (m) garis yang menunjukkan

Pada gambar di atas, terlihat

besarnya tinggi tekan air pada titik tinjauan yang dinamakan garis gradien hidrolis atau garis kemiringan hidrolis. Jarak vertikal antara pipa dengan gradien hidrolis menunjukkan tekanan yang terjadi dalam pipa. Perbedaan ketinggian antara titik 1 dan 2 merupakan kehilangan energi yang terjadi sepanjang penampang 1 dan 2.

IV - 11

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

4.8.2 Hukum Kontinuitas Air yang mengalir sepanjang pipa yang mempunyai luas penampang A m2 dan kecepatan V m/det selalu memiliki debit yang sama pada setiap penampangnya. Hal tersebut dikenal sebagai hukum kontinuitas yang dituliskan : Q1 = Q2 A1.V1 = A2.V2 dengan : Q1 Q2 A1 A2 V1 V2
A1V1

= debit pada potongan 1 (m3/det) = debit pada potongan 2 (m3/det) = luas penampang pada potongan 1 (m2) = luas penampang pada potongan 2 (m2) = kecepatan pada potongan 2 (m/det) = kecepatan pada potongan 2 (m/det) 1
2 A2V2 1 (b) A1V1 1 2 1 2

A1V1 A2V2

1 (a)

2

2

1 (c)

A2V2 2

Gambar 4.5 Aliran Dalam Pipa

Pada gambar (a), potongan 1-1 dan potongan 2-2 mempunyai luasan penampang yang sama sehingga kecepatan aliran di potongan 1-1 sama dengan kecepatan aliran di potongan 2-2. Pada gambar (b), potongan 1-1 memiliki luasan penampang yang lebih besar dari potongan 2-2 sehingga kecepatan aliran di potongan 1-1 lebih kecil dibandingkan dengan kecepatan aliran di potongan 2-2. Sedangkan pada gambar (c), potongan 1-1 memiliki luasan penampang yang lebih kecil dari potongan

IV - 12

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

2-2 sehingga kecepatan aliran di potongan 1-1 lebih besar dibandingkan dengan kecepatan aliran di potongan 2-2. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecepatan aliran selalu berbanding terbalik dengan luasan penampang. Pada aliran percabangan pipa juga berlaku hukum kontinuitas dimana debit yang masuk pada suatu pipa sama dengan debit yang keluar pipa. Hal tersebut diilustrasikan sebagai berikut :
2 1

Q2 V2
2

Q1
1

V1

3

V3
3

Q3

Gambar 4.6. Aliran Bercabang dimana : Q1 = Q2 + Q3 A1.V1 = (A2.V2) + (A3.V3)

dengan : Q1, Q2, Q3 V1, V2, V3 = = Debit yang mengalir pada penampang 1, 2 dan 3 (m3/det) Kecepatan pada penampang 1, 2 dan 3 (m/det) 4.8.3 Kehilangan Tinggi Tekan (Head Loss)

IV - 13

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Kehilangan tinggi tekan dalam pipa dapat dibedakan menjadi kehilangan tinggi tekan mayor (major losses) dan kehilangan tinggi tekan minor (minor losses). Dalam merencanakan sistem jaringan distribusi air bersih, aliran dalam pipa harus berada pada kondisi aliran turbulen. Untuk mengetahui kondisi aliran dalam pipa turbulen atau tidak, dapat dihitung dengan identifikasi bilangan Reynold menggunakan persamaan berikut :
Re = vD ν

dengan : Re v D ν = = bilangan Reynold = kecepatan aliran dalam pipa (m/det) = diameter pipa (m) kekentalan (m2/det) Tabel 4.1 Kekentalan Kinematik Air Suhu Kekentalan Kinematik (oC) (m2/det) 0 1.785 . 10-6 5 1.519 . 10-6 10 1.306 . 10-6 15 1.139 . 10-6 20 1.003 . 10-6 25 1.893 . 10-6 30 1.800 . 10-6 Suhu (oC) 40 50 60 70 80 90 100 Kekentalan Kinematik (m2/det) 1.658 . 10-6 1.553 . 10-6 1.474 . 10-6 1.413 . 10-6 1.364 . 10-6 1.326 . 10-6 1.294 . 10-6 kinematik air pada suhu tertentu

Dari perhitungan bilangan Reynold, maka sifat aliran di dalam pipa dapat diketahui dengan kriteria sebagai berikut : • Re < 2000 • Re = 2000 – 4000 • Re > 4000 aliran bersifat laminer aliran bersifat transisi aliran bersifat turbulen

IV - 14

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

4.8.4 Kehilangan Tinggi Tekan Mayor (Major Losses) Fluida yang mengalir di dalam pipa akan mengalami tegangan geser dan gradien kecepatan pada seluruh medan karena adanya kekentalan kinematik. Tegangan geser tersebut akan menyebabkan terjadinya kehilangan energi selama pengaliran. Tegangan geser yang terjadi pada dinding pipa merupakan penyebab utama menurunnya garis energi pada suatu aliran (major losses) selain bergantung juga pada jenis pipa. Ada beberapa teori dan formula untuk menghitung besarnya kehilangan tinggi tekan mayor ini yaitu dari Hazen-Williams, Darcy-Weisbach, Manning, Chezy, Colebrook-White dan Swamme-Jain. Dalam kajian ini digunakan persamaan HazenWilliams (Haestad, 2001 : 278) yaitu : Q = 0.85 . Chw . A . R0.63 . S0.64 V= 0.85 . Chw . R0.63 . S0.64 dengan : Q V 0.85 Chw A R = = = = = = = debit aliran pada pipa (m3/det) kecepatan pada pipa (m/det) konstanta koefisien kekasaran Hazen-Williams Luas penampang aliran (m2) Jari-jari hidrolis (m)
A 1 4 πD 2 = P πD

R

=

D 4

IV - 15

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

S

= =

kemiringan garis energi (m/m)
hf L

Untuk Q =

V , didapat persamaan kehilangan tinggi tekan A

mayor menurut Hazen-Williams sebesar (Webber, 1971 : 121) : hf = k.Q1.85 dimana : k=

10.7 L 1.85 C hw D 4.87

dengan, hf k Q D L Chw = kehilangan tinggi tekan mayor (m) = koefisien karakteristik pipa = debit aliran pada pipa (m3/det) = Diameter pipa (m) = panjang pipa (m) = koefisien kekasaran Hazen-Williams

Tabel 4.2 Koefisien Kekasaran Pipa Menurut Hazen-Williams No 1 2 3 4 5 Jenis Pipa PVC Pipa asbes Batu berlapis semen Pipa besi digalvanis Cast Iron Nilai Koefisien Hazen-Wlliams (Chw) 140-150 120-150 100-140 100-120 90-125

Sumber : Buku Utama Sistem Jaringan Pipa, 1987

IV - 16

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

4.8.5 Kehilangan Tinggi Tekan Minor (Minor Losses) Faktor lain yang juga ikut menambah besarnya kehilangan tinggi tekan pada suatu aliran adalah kehilangan tinggi tekan minor. Kehilangan tinggi tekan minor ini disebabkan oleh adanya perubahan mendadak dari ukuran penampang pipa yang menyebabkan turbulensi, belokan-belokan, adanya katub dan berbagai jenis sambungan. Kehilangan tinggi tekan minor semakin besar bila terjadi perlambatan kecepatan aliran di dalam pipa dibandingkan peningkatan kecepatan akibat terjadi pusaran arus yang ditimbulkan oleh pemisahan aliran dari bidang batas pipa. Untuk jaringan pipa sederhana, kehilangan tinggi tekan minor ini tidak boleh diabaikan karena nilainya cukup berpengaruh. Namun untuk pipa-pipa yang panjang atau L/D >> 1000, kehilangan tinggi tekan minor ini dapat diabaikan. Persamaan umum untuk menghitung besarnya kehilangan tinggi tekan minor ini dapat ditulis sebagai berikut :
h Lm = k v2 2g

dengan : hLm k v g = kehilangan tinggi tekan minor (m) = koefisien kehilangan tinggi tekan minor = kecepatan rata-rata dalam pipa (m/det) = percepatan gravitasi (m/det2)

Besarnya nilai koefisien k sangat beragam, tergantung dari bentuk fisik penyempitan, pelebaran, belokan, katup dan sambungan dari pipa. Namun, nilai k ini masih berupa pendekatan karena sangat dipengaruhi oleh bahan, kehalusan membuat sambungan maupun umur sambungan tersebut.

IV - 17

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

IV - 18

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Tabel 4.3 Koefisien Kekasaran Pipa Menurut Jenis Perubahan Bentuk Pipa Jenis Perubahan Bentuk Pipa Awal masuk pipa bell mouth Rounded Shard edge Projecting Pengecilan mendadak D2/D1 = 0.80 D2/D1 = 0.50 D2/D1 = 0.20 Pengecilan mengerucut D2/D1 = 0.80 D2/D1 = 0.50 D2/D1 = 0.20 Pembesaran mendadak D2/D1 = 0.80 D2/D1 = 0.50 D2/D1 = 0.20 Pembesaran mengerucut D2/D1 = 0.80 D2/D1 = 0.50 D2/D1 = 0.20 0.16 0.57 0.92 0.18 0.37 0.49 0.03 – 0.05 0.12 – 0.25 0.5 0.8 Belokan tiba-tiba (mitered) θ = 150 θ = 300 θ = 450 θ = 600 0.05 0.07 0.08 θ = 900 T (Tee) Aliran searah Aliran bercabang Persilangan Aliran searah Aliran bercabang 0.03 0.08 0.13 450 Wye Aliran searah Aliran bercabang 0.30 0.40 0.75 1.80 0.50 0.75 0.30 0.50 0.05 0.10 0.20 0.35 0.80 K Jenis Perubahan Bentuk Pipa Belokan halus 900 Radius Belokan/D = 4 Radius Belokan/D = 2 Radius Belokan/D = 1 0.16 0.18 0.19 0.25 0.35 0.40 K

Sumber : Haestad, 2001 : 292

IV - 19

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Gambar 4.7. Pengaruh Bentuk Belokan Pipa Pada Aliran

4.9 Elemen-Elemen Pada Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih Elemen-elemen pada suatu sistem jaringan distribusi air bersih adalah komponen-komponen yang ada dalam suatu rangkaian sistem jaringan distribusi air bersih. Elemen-elemen ini terdiri dari pipa dan sambungannya, katub, pompa, tandon dan tandon dimana kesemuanya haruslah bekerja dengan baik. Jika salah satu dari elemen tersebut tidak berfungsi, maka dampaknya adalah berkurangnya bahkan terhentinya kinerja dan efisiensi dari sistem tersebut. 4.9.1 Pipa 1. Jenis Pipa Pada suatu sistem jaringan distribusi air bersih, pipa merupakan komponen yang utama. Pipa ini berfungsi sebagai sarana untuk mengalirkan air dari sumber air ke tandon, maupun dari tandon ke konsumen. Pipa tersebut memiliki bentuk penampang lingkaran dengan diameter yang bermacam-macam. Dalam pelayanan penyediaan air bersih lebih banyak digunakan pipa bertekanan karena lebih sedikit kemungkinan tercemar dan biayanya lebih murah dibanding menggunakan saluran terbuka atau talang. Suatu pipa bertekanan adalah pipa yang dialiri air dalam keadaan penuh.

IV - 20

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pipa yang umumnya dipakai untuk sistem jaringan distribusi air dibuat dari bahan-bahan seperti di bawah ini :

Besi tuang (cast iron) Pipa besi tuang telah digunakan lebih dari 200 tahun yang lalu. Pipa ini biasanya dicelupkan dalam larutan kimia untuk perlindungan terhadap karat. Panjang biasa dari suatu bagian pipa adalah 4 m dan 6 m. Tekanan maksimum pipa sebesar 25 kg/cm 2 dan umur pipa dapat mencapai 100 tahun. Keuntungan dari pipa ini adalah :    pipa cukup murah pipa mudah disambung pipa tahan karat

Kerugian dari pipa ini adalah :  pipa berat sehingga biaya pengangkutan mahal

Besi galvanis (galvanized iron) Pipa jenis ini bahannya terbuat dari pipa baja yang dilapisi seng. Umur pipa pendek yaitu antara 7 – 10 tahun. Pipa berlapis seng digunakan secara luas untuk jaringan pelayanan yang kecil di dalam sistem distribusi. Keuntungan dari pipa ini adalah :
  

harga murah dan banyak tersedia di pasaran ringan sehingga mudah diangkut pipa mudah disambung

Kerugian dari pipa ini adalah :  pipa mudah berkarat • Plastik (PVC)

IV - 21

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pipa ini lebih dikenal dengan sebutan pipa PVC (Poly Vinyl Chloride) dan di pasaran mudah didapat dengan berbagai ukuran. Panjang pipa 4 m atau 6 m dengan ukuran diameter pipa mulai 16 mm hingga 350 mm. Umur pipa dapat mencapai 75 tahun. Keuntungan dari pipa ini adalah :  harga murah dan banyak tersedia di pasaran  ringan sehingga mudah diangkut  mudah dalam pemasangan dan penyambungan  pipa tahan karat Kerugian dari pipa ini adalah :  pipa jenis ini mempunyai koefisien muai besar sehingga tidak tahan panas  • mudah bocor dan pecah

Baja Pipa ini terbuat dari baja lunak dan mempunyai banyak ragam di pasaran. Pipa baja telah digunakan dengan berbagai ukuran hingga lebih dari 6 m garis tengahnya. Umur pipa baja yang cukup terlindungi paling sedikit 40 tahun. Keuntungan dari pipa ini adalah :   tersedia dalam berbagai ukuran panjang mudah dalam pemasangan dan penyambungan pipa tidak tahan karat pipa berat sehingga biaya pengangkutan mahal

Kerugian dari pipa ini adalah :  

2.

Sarana Penunjang

IV - 22

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pipa yang digunakan dalam distribusi air minum harus dilengkapi dengan alat bantu agar bisa berfungsi dengan baik, seperti : • Sambungan antar pipa Untuk menggabungkan pipa yang satu dengan yang lain diperlukan suatu sambungan pipa, baik pipa yang berdiameter sama atau berbeda, belokan pada pipa dan penggabungan dua pipa yang berbeda jenis.

Sambungan pada pipa antara lain :
   

mangkok (bell) dan lurus (spingot) sambungan mekanik sambungan dorong (push on joint) sambungan flens saat pemasangan pipa ditambah dengan

Sambungan tersebut dipakai sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan perlengkapan sambungan yaitu :  Belokan (bend) Digunakan untuk mengubah arah dari arah lurus dengan sudut perubahan standar yang merupakan sudut dari belokan tersebut. Besar belokan standar adalah 11¼o, 22½o, 45o, dan 90o. Bahan belokan itu biasanya sama dengan pipa  Perlengkapan “T” Untuk pipa sekunder dipasang tegak lurus (90o) pada pipa primer berbentuk T. Untuk ujung-ujungnya perlengkapan dapat terdiri socket dan flens  Perlengkapan “Y” dari kombinasi spigot,

IV - 23

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Untuk pipa sekunder yang dipasang pada pipa primer dengan sudut 45o

Pintu dan katup Aliran air yang baik di dalam pipa sangat ditunjang oleh katup yang bekerja pada sambungan antar pipa. Berbagai jenis katup memiliki fungsi berbeda yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan agar suatu rangkaian pipa berfungsi dengan baik. Beberapa macam katub dalam rangkaian jaringan pipa adalah (Haestads, 2001 : 277) :

Flow Control Valve (FCV) Digunakan untuk membatasi aliran maksimum ratarata yang melalui untuk katup dari hulu suatu ke hilir. Dimaksudkan melindungi komponen

tertentu yang letaknya di hilir agar tidak rusak akibat aliran yang terlalu besar  Pressure Reducer Valve (PRV) Digunakan untuk menanggulangi tekanan yang terlalu besar di hilir katup. Jika tekanan naik hingga melebihi nilai batas, maka PRV akan menutup dan akan terbuka penuh bila tekanan di hulu lebih rendah dari nilai yang telah ditetapkan pada katup tersebut  Pressure Sustaining Valve (PSV) Digunakan untuk menanggulangi penurunan secara drastis pada tekanan di hulu dari nilai yang telah ditetapkan. Jika tekanan di hulu lebih rendah dari batas minimumnya, maka katu akan menutup

IV - 24

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pressure Breaker Valve (PBV) Digunakan untuk memberikan tekanan tambahan pada tekanan yang menurun di katup. Di samping itu, katup jenis ini juga dapat memberikan tambahan tekanan pada aliran yang berbalik arah (karena tekanan di hilir lebih tinggi dari tekanan di hulu) sehingga tekanan di hilir lebih rendah dari tekanan di hulu

Throttle Control Valve (TCV) Katup jenis ini digunakan untuk mengontrol minor losses yang berubah setiap waktu

4.9.2 Pompa Pompa adalah komponen sistem dalam yang suatu mampu sistem kembali tempat memberikan tekanan sehingga tambahan tekanan dapat

jaringan distribusi air bersih. Dengan pompa, maka tinggi yang sistem berkurang dapat dinaikkan air ke mengalirkan

pelayanan yang lebih tinggi dan jauh. Apabila sebelum pompa dipasang telah ada aliran, maka pompa juga dapat digunakan untuk menambah kapasitas debit pada sistem tersebut. Karakteristik pompa ditunjukkan oleh debit yang dapat dihasilkan pada berbagai jenis variasi tinggi tekan (head). Semakin tinggi head yang harus ditambahkan, maka semakin kecil debit yang diproduksi dan demikian pula sebaliknya. Operasional pompa dalam suatu sistem jaringan distribusi air bersih juga menggunakan pronsip tersebut dimana harus memperhatikan tinggi tekan dan

IV - 25

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

debit

yang

dibutuhkan

sehingga

operasional

pompa

mampu mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Pompa dapat dipasang secara paralel dan secara seri. Pada pemasangan secara paralel, pompa dipasang sejajar pada dua pipa yang ujung-ujungnya disatukan. Debit yang dihasilkan pada pompa paralel menjadi dua kali lipat, namun tinggi tekannya sama dengan satu unit pompa saja. Sedangkan pada pemasangan seri, pompa yang satu diletakkan di hilir pompa yang lain. Pada pemasangan seperti ini, debit yang dihasilkan sama dengan satu unit pompa saja, namun tinggi tekannya menjadi dua kali lipat.

Head (m)

Q(lt/det) Gambar 4.8 Kurva Sistem Operasi Pompa

Head (m)

Seri Tunggal Paralel

Q(lt/det) Gambar 4.9. Kurva Operasional Pompa Pada Pemasangan Seri Dan Paralel

IV - 26

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

4.9.3 Tandon Tandon distribusi merupakan air bersih komponen yang dari sistem fungsi jaringan untuk memiliki

menampung dan menyimpan air untuk digunakan pada kondisi tertentu. Pengisian tampungan tandon dilakukan apabila kebutuhan air bersih tidak mencapai puncak atau dibagi antara keduanya apabila kapasitas debitnya mencukupi. Sumber air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk penyediaan air bersih adalah: ⇒ mata air ⇒ air tanah dalam ⇒ air permukaan danau atau waduk ⇒ air permukaan sungai. Yang perlu diperhatikan dalam perencanaan tandon adalah : ⇒ Aspek kuantitas dan kontinuitas ⇒ Kapasitas tampungan dari sebuah tandon nantinya harus mampu untuk melayani areal pelayanan yang direncanakan dan mampu beroperasi sesuai rencana pengembangan ⇒ Aspek kualitas air ⇒ Mata air yang digunakan untuk mengisi tandon sebagai air baku harus memenuhi standar kualitas air baku golongan A atau minimal golongan B 4.10 Mekanisme Pengaliran Dalam Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih 4.10.1 Pipa Dengan Bantuan Pompa Pemakaian pompa dimaksudkan untuk lebih memperbesar tekanan pada suatu titik agar dapat melayani area
IV - 27

seiring

dengan

meningkatnya

kebutuhan air bersih setiap tahunnya

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

tertentu yang cukup luas. Jika pompa digunakan ntuk menaikkan air dari suatu tandon A ke tandon B, maka akan dibutuhkan suatu daya pompa untuk mengalirkannya seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut : :

Gambar 4.10 Skema Jaringan Distribusi Air Bersih dengan Bantuan Pompa Dengan melihat gambar di atas, maka tinggi garis gradien hidraulik di titik B (tekanan di B) adalah : HB = ZA + HP – ZB + HL dengan : HB ZA ZB HP HL = tekanan di titik B = tinggi elevasi titik A garis yang ditinjau (m) = tinggi elevasi titik B garis yang ditinjau (m) = tinggi tekan pompa (m) = kehilangan tinggi tekan (m)

4.10.2 Sistem Perpipaan Sistem pemipaan dalam jaringan distribusi air bersih dapat dibagi menjadi dua yaitu hubungan seri dan hubungan paralel. Penggunaan dua sistem pemipaan ini bergantung
IV - 28

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

pada kondisi lapangan dan melihat tingkat kebutuhan airnya. ⇒ Pipa Hubungan Seri Apabila suatu saluran pipa terdiri dari beberapa pipa berdiameter tersambung, aliran di sama maka atau berbeda dalam kondisi pipa-pipa titik adalah tersebut sama terpasang sedangkan

dalam hubungan seri. Pada pipa hubungan seri, debit semua kehilangan tekanan di semua titik berbeda. Hal tersebut ditunjukkan pada gambar 4.11. di bawah ini :

Datum Gambar 4.11 Pipa Dalam Hubungan Seri Q1 = Q 2 = Q3

dengan : Q1 = Q2 = Q3 = debit pada tiap pipa (m3/det) Sedangkan,
hf tot = hf1 + hf 2 + hf 3

=∑ hf i= 1
n

IV - 29

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

dengan : hftot = total kehilangan tekanan pada pipa terpasang seri (m) hf1 = hf2 = hf3 = kehilangan tekanan pada tiap pipa (m) Sehingga persamaan Bernoulli menjadi :
Z1 + v1 p v p + 1 = Z2 + 2 + 2 + hf tot 2g γ 2g γ
2 2

Pipa Hubungan Paralel Apabila dua pipa atau lebih yang letaknya sejajar dan pada ujung-ujungnya dihubungkan oleh satu titik simpul (junction), maka pipa-pipa tersebut terpasang dalam hubungan paralel. Pada pipa hubungan paralel, debit total merupakan penjumlahan debit aliran di tiap pipa, sedangkan kehilangan tekanan pada tiap pipa sama. Hal tersebut ditunjukkan pada gambar 4.12. di bawah ini :

Datum Gambar 4.12 Pipa Dalam Hubungan Paralel
hf1 = hf 2 = hf 3

dengan :

IV - 30

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

hf1 = hf2 = hf3 = kehilangan tekanan pada tiap pipa (m3/det) Sedangkan,
Q tot = Q1 + Q 2 + Q3

=∑ Q i =1
n

dengan : Qtot= total debit pada pipa terpasang paralel (m3/det) Q1 = Q2 =Q3 = debit pada tiap pipa (m3/det)

4.11 Metode Perhitungan Aliran Dalam Pipa Pada jaringan pipa, ada dua persamaan yang harus dipenuhi yaitu persamaan kontinuitas massa dan persamaan energi. Kedua persamaan tersebut berlaku untuk setiap pipa dalam suatu sistem jaringan yang harus diselesaikan secara bersamasama. Untuk menyelesaikan perhitungan analisis sistem jaringan pipa, didasarkan pada dua kondisi dasar yang harus dipenuhi seperti dijelaskan berikut ini (Webber, 1971) : ⇒ Hukum kontinuitas, yaitu dalam tiap-tiap titik simpul aliran yang masuk harus sama dengan aliran yang keluar (Triatmojo, 1996 : 92)

∑Qi = 0
dengan : Qi = debit yang masuk atau keluar dari titik simpul ⇒ Untuk kontinuitas tekanan, jumlah kehilangan tekanan di dalam sistem jaringan tertutup harus sama dengan nol

∑hf

=0

IV - 31

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

untuk menggunakan kedua persamaan di atas, Hardy Cross (1936) menawarkan dua metode yaitu metode jaringan tertutup (loop method) dan metode titik simpul (junction method) a. Metode Jaringan Tertutup (Loop Method) Dalam metode jaringan tertutup ini digunakan prinsip keseimbangan menganggap komponen tinggi bahwa tekan aliran (head masuk balance) dan dengan dari juga keluar sistem

jaringan harus diketahui menentukan aliran dalam setiap pipa. Jika tekanan pada diperlukan, maka tinggi tekan pada satu titik dalam jaringan harus diketahui awalnya. Gambar di bawah menunjukkan suatu sistem jaringan kecil dimana bila semua persyaratan standar telah terpenuhi, maka kehilangan tinggi tekan di pipa 1 dan 2 sama dengan kehilangan tinggi tekan di pipa 3 dan 4 sehingga dikatakan jaringan tersebut telah seimbang ( Σhf = 0). Dengan perumpamaan arah jarum jam, kehilangan tinggi tekan dikatakan positif bila searah jarum jam dan sebaliknya.

50 lt/det

J-1 P-1 P-4 P-2

J-2 P-5

J-5
20 lt/det P-6

P-3 J-4 J-3

P-7 J-6 30 lt/det

IV - 32

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Gambar 4.13 Skema Jaringan Menggunakan Metode Jaringan Tertutup Konsep yang dikemukakan oleh Hardy Cross adalah menggunakan prinsip kontinuitas, bahwa debit masuk sama dengan debit keluar dalam suatu sistem jaringan yang kemudian akan digunakan dalam menentukan aliran dalam setiap komponen pipa.
50 lt/det 30 lt/det 25 lt/det 20 lt/det 20 lt/det 20 lt/det 5 lt/det 5 lt/det

25 lt/det
30 lt/det

Gambar 4.14 Ilustrasi Persamaan Kontinuitas Dengan Metode Jaringan Tertutup b. Metode Titik Simpul (Junction Method) Dalam metode titik simpul digunakan

prinsip

keseimbangan debit (quantity balance) yaitu dengan lebih mempertimbangkan besarnya debit aliran pada suatu titik simpil sebagai variabel yang tidak diketahui daripada mempertimbangkan besarnya debit aliran pada pipa yang dipakai dalam metode jaringan tertutup. Langkah modifikasi dari R.J Cornish ini dapat digunakan bila tinggi tekan pada tiap titik masuk (junction) diketahui dan digunakan untuk menentukan tinggi tekan dan aliran di sepanjang jaringan.

Q hf J J Qin – Qout = Qe
Pipa i

hf K K

e

Pipa n Pipa m IV - 33

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Gambar 4.15 Skema Jaringan Menggunakan Metode Titik Simpul

4.12 Simulasi Aliran Pada Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih Dalam pendistribusian air, terjadi aliran di dalam sistem jaringan distribusi air bersih. Terdapat dua kondisi pada saat pengaliran, yakni kondisi permanen dan kondisi tidak permanen. Penentuan jenis kondisi aliran tersebut amat bergantung pada pola konsumsi air pada masyarakat untuk setiap jam perharinya. 11.1 Analisis Kondisi Permanen Analisis kondisi permanen ini mencakup kondisi aliran, tekanan, dan kapasitas dari komponen sistem jaringan tersebut pada corak permintaan tunggal. Simulasi ini dilakukan pada saat kondisi kritis seperti pada kebutuhan harian maksimum, kebutuhan puncak dan pengisisan tampungan tandon. Dengan demikian dapat memberikan suatu informasi dari kondisi jaringan pada suatu waktu yang diiinginkan. 11.2 Analisis Kondisi Tidak Permanen Analisis pada kondisi permanen ini mencakup kondisi aliran, tekanan dan kapasitas dari komponen sistem jaringan tersebut sepanjang waktu pada suatu corak permintaan yang berubah-ubah. Dalam simulasi kondisi tidak permanen ini, beberapa parameter yang digunakan adalah karakteristik tandon, kontrol operasi pompa, durasi dan nilai tahapan waktu, rasio waktu serta faktor beban (loading factor).

IV - 34

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

4.13 Analisis Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih Dengan Software Komputer Analisis sistem jaringan distribusi air bersih merupakan suatu perencanaan yang rumit. Penyebab utama rumitnya analisis dikarenakan banyaknya jumlah proses trial and error yang harus dilakukan pada seluruh komponen yang ada pada sistem jaringan distribusi air bersih jaringan tersebut. Pada saat ini program-program komputer sudah di bidang perencanaan sistem jaringan distribusi air bersih sudah demikian berkembang dan maju sehingga kerumitan dalam perencanaan sistem jaringan distribusi air bersih dapat diatasi dengan menggunakan program tersebut. Proses trial and error dapat dilakukan dalam waktu singkat dengan tingkat kesalahan yang relatif kecil karena programlah yang akan menganalisisnya. Beberapa program komputer di bidang rekayasa dan

perencanaan sistem jaringan distribusi air bersih diantaranya adalah program Loops, Wadiso, Epanet 1.1, Epanet 2.0 dan WaterCAD. Dalam kajian ini digunakan program WaterCAD v 4.5 karena program ini tergolong baru dan belum banyak diketahui dalam fungsinya untuk menganalisis sistem jaringan distribusi air bersih. Berikut ini akan dipaparkan mengenai langkahlangkah penggunaan program WaterCAD v 4.5.

IV - 35

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

12.1

Deskripsi

Program

Water

Distribution

Modelling

(WaterCAD v 4.5) Program WaterCAD v 4.5 merupakan produksi dari Haestad Methods tahun 2001 dengan jumlah pipa yang mampu dianalisis yaitu 250 buah pipa sesuai pemesanan spesifikasi program WaterCAD pada Haestad Methods. Program ini dapat bekerja pada sistem Windows 95, 98 dan 2000 serta Windows NT 4.0 ke atas. Program yang tampilan interfacenya sangat memudahkan pengguna ini khusus menyelesaikan lingkup perencanaan dan pengoptimalisasian sistem jaringan distribusi air bersih, yaitu (Haestad Method, 2001) : ⇒ menganalisis sistem jaringan distribusi air pada satu kondisi waktu ⇒ menganalisis tahapan-tahapan atau periodisasi simulasi pada sistem jaringan terhadap adanya kebutuhan air yang berfluktuatif menurut waktu ⇒ menganalisis jaringan bersamaan ⇒ menganalisis kondisi jaringan pada saat kondisi ekstrim untuk keperluan pemadam kebakaran atau hydrant (fire flow analysis) ⇒ menganalisis kualitas air yang didistribusikan ⇒ menghitung konstruksi biaya dari jaringan yang dibuat menurut alternatifnya Sedangkan fasilitas tambahan yang menyertai program WaterCAD ini adalah (Haestad Methods, 2001) : ⇒ mendukung GIS database connection sehingga mengenali extention file dari program GIS (ArcView, ArcInfo, ArcCAD, MapInfo dan AutoCAD) yang akan skenario kondisi perbandingan yang atau alternatif pada saat pada berlainan

IV - 36

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

memudahkan untuk memindahkan lembar kerja program tersebut ke lembar kerja WaterCAD dengan aman ⇒ ⇒ mendukung program Microsoft Office, Microsoft Excel dan Microsoft Access mendukung program Epanet Versi Windows dan Kypipe sehingga dapat menyimpan gambar jaringan pipa ke dalam bentuk file WaterCAD (.wcd)

12.2

Tahapan-Tahapan WaterCAD 1. Welcome Dialog

Dalam

Penggunaan

Program

Pada setiap pembukaan awal program WaterCAD, akan diperlihatkan sebuah dialog box yang disebut welcome dialog. Kotak tersebut memuat tutorials, create new project, open existing project serta exit WaterCAD seperti terlihat pada gambar di bawah. Melalui welcome dialog ini pengguna dapat langsung mengakses ke bagian lain untuk menjalankan program ini.

Gambar 4.16 Tampilan Welcome Dialog Pada WaterCAD

IV - 37

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Tutorials, digunakan untuk mempelajari program dengan melihat WaterCAD contoh akan jaringan menuntun yang kita telah disediakan. cara memahami

menggunakan program ini. Untuk membuka tutorial dilakukan dengan mendouble klik kotak tutorial. Dan Create new project digunakan untuk membuat lembar kerja baru. Sedangkan open existing project digunakan untuk membuka kembali pekerjaan atau data yang telah disimpan sebelumnya. Untuk membuka menu ini pun digunakan cara yang sama seperti pada tutorials. Exit WaterCAD digunakan apabila ingin mengakhiri program ini melalui dialog box. 2. Pembuatan Lembar Kerja Pembuatan lembar kerja baru atau create new project pada program WaterCAD ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui welcome dialog box atau melalui pilihan new pada menu utama File. Sebelum proses penggambaran atau pengubahan jaringan dilakukan, terlebih dahulu akan ditemui tampilan project setup wizard. Project setup wizard ini terdiri dari empat tahapan penentuan yaitu penamaan dari serta file, pemilihan dan dimensi prototipe rumus, dalam dari besaran skala

penggambaran

penentuan

komponen-komponen dalam sistem jaringan.

IV - 38

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Gambar 4.17 Penamaan File Kerja Pada WaterCAD

Setelah penamaan file maka tampilan berikutnya adalah pemilihan formula dari Darcy-Weisbach, Hazen-Williams dan Manning seperti pada gambar di bawah. Rumus yang dipilih itulah yang nantinya digunakan sebagai dasar dalam perhitungan WaterCAD.

Gambar 4.18 Pemilihan Rumus Pada WaterCAD Proses selanjutnya adalah penentuan skala dimensi dalam penggambaran jaringan pipa yang disesuaikan dengan kebutuhan dari perencanaan dan keinginan dari pengguna. Gambar jaringan dapat dibuat secara skalatis, maupun secara skematis sesuai kebutuhan pengguna.

IV - 39

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Gambar 4.19 Pengisian Skala Pada WaterCAD Bagian terakhir dari project setup wizard adalah

pengisian data-data teknis atau pemodelan komponenkomponen sistem jaringan distribusi air bersih yang akan dipakai dalam penggambaran yang memudahkan untuk pengecekan. Komponen tersebut ada enam macam yaitu pipa, titik simpul, tandon, katup, tandon dan pompa seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 4.20. Penentuan Prototipe Dari KomponenKomponen Sistem Jaringan PadaWaterCAD 3. Pemodelan Komponen-Komponen Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih

IV - 40

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Dalam WaterCAD, komponen-komponen sistem jaringan distribusi air bersih seperti titik simpul, pipa, tandon, mata air dan pompa tersebut dimodelkan sedemikian rupa sehingga mendekati kinerja komponen tersebut di lapangan. Untuk keperluan pemodelan, WaterCAD telah memberikan keperluan penamaan setiap komponen dalam tersebut secara otomatis yang dapat diganti sesuai dengan agar memudahkan pengerjakan, suatu pengamatan, penggantian ataupun pencarian

komponen tertentu. Agar dapat memodelkan setiap komponen sistem jaringan distribusi air bersih dengan benar, perancang harus mengetahui cara memodelkan komponen tersebut dalam WaterCAD. Adapun jenis-jenis pemodelan komponen sistem jaringan distribusi air bersih dalam WaterCAD adalah :  Pemodelan titik-titik simpul (junction) Titik simpul merupakan suatu simbol yang mewakili atau komponen yang bersinggungan langsung dengan konsumen dalam hal pemberian air bersih. Ada dua tipe aliran pada titik simpul ini, yaitu berupa kebutuhan air (demand) dan berupa aliran masuk (inflow). Jenis aliran yang berupa kebutuhan air bersih digunakan bila pada simpul tersebut ada pengambilan air, sedangkan aliran masuk digunakan bila pada titik simpul tersebut ada tambahan debit yang masuk. Data yang dibutuhkan sebagai masukan bagi titik simpul antara lain elevasi titik simpul dan data kebutuhan air bersih pada titik simpul tersebut.  Pemodelan kebutuhan air bersih

IV - 41

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Kebutuhan air bersih pada tiap-tiap titik simpul dapat berbeda-beda yang bergantung dari luas cakupan layanan dan jumlah konsumen pada titik simpul tersebut. Kebutuhan air menurut WaterCAD dibagi menjadi dua yaitu kebutuhan tetap (fixed demand) dan kebutuhan berubah (variable demand). kebutuhan tetap adalah kebutuhan air rerata tiap harinya sedangkan kebutuhan berubah atau berfluktuatif adalah kebutuhan air yang berubah setiap jamnya sesuai dengan pemakaian air. Data fixed demand atau yang disebut pula baseline flow ini kurang hanya akurat bila untuk digunakan mengetahui untuk besar perancangan kebutuhan air bersih. Umumnya data digunakan kebutuhan tiap jam atau harian secara rata-rata. Data variable demand inilah yang digunakan untuk mendekati kondisi nyata di lapangan. Situasi pada saat kebutuhan air seperti ini disebut dengan Extended Period Simulation (EPS). Saat kebutuhan air diatur pada baseline flow, kondisi aliran di dalam pipa flow). Maka secara berupa aliran tetap (steady otomatis WaterCAD akan

mengatur skenario menjadi Steady State Simulation. Sedangkan bila tersedia data kebutuhan air yang berfluktuatif (variable demand) maka skenario WaterCAD dapat diatur menjadi Extended Period Simulation (EPS) dan aliran yang terjadi adalah aliran berubah beraturan menurut waktu.  Pemodelan Pipa

IV - 42

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pipa adalah suatu komponen yang menghubungkan katup (valve), titik simpul, tandon dan tandon. Untuk memodelkan pipa, memerlukan beberapa data teknis seperti jenis bahan, diameter dan panjang pipa, kekasaran (roughness) dan status pipa (bukatutup). Jenis bahan pipa oleh WaterCAD telah disediakan sehingga dapat dipilih secara langsung sesuai dengan jenis bahan pipa yang digunakan di lapangan. Sedangkan diameter dan panjang pipa tools. Apabila diatur secara dapat dirancang sesuai dengan kondisi di lapangan melalui prototypes skalatis, maka ukuran panjang pipa secara otomatis berubah sesuai dengan perbandingan skala ukuran yang dimasukkan. Sedangkan dalam pengaturan skematis, panjang pipa dapat langsung dimasukkan sebagai data tanpa memperhatikan panjang pipa di layar komputer.

Pemodelan katup (valve) Katup atau valve digunakan untuk memenuhi suatu kondisi tertentu di lapangan agar aliran dalam jaringan pipa berfungsi dengan baik. Misalnya kondisi aliran yang terlalu kecil akibat beda tekanan yang terlalu besar atau karena adanya perbaikan jalan maka pipa pada daerah tersebut ditutup menggunakan katub. WaterCAD memberikan beberapa model jenis katup (Haestads, 2001 : 277) yakni Flow Control Valves (FCV), Pressure Reducing Valves (PRV), Pressure Sustaining Valves (PSV), Pressure Breaker Valves (PBV) dan Throttle Control Valves (TCV). Untuk pemodelan katup diperlukan

IV - 43

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

beberapa data yaitu elevasi katup, dan karakteristik katup seperti jenis, diameter dan status katub (bukatutup).  Pemodelan pompa (pump) Pemodelan pompa pada WaterCAD membutuhkan data masukan seperti model dan kekuatan pompa, data tinggi head dan debit pompa serta elevasi pompa. WaterCAD memberikan enam model pompa (Haestad, 2001 : 276) yakni Constant Power, Design Point (One Point), Standard (Three Point), Standard Extended, Custom Extended dan Multiple Point.  Pemodelan tandon (watertank) Untuk pemodelan tandon diperlukan beberapa data yaitu ukuran bentuk dan elevasi tandon. Pada kondisi steady state simulation, permukaan air dalam tandon akan menjadi konstan (constant water surface elevation) dan pada kondisi Extended Period Simulation permukaan air di dalam tandon menjadi berubah-ubah atau sesuai suatu kebutuhan. tandon WaterCAD dengan memberikan pilihan untuk menentukan ketinggian kedalaman yaitu memasukkan data elevasinya atau menentukan ketinggiannya (level). Data elevasi yang dibutuhkan oleh tandon meliputi tiga macam yaitu elevasi maksimum, elevasi minimum dan elevasi awal kerja (initial elevation) dimana elevasi awal kerja harus berada pada kisaran elevasi minimum dan elevasi maksimum.  Pemodelan mata air (reservoir)

IV - 44

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Pada

program

WaterCAD,

reservoir

digunakan

sebagai model dari suatu sumber air seperti danau dan sungai. Di sini reservoir dimodelkan sebagai sumber air yang tidak bisa habis atau elevasi air selalu berada pada elevasi konstan pada saat berapapun kebutuhan airnya. Data yang dibutuhkan untuk memodelkan sebuah mata air adalah kapasitas debit dan elevasi mata air tersebut. 4. Proses Penggambaran Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih Setelah project telah setup wizard diisi dan pemodelan proses sisi Pada komponen pembuatan untuk selesai pipa dilakukan, dapat maka

jaringan

dimulai. pipa

samping dan atas lembar kerja terdapat berbagai tools menggambarkan jaringan beserta komponennya. Proses penggambaran cukup sederhana dan mudah, dengan memilih model atau komponen yang akan digambar kemudian diletakkan pada lembar kerjanya. Yang perlu dipastikan yaitu antar komponenkomponen pada seluruh jaringan harus benar-benar tersambung agar tidak menyebabkan kesalahan dalam perhitungan dan analisis nantinya.

IV - 45

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Gambar 4.21 Proses Penggambaran Suatu Jaringan Dengan WaterCAD 5. Perhitungan Dan Analisis Sistem Jaringan

Distribusi Air Bersih Setelah jaringan tergambar dan semua komponen tertata sesuai dengan yang diinginkan, tersebut maka untuk menganalisis sistem jaringan dilakukanlah

running (GO). Ada dua pilihan analisis yang dapat dilakukan yaitu steady state yang dapat dianalisis bersamaan extended dengan period fasilitas fire flow analysis dan yang dapat dianalisis bersamaan

dengan water quality analysis. Untuk memberi nilai hasil analisis yang dilakukan, ada tiga buah tanda hasil analisis yaitu warna hijau, kuning dan merah. Warna hijau berarti bahwa sistem jaringan distribusi air bersih benar-benar baik tanpa ada masalah. Warna kuning berarti sistem jaringan dapat bekerja, namun ada beberapa bagian yang bermasalah. Sedangkan warna merah berarti sistem tersebut tidak dapat bekerja seperti yang diharapkan karena ada kesalahan dalam
IV - 46

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

perencanaan maupun pada penggambaran. Pada setiap tanda warna kuning dan merah, selalu ada catatancatatan dari hasil analisis. Catatan-catatan tersebut dapat dilihat pada bagian report yang akan selalu diberikan setelah proses analisis selesai dilakukan pada setiap komponen sistem dengan meng-klik komponen sistem jaringan tersebut.

Gambar 4.22 Tampilan Proses Running Sistem Jaringan Dengan WaterCAD 6. Pembuatan Alternatif-Alternatif (Scenario) Dalam sebuah perencanaan sistem jaringan distribusi air bersih, tentulah tidak selamanya sistem tersebut mampu untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat pada masamasa mendatang. Sehingga alternatif pemecahan masalah tersebut adalah adanya penambahan ataupun penggantian beberapa komponen jaringan pipa sesuai dengan keperluannya. Pada WaterCAD alternatif-alternatif (scenario) tersebut dapat dirancang dengan mudah dengan berdasarkan

IV - 47

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBUATAN DED IKK KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

pada

sistem

jaringan

yang

sudah

ada

(existing),

kemudian diperbandingkan secara bersamaan (Scenario Comparison) sehingga bisa dipilih alternatif yang terbaik.

Gambar 4.23 Pembuatan Skenario Sistem Jaringan Dengan WaterCAD

IV - 48

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful